الركن الأول في نفس الشكر

بيان حد الشكر وحقيقته

بيان حد الشكر وحقيقته

بيان حد الشكر وحقيقته

Penjelasan tentang Batasan (Definisi) Syukur dan Hakikatnya

اعلم أن الشكر من جملة مقامات السالكين وهو أيضاً ينتظم من علم وحال وعمل فالعلم هو الأصل فيورث الحال والحال يورث العمل فأما العلم فهو مَعْرِفَةُ النِّعْمَةِ مِنَ الْمُنْعِمِ وَالْحَالُ هُوَ الْفَرَحُ الْحَاصِلُ بِإِنْعَامِهِ وَالْعَمَلُ هُوَ الْقِيَامُ بِمَا هُوَ مَقْصُودُ الْمُنْعِمِ وَمَحْبُوبُهُ وَيَتَعَلَّقُ ذَلِكَ الْعَمَلُ بِالْقَلْبِ وبالجوارح وباللسان ولا بد من بيان جميع ذلك ليحصل بمجموعه الإحاطة بحقيقة الشكر فإن كل ما قيل في حد الشكر قاصر عن الإحاطة بكمال معانيه

Ketahuilah bahwa syukur termasuk di antara maqamat (tingkatan spiritual) para salik (penempuh jalan spiritual). Syukur juga tersusun dari ilmu, hal (keadaan batin), dan amal. Ilmu adalah fondasinya yang membuahkan hal, dan hal membuahkan amal. Adapun ilmu adalah mengenali nikmat yang berasal dari Sang Pemberi Nikmat (Al-Mun'im). Hal adalah kegembiraan batin yang terbit disebabkan oleh penganugerahan nikmat-Nya. Sedangkan amal adalah melaksanakan apa yang menjadi maksud dan hal yang dicintai oleh Sang Pemberi Nikmat. Amal tersebut berkaitan dengan hati, anggota badan (jawarih), dan lisan. Masing-masing hal ini harus dijelaskan agar dengan terhimpunnya seluruh unsur tersebut dapat dicapai pemahaman komprehensif mengenai hakikat syukur. Sebab, segala sesuatu yang pernah diutarakan dalam batasan (definisi) syukur masih terbatas untuk mengelilingi kesempurnaan makna-maknanya.

فالأصل الأول العلم وهو علم بثلاثة أمور بعين النعمة ووجه كونها نعمة في حقه وبذات المنعم ووجود صفاته التي بها يتم الإنعام ويصدر الإنعام منه عليه فإنه لا بد من نعمة ومنعم ومنعم عليه تصل إليه النعمة من المنعم بقصد وإرادة فهذه الأمور لا بد من معرفتها هذا في حق غير الله تعالى فأما في حق الله تعالى فلا يتم إلا بأن يعرف أن النعم كلها من الله وهو المنعم والوسائط مسخرون من جهته

Pijakan pertama adalah ilmu, yaitu pengetahuan tentang tiga hal: pengetahuan tentang wujud nikmat itu sendiri serta letak keberadaannya sebagai nikmat bagi dirinya; pengetahuan tentang Dzat Sang Pemberi Nikmat dan keberadaan sifat-sifat-Nya yang dengannya penganugerahan nikmat menjadi sempurna dan terpancar penganugerahan itu dari-Nya kepadanya. Sebab, pasti harus ada nikmat, Pemberi Nikmat, dan penerima nikmat yang sampai kepadanya nikmat dari Pemberi Nikmat dengan maksud dan kehendak. Hal-hal ini mutlak harus diketahui. Ini berlaku pada hak selain Allah Ta'ala. Adapun pada hak Allah Ta'ala, ilmu tidaklah sempurna melainkan dengan menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah dan Dialah Hakikat Sang Pemberi Nikmat, sedangkan segala perantara hanyalah makhluk yang ditundukkan (musakhkharun) dari pihak-Nya.

وهذه المعرفة وراء التوحيد والتقديس إذ دخل التقديس والتوحيد فيها بل الرتبة الأولى في معارف الإيمان التقديس ثم إذا عرف ذاتاً مقدسة فيعرف أنه لا مقدس إلا واحد وما عداه غير مقدس وهو التوحيد ثم يعلم أن كل ما في العالم فهو موجود من ذلك الواحد فقط فالكل نعمة منه فتقع هذه المعرفة في الرتبة الثالثة إذ ينطوي فيها مع التقديس والتوحيد كمال القدرة والانفراد بالفعل وعن هذا عبر رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حَيْثُ قال من قال سبحان الله فله عشر حسنات ومن قال لا إله إلا الله فله عشرون حسنة ومن قال الحمد لله فله ثلاثون حسنة وقال ﷺ أفضل الذكر لا إله إلا الله وأفضل الدعاء الحمد لله وقال ليس شيء من الأذكار يضاعف ما يضاعف الحمد لله ولاتظنن أن هذه الحسنات بإزاء تحريك اللسان بهذه الكلمات من غير حصول معانيها في القلب فسبحان الله كلمة تدل على التقديس ولا إله إلا الله كلمة تدل على التوحيد والحمد لله كلمة تدل على النعمة من الواحد الحق فالحسنات بإزاء هذه المعارف التي هي من أبواب الإيمان واليقين

Pengetahuan (ma'rifah) ini melampaui penyucian (taqdis) dan pemesaan (tauhid), karena taqdis dan tauhid telah terangkum di dalamnya. Bahkan tingkatan pertama dalam ma'rifat keimanan adalah taqdis (menyucikan Allah dari segala kekurangan). Kemudian, jika seseorang telah mengenali Dzat Yang Mahasuci, ia mengetahui bahwa tidak ada yang Mahasuci melainkan Yang Maha Esa, sedangkan selain-Nya tidaklah suci secara mutlak, dan itulah tauhid. Selanjutnya, ia mengetahui bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta hanya ada dari Yang Maha Esa itu saja, sehingga semuanya merupakan nikmat dari-Nya. Maka ma'rifah ini berada pada tingkatan ketiga, karena terhimpun di dalamnya—bersama taqdis dan tauhid—kesempurnaan kekuasaan (qudrah) dan ketersendirian-Nya dalam penciptaan dan perbuatan (al-infirad bil-fi'l). Mengenai hal inilah Rasulullah ﷺ mengisyaratkan melalui sabda beliau: "Barang siapa mengucapkan 'Subhanallah' (Maha Suci Allah), baginya sepuluh kebaikan; barang siapa mengucapkan 'La ilaha illallah' (Tiada tuhan selain Allah), baginya dua puluh kebaikan; dan barang siapa mengucapkan 'Alhamdulillah' (Segala puji bagi Allah), baginya tiga puluh kebaikan." Dan beliau ﷺ bersabda: "Zikir yang paling utama adalah 'La ilaha illallah', dan doa yang paling utama adalah 'Alhamdulillah'." Beliau juga bersabda: "Tidak ada satu zikir pun yang dilipatgandakan pahalanya seperti dilipatgandakannya 'Alhamdulillah'." Janganlah engkau mengira bahwa kebaikan-kebaikan ini diperoleh sekadar dengan menggerakkan lisan melafalkan kalimat-kalimat ini tanpa terhujamnya makna-maknanya di dalam hati. Kalimat 'Subhanallah' adalah kalimat yang menunjukkan taqdis; 'La ilaha illallah' adalah kalimat yang menunjukkan tauhid; sedangkan 'Alhamdulillah' adalah kalimat yang menunjukkan limpahan nikmat dari Yang Maha Esa lagi Mahabenar. Maka, pahala kebaikan-kebaikan tersebut berbanding lurus dengan ma'rifat-ma'rifat ini, yang merupakan pintu-pintu iman dan keyakinan (yaqin).

واعلم أن تمام هذه المعرفة بنفي الشرك في الأفعال فمن أنعم عليه ملك من الملوك بشيء فإن رأى لوزيره أو وكيله دخلاً في تيسير ذلك وإيصاله إليه فهو إشراك به في النعمة فلا يرى النعمة من الملك من كل وجه بل منه بوجه ومن غيره بوجه فيتوزع فرحه عليهما فلا يكون موحداً في حق الملك نعم لا يغض من توحيده في حق الملك وكمال شكره أن يرى النعمة الواصلة إليه بتوقيعه الذي كتبه بقلمه وبالكاغد الذي كتبه عليه فإنه لا يفرح بالقلم والكاغد ولا يشكرهما لأنه لا يثبت لهما دخلاً من حيث هما موجودان بأنفسهما بل من حيث هما مسخران تحت قدرة الملك وقد يعلم أن الوكيل الموصل والخازن أيضاً مضطران من جهة الملك في الإيصال وأنه لو رد الأمر إليه ولم يكن من جهة الملك ارهاق وامر جزم يخاف عاقبته لما سلم إليه شيئاً فإذا عرف ذلك كان نظره إلى الخازن الموصل كنظره إلى القلم والكاغد فلا يورث ذلك شركاً في توحيده من اضافة النعمة اليه إلى الملك

Ketahuilah bahwa kesempurnaan ma'rifah ini adalah dengan meniadakan syirik dalam segala perbuatan. Barang siapa yang diberi suatu nikmat oleh seorang raja dari kalangan raja-raja, lalu ia menganggap bahwa menteri atau wakil raja tersebut memiliki andil dalam memudahkan dan menyampaikan nikmat itu kepadanya, maka itu adalah perbuatan menyukutukan raja dalam pemberian nikmat. Ia tidak memandang nikmat itu murni dari sang raja dari segala sisi, melainkan dari raja dari satu sisi dan dari selainnya dari sisi lain, sehingga kegembiraannya terbagi kepada keduanya dan ia belum bertauhid secara murni terhadap hak raja tersebut. Ya, tidaklah mengurangi tauhidnya terhadap sang raja dan kesempurnaan syukurnya bila ia memandang nikmat yang sampai kepadanya melalui tanda tangan yang ditulis raja dengan penanya dan di atas kertas yang ditulisinya. Sebab, ia tidak bergembira kepada pena dan kertas, serta tidak pula berterima kasih kepada keduanya, karena ia tidak menetapkan andil bagi keduanya sejauh keduanya wujud dengan sendirinya, melainkan sejauh keduanya ditundukkan di bawah kekuasaan sang raja. Dan kadang ia mengetahui bahwa wakil yang menyampaikan serta bendahara juga berada dalam keadaan terpaksa (mudhtarr) dari pihak raja untuk menyampaikannya; seandainya urusan itu diserahkan kepada diri mereka sendiri tanpa adanya tekanan dan perintah tegas dari raja yang ditakuti akibatnya, niscaya mereka tidak akan menyerahkan apa pun kepadanya. Apabila ia menyadari hal itu, maka pandangannya kepada bendahara penyampai nikmat adalah seperti pandangannya kepada pena dan kertas, sehingga hal itu tidak menimbulkan syirik dalam tauhidnya saat menisbatkan nikmat tersebut kepada sang raja.

وكذلك من الكاتب وأن الحيوانات التي لها اختيار مسخرات في نفس اختيارها فإن الله تعالى هو المسلط للدواعي عليها لتفعل شاءت أم أبت كالخازن المضطر الذي لا يجد سبيلاً إلى مخالفة الملك ولو خلي ونفسه لما اعطاك ذروة مما في يده فكل من وصل إليك نعمة من الله تعالى على يده فهو مضطر إذ سلط الله عليه الإرادة وهيج عليه الدواعي وألقى في نفسه أن خيره في الدنيا والآخرة أن يعطيك ما أعطاك وأن غرضه المقصود عنده في الحال والمآل لا يحصل إلا به وبعد أن خلق الله له هذا الاعتقاد لا يجد سبيل إلى تركه فهو إذن إنما يعطيك

Demikian pula pandangan terhadap penulis surat raja; dan bahwasanya makhluk-makhluk berjiwa yang memiliki kehendak memilih (ikhtiyar) pun sebenarnya ditundukkan dalam kehendak pilihannya itu sendiri. Sebab Allah Ta'ala Dialah Yang Menguasakan pendorong-pendorong (ad-dawa'i) atas mereka agar mereka berbuat, baik mereka mau maupun enggan, seperti halnya bendahara terpaksa yang tidak menemukan jalan untuk menyelisihi raja. Seandainya ia dibiarkan bersama dirinya sendiri, niscaya ia tidak akan memberimu sekecil zarah pun dari apa yang ada di tangannya. Maka, setiap orang yang sampai kepadamu suatu nikmat dari Allah Ta'ala melalui tangannya, hakikatnya ia berada dalam kondisi terpaksa (mudhtarr). Sebab, Allah telah menguasakan kehendak atas dirinya, membangkitkan pendorong-pendorong padanya, dan menghujamkan ke dalam jiwanya pemikiran bahwa kebaikannya di dunia dan akhirat adalah dengan memberikan kepadamu apa yang telah ia berikan kepadamu, serta bahwa tujuan yang dicapainya pada saat ini dan masa depan tidak akan terwujud melainkan dengannya. Setelah Allah menciptakan keyakinan ini padanya, ia tidak menemukan jalan untuk meninggalkannya. Maka dari itu, ia hanyalah memberi kepadamu…

لغرض نفسه لا لغرضك ولو لم يكن غرضه في العطاء لما أعطاك ولو لم يعلم أن منفعته في منفعتك لما نفعك فهو إذن إنما يطلب نفع نفسه بنفعك فليس منعماً عليك بل اتخذك وسبيله إلى نعمة أخرى وهو يرجوها وإنما الذي أنعم عليك هو الذي سخره لك وألقى في قلبه من الاعتقادات والإرادات ما صار به مضطراً إلى الإيصال إليك فإن عرفت الأمور كذلك فقد عرفت الله تعالى وعرفت فعله وكنت موحداً وقدرت على شكره بل كنت بهذه المعرفة بمجردها شاكراً

…demi tujuannya sendiri, bukan demi tujuanmu. Seandainya bukan karena tujuannya dalam memberi, niscaya ia tidak akan memberimu. Dan seandainya ia tidak mengetahui bahwa manfaat baginya ada pada manfaat bagimu, niscaya ia tidak akan memberi manfaat kepadamu. Maka pada hakikatnya, ia hanyalah mencari manfaat bagi dirinya sendiri melalui memberi manfaat kepadamu. Dengan demikian, ia bukanlah sang pemberi nikmat kepadamu, melainkan ia menjadikan engkau sebagai sarana menuju nikmat lain yang diharap-harapkannya. Sesungguhnya Yang Maha Pemberi Nikmat kepadamu adalah Dzat Yang menundukkan orang itu bagimu, dan Yang menghujamkan ke dalam hatinya berbagai keyakinan serta kehendak yang menjadikannya terdorong kuat (mudhtarr) untuk menyampaikan nikmat itu kepadamu. Jika engkau telah mengenali perkara-perkara ini sebagaimana mestinya, maka sungguh engkau telah mengenali Allah Ta'ala dan mengenali perbuatan-Nya, engkau menjadi seorang yang bertauhid murni (muwahhid), serta mampu bersyukur kepada-Nya; bahkan dengan ma'rifah ini saja engkau telah terhitung sebagai orang yang bersyukur.

ولذلك قال موسى ﵇ في مناجاته إلهي خلقت آدم بيدك وفعلت وفعلت فكيف شكرك فقال الله ﷿ علم أن كل ذلك مني فكانت معرفته شكراً

Oleh karena itulah Nabi Musa 'alaihissalam berkata dalam munajatnya: "Wahai Tuhanku, Engkau telah menciptakan Adam dengan tangan-Mu, dan Engkau telah berbuat demikian dan demikian, maka bagaimanakah cara ia bersyukur kepada-Mu?" Lalu Allah Azza wa Jalla berfirman: "Ia mengetahui bahwa semua itu berasal dari-Ku, maka pengetahuannya (ma'rifah) itu merupakan bentuk syukurnya."

فإذن لا تشكر إلا بأن تعرف أن الكل منه فإن خالجك ريب في هذا لم تكن عارفاً لا بالنعمة ولا بالمنعم فلا تفرح بالمنعم وحده بل وبغيره فبنقصان معرفتك ينقص حالك في الفرح وبنقصان فرحك ينقص عملك فهذا بيان هذا الأصل

Dengan demikian, engkau tidak dinamakan bersyukur kecuali dengan menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya. Jika timbul keraguan dalam dirimu mengenai hal ini, maka engkau belum mengenal nikmat maupun Sang Pemberi nikmat. Engkau pun tidak bergembira kepada Sang Pemberi nikmat saja, melainkan juga kepada selain-Nya. Maka, seiring dengan berkurangnya makrifatmu (pengetahuanmu), berkurang pula keadaan gembiramu; dan dengan berkurangnya kegembiraanmu, berkurang pula amalmu. Inilah penjelasan mengenai landasan dasar ini.

الأصل الثاني الحال المستمدة من أصل المعرفة وهو الفرح بالمنعم مع هيئة الخضوع والتواضعوهو أيضاً في نفسه شكر على تجرده كما أن المعرفة شكر ولكن إنما يكون شكراً إذا كان حاوياً شرطه وشرطه أن يكون فرحك بالمنعم لا بالنعمة ولا بالإنعام ولعل هذا يتعذر عليك فهمه فنضرب لك مثلاً فنقول الملك الذي يريد الخروج الى سفره فأنعم بفرس على انسانيتصور أن يفرح المنعم عليه بالفرس من ثلاثة أوجه أحدها أن يفرح بالفرس من حيث أنه فرس وإنه مال ينتفع به ومركوب يوافق غرضه وإنه جواد نفيس وهذ فرح من لاحظ له في الملك بل غرضه الفرس فقط ولو وجده في صحراء فأخذه لكان فرحه مثل ذلك الفرح الوجه الثاني أن يفرح به لا من حيث إنه فرس بل من حيث تستدل به على عناية الملك به وشفقته عليه واهتمامه بجانبه لو وجد هذا الفرس في صحراء أو أعطاه غير الملك لكان لا يفرح به أصلاً لاستغنائه عن الفرس أصلاً أو استحقاره له بالاضافة الى مطلوبه من نيل المحل في قلب الملك الوجه الثالث أن يفرح به ليركبه ليخرج في خدمة الملك ويتحمل مشقة السفر لينال بخدمته القرب منه وربما يرتقي إلى درجة الوزارة من حيث إنه ليس يقنع بأن يكون محله في قلب الملك أن يعطيه فرساً ويعتني به هذا القدر من العناية بل هو طالب لأن لا ينعم الملك بشيء من ماله على أحد إلا بواسطته ثم إنه ليس يريد من الوزارة الوزارة بل يريد مشاهدة الملك والقرب منه حتى لو خير بين القرب منه دون الوزارة وبين الوزارة دون القرب لاختار القرب فهذه ثلاث درجات فالأولى لا يدخل فيها معنى الشكر أصلاً لأن نظر صاحبها مقصور على الفرس ففرحه بالفرس لا بالمعطى وهذا حال كل من فرح بنعمة من حيث إنها لذيذة وموافقة لغرضه فهو بعيد عن معنى الشكر والثانية داخلة في معنى الشكر من حيث إنه فرح بالمنعم ولكن لا من حيث ذاته بل من حيث معرفة عنايته التي تستحثه على الإنعام في المستقبل وهذا حال الصالحين الذين يعبدون الله ويشكرونه خوفاً من عقابه ورجاءً لثوابه وإنما الشكر التام في الفرح الثالث وهو أن يكون فرح العبد بنعمة الله تعالى من حيث إنه يقدر بها على التوصل إلى القرب منه تعالى والنزول في جواره والنظر إلى وجهه على الدوام فهذا هو الرتبة العليا وأمارته ان لايفرح من الدنيا إلا بما هو مزرعة للآخرة ويعينه عليها ويحزن بكل نعمة تلهيه عن ذكر الله تعالى وتصده عن سبيله لأنه ليس يريد النعمة لأنها لذيذة كما يريد صاحب الفرس لانه جواد ومهملج بل من حيث إنه يحمله في صحبة الملك حتى تدوم مشاهدته له وقربه منه ولذلك قال الشبلي ﵀ الشكر رؤية المنعم

Landasan kedua: Keadaan spiritual (hal) yang bersumber dari dasar makrifat, yaitu bergembira atas Sang Pemberi nikmat disertai sikap ketundukan dan kerendahan hati. Keadaan ini sendiri secara murni merupakan bentuk syukur, sebagaimana makrifat juga merupakan syukur. Namun, ia baru dinamakan syukur apabila memenuhi syaratnya. Syaratnya adalah kegembiraanmu ditujukan kepada Sang Pemberi nikmat, bukan pada nikmat itu sendiri dan bukan pula pada pemberian-Nya. Boleh jadi hal ini sulit engkau pahami, maka kami buatkan perumpamaan bagimu: Seumpama seorang raja hendak berangkat melakukan perjalanan, lalu memberi hadiah seekor kuda kepada seseorang. Kegembiraan penerima hadiah kuda tersebut dapat dibayangkan dalam tiga tingkatan: Pertama, ia bergembira dengan kuda itu semata-mata karena ia adalah kuda, harta yang dapat dimanfaatkan, tunggangan yang sesuai dengan tujuannya, serta kuda yang bagus dan bernilai tinggi. Kegembiraan seperti ini adalah kegembiraan orang yang tidak menghiraukan sang raja sama sekali; tujuannya hanyalah kuda itu semata. Sekiranya ia menemukan kuda itu di padang pasir lalu mengambilnya, kegembiraannya akan sama seperti kegembiraan tersebut. Kedua, ia bergembira dengannya bukan karena ia berupa kuda, melainkan karena kuda itu menjadi petunjuk atas perhatian sang raja kepadanya, kasih sayangnya, dan kepeduliannya terhadap dirinya. Sekiranya ia menemukan kuda itu di padang pasir atau diberikan oleh selain sang raja, ia tidak akan bergembira sama sekali, karena pada dasarnya ia tidak membutuhkan kuda itu atau menganggapnya remeh dibandingkan dengan tujuannya meraih kedudukan di hati sang raja. Ketiga, ia bergembira dengannya agar dapat menungganginya untuk berangkat berkhidmat kepada sang raja dan menanggung kepayahan perjalanan demi meraih kedekatan dengan sang raja melalui khidmatnya. Boleh jadi ia bahkan naik ke derajat kementerian (keharaan), sebab ia tidak puas jika kedudukannya di hati sang raja hanya sebatas diberi kuda dan perhatian sekadar itu saja. Sebaliknya, ia menuntut agar raja tidak memberikan suatu nikmat pun dari hartanya kepada siapa pun melainkan melalui perantara dirinya. Kemudian, ia menginginkan kedudukan menteri tersebut bukanlah demi kedudukan itu sendiri, melainkan demi memandang (musyahadah) sang raja dan mendekatkan diri kepada-Nya. Hingga jika ia disuruh memilih antara kedekatan tanpa jabatan menteri atau jabatan menteri tanpa kedekatan, niscaya ia memilih kedekatan. Inilah tiga derajat: Tingkatan pertama tidak mengandung makna syukur sama sekali, sebab pandangan pemiliknya terbatas pada kuda tersebut; kegembiraannya terletak pada kuda, bukan pada Sang Pemberi. Ini adalah keadaan setiap orang yang bergembira dengan suatu nikmat semata-mata karena nikmat itu lezat dan sesuai dengan keinginannya, maka ia sangat jauh dari makna syukur. Tingkatan kedua termasuk ke dalam makna syukur, dari segi bahwa ia bergembira kepada Sang Pemberi nikmat, tetapi bukan pada Dzat-Nya, melainkan dari segi pengetahuan akan perhatian-Nya yang mendorong-Nya untuk memberi nikmat di masa mendatang. Ini adalah keadaan orang-orang saleh yang menyembah Allah dan bersyukur kepada-Nya karena takut akan siksa-Nya dan mengharapkan pahala-Nya. Adapun syukur yang sempurna terletak pada kegembiraan tingkatan ketiga, yaitu kegembiraan seorang hamba atas nikmat Allah Ta'ala dari segi bahwa dengan nikmat itu ia mampu menggunakannya untuk sampai pada kedekatan dengan Allah Ta'ala, bersemayam di lingkungan-Nya, dan memandang Wajah-Nya secara berkesinambungan. Inilah tingkatan tertinggi. Tandanya adalah ia tidak bergembira terhadap dunia melainkan atas apa yang menjadi ladang bagi akhirat dan membantunya menuju ke sana, serta ia berduka atas setiap nikmat yang melalaikannya dari mengingat Allah Ta'ala dan menghalanginya dari jalan-Nya. Sebab, ia tidak menginginkan nikmat karena nikmat itu lezat—sebagaimana pemilik kuda yang menginginkan kuda karena ia tangguh dan kencang berlari—melainkan karena kuda itu membawanya dalam kebersamaan dengan sang raja sehingga ia senantiasa dapat memandang-Nya dan dekat dengan-Nya. Oleh karena itu, Al-Syibli rahimahullah berkata: 'Syukur adalah memandang Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmatnya.' Al-Khawwash rahimahullah juga berkata: 'Syukur orang awam adalah atas makanan, pakaian, dan minuman, sedangkan syukur orang khusus (khawas) adalah atas limpahan karunia yang masuk ke dalam hati (waridat al-qulub).' Ini adalah derajat yang tidak dapat dicapai oleh setiap orang yang kelezatannya terbatas pada perut, kemaluan, dan tangkapan indra berupa warna-warna dan suara-suara, serta hampa dari kelezatan hati. Padahal hati, dalam keadaan sehat, tidak akan merasakan kelezatan melainkan dengan mengingat Allah Ta'ala, mengenali-Nya, dan menemui-Nya. Hati hanya merasakan kelezatan dari selain-Nya apabila ia sakit akibat kebiasaan-kebiasaan yang buruk, sebagaimana sebagian orang merasakan kelezatan dengan memakan tanah, atau sebagaimana sebagian orang sakit menganggap jijik hal-hal yang manis dan menganggap manis hal-hal yang pahit, sebagaimana dikatakan:

لا رؤية النعمة وقال الخواص ﵀ شكر العامة على المطعم والملبس والمشرب وشكر الخاصة على واردات القلوب وهذه رتبة لا يدركها كل من انحصرت عنده اللذات في البطن والفرج ومدركات الحواس من الألوان والأصوات وخلا عن لذة القلب فإن القلب لا يلتذ في حال الصحة إلا بذكر الله تعالى ومعرفته ولقائه وإنما يلتذ بغيره إذا مرض بسوء العادات كما يلتذ بعض الناس بأكل الطين وكما يستبشع بعض المرضى الأشياء الحلوة ويستحلي الأشياء المرة كما قيل

bukan memandang nikmatnya. Al-Khawwash (semoga Allah merahmatinya) berkata: 'Syukur orang awam adalah atas makanan, pakaian, dan minuman; sedangkan syukur orang khusus (khawwash) adalah atas limpahan karunia yang masuk ke dalam hati (waridat al-qulub).' Ini adalah tingkatan yang tidak dapat dicapai oleh setiap orang yang kelezatannya terbatas pada perut, kemaluan, dan hal-hal yang ditangkap oleh indera seperti warna-warna dan suara-suara, serta hampa dari kelezatan hati. Sebab, hati tidak akan merasa lezat dalam keadaan sehat melainkan dengan mengingat Allah Ta'ala, mengenali-Nya (ma'rifatullah), dan menjumpai-Nya. Hati hanya akan merasakan kelezatan pada selain-Nya apabila ia sakit akibat kebiasaan-kebiasaan yang buruk, sebagaimana sebagian orang merasakan lezatnya memakan tanah, dan sebagaimana sebagian orang sakit merasa jijik terhadap hal-hal yang manis serta menganggap manis hal-hal yang pahit, sebagaimana dikatakan:

ومن يك ذا فم مر مريض … جد مراً به الماء الزلالا

"Dan barang siapa yang mulutnya terasa pahit karena sakit … niscaya air yang jernih lagi tawar pun terasa sangat pahit baginya."

فإذن هذا شرط الفرح بنعمة الله تعالى فإن لم تكن إبل فمعزى فإن لم يكن هذا فالدرجة الثانية أما الأولى فخارجة عن كل حساب فكم من فرق بين من يريد الملك للفرس ومن يريد الفرس للملك وكم من فرق بين من يريد الله لينعم عليه وبين من يريد نعم الله ليصل بها إليه

Maka inilah syarat kegembiraan atas nikmat Allah Ta'ala. 'Jika tidak ada unta, maka kambing pun jadilah.' Jika tingkatan ini tidak tercapai, maka cukuplah tingkatan kedua. Adapun tingkatan pertama, ia keluar dari perhitungan sama sekali. Betapa jauh perbedaan antara orang yang menginginkan raja demi mendapatkan kuda, dengan orang yang menginginkan kuda demi mengabdi kepada raja! Dan betapa jauh perbedaan antara orang yang menginginkan Allah agar Dia memberi nikmat kepadanya, dengan orang yang menginginkan nikmat-nikmat Allah agar ia dapat sampai kepada-Nya!

الأصل الثالث العمل بموجب الفرح الحاصل من معرفة المنعم وهذا العمل يتعلق بالقلب وباللسان وبالجوارح أَمَّا بِالْقَلْبِ فَقَصْدُ الْخَيْرِ وَإِضْمَارُهُ لِكَافَّةِ الْخَلْقِ وَأَمَّا بِاللِّسَانِ فَإِظْهَارُ الشُّكْرِ لِلَّهِ تَعَالَى بِالتَّحْمِيدَاتِ الدَّالَّةِ عَلَيْهِ وَأَمَّا بِالْجَوَارِحِ فَاسْتِعْمَالُ نِعَمِ اللَّهِ تَعَالَى فِي طَاعَتِهِ وَالتَّوَقِّي مِنَ الِاسْتِعَانَةِ بِهَا على معصيته حتى إن شكر العينين أن تستر كل عيب تراه لمسلم وشكر الأذنين أن تستر كل عيب تسمعه فيه فيدخل هذا في جملة شكر نعم الله تعالى بهذه الأعضاء والشكر باللسان لإظهار الرضا عن الله تعالى وهو مأمور به فقد قال ﷺ لرجل كيف أصبحت قال بخير فأعاد ﷺ وسلم السؤال حتى قال في الثالثة بخير أحمد الله وأشكره فقال ﷺ وسلم هذا الذي أردت منك // حديث قال ﷺ لرجل كيف أصبحت فقال بخير فأعاد السؤال حتى قال في الثالثة بخير أحمد الله واشكره فقال هذا الذي اردت منك اخرجه الطبراني في الدعاء من رواية الفضيل بن عمرو مرفوعا نحوه قال في الثالثة احمد الله وهذا معضل ورواه في المعجم الكبير من حديث عبد الله بن عمرو ليس فيه تكرار السؤال وقال احمد الله اليك وفيه راشد بن سعد ضعفه الجمهور لسوء حفظه ورواه مالك في الموطأ موقوفا على عمر بإسناد صحيح وكان السلف يتساءلون ونيتهم استخراج الشكر لله تعالى ليكون الشاكر مطيعاً والمستنطق له به مطيعاً وما كان قصدهم الرياء بإظهار الشوق وكل عبد سئل عن حال فهو بين أن يشكر أو يشكو يسكت فالشكر طاعة والشكوى معصية قبيحة من أهل الدين وكيف لا تقبح الشكوى من ملك الملوك وبيده كل شيء إلى عبد مملوك لا يقدر على شيء فالأحرى بالعبد إن لم يحسن الصبر على البلاء والقضاء وأفضى به الضعف إلى الشكوى أن تكون شكواه إلى الله تعالى فهو المبلي والقادر على إزالة البلاء وذل العبد لمولاه عز والشكوى إلى غيره ذل وإظهار الذل للعبد مع كونه عبداً مثله ذل قبيح قال الله تعالى ﴿إن الذين تعبدون من دون الله لا يملكون لكم رزقاً فابتغوا عند الله الرزق واعبدوه واشكروا له﴾ وقال تعالى ﴿إن الذين تدعون من دون الله عباد أمثالكم﴾ فالشكر باللسان من جملة الشكر وقد روي أن وفداً قدموا على عمر بن عبد العزيز ﵀ فقام شاب ليتكلم فقال عمر الكبر الكبر فقال يا أمير المؤمنين لو كان الأمر بالسن لكان في المسلمين من هو أسكن منك فقال تكلم فقال لسنا وفد الرغبة ولا وفد الرهبة أما الرغبة فقد أوصلها إلينا فضلك وأما الرهبة فقد آمننا منها عدلك وإنما نحن وقد الشكر جئناك نشكرك باللسان وننصرف فهذه هي أصول معاني الشكر المحيطة بمجموع حقيقته

Landasan ketiga: Beramal sesuai dengan konsekuensi kegembiraan yang timbul dari makrifat (pengetahuan) akan Sang Pemberi nikmat. Amal ini berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan. Adapun dengan hati, yaitu berniat baik dan menyimpan iktikad baik bagi seluruh makhluk. Adapun dengan lisan, yaitu menampakkan kesyukuran kepada Allah Ta'ala melalui pujian-pujian yang menunjukkan hal tersebut. Adapun dengan anggota badan, yaitu mempergunakan nikmat-nikmat Allah Ta'ala dalam ketaatan kepada-Nya dan menjaga diri agar tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Sampai-sampai, bersyukurnya kedua mata adalah menutup setiap aib seorang muslim yang engkau lihat, dan bersyukurnya kedua telinga adalah menutup setiap aib tentang dirinya yang engkau dengar. Maka hal ini termasuk ke dalam keseluruhan syukur atas nikmat-nikmat Allah Ta'ala melalui anggota badan tersebut. Adapun syukur dengan lisan adalah untuk menampakkan keridaan kepada Allah Ta'ala, dan hal ini diperintahkan. Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada seorang laki-laki, 'Bagaimana kabarmu pagi ini?' Ia menjawab, 'Baik.' Rasulullah ﷺ mengulangi pertanyaan itu hingga pada kali ketiga laki-laki itu menjawab, 'Baik, aku memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda, 'Inilah yang aku inginkan darimu.' [Hadis: Nabi ﷺ bertanya kepada seorang laki-laki 'Bagaimana kabarmu pagi ini…', diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam ad-Du'a dari riwayat Fudhai bin 'Amr secara marfu' dengan lafaz serupa, pada kali ketiga dikatakan 'Aku memuji Allah', dan ini mu'dhal. Diriwayatkan dalam al-Mu'jam al-Kabir dari hadis Abdullah bin 'Amr tanpa pengulangan pertanyaan, dan ia berkata 'Aku memuji Allah kepadamu', di dalamnya terdapat Rashid bin Sa'd yang didhaifkan mayoritas ulama karena buruknya hafalan. Diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa' secara mauquf pada Umar dengan sanad shahih]. Para ulama Salaf saling bertanya tentang keadaan satu sama lain dengan niat untuk memancing keluarnya rasa syukur kepada Allah Ta'ala, agar orang yang bersyukur menjadi taat dan orang yang memancingnya berbicara juga menjadi taat. Maksud mereka bukanlah riya dengan menampakkan kerinduan. Setiap hamba yang ditanya tentang keadaannya berada di antara bersyukur, mengeluh, atau diam. Bersyukur adalah ketaatan, sedangkan mengeluh merupakan kemaksiatan yang buruk dari ahli agama. Bagaimana mungkin tidak buruk mengeluhkan Raja dari segala raja yang di tangan-Nya terdapat segala sesuatu, kepada seorang hamba sahaya yang tidak memiliki kuasa atas apa pun? Maka yang lebih layak bagi seorang hamba—jika ia tidak sanggup bersabar dengan baik atas cobaan dan takdir sehingga kelemahannya membawanya pada keluhan—hendaknya keluhannya ditujukan kepada Allah Ta'ala, karena Dialah yang memberi cobaan dan Dialah yang Mahakuasa untuk mengangkat cobaan tersebut. Hina dirinya hamba di hadapan Pelindungnya adalah suatu kemuliaan, sedangkan mengeluh kepada selain-Nya adalah kehinaan. Menampakkan kehinaan kepada sesama hamba, padahal ia juga seorang hamba sepertinya, adalah kehinaan yang buruk. Allah Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia serta bersyukurlah kepada-Nya.' (QS. Al-'Ankabut: 17). Allah Ta'ala juga berfirman: 'Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah adalah hamba-hamba juga seperti kamu.' (QS. Al-A'raf: 194). Maka syukur dengan lisan merupakan bagian dari keseluruhan rasa syukur. Diriwayatkan bahwa suatu utusan menghadap Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, lalu seorang pemuda berdiri hendak berbicara. Umar berkata, 'Yang lebih tua, yang lebih tua!' Pemuda itu menjawab, 'Wahai Amirulmukminin, sekiranya perkara ini diukur berdasarkan usia, niscaya di antara kaum muslimin ada orang yang lebih berhak duduk di tempatmu.' Umar berkata, 'Bicarakah.' Pemuda itu berkata, 'Kami bukanlah utusan yang datang karena ketakutan maupun harapan. Adapun harapan, keutamaanmu telah menyampaikannya kepada kami; sedangkan ketakutan, keadilanmu telah memberikan rasa aman kepada kami. Kami tidak lain adalah utusan rasa syukur. Kami datang kepadamu untuk bersyukur kepadamu dengan lisan kami, lalu kami akan kembali.' Inilah prinsip-prinsip makna syukur yang merangkum keseluruhan hakikatnya.

فأما قول من قال إن الشكر هو الاعتراف بنعمة المنعم على وجه الخضوع فهو نظر إلى فعل اللسان مع بعض أحوال القلب وقول من قال إن الشكر هو الثناء على المحسن بذكر إحسانه نظر إلى مجرد عمل اللسان وقول القائل

Adapun pendapat orang yang mengatakan bahwa syukur adalah pengakuan terhadap nikmat Sang Pemberi Nikmat dengan cara ketundukan, maka itu hanya meninjau perbuatan lidah beserta sebagian dari keadaan (hal) hati. Dan pendapat orang yang mengatakan bahwa syukur adalah pujian kepada Penggubah Kebajikan dengan menyebutkan kebaikannya, maka itu hanya meninjau semata-mata amal lidah. Adapun ucapan orang yang berkata:

إن الشكر هو الاعتكاف على بساط الشهود بإدامة حفظ الحرمة جامع لأكثر معاني الشكر لا يشذ منه إلا عمل اللسان وقول حمدون القصار شكر النعمة أن ترى نفسك في الشكر طفيلياً إشارة إلى أن معنى المعرفة من معاني الشكر فقط وقول الجنيد الشكر أن لا ترى نفسك أهلاً للنعمة إشارة إلى حال من أحوال القلب على الخصوص وهؤلاء أقوالهم تعرب على أحواهم فلذلك تختلف أجوبتهم ولا تتفق ثم قد يختلف جواب كل واحد في حالتين لأنهم لا يتكلمون إلا عن حالتهم الراهنة الغالبة عليهم اشتغالاً بما يهمهم عما لا يهمهم أو يتكلمون بما يرونه لائقاً بحالة السائل اقتصاراً على ذكر القدر الذي يحتاج إليه وإعراضاً عما لا يحتاج إليه فلا ينبغي أن تظن أن ما ذكرناه طعن عليهم وأنه لو عرض عليهم جميع المعاني التي شرحناها كانوا ينكرونها بل لا يظن ذلك بعاقل أصلاً إلا أن تعرض منازعة من حيث اللفظ في أن اسم الشكر في وضع اللسان هل يشمل جميع المعاني أم يتناول بعضها مقصوداً وبقية المعاني تكون من توابعه ولوازمه ولسنا نقصد في هذا الكتاب شرح موضوعات اللغات فليس ذلك من علم طريق الآخرة في شيء والله الموفق برحمته

'Bahwa syukur adalah beriktikaf di atas hamparan penyaksian (bisath asy-syuhud) dengan senantiasa menjaga penghormatan (adab),' maka ucapan ini merangkum sebagian besar makna syukur; tidak ada yang terluput darinya kecuali amal lidah. Dan ucapan Hamdun al-Qashshar: 'Syukur atas nikmat adalah engkau memandang dirimu dalam bersyukur sebagai orang yang menumpang (tidak berhak),' merupakan isyarat bahwa makna ma'rifat adalah salah satu dari makna-makna syukur saja. Adapun ucapan al-Junaid: 'Syukur adalah engkau tidak memandang dirimu layak menerima nikmat tersebut,' merupakan isyarat kepada suatu keadaan (hal) tertentu dari keadaan-keadaan hati secara khusus. Ucapan-ucapan mereka ini mengungkapkan keadaan spiritual (hal) mereka sendiri, oleh karena itu jawaban mereka berbeda-beda dan tidak seragam. Kemudian, jawaban masing-masing dari mereka pun bisa berbeda dalam dua keadaan yang berbeda, karena mereka tidak berbicara melainkan berdasarkan keadaan mereka yang sedang berlangsung dan mendominasi diri mereka, lantaran kesibukan mereka pada hal yang penting bagi mereka ketimbang hal yang tidak penting; atau mereka berbicara sesuai dengan apa yang mereka pandang layak bagi keadaan penanya, sebatas menyebutkan kadar yang dibutuhkannya dan berpaling dari apa yang tidak dibutuhkannya. Maka tidak sepantasnya engkau mengira bahwa apa yang kami sebutkan ini merupakan celaan terhadap mereka, atau mengira bahwa seandainya dipaparkan kepada mereka seluruh makna yang telah kami jelaskan ini mereka akan mengingkarinya. Bahkan orang yang berakal tidak akan mengira demikian sama sekali, kecuali jika terjadi perselisihan dari segi lafaz: apakah nama 'syukur' dalam penetapan bahasa mencakup seluruh makna tersebut, ataukah hanya mencakup sebagian secara mendasar sedangkan sisa maknanya merupakan pengikut dan konsekuensinya. Dan kami tidak bermaksud dalam kitab ini untuk menjelaskan penetapan-penetapan bahasa, karena hal itu sedikit pun bukan bagian dari ilmu jalan menuju akhirat (ilm thariq al-akhirah). Dan Allah-lah yang memberi petunjuk dengan rahmat-Nya.