الركن الأول في نفس الشكر

بيان تمييز ما يحبه الله تعالى عما يكرهه

بيان تمييز ما يحبه الله تعالى عما يكرهه

بيان تمييز ما يحبه الله تعالى عما يكرهه

Penjelasan tentang Membedakan Apa yang Dicintai Allah Ta'ala dari Apa yang Dibenci-Nya

اعلم إِنَّ فِعْلَ الشُّكْرِ وَتَرْكَ الْكُفْرِ لَا يَتِمُّ إِلَّا بِمَعْرِفَةِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى عَمَّا يكرهه إذ معنى الشكر استعمال نعمه تعالى في محابه ومعنى الكفر نقيض ذلك إما بترك الاستعمال أو باستعمالها في مكارهه ولتمييز ما يحبه الله تعالى مما يكرهه مدركان أحدهما السمع ومستنده الآيات والأخبار والثاني بصيرة القلب وهو النظر بعين الاعتبار وهذا الأخير عسير وهو لأجل ذلك عزيز فلذلك أرسل الله تعالى الرسل وسهل بهم الطريق على الخلق ومعرفة ذلك تنبني على معرفة جميع أحكام الشرع في أفعال العباد فمن لا يطلع على أحكام الشرع في جميع أفعاله لم يمكنه القيام بحق الشكر أصلاً وأما الثاني وهو النظر بعين الاعتبار فهو إدراك حِكْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى فِي كُلِّ مَوْجُودٍ خَلَقَهُ إِذْ مَا خَلَقَ شَيْئًا فِي الْعَالَمِ إِلَّا وَفِيهِ حِكْمَةٌ وَتَحْتَ الْحِكْمَةِ مَقْصُودٌ وَذَلِكَ الْمَقْصُودُ هُوَ الْمَحْبُوبُ وَتِلْكَ الْحِكْمَةُ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى جَلِيَّةٍ وَخَفِيَّةٍ أَمَّا الْجَلِيَّةُ فَكَالْعِلْمِ بِأَنَّ الْحِكْمَةَ فِي خَلْقِ الشَّمْسِ أَنْ يَحْصُلَ بِهَا الْفَرْقُ بَيْنَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ فَيَكُونُ النَّهَارُ مَعَاشًا وَاللَّيْلُ لِبَاسًا فَتَتَيَسَّرُ الْحَرَكَةُ عِنْدَ الْإِبْصَارِ وَالسُّكُونُ عِنْدَ الِاسْتِتَارِ فَهَذَا مِنْ جُمْلَةِ حِكَمِ الشَّمْسِ لَا كُلِّ الْحِكَمِ فِيهَا بَلْ فِيهَا حِكَمٌ أُخْرَى كَثِيرَةٌ دَقِيقَةٌ وَكَذَلِكَ مَعْرِفَةُ الْحِكْمَةِ فِي الْغَيْمِ وَنُزُولِ الْأَمْطَارِ وَذَلِكَ لِانْشِقَاقِ الْأَرْضِ بِأَنْوَاعِ النَّبَاتِ مَطْعَمًا لِلْخَلْقِ وَمَرْعًى لِلْأَنْعَامِ وَقَدِ انْطَوَى الْقُرْآنُ عَلَى جملة من الحكم الجليلة التي تحتملها أَفْهَامُ الْخَلْقِ دُونَ الدَّقِيقِ الَّذِي يَقْصُرُونَ عَنْ فَهْمِهِ إِذْ قَالَ تَعَالَى ﴿أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حباً وعنباً﴾ الآية وأما الحكمة في سائر الكواكب السيارة منها والثوابت فَخَفِيَّةٌ لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهَا كَافَّةُ الْخَلْقِ وَالْقَدْرُ الَّذِي يَحْتَمِلُهُ فَهْمُ الْخَلْقِ أَنَّهَا زِينَةٌ لِلسَّمَاءِ لِتَسْتَلِذَّ الْعَيْنُ بِالنَّظَرِ إِلَيْهَا وَأَشَارَ إِلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ﴾ فَجَمِيعُ أَجْزَاءِ الْعَالَمِ سَمَاؤُهُ وَكَوَاكِبُهُ وَرِيَاحُهُ وَبِحَارُهُ وجباله ومعادنه ونباته وحيواناته وأعظاء حَيَوَانَاتِهِ لَا تَخْلُو ذَرَّةٌ مِنْ ذَرَّاتِهِ عَنْ حكم كثيرة من حكمه واحدة إلى عشرة إِلَى أَلْفٍ إِلَى عَشَرَةِ آلَافٍ وَكَذَا أَعْضَاءُ الحيوان تنقسم إلا مَا يُعْرَفُ حِكْمَتُهَا كَالْعِلْمِ بِأَنَّ الْعَيْنَ لِلْإِبْصَارِ لا للبطش واليد للبطش لا للمشي والرجل للمشي لا للشم فأما الأعضاء الباطنة من الأمعاء والمرارة والكبد والكلية وآحاد العروق والأعصاب والعضلات وما فيها من التجاويف والالتفاف والاشتباك والانحراف والدقة والغلظ وسائر الصفات فلا يعرف الحكمة فيها سائر الناس والذين يعرفونها لا يعرفون منها إلا قدراً يسيراً بالإضافة إلى ما في علم الله تعالى ﴿وما أوتيتم من العلم إلا قليلاً﴾ فَإِذَنْ كُلُّ مَنِ اسْتَعْمَلَ شَيْئًا فِي جِهَةٍ غَيْرِ الْجِهَةِ الَّتِي خُلِقَ لَهَا وَلَا عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي أُرِيدَ بِهِ فَقَدْ كَفَرَ فِيهِ نِعْمَةَ اللَّهِ تَعَالَى فَمَنْ ضَرَبَ غَيْرَهُ بِيَدِهِ فَقَدْ كَفَرَ نِعْمَةَ الْيَدِ إِذْ خُلِقَتْ لَهُ الْيَدُ لِيَدْفَعَ بِهَا عَنْ نَفْسِهِ مَا يُهْلِكُهُ وَيَأْخُذَ مَا يَنْفَعُهُ لَا لِيُهْلِكَ بِهَا غَيْرَهُ وَمَنْ نَظَرَ إِلَى وَجْهِ غَيْرِ الْمَحْرَمِ فَقَدْ كفر نعمة العين ونعمة الشمس إذ الإبصار يتم بهما وإنما خلقتا ليبصر بهما ما ينفعه في دينه ودنياه ويتقي بهما ما يضره فيهما فقد استعملها في غير ما اريد به وهذا لأن المراد من خلق الخلق وخلق الدنيا وأسبابها أن يستعين الخلق بهما على الوصول إلى الله تعالى ولا وصول إليه إلا بمحبته والأنس به في الدنيا والتجافي عن غرور الدنيا ولا أنس

Ketahuilah bahwa perbuatan syukur dan meninggalkan kekufuran (kufur nikmat) tidak akan sempurna kecuali dengan mengenali apa yang dicintai oleh Allah Ta'ala dari apa yang dibenci-Nya. Sebab, makna syukur adalah menggunakan nikmat-nikmat Allah Ta'ala pada hal-hal yang dicintai-Nya, sedangkan makna kufur nikmat adalah kebalikan dari itu, baik dengan meninggalkan penggunaannya atau dengan menggunakannya pada hal-hal yang dibenci-Nya. Untuk membedakan apa yang dicintai Allah Ta'ala dari apa yang dibenci-Nya terdapat dua jalan pencapaian (mudrak): pertama adalah pendengaran (dalil naqli/wahyu) yang berlandaskan ayat-ayat dan khabar (hadis); dan kedua adalah mata hati (bashirah al-qalb), yaitu memandang dengan pandangan 'itibar (mengambil pelajaran). Jalan terakhir ini sangat sulit, dan karena itulah ia sangat berharga. Oleh sebab itu, Allah Ta'ala mengutus para rasul dan memudahkan jalan melalui mereka bagi para makhluk. Mengenali hal tersebut didasarkan pada pengenalan terhadap seluruh hukum syariat mengenai perbuatan para hamba. Barangsiapa yang tidak mengetahui hukum-hukum syariat dalam segala perbuatannya, ia sama sekali tidak akan mungkin menunaikan hak syukur. Adapun jalan kedua, yaitu memandang dengan mata 'itibar, adalah memahami hikmah Allah Ta'ala pada setiap wujud yang diciptakan-Nya. Sebab, tidak ada satu pun yang diciptakan-Nya di alam semesta ini melainkan di dalamnya terdapat hikmah, dan di balik hikmah tersebut terdapat suatu maksud, dan maksud itulah yang dicintai-Nya. Hikmah tersebut terbagi menjadi dua: nyata (jaliyyah) dan tersembunyi (khafiyyah). Adapun yang nyata, seperti pengetahuan bahwa hikmah diciptakannya matahari adalah untuk membedakan antara siang dan malam, sehingga siang menjadi waktu mencari penghidupan dan malam sebagai penutup (istirahat), sehingga memudahkan pergerakan ketika terang dan ketenangan ketika gelap. Ini hanyalah sebagian dari hikmah matahari, bukan seluruh hikmah padanya, bahkan padanya terdapat hikmah-hikmah lain yang sangat banyak dan terperinci. Demikian pula pengenalan hikmah pada awan dan turunnya hujan, yaitu untuk membelah bumi dengan tumbuh-tumbuhan sebagai makanan bagi makhluk dan padang penggembalaan bagi binatang ternak. Al-Qur'an telah mencakup sekumpulan hikmah yang agung yang dapat dijangkau oleh pemahaman makhluk, bukan yang terperinci yang berada di luar jangkauan pemahaman mereka, sebagaimana firman-Nya Ta'ala: 'Kamilah yang telah mencurahkan air tercurah (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebebas-bebasnya, lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian dan buah anggur…' (QS. 'Abasa: 25-28). Adapun hikmah pada bintang-bintang lainnya, baik yang beredar maupun yang tetap, adalah tersembunyi (khafiyyah) dan tidak dapat diketahui oleh seluruh makhluk. Kadar yang dapat dijangkau oleh pemahaman makhluk adalah bahwa bintang-bintang itu merupakan perhiasan langit agar mata merasa nikmat saat memandangnya, sebagaimana diisyaratkan oleh firman-Nya Ta'ala: 'Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang dekat dengan perhiasan bintang-bintang' (QS. As-Saffat: 6). Maka seluruh bagian alam semesta—langitnya, bintang-bintangnya, anginnya, lautnya, gunung-gunungnya, barang tambangnya, tumbuh-tumbuhannya, hewan-hewannya, dan anggota tubuh hewan—tidaklah satu zarah pun darinya lepas dari berbagai hikmah Allah, mulai dari satu hingga sepuluh, seribu, hingga sepuluh ribu hikmah. Demikian pula anggota tubuh hewan terbagi menjadi apa yang diketahui hikmahnya, seperti pengetahuan bahwa mata diciptakan untuk melihat bukan untuk memukul, tangan untuk memukul/memegang bukan untuk berjalan, dan kaki untuk berjalan bukan untuk mencium. Adapun anggota tubuh bagian dalam seperti usus, empedu, hati, ginjal, serta urat-urat, saraf-saraf, otot-otot, dan apa yang ada di dalamnya berupa rongga, lekukan, jalinan, kemiringan, kehalusan, ketebalan, serta sifat-sifat lainnya, maka tidak diketahui hikmahnya oleh umumnya manusia. Orang-orang yang mengetahuinya pun hanya mengetahui sebagian kecil saja dibandingkan dengan apa yang ada dalam ilmu Allah Ta'ala: 'Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit' (QS. Al-Isra': 85). Jika demikian, setiap orang yang menggunakan sesuatu pada arah yang bukan tujuan diciptakannya, atau tidak sesuai dengan cara yang dikehendaki padanya, maka sungguh ia telah mengkufuri nikmat Allah Ta'ala pada hal tersebut. Barangsiapa memukul orang lain dengan tangannya, sungguh ia telah mengkufuri nikmat tangan, sebab tangan diciptakan untuk menolak apa yang membinasakan dirinya dan mengambil apa yang bermanfaat baginya, bukan untuk membinasakan orang lain. Barangsiapa memandang wajah orang yang bukan mahramnya, sungguh ia telah mengkufuri nikmat mata dan nikmat matahari, sebab penglihatan tidak akan sempurna tanpa keduanya, padahal keduanya diciptakan agar ia melihat apa yang bermanfaat bagi agama dan dunianya serta menjaga diri dari apa yang memudaratkannya pada keduanya. Sungguh ia telah menggunakannya pada selain apa yang dikehendaki darinya. Hal ini karena maksud dari penciptaan makhluk, dunia, dan sebab-sebabnya adalah agar makhluk memohon pertolongan darinya untuk sampai (wushul) kepada Allah Ta'ala. Dan tidak ada jalan sampai kepada-Nya kecuali dengan mencintai-Nya, merasa tenang (uns) bersama-Nya di dunia, serta menjauhkan diri dari tipu daya dunia. Dan tidak ada rasa tenang…

إلا بدوام الذكر ولا محبة إلا بالمعرفة الحاصلة بدوام الفكر ولا يمكن الدوام على الذكر والفكر إلا بدوام البدن ولا يبقى البدن إلا بالغذاء ولا يتم الغذاء إلا بالأرض والماء والهواء ولا يتم ذلك إلا بخلق السماء والأرض وخلق سائر الأعضاء ظاهراً وباطناً فكل ذلك لأجل البدن والبدن مطية النفس والراجح إلى الله تعالى هي النفس المطمئنة بطول العبادة والمعرفة فلذلك قال تعالى ﴿وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ما أريد منهم من رزق﴾ الآية فكل من استعمل شيئاً في غير طاعة الله فقد كفر نعمة الله في جميع الأسباب التي لا بد منها لإقدامه على تلك المعصية ولتذكر مثالاً واحداً للحكم الخفية التي ليست في غاية الخفاء حتى تعتبر بها وتعلم طريقة الشكر والكفران على النعم فنقول مِنْ نِعَمِ اللَّهِ تَعَالَى خَلْقُ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ وَبِهِمَا قِوَامُ الدُّنْيَا وَهُمَا حَجَرَانِ لَا مَنْفَعَةَ فِي أَعْيَانِهِمَا وَلَكِنْ يُضْطَرُّ الْخَلْقُ إِلَيْهِمَا مِنْ حَيْثُ إِنَّ كُلَّ إِنْسَانٍ مُحْتَاجٌ إِلَى أَعْيَانٍ كَثِيرَةٍ فِي مَطْعَمِهِ وَمَلْبَسِهِ وَسَائِرِ حَاجَاتِهِ وَقَدْ يَعْجِزُ عَمَّا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ وَيَمْلِكُ مَا يَسْتَغْنِي عنه كمن يملك الزعفران مثلاً وهو محتاج إلى جمل يركبه ومن يملك الجمل ربما يستغنى عنه ويحتاج إلى الزعفران فلا بد بينهما من معاوضة ولا بد في مقدار العوض من تقدير إذ لا يبذل صاحب الجمل جمله بكل مقدار من الزعفران ولا مناسبة بين الزعفران والجمل حتى يقال يعطى منه مثله في الوزن أو الصورة وكذا من يشتري دارا ثياب أو عبداً بخف أو دقيقاً بحمار فهذه الأشياء لا تتناسب فيها فلا يدرى أن الجمل كم يسوي بالزعفران فتتعذر المعاملات جداً فافتقرت هذه الأعيان المتنافرة المتباعدة إلى متوسط بينها يحكم بينهما بحكم عدل فيعرف من كل واحد رتبته ومنزلته حتى إذا تقررت المنازل وترتبت الرتب علم بعد ذلك المساوي من غير المساوي فخلق الله تعالى الدنانير والدراهم حاكمين ومتوسطين بين سائر الأموال حتى تقدر الأموال بهما فيقال هذا الجمل يسوي مائة دينار وهذا القدر من الزعفران يسوي مائة فهما من حيث إنهما مساويان بشيء واحد إذن متساويان وإنما أمكن التعديل بالنقدين إذ لا غرض في أعيانهما ولو كان في أعيانهما غرض ربما اقتضى خصوص ذلك الغرض في حق صاحب الغرض ترجيحاً ولم يقتض ذلك في حق من لا غرض له فلا ينتظم الأمر فإذن خلقهما الله تعالى لتتداولهما الْأَيْدِي وَيَكُونَا حَاكِمَيْنِ بَيْنَ الْأَمْوَالِ بِالْعَدْلِ وَلِحِكْمَةٍ أُخْرَى وَهِيَ التَّوَسُّلُ بِهِمَا إِلَى سَائِرِ الْأَشْيَاءِ لأنهما عزيزان في أنفسهما ولا غرض في أعيانهما ونسبتهما إلى سائر الأحوال نسبة واحدة فمن ملكهما فكأنه ملك كل شيء لا كمن ملك ثوباً فإنه لم يملك إلا الثوب فلو احتاج إلى طعام ربما لم يرغب صاحب الطعام في الثوب لأن غرضه في دابة مثلاً فاحتيج إلى شيء وهو في صورته كأنه ليس بشيء وهو فى معناه كأنه كل الأشياء والشيء إنما تستوي نسبته إلى المختلفات إذا لم تكن له صورة خاصة يفيدها بخصوصها كالمرآة لا لون لها وتحكي كل لون فكذلك النقد لا غرض فيه وهو وسيلة إلى كل غرض وكالحرف لا معنى له نفسه وتظهر به المعاني في غيره فهذه هي الحكمة الثانية وفيهما أيضاً حكم يطول ذكرها فكل من عمل فيهما عملاً لا يليق بالحكم بل يخالف الغرض المقصود بالحكم فقد كفر نعمة الله تعالى فِيهِمَا فَإِذَنْ مَنْ كَنَزَهُمَا فَقَدْ ظَلَمَهُمَا وَأَبْطَلَ الحكمة فيهما وكان كمن حبس حاكم المسلمين في سجن يمتنع عليه الحكم بسببه لأنه إذا كنز فقد ضيع الحكم ولا يحصل الغرض المقصود به وما خلقت الدراهم والدنانير لزيد خاصة ولا لعمرو خاصة إذ لا غرض للآحاد في أعيانهما فإنهما حجران وإنما خلقا لتتداولها الأيدي فيكونا حاكمين بين الناس وعلامة معرفة المقادير مقومة للراتب فأخبر الله تعالى الذين يعجزون عن قراءة الأسطر الإلهية المكتوبة في صفحات الموجودات بخط إلهي لا حرف فيه ولا صوت الذي لا يدرك بعين البصر بل بعين البصيرة أخبر هؤلاء العاجزين

…kecuali dengan melanggengkan zikir, dan tidak ada rasa cinta kecuali dengan makrifat yang diperoleh dari melanggengkan pemikiran (fikir). Tidak mungkin melanggengkan zikir dan fikir kecuali dengan kelangsungan tubuh, dan tubuh tidak akan bertahan kecuali dengan makanan, dan makanan tidak akan sempurna kecuali dengan tanah, air, dan udara, serta tidak akan sempurna hal itu kecuali dengan penciptaan langit dan bumi serta penciptaan seluruh anggota tubuh, baik lahir maupun batin. Maka semua itu adalah demi tubuh, dan tubuh adalah tunggangan bagi jiwa (nafs), sedang yang kembali kepada Allah Ta'ala adalah jiwa yang tenang (an-nafs al-muthma'innah) melalui lamanya ibadah dan makrifat. Oleh karena itulah Allah Ta'ala berfirman: 'Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka…' (QS. Az-Zariyat: 56-57). Maka barangsiapa menggunakan sesuatu pada selain ketaatan kepada Allah, sungguh ia telah mengkufuri nikmat Allah pada seluruh sebab yang mutlak diperlukan untuk melakukan kemaksiatan tersebut. Sebutlah satu contoh dari hikmah-hikmah tersembunyi yang tidak terlalu samar agar engkau dapat mengambil pelajaran darinya dan mengetahui jalan syukur dan kufur terhadap nikmat-nikmat. Kami katakan: Di antara nikmat Allah Ta'ala adalah penciptaan dirham dan dinar, yang dengan keduanya tatanan dunia menjadi tegak. Keduanya adalah dua jenis batu yang tidak memiliki manfaat pada zatnya sendiri, namun makhluk sangat membutuhkan keduanya karena setiap manusia membutuhkan banyak benda untuk makanan, pakaian, dan keperluan lainnya. Terkadang seseorang tidak mampu memperoleh apa yang dibutuhkannya sedang ia memiliki apa yang tidak dibutuhkannya, seperti orang yang memiliki za'faran (saffron) misalnya, padahal ia membutuhkan unta untuk ditunggangi; sedang orang yang memiliki unta terkadang tidak membutuhkannya dan membutuhkan za'faran. Maka harus ada tukar-menukar (mu'awadhah) di antara keduanya, dan harus ada kadar penentuan nilai tukar. Sebab pemilik unta tidak akan menyerahkan untanya untuk sembarang kadar za'faran, dan tidak ada kesesuaian langsung antara za'faran dan unta sehingga bisa dikatakan diberikan yang setara beratnya atau bentuknya. Demikian pula orang yang membeli rumah dengan pakaian, atau budak dengan sepatu bot, atau tepung dengan keledai. Benda-benda ini tidak memiliki kesepadanan, sehingga tidak diketahui berapa nilai unta jika diukur dengan za'faran, yang membuat transaksi menjadi sangat sulit. Oleh karena itu, benda-benda yang beragam dan saling berjauhan ini membutuhkan penengah di antara mereka yang memutus perkara secara adil, sehingga diketahui tingkatan dan kedudukan masing-masing. Ketika kedudukan tersebut telah ditetapkan dan tingkatan telah diatur, barulah diketahui mana yang setara dan mana yang tidak. Maka Allah Ta'ala menciptakan dinar dan dirham sebagai pemutus dan penengah di antara seluruh harta, sehingga harta-harta dapat diukur nilainya dengan keduanya. Dikatakan: Unta ini nilainya seratus dinar, dan kadar za'faran ini nilainya seratus dinar; maka karena keduanya sama-sama setara dengan sesuatu yang satu (yaitu seratus dinar), berarti keduanya bernilai setara. Penyetaraan ini hanya mungkin dilakukan dengan dua mata uang (emas dan perak) karena tidak ada tujuan pada zat keduanya sendiri. Sekiranya ada tujuan pada zat keduanya, tentulah tujuan khusus itu menuntut keunggulan bagi orang yang mempunyai kepentingan dan tidak menuntut hal serupa bagi orang yang tidak berkepentingan, sehingga urusan tidak akan teratur. Maka dari itu, Allah Ta'ala menciptakan keduanya agar beredar di tangan-tangan manusia dan menjadi penilai yang adil di antara harta-harta. Ada pula hikmah lainnya, yaitu sebagai sarana (tawassul) untuk mencapai segala sesuatu, karena keduanya bernilai mulia pada dirinya sendiri tanpa ada tujuan khusus pada zatnya, dan nisbah keduanya terhadap seluruh keadaan adalah sama. Barangsiapa memiliki keduanya, seakan-akan ia memiliki segala sesuatu; tidak seperti orang yang memiliki pakaian, sebab ia hanya memiliki pakaian itu saja. Jika ia membutuhkan makanan, terkadang pemilik makanan tidak menyukai pakaian karena kepentingannya ada pada hewan tunggangan, misalnya. Maka dibutuhkan sesuatu yang dari segi bentuknya seakan-akan bukan apa-apa, namun dari segi maknanya seakan-akan merupakan segala sesuatu. Sesuatu itu nisbahnya hanya bisa setara terhadap hal-hal yang berbeda jika ia tidak memiliki bentuk khusus yang memberikan manfaat secara khusus, seperti cermin yang tidak memiliki warna sendiri namun memantulkan setiap warna. Demikian pula mata uang, tidak ada tujuan khusus padanya namun ia menjadi sarana untuk mencapai setiap tujuan; sebagaimana huruf yang tidak memiliki makna mandiri pada dirinya sendiri namun dapat menampakkan makna pada selainnya. Inilah hikmah yang kedua. Pada keduanya juga terdapat hikmah-hikmah lain yang panjang jika disebutkan. Maka setiap orang yang memperlakukan keduanya dengan perlakuan yang tidak layak sesuai hikmahnya, bahkan menyalahi maksud yang dituju dari hikmah tersebut, sungguh ia telah mengkufuri nikmat Allah Ta'ala pada keduanya. Jika demikian, barangsiapa menimbun keduanya, sungguh ia telah menzalimi keduanya dan membatalkan hikmah pada keduanya. Ia seperti orang yang mengurung hakim kaum muslimin di dalam penjara sehingga menghalanginya untuk memutus hukum. Sebab jika ia menimbunnya, ia telah menyia-nyiakan fungsi hukum dan tidak mencapai maksud yang dituju dengannya. Dirham dan dinar tidak diciptakan khusus untuk Zaid atau 'Amr, karena individu tidak memiliki kepentingan pada zat dua batu itu, melainkan keduanya diciptakan agar beredar di tangan manusia sebagai penilai adil dan tanda untuk mengetahui kadar serta penentu nilai. Maka Allah Ta'ala memberitahukan kepada orang-orang yang lemah dalam membaca lembaran-lembaran ilahi yang tertulis di halaman-halaman wujud dengan tulisan ilahi—tanpa huruf dan suara, yang tidak terjangkau oleh mata lahir melainkan oleh mata hati—Allah memberitahukan kepada orang-orang yang lemah ini…

بكلام سمعوه من رسوله ﷺ حتى وصل إليهم بواسطة الحرف والصوت المعنى الذي عجزوا عن إدراكه فقال تَعَالَى ﴿وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا في سبيل الله فبشرهم بعذاب أليم﴾ وكل من اتخذ من الدراهم والدنانير آنية من ذهب أو فضة فقد كفر النعمة وكان أسوأ حالاً ممن كنز لأن مثال هذا مثال من استسخر حاكم البلد في الحياكة والمكس والأعمال التي يقوم بها أخساء الناس والحبس أهوك منه وذلك أن الخزف والحديد والرصاص والنحاس تنوب مناب الذهب والفضة في حفظ المائعات عن أن تتبدد وإنما الأواني لحفظ المائعات ولا يكفي الخزف والحديد في المقصود الذي أريد به النقود فمن لم ينكشف له هذا انكشف له بالترجمة الإلهية وقيل له من شرب في آنية من ذهب أو فضة فكأنما يجرجر في بطنة نار جهنم وكل من عامل معاملة الربا على الدراهم والدنانير فقد كفر النعمة وظلم لأنهما خلقا لغيرهما لا لنفسهما إذ لا غرض في عينهما فإذا اتجر في عينهما فقد اتخذهما مقصوداً على خلاف وضع الحكمة إذ طلب النقد لغير ما وضع له ظلم ومن معه ثوب ولا نقد معه فقد لا يقدر على أن يشتري به طعاماً ودابة إذ ربما لا يباع الطعام والدابة بالثوب فهو معذور في بيعه بنقد آخر ليحصل النقد فيتوصل به إلى مقصوده فإنهما وسيلتان إلى الغير لا غرض فى أعيانهما وموقهما في الأموال كموقع الحرف من الكلام كما قال النحويون إن الحرف هو الذي جاء لمعنى في غيره وكموقع المرآة من الألوان فأما من معه نقد فلو جاز له أن يبيعه بالنقد فيتخذ التعامل على النقد غاية عمله فيبقى النقد مقيداً عنده وينزل منزلا المكنوز وتقييد الحاكم والبريد الموصل إلى الغير ظلم كما أن حبسه ظلم فلا معنى لبيع النقد بالنقد إلا اتخاذ النقد مقصوداً للادخار وهو ظلم

…dengan firman yang mereka dengar dari Rasul-Nya ﷺ sehingga sampai kepada mereka melalui perantara huruf dan suara, suatu makna yang mereka tidak mampu menjangkaunya. Allah Ta'ala berfirman: 'Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih' (QS. At-Taubah: 34). Barangsiapa menjadikan dirham dan dinar sebagai wadah dari emas atau perak, sungguh ia telah mengkufuri nikmat dan keadaannya lebih buruk daripada orang yang menimbunnya. Sebab perumpamaannya seperti orang yang mempekerjakan hakim negeri untuk menenun, memungut pajak, atau pekerjaan yang biasa dilakukan oleh orang-orang berkedudukan rendah, sedang memenjarakannya masih lebih ringan darinya. Hal itu karena tanah liat, besi, timah, dan tembaga dapat menggantikan posisi emas dan perak dalam menampung cairan agar tidak tumpah, padahal wadah bertujuan untuk menampung cairan, sedang tanah liat dan besi tidak cukup untuk memenuhi maksud yang dituju dari mata uang. Barangsiapa yang hal ini belum tersingkap baginya, maka hal itu tersingkap baginya melalui terjemahan ilahi, di mana dikatakan kepadanya: 'Orang yang minum dari wadah emas atau perak seolah-olah ia mementang api neraka Jahannam ke dalam perutnya.' Setiap orang yang melakukan transaksi riba pada dirham dan dinar sungguh telah mengkufuri nikmat dan berbuat zalim, sebab keduanya diciptakan untuk selain keduanya, bukan untuk diri keduanya sendiri, karena tidak ada tujuan pada zat keduanya. Apabila ia memperdagangkan zat keduanya, ia telah menjadikan keduanya sebagai tujuan yang menyalahi penetapan hikmah. Meminta mata uang untuk selain tujuan penetapannya adalah suatu kezaliman. Barangsiapa memiliki pakaian dan tidak memiliki mata uang, terkadang ia tidak mampu membeli makanan atau hewan tunggangan darinya, karena makanan dan hewan tidak dijual dengan pakaian. Maka ia dimaafkan menjualnya dengan mata uang lain agar memperoleh mata uang yang dapat menghantarkannya pada maksudnya. Sebab keduanya adalah sarana untuk mencapai yang lain, bukan tujuan pada zatnya. Kedudukan keduanya dalam harta seperti kedudukan huruf dalam perkataan, sebagaimana dikatakan para ahli nahwu bahwa huruf adalah kata yang menunjukkan makna pada kata lain, dan seperti kedudukan cermin terhadap warna. Adapun orang yang memiliki mata uang, sekiranya diizinkan baginya untuk menjualnya dengan mata uang lagi sehingga transaksi mata uang menjadi tujuan akhir dari perbuatannya, niscaya mata uang itu akan tertahan padanya dan berkedudukan seperti harta terpendam (simpanan). Menahan hakim dan utusan yang menghantarkan kepada yang lain adalah kezaliman, sebagaimana memenjarakannya adalah kezaliman. Maka tidak ada makna bagi penjualan mata uang dengan mata uang melainkan menjadikan mata uang sebagai tujuan untuk ditimbun, dan hal itu adalah suatu kezaliman.

فإن قلت فلم جاز بيع أحد النقدين بالآخر ولما جاز بيع الدرهم بمثله فاعلم أن أحد النقدين يخالف الآخر في مقصود التوصل إذ قد يتيسر التوصل بأحدهما من حيث كثرته كالدراهم تتفرق في الحاجات قليلاً قليلاً ففي المنع منه ما يشوش المقصود الخاص به وهو تيسر التوصل به إلى غيره وأما بيع الدرهم بدرهم يماثله فجائز من حيث إن ذلك لا يرغب فيه عاقل مهما تساويا ولا يشتغل به تاجر فإنه عبث يجري مجرى وضع الدرهم على الأرض وأخذه بعينه ونحن لا نخاف على العقلاء أن يصرفوا أوقاتهم إلى وضع الدرهم على الأرض وأخذه بعينه فلا نمنع مما لا تتشوق النفوس إليه إلا أن يكون أحدهما أجود من الآخر وذلك أيضاً لا يتصور جريانه إذ صاحب الجيد لا يرضى بمثله من الرديء فلا ينتظم العقد وإن طلب زيادة في الرديء فذلك مما قد يقصده فلا جرم نمنعه منه ونحكم بأن جيدها ورديئها سواء لأن الجودة والرداءة ينبغي أن ينظر إليهما فيما يقصد في عينه وما لا غرض في عينه فلا ينبغي أن ينظر إلا مضافات دقيقة في صفاته وإنما الذي ظلم هو الذي ضرب النقود مختلفة في الجودة والرداءة حتى صارت مقصودة في أعيانها وحقها أن لا تقصد وأما إذا باع درهماً بدرهم مثله نسيئة فإنما لم يجز ذلك لأنه لا يقدم على هذا إلا مسامح قاصد الإحسان في القرض وهو مكرمة مندوحة عنه لتبقى صورة المسامحة فيكون له حمد وأجر والمعاوضة لاحمد فيها ولا أجر فهو أيضاً ظلم لأنه إضاعة خصوص المسامحة وإخراجها في معرض المعارضة وكذلك الأطعمة خلقت ليتغذى بها أو يتداوى بها فلا ينبغي أن تصرف على جهتها فإن فتح باب المعاملة فيها يوجب تقييدها في الأيدي ويؤخر عنها الأكل الذي أريدت له فما خلق الله الطعام إلا ليؤكل والحاجة إلى الأطعمة شديدة فينبغي أن تخرج عن يد المستغني عنها إلى المحتاج ولا يعامل على الأطعمة إلا مستغنٍ عنها إذ من معه طعام فلم

Jika engkau bertanya: 'Mengapa dibolehkan menjual salah satu mata uang dengan mata uang lainnya, dan mengapa boleh menjual dirham dengan dirham yang sejenis?' Maka ketahuilah bahwa salah satu dari dua mata uang itu berbeda dari yang lain dalam hal tujuan pencapaian. Sebab, pencapaian terkadang lebih mudah dengan salah satunya karena jumlahnya yang banyak, seperti dirham yang dipecah-pecah untuk kebutuhan sedikit demi sedikit. Larangan terhadap hal itu akan mengacaukan tujuan khususnya, yaitu kemudahan sarana pencapaian kepada yang lain. Adapun menjual satu dirham dengan dirham lain yang setara dengannya, hal itu dibolehkan karena orang yang berakal tidak akan tertarik padanya jika nilainya sama dan tidak akan disibukkan oleh pedagang, sebab hal itu adalah perbuatan sia-sia yang seperti meletakkan dirham di tanah lalu mengambilnya kembali secara persis. Kami tidak khawatir orang-orang berakal akan menghabiskan waktu mereka untuk meletakkan dirham di tanah dan mengambilnya kembali. Maka kami tidak melarang hal yang tidak diinginkan oleh jiwa, kecuali jika salah satunya lebih baik mutunya daripada yang lain. Namun itu pun tidak terbayangkan terjadi, sebab pemilik dirham yang bagus tidak akan rela ditukar dengan yang buruk yang sejenis, sehingga akad tidak akan terbentuk. Jika ia meminta tambahan pada yang buruk, hal seperti itulah yang mungkin ditujuny. Oleh karena itu, kami melarangnya dan menetapkan bahwa yang bagus dan yang buruk adalah sama. Sebab kualitas bagus dan buruk seharusnya dipandang pada apa yang dituju pada zatnya; sedangkan apa yang tidak ada tujuan pada zatnya tidak boleh dipandang melainkan keterikatan halus pada sifat-sifatnya. Yang berbuat zalim hanyalah orang yang mencetak mata uang dengan perbedaan kualitas bagus dan buruk sehingga mata uang itu dituju pada zatnya, padahal seharusnya tidak dituju. Adapun jika ia menjual satu dirham dengan satu dirham yang setara secara tangguh (nasi'ah), hal itu tidak dibolehkan karena tidak ada yang melakukan ini kecuali orang yang murah hati yang bermaksud memberikan kebaikan dalam piutang (qardh)—yang merupakan kemuliaan tanpa perlu akad penukaran—agar bentuk kemurahan hati tetap terjaga sehingga ia mendapatkan pujian dan pahala. Sedangkan transaksi mu'awadhah (jual beli) tidak ada pujian dan pahala padanya. Maka penundaan itu juga merupakan kezaliman karena menyia-nyiakan kekhususan kemurahan hati dan mengeluarkannya ke bentuk komersial. Demikian pula bahan makanan, ia diciptakan untuk menjadi asupan gizi atau obat, maka tidak boleh dipalingkan dari arah tujuannya. Membuka pintu perdagangan padanya akan menyebabkan tertahannya makanan di tangan-tangan pedagang dan menunda aktivitas makan yang menjadi tujuannya. Allah tidak menciptakan makanan melainkan untuk dimakan, sedang kebutuhan terhadap makanan sangat mendesak, maka semestinya makanan keluar dari tangan orang yang tidak membutuhkannya kepada orang yang membutuhkannya. Tidak ada yang memperdagangkan makanan melainkan orang yang tidak membutuhkannya; sebab barangsiapa memiliki makanan, mengapa…

لا يأكله إن كان محتاجاً ولم يجعله بضاعة تجارة وإن جعله بضاعة تجارة فليبعه ممن يطلبه بعوض غير الطعام يكون محتاجاً إليه فأما من يطلبه بعين ذلك الطعام فهو أيضاً مستغنٍ عنه ولهذا ورد في الشرع لعن المحتكر وورد فيه من التشديدات ما ذكرناه في كتاب آداب الكسب نعم بائع البر بالتمر معذور إذ أحدهما لا يسد مسد الآخر في الغرض وبائع صاع من البر بصاع منه غير معذور ولكنه عابث فلا يحتاج إلى منع لأن النفوس لا تسمح به إلا عند التفاوت في الجودة ومقابلة الجيد بمثله من الرديء لا يرضى بها صاحب الجيد وأما جيد برديئين فقد يقصد ولكن لما كانت الأطعمة من الضروريات والجيد يساوي الرديء في أصل الفائدة ويخالفه في وجوه التنعم أسقط الشرع غرض التنعم فيما هو القوام فهذه حكمة الشرع في تحريم الربا وقد انكشف لنا هذا بعد الإعراض عن فن الفقه فلنلحق هذا بفن الفقهيات فإنه أوي من جميع ما أوردناه في الخلافيات وبهذا يتضح رجحان مذهب الشافعي ﵀ في التخصص بالأطعمة دون المكيلات إذ لو دخل الجص فيه لكانت الثياب والدواب أولى بالدخول ولولا الملح لكان مذهب مالك ﵀ أقوم المذاهب فيه إذ خصصه بالأوقات ولكن كل معنى يرعاه الشرع فلا بد أن يضبط بحد وتحديد هذا كان ممكناً بالقوت وكان ممكناً بالمطعوم فرأى الشرع التحديد بجنس المطعوم أخرى لكل ما هو ضرورة البقاء وتحديدات الشرع قد تحيط بأطراف لا يقوى فيها أصل المعنى الباعث على الحكم ولكن التحديد يقع كذلك بالضرورة ولو لم يحد لتحير الخلق في أتباع جوهر المعنى مع اختلافه بالأحوال والأشخاص فعين المعنى بكمال قوته يختلف باختلاف الأحوال والأشخاص فيكون الحد ضرورياً فلذلك قال الله تعالى ﴿وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ﴾ ولأن أصول هذه المعاني لا تختلف فيها الشرائع وإنما تختلف في وجوه التحديد كما يحد شرع عيسى ابن مريم ﵇ تحريم الخمر بالسكر وقد حده شرعنا بكونه من جنس المسكر لأن قليله يدعو إلى كثير والداخل في الحدود داخل في التحريم بحكم الجنس كما دخل أصل المعنى بالجملة الأصلية فهذا مثال واحد لحكمة خفية من حكم النقدين فينبغي أن يعتبر شكر النعمة وكفرانها بهذا المثال فكل ما خلق لحكمة فينبغي أن يصرف عنها ولا يعرف هذا إلا من قد عرف الحكمة ﴿ومن يؤت الحكمة فقد أوتى خيرا كثيرا﴾ ولكن لا تصادف جواهر الحكم في قلوب هي مزابل الشهوات وملاعب الشياطين بل لا يتذكر إلا أولوا الألباب ولذلك قال ﷺ لولا أن الشياطين يحومون على قلوب بني آدم لنظروا إلى ملكوت السماء وإذ عرفت هذا المثال فقس عليه حركتك وسكونك ونطقك وسكوتك وكل فعل صادر منك فإنه إما شكر وإما كفر إذ لا يتصور أن ينفك عنهما وبعض ذلك نصفه في لسان الفقه الذي تناطق به عوام الناس بالكراهة وبعضه بالخطر وكل ذلك عند أرباب القلوب موصوف بالخطر فأقول مثلاً لو استنجيت باليمنى فقد كفرت نعمة اليدين إذ خلق الله لك اليدين وجعل إحداهما أقوى من الأخرى فاستحق الأقوى بمزيد رجحانه في الغالب التشريف والتفضيل وتفضيل الناقص عدول عن العدل والله لا يأمر بالعدل ثم أحوجك من أعطاك اليدين إلى أعمال بعضها شريف كأخذ المصحف وبعضها خسيس كإزالة النجاسة فإذا أخذت المصحف باليسار وأزلت النجاسة باليمين فقد خصصت الشريف بما هو خسيس فغضضت من حقه وظلمته وعدلت عن العدل وكذلك إذا بصقت مثلاً في جهة القبلة أو استقبلتها في قضاء الحاجة فقد كفرت نعمة الله تعالى في خلق الجهات وخلق سعة العالم لأنه خلق الجهات لتكون متسعك في حركتك وقسم الجهات إلى ما لم يشرفها وإلى ما شرفها بأن وضع فيها بيتاً أضافه إلى نفسه استمالةً

…ia tidak memakannya jika membutuhkan, dan mengapa ia menjadikannya komoditas dagang? Jika ia menjadikannya komoditas dagang, hendaklah ia menjualnya kepada orang yang mencarinya dengan imbalan selain makanan yang dibutuhkannya. Adapun orang yang mencarinya dengan zat makanan itu sendiri, ia juga orang yang tidak membutuhkannya. Oleh karena inilah dalam syariat terdapat laknat bagi penimbun barang (muhtakir) dan terdapat penegasan-penegasan yang telah kami sebutkan dalam Kitab Adab Pencaharian (Adab al-Kasb). Benar, penjual gandum dengan kurma dimaafkan karena salah satunya tidak dapat menggantikan kedudukan yang lain dalam memenuhi tujuan; sedangkan penjual satu sha' gandum dengan satu sha' gandum sejenis tidak dimaafkan, tetapi ia dianggap berbuat sia-sia sehingga tidak perlu dilarang, sebab jiwa tidak akan merelakannya kecuali ada perbedaan kualitas. Menukar yang bagus dengan yang buruk sejenis tidak akan dirindukan pemilik barang yang bagus. Adapun menukar yang bagus dengan dua yang buruk terkadang dituju, namun karena makanan termasuk kebutuhan pokok, dan yang bagus setara dengan yang buruk dalam manfaat pokok serta hanya berbeda dalam segi kenikmatan, maka syariat menggugurkan tujuan kenikmatan pada apa yang menjadi penopang hidup. Inilah hikmah syariat dalam mengharamkan riba. Hal ini tersingkap baginya setelah mengenyampingkan disiplin ilmu fiqih. Maka marilah kita hubungkan ini dengan disiplin fiqih, sebab ia lebih kuat daripada semua yang telah kami paparkan dalam masalah khilafiyah. Dengan ini menjadi jelas keunggulan mazhab Asy-Syafi'i ﵀ dalam mengkhususkan keharaman riba pada bahan makanan (al-ath'imah) bukan pada barang yang ditakar (al-makilat). Sebab sekiranya gips/kapur termasuk di dalamnya, tentulah pakaian dan hewan ternak lebih utama untuk masuk. Dan sekiranya bukan karena garam, tentulah mazhab Malik ﵀ merupakan mazhab yang paling lurus dalam hal ini, sebab beliau mengkhususkannya pada makanan pokok. Akan tetapi, setiap makna yang dijaga oleh syariat harus dibatasi dengan suatu batasan. Pembatasan ini memungkinkan dengan 'makanan pokok' (qut) dan memungkinkan pula dengan 'bahan makanan' (math'um), lalu syariat memandang pembatasan dengan jenis bahan makanan lebih mencakup bagi segala hal yang menjadi darurat kelangsungan hidup. Batasan-batasan syariat terkadang mencakup cakupan tepi di mana pokok makna pendorong hukum tidak terlalu kuat padanya, namun pembatasan itu terjadi demikian karena keadaan darurat. Sekiranya tidak dibatasi, niscaya makhluk akan kebingungan dalam mengikuti hakikat makna seiring perbedaannya berdasarkan kondisi dan individu. Sebab hakikat makna dengan kekuatan kesempurnaannya berbeda-beda sesuai perbedaan kondisi dan individu, sehingga batasan menjadi suatu keharusan. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: 'Dan barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh ia telah menzalimi dirinya sendiri' (QS. At-Talaq: 1). Dan karena pokok-pokok makna ini tidak berbeda dalam syariat-syariat, melainkan hanya berbeda pada cara pembatasannya; sebagaimana syariat 'Isa putra Maryam ﵇ membatasi pengharaman khamar pada kondisi mabuk, sedangkan syariat kita membatasinya dengan keberadaannya dari jenis yang memabukkan, karena sedikitnya mengajak kepada banyaknya. Apa yang masuk dalam batasan berarti masuk dalam pengharaman berdasarkan hukum jenis, sebagaimana pokok makna masuk secara keseluruhan pendorong asal. Ini adalah satu contoh bagi hikmah tersembunyi dari hikmah-hikmah mata uang. Maka sepantasnya syukur nikmat dan kufur nikmat diukur dengan contoh ini. Setiap apa yang diciptakan untuk suatu hikmah hendaknya tidak dipalingkan darinya, dan tidak ada yang mengetahui hal ini melainkan orang yang telah dianugerahi hikmah: 'Dan barangsiapa dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak' (QS. Al-Baqarah: 269). Namun permata-permata hikmah tidak akan menjumpai hati yang menjadi tempat pembuangan syahwat dan tempat bermain setan, melainkan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal (ulul albab). Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: 'Sekiranya setan-setan tidak mengelilingi hati anak cucu Adam, niscaya mereka dapat melihat ke kerajaan langit (malakut as-samawat).' Apabila engkau telah mengetahui contoh ini, maka kiaslah padanya gerakmu, diammu, ucapanmu, diammu, dan setiap perbuatan yang terbit darimu; sebab perbuatan itu tidak lepas dari menjadi syukur atau menjadi kufur, karena tidak terbayangkan lepas dari keduanya. Sebagian dari itu kami sifatkan dalam bahasa fiqih yang diucapkan oleh orang awam sebagai makruh, dan sebagian lagi sebagai keharaman. Semua itu di mata para pemilik hati (arbab al-qulub) disifati sebagai bahaya (bahaya bagi spiritual). Maka aku katakan sebagai contoh: Jika engkau beristinja dengan tangan kanan, sungguh engkau telah mengkufuri nikmat kedua tangan. Sebab Allah menciptakan dua tangan untukmu dan menjadikan salah satunya lebih kuat dari yang lain, maka yang lebih kuat berhak—dengan keunggulannya yang dominan—mendapatkan penghormatan dan pengutamaan. Mengutamakan yang kurang adalah penyimpangan dari keadilan, padahal Allah memerintahkan keadilan. Kemudian Dia yang memberimu dua tangan membuatmu membutuhkan pekerjaan-pekerjaan yang sebagiannya mulia seperti memegang mushaf, dan sebagiannya rendah seperti menghilangkan najis. Jika engkau memegang mushaf dengan tangan kiri dan menghilangkan najis dengan tangan kanan, sungguh engkau telah mengkhususkan yang mulia bagi hal yang rendah, sehingga engkau merendahkan haknya, menzaliminya, dan menyimpang dari keadilan. Demikian pula jika engkau meludah ke arah kiblat atau menghadapnya saat buang hajat, sungguh engkau telah mengkufuri nikmat Allah Ta'ala dalam penciptaan arah-arah dan kelapangan alam semesta. Sebab Dia menciptakan arah-arah sebagai kelapangan bagimu dalam bergerak, dan membagi arah menjadi yang tidak dimuliakan dan yang dimuliakan dengan meletakkan di dalamnya sebuah Rumah (Ka'bah) yang dinisbatkan kepada diri-Nya untuk menarik…

لقلبك إليه ليتقيد به قلبك فيتقيد بسببه بدنك في تلك الجهة على هيئة الثبات والوقار إذا عبدت ربك وكذلك انقسمت أفعالك إلى ما هي شريفة كالطاعات وإلى ما هي خسيسة كقضاء الحاجة ورمي البصاق فإذا رميت بصاقك إلى الجهة القبلة فقد ظلمتها وكفرت نعمة الله تعالى عليك بوضع القبلة التي بوضعها كمال عبادتك وكذلك إذا لبست خفك فابتدأت باليسرى فقد ظلمت لأن الخف وقاية للرجل فللرجل فيه حظ والبداءة في الحظوظ ينبغي أن تكون بالأشرف فهو العدل والوفاء بالحكمة ونقيضه ظلم وكفران لنعمة الخف والرجل وهذا عند العارفين كبيرة وإن سماه الفقيه مكروهاً حتى إن بعضهم كان قد جمع إكراراً من الحنطة وكان يتصدق بها فسئل عن سببه فقال لبست المداس مرة فابتدأت بالرجل اليسرى سهواً فأريد أن أكفره بالصدقة نعم الفقيه لا يقدر على تفخيم الأمر في هذه الأمور لأنه مسكين بل بإصلاح العوام الذين تقرب درجتهم من درجة الإنعام وهم مغموسون في ظلمات أطم وأعظم من أن تظهر أمثال هذه الظلمات بالإضافة إليها فقبيح أن يقال الذي شرب الخمر وأخذ القدح بيساره قد تعدى من وجهين أحدهما الشرب والآخر الآخذ باليسار ومن باع خمراً في وقت النداء يوم الجمعة فقبيح أن يقال خان من وجهين ﴿أحدهما﴾ بيع الخمر والآخر البيع في وقت النداء ومن قضى حاجته في محراب المسجد مستدبر القبلة فقبيح أن يذكر تركه الأدب في قضاء الحاجة من حيث إنه لم يجعل القبلة عن يمينه فالمعاصي كلها ظلمات بعضها فوق بعض فيمنحق بعضها في جنب البعض فالسيد قد يعاقب عبده إذا استعمل سكينه بغير إذنه ولكن لو قتل بتلك السكين أعز أولاده لم يبق لاستعمال السكين بغير إذنه حكم ونكاية في نفسه فكل ما راعاه الأنبياء والأولياء من الآداب وتسامحنا فيه في الفقه مع العوام فسببه هذه الضرورة وإلا فكل هذه المكاره عدول عن العدل وكفران للنعمة ونقصان عن الدرجة المبلغة للعبد إلى درجات القرب بعضها يؤثر في العبد بنقصان القرب وانحطاط المنزلة وبعضها يخرج بالكلية عن حدود القرب إلى عالم البعد الذي هو مستقر الشياطين وكذلك مَنْ كَسَرَ غُصْنًا مِنْ شَجَرَةٍ مِنْ غَيْرِ حاجة ناجزة مهمة ومن غير حاجة غَرَضٍ صَحِيحٍ فَقَدْ كَفَرَ نِعْمَةَ اللَّهِ تَعَالَى فِي خَلْقِ الْأَشْجَارِ وَخَلْقِ الْيَدِ أَمَّا الْيَدُ فَإِنَّهَا لَمْ تُخْلَقْ لِلْعَبَثِ بَلْ لِلطَّاعَةِ وَالْأَعْمَالِ المعينة على الطاعة وأما الشجر فإنه خلقه الله تعالى وخلق لَهُ الْعُرُوقَ وَسَاقَ إِلَيْهِ الْمَاءَ وَخَلَقَ فِيهِ قوة الاغتذاء والنماء ليبلغ منتهى نشوه فينتفع به عباده فكسره قبل منتهى نشوة لَا عَلَى وَجْهٍ يَنْتَفِعُ بِهِ عِبَادُهُ مُخَالَفَةٌ لِمَقْصُودِ الْحِكْمَةِ وَعُدُولٌ عَنِ الْعَدْلِ فَإِنْ كَانَ لَهُ غَرَضٌ صَحِيحٌ فَلَهُ ذَلِكَ إِذِ الشَّجَرُ وَالْحَيَوَانُ جُعِلَا فِدَاءً لِأَغْرَاضِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُمَا جَمِيعًا فَانِيَانِ هَالِكَانِ فَإِفْنَاءُ الْأَخَسِّ فِي بَقَاءِ الْأَشْرَفِ مُدَّةً مَا أَقْرَبُ إِلَى الْعَدْلِ مِنْ تَضْيِيعِهِمَا جَمِيعًا وَإِلَيْهِ الْإِشَارَةُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى وَسَخَّرَ لَكُمْ ما في السموات وما في الأرض جميعا منه نعم إذا كسر ذلك من ملك غيره فهو ظالم أيضاً وإن كان محتاجاً لأن كل شجرة بعينها لاتفى بحاجات عباد الله كلهم بل تفي بحاجة واحدة ولو خصص واحد بها من غير رجحان واختصاص كان ظلماً فصاحب الاختصاص هو الذي حصل البذر ووضعه في الأرض وساق إليه الماء وقام بالتعهد فهو أولى به من غيره فيرجع جانبه بذلك فإن نبت ذلك في موات الأرض لا بسعي آدمي اختص بمغرسه أو بغرسه فلا بد من طلب اختصاص آخر وهو السبق إلى أخذه فللسابقخاصية السبق فالعدل هو أن يكون أولى به وعبر الفقراء عن هذا الترجيح بالملك وهو مجاز محض إذ لا ملك إلا لملك الملوك الذي له ما في السموات والأرض وكيف يكون العبد مالكاً وهو في نفسه ليس يملك نفسه بل هو ملك غيره نعم الخلق عباد الله والأرض مائدة الله وقد أذن لهم في الأكل من مائدته بقدر حاجتهم كالملك ينصب مائدة لعبيده فمن أخذ لقمة بيمينه واحتوت عليها براجمه فجاء عبد آخر وأراد انتزاعها

…hatimu kepada-Nya, agar hatimu terikat oleh-Nya sehingga tubuhmu terikat oleh sebabnya ke arah tersebut dalam bentuk ketetapan dan ketenangan ketika engkau menyembah Tuhanmu. Demikian pula perbuatan-perbuatanmu terbagi menjadi yang mulia seperti ketaatan, dan yang rendah seperti buang hajat serta meludah. Jika engkau melemparkan ludahmu ke arah kiblat, sungguh engkau telah menzaliminya dan mengkufuri nikmat Allah Ta'ala atasmu dengan penetapan kiblat yang dengan penetapannya menjadi sempurnalah ibadahmu. Demikian pula jika engkau memakai sepatu (khuff) lalu memulai dengan kaki kiri, sungguh engkau telah berbuat zalim, karena sepatu adalah perlindungan bagi kaki, sehingga kaki memiliki bagian kebaikan padanya, sedang memulai dalam bagian kebaikan semestinya dengan yang lebih mulia. Itulah keadilan dan pemenuhan terhadap hikmah, sedang kebalikannya adalah kezaliman dan kufur nikmat terhadap sepatu dan kaki. Di mata para arifin (orang yang kenal Allah), hal ini termasuk dosa besar meskipun ahli fiqih menyebutnya makruh. Sampai-sampai sebagian dari mereka pernah mengumpulkan berkarung-karung gandum lalu bersedekah dengannya; ketika ditanya sebabnya, ia menjawab: 'Aku pernah memakai alas kaki suatu kali lalu memulai dengan kaki kiri karena lupa, maka aku ingin menghapusnya dengan sedekah.' Benar, ahli fiqih tidak mampu membesarkan perkara dalam hal-hal ini karena ia merasa kasihan, melainkan fokus membenahi orang awam yang derajat mereka mendekati derajat hewan ternak, sedang mereka tenggelam dalam kegelapan yang lebih pekat dan lebih besar daripada menampakkan kegelapan seumpama ini jika dibandingkan padanya. Sungguh buruk jika dikatakan bahwa orang yang minum khamar lalu mengambil gelas dengan tangan kirinya telah melanggar dari dua sisi: salah satunya minum khamar dan yang lain mengambil dengan tangan kiri; dan orang yang menjual khamar pada waktu azan hari Jumat telah berkhianat dari dua sisi: salah satunya menjual khamar dan yang lain menjual pada waktu azan; serta orang yang buang hajat di mihrab masjid dengan membelakangi kiblat dikatakan meninggalkan adab buang hajat karena tidak menjadikan kiblat di sebelah kanannya. Maka maksiat itu semuanya adalah kegelapan yang sebagiannya di atas sebagian yang lain, di mana sebagian hilang di samping sebagian yang lain. Seorang tuan terkadang menghukum hamba-Nya jika memakai pisaunya tanpa izinnya, namun jika ia membunuh putra kesayangannya dengan pisau itu, tidak tersisa lagi hukum pemakaian pisau tanpa izin dan dampaknya dalam dirinya. Maka segala adab yang dijaga oleh para nabi dan wali—yang kami beri kelonggaran padanya dalam fiqih bagi awam—sebabnya adalah keadaan darurat ini. Jika tidak, maka seluruh hal yang dimakruhkan ini adalah penyimpangan dari keadilan, kufur nikmat, dan pengurangan dari derajat yang menyampaikan hamba ke derajat-derajat kedekatan (qurb). Sebagiannya berdampak pada berkurangnya kedudukan qurb dan jatuhnya martabat, dan sebagiannya mengeluarkan secara keseluruhan dari batas-batas qurb menuju alam kejauhan yang merupakan kediaman setan-setan. Demikian pula barangsiapa mematahkan ranting pohon tanpa ada kebutuhan mendesak dan tanpa ada tujuan yang benar, sungguh ia telah mengkufuri nikmat Allah Ta'ala dalam penciptaan pohon-pohon dan penciptaan tangan. Adapun tangan, ia tidak diciptakan untuk berbuat sia-sia melainkan untuk ketaatan dan perbuatan yang membantu ketaatan. Adapun pohon, Allah Ta'ala menciptakannya, menciptakan akarnya, mengalirkan air kepadanya, serta menciptakan padanya kekuatan asupan gizi dan pertumbuhan agar mencapai puncak tumbuhnya sehingga hamba-hamba-Nya dapat mengambil manfaat dengannya. Mematahkannya sebelum puncak tumbuhnya tanpa ada cara yang memberi manfaat bagi hamba-hamba-Nya adalah menyalahi maksud hikmah dan menyimpang dari keadilan. Jika ia memiliki tujuan yang benar, ia boleh melakukannya, sebab pohon dan hewan dijadikan sebagai tebusan bagi tujuan-tujuan manusia, karena keduanya akan fana dan binasa. Membinasakan yang lebih rendah demi kelangsungan yang lebih mulia dalam jangka waktu tertentu lebih dekat kepada keadilan daripada menyia-nyiakan keduanya sekaligus. Kepada hal inilah diisyaratkan oleh firman-Nya Ta'ala: 'Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya' (QS. Al-Jatsiyah: 13). Benar, jika ia mematahkan pohon milik orang lain, ia juga berbuat zalim meskipun ia membutuhkan, sebab setiap pohon secara khusus tidak dapat memenuhi kebutuhan seluruh hamba Allah melainkan hanya memenuhi satu kebutuhan. Sekiranya satu orang dikhususkan dengannya tanpa ada keunggulan dan kekhususan, tentulah itu suatu kezaliman. Maka pemilik kekhususan adalah orang yang mengusahakan benih, menanamnya di tanah, mengalirkan air kepadanya, dan merawatnya, sehingga ia lebih berhak atasnya daripada orang lain, dan sisinya menjadi unggul dengan hal itu. Jika pohon itu tumbuh di tanah mati tanpa usahanya manusia, ia terkhusus dengan tempat tumbuhnya atau penanamannya. Maka harus dicari kekhususan lain, yaitu mendahului dalam mengambilnya, sehingga orang yang mendahului memiliki keutamaan kedahuluan. Maka keadilan menetapkan ia lebih berhak atasnya. Para fuqara menyoroti keunggulan ini dengan istilah kepemilikan (al-milk), padahal itu adalah kiasan murni (majaz mahdh), sebab tidak ada kepemilikan melainkan bagi Raja segala raja (Malik al-Muluk) yang memiliki apa yang ada di langit dan di bumi. Bagaimana seorang hamba menjadi pemilik padahal dirinya sendiri tidak memiliki dirinya sendiri, melainkan ia adalah milik orang lain? Benar, para makhluk adalah hamba-hamba Allah dan bumi adalah hidangan Allah, dan Dia telah mengizinkan mereka untuk makan dari hidangan-Nya sekadar kebutuhan mereka, sebagaimana seorang raja menghidangkan makanan bagi hamba-hamba-Nya; maka barangsiapa mengambil satu suapan dengan tangan kanannya dan telah digenggam oleh jari-jemarinya, lalu datang hamba lain hendak merebutnya…

من يده لم يمكن منه لا لأن اللقمة صارت ملكاً له بالأخذ باليد فإن اليد وصاحب اليد أيضاً مملوك ولكن إذا كانت كل لقمة بعينها لا تفي بحاجة كل العبيد فالعدل في التخصيص عند حصول ضرب من الترجيح والاختصاص والأخذ اختصاص ينفرد به العبد فمنع من لا يدلي بذلك الاختصاص عن مزاحمته فهكذا ينبغي أن تفهم أمر الله فى في عباده ولذلك نقول من أخذ من أموال الدنيا أكثر من حاجته وكنزه وأمسكه وفي عباد الله من يحتاج إليه فهو ظالم وهو من الذين يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ الله وإنما سبيل الله طاعته وزاد الخلق في طاعته أموال الدنيا إذ بها تندفع ضروراتهم وترتفع حاجاتهم نعم لا يدخل هذا في حد فتاوى الفقه لأن مقادير الحاجات خفية والنفوس في استشعار الفقر في الاستقبال مختلفة وأواخر الأعمار غير معلومة فتكليف العوام ذلك يجري مجرى تكليف الصبيان الوقار والتؤدة والسكوت عن كلام غير مهم وهو بحكم نقصانهم لا يطيقونه فتركنا الاعتراض عليهم في اللعب واللهو وإباحتنا ذلك إياهم لا يدل على أن اللهو واللعب حق فكذلك إباحتنا للعوام حفظ الأموال والاقتصار في الإنفاق على قدر الزكاة لضرورة ما جبلوا عليه من البخل لا يدل على أنه غاية الحق وقد أشار القرآن إليه إذ قال تعالى ﴿إن يسألكموها فيحفكم تبخلوا﴾ بل الحق الذي لا كدورة فيه والعدل الذي لا ظلم فيه أن لا يأخذ أحد من عباد الله من مال الله إلا بقدر زاد الراكب فكل عباد الله ركاب لمطايا الأبدان إلى حضرة الملك الديان فمن أخذ زيادة عليه ثم منعه عن راكب آخر محتاج إليه فهو ظالم تارك للعدو وخارج عن مقصود الحكمة وكافر نعمة الله تعالى عليه بالقرآن والرسول والعقل وسائر الأسباب التي بها عرف أن ما سوى زاد الراكب وبال عليه في الدنيا والآخرة فَمَنْ فَهِمَ حِكْمَةَ اللَّهِ تَعَالَى فِي جَمِيعِ أَنْوَاعِ الْمَوْجُودَاتِ قَدَرَ عَلَى الْقِيَامِ بِوَظِيفَةِ الشُّكْرِ واستقصاء ذلك يحتاج إلى مجلدات ثم لا تفي إلا بالقليل وإنما أوردنا هذا القدر ليعلم علة الصدق في قوله تعالى ﴿وقليل من عبادي الشكور﴾ وفرح إبليس لعنه الله بقوله ﴿ولا تجد أكثرهم شاكرين﴾ فلا يعرف معنى هذه الآية من لم يعرف معنى هذا كله وأموراً أخر وراء ذلك تنقضي الأعمار دون استقصاء مباديها فأما تفسير الآية ومعنى لفظها فيعرفه كل من يعرف اللغة وبهذا يتبين لك الفرق بين المعنى والتفسير

…dari tangannya, ia tidak boleh dibiarkan melakukan itu, bukan karena suapan itu telah menjadi miliknya dengan mengambilnya memakai tangan—sebab tangan dan pemilik tangan itu sendiri adalah hamba yang dimiliki—melainkan karena setiap suapan secara khusus tidak dapat memenuhi kebutuhan seluruh hamba. Maka keadilan dalam pengkhususan adalah ketika terjadi jenis keunggulan dan kekhususan, sedang mengambil adalah kekhususan yang menyendiri pada hamba tersebut, sehingga dilaranglah orang yang tidak memiliki kekhususan itu dari merebutnya. Demikianlah hendaknya engkau memahami perintah Allah pada hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu kami katakan: Barangsiapa mengambil dari harta dunia lebih dari kebutuhannya lalu menimbun dan menahannya padahal di antara hamba-hamba Allah ada yang membutuhkannya, maka ia adalah orang yang zalim dan termasuk orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah. Padahal jalan Allah adalah ketaatan kepada-Nya, dan bekal makhluk dalam ketaatan kepada-Nya adalah harta dunia, sebab dengannya terdoronglah kedaruratan mereka dan terangkatlah kebutuhan mereka. Benar, hal ini tidak masuk dalam batas fatwa-fatwa fiqih karena kadar kebutuhan itu tersembunyi, jiwa dalam merasakan kefakiran di masa depan berbeda-beda, dan akhir usia tidak diketahui. Maka membebani orang awam dengan hal itu seperti membebani anak-anak dengan wibawa, ketenangan, dan diam dari ucapan yang tidak penting, padahal karena kekurangan mereka, mereka tidak sanggup menanggungnya. Maka kami membiarkan keberatan atas mereka dalam permainan dan kelalaian, sedang kebolehan kami bagi mereka terhadap hal itu tidak menunjukkan bahwa kelalaian dan permainan adalah kebenaran. Demikian pula kebolehan kami bagi awam untuk menyimpan harta dan membatasi infak sebatas kadar zakat—karena darurat tabiat kikir yang diciptakan pada diri mereka—tidak menunjukkan bahwa itu adalah puncak kebenaran. Al-Qur'an telah mengisyaratkannya ketika berfirman Ta'ala: 'Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya), niscaya kamu akan kikir' (QS. Muhammad: 37). Melainkan kebenaran yang tidak ada kekeruhan padanya dan keadilan yang tidak ada kezaliman padanya adalah tidak ada seorang pun dari hamba-hamba Allah yang mengambil dari harta Allah melainkan sekadar bekal musafir. Sebab seluruh hamba Allah adalah para penunggang atas tunggangan tubuh menuju hadirat Sang Raja Yang Maha Membalas (ad-Dayyan). Barangsiapa mengambil tambahan darinya lalu menahannya dari penunggang lain yang membutuhkannya, maka ia berbuat zalim, meninggalkan keadilan, keluar dari maksud hikmah, dan mengkufuri nikmat Allah Ta'ala atasnya dengan Al-Qur'an, Rasul, akal, serta seluruh sebab yang dengannya diketahui bahwa apa yang melebihi bekal musafir adalah malapetaka baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa memahami hikmah Allah Ta'ala pada seluruh jenis wujud, niscaya ia mampu menunaikan tugas syukur. Dan menelusuri hal itu secara mendalam membutuhkan beberapa jilid buku, yang mana itu pun hanya memenuhi sebagian kecil saja. Kami hanya menyajikan kadar ini agar diketahui rahasia kebenaran firman-Nya Ta'ala: 'Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih' (QS. Saba': 13), serta kegembiraan Iblis—semoga laknat Allah atasnya—dengan ucapannya: 'Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur' (QS. Al-A'raf: 17). Maka tidak ada yang mengetahui makna ayat ini kecuali orang yang mengetahui makna seluruh ini serta hal-hal lain di baliknya yang mana usia akan habis sebelum menelusuri dasar-dasarnya sampai tuntas. Adapun penafsiran ayat dan makna lafaznya, maka dapat diketahui oleh setiap orang yang mengetahui bahasa. Dengan ini menjadi jelas bagimu perbedaan antara makna dan tafsir.

فإن قلت فقد رجع حاصل هذا الكلام إلى أن الله تعالى حكمه في كل شيء وأنه جعل بعض أفعال العباد سبباً لتمام الحكمة وبلوغها غاية المراد منها وجعل بعض أفعالها مانعاً من تمام الحكمة فكل فعل وافق مقتضى الحكمة حتى انساقت الحكمة إلى غايتها فهو شكر وكل ما خالف ومنع الأسباب من أن تنساق إلى الغاية المرادة بها فهو كفران وهذا كله مفهوم ولكن الإشكال باق وهو أن فعل العبد المنقسم إلى ما يتمم الحكمة وإلى ما يرفعها هو أيضاً من فعل الله تعالى فأين العبد في البين حتى يكون شاكراً مرة وكافراً أخرى فاعلم أن تمام التحقيق في هذا يستمد من تيار بحر عظيم من علوم المكاشفات وقد رمزنا فيما سبق إلى تلويحات بمباديها ونحن الآن نعبر بعبارة وجيزة عن آخرها وغايتها يفهمها من عرف منطق الطير ويجحدها من عجز عن الإيضاع في السير فضلاً عن أن يجول في جو الملكوت جولان الطير فنقول إن الله ﷿ في جلاله وكبريائه صفة عنها يصدر الخلق والاختراع وتلك الصفة أعلى وأجل من أن تلمحها عين واضع اللغة حتى يعبر عنها بعبارة تدل على كنه جلالها وخصوص حقيقتها فلم يكن لها في العالم عبارة لعلو شأنها وانحطاط رتبة واضعي اللغات عن أن يمتد طرف فهمهم إلى مبادى إشراقها فانخفضت عن ذروتها أبصارهم كما تنخفض أبصار الخفافيش عن نور الشمس لا لغموض

Jika engkau bertanya: 'Maka simpul dari pembicaraan ini kembali pada bahwa Allah Ta'ala memiliki hikmah pada segala sesuatu, dan bahwa Dia menjadikan sebagian perbuatan hamba sebagai sebab bagi sempurnanya hikmah dan tercapainya puncak maksud darinya, serta menjadikan sebagian perbuatan mereka sebagai penghalang dari sempurnanya hikmah. Maka setiap perbuatan yang sesuai dengan tuntutan hikmah hingga hikmah itu mengalir menuju puncaknya adalah syukur, sedang setiap apa yang menyalahi dan menghalangi sebab-sebab dari mengalir menuju puncak yang dimaksud dengannya adalah kufur. Ini semua dapat dipahami, namun kemusykilan masih tersisa: yaitu bahwa perbuatan hamba yang terbagi menjadi apa yang menyempurnakan hikmah dan apa yang mengangkatnya adalah juga dari perbuatan Allah Ta'ala. Lalu di manakah kedudukan hamba di antara itu sehingga ia menjadi orang yang bersyukur pada suatu kali dan menjadi orang yang kufur pada kali yang lain?' Maka ketahuilah bahwa penyempurnaan hakikat pencapaian dalam hal ini bersumber dari arus lautan ilmu-ilmu mukasyafah yang sangat agung. Kami telah memberi isyarat berupa kilasan-kilasan pada dasar-dasarnya sebelumnya, dan sekarang kami mengungkapkan dengan ungkapan ringkas mengenai puncak dan tujuannya, yang akan dipahami oleh orang yang mengenal bahasa burung (mantiq ath-thayr) dan akan diingkari oleh orang yang lemah untuk melangkah dalam perjalanan, jangankan untuk terbang melayang di angkasa malakut seperti terbangnya burung. Maka kami katakan: Sesungguhnya Allah ﷿ dalam keagungan dan kebesaran-Nya memiliki suatu sifat yang darinya bersumber penciptaan dan pengadaan (al-khalq wa al-ikhtira'). Sifat itu lebih tinggi dan lebih agung dari sekadar dilirik oleh mata pembuat bahasa sehingga ia dapat mengungkapkan dengan ungkapan yang menunjukkan hakikat keagungan-Nya dan kekhususan hakikat-Nya. Maka tidak ada bagi sifat itu di alam ini suatu ungkapan karena tingginya kedudukannya dan rendahnya tingkatan para pembuat bahasa dari jangkauan pemahaman mereka terhadap awal pemancaran cahayanya. Pandangan-pandangan mereka tertunduk dari puncaknya sebagaimana tertunduknya pandangan kelelawar dari cahaya matahari, bukan karena ada samar…

في نور الشمس ولكن لضعف في أبصار الخفافيش فاضطر الذين فتحت أبصارهم لملاحظة جلالها إلى أن يستعيروا من حضيض عالم المتناطقين باللغات عبارة تفهم من مبادي حقائقها شيئاً ضعيفاً جداً فاستعاروا لها اسم القدرة فتجاسرنا بسبب استعارتهم على النطق فقلنا لله تعالى صفة هي القدرة عنها يصدر الخلق والاختراع ثم الخلق ينقسم في الوجود إلى أقسام وخصوص صفات ومصدر انقسام هذه الأقسام واختصاصها بخصوص صفاتها صفة أخرى استعير لها بمثل الضرورة التي سبقت عبارة المشيئة فهي توهم منها أمراً محملاً عند المتناطقين باللغات التي هى حروف وأصوات المتفاهمين بها وقصور لفظ المشيئة عن الدلالة على كنه تلك الصفة وحقيقتها كفصور لفظ القدر ثم انقسمت الأفعال الصادرة من القدرة إلى ما ينساق إلى المنتهى الذي هو غاية حكمتها وإلى ما يقف دون الغاية وكان لكل واحد نسبة إلى صفة المشيئة لرجوعها إلى الاختصاصات التي بها تتم القسمة والاختلافات فاستعير لنسبة البالغ غايته عبارة المحبة واستعير لنسبة الواقف دون غايته عبارة الكراهة وقيل إنهما جميعاً داخلان في وصف المشيئة ولكن لكل واحد خاصية أخرى في النسبة يوهم لفظ المحبة والكراهة منهما أمراً مجملاً عند طالبي الفهم من الألفاظ واللغات ثم انقسم عباده الذين هم أيضاً من خلقه واختراعه إلى من سبقت له المشيئة الأزلية أن يستعمله لاستيقاف حكمته دون غايتها ويكون ذلك قهراً في حقهم بتسليط الدواعي والبواعث عليهم وإلى من سبقت لهم في الأزل أن يستعملهم لسياقة حكمته إلى غايتها في بعض الأمور فكان لكل واحد من الفريقين نسبة إلى المشيئة خاصة فاستعير لنسبة المستعملين في إتمام الحكمة بهم عبارة الرضا واستعير للذين استوقف بهم أسباب الحكمة دون غايتها عبارة الغضب فظهر على من غضب عليه في الأزل فعل وقفت الحكمة به دون غايتها فاستعير له الكفران وأردف ذلك بنقمة اللعن والمذمة زيادة في النكال وظهر على من ارتضاه في الأزل فعل انساقت بسببه الحكمة إلى غايتها فاستعير له عبارة الشكر وأردف بخلعة الثناء والإطراء زيادة في الرضا والقبول والإقبال فكان الحاصل أنه تعالى أعطى الجمال ثم أثنى وأعطى النكال ثم قبح وأردى وكان مثاله أن ينظف الملك عبده الوسخ عن أوساخه ثم يلبسه من محاسن ثيابه فإذا تمم زينته قال يا جميل ما أجملك وأجمل ثيابك وأنظف وجهك فيكون بالحقيقة هو المجمل وهو المثني على الجمال فهو المثني عليه بكل حال وكأنه لم يثني من حيث المعنى إلا على نفسه وإنما العبد هدف الثناء من حيث الظاهر والصورة فهكذا كانت الأمور فى الأزال وهكذا تتسلسل الأسباب والمسببات بتقدير رب الأرباب ومسبب الأسباب ولم يكن ذلك على اتفاق وبحث بل عن إرادة وحكمة وحكم حق وأمر جزم استعير له لفظ القضاء وقيل إنه كلمح بالبصر أو هو أقرب لفاضت بحار المقادير بحكم ذلك القضاء الجزم بما سبق به التقدير فاستعير لترتب آحاد المقدورات بعضها على بعض لفظ القدر فكان لفظ القضاء بإزاء الآمر الواحد الكلي ولفظ القدر بإزاء التفصيل المتمادي إلى غير نهاية وقيل إن شيئاً من ذلك ليس خارجاً عن القضاء والقدر فخطر لبعض العباد أن القسمة لماذا اقتضت هذا التفصيل وكيف انتظم العدل مع هذا التفاوت والتفضيل وكان بعضهم لقصوره لا يطيق ملاحظة كنه هذا الأمر والاحتواء على مجامعه فألجموا عما لم يطيقوا خوض غمرته بلجام المنع وقيل لهم اسكنوا فما لهذا خلقتم لا يسئل عما يفعل وهم يسئلون وامتلأت مشكاة بعضهم نوراً مقتبساً من نور الله تعالى في السموات والأرض وكان زيتهم أولاً صافياً يكاد يضيء ولو لم تمسسه نار فمسته نار فاشتعل نوراً على نور فأشرقت أقطار الملكوت بين أيديهم بنور ربها فأدركوا الأمور كلها كما هي عليه فقيل لهم تأدبوا بآداب الله تعالى واسكنوا وإذا

…pada cahaya matahari, melainkan karena kelemahan pada pandangan kelelawar itu sendiri. Maka orang-orang yang matanya telah terbuka untuk menyaksikan keagungan-Nya terpaksa meminjam dari dasar alam orang-orang yang berbincang dengan bahasa suatu ungkapan yang memberikan pemahaman lemah tentang awal hakikat-hakikat sifat itu. Maka mereka meminjam baginya nama 'Kekuasaan' (Al-Qudrah). Disebabkan peminjaman istilah oleh mereka, kami berani berucap lalu kami katakan: Bagi Allah Ta'ala ada sifat yaitu Al-Qudrah yang darinya bersumber penciptaan dan pengadaan. Kemudian penciptaan terbagi dalam wujud menjadi beberapa bagian dan kekhususan sifat-sifat; sedang sumber pembagian bagian-bagian ini dan kekhususannya dengan sifat-sifat khusus adalah sifat lain yang dipinjamkan baginya—karena kedaruratan yang telah disebutkan—ungkapan 'Kehendak' (Al-Masyi'ah). Ungkapan ini memberi pemahaman tentang suatu perkara yang samar bagi orang-orang yang berbicara dengan bahasa-bahasa berupa huruf dan suara yang saling mereka pahami. Keterbatasan lafaz Al-Masyi'ah untuk menunjukkan hakikat sifat tersebut seperti keterbatasan lafaz Al-Qudrah. Kemudian perbuatan-perbuatan yang bersumber dari Al-Qudrah terbagi menjadi apa yang mengalir menuju puncak yang merupakan akhir hikmahnya, dan apa yang terhenti sebelum puncak. Masing-masing memiliki nisbah (hubungan) kepada sifat Al-Masyi'ah karena kembalinya kepada kekhususan-kekhususan yang dengannya menjadi sempurna pembagian dan perbedaan. Maka dipinjamlah untuk nisbah perbuatan yang sampai pada puncaknya ungkapan 'Cinta' (Al-Mahabbah), dan dipinjam untuk nisbah yang terhenti sebelum puncaknya ungkapan 'Kebencian' (Al-Karahah). Dikatakan bahwa keduanya masuk dalam sifat Al-Masyi'ah, namun masing-masing memiliki kekhususan lain dalam nisbah di mana lafaz Al-Mahabbah dan Al-Karahah memberi pemahaman tentang perkara yang samar bagi para pencari pemahaman dari lafaz dan bahasa. Kemudian hamba-hamba-Nya—yang mereka juga termasuk ciptaan dan pengadaan-Nya—terbagi menjadi orang yang telah didahului oleh Al-Masyi'ah Al-Azaliyyah (kehendak azali) bahwa Allah menggunakannya untuk menghentikan hikmah-Nya sebelum puncaknya, dan hal itu terjadi secara paksa bagi mereka dengan menguasakan dorongan-dorongan dan pendorong-pendorong atas mereka; serta orang yang telah didahului dalam azali bahwa Allah menggunakan mereka untuk mengalirkan hikmah-Nya menuju puncaknya dalam sebagian perkara. Maka masing-masing dari dua kelompok memiliki nisbah khusus kepada Al-Masyi'ah. Dipinjamlah untuk nisbah orang-orang yang digunakan dalam menyempurnakan hikmah ungkapan 'Keridaan' (Ar-Ridha), dan dipinjam untuk orang-orang yang dijadikan penghenti sebab-sebab hikmah sebelum puncaknya ungkapan 'Kemurkaan' (Al-Ghadhab). Maka nampaklah pada orang yang dimurkai-Nya dalam azali perbuatan yang menghentikan hikmah sebelum puncaknya, lalu dipinjamkan baginya lafaz 'Kufur' (Al-Kufrah), dan diiringi dengan siksaan berupa laknat dan celaan sebagai tambahan hukuman. Dan nampaklah pada orang yang diridai-Nya dalam azali perbuatan yang karenanya hikmah mengalir menuju puncaknya, lalu dipinjamkan baginya ungkapan 'Syukur' (Asy-Syukr), dan diiringi dengan jubah pujian dan pemuliaan sebagai tambahan ridha, penerimaan, dan penyambutan. Maka hasilnya adalah bahwa Allah Ta'ala memberikan keindahan lalu memuji, dan memberikan siksaan lalu mencela dan membinasakan. Perumpamaannya seperti seorang raja yang membersihkan hambanya yang kotor dari kotorannya, lalu memakaikannya pakaian terindah; ketika telah sempurna perhiasannya, sang raja berkata: 'Wahai hamba yang tampan, betapa tampannya engkau, betapa indahnya pakaianmu, dan betapa bersihnya wajahmu!' Maka pada hakikatnya sang rajalah yang memperindah dan yang memuji keindahan itu. Dialah yang memuji keindahan dalam setiap keadaan, dan seakan-akan secara makna ia tidak memuji melainkan kepada dirinya sendiri, sedang sang hamba hanyalah menjadi sasaran pujian dari segi lahiriah dan bentuk. Demikianlah perkara-perkara ini terjadi sejak azali, dan demikianlah sebab dan akibat tersusun berantai dengan ketetapan Takdir Tuhan segala tuhan dan Penyebab segala sebab (Musabbib al-Asbab). Hal itu tidak terjadi secara kebetulan atau kebetulan, melainkan dari kehendak, hikmah, hukum yang hak, dan perintah pasti yang dipinjamkan baginya lafaz 'Ketentuan' (Al-Qadha'), dan dikatakan bahwa ia seperti kejapan mata atau lebih cepat lagi. Maka memancarlah lautan takdir-takdir berdasarkan hukum Al-Qadha' yang pasti itu sesuai dengan apa yang telah didahului oleh penentuan takdir. Dipinjamlah untuk keterurutan rincian takdir satu demi satu ungkapan 'Takdir' (Al-Qadar). Maka lafaz Al-Qadha' berada pada posisi perintah yang satu dan universal (kully), sedang lafaz Al-Qadar berada pada posisi rincian yang terus-menerus tanpa batas. Dikatakan bahwa tidak ada sesuatu pun dari itu yang keluar dari Qadha dan Qadar. Terlintaslah di pikiran sebagian hamba: 'Mengapa pembagian ini menuntut rincian ini, dan bagaimana keadilan teratur bersama perbedaan dan pengutamaan ini?' Karena keterbatasannya, sebagian dari mereka tidak sanggup menyaksikan hakikat perkara ini dan menguasai himpunannya, maka mereka dikendalikan dari menyelami kedalamannya dengan kendali larangan, dan dikatakan kepada mereka: 'Diamlah, bukan untuk ini kalian diciptakan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, melainkan merekalah yang akan ditanya' (QS. Al-Anbiya': 23). Namun ceruk (misykat) sebagian yang lain dipenuhi dengan cahaya yang dipetik dari cahaya Allah di langit dan di bumi, sedang minyak mereka sejak awal sudah jernih hampir memancar walaupun tidak disentuh api; ketika disentuh api, maka menyalah ia cahaya di atas cahaya (nurun 'ala nur). Maka bersinarlah pelosok-pelosok malakut di hadapan mereka dengan cahaya Tuhan mereka, lalu mereka memahami segala perkara sebagaimana adanya. Dikatakan kepada mereka: 'Beradablah dengan adab Allah, dan tenanglah. Dan jika…

ذكر القدر فأمسكوا فإن للحيطان آذاناً وحواليكم ضعفاء الأبصار فسيروا بسير أضعفكم ولا تكشفوا حجاب الشمس لأبصار الخفافيش فيكون ذلك سبب هلاكهم فتخلقوا بأخلاق الله تعالى وانزلوا إلى سماء الدنيا من منتهى علوكم ليأنس بكم الضعفاء ويقتبسوا من بقايا أنواركم المشرقة من وراء حجابكم كما يقتبس الخفافيش من بقايا نور الشمس والكواكب في جنح الليل فيحيا به حياة يحتملها شخصه وحاله وإن كان لا يحيا به حياة المترددين في كمال نور الشمس وكونوا كمن قيل فيهم

…disebutkan tentang takdir, maka menahan dirilah, sebab tembok-tembok memiliki telinga dan di sekelilingmu terdapat orang-orang yang lemah pandangannya. Maka berjalanlah sesuai dengan perjalanan orang yang paling lemah di antara kamu, dan janganlah kamu membuka singkapan matahari bagi pandangan kelelawar sehingga hal itu menjadi sebab kebinasaan mereka. Berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah, dan turunlah ke langit dunia dari puncak ketinggianmu agar orang-orang lemah merasa tenang bersamamu dan memetik dari sisa-sisa cahayamu yang memancar dari balik tiraimu, sebagaimana kelelawar memetik dari sisa-sisa cahaya matahari dan bintang-bintang di kegelapan malam, sehingga ia hidup dengannya suatu kehidupan yang dapat ditanggung oleh diri dan keadaannya, meskipun ia tidak dapat hidup dengannya seperti kehidupannya orang-orang yang lalu-lalang dalam kesempurnaan cahaya matahari. Jadilah kamu seperti orang yang dikatakan tentang mereka:

شربنا شراباً طيباً عند طيب … كذلك شراب الطيبين يطيب

Kami meminum minuman yang harum di sisi orang yang harum … Demikianlah minuman orang-orang yang baik menjadi harum

شربنا وأهرقنا على الأرض فضله … وللأرض من كأس الكرام نصيب

Kami meminum dan kami tumpahkan sisanya ke bumi … Dan bagi bumi ada bagian dari piala orang-orang dermawan

فهكذا كان أول هذا الأمر وآخره ولا تفهمه إلا إذا كنت أهلاً له وإذا كنت أهلاً له فتحت العين وأبصرت فلا تحتاج إلى قائد يقودك والأعمى يمكن أن يقاد ولكن حدٍ ما فإذا ضاق الطريق وصار أحد من السيف وأدق من الشعر قدر الطائر على أن يطير عليه ولم يقدر على أن يستجر وراءه أعمى وإذا دق المجال ولطف لطف الماء مثلاً ولم يكن العبور إلا بالسباحة فقد يقدر الماهر بصنعة السباحة أن يعبر بنفسه وربما لم يقدر على أن يستجر وراءه آخر فهذه أمور نسبة السير عليها إلى السير على ما هو بحال جماهير الخلق كنسبة المشي على الماء إلى المشي على الأرض والسباحة يمكن أن تتعلم فأما المشي على الماء فلا يكتسب بالتعليم بل ينال بقوة اليقين ولذلك قيل للنبي ﷺ أن عيسى ﵇ يقال أنه مشى على الماء فقال ﷺ لو ازداد يقيناً لمشي على الهواء // حديث قيل له يقال إن عيسى مشى على الماء قال لو ازداد يقيناً لمشي على الهواء هذا حديث منكر لا يعرف هكذا والمعروف رواه ابن أبى الدنيا فى كتاب اليقين من قول بكر بن عبد الله المزنى قال فقد الحواريون نبيهم فقيل لهم توجه نحو البحر فانطلقوا يطلبونه فلما انتهو إلى البحر إذا هو قد أقبل يمشى على الماء فذكر حديثا فيه أن عيسى قال لو أن لابن آدم من اليقين شعره مشى على الماء وروى أبو منصور الديلمى فى مسند الفردوس بسند ضعيف من حديث معاذ بن جبل لو عرفتم الله حق معرفته لمشيتم على البحور ولزالت بدعائكم الجبال فهذه رموز وإشارات إلى معنى الكراهة والمحبة والرضا والغضب والشكر والكفران لا يليق بعلم المعاملة أكثر منها وقد ضرب الله تعالى مثلاً لذلك تقريباً إلى أفهام الخلق إذ عرف أنه ما خلق الجن والإنس إلا ليعبدوه فكانت عبادتهم غاية الحكمة في حقهم ثم أخبر أن له عبدين يحب أحدهما واسمه جبريل وروح القدس والأمين وهو عنده محبوب مطاع أمين مكين ويبغض الآخر واسمه إبليس وهو اللعين المنظر إلى يوم الدين ثم أحال الإرشاد إلى جبريل فقال تعالى ﴿قل نزله روح القدس من ربك بالحق﴾ وقال تعالى ﴿يلقي الروح من أمره على من يشاء من عباده﴾ وأحال الإغواء على إبليس فقال تعالى ﴿ليضل عن سبيله﴾ والإغواء هو استيقاف العباد دون بلوغ غاية الحكمة فانظر كيف نسبه إلى العبد الذي غضب عليه والإرشاد سياقه لهم إلى الغاية فانظر كيف نسبه إلى العبد الذي أحبه وعندك في العادة له مثال فالملك إذا كان محتاجاً إلى من يسقيه الشراب وإلى من يحجمه وينظف فناء منزله عن القاذورات وكان له عبدان فلا يعين للحجامة والتنظيف إلا أقبحهما وأخسهما ولا يفوض حمل الشراب والطيب إلا إلى أحسنهما وأكملهما وأحبهما إليه ولا ينبغي أن تقول هذا فعلي ولم يكون فعله دون فعلي فإنك أخطات إذ أضفت ذلك إلى نفسك بل هو الذي صرف داعيتك لتخصيص الفعل المكروه بالشخص المكروه والفعل المحبوب بالشخص المحبوب إتماماً للعدل فإن عدله تارة يتم بأمور لا مدخل لك فيها وتارة يتم فيك فإنك أيضاً من أفعاله فداعيتك وقدرتك وعلمك وعملك وسائر أسباب

Demikianlah awal perkara ini dan akhirnya, dan engkau tidak akan memahaminya kecuali jika engkau menjadi ahli (layak) baginya. Apabila engkau telah menjadi ahli baginya, matamu akan terbuka dan engkau akan melihat, sehingga engkau tidak membutuhkan penuntun yang menuntunmu. Orang buta mungkin untuk dituntun, namun hingga batas tertentu; apabila jalan menyempit dan menjadi lebih tajam dari pedang serta lebih halus dari rambut, burung mampu terbang di atasnya namun ia tidak mampu menyeret orang buta di belakangnya. Apabila medan menjadi sempit dan halus sehalus air misalnya, dan penyeberangan tidak dapat dilakukan melainkan dengan berenang, maka orang yang mahir dalam seni berenang mungkin dapat menyeberang sendirian, namun terkadang ia tidak mampu menyeret orang lain di belakangnya. Maka perkara-perkara ini, nisbah berjalan di atasnya dibandingkan berjalan di atas apa yang menjadi keadaan mayoritas makhluk adalah seperti nisbah berjalan di atas air dibandingkan berjalan di atas tanah. Berenang dapat dipelajari, adapun berjalan di atas air tidak diperoleh dengan belajar melainkan dicapai dengan kekuatan keyakinan. Oleh karena itu dikatakan kepada Nabi ﷺ bahwa 'Isa ﵇ dikatakan berjalan di atas air, maka beliau ﷺ bersabda: 'Sekiranya bertambah keyakinannya, niscaya ia berjalan di atas udara.' // Hadis dikatakan kepadanya: Dikatakan bahwa 'Isa berjalan di atas air, beliau bersabda: Sekiranya bertambah keyakinannya niscaya ia berjalan di atas udara—Ini adalah hadis munkar, tidak dikenal seperti ini; yang dikenal diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dunya dalam Kitab Al-Yaqin dari perkataan Bakr bin 'Abdillah Al-Muzani, ia berkata: Para hawariyyun kehilangan nabi mereka, lalu dikatakan kepada mereka: 'Pergilah ke arah laut.' Maka mereka pergi mencarinya, ketika sampai di laut, tiba-tiba beliau datang berjalan di atas air… lalu menyebutkan hadis yang di dalamnya bahwa 'Isa berkata: 'Sekiranya anak Adam memiliki keyakinan seberat sehelai rambut, niscaya ia berjalan di atas air.' Dan diriwayatkan oleh Abu Mansur Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus dengan sanad dha'if dari hadis Mu'adh bin Jabal: 'Sekiranya kamu mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan, niscaya kamu berjalan di atas lautan dan lenyaplah gunung-gunung dengan doa kamu.' Maka ini adalah isyarat-isyarat dan simbol-simbol kepada makna karahah (kebencian), mahabbah (cinta), ridha, ghadhab (murka), syukr, dan kufran; tidak layak bagi ilmu muamalah disebutkan lebih dari ini. Sungguh Allah Ta'ala telah membuat perumpamaan untuk itu guna mendekatkan kepada pemahaman makhluk, ketika Dia memberitahukan bahwa Dia tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Nya. Maka ibadah mereka merupakan puncak hikmah bagi mereka. Kemudian Dia memberitahukan bahwa Dia memiliki dua hamba yang mencintai salah satunya, yang namanya Jibril, Ruhul Qudus, dan Al-Amin, yang di sisi-Nya dicintai, ditaati, terpercaya, dan memiliki kedudukan tinggi; sedang Dia membenci yang lain, yang namanya Iblis, yaitu yang terlaknat dan diberi penangguhan hingga hari kiamat. Kemudian Dia menyerahkan petunjuk (irsyad) kepada Jibril, sebagaimana firman-Nya Ta'ala: 'Katakanlah: Ruhul Qudus (Jibril) menyampaikannya dari Tuhanmu dengan benar' (QS. An-Nahl: 102), dan firman-Nya Ta'ala: 'Dia menurunkan wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya' (QS. Ghafir: 15). Dan Dia menyerahkan penyesatan (ighwa') kepada Iblis, sebagaimana firman-Nya Ta'ala: 'Untuk menyesatkan dari jalan-Nya' (QS. Ibrahim: 30). Penyesatan adalah menghentikan hamba-hamba sebelum mencapai puncak hikmah. Maka lihatlah bagaimana Dia menisbatkannya kepada hamba yang dimurkai-Nya, sedang petunjuk adalah mengalirkan mereka menuju puncak, maka lihatlah bagaimana Dia menisbatkannya kepada hamba yang dicintai-Nya. Dan padamu dalam kebiasaan terdapat perumpamaan bagi hal itu: Seorang raja jika membutuhkan orang yang memberinya minuman serta orang yang membekamnya dan membersihkan pekarangan rumahnya dari kotoran, padahal ia memiliki dua hamba, maka ia tidak menentukan untuk pembekaman dan pembersihan melainkan yang paling buruk dan paling rendah dari keduanya, serta tidak menyerahkan piala minuman dan wewangian melainkan kepada yang paling tampan, paling sempurna, dan paling dicintainya di antara keduanya. Dan tidak sepatutnya engkau berkata: 'Ini adalah perbuatanku, mengapa perbuatannya bukan perbuatanku?' Sebab engkau telah keliru ketika menyandarkan hal itu kepada dirimu sendiri; melainkan Dialah yang memalingkan pendorongmu untuk mengkhususkan perbuatan yang dibenci bagi pribadi yang dibenci dan perbuatan yang dicintai bagi pribadi yang dicintai demi menyempurnakan keadilan. Sebab keadilan-Nya terkadang sempurna dengan perkara-perkara yang engkau tidak memiliki campur tangan padanya, dan terkadang sempurna pada dirimu, karena engkau juga termasuk perbuatan-perbuatan-Nya. Maka pendorongmu, kemampuanmu, ilmumu, perbuatanmu, serta seluruh sebab…

حركاتك في التعبير هو فعله الذي رتبه بالعدل ترتيباً تصدر منه الأفعال المعتدلة إلا أنك لا ترى إلا نفسك فتظن أن ما يظهر عليك في عالم الشهادة ليس له سبب من عالم الغيب والملكوت فلذلك تضيفه إلى نفسك وإنما أنت مثل الصبي الذي ينظر ليلاً إلى لعب المشعبذ الذي يخرج صوراً من وراء حجاب ترقص وتزعق وتقوم وتقعد وهي مؤلفة من خرق لا تتحرك بأنفسها وإنما تحركها خيوط شعرية دقيقة لا تظهر فى ظلام الليل ورءوسها في يد المشعبذ وهو محتجب عن أبصار الصبيان فيفرحون ويتعجبون لظنهم أن تلك الخرق ترقص وتلعب وتقوم وتقعد وأما العقلاء فإنهم يعلمون أن ذلك تحريك وليس بتحريك ولكنهم ربما لا يعلمون كيف تفصيله والذي يعلم بعض تفصيله لا يعلمه كما يعلمه المشعبذ الذي الأمر إليه والجاذبة بيده فكذلك صبيان أهل الدنيا والخلق كلهم صبيان بالنسبة إلى العلماء ينظرون إلى هذه الأشخاص فيظنون أنها المتحركة فيحيلون عليها والعلماء يعلمون أنهم محركون إلا أنهم لا يعرفون كيفية التحريك وهم الأكثرون إلا العارفون والعلماء والراسخون فإنهم أدركوا بحدة أبصارهم خيوطاً دقيقة عنكبوتية بل أدق منها بكثير معلقة من السماء متشبثة الأطراف بأشخاص أهل الأرض لا تدرك تلك الخيوط لدقتها بهذه الأبصار الظاهرة ثم شاهدوا رءوس تلك الخيوط في مناطات لها هي معلقة بها وشاهدوا لتلك المناطات مقابض هي في أيدي الملائكة المحركين للسموات وشاهدوا أيضاً ملائكة السموات مصروفة إلى حملة العرش ينتظرون منهم ما ينزل عليهم من الأمر من حضرة الربوبية كي لا يعصوا الله ما أمرهم ويفعلون ما يؤمرون وعبر عن هذه المشاهدات في القرآن وقيل ﴿وفي السماء رزقكم وما توعدون﴾ وعبر عن انتظار ملائكة السموات لما ينزل إليهم من القدر والأمر فقيل خلق سبع سموات ومن الأرض مثلهن يتنزل الأمر بينهن لتعلموا أن الله على كل شيءٍ قدير وأن الله قد أحاط بكل شيءٍ علماً وهذه أمور لا يعلم تأويلها إلا الله والراسخون في العلم وعبر ابن عباس ﵄ عن اختصاص الراسخين في العلم بعلوم لا تحتملها أفهام الخلق حيث قرأ قوله تعالى ﴿يتنزل الأمر بينهن﴾ فقال لو ذكرت ما أعرفه من معنى هذه الآية لرجمتموني وفي لفظ آخر لقلتم إنه كافر

…gerakan-gerakanmu dalam mengungkapkan adalah perbuatan-Nya yang diatur-Nya dengan keadilan secara tertata, yang darinya terbit perbuatan-perbuatan yang seimbang. Hanya saja engkau tidak melihat melainkan dirimu sendiri, sehingga engkau menyangka bahwa apa yang nampak padamu di alam syahadah (nyata) tidak memiliki sebab dari alam gaib dan malakut. Oleh karena itulah engkau menyandarkannya kepada dirimu sendiri. Padahal engkau hanyalah seperti anak kecil yang memandang di malam hari pada permainan dalang (pesulap) yang mengeluarkan gambar-gambar dari balik tirai, yang menari, berteriak, berdiri, dan duduk, padahal gambar-gambar itu tersusun dari kain-kain perca yang tidak bergerak dengan sendirinya; melainkan digerakkan oleh benang-benang rambut yang halus yang tidak nampak dalam kegelapan malam, sedang ujung-ujungnya berada di tangan sang dalang yang tersembunyi dari pandangan anak-anak. Maka anak-anak gembira dan heran karena menyangka kain-kain perca itu menari, bermain, berdiri, dan duduk. Adapun orang-orang berakal, mereka mengetahui bahwa itu adalah penggerakan dan bukan pergerakan mandiri, namun terkadang mereka tidak mengetahui bagaimana rinciannya. Orang yang mengetahui sebagian rinciannya tidak mengetahuinya sebagaimana sang dalang yang memegang urusan dan tali penarik ada di tangannya. Demikian pula anak-anak ahli dunia—dan seluruh makhluk adalah anak-anak dibandingkan dengan para ulama—mereka memandang pribadi-pribadi ini lalu menyangka bahwa merekalah yang bergerak, sehingga mereka menyandarkan kepadanya. Sedang para ulama mengetahui bahwa mereka itu digerakkan, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui tata cara penggerakannya, kecuali para arifin, ulama, dan al-rasikhun (orang-orang yang mendalam ilmunya). Sebab mereka menyaksikan dengan tajamnya pandangan mereka adanya benang-benang halus bagai sarang laba-laba, bahkan jauh lebih halus darinya, yang tergantung dari langit dengan ujung-ujung yang terikat pada pribadi-pribadi penduduk bumi. Benang-benang itu tidak terjangkau karena kehalusannya oleh mata-mata lahiriah ini. Kemudian mereka menyaksikan ujung-ujung benang itu pada tempat-tempat keterikatan yang tergantung padanya, dan mereka menyaksikan bagi tempat-tempat itu adanya pemegang-pemegang yang berada di tangan para malaikat penggerak langit. Mereka juga menyaksikan para malaikat langit dipalingkan kepada para pemikul 'Arsy, menunggu apa yang turun kepada mereka berupa perintah dari hadirat Ketuhanan agar mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan mengerjakan apa yang diperintahkan. Hal ini diungkapkan dari penyaksian-penyaksian tersebut dalam Al-Qur'an, di mana berfirman: 'Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu' (QS. Az-Zariyat: 22). Dan diungkapkan tentang penantian malaikat-malaikat langit terhadap apa yang turun kepada mereka berupa takdir dan perintah, lalu berfirman: 'Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu' (QS. At-Talaq: 12). Perkara-perkara ini tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya (ar-rasikhuna fil 'ilm). Ibnu 'Abbas ﵄ mengungkapkan tentang kekhususan orang-orang yang mendalam ilmunya dengan ilmu-ilmu yang tidak sanggup ditanggung oleh pemahaman makhluk, di mana beliau membaca firman-Nya Ta'ala: 'Perintah Allah berlaku padanya', lalu berkata: 'Sekiranya aku sebutkan apa yang aku ketahui dari makna ayat ini, niscaya kamu akan merajamku.' Dan dalam lafaz lain: 'Niscaya kamu akan berkata bahwa ia telah kafir.'

ولنقتصر على هذا القدر فقد خرج عنان الكلام عن قبضة الاختيار وامتزج بعلم المعاملة ما ليس منه فلنرجع إلى مقاصد الشكر فنقول إذا رجع حقيقة الشكر إلى كون العبد مستعملاً في إتمام حكمة الله تعالى فأشكر العباد أحبهم إلى الله وأقربهم إليه وأقربهم إلى الله الملائكة ولهم أيضاً ترتيب وما منهم إلا وله مقام معلوم وأعلاهم في رتبة القرب ملك اسمه إسرافيل ﵇ وإنما علو درجتهم لأنهم في أنفسهم كرام بررة وقد أصلح الله تعالى بهم الأنبياء ﵈ وهم أشرف مخلوق على وجه الأرض ويلي درجتهم درجة الأنبياء فإنهم في أنفسهم أخيار وقد هدى الله بهم سائر الخلق وتمم بهم حكمته وأعلاهم رتبة نبينا ﷺ وعليهم إذا أكمل الله به الدين وختم به النبيين ويليهم العلماء الذين هم ورثة الأنبياء فإنهم في أنفسهم صالحون وقد أصلح الله بهم سائر الخلق ودرجة كل واحد منهم بقدر ما أصلح من نفسه ومن غيره ثم يليهم السلاطين بالعدل لأنهم أصلحوا دنيا الخلق كما أصلح العلماء دينهم ولأجل اجتماع الدين والملك والسلطنة لنبينا محمد ﷺ كان أفضل من سائر الأنبياء فإنه أكمل الله به صلاح دينهم ودنياهم ولم يكن السيف والملك لغيره من الأنبياء ثم يلي العلماء والسلاطين الصالحون الذين أصلحوا دينهم ونفوسهم فقط فلم تتم حكمة الله بهم بل فيهم ومن عدا هؤلاء فهمج رعاع

Cukuplah kami membatasi pada kadar ini, sebab kendali pembicaraan telah keluar dari genggaman pilihan dan telah bercampur dengan ilmu muamalah apa yang bukan bagian darinya. Maka marilah kita kembali kepada maksud-maksud syukur. Kami katakan: Jika hakikat syukur kembali kepada keadaan hamba yang digunakan dalam menyempurnakan hikmah Allah Ta'ala, maka hamba yang paling bersyukur adalah yang paling dicintai Allah dan paling dekat kepada-Nya. Hamba yang paling dekat kepada Allah adalah para malaikat, dan bagi mereka juga ada tingkatan-tingkatan, tidak ada seorang pun dari mereka melainkan memiliki kedudukan tertentu (maqam ma'lum). Yang tertinggi di antara mereka dalam tingkatan kedekatan adalah malaikat yang bernama Israfil ﵇. Tingginya derajat mereka adalah karena diri mereka sendiri mulia dan berbakti, dan Allah Ta'ala telah memperbaiki para nabi ﵈ melalui mereka. Para nabi adalah makhluk paling mulia di muka bumi. Menyusul derajat mereka adalah derajat para nabi, sebab diri mereka sendiri adalah orang-orang pilihan, dan Allah telah memberi petunjuk kepada seluruh makhluk melalui mereka serta menyempurnakan hikmah-Nya dengan mereka. Yang tertinggi tingkatan di antara mereka adalah Nabi kita ﷺ dan atas mereka semua, di mana Allah menyempurnakan agama dengan beliau dan menutup para nabi dengan beliau. Menyusul mereka adalah para ulama yang merupakan pewaris para nabi, sebab diri mereka sendiri shalih dan Allah telah memperbaiki seluruh makhluk melalui mereka; derajat setiap orang dari mereka sesuai dengan kadar perbaikan yang dilakukannya pada dirinya dan orang lain. Kemudian menyusul mereka adalah para sultan (penguasa) yang adil, sebab mereka membenahi dunia makhluk sebagaimana para ulama membenahi agama mereka. Oleh karena terkumpulnya agama, kerajaan, dan kekuasaan bagi Nabi kita Muhammad ﷺ, beliau menjadi yang paling utama dari seluruh nabi, sebab Allah menyempurnakan melalui beliau kebaikan agama dan dunia mereka, sedang pedang dan kerajaan tidak ada pada nabi selain beliau. Kemudian menyusul para ulama dan sultan adalah orang-orang shalih yang hanya membenahi agama dan diri mereka sendiri saja, sehingga hikmah Allah tidak sempurna secara meluas melalui mereka melainkan pada diri mereka. Dan orang-orang selain mereka adalah rakyat jelata yang tidak beraturan.

واعلم أن السلطان به قوام الدين فلا ينبغي أن يستحقر وإن كان ظالماً فاسقاً قال عمرو بن العاص ﵀ إمام غشوم خير من فتنة تدوم وقال النبي ﷺ سيكون عليكم أمراء تعرفون منهم وتنكرون ويفسدون وما يصلح الله بهم أكثر فإن أحسنوا فلهم الأجر وعليكم الشكر وإن أساءوا فعليهم الوزر وعليكم الصبر // حديث سيكون عليكم أمراء يفسدون وما يصلح الله بهم أكثر الحديث أخرجه مسلم من حديث أم سلمة يستعمل عليكم أمراء فتعرفون وتنكرون ورواه الترمذى بلفظ سيكون عليكم أئمة وقال حسن صحيح وللبزار بسند ضعيف من حديث ابن عمر السلطان ظل الله فى الأرض يأوى اليه كل مظلوم من عبادة فإن عدل كان له الأجر وكان على الرعية الشكر وإن جار أو حاف أو ظلم كان عليه الوزر وعلى الرعية الصبر وأما قوله وما يصلح الله بهم أكثر فلم أجده بهذا اللفظ إلا أنه يؤخذ من حديث ابن مسعود حين فزع إليه الناس لما أنكروا سيرة الوليد بن عقبة فقال عبد الله اصبروا فإن جور إمامكم خمسين سنة خير من هرج شهر فإني سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول فذكر حديثا فيه والإمارة الفاجرة خير من الهرج رواه الطبرانى فى الكبير بإسناد لا بأس به وقال سهل من أنكر إمامة السلطان فهو زنديق ومن دعاه السلطان فلم يجب فهو مبتدع ومن أتاه من غير دعوة فهو جاهل وسئل أي الناس خير فقال السلطان فقيل كنا نرى أن شر الناس السلطان فقال مهلا إن لله تعالى له كل يوم نظرتين نظرة إلى سلامة أموال المسلمين ونظرة إلى سلامة أبدانهم فيطلع في صحيفته فيغفر له جميع ذنبه وكان يقول الخشبات السود المعلقة على أبوابهم خير من سبعين قاصاً يقصون

Ketahuilah bahwa sultan (penguasa) merupakan penopang tegaknya agama, maka tidak sepatutnya ia diremehkan meskipun ia zalim dan fasik. 'Amr bin al-'Ash ﵀ berkata: 'Pemimpin yang sewenang-wenang lebih baik daripada fitnah (kerusuhan) yang terus-menerus.' Dan Nabi ﷺ bersabda: 'Akan ada atas kamu para pemimpin yang kamu kenali dan kamu ingkari; mereka berbuat kerusakan, padahal apa yang diperbaiki Allah melalui mereka lebih banyak. Jika mereka berbuat baik, maka bagi mereka pahala dan atas kamu bersyukur; dan jika mereka berbuat jahat, maka atas mereka dosa dan atas kamu bersabar.' // Hadis Akan ada atas kamu para pemimpin yang berbuat kerusakan padahal apa yang diperbaiki Allah melalui mereka lebih banyak—Hadis dikeluarkan oleh Muslim dari hadis Ummu Salamah: Akan diangkat atas kamu para pemimpin lalu kamu mengenali dan mengingkari… Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan lafaz: Akan ada atas kamu para pemimpin, dan ia berkata: Hasan Shahih. Dan bagi Al-Bazzar dengan sanad dha'if dari hadis Ibn 'Umar: Sultan adalah naungan Allah di bumi, tempat berlindung baginya setiap hamba-Nya yang terzalimi… Dan adapun sabda beliau 'padahal apa yang diperbaiki Allah melalui mereka lebih banyak', aku tidak mendapatinya dengan lafaz ini melainkan diambil dari hadis Ibn Mas'ud ketika orang-orang datang meminta perlindungan kepadanya saat mengingkari perilaku Al-Walid bin 'Uqbah, lalu 'Abdullah berkata: 'Bersabarlah, sebab kezaliman pemimpinmu selama lima puluh tahun lebih baik daripada kekacauan (haraj) selama sebulan, karena aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda…' lalu menyebutkan hadis yang di dalamnya: 'Dan kepemimpinan yang jahat lebih baik daripada kekacauan.' Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Kabir dengan sanad yang tidak mengapa. Sahl berkata: 'Barangsiapa mengingkari kepemimpinan sultan, maka ia adalah seorang zindik; barangsiapa dipanggil oleh sultan lalu tidak memenuhi, maka ia adalah pembuat bidah; dan barangsiapa mendatangi sultan tanpa dipanggil, maka ia orang bodoh.' Dan beliau ditanya: 'Manusia manakah yang paling baik?' Beliau menjawab: 'Sultan.' Lalu dikatakan: 'Kami tadinya menganggap manusia paling buruk adalah sultan.' Beliau berkata: 'Jangan begitu, sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki dua pandangan setiap hari kepadanya: pandangan kepada keselamatan harta kaum muslimin dan pandangan kepada keselamatan jiwa mereka, lalu Dia melihat dalam catatannya lalu mengampuni seluruh dosanya.' Dan beliau biasa berkata: 'Tiang-tiang kayu hitam yang digantung di pintu-pintu mereka lebih baik daripada tujuh puluh penceramah yang menyampaikan kisah.'