وَمن شَرط الْمُفْتِي أَن يكون عَالما بالفقه أصلا وفرعا خلافًا ومذهبا وَأَن يكون كَامِل الْأَدِلَّة فِي الِاجْتِهَاد عَارِفًا بِمَا يحْتَج إِلَيْهِ فِي استنباط الْأَحْكَام وَتَفْسِير الْآيَات الْوَارِدَة فِي الْأَحْكَام وَالْأَخْبَار الْوَارِدَة فِيهَا ١٥ –
Dan sebagian dari syarat seorang mufti adalah ia harus berilmu tentang fiqh, baik asal maupun cabangnya, khilaf (perbedaan pendapatnya) maupun mazhabnya. Dan ia harus telah menyempurnakan perangkat-perangkat ilmu dalam berijtihad; mengetahui hal-hal yang dibutuhkan dalam mengistibatkan (menyimpulkan) hukum-hukum; mengetahui penafsiran ayat-ayat yang turun tentang hukum-hukum, serta (mengetahui) hadis-hadis yang turun mengenainya.