(٢- الكلمة وأقسامها)
الكلمةُ لفظٌ يدُّل على معنىً مُفردٍ. وهي ثلاثةُ أقسام اسمٌ، وفعل، وحرف. الاسم الاسمُ ما دلَّ على معنىً في نفسه غير مُقترِنٍ بزمان كخالد وَفرَسٍ وعُصفورٍ ودارٍ وحنطةٍ وماء.
*Kalimah* (kata) adalah lafal yang menunjukkan suatu makna tunggal (*mufrad*). Ia terbagi menjadi tiga bagian: *isim* (kata benda), *fi'il* (kata kerja), dan *huruf* (kata tugas/partikel). *Isim*: *Isim* adalah kata yang menunjukkan suatu makna pada dirinya sendiri tanpa disertai dengan keterangan waktu, seperti "خَالِدٌ" (Khalid), "فَرَسٌ" (kuda), "عُصْفُورٌ" (burung pipit), "دَارٌ" (rumah), "حِنْطَةٌ" (gandum), dan "مَاءٌ" (air).
وعلامته أن يَصحّ الإخبارُ عنه كالتاء من "كتبتُ"، والالف من "كتبَا" والواو من "كتبوا"، أو يقبلَ "ألْ" كالرجل، أو التنوين، كفرَس، أو حرفَ النداء كيا أيُّها الناسُ، أو حرفَ الجرِّ كاعتمد على من تثِقُ به. التنوين التَّنوين نونٌ ساكنة زائدة، تَلحقُ أواخرَ الأسماء لفظاً، وتفارقُها خطاً ووَقعاً وهو ثلاثة اقسام الأول تنوينُ التمكين وهو اللاحق للأسماء المُعرَبة المنصرفة كرجُلٍ وكتابٍ. ولذلك يُسمَّى "تنوينَ الصرف" أيضاً. الثاني تنوينُ التَّنكير وهو ما يلحقُ بعضَ الاسماء المبنيَّة كاسم الفعل والعَلَم المختومِ به "وَيْه" فَرْقاً بين المعرفة منهما والنكرة، فما نُوِّنَ كان نكرةً. وما لم ينوَّن كان معرفة. مثلُ "صَه وصَهٍ ومَه ومَهٍ وإيه وإيهٍ"، ومثلُ "مررتُ بسيبويه وسيبويهٍ آخرَ"، أي رجلٍ آخرَ مُسمَّى بهذا الاسم. (فالاول معرفة والآخر نكرة لتنوينه وإذا قلت "صه" فانما تطلب الى مخاطبك ان يسكت عن حديثه الذي هو فيه. واذا قلت له "مه" فأنت تطلب اليه ان يكف عما هو فيه واذا قلت له "ايه" فأنت تطلب منه الاستزادة من حديثه الذي يحدثك اياه. اما ان قلت له "صه ومه وايه" بالتنوين، فانما تطلب من السكون عنً كل حديث والكف عن كل شيء، والاستزادة من حديث اي حديث) . الثالث تنوين العِوض وهو إما أن يكون عِوَضاً من مُفرد وهو ما يَلحقُ "كلاً وبعضاً وأيّاً "عوضاً مما تَضاف اليه، نحوُ "كلُّ يموت" أي كلُّ إنسان. ومنه قولُهُ تعالى ﴿وكُلاًّ وعدَ اللهُ الحُسنى﴾ وقوله ﴿تِلكَ
Dan tanda-tandanya (*isim*) adalah sahnya memberikan kabar (*ikhbar*) tentangnya, seperti huruf *ta'* pada "كتبتُ" (aku telah menulis), *alif* pada "كتبَا" (mereka berdua telah menulis), dan *wawu* pada "كتبوا" (mereka semua telah menulis); atau ia menerima "ألْ" (alif lam) seperti "الرجل" (laki-laki itu); atau menerima *tanwin* seperti "فرَس" (kuda); atau menerima *harf nida'* (huruf panggilan) seperti "يا أيُّها الناسُ" (Wahai manusia!); atau menerima *harf jar* (huruf yang men-jer-kan kata setelahnya) seperti "اعتمد على من تثِقُ به" (bersandarlah kepada orang yang engkau percayai). *Tanwin*: *Tanwin* adalah huruf nun sukun tambahan yang melekat pada akhir *isim-isim* secara lafal, namun berpisah dengannya secara tulisan dan waqaf. Ia terbagi menjadi tiga macam: Pertama, *tanwin tamkin* (peneguh kedudukan), yaitu *tanwin* yang melekat pada *isim-isim* yang *mu'rab* lagi *munsharif* (dapat menerima tanwin), seperti "رجُلٍ" (seorang laki-laki) dan "كتابٍ" (sebuah buku). Oleh karena itu, ia dinamakan juga "*tanwin ash-sharf*". Kedua, *tanwin tankir* (penanda ketidaktentuan), yaitu *tanwin* yang melekat pada sebagian *isim-isim* yang *mabni*, seperti *isim fi'il* (kata benda bermakna kata kerja) dan *alam* (nama diri) yang diakhiri dengan kata "وَيْه", sebagai pembeda antara bentuk *ma'rifat* dan *nakirah* dari keduanya. Kata yang diberi *tanwin* berstatus *nakirah*, sedangkan yang tidak diberi *tanwin* berstatus *ma'rifat*. Contohnya seperti: "صَه" dan "صَهٍ", "مَه" dan "مَهٍ", "إيه" dan "إيهٍ", serta contoh: "مررتُ بسيبويه وسيبويهٍ آخرَ" (Aku berpapasan dengan Sibawayh dan Sibawayh yang lain), yaitu laki-laki lain yang dinamai dengan nama ini. (Maka yang pertama berstatus *ma'rifat* sedangkan yang terakhir berstatus *nakirah* karena adanya *tanwin*. Jika Anda mengucapkan "صه" (diamlah!), maka Anda meminta lawan bicara Anda untuk diam dari pembicaraan tertentu yang sedang ia lakukan. Jika Anda mengucapkan "مه" (berhentilah!), maka Anda memintanya untuk menahan diri dari apa yang sedang ia lakukan. Jika Anda mengucapkan "ايه" (teruskanlah!), maka Anda memintanya untuk menambah pembicaraan yang sedang ia ceritakan kepada Anda. Namun, jika Anda mengucapkan "صه ومه وايه" dengan *tanwin*, maka Anda meminta diam dari segala pembicaraan, menahan diri dari segala sesuatu, dan meminta tambahan dari pembicaraan apa saja). Ketiga, *tanwin 'iwadh* (tanwin pengganti). Ia adakalanya menjadi pengganti dari kata tunggal (*mufrad*), yaitu *tanwin* yang melekat pada kata "كلاً" (masing-masing), "بعضاً" (sebagian), dan "أياً" (yang mana saja) sebagai pengganti dari kata yang disandarkan (*mudhaf ilaih*) kepadanya, seperti: "كلُّ يموت" (setiap makhluk akan mati), yaitu setiap manusia (*kullu insanin*). Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿وكُلاًّ وعدَ اللهُ الحُسنى﴾ (dan kepada masing-masing Allah menjanjikan pahala yang baik) dan firman-Nya: ﴿تِلكَ…
الرُّسُلُ فَضَّلنا بعضَهم على بعضٍ﴾ ، وقوله ﴿أياً ما تدْعُوا فله الأسماء الحُسنى﴾ . وإمَّا أن يكون عِوَضاً من جملة وهو ما يَلحقُ "إذْ"، عوضاً من جملةٍ تكون بعدها، كقوله تعالى ﴿فَلَوْلا إِذْ بلغت الروحُ الحُلقوم، وأنتم حينئذٍ تَنظرُون﴾ أي حينَ إذْ بلغت الروحُ الحلقوم. وإمّا أن يكون عِوضاً من حرف. وهو ما يَلحقُ الأسماء المنقوصة الممنوعَة من الصَّرف، في حالتي الرفع والجرّ، عِوَضاً من آخرها المحذوف كجَوارٍ وغَواشٍ وعَوادٍ واعَيمٍ (تصغير أعمى) وراجٍ (علم امرأة) ونحوها من كل منقوص ممنوع من الصرف. فتنوينُها ليس تنوينَ صَرفٍ كتنوين الأسماء المنصرفة. لأنها ممنوعة منه، وإنما هو عِوضٌ من الياء المحذوفة. والأصل "جَواري وَغواشي وعَوادي وأَعيمي وراجِي". أما في حال النصب فتُرد الياء وتُنصب بلا تنوينٍ، نحو "دفعتُ عنك وعواديَ. أكرمتُ أَعيميَ فقيراً. علَّمت الفتاةَ راجِيَ". الفعل الفعل ما دلّ على معنىً فى نَفْسه مُقترِن بزمانٍ كجاءَ ويَجيءُ وجيءَ.
(…Para rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain), dan firman-Nya: ﴿أياً ما تدْعُوا فله الأسماء الحُسنى﴾ (*ayyan mā tad'ū falahu al-asmā' al-husnā* – Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama-nama yang terbaik). Atau ia berupa *'iwadh* (pengganti) dari sebuah kalimat, yaitu yang menyertai kata "*idz*", sebagai pengganti dari kalimat yang seharusnya ada setelahnya, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿فَلَوْلا إِذْ بلغت الروحُ الحُلقوم، وأنتم حينئذٍ تَنظرُون﴾ (*falau lā idz balaghati ar-rūhu al-hulqūm, wa antum hīna'idzin tanzhurūn* – Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat), maksudnya adalah: *hīna idz balaghati ar-rūhu al-hulqūm* (pada waktu ketika nyawa sampai di kerongkongan). Atau ia berupa *'iwadh* dari sebuah huruf. Yaitu yang menyertai *asma' manqushah* (kata benda berakhiran ya' lazimah) yang *mamnu' min ash-sharf* (terlarang dari tanwin), dalam keadaan *rafa'* dan *jar*, sebagai pengganti dari bagian akhirnya yang dibuang, seperti kata *jawārin*, *ghawāsyin*, *'awādin*, *a'aimin* (bentuk *tashghir* dari *a'mā*), *rājin* (nama wanita), dan sejenisnya dari setiap *manqush* yang *mamnu' min ash-sharf*. Maka *tanwin*-nya bukanlah *tanwin sharf* (tanwin penanda deklinasi) seperti *tanwin* pada *asma' munsharifah* (kata benda yang menerima tanwin), karena kata-kata tersebut terlarang darinya, melainkan ia adalah *'iwadh* dari huruf *ya'* yang dibuang. Asalnya adalah "*jawārī, ghawāsyī, 'awādī, a'aimī, rājī*". Adapun dalam keadaan *nashab*, maka huruf *ya'* tersebut dikembalikan dan di-*nashab*-kan tanpa *tanwin*, seperti: "*dafa'tu 'anka 'awādiya*" (aku menolak gangguan-gangguan darimu), "*akramtu a'aimiya faqīran*" (aku memuliakan orang buta yang fakir), "*allamtu al-fatāta rājiya*" (aku mengajar gadis bernama Raji). *Al-Fi'il* (Kata Kerja): *Fi'il* adalah kata yang menunjukkan suatu makna pada dirinya sendiri yang berkaitan dengan waktu, seperti *jā'a* (telah datang), *yajī'u* (sedang/akan datang), dan *ji'* (datanglah).
وعلامته أن يقبلَ "قَدْ" أو "السينَ" أو سوْف"، أو "تاءَ التأنيثِ الساكنة،، أو "ضميرَ الفاعل"، أو "نون التوكيدِ" مثلُ قد قامَ. قدْ يقومُ. ستذهبُ. سوف نذهبُ. قامتْ. قمت. قمتِ. لِيكتبنّ. لَيكتبَنّ. اكتُبّن. اكتبَنْ". الحرف الحرفُ ما دلّ على معنىً في غيره، مثلُ "هَلْ وفي ولم وعلى وإنَّ ومِنْ". وليس له علامةٌ يَتميَّزُ بها، كما للاسمِ والفعل. وهو ثلاثةُ أقسام حرفٌ مُختصٌّ بالفعل بالاسم كحروف الجرِّ، والأحرف التي تنصبُ الاسمَ وترفعُ الخبر. وحرفٌ مُشتركٌ بينَ الأسماء والأفعال كحروف العطف، وحرفيِ الاستفهام.
Dan tandanya (*fi'il*) adalah dapat menerima "*qad*", *as-siin* ("*sa-*" / bakal), "*sawfa*" (akan), *ta' at-ta'nits as-sakinah* (*ta'* penanda feminin berharakat sukun), *dhamir al-fa'il* (kata ganti pelaku), atau *nun at-taukid* (penegas), seperti: *qad qama*, *qad yaqumu*, *satadzhabu*, *sawfa nadzhabu*, *qamat*, *qumtu*, *qumti*, *layaktubanna*, *layaktuban*, *ukhtubanna*, *ukhtuban*. *Huruf* (Kata Tugas) *Huruf* adalah kata yang menunjukkan makna jika bergabung dengan kata lain, seperti: *hal* (apakah), *fi* (di dalam), *lam* (tidak/belum), *'ala* (di atas), *inna* (sesungguhnya), dan *min* (dari). *Huruf* tidak memiliki tanda khusus yang membedakannya sebagaimana yang dimiliki oleh *isim* dan *fi'il*. *Huruf* terbagi menjadi tiga jenis: *huruf* yang khusus masuk pada *isim* seperti *huruf jar* dan *huruf* yang me-*nashab*-kan *isim* serta me-*rafa'*-kan *khabar*; *huruf* yang khusus masuk pada *fi'il*; serta *huruf* yang berkongsi (bisa masuk) pada *isim* maupun *fi'il* seperti *huruf 'athaf* (kata hubung) dan dua *huruf istifham* (kata tanya).