(مباحث الفعل الإعرابية)

(المبني والمعرب من الأفعال)

(المبني والمعرب من الأفعال)

الفعل كله مبني. ولا يُعرَبُ منه إلا ما أشبه الاسم، وهو الفعل المضارع الذي لم تتصل به نونا التوكيد ولا نون النِّسوة. وهذا الشبه إنما يقع بينه وبين اسم الفاعل. وهو يكون بينهما من جهتي اللفظ والمعنى. أما من جهة اللفظ، فلأنهما متفقان على عدد الأحرف والحركات والسكنات فيكتبُ على وزن (كاتب) ومُكرِمٌ على وزن (يُكرَمُ) . وأما من جهة المعنى فلأنَّ كلاًّ منهما يكون للحال والاستقبال وباعتبار هذه المشابهة يسمّى هذا الفعل (مُضارعاً) ، أي مشابهاً، فإن المضارعة معناها المشابهةُ، يُقال "هذا يُضارعُ هذا"، أي يشابهه. فإن اتصلت به نون التوكيد، أو نون النسوة، بُني، لأن هذه النُّونات من خصائص الأفعال، فاتصالُهُ يهنَّ يُبعِدُ شَبههُ باسم الفاعل فيرجعُ إلى البناء الذي هو أَصل في الأفعال.

*Fi'il* (kata kerja) seluruhnya adalah *mabni* (tidak berubah harakat akhirnya). Tidak ada yang *mu'rab* (berubah harakat akhirnya) darinya kecuali yang menyerupai *isim* (kata benda), yaitu *fi'il mudhari'* yang tidak bersambung dengan dua *nun taukid* (nun penegas) maupun *nun niswah* (nun penunjuk jamak feminin). Penyerupaan ini terjadi antara *fi'il mudhari'* dan *isim fa'il* (partisip aktif). Penyerupaan tersebut terjadi dari dua sisi: lafal dan makna. Adapun dari sisi lafal, karena keduanya bersepakat dalam jumlah huruf, harakat, dan sukunnya. Maka kata *yaktubu* (يَكْتُبُ) berada di atas wazan *katib* (كَاتِب) [dalam hal harakat dan sukunnya], dan kata *mukrimun* (مُكْرِمٌ) berada di atas wazan *yukramu* (يُكْرَمُ). Adapun dari sisi makna, karena masing-masing dari keduanya dapat menunjukkan waktu sekarang (*hal*) dan masa depan (*istiqbal*). Berdasarkan keserupaan ini, *fi'il* ini dinamakan *mudhari'* yang berarti 'yang menyerupai', karena kata *al-mudhara'ah* maknanya adalah keserupaan (*al-musyabahah*). Dikatakan: *hadza yudhari'u hadza* (هذا يضارع هذا), artinya 'ini menyerupai ini'. Jika *fi'il mudhari'* bersambung dengan *nun taukid* atau *nun niswah*, maka ia menjadi *mabni*. Hal ini karena huruf-huruf *nun* ini termasuk kekhususan *fi'il*, sehingga bersambungnya *fi'il* dengannya menjauhkan keserupaannya dengan *isim fa'il*, sehingga ia kembali kepada hukum asal *fi'il* yaitu *bina'* (keadaan *mabni*).