المفعول به هو
اسمٌ دلَّ على شيءٍ وقع عليه فعلُ الفاعلِ، إثباتاً أو نفياً، ولا تُغيَّر لأجله صورةُ الفعل، فالأولُ نحو "برَيتُ القلمَ"، والثاني، نحو "ما بَرَيتُ القلمَ". وقد يَتعدَّدُ، المفعولُ به، في الكلام، إن كان الفعل متعدِّياً إلى أكثرَ
[*Maf'ul bih*] adalah *isim* yang menunjukkan pada sesuatu yang dikenai perbuatan *fa'il* (pelaku), baik secara penetapan (*itsbat*) maupun negasi (*nafi*), dan bentuk *fi'il* tidak berubah karenanya. Contoh yang pertama: "برَيتُ القلمَ" (*Baraitul-qalama*, Aku meruncingkan pena), dan contoh yang kedua: "ما بَرَيتُ القلمَ" (*Ma baraitul-qalama*, Aku tidak meruncingkan pena). *Maf'ul bih* dalam suatu kalimat dapat berjumlah lebih dari satu jika *fi'il*-nya bersifat transitif (*muta'addi*) kepada lebih dari…
من مفعول به واحدٍ، نحو "أعطيتُ الفقيرَ دِرهماً، ظننتُ الأمرَ واقعاً، أعلمتُ سعيداً الأمر جَليّاً". (وقد سبق الكلام على الفعل المتعدي بأقسامه وأحكامه في الجزء الأول من هذا الكتاب فراجعه) . ويتَعَلَّقُ بالمفعول به أحد عشرَ مبحثاً ١- أَقسامُ المفعولِ بهِ المفعولُ بهِ قسمانِ صريحٌ وغيرُ صريح. والصّريحُ قسمان ظاهرٌ، نحو "فتحَ خالدٌ الحِيرة"، وضميرٌ متَّصلٌ نحو "أكرمتُكَ وأكرمتهم"، أو منفصلٌ، نحو ﴿إيَّاكَ نعبدُ، وإِيَّاك نستعين﴾ ، ونحو "إيَّاهُ أُريد". وغيرُ الصريحِ ثلاثةُ أقسام مُؤوَّلٌ بمصدر بعدَ حرفٍ مصدَريٍّ، نحو "علِمتُ أنكَ مجتهدٌ، وجملةٌ مُؤوَّلة بمفردٍ، نحو "ظننتك تجتهد" وجارٌّ ومجرور، نحو "أمْسكْتُ بيدِكَ" وقد يَسقُطُ حرفُ الجرِّ فينتصبُ المجرورُ على أنه مفعولٌ به. ويُسمّى "المنصوبَ على نزعِ الخافضِ" فهو يَرجعُ إلى أصلهِ من النصب، كقول الشاعر [من الوافر] تَمُرُّونَ الدِّيارَ، ولم تَعوجُوا، … كلامُكُمُ عَلَيَّ إِذاً حَرَامُ
"…dari satu *maf'ul bih* (objek penderita), seperti: أعطيتُ الفقيرَ دِرهماً (Aku memberi orang miskin itu satu dirham), ظننتُ الأمرَ واقعاً (Aku mengira perkara itu benar-benar terjadi), dan أعلمتُ سعيداً الأمرَ جَليّاً (Aku memberi tahu Said bahwa perkara itu sudah jelas). (Penjelasan mengenai *fi'il muta'addi* [kata kerja transitif] beserta pembagian dan hukum-hukumnya telah berlalu pada jilid pertama dari kitab ini, maka rujuklah kembali). Dan berkaitan dengan *maf'ul bih* ini terdapat sebelas pembahasan: 1. Pembagian *Maf'ul Bih* *Maf'ul bih* terbagi menjadi dua macam: *sharih* (eksplisit) dan *ghairu sharih* (implisit). *Maf'ul bih sharih* terbagi menjadi dua: *zhahir* (kata lahiriah), seperti: فتحَ خالدٌ الحِيرة (Khalid telah menaklukkan kota Al-Hirah); dan *dhamir* (kata ganti), baik berupa *dhamir muttashil* (kata ganti bersambung), seperti: أكرمتُكَ (Aku memuliakanmu) dan أكرمتهم (Aku memuliakan mereka), maupun *dhamir munfashil* (kata ganti terpisah), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿إيَّاكَ نعبدُ، وإِيَّاك نستعين﴾ (Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan) dan ucapan: إيَّاهُ أُريد (Hanya dia yang aku inginkan). Adapun *maf'ul bih ghairu sharih* terbagi menjadi tiga macam: kata yang di-takwil dengan *mashdar* setelah *huruf mashdariyah*, seperti: علِمتُ أنكَ مجتهدٌ (Aku mengetahui bahwa kamu bersungguh-sungguh [di-takwil menjadi: علمتُ اجتهادَك]); kalimat (*jumlah*) yang di-takwil dengan kata tunggal (*mufrad*), seperti: ظننتك تجتهد (Aku mengiramu sedang bersungguh-sungguh [di-takwil menjadi: ظننتك مجتهداً]); serta *jar wa majrur* (preposisi dan kata yang di-kasrah-kan), seperti: أمْسكْتُ بيدِكَ (Aku memegang tanganmu). Terkadang *huruf jar* dibuang sehingga kata yang semula *majrur* di-*nasab*-kan sebagai *maf'ul bih*. Hal ini dinamakan *al-manshub 'ala naz'il khafidh* (kata yang di-nasab-kan karena pembuangan huruf preposisi), sehingga ia kembali ke asal i'rab-nya yaitu *nasab*, sebagaimana ucapan penyair [dari bahar Wafir]: تَمُرُّونَ الدِّيارَ، ولم تَعوجُوا، … كلامُكُمُ عَلَيَّ إِذاً حَرَامُ (Kalian melewati rumah-rumah itu tanpa singgah, maka haram bagiku berbicara dengan kalian)."
(وقد تقدم لهذا البحث فَضْلُ بيانٍ في الجزء الأول من هذا الكتاب، في الكلام على الفعل اللازم، فراجعه) . ٢- أَحكامُ المفعول بهِ للمفعول به أربعةُ أحكام ١- أنهُ يجبْ نصبُهُ. ٢- أنه يجوزُ حذفُهُ لدليلٍ، نحو "رَعَتِ الماشيةُ"، ويقالُ "هل رأيتَ خليلاً؟ "، فتقولُ "رأيتُ"، قال تعالى ﴿ما وَدَّعَكَ ربُّكَ وما قَلى﴾ ، وقال ﴿ما أنزلنا عليكَ القُرآن لتشقى، إلا تذكرةً لِمنْ يخشى﴾ . وقد يُنَزَّلُ المتعدِّي منزلة اللازمِ لعَدَم تعلُّقِ غرضٍ بالمفعول بهِ، فلا يُذكرُ له مفعولٌ ولا يُقدَّرُ، كقوله تعالى ﴿هل يَستوي الذينَ يعلمونَ والذينَ لا يعلمونَ﴾ . وما نصبَ مفعولين من أفعال القلوب، جازَ فيه حذفُ مفعوليه معاً، وحذفُ أحدهما لدليلٍ. فمن حذفِ أحدهما قولُ عَنترةَ. [من الكامل] وَلَقدْ نزَلْتِ، فلا تَظُنِّي غَيْرَهُ … مِنِّي بِمَنْزِلةِ المُحَبِّ المُكْرَمِ أي فلا تَظُني غيرَهُ واقعاً. ومن حذفهما معاً قولهُ تعالى ﴿أين
(Penjelasan lebih mendalam mengenai pembahasan ini telah dipaparkan pada bagian pertama kitab ini, dalam pembahasan mengenai *fi'il lazim* [kata kerja intransitif], maka rujuklah kembali ke sana). 2- Hukum-Hukum *Maf'ul Bih* *Maf'ul bih* (objek) memiliki empat hukum: 1. Ia wajib *manshub* (dibaca nasab). 2. Ia boleh dihapus jika terdapat dalil (petunjuk) yang menjelaskannya, seperti: "رَعَتِ الماشيةُ" (*ra'ati al-masyiyatu* – Hewan ternak itu telah merumput [rumputnya dihapus]), dan jika ditanyakan: "هل رأيتَ خليلاً؟" (Apakah engkau melihat Khalil?), lalu engkau menjawab: "رأيتُ" (Aku melihat [Khalil dihapus]). Allah Ta'ala berfirman: ﴿ما وَدَّعَكَ ربُّكَ وما قَلى﴾ (Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu [objek kata ganti 'mu' pada kata 'qala' dihapus]), dan Dia berfirman: ﴿ما أنزلنا عليكَ القُرآن لتشقى، إلا تذكرةً لِمنْ يخشى﴾ (Kami tidak menurunkan Al-Qur'an kepadamu agar kamu menjadi susah, melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut). Terkadang *fi'il muta'addi* (kata kerja transitif) diposisikan seperti *fi'il lazim* karena tidak adanya tujuan yang berkaitan dengan *maf'ul bih*, sehingga objeknya tidak disebutkan dan tidak pula diperkirakan keberadaannya, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿هل يَستوي الذينَ يعلمونَ والذينَ لا يعلمونَ﴾ (Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?). Adapun kata kerja yang menasabkan dua objek dari golongan *af'al al-qulub* (kata kerja yang berkaitan dengan keyakinan/perasaan hati), maka diperbolehkan menghapus kedua objeknya sekaligus, atau menghapus salah satunya saja jika terdapat dalil yang menunjukkannya. Contoh penghapusan salah satu objeknya adalah ucapan 'Antarah [dari bahar *Kamil*]: *Wa laqad nazalti, fala tazhunni ghairahu… minni bimanzilati al-muhibbi al-mukrami* (Dan sungguh engkau telah menempati hatiku, maka janganlah engkau menyangka selain hal itu… dariku berkedudukan sebagai kekasih yang dimuliakan). Yaitu: "فلا تَظُني غيرَهُ واقعاً" (Maka janganlah engkau menyangka selain hal itu terjadi). Sedangkan contoh penghapusan kedua objeknya sekaligus adalah firman Allah Ta'ala: ﴿أين…
شُرَكائيَ الذين كنتم تَزعمونَ؟﴾ أي تزعمونهم شُرَكائي، ومن ذلك قولهم "مَنْ يَسمَعْ يَخَلْ"، أي يَخَلْ ما يَسمعُهُ حقاً. (وقد تقدم في الجزء الأول من هذا الكتاب مزيد إيضاح لهذا البحث في الكلام على أفعال القلوب، فارجع إليه) . ٣- أنه يجوزُ أن يُحذَفَ فعلُهُ لدليل، كقوله تعالى ﴿ماذا أنزلَ ربُّكم؟ قالوا خيراً﴾ ، أي أنزلَ خيراً، ويقال لك "مَنْ أُكرِمُ؟، فتقول "العلماءَ"، أي أكرمِ العلماءَ. ويجبُ حذفهُ في الأمثال ونحوها مِما اشتهرَ بحذف الفعل، نحو "الكلابَ على البَقَرِ"، أي أرسلِ الكلابَ، ونحو أمرَ مُبكياتِكَ، لا أمرَ مضحِكاتكَ"، أي الزَمْ واقبَلْ، ونحو "كلَّ شيءٍ ولا شَتيمةَ حُرّ"، أي ائتِ كلَّ شيءٍ، ولا تتي شتيمة حُرٍّ، ونحو "أهلاً وسهلاً"، أي جئتَ أهلا ونزلتَ سهلا. ومن ذلكَ حذفهُ في أَبواب التحذير والإغراءِ والاختصاص والاشتغال والنَّعتِ المقطوع. وسيأتي بيانُ ذلك في مواضعه. ٤- أن الأصلَ فيه أن يتأخرَ عن الفعلِ والفاعلِ. وقد يتقدَّمُ على الفاعلِ، أو على الفعل والفاعل معاً، كما سيأتي. ٣- تَقديمُ المفعولِ بهِ وتأخيرُهُ الأصل في الفاعل أن يَتَّصل بفعله، لأنهُ كالجزءِ منه، ثُم يأتي بعدَهُ المفعولُ. وقد يُعكَسُ الأمرُ. وقد يَتقدَّمُ المفعولُ على الفعل والفاعل معاً. وكلُّ ذلك إمَّا جائزٌ، وإمَّا واجبٌ، وإمَّا مُمتنع.
…sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu anggap?" [QS. Al-Qashash: 62]), artinya: *taz'umunahum syuraka'i* (kamu menganggap mereka sebagai sekutu-sekutu-Ku). Di antaranya juga adalah perkataan mereka: "مَنْ يَسْمَعْ يَخَلْ" (*Man yasma' yakhal* – "Barang siapa yang mendengar, ia akan mengira"), artinya: *yakhal ma yasma'uhu haqqan* (ia mengira apa yang didengarnya itu sebagai kebenaran). (Penjelasan lebih rinci mengenai pembahasan ini telah dipaparkan pada jilid pertama dari kitab ini dalam pembahasan mengenai *af'alul-qulub* [kata kerja hati/keyakinan], maka silakan merujuk kembali ke sana). 3. Diperbolehkan menghapus *fi'il*-nya karena adanya dalil (petunjuk), sebagaimana firman Allah Ta'ala: ﴿ماذا أنزلَ ربُّكم؟ قالوا خيراً﴾ (*Madza anzala rabbukum? Qalu khayran* – "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu? Mereka menjawab: 'Kebaikan'"), artinya: *anzala khayran* (Dia telah menurunkan kebaikan). Dan ditanyakan kepadamu: "Siapa yang harus aku muliakan?", lalu engkau menjawab: "العلماءَ" (*Al-'ulama'a* – "Para ulama"), artinya: *akrimil-'ulama'a* (muliakanlah para ulama). Dan wajib menghapusnya dalam peribahasa (*amtsal*) dan sejenisnya yang telah masyhur dengan pembuangan *fi'il*-nya, seperti ungkapan: "الكلابَ على البَقَرِ" (*Al-kilaba 'alal-baqari* – "Anjing-anjing itu atas sapi-sapi"), artinya: *arsilil-kilaba* (lepaskanlah anjing-anjing itu). Dan seperti ungkapan: "أمرَ مُبكياتِكَ، لا أمرَ مضحِكاتكَ" (*Amra mubkiyatika, la amra mudhhikatika*), artinya: *ilzam waqbal* (lazimilah dan terimalah nasihat orang yang membuatmu menangis demi kebaikanmu, bukan orang yang membuatmu tertawa dalam kelalaian). Dan seperti ungkapan: "كلَّ شيءٍ ولا شَتيمةَ حُرّ" (*Kulla syai'in wa la syatimata hurrin*), artinya: *a'ti kulla syai'in, wa la ta'ti syatimata hurrin* (lakukanlah segala hal, namun jangan sekali-kali engkau mencela orang yang merdeka). Serta seperti ungkapan: "أهلاً وسهلاً" (*Ahlan wa sahlan*), artinya: *ji'ta ahlan wa nazalta sahlan* (engkau datang menemui keluarga dan singgah di tempat yang mudah/nyaman). Termasuk dalam hal ini adalah pembuangannya dalam bab *tahdzir* (peringatan), *ighra'* (anjuran), *ikhtishash* (pengkhususan), *isytighal* (kesibukan amil), dan *na'at maqthu'* (sifat yang terputus). Penjelasan mengenai hal tersebut akan dipaparkan pada tempatnya masing-masing. 4. Hukum asal pada *maf'ul bih* adalah ia diakhirkan setelah *fi'il* dan *fa'il*. Namun terkadang ia mendahului *fa'il*, atau mendahului *fi'il* dan *fa'il* sekaligus, sebagaimana penjelasan yang akan datang. **3. Mendahulukan dan Mengakhirkan Maf'ul Bih:** Hukum asal pada *fa'il* adalah ia bersambung langsung dengan *fi'il*-nya, karena ia laksana bagian darinya, kemudian setelah itu barulah datang *maf'ul bih*. Namun terkadang keadaan tersebut dibalik. Dan terkadang *maf'ul bih* mendahului *fi'il* dan *fa'il* sekaligus. Semua hal tersebut adakalanya berstatus boleh (*ja'iz*), wajib (*wajib*), atau terlarang (*mumtani'*).
تقديم الفاعل والمفعول أحدهما على الآخر يجوزُ تقديمُ المفعولِ به على الفاعلِ وتأخيرُه عنه في نحو "كتبَ زُهيرٌ الدرسَ، وكتبَ الدرسَ زُهيرٌ". ويجب تقديمُ أَحدِهما على الآخر في خمس مسائل ١- إذا خُشيَ الإلتباسُ والوقوعُ في الشكِّ، بسبب خفاء الإعراب مع عدَمِ القرينةِ، فلا يُعلَمُ الفاعلُ من المفعول، فيجبُ تقديمُ الفاعل، نحو "عَلّمَ موسى عيسى، وأكرمَ ابني أخي. وغلَب هذا ذاك". فإن أُمِنَ اللّبسُ لقرينةٍ دالّةٍ، جازَ تقديمُ المفعولِ، نحو "أكرمتْ موسى سَلمى، وأَضنتْ سُعدَى الحُمّى". ٢- أن يتصلَ بالفاعلِ ضميرٌ يعودُ إلى المفعول، فيجبُ تأخيرُ الفاعل وتقديمُ المفعولِ، نحو "أكرمَ سعيداً غلامُهُ". ومنهُ قولهُ تعالى ﴿وإذْ ابتلى إبراهيمَ رَبُّهُ بكلماتٍ"، وقولهُ "يومَ لا ينفع الظّالمينَ مَعذِرتُهم﴾ . ولا يجوزُ أن يقال "أكرم غلامُهُ سعيداً"، لئلا يلزمَ عَودُ الضمير على مُتأخر لفظاً ورتبةً، وذلك محظورٌ. وأما قولُ الشاعر [من الطويل] وَلَوْ أَنَّ مَجداً أَخلَدَ الدَّهْرَ واحِداً … مِنَ النَّاسِ، أَبقى مَجْدُهُ الدَّهرَ مُطْعِما وقول الآخر [من الطويل] كسَا حِلْمُهُ ذَا الْحِلْمِ أَثوابَ سُؤدُدٍ … وَرَقَّىَ نَدَاهُ ذَا النَّدَى في ذُرَى الْمَجْدِ
Mendahulukan *Fa'il* atau *Maf'ul* Satu Sama Lain: Boleh mendahulukan *maf'ul bih* (objek) atas *fa'il* (subjek) atau mengakhirkannya dalam contoh seperti: "كتبَ زُهيرٌ الدرسَ" (Zuhair telah menulis pelajaran itu) dan "كتبَ الدرسَ زُهيرٌ" (Telah menulis pelajaran itu Zuhair). Namun, wajib mendahulukan salah satu dari keduanya atas yang lain pada lima keadaan: 1- Apabila dikhawatirkan terjadi kesamaran (*iltibas*) dan keraguan karena tidak tampaknya tanda *i'rab* disertai ketiadaan petunjuk (*qarinah*), sehingga tidak diketahui mana *fa'il* dan mana *maf'ul*. Dalam keadaan ini, wajib mendahulukan *fa'il*, seperti: "عَلّمَ موسى عيسى" (Musa telah mengajar Isa), "أكرمَ ابني أخي" (Anakku telah memuliakan saudaraku), dan "غلَب هذا ذاك" (Ini telah mengalahkan itu). Namun jika aman dari kesamaran karena adanya petunjuk yang jelas, maka boleh mendahulukan *maf'ul*, seperti: "أكرمتْ موسى سَلمى" (Salma telah memuliakan Musa) dan "أَضنتْ سُعدَى الحُمّى" (Demam itu telah melemahkan Su'da). 2- Apabila pada *fa'il* bersambung *dhamir* (kata ganti) yang kembali kepada *maf'ul*. Dalam keadaan ini, wajib mengakhirkan *fa'il* dan mendahulukan *maf'ul*, seperti: "أكرمَ سعيداً غلامُهُ" (Telah memuliakan Said pembantunya). Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿وإذْ ابتلى إبراهيمَ رَبُّهُ بكلماتٍ﴾ (Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat) dan firman-Nya: ﴿يومَ لا ينفع الظّالمينَ مَعذِرتُهم﴾ (Yaitu hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maaf mereka). Tidak boleh diucapkan "أكرم غلامُهُ سعيداً" agar tidak terjadi kembalinya *dhamir* kepada kata yang diakhirkan baik secara lafal maupun kedudukan (*rutbah*), karena hal itu dilarang. Adapun perkataan penyair [dari bahar Thawil]: "وَلَوْ أَنَّ مَجداً أَخلَدَ الدَّهْرَ واحِداً … مِنَ النَّاسِ، أَبقى مَجْدُهُ الدَّهرَ مُطْعِما" (Dan sekiranya kemuliaan dapat mengekalkan seseorang di dunia sepanjang masa, niscaya kemuliaannya akan mengekalkan Mut'im sepanjang masa). Serta perkataan penyair lainnya [dari bahar Thawil]: "كسَا حِلْمُهُ ذَا الْحِلْمِ أَثوابَ سُؤدُدٍ … وَرَقَّىَ نَدَاهُ ذَا النَّدَى في ذُرَى الْمَجْدِ" (Kesantunannya telah memakaikan jubah kewibawaan kepada orang yang santun… dan kedermawanannya telah menaikkan orang yang dermawan ke puncak kemuliaan).
وقوله غيره [من الطويل] جَزَى رَبُّهُ عَنِّي عَدِيَّ بْنَ حاتِمٍ … جَزاءَ الكِلابِ الْعاوِياتِ، وقَدْ فَعلْ وقول الآخر [من البسيط] جَزَى بَنُوهُ أبا الْغيْلانِ عنْ كِبَرٍ … وَحُسْنِ فِعْلٍ كَما يُجْزَى سِنِّمار فضَرُورةٌ، إن جازتْ في الشعر، على قبُحها، لم تَجزْ في النّثر. فإنِ اتّصل بالمفعول ضميرٌ يعودُ على الفاعل، جازَ تقديمهُ وتأخيرُهُ فتقول "أكرمَ الأستاذُ تلميذَهُ. وأَكرمَ تلميذَهُ الأستاذُ"، لأنَّ الفاعلَ رتبتُهُ التقديمُ، سواءٌ أَتقدّمَ أَم تأخّر. ٣- أَن يكون الفاعلُ والمفعولُ ضميرينِ، ولا حصرَ في أَحدهما، فيجبُ تقديمُ الفاعل وتأخيرُ المفعول به، نحو "أَكرمتُه". ٤- أَن يكون أَحدُهما ضميراً متصلاً، والآخر اسماً ظاهراً، فيجبُ تقديمُ الضمير منهما، فيُقدّمُ الفاعلُ في نحو "أكرمتُ علياً"، ويُقدّمُ المفعولُ في نحو "أكرَمني علي"، وجوباً. (ولك في المثال الأول تقديمُ المفعول على الفعل والفاعل معاً. نحو "علياُ أكرمتُ". ولك في المثال الآخر تقديم "عليّ" على الفعل والمفعول به، نحو "عليٌ أكرمني"، غير أنه يكون حينئذ مبتدأ، على رأي البصريين، ويكون الفاعل ضميراً مستتراً يعود اليه. فلا يكون الكلام، والحالة هذه، من هذا الباب، بل يكون من المسألة الثالثة، لأن الفاعل والمفعول كليهما حينئذ ضميران) .
…dan perkataan penyair lainnya [bahr Thawil]: *Jazā rabbuhu ‘annī ‘Adiyya bna Ḥātimin… jazā’a al-kilābi al-‘āwiyāti, wa-qad fa‘al* (Semoga Tuhannya membalas Adi bin Hatim atas jasanya kepadaku… dengan balasan anjing-anjing yang menggonggong, dan sungguh Dia telah melakukannya). Serta perkataan penyair lainnya [bahr Basit]: *Jazā banūhu Abā al-Ghaylāni ‘an kibarin… wa-ḥusni fi‘lin kamā yujzā Sinimmār* (Anak-anaknya membalas Abu al-Ghaylan atas masa tuanya… dan kebaikan perbuatannya, sebagaimana Sinimmar dibalas). Hal ini merupakan darurat syi'ir (*dharurah syi'riyyah*). Jika hal itu diperbolehkan dalam syair meskipun buruk, maka ia sama sekali tidak diperbolehkan dalam prosa (*natsar*). Jika pada *maf'ul* (objek) bersambung *dhamir* (kata ganti) yang merujuk kepada *fa'il* (pelaku), maka ia boleh didahulukan maupun diakhirkan. Anda boleh mengucapkan: أَكْرَمَ الأُسْتَاذُ تِلْمِيذَهُ (Guru itu memuliakan muridnya) atau أَكْرَمَ تِلْمِيذَهُ الأُسْتَاذُ, karena kedudukan asal *fa'il* adalah didahulukan, baik ia tampak mendahului secara lafal maupun diakhirkan. 3. Jika *fa'il* dan *maf'ul* keduanya berupa *dhamir*, dan tidak ada pembatasan (*hashr*) pada salah satunya, maka wajib mendahulukan *fa'il* dan mengakhirkan *maf'ul bih*, seperti: أَكْرَمْتُهُ (Aku telah memuliakannya). 4. Jika salah satunya berupa *dhamir muttasil* (kata ganti bersambung) sedangkan yang lainnya berupa *isim zahir* (kata benda tampak), maka wajib mendahulukan unsur yang berupa *dhamir*. Maka *fa'il* didahulukan seperti dalam contoh: أَكْرَمْتُ عَلِيّاً (Aku memuliakan Ali), dan *maf'ul* didahulukan seperti dalam contoh: أَكْرَمَنِي عَلِيٌّ (Ali memuliakanku), secara wajib. (Dalam contoh pertama, Anda diperbolehkan mendahulukan *maf'ul* di depan *fi'il* dan *fa'il* sekaligus, seperti: عَلِيّاً أَكْرَمْتُ. Dan dalam contoh kedua, Anda diperbolehkan mendahulukan عَلِيٌّ di depan *fi'il* dan *maf'ul bih*, seperti: عَلِيٌّ أَكْرَمَنِي. Hanya saja, kata عَلِيٌّ dalam kondisi ini berstatus sebagai *mubtada'* menurut pendapat mazhab Basrah, sedangkan *fa'il*-nya berupa *dhamir mustatir* [kata ganti tersembunyi] yang merujuk kepadanya. Dengan demikian, kalimat tersebut tidak lagi termasuk dalam bab ini, melainkan masuk ke dalam permasalahan ketiga, karena *fa'il* dan *maf'ul* keduanya saat itu berstatus sebagai *dhamir*).
٥- أَن يكون أَحدُهما محصوراً فيه الفعلُ بإلا أَو إنما، فيجبُ تأخيرُ ما حُصِرَ فيه الفعلُ، مفعولاً أو فاعلاً، فالمفعولُ المحصورُ نحو "ما أَكرمَ سعيدٌ إلا خالداً"، والفاعلُ المحصورُ نحو "ما أكرمَ سعيداً إلا خالدٌ. وإنما أَكرمَ سعيداً خالدٌ". (ومعنى الحصر في المفعول أن فعل الفاعل محصور وقوعه على هذا المفعول دون غيره. وذلك يكون ردّاً على من اعتقد أن الفعل وقع على غيره، أو عليه وعلى غيره. ومعنى الحصر في الفاعل أن الفعل محصور وقوعه من هذا الفاعل دون غيره. وذلك يكون رداً على ن اعتقد أن الفاعل غيره، أو هو وغيره) . وقد أَجازَ بعضُ النُّحاة تقديمَ أحدِهما وتأخيرَ الآخرِ، أيًّا كان المحصورُ فيهِ الفعلُ، إذا كان الحصرُ بإلا، تَمسكاً بما ورَدَ من ذلك. فمن تقديم المفعولِ المحصورِ بإلا قولُ الشاعر [من الطويل] وَلَمَّا أَبَى إِلاَّ جِمَاحاً فُؤَادُهُ … وَلَمْ يَسْلُ عَنْ لَيْلَى بِمَالٍ ولا أَهلِ وقول الآخر [من الطويل] تَزَوَّدْتُ مِنْ لَيْلَى بِتَكْلِيمِ ساعةٍ … فَما زادَ ضِعْفَ ما بِي كَلامُها ومن تقديم الفاعلِ المحصورِ بها قولُ الشاعر [من البسيط] ما عابَ إِلاَّ لَئِيمٌ فِعْلَ ذي كَرَم … ولا جَفَا قَطُّ إِلاَّ جُبَّأُ بَطَلاَ
(5) Salah satu dari keduanya diringkas (*mahshuran*) padanya perbuatan tersebut dengan menggunakan "إِلاَّ" (*illa*) atau "إِنَّما" (*innama*). Maka wajib mengakhirkan kata yang diringkas padanya perbuatan tersebut, baik ia sebagai *maf'ul bih* (objek) maupun sebagai *fa'il* (subjek). Contoh *maf'ul* yang diringkas: "ما أَكْرَمَ سَعِيدٌ إِلاَّ خالِداً" (*ma akrama Sa'idun illa Khalidan* – Tidaklah Said memuliakan kecuali Khalid). Dan contoh *fa'il* yang diringkas: "ما أَكْرَمَ سَعِيداً إِلاَّ خالِدٌ" (*ma akrama Sa'idan illa Khalidun* – Tidaklah memuliakan Said kecuali Khalid) dan "إِنَّما أَكْرَمَ سَعِيداً خالِدٌ" (*innama akrama Sa'idan Khalidun* – Sesungguhnya yang memuliakan Said hanyalah Khalid). (Dan makna ringkasan [*hashr*] pada *maf'ul* adalah bahwa perbuatan *fa'il* diringkas kejadiannya hanya tertuju pada *maf'ul* ini saja, tidak pada yang lain. Hal itu sebagai bantahan terhadap orang yang meyakini bahwa perbuatan tersebut tertuju pada selainnya, atau tertuju padanya dan pada selainnya. Dan makna ringkasan pada *fa'il* adalah bahwa perbuatan tersebut diringkas kejadiannya hanya bersumber dari *fa'il* ini saja, tidak dari yang lain. Hal itu sebagai bantahan terhadap orang yang meyakini bahwa pelakunya adalah orang lain, atau dia bersama orang lain). Dan sebagian ahli nahwu memperbolehkan mendahulukan salah satunya dan mengakhirkan yang lain, apa pun bentuk kata yang diringkas padanya perbuatan tersebut, apabila ringkasannya menggunakan "إِلاَّ", dengan berpegang teguh pada apa yang telah diriwayatkan tentang hal itu. Di antara contoh mendahulukan *maf'ul* yang diringkas dengan "إِلاَّ" adalah perkataan penyair [dari bahar *Thawil*]: "وَلَمَّا أَبَى إِلاَّ جِمَاحاً فُؤَادُهُ … وَلَمْ يَسْلُ عَنْ لَيْلَى بِمَالٍ ولا أَهلِ" (*Wa lamma aba illa jimahan fu'aduhu… wa lam yaslu 'an Laila bi-malin wa la ahli* – Dan ketika hatinya enggan kecuali membangkang… dan ia tidak dapat melupakan Laila baik dengan harta maupun keluarga). Dan perkataan penyair lain [dari bahar *Thawil*]: "تَزَوَّدْتُ مِنْ لَيْلَى بِتَكْلِيمِ ساعةٍ … فَما زادَ ضِعْفَ ما بِي كَلامُها" (*Tazawwadtu min Laila bi-taklimi sa'atin… fa ma zada dhi'fa ma bi kalamuha* – Aku membekali diri dari Laila dengan pembicaraan sesaat… maka tidaklah ucapannya itu melainkan menambah dua kali lipat penderitaan yang ada padaku). Dan di antara contoh mendahulukan *fa'il* yang diringkas dengannya adalah perkataan penyair [dari bahar *Basith*]: "ما عابَ إِلاَّ لَئِيمٌ فِعْلَ ذي كَرَم … ولا جَفَا قَطُّ إِلاَّ جُبَّأُ بَطَلاَ" (*Ma 'aba illa la'imun fi'la dhi karamin… wa la jafa qatthu illa jubba'u bathala* – Tidaklah mencela perbuatan orang yang mulia kecuali orang yang hina… dan tidaklah bersikap kasar sama sekali kecuali orang penakut terhadap pahlawan).
وقول الآخر [من الطويل] نُبِّئْتُهُمْ عَذَّبوا بالنَّارِ جارَهُمُ! … وَهَلْ يَعَذِّبُ إِلاَّ اللهُ بالنَّارِ؟! وقولُ غيره [من الطويل] فَلْم يَدْرِ إِلا اللهُ ما هَيَّجَتْ لَنا، … عَشِيَّةَ آناءِ الدِّيارِ، وِشامُها والحق أَن ذلكَ كله ضَرورَةٌ سَوَّغَها ظهورُ المعنى المرادِ ووضُوحهُ، وسَهّلها عدمُ الالتباسِ. واعلم أَنهُ متى وجبَ تقديمُ أَحدِهما، وجبَ تَأخيرُ الآخر بالضرورة. تقديم المفعول على الفعل والفاعل معاً يجوزُ تقديمُ المفعول به على الفعل والفاعل معاً في نحو "عليّاً أَكرمتُ. وأَكرمتُ عليّاً"، ومنه قولهُ تعالى ﴿فَفريقاً كذَّبتم وفَريقاً تقتلونَ﴾ . ويجبُ تقديمهُ عليهما في أَربعَ مَسائلَ ١- أَن يكونَ اسمَ شرطٍ، كقولهِ تعالى ﴿من يُضلِل اللهُ فما لهُ من هادٍ﴾ ، ونحو "أَيَّهُمْ تُكرِمْ أُكرِمْ"، أَو مضافاً لاسمِ شرطٍ، نحو "هدْيَ من تَتبعْ يَتبعْ بَنوكَ".
Dan perkataan penyair lainnya: "نُبِّئْتُهُمْ عَذَّبُوا بِالنَّارِ جَارَهُمُ … وَهَلْ يُعَذِّبُ إِلَّا اللَّهُ بِالنَّارِ" (Aku dikabarkan bahwa mereka menyiksa tetangga mereka dengan api… padahal tidak ada yang menyiksa dengan api kecuali Allah). Dan perkataan yang lain: "فَلَمْ يَدْرِ إِلَّا اللَّهُ مَا هَيَّجَتْ لَنَا … عَشِيَّةَ آنَاءِ الدِّيَارِ وِشَامُهَا" (Maka tidak ada yang mengetahui kecuali Allah apa yang digerakkan untuk kita… pada sore hari di reruntuhan rumah itu oleh bekas-bekasnya). Yang benar adalah bahwa semua itu merupakan *dharurah syi'riyyah* (tuntutan darurat bait syair) yang diperbolehkan karena jelasnya makna yang dimaksud serta mudah dipahami karena tidak adanya kesamaran. Ketahuilah bahwa kapan saja salah satu dari keduanya wajib didahulukan, maka yang lain wajib diakhirkan secara otomatis. Mendahulukan *Maf'ul* atas *Fi'il* dan *Fa'il* secara Bersamaan Diperbolehkan mendahulukan *maf'ul bih* (objek) atas *fi'il* (kata kerja) dan *fa'il* (pelaku) secara bersamaan, seperti dalam contoh: "عَلِيّاً أَكْرَمْتُ" (Ali telah kumuliakan) dan "أَكْرَمْتُ عَلِيّاً". Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: "فَفَرِيقاً كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقاً تَقْتُلُونَ" (Maka sebagian mereka kamu dustakan dan sebagian yang lain kamu bunuh). Dan wajib mendahulukannya atas keduanya pada empat keadaan: 1. Apabila *maf'ul bih* tersebut berupa *isim syarth* (kata syarat), seperti firman Allah Ta'ala: "مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ" (Barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada baginya pemberi petunjuk), dan contoh: "أَيَّهُمْ تُكْرِمْ أُكْرِمْ" (Siapa pun di antara mereka yang kamu muliakan, aku akan memuliakannya); atau di-*idhafah*-kan kepada *isim syarth*, seperti contoh: "هَدْيَ مَنْ تَتَّبِعْ يَتَّبِعْ بَنُوكَ" (Petunjuk siapa pun yang kamu ikuti, anak-anakmu akan mengikutinya).
٢- أَن يكونَ اسمَ استفهامٍ، كقولهِ تعالى ﴿فأيَّ آياتِ اللهِ تُنكرِونَ؟﴾ ، ونحو "من أَكرمتَ؟ وما فعلتَ؟ وكمْ كتاباً اشتريتَ؟ " أَو مُضافاً لاسم استفهامِ، نحو كتابَ من أَخذتَ؟ ". وأَجاز بعضُ العلماء تأخيرَ اسم الإستفهام، إذا لم يكن الاستفهامُ ابتداءً، بل قُصِدَ الإستثباتُ من الأمر، كأن يُقالَ "فعلتُ كذا وكذا"، فتستثبِتُ الأمرَ بقولكَ "فعلتَ ماذا؟ ". وما قولُهم ببعيدٍ من الصواب. ٣- أَن يكون "كمْ" أَو "كأيِّنْ" الخَبريَّتينِ، نحو "كم كتابٍ مَلَكتُ! "، ونحو "كأيِّنْ من عِلمٍ حَوَيتُ! "، أَو مضافاً إلى "كم" الخبريَّةِ نحو ذَنبَ كم مُذْنِبٍ غَفرتُ! ". (أما "كأين" فلا تضاف ولا يضاف اليها. وانما وجب تقديم المفعول به ان كان واحداً مما تقدم، لأنّ هذه الأدوات لها صدر الكلام وجوباً، فلا يجوز تأخيرها) . ٤- أَن ينصبهُ جوابُ "أَما"، وليسَ لجوابها منصوبٌ مُقدَمٌ غيرُهُ، كقولهِ تعالى ﴿فأمّا اليتيم فلا تَقهرْ، وأَمَّا السائلَ فلا تَنهرْ﴾ . (وانما وجب تقديمه، والحالة هذه، ليكون فاصلاً بين "أما" وجوابها، فان كان هناك فاصل غيره فلا يجب تقديمه، نحو "أما اليوم فافعل ما بدا لك") . تقديم أحد المفعولين على الآخر إذا تعدَّدَت المفاعيلُ في الكلام، فلبعضها الأصالةُ في التقدُّم على بعضٍ، إمّا بكونه مبتدأً في الاصل كما في باب "ظنَّ"، وإمّا بكونهِ فاعلاً
2- *Maf'ul bih* berupa *isim istifham* (kata tanya), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿فأيَّ آياتِ اللهِ تُنكرِونَ؟﴾ (*Maka ayat-ayat Allah manakah yang kamu ingkari?*), dan contoh: "من أَكرمتَ؟" (*Siapa yang kamu hormati?*), "وما فعلتَ؟" (*Dan apa yang telah kamu lakukan?*), serta "وكمْ كتاباً اشتريتَ؟" (*Berapa banyak buku yang telah kamu beli?*); atau di-*idhafah*-kan (disandarkan) kepada *isim istifham*, seperti: "كتابَ من أَخذتَ؟" (*Buku siapa yang kamu ambil?*). Sebagian ulama memperbolehkan mengakhirkan *isim istifham* apabila *istifham* tersebut bukan bertindak sebagai permulaan (*ibtida'*), melainkan bertujuan untuk mengonfirmasi/memastikan (*al-istitsbat*) suatu perkara, misalnya ketika dikatakan: "Aku telah melakukan ini dan itu", lalu Anda mengonfirmasi perkara tersebut dengan berkata: "Kamu melakukan apa?" ("فعلتَ ماذا؟"). Pendapat mereka ini tidaklah jauh dari kebenaran. 3- *Maf'ul bih* berupa "كمْ" (*kam*) atau "كأيِّنْ" (*ka-ayyin*) *khabariyyah* (yang berfungsi memberitahukan banyaknya sesuatu), seperti: "كم كتابٍ مَلَكتُ!" (*Betapa banyak buku yang telah kumiliki!*), dan seperti: "كأيِّنْ من عِلمٍ حَوَيتُ!" (*Betapa banyak ilmu yang telah kuhimpun!*); atau di-*idhafah*-kan kepada "كم" *khabariyyah*, seperti: "ذَنبَ كم مُذْنِبٍ غَفرتُ!" (*Dosa betapa banyak orang berdosa yang telah kuampuni!*). (Adapun "كأين", maka ia tidak bisa di-*idhafah*-kan dan tidak pula bisa di-*idhafah*-kan kepadanya. Hanya saja diwajibkan mendahulukan *maf'ul bih* jika ia merupakan salah satu dari yang telah disebutkan di atas, karena perangkat-perangkat ini [*adawat*] wajib berada di awal kalimat [*shadru al-kalam*], sehingga tidak boleh diakhirkan). 4- *Maf'ul bih* di-*nashab*-kan oleh *jawab* dari "أَما" (*ama*), dan *jawab*-nya tidak memiliki kata yang di-*nashab*-kan yang didahulukan selain dirinya, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿فأمّا اليتيم فلا تَقهرْ، وأَمَّا السائلَ فلا تَنهرْ﴾ (*Adapun terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang, dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah engkau menghardiknya*). (Hanya saja diwajibkan mendahulukannya dalam keadaan seperti ini agar ia menjadi pemisah antara "أما" dan *jawab*-nya. Jika di sana terdapat pemisah lain, maka tidak wajib mendahulukannya, seperti: "أما اليوم فافعل ما بدا لك" [*Adapun hari ini, maka lakukanlah apa yang tampak baik bagimu*]). Mendahulukan Salah Satu dari Dua *Maf'ul* atas yang Lainnya: Apabila *maf'ul-maf'ul* (*mafa'il*) berjumlah banyak dalam suatu kalimat, maka sebagian darinya memiliki hak asal untuk didahulukan atas sebagian yang lain, baik karena ia pada asalnya adalah *mubtada'* sebagaimana dalam bab "ظنَّ" (*zhanna*), maupun karena ia pada asalnya adalah *fa'il*.
في المعنى، كما في باب "أَعطى". (فمفعولا "ظنّ" وأخواتها أصلهما مبتدا وخبر، فاذا قلت "علمت الله رحيماً". فالأصل "اللهُ رحيمٌ". ومفعولا "أعطى" وأخواتها ليس أصلهما مبتدأ وخبراً، غير أن المفعول الأول فاعل في المعنى، فاذا قلت "ألبستُ الفقير ثوباً". فالفقير فاعل في المعنى، لأنه لبس الثوب) . فإذا كان الفعل ناصباً لمفعولين، فالأصلُ تقديمُ المفعولِ الأوَّل، لأنّ اصله المبتدأُ، في باب "ظَنَّ"، ولأنهُ فاعلٌ في المعنى في باب "أَعطى"، نحو "ظننتُ البدرَ طالعاً، ونحو "أعطيتُ سعيداً الكتابَ". ويجوز العكسُ إِن أُمِنَ اللَّبْسُ، نحو، "ظننتُ طالعاً البدرَ"، ونحو "أَعطيتُ الكتابَ سعيداً". ويجب تقديم أَحدهما على الآخر في أربع مسائلَ ١- أَن لا يُؤْمنَ اللّبْسُ، فيجبُ تقديمُ ما حقّهُ التقديمُ، وهو المفعولُ الأول، نحو "أَعطيتكَ أَخاكَ"، إن كان المخاطَبُ هو المُعطى الآخذَ، وأخوهُ هو المعطى المأخوذ، ونحو "ظننت سعيداً خالداً"، إن كان سعيدٌ هو المظنونَ أنه خالدٌ. وإلا عكستَ. ٢- أن يكونَ أحدُهما اسماً ظاهراً، والآخر ضميراً، فيجبُ تقديمُ ما هو ضميرٌ، وتأخيرُ ما هو ظاهرٌ، نحو "أعطيتُكَ درهماً" و"الدرهمَ أعطيتُهُ سعيداً". ٣- أن يكون أحدُهما محصوراً فيه الفعلُ، فيجبُ تأخير المحصور، سواءٌ أكان المفعولَ الاولَ أم الثاني، نحو ما اعطيتُ سعيداً إلا دِرهماً" و"ما أعطيتُ الدرهمَ إلا سعيداً".
secara makna, sebagaimana dalam bab "أَعْطَى". (Maka kedua *maf'ul* dari "ظَنَّ" dan saudaranya asalnya adalah *mubtada'* dan *khabar*. Jika Anda mengucapkan "عَلِمْتُ اللَّهَ رَحِيماً" [Aku mengetahui Allah Maha Penyayang], maka asalnya adalah "اللَّهُ رَحِيمٌ" [Allah Maha Penyayang]. Sedangkan kedua *maf'ul* dari "أَعْطَى" dan saudaranya asalnya bukanlah *mubtada'* dan *khabar*, hanya saja *maf'ul* pertama berkedudukan sebagai *fa'il* secara makna. Jika Anda mengucapkan "أَلْبَسْتُ الْفَقِيرَ ثَوْباً" [Aku memakaikan si miskin pakaian], maka si miskin adalah *fa'il* secara makna, karena dialah yang memakai pakaian tersebut). Apabila *fi'il* men-*nashab*-kan dua *maf'ul*, maka hukum asalnya adalah mendahulukan *maf'ul* pertama, karena asalnya adalah *mubtada'* dalam bab "ظَنَّ", dan karena ia adalah *fa'il* secara makna dalam bab "أَعْطَى", seperti: ظَنَنْتُ الْبَدْرَ طَالِعاً (Aku mengira bulan purnama telah terbit) dan أَعْطَيْتُ سَعِيداً الْكِتَابَ (Aku memberi Said buku). Dan boleh sebaliknya jika aman dari kesamaran (*al-labs*), seperti: ظَنَنْتُ طَالِعاً الْبَدْرَ dan أَعْطَيْتُ الْكِتَابَ سَعِيداً. Dan wajib mendahulukan salah satu dari keduanya atas yang lain dalam empat keadaan: 1- Jika tidak aman dari kesamaran, maka wajib mendahulukan yang berhak didahulukan, yaitu *maf'ul* pertama, seperti: أَعْطَيْتُكَ أَخَاكَ (Aku memberikan saudaramu kepadamu), jika lawan bicara adalah orang yang diberi (penerima) dan saudaranya adalah yang diberikan. Dan seperti: ظَنَنْتُ سَعِيداً خَالِداً (Aku mengira Said adalah Khalid), jika Said adalah orang yang dikira sebagai Khalid. Jika tidak demikian, maka Anda membaliknya. 2- Jika salah satunya berupa *isim zhahir* (kata benda tampak) dan yang lainnya berupa *dhamir* (kata ganti), maka wajib mendahulukan yang berupa *dhamir* dan mengakhirkan yang berupa *isim zhahir*, seperti: أَعْطَيْتُكَ دِرْهَماً (Aku memberimu satu dirham) dan الدِّرْهَمَ أَعْطَيْتُهُ سَعِيداً (Dirham itu aku berikan kepada Said). 3- Jika salah satunya dibatasi (*mahshur*) padanya pekerjaan tersebut, maka wajib mengakhirkan yang dibatasi, baik ia berupa *maf'ul* pertama maupun kedua, seperti: مَا أَعْطَيْتُ سَعِيداً إِلَّا دِرْهَماً (Aku tidak memberi Said kecuali satu dirham) dan مَا أَعْطَيْتُ الدِّرْهَمَ إِلَّا سَعِيداً (Aku tidak memberikan dirham itu kecuali kepada Said).
٤- أن يكونَ المفعولَ الأولُ مشتملاً على ضمير يعودُ إلى المفعول الثاني، فيجب تأخيرُ الأول وتقديم الثاني، نحو "أعطِ القوسَ باريَها". (فلو قُدِّم المفعولُ الأول لعاد الضمير على متأخر لفظاً ورتبة، لأن المفعول الثاني رتبته التأخير عن المفعول الأول. أما أن كان المفعول الثاني مشتملاً على ضمير يعود الى المفعول الأول، نحو "أعطيت التلميذَ كتابه"، فيجوز تقديمه على المفعول الأول، نحو "أعطيتُ كتابه التميذَ" لأن المفعول الأول، وان تأخر لفظاً، فهو متقدم رتبة) . (٤) المُشَبَّهُ بالْمَفعول به إن كان معمولُ الصفةِ المُشبَّهة معرفةً، فحقُّهُ الرفعُ، لأنه فاعلٌ لها، نحو "عليٌّ حَسَنٌ خُلقُهُ". غيرَ أنهم إذا قصدوا المبالغةَ حوَّلوا الإسنادَ عن فاعلها إلى ضميرٍ يسْتَتِرُ فيها يعود الى ما قبلها، ونَصبوا ما كان فاعلاً، تشبيهاً له بالمفعول به، فقالوا "علي حَسَنٌ خُلقَهُ، بنصبِ الخُلُق على التَّشبيه بالمفعول به، وليس مفعولاً به، لأنّ الصفةَ المشبَّهة قاصرةٌ غيرُ متعديةٍ، ولا تمييزاً، لأنه معرفةٌ بالإضافة إلى الضمير. والتمييزُ لا يكونُ إلا نكرةً. ٥- التَّحْذيرُ التَّحذيرُ نصبُ الاسمِ بفعلٍ محذوف يُفيدُ التَّنبيهَ والتّحذيرَ. ويُقدّرُ بما يُناسبُ المقامَ كاحذَرْ، وباعِدْ، وتَجنَّبْ، و"قِ" وتَوَقَّ، ونحوها. وفائدتُهُ تنبيهُ المخاطبِ على أمرٍ مكروهٍ ليجتنبَهُ. ويكونُ التحذيرُ تارةً بلفظِ "إيّاكَ" وفروعهِ، من كلّ ضميرٍ منصوبٍ متصل للخطاب، نحو "إياكَ والكَذِبَ، إِياكَ إِياكَ والشرَّ، إياكما من النفاقِ إياكم الضَّلالَ، إياكنَّ والرَّذيلةَ. ويكونُ تارةً بدونه، نحو "نفسَكَ والشرّ، الاسدَ الاسد". وقد يكونُ بـ "إيّاه، وفروعهما، إذا عُطفَ على المُحذّر، كقوله [من الهزج] فَلا تَصْحَبْ أَخَا الجَهْلِ … وَإِيَّاكَ وَإِيَّاهُ ونحو "إيّايَ والشرَّ". ومنه قولُ عُمرَ، "إيايَ وان يَحذفَ أحدكمُ الأرنبَ، يريد أن يحذفها بسيفٍ ونحوهِ. وجعلَ الجمهورُ ذلك من الشُّذوذ. ويجبُ في التّحذيرِ حذفُ العامل مع "إيَّاكَ" في جميع استعمالاته، ومعَ غيره، إن كُرِّر او عطفَ عليه، كما رأَيتَ. وإلا جازّ ذِكرُه وحذفُهُ،
4. *Maf'ul* (objek) pertama mengandung *dhamir* (kata ganti) yang kembali kepada *maf'ul* kedua, sehingga wajib mengakhirkan yang pertama dan mendahulukan yang kedua, seperti: "أعطِ القوسَ باريَها" (Berikanlah busur itu kepada pembuatnya). (Sekiranya *maf'ul* pertama didahulukan, niscaya *dhamir* tersebut akan kembali kepada kata yang diakhirkan secara lafal maupun kedudukan, karena *maf'ul* kedua secara kedudukan berada setelah *maf'ul* pertama. Adapun jika *maf'ul* kedua mengandung *dhamir* yang kembali kepada *maf'ul* pertama, seperti: "أعطيتُ التلميذَ كتابَهُ" [Aku memberikan kepada murid itu bukunya], maka boleh mendahulukannya atas *maf'ul* pertama, seperti: "أعطيتُ كتابَهُ التلميذَ", karena *maf'ul* pertama meskipun diakhirkan secara lafal, ia didahulukan secara kedudukan). (4) Kata yang Diserupakan dengan *Maf'ul Bih* (*Al-Musyabbah bi al-Maf'ul Bih*): Jika *ma'mul* (kata yang dipengaruhi) dari *shifah musyabbahah* (sifat yang menyerupai partisip) berupa kata *ma'rifat*, maka haknya adalah *rafa'* karena ia berkedudukan sebagai *fa'il* (subjek) baginya, seperti: "عليٌّ حَسَنٌ خُلقُهُ" (Ali itu baik perilakunya). Namun, jika mereka bermaksud melebih-lebihkan (*mubalaghah*), mereka mengalihkan penyandaran (*isnad*) dari *fa'il*-nya kepada *dhamir* yang tersembunyi di dalamnya yang kembali kepada kata sebelumnya, dan mereka me-*nasab*-kan kata yang sebelumnya menjadi *fa'il* tersebut karena diserupakan dengan *maf'ul bih*. Maka mereka mengucapkan: "عليٌّ حَسَنٌ خُلُقَهُ", dengan me-*nasab*-kan kata "خُلُقَ" karena diserupakan dengan *maf'ul bih*, dan ia bukan *maf'ul bih* yang sesungguhnya karena *shifah musyabbahah* bersifat *lazim* (intransitif) tidak dapat me-transitif-kan objek, dan ia juga bukan *tamyiz* karena ia berstatus *ma'rifat* sebab di-*idhafah*-kan kepada *dhamir*, sedangkan *tamyiz* tidak boleh berupa kata kecuali *nakirah*. 5. *Al-Tahdzir* (Peringatan/Waspada): *Al-Tahdzir* adalah me-*nasab*-kan *isim* dengan *fi'il* yang dibuang yang memberikan faedah peringatan dan kewaspadaan. *Fi'il* tersebut ditakdirkan (dikira-kirakan) dengan kata yang sesuai dengan konteksnya, seperti: "احْذَرْ" (waspadalah), "بَاعِدْ" (jauhilah), "تَجَنَّبْ" (hindarilah), "قِ" (jagalah), "تَوَقَّ" (berhati-hatilah), dan sejenisnya. Manfaatnya adalah memperingatkan lawan bicara (*mukhatab*) atas suatu perkara yang dibenci agar ia menghindarinya. *Al-Tahdzir* adakalanya menggunakan lafal "إِيَّاكَ" (waspadalah kamu) dan cabang-cabangnya dari setiap *dhamir nasab munfashil* (kata ganti objek terpisah) untuk lawan bicara, seperti: "إياكَ والكَذِبَ" (Waspadalah kamu dari dusta), "إياكَ إياكَ والشرَّ" (Waspadalah kamu, waspadalah kamu dari keburukan), "إياكما من النفاقِ" (Waspadalah kamu berdua dari kemunafikan), "إياكم الضَّلالَ" (Waspadalah kalian dari kesesatan), dan "إياكنَّ والرَّذيلةَ" (Waspadalah kalian [perempuan] dari kehinaan). Adakalanya juga tanpa menggunakan lafal tersebut, seperti: "نفسَكَ والشرّ" (Jagalah dirimu dan keburukan), "الاسدَ الاسدَ" (Awas singa, awas singa!). Terkadang ia menggunakan lafal "إِيَّاهُ" (waspadalah dia) dan cabang-cabangnya jika di-athaf-kan (disambungkan) kepada pihak yang diperingatkan, seperti perkataan penyair [dari bahar Hazaj]: فَلَا تَصْحَبْ أَخَا الجَهْلِ … وَإِيَّاكَ وَإِيَّاهُ (Maka janganlah kamu menemani orang yang bodoh, dan waspadalah kamu dan dia). Serta seperti: "إِيَّايَ والشرَّ". Di antaranya adalah perkataan Umar: "إيايَ وأن يحذفَ أحدكمُ الأرنبَ" (Waspadalah aku jika salah seorang dari kalian melempar kelinci), beliau memaksudkan melemparnya dengan pedang atau sejenisnya. Mayoritas ulama mengategorikan hal tersebut sebagai penyimpangan (*syadz*). Wajib dalam bab *al-tahdzir* membuang *'amil* (kata kerja yang memengaruhi) bersama lafal "إِيَّاكَ" dalam seluruh penggunaannya, dan bersama selainnya jika kata tersebut diulang (*takrir*) atau di-athaf-kan, sebagaimana yang telah Anda lihat. Jika tidak demikian, maka boleh menyebutkannya atau membuangnya.
نحو: "الكسلَ، نفسكَ الشرَّ" فيجوز في هذا أن تقول: "احذَرْ، أو توقّ الكسلَ، قِ نفسكَ الشرَّ، او أُحذِّرُكَ الشرَّ". وقد يُرفعُ المكرّرُ، على أنهُ خبرٌ لمبتدأ محذوفٍ، نحو "الأسدُ الأسدُ" أي هذا الأسدُ. وقد يُحذَفُ المحذورُ منه، بعد "إياك" وفروعهِ، اعتماداً على القرينة، كأنْ يُقال "سأفعلُ كذا" فتقولُ "إياكَ"، أَي "إياك أَن تفعله". وما كان من التّحذير بغير "إياك" وفروعهِ، جاز فيه ذكرُ المُحذَّر والمحذَّر منه معاً، نحو "رجلَكَ والحجرَ" وجازَ حذفُ المحذّر وذكرُ المحذّر منه وحدَهُ، نحو "الأسدَ الاسدَ". ومنه قولهُ تعالى ﴿ناقةَ اللهِ وسُقياها﴾ . ٦- الإِغراءُ الإِغراءُ نصبُ الاسمِ بفعلٍ محذوفٍ يُفيدُ الترغيبَ والتشويقَ والإِغراءَ. ويقدَّرُ بما يُناسبُ المقامَ كالزَمْ واطلُبْ وافعلْ، ونحوها.
…seperti: "الكسلَ، نفسكَ الشرَّ" (*Kemalasan itu! Jagalah dirimu dari keburukan itu!*). Maka dalam hal ini Anda diperbolehkan mengucapkan: "احذَرْ، أو توقّ الكسلَ، قِ نفسكَ الشرَّ، او أُحذِّرُكَ الشرَّ" (*Hindarilah atau jagalah dirimu dari kemalasan, peliharalah dirimu dari keburukan, atau aku memperingatkanmu dari keburukan*). Terkadang kata yang diulang di-*rafa'*-kan atas kedudukan sebagai *khabar* bagi *mubtada'* yang dibuang, seperti: "الأسدُ الأسدُ" (*Singa! Singa!*), yang berarti: "هذا الأسدُ" (*Ini adalah singa*). Terkadang pula hal yang diwaspadai (*mahdzur minhu*) dibuang setelah kata "إياك" (*iyyaka*) beserta cabang-cabangnya karena bersandar pada petunjuk konteks (*qarinah*). Misalnya ketika seseorang berkata: "سأفعلُ كذا" (*Aku akan melakukan hal ini*), lalu Anda menjawab: "إياكَ" (*Awas kamu!*), yang berarti: "إياك أَن تفعله" (*Waspadalah jangan sampai kamu melakukannya*). Adapun bentuk peringatan (*tahdzir*) yang tidak menggunakan kata "إياك" dan cabang-cabangnya, maka diperbolehkan menyebutkan pihak yang diperingatkan (*muhadzdzar*) bersama dengan hal yang diwaspadai (*muhadzdzar minhu*) secara bersamaan, seperti: "رجلَكَ والحجرَ" (*Kakimu dan batu itu!* [artinya: jagalah kakimu dari batu itu]). Diperbolehkan juga membuang pihak yang diperingatkan dan hanya menyebutkan hal yang diwaspadai saja, seperti: "الأسدَ الاسدَ" (*Singa itu! Singa itu!*). Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: {ناقةَ اللهِ وسُقياها} (*[Biarkanlah] unta betina Allah dan minumannya*). 6. *Al-Ighra'* (Anjuran/Dorongan) *Al-Ighra'* adalah men-*nasab*-kan *isim* dengan *fi'il* yang dibuang yang memberikan makna anjuran, ketertarikan, dan dorongan. *Fi'il* tersebut diperkirakan takwilnya dengan kata yang sesuai dengan konteks, seperti "الزَمْ" (*lazimilah/pegang teguhlah*), "اطلُبْ" (*carilah*), "افعلْ" (*lakukanlah*), dan sejenisnya.
وقائدتُه تنبيهُ المخاطَبِ على أمرٍ محمودٍ ليفعلُه، نحو "الاجتهادَ الاجتهادَ" مو "الصِدقَ وكرَمَ الخلقِ". ويجبُ في هذا البابِ حذفُ العاملِ إن كُرّرَ المُغرَى به، أو عُطِفَ عليهِ، فالأولُ نحو "النَجدةَ النَّجدةَ". ومنه قول الشاعر [من الطويل]
dan fungsinya adalah mengingatkan lawan bicara (*mukhāthab*) atas suatu perkara yang terpuji agar ia melakukannya, contohnya: *"Al-ijtihāda al-ijtihāda"* (Bersungguh-sungguhlah, bersungguh-sungguhlah) dan *"Ash-shidqa wa karamal-khuluq"* (Peganglah kejujuran dan keluhuran budi pekerti). Dalam bab ini, wajib menghapus *'āmil* (kata yang beroperasi) jika kata yang didorong (*al-mughrā bihī*) diulang atau di'athafkan (dihubungkan). Contoh yang pertama: *"An-najdata an-najdata"* (Tolonglah, tolonglah). Di antaranya ucapan penyair [bahr *Ath-Thawīl*]:
أَخاكَ أَخَاكَ، إنَّ مَنْ لا أَخا لَهُ … كساعٍ إلى الهَيْجا بِغَيْرِ سِلاَحِ وإِنَّ ابْنَ عَمِّ المَرْءِ فاعلَمْ، جَناحُهُ … وهَلْ يَنْهَضُ البازِي بِغَيْرِ جَنَاحِ والثاني نحو "المُروءةَ والنّجدةَ". ويجوزُ ذِكرُ عاملهِ وحذفه إن لم يُكرّر ولم يُعطَفْ عليه، نحو "الإِقدامَ، الخيرَ". ومنه "الصّلاةَ جامعةً". فإن أظهرتَ العاملَ فقلتَ "اِلزمِ الإقدام، إفعَلِ الخيرَ، أُحضُرِ الصلاة"، جازَ. وقد يُرفعُ المكرَّرُ، في الإغراءِ، على أنهُ خبرٌ لمبتدأ محذوف، كقوله [من الخفيف] إِنَّ قَوْماً مِنْهُمْ عُمَيْرٌ وأَشبا … هُ عُميْرٍ، ومِنْهُمُ السَّفَّاحُ لَجَدِيرُونَ بالوَفاءِ إِذَا قا … لَ أَخُو النَّجْدةِ. السِّلاَحُ السِّلاَحُ ٧- الاختِصاصُ الاختصاصُ نصبُ الاسمِ بفعلٍ محذوفٍ وجوباً تقديرُهُ "أَخصُّ، أو أعْني". ولا يكونُ هذا الاسمُ ضميرٍ لبيان المرادِ منه، وقَصرِ الحكمِ الذي للضمير عليه، نحو "نحنُ – العرَبَ – نُكرِمُ الضّيفَ". ويُسمّى الاسمَ المُختصّ. (فنحن مبتدأ، وجملة نكرم الضيف خبره. والعربَ منصوب
"أَخاكَ أَخَاكَ، إنَّ مَنْ لا أَخا لَهُ … كساعٍ إلى الهَيْجا بِغَيْرِ سِلاَحِ" (*Akhaka akhaka, inna man la akha lahu… ka-sa'in ila al-haija bi-ghairi silahi* – Saudaramu! Saudaramu! Sesungguhnya orang yang tidak memiliki saudara… bagaikan orang yang berjalan ke medan perang tanpa senjata). "وإِنَّ ابْنَ عَمِّ المَرْءِ فاعلَمْ، جَناحُهُ … وهَلْ يَنْهَضُ البازِي بِغَيْرِ جَنَاحِ" (*Wa inna ibna 'ammi al-mar'i fa'lam, janahuhu… wa hal yanhadhu al-bazi bi-ghairi janahi* – Dan sesungguhnya sepupu seseorang itu, ketahuilah, adalah sayapnya… dan apakah burung elang dapat terbang tanpa sayap?). Dan contoh yang kedua: "المُرُوءَةَ والنَّجْدَةَ" (*al-muru'ata wa an-najdata* – Peganglah erat harga diri dan pertolongan). Dan diperbolehkan menyebutkan *'amil*-nya (kata yang mempengaruhi harakat) atau membuangnya jika ia tidak diulang dan tidak pula di-athaf-kan kepadanya, seperti: "الإِقْدامَ، الخَيْرَ" (*al-iqdama, al-khaira* – Majulah, berbuat baiklah). Di antaranya adalah ucapan: "الصَّلاةَ جامِعَةً" (*ash-shalata jami'atan* – Dirikanlah shalat secara berjamaah). Maka jika engkau menampakkan *'amil*-nya lalu mengucapkan: "اِلْزَمِ الإِقْدامَ، اِفْعَلِ الخَيْرَ، أُحْضُرِ الصَّلاةَ" (*ilzam al-iqdama, if'al al-khaira, uhdhur ash-shalata*), hal itu diperbolehkan. Dan terkadang kata yang diulang di-*rafa'*-kan dalam bab *ighra'* (anjuran) atas kedudukan sebagai *khabar* bagi *mubtada'* yang dibuang, seperti perkataan penyair [dari bahar *Khafif*]: "إِنَّ قَوْماً مِنْهُمْ عُمَيْرٌ وأَشبا … هُ عُميْرٍ، ومِنْهُمُ السَّفَّاحُ لَجَدِيرُونَ بالوَفاءِ إِذَا قا … لَ أَخُو النَّجْدةِ. السِّلاَحُ السِّلاَحُ" (*Inna qauman minhum 'Umairun wa asyba… hu 'Umairin, wa minhumu as-Saffahu, la-jadiruna bi al-wafa'i idha qa… la akhu an-najdati: as-silahu as-silahu* – Sesungguhnya suatu kaum yang di antara mereka ada Umair dan yang serupa… dengan Umair, serta di antara mereka ada As-Saffah, benar-benar layak memenuhi janji apabila… penolong berteriak: Senjata! Senjata!). (7) **Al-Ikhtishash (Pengkhususan)**: *Ikhtishash* adalah penashaban *isim* dengan *fi'il* yang wajib dibuang, yang takdirnya adalah "أَخُصُّ" (*akhushshu* – aku mengkhususkan) atau "أَعْنِي" (*a'ni* – aku bermaksud). Dan *isim* ini tidak boleh berupa *dhamir*, melainkan berfungsi untuk memperjelas maksud dari *dhamir* tersebut, serta membatasi hukum yang dimiliki oleh *dhamir* padanya, seperti: "نَحْنُ – العَرَبَ – نُكْرِمُ الضَّيْفَ" (*nahnu – al-'Araba – nukrimu adh-dhaifa* – Kami—khususnya bangsa Arab—memuliakan tamu). Dan ia dinamakan *isim mukhtash*. (Maka kata *nahnu* adalah *mubtada'*, sedangkan *jumlah nukrimu adh-dhaifa* adalah *khabar*-nya. Dan kata *al-'Araba* berstatus *manshub*…)
على الاختصاص بفعل محذوف تقديره "أخصّ". وجملة الفعل المحذوف معترضة بين المبتدأ وخبره. وليس المراد الإخبار عن "نحن" بالعرب، بل المراد أن اكرام الضيف مختص بالعرب ومقصور عليهم. فان ذُكرَ الاسمُ بعد المضير للاخبار به عنه، لا لبيان المراد منه، فهو مرفوع لأنه يكون حينئذ خبراً للمبتدأ. كأن تقول "نحنُ المجتهدون" أو "نحن السابقون". ومن النصب على الاختصاص قولُ الناس "نحنُ – الواضعين أسماءنا أدناه – نشهد بكذا وكذا". فنحن مبتدأ، خبره جملة "نشهد" والواضعين مفعول به لفعل محذوف تقديره "نخصّ، أو نعني") . ويجبُ أن يكونَ مُعرّفاً بأل، نحو "نحنُ – العربَ – أوفى الناسِ بالعُهود"، أو مضافاً لمعرفةٍ، كحديث "نحنُ – مَعاشرَ الأنبياء – لا نورثُ ما تركناهُ صدَقةٌ"، أو عَلَماً، وهو قليلٌ، كقول الراجز "بنا – تَميماً – يُكشَفُ الضَّبابُ". أما المضافُ إلى العَلَمِ فيكونَ على غيرِ قِلّةٍ، كقولهِ "نحنُ – بَني ضَبَّةَ أصحابَ الجَمَل". ولا يكونُ نكرةً ولا ضميراً ولا اسمَ إشارة ولا اسمَ موصولٍ. وأكثرُ الأسماءِ دخولاً في هذا البابِ "بنو فلان، ومعشر (مضافاً) ، وأهلُ البيتِ، وآلُ فلانٍ". واعلمْ أن الأكثر في المختصِّ أن يَلي ضميرَ المتكلِّمِ، كما رأيتَ. وقد يلي ضميرَ الخطاب، نحو "بكَ – اللهَ. ارجو نجاحَ القصدِ" و"سُبحانَكَ – اللهَ – العظيمَ". ولا يكون بعدَ ضميرِ غيبة. وقد يكون الاختصاصُ بلَفظ "أَيُّها وأَيَّتُها"، فيُستعملان كما يستعملان
"…atas dasar *ikhtishash* (pengkhususan) dengan *fi'il* (kata kerja) yang dibuang, yang takdirnya (perkiraannya) adalah `أَخُصُّ` (aku mengkhususkan). Dan *jumlah* [klausa] dari *fi'il* yang dibuang tersebut berkedudukan sebagai *mu'taridhah* (kalimat sela) di antara *mubtada'* dan *khabar*-nya. Dan tujuannya bukanlah mengabarkan tentang `نَحْنُ` (kami) dengan kata `العَرَب`, melainkan tujuannya adalah bahwa pemuliaan tamu itu dikhususkan bagi bangsa Arab dan terbatas pada mereka saja. Maka jika *isim* tersebut disebutkan setelah *dhamir* untuk mengabarkannya, bukan untuk menjelaskan maksud dari *dhamir* tersebut, maka ia di-*rafa'*-kan karena pada saat itu ia menjadi *khabar* bagi *mubtada'*. Seperti Anda mengucapkan `نحنُ المجتهدون` (Kami adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh) atau `نحنُ السابقون` (Kami adalah orang-orang yang terdahulu). Dan di antara contoh *nashab* atas dasar *ikhtishash* adalah ucapan orang-orang: `نحنُ – الواضعين أسماءنا أدناه – نشهد بكذا وكذا` (Kami—orang-orang yang membubuhkan tanda tangan kami di bawah ini—bersaksi dengan demikian dan demikian). Maka kata `نحنُ` adalah *mubtada'*, *khabar*-nya adalah *jumlah* `نشهد`, dan kata `الواضعين` adalah *maf'ul bih* (objek) bagi *fi'il* yang dibuang yang takdirnya adalah `نَخُصُّ` [kami mengkhususkan] atau `نَعْنِي` [kami memaksudkan]). Dan ia (isim yang dikhususkan) wajib berupa kata yang di-makrifat-kan dengan `أَلْ`, seperti `نحنُ – العربَ – أوفى الناسِ بالعُهود` (Kami—bangsa Arab—adalah manusia yang paling menepati janji), atau di-*idhafah*-kan kepada *makrifat*, seperti dalam hadis: `نحنُ – مَعاشرَ الأنبياء – لا نورثُ ما تركناهُ صدَقةٌ` (Kami—golongan para nabi—tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah), atau berupa *isim 'alam* (nama diri) dan ini sedikit, seperti perkataan penyair rajaz: `بنا – تَميماً – يُكشَفُ الضَّبابُ` (Dengan kami—suku Tamim—kabut disingkapkan). Adapun kata yang di-*idhafah*-kan kepada *isim 'alam* maka terjadinya tidaklah sedikit (sering), seperti perkataannya: `نحنُ – بَني ضَبَّةَ أصحابَ الجَمَل` (Kami—Bani Dhabbah—adalah pemilik unta). Dan ia tidak boleh berupa *nakirah* (kata umum), *dhamir*, *isim isyarah*, maupun *isim maushul*. Dan *isim-isim* yang paling banyak masuk ke dalam bab ini adalah: `بَنُو فُلَان` (anak keturunan fulan), `مَعْشَر` (golongan – dalam keadaan di-idhafah-kan), `أَهْلُ البَيْتِ` (ahli bait), dan `آلُ فُلَان` (keluarga fulan). Dan ketahuilah bahwa yang paling sering terjadi pada *mukhtash* (isim yang dikhususkan) adalah ia mengiringi *dhamir mutakallim* (kata ganti orang pertama), sebagaimana yang telah Anda lihat. Terkadang ia juga mengiringi *dhamir mukhatab* (kata ganti orang kedua), seperti `بكَ – اللهَ – أرجو نجاحَ القصدِ` (Dengan-Mu—ya Allah—aku mengharapkan keberhasilan tujuan) dan `سُبحانَكَ – اللهَ – العظيمَ` (Mahasuci Engkau—ya Allah—Yang Maha Agung). Dan ia tidak boleh terletak setelah *dhamir gha'ib* (kata ganti orang ketiga). Terkadang *ikhtishash* itu menggunakan lafal `أَيُّهَا` dan `أَيَّتُهَا`, maka keduanya digunakan sebagaimana keduanya digunakan…"
في النّداءِ، فيبنيان على الضمِّ، ويكونانِ في محلِّ نصبٍ بأخُص محذوفاً وجوباً، ويكونُ ما بعدَهما اسماُ مُحَلًّى بألْ، لازمَ الرفعِ على أنه صفةٌ لِلَفظهما، أو بدلٌ منه، أو عطفُ بيانٍ لهُ. ولا يجوزُ نصبه على أنه تابعٌ لمحلّهما من الإعراب. وذلك نحو "أَنا أفعلُ الخيرَ، أيُّها الرجلُ، ونحن نفعلُ المعروفَ، أيُّها القومُ". ومنه قولهم "أَللهمَّ اغفر لنا، أَيَّتُها العَصابةُ". (ويراد بهذا النوع من الكلام الاختصاص، وإن كان ظاهره النداء. والمعنى "أنا أفعل الخير مخصوصاً من بين الرجال، ونحن نفعل المعروف مخصوصين من بين القوم, واللهمّ اغفر لنا مخصوصين من بين العصائب". ولم ترد بالرجل إلا نفسك ولم يريدوا بالرجال والعصابة إلا أنفسهم. وجملة "أخص" المقدّرة بعد "أيها رأيتها" في محل نصب على الحال) . ٨- الاشتغالُ الاشتغالُ أن يَتقدَّمَ اسمٌ على من حقِّهِ أن يَنصِبَه، لولا اشتغالهُ عنه بالعمل في ضميرهِ، نحو "خالدٌ أَكرمتُهُ". (إذا قلت "خالداً أكرمتُ"، فخالداً مفعول به لأكرمَ. فان قلتَ "خالدٌ أكرمته"، فخالدٌ حقه أن يكون مفعولاً به لأكرم أيضاً، لكنّ الفعلَ هنا اشتغل عن العمل في ضميره، وهو الهاء. وهذا هو معنى الاشتغال) . والأفضلُ في الاسم المقتدمِ الرفعُ على الابتداء، كما رأيتَ. الجملةُ بعدَهُ خبرهُ. ويجوز نصبُهُ نحو "خالداً رأيتهُ". وناصبُهُ فعلٌ وجوباً، فلا يجوزُ إظهارهُ. ويُقدَّرُ المحذوفُ من لفظِ المذكور. إلا أن يكونَ المذكورُ فعلاً لازماً متعدياً بحرف الجر، نحو "العاجزَ أخذتُ بيدهِ" و"بيروتَ مررتُ بها"، فَيُقدّرُ من معناهُ. (فتقدير المحذوف "رأيت". في نحو "خالداً رأيته".
"…dalam panggilan (*nida'*), maka keduanya di-*mabni*-kan di atas harakat *dhammah*, dan berada dalam kedudukan *nasab* (*fii mahalli nasbin*) oleh kata kerja 'أَخُصُّ' (*akhushshu* [aku mengkhususkan]) yang wajib dibuang. Kata setelah keduanya berupa *isim* yang disertai 'ال' (*alif lam*) yang wajib di-*rafa'*-kan sebagai *shifat* bagi lafal keduanya, atau sebagai *badal* (pengganti) darinya, atau sebagai *'athaf bayan* (keterangan penjelas) baginya. Tidak diperbolehkan men-nasab-kannya sebagai pengikut (*tabi'*) bagi kedudukan i'rab (*mahal*) keduanya. Contohnya seperti: أَنا أفعلُ الخيرَ، أيُّها الرجلُ (Aku melakukan kebaikan, wahai laki-laki) dan نحن نفعلُ المعروفَ، أيُّها القومُ (Kami melakukan kebajikan, wahai kaum). Di antaranya pula ucapan mereka: أَللهمَّ اغفر لنا، أَيَّتُها العَصابةُ (Ya Allah, ampunilah kami, wahai kelompok ini). (Yang dimaksud dengan gaya bahasa ini adalah pengkhususan (*ikhtishash*), meskipun secara lahiriah tampak seperti panggilan (*nida'*). Maknanya adalah: 'Aku melakukan kebaikan secara khusus di antara para laki-laki, dan kami melakukan kebajikan secara khusus di antara kaum itu, dan ya Allah ampunilah kami secara khusus di antara kelompok-kelompok'. Dan Anda tidak memaksudkan dengan kata 'laki-laki' kecuali diri Anda sendiri, dan mereka tidak memaksudkan dengan kata 'kaum' dan 'kelompok' kecuali diri mereka sendiri. Dan kalimat 'أخص' yang diperkirakan keberadaannya setelah kata 'أيها' yang Anda lihat berada dalam kedudukan *nasab* sebagai *hal* [keterangan keadaan]). 8. *Isytighal* (Kesibukan Amil) *Isytighal* adalah terdahulu-nya suatu *isim* (kata benda) atas kata kerja (*amil*) yang seharusnya men-nasab-kannya, sekiranya kata kerja tersebut tidak disibukkan dari kata benda itu karena beramal pada kata ganti (*dhamir*)-nya, seperti: خالدٌ أَكرمتُهُ (Khalid, aku telah memuliakannya). (Jika Anda mengucapkan: خالداً أكرمتُ, maka kata 'خالداً' berkedudukan sebagai *maf'ul bih* bagi kata 'أكرم'. Namun jika Anda mengucapkan: خالدٌ akramtuhu, maka kata 'خالدٌ' pada dasarnya berhak menjadi *maf'ul bih* bagi kata 'أكرم' juga, akan tetapi kata kerja di sini disibukkan dari beramal padanya karena telah beramal pada kata gantinya, yaitu huruf *ha'*. Inilah yang dimaksud dengan *isytighal*). Dan yang lebih utama pada *isim* yang terdahulu tersebut adalah di-*rafa'*-kan sebagai *mubtada'* (subjek), sebagaimana yang telah Anda lihat, dan kalimat setelahnya berkedudukan sebagai *khabar*-nya (predikat). Namun diperbolehkan juga men-nasab-kannya, seperti: خالداً رأيتهُ (Khalid, aku telah melihatnya). Dan amil yang men-nasab-kannya adalah kata kerja (*fi'il*) yang wajib dibuang, sehingga tidak boleh ditampakkan. Kata kerja yang dibuang tersebut diperkirakan (*taqdir*) dari lafal kata kerja yang disebutkan. Kecuali jika kata kerja yang disebutkan berupa *fi'il lazim* (kata kerja intransitif) yang di-transitif-kan dengan *huruf jar*, seperti: العاجزَ أخذتُ بيدهِ (Orang yang lemah itu, aku memegang tangannya) dan بيروتَ مررتُ بها (Kota Beirut, aku melewatinya), maka kata kerja yang dibuang diperkirakan dari segi maknanya. (Maka takdir kata kerja yang dibuang adalah 'رأيتُ' [aku melihat] pada contoh seperti: خالداً رأيته)."
وتقديره "أعنت، أو ساعدت، في نحو "العاجزَ أخذت بيده". وتقديره "جاوزت" في نحو "بيروتَ مررت بها") . وقد يَعرِضُ للاسمِ المُشتَغَلِ عنه ما يوجبُ نصبَهُ أو يُرَجّحُهُ، وما يوجبُ رفعَهُ أويُرَجّحُهُ. فيجبُ نصبُهُ إذا وقعَ بعدَ أدواتِ التّحضيضِ والشرطِ والاستفهامِ غير الهمزةِ، نحو "هلاّ الخيرَ فعلتَهُ. إنْ علياً لقيتَهُ فسَلّمْ عليهِ, هل خالداً أَكرمتَهُ؟ ". (غير أن الاشتغال بعد أدوات الاستفهام والشرط لا يكون الا في الشعر. الا أن تكون أداة الشرط "أن" والفعل بعدها ماض، أو "إذا" مطلقاً، نحو "إذا عليّاً لقيته، أو تلقاه فسلم عليه". وفي حكم "اذا". في جواز الاشتغال بعدها في النثر، "لو ولولا") . ويُرجَّحُ نصبُهُ في خمسِ صُوَر ١- أن يقعَ بعد الاسمِ أمرٌ، نحو "خالداً أَكرِمْهُ" و"عليّاً لِيُكرِمْهُ سعيدٌ". ٢- أن يقعَ بعدَهُ نهيٌ، نحو "الكريمَ لا تُهِنهُ". ٣- أن يقعَ بعدَهُ فعلُ دُعائي، نحو "اللهمَّ أمرِيَ يَسّرّهُ، وعَمَلي لا
…dan takdir (*taqdir*) maknanya adalah *a'antu* (aku membantu) atau *sa'adtu* (aku menolong), pada contoh *al-'ajiza akhadztu bi yadihi* (orang lemah itu, aku memegang tangannya). Dan takdir maknanya adalah *jawaztu* (aku melintasi) pada contoh *Bairuta marartu biha* (Beirut, aku melewatinya). Kadang-kadang terjadi pada *isim al-musytaghal 'anhu* (kata yang disibukkan darinya) hal-hal yang mewajibkan status *nashab*-nya atau mengunggulkan *nashab*-nya, serta hal-hal yang mewajibkan status *rafa'*-nya atau mengunggulkan *rafa'*-nya. Maka wajib hukumnya di-*nashab*-kan apabila terletak setelah *adawat at-tahdhidh* (kata dorongan/anjuran), *asy-syarth* (syarat), dan *al-istifham* (tanya) selain huruf *hamzah*, seperti: *Halla al-khaira fa'altahu* (Mengapa engkau tidak melakukan kebaikan itu?), *In 'Aliyan laqitahu fasallim 'alaihi* (Jika engkau bertemu Ali, maka ucapkan salam padanya), dan *Hal Khalidun akramtahu?* (Apakah Khalid telah engkau muliakan?). (Hanya saja pola *isytighal* setelah *adawat al-istifham* dan *asy-syarth* tidak terjadi kecuali dalam puisi/syi'ir. Kecuali apabila piranti syaratnya berupa *in* [إِنْ] dan *fi'il* setelahnya berupa *fi'il madhi*, atau berupa *idza* [إِذَا] secara mutlak; seperti *Idza 'Aliyan laqitahu, aw talqahu fasallim 'alaihi*. Hukumnya sama seperti *idza* dalam hal kebolehan *isytighal* setelahnya pada bentuk prosa [*natsar*], yaitu kata *lau* [لَوْ] dan *laula* [لَوْلَا]). Dan diunggulkan (*yurajjahu*) status *nashab*-nya dalam lima bentuk/kondisi: 1. Apabila setelah *isim* tersebut terdapat *fi'il amar* (kata kerja perintah), seperti *Khalidan akrimhu* (Khalid, muliakanlah dia!) dan *'Aliyan li yukrimhu Sa'idun* (Ali, hendaklah Said memuliakannya!). 2. Apabila setelahnya terdapat *fi'il nahi* (kata kerja larangan), seperti *Al-karima la tuhinhu* (Orang mulia itu, janganlah engkau hinakan dia!). 3. Apabila setelahnya terdapat *fi'il du'a'* (kata kerja doa), seperti *Allahumma amri yassirhu, wa 'amali la…*
تُعَسّرْهُ". وقد يكونُ الدعاءُ بصورةِ الخبرِ، نحو "سليماً غفرَ اللهُ لهُ، وخالداً هداهُ اللهُ". (فالكلام هنا خبري لفظاً، انشائيَّ دعائي معنى. لأنّ المعنى اغفر اللهم لسليم، واهدِ خالداً. وانما ترجح النصب في هذه الصور لأنك ان رفعت الاسم كان خبره جملة انشائية طلبية، والجملة الطلبية يضعف الإخبار بها) . ٤- أن يقعَ الإسمُ بعدَ همزة الاستفهام، كقوله تعالى ﴿أَبشَراً مِنّا واحداً نَتَّبعُهُ؟﴾ . (وانما ترجح النصب بعدها لأن الغالب ان يليها فعلٌ، ونصبُ الاسم يوجبُ تقديرَ فعل بعدها) . ٥- أن يقعَ جواباً لمُستفهَمٍ عنه منصوبٍ، كقولك "عليّاً أَكرمتُهُ"، في جواب من قال "مَنْ أَكرمتَ؟ ". (وانما ترجح النصب لأنّ الكلام في الحقيقة مبنيّ على ما قبله من الاستفهام) . ويجبُ رفعُهُ في ثلاثة مواضعَ ١- أن يقعَ بعدَ "إذا الفجائيَّةِ" نحو "خرجت فإذا الجوُّ يَملَؤُهُ الضَّبابُ". (وذلك لأن "اذا" هذه لم يؤوّلها العربُ الا مبتدأ، كقوله تعالى ﴿ونزعَ يده فإذا هي بيضاء للناظرين﴾ ، او خبراً، كقوله سبحانه ﴿فاذا لهم مكرٌ في آياتنا﴾ . فلو نُصب الاسمُ بعدها، لكان على تقدير فعل بعدها، وهي لا تدخل على الأفعال) .
"…janganlah Engkau mempersulitnya'. Dan terkadang doa diungkapkan dalam bentuk kalimat berita (*khabar*), seperti: سليماً غفرَ اللهُ لهُ (Salim, semoga Allah mengampuninya) dan خالداً هداهُ اللهُ (Khalid, semoga Allah memberinya petunjuk). (Maka kalimat di sini berbentuk berita [*khabari*] secara lafal, namun bermakna tuntutan/doa [*insya'i du'a'i*] secara makna. Karena maknanya adalah: 'Ya Allah ampunilah Salim, dan berilah petunjuk kepada Khalid'. Dan sesungguhnya diutamakannya i'rab *nasab* dalam bentuk-bentuk ini adalah karena jika Anda me-rafa'-kan *isim* tersebut, maka *khabar*-nya akan berupa *jumlah insya'iyah thalabiyah* [kalimat tuntutan], sedangkan *jumlah thalabiyah* dinilai lemah untuk dijadikan sebagai *khabar*). 4. *Isim* tersebut terletak setelah *hamzah istifham* (partikel tanya hamzah), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿أَبشَراً مِنّا واحداً نَتَّبعُهُ؟﴾ (Apakah kita harus mengikuti seorang manusia biasa di antara kita?). (Dan sesungguhnya diutamakannya i'rab *nasab* setelahnya adalah karena pada umumnya setelah partikel tanya tersebut berupa kata kerja [*fi'il*], dan men-nasab-kan *isim* tersebut mengharuskan adanya takdir kata kerja setelahnya). 5. *Isim* tersebut terletak sebagai jawaban bagi hal yang ditanyakan yang ber-i'rab *nasab*, seperti ucapan Anda: عليّاً أَكرمتُهُ (Ali, aku telah memuliakannya), sebagai jawaban bagi orang yang bertanya: مَنْ أَكرمتَ؟ (Siapa yang telah kamu muliakan?). (Dan sesungguhnya diutamakannya i'rab *nasab* adalah karena kalimat tersebut pada hakikatnya dibangun berdasarkan kalimat tanya sebelumnya). Dan wajib me-rafa'-kan *isim* tersebut dalam tiga tempat: 1. Terletak setelah 'إذا' *fujaiyyah* (artinya: tiba-tiba), seperti: خرجت فإذا الجوُّ يَملَؤُهُ الضَّبابُ (Aku keluar, tiba-tiba udara dipenuhi oleh kabut). (Hal itu karena 'إذا' *fujaiyyah* ini tidak di-takwil oleh orang Arab kecuali sebagai *mubtada'*, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿ونزعَ يده فإذا هي بيضاء للناظرين﴾ [Maka dia mengeluarkan tangannya, tiba-tiba tangan itu menjadi putih bagi orang-orang yang melihatnya], atau sebagai *khabar*, seperti firman-Nya: ﴿فاذا لهم مكرٌ في آياتنا﴾ [Tiba-tiba mereka melakukan makar terhadap ayat-ayat Kami]. Maka sekiranya *isim* setelahnya di-*nasab*-kan, tentu hal itu berdasarkan takdir adanya kata kerja setelahnya, padahal 'إذا' *fujaiyyah* tidak dapat masuk pada kata kerja)."
٢- أن يقعَ بعدَ واو الحال، نحو "جئتُ والفرسُ يَركبُهُ أَخوكَ". ٣- أن يقعَ قبلَ أدوات الاستفهام، أو الشرط، أو التحضيص، أو ما النافية، أو لامِ الإبتداء، أو ما التَّعجبيةِ، أو كم الخبرية، أو "إنَّ" وأَخواتها، نحو "زُهيرٌ هل أَكرمتَهُ؟، سعيدٌ فأكرِمه، خالدٌ هلاَّ دعوتهُ، الشرُّ ما فعلتُهُ، الخيرُ لأنا أَفعلُهُ، الخلُق الحَسَنُ ما أَطيبَهُ!، زُهيرٌ كم أكرمتُهُ!، أُسامةُ إني أَحِبُّهُ". (فالاسم في ذلك كله مبتدأ. والجملة بعده خبره. وانما لم يجز نصبه بفعل محذوف مفسر بالمذكور. لأن ما بعد هذه الأدوات لا يعمل فيما قبلها. وما لا يعمل لا يفسر عاملاً) . ويُرَجَّحُ الرفعُ، إذا لم يكن ما يوجبُ نصبَهُ، أو يرَجِّحُه، أو يوجبُ رفعَه، نحو "خالدٌ أكرمتُهُ". لأنهُ إذا دار الامرُ بينَ التقديرِ وعدَمِهِ فتركهُ أولى. ٩- التَّنازُعُ التَّنازُعُ أن يَتوجهَ عاملانِ مُتقدمانِ، أو أكثرُ، إلى معمول واحدٍ مُتأخرٍ أو أكثر، كقوله تعالى ﴿آتوني أُفرغْ عليه قِطراً﴾ . (آتوا فعل أمر يتعدى الى مفعولين. ومفعوله الأول هو الياء، ضميرُ المتكلم. وهو يطلب "قطراً" ليكون مفعوله الثاني. و "أفرغ" فعل مضارع متعد الى مفعول واحد. وهو يطلب "قطراً" ليكون ذلك المفعول. فأنت ترى أنّ "قطراً" قد تنازعه عاملانِ، كلاهما يطلبه ليكون مفعولاً به له، لأنّ التقدير ﴿آتوني قطراً أفرغه عليه﴾ . وهذا هو معنى التنازع) .
"2. Terletak setelah *wawu hal* (wawu keterangan keadaan), seperti: جئتُ والفرسُ يَركبُهُ أَخوكَ (Aku datang ketika kuda itu sedang ditunggangi oleh saudaramu). 3. Terletak sebelum peranti-peranti tanya (*adawatul istifham*), syarat (*syarth*), anjuran keras (*tahdhidh*), *ma* nafiyah (negasi), *lam ibtida'* (penegasan di awal), *ma ta'ajjubiyah* (kekaguman), *kam khabariyah* (menunjukkan banyak), atau 'إنَّ' (*inna*) dan saudara-saudaranya, seperti: زُهيرٌ هل أَكرمتَهُ؟ (Zuhair, apakah kamu telah memuliakannya?), سعيدٌ فأكرِمه (Said, maka muliakanlah dia!), خالدٌ هلاَّ دعوتهُ (Khalid, mengapa tidak kamu undang dia?), الشرُّ ما فعلتُهُ (Keburukan itu, aku tidak melakukannya), الخيرُ لأنا أَفعلُهُ (Kebaikan itu, sungguh aku akan melakukannya), الخلُق الحَسَنُ ما أَطيبَهُ! (Akhlak yang baik itu, alangkah indahnya!), زُهيرٌ كم أكرمتُهُ! (Zuhair, betapa sering aku memuliakannya!), dan أُسامةُ إني أَحِبُّهُ (Usamah, sesungguhnya aku mencintainya). (Maka *isim* pada semua contoh tersebut berkedudukan sebagai *mubtada'*, dan kalimat setelahnya berkedudukan sebagai *khabar*-nya. Dan sesungguhnya tidak diperbolehkan men-nasab-kannya dengan kata kerja yang dibuang yang ditafsirkan oleh kata kerja yang disebutkan, karena apa yang berada setelah peranti-peranti ini tidak dapat beramal pada kata sebelumnya. Dan amil yang tidak dapat beramal tidak dapat menafsirkan amil lainnya). Dan diutamanya i'rab *rafa'* apabila tidak ada hal yang mewajibkan *nasab*-nya, atau yang mengutamakannya, atau yang mewajibkan *rafa'*-nya, seperti: خالدٌ أكرمتُهُ (Khalid, aku telah memuliakannya). Karena apabila perkara berkisar antara adanya takdir (perkiraan kata yang dibuang) dan ketiadaannya, maka meninggalkan takdir tersebut adalah lebih utama. 9. *Tanazu'* (Perebutan Amil) *Tanazu'* adalah bertujunya dua amil (kata kerja/sejenisnya) yang terdahulu, atau lebih, kepada satu *ma'mul* (kata yang dipengaruhi) yang terletak di belakang, atau lebih, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿آتوني أُفرغْ عليه قِطراً﴾ (Berikanlah kepadaku tembaga panas agar kutuangkan ke atasnya). (Kata 'آتوا' adalah *fi'il amr* [kata kerja perintah] yang membutuhkan dua objek [*maf'ul*]. Objek pertamanya adalah huruf *ya'* [dhamir mutakallim]. Dan ia menuntut kata 'قطراً' untuk menjadi objek keduanya. Sedangkan kata 'أفرغ' adalah *fi'il mudhari'* transitif yang membutuhkan satu objek. Dan ia juga menuntut kata 'قطراً' untuk menjadi objeknya tersebut. Maka Anda melihat bahwa kata 'قطراً' telah diperebutkan oleh dua amil, yang masing-masing menuntutnya untuk menjadi *maf'ul bih* baginya, karena takdir kalimatnya adalah: ﴿آتوني قطراً أفرغه عليه﴾. Inilah yang dimaksud dengan *tanazu'*)."
ولكَ أن تُعمِلَ في الاسم المذكور أيَّ العاملَينِ شئتَ. فإن أعملت الثاني فَلقُربهِ، وإن أعملت الأولَ فلسبَقهِ. فإن أَعملتَ الأوَّلَ في الظاهرِ أَعملتَ الثانيَ في ضميرهِ، مرفوعاً كان أم غيرَهُ، نحو: " قامَ، وقعدا، أخواك * اجتهدَ، فأكرمتُهما، أخواك * وقفَ، فسلمتُ عليهما، أخواك * أكرمتُ، فَسُرّا، أخَويْكَ * أكرمتُ، فشكرَ لي، خالداً". ومن النُّحاة من أجاز حذفه، إن كان غيرَ ضميرِ رفعٍ، لأنهُ فضلةٌ، وعليه قول الشاعر [من مجزوء الكامل] بِعُكاظَ يُعْشي النَّاظِريـ … ـنَ، إذا هُمُ لَمَحُوا، شُعاعُهْ وأن أعملتَ الثانيَ في الظاهر، أعملتَ الأولَ في ضميرهِ، إن كان مرفوعاً نحو: "قاما، وقعدَ أخواك * اجتهدا، فأكرمتُ أخوَيْك * وَقَفا، فسَلَّمتُ على أخويكَ". ومنه قولُ الشاعر [من الطويل] جَفَوْني، ولم أَجفُ الأَخِلاَّءَ، إِنَّني … لِغَيْرِ جَميلٍ مِنْ خَلِيلَي مُهْمِلُ وإن كان ضميرُهُ غير مرفوعٍ حذفتَهُ، نحو "اكرمتُ، فَسُرَّ أخواك * أكرمتُ، فشكرَ لي خالدٌ * أكرمتُ، وأكرَمني سعيدٌ * مررتُ، ومَرَّ بي علىُّ." ولا يقال "أكرمتهما، فَسُرَّ أخواكَ * أكرمتُهُ، فشكرَ لي خالد * أكرمتُهُ، وأكرمني سعيدٌ * مررتُ به، ومرَّ بي عليَّ." وأمّا قول الشاعر [من الطويل]
Engkau berhak memfungsikan (*i'mal*) salah satu dari dua *'amil* pada *isim* yang disebutkan tersebut sesuai kehendakmu. Jika engkau memfungsikan *'amil* kedua, itu karena kedekatannya (*qurb*); dan jika engkau memfungsikan *'amil* pertama, itu karena kedahuluannya (*sabq*). Jika engkau memfungsikan *'amil* pertama pada kata yang tampak (*zhahir*), maka engkau memfungsikan *'amil* kedua pada *dhamir*-nya, baik dalam keadaan *marfu'* maupun lainnya, seperti: "قامَ، وقعدا، أخواك" (*Qama, wa qa'ada, akhwaka*), "اجتهدَ، فأكرمتُهما، أخواك" (*Ijtahada, fa akramtuhuma, akhwaka*), "وقفَ، فسلمتُ عليهما، أخواك" (*Waqafa, fa sallamtu 'alaihima, akhwaka*), "أكرمتُ، فَسُرّا، أخَويْكَ" (*Akramtu, fa surra, akhwaika*), "أكرمتُ، فشكرَ لي، خالداً" (*Akramtu, fa syakara li, Khalidan*). Sebagian ahli nahwu membolehkan penghapusannya jika bukan berupa *dhamir rafa'*, karena ia berstatus *fadhlah* (unsur pelengkap/tambahan), dan atas dasar itulah ucapan penyair [dari bahar *majzu' al-kamil*]: *Di Ukazh, silau para pelihat … apabila mereka memandangnya, oleh sinar keagungannya.* Dan jika engkau memfungsikan *'amil* kedua pada kata yang tampak (*zhahir*), engkau memfungsikan *'amil* pertama pada *dhamir*-nya jika ia *marfu'*, seperti: "قاما، وقعدَ أخواك" (*Qama, wa qa'ada akhwaka*), "اجتهدا، فأكرمتُ أخوَيْك" (*Ijtahada, fa akramtu akhwaika*), "وَقَفا، فسَلَّمتُ على أخويكَ" (*Waqafa, fa sallamtu 'ala akhwaika*). Di antaranya adalah ucapan penyair [dari bahar *at-thawil*]: *Merekajauhdariku, namun aku tidak menjauhi para kekasih, sesungguhnya aku … terhadap selain kebaikan dari kedua sahabatku adalah melalaikan.* Namun jika *dhamir*-nya tidak berstatus *marfu'*, engkau wajib menghapusnya, seperti: "اكرمتُ، فَسُرَّ أخواك" (*Akramtu, fa surra akhwaka*), "أكرمتُ، فشكرَ لي خالدٌ" (*Akramtu, fa syakara li Khalidun*), "أكرمتُ، وأكرَمني سعيدٌ" (*Akramtu, wa akramani Sa'idun*), "مررتُ، ومَرَّ بي علىُّ" (*Marartu, wa marra bi 'Aliyyun*). Dan tidak boleh dikatakan: "أكرمتهما، فَسُرَّ أخواكَ" (*Akramtuhuma, fa surra akhwaka*), "أكرمتُهُ، فشكرَ لي خالد" (*Akramtuhu, fa syakara li Khalid*), "أكرمتُهُ، وأكرمني سعيدٌ" (*Akramtuhu, wa akramani Sa'idun*), "مررتُ به، ومرَّ بي عليَّ" (*Marartu bihi, wa marra bi 'Aliyyun*). Adapun ucapan penyair [dari bahar *at-thawil*]…
إذا كُنْتَ تُرْضِيهِ، وَيُرْضيكَ صاحبٌ … جِهاراً، فَكُنْ في الْغَيْبِ أَحفَظَ للعَهْدِ وَأَلْغِ أَحاديثَ الْوُشاة، فَقَلَّما … يُحاوِلُ واشٍ غَيْرَ هِجْرانِ ذِي وُدِّ بإظهار الضمير المنصوب في "تُرضيه"، فضرورةٌ لا يحسُنُ ارتكابها عند الجمهور. وكان حقُّهُ ان يقول "إذا كنت تُرضي، ويُرضيكَ صاحبٌ". وأجازَ ذلك بعضُ مُحَقّقي النّحاة. (وذهب الكسائيّ ومن تابعه الى أنه أذا اعملتَ الثاني في الظاهر، لم تُضمر الفاعلَ في الاول بل يكون فاعله محذوفاً لدلالة ما بعده عليه (لانه يُجيز حذف الفاعل اذا دل عليه دليل) . فاذا قلت "اكرمني فسرّني زهيرُ"، فان جعلت زهيراً فاعلاً لسرّ، كان فاعل "أكرمَ" (على رأى سيبويه والجمهور) ضميراً مستتراً يعود اليه. وعلى رأي الكسائي ومن وافقه يكون فاعل "اكرمَ" محذوفاً لدلالة ما بعده عليه. ويظهر اثر الخلاف في التثنية والجمع، فعلى رأي سيبويه يجب ان تقول (ان اعملت الثاني) "اكرماني، فسرَّني صديقايَ. واكرموني، فسرَّني اصدقائي". وتقول على مذهب الكسائي ومن تابعه "اكرمني، فسرَّني صديقايَ. واكرمني، فسرَّني اصدقائي". فيكون الاسم الظاهر فاعلاً للثاني. ويكون فاعل الاول محذوفاً. وما قاله الكسائي ليس ببعيدٌ، لان العرب تستغني في كلامها عما يُعلم لو حُذف، ولو كان عمدة. ولهذا شواهدُ من كلامهم. اما لو اعملتَ الاول في الاسم الظاهر، فيجب بالاتفاق الإضمار في الثاني، نحو "اكرمني، فسرَّاني، صديقايَ، واكرمني، فسرّوني، اصدقائي". والذي دعا الكسائيّ الى ما ذهب اليه، انه لو لم يحذف الفاعل،
'Jika engkau memuaskannya (*turdhihi*), dan seorang sahabat memuaskanmu… secara terang-terangan, maka jadilah orang yang paling menjaga janji saat tidak bertatap muka. Dan abaikanlah perkataan para pemfitnah, sebab jarang sekali… pemfitnah menginginkan selain pemutusan hubungan dari orang yang saling mencintai.' Dengan menampakkan *dhamir manshub* pada *turdhihi* (تُرْضِيهِ), maka hal itu merupakan *dharurat syi'ir* yang tidak baik dilakukan menurut *jumhur* (mayoritas ulama Nahwu). Yang semestinya ia katakan adalah: *Idza kunta turdhi, wa yurdhika shahibun*. Namun sebagian peneliti tata bahasa membolehkannya. (Al-Kisa'i dan pengikutnya berpendapat bahwa jika engkau meng-amalkan kata kerja kedua pada *isim dhahir*, engkau tidak menyimpan *dhamir fa'il* pada kata kerja pertama, melainkan *fa'il*-nya dihapus karena adanya petunjuk dari kata setelahnya [karena beliau membolehkan penghapusan *fa'il* apabila ada petunjuknya]. Jika engkau katakan *Akramani fa sarani Zuhairun*, apabila engkau menjadikan *Zuhair* sebagai *fa'il* bagi *sarra*, maka *fa'il* dari *akrama* [menurut pendapat Sibawaih dan Jumhur] adalah *dhamir mustatir* yang kembali kepada *Zuhair*. Sedangkan menurut pendapat Al-Kisa'i dan pengikutnya, *fa'il* dari *akrama* dibuang karena adanya petunjuk setelahnya. Pengaruh perbedaan pendapat ini tampak pada bentuk *tatsniyah* [ganda] dan *jama'* [jamak]; menurut pendapat Sibawaih engkau wajib mengatakan [jika meng-amalkan kata kerja kedua]: *Akramani fa sarani shadiqaya* dan *Akramuni fa sarani asdhiqa'i*. Sedangkan menurut mazhab Al-Kisa'i dan pengikutnya engkau katakan: *Akramani fa sarani shadiqaya* dan *Akramani fa sarani asdhiqa'i*. Maka *isim dhahir* menjadi *fa'il* bagi kata kerja kedua, dan *fa'il* kata kerja pertama dibuang. Pendapat Al-Kisa'i ini tidaklah jauh dari kebenaran, karena orang Arab biasa mencukupi diri dalam ucapan mereka tanpa menyebut hal yang sudah diketahui jika dibuang, meskipun hal itu berupa pokok kalimat [*umdah*]. Untuk hal ini terdapat bukti-bukti dalam tuturan mereka. Adapun jika engkau meng-amalkan kata kerja pertama pada *isim dhahir*, maka menurut kesepakatan (*ittifaq*) wajib menggunakan *dhamir* (*idhamar*) pada kata kerja kedua, seperti *Akramani fa sarani shadiqaya* dan *Akramani fa saruni asdhiqa'i*. Adapun hal yang mendorong Al-Kisa'i mengambil pendapat ini adalah bahwa seandainya *fa'il* tidak dibuang…
لوجب أن يكون ضميراً عائداً على الاسم الظاهر المتأخر لفظاً ورتبة، وذلك قبيح. وقال سيبويه ان عود الضمير على المتأخر أهون من حذف الفاعل، وهو عمدة، والحقّ أنَّ لكل وجهاً، وانّ الإضمار وتركه على حد سواء. وقد ورد في كلامهم ما يؤيج ما ذهب اليه الفريقان. فقول الشاعر جفوني ولم اجف الاخلاءَ … " شاهدٌ لسيبويه وقول الآخر [من الطويل] تعفق بالارطى لها وأرادها … رجالٌ، فبذَّت نبلَهم وكَليبٌ (شاهدٌ للكسائي فهو لا يُضمر في واحد من الفعلين. ولو اضمر في الاول واعمل الثاني لقال "تعفقوا بالارطى وأرادها رجال". ولو اضمر في الثاني واعمل الاول، لقال "تعفق بالارطى ورادوها رجال") . واعلم أنهُ لا يقعُ التنازعُ إلا بينَ فعلينِ مُتصرّفينِ، او اسمينِ يُشبهانِهما، أو فعلٍ متصرفٍ واسمٍ يُشبهُه. فالأول نحو "جاءَني، وأكرمتُ خالداً"، والثاني كقول الشاعر [من الطويل] عُهِدْتَ مُغِيثاً مُغنِياً مَنْ أَجَرْتَهُ … فَلَمْ أَتَّخِذْ إِلاَّ فِناءَكَ مَوْئِلا والثالثُ كقوله تعالى ﴿هاؤُمُ اقرَأُوا كتابِيَهْ﴾ . ولا يقعُ بينَ حرفين ولا
…maka niscaya wajib berupa *dhamir* yang kembali kepada *isim dhahir* yang dibelakangkan baik secara lafal maupun tingkatan (*martabah/rutbah*), dan hal tersebut dianggap buruk (*qabih*). Sibawaih menyatakan bahwa kembalinya *dhamir* kepada kata yang dibelakangkan lebih ringan daripada menghapus *fa'il*, padahal *fa'il* adalah pilar kalimat (*umdah*). Yang benar adalah bahwa masing-masing pendapat memiliki landasan, dan antara menyembunyikan *dhamir* atau meninggalkannya berada pada kedudukan yang setara. Telah terdapat dalam tuturan mereka hal yang mendukung pendapat kedua belah pihak. Penggalan puisi penyair: *Jafuni wa lam ajfu al-akhilla'a…* (Meninggalkanku padahal aku tidak meninggalkan para sahabat…) menjadi *syahid* (bukti argumen) bagi Sibawaih. Dan ucapan penyair lain [meter *at-Thawil*]: 'Membuat benteng dengan pohon artha untuknya dan menginginkannya… beberapa pria, maka ia mengalahkan panah mereka dan Kulaib.' (Merupakan *syahid* bagi Al-Kisa'i, karena penyair tidak menyembunyikan *dhamir* pada salah satu dari kedua kata kerja tersebut. Seandainya ia menyembunyikan *dhamir* pada yang pertama dan meng-amalkan yang kedua, niscaya ia katakan *Ta'affaqu bi ar-artha wa aradaha rijalun*. Dan seandainya ia menyembunyikan *dhamir* pada yang kedua dan meng-amalkan yang pertama, niscaya ia katakan *Ta'affaqa bi ar-artha wa araduha rijalun*). Dan ketahuilah bahwa *tanazu'* (saling berebut *maf'ul/fa'il*) tidak terjadi kecuali di antara dua *fi'il mutasharrif* (dapat ditashrif), dua *isim* yang menyerupai keduanya (*syibh al-fi'il*), atau *fi'il mutasharrif* bersama *isim* yang menyerupainya. Contoh pertama seperti *Ja'ani wa akramtu Khalidan* (Telah datang kepadaku dan aku muliakan Khalid). Contoh kedua seperti ucapan penyair [meter *at-Thawil*]: 'Engkau dikenal sebagai penolong dan pemberi kecukupan bagi orang yang engkau lindungi… maka aku tidak mengambil tempat berlindung selain halaman rumahmu.' Contoh ketiga seperti firman Allah Ta'ala: *'Ha'umu iqra'u kitabiyah'* (QS. Al-Haqqah: 19). Dan *tanazu'* tidak terjadi di antara dua huruf, tidak juga…
بينَ حرفٍ وغيره، ولا بينَ جامدينِ، ولا بينَ جامدٍ وغيره. وقد يُذكَرُ الثاني لمجرَّدِ التَّقويةِ والتأكيد، فلا عَمَلَ له، وإنَّما العمل للأوَّلِ. ولا يكونُ الكلامُ حينئذٍ من باب التنازع، كقول الشاعر [من الطويل] فَهَيْهَاتَ، هَيْهَاتَ، الْعَقِيقُ وَمَنْ بهِ … وهَيْهَاتَ خِلٌّ بالْعَقيقِ نُواصِلُهْ وقول الآخر فأَينَ إلى أَينَ النَّجَاةُ ببَغْلَتِي … أَتاكَ، أَتاكَ، اللاَّحِقُونَ، احْبِسِ احْبِسِ (ولو كان من باب التنازع لقال "اتوك اتاك اللاحقون"؛ باعمال الثاني في الظاهر والإضمار في الاول، او "اتاك اتوك اللاحقون" بالإضمار في الاول واعمال الثاني في الظاهر) . ١٠- القوْلُ المتَضَمِّنُ مَعْنَ الظنِّ قد يتضمنُ القول معنى الظن، فينصبُ المبتدأ والخبر مفعولينِ، كما تنصبهُما "ظنَّ". وذلك بشرطِ أن يكون الفعل مضارعاً للمخاطَب مسبوقاً باستفهامٍ، وأن لا يُفصَلَ بينَ الفعلِ والاستفهام بغير ظرفٍ، أو جار ومجرورٍ، أو معمولِ الفعل، كقول الشاعر [من الرجز] مَتَى تَقُولُ الْقُلُصَ الرَّواسِما … يَحْمِلْنَ أُمَّ قاسمٍ وَالْقاسِما
di antara huruf dan selainnya, tidak pula di antara dua kata *jamid* (kata benda konkret), dan tidak pula di antara kata *jamid* dan selainnya. Terkadang kata yang kedua disebutkan semata-mata untuk penguat (*taqwiyah*) dan penegas (*taukid*), sehingga ia tidak beramal, dan amalan hanyalah milik kata yang pertama. Kalimat pada saat itu tidak termasuk dalam bab *tanazu'* (perebutan amalan antara dua amil), seperti perkataan penyair [dari bahar Thawil]: فَهَيْهَاتَ، هَيْهَاتَ، الْعَقِيقُ وَمَنْ بِهِ … وَهَيْهَاتَ خِلٌّ بِالْعَقِيقِ نُوَاصِلُهُ (Maka alangkah jauhnya, alangkah jauhnya lembah Al-Aqiq dan orang yang tinggal di dalamnya… dan alangkah jauhnya kekasih di Al-Aqiq yang kami hubungi). Dan perkataan penyair yang lain: فَأَيْنَ إِلَى أَيْنَ النَّجَاةُ بِبَغْلَتِي … أَتَاكَ، أَتَاكَ، اللَّاحِقُونَ، احْبِسِ احْبِسِ (Maka ke mana, ke mana keselamatan dengan bagalku… telah datang kepadamu, telah datang kepadamu orang-orang yang menyusul, tahanlah, tahanlah!). (Seandainya kalimat ini termasuk bab *tanazu'*, niscaya penyair akan mengucapkan "أَتَوْكَ أَتَاكَ اللَّاحِقُونَ" dengan mengamalkan kata kedua pada isim zhahir dan menyimpan dhamir pada kata pertama, atau "أَتَاكَ أَتَوْكَ اللَّاحِقُونَ" dengan menyimpan dhamir pada kata pertama dan mengamalkan kata kedua pada isim zhahir). **10- Kata *Al-Qaul* yang Mengandung Makna *Azh-Zhann*** Terkadang kata *al-qaul* (ucapan) mengandung makna *azh-zhann* (dugaan), sehingga ia men-*nashab*-kan *mubtada'* dan *khabar* sebagai dua *maf'ul*, sebagaimana ia di-*nashab*-kan oleh "ظَنَّ". Hal itu dengan syarat *fi'il*-nya berupa *mudhari'* untuk lawan bicara (*mukhatab*), didahului oleh kata tanya (*istifham*), dan tidak dipisahkan antara *fi'il* dan kata tanya tersebut oleh selain *zharaf*, *jar wa majrur*, atau *ma'mul* dari *fi'il* tersebut, seperti perkataan penyair [dari bahar Rajaz]: مَتَى تَقُولُ الْقُلُصَ الرَّوَاسِمَا … يَحْمِلْنَ أُمَّ قَاسِمٍ وَالْقَاسِمَا (Kapan kamu mengira unta-unta muda yang berjalan cepat itu membawa Ummu Qasim dan Al-Qasim?).
ومثالُ الفصل بينهما بظرفٍ زمانيّ أو مكانيّ: أيومَ الخميس تقولُ عليّاً مسافراً أوَ عندَ سعيدٍ تَقولُهُ نازلاً قال الشاعر [من البسيط] أَبَعْدَ بُعْدٍ تَقولُ الدَّارَ جامعةً … شَمْلي بهمْ؟ أَمْ تَقول البُعْدَ مَحْتوما؟! ومثالُ ما فُصِلَ فيه بينهما بالجارّ والمجرور "أبا الكلامِ تقول الأمّةَ بالغةً مجدَ آبائها الأوَّلينَ؟ ". ومثالُ الفصلِ بمعمول الفعل قولُ الشاعر [من الوافر] أجُهَّالاً تَقُولُ بني لُؤَيِّ؟ … لَعَمْرُ أَبِيكَ، أَمْ مُتَجاهِلينا؟ فإن فُقد شرطٌ من هذه الشروطِ الأربعة، تَعيّنَ الرفعُ عند عامة العربِ، إلا بني سلَيمٍ، فهم ينصبون بالقول مفعولينِ بلا شرطٍ. ولا يجب في القول المُتَضمّنِ معنى الظن، المُستوفي الشروط، أن ينصب المفعولين، بل يجوز رفعُهما على أنهما مبتدأ وخبر، كما كانا. وإن لم يتضَمنِ القولُ معنى الظن فهو مُتعد إلى واحد. ومفعولهُ إمّا مفرد (أي غير جملةٍ) ، وإمّا جملةٌ محكيّة. فالمفرد على نوعينِ مفردٍ في معنى الجملةِ، نحو "قلت شعراً، أو خطبةً، أَو قصيدة أَو حديثاً"، ومفردٍ يُرادُ به مُجردُ اللفظِ، مثلُ "رأيتُ رجلاً يقولون له خليلاً" (أي يُسمُّونه بهذا الاسم) وأمَّا الجملة المحكِيَّة بالقول، فتكونُ في موضع نصب على أنها مفعوله، نحو "قلتُ لا إلهَ إلا اللهُ". وهمزةُ "إنَّ" تكسرُ بعد القول العَري عن الظن، وتُفتح بعد القول المَتضمّن معناهُ. كما سبق في مبحث "أن".
Contoh pemisahan di antara keduanya dengan *zharf* (keterangan) waktu atau tempat: "أيوم الخميس تقول علياً مسافراً" (*A-yauma al-khamisi taqulu 'Aliyyan musafiran?* – Apakah pada hari Kamis kamu mengira Ali bepergian?) atau "أعند سعيد تقوله نازلاً" (*A-'inda Sa'idin taquluhu nazilan?* – Apakah di sisi Said kamu mengiranya singgah?). Penyair berkata [dari bahar Basith]: "أبعد بعد تقول الدار جامعة … شملي بهم؟ أم تقول البعد محتوما؟!" (*A-ba'da bu'din taqulu ad-dara jami'atan… syamli bihim? Am taqulu al-bu'da mahtuman?!* – Apakah setelah kejauhan kamu mengira rumah itu akan mengumpulkan… kebersamaanku dengan mereka? Ataukah kamu mengira kejauhan itu sudah pasti?!). Contoh pemisahan di antara keduanya dengan *jarr wa-majrur* (huruf jer dan kata yang dijerkan): "أبالكلام تقول الأمة بالغة مجد آبائها الأولين؟" (*A-bi-al-kalami taqulu al-ummata balighatan majda aba'iha al-awwalina?* – Apakah dengan ucapan saja kamu mengira umat ini akan mencapai kejayaan nenek moyang mereka terdahulu?). Contoh pemisahan dengan *ma'mul* (kata yang dipengaruhi) dari *fi'il* adalah perkataan penyair [dari bahar Wafir]: "أجهالاً تقول بني لؤي؟ … لعمر أبيك، أم متجاهلينا؟" (*A-juhhalan taqulu bani Lu'ayyin?… La-'amru abika, am mutajahilina?* – Apakah bodoh kamu mengira keturunan Lu'ay?… Demi umur ayahmu, ataukah mereka berpura-pura bodoh?). Jika salah satu dari empat syarat ini tidak terpenuhi, maka wajib hukumnya *rafa'* (dibaca marfu') menurut mayoritas orang Arab, kecuali bagi kabilah Bani Sulaim, karena mereka men-*nasab*-kan dua *maf'ul* dengan kata *al-qaul* (ucapan) tanpa syarat. Dan tidak wajib bagi kata *al-qaul* yang mengandung makna *azh-zhann* (dugaan) serta telah memenuhi syarat-syaratnya untuk men-*nasab*-kan dua *maf'ul*, melainkan boleh me-*rafa'*-kan keduanya sebagai *mubtada'* dan *khabar* sebagaimana keadaan asalnya. Jika kata *al-qaul* tidak mengandung makna *azh-zhann*, maka ia bersifat *muta'addi* (transitif) kepada satu *maf'ul* saja. Dan *maf'ul*-nya adakalanya berupa *mufrad* (tunggal, yaitu bukan berupa kalimat/*jumlah*), dan adakalanya berupa *jumlah mahkiyyah* (kalimat yang dikutip). Maka *mufrad* terbagi menjadi dua macam: *mufrad* yang bermakna *jumlah* (kalimat), seperti "قلت شعراً، أو خطبة، أو قصيدة أو حديثاً" (*qultu syi'ran, aw khuthbatan, aw qashidatan aw haditsan* – Aku mengucapkan syair, khotbah, kasidah, atau pembicaraan); dan *mufrad* yang dimaksudkan hanya lafalnya saja, seperti "رأيت رجلاً يقولون له خليلاً" (*ra'aitu rajulan yaquluna lahu khalilan* – Aku melihat seorang laki-laki yang mereka panggil Khalil, yaitu mereka menamainya dengan nama ini). Adapun *jumlah mahkiyyah* (kalimat yang dikutip) dengan kata *al-qaul*, maka ia berada pada posisi *nashab* (*fi mahalli nashbin*) sebagai *maf'ul*-nya, seperti "قلت لا إله إلا الله" (*qultu la ilaha illa Allah* – Aku mengucapkan: Tidak ada tuhan selain Allah). Dan hamzah pada kata "إنَّ" (*Inna*) dibaca *kasrah* setelah kata *al-qaul* yang sunyi dari makna *azh-zhann*, dan dibaca *fathah* setelah kata *al-qaul* yang mengandung maknanya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan "أن" (*Anna*).
١١- الإِلغاءُ والتَّعْليقُ في أَفعال الْقُلُوب الإلغاءُ إِبطال عملِ الفعلِ القلبيِّ الناصبِ للمبتدأ والخبر لا لمانعٍ، فيعودان مرفوعينِ على الابتداءِ والخبرّةِ، مثل "خالدٌ كريم ظننت". والإلغاء جائز في أَفعالِ القلوب إِذا لم تَسبقْ مفعولَيها. فإن تَوسطت بينهما فإعمالُها وإلغاؤها سِيّانِ. تقول "خليلاً ظننت مجتهداً" و"خليلٌ ظننتُ مجتهد". وإن تأخرت عنهما جاز أن تَعمَل وإلغاؤها أَحسن، تقول "المطر نازل حَسِبتُ"، و"الشمس طالعةً خلت". فإن تقدَّمت مفعولَيها، فالفصيح الكثيرُ إعمالها، وعليهِ أكثرُ النُّحاةِ، تقول "رأيتُ الحقَّ أَبلجَ". ويجوزُ إهمالُها على قِلةٍ وضعفٍ، وعليه بعضُ النُّحاةِ، ومنه قولُ الشاعر [من البسيط] أَرْجُو وآمُلُ أنْ تَدْنو مَوَدَّتُها … وما إخالُ لدَيْنا منْك تنويلُ وقول الآخر [من البسيط] كَذَاكَ أُدِّبْتُ، حتَّى صارَ مِنْ خُلقِي … أَنِّي وَجَدْتُ مِلاكُ الشِّيمةِ الأَدَبُ والتعليقُ إِبطالُ عملِ الفعل القلبيِّ لفظاً لا محلاً، لمانع، فتكونُ الجملةُ بعده في موضع نصبٍ على أَنها سادَّةٌ مَسدَّ مفعوليهِ، مثل علمتُ لخَالد شجاعٌ". فيجبُ تعليقُ الفعلِ، إذا كان هناك مانعٌ من إعماله. وذلك إذا وقع بَعدَهُ أحدُ أربعةِ أَشياءَ ١- ما وإنْ ولا النافياتُ نحو "علمتُ ما زُهيرٌ كسولاً. وظَننتُ إنْ فاطمة مُهملة. ودخلتُ لا رجلَ سُوءٍ موجودٌ. وحَسِبتُ. لا أُسامةُ بطيءٌ،
(11) **Al-Ilgha' dan At-Ta'liq pada Af'alul Qulub (Kata Kerja Hati)**: *Ilgha'* adalah pembatalan amalan *fi'il qalbiy* (kata kerja hati) yang menashabkan *mubtada'* dan *khabar* bukan karena adanya penghalang (*mani'*), sehingga keduanya kembali berstatus *marfu'* atas kedudukan sebagai *mubtada'* dan *khabar*, seperti: "خالِدٌ كَرِيمٌ ظَنَنْتُ" (*Khalidun karimun zhannantu* – Khalid itu mulia, aku mengira). Dan *ilgha'* diperbolehkan pada *af'alul qulub* apabila ia tidak mendahului kedua *maf'ul*-nya. Jika ia terletak di antara keduanya, maka memfungsikannya (*i'mal*) atau membatalkannya (*ilgha'*) adalah sama saja. Anda mengucapkan: "خَلِيلاً ظَنَنْتُ مُجْتَهِداً" (*Khalilan zhannantu mujtahidan*) dan "خَلِيلٌ ظَنَنْتُ مُجْتَهِدٌ" (*Khalilun zhannantu mujtahidun*). Dan jika ia terletak di akhir setelah keduanya, maka boleh memfungsikannya namun membatalkannya adalah lebih baik, Anda mengucapkan: "المَطَرُ نازِلٌ حَسِبْتُ" (*al-matharu nazilun hasibtu*) dan "الشَّمْسُ طالِعَةً خِلْتُ" (*asy-syamsu thali'atan khiltu*). Namun jika ia mendahului kedua *maf'ul*-nya, maka yang fasih dan banyak digunakan adalah memfungsikannya, dan ini adalah pendapat mayoritas ahli nahwu, Anda mengucapkan: "رَأَيْتُ الحَقَّ أَبْلَجَ" (*ra'aitu al-haqqa ablaja* – Aku melihat kebenaran itu terang benderang). Dan diperbolehkan mengabaikannya (*ihmal*) secara sedikit dan lemah, dan ini adalah pendapat sebagian ahli nahwu, di antaranya adalah perkataan penyair [dari bahar *Basith*]: "أَرْجُو وآمُلُ أَنْ تَدْنُو مَوَدَّتُها … وَما إِخالُ لَدَيْنا مِنْكِ تَنْوِيلُ" (*Arju wa amulu an tadnu mawaddatuha… wa ma ikhalu ladaina minki tanwilu* – Aku berharap dan mendamba agar kasih sayangnya mendekat… dan aku tidak mengira ada pemberian darimu untuk kami). Dan perkataan penyair lain [dari bahar *Basith*]: "كَذاكَ أُدِّبْتُ، حَتَّى صارَ مِنْ خُلُقِي … أَنِّي وَجَدْتُ مِلاكُ الشِّيمَةِ الأَدَبُ" (*Khadhaka uddibtu, hatta shara min khuluqi… anni wajadtu milaku asy-syimati al-adabu* – Demikianlah aku dididik, hingga menjadi akhlakku… sesungguhnya aku mendapati bahwa tiang perangai adalah adab). Dan *ta'liq* adalah pembatalan amalan *fi'il qalbiy* secara lafal namun tidak secara posisi (*mahallan*), karena adanya penghalang (*mani'*), sehingga *jumlah* (kalimat) setelahnya menempati posisi *nashab* sebagai pengganti dari kedua *maf'ul*-nya, seperti: "عَلِمْتُ لَخالِدٌ شُجاعٌ" (*'alimtu la-Khalidun syuja'un* – Aku mengetahui bahwa Khalid benar-benar pemberani). Maka wajib melakukan *ta'liq* pada *fi'il* tersebut apabila terdapat penghalang untuk memfungsikannya. Hal itu terjadi apabila setelahnya terletak salah satu dari empat perkara berikut: (1) Huruf-huruf *nafi* "ما" (*ma*), "إِنْ" (*in*), dan "لا" (*la*), seperti: "عَلِمْتُ ما زُهَيْرٌ كَسُولاً" (*'alimtu ma Zuhairun kasulan*), "ظَنَنْتُ إِنْ فاطِمَةُ مُهْمَلَةٌ" (*zhannantu in Fatimah muhmilatun*), "دَخَلْتُ لا رَجُلَ سُوءٍ مَوْجُودٌ" (*dakhaltu la rajula su'in maujudun*), dan "حَسِبْتُ لا أُسامَةُ بَطِيءٌ" (*hasibtu la Usamatu bathi'un*), …
ولا سُعادُ"، قال تعالى "لَقد علمتَ، ما هؤلاءِ يَنطقونَ". ٢- لامُ الابتداءِ، مثلُ علمتُ "لأخوكَ مجتهدٌ. وعلمتُ إنَّ أخاكَ لمجتهدٌ". قال تعالى ﴿ولقد علموا لِمَنِ اشتراهُ مالَهُ في الآخرةِ من خلاقٍ﴾ . ٣- لامُ القسمِ، كقول الشاعر [لبيد / من الكامل] وَلَقَدْ عَلِمْتُ لَتأْتِيَنَّ مَنِيَّتي … إنَّ الْمَنَايَا لا تَطِيشُ سِهَامُها ٤- الاستفهامُ، سواءٌ أكان بالحرف، كقوله تعالى ﴿وإنْ أدري أقريبٌ أم بعيدٌ ما تُوعدُونَ؟﴾ أم بالاسمِ، كقوله ﷿ ﴿لنَعلَمَ أيُّ الحزبينِ أحصى لِما لَبِثوا أمداً؟﴾ ، وقوله ﴿لَتَعلمُنَّ أيُّنا أشدُّ عذاباً؟﴾ . وسواءٌ أكانَ الاستفهام مبتدأ، كما في هذه الآيات، أم خبراً، مثل "علمتُ مَتى السّفرُ؟ "، أم مضافاً إلى المبتدأ، مثل "علمتُ فَرَس أيهم سابقٌ؟ " أم إلى الخبر، مثل "علمتُ ابنُ مَن هذا؟ ". وقد يُعلقُ الفعلُ المتعدي، من غير هذه الأفعالِ، عن العمل، كقوله تعالى ﴿فَليَنظُر أيُّها أزكى طعاماً؟﴾ ، وقوله ﴿ويَستنبئُونَكَ أحقّ هُوَ؟﴾ .
…dan tidak pula Su'ād." Allah Ta'ala berfirman: *"Laqad 'alimta mā hā'ulā'i yanṭiqūn"* ("Sungguh engkau telah mengetahui bahwa mereka ini tidak dapat berbicara"). 2- *Lām al-ibtidā'* (lam permulaan/penegas), seperti: *"‘Alimtu la-akhūka mujtahidun"* ("Aku mengetahui bahwa saudaramu sungguh bersungguh-sungguh") dan *"‘Alimtu inna akhāka la-mujtahidun"*. Allah Ta'ala berfirman: ﴿وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ﴾ (*Wa laqad 'alimū la-mani isytarāhu mā lahū fī al-ākhirati min khalāq* – "Dan sungguh mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa membelinya, tidak ada baginya bagian di akhirat"). 3- *Lām al-qasam* (lam penegas sumpah), seperti bait penyair [Labid / dari bahar *kāmil*]: *Wa laqad 'alimtu latā'tiyanna maniyyatī… inna al-manāyā lā taṭīsyu sihāmuhā* ("Sungguh aku telah mengetahui bahwa kematianku pasti akan datang… sesungguhnya kematian panah-panahnya tidak pernah meleset"). 4- *Istifhām* (kata tanya), baik menggunakan huruf kata tanya, seperti firman-Nya Ta'ala: ﴿وَإِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ أَمْ بَعِيدٌ مَا تُوعَدُونَ﴾ (*Wa in adrī aqarībun am ba'īdun mā tū'adūn* – "Dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh?"), maupun dengan *isim*, seperti firman-Nya 'Azza wa Jalla: ﴿لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا﴾ (*Li-na'lama ayyu al-ḥizbaini aḥṣā limā labitsū amadā* – "Agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat menghitung berapa lama mereka tinggal"), dan firman-Nya: ﴿لَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا﴾ (*La-ta'lamunna ayyunā asyaddu 'ażābā* – "Maka kamu pasti akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih siksaannya"). Sama saja apakah kata tanya itu berkedudukan sebagai *mubtada'*, sebagaimana dalam ayat-ayat ini; atau sebagai *khabar*, seperti: *"‘Alimtu matā as-safaru?"* ("Aku mengetahui kapan keberangkatan?"); atau di-*iḍāfah*-kan kepada *mubtada'*, seperti: *"‘Alimtu farasa ayyihim sābiqun?"* ("Aku mengetahui kuda siapa di antara mereka yang mendahului?"); atau di-*iḍāfah*-kan kepada *khabar*, seperti: *"‘Alimtu ibnu man hāżā?"* ("Aku mengetahui anak siapa ini?"). Kadang-kadang *fi'il muta'addī* (kata kerja transitif) selain dari *af'āl al-qulūb* (kata kerja hati) ini juga dapat di-*ta'līq* (dinonaktifkan amalnya secara lafal), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا﴾ (*Fal-yanẓur ayyuhā azkā ṭa'āmā* – "Maka hendaklah ia melihat manakah makanan yang lebih murni/halal"), dan firman-Nya: ﴿وَيَسْتَنْبِئُونَكَ أَحَقٌّ هُوَ﴾ (*Wa yastanbi'ūnaka a-ḥaqqun huwa* – "Dan mereka meminta berita kepadamu: Apakah hal itu benar?").
وقد اختُصَّ ما يتصرّفُ من أفعال القُلوب بالإلغاءِ والتَّعليقِ. فلا يكونانِ في "هَبْ وتَعلَمْ"، لأنهما جامدانِ. وقد علمت أن الإلغاء جائز عند وجودِ سبيلهِ، وأن المُلغى لا عملَ له البتَةَ، وإنَّ المعلَّقَ، إن لم يعملْ لفظاً فهو يعمل النصبَ في مَحلِّ الجملةِ، فيجوزُ العطفُ بالنصب على محلها، فنقولُ "علمتْ لخالد شجاعُ وسعيداً كريماً"، بالعطف على مَحلّ "خالد وسعيد"، لأنهما مفعولان للفعل المعلّق عن نصبهما بلام الإبتداءِ. ويجوز رفعُهما بالعطف على اللفظ، قال الشاعر [كثير عزة / من الطويل] وما كُنْتُ أَدْرِي قَبْلَ عَزَّةَ. ما الْبُكا … ولا مُوجِعاتُ الْقَلْبِ؟ حَتَّى تَوَلَّتِ يُروَى بنصب موجعات، عطفاً على محل "ما البكا". ويجوزُ الرفعُ عطفاً على البكا. والجملةُ بعدَ الفعلِ المُعلَّقِ عن العمل في موضع نصبٍ على المفعولية. وهي سادّةٌ مَسدَّ المفعولينِ، إن كان يتعدّى إلى اثنينِ ولم ينصب الأوّلَ. فإن نصبَهُ سدَّت مسدّ الثاني، مثلُ "علمتكَ أيَّ رجلٍ أنتَ؟ ". وإن كان يتعدّى إلى واحدٍ سدّت مسدّهُ، مثل "لا تأتِ أمراً لم تعرفْ ما هُوَ؟ ".
Dan telah dikhususkan bagi kata kerja yang dapat berubah bentuk (*mutasharrif*) dari golongan *af'al al-qulub* (kata kerja hati/persepsi) untuk dapat dikenai proses *al-ilgha'* (pembatalan amal secara lafal dan makna) dan *at-ta'liq* (penangguhan amal secara lafal saja). Kedua proses ini tidak berlaku pada kata *"hab"* (anggaplah!) dan *"ta'allam"* (ketahuilah!), karena keduanya merupakan kata kerja yang kaku (*jamid*). Engkau telah mengetahui bahwa *al-ilgha'* itu diperbolehkan ketika terdapat jalannya, dan bahwa kata yang dikenai *al-ilgha'* sama sekali tidak beramal (*la 'amala lahu al-battah*). Sedangkan kata yang dikenai *at-ta'liq*, jika ia tidak beramal secara lafal, maka ia tetap beramal me-*nashab*-kan pada kedudukan kalimat (*mahall al-jumlah*). Oleh karena itu, diperbolehkan meng-*-'athaf*-kan dengan harakat *nashab* atas kedudukan kalimat tersebut. Kita mengucapkan: *"Alimtu la-Khalidun syuja'un wa Sa'idan kariman"* (Aku tahu bahwa Khalid benar-benar pemberani dan Said adalah orang yang mulia), dengan meng-*-'athaf*-kan kepada kedudukan kata *"Khalid"* dan *"Syuja'"*, karena keduanya merupakan dua *maf'ul* bagi kata kerja yang ditangguhkan amalnya (*al-fi'il al-mu'allaq*) dari me-*nashab*-kan keduanya disebabkan adanya *lam al-ibtida'* (lam permulaan). Diperbolehkan pula me-*rafa'*-kan keduanya dengan meng-*-'athaf*-kannya kepada lafalnya. Penyair [Kutsayyir 'Azzah – dari bahar *Thawil*] berkata: *"Wa ma kuntu adri qabla 'Azzata ma al-buka… wa la muji'atu al-qalbi? Hatta tawallat"* (Dan aku tidak mengetahui sebelum kepergian Azzah, apakah tangisan itu… dan tidak pula rasa sakit hati? Hingga ia berpaling pergi). Diriwayatkan dengan me-*nashab*-kan kata *muji'at* karena di-*-'athaf*-kan kepada kedudukan kalimat *"ma al-buka"*. Diperbolehkan pula me-*rafa'*-kannya karena di-*-'athaf*-kan kepada kata *al-buka*. *Jumlah* (kalimat) yang terletak setelah kata kerja yang ditangguhkan amalnya (*al-fi'il al-mu'allaq*) berada pada posisi *nashab* sebagai *maf'ul*. Kalimat tersebut menempati posisi (*saddat masadda*) dua *maf'ul*, jika kata kerja tersebut termasuk kata kerja transitif yang membutuhkan dua *maf'ul* (*yata'adda ila itsnaini*) namun belum me-*nashab*-kan *maf'ul* yang pertama. Jika ia telah me-*nashab*-kan *maf'ul* yang pertama, maka kalimat tersebut menempati posisi *maf'ul* yang kedua, seperti: *"Alimtuka ayya rajulin anta?"* (Aku mengetahui dirimu, laki-laki macam apakah engkau?). Dan jika kata kerja tersebut hanya membutuhkan satu *maf'ul*, maka kalimat tersebut menempati posisinya, seperti: *"La ta'ti amran lam ta'rif ma huwa?"* (Janganlah engkau mendatangi suatu perkara yang engkau tidak ketahui apa perkara itu!).
وإن كان يتعدَّى بحرف الجرّ، سقطَ حرفُ الجرّ وكانت الجملة منصوبة محلاًّ بإسقاط الجارِّ (وهو ما يسمُّونهُ النصبَ على نَزع الخافض) ، مثل "فكَّرت أصحيحٌ هذا أم لا؟ "، لأن فكَّرَ يتعدَّى بفي، تقول "فكَّرْتُ في الأمر".
Jika kata kerja tersebut me-transitif-kan objek dengan perantara huruf *jar*, maka huruf *jar* tersebut gugur dan kalimat (*jumlah*) tersebut berkedudukan *manshub* secara tempat (*mahallan*) karena digugurkannya huruf *jar* tersebut (yang mereka sebut sebagai *al-nasb 'ala naz' al-khafidh* [nasab karena pencabutan huruf jar]), seperti: "فكَّرتُ أصحيحٌ هذا أم لا؟" (Aku berpikir apakah ini benar atau tidak?), karena kata kerja "فكَّرَ" me-transitif-kan objek dengan perantara huruf "فِي", di mana Anda mengucapkan: "فكَّرْتُ في الأمرِ" (Aku berpikir tentang urusan itu).