بيان آداب الجمعة على ترتيب العادة وهي عشر جمل
بيان آداب الجمعة على ترتيب العادة وهي عشر جمل
Penjelasan adab-adab Hari Jumat berdasarkan urutan kebiasaan, yaitu sepuluh kelompok adab.
﴿الأول﴾ أن يستعد لها يوم الخميس عزماً عليها واستقبالاً لفضلها فيشتغل بالدعاء والاستغفار والتسبيح بعد العصر يوم الخميس لأنها ساعة قوبلت بالساعة المبهمة في يوم الجمعة
Pertama, bersiap-siap untuk menghadapinya sejak hari Kamis dengan memantapkan tekad dan menyambut keutamaannya, yaitu dengan disibukkan oleh doa, istighfar, dan tasbih setelah waktu Asar pada hari Kamis, karena waktu tersebut berhadapan (setara) dengan waktu yang dirahasiakan keutamaannya pada hari Jumat.
قال بعض السلف إن لله ﷿ فضلاً سوى أرزاق العباد لا يعطى من ذلك الفضل إلا من سأله عشية الخميس ويوم الجمعة ويغسل في هذا اليوم ثيابه ويبيضها ويعد الطيب إن لم يكن عنده ويفرغ قلبه من الأشغال التي تمنعه من البكور إلى الجمعة وينوي في هذه الليلة صوم يوم الجمعة فإن له فضلاً وليكن مضموماً إلى يوم الخميس أو السبت لا مفرداً فإنه مكروه ويشتغل بإحياء هذه الليلة بالصلاة وختم القرآن فلها فضل كثير وينسحب عليها فضل يوم الجمعة
Sebagian ulama Salaf berkata, 'Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki karunia selain rezeki para hamba, yang tidak diberikan dari karunia tersebut kecuali kepada orang yang memohon kepada-Nya pada sore hari Kamis dan hari Jumat.' Seseorang hendaknya mencuci pakaiannya pada hari ini dan memutihkannya, menyiapkan wewangian jika belum memilikinya, mengosongkan hatinya dari kesibukan-kesibukan yang menghalanginya untuk datang lebih awal ke Shalat Jumat, serta berniat pada malam ini untuk berpuasa pada hari Jumat—sebab puasa Jumat memiliki keutamaan, namun hendaknya digabungkan dengan hari Kamis atau Sabtu dan tidak disendirikan karena hukumnya makruh. Ia juga hendaknya disibukkan dengan menghidupkan malam ini melalui shalat dan mengkhatamkan Al-Qur'an, sebab malam tersebut memiliki keutamaan yang besar dan keutamaan hari Jumat melingkupinya.
ويجامع أهله في هذه الليلة أو في يوم الجمعة فقد استحب ذلك قوم حملوا عليه قوله ﷺ رحم الله من بكر وابتكر وغسل واغتسل وهو حمل الأهل على الغسل وقيل معناه غسل ثيابه فروي بالتخفيف واغتسل لجسده وبهذا تتم آداب الاستقبال ويخرج من زمرة الغافلين الذين إذا أصبحوا قالوا ما هذا اليوم قال بعض السلف أوفى الناس نصيباً من الجمعة من انتظرها ورعاها من الأمس وأخفهم نصيباً من إذا أصبح يقول أيش اليوم وكان بعضهم يبيت ليلة الجمعة في الجامع لأجلها
Dan disunnahkan pula menyetubuhi istrinya pada malam ini atau pada hari Jumat; sebagian ulama menyunnahkan hal tersebut berdasarkan sabda Nabi ﷺ, 'Semoga Allah merahmati orang yang menyegerakan dan datang awal, serta memandikan dan mandi.' Makna 'memandikan' di sini adalah membuat istrinya mandi janabah. Ada pula yang berpendapat maknanya adalah mencuci pakaiannya (diriwayatkan tanpa tasydid) dan mandi untuk tubuhnya sendiri. Dengan ini, sempurnalah adab-adab menyambut hari Jumat dan ia keluar dari golongan orang-orang yang lalai, yaitu orang-orang yang ketika memasuki pagi hari berkata, 'Hari apakah ini?' Sebagian ulama Salaf berkata, 'Orang yang paling sempurna bagian pahalanya dari hari Jumat adalah orang yang telah menantikannya dan memeliharanya sejak kemarin, sedangkan orang yang paling sedikit bagian pahalanya adalah orang yang ketika memasuki pagi hari berkata, 'Hari apa ini?'' Bahkan sebagian dari mereka menginap pada malam Jumat di masjid Jami' demi menyambutnya.
الثاني إذا أصبح ابتدأ بالغسل بعد طلوع الفجر وإن كان لا يبكر فأقربه إلى الرواح أحب ليكون أقرب عهداً بالنظافة فالغسل مستحب استحباباً مؤكداً وذهب بعض العلماء إلى وجوبه قال ﷺ غسل الجمعة واجب على كل محتلم والمشهور من حديث نافع عن ابن عمر ﵄ من أتى الجمعة فليغتسل وقال ﷺ من شهد الجمعة من الرجال والنساء فليغتسل وكان أهل المدينة إذا تساب المتسابان يقول أحدهما للآخر لأنت أشر ممن لا يغتسل يوم الجمعة
Kedua, apabila telah memasuki waktu pagi, ia memulai dengan mandi setelah terbit fajar. Jika ia tidak berangkat lebih awal, maka mandi yang paling dekat dengan waktu keberangkatannya adalah yang lebih disukai agar ia lebih dekat masanya dengan kebersihan. Mandi Jumat ini sangat ditekankan kesunnahannya (sunnah muakkadah), bahkan sebagian ulama berpendapat hukumnya wajib. Rasulullah ﷺ bersabda, 'Mandi Jumat itu wajib bagi setiap orang yang sudah bermimpi (baligh).' Dan hadits yang masyhur dari Nafi' dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma: 'Barangsiapa mendatangi Shalat Jumat, hendaklah ia mandi.' Rasulullah ﷺ juga bersabda, 'Barangsiapa yang menghadiri Shalat Jumat, baik laki-laki maupun wanita, hendaklah ia mandi.' Dahulu penduduk Madinah apabila saling mencela antara dua orang, salah satunya akan berkata kepada yang lain, 'Sungguh engkau lebih buruk daripada orang yang tidak mandi pada hari Jumat!'
وقال عمر لعثمان ﵄ لما دخل وهو يخطب أهذه الساعة منكراً عليه ترك البكور فقال ما زدت بعد أن سمعت الأذان على أن توضأت وخرجت فقال والوضوء أيضا وقد علمت أن رسول الله ﷺ كان يأمرنا بالغسل وقد عرف جواز ترك الغسل بوضوء عثمان رضي الله تعالى عنه وبما روي أنه ﷺ قال من توضأ يوم الجمعة فبها ونعمت ومن اغتسل فالغسل أفضل ومن اغتسل للجنابة فليفض الماء على بدنه مرة أخرى
Umar radhiyallahu 'anhu berkata kepada Utsman radhiyallahu 'anhu ketika Utsman masuk masjid sementara Umar sedang berkhotbah, 'Jam berapa ini?!'—sebagai bentuk ingkar atas sikap Utsman yang meninggalkan berangkat awal. Maka Utsman menjawab, 'Aku tidak menambah kegiatan setelah mendengar adzan selain berwudhu lalu berangkat.' Umar berkata, 'Dan berwudhu saja pula! Padahal engkau telah mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk mandi.' Kebolehan meninggalkan mandi ini dapat diketahui dari wudhu Utsman radhiyallahu 'anhu dan dari apa yang diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, 'Barangsiapa berwudhu pada hari Jumat, maka itu baik dan nikmat, dan barangsiapa mandi, maka mandi itu lebih utama.' Dan barangsiapa yang mandi karena janabah, hendaklah ia menyiramkan air ke tubuhnya sekali lagi…
على نية غسل الجمعة فإن اكتفى بغسل واحد أجزأه وحصل له الفضل إذا نوى كليهما ودخل غسل الجمعة في غسل الجنابة وقد دخل بعض الصحابة على ولده وقد اغتسل فقال له أللجمعة فقال بل عن الجنابة فقال أعد غسلاً ثانياً وروى الحديث في غسل الجمعة على كل محتلم
…dengan niat mandi Jumat. Apabila ia mencukupkan dengan satu kali mandi saja, maka itu sudah mencukupinya dan ia memperoleh keutamaan jika berniat untuk kedua-duanya, sehingga mandi Jumat masuk ke dalam mandi janabah. Sungguh, sebagian Sahabat pernah menemui anaknya yang telah mandi, lalu bertanya, 'Apakah ini mandi untuk Jumat?' Anaknya menjawab, 'Bukan, tetapi karena janabah.' Maka ia berkata, 'Ulangilah dengan mandi yang kedua.' Dan ia meriwayatkan hadits tentang kewajiban mandi Jumat bagi setiap orang yang telah baligh.
وإنما أمره به لأنه لم يكن نواه
Sesungguhnya beliau memerintahkannya untuk mandi lagi karena sang anak belum berniat mandi Jumat.
وكان لا يبعد أن يقال المقصود النظافة وقد حصلت دون النية ولكن هذا ينقدح في الوضوء أيضاً وقد جعل في الشرع قربة فلا بد من طلب فضلها
Tidaklah jauh untuk dikatakan bahwa maksud utamanya adalah kebersihan dan hal itu telah terwujud tanpa niat. Namun pertimbangan ini berlaku pula pada wudhu, padahal dalam syariat wudhu dijadikan sebagai ibadah (qurbah), maka tidak boleh tidak harus mencari keutamaannya melalui niat.
ومن اغتسل ثم أحدث توضأ ولم يبطل غسله والأحب أن يحترز عن ذلك
Barangsiapa telah mandi lalu berhadats, hendaklah ia berwudhu dan mandinya tidak batal, namun yang lebih disukai adalah berhati-hati dari hal tersebut.
﴿الثالثة﴾ الزينة وهي مستحبة في هذا اليوم وهي ثلاثة الكسوة والنظافة وتطييب الرائحة
Ketiga, berhias (az-zinah). Berhias itu disunnahkan pada hari ini, dan berhias mencakup tiga hal: pakaian, kebersihan diri, dan memakai wewangian.
أما النظافة فبالسواك وحلق الشعر وقلم الظفر وقص الشارب وسائر ما سبق في كتاب الطهارة
Adapun kebersihan diri dilakukan dengan bersiwak, mencukur bulu-bulu tubuh, memotong kuku, merapikan kumis, dan seluruh hal yang telah dijelaskan sebelumnya dalam Kitab Thaharah (Bersuci).
قال ابن مسعود من قلم أظفاره يوم الجمعة أخرج الله ﷿ منه داء وأدخل فيه شفاء فإن كان قد دخل الحمام في الخميس أو الأربعاء فقد حصل المقصود فليتطيب في هذا اليوم بأطيب طيب عنده ليغلب بها الروائح الكريهة ويوصل بها الروح والرائحة إلى مشام الحاضرين في جواره وأحب طيب الرجال ما ظهر ريحه وخفي لونه وطيب النساء ما ظهر لونه وخفي ريحه وروي ذلك في الأثر
Ibnu Mas'ud berkata, "Barangsiapa memotong kuku-kukunya pada hari Jumat, Allah Azza wa Jalla akan mengeluarkan penyakit dari dirinya dan memasukkan penawar (kesembuhan) ke dalamnya." Jika ia telah mandi (di pemandian umum) pada hari Kamis atau Rabu, maka maksudnya telah tercapai. Namun hendaklah ia memakai wewangian pada hari ini dengan wewangian terbaik yang dimilikinya untuk menghilangkan bau yang tidak sedap, serta menyampaikan keharuman dan kesegaran ke penciuman orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan wewangian yang paling disukai bagi laki-laki adalah yang tampak aromanya dan tersembunyi warnanya, sedangkan wewangian bagi wanita adalah yang tampak warnanya dan tersembunyi aromanya. Hal itu diriwayatkan dalam atsar.
وقال الشافعي ﵁ من نظف ثوبه قل همه ومن طاب ريحه زاد عقله
Imam Asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu berkata, "Barangsiapa membersihkan pakaiannya, niscaya berkurang kesedihannya; dan barangsiapa memakai wewangian, niscaya bertambah akalnya."
وأما الكسوة فأحبها البياض من الثياب إذ أحب الثياب إلى الله تعالى البيض ولا يلبس ما فيه شهرة
Adapun pakaian, maka yang paling disukai adalah pakaian putih, sebab pakaian yang paling dicintai Allah Ta'ala adalah yang berwarna putih, dan janganlah mengenakan pakaian yang mendatangkan kemasyhuran (libas syuhrah).
ولبس السواد ليس من السنة ولا فيه فضل بل كره جماعة النظر إليه لأنه بدعة محدثة بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ والعمامة مستحبة في هذا اليوم
Memakai pakaian hitam bukanlah bagian dari sunnah dan tidak memiliki keutamaan di dalamnya, bahkan sekelompok ulama membenci memandangnya karena hal itu merupakan bid'ah yang diada-adakan setelah Rasulullah ﷺ. Adapun memakai sorban (imamah) disunnahkan pada hari ini.
وروى واثلة بن الأسقع أن رسول الله ﷺ قال إن الله وملائكته يصلون على أصحاب العمائم يوم الجمعة فإن أكربه الحر فلا بأس بنزعها قبل الصلاة وبعدها ولكن لا ينزع في وقت السعي من المنزل إلى الجمعة ولا في وقت الصلاة ولا عند صعود الإمام المنبر وفي خطبته
Watsilah bin al-Asqa' meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang memakai sorban pada hari Jumat." Jika panas yang terik memberatkannya, maka tidak mengapa baginya melepasnya sebelum shalat atau sesudahnya. Namun janganlah ia melepasnya pada saat berjalan dari rumah menuju shalat Jumat, tidak pula pada saat shalat, dan tidak pula ketika imam naik ke mimbar serta saat berkhotbah.
الرابع البكور إلى الجامع ويستحب أن يقصد الجامع من فرسخين وثلاث وليبكر ويدخل وقت البكور بطلوع الفجر وفضل البكور عظيم
Keempat: Bersegera (al-bukur) menuju masjid jami'. Disunnahkan untuk menuju masjid jami' meskipun dari jarak dua atau tiga farsakh. Hendaklah ia berangkat pagi-pagi, dan waktu al-bukur itu dimulai sejak terbitnya fajar, sedang keutamaan al-bukur ini sangatlah agung.
وينبغي أن يكون في سعيه إلى الجمعة خاشعاً متواضعاً ناوياً للاعتكاف في المسجد إلى وقت الصلاة قاصداً للمبادرة إلى جواب نداء الله ﷿ إلى الجمعة إياه والمسارعة إلى مغفرته ورضوانه وَقَدْ قَالَ ﷺ مَنْ راح إلى الجمعة في الساعة الأولى فكأنما قرب بدنة ومن راح في الساعة الثانية فكأنما قرب بقرة ومن راح في الساعة الثالثة فكأنما قرب كبشاً أقرن ومن راح في الساعة الرابعة فكأنما أهدى دجاجة ومن راح في الساعة الخامسة فكأنما أهدى بيضة فإذا خرج الإمام طويت الصحف ورفعت الأقلام واجتمعت الملائكة عند المنبر يستمعون الذكر فمن جاء بعد ذلك فأنما جاء لحق الصلاة ليس له من الفضل شيء والساعة الأولى طلوع الشمس والثانية إلى ارتفاعها والثالثة إلى انبساطها حين ترمض الأقدام والرابعة والخامسة بعد الضحى الأعلى إلى الزوال وفضلها قليل ووقت الزوال حق الصلاة ولا فضل فِيهِ
Hendaklah dalam perjalanannya menuju shalat Jumat ia bersikap khusyuk dan tawaduk, berniat i'tikaf di masjid hingga waktu shalat tiba, bertujuan menyambut panggilan Allah Azza wa Jalla kepadanya untuk shalat Jumat, serta bersegera menuju ampunan dan keridhaan-Nya. Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Barangsiapa berangkat ke shalat Jumat pada waktu (jam) pertama, maka seakan-akan ia berkurban seekor unta. Barangsiapa berangkat pada waktu kedua, maka seakan-akan ia berkurban seekor sapi. Barangsiapa berangkat pada waktu ketiga, maka seakan-akan ia berkurban seekor domba bertanduk. Barangsiapa berangkat pada waktu keempat, maka seakan-akan ia menghadiahkan seekor ayam. Dan barangsiapa berangkat pada waktu kelima, maka seakan-akan ia menghadiahkan sebutir telur. Apabila imam telah keluar (menuju mimbar), maka lembaran-lembaran catatan dilipat, pena-pena diangkat, dan para malaikat berkumpul di dekat mimbar mendengarkan khotbah (zikir). Barangsiapa yang datang setelah itu, maka ia hanya datang untuk kewajiban shalat dan tidak mendapatkan bagian dari keutamaan tersebut." Waktu pertama adalah terbitnya matahari, waktu kedua hingga matahari meninggi, waktu ketiga hingga matahari memancar terang saat telapak kaki terasa panas, sedangkan waktu keempat dan kelima adalah setelah duha yang tinggi hingga tergelincirnya matahari (zawal), di mana keutamaannya sedikit. Dan waktu zawal adalah hak kewajiban shalat, tidak ada keutamaan (al-bukur) di dalamnya.
وَقَالَ ﷺ ثَلَاثٌ لو يعلم الناس ما فيهن لركضوا ركض الإبل في طلبهن الأذان والصف الأول والغدو إلى الجمعة وقال أحمد بن حنبل ﵁ أفضلهن الغدو إلى الجمعة
Nabi ﷺ bersabda, "Ada tiga hal, seandainya manusia mengetahui apa yang ada di dalamnya, niscaya mereka akan berlari kencang seperti larinya unta untuk mencapainya: azan, shaf pertama, dan berangkat pagi-pagi menuju shalat Jumat." Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhu berkata, "Yang paling utama dari ketiganya adalah berangkat pagi-pagi menuju shalat Jumat."
وفي الخبر
Diberitakan pula dalam riwayat (al-khabar):
إذا كان يوم الجمعة قعدت الملائكة على أبواب المساجد بأيديهم صحف من فضة وأقلام من ذهب يكتبون الأول فالأول على مراتبهم وجاء في الخبر إن الملائكة يتفقدون الرجل إذا تأخر عن وقته يوم الجمعة فيسأل بعضهم بعضاً عنه ما فعل فلان وما الذي أخره عن وقته فيقولون اللهم إن كان أخره فقر فأغنه وإن كان أخره مرض فاشفه وإن كان أخره شغل ففرغه لعبادتك وإن كان أخره لهو فأقبل بقلبه إلى طاعتك وكان يرى في القرن الأول سحراً وبعد الفجر الطرقات مملوءة من الناس يمشون في السرج ويزدحمون بها إلى الجامع كأيام العيد حتى اندرس ذلك فقيل أول بدعة حدثت في الإسلام ترك البكور إلى الجامع
"Apabila hari Jumat tiba, para malaikat duduk di pintu-pintu masjid dengan memegang lembaran-lembaran dari perak dan pena-pena dari emas. Mereka mencatat orang yang datang pertama demi pertama sesuai tingkatan mereka." Dan disebutkan dalam riwayat bahwa para malaikat mencari tahu keadaan seseorang jika ia terlambat dari waktunya pada hari Jumat, lalu sebagian dari mereka bertanya kepada sebagian yang lain tentangnya, "Apa yang dilakukan si Fulan dan apa yang membuatnya terlambat dari waktunya?" Lalu mereka berdoa, "Ya Allah, jika kemiskinan yang menahannya, maka berilah ia kecukupan; jika penyakit yang menahannya, maka sembuhkanlah ia; jika kesibukan yang menahannya, maka luangkanlah waktunya untuk beribadah kepada-Mu; dan jika kelalaian yang menahannya, maka hadapkanlah hatinya kepada ketaatan kepada-Mu." Dahulu pada kurun pertama (generasi sahabat dan tabi'in), terlihat pada waktu sahur dan setelah fajar jalan-jalan dipenuhi oleh orang-orang yang berjalan membawa pelita, berdesak-desakan menuju masjid jami' seperti pada hari-hari raya, hingga kebiasaan itu hilang. Maka dikatakan bahwa bid'ah pertama yang terjadi dalam Islam adalah ditinggalkannya bersegera (al-bukur) menuju masjid jami'.
وكيف لا يستحي المسلمون من اليهود والنصارى وهم يبكرون إلى البيع والكنائس يوم السبت والأحد وطلاب الدنيا كيف يبكرون إلى رحاب الأسواق للبيع والشراء والربح فلم لا يسابقهم طلاب الآخرة ويقال إن الناس يكونون في قربهم عند النظر إلى وجه الله ﷾ على قدر بكورهم إلى الجمعة
Bagaimana umat Islam tidak merasa malu kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani yang bersegera di pagi hari menuju tempat-tempat ibadah dan gereja mereka pada hari Sabtu dan Minggu? Dan bagaimana para pencari dunia bersegera di pagi hari menuju pelataran pasar untuk berjual beli serta mencari keuntungan? Mengapa para pencari akhirat tidak berlomba-lomba melebihi mereka? Dikatakan pula bahwa kedekatan manusia kelak saat memandang wajah Allah Azza wa Jalla adalah sesuai dengan tingkatan kesegeraan mereka (berangkat pagi) menuju shalat Jumat.
ودخل ابن مسعود ﵁ بكرة الجامع فرأى ثلاثة نفر قد سبقوه بالبكور فاغتم لذلك وجعل يقول في نفسه معاتباً لها رابع أربعة وما رابع أربعة من البكور ببعيد
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu masuk ke masjid jami' di pagi hari, lalu beliau melihat tiga orang telah mendahuluinya datang pagi-pagi, maka beliau bersedih atas hal itu dan mulai berkata kepada dirinya seraya mencelanya, "Orang keempat dari empat orang, dan alangkah dekatnya posisi keempat dari al-bukur (kesegeraan)."
الخامس في هيئة الدخول ينبغي أَنْ لَا يَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ وَلَا يَمُرَّ بين أيديهم والبكور يسهل ذلك عليه فَقَدْ وَرَدَ وَعِيدٌ شَدِيدٌ فِي تَخَطِّي الرِّقَابِ وهو أنه يجعل جسرا يوم القيامة يتخطاه الناس وروى ابن جريج مرسلاً أن رسول الله ﷺ بينما هو يخطب يوم الجمعة إذ رأى رجلاً يتخطى رقاب الناس حتى تقدم فجلس فلما قضى النبي ﷺ صلاته عارض الرجل حتى لقيه فقال يا فلان ما منعك أن تجمع اليوم معنا قال يا نبي الله قد جمعت معكم فقال النبي ﷺ ألم نرك تتخطى رقاب الناس أشار به إلى أنه أحبط عمله
Kelima: Mengenai adab ketika masuk masjid, hendaklah ia tidak melangkahi pundak-pundak manusia dan tidak melintas di hadapan orang yang sedang shalat. Bersegera di pagi hari (al-bukur) akan mempermudah hal itu baginya. Sungguh telah ada ancaman keras mengenai melangkahi pundak-pundak manusia, yaitu bahwa orang tersebut akan dijadikan jembatan pada hari kiamat yang dilangkahi oleh manusia. Ibnu Juraij meriwayatkan secara mursal bahwa ketika Rasulullah ﷺ sedang berkhotbah pada hari Jumat, tiba-tiba beliau melihat seorang laki-laki melangkahi pundak-pundak orang banyak hingga maju lalu duduk. Ketika Nabi ﷺ menyelesaikan shalatnya, beliau menghadang orang itu hingga bertemu dengannya dan bersabda, "Wahai Fulan, apa yang menghalangimu untuk shalat Jumat bersama kami hari ini?" Orang itu menjawab, "Wahai Nabi Allah, sungguh aku telah shalat Jumat bersama kalian." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Bukankah kami melihatmu melangkahi pundak-pundak manusia?" Dengan sabda ini, beliau mengisyaratkan bahwa amalnya telah gugur (pahalanya terhapus).
وفي حديث مسند أنه قال ما منعك أن تصلي معنا قال أو لم ترني يا رسول الله فقال ﷺ رأيتك تأنيت وآذيت أي تأخرت عن البكور وآذيت الحضور
Dalam hadis musnad disebutkan bahwa beliau bersabda, "Apa yang menghalangimu untuk shalat bersama kami?" Orang itu berkata, "Apakah engkau tidak melihatku, wahai Rasulullah?" Maka beliau ﷺ bersabda, "Aku melihatmu datang terlambat dan mengganggu orang lain," yakni engkau terlambat dari bersegera (al-bukur) dan mengganggu para hadirin.
وَمَهْمَا كَانَ الصَّفُّ الْأَوَّلُ مَتْرُوكًا خَالِيًا فَلَهُ أَنْ يَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ لِأَنَّهُمْ ضَيَّعُوا حَقَّهُمْ وتركوا موضع الفضيلة
Selama shaf pertama dalam keadaan ditinggalkan (kosong), maka diperbolehkan baginya untuk melangkahi pundak-pundak orang banyak, karena merekalah yang menyia-nyiakan hak mereka dan meninggalkan tempat keutamaan tersebut.
قال الحسن تخطوا رقاب الناس الذين يقعدون على أبواب الجوامع يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَإِنَّهُ لَا حُرْمَةَ لَهُمْ
Al-Hasan berkata, "Langkahilah pundak-pundak orang-orang yang duduk di pintu-pintu masjid jami' pada hari Jumat, karena sesungguhnya tidak ada kehormatan bagi mereka (terkait hak shaf)."
وَإِذَا لم يكن في المسجد إلا من يصلي فينبغي أن لا يسلم لأنه تكليف جواب في غير محله
Apabila di dalam masjid tidak ada seorang pun melainkan orang yang sedang shalat, maka hendaknya ia tidak mengucapkan salam, karena hal itu merupakan pembebanan untuk menjawab salam bukan pada tempatnya.
السادس أن لا يمر بين يدي الناس ويجلس حيث هو إلى قرب أُسْطُوَانَةٍ أَوْ حَائِطٍ حَتَّى لَا يَمُرُّونَ بَيْنَ يَدَيْهِ أَعْنِي بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي فَإِنَّ ذَلِكَ لا يقطع الصلاة ولكنه مَنْهِيٌّ عَنْهُ قَالَ ﷺ لأن يقف أربعين عاماً خير له من أن يمر بين يدي المصلي وقال ﷺ لأن يكون الرجل رماداً أو رميماً
Keenam: Hendaklah ia tidak lewat di hadapan jamaah lain dan duduk di tempat ia berada di dekat tiang atau dinding agar mereka tidak lewat di hadapannya—maksudnya di hadapan orang yang sedang shalat. Sebab hal itu, meskipun tidak membatalkan shalat, merupakan perkara yang dilarang. Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh, jika seseorang berdiri selama empat puluh tahun, itu lebih baik baginya daripada lewat di hadapan orang yang sedang shalat." Dan beliau ﷺ bersabda, "Sungguh, jika seseorang menjadi abu atau tulang belulang yang hancur…
تذروه الرياح خير من أن يمر بين يدي المصلي وقد روي في حديث آخر في المار والمصلي حيث صلى على الطريق أو قصر في الدفع فقال لو يعلم المار بين يدي المصلى والمصلي ما عليهما في ذلك لكان أن يقف أربعين سنة خيراً له من أن يمر بين يديه والأسطوانة والحائط والمصلى المفروش حد للمصلي فمن اجتاز به فينبغي أن يدفعه قال ﷺ ليدفعه فإن أبى فليدفعه فإن أبى فليقاتله فإنه شيطان وكان أبو سعيد الخدري ﵁ يدفع من يمر بين يديه حتى يصرعه فربما تعلق به الرجل فاستعدى عليه عند مروان فيخبره أن النبي ﷺ أمره بذلك فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أُسْطُوَانَةً فَلْيَنْصِبْ بَيْنَ يَدَيْهِ شَيْئًا طُولُهُ قَدْرَ ذِرَاعٍ لِيَكُونَ ذَلِكَ عَلَامَةً لحدة
…yang diterbangkan angin, itu lebih baik baginya daripada lewat di hadapan orang yang sedang shalat." Dan sungguh telah diriwayatkan dalam hadis lain mengenai orang yang lewat dan orang yang shalat—yaitu ketika ia shalat di jalanan atau lalai dalam mencegah orang yang lewat—beliau bersabda, "Seandainya orang yang lewat di hadapan orang shalat dan orang yang shalat itu mengetahui dosa yang menimpa mereka berdua dalam hal itu, niscaya berdiri selama empat puluh tahun sungguh lebih baik baginya daripada lewat di hadapannya." Dan tiang, dinding, serta sajadah yang dihamparkan merupakan batas (sutrah) bagi orang yang shalat. Maka barangsiapa yang hendak melintasinya, hendaknya ia mencegahnya. Nabi ﷺ bersabda, "Hendaklah ia mencegahnya, jika ia enggan maka cegahlah lagi, dan jika ia tetap membangkang maka perangilah (doronglah dengan kuat) karena sesungguhnya ia adalah setan." Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu pernah mendorong orang yang melintas di hadapannya hingga membantingnya, sampai-sampai orang itu mengadu kepada Marwan, lalu Abu Sa'id memberitahunya bahwa Nabi ﷺ memerintahkan hal tersebut. Jika ia tidak menemukan tiang, hendaklah ia menegakkan sesuatu di hadapannya seukuran satu hasta agar menjadi tanda batas baginya.
السابع أن يطلب الصف الأول فإن فضله كثير كما رويناه وفي الحديث من غسل واغتسل وبكر وابتكر ودنا من الإمام واستمع كان ذلك له كفارة لما بين الجمعتين وزيادة ثلاثة أيام وفي لفظ آخر غفر الله له إلى الجمعة الأخرى وقد اشترط في بعضها ولم يتخط رقاب الناس ولا يغفل في طلب الصف الأول عن ثلاثة أمور أولها أنه إذا كان يرى بقرب الخطيب منكراً يعجز عن تغييره من لبس حرير من الإمام أو غيره أو صلى في سلاح كثير ثقيل شاغل أو سلاح مذهب أو غير ذلك مما يجب فيه الإنكار فالتأخر له أسلم وأجمع للهم فعل ذلك جماعة من العلماء طلباً للسلامة
Ketujuh: Hendaklah ia berusaha mendapatkan shaf pertama, sebab keutamaannya sangat besar sebagaimana telah kami riwayatkan. Dalam sebuah hadis disebutkan, "Barangsiapa mandi dan menyucikan diri, bersegera dan datang lebih awal, mendekat kepada imam serta mendengarkan (khotbah), maka hal itu menjadi pelebur dosa baginya antara dua Jumat dan tambahan tiga hari." Dalam lafal lain, "Allah mengampuni dosanya hingga Jumat berikutnya." Dan dalam sebagian riwayat disyaratkan: "Dan ia tidak melangkahi pundak-pundak manusia." Namun, dalam mencari shaf pertama janganlah ia melalaikan tiga perkara: Pertama, apabila di dekat khatib ia melihat kemungkaran yang tidak mampu ia ubah, seperti imam atau orang lain yang mengenakan sutra, atau shalat dengan membawa banyak senjata berat yang mengganggu, atau senjata bersepuh emas, atau hal lainnya yang wajib diingkari, maka mundur (ke shaf belakang) lebih selamat baginya dan lebih menghimpun konsentrasi (kekhusyukan) hatinya. Hal ini telah dilakukan oleh sekelompok ulama demi mencari keselamatan.
قيل لبشر بن الحرث نراك تبكر وتصلي في آخر الصفوف فقال إنما يراد قرب القلوب قرب الأجساد
Dikatakan kepada Bisyri bin al-Harits, "Kami melihat engkau berangkat pagi-pagi, tetapi engkau shalat di shaf-shaf paling belakang." Beliau menjawab, "Sesungguhnya yang dikehendaki adalah kedekatan hati, bukan kedekatan jasad."
وأشار به إلى أن ذلك أقرب لسلامة قلبه
Dengan perkataan itu, beliau mengisyaratkan bahwa hal tersebut lebih dekat bagi keselamatan hatinya.
ونظر سفيان الثوري إلى شعيب بن حرب عند المنبر يسمع إلى الخطبة من أبي جعفر المنصور فلما فرغ من الصلاة قال شغل قلبي قربك من هذا هل أمنت أن تسمع كلاما يجب عليك إنكاره فلا تقوم به ثم ذكر ما أحدثوا من لبس السواد فقال يا أبا عبد الله أليس في الخبر أدن واستمع فقال ويحك ذاك للخلفاء الراشدين المهديين فأما هؤلاء فكلما بعدت عنهم ولم تنظر إليهم كان أقرب إلى الله ﷿
Sufyan ats-Tsauri melihat Syu'aib bin Harb berada di dekat mimbar mendengarkan khotbah dari Abu Ja'far al-Manshur. Ketika selesai shalat, beliau berkata, "Kedekatanmu dengan orang ini menyibukkan hatiku. Apakah engkau merasa aman untuk tidak mendengar perkataan yang wajib engkau ingkari lalu engkau tidak mengingkarinya?" Kemudian beliau menyebutkan hal-hal baru yang mereka buat-buat, seperti mengenakan pakaian hitam. Syu'aib berkata, "Wahai Abu Abdillah, bukankah dalam riwayat disebutkan, 'Mendekatlah dan dengarkanlah'?" Sufyan menjawab, "Celaka engkau! Itu berlaku untuk Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Adapun mereka ini, semakin engkau jauh dari mereka dan tidak memandang mereka, maka itu semakin dekat kepada Allah Azza wa Jalla."
وقال سعيد بن عامر صليت إلى جنب أبي الدرداء فجعل يتأخر في الصفوف حتى كنا في آخر صف فلما صلينا قلت له أليس يقال خير الصفوف أولها قال نعلم إلا أن هذه الأمة مرحومة منظور إليها من بين الأمم فإن الله تعالى إذا نظر إلى عبد في الصلاة غفر له ولمن وراءه من الناس فإنما تأخرت رجاء أن يغفر لي بواحد منهم ينظر الله إليه
Sa'id bin 'Amir berkata, "Aku shalat di samping Abu ad-Darda', lalu beliau terus mundur di antara shaf-shaf hingga kami berada di shaf paling belakang. Ketika kami selesai shalat, aku bertanya kepadanya, 'Bukankah dikatakan bahwa sebaik-baik shaf adalah shaf pertama?' Beliau menjawab, 'Kami tahu, namun umat ini adalah umat yang dirahmati dan dipandang di antara umat-umat lainnya. Sesungguhnya Allah Ta'ala apabila memandang seorang hamba di dalam shalat, Dia mengampuninya dan mengampuni orang-orang di belakangnya. Maka aku mundur hanya karena berharap diampuni disebabkan salah satu dari mereka yang dipandang oleh Allah.'"
وروى بعض الرواة أنه قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قال ذلك فمن تأخر على هذه النية إيثاراً وإظهاراً لحسن الخلق فلا بأس وعند هذا يقال الأعمال بالنيات ثانيها إن لم تكن مقصورة عند الخطيب مقتطعة عن المسجد للسلاطين فالصف الأول محبوب وإلا فقد كره بعض العلماء دخول المقصورة
Sebagian perawi meriwayatkan bahwa beliau berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda demikian." Maka barang siapa yang mundur ke shaf belakang dengan niat ini karena mengutamakan orang lain (itsar) dan menampakkan akhlak yang baik, maka hal itu tidak mengapa, dan dalam hal ini berlaku kaidah: "Amal-amal itu tergantung pada niatnya." Yang kedua: Jika di dekat khatib tidak terdapat maqshurah (bilik khusus) yang dipisahkan dari masjid untuk para penguasa, maka shaf pertama adalah hal yang disukai. Jika tidak demikian, sebagian ulama membenci masuk ke dalam maqshurah.
كان الحسن وبكر المزني لا يصليان في المقصورة ورأيا أنها قصرت على السلاطين وهي بدعة أحدثت بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ في المساجد
Al-Hasan dan Bakr al-Muzani tidak shalat di dalam maqshurah, dan keduanya berpandangan bahwa bilik itu dikhususkan bagi para penguasa serta merupakan bid'ah yang diada-adakan di masjid-masjid setelah masa Rasulullah ﷺ.
والمسجد مطلق لجميع الناس وقد اقتطع ذلك على خلافة
Padahal masjid bersifat umum bagi seluruh manusia, namun tempat itu telah dipisahkan secara bertentangan dengan ketentuan ini.
وصلى أنس بن مالك
Dan Anas bin Malik pernah shalat…
وعمران بن حصين في المقصورة ولم يكرها ذلك لطلب القرب
…serta 'Imran bin Hushain shalat di dalam maqshurah dan keduanya tidak membencinya demi mencari kedekatan shaf.
ولعل الكراهية تختص بحالة التخصيص والمنع فأما مجرد المقصورة إذا لم يكن منع فلا يوجد كراهة وثالثها أن المنبر يقطع بعض الصفوف وإنما الصف الأول الواحد المتصل الذي في فناء المنبر وما على طرفيه مقطوع
Boleh jadi makruh itu khusus pada keadaan adanya pengkhususan dan larangan bagi umum. Adapun sekadar adanya maqshurah jika tidak ada larangan, maka tidak terdapat kemakruhan. Yang ketiga: Bahwa mimbar memotong sebagian shaf, dan shaf pertama yang tunggal dan bersambung hanyalah yang berada di pelataran depan mimbar, sedangkan yang berada di kedua sisinya terputus.
وكان الثوري يقول الصف الأول هو الخارج بين يدي المنبر وهو متجه لأنه متصل ولأن الجالس فيه يقابل الخطيب ويسمع منه
Ats-Tsauri pernah berkata, "Shaf pertama adalah yang berada di hadapan mimbar." Pandangan ini tepat karena shaf tersebut bersambung dan orang yang duduk di sana berhadapan langsung dengan khatib serta mendengarkan darinya.
ولا يبعد أن يقال الأقرب إلى القبلة هو الصف الأول ولا يراعى هذا المعنى
Dan tidak mustahil untuk dikatakan bahwa shaf yang paling dekat dengan kiblat itulah shaf pertama, tanpa mempertimbangkan makna pemotongan ini.
وَتُكْرَهُ الصَّلَاةُ فِي الْأَسْوَاقِ وَالرِّحَابِ الْخَارِجَةِ عَنِ المسجد وكان بعض الصحابة يضرب الناس ويقيمهم من الرحاب
Dimakruhkan shalat di pasar-pasar dan pelataran-pelataran di luar masjid. Sebagian sahabat pernah memukul orang-orang dan menyuruh mereka berdiri pindah dari pelataran-pelataran tersebut.
الثامن أن يقطع الصلاة عند خروج الإمام ويقطع الكلام أيضاً بَلْ يَشْتَغِلُ بِجَوَابِ الْمُؤَذِّنِ ثُمَّ بِاسْتِمَاعِ الْخُطْبَةِ
Kedelapan: Hendaknya ia menghentikan shalat sunnah ketika imam keluar menuju mimbar dan menghentikan pula percakapan, bahkan menyibukkan diri menjawab muazin kemudian mendengarkan khotbah.
وقد جرت عادة بعض العوام بالسجود عند قيام المؤذنين ولم يثبت له أصل في أثر ولا خبر ولكنه إن وافق سجود تلاوة فلا بأس بها للدعاء لأنه وقت فاضل ولا يحكم بتحريم هذا السجود فإنه لا سبب لتحريمه وقد روي عن علي وعثمان ﵄ أنهما قالا من استمع وأنصت فله أجران ومن لم يستمع وأنصت فله أجر ومن سمع ولغا فعليه وزران ومن لم يستمع ولغا فعليه وزر واحد
Kebiasaan sebagian orang awam telah berlaku untuk bersujud ketika para muazin berdiri, padahal hal itu tidak memiliki dasar yang sahih dalam atsar maupun riwayat. Akan tetapi, jika hal itu bertepatan dengan sujud tilawah, maka tidak mengapa berdoa di dalamnya karena itu adalah waktu yang utama. Sujud ini tidak dihukumi haram karena tidak ada alasan untuk mengharamkannya. Diriwayatkan dari Ali dan Utsman radhiyallahu 'anhuma bahwa keduanya berkata: "Barang siapa mendengarkan dan diam memperhatikan, maka baginya dua pahala. Barang siapa tidak mendengarkan namun tetap diam memperhatikan, maka baginya satu pahala. Barang siapa mendengarkan tetapi berbuat sia-sia, maka atasnya dua dosa. Dan barang siapa tidak mendengarkan serta berbuat sia-sia, maka atasnya satu dosa."
وَقَالَ ﷺ مَنْ قَالَ لصاحبه والإمام يخطب أنصت أو مه فَقَدْ لَغَا وَمَنْ لَغَا وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلَا جُمُعَةَ لَهُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْإِسْكَاتَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ بِإِشَارَةٍ أَوْ رَمْيِ حَصَاةٍ لا بالنطق
Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa berkata kepada temannya saat imam sedang berkhotbah, 'Diamlah!' atau 'Hentikan!', maka ia telah berbuat sia-sia. Dan barang siapa berbuat sia-sia saat imam berkhotbah, maka tidak ada pahala Jumat baginya." Hal ini menunjukkan bahwa menegur agar diam hendaknya dilakukan dengan isyarat atau melempar kerikil kecil, bukan dengan ucapan.
وفي حديث أبي ذر أنه لما سأل أبياً والنبي ﷺ يخطب فقال متى أنزلت هذه السورة فأومأ إليه أن أسكت فلما نزل رسول الله ﷺ قال له أبي اذهب فلا جمعة لك فشكاه أبو ذر إلى النبي ﷺ فقال صدق أبي وإن كان بعيداً من الإمام فلا ينبغي أن يتكلم في العلم وغيره بل يسكت لأن كل ذلك يتسلل ويفضي إلى هينمة حتى ينتهي إلى المستمعين ولا يجلس في حلقة من يتكلم فمن عجز عن الاستماع بالبعد فلينصت فهو المستحب
Dalam hadis Abu Dzar disebutkan bahwa ketika ia bertanya kepada Ubay saat Nabi ﷺ sedang berkhotbah, "Kapan surah ini diturunkan?", Ubay memberi isyarat kepadanya agar diam. Ketika Rasulullah ﷺ turun dari mimbar, Ubay berkata kepadanya, "Pergilah, tidak ada pahala Jumat bagimu." Lalu Abu Dzar mengadukannya kepada Nabi ﷺ, maka beliau bersabda, "Ubay benar." Dan jikalau seseorang berada jauh dari imam, tidak sepatutnya ia berbicara dalam hal ilmu maupun selainnya, melainkan harus diam, karena semua percakapan itu merambat dan menimbulkan suara bisik-bisik hingga sampai kepada orang-orang yang mendengarkan. Serta janganlah ia duduk dalam lingkar majelis orang yang berbicara. Barang siapa yang tidak mampu mendengarkan karena jarak yang jauh, hendaklah ia diam memperhatikan, karena itulah yang dianjurkan.
وإذا كان تكره الصلاة في وقت خطبة الإمام فالكلام أولى بالكراهية
Apabila shalat saja dimakruhkan pada saat khatib berkhotbah, maka berbicara tentu lebih utama untuk dimakruhkan.
وقال علي كرم الله وجهه تكره الصلاة في أربع ساعات بعد الفجر وبعد العصر ونصف النهار والصلاة والإمام يخطب
Ali karramallahu wajhah berkata: "Shalat dimakruhkan dalam empat waktu: setelah shubuh, setelah ashar, tengah hari (saat matahari tepat di atas kepala), dan shalat ketika imam sedang berkhotbah."
التاسع أن يراعي في قدوة الجمعة ما ذكرناه في غيرها فإذا سمع قراءة الإمام لم يقرأ سوى الفاتحة
Kesembilan: Hendaklah ia memperhatikan aturan bermakmum dalam shalat Jumat sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam shalat lainnya. Apabila ia mendengar bacaan imam, ia tidak membaca selain Al-Fatihah.
فإذا فرغ من الجمعة قرأ الحمد لله سبع مرات قبل أن يتكلم وقل هو الله أحد والمعوذتين سبعاً سبعاً وروى بعض السلف أن من فعله عصم من الجمعة إلى الجمعة وكان حرزاً له من الشيطان ويستحب أن يقول بعد الجمعة اللهم يا غني يا حميد يا مبدىء يا معيد يا رحيم يا ودود أغنني بحلالك عن حرامك وبفضلك عمن سواك يقال من داوم على هذا الدعاء أغناه الله سبحانه عن خلقه ورزقه من حيث لا يحتسب ثم يصلي بعد الجمعة ست ركعات فقد روى ابن عمر ﵄ أنه ﷺ كان يصلي بعد الجمعة ركعتين وروى أبو هريرة أربعاً وروى علي وعبد الله ابن عباس ﵃ ستاً والكل صحيح في أحوال مختلفة والأكمل أفضل
Setelah selesai dari shalat Jumat, hendaknya ia membaca surah Al-Fatihah sebanyak tujuh kali sebelum berbicara, lalu surah Al-Ikhlas serta Al-Mu'awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas) masing-masing tujuh kali. Sebagian ulama salaf meriwayatkan bahwa barangsiapa melakukan hal tersebut, ia akan dipelihara dari Jumat ke Jumat berikutnya dan hal itu menjadi benteng baginya dari godaan setan. Disunnahkan pula membaca doa setelah Jumat: "Allahumma ya Ghaniyyu ya Hamidu ya Mubdi'u ya Mu'idu ya Rahimu ya Wadud, aghnini bihalalika 'an haramika wa bifadhlika 'amman siwak" (Ya Allah, wahai Yang Mahakaya, wahai Yang Maha Terpuji, wahai Yang Maha Memulai, wahai Yang Maha Mengembalikan, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Pengasih; cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal dari yang haram, dan dengan karunia-Mu dari selain Engkau). Dikatakan bahwa barangsiapa melanggengkan doa ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mencukupinya dari ketergantungan kepada makhluk-Nya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Kemudian, ia melaksanakan shalat sunnah setelah Jumat sebanyak enam rakaat. Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat dua rakaat setelah Jumat. Abu Hurairah meriwayatkan empat rakaat, sedangkan Ali dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhum meriwayatkan enam rakaat. Semuanya shahih dalam kondisi yang berbeda-beda, dan yang lebih sempurna adalah yang lebih utama.
العاشر: أن يلازم المسجد حتى يصلي العصر فإن أقام إلى المغرب فهو الأفضل يقال من صلى العصر في الجامع كان له ثواب الحج ومن صلى المغرب فله ثواب حجة وعمرة فإن لم يأمن التصبع ودخول الآفة عليه من نظر الخلق إلى اعتكافه أو خاف الخوض فيما لا يعني فالأفضل أن يرجع إلى بيته ذَاكِرًا اللَّهَ ﷿ مُفَكِّرًا فِي آلَائِهِ شاكر اللَّهَ تَعَالَى عَلَى تَوْفِيقِهِ خَائِفًا مِنْ تَقْصِيرِهِ مراقباً لقلبه ولسانه إلى غروب الشمس حتى لا تفوته الساعة الشريفة ولا ينبغي أن يتكلم في الجامع وغيره من المساجد بحديث الدنيا قال ﷺ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زمان يكون حديثهم في مساجدهم أمر دنياهم ليس لله تعالى فيهم حاجة فلا تجالسوهم
Kesepuluh: Hendaknya ia beriktikaf atau menetap di masjid hingga melaksanakan shalat Asar. Jika ia tinggal hingga Maghrib, maka itu lebih utama. Dikatakan bahwa barangsiapa shalat Asar di masjid jami', ia mendapatkan pahala haji, dan barangsiapa shalat Maghrib, ia mendapatkan pahala haji dan umrah. Namun, jika ia tidak merasa aman dari sikap pura-pura khusyuk (tasabbu') dan masuknya penyakit batin akibat pandangan manusia terhadap iktikafnya, atau ia khawatir terlibat dalam pembicaraan yang tidak berguna, maka yang lebih utama adalah kembali ke rumahnya seraya berzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla, merenungkan nikmat-nikmat-Nya, bersyukur kepada Allah Ta'ala atas taufik-Nya, merasa takut akan kelalaian dirinya, serta menjaga hati dan lisannya hingga matahari terbenam agar tidak terlewatkan saat yang mulia (sa'at syarifah). Tidak sepantasnya ia berbicara tentang urusan dunia di masjid jami' maupun masjid-masjid lainnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Akan datang suatu zaman kepada manusia di mana pembicaraan mereka di masjid-masjid adalah tentang urusan dunia mereka. Allah Ta'ala tidak membutuhkan mereka sedikit pun, maka janganlah kalian duduk bersama mereka."