الفصل الثاني في أسرار الصوم وشروطه الباطنة
الفصل الثاني في أسرار الصوم وشروطه الباطنة
Pasal Kedua: Tentang Rahasia-Rahasia Puasa dan Syarat-Syarat Batinnya.
اعْلَمْ أَنَّ الصَّوْمَ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ صَوْمُ الْعُمُومِ وصوم الخصوص وصوم خصوص الخصوص
Ketahuilah bahwa puasa itu ada tiga tingkatan: puasa orang awam (shaum al-'umum), puasa orang khusus (shaum al-khushush), dan puasa orang yang sangat khusus (shaum khushush al-khushush).
وأما صَوْمُ الْعُمُومِ فَهُوَ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قضاء الشهوة كما سبق تفصيله
Adapun puasa orang awam, ia adalah menahan perut dan kemaluan dari memuaskan syahwat, sebagaimana perinciannya telah lalu.
وَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوصِ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ
Adapun puasa orang khusus, ia adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan dari dosa-dosa.
وما صوم خصوص الخصوص فصوم القلب عن الهضم الدَّنِيَّةِ وَالْأَفْكَارِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللَّهِ ﷿ بالكلية ويحصل الفطر في هذا الصوم بالفكر فيما سوى الله ﷿ واليوم الآخر وبالفكر في الدنيا إلا دنيا تراد للدين فإن ذلك من زاد الآخرة وليس من الدنيا حتى قال أرباب القلوب من تحركت همته بالتصرف في نهاره لتدبير ما يفطر عليه كتبت عليه خطيئة فإن ذلك من قلة الوثوق بفضل الله ﷿ وقلة اليقين برزقه الموعود وهذه رتبة الأنبياء والصديقين والمقربين ولا يطول النظر في تفصيلها قولاً ولكن في تحقيقها عملاً فإنه إقبال بكنه الهمة على الله ﷿ وانصراف عن غير الله سبحانه وتلبس بمعنى قوله ﷿ قل الله ثم ذرهم في خوضهم يلعبون
Sedangkan puasa orang yang sangat khusus, ia adalah puasa hati dari cita-cita yang rendah dan pikiran-pikiran duniawi, serta menahan hati dari selain Allah 'Azza wa Jalla secara keseluruhan. Pembatalan dalam puasa tingkatan ini terjadi dengan memikirkan selain Allah 'Azza wa Jalla dan hari akhir, serta dengan memikirkan dunia, kecuali dunia yang ditujukan demi agama, karena hal itu termasuk bekal akhirat dan bukan bagian dari dunia. Hingga para pemilik hati (arbab al-qulub) berkata: "Barangsiapa yang timbul hasratnya di siang hari untuk merencanakan apa yang akan ia pakai untuk berbuka, niscaya dicatat atasnya suatu kesalahan." Sebab hal itu bersumber dari kurangnya rasa percaya terhadap karunia Allah 'Azza wa Jalla dan kurangnya keyakinan akan rezeki yang telah Dia janjikan. Ini adalah derajat para nabi, para shiddiqin, dan orang-orang yang didekatkan kepada-Nya (al-muqarrabun). Perinciannya tidak perlu dipanjangkan lewat perkataan, tetapi hendaklah diwujudkan melalui pengamalan, yaitu dengan menghadapkan segenap hasrat dan kehendak secara total kepada Allah 'Azza wa Jalla, berpaling dari selain Allah Subhanahu, serta menghayati makna firman-Nya 'Azza wa Jalla: "Katakanlah: 'Allah', kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan mereka."
وأما صوم الخصوص وهو صوم الصالحين فهو كف الجوارح عن الآثام وتمامه بستة أُمُورٍ
Adapun puasa orang khusus, yang merupakan puasanya orang-orang saleh, adalah menahan anggota tubuh dari dosa-dosa; kesempurnaannya dicapai dengan enam perkara:
الْأَوَّلُ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّهُ عَنِ الِاتِّسَاعِ فِي النَّظَرِ إِلَى كُلِّ مَا يُذَمُّ وَيُكْرَهُ وَإِلَى كُلِّ مَا يُشْغِلُ الْقَلْبَ وَيُلْهِي عَنْ ذكر الله ﷿ قال ﷺ النظرة سهم مسموم من سهام إبليس لعنه الله فمن تركها خوفاً من الله أتاه الله ﷿ إيماناً يجد حلاوته في قلبه وروى جابر عن أنس عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أنه قال خمس يفطرن الصائم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة
Yang pertama: Menundukkan pandangan (ghaddhul bashar) dan menahannya dari melepaskan pandangan kepada segala sesuatu yang dicela dan dibenci, serta kepada segala sesuatu yang memalingkan hati dan melalaikan dari mengingat Allah 'Azza wa Jalla. Rasulullah ﷺ bersabda: "Pandangan mata adalah salah satu anak panah beracun dari anak-anak panah Iblis—semoga Allah melaknatinya. Maka barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah 'Azza wa Jalla memberikan kepadanya keimanan yang ia rasakan kemanisannya di dalam hatinya." Dan Jabir meriwayatkan dari Anas, dari Rasulullah ﷺ bahwasanya beliau bersabda: "Lima perkara yang membatalkan (pahala) orang yang berpuasa: dusta, ghibah (mengumpat), namimah (adu domba), sumpah palsu, dan memandang dengan syahwat."
الثاني حفظ اللسان عن الهذبان وَالْكَذِبِ وَالْغَيْبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْفُحْشِ وَالْجَفَاءِ وَالْخُصُومَةِ وَالْمِرَاءِ وإلزامه السكوت وشغله بذكر الله سبحانه وتلاوة القرآن فهذا صوم اللسان
Yang kedua: Menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, ghibah, adu domba, kata-kata kotor, sikap kasar, pertengkaran, dan perdebatan (mira'); serta mewajibkannya untuk diam dan menyibukkannya dengan mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan membaca Al-Qur'an. Maka inilah puasa lisan.
وقد قال سفيان الغيبة تفسد الصوم رواه بشر بن الحارث عنه
Sungguh Sufyan telah berkata: "Ghibah itu merusak puasa," sebagaimana diriwayatkan oleh Bisyr bin Al-Harits darinya.
وروى ليث عن مجاهد خصلتان يفسدان الصيام الغيبة والكذب
Dan Laits meriwayatkan dari Mujahid: "Dua perkara yang merusak puasa: ghibah dan dusta."
وقال ﷺ إنما الصوم جنة فإذا كان أحدكم صائماً فلا يرفث ولا يجهل وإن امرؤ قاتله أو شاتمه فليقل إني صائم إني صائم وجاء في الخبر إن امرأتين صامتا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فأجهدهما الجوع والعطش من آخر النهار حتى كادتا أن تتلفا فبعثتا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يستأذناه في الإفطار فأرسل إليهما قدحاً وقال ﷺ قل لهما
Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya puasa itu adalah perisai. Apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor (rafats) dan jangan pula berbuat jahil. Jika ada seseorang yang mengundangnya berkelahi atau mencelanya, hendaklah ia mengatakan: 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa'." Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa dua orang wanita berpuasa pada zaman Rasulullah ﷺ, lalu rasa lapar dan dahaga sangat menyiksa mereka di akhir siang hingga mereka hampir binasa. Maka keduanya mengutus utusan kepada Rasulullah ﷺ untuk memohon izin berbuka. Lalu Beliau ﷺ mengirimkan sebaskam (wadah) kepada mereka dan bersabda: "Katakanlah kepada mereka berdua:
قيئا فيه ما أكلتما فقاءت إحداهما نصفه دماً عبيطاً ولحماً غريضاً وقاءت الأخرى مثل ذلك حتى ملأتاه فعجب الناس من ذلك فقال ﷺ هتان صامتا عما أحل الله لهما وأفطرتا على ما حرم الله تعالى عليهما قعدت إحداهما إلى الأخرى فجعلتا يغتابان الناس فهذا ما أكلتا من لحومهم
'Muntahkanlah ke dalamnya apa yang telah kalian makan!' Maka salah seorang dari keduanya memuntahkan darah segar dan daging mentah hingga memenuhi separuh wadah, dan yang seorang lagi memuntahkan hal serupa hingga wadah itu penuh. Manusia pun terheran-heran atas kejadian tersebut. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Dua wanita ini telah berpuasa dari apa yang dihalalkan Allah bagi mereka, tetapi mereka berbuka dengan apa yang diharamkan Allah 'Azza wa Jalla atas mereka. Salah seorang dari mereka duduk bersama yang lain, lalu keduanya mulai menggunjing (ghibah) orang-orang. Maka inilah apa yang telah mereka makan dari daging-daging manusia.'"
الثَّالِثُ كَفُّ السَّمْعِ عَنِ الْإِصْغَاءِ إِلَى كُلِّ مَكْرُوهٍ لِأَنَّ كُلَّ مَا حُرِّمَ قَوْلُهُ حُرِّمَ الْإِصْغَاءُ إِلَيْهِ وَلِذَلِكَ سَوَّى اللَّهُ ﷿ بين المستمع وَأَكْلِ السُّحْتِ فَقَالَ تَعَالَى سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ للسحت وقال ﷿ لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وأكلهم السحت فالسكوت على الغيبة حرام وقال تعالى إنكم إذاً مثلهم ولذلك قال ﷺ المغتاب والمستمع شريكان في لإثم
Yang ketiga: Menjaga pendengaran dari mendengarkan segala hal yang dibenci (oleh syariat). Sebab, segala sesuatu yang haram diucapkan, haram pula untuk didengarkan. Oleh karena itu, Allah 'Azza wa Jalla menyetarakan antara pendengar kebohongan dengan pemakan harta yang haram (suht). Allah Ta'ala berfirman: "Merekalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong lagi memakan harta yang haram." (QS. Al-Ma'idah: 42). Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman: "Mengapa orang-orang alim dan alim ulama mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan dosa dan memakan harta yang haram?" (QS. Al-Ma'idah: 63). Maka berdiam diri atas penggunjingan (ghibah) adalah haram. Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya kamu jika demikian, tentulah sama dengan mereka." (QS. An-Nisa': 140). Oleh sebab itu Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang yang menggunjing dan yang mendengarkannya adalah dua sekutu dalam dosa."
الرابع كف بقية الجوارح عن الآثام من اليد والرجل عن الْمَكَارِهِ وَكَفُّ الْبَطْنِ عَنِ الشُّبُهَاتِ وَقْتَ الْإِفْطَارِ
Yang keempat: Menjaga seluruh anggota tubuh lainnya dari dosa-dosa, seperti menahan tangan dan kaki dari hal-hal yang dibenci (syariat), serta menahan perut dari makanan yang syubhat pada saat berbuka.
فلا معنى للصوم وهو الكف عَنِ الطَّعَامِ الْحَلَالِ ثُمَّ الْإِفْطَارِ عَلَى الْحَرَامِ فَمِثَالُ هَذَا الصَّائِمِ مِثَالُ مَنْ يَبْنِي قَصْرًا ويهدم مصراً فإن الطعام الحلال إنما يضر بكثرته لا بنوعه فالصوم لتقليله
Maka tidak ada artinya puasa—yakni menahan diri dari makanan yang halal—kemudian berbuka dengan yang haram. Perumpamaan orang yang berpuasa seperti ini adalah seperti orang yang membangun sebuah istana tetapi merobohkan sebuah kota. Sesungguhnya makanan yang halal itu hanya memberi mudarat karena jumlahnya yang berlebihan, bukan karena jenis bahannya; sedangkan puasa bertujuan untuk menyedikitkannya.
وتارك الاستكثار من الدواء خوفاً من ضرره إذا عدل إلى تناول السم كان سفيهاً والحرام سم مهلك للدين والحلال دواء ينفع قليله ويضر كثيره وقصد الصوم تقليله وَقَدْ قَالَ ﷺ كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ فَقِيلَ هُوَ الَّذِي يُفْطِرُ عَلَى الْحَرَامِ وَقِيلَ هُوَ الَّذِي يُمْسِكُ عَنِ الطَّعَامِ الْحَلَالِ وَيُفْطِرُ عَلَى لُحُومِ النَّاسِ بِالْغِيبَةِ وَهُوَ حَرَامٌ وَقِيلَ هُوَ الَّذِي لَا يَحْفَظُ جَوَارِحَهُ عَنِ الْآثَامِ
Orang yang meninggalkan berlebih-lebihan dalam meminum obat karena takut akan bahayanya, lalu berpaling dengan mengonsumsi racun, sungguh ia adalah orang yang dungu. Harta atau makanan yang haram adalah racun yang membinasakan agama, sedangkan yang halal adalah obat yang bermanfaat jika sedikit dan membahayakan jika berlebihan, sementara maksud dari puasa adalah untuk menyedikitkannya. Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Betapa banyak orang yang berpuasa, tidak ada yang didapatkannya dari puasanya melainkan rasa lapar dan dahaga." Dikatakan bahwa ia adalah orang yang berbuka dengan makanan yang haram; ada yang mengatakan ia adalah orang yang menahan diri dari makanan halal lalu berbuka dengan memakan daging manusia melalui penggunjingan (ghibah) yang hukumnya haram; dan dikatakan pula ia adalah orang yang tidak menjaga anggota tubuhnya dari dosa.
الْخَامِسُ أَنْ لَا يَسْتَكْثِرَ مِنَ الطعام الحلال وقت الإفطار بحيث يمتلىء جوفه فَمَا مِنْ وِعَاءٍ أَبْغَضُ إِلَى اللَّهِ ﷿ من بطن مليء مِنْ حَلَالٍ
Yang kelima: Hendaknya tidak memperbanyak makan makanan yang halal pada saat berbuka hingga memenuhi rongga perutnya. Sebab, tidak ada wadah yang paling dimurkai oleh Allah 'Azza wa Jalla daripada perut yang penuh dengan makanan yang halal.
وَكَيْفَ يُسْتَفَادُ مِنَ الصَّوْمِ قَهْرُ عَدُوِّ اللَّهِ وَكَسْرُ الشَّهْوَةِ إِذَا تَدَارَكَ الصَّائِمُ عِنْدَ فِطْرِهِ مَا فَاتَهُ ضَحْوَةَ نَهَارِهِ وَرُبَّمَا يَزِيدُ عَلَيْهِ فِي أَلْوَانِ الطَّعَامِ حَتَّى اسْتَمَرَّتِ العادات بأن تدخر جميع الأطعمة لرمضان فيؤكل من الأطعمة فِيهِ مَا لَا يُؤْكَلُ فِي عِدَّةِ أَشْهُرٍ
Bagaimana mungkin tujuan puasa untuk menundukkan musuh Allah (seperti syaitan) dan mematahkan syahwat dapat tercapai, jika orang yang berpuasa saat berbuka justru 'membalas dendam' atas apa yang terlewatkan dari makanannya di siang hari? Bahkan, terkadang ia menambah beraneka ragam hidangan, hingga sudah menjadi kebiasaan untuk menyimpan berbagai jenis makanan khusus untuk bulan Ramadan, sehingga dimakanlah pada bulan itu makanan yang tidak dimakan dalam rentang waktu beberapa bulan.
وَمَعْلُومٌ أَنَّ مَقْصُودَ الصَّوْمِ الْخَوَاءُ وَكَسْرُ الْهَوَى لِتَقْوَى النَّفْسُ عَلَى التَّقْوَى وَإِذَا دُفِعَتِ الْمَعِدَةُ مِنْ ضَحْوَةِ نَهَارٍ إِلَى الْعِشَاءِ حَتَّى هَاجَتْ شَهْوَتُهَا وَقَوِيَتْ رَغْبَتُهَا ثُمَّ أُطْعِمَتْ مِنَ اللَّذَّاتِ وَأُشْبِعَتْ زَادَتْ لَذَّتُهَا وَتَضَاعَفَتْ قُوَّتُهَا وَانْبَعَثَ مِنَ الشَّهَوَاتِ مَا عَسَاهَا كَانَتْ رَاكِدَةً لَوْ تُرِكَتْ عَلَى عَادَتِهَا
Telah dimaklumi bahwa maksud dari puasa adalah kekosongan perut (khawa') dan mematahkan hawa nafsu agar jiwa menjadi kuat dalam bertakwa. Apabila perut ditahan dari pagi hingga malam hari sampai bergejolak syahwatnya dan menguat keinginannya, lalu kemudian diberi makan berupa kenikmatan-kenikmatan dan dikenyangkan, maka makin bertambahlah kelezatannya, melipat ganda kekuatannya, dan bangkitlah syahwat-syahwat yang sekiranya tetap tenang apabila dibiarkan menurut kebiasaannya.
فَرُوحُ الصَّوْمِ وَسِرُّهُ تَضْعِيفُ الْقُوَى الَّتِي هِيَ وَسَائِلُ الشَّيْطَانِ فِي الْعَوْدِ إِلَى الشرور ولن يحصل ذلك إلا بالتقليل وهو أن يأكل أكلته التي كان يأكلها كل ليلة لو لم يصم فأما إذا جمع ما كان يأكل ضحوة إلى ما كان يأكل ليلاً فلم ينتفع بصومه بل من الآداب أن لا يكثر النوم بالنهار حتى يحس بالجوع والعطش ويستشعر ضعف القوي فيصفو عند ذلك قلبه ويستديم في كل ليلة قدراً من الضعف حتى يخف عليه تهجده وأوراده فعسى الشيطان أن لا يحوم على قلبه فينظر إلى ملكوت السماء
Maka ruh puasa dan rahasianya adalah melemahkan kekuatan-kekuatan yang menjadi sarana setan untuk mengembalikan manusia kepada keburukan. Hal itu tidak akan tercapai kecuali dengan menyedikitkan makan, yaitu hendaknya seseorang memakan porsi makan malam yang biasa ia makan seandainya ia tidak berpuasa. Adapun jika ia menggabungkan apa yang biasa ia makan di siang hari dengan apa yang dimakan di malam hari, maka ia tidak mendapatkan manfaat dari puasanya. Bahkan di antara adab puasa adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari agar ia merasakan rasa lapar dan dahaga serta merasakan lemahnya kekuatan, sehingga pada saat itulah hatinya menjadi jernih. Ia senantiasa mempertahankan kadar kelemahan itu pada setiap malam agar salat tahajud dan wirid-wiridnya terasa ringan, dengan harapan setan tidak mengelilingi hatinya sehingga ia dapat memandang ke alam Malakut langit.
وليلة القدر عبارة عن الليلة التي ينكشف فيها شيء من الملكوت وهو المراد بقوله تعالى إنا أنزلناه في ليلة القدر وَمَنْ جَعَلَ بَيْنَ قَلْبِهِ وَبَيْنَ صَدْرِهِ مِخْلَاةً من الطعام فهو عنه محجوب ومن أخلى معدته فلا يكفيه ذلك لرفع الحجاب ما لم يخل همته عن غير الله ﷿ وذلك هو الأمر كله ومبدأ جميع ذلك تقليل الطعام وسيأتي له مزيد بيان في كتاب الأطعمة إن شاء الله ﷿
Dan Lailatul Qadar adalah ungkapan tentang malam tersingkapnya sebagian dari alam Malakut, dan itulah yang dimaksud dengan firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Kami telah menyelenggarakannya pada Malam Kemuliaan (Lailatul Qadar)." (QS. Al-Qadr: 1). Siapa saja yang menjadikan tempat antara hati dan dadanya sebagai kantong wadah makanan, maka ia akan terhalang (mahjub) darinya. Dan barang siapa yang mengosongkan perutnya, hal itu belum cukup untuk mengangkat hijab selama ia belum mengosongkan tekad kehendaknya (himmah) dari selain Allah 'Azza wa Jalla. Itulah pokok dari seluruh perkara ini, dan permulaan dari semua itu adalah menyedikitkan makan. Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini akan hadir dalam Kitab Al-Ath'imah (Kitab tentang Makanan), insya Allah 'Azza wa Jalla.
السادس أن يكون قلبه بعد الإفطار معلقاً مُضْطَرِبًا بَيْنَ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ إِذْ لَيْسَ يَدْرِي أَيُقْبَلُ صَوْمُهُ فَهُوَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ أَوْ يُرَدُّ عَلَيْهِ فَهُوَ مِنَ الْمَمْقُوتِينَ وَلْيَكُنْ كَذَلِكَ فِي آخر كل عبادة يفرغ
Yang keenam: Hendaklah hatinya setelah berbuka tergantung dan bergolak di antara rasa takut (khauf) dan harap (raja'), sebab ia tidak tahu apakah puasanya diterima sehingga ia termasuk golongan al-muqarrabun (orang-orang yang didekatkan kepada Allah), ataukah puasanya ditolak sehingga ia termasuk golongan orang-orang yang dimurkai. Dan hendaknya ia bersikap demikian di setiap akhir ibadah yang selesai ia kerjakan.
منها فقد روي عن الحسن بن أبي الحسن البصري أنه مر بقوم وهم يضحكون فقال إن الله ﷿ جعل شهر رمضان مضماراً لخلقه يستبقون فيه لطاعته فسبق قوم ففازوا وتخلف أقوام فخابوا فالعجب كل العجب للضاحك اللاعب في اليوم الذي فاز فيه السابقون وخاب فيه المبطلون
Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Al-Bashri bahwa beliau pernah melewati suatu kaum yang sedang tertawa-tawa, lalu beliau berkata: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla menjadikan bulan Ramadan sebagai gelanggang perlombaan bagi makhluk-Nya untuk saling mendahului dalam ketaatan kepada-Nya. Maka suatu kaum berhasil mendahului sehingga mereka beruntung, dan kaum lainnya tertinggal sehingga mereka merugi. Maka amat sangat mengherankan orang yang tertawa dan bermain-main pada hari ketika orang-orang yang berpacu meraih kemenangan dan orang-orang yang berbuat kebatilan mengalami kerugian."
أما والله لو كشف الغطاء لاشتغل المحسن بإحسانه والمسيء بإساءته أي كان سرور المقبول يشغله عن اللعب وحسرة المردود تسد عليه باب الضحك وعن الأحنف بن قيس أنه قيل له إنك شيخ كبير وإن الصيام يضعفك فقال إني أعده لسفر طويل والصبر على طاعة الله سبحانه أهون من الصبر على عذابه فهذه هي المعاني الباطنة في الصوم
"Demi Allah, sekiranya penutup (ghitha') itu disingkapkan, niscaya orang yang berbuat baik akan sibuk dengan kebaikannya dan orang yang berbuat jahat akan sibuk dengan kejahatannya." Maksudnya, kegembiraan orang yang diterima amalnya akan menyibukkannya dari bermain-main, dan penyesalan orang yang ditolak amalnya akan menutup pintu tawa baginya. Diriwayatkan dari Al-Ahnaf bin Qais bahwa pernah dikatakan kepadanya: "Sesungguhnya engkau sudah tua renta, dan puasa itu membuatmu lemah." Beliau menjawab: "Sesungguhnya aku menyiapkannya untuk perjalanan yang sangat panjang. Dan bersabar atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala itu lebih ringan daripada bersabar atas azab-Nya." Maka inilah makna-makna batiniah dalam puasa.
فإن قلت فمن اقتصر على كف شهوة البطن والفرج وترك هذه المعاني فقد قال الفقهاء
Jika engkau bertanya: "Lalu barang siapa yang hanya membatasi diri pada menahan syahwat perut dan kemaluan serta meninggalkan makna-makna batin ini, para ahli fiqih (fuqaha') mengatakan:
صومه صحيح فما معناه فاعلم أن فقهاء الظاهر يثبتون شروط الظاهر بأدلة هي أضعف من هذه الأدلة التي أوردناها في هذه الشروط الباطنة لا سيما الغيبة وأمثالها ولكن ليس إلى فقهاء الظاهر من التكليفات إلا ما يتيسر على عموم الغافلين المقبلين على الدنيا الدخول تحته
bahwa puasanya sah, maka apa maknanya?" Maka ketahuilah bahwa para ahli fiqih lahiriah (fuqaha' adh-dhahir) menetapkan syarat-syarat lahiriah dengan dalil-dalil yang sebenarnya lebih lemah daripada dalil-dalil yang kami kemukakan dalam syarat-syarat batiniah ini, khususnya mengenai ghibah (menggunjing) dan sejenisnya. Namun, kewajiban beban hukum (taklif) yang ditangani para ahli fiqih lahiriah hanyalah terbatas pada apa yang mudah dilaksanakan oleh orang-orang awam yang lalai dan mengagungkan dunia untuk dapat memenuhinya.
فأما علماء الآخرة فيعنون بالصحة القبول وبالقبول الوصول إلى المقصود ويفهمون أن المقصود من الصوم التخلق بخلق من أخلاق الله ﷿ وهو الصمدية والاقتداء بالملائكة في الكف عن الشهوات بحسب الإمكان فإنهم منزهون عن الشهوات
Adapun ulama akhirat, mereka mengartikan 'keabsahan' (ash-shihhah) sebagai 'penerimaan' (al-qabul), dan 'penerimaan' sebagai 'tercapainya tujuan' (al-wushul ilal-maqsud). Mereka memahami bahwa tujuan dari puasa adalah berakhlak dengan salah satu sifat Allah 'Azza wa Jalla, yaitu sifat Maha Menjadi Tumpuan (Ash-Shamadiyyah), serta meneladani para malaikat dalam menahan diri dari berbagai syahwat sejauh kemampuan, sebab malaikat itu terbebas dari syahwat.
والإنسان رتبته فوق رتبة البهائم لقدرته بنور العقل على كسر شهوته ودون رتبة الملائكة لاستيلاء الشهوات عليه وكونه مبتلى بمجاهدتها فكلما انهمك في الشهوات انحط إلى أسفل السافلين والتحق بغمار البهائم وكلما قمع الشهوات ارتفع إلى أعلى عليين والتحق بأفق الملائكة
Kedudukan manusia berada di atas derajat binatang karena kemampuannya dengan cahaya akal untuk mematahkan syahwatnya, namun berada di bawah derajat malaikat karena ia dikuasai oleh syahwat dan diuji untuk memeranginya (mujahadah). Oleh karena itu, setiap kali manusia tenggelam dalam syahwat, ia akan merosot ke tingkat yang paling rendah (asfala safilin) dan tergolong ke dalam kawanan binatang. Sebaliknya, setiap kali ia menundukkan syahwatnya, ia akan naik ke tingkat yang paling tinggi ('illiyyin) dan bergabung ke dalam alam para malaikat.
والملائكة مقربون من الله ﷿ والذي يقتدي بهم ويتشبه بأخلاقهم يقرب من الله ﷿ كقربهم فإن الشبيه من القريب قريب وليس القريب ثم بالمكان بل بالصفات
Malaikat adalah hamba-hamba yang didekatkan kepada Allah 'Azza wa Jalla. Barang siapa meneladani mereka dan menyerupakan diri dengan akhlak mereka, maka ia akan dekat dengan Allah 'Azza wa Jalla sebagaimana kedekatan mereka. Sebab, sesuatu yang menyerupai yang dekat itu adalah dekat pula. Kedekatan di sana bukanlah kedekatan tempat, melainkan kedekatan sifat.
وإذا كان هذا سر الصوم عند أرباب الألباب وأصحاب القلوب فأي جدوى لتأخير أكلة وجمع أكلتين عند العشاء مع الانهماك في الشهوات الأخر طول النهار ولو كان لمثله جدوى فأي معنى لقوله ﷺ كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ولهذا قال أبو الدرداء يا حبذا نوم الأكياس وفطرهم كيف لا يعيبون صوم الحمقى وسهرهم ولذرة من ذوي يقين وتقوى أفضل وأرجح من أمثال الجبال عبادة من المغتربين ولذلك قال بعض العلماء كم من صائم مفطر وكم من مفطر صائم
Jika demikian rahasia puasa bagi para pemilik akal jernih (arbabul albab) dan pemilik hati (ashhabul qulub), maka apa faedahnya sekadar menunda satu kali makan lalu menggabungkan dua porsi makan pada waktu malam, sementara ia tetap tenggelam dalam syahwat-syahwat lainnya sepanjang hari? Sekiranya perbuatan semacam itu ada manfaatnya, lalu apa arti dari sabda Nabi ﷺ: "Betapa banyak orang yang berpuasa, tidak ada yang didapatkannya dari puasanya melainkan rasa lapar dan dahaga"? Oleh karena itulah Abu ad-Darda' r.a. berkata: "Betapa indahnya tidurnya orang-orang yang cerdas (berakal) dan berbukanya mereka, bagaimana mungkin mereka tidak mencela puasanya orang-orang yang bodoh dan salat malam mereka? Sungguh, pahala seberat zarah dari orang yang memiliki keyakinan (yaqin) dan ketakwaan adalah lebih utama dan lebih berat timbangannya daripada ibadah sebesar gunung-gunung milik orang-orang yang terperdaya (al-mughtarrin)." Oleh sebab itu pula sebagian ulama berkata: "Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi sebenarnya ia berbuka (tidak berpuasa), dan betapa banyak orang yang berbuka tetapi sebenarnya ia sedang berpuasa."
والمفطر الصائم هو الذي يحفظ جوارحه عن الآثام ويأكل ويشرب والصائم المفطر هو الذي يجوع ويعطش ويطلق جوارحه
Orang yang berbuka tetapi sesungguhnya berpuasa adalah orang yang menjaga anggota tubuhnya dari dosa-dosa walaupun ia makan dan minum. Sedangkan orang yang berpuasa tetapi sesungguhnya berbuka adalah orang yang menahan lapar dan dahaga namun melepaskan anggota tubuhnya dalam kemaksiatan.
ومن فهم معنى الصوم وسره علم أن مثل من كف عن الأكل والجماع وأفطر بمخالطة الآثام كمن مسح على عضو من أعضائه في الوضوء ثلاث مرات فقد وافق في الظاهر العدد إلا أنه ترك المهم وهو الغسل فصلاته مردودة عليه بجهله ومثل من أفطر بالأكل وصام بجوارحه عن المكاره كمن غسل أعضاؤه مرة مرة فصلاته متقبلة إن شاء الله لإحكامه الأصل وإن ترك الفضل
Barangsiapa memahami makna puasa dan rahasianya, niscaya ia mengetahui bahwa perumpamaan orang yang menahan diri dari makan dan jima' namun membatalkan pahala puasanya dengan melakukan dosa-dosa, adalah seperti orang yang mengusap salah satu anggota wudunya sebanyak tiga kali; secara lahiriah ia memenuhi jumlah bilangan, tetapi ia meninggalkan hal yang pokok yaitu membasuh. Maka shalatnya tertolak akibat kebodohannya. Dan perumpamaan orang yang berbuka dengan makan namun anggota tubuhnya berpuasa dari hal-hal yang dibenci, adalah seperti orang yang membasuh anggota wudunya masing-masing satu kali; shalatnya diterima insya Allah, karena ia menyempurnakan hal yang pokok meskipun meninggalkan keutamaan.
ومثل من جمع بينهما كمن غسل كل عضو ثلاث مرات فجمع بين الأصل والفضل وهو الكمال وقد قال ﷺ إن الصوم أمانة فليحفظ أحدكم أمانته ولما تلا قوله ﷿ إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلى أهلها وضع يده على سمعه وبصره فقال السمع أمانة والبصر أمانة ولولا أنه من أمانات الصوم لما قال ﷺ فليقل إني صائم أي إني أودعت لساني لأحفظه فكيف أطلقه بجوابك فإذن قد ظهر أن لكل عبادة ظاهراً وباطنا
Dan perumpamaan orang yang menggabungkan keduanya adalah seperti orang yang membasuh setiap anggota wudunya tiga kali, sehingga ia menyatukan antara yang pokok dan yang utama, dan itulah kesempurnaan. Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya puasa itu adalah amanah, maka hendaklah salah seorang di antara kalian menjaga amanahnya.' Dan ketika beliau membaca firman Allah Azza wa Jalla: 'Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak mendapatkannya', beliau meletakkan tangannya pada pendengaran dan penglihatannya seraya bersabda: 'Pendengaran adalah amanah dan penglihatan adalah amanah.' Kalaulah bukan karena pendengaran dan penglihatan termasuk amanah puasa, niscaya Rasulullah ﷺ tidak akan bersabda: 'Hendaklah ia mengatakan: Sesungguhnya aku sedang berpuasa', yakni: 'Aku telah menitipkan lidahku untuk kujaga, maka bagaimana mungkin aku melepaskannya untuk membalas perkataanmu?' Dengan demikian, tampak jelas bahwa setiap ibadah memiliki dimensi lahir dan batin,
وقشراً ولباً ولقشرها درجات ولكل درجة طبقات فإليك الخيرة الآن في أن تقنع بالقشر عن اللباب أو تتحيز إلى غمار أرباب الألباب
serta memiliki kulit dan isi. Kulit itu pun memiliki tingkatan-tingkatan, dan setiap tingkatan memiliki lapisan-lapisan. Maka pilihan sekarang ada di tanganmu, apakah engkau puas hanya dengan kulit tanpa isi, atau engkau ingin bergabung ke dalam barisan orang-orang yang berakal jernih (arbab al-albab).