كتاب التوبة

الركن الثالث في تمام التوبة وشروطها ودوامها إلى آخر العمر

الركن الثالث في تمام التوبة وشروطها ودوامها إلى آخر العمر

Beranda كتاب إحياء علوم الدين ربع المنجيات كتاب التوبة الركن الثالث في تمام التوبة وشروطها ودوامها إلى آخر العمر

الركن الثالث في تمام التوبة وشروطها ودوامها إلى آخر العمر

RUKUN KETIGA: TENTANG KESEMPURNAAN TOBAT, SYARAT-SYARATNYA, DAN KELENGGANGANNYA HINGGA AKHIR HAYAT

قد ذَكَرْنَا أَنَّ التَّوْبَةَ عِبَارَةٌ عَنْ نَدَمٍ يُورِثُ عزماً وقصداً وذلك الندم أورثه العلم بكون المعاصي حائلاً بينه وبين محبوبه ولكل واحد من العلم والندم والعزم دوام وتمام ولتمامها علامة ولدوامها شرط فلا بد من بيانها أما العلم فالنظر فيه نظر في سبب التوبة وسيأتي وأما الندم فهو تَوَجُّعُ الْقَلْبِ عِنْدَ شُعُورِهِ بِفَوَاتِ الْمَحْبُوبِ وَعَلَامَتُهُ طول الحسرة والحزن وانسكاب الدمع وطول البكاء والفكر فمن استشعر عقوبة نازلة بولده أو ببعض أعزته طَالَ عَلَيْهِ مُصِيبَتُهُ وَبُكَاؤُهُ وَأَيُّ عَزِيزٍ أَعَزُّ عَلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ وَأَيُّ عُقُوبَةٍ أَشَدُّ مِنَ النار وأي شيء أَدَلُّ عَلَى نُزُولِ الْعُقُوبَةِ مِنَ الْمَعَاصِي وَأَيُّ مُخْبِرٍ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَلَوْ حَدَّثَهُ إنسان واحد يسمى طبيباً أن مرض ولده المريض لَا يَبْرَأُ وَأَنَّهُ سَيَمُوتُ مِنْهُ لَطَالَ فِي الْحَالِ حُزْنُهُ فَلَيْسَ وَلَدُهُ بِأَعَزَّ مِنْ نَفْسِهِ وَلَا الطَّبِيبُ بِأَعْلَمَ وَلَا أَصْدَقَ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَلَا الْمَوْتُ بِأَشَدَّ مِنَ النَّارِ وَلَا الْمَرَضُ بِأَدَلَّ عَلَى الْمَوْتِ مِنَ الْمَعَاصِي عَلَى سخط الله تعالى والتعرض بها للنار فَأَلَمُ النَّدَمِ كُلَّمَا كَانَ أَشَدَّ كَانَ تَكْفِيرُ الذُّنُوبِ بِهِ أَرْجَى فَعَلَامَةُ صِحَّةِ النَّدَمِ رِقَّةُ القلب وغزارة الدمع وفي الخبر جالسوا التوابين فإنهم أرق أفئدة وَمِنْ عَلَامَتِهِ أَنْ تَتَمَكَّنَ مَرَارَةُ تِلْكَ الذُّنُوبِ في قلبه بدلاً عن حلاوتها فيستبدل بالميل كراهية وبالرغبة نفرة وفي الإسرائيليات أن الله ﷾ قال لبعض أنبيائه وقد سأله قبول توبة عبد بعد أن اجتهد سنين قي العبادة ولم ير قبول توبته فقال وعزتى وجلالى لو شفع فيه أهل السموات والأرض ما قبلت توبته وحلاوة ذلك الذنب الذي تاب منه في قلبه

Sungguh telah kami sebutkan bahwa tobat adalah ungkapan dari penyesalan (nadam) yang membuahkan tekad bulat ('azm) dan maksud (qashd). Dan penyesalan itu dibuahkan oleh ilmu tentang keberadaan kemaksiatan sebagai penghalang antara dirinya dan Kekasihnya. Dan bagi masing-masing dari ilmu, penyesalan, dan tekad terdapat kelanggengan (dawam) dan kesempurnaan (tamam). Bagi kesempurnaannya ada tanda, dan bagi kelanggengannya ada syarat; maka harus dijelaskan. Adapun ilmu, maka pembahasan padanya adalah pembahasan tentang sebab tobat, dan itu akan datang. Adapun penyesalan, maka ia adalah rasa sakit hati (tawajju' al-qalb) saat menyadari luputnya Kekasih. Dan tandanya adalah lamanya penyesalan yang mendalam, kesedihan, bercucurannya air mata, serta lamanya tangisan dan perenungan. Maka barangsiapa merasakan hukuman akan menimpa anaknya atau sebagian orang yang dicintainya, niscaya memanjanglah musibah dan tangisannya. Padahal siapakah orang tercinta yang lebih dicintai darinya daripada dirinya sendiri? Dan hukuman manakah yang lebih dahsyat daripada neraka? Dan apakah yang lebih meniscayakan turunnya hukuman daripada kemaksiatan-kemaksiatan? Dan penyampai berita manakah yang lebih jujur daripada Allah dan Rasul-Nya? Sekiranya seorang manusia tunggal yang dinamai dokter memberitahunya bahwa penyakit anaknya yang sakit tidak akan sembuh dan ia akan mati karenanya, niscaya memanjanglah kesedihannya seketika itu juga. Padahal anaknya tidaklah lebih dicintai daripada dirinya sendiri, dokter itu pun tidak lebih tahu dan tidak lebih jujur daripada Allah dan Rasul-Nya, kematian tidaklah lebih dahsyat daripada neraka, dan penyakit tidaklah lebih meniscayakan kematian daripada kemaksiatan-kemaksiatan terhadap murka Allah Ta'ala dan pengorbanan diri dengannya kepada neraka. Maka rasa sakit penyesalan (alam an-nadam) setiap kali lebih dahsyat, adalah lebih diharapkan dengannya peleburan dosa-dosa. Maka tanda keabsahan penyesalan adalah kelembutan hati (riqqat al-qalb) dan derasnya air mata. Dan dalam riwayat disebutkan: 'Duduklah kamu bersama orang-orang yang bertobat, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya.' Dan di antara tandanya adalah tertancapnya kepahitan dosa-dosa tersebut di dalam hatinya sebagai ganti dari kemanisannya, sehingga ia mengganti kecenderungan dengan kebencian, dan hasrat dengan penolakan batin. Dan dalam riwayat-riwayat Israiliyat disebutkan bahwa Allah 'Azza wa Jalla berfirman kepada sebagian nabi-Nya ketika ia memohon kepada-Nya penerimaan tobat seorang hamba setelah hamba itu bersungguh-sungguh bertahun-tahun dalam ibadah namun belum terlihat penerimaan tobatnya; maka Allah berfirman: 'Demi Keagungan-Ku dan Keluhuran-Ku, sekiranya seluruh penghuni langit dan bumi memberi syafaat baginya, niscaya Aku tidak menerima tobatnya sedangkan kemanisan dosa yang ia bertobat darinya masih ada di dalam hatinya.'

فإن قلت فالذنوب هي أعمال مشتهاة بالطبع فكيف يجد مرارتها فأقول من تناول عسلاً كان فيه سم ولم يدركه بالذوق واستلذه ثم مرض وطال مرضه وألمه وتناثر شعره وفلجت أعضاؤه فإذا قدم إليه عسل فيه مثل ذلك السم وهو في غاية الجوع والشهوة للحلاوة فهل تنفر نفسه عن ذلك العسل أم لا فإن قلت لا فهو جحد للمشاهدة والضرورة بل ربما تنفر عن العسل الذي ليس فيه سم أيضاً لشبهه به فَوِجْدَانُ التَّائِبِ مَرَارَةَ الذَّنْبِ كَذَلِكَ يَكُونُ وَذَلِكَ لِعِلْمِهِ بِأَنَّ كُلَّ ذَنْبٍ فَذَوْقُهُ ذَوْقُ الْعَسَلِ وَعَمَلُهُ عَمَلُ السُّمِّ وَلَا تَصِحُّ التَّوْبَةُ وَلَا تصدق إلا بمثل هذا الإيمان ولم عَزَّ مِثْلُ هَذَا الْإِيمَانِ عَزَّتِ التَّوْبَةُ وَالتَّائِبُونَ فَلَا تَرَى إِلَّا مُعْرِضًا عَنِ اللَّهِ تَعَالَى مُتَهَاوِنًا بِالذُّنُوبِ مُصِرًّا عَلَيْهَا فَهَذَا شَرْطُ تَمَامِ النَّدَمِ وَيَنْبَغِي أَنْ يَدُومَ إِلَى الْمَوْتِ وَيَنْبَغِي أَنْ يَجِدَ هَذِهِ الْمَرَارَةَ فِي جَمِيعِ الذُّنُوبِ وإن لم يكن قد ارتكبها من قبل كما يجد متناول السم في العسل النفرة من الماء البارد مهما علم ان فيه مثل ذلك السم إذ لم يكن ضرره من العسل بل مما فيه ولم يكن ضرر التائب من سرقته وزناه من حيث إنه سرقة وزنا بل من حيث إنه من مخالفة أمر الله تعالى وذلك جار في كل ذنب وأما القصد الذى ينبعث منه هو إِرَادَةُ التَّدَارُكِ فَلَهُ تَعَلُّقٌ بِالْحَالِ وَهُوَ يُوجِبُ ترك كل مَحْظُورٍ هُوَ مُلَابِسٌ لَهُ وَأَدَاءَ كُلِّ فَرْضٍ وهو مُتَوَجِّهٌ عَلَيْهِ فِي الْحَالِ وَلَهُ تَعَلُّقٌ بِالْمَاضِي وَهُوَ تَدَارُكُ مَا فَرَطَ وَبِالْمُسْتَقْبَلِ وَهُوَ دَوَامُ الطاعة ودوام ترك المعصية إلى الموت

Jika engkau berkata: 'Dosa-dosa adalah amalan-amalan yang disukai secara tabiat, maka bagaimana ia bisa merasakan kepahitannya?' Maka aku katakan: barangsiapa memakan madu yang di dalamnya terdapat racun, sedangkan ia tidak merasakannya saat mengecap dan menikmatinya, kemudian ia sakit dan memanjanglah sakitnya serta penderitaannya, rambutnya rontok, dan anggota badannya lumpuh; lalu ketika dihidangkan kepadanya madu yang di dalamnya terdapat racun seumpama itu padahal ia dalam puncak kelaparan dan hasrat pada kemanisan, apakah jiwanya akan enggan/jijik dari madu tersebut atau tidak? Jika engkau katakan 'tidak', maka itu adalah pengingkaran terhadap penyaksian (al-musyahadah) dan kenyataan yang pasti (ad-dharurah). Bahkan bisa jadi jiwanya enggan pula terhadap madu yang tidak ada racun di dalamnya karena keserupaannya dengannya. Maka ditemukannya kepahitan dosa oleh orang yang bertobat adalah seperti itu. Yang demikian itu karena pengetahuannya bahwa setiap dosa rasanya adalah rasa madu tetapi kerjanya adalah kerja racun. Dan tidaklah sah tobat dan tidaklah membenarkan melainkan dengan keimanan seumpama ini. Dan ketika keimanan seumpama ini menjadi langka, menjadi langka pulalah tobat dan orang-orang yang bertobat; maka engkau tidak melihat melainkan orang yang berpaling dari Allah Ta'ala, meremehkan dosa-dosa, dan terus-menerus berdosa. Maka ini adalah syarat kesempurnaan penyesalan, dan sepatutnya ia berlangsung langgeng hingga kematian. Dan sepatutnya ia mendapati kepahitan ini pada seluruh dosa meskipun ia belum pernah melakukannya sebelumnya, sebagaimana orang yang memakan racun dalam madu mendapati keengganan/penolakan dari air dingin manakala ia tahu bahwa di dalamnya terdapat racun seumpama itu. Sebab bahayanya bukanlah dari madu melainkan dari apa yang ada di dalamnya, dan tidaklah bahaya bagi orang yang bertobat dari pencuriannya dan perzinaannya dari segi bahwa itu adalah pencurian dan perzinaannya, melainkan dari segi bahwa itu adalah dari pelanggaran terhadap perintah Allah Ta'ala, dan hal itu berlaku pada setiap dosa. Adapun maksud (al-qashd) yang memancar darinya yaitu kehendak untuk menambal/memperbaiki (iradah at-tadaruk), maka ia memiliki keterkaitan dengan keadaan saat ini (al-hal), yaitu mewajibkan meninggalkan setiap hal yang dilarang yang sedang dilibatnya dan menunaikan setiap kewajiban yang ditujukan kepadanya pada saat ini; dan ia memiliki keterkaitan dengan masa lalu (al-madhi), yaitu menambal/memperbaiki apa yang telah terluput; serta dengan masa depan (al-mustaqbal), yaitu kelanggengan ketaatan dan kelanggengan meninggalkan maksiat hingga kematian.

وشرط صحتها فيما يتعلق بالماضي أن يرد فكره إلى أول يوم بلغ فيه بالسن او الاحتلام ويفتش عما مضى من

Dan syarat keabsahannya dalam apa yang berkaitan dengan masa lalu adalah ia mengembalikan pikirannya ke hari pertama ia baligh dengan usia atau mimpi basah, dan ia memeriksa apa yang telah berlalu dari…

عمره سنة سنة وشهراً شهرا ويوما يوماً ونفساً نفساً وينظر إلى الطاعات ما الذي قصر فيه منها وإلى المعاصي ما الذي قارفه منها

…umurnya tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, dan napas demi napas; lalu ia melihat kepada ketaatan-ketaatan apa yang ia lalaikan darinya, dan kepada kemaksiatan-kemaksiatan apa yang telah ia lakukan darinya.

فإن كان قد ترك صلاة او صلاها في ثوب نجس أو صلاها في بنية غير صحيحة لجهلة بشرط النية فيقضيها عن آخرها فإن شك في عدد ما فاته منها حسب من مدة بلوغه وترك القدر الذي يستيقن انه أداه ويقضي الباقي وله أن ياخذ فيه بغالب الظن ويصل إليه على سبيل التحري والاجتهاد

Jika ia pernah meninggalkan shalat, atau melaksanakannya dengan pakaian yang najis, atau menyelenggarakannya dengan keabsahan susunan niat yang tidak sah karena ketidaktahuannya akan syarat niat, maka ia wajib mengqadhalnya secara keseluruhan. Jika ia ragu terhadap jumlah shalat yang terlewat, hendaklah ia menghitungnya sejak masa balighnya dan mengabaikan kadar (jumlah) yang diyakininya telah ditunaikan, lalu mengqadha sisanya. Ia juga boleh berpegang pada persangkaan yang kuat (ghalib ath-thann) dan mencapainya melalui upaya penelusuran (taharri) dan ijtihad.

وأما الصوم فإن كان قد تركه في سفر ولم يقضه أو أفطر عمداً أو نسى النبة بالليل ولم يقض فيتعرف مجموع ذلك بالتحرى والاجتهاد ويشتغل بقضائه

Adapun puasa, jika ia pernah meninggalkannya ketika safar (bepergian) dan belum mengqadhalnya, atau berbuka secara sengaja, atau lupa berniat di malam hari dan belum mengqadhalnya, hendaklah ia mengidentifikasi jumlah keseluruhan hal tersebut melalui penelusuran (taharri) dan ijtihad, lalu sibuk untuk mengqadhalnya.

وأما الزكاة فيحسب جميع ماله وعدد السنين من أول ملكه لا من زمان البلوغ فإن الزكاة واجبة في مال الصبي فيؤدي ما علم بغالب الظن أنه في ذمته فإن أداه لا على وجه يوافق مذهبه بان لم يصرف إلى الأصناف الثمانية أو أخرج البدل وهو على مذهب الشافعي رحمه الله تعالى فيقضي جميع ذلك فإن ذلك لا يجزيه اصلاً وحساب الزكاة ومعرفة ذلك يطول ويحتاج فيه إلى تأمل شاف ويلزمه أن يسأل عن كيفية الخروج عنه من العلماء

Adapun zakat, hendaklah ia menghitung seluruh hartanya dan jumlah tahun sejak awal kepemilikannya, bukan dari sejak masa baligh; sebab zakat tetap wajib atas harta anak kecil (shabi). Lalu ia menunaikan apa yang diyakini berdasarkan persangkaan kuat berada dalam tanggungannya (dzimmah). Jika ia menunaikannya dengan cara yang tidak sesuai dengan mazhabnya, seperti tidak menyalurkannya kepada delapan asnaf (golongan penerima zakat) atau mengeluarkan ganti/nilai tunai (badal)—padahal ia bermazhab Syafi'i rahimahullah—maka ia wajib mengqadha seluruhnya, karena hal itu tidak memadai (sah) sama sekali baginya. Perhitungan zakat serta pemahamannya memerlukan proses panjang dan renungan yang mendalam (syafi), serta diwajibkan baginya untuk menanyakan tata cara melepaskan diri dari tanggungan tersebut kepada para ulama.

وأما الحج فإن كان قد استطاع في بعض السنين ولم يتفق له الخروج والآن قد أفلس فعليه الخروج فإن لم يقدر مع الإفلاس فعليه أن يكتسب من الحلال قدر الزاد فإن لم يكن له كسب ولا مال فعليه أن يسأل الناس ليصرف إليه الزكاة او الصدقات ما يحج به فإن إن مات قبل الحج مات عاصياً قال ﵇ من مات ولم يحج فليمت إن شاء يهودياً وإن شاء نصرانيا والعجز الطارىء بعد القدرة لا يسقط عنه الحج فهذا طريق تفتيشه عن الطاعات وتداركها

Adapun haji, jika ia pernah mampu pada sebagian tahun namun tidak berkesempatan untuk berangkat, dan kini ia jatuh bangkrut (pailit), maka ia tetap berkewajiban untuk berangkat. Jika ia tidak mampu dalam kondisi bangkrut tersebut, hendaklah ia bekerja mencari rezeki yang halal sekadar biaya bekal (zad). Apabila ia tidak memiliki mata pencaharian maupun harta, ia wajib meminta kepada orang-orang agar disalurkan zakat atau sedekah kepadanya sekadar biaya untuk berhaji. Sebab jika ia meninggal sebelum menunaikan haji, ia meninggal dalam keadaan bermaksiat. Beliau ﵇ bersabda: "Barangsiapa meninggal dan belum berhaji, hendaklah ia meninggal dalam keadaan Yahudi jika ia mau, atau Nasrani." Ketidakmampuan yang datang kemudian setelah sebelumnya mampu tidak menggugurkan kewajiban haji darinya. Inilah tata cara memeriksa (memeriksa diri atas) ketaatan dan menambalnya (tadaruk).

وأما المعاصي فيجب أن يفتش من أول بلوغه عن سمعه وبصره ولسانه وبطنه ويده ورجله وفرجه وسائر جوارحه ثم ينظر في جميع أيامه وساعاته ويفصل عند نفسه ديوان معاصيه حتى يطلع على جميعها صغائرها وكبائرها ثم ينظر فيها فما كان من ذلك بينه وبين الله تعالى من حيث لا يتعلق بمظلمة العباد كنظر إلى غير محرم وقعود في مسجد مع الجنابة ومس مصحف بغير وضوء واعتقاد بدعة وشرب خمر وسماع ملاه وغيره ذلك مما لا يتعلق بمظالم العباد فالتوبة عنها بالندم والتحسر عليها وبأن يحسب مقدارها من حيث الكبر ومن حيث المدة ويطلب لكل معصية منها حسنة تناسبها فيأتي من الحسنات بمقدار تلك السيئات أخذاً من قوله ﷺ اتق الله حيث كنت وأتبع السيئة تمحها بل من قوله تعالى إن الحسنات يذهبن السيئات فيكفر سماع الملاهي بسماع القرآن وبمجالس الذكر ويكفر القعود في المسجد جنباً بالاعتكاف فيه مع الاشتغال بالعبادة ويكفر مس المصحف محدثاً بإكرام المصحف وكثرة قراءة القرآن منه وكثرة تقبيله بأن يكتب مصحفاً ويجعله وقفاً ويكفر شرب الخمر بالتصدق بشراب حلال هو أطيب منه وأحب إليه وعد جميع المعاصى غير ممكن وإنما المقصود سلوك الطريق المضادة فإن المرض يعالج بضده فكل ظلمة ارتفعت إلى القلب بمعصية فلا يمحوها إلا نور يرتفع إليها بحسنة تضادها والمتضادات هي المتناسبات فلذلك ينبغي أن تمحى كل سيئة بحسنة من جنسها لكن تضادها فإن البياض يزال بالسواد لا بالحرارة والبرودة وهذا التدريج والتحقيق من التلطف في طريق المحو فالرجاء فيه أصدق والثقة

Adapun kemaksiatan, maka ia wajib memeriksa sejak awal balighnya atas pendengaran, penglihatan, lisan, perut, tangan, kaki, kemaluan, dan seluruh anggota tubuhnya. Kemudian ia memperhatikan seluruh hari dan waktunya, serta merinci catatan (diwan) maksiatnya dalam dirinya hingga ia mengetahui semuanya, baik dosa kecil maupun dosa besar. Lalu ia mencermatinya; dosa yang terjadi antara dirinya dengan Allah Ta'ala—dalam artian tidak berkaitan dengan kezaliman terhadap sesama hamba, seperti memandang bukan mahram, duduk di masjid dalam keadaan junub, menyentuh mushaf tanpa wudhu, meyakini kebid'ahan, meminum khamar, mendengarkan hiburan kelalaian (malahi), dan sejenisnya yang tidak berkaitan dengan kezaliman kepada hamba—maka taubat darinya adalah dengan penyesalan (nadam) dan kesedihan yang mendalam atasnya, serta menghitung kadarnya dari segi besarnya dan jangka waktunya, lalu mencari kebaikan yang sepadan untuk setiap maksiat tersebut. Ia mendatangkan kebaikan-kebaikan sebanding dengan keburukan-keburukan itu, berpedoman pada sabda Rasulullah ﷺ: "Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya," bahkan berdasarkan firman-Nya Ta'ala: "Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan keburukan-keburukan." Maka pengampunan (kefarat) atas mendengarkan hiburan kelalaian adalah dengan mendengarkan Al-Qur'an dan majelis-majelis zikir; kefarat duduk di masjid dalam keadaan junub adalah dengan beriktikaf di dalamnya seraya sibuk beribadah; kefarat menyentuh mushaf dalam keadaan berhadats adalah dengan memuliakan mushaf, memperbanyak membaca Al-Qur'an darinya, dan sering menciumnya, atau dengan menulis sebuah mushaf lalu menjadikannya wakaf; dan kefarat meminum khamar adalah dengan bersedekah minuman halal yang lebih baik dan lebih disukainya. Menghitung seluruh kemaksiatan adalah hal yang tidak mungkin, namun yang dimaksudkan adalah menempuh jalan yang berlawanan (al-thariq al-mudhaddah), sebab penyakit itu diobati dengan lawannya. Setiap kegelapan yang naik ke hati akibat kemaksiatan tidak akan terhapus kecuali oleh cahaya yang naik kepadanya melalui kebaikan yang berlawanan darinya, dan hal-hal yang berlawanan itu adalah hal-hal yang sepadan. Oleh karena itu, hendaknya setiap keburukan dihapus dengan kebaikan yang sejenis namun berlawanan maknanya; sebab warna putih dihilangkan dengan warna hitam, bukan dengan panas atau dingin. Penahapan dan pembuktian ini merupakan kelembutan dalam jalan penghapusan dosa, sehingga harapan di dalamnya lebih jujur dan kepercayaan…

به أكثر من أن يواظب على نوع واحد من العبادات وإن كان ذلك أيضاً مؤثراً في المحو فهذا حكم ما بينه وبين الله تعالى ويدل على أن الشيء يكفر بضده أن حب الدنيا رأس كل خطيئة وأثر اتباع الدنيا في القلب السرو بها والحنين إليها فلا جرم كان كل أذى يصيب المسلم ينبو بسببه قلبه عن الدنيا يكون كفارة له إذ القلب يتجافى بالهموم والغموم عن دار الهموم قال ﷺ من الذنوب ذنوب لا يكفرها إلا الهموم وفي لفظ آخر إلا الهم بطلب المعيشة وفي حديث عائشة ﵂ إذا كثرت ذنوب العبد ولم تكن له أعمال تكفرها أدخل الله تعالى عليه الهموم فتكون كفارة لذنوبه ويقال إن الهم الذي يدخل على القلب والعبد لا يعرف هو ظلمة الذنوب والهم بها وشعور القلب بوقفه الحساب وهول المطلع

…kepadanya lebih kuat daripada hanya menekuni satu jenis ibadah saja, meskipun hal itu juga berpengaruh dalam penghapusan dosa. Ini adalah hukum mengenai hubungan antara dirinya dan Allah Ta'ala. Hal yang menunjukkan bahwa sesuatu dapat dikafirkan (dihapus) dengan lawannya adalah bahwa cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan, dan dampak dari mengikutinya di dalam hati adalah kegembiraan dengannya serta kerinduan kepadanya. Maka tidak diragukan lagi bahwa setiap penderitaan yang menimpa seorang muslim yang menyebabkan hatinya berpaling dari dunia akan menjadi kefarat baginya, sebab hati akan menjauh dari negeri duka cita ini melalui kecemasan dan kesedihan. Rasulullah ﷺ bersabda: "Di antara dosa-dosa ada yang tidak dapat dihapus kecuali oleh kecemasan-kecemasan." Dalam lafaz lain: "Kecuali kecemasan dalam mencari penghidupan." Dan dalam hadis Aisyah ﵂: "Apabila dosa-dosa seorang hamba telah banyak dan ia tidak memiliki amal-amal yang dapat menghapusnya, maka Allah Ta'ala memasukkan kecemasan kepadanya sehingga menjadi kefarat bagi dosa-dosanya." Dikatakan bahwa kecemasan yang masuk ke dalam hati sementara hamba itu tidak menyadarinya adalah akibat kegelapan dosa-dosa dan keinginan untuk berbuat dosa, serta kesadaran hati akan berhentinya di tempat hisab dan dahsyatnya hari berbangkit (haul al-muthalla').

فإن قلت هم الإنسان غالبا بما له وولده وجاهه وهو خطيئة فكيف يكون كفارة فاعلم أن الحب له خطيئة والحرمان عنه كفارة ولو تمتع به لتمت الخطيئة فقد روي أن جبريل ﵇ دخل على يوسف ﵇ في السجن فقال له كيف تركت الشيخ الكئيب فقال قد حزن عليك حزن مائة ثكلى قال فما له عند الله قال أجر مائة شهيد فإذن الهموم ايضاً مكفرات حقوق الله فهذا حكم ما بينه وبين الله تعالى

Jika engkau bertanya: Kecemasan manusia umumnya berkaitan dengan harta, anak, dan kedudukannya, yang mana semua itu merupakan kesalahan (karena keterikatan duniawi), lalu bagaimana bisa menjadi kefarat? Maka ketahuilah bahwa kecintaan kepadanya adalah kesalahan, sedangkan terhalang (kehilangan) darinya adalah kefarat. Seandainya ia bersenang-senang dengannya, niscaya sempurnalah kesalahan itu. Diriwayatkan bahwa Jibril ﵇ menemui Yusuf ﵇ di dalam penjara, lalu Yusuf bertanya kepadanya: "Bagaimana engkau meninggalkan orang tua yang bersedih itu (Yakub ﵇)?" Jibril menjawab: "Ia sangat bersedih atasmu selayaknya kesedihan seratus wanita yang kehilangan anaknya." Yusuf bertanya: "Lalu apa yang ia dapatkan di sisi Allah?" Jibril menjawab: "Pahala seratus orang mati syahid." Maka dengan demikian, kecemasan-kecemasan itu juga merupakan penghapus hak-hak Allah. Inilah hukum mengenai hubungan antara dirinya dan Allah Ta'ala.

وأما مظالم العباد ففيها أيضاً معصية وجناية على حق الله تعالى فإن الله تعالى نهى عن ظلم العباد أيضاً فما يتعلق منه بحق الله تعالى تداركه بالندم والتحسر وترك مثله في المستقبل والإتيان بالحسنات التي هي أضدادها فيقابل إيذاءه الناس بالإحسان إليهم ويكفر غصب أموالهم بالتصدق بملكه الحلال ويكفر تناول أعراضهم بالغيبة والقدح فيهم بالثناء على أهل الدين وإظهار ما يعرف من خصال الخير من أقرانه وأمثاله ويكفر قتل النفوس بإعتاق الرقاب لأن تلك إحياء إذ العبد مفقود لنفسه موجود لسيده والإعتاق إيجاد لا يقدر الإنسان على أكثر منه فيقابل الإعدام بالإيجاد وبهذا تعرف أن ما ذكرناه من سلوك طريق المضادة في التكفير والمحو مشهود له في الشرع حيث كفر القتل بإعتاق رقبة ثم إذا فعل ذلك كله لم يكفه ما لم يخرج عن مظالم العباد ومظالم العباد إما في النفوس أو الأموال أو الأعراض أو القلوب أعني به الإيذاء المحض

Adapun kezaliman terhadap hamba-hamba Allah, di dalamnya terdapat maksiat dan pelanggaran atas hak Allah Ta'ala, sebab Allah Ta'ala juga melarang menzalimi hamba-hamba-Nya. Maka apa yang berkaitan dengan hak Allah Ta'ala di dalamnya ditambal dengan penyesalan, duka cita, meninggalkan perbuatan serupa di masa depan, dan mendatangkan kebaikan-kebaikan yang menjadi lawannya. Ia mengimbangi tindakannya menyakiti manusia dengan berbuat baik kepada mereka, menghapus perampasan harta mereka dengan bersedekah dari miliknya yang halal, menghapus pencemaran kehormatan mereka melalui ghibah dan celaan dengan memberikan pujian kepada ahli agama serta menampakkan sifat-sifat kebaikan yang ia ketahui dari sejawat dan sebayanya, dan menghapus pembunuhan jiwa dengan memerdekakan budak. Sebab memerdekakan budak adalah tindakan menghidupkan, karena seorang budak adalah tidak ada bagi dirinya sendiri dan ada bagi tuannya, sedangkan pemerdekaan adalah pengadaan yang tidak ada hal lebih besar dari itu yang mampu dilakukan manusia, sehingga ketiadaan diimbangi dengan keberadaan. Dengan ini engkau mengetahui bahwa apa yang telah kami sebutkan mengenai menempuh jalan perlawanan dalam pengefaratan dan penghapusan dosa disaksikan (dibenarkan) oleh syariat, di mana syariat menjadikan pemerdekaan budak sebagai kefarat atas pembunuhan. Kemudian, apabila ia telah melakukan semua itu, hal tersebut belum mencukupinya selama ia belum melepaskan diri dari kezaliman terhadap hamba-hamba Allah. Dan kezaliman terhadap hamba itu bisa terjadi pada jiwa, harta, kehormatan, atau hati—yang saya maksud dengan hati adalah tindakan menyakiti secara murni.

أما النفوس فإن جرى عليه قتل خطأ فنوبته بتسليم الدية ووصولها إلى المستحق إما منه او من عاقلته وهو في عهدة ذلك قبل الوصول وإن كان عمداً موجباً للقصاص فبالقصاص فإن لم يعرف فيجب عليه أن يتعرف عند ولي الدم ويحكمه في روحه فإن شاء عفا عنه وإن شاء قتله ولا تسقط عهدته إلا بهذا ولا يجوز له الإخفاء وليس هذا كما لو زنى أو شرب او سرق أو قطع الطريق أو باشر ما يجب عليه فيه حد الله تعالى فإنه لا يلزمه في التوبة أن يفضح نفسه ويهتك ستره ويلتمس من الوالي استيفاء حق الله تعالى بل عليه أن بستر الله تعالى ويقيم حد الله على نفسه بانواع المجاهدة والتعذيب فالعفو في محض حقوق الله تعالى قريب من التائبين النادمين فإن أمر هذه إلى الوالي حتى أقام عليه الحد وقع موقعه وتكون توبته صحيحة مقبولة عند الله تعالى بدليل ما روي أن ما عز بن مالك أتى رسول الله ﷺ فقال يا رسول الله إني قد ظلمت نفسى وزنيت وإنى أريد أن تطهرني فرده فلما كان من الغد اتاه فقال يا رسول الله إني قد زنيت فرده الثانية فلما كان في الثالثة أمر به فحفر له حفرة ثم أمر به

Adapun terkait jiwa, jika terjadi pembunuhan tersalah (khatha'), maka taubatnya adalah dengan menyerahkan diyat hingga sampai kepada yang berhak, baik dari dirinya sendiri maupun dari kerabatnya (aqilah), dan ia berada dalam tanggungan hal itu sebelum diyat tersebut sampai. Jika pembunuhan itu sengaja ('amd) yang mewajibkan qisas, maka taubatnya adalah dengan qisas. Jika ia belum diketahui, wajib baginya untuk memperkenalkan diri kepada wali darah (ahli waris korban) dan menyerahkan nasib nyawanya kepada wali tersebut; jika wali berkehendak, ia boleh memaafkan, dan jika berkehendak, ia boleh membunuhnya (menuntut qisas). Tanggungannya tidak gugur kecuali dengan cara ini, dan ia tidak boleh menyembunyikannya. Ini tidak sama dengan jika ia berzina, meminum khamar, mencuri, merampok, atau melakukan hal yang mewajibkan hukuman had Allah Ta'ala atasnya. Sebab dalam taubat dari hal-hal tersebut, ia tidak diwajibkan untuk membuka aib dirinya, merobek tirai penutupnya, dan meminta kepada penguasa (wali) untuk menunaikan hak Allah Ta'ala. Melainkan ia wajib menutupinya dengan penutup dari Allah Ta'ala dan menegakkan had Allah atas dirinya sendiri dengan berbagai bentuk kesungguhan mujahadah dan penyiksaan diri. Sebab ampunan pada hak-hak murni Allah Ta'ala sangat dekat bagi orang-orang yang bertaubat dan menyesal. Namun jika ia melaporkan perkara ini kepada penguasa hingga penguasa menegakkan had atasnya, maka had itu jatuh pada tempatnya dan taubatnya sah serta diterima di sisi Allah Ta'ala, berdasarkan riwayat bahwa Ma'iz bin Malik mendatangi Rasulullah ﷺ lalu berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku telah berzina, dan aku ingin engkau menyucikanku." Maka beliau menolaknya. Ketika keesokan harinya ia mendatangi beliau kembali dan berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina," beliau menolaknya untuk kedua kalinya. Ketika pada kali yang ketiga, beliau memerintahkan untuk membuatkan lubang baginya, lalu memerintahkan agar…

فرجم فكان الناس فيه فريقين فقائل يقول لقد هلك وأحاطت به خطيئته وقائل يقول ما توبة أصدق من توبته فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لقد تاب توبة لو قسمت بين أمة لو سعتهم وجاءت الغامدية فقالت يا رسول الله إني قد زنيت فطهرني فردها فلما كان من الغد قالت يا رسول الله لم تردني لعلك تريد أن ترددنى كما رددت ما عزا فو الله إني لحبلى فقال ﷺ أما الآن فاذهبي حتى تضعي فلما ولدت أتت بالصبي في خرقة فقالت هذا قد ولدته قال اذهبي فأرضعيه حتى تفطميه فلما فطمته أتت بالصبي وفي يده كسرة خبز فقالت يانبى الله قد فطمته وقد أكل الطعام فدفع الصبي إلى رجل من المسلمين ثم أمر بها فحفر لها إلى صدرها وأمر الناس فرجموها فأقبل خالد بن الوليد بحجر فرمى رأسها فتنضح الدم على وجهه فسبها فسمع رسول الله ﷺ سبه إياها فقال مهلا يا خالد فو الذى نفسي بيده لقد تابت توبة لو تابها صاحب مكس لغفر له ثم أمر بها فصلي عليها ودفت

…ia dirajam. Manusia saat itu terbagi menjadi dua kelompok; ada yang berkata: "Ia telah binasa dan kesalahannya telah mengepungnya," dan ada pula yang berkata: "Tidak ada taubat yang lebih jujur daripada taubatnya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh ia telah bertaubat dengan satu taubat yang seandainya dibagi di antara suatu umat, niscaya akan mencukupi mereka." Kemudian datanglah wanita dari kabilah Al-Ghamidiyyah dan berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah berzina, maka sucikankanlah aku." Lalu beliau menyuruhnya pulang. Ketika keesokan harinya ia berkata: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau menolakku? Mungkinkah engkau ingin menolakku kembali sebagaimana engkau menolak Ma'iz? Demi Allah, aku sedang hamil." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Adapun sekarang, pergilah hingga engkau melahirkan." Ketika ia telah melahirkan, ia datang membawa bayinya dalam sepotong kain seraya berkata: "Ini dia, aku telah melahirkannya." Beliau bersabda: "Pergilah dan susuilah dia hingga engkau menyapihnya." Ketika ia telah menyapihnya, ia datang membawa bayi tersebut yang di tangannya terdapat sepotong roti, lalu ia berkata: "Wahai Nabi Allah, aku telah menyapihnya dan ia sudah bisa makan makanan." Maka beliau menyerahkan bayi itu kepada salah seorang laki-laki dari kaum muslimin, kemudian beliau memerintahkan untuk membuatkan lubang baginya hingga sebatas dadanya, dan memerintahkan orang-orang lalu mereka merajamnya. Lantas Khalid bin al-Walid datang membawa batu lalu melempar kepalanya, hingga darah memercik ke wajah Khalid, lalu Khalid mencelanya. Rasulullah ﷺ mendengar celaannya terhadap wanita itu, maka beliau bersabda: "Tahanlah dirimu wahai Khalid! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia telah bertaubat dengan taubat yang seandainya bertaubat dengannya seorang pemungut pajak haram (shahibu maksin), niscaya ia akan diampuni." Kemudian beliau memerintahkan untuk dishalatkan lalu dimakamkan.

وأما القصاص وحد القذف فلا بد من تحليل صاحبه المستحق فيه وإن كان المتناول مالا تناوله بِغَصْبٍ أَوْ خِيَانَةٍ أَوْ غَبْنٍ فِي مُعَامَلَةٍ بِنَوْعِ تَلْبِيسٍ كَتَرْوِيجِ زَائِفٍ أَوْ سَتْرِ عَيْبٍ مِنَ الْمَبِيعِ أَوْ نَقْصِ أُجْرَةِ أَجِيرٍ أَوْ منع أجرته فكل ذلك يجب أن يفتش عنه لا من حد بلوغه بل من أول مدة وجوده فإن ما يجب في مال الصبي يجب على الصبي إخراجه بعد البلوغ إن كان الولي قد قصر فيه فإن لم يفعل كان ظالماً مطالباً به إذ يستوي في الحقوق المالية الصبي والبالغ وليحاسب نفسه على الحبات والدوانق من أول يوم حياته إلى يوم توبته قَبْلَ أَنْ يُحَاسَبَ فِي الْقِيَامَةِ وَلْيُنَاقِشْ قَبْلَ أَنْ يُنَاقَشَ فَمَنْ لَمْ يُحَاسِبْ نَفْسَهُ فِي الدنيا طال في الآخرة حسابه فإن حصل مجموع ما عليه بظن غالب ونوع من الاجتهاد ممكن فليكتبه وليكتب أسامي أصحاب المظالم واحداً واحداً وليطف في نواحي العالم وليطلبهم وليستحلهم أو ليؤد حقوقهم وهذه التوبة تشق على الظلمة وعلى التجار فإنهم لا يقدرون على طلب المعاملين كلهم ولا على طلب ورثتهم ولكن على كل واحد منهم أن يفعل منه ما يقدر عليه فَإِنْ عَجَزَ فَلَا يَبْقَى لَهُ طَرِيقٌ إِلَّا أن يكثر من الحسنات حتى تفيض عنه يوم القيامة فتؤخذ حسناته وتوضع في موازين أرباب المظالم ولكن كثرة حسناته بقدر كثرة مظالمه فإنه إن لم تف بها حسناته حمل من سيئاته أرباب المظالم فيهلك بسيئات غيره فَهَذَا طَرِيقُ كُلِّ تَائِبٍ فِي رَدِّ الْمَظَالِمِ وهذا يوجب استغراق العمر في الحسنات لو طال العمر بحسب طول مدة الظلم فكيف وذلك مما لا يعرف وربما يكون الأجل قريباً فينبغي أن يكون تشميره للحسنات والوقت ضيق أشد من تشميره الذي كان في المعاصي في متسع الأوقات هذا حكم المظالم الثابتة في ذمته

Adapun qisas dan had menuduh zina (qadzaf), maka harus ada permohonan kehalalan dari pemilik hak yang berhak di dalamnya. Dan jika harta yang diambil itu diperoleh secara perampasan (ghashab), pengkhianatan, penipuan (ghabn) dalam transaksi bisnis dengan jenis kebohongan—seperti mengedarkan uang palsu, menyembunyikan cacat barang dagangan, mengurangkan upah pekerja, atau menahan upahnya—maka semua itu wajib diperiksa bukan sekadar sejak masa balighnya, melainkan sejak awal kurun keberadaannya. Sebab apa yang wajib pada harta anak kecil tetap wajib dikeluarkan oleh anak kecil tersebut setelah baligh jika walinya telah melalaikannya; apabila ia tidak melakukannya, maka ia menjadi orang yang zalim yang dituntut atasnya, sebab dalam hak-hak kewajiban harta, anak kecil dan orang dewasa adalah setara. Hendaklah ia menghitung dirinya atas satuan-satuan terkecil (habbah dan daniq) sejak hari pertama hidupnya hingga hari taubatnya, sebelum ia dihisab pada hari Kiamat, dan hendaklah ia menginterogasi dirinya sebelum ia diinterogasi. Barangsiapa tidak menghisab dirinya di dunia, niscaya panjanglah hisabnya di akhirat. Apabila jumlah keseluruhan tanggungannya telah terhimpun melalui dugaan kuat dan bentuk ijtihad yang memungkinkan, hendaklah ia mencatatnya dan mencatat nama-nama pemilik kezaliman itu satu per satu, mengelilingi pelosok dunia untuk mencari mereka, meminta kehalalan dari mereka, atau menunaikan hak-hak mereka. Taubat seperti ini terasa berat bagi para pelaku kezaliman dan para pedagang, sebab mereka tidak mampu mencari seluruh rekan transaksi mereka maupun para ahli warisnya. Namun, wajib bagi setiap dari mereka untuk melakukan apa yang dimampuinya. Jika ia tidak mampu, maka tidak ada jalan tersisa baginya melainkan memperbanyak kebaikan hingga melimpah darinya pada hari Kiamat, lalu kebaikannya diambil dan diletakkan pada timbangan para pemilik kezaliman. Akan tetapi, banyaknya kebaikannya harus sebanding dengan banyaknya kezalimannya; sebab jika kebaikannya tidak mencukupi, niscaya ia akan dipikul dosa-dosa dari para pemilik kezaliman sehingga ia binasa oleh keburukan orang lain. Inilah jalan setiap orang yang bertaubat dalam mengembalikan kezaliman. Hal ini menuntut penghabisan seluruh umur dalam kebaikan sekiranya umur itu panjang sebanding dengan panjangnya masa kezaliman. Lantas bagaimana padahal hal itu tidak diketahui dan bisa jadi ajal sudah dekat? Maka hendaknya kesungguhannya untuk berbuat kebaikan di kala waktu sempit ini lebih dahsyat daripada kesungguhannya dalam bermaksiat di kala waktu yang lapang. Ini adalah hukum mengenai kezaliman yang tetap berada dalam tanggungannya.

أما أَمْوَالُهُ الْحَاضِرَةُ فَلْيَرُدَّ إِلَى الْمَالِكِ مَا يَعْرِفُ لَهُ مَالِكًا مُعَيَّنًا وَمَا لَا يَعْرِفُ لَهُ مَالِكًا فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِهِ فَإِنِ اخْتَلَطَ الْحَلَالُ بِالْحَرَامِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفَ قَدْرَ الْحَرَامِ بالاجتهاد ويتصدق بذلك المقدار كما سبق تفصيله في كتاب الحلال والحرام

Adapun harta kekayaan yang ada padanya saat ini, hendaklah ia mengembalikan kepada pemiliknya apa yang ia ketahui pemiliknya secara spesifik. Dan apa yang tidak ia ketahui pemiliknya, wajib baginya untuk mensedekahkannya. Apabila harta yang halal bercampur dengan yang haram, ia wajib mengetahui kadar yang haram melalui ijtihad dan mensedekahkan kadar tersebut, sebagaimana telah lalu perinciannya dalam Kitab Al-Halal wa Al-Haram.

وَأَمَّا الْجِنَايَةُ عَلَى الْقُلُوبِ بِمُشَافَهَةِ النَّاسِ بِمَا يسوؤهم أو يعيهم في الغيبة فيطلب كل من تعرض له بلسان أو آذى قلبه بفعل من أفعاله وليستحل واحداً واحداً منهم ومن مات أو غاب فَقَدْ فَاتَ أَمْرُهُ وَلَا يُتَدَارَكُ إِلَّا بِتَكْثِيرِ الحسنات لتؤخذ منه عوضاً في القيامة وأما من وَجَدَهُ وَأَحَلَّهُ بِطِيبِ قَلْبٍ مِنْهُ فَذَلِكَ كَفَّارَتُهُ وعليه أن يعرفه قدر جنايته

Adapun kejahatan (pelanggaran) atas hati manusia dengan menyampaikan secara langsung sesuatu yang menyusahkan mereka atau mencela mereka dalam ghibah, hendaklah ia mencari setiap orang yang pernah diganggunya dengan lisan atau disakiti hatinya dengan suatu perbuatannya, dan hendaklah ia meminta kehalalan dari mereka satu per satu. Barangsiapa yang telah meninggal dunia atau tidak berada di tempat (gaib), maka perkaranya telah terlewat dan tidak dapat ditambal kecuali dengan memperbanyak kebaikan agar diambil darinya sebagai ganti pada hari Kiamat. Adapun orang yang ditemukannya lalu ia menghalalkannya dengan kerelaan hatinya, maka hal itu menjadi kefaratnya, dan ia wajib memberitahukan kepadanya kadar pelanggarannya…

وتعرضه له فالاستحلال المبهم لا يكفي وربما لو عرف ذلك وكثرة تعديه عليه لم تطب نفسه بالإحلال وادخر ذلك في القيامة ذخيرة يأخذها من حسناته أو يحمله من سيئاته فإن كان في جملة جنايته على الغير ما لو ذكره وعرفه لتأذى بمعرفته كزناه بجاريته أو أهله أو نسبته باللسان إلى عيب من خفايا عيوبه يعظم آذاه مهما شوفه به فقد انسد عليه طريق الاستحلال فليس له إلا أن يستحل منها ثم تبقى له مظلمة فليجبرها بالحسنات كما يجبر مظلمة الميت والغائب

…dan tindakannya terhadap orang tersebut. Maka permohonan kehalalan yang samar (samar/samu) tidaklah mencukupi; sebab boleh jadi jika ia mengetahui hal itu dan banyaknya penganiayaan terhadap dirinya, jiwanya tidak rela untuk menghalalkannya dan menyimpan hal itu sebagai simpanan di hari Kiamat untuk diambil dari kebaikannya atau dibebankan kepadanya dari keburukannya. Namun jika dalam keseluruhan kejahatannya terhadap orang lain terdapat hal yang jika disebutkan dan diberitahukan akan menyakitinya dengan mengetahuinya—seperti zina dengan budak wanitanya atau keluarganya, atau menyangkutkan lisannya pada cela dari keaiban tersembunyinya yang sangat menyakitkan jika disampaikan secara langsung—maka sungguh telah tertutup baginya jalan meminta kehalalan secara rinci. Maka tidak ada jalan baginya melainkan meminta kehalalan secara umum darinya, lalu sisa kezaliman yang belum selesai itu hendaklah ia tambal dengan kebaikan-kebaikan sebagaimana ia menambal kezaliman terhadap orang yang meninggal dan yang gaib.

وأما الذكر والتعريف فهو سيئة جديدة يجب الاستحلال منها ومهما ذكر جنايته وعرفه المجني عليه فلم تسمح نفسه بالاستحلال بقيت المظلمة عليه فإن هذا حقه فعليه أن يتلطف به ويسعى في مهماته وأغراضه ويظهر من حبه والشفقة عليه ما يستميل به قلبه فإن الإنسان عبد الإحسان وكل من نفر بسيئة مال بحسنة فإذا طاب قلبه بكثرة تودده وتلطفه سمحت نفسه بالإحلال فإن أبى إلا الإصرار فيكون تلطفه به واعتذاره إليه من جملة حسناته التي يمكن أن يجبر بها في القيامة جنايته وليكن قدر سعيه في فرحه وسرور قلبه بتودده وتلطفه كقدر سعيه في أذاه حتى إذا قاوم أحدهما الآخر أو زاد عليه أخذ ذلك منه عوضاً في القيامة بحكم الله به عليه كمن أتلف في الدنيا ما لا فجاء بمثله فامتنع من له المال من القبول وعن الإبراء فإن الحاكم يحكم عليه بالقبض منه شاء أم أبى فكذلك يحكم في صعيد القيامة أحكم الحاكمين وأعدل المقسطين وفي المتفق عليه من الصحيحين عن أبي سعيد الخدري أن نبي الله ﷺ كان فيمن كان قبلكم رجل قتل تسعة وتسعين نفساً فسأل عن أعلم أهل الأرض فدل على راهب فأتاه فقال إنه قتل تسعة وتسعين نفساً فهل له من توبة قال لا فقتله فكمل به مائة ثم سأل عن أعلم أهل الأرض فدل على رجل عالم فقال له إنه قتل مائة نفس فهل له من توبة قال نعم ومن يحول بينه وبين التوبة انطلق إلى الأرض كذا وكذا فإن بها أناساً يعبدون الله ﷿ فاعبد الله معهم ولا ترجع إلى أرضك فإنها أرض سوء فانطلق حتى إذا نصف الطريق أتاه الموت فاختصمت فيه ملائكة الرحمة وملائكة العذاب فقالت ملائكة الرحمة جاء تائباً مقبلاً بقلبه إلى الله وقالت ملائكة العذاب إنه لم يعمل خيراً قط فأتاهم ملك في صورة آدمي فجعلوه حكماً بينهم فقال قيسوا ما بين الأرضين فإلى أيتهما كان أدنى فهو له فقاسوا فوجوده أدنى إلى الأرض التي أراد فقبضته ملائكة الرحمة وفي رواية فكان إلى القرية الصالحة أقرب منها بشبر فجعل من أهلها وفي رواية فأوحى الله تعالى إلى هذه أن تباعدي وإلى هذه أن تقربي وقال قيسوا ما بينهما فوجدوه إلى هذه أقرب بشبر فغفر له فبهذا تعرف أنه لاخلاص إلا برجحان ميزان الحسنات ولو بمثقال ذرة فلا بد للتائب من تكثير الحسنات هذا حكم القصد المتعلق بالماضي

Adapun menyebutkan dan memberitahukan kejahatan tersebut justru merupakan keburukan baru yang wajib dimintai kehalalannya. Apabila ia menyebutkan kejahatannya dan memberitahukan korban, namun jiwa korban tetap tidak rela untuk menghalalkan, maka kezaliman itu tetap menanggungnya karena hal itu adalah hak korban. Oleh karena itu, ia wajib berlaku lembut kepadanya, berusaha membantu urusan-urusan dan tujuannya, serta menampakkan rasa cinta dan kasih sayang yang dapat memikat hatinya; sebab manusia adalah hamba dari kebaikan, dan setiap orang yang lari karena keburukan akan cenderung kembali karena kebaikan. Apabila hatinya telah lega karena banyaknya kasih sayang dan kelembutan tersebut, jiwanya akan rela untuk menghalalkan. Namun jika korban tetap enggan melainkan bertahan pada penolakannya, maka kelembutan dan permohonan maafnya itu menjadi bagian dari kebaikan-kebaikannya yang memungkinkan untuk menambal kejahatannya pada hari Kiamat. Hendaklah kadar usahanya dalam mengusahakan kegembiraan dan kesenangan hati korban melalui kasih sayang dan kelembutannya sebanding dengan kadar usahanya dalam menyakitinya, sehingga apabila salah satunya telah seimbang dengan yang lain atau melebihinya, hal itu diambil darinya sebagai pengganti pada hari Kiamat berdasarkan ketetapan Allah atasnya; sebagaimana orang yang merusak harta di dunia lalu mendatangkan gantinya yang sepadan, namun pemilik harta enggan menerima dan enggan membebaskan, maka hakim akan memutus atasnya untuk menerima harta itu mau tidak mau. Demikian pula Hakim yang Paling Bijaksana dan Paling Adil dari seluruh yang adil akan memutus di padang Mahsyar Kiamat. Dan dalam kitab shahihain (Bukhari dan Muslim) yang disepakati kesahihannya, dari Abu Sa'id al-Khudri bahwasanya Nabi Allah ﷺ bersabda: "Dahulu pada orang-orang sebelum kalian terdapat seorang laki-laki yang membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, lalu ia bertanya tentang orang yang paling berilmu di muka bumi, maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib. Ia mendatangi rahib tersebut lalu berkata bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah masih ada taubat baginya? Rahib menjawab: Tidak. Maka ia membunuh rahib itu sehingga menggenapkan seratus jiwa. Kemudian ia bertanya lagi tentang orang yang paling berilmu di muka bumi, lalu ditunjukkan kepada seorang yang alim. Ia berkata kepadanya bahwa ia telah membunuh seratus jiwa, apakah masih ada taubat baginya? Alim itu menjawab: Ya, dan siapakah yang menghalangi antara dirinya dan taubat? Pergilah ke negeri ini dan ini, karena di sana ada orang-orang yang menyembah Allah ﷿, maka sembahlah Allah bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang buruk. Maka ia pun pergi, hingga ketika sampai di pertengahan jalan, maut menjemputnya. Lantas Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab berselisih tentang dirinya. Malaikat Rahmat berkata: Ia datang dalam keadaan bertaubat seraya menghadapkan hatinya kepada Allah. Sementara Malaikat Azab berkata: Sungguh ia belum pernah beramal kebaikan sedikit pun. Lalu datanglah malaikat dalam wujud manusia, maka mereka menjadikannya penengah di antara mereka. Ia berkata: Ukurlah jarak antara kedua negeri tersebut, ke mana saja ia lebih dekat maka ia menjadi miliknya. Lalu mereka mengukur dan mendapatinya lebih dekat kepada negeri yang ditujunya, maka Malaikat Rahmat mencabut nyawanya." Dalam riwayat lain: "Maka ia lebih dekat ke desa yang saleh itu sejarak satu jengkal, sehingga ia dijadikan bagian dari penduduknya." Dan dalam riwayat lain: "Maka Allah Ta'ala mewahyukan kepada bumi ini (negeri buruk) agar menjauh, dan kepada bumi ini (negeri saleh) agar mendekat, lalu Dia berfirman: Ukurlah jarak antara keduanya! Mereka mendapatinya lebih dekat kepada negeri ini (negeri saleh) sejarak satu jengkal, maka ia pun diampuni." Maka dengan ini engkau mengetahui bahwa tidak ada keselamatan melainkan dengan unggulnya timbangan kebaikan walau seberat zarrah. Oleh karena itu, wajib bagi orang yang bertaubat untuk memperbanyak kebaikan. Ini adalah hukum maksud (tekad) yang berkaitan dengan masa lalu.

وأما العزم المرتبط بالاستقبال فهو أن يعقد مع الله عقداً مؤكداً ويعاهده بعهد وثيق أن لا يعود إلى تلك الذنوب ولا إلى أمثالها كالذي يعلم في مرضه أن الفاكهة تضره مثلاً فيعزم عزماً جزماً أنه لا يتناول الفاكهة ما لم يزل مرضه فإن هذا العزم يتأكد في الحال وإن كان يتصور أن تغلبه الشهوة في ثاني الحال ولكن لا يكون تائباً ما لم يتأكد عزمه في الحال ولا يتصور أن يتم ذلك للتائب في أول أمره إلا بالعزلة والصمت وقلة الأكل والنوم وإحراز قوت حلال فإن كان له مال موروث حلال أو كانت له حرفة يكتسب بها قدر الكفاية فليقتصر عليه

Adapun tekad (azam) yang berkaitan dengan masa depan, yaitu ia mengikat perjanjian yang kukuh dengan Allah dan berjanji kepada-Nya dengan janji yang erat untuk tidak kembali kepada dosa-dosa tersebut maupun dosa-dosa yang sejenisnya; sebagaimana orang yang mengetahui dalam sakitnya bahwa buah-buahan memudaratkannya—misalnya—lalu ia bertekad bulat bahwa ia tidak akan memakan buah-buahan selama sakitnya belum hilang. Sesungguhnya tekad ini ditegaskan pada saat itu juga, meskipun dapat dibayangkan bahwa syahwatnya mungkin mengalahkannya di kemudian hari. Namun, ia tidak dinamakan orang yang bertaubat selama tekadnya belum kukuh pada saat itu. Dan tidak tergambarkan hal itu akan sempurna bagi orang yang bertaubat pada awal perkaranya melainkan dengan menyendiri (uzlah), diam (shamt), sedikit makan dan tidur, serta memperoleh makanan yang halal. Apabila ia memiliki harta warisan yang halal atau memiliki mata pencaharian yang memberikan penghasilan sekadar kecukupan, hendaklah ia mencukupkan diri padanya.

فإن رأس المعاصي أكل الحرام فكيف يكون تائباً مع الإصرار عليه ولا يكتفي بالحلال وترك الشبهات من لا يقدر على ترك الشهوات في المأكولات والملبوسات وقد قال بعضهم من صدق في ترك شهوة وجاهد نفسه لله سبع مرار لم يبتل بها وقال آخر من تاب من ذنب واستقام سبع سنين لم يعد إليه أبداً وَمِنْ مُهِمَّاتِ التَّائِبِ إِذَا لَمْ يَكُنْ عَالِمًا أَنْ يَتَعَلَّمَ مَا يَجِبُ عَلَيْهِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ وما يحرم عليه حتى يمكنه الاستقامة وإن لم يؤثر العزلة لم تتم له الاستقامة المطلقة إلا أن يتوب عن بعض الذنوب كالذي يتوب عن الشرب والزنا والغصب مثلاً وليست هذه توبة مطلقة

Sebab pangkal kemaksiatan adalah memakan yang haram, lantas bagaimana ia menjadi orang yang bertaubat sedangkan ia terus-menerus (ishrar) di dalamnya? Dan tidak akan cukup dengan yang halal serta meninggalkan syubhat orang yang tidak mampu meninggalkan syahwat dalam hal makanan dan pakaian. Sebagian ulama telah berkata: "Barangsiapa jujur dalam meninggalkan suatu syahwat dan bermujahadah melawan nafsunya karena Allah sebanyak tujuh kali, niscaya ia tidak akan diuji lagi dengannya." Ulama lain berkata: "Barangsiapa bertaubat dari suatu dosa dan istiqamah selama tujuh tahun, niscaya ia tidak akan pernah kembali kepadanya selamanya." Dan di antara hal penting bagi orang yang bertaubat—apabila ia bukan seorang alim—adalah mempelajari apa yang diwajibkan atasnya di masa depan dan apa yang diharamkan atasnya, hingga memungkinkan baginya untuk istiqamah. Dan jika ia tidak memilih uzlah, tidak akan sempurna baginya istiqamah yang mutlak, kecuali jika ia bertaubat dari sebagian dosa saja; seperti orang yang bertaubat dari meminum khamar, zina, dan merampas—umpamanya—dan ini bukanlah taubat yang mutlak.

وقد قال بعض الناس إن هذه التوبة لا تصح وقال قائلون تصح ولفظ الصحة في هذا المقام مجمل بل نقول لمن قال لا تصح إن عنيت به أن تركه بعض الذنوب لا يفيد أصلاً بلا وجوده كعدمه فما أعظم خطأك فإنا نعلم أن كثرة الذنوب سبب لكثرة العقاب وقلتها سبب لقلته ونقول لمن قال تصح إن أردت به أن التوبة عن بعض الذنوب توجب قبولاً يوصل إلى النجاة أو الفوز فهذا أيضاً خطأ بل النجاة والفوز بترك الجميع هذا حكم الظاهر ولسنا نتكلم في خفايا أسرار عفو الله فإن قال من ذهب إلى أنها لا تصح إني أردت به أن التوبة عبارة عن الندم وإنما يندم على السرقة مثلاً لكونها معصية لا لكونها سرقة ويستحيل أن يندم عليها دون الزنا إن كان توجعه لأجل المعصية فإن العلة شاملة لهما إذ من يتوجع على قتل ولده بالسيف يتوجع على قتله بالسكين لأن توجعه بفوات محبوبه سواء كان بالسيف أو بالسكين فكذلك توجع العبد بفوات محبوبه وذلك بالمعصية سواء عصى بالسرقة أو الزنا فكيف يتوجع على البعض دون البعض فالندم حالة يوجبها العلم بكون المعصية مفوتة للمحبوب من حيث إنها معصية فلا يتصور أن يكون على بعض المعاصي دون البعض ولو جاز هذا لجاز أن يتوب من شرب الخمر من أحد الدنين دون الآخر فإن استحال ذلك من حيث إن المعصية في الخمرين واحد وإنما الدنان ظروف فكذلك أعيان المعاصي آلات للمعصية والمعصية من حيث مخالفة الأمر واحدة فإذن معنى عدم الصحة أن الله تعالى وعد التائبين رتبة وتلك الرتبة لا تنال إلا بالندم ولا يتصور الندم على بعض المتماثلات فهو كالملك المرتب على الإيجاب والقبول فإنه إذا لم يتم الإيجاب والقبول نقول إن العقد لا يصح أي لم تترتب عليه الثمرة وهو الملك وتحقيق هذا أن ثمرة مجرد الترك أن ينقطع عنه عقاب ما تركه وثمرة الندم تكفير ما سبق فترك السرقة لا يكفر السرقة بل الندم عليها ولا يتصور الندم إلا لكونها معصية وذلك يعم جميع المعاصي وهو كلام مفهوم واقع يستنطق المنصف بتفصيل به ينكشف الغطاء

Sebagian orang berpendapat bahwa taubat (sebagian dosa) ini tidak sah, sedangkan yang lain berpendapat bahwa taubat tersebut sah. Kata "sah" (shihhah) dalam konteks ini mengandung makna yang umum (mujmal). Bahkan kita katakan kepada orang yang berpendapat "tidak sah": Jika yang engkau maksudkan adalah bahwa tindakannya meninggalkan sebagian dosa tidak memberi manfaat sama sekali, di mana keberadaannya sama seperti ketiadaannya, maka betapa besarnya kesalahanmu! Sebab kita mengetahui bahwa banyaknya dosa adalah sebab bagi besarnya siksaan dan sedikitnya dosa adalah sebab bagi ringannya siksaan. Dan kita katakan kepada orang yang berpendapat "sah": Jika yang engkau maksudkan adalah bahwa taubat dari sebagian dosa mewajibkan penerimaan yang mengantarkan pada keselamatan atau keberuntungan, maka ini juga salah; melainkan keselamatan dan keberuntungan itu diraih dengan meninggalkan seluruh dosa. Ini adalah hukum lahiriah, dan kita tidak sedang membicarakan rahasia-rahasia tersembunyi dari ampunan Allah. Apabila orang yang berpendapat tidak sah itu berkata: "Sesungguhnya yang aku maksudkan adalah bahwa taubat merupakan ungkapan dari penyesalan (nadam), dan seseorang hanya menyesali pencurian—misalnya—karena ia merupakan kemaksiatan, bukan karena ia sekadar pencurian; dan mustahil ia menyesalinya tanpa menyesali zina jika kesakitannya itu disebabkan oleh faktor maksiat. Sebab illat (alasan) itu mencakup keduanya; karena barangsiapa yang merasa sakit atas terbunuhnya anaknya dengan pedang, niscaya ia juga merasa sakit atas terbunuhnya anak itu dengan pisau, sebab rasa sakitnya adalah karena hilangnya kekasihnya, baik dengan pedang maupun dengan pisau. Demikian pula rasa sakit seorang hamba karena hilangnya apa yang dicintainya, dan hal itu terjadi karena maksiat, baik ia bermaksiat dengan mencuri maupun berzina, lantas bagaimana ia merasa sakit atas sebagian dan tidak pada sebagian yang lain? Maka penyesalan adalah suatu kondisi yang dihasilkan oleh pengetahuan bahwa maksiat merupakan pemutus dari yang dicintai ditinjau dari kedudukannya sebagai maksiat. Oleh karena itu, tidak tergambarkan penyesalan terjadi pada sebagian maksiat tanpa sebagian yang lain. Seandainya hal ini boleh, niscaya boleh pula seseorang bertaubat dari meminum khamar dari salah satu dari dua bejana saja tanpa bejana lainnya. Apabila hal itu mustahil karena maksiat pada kedua bejana khamar tersebut adalah sama—di mana kedua bejana hanyalah tempatnya saja—demikian pula jenis-jenis kemaksiatan hanyalah alat-alat bagi maksiat, sedangkan maksiat dari segi menyelisihi perintah adalah satu. Maka dengan demikian, makna "tidak sah" adalah bahwa Allah Ta'ala menjanjikan suatu derajat bagi orang-orang yang bertaubat, dan derajat tersebut tidak dapat dicapai kecuali dengan penyesalan, sedangkan penyesalan tidak tergambarkan terjadi pada sebagian dari hal-hal yang serupa. Hal ini seperti kepemilikan yang bergantung pada ijab dan kabul; apabila ijab dan kabul tidak sempurna, kita katakan bahwa akad tersebut tidak sah, artinya buahnya—yaitu kepemilikan—belum terwujud. Penjelasan hakiki dari hal ini adalah bahwa buah dari sekadar meninggalkan dosa adalah terputusnya siksaan dari apa yang ditinggalkannya, sedangkan buah dari penyesalan adalah penghapusan dosa yang telah lalu. Maka sekadar meninggalkan pencurian tidak menghapus pencurian tersebut, melainkan penyesalan atasnya; dan penyesalan tidak tergambarkan melainkan karena ia adalah maksiat, di mana hal itu mencakup seluruh kemaksiatan. Ini adalah perkataan yang dipahami dan realistis, yang menuntut orang yang objektif untuk menerima perincian yang dengannya tabir akan tersingkap.

فنقول التوبة عن بعض الذنوب لا تخلو إما أن تكون عن الكبائر دون الصغائر أو عن الصغائر دون الكبائر أو عن كبيرة دون كبيرة أما التوبة عن الكبائر دون الصغائر فأمر ممكن لأنه يعلم أن الكبائر أعظم عند الله وأجلب لسخط الله ومقته والصغائر أقرب إلى تطرق العفو إليها فلا يستحيل أن يتوب عن الأعظم ويتندم عليه كالذي يجني على أهل الملك وحرمه ويجني على دابته فيكون خائفاً من الجناية على الأهل مستحقراً للجناية على الدابة والندم بحسب استعظام الذنب واعتقاد كونه مبعداً عن الله تعالى وهذا ممكن وجوده في الشرع فقد كثر التائبون في الأعصار الخالية ولم يكن أحد منهم معصوماً فلا تستدعي التوبة العصمة والطبيب قد يحذر المريض العسل تحذيراً شديداً ويحذره السكر تحذيراً أخف منه على وجه يشعر معه أنه ربما لا يظهر ضرر السكر أصلاً فيتوب المريض بقوله عن العسل دون السكر فهذا غير محال وجوده وإن أكلهما جميعاً بحكم شهوته ندم على أكل العسل دون السكر

Maka kita katakan: Taubat dari sebagian dosa tidak terlepas dari tiga kemungkinan: bisa jadi dari dosa-dosa besar tanpa dosa-dosa kecil, atau dari dosa-dosa kecil tanpa dosa-dosa besar, atau dari suatu dosa besar tanpa dosa besar lainnya. Adapun taubat dari dosa-dosa besar tanpa dosa-dosa kecil adalah perkara yang memungkinkan; sebab ia mengetahui bahwa dosa-dosa besar itu lebih dahsyat di sisi Allah dan lebih memancing kemurkaan serta kebencian Allah, sedangkan dosa-dosa kecil lebih dekat untuk mendapatkan ampunan. Maka tidaklah mustahil ia bertaubat dari dosa yang lebih besar dan menyesal atasnya; sebagaimana orang yang melakukan kejahatan terhadap keluarga dan kehormatan raja, sekaligus melakukan kejahatan terhadap hewan tunggangannya, di mana ia merasa takut atas kejahatan terhadap keluarga raja dan menganggap remeh kejahatan terhadap hewan tersebut. Dan penyesalan itu bergantung pada menganggap besarnya dosa serta meyakini bahwa dosa tersebut menjauhkan dari Allah Ta'ala. Hal ini sangat mungkin terjadi dalam syariat; sebab telah banyak orang yang bertaubat pada masa-masa lampau sementara tidak ada seorang pun dari mereka yang ma'shum (terpelihara dari dosa), sehingga taubat tidak menuntut adanya ke-ma'shum-an. Dan seorang dokter terkadang memperingatkan pasien dari madu dengan peringatan yang sangat keras, serta memperingatkannya dari gula dengan peringatan yang lebih ringan sedemikian rupa sehingga pasien merasa bahwa boleh jadi bahaya gula tidak tampak sama sekali; maka pasien tersebut berhenti (bertaubat) dengan perkataannya dari mengonsumsi madu tanpa gula. Hal ini tidaklah mustahil terjadi; sekiranya ia mengonsumsi keduanya karena dorongan syahwatnya, ia akan menyesal atas memakan madu saja tanpa gula.

الثاني أن يتوب عن بعض الكبائر دون بعض وهذا أيضاً ممكن لاعتقاده أن بعض الكبائر أشد وأغلظ عند

Kemungkinan kedua: Ia bertaubat dari sebagian dosa besar tanpa sebagian dosa besar lainnya. Hal ini juga memungkinkan karena keyakinannya bahwa sebagian dosa besar itu lebih berat dan lebih keras di sisi…

الله كالذي يتوب عن القتل والنهب والظلم ومظالم العباد لعلمه أن ديوان العباد لا يترك وما بينه وبين الله يتسارع العفو إليه فهذا أيضاً ممكن كما في تفاوت الكبائر والصغائر لأن الكبائر أيضاً متفاوتة في أنفسها وفي اعتقاد مرتكبها ولذلك قد يتوب عن بعض الكبائر التي لا تتعلق بالعباد كما يتوب عن شرب الخمر دون الزنا مثلاً إذ يتضح له أن الخمر مفتاح الشرور وأنه إذا زال عقله ارتكب جميع المعاصي وهو لا يدرى فبحسب ترجح شرب الخمر عنده ينبعث منه خوف يوجب ذلك تركا في المستقبل وندماً على الماضي

seperti orang yang bertobat dari pembunuhan, perampokan, kezaliman, dan penganiayaan terhadap hak-hak sesama hamba, karena ia mengetahui bahwa buku catatan dosa antar-hamba tidak akan dibiarkan (tanpa tuntutan pembalasan), sedangkan apa yang terjadi antara dirinya dan Allah, ampunan-Nya sangat cepat menyambut. Hal demikian juga mungkin terjadi, sebagaimana terdapatnya perbedaan tingkatan antara dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil. Sebab dosa-dosa besar itu sendiri bertingkat-tingkat pada hakikat dirinya maupun dalam keyakinan pelakunya. Oleh karena itu, seseorang terkadang bertobat dari sebagian dosa besar yang tidak berkaitan dengan hak hamba, seperti bertobat dari minum khamar namun tidak bertobat dari zina misalnya; sebab jelas baginya bahwa khamar adalah kunci segala kejahatan dan jika akalnya hilang, ia akan melakukan seluruh kemaksiatan tanpa ia sadari. Maka sejauh mana kuatnya kesadaran akan bahaya minum khamar dalam pandangannya, dari situlah memancar rasa takut yang menuntutnya untuk meninggalkannya di masa depan dan menyesali masa lalu.

الثالث أن يتوب عن صغيرة أو صغائر وهو مصر على كبيرة يعلم أنها كبيرة كالذي يتوب عن الغيبة أو عن النظر إلى غير المحرم أو ما يجري مجراه وهو مصر على شرب الخمر فهو أيضاً ممكن ووجه إمكانه أنه ما من مؤمن إلا وهو خائف من معاصيه ونادم على فعله ندماً إما ضعيفاً وإما قوياً ولكن تكون لذة نفسه في تلك المعصية أقوى من ألم قلبه في الخوف منها لأسباب توجب ضعف الخوف من الجهل والغفلة وأسباب توجب قوة الشهوة فيكون الندم موجوداً ولكن لا يكون ملياً بتحريك العزم ولا قوياً عليه فإن سلم عن شهوة أقوى منه بأن لم يعارضه إلا ما هو أضعف قهر الخوف الشهوة وغلبها وأوجب ذلك ترك المعصية وقد تشتد ضراوة الفاسق بالخمر فلا يقدر على الصبر عنه وتكون له ضراوة ما بالغيبة وثلب الناس والنظر إلى غير المحرم وخوفه من الله قد بلغ مبلغاً يقمع هذه الشهوة الضعيفة دون القوية فيوجب عليه جند الخوف انبعاث العزم للترك بل يقول هذا الفاسق في نفسه إن قهرنى الشيطان بواسطة غلبة الشهوة في بعض المعاصي فلا ينبغي أن أخلع العذار وأرخي العنان بالكلية بل أجاهده في بعض المعاصي فعساني أغلبه فيكون قهري له في البعض كفارة لبعض ذنوبي ولو لم يتصور هذا لما تصور من الفاسق أن يصلي ويصوم ولقيل له إن كانت صلاتك لغير الله فلا تصح وإن كانت لله فاترك الفسق لله فإن أمر الله فيه واحد فلا يتصور أن تقصد بصلاتك التقرب إلى الله تعالى ما لم تتقرب بترك الفسق وهذا محال بأن يقول لله تعالى على أمران ولي على المخالفة فيهما عقوبتان وأناملي في أحدهما بقهر الشيطان عاجز عنه في الآخر فأنا أقهره فيما أقدر عليه وأرجو بمجاهدتي فيه أن يكفر عنى بعض ما عجزت عنه بفرط شهوتي فكيف لا يتصور هذا وهو حال كل مسلم إذ لا مسلم إلا وهو جامع بين طاعة الله ومعصيته ولاسبب له إلا هذا وإذا فهم هذا فهم أن غلبة الخوف للشهوة في بعض الذنوب ممكن وجودها والخوف إذا كان من فعل ماض أورث الندم والندم يورث العزم وقد قال النبي ﷺ الندم توبة ولم يشترط الندم على كل ذنب وقال التائب من الذنب كمن لا ذنب له ولم يقل التائب من الذنوب كلها وبهذه المعاني تبين سقوط قول القائل أن التوبة عن بعض الذنوب غير ممكنة لأنها متمائلة في حق الشهوة وفي حق التعرض إلى سخط الله تعالى نعم يجوز أن يتوب عن شرب الخمر دون النبيذ لتفاوتهما في اقتضاء السخط ويتوب عن الكثير دون القليل لأن لكثرة الذنوب تأثيراً في كثرة العقوبة فيساعد الشهوة بالقدر الذي يعجز عنه ويترك بعض شهوته لله تعالى كالمريض الذي حذره الطبيب الفاكهة فإنه قد يتناول قليلها ولكن لا يستكثر منها فقد حصل من هذا أنه لا يمكن أن يتوب عن شيء ولا يتوب عن مثله بل لا بد وأن يكون ما تاب عنه مخالفاً لما بقي عليه إما في شدة المعصية وإما في غلبة الشهوة وإذا حصل هذا التفاوت في اعتقاد التائب تصور اختلاف حاله في الخوف والندم فيتصور اختلاف حاله في الترك فندمه على ذلك الذنب ووفاؤه بعزمه على الترك يلحقه بمن لم يذنب وإن لم يكن قد أطاع الله في جميع الأوامر والنواهي

Keadaan ketiga: Seseorang bertobat dari satu dosa kecil atau beberapa dosa kecil, sementara ia terus menerus melakukan dosa besar yang ia ketahui secara sadar sebagai dosa besar. Seperti orang yang bertobat dari ghibah (menggunjing) atau dari memandang wanita yang bukan mahramnya dan yang sejenisnya, padahal ia terus menerus meminum khamar. Hal ini pun mungkin terjadi. Sisi kemungkinannya adalah bahwa tidak ada seorang mukmin pun melainkan ia merasa takut atas kemaksiatan-kemaksiatannya dan menyesali perbuatannya, baik penyesalan yang lemah maupun yang kuat. Namun, kelezatan nafsu pada maksiat tersebut terkadang lebih kuat daripada rasa sakit di hatinya akibat takut akan dosa itu, karena sebab-sebab yang memicu lemahnya rasa takut berupa kebodohan dan kelalaian, serta sebab-sebab yang memperkuat syahwat. Maka penyesalan itu memang ada, namun tidak cukup kuat untuk membangkitkan tekad dan tidak berdaya mengendalikannya. Jika ia terbebas dari syahwat yang lebih kuat dengannya—dalam arti tidak ada yang menentangnya kecuali syahwat yang lebih lemah—niscaya rasa takut akan mengalahkan syahwat itu dan mengharuskan ditinggalkannya kemaksiatan tersebut. Terkadang pula kebiasaan buruk seorang fasik terhadap khamar sangat kuat sehingga ia tidak sanggup bersabar darinya, namun ia memiliki kebiasaan yang lebih ringan terhadap ghibah, mencela orang lain, dan memandang hal yang haram, sehingga rasa takutnya kepada Allah telah mencapai tingkat yang mampu menekan syahwat yang lemah ini, bukan syahwat yang kuat. Maka tentara rasa takut mewajibkannya untuk membangkitkan tekad guna meninggalkannya. Bahkan orang fasik ini berkata dalam hatinya: 'Jika setan telah mengalahkanku melalui dominasi syahwat pada sebagian maksiat, maka tidak sepatutnya aku melepaskan kendali dan menuruti hawa nafsu secara keseluruhan. Sebaliknya, aku akan memeranginya pada sebagian maksiat lainnya, mudah-mudahan aku dapat mengalahkannya, sehingga kemenanganku atasnya pada sebagian dosa menjadi penghapus bagi sebagian dosa-dosaku yang lain.' Sekiranya hal ini tidak dapat digambarkan, niscaya tidak dapat digambarkan pula seorang fasik yang masih mendirikan shalat dan berpuasa, dan tentu akan dikatakan kepadanya: 'Jika shalatmu bukan karena Allah maka tidak sah, dan jika karena Allah maka tinggalkanlah kefasikan karena Allah, sebab perintah Allah pada keduanya adalah satu. Maka tidak dapat digambarkan engkau bermaksud mendekatkan diri kepada Allah dengan shalatmu selama engkau tidak mendekatkan diri dengan meninggalkan kefasikan.' Hal ini mustahil, sebab seorang hamba bisa saja berkata: 'Allah Ta'ala memiliki dua perintah atas diriku, dan aku terancam dua siksaan atas pelanggaran terhadap keduanya. Aku mampu mengalahkan setan pada salah satunya dan lemah padanya pada yang lain, maka aku mengalahkannya pada apa yang aku sanggupi dan aku berharap dengan kesungguhanku ini Allah mengampuni sebagian dosa yang aku lemah darinya karena meluapnya syahwatku.' Bagaimana mungkin hal ini tidak dapat digambarkan padahal inilah kondisi setiap muslim? Sebab tidak ada seorang muslim pun melainkan ia menghimpun antara ketaatan kepada Allah dan kemaksiatan kepada-Nya, dan tidak ada sebab bagi hal tersebut selain ini. Jika hal ini telah dipahami, maka dipahamilah bahwa menangnya rasa takut atas syahwat pada sebagian dosa adalah mungkin adanya. Dan rasa takut itu, jika lahir dari perbuatan masa lalu, akan membuahkan penyesalan, sedangkan penyesalan membuahkan tekad (untuk meninggalkan). Nabi ﷺ telah bersabda: 'Penyesalan adalah tobat,' dan beliau tidak mensyaratkan penyesalan atas setiap dosa. Beliau juga bersabda: 'Orang yang bertobat dari suatu dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya,' dan beliau tidak bersabda: 'Orang yang bertobat dari seluruh dosa.' Melalui makna-makna ini, jelaslah gugurnya pendapat orang yang mengatakan bahwa bertobat dari sebagian dosa itu tidak mungkin karena dosa-dosa tersebut setara dalam hal tuntutan syahwat dan dalam hal memancing kemurkaan Allah Ta'ala. Benar, boleh jadi seseorang bertobat dari meminum khamar namun tidak bertobat dari meminum nabidz (perasan buah yang memabukkan ringan) karena perbedaan keduanya dalam memicu kemurkaan Allah; atau bertobat dari dosa yang banyak namun tidak dari dosa yang sedikit, karena banyaknya dosa berpengaruh pada besarnya siksaan, sehingga ia menuruti syahwat sebatas kadar yang ia lemah darinya dan meninggalkan sebagian syahwatnya karena Allah Ta'ala. Hal ini seperti seorang sakit yang dilarang oleh dokter memakan buah-buahan; ia mungkin memakan sedikit, namun tidak memperbanyaknya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak mungkin bertobat dari sesuatu sementara ia tidak bertobat dari hal yang sama persis darinya. Akan tetapi, perkara yang ia bertobat darinya haruslah berbeda dengan perkara yang masih ia lakukan, baik dalam hal beratnya kemaksiatan maupun dalam hal dominasi syahwat. Apabila perbedaan ini telah tertanam dalam keyakinan orang yang bertobat, maka dapat digambarkan perbedaan kondisinya dalam rasa takut dan penyesalan, sehingga dapat digambarkan pula perbedaan kondisinya dalam meninggalkan dosa. Penyesalannya atas dosa tersebut dan pemenuhan tekadnya untuk meninggalkannya menyatukannya dengan golongan orang yang tidak berbuat dosa, meskipun ia belum menaati Allah dalam seluruh perintah dan larangan.

فإن قلت هل تصح توبة العنين من الزنا الذي قارفه قبل طريان العنة فأقول لا لأن التوبة عبارة عن ندم

Jika engkau bertanya: "Apakah sah tobat orang yang mati rasa seksualnya ('innin) dari perbuatan zina yang pernah dilakukannya sebelum datangnya kondisi mati rasa tersebut?" Maka aku katakan: Tidak sah, karena tobat merupakan ungkapan dari penyesalan…

يبعث العزم على الترك فيما يقدر على فعله وما لا يقدر على فعله فقد انعدم بنفسه لا بتركه إياه ولكني أقول لو طرأ عليه بعد العنة كشف ومعرفة تحقق به ضرر الزنا الذي قارفه وثار منه احتراق وتحسر وندم بحيث لو كانت شهوة الوقاع به باقية لكانت حرقة الندم تقمع تلك الشهوة وتغلبها فإني أرجو أن يكون ذلك مكفراً لذنبه وما حيا عنه سيئته إذ لا خلاف في أنه لو تاب قبل طريان العنة ومات عقيب التوبة كان من التائبين وإن لم يطرأ عليه حالة تهيج فيها الشهوة وتتيسر أسباب قضاء الشهوة ولكنه تائب باعتبار أن ندمه بلغ مبلغاً أوجب صرف قصده عن الزنا لو ظهر قصده فإذن لا يستحيل أن تبلغ قوة الندم في حق العنين هذا المبلغ إلا أنه لا يعرفه من نفسه فإن كل من لا يشتهي شيئاً يقدر نفسه قادراً على تركه بأدنى خوف والله تعالى مطلع على ضميره وعلى مقدار ندمه فعساه يقبله منه بل الظاهر أنه يقبله

…yang membangkitkan tekad untuk meninggalkan dosa pada perkara yang mampu ia lakukan. Adapun perkara yang tidak mampu ia lakukan, maka hal itu gugur dengan sendirinya (karena ketidakmampuan fisik), bukan karena ia meninggalkannya. Namun aku katakan: Seandainya setelah datangnya mati rasa seksual itu terbuka baginya pembuka spritual (kasyf) dan ma'rifat yang membuatnya meyakini bahaya zina yang pernah dilakukannya, lalu timbul dari dadanya gejolak penyesalan, kepedihan, dan kerinduan akan ampunan yang sedemikian rupa sehingga seandainya syahwat jimbaknya masih ada, niscaya kobaran penyesalan itu sanggup menekan dan mengalahkan syahwat tersebut; maka aku berharap hal itu menjadi pelebur bagi dosanya dan penghapus bagi kejahatannya. Sebab tidak ada perselisihan pendapat bahwa seandainya ia bertobat sebelum datangnya mati rasa seksual lalu ia meninggal seketika setelah bertobat, niscaya ia tergolong orang-orang yang bertobat, meskipun belum mengalami kondisi di mana syahwatnya bergejolak dan kemudahan sarana pelampiasannya tersedia. Namun ia disebut bertobat karena penyesalannya telah mencapai tingkat yang mewajibkan dialihkannya maksudnya dari zina sekiranya maksud itu muncul. Oleh karena itu, tidaklah mustahil kekuatan penyesalan pada diri orang yang 'innin mencapai tingkat ini, hanya saja ia tidak menyadarinya dari dirinya sendiri. Sebab setiap orang yang tidak memiliki hasrat terhadap sesuatu akan menganggap dirinya mampu meninggalkannya hanya dengan rasa takut yang paling ringan. Padahal Allah Ta'ala Maha Mengetahui rahasia hatinya dan kadar penyesalannya, maka boleh jadi Allah menerimanya, bahkan yang tampak jelas (zahir) adalah Allah menerimanya.

والحقيقة في هذا كله ترجع إلى ظلمة المعصية تنمحي عن القلب بشيئين أحدهما حرقة الندم والآخر شدة المجاهدة بالترك في المستقبل وقد امتنعت المجاهدة بزوال الشهوة ولكن ليس محالاً أن يقوى الندم بحيث يقوى على محوها دون المجاهدة ولولا هذا لقلنا إن التوبة لا تقبل ما لم يعش التائب بعد التوبة مدة يجاهد نفسه في عين تلك الشهوة مرات كثيرة وذلك مما لا يدل ظاهر الشرع على اشتراطه أصلاً

Hakikat dalam seluruh masalah ini kembali kepada kegelapan maksiat yang terhapus dari hati dengan dua hal: salah satunya adalah gejolak penyesalan, dan yang lainnya adalah kesungguhan mujahadah dengan meninggalkan dosa di masa mendatang. Mujahadah memang telah terhalang akibat sirnanya syahwat, namun bukanlah hal yang mustahil jika penyesalan itu menjadi sangat kuat sehingga sanggup menghapus dosa tanpa perlu mujahadah. Sekiranya tidak demikian, niscaya kita akan katakan bahwa tobat tidak diterima sebelum orang yang bertobat hidup beberapa waktu setelah bertobat untuk memujaahadahi dirinya menghadapi syahwat yang sama berkali-kali. Padahal lahiriah syariat tidak pernah menunjukkan disyaratkannya hal tersebut sama sekali.

فإن قلت إذا فرضنا تائبين أحدهما سكنت نفسه عن النزوع إلى الذنب والآخر بقي في نفسه نزوع إليه وهو يجاهدها ويمنعها فأيهما أفضل فاعلم أن هذا مما اختلف العلماء فيه فقال أحمد بن أبي الحواري وأصحاب أبي سليمان الداراني إن المجاهد أفضل لأن له مع التوبة فضل الجهاد وقال علماء البصرة ذلك الآخر أفضل لأنه لو فتر في توبته كان أقرب إلى السلامة من المجاهد الذي هو في عرضة الفتور عن المجاهدة وما قاله كل واحد من الفريقين لا يخلو عن حق وعن قصور عن كمال الحقيقة

Jika engkau bertanya: "Jika kita mengandaikan dua orang yang bertobat, yang satu jiwanya telah tenang dari kecenderungan kepada dosa, sedangkan yang lain masih tersisa dalam jiwanya kecenderungan kepada dosa namun ia memujaahadahi dan mencegah jiwanya, manakah di antara keduanya yang lebih utama?" Maka ketahuilah bahwa ini termasuk perkara yang diperselisihkan oleh para ulama. Ahmad bin Abil Hawari dan para sahabat Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Orang yang bermujahadah itu lebih utama, karena selain bertobat ia memiliki keutamaan jihad." Sedangkan para ulama Basrah berkata: "Orang yang satunya lagi lebih utama, sebab jika ia mengalami kelesuan (futur) dalam tobatnya, ia lebih dekat kepada keselamatan daripada orang yang bermujahadah yang senantiasa terancam kelesuan dalam bermujahadah." Apa yang dikatakan oleh masing-masing dari kedua kelompok ini tidak sepi dari kebenaran, namun masih memiliki kekurangan dalam mencapai kesempurnaan hakikat.

والحق فيه أن الذي انقطع نزوع نفسه له حالتان إحداهما أن يكون انقطاع نزوعه إليها بفتور في نفس الشهوة فقط فالمجاهد أفضل من هذا إذ تركه بالمجاهدة قد دل على قوة نفسه واستيلاء دينه على شهوته فهو دليل قاطع على قوة اليقين وعلى قوة الدين وأعني بقوة الدين قوة الإرادة التي تنبعث بإشارة اليقين وتقمع الشهوة المنبعثة بإشارة الشياطين فهاتان قوتان تدل المجاهدة عليهما قطعاً وقول القائل إن هذا أسلم إذ لو فتر لا يعود إلى الذنب فهذا صحيح ولكن استعمال لفظ الأفضل فيه خطأ وهو كقول القائل العنين أفضل من الفحل لأنه في أمن من خطر الشهوة والصبي أفضل من البالغ لأنه أسلم والمفلس أفضل من الملك القاهر القامع لأعدائه لأن المفلس لا عدو له والملك ربما يغلب مرة وإن غلب مرات وهذا كلام رجل سليم القلب قاصر النظر على الظواهر غير عالم بأن العز في الأخطار وأن العلو شرطه اقتحام الأغرار بل كقول القائل الصياد الذي ليس له فرس ولا كلب أفضل في صناعة الاصطياد وأعلى رتبة من صاحب الكلب والفرس لأنه آمن من أن يجمح به فرسه فتنكسر أعضاؤه عند السقوط على الأرض وآمن من أن يعضه الكلب ويعتدي عليه وهذا خطأ بل صاحب الفرس والكلب إذا كان قوياً عالماً بطريق تأديبهما أعلى رتبة وأحرى بدرك سعادة الصيد

Kebenaran dalam masalah ini adalah bahwa orang yang kecenderungan jiwanya telah terputus memiliki dua kondisi: Kondisi pertama, terputusnya kecenderungan jiwanya kepada dosa itu hanya disebabkan oleh melemahnya (redupnya) syahwat itu sendiri. Maka orang yang bermujahadah lebih utama daripada orang ini; sebab tindakannya meninggalkan dosa melalui mujahadah menunjukkan kekuatan jiwanya dan dominasi agamanya atas syahwatnya. Itu merupakan dalil yang tegas atas kuatnya keyakinan dan kuatnya agama. Yang aku maksud dengan kekuatan agama adalah kekuatan kehendak (iradah) yang membumbung atas isyarat keyakinan dan menekan syahwat yang timbul atas isyarat setan-setan. Kedua kekuatan inilah yang ditunjukkan oleh mujahadah secara pasti. Adapun ucapan yang menyatakan bahwa orang tersebut lebih selamat karena jika ia mengalami futur ia tidak akan kembali berbuat dosa, maka ini benar; namun penggunaan kata "lebih utama" di sini adalah keliru. Hal itu bagaikan ucapan orang yang berkata: "Orang yang 'innin (mati rasa seksual) lebih utama daripada laki-laki jantan karena ia aman dari bahaya syahwat; anak kecil lebih utama daripada orang dewasa karena ia lebih selamat; dan orang yang bangkrut lebih utama daripada raja yang berkuasa dan menaklukkan musuh-musuhnya karena orang yang bangkrut tidak memiliki musuh, sedangkan raja terkadang kalah sekali meskipun pernah menang berkali-kali." Ini adalah perkataan seseorang yang berhati lugu, pandangannya terbatas pada hal-hal lahiriah, dan tidak mengetahui bahwa kemuliaan itu berada dalam keberanian menempuh risiko dan bahwa keluhuran itu syaratnya adalah mengarungi bahaya. Bahkan hal itu seperti ucapan orang yang berkata: "Pemburu yang tidak memiliki kuda dan anjing pemburu adalah lebih utama dalam seni berburu dan lebih tinggi tingkatan kedudukannya daripada pemilik anjing dan kuda, karena ia aman dari bahaya kudanya yang mungkin liar sehingga patah tulang-tulangnya saat jatuh ke tanah, dan aman dari anjing yang mungkin menggigitnya dan menyerangnya." Ini adalah kesalahan. Justru pemilik kuda dan anjing, apabila ia kuat dan mengetahui cara melatih keduanya, kedudukannya lebih tinggi dan lebih berhak meraih kebahagiaan hasil buruan.

الحالة الثانية أن يكون بطلان النزوع بسبب قوة اليقين وصدق المجاهدة السابقة إذ بلغ مبلغاً قمع هيجان الشهوة حتى تأدبت بأدب الشرع فلا تهيج إلا بالإشارة من الدين وقد سكنت بسبب استيلاء الدين عليها فهذا أعلى رتبة من المجاهد المقاسي لهيجان الشهوة وقمعها وقول القائل ليس لذلك فضل الجهاد قصور عن الإحاطة بمقصود

Kondisi kedua: Sirnanya kecenderungan tersebut disebabkan oleh kuatnya keyakinan dan benarnya mujahadah di masa lalu, di mana ia telah mencapai suatu tingkat yang mampu menundukkan gejolak syahwat hingga syahwat itu terdidik dengan adab syariat, sehingga tidak bergejolak kecuali atas isyarat dari agama, dan ia telah tenang karena besarnya dominasi agama atasnya. Maka orang ini lebih tinggi derajatnya daripada pelaku mujahadah yang masih bersusah payah menghadapi gejolak syahwat dan menundukkannya. Adapun ucapan penentang bahwa orang ini tidak memiliki keutamaan jihad, merupakan ketidakpahaman dalam merangkul tujuan…

الجهاد فإن الجهاد كان مقصوداً لعينه بل المقصود قطع ضراوة العدو حتى لا يستجرك إلى شهواته وإن عجز عن استجرارك فلا يصدك عن سلوك طريق الدين فإذا قهرته وحصلت المقصود فقد ظفرت وما دمت في المجاهدة فأنت بعد في طلب الظفر ومثاله كمثال من قهر العدو واسترقه بالإضافة إلى من هو مشغول بالجهاد في صف القتال ولا يدري كيف يسلم ومثاله أيضاً مثال من علم كلب الصيد وراض الفرس فهما نائمان عنده بعد ترك الكلب الضراوة والفرس الجماح بالإضافة إلى من هو مشغول بمقاساة التأديب بعد ولقد زل في هذا فريق فظنوا أن الجهاد هو المقصود الأقصى ولم يعلموا أن ذلك طلب للخلاص من عوائق الطريق وظن آخرون أن قمع الشهوات وإماطتها بالكلية مقصود حتى جرب بعضهم نفسه فعجز عنه فقال هذا محال فكذب بالشرع وسلك سبيل الإباحة واسترسل في إتباع الشهوات وكل ذلك جهل وضلال وقد قررنا ذلك في كتاب رياضة النفس من ربع المهلكات

…jihad itu sendiri. Sebab jihad bukanlah dicari karena zatnya sendiri, melainkan tujuannya adalah memutus ganasnya musuh agar ia tidak menuntutmu menuju syahwat-syahwatnya; dan jika ia lemah untuk menuntutmu, ia tidak menghalangimu dari menempuh jalan agama. Apabila engkau telah menundukkannya dan memperoleh tujuan tersebut, maka engkau telah menang. Selama engkau masih dalam mujahadah, engkau masih berada dalam pencarian kemenangan. Perumpamaannya seperti orang yang telah menundukkan musuh dan menjadikannya tawanan dibandingkan dengan orang yang masih sibuk bertempur di barisan perang dan tidak tahu bagaimana ia bisa selamat. Perumpamaannya juga seperti orang yang telah melatih anjing pemburu dan menjinakkan kuda, lalu keduanya tidur dengan tenang di sisinya setelah anjing meninggalkan sifat keganasannya dan kuda meninggalkan keliarannya, dibandingkan dengan orang yang masih sibuk bersusah payah melakukan penjinakan. Sungguh telah tergelincir dalam hal ini satu kelompok orang; mereka mengira bahwa jihad adalah tujuan tertinggi dan tidak mengetahui bahwa hal itu hanyalah upaya untuk melepaskan diri dari penghalang jalan. Kelompok lain mengira bahwa menundukkan syahwat dan melenyapkannya secara total adalah tujuan utama, hingga sebagian dari mereka mencoba dirinya lalu merasa tidak mampu, kemudian ia berkata: 'Ini adalah hal yang mustahil,' lalu ia mendustakan syariat, menempuh jalan serba boleh (serba bebas), serta melampiaskan diri dalam menuruti syahwat. Semua itu adalah kebodohan dan kesesatan, dan telah kami tetapkan penjelasan hal tersebut dalam Kitab Riyadatun Nafs (Latihan Jiwa) dari Rub' Al-Muhlikat (Seperempat Perkara yang Membinasakan).

فإن قلت فما قولك في تائبين أحدهما نسي الذنب ولم يشتغل بالتفكر فيه والآخر جعله نصب عينه ولا يزال بتفكر فيه ويحترق ندماً عليه فأيهما أفضل فاعلم أن هذا أيضاً قد اختلفوا فيه فقال بعضهم حقيقة التوبة أن تنصب ذنبك بين عينيك وقال آخر حقيقة التوبة أن تنسى ذنبك وكل واحد من المذنبين عندنا على حق ولكن بالإضافة إلى حالين

Jika engkau bertanya: "Lantas apakah pendapatmu tentang dua orang yang bertobat, yang satu melupakan dosanya dan tidak sibuk memikirkannya, sedangkan yang lain menjadikannya di depan matanya, senantiasa memikirkannya dan terbakar oleh penyesalan atasnya, manakah di antara keduanya yang lebih utama?" Maka ketahuilah bahwa ini pun telah diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian dari mereka berkata: "Hakikat tobat adalah engkau meletakkan dosamu di depan kedua matamu." Yang lain berkata: "Hakikat tobat adalah engkau melupakan dosamu." Dan setiap orang dari pelaku dosa ini menurut kami berada di atas kebenaran, namun ditinjau berdasarkan dua kondisi yang berbeda.

وكلام المتصوفة أبداً يكون قاصراً فإن عادة كل واحد منهم أن يخبر عن حال نفسه فقط ولا يهمه حال غيره فتختلف الأجوبة لاختلاف الأحوال وهذا نقصان بالإضافة إلى الهمة والإرادة والجد حيث يكون صاحبه مقصور النظر على حال نفسه لا يهمه أمر غيره إذ طريقه إلى الله نفسه ومنازله أحواله وقد يكون طريق العبد إلى الله العلم فالطرق إلى الله تعالى كثيرة وإن كانت مختلفة في القرب والعبد والله أعلم بمن هو أهدى سبيلاً مع الاشتراك في أصل الهداية

Perkataan kaum Sufi senantiasa bersifat terbatas (parsial), sebab kebiasaan setiap orang dari mereka adalah mengabarkan tentang kondisi dirinya sendiri saja dan tidak memusingkan kondisi orang lain, sehingga jawaban-jawaban menjadi berbeda karena perbedaan kondisi-kondisi tersebut. Hal ini merupakan suatu kekurangan jika ditinjau dari sudut pandang cita-cita spiritual (himmah), kehendak (iradah), dan kesungguhan akademis, di mana pandangan pemiliknya terbatas pada kondisi dirinya sendiri saja tanpa memikirkan urusan orang lain. Sebab jalannya menuju Allah adalah dirinya sendiri dan tempat-tempat persinggahannya (manazil) adalah kondisi-kondisi spiritualnya (ahwal). Padahal terkadang jalan seorang hamba menuju Allah adalah ilmu. Maka jalan-jalan menuju Allah Ta'ala itu sangat banyak, meskipun berbeda-beda dalam tingkat kedekatannya. Dan hamba—Wallahu a'lam—mengetahui siapa yang lebih mendapat petunjuk jalannya, di samping adanya kebersamaan dalam pokok hidayah.

فأقول تصور الذنب وذكره والتفجع عليه كمال في حق المبتدىء لأنه إذا نسيه لم يكثر احتراقه فلا تقوى إرادته وانبعاثه لسلوك الطريق لأن ذلك يستخرج منه الحزن والخوف الوازع عن الرجوع إلى مثله فهو بالإضافة إلى الغافل كمال ولكنه بالإضافة إلى سالك الطريق نقصان فإنه شغل مانع عن سلوك الطريق بل سالك الطريق ينبغي أن لا يعرج على غير السلوك فإن ظهر له مبادى الوصول وانكشف له أنوار المعرفة ولو امع الغيب استغرقه ذلك ولم يبق متسع للالتفات إلى ما سبق من أحواله وهو الكمال بل لو عاق المسافر عن الطريق إلى بلد من البلاد نهر حاجز طال تعب المسافر في عبوره مدة من حيث إنه كان قد خرب جسره من قبل ولو جلس على شاطىء البحر بعد عبوره يبكي متأسفاً على تخريبه الجسر كان هذا مانعاً آخر اشتغل به بعد الفراغ من ذلك المانع نعم إن لم يكن الوقت وقت الرحيل بأن كان ليلاً فتعذر السلوك أو كان على طريقة أنهار وهو يخاف على نفسه أن يمر بها فليطل بالليل بكاؤه وحزنه على تخريب الجسر ليتأكد بطول الحزن عزمه على أن لا يعود إلى مثله فإن حصل له من التنبيه ما وثق بنفسه أنه لا يعود إلى مثله فسلوك الطريق أولى به من الاشتغال بذكر تخريب الجسر والبكاء عليه وهذا لا يعرفه إلا من عرف الطريق والمقصد والعائق وطريق السلوك وقد أشرنا إلى تلويحات منه في كتاب العلم وفي ربع المهلكات بل نقول شرط دوام التوبة أن يكون كثير الفكر في النعيم فى الآخرة لتزيد غبته ولكن إن كان شاباً فلا ينبغي أن يطيل فكره فى كل ما له نظير في الدنيا كالحور والقصور فإن ذلك الفكر ربما يحرك رغبته فيطلب العاجلة ولا يرضى بالآجلة بل ينبغي أن يتفكر في لذة النظر إلى وجه الله تعالى فقط فذلك لا نظير له في الدنيا

Maka aku katakan: Menggambarkan dosa, mengingatnya, dan merasa pilu atasnya merupakan kesempurnaan bagi penempuh jalan awal (mubtadi'). Sebab jika ia melupakannya, gejolak penyesalannya tidak akan kuat, sehingga kehendak dan dorongannya untuk menempuh jalan spiritual tidak akan menghebat, karena hal itu dapat mengeluarkan kesedihan dan rasa takut yang mencegahnya dari kembali ke dosa serupa. Maka ditinjau dari sudut pandang orang yang lalai, hal itu adalah kesempurnaan; namun ditinjau dari sudut pandang penempuh jalan spiritual (salik), hal itu adalah kekurangan, karena ia menjadi kesibukan yang menghambat dari menempuh jalan. Bahkan seorang salik sepatutnya tidak berpaling kepada selain penempuhan jalan itu sendiri. Apabila telah tampak baginya tanda-tanda al-wusul (pencapaian) dan telah tersingkap baginya cahaya-cahaya ma'rifat serta kilatan alam gaib, hal itu akan menyita seluruh perhatiannya sehingga tidak tersisa lagi ruang untuk berpaling kepada kondisi-kondisinya yang lalu, dan itulah kesempurnaan. Bahkan seandainya seorang musafir terhalang dari jalan menuju suatu negeri oleh sungai yang membentang, lalu melelahkan musafir tersebut dalam menyeberanginya selama beberapa waktu karena jembatannya telah rusak sebelumnya, kemudian setelah menyeberang ia duduk di tepi pantai sambil menangis menyesali rusaknya jembatan tersebut, niscaya ini menjadi penghalang lain yang menyibukkannya setelah selesai dari penghalang pertama. Benar, jika waktunya bukan waktu keberangkatan—misalnya pada malam hari sehingga mustahil menempuh jalan, atau di jalannya terdapat sungai-sungai lain dan ia mengkhawatirkan dirinya saat melintasinya—maka hendaklah ia memperpanjang tangisan dan kesedihannya di malam hari atas rusaknya jembatan tersebut, agar dengan panjangnya kesedihan itu makin kukuh tekadnya untuk tidak kembali pada hal serupa. Apabila ia telah memperoleh peringatan yang membuatnya yakin pada dirinya bahwa ia tidak akan kembali pada hal serupa, maka menempuh jalan lebih utama baginya daripada sibuk mengingat rusaknya jembatan dan menangisinya. Perkara ini tidak diketahui kecuali oleh orang yang mengenali jalan, tujuan, penghalang, dan cara menempuh jalan spiritual. Kami telah mengisyaratkan isyarat-isyarat darinya dalam Kitab Al-Ilmi dan dalam Rub' Al-Muhlikat. Bahkan kami katakan: Syarat keberlanjutan tobat adalah hendaknya ia banyak berpikir tentang kenikmatan akhirat agar kerinduannya makin bertambah. Namun jika ia seorang pemuda, tidak sepatutnya ia memperpanjang pikirannya pada segala hal yang memiliki padanan di dunia seperti bidadari dan istana-istana; sebab pemikiran seperti itu boleh jadi menggerakkan syahwat dunianya sehingga ia menuntut kenikmatan yang disegerakan (dunia) dan tidak ridha dengan kenikmatan tertunda (akhirat). Melainkan hendaknya ia hanya memikirkan kelezatan memandang Wajah Allah Ta'ala saja, karena hal itu tidak ada tandingannya di dunia.

فكذلك تذكر الذنب قد يكون محركا للشهوة فالمبتدى أيضاً قد يستضر به فيكون النسيان أفضل له عند ذلك ولا يصدنك عن التصديق بهذا التحقيق ما يحكى لك من بكاء داود ونياحته ﵇ فإن قياسك نفسك على الأنبياء قياس في غاية الاعوجاج لأنهم قد ينزلون في أقوالهم وأفعالهم إلى الدرجات اللائقة بأممهم فإنهم ما بعثوا إلا لإرشادهم فعليهم التلبس بما تنتفع أممهم بمشاهدته وإن كان ذلك نازلاً عن ذروة مقامهم فلقد كان في الشيوخ من لا يشير على مريده بنوع رياضة إلا ويخوض معه فيها وقد كان مستغنياً عنها لفراغه عن المجاهدة وتأديب النفس تسهيلاً للأمر على المريد ولذلك قال ﷺ أما إني لا أنسى ولكنى أنسى لأشرع وفي لفظ إنما أسهو لأسن ولا تعجب من هذا فإن الأمم في كنف شفقة الأنبياء كالصبيان في كنف شفقة الآباء وكالمواشي في كنف الرعاة

Demikian pula mengingat dosa terkadang dapat menggerakkan syahwat, sehingga penempuh jalan awal (mubtadi') pun terkadang tertimpa bahaya karenanya, sehingga melupakan dosa menjadi lebih utama baginya pada saat itu. Jangan sampai hal yang diceritakan kepadamu tentang tangisan Nabi Daud dan ratapannya 'Alaihissalam menghalangimu untuk membenarkan analisis mendalam ini. Sebab membandingkan dirimu dengan para nabi adalah perbandingan yang sangat menyimpang. Karena para nabi terkadang menurunkan derajat perkataan dan perbuatan mereka ke tingkat yang layak bagi umat mereka; sebab tidaklah mereka diutus melainkan untuk membimbing umat. Maka wajib bagi mereka mengamalkan apa yang memberi manfaat bagi umat ketika menyaksikannya, meskipun hal itu berada di bawah puncak maqam (kedudukan spiritual) mereka sendiri. Sungguh di antara para guru tasawuf (masyayikh) ada orang yang tidak memerintahkan muridnya melakukan suatu jenis latihan jiwa (riyadah) melainkan ia ikut terjun bersamanya dalam latihan tersebut, padahal ia sendiri sudah tidak membutuhkannya karena telah selesai dari mujahadah dan mendidik jiwa, demi mempermudah urusan bagi sang murid. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda: 'Ketahuilah, sesungguhnya aku tidak lupa, melainkan aku dilupakan agar aku menetapkan syariat.' Dan dalam lafaz lain: 'Sesungguhnya aku lupa hanya untuk menetapkan sunnah (hukum).' Janganlah engkau heran dengan hal ini, sebab umat-umat manusia di bawah naungan kasih sayang para nabi bagaikan anak-anak kecil di bawah naungan kasih sayang para ayah, dan bagaikan hewan ternak di bawah naungan kasih sayang para penggembala.

أما ترى الأب إذا أراد أن يستنطق ولده الصبي كيف ينزل إلى درجة نطق الصبي كما قال ﷺ للحسن كخ كخ لما أخذ تمرة من تمر الصدقة ووضعها في فيه وما كانت فصاحته تقصر عن أن يقول ارم هذه التمرة فإنها حرام ولكنه لما علم أنه لا يفهم منطقة ترك الفصاحة ونزل إلى لكنته بل الذي يعلم شاة أو طائراً يصوت به رغاءً أو صفيراً تشبهاً بالبهيمة والطائر تلطفاً في تعليمه فإياك أن تغفل عن أمثال هذه الدقائق إنها مزلة أقدام العارفين فضلاً عن الغافلين نسأل الله حسن التوفيق بلطفه وكرمه

Tidakkah engkau melihat seorang ayah jika hendak melatih anaknya yang masih kecil berbicara, bagaimana ia turun ke tingkat cara bicara anak kecil tersebut? Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda kepada Al-Hasan: 'Kikh, kikh!' ketika Al-Hasan mengambil sebutir kurma dari kurma sedekah dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Kelancaran lidah beliau bukannya tidak sanggup untuk mengatakan: 'Buanglah kurma ini karena sesungguhnya ia haram,' akan tetapi ketika beliau mengetahui bahwa anak kecil itu tidak memahami bahasa fasihnya, beliau meninggalkan kepasihan dan turun ke gaya bahasanya. Bahkan orang yang melatih domba atau burung, ia akan bersuara dengan lenguhan atau siulan menirukan binatang dan burung sebagai bentuk kelembutan dalam mengajarinya. Maka waspadalah jangan sampai engkau lalai dari kelembutan-kelembutan yang mendalam seperti ini, sebab ia merupakan tempat tergelincirnya kaki para arifin (orang-orang bijak yang kenal Allah), terlebih lagi orang-orang yang lalai. Kita memohon kepada Allah kebaikan taufik dengan kelembutan dan kemurahan-Nya.