الركن الرابع في دواء التوبة وطريق العلاج لحل عقدة الإصرار
الركن الرابع في دَوَاءُ التَّوْبَةِ وَطَرِيقُ الْعِلَاجِ لِحَلِّ عُقْدَةِ الْإِصْرَارِ
Rukun Keempat: Tentang Obat Tobat dan Cara Pengobatan untuk Melepaskan Ikatan Terus-menerus Berbuat Dosa (Ishrar).
اعلم أن الناس قسمان شاب لا صبوة له نشأ على الخير واجتناب الشر وهو الذي قال فيه رسول الله ﷺ تعجب ربك من شاب ليست له صبوة وهذا عزيز نادر والقسم الثاني هو الذي لا يخلو عن مقارفة الذنوب ثم هم ينقسمون إلى مصرين وإلى تائبين وغرضنا أن نبين العلاج في حل عقدة الإصرار ونذكر الدواة فيه فاعلم أَنَّ شِفَاءَ التَّوْبَةِ لَا يَحْصُلُ إِلَّا بِالدَّوَاءِ ولا يقف على الدواء من لا يقف على الداء إذ لا معنى للدواء إلا مناقضة أسباب الداء فكل داء حصل من سبب فدواؤه حل ذلك السبب ورفعه وإبطاله ولا يبطل الشيء لا بِضِدِّهِ وَلَا سَبَبَ لِلْإِصْرَارِ إِلَّا الْغَفْلَةُ وَالشَّهْوَةُ وَلَا يُضَادُّ الْغَفْلَةَ إِلَّا الْعِلْمُ وَلَا يُضَادُّ الشهوة إلا الصبر على قطع
Ketahuilah bahwasanya manusia itu ada dua golongan. Pertama, pemuda yang tidak memiliki penyimpangan (sabwah), ia tumbuh di atas kebaikan dan menjauhi kejahatan, yaitu yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ: "Tuhanmu kagum terhadap pemuda yang tidak memiliki penyimpangan." Hal ini sangat langka dan mulia. Golongan kedua adalah orang yang tidak sepi dari melakukan dosa-dosa, kemudian mereka terbagi menjadi orang-orang yang terus-menerus berbuat dosa (mushirrin) dan orang-orang yang bertobat. Maksud tujuan kita adalah menjelaskan pengobatan dalam melepaskan ikatan ishrar (terus-menerus berdosa) dan menyebutkan obat padanya. Maka ketahuilah bahwasanya kesembuhan tobat tidak akan diperoleh melainkan dengan obat, dan tidak ada yang dapat mengetahui obat melainkan orang yang mengetahui penyakit. Sebab, tidak ada makna bagi obat melainkan penentangan terhadap sebab-sebab penyakit. Setiap penyakit yang timbul dari suatu sebab, maka obatnya adalah melepaskan dan mengangkat serta membatalkan sebab tersebut, sedang sesuatu tidak dapat dibatalkan melainkan dengan lawannya. Tidak ada sebab bagi ishrar melainkan kelalaian dan hawa nafsu. Kelalaian tidak dapat dilawan melainkan dengan ilmu, dan hawa nafsu tidak dapat dilawan melainkan dengan kesabaran atas pemutusan…
الأسباب المحركة للشهوة والغفلة رأس الخطايا قال الله تعالى ﴿وأولئك هم الغافلون لا جرم أنهم في الآخرة هم الخاسرون﴾ فلا دواء إذن للتوبة إلا معجون يعجن من حلاوة العلم ومرارة الصبر وكما يجمع السكنجبين بين حلاوة السكر وحموضة الخل ويقصد بكل منهما غرض آخر في العلاج بمجموعهما فيقمع الأسباب المهيجة للصفراء فهكذا ينبغي أن تفهم علاج القلب مما به من مرض الإصرار فإن لهذا الدواء أصلان أحدهما العلم والآخر الصبر ولا بد من بيانهما
…sebab-sebab yang menggerakkan hawa nafsu. Kelalaian adalah pangkal dari kesalahan-kesalahan. Allah Ta'ala berfirman: "Dan mereka itulah orang-orang yang lalai. Tidak diragukan lagi bahwa mereka di akhirat adalah orang-orang yang rugi." Maka tidak ada obat bagi tobat melainkan ramuan yang diracik dari manisnya ilmu dan pahitnya kesabaran. Sebagaimana sakanjabin (sirup cuka-gula) menggabungkan antara manisnya gula dan asamnya cuka, di mana masing-masing darinya dimaksudkan untuk tujuan lain dalam pengobatan melalui gabungan keduanya, sehingga dapat menumpas sebab-sebab yang membangkitkan empedu (shafra'). Demikian pulalah hendaknya engkau memahami pengobatan hati dari penyakit ishrar yang diidapnya. Sebab bagi obat ini terdapat dua pokok: salah satunya adalah ilmu dan yang lainnya adalah kesabaran, dan keduanya harus dijelaskan.
فإن قلت أينفع كل علم لحل الإصرار أم لا بد من علم مخصوص فاعلم أن العلوم بجملتها أدوية لأمراض القلوب ولكن لكل مرض علم يخصه كما أن علم الطب نافع في علاج الأمراض بالجملة ولكن يخص كل علة علم مخصوص فكذلك دواء الإصرار فلنذكر خصوص ذلك العلم على موازنة مرض الأبدان ليكون أقرب إلى الفهم فنقول يحتاج المريض إلى التصديق بأمور ﴿الأول﴾ أن يصدق على الجملة بأن للمرض والصحة أسباباً يتوصل إليها بالاختيار على ما رتبه مسبب الأسباب وهذا هو الإيمان بأصل الطب فإن من لا يؤمن به لا يشتغل بالعلاج ويحق عليه الهلاك وهذا وزانه مما نحن فيه الإيمان بأصل الشرع وهو أن للسعادة في الآخرة سبباً هو الطاعة وللشقاوة سبباً هو المعصية وهذا هو الإيمان بأصل الشرائع وهذا لا بد من حصوله إما عن تحقيق أو تقليد وكلاهما من جملة الإيمان
Jika engkau bertanya: Apakah setiap ilmu bermanfaat untuk melepaskan ishrar, ataukah harus ilmu yang khusus? Maka ketahuilah bahwasanya ilmu secara keseluruhan adalah obat bagi penyakit-penyakit hati, namun bagi setiap penyakit terdapat ilmu yang khusus baginya, sebagaimana ilmu kedokteran itu bermanfaat dalam mengobati penyakit secara umum, tetapi setiap penyakit memiliki ilmu yang khusus padanya. Demikian pula obat ishrar. Maka marilah kami sebutkan kekhususan ilmu tersebut berdasarkan penimbangan dengan penyakit badan agar lebih dekat kepada pemahaman. Kami katakan: Orang yang sakit membutuhkan pembenaran (tashdiq) terhadap beberapa hal: (Pertama) membenarkan secara umum bahwa bagi penyakit dan kesehatan terdapat sebab-sebab yang dicapai melalui ikhtiar berdasarkan apa yang telah diatur oleh Sang Pencipta Sebab (Musabbibul Asbab). Ini adalah iman kepada pokok kedokteran, sebab barangsiapa yang tidak beriman kepadanya, ia tidak akan sibuk dengan pengobatan dan berhak atas kebinasaan. Penimbangannya dalam apa yang sedang kita bahas adalah iman kepada pokok syariat, yaitu bahwasanya bagi kebahagiaan di akhirat terdapat sebab yaitu ketaatan, dan bagi kesengsaraan terdapat sebab yaitu kemaksiatan. Ini adalah iman kepada pokok syariat-syariat, dan ini harus diperoleh baik secara pembuktian (tahqiq) maupun pengikutan (taqlid), dan keduanya termasuk bagian dari iman.
الثاني أنه لا بد أن يعتقد المريض في طبيب معين أنه عالم بالطب حاذق فيه صادق فيما يعبر عنه لا يلبس ولا يكذب فإن إيمانه بأصل الطب لا ينفعه بمجرده دون هذا الإيمان ووزانه مما نحن فيه العلم بصدق الرسول ﷺ والإيمان بأن كل ما يقوله حق وصدق لا كذب فيه ولا خلف
Kedua, haruslah si sakit meyakini tentang seorang dokter tertentu bahwa ia alim dalam ilmu kedokteran, mahir di dalamnya, jujur dalam apa yang ia sampaikan, tidak menyamarkan dan tidak berbohong. Sebab pembenarannya terhadap pokok ilmu kedokteran tidak memberi manfaat baginya hanya sekadar itu tanpa iman ini. Penimbangannya dalam apa yang sedang kita bahas adalah ilmu tentang kejujuran Rasulullah ﷺ dan iman bahwa segala apa yang Beliau katakan adalah hak dan benar, tidak ada kebohongan padanya dan tidak ada perselisihan.
الثالث أنه لا بد أن يصغي إلى الطبيب فيما يحذره عنه من تناول الفواكه والأسباب المضرة على الجملة حتى يغلب عليه الخوف في ترك الاحتماء فتكون شدة الخوف باعثة له على الاحتماء ووزانه من الدين الإصغاء إلى الآيات والأخبار المشتملة على الترغيب في التقوى والتحذير من ارتكاب الذنوب واتباع الهوى والتصديق بجميع ما يلقى إلى سمعه من ذلك من غير شك واسترابة حتى ينبعث به الخوف المقوي على الصبر الذي هو الركن الآخر في العلاج
Ketiga, ia harus mendengarkan sang dokter tentang apa yang diperingatkannya dari mengonsumsi buah-buahan dan sebab-sebab yang memudaratkan secara umum, hingga rasa takut menguasai dirinya dalam meninggalkan pantangan (ihtima'), sehingga besarnya rasa takut mendorongnya untuk berpantang. Penimbangannya dalam agama adalah mendengarkan ayat-ayat dan hadis-hadis yang memuat anjuran kepada ketakwaan, peringatan dari melakukan dosa-dosa dan mengikuti hawa nafsu, serta membenarkan segala apa yang disampaikan ke pendengarannya tanpa ada keraguan dan kebimbangan, hingga terbit dengannya rasa takut yang menguatkan atas kesabaran yang merupakan rukun lainnya dalam pengobatan.
الرابع أن يصغي إلى الطبيب فيما يخص مرضه وفيما يلزمه في نفسه الاحتماء عنه ليعرفه أولاً تفصيل ما يضره من أفعاله وأحواله ومأكوله ومشروبه فليس على كل مريض الاحتماء عن كل شيء ولا ينفعه كل دواء بل لكل علة خاصة علم خاص وعلاج خاص ووزانه من الدين أن كل عبد فليس يبتلى بكل شهوة وارتكاب ذنب بل لكل مؤمن ذنب مخصوص أو ذنوب مخصوصة وإنما حاجته في الحال مرهقة إلى العلم بأنها ذنوب ثم إلى العلم بآفاتها وقدر ضررها ثم العلم بكيفية التوصل إلى الصبر عنها ثم إلى العلم بكيفية تكفير ما سبق منها
Keempat, ia harus mendengarkan dokter dalam hal yang khusus bagi penyakitnya dan apa yang wajib atas dirinya sendiri untuk dipantangi darinya, agar ia mengetahui terlebih dahulu rincian apa yang memudaratkannya dari perbuatan, keadaan, makanan, dan minumannya. Sebab tidak wajib atas setiap orang sakit untuk berpantang dari segala sesuatu, dan tidaklah setiap obat bermanfaat baginya, melainkan bagi setiap penyakit khusus terdapat ilmu khusus dan pengobatan khusus. Penimbangannya dalam agama adalah bahwasanya setiap hamba tidaklah diuji dengan setiap hawa nafsu dan pengerjaan dosa, melainkan bagi setiap mukmin terdapat dosa khusus atau dosa-dosa khusus. Kebutuhannya pada saat itu mendesak kepada ilmu bahwa hal itu adalah dosa, kemudian ilmu tentang bahayanya dan kadar mudaratnya, kemudian ilmu tentang tata cara mencapai kesabaran darinya, lalu ilmu tentang tata cara menebus (takfir) apa yang telah berlalu darinya.
فهذه علوم يختص بها أطباء الدين وهم العلماء الذين هم ورثة الأنبياء فالعاصي إن علم عصيانه فعليه طلب العلاج من الطبيب وهو العالم وإن كان لا يدري أن ما يرتكبه ذنب فعلى العالم أن يعرفه ذلك وذلك بأن يتكفل كل عالم بإقليم أو بلدة أو محلة أو مسجد أو مشهد فيعلم أهله دينهم ويميز ما يضرهم عما ينفعهم وما يشقيهم عما يسعدهم ولا ينبغي أن يصبر إلى أن يسئل عنه بل ينبغي أن يتصدى لدعوة الناس إلى نفسه فإنهم ورثة الأنبياء والأنبياء ما تركوا الناس على جهلهم بل كانوا ينادونهم في مجامعهم ويدورون على أبواب دورهم في الابتداء ويطلبون واحداً واحداً فيرشدونهم فإن مرضى القلوب لا يعرفون مرضهم كما أن الذي ظهر على وجهه برص
Maka ini adalah ilmu-ilmu yang secara khusus dimiliki oleh para dokter agama, yaitu para ulama yang merupakan pewaris para nabi. Maka orang yang bermaksiat, jika ia mengetahui kemaksiatannya, wajib baginya mencari pengobatan dari sang dokter, yaitu ulama. Dan jika ia tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukannya adalah dosa, maka wajib bagi ulama untuk memberitahunya. Hal itu dilakukan dengan cara setiap ulama bertanggung jawab atas suatu wilayah, kota, lingkungan, masjid, atau tempat peziarahan, lalu ia mengajarkan agama kepada penduduknya, serta membedakan apa yang membahayakan dari apa yang bermanfaat bagi mereka, dan apa yang mengarahkan mereka pada kesengsaraan dari apa yang membimbing mereka pada kebahagiaan. Tidak sepantasnya ia bersikap pasif menunggu hingga ditanya, melainkan hendaknya ia tampil berinisiatif menyeru manusia kepada dirinya (kepada kebenaran yang dibawanya). Sebab, mereka adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak pernah membiarkan manusia dalam kebodohan mereka, melainkan menyeru mereka di tempat-tempat perkumpulan mereka dan berkeliling mendatangi pintu-pintu rumah mereka sejak awal, serta mencari mereka satu per satu lalu memberi petunjuk kepada mereka. Sebab, orang-orang yang sakit hatinya tidak menyadari penyakit mereka, sebagaimana orang yang timbul penyakit kusta pada wajahnya…
ولا مرآة معه لا يعرف برصه ما لم يعرفه غيره وهذا فرض عين على العلماء كافة وعلى السلاطين كافة أن يرتبوا في كل قرية وفي كل محلة فقيهاً متديناً يعلم الناس دينهم فإن الخلق لا يولدون إلا جهالاً فلا بد من تبليغ الدعوة إليهم في الأصل والفرع والدنيا دار المرضى إذ ليس في بطن الأرض إلا ميت ولا على ظهرها إلا سقيم ومرض القلوب أكثر من مرض الأبدان والعلماء أطباء والسلاطين قوام دار المرضى فكل مريض لم يقبل العلاج بمداواة العالم يسلم إلى السلطان ليكف شره كما يسلم الطبيب المريض الذي لا يحتمي أو الذي غلب عليه الجنون إلى القيم ليقيده بالسلاسل والأغلال ويكف شره عن نفسه وعن سائر الناس
…dan ia tidak memiliki cermin, niscaya ia tidak akan mengetahui penyakit kustanya selama orang lain tidak memberitahunya. Hal ini merupakan fardhu 'ain bagi seluruh ulama dan seluruh penguasa (sultan) untuk menempatkan di setiap desa dan di setiap lingkungan seorang ahli fiqih yang taat beragama yang mengajarkan agama kepada masyarakat. Sebab, manusia tidak dilahirkan melainkan dalam keadaan bodoh, sehingga dakwah harus disampaikan kepada mereka, baik dalam perkara pokok (ushul) maupun cabang (furu'). Dunia ini adalah rumah sakit, sebab tidak ada di dalam perut bumi melainkan mayat, dan tidak ada di atas punggungnya melainkan orang yang sakit. Penyakit hati jauh lebih banyak daripada penyakit fisik. Para ulama adalah para dokter, sedangkan para penguasa adalah para pengelola rumah sakit tersebut. Maka setiap pasien yang tidak mau menerima pengobatan dari ulama diserahkan kepada penguasa agar kejahatannya terhenti, sebagaimana seorang dokter menyerahkan pasien yang tidak mau berpantang atau yang dikuasai kegilaan kepada pengawas rumah sakit agar mengikatnya dengan rantai dan belenggu untuk mencegah kejahatannya terhadap dirinya sendiri dan orang lain.
وإنما صار مرض القلوب أكثر من مرض الأبدان لثلاث علل إحداها أن المريض به لا يدري أنه مريض
Penyakit hati menjadi lebih banyak daripada penyakit fisik disebabkan oleh tiga faktor (sebab). Pertama, orang yang menderita penyakit hati tidak menyadari bahwa dirinya sedang sakit.
والثانية أن عاقبته غير مشاهدة في هذا العالم بخلاف مرض البدن فإن عاقبته موت مشاهد تنفر الطباع منه وما بعد الموت غير مشاهد وعاقبة الذنوب موت القلب وهو غير مشاهد في هذا العالم فقلت النفرة عن الذنوب وإن علمها مرتكبها فلذلك تراه يتكل على فضل الله في مرض القلب ويجتهد في علاج مرض البدن من غير اتكال
Kedua, dampaknya tidak kasatmata di dunia ini, berbeda dengan penyakit fisik yang dampaknya adalah kematian kasatmata yang dibenci oleh tabiat manusia, sedangkan apa yang terjadi setelah kematian tidak terlihat. Dampak dosa adalah matinya hati, dan matinya hati tidak kasatmata di dunia ini. Karena itu, rasa benci terhadap dosa menjadi sedikit meskipun pelakunya mengetahuinya. Oleh sebab itu, engkau melihatnya berserah diri (bersikap pasrah) kepada karunia Allah dalam penyakit hati, namun berusaha keras dalam mengobati penyakit fisik tanpa kepasrahan semata.
والثالثة وهو الداء العضال فقد الطبيب فإن الأطباء هم العلماء وقد مرضوا في هذه الأعصار مرضاً شديداً عجزوا عن علاجه وصارت لهم سلوة في عموم المرض حتى لا يظهر نقصانهم فاضطروا إلى إغواء الخلق والإشارة عليهم بما يزيدهم مرضاً لأن الداء المهلك هو حب الدنيا وقد غلب هذا الداء على الأطباء فلم يقدروا على تحذير الخلق منه استنكافاً من أن يقال لهم فما بالكم تأمرون بالعلاج وتنسون أنفسكم فبهذا السبب عم على الخلق الداء وعظم الوباء وانقطع الدواء وهلك الخلق لفقد الأطباء بل اشتغل الأطباء بفنون الإغواء فليتهم إذ لم ينصحوا لم يغشوا وإذا لم يصلحوا لم يفسدوا وليتهم سكتوا وما نطقوا فإنهم إذا تكلموا لم يهمهم في مواعظهم إلا ما يرغب العوام ويستميل قلوبهم ولا يتوصلون إلى ذلك إلا بالإرجاء وتغليب أسباب الرجاء وذكر دلائل الرحمة لأن ذلك ألذ في الأسماع وأخف على الطباع فتنصرف الخلق عن مجالس الوعظ وقد استفادوا مزيد جراءة على المعاصي ومزيد ثقة بفضل الله ومهما كان الطبيب جاهلاً أو خائباً أهلك بالدواء حيث يضعه في غير موضعه فالرجاء والخوف دواءان ولكن لشخصين متضادي العلة أما الذي غلب عليه الخوف حتى هجر الدنيا بالكلية وكلف نفسه ما لا تطيق وضيق العيش على نفسه بالكلية فتكسر سورة إسرافه في الخوف بذكر أسباب الرجاء ليعود إلى الاعتدال وكذلك المصر على الذنوب المشتهى للتوبة الممتنع عنها بحكم القنوط واليأس استعظاماً لذنوبه التي سبقت يعالج أيضاً بأسباب الرجاء حتى يطمع في قبول التوبة فيتوب فأما معالجة المغرور المسترسل في المعاصي بذكر أسباب الرجاء فيضاهي معالجة المحرور بالعسل طلباً للشفاء وذلك من دأب الجهال والأغبياء فإذن فساد الأطباء هي المعضلة الزباء التي لا تقبل الدواء أصلاً
Ketiga, dan ini adalah penyakit yang sangat berat (kronis), yaitu ketiadaan sang dokter. Sebab para dokter adalah para ulama, sedangkan mereka sendiri pada zaman ini telah tertimpa penyakit yang sangat parah hingga mereka tidak mampu mengobatinya. Mereka merasa terhibur dengan maraknya penyakit ini pada khalayak umum agar kekurangan mereka tidak tampak. Akibatnya, mereka terpaksa menyesatkan manusia dan memberi petunjuk yang justru menambah penyakit mereka. Sebab penyakit yang membinasakan adalah cinta dunia (hubbud-dunya), dan penyakit ini telah menguasai para dokter tersebut sehingga mereka tidak mampu memperingatkan manusia darinya karena enggan dan malu jika dikatakan kepada mereka: "Mengapa kalian memerintahkan pengobatan padahal kalian melupakan diri kalian sendiri?" Karena sebab inilah penyakit merajalela di kalangan manusia, wabah semakin membesar, obat terputus, dan manusia binasa karena ketiadaan para dokter. Bahkan para dokter itu sibuk dengan berbagai seni penyesatan. Alangkah baiknya jika mereka tidak menasihati, setidaknya mereka tidak menipu; dan jika mereka tidak memperbaiki, setidaknya mereka tidak merusak; serta alangkah baiknya jika mereka diam dan tidak berbicara. Sebab ketika mereka berbicara, tidak ada yang mereka hiraukan dalam nasihat-nasihat mereka selain apa yang disukai orang awam dan meluluhkan hati mereka. Dan mereka tidak mencapai hal itu melainkan dengan paham irja' (menyepelekan dosa), mengedepankan sebab-sebab harapan (raja'), serta menyebutkan dalil-dalil rahmat, karena hal itu lebih nikmat didengar dan lebih ringan bagi tabiat. Akhirnya, manusia bubar dari majelis-majelis nasihat dalam keadaan mendapatkan tambahan keberanian untuk melakukan maksiat dan tambahan keyakinan (palsu) akan karunia Allah. Manakala seorang dokter itu bodoh atau celaka, ia akan membinasakan dengan obat karena menempatkannya tidak pada tempatnya. Maka harapan (raja') dan rasa takut (khauf) adalah dua obat, tetapi untuk dua orang yang penyakitnya bertolak belakang. Adapun orang yang dikuasai rasa takut (khauf) hingga meninggalkan dunia secara total, membebani dirinya di luar batas kemampuannya, dan menyempitkan jalannya hidup secara total, maka gejolak kecemasan yang berlebihan dalam ketakutannya itu diimbangi dengan menyebutkan sebab-sebab harapan (raja') agar ia kembali pada keseimbangan. Demikian pula orang yang terus-menerus berbuat dosa namun merindukan taubat tetapi terhalang oleh putus asa (qunut) akibat menganggap terlalu besar dosa-dosa yang telah lalu, ia juga diobati dengan sebab-sebab harapan (raja') agar ia mendambakan penerimaan taubat lalu bertaubat. Sedangkan mengobati orang yang tertipu lagi terus-menerus tenggelam dalam kemaksiatan dengan menyebutkan sebab-sebab harapan (raja'), itu seperti mengobati orang yang demam panas dengan memberikan madu demi mencari kesembuhan, dan hal itu merupakan kebiasaan orang-orang bodoh dan dungu. Dengan demikian, kerusakan para dokter adalah masalah mahaberat yang sama sekali tidak menerima pengobatan.
فإن قلت فاذكر الطريق الذي ينبغي أن يسلكه الواعظ في طريق الوعظ مع الخلق فاعلم أن ذلك يطول ولا يمكن استقصاؤه نعم نشير إلى الْأَنْوَاعُ النَّافِعَةُ فِي حَلِّ عُقْدَةِ الْإِصْرَارِ وَحَمْلِ الناس على ترك الذنوب وهي أَرْبَعَةُ أَنْوَاعٍ
Jika engkau bertanya: "Sebutkanlah jalan yang hendaknya ditempuh oleh seorang penasihat (wa'izh) dalam metode menasihati manusia!" Maka ketahuilah bahwa hal itu panjang penjelasannya dan tidak mungkin diuraikan secara tuntas. Namun, kami akan mengisyaratkan jenis-jenis yang bermanfaat dalam mengurai ikatan keterlanjuran dosa (israr) dan mendorong manusia untuk meninggalkan dosa-dosa, yang terdiri dari empat jenis.
﴿الْأَوَّلُ﴾ أَنْ يَذْكُرَ مَا فِي القرآن من الآيات المخوفة للمذنبين والعاصين وكذلك ما ورد من الأخبار والآثار
Pertama: Hendaknya ia menyebutkan ayat-ayat Al-Qur'an yang menakutkan bagi para pelaku dosa dan kemaksiatan, begitu pula riwayat-riwayat hadis dan atsar yang berkenaan dengannya.
مثل قوله ﷺ ما من يوم طلع فجره ولا ليلة غاب شفقها إلا وملكان يتجاوبان بأربعة أصوات يقول أحدهما يا ليت هذا الخلق لم يخلقوا ويقول الآخر يا ليتهم إذ خلقوا علموا لماذا خلقوا فيقول الآخر يا ليتهم إذ علموا لماذا خلقوا عملوا بما علموا وفي بعض الروايات ليتهم تجالسوا فتذكروا ما علموا ويقول الآخر يا ليتهم إذ لم يعلموا بما يعملوا تابوا مما عملوا وقال بعض السلف إذا أذنب العبد أمر صاحب اليمين صاحب الشمال وهو أمير عليه أن يرفع القلم عنه ست ساعات فإن تاب واستغفر لم يكتبها عليه وإن لم يستغفر كتبها وقال بعض السلف ما من عبد يعصى إلا استأذن مكانه من الأرض أن تخسف له واستأذن سقفه من السماء أن يسقط عليه كسفاً فيقول الله تعالى للأرض والسماء كفا عن عبدي وأمهلاه فإنكما لم تخلقاء ولو خلقتماه لرحمتماه ولعله يتوب إلي فأغفر له ولعله يستبدل صالحاً فأبدله له حسنات فذلك معنى قوله تعالى إن الله يمسك السموات والأرض أن تزولا ولئن زالتا إن أمسكهما من أحد من بعده وفي حديث عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه الطابع معلق بقائمة العرش فإذا انتهكت الحرمات واستحلت المحارم أرسل الله الطابع فيطبع على القلوب بما فيها وفي حديث مجاهد القلب مثل الكف المفتوحة كلما أذنب العبد ذنباً انقبضت إصبع حتى تنقبض الأصابع كلها فيسد على القلب فذلك هو الطبع وقال الحسن إن بين العبد وبين الله حداً من المعاصي معلوماً إذا بلغه العبد طبع الله على قلبه فلم يوفقه بعدها لخير
Seperti sabda Rasulullah ﷺ: "Tidak ada satu hari pun yang terbit fajarnya, dan tidak ada satu malam pun yang tenggelam syafaq-nya (kemerahannya), melainkan dua malaikat saling bersahutan dengan empat suara. Salah satunya berkata: 'Duhai sekiranya makhluk ini tidak diciptakan.' Dan yang lain berkata: 'Duhai sekiranya ketika diciptakan, mereka mengetahui untuk apa mereka diciptakan.' Lalu yang lain berkata: 'Duhai sekiranya ketika mereka mengetahui untuk apa diciptakan, mereka mengamalkan apa yang mereka ketahui'—dan dalam sebagian riwayat: 'Duhai sekiranya mereka duduk bermajelis lalu saling mengingatkan apa yang mereka ketahui.' Dan yang lain berkata: 'Duhai sekiranya ketika mereka tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui, mereka bertaubat dari apa yang mereka perbuat.'" Sebagian ulama Salaf berkata: "Apabila seorang hamba berbuat dosa, malaikat pencatat kebaikan (pencatat sebelah kanan) memerintahkan malaikat pencatat kejahatan (pencatat sebelah kiri)—dan ia adalah pemimpinnya—agar mengangkat penanya selama enam jam. Jika hamba itu bertaubat dan memohon ampunan, ia tidak mencatatnya; namun jika tidak memohon ampunan, ia mencatatnya." Sebagian ulama Salaf juga berkata: "Tidak ada seorang hamba pun yang berbuat maksiat melainkan tempatnya di bumi meminta izin untuk menelannya, dan atapnya di langit meminta izin untuk jatuh menimpanya berupa kepingan-kepingan. Maka Allah Ta'ala berfirman kepada bumi dan langit: 'Tahanlah diri kalian dari hamba-Ku dan berilah ia penangguhan. Sebab kalian berdua tidak menciptakannya; sekiranya kalian menciptakannya, niscaya kalian akan mengasihinya. Boleh jadi ia bertaubat kepada-Ku lalu Aku mengampuninya, dan boleh jadi ia mengganti dengan kebaikan lalu Aku ganti kejahatannya menjadi kebaikan-kebaikan.' Itulah makna firman Allah Ta'ala: 'Sungguh Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap; dan jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya setelah Dia.' (QS. Fathir: 41)." Dalam hadis Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu: "Stempel (pengunci hati) itu tergantung di tiang Arsy. Apabila kehormatan-kehormatan dilanggar dan hal-hal yang diharamkan dihalalkan, Allah mengirimkan stempel tersebut lalu mencap hati dengan apa yang ada di dalamnya." Dalam riwayat Mujahid: "Hati itu seperti telapak tangan yang terbuka. Setiap kali hamba berbuat dosa, tertekuklah satu jari hingga seluruh jari tertekuk, lalu tertutuplah hati tersebut, dan itulah yang dinamakan penguncian (ath-thab')." Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Sesungguhnya antara seorang hamba dan Allah ada batas maksiat yang telah ditentukan. Apabila hamba telah mencapainya, Allah mengunci hatinya sehingga Dia tidak lagi memberinya taufik kepada kebaikan setelah itu."
والأخبار والآثار في ذم المعاصي ومدح التائبين لا تحصى فينبغي أن يستكثر الواعظ منها إن كان وارث رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَإِنَّهُ ما خلف ديناراً ولا درهماً إنما خلف العلم والحكمة وورثه كل عالم بقدر ما أصابه
Riwayat-riwayat hadis dan atsar dalam mencela kemaksiatan serta memuji orang-orang yang bertaubat sangat tak terhitung jumlahnya. Maka hendaknya penasihat memperbanyak paduan riwayat-riwayat tersebut jika ia memang pewaris Rasulullah ﷺ. Sebab, beliau tidak meninggalkan dinar maupun dirham, melainkan meninggalkan ilmu dan hikmah, dan setiap ulama mewarisinya sesuai kadar bagian yang diperolehnya.
النوع الثَّانِي حِكَايَاتُ الْأَنْبِيَاءِ وَالسَّلَفِ الصَّالِحِينَ وَمَا جَرَى عَلَيْهِمْ مِنَ الْمَصَائِبِ بِسَبَبِ ذُنُوبِهِمْ فَذَلِكَ شَدِيدُ الْوَقْعِ ظَاهِرُ النَّفْعِ فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ مِثْلُ أَحْوَالِ آدَمَ ﷺ فِي عِصْيَانِهِ وَمَا لَقِيَهُ مِنَ الْإِخْرَاجِ مِنَ الْجَنَّةِ حتى روى أنه لما أكل من الشجرة تطايرت الحلل عن جسده وبدت عورته فاستحيا التاج والإكليل من وجهه أن يرتفعا عنه فجاءه جبريل ﵇ فأخذ التاج عن رأسه وحل الإكليل عن جبينه ونودي من فوق العرش اهبطا من جواري فإنه لا يجاورني من عصاني قال فالتفت آدم إلى حواء باكياً وقال هذا أول شؤم المعصية أخرجنا من جوار الحبيب وروى أن سليمان بن داود ﵉ لما عوقب على خطيئته لأجل التمثال الذي عبد في داره أربعين يوماً وقيل لأن المرأة سألته أن بحكم لأبيها فقال نعم ولم يفعل وقيل بل أحب بقلبه أن
Jenis Kedua: Kisah-kisah para nabi dan ulama Salaf ash-Shalih serta berbagai musibah yang menimpa mereka disebabkan oleh dosa-dosa (kekhilafan) mereka. Hal itu sangat kuat pengaruhnya dan nyata manfaatnya di dalam hati makhluk. Seperti keadaan Nabi Adam 'alaihissalam dalam kekhilafannya dan apa yang dialaminya berupa pengeluaran dari surga, hingga diriwayatkan bahwa ketika ia memakan buah dari pohon terlarang itu, pakaian-pakaian surga berterbangan dari tubuhnya dan tampaklah auratnya. Maka mahkota dan perhiasan kepala merasa malu pada wajahnya untuk terangkat darinya. Lalu Jibril 'alaihissalam mendatangi Adam, mengambil mahkota dari kepalanya, dan melepaskan perhiasan dari dahinya, lalu terdengar seruan dari atas 'Arsy: "Turunlah kalian berdua dari kedekatan-Ku, sebab tidak boleh berdampingan dengan-Ku orang yang bermaksiat kepada-Ku." Adam berpaling kepada Hawa seraya menangis dan berkata: "Inilah awal kesialan maksiat, kita dikeluarkan dari kedekatan Sang Kekasih." Diriwayatkan pula bahwa Nabi Sulaiman bin Dawud 'alaihimassalam ketika dihukum atas kekhilafannya karena patung yang disembah di rumahnya selama empat puluh hari—ada yang mengatakan karena seorang wanita memintanya untuk memutuskan hukum bagi ayahnya lalu ia berkata "ya" namun tidak melakukannya, dan ada yang mengatakan karena di dalam hatinya ia menyukai agar…
يكون الحكم لأبيها على خصمه لمكانها منه فسلب ملكه أربعين يوماً فهرب تائهاً على وجهه فكان يسأل بكفه فلا يطعم فإذا قال أطعموني فإني سليمان بن داود رشج وطرد وضرب وحكى أنه استطعم من بيت لامرأته فطردته وبصقت في وجهه وفي رواية أخرجت عجوز جرة فيها بول فصبته على رأسه إلى أن أخرج الله الخاتم من بطن الحوت فلبسه بعد انقضاء الأربعين أيام العقوبة قال فجاءت الطيور فعكفت على رأسه وجاءت الجن والشياطين والوحوش فاجتمعت حوله فاعتذر إليه بعض من كان جنى عليه فقال لا ألومكم فيما فعلتم من قبل ولا أحمدكم في عذركم الآن إن هذا أمر كان من السماء ولا بد منه وروي في الإسرائيليات أن رجلاً تزوج امرأة من بلدة أخرى فأرسل عبده ليحملها إليه فراودته نفسه وطالبته بها فجاهدها واستعصم قال فنبأه الله ببركة تقواه فكان نبياً في بني إسرائيل وفي قصص موسى ﵇ أنه قال للخضر ﵇ بم أطلعك الله على علم الغيب قال بتركي المعاصي لأجل الله تعالى وروي أن الريح كانت تسير بسليمان ﵇ فنظر إلى قميصه نظرة وكان جديدا فكأنه أعجبه قال فوضعته الريح فقال لم فعلت هذا ولم آمرك قالت إنما نطيعك إذا أطعت الله وروي أن الله تعالى أوحى إلى يعقوب ﵇ أتدري لم فرقت بينك وبين ولدك يوسف قال لا قال لقولك لأخوته أخاف أن يأكله الذئب وأنتم عنه غافلون لم خفت عليه الذئب ولم ترجني ولم نظرت إلى غفلة أخوته ولم تنظر إلى حفظي له وتدري لم رددته عليك قال لا قال لأنك رجوتني وقلت ﴿عسى الله أن يأتيني بهم جميعاً﴾ وبما قلت اذهبو فتحسسوا من يوسف وأخيه ولا تيأسوا وكذلك لما قال يوسف لصاحب الملك ﴿اذكرني عند ربك﴾ قال الله تعالى ﴿فأنساه الشيطان ذكر ربه فلبث في السجن بضع سنين﴾
…keputusan hukum berpihak pada ayah wanita itu atas lawannya karena kedudukan wanita itu di hatinya—maka kerajaannya dicabut selama empat puluh hari. Ia pun melarikan diri terlunta-lunta, meminta-minta dengan telapak tangannya namun tidak diberi makan. Jika ia berkata: "Berilah aku makan, sesungguhnya aku adalah Sulaiman bin Dawud," ia dilempar kerikil, diusir, dan dipukul. Diceritakan bahwa ia meminta makan dari rumah istrinya, namun istrinya mengusirnya dan meludahi wajahnya; dalam satu riwayat seorang nenek tua mengeluarkan bejana berisi air seni lalu menyiramkannya ke atas kepalanya, hingga Allah mengeluarkan cincin itu dari perut ikan paus lalu ia mengenakannya setelah berlalu empat puluh hari hukuman. Dikatakan, burung-burung pun datang mengerumuni kepalanya, serta jin, setan, dan binatang buas berkumpul di sekelilingnya. Sebagian orang yang telah berbuat jahat kepadanya meminta maaf kepadanya, maka ia berkata: "Aku tidak mencela kalian atas apa yang kalian perbuat sebelumnya, dan aku tidak memuji permintaan maaf kalian sekarang. Sesungguhnya ini adalah perkara yang telah ditetapkan dari langit dan pasti terjadi." Diriwayatkan dalam kisah-kisah Israiliyat bahwa seorang laki-laki menikahi wanita dari negeri lain lalu mengutus budaknya untuk membawanya. Hawa nafsu budak itu menggodanya dan menuntutnya untuk berbuat maksiat, namun ia memeranginya dan menjaga kehormatan dirinya. Maka Allah menjadikannya nabi dengan keberkahan ketakwaannya, sehingga ia menjadi nabi di kalangan Bani Israil. Dalam kisah Nabi Musa 'alaihissalam bahwa ia berkata kepada Khidir 'alaihissalam: "Dengan sebab apa Allah memberitahumu ilmu gaib?" Ia menjawab: "Dengan sebab aku meninggalkan kemaksiatan karena Allah Ta'ala." Diriwayatkan bahwa angin pernah menerbangkan Nabi Sulaiman 'alaihissalam, lalu ia memandang kemejanya yang baru dengan pandangan kagum. Maka angin itu menurunkannya, lalu ia berkata: "Mengapa engkau melakukan ini padahal aku tidak memerintahkanmu?" Angin menjawab: "Kami hanya menaatimu selama engkau menaati Allah." Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala mewahyukan kepada Ya'qub 'alaihissalam: "Tahukah engkau mengapa Aku memisahkanmu dengan anakmu, Yusuf?" Ia menjawab: "Tidak." Allah berfirman: "Karena ucapanmu kepada saudara-saudaranya: 'Aku khawatir ia akan dimakan serigala sedang kamu lalai darinya.' Mengapa engkau takut pada serigala terhadapnya dan tidak berharap kepada-Ku? Dan mengapa engkau melihat pada kelalaian saudara-saudaranya dan tidak melihat pada pemeliharaan-Ku terhadapnya? Dan tahukah engkau mengapa Aku mengembalikannya kepadamu?" Ia menjawab: "Tidak." Allah berfirman: "Karena engkau berharap kepada-Ku dan berkata: 'Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku' (QS. Yusuf: 83), serta ucapanmu: 'Pergilah kamu, cari tahu tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah kamu berputus asa' (QS. Yusuf: 87)." Demikian pula ketika Yusuf berkata kepada kawan penjaranya yang bekerja pada raja: "Sebutkanlah tentang diriku di sisi tuanmu" (QS. Yusuf: 42), Allah Ta'ala berfirman: "Maka setan menjadikannya lupa menyebut (nama Yusuf) kepada tuannya, lalu ia tinggal dalam penjara beberapa tahun lamanya." (QS. Yusuf: 42).
وأمثال هذه الحكايات لا تنحصر ولم يُرِدْ بِهَا الْقُرْآنُ وَالْأَخْبَارُ وُرُودَ الْأَسْمَارِ بَلِ الْغَرَضُ بِهَا الِاعْتِبَارُ وَالِاسْتِبْصَارُ لِتَعْلَمَ أَنَّ الْأَنْبِيَاءَ ﵈ لَمْ يُتَجَاوَزْ عَنْهُمْ فِي الذُّنُوبِ الصِّغَارِ فَكَيْفَ يُتَجَاوَزُ عَنْ غَيْرِهِمْ فِي الذُّنُوبِ الكبار نعم كانت سعادتهما في أن عوجلوا بالعقوبة ولم يؤخروا إلى الآخرة والأشقياء يمهلون ليزدادوا إثماً ولأن عذاب الآخرة أشد وأكبر فَهَذَا أَيْضًا مِمَّا يَنْبَغِي أَنْ يَكْثُرَ جِنْسُهُ عَلَى أَسْمَاعِ الْمُصِرِّينَ فَإِنَّهُ نَافِعٌ فِي تَحْرِيكِ دواعي التوبة
Kisah-kisah semisal ini tidak terhitung jumlahnya. Al-Qur'an dan riwayat-riwayat hadis tidak menyampaikannya sebagai sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan tujuannya adalah sebagai iktibar (pelajaran) dan pencerahan batin (istibshar), agar engkau mengetahui bahwa para nabi 'alaihimassalam tidak ditoleransi dalam dosa-dosa kecil (kekhilafan), maka bagaimana mungkin selain mereka akan ditoleransi dalam dosa-dosa besar? Memang kebahagiaan para nabi terletak pada disegerakannya hukuman bagi mereka di dunia dan tidak ditangguhkan ke akhirat, sedangkan orang-orang celaka ditangguhkan agar dosa mereka makin bertambah dan karena azab akhirat itu lebih keras dan lebih besar. Maka perkara ini juga termasuk hal yang hendaknya sering diperdengarkan jenisnya kepada telinga orang-orang yang terus-menerus berbuat dosa (al-mushirrin), karena hal itu sangat bermanfaat dalam menggerakkan dorongan-dorongan taubat.
النوع الثَّالِثُ أَنْ يُقَرِّرَ عِنْدَهُمْ أَنَّ تَعْجِيلَ الْعُقُوبَةِ فِي الدُّنْيَا مُتَوَقَّعٌ عَلَى الذُّنُوبِ وَأَنَّ كُلَّ مَا يُصِيبُ الْعَبْدَ مِنَ الْمَصَائِبِ فَهُوَ بِسَبَبِ جناياته فرب عبد يتساهل في أمر الآخرة ويخاف من عقوبة الله في الدنيا أكثر لفرط جهله فينبغي أن يخوف به فإن الذنوب كلها يتعجل في الدنيا شؤمها في غالب الأمر كما حكي في قصة داود وسليمان ﵉ حتى إنه قد يضيق على العبد رزقه بسبب ذنوبه وقد تسقط منزلته من القلوب ويستولي عليه أعداؤه قال ﷺ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ وَقَالَ ابن مسعود إني لأحسب أن العبد ينسى العلم بالذنب يصيبه وهو معنى قوله ﵇ من قارف ذنباً فارقه عقل لا يعود إليه أبداً وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ لَيْسَتِ اللَّعْنَةُ سَوَادًا فِي الوجه ونقصاً فِي الْمَالِ إِنَّمَا اللَّعْنَةُ أَنْ لَا تَخْرُجَ مِنْ ذَنْبٍ إِلَّا وَقَعْتَ فِي مِثْلِهِ أَوْ شَرٍّ مِنْهُ وَهُوَ كَمَا قَالَ لِأَنَّ اللَّعْنَةَ هِيَ الطَّرْدُ وَالْإِبْعَادُ فَإِذَا لَمْ يُوَفَّقْ لِلْخَيْرِ وَيُسِّرَ لَهُ الشَّرُّ فَقَدْ أُبْعِدَ وَالْحِرْمَانُ عَنْ رِزْقِ التَّوْفِيقِ أَعْظَمُ حِرْمَانٍ وَكُلُّ ذَنْبٍ فَإِنَّهُ يَدْعُو إِلَى ذَنْبٍ آخَرَ وَيَتَضَاعَفُ فَيُحْرَمُ الْعَبْدُ به عن رزقه النافع من مجالسة
Jenis Ketiga: Menanamkan pemahaman di dalam diri mereka bahwa disegerakannya hukuman di dunia sangat mungkin terjadi akibat dosa-dosa, dan bahwa setiap musibah yang menimpa hamba adalah disebabkan oleh kejahatan-kejahatannya. Betapa banyak hamba yang meremehkan perkara akhirat namun lebih takut kepada hukuman Allah di dunia karena sangat bodohnya; maka sudah sepatutnya ia ditakut-takuti dengannya. Sebab dosa-dosa itu secara umum disegerakan kesialannya di dunia, sebagaimana diceritakan dalam kisah Dawud dan Sulaiman 'alaihimassalam, hingga terkadang rezeki hamba disempitkan akibat dosa-dosanya, kedudukannya gugur dari hati orang lain, dan musuh-musuhnya menguasainya. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba benar-benar diharamkan dari rezeki disebabkan dosa yang diperbuatnya." Ibnu Mas'ud berkata: "Sungguh aku mengira bahwa seorang hamba lupa akan ilmu disebabkan dosa yang diperbuatnya." Hal itu senada dengan sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa melakukan suatu dosa, maka terlepaslah dengannya satu akal yang tidak akan kembali kepadanya selamanya." Sebagian ulama Salaf berkata: "Bukanlah laknat itu berupa kehitaman pada wajah atau pengurangan pada harta, melainkan laknat itu adalah ketika engkau tidak keluar dari suatu dosa melainkan jatuh ke dalam dosa yang serupa atau yang lebih buruk darinya." Hal itu sebagaimana yang diucapkannya, karena laknat adalah pengusiran dan pembatasan. Jika ia tidak diberi taufik pada kebaikan dan dipermudah baginya kejahatan, berarti ia telah dijauhkan. Dan terhalang dari rezeki taufik adalah penghalangan terbesar. Setiap dosa akan mengajak pada dosa lainnya dan bertambah berlipat ganda, sehingga hamba terhalang darinya dari rezeki yang bermanfaat, seperti bermajelis dengan…
الْعُلَمَاءِ الْمُنْكِرِينَ لِلذُّنُوبِ وَمِنْ مُجَالَسَةِ الصَّالِحِينَ بَلْ يمقته الله تعالى ليمقته الصالحون وحكي عن بعض العارفين أنه كان يمشي في الوحل جامعا ثيابه محترزا عن زلقة رجله حتى زلقت رجله وسقط فقام وهو يمشي في وسط الوحل ويبكي ويقول هذا مثل العبد لا يزال يتوقى الذنوب ويجانبها حتى يقع فى ذنب وذنبين فعندها يخوض في الذنوب خوضاً وهو إشارة إلى أن الذنب تتعجل عقوبته بالانجرار إلى ذنب آخر ولذلك قال الفضيل ما أنكرت من تغير الزمان وجفاء الإخوان فذنوبك ورثتك ذلك وقال بعضهم إني لأعرف عقوبة ذنبي في سوء خلق حماري وقال آخر أعرف العقوبة حتى في فأر بيتي وقال بعض صوفية الشام نظرت إلى غلام نصراني حسن الوجه فوقفت أنظر إليه فمر بي ابن الجلاء الدمشقي فأخذ بيدي فاستحييت منه فقلت يا أبا عبد الله سبحان الله تعجبت من هذه الصورة الحسنة وهذه الصنعة المحكمة كيف خلقت للنار فغمز يدي وقال لتجدن عقوبتها بعد حين قال فعوقبت بها بعد ثلاثين سنة وقال أبو سليمان الداراني الاحتلام عقوبة وقال لا يفوت أحداً صلاة جماعة إلا بذنب يذنبه وفي الخبر ما أنكرتم من زمانكم فبما غيرتم من أعمالكم وفي الخبر يقول الله تعالى إن أدنى ما أصنع بالعبد إذا آثر شهوته على طاعتي أن أحرمه لذيذ مناجاتي وحكي عن أبي عمرو بن علوان في قصة يطول ذكرها قال فيها كنت قائماً ذات يوم أصلى فخار قلبي هوى طاولته بفكرتي حتى تولد منه شهوة الرجال فوقعت إلى الأرض واسود جسدي كله فاستترت في البيت فلم أخرج ثلاثة أيام وكنت أعالج غسله في الحمام بالصابون فلا يزداد إلا سواداً حتى انكشف بعد ثلاث فلقيت الجنيد وكان قد وجه إلي فأشخصني من الرقة فلما أتيته قال لي أما استحييت من الله تعالى كنت قائماً بين يديه فساررت نفسك بشهوة حتى استولت عليك برقة وأخرجتك من بين يدي الله تعالى فلولا أني دعوت الله لك وتبت إليه عنك للقيت الله بذلك اللون قال فعجبت كيف علم بذلك وهو ببغداد وأنا بالرقة
…para ulama yang mengingkari dosa-dosa dan dari bermajelis dengan orang-orang saleh, bahkan Allah Ta'ala membencinya sehingga orang-orang saleh pun membencinya. Diceritakan dari sebagian ahli arifin bahwa ia sedang berjalan di atas lumpur sambil memegang pakaiannya untuk berhati-hati agar kakinya tidak tergelincir, sampai akhirnya kakinya tergelincir dan ia pun jatuh. Ia lalu bangkit dan berjalan di tengah-tengah lumpur seraya menangis dan berkata: "Ini seperti perumpamaan seorang hamba; ia senantiasa menjaga diri dari dosa-dosa dan menjauhinya sampai ia jatuh ke dalam satu atau dua dosa, lalu pada saat itulah ia masuk dan tenggelam ke dalam dosa-dosa secara total." Ini merupakan isyarat bahwa suatu dosa disegerakan hukumannya dengan ditariknya pelaku tersebut kepada dosa lainnya. Oleh karena itu, Al-Fudhayl berkata: "Apa yang engkau ingkari berupa pergeseran zaman dan sikap dingin saudara-saudaramu, maka dosa-dosamulah yang menyebabkannya padamu." Sebagian ulama berkata: "Sungguh aku benar-benar mengetahui hukuman atas dosaku dari buruknya perangai keledaiku." Yang lain berkata: "Aku mengetahui hukumannya hingga dari tikus di rumahku." Sebagian sufi dari Syam berkata: "Aku memandang seorang pemuda Nasrani yang tampan wajahnya, lalu aku berdiri memandangnya. Kemudian Ibnu Al-Jalla' Ad-Dimasyqi melewatinu dan memegang tanganku. Aku merasa malu kepadanya lalu berkata: 'Wahai Abu Abdillah, Subhanallah! Aku kagum dengan rupa yang indah dan ciptaan yang sempurna ini, bagaimana mungkin diciptakan untuk neraka?' Maka ia meremas tanganku dan berkata: 'Engkau pasti akan merasakan hukumannya setelah beberapa waktu.' Ia berkata: Maka aku dihukum karenanya setelah tiga puluh tahun." Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Mimpi basah adalah suatu hukuman." Dan ia berkata: "Tidaklah seseorang tertinggal shalat berjamaah melainkan disebabkan dosa yang diperbuatnya." Dalam riwayat disebutkan: "Apa yang kalian ingkari dari zaman kalian adalah disebabkan apa yang kalian ubah dari amal-amal kalian." Dalam riwayat lain, Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya hukuman terdangkal yang Aku berikan kepada hamba ketika ia mengedepankan syahwatnya atas ketaatan kepada-Ku adalah Aku mengharamkannya dari kelazatan bermunajat kepada-Ku." Diceritakan dari Abu 'Amr bin 'Alwan dalam kisah yang panjang, ia berkata di dalamnya: "Pada suatu hari aku sedang berdiri shalat, lalu hatiku condong pada suatu hasrat syahwat yang kuturuti dalam pikiranku hingga timbul darinya kehendak syahwat laki-laki. Maka aku jatuh ke tanah dan seluruh tubuhku menjadi hitam. Aku pun bersembunyi di dalam rumah dan tidak keluar selama tiga hari. Aku berusaha membasuhnya di pemandian umum dengan sabun, namun tidak menambah melainkan makin hitam, hingga akhirnya hilang setelah tiga hari. Lalu aku bertemu Al-Junaid, yang sebelumnya telah mengutus seseorang kepadaku untuk membawaku dari Raqqah. Ketika aku mendatangi beliau, beliau berkata kepadaku: 'Apakah engkau tidak malu kepada Allah Ta'ala? Engkau sedang berdiri di hadapan-Nya lalu engkau membisikkan syahwat kepada dirimu sendiri hingga syahwat itu menguasaimu di Raqqah dan mengeluarkanmu dari hadapan Allah Ta'ala? Sekiranya aku tidak berdoa kepada Allah untukmu dan bertaubat kepada-Nya atas namamu, niscaya engkau akan bertemu Allah dengan warna tubuh seperti itu.' Ia berkata: Aku pun heran bagaimana beliau mengetahui hal itu padahal beliau berada di Baghdad dan aku berada di Raqqah."
واعلم انه لا يذنب العبد ذنباً إلا ويسود وجه قلبه فإن كان سعيداً أظهر السواد على ظاهره لينزجر وإن كان شقياً أخفى عنه حتى ينهمك ويستوجب النار والأخبار كثيرة في آفات الذنوب في الدنيا من الفقر والمرض وغيره بل من شؤم الذنب في الدنيا على الجملة أن يكسب ما بعده صفته فإن ابتلي بشيء كان عقوبة له ويحرم جميل الرزق حتى يتضاعف شقاؤه وَإِنْ أَصَابَتْهُ نِعْمَةٌ كَانَتِ اسْتِدْرَاجًا لَهُ وَيُحْرَمُ جَمِيلَ الشُّكْرِ حَتَّى يُعَاقَبَ عَلَى كُفْرَانِهِ وَأَمَّا الْمُطِيعُ فَمِنْ بَرَكَةِ طَاعَتِهِ أَنْ تَكُونَ كُلُّ نِعْمَةٍ فِي حَقِّهِ جَزَاءً عَلَى طَاعَتِهِ وَيُوَفَّقَ لِشُكْرِهَا وَكُلُّ بَلِيَّةٍ كَفَّارَةٌ لِذُنُوبِهِ وَزِيَادَةٌ فِي درجاته
Ketahuilah bahwa tidaklah seorang hamba melakukan suatu dosa melainkan wajah hatinya menjadi hitam. Jika ia termasuk orang yang beruntung (bahagia), Allah menampakkan kehitaman itu pada lahiriahnya agar ia terpreventasi (tercegah). Namun jika ia orang yang celaka, Allah menyembunyikannya darinya hingga ia makin tenggelam dan berhak mendapatkan neraka. Riwayat-riwayat sangat banyak tentang bahaya dosa-dosa di dunia berupa kefakiran, penyakit, dan lainnya. Bahkan, secara umum di antara kesialan dosa di dunia adalah ia menularkan sifatnya pada hal yang sesudahnya; jika ia ditimpa suatu cobaan, maka itu menjadi hukuman baginya dan ia diharamkan dari indahnya rezeki hingga kesengsaraannya bertambah berlipat ganda. Dan jika ia ditimpa nikmat, nikmat itu menjadi istidraj (jebakan kenikmatan) baginya, dan ia diharamkan dari indahnya kesyukuran hingga ia dihukum atas kekufurannya. Adapun orang yang taat, maka di antara keberkahan ketaatannya adalah setiap nikmat pada haknya merupakan balasan atas ketaatannya dan ia diberi taufik untuk mensyukurinya, serta setiap cobaan menjadi pelebur dosa-dosanya dan penambah derajat kedudukannya.
النوع الرَّابِعُ ذِكْرُ مَا وَرَدَ مِنَ الْعُقُوبَاتِ عَلَى آحاد الذنوب كالخمر والزنا والسرقة والقتل والغيبة والكبر والحسد وكل ذلك مما لا يمكن حصره وذكره مع غير أهله وضع الدواء في غير موضعه بل ينبغي أن يكون العالم كالطبيب الحاذق فيستدل أولاً بالنبض والسحنة ووجود الحركات على العلل الباطنة ويشتغل بعلاجها فيستدل بقرائن الأحوال على خفايا الصفات وليتعرض لما وقف عليه اقْتِدَاءً بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ حيث قال له واحد أوصني يا رسول الله ولا تكثر علي قال لا تغضب وقال له آخر أوصني يا رسول الله فقال
Jenis Keempat: Menyebutkan ancaman hukuman yang diriwayatkan atas dosa-dosa secara khusus, seperti khamr (minuman keras), zina, pencurian, pembunuhan, ghibah (gunjingan), kesombongan (kibr), dan kedengkian (hasad). Semua itu termasuk hal yang tidak mungkin dihitung jumlahnya, dan menyebutkannya kepada orang yang bukan ahlinya (yang tidak tepat) adalah penempatan obat tidak pada tempatnya. Sebaliknya, hendaknya ulama itu seperti dokter yang mahir; ia meneliti terlebih dahulu melalui denyut nadi, raut wajah, dan gerak-gerik untuk mengetahui penyakit-penyakit batiniah, lalu ia sibuk mengobatinya. Maka ia menyimpulkan sifat-sifat yang tersembunyi melalui indikasi-indikasi keadaan, lalu menangani apa yang ditemukannya demi meneladani Rasulullah ﷺ ketika seorang sahabat berkata kepada beliau: "Berilah aku wasiat, wahai Rasulullah, dan jangan terlalu banyak bagiku!" Beliau bersabda: "Janganlah engkau marah." Dan sahabat lain berkata kepada beliau: "Berilah aku wasiat, wahai Rasulullah!" Maka beliau bersabda…
عليك السلام عليك باليأس مما في أيدي الناس فإن ذلك هو الغنى وإياك والطمع فإنه الفقر الحاضر وصل صلاة مودع وإياك وما يعتذر منه وقال رجل لمحمد بن واسع أوصني فقال أوصيك أن تكون ملكاً في الدنيا والآخرة قال وكيف لي بذلك قال الزم الزهد في الدنيا فكأنه ﷺ توسم في السائل الأول مخايل الغضب فنهاه عنه وفي السائل الآخر مخايل الطمع في الناس وطول الأمل وتخيل محمد بن واسع في السائل مخايل الحرص على الدنيا وقال رجل لمعاذ أوصني فقال كن رحيماً أكن لك بالجنة زعيماً فكأنه تفرس فيه آثار الفظاظة والغلظة وقال رجل لإبراهيم بن أدهم أوصني فقال إياك والناس وعليك بالناس ولا بد من الناس فإن الناس هم الناس وليس كل الناس بالناس ذهب الناس وبقي النسناس وما أراهم بالناس بل غمسوا في ماء الياس فكأنه تفرس فيه آفة المخالطة وأخبر عما كان هو الغالب على حاله في وقته وكان الغالب أذاه بالناس والكلام على قدر حال السائل أولى من أن يكون بحسب حال القائل وكتب معاوية ﵀ إلى عائشة ﵂ أن اكتبي لي كتاباً توصيني فيه ولا تكثري فكتبت إليه من عائشة إلى معاوية سلام الله عليك أما بعد فإني سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول من التمس رضا الله بسخط الناس كفاه الله مؤنة الناس ومن التمس سخط الله برضا الناس وكله الله إلى الناس والسلام عليك فانظر إلى فقهها كيف تعرضت للآفة التي تكون الولاة بصددها وهي مراعاة الناس وطلب مرضاتهم وكتبت إليه مرة أخرى أما بعد فاتق الله فإنك إذا اتقيت الله كفاك الناس وإذا اتقيت الناس لم يغنوا عنك من الله شيئاً والسلام
…"Semoga keselamatan tercurah atasmu. Hendaknya engkau berputus asa dari apa yang ada di tangan manusia, sebab hal itu adalah kekayaan yang sejati. Jauhilah olehmu ketamakan, sebab ketamakan adalah kefakiran yang nyata. Shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah (perpisahan), dan jauhilah perkara yang menyebabkan engkau meminta maaf darinya." Dan seorang laki-laki berkata kepada Muhammad bin Wasi': "Berilah aku wasiat!" Maka ia berkata: "Aku berwasiat kepadamu agar engkau menjadi raja di dunia dan akhirat." Laki-laki itu berkata: "Bagaimana aku bisa mendapatkan hal itu?" Ia menjawab: "Pegang teguhlah zuhud di dunia." Seolah-olah Nabi ﷺ melihat pada penanya pertama tanda-tanda kemarahan sehingga beliau melarangnya darinya, dan pada penanya lainnya melihat tanda-tanda ketamakan pada manusia serta panjang angan-angan, sedangkan Muhammad bin Wasi' melihat pada penanya tanda-tanda kerakusan terhadap dunia. Seorang laki-laki berkata kepada Mu'adz: "Berilah aku wasiat!" Maka ia berkata: "Jadilah orang yang penyayang, niscaya aku menjadi penjamin surga bagimu." Seolah-olah ia melihat firasat padanya berupa bekas-bekas sikap kasar dan keras. Dan seorang laki-laki berkata kepada Ibrahim bin Adham: "Berilah aku wasiat!" Maka ia berkata: "Waspadalah terhadap manusia, namun hendaknya engkau tetap bersama manusia, dan manusia itu tidak bisa dihindari. Sebab manusia adalah manusia, namun tidak setiap manusia itu benar-benar manusia. Manusia sejati telah pergi dan yang tersisa adalah nisnas (manusia palsu). Aku tidak melihat mereka sebagai manusia, melainkan mereka telah dicelupkan ke dalam air keputusasaan." Seolah-olah ia melihat firasat padanya berupa bahaya bergaul (mukhalatah), dan mengabarkan apa yang menjadi keadaan dominan pada zamannya, di mana yang dominan adalah gangguan manusia. Dan berbicara sesuai kadar keadaan penanya itu lebih utama daripada sesuai kondisi pembicara. Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu berkirim surat kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha: "Tuliskanlah surat untukku yang berisi wasiat kepadaku dan jangan terlalu panjang!" Maka 'Aisyah menulis kepadanya: "Dari 'Aisyah kepada Mu'awiyah, salam Allah atasmu. Amma ba'du: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barangsiapa mencari keridaan Allah dengan membuat manusia murka, niscaya Allah mencukupinya dari beban manusia. Dan barangsiapa mencari kemurkaan Allah dengan mencari keridaan manusia, niscaya Allah menyerahkannya kepada manusia.' Wassalamu 'alaik." Maka perhatikanlah pemahaman (fiqih) beliau bagaimana beliau menyasar penyakit yang dihadapi oleh para penguasa, yaitu menjaga perasaan manusia dan mencari keridaan mereka. Dan beliau menulis surat kepadanya di lain waktu: "Amma ba'du: Bertakwalah kepada Allah, sebab jika engkau bertakwa kepada Allah, Dia akan mencukupimu dari manusia; dan jika engkau takut kepada manusia, mereka tidak dapat membela dirimu sedikit pun dari (azab) Allah. Wassalam."
فإذن على كل ناصح أن تكون عنايته مصروفة إلى تفرس الصفات الخفية وتوسم الأحوال اللائقة ليكون اشتغاله بالمهم فإن حكاية جميع مواعظ الشرع مع كل واحد غير ممكنة والاشتغال بوعظه بما هو مستغن عن التوعظ فيه تضييع زمان
Dengan demikian, wajib bagi setiap penasihat untuk mencurahkan perhatiannya pada firasat membaca sifat-sifat tersembunyi serta mengamati keadaan-keadaan yang sesuai agar kesibukannya terarah pada perkara yang terpenting. Sebab menyampaikan seluruh nasihat syariat kepada setiap individu adalah hal yang tidak mungkin, dan sibuk menasihatinya dengan hal-hal yang tidak ia perlukan merupakan pemborosan waktu.
فإن قلت فإن كان الواعظ يتكلم في جمع أو سأله من لا يدرى باطن حاله أن يعظه فكيف يفعل فاعلم أن طريقه في ذلك أن يعظه بما يشترك كافة الخلق في الحاجة إليه إما على العموم وإلا على الأكثر فإن في علوم الشرع أغذية وأدوية فالأغذية للكافة والأدوية لأرباب العلل
Jika engkau bertanya: "Apabila penasihat (wa'izh) itu berbicara di hadapan khalayak ramai, atau seseorang yang tidak diketahui keadaan batinnya meminta nasihat darinya, bagaimanakah yang harus ia lakukan?" Maka ketahuilah bahwa jalannya dalam hal itu adalah hendaknya ia menasihatinya dengan hal-hal yang dibutuhkan oleh seluruh makhluk secara bersama-sama, baik secara umum atau setidaknya bagi mayoritas dari mereka. Sebab di dalam ilmu-ilmu syariat terdapat makanan pokok (aghziyah) dan obat-obatan (adwiyah); maka makanan pokok adalah untuk seluruh manusia, sedangkan obat-obatan adalah bagi pemilik penyakit.
ومثاله ما روي أن رجلاً قال لأبي سعيد الخدري أوصني قال عليك بتقوى الله ﷿ فإنها رأس كل خير وعليك بالجهاد فإنه رهبانية الإسلام وعليك بالقرآن فإنه نور لك في أهل الأرض وذكر لك في أهل السماء وعليك بالصمت إِلَّا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّكَ بِذَلِكَ تَغْلِبُ الشَّيْطَانَ وقال رجل للحسن أوصني فقال أعز أمر الله يعزك الله وقال لقمان لابنه يا بني زاحم العلماء بركبتيك ولا تجادلهم فيمقتوك وخذ من الدنيا بلاغك وأنفق فضول كسبك لآخرتك ولا ترفض الدنيا كل الرفض فتكون عيالاً وعلى أعناق الرجال كلاً وصم صوماً يكسر شهوتك ولا تصم صوماً يضر بصلاتك فإن الصلاة أفضل من الصوم ولا تجالس السفيه ولا تخالط ذا الوجهين وقال أيضاً لابنه يا بني لا تضحك من غير عجب ولا تمش في غير أرب ولا تسأل عما لا يعنيك ولا تضيع مالك وتصلح مال غيرك فإن مالك ما قدمت ومال غيرك ما تركت يا بني إن من يرحم يرحم ومن يصمت يسلم ومن يقل الخير يغنم ومن يقل الشر يأثم ومن لا يملك لسانه يندم وقال رجل لأبي حازم أوصني فقال كل ما لو جاءك الموت عليه فرأيته غنيمة
Contohnya adalah apa yang diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Abu Sa'id Al-Khudri: "Berilah aku wasiat!" Ia berkata: "Wajib atasmu bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, karena takwa adalah pokok dari segala kebaikan. Wajib atasmu berjihad, karena jihad adalah kependetaan (rahbaniyyah) dalam Islam. Wajib atasmu membaca Al-Qur'an, karena Al-Qur'an adalah cahaya bagimu di kalangan penduduk bumi dan sebutan (kemuliaan) bagimu di kalangan penduduk langit. Dan wajib atasmu berdiam diri kecuali dalam kebaikan, karena dengan demikian engkau mengalahkan setan." Dan seorang laki-laki berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri: "Berilah aku wasiat!" Maka ia berkata: "Muliakanlah urusan Allah, niscaya Allah memuliakanmu." Luqman berkata kepada putranya: "Wahai anakku, duduklah merapat dengan para ulama hingga lututmu menyentuh lutut mereka, dan janganlah engkau membantah mereka sehingga mereka membencimu. Ambillah dari dunia sekadar kecukupanmu dan infakkanlah kelebihan hasil usahamu untuk akhiratmu. Janganlah engkau menolak dunia secara keseluruhan hingga engkau menjadi beban dan menyusahkan leher orang lain. Berpuasalah dengan puasa yang mematahkan syahwatmu, dan jangan berpuasa yang membahayakan shalatmu, karena shalat itu lebih utama daripada puasa. Janganlah engkau duduk bermajelis dengan orang bodoh (safih), dan janganlah bergaul dengan orang yang bermuka dua." Luqman juga berkata kepada putranya: "Wahai anakku, janganlah engkau tertawa tanpa ada hal yang menakjubkan, janganlah berjalan tanpa ada keperluan, janganlah bertanya tentang apa yang tidak penting bagimu, dan janganlah menyia-nyiakan hartamu sendiri seraya memperbaiki harta orang lain, sebab hartamu yang sejati adalah apa yang telah engkau persembahkan (ke akhirat) dan harta orang lain adalah apa yang engkau tinggalkan. Wahai anakku, sesungguhnya barangsiapa menyayangi akan disayangi, barangsiapa berdiam diri akan selamat, barangsiapa mengucapkan kebaikan akan beruntung, barangsiapa mengucapkan keburukan akan berdosa, dan barangsiapa tidak mampu menguasai lidahnya akan menyesal." Dan seorang laki-laki berkata kepada Abu Hazim: "Berilah aku wasiat!" Maka ia berkata: "Setiap amalan yang jika kematian mendatangimu saat engkau melakukannya lalu engkau memandangnya sebagai keberuntungan…"
فالزمه وكل ما لو جاءك الموت عليه فرأيته مصيبة فاجتنبه وقال موسى للخضر ﵉ أوصني فقال كن بساماً ولا تكن غضاباً وكن نفاعاً ولا تكن ضراراً وانزع عن اللجاجة ولا تمش في غير حاجة ولا تضحك من غير عجب ولا تعير الخطائين بخطاياهم وابك على خطيئتك يا ابن عمران وقال رجل لمحمد بن كرام أوصني فقال اجتهد في رضا خالقك بقدر ما تجتهد في رضا نفسك وقال رجل لحامد اللفاف أوصني فقال اجعل لدينك غلافاً كغلاف المصحف أن تدنسه الآفات قال وما غلاف الدين قال ترك طلب الدنيا إلا مالا بد منه وترك كثرة الكلام إلا فيما لا بد منه وترك مخالطة الناس إلا فيما لا بد منه وكتب الحسن إلى عمر بن عبد العزيز رحمهم الله تعالى أما بعد فخف مما خوفك الله واحذر مما حذرك الله وخذ مما في يديك لما بين يديك فعند الموت يأتيك الخبر اليقين والسلام وكتب عمر بن عبد العزيز إلى الحسن يسأل أن يعظه فكتب إليه أما بعد فإن الهول الأعظم والأمور المفظعات أمامك ولا بد لك من مشاهدة ذلك إما بالنجاة وإما بالعطب واعلم أن من حاسب نفسه ربح ومن غفل عنها خسر ومن نظر في العواقب نجا ومن أطاع هواه ضل ومن حلم غنم ومن خاف أمن ومن أمن اعتبر ومن اعتبر أبصر ومن أبصر فهم ومن فهم علم فإذا زللت فارجع وإذا ندمت فأقلع وإذا جهلت فاسأل وإذا غضبت فأمسك وكتب مطرف بن عبد الله إلى عمر بن عبد العزيز ﵀ أما بعد فإن الدنيا دار عقوبة ولها يجمع من من لا عقل له وبها يغتر من لا علم عنده فكن فيها يا أمير المؤمنين كالمداوي جرحه يصبر على شدة الدواء لما يخاف من عاقبة الداء وكتب عمر بن عبد العزيز ﵁ إلى عدي بن أرطأة أما بعد فإن الدنيا عدوة أولياء الله وعدوة أعداء الله فأما أولياؤه فغمتهم وأما أعداؤه فغرتهم وكتب أيضاً إلى بعض عماله أما بعد فقد أمكنتك القدرة من ظلم العباد فإذا هممت بظلم أحد فاذكر قدرة الله عليك واعلم أنك لا تأتي إلى الناس شيئاً إلا كان زائلاً عنهم باقياً عليك واعلم إن الله ﷿ آخذ للمظلومين من الظالمين والسلام
Maka peganglah erat-erat hal itu, dan segala sesuatu yang apabila kematian mendatangi-mu saat engkau melakukannya lalu engkau memandangnya sebagai musibah, maka jauhilah. Nabi Musa berkata kepada Khidir 'alaihissalam, "Berilah aku wasiat." Khidir menjawab, "Jadilah orang yang murah senyum dan jangan jadi pemarah; jadilah orang yang bermanfaat dan jangan memberi mudarat; tinggalkanlah sikap keras kepala; janganlah berjalan tanpa ada keperluan; janganlah tertawa tanpa ada hal yang mengagumkan; janganlah mencela orang-orang yang berbuat salah atas kesalahan mereka; dan tangisilah kesalahanmu sendiri, wahai putra 'Imran." Seseorang berkata kepada Muhammad bin Karram, "Berilah aku wasiat." Ia menjawab, "Bersungguh-sungguhlah dalam mencari keridaan Penciptamu sebagaimana engkau bersungguh-sungguh dalam memenuhi kepuasan dirimu." Seseorang berkata kepada Hamid al-Laffaf, "Berilah aku wasiat." Ia menjawab, "Jadikanlah bagi agamamu sampul (pelindung) seperti sampul mushaf agar tidak terkotori oleh penyakit-penyakit." Orang itu bertanya, "Apakah sampul agama itu?" Ia menjawab, "Meninggalkan pencarian dunia kecuali sekadar yang mutlak diperlukan, meninggalkan banyak bicara kecuali pada hal yang mutlak diperlukan, dan meninggalkan pergaulan dengan manusia kecuali pada hal yang mutlak diperlukan." Al-Hasan (Al-Bashri) menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz -rahimahumullah ta'ala-, "Amma ba'du, takutlah terhadap apa yang ditakutkan Allah kepadamu, waspadalah terhadap apa yang diwanti-wanti oleh Allah kepadamu, dan ambillah dari apa yang ada di tanganmu (dunia) untuk apa yang ada di hadapanmu (akhirat). Maka ketika kematian tiba, akan datang kepadamu berita yang meyakinkan. Wassalam." Dan Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Al-Hasan meminta agar ia menasihatinya, maka Al-Hasan membalas, "Amma ba'du, sesungguhnya kepanikan yang paling besar dan perkara-perkara yang amat dahsyat ada di hadapanmu. Engkau pasti akan menyaksikannya, bisa dengan keselamatan atau dengan kebinasaan. Ketahuilah bahwa barang siapa bermuhasabah (mengintrospeksi) dirinya niscaya ia beruntung, barang siapa lalai darinya niscaya ia rugi, barang siapa memandang pada kesudahan perkara niscaya ia selamat, barang siapa menuruti hawa nafsunya niscaya ia tersesat, barang siapa bersikap santun niscaya ia beruntung, barang siapa takut (kepada Allah) niscaya ia merasa aman, barang siapa merasa aman niscaya ia mengambil pelajaran, barang siapa mengambil pelajaran niscaya ia melihat (kebenaran), barang siapa melihat niscaya ia paham, dan barang siapa paham niscaya ia berilmu. Maka apabila engkau tergelincir, kembalilah (bertobat); apabila engkau menyesal, cabutlah (perbuatan dosa itu); apabila engkau tidak tahu, bertanyalah; dan apabila engkau marah, tahanlah diri." Mutarrif bin Abdullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu 'anhu, "Amma ba'du, sesungguhnya dunia adalah negeri hukuman. Hanya orang yang tidak berakal-lah yang mengumpulkannya, dan hanya orang yang tidak memiliki ilmu-lah yang terperdaya dengannya. Maka jadilah di dalamnya, wahai Amirul Mukminin, seperti orang yang merawat lukanya; ia bersabar menahan pedihnya obat karena takut akan akibat dari penyakit itu." Dan Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu 'anhu menulis surat kepada Adi bin Artah, "Amma ba'du, sesungguhnya dunia adalah musuh wali-wali Allah dan musuh bagi musuh-musuh Allah. Bagi para wali-Nya, dunia membuat mereka bersedih; sedangkan bagi para musuh-Nya, dunia memperdaya mereka." Beliau juga menulis surat kepada salah seorang gubernurnya, "Amma ba'du, kekuasaan telah menguasakanmu untuk menzalimi para hamba. Maka jika engkau berniat menzalimi seseorang, ingatlah kekuasaan Allah atas dirimu. Ketahuilah bahwa apa pun perlakuan buruk yang engkau timpakan kepada manusia, hal itu akan sirna dari mereka tetapi tetap tersisa (sebagai dosa) atas dirimu. Dan ketahuilah bahwa Allah 'Azza wa Jalla akan menuntut hak orang-orang yang dizalimi dari orang-orang yang menzalimi. Wassalam."
فهكذا ينبغي أن يكون وعظ العامة ووعظ من لا يدري خصوص واقعته فهذه المواعظ مثل الأغذية التي يشترك الكافة في الانتفاع بها
Demikianlah seharusnya bentuk nasihat untuk orang awam dan nasihat bagi orang yang tidak diketahui secara khusus keadaannya. Nasihat-nasihat ini bagaikan makanan pokok yang semua orang sama-sama memetik manfaat darinya.
ولأجل فقد مثل هؤلاء الوعاظ انحسم باب الاتعاظ وغلبت المعاصي واستسرى الفساد وبلي الخلق بوعاظ يزخرفون أسجاعاً وينشدون أبياتاً ويتكلفون ذكر ما ليس في سعة علمهم ويتشبهون بحال غيرهم فسقط عن قلوب العامة وقارهم ولم يكن كلامهم صادراً من القلب ليصل إلى القلب بل القائل متصلف والمستمع متكلف وكل واحد منهما مدبر ومتخلف
Dan karena ketiadaan para penceramah sejati seperti mereka itulah, pintu untuk mengambil pelajaran menjadi tertutup, kemaksiatan merajalela, kerusakan menyebar, dan umat diuji dengan pemberi nasihat yang sekadar memperindah bait-bait bersajak, mengutip syair-syair, memaksakan diri membicarakan apa yang berada di luar jangkauan ilmu mereka, serta berpura-pura menyerupai keadaan spiritual (maqam) orang lain. Akibatnya, wibawa mereka gugur dari hati orang awam, dan ucapan mereka tidak terbit dari hati sehingga tidak sampai ke dalam hati. Sebaliknya, sang penceramah bersikap sombong dan sang pendengar berpura-pura, sehingga masing-masing dari keduanya berbalik membelakangi dan tertinggal.
فإذن كان طلب الطبيب أول علاج المرضى وطلب العلماء أول علاج العاصين فهذا أحد أركان العلاج وأصوله
Dengan demikian, mencari dokter adalah langkah awal pengobatan bagi orang sakit, dan mencari ulama adalah langkah awal pengobatan bagi pelaku maksiat. Ini merupakan salah satu rukun dan landasan utama dalam pengobatan spiritual.
الأصل الثاني الصبر ووجه الحاجة إليه أن المريض إنما يطول مرضه لتناوله ما يضره وإنما يتناول ذلك إما لغفلته عن مضرته وإما لشدة غلبة شهوته فله سببان فما ذكرناه هو علاج الغفلة فيبقى علاج الشهوة وطريق علاجها قد ذكرناه في كتاب رياضة النفس وحاصله أن المريض إذا اشتدت ضراوته لمأكول مضر فطريقه أن يستشعر عظم ضرره ثم يغيب ذلك عن عينه فلا يحضره ثم يتسلى عنه بما يقرب منه في صورته ولا يكثر ضرره ثم يصبر بقوة الخوف على الألم الذي يناله في تركه فلا بد على كل حال من مرارة الصبر فكذلك يعالج الشهوة في المعاصي كالشاب مثلاً إذا غلبته الشهوة فصار لا يقدر على حفظ عينه ولا حفظ قلبه أو حفظ جوارحه في السعي وراء شهوته فينبغي أن يستشعر ضرر ذنبه بأن يستقري المخلوقات التي جاءت فيه من كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ فإذا اشتد خوفه تباعد من الأسباب المهيجة لشهوته ومهيج الشهوة من خارج هو
Prinsip dasar yang kedua adalah sabar. Alasan dibutuhkannya kesabaran adalah bahwa seorang pasien penyakitnya menjadi berlarut-larut karena mengonsumsi apa yang memudaratkannya. Ia mengonsumsi hal tersebut adakalanya karena kelalaiannya akan kemudaratannya, atau karena sangat dominannya hawa nafsunya. Jadi ada dua penyebab. Apa yang telah kami sebutkan adalah terapi bagi kelalaian, maka tersisa terapi bagi hawa nafsu. Cara terapinya telah kami sebutkan dalam Kitab Riyadhatun-Nafs (Latihan Jiwa). Kesimpulannya, apabila seorang pasien sangat gemar mengonsumsi makanan yang berbahaya, caranya adalah ia harus menyadari betapa besarnya bahaya tersebut, kemudian menyembunyikan makanan itu dari pandangannya agar tidak hadir di hadapannya, lalu menghibur dirinya dengan makanan yang menyerupainya secara bentuk tetapi tidak terlalu berbahaya, kemudian ia bersabar dengan kekuatan rasa takut atas rasa sakit yang dialaminya ketika meninggalkannya. Bagaimanapun juga, pahitnya kesabaran itu pasti ada. Demikian pulalah cara mengobati hawa nafsu dalam kemaksiatan. Seperti seorang pemuda misalnya, apabila hawa nafsunya telah menguasainya sehingga ia tidak sanggup lagi menjaga pandangan matanya, menjaga hatinya, atau menjaga anggota tubuhnya dalam mengejar syahwatnya, maka hendaknya ia menyadari bahaya dosanya dengan cara menelusuri peringatan-peringatan yang ada dalam Kitab Allah Ta'ala dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ. Apabila rasa takutnya semakin menguat, ia hendaknya menjauhi sebab-sebab yang membangkitkan syahwatnya. Pembangkit syahwat dari luar adalah…
حضور المشتهى والنظر إليه وعلاجه الهرب والعزلة ومن داخل تناول لذائذ الأطعمة وعلاجه الجوع والصوم الدائم وكل ذلك لا يتم إلا بصبر ولا يصبر إلا عن خوف ولا يخاف إلا عن علم ولا يعلم إلا عن بصيرة وافتكار أو عن سماع وتقليد فأول الأمر حضور مجالس الذكر ثم الاستماع من قلب مجرد عن سائر الشواغل مصروف إلى السماع ثم التفكر فيه لتمام الفهم وينبعث من تمامه لا محالة خَوْفُهُ وَإِذَا قَوِيَ الْخَوْفُ تَيَسَّرَ بِمَعُونَتِهِ الصَّبْرُ وانبعثت الدواعي لطلب العلاج وَتَوْفِيقُ اللَّهِ وَتَيْسِيرُهُ مِنْ وَرَاءِ ذَلِكَ فَمَنْ أَعْطَى مِنْ قَلْبِهِ حُسْنَ الْإِصْغَاءِ وَاسْتَشْعَرَ الْخَوْفَ فاتقى وانتظر الثواب وصدق بالحسنى فسييسره والله تَعَالَى لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَيُيَسِّرُهُ اللَّهُ لِلْعُسْرَى فَلَا يُغْنِي عَنْهُ مَا اشْتَغَلَ بِهِ مِنْ مَلَاذِّ الدُّنْيَا مَهْمَا هَلَكَ وَتَرَدَّى وَمَا عَلَى الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا شَرْحُ طرق الهدى وإنما لله الآخرة والأولى
…hadirnya hal yang diinginkan dan memandangnya, sedangkan terapinya adalah melarikan diri darinya dan berkhalwat (mengasingkan diri). Adapun dari dalam, (pembangkitnya) adalah mengonsumsi makanan-makanan yang lezat, dan terapinya adalah lapar serta berpuasa secara berkesinambungan. Semua itu tidak akan sempurna melainkan dengan kesabaran, dan tidak ada kesabaran melainkan berlandaskan rasa takut (khauf), dan tidak ada rasa takut melainkan berlandaskan ilmu, dan tidak ada ilmu melainkan berlandaskan bashirah (mata hati) dan pemikiran, atau melalui pendengaran dan iktiba'/taqlid (mengikuti bimbingan). Maka pangkal dari perkara ini adalah menghadiri majelis-majelis zikir, kemudian mendengarkan dengan hati yang bersih dari segala kesibukan lain dan difokuskan untuk mendengarkan, lalu memikirkannya demi kesempurnaan pemahaman. Dari kesempurnaan pemahaman itu, secara pasti timbullah rasa takutnya. Apabila rasa takut itu telah kuat, maka dengan bantuannya kesabaran menjadi mudah, dan bangkitlah dorongan-dorongan untuk mencari pengobatan. Taufik serta kemudahan dari Allah berada di balik semua itu. Maka barang siapa yang memberikan pendengaran yang baik dari hatinya, merasakan khauf (rasa takut), lalu bertakwa, mengharapkan pahala, dan membenarkan pahala yang terbaik (surga), maka Allah Ta'ala akan memudahkannya menuju jalan kemudahan. Adapun orang yang kikir, merasa dirinya cukup, dan mendustakan pahala yang terbaik, maka Allah akan memudahkannya menuju jalan kesukaran. Maka apa yang diperbuatnya dengan menyibukkan diri pada kelezatan-kelezatan dunia tidak akan berguna baginya apabila ia telah binasa dan jatuh (ke dalam neraka). Dan tidak ada kewajiban bagi para nabi selain menjelaskan jalan-jalan petunjuk, dan sesungguhnya milik Allah-lah kehidupan akhirat dan dunia.
فإن قلت فقد رجع الأمر كله إلى الإيمان لأن ترك الذنب لا يمكن إلا بالصبر عنه والصبر لا يمكن إلا بمعرفة الخوف والخوف لا يكون إلا بالعلم والعلم لا يحصل إلا بالتصديق بعظم بعزم ضرر الذنوب والتصديق بعظم ضرر الذنوب هو تصديق الله ورسوله وهو الإيمان فكأن من أصر على الذنب لم يصر عليه إلا لأنه غير مؤمن فاعلم أن هذا لا يكون لفقد الإيمان بل يكون لضعف الإيمان إذ كل مؤمن مصدق بأن المعصية سبب البعد من الله تعالى وسبب العقاب في الآخرة
Jika engkau berkata: "Dengan demikian seluruh perkara ini kembali kepada iman, karena meninggalkan dosa tidaklah mungkin melainkan dengan bersabar meninggalkannya, dan sabar tidaklah mungkin melainkan dengan mengenal rasa takut, dan rasa takut tidak ada melainkan dengan ilmu, dan ilmu tidak diperoleh melainkan dengan membenarkan besarnya bahaya dosa-dosa, sedangkan membenarkan besarnya bahaya dosa-dosa adalah membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan itulah iman. Maka seolah-olah orang yang terus-menerus berbuat dosa (al-mushirr) tidaklah terus-menerus melakukannya melainkan karena ia tidak beriman." Maka ketahuilah bahwa hal ini bukanlah karena tiadanya iman, melainkan karena lemahnya iman. Sebab setiap mukmin pasti membenarkan bahwa maksiat adalah penyebab kejauhan dari Allah Ta'ala dan penyebab siksaan di akhirat.
ولكن سبب وقوعه في الذنب أمور
Namun, penyebab jatuhnya seseorang ke dalam dosa disebabkan oleh beberapa faktor:
أحدها أن العقاب الموعود غيب ليس بحاضر والنفس جبلت متأثرة بالحاضر فتأثرها بالموعود ضعيف بالإضافة إلى تأثرها بالحاضر
Pertama: Sesungguhnya siksaan yang diancamkan itu bersifat gaib (nanti), bukan hadir (sekarang). Sementara jiwa secara kodratnya mudah terpengaruh oleh apa yang hadir seketika, sehingga pengaruh dari apa yang diancamkan itu lemah jika dibandingkan dengan pengaruh hal yang sifatnya tunai/seketika.
الثاني أن الشهوات الباعثة على الذنوب لذاتها ناجزة وهي في الحال آخذة بالمخنق وقد قوي ذلك واستولى عليها بسبب الاعتياد والإلف والعادة طبيعة خامسة والنزوع عن العاجل لخوف الآجل شديد على النفس ولذلك قال تعالى كلا بل تحبون العاجلة وتذرون الآخرة وقال ﷿ بل تؤثرون الحياة الدنيا وقد عبر عن شدة الأمر قول رسول الله ﷺ حفت الجنة بالمكاره وحفت النار بالشهوات وقوله ﷺ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى خلق النار فقال لجبريل ﵇ اذهب فانظر إليها فنظر فقال وعزتك لا يسمع بها أحد فيدخلها فحفها بالشهوات ثم قال اذهب فانظر إليها فنظر فقال وعزتك لقد خشيت أن لا يبقى أحد إلا دخلها وخلق الجنة فقال لجبريل ﵇ اذهب فانظر إليها فنظر فقال وعزتك لا يسمع بها أحد إلا دخلها فحفها بالمكاره ثم قال اذهب فانظر إليها فنظر إليها فقال وعزتك لقد خشيت أن لا يدخلها أحد فإذاً كون الشهوة مرهقة في الحال وكون العقاب متأخراً إلى المآل سببان ظاهران في الاسترسال مع حصول أصل الإيمان فليس كل من يشرب في مرضه ماء الثلج لشدة عطشه مكذباً بأصل الطب ولا مكذباً بأن ذلك مضر في حقه ولكن الشهوة تغلبه وألم الصبر عنه ناجز فيهون عليه الألم المنتظر
Kedua: Bahwa syahwat yang mendorong pada dosa-dosa itu kelezatannya bersifat tunai (seketika) dan saat itu juga mencekik (menguasai) jiwa. Hal itu semakin kuat dan menguasai jiwa karena faktor kebiasaan dan keakraban, sedangkan kebiasaan itu bagaikan watak kelima. Melepaskan diri dari hal yang tunai demi takut pada hal yang akan datang sangatlah berat bagi jiwa. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: "Sekali-kali tidak! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia yang tunai, dan meninggalkan akhirat." Dan Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Bahkan kamu memilih kehidupan dunia." Kerasnya perkara ini telah diungkapkan oleh sabda Rasulullah ﷺ: "Surga dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci (oleh nafsu), dan neraka dikelilingi oleh syahwat." Dan sabda beliau ﷺ: "Sesungguhnya Allah Ta'ala menciptakan neraka, lalu berfirman kepada Jibril 'alaihissalam: 'Pergilah dan lihatlah kepadanya!' Maka Jibril melihatnya lalu berkata: 'Demi keagungan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengarnya melainkan ia tidak akan memasukinya.' Lalu Allah mengelilingi neraka itu dengan syahwat, kemudian berfirman: 'Pergilah dan lihatlah kepadanya!' Maka Jibril melihatnya lalu berkata: 'Demi keagungan-Mu, sungguh aku takut tidak ada seorang pun yang tersisa melainkan akan memasukinya.' Dan Allah menciptakan surga, lalu berfirman kepada Jibril 'alaihissalam: 'Pergilah dan lihatlah kepadanya!' Maka Jibril melihatnya lalu berkata: 'Demi keagungan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengarnya melainkan pasti ingin memasukinya.' Lalu Allah mengelilinginya dengan hal-hal yang dibenci, kemudian berfirman: 'Pergilah dan lihatlah kepadanya!' Maka Jibril melihatnya lalu berkata: 'Demi keagungan-Mu, sungguh aku takut tidak ada seorang pun yang akan memasukinya.'" Maka keberadaan syahwat yang begitu menekan secara tunai dan keberadaan siksaan yang tertunda hingga masa depan merupakan dua penyebab nyata berlarut-larutnya seseorang dalam dosa meskipun pokok iman masih ada. Jadi, tidaklah setiap orang yang minum air es saat sakit karena sangat haus itu mendustakan ilmu kedokteran atau mendustakan bahwa hal itu berbahaya bagi dirinya, melainkan karena syahwat mengalahkannya dan rasa sakit dari bersabar menahannya bersifat seketika, sehingga rasa sakit yang ditunggu (nanti) menjadi tampak lebih ringan baginya.
الثالث أنه ما من مذنب مؤمن إلا وهو فى الغالب عازم على التوبة وتكفير السيئات بالحسنات وقد وعد بأن ذلك يخبره إلا أن طول الأمل غالب على الطباع فلا يزال يسوف التوبة والتكفير فمن حيث رجاؤه التوفيق للتوبة ربما يقدم عليه مع الإيمان
Ketiga: Bahwa tidak ada seorang pelaku dosa yang beriman melainkan pada umumnya ia bertekad untuk bertobat dan menghapus keburukan dengan kebaikan, dan ia telah dijanjikan bahwa hal itu akan memperbaikinya. Hanya saja, panjang angan-angan (thulul amal) amat menguasai watak manusia, sehingga ia senantiasa menunda-nunda (taswif) tobat dan peleburan dosa tersebut. Maka dari sisi harapannya akan taufik untuk bertobat, terkadang ia tetap melakukan dosa bersamaan dengan adanya iman.
الرابع أنه ما من مؤمن موقن إلا وهو معتقد أن الذنوب لا توجب العقوبة إيجاباً لا يمكن العفو عنها
Keempat: Bahwa tidak ada seorang mukmin yang meyakini melainkan ia berkeyakinan bahwa dosa-dosa tidaklah meniscayakan siksaan secara mutlak yang tidak mungkin diampuni.
فهو يذنب وينتظر العفو عنها اتكالاً على فضل الله تعالى فهذه أسباب أربعة موجبة للإصرار على الذنب مع بقاء أصل الإيمان
Sehingga ia berbuat dosa sambil menanti ampunan darinya karena bersandar pada karunia Allah Ta'ala. Maka inilah empat sebab yang menyebabkan seseorang terus-menerus dalam dosa (al-ishrar) sementara pokok imannya masih ada.
نعم قد يقدم المذنب بسبب خامس يقدح في أصل إيمانه وهو كونه شاكاً في صدق الرسل وهذا هو الكفر كالذي يحذره الطبيب عن تناول ما يضره في المرض فإن كان المحذر ممن لا يعتقد فيه أنه عالم بالطب فيكذبه أو يشك فيه فلا يبالي به فهذا هو الكفر
Ya, terkadang seorang pelaku dosa melakukan dosa karena sebab kelima yang merusak pokok imannya, yaitu ketika ia ragu terhadap kebenaran para rasul, dan inilah kekufuran. Hal ini seperti orang yang diperingatkan oleh dokter agar tidak mengonsumsi hal yang membahayakkannya saat sakit; jika orang yang memperingatkannya itu adalah orang yang tidak ia yakini sebagai ahli kedokteran, maka ia akan mendustakannya atau meragukannya sehingga tidak peduli padanya. Maka inilah kekufuran.
فإن قلت فما علاج الأسباب الخمسة فأقول هو الفكر وذلك بأن يقرر على نفسه في السبب الأول وهو تأخر العقاب أن كل ما هو آت آت وأن غداً للناظرين قريب وأن الموت أقرب إلى كل أحد من شراك نعله فما يدريه لعل الساعة قريب والمتأخر إذا وقع صار ناجزاً ويذكر نفسه أنه أبداً في دنياه يتعب في الحال لخوف أمر فى الاستقبال إذ يركب البحار ويقاسي الأسفار لأجل الربح الذي يظن أنه قد يحتاج إليه في ثاني الحال بل لَوْ مَرِضَ فَأَخْبَرَهُ طَبِيبٌ نَصْرَانِيٌّ بِأَنَّ شُرْبَ الْمَاءِ الْبَارِدِ يَضُرُّهُ وَيَسُوقُهُ إِلَى الْمَوْتِ وَكَانَ الْمَاءُ الْبَارِدُ أَلَذَّ الْأَشْيَاءِ عِنْدَهُ تَرَكَهُ مَعَ أن الموت آلمه لحظة إذا لم يخف ما بعده ومفارقته للدنيا لا بد منها فكم نسبة وجوده في الدنيا إلى عدمه أزلا وأبداً فلينظر كيف يبادر إلى ترك ملاذه بقول ذمي لم تقم معجزة على طبه فَيَقُولُ كَيْفَ يَلِيقُ بِعَقْلِي أَنْ يَكُونَ قَوْلُ الْأَنْبِيَاءِ الْمُؤَيَّدِينَ بِالْمُعْجِزَاتِ عِنْدِي دُونَ قَوْلِ نَصْرَانِيٍّ يدعي الطب لنفسه بلا معجزة على طبه ولا يشهد له إلا عوام الخلق وَكَيْفَ يَكُونُ عَذَابُ النَّارِ عِنْدِي أَخَفَّ مِنْ عَذَابِ الْمَرَضِ وَكُلُّ يَوْمٍ فِي الْآخِرَةِ بِمِقْدَارِ خمسين ألف سنة من أيام الدنيا وبهذا التفكر بعينه يعالج اللذة الغالبة عليه ويكلف نفسه تركها ويقول إذا كنت لا أقدر على ترك لذاتي أيام العمر وهي أيام قلائل فكيف أقدر على ذلك أبد الآباد وإذا كنت لا أطيق ألم الصبر فكيف أطيق ألم النار وإذا كنت لا أصبر عن زخارف الدنيا مع كدوراتها وتنغصها وامتزاج صفوها بكدرها فكيف أصبر عن نعيم الآخرة وأما تسويف التوبة فيعالجه بالفكر في إن أكثر صياح أهل النار من التسويف لأن المسوف يبني الأمر على ما ليس إليه وهو البقاء فلعله لا يبقى وإن بقي فلا يقدر على الترك غدا كما لا يقدر عليه اليوم فليت شعري هل عجز في الحال إلا لغلبة الشهوة والشهوة ليست تفارقه غداً بل تتضاعف إذ تتأكد بالاعتياد فليست الشهوة التي أكدها الإنسان بالعادة كالتي لم يؤكدها وعن هذا هلك المسوفون لأنهم يظنون الفرق بين المتماثلين ولا يظنون أن الأيام متشابهة في أن ترك الشهوات فيها أبداً شاق وما مثال المسوف إلا مثاله من احتاج إلى قلع شجرة فرآها قوية لا تنقلع إلا بمشقة شديدة فقال أؤخرها سنة ثم أعود إليها وهو يعلم أن الشجرة كلما بقيت ازداد رسوخها وهو كلما طال عمره ازداد ضعفه فلا حماقة في الدنيا أعظم من حماقته إذ عجز مع قوته عن مقاومة ضعيف فأخذ ينتظر الغلبة عليه إذا ضعف هو في نفسه وقوي الضعيف
Jika engkau bertanya: "Apakah obat bagi kelima sebab tersebut?" Maka aku katakan: Obatnya adalah tafakur (perenungan). Yaitu dengan menetapkan pada dirinya mengenai sebab pertama—yaitu tertundanya siksaan—bahwa segala yang akan datang itu pasti tiba, bahwa esok hari bagi orang yang menunggu adalah dekat, dan bahwa kematian itu lebih dekat kepada setiap orang daripada tali sandalnya. Siapakah yang tahu, boleh jadi hari kiamat/kematian itu sudah dekat, dan hal yang tertunda itu apabila terjadi akan menjadi seketika. Hendaklah ia mengingatkan dirinya bahwa dalam dunianya ia senantiasa bersusah payah pada saat ini karena takut akan perkara di masa depan; ia mengarungi lautan dan menanggung kepayahan musafir demi keuntungan yang ia duga mungkin dibutuhkannya di kemudian hari. Bahkan jika ia sakit lalu seorang dokter Nasrani memberitahunya bahwa minum air dingin berbahaya baginya dan akan mengantarkannya pada kematian, padahal air dingin adalah hal yang paling lezat baginya, niscaya ia akan meninggalkannya. Padahal rasa sakit kematian itu hanya sekejap jika ia tidak takut pada apa yang setelahnya, dan perpisahannya dengan dunia adalah hal yang pasti. Berapakah perbandingan keberadaannya di dunia terhadap ketiadaannya di azali dan abadi? Maka hendaklah ia melihat bagaimana ia bersegera meninggalkan kelezatannya hanya karena ucapan seorang kafir dzimmi yang tidak memiliki mukjizat atas ilmu kedokterannya. Hendaknya ia berkata (pada dirinya): "Bagaimana mungkin layak bagi akalku jika ucapan para nabi yang didukung dengan mukjizat-mukjizat nilainya di mataku lebih rendah daripada ucapan seorang Nasrani yang mengklaim ilmu kedokteran tanpa mukjizat dan tidak ada yang bersaksi baginya kecuali orang awam? Dan bagaimana mungkin siksa neraka di mataku lebih ringan daripada siksa penyakit, padahal setiap hari di akhirat setara dengan lima puluh ribu tahun dari hari-hari dunia?" Dan dengan perenungan yang sama ini pula ia mengobati kelezatan yang menguasainya, serta memaksakan dirinya untuk meninggalkannya seraya berkata: "Jika aku tidak sanggup meninggalkan kelezatan-kelezatanku pada hari-hari umurnya yang singkat ini, bagaimana aku akan sanggup (menanggung siksanya) selama-lamanya? Jika aku tidak tahan menanggung pedihnya kesabaran, bagaimana aku akan tahan menanggung pedihnya neraka? Jika aku tidak sabar dari perhiasan dunia beserta keruhan, gangguan, dan bercampurnya kejernihannya dengan kekeruhan, bagaimana aku bisa bersabar dari nikmat akhirat?" Adapun penundaan tobat (taswif), maka ia mengobatinya dengan merenungkan bahwa sebagian besar jeritan penghuni neraka adalah karena penundaan tobat. Sebab orang yang menunda-nunda membangun perkaranya di atas sesuatu yang bukan wewenangnya, yaitu kelangsungan hidup; boleh jadi ia tidak bertahan hidup, dan jikapun ia bertahan hidup, ia tidak akan sanggup meninggalkannya besok sebagaimana ia tidak sanggup meninggalkannya hari ini. Duhai sekiranya aku tahu, bukankah kelemahannya saat ini hanyalah karena dominasi syahwat? Dan syahwat tidaklah berpisah darinya besok, melainkan justru berlipat ganda karena diperkuat oleh kebiasaan. Syahwat yang telah diperkuat oleh seseorang dengan kebiasaan tidaklah sama dengan syahwat yang belum diperkuat. Dari sinilah binasanya orang-orang yang menunda-nunda, karena mereka mengira ada perbedaan di antara dua hal yang serupa, dan tidak mengira bahwa hari-hari itu sama dalam hal bahwa meninggalkan syahwat di dalamnya senantiasa berat. Tidaklah perumpamaan orang yang menunda-nunda itu melainkan seperti perumpamaan orang yang perlu mencabut sebuah pohon, lalu ia melihatnya sangat kuat dan tidak dapat dicabut melainkan dengan kesulitan yang amat sangat, maka ia berkata: "Aku tunda saja satu tahun lagi lalu aku kembali mencabutnya," padahal ia tahu bahwa pohon itu semakin lama dibiarkan akan semakin mengakar, sedangkan dirinya semakin panjang umurnya akan semakin lemah. Maka tidak ada kebodohan di dunia yang lebih besar daripada kebodohannya, ketika ia dalam kondisi kuat saja ragu dan cemas (tak mampu) melawan pohon yang masih lemah, lalu ia justru menunggu untuk mengalahkannya kelak ketika dirinya sendiri sudah lemah dan pohon yang lemah itu justru menjadi makin kuat.
وأما المعنى الرابع وهو انتظار عفو الله تعالى فعلاجه ما سبق وهو كمن ينفق جميع أمواله ويترك نفسه وعياله فقراء منتظراً من فضل الله تعالى أن يرزقه العثور على كنز في أرض خربة فإن إمكان العفو عن الذنب مثل هذا الإمكان وهو مثل من يتوقع النهب من الظلمة في بلده وترك ذخائر أمواله في صحن داره وقدر على دفنها وإخفائها فلم يفعل وقال أنتظر من فضل الله تعالى أن يسلط غفلة أو عقوبة على الظالم الناهب حتى لا يتفرغ إلى داري أو إذا انتهى إلى داري مات على باب الدار فإن الموت ممكن والغفلة ممكنة وقد حكي في الأسمار أن مثل ذلك وقع فأنا أنتظر من فضل الله مثله فمنتظر هذا منتظر أمر ممكن ولكنه في غاية الحماقة والجهل إذ قد لا يمكن ولا يكون
Adapun makna yang keempat, yaitu menanti ampunan Allah Ta'ala, maka pengobatannya adalah sebagaimana yang telah berlalu. Yaitu seperti orang yang menginfakkan seluruh hartanya lalu membiarkan dirinya dan keluarganya dalam kemiskinan demi menanti karunia Allah Ta'ala berupa rezeki menemukan harta karun di tanah yang terbengkalai. Sesungguhnya kemungkinan diampuninya dosa (secara cuma-cuma tanpa tobat) adalah seperti kemungkinan ini. Ini juga seperti orang yang mengkhawatirkan penjarahan dari orang-orang zalim di negerinya, lalu ia membiarkan simpanan hartanya di halaman rumahnya padahal ia sanggup menguburnya dan menyembunyikannya tetapi tidak ia lakukan, seraya berkata: "Aku menanti karunia Allah Ta'ala agar Dia menimpakan kelalaian atau hukuman kepada orang zalim yang menjarah itu sehingga ia tidak sempat menuju rumahku, atau jika ia sampai di rumahku ia mati di depan pintu rumah." Sebab kematian itu mungkin terjadi dan kelalaian itu mungkin terjadi, dan telah diceritakan dalam kisah-kisah malam bahwa hal serupa pernah terjadi, maka aku menanti karunia Allah seperti itu. Orang yang menanti hal ini memang menanti perkara yang secara akal memungkinkan, tetapi ia berada dalam puncak kebodohan dan ketidaktahuan, karena hal itu bisa saja tidak mungkin dan tidak terjadi.
وأما الخامس وهو شك فهذا كفر وعلاجه الأسباب التي تعرفه صدق الرسل وذلك يطول ولكن يمكن أن يعالج بعلم قريب يليق بحد عقله فيقال له ما قاله الأنبياء المؤيدون بالمعجزات هل صدقه ممكن أو تقول أعلم أنه محال كما أعلم استحالة شخص واحد في مكانين في حالة واحدة فإن قال أعلم استحالته كذلك فهو أخرق معتوه وكأنه لا وجود لمثل هذا في العقلاء وإن قال أنا شاك فيه فيقال لو أخبرك شخص واحد مجهول عند تركك طعامك في البيت لحظة أنه ولغت فيه حية وألقت سمها فيه وجوزت صدقه فهل تأكله أو تتركه وإن كان ألذ الأطعمة فيقول أتركه لا محالة لأني أقول إن كذب فلا يفوتني إلا هذا الطعام والصبر عنه وإن كان شديداً فهو قريب وإن صدق فتفوتني الحياة والموت بالإضافة إلى ألم الصبر عن الطعام وإضاعته شديد فيقال له يا سبحان الله كيف تؤخر صدق الأنبياء كلهم مع ما ظهر لهم من المعجزات وصدق كافة الأولياء والعلماء والحكماء بل جميع أصناف العقلاء ولست أعني بهم جهال العوام بل ذوي الألباب عن صدق رجل واحد مجهول لعل له غرضاً فيما يقول فليس في العقلاء إلا من صدق باليوم الآخروأثبت ثواباً وعقاباً وإن اختلفوا في كيفيته فإن صدقوا فقد أشرفت على عذاب يبقى أبد الآباد وإن كذبوا فلا يفوتك إلا بعض شهوات هذه الدنيا الفانية المكدرة فلا يبقى له توقف إن كان عاقلاً مع هذا الفكر إذ لا نسبة لمدة العمر إلى أبد الآباد بل لو قدرنا الدنيا مملوءة بالذرة وقدرنا طائرا يلتقط فى كل ألف ألف سنة حبة واحدة منها لفنيت الذرة ولم ينقص أبد الآباد شيئاً فكيف يفتر رأي العاقل في الصبر عن الشهوات مائة سنة مثلاً لأجل سعادة تبقى أبد الآباد ولذلك قال أبو العلاء أحمد بن سليمان التنوخي المعري
Adapun yang kelima, yaitu keraguan, maka ini adalah kekufuran. Terapinya adalah sebab-sebab (dalil-dalil) yang mengenalkannya pada kebenaran para rasul, dan penjelasan hal itu membutuhkan waktu panjang. Namun, hal itu dapat diobati dengan ilmu yang dekat dan sesuai dengan kadar akalnya, yaitu dengan dikatakan kepadanya: "Apa yang disampaikan oleh para nabi yang didukung dengan mukjizat-mukjizat, apakah kebenarannya itu mungkin, ataukah engkau katakan 'aku tahu itu mustahil' sebagaimana aku tahu mustahilnya satu orang berada di dua tempat pada waktu yang bersamaan?" Jika ia menjawab: "Aku tahu kemustahilannya seperti itu," maka ia adalah orang dungu yang bebal, dan sepertinya tidak ada orang seperti ini di antara orang-orang berakal. Namun jika ia menjawab: "Aku ragu padanya," maka dikatakan kepadanya: "Jika seseorang yang tidak engkau kenal memberitahumu ketika engkau meninggalkan makananmu di rumah sejenak bahwa ada seekor ular yang telah menjilatinya dan menyemburkan racunnya ke dalamnya, lalu engkau membiarkan kemungkinan kebenarannya, apakah engkau akan memakannya atau meninggalkannya meskipun itu makanan paling lezat?" Niscaya ia akan menjawab: "Aku pasti meninggalkannya, sebab aku katakan: Jika ia berdusta, maka aku hanya kehilangan makanan ini dan bersabar meninggalkannya, sekalipun berat namun itu sebentar; dan jika ia benar, maka aku akan kehilangan nyawa, sedangkan kematian jika dibandingkan dengan rasa sakit bersabar dari makanan itu sangatlah dahsyat." Maka dikatakan kepadanya: "Maha Suci Allah, bagaimana engkau mengakhirkan kebenaran seluruh nabi—beserta mukjizat yang tampak pada mereka—serta kebenaran seluruh wali, ulama, ahli hikmah, bahkan seluruh kalangan orang berakal (yang aku maksud bukan orang awam yang jahil, melainkan para pemilik mata hati) dibandingkan kebenaran satu orang yang tidak dikenal yang boleh jadi memiliki maksud tertentu dalam ucapannya? Tidak ada seorang pun di antara orang berakal melainkan membenarkan adanya hari akhirat dan menetapkan pahala serta siksaan, meskipun mereka berbeda pendapat dalam bagaimanakah bentuknya. Jika mereka benar, maka engkau sedang berada di ambang siksaan yang kekal abadi; dan jika mereka berdusta, engkau tidak kehilangan apa pun melainkan sebagian syahwat dunia yang fana dan keruh ini." Maka tidak tersisa lagi keraguan baginya jika ia berakal dengan perenungan ini; sebab tidak ada perbandingan antara durasi umur dunia dengan keabadian selamanya. Bahkan sekiranya kita andaikan dunia ini penuh dengan biji sawi dan kita andaikan ada seekor burung yang mematuk satu biji setiap satu juta tahun, niscaya biji sawi itu akan habis sementara keabadian selamanya tidak berkurang sedikit pun. Maka bagaimana mungkin pandangan orang berakal menjadi lemah untuk bersabar dari syahwat selama seratus tahun misalnya, demi kebahagiaan yang kekal abadi? Oleh karena itulah Abu al-'Ala` Ahmad bin Sulaiman at-Tanukhi al-Ma'arri berkata:
قال المنجم والطبيب كلاهما … لا تبعث الأموات قلت إليكما
Ahli nujum dan dokter keduanya berkata: … "Orang-orang mati tidak akan dibangkitkan," maka kukatakan: "Jauhilah aku!"
إن صح قولكما فلست بخاسر … أو صح قولي فالخسار عليكما
"Jika ucapan kalian berdua benar, aku tidaklah rugi … Namun jika ucapanku yang benar, maka kerugian menimpa kalian berdua."
لذلك قال علي ﵁ لبعض من قصر عقله عن فهم تحقيق الأمور وكان شاكاً إن صح ما قلت فقد تخلصنا جميعاً وإلا فقد تخلصت وهلكت أي العاقل يسلك طريق الأمن في جميع الأحوال
Oleh karena itu, Ali radhiyallahu 'anhu berkata kepada sebagian orang yang akalnya lemah dari memahami hakikat perkara dan dalam keadaan ragu: "Jika apa yang engkau katakan itu benar, maka kita semua selamat. Namun jika tidak (yakni apa yang aku yakini yang benar), maka aku telah selamat dan engkau telah binasa." Maksudnya, orang yang berakal selalu menempuh jalan keselamatan dalam segala keadaan.
فإن قلت هذه الأمور جلية ولكنها ليست تنال إلا بالفكر فما بال القلوب هجرت الفكر فيها واستثقلته وما علاج القلوب لردها إلى الفكر لا سيما من آمن بأصل الشرع وتفصيله فاعلم أن المانع من الفكر أمران أحدهما أن الفكر النافع هو الْفِكْرُ فِي عِقَابِ الْآخِرَةِ وَأَهْوَالِهَا وَشَدَائِدِهَا وَحَسَرَاتِ العاصين في الحرمان عن النعيم المقيم وهذا فكر لداغ مؤلم للقلب فينفر القلب عنه ويتلذذ بالفكر في أمور الدنيا على سبيل التفرج والاستراحة والثاني أن الفكر شغل في الحال مانع من لذائذ الدنيا وقضاء الشهوات وما من إنسان إلا وله في كل حالة من أحواله ونفس من أنفاسه شهوة قد تسلطت عليه واسترقته فصار عقله مسخراً لشهوته فهو مشغول بتدبير حيلته وصارت لذته في طلب الحيلة فيه أو في مباشرة قضاء الشهوة والفكر يمنعه من ذلك
Jika engkau bertanya: "Hal-hal ini memang jelas, tetapi tidak dapat dicapai kecuali dengan bertafakur. Lalu mengapa hati meninggalkan tafakur padanya dan menganggapnya berat? Dan apakah obat bagi hati untuk mengembalikannya kepada tafakur, khususnya bagi orang yang telah beriman kepada dasar syariat dan perinciannya?" Maka ketahuilah bahwa penghalang dari bertafakur itu ada dua hal. Pertama, bahwasanya tafakur yang bermanfaat adalah bertafakur tentang siksa akhirat, kehuru-haraannya, kesengsaraannya, dan penyesalan para pelaku maksiat karena terhalang dari kenikmatan yang kekal. Dan tafakur ini menyengat serta menyakitkan bagi hati, sehingga hati lari darinya dan merasa nikmat dengan bertafakur tentang urusan-urusan dunia sekadar untuk hiburan dan rekreasi. Kedua, bahwa bertafakur itu merupakan kesibukan saat ini yang menghalangi dari kelezatan dunia dan pemenuhan syahwat. Tidak ada seorang manusia pun melainkan pada setiap keadaan dan helaan napasnya terdapat syahwat yang menguasai dan memperbudaknya, sehingga akalnya menjadi tunduk pada syahwatnya. Maka ia disibukkan dengan merancang tipu daya, dan kelezatannya terletak pada pencarian tipu daya tersebut atau dalam melakukan pemenuhan syahwat secara langsung, sedangkan tafakur menghalanginya dari hal itu.
أما علاج هذين المانعين فهو أن يقول لقلبه ما أشد غباوتك في الاحتراز من الفكر في الموت وما بعده تألماً بذكره مع استحقار ألم مواقعته فكيف تصبر على مقاساته إذا وقع وأنت عاجز عن الصبر على تقدير الموت وما بعده ومتألم به وأما الثاني وهو كون الفكر مفوتاً للذات الدنيا فهو أن يتحقق أن فوات لذات الآخرة أشد وأعظم فإنها لا آخر لها ولا كدورة فيها ولذات الدنيا سريعة الدثور وهي مشوبة بالمكدرات فما فيها لذة صافية عن كدر وكيف وفي التوبة عن المعاصي والإقبال على الطاعة تلذذ بمناجاة الله تعالى واستراحة بمعرفته وطاعته
Adapun obat dari kedua penghalang ini adalah hendaknya ia berkata kepada hatinya: "Betapa besarnya kebodohanmu dalam menghindar dari bertafakur tentang kematian dan apa yang setelahnya karena merasa sakit dengan mengingatnya, seraya meremehkan rasa sakit akibat terjadinya kematian itu. Maka bagaimana engkau akan sabar menanggungnya apabila itu terjadi, padahal engkau tidak sanggup bersabar atas pengandaian kematian dan apa yang sesudahnya serta merasa sakit karenanya?" Adapun yang kedua, yaitu bahwa bertafakur itu menghilangkan kelezatan dunia, maka hendaknya ia menyadari secara yakin bahwa terluputnya kelezatan akhirat itu jauh lebih dahsyat dan lebih besar. Sebab kelezatan akhirat itu tidak ada kesudahannya dan tidak ada keruhan di dalamnya, sedangkan kelezatan dunia cepat sirna dan diliputi oleh hal-hal yang mengeruhkan. Maka tidak ada di dunia ini kelezatan yang murni dari keruhan. Dan bagaimanakah tidak demikian, padahal dalam bertobat dari kemaksiatan dan menghadap pada ketaatan terdapat kenikmatan bermunajat kepada Allah Ta'ala serta ketenangan dengan bermakrifat dan mentaati-Nya,
وطول الأنس به ولو لم يكن للمطيع جزاء على عمله إلا ما يجده من حلاوة الطاعة وروح الأنس بمناجاة الله تعالى لكان ذلك كافياً فكيف بما ينضاف إليه من نعيم الآخرة نعم هذه اللذة لا تكون في ابتداء التوبة ولكنها بعد ما يصير عليها مدة مديدة وقد صار الخير ديدناً كما كان الشر ديدناً فالنفس قابلة ما عودتها تتعود والخير عادة والشر لجاجة
dan lamanya keakraban (uns) dengan-Nya? Sekiranya tidak ada balasan bagi orang yang taat atas amalnya kecuali manisnya ketaatan yang ia rasakan dan ketenteraman keakraban dengan bermunajat kepada Allah Ta'ala, niscaya hal itu sudah cukup. Maka bagaimana lagi dengan kenikmatan akhirat yang ditambahkan padanya? Benar, kelezatan ini tidak ada pada awal pertobatan, melainkan setelah ia melaksanakannya dalam jangka waktu yang lama, dan kebaikan telah menjadi kebiasaan sebagaimana kejahatan dahulu menjadi kebiasaan. Sebab jiwa itu menerima apa yang engkau biasakan padanya, ia akan terbiasa; dan kebaikan itu adalah kebiasaan, sedangkan kejahatan adalah kebebalan.
فإذن هذه الأفكار هي المهيجة للخوف المهيج لقؤة الصبر عن اللذات ومهيج هذه الأفكار وعظ الوعاظ وتنبيهات تقع للقلب بأسباب تتفق لا تدخل في الحصر فيصير الفكر موافقاً للطبع فيميل القلب إليه ويعبر عن السبب الذي أوقع الموافقة بين الطبع والفكر الذي هو سبب الخير بالتوفيق إذ التوفيق هو التأليف بين الإرادة وبين المعنى الذي هو طاعة نافعة في الآخرة وقد روي في حديث طويل أنه قام عمار بن ياسر فقال لعلي بن أبي طالب كرم الله وجهه يا أمير المؤمنين أخبرنا عن الكفر على ماذا بني فقال علي ﵁ بني على أربع دعائم على الجفاء والعمى والغفلة والشك فمن جفا احتقر الحق وجهر بالباطل ومقت العلماء ومن عمي نسي الذكر ومن غفل حاد عن الرشد ومن شك غرته الأماني فأخذته الحسرة والندامة وبدا له من الله ما لم يكن يحتسب فما ذكرناه بيان لبعض آفات الغفلة عن التفكر وهذا القدر في التوبة كاف وإذا كان الصبر ركناً من أركان دوام التوبة فلا بد من بيان الصبر فنذكره في كتاب مفرد إن شاء الله تعالى
Maka dari itu, pikiran-pikiran (tafakur) inilah yang membangkitkan rasa takut (khauf) yang memicu kekuatan sabar dari kelezatan-kelezatan. Dan yang membangkitkan pikiran-pikiran ini adalah nasihat para penceramah serta peringatan-peringatan yang jatuh ke dalam hati melalui sebab-sebab yang terjadi yang tidak terhitung jumlahnya. Maka tafakur itu menjadi sesuai dengan watak dasar, sehingga hati pun cenderung padanya. Dan sebab yang menimbulkan kesesuaian antara watak dasar dan tafakur—yang merupakan sebab kebaikan—diistilahkan dengan taufik. Sebab taufik adalah penyelarasan antara kehendak dan makna yang berupa ketaatan yang bermanfaat di akhirat. Sungguh telah diriwayatkan dalam hadis yang panjang bahwa 'Ammar bin Yasir berdiri dan berkata kepada Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah: "Wahai Amirul Mukminin, beritahukanlah kepada kami tentang kekufuran, di atas apakah ia dibangun?" Maka Ali radhiyallahu 'anhu menjawab: "Ia dibangun di atas empat pilar: sikap keras hati (jafa'), kebutaan hati, kelalaian (ghaflah), dan keraguan (syakk). Barang siapa keras hati, ia akan meremehkan kebenaran, menampakkan kebatilan, dan membenci para ulama. Barang siapa buta hatinya, ia lupa akan zikir (peringatan). Barang siapa lalai, ia menyimpang dari petunjuk. Dan barang siapa ragu, ia tertipu oleh angan-angan kosong sehingga ia ditimpa penyesalan dan kerugian, serta tampak baginya dari Allah apa yang tidak pernah ia duga." Maka apa yang telah kami sebutkan ini adalah penjelasan tentang sebagian bahaya kelalaian dari bertafakur, dan kadar ini dalam bab tobat sudah mencukupi. Dan apabila sabar merupakan salah satu rukun dari keberlangsungan tobat, maka tidak boleh tidak harus ada penjelasan tentang sabar, maka kami akan menyebutkannya dalam kitab tersendiri, insya Allah Ta'ala.