كتاب التوبة

الركن الأول في نفس التوبة

الركن الأول في نفس التوبة

الركن الأول في نفس التوبة وبيان حدها وحقيقتها وأنها واجبة على الفور وعلى جميع الأشخاص وفي جميع الأحوال وأنها إذا صحت كانت مقبولة

Rukun Pertama: Mengenai hakikat tobat itu sendiri, penjelasan tentang batasannya, hakikatnya, bahwasanya ia wajib dilakukan serta-merta (seketika), berlaku atas setiap individu, dalam segala keadaan, dan apabila tobat itu sah, maka ia pasti diterima.

الركن الثاني فيما عنه التوبة وهو الذنوب وبيان انقسامها إلى صغائر وكبائر وما يتعلق بالعباد وما يتعلق بحق الله تعالى وبيان كيفية توزع الدرجات والدركات على الحسنات والسيئات وبيان الأسباب التي بها تعظم الصغائر

Rukun Kedua: Mengenai objek yang ditobati, yaitu dosa-dosa, serta penjelasan tentang pembagiannya menjadi dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar, apa yang berkaitan dengan hak para hamba dan apa yang berkaitan dengan hak Allah Ta'ala, penjelasan tentang tata cara pembagian tingkatan pahala (darajāt) dan tingkatan siksa (darakāt) berdasarkan kebaikan dan keburukan, serta penjelasan tentang sebab-sebab yang membuat dosa-dosa kecil menjadi besar.

الركن الثالث في بيان شروط التوبة ودوامها وكيفية تدارك ما مضى من المظالم وكيفية

Rukun Ketiga: Mengenai penjelasan syarat-syarat tobat dan kelestariannya, tata cara mengganti kezaliman yang telah lalu, dan tata cara…

تكفير الذنوب وبيان أقسام التائبين في دوام التوبة الركن الرابع في المسبب الباعث على التوبة وكيفية العلاج في حل عقدة الإصرار من المذنبين

…menghapus dosa-dosa, serta penjelasan tentang tingkatan orang-orang yang bertobat dalam menjaga kelestarian tobat. Rukun Keempat: Mengenai faktor pendorong yang membangkitkan tobat dan tata cara pengobatan dalam menguraikan simpul kebiasaan terus-menerus berbuat dosa (al-iṣrār) dari para pelaku dosa.

ويتم المقصود بهذه الأركان الأربعة إن شاء الله ﷿ الركن الأول في نفس التوبة بيان حقيقة التوبة وحدها

Maka maksud tujuan akan sempurna dengan empat rukun ini, insya Allah Azza wa Jalla. Rukun Pertama: Mengenai Hakikat Tobat Itu Sendiri, Penjelasan tentang Hakikat Tobat dan Batasannya.

اعلم أن التوبة عبارة عن معنى ينتظم ويلتثم من ثلاثة أمور مرتبة علم وحال وفعل فالعلم الأول والحال الثاني والفعل الثالث وَالْأَوَّلُ مُوجِبٌ لِلثَّانِي وَالثَّانِي مُوجِبٌ لِلثَّالِثِ إِيجَابًا اقتضاه اطراد سُنَّةُ اللَّهِ فِي الْمُلْكِ وَالْمَلَكُوتِ أَمَّا الْعِلْمُ فهو معرفة عظم ضرر الذنوب وكونها حجاباً بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ كُلِّ مَحْبُوبٍ فَإِذَا عَرَفَ ذَلِكَ مَعْرِفَةً مُحَقَّقَةً بِيَقِينٍ غَالِبٍ عَلَى قَلْبِهِ ثَارَ مِنْ هَذِهِ الْمَعْرِفَةِ تَأَلُّمٌ لِلْقَلْبِ بِسَبَبِ فَوَاتِ الْمَحْبُوبِ فَإِنَّ الْقَلْبَ مَهْمَا شَعَرَ بِفَوَاتِ مَحْبُوبِهِ تَأَلَّمَ فَإِنْ كَانَ فَوَاتُهُ بِفِعْلِهِ تَأَسَّفَ عَلَى الْفِعْلِ الْمُفَوِّتِ فَيُسَمَّى تَأَلُّمُهُ بِسَبَبِ فِعْلِهِ الْمُفَوِّتِ لِمَحْبُوبِهِ نَدَمًا فَإِذَا غَلَبَ هَذَا الْأَلَمُ على القلب واستولى وانبعث مِنْ هَذَا الْأَلَمِ فِي الْقَلْبِ حَالَةٌ أُخْرَى تُسَمَّى إِرَادَةً وَقَصْدًا إِلَى فِعْلٍ لَهُ تَعَلُّقٌ بالحال والماضي وَبِالِاسْتِقْبَالِ أَمَّا تَعَلُّقُهُ بِالْحَالِ فَبِالتَّرْكِ لِلذَّنْبِ الَّذِي كَانَ مُلَابِسًا وَأَمَّا بِالِاسْتِقْبَالِ فَبِالْعَزْمِ عَلَى تَرْكِ الذَّنْبِ الْمُفَوِّتِ لِلْمَحْبُوبِ إِلَى آخِرِ الْعُمُرِ وَأَمَّا بالماضي فبتلافي ما فات بالجبر والقضاء إن كان قابلاً للجبر فالعلم هو الأول وهو مطلع هذه الخيرات وأعني بهذا العلم الإيمان واليقين فإن الإيمان عبارة عن التصديق بأن الذنوب سموم مهلكة واليقين عبارة عن تأكد هذا التصديق وانتفاء الشك عنه واستيلائه على القلب فيثمر نور هذا الإيمان مهما أشرق على القلب نار الندم فيتألم بها القلب حيث يبصر بإشراق نور الإيمان أنه صار محجوباً عن محبوبه كمن يشرق عليه نور الشمس وقد كان في ظلمة فيسطع النور عليه بانقشاع سحاب أو انحسار حجاب فرأى محبوبه وقد أشرف على الهلاك فتشعل نيران الحب في قلبه وتنبعث تلك النيران بإرادته للانتهاض للتدارك فالعلم والندم والقصد المتعلق بالترك في الحال والاستقبال والتلافي للماضي ثلاثة معان مرتبة في الحصول فيطلق اسْمُ التَّوْبَةِ عَلَى مَجْمُوعِهَا وَكَثِيرًا مَا يُطْلَقُ اسْمُ التَّوْبَةِ عَلَى مَعْنَى النَّدَمِ وَحْدَهُ وَيُجْعَلُ العلم كالسابق والمقدمة والترك كالثمرة والتابع المتأخر وبهذا الاعتبار قال ﷺ الندم توبة

Ketahuilah bahwasanya tobat adalah ungkapan dari suatu makna yang terangkai dan terjalin dari tiga hal yang berurutan: ilmu (pengetahuan), ḥāl (kondisi jiwa), dan fi'il (perbuatan). Ilmu adalah yang pertama, ḥāl adalah yang kedua, dan perbuatan adalah yang ketiga. Yang pertama menjadi keniscayaan bagi yang kedua, dan yang kedua menjadi keniscayaan bagi yang ketiga, dengan keniscayaan yang dituntut oleh berlakunya sunatullah di alam mulk (nyata) dan malakūt (gaib). Adapun ilmu, yaitu mengetahui besarnya bahaya dosa-dosa dan keberdaannya sebagai penghalang (ḥijāb) antara hamba dan segala yang dicintai. Apabila ia telah mengetahui hal itu dengan pengetahuan yang hakiki disertai keyakinan yang menguasai hatinya, maka timbullah dari pengetahuan ini rasa sakit pada hati karena terlepasnya Kekasih yang dicintai. Sebab, hati apabila merasakan hilangnya sang Kekasih pasti merasa sakit. Jika hilangnya Kekasih itu akibat perbuatannya sendiri, niscaya ia sangat menyesali perbuatan yang menghilangkan itu. Rasa sakitnya yang disebabkan oleh perbuatannya yang menghilangkan Kekasih itu dinamakan penyesalan (nadam). Apabila rasa sakit ini telah menguasai hati dan mendominasinya, maka terpancarlah dari rasa sakit dalam hati ini suatu kondisi lain yang dinamakan kemauan (irādah) dan maksud (qaṣad) untuk melakukan suatu tindakan yang berkaitan dengan masa sekarang, masa lalu, dan masa depan. Adapun keterkaitannya dengan masa sekarang adalah dengan meninggalkan dosa yang sedang dilakukannya. Keterkaitannya dengan masa depan adalah dengan bertekad bulat untuk meninggalkan dosa yang merenggut Kekasih hingga akhir hayat. Sedangkan keterkaitannya dengan masa lalu adalah dengan memperbaiki apa yang telah luput melalui penambalan (jabr) dan pemenuhan (qaḍā'), apabila hal itu memang dapat ditambal. Maka ilmu adalah yang pertama, dan ia merupakan terbitnya segala kebaikan ini. Yang aku maksud dengan ilmu di sini adalah iman dan yakin. Sebab, iman adalah pembenaran bahwasanya dosa-dosa adalah racun yang membinasakan, sedangkan yakin adalah penguatan pembenaran ini, hilangnya keraguan darinya, serta penguasaannya atas hati. Maka cahaya iman ini, kapan pun menyinari hati, akan membuahkan api penyesalan, sehingga hati merasa sakit melaluinya tatkala melihat dengan pancaran cahaya iman bahwa dirinya telah terhalang dari Kekasihnya. Hal itu bagaikan orang yang disinari cahaya matahari tatkala tadinya berada dalam kegelapan, lalu cahaya memancar kepadanya karena terkaparnya awan atau terbukanya penutup, lalu ia melihat kekasihnya berada di ambang kebinasaan, maka terbakarlah api cinta dalam hatinya dan membumbunglah api tersebut melalui kehendaknya untuk bangkit melakukan perbaikan. Maka ilmu, penyesalan, serta tekad yang berkaitan dengan meninggalkan dosa pada masa sekarang dan masa depan serta memperbaiki masa lalu adalah tiga makna yang berurutan dalam kemunculannya. Istilah tobat disematkan pada gabungan dari ketiganya. Namun, sering kali istilah tobat disematkan pada makna penyesalan saja, lalu ilmu dijadikan sebagai pendahulu dan pengantar, sedangkan meninggalkan dosa dijadikan sebagai buah dan pengikut yang menyusul. Berdasarkan pertimbangan inilah Nabi ﷺ bersabda: "Penyesalan adalah tobat."

حديث الندم توبة أخرجه ابن ماجه وابن حبان والحاكم وصحح إسناده من حديث ابن مسعود ورواه ابن حبان والحاكم من حديث أنس وقال صحيح على شرط الشيخين // إذ لا يخلو الندم عن علم

Hadis "Penyesalan adalah tobat" diriwayatkan oleh Ibn Majah, Ibn Hibban, dan al-Hakim, dan ia mensahihkan sanadnya dari hadis Ibn Mas'ud. Diriwayatkan pula oleh Ibn Hibban dan al-Hakim dari hadis Anas, dan ia berkata: "Sahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim." // Sebab, penyesalan tidak pernah luput dari ilmu…

أوجبه وأثمره وعن عزم يتبعه ويتلوه فيكون الندم محفوفا بطرفيه فيه أعني ثمرته ومثمره وبهذا الاعتبار قيل في حد التوبة إنه ذوبان الحشا لما سبق من الخطأ فإن هذا يعرض لمجرد الألم ولذلك قيل هو نار في القلب تلتهب وصدع في الكبد لا ينشعب وباعتبار معنى الترك قيل في حد التوبة إنه خلع لباس الجفاء ونشر بساط الوفاء وقال سهل ابن عبد الله التستري التوبة تبديل الحركات المذمومة بالحركات المحمودة ولا يتم ذلك إلا بالخلوة والصمت وأكل الحلال وكأنه أشار إلى المعنى الثالث من التوبة والأقاويل في حدود التوبة لا تنحصر وإذا فهمت هذه المعاني الثلاثة وتلازمها وترتيبها عرفت أن جميع ما قيل في حدودها قاصر عن الإحاطة بجميع معانيها وطلب العلم بحقائق الأمور أهم من طلب الألفاظ المجردة

…yang mewajibkan dan membuahkannya, serta dari tekad yang mengikuti dan menyusulnya. Dengan demikian, penyesalan diapit oleh kedua sisinya, yaitu buahnya dan pembuahnya. Atas dasar pertimbangan inilah dikatakan dalam definisi tobat bahwasanya tobat adalah "mencairnya organ dalam dada akibat kesalahan yang telah lalu", sebab hal ini terjadi akibat rasa sakit semata. Karena itu pula dikatakan: "Ia adalah api dalam hati yang menyala-nyala dan keretakan dalam hati yang tak terobati." Berdasarkan pertimbangan makna meninggalkan (dosa), dikatakan dalam definisi tobat bahwasanya tobat adalah "menanggalkan pakaian kezaliman/kerenggangan dan membentangkan hamparan kesetiaan." Sahl ibn 'Abdullah at-Tustari berkata: "Tobat adalah mengganti gerakan-gerakan (perbuatan) yang tercela dengan gerakan-gerakan yang terpuji, dan hal itu tidak akan sempurna melainkan dengan menyendiri (khalwat), diam (ṣamt), serta memakan yang halal." Seakan-akan beliau mengisyaratkan pada makna ketiga dari tobat. Pendapat-pendapat dalam mendefinisikan tobat tidaklah terbatas. Apabila engkau telah memahami ketiga makna ini, keterkaitannya, dan urutannya, niscaya engkau mengetahui bahwa seluruh apa yang dikatakan dalam definisi-definisinya masih kurang untuk mencakup seluruh maknanya, padahal menuntut ilmu tentang hakikat perkara-perkara adalah lebih penting daripada sekadar menuntut lafaz-lafaz murni.