الركن الأول في نفس التوبة

بيان أن التوبة إذا استجمعت شرائطها فهي مقبولة لا محالة

بيان أن التوبة إذا استجمعت شرائطها فهي مقبولة لا محالة

Beranda كتاب إحياء علوم الدين ربع المنجيات كتاب التوبة الركن الأول في نفس التوبة بيان أن التوبة إذا استجمعت شرائطها فهي مقبولة لا محالة

بيان أَنَّ التَّوْبَةَ إِذَا اسْتُجْمِعَتْ شَرَائِطُهَا فَهِيَ مَقْبُولَةٌ لا محالة

Penjelasan Bahwa Taubat Apabila Telah Memenuhi Syarat-Syaratnya Maka Ia Diterima Tanpa Keraguan (Pasti Diterima)

اعلم أنك إذا فهمت معنى القبول لم تشك في أن كل توبة صحيحة فهي مقبولة فالناظرون بنور البصائر المستمدون من أنوار القرآن علموا أن كل قلب سليم مقبول عند الله ومتنعم في الآخرة في جوار الله تعالى ومستعد لأن ينظر بعينه الباقية إلى وجه الله تعالى وعلموا ان القلب خلق سليماً في الأصل وكل مولود يولد على الفطرة وإنما تفوته السلامة بكدورة ترهق وجهه من غبرة الذنوب وظلمتها وعلموا أن نار الندم تحرق تلك الغبرة وأن نُورَ الْحَسَنَةِ يَمْحُو عَنْ وَجْهِ الْقَلْبِ ظُلْمَةَ السيئة وأنه لا طاقة لظلام المعاصي مع نور الحسنات كما لا طاقة لظلام الليل مع نور النهار بل كما لا طاقة لكدورة الوسخ مع بياض الصابون وكما أن الثوب الوسخ لا يقبله الملك لأن يكون لباسه فالقلب المظلم لا يقبله الله تعالى لأن يكون في جواره وكما أن استعمال الثوب فِي الْأَعْمَالِ الْخَسِيسَةِ يُوَسِّخُ الثَّوْبَ وَغَسْلَهُ بِالصَّابُونِ وَالْمَاءِ الْحَارِّ يُنَظِّفُهُ لَا مَحَالَةَ فَاسْتِعْمَالُ الْقَلْبِ فِي الشَّهَوَاتِ يُوَسِّخُ الْقَلْبَ وَغَسْلُهُ بِمَاءِ الدُّمُوعِ وَحُرْقَةِ النَّدَمِ يُنَظِّفُهُ وَيُطَهِّرُهُ وَيُزَكِّيهِ وَكُلُّ قَلْبٍ زَكِيٍّ طَاهِرٍ فَهُوَ مَقْبُولٌ كَمَا أَنَّ كُلَّ ثوب نظيف فهو مَقْبُولٌ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ التَّزْكِيَةُ وَالتَّطْهِيرُ وَأَمَّا الْقَبُولُ فَمَبْذُولٌ قَدْ سَبَقَ بِهِ الْقَضَاءُ الْأَزَلِيُّ الَّذِي لَا مَرَدَّ لَهُ وَهُوَ الْمُسَمَّى فَلَاحًا فِي قوله ﴿قد أفلح من زكاها﴾ ومن لم يعرف على سبيل التحقيق معرفة أقوى وأجلى من المشاهدة بالبصر أن القلب يتأثر بالمعاصي والطاعات تأثراً متضادا يستعار لأحدهما لفظ الظلمة كما يستعار للجهل ويستعار للآخر لفظ النور كما يستعار للعلم وأن بين النور والظلمة تضاداً ضرورياً لا يتصور الجمع بينهما فكأنه لم يتلق من الدين إلا قشوره ولم يعلق به إلا أسماؤه وقلبه في غطاء كثيف عن حقيقة الدين بل عن حقيقة نفسه وصفات نفسه ومن جهل نفسه فهو بغيره أجهل وأعني به قلبه إذ بقلبه يعرف غير قلبه فكيف يعرف غيره وهو لا يعرف قلبه فَمَنْ يَتَوَهَّمُ أَنَّ التَّوْبَةَ تَصِحُّ وَلَا تُقْبَلُ كَمَنْ يَتَوَهَّمُ أَنَّ الشَّمْسَ تَطْلُعُ وَالظَّلَامَ لَا يَزُولُ وَالثَّوْبَ يُغْسَلُ بِالصَّابُونِ وَالْوَسَخَ لَا يَزُولُ إِلَّا أَنْ يَغُوصَ الْوَسَخُ لِطُولِ تَرَاكُمِهِ فِي تجاويف الثوب وخلله فَلَا يَقْوَى الصَّابُونُ عَلَى قَلْعِهِ فَمِثَالُ ذَلِكَ أَنَّ تَتَرَاكَمَ الذُّنُوبُ حَتَّى تَصِيرَ طَبْعًا وَرَيْنًا عَلَى الْقَلْبِ فَمِثْلُ هَذَا الْقَلْبِ لَا يَرْجِعُ وَلَا يَتُوبُ نَعَمْ قَدْ يَقُولُ بِاللِّسَانِ تُبْتُ فَيَكُونُ ذَلِكَ كَقَوْلِ الْقَصَّارِ بِلِسَانِهِ قَدْ غَسَلْتُ الثَّوْبَ وَذَلِكَ لَا يُنَظِّفُ الثَّوْبَ أَصْلًا مَا لَمْ يُغَيِّرْ صِفَةَ الثَّوْبِ بِاسْتِعْمَالِ مَا يُضَادُّ الْوَصْفَ الْمُتَمَكِّنَ بِهِ فَهَذَا حَالُ امْتِنَاعِ أَصْلِ التَّوْبَةِ وَهُوَ غَيْرُ بَعِيدٍ بَلْ هُوَ الْغَالِبُ عَلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ الْمُقْبِلِينَ عَلَى الدُّنْيَا الْمُعْرِضِينَ عن الله بالكلية فهذا الْبَيَانُ كَافٍ عِنْدَ ذَوِي الْبَصَائِرِ فِي قَبُولِ التوبة ولكنا نعضد جناحه بنقل الآيات والأخبار والآثار فَكُلُّ اسْتِبْصَارٍ لَا يَشْهَدُ لَهُ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ لا يوثق به وقد قال تعالى ﴿وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عن السيئات﴾ وقال تعالى ﴿غافر الذنب وقابل التوب﴾ إلى غير ذلك من الآيات وقال ﷺ لله أفرح بتوبة أحدكم الحديث والفرح وراء القبول فهو دليل على القبول وزيادة وَقَالَ ﷺ إِنَّ اللَّهَ ﷿ يَبْسُطُ يَدَهُ بِالتَّوْبَةِ لِمُسِيءِ اللَّيْلِ إِلَى النَّهَارِ وَلِمُسِيءِ النَّهَارِ إِلَى اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا وَبَسْطُ الْيَدِ كِنَايَةٌ عن طلب التوبة والطالب وراء القابل فرب قابل ليس بطالب ولا طالب إلا وهو قابل وقال ﷺ لو عملتم الخطايا حتى تبلغ السماء ثم ندمتم لتاب الله عليكم وقال أيضاً إن العبد ليذنب

Ketahuilah bahwa jika engkau telah memahami makna penerimaan (al-qabul), engkau tidak akan meragukan bahwa setiap taubat yang sahih adalah diterima. Orang-orang yang memandang dengan cahaya mata hati (bashirah) yang menimba dari cahaya Al-Qur'an mengetahui bahwa setiap hati yang selamat adalah diterima di sisi Allah, mendapat kenikmatan di akhirat dalam bertetangga dengan Allah Ta'ala, dan siap untuk memandang dengan matanya yang abadi kepada Wajah Allah Ta'ala. Mereka mengetahui bahwa hati itu diciptakan dalam keadaan selamat pada asalnya, dan setiap anak yang dilahirkan berada di atas fitrah; hanyasanya keselamatan itu terlewat darinya akibat kekeruhan yang menutupi wajahnya berupa debu dosa-dosa dan kegelapannya. Mereka mengetahui bahwa api penyesalan membakar debu tersebut, dan bahwa cahaya kebaikan menghapus kegelapan keburukan dari wajah hati, serta bahwa kegelapan maksiat tidak akan bertahan berhadapan dengan cahaya kebaikan sebagaimana kegelapan malam tidak akan bertahan berhadapan dengan cahaya siang hari; bahkan sebagaimana kekeruhan kotoran tidak akan bertahan berhadapan dengan putihnya sabun. Sebagaimana pakaian yang kotor tidak diterima oleh raja untuk menjadi pakaiannya, maka hati yang gelap tidak diterima oleh Allah Ta'ala untuk berada di sisi-Nya. Sebagaimana penggunaan pakaian dalam pekerjaan-pekerjaan yang rendah akan mengotori pakaian tersebut dan membasuh dengan sabun serta air panas niscaya membersihkannya, maka penggunaan hati dalam penurutan syahwat akan mengotori hati, dan membasuhnya dengan air mata serta kobaran penyesalan akan membersihkan, menyucikan, dan menumbuhkannya. Setiap hati yang suci dan bersih pasti diterima sebagaimana setiap pakaian yang bersih pasti diterima. Sebab tugasmu hanyalah menyucikan dan membersihkan, adapun penerimaan maka ia telah disediakan dan telah terdahulu padanya ketetapan azali yang tidak dapat ditolak, yaitu yang dinamakan keberuntungan (falah) dalam firman-Nya: ﴿Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu﴾ [QS. Asy-Syams: 9]. Barang siapa yang tidak mengetahui secara hakiki—dengan pengetahuan yang lebih kuat dan lebih jelas daripada penyaksian dengan mata kepala—bahwa hati terpengaruh oleh maksiat dan ketaatan dengan pengaruh yang saling berlawanan, yang mana untuk salah satunya dipinjamkan lafaz "kegelapan" sebagaimana dipinjamkan untuk kebodohan, dan untuk yang lain dipinjamkan lafaz "cahaya" sebagaimana dipinjamkan untuk ilmu; serta bahwa antara cahaya dan kegelapan terdapat pertentangan yang niscaya yang tidak tergambarkan penggabungan antara keduanya, maka seolah-olah ia belum menerima dari agama melainkan kulit luarnya dan tidak terikat padanya melainkan nama-namanya saja, sedang hatinya berada dalam tutupan yang tebal dari hakikat agama, bahkan dari hakikat dirinya sendiri dan sifat-sifat dirinya. Barang siapa yang bodoh tentang dirinya, maka ia terhadap yang lain tentu lebih bodoh; dan yang aku maksud adalah hatinya, karena dengan hatinyalah ia mengenal selain hatinya, maka bagaimana ia mengenal selainnya sedang ia tidak mengenal hatinya sendiri? Maka orang yang mengira bahwa taubat itu sah namun tidak diterima adalah seperti orang yang mengira bahwa matahari terbit namun kegelapan tidak sirna, dan pakaian dibasuh dengan sabun namun kotoran tidak hilang; kecuali jika kotoran itu telah meresap karena lamanya penumpukan ke dalam rongga-rongga pakaian dan celah-celahnya sehingga sabun tidak mampu mencabutnya. Perumpamaan hal itu adalah menumpuknya dosa-dosa hingga menjadi tabiat dan karat pada hati, maka hati seperti ini tidak akan kembali dan tidak akan bertaubat. Ya, boleh jadi ia berkata dengan lidahnya: "Aku telah bertaubat," maka hal itu seperti ucapan penatu dengan lidahnya: "Aku telah membasuh pakaian," sedang hal itu tidak membersihkan pakaian sama sekali selama ia belum mengubah sifat pakaian dengan menggunakan apa yang menentang sifat yang telah melekat padanya. Maka inilah keadaan terhalangnya asal taubat, dan hal ini tidaklah jauh, bahkan inilah yang mendominasi seluruh makhluk yang menghadap kepada dunia dan berpaling dari Allah secara keseluruhan. Maka penjelasan ini cukuplah bagi para pemilik mata hati (bashirah) dalam hal penerimaan taubat. Namun kami akan menguatkan posisinya dengan menukil ayat-ayat, riwayat-riwayat, dan atsar. Sebab setiap pemahaman yang tidak disaksikan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah tidak dapat dipercaya. Sungguh Allah Ta'ala telah berfirman: ﴿Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan﴾ [QS. Asy-Syura: 25], dan berfirman: ﴿Yang mengampuni dosa dan menerima taubat﴾ [QS. Ghafir: 3], serta ayat-ayat lainnya. Dan Nabi ﷺ bersabda: "Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat salah seorang di antara kamu…" (al-hadits). Kegembiraan itu berada di balik penerimaan, maka ia menjadi dalil atas penerimaan dan tambahannya. Dan Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya dengan taubat bagi orang yang berbuat keburukan di malam hari hingga siang hari, dan bagi orang yang berbuat keburukan di siang hari hingga malam hari, sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya." Pembentangan tangan adalah kiasan dari penuntutan taubat, sedang penuntut berada di balik penerima, sebab betapa banyak penerima yang tidak menuntut, dan tidaklah menuntut melainkan pasti menerima. Dan Nabi ﷺ bersabda: "Sekiranya kamu melakukan kesalahan-kesalahan hingga mencapai langit kemudian kamu menyesal, niscaya Allah menerima taubat atas kamu." Dan Beliau juga bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba benar-benar berbuat…

الذنب فيدخل به الجنة فقيل كيف ذلك يا رسول الله قال يكون نصب عينه تائباً منه فاراً حتى يدخل الجنة وقال ﷺ كفارة الذنب الندامة وَقَالَ ﷺ التَّائِبُ مِنَ الذنب كمن لا ذنب له

dosa, lalu dengannya ia masuk ke dalam surga." Maka ditanyakan: "Bagaimanakah hal itu wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Dosa itu selalu berada di depan matanya sedang ia bertaubat darinya dan lari darinya hingga ia masuk ke dalam surga." Dan Nabi ﷺ bersabda: "Penebus dosa adalah penyesalan." Dan Beliau ﷺ bersabda: "Orang yang bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak memiliki dosa."

ويروى أن حبشياً قال يا رسول الله إني كنت أعمل الفواحش فهل لي من توبة قال نعم فولى ثم رجع فقال يا رسول الله أكان يراني وأنا أعملها قال نعم فصاح الحبشي صيحة خرجت فيها روحه

Dan diriwayatkan bahwa seorang pria Habasyah (Ethiopia) berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku dahulu kerap melakukan perbuatan-perbuatan keji, apakah masih ada taubat bagiku?" Beliau menjawab: "Ya." Maka pria itu berpaling hendak pergi, kemudian ia kembali dan berkata: "Wahai Rasulullah, apakah Dia melihatku saat aku melakukannya?" Beliau menjawab: "Ya." Maka pria Habasyah itu berteriak dengan satu teriakan yang dengannya melayanglah rohnya.

ويروى إن الله ﷿ لما لعن إبليس سأله النظرة فأنظره إلى يوم القيامة فقال وعزتك لا خرجت من قلب ابن آدم ما دام فيه الروح فقال الله تعالى وعزتى وجلالى لا حجبت عنه التوبة ما دام الروح فيه

Dan diriwayatkan bahwa ketika Allah Azza wa Jalla melaknat Iblis, Iblis memohon penangguhan kepada-Nya, maka Dia menangguhkannya hingga hari kiamat. Lalu Iblis berkata: "Demi Keagungan-Mu, aku tidak akan keluar dari hati anak Adam selama roh masih ada padanya." Maka Allah Ta'ala berfirman: "Demi Keagungan-Ku dan Keluhuran-Ku, Aku tidak akan menghalangi taubat darinya selama roh masih ada padanya."

وقال ﷺ إن الحسنات يذهبن السيئات كما يذهب الماء الوسخ والأخبار في هذا لا تحصى

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan keburukan-keburukan sebagaimana air menghilangkan kotoran." Dan riwayat-riwayat (hadis) dalam hal ini tidak terhitung jumlahnya.

وأما الآثار فقد قال سعيد بن المسيب أنزل قوله تعالى إنه كان للأوابين غفوراً في الرجل يذنب ثم يتوب ثم يذنب ثم يتوب

Adapun atsar (riwayat sahabat dan tabi'in), Sa'id bin al-Musayyib berkata: Firman Allah Ta'ala, "Sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali (bertobat)" [QS. Al-Isra': 25], diturunkan berkenaan dengan seseorang yang berbuat dosa lalu bertobat, kemudian berbuat dosa lagi lalu bertobat lagi.

وقال الفضيل قال الله تعالى بشر المذنبين بأنهم إن تابوا قبلت منهم وحذر الصديقين أني إن وضعت عليهم عدلي عذبتهم

Al-Fudhail berkata: Allah Ta'ala berfirman, "Berilah kabar gembira kepada para pembuat dosa bahwa jika mereka bertobat, niscaya Aku menerima tobat mereka; dan peringatkanlah orang-orang yang shiddiq bahwa jika Aku menerapkan keadilan-Ku atas mereka, niscaya Aku mengazab mereka."

وقال طلق بن حبيب إن حقوق الله أعظم من أن يقوم بها العبد ولكن أصبحوا تائبين وأمسوا تائبين

Thalaq bin Habib berkata: "Sesungguhnya hak-hak Allah itu terlalu agung untuk dapat dipenuhi sepenuhnya oleh seorang hamba. Akan tetapi, jadilah kalian orang yang bertobat di pagi hari dan bertobat di petang hari."

وقال عبد الله بن عمر ﵄ من ذكر خطيئة ألم بها فوجل منها قلبه محيت عنه في أم الكتاب

'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: "Barang siapa mengingat suatu kesalahan yang pernah dilakukannya, lalu hatinya merasa takut (gentar) karenanya, niscaya kesalahan itu dihapuskan darinya di Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh)."

ويروى أن نبينا من أنبياء بنى إسرائيل أذنب فأوحى الله تعالى إليه وعزتي لئن عدت لأعذبنك فقال يا رب أنت أنت وأنا أنا وعزتك إن لم تعصمني لأعودن فعصمه الله تعالى

Diriwayatkan bahwa seorang nabi dari bani Israil pernah melakukan kesalahan, lalu Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya, "Demi keagungan-Ku, jika engkau mengulanginya lagi, niscaya Aku benar-benar akan mengazabmu." Nabi itu pun berkata, "Ya Rabb, Engkau adalah Engkau dan aku adalah aku. Demi keagungan-Mu, jika Engkau tidak memeliharaku (memberi ishmah), niscaya aku pasti akan mengulanginya kembali." Maka Allah Ta'ala pun memeliharanya.

وقال بعضهم إن العبد ليذنب الذنب فلا يزال نادماً حتى يدخل الجنة فيقول إبليس ليتني لم أوقعه في الذنب

Sebagian dari mereka berkata: "Sesungguhnya ada seorang hamba yang melakukan suatu dosa, lalu ia senantiasa merasa menyesal hingga ia masuk surga. Maka Iblis berkata, 'Duhai, sekiranya aku tidak menjerumuskannya ke dalam dosa itu.'"

وقال حبيب بن ثابت تعرض على الرجل ذنوبه يوم القيامة فيمر بالذنب فيقول أما إني قد كنت مشفقاً منه فيغفر له

Habib bin Tsabit berkata: "Dosa-dosa seseorang dihadapkan kepadanya pada hari kiamat. Ketika ia melewati suatu dosa, ia berkata, 'Ketahuilah, sungguh dahulu aku sangat cemas dan takut akan dosa ini,' maka dosa itu pun diampuni baginya."

ويروى أن رجلاً سأل ابن مسعود عن ذنب ألم به هل له من توبة فأعرض عنه ابن مسعود ثم التفت إليه فرأى عينيه تذرفان فقال له إن للجنة ثمانية أبواب كلها تفتح وتغلق إلا باب التوبة فإن عليه ملكاً موكلاً به لا يغلق فاعمل ولا تيأس

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Mas'ud tentang dosa yang telah dilakukannya, apakah ada tobat baginya. Ibnu Mas'ud sempat berpaling darinya, kemudian ia menoleh kembali kepadanya dan melihat kedua mata laki-laki itu berlinang air mata. Maka Ibnu Mas'ud berkata kepadanya, "Sesungguhnya surga itu memiliki delapan pintu, semuanya dibuka dan ditutup kecuali pintu tobat, karena padanya ada malaikat yang ditugaskan untuk tidak menutupnya. Maka beramallah dan jangan berputus asa."

وقال عبد الرحمن بن أبي القاسم تذاكرنا مع عبد الرحيم توبة الكافر وقول الله تعالى إن ينتهوا

'Abdurrahman bin Abil Qasim berkata: Kami saling berbincang bersama 'Abdul Rahim tentang tobatnya orang kafir dan firman Allah Ta'ala, "Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: 'Jika mereka berhenti (dari kekafirannya)…"

يغفر لهم ما قد سلف فقال إني لأرجو أن يكون المسلم عند الله أحسن حالاً ولقد بلغني أن توبة المسلم كإسلام بعد إسلام

"…niscaya akan diampuni bagi mereka apa yang telah lalu'" [QS. Al-Anfal: 38]. Lalu ia berkata: "Sesungguhnya aku sungguh berharap keadaan seorang muslim di sisi Allah lebih baik. Dan telah sampai kepadaku berita bahwa tobatnya seorang muslim itu bagaikan keislaman setelah keislaman."

وقال عبد الله بن سلام لا أحدثكم إلا عن نبي مرسل أو كتاب منزل إن العبد إذا عمل ذنباً ثم ندم عليه طرفة عين سقط عنه أسرع من طرفة عين

'Abdullah bin Salam berkata: "Aku tidak menyampaikan kepada kalian melainkan dari seorang nabi yang diutus atau kitab yang diturunkan: Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan suatu dosa kemudian ia menyesalinya sekejap mata, niscaya dosa itu gugur darinya lebih cepat daripada sekejap mata."

قال عمر ﵁ اجلسوا إلى التوابين فإنهم أرق أفئدة

'Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Duduklah kalian bersama orang-orang yang bertobat, karena sesungguhnya mereka memiliki hati yang paling lembut."

وقال بعضهم أنا أعلم متى يغفر الله لي قيل ومتى قال إذا تاب علي

Sebagian ulama berkata: "Aku tahu kapan Allah mengampuniku." Ditanyakan kepadanya: "Kapan itu?" Ia menjawab: "Apabila Dia memberi taufik tobat kepadaku."

وقال آخر أنا من أن أحرم التوبة أخوف من أن أحرم المغفرة أي المغفرة من لوازم التوبة وتوابعها لا محالة

Ulama yang lain berkata: "Aku lebih takut dihalangi dari tobat daripada dihalangi dari ampunan." Maksudnya, ampunan merupakan keniscayaan dan konsekuensi dari tobat tanpa diragukan lagi.

ويروى أنه كان في بني إسرائيل شاب عبد الله تعالى عشرين سنة ثم عصاه عشرين سنة ثم نظر في المرآة فرأى الشيب في لحيته فساءه ذلك فقال إلهى أطعتك عشرين سنة ثم عصيتك عشرين سنة فإن رجعت إليك أتقبلني فسمع قائلاً يقول ولا يرى شخصاً أحببتنا فأحببناك وتركتنا فتركناك وعصيتنا فأمهلناك وإن رجعت إلينا قبلناك

Diriwayatkan bahwa dahulu pada bani Israil ada seorang pemuda yang beribadah kepada Allah Ta'ala selama dua puluh tahun, kemudian ia bermaksiat kepada-Nya selama dua puluh tahun. Lalu ia melihat ke cermin dan menyaksikan uban di janggutnya, maka hal itu membuatnya merasa sedih. Ia pun berkata, "Tuhanku, aku telah menaati-Mu selama dua puluh tahun, kemudian aku bermaksiat kepada-Mu selama dua puluh tahun. Jika aku kembali kepada-Mu, akankah Engkau menerimaku?" Lalu ia mendengar suara tanpa terlihat wujudnya yang berkata: "Engkau mencintai Kami, maka Kami pun mencintaimu; engkau meninggalkan Kami, maka Kami pun meninggalkanmu; engkau bermaksiat kepada Kami, maka Kami beri engkau penangguhan; dan jika engkau kembali kepada Kami, niscaya Kami menerima kembali dirimu."

وقال ذو النون المصري رحمه الله تعالى إن لله عباداً نصبوا أشجار الخطايا نصب روامق القلوب وسقوها بماء التوبة فأثمرت ندماً وحزناً فجنوا من غير جنون وتبلدوا من غير عي ولا بكم وإنهم هم البلغاء الفصحاء العارفون بالله ورسوله ثم شربوا بكأس الصفاء فورثوا الصبر على طول البلاء ثم تولهت قلوبهم في الملكوت وجالت أفكارهم بين سرايا حجب الجبروت واستظلوا تحت رواق الندم وقرءوا صحيفة الخطايا فأورثوا أنفسهم الجزع حتى وصلوا إلى علو الزهد بسلم الورع فاستعذبوا مرارة الترك للدنيا واستلانوا خشونة المضجع حتى ظفروا بحبل النجاة وعروة السلامة وسرحت أرواحهم في العلا حتى أناخوا في رياض النعيم وخاضوا في بحر الحياة وردموا خنادق الجزع وعبروا جسور الهوى حتى نزلوا بفناء العلم واستقوا من غدير الحكمة وركبوا سفينة الفطنة وأقلعوا بريح النجاة في بحر السلامة حتى وصلوا إلى رياض الراحة ومعدن العز والكرامة فهذا القدر كاف في بيان أن كل توبة صحيحة مقبولة لا محالة

Dzul Nun al-Misri rahimahullah Ta'ala berkata: "Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang menanam pohon-pohon kesalahan di hadapan pandangan hati mereka, lalu menyiramnya dengan air tobat sehingga membuahkan penyesalan dan kesedihan. Maka mereka tampak linglung tanpa gila, dan terdiam bukan karena gagap atau bisu, padahal sesungguhnya merekalah orang-orang yang paling fasih, pandai berbicara, lagi arif (mengenal) Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mereka meminum dari cangkir kesucian, sehingga mewarisi kesabaran atas panjangnya ujian. Lalu hati mereka terpesona dalam alam Malakut, dan pikiran mereka mengembara di antara tirai-tirai rahasia alam Jabarut. Mereka berteduh di bawah naungan penyesalan, membaca lembaran dosa-dosa, hingga membuahkan rasa cemas dalam diri mereka, sampai akhirnya mereka mencapai keluhuran zuhud melalui tangga warak. Maka mereka merasakan manisnya kepahitan meninggalkan dunia, dan merasakan lembutnya kekasaran tempat tidur, hingga memperoleh tali keselamatan dan ikatan yang kokoh. Ruh-ruh mereka berkelana di angkasa tinggi hingga beristirahat di taman-taman kenikmatan, mengarungi lautan kehidupan, menimbun parit-parit keluh kesah, dan menyeberangi jembatan-jembatan hawa nafsu hingga singgah di pelataran ilmu. Mereka meminum dari telaga hikmah, menaiki bahtera kecerdasan spiritual, dan berlayar dengan angin keselamatan di lautan kedamaian hingga sampai di taman-taman ketenangan serta sumber kemuliaan dan kehormatan." Maka kadar ini cukuplah dalam menjelaskan bahwa setiap tobat yang sahih pasti diterima tanpa diragukan lagi.

فإن قلت أفتقول ما قالته المعتزلة من أن قبول التوبة واجب على الله فأقول لا أعني بما ذكرته من وجوب قبول التوبة على الله إلا ما يريده القائل بقوله إن الثوب إذا غسل بالصابون وجب زوال الوسخ وإن العطشان إذا شرب الماء وجب زوال العطش وانه إذا منع الماء مدة وجب العطش وأنه إذا دام العطش وجب الموت وليس في شيء من ذلك ما يريده المعتزلة بالإيجاب على الله تعالى بل أقول خلق الله تعالى الطاعة مكفرة للمعصية والحسنة ماحية للسيئة كما خلق الماء مزيلاً للعطش والقدرة متسعة بخلافه لو سبقت به المشيئة فلا واجب على الله تعالى ولكن ما سبقت به إرادته الأزلية فواجب كونه لا محالة

Jika engkau bertanya: "Apakah engkau berpendapat sebagaimana pendapat kaum Mu'tazilah bahwa penerimaan tobat itu wajib atas Allah?" Maka aku katakan: Aku tidak bermaksud dengan apa yang aku sebutkan tentang kewajiban penerimaan tobat atas Allah melainkan seperti maksud seseorang yang berkata bahwa apabila pakaian dicuci dengan sabun maka kotorannya pasti hilang, dan apabila orang yang haus meminum air maka hausnya pasti hilang, dan apabila ia dihalangi dari air dalam jangka waktu tertentu maka pasti timbul rasa haus, serta apabila rasa haus itu berlangsung terus-menerus maka pasti timbul kematian. Tidak ada satu pun dari hal itu yang bermakna mewajibkan sesuatu atas Allah Ta'ala sebagaimana yang dimaksudkan oleh Mu'tazilah. Melainkan aku katakan: Allah Ta'ala menciptakan ketaatan sebagai penghapus kemaksiatan dan kebaikan sebagai pelebur keburukan, sebagaimana Dia menciptakan air sebagai penghilang dahaga. Dan kekuasaan (Kudrat Allah) tetap mahaluas untuk bertindak sebaliknya sekiranya Kehendak (Iradah)-Nya telah mendahuluinya. Maka tidak ada sesuatu pun yang wajib atas Allah Ta'ala, akan tetapi apa yang telah didahului oleh kehendak azali-Nya, maka pasti wujudnya tanpa diragukan lagi.

فإن قلت فما من تائب إلا وهو شاك في قبول توبته والشارب للماء لا يشك في زوال عطشه فلم يشك فيه فأقول شكه في القبول كشكه في وجود شرائط الصحة فإن للتوبة أركاناً وشروطاً دقيقة كما سيأتي وليس يتحقق وجود جميع شروطها كالذي يشك في دواء شربه للإسهال فإنه هل يسهل وذلك لشكه في حصول شروط الإسهال في الدواء باعتبار الحال والوقت وكيفية خلط الدواء وطبخه وجودة عقاقيره وأدويته فهذا وأمثاله موجب للخوف بعد التوبة وموجب للشك في قبولها لا محالة على ما سيأتي في شروطها إن شاء الله تعالى

Jika engkau bertanya: "Mengapa setiap orang yang bertobat senantiasa ragu akan penerimaan tobatnya, sedangkan orang yang meminum air tidak ragu akan hilangnya dahaga, lalu mengapa ia ragu dalam hal tobat?" Maka aku katakan: Keraguannya dalam penerimaan tobat itu seperti keraguannya terhadap terpenuhinya syarat-syarat keabsahan. Karena sesungguhnya tobat memiliki rukun-rukun dan syarat-syarat yang rumit sebagaimana akan dijelaskan nanti, dan tidak ada kepastian akan terwujudnya seluruh syarat tersebut. Hal itu seperti orang yang ragu terhadap obat pencahar yang diminumnya, apakah obat itu akan melancarkan buang air besar, karena ia ragu akan terpenuhinya syarat-syarat khasiat pencahar pada obat tersebut ditinjau dari kondisi, waktu, cara meracik, memasak, serta kualitas ramuan dan bahan obatnya. Hal ini dan sejenisnya menjadi penyebab timbulnya rasa takut (khauf) setelah bertobat dan menjadi pemicu keraguan terhadap penerimaannya secara pasti, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti pada pembahasan syarat-syaratnya, insya Allah Ta'ala.