بيان أن وجوب التوبة عام في الأشخاص والأحوال فلا ينفك عنه أحد البتة
بيان أن وجوب التوبة عام في الأشخاص والأحوال فلا ينفك عنه أحد البتة
Penjelasan Bahwa Kewajiban Taubat itu Bersifat Umum Bagi Seluruh Individu dan Keadaan, Sehingga Tidak Ada Seorang Pun yang Terlepas Darinya Sama Sekali
اعلم أن ظاهر الكتاب قد دل على هذا إذ قال تعالى وتوبوا إلى الله جميعاً أيه المؤمنون لعلكم تفلحون فعمم الخطاب ونور البصيرة أيضاً يرشد إليه إذ معنى التوبة الرجوع عن الطريق المبعد عن الله المقرب إلى الشيطان ولا يتصور ذلك إلا من عاقل ولا تكمل غريزة العقل إلا بعد كمال غريزة الشهوة والغضب وسائر الصفات المذمومة التي هي وسائل الشيطان إلى إغواء الإنسان إذ كمال العقل إنما يكون عند مقاربة الأربعين وأصله إنما يتم عند مراهقة البلوغ ومباديه تظهر بعد سبع سنين والشهوات جنود الشيطان والعقول جنود الملائكة فإذا اجتمعا قام القتال بينهما بالضرورة إذ لا يثبت أحدهما للآخر لأنهما ضدان فالتطارد بينهما كالتطارد بين الليل والنهار والنور والظلمة ومهما غلب أحدهما أزعج الآخر بالضرورة وإذا كانت الشهوات تكمل في الصبا والشباب قبل كمال العقل فقد سبق جند الشيطان واستولى على المكان ووقع للقلب به أنس وإلف لا محالة مقتضيات الشهوات بالعادة وغلب ذلك عليه ويعسر عليه النزوع عنه ثم يلوح العقل الذي هو حزب الله وجنده ومنقذ أوليائه من أيدي أعدائه شيئاً فشيئاً على التدريج فإن لم يقو ولم يكمل سلمت مملكة القلب للشيطان وأنجز اللعين موعده حيث قال ﴿لأحتنكن ذريته إلا قليلاً﴾ وإن كمل العقل وقوي كان أول شغله قمع حنود الشيطان بكسر الشهوات ومفارقة العادات ورد الطبع على سبيل القهر إلى العبادات ولا معنى للتوبة إلا هذا وهو الرجوع عن طريق دليله الشهوة وخفيره الشيطان إلى طريق الله تعالى وليس في الوجود آدمي إلا وشهوته سابقة على عقله وغريزته التي هي عدة الشيطان متقدمة على غريزته التي هي عدة الملائكة فكان الرجوع عما سبق إليه على مساعدة الشهوات ضرورياً في حق كل إنسان نبياً كان أو غبياً فلا تظنن أن هذه الضرورة اختصت بآدم ﵇ وقد قيل
Ketahuilah bahwa makna lahiriah Al-Kitab (Al-Qur'an) telah menunjukkan hal ini, saat Allah Ta'ala berfirman: ﴿Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung﴾ [QS. An-Nur: 31], di mana Dia mengumumkan seruan tersebut. Cahaya mata hati (bashirah) juga menunjukkannya, sebab makna taubat adalah kembali dari jalan yang menjauhkan dari Allah dan mendekatkan kepada setan. Hal itu tidak tergambarkan kecuali dari orang yang berakal, dan naluri akal tidaklah sempurna kecuali setelah sempurnanya naluri syahwat, amarah, serta seluruh sifat tercedera yang menjadi sarana setan untuk menyesatkan manusia. Sebab sempurnanya akal itu barulah terjadi tatkala mendekati usia empat puluh tahun, sedang asasnya sempurna saat mendekati usia baligh, dan permulaannya nampak setelah usia tujuh tahun. Syahwat adalah prajurit-prajurit setan, sedangkan akal adalah prajurit-prajurit malaikat. Apabila keduanya bertemu, niscaya terjadilah pertempuran di antara keduanya secara niscaya, karena yang satu tidak dapat menetap bersama yang lain lantaran keduanya berlawanan. Saling mengusir di antara keduanya adalah seperti saling mengusir antara malam dan siang, serta cahaya dan kegelapan. Manakala salah satunya menang, niscaya ia akan mengusir yang lain secara pasti. Apabila syahwat telah sempurna pada masa kanak-kanak dan muda sebelum sempurnanya akal, maka prajurit setan telah mendahului dan menguasai tempat tersebut, sehingga hati pasti mengalami rasa terbiasa dan keakraban dengan kehendak-kehendak syahwat secara adat, lalu hal itu menguasainya dan sulit baginya untuk melepaskan diri darinya. Kemudian fajar akal—yang merupakan kelompok Allah, prajurit-Nya, dan penyelamat para wali-Nya dari tangan musuh-musuh-Nya—terbit sedikit demi sedikit secara bertahap. Jika akal tidak menguat dan sempurna, niscaya kerajaan hati diserahkan kepada setan, dan makhluk terkutuk itu menepati janjinya saat berkata: ﴿Pasti akan aku kuasai keturunannya, kecuali sebagian kecil﴾ [QS. Al-Isra': 62]. Namun jika akal itu sempurna dan kuat, maka kesibukan utamanya adalah menumpas prajurit-prajurit setan dengan mematahkan syahwat, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, dan mengembalikan tabiat secara paksa kepada ibadah-ibadah. Tidak ada makna bagi taubat selain ini, yaitu kembali dari jalan yang petunjuknya adalah syahwat dan pengawalnya adalah setan menuju jalan Allah Ta'ala. Dan tidak ada seorang manusia pun di alam wujud melainkan syahwatnya mendahului akalnya, serta nalurinya yang merupakan perlengkapan setan lebih dahulu daripada nalurinya yang merupakan perlengkapan malaikat. Maka kembali dari apa yang telah didahului oleh penurutan syahwat adalah suatu keniscayaan bagi setiap manusia, baik ia seorang nabi maupun orang yang awam/bodoh. Maka jangan sekali-kali engkau mengira bahwa keniscayaan ini hanya khusus bagi Adam ʿalaihissalām. Sungguh telah dikatakan:
فلا تحسبن هنداً لها الغدر وحدها … سجية نفس كل غانية هند
Janganlah engkau kira Hindun memiliki pengkhianatan seorang diri… Tabiat jiwa setiap wanita jelita adalah Hindun.
بل هو حكم أزلي مكتوب على جنس الإنس لا يمكن فرض خلافه ما لم تتبدل السنة الإلهية التي لا مطمع في تبديلها فإذن كل من بلغ كافراً جاهلاً فعليه التوبة من جهله وكفره فإذا بلغ مسلماً تبعاً لأبويه غافلاً عن حقيقة إسلامه فعليه التوبة من غفلته بتفهم معنى الإسلام فإنه لا يغني عنه إسلام أبويه شيئاً ما لم يسلم بنفسه فإن فهم ذلك فعليه الرجوع عن عادته وإلفه للاسترسال وراء الشهوات من غير صارف بالرجوع إلى قالب حدود الله في المنع والإطلاق والانفكاك والاسترسال وهو من أشق أبواب التوبة وفيه هلك الأكثرون إذ عجزوا عنه وكل هذا رجوع وتوبة فدل على أن التوبة فرض عين في حق كل شخص يتصور أن يستغني عنها أحد من البشر كما لم يستغن آدم فخلقة الولد لا تتسع لما لم يتسع له خلقة الوالد أصلاً وأما بيان وجوبها عَلَى الدَّوَامِ وَفِي كُلِّ حَالٍ فَهُوَ
Bahkan itu merupakan ketetapan azali yang tertulis atas jenis manusia, tidak mungkin diandaikan sebaliknya selama Sunnatullah tidak berubah, sedang Sunnatullah tidak ada harapan untuk diubah. Oleh karena itu, setiap orang yang mencapai usia baligh dalam keadaan kafir dan bodoh, maka ia wajib bertaubat dari kebodohan dan kekafirannya. Apabila ia mencapai usia baligh dalam keadaan muslim karena mengikut kedua orang tuanya sedang ia lalai dari hakikat keislamannya, maka ia wajib bertaubat dari kelalaiannya dengan memahami makna Islam. Sebab keislaman kedua orang tuanya tidak memberi guna sedikit pun baginya selama ia belum berislam secara mandiri dari dirinya sendiri. Jika ia telah memahami hal itu, maka wajib baginya kembali dari kebiasaan dan keakrabannya untuk memperturutkan syahwat tanpa ada yang menghalangi, yaitu dengan kembali ke dalam cetakan batasan-batasan Allah dalam hal melarang, melepaskan, membebaskan, dan meluluskan. Dan ini termasuk pintu taubat yang paling berat, yang di dalamnya mayoritas manusia binasa karena mereka lemah menghadapinya. Seluruh hal ini adalah bentuk kembali dan taubat, yang menunjukkan bahwa taubat adalah fardhu 'ain bagi setiap individu yang tergambarkan membutuhkan hal itu dari kalangan manusia, sebagaimana Adam pun tidak terlepas darinya. Sebab watak anak tidak akan memuat apa yang tidak dimuat oleh watak ayahnya sama sekali. Adapun penjelasan kewajibannya secara terus-menerus dan dalam setiap keadaan adalah:
أَنَّ كُلَّ بَشَرٍ فَلَا يَخْلُو عَنْ مَعْصِيَةٍ بجوارحه إذ لم يخل عنه الأنبياء كما ورد في القرآن والأخبار من خطايا الأنبياء وتوبتهم وبكائهم على خطاياهم فَإِنْ خَلَا فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ عَنْ مَعْصِيَةِ الْجَوَارِحِ فَلَا يَخْلُو عَنِ الْهَمِّ بِالذُّنُوبِ بِالْقَلْبِ فَإِنْ خَلَا فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ عَنِ الْهَمِّ فَلَا يَخْلُو عَنْ وَسْوَاسِ الشَّيْطَانِ بِإِيرَادِ الْخَوَاطِرِ المتفرقة الْمُذْهِلَةِ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنْ خَلَا عَنْهُ فَلَا يَخْلُو عَنْ غَفْلَةٍ وَقُصُورٍ فِي الْعِلْمِ بِاللَّهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ وَكُلُّ ذَلِكَ نَقْصٌ وَلَهُ أسباب وترك أسبابه بالتشاغل بأضدادها رُجُوعٌ عَنْ طَرِيقٍ إِلَى ضِدِّهِ وَالْمُرَادُ بِالتَّوْبَةِ الرُّجُوعُ وَلَا يُتَصَوَّرُ الْخُلُوُّ فِي حَقِّ الْآدَمِيِّ عن هذا النقص وإنما يتفاوتون في المقادير فَأَمَّا الْأَصْلُ فَلَا بُدَّ مِنْهُ وَلِهَذَا قَالَ ﵇ إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي حَتَّى أَسْتَغْفِرَ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ سَبْعِينَ مَرَّةً الْحَدِيثَ وَلِذَلِكَ أَكْرَمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنْ قَالَ لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وما تأخر وَإِذَا كَانَ هَذَا حَالَهُ فَكَيْفَ حَالُ غَيْرِهِ
Bahwa setiap manusia tidak pernah sepi dari kemaksiatan dengan anggota badannya, sebab para nabi pun tidak sepi darinya sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an dan riwayat-riwayat tentang kesalahan para nabi, taubat mereka, dan tangisan mereka atas kesalahan-kesalahan mereka. Jika pada sebagian keadaan seseorang sepi dari kemaksiatan anggota badan, maka ia tidak sepi dari keinginan (hamm) berbuat dosa dengan hatinya. Jika pada sebagian keadaan ia sepi dari keinginan berbuat dosa, maka ia tidak sepi dari waswas setan dengan menghadirkan bisikan-bisikan yang memecah konsentrasi dan melalaikan dari mengingat Allah. Jika ia sepi darinya, maka ia tidak sepi dari kelalaian dan kekurangan dalam ilmu tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Setiap hal itu adalah kekurangan yang memiliki sebab-sebab, sedang meninggalkan sebab-sebabnya dengan menyibukkan diri pada lawan-lawannya adalah bentuk kembali dari suatu jalan menuju lawannya; dan yang dimaksud dengan taubat adalah "kembali". Tidak tergambarkan adanya kekosongan dari kekurangan ini pada diri manusia, hanyasanya mereka berbeda-beda dalam kadarnya. Adapun asasnya, maka itu pasti ada. Oleh karena itulah Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya benar-benar dilingkupi (awan kelalaian) atas hatiku, sehingga aku memohon ampunan kepada Allah dalam sehari semalam sebanyak tujuh puluh kali" (al-hadits). Oleh karena itu pula Allah Ta'ala memuliakannya dengan berfirman: ﴿Agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang telah lalu dan yang akan datang﴾ [QS. Al-Fath: 2]. Jika demikian keadaan beliau, maka bagaimanakah dengan keadaan selain beliau?
فإن قلت لا يخفى أن ما يطرأ على القلب من الهموم والخواطر نقص وأن الكمال في الخلو عنه وأن القصور عن معرفة كنه جلال الله نقص وإنه كلما ازدادت المعرفة زاد الكمال وأن الانتقال إلى الكمال من أسباب النقصان رجوع والرجوع توبة ولكن هذه فضائل لا فرائض وقد أطلقت القول بوجوب التوبة في كل حال والتوبة عن هذه الأمور ليست بواجبة إذ إدراك الكمال غير واجب في الشرع فما المراد بقولك التوبة واجبة في كل حال فاعلم أَنَّهُ قَدْ سَبَقَ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَخْلُو فِي مَبْدَأِ خِلْقَتِهِ مِنِ اتِّبَاعِ الشَّهَوَاتِ أَصْلًا وَلَيْسَ مَعْنَى التَّوْبَةِ تَرْكَهَا فَقَطْ بَلْ تَمَامُ التَّوْبَةِ بِتَدَارُكِ مَا مَضَى وَكُلُّ شَهْوَةٍ اتَّبَعَهَا الْإِنْسَانُ ارْتَفَعَ مِنْهَا ظُلْمَةٌ إِلَى قَلْبِهِ كَمَا يَرْتَفِعُ عَنْ نَفَسِ الْإِنْسَانِ ظُلْمَةٌ إِلَى وَجْهِ المرآة الصقيلة فإن تراكمت ظلمة الشهوات صار ريناً كما يصير بخار النفس في وجهه الْمِرْآةِ عِنْدَ تَرَاكُمِهِ خَبَثًا كَمَا قَالَ تَعَالَى كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يكسبون فَإِذَا تَرَاكَمَ الرَّيْنُ صَارَ طَبَعًا فَيَطْبَعُ عَلَى قَلْبِهِ كَالْخَبَثِ عَلَى وَجْهِ الْمِرْآةِ إِذَا تَرَاكَمَ وَطَالَ زَمَانُهُ غَاصَ فِي جِرْمِ الْحَدِيدِ وَأَفْسَدَهُ وَصَارَ لَا يَقْبَلُ الصَّقْلَ بَعْدَهُ وَصَارَ كَالْمَطْبُوعِ مِنَ الْخَبَثِ وَلَا يَكْفِي فِي تَدَارُكِ اتِّبَاعِ الشَّهَوَاتِ تَرْكُهَا فِي الْمُسْتَقْبَلِ بَلْ لَا بُدَّ مِنْ مَحْوِ تِلْكَ الْأَرْيَانِ الَّتِي انْطَبَعَتْ فِي الْقَلْبِ كَمَا لَا يَكْفِي فِي ظُهُورِ الصُّوَرِ في المرآة قطع الانفاس والبخارت الْمُسَوِّدَةِ لِوَجْهِهَا فِي الْمُسْتَقْبَلِ مَا لَمْ يَشْتَغِلْ بِمَحْوِ مَا انْطَبَعَ فِيهَا مِنَ الْأَرْيَانِ وَكَمَا يَرْتَفِعُ إِلَى الْقَلْبِ ظُلْمَةٌ مِنَ الْمَعَاصِي وَالشَّهَوَاتِ فَيَرْتَفِعُ إِلَيْهِ نُورٌ مِنَ الطَّاعَاتِ وَتَرْكِ الشَّهَوَاتِ فَتَنْمَحِي ظُلْمَةُ الْمَعْصِيَةِ بِنُورِ الطَّاعَةِ وَإِلَيْهِ الْإِشَارَةُ بِقَوْلِهِ ﵇ أَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا فَإِذَنْ لَا يَسْتَغْنِي الْعَبْدُ فِي حَالٍ مِنْ أَحْوَالِهِ عَنْ مَحْوِ آثَارِ السَّيِّئَاتِ عَنْ قَلْبِهِ بِمُبَاشَرَةِ حَسَنَاتٍ تُضَادُّ آثَارُهَا آثَارَ تِلْكَ السَّيِّئَاتِ هذا في قلب حصل أولاً صفاؤه وجلاؤه ثم أظلم بأسباب عارضة فأما التصقيل الأول ففيه يطول الصقل إذ ليس شغل الصقل في إزالة الصدأ عن المرآة كشغله في عمل أصل المرآة فهذه أشغال طويلة لا تنقطع أصلاً وكل ذلك يرجع إلى التوبة فأما قولك إن هذا لا يسمى واجباً بل هو فضل وطلب كمال فاعلم أن الواجب له معنيان أحدهما ما يدخل في فتوى الشرع ويشترك فيه كافة الخلق وهو القدر الذي لو اشتغل به كافة الخلق لم يخرب العالم فلو كلف الناس كلهم أن يتقوا الله حق تقاته لتركوا المعايش ورفضوا الدنيا بالكلية ثم يؤدي ذلك إلى بطلان التقوى بالكلية فإنه مهما فسدت المعايش لم يتفرغ أحد للتقوى بل شغل الحياكة
Jika engkau berkata: Tidak tersembunyi bahwa apa yang mendatangi hati berupa duka cita dan bisikan-bisikan adalah suatu kekurangan, dan bahwa kesempurnaan ada pada kekosongan darinya, serta bahwa kekurangan dari mengenal hakikat keagungan Allah adalah suatu kekurangan, dan bahwa setiap kali pengetahuan bertambah maka kesempurnaan pun bertambah, sedang berpindah menuju kesempurnaan dari sebab-sebab kekurangan adalah bentuk kembali, dan kembali adalah taubat; namun semua ini adalah keutamaan-keutamaan (fadhail), bukan kewajiban-kewajiban (faradh). Padahal engkau telah menyatakan secara mutlak tentang kewajiban taubat dalam setiap keadaan, sedangkan taubat dari perkara-perkara ini bukanlah hal yang wajib, karena mencapai kesempurnaan tidaklah wajib dalam syariat. Lantas apa yang dimaksud dengan ucapanmu bahwa taubat itu wajib dalam setiap keadaan? Maka ketahuilah bahwa telah dijelaskan sebelumnya bahwa manusia pada permulaan penciptaannya tidak pernah sepi dari mengikuti syahwat sama sekali. Makna taubat bukanlah sekadar meninggalkannya saja, melainkan kesempurnaan taubat adalah dengan membenahi apa yang telah berlalu. Setiap syahwat yang diikuti oleh manusia niscaya memancarkan kegelapan menuju hatinya, sebagaimana hembusan napas manusia memancarkan kegelapan pada permukaan cermin yang mengkilap. Jika kegelapan syahwat menumpuk, jadilah ia karat (rain), sebagaimana uap napas pada permukaan cermin ketika menumpuk menjadi kotoran, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka﴾ [QS. Al-Muthaffifin: 14]. Apabila karat itu menumpuk, jadilah ia penutup (thaba'), sehingga terkeraklah hatinya seperti kotoran pada permukaan cermin yang apabila menumpuk dan berlangsung lama akan meresap ke dalam bagian besi dan merusaknya, hingga tidak dapat menerima gosokan pembersih lagi setelahnya dan menjadi seperti terpatri dari kotoran. Tidaklah cukup dalam membenahi penurutan syahwat hanya dengan meninggalkannya di masa mendatang, melainkan harus menghapus karat-karat yang telah terpatri di dalam hati tersebut, sebagaimana tidak cukup untuk memunculkan bayangan pada cermin hanya dengan menghentikan napas dan uap yang menghitamkan permukaannya di masa mendatang selama belum sibuk menghapus karat yang telah terpatri padanya. Sebagaimana kegelapan menguap menuju hati akibat kemaksiatan dan syahwat, maka cahaya pun menguap kepadanya dari ketaatan dan meninggalkan syahwat, sehingga kegelapan maksiat terhapus oleh cahaya ketaatan. Kepada hal inilah diisyaratkan oleh sabda Nabi ﷺ: "Iringilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya." Jika demikian, seorang hamba dalam setiap keadaannya tidak pernah terlepas dari menghapus bekas-bekas keburukan dari hatinya dengan melakukan kebaikan-kebaikan yang dampaknya berlawanan dengan dampak keburukan-keburukan tersebut. Ini terjadi pada hati yang mulanya telah memperoleh kesucian dan kecemerlangannya lalu menjadi gelap karena sebab-sebab yang mendatangkan. Adapun pembersihan pertama, di dalamnya pembersihan membutuhkan waktu lama, sebab pekerjaan pembersihan dalam menghilangkan karat dari cermin tidak seperti pekerjaannya dalam membuat bahan dasar cermin itu sendiri. Ini adalah pekerjaan-pekerjaan panjang yang tidak pernah terputus sama sekali, dan semua itu kembali kepada taubat. Adapun ucapanmu bahwa hal ini tidak dinamakan wajib, melainkan merupakan keutamaan dan tuntutan kesempurnaan, maka ketahuilah bahwa "wajib" itu memiliki dua makna: Pertama: Apa yang masuk dalam fatwa syariat dan berserikat padanya seluruh makhluk, yaitu kadar yang sekiranya seluruh makhluk menyibukkan diri padanya niscaya dunia tidak akan hancur. Sekiranya manusia seluruhnya dibebani untuk bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, niscaya mereka akan meninggalkan mata pencaharian dan menolak dunia secara keseluruhan, yang kemudian hal itu mengarah pada pembatalan ketakwaan secara keseluruhan. Sebab manakala mata pencaharian rusak, tidak ada seorang pun yang sempat untuk bertakwanya; bahkan pekerjaan menenun,
والحراثة والخبز يستغرق جميع العمر من كل واحد فيما يحتاج إليه فجميع هذه الدرجات ليست بواجبة بهذا الاعتبار والواجب الثاني هو الذي لَا بُدَّ مِنْهُ لِلْوُصُولِ بِهِ إِلَى الْقُرْبِ الْمَطْلُوبِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالْمَقَامِ الْمَحْمُودِ بَيْنَ الصِّدِّيقِينَ وَالتَّوْبَةُ عَنْ جَمِيعِ مَا ذَكَرْنَاهُ وَاجِبَةٌ فِي الْوُصُولِ إِلَيْهِ كَمَا يُقَالُ الطَّهَارَةُ وَاجِبَةٌ في الصلاة للتطوع أي لمن يريدها فإنه لا يتوصل إليه إلا بها فأما من رضي بالنقصان والحرمان عن فضل صلاة التطوع فالطهارة ليست واجبة عليه لأجلها كما يقال العين والأذن واليد والرجل شرط في وجود الإنسان يعني أنه شرط لمن يريد أن يكون إنساناً كاملاً ينتفع بإنسانيته ويتوصل بها إلى درجات العلا في الدنيا فأما من قنع بأصل الحياة ورضي أن يكون كلحم على وضم وكخرقة مطروحة فليس يشترط لمثل هذه الحياة عين ويد ورجل فأصل الواجبات الداخلة في فتوى العامة لا يوصل إلا إلى أصل النجاة وأصل النجاة كأصل الحياة وما وراء أصل النجاة من السعادات التي بها تنتهي الحياة يجري مجرى الأعضاء والآلات التي بها تتهيأ الحياة وفيه سعي الأنبياء والأولياء والعلماء والأمثل فالأمثل وعليه كان حرصهم وحواليه كان تطوافهم ولأجله كان رفضهم لملاذ الدنيا بالكلية حتى انتهى عيسى ﵇ إلى أن توسد حجراً في منامه فجاء إليه الشيطان وقال أما كنت تركت الدنيا للآخرة فقال نعم وما الذي حدث فقال توسدك لهذا الحجر تنعم في الدنيا فلم لا تضع رأسك على الأرض فرمى عيسى ﵇ بالحجر ووضع رأسه على الأرض وكان رميه للحجر توبة عن ذلك التنعم أفترى أن عيسى ﵇ لم يعلم أن وضع الرأس على الأرض لا يسمى واجباً في فتاوي العامة أفترى أن نبينا محمداً ﷺ لما شغله الثوب الذي كان عليه علم فى صلاته حتى نزعه وشغله شراك نعله الذي جدده حتى أعاد الشراك الخلق لم يعلم أن ذلك ليس واجباً في شرعه الذي شرعه لكافة عباده فإذا علم ذلك فلم تاب عنه بتركه وهل كان ذلك إلا لأنه رآه مؤثراً في قلبه أثراً يمنعه عن بلوغ المقام المحمود الذي قد وعد به أفترى أن الصديق ﵁ بعد أن شرب اللبن وعلم أنه على غير وجه أدخل إصبعه في حلقه ليخرجه حتى كاد يخرج معه روحه ما علم من الفقه هذا القدر وهو أن ما أكله عن جهل فهو غير آثم به ولا يجب في فتوى الفقه إخراجه فلم تاب عن شرابه بالتدارك على حسب إمكانه بتخلية المعدة عنه وهل كان ذلك إلا لسر وقر في صدره عرفه ذلك السر أن فتوى العامة حديث آخر وأن خطر طريق الآخرة لا يعرفه إلا الصديقون فتأمل أحوال هؤلاء الذين هم أعرف خلق الله بالله وبطريق الله وبمكر الله وبمكامن الغرور بالله وإياك مرة واحدة أن تغرك الحياة الدنيا وإياك ثم إياك ألف ألف مرة أن يغرك بالله الغرور فهذه أسرار من استنشق مبادىء روائحها علم أن لزوم التوبة النصوح ملازم للعبد السالك في طريق الله تعالى في كل نفس من أنفاسه ولو عمر عمر نوح وأن ذلك واجب على الفور من غير مهلة وَلَقَدْ صَدَقَ أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ حَيْثُ قَالَ لَوْ لَمْ يَبْكِ الْعَاقِلُ فِيمَا بَقِيَ مِنْ عُمْرِهِ إِلَّا عَلَى تَفْوِيتِ مَا مَضَى مِنْهُ فِي غَيْرِ الطَّاعَةِ لَكَانَ خَلِيقًا أَنْ يُحْزِنَهُ ذلك إِلَى الْمَمَاتِ فَكَيْفَ مَنْ يَسْتَقْبِلُ مَا بَقِيَ مِنْ عُمْرِهِ بِمِثْلِ مَا مَضَى مِنْ جَهْلِهِ وَإِنَّمَا قَالَ هَذَا لِأَنَّ الْعَاقِلَ إِذَا مَلَكَ جَوْهَرَةً نَفِيسَةً وَضَاعَتْ مِنْهُ بِغَيْرِ فَائِدَةٍ بَكَى عَلَيْهَا لَا مَحَالَةَ وَإِنْ ضَاعَتْ مِنْهُ وَصَارَ ضَيَاعُهَا سَبَبَ هَلَاكِهِ كَانَ بُكَاؤُهُ مِنْهَا أَشَدَّ وَكُلُّ سَاعَةٍ مِنَ الْعُمْرِ بَلْ كُلُّ نَفَسٍ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ لَا خَلَفَ لَهَا وَلَا بَدَلَ منها فإنها صالحة لأن تَوَصِّلُكَ إِلَى سَعَادَةِ الْأَبَدِ وَتُنْقِذُكَ مِنْ شَقَاوَةِ الأبد وأي جواهر أَنْفَسُ مِنْ هَذَا فَإِذَا ضَيَّعْتَهَا فِي الْغَفْلَةِ فقد خسرت خسراناً مبيناً وإن صرفتها إلى معصية
membajak, dan membuat roti akan menghabiskan seluruh umur setiap orang untuk memenuhi apa yang dibutuhkannya. Maka seluruh derajat ini tidaklah wajib menurut pertimbangan ini. Dan Makna Wajib Kedua: Yaitu apa yang harus ada untuk mencapai kedekatan yang dituntut dari Tuhan semesta alam dan maqam terpuji (al-Maqam al-Mahmud) di antara para shiddiqin. Taubat dari seluruh apa yang telah kami sebutkan adalah wajib dalam mencapai kedekatan tersebut, sebagaimana dikatakan: "Thaharah (bersuci) itu wajib dalam shalat sunnah," yakni bagi orang yang menghendakinya, karena shalat sunnah tidak akan tercapai kecuali dengannya. Adapun orang yang ridha dengan kekurangan dan terhalangnya keutamaan shalat sunnah, maka thaharah tidaklah wajib baginya karena sebab shalat tersebut. Hal ini sebagaimana dikatakan: "Mata, telinga, tangan, dan kaki adalah syarat dalam keberadaan manusia," artinya hal itu merupakan syarat bagi orang yang ingin menjadi manusia yang sempurna yang dapat mengambil manfaat dari kemanusiaannya dan darinya mencapai derajat-derajat yang tinggi di dunia. Adapun orang yang puas dengan asas kehidupan dan ridha menjadi seperti daging di atas telenan atau seperti kain buruk yang dicampakkan, maka tidak disyaratkan bagi kehidupan semacam ini adanya mata, tangan, dan kaki. Maka asas kewajiban-kewajiban yang masuk dalam fatwa kalangan awam hanya menyampaikannya kepada asas keselamatan, dan asas keselamatan itu seperti asas kehidupan. Adapun apa yang ada di balik asas keselamatan berupa kebahagiaan-kebahagiaan yang melengkapi kehidupan, berkedudukan seperti anggota-anggota tubuh dan sarana-sarana yang dengannya kehidupan menjadi sempurna. Di sinilah letak usaha para nabi, wali, ulama, dan orang-orang yang meneladani secara berjenjang. Atas dasar inilah ketamakan (semangat) mereka, di sekitarlah perputaran mereka, dan demi hal itulah penolakan mereka terhadap kenikmatan dunia secara keseluruhan, hingga Nabi Isa ʿalaihissalām sampai berbantalkan batu saat tidurnya. Lalu datanglah setan kepadanya seraya berkata: "Bukankah engkau telah meninggalkan dunia demi akhirat?" Beliau menjawab: "Ya, memangnya ada apa?" Setan berkata: "Berbantal batu ini adalah bentuk engkau bersenang-senang di dunia, mengapa engkau tidak meletakkan kepalamu di atas tanah?" Maka Nabi Isa ʿalaihissalām melempar batu tersebut dan meletakkan kepalanya di atas tanah, dan lemparannya terhadap batu itu merupakan taubat dari penikmatan tersebut. Apakah engkau mengira bahwa Nabi Isa ʿalaihissalām tidak mengetahui bahwa meletakkan kepala di atas tanah tidak dinamakan wajib dalam fatwa-fatwa umum? Apakah engkau mengira bahwa Nabi kita Muhammad ﷺ ketika beliau terganggu oleh pakaian bergaris yang dikenakannya saat shalat hingga beliau melepaskannya, dan terganggu oleh tali sandal barunya yang diperbarui hingga beliau mengembalikan tali sandal yang lama, beliau tidak mengetahui bahwa hal itu tidak wajib dalam syariatnya yang disyariatkan bagi seluruh hamba-Nya? Jika beliau mengetahui hal itu, mengapa beliau bertaubat darinya dengan meninggalkannya? Bukankah itu tidak lain karena beliau melihatnya memberikan pengaruh pada hatinya dengan pengaruh yang menghalanginya dari mencapai maqam terpuji yang telah dijanjikan kepadanya? Apakah engkau mengira bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. setelah meminum susu dan mengetahui bahwa susu itu diperoleh dari jalan yang tidak jelas, lalu memasukkan jarinya ke dalam tenggorokannya untuk memuntahkannya hingga hampir saja rohnya ikut keluar, tidak mengetahui dari Fiqih sekadar ini, yaitu bahwa apa yang dimakannya karena ketidaktahuan maka ia tidak berdosa karenanya dan tidak wajib dalam fatwa fiqih untuk mengeluarkannya? Lantas mengapa ia bertaubat dari minumannya itu dengan membenahinya sesuai kemampuannya dengan mengosongkan lambung darinya? Bukankah hal itu tidak lain karena rahasia yang bersemayam di dalam dadanya, yang memberitahukannya rahasia tersebut bahwa fatwa orang awam adalah perkara lain, dan bahwa bahaya jalan akhirat tidak diketahui kecuali oleh para shiddiqin? Maka renungkanlah keadaan mereka yang merupakan makhluk Allah yang paling mengenal Allah, jalan Allah, tipu daya Allah, dan tempat-tempat tersembunyi perdayaan kepada Allah! Dan berhati-hatilah engkau sekali-kali jangan sampai kehidupan dunia menipumu, dan berhati-hatilah engkau, kemudian berhati-hatilah engkau sejuta kali jangan sampai Penipu (setan) memperdayamu atas nama Allah! Ini adalah rahasia-rahasia yang barang siapa menghirup permulaan aroma wewangiannya, ia akan mengetahui bahwa melazimi taubat nasuha adalah hal yang selalu menyertai seorang hamba penempuh jalan (salik) menuju Allah Ta'ala dalam setiap hembusan napasnya, meskipun ia diberi umur sepanjang umur Nabi Nuh, dan bahwa hal itu wajib secara serta-merta tanpa ada penundaan. Sungguh benar Abu Sulaiman ad-Darani ketika berkata: "Sekiranya orang yang berakal tidak menangisi sisa umurnya kecuali atas terlewatnya apa yang telah lalu darinya tanpa ketaatan, niscaya sudah sepatutnya hal itu membuatnya berduka hingga meninggal dunia. Lantas bagaimana dengan orang yang menyongsong sisa umurnya dengan kebodohan yang sama seperti yang telah lalu?" Beliau mengatakan ini karena orang yang berakal, apabila memiliki permata yang sangat berharga lalu hilang darinya tanpa manfaat, pasti ia menangisinya. Jika hilangnya permata itu menjadi sebab kebinasaannya, niscaya tangisannya atasnya akan lebih dahsyat. Padahal setiap jam dari umur, bahkan setiap hembusan napas, adalah permata sangat berharga yang tidak ada ganti dan padanannya, sebab ia patut untuk menyampaikanmu kepada kebahagiaan abadi dan menyelamatkanmu dari kesengsaraan abadi. Permata manakah yang lebih berharga dari ini? Apabila engkau menyia-nyiakannya dalam kelalaian, sungguh engkau telah rugi dengan kerugian yang nyata, dan jika engkau menggunakannya untuk kemaksiatan,
فقد هلكت هلاكاً فاحشاً فإن كنت لا تبكي على هذه المعصية فَذَلِكَ لِجَهْلِكَ وَمُصِيبَتُكَ بِجَهْلِكَ أَعْظَمُ مِنْ كُلِّ مصيبة لكن الجهل مصيبة لا يعرف المصاب بها أنه صاحب مصيبة فإن نوم الغفلة يحول بينه وبين معرفته والناس نِيَامٌ فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا فَعِنْدَ ذَلِكَ يَنْكَشِفُ لِكُلِّ مُفْلِسٍ إِفْلَاسُهُ وَلِكُلِّ مُصَابٍ مُصِيبَتُهُ وَقَدْ رفع الناس عن التدارك
maka engkau telah binasa dengan kebinasaan yang sangat keji. Apabila engkau tidak menangisi kemaksiatan ini, maka hal itu karena kebodohanmu, dan musibahmu dengan kebodohanmu itu lebih besar daripada setiap musibah. Namun kebodohan adalah musibah yang mana orang yang ditimpa olehnya tidak menyadari bahwa ia adalah pemilik musibah, sebab tidur kelalaian membentengi antara dirinya dan kesadarannya. Manusia itu tertidur, apabila mereka mati barulah mereka terbangun. Pada saat itulah terungkap bagi setiap orang yang bangkrut akan kebangkrutannya, dan bagi setiap orang yang tertimpa musibah akan musibahnya, sedang kesempatan perbaikan telah diangkat dari manusia.
قال بعض العارفين إن ملك الموت ﵇ إذا ظهر للعبد أعلمه أنه بقي من عمرك ساعة وأنك لا تستأخر عنها طرفة عين فيبدو للعبد من الأسف والحسرة ما لو كانت له الدنيا بحذافيرها لخرج منها على أن يضم إلى تلك الساعة ساعة أخرى ليستعتب فيها ويتدارك تفريطه فلا يجد إليه سبيلاً وهو أول ما يظهر من معاني قوله تعالى ﴿وحيل بينهم وبين ما يشتهون﴾ وإليه الإشارة بقوله تعالى مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إذا جاء أجلها فقيل الأجل القريب الذي يطلبه معناه أنه يقول عند كشف الغطاء للعبد يا ملك الموت أخرني يوماً أعتذر فيه إلى ربي وأتوب وَأَتَزَوَّدُ صَالِحًا لِنَفْسِي فَيَقُولُ فَنِيَتِ الْأَيَّامُ فَلَا يَوْمَ فَيَقُولُ فَأَخِّرْنِي سَاعَةً فَيَقُولُ فَنِيَتِ السَّاعَاتُ فَلَا سَاعَةَ فَيُغْلَقُ عَلَيْهِ بَابُ التَّوْبَةِ فَيَتَغَرْغَرُ بروحه وتتردد أنفاسه في شراسفه ويتجرع غصة اليأس عن التدارك وحسرة الندامة على تضييع العمر فيضطرب أصل إيمانه في صدمات تلك الأحوال فإذا زهقت نفسه فإن كان سبقت له من الله الحسنى خرجت روحه على التوحيد فذلك حسن الخاتمة وإن سبق له القضاء بالشقوة والعياذ بالله خرجت روحه على الشك والاضطراب وذلك سوء الخاتمة وَلِمِثْلِ هَذَا يُقَالُ ﴿وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إني تبت الآن﴾ وقوله ﴿إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بجهالة ثم يتوبون من قريب﴾ ومعناه عَنْ قُرْبِ عَهْدٍ بِالْخَطِيئَةِ بِأَنْ يَتَنَدَّمَ عَلَيْهَا وَيَمْحُوَ أَثَرَهَا بِحَسَنَةٍ يُرْدِفُهَا بِهَا قَبْلَ أَنْ يَتَرَاكَمَ الرَّيْنُ عَلَى الْقَلْبِ فَلَا يَقْبَلُ الْمَحْوَ وَلِذَلِكَ قَالَ ﷺ أَتْبِعِ السيئة الحسنة تمحها ولذلك قال لقمان لابنه يا بني لا تؤخر التوبة فإن الموت يأتي بغتة وَمَنْ تَرَكَ الْمُبَادَرَةَ إِلَى التَّوْبَةِ بِالتَّسْوِيفِ كَانَ بَيْنَ خَطَرَيْنِ عَظِيمَيْنِ ﴿أَحَدُهُمَا﴾ أَنْ تَتَرَاكَمَ الظُّلْمَةُ عَلَى قَلْبِهِ مِنَ الْمَعَاصِي حَتَّى يَصِيرَ رَيْنًا وَطَبْعًا فَلَا يَقْبَلُ الْمَحْوَ الثَّانِي أَنْ يُعَاجِلَهُ الْمَرَضُ أَوِ الْمَوْتُ فَلَا يَجِدُ مُهْلَةً لِلِاشْتِغَالِ بالمحو ولذلك ورد في الخبر إن أكثر صياح أهل النار من التسويف فما هلك من هلك إلا بالتسويف فيكون تسويده القلب نقداً وجلاؤه بالطاعة نسيئة إلى أن يختطفه الموت فَيَأْتِي اللَّهَ بِقَلْبٍ غَيْرِ سَلِيمٍ وَلَا يَنْجُو إلا من أتى الله بقلب سليم فالقلب أمانة الله تعالى عند عبده والعمر أمانة الله عنده وكذا سائر أسباب الطاعة فمن خان في الأمانة ولم يتدارك خيانته فأمره مخطر
Sebagian 'arifin berkata: Sesungguhnya Malaikat Maut ʿalaihissalām apabila nampak bagi seorang hamba, ia memberitahukannya bahwa sisa umurmu tinggal satu jam dan engkau tidak akan diundurkan darinya sekejap mata pun. Maka timbullah pada hamba tersebut penyesalan dan kerugian yang sekiranya ia memiliki dunia beserta isinya niscaya ia akan keluar darinya agar disatukan pada jam tersebut jam yang lain sehingga ia dapat memohon ampunan dan membenahi kelalaiannya, namun ia tidak menemukan jalan untuk itu. Itulah hal pertama yang nampak dari makna firman-Nya Ta'ala: ﴿Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan﴾ [QS. Saba': 54]. Dan kepada hal itulah diisyaratkan oleh firman-Nya Ta'ala: ﴿sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata: 'Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?' Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya﴾ [QS. Al-Munafiqun: 10-11]. Dikatakan bahwa "waktu yang dekat" yang dimintanya bermakna bahwa ia berkata tatkala tersingkapnya tabir bagi hamba: "Wahai Malaikat Maut, tangguhkanlah aku sehari agar aku memohon uzur kepada Rabb-ku, bertaubat, dan membekali diriku dengan amal saleh." Maka Malaikat Maut berkata: "Hari-hari telah habis, maka tidak ada lagi hari." Ia berkata: "Tangguhkanlah aku satu jam." Malaikat Maut berkata: "Jam-jam telah habis, maka tidak ada lagi satu jam." Maka ditutuplah pintu taubat baginya, lalu rohnya tersengal-sengal di tenggorokan, napasnya naik turun di tulang-tulang rusuknya, dan ia meneguk kepahitan keputusasaan dari pembenahan serta kerugian penyesalan atas penyia-nyiaan umur. Maka bergoncanglah asas keimanannya di tengah guncangan keadaan-keadaan tersebut. Apabila rohnya melayang, jika telah terdahulu baginya dari Allah ketetapan kebaikan (al-husna), maka rohnya keluar atas tauhid; dan itulah khusnul khatimah. Namun jika telah terdahulu baginya ketetapan dengan kesengsaraan—kita berlindung kepada Allah—maka rohnya keluar atas keraguan dan kegoncangan; dan itulah su'ul khatimah. Terhadap hal yang seperti inilah dikatakan: ﴿Dan tidaklah taubat itu diterima dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang kematian kepada seseorang di antara mereka, ia berkata: 'Sesungguhnya aku bertaubat sekarang'﴾ [QS. An-Nisa': 18], dan firman-Nya: ﴿Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan, kemudian mereka bertaubat dari dekat (segera)﴾ [QS. An-Nisa': 17]. Maknanya adalah dekatnya tenggat waktu dari perbuatan dosa, yaitu dengan menyesalinya dan menghapus bekasnya dengan kebaikan yang diiringkannya sebelum karat menumpuk di atas hati sehingga tidak dapat menerima penghapusan lagi. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: "Iringilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya." Oleh karena itu Luqman berkata kepada putranya: "Wahai putramu, janganlah engkau menunda taubat, karena kematian itu datang secara tiba-tiba." Barang siapa yang meninggalkan bersegera menuju taubat dengan menunda-nunda (taswif), maka ia berada di antara dua bahaya besar: (1) Menumpuknya kegelapan pada hatinya akibat kemaksiatan hingga menjadi karat dan perlak yang tidak menerima penghapusan. (2) Penyakit atau kematian menyegerakannya sehingga ia tidak menemukan tenggang waktu untuk menyibukkan diri dengan penghapusan. Oleh karena itu termaktub dalam riwayat bahwa mayoritas jeritan penghuni neraka adalah berasal dari penundaan (taswif). Tidaklah binasa orang yang binasa melainkan karena menunda-nunda, sehingga penggelapan hatinya bersifat tunai sedangkan pembersihannya dengan ketaatan bersifat menanti (kredit), sampai kematian merenggutnya lalu ia menghadap Allah dengan hati yang tidak selamat. Padahal tidak ada yang selamat kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat (qalb salim). Hati adalah amanah Allah Ta'ala pada hambanya, umur adalah amanah Allah padanya, demikian pula seluruh sarana ketaatan. Barang siapa berkhianat dalam amanah sedang ia tidak membenahi pengkhianatannya, maka perkaranya sangat berbahaya.
قال بعض العارفين إن لله تعالى إلى عبده سرين يسرهما إليه على سبيل الإلهام ﴿أحدهما﴾ إذا خرج من بطن أمه يقول له عبدي قد أخرجتك إلى الدنيا طاهراً نظيفاً واستودعتك عمرك وائتمنتك عليه فانظر كيف تحفظ الأمانة وانظر إلى كيف تلقاني والثاني عند خروج روحه يقول عبدي ماذا صنعت في أمانتي عندك هل حفظتها حتى تلقاني على العهد فألقاك على الوفاء أو أضعتها فألقاك بالمطالبة والعقاب وإليه الإشارة بقوله تعالى أوفوا بعهدي أوف بعهدكم وبقوله تعالى ﴿والذين هم لأماناتهم وعهدهم راعون﴾
Sebagian 'arifin berkata: Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki dua rahasia bagi hamba-Nya yang dibisikkan-Nya kepadanya melalui jalan ilham; (Salah satunya) ketika ia keluar dari perut ibunya, Dia berfirman kepadanya: 'Hamba-Ku, sungguh Aku telah mengeluarkanmu ke dunia dalam keadaan suci dan bersih, dan Aku menitipkan umurmu kepadamu serta mengamanatkannya kepadamu, maka lihatlah bagaimana engkau menjaga amanah itu dan lihatlah bagaimana engkau menemui-Ku.' Dan (yang kedua) pada saat keluarnya rohnya, Dia berfirman: 'Hamba-Ku, apakah yang telah engkau perbuat pada amanah-Ku di sisimu? Apakah engkau menjaganya hingga engkau menemui-Ku atas janji (yang dipenuhi) sehingga Aku menemui-Mu dengan pemenuhan, ataukah engkau menyia-nyiakannya sehingga Aku menemui-Mu dengan tuntutan dan hukuman?' Kepada hal itulah diisyaratkan oleh firman-Nya Ta'ala: ﴿Penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu﴾ [QS. Al-Baqarah: 40], dan oleh firman-Nya Ta'ala: ﴿Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya﴾ [QS. Al-Mu'minun: 8].