الركن الثالث في تمام التوبة وشروطها ودوامها إلى آخر العمر

بيان أقسام العباد في دوام التوبة

بيان أقسام العباد في دوام التوبة

بيان أَقْسَامُ الْعِبَادِ فِي دَوَامِ التَّوْبَةِ

Penjelasan tentang Pembagian Tingkatan Hamba dalam Keberlanjutan Tobat

اعْلَمْ أَنَّ التَّائِبِينَ فِي التَّوْبَةِ عَلَى أَرْبَعِ طَبَقَاتٍ الطَّبَقَةُ الْأُولَى أَنْ يَتُوبَ الْعَاصِي وَيَسْتَقِيمَ عَلَى التَّوْبَةِ إِلَى آخِرِ عُمْرِهِ فَيَتَدَارَكُ مَا فَرَطَ مِنْ أَمْرِهِ وَلَا يُحَدِّثُ نَفْسَهُ بِالْعَوْدِ إِلَى ذُنُوبِهِ إِلَّا الزَّلَّاتِ الَّتِي لَا يَنْفَكُّ الْبَشَرُ عَنْهَا في العادات مهما لم يكن في رتبة النبوة فَهَذَا هُوَ الِاسْتِقَامَةُ عَلَى التَّوْبَةِ وَصَاحِبُهُ هُوَ السَّابِقُ بِالْخَيْرَاتِ الْمُسْتَبْدِلُ بِالسَّيِّئَاتِ حَسَنَاتٍ وَاسْمُ هَذِهِ التَّوْبَةِ التَّوْبَةُ النَّصُوحُ وَاسْمُ هَذِهِ النَّفْسُ السَّاكِنَةُ النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ الَّتِي تَرْجِعُ إِلَى رَبِّهَا رَاضِيَةً مرضية وهؤلاء هم الذين إليهم الإشارة بقوله ﷺ سبق المفردون المستهترون بذكر الله تعالى وضع الذكر عنهم أوزارهم فوردوا القيامة خفافاً فإن فيه إشارة إلى أنهم كانوا تحت أوزار وضعها الذكر عنهم وأهل هذه الطبقة على رتب من حيث النزوع إلى الشهوات فمن تائب سكنت شهواته تحت قهر المعرفة ففتر نزاعها ولم يشغله عن السلوك صرعها وإلى من لا ينفك عن منازعة النفس ولكنه ملي بمجاهدتها وردها ثم تتفاوت درجات النزاع أيضاً بالكثرة والقلة وباختلاف المدة وباختلاف الأنواع وكذلك يختلفون من حيث طول العمر فمن مختطف يموت قريباً من توبته يغبط على ذلك لسلامته وموته قبل الفترة ومن ممهل طال جهاده وصبره وتمادت استقامته وكثرت حسناته وحال هذا أعلى وأفضل إذ كل سيئة فإنما تمحوها حسنة حتى قال بعض العلماء إنما يكفر الذنب الذي ارتكبه العاصي أن يتمكن منه عشر مرات مع صدق الشهوة ثم يصبر عنه ويكسر شهوته خوفاً من الله تعالى واشتراط هذا بعيد وإن كان لا ينكر عظم أثره لو فرض ولكن لا ينبغي للمريد الضعيف أن يسلك هذا الطريق فتهيج الشهوة وتحضر الأسباب حتى يتمكن ثم يطمع في الانكفاف فإنه لا يؤمن خروج عنان الشهوة عن

Ketahuilah bahwa orang-orang yang bertobat dalam hal keistikamahan tobat terbagi menjadi empat tingkatan: Tingkatan Pertama: Seorang pelaku maksiat bertobat dan beristikamah di atas tobatnya hingga akhir umurnya. Ia mengobati apa yang telah ia kelalaikan dari urusannya dan tidak pernah membisikkan jiwanya untuk kembali kepada dosa-dosanya, kecuali ketergelinciran-ketergelinciran kecil yang manusia tidak pernah terlepas darinya secara kebiasaan selama ia tidak berada pada derajat kenabian. Maka inilah bentuk istikamah dalam bertobat, dan pelakunya adalah orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan (as-sabiqu bil-khairat), yang kejahatan-kejahatannya diganti dengan kebaikan-kebaikan. Nama bagi tobat ini adalah Tobat Nasuha (Tawbatun Nasuh), dan nama bagi jiwa yang tenang ini adalah An-Nafsul Mutma'innah (jiwa yang tenteram), yang kembali kepada Tuhannya dalam keadaan ridha dan diridhai. Mereka itulah orang-orang yang diisyaratkan oleh sabda Nabi ﷺ: 'Telah mendahului al-mufarridun, yaitu orang-orang yang tenggelam dalam zikir kepada Allah Ta'ala. Zikir telah menggugurkan beban-beban dosa dari mereka sehingga mereka tiba di hari kiamat dalam keadaan ringan.' Dalam hadis ini terdapat isyarat bahwa mereka sebelumnya berada di bawah beban dosa yang dihilangkan oleh zikir dari mereka. Para pemilik tingkatan ini berada pada beberapa derajat ditinjau dari sudut pandang kecenderungan pada syahwat: Di antara mereka ada orang yang bertobat yang syahwat-syahwatnya telah tenang di bawah kendali ma'rifat, sehingga gejolaknya mereda dan pertarungannya tidak lagi menyibukkannya dari menempuh jalan spiritual; dan di antara mereka ada orang yang tidak terlepas dari perlawanan jiwanya namun ia sanggup memujaahadahi dan menolaknya. Kemudian derajat perlawanan itu sendiri bertingkat-tingkat dalam hal banyak dan sedikitnya, perbedaan durasi waktunya, serta perbedaan jenis-jenisnya. Demikian pula mereka berbeda ditinjau dari panjangnya umur: Di antara mereka ada yang diwafatkan dengan cepat tak lama setelah tobatnya, sehingga ia dicemburui atas hal itu karena keselamatannya dan meninggalnya sebelum datang kelesuan (futur); dan di antara mereka ada yang diberi penangguhan umur panjang sehingga panjang pula mujahadah dan kesabarannya, berlanjut keistikamahannya, serta bertambah banyak kebaikannya. Kondisi orang ini lebih tinggi dan lebih utama, sebab setiap kejahatan itu hanya akan dihapuskan oleh kebaikan, hingga sebagian ulama berkata: 'Dosa yang dilakukan oleh pelaku maksiat baru bisa melebur apabila ia memiliki kesempatan untuk melakukannya sebanyak sepuluh kali disertai syahwat yang benar-benar kuat, kemudian ia bersabar meninggalkannya dan mematahkan syahwatnya karena takut kepada Allah Ta'ala.' Penetapan syarat sedemikian rupa adalah jauh dari kelayakan, meskipun tidak dimungkiri besarnya pengaruh hal itu sekiranya diandaikan terjadi. Namun tidak sepatutnya bagi murid (penempuh jalan) yang lemah untuk menempuh jalan ini, dengan membiarkan syahwat bergejolak dan sarana-sarananya hadir hingga ia memiliki kesempatan lalu berharap sanggup menahan diri; sebab tidak ada jaminan kendali syahwat tidak keluar dari ikhtiarnya sehingga ia terperosok ke dalam maksiat dan merusak tobatnya. Melainkan jalannya adalah lari dari awal sebab-sebab yang mempermudahnya hingga ia menutup jalan-jalannya atas dirinya sendiri, seraya berusaha bersamaan dengan itu untuk mematahkan syahwatnya sesuai kemampuannya. Maka dengan cara itulah tobatnya akan selamat pada permulaannya.

اختياره فيقدم على المعصية وينقض توبته بل طريقها الفرار من ابتداء أسبابه الميسرة له حتى يسد طرقها على نفسه ويسعى مع ذلك في كسر شهوته بما يقدر عليه فبه تسلم توبته في الابتداء

…ikhtiarnya sehingga ia terjerumus ke dalam maksiat dan merusak tobatnya. Melainkan jalan baginya adalah lari dari sejak awal sebab-sebab yang mempermudahnya hingga ia menutup jalan-jalan tersebut atas dirinya, seraya berusaha bersamaan dengan itu untuk mematahkan syahwatnya dengan apa yang ia sanggupi. Maka dengan cara itulah tobatnya akan selamat pada permulaannya.

الطَّبَقَةُ الثَّانِيَةُ تَائِبٌ سَلَكَ طَرِيقَ الِاسْتِقَامَةِ فِي أُمَّهَاتِ الطَّاعَاتِ وَتَرَكَ كَبَائِرَ الْفَوَاحِشِ كُلَّهَا إِلَّا أَنَّهُ لَيْسَ يَنْفَكُّ عَنْ ذُنُوبٍ تَعْتَرِيهِ لَا عن عمد وتجريد قصد وَلَكِنْ يُبْتَلَى بِهَا فِي مَجَارِي أَحْوَالِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُقَدِّمَ عَزْمًا عَلَى الْإِقْدَامِ عَلَيْهَا وَلَكِنَّهُ كُلَّمَا أَقْدَمَ عَلَيْهَا لَامَ نَفْسَهُ وَنَدِمَ وَتَأَسَّفَ وَجَدَّدَ عَزْمَهُ عَلَى أَنْ يَتَشَمَّرَ لِلِاحْتِرَازِ مِنْ أَسْبَابِهَا الَّتِي تُعَرِّضُهُ لَهَا وَهَذِهِ النَّفْسُ جَدِيرَةٌ بِأَنْ تَكُونَ هِيَ النَّفْسُ اللَّوَّامَةُ إِذْ تلوم صاحبها على ما تستهدف لَهُ مِنَ الْأَحْوَالِ الذَّمِيمَةِ لَا عَنْ تَصْمِيمِ عزم وتخمين رأي وَقَصْدٍ وَهَذِهِ أَيْضًا رُتْبَةٌ عَالِيَةٌ وَإِنْ كَانَتْ نَازِلَةً عَنِ الطَّبَقَةِ الْأُولَى وَهِيَ أَغْلَبُ أَحْوَالِ التَّائِبِينَ لِأَنَّ الشَّرَّ مَعْجُونٌ بِطِينَةِ الْآدَمِيِّ قَلَّمَا يَنْفَكُّ عَنْهُ وَإِنَّمَا غَايَةُ سَعْيِهِ أَنْ يَغْلِبَ خَيْرُهُ شَرَّهُ حَتَّى يَثْقُلَ مِيزَانُهُ فَتَرْجَحُ كِفَّةُ الْحَسَنَاتِ فَأَمَّا أَنْ تَخْلُوَ بِالْكُلِّيَّةِ كِفَّةُ السَّيِّئَاتِ فَذَلِكَ فِي غَايَةِ الْبُعْدِ وَهَؤُلَاءِ لَهُمْ حُسْنُ الوعد من الله تعالى إِذْ قَالَ تَعَالَى الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ فَكُلُّ إِلْمَامٍ يَقَعُ بِصَغِيرَةٍ لَا عَنْ تَوْطِينِ نَفْسِهِ عَلَيْهِ فَهُوَ جَدِيرٌ بِأَنْ يَكُونَ مِنَ اللَّمَمِ الْمَعْفُوِّ عَنْهُ قَالَ تَعَالَى وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فاستغفروا لذنوبهم فَأَثْنَى عَلَيْهِمْ مَعَ ظُلْمِهِمْ لِأَنْفُسِهِمْ لِتَنَدُّمِهِمْ وَلَوْمِهِمْ أنفسهم عليه وإلى مثل هذه الرتبة الإشارة بقوله ﷺ فيما رواه عنه علي كرم الله وجهه خياركم كل مفتن تواب وفي خبر آخر المؤمن كالسنبلة يفيء أحياناً ويميل أحياناً وَفِي الْخَبَرِ لَا بُدَّ لِلْمُؤْمِنِ مِنْ ذَنْبٍ يأتيه الفينة بعد الفينة أي الحين بعد الحين فَكُلُّ ذَلِكَ أَدِلَّةٌ قَاطِعَةٌ عَلَى أَنَّ هَذَا القدر لا ينفض التوبة ولا يلحق صاحبها بدرجة المصرين ومن يؤيس مثل هذا عن درجة التائبين كالطبيب الذي يؤيس الصحيح عن دوام الصحة بما يتناوله من الفواكه والأطعمة الحارة مرة بعد أخرى من غير مداومة واستمرار وكالفقيه الذي يؤيس المتفقه عن نيل درجة الفقهاء بفتوره عن التكرار والتعليق في أوقات نادرة غير متطاولة ولا كثيرة وذلك يدل على نقصان الطبيب والفقيه بل الفقيه في الدين هو الذي لا يؤيس الخلق عن درجات السعادات بما يتفق لهم من الفترات ومقارفة السيئات المختطفات قال النبي ﷺ كل بنى آدم خطاءون وخير الخطائين التوابون المستغفرون وَقَالَ تَعَالَى أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صبروا ويدرءون بالحسنة السيئة فما وصفهم بعدم السيئة أصلاً

Tingkatan Kedua: Seorang yang bertobat yang menempuh jalan istikamah dalam pokok-pokok ketaatan dan meninggalkan seluruh dosa-dosa besar yang keji, hanya saja ia tidak terlepas dari dosa-dosa yang menimpanya bukan karena sengaja dan bulatnya niat, melainkan ia diuji dengannya dalam alur perjalanan kondisinya tanpa didahului tekad untuk melakukannya. Namun setiap kali ia melakukannya, ia mencela dirinya, menyesal, berduka, dan memperbarui tekadnya untuk bersiap siaga menjaga diri dari sebab-sebab yang mengarahkannya pada dosa tersebut. Jiwa ini sangat layak menjadi An-Nafsul Lawwamah (jiwa yang amat menyesali diri), karena ia mencela pemiliknya atas kondisi-kondisi tercela yang menimpanya tanpa ketetapan tekad, kecenderungan pandangan, maupun niat yang disengaja. Ini juga merupakan derajat yang tinggi, meskipun berada di bawah tingkatan pertama, dan ini adalah kondisi mayoritas orang-orang yang bertobat. Sebab kejahatan itu telah adonannya menyatu dengan tanah liat manusia, sehingga jarang sekali manusia terlepas darinya; dan puncak kesungguhan manusia adalah agar kebaikannya mengalahkan kejahatannya hingga timbangan kebaikannya menjadi berat dan mengungguli kepingan kejahatan. Adapun kepingan kejahatan menjadi kosong secara keseluruhan, maka hal itu sangat jauh dari kenyataan. Mereka ini mendapatkan janji yang indah dari Allah Ta'ala ketika Dia berfirman: '(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya.' (QS. An-Najm: 32). Maka setiap keterlanjuran yang terjadi berupa dosa kecil tanpa penataan jiwa atasnya, layak menjadi bagian dari al-lamam (kesalahan kecil) yang diampuni. Allah Ta'ala berfirman: 'Dan (juga) orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka.' (QS. Ali 'Imran: 135). Maka Allah memuji mereka bersamaan dengan kezaliman mereka terhadap diri sendiri, karena penyesalan dan celaan mereka terhadap diri sendiri atas dosa tersebut. Ke tingkatan seperti inilah isyarat sabda Nabi ﷺ dalam riwayat Ali Karramallahu Wajhah: 'Sebaik-baik kalian adalah setiap orang yang diuji (dengan dosa) lalu sering bertobat.' Dalam riwayat lain: 'Seorang mukmin itu bagaikan tangkai gandum; sesekali berdiri tegak dan sesekali miring.' Dan dalam riwayat lain: 'Pasti ada saja dosa yang menghampiri seorang mukmin dari waktu ke waktu (yakni dari satu saat ke saat lain).' Semua ini adalah dalil-dalil yang tegas bahwa kadar kesalahan seperti ini tidak merusak tobat dan tidak memasukkan pelakunya ke dalam derajat orang-orang yang terus-menerus berbuat dosa (al-mushirrin). Orang yang membuat putus asa orang seperti ini dari derajat orang-orang yang bertobat adalah seperti dokter yang membuat orang sehat putus asa dari kelangsungan kesehatannya hanya karena ia mengonsumsi buah-buahan atau makanan panas sesekali tanpa terus menerus; atau seperti ahli fiqih yang membuat penuntut ilmu putus asa dari meraih derajat para fuqaha hanya karena ia mengalami kelesuan (futur) dalam mengulang dan mengulas pelajaran pada waktu-waktu langka yang tidak lama dan tidak sering. Hal itu menunjukkan kekurangan sang dokter dan sang ahli fiqih. Justru ahli fiqih dalam agama yang sejati adalah orang yang tidak membuat makhluk putus asa dari derajat-derajat kebahagiaan akibat kelesuan dan perbuatan dosa terlanjur yang sesekali terjadi pada mereka. Nabi ﷺ bersabda: 'Setiap anak Cucu Adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertobat dan memohon ampunan.' Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Mereka itulah orang-orang yang diberi pahala dua kali lipat atas kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan.' (QS. Al-Qashash: 54). Maka Allah tidak menyifati mereka dengan ketiadaan kejahatan sama sekali.

الطَّبَقَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَتُوبَ وَيَسْتَمِرَّ عَلَى الِاسْتِقَامَةِ مدة ثم تغلبه الشهوات فى بعضالذنوب فيقدم عليها عن صدق وقصد شهوة لِعَجْزِهِ عَنْ قَهْرِ الشَّهْوَةِ إِلَّا أَنَّهُ مَعَ ذَلِكَ مُوَاظِبٌ عَلَى الطَّاعَاتِ وَتَارِكٌ جُمْلَةً مِنَ الذنوب مع القدرة والشهوة وإنما قهرته هذه الشهوة الواحدة أو الشهوتان وهو يود لو أقدره الله تعالى على قمعها وكفاه شرها هذا أمنيته في حال قضاء الشهوة عند الْفَرَاغِ يَتَنَدَّمُ وَيَقُولُ لَيْتَنِي لَمْ أَفْعَلْهُ وَسَأَتُوبُ عنه وأجاهد نفسى

Tingkatan Ketiga: Seseorang bertobat dan berlanjut di atas keistikamahan selama suatu kurun waktu, kemudian syahwat mengalahkannya pada sebagian dosa sehingga ia melakukannya dengan kesengajaan dan niat pelampiasan syahwat karena kelemahannya dalam menundukkan syahwat tersebut. Namun demikian, ia tetap tekun menjalankan ketaatan-ketaatan dan meninggalkan sebagian besar dosa-dosa lain padahal ia memiliki kemampuan dan syahwat untuk melakukannya; hanyasanya ia dikalahkan oleh satu atau dua syahwat ini saja, padahal ia sangat berharap sekiranya Allah Ta'ala memberinya kemampuan untuk mematahkan dan mencukupkannya dari kejahatannya. Inilah angan-angannya saat melampiaskan syahwat. Namun setelah selesai, ia merasa sangat menyesal dan berkata: 'Aduhai, sekiranya aku tidak melakukannya, dan aku akan bertobat darinya serta memujaahadahi diriku…

في قهرها لكنه تسول نفسه ويسوف توبته مرة بعد أخرى ويوماً بَعْدَ يَوْمٍ فَهَذِهِ النَّفْسُ هِيَ الَّتِي تُسَمَّى النَّفْسُ الْمُسَوِّلَةُ وَصَاحِبُهَا مِنَ الَّذِينَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِمْ وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صالحاً وآخر سيئاً فَأَمْرُهُ مِنْ حَيْثُ مُوَاظَبَتِهُ عَلَى الطَّاعَاتِ وَكَرَاهَتُهُ لِمَا تَعَاطَاهُ مَرْجُوٌّ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ وَعَاقِبَتُهُ مَخَطَّرَةٌ مِنْ حَيْثُ تَسْوِيفُهُ وَتَأْخِيرُهُ فربما بختطف قبل التوبة ويقع أمره في المشيئة فإن تداركه الله بفضله وجبر كسره وامتن عليه بالتوبة التحق بالسابقين وإن غلبته شقوته وقهرته شهوته فيخشى أن يحق عليه في الخاتمة ما سبق عليه من القول في الأزل لأنه مهما تعذر على المتفقه مثلاً الاحتراز عن شواغل التعلم دل تعذره على أنه سبق له في الأزل أن يكون من الجاهلين فيضعف الرجاء في حقه وإذا يسرت له أسباب المواظبة على التحصيل دل على أنه سبق له في الأزل أن يكون من جملة العالمين فكذلك ارتباط سعادات الآخرة ودركاتها بالحسنات والسيئات بحكم تقدير مسبب الأسباب كارتباط المرض والصحة بتناول الأغذية والأدوية وارتباط حصول فقه النفس الذي به تستحق المناصب العلية في الدنيا بترك الكسل والمواظبة على تفقيه النفس فكما لا يصلح لمنصب الرياسة والقضاء والتقدم بالعلم إلا نفس صارت فقيهة بطول التفقيه فلا يصلح لملك الآخرة ونعيمها ولا القرب من رب العالمين إلا قلب سليم صار طاهراً بطول التزكية والتطهير هكذا سبق في الأزل بتدبير رب الأرباب ولذلك قال تعالى ونفس وما سواها فألهمها فجورها وتقواها قد أفلح من زكاها وقد خاب من دساها فمهما وقع العبد في ذنب فصار الذنب نقداً والتوبة نسيئة كان هذا من علامات الخذلان قال ﷺ إن العبد ليعمل بعمل أهل الجنة سبعين سنة حتى يقول الناس إنه من أهلها ولا يبقى بينه وبين الجنة إلا شبر فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار فيدخلها فإذن الخوف من الخاتمة قبل التوبة وكل نفس فهو خاتمة ما قبله إذ يمكن أن يكون الموت متصلاً به فليراقب الأنفاس وإلا وقع في المحذور ودامت الحسرات حين لا ينفع التحسر

…dalam menundukkannya.' Akan tetapi jiwanya membujuknya dan ia menunda-nunda tobatnya berkali-kali dan hari demi hari. Jiwa seperti inilah yang dinamakan An-Nafsul Musawwilah (jiwa yang suka membujuk dan menunda-nunda), dan pelakunya termasuk orang-orang yang firman Allah Ta'ala berlaku atas mereka: 'Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk.' (QS. At-Tawbah: 102). Maka urusannya ditinjau dari ketekunannya dalam ketaatan dan kebenciannya terhadap apa yang dilakukannya adalah diharapkan, 'mudah-mudahan Allah menerima tobatnya'. Namun kesudahannya berada dalam risiko bahaya yang besar ditinjau dari penundaan dan pengakhirannya; sebab boleh jadi ia diwafatkan secara tiba-tiba sebelum bertobat sehingga urusannya jatuh ke dalam kehendak Allah (masyi'ah). Jika Allah merengkuhnya dengan karunia-Nya, menyambung keretakannya, dan memberi anugerah tobat kepadanya, maka ia akan menyusul orang-orang yang mendahului (as-sabiqun). Namun jika kecelakaannya menguasai dirinya dan syahwatnya mengalahkannya, dikhawatirkan akan berlaku atasnya pada saat su'ul khatimah apa yang telah terdahulu dalam ketetapan azali atas dirinya. Sebab betapa pun sulitnya bagi seorang penuntut ilmu fiqih misalnya untuk menjaga diri dari kesibukan yang menghambat belajar, kesulitannya itu menunjukkan bahwa telah terdahulu dalam ketetapan azali ia menjadi bagian dari orang-orang bodoh, sehingga melemahlah harapan bagi dirinya. Sebaliknya, jika dipermudah baginya sebab-sebab ketekunan meraih ilmu, itu menunjukkan bahwa telah terdahulu dalam ketetapan azali ia menjadi bagian dari jajaran ulama. Demikian pula keterkaitan kebahagiaan-kebahagiaan akhirat dan tingkatan-tingkatan siksaannya dengan kebaikan dan kejahatan berdasarkan takdir dari Sang Pengatur segala sebab, adalah seperti keterkaitan sakit dan sehat dengan konsumsi makanan serta obat-obatan; dan keterkaitan diperolehnya fiqih jiwa yang dengannya seseorang berhak meraih kedudukan-kedudukan tinggi di dunia dengan meninggalkan kemalasan dan tekun mendalami ilmu. Sebagaimana tidak layak menduduki kepemimpinan, peradilan, dan keutamaan ilmu kecuali jiwa yang telah menjadi fuqaha melalui panjangnya proses belajar, maka tidak layak pula bagi kerajaan akhirat, kenikmatannya, dan kedekatan dengan Rabb semesta alam kecuali hati yang selamat (qalb salim) yang telah menjadi suci melalui panjangnya penyucian (tazkiyah) dan pembersihan. Demikianlah yang telah berlaku dalam ketetapan azali melalui pengaturan Rabb Segala Penguasa. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: 'Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.' (QS. Asy-Syams: 7-10). Maka kapan pun hamba terperosok ke dalam dosa lalu dosa itu menjadi tunai sedangkan tobat menjadi penundaan (kredit), ini merupakan bagian dari tanda-tanda kehinaan (khidzlan). Nabi ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya seorang hamba benar-benar melakukan amalan penghuni surga selama tujuh puluh tahun hingga orang-orang mengatakan bahwa ia termasuk penghuni surga, dan tidak ada jarak antara dirinya dan surga melainkan sehasta, lalu ketetapan Takdir mendahuluinya sehingga ia melakukan amalan penghuni neraka lalu memasukinya.' Oleh karena itu, ketakutan akan kesudahan umur (khatimah) adalah sebelum bertobat; dan setiap hembusan napas merupakan kesudahan bagi napas sebelumnya, karena ada kemungkinan kematian menyatu dengannya. Maka hendaklah seseorang mengawasi hembusan-hembusan napasnya, jika tidak, ia akan jatuh ke dalam perkara yang ditakuti dan berlanjutlah penyesalan-penyesalan pada saat penyesalan tidak lagi berguna.

الطَّبَقَةُ الرَّابِعَةُ أَنْ يَتُوبَ وَيَجْرِيَ مُدَّةً عَلَى الاستقامة ثم يعود إلى مقارفة الذنب أو الذنوب مِنْ غَيْرِ أَنْ يُحَدِّثَ نَفْسَهُ بِالتَّوْبَةِ وَمِنْ غَيْرِ أَنْ يَتَأَسَّفَ عَلَى فِعْلِهِ بَلْ يَنْهَمِكُ انْهِمَاكَ الْغَافِلِ فِي اتِّبَاعِ شَهَوَاتِهِ فَهَذَا مِنْ جُمْلَةِ الْمُصِرِّينَ وَهَذِهِ النَّفْسُ هِيَ النَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ الْفَرَّارَةُ مِنَ الْخَيْرِ وَيُخَافُ عَلَى هَذَا سوء الخاتمة وأمره في مشيئة الله فإن ختم له بالسوء شقي شقاوة لا آخر لها وإن ختم له بالحسنى حتى مات على التوحيد فينتظر له الخلاص من النار ولو بعد حين ولا يستحيل أن يشمله عموم العفو بسبب خفي لا تطلع عليه كما لا يستحل أن يدخل الإنسان خراباً ليجد كنزاً فيتفق أن يجده وأن يجلس في البيت ليجعله الله عالماً بالعلوم من غير تعلم كما كان الأنبياء صلوات الله عليهم فَطَلَبُ الْمَغْفِرَةِ بِالطَّاعَاتِ كَطَلَبِ الْعِلْمِ بِالْجُهْدِ وَالتَّكْرَارِ وطلب المال بالتجارة وركوب البحار وطلبها بمجرد الرجاء مع خراب الأعمال كطلب الكنور في المواضع الخربة وطلب العلوم من تعليم الملائكة وليت من اجتهد تعلم وليت من اتجر استغنى وليت من صام وصلى غفر له فالناس كلهم محرومون إلا العالمون والعالمون كلهم محرومون إلا العاملون والعاملون كلهم محرومون إلا المخلصون والمخلصون على خطر عظيم وكما أَنَّ مَنْ خَرَّبَ بَيْتَهُ وَضَيَّعَ مَالَهُ وَتَرَكَ نَفْسَهُ وَعِيَالَهُ جِيَاعًا يَزْعُمُ أَنَّهُ يَنْتَظِرُ فَضْلَ اللَّهِ بِأَنْ يَرْزُقَهُ كَنْزًا يَجِدُهُ تَحْتَ الْأَرْضِ في بيته الخرب يعد عنه ذوي البصائر من الحمقى والمغرورين وإن كان ما ينتظره غير مستحيل في قدرة الله تعالى وفضله فكذلك من ينتظر

Tingkatan keempat: Seseorang bertobat dan berjalan dalam jangka waktu tertentu di atas keistiqamahan, kemudian ia kembali melakukan dosa atau dosa-dosa tanpa ada bisikan dalam jiwanya untuk bertobat dan tanpa merasa menyesal atas perbuatannya. Bahkan, ia tenggelam sebagaimana tenggelamnya orang yang lalai dalam mengikuti hawa nafsunya. Maka orang ini termasuk golongan orang-orang yang terus-menerus berbuat dosa (mushirrin). Jiwa ini adalah nafs al-ammarah bis-su' (jiwa yang senantiasa menyuruh kepada kejahatan) dan lari dari kebaikan. Dikhawatirkan bagi orang ini akan mengalami su'ul khatimah (akhir kehidupan yang buruk). Urusannya berada di bawah kehendak Allah; jika diakhiri baginya dengan keburukan, maka ia akan celaka dengan kecelakaan yang tidak ada akhirnya. Namun jika diakhiri baginya dengan kebaikan (husnul khatimah) hingga ia wafat dalam keadaan tauhid, maka dinantikan baginya keselamatan dari neraka meskipun setelah beberapa waktu. Tidaklah mustahil bahwa ia diliputi oleh keumuman ampunan Allah karena sebab tersembunyi yang tidak engkau ketahui, sebagaimana tidaklah mustahil seorang manusia memasuki tempat reruntuhan lalu menemukan harta karun dan kebetulan menemukannya, atau ia duduk di rumah lalu Allah menjadikannya seorang yang alim dengan berbagai ilmu tanpa belajar sebagaimana para nabi—shalawatullah 'alaihim. Maka menuntut ampunan dengan ketaatan adalah seperti menuntut ilmu dengan kesungguhan dan pengulangan belajar, serta menuntut harta dengan perdagangan dan mengarungi lautan. Sedangkan menuntut ampunan sekadar dengan raja' (harapan) beserta rusaknya amal perbuatan adalah seperti mencari harta karun di tempat-tempat runtuh dan menuntut ilmu dari pengajaran para malaikat. Padahal alangkah baiknya jika orang yang bersungguh-sungguh itu bisa belajar, alangkah baiknya jika orang yang berdagang bisa menjadi kaya, dan alangkah baiknya jika orang yang berpuasa dan shalat diampuni dosanya! Maka manusia semuanya terhalang (merugi) kecuali orang-orang yang berilmu; orang-orang yang berilmu semuanya merugi kecuali orang-orang yang beramal; orang-orang yang beramal semuanya merugi kecuali orang-orang yang ikhlas (mukhlishun); dan orang-orang yang ikhlas berada dalam bahaya yang besar. Sebagaimana orang yang merusak rumahnya, menyia-nyiakan hartanya, serta membiarkan dirinya dan keluarganya dalam kelaparan seraya mengklaim bahwa ia menanti karunia Allah berupa rezeki harta karun yang ia temukan di bawah tanah rumahnya yang runtuh, dianggap oleh orang-orang yang memiliki mata hati (ulul bashair) sebagai orang bodoh dan tertipu (terpedaya), meskipun apa yang ditunggunya itu tidaklah mustahil dalam kekuasaan dan karunia Allah Ta'ala. Demikian pula orang yang menantikan…

المغفرة من فضل الله تعالى وهو مقصر عن الطاعة مصر على الذنوب غير سالك سبيل المغفرة يعد عند أرباب القلوب من المعتوهين وَالْعَجَبُ مِنْ عَقْلِ هَذَا الْمَعْتُوهِ وَتَرْوِيجِهِ حَمَاقَتَهُ في صيغة حسنة إِذْ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ كِرِيمٌ وَجَنَّتُهُ لَيْسَتْ تَضِيقُ عَلَى مِثْلِي وَمَعْصِيَتِي لَيْسَتْ تَضُرُّهُ ثُمَّ تَرَاهُ يَرْكَبُ الْبِحَارَ وَيَقْتَحِمُ الْأَوْعَارَ فِي طَلَبِ الدِّينَارِ وَإِذَا قِيلَ لَهُ إِنَّ اللَّهَ كِرِيمٌ ودنانير خزائنه لَيْسَتْ تَقْصُرُ عَلَى فَقْرِكَ وَكَسَلُكَ بِتَرْكِ التِّجَارَةِ لَيْسَ يَضُرُّكَ فَاجْلِسْ فِي بَيْتِكَ فَعَسَاهُ يَرْزُقُكَ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ فَيَسْتَحْمِقُ قَائِلَ هَذَا الكلام ويستهزىء بِهِ وَيَقُولُ مَا هَذَا الْهَوَسُ السَّمَاءُ لَا تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلَا فِضَّةً وَإِنَّمَا يُنَالُ ذَلِكَ بِالْكَسْبِ وَهَكَذَا قَدَّرَهُ مُسَبِّبُ الْأَسْبَابِ وَأَجْرَى بِهِ سُنَّتَهُ وَلَا تَبْدِيلَ لِسُنَّةِ اللَّهِ وَلَا يَعْلَمُ الْمَغْرُورُ أَنَّ رَبَّ الْآخِرَةِ وَرَبَّ الدُّنْيَا وَاحِدٌ وأن سنته لَا تَبْدِيلَ لَهَا فِيهِمَا جَمِيعًا وَأَنَّهُ قَدْ أَخْبَرَ إِذْ قَالَ وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا ما سعى فكيف يعتقد أنه كريم في الآخرة وليس بكريم في الدنيا وكيف يقول ليس مقتضى الكرم الفتور عن كسب المال ومقتضاه الفتور عن العمل للملك لذلك المقيم والنعيم الدائم وأن ذلك بحكم الكرم يعطيه من غير جهد في الآخرة وهذا يمنعه مع شدة الاجتهاد في غالب الأمر في الدنيا وينسى قوله تعالى وفي السماء رزقكم وما توعدون فنعوذ بالله من العمى والضلال فما هذا إلا انتكاس على أم الرأس وانغماس في ظلمات الجهل وصاحب هذا جدير بأن يكون داخلاً تحت قوله تعالى ولو ترى إذ المجرمون ناكسو رءوسهم عند ربهم ربنا أبصرنا وسمعنا فأرجعنا نعمل صالحاً أي أبصرنا أنك صدقت إذ قلت وأن ليس للإنسان إلا ما سعى فأرجعنا نسعى وعند ذلك لا يمكن من الانقلاب ويحق عليه العذاب فنعوذ بالله من دواعي الجهل والشك والارتياب السائق بالضرور إلى سوء المنقلب والمآب

…ampunan dari karunia Allah Ta'ala sedangkan ia lalai dalam ketaatan, terus-menerus melakukan dosa, dan tidak menempuh jalan ampunan, dianggap di sisi pemilik mata hati (arbabul qulub) sebagai orang yang terganggu akalnya. Sungguh mengherankan akal orang yang terganggu ini dan penjelasannya atas kebodohannya dalam bentuk yang indah, ketika ia berkata, "Sesungguhnya Allah Maha Pemurah, dan surga-Nya tidaklah sempit bagi orang seperti aku, serta kemaksiatanku tidaklah memberi mudarat bagi-Nya." Kemudian engkau melihatnya mengarungi lautan dan menerjang medan yang sukar demi mencari dinar (harta). Dan jika dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya Allah Maha Pemurah, dan dinar-dinar di perbendaharaan-Nya tidaklah berkurang karena kemiskinanmu, serta kemalasanmu dengan meninggalkan perdagangan tidaklah memberi mudarat bagi-Nya, maka duduklah di rumahmu, semoga Dia memberimu rezeki dari arah yang tidak engkau sangka-sangka," niscaya ia menganggap bodoh orang yang mengucapkan perkataan ini dan memperoloknya seraya berkata, "Omong kosong apa ini? Langit tidak akan menurunkan hujan emas maupun perak! Hal itu hanya bisa diperoleh dengan usaha (kasb), dan demikianlah Takdir dari Sang Pencipta Sebab (Musabbibul Asbab) serta Sunnah-Nya yang telah berlaku, dan tidak ada perubahan bagi Sunnah Allah!" Orang yang tertipu itu tidak mengetahui bahwa Tuhan akhirat dan Tuhan dunia adalah Satu, dan bahwa Sunnah-Nya tidak mengalami perubahan pada keduanya sekaligus. Dia telah memberitahukan ketika berfirman: "Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya." Lantas bagaimana ia meyakini bahwa Allah Maha Pemurah di akhirat tetapi tidak Maha Pemurah di dunia? Dan bagaimana ia mengatakan bahwa tuntutan kemurahan-Nya bukanlah berpangku tangan dari mencari harta, sementara tuntutan kemurahan-Nya adalah berpangku tangan dari beramal untuk Kerajaan yang kekal dan kenikmatan yang abadi, serta bahwasanya berdasarkan hukum kemurahan itu Dia memberikannya tanpa kesungguhan di akhirat, padahal Dia menghalanginya dari hal itu meskipun dengan kesungguhan yang sangat dalam kebanyakan perkara di dunia? Ia melupakan firman-Nya Ta'ala: "Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu." Kita berlindung kepada Allah dari kebutaan hati dan kesesatan. Ini tidak lain adalah jungkir balik di atas kepala dan tenggelam dalam kegelapan kebodohan. Orang yang memiliki sifat ini patut menjadi bagian dari firman-Nya Ta'ala: "Dan sekiranya engkau melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), 'Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan,'" yaitu kami telah melihat bahwa Engkau benar ketika berfirman: "Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya," maka kembalikanlah kami agar kami berusaha. Namun pada saat itu, tidak mungkin baginya untuk kembali dan azab dipastikan atasnya. Maka kita berlindung kepada Allah dari dorongan-dorongan kebodohan, keraguan, dan prasangka yang secara pasti mengiring kepada tempat kembali dan kesudahan yang buruk.

بيان ما ينبغي أن يبادر إليه التائب إن جَرَى عَلَيْهِ ذَنْبٌ إِمَّا عَنْ قَصْدٍ وَشَهْوَةٍ

Penjelasan tentang Apa yang Seyogianya Segera Dilakukan oleh Orang yang Bertobat jika Terjadi Dosa padanya, Baik karena Kesengajaan dan Hawa Nafsu

غالبة أو عن إلمام بحكم الاتفاق

yang Menguasai, atau karena Terperosok secara Tidak Sengaja (Kebetulan).

اعلم أن الواجب عليه التوبة والندم والاشتغال بالتكفير بحسنة تضاده كما ذكرنا طريقه فَإِنْ لَمْ تُسَاعِدْهُ النَّفْسُ عَلَى الْعَزْمِ عَلَى التَّرْكِ لِغَلَبَةِ الشَّهْوَةِ فَقَدْ عَجَزَ عَنْ أَحَدِ الْوَاجِبَيْنِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَتْرُكَ الْوَاجِبَ الثَّانِيَ وهو أن يدرأ بالحسنة السيئة ليمحوها فَيَكُونَ مِمَّنْ خَلَطَ عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا فَالْحَسَنَاتُ الْمُكَفِّرَةُ لِلسَّيِّئَاتِ إِمَّا بِالْقَلْبِ وَإِمَّا بِاللِّسَانِ وَإِمَّا بِالْجَوَارِحِ وَلْتَكُنِ الْحَسَنَةُ فِي مَحَلِّ السَّيِّئَةِ وَفِيمَا يَتَعَلَّقُ بِأَسْبَابِهَا

Ketahuilah bahwasanya yang wajib atasnya adalah bertobat, menyesal, dan sibuk melakukan penebusan dosa (takfir) dengan kebaikan yang menandinginya sebagaimana telah kami sebutkan jalurnya. Jika jiwanya tidak membantunya untuk bertekad bulat meninggalkannya karena besarnya gejolak hawa nafsu, maka ia telah lemah dari salah satu dari dua kewajiban tersebut. Maka tidak seyogianya ia meninggalkan kewajiban yang kedua, yaitu menghapus keburukan dengan kebaikan agar kebaikan itu menghapuskannya, sehingga ia termasuk orang yang mencampuradukkan amal yang saleh dan amal lain yang buruk. Kebaikan-kebaikan yang menghapuskan keburukan-keburukan itu adakala dengan hati, adakala dengan lisan, atau adakala dengan anggota badan. Hendaklah kebaikan itu berada pada tempat keburukan dan pada hal-hal yang berkaitan dengan sebab-sebabnya.

فَأَمَّا بِالْقَلْبِ فَلْيُكَفِّرْهُ بِالتَّضَرُّعِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي سُؤَالِ الْمَغْفِرَةِ وَالْعَفْوِ ويتذلل تذلل العبد الآبق ويكون ذله بحيث يظهر لسائر العباد وذلك بنقصان كبره فيما بينهم فما للعبد الآبق المذنب وجه للتكبر على سائر الْعِبَادِ وَكَذَلِكَ يُضْمِرُ بِقَلْبِهِ الْخَيْرَاتِ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْعَزْمَ عَلَى الطَّاعَاتِ

Adapun dengan hati, maka hendaklah ia menebusnya dengan merendahkan diri (tadhambu') kepada Allah Ta'ala dalam memohon ampunan dan pemaafan, serta menghinakan diri seperti hinanya hamba sahaya yang melarikan diri (abaq). Kehinaannya itu hendaknya tampak bagi seluruh hamba, yaitu dengan mengikis kesombongannya di antara mereka. Sebab, tidak ada alasan bagi hamba sahaya yang kabur dan berdosa untuk bersikap sombong terhadap hamba-hamba lainnya. Demikian pula, ia menyembunyikan dalam hatinya niat-niat kebaikan bagi kaum muslimin serta tekad bulat untuk melakukan ketaatan-ketaatan.

وَأَمَّا بِاللِّسَانِ فَبِالِاعْتِرَافِ بِالظُّلْمِ وَالِاسْتِغْفَارِ فَيَقُولُ رَبِّ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَعَمِلْتُ سُوءًا فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَكَذَلِكَ يُكْثِرُ مِنْ ضُرُوبِ الِاسْتِغْفَارِ كما أوردناه في كتاب الدعوات والأذكار

Adapun dengan lisan, maka dengan mengakui kezaliman diri dan beristigfar. Ia mengucapkan, "Wahai Tuhanku, aku telah menzalimi diriku sendiri dan telah berbuat kejahatan, maka ampunilah dosa-dosaku." Demikian pula ia memperbanyak berbagai macam istigfar sebagaimana telah kami muat dalam Kitab Doa dan Zikir (Kitab ad-Da'awat wa al-Adzkar).

وأما بالجوارح فبالطاعات والصدقات وأنواع العبادات وفي الآثار ما يدل على أن الذنب إذا اتبع بثمانية أعمال كان العفو عنه مرجواً أربعة من أعمال القلوب وهي التوبة أو العزم على التوبة وحب الإقلاع عن الذنب وتخوف العقاب عليه ورجاء المغفرة له وأربعة من أعمال الجوارح وهي أن تصلي عقيب الذنب ركعتين ثم تستغفر الله تعالى بعدهم سبعين مرة وتقول سبحان الله العظيم وبحمده مائة مرة ثم تتصدق بصدقة ثم تصوم

Adapun dengan anggota badan, maka dengan melakukan ketaatan, sedekah, dan pelbagai jenis ibadah. Dalam riwayat-riwayat atsar terdapat petunjuk bahwa dosa apabila diiringi dengan delapan amalan, maka ampunan atas dosa tersebut dapat diharapkan. Empat di antaranya adalah amalan hati, yaitu: tobat atau tekad untuk bertobat, menyukai lepas dari dosa, takut akan siksaan atas dosa tersebut, dan mengharapkan ampunan baginya. Dan empat lainnya adalah amalan anggota badan, yaitu: engkau shalat dua rakaat setelah melakukan dosa, kemudian engkau memohon ampun kepada Allah Ta'ala setelahnya sebanyak tujuh puluh kali, mengucapkan Subhanallahil 'Azhim wa bihamdih seratus kali, lalu bersedekah dengan suatu sedekah, kemudian berpuasa…

يوماً وفي بعض الآثار تسبغ الوضوء وتدخل المسجد وتصلى ركعتين وفى بعض الأخبار تصلي أربع ركعات وفى الخبر إذا عملت سيئة فأتبعها حسنة تكفرها السر بالسر والعلانية بالعلانية ولذلك قيل صدقة السر تكفر ذنوب الليل وصدقة الجهر تكفر ذنوب النهار وفي الخبر الصحيح أن رجلاً قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ إني عالجت امرأة فأصبت منها كل شىء إلا المسيس فاقض علي بحكم اللَّهِ تَعَالَى فَقَالَ ﷺ أو ما صليت معنا صلاة الغداة قال بلى فقال ﷺ أن الحسنات يذهبن السيئات وهذا يدل على أن ما دون الزنا من معالجة النساء صغيرة إذ جعل الصلاة كفارة له بمقتضى قوله ﷺ الصلوات الخمس كفارات لما بينهن إلا الكبائر فعلى الأحوال كلها ينبغي أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كُلَّ يَوْمٍ وَيَجْمَعَ سَيِّئَاتِهِ ويجتهد في دفعها بالحسنات

…selama sehari. Dalam sebagian riwayat atsar disebutkan: engkau menyempurnakan wudhu (isbaghul wudhu), memasuki masjid, dan shalat dua rakaat. Dalam sebagian hadis disebutkan shalat empat rakaat. Dalam sebuah hadis dinyatakan: "Jika engkau melakukan suatu keburukan, maka iringilah dengan kebaikan yang akan menghapuskannya; dosa yang tersembunyi dengan kebaikan yang tersembunyi, dan dosa yang terang-terangan dengan kebaikan yang terang-terangan." Oleh karena itu dikatakan: sedekah secara sembunyi-sembunyi menghapuskan dosa-dosa di malam hari, dan sedekah secara terang-terangan menghapuskan dosa-dosa di siang hari. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa seorang lelaki berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah memeluk/bercumbu dengan seorang wanita dan aku melakukan segalanya darinya kecuali bersetubuh, maka jatuhkanlah hukum Allah Ta'ala kepadaku." Rasulullah ﷺ bersabda, "Bukankah engkau telah shalat Shubuh bersama kami?" Ia menjawab, "Benar." Maka Beliau ﷺ bersabda, "Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghilangkan keburukan-keburukan." Ini menunjukkan bahwa perbuatan bersentuhan dengan wanita selain zina adalah dosa kecil, sebab Beliau menjadikan shalat sebagai penebus baginya berdasarkan sabda Beliau ﷺ, "Shalat lima waktu adalah penebus dosa-dosa di antara keduanya kecuali dosa-dosa besar." Maka dalam segala keadaan, hendaknya seseorang mengoreksi dirinya (muhasabah) setiap hari, mengumpulkan keburukan-keburukannya, dan bersungguh-sungguh menolaknya dengan kebaikan-kebaikan.

فإن قلت فكيف يكون الاستغفار نافعاً من غير حل عقدة الإصرار وفي الخبر المستغفر من الذنب وهومصر عليه كالمستهزىء بآيات الله وكان بعضهم يقول استغفر الله من قولي أستغفر الله وقيل الاستغفار باللسان توبة الكذابين وقالت رابعة العدوية استغفارنا يحتاج إلى استغفار كثير فاعلم أنه قد ورد في فضل الاستغفار أخبار خارجة عن الحصر ذكرناها في كتاب الأذكار والدعوات حتى قرن الله الاستغفار ببقاء الرسول ﷺ فقال تعالى وما كان الله ليعذبهم وأنت فيهم وما كان الله معذبهم وهم يستغفرون فكان بعض الصحابة يقول كان لنا أمانان ذهب أحدهما وهو كون الرسول فينا وبقي الاستغفار معنا فإن ذهب هلكنا فنقول الِاسْتِغْفَارَ الَّذِي هُوَ تَوْبَةُ الْكَذَّابِينَ هُوَ الِاسْتِغْفَارُ بِمُجَرَّدِ اللِّسَانِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونَ لِلْقَلْبِ فِيهِ شَرِكَةٌ كَمَا يَقُولُ الْإِنْسَانُ بِحُكْمِ الْعَادَةِ وَعَنْ رَأْسِ الْغَفْلَةِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَكَمَا يَقُولُ إِذَا سَمِعَ صِفَةَ النَّارِ نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَتَأَثَّرَ بِهِ قَلْبُهُ وَهَذَا يَرْجِعُ إِلَى مُجَرَّدِ حَرَكَةِ اللِّسَانِ وَلَا جَدْوَى لَهُ فَأَمَّا إِذَا انْضَافَ إِلَيْهِ تَضَرُّعُ الْقَلْبِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَابْتِهَالُهُ فِي سُؤَالِ الْمَغْفِرَةِ عَنْ صِدْقِ إِرَادَةٍ وَخُلُوصِ نِيَّةٍ وَرَغْبَةٍ فَهَذِهِ حَسَنَةٌ فِي نَفْسِهَا فَتَصْلُحُ لِأَنْ تُدْفَعَ بِهَا السَّيِّئَةُ وَعَلَى هَذَا تُحْمَلُ الْأَخْبَارُ الْوَارِدَةُ فِي فَضْلِ الِاسْتِغْفَارِ حَتَّى قَالَ ﷺ مَا أَصَرَّ مَنِ اسْتَغْفَرَ وَلَوْ عَادَ في اليوم سبعين مرة

Jika engkau bertanya: Bagaimana istigfar bisa bermanfaat tanpa melepaskan ikatan terus-menerus berbuat dosa (ishrar)? Padahal dalam hadis disebutkan: "Orang yang memohon ampun dari suatu dosa sementara ia terus-menerus melakukannya adalah seperti orang yang memperolok-olok ayat-ayat Allah." Dan sebagian ulama berkata, "Aku memohon ampun kepada Allah dari ucapanku 'Aku memohon ampun kepada Allah' (astaghfirullah)." Dikatakan pula: "Istigfar dengan lisan adalah tobatnya para pendusta." Robi'ah al-Adawiyah berkata, "Istigfar kita membutuhkan banyak istigfar." Ketahuilah bahwasanya telah diriwayatkan tentang keutamaan istigfar hadis-hadis yang tak terhitung jumlahnya, yang telah kami sebutkan dalam Kitab Zikir dan Doa, hingga Allah menyandingkan istigfar dengan keberadaan Rasulullah ﷺ, di mana Allah Ta'ala berfirman: "Dan Allah tidak akan mengazab mereka sedang engkau berada di antara mereka, dan tidaklah Allah akan mengazab mereka sedang mereka memohon ampunan." Sebagian sahabat berkata, "Dahulu kita memiliki dua pelindung dari azab: salah satunya telah pergi yaitu keberadaan Rasulullah di antara kita, dan yang tersisa bersama kita adalah istigfar. Jika ia hilang, niscaya kita binasa." Maka kami katakan: Istigfar yang merupakan tobatnya para pendusta adalah istigfar yang hanya sebatas lisan tanpa ada keikutsertaan hati di dalamnya, sebagaimana seseorang mengucapkannya karena kebiasaan dan berlandaskan kelalaian puncak, "Aku memohon ampun kepada Allah," dan sebagaimana ia mengucapkan ketika mendengar sifat Neraka, "Kita berlindung kepada Allah darinya," tanpa hatinya merasa tersentuh. Ini kembali kepada sekadar gerakan lisan dan tidak ada gunanya. Adapun jika disertai dengan perendahan diri (tadhambu') hati kepada Allah Ta'ala dan ketundukannya dalam memohon ampunan yang bersumber dari kesungguhan kehendak, kemurnian niat, dan kerinduan, maka ini adalah suatu kebaikan pada dirinya sendiri yang layak untuk menolak keburukan. Dan atas pemahaman inilah diartikan hadis-hadis yang datang mengenai keutamaan istigfar, hingga Beliau ﷺ bersabda: "Tidaklah dianggap terus-menerus berdosa orang yang telah memohon ampunan, meskipun ia kembali berbuat dosa dalam sehari sebanyak tujuh puluh kali." Ungkapan ini merujuk pada istigfar dengan hati. Tobat dan istigfar memiliki tingkatan-tingkatan, dan tingkatan awalnya tidak sepi dari manfaat meskipun belum sampai ke tingkatan akhirnya. Oleh karena itu, Sahl berkata: "Seorang hamba tidak boleh tidak dalam setiap keadaan membutuhkan Pelindungnya (Allah). Maka sebaik-baik keadaannya adalah ia kembali kepada-Nya dalam segala hal. Jika ia bermaksiat, ia berkata: 'Wahai Tuhanku, tutupilah keburukanku.' Jika ia telah selesai dari maksiat, ia berkata: 'Wahai Tuhanku, terimalah tobatku.' Jika ia telah bertobat, ia berkata: 'Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku pemeliharaan ('ishmah).' Dan jika ia telah beramal, ia berkata: 'Wahai Tuhanku, terimalah dariku.'" Sahl juga ditanya tentang istigfar yang dapat menghapuskan dosa-dosa, lalu ia menjawab: "Awal dari istigfar adalah istijabah (memenuhi panggilan Allah), kemudian inabah (kembali kepada Allah), lalu taubah (tobat). Istijabah adalah amalan anggota badan, inabah adalah amalan hati, sedangkan taubah adalah menghadapnya hamba kepada Pelindungnya dengan meninggalkan makhluk. Kemudian ia memohon ampun kepada Allah atas kelalaian yang ada padanya, dari ketidaktahuan akan nikmat, serta meninggalkan rasa syukur. Pada saat itulah ia diampuni dan ia memiliki tempat kediaman di sisi-Nya. Kemudian berpindah kepada infirad (kesendirian bersama Allah), lalu tsabat (ketetapan hati), lalu bayan (penjelasan), lalu fikr (pemikiran), lalu ma'rifah (makrifat), lalu munajah (bisikan mesra), lalu mushafah (kejernihan), lalu muwalah (kedekatan), lalu muhadatsatus-sirr (perbincangan rahasia) yaitu khullah (persahabatan karib). Dan hal ini tidak akan mantap di dalam hati seorang hamba hingga ilmu menjadi makanannya, zikir menjadi penopangnya, keridaan (ridha) menjadi bekalnya, dan tawakal menjadi temannya. Kemudian Allah memandangnya lalu mengangkatnya ke 'Arsy, sehingga kedudukannya menjadi kedudukan para pemikul 'Arsy." Beliau juga ditanya tentang sabda Rasulullah ﷺ: "Orang yang bertobat adalah kekasih Allah." Maka ia menjawab: "Ia baru menjadi kekasih jika padanya terdapat seluruh apa yang disebutkan dalam firman-Nya Ta'ala: "Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah…" hingga akhir ayat." Dan ia berkata: "Kekasih adalah orang yang tidak masuk ke dalam apa yang dibenci oleh Kekasihnya."

وهو عبارة عن الاستغفار بالقلب وللتوبة والاستغفار درجات وأوائلها لا تخلو عن الفائدة وإن لم تنته إلى أواخرها ولذلك قال سهل لا بد للعبد في كل حال من مولاه فأحسن أحواله أن يرجع إليه في كل شيء فإن عصى قال يا رب استر علي فإذا فرغ من المعصية قال يا رب تب علي فإذا تاب قال يا رب ارزقني العصمة وإذا عمل قال يا رب تقبل مني وسئل أيضاً عن الاستغفار الذي يكفر الذنوب فقال أول الاستغفار الاستجابة ثم الإنابة ثم التوبة فالاستجابة أعمال الجوارح والإنابة أعمال القلوب والتوبة إقباله على مولاه بأن يترك الخلق ثم يستغفر الله من تقصيره الذي هو فيه ومن الجهل بالنعمة وترك الشكر فعند ذلك يغفر له ويكون عنده مأواه ثم التنقل إلى الانفراد ثم الثبات ثم البيان ثم الفكر ثم المعرفة ثم المناجاة ثم المصافاة ثم الموالاة ثم محادثة السر وهو الخلة ولا يستقر هذا في قلب عبد حتى يكون العلم غذاءه والذكر قوامه والرضا زاده والتوكل صاحبه ثم ينظر الله إليه فيرفعه إلى العرش فيكون مقامه مقام حملة العرش وسئل أيضاً عن قوله ﷺ التائب حبيب الله فقال إنما يكون حبيباً إذا كان فيه جميع ما ذكر في قوله تعالى ﴿التائبون العابدون﴾ الآية وقال الحبيب هو الذي لا يدخل فيما يكرهه حبيبه

Hal itu merupakan ungkapan dari permohonan ampun (istighfar) dengan hati. Bagi taubat dan istighfar terdapat tingkatan-tingkatan; tingkatan-tingkatan awalnya tidaklah kosong dari manfaat meskipun belum mencapai tingkatan-tingkatan akhirnya. Oleh karena itu, Sahl berkata: Seorang hamba dalam setiap keadaan tidak boleh lepas dari Pelindungnya (Mawla-nya). Maka keadaan terbaiknya adalah dia kembali kepada-Nya dalam segala hal. Jika dia bermaksiat, dia berdoa: 'Wahai Tuhanku, tutupilah aibku.' Apabila dia selesai dari maksiat, dia berdoa: 'Wahai Tuhanku, terimalah taubatku.' Apabila dia bertaubat, dia berdoa: 'Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku pemeliharaan dari dosa (kesucian).' Dan apabila dia beramal, dia berdoa: 'Wahai Tuhanku, terimalah amalku.' Beliau juga ditanya tentang istighfar yang dapat menghapuskan dosa-dosa, lalu beliau menjawab: 'Awal dari istighfar adalah al-istijabah (menyambut seruan), kemudian al-inabah (kembali), lalu at-taubah (taubat). Al-istijabah adalah amal anggota badan, al-inabah adalah amal hati, dan at-taubah adalah menghadapnya hamba kepada Pelindungnya dengan berpaling dari makhluk. Kemudian dia memohon ampun kepada Allah atas kelalaian yang ada pada dirinya, atas ketahuannya terhadap nikmat, dan karena meninggalkan rasa syukur. Pada saat itulah dia diampuni dan tempat kembalikannya berada di sisi-Nya. Kemudian (perjalanan ruhani) berpindah menuju pengasingan diri (al-infirad), lalu keteguhan (at-tsabat), lalu kejelasan (al-bayan), lalu tafakur (al-fikr), lalu makrifat (al-ma'rifah), lalu bisikan mesra (al-munajah), lalu kemurnian jiwa (al-mushafah), lalu kesetiaan cinta (al-muwalah), hingga percakapan rahasia (muhadatsatus-sirr) yang merupakan kedudukan khillah (persahabatan karib). Hal ini tidak akan bersemayam di dalam hati seorang hamba hingga ilmu menjadi makanannya, dzikir menjadi penopang hidupnya, ridha menjadi bekalnya, dan tawakal menjadi pendampingnya. Kemudian Allah memandangnya lalu mengangkatnya ke 'Arsy, sehingga kedudukannya menjadi seperti kedudukan para malaikat pemikul 'Arsy.' Beliau juga ditanya tentang sabda Nabi ﷺ: 'Orang yang bertaubat adalah kekasih Allah,' lalu beliau menjawab: 'Ia hanya menjadi kekasih apabila terdapat pada dirinya seluruh apa yang disebutkan dalam firman Allah Ta'ala: ﴿Orang-orang yang bertaubat, yang beribadah…﴾ hingga akhir ayat. Dan beliau berkata: 'Kekasih itu adalah orang yang tidak melakukan apa yang dibenci oleh Kekasihnya.'

والمقصود إِنَّ لِلتَّوْبَةِ ثَمَرَتَيْنِ ﴿إِحْدَاهُمَا﴾ تَكْفِيرُ السَّيِّئَاتِ حَتَّى يَصِيرَ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ وَالثَّانِيَةُ نَيْلُ الدرجات حتى يصير حبيباً وَلِلتَّكْفِيرِ أَيْضًا دَرَجَاتٌ فَبَعْضُهُ مَحْوٌ لِأَصْلِ الذَّنْبِ بِالْكُلِّيَّةِ وَبَعْضُهُ تَخْفِيفٌ لَهُ وَيَتَفَاوَتُ ذَلِكَ بِتَفَاوُتِ دَرَجَاتِ التَّوْبَةِ فَالِاسْتِغْفَارُ بِالْقَلْبِ وَالتَّدَارُكُ بِالْحَسَنَاتِ وَإِنْ خلا عن حل عقدة الإصرار من أوائل الدرجات فَلَيْسَ يَخْلُو عَنِ الْفَائِدَةِ أَصْلًا فَلَا يَنْبَغِي أن تظن أن وجودها كعدمها بل عرف أهل المشاهدة وأرباب القلوب معرفة لا ريب فيها أن قول الله تعالى ﴿فمن يعمل مثقال ذرة خيراً يره﴾ صدق وأنه لا تخلو ذرة من الخير عَنْ أَثَرٍ كَمَا لَا تَخْلُو شُعَيْرَةٌ تُطْرَحُ في الميزان عن أثر ولو خلت الشعيرة الأولى عن أثر لكانت الثانية مثلها ولكان لا يرجح الميزان بأحمال الذرات وذلك بالضرورة محال بل ميزان الحسنات يرجح بذرات الخير إلى أن يثقل فترفع كفة السيئات فَإِيَّاكَ أَنْ تَسْتَصْغِرَ ذَرَّاتِ الطَّاعَاتِ فَلَا تَأْتِيَهَا وذرات المعاصي فلا تنفيها كالمرأة الخرقاء تكسل عن الغزل تعللاً بأنها لا تقدر في كل ساعة إلا على خيط واحد وتقول أي غني يحصل بخيط وما وقع ذلك في الثياب ولا تدري المعتوهة أن ثياب الدنيا اجتمعت خيطاً خيطاً وأن أجسام العالم مع اتساع أقطاره اجتمعت ذرة فإذن التَّضَرُّعَ وَالِاسْتِغْفَارَ بِالْقَلْبِ حَسَنَةٌ لَا تَضِيعُ عِنْدَ اللَّهِ أَصْلًا بَلْ أَقُولُ الِاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ أَيْضًا حَسَنَةٌ إِذْ حَرَكَةُ اللِّسَانِ بِهَا عَنْ غَفْلَةٍ خير من حركة اللسان في تلك الساعة بغيبة مسلم أو فضول كلام بل هو خير من السكوت عنه فيظهر فضله بالإضافة إلى السكوت عنه وإنما يكون نقصاناً بالإضافة إلى عمل القلب ولذلك قال بعضهم لشيخه أبي عثمان المغربي إن لساني في بعض الأحوال يجري بالذكر والقرآن وقلبي غافل فقال اشكر الله إذ استعمل جارحة من جوارحك في الخير وعوده الذكر ولم يستعمله في الشر ولم يعوده الفضول وما ذكره حق فإن تعود الجوارح للخير حتى يصير لها ذلك كالطبع يدفع جملة من المعاصي فمن تعود لسانه الاستغفار إذا سمع من غيره كذباً سبق لسانه إلى ما تعود فقال أستغفر الله ومن تعود الفضول سبق لسانه إلى قول ما أحمقك وما أقبح كذبك ومن تعود الاستعاذة إذا حدث بظهور مبادىء الشر من شرير قال بحكم سبق اللسان نعوذ بالله وإذا تعود الفضول قال لعنه الله فيعصي في إحدى الكلمتين ويسلم في الأخرى وسلامته أثر اعتياد لسانه الخير وهو من جملة معاني قوله تعالى ﴿إن الله لا يضيع أجر المحسنين﴾ ومعاني قوله تعالى ﴿وإن تك حسنة يضاعفها ويؤت من لدنه﴾

Maksudnya adalah sesungguhnya tobat itu memiliki dua buah (hasil): (Pertama) menghapuskan keburukan-keburukan hingga ia menjadi seperti orang yang tidak memiliki dosa sama sekali, dan (Kedua) meraih tingkatan-tingkatan (darajat) hingga ia menjadi kekasih Allah. Bagi penghapusan dosa (takfir) juga terdapat tingkatan-tingkatan: sebagiannya menghapus asal dosa secara keseluruhan, dan sebagian lagi meringankannya. Hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan tingkatan tobat. Maka istigfar dengan hati dan menambalnya dengan kebaikan-kebaikan—meskipun sepi dari pelepasan ikatan terus-menerus berbuat dosa (ishrar)—termasuk tingkatan-tingkatan awal yang sama sekali tidak sepi dari manfaat. Maka tidak seyogianya engkau menyangka bahwa keberadaannya sama seperti ketiadaannya. Bahkan ahli musyahadah dan pemilik mata hati (arbabul qulub) mengetahui dengan pengetahuan tanpa keraguan sedikit pun bahwa firman Allah Ta'ala: "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasan-Nya" adalah benar, dan bahwasanya kebaikan seberat dzarrah pun tidak sepi dari bekas/pengaruh, sebagaimana sehelai jelai (sya'irah) yang dilemparkan ke dalam timbangan tidak sepi dari pengaruhnya. Sekiranya jelai yang pertama sepi dari pengaruh, niscaya yang kedua pun akan seperti itu, dan timbangan tidak akan pernah berat hanya dengan muatan dzarrah-dzarrah, padahal hal itu secara pasti (dharuri) adalah mustahil. Bahkan timbangan kebaikan-kebaikan akan menjadi berat dengan dzarrah-dzarrah kebaikan hingga menjadi berat lalu terangkatlah daun timbangan keburukan. Maka waspadalah dari meremehkan dzarrah-dzarrah ketaatan sehingga engkau tidak menjalankannya, dan meremehkan dzarrah-dzarrah kemaksiatan sehingga engkau tidak menjauhinya, seperti seorang wanita bodoh yang malas memintal benang dengan beralasan bahwa ia tidak mampu pada setiap saat melainkan hanya satu helai benang, lalu ia berkata: "Kekayaan apa yang bisa didapatkan dari sehelai benang? Dan benang itu tidak tampak pada pakaian!" Wanita yang kurang akal itu tidak menyadari bahwa pakaian dunia terkumpul dari helai demi helai benang, dan bahwasanya benda-benda di alam semesta beserta luasnya belahan bumi terkumpul dari dzarrah demi dzarrah. Oleh karena itu, kerendahan hati (tadhambu') dan istigfar dengan hati adalah kebaikan yang sama sekali tidak akan sia-sia di sisi Allah. Bahkan aku katakan: Istigfar dengan lisan pun merupakan kebaikan, sebab bergeraknya lisan dengannya dalam keadaan lalai masih lebih baik daripada bergeraknya lisan pada saat itu dengan menggunjing (ghibah) seorang muslim atau mengucapkan perkataan yang sia-sia (fadhul al-kalam). Bahkan itu lebih baik daripada diam darinya. Maka tampaklah keutamaannya jika dibandingkan dengan diam darinya, meskipun ia merupakan suatu kekurangan jika dibandingkan dengan amalan hati. Oleh karena itu, sebagian mereka berkata kepada gurunya, Abu 'Utsman al-Maghribi: "Sesungguhnya lisanku pada sebagian keadaan berucap zikir dan Al-Qur'an sedangkan hatiku lalai." Maka beliau menjawab: "Bersyukurlah kepada Allah karena Dia telah menggunakan salah satu anggota badanmu dalam kebaikan dan membiasakannya berzikir, serta tidak menggunakannya dalam kejahatan dan tidak membiasakannya dalam hal sia-sia." Dan apa yang beliau sebutkan adalah benar, sebab terbiasanya anggota badan dengan kebaikan—hingga hal itu menjadi seperti tabiat baginya—dapat menolak sekumpulan kemaksiatan. Barangsiapa yang lisannya terbiasa dengan istigfar, jika ia mendengar kebohongan dari orang lain, lisannya akan mendahului kepada apa yang biasa diucapkannya seraya berkata "Astaghfirullah" (aku memohon ampun kepada Allah). Dan barangsiapa terbiasa dengan perkataan sia-sia, lisannya akan mendahului kepada ucapan "Alangkah bodohnya engkau" dan "Alangkah buruknya kebohonganmu". Dan barangsiapa terbiasa memohon perlindungan (isti'adzah), jika terjadi tanda-tanda kejahatan dari orang jahat, ia berkata berdasarkan dorongan kebiasaan lisannya "Na'udzubillah" (kami berlindung kepada Allah). Namun jika ia terbiasa dengan perkataan sia-sia, ia berkata "Semoga Allah melaknatnya", sehingga ia bermaksiat pada salah satu kalimat dan selamat pada kalimat yang lain. Dan keselamatannya itu adalah bekas dari kebiasaan lisannya pada kebaikan, dan itu termasuk bagian dari makna firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik" dan makna firman-Nya Ta'ala: "Dan jika ada kebaikan, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya…"

﴿أجراً عظيماً﴾ فانظر كيف ضاعفها إذ جعل الاستغفار في الغفلة عادة اللسان حتى دفع بتلك العادة شر العصيان بالغيبة واللعن والفضول هذا تضعيف في الدنيا لأدنى الطاعات وتضعيف الآخرة ﴿أكبر لو كانوا يعلمون﴾ فإياك وأن تلمح في الطاعات مجرد الآفات فتفتر رغبتك عن العبادات فإن هذه مكيدة روجها الشيطان بلعنته على المغرورين وخيل إليهم أنهم أرباب البصائر وأهل التفطن للخفايا والسرائر فأي خير في ذكرنا باللسان مع غفلة القلب فانقسم الخلق في هذه المكيدة إلى ثلاثة أقسام ظالم لنفسه ومقتصد وسابق بالخيرات أما السابق فقال صدقت يا ملعون ولكن هي كلمة حق أردت بها باطلاً فلا جرم أعذبك مرتين وأرغم أنفك من وجهين فأضيف إلى حركة اللسان حركة القلب فكان كالذي داوى جرح الشيطان بنثر الملح عليه وأما الظالم المغرور فاستشعر في نفسه خيلاء الفطنة لهذه الدقيقة ثم عجز عن الإخلاص بالقلب فترك مع ذلك تعويد اللسان بالذكر فأسعف الشيطان وتدلى بحبل غروره فتمت بينهما المشاركة والموافقة كما قيل وافق شن طبقه وافقه فاعتنقه وأما المقتصد فلم يقدر على إرغامه بإشراك القلب في العمل وتفطن لنقصان حركة اللسان بالإضافة إلى القلب ولكن اهتدى إلى كماله بالإضافة إلى السكوت والفضول فاستمر عليه وسأل الله تعالى أن يشرك القلب مع اللسان في اعتياد الخير فكان السابق كالحائك الذي ذمت حياكته فتركها وأصبح كاتباً والظالم المتخلف كالذي ترك الحياكة أصلاً وأصبح كناساً والمقتصد كالذي عجز عن الكتابة فقال لا أنكر مقدمة الحياكة ولكن الحائك مذموم بالإضافة إلى الكاتب لا بالإضافة إلى الكناس فإذا عجزت عن الكتابة فلا أترك الحياكة ولذلك قالت رابعة العدوية استغفارنا يحتاج إلى استغفار كثير فلا تَظُنَّ أَنَّهَا تَذُمُّ حَرَكَةَ اللِّسَانِ مِنْ حَيْثُ أَنَّهُ ذَكَرَ اللَّهَ بَلْ تَذُمُّ غَفْلَةَ الْقَلْبِ فَهُوَ مُحْتَاجٌ إِلَى الِاسْتِغْفَارِ مِنْ غَفْلَةِ قَلْبِهِ لا من حركة لسانه فإن سكت عن الاستغفار باللسان أيضاً احتاج إلى استغفارين لا إلى استغفار واحد فهكذا ينبغي أن تفهم ذم ما يذم وحمد ما يحمد وإلا جهلت معنى ما قال القائل الصادق حسنات الأبرار سيئات المقربين فإن هذه أمور تثبت بالإضافة فلا ينبغي أن تؤخذ من غير إضافة بل ينبغي أن لا تستحقر ذرات الطاعات والمعاصي ولذلك قال جعفر الصادق إن الله تعالى خبأ ثلاثاً في ثلاث رضاه في طاعته فلا تحقروا منها شيئاً فلعل رضاه فيه وغضبه في معاصيه فلا تحقروا منها شيئاً فلعل غضبه فيه وخبأ ولايته في عباده فلا تحقروا منهم أحداً فلعله ولي الله تعالى وزاد وخبأ إجابته في دعائه فلا تتركوا الدعاء فربما كانت الإجابة فيه

"…pahala yang besar." Maka lihatlah bagaimana Dia melipatgandakannya ketika Dia menjadikan istigfar dalam kelalaian sebagai kebiasaan lisan, hingga dengan kebiasaan tersebut terdoronglah kejahatan kemaksiatan berupa ghibah, laknat, dan perkataan sia-sia. Ini adalah pelipatgandaan di dunia bagi ketaatan yang paling rendah, sedangkan pelipatgandaan di akhirat "adalah lebih besar sekiranya mereka mengetahui". Maka waspadalah dari hanya memandang cela/cacat pada ketaatan-ketaatan sehingga mengendur kerinduanmu untuk beribadah, sebab ini adalah tipu daya yang dilancarkan oleh setan dengan laknatnya atas orang-orang yang tertipu. Setan membayangkan kepada mereka bahwa mereka adalah pemilik mata hati (ulul bashair) dan orang-orang yang cermat terhadap hal-hal yang tersembunyi dan rahasia, seraya membisikkan: "Kebaikan apa yang ada dalam zikir lisan kita beserta kelalaian hati?" Maka manusia terbagi dalam tipu daya ini menjadi tiga tingkatan: orang yang menzalimi dirinya sendiri, orang yang pertengahan (muqtashid), dan orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan (sabiqun bil-khairat). Adapun orang yang berlomba-lomba (berada di depan), maka ia berkata: "Engkau benar wahai makhluk terkutuk, namun itu adalah kalimat hak yang engkau inginkan kebatilan dengannya. Maka tidak boleh tidak aku akan menyiksamu dua kali dan menghinakan hidungmu dari dua arah." Lalu ia menambahkan gerakan hati pada gerakan lisan, sehingga ia seperti orang yang mengobati luka yang dibuat setan dengan menaburkan garam di atasnya. Adapun orang yang menzalimi diri lagi tertipu, ia merasakan dalam dirinya kesombongan karena kecerdasannya atas kelembutan rincian ini, kemudian ia lemah dari berlaku ikhlas dengan hati, lalu beserta itu ia meninggalkan kebiasaan lisan dalam berzikir. Maka ia memenuhi keinginan setan dan terperosok dengan tali penipuannya, sehingga terwujudlah di antara keduanya persekutuan dan kesepakatan, sebagaimana dikatakan: "Shan cocok dengan Thabaqah, ia cocok dengannya lalu mendekapnya." Adapun orang yang pertengahan (muqtashid), ia tidak mampu menghinakan setan dengan mengikutsertakan hati dalam amalan dan ia menyadari kekurangan gerakan lisan jika dibandingkan dengan hati, namun ia mendapat petunjuk kepada kesempurnaannya jika dibandingkan dengan diam dan perkataan sia-sia. Maka ia meneruskannya dan memohon kepada Allah Ta'ala agar mengikutsertakan hati bersama lisan dalam membiasakan kebaikan. Maka orang yang berlomba-lomba (sabik) itu seperti penenun yang dicela penenunannya lalu ia meninggalkannya dan menjadi seorang penulis. Orang yang menzalimi diri lagi tertinggal adalah seperti orang yang meninggalkan penenunan sama sekali lalu menjadi seorang tukang sapu. Sedangkan orang yang pertengahan (muqtashid) adalah seperti orang yang lemah dari menulis lalu berkata: "Aku tidak mengingkari kelemahan dasar penenunan, tetapi penenun itu dicela jika dibandingkan dengan penulis, bukan jika dibandingkan dengan tukang sapu. Jika aku lemah dari menulis, maka aku tidak akan meninggalkan penenunan." Oleh karena itu, Robi'ah al-Adawiyah berkata: "Istigfar kita membutuhkan banyak istigfar." Maka janganlah engkau menyangka bahwa beliau mencela gerakan lisan dari segi bahwasanya lisan itu berzikir mengingat Allah, melainkan beliau mencela kelalaian hati. Maka hati itu membutuhkan istigfar dari kelalaian hatinya, bukan dari gerakan lisannya. Sebab jika ia diam dari istigfar lisan pula, niscaya ia membutuhkan dua istigfar, bukan satu istigfar saja. Demikianlah hendaknya engkau memahami celaan terhadap apa yang dicela dan pujian terhadap apa yang dipuji, jika tidak maka engkau akan tidak mengetahui makna dari apa yang dikatakan oleh orang yang jujur: "Kebaikan-kebaikan orang-orang yang berbakti (abrar) adalah keburukan-keburukan bagi orang-orang yang dekat (muqarrabun)." Sebab hal-hal ini ditetapkan secara nisbi (perbandingan), maka tidak seyogianya diambil tanpa perbandingan. Bahkan tidak seyogianya engkau meremehkan dzarrah-dzarrah ketaatan dan kemaksiatan. Oleh karena itu Ja'far as-Shadiq berkata: "Sesungguhnya Allah Ta'ala menyembunyikan tiga hal dalam tiga hal: keridaan-Nya dalam ketaatan-Nya, maka janganlah kalian meremehkan apa pun darinya, boleh jadi keridaan-Nya ada di dalamnya; kemurkaan-Nya dalam kemaksiatan-Nya, maka janganlah kalian meremehkan apa pun darinya, boleh jadi kemurkaan-Nya ada di dalamnya; dan Dia menyembunyikan kewalian-Nya di antara hamba-hamba-Nya, maka janganlah kalian meremehkan seorang pun dari mereka, boleh jadi ia adalah wali Allah Ta'ala." Dan beliau menambahkan: "Dan Dia menyembunyikan pengabulan-Nya dalam doa-Nya, maka janganlah kalian meninggalkan doa, sebab boleh jadi pengabulan itu ada padanya."