• جمع الصلاة للمسافر
جمع الصلاة للمسافر
Jamak (Menggabungkan) Salat Bagi Musafir
(ويجوز للمسافر) سفرا طويلا مباحا (أن يجمع بين) صلاتَي (الظهر والعصر) تقديما وتأخيرا، وهو معنى قوله: (في وقت أيهما شاء، و) أن يجمع (بين) صلاتَي (المغرب والعشاء) تقديما وتأخيرا، وهو معنى قوله: (في وقت أيهما شاء).
(Dan diperbolehkan bagi musafir) dengan perjalanan panjang yang mubah (untuk menjamak antara) salat (Zuhur dan Asar) baik secara taqdim (di awal waktu) maupun ta'khir (di akhir waktu), dan inilah makna ucapan Mushannif: (pada waktu mana saja di antara keduanya yang ia kehendaki, dan) diperbolehkan menjamak (antara) salat (Magrib dan Isya) baik secara taqdim maupun ta'khir, dan ini pula makna ucapannya: (pada waktu mana saja di antara keduanya yang ia kehendaki).
وشروط جمع التقديم ثلاثة: الأول أن يبدأ بالظهر قبل العصر، وبالمغرب قبل العشاء؛ فلو عكس كأن بدأ بالعصر قبل الظهر مثلا لم يصح، ويعيدها إن أراد الجمع.
Dan syarat-syarat jamak taqdim ada tiga: Yang pertama, ia harus memulai (mendahulukan) salat Zuhur sebelum Asar, dan salat Magrib sebelum Isya; jika ia membaliknya, seperti ia memulai salat Asar sebelum Zuhur misalnya, maka salatnya tidak sah (sebagai jamak), dan ia wajib mengulanginya jika ia ingin menjamak.
والثاني نية الجمع أولَ الصلاة الأولى، بأن تُقترَن نيةُ الجمع بتحرمها، فلا يكفي تقديمها على التحرم ولا تأخيرها عن السلام من الأولى. وتجوز في أثنائها على الأظهر.
Dan syarat kedua, meniatkan jamak di awal salat yang pertama, dengan cara menyertakan niat jamak tersebut berbarengan dengan takbiratulihramnya, sehingga tidak cukup (tidak sah) mendahulukannya sebelum takbiratulihram, tidak sah pula mengakhirkannya setelah salam dari salat yang pertama. Dan diperbolehkan melafazkan niat tersebut di pertengahan salat (yang pertama) menurut pendapat al-Azhhar (paling kuat).
والثالث الموالاة بين الأولى والثانية، بأن لا يطول الفصل بينهما؛ فإن طال عُرفًا ولو بعذر كنوم وجب تأخير الصلاة الثانية إلى وقتها. ولا يضر في الموالاة بينهما فصل يسير عرفا. وأما جمع التأخير فيجب فيه أن يكون نية الجمع، وتكون النية هذه في وقت الأولى. ويجوز تأخيرها إلى أن يبقى من وقت الأولى زمنٌ لو ابتُدِئت فيه كانت أداء. ولا يجب في جمع التأخير ترتيبٌ ولا موالاة ولا نية جمع على الصحيح في الثلاثة.
Dan syarat ketiga, muwalah (berurutan langsung) antara salat pertama dan kedua, dengan memastikan jarak pemisah di antara keduanya tidak terlalu panjang; jika jarak pemisahnya berlangsung lama secara 'urf (kebiasaan) meskipun karena uzur seperti tertidur, maka wajib mengakhirkan salat yang kedua pada waktunya (sendiri/tidak jadi jamak). Dan tidaklah membahayakan (syarat) muwalah di antara keduanya jika pemisahnya sebentar secara 'urf. Adapun jamak ta'khir, maka diwajibkan di dalamnya untuk meniatkan jamak, dan niat ini harus dilakukan pada waktu salat yang pertama. Dan diperbolehkan mengakhirkan niat tersebut hingga tersisa dari waktu salat yang pertama durasi yang seandainya salat dimulai di dalamnya, ia (tetap) bernilai tunai (ada'/bukan qada). Dan tidak diwajibkan dalam jamak ta'khir adanya tartib (urutan), tidak pula muwalah (harus langsung menyambung), dan tidak pula niat jamak (lagi pada salat kedua) menurut pendapat as-Sahih (yang sahih) pada ketiga hal tersebut.
(ويجوز للحاضر) أي المقيم (في) وقت (المطر أن يجمع بينهما) أي الظهر والعصر، والمغرب والعشاء، لا في وقت الثانية، بل (في وقت الأولى منهما) إن بَلَّ المطرُ أعلى الثوب وأسفل النعل، ووجدت الشروط السابقة في جمع التقديم. ويشترط أيضا وجود المطر في أول الصلاتين، ولا يكفي وجوده في أثناء الأولى منهما. ويشترط أيضا وجوده عند السلام من الأولى، سواء استمر المطر بعد ذلك أم لا. وتختص رُخصة الجمع بالمطر بالمصلي في جماعة بمسجد أو غيره من مواضع الجماعة بعيد عرفا، ويتأذى الذاهب للمسجد أو غيره من مواضع الجماعة بالمطر في طريقه.
(Dan diperbolehkan bagi orang yang hadir) yakni orang yang mukim (pada) waktu (turun hujan untuk menjamak antara keduanya) yakni Zuhur dan Asar, serta Magrib dan Isya, (namun) bukan pada waktu salat yang kedua, melainkan (pada waktu salat yang pertama di antara keduanya) jika hujan tersebut sanggup membasahi bagian atas pakaian dan bagian bawah sandal, serta terpenuhinya syarat-syarat sebelumnya pada jamak taqdim. Disyaratkan pula keberadaan hujan tersebut pada permulaan kedua salat tersebut, dan tidak cukup keberadaannya hanya di pertengahan salat yang pertama dari keduanya. Disyaratkan juga eksistensi hujan tersebut saat mengucapkan salam dari salat yang pertama, terlepas dari apakah hujan berlanjut setelahnya atau tidak. Dan rukhshah (keringanan) menjamak disebabkan hujan ini dikhususkan bagi orang yang salat secara berjamaah di masjid atau tempat-tempat pelaksanaan jamaah lainnya yang jaraknya jauh secara 'urf, yang mana orang yang berjalan menuju masjid atau tempat jamaah tersebut akan merasa terganggu (tersiksa) oleh hujan di sepanjang perjalanannya.