كتاب رياضة النفس وتهذيب الأخلاق ومعالجة أمراض القلب
كِتَابُ رِيَاضَةِ النَّفْسِ وَتَهْذِيبِ الْأَخْلَاقِ وَمُعَالَجَةِ أَمْرَاضِ القلب
KITAB MELATIH NAFSU, MEMPERBAIKI AKHLAK, DAN MENGOBATI PENYAKIT-PENYAKIT HATI
وهو الكتاب الثاني من ربع المهلكات
Dan ini merupakan kitab kedua dari Rubu' al-Muhlikat (Seperempat bagian tentang hal-hal yang membinasakan).
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الحمد لله الذي صرف الأمور بتدبيره وعدل تركيب الخلق فأحسن في تصويره وزين صورة الإنسان بحسن تقويمه وتقديره وحرسه من الزيادة والنقصان في شكله ومقاديره وَفَوَّضَ تَحْسِينَ الْأَخْلَاقِ إِلَى اجْتِهَادِ الْعَبْدِ وَتَشْمِيرِهِ وَاسْتَحَثَّهُ عَلَى تَهْذِيبِهَا بِتَخْوِيفِهِ وَتَحْذِيرِهِ وَسَهَّلَ عَلَى خواص عباده تهذيب الأخلاق بتوفيقه وتيسيره وامتن عليهم
Segala puji bagi Allah yang memalingkan segala urusan dengan pengaturan-Nya, menyelaraskan susunan ciptaan-Nya lalu memperindah bentuk rupa-Nya, menghiasi rupa manusia dengan sebaik-baik bentuk dan ukuran, serta menjaganya dari penambahan dan pengurangan dalam wujud maupun proporsinya; Dia menyerahkan usaha perbaikan akhlak kepada kesungguhan dan kerja keras hamba, mendorongnya untuk menyucikan akhlak tersebut melalui penakutan dan peringatan-Nya, serta memudahkan perbaikan akhlak bagi hamba-hamba pilihan-Nya melalui taufik dan kemudahan dari-Nya, serta melimpahkan karunia kepada mereka
بتسهيل صعبه وعسيرة وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَنَبِيِّهِ وحبيبه وصفيه وبشيره ونذيره الذي كان يلوح أنوار النبوة من بين أساريره ويستشرف حَقِيقَةُ الْحَقِّ مِنْ مَخَايِلِهِ وَتَبَاشِيرِهِ وَعَلَى آلِهِ وأصحابه الذين طهروا وجه الإسلام من ظلمة الكفر ودياجيره وحسموا مَادَّةَ الْبَاطِلِ فَلَمْ يَتَدَنَّسُوا بِقَلِيلِهِ وَلَا بِكَثِيرِهِ
dengan memudahkan hal yang sulit dan sukar darinya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad, hamba Allah, Nabi-Nya, kekasih-Nya, pilihan-Nya, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan-Nya; sosok yang cahaya kenabiannya memancar dari rona wajahnya dan hakikat kebenaran tersirat dari tanda-tanda keunggulannya. Dan semoga tercurah pula kepada keluarga serta para sahabatnya yang telah menyucikan wajah Islam dari kegelapan dan kegaiban kufur, serta memutus akar kebatilan sehingga mereka tidak terkontaminasi oleh sedikit maupun banyaknya kebatilan tersebut.
أَمَّا بَعْدُ فَالْخُلُقُ الْحَسَنُ صِفَةُ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَأَفْضَلُ أَعْمَالِ الصِّدِّيقِينَ وَهُوَ عَلَى التَّحْقِيقِ شَطْرُ الدِّينِ وَثَمَرَةُ مُجَاهَدَةِ الْمُتَّقِينَ وَرِيَاضَةُ الْمُتَعَبِّدِينَ وَالْأَخْلَاقُ السيئة هي السموم القاتلة والمهلكات الدامغة وَالْمَخَازِي الْفَاضِحَةُ وَالرَّذَائِلُ الْوَاضِحَةُ وَالْخَبَائِثُ الْمُبْعِدَةُ عَنْ جِوَارِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الْمُنْخَرِطَةُ بِصَاحِبِهَا فِي سِلْكِ الشَّيَاطِينِ وَهِيَ الْأَبْوَابُ الْمَفْتُوحَةُ إِلَى نَارِ اللَّهِ تعالى الْمُوقَدَةِ الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ كَمَا أَنَّ الْأَخْلَاقَ الْجَمِيلَةَ هِيَ الْأَبْوَابُ الْمَفْتُوحَةُ مِنَ الْقَلْبِ إِلَى نَعِيمِ الْجِنَانِ وَجِوَارِ الرَّحْمَنِ وَالْأَخْلَاقُ الْخَبِيثَةُ أَمْرَاضُ الْقُلُوبِ وَأَسْقَامُ النُّفُوسِ إِلَّا أَنَّهُ مَرَضٌ يُفَوِّتُ حَيَاةَ الْأَبَدِ وَأَيْنَ مِنْهُ الْمَرَضُ الَّذِي لَا يُفَوِّتُ إِلَّا حَيَاةَ الْجَسَدِ وَمَهْمَا اشْتَدَّتْ عِنَايَةُ الْأَطِبَّاءِ بِضَبْطِ قَوَانِينِ الْعِلَاجِ لِلْأَبْدَانِ وَلَيْسَ فِي مَرَضِهَا إِلَّا فَوْتُ الْحَيَاةِ الْفَانِيَةِ فَالْعِنَايَةُ بضبط قوانين العلاج لأمراض القلوب وفي مرضها فوت حَيَاةٍ بَاقِيَةٍ أَوْلَى وَهَذَا النَّوْعُ مِنَ الطِّبِّ وَاجِبٌ تَعَلُّمُهُ عَلَى كُلِّ ذِي لُبٍّ إِذْ لَا يَخْلُو قَلْبٌ مِنَ الْقُلُوبِ عَنْ أَسْقَامٍ لَوْ أُهْمِلَتْ تَرَاكَمَتْ وَتَرَادَفَتِ الْعِلَلُ وَتَظَاهَرَتْ فَيَحْتَاجُ العبد إلى تأنق في معرفة علمها وَأَسْبَابِهَا ثُمَّ إِلَى تَشْمِيرٍ فِي عِلَاجِهَا وَإِصْلَاحِهَا فَمُعَالَجَتُهَا هُوَ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى قَدْ أَفْلَحَ من زكاها وَإِهْمَالُهَا هُوَ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ وَقَدْ خَابَ مَنْ دساها وَنَحْنُ نُشِيرُ فِي هَذَا الْكِتَابِ إِلَى جُمَلٍ مِنْ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ وَكَيْفِيَّةِ الْقَوْلِ فِي مُعَالَجَتِهَا على الجملة من غير تفصيل لعلاج خصوص الأمراض فإن ذلك يأتي في بقية الكتب من هذا الربع وغرضنا الآن النظر الكلي في تهذيب الأخلاق وتمهيد منهاجها ونحن نذكر ذلك ونجعل علاج البدن مثالاً له ليقرب من الأفهام دركه ويتضح ذلك ببيان فضيلة حسن الخلق ثم بيان حقيقة حسن الخلق ثم بيان قبول الأخلاق للتغير بالرياضة ثم بَيَانُ السَّبَبِ الَّذِي بِهِ يُنَالُ حُسْنُ الْخُلُقِ ثم بيان الطرق التي بها يعرف تفصيل الطرق إلى تهذيب الأخلاق ورياضة النفوس ثم بيان العلامات التي بها يعرف مرض القلب ثم بيان الطرق التي بها يعرف الإنسان عيوب نفسه ثم بيان شواهد النقل على أن طريق المعالجة للقلوب بترك الشهوات لا غير ثم بيان علامات حسن الخلق ثم بَيَانُ الطَّرِيقِ فِي رِيَاضَةِ الصِّبْيَانِ فِي أَوَّلِ النشو ثم بيان شروط الإرادة ومقدمات المجاهدة فهي أحد عشر فصلاً يجمع مقاصدها هذا الكتاب إن شاء الله تَعَالَى
Amma ba'du (Adapun kemudian dari itu): Maka akhlak yang mulia adalah sifat Pemimpin para Rasul dan amal terpaling utama dari para Shiddiqin. Secara hakiki, ia merupakan separuh dari agama, buah dari mujahadah (perjuangan batin) orang-orang yang bertakwa, dan latihan spiritual (riyadhah) bagi para ahli ibadah. Sebaliknya, akhlak yang buruk adalah racun-racun yang mematikan, kebinasaan yang menghancurkan, keaiban yang memalukan, kerendahan yang nyata, serta keburukan-keburukan yang menjauhkan seseorang dari berada di sisi Tuhan semesta alam, yang memasukkan pemiliknya ke dalam jajaran setan. Akhlak buruk itu adalah pintu-pintu yang terbuka menuju api neraka Allah Ta'ala yang menyala-nyala, yang membakar sampai ke hati. Sebagaimana halnya akhlak yang indah adalah pintu-pintu yang terbuka dari hati menuju kenikmatan surga dan kedekatan di sisi Yang Maha Pengasih. Akhlak yang buruk adalah penyakit-penyakit hati dan gangguan-gangguan jiwa, hanya saja ia merupakan penyakit yang menghilangkan kehidupan abadi; dan betapa jauh perbedaannya dengan penyakit (fisik) yang hanya menghilangkan kehidupan jasad. Sehebat apa pun perhatian para dokter dalam merumuskan kaidah-kaidah pengobatan fisik—padahal dalam sakitnya fisik hanya ada risiko kehilangan kehidupan yang fana—maka perhatian untuk merumuskan kaidah pengobatan penyakit hati—yang dalam sakitnya ada risiko kehilangan kehidupan yang kekal—tentulah jauh lebih utama. Jenis ilmu pengobatan ini wajib dipelajari oleh setiap orang yang berakal, sebab tidak ada satu pun hati melainkan memiliki penyakit; yang jika dibiarkan, penyakit itu akan menumpuk, bertali-temali, dan saling memperkuat. Karena itu, seorang hamba membutuhkan ketelitian dalam mengenali ilmunya dan sebab-sebabnya, kemudian bersiap sedia dalam mengobati dan memperbaikinya. Pengobatan hati inilah yang dimaksud oleh firman Allah Ta'ala: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu" (QS. Asy-Syams: 9), dan pembiarannya adalah yang dimaksud oleh firman-Nya: "Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya" (QS. Asy-Syams: 10). Dan dalam kitab ini kami akan mengisyaratkan garis-garis besar dari penyakit-penyakit hati serta cara pengobatannya secara umum, tanpa merinci pengobatan setiap penyakit secara khusus, sebab hal itu akan dijelaskan pada kitab-kitab selebihnya dalam seperempat bagian ini (Rubu' al-Muhlikat). Tujuan kami saat ini adalah pandangan menyeluruh dalam melatih perbaikan akhlak dan membentangkan jalannya. Kami akan menyebutkan hal itu dan menjadikan pengobatan badan sebagai perumpamaannya agar pemahamannya lebih mudah ditangkap. Hal itu akan jelas melalui: penjelasan keutamaan akhlak yang mulia, kemudian penjelasan hakikat akhlak yang mulia, kemudian penjelasan bahwasanya akhlak dapat menerima perubahan melalui latihan (riyadhah), kemudian penjelasan sebab yang dengannya tercapai akhlak yang mulia, kemudian penjelasan jalan-jalan yang dengannya diketahui perincian metode perbaikan akhlak dan latihan jiwa, kemudian penjelasan tanda-tanda yang dengannya diketahui penyakit hati, kemudian penjelasan jalan-jalan yang dengannya seseorang mengetahui aib-aib dirinya sendiri, kemudian penjelasan dalil-dalil nukilan bahwasanya jalan pengobatan hati adalah dengan meninggalkan syahwat semata, kemudian penjelasan tanda-tanda akhlak yang mulia, kemudian penjelasan metode dalam melatih anak-anak pada awal pertumbuhannya, kemudian penjelasan syarat-syarat kehendak (iradah) dan pendahuluan-pendahuluan perjuangan batin (mujahadah). Seluruhnya terdiri atas sebelas pasal yang merangkum maksud-maksud kitab ini, insya Allah Ta'ala.
بَيَانُ فَضِيلَةِ حُسْنِ الْخُلُقِ وَمَذَمَّةِ سُوءِ الخلق
PENJELASAN KEUTAMAAN AKHLAK YANG MULIA DAN CELAAN TERHADAP AKHLAK YANG BURUK
قال الله تعالى لنبيه وحبيبه مُثْنِيًا عَلَيْهِ وَمُظْهِرًا نِعْمَتَهُ لَدَيْهِ وَإِنَّكَ لَعَلى خلق عظيم وقالت عائشة ﵂ كان رسول اللَّهِ ﷺ خُلُقُهُ الْقُرْآنُ وسأل رجل رسول الله ﷺ عن حسن الخلق فتلا قَوْلِهِ تَعَالَى ﴿خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عن الجاهلين﴾ ثم قال ﷺ هو أن تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ وَتَعْفُوَ عمن ظلمك حديث بعثت لأتمم مكارم الأخلاق أخرجه أحمد والحاكم والبيهقي من حديث أبي هريرة وتقدم في آداب الصحبة وقال ﷺ أثقل ما يوضع في الميزان يوم القيامة تقوى الله وحسن الخلق // حديث أثقل ما يوضع في الميزان خلق حسن أخرجه أبو داود والترمذي وصححه من حديث أبي الدرداء وجاء رجل إلى رسول الله
Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi dan Kekasih-Nya seraya memuji beliau dan menampakkan nikmat-Nya kepadanya: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4). Dan Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Akhlak Rasulullah ﷺ adalah Al-Qur'an." Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang akhlak yang mulia, maka beliau membaca firman-Nya Ta'ala: "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199). Kemudian beliau ﷺ bersabda: "Yaitu engkau menyambung silaturahmi kepada orang yang memutusmu, memberi kepada orang yang menghalangimu (tidak memberimu), dan memaafkan orang yang menzalimimu." Hadis: "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia," diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi dari hadis Abu Hurairah dan telah disebutkan terdahulu pada Adab Bergaul (Adab ash-Suhbah). Dan beliau ﷺ bersabda: "Sesuatu yang paling berat diletakkan di dalam timbangan (mizan) pada hari kiamat adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia." Hadis: "Sesuatu yang paling berat yang diletakkan dalam timbangan adalah akhlak yang mulia," diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan ia menshahihkannya dari hadis Abu ad-Darda'. Dan seorang laki-laki mendatangi Rasulullah
صلى الله عليه وسلم من بين يديه فقال يا رسول الله ما الدين قال حسن الخلق فأتاه من قبل يمينه فقال يا رسول الله ما الدين قال حسن الخلق ثم أتاه من قبل شماله فقال ما الدين فقال حسن الخلق ثم أتاه من ورائه فقال يا رسول الله ما الدين فالتفت إليه وقال أما تفقه هو أَنْ لَا تَغْضَبَ وَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ما الشؤم قال سوء الخلق وقال رجل لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَوْصِنِي فقال اتق الله حيثما كنت قال زدني قال أتبع السيئة الحسنة تمحها قال زدني قال خالق الناس بخلق حسن حديث ما حسن الله خلق امرئ وخلقه فتطعمه النار تقدم في آداب الصحبة حديث أبي الدرداء أول ما يوضع في الميزان حسن الخلق الحديث لم أقف له على أصل هكذا ولأبي داود والترمذي من حديث أبي الدرداء ما من شيء في الميزان أثقل من حسن الخلق وقال غريب وقال في بعض طرقه حسن صحيح وَقَالَ ﷺ إِنَّ اللَّهَ اسْتَخْلَصَ هَذَا الدِّينَ لِنَفْسِهِ وَلَا يَصْلُحُ لِدِينِكُمْ إِلَّا السَّخَاءُ وَحُسْنُ الْخُلُقِ أَلَا فَزَيِّنُوا دِينَكُمْ بهما حديث حسن الخلق خلق الله الأعظم أخرجه الطبراني في الأوسط من حديث عمار ابن ياسر بسند ضعيف وقيل يا رسول الله أي المؤمنين أفضل إيماناً قال أحسنهم خلقا حديث إِنَّكُمْ لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ فَسَعُوهُمْ بِبَسْطِ الوجه وحسن الخلق أخرجه البزار وأبو يعلى والطبراني في مكارم الأخلاق من حديث أبي هريرة وبعض طرق البزار رجاله ثقات حديث سوء الخلق يفسد العمل كما يفسد الخل العسل أخرجه ابن حبان في الضعفاء من حديث أبي هريرة والبيهقي في الشعب من حديث ابن عباس وأبي هريرة أيضا وضعفهما ابن جرير حديث إنك امرؤ قد حسن الله خلقك فأحسن خلقك أخرجه الخرائطي في مكارم الأخلاق وأبو العباس الدغولي في كتاب الآداب وفيه ضعف وعن البراء بن عازب قال كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أحسن الناس وجهاً وأحسنهم خلقاً وعن أبي مسعود البدري قال كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يقول في دعائه اللهم حسنت خلقي فحسن خلقي وعن عبد الله بن عمر ﵄ قال كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يكثر الدعاء فيقول اللهم إني أسألك
shallallahu 'alaihi wa sallam dari arah depannya seraya berkata: "Wahai Rasulullah, apakah agama itu?" Beliau bersabda: "Akhlak yang mulia." Lalu orang itu mendatangi beliau dari arah kanannya dan berkata: "Wahai Rasulullah, apakah agama itu?" Beliau bersabda: "Akhlak yang mulia." Kemudian ia mendatangi beliau dari arah kirinya dan berkata: "Apakah agama itu?" Beliau bersabda: "Akhlak yang mulia." Kemudian ia mendatangi beliau dari arah belakangnya dan berkata: "Wahai Rasulullah, apakah agama itu?" Maka beliau menoleh kepadanya dan bersabda: "Tidakkah engkau paham? Agama itu adalah engkau tidak marah." Ditanyakan pulalah: "Wahai Rasulullah, apakah kesialan (kesengsaraan) itu?" Beliau bersabda: "Akhlak yang buruk." Dan seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah ﷺ: "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda: "Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada." Orang itu berkata: "Tambahkanlah padaku." Beliau bersabda: "Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapuskannya." Orang itu berkata: "Tambahkanlah padaku." Beliau bersabda: "Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." Hadis: "Tidaklah Allah memperindah rupa dan akhlak seseorang lalu membiarkannya dimakan api neraka," telah lalu pada Adab Bergaul (Adab ash-Suhbah). Hadis Abu ad-Darda': "Pertama kali yang diletakkan dalam timbangan adalah akhlak yang mulia…" Hadis ini tidak aku temukan sanad asalnya dalam redaksi demikian, namun bagi Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari hadis Abu ad-Darda': "Tidak ada sesuatu pun dalam timbangan yang lebih berat daripada akhlak yang mulia." At-Tirmidzi berkata: Gharib, dan ia berkata dalam sebagian jalurnya: Hasan Shahih. Dan beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah telah murni memilih agama ini untuk diri-Nya, dan tidaklah layak bagi agama kalian kecuali sifat pemurah dan akhlak yang mulia. Ingatlah, hiasilah agama kalian dengan keduanya!" Hadis: "Akhlak yang mulia adalah ciptaan Allah yang terbesar," diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Ausath dari hadis 'Ammar bin Yasir dengan sanad yang dha'if. Dan ditanyakan: "Wahai Rasulullah, manakah orang mukmin yang paling utama imannya?" Beliau bersabda: "Yang paling baik akhlaknya di antara mereka." Hadis: "Sesungguhnya kalian tidak akan dapat melapangkan manusia dengan harta kalian, maka lapangkanlah mereka dengan wajah yang berseri-seri dan akhlak yang mulia," diriwayatkan oleh Al-Bazzar, Abu Ya'la, dan At-Thabrani dalam Makarim al-Akhlaq dari hadis Abu Hurairah; dan sebagian jalur Al-Bazzar para perawinya tsiqah. Hadis: "Akhlak yang buruk merusak amal sebagaimana cuka merusak madu," diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam Adh-Dhu'afa' dari hadis Abu Hurairah, serta Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab dari hadis Ibn 'Abbas dan Abu Hurairah pula, dan keduanya didha'ifkan oleh Ibn Jarir. Hadis: "Engkau adalah seorang laki-laki yang telah Allah perindah rupamu, maka perindahlah akhlakmu," diriwayatkan oleh Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq dan Abu al-'Abbas Ad-Daghuli dalam Kitab al-Adab, dan di dalamnya terdapat kedha'ifan. Dari Al-Bara' bin 'Azib ia berkata: "Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling tampan wajahnya dan paling baik akhlaknya." Dari Abu Mas'ud Al-Badri ia berkata: "Rasulullah ﷺ biasa mengucapkan dalam doanya: 'Ya Allah, Engkau telah memperindah rupaku, maka perindahlah akhlakku.'" Dan dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma ia berkata: "Rasulullah ﷺ memperbanyak doa dengan mengucapkan: 'Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu
الصحة والعافية وحسن الخلق حديث أبي هريرة كرم المرء دينه ومروءته عقله وحسن خلقه أخرجه ابن حبان والحاكم وصححه على شرط مسلم والبيهقي قلت فيه مسلم بن خالد الزنجي وقد تكلم فيه قال البيهقي وروى من وجهين آخرين ضعيفين ثم رواه موقوفا على عمر وقال إسناد صحيح حديث أسامة بن شريك شهدت الأعاريب يسألون رسول الله ﷺ ما خير ما أعطى العبد قال خلق الحسن أخرجه ابن ماجه وتقدم في آداب الصحبة حديث إن أحبكم إلى الله وأقربكم مني مجلساً يوم القيامة أحاسنكم أخلاقا أخرجه الطبراني في الصغير والأوسط من حديث أبي هريرة إن أحبكم إلى الله أحاسنكم أخلاقا وللطبراني في مكارم الأخلاق من حديث جابر إن أقربكم مني مجلساً أحاسنكم أخلاقا وقد تقدم الحديثان في آداب الصحبة حديث ابن عباس ثلاث من لم يكن فيه أو واحدة منهم فلا يعتد بشيء من عمله الحديث أخرجه الخرايطي في مكارم الأخلاق بإسناد ضعيف ورواه الطبراني في الكبير وفي مكارم الأخلاق من حديث أم سلمة وكان من دعائه ﷺ في افتتاح الصلاة اللهم اهدني لأحسن الأخلاق لا يهدي لأحسنها إلا أنت واصرف عني سيئها لا يصرف عني سيئها إلا أنت حديث أنس إن حسن الخلق ليذيب الخطيئة كما تذيب الشمس الجليد أخرجه الخرايطي في مكارم الأخلاق بسند ضعيف ورواه الطبراني والطيالسي والبيهقي في الشعب من حديث ابن عباس وضعفه وكذا رواه من حديث أبي هريرة وضعفه أيضاً
kesehatan, afiat (keselamatan batin-lahir), dan akhlak yang mulia.'" Hadis Abu Hurairah: "Kemuliaan seseorang adalah agamanya, harga dirinya (muru'ah) adalah akalnya, dan kehormatannya adalah akhlaknya yang baik," diriwayatkan oleh Ibn Hibban, Al-Hakim (dan ia menshahihkannya sesuai syarat Muslim), serta Al-Baihaqi. Aku berkata: Di dalam sanadnya terdapat Muslim bin Khalid Az-Zanji yang mendapat perbincangan para ulama. Al-Baihaqi berkata: Diriwayatkan dari dua jalur lain yang dha'if, kemudian beliau meriwayatkannya secara mauquf pada 'Umar dan berkata: Isnadnya shahih. Hadis Osama bin Syarik: "Aku menyaksikan orang-orang Arab Badui bertanya kepada Rasulullah ﷺ: 'Apakah hal terbaik yang diberikan kepada seorang hamba?' Beliau bersabda: 'Akhlak yang mulia,'" diriwayatkan oleh Ibn Majah dan telah lalu pada Adab Bergaul (Adab ash-Suhbah). Hadis: "Sesungguhnya yang paling dicintai di antara kalian oleh Allah dan paling dekat tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian," diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam As-Shaghir dan Al-Ausath dari hadis Abu Hurairah: "Sesungguhnya yang paling dicintai di antara kalian oleh Allah adalah yang paling baik akhlaknya," dan bagi At-Thabrani dalam Makarim al-Akhlaq dari hadis Jabir: "Sesungguhnya yang paling dekat tempat duduknya dariku adalah yang paling baik akhlaknya," dan kedua hadis tersebut telah lalu pada Adab Bergaul (Adab ash-Suhbah). Hadis Ibn 'Abbas: "Tiga perkara yang barang siapa tidak memilikinya atau salah satu darinya, maka tidaklah diperhitungkan sedikit pun dari amalnya…", hadis ini diriwayatkan oleh Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq dengan isnad dha'if, dan diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Kabir serta dalam Makarim al-Akhlaq dari hadis Umm Salamah. Dan di antara doa beliau ﷺ tatkala pembukaan shalat (Istiftah) adalah: "Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang paling mulia, tidak ada yang dapat menunjukkan kepada yang paling mulia kecuali Engkau; dan palingkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan dariku akhlak yang buruk kecuali Engkau." Hadis Anas: "Sesungguhnya akhlak yang mulia benar-benar melelehkan dosa sebagaimana matahari melelehkan es," diriwayatkan oleh Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq dengan sanad dha'if, dan diriwayatkan oleh At-Thabrani, Ath-Thayalisi, serta Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab dari hadis Ibn 'Abbas dan beliau mendha'ifkannya; demikian pula beliau meriwayatkannya dari hadis Abu Hurairah dan mendha'ifkannya juga.
وقال ﷺ من سعادة المرء حسن الخلق حديث اليمن حسن الخلق أخرجه الخرايطي في مكارم الأخلاق من حديث علي بإسناد ضعيف وقال ﷺ لأبي ذر يَا أَبَا ذَرٍّ لَا عَقْلَ كَالتَّدْبِيرِ وَلَا حسب كحسن الخلق وعن أنس قال قالت أم حبيبة لرسول الله ﷺ أرأيت المرأة يكون لها زوجان في الدنيا فتموت ويموتان ويدخلون الجنة لأيهما هي تكون قال لأحسنهما خلقاً كان عندها في الدنيا يا أم حبيبة ذهب حسن الخلق بخيري الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَقَالَ ﷺ إن المسلم المسدد ليدرك درجة الصائم القائم بحسن خلقه وكرم مرتبته حديث عبد الرحمن بن سمرة إني رأيت البارحة عجباً الحديث أخرجه الخرايطي في مكارم الأخلاق بسند ضعيف حديث إن العبد ليبلغ بحسن خلقه عظيم درجات الآخرة الحديث أخرجه الطبراني والخرايطي في مكارم الأخلاق وأبو الشيخ في كتاب مكارم الأخلاق وأبو الشيخ في كتاب طبقات الأصبهانيين من حديث أنس بإسناد جيد // وروى أن عمر ﵁ استأذن عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَعِنْدَهُ
Dan beliau ﷺ bersabda: "Di antara kebahagiaan seseorang adalah akhlak yang mulia." Hadis: "Keberkahan (al-yumn) adalah akhlak yang mulia," diriwayatkan oleh Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq dari hadis 'Ali dengan isnad yang dha'if. Dan beliau ﷺ bersabda kepada Abu Dzarr: "Wahai Abu Dzarr, tidak ada akal sebanding dengan perencanaan (tadbîr), dan tidak ada kemuliaan nasab (hasab) sebanding dengan akhlak yang mulia." Dari Anas ia berkata: Umm Habibah berkata kepada Rasulullah ﷺ: "Bagaimana pendapatmu tentang wanita yang memiliki dua suami di dunia, lalu ia meninggal dan kedua suaminya juga meninggal, lalu mereka semua masuk surga, bagi siapakah wanita itu berada?" Beliau bersabda: "Bagi yang paling mulia akhlaknya di antara keduanya ketika bersamanya di dunia. Wahai Umm Habibah, akhlak yang mulia telah memboyong kebaikan dunia dan akhirat." Dan beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya seorang muslim yang lurus benar-benar mencapai derajat orang yang berpuasa dan mendirikan shalat malam karena akhlaknya yang mulia dan keluhuran kedudukannya." Hadis 'Abdurrahman bin Samurah: "Sesungguhnya aku bermimpi semalam melihat hal yang menakjubkan…", hadis ini diriwayatkan oleh Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq dengan sanad dha'if. Hadis: "Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mencapai derajat-derajat akhirat yang agung dengan akhlaknya yang mulia…", hadis ini diriwayatkan oleh At-Thabrani, Al-Khara'ithi dalam Makarim al-Akhlaq, Abu asy-Syaikh dalam Kitab Makarim al-Akhlaq, dan Abu asy-Syaikh dalam Kitab Thabaqat al-Ashbahaniyyin dari hadis Anas dengan isnad yang baik (jayyid). // Dan diriwayatkan bahwa 'Umar radhiyallahu 'anhu meminta izin kepada Nabi ﷺ sedangkan di sisi beliau terdapat
نساء من نساء قريش يكلمنه ويستكثرنه عالية أصواتهن على صوته فلما استأذن عمر ﵁ تبادرن الحجاب فدخل عمر ورسول الله ﷺ يضحك فقال عمر ﵁ مم تضحك بأبي أنت وأمي يا رسول الله فقال عجبت لهؤلاء اللاتي كن عندي لما سمعن صوتك تبادرن الحجاب فقال عمر أنت كنت أحق أن يهبنك يا رسول الله ثم أقبل عليهن عمر فقال يا عدوات أنفسهن أتهبنني ولا تهبن رسول الله ﷺ قلن نعم أنت أغلظ وأفظ من رسول الله ﷺ فقال ﷺ إيهاً يا ابن الخطاب والذي نفسي بيده ما لقيك الشيطان قط سالكاً فجا إلا سلك فجا غير فجك وقال ﷺ سوء الخلق ذنب لا يغفر وسوء الظن خطيئة تفوح وقال ﷺ إن العبد ليبلغ من سوء خلقه أسفل درك جهنم
wanita-wanita dari kaum Quraisy yang sedang berbicara dengan beliau dan meminta banyak hal kepada beliau dengan suara yang melebihi suara beliau. Ketika 'Umar radhiyallahu 'anhu meminta izin, mereka bersegera bersembunyi di balik tabir. Lalu 'Umar masuk sedangkan Rasulullah ﷺ tertawa. Maka 'Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah, apa yang membuatmu tertawa?" Beliau bersabda: "Aku kagum terhadap wanita-wanita yang berada di sisiku tadi, ketika mereka mendengar suaramu, mereka bersegera berlari ke balik tabir." Maka 'Umar berkata: "Engkau lebih berhak untuk mereka segani, wahai Rasulullah." Kemudian 'Umar menghadap ke arah mereka seraya berkata: "Wahai musuh-musuh diri mereka sendiri! Apakah kalian segan kepadaku dan tidak segan kepada Rasulullah ﷺ?" Mereka menjawab: "Ya, engkau lebih keras dan lebih bersikap kasar daripada Rasulullah ﷺ." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Cukup wahai Ibn al-Khatthab! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan bertemu denganmu sedang menyusuri suatu jalan melainkan ia akan mengambil jalan lain yang bukan jalanmu." Dan beliau ﷺ bersabda: "Akhlak yang buruk adalah dosa yang tidak diampuni, dan prasangka buruk (su'udzan) adalah kesalahan yang merebak bau keburukannya." Dan beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba benar-benar sampai akibat buruk akhlaknya ke dasar kerak neraka Jahannam terkering."
الآثار قال ابن لقمان الحكيم لأبيه يا أبت أي الخصال من الإنسان خير قال الدين قال فإذا كانت اثنتين قال الدين والمال قال فإذا كانت ثلاثاً قال الدين والمال والحياء قال فإذا كانت أربعاً قال الدين والمال والحياء وحسن الخلق قال فإذا كانت خمساً قال الدين والمال والحياء وحسن الخلق والسخاء قال فإذا كانت ستاً قال يا بني إذا اجتمعت فيه الخمس خصال فهو نقي تقي والله ولي ومن الشيطان يري وقال الحسن مَنْ سَاءَ خُلُقُهُ عَذَّبَ نَفْسَهُ وَقَالَ أنس بن مالك إن العبد ليبلغ بحسن خلقه أعلى درجة في الجنة وهو غير عابد ويبلغ بسوء خلقه أسفل درك في جهنم وهو عابد وقال يحيى بن معاذ في سعة الأخلاق كنوز الأرزاق وقال وهب ابن منبه مثل السيء الْخُلُقِ كَمَثَلِ الْفَخَّارَةِ الْمَكْسُورَةِ لَا تُرَقَّعُ وَلَا تُعَادُ طِينًا وَقَالَ الفضيل لَأَنْ يَصْحَبَنِي فَاجِرٌ حسن الخلق أحب إلي من أن يصحبني عابد سيي الخلق وصحب ابن المبارك رجلا سيي الخلق في سفر فكان يحتمل منه ويداريه فلما فارقه بكى فقيل له في ذلك فقال بكيته رحمة له فارقته وخلقه معه لم يفارقه وقال الجنيد أربع ترفع العبد إلى أعلى الدرجات وإن قل عمله وعلمه الحلم والتواضع والسخاء وحسن الخلق وهو كمال الإيمان وقال الكناني التصوف خلق فمن زاد عليك في الخلق زاد عليك في التصوف وقال عمر ﵁ خالطوا الناس بالأخلاق وزايلوهم بالأعمال وقال يحيى بن معاذ سوء الخلق سيئة لا تنفع معها كثرة الحسنات وحسن الخلق حسنة لا تضر معها كثرة السيئات وسئل ابن عباس ما الكرم فقال هو ما بين الله في كتابه العزيز إن أكرمكم عند الله أتقاكم قيل فما الحسب قال أحسنكم خلقاً أفضلكم حسباً وقال لكل بنيان أساس وأساس الإسلام حسن الخلق وقال عطاء ما ارتفع من ارتفع إلا بالخلق الحسن ولم ينل أحد كماله إلا المصطفى ﷺ فأقرب الخلق إلى الله ﷿ السالكون آثاره بحسن الخلق
Riwayat-riwayat (Atsar): Putra Luqman al-Hakim bertanya kepada ayahnya: "Wahai ayahku, perihal manakah dari sifat manusia yang paling baik?" Luqman menjawab: "Agama." Ia bertanya lagi: "Jika dua perihal?" Beliau menjawab: "Agama dan harta." Ia bertanya lagi: "Jika tiga?" Beliau menjawab: "Agama, harta, dan rasa malu." Ia bertanya lagi: "Jika empat?" Beliau menjawab: "Agama, harta, rasa malu, dan akhlak yang baik." Ia bertanya lagi: "Jika lima?" Beliau menjawab: "Agama, harta, rasa malu, akhlak yang baik, dan kedermawanan." Ia bertanya lagi: "Jika enam?" Luqman berkata: "Wahai anakku, jika lima perihal ini berkumpul pada diri seseorang, maka ia adalah orang yang bersih dan bertakwa, Allah adalah pelindungnya, dan ia terbebas dari setan." Al-Hasan al-Basri berkata: "Barangsiapa buruk akhlaknya, niscaya ia menyiksa dirinya sendiri." Anas bin Malik berkata: "Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mencapai derajat tertinggi di surga dengan akhlaknya yang baik, meskipun ia bukan seorang ahli ibadah; dan ia benar-benar sampai ke tingkatan paling bawah di neraka Jahanam dengan akhlaknya yang buruk, meskipun ia seorang ahli ibadah." Yahya bin Mu'adz berkata: "Dalam kelapangan akhlak terdapat perbendaharaan rezeki." Wahb bin Munabbih berkata: "Perumpamaan orang yang buruk akhlaknya bagaikan tembikar yang pecah, tidak dapat ditambal dan tidak dapat dikembalikan menjadi tanah liat." Al-Fudhayl bin 'Iyadh berkata: "Sungguh, bila seorang pembuat dosa (fajir) yang berakhlak baik menyertaiku, itu lebih aku sukai daripada seorang ahli ibadah yang berakhlak buruk menyertaiku." Ibn al-Mubarak pernah menyertai seorang laki-laki yang berakhlak buruk dalam suatu perjalanan. Beliau bersabar menanggung sikapnya dan bersikap lembut kepadanya. Ketika mereka berpisah, Ibn al-Mubarak menangis. Saat ditanyakan hal itu kepada beliau, beliau menjawab: "Aku menangisinya karena kasihan kepadanya; aku telah berpisah darinya, sedangkan akhlak buruknya tetap bersamanya dan tidak berpisah darinya." Al-Junayd berkata: "Empat hal yang dapat mengangkat seorang hamba ke derajat tertinggi meskipun amal dan ilmunya sedikit: kesabaran (al-hilm), kerendahan hati (at-tawadhu'), kedermawanan (as-sakha'), dan akhlak yang baik (husnul khuluq); dan itu merupakan kesempurnaan iman." Al-Kinani berkata: "Tasawuf adalah akhlak; barangsiapa melebihi engkau dalam hal akhlak, maka ia telah melebihi engkau dalam hal Tasawuf." 'Umar r.a. berkata: "Bergaullah dengan manusia dengan akhlak, dan berpisahlah dari mereka dengan amal perbuatan." Yahya bin Mu'adz berkata: "Akhlak yang buruk adalah keburukan yang mana banyaknya kebaikan tidak lagi bermanfaat bersamanya, sedangkan akhlak yang baik adalah kebaikan yang mana banyaknya keburukan tidak membahayakannya." Ibnu 'Abbas ditanya: "Apakah kemuliaan (al-karam) itu?" Beliau menjawab: "Yaitu apa yang telah dijelaskan oleh Allah dalam Kitab-Nya yang Mulia: 'Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu' (QS. Al-Hujurat: 13)." Ditanyakan lagi: "Lantas apakah kehormatan nasab (al-hasab) itu?" Beliau menjawab: "Yang paling baik akhlaknya di antara kalian adalah yang paling utama kehormatan nasabnya." Dan beliau berkata: "Setiap bangunan memiliki fondasi, dan fondasi Islam adalah akhlak yang baik." 'Atha' berkata: "Tidaklah seseorang naik derajatnya melainkan dengan akhlak yang baik, dan tidak ada seorang pun yang mencapai kesempurnaannya selain Al-Musthafa ﷺ. Maka ciptaan (hamba) yang paling dekat kepada Allah Azza wa Jalla adalah orang-orang yang meniti jejak beliau dengan akhlak yang baik."
بيان حقيقة حسن الخلق وسوء الخلق
Penjelasan tentang Hakikat Akhlak yang Baik dan Akhlak yang Buruk
اعلم أن الناس قد تكلموا في حقيقة حسن الخلق وأنه ما هو وما تعرضوا لحقيقته وإنما تعرضوا لثمرته ثم لم يستوعبوا جميع ثمراته بل ذكر كل واحد من ثمراته ما خطر له وما كان حاضراً في ذهنه ولم يصرفوا العناية إلى ذكر حده وحقيقته المحيطة بجميع ثمراته على التفصيل والاستيعاب وذلك كقول الحسن حسن الخلق بسط الوجه
Ketahuilah bahwa orang-orang telah membicarakan tentang hakikat akhlak yang baik dan apakah ia sebenarnya. Namun, mereka belum menyentuh hakikatnya secara mendalam, melainkan hanya menyentuh buah (hasil)-nya saja. Bahkan, mereka tidak mencakup seluruh buahnya, melainkan masing-masing hanya menyebutkan buah akhlak baik yang terlintas dan hadir di dalam benaknya saja, serta tidak menumpahkan perhatian untuk menyebutkan batasan (definisi) dan hakikatnya yang mencakup seluruh buahnya secara terperinci dan menyeluruh. Hal itu seperti ucapan Al-Hasan: "Akhlak yang baik adalah wajah yang berseri-seri,
وبذل الندى وكف الأذى وقال الواسطي هو أَنْ لَا يُخَاصِمَ وَلَا يُخَاصَمَ مِنْ شِدَّةِ معرفته بالله تعالى وقال شاه الكرماني هو كف الأذى واحتمال المؤن وقال بعضهم هو أن يكون من الناس قريباً وفيما بينهم غريباً وقال الواسطي مرة هو إرضاء الخلق في السراء والضراء وقال أبو عثمان هو الرضا عن الله تعالى وسئل سهل التستري عن حسن الخلق فقال أدناه الاحتمال وترك المكافأة والرحمة للظالم والاستغفار له والشفقة عليه وقال مرة أن لا يتهم الحق في الرزق ويثق به ويسكن إلى الوفاء بما ضمن فيطيعه ولا يعصيه في جميع الأمور فيما بينه وبينه وفيما بينه وبين الناس وقال علي ﵁ حسن الخلق في ثلاث خصال اجتناب المحارم وطلب الحلال والتوسعة على العيال وقال الحسين بن منصور هو أن لا يؤثر فيك جفاء الخلق بعد مطالعتك للحق وقال أبو سعيد الخراز هو أن لا يكون لك هم غير الله تعالى فهذا وأمثاله كثير وهو تعرض لثمرات حسن الخلق لا لنفسه ثم ليس هو محيطاً بجميع الثمرات أيضاوكشف الغطاء عن الحقيقة أولى من نقل الأقاويل المختلفة فنقول الخلق والخلق عبارتان مستعملتان معاً يقال فلان حسن الخلق والخلق أي حسن الباطن والظاهر فيراد بالخلق الصورة الظاهرة ويراد بالخلق الصورة الباطنة وذلك لأن الإنسان مركب من جسد مدرك بالبصر ومن روح ونفس مدرك بالبصيرة ولكل واحد منهما هيئة وصورة إما قبيحة وإما جميلة فالنفس المدركة بالبصيرة أعظم قدراً من الجسد المدرك بالبصر ولذلك عظم الله أمره بإضافته إليه إذ قال تعالى إني خالق بشراً من طين فإذا سويته ونفخت فيه من روحي فقعوا له ساجدين فنبه على أن الجسد منسوب إلى الطين والروح إلى رب العالمين والمراد بالروح والنفس في هذا المقام واحد فالخلق عبارة عن هَيْئَةٌ فِي النَّفْسِ رَاسِخَةٌ عَنْهَا تُصْدِرُ الْأَفْعَالَ بِسُهُولَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرَوِيَّةٍ فَإِنْ كَانَتِ الْهَيْئَةُ بِحَيْثُ تَصْدُرُ عَنْهَا الْأَفْعَالُ الْجَمِيلَةُ الْمَحْمُودَةُ عَقْلًا وَشَرْعًا سُمِّيَتْ تِلْكَ الْهَيْئَةُ خُلُقًا حَسَنًا وَإِنْ كَانَ الصَّادِرُ عَنْهَا الْأَفْعَالَ الْقَبِيحَةَ سُمِّيَتِ الْهَيْئَةُ الَّتِي هِيَ الْمَصْدَرُ خُلُقًا سَيِّئًا وَإِنَّمَا قُلْنَا إِنَّهَا هَيْئَةٌ رَاسِخَةٌ لأن من يصدر منه بَذْلُ الْمَالِ عَلَى النُّدُورِ لِحَاجَةٍ عَارِضَةٍ لَا يُقَالُ خُلُقُهُ السَّخَاءُ مَا لَمْ يَثْبُتُ ذَلِكَ فِي نَفْسِهِ ثُبُوتَ رُسُوخٍ وَإِنَّمَا اشْتَرَطْنَا أَنْ تَصْدُرَ مِنْهُ الْأَفْعَالُ بِسُهُولَةٍ مِنْ غَيْرِ رَوِيَّةٍ لِأَنَّ مَنْ تَكَلَّفَ بَذْلَ الْمَالِ أَوِ السُّكُوتَ عِنْدَ الْغَضَبِ بِجُهْدٍ وَرَوِيَّةٍ لَا يُقَالُ خُلُقُهُ السخاء والحلم
kemudahan memberi, dan menahan diri dari menyakiti orang lain." Al-Wasithi berkata: "Akhlak yang baik adalah tidak memusuhi dan tidak dimusuhi, karena betapa mendalamnya ma'rifat (pengenalan)-nya kepada Allah Ta'ala." Shah Al-Kirmani berkata: "Akhlak yang baik adalah menahan diri dari menyakiti dan sanggup menanggung kesusahan." Sebagian ulama berkata: "Akhlak yang baik adalah engkau berada dekat dengan manusia namun merasa asing di tengah-tengah mereka." Al-Wasithi berkata pada kesempatan lain: "Akhlak yang baik adalah membuat ridha makhluk dalam keadaan lapang maupun sempit." Abu 'Utsman berkata: "Akhlak yang baik adalah ridha kepada Allah Ta'ala." Sahl At-Tustari pernah ditanya tentang akhlak yang baik, lalu beliau menjawab: "Tingkatan terendahnya adalah menanggung gangguan, tidak membalas kejahatan, mengasihi orang yang zalim, memohonkan ampunan baginya, serta menaruh rasa iba kepadanya." Pada kesempatan lain beliau berkata: "Hendaknya ia tidak mencurigai Al-Haq (Allah) dalam hal rezeki, memercayai-Nya, merasa tenang terhadap pemenuhan jaminan-Nya, serta menaati-Nya dan tidak bermaksiat kepada-Nya dalam segala perkara, baik dalam hubungan antara dirinya dengan Allah maupun antara dirinya dengan manusia." 'Ali r.a. berkata: "Akhlak yang baik terdapat dalam tiga perkara: menjauhi hal-hal yang haram, mencari yang halal, dan melapangkan nafkah untuk keluarga." Al-Husain bin Manshur berkata: "Akhlak yang baik adalah tidak terpengaruhnya dirimu oleh sikap kasar makhluk setelah engkau memandang Al-Haq (Allah)." Abu Sa'id Al-Kharraz berkata: "Akhlak yang baik adalah engkau tidak memiliki keinginan selain Allah Ta'ala." Perkataan-perkataan ini dan yang seumpamanya sangat banyak, dan seluruhnya menyentuh buah dari akhlak yang baik, bukan hakikat zat akhlak itu sendiri. Selain itu, ucapan-ucapan tersebut juga tidak mencakup seluruh buahnya. Maka menyingkap tabir hakikatnya tentu lebih utama daripada sekadar mengutip berbagai pendapat yang berbeda-beda. Oleh karena itu kami katakan: Kata khalq (penciptaan fisik) dan khuluq (akhlak/karakter batin) adalah dua istilah yang kerap digunakan secara bersamaan. Dikatakan: "Fulan itu baik khalq-nya dan khuluq-nya," artinya baik batinnya dan lahirnya. Kata khalq dimaksudkan untuk bentuk lahiriah, sedangkan khuluq dimaksudkan untuk bentuk batiniah. Hal itu karena manusia terdiri dari jasad yang dapat dijangkau oleh mata kepala (bashar), serta roh dan jiwa yang dapat dijangkau oleh mata hati (bashirah). Masing-masing dari keduanya memiliki kondisi dan rupa, bisa berupa bentuk yang buruk atau bentuk yang indah. Jiwa yang dapat dijangkau oleh bashirah nilainya jauh lebih agung daripada jasad yang dijangkau oleh bashar. Oleh sebab itu, Allah mengagungkan urusan roh dengan menyandarkan kepada diri-Nya ketika Dia berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku-sempurnakan kejadiannya dan Ku-tiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya" (QS. Sad: 71-72). Allah mengingatkan bahwa jasad dinisbatkan kepada tanah, sedangkan roh dinisbatkan kepada Tuhan semesta alam. Yang dimaksud dengan roh dan jiwa (nafs) dalam tingkatan ini adalah satu hal yang sama. Maka, khuluq (akhlak) adalah ungkapan tentang suatu sifat/kondisi yang tertanam kuat dalam jiwa, yang darinya terpancar perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan mendalam. Jika sifat tersebut melahirkan perbuatan-perbuatan yang indah dan terpuji menurut akal dan syariat, maka sifat itu dinamakan akhlak yang baik (khuluq hasan). Namun jika yang lahir darinya adalah perbuatan-perbuatan yang buruk, maka sifat yang menjadi sumbernya itu dinamakan akhlak yang buruk (khuluq sayyi'). Kami katakan bahwa ia adalah "sifat yang tertanam kuat", karena barangsiapa yang mendermakan harta hanya sesekali karena ada kebutuhan yang mendesak, ia tidak dapat dikatakan berakhlak dermawan (as-sakha'), selama sifat itu belum menetap secara kuat dan mengakar di dalam jiwanya. Dan kami mensyaratkan bahwa perbuatan tersebut "terpancar dengan mudah tanpa pertimbangan mendalam", karena barangsiapa yang memaksakan diri mengeluarkan harta atau berdiam diri saat marah dengan susah payah dan melalui pemikiran panjang, ia belum dapat dikatakan berakhlak dermawan dan penyabar (al-hilm).
فههنا أربعة أمور
Maka di sini terdapat empat perkara:
أحدها فعل الجميل والقبيح
Pertama: Melakukan perbuatan yang indah (baik) dan yang buruk.
والثاني القدرة عليهما
Kedua: Kemampuan (potensi) untuk melakukan keduanya.
والثالث المعرفة بهما
Ketiga: Pengetahuan (kesadaran) tentang keduanya.
والرابع هيئة للنفس بها تميل إلى أحد الجانبين ويتيسر عليها أحد الأمرين إما الحسن وإما القبيح
Keempat: Sifat/kondisi jiwa yang dengannya jiwa cenderung kepada salah satu dari dua sisi tersebut, sehingga memudahkan baginya untuk melakukan salah satu dari dua perkara: apakah yang baik atau yang buruk.
وليس الخلق عبارة عن الفعل فرب شخص خلقه السخاء ولا يبذل إما لفقد المال أو لمانع وربما يكون خلقه البخل وهو يبذل إما لباعث أو لرياء وليس هو عبارة عن القوة لأن نسبة القوة إلى الإمساك والإعطاء بل إلى الضدين واحد وكل إنسان خلق بالفطرة قادر على الإعطاء والإمساك وذلك لا يوجب خلق البخل ولا خلق السخاء وليس هو عبارة عن المعرفة فإن المعرفة تتعلق بالجميل والقبيح جميعاً على وجه واحد بل هو عبارة عن المعنى الرابع وهو الهيئة التي بها تستعد النفس لأن يصدر منها الإمساك أو البذل فالخلق إذا عبارة عن هيئة النفس وصورتها الباطنة وكما أن حسن الصورة الظاهرة مطلقاً لا يتم بحسن العينين دون الأنف والفم والخد بل لا بد من حسن الجميع ليتم حسن الظاهر فكذلك في الباطن أربعة أركان لا بد من الحسن في جميعها حتى يتم حسن الخلق فإذا استوت الأركان الأربعة واعتدلت وتناسبت حصل حسن الخلق وهو قوة العلم وقوة الغضب وقوة الشهوة وقوة العدل بين هذه القوى الثلاث
Akhlak bukanlah perbuatan itu sendiri, sebab betapa banyak orang yang akhlaknya adalah dermawan namun ia tidak memberi, baik karena tidak memiliki harta maupun karena ada halangan tertentu; dan sering kali seseorang berakhlak kikir tetapi ia memberi, baik karena ada dorongan tertentu atau karena riya'. Akhlak juga bukan ungkapan tentang kemampuan (potensi), sebab perbandingan potensi terhadap menahan atau memberi—bahkan terhadap dua hal yang berlawanan—adalah sama. Setiap manusia diciptakan secara fitrah mampu untuk memberi dan menahan, dan hal itu tidak serta-merta mewajibkan adanya akhlak kikir maupun akhlak dermawan. Akhlak juga bukan ungkapan tentang pengetahuan, sebab pengetahuan berkaitan dengan hal yang baik dan buruk secara bersamaan dalam satu kadar yang sama. Melainkan, akhlak adalah ungkapan tentang makna yang keempat, yaitu kondisi/sifat jiwa yang dengannya jiwa bersiap diri untuk memancarkan tindakan menahan atau memberi. Dengan demikian, akhlak adalah ungkapan tentang kondisi jiwa dan rupa batinnya. Sebagaimana keindahan rupa lahiriah secara mutlak tidak sempurna hanya dengan indahnya kedua mata tanpa hidung, mulut, dan pipi—bahkan harus ada keindahan pada keseluruhannya agar keindahan lahiriah menjadi sempurna—maka demikian pula di dalam batin terdapat empat rukun yang harus memiliki kebaikan pada keseluruhannya hingga akhlak yang baik menjadi sempurna. Apabila keempat rukun ini seimbang, lurus, dan selaras, maka terwujudlah akhlak yang baik. Keempat rukun tersebut adalah: kekuatan ilmu (quwwatul 'ilm), kekuatan marah (quwwatul ghadhab), kekuatan syahwat (quwwatush syahwah), dan kekuatan keadilan (quwwatul 'adl) di antara ketiga kekuatan ini.
أما قوة العلم فحسنها وصلاحها في أن تصير بحيث يسهل بها درك الفرق بين الصدق والكذب في الأقوال وبين الحق والباطل في الاعتقادات وبين الجميل والقبيح في الأفعال فإذا صلحت هذه القوة حصل منها ثمرة الحكمة والحكمة رأس الأخلاق الحسنة وهي التي قال الله فيها ومن يؤت الحكمة فقد أوتى خيرا كثيرا
Adapun kekuatan ilmu (quwwatul 'ilm), kebaikan dan kelayakannya adalah dengan menjadi sedemikian rupa sehingga dengannya memudahi pemahaman perbedaan antara kebenaran dan kedustaan dalam perkataan, antara kebenaran dan kebatilan dalam keyakinan, serta antara keindahan dan keburukan dalam perbuatan. Apabila kekuatan ini telah baik, maka lahirlah darinya buah berupa hikmah. Hikmah adalah puncak dari akhlak yang baik, dan dialah yang difirmankan oleh Allah mengenainya: "Dan barangsiapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak" (QS. Al-Baqarah: 269).
وأما قوة الغضب فحسنها في أن يصير انقباضها وانبساطها على حد ما تقتضيه الحكمة وكذلك الشهوة حسنها وصلاحها في أن تكون تحت إشارة الحكمة أعني إشارة العقل والشرع
Adapun kekuatan marah (quwwatul ghadhab), kebaikannya terletak pada kondisi di mana penahanan dan pelepasan kemarahannya berada pada batasan yang dituntut oleh hikmah. Demikian pula syahwat, kebaikan dan kelayakannya adalah dengan berada di bawah petunjuk hikmah, yaitu petunjuk akal sehat dan syariat.
وأما قوة العدل فهو ضبط الشهوة والغضب تحت إشارة العقل والشرع
Adapun kekuatan keadilan (quwwatul 'adl), yaitu mengendalikan syahwat dan amarah di bawah petunjuk akal sehat dan syariat.
فالعقل مثاله مثال الناصح المشير
Maka akal perumpamaannya bagaikan penasihat yang memberikan pertimbangan,
وقوة العدل هي القدرة ومثالها مثال المنفذ الممضي لإشارة العقل
dan kekuatan keadilan adalah pelaksana kuasa, yang perumpamaannya bagaikan pihak yang menindaklanjuti dan menjalankan petunjuk akal,
والغضب هو الذي تنفد فيه الإشارة ومثاله مثال كلب الصيد فإنه يحتاج إلى أن يؤدب حتى يكون استرساله وتوقفه بحسب الإشارة لا بحسب هيجان شهوة النفس والشهوة مثالها مثال الفرس الذي يركب في طلب الصيد فإنه تارة يكون مروضاً مؤدباً وتارة يكون جموحاً فمن استوت فيه هذه الخصال واعتدلت فهو حسن الخلق مطلقاً ومن اعتدل فيه بعضها دون البعض فهو حسن الخلق بالإضافة إلى ذلك المعنى خاصة كالذي يحسن بعض أجزاء وجهه دون بعض وحسن القوة الغضبية واعتدالها يعبر عنه بالشجاعة وحسن قوة الشهوة واعتدالها يعبر عنه بالعفة
sedangkan amarah adalah pihak tempat berlakunya petunjuk tersebut, yang perumpamaannya bagaikan anjing buruan; ia membutuhkan pendidikan (pelatihan) agar pelepasan dan penahanannya sesuai dengan petunjuk, bukan sesuai dengan gejolak hawa nafsu. Dan syahwat perumpamaannya bagaikan kuda tunggangan untuk berburu; terkadang ia terlatih dan terdidik, dan terkadang keliarannya tidak terkendali. Barangsiapa yang dalam dirinya sifat-sifat ini selaras dan seimbang, maka ia berakhlak baik secara mutlak. Dan barangsiapa yang seimbang pada sebagian sifat tanpa sebagian yang lain, maka ia berakhlak baik hanya terbatas pada makna khusus tersebut, sebagaimana orang yang tampan pada sebagian wajahnya namun tidak pada sebagian yang lain. Kebaikan kekuatan amarah dan keseimbangannya diungkapkan dengan "keberanian" (as-syaja'ah), sedangkan kebaikan kekuatan syahwat dan keseimbangannya diungkapkan dengan "kesucian diri" (al-'iffah).
فإن مالت قوة الغضب عن الاعتدال إلى طرف الزيادة تسمى تهوراً وإن مالت إلى الضعف والنقضان تسمى جبناً وخوراً
Jika kekuatan amarah menyimpang dari keseimbangan menuju arah berlebihan, maka dinamakan "keramukan/kenekatan" (tahawwur); dan jika menyimpang menuju kelemahan dan kekurangan, dinamakan "pengecut" (jubn) dan "kelemahan batin" (khawar).
وإن مالت قوة الشهوة إلى طرف الزيادة تسمى شرهاً وإن مالت إلى النقصان تسمى جموداً
Dan jika kekuatan syahwat menyimpang menuju arah berlebihan, maka dinamakan "kerakusan" (syarah); dan jika menyimpang menuju kekurangan, dinamakan "kebekuan/ketiadaan gairah" (jumud).
والمحمود هو الوسط وهو الفضيلة والطرفان رذيلتان مذمومتان والعدل إذا فات فليس له طرفا زيادة ونقصان بل له ضد واحد ومقابل وهو الجور
Adapun yang terpuji adalah sikap pertengahan (al-wasath), yaitu kebajikan (al-fadhilah), sedangkan kedua ujung ekstrem adalah dua kehinaan yang tercela. Dan keadilan (al-'adl), apabila sirna, tidak memiliki dua ujung berlebihan dan kekurangan, melainkan hanya memiliki satu lawan dan kebalikan, yaitu kezaliman (al-jaur).
وأما الحكمة فيسمى إفراطها عند الاستعمال في الأغراض الفاسدة خبثاً وجربزة ويسمى تفريطها بلهاً والوسط هو الذي يختص باسم الحكمة
Adapun hikmah, maka sifat berlebihannya ketika digunakan untuk tujuan-tujuan yang rusak dinamakan "kelicikan" (khubts) dan "kejahatan akal" (jarbazah); sedangkan sifat kekurangannya dinamakan "kebodohan/ketungluan" (balah). Dan pertengahan itulah yang secara khusus menyandang nama hikmah (al-hikmah).
فإذن أمهات الْأَخْلَاقِ وَأُصُولُهَا أَرْبَعَةٌ الْحِكْمَةُ وَالشَّجَاعَةُ وَالْعِفَّةُ وَالْعَدْلُ وَنَعْنِي بِالْحِكْمَةِ حَالَةً لِلنَّفْسِ بِهَا يُدْرَكُ الصَّوَابُ من الخطأ في جميع الأفعال الِاخْتِيَارِيَّةِ
Dengan demikian, induk dan asal-usul akhlak itu ada empat: hikmah (kebijaksanaan), syaja'ah (keberanian), 'iffah (kesucian diri), dan 'adl (keadilan). Yang kami maksud dengan hikmah adalah suatu kondisi jiwa yang dengannya dapat diketahui dengan tepat antara yang benar dan yang salah dalam seluruh perbuatan ikhtiyariyah (perbuatan yang berdasarkan pilihan).
وَنَعْنِي بِالْعَدْلِ حَالَةً لِلنَّفْسِ وَقُوَّةً بِهَا تسوس الغضب والشهوة وتحملهما على مقتضى الحكمة وتضبطهما فِي الِاسْتِرْسَالِ وَالِانْقِبَاضِ عَلَى حَسَبِ مُقْتَضَاهَا وَنَعْنِي بِالشَّجَاعَةِ كَوْنَ قُوَّةِ الْغَضَبِ مُنْقَادَةً لِلْعَقْلِ فِي إِقْدَامِهَا وَإِحْجَامِهَا وَنَعْنِي بِالْعِفَّةِ تَأَدُّبَ قُوَّةِ الشَّهْوَةِ بِتَأْدِيبِ الْعَقْلِ وَالشَّرْعِ
Yang kami maksud dengan keadilan ('adl) adalah kondisi dan kekuatan jiwa yang dengannya ia mengendalikan amarah (ghadhab) dan syahwat, serta mengarahkan keduanya sesuai dengan tuntutan hikmah, serta mengendalikannya dalam pelepasan dan penahanan sesuai dengan tuntutannya. Yang kami maksud dengan keberanian (syaja'ah) adalah tunduknya kekuatan amarah kepada akal dalam hal melangkah maju atau mundur. Dan yang kami maksud dengan kesucian diri ('iffah) adalah terdidiknya kekuatan syahwat dengan pendidikan akal dan syariat.
فَمِنِ اعْتِدَالِ هَذِهِ الْأُصُولِ الأربعة تصدر الأخلاق الجميلة كلها
Maka dari keseimbangan (i'tidal) empat pokok ini, terpancarlah seluruh akhlak yang indah.
إذ من اعتدال قوة العقل يحصل حسن التدبير وجودة الذهن وثقابة الرأي وإصابة الظن والتفطن لدقائق الأعمال وخفايا آفات النفوس ومن إفراطها تصدر الجربزة والمكر والخداع والدهاء ومن تفريطها يصدر البله والغمارة والحمق والجنون وأعني بالغمارة قلة التجربة في الأمور مع سلامة التخيل فقد يكون الإنسان غمراً في شيء دون شيء والفرق بين الحمق الجنون أن الأحمق مقصوده صحيح ولكن سلوكه الطريق فاسد فلا تكون له روية صحيحة في سلوك الطريق الموصل إلى الغرض وأما المجنون فإنه يحتار ما لا ينبغي أن يختار فيكون أصل اختياره وإيثاره فاسداً
Sebab, dari keseimbangan kekuatan akal, lahirlah pengaturan yang baik (husnut tadbir), ketajaman pikiran, ketepatan pandangan, kebenaran dugaan, serta kecermatan terhadap kehalusan-kehalusan perbuatan dan kejahatan-kejahatan jiwa yang tersembunyi. Dari kelebihannya (ifrat) timbul kelicikan (jarbazah), makar, penipuan, dan kejahatan pikiran. Sedangkan dari kekurangannya (tafrit) timbul kebodohan (balah), kepolosan (ghamarah), pandir (humaq), dan kegilaan. Yang aku maksud dengan ghamarah adalah minimnya pengalaman dalam berbagai urusan beserta imajinasi yang masih polos, sebab manusia bisa jadi polos dalam satu hal namun tidak pada hal lainnya. Perbedaan antara pandir dan gila adalah bahwa orang yang pandir tujuannya benar tetapi jalan yang ditempuhnya salah, sehingga ia tidak memiliki pertimbangan yang benar dalam menempuh jalan yang menyampaikan pada tujuan tersebut. Adapun orang gila, ia memilih apa yang tidak sepatutnya dipilih, sehingga dasar pilihan dan kecenderungannya sendiri sudah rusak.
وأما خلق الشجاعة فيصدر منه الكرم والنجدة والشهامة وكسر النفس والاحتمال والحلم والثبات وكظم الغيظ والوقار والتودد وأمثالها وهي أخلاق محمودة
Adapun akhlak keberanian (syaja'ah), maka darinya terpancar kemurahan hati (karam), pertolongan (najdah), kewibawaan (syahamah), menundukkan hawa nafsu (kasrun nafs), ketahanan (ihtimal), kesabaran dan kelembutan (hilm), keteguhan (tsabat), menahan amarah (kadzmul ghaizh), ketenangan (waqar), kasih sayang (tawaddud), dan sejenisnya, yang kesemuanya merupakan akhlak yang terpuji.
وأما إفراطها وهو التهور فيصدر منه الصلف والبذخ
Adapun kelebihannya (ifrat), yaitu nekat tanpa perhitungan (tahawwur), maka darinya timbul kesombongan (shalaf) dan kemewahan yang berlebihan (badzakh),
والاستشاطة والتكبر والعجب وأما تفريطها فيصدر منه المهانة والذلة والجزع والخساسة وصغر النفس والانقباض عن تناول الحق الواجب
kemurkaan yang meluap-luap (istisyathah), takabur, dan ujub. Sedangkan kekurangannya (tafrit) membuahkan kehinaan (mahanah), kerendahan (dzillah), keluh kesah (jaza'), kekerdilan jiwa (khasasah), kekerdilan diri (sigharun nafs), serta enggan mengambil hak yang wajib.
وأما خلق العفة فيصدر منه السخاء والحياء والصبر والمسامحة والقناعة والورع واللطافة والمساعدة والظرف وقلة الطمع وأما ميلها إلى الإفراط أو التفريط فيحصل منه الحرص والشره والوقاحة والخبث والتبذير والتقتير والرياء والهتكة والمجانة والعبث والملق والحسد والشماتة والتذلل للأغنياء واستحقار الفقراء وغير ذلك
Adapun akhlak kesucian diri ('iffah), maka darinya timbul kedermawanan (sakha'), rasa malu (haya'), kesabaran, toleransi (musamahah), rasa cukup (qana'ah), wara', kelembutan, suka menolong, kecerdikan (dzarf), dan sedikitnya ketamakan. Adapun kecenderungannya kepada kelebihan (ifrat) atau kekurangan (tafrit), maka membuahkan ketamakan (hirsh), kerakusan (syarah), tidak punya rasa malu (waqahah), keji (khubts), pemborosan (tabdzir), kikir (taqtir), riya, penyingkapan keburukan (hatkah), gurauan vulgar (majanah), kesia-siaan (abats), penjilat (malaq), dengki (hasad), gembira atas penderitaan orang lain (syamatah), merendahkan diri kepada orang-orang kaya, dan menghina orang-orang fakir, serta selainnya.
فأمهات محاسن الأخلاق هذه الفضائل الأربعة وهي الحكمة والشجاعة والعفة والعدل والباقي فروعها
Maka induk dari kebaikan akhlak adalah empat keutamaan ini: hikmah, syaja'ah, 'iffah, dan 'adl, sedangkan selebihnya merupakan cabang-cabangnya.
ولم يبلغ كمال الاعتدال في هذه الأربع إلا رسول الله ﷺ والناس بعده متفاوتون في القرب والبعد منه فكل من قرب منه في هذه الأخلاق فهو قريب من الله تعالى بقدر قربه من رسول الله ﷺ وكل من جمع كمال هذه الأخلاق استحق أن يكون بين الخلق ملكاً مطاعاً يرجع الخلق كلهم إليه ويقتدون به في جميع الأفعال ومن انفك عن هذه الأخلاق كلها واتصف بأضدادها استحق أن يخرج من بين البلاد والعباد فإنه قد قرب من الشيطان اللعين المبعد فينبغي أن يبعد كما أن الأول قريب من الملك المقرب فينبغي أن يقتدى به ويتقرب إليه فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لم يبعث إلا ليتمم مكارم الأخلاق كما قال
Tidak ada yang mencapai kesempurnaan keseimbangan dalam empat hal ini selain Rasulullah ﷺ. Dan manusia setelah beliau berbeda-beda tingkat kedekatan dan kejauhannya dari beliau. Siapa yang dekat dengan beliau dalam akhlak-akhlak ini, maka ia dekat dengan Allah Ta'ala sesuai tingkat kedekatannya dengan Rasulullah ﷺ. Siapa yang menghimpun kesempurnaan akhlak ini, ia berhak menjadi pemimpin yang ditaati di antara makhluk, tempat seluruh makhluk kembali kepadanya dan meneladaninya dalam segala perbuatan. Dan siapa yang terlepas dari seluruh akhlak ini serta bersifat dengan kebalikannya, ia berhak diusir dari negeri dan hamba-hamba Allah, karena ia telah mendekati setan terkutuk yang dijauhkan, sehingga ia patut dijauhi; sebagaimana orang yang pertama dekat dengan malaikat yang didekatkan, sehingga patut diteladani dan didekati. Sebab, Rasulullah ﷺ tidak diutus melainkan untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak, sebagaimana sabda beliau:
وَقَدْ أَشَارَ الْقُرْآنُ إِلَى هَذِهِ الْأَخْلَاقِ فِي أَوْصَافِ الْمُؤْمِنِينَ فَقَالَ تَعَالَى إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصادقون فالإيمان بالله وبرسوله من غير ارتياب هو قوة اليقين وهو ثَمَرَةُ الْعَقْلِ وَمُنْتَهَى الْحِكْمَةِ وَالْمُجَاهَدَةُ بِالْمَالِ هُوَ السَّخَاءُ الَّذِي يَرْجِعُ إِلَى ضَبْطِ قُوَّةِ الشَّهْوَةِ
Al-Qur'an telah mengisyaratkan akhlak-akhlak ini dalam sifat-sifat orang-orang beriman. Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." Keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa keraguan adalah kekuatan keyakinan, yang merupakan buah dari akal dan puncak dari hikmah. Sedangkan berjihad dengan harta adalah kedermawanan (sakha') yang kembali pada pengendalian kekuatan syahwat.
وَالْمُجَاهَدَةُ بِالنَّفْسِ هِيَ الشَّجَاعَةُ الَّتِي تَرْجِعُ إِلَى اسْتِعْمَالِ قُوَّةِ الْغَضَبِ عَلَى شَرْطِ الْعَقْلِ وَحَدِّ الِاعْتِدَالِ فَقَدْ وَصَفَ اللَّهُ تَعَالَى الصَّحَابَةَ فَقَالَ أشداء على الكفار رحماء بينهم إِشَارَةً إِلَى أَنَّ لِلشِّدَّةِ مَوْضِعًا وَلِلرَّحْمَةِ مَوْضِعًا فَلَيْسَ الْكَمَالُ فِي الشِّدَّةِ بِكُلِّ حَالٍ وَلَا في الرحمة بكل حال فهذا بيان معنى الخلق وحسنه وقبحه وبيان أركانه وثمراته وفروعه
Dan berjihad dengan jiwa adalah keberanian (syaja'ah) yang kembali pada penggunaan kekuatan amarah sesuai syarat akal dan batas keseimbangan. Allah Ta'ala telah mensifati para sahabat dengan firman-Nya: "Keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka," sebagai isyarat bahwa ketegasan ada tempatnya dan kasih sayang ada tempatnya. Maka kesempurnaan bukanlah terletak pada ketegasan dalam segala keadaan, bukan pula pada kasih sayang dalam segala keadaan. Inilah penjelasan mengenai makna akhlak, kebaikan dan keburukannya, serta penjelasan rukun-rukun, buah, dan cabang-cabangnya.
بَيَانُ قَبُولِ الْأَخْلَاقِ لِلتَّغْيِيرِ بِطَرِيقِ الرِّيَاضَةِ
Penjelasan Mengenai Mampunya Akhlak Menerima Perubahan Melalui Jalan Latihan Jiwa (Riyadhah)
اعْلَمْ أن بعض من غلبت البطالة عليه اسْتَثْقَلَ الْمُجَاهَدَةَ وَالرِّيَاضَةَ وَالِاشْتِغَالَ بِتَزْكِيَةِ النَّفْسِ وَتَهْذِيبِ الْأَخْلَاقِ فَلَمْ تَسْمَحْ نَفْسُهُ بِأَنْ يَكُونَ ذَلِكَ لِقُصُورِهِ وَنَقْصِهِ وَخُبْثِ دُخْلَتِهِ فَزَعَمَ أَنَّ الْأَخْلَاقَ لَا يُتَصَوَّرُ تَغْيِيرُهَا فَإِنَّ الطِّبَاعَ لَا تَتَغَيَّرُ
Ketahuilah bahwa sebagian orang yang dikuasai oleh kelalaian menganggap berat kesungguhan (mujahadah), latihan jiwa (riyadhah), dan kesibukan menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs) serta meluruskan akhlak. Jiwanya tidak mau mengakui bahwa hal itu disebabkan oleh kekurangan, kelemahan, dan keburukan niat dalam dirinya, sehingga ia mengklaim bahwa akhlak tidak mungkin diubah karena watak dasar (thiba') tidak dapat berubah.
واستدل فيه بأمرين
Ia berdalil dalam hal itu dengan dua perkara:
أحدهما أن الخلق هو صورة الباطن كما أن الخلق هو صورة الظاهر فالخلقة الظاهرة لا يقدر على تغييرها فالقصير لا يقدر أن يجعل نفسه طويلاً ولا الطويل يقدر أن يجعل نفسه قصيراً ولا القبيح يقدر على تحسين صورته فكذلك القبح الباطن يجري هذا المجرى
Pertama, bahwa akhlak (karakter) adalah rupa batin sebagaimana khalaq (fisik) adalah rupa lahiriah. Sedangkan rupa lahiriah tidak mampu diubah, maka orang yang pendek tidak mampu menjadikan dirinya tinggi, orang yang tinggi tidak mampu menjadikan dirinya pendek, dan orang yang buruk rupa tidak mampu memperindah rupanya; maka demikian pula keburukan batin berlaku seperti hal tersebut.
والثاني أنهم قالوا حسن الخلق يقمع الشهوة والغضب وقد جربنا ذلك بطول المجاهدة وعرفنا أن ذلك من مقتضى المزاج والطبع فإنه قط لا ينقطع عن الآدمي فاشتغاله به تضييع زمان بغير فائدة فإن المطلوب هو قطع التفات القلب إلى الحظوظ العاجلة وذلك محال وجوده
Kedua, mereka berkata bahwa baiknya akhlak itu menumpas syahwat dan amarah, padahal kita telah mengujinya dengan mujahadah yang lama dan menyadari bahwa hal tersebut merupakan konsekuensi dari temperamen dan tabiat, yang tidak akan pernah terputus dari manusia. Maka mengurusnya adalah menyia-nyiakan waktu tanpa manfaat, karena yang dituntut adalah memutus kecenderungan hati kepada bagian-bagian kenikmatan duniawi yang disegerakan, padahal mewujudkan hal itu adalah mustahil.
فَنَقُولُ لَوْ كَانَتِ الْأَخْلَاقُ لَا تَقْبَلُ التَّغْيِيرَ لَبَطَلَتِ الْوَصَايَا وَالْمَوَاعِظُ وَالتَّأْدِيبَاتُ وَلَمَا قَالَ رَسُولُ الله
Maka kita katakan: Sekiranya akhlak tidak menerima perubahan, tentulah batal (sia-sia) wasiat, nasihat, dan pendidikan, serta Rasulullah tidak akan bersabda:
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَسِّنُوا أَخْلَاقَكُمْ وَكَيْفَ يُنْكَرُ هَذَا فِي حَقِّ الْآدَمِيِّ وَتَغْيِيرُ خُلُقِ الْبَهِيمَةِ مُمْكِنٌ إِذْ يُنْقَلُ الْبَازِي مِنَ الِاسْتِيحَاشِ إلى الأنس والكلب من شره الأكل إلى التأدب والإمساك والتخلية وَالْفَرَسُ مِنَ الْجِمَاحِ إِلَى السَّلَاسَةِ وَالِانْقِيَادِ وَكُلُّ ذَلِكَ تَغْيِيرٌ لِلْأَخْلَاقِ وَالْقَوْلُ الْكَاشِفُ لِلْغِطَاءِ عَنْ ذَلِكَ أَنْ نَقُولَ الْمَوْجُودَاتُ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى مَا لَا مَدْخَلَ لِلْآدَمِيِّ وَاخْتِيَارِهِ فِي أَصْلِهِ وَتَفْصِيلِهِ كَالسَّمَاءِ وَالْكَوَاكِبِ بَلْ أَعْضَاءُ الْبَدَنِ دَاخِلًا وَخَارِجًا وَسَائِرُ أَجْزَاءِ الْحَيَوَانَاتِ وَبِالْجُمْلَةِ كُلُّ مَا هُوَ حَاصِلٌ كَامِلٌ وَقَعَ الْفَرَاغُ مِنْ وُجُودِهِ وَكَمَالِهِ وَإِلَى مَا وُجِدَ وُجُودًا نَاقِصًا وَجُعِلَ فِيهِ قُوَّةٌ لِقَبُولِ الْكَمَالِ بَعْدَ أَنْ وُجِدَ شَرْطُهُ وَشَرْطُهُ قَدْ يَرْتَبِطُ بِاخْتِيَارِ الْعَبْدِ فَإِنَّ النَّوَاةَ ليست بِتُفَّاحٍ وَلَا نَخْلٍ إِلَّا أَنَّهَا خُلِقَتْ خِلْقَةً يُمْكِنُ أَنْ تَصِيرَ نَخْلَةً إِذَا انْضَافَ التَّرْبِيَةُ إِلَيْهَا وَلَا تَصِيرُ تُفَّاحًا أَصْلًا وَلَا بِالتَّرْبِيَةِ فَإِذَا صَارَتِ النَّوَاةُ مُتَأَثِّرَةً بِالِاخْتِيَارِ حَتَّى تَقْبَلَ بَعْضَ الْأَحْوَالِ دُونَ بَعْضٍ فَكَذَلِكَ الْغَضَبُ وَالشَّهْوَةُ لَوْ أَرَدْنَا قَمْعَهُمَا وَقَهْرَهُمَا بِالْكُلِّيَّةِ حَتَّى لَا يَبْقَى لَهُمَا أَثَرٌ لَمْ نَقْدِرْ عَلَيْهِ أَصْلًا وَلَوْ أَرَدْنَا سَلَاسَتَهُمَا وَقَوْدَهُمَا بِالرِّيَاضَةِ وَالْمُجَاهَدَةِ قَدَرْنَا عَلَيْهِ وَقَدْ أُمِرْنَا بِذَلِكَ وَصَارَ ذَلِكَ سَبَبَ نَجَاتِنَا وَوُصُولِنَا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى نَعَمْ الْجِبِلَّاتُ مُخْتَلِفَةٌ بَعْضُهَا سَرِيعَةُ الْقَبُولِ وَبَعْضُهَا بَطِيئَةُ الْقَبُولِ ولاختلافها سببان
shallallahu 'alaihi wa sallam: "Perbaikilah akhlak kalian!" Dan bagaimana mungkin hal ini dipungkiri pada diri manusia, padahal mengubah karakter binatang saja adalah mungkin? Sebab burung elang dapat dipindahkan dari sifat liarnya menuju kejinakan, anjing dapat diubah dari kerakusannya makan menuju sikap terdidik, menahan diri, dan melepaskan buruan, serta kuda dapat diubah dari sifat liar menuju kepatuhan dan ketundukan. Kesemuanya itu merupakan perubahan karakter. Penjelasan yang menyingkap tabir dari hal tersebut adalah dengan kita katakan: Bahwa wujud-wujud yang ada terbagi menjadi dua kelompok; pertama, yang tidak ada campur tangan dan pilihan manusia dalam asal-usul maupun perinciannya, seperti langit dan bintang-bintang, bahkan anggota badan bagian dalam maupun luar serta seluruh bagian tubuh hewan; secara umum segala sesuatu yang sudah terwujud secara sempurna dan telah selesai keberadaan serta kesempurnaannya. Kedua, apa yang terwujud dalam keadaan kurang (belum sempurna) dan dijadikan padanya potensi untuk menerima kesempurnaan setelah terpenuhi syaratnya, sedangkan syarat tersebut terkadang berkaitan dengan ikhtiar hamba. Sebab biji kurma bukanlah pohon apel dan bukan pula pohon kurma, namun ia diciptakan dengan penciptaan yang memungkinkan untuk menjadi pohon kurma jika ditambahkan perawatan padanya, dan ia tidak akan pernah menjadi pohon apel meskipun dengan perawatan. Maka jika biji kurma dapat terpengaruh oleh ikhtiar hingga menerima sebagian kondisi dan bukan kondisi yang lain, demikian pula amarah dan syahwat; sekiranya kita hendak menumpas dan menundukkan keduanya secara total hingga tidak tersisa bekasnya sedikit pun, tentu kita tidak akan mampu sama sekali. Namun jika kita hendak menjadikannya penurut dan mengendalikannya dengan latihan jiwa (riyadhah) dan perjuangan batin (mujahadah), tentu kita mampu melakukannya. Dan kita telah diperintahkan untuk hal itu, serta hal itu menjadi sebab keselamatan kita dan sampainya kita kepada Allah Ta'ala. Ya, memang watak dasar itu berbeda-beda; sebagian cepat menerima perubahan dan sebagian lagi lambat menerimanya, dan perbedaan tersebut disebabkan oleh dua hal:
أحدهما قوة الغريزة في أصل الجبلة وامتداد مدة الوجود فإن قوة الشهوة والغضب والتكبر موجودة في الإنسان ولكن أصعبها أمراً وأعصاها على التغيير قوة الشهوة فإنها أقدم وجوداً إذ الصبي في مبدإ الفطرة تخلق له الشهوة ثم بعد سبع سنين ربما يخلق له الغضب وبعد ذلك يخلق له قوة التمييز
Salah satunya adalah kuatnya insting pada asal watak dasar serta lamanya kurun waktu keberadaannya. Sebab kekuatan syahwat, amarah, dan kesombongan ada pada manusia, namun perkara yang paling sulit dan paling membangkang untuk diubah adalah kekuatan syahwat, karena ia paling awal keberadaannya; sebab seorang anak pada awal fitrahnya diciptakan padanya syahwat, kemudian setelah tujuh tahun barulah diciptakan padanya amarah, dan setelah itu barulah diciptakan padanya daya pembeda (tamyiz).
والسبب الثاني أن الخلق قد يتأكد بكثرة العمل بمقتضاه والطاعة له وباعتقاد كونه حسناً ومرضياً والناس فيه على أربع مراتب
Sebab kedua adalah bahwa akhlak itu dapat menjadi kuat dan kokoh dengan seringnya beramal sesuai dengan tuntutannya, menaatinya, serta meyakini bahwa akhlak tersebut baik dan diridai. Manusia dalam hal ini terbagi menjadi empat tingkatan.
الأولى وهو الإنسان الغفل الذي لا يميز بين الحق والباطل والجميل والقبيح بل بقي كما فطر عليه خالياً عن جميع الاعتقادات ولم تستتم شهوته أيضاً باتباع اللذات فهذا سريع القبول للعلاج جداً فلا يحتاج إلا إلى معلم ومرشد وإلى باعث من نفسه يحمله على المجاهدة فيحسن خلقه في أقرب زمان
Tingkatan pertama: Manusia yang lalai (awam), yang belum mampu membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang indah (terpuji) dan yang buruk (tercela). Ia tetap berada dalam fitrah asalnya, kosong dari segala keyakinan doktrinal, dan kehendak syahwatnya pun belum sepenuhnya dituruti untuk mengejar kelezatan. Orang seperti ini sangat cepat menerima pengobatan (terapi jiwa). Ia hanya membutuhkan seorang pengajar, pembimbing (mursyid), serta pendorong dari dalam dirinya yang membawanya untuk bermujahadah, sehingga akhlaknya akan menjadi baik dalam waktu yang sangat singkat.
والثانية أن يكون قد عرف قبح القبيح ولكنه لم يتعود العمل الصالح بل زين له سوء عمله فتعاطاه انقياداً لشهواته وإعراضاً عن صواب رأيه لاستيلاء الشهوة عليه ولكن علم تقصيره في عمله فأمره أصعب من الأول إذ قد تضاعفت الوظيفة عليه إذ عليه قلع ما رسخ في نفسه أولاً من كثرة الاعتياد للفساد والآخر أن يغرس في نفسه صفة الاعتياد للصلاح ولكنه بالجملة محل قابل للرياضة إن انتهض لها بجد وتشمير وحزم
Tingkatan kedua: Seseorang yang telah mengetahui keburukan dari hal yang buruk, namun ia belum terbiasa melakukan amal saleh. Kejelekan amalnya dihiasi (dianggap indah) baginya, sehingga ia melakukannya karena tunduk pada syahwatnya dan berpaling dari kebenaran akalnya akibat kuatnya cengkeraman syahwat tersebut. Meski demikian, ia menyadari kelalaian dan kekurangannya dalam beramal. Keadaannya lebih sulit daripada tingkatan pertama, karena tugasnya berlipat ganda: pertama, ia harus mencabut apa yang telah menghujam di dalam jiwanya akibat kebiasaan melakukan kerusakan; kedua, ia harus menanamkan kebiasaan melakukan kebaikan di dalam jiwanya. Namun secara umum, ia adalah wadah yang masih siap menerima riyadah (latihan spiritual) jika ia bangkit melakukannya dengan sungguh-sungguh, penuh kesiapan, dan ketetapan hati.
والثالثة أن يعتقد في الأخلاق القبيحة أنها الواجبة المستحسنة وأنها حق وجميل وتربى عليها فهذا يكاد تمتنع معالجته ولا يرجى صلاحه إلا على الندور وذلك لتضاعف أسباب الضلال
Tingkatan ketiga: Seseorang yang meyakini akhlak-akhlak tercela sebagai sesuatu yang wajib dan dianggap baik, serta menganggapnya sebagai kebenaran dan keindahan, lalu ia dibesarkan di atas keyakinan tersebut. Orang seperti ini hampir mustahil untuk diobati dan sangat jarang diharapkan perbaikannya, hal itu dikarenakan berlipat gandanya sebab-sebab kesesatan.
والرابعة أن يكون مع نشئه على الرأي الفاسد وتربيته على العمل به يرى الفضيلة في كثرة الشر واستهلاك النفوس ويباهي به ويظن أن ذلك يرفع قدره وهذا هو أصعب المراتب وفي مثله قيل ومن العناء رياضة الهرم ومن التعذيب تهذيب الذيب
Tingkatan keempat: Seseorang yang selain tumbuh di atas pandangan yang rusak dan dibesarkan untuk mengamalkannya, ia juga memandang keutamaan itu terletak pada banyaknya melakukan kejahatan dan membinasakan jiwa, serta membanggakannya dan mengira bahwa hal itu meninggikan kedudukannya. Ini adalah tingkatan yang paling sulit. Mengenai orang seperti inilah dikatakan syair: 'Di antara kesusahan adalah melatih orang yang sudah tua renta, dan di antara siksaan adalah mendidik serigala.'
والأول من هؤلاء جاهل فقط
Orang pada tingkatan pertama dari mereka ini hanyalah seorang yang bodoh (awam) semata.
والثاني جاهل وضال
Orang pada tingkatan kedua adalah seorang yang bodoh dan sesat.
والثالث جاهل وضال وفاسق
Orang pada tingkatan ketiga adalah seorang yang bodoh, sesat, dan fasik.
والرابع جاهل وضال وفاسق وشرير
Orang pada tingkatan keempat adalah seorang yang bodoh, sesat, fasik, dan jahat (perusak).
وأما الخيال الآخر الذي استدلوا به وهو قولهم إن الآدمي ما دام حياً فلا تنقطع عنه الشهوة والغضب وحب الدنيا وسائر هذه الأخلاق فهذا غلط وقع لطائفة ظنوا أن الْمَقْصُودُ مِنَ الْمُجَاهَدَةِ قَمْعَ هَذِهِ الصِّفَاتِ بِالْكُلِّيَّةِ وَمَحْوَهَا وَهَيْهَاتَ فَإِنَّ الشَّهْوَةَ خُلِقَتْ لِفَائِدَةٍ وَهِيَ ضَرُورِيَّةٌ فِي الْجِبِلَّةِ فَلَوِ انْقَطَعَتْ شَهْوَةُ الطَّعَامِ لهلك الإنسان ولو انقطعت
Adapun kekeliruan anggapan (khayal) lain yang dijadikan dalil oleh mereka, yaitu perkataan mereka bahwa selama manusia masih hidup, maka tidak akan terputus darinya syahwat, amarah, cinta dunia, dan seluruh akhlak ini; maka ini adalah kesalahan yang menimpa suatu kelompok yang mengira bahwa maksud dari mujahadah adalah membasmi sifat-sifat ini secara totalitas dan menghapuskannya. Sungguh jauh dari kebenaran! Sebab syahwat diciptakan untuk suatu kemaslahatan dan merupakan hal yang niscaya dalam tabiat dasar (jibillat). Sekiranya syahwat terhadap makanan terputus, niscaya binasalah manusia; dan sekiranya terputus…
شهوة الوقاع لانقطع النسل ولو انعدم الْغَضَبُ بِالْكُلِّيَّةِ لَمْ يَدْفَعِ الْإِنْسَانُ عَنْ نَفْسِهِ مَا يُهْلِكُهُ وَلَهَلَكَ
…syahwat bersetubuh (berhubungan suami-istri), niscaya terputuslah keturunan. Dan sekiranya amarah hilang secara totalitas, niscaya manusia tidak akan mampu menolak dari dirinya apa yang membinasakannya, sehingga ia pun akan binasa.
وَمَهْمَا بَقِيَ أَصْلُ الشَّهْوَةِ فَيَبْقَى لَا مَحَالَةَ حُبُّ الْمَالِ الَّذِي يُوصِلُهُ إِلَى الشَّهْوَةِ حَتَّى يَحْمِلَهُ ذَلِكَ عَلَى إِمْسَاكِ الْمَالِ وَلَيْسَ الْمَطْلُوبُ إِمَاطَةَ ذَلِكَ بِالْكُلِّيَّةِ بَلِ الْمَطْلُوبُ رَدُّهَا إِلَى الِاعْتِدَالِ الَّذِي هُوَ وَسَطٌ بَيْنِ الْإِفْرَاطِ وَالتَّفْرِيطِ وَالْمَطْلُوبُ فِي صِفَةِ الْغَضَبِ حُسْنُ الْحَمِيَّةِ وَذَلِكَ بِأَنْ يَخْلُوَ عَنِ التَّهَوُّرِ وَعَنِ الْجُبْنِ جَمِيعًا وَبِالْجُمْلَةِ أَنْ يَكُونَ فِي نَفْسِهِ قَوِيًّا وَمَعَ قُوَّتِهِ مُنْقَادًا لِلْعَقْلِ وَلِذَلِكَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بينهم وَصَفَهُمْ بِالشِّدَّةِ وَإِنَّمَا تَصْدُرُ الشِّدَّةُ عَنِ الْغَضَبِ وَلَوْ بَطَلَ الْغَضَبُ لَبَطَلَ الْجِهَادُ وَكَيْفَ يُقْصَدُ قَلْعُ الشَّهْوَةِ وَالْغَضَبِ بِالْكُلِّيَّةِ وَالْأَنْبِيَاءُ ﵈ لَمْ يَنْفَكُّوا عَنْ ذَلِكَ إِذْ قَالَ ﷺ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَغْضَبُ كما يغضب البشر حديث أنه كان يتكلم بين يديه بما يكرهه فيغضب حَتَّى تَحْمَرَّ وَجْنَتَاهُ وَلَكِنْ لَا يَقُولُ إِلَّا حقاً فكان الغضب لا يخرجه عن الحق أخرجه الشيخان من حديث عبد الله بن الزبير في قصة شراج الحرة فقال لأن كان ابن عمتك فتلون وجه رسول الله ﷺ ولهما من حديث أبي سعيد الخدري وكان إذا كره شيئا عرفناه في وجهه ولهما من حديث عائشة وما انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لنفسه إلا أن تنتهك حرمة الله ولمسلم ما ينال منه شيء قط فينتقم من صاحبه الحديث حديث خير الأمور أوساطها أخرجه البيهقي في شعب الإيمان من رواية مطرف بن عبد الله معضلا وهذا له سر وتحقيق وهو أن السعادة منوطة بسلامة القلب عن عوارض هذا العالم قال الله تَعَالَى إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بقلبٍ سَلِيمٍ والبخل من عوارض الدنيا والتبذير أيضاً من عوارض الدنيا وشرط القلب أن يكون سليماً منهما أي لا يكون ملتفتاً إلى المال ولا يكون حريصاً على إنفاقه ولا على إمساكه فإن الحريص على الإنفاق مصروف القلب إلى الإنفاق كما أن الحريص على الإمساك مصروف القلب إلى الإمساك فكان كمال القلب أن يصفو عن الوصفين جميعاً وإذا لم يكن ذلك في الدنيا طلبنا ما هو الأشبه لعدم الوصفين وأبعد عن الطرفين وهو الوسط فإن الفاتر لا حار ولا بارد بل هو وسط بينهما فكأنه خال عن الوصفين فكذلك السخاء بين التبذير والتقتير والشجاعة بين الجبن التهور والعفة بين الشره والجمود وكذلك سائر الأخلاق فكلا طرفي الأمور ذميم هذا هو المطلوب وهو ممكن نعم يجب على الشيخ المرشد للمريد أن يقبح عنده الغضب رأساً ويذم إمساك المال رأساً ولا يرخص له في شيء منه لأنه لو رخص له في أدنى شيء اتخذ ذلك عذراً في استبقاء بخله وغضبه وظن أنه القدر المرخص فيه فإذا قصد الأصل وبالغ فيه ولم يتيسر له إلا كسر
Selama dasar syahwat itu masih ada, maka niscaya akan tetap ada cinta harta yang mengantarkan kepada syahwat tersebut, hingga mendorongnya untuk menahan harta. Maka bukanlah yang dituntut itu menghilangkan hal tersebut secara totalitas, melainkan mengembalikannya kepada sikap moderat (keseimbangan), yaitu pertengahan antara berlebihan (ifrath) dan meremehkan (tafrith). Adapun yang dituntut dalam sifat amarah adalah pembelaan (ketegasan) yang baik, yaitu dengan terbebas dari sikap nekat yang ceroboh (tahawwur) dan sikap penakut (jubn) sekaligus. Singkatnya, ia menjadi kuat di dalam jiwanya, namun beserta kekuatannya itu ia tunduk kepada akal. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: 'Keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka' [QS. Al-Fath: 29]. Allah menyifati mereka dengan kekerasan/ketegasan, padahal kekerasan itu bersumber dari amarah. Sekiranya amarah itu gugur (hilang), niscaya gugurlah jihad. Bagaimana mungkin bertujuan mencabut syahwat dan amarah secara totalitas, padahal para Nabi 'alaihimussalam pun tidak terlepas dari hal tersebut? Rasulullah ﷺ bersabda: 'Aku hanyalah manusia biasa, aku bisa marah sebagaimana manusia biasa marah.' (Hadis bahwa dibicarakan di hadapan beliau apa yang beliau benci lalu beliau marah hingga kedua pipinya memerah, namun beliau tidak berkata melainkan kebenaran, sehingga amarah tidak mengeluarkan beliau dari kebenaran. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadis Abdullah bin Az-Zubair dalam kisah saluran air Al-Harrah, lalu ia berkata: 'Apakah karena ia anak bibimu?' Maka berubahlah warna wajah Rasulullah ﷺ. Dan bagi keduanya [Al-Bukhari dan Muslim] dari hadis Abu Sa'id Al-Khudri: 'Beliau apabila membenci sesuatu, kami mengetahuinya pada wajah beliau.' Dan bagi keduanya dari hadis Aisyah: 'Tidaklah Rasulullah ﷺ membalas dendam untuk dirinya sendiri melainkan jika kehormatan Allah dilanggar.' Dan bagi Muslim: 'Tidak pernah beliau disakiti sedikit pun lalu membalas pelakunya…'). Hadis 'Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan' diriwayatkan oleh Al-Baihqi dalam Syu'abul Iman dari riwayat Mutharrif bin Abdullah secara mu'dhal. Hal ini memiliki rahasia dan hakikat mendalam, yaitu bahwa kebahagiaan itu bergantung pada keselamatan hati dari penyakit-penyakit (gangguan) dunia ini. Allah Ta'ala berfirman: 'Kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat (bersih)' [QS. Asy-Syu'ara': 89]. Kikir (bukhil) adalah bagian dari gangguan dunia, dan pemborosan (tabdzir) juga bagian dari gangguan dunia. Syarat hati adalah selamat dari keduanya, yaitu tidak berpaling (terikat) kepada harta, tidak pula sangat bernafsu untuk menginfakkannya maupun menahannya. Sebab orang yang sangat bernafsu menginfakkan, hatinya dipalingkan ke arah infak, sebagaimana orang yang bernafsu menahan harta, hatinya dipalingkan ke arah menahan harta. Maka kesempurnaan hati adalah bersih dari kedua sifat tersebut sekaligus. Apabila hal itu tidak memungkinkan secara mutlak di dunia, maka kita mencari yang paling menyerupai ketiadaan kedua sifat itu dan paling jauh dari kedua ujung ekstrem, yaitu posisi tengah (wasath). Sebab air yang suam-suam kuku itu tidak panas dan tidak dingin, melainkan tengah-tengah di antara keduanya, seolah-olah ia kosong dari kedua sifat tersebut. Demikian pula kemurahan hati (sakha') berada di antara pemborosan (tabdzir) dan kekikiran (taqtir); keberanian (syaja'ah) berada di antara penakut (jubn) dan nekat ceroboh (tahawwur); serta kesucian diri ('iffah) berada di antara kerakusan (syarah) dan kebekuan rasa (jumud). Demikian pula seluruh akhlak lainnya, kedua ujung ekstrem dalam segala hal adalah tercela. Inilah yang dituntut dan hal itu sangat memungkinkan. Benar, wajib bagi seorang Syekh pembimbing (Mursyid) bagi muridnya untuk menganggap buruk amarah secara total di hadapan murid tersebut dan mencela penahanan harta secara total, serta tidak memberikan keringanan (rukhsah) sedikit pun padanya. Sebab jika ia memberikan keringanan pada hal sekecil apa pun, murid itu akan menjadikannya alasan untuk mempertahankan kekikiran dan amarahnya, lalu mengira itulah kadar yang diperbolehkan. Maka ketika sang Mursyid menargetkan penumpasan asal-usulnya dan bersungguh-sungguh dalam hal itu, tidaklah diperoleh kecuali mematahkan…
سورته بحيث يعود إلى الاعتدال فالصواب له أن يقصد قلع الأصل حتى يتيسر له القدر المقصود فلا يكشف هذا السر للمريد فإنه موضع غرور الحمقى إذ يظن بنفسه أن غضبه بحق وأن إمساكه بحق
…gejolaknya sehingga kembali kepada keseimbangan (al-i'tidal). Maka yang benar bagi sang Mursyid adalah bertujuan mencabut asal-usul sifat tersebut agar memudahkannya mencapai kadar keseimbangan yang dituju. Rahasia ini tidak boleh disingkapkan kepada murid, sebab hal itu menjadi tempat tertipunya orang-orang bodoh, di mana ia akan mengira dalam dirinya bahwa amarahnya adalah demi kebenaran dan penahanan hartanya adalah demi kebenaran.
بَيَانُ السَّبَبِ الَّذِي بِهِ يُنَالُ حُسْنُ الْخُلُقِ عَلَى الْجُمْلَةِ
PENJELASAN TENTANG SEBAB YANG DENGANNYA KEBAIKAN AKHLAK DAPAT DIPEROLEH SECARA UMUM
قَدْ عَرَفْتَ أَنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ يَرْجِعُ إِلَى اعْتِدَالِ قُوَّةِ الْعَقْلِ وَكَمَالِ الْحِكْمَةِ وَإِلَى اعْتِدَالِ قُوَّةِ الْغَضَبِ وَالشَّهْوَةِ وَكَوْنِهَا لِلْعَقْلِ مُطِيعَةً وَلِلشَّرْعِ أَيْضًا وَهَذَا الِاعْتِدَالُ يَحْصُلُ عَلَى وَجْهَيْنِ
Engkau telah mengetahui bahwa kebaikan akhlak bermuara pada keseimbangan daya akal dan kesempurnaan hikmah, serta keseimbangan daya amarah dan syahwat dengan tunduknya kedua daya tersebut kepada akal dan juga kepada syariat. Keseimbangan ini dapat diperoleh melalui dua cara.
أَحَدُهُمَا بِجُودٍ إِلَهِيٍّ وَكَمَالٍ فِطْرِيٍّ بِحَيْثُ يُخْلَقُ الْإِنْسَانُ وَيُولَدُ كَامِلَ الْعَقْلِ حَسَنَ الْخُلُقِ قَدْ كُفِيَ سُلْطَانَ الشَّهْوَةِ وَالْغَضَبِ بَلْ خُلِقَتَا معتدلتين منقادتين للعقل والشرع فيصير عالماً بغير تعليم ومؤدباً بغير تأديب كعيسى بن مريم ويحيى بن زكريا ﵉ وكذا سائر الأنبياء صلوات الله عليهم أجمعين ولا يبعد أن يكون في الطبع والفطرة ما قد ينال بالاكتساب فرب صبي خلق صادق اللهجة سخياً جرياً وربما يخلق بخلافه فيحصل ذلك فيه بالاعتياد ومخالطة المتخلقين بهذه الأخلاق وربما يحصل بالتعلم
Salah satunya adalah dengan kemurahan Ilahi (jūd ilāhī) dan kesempurnaan fitrah, sekira manusia diciptakan dan dilahirkan dalam keadaan sempurna akalnya dan baik akhlaknya, telah dijaga dari cengkeraman syahwat dan amarah, bahkan keduanya diciptakan dalam keadaan seimbang dan tunduk kepada akal serta syariat. Maka ia menjadi orang yang berilmu tanpa proses belajar dan terdidik tanpa proses pengajaran, sebagaimana Nabi Isa bin Maryam dan Nabi Yahya bin Zakariya 'alaihimassalam, demikian pula seluruh para nabi shalawatullah 'alaihim ajma'in. Tidaklah mustahil bahwa dalam tabiat dan fitrah terdapat apa yang juga bisa diraih melalui usaha (ikhtiar/kasab). Betapa banyak anak kecil yang diciptakan jujur dalam bertutur kata, dermawan, dan pemberani; dan terkadang diciptakan sebaliknya, lalu hal itu diperolehnya melalui kebiasaan, bergaul dengan orang-orang yang berakhlak terpuji tersebut, dan terkadang diperoleh melalui belajar.
وَالْوَجْهُ الثَّانِي اكْتِسَابُ هَذِهِ الْأَخْلَاقِ بِالْمُجَاهَدَةِ وَالرِّيَاضَةِ وَأَعْنِي بِهِ حَمْلَ النَّفْسِ عَلَى الْأَعْمَالِ الَّتِي يَقْتَضِيهَا الْخُلُقُ الْمَطْلُوبُ فَمَنْ أَرَادَ مَثَلًا أَنْ يُحَصِّلَ لِنَفْسِهِ خُلُقَ الْجُودِ فَطَرِيقُهُ أَنْ يَتَكَلَّفَ تعاطي فعل الجواد وَهُوَ بَذْلُ الْمَالِ فَلَا يَزَالُ يُطَالِبُ نَفْسَهُ وَيُوَاظِبُ عَلَيْهِ تَكَلُّفًا مُجَاهِدًا نَفْسَهُ فِيهِ حَتَّى يَصِيرَ ذَلِكَ طَبْعًا لَهُ وَيَتَيَسَّرُ عَلَيْهِ فَيَصِيرَ بِهِ جَوَادًا وَكَذَا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحَصِّلَ لِنَفْسِهِ خُلُقَ التَّوَاضُعِ وَقَدْ غَلَبَ عَلَيْهِ الْكِبْرُ فَطَرِيقُهُ أَنْ يُوَاظِبَ عَلَى أَفْعَالِ الْمُتَوَاضِعِينَ مُدَّةً مَدِيدَةً وَهُوَ فِيهَا مُجَاهِدٌ نَفْسَهُ وَمُتَكَلِّفٌ إِلَى أَنْ يَصِيرَ ذَلِكَ خُلُقًا لَهُ وَطَبْعًا فَيَتَيَسَّرَ عَلَيْهِ
Cara kedua: Mengusahakan akhlak-akhlak ini melalui mujahadah dan riyadah. Yang aku maksud dengannya adalah memaksakan jiwa untuk melakukan amal-amal yang dituntut oleh akhlak yang dicari tersebut. Barang siapa yang ingin, misalnya, mengusahakan bagi jiwanya akhlak kedermawaan (al-jud), maka jalannya adalah dengan memaksakan diri melakukan perbuatan orang yang dermawan, yaitu menyumbangkan harta. Ia terus-menerus menuntut jiwanya dan membiasakannya dengan memaksakan diri seraya bermujahadah melawan jiwanya dalam hal itu, hingga hal tersebut menjadi tabiat baginya dan terasa mudah baginya, sehingga ia pun menjadi seorang yang dermawan. Demikian pula barang siapa yang ingin mengusahakan bagi jiwanya akhlak tawaduk (rendah hati) padahal kesombongan telah menguasainya, maka jalannya adalah membiasakan perbuatan orang-orang yang tawaduk dalam jangka waktu yang lama, seraya ia bermujahadah melawan jiwanya dan memaksakan diri, hingga hal itu menjadi akhlak dan tabiat baginya serta terasa mudah baginya.
وَجَمِيعُ الْأَخْلَاقِ الْمَحْمُودَةِ شَرْعًا تَحْصُلُ بِهَذَا الطَّرِيقِ وَغَايَتُهُ أَنْ يَصِيرَ الْفِعْلُ الصَّادِرُ مِنْهُ لَذِيذًا فَالسَّخِيُّ هُوَ الَّذِي يَسْتَلِذُّ بَذْلَ الْمَالِ الذي يبذله دُونَ الَّذِي يَبْذُلُهُ عَنْ كَرَاهَةٍ وَالْمُتَوَاضِعُ هُوَ الَّذِي يَسْتَلِذُّ التَّوَاضُعَ وَلَنْ تَرْسَخَ الْأَخْلَاقُ الدِّينِيَّةُ فِي النَّفْسِ مَا لَمْ تَتَعَوَّدِ النَّفْسُ جَمِيعَ الْعَادَاتِ الْحَسَنَةِ وَمَا لَمْ تَتْرُكْ جَمِيعَ الْأَفْعَالِ السيئة وما لم تواظب عليه مُوَاظَبَةَ مَنْ يَشْتَاقُ إِلَى الْأَفْعَالِ الْجَمِيلَةِ وَيَتَنَعَّمُ بِهَا وَيَكْرَهُ الْأَفْعَالَ الْقَبِيحَةَ وَيَتَأَلَّمُ بِهَا كَمَا قَالَ ﷺ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ وَمَهْمَا كَانَتِ الْعِبَادَاتُ وَتَرْكُ الْمَحْظُورَاتِ مَعَ كَرَاهَةٍ وَاسْتِثْقَالٍ فَهُوَ النُّقْصَانُ وَلَا ينال كمال السعادة به نعم المواظبة عليها بالمجاهدة خير ولكن بالإضافة إلى تركها لا بالإضافة إلى فعلها عن طوع وَلِذَلِكَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا على الخاشعين وقال ﷺ اعبد الله في الرضا فإن لم تستطع ففي الصبر على ما تكره خير كثير ثم لا يكن فِي نَيْلِ السَّعَادَةِ الْمَوْعُودَةِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ استلذاذ الطاعة واستكراه المعصية في زمان دُونَ زَمَانٍ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ على الدوام وفي جملة العمر وكلما كان العمر أطول كانت الفضيلة ارسخ وأكمل ولذلك لما سئل ﷺ عن السعادة فقال طول العمر في طاعة الله تعالى ولذلك كره الأنبياء والأولياء الموت فإن الدنيا مزرعة الآخرة وكلما كانت العبادات أكثر بطول العمر كان الثواب أجزل والنفس أزكى وأطهر والأخلاق أقوى وأرسخ وإنما مقصود العبادات تأثيرها في القلب وإنما يتأكد تأثيرها بكثرة المواظبة على العبادات وغاية هذه الأخلاق أن ينقطع عن النفس حب الدنيا ويرسخ فيها حب الله تعالى فلا يكون
Dan seluruh akhlak yang terpuji menurut syariat dapat diperoleh melalui jalan ini. Puncaknya adalah hingga perbuatan yang terbit darinya terasa lezat (nikmat). Maka orang yang dermawan (sakhi) adalah orang yang merasakan kelezatan dalam menyumbangkan harta yang ia keluarkan, bukan orang yang menyumbangkannya dengan perasaan terpaksa/benci. Orang yang tawaduk adalah orang yang merasakan kelezatan dalam bertawaduk. Akhlak-akhlak keagamaan tidak akan pernah meresap kokoh di dalam jiwa selama jiwa belum terbiasa dengan seluruh kebiasaan yang baik, belum meninggalkan seluruh perbuatan yang buruk, dan belum membiasakannya sebagaimana kebiasaan orang yang rindu pada perbuatan-perbuatan indah serta merasa nikmat dengannya, dan membenci perbuatan-perbuatan buruk serta merasa sakit karenanya, sebagaimana bersabda Rasulullah ﷺ: 'Dan dijadikan penyejuk hatiku (qurratu 'aini) berada di dalam shalat.' Sekira ibadah-ibadah dan meninggalkan larangan-larangan masih disertai rasa terpaksa dan berat, maka hal itu adalah suatu kekurangan dan tidak akan meraih kesempurnaan kebahagiaan dengannya. Benar, membiasakan hal tersebut dengan bermujahadah adalah baik, namun itu bila dibandingkan dengan meninggalkannya, bukan bila dibandingkan dengan melakukannya atas dasar kesadaran dan kerelaan hati. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: 'Dan sesungguhnya shalat itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk' [QS. Al-Baqarah: 45]. Dan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sembahlah Allah dalam keridaan, jika engkau tidak mampu, maka dalam kesabaran atas apa yang engkau benci terdapat kebaikan yang banyak.' Kemudian janganlah dalam meraih kebahagiaan yang dijanjikan atas kebaikan akhlak itu sekadar merasakan kelezatan ketaatan dan kebencian pada kemaksiatan pada suatu waktu tanpa waktu yang lain, melainkan hendaknya hal itu berlangsung secara terus-menerus dan di sepanjang umur. Semakin panjang umur seseorang, semakin kokoh dan sempurna keutamaannya. Oleh karena itu ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang kebahagiaan, beliau bersabda: 'Panjangnya umur dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala.' Karena itulah para nabi dan para wali membenci kematian, sebab dunia adalah ladang tanaman bagi akhirat. Semakin banyak ibadah dengan panjangnya umur, semakin melimpah pahala, semakin suci dan bersih jiwa, serta semakin kuat dan kokoh akhlak. Dan sungguh maksud dari ibadah-ibadah adalah pengaruhnya di dalam hati, sedang pengaruhnya itu akan semakin kuat dengan seringnya melazimkan ibadah. Puncak dari akhlak-akhlak ini adalah terputusnya cinta dunia dari jiwa dan meresapnya cinta Allah Ta'ala di dalamnya, sehingga tidak ada…
شيء أحب إليه من لقاء الله تعالى ﷿ فلا يستعمل جميع ماله إلا على الوجه الذي يوصله إليه وغضبه وشهوته من المسخرات له فلا يستعملهما إلا على الوجه الذي يوصله إلى الله تعالى وذلك بأن يكون موزوناً بميزان الشرع والعقل ثم يكون بعد ذلك فرحاً به مستلذاً له وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَبْعِدَ مَصِيرَ الصَّلَاةِ إِلَى حَدٍّ تَصِيرُ هِيَ قُرَّةَ الْعَيْنِ وَمَصِيرَ الْعِبَادَاتِ لَذِيذَةً فَإِنَّ الْعَادَةَ تَقْتَضِي فِي النَّفْسِ عَجَائِبَ أغرب من ذلك فإنا قد نرى الملوك والمنعمين في أحزان دائمة ونرى المقامر قَدْ يَغْلِبُ عَلَيْهِ مِنَ الْفَرَحِ وَاللَّذَّةِ بِقِمَارِهِ وَمَا هُوَ فِيهِ مَا يَسْتَثْقِلُ مَعَهُ فَرَحَ النَّاسِ بِغَيْرِ قِمَارٍ مَعَ أَنَّ الْقِمَارَ رُبَّمَا سَلَبَهُ مَالَهُ وَخَرَّبَ بَيْتَهُ وَتَرَكَهُ مُفْلِسًا وَمَعَ ذَلِكَ فَهُوَ يُحِبُّهُ وَيَلْتَذُّ بِهِ وَذَلِكَ لِطُولِ إِلْفِهِ لَهُ وَصَرْفِ نَفْسِهِ إِلَيْهِ مُدَّةً وَكَذَلِكَ اللَّاعِبُ بِالْحَمَامِ قَدْ يَقِفُ طُولَ النَّهَارِ فِي حَرِّ الشَّمْسِ قَائِمًا عَلَى رِجْلَيْهِ وَهُوَ لَا يحس بألمها لفرحه بالطيور وحركاتها وطيرانها وتحليقها في جو السماء بل نرى الفاجر العيار يفتخر بما يلقاه من الضرب والقطع والصبر على السياط وعلى أن يتقدم به للصلب وهو مع ذلك متبجح بنفسه وبقوته بالصبر على ذلك حتى يرى ذلك فخراً لنفسه ويقطع الواحد منهم إرباً إربا على أن يقر بما تعاطاه أو تعاطاه غيره فيصر على الإنكار ولا يبالي بالعقوبات فرحاً بما يعتقده كمالاً وشجاعة ورجولية فقد صارت أحواله مع ما فيها من النكال قرة عينه وسبب افتخاره بل لا حالة أخس وأقبح من حال المخنث في تشبهه بالإناث في نتف الشعر ووشم الوجه ومخالطة النساء فترى المخنث في فرح بحاله وافتخار بكماله في تخنثه يتباهى به مع المخنثين حتى يجري بين الحجامين والكناسين التفاخر والمباهاة كما يجري بين الملوك والعلماء فَكُلُّ ذَلِكَ نَتِيجَةُ الْعَادَةِ وَالْمُوَاظَبَةِ عَلَى نَمَطٍ وَاحِدٍ عَلَى الدَّوَامِ مُدَّةً مَدِيدَةً وَمُشَاهِدَةِ ذَلِكَ في المخالطين والمعارف فإذا كَانَتِ النَّفْسُ بِالْعَادَةِ تَسْتَلِذُّ الْبَاطِلَ وَتَمِيلُ إِلَيْهِ وإلى المقابح فَكَيْفَ لَا تَسْتَلِذُّ الْحَقَّ لَوْ رُدَّتْ إِلَيْهِ مُدَّةً وَالْتَزَمَتِ الْمُوَاظَبَةَ عَلَيْهِ بَلْ مَيْلُ النَّفْسِ إِلَى هَذِهِ الْأُمُورِ الشَّنِيعَةِ خَارِجٌ عَنِ الطَّبْعِ يُضَاهِي الْمَيْلَ إِلَى أَكْلِ الطِّينِ فَقَدْ يَغْلِبُ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ ذَلِكَ بِالْعَادَةِ فَأَمَّا مَيْلُهُ إِلَى الْحِكْمَةِ وَحُبِّ اللَّهِ تَعَالَى وَمَعْرِفَتِهِ وَعِبَادَتِهِ فَهُوَ كَالْمَيْلِ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فَإِنَّهُ مُقْتَضَى طَبْعِ الْقَلْبِ فَإِنَّهُ أَمْرٌ رَبَّانِيٌّ وَمَيْلُهُ إِلَى مُقْتَضَيَاتِ الشَّهْوَةِ غَرِيبٌ مِنْ ذَاتِهِ وَعَارِضٌ عَلَى طَبْعِهِ وَإِنَّمَا غِذَاءُ الْقَلْبِ الْحِكْمَةُ وَالْمَعْرِفَةُ وَحُبُّ اللَّهِ ﷿ وَلَكِنِ انْصَرَفَ عَنْ مُقْتَضَى طَبْعِهِ لِمَرَضٍ قَدْ حَلَّ بِهِ كَمَا قَدْ يَحِلُّ الْمَرَضُ بِالْمَعِدَةِ فَلَا تَشْتَهِي الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَهُمَا سَبَبَانِ لِحَيَاتِهَا فَكُلُّ قَلْبٍ مَالَ إِلَى حُبِّ شَيْءٍ سِوَى اللَّهِ تَعَالَى فَلَا يَنْفَكُّ عَنْ مَرَضٍ بِقَدْرِ مَيْلِهِ إِلَّا إِذَا كَانَ أَحَبَّ ذَلِكَ الشَّيْءَ لِكَوْنِهِ مُعِينًا لَهُ عَلَى حُبِّ اللَّهِ تَعَالَى وَعَلَى دِينِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ لَا يَدُلُّ ذَلِكَ عَلَى الْمَرَضِ
…sesuatu pun yang lebih dicintainya daripada berjumpa dengan Allah Ta'ala Azza wa Jalla. Maka ia tidak menggunakan seluruh hartanya melainkan pada jalan yang mengantarkannya kepada-Nya, dan amarah serta syahwatnya menjadi hal yang ditundukkan baginya, sehingga ia tidak menggunakannya melainkan pada jalan yang mengantarkannya kepada Allah Ta'ala. Hal itu terjadi dengan ditimbang menggunakan timbangan syariat dan akal, kemudian setelah itu ia merasa gembira dan menikmati hal tersebut. Tidak sepatutnya engkau menganggap mustahil shalat itu bisa sampai ke tingkat menjadi penyejuk hati (qurratu 'aini) dan ibadah-ibadah menjadi lezat. Sebab kebiasaan itu membuahkan hal-hal menakjubkan pada jiwa yang lebih aneh dari itu. Kita terkadang melihat para raja dan orang yang dilimpahi kenikmatan berada dalam kesedihan yang terus-menerus, sedangkan kita melihat seorang penjudi diliputi kegembiraan dan kelezatan dengan perjudiannya serta apa yang ia jalani, sehingga ia merasa berat dengan kegembiraan orang lain tanpa judi; padahal judi itu terkadang merampas hartanya, merusak rumah tangganya, dan meninggalkannya dalam keadaan bangkrut. Namun meski demikian, ia menyukainya dan merasakannya nikmat. Hal itu tidak lain karena lamanya kebiasaan padanya dan dicurahkannya jiwanya ke sana dalam waktu lama. Demikian pula pemain burung merpati, ia terkadang berdiri sepanjang hari di bawah terik matahari dengan berdiri di atas kedua kakinya tanpa merasakan sakitnya karena gembira dengan burung-burung, gerakan, terbang, dan membumbungnya di angkasa. Bahkan kita melihat penjahat nekat membanggakan pukulan, pemotongan anggota tubuh, dan kesabaran menahan sabetan cambuk yang dialaminya, serta saat ia digiring menuju tiang salib; namun ia tetap bangga dengan dirinya dan kekuatannya untuk bersabar atas hal itu, hingga ia memandangnya sebagai kebanggaan bagi dirinya. Salah seorang dari mereka dipotong-potong pergelangan tubuhnya agar mengakui perbuatan yang dilakukannya atau dilakukan orang lain, namun ia tetap bertahan dalam pengingkaran dan tidak peduli pada hukuman-hukuman, karena gembira dengan apa yang ia yakini sebagai kesempurnaan, keberanian, dan kejantanan. Maka keadaannya beserta segala siksaan di dalamnya telah menjadi penyejuk hatinya dan sebab kebanggaannya. Bahkan tidak ada keadaan yang lebih hina dan lebih buruk daripada keadaan lelaki banci (mukhannats) dalam menyerupai wanita seperti mencabut bulu, menato wajah, dan bergaul rapat dengan wanita; namun engkau lihat lelaki banci itu gembira dengan keadaannya dan membanggakan kesempurnaannya dalam kebanciannya di hadapan sesama banci, hingga terjadi saling bangga dan pamer di antara para pembekam dan tukang sapu sebagaimana terjadi di antara raja dan ulama. Semua itu merupakan hasil dari kebiasaan dan melazimkan satu pola secara terus-menerus dalam waktu lama serta menyaksikan hal itu pada teman bergaul dan kenalan. Maka apabila jiwa melalui kebiasaan bisa merasakan lezatnya kebatilan dan cenderung kepadanya serta kepada hal-hal yang buruk, bagaimana mungkin ia tidak merasakan lezatnya kebenaran jika dikembalikan kepadanya dalam jangka waktu tertentu dan melazimkan kebiasaan padanya? Bahkan kecenderungan jiwa pada hal-hal yang keji ini keluar dari tabiat aslinya, menyerupai kecenderungan memakan tanah yang terkadang menguasai sebagian manusia karena kebiasaan. Adapun kecenderungannya kepada hikmah, mencintai Allah Ta'ala, ma'rifat kepada-Nya, dan beribadah kepada-Nya adalah seperti kecenderungan kepada makanan dan minuman, sebab hal itu merupakan tuntutan tabiat hati yang bersifat rabbani. Sedangkan kecenderungannya pada tuntutan syahwat adalah hal yang asing dari zatnya dan sesuatu yang baru mendatangi tabiatnya. Hanyalah makanan bagi hati itu adalah hikmah, ma'rifat, dan cinta kepada Allah Azza wa Jalla. Akan tetapi ia berpaling dari tuntutan tabiatnya karena penyakit yang hinggap padanya, sebagaimana penyakit hinggap pada lambung sehingga tidak berselera terhadap makanan dan minuman padahal keduanya adalah sebab kehidupannya. Maka setiap hati yang cenderung untuk mencintai sesuatu selain Allah Ta'ala tidak akan terlepas dari penyakit sesuai dengan kadar kecenderungannya, kecuali jika ia mencintai sesuatu itu karena membantu baginya untuk mencintai Allah Ta'ala dan memperkuat agamanya, maka ketika itu hal tersebut tidak menunjukkan adanya penyakit.
فَإِذَنْ قَدْ عَرَفْتَ بِهَذَا قَطْعًا أَنَّ هَذِهِ الْأَخْلَاقَ الْجَمِيلَةَ يُمْكِنُ اكْتِسَابُهَا بِالرِّيَاضَةِ وَهِيَ تَكَلُّفُ الْأَفْعَالِ الصَّادِرَةِ عنها ابتداء لتصير طبعاً انتهاء وَهَذَا مِنْ عَجِيبِ الْعَلَاقَةِ بَيْنَ الْقَلْبِ وَالْجَوَارِحِ أعني النفس والبدن فإن كل صِفَةً تَظْهَرُ فِي الْقَلْبِ يَفِيضُ أَثَرُهَا عَلَى الْجَوَارِحِ حَتَّى لَا تَتَحَرَّكَ إِلَّا عَلَى وَفْقِهَا لَا مَحَالَةَ وَكُلُّ فِعْلٍ يَجْرِي عَلَى الْجَوَارِحِ فَإِنَّهُ قَدْ يَرْتَفِعُ مِنْهُ أَثَرٌ إِلَى الْقَلْبِ والأمر فيه دور ويعرف ذلك بمثال وهو أن من أراد أن يصير الحذق في الكتابة له صفة نفسية حتى يصير كاتباً بالطبع فلا طريق له إلا أن يتعاطى بجارحة اليد ما يتعاطاه الكاتب الحاذق ويواظب عليه مدة طويلة يحاكي الخط الحسن فإن فعل الكاتب هو الخط الحسن فيتشبه بالكاتب تكلفاً ثم لا يزال يواظب عليه حتى يصير صفة راسخة في نفسه فيصدر منه في الآخر الخط الحسن طبعاً كما كان يصدر منه في الابتداء تكلفاً فكان الخط الحسن هو الذي جعل خطه حسناً ولكن الأول بتكلف إلا أنه ارتفع منه أثر إلى القلب ثم انخفض من القلب إلى الجارحة فصار يكتب الخط الحسن بالطبع
Dengan demikian, engkau telah mengetahui secara pasti bahwa akhlak-akhlak yang indah ini dapat diusahakan melalui riyadah, yaitu dengan memaksakan perbuatan-perbuatan yang bersumber darinya pada mulanya agar menjadi tabiat pada akhirnya. Ini termasuk hubungan yang menakjubkan antara hati dan anggota badan—maksudku antara jiwa dan jasad. Sebab setiap sifat yang tampak di dalam hati akan melimpahkan pengaruhnya kepada anggota badan sehingga tidaklah anggota badan bergerak melainkan sesuai dengannya secara pasti; dan setiap perbuatan yang berlaku pada anggota badan, maka sungguh berpengaruh naik ke dalam hati. Perkara ini bersifat berputar (timbal balik/daur). Hal itu dapat diketahui dengan satu perumpamaan, yaitu bahwa barang siapa yang ingin agar kemahiran dalam menulis menjadi sifat jiwanya sehingga ia menjadi seorang penulis secara tabiat, maka tidak ada jalan baginya melainkan dengan mempraktikkan melalui anggota tangan apa yang dipraktikkan oleh penulis mahir, serta melazimkannya dalam waktu lama seraya menirukan tulisan yang indah. Sebab perbuatan penulis adalah tulisan yang indah, maka ia menirukan penulis dengan memaksakan diri, kemudian ia terus-menerus melazimkannya hingga menjadi sifat yang meresap kokoh di dalam jiwanya, lalu pada akhirnya terbitlah darinya tulisan yang indah secara tabiat sebagaimana dahulu terbit darinya pada permulaan dengan memaksakan diri. Maka tulisan yang indah itulah yang menjadikan tulisannya indah, akan tetapi yang pertama dengan memaksakan diri; hanya saja terangkat dengannya pengaruh ke dalam hati, kemudian turun dari hati ke anggota badan, sehingga ia pun menulis tulisan yang indah secara tabiat.
وكذلك من أراد أن يصير فقيه النفس فلا طريق له إلا أن يتعاطى أفعال الفقهاء وهو التكرار للفقه حتى تنعطف منه على قلبه صفة الفقه فيصير فقيه النفس وكذلك من أراد أن يصير سخياً عفيف النفس حليماً متواضعاً فيلزمه أن يتعاطى أفعال هؤلاء تكلفاً حتى يصير ذلك طبعاً له فلا علاج له إلا ذلك وكما أن طالب فقه النفس لا ييأس من نيل هذه الرتبة بتعطيل ليلة ولا ينالها بتكرار ليلة فكذلك طالب تزكية النفس وتكميلها وتحليتها بالأعمال الحسنة لا ينالها بعبادة يوم ولا يحرم عنها بعصيان يوم وهو معنى قولنا أن الكبيرة الواحدة لا توجب الشقاء المؤبد ولكن العطلة في يوم واحد تدعو إلى مثلها ثم تتداعى قليلاً قليلاً حتى تأنس النفس بالكسل وتهجر التحصيل رأساً فيفوتها فضيلة الفقه وكذلك صغائر المعاصي يجر بعضها إلى بعض حتى يفوت أصل السعادة بهدم أصل الإيمان عند الخاتمة وكما أن تكرار ليلة لا يحس تأثيره في فقه النفس بل يظهر فقه النفس شيئاً فشيئاً على التدريج مثل نمو البدن وارتفاع القامة فكذلك الطاعة الواحدة لا يحس تأثيرها في تزكية النفس وتطهيرها في الحال ولكن لا ينبغي أن يستهان بقليل الطاعة فإن الجملة الكثيرة منها مؤثرة وإنما اجتمعت الجملة من الآحاد فلكل واحد منها تأثير فما من طاعة إلا ولها أثر وإن خفي فله ثواب لا محالة فإن الثواب بإزاء الأثر وكذلك المعصية وكم من فقيه يستهين بتعطيل يوم وليلة وهكذا على التوالي يسوف نفسه يوماً فيوماً إلى أن يخرج طبعه عن قبول الفقه فكذا من يستهين صغائر المعاصي ويسوف نفسه بالتوبة على التوالي إلى أن يختطفه الموت بغتة أو تتراكم ظلمة الذنوب على قلبه وتتعذر عليه التوبة إذ القليل يدعو إلى الكثير فيصير القلب مقيداً بسلاسل شهوات لا يمكن تخليصه من مخالبها وهو المعنى بانسداد باب التوبة وهو المراد بقوله تعالى وجعلنا من بين أيديهم سداً ومن خلفهم سداً الآية ولذلك قال رضي الله تعالى عنه إن الإيمان ليبدو في القلب نكتة بيضاء كلما ازداد الإيمان ازداد ذلك البياض فإذا استكمل العبد الإيمان أبيض القلب كله وإن النفاق ليبدو في القلب نكتة سوداء كلما ازداد النفاق ازداد ذلك السواد فإذا استكمل النفاق أسود القلب كله فإذا عرفت أَنَّ الْأَخْلَاقَ الْحَسَنَةَ تَارَةً تَكُونُ بِالطَّبْعِ وَالْفِطْرَةِ وَتَارَةً تَكُونُ بِاعْتِيَادِ الْأَفْعَالِ الْجَمِيلَةِ وَتَارَةً بِمُشَاهَدَةِ أَرْبَابِ الْفِعَالِ الْجَمِيلَةِ وَمُصَاحَبَتِهِمْ وَهُمْ قُرَنَاءُ الْخَيْرِ وإخوان الصَّلَاحِ إِذِ الطَّبْعُ يَسْرِقُ مِنَ الطَّبْعِ الشَّرَّ وَالْخَيْرَ جَمِيعًا فَمَنْ تَظَاهَرَتْ فِي حَقِّهِ الْجِهَاتُ الثلاثة حَتَّى صَارَ ذَا فَضِيلَةٍ طَبْعًا وَاعْتِيَادًا وَتَعَلُّمًا فهو في غَايَةُ الْفَضِيلَةِ وَمَنْ كَانَ رَذْلًا بِالطَّبْعِ وَاتَّفَقَ لَهُ قُرَنَاءُ السُّوءِ فَتَعَلَّمَ مِنْهُمْ وَتَيَسَّرَتْ لَهُ أَسْبَابُ الشَّرِّ حَتَّى اعْتَادَهَا فَهُوَ فِي غَايَةِ الْبُعْدِ مِنَ اللَّهِ ﷿ وَبَيْنَ الرُّتْبَتَيْنِ من اختلفت فيه من هَذِهِ الْجِهَاتُ وَلِكُلِّ دَرَجَةٍ فِي الْقُرْبِ وَالْبُعْدِ بحسب ما تقتضيه صورته وَحَالَتُهُ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ومن يعمل مثقال ذرة شراً يره وما ظلمهم الله ولكن كانوا أنفسهم يظلمون
Demikian pula orang yang ingin menjadi seorang yang mendalam pemahaman fiqihnya (faqih an-nafs), tidak ada jalan baginya melainkan dengan mempraktikkan perbuatan-perbuatan para ahli fiqih, yaitu mengulang-ulang pelajaran fiqih hingga sifat fiqih itu meresap ke dalam hatinya sehingga ia menjadi seorang yang faqih an-nafs. Demikian pula orang yang ingin menjadi dermawan, menjaga kesucian diri, penyantun, dan tawaduk, maka ia harus memaksakan diri melakukan perbuatan-perbuatan mereka hingga hal itu menjadi watak baginya, sebab tidak ada pengobatan baginya selain itu. Sebagaimana seorang pencari fiqih tidak putus asa dari meraih tingkatan ini hanya karena meliburkan diri satu malam, dan tidak pula meraihnya hanya dengan mengulang pelajaran satu malam, maka demikian pula pencari penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), penyempurnaannya, dan penghiasannya dengan amal-amal kebaikan; ia tidak meraihnya dengan ibadah satu hari dan tidak pula terhalang darinya hanya karena maksiat satu hari. Inilah makna ucapan kami bahwa satu dosa besar tidak serta-merta mewajibkan kesengsaraan abadi, namun meliburkan diri satu hari akan mengundang kelalaian serupa pada hari berikutnya, lalu menggerogoti sedikit demi sedikit hingga jiwa terbiasa dengan rasa malas dan meninggalkan pencarian ilmu sama sekali, sehingga luputlah darinya keutamaan fiqih. Demikian pula dosa-dosa kecil, sebagian darinya menyeret pada sebagian yang lain hingga meluputkan pokok kebahagiaan dengan merubuhkan pokok iman ketika akhir hayat (khusnul khatimah/su'ul khatimah). Sebagaimana pengulangan pelajaran satu malam tidak terasa pengaruhnya secara langsung pada fiqih jiwa, melainkan pemahaman fiqih itu nampak sedikit demi sedikit secara bertahap seperti tumbuhnya badan dan bertambahnya tinggi badan, maka demikian pula satu ketaatan tidak terasa pengaruhnya dalam penyucian dan pembersihan jiwa secara seketika. Namun tidak sepatutnya meremehkan ketaatan yang sedikit, karena himpunan yang banyak darinya sangat berpengaruh, dan himpunan yang banyak itu hanyalah tersusun dari satuan-satuan; maka setiap satu ketaatan memiliki pengaruh. Tidak ada satu ketaatan pun melainkan memiliki bekas, meskipun tersembunyi, maka baginya pahala tanpa keraguan, karena pahala itu berbanding lurus dengan bekas (pengaruh batin). Demikian pula halnya dengan kemaksiatan. Betapa banyak ahli fiqih yang meremehkan kelalaian sehari semalam, dan demikianlah secara terus-menerus ia menunda-nunda dirinya hari demi hari hingga wataknya keluar dari menerima fiqih. Demikian pula orang yang meremehkan dosa-dosa kecil dan menunda-nunda taubat secara terus-menerus hingga kematian merenggutnya secara tiba-tiba, atau kegelapan dosa bertumpuk-tumpuk di atas hatinya sehingga taubat menjadi mustahil baginya, sebab yang sedikit menyeret kepada yang banyak, lalu hati menjadi terbelenggu oleh rantai-rantai syahwat yang tidak mungkin dibebaskan dari cengkeramannya; dan itulah yang dimaksud dengan tertutupnya pintu taubat, serta itulah yang dimaksud dengan firman Allah Ta'ala: 'Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding…' (QS. Yasin: 9). Oleh karena itu beliau radhiyallahu 'anhu bersabda: 'Sesungguhnya iman itu nampak di dalam hati berupa titik putih, setiap kali iman bertambah maka bertambahlah keputihan itu; maka apabila hamba telah menyempurnakan iman, putihlah seluruh hati itu. Dan sesungguhnya kemunafikan itu nampak di dalam hati berupa titik hitam, setiap kali kemunafikan bertambah maka bertambahlah kegelapan itu; maka apabila kemunafikan telah sempurna, hitamlah seluruh hati itu.' Apabila engkau telah mengetahui bahwa akhlak yang baik itu terkadang ada secara watak dan fitrah, terkadang dengan membiasakan perbuatan-perbuatan indah, dan terkadang dengan menyaksikan para pemilik perbuatan indah serta bersahabat dengan mereka—yang mana mereka adalah kawan-kawan kebaikan dan saudara-saudara keshalehan, sebab watak itu mencuri dari watak lainnya baik keburukan maupun kebaikan secara bersamaan—maka barang siapa yang ketiga sisi ini berpadu dalam haknya hingga ia menjadi pemilik keutamaan secara watak, kebiasaan, dan pembelajaran, maka ia berada pada puncak keutamaan. Dan barang siapa yang berwatak hina lalu kebetulan bersahabat dengan kawan-kawan yang buruk sehingga belajar dari mereka dan dipermudah baginya sebab-sebab keburukan hingga ia terbiasa dengannya, maka ia berada pada puncak kejauhan dari Allah Azza wa Jalla. Dan di antara kedua tingkatan ini adalah orang yang berbeda-beda padanya sisi-sisi tersebut; dan bagi setiap derajat dalam kedekatan dan kejauhan adalah sesuai dengan apa yang dituntut oleh gambaran batin dan kondisinya. 'Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.' (QS. Az-Zalzalah: 7-8). Dan Allah tidak menzalimi mereka, melainkan merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.
بَيَانُ تَفْصِيلِ الطَّرِيقِ إِلَى تَهْذِيبِ الْأَخْلَاقِ
Penjelasan Rincian Jalan Menuju Penataan Akhlak
قَدْ عَرَفْتَ مِنْ قَبْلُ أَنَّ الِاعْتِدَالَ فِي الْأَخْلَاقِ هُوَ صِحَّةُ النَّفْسِ وَالْمِيلُ عَنِ الِاعْتِدَالِ سَقَمٌ وَمَرَضٌ فِيهَا كَمَا أَنَّ الِاعْتِدَالَ فِي مِزَاجِ الْبَدَنِ هُوَ صِحَّةٌ لَهُ وَالْمَيْلُ عَنِ الِاعْتِدَالِ مَرَضٌ فِيهِ فَلْنَتَّخِذِ الْبَدَنَ مِثَالًا فَنَقُولُ
Engkau telah mengetahui sebelumnya bahwa keseimbangan dalam akhlak adalah kesehatan jiwa, sedangkan penyimpangan dari keseimbangan adalah kesakitan dan penyakit padanya, sebagaimana keseimbangan pada temperamen fisik merupakan kesehatan baginya, dan penyimpangan dari keseimbangan merupakan penyakit padanya. Maka marilah kita jadikan fisik sebagai perumpamaan, lalu kita katakan:
مِثَالُ النَّفْسِ فِي عِلَاجِهَا بِمَحْوِ الرَّذَائِلِ وَالْأَخْلَاقِ الرَّدِيئَةِ عَنْهَا وَجَلْبِ الْفَضَائِلِ وَالْأَخْلَاقِ الْجَمِيلَةِ إِلَيْهَا مِثَالُ الْبَدَنِ فِي عِلَاجِهِ بِمَحْوِ الْعِلَلِ عَنْهُ وَكَسْبِ الصِّحَّةِ لَهُ وَجَلْبِهَا إِلَيْهِ وَكَمَا أَنَّ الْغَالِبَ عَلَى أَصْلِ الْمِزَاجِ الِاعْتِدَالُ وَإِنَّمَا تَعْتَرِي الْمَعِدَةَ الْمَضَرَّةُ بِعَوَارِضِ الْأَغْذِيَةِ وَالْأَهْوِيَةِ وَالْأَحْوَالِ فَكَذَلِكَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ مُعْتَدِلًا صَحِيحَ الْفِطْرَةِ
Perumpamaan jiwa dalam pengobatannya dengan mengikis celaan dan akhlak yang buruk darinya serta menghadirkan keutamaan dan akhlak yang indah padanya adalah seperti perumpamaan fisik dalam pengobatannya dengan mengikis penyakit darinya dan memperoleh kesehatan serta menghadirkannya padanya. Dan sebagaimana keadaan asal temperamen fisik pada dasarnya adalah seimbang, dan lambung hanya terkena gangguan karena faktor-faktor luar dari makanan, udara, serta kondisi tertentu, maka demikian pula setiap bayi dilahirkan dalam keadaan seimbang dan fitrah yang sehat.
وَإِنَّمَا أَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَيْ بِالِاعْتِيَادِ وَالتَّعْلِيمِ تُكْتَسَبُ الرَّذَائِلُ وَكَمَا أَنَّ الْبَدَنَ فِي الِابْتِدَاءِ لَا يُخْلَقُ كَامِلًا وَإِنَّمَا يكمل ويقوى بالنشو وَالتَّرْبِيَةِ بِالْغِذَاءِ فَكَذَلِكَ النَّفْسُ تُخْلَقُ نَاقِصَةً قَابِلَةً لِلْكَمَالِ وَإِنَّمَا تُكْمَلُ بِالتَّرْبِيَةِ وَتَهْذِيبِ الْأَخْلَاقِ وَالتَّغْذِيَةِ بِالْعِلْمِ وَكَمَا أَنَّ الْبَدَنَ إِنْ كَانَ صَحِيحًا فَشَأْنُ الطَّبِيبِ تَمْهِيدُ الْقَانُونِ الْحَافِظِ لِلصِّحَّةِ وَإِنْ كَانَ مَرِيضًا فَشَأْنُهُ جَلْبُ الصِّحَّةِ إِلَيْهِ فَكَذَلِكَ النَّفْسُ مِنْكَ إِنْ كَانَتْ زَكِيَّةً طَاهِرَةً مُهَذَّبَةً فينبغي أن تسعى لحفظها وجلب مزيد قوة إِلَيْهَا وَاكْتِسَابِ زِيَادَةِ صَفَائِهَا وَإِنْ كَانَتْ عَدِيمَةَ الْكَمَالِ وَالصَّفَاءِ فَيَنْبَغِي أَنْ تَسْعَى لِجَلْبِ ذَلِكَ إليها وكما أن العلة المغيرة لاعتدال البدن الموجبة المرض لَا تُعَالَجُ إِلَّا بِضِدِّهَا فَإِنْ كَانَتْ مِنْ حرارة فبالبرودة وإن كانت من برودة فبالحرارة فَكَذَلِكَ الرَّذِيلَةُ الَّتِي هِيَ مَرَضُ الْقَلْبِ عِلَاجُهَا بِضِدِّهَا فَيُعَالَجُ مَرَضُ الْجَهْلِ بِالتَّعَلُّمِ وَمَرَضُ الْبُخْلِ بِالتَّسَخِّي وَمَرَضُ الْكِبْرِ بِالتَّوَاضُعِ وَمَرَضُ الشَّرَهِ بِالْكَفِّ عَنِ الْمُشْتَهَى تَكَلُّفًا وَكَمَا أَنَّهُ لَا بُدَّ من الاحتمال لمرارة الدواء وشدة الصبر عن الْمُشْتَهَيَاتِ لِعِلَاجِ الْأَبْدَانِ الْمَرِيضَةِ فَكَذَلِكَ لَا بُدَّ مِنِ احْتِمَالِ مَرَارَةِ الْمُجَاهَدَةِ وَالصَّبْرِ لِمُدَاوَاةِ مَرَضِ الْقَلْبِ بَلْ أَوْلَى فَإِنَّ مَرَضَ الْبَدَنِ يَخْلُصُ مِنْهُ بِالْمَوْتِ وَمَرَضُ الْقَلْبِ وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ تَعَالَى مرض يدوم بعد الموت أبد الآباد وكما أن كل مبرد لا يصلح لعلة سببها الحرارة إلا إذا كان على حد مخصوص ويختلف ذلك بالشدة والضعف والدوام وعدمه وبالكثرة والقلة ولا بد له من معيار يعرف به مقدار النافع منه فإنه إن لم يحفظ معياره زاد الفساد فكذلك النقائض التي تعالج بها الأخلاق لا بد لها من معيار وكما أن معيار الدواء مأخوذ من معيار العلة حتى إن الطبيب لا يعالج ما لم يعرف أن العلة من حرارة أو برودة فإن كانت من حرارة فيعرف درجتها أهي ضعيفة أم قوية فإذا عرف ذلك التفت إلى أحوال البدن وأحوال الزمان وصناعة المريض وسنه وسائر أحواله ثم يعالج بحسبها
Dan hanyalah kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, yaitu melalui kebiasaan dan pengajaranlah sifat-sifat tercela itu diperoleh. Sebagaimana fisik pada permulaannya tidak diciptakan dalam keadaan sempurna, melainkan menjadi sempurna dan kuat melalui pertumbuhan serta pemeliharaan dengan asupan makanan, maka demikian pula jiwa diciptakan dalam keadaan kurang namun siap menerima kesempurnaan, dan ia hanyalah disempurnakan melalui pendidikan, penataan akhlak, serta nutrisi ilmu. Sebagaimana fisik jika dalam keadaan sehat, tugas dokter adalah menetapkan kaidah yang menjaga kesehatan tersebut, dan jika dalam keadaan sakit, tugasnya adalah mengembalikan kesehatan padanya; maka demikian pula jiwamu, jika ia bersih, suci, dan terdidik, hendaknya engkau berusaha untuk menjaganya, menambahkan kekuatan padanya, serta memperoleh tambahan kesucian darinya. Jika ia tidak memiliki kesempurnaan dan kesucian, hendaknya engkau berusaha menghadirkannya pada jiwa tersebut. Sebagaimana penyakit yang mengubah keseimbangan fisik dan menyebabkan kesakitan tidak dapat diobati melainkan dengan lawannya—jika dari rasa panas maka dengan rasa dingin, dan jika dari rasa dingin maka dengan rasa panas—maka demikian pula celaan yang merupakan penyakit hati, pengobatannya adalah dengan lawannya. Penyakit kebodohan diobati dengan belajar, penyakit kekikiran diobati dengan melatih kedermawanan, penyakit kesombongan diobati dengan tawaduk, dan penyakit ketamakan diobati dengan menahan diri dari apa yang diinginkan secara sungguh-sungguh. Sebagaimana harus ada kesabaran menanggung pahitnya obat dan menahan diri dari keinginan demi mengobati fisik yang sakit, maka demikian pula harus ada kesabaran menanggung pahitnya mujahadah dan ketabahan demi mengobati penyakit hati, bahkan ini lebih utama; sebab penyakit fisik akan usai dengan kematian, sedangkan penyakit hati—kita berlindung kepada Allah Ta'ala—merupakan penyakit yang terus berlanjut setelah kematian kekal abadi. Sebagaimana setiap zat yang mendinginkan tidak cocok untuk penyakit yang disebabkan oleh panas kecuali jika berada pada kadar tertentu, dan hal itu berbeda-beda menurut kadar kuat-lemahnya, kelangsungan atau ketiadaannya, serta banyak-sedikitnya, dan harus ada standar ukuran untuk mengetahui kadar yang bermanfaat darinya—karena jika tidak dijaga ukurannya justru akan menambah kerusakan—maka demikian pula hal-hal berlawanan yang digunakan untuk mengobati akhlak harus memiliki standar ukuran. Sebagaimana standar ukuran obat diambil dari standar ukuran penyakit, hingga seorang dokter tidak akan mengobati sebelum mengetahui apakah penyakit itu disebabkan oleh panas atau dingin, dan jika dari panas ia mengetahui tingkatannya apakah lemah atau kuat; jika ia telah mengetahui hal itu, ia memperhatikan kondisi fisik, kondisi zaman, pekerjaan si sakit, usianya, serta seluruh kondisinya, kemudian mengobati sesuai dengan hal-hal tersebut.
فكذلك الشيخ المتبوع الذي يطبب نفوس المريدين ويعالج قلوب المسترشدين ينبغي أن لا يهجم عليهم بالرياضة والتكاليف في فن مخصوص وفي طريق مخصوص ما لم يعرف أخلاقهم وأمراضهم وكما أن الطبيب لو عالج جميع المرضى بعلاج واحد قتل أكثرهم فكذلك الشيخ لو أشار على المريدين بنمط واحد من الرياضة أهلكهم وأمات قلوبهم بل ينبغي أن ينظر في مرض المريد وفي حاله وسنه ومزاجه وما تحتمله بنيته من الرياضة ويبني على ذلك رياضته فإن كان المريد مبتدئاً جاهلاً بحدود الشرع فيعلمه أولاً الطهارة والصلاة وظواهر العبادات وإن كان مشغولاً بمال حرام أو مقارفاً لمعصية فيأمره أولاً بتركها فإذا تزين ظاهره بالعبادات وطهر عن المعاصي الظاهرة جوارحه نظر بقرائن الأحوال إلى باطنه ليتفطن لأخلاقه وأمراض قلبه فإن رأى معه مالاً فاضلاً عن قدر ضرورته أخذه منه وصرفه إلى الخيرات وفرغ قلبه منه حتى لا يلتفت إليه وإن رأى الرعونة والكبر وعزة النفس غالبة عليه فيأمره أن يخرج إلى الأسواق للكدية والسؤال فإن عزة النفس والرياسة لا تنكسر إلا بالذل ولا ذل أعظم من ذل السؤال فيكلفه المواظبة على ذلك مدة حتى ينكسر كبره وعز نفسه فإن الكبر من الأمراض المهلكة وكذلك الرعونة وإن رأى الغالب عليه النظافة في البدن والثياب ورأى قلبه مائلاً إلى ذلك فرحاً به ملتفتاً إليه استخدمه في تعهد بيت الماء وتنظيفه وكنس المواضع القذرة وملازمة المطبخ ومواضع الدخان حتى تتشوش عليه رعونته في النظافة فإن الذين ينظفون ثيابهم ويزينونها ويطلبون المرقعات النظيفة والسجادات الملونة لا فرق بينهم وبين العروس التي تزين نفسها طول النهار فلا فرق بين أن يعبد الإنسان نفسه أو يعبد صنماً فمهما عبد غير الله تعالى فقد حجب عن الله ومن راعى في ثوبه شيئاً سوى كونه حلالاً وطاهراً مراعاة يلتفت إليها قلبه فهو مشغول بنفسه
Demikian pula seorang syekh (mursyid) yang diikuti, yang mengobati jiwa para murid dan menyembuhkan hati para pencari petunjuk, tidak sepatutnya ia menyerang mereka dengan olah jiwa (riyadhah) dan beban-beban dalam bidang tertentu serta jalan tertentu sebelum mengetahui akhlak dan penyakit-penyakit mereka. Sebagaimana dokter jikalau mengobati seluruh pasien dengan satu pengobatan niscaya ia membinasakan sebagian besar dari mereka, demikian pula syekh jikalau mengarahkan para murid pada satu pola riyadhah saja niscaya ia membinasakan mereka dan mematikan hati mereka. Melainkan hendaknya ia melihat penyakit sang murid, kondisinya, usianya, temperamen jiwanya, serta kekuatan fisiknya dalam menanggung riyadhah, lalu membangun riyadhahnya berdasarkan hal itu. Jika murid tersebut seorang pemula yang jahil terhadap batasan-batasan syariat, ia mengajarinya terlebih dahulu bersuci, shalat, dan ibadah-ibadah lahiriah. Jika ia sibuk dengan harta haram atau melakukan maksiat, ia memerintahkannya terlebih dahulu untuk meninggalkannya. Jika lahiriahnya telah dihiasi dengan ibadah-ibadah dan anggota badannya telah suci dari maksiat lahiriah, syekh melihat petunjuk kondisi batinnya untuk mencermati akhlak dan penyakit hatinya. Jika ia melihat padanya ada harta yang melebihi kadar kebutuhannya, ia mengambilnya dan menyalurkannya pada kebaikan serta mengosongkan hatinya dari harta itu agar ia tidak berpaling kepadanya. Jika ia melihat sifat kecongkangan, kesombongan, dan rasa harga diri yang tinggi menguasai murid tersebut, ia memerintahkannya keluar ke pasar-pasar untuk mengemis dan meminta-minta; sebab kehormatan diri dan kepemimpinan tidak akan hancur melainkan dengan kehinaan, dan tidak ada kehinaan yang lebih besar daripada kehinaan meminta-minta. Maka ia membebankannya untuk menekuni hal itu dalam jangka waktu tertentu hingga hancur kesombongan dan kebanggaan dirinya, sebab kesombongan termasuk penyakit yang membinasakan, demikian pula sifat kecongkangan. Jika ia melihat yang dominan pada murid adalah kebersihan fisik dan pakaian, serta melihat hatinya cenderung pada hal itu, gembira dengannya, dan terikat padanya, maka ia mempekerjakannya untuk merawat dan membersihkan tempat buang hajat, menyapu tempat-tempat kotor, serta membiasakan diri berada di dapur dan tempat-tempat berasap hingga terganggu keinginannya untuk selalu bersih. Sebab orang-orang yang membersihkan pakaian mereka, menghiasinya, serta mencari kain tambal yang bersih dan sajadah yang berwarna-warni, tidak ada bedanya antara mereka dengan pengantin wanita yang menghias dirinya sepanjang hari; tidak ada bedanya antara seseorang menyembah dirinya sendiri atau menyembah berhala. Barang siapa menyembah selain Allah Ta'ala, maka ia terhalang dari Allah. Dan barang siapa memperhatikan pakaiannya melebihi batas kehalalan dan kesuciannya dengan perhatian yang diikat oleh hatinya, maka ia sedang disibukkan oleh dirinya sendiri.
ومن لطائف الرياضة إذا كان المريد لا يخسو بترك الرعونة رأساً أو بترك صفة أخرى ولم يسمح بضدها دفعة فينبغي أن ينقله من الخلق المذموم إلى خلق مذموم آخر أخف منه كالذي يغسل الدم بالبول ثم يغسل البول بالماء إذا كان الماء لا يزيل الدم كما يرغب الصبي في المكتب باللعب بالكرة والصولجان وما أشبهه ثم ينقل من اللعب إلى الزينة وفاخر الثياب ثم ينقل من ذلك بالترغيب في الرياسة وطلب الجاه ثم ينقل من الجاه بالترغيب في الآخرة فكذلك من لم تسمح نفسه بترك الجاه دفعة فلينقل إلى جاه أخف منه وكذلك سائر الصفات وكذلك إذا رأى شره الطعام غالبا عليه ألزمه الصوم وتقليل الطعام ثم يكلفه أن يهيءالأطعمة اللذيذة ويقدمها إلى غيره وهو لا يأكل منها حتى يقوي بذلك نفسه فيتعود الصبر وينكسر شرهه وكذلك إذا رآه شاباً متشوقاً إلى النكاح وهو عاجز عن الطول فيأمره بالصوم وربما لا تسكن شهوته بذلك فيأمره أن يفطر ليلة على الماء دون الخبز وليلة على الخبز دون الماء ويمنعه اللحم والأدم رأساً حتى تذل نفسه وتنكسر شهوته فلا علاج في مبدأ الإرادة أنفع من الجوع وإن رأى الغضب غالباً عليه ألزمه الحلم والسكوت وسلط عليه من يصبحه ممن فيه سوء خلق ويلزمه خدمة من ساء خلقه حتى يمرن نفسه على الاحتمال معه
Di antara kelembutan metode riyadhah: apabila seorang murid tidak mampu meninggalkan kecongkangan (sifat ingin menonjol) secara sekaligus atau meninggalkan suatu sifat cela lainnya, serta jiwanya tidak merelakan sifat lawannya secara langsung, maka sepatutnya mursyid memindahkannya dari akhlak yang tercela ke akhlak tercela lainnya yang lebih ringan, seperti orang yang mencuci darah dengan air seni kemudian mencuci air seni itu dengan air apabila air tidak sanggup menghilangkan darah secara langsung. Sebagaimana seorang anak kecil di tempat belajar dibuat senang dengan permainan bola, tongkat pemukul, dan sejenisnya, kemudian dipindahkan dari permainan menuju perhiasan dan pakaian megah, lalu dipindahkan dari hal itu dengan dibuat senang pada kepemimpinan dan pencarian kedudukan, kemudian dipindahkan dari kedudukan dengan dibuat senang pada akhirat. Maka demikian pula orang yang jiwanya tidak merelakan untuk meninggalkan kedudukan secara sekaligus, hendaklah dipindahkan kepada kedudukan yang lebih ringan darinya, dan demikian pula pada sifat-sifat lainnya. Demikian pula jika mursyid melihat ketamakan makanan menguasai murid, ia mewajibkannya berpuasa dan menyedikitkan makanan, kemudian membebankannya untuk menyajikan makanan-makanan lezat dan menghidangkannya kepada orang lain sementara ia sendiri tidak memakannya, hingga dengan begitu jiwanya menjadi kuat, terbiasa bersabar, dan ketamakannya menjadi hancur. Demikian pula jika ia melihat murid seorang pemuda yang sangat berhasrat untuk menikah sedangkan ia tidak mampu membiayainya, ia memerintahkannya untuk berpuasa. Apabila syahwatnya belum juga tenang dengan hal itu, ia memerintahkannya untuk berbuka pada suatu malam hanya dengan air tanpa roti, dan pada malam berikutnya dengan roti tanpa air, serta melarangnya dari daging dan lauk-pauk sama sekali hingga jiwanya menjadi hina dan syahwatnya hancur. Maka tidak ada pengobatan pada permulaan jalan kehendak spiritual (iradah) yang lebih bermanfaat daripada rasa lapar. Jika mursyid melihat sifat pemarah menguasai murid, ia mewajibkannya untuk santun dan diam, serta menguasakan kepadanya orang yang berakhlak buruk yang mengganggunya setiap pagi, dan mewajibkannya melayani orang yang buruk akhlaknya tersebut hingga ia melatih jiwanya untuk bersabar menanggung gangguannya.
كما حكي عن بعضهم أنه كان يعود نفسه الحلم ويزيل عن نفسه شدة الغضب فكان يستأجر من يشتمه على ملأ من الناس ويكلف نفسه الصبر ويكظم غيظه حتى صار الحلم عادة له بحيث كان يضرب به المثل وبعضهم كان يستشعر في نفسه الجبن وضعف القلب فأراد أن يحصل لنفسه خلق الشجاعة فكان يركب البحر في الشتاء عند اضطراب الأمواج وعباد الهند يعالجون الكسل عن العبادة بالقيام طول الليل على نصبة واحدة وبعض الشيوخ في ابتداء إرادته كان يكسل عن القيام فألزم نفسه القيام على رأسه طول الليل ليسمح بالقيام على الرجل عن طوع وعالج بعضهم حب المال بأن باع جميع ماله ورمى به في البحر إذ خاف من تفرقته على الناس رعونة الجود والرياء بالبذل
Sebagaimana diceritakan dari sebagian mereka bahwa ia pernah melatih jiwanya untuk bersantun dan menghilangkan sifat pemarah yang kuat dari dirinya, maka ia menyewa orang yang mencacinya di hadapan khalayak ramai, sementara ia memaksakan jiwanya untuk bersabar dan menahan kemarahannya hingga sifat kesantunan menjadi kebiasaan baginya, sampai-sampai ia dijadikan perumpamaan dalam hal kesantunan. Sebagian yang lain pernah merasakan dalam dirinya sifat penakut dan lemah hati, lalu ia ingin meraih akhlak keberanian untuk jiwanya, maka ia mengarungi laut pada musim dingin ketika gelombang sedang bergolak. Para ahli ibadah di India mengobati rasa malas dari ibadah dengan berdiri di atas satu tumpuan sepanjang malam. Sebagian syekh pada permulaan kehendak spiritualnya pernah merasa malas untuk bangun malam, maka ia mewajibkan jiwanya untuk berdiri di atas kepalanya sepanjang malam agar jiwanya merelakan untuk berdiri di atas kedua kaki secara sukarela. Sebagian mereka mengobati kecintaan pada harta dengan menjual seluruh hartanya dan melemparkannya ke laut, karena ia takut dari membagikannya kepada manusia akan timbul kecongkangan kedermawanan dan riya dalam memberi.
فهذه الأمثلة تعرفك طريق معالجة القلوب وليس غرضنا ذكر دواء كل مرض فإن ذلك سيأتي في بقية الكتب وإنما غرضنا الآن التنبيه على أن الطريق الكلي فيه سلوك مسلك المضاد لِكُلِّ مَا تَهْوَاهُ النَّفْسُ وَتَمِيلُ إِلَيْهِ وَقَدْ جَمَعَ اللَّهُ ذَلِكَ كُلَّهُ فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ في كملة وَاحِدَةٍ فَقَالَ تَعَالَى وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هي المأوى وَالْأَصْلُ الْمُهِمُّ فِي الْمُجَاهَدَةِ الْوَفَاءُ بِالْعَزْمِ فَإِذَا عَزَمَ عَلَى تَرْكِ شَهْوَةٍ فَقَدْ تَيَسَّرَتْ أَسْبَابُهَا وَيَكُونُ ذَلِكَ ابْتِلَاءً مِنَ اللَّهِ تَعَالَى وَاخْتِبَارًا فَيَنْبَغِي أَنْ يَصْبِرَ وَيَسْتَمِرَّ فَإِنَّهُ إِنْ عَوَّدَ نفسه ترك العزم ألفت ذلك ففسدت وإذا اتفق منه نقض عزم فينبغي أن يلزم نفسه عقوبة عليه كما ذكرناه في معاقبة النفس في كتاب المحاسبة والمراقبة وإذا لم يخوف النفس بعقوبة غلبته وحسنت عنده تناول الشهوة فتفسد بها الرياضة بالكلية
Contoh-contoh ini memberitahukan kepadamu jalan pengobatan hati. Maksud kami bukanlah menyebutkan obat bagi setiap penyakit, karena hal itu akan hadir pada kitab-kitab selanjutnya, melainkan maksud kami saat ini adalah mengingatkan bahwa jalan menyeluruh padanya adalah menempuh jalur yang berlawanan dengan segala apa yang disukai dan dicenderungi oleh nafsu. Allah telah menghimpun seluruh hal tersebut dalam Kitab-Nya yang Agung dalam satu kalimat saja, di mana Allah Ta'ala berfirman: 'Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggal(nya).' (QS. An-Nazi'at: 40-41). Dan pokok yang penting dalam mujahadah adalah menepati tekad (azam). Apabila seseorang telah bertekad untuk meninggalkan suatu syahwat, lalu sebab-sebabnya menjadi mudah, dan hal itu merupakan ujian serta cobaan dari Allah Ta'ala, maka sepatutnya ia bersabar dan terus bertahan; sebab jika ia membiasakan jiwanya membatalkan tekad, jiwanya akan terbiasa dengan hal itu sehingga menjadi rusak. Apabila terjadi pembatalan tekad darinya, sepatutnya ia mewajibkan hukuman atas jiwanya sebagaimana telah kami sebutkan dalam hal menghukum jiwa pada Kitab Muhasabah dan Muraqabah. Jika ia tidak menakuti jiwanya dengan hukuman, niscaya jiwa akan menguasainya dan menganggap baik pemenuhan syahwat, sehingga riyadhah menjadi rusak secara keseluruhan.
بيان علامات أمراض القلوب وعلامات عودها إلى الصحة
Penjelasan Tanda-tanda Penyakit Hati dan Tanda-tanda Kembalinya Hati pada Kesehatan
اعلم أن كل عضو من أعضاء البدن خلق لفعل خاص به وإنما مرضه أن يتعذر عليه فعله الذي خلق له حتى لا يصدر منه أصلاً أو يصدر منه مع نوع من الاضطراب فمرض اليد أن يتعذر عليها البطش ومرض العين أن يتعذر عليها الإبصار وكذلك مرض القلب أن يتعذر عليه فعله الخاص به الذي خلق لأجله وهو العلم والحكمة والمعرفة وحب الله تعالى وعبادته والتلذذ بذكره وإيثاره ذلك على كل شهوة سواه والاستعانة بجميع الشهوات والأعضاء عليه قال الله تعالى وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ففي كل عضو فائدة وفائدة القلب الحكمة والمعرفة وخاصة
Ketahuilah bahwa setiap anggota dari anggota tubuh diciptakan untuk perbuatan yang khusus baginya. Sesungguhnya penyakitnya adalah ketika terhalang darinya perbuatannya yang ia diciptakan karenanya, hingga perbuatan itu tidak terwujud darinya sama sekali atau terwujud darinya dengan semacam gangguan. Penyakit tangan adalah terhalang darinya memegang, penyakit mata adalah terhalang darinya melihat. Demikian pula penyakit hati adalah terhalang darinya perbuatan khususnya yang ia diciptakan karenanya, yaitu ilmu, hikmah, ma'rifat, mencintai Allah Ta'ala, beribadah kepada-Nya, berlezat-lezat dengan zikir kepada-Nya, mengutamakan hal itu di atas setiap syahwat selain-Nya, serta memohon pertolongan dengan seluruh syahwat dan anggota tubuh untuk tujuan tersebut. Allah Ta'ala berfirman: 'Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.' (QS. Az-Zariyat: 56). Maka pada setiap anggota tubuh terdapat manfaat, dan manfaat hati adalah hikmah dan ma'rifat secara khusus.
النفس التي للآدمي ما يتميز بها عن البهائم فإنه لم يتميز عنها بالقوة على الأكل والوقاع والإبصار أو غيرها بل بمعرفة الأشياء على ما هي عليه وأصل الأشياء وموجدها ومخترعها هو الله ﷿ الذي جعلها أشياء فلو عرف كل شيء ولم يعرف الله ﷿ فكأنه لم يعرف شيئاً وعلامة المعرفة المحبة فمن عرف الله تعالى أحبه وعلامة المحبة أن لا يؤثر عليه الدنيا ولا غيرها من المحبوبات كما قال الله تعالى قل إن كان آباؤكم وأبناؤكم وإخوانكم وأزواجكم إلى قوله أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره فمن عنده شيء أحب إليه من الله فقلبه مريض كما أن كل معدة صار الطين أحب إليها من الخبز والماء أو سقطت شهوتها عن الخبز والماء فهي مريضة فهذه علامات المرض وبهذا يعرف أن القلوب كلها مريضة إلا ما شاء الله إلا أن من الأمراض ما لا يعرفها صاحبها ومرض القلب مما لا يعرفه صاحبه فلذلك يغفل عنه وإن عرفه صعب عليه الصبر على مرارة دوائه فإن دواءه مخالفة الشهوات وهو نزع الروح فإن وجد من نفسه قوة الصبر عليه لم يجد طبيباً حاذقاً يعالجه فإن الأطباء هم العلماء وقد استولى عليهم المرض فالطبيب المريض قلما يلتفت إلى علاجه فلهذا صار الداء عضالاً والمرض مزمناً واندرس هذا العلم وأنكر بالكلية طب القلوب وأنكر مرضها وأقبل الخلق على حب الدنيا وعلى أعمال ظاهرها عبادات وباطنها عادات ومراءات فهذه علامات أصول الأمراض
Jiwa yang dimiliki manusia adalah apa yang membedakannya dari hewan ternak, sebab manusia tidak dibedakan darinya dengan kekuatan untuk makan, bersetubuh, melihat, atau selainnya, melainkan dengan mengenali segala sesuatu sebagaimana hakikatnya. Dan asal segala sesuatu, Yang Mewujudkannya, serta Yang Menciptakannya adalah Allah Azza wa Jalla yang menjadikannya sebagai segala sesuatu. Maka jikalau seseorang mengenali segala sesuatu namun tidak mengenali Allah Azza wa Jalla, maka seolah-olah ia tidak mengenali apa pun. Dan tanda ma'rifat adalah mahabbah (cinta); barang siapa mengenali Allah Ta'ala niscaya ia mencintai-Nya. Tanda mahabbah adalah tidak mengutamakan dunia maupun yang dicintai lainnya di atas-Nya, sebagaimana firman Allah Ta'ala: 'Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri… lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' (QS. At-Taubah: 24). Barang siapa memiliki sesuatu yang lebih ia cintai daripada Allah, maka hatinya dalam keadaan sakit, sebagaimana setiap lambung yang tanah lebih disukai olehnya daripada roti dan air, atau gugur keinginannya dari roti dan air, maka ia dalam keadaan sakit. Inilah tanda-tanda penyakit, dan dengan ini diketahui bahwa seluruh hati dalam keadaan sakit kecuali apa yang dikehendaki Allah. Hanya saja di antara penyakit-penyakit itu ada yang tidak diketahui oleh pemiliknya, dan penyakit hati termasuk yang tidak diketahui oleh pemiliknya, maka dari itu ia melalaikannya. Jikalau ia mengetahuinya, terasa berat baginya untuk bersabar atas pahitnya obat, sebab obatnya adalah menyelisohi hawa nafsu yang rasanya seperti mencabut nyawa. Jika ia menemukan dalam dirinya kekuatan sabar atasnya, ia tidak menemukan dokter yang mahir untuk mengobatinya, sebab para dokter adalah para ulama sedangkan penyakit telah menguasai mereka. Maka dokter yang sakit jarang sekali memperhatikan pengobatannya sendiri. Oleh karena itu, penyakit ini menjadi penyakit kronis yang mematikan, ilmu ini menjadi lapuk dan diingkari secara keseluruhan medis hati ini serta diingkari penyakitnya, dan makhluk pun berpaling pada kecintaan dunia dan pada amal-amal yang lahiriahnya ibadah namun batinnya kebiasaan dan keriyaan. Maka inilah tanda-tanda pokok penyakit-penyakit hati.
وأما علامات عودها إلى الصحة بعد المعالجة فهو أن ينظر في العلة التي يعالجها فإن كان يعالج داء البخل فهو المهلك المبعد عن الله ﷿ وإنما علاجه ببذل المال وإنفاقه ولكنه قد يبذل المال إلى حد يصير به مبذراً فيكون التبذير أيضاً داء فكان كمن يعالج البرودة بالحرارة حتى تغلب الحرارة فهو أيضاً داء بل المطلوب الاعتدال بين الحرارة والبرودة وكذلك المطلوب الاعتدال بين التبذير والتقتير حتى يكون على الوسط وفي غاية من البعد عن الطرفين إن أردت أن تعرف الوسط فانظر إلى الفعل الذي يوجبه الخلق المحذور فإن كان أسهل عليك وألذ من الذي يضاده فالغالب عليك ذلك الخلق الموجب له مثل أن يكون إمساك المال وجمعه ألذ عندك وأيسر عليك من بذله لمستحقه فاعلم أن الغالب عليك خلق البخل فزد في المواظبة على البذل فإن صار البذل على غير المستحق ألذ عندك وأخف عليك من الإمساك بالحق فقد غلب عليك التبذير فارجع إلى المواظبة على الإمساك فلا تزال تراقب نفسك وتستدل على خلقك بتيسير الأفعال وتعسيرها حتى تنقطع علاقة قلبك عن الالتفات إلى المال فلا تميل إلى بذله ولا إلى إمساكه بل يصير عندك كالماء فلا تطلب فيه إلا إمساكه لحاجة محتاج أو بذله لحاجة محتاج ولا يترجح عندك البذل على الإمساك فكل قلب صار كذلك فقد أتى الله سليماً عن هذا المقام خاصة ويجب أن يكون سليماً عن سائر الأخلاق حتى لا يكون له علاقة بشيء مما يتعلق بالدنيا حتى ترتحل النفس عن الدنيا منقطعة العلائق منها غير ملتفتة إليها ولا متشوقة إلى أسبابها فعند ذلك ترجع إلى ربها رجوع النفس المطمئنة راضية مرضية داخلة في زمرة عباد الله المقربين من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقاً
Adapun tanda-tanda kembalinya hati pada kesehatan setelah pengobatan adalah dengan memperhatikan penyakit yang sedang diobatinya. Jika ia mengobati penyakit kikir, yang merupakan hal yang membinasakan dan menjauhkan dari Allah Azza wa Jalla, maka pengobatannya adalah dengan mendermakan harta dan menginfakkannya. Namun terkadang ia mendermakan harta hingga batas yang menjadikannya seorang yang boros, sehingga pemborosan itu pun menjadi penyakit pula. Maka ia seperti orang yang mengobati rasa dingin dengan rasa panas hingga rasa panas itu menguasai, yang itu juga merupakan penyakit. Melainkan yang dituntut adalah keseimbangan antara panas dan dingin. Demikian pula yang dituntut adalah keseimbangan antara pemborosan dan kekikiran hingga berada di pertengahan dan pada puncak kejauhan dari kedua ujung ekstrem. Jika engkau ingin mengetahui titik tengah (keseimbangan), perhatikanlah perbuatan yang dituntut oleh akhlak yang diwaspadai tersebut: jika perbuatan itu lebih mudah bagimu dan lebih lezat daripada yang berlawanan dengannya, maka yang dominan padamu adalah akhlak yang menuntutnya tersebut. Misalnya menahan harta dan mengumpulkannya lebih lezat bagimu dan lebih mudah bagimu daripada mendermakannya kepada yang berhak, maka ketahuilah bahwa yang dominan padamu adalah akhlak kikir, maka tingkatkanlah ketekunan dalam mendermakan. Jika mendermakan kepada yang tidak berhak menjadi lebih lezat bagimu dan lebih ringan bagimu daripada menahan yang haq, maka telah dominan padamu pemborosan, maka kembalilah pada ketekunan menahan. Maka jangan berhenti mengawasi dirimu dan mengambil petunjuk atas akhlakmu dengan kemudahan perbuatan dan kesulitannya hingga terputus keterikatan hatimu dari berpaling kepada harta, sehingga engkau tidak cenderung pada mendermakannya tidak pula pada menahannya, melainkan harta di sisimu menjadi seperti air: engkau tidak mencari padanya melainkan menahannya karena kebutuhan orang yang membutuhkan atau mendermakannya karena kebutuhan orang yang membutuhkan, dan mendermakan tidak lebih unggul di sisimu daripada menahan. Setiap hati yang telah menjadi demikian, maka sungguh ia menghadap Allah dalam keadaan selamat (qalbun salim) dari tingkatan ini secara khusus. Dan wajib baginya untuk selamat dari seluruh akhlak lainnya hingga tidak ada padanya keterikatan dengan sesuatu pun dari apa yang berkaitan dengan dunia, sehingga jiwa itu berpindah dari dunia dalam keadaan terputus keterikatannya darinya, tidak berpaling kepadanya, dan tidak merindukan sebab-sebabnya. Pada saat itulah ia kembali kepada Tuhannya dengan kembalinya jiwa yang tenang (an-nafs al-muthma'innah), ridha dan diridhai, masuk ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang didekatkan dari para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
ولما كان الوسط الحقيقي بين الطرفين في غاية الغموض بل هو أدق من الشعر وأحد من السيف فلا جرم أن من استوى على هذا الصراط المستقيم في الدنيا جاز على مثل هذا الصراط في الآخرة وقلما ينفك العبد عن ميل عن الصراط المستقيم أعني الوسط حتى لا يميل إلى أحد الجانبين فيكون قلبه معلقاً بالجانب الذي مال إليه
Dan ketika titik tengah yang hakiki di antara dua ujung ekstrem berada dalam puncak kesamaran, bahkan lebih lembut daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang, maka tidak heran barang siapa lurus di atas jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim) ini di dunia, ia akan melintas di atas jalan yang serupa di akhirat. Dan jarang sekali seorang hamba terbebas dari penyimpangan dari jalan yang lurus—yaitu pertengahan—sehingga ia tidak cenderung ke salah satu dari dua sisi, yang menyebabkan hatinya terikat dengan sisi yang ia cenderung kepadanya.
ولذلك لا ينفك عن عذاب ما واجتياز على النار وإن كان مثل البرق قال الله تعالى وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حتماً مقضياً ثم ننجي الذين اتقوا أي الذين كان قربهم إلى الصراط المستقيم أكثر من بعدهم عنه ولأجل عسر الاستقامة وجب على كل عبد أن يدعو الله تعالى في كل يوم سبع عشرة مرة في قوله اهدنا الصراط المستقيم إذ وجب قراءة الفاتحة في كل ركعة
Oleh karena itu, ia tidak terlepas dari suatu siksaan dan lintasan di atas neraka meskipun bagaikan kilat. Allah Ta'ala berfirman: 'Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa…' (QS. Maryam: 71-72), yaitu orang-orang yang keberadaan mereka lebih dekat pada jalan yang lurus daripada kejauhan darinya. Karena sulitnya istiqamah, wajib bagi setiap hamba untuk berdoa kepada Allah Ta'ala setiap hari sebanyak tujuh belas kali dalam firman-Nya: 'Tunjukilah kami jalan yang lurus' (QS. Al-Fatihah: 6), karena diwajibkan membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat.
فقد روي أن بعضهم رَأَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ في المنام فقال قد قلت يا رسول الله شيبتني هود فلم قلت ذلك فقال ﵇ لقوله تعالى فاستقم كما أمرت فالاستقامة على سواء السبيل في غاية الغموض ولكن ينبغي أن يجتهد الإنسان في القرب من الاستقامة إن لم يقدر على حقيقتها فكل من أراد النجاة فلا نجاة له إلا بالعمل الصالح ولا تصدر الأعمال الصالحة إلا عن الأخلاق الحسنة فليتفقد كل عبد صفاته وأخلاقه وليعددها وليشتغل بعلاج واحد واحد فيها على الترتيب فنسأل الله الكريم أن يجعلنا من المتقين
Sungguh telah diriwayatkan bahwa sebagian mereka bermimpi melihat Rasulullah ﷺ dalam tidur, lalu ia berkata: 'Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah bersabda: Surah Hud telah membuatku beruban. Mengapa engkau mengatakan demikian?' Maka Beliau 'alaihis salam bersabda: 'Karena firman Allah Ta'ala: Maka tetaplah engkau di jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu.' (QS. Hud: 112). Maka istiqamah di atas kebenaran jalan berada dalam puncak kesamaran, namun sepatutnya manusia bersungguh-sungguh dalam mendekati istiqamah jika ia tidak mampu mencapai hakikatnya. Maka setiap orang yang menginginkan keselamatan, tidak ada keselamatan baginya melainkan dengan amal shaleh, dan tidaklah terwujud amal-amal shaleh melainkan dari akhlak yang baik. Hendaknya setiap hamba memeriksa sifat-sifat dan akhlaknya, menghitungnya, serta disibukkan dengan mengobati satu demi satu darinya secara berurutan. Maka kita memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah untuk menjadikan kita bagian dari orang-orang yang bertakwa.
بَيَانُ الطَّرِيقِ الَّذِي يَعْرِفُ بِهِ الْإِنْسَانُ عُيُوبَ نَفْسِهِ
Penjelasan Jalan yang Dengannya Seseorang Mengetahui Aib-aib Jiwanya
اعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ ﷿ إِذَا أَرَادَ بِعَبْدٍ خَيْرًا بَصَّرَهُ بِعُيُوبِ نَفْسِهِ فَمَنْ كَانَتْ بَصِيرَتُهُ نَافِذَةً لَمْ تَخْفَ عَلَيْهِ عُيُوبُهُ فَإِذَا عَرَفَ الْعُيُوبَ أَمْكَنَهُ الْعِلَاجُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ الْخَلْقِ جَاهِلُونَ بِعُيُوبِ أَنْفُسِهِمْ يَرَى أَحَدُهُمُ الْقَذَى فِي عَيْنِ أَخِيهِ وَلَا يَرَى الْجِذْعَ فِي عَيْنِ نَفْسِهِ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَعْرِفَ عُيُوبَ نفسه فله أربعة طرق
Ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla jika menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Dia membuat matanya mampu melihat aib-aib jiwanya. Barang siapa yang mata batinnya (bashirah) tajam, tidak akan tersembunyi baginya aib-aibnya. Apabila ia telah mengetahui aib-aib tersebut, mungkinkah baginya melakukan pengobatan. Namun sebagian besar manusia bodoh terhadap aib-aib jiwa mereka sendiri; salah seorang dari mereka melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi tidak melihat batang kayu di matanya sendiri. Barang siapa ingin mengetahui aib-aib jiwanya, maka baginya ada empat jalan:
الْأَوَّلُ أَنْ يَجْلِسَ بَيْنَ يَدَيْ شَيْخٍ بَصِيرٍ بعيوب النفس مطلع على خفايا الآفات ويحكمه في نفسه ويتبع إشارته في مجاهدته وهذا شأن المريد مع شيخه والتلميذ مع أستاذه فيعرفه أستاذه وشيخه عيوب نفسه ويعرفه طريق علاجه وهذا قد عز في الزمان وجوده
Yang pertama: Hendaklah ia duduk di hadapan seorang syekh (mursyid) yang tajam batinnya terhadap aib-aib jiwa, yang menyingkap cacat-cacat tersembunyi, lalu menjadikannya hakim atas dirinya dan mengikuti isyarat petunjuknya dalam bermujahadah. Inilah keadaan seorang murid bersama syekhnya dan murid bersama gurunya, di mana guru dan syekhnya mengabarkan kepadanya aib-aib jiwanya serta mengajarinya jalan pengobatannya. Dan hal ini sungguh telah sangat langka keberadaannya di zaman ini.
الثَّانِي أَنْ يَطْلُبَ صَدِيقًا صَدُوقًا بَصِيرًا مُتَدَيِّنًا فينصبه رقيباً على نفسه ليلاحظ أَحْوَالَهُ وَأَفْعَالَهُ فَمَا كَرِهَ مِنْ أَخْلَاقِهِ وَأَفْعَالِهِ وعيوبه الباطنة والظاهرة ينبهه عليه فهكذا كان يفعل الأكياس والأكابر مِنْ أَئِمَّةِ الدِّينِ
Yang kedua: Hendaklah ia mencari seorang sahabat yang jujur, bijak (tajam batinnya), dan taat beragama, lalu menjadikannya pengawas atas dirinya untuk mengamati kondisi-kondisi dan perbuatan-perbuatannya. Maka apa yang ia benci dari akhlaknya, perbuatannya, serta aib-aib batin dan lahirnya, sahabat itu akan memperingatkannya atas hal tersebut. Demikianlah yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang cerdas dan para tokoh besar dari imam-imam agama.
كَانَ عمر ﵁ يَقُولُ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عيوبي وكان يسأل سلمان عن عيوبه فلما قدم عليه قال له ما الذي بلغك عني مما تكرهه فاستعفى فألح عليه فقال بلغني أنك جمعت بين إدامين على مائدة وأن لك حلتين حلة بالنهار وحلة بالليل قال وهل بلغك غير هذا قال لا فقال أما هذان فقد كفيتهما وَكَانَ يَسْأَلُ حذيفة وَيَقُولُ لَهُ أَنْتَ صَاحِبُ سِرِّ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي الْمُنَافِقِينَ فَهَلْ تَرَى عَلَيَّ شَيْئًا مِنْ آثَارِ النِّفَاقِ فَهُوَ عَلَى جَلَالَةِ قَدْرِهِ وَعُلُوِّ مَنْصِبِهِ هَكَذَا كَانَتْ تُهْمَتُهُ لِنَفْسِهِ ﵁
Umar r.a. pernah berkata, "Semoga Allah merahmati seseorang yang menghadiahkan cela-celaku (kekuranganku) kepadaku." Beliau juga pernah bertanya kepada Salman tentang cela-celanya. Ketika Salman menemuinya, Umar berkata kepadanya, "Apa yang sampai kepadamu tentang diriku dari hal-hal yang tidak engkau sukai?" Salman pun meminta maaf untuk tidak mengatakannya, namun Umar terus mendesaknya. Maka Salman berkata, "Telah sampai kepadaku bahwa engkau menghimpun dua macam lauk-pauk di atas satu meja makan, dan engkau memiliki dua stel pakaian: satu stel untuk siang hari dan satu stel untuk malam hari." Umar bertanya, "Apakah ada hal lain yang sampai kepadamu selain ini?" Salman menjawab, "Tidak." Umar berkata, "Adapun dua hal ini, sungguh aku telah dicukupkan darinya (telah aku tinggalkan)." Beliau juga selalu bertanya kepada Hudzaifah dengan berkata, "Engkau adalah pemegang rahasia Rasulullah ﷺ mengenai kaum munafik, apakah engkau melihat pada diriku sesuatu dari tanda-tanda kemunafikan?" Maka Umar, dengan segala keagungan martabat dan tingginya kedudukannya, demikianlah prasangka buruk beliau terhadap dirinya sendiri r.a.
فَكُلُّ مَنْ كَانَ أَوْفَرَ عَقْلًا وَأَعْلَى مَنْصِبًا كَانَ أَقَلَّ إِعْجَابًا وَأَعْظَمَ اتِّهَامًا لِنَفْسِهِ إلا أن هذا أيضاً قد عز فقل في الأصدقاء من يترك المداهنة فيخبر بالعيب أو يترك الحسد فلا يزيد على قدر الواجب فلا تخلو في أصدقائك عن حسود أو صاحب غرض يرى ما ليس بعيب عيباً أو عن مداهن يخفي عنك بعض عيوبك
Maka setiap orang yang lebih sempurna akalnya dan lebih tinggi kedudukannya, tentulah ia lebih sedikit rasa ujubnya (kagum pada diri sendiri) dan lebih besar persangkaan buruknya terhadap dirinya sendiri. Akan tetapi, hal ini sekarang telah menjadi sangat langka, sehingga sedikit sekali di antara para sahabat/teman yang meninggalkan sifat bermuka manis (mudahenah/basa-basi palsu) lalu memberitahukan cela, atau meninggalkan sifat dengki sehingga tidak berlebihan melebihi batas yang seharusnya. Maka di antara teman-temanmu, engkau tidak akan lepas dari seorang yang dengki atau mempunyai kepentingan pribadi yang menganggap sesuatu yang bukan cela sebagai cela, atau dari seorang yang suka bermuka manis yang menyembunyikan sebagian celamu.
ولهذا كان داود الطائي قد اعتزل الناس فقيل له لم لا تخالط الناس فقال وماذا أصنع بأقوام يخفون عني عيوبي فكانت شهوة ذوي الدين أن يتنبهوا لعيوبهم بتنبيه غيرهم وَقَدْ آلَ الْأَمْرُ فِي أَمْثَالِنَا إِلَى أَنَّ أَبْغَضَ الْخَلْقِ إِلَيْنَا مَنْ يَنْصَحُنَا وَيُعَرِّفُنَا عُيُوبَنَا وَيَكَادُ هَذَا أَنْ يَكُونَ مُفْصِحًا عَنْ ضَعْفِ الْإِيمَانِ فَإِنَّ الْأَخْلَاقَ السَّيِّئَةَ حَيَّاتٌ وَعَقَارِبُ لَدَّاغَةٌ فَلَوْ نَبَّهَنَا مُنَبِّهٌ عَلَى أَنَّ تَحْتَ ثَوْبِنَا عَقْرَبًا لَتَقَلَّدْنَا مِنْهُ مِنَّةً وَفَرِحْنَا بِهِ وَاشْتَغَلْنَا بإزالة العقرب وإبعادها وقتلها وإنما نكايتها على البدن ويدوم أَلَمُهَا يَوْمًا فَمَا دُونَهُ وَنِكَايَةُ الْأَخْلَاقِ الرَّدِيئَةِ عَلَى صَمِيمِ الْقَلْبِ أَخْشَى أَنْ تَدُومَ
Oleh karena itulah Daud ath-Tha'i mengasingkan diri dari manusia. Lalu dikatakan kepadanya, "Mengapa engkau tidak bergaul dengan orang-orang?" Beliau menjawab, "Apa yang bisa aku perbuat terhadap kaum yang menyembunyikan cela-celaku dariku?" Maka kerinduan orang-orang yang taat beragama adalah agar mereka disadarkan akan cela-cela mereka melalui teguran orang lain. Namun keadaan pada orang-orang seperti kita telah sampai pada tingkat di mana makhluk yang paling kita benci adalah orang yang menasihati kita dan memberitahukan cela-cela kita. Hal ini hampir saja menunjukkan lemahnya iman. Sebab akhlak yang buruk adalah ular-ular dan kalajengking-kalajengking yang menyengat. Sekiranya seseorang mengingatkan kita bahwa di balik pakaian kita ada kalajengking, niscaya kita akan merasa berutang budi padanya, merasa gembira dengannya, dan sibuk menghilangkan kalajengking itu, menjauhkannya, serta membunuhnya. Padahal bahaya kalajengking itu hanyalah pada tubuh dan rasa sakitnya bertahan sehari atau kurang dari itu. Sedangkan bahaya akhlak yang buruk berdampak pada lubuk hati yang paling dalam, yang aku khawatirkan akan berlangsung terus…
بعد الموت أبداً وآلافاً من السنين ثُمَّ إِنَّا لَا نَفْرَحُ بِمَنْ يُنَبِّهُنَا عَلَيْهَا وَلَا نَشْتَغِلُ بِإِزَالَتِهَا بَلْ نَشْتَغِلُ بِمُقَابَلَةِ النَّاصِحِ بِمِثْلِ مَقَالَتِهِ فَنَقُولُ لَهُ وَأَنْتَ أَيْضًا تَصْنَعُ كَيْتَ وَكَيْتَ وَتَشْغَلُنَا الْعَدَاوَةُ مَعَهُ عَنِ الِانْتِفَاعِ بِنُصْحِهِ وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ مِنْ قَسَاوَةِ الْقَلْبِ الَّتِي أَثْمَرَتْهَا كَثْرَةُ الذُّنُوبِ وَأَصْلُ كُلِّ ذلك ضعف الإيمان
…setelah kematian selamanya dan beribu-ribu tahun lamanya. Kemudian kita justru tidak merasa gembira terhadap orang yang mengingatkan kita atas akhlak buruk itu dan kita tidak disibukkan untuk menghilangkannya, melainkan kita sibuk membalas penasihat tersebut dengan perkataan yang serupa, lalu kita katakan kepadanya, "Engkau juga melakukan begini dan begitu!" Permusuhan dengannya menyibukkan kita dari mengambil manfaat dari nasihatnya. Hal itu menyerupai kerasnya hati yang membuahkan banyaknya dosa, dan pangkal dari semua itu adalah lemahnya iman.
فنسأل الله ﷿ أَنْ يُلْهِمَنَا رُشْدَنَا وَيُبَصِّرَنَا بِعُيُوبِنَا وَيَشْغَلَنَا بِمُدَاوَاتِهَا وَيُوَفِّقَنَا لِلْقِيَامِ بِشُكْرِ مَنْ يُطْلِعُنَا عَلَى مَسَاوِينَا بِمَنِّهِ وَفَضْلِهِ
Maka kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar mengilhamkan petunjuk kepada kita, membukakan mata hati kita terhadap cela-cela kita, menyibukkan kita dengan pengobatannya, dan memberikan taufik kepada kita untuk menunaikan rasa syukur kepada orang yang memperlihatkan keburukan-keburukan kita, dengan karunia dan kemurahan-Nya.
الطَّرِيقُ الثَّالِثُ أَنْ يَسْتَفِيدَ مَعْرِفَةَ عُيُوبِ نَفْسِهِ مِنْ أَلْسِنَةِ أَعْدَائِهِ فَإِنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَا وَلَعَلَّ انْتِفَاعَ الْإِنْسَانِ بِعَدُوٍّ مشاحن يذكره عُيُوبَهُ أَكْثَرُ مِنِ انْتِفَاعِهِ بِصَدِيقٍ مُدَاهِنٍ يُثْنِي عَلَيْهِ وَيَمْدَحُهُ وَيُخْفِي عَنْهُ عُيُوبَهُ إِلَّا أَنَّ الطَّبْعَ مَجْبُولٌ عَلَى تَكْذِيبِ الْعَدُوِّ وَحَمْلِ مَا يَقُولُهُ عَلَى الْحَسَدِ وَلَكِنَّ الْبَصِيرَ لَا يَخْلُو عَنِ الِانْتِفَاعِ بِقَوْلِ أَعْدَائِهِ فَإِنَّ مَسَاوِيَهُ لَا بُدَّ وَأَنْ تَنْتَشِرَ عَلَى أَلْسِنَتِهِمْ
Jalan Ketiga: Hendaklah seseorang mengambil manfaat untuk mengetahui cela-cela dirinya dari lisan para musuhnya. Sebab, pandangan kebencian akan menampakkan keburukan-keburukan. Boleh jadi manfaat yang diperoleh seseorang dari musuh yang pendendam yang menyebutkan cela-celanya lebih banyak daripada manfaat yang diperolehnya dari teman yang suka bermuka manis (mudahenah) yang memuji dan menyanjungnya serta menyembunyikan cela-celanya darinya. Hanya saja, watak dasar manusia cenderung mendustakan musuh dan membawa apa yang dikatakannya pada prasangka kedengkian. Namun, orang yang memiliki mata hati (bashirah) tidak akan luput dari mengambil manfaat dari perkataan musuh-musuhnya, karena keburukan-keburukannya pasti akan tersebar melalui lisan mereka.
الطَّرِيقُ الرَّابِعُ أَنْ يُخَالِطَ النَّاسَ فَكُلُّ مَا رَآهُ مَذْمُومًا فِيمَا بَيْنَ الْخَلْقِ فَلْيُطَالِبْ نَفْسَهُ بِهِ وَيَنْسُبْهَا إِلَيْهِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ فَيَرَى مِنْ عُيُوبِ غَيْرِهِ عُيُوبَ نَفْسِهِ وَيَعْلَمُ أَنَّ الطِّبَاعَ مُتَقَارِبَةٌ فِي اتِّبَاعِ الْهَوَى فَمَا يَتَّصِفُ بِهِ واحد من الأقران لا ينفك القرن الآخر عَنْ أَصْلِهِ أَوْ عَنْ أَعْظَمَ مِنْهُ أَوْ عن شيء منه فليتفقد نفسه ويطهرها من كُلِّ مَا يَذُمُّهُ مَنْ غَيْرِهِ وَنَاهِيكَ بِهَذَا تَأْدِيبًا فَلَوْ تَرَكَ النَّاسُ كُلُّهُمْ مَا يَكْرَهُونَهُ من غيرهم لاستغنوا عن المؤدب
Jalan Keempat: Hendaklah ia bergaul dengan masyarakat. Maka segala hal yang dilihatnya tercela di antara sesama makhluk, hendaklah ia menuntut dirinya sendiri dengan cela tersebut dan menisbatkan kekurangan itu pada dirinya. Sebab seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya, sehingga ia melihat cela dirinya sendiri melalui cela orang lain. Ia menyadari bahwa watak-watak manusia itu berdekatan dalam hal mengikuti hawa nafsu; maka apa yang menjadi sifat salah seorang rekan tidak akan lepas dari rekan lainnya, baik dalam bentuk benih dasarnya, atau yang lebih besar darinya, atau sebagian darinya. Oleh karena itu, hendaklah ia memeriksa dirinya dan menyucikannya dari segala hal yang ia cela dari orang lain. Cukuplah ini sebagai bentuk pendidikan adab; sekiranya seluruh manusia meninggalkan apa yang mereka benci dari orang lain, niscaya mereka tidak membutuhkan lagi pembimbing adab.
قيل لعيسى ﵇ من أدبك قال ما أدبني أحد رأيت جهل الجاهل شينا فاجتنبته وهذا كله حيل من فقد شيخاً عارفاً ذكياً بصيراً بعيوب النفس مشفقاً ناصحاً في الدين فارغاً من تهذيب نفسه مشتغلاً بتهذيب عباد الله تعالى ناصحاً لهم فمن وجد ذلك فقد وجد الطبيب فليلازمه فهو الذي يخلصه من مرضه وينجيه من الهلاك الذي هو بصدده
Dikatakan kepada Nabi Isa a.s., "Siapakah yang mendidik adabmu?" Beliau menjawab, "Tidak ada seorang pun yang mendidikku. Aku melihat kebodohan orang yang jahil itu sebagai keburukan, maka aku menjauhinya." Dan ini semua merupakan ikhtiar/siasat bagi orang yang tidak memiliki seorang syekh yang arif (mengenal Allah), cerdas, memiliki pandangan tajam (bashirah) terhadap cela-cela jiwa, penuh kasih sayang, penasihat dalam agama, yang telah selesai dari menyucikan jiwanya sendiri dan sibuk membimbing hamba-hamba Allah Ta'ala serta menasihati mereka. Maka barangsiapa menemukan pembimbing seperti itu, sungguh ia telah menemukan tabib (kerohanian), hendaklah ia selalu mendampinginya, sebab dialah yang akan melepaskannya dari penyakitnya dan menyelamatkannya dari kebinasaan yang sedang mengancamnya.
بيان شواهد النقل من أرباب البصائر وشواهد الشرع على أن الطريق في معالجة
Penjelasan Bukti-Bukti Dalil Naqli dari Para Pemilik Mata Hati (Arbab al-Basha'ir) dan Dalil-Dalil Syariat Bahwa Jalan dalam Mengobati…
أمراض القلب ترك الشهوات وأن مادة أمراضها هي اتباع الشهوات
…Penyakit-Penyakit Hati adalah Meninggalkan Syahwat, dan Bahwa Sumber Penyakit-Penyakit Hati Tersebut Adalah Mengikuti Syahwat.
اعلم أن ما ذكرناه إن تأملته بعين الاعتبار انفتحت بصيرتك وانكشف لك علل القلوب وأمراضها وأدويتها بنور العلم واليقين
Ketahuilah bahwa apa yang telah kami sebutkan ini, jika engkau merenungkannya dengan pandangan iktibar (pelajaran), niscaya akan terbukalah mata hatimu (bashirah-mu), serta tersingkaplah bagimu sebab-sebab penyakit hati, jenis-jenis penyakitnya, dan obat-obatnya melalui cahaya ilmu dan keyakinan.
فإن عجزت عن ذلك فلا ينبغي أن يفوتك التصديق والإيمان على سبيل التلقي والتقليد لمن يستحق التقليد فإن للإيمان درجة كما أن للعلم درجة والعلم يحصل بعد الإيمان وهو وراءه قال اللَّهُ تَعَالَى يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ والذين أوتوا العلم درجات فمن صدق بأن مخالفة الشهوات هي الطريق إلى الله ﷿ ولم يطلع على سببه وسره فهو من الذين آمنوا وإذا اطلع على ما ذكرناه من أعوان الشهوات فهو من الذين أوتوا العلم وكلا وعد الله الحسنى
Jika engkau tidak mampu melakukan hal itu, maka jangan sampai engkau kehilangan pembenaran (tashdiq) dan keimanan dengan cara menerima dan bertaklid kepada orang yang berhak ditaklidi. Sebab, keimanan memiliki derajat sebagaimana ilmu juga memiliki derajat, dan ilmu itu diperoleh setelah keimanan serta berada di belakangnya. Allah Ta'ala berfirman, "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." Barangsiapa membenarkan bahwa menyelisahi syahwat adalah jalan menuju Allah Azza wa Jalla, namun ia belum mengetahui sebab dan rahasianya, maka ia termasuk orang-orang yang beriman. Dan jika ia telah mengetahui apa yang kami sebutkan tentang bala bantuan syahwat, maka ia termasuk orang-orang yang diberi ilmu. Dan masing-masing dari mereka telah dijanjikan oleh Allah balasan yang terbaik (surga).
والذي يقتضي الإيمان بهذا الأمر في القرآن والسنة وأقاويل العلماء أكثر من أن يحصر قال الله تَعَالَى وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هي المأوى وقال تعالى أولئك الذين امتحن الله قلوبهم للتقوى قيل نزع منها محبة الشهوات وقال ﷺ المؤمن بين خمس شدائد مؤمن يحسده ومنافق يبغضه وكافر يقاتله وشيطان يضله ونفس تنازعه فبين أن النفس عدو منازع يجب عليه مجاهدتها
Dan dalil yang menuntut keimanan terhadap perkara ini di dalam Al-Qur'an, As-Sunnah, serta perkataan para ulama sangatlah banyak hingga tak terhitung. Allah Ta'ala berfirman, "Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Merekalah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk ketakwaan." Dikatakan maknanya: dicabut dari hati mereka kecintaan terhadap syahwat. Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Seorang mukmin berada di antara lima kesukaran: mukmin yang mendengki dirinya, munafik yang membencinya, kafir yang memusuhinya, setan yang menyesatkannya, dan nafsu yang menentangnya." Maka Beliau menjelaskan bahwa nafsu adalah musuh penentang yang wajib dijihadinya.
ويروى أن الله تعالى أوحى إلى داود ﵇ يا داود حذر وأنذر أصحابك أكل الشهوات فإن القلوب
Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala mewahyukan kepada Daud a.s., "Wahai Daud, peringatkanlah dan ancamlah sahabat-sahabatmu dari memakan (memperturutkan) syahwat, karena sesungguhnya hati…
المتعلقة بشهوات الدنيا عقولها عني محجوبة وقال عيسى ﵇ طوبى لمن ترك شهوة حاضرة لموعود غائب لم يره وقال نبينا ﷺ لقوم قدموا من الجهاد مرحباً بكم قدمتم من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر قيل يا رسول الله وما الجهاد الأكبر قال جهاد النفس وقال ﷺ المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله ﷿ حديث كف أذاك عن نفسك ولا تتابع هواها في معصية الله الحديث لم أجده في هذا السيرة وقال سفيان الثوري ما عالجت شيئاً أشد علي من نفسي مرة لي ومرة علي وكان أبو العباس الموصلي يقول لنفسه يا نفس لا في الدنيا مع أبناء الملوك تتنعمين ولا في طلب الآخرة مع العباد تجتهدين كأني بك بين الجنة والنار تحبسين يا نفس ألا تستحين وقال الحسن ما الدابة الجموح بأحوج إلى اللجام الشديد من نفسك
…yang terikat dengan syahwat duniawi, akal pikirannya terhalang (terhijab) dari-Ku." Nabi Isa a.s. berkata, "Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang kasat mata demi janji yang gaib yang belum pernah ia lihat." Dan Nabi kita ﷺ bersabda kepada suatu kaum yang baru kembali dari medan perang, "Selamat datang, kalian telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar." Ditanyakan, "Wahai Rasulullah, apakah jihad yang lebih besar itu?" Beliau bersabda, "Jihad melawan nafsu." Dan Nabi ﷺ bersabda, "Seorang mujahid adalah orang yang bermujahadah melawan nafsunya dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla." (Hadis "Tahanlah gangguanmu dari dirimu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsunya dalam kemaksiatan kepada Allah…" hadis ini tidak aku temukan dalam Sirah ini). Sufyan ats-Tsauri berkata, "Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat bagiku daripada nafsuku; terkadang ia berpihak padaku dan terkadang memusuhiku." Abu al-Abbas al-Maushili pernah berkata kepada nafsunya, "Wahai nafsu, di dunia engkau tidak bersenang-senang bersama putra-putra raja, dan dalam mencari akhirat engkau tidak bersungguh-sungguh bersama para ahli ibadah. Seolah-olah aku melihatmu tertahan di antara surga dan neraka. Wahai nafsu, tidakkah engkau malu?" Al-Hasan al-Bashri berkata, "Tidak ada hewan tunggangan yang liar yang lebih membutuhkan tali kekang yang kuat melebihi nafsumu."
وقال يحيى بن معاذ الرازي جاهد نفسك بأسياف الرياضة والرياضة على أربع أوجه القوت من الطعام والغمض من المنام والحاجة من الكلام وحمل الأذى من جميع الأنام فيتولد من قلة الطعام موت الشهوات ومن قلة المنام صفو الإرادات ومن قلة الكلام السلامة من الآفات ومن احتمال الأذى البلوغ إلى الغايات وليس على العبد شيء أشد من الحلم عند الجفاء والصبر على الأذى وإذا تحركت من النفس إرادة الشهوات والآثام وهاجت منها حلاوة فضول الكلام جردت سيوف قلة الطعام من غمد التهجد وقلة المنام وضربتها بأيدي الخمول وقلة الكلام حتى تنقطع عن الظلم والانتقام فتأمن من بوائقها من بين سائر الأنام وتصفيها من ظلمة شهواتها فتنجو من غوائل آفاتها فتصير عند ذلك نظيفة ونورية خفيفة روحانية فتجول في ميدان الخيرات وتسير في مسالك الطاعات كالفرس الفارة في الميدان وكالملك المتنزه في البستان
Yahya bin Mu'adz ar-Razi berkata, "Jihadilah nafsumu dengan pedang-pedang riyadhah (latihan spiritual). Riyadhah itu berdiri di atas empat landasan: mencukupi kadar makanan (sedikit makan), mengurangi tidur, mencukupi kadar bicara (sedikit bicara), dan menanggung gangguan dari seluruh manusia. Maka dari sedikit makan terlahirlah matinya syahwat; dari sedikit tidur terlahirlah kejernihan kehendak (iradah); dari sedikit bicara terlahirlah keselamatan dari bencana-bencana lisan; dan dari menanggung gangguan terlahirlah pencapaian puncak-puncak tujuan. Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi seorang hamba daripada bersikap santun (hilm) ketika diperlakukan kasar dan bersabar atas gangguan. Apabila dalam nafsu timbul kehendak syahwat dan dosa-dosa serta bergejolak kemanisan bicara sia-sia darinya, maka hunuslah pedang sedikit makan dari sarung tahajud dan sedikit tidur, lalu tebaslah ia dengan tangan kelupaan (khumul/tidak ingin terkenal) dan sedikit bicara, hingga nafsu itu berhenti dari kezaliman dan pembalasan dendam. Dengan demikian, engkau akan aman dari bahaya-bahayanya di antara sesama manusia, dan engkau menyucikannya dari kegelapan syahwatnya sehingga selamat dari kebinasaan bencana-bencananya. Pada saat itulah nafsu menjadi bersih, bercahaya, ringan, dan bersifat kerohanian, lalu ia berkelana di medan kebaikan dan berjalan di lorong-lorong ketaatan bagaikan kuda tangkas di pacuan dan bagaikan raja yang bersenang-senang di taman."
وقال أيضاً أعداء الإنسان ثلاثة دنياه وشيطانه ونفسه فاحترس من الدنيا بالزهد فيها ومن الشيطان بمخالفته ومن النفس بترك الشهوات
Beliau (Yahya bin Mu'adz) juga berkata, "Musuh manusia ada tiga: dunianya, setannya, dan nafsunya. Maka jagalah dirimu dari dunia dengan zuhud padanya, dari setan dengan menyelisihi perintahnya, dan dari nafsu dengan meninggalkan syahwat."
قال بعض الحكماء من استولت عليه النفس صار أسيراً في حب شهواتها محصوراً في سجن هواها مقهوراً مغلولاً زمامه في يدها تجره حيث شاءت فتمنع قلبه من الفوائد وقال جعفر بن حميد أجمعت العلماء والحكماء على أن النعيم لا يدرك إلا بترك النعيم وقال أبو يحيى الوراق من أرضى الجوارح بالشهوات فقد غرس في قلبه شجر الندامات وقال وهيب بن الورد ما زاد على الخبز فهو شهوة وقال أيضاً من أحب شهوات الدنيا فليتهيأ للذل
Sebagian ahli hikmah berkata, "Barangsiapa yang dikuasai oleh nafsunya, ia akan menjadi tawanan dalam keasyikan syahwatnya, terkurung di dalam penjara hawa nafsunya, tertindas dan terbelenggu, kendalinya ada di tangan nafsu yang menyeretnya ke mana pun ia suka, sehingga menahan hatinya dari mengambil manfaat." Ja'far bin Humaid berkata, "Para ulama dan ahli hikmah telah sepakat bahwa kenikmatan sejati tidak akan diperoleh melainkan dengan meninggalkan kenikmatan (duniawi)." Abu Yahya al-Warraq berkata, "Barangsiapa memuaskan anggota tubuhnya dengan syahwat, sungguh ia telah menanam pohon penyesalan di dalam hatinya." Wuhaib bin al-Ward berkata, "Apa pun yang melebihi kadar roti kepingan, maka itu adalah syahwat." Beliau juga berkata, "Barangsiapa mencintai syahwat-syahwat dunia, maka hendaklah ia bersiap-siap untuk menerima kehinaan."
ويروى أن امرأة العزيز قالت ليوسف ﵇ بعد أن ملك خزائن الأرض وقعدت له على رابية الطريق في يوم موكبه وكان يركب في زهاء اثني عشر ألفاً من عظماء مملكته سبحان من جعل الملوك عبيداً بالمعصية وجعل العبيد ملوكاً بطاعتهم له إن الحرص والشهوة صيرا الملوك عبيداً وذلك جزاء المفسدين وإن الصبر والتقوى صيرا العبيد ملوكاً فقال يوسف كما أخبر الله تعالى عنه ﴿إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين﴾
Diriwayatkan bahwa istri al-Aziz (Zulaikha) berkata kepada Yusuf a.s. setelah Yusuf menguasai perbendaharaan bumi, ketika ia duduk menunggu di atas bukit kecil di tepi jalan pada hari rombongan pengawal Yusuf melintas—kala itu Yusuf berkuda diiringi sekitar dua belas ribu pembesar kerajaannya—"Maha Suci Dzat yang telah menjadikan para raja sebagai hamba sahaya disebabkan kemaksiatan, dan menjadikan para hamba sahaya sebagai raja disebabkan ketaatan mereka kepada-Nya. Sesungguhnya ketamakan dan syahwat telah mengubah para raja menjadi hamba sahaya, dan itulah balasan bagi orang-orang yang berbuat kerusakan; sedang kesabaran dan ketakwaan telah mengubah hamba sahaya menjadi raja." Maka Yusuf berkata sebagaimana dikisahkan oleh Allah Ta'ala tentangnya, "Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik."
وقال الجنيد أرقت ليلة فقمت إلى وردي فلم أجد الحلاوة التي كنت أجدها فأردت أن أنام فلم أقدر فجلست فلم أطق الجلوس فخرجت فإذا رجل ملتف في عباءة مطروح على الطريق فلما أحس بي قال يا أبا القاسم إلى الساعة فقلت يا سيدي من غير موعد قال بلى سألت الله ﷿ إن يحرك لي قلبك فقلت قد فعل فما حاجتك قال فمتى يصير داء النفس دواءها فقلت إذا خالفت النفس هواها فأقبل على نفسه فقال اسمعي فقد
Al-Junaid berkata, "Suatu malam aku mengalami insomnia (tidak bisa tidur), lalu aku bangkit untuk melakukan wiridku, namun aku tidak menemukan kemanisan ibadah sebagaimana yang biasa kurasakan. Aku ingin tidur tetapi tidak bisa. Lalu aku duduk, tetapi tidak tahan untuk tetap duduk. Maka aku pun keluar rumah, dan tiba-tiba ada seorang laki-laki berselimutkan jubah kain (aba-ah) terbaring di tepi jalan. Ketika ia merasakanku, ia berkata, 'Wahai Abu al-Qasim, hingga jam begini baru keluar?' Aku berkata, 'Wahai tuanku, tanpa janji terlebih dahulu?' Ia menjawab, 'Bahkan ada, aku telah memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menggerakkan hatimu untukku.' Aku berkata, 'Allah telah melakukannya, maka apa keperluanmu?' Ia bertanya, 'Kapan obat penyakit nafsu itu menjadi penawarnya?' Aku menjawab, 'Apabila nafsu itu menyelisihi hawa nafsunya.' Lalu ia menghadap kepada nafsunya sendiri dan berkata, 'Dengarkanlah, sungguh…'
أجبتك بهذا سبع مرات فأبيت أن تسمعيه إلا من الجنيدها قد سمعتيه ثم انصرف وما عرفته وقال يزيد الرقاشي إليكم عني الماء البارد في الدنيا لعلي لا أحرمه في الآخرة
"Aku telah menjawab pertanyaanmu ini sebanyak tujuh kali, namun engkau enggan mendengarnya melainkan dari Al-Junaid. Nah, sekarang engkau telah mendengarnya darinya." Kemudian lelaki itu pergi dan aku tidak mengenalnya. Yazid Ar-Raqaszi berkata, "Jauhkanlah dariku air dingin di dunia ini, agar aku tidak diharamkan mendapatkannya di akhirat."
وقال رجل لعمر بن عبد العزيز رحمه الله تعالى متى أتكلم قال إذا اشتهيت الصمت قال متى أصمت قال إذا اشتهيت الكلام
Seseorang berkata kepada 'Umar bin 'Abdul 'Aziz -rahimahullāhu ta'ālā-, "Kapan aku harus berbicara?" Beliau menjawab, "Apabila engkau berkeinginan untuk diam." Ia bertanya lagi, "Kapan aku harus diam?" Beliau menjawab, "Apabila engkau berkeinginan untuk berbicara."
وقال علي ﵁ من اشتاق إلى الجنة سلا عن الشهوات في الدنيا
Ali ﵁ berkata, "Barang siapa merindukan surga, niscaya ia akan melupakan (terhibur dari) kenikmatan syahwat di dunia."
وكان مالك بن دينار يطوف في السوق فإذا رأى الشيء يشتهيه قال لنفسه اصبري فوالله ما أمنعك إلا من كرامتك علي
Malik bin Dinar pernah berjalan-jalan di pasar. Apabila beliau melihat sesuatu yang diinginkannya, beliau berkata kepada jiwanya, "Bersabarlah! Demi Allah, tidaklah aku melarangmu melainkan karena penghormatanku terhadap dirimu."
فإذن قد اتفق العلماء والحكماء على أن لا طريق إلى سعادة الآخرة إلا بنهي النفس عن الهوى ومخالفة الشهوات فالإيمان بهذا واجب
Dengan demikian, para ulama dan ahli hikmah telah sepakat bahwa tidak ada jalan menuju kebahagiaan akhirat melainkan dengan mencegah jiwa dari hawa nafsu dan menyelisihi kehendak syahwat. Maka beriman kepada hal ini adalah sebuah kewajiban.
وأما علم تفصيل ما يترك من الشهوات وما لا يترك فلا يدرك إلا بما قدمناه
Adapun ilmu rincian tentang syahwat mana yang harus ditinggalkan dan mana yang tidak (perlu) ditinggalkan, tidak dapat dipahami melainkan melalui apa yang telah kami paparkan sebelumnya.
وحاصل الرياضة وسرها أن لا تتمتع النفس بشيء مما لا يوجد في القبر إلا بقدر الضرورة فيكون مقتصراً من الأكل والنكاح واللباس والمسكن وكل ما هو مضطر إليه على قدر الحاجة والضرورة فإنه لو تمتع بشيء منه أنس به وألفه فإذا مات تمنى الرجوع إلى الدنيا بسببه ولا يتمنى الرجوع إلى الدنيا إلا من لا حظ له في الآخرة بحال ولا خلاص منه إلا بأن يكون القلب مشغولاً بمعرفة الله وحبه والتفكر فيه والانقطاع إليه ولا قوة على ذلك إلا بالله ويقتصر من الدنيا على ما يدفع عوائق الذكر والفكر فقط
Kesimpulan dari riyadhah (latihan jiwa) dan rahasianya adalah agar jiwa tidak bersenang-senang dengan sesuatu yang tidak akan ada di dalam kubur melainkan sebatas kadar darurat. Oleh karena itu, seseorang hendaknya membatasi diri dalam hal makan, nikah, pakaian, tempat tinggal, dan segala sesuatu yang terdesak dibutuhkannya sebatas kadar hajat dan darurat saja. Sebab, jika ia bersenang-senang dengan sesuatu darinya, jiwanya akan merasa nyaman dan terbiasa dengannya. Akibatnya, ketika meninggal dunia, ia berangan-angan untuk kembali ke dunia karenanya. Padahal tidaklah berangan-angan kembali ke dunia melainkan orang yang sama sekali tidak memiliki bagian di akhirat. Tidak ada jalan keselamatan dari hal ini kecuali dengan menjadikan hati senantiasa sibuk dengan ma'rifatullah (mengenal Allah), mencintai-Nya, bertafakur tentang-Nya, dan ber-inqitha' (memfokuskan diri) kepada-Nya. Dan tidak ada kekuatan untuk itu melainkan dengan pertolongan Allah. Hendaknya seseorang membatasi diri dari dunia sebatas apa yang dapat menolak penghalang zikir dan tafakur saja.
فمن لم يقدر على حقيقة ذلك فليقرب منه والناس فيه أربعة
Barang siapa yang tidak mampu mencapai hakikat hal tersebut, hendaknya ia mendekatinya. Dan manusia dalam hal ini terbagi menjadi empat golongan:
رجل مستغرق قلبه بذكر الله فلا يلتفت إلى الدنيا إلا في ضرورات المعيشة فهو من الصديقين
Pertama, seseorang yang hatinya tenggelam dalam zikir kepada Allah, sehingga ia tidak menoleh kepada dunia kecuali sebatas kebutuhan darurat penghidupannya; maka ia termasuk golongan shiddiqin (orang-orang yang sangat benar imannya).
ولا ينتهي إلى هذه الرتبة إلا بالرياضة الطويلة والصبر عن الشهوات مدة مديدة
Dan seseorang tidak akan mencapai tingkatan (derajat) ini melainkan melalui riyadhah yang panjang dan kesabaran menahan syahwat dalam jangka waktu yang lama.
الثاني رجل استغرقت الدنيا قلبه ولم يبق لله تعالى ذكر في قلبه إلا من حيث حديث النفس حيث يذكره باللسان لا بالقلب فهذا من الهالكين
Kedua, seseorang yang hatinya ditenggelamkan oleh dunia dan tidak tersisa zikir kepada Allah Ta'ala di dalam hatinya kecuali sekadar bisikan jiwa, yang mana ia mengingat-Nya hanya dengan lisan bukan dengan hati; maka orang ini termasuk golongan yang binasa.
والثالث رجل اشتغل بالدنيا والدين ولكن الغالب على قلبه هو الدين فهذا لا بد له من ورود النار إلا أنه ينجو منها سريعاً بقدر غلبة ذكر الله تعالى على قلبه
Ketiga, seseorang yang sibuk dengan urusan dunia dan agama, namun yang dominan menguasai hatinya adalah agama; maka orang ini pasti akan mendatangi (melewati) neraka, hanya saja ia akan selamat darinya dengan cepat sesuai kadar dominasi zikir kepada Allah Ta'ala atas hatinya.
والرابع رجل اشتغل بهما جميعاً لكن الدنيا أغلب على قلبه فهذا يطول مقامه في النار لكن يخرج منها لا محالة لقوة ذكر الله تعالى في قلبه وتمكنه من صميم فؤاده وإن كان ذكر الدنيا أغلب على قلبه
Keempat, seseorang yang sibuk dengan keduanya sekaligus, namun urusan dunia lebih dominan menguasai hatinya; maka orang ini akan lama tinggalnya di neraka, tetapi ia pasti akan keluar darinya karena masih adanya kekuatan zikir kepada Allah Ta'ala di dalam hatinya dan tertanam di lubuk sanubarinya, meskipun pengingatan akan dunia lebih menguasai hatinya.
اللهم إنا نعوذ بك من خزيك فإنك أنت المعاذ
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari kehinaan-Mu, karena sungguh Engkaulah tempat perlindungan.
وربما يقول القائل إن التنعم بالمباح مباح فكيف يكون التنعم سبب البعد من الله ﷿ وهذا خيال ضعيف بل حب الدنيا رأس كل خطيئة وسبب إحباط كل حسنة والمباح الخارج عن قدر الحاجة أيضاً من الدنيا وهو سبب البعد وسيأتي ذلك في كتاب ذم الدنيا وقد قال إبراهيم الخواص كنت مرة في جبل اللكام فرأيت رماناً فاشتهيته فأخذت منه واحدة فشققتها فوجدتها حامضة فمضيت وتركتها فرأيت رجلاً مطروحاً وقد اجتمعت عليه الزنابير فقلت السلام عليك فقال وعليك السلام يا إبراهيم فقلت كيف عرفتني فقال من عرف الله ﷿ لم يخف عليه شيء فقلت أرى لك حالاً مع الله ﷿ فلو سألته أن يحميك من هذه الزنابير فقال وأرى لك حالاً مع الله تعالى فلو سألته أن يحميك من شهوة الرمان فإن لدغ الرمان يجد الإنسان ألمه في الآخرة ولدغ الزنابير يجد ألمه في الدنيا فتركته ومضيت
Boleh jadi ada yang berkata, "Sesungguhnya bersenang-senang dengan hal yang mubah itu hukumnya mubah, lalu bagaimana bisa bersenang-senang menjadi sebab jauh dari Allah ﷿?" Ini adalah prasangka yang lemah. Bahkan mencintai dunia adalah pangkal dari segala kesalahan dan penyebab gugurnya segala kebaikan. Dan perkara mubah yang melebihi kadar kebutuhan juga merupakan bagian dari dunia, serta menjadi penyebab kejauhan (dari Allah). Hal itu akan dijelaskan dalam Kitab Dzammi ad-Dunya (Celaan Terhadap Dunia). Ibrahim Al-Khawwash pernah bercerita: "Suatu ketika aku berada di Gunung Al-Lukkam, lalu aku melihat buah delima dan menginginkannya. Maka aku mengambil satu buah dan membelahnya, ternyata rasanya asam. Aku pun berlalu dan meninggalkannya. Kemudian aku melihat seorang pria tergeletak sementara tawon-tawon mengerumuninya. Aku berkata, 'Assalamu 'alaika.' Ia menjawab, 'Wa 'alaikas salam, wahai Ibrahim.' Aku bertanya, 'Dari mana engkau mengenaliku?' Ia menjawab, 'Barang siapa mengenal Allah ﷿, niscaya tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi baginya.' Aku berkata, 'Aku melihat engkau memiliki kedudukan (hal) di sisi Allah ﷿, alangkah baiknya jika engkau memohon kepada-Nya agar melindungimu dari tawon-tawon ini.' Pria itu menjawab, 'Dan aku juga melihat engkau memiliki kedudukan di sisi Allah Ta'ala, alangkah baiknya jika engkau memohon kepada-Nya agar melindungimu dari keinginan makan buah delima. Sebab, sengatan buah delima akan dirasakan sakitnya oleh manusia di akhirat, sedangkan sengatan tawon dirasakan sakitnya di dunia.' Maka aku meninggalkannya dan berlalu pergi."
وقال السري أنا منذ أربعين سنة تطالبني نفسي أن أغمس خبزة في دبس فما أطعتها
As-Sari berkata, "Sejak empat puluh tahun yang lalu, nafsu/jiwaku menuntutku untuk mencelupkan sepotong roti ke dalam sirup kurma, namun aku tidak pernah menuruti kemauannya."
فإذن لا يمكن إصلاح القلب لسلوك طريق الآخرة ما لم يمنع نفسه عن التنعم بالمباح فإن النفس إذا لم تمنع
Dengan demikian, tidak mungkin hati dapat diperbaiki untuk menempuh jalan akhirat selama seseorang tidak mencegah jiwanya dari bersenang-senang dengan hal yang mubah. Karena sesungguhnya jiwa itu apabila tidak dicegah…
بعض المباحات طمعت في المحظورات فمن أراد حفظ لسانه عن الغيبة والفضول فحقه أن يلزمه السكوت إلا عن ذكر الله وإلا عن المهمات في الدين حتى تموت منه شهوة الكلام فلا يتكلم إلا بحق فيكون سكوته عبادة وكلامه عبادة
…dari sebagian hal yang mubah, niscaya ia akan tergiur pada hal-hal yang diharamkan. Barang siapa yang ingin menjaga lisannya dari ghibah (mengumpat) dan perbincangan sia-sia, maka sepantasnya ia mewajibkan dirinya untuk diam melainkan dari zikir kepada Allah dan urusan-urusan penting dalam agama, hingga mati padanya syahwat berbicara. Dengan demikian, ia tidak berbicara melainkan dengan kebenaran, sehingga diamnya menjadi ibadah dan bicaranya pun menjadi ibadah.
ومهما اعتادت العين رمي البصر إلى كل شيء جميل لم تتحفظ عن النظر إلى ما لا يحل وكذلك سائر الشهوات لأن الذي يشتهى به الحلال هو بعينه الذي يشتهي الحرام فالشهوة واحدة وقد وجب على العبد منعها من الحرام فإن لم يعودها الاقتصاد على قدر الضرورة من الشهوات غلبته فهذه إحدى آفات المباحات ووراءها آفات عظيمة أعظم من هذه وهو أن النفس تفرح بالتنعم في الدنيا وتركن إليها وتطمئن إليها أشراً وبطراً حتى تصير ثملة كالسكران الذي لا يفيق من سكره وذلك الفرح بالدنيا سم قاتل يسري في العروق فيخرج من القلب الخوف والحزن وذكر الموت وأهوال يوم القيامة وهذا هو موت القلب قال الله تعالى ﴿ورضوا بالحياة الدنيا واطمأنوا بها﴾ وقال تعالى ﴿وما الحياة الدنيا في الآخرة إلا متاع﴾ وقال تعالى ﴿اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وتفاخر بينكم وتكاثر في الأموال والأولاد﴾ الآية وكل ذلك ذم لها فنسأل الله السلامة
Dan kapan saja mata terbiasa mengarahkan pandangan ke setiap hal yang indah, ia tidak akan sanggup menjaga diri dari memandang apa yang tidak halal. Demikian pula dengan seluruh syahwat lainnya, karena daya yang digunakan untuk menginginkan hal yang halal adalah daya yang sama untuk menginginkan hal yang haram; sebab syahwat itu satu. Sungguh telah wajib atas seorang hamba untuk mencegahnya dari yang haram. Jika ia tidak membiasakannya berhemat sebatas kadar darurat dari syahwat, niscaya syahwat itu akan menguasainya. Ini adalah salah satu bahaya dari hal-hal yang mubah, dan di baliknya terdapat bahaya-bahaya besar yang lebih dahsyat dari ini, yaitu bahwa jiwa akan merasa gembira dengan bersenang-senang di dunia, cenderung padanya, dan merasa tenang dengannya secara sombong dan angkuh, hingga ia menjadi mabuk bagaikan pemabuk yang tidak pernah sadar dari mabuknya. Kegembiraan terhadap dunia itu merupakan racun mematikan yang merayap di pembuluh darah, sehingga mengeluarkan dari dalam hati rasa takut, kesedihan (akan akhirat), pengingatan akan kematian, dan dahsyatnya hari kiamat. Dan inilah yang dinamakan kematian hati. Allah Ta'ala berfirman, "Dan mereka merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenang dengannya," (QS. Yunus: 7). Dan Allah Ta'ala berfirman, "Padahal kehidupan dunia dibanding kehidupan akhirat hanyalah kenikmatan yang sedikit," (QS. Ar-Ra'd: 26). Dan Allah Ta'ala berfirman, "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak…" (QS. Al-Hadid: 20) hingga akhir ayat. Semua itu adalah celaan terhadap dunia, maka kami memohon keselamatan kepada Allah.
فأولو الحزم من أرباب القلوب جربوا قلوبهم في حال الفرح بمؤاتاة الدنيا فوجدوها قاسية نفرة بعيدة التأثر عن ذكر الله واليوم الآخر وجربوها في حالة الحزن فوجدوها لينة رقيقة صافية قابلة لأثر الذكر فعلموا أن النجاة في الحزن الدائم والتباعد من أسباب الفرح والبطر ففطموها عن ملاذها وعودوها الصبر عن شهواتها حلالها وحرامها وعلموا أن حلالها حساب وحرامها عقاب ومتشابهها عتاب وهو نوع عذاب فمن نوقش الحساب في عرصات القيامة فقد عذب فخلصوا أنفسهم من عذابها وتوصلوا إلى الحرية والملك الدائم في الدنيا والآخرة بالخلاص من أسر الشهوات ورقها والأنس بذكر الله ﷿ والاشتغال بطاعته وفعلوا بها ما يفعل بالبازي إذا قصد تأديبه ونقله من التوثب والاستيحاش إلى الانقياد والتأديب فإنه يحبس أولاً في بيت مظلم وتخاط عيناه حتى يحصل به الفطام عن الطيران في جو الهواء وينسى ما قد كان ألفه من طبع الاسترسال ثم يرفق باللحم حتى يأنس بصاحبه ويألفه إلفاً إذا دعاه أجابه ومهما سمع صوته رجع إليه فكذلك النفس لا تألف ربها ولا تأنس بذكره إلا إذا فطمت عن عادتها بالخلوة والعزلة أولاً ليحفظ السمع والبصر عن المألوفات ثم عودت الثناء والذكر والدعاء ثانياً في الخلوة حتى يغلب عليها الأنس بذكر الله ﷿ عوضاً عن الأنس بالدنيا وسائر الشهوات وذلك يثقل على المريد في البداية ثم يتنعم به في النهاية كالصبي يفطم عن الثدي وهو شديد عليه إذا كان لا يصبر عنه ساعة فلذلك يشتد بكاؤه وجزعه عند الفطام ويشتد نفوره عن الطعام الذي يقدم إليه بدلاً عن اللبن ولكنه إذا منع اللبن رأساً يوماً فيوماً وعظم تعبه في الصبر عليه وغلبه الجوع تناول الطعام تكلفاً ثم يصير له طبعا فلورد بعد ذلك إلى الثدي لم يرجع إليه فيهجر الثدي ويعاف اللبن ويألف الطعام وكذلك الدابة في الابتداء تنفر عن السرج واللجام والركوب فتحمل على ذلك قهراً وتمنع عن السرج الذي ألفته بالسلاسل والقيود أولاً ثم تأنس به بحيث تترك في موضعها فتقف فيه من غير قيد فكذلك تؤدب النفس كما تؤدب الطير والدواب وتأديبها بأن تمنع من النظر والأنس والفرح بنعيم الدنيا بل بكل ما يزايلها بالموت إذ قيل له أحبب ما أحببت فإنك مفارقه فإذا علم أنه من أحب شيئاً يلزمه فراقه ويشقى لا محالة لفراقه شغل قلبه بحب ما لا يفارقه وهو ذكر الله تعالى فإن ذلك يصحبه في القبر ولا يفارقه وكل ذلك يتم بالصبر أولاً أياماً قلائل فإن العمر قليل بالإضافة إلى مدة حياة الآخرة وما من عاقل إلا وهو راض باحتمال المشقة في سفر وتعلم صناعة وغيرها شهراً ليتنعم به سنة أو دهراً وكل
Orang-orang yang memiliki keteguhan hati (ulu al-hazm) dari kalangan pemilik hati telah menguji hati mereka saat merasa gembira karena mendapatkan kemudahan duniawi, lalu mereka mendapatinya menjadi keras, liar, dan jauh dari pengaruh zikir kepada Allah serta hari akhirat. Mereka juga mengujinya dalam keadaan sedih (prihatin), lalu mendapatinya menjadi lembut, halus, jernih, dan mudah menerima pengaruh zikir. Maka mereka mengetahui bahwa keselamatan itu terletak pada rasa sedih yang berkesinambungan dan menjauhkan diri dari sebab-sebab kegembiraan dan keangkuhan. Oleh karena itu, mereka menyapih jiwa mereka dari kelezatannya dan membiasakannya bersabar menahan syahwatnya, baik yang halal maupun yang haram. Mereka mengetahui bahwa yang halalnya adalah hisab (perhitungan), yang haramnya adalah 'iqab (siksaan), dan yang syubhatnya adalah 'itab (teguran) yang merupakan sejenis siksaan; barang siapa yang diperhitungkan hisabnya secara rinci di padang Mahsyar pada hari Kiamat, sungguh ia telah disiksa. Maka mereka membebaskan jiwa mereka dari siksaannya dan mencapai kebebasan serta kerajaan yang abadi di dunia dan akhirat dengan cara melepaskan diri dari tawanan dan perbudakan syahwat, serta merasa nyaman dengan zikir kepada Allah ﷿ dan sibuk dengan ketaatan kepada-Nya. Mereka memperlakukan jiwa sebagaimana diperlakukan terhadap burung elang rajawali (bazi) apabila bermaksud melatihnya dan memindahkannya dari sifat buas dan liar menuju ketaatan dan kesopanan; sebab elang itu mulanya dikurung di rumah yang gelap dan kedua matanya dijahit hingga ia terbiasa tidak terbang di angkasa dan melupakan tabiat liar yang dulu terbiasa padanya. Kemudian ia diperlakukan secara lembut dengan diberi makan daging hingga ia merasa nyaman dengan pemiliknya dan sangat terbiasa, sampai jika ia dipanggil niscaya ia memenuhi panggilan itu dan kapan saja mendengar suaranya ia akan kembali kepadanya. Demikian pulalah jiwa, ia tidak akan merasa akrab dengan Rabbnya dan tidak akan merasa nyaman dengan zikir-Nya melainkan jika disapih dari kebiasaannya melalui kholwat (menyendiri) dan 'uzlah terlebih dahulu agar pendengaran dan penglihatannya terjaga dari hal-hal yang biasa ditemuinya. Kemudian kedua, ia dibiasakan dengan pujian, zikir, dan doa di dalam kholwat hingga rasa nyaman dengan zikir kepada Allah ﷿ menguasai dirinya sebagai ganti dari rasa nyaman terhadap dunia dan seluruh syahwat. Hal itu terasa berat bagi seorang murid (penempuh jalan spiritual) pada permulaannya, namun kemudian ia akan merasakan kenikmatan padanya pada akhirnya. Hal ini bagaikan seorang bayi yang disapih dari ASI, dan itu terasa amat berat baginya karena ia tidak dapat bersabar tanpanya walau satu jam saja. Oleh karena itu, makin sangat tangisan dan keluh kesahnya ketika disapih, serta semakin kuat penolakannya terhadap makanan yang disajikan kepadanya sebagai pengganti susu. Namun jika ia dilarang dari susu sama sekali dari hari ke hari dan makin besar kepayahannya dalam bersabar atasnya serta dikalahkan oleh rasa lapar, ia akan memakan makanan itu dengan memaksakan diri, kemudian hal itu menjadi tabiatnya. Sehingga jika setelah itu ia dikembalikan ke payudara ibunya, ia tidak akan mau kembali kepadanya, ia meninggalkan payudara, enggan minum susu, dan menyukai makanan padat. Demikian pula binatang beban pada awalnya enggan terhadap pelana, tali kekang, dan penunggangnya, lalu ia dipaksa menanggungnya dan dicegah dari padang rumput yang biasa ia datangi dengan rantai dan ikatan terlebih dahulu, kemudian ia merasa nyaman dengannya sedemikian rupa sehingga jika ia ditinggalkan di tempatnya, ia akan berdiri di sana tanpa terikat. Maka demikian pulalah jiwa dididik sebagaimana dididiknya burung dan binatang ternak. Mendidiknya adalah dengan cara melarangnya dari memandang, merasa nyaman, dan bergembira dengan kenikmatan dunia, bahkan dengan segala sesuatu yang akan berpisah dengannya sebab kematian; sebagaimana dikatakan kepadanya: 'Cintailah apa yang engkau cintai, sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya.' Apabila ia mengetahui bahwa barang siapa mencintai sesuatu niscaya ia pasti akan berpisah dengannya dan niscaya menderita karena perpisahan itu, maka ia mengalihkan hatinya untuk mencintai apa yang tidak akan pernah berpisah dengannya, yaitu zikir kepada Allah Ta'ala. Sebab hal itu akan menyertainya di dalam kubur dan tidak akan berpisah darinya. Semua itu disempurnakan dengan kesabaran terlebih dahulu dalam beberapa hari yang sedikit; karena sesungguhnya umur itu sangat singkat jika dibandingkan dengan jangka waktu kehidupan akhirat. Dan tidak ada seorang pun yang berakal melainkan ia rela menanggung kepayahan dalam perjalanan atau mempelajari suatu keterampilan dan lainnya selama sebulan agar dapat bersenang-senang dengannya selama setahun atau seumur hidup, dan setiap…
العمر بالإضافة إلى الأبد أقل من الشهر بالإضافة إلى عمر الدنيا فلا بد من الصبر والمجاهدة فعند الصباح يحمد القوم السرى وتذهب عنهم عمايات الكرى كما قاله علي ﵁ وطريق المجاهدة والرياضة لكل إنسان تختلف بحسب اختلاف أحواله
Usia manusia jika dibandingkan dengan keabadian akhirat tentu lebih singkat daripada perbandingan satu bulan dengan keseluruhan usia dunia. Maka tidak boleh tidak, seseorang harus bersabar dan bermujahadah. Sebagaimana dikatakan oleh Ali ﵁: 'Pada waktu pagi, suatu kaum akan memuji perjalanan malam (yang telah mereka tempuh), dan lenyaplah dari mereka kantuk yang membutakan.' Dan jalan mujahadah serta riyadhah bagi setiap insan itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi jiwa mereka.
والأصل فيه أن يترك كل واحد ما به فرحه من أسباب الدنيا فالذي يفرح بالمال أو بالجاه أو بالقبول في الوعظ أو بالعز في القضاء والولاية أو بكثرة الأتباع في التدريس والإفادة فينبغي أن يترك أولاً ما به فرحه فإنه إن منع عن شيء من ذلك وقيل له ثوابك في الآخرة لم ينقص بالمنع فكره ذلك وتألم به فهو ممن فرح بالحياة الدنيا واطمأن بها وذلك مهلك في حقه ثم إذا ترك أسباب الفرح فليعتزل الناس ولينفرد بنفسه وليراقب قلبه حتى لا يشتغل إلا بذكر الله تعالى والفكر فيه وليترصد لما يبدو في نفسه من شهوة ووسواس حتى يقمع مادته مهما ظهر فإن لكل وسوسة سبباً ولا تزول إلا بقطع ذلك السبب والعلاقة وليلازم ذلك بقية العمر فليس للجهاد آخر إلا بالموت
Prinsip utamanya adalah hendaknya setiap orang meninggalkan apa yang menjadi sumber kesenangannya dari sebab-sebab duniawi. Barangsiapa yang merasa gembira dengan harta, kedudukan, penerimaan publik saat memberi nasihat, kemuliaan dalam jabatan peradilan dan kekuasaan, atau banyaknya pengikut dalam mengajar dan memberi faedah ilmu, hendaknya ia terlebih dahulu meninggalkan apa yang menjadi sumber kesenangannya tersebut. Sebab jika ia dihalangi dari hal-hal itu lalu dikatakan kepadanya bahwa pahalamu di akhirat tidak akan berkurang sedikit pun karena penghalangan ini, namun ia membencinya dan merasa sakit hati dengannya, maka ia termasuk orang yang bergembira dengan kehidupan dunia dan merasa tenteram dengannya, dan hal itu dapat membinasakan jiwanya. Kemudian, apabila ia telah meninggalkan sebab-sebab kesenangan duniawi tersebut, hendaklah ia mengasingkan diri dari manusia, menyendiri, dan mengawasi hatinya agar tidak disibukkan melainkan dengan zikir kepada Allah Ta'ala dan bertafakur tentang-Nya. Hendaklah ia mengintai setiap syahwat dan waswas yang timbul dalam jiwanya hingga ia memotong sumbernya kapan pun ia muncul. Sebab setiap waswas pasti memiliki sebab, dan ia tidak akan sirna melainkan dengan memutus sebab dan keterikatan tersebut. Hendaklah ia melazimkan hal itu di sisa umurnya, sebab tidak ada akhir bagi jihad jiwa melainkan dengan datangnya kematian.
بيان عَلَامَاتِ حُسْنِ الْخُلُقِ
Penjelasan Tanda-Tanda Akhlak yang Baik (Husnul Khuluq)
اعْلَمْ أَنَّ كُلَّ إِنْسَانٍ جَاهِلٍ بِعُيُوبِ نَفْسِهِ فَإِذَا جَاهَدَ نَفْسَهُ أَدْنَى مُجَاهَدَةٍ حَتَّى تَرَكَ فَوَاحِشَ الْمَعَاصِي رُبَّمَا يَظُنُّ بنفسه أنه هَذَّبَ نَفْسَهُ وَحَسَّنَ خُلُقَهُ وَاسْتَغْنَى عَنِ الْمُجَاهَدَةِ فَلَا بُدَّ مِنْ إِيضَاحِ عَلَامَةِ حُسْنِ الْخُلُقِ فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ هُوَ الْإِيمَانُ وَسُوءَ الْخُلُقِ هُوَ النِّفَاقُ وَقَدْ ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى صِفَاتِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُنَافِقِينَ فِي كِتَابِهِ وَهِيَ بِجُمْلَتِهَا ثَمَرَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ وَسُوءِ الْخُلُقِ فَلْنُورِدْ جُمْلَةً مِنْ ذَلِكَ لِتَعْلَمَ آيَةَ حُسْنِ الْخُلُقِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ﴾ إلى قوله ﴿أولئك هم الوارثون﴾ وقال ﷿ ﴿التائبون العابدون الحامدون﴾ إلى قوله ﴿وبشر المؤمنين﴾ وَقَالَ ﷿ ﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذكر الله وجلت قلوبهم﴾ إلى قوله ﴿أولئك هم المؤمنون حقاً﴾ وَقَالَ تَعَالَى ﴿وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا﴾ إلى آخر السورة من أَشْكَلَ عَلَيْهِ حَالُهُ فَلْيَعْرِضْ نَفْسَهُ عَلَى هَذِهِ الْآيَاتِ فَوُجُودُ جَمِيعِ هَذِهِ الصِّفَاتِ عَلَامَةُ حُسْنِ الْخُلُقِ وَفَقْدُ جَمِيعِهَا عَلَامَةُ سُوءِ الْخُلُقِ وَوُجُودُ بَعْضِهَا دُونَ بَعْضٍ يَدُلُّ عَلَى الْبَعْضِ دُونَ الْبَعْضِ فَلْيَشْتَغِلْ بِتَحْصِيلِ مَا فَقَدَهُ وَحِفْظِ مَا وَجَدَهُ وَقَدْ وَصَفَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمُؤْمِنَ بِصِفَاتٍ كَثِيرَةٍ وَأَشَارَ بِجَمِيعِهَا إِلَى مَحَاسِنِ الْأَخْلَاقِ فَقَالَ الْمُؤْمِنُ يُحِبُّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ وَقَالَ ﵇ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَقَالَ ﷺ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَقَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خيراً أو ليصمت حديث أكمل المؤمنين إيماناً أحسنهم خلقا تقدم غير مرة حديث إذا رأيتم المؤمن صموتاً وقوراً فادنوا منه فإنه يلقن الحكمة أخرجه ابن ماجه من حديث أبي خلاد بلفظ إذا رأيتم الرجل قد أعطى زهدا في الدنيا وقلة منطق // وقال من سرته حسنته
Ketahuilah bahwa setiap manusia pada dasarnya tidak menyadari aib-aib dirinya. Ketika ia melakukan mujahadah terhadap dirinya dalam kadar yang paling minim hingga mampu meninggalkan kemaksiatan yang keji, terkadang ia menyangka bahwa jiwanya telah terdidik, akhlaknya telah membaik, dan ia tidak lagi membutuhkan mujahadah. Oleh karena itu, perlu dijelaskan tanda-tanda akhlak yang baik (husnul khuluq). Sebab, husnul khuluq merupakan cerminan iman, sedangkan su'ul khuluq (akhlak yang buruk) merupakan cerminan nifak. Allah Ta'ala telah menyebutkan sifat-sifat orang beriman dan orang munafik dalam Kitab-Nya, yang secara keseluruhan merupakan buah dari husnul khuluq dan su'ul khuluq. Mari kita kemukakan sebagian dari hal itu agar engkau mengetahui tanda husnul khuluq. Allah Ta'ala berfirman: 'Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna' sampai firman-Nya: 'Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi' (QS. Al-Mu'minun: 1-10). Dan Allah ﷿ berfirman: '(Mereka itu adalah) orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah)…' sampai firman-Nya: 'Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman' (QS. At-Taubah: 112). Dan Allah ﷿ berfirman: 'Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka…' sampai firman-Nya: 'Mereka itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya' (QS. Al-Anfal: 2-4). Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan "salam"' sampai akhir surah (QS. Al-Furqan: 63-77). Barangsiapa yang ragu akan keadaan dirinya, hendaklah ia mencocokkan dirinya dengan ayat-ayat ini. Keberadaan seluruh sifat ini merupakan tanda husnul khuluq, dan ketiadaan seluruhnya merupakan tanda su'ul khuluq. Adapun keberadaan sebagian sifat dan ketiadaan sebagian lainnya menunjukkan kadar keadaan jiwanya. Hendaklah ia disibukkan untuk mengupayakan apa yang belum ada dan menjaga apa yang telah didapatkannya. Rasulullah ﷺ juga telah mensifati orang mukmin dengan banyak sifat yang seluruhnya mengisyaratkan kepada keindahan akhlak. Beliau bersabda: 'Seorang mukmin itu menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai bagi dirinya sendiri.' Beliau ﵇ juga bersabda: 'Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.' Beliau ﷺ bersabda: 'Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.' Beliau bersabda: 'Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.' Dan hadis: 'Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya' telah disebutkan berulang kali. Serta hadis: 'Apabila kalian melihat seorang mukmin yang banyak diam dan tenang, mendekatlah kepadanya karena ia diajarkan hikmah.' Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Majah dari hadis Abu Khallad dengan lafaz: 'Apabila kalian melihat seorang laki-laki telah dikaruniai kezuhudan di dunia dan sedikit bicara…' Dan beliau bersabda: 'Barangsiapa yang amal kebaikannya membuatnya gembira…
وساءته سيئته فهو مؤمن وَقَالَ لَا يَحِلُّ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يُشِيرَ إِلَى أخيه بنظرة تؤذيه وقال ﷺ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا وَقَالَ ﷺ إِنَّمَا يَتَجَالَسُ الْمُتَجَالِسَانِ بِأَمَانَةِ اللَّهِ ﷿ فَلَا يَحِلُّ لِأَحَدِهِمَا أَنْ يُفْشِيَ عَلَى أخيه ما يكرهه وجمع بعضهم علامات حسن الخلق فقال هو أن يكون كثير الحياء قليل الأذى كثير الصلاح صدوق اللسان قليل الكلام كثير العمل قليل الزلل قليل الفضول براً وصولاً وقوراً صبوراً شكورا رضيا حليما رفيقاً عفيفاً شفيقاً لا لعاناً ولا سباباً ولا نماماً ولا مغتاباً ولا عجولاً ولا حقوداً ولا بخيلاً ولا حسوداً بشاشاً هشاشاً يحب في الله ويبغض في الله ويرضى في الله ويغضب في الله فهذا هو حسن الخلق وَسُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عن علامة المؤمن والمنافق فقال إن المؤمن همته في الصلاة والصيام والعبادة والمنافق همته في الطعام والشراب كالبهيمة وقال حاتم الأصم المؤمن مشغول بالفكر والعبر والمنافق مشغول بالحرص والأمل والمؤمن آيس من كل أحد إلا من الله والمنافق راج كل أحد إلا الله والمؤمن آمن من كل أحد إلا من الله والمنافق خائف من كل أحد إلا من الله والمؤمن يقدم ماله دون دينه والمنافق يقدم دينه دون ماله والمؤمن يحسن ويبكي والمنافق يسيء ويضحك والمؤمن يحب الخلوة والوحدة والمنافق يحب الخلطة والملأ والمؤمن يزرع ويخشى الفساد والمنافق يقلع ويرجو الحصاد والمؤمن يأمر وينهى للسياسة فيصلح والمنافق يأمر وينهى للرياسة فيفسد
dan amal keburukannya membuatnya bersedih, maka dia adalah seorang mukmin.' Beliau juga bersabda: 'Tidak halal bagi seorang mukmin memberi isyarat pandangan kepada saudaranya yang dapat menyakitinya.' Beliau ﷺ bersabda: 'Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim lainnya.' Beliau ﷺ bersabda: 'Dua orang yang duduk bersama hendaknya menjaga amanah Allah ﷿, maka tidak halal bagi salah seorang dari keduanya menyebarkan sesuatu yang dibenci oleh saudaranya.' Sebagian ulama mengumpulkan tanda-tanda akhlak yang baik dengan menyatakan: Akhlak yang baik adalah memiliki rasa malu yang tinggi, sedikit menyakiti, banyak melakukan kebaikan, jujur lidahnya, sedikit bicara, banyak beramal, sedikit melakukan kekeliruan, sedikit bertindak sia-sia, berbakti, menyambung tali silaturahmi, tenang, penyabar, bersyukur, selalu rida, santun, bersikap lembut, menjaga kesucian diri, penuh kasih sayang; bukan seorang pengutuk, bukan pencaci, bukan pemfitnah, bukan pengumpat, tidak terburu-buru, tidak dendam, tidak kikir, tidak dengki; berseri-seri wajahnya, bersikap ramah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, rida karena Allah, dan marah karena Allah. Inilah kebaikan akhlak. Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang tanda orang mukmin dan orang munafik, maka beliau bersabda: 'Sesungguhnya perhatian orang mukmin tercurah pada shalat, puasa, dan ibadah, sedangkan perhatian orang munafik tercurah pada makanan dan minuman bagaikan hewan ternak.' Hatim Al-Asham berkata: 'Orang mukmin disibukkan dengan tafakur dan mengambil ikhtibar (pelajaran), sedangkan orang munafik disibukkan dengan ketamakan dan angan-angan. Orang mukmin putus asa dari siapa pun kecuali dari Allah, sedangkan orang munafik berharap kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Orang mukmin merasa aman dari siapa pun kecuali dari Allah, sedangkan orang munafik merasa takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Orang mukmin mengorbankan hartanya demi membela agamanya, sedangkan orang munafik mengorbankan agamanya demi membela hartanya. Orang mukmin berbuat baik sambil menangis (karena takut), sedangkan orang munafik berbuat jahat sambil tertawa. Orang mukmin menyukai khalwat dan menyendiri, sedangkan orang munafik menyukai pergaulan dan keramaian. Orang mukmin menanam dan takut akan kerusakan, sedangkan orang munafik mencabut dan berharap panen. Orang mukmin memerintah dan melarang untuk kemaslahatan sehingga ia memperbaiki, sedangkan orang munafik memerintah dan melarang untuk kepemimpinan sehingga ia merusak.'
وَأَوْلَى مَا يُمْتَحَنُ بِهِ حُسْنُ الْخُلُقِ الصَّبْرُ على الأذى واحتمال الجفاء ومن شكا من سوء خلق غيره دل ذلك على سوء خلقه فإن حسن الخلق احتمال الأذى فَقَدْ رُوِيَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَوْمًا يَمْشِي وَمَعَهُ أنس فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ فَجَذَبَهُ جَذْبًا شَدِيدًا وَكَانَ عَلَيْهِ برد نجراني غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ قَالَ أنس ﵁ حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى عُنُقِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَدْ أَثَّرَتْ فِيهِ حَاشِيَةُ الْبُرْدِ مِنْ شِدَّةِ جَذْبِهِ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ هَبْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ بِإِعْطَائِهِ وَلَمَّا أَكْثَرَتْ قريش إيذاءه وضربه قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ قيل إن هذا يوم أحد فلذلك أنزل الله تعالى ﴿وإنك لعلى خلق عظيم﴾ ويحكى أن إبراهيم بن أدهم خرج يوماً إلى بعض البراري فاستقبله رجل جندي فقال أنت عبد قال نعم فقال له أين العمران فأشار إلى المقبرة فقال الجندي إنما أردت العمران فقال هو المقبرة فغاظه ذلك فضرب رأسه بالسوط فشجه ورده إلى البلد فاستقبله أصحابه فقالوا ما الخبر فأخبرهم الجندي ما قال له فقالوا هذا إبراهيم بن أدهم فنزل الجندي عن فرسه وقبل يديه ورجليه وجعل يعتذر إليه فقيل بعد ذلك له لم قلت له أنا عبد فقال إنه لم يسألني عبد من أنت بل قال أنت عبد فقلت نعم لأني عبد الله فلما ضرب رأسي سألت
Hal yang paling utama untuk menguji keluhuran akhlak adalah bersabar atas gangguan dan menanggung sikap kasar. Barangsiapa mengaduhkan keburukan akhlak orang lain, hal itu justru menunjukkan keburukan akhlak dirinya sendiri, sebab kebaikan akhlak terletak pada kesanggupan menanggung gangguan. Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pada suatu hari sedang berjalan bersama Anas, lalu seorang Arab Badui menyusul beliau dan menarik selendang beliau dengan tarikan yang keras. Saat itu beliau mengenakan selendang Najran yang kasar pinggirannya. Anas ﵁ berkata: 'Hingga aku melihat leher Rasulullah ﷺ berbekas akibat gesekan pinggiran selendang itu karena kerasnya tarikan orang tersebut. Lalu orang itu berkata: 'Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku sebagian dari harta Allah yang ada padamu!' Rasulullah ﷺ berpaling kepadanya lalu tersenyum, kemudian beliau memerintahkan agar orang tersebut diberi pemberian.' Dan ketika kaum Quraisy makin gencar menyakiti dan memukul beliau, beliau berdoa: 'Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.' Dikatakan bahwa peristiwa ini terjadi pada perang Uhud, dan karena itulah Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya: 'Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung' (QS. Al-Qalam: 4). Diceritakan pula bahwa Ibrahim bin Adham pada suatu hari keluar menuju padang sahara, lalu seorang prajurit menghadangnya dan bertanya: 'Apakah engkau seorang hamba?' Beliau menjawab: 'Ya.' Prajurit itu bertanya lagi: 'Di manakah pemukiman yang ramai?' Beliau mengisyaratkan ke arah pemakaman. Prajurit itu berkata: 'Aku menginginkan pemukiman yang ramai!' Beliau menjawab: 'Pemukiman yang ramai itu adalah pemakaman.' Hal itu membuat prajurit tersebut marah, lalu ia memukul kepala beliau dengan cambuk hingga terluka dan membawanya kembali ke kota. Sahabat-sahabat Ibrahim menyambut beliau dan bertanya kepada prajurit itu: 'Ada apa ini?' Prajurit itu menceritakan apa yang dikatakan Ibrahim kepadanya. Mereka berkata: 'Ini adalah Ibrahim bin Adham!' Maka prajurit itu segera turun dari kudanya, mencium tangan dan kaki beliau, serta menyampaikan permohonan maaf. Setelah itu ditanyakan kepada Ibrahim: 'Mengapa engkau katakan kepadanya 'Aku seorang hamba'?' Beliau menjawab: 'Dia tidak bertanya kepadaku hamba siapa engkau, melainkan berkata 'Apakah engkau seorang hamba?' Maka aku menjawab 'Ya', karena aku adalah hamba Allah. Dan ketika ia memukul kepalaku, aku memohon kepada
الله له الجنة قيل كيف وقد ظلمك فقال علمت أنني أوجر على ما نالني منه فلم أرد يكون نصيبي منه الخير ونصيبه مني الشر
Allah agar memberinya surga.' Ditanyakan kepadanya: 'Bagaimana bisa, padahal dia telah menzalimimu?' Beliau menjawab: 'Aku tahu bahwa aku diberi pahala atas apa yang menimpaku darinya, maka aku tidak ingin bagianku darinya adalah kebaikan (pahala), sedangkan bagiannya dariku adalah keburukan (siksa).'
ودعى أبو عثمان الحيري إلى دعوة وكان الداعي قد أراد تجربته فلما بلغ منزله قال له ليس لي وجه فرجع أبو عثمان فلما ذهب غير بعيد دعاه ثانياً فقال له يا أستاذ ارجع فرجع أبو عثمان فقال له مثل مقالته الأولى فرجع ثم دعاه الثالثة وقال ارجع على ما يوجب الوقت فرجع فلما بلغ الباب فإن له مثل مقالته الأولى فرجع أبو عثمان ثم جاءه الرابعة فرده حتى عامله بذلك مرات وأبو عثمان لا يتغير من ذلك فأكب على رجليه وقال يا أستاذ إنما أردت أن أختبرك فما أحسن خلقك فقال إن الذي رأيت مني هو خلق الكلب إن الكلب إذا دعي أجاب وإذا زجر انزجر وروي عنه أيضاً أنه اجتاز يوماً في سكة فطرحت عليه إجانة رماد فنزل عن دابته فسجد سجدة الشكر ثم جعل ينفض الرماد عن ثيابه ولم يقل شيئاً فقيل ألا زبرتهم فقال إن من استحق النار فصولح على الرماد لم يجز له أن يغضب وروي أن علي بن موسى الرضا رحمة الله عليه كان لونه يميل إلى السواد إذ كانت أمه سوداء وكان بنيسابور حمام على باب داره وكان إذا أراد دخول الحمام فرغه له الحمامي فدخل ذات يوم فأغلق الحمامي الباب ومضى في بعض حوائجه فتقدم رجل رستاقي إلى باب الحمام ففتحه ودخل فنزع ثيابه ودخل فرأى علي بن موسى الرضا فظن أنه بعض خدام الحمام فقال له قم واحمل إلي الماء فقام علي بن موسى وامتثل جميع ما كان يأمره به فرجع الحمامي فرأى ثياب الرستاقي وسمع كلامه مع علي بن موسى الرضا فخاف وهرب وخلاهما فلما خرج علي بن موسى سأل عن الحمامي فقيل له إنه خاف مما جرى فهرب قال لا ينبغي له أن يهرب إنما الذنب لمن وضع ماءه عند أمة سوداء وروي أن أبا عبد الله الخياط كان يجلس على دكانه وكان له حريف مجوسي يستعمله في الخياطة فكان إذا خاط له شيئاً حمل إليه دراهم زائفة فكان أبو عبد الله يأخذ منه ولا يخبره بذلك ولا يردها عليه فاتفق يوماً أن أبا عبد الله قام لبعض حاجته فأتى المجوسي فلم يجده فدفع إلى تلميذه الأجرة واسترجع ما قد خاطه فكان درهماً زئفا فلما نظر إليه التلميذ عرف أنه زائف فرده عليه فلما عاد أبو عبد الله أخبره بذلك فقال بئس ما عملت هذا المجوسي يعاملني بهذه المعاملة منذ سنة وأنا أصبر عليه وآخذ الدراهم منه وألقيها في البئر لئلا يغر بها مسلماً وقال يوسف بن أسباط علامة حسن الخلق عشر خصال قلة الخلاف وحسن الإنصاف وترك طلب العثرات وتحسين ما يبدو من السيئات والتماس المعذرة واحتمال الأذى والرجوع بالملامة على النفس والتفرد بمعرفة عيوب نفسه دون عيوب غيره وطلاقة الوجه للصغير والكبير ولطف الكلام لمن دونه ولمن فوقه وسئل سهل عن حسن الخلق فقال أدناه احتمال الأذى وترك المكافأة والرحمة للظالم والاستغفار له والشفقة عليه
Abu Usman Al-Hiri pernah diundang ke suatu perjamuan oleh seseorang yang sebenarnya ingin mengujinya. Ketika Abu Usman sampai di kediamannya, orang itu berkata: 'Aku tidak ada keinginan menerimamu.' Maka Abu Usman pun pulang. Setelah berjalan tak jauh, orang itu memanggilnya kembali untuk kedua kalinya dan berkata: 'Wahai Ustadz, kembalilah!' Abu Usman pun kembali, namun orang itu mengulangi perkataannya yang pertama. Abu Usman pun pulang kembali. Kemudian orang itu memanggilnya untuk ketiga kalinya dan berkata: 'Kembalilah sesuai dengan tuntutan keadaan saat ini.' Beliau pun kembali. Ketika sampai di pintu, orang itu mengulangi lagi perkataannya yang pertama, dan Abu Usman pun berpaling pulang. Lalu orang itu memanggilnya untuk keempat kalinya dan menolaknya lagi, hingga ia melakukan hal itu berulang kali sementara Abu Usman tidak sedikit pun berubah sikapnya. Maka orang tersebut menyungkur di kedua kaki Abu Usman seraya berkata: 'Wahai Ustadz, aku hanya ingin mengujimu, betapa indahnya akhlakmu!' Abu Usman menjawab: 'Apa yang engkau lihat dariku hanyalah akhlak seekor anjing. Sebab anjing jika dipanggil akan datang, dan jika dihalau akan pergi.' Diriwayatkan pula darinya bahwa pada suatu hari ia melewati suatu gang, lalu disiramkan kepadanya satu tempat abu. Beliau pun turun dari tunggangannya lalu bersujud syukur, kemudian kibas-kibas abu dari pakaiannya tanpa mengucapkan patah kata pun. Ada yang bertanya: 'Mengapa engkau tidak menegur mereka?' Beliau menjawab: 'Barangsiapa yang seharunya berhak disiksa dengan api neraka namun cukup didamaikan dengan abu, tidak layak baginya untuk marah.' Diriwayatkan bahwa Ali bin Musa Ar-Ridha—semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya—warna kulitnya agak kehitaman karena ibunya adalah seorang wanita berkulit hitam. Di Nishapur terdapat pemandian umum (hammam) di dekat pintu rumahnya. Apabila beliau ingin memasuki pemandian, pemiliknya akan mengosongkannya untuk beliau. Suatu hari beliau masuk, lalu pemilik pemandian mengunci pintu dan pergi untuk suatu kerpuan. Tiba-tiba seorang lelaki desa mendekati pintu pemandian, membukanya, lalu masuk. Ia melepas pakaiannya dan masuk ke dalam, lalu melihat Ali bin Musa Ar-Ridha. Ia mengira beliau adalah salah seorang pelayan pemandian, maka ia berkata: 'Berdirilah dan ambilkan air untukku!' Ali bin Musa pun berdiri dan melaksanakan segala yang diperintahkan kepadanya. Ketika pemilik pemandian kembali, ia melihat pakaian lelaki desa itu dan mendengar percakapannya dengan Ali bin Musa Ar-Ridha, maka ia merasa takut lalu melarikan diri dan meninggalkan keduanya. Ketika Ali bin Musa keluar, beliau menanyakan pemilik pemandian. Dikatakan kepadanya bahwa ia takut atas apa yang terjadi lalu melarikan diri. Beliau berkata: 'Tidak sepatutnya ia melarikan diri, sesungguhnya kesalahan ada pada orang yang meletakkan airnya di dekat seorang hamba berkulit hitam.' Diriwayatkan bahwa Abu Abdillah Al-Khayyath (sang penjahit) biasa duduk di kedainya, dan ia memiliki seorang pelanggan Majusi yang sering menggunakan jasa jahitnya. Setiap kali ia menjahitkan sesuatu, orang Majusi itu membayarnya dengan dirham palsu. Abu Abdillah selalu mengambilnya tanpa memberitahunya dan tidak mengembalikan kepadanya. Pada suatu hari, Abu Abdillah pergi untuk suatu keperluan, lalu orang Majusi itu datang dan tidak mendapatinya. Ia menyerahkan upah kepada muridnya dan mengambil kembali barang yang telah dijahit, yang dibayar dengan dirham palsu. Ketika muridnya melihat dirham itu, ia tahu bahwa itu palsu lalu mengembalikannya kepadanya. Ketika Abu Abdillah kembali, muridnya memberitahukan hal itu. Beliau berkata: 'Alangkah buruknya apa yang engkau lakukan! Orang Majusi ini telah bermuamalah denganku dengan cara seperti ini sejak satu tahun yang lalu, dan aku bersabar menghadapinya. Aku mengambil dirham tersebut lalu melemparkannya ke dalam sumur agar ia tidak menipu seorang muslim dengannya.' Yusuf bin Asbath berkata bahwa tanda akhlak yang baik ada sepuluh perkara: sedikit berselisih, bersikap adil dengan baik, meninggalkan sikap mencari-cari kesalahan orang lain, memperbaiki keburukan yang nampak, mencari uzur (pemaafan) bagi orang lain, menanggung gangguan, menimpakan celaan kepada diri sendiri, hanya menyibukkan diri dengan mengetahui aib sendiri tanpa mengurusi aib orang lain, berseri-seri wajahnya kepada orang muda maupun tua, serta bersikap lembut dalam tutur kata kepada yang di bawahnya maupun yang di atasnya. Dan Sahl pernah ditanya tentang husnul khuluq, maka ia menjawab: 'Derajat terendahnya adalah menanggung gangguan, meninggalkan pembalasan, mengasihi orang yang zalim, memohonkan ampunan baginya, dan merasa kasihan kepadanya.'
وقيل للأحنف بن قيس مِمَّنْ تَعَلَّمْتَ الْحِلْمَ فَقَالَ مِنْ قيس بن عاصم قيل ما وبلغ من حِلْمُهُ قَالَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي دَارِهِ إِذْ أَتَتْهُ جَارِيَةٌ لَهُ بِسَفُّودٍ عَلَيْهِ شِوَاءٌ فَسَقَطَ مِنْ يَدِهَا فَوَقَعَ عَلَى ابْنٍ لَهُ صَغِيرٍ فَمَاتَ فَدُهِشَتِ الْجَارِيَةُ فَقَالَ لَهَا لَا رَوْعَ عَلَيْكِ أَنْتِ حُرَّةٌ لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى فقيل أن أويسا القرني كان إذا رآه الصبيان يرمونه بالحجارة فكان يقول لهم يا إخوتاه إن كان ولا بد فارموني بالصغار حتى لا تدموا ساقي فتمنعوني عن الصلاة وشتم رجل الأحنف بن قيس وهو لا يجيبه وكان يتبعه فلما قرب من الحي وقف وقال إن كان قد بقي في نفسك شيء فقله كي لا يسمعك بعض سفهاء الحي فيؤذوك وَرُوِيَ أَنَّ عليا كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ دَعَا غُلَامًا فَلَمْ يُجِبْهُ فَدَعَاهُ ثَانِيًا وَثَالِثًا فَلَمْ يُجِبْهُ فَقَامَ إِلَيْهِ فَرَآهُ مُضْطَجِعًا فَقَالَ أَمَا تَسْمَعُ يَا غُلَامُ قَالَ بَلَى قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى تَرْكِ إِجَابَتِي قَالَ أَمِنْتُ عُقُوبَتَكَ فتكاسلت فقال امْضِ فَأَنْتَ حُرٌّ لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى وَقَالَتِ امْرَأَةٌ لِمَالِكِ بْنِ دِينَارٍ رَحِمَهُ اللَّهُ
Ditanyakan kepada Al-Ahnaf bin Qais: 'Dari siapakah engkau mempelajari sifat santun (hilm)?' Beliau menjawab: 'Dari Qais bin Ashim.' Ditanyakan lagi: 'Sampai mana puncak kesantunannya?' Beliau menceritakan: 'Ketika ia sedang duduk di rumahnya, tiba-tiba seorang budak perempuannya datang membawa besi pemanggang yang berisi daging panggang. Besi itu jatuh dari tangannya dan menimpa anak kecilnya hingga meninggal. Budak perempuan itu terperanjat ketakutan, maka Qais berkata kepadanya: 'Tidak ada ketakutan atasmu, engkau merdeka karena Allah Ta'ala.' Diceritakan pula bahwa Uwais Al-Qarni apabila dilihat oleh anak-anak, mereka melempari beliau dengan batu. Maka beliau berkata kepada mereka: 'Wahai saudara-saudaraku, jika kalian harus melemparku, lemparlah dengan batu-batu kecil agar tidak berdarah betisku sehingga menghalangiku dari menunaikan shalat.' Seseorang pernah mencaci Al-Ahnaf bin Qais sementara beliau tidak membalasnya dan terus berjalan dikejar orang itu. Ketika sudah dekat dengan pemukiman kaumnya, beliau berhenti dan berkata: 'Jika masih ada sesuatu yang tersisa dalam hatimu, katakanlah sekarang sebelum didengar oleh sebagian orang-orang bodoh di pemukiman ini sehingga mereka akan menyakitimu.' Diriwayatkan pula bahwa Ali ﲬ pernah memanggil seorang budak laki-lakinya namun budak itu tidak menjawab. Beliau memanggilnya untuk kedua dan ketiga kalinya tetapi ia tetap tidak menjawab. Maka beliau menghampirinya dan mendapatinya sedang berbaring. Beliau berkata: 'Apakah engkau tidak mendengar, wahai budak?' Ia menjawab: 'Ya, aku mendengar.' Beliau bertanya: 'Apa yang mendorongmu tidak menjawab panggilanku?' Ia menjawab: 'Aku merasa aman dari hukumanmu sehingga aku malas.' Maka Ali berkata: 'Pergilah, engkau merdeka karena Allah Ta'ala.' Dan seorang wanita pernah berkata kepada Malik bin Dinar ﵀:
يَا مُرَائِي فَقَالَ يَا هَذِهِ وَجَدْتِ اسْمِي الذي أضله أهل البصرة
'Wahai orang yang riya!' Maka beliau menjawab: 'Wahai wanita, engkau telah menemukan namaku yang telah dihilangkan oleh penduduk Bashrah.'
وكان ليحيى بن زياد الحارثي غلام سوء فقيل له لم تمسكه فقال لأتعلم الحلم عليه
Yahya bin Ziyad Al-Haritsi memiliki seorang budak yang berakhlak buruk. Ditanyakan kepadanya: 'Mengapa engkau menyimpannya?' Beliau menjawab: 'Agar aku dapat melatih kesantunanku kepadanya.'
فَهَذِهِ نُفُوسٌ قَدْ ذُلِّلَتْ بِالرِّيَاضَةِ فَاعْتَدَلَتْ أَخْلَاقُهَا وَنُقِّيَتْ مِنَ الْغِشِّ وَالْغِلِّ وَالْحِقْدِ بَوَاطِنُهَا فَأَثْمَرَتِ الرِّضَا بِكُلِّ مَا قَدَّرَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَهُوَ منتهى حسن الخلق
Maka inilah jiwa-jiwa yang telah ditundukkan melalui riyadhah (latihan spiritual) sehingga akhlak mereka menjadi seimbang dan batin mereka dibersihkan dari penipuan, kedengkian, serta rasa dendam. Pada akhirnya hal itu membuahkan keridaan terhadap segala yang telah ditakdirkan Allah Ta'ala, dan itulah puncak dari akhlak yang baik (husnul khuluq).
فإن من يكره فعل الله تعالى ولا يرضى به فهو غاية سوء خلقه فهؤلاء ظهرت العلامات على ظواهرهم كما ذكرناه
Sebab barangsiapa yang membenci ketetapan Allah Ta'ala dan tidak rida dengannya, maka itulah puncak dari keburukan akhlak. Mereka itulah orang-orang yang tanda-tandanya telah tampak pada lahiriah mereka sebagaimana yang telah kami sebutkan.
فَمَنْ لَمْ يُصَادِفْ مِنْ نَفْسِهِ هَذِهِ الْعَلَامَاتِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَرَّ بِنَفْسِهِ فَيَظُنَّ بِهَا حُسْنَ الْخُلُقِ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَشْتَغِلَ بِالرِّيَاضَةِ وَالْمُجَاهَدَةِ إِلَى أَنْ يَبْلُغَ دَرَجَةَ حُسْنِ الْخُلُقِ فَإِنَّهَا دَرَجَةٌ رَفِيعَةٌ لَا يَنَالُهَا إِلَّا الْمُقَرَّبُونَ وَالصِّدِّيقُونَ
Barangsiapa yang tidak menemukan tanda-tanda ini pada dirinya, tidak sepantasnya ia tertipu oleh dirinya sendiri dengan menganggap bahwa ia telah memiliki husnul khuluq. Sebaliknya, hendaknya ia disibukkan dengan riyadhah dan mujahadah hingga mencapai derajat husnul khuluq. Sebab derajat tersebut merupakan derajat yang sangat tinggi yang tidak dapat dicapai kecuali oleh orang-orang yang dekat dengan Allah (al-muqarrabun) dan orang-orang yang tulus imannya (ash-shiddiqun).
بَيَانُ الطَّرِيقِ فِي رِيَاضَةِ الصِّبْيَانِ فِي أول نشوهم وَوَجْهُ تَأْدِيبِهِمْ وَتَحْسِينِ
Penjelasan Metode Mendidik (Riyadhah) Anak-anak pada Awal Pertumbuhan Mereka, Cara Melatih Karakter Mereka, serta Memperbaiki
أَخْلَاقِهِمْ
Akhlak Mereka
اعْلَمْ أَنَّ الطَّرِيقَ فِي رِيَاضَةِ الصِّبْيَانِ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ وَأَوْكَدِهَا والصبيان أَمَانَةٌ عِنْدَ وَالِدَيْهِ وَقَلْبُهُ الطَّاهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ سَاذَجَةٌ خَالِيَةٌ عَنْ كُلِّ نَقْشٍ وَصُورَةٍ وَهُوَ قَابِلٌ لِكُلِّ مَا نُقِشَ وَمَائِلٌ إِلَى كُلِّ مَا يُمَالُ بِهِ إِلَيْهِ فَإِنْ عُوِّدَ الْخَيْرَ وَعُلِّمَهُ نَشَأَ عَلَيْهِ وَسَعِدَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وشاركه في ثوابه أبوه وَكُلُّ مُعَلِّمٍ لَهُ وَمُؤَدِّبٍ وَإِنْ عُوِّدَ الشَّرَّ وَأُهْمِلَ إِهْمَالَ الْبَهَائِمِ شَقِيَ وَهَلَكَ وَكَانَ الْوِزْرُ في رقبة القيم عليه والوالي له وقد قال الله ﷿ ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ ناراً﴾ وَمَهْمَا كَانَ الْأَبُ يَصُونُهُ عَنْ نَارِ الدُّنْيَا فَبِأَنْ يَصُونَهُ عَنْ نَارِ الْآخِرَةِ أَوْلَى وَصِيَانَتُهُ بِأَنْ يُؤَدِّبَهُ وَيُهَذِّبَهُ وَيُعَلِّمَهُ مَحَاسِنَ الْأَخْلَاقِ وَيَحْفَظَهُ من القرناء السُّوءِ وَلَا يُعِوِّدُهُ التَّنَعُّمَ وَلَا يُحَبِّبُ إِلَيْهِ الزينة والرفاهية فَيَضِيعُ عُمْرُهُ فِي طَلَبِهَا إِذَا كَبِرَ فَيَهْلِكُ هَلَاكَ الْأَبَدِ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يُرَاقِبَهُ مِنْ أَوَّلِ أَمْرِهِ فَلَا يَسْتَعْمِلُ فِي حَضَانَتِهِ وَإِرْضَاعِهِ إلا امرأة متدينة تأكل الحلال فإن اللبن الحاصل من الحرام لا بركة فيه فإذا وقع عليه نشو الصبي انعجنت طينته من الخبيث فيميل طبعه إلى ما يناسب الخبائث وَمَهْمَا رَأَى فِيهِ مَخَايِلَ التَّمْيِيزِ فَيَنْبَغِي أَنْ يُحْسِنَ مُرَاقَبَتَهُ وَأَوَّلُ ذَلِكَ ظُهُورُ أَوَائِلِ الْحَيَاءِ فَإِنَّهُ إِذَا كَانَ يَحْتَشِمُ وَيَسْتَحِي وَيَتْرُكُ بَعْضَ الْأَفْعَالِ فَلَيْسَ ذَلِكَ إِلَّا لِإِشْرَاقِ نُورِ الْعَقْلِ عليه حتى يرى بعض الأشياء قبيحاً ومخالفاً للبعض فصار يستحي من شيء دون شيء وهذه هدية من الله تعالى إليه وبشارة تدل على اعتدال الأخلاق وصفاء القلب وهو مبشر بكمال العقل عند البلوغ فَالصَّبِيُّ الْمُسْتَحِي لَا يَنْبَغِي أَنْ يُهْمَلَ بَلْ يستعان على تأديبه بحيائه أو تمييزه وَأَوَّلُ مَا يَغْلِبُ عَلَيْهِ مِنَ الصِّفَاتِ شَرَهُ الطَّعَامِ فَيَنْبَغِي أَنْ يُؤَدَّبَ فِيهِ مِثْلُ أَنْ لَا يَأْخُذَ الطَّعَامَ إِلَّا بِيَمِينِهِ وَأَنْ يَقُولَ عَلَيْهِ بِسْمِ اللَّهِ عِنْدَ أَخْذِهِ وَأَنْ يَأْكُلَ مِمَّا يَلِيهِ وَأَنْ لَا يُبَادِرَ إِلَى الطَّعَامِ قبل غيره وأن لا يحدق النَّظَرِ إِلَيْهِ وَلَا إِلَى مَنْ يَأْكُلُ وَأَنْ لَا يُسْرِعَ فِي الْأَكْلِ وَأَنْ يُجِيدَ الْمَضْغَ وَأَنْ لَا يُوَالِيَ بَيْنَ اللُّقَمِ وَلَا يُلَطِّخَ يَدَهُ وَلَا ثَوْبَهُ وَأَنْ يُعَوَّدَ الْخُبْزَ الْقَفَارَ فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ حَتَّى لَا يَصِيرَ بِحَيْثُ يرى الأدم حتماً ويقبح عِنْدَهُ كَثْرَةُ الْأَكْلِ بِأَنْ يُشَبَّهَ كُلُّ مَنْ يُكْثِرُ الْأَكْلَ بِالْبَهَائِمِ وَبِأَنْ يُذَمَّ بَيْنَ يَدَيْهِ الصَّبِيُّ الَّذِي يُكْثِرُ الْأَكْلَ وَيُمْدَحُ عِنْدَهُ الصَّبِيُّ الْمُتَأَدِّبُ الْقَلِيلُ الْأَكْلِ وَأَنْ يُحَبَّبَ إِلَيْهِ الْإِيثَارُ بِالطَّعَامِ وَقِلَّةُ الْمُبَالَاةِ بِهِ وَالْقَنَاعَةُ بِالطَّعَامِ الْخَشِنِ أَيَّ طَعَامٍ كَانَ وَأَنْ يُحَبَّبَ إِلَيْهِ مِنَ الثياب البيض دون الملون والإبريسم وَيُقَرَّرَ عِنْدَهُ أَنَّ ذَلِكَ شَأْنُ النِّسَاءِ وَالْمُخَنَّثِينَ وَأَنَّ الرِّجَالَ يَسْتَنْكِفُونَ مِنْهُ وَيُكَرَّرُ ذَلِكَ عَلَيْهِ ومهما رأى على صبي ثوباً من إبريسم أو ملون فينبغي أن يستنكره ويذمه ويحفظ الصبي عَنِ الصِّبْيَانِ الَّذِينَ عُوِّدُوا التَّنَعُّمَ وَالرَّفَاهِيَةَ وَلُبْسَ الثِّيَابِ الْفَاخِرَةِ وَعَنْ مُخَالَطَةِ كُلِّ مَنْ يُسْمِعُهُ مَا يُرَغِّبُهُ فِيهِ فَإِنَّ الصَّبِيَّ مَهْمَا أُهْمِلَ في ابتداء نشوه خَرَجَ فِي الْأَغْلَبِ رَدِيءَ الْأَخْلَاقِ كَذَّابًا حَسُودًا سروقا نماماً لحوحاً ذا فصول وَضَحِكٍ وَكِيَادٍ وَمَجَانَةٍ وَإِنَّمَا يُحْفَظُ عَنْ جَمِيعِ ذَلِكَ بِحُسْنِ التَّأْدِيبِ
Ketahuilah bahwa metode dalam mendidik anak-anak merupakan perkara yang paling penting dan paling ditekankan. Anak-anak adalah amanah di tangan kedua orang tuanya, dan hatinya yang suci adalah permata berharga yang masih murni, kosong dari setiap lukisan dan bentuk. Ia siap menerima setiap lukisan dan cenderung kepada apa saja yang diuntungkan kepadanya. Jika ia dibiasakan dan diajarkan kebaikan, ia akan tumbuh di atas kebaikan itu dan bahagia di dunia serta akhirat, dan pahalanya akan didapatkan pula oleh orang tuanya serta setiap guru dan pendidiknya. Sebaliknya, jika ia dibiasakan pada keburukan dan diabaikan sebagaimana diabaikannya hewan ternak, ia akan celaka dan binasa, dan dosa pengabaian itu menimpa pengasuh serta penanggung jawabnya. Allah ﷿ telah berfirman: 'Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka' (QS. At-Tahrim: 6). Sebagaimana seorang ayah menjaga anaknya dari api dunia, maka menjaganya dari api akhirat tentu lebih utama. Cara menjaganya adalah dengan mendidiknya, menyucikan jiwanya, mengajarkan kepadanya kebaikan akhlak, memeliharanya dari teman-teman yang buruk, serta tidak membiasakannya hidup bermewah-mewah dan tidak menanamkan rasa cinta pada perhiasan dan kemanjaan; sehingga umurnya tidak terbuang sia-sia untuk mencarinya ketika ia dewasa kelak yang menyebabkannya binasa dengan kebinasaan abadi. Sebaliknya, hendaknya ia mengawasinya sejak awal perkaranya. Janganlah menggunakan untuk pengasuhan dan penyusuannya kecuali wanita yang taat beragama yang memakan makanan halal, karena ASI yang dihasilkan dari makanan haram tidak memiliki keberkahan di dalamnya. Apabila tumbuh tumbuh-tumbuhan anak berasal darinya, maka adonan wataknya terbuat dari hal yang buruk sehingga tabiatnya cenderung pada hal-hal yang jahat. Dan kapan pun nampak padanya tanda-tanda pembeda (tamyiz), hendaknya ia mengawasinya dengan baik. Tanda awal dari hal itu adalah munculnya benih-benih rasa malu. Apabila ia mulai merasa segan, malu, dan meninggalkan sebagian perbuatan buruk, hal itu tidak lain terjadi karena terpancarnya cahaya akal padanya sehingga ia melihat sebagian perkara itu buruk dan bertolak belakang dengan yang lain, lalu ia menjadi malu terhadap sesuatu dan tidak pada yang lain. Ini adalah hadiah dari Allah Ta'ala kepadanya dan kabar gembira yang menunjukkan keseimbangan akhlak dan kesucian hati, serta menjadi penanda kematangan akalnya ketika balig kelak. Anak yang memiliki rasa malu tidak boleh diabaikan, melainkan harus dibantu proses pendidikannya dengan memanfaatkan rasa malu dan tamyiznya tersebut. Dan sifat pertama yang biasanya mendominasi anak adalah kerakusan terhadap makanan. Maka ia harus dididik dalam tata cara makan, seperti tidak mengambil makanan kecuali dengan tangan kanannya, membaca 'Bismillah' saat mengambilnya, memakan makanan yang terdekat darinya, tidak mendahului mengambil makanan sebelum orang lain, tidak memandang tajam ke arah makanan atau ke arah orang yang sedang makan, tidak terburu-buru dalam makan, mengunyah dengan baik, tidak menyuap secara berturut-turut, tidak mengotori tangan maupun pakaiannya, serta dibiasakan memakan roti tanpa lauk pada sebagian waktu agar ia tidak menganggap lauk sebagai suatu keharusan. Hendaklah digambarkan padanya keburukan makan berlebihan dengan menyerupakan orang yang banyak makan seperti hewan ternak, dan dengan mencela anak yang banyak makan di hadapannya serta memuji anak yang beradab dan sedikit makan. Hendaklah ditanamkan padanya rasa suka untuk mengutamakan orang lain dalam hal makanan, tidak terlalu peduli dengannya, dan merasa qanaah (puas) dengan makanan yang sederhana apa pun bentuknya. Hendaklah ditanamkan pula padanya rasa suka terhadap pakaian putih dan menghindari pakaian berwarna-warni serta sutera, dan ditegaskan kepadanya bahwa hal itu merupakan perhiasan wanita dan orang-orang banci, sedangkan laki-laki merasa enggan darinya. Hal ini harus diulang-ulang kepadanya. Dan kapan pun ia melihat seorang anak mengenakan pakaian sutera atau berwarna-warni, hendaklah ia memprotes dan mencelanya, serta menjaga anak tersebut dari pergaulan dengan anak-anak yang terbiasa hidup mewah, bersantai-santai, dan mengenakan pakaian megah, serta memeliharanya dari bergaul dengan siapa pun yang memperdengarkan perkataan yang membuatnya menyukai hal tersebut. Sebab seorang anak, apabila diabaikan pada awal pertumbuhannya, umumnya akan tumbuh menjadi anak berakhlak buruk, pembohong, pendengki, pencuri, pemfitnah, keras kepala, banyak bertingkah, suka tertawa berlebihan, penuh tipu daya, dan tidak memiliki rasa malu. Semua itu hanya bisa dijaga melalui pendidikan karakter yang baik.
ثُمَّ يَشْتَغِلُ فِي الْمَكْتَبِ فَيَتَعَلَّمُ الْقُرْآنَ وَأَحَادِيثَ الأخبار وَحِكَايَاتِ الْأَبْرَارِ وَأَحْوَالَهُمْ لِيَنْغَرِسَ فِي نَفْسِهِ حُبُّ الصالحين ويحفظ مِنَ الْأَشْعَارِ الَّتِي فِيهَا ذِكْرُ الْعِشْقِ وَأَهْلِهِ ويحفظ من مخالطة الأدباء الذين يزعمون أن ذلك من الظرف ورقة الطبع فَإِنَّ ذَلِكَ يَغْرِسُ فِي قُلُوبِ الصِّبْيَانِ بَذْرَ الْفَسَادِ
Kemudian ia disibukkan di tempat belajar (maktab/sekolah) dengan mempelajari Al-Qur'an, hadis-hadis Nabi, serta kisah-kisah orang yang berbakti dan kondisi kehidupan mereka agar tertanam dalam jiwanya rasa cinta kepada orang-orang saleh. Ia juga harus dijaga dari menghafal syair-syair yang memuat sebutan kasmaran dan para pelakunya, serta dijaga dari bergaul dengan sastrawan yang menganggap bahwa hal itu merupakan bagian dari keramahan dan kelembutan tabiat; sebab hal tersebut akan menanamkan benih kerusakan di dalam hati anak-anak.
ثُمَّ مَهْمَا ظَهَرَ مِنَ الصَّبِيِّ خُلُقٌ جَمِيلٌ وَفِعْلٌ مَحْمُودٌ فَيَنْبَغِي أَنْ يُكْرَمَ عَلَيْهِ وَيُجَازَى عَلَيْهِ بِمَا يَفْرَحُ بِهِ وَيُمْدَحُ بَيْنَ أَظْهُرِ النَّاسِ فَإِنْ خَالَفَ ذَلِكَ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ مَرَّةً وَاحِدَةً فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَغَافَلَ عَنْهُ وَلَا يَهْتِكَ سِتْرَهُ وَلَا يُكَاشِفَهُ وَلَا يُظْهِرَ له أنه يتصور أن يتجاسروا أَحَدٌ عَلَى مِثْلِهِ وَلَا سِيَّمَا إِذَا سَتَرَهُ الصبي واجتهد في إخفائه فإن إظهار ذَلِكَ عَلَيْهِ رُبَّمَا يُفِيدُهُ جَسَارَةً حَتَّى لَا يُبَالِيَ بِالْمُكَاشَفَةِ فَعِنْدَ ذَلِكَ إِنْ عَادَ ثَانِيًا فينبغي أَنْ يُعَاتَبَ سِرًّا وَيُعَظَّمَ الْأَمْرُ فِيهِ وَيُقَالُ لَهُ إِيَّاكَ أَنْ تَعُودَ بَعْدَ ذَلِكَ لِمِثْلِ هَذَا وَأَنْ يُطَّلَعَ عَلَيْكَ فِي مِثْلِ هَذَا فَتَفْتَضِحَ بَيْنَ النَّاسِ وَلَا تُكْثِرِ الْقَوْلَ عَلَيْهِ بِالْعِتَابِ فِي كُلِّ حِينٍ فَإِنَّهُ يَهُونُ عَلَيْهِ سَمَاعُ الْمَلَامَةِ وَرُكُوبُ الْقَبَائِحِ وَيَسْقُطُ وَقْعُ الْكَلَامِ من قلبه وليكن الأب حافظاً هيبة الْكَلَامِ مَعَهُ فَلَا يُوَبِّخُهُ إِلَّا أَحْيَانًا وَالْأُمُّ تُخَوِّفُهُ بِالْأَبِ وَتَزْجُرُهُ عَنِ الْقَبَائِحِ وَيَنْبَغِي أَنْ يُمْنَعَ عَنِ النَّوْمِ نَهَارًا فَإِنَّهُ يُورِثُ الْكَسَلَ وَلَا يُمْنَعَ مِنْهُ لَيْلًا وَلَكِنْ يُمْنَعُ الْفُرُشَ الوطيئة حتى تتصلب أعضاؤه ولا يسمن بدنه فلا يصبر عن التَّنَعُّمِ بَلْ يُعَوَّدُ الْخُشُونَةَ فِي الْمَفْرَشِ وَالْمَلْبَسِ وَالْمَطْعَمِ وَيَنْبَغِي أَنْ يُمْنَعَ مِنْ كُلِّ مَا يَفْعَلُهُ فِي خِفْيَةٍ فَإِنَّهُ لَا يُخْفِيهِ إِلَّا وهو يعتقد أنه قبيح فإذا ترك تعود فِعْلَ الْقَبِيحِ وَيُعَوَّدُ فِي بَعْضِ النَّهَارِ الْمَشْيَ وَالْحَرَكَةَ وَالرِّيَاضَةَ حَتَّى لَا يَغْلِبَ عَلَيْهِ الْكَسَلُ وَيُعَوَّدُ أَنْ لَا يَكْشِفَ أَطْرَافَهُ وَلَا يُسْرِعَ المشي ولا يرخي يديه بل يضمها إلى صدره وَيُمْنَعُ مِنْ أَنْ يَفْتَخِرَ عَلَى أَقْرَانِهِ بِشَيْءٍ مِمَّا يَمْلِكُهُ وَالِدَاهُ أَوْ بِشَيْءٍ مِنْ مَطَاعِمِهِ وملابسه أو لوحه ودواته بَلْ يُعَوَّدُ التَّوَاضُعَ وَالْإِكْرَامَ لِكُلِّ مَنْ عَاشَرَهُ وَالتَّلَطُّفَ فِي الْكَلَامِ مَعَهُمْ وَيُمْنَعُ مِنْ أَنْ يأخذ من الصبيان شيئاً بدا له حشمة إن كان من أولاد المحتشمين بَلْ يَعْلَمُ أَنَّ الرِّفْعَةَ فِي الْإِعْطَاءِ لَا فِي الْأَخْذِ وَأَنَّ الْأَخْذَ لُؤْمٌ وَخِسَّةٌ وَدَنَاءَةٌ وإن كان من أولاد الفقراء فليعلم أن الطمع والأخذ مهانة وذلة وَأَنَّ ذَلِكَ مِنْ دَأْبِ الْكَلْبِ فَإِنَّهُ يُبَصْبِصُ فِي انْتِظَارِ لُقْمَةٍ وَالطَّمَعِ فِيهَا
Kemudian, apabila nampak dari anak tersebut suatu akhlak yang indah dan perbuatan yang terpuji, hendaknya ia diberi penghargaan dan balasan yang membuatnya gembira serta dipuji di hadapan khalayak ramai. Namun jika ia menyelisihinya dalam sebagian keadaan untuk satu kali kesempatan, hendaknya ia berpura-pura tidak tahu darinya, tidak merusak kerahasiaannya, tidak membukanya secara terang-terangan, dan tidak menampakkan kepadanya bahwa ada prasangka bahwa seseorang berani melakukan hal serupa, terlebih lagi jika anak itu menyembunyikannya dan berusaha keras menyamarkannya. Sebab menyingkap hal itu secara terang-terangan terkadang membuatnya makin berani hingga ia tidak peduli lagi jika perbuatannya terbuka. Apabila ia mengulanginya untuk kedua kali, barulah ia ditegur secara rahasia dan dibesarkan kadar kesalahannya, serta dikatakan kepadanya: 'Hati-hatilah engkau jangan sampai mengulangi perbuatan seperti ini setelah ini, dan jangan sampai orang lain mengetahui perbuatanmu sehingga engkau menjadi malu di hadapan orang banyak.' Dan janganlah engkau memperbanyak teguran kepadanya setiap saat, karena hal itu akan membuatnya terbiasa mendengar celaan dan berani melakukan keburukan, serta menghilangkan pengaruh perkataan dari hatinya. Hendaklah sang ayah menjaga kewibawaan bicaranya di hadapan anak sehingga tidak memarahinya kecuali sesekali saja, sedangkan sang ibu menakut-nakutinya dengan ancaman sang ayah dan mencegahnya dari perbuatan-perbuatan buruk. Hendaklah ia dilarang dari tidur di siang hari karena hal itu mewariskan kemalasan, tetapi tidak dilarang tidur di malam hari. Namun, ia dilarang dari menggunakan kasur yang sangat empuk agar anggota tubuhnya menjadi kuat, badannya tidak gemuk, dan tidak menjadi orang yang tidak tahan tanpa kemanjaan; melainkan dibiasakan hidup bersahaja dalam tempat tidur, pakaian, dan makanan. Hendaklah ia dilarang dari setiap perbuatan yang dilakukannya secara sembunyi-sembunyi, sebab ia tidak menyembunyikannya melainkan karena ia meyakini bahwa hal itu buruk, sehingga jika ditinggalkan ia akan terbiasa meninggalkan perbuatan buruk. Hendaklah ia dibiasakan pada sebagian waktu siang untuk berjalan, bergerak, dan berolahraga agar kemalasan tidak menguasainya. Ia dibiasakan untuk tidak menyingkap anggota tubuhnya, tidak berjalan terlalu cepat, dan tidak melepaskan kedua tangannya begitu saja melainkan mendekapnya ke dadanya. Ia dilarang berbangga diri di hadapan teman-temannya dengan sesuatu yang dimiliki oleh kedua orang tuanya, atau dengan makanan, pakaian, papan tulis, dan tempat tintanya. Sebaliknya, ia dibiasakan bersikap tawaduk, memuliakan setiap orang yang bergaul dengannya, dan bertutur kata dengan lembut kepada mereka. Ia dilarang mengambil sesuatu dari anak-anak lain jika ia termasuk anak dari keluarga terpandang yang memiliki kedudukan, melainkan diajarkan bahwa kemuliaan itu terletak pada memberi bukan mengambil, dan bahwa mengambil itu adalah kehinaan, kerendahan, serta kesetimpaan. Adapun jika ia berasal dari anak-anak orang fakir, hendaklah ia diajarkan bahwa ketamakan dan mengambil milik orang lain adalah suatu kehinaan dan kerendahan, dan bahwa hal itu merupakan tabiat anjing yang mengibas-ngibaskan ekornya karena menanti dan berharap akan sepotong makanan.
وَبِالْجُمْلَةِ يُقَبَّحُ إِلَى الصِّبْيَانِ حُبُّ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالطَّمَعِ فِيهِمَا وَيُحَذَّرُ مِنْهُمَا أَكْثَرُ مِمَّا يُحَذَّرُ مِنَ الْحَيَّاتِ والعقارب فإن آفة حب الذهب والفضة والطمع فيهما أَضَرُّ مِنْ آفَةِ السُّمُومِ عَلَى الصِّبْيَانِ بَلْ على الأكابر أَيْضًا وَيَنْبَغِي أَنْ يُعَوَّدَ أَنْ لَا يَبْصُقَ في مجلسه ولا يمتخط وَلَا يَتَثَاءَبَ بِحَضْرَةِ غَيْرِهِ وَلَا يَسْتَدْبِرَ غَيْرَهُ وَلَا يَضَعَ رِجْلًا عَلَى رِجْلٍ وَلَا يَضَعَ كَفَّهُ تَحْتَ ذَقْنِهِ وَلَا يَعْمِدَ رَأْسَهُ بِسَاعِدِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ دَلِيلُ الْكَسَلِ وَيُعَلَّمُ كَيْفِيَّةَ الْجُلُوسِ وَيُمْنَعُ كَثْرَةَ الْكَلَامِ وَيُبَيَّنُ لَهُ أَنَّ ذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى الْوَقَاحَةِ وَأَنَّهُ فِعْلُ أَبْنَاءِ اللِّئَامِ وَيُمْنَعُ الْيَمِينَ رَأْسًا صَادِقًا كَانَ أَوْ كَاذِبًا حتى لا يعتاد ذلك في الصغر ويمنع أن يبتديء بالكلام ويعود أن لا يتكلم إلا جواباً وبقدر السؤال وأن يحسن الِاسْتِمَاعِ مَهْمَا تَكَلَّمَ غَيْرُهُ مِمَّنْ هُوَ أَكْبَرُ مِنْهُ سِنًّا وَأَنْ يَقُومَ لِمَنْ فَوْقَهُ وَيُوَسِّعَ لَهُ الْمَكَانَ وَيَجْلِسَ بَيْنَ يَدَيْهِ وَيُمْنَعُ مِنْ لَغْوِ الْكَلَامِ وَفُحْشِهِ وَمِنَ اللَّعْنِ وَالسَّبِّ وَمِنْ مُخَالَطَةِ مَنْ يَجْرِي عَلَى لِسَانِهِ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ فَإِنَّ ذَلِكَ يَسْرِي لَا مَحَالَةَ مِنْ القرناء السُّوءِ وَأَصْلُ تَأْدِيبِ الصِّبْيَانِ الْحِفْظُ مِنْ قُرَنَاءِ السوء وينبغي إذا ضربه المعلم أن لا يكثر الصراخ والشغب ولا يستشفع بأحد بل يصبر ويذكر له أن ذلك دأب الشجعان والرجال وأن كثرة الصراخ دأب المماليك والنسوان وَيَنْبَغِي أَنْ يُؤْذَنَ لَهُ بَعْدَ الِانْصِرَافِ مِنِ الْكُتَّابِ أَنْ يَلْعَبَ لَعِبًا جَمِيلًا يَسْتَرِيحُ إِلَيْهِ من تعب المكتب بحيث لا يتعب في اللعب فَإِنَّ مَنْعَ الصَّبِيِّ مِنَ اللَّعِبِ وَإِرْهَاقَهُ إِلَى التَّعَلُّمِ دَائِمًا يُمِيتُ قَلْبَهُ وَيُبْطِلُ ذَكَاءَهُ وَيُنَغِّصُ عَلَيْهِ الْعَيْشَ حَتَّى يَطْلُبَ الْحِيلَةَ فِي الْخَلَاصِ مِنْهُ رَأْسًا وَيَنْبَغِي أَنْ يُعَلَّمَ طَاعَةَ وَالِدَيْهِ ومعلمه ومؤدبه ومن هُوَ أَكْبَرُ مِنْهُ سِنًّا مِنْ قَرِيبٍ وَأَجْنَبِيٍّ وَأَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهِمْ بِعَيْنِ الْجَلَالَةِ وَالتَّعْظِيمِ وَأَنْ يَتْرُكَ اللَّعِبَ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَهْمَا بَلَغَ سِنَّ التمييز فينبغي
Secara keseluruhan, hendaklah digambarkan keburukan cinta kepada emas dan perak serta ketamakan terhadap keduanya di mata anak-anak. Mereka harus diperingatkan dari keduanya melebihi peringatan terhadap ular dan kalajengking, sebab bahaya fitnah cinta emas dan perak serta ketamakan padanya jauh lebih merusak bagi anak-anak—bahkan bagi orang dewasa pula—daripada bahaya racun. Hendaklah ia dibiasakan untuk tidak meludah di majelisnya, tidak membuang ingus, tidak menguap di hadapan orang lain, tidak membelakangi orang lain, tidak menyilangkan kaki di atas kaki yang lain, tidak meletakkan telapak tangan di bawah dagunya, dan tidak menyandarkan kepalanya pada lengan bawahnya, karena semua itu merupakan petunjuk kemalasan. Hendaklah ia diajarkan cara duduk yang sopan, dilarang banyak bicara, dan dijelaskan kepadanya bahwa hal itu menunjukkan kurangnya rasa malu dan merupakan perbuatan anak-anak orang hina. Ia dilarang bersumpah secara mutlak, baik jujur maupun dusta, agar ia tidak terbiasa dengan hal itu sejak kecil. Ia dilarang memulai pembicaraan dan dibiasakan untuk tidak berbicara kecuali sebagai jawaban dan sebatas pertanyaan saja, serta hendaknya ia mendengarkan dengan baik setiap kali orang yang lebih tua umurnya sedang berbicara. Ia diajarkan untuk berdiri memberi penghormatan kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya, melapangkan tempat baginya, dan duduk di hadapannya. Ia dilarang dari perkataan yang sia-sia, kata-kata kotor, caci maki, serta bergaul dengan orang yang terbiasa mengucapkan hal-hal tersebut pada lidahnya, sebab hal itu pasti akan menular dari teman-teman yang buruk. Adapun pokok dasar dalam mendidik anak-anak adalah memelihara mereka dari teman pergaulan yang buruk. Apabila sang guru memukulnya, hendaknya ia tidak banyak berteriak dan merajuk serta tidak meminta pertolongan kepada siapa pun, melainkan bersabar dan disampaikan kepadanya bahwa sabar adalah tabiat orang-orang pemberani dan laki-laki sejati, sedangkan banyak berteriak adalah tabiat para hamba sahaya dan wanita. Hendaklah ia diizinkan setelah selesai dari tempat belajar (maktab) untuk bermain dengan permainan yang indah agar ia dapat beristirahat dari kelelahan belajar, sekiranya ia tidak merasa lelah dalam permainan tersebut. Sebab melarang anak dari bermain dan memaksanya belajar terus-menerus akan mematikan hatinya, memadamkan kecerdasannya, dan memperkeruh jalannya kehidupan hingga ia akan mencari tipu daya untuk terbebas darinya secara keseluruhan. Hendaklah ia diajarkan untuk taat kepada kedua orang tuanya, gurunya, pendidiknya, serta orang yang lebih tua umurnya darinya, baik dari kerabat maupun orang lain, serta memandang mereka dengan pandangan penuh keagungan dan penghormatan, dan meninggalkan permainan di hadapan mereka. Dan kapan pun ia telah mencapai usia tamyiz, hendaknya…
أَنْ لَا يُسَامَحَ فِي تَرْكِ الطَّهَارَةِ وَالصَّلَاةِ ويؤمر بالصوم في بعض أيام رمضان ويجنب لبس الديباج والحرير والذهب وَيُعَلَّمُ كُلَّ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنْ حُدُودِ الشَّرْعِ
Ia tidak boleh ditoleransi dalam meninggalkan bersuci (thaharah) dan shalat, serta diperintahkan untuk berpuasa pada sebagian hari di bulan Ramadhan, dijauhkan dari mengenakan kain sutera tebal (dibaj), sutera halus, dan emas, serta diajarkan segala hal yang ia butuhkan dari batas-batas hukum syariat.
وَيُخَوَّفُ مِنَ السَّرِقَةِ وَأَكْلِ الْحَرَامِ وَمِنَ الخيانة والكذب والفحش وكل ما يغلب على الصبيان فإذا وقع نشوه كَذَلِكَ فِي الصِّبَا فَمَهْمَا قَارَبَ الْبُلُوغَ أَمْكَنَ أن يعرف أسرار هذه الأمور فيذكر له أن الأطعمة أدوية وإنما المقصود منها أن يقوى الإنسان بها على طاعة الله ﷿ وإن الدنيا كلها لا أصل لها إذ لا بقاء لها وإن الموت يقطع نعيمها وأنها دار ممر لا دار مقر وأن الآخرة دار مقر لا دار ممر وأن الموت منتظر في كل ساعة وأن الكيس العاقل من تزود من الدنيا للآخرة حتى تعظم درجته عند الله تعالى ويتسع نعيمه في الجنان فإذا كان النشو صالحاً كان هذا الكلام عند البلوغ واقعاً مؤثراُ ناجعاً يثبت في قلبه كما يثبت النقش في الحجر وإن وقع النشو بخلاف ذلك حتى ألف الصبي اللعب والفحش والوقاحة وشره الطعام واللباس والتزين والتفاخر نبا قبله عن قبول الحق نبوة الحائط عن التراب اليابس فأوائل الأمور هي التي ينبغي أن تراعى فإن الصبي بجوهره خلق قابلاً للخير والشر جميعاً وإنما أبواه يميلان به إلى أحد الجانبين قال ﷺ كل مولود يولد على الْفِطْرَةِ وَإِنَّمَا أَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يمجسانه قال سهل بن عبد الله التستري كنت وأنا ابن ثلاث سنين أقوم بالليل فأنظر إلى صلاة خالي محمد بن سوار فقال لي يوماً ألا تذكر الله الذي خلقك فقلت كيف أذكره قال قل بقلبك عند تقلبك في ثيابك ثلاث مرات من غير أن تحرك به لسانك الله معي الله ناظر إلي الله شاهدي فقلت ذلك ليالي ثم أعلمته فقال قل في كل ليلة سبعة مرات فقلت ذلك ثم أعلمته فقال قل ذلك كل ليلة إحدى عشر مرة فقلته فوقع في قلبي حلاوته فلما كان بعد سنة قال لي خالي احفظ ما علمتك ودم عليه إلى أن تدخل القبر فإنه ينفعك في الدنيا والآخرة فلم أزل على ذلك سنين فوجدت لذلك حلاوة في سري ثم قال لي خالي يوماً يا سهل من كان الله معه وناظراً إليه وشاهده أيعصيه إياك والمعصية فكنت أخلو بنفسي فبعثوا بي إلى المكتب فقلت إني لأخشى أن يتفرق على همي ولكن شارطوا المعلم أني أذهب إليه ساعة فأتعلم ثم أرجع فمضيت إلى الكتاب فتعلمت القرآن وحفظته وأنا ابن ست سنين أو سبع سنين وكنت أصوم الدهر وقوتي من خبز الشعير اثنتي عشرة سنة فوقعت لي مسألة وأنا ابن ثلاث عشرة سنة فسألت أهلي أن يبعثوني إلى أهل البصرة لأسأل عنها فأتيت البصرة فسألت علماءها فلم يشف أحد عني شيئاً فخرجت إلى عبادان إلى رجل يعرف بأبي حبيب حمزة بن أبي عبد الله العباداني فسألته عنها فأجابني فأقمت عنده مدة أنتفع بكلامه وأتأدب بآدابه ثم رجعت إلى تستر فجعلت قوتي اقتصاداً على أن يشترى لي بدرهم من الشعير الفرق فيطحن ويخبز لي فأفطر عند السحر على أوقية كل ليلة بحنا من غير ملح ولا أدم فكان يكفيني ذلك الدرهم سنة ثم عزمت على أن أطوي ثلاث ليال ثم أفطر ليلة ثم خمساً ثم سبعاً ثم خمساً وعشرين ليلة فكنت على ذلك عشرين سنة ثم خرجت أسيح في الأرض سنين ثم رجعت إلى تستر وكنت أقوم الليل كله ما شاء الله تعالى قال أحمد فما رأيته أكل الملح حتى لقي الله تعالى
Dan ia ditakut-takuti (diperingatkan) dari mencuri, memakan makanan haram, khianat, dusta, kekejian, serta segala hal yang mendominasi tabiat anak-anak. Apabila tumbuh kembangnya berlangsung demikian pada masa kanak-kanak, maka saat ia mendekati usia baligh, ia akan dapat memahami rahasia dari perkara-perkara ini. Lalu dijelaskan kepadanya bahwa makanan itu pada hakikatnya adalah obat, dan tujuan utamanya adalah agar manusia menjadi kuat untuk taat kepada Allah Azza wa Jalla. Dan bahwasanya dunia seluruhnya tidak memiliki hakikat yang abadi karena tidak ada kelestarian padanya; kematian akan memutuskan kenikmatannya; dunia hanyalah rumah persinggahan (dar mamarr), bukan rumah kediaman abadi (dar maqar); sedangkan akhirat adalah rumah kediaman abadi, bukan persinggahan; kematian senantiasa mengintai setiap saat; serta orang yang cerdas lagi berakal adalah orang yang mengambil bekal dari dunia untuk akhirat hingga derajatnya menjadi agung di sisi Allah Ta'ala dan kenikmatannya bertambah luas di dalam surga. Jika tumbuh kembang anak tersebut baik, nasihat ini pada saat baligh akan sangat membakar jiwa, berpengaruh, dan bermanfaat, meresap ke dalam hatinya sebagaimana terukirnya ukiran pada batu. Namun jika tumbuh kembangnya terjadi sebaliknya, hingga sang anak terbiasa dengan permainan, perkataan keji, kesombongan, ketakserakahan terhadap makanan, pakaian, perhiasan, dan kesombongan bermegah-megahan, niscaya hatinya akan memantul dari menerima kebenaran sebagaimana memantulnya tanah kering dari dinding yang keras. Maka perkara-perkara awal inilah yang sepantasnya dipelihara, sebab anak pada dasarnya diciptakan memiliki kesiapan untuk menerima kebaikan maupun keburukan, dan sesungguhnya kedua orang tuanyalah yang mengarahkannya ke salah satu dari kedua sisi tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah, sesungguhnya kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." Sahl bin Abdullah At-Tustari bercerita: "Ketika aku berumur tiga tahun, aku bangun di malam hari melihat shalat pamanku dari pihak ibu, Muhammad bin Suwar. Suatu hari ia berkata kepadaku, 'Apakah engkau tidak mengingat Allah yang telah menciptakanmu?' Aku bertanya, 'Bagaimana aku mengingat-Nya?' Ia menjawab, 'Ucapkanlah di dalam hatimu ketika engkau berbalik di atas tempat tidurmu sebanyak tiga kali tanpa menggerakkan lidahmu: Allah bersamaku, Allah memandangku, Allah menyaksikanku.' Maka aku mengucapkan kalimat itu selama beberapa malam, lalu aku memberitahukannya kepada pamanku. Ia berkata, 'Ucapkanlah setiap malam tujuh kali.' Aku pun mengucapkannya, lalu memberitahukannya lagi. Ia berkata, 'Ucapkanlah setiap malam sebelas kali.' Aku mempraktikkannya, maka timbullah kemanisan dzikir itu di dalam hatiku. Setahun kemudian pamanku berkata, 'Peliharalah apa yang telah aku ajarkan kepadamu dan tekunilah hingga engkau masuk ke liang kubur, karena sesungguhnya hal itu bermanfaat bagimu di dunia dan akhirat.' Maka aku terus melakukan hal tersebut selama bertahun-tahun, sehingga aku merasakan manisnya dzikir itu di dalam rahasia jiwaku (sirr-ku). Kemudian pada suatu hari pamanku berkata kepadaku, 'Wahai Sahl, barangsiapa yang Allah bersamanya, memandang kepadanya, dan menyaksikannya, mungkinkah ia bermaksiat kepada-Nya? Jauhilah maksiat!' Maka aku sering menyendiri (berkhalwat). Lalu keluarga mengirimku ke maktab (sekolah Al-Qur'an). Aku berkata, 'Aku khawatir perhatianku menjadi terpecah, namun buatlah syarat kepada pengajar bahwa aku hanya datang kepadanya sejam untuk belajar lalu kembali.' Maka aku pergi ke maktab, lalu mempelajari Al-Qur'an dan menghafalnya ketika aku berumur enam atau tujuh tahun. Aku berpuasa sepanjang tahun (dahr) dan makananku hanyalah roti gandum kasar selama dua belas tahun. Ketika aku berusia tiga belas tahun, timbul suatu permasalahan agama bagiku. Aku meminta keluargaku untuk mengutusku kepada ulama Bashrah agar aku dapat menanyakan hal itu. Maka aku mendatangi Bashrah dan bertanya kepada para ulamanya, namun tidak ada seorang pun yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan hatiku. Lalu aku keluar menuju Abadan menemui seorang laki-laki yang dikenal dengan sebutan Abu Habib Hamzah bin Abi Abdillah Al-Abadani. Aku menanyakan masalah tersebut kepadanya, dan ia memberikan jawaban yang memuaskan. Maka aku tinggal bersamanya selama beberapa waktu, mengambil manfaat dari perkataannya dan beradab dengan adab-adabnya. Kemudian aku kembali ke Tustar, lalu aku jadikan makanan pokokku sangat hemat: dibelikan untukku gandum seharga satu dirham sebanyak satu faraq, lalu ditumbuk dan dibuatkan roti bagiku. Aku berbuka puasa pada waktu sahur sebanyak satu uqiyah setiap malam dengan roti murni tanpa garam dan tanpa lauk. Maka uang satu dirham itu mencukupiku untuk satu tahun. Kemudian aku bertekad untuk menyambung puasa (wishal) selama tiga malam lalu berbuka satu malam, kemudian lima malam, kemudian tujuh malam, lalu dua puluh lima malam. Aku menjalankan hal itu selama dua puluh tahun. Setelah itu aku keluar mengembara (siyahah) di bumi selama bertahun-tahun, lalu aku kembali ke Tustar dan aku mendirikan shalat sepanjang malam sekehendak Allah Ta'ala." Ahmad berkata: "Aku tidak pernah melihat beliau memakan garam hingga beliau bertemu dengan Allah Ta'ala."
بيان شروط الإرادة ومقدمات المجاهدة وتدريج المريد في سلوك سبيل
Penjelasan Syarat-Syarat Kehendak Spiritual (Iradah), Pendahuluan Mujahadah, dan Penjenjangan Murid dalam Menempuh Jalan
الرياضة
Olah Jiwa (Riyadhah)
واعلم أن من شاهد الآخرة بقلبه مشاهدة يقين أصبح بالضرورة مريداً حرث الآخرة مشتاقاً إليها سالكاً سبلها مستهيناً بنعيم الدنيا ولذاتها فإن من كانت عنده خرزة فرأى جوهرة نفيسة لم يبق له رغبة في الخرزة وقويت إرادته
Ketahuilah bahwa barangsiapa menyertai penyaksian (musyahadah) akhirat dengan hatinya secara yakin, secara niscaya ia akan menjadi seorang murid (pencari) kebun akhirat, rindu kepadanya, menempuh jalan-jalannya, serta memandang remeh kenikmatan dan kelezatan dunia. Sebab, barangsiapa memiliki sebutir manik-manik lalu melihat permata yang sangat berharga, niscaya tidak tersisa lagi keinginannya pada manik-manik tersebut, dan makin kuatlah kehendaknya…
في بيعها بالجوهرة ومن ليس مريداً حرث الآخرة ولا طالباً للقاء الله تعالى فهو لعدم إيمانه بالله واليوم الآخر ولست أعني بالإيمان حديث النفس وحركة اللسان بكلمتي الشهادة من غير صدق وإخلاص فإن ذلك يضاهي قول من صدق بأن الجوهرة خير من الخرزة إلا أنه لا يدري من الجوهرة إلا لفظها وأما حقيقتها فلا ومثل هذا المصدق إذا ألف الخرزة قد لا يتركها ولا يعظم اشتياقه إلى الجوهرة فإذن المانع من الوصول عدم السلوك والمانع من السلوك عدم الإرادة والمانع من الإرادة عدم الإيمان وسبب عدم الإيمان عدم الهداة والمذكرين والعلماء بالله تعالى الهادين إلى طريقه والمنبهين على حقارة الدنيا وانقراضها وعظم أمر الآخرة ودوامها فالخلق غافلون قد انهمكوا في شهواتهم وغاصوا في رقدتهم وليس في علماء الدين من ينبههم فإن تنبه منهم متنبه عجز عن سلوك الطريق لجهله فإن طلب الطريق من العلماء وجدهم مائلين إلى الهوى عادلين عن نهج الطريق فصار ضعف الإرادة والجهل بالطريق ونطق العلماء بالهوى سبباً لخلق طريق الله تعالى عن السالكين فيه ومهما كان المطلوب محجوباً والدليل مفقوداً والهوى غالباً والطالب غافلاً امتنع الوصول وتعطلت الطرق لا محالة فإن تنبه متنبه من نفسه أو من تنبيه غيره وانبعث له إرادة في حرث الآخرة وتجارتها فينبغي أن يعلم له شروطاً لا بد من تقديمها في بداية الإرادة وله معتصم لا بد من التمسك به وله حصن لا بد من التحصن به ليأمن من الأعداء القطاع لطريقه وعليه وظائف لا بد من ملازمتها في وقت سلوك الطريق
…untuk menjualnya demi mendapatkan permata itu. Barangsiapa yang tidak menginginkan kebun akhirat dan tidak mencari perjumpaan dengan Allah Ta'ala, hal itu disebabkan oleh ketiadaan imannya kepada Allah dan Hari Akhir. Yang aku maksud dengan iman bukanlah bisikan jiwa dan pergerakan lidah mengucapkan dua kalimat syahadat tanpa kejujuran (shidq) dan keikhlasan, sebab hal demikian menyerupai perkataan orang yang membenarkan bahwa permata lebih baik daripada manik-manik tetapi ia tidak mengetahui tentang permata kecuali sekadar lafaznya saja, adapun hakikatnya tidak ia ketahui. Orang yang membenarkan seperti ini, jika telah terbiasa dengan manik-manik, terkadang tidak akan meninggalkannya dan tidak bertambah kerinduannya kepada permata. Dengan demikian, penghalang dari ketercapaian (wushul) adalah ketiadaan suluk (penempuhan jalan), penghalang suluk adalah ketiadaan iradah (kehendak spiritual), penghalang iradah adalah ketiadaan iman, dan sebab ketiadaan iman adalah ketiadaan para pembimbing (hudat), pengingat, serta ulama yang mengenal Allah Ta'ala (al-ulama billah) yang menuntun ke jalan-Nya dan mengingatkan akan kehinaan dunia serta kepunahannya, dan keagungan perkara akhirat serta kekekalannya. Maka para makhluk dalam keadaan lalai, tenggelam dalam syahwat mereka, dan terlelap dalam tidur nyenyak mereka, sementara di antara ulama agama tidak ada yang mengingatkan mereka. Jika ada salah seorang di antara mereka yang tersadar, ia lemah untuk menempuh jalan karena kebodohannya. Jika ia mencari jalan dari para ulama, ia mendapati mereka cenderung kepada hawa nafsu dan menyimpang dari jalan lurus. Maka lemahnya iradah, kebodohan akan jalan spiritual, dan bicaranya para ulama berdasarkan hawa nafsu menjadi sebab kosongnya jalan Allah Ta'ala dari para penempuh (salikin). Selama apa yang dicari terhalang (mahjub), petunjuk jalan lenyap, hawa nafsu mendominasi, dan pencari dalam keadaan lalai, niscaya ketercapaian (wushul) menjadi terhalang dan jalan-jalan akan terhenti secara pasti. Namun apabila seseorang tersadar dari dirinya sendiri atau dari peringatan orang lain, lalu timbul padanya iradah untuk mengusahakan kebun akhirat dan perniagaannya, hendaknya ia mengetahui bahwa ada syarat-syarat yang wajib didahulukan pada awal iradah, ia memiliki pegangan (mu'tasham) yang wajib dipegang teguh, benteng yang wajib dijadikan perlindungan agar aman dari musuh-musuh perampok jalan spiritual, serta tugas-tugas (wazha'if) yang harus senantiasa dilaksanakannya pada saat menempuh jalan tersebut.
أما الشروط التي لا بد من تقديمها في الإرادة فهي رفع السد والحجاب الذي بينه وبين الحق فإن حرمان الخلق عن الحق سببه تراكم الحجب ووقوع السد على الطريق قال الله تعالى ﴿وجعلنا من بين أيديهم سداً ومن خلفهم سداً فأغشيناهم فهم لا يبصرون﴾
Adapun syarat-syarat yang harus didahulukan dalam iradah adalah menyingkap penghalang (sadd) dan hijab yang terbentang antara dirinya dan Al-Haq (Allah). Sesungguhnya terhalangnya makhluk dari Al-Haq disebabkan oleh bertumpuknya hijab-hijab dan terjadinya penghalang di atas jalan. Allah Ta'ala berfirman: "Dan Kami jadikan di hadapan mereka penyekat dan di belakang mereka penyekat, dan Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat." (QS. Yasin: 9).
والسد بين المريد وبين الحق أربعة المال والجاه والتقليد والمعصية وإنما يرفع حجاب المال بخروجه عن ملكه حتى لا يبقى له إلا قدر الضرورة فما دام يبقى له درهم يلتفت إليه فهو مقيد به محجوب عن الله ﷿ وإنما يرتفع حجاب الجاه بالبعد عن موضع الجاه بالتواضع وإيثار الخمول والهرب من أسباب الذكر وتعاطي أعمال تنفر قلوب الخلق عنه
Penghalang (sadd) antara seorang murid dan Al-Haq ada empat perkara: harta, kedudukan (jah), taqlid (mengekor tanpa dalil), dan maksiat. Penghalang harta hanya dapat diangkat dengan mengeluarkannya dari kepemilikannya hingga tidak tersisa baginya melainkan sebatas kadar darurat. Selama masih tersisa baginya satu dirham yang menjadi perhatian hatinya, maka ia terikat dengannya dan terhijab dari Allah Azza wa Jalla. Adapun hijab kedudukan (jah) dapat diangkat dengan menjauh dari tempat kedudukan, bersikap tawadhu', memilih ketidakterkenalan (khumul), berlari dari sebab-sebab kemasyhuran, serta melakukan amalan-amalan yang menjauhkan kecenderungan hati makhluk darinya.
وإنما يرتفع حجاب التقليد بأن يترك التعصب للمذاهب وأن يصدق بمعنى قوله لا إله إلا الله محمد رسول الله تصديق إيمان ويحرض في تحقيق صدقه بأن يرفع كل معبود له سوى الله تعالى وأعظم معبود له الهوى حتى إذا فعل ذلك انكشف له حقيقة الأمر في معنى اعتقاده الذي تلقفه تقليداً فينبغي أن يطلب كشف ذلك من المجاهدة لا من المجادلة فإن غلب عليه التعصب لمعتقده ولم يبق في نفسه متسع لغيره صار ذلك قيداً له وحجاباً إذ ليس من شرط المريد الانتماء إلى مذهب معين أصلاً وأما المعصية فهي حجاب ولا يرفعها إلا التوبة والخروج من المظالم وتصميم العزم على ترك العود وتحقيق الندم على ما مضى ورد المظالم وإرضاء الخصوم فإن من لم يصحح التوبة ولم يهجر المعاصي الظاهرة وأراد أن يقف على أسرار الدين بالمكاشفة كان كمن يريد أن يقف على أسرار القرآن وتفسيره وهو بعد لم يتعلم لغة العرب فإن ترجمة عربية القرآن لا بد من تقديمها أولاً ثم الترقي منها إلى أسرار معانيه فكذلك لا بد من تصحيح الشريعة أولاً وآخراً ثم الترقي إلى أغوارها وأسرارها
Sedangkan hijab taqlid diangkat dengan cara meninggalkan fanatisme (ta'ashshub) terhadap mazhab-mazhab dan membenarkan makna ucapan "Lā ilāha illallāh Muḥammadur Rasūlullāh" dengan pembenaran iman yang sejati. Ia berupaya keras mewujudkan kejujuran imannya dengan cara menyingkirkan segala sesembahan selain Allah Ta'ala, dan sesembahan terbesarnya adalah hawa nafsu. Jika ia telah melakukan hal itu, akan tersingkap baginya hakikat perkara dalam makna akidahnya yang dahulunya ia terima secara taqlid. Maka sepantasnya ia menuntut singkapnya (kasyf) hal tersebut dari jalan mujahadah, bukan dari perdebatan (mujadalah). Jika fanatisme terhadap keyakinannya menguasai dirinya dan tidak tersisa dalam jiwanya kelapangan bagi yang lain, hal itu akan menjadi belenggu dan hijab baginya, sebab bukanlah syarat bagi seorang murid untuk menisbatkan diri pada mazhab tertentu secara mendasar. Adapun maksiat adalah hijab, dan tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali taubat, keluar dari kezaliman-kezaliman, bulatnya azam untuk tidak mengulangi, perwujudan penyesalan atas masa lalu, mengembalikan hak-hak yang dizalimi, dan meredakan tuntutan para lawan. Barangsiapa yang belum membenarkan taubatnya dan belum meninggalkan maksiat-maksiat lahiriah namun ingin menyingkap rahasia-rahasia agama melalui mukasyafah, ia bagaikan orang yang ingin memahami rahasia Al-Qur'an dan tafsirnya padahal ia belum mempelajari bahasa Arab. Sebab, terjemahan bahasa Arab Al-Qur'an harus didahulukan terlebih dahulu, kemudian berlanjut dari sana menuju rahasia maknanya. Demikian pula, wajib membenarkan syariat terlebih dahulu secara awal dan akhir, kemudian berlanjut menuju kedalaman dan rahasia-rahasianya.
فإذا قدم هذه الشروط الأربعة وتجرد عن المال والجاه كان كمن تطهر وتوضأ ورفع الحدث وصار صالحاً للصلاة فيحتاج إلى إمام يقتدى به فكذلك المريد يحتاج إلى شيخ وأستاذ يقتدى به لا محالة ليهديه إلى سواء السبيل فإن سبيل الدين غامض وسبل الشيطان كثيرة ظاهرة فمن لم يكن له شيخ يهديه قاده الشيطان إلى طرقه لا محالة فمن
Apabila ia telah mendahulukan empat syarat ini serta melepaskan diri dari harta dan kedudukan, maka ia bagaikan orang yang telah bersuci, berwudhu, dan menghilangkan hadas sehingga menjadi layak untuk shalat. Maka ia membutuhkan seorang imam untuk diteladani. Demikian pula seorang murid, ia secara niscaya membutuhkan seorang syeikh dan ustadz untuk diteladani agar menuntunnya ke jalan yang lurus. Sebab jalan agama itu samar, sedangkan jalan-jalan syaitan itu banyak dan nyata. Barangsiapa yang tidak memiliki syeikh yang membimbingnya, niscaya syaitan akan menuntunnya ke jalan-jalannya. Maka barangsiapa…
سلك سبل البوادي المهلكة بغير خفير قد خاطر بنفسه وأهلكها ويكون المستقل بنفسه كالشجرة التي تنبت بنفسها فإنها تجف على القرب وإن بقيت مدة وأورقت لم تثمر فمعتصم المريد بعد تقديم الشروط المذكورة شيخه فليتمسك به تمسك الأعمى على شاطيءالنهر بالقائد بحيث يفوض أمره إليه بالكلية ولا يخالفه في ورده ولا صدره ولا يبقى في متابعته شيئاً ولا يذر وليعلم أن نفعه في خطأ شيخه لو أخطأ أكثر من نفعه في صواب نفسه لو أصاب فإذا وجد مثل هذا المعتصم وجب على معتصمه أن يحميه ويعصمه بحصن حصين يدفع عنه قواطع الطريق وهو أربعة أمور الخلوة والصمت والجوع والسهر وهذا تحصن من القواطع فإن مقصود المريد إصلاح قلبه ليشاهد به ربه ويصلح لقربه
…yang menempuh jalan-jalan padang pasir yang membinasakan tanpa seorang pengawal (petunjuk jalan), ia telah mempertaruhkan dirinya dan membinasakannya. Orang yang berdiri sendiri tanpa pembimbing bagaikan pohon yang tumbuh sendiri; ia akan cepat mengering, dan jikalau bertahan beberapa saat serta berdaun, ia tidak akan berbuah. Maka tempat berpegang (mu'tasham) bagi seorang murid setelah mendahulukan syarat-syarat tersebut adalah syeikhnya. Hendaklah ia berpegang teguh kepadanya sebagaimana berpegangnya orang buta di tepi sungai kepada penuntunnya, sekira ia menyerahkan urusannya kepadanya secara total, tidak menyelisihinya dalam keluar maupun masuknya (segala urusannya), serta tidak menyisakan sedikit pun dalam mengikutinya. Hendaklah ia mengetahui bahwa manfaat baginya dalam kesalahan syeikhnya—seandainya syeikh itu bersalah—lebih besar daripada manfaat dalam kebenaran dirinya sendiri jika ia benar. Apabila ia telah menemukan tempat berpegang seperti ini, wajib bagi tempat berpegangnya (sang syeikh) untuk melindunginya dan menjaganya dengan benteng kokoh yang menolak para pembegal jalan darinya, yaitu empat perkara: khalwat (menyendiri), shamt (diam), ju' (lapar/berpuasa), dan sahar (bergadang untuk ibadah). Ini adalah benteng dari para pembegal jalan, sebab maksud utama murid adalah memperbaiki hatinya agar ia dapat menyaksikan Tuhannya dengannya dan menjadi layak untuk mendekat kepada-Nya.
أما الجوع فإنه ينقص دم القلب ويبيضه وفي بياضه نوره ويذيب شحم الفؤاد وفي ذوبانه رقته ورقته مفتاح المكاشفة كما أن قساوته سبب الحجاب ومهما نقص دم القلب ضاق مسلك العدو فإن مجاريه العروق الممتلئة بالشهوات وقال عيسى ﵇ يا معشر الحواريين جوعوا بطونكم لعل قلوبكم ترى ربكم وقال سهل بن عبد الله التستري ما صار الأبدال أبدالاً إلا بأربع خصال بإخماص البطون والسهر والصمت والاعتزال عن الناس ففائدة الجوع في تنوير القلب أمر ظاهر يشهد له التجربة وسيأتي بيان وجه التدريج فيه في كتاب كسر الشهوتين
Adapun lapar (ju'), sesungguhnya ia mengurangkan darah hati dan memutihkannya, dan pada keputihannya terdapat cahayanya, serta mencairkan lemak fu'ad (lubuk hati), dan dalam pencairannya terdapat kelembutannya, sedangkan kelembutannya adalah kunci mukasyafah sebagaimana kekerasannya menjadi sebab timbulnya hijab. Setiap kali darah hati berkurang, makin sempitlah jalan musuh (syaitan), sebab jalan-jalannya adalah pembuluh darah yang dipenuhi oleh syahwat. Nabi Isa a.s. berkata: "Wahai kaum Hawariyyun, laparkanlah perut kalian, mudah-mudahan hati kalian dapat melihat Tuhan kalian." Sahl bin Abdullah At-Tustari berkata: "Para Wali Abdal tidaklah menjadi Abdal melainkan dengan empat perkara: mengosongkan perut, bergadang ibadah, diam, dan mengasingkan diri dari manusia." Maka manfaat rasa lapar dalam menerangi hati adalah perkara nyata yang disaksikan oleh pengalaman, dan akan datang penjelasan mengenai cara penjenjangannya dalam Kitab Mengikis Dua Syahwat (Kasr al-Shahwatain).
وأما السهر فإنه يجلو القلب ويصفيه وينوره فيضاف ذلك إلى الصفاء الذي حصل من الجوع فيصير القلب كالكوكب الدري والمرآة المجلوة فيلوح فيه جمال الحق ويشاهد فيه رفيع الدرجات في الآخرة وحقارة الدنيا وآفاتها فتتم بذلك رغبته عن الدنيا وإقباله على الآخرة والسهر أيضاً نتيجة الجوع فإن السهر مع الشبع غير ممكن والنوم يقسي القلب ويميته إلا إذا كان بقدر الضرورة فيكون سبب المكاشفة لأسرار الغيب فقد قيل في صفة الأبدال إن أكلهم فاقة ونومهم غلبة وكلامهم ضرورة وقال إبراهيم الخواص ﵀ أجمع رأى سبعين صديقاً على أن كثرة النوم من كثرة شرب الماء
Adapun bergadang ibadah (sahar), sesungguhnya ia menggilap hati, memurnikannya, dan meneranginya, sehingga hal itu ditambahkan pada kemurnian yang diperoleh dari rasa lapar, maka jadilah hati bagaikan bintang yang berkilau (kaukab durri) dan cermin yang tergilap. Lalu tampak padanya keindahan Al-Haq (Allah), serta disaksikan padanya derajat-derajat yang tinggi di akhirat dan kehinaan dunia beserta bencana-bencananya. Dengan demikian, sempurnalah keberpalingannya dari dunia dan kesepenuhhatiannya menghadap akhirat. Bergadang ibadah ini juga merupakan buah dari rasa lapar, sebab bergadang dalam keadaan kenyang adalah hal yang mustahil. Tidur itu mengeras dan mematikan hati, kecuali apabila dalam kadar darurat, maka ia menjadi sebab mukasyafah bagi rahasia-rahasia ghaib. Sungguh telah dikatakan tentang sifat Wali Abdal: "Sesungguhnya makan mereka adalah karena kefakiran (sangat butuh), tidur mereka karena terkalahkan (sangat mengantuk), dan bicara mereka karena darurat." Ibrahim Al-Khawwash r.a. berkata: "Sepakat pandangan tujuh puluh orang shiddiq bahwa banyaknya tidur berasal dari banyaknya minum air."
وأما الصمت فإنه تسهله العزلة ولكن المعتزل لا يخلو عن مشاهدة من يقوم له بطعامه وشرابه وتدبير أمره فينبغي أن لا يتكلم إلا بقدر الضرورة فإن الكلام يشغل القلب وشره القلوب إلى الكلام عظيم فإنه يستروح إليه ويستثقل التجرد للذكر والفكر فيستريح إليه فالصمت يلقح العقل ويجلب الورع ويعلم التقوى
Adapun diam (shamt), sesungguhnya ia dipermudah oleh isolasi diri (uzlah). Namun orang yang melakukan uzlah tidak lepas dari melihat orang yang mengurus makanan, minuman, dan urusannya, maka sepantasnya ia tidak berbicara melainkan sebatas kadar darurat. Sebab, perkataan itu menyibukkan hati, dan ketamakan hati terhadap perkataan sangatlah besar; hati beristirahat dengannya dan merasa berat untuk fokus total (tajarrud) pada dzikir serta fikir, sehingga ia mencari ketenangan padanya. Maka diam itu membuahi akal, mendatangkan sifat wara', dan mengajarkan ketakwaan.
وأما حياة الخلوة ففائدتها دفع الشواغل وضبط السمع والبصر فإنهما دهليز القلب والقلب في حكم حوض تنصب إليه مياه كريهة كدرة قذرة من أنهار الحواس ومقصود الرياضة تفريغ الحوض من تلك المياه ومن الطين الحاصل منها ليتفجر أصل الحوض فيخرج منه الماء النظيف الطاهر وكيف يصح له أن ينزح الماء من الحوض والأنهار مفتوحة إليه فيتجدد في كل حال أكثر مما ينقص فلا بد من ضبط الحواس إلا عن قدر الضرورة وليس يتم ذلك إلا بالخلوة في بيت مظلم وأن لم يكن له مكان مظلم فليلف رأسه في جيبه أو يتدثر بكساء أو إزار ففي مثل هذه الحالة يسمع نداء الحق ويشاهد جلال الحضرة الربوبية
Adapun kehidupan berkhalwat (menyendiri), manfaatnya adalah menolak gangguan-gangguan serta mengendalikan pendengaran dan penglihatan, sebab keduanya adalah lorong menuju hati. Hati diibaratkan sebagai kolam yang dialiri air yang dibenci, keruh, dan kotor dari sungai-sungai panca indera. Maksud dari riyadhah (olah jiwa) adalah mengosongkan kolam tersebut dari air-air itu serta dari lumpur yang dihasilkannya, agar dasar kolam dapat memancar mengeluarkan air yang bersih dan suci. Bagaimana mungkin sah baginya menguras air dari kolam sedangkan sungai-sungai tetap terbuka mengalir kepadanya, sehingga setiap saat air yang masuk bertambah lebih banyak daripada yang dikurangi? Maka harus ada pengendalian panca indera kecuali sebatas kadar darurat, dan hal itu tidak dapat sempurna melainkan dengan khalwat di dalam kamar yang gelap. Jika ia tidak memiliki tempat yang gelap, hendaklah ia menyelubungi kepala di dalam jubahnya atau berselimut dengan kain atau sarung. Dalam keadaan seperti inilah ia dapat mendengar panggilan Al-Haq dan menyaksikan keagungan Hadirat Rabbaniyyah.
أما ترى أن نداء رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بَلَغَهُ وهو على مثل هذه الصفة فقيل له يا أيها المزمل يا أيها المدثر
Tidakkah engkau melihat bahwa panggilan kepada Rasulullah ﷺ sampai kepada beliau ketika beliau berada dalam kondisi seperti ini, lalu dikatakan kepada beliau: "Wahai orang yang berselimut (al-muzzammil)" dan "Wahai orang yang berkelembung (al-muddasttsir)"?
فهذه الأربعة جنة وحصن بها تدفع عنه القواطع وتمنع العوارض القاطعة للطريق فإذا فعل ذلك اشتغل بعده بسلوك الطريق وإنما سلوكه بقطع العقبات ولا عقبة على طريق الله تعالى إلا صفات القلب التي سببها الالتفات إلى الدنيا وبعض تلك العقبات أعظم من بعض والترتيب في قطعها أن يشتغل بالأسهل فالأسهل وهي تلك الصفات أعني أسرار العلائق التي قطعها في أول الإرادة وآثارها أعني المال والجاه وحب الدنيا والالتفات إلى الخلق والتشوف إلى المعاصي فلا بد أن يخلي الباطن عن آثارها كما أخلي الظاهر عن أسبابها الظاهرة وفيه تطول المجاهدة ويختلف ذلك باختلاف الأحوال فرب شخص قد كفى أكثر الصفات فلا تطول عليه المجاهدة وقد ذكرنا أن طريق المجاهدة مضادة الشهوات ومخالفة الهوى في كل صفة غالبة على نفس المريد كما سبق ذكره فإذا كفى ذلك أو ضعف بالمجاهدة ولم يبق في قلبه علاقة شغله بعد ذلك بذكر يلزم قلبه على الدوام ويمنعه من تكثير الأوراد الظاهرة بل يقتصر على الفرائض والرواتب ويكون ورده ورداً واحداً وهو لباب الأوراد وثمرتها أعني ملازمة القلب لذكر الله تعالى بعد الخلو من ذكر غيره ولا يشغله به مادام قلبه ملتفتا إلى علائقهقال الشبلي للحصري إن كان يخطر بقلبك من الجمعة التي تأتيني فيها إلى الجمعة الأخرى شيء غير الله تعالى فحرام عليك أن تأتيني وهذا التجرد لا يحصل إلا مع صدق الإرادة واستيلاء حب الله تعالى على القلب حتى يكون في صورة العاشق المستهتر الذي ليس له إلا هم واحد فإذا كان كذلك ألزمه الشيخ زاوية ينفرد بها ويوكل به من يقوم له بقدر يسير من القوت الحلال فإن أصل طريق الدين القوت الحلال وعند ذلك يلقنه ذكراً من الأذكار حتى يشغل به لسانه وقلبه فيجلس ويقول مثلا الله الله أو سبحان الله سبحان الله أو ما يراه الشيخ من الكلمات فلا يزال يواظب عليه حتى تسقط حركة اللسان وتكون الكلمة كأنها جارية على اللسان من غير تحريك ثم لا يزال يواظب عليه حتى يسقط الأثر عن اللسان وتبقى صورة اللفظ في القلب ثم لا يزال كذلك حتى يمحى عن القلب حروف اللفظ وصورته وتبقى حقيقة معناه لازمة للقلب حاضرة معه غالبة عليه قد فرغ عن كل ما سواه لأن القلب إذا شغل بشيء خلا عن غيره أي شيء كان فإذا اشتغل بذكر الله تعالى وهو المقصود خلا لا محالة عن غيره وعند ذلك يلزمه أن يراقب وساوس القلب والخواطر التي تتعلق بالدنيا وما يتذكر فيه مما قدر مضى من أحواله وأحوال غيره فإنه مهما اشتغل بشيء منه ولو في لحظة خلا قلبه عن الذكر في تلك اللحظة وكان أيضا نقصانا فليجتهد في دفع ذلك ومهما دفع الوساوس كلها ورد النفس إلى هذه الكلمة جاءته الوساوس من هذه الكلمة وأنها ما هي وما معنى قولنا الله ولأي معنى كان إلهاً وكان معبوداً ويعتريه عند ذلك خواطر تفتح عليه باب الفكر وربما يرد عليه من وساوس الشيطان ما هو كفر وبدعة ومهما كان كارهاً لذلك ومتشمراً لإماطته عن القلب لم يضره ذلك وهي منقسمة إلى ما يعلم قطعاً أن الله تعالى منزه عنه ولكن الشيطان يلقي ذلك في قلبه ويجريه على خاطره فشرطه أن يبالي به ويفزع إلى ذكر الله تعالى ويبتهل إليه ليدفعه عنه كما قال الله تعالى ﴿وإما ينزغنك من الشيطان نزغ فاستعذ بالله إنه سميع عليم﴾ وَقَالَ تَعَالَى ﴿إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ﴾ وإلى ما يشك فيه فينبغي أن يعرض ذلك على شيخه بل كل ما يجد في قلبه من الأحوال من فترة أو نشاط أو التفات إلى علقة أو صدق في إرادة فينبغي أن يظهر ذلك لشيخه وأن يستره عن غيره فلا يطلع عليه أحداً ثم إن شيخه ينظر في حاله ويتأمل في ذكائه وكياسته فلو علم أنه لو تركه وأمره بالفكر تنبه من نفسه على حقيقة الحق فينبغي أن يحيله على الفكر ويأمره بملازمته حتى يقذف في قلبه من النور ما يكشف له حقيقته وإن علم
Maka empat perkara ini adalah perisai dan benteng yang dengannya tercegah para pembegal jalan dan terhalang hambatan-hambatan yang memutus jalan spiritual. Apabila ia telah melakukan hal itu, ia bertindak setelahnya dengan menempuh jalan (suluk). Penempuhan jalannya hanyalah dengan memotong rintangan-rintangan (aqabah). Tiada rintangan di jalan Allah Ta'ala melainkan sifat-sifat hati yang disebabkan oleh keberpalingan/perhatian kepada dunia, dan sebagian rintangan itu lebih besar daripada yang lain. Urutan dalam memotongnya adalah dengan mengurus yang paling mudah lalu yang mudah berikutnya, yaitu sifat-sifat tersebut—maksudku rahasia keterikatan yang telah ia potong pada awal iradah beserta bekas-bekasnya, yaitu harta, kedudukan, cinta dunia, berpaling pada makhluk, dan kerinduan pada maksiat. Maka wajib mengosongkan batin dari bekas-bekasnya sebagaimana telah dikosongkannya lahir dari sebab-sebab lahiriahnya. Dalam hal ini mujahadah berlangsung lama dan berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi. Terkadang seseorang telah dicukupi dari kebanyakan sifat buruk sehingga mujahadah tidak berlangsung lama baginya. Dan telah kami sebutkan bahwa jalan mujahadah adalah menentang syahwat dan menyelisih hawa nafsu pada setiap sifat yang mendominasi jiwa murid sebagaimana telah lalu penjelasannya. Apabila hal itu telah dicukupi atau menjadi lemah karena mujahadah dan tidak tersisa lagi keterikatan di dalam hatinya, maka setelah itu sang syeikh menyibukkannya dengan dzikir yang melazimi hatinya secara terus-menerus dan mencegahnya dari memperbanyak wirid-wirid lahiriah. Sebaliknya, ia cukup membatasi diri pada ibadah-ibadah fardhu dan sunnah rawatib, serta wiridnya menjadi satu wirid saja yang merupakan inti wirid dan buahnya, yaitu kelaziman hati pada dzikir kepada Allah Ta'ala setelah kosong dari mengingat selain-Nya. Sang syeikh tidak akan menyibukkannya dengan dzikir ini selama hatinya masih berpaling kepada keterikatan-keterikatannya. Asy-Syibli berkata kepada Al-Hushri: "Jika terlintas di dalam hatimu sejak hari Jumat engkau mendatangi aku hingga hari Jumat berikutnya sesuatu selain Allah Ta'ala, maka haram bagimu untuk mendatangi aku." Pelepasan diri (tajarrud) ini tidak akan terwujud melainkan bersama kejujuran iradah dan penguasaan cinta kepada Allah Ta'ala atas hati, hingga ia menjadi seperti pencinta yang mabuk kepayang yang tidak memiliki melainkan satu cita-cita. Jika keadaannya sudah demikian, sang syeikh menempatkannya di suatu sudut (zawiyah) tempat ia menyendiri dan menugaskan orang yang mengurus makanan halal baginya dalam kadar yang sedikit, sebab pondasi jalan agama adalah makanan halal. Pada saat itulah sang syeikh mengajarkan (talaqqi) suatu dzikir dari dzikir-dzikir agar ia menyibukkan lidah dan hatinya dengannya, lalu ia duduk dan mengucapkan misalnya 'Allah, Allah' atau 'Subhanallah, Subhanallah' atau kata apa saja yang dipandang sesuai oleh syeikh. Ia terus-menerus memelihara dzikir tersebut hingga gerak lidahnya gugur dan kata tersebut seolah-olah mengalir di atas lidah tanpa pergerakan. Kemudian ia terus tekun melaksanakannya hingga bekas dzikir itu gugur dari lidah dan tersisa bentuk lafaznya di dalam hati. Lalu ia terus demikian hingga terhapus dari hati huruf-huruf lafaz dan bentuknya, dan tersisa hakikat maknanya yang senantiasa melekat pada hati, hadir bersamanya, dan mendominasi atasnya, seraya ia telah kosong dari segala sesuatu selain-Nya. Sebab, apabila hati disibukkan oleh sesuatu, niscaya ia kosong dari yang lain, apa pun itu. Maka jika hati disibukkan dengan dzikir kepada Allah Ta'ala—dan itulah maksud utamanya—niscaya secara pasti ia kosong dari selain-Nya. Pada saat itu, ia wajib mengawasi bisikan-bisikan hati (waswas) dan lintasan-lintasan pikiran (khawathir) yang berkaitan dengan dunia serta apa yang diingatnya dari kondisi masa lalu dirinya dan orang lain. Sebab, setiap kali ia disibukkan oleh sesuatu dengannya meskipun sekejap, hatinya akan kosong dari dzikir pada sekejap itu dan hal itu juga merupakan suatu kekurangan, maka hendaklah ia bersungguh-sungguh menolaknya. Setiap kali ia menolak seluruh bisikan itu dan mengembalikan jiwanya kepada kalimat dzikir ini, datanglah bisikan dari kalimat itu sendiri: apakah kalimat itu, apa makna ucapan kita 'Allah', dan atas dasar makna apa Dia menjadi Tuhan dan Sesembahan? Pada saat itu ia ditimpa oleh lintasan-lintasan pikiran yang membukakan baginya pintu pemikiran (fikr), dan terkadang muncul padanya bisikan syaitan yang merupakan kekufuran dan kebid'ahan. Selama ia membenci hal itu dan bersiap siaga menyingkirkannya dari hati, hal itu tidak akan membahayakannya. Waswas tersebut terbagi dua: pertama, apa yang diketahui secara pasti bahwa Allah Ta'ala maha suci darinya, namun syaitan melontarkannya ke dalam hatinya dan mengalirkannya pada pikirannya. Syaratnya adalah hendaknya ia tidak mempedulikannya, berlari menuju dzikir kepada Allah Ta'ala, dan memohon dengan sangat kepada-Nya agar menolaknya darinya sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Fussilat: 36), dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka diganggu oleh bayangan-bayangan godaan syaitan, mereka teringat (kepada Allah), maka seketika itu juga mereka melihat (kebenaran)." (QS. Al-A'raf: 201). Dan kedua, apa yang ia ragukan, maka sepantasnya ia memaparkan hal itu kepada syeikhnya. Bahkan setiap apa yang ia dapati di dalam hatinya berupa kondisi-kondisi (ahwal), baik berupa kelesuan (fatrah), semangat (nasyath), keberpalingan pada keterikatan, atau kejujuran dalam iradah, sepantasnya ia menampakkannya kepada syeikhnya dan menyembunyikannya dari selain syeikhnya sehingga tidak memberitahukannya kepada siapa pun. Kemudian syeikhnya akan melihat kondisinya dan mencermati kecerdasan serta kecermatannya. Jika syeikh mengetahui bahwa seandainya ia membiarkannya dan memerintahkannya berpikir (ma'rifah/fikr), ia akan tersadar dengan sendirinya akan hakikat Al-Haq, maka sepantasnya syeikh melimpahkannya pada pemikiran (fikr) dan memerintahkannya melaziminya hingga dilontarkan ke dalam hatinya cahaya yang menyingkapkan baginya hakikat-Nya. Dan jika syeikh mengetahui…
أن ذلك مما لا يقوى عليه مثله رده إلى الاعتقاد القاطع بما يحتمله قلبه من وعظ وذكر ودليل قريب من فهمه وينبغي أن يتأنق الشيخ ويتلطف به فإن هذه مهالك الطريق ومواضع أخطارها فكم من مريد اشتغل بالرياضة فغلب عليه خيال فاسد لم يقو على كشفه فانقطع عليه طريقه فاشتغل بالبطالة وسلك طريق الإباحة وذلك هو الهلاك العظيم ومن تجرد للذكر ودفع العلائق الشاغلة عن قلبه لم يخل عن أمثال هذه الأفكار فإنه قد ركب سفينة الخطر فإن سلم كان من ملوك الدين وإن أخطأ كان من الهالكين ولذلك قال ﷺ عليكم بدين العجائز وهو تلقي أصل الإيمان وظاهر الاعتقاد بطريق التقليد والاشتغال بأعمال الخير فإن الخطر في العدول عن ذلك كثير ولذلك قيل يجب على الشيخ أن يتفرس في المريد فإن لم يكن ذكياً فطناً متمكناً من اعتقاد الظاهر لم يشغله بالذكر والفكر بل يرده إلى الأعمال الظاهرة والأوراد المتواترة أو يشغله بخدمة المتجردين للفكر لتشمله بركتهم فإن العاجز عن الجهاد في صف القتال ينبغي أن يسقي القوم ويتعهد دوابهم ليحشر يوم القيامة في زمرتهم وتعمه بركتهم وإن كان لا يبلغ درجتهم ثم المريد المتجرد للذكر والفكر قد يقطعه قواطع كثيرة من العجب والرياء والفرح بما ينكشف له من الأحوال وما يبدو من أوائل الكرامات ومهما التفت إلى شيء من ذلك وشغلت به نفسه كان ذلك فتوراً في طريقه ووقوفاً بل ينبغي أن يلازم حاله جملة عمره ملازمة العطشان الذي لا ترويه البحار ولو أفيضت عليه ويدوم على ذلك ورأس ماله الانقطاع عن الخلق إلى الحق والخلوة
…bahwa hal demikian merupakan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh orang sepertinya, maka syeikh mengembalikannya kepada akidah yang pasti sesuai dengan apa yang ditampung oleh hatinya berupa nasihat, peringatan, dan dalil yang dekat dengan pemahamannya. Dan sepantasnya bagi sang syeikh untuk bersikap cermat dan lemah lembut kepadanya, sebab ini adalah tempat-tempat kebinasaan jalan spiritual dan lokasi bahayanya. Betapa banyak murid yang menyibukkan diri dengan riyadhah lalu dikuasai oleh khayalan yang rusak yang tidak mampu ia singkapkan, sehingga terputuslah jalannya lalu ia menyibukkan diri dengan kesia-siaan dan menempuh jalan ibahiyyah (menganggap serba boleh/kebebasan tanpa syariat), dan yang demikian itu adalah kebinasaan yang sangat besar. Barangsiapa yang memfokuskan diri untuk berdzikir dan menolak keterikatan yang menyibukkan hatinya, ia tidak akan lepas dari pemikiran-pemikiran semisal ini, karena sesungguhnya ia telah menaiki bahtera bahaya. Jika ia selamat, ia termasuk raja-raja agama, dan jika ia bersalah/tersesat, ia termasuk orang-orang yang binasa. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda: "Hendaklah kalian berpegang pada agama orang-orang tua (wanita tua)," yaitu menerima pokok iman dan lahiriah akidah melalui jalan taqlid serta menyibukkan diri dengan amal-amal kebaikan, sebab bahaya dalam menyimpang dari hal tersebut sangatlah banyak. Oleh karena itu dikatakan: Wajib bagi syeikh untuk membaca firasat pada diri murid. Jika murid tersebut tidak cerdas, cermat, dan kokoh dalam akidah lahiriah, hendaknya syeikh tidak menyibukkannya dengan dzikir dan fikr, melainkan mengembalikannya pada amal-amal lahiriah dan wirid-wirid yang berkesinambungan, atau menyibukkannya dengan berkhidmat kepada orang-orang yang fokus pada pemikiran (tajarrud) agar keberkahan mereka meliputinya. Sebab orang yang lemah dari berjihad di barisan peperangan sepantasnya memberi minum pasukan dan merawat hewan tunggangan mereka, agar ia dikumpulkan pada hari kiamat dalam rombongan mereka dan diliputi oleh keberkahan mereka meskipun ia tidak mencapai derajat mereka. Kemudian, murid yang memfokuskan diri pada dzikir dan fikr terkadang diputus oleh banyak pemutus jalan berupa ujub (bangga diri), riya', dan gembira atas apa yang tersingkap baginya dari kondisi-kondisi spiritual (ahwal) serta apa yang tampak dari permulaan karamah. Setiap kali ia berpaling kepada sesuatu dari hal itu dan jiwanya disibukkan olehnya, hal itu menjadi kelesuan (fatrah) dalam jalannya dan suatu keberhentian. Sebaliknya, sepantasnya ia melazimi kondisinya sepanjang umurnya sebagaimana lazimnya orang haus yang tidak terpuaskan oleh lautan meskipun dituangkan kepadanya, dan ia terus-menerus dalam hal itu. Modal utamanya adalah terputus dari makhluk menuju Al-Haq (Allah) serta berkhalwat.
قال بعض السياحين قلت لبعض الأبدال المنقطعين عن الخلق كيف الطريق إلى التحقيق فقال أن تكون في الدنيا كأنك عابر طريق وقال مرة قلت له دلني على عمل أجد قلبي فيه مع الله تعالى على الدوام فقال لي لا تنظر إلى الخلق فإن النظر إليهم ظلمة قلت لا بد لي من ذلك قال فلا تسمع كلامهم فإن كلامهم قسوة قلت لا بد لي من ذلك قال فلا تعاملهم فإن معاملتهم وحشة قلت أنا بين أظهرهم لا بد لي من معاملتهم قال فلا تسكن إليهم فإن السكون إليهم هلكة قلت هذا لعلة قال يا هذا أتنظر إلى الغافلين وتسمع كلام الجاهلين وتعامل البطالين وتريد أن تجد قلبك مع الله تعالى على الدوام هذا ما لا يكون أبداً
Sebagian pengembara spiritual (siyyahin) berkata: Aku berkata kepada salah seorang Wali Abdal yang memutuskan hubungan dari makhluk, "Bagaimanakah jalan menuju tahqiq (pencapaian hakikat)?" Ia menjawab, "Hendaknya engkau berada di dunia seolah-olah engkau seorang yang menyeberangi jalan." Dan pada waktu lain aku berkata kepadanya, "Tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dengannya aku mendapati hatiku senantiasa bersama Allah Ta'ala secara terus-menerus." Ia berkata kepadaku, "Janganlah engkau memandang kepada makhluk, karena memandang mereka adalah kegelapan." Aku berkata, "Aku harus melakukan itu." Ia berkata, "Maka janganlah engkau mendengarkan perkataan mereka, karena perkataan mereka adalah kekerasan hati." Aku berkata, "Aku harus melakukan itu." Ia berkata, "Maka janganlah engkau berinteraksi (muamalah) dengan mereka, karena berinteraksi dengan mereka adalah kerisauan/kejauhan." Aku berkata, "Aku berada di tengah-tengah mereka, aku harus berinteraksi dengan mereka." Ia berkata, "Maka janganlah engkau merasa tenang/merasa nyaman pada mereka, karena merasa nyaman pada mereka adalah kebinasaan." Aku berkata, "Ini mungkin bisa." Ia berkata, "Wahai engkau, apakah engkau memandang kepada orang-orang yang lalai, mendengarkan perkataan orang-orang bodoh, berinteraksi dengan orang-orang yang berbuat kesia-siaan, lalu engkau ingin mendapati hatimu bersama Allah Ta'ala secara terus-menerus? Ini adalah hal yang tidak akan pernah terjadi selama-lamanya!"
فإذاً منتهى الرياضة أن يجد قلبه مع الله تعالى على الدوام ولا يمكن ذلك إلا بأن يخلو عن غيره ولا يخلو عن غيره إلا بطول المجاهدة فإذا حصل قلبه مع الله تعالى انكشف له جلال الحضرة الربوبية وتجلى له الحق وظهر له من لطائف الله تعالى ما لا يجوز أن يوصف بل لا يحيط به الوصف أصلا وإذا انكشف للمريد شيء من ذلك فأعظم القواطع عليه أن يتكلم به وعظاً ونصحاً ويتصدى للتذكير فتجد النفس فيه لذة ليس وراءها لذة فتدعوه تلك اللذة إلى أن يتفكر في كيفية إيراد تلك المعاني وتحسين الألفاظ المعبرة عنها وترتيب ذكرها وتزيينها بالحكايات وشواهد القرآن والأخبار وتحسين صنعة الكلام لتميل إليه القلوب والأسماع فربما يخيل إليه الشيطان أن هذا إحياء منك لقلوب الموتى الغافلين عن الله تعالى وإنما أنت واسطة بين الله تعالى وبين الخلق تدعو عباده إليه ومالك فيه نصيب ولا لنفسك فيه لذة ويتضح كيد الشيطان بأن يظهر في أقرانه من يكون أحسن كلاماً منه وأجزل لفظاً وأقدر على استجلاب قلوب العوام فإنه يتحرك في باطنه عقرب الحسد لا محالة إن كان محركه كيد القبول وإن
Maka puncak dari riyadhah (olah jiwa) adalah ia mendapati hatinya senantiasa bersama Allah Ta'ala secara terus-menerus. Hal itu tidak mungkin terjadi melainkan dengan mengosongkan hati dari selain-Nya, dan hati tidak dapat kosong dari selain-Nya melainkan dengan panjangnya mujahadah. Apabila hatinya telah bersama Allah Ta'ala, tersingkaplah baginya keagungan Hadirat Rabbaniyyah, Al-Haq bertajalli padanya, dan tampak baginya kelembutan-kelembutan Allah Ta'ala yang tidak boleh digambarkan, bahkan tidak dapat diliputi oleh penggambaran sama sekali. Apabila tersingkap bagi seorang murid sesuatu dari hal itu, maka pemutus jalan terkeram baginya adalah jika ia membicarakannya sebagai nasihat dan pengajaran serta mencalonkan diri untuk memberi peringatan, sehingga jiwa mendapati padanya kelezatan yang tiada kelezatan di baliknya. Kelezatan itu kemudian memanggilnya untuk memikirkan tata cara menyampaikan makna-makna tersebut, memperindah lafaz-lafaz yang mengungkapkannya, menyusun penyebutannya, serta menghiasinya dengan kisah-kisah, syahid dari Al-Qur'an dan hadis, dan memperindah seni perbincangan agar hati dan pendengaran cenderung kepadanya. Maka terkadang syaitan mengkhayalkan kepadanya bahwa ini adalah pembangkitan darimu bagi hati orang-orang mati yang lalai dari Allah Ta'ala, dan engkau hanyalah perantara antara Allah Ta'ala dan makhluk-Nya yang menyeru hamba-hamba-Nya kepada-Nya, padahal engkau tidak memiliki bagian padanya dan jiwamu tidak memiliki kelezatan di dalamnya. Tipu daya syaitan ini menjadi jelas saat muncul di antara teman sejawatnya orang yang perkataannya lebih indah darinya, lafaznya lebih fasih, dan lebih mampu memikat hati orang-orang awam; sebab niscaya akan bergerak di dalam batinnya kalajengking kedengkian (hasad) jika pendorongnya adalah tipu daya penerimaan (keinginan diterima publik), dan jika…
كان محركه هو الحق حرصاً على دعوة عباد الله تعالى إلى صراطه المستقيم فيعظم به فرحه ويقول الحمد لله الذي عضدني وأيدني بمن وازرني على إصلاح عباده كالذي وجب عليه مثلاً أن يحمل ميتاً ليدفنه إذ وجده ضائعاً وتعين عليه ذلك شرعاً فجاء من أعانه عليه فإنه يفرح به ولا يحسد من يعينه والغافلون موتى القلوب والوعاظ هم المنبهون والمحيون لهم ففي كثرتهم استرواح وتناصر فينبغي أن يعظم الفرح بذلك وهذا عزيز على الوجود جداً فينبغي أن يكون المريد على حذر منه فإنه أعظم حبائل الشيطان في قطع الطريق على من انفتحت له أوائل الطريق فإن إيثار الحياة الدنيا طبع غالب على الإنسان ولذلك قال الله تعالى ﴿بل تؤثرون الحياة الدنيا﴾ ثم بين أن الشر قديم في الطباع وأن ذلك مذكور في الكتب السالفة فقال ﴿إن هذا لفي الصحف الأولى صحف إبراهيم وموسى﴾ فهذا منهاج رياضة المريد وتربيته في التدريج إلى لقاء الله تعالى فأما تفصيل الرياضة في كل صفة فسيأتي فإن أغلب الصفات على الإنسان بطنه وفرجه ولسانه أعني به الشهوات المتعلقة بها ثم الغضب الذي هو كالجند لحماية الشهوات ثم مهما أحب الإنسان شهوة البطن والفرج وأنس بهما أحب الدنيا ولم يتمكن منها إلا بالمال والجاه وإذا طلب المال والجاه حدث فيه الكبر والعجب والرياسة وإذا ظهر ذلك لم تسمح نفسه بترك الدنيا رأساً وتمسك من الدين بما فيه الرياسة وغلب عليه الغرور
Pendorong utamanya adalah al-Haqq (Kebenaran), karena dorongan kuat untuk menyeru hamba-hamba Allah Ta'ala menuju jalan-Nya yang lurus. Maka kebahagiaannya menjadi besar karenanya dan ia berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menguatkan dan menyokongku dengan orang yang membantuku dalam memperbaiki hamba-hamba-Nya." Sebagaimana orang yang wajib atasnya—misalnya—memikul jenazah untuk menguburkannya ketika mendapatinya terlantar dan hal itu menjadi fardhu kifayah baginya secara syar'i, lalu datanglah orang yang membantunya, maka ia tentu merasa gembira dengannya dan tidak mendengki orang yang membantunya itu. Orang-orang yang lalai pada hakikatnya adalah orang-orang yang mati hatinya, sedangkan para pemberi nasihat adalah orang-orang yang mengingatkan dan menghidupkan mereka. Maka dengan banyaknya mereka, terdapat kelapangan dan saling menolong, sehingga sudah sepatutnya timbul kegembiraan yang besar atas hal itu. Namun, hal ini sangat langka keberadaannya. Oleh karena itu, seorang murid hendaknya waspada terhadap hal tersebut, sebab ia merupakan jerat syetan terbesar dalam merintangi jalan bagi orang yang baru terbuka baginya permulaan jalan spiritual. Sungguh, mengutamakan kehidupan dunia merupakan watak yang dominan pada diri manusia. Oleh sebab itu, Allah Ta'ala berfirman: "Bahkan kamu memilih kehidupan dunia." (QS. Al-A'la: 16). Kemudian Dia menjelaskan bahwa keburukan itu telah ada sejak lama dalam watak manusia dan bahwa hal tersebut telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu, dengan firman-Nya: "Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa." (QS. Al-A'la: 18-19). Inilah metode olah jiwa (riyadhah) bagi seorang murid serta pendidikannya secara bertahap menuju perjumpaan dengan Allah Ta'ala. Adapun rincian riyadhah pada setiap sifat akan dijelaskan kemudian. Sebab, sifat yang paling mendominasi manusia adalah perutnya, kemaluannya, dan lidahnya—yang saya maksud adalah syahwat-syahwat yang berkaitan dengannya—kemudian amarah (al-ghadhab) yang berkedudukan seperti tentara untuk melindungi syahwat-syahwat tersebut. Kemudian, ketika manusia menyukai syahwat perut dan kemaluan serta merasa nyaman dengannya, ia akan mencintai dunia, dan ia tidak akan mampu meraihnya kecuali dengan harta dan kedudukan (al-jah). Apabila ia mencari harta dan kedudukan, maka akan timbul dalam dirinya kesombongan (al-kibr), ujub (al-'ujb), dan ambisi kepemimpinan (ar-riyasah). Jika hal itu telah nampak, jiwanya tidak akan rela untuk meninggalkan dunia sama sekali, lalu ia hanya memegang teguh bagian dari agama yang mengandung unsur kepemimpinan, sehingga terperdaya (al-ghurur) menguasai dirinya.