ربع المهلكات

كتاب ذم البخل وذم حب المال

كتاب ذم البخل وذم حب المال

Beranda كتاب إحياء علوم الدين ربع المهلكات كتاب ذم البخل وذم حب المال

كتاب ذم البخل وذم حب المال

Kitab Celaan Terhadap Kikir dan Celaan Terhadap Cinta Harta

وهو الكتاب السابع من ربع المهلكات من كتاب إحياء علوم الدين

Yaitu kitab ketujuh dari seperempat (Rubu') Al-Muhlikat (hal-hal yang membinasakan) dari Kitab Ihya' 'Ulumuddin.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

الحمد لله مستوجب الحمد برزقه المبسوط وكاشف الضر بعد القنوت الذي خلق الخلق ووسع الرزق وأفاض على العالمين أصناف الأموال وابتلاهم فيها بتقلب الأحوال ورددهم فيها بين العسر واليسر والغنى والفقر والطمع واليأس والثروة والإفلاس والعجز والاستطاعة والحرص والقناعة والبخل والجود والفرح بالموجود والأسف على المفقود والإيثار والإنفاق والتوسع والإملاق والتبذير والتقتير والرضا بالقليل واستحقار الكثير كل ذلك ليبلوهم أيهم أحسن عملاً وينظر أيهم آثر الدنيا على الآخرة بدلاً وابتغى عن الآخرة عدولاً وحولاً واتخذ الدنيا ذخيرة وخولا والصلاة على محمد الذي نسخ بملته مللاً وطوى بشريعته أدياناً ونحلاً وعلى آله وأصحابه الذين سلكوا سبيل ربهم ذللاً وسلم تسليماً كثيراً

Segala puji bagi Allah yang berhak menerima pujian atas rezeki-Nya yang terbentang dan Penyingkap kesusahan setelah keputusasaan; Yang menciptakan makhluk dan melapangkan rezeki, mengalirkan berbagai jenis harta kepada alam semesta, menguji mereka padanya dengan perputaran keadaan, mempergilirkan mereka padanya antara kesulitan dan kemudahan, kekayaan dan fakir, kesetiaan dan keputusasaan, kelimpahan dan kebangkrutan, kelemahan dan kemampuan, ketakutan/kerakusan dan qana'ah, kikir dan dermawan, kegembiraan atas yang ada dan penyesalan atas yang hilang, pengutamaan orang lain (itsār) dan nafkah, kelapangan dan kemiskinan, pemborosan (tabdzir) dan penyempitan (taqtir), serta keridhaan terhadap yang sedikit dan meremehkan yang banyak. Semua itu untuk menguji mereka siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya, dan melihat siapakah di antara mereka yang lebih mengutamakan dunia sebagai pengganti akhirat serta memalingkan niat dari akhirat, dan menjadikan dunia sebagai simpanan dan pelayan. Shalawat atas Muhammad yang telah menghapus berbagai milah (agama) dengan agamanya, dan melipat berbagai agama dan kepercayaan dengan syariatnya; dan atas keluarga serta para sahabatnya yang menempuh jalan Rabb mereka dengan patuh, serta salam yang sebanyak-banyaknya.

أما بعد فإن فتن الدنيا كثيرة الشعب والأطراف واسعة الأرجاء والأكناف ولكن الأموال أعظم فتنها وأطم محنها وأعظم فتنة فيها أنه لا غنى لأحد عنها ثم إذا وجدت فلا سلامة منها فإن فقد المال حصل منه الفقر الذي يكاد أن يكون كفراً وإن وجد حصل منه الطغيان الذي لا تكون عاقبة أمره إلا خسرا وبالجملة فهي لا تخلو من الفوائد والآفات وفوائدها من المنجيات وآفاتها من المهلكات وتمييز خيرها عن شرها من المعوصات التي لا يقوى عليها إلا ذوو البصائر في الدين من العلماء الراسخين دون المسترسمين المغترين وشرح ذلك مهم على الانفراد فإن ما ذَكَرْنَاهُ فِي كِتَابِ ذَمِّ الدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ نَظَرًا فِي الْمَالِ خَاصَّةً بَلْ فِي الدُّنْيَا عامة إذ الدنيا تتناول كل حظ عاجل والمال بعض أجزاء الدنيا والجاه بعضها واتباع شهوة البطن والفرج بعضها وتشفي الغيظ بحكم الغضب والحسد بعضها والكبر وطلب العلو بعضها ولها أبعاض كثيرة ويجمعها كل ما كان للإنسان فيه حظ عاجل ونظرنا الآن في هذا الكتاب في المال وحده إِذْ فِيهِ آفَاتٌ وَغَوَائِلُ وَلِلْإِنْسَانِ مِنْ فَقْدِهِ صِفَةُ الْفَقْرِ وَمِنْ وُجُودِهِ وَصْفُ الْغِنَى وَهُمَا حَالَتَانِ يَحْصُلُ بِهِمَا الِاخْتِبَارُ وَالِامْتِحَانُ ثُمَّ لِلْفَاقِدِ حَالَتَانِ الْقَنَاعَةُ وَالْحِرْصُ وَإِحْدَاهُمَا مَذْمُومَةٌ وَالْأُخْرَى مَحْمُودَةٌ وَلِلْحَرِيصِ حَالَتَانِ طَمَعٌ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ وَتَشَمُّرٌ لِلْحِرَفِ وَالصِّنَاعَاتِ مَعَ الْيَأْسِ عَنِ الْخَلْقِ والطمع شر الحالتين وللواجد حَالَتَانِ إِمْسَاكٌ بِحُكْمِ الْبُخْلِ وَالشُّحِّ وَإِنْفَاقٌ وَإِحْدَاهُمَا مَذْمُومَةٌ وَالْأُخْرَى مَحْمُودَةٌ وَلِلْمُنْفِقِ حَالَتَانِ تَبْذِيرٌ وَاقْتِصَادٌ وَالْمَحْمُودُ هُوَ الِاقْتِصَادُ وَهَذِهِ أُمُورٌ مُتَشَابِهَةٌ وَكَشْفُ الغطاء عن الغموض فيها مهم ونحن نشرح ذلك في أربعة عشر فصلاً إن شاء الله تعالى وهو بيان ذم المال ثم مدحه ثم تفصيل فوائد المال وآفاته ثم ذم الحرص والطمع ثم علاج الحرص والطمع ثم فضيلة السخاء ثم حكايات الأسخياء ثم ذم البخل ثم حكايات البخلاء ثم الإيثار وفضله ثم حد السخاء والبخل ثم علاج البخل ثم مجموع الوظائف في المال ثم ذم الغنى ومدح الفقر إن شاء الله تعالى

Amma ba'du, sesungguhnya fitnah-fitnah dunia itu banyak cabang dan ujungnya, luas pelosok dan sisinya. Akan tetapi harta benda merupakan fitnahnya yang paling besar dan cobaan yang paling dahsyat. Fitnah paling besar padanya adalah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak membutuhkannya, namun jika ia ditemukan maka tidak ada keselamatan darinya. Sebab jika harta itu tidak ada, maka timbullah darinya kefakiran yang hampir saja menjadi kekufuran. Dan jika harta itu ada, maka timbullah darinya kesombongan (thughyan) yang hasil akhirnya tidak lain adalah kerugian. Walhasil, harta tidak lepas dari manfaat-manfaat dan bahaya-bahaya. Manfaat-manfaatnya termasuk hal-hal yang menyelamatkan (al-munjiyat), sedangkan bahaya-bahayanya termasuk hal-hal yang membinasakan (al-muhlikat). Dan membedakan kebaikannya dari keburukannya termasuk hal-hal yang rumit yang tidak mampu melakukannya melainkan orang-orang yang memiliki bashirah (mata hati) dalam agama dari kalangan ulama yang mendalam ilmunya (ar-rasikhun), bukan orang-orang yang sekadar formalitas dan terbuai. Dan penjelasan mengenai hal ini sangat penting secara tersendiri, sebab apa yang kami sebutkan dalam Kitab Dzammid Dunia bukanlah pandangan mengenai harta secara khusus, melainkan mengenai dunia secara umum. Karena dunia mencakup setiap bagian yang bersifat segera (duniawi), dan harta adalah sebagian dari unsur dunia, kedudukan (jah) adalah sebagian darinya, menuruti syahwat perut dan kemaluan adalah sebagian darinya, melampiaskan kejengkelan dengan dorongan amarah dan kedengkian adalah sebagian darinya, kesombongan dan mencari keluhuran adalah sebagian darinya, dan ia memiliki banyak bagian yang dihimpun oleh setiap apa yang padanya terdapat bagian duniawi bagi manusia. Dan pandangan kita sekarang dalam kitab ini adalah mengenai harta saja. Sebab padanya terdapat bahaya-bahaya dan bencana-bencana. Bagi manusia dari ketiadaannya timbul sifat fakir, dan dari keberadaannya timbul sifat kaya. Keduanya adalah dua keadaan yang terjadi dengannya cobaan dan ujian. Kemudian bagi orang yang tidak memiliki harta ada dua keadaan: qana'ah dan loba (hirsh), salah satunya tercela dan yang lain terpuji. Dan bagi orang yang loba ada dua keadaan: tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia dan bersiap-siap untuk pekerjaan serta mata pencaharian bersamaan dengan putus asa dari makhluk; dan tamak adalah keadaan yang paling buruk dari keduanya. Dan bagi orang yang memiliki harta ada dua keadaan: menahan harta berdasarkan hukum kikir dan pelit, serta menginfakkannya; salah satunya tercela dan yang lain terpuji. Dan bagi orang yang menginfakkan ada dua keadaan: pemborosan (tabdzir) dan hemat (iqtishad), dan yang terpuji adalah hemat. Ini semua adalah perkara yang samar-samar, dan menyingkap tirai dari kerumitannya adalah hal yang penting. Kami akan menjelaskan hal tersebut dalam empat belas pasal, insya Allah Ta'ala: yaitu penjelasan celaan harta, kemudian pujian terhadapnya, kemudian rincian manfaat dan bahaya harta, kemudian celaan terhadap loba dan tamak, kemudian obat loba dan tamak, kemudian keutamaan kedermawaan (sakha'), kemudian kisah-kisah orang dermawan, kemudian celaan terhadap kikir (bukhl), kemudian kisah-kisah orang kikir, kemudian pengutamaan orang lain (itsār) dan keutamaannya, kemudian batasan kedermawanan dan kikir, kemudian obat kikir, kemudian kumpulan tugas-tugas berkenaan dengan harta, kemudian celaan terhadap kekayaan dan pujian terhadap kefakiran, insya Allah Ta'ala.

بَيَانُ ذَمِّ الْمَالِ وَكَرَاهَةِ حُبِّهِ

Penjelasan Celaan Terhadap Harta dan Dibencinya Mencintainya

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يفعل ذلك فأولئك هم الخاسرون وَقَالَ تَعَالَى إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عنده أجر عظيم فَمَنِ اخْتَارَ مَالَهُ وَوَلَدَهُ عَلَى مَا عِنْدَ الله فقد خسر وغبن خسراناً عظيماً وَقَالَ ﷿ مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدنيا وزينتها الآية وقال تعالى إن الإنسان ليطغى أن رآه استغنى فَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ العظيم وقال تعالى ألهاكم التكاثر وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حب المال والشرف ينبتان النفاق في القلب كما ينبت الماء البقل

Allah Ta'ala berfirman: 'Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa melakukan demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.' Dan Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (cobaan), dan di sisi Allah ada pahala yang besar.' Maka barangsiapa memilih harta dan anaknya melebihi apa yang ada di sisi Allah, maka dia sungguh telah rugi dan tertipu dengan kerugian yang besar. Dan Dia ﷿ berfirman: 'Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya…' hingga akhir ayat. Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.' Maka tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahagung. Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Bermewah-mewahan telah melalaikan kamu.' Dan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Cinta harta dan kedudukan itu menumbuhkan kemunafikan di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayur-tumbuhan.'

وَقَالَ ﷺ مَا ذِئْبَانِ ضاريان أرسلا في زريبة غَنَمٍ بِأَكْثَرَ إِفْسَادًا فِيهَا مِنْ حُبِّ الشَّرَفِ وَالْمَالِ وَالْجَاهِ فِي دِينِ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

Dan Beliau ﷺ bersabda: 'Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah kandang domba lebih merusak padanya daripada sifat cinta kehormatan, harta, dan kedudukan terhadap agama seorang muslim.'

وَقَالَ ﷺ هَلَكَ الْمُكْثِرُونَ إِلَّا مَنْ قَالَ بِهِ فِي عِبَادِ اللَّهِ هَكَذَا وهكذا وقليل ما هم

Dan Beliau ﷺ bersabda: 'Binasalah orang-orang yang memperbanyak harta, kecuali orang yang membagikannya di antara hamba-hamba Allah begini dan begini (ke kanan dan ke kiri), dan betapa sedikitnya jumlah mereka.'

وقيل يا رسول الله أي أمتك شر قال الأغنياء

Dan ditanyakan: 'Wahai Rasulullah, siapakah umatmu yang paling buruk?' Beliau bersabda: 'Orang-orang kaya.'

وقال ﷺ سيأتي بعدكم قوم يأكلون أطايب الدنيا وألوانها ويركبون فره الخيل وألوانها وينكحون أجمل النساء وألوانها ويلبسون أجمل الثياب وألوانها لهم بطون من القليل لا تشبع وأنفس بالكثير لا تقنع عاكفون على الدنيا يغدون ويروحون إليها اتخذوها آلهة من دون إلههم ورباً دون ربهم إلى أمرها ينتهون ولهواهم يتبعون فعزيمة من محمد بن عبد الله لمن أدركه ذلك الزمان من عقب عقبكم وخلف خلفكم أن لا يسلم عليهم ولا يعود مرضاهم ولا يتبع جنائزهم ولا يوقر كبيرهم فمن فعل ذلك فقد أعان على هدم الإسلام

Dan Beliau ﷺ bersabda: 'Akan datang setelah kalian suatu kaum yang memakan makanan-makanan lezat dunia dan aneka warnanya, mengendarai kuda-kuda yang tangguh dan bermacam-macam jenisnya, menikahi wanita-wanita paling jelita dan beraneka coraknya, serta mengenakan pakaian-pakaian paling indah dan bermacam warnanya. Mereka memiliki perut yang tidak kenyang oleh yang sedikit dan jiwa yang tidak puas dengan yang banyak. Mereka tekun mengejar dunia, pergi di pagi hari dan pulang di sore hari demi dunia. Mereka menjadikannya tuhan-tuhan selain Tuhan mereka dan sesembahan selain Rabb mereka. Kepada perkaranya mereka tunduk dan kepada hawa nafsu mereka, mereka mengikut. Maka merupakan ketetapan tegas dari Muhammad bin Abdullah bagi siapa saja yang mendapati zaman itu dari keturunan demi keturunan kalian dan generasi sesudah generasi kalian, agar jangan mengucapkan salam kepada mereka, jangan menjenguk orang sakit di antara mereka, jangan mengiringi jenazah mereka, dan jangan menghormati orang tua mereka. Barangsiapa melakukan hal itu, maka sungguh dia telah membantu merubuhkan Islam.'

وقال ﷺ دعوا الدنيا لأهلها من أخذ من الدنيا فوق ما يكفيه أخذ حتفه وهو لا يشعر

Dan Beliau ﷺ bersabda: 'Biarkanlah dunia bagi pemiliknya! Barangsiapa mengambil dunia melebihi apa yang mencukupinya, sesungguhnya ia telah mengambil kebinasaannya tanpa ia sadari.'

وَقَالَ ﷺ يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي وَهَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أو تصدقت فأمضيت

Dan Beliau ﷺ bersabda: 'Manusia berkata: 'Hartaku, hartaku!' Padahal tidak ada bagimu dari hartamu melainkan apa yang telah engkau makan lalu engkau habiskan, atau apa yang engkau pakai lalu engkau lusuhkan, atau apa yang engkau sedekahkan lalu engkau kekalkan.'

وقال رجل يا رسول الله مالي لا أحب الموت فقال هل معك من مال قال نعم يا رسول الله قال قدم مالك فإن قلب المؤمن مع ماله إن قدمه

Seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa aku tidak menyukai kematian?" Beliau bersabda, "Apakah engkau memiliki harta?" Ia menjawab, "Ya, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Kirimkanlah hartamu (infakkan untuk akhirat), karena sesungguhnya hati seorang mukmin itu bersama hartanya. Jika ia menginfakkannya terlebih dahulu,

أحب أن يلحقه وإن خلفه أحب أن يتخلف معه

ia akan senang untuk menyusul hartanya itu. Namun jika ia meninggalkannya di belakang (di dunia), ia akan senang untuk tetap tinggal bersamanya."

وقال ﷺ أخلاء ابن آدم ثلاثة واحد يتبعه إلى قبض روحه والثاني إلى قبره والثالث إلى محشرة فالذي يتبعه إلى قبض روحه فهو ماله والذي يتبعه إلى قبره فهو أهله والذي يتعبه إلى محشره فهو عمله

Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Sahabat dekat anak Adam ada tiga: yang pertama mengikutinya hingga ruhnya dicabut, yang kedua mengikutinya hingga ke kuburnya, dan yang ketiga mengikutinya hingga ke padang mahsyarnya. Adapun yang mengikutinya hingga ruhnya dicabut adalah hartanya; yang mengikutinya hingga ke kuburnya adalah keluarganya; dan yang mengikutinya hingga ke padang mahsyarnya adalah amalnya."

وقال الحواريون لعيسى ﵇ مالك تمشي على الماء ولا نقدر على ذلك فقال لهم ما منزلة الدينار والدرهم عندكم قالوا حسنة قال لكنهما والمدر عندي سواء وكتب سلمان الفارسي إلى أبي الدرداء ﵄ يا أخي إياك أن تجمع من الدنيا مالاً تؤدي شكره فإني سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول يجاء بصاحب الدنيا الذي أطاع الله فيها وماله بين يديه كلما تكفأ به الصراط قال له ماله امض فقد أديت حق الله في ثم يجاء بصاحب الدنيا الذي لم يطع الله فيها وماله بين كتفيه كلما تكفأ به الصراط قال له ماله ويلك ألا أديت حق الله في فما يزال كذلك حتى يدعو بالويل والثبور

Para pengikut setia (Hawariyyun) berkata kepada Nabi Isa 'alaihissalam, "Mengapa engkau dapat berjalan di atas air sedangkan kami tidak mampu melakukannya?" Beliau bertanya kepada mereka, "Bagaimanakah kedudukan dinar dan dirham di mata kalian?" Mereka menjawab, "Sangat berharga." Beliau bersabda, "Namun bagiku, keduanya sama saja dengan tanah liat." Dan Salman al-Farisi ﵄ menulis surat kepada Abu ad-Darda' ﵄: "Wahai saudaraku, waspadalah dari mengumpulkan harta dunia yang tidak mampu engkau tunaikan kesyukurannya, karena aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Akan didatangkan pemilik harta dunia yang taat kepada Allah padanya, sedangkan hartanya berada di hadapannya. Setiap kali jembatan al-Shirath terguncang membawanya, hartanya berkata kepadanya: Lanjutkanlah perjalananmu, sungguh engkau telah menunaikan hak Allah padaku. Kemudian didatangkan pemilik harta dunia yang tidak taat kepada Allah padanya, sedangkan hartanya berada di antara kedua pundaknya. Setiap kali jembatan al-Shirath terguncang membawanya, hartanya berkata kepadanya: Celakalah engkau! Mengapa engkau tidak menunaikan hak Allah padaku? Ia terus-menerus demikian hingga ia menyerukan kebinasaan dan kehancuran.'"

وكل ما أوردناه في كتاب الزهد والفقر في ذم الغنى ومدح الفقر يرجع جميعه إلى ذم المال فلا نطول بتكريره وكذا كل ما ذكرناه في ذم الدنيا فيتناول ذم المال بحكم العموم لأن المال أعظم أركان الدنيا وإنما نذكر الآن ما ورد في المال خاصة

Dan segala hal yang telah kami paparkan dalam Kitab Zuhud dan Kefakiran mengenai celaan terhadap kekayaan dan pujian terhadap kefakiran, semuanya kembali pada celaan terhadap harta. Maka kami tidak memperpanjangnya dengan pengulangan. Demikian pula segala yang telah kami sebutkan dalam celaan terhadap dunia mencakup celaan terhadap harta secara umum, karena harta merupakan rukun dunia yang paling besar. Dan sungguh yang kami sebutkan saat ini adalah apa yang berkenaan dengan harta secara khusus.

قال ﷺ إذا مات العبد قالت الملائكة ما قدم وقال الناس ما خلف حديث لا تتخذوا الضيعة فتحبوا الدنيا أخرجه الترمذي والحاكم وصحح إسناده من حديث ابن مسعود بلفظ فترغبوا //

Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seorang hamba meninggal dunia, para malaikat bertanya: 'Apa yang telah ia kirimkan (amal perbuatan)?' Sedangkan manusia bertanya: 'Apa yang ia tinggalkan (harta kekayaan)?'" Hadis: "Janganlah kalian memiliki lahan pertanian/perkebunan (secara berlebihan), sehingga kalian mencintai dunia." Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, dan disahihkan sanadnya dari hadis Ibnu Mas'ud dengan redaksi "maka kalian cenderung (kepada dunia)". //

الآثار روي أن رجلاً نال من أبي الدرداء وأراه سوءاً فقال اللهم من فعل بي سوءاً فأصح جسمه وأطل عمره وأكثر ماله فانظر كيف رأى كثرة المال غاية البلاء مع صحة الجسم وطول العمر لأنه لا بد وأن يفضي إلى الطغيان ووضع علي كرم الله وجهه درهماً على كفه ثم قال أما إنك ما لم تخرج عني لا تنفعني وروي أن عمر ﵁ أرسل إلى زينب بنت جحش بعطائها فقالت ما هذا قالوا أرسل إليك عمر بن الخطاب قالت غفر الله له ثم سلت ستراً كان لها فقطعته وجعلته صرراً وقسمته في أهل بيتها ورحمها وأيتامها ثم رفعت يديها وقالت اللهم لا يدركني عطاء عمر بعد عامي هذا فكانت أول نساء رسول الله ﷺ لحوقاً به وقال الحسن والله ما أعز الدرهم أحد إلا أذله الله وقيل إن أول ما ضرب الدينار والدرهم رفعهما إبليس ثم وضعهما على جبهته ثم قبلهما وقال من أحبكما فهو عبدي حقاً وقال سميط بن عجلان إن الدراهم والدنانير أزمة المنافقين يقادون بها إلى النار وقال يحيى بن معاذ الدِّرْهَمُ عَقْرَبٌ فَإِنْ لَمْ تُحْسِنْ رُقْيَتَهُ فَلَا تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ إِنْ لَدَغَكَ قَتَلَكَ سُمُّهُ قِيلَ وَمَا رُقْيَتُهُ قَالَ أَخْذُهُ مِنْ حِلِّهِ وَوَضْعُهُ في حقه وقال العلاء بن زياد تمثلت لي الدنيا وعليها من كل زينة فقلت أعوذ

Riwayat-riwayat Atsar: Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki mencela Abu ad-Darda' dan memperlakukannya dengan buruk, lalu Abu ad-Darda' berdoa, "Ya Allah, barangsiapa memperlakukan aku dengan buruk, maka sehatkanlah badannya, panjangkanlah umurnya, dan perbanyaklah hartanya." Maka perhatikanlah bagaimana ia memandang banyaknya harta sebagai puncak ujian di samping kesehatan tubuh dan panjang umur, karena hal itu pasti memicu kesombongan. Ali karramallahu wajhah meletakkan sekeping dirham di telapak tangannya lalu berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya engkau selama belum keluar dariku (diinfakkan), tidak akan memberi manfaat bagiku." Dan diriwayatkan bahwa Umar ﵁ mengirimkan bagian harta karunia kepada Zainab binti Jahsy, lalu Zainab bertanya, "Apakah ini?" Mereka menjawab, "Umar bin al-Khattab mengirimkannya kepadamu." Ia berkata, "Semoga Allah mengampuninya." Kemudian ia menarik tirai miliknya, memotong-motongnya, menggunakannya sebagai pundi-pundi pembungkus, lalu membagikannya kepada ahli baitnya, kerabatnya, dan anak-anak yatim. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, "Ya Allah, jangan sampai pemberian Umar menemuiku lagi setelah tahunku ini." Maka ia adalah istri Rasulullah ﷺ yang pertama kali menyusul beliau (wafat). Al-Hasan berkata, "Demi Allah, tidaklah seseorang mengagungkan dirham melainkan Allah akan menghinakannya." Dan dikatakan bahwa ketika dinar dan dirham pertama kali dicetak, Iblis mengangkat keduanya, meletakkannya di dahi lalu menciumnya dan berkata, "Barangsiapa mencintai kalian berdua, maka dialah hamba-Ku yang sejati." Sumaith bin 'Ajlan berkata, "Sesungguhnya dirham dan dinar adalah kendali para munafik yang dengannya mereka diseret menuju neraka." Yahya bin Mu'adz berkata, "Dirham adalah kalajengking. Jika engkau tidak pandai memental mantra peredam racunnya, maka janganlah engkau mengambilnya. Karena jika ia menyengatmu, racunnya akan membunuhmu." Ditanyakan kepadanya, "Apakah mantranya?" Ia menjawab, "Mengambilnya dari jalan yang halal dan meletakkannya pada haknya." Al-'Ala' bin Ziyad berkata, "Dunia menampakkan diri kepadaku dengan segala perhiasannya, lalu aku berkata: Aku berlindung

بالله من شرك فقالت إن سرك أن يعيذك الله مني فابغض الدرهم والدينار وذلك لأن الدرهم والدينار هما الدنيا كلها إذ يتوصل بهما إلى جميع أصنافها فمن صبر عنهما صبر عن الدنيا وفي ذلك قيل

kepada Allah dari jeratmu. Maka dunia berkata: Jika engkau senang Allah melindungimu dariku, maka bencilah dirham dan dinar. Hal itu karena dirham dan dinar adalah perwujudan dunia seluruhnya, sebab keduanya menjadi sarana untuk mencapai segala jenis kenikmatan duniawi. Maka barangsiapa mampu bersabar menahan diri dari keduanya, berarti ia telah bersabar dari dunia. Mengenai hal itu dikatakan:

إني وجدت فلا تظنوا غيره … أن التورع عند هذا الدرهم

Sungguh telah aku dapati, maka janganlah kalian berprasangka lain… bahwasanya sifat wara' yang sejati itu tampak di hadapan dirham ini.

فإذا قدرت عليه ثم تركته … فاعلم بأن تقاك تقوى المسلم

Maka apabila engkau sanggup menguasainya lalu engkau meninggalkannya… ketahuilah bahwa ketakwaanmu adalah ketakwaan seorang muslim sejati.

وفي ذلك قيل أيضاً

Dan mengenai hal itu dikatakan pula:

لا يغرنك من المر قميص رقعه … أو إزار فوق عظم الساق منه رفعه

Janganlah engkau terperdaya oleh gamis seseorang yang ditambalnya… atau kain sarung yang diangkatnya di atas tulang betisnya.

أو جبين لاح فيه أثر قد خلعه … أره الدرهم تعرف حبه أو ورعه

Atau dahi yang tampak padanya bekas sujud… perlihatkanlah dirham kepadanya, niscaya engkau mengetahui kecintaannya (pada harta) atau sifat wara'-nya.

ويروى عن مسلمة بن عبد الملك أنه دخل على عمر بن عبد العزيز ﵀ عند موته فقال يا أمير المؤمنين صنعت صنيعاً لم يصنعه أحد قبلك تركت ولدك ليس لهم درهم ولا دينار وكان له ثلاثة عشر من الولد فقال عمر أقعدوني فأقعدوه فقال أما قولك لم أدع لهم دينار ولا درهماً فإني لم أمنعهم حقاً لهم ولم أعطهم حقاً لغيرهم وإنما ولدي أحد رجلين إما مطيع لله فالله كافيه والله يتولى الصالحين وإما عاص لله فلا أبالي على ما وقع وروي أن محمد بن كعب القرظي أصاب مالاً كثيراً فقيل له لو ادخرته لولدك من بعدك قال لا ولكني أدخره لنفسي عند ربي وأدخر ربي لولدي ويروى أن رجلاً قال لأبي عبد ربه يا أخي لا تذهب بشر وتترك أولادك بخير فأخرج أبو عبد ربه من ماله مائة ألف درهم

Diriwayatkan dari Maslamah bin Abdul Malik bahwa ia menemui Umar bin Abdul Aziz ﵀ saat hendak wafat, lalu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelummu; engkau meninggalkan anak-anakmu tanpa memiliki sekeping dirham maupun dinar." Padahal beliau memiliki tiga belas orang anak. Maka Umar berkata, "Dudukkanlah aku." Lalu mereka mendudukkannya, dan beliau bersabda, "Adapun perkataanmu bahwa aku tidak meninggalkan dinar dan dirham untuk mereka, sesungguhnya aku tidak pernah menahan hak milik mereka dan tidak pula memberikan kepada mereka hak milik orang lain. Anak-anakku hanya salah satu dari dua kelompok: adakalanya ia seorang yang taat kepada Allah, maka Allah-lah yang mencukupinya dan Allah pelindung orang-orang saleh; atau adakalanya ia seorang yang bermaksiat kepada Allah, maka aku tidak peduli dalam kebinasaan apa ia jatuh." Dan diriwayatkan bahwa Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi memperoleh harta yang banyak, lalu dikatakan kepadanya, "Mengapa engkau tidak menyimpannya untuk anak-anakmu kelak?" Ia menjawab, "Tidak, tetapi aku menyimpannya untuk diriku di sisi Tuhanku, dan aku menyimpan (rahmat) Tuhanku untuk anak-anakku." Diriwayatkan pula bahwa seorang laki-laki berkata kepada Abu 'Abd Rabbih, "Wahai saudaraku, janganlah engkau pergi membawa keburukan (dosa penumpukan harta) sementara engkau meninggalkan anak-anakmu dalam kebaikan (kemewahan harta)." Maka Abu 'Abd Rabbih mengeluarkannya dari hartanya sebanyak seratus ribu dirham (untuk disedekahkan).

وقال يحيى بن معاذ مصيبتان لم يسمع الأولون والآخرون بمثلهما للعبد في ماله عند موته قبل وما هما قال يؤخذ منه كله ويسئل عَنْهُ كُلُّهُ

Yahya bin Mu'adz berkata, "Dua musibah mengenai harta hamba saat wafatnya yang belum pernah didengar tandingannya oleh orang-orang terdahulu maupun belakangan." Ditanyakan, "Apakah kedua musibah itu?" Ia menjawab, "Seluruh hartanya diambil (dirampas oleh kematian), dan ia ditanya tentang seluruh harta tersebut (pertanggungjawabannya)."

بَيَانُ مَدْحِ الْمَالِ وَالْجَمْعُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الذَّمِّ

PENJELASAN TENTANG PUJIAN TERHADAP HARTA DAN KOMPROMI ANTARA PUJIAN DAN CELAAN TERHADAPNYA

اعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ سَمَّى الْمَالَ خَيْرًا فِي مَوَاضِعَ مِنْ كِتَابِهِ العزيز فقال جل وعز ﴿إن ترك خيراً﴾ الآية وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ نعم المال الصالح للرجل الصالح

Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala telah menamai harta sebagai "kebaikan" (khair) di beberapa tempat dalam Kitab-Nya yang mulia. Allah Jalla wa 'Azza berfirman, "Jika ia meninggalkan kebaikan (harta)…" ayat (QS. Al-Baqarah: 180). Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik harta yang saleh (baik) adalah yang dimiliki oleh orang yang saleh."

وكل ما جاء في ثواب الصدقة والحج فهو ثناء على المال إذ لا يمكن الوصول إليهما إلا به وقال تعالى ﴿ويستخرجا كنزهما رحمة من ربك﴾ وَقَالَ تَعَالَى مُمْتَنًّا عَلَى عِبَادِهِ ﴿وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا﴾ وقال ﷺ كاد الفقر أن يكون كفرا حديث من أكرم الناس وأكيسهم قال أكثرهم للموت ذكرا الحديث أخرجه ابن ماجه من حديث ابن عمر بلفظ أي المؤمنين أكيس ورواه ابن أبي الدنيا في الموت بلفظ المصنف وإسناده جيد //

Dan setiap dalil yang menjelaskan tentang pahala sedekah dan ibadah haji pada hakikatnya merupakan pujian terhadap harta, sebab keduanya tidak mungkin dicapai kecuali dengan harta. Allah Ta'ala berfirman, "Dan agar keduanya mengeluarkan simpanannya sebagai rahmat dari Tuhanmu" (QS. Al-Kahfi: 82). Dan Allah Ta'ala berfirman seraya memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya, "Dan Dia melipatgandakan harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai" (QS. Nuh: 12). Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Hampir saja kefakiran itu menjadi kekufuran." Hadis: "Siapakah orang yang paling mulia dan paling cerdas?" Beliau menjawab: "Orang yang paling banyak mengingat kematian…" Hadis diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadis Ibnu Umar dengan lafal "Manakah mukmin yang paling cerdas?" Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam Kitab al-Maut dengan lafal pengarang, dan sanadnya baik. //

وهذه السعادة لا تنال إلا بثلاث وسائل في الدنيا وهي الفضائل النفسية كالعلم وحسن الخلق والفضائل البدنية كالصحة والسلامة والفضائل الخارجة عن البدن كالمال وسائر الأسباب وأعلاها النفسية ثم البدنية ثم الخارجة

Kebahagiaan ini tidak dapat dicapai melainkan melalui tiga perantara di dunia, yaitu: keutamaan jiwa (al-fadha'il an-nafsiyyah) seperti ilmu dan akhlak yang mulia; keutamaan tubuh (al-fadha'il al-badaniyyah) seperti kesehatan dan keselamatan; serta keutamaan di luar tubuh (al-fadha'il al-kharijiyyah) seperti harta dan sebab-sebab lainnya. Yang paling tinggi adalah keutamaan jiwa, kemudian keutamaan tubuh, lalu keutamaan luar.

فالخارجة أخسها والمال من جملة الخارجات وأدناها الدراهم والدنانير فإنهما خادمان ولا خادم لهما ومرادان لغيرهما

Maka keutamaan luar adalah yang paling rendah nilainya, dan harta termasuk dalam kelompok keutamaan luar tersebut. Yang paling rendah tingkatannya adalah dirham dan dinar, sebab keduanya adalah pelayan dan tidak memiliki pelayan, serta diinginkan bukan untuk zatnya melainkan demi mencapai selain keduanya.

ولا يرادان لذاتهما إذ النفس هي الجوهر النفيس المطلوب سعادتها وأنها تخدم العلم والمعرفة ومكارم الأخلاق لتحصلها صفة في ذاتها والبدن يخدم النفس بواسطة الحواس والأعضاء والمطاعم والملابس تخدم البدن وقد سبق أن المقصود من المطاعم إبقاء البدن ومن المناكح إبقاء النسل ومن البدن تمكيل النفس وتزكيتها وتزيينها بالعلم والخلق

Keduanya (makanan dan pakaian) tidaklah dituju demi zatnya sendiri, sebab jiwa (al-nafs) adalah substansi yang sangat berharga (al-jauhar al-nafis) yang dituntut kebahagiaannya. Jiwa tersebut mengabdi pada ilmu, ma'rifat, dan keluhuran akhlak agar kebaikan-kebaikan itu menjadi sifat yang menyatu dalam zatnya. Sementara itu, tubuh mengabdi kepada jiwa melalui perantara indra dan anggota badan; serta makanan dan pakaian mengabdi kepada tubuh. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa maksud dari makanan adalah menjaga kelangsungan hidup tubuh, maksud dari pernikahan adalah menjaga kelangsungan keturunan, dan maksud dari keberadaan tubuh adalah untuk menyempurnakan jiwa, menyucikannya (tazkiyah), serta menghiasinya dengan ilmu dan akhlak.

ومن عرف هذا الترتيب فقد عرف قدر المال ووجه شرفه وأنه من حيث هو ضرورة المطاعم والملابس التي هي ضرورة بقاء البدن الذي هو ضرورة كمال النفس الذي هو خير ومن عرف فائدة الشيء وغايته ومقصده واستعمله لتلك الغاية ملتفتاً إليها غير ناس لها فقد أحسن وانتفع وكان ما حصل له الغرض محموداً في حقه فإذا المال آلة ووسيلة إلى مقصود صحيح ويصلح أن يتخذ آلة ووسيلة إلى مقاصد فاسدة وهي المقاصد الصادة عن سعادة الآخرة وتسد سبيل العلم والعمل فهو إذن محمود مذموم محمود بالإضافة إلى المقصد المحمود ومذموم بالإضافة إلى المقصد المذموم فمن أخذ من الدنيا أكثر مما يكفيه فقد أخذ حتفه وهو لا يشعر حديث اللهم اجعل قوت آل محمد كفافا متفق عليه من حديث أبي هريرة حديث اللهم أحيني مسكيناً وأمتني مسكيناً أخرجه الترمذي من حديث أنس وابن ماجه والحاكم وصحح إسناده من حديث أبي سعيد وقد تقدم حديث تعس عبد الدينار تعس عبد الدرهم الحديث أخرجه البخاري من حديث أبي هريرة ولم يقل وانتفش وإنما علق آخره بلفظ تعس وانتكس ووصل ذلك ابن ماجه والحاكم //

Barang siapa memahami urutan hierarki ini, maka sungguh ia telah mengetahui kadar harta dan sisi kemuliaannya. Bahwa harta—dari sudut pandang sebagai kebutuhan untuk makanan dan pakaian, yang merupakan kebutuhan bagi kelangsungan hidup tubuh, yang merupakan kebutuhan bagi kesempurnaan jiwa—adalah suatu kebaikan. Barang siapa mengetahui faedah sesuatu, tujuan, serta maksudnya, lalu menggunakannya untuk tujuan tersebut dengan senantiasa memikirkannya tanpa melupakannya, maka ia telah berbuat baik dan mengambil manfaat, serta apa yang diperolehnya menjadi terpuji baginya. Maka, harta itu adalah alat dan sarana menuju tujuan yang benar, dan ia juga dapat dijadikan alat serta sarana menuju tujuan-tujuan yang rusak, yaitu tujuan-tujuan yang memalingkan dari kebahagiaan akhirat serta menyumbat jalan ilmu dan amal. Dengan demikian, harta bersifat terpuji sekaligus tercela: terpuji jika dikaitkan dengan tujuan yang terpuji, dan tercela jika dikaitkan dengan tujuan yang tercela. Maka barang siapa mengambil dari dunia lebih dari apa yang mencukupinya, sungguh ia telah mengambil kebinasaannya tanpa ia sadari. Hadis: "Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad sekadar kecukupan makanan pokok" (Muttafaq 'alaih dari hadis Abu Hurairah). Hadis: "Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin" (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari hadis Anas, serta Ibn Majah dan al-Hakim yang menshahihkan sanadnya dari hadis Abu Sa'id). Dan telah berlalu hadis: "Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham…" (Hadis diriwayatkan oleh al-Bukhari dari hadis Abu Hurairah, dan beliau tidak menyebutkan "wantiqasy", melainkan mengaitkan akhirnya dengan lafaz "ta'isa wa intakasa", sedangkan Ibn Majah dan al-Hakim menyambungkannya).

فبين أَنَّ مُحِبَّهُمَا عَابِدٌ لَهُمَا وَمَنْ عَبَدَ حَجَرًا فهو عابد صنم بل كان من كان عبداً لغير الله فهو عابد صنم أي قَطَعَهُ ذَلِكَ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَنْ أَدَاءِ حَقِّهِ فَهُوَ كَعَابِدِ صَنَمٍ وَهُوَ شِرْكٌ إِلَّا أن الشرك شركان شرك خفي لا يوجب الخلود في النار وقلما ينفك عنه المؤمنون فإنه أخفى من دبيب النمل وشرك جلي يوجب الخلود في النار نعوذ بالله من الجميع

Maka al-Ghazali menjelaskan bahwa pencinta keduanya (dinar dan dirham) adalah penyembah keduanya. Barang siapa menyembah batu, maka ia adalah penyembah berhala. Bahkan siapa saja yang menjadi hamba bagi selain Allah, ia adalah penyembah berhala; artinya, hal itu memutuskannya dari Allah Ta'ala dan dari menunaikan hak-Nya, sehingga ia bagaikan penyembah berhala dan itu adalah kemusyrikan. Hanya saja, syirik itu ada dua macam: syirik khafi (tersembunyi) yang tidak menyebabkan kekal di dalam neraka—dan jarang sekali orang mukmin terbebas darinya, karena ia lebih samar daripada rayapan semut; serta syirik jali (nyata) yang menyebabkan kekal di dalam neraka. Kita berlindung kepada Allah dari semuanya.

بيان تفصيل آفات المال وفوائده

Penjelasan Rincian Bahaya dan Manfaat Harta

اعلم أن المال مثل حية فيها سم وترياق ففوائده ترياقه وغوائله سمومه فمن عرف غوائله وفوائده أَمْكَنَهُ أَنْ يَحْتَرِزَ مِنْ شَرِّهِ وَيَسْتَدِرَّ مِنْ خيره

Ketahuilah bahwasanya harta itu seperti seekor ular yang di dalamnya terdapat racun sekaligus penawarnya. Manfaat-manfaatnya adalah penawarnya, sedangkan bahaya-bahayanya adalah racunnya. Barang siapa mengetahui bahaya dan manfaatnya, niscaya ia mampu menjaga diri dari keburukannya dan menarik kebaikannya.

أما الفوائد فهي تنقسم إلى دنيوية ودينية أما الدنيوية فلا حاجة إلى ذكرها فإن معرفتها مشهورة مشتركة بين أصناف الخلق ولولا ذلك لم يتهالكوا على طلبها

Adapun manfaat-manfaat harta, ia terbagi menjadi manfaat duniawi dan keagamaan (diniyyah). Adapun manfaat duniawi, tidak perlu disebutkan, karena pengetahuannya sudah sangat masyhur dan dipahami bersama oleh berbagai lapisan makhluk. Jika bukan karena hal itu, niscaya mereka tidak akan begitu bernafsu memburunya.

وأما الدينية فتنحصر جميعها فِي ثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ

Adapun manfaat keagamaan, seluruhnya terangkum dalam tiga jenis:

النَّوْعُ الْأَوَّلُ أَنْ يُنْفِقَهُ على نفسه إما في عبادة أو في الاستعانة على عبادة أما في العبادة فهو كالاستعانة به على الحج والجهاد فإنه لا يتوصل إليهما إلا بالمال وهما من أمهات القربات والفقير محروم من فضلهما وأما فيما يقويه على العبادة فذلك هو المطعم والملبس والمسكن والمنكح وضرورات المعيشة فإن هذه الحاجات إذا لم تتيسر كان القلب مصروفاً إلى تدبيرها فلا يتفرغ للدين وَمَا لَا يُتَوَصَّلُ إِلَى الْعِبَادَةِ إِلَّا بِهِ فهو عبادة فأخذ الكفاية من الدنيا لأجل الاستعانة على الدين من الفوائد الدينية ولا يدخل في هذا التنعم والزيادة على الحاجة فإن ذلك من حظوظ الدنيا فقط

Jenis pertama: Seseorang menginfakkannya untuk dirinya sendiri, baik dalam ibadah secara langsung maupun untuk membantu pelaksanaan ibadah. Adapun dalam ibadah langsung, contohnya adalah menggunakannya untuk menopang ibadah haji dan jihad, sebab keduanya tidak dapat dicapai melainkan dengan harta, padahal keduanya termasuk di antara ibadah-ibadah utama (ummahaat al-qurbaat), sedangkan orang fakir terhalang dari keutamaan keduanya. Adapun untuk menguatkan diri dalam beribadah, yaitu seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, pernikahan, dan kebutuhan pokok kehidupan. Apabila kebutuhan-kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka hati akan disibukkan untuk mengurusnya sehingga tidak sempat memfokuskan diri pada agama. Padahal, sesuatu yang tidak dapat dicapai suatu ibadah melainkan dengannya, maka sesuatu itu juga menjadi ibadah. Oleh karena itu, mengambil kadar kecukupan dari dunia demi membantu penegakan agama termasuk dalam manfaat keagamaan; dan tidak termasuk di dalamnya bersenang-senang (at-tan'am) serta berlebih-lebihan melebihi kebutuhan, sebab hal itu murni bagian dari kesenangan duniawi saja.

النَّوْعُ الثَّانِي مَا يَصْرِفُهُ إِلَى النَّاسِ وَهُوَ أَرْبَعَةُ أَقْسَامٍ الصَّدَقَةُ وَالْمُرُوءَةُ وَوِقَايَةُ الْعِرْضِ وَأُجْرَةُ الاستخدام

Jenis kedua: Harta yang dipalingkan (disalurkan) kepada manusia, dan ini terbagi menjadi empat bagian: sedekah, kemurahan hati menjaga kehormatan sosial (al-muru'ah), menjaga kehormatan diri dari celaan (wiqayatul 'irdh), dan upah mempekerjakan orang lain (ujratul istikhdam).

أما الصدقة فلا يخفى ثوابها وإنها لتطفيء غضب الرب تعالى وقد ذكرنا فضلها فيما تقدم

Adapun sedekah, tidak tersembunyi lagi pahalanya, dan sesungguhnya sedekah itu memadamkan kemurkaan Rabb Ta'ala; dan telah kami sebutkan keutamaannya dalam pembahasan terdahulu.

وَأَمَّا الْمُرُوءَةُ فَنَعْنِي بِهَا صَرْفَ الْمَالِ إِلَى الْأَغْنِيَاءِ وَالْأَشْرَافِ فِي ضِيَافَةٍ وَهَدِيَّةٍ وَإِعَانَةٍ وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهَا فَإِنَّ هَذِهِ لَا تُسَمَّى صَدَقَةً بَلِ الصَّدَقَةُ مَا يُسَلَّمُ إِلَى الْمُحْتَاجِ إِلَّا أَنَّ هَذَا مِنَ الْفَوَائِدِ الدِّينِيَّةِ إِذْ بِهِ يَكْتَسِبُ الْعَبْدُ الْإِخْوَانَ وَالْأَصْدِقَاءَ وَبِهِ يَكْتَسِبُ صِفَةَ السَّخَاءِ وَيَلْتَحِقُ بِزُمْرَةِ الْأَسْخِيَاءِ فَلَا يُوصَفُ بِالْجُودِ إِلَّا مَنْ يَصْطَنِعُ الْمَعْرُوفَ وَيَسْلُكُ سَبِيلَ الْمُرُوءَةِ وَالْفُتُوَّةَ وَهَذَا أَيْضًا مِمَّا يَعْظُمُ الثَّوَابُ فِيهِ فَقَدْ وَرَدَتْ أَخْبَارٌ كَثِيرَةٌ فِي الْهَدَايَا وَالضِّيَافَاتِ وَإِطْعَامِ الطَّعَامِ مِنْ غَيْرِ اشْتِرَاطِ الْفَقْرِ وَالْفَاقَةِ فِي مَصَارِفِهَا

Adapun kemurahan hati (al-muru'ah), yang kami maksudkan adalah menyalurkan harta kepada orang-orang kaya dan kaum terhormat dalam bentuk jamuan tamu, hadiah, pertolongan, dan sejenisnya. Hal ini memang tidak dinamakan sedekah, karena sedekah adalah apa yang diserahkan kepada orang yang membutuhkan; namun hal ini termasuk manfaat keagamaan, sebab dengannya seorang hamba memperoleh saudara dan sahabat, serta memperoleh sifat kedermawanan (as-sakha') dan bergabung dengan kelompok orang-orang dermawan. Tidaklah disifati dengan kemurahan hati (al-juud) kecuali orang yang berbuat kebaikan serta menempuh jalan keremajaan jiwa (al-futuwwah) dan muru'ah. Ini juga termasuk perkara yang besar pahalanya, sebab telah datang banyak riwayat mengenai hadiah, jamuan, dan memberi makan tanpa mensyaratkan kemiskinan atau kefakiran pada sasaran penyalurannya.

وَأَمَّا وِقَايَةُ الْعِرْضِ فَنَعْنِي بِهِ بَذْلَ الْمَالِ لِدَفْعِ هَجْوِ الشُّعَرَاءِ وَثَلْبِ السُّفَهَاءِ وقطع ألسنتهم وَدَفْعِ شَرِّهِمْ وَهُوَ أَيْضًا مَعَ تَنَجُّزِ فَائِدَتِهِ بالعاجلة من الحظوظ الدينية قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَا وَقَى بِهِ الْمَرْءُ عِرْضَهُ كُتِبَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Adapun menjaga kehormatan (wiqayatul 'irdh), yang kami maksudkan adalah menyerahkan harta untuk menolak celaan para penyair, kejahatan orang-orang bodoh, membungkam lisan mereka, serta menolak keburukan mereka. Hal ini, di samping membawa manfaat duniawi yang tunai, juga termasuk bagian dari keuntungan keagamaan. Rasulullah ﷺ bersabda: "Apa yang digunakan seseorang untuk menjaga kehormatannya, dicatat baginya sebagai sedekah."

وَكَيْفَ لَا وَفِيهِ مَنْعُ الْمُغْتَابِ عَنْ مَعْصِيَةِ الْغِيبَةِ وَاحْتِرَازٌ عَمَّا يَثُورُ مِنْ كلامه من العداوة التي تحمل في المكافئة وَالِانْتِقَامِ عَلَى مُجَاوَزَةِ حُدُودِ الشَّرِيعَةِ

Bagaimana tidak, padahal di dalamnya terdapat upaya mencegah pengumpat dari maksiat ghibah, serta menjaga diri dari timbulnya permusuhan akibat ucapannya yang dapat memicu pembalasan dendam hingga melampaui batas-batas syariat.

وَأَمَّا الِاسْتِخْدَامُ فَهُوَ أَنَّ الْأَعْمَالَ الَّتِي يَحْتَاجُ إِلَيْهَا الْإِنْسَانُ لتهيئة أسبابه كثيرة ولو تولاها بنفسه ضاعت أوقاته وتعذر عليه سلوك سبيل الآخرة بالفكر والذكر الذي هو أعلى مقامات السالكين ومن لا مال له فيفتقر إلى أن يتولى بنفسه خدمة نفسه من شراء الطعام وطحنه وكنس البيت حتى نسخ الكتاب الذي يحتاج إليه وكل ما يتصور أن يقوم به غيرك ويحصل به غرضك فأنت متعوب إذا اشتغلت به إذ عليك من العلم والعمل والذكر والفكر ما لا يتصور أن يقوم به غيرك فتضييع الوقت في غيره خسران

Adapun mempekerjakan orang lain (al-istikhdam), yaitu bahwa pekerjaan-pekerjaan yang dibutuhkan manusia untuk menyiapkan sarana kerjanya sangat banyak. Seandainya ia mengurus semuanya sendiri, niscaya waktunya akan habis dan ia akan kesulitan menempuh jalan akhirat melalui tafakur dan zikir yang merupakan derajat tertinggi para salik (penempuh jalan spiritual). Barang siapa tidak memiliki harta, maka ia terpaksa mengurus sendiri pelayanan bagi dirinya, mulai dari membeli makanan, menumbuknya, menyapu rumah, hingga menyalin kitab yang dibutuhkannya. Setiap hal yang dapat dilakukan oleh orang lain untuk mencapai tujuanmu, maka engkau hanya menyulitkan diri jika sibuk mengurusnya sendiri, sebab engkau memiliki kewajiban ilmu, amal, zikir, dan tafakur yang tidak dapat diwakilkan kepada orang lain; maka menyia-nyiakan waktu untuk selainnya adalah suatu kerugian.

النَّوْعُ الثَّالِثُ مَا لَا يَصْرِفُهُ إِلَى إِنْسَانٍ مُعَيَّنٍ وَلَكِنْ يَحْصُلُ بِهِ خَيْرٌ عَامٌّ كَبِنَاءِ المساجد والقناطر والرباطات ودور المرضى ونصب الجباب في الطريق وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَوْقَافِ الْمُرْصَدَةِ لِلْخَيْرَاتِ وَهِيَ مِنَ الْخَيْرَاتِ الْمُؤَبَّدَةِ الدَّارَةِ بَعْدَ الْمَوْتِ الْمُسْتَجْلِبَةِ بركة أدعية الصالحين إلى أوقات متمادية وَنَاهِيكَ بِهَا خَيْرًا فَهَذِهِ جُمْلَةُ فَوَائِدِ الْمَالِ في الدين سوى ما يتعلق بالحظوظ العاجلة من الخلاص من ذل السؤال وحقارة الفقر والوصول إلى العز والمجد بين الخلق وكثرة الإخوان والأعوان والأصدقاء والوقار والكرامة في القلوب فكل ذلك مما يقتضيه المال من الحظوظ الدنيوية

Jenis ketiga: Harta yang tidak disalurkan kepada individu tertentu, melainkan mendatangkan kebaikan umum, seperti membangun masjid, jembatan, tempat persinggahan (ribath), rumah sakit, dan menempatkan tempayan-tempayan air di jalan, serta wakaf-wakaf lainnya yang diperuntukkan bagi kebaikan. Ini semua termasuk kebaikan kekal yang terus mengalir pahalanya setelah kematian, yang mendatangkan keberkahan doa orang-orang saleh hingga kurun waktu yang panjang. Cukuplah hal itu sebagai kebaikan yang agung! Inilah seluruh rangkaian manfaat harta dalam agama, di luar apa yang berkaitan dengan keuntungan duniawi langsung, seperti terbebas dari kehinaan meminta-minta dan kehinaan kefakiran, meraih kemuliaan dan keagungan di antara manusia, banyaknya saudara, penolong, sahabat, serta wibawa dan penghormatan di dalam hati. Semua itu adalah hal-hal yang ditimbulkan harta dari bagian keuntungan duniawi.

وَأَمَّا الْآفَاتُ فَدِينِيَّةٌ وَدُنْيَوِيَّةٌ وَأَمَّا الدِّينِيَّةُ فَثَلَاثٌ

Adapun bahaya-bahayanya (al-afat), terbagi menjadi keagamaan dan duniawi. Adapun bahaya keagamaan ada tiga:

الأولى أن تجر إلى المعاصي فإن الشهوات متفاضلة والعجز قد يحول بين المرء والمعصية ومن العصمة أن لا يجد ومهما كان الإنسان آيساً عن نوع من المعصية لم تتحرك داعيته فإذا استشعر القدرة عليها انبعثت داعيته والمال نوع من القدرة يحرك داعية المعاصي وارتكاب الفجور فإن اقتحم ما اشتهاه هلك وإن صبر وقع في شدة إذ الصبر مع القدرة أشد وفتنة السراء أعظم من فتنة الضراء

Pertama: Harta menyeret kepada kemaksiatan. Sebab, hawa nafsu itu bertingkat-tingkat, dan ketidakmampuan sering kali menjadi penghalang antara seseorang dan maksiat. Di antara bentuk perlindungan Allah ('ishmah) adalah ketika seseorang tidak menemukan sarana maksiat. Selama manusia merasa putus asa dari suatu jenis maksiat, pendorong nalurinya tidak akan tergerak. Namun ketika ia merasakan adanya kemampuan untuk melakukannya, bergejolaklah pendorong tersebut. Harta merupakan salah satu bentuk kemampuan yang membangkitkan dorongan maksiat dan pelanggaran dosa. Jika ia menerjang apa yang diinginkannya, ia akan binasa; dan jika ia bersabar, ia berada dalam kesukaran yang berat, sebab bersabar di saat mampu adalah lebih berat, dan ujian kesenangan (sarra') lebih besar daripada ujian kesengsaraan (dharra').

الثانية أنه يجر إلى التنعم في المباحات وهذا أول الدرجات فمتى يقدر صاحب المال على أن يتناول خبز الشعير ويلبس الثوب الخشن ويترك لذائذ الأطعمة كما كان يقدر عليه سليمان بن داود عليهما الصلاة والسلام في ملكه فأحسن أحواله أن لا يتنعم بالدنيا ويمرن عليها نفسه فيصير التنعم مألوفاً عنده ومحبوباً لا يصبر عنه ويجره البعض منه إلى البعض فإذا اشْتَدَّ أُنْسُهُ بِهِ رُبَّمَا لَا يَقْدِرُ عَلَى التَّوَصُّلِ إِلَيْهِ بِالْكَسْبِ الْحَلَالِ فَيَقْتَحِمُ الشُّبَهَاتِ وَيَخُوضُ في المراءاة والمداهنة والكذب وَالنِّفَاقِ وَسَائِرِ الْأَخْلَاقِ الرَّدِيئَةِ لِيَنْتَظِمَ لَهُ أَمْرُ دنياه ويتيسر له تنعمه فإن من كثر ماله كثرت حاجته إلى الناس ومن احتاج إلى الناس فلا بد وأن ينافقهم ويعصي الله في طلب رضاهم فإن سلم الإنسان من الآفة الأولى وهي مباشرة الحظوظ فلا يسلم عن هذه أصلاً ومن الحاجة إلى الخلق تثور العداوة والصداقة وينشأ عنه الحسد والحقد والرياء والكبر والكذب والنميمة والغيبة وسائر المعاصي التي تخص القلب واللسان ولا يخلو عن التعدي أيضاً إلى سائر الجوارح وكل ذلك يلزم من شؤم المال والحاجة إلى حفظه وإصلاحه

Kedua: Harta menyeret kepada bermewah-mewahan dalam hal-hal yang mubah, dan ini adalah tingkat pertama. Bilakah pemilik harta mampu menyantap roti jelai, mengenakan pakaian kasar, dan meninggalkan kelezatan makanan sebagaimana yang mampu dilakukan oleh Nabi Sulaiman bin Dawud 'alaihimas-shalatu was-salam di tengah kerajaannya? Keadaan terbaiknya adalah jika ia tidak bermewah-mewahan dengan dunia dan melatih dirinya. Namun kenyataannya, kemewahan menjadi biasa baginya dan dicintai sehingga ia tidak sabar meninggalkannya, lalu sebagian dari kemewahan itu menyeretnya pada kemewahan lainnya. Ketika keterikatannya pada kemewahan semakin kuat, terkadang ia tidak mampu mencapainya dengan usaha yang halal, sehingga ia menerjang perkara syubhat, serta masuk ke dalam perbuatan riya', bermuka dua (mudaahanah), kedustaan, kemunafikan, dan seluruh akhlak tercela lainnya demi melancarkan urusan dunianya dan mempermudah kenikmatannya. Sebab barang siapa banyak hartanya, semakin banyak pula kebutuhannya kepada manusia; dan barang siapa membutuhkan manusia, mau tidak mau ia akan bermuka dua kepada mereka dan bermaksiat kepada Allah demi mencari keridaan mereka. Jika seseorang selamat dari bahaya pertama—yaitu melakukan kemaksiatan secara langsung demi melampiaskan nafsu—maka ia tidak akan selamat sama sekali dari bahaya ini. Dari kebutuhan kepada makhluk inilah timbul permusuhan dan pertemanan berpura-pura, serta timbul dengki (hasad), dendam (hiqd), riya', kesombongan (kibr), kedustaan, adu domba (namimah), ghibah, dan seluruh maksiat yang khusus bagi hati dan lisan, serta tidak terlepas pula dari meluas ke seluruh anggota tubuh lainnya. Semua itu bersumber dari kesialan (keburukan) harta dan kebutuhan untuk menjaga serta mengelolanya.

الثالثة وهي التي لا ينفك عنها أحد وهو أَنَّهُ يُلْهِيهِ إِصْلَاحُ مَالِهِ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَكُلُّ مَا شَغَلَ الْعَبْدَ عَنِ اللَّهِ فهو خسران ولذلك قال عيسى ﵊ في المال ثلاث آفات أن يأخذه من غير حله فقيل إن أخذه من حله فقال يضعه في غير حقه فقيل إن وضعه في حقه فقال يشغله إصلاحه عن الله تعالى وهذا هو الداء العضال فإن أصل العبادات ومخها وسرها ذكر الله والتفكر في جلاله وذلك يستدعي قلباً فارغاً وصاحب الضيعة يمسي ويصبح متفكراً في خصومة الفلاح ومحاسبته وفي خصومة الشركاء ومنازعتهم في المال والحدود وخصومة أعوان السلطان في الخراج وخصومة الأجراء على التقصير في العمارة وخصومة الفلاحين في خيانتهم وسرقتهم وصاحب التجارة يكون متفكراً في خيانة شريكه وانفراده بالربح وتقصيره في العمل وتضييعه للمال وكذلك صاحب المواشي وهكذا سائر أصناف الأموال

Ketiga: Bahaya yang tidak ada seorang pun terbebas darinya, yaitu bahwa mengelola harta memalingkannya dari zikir kepada Allah Ta'ala. Setiap hal yang menyibukkan hamba dari Allah adalah suatu kerugian. Oleh karena itu, Nabi 'Isa 'alaihis-salam bersabda: "Dalam harta terdapat tiga bahaya: Ia mengambilnya dari jalan yang tidak halal." Lalu ditanyakan: "Jika ia mengambilnya dari jalan yang halal?" Beliau menjawab: "Ia menginfakkannya bukan pada haknya." Ditanyakan lagi: "Jika ia menginfakkannya pada haknya?" Beliau menjawab: "Pengelolaannya menyibukkannya dari mengingat Allah Ta'ala." Dan inilah penyakit yang amat berat (ad-da' al-'udhal). Sebab pokok dari segala ibadah, intinya, dan rahasianya adalah zikir kepada Allah serta bertafakur akan keagungan-Nya, dan hal itu menuntut hati yang kosong (bebas dari kesibukan dunia). Pemilik ladang senantiasa berpetang dan berpagi hari memikirkan perselisihan dengan petani dan perhitungannya, perselisihan dengan para mitra dan percekcokan harta serta batas tanah, perselisihan dengan petugas penguasa dalam hal pajak, perselisihan dengan buruh atas kelalaian pembangunan, dan perselisihan dengan para petani atas pengkhianatan dan pencurian mereka. Pemilik perdagangan senantiasa memikirkan pengkhianatan mitranya, kepemilikan keuntungan secara sepihak, kelalaian dalam bekerja, dan pemborosan harta. Demikian pula pemilik binatang ternak dan berbagai jenis harta lainnya.

وأبعدها عن كثرة الشغل النقد المكنوز تحت الأرض ولا يزال الفكر متردداً فيما يصرف إليه وفي كيفية حفظه وفي الخوف مما يعثر عليه وفي دفع أطماع الناس عنه وأودية أفكار الدنيا لا نهاية لها والذي معه قوت يومه في سلامة من جميع ذلك فهذه جملة الآفات الدنيوية سوى ما يقاسيه أرباب الأموال في الدنيا من الخوف والحزن والغم والهم والتعب في دفع الحساد وتجشم المصاعب في حفظ المال وكسبه فإذن ترياق المال أخذ القوت منه وصرف الباقي إلى الخيرات وما عدا ذلك سموم وآفات نسأل الله تعالى السلامة وحسن العون بلطفه وكرمه إنه على ذلك قدير

Jenis harta yang paling jauh dari banyaknya kesibukan adalah uang tunai yang terpendam di dalam tanah. Namun demikian, pikiran tetap terombang-ambing mengenai ke mana uang itu disalurkan, bagaimana cara menyimpannya, rasa takut jika ada yang menemukannya, dan menolak keserakahan manusia darinya. Lembah-lembah pikiran dunia itu tidak ada batasnya, sedangkan orang yang memiliki makanan pokok untuk seharinya berada dalam keselamatan dari seluruh hal tersebut. Inilah ringkasan bahaya-bahaya duniawi, di luar apa yang dirasakan oleh para pemilik harta di dunia berupa rasa takut, kesedihan, kegelisahan, kecemasan, kelelahan dalam menolak orang-orang dengki, serta menanggung berbagai kesulitan dalam menjaga dan mencari harta. Maka dengan demikian, penawar (turiyaq) bagi harta adalah mengambil makanan pokok darinya dan menyalurkan sisanya kepada kebaikan-kebaikan, sedangkan selain dari itu adalah racun dan bencana. Kita memohon keselamatan dan pertolongan yang baik kepada Allah Ta'ala dengan kelembutan dan kemurahan-Nya; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas hal itu.

بيان ذم الحرص والطمع ومدح القناعة واليأس مما في أيدي الناس

Penjelasan Mengenai Celanya Serakah (Hirs) dan Tamak (Thama'), serta Pujian Terhadap Sikap Qana'ah dan Tidak Berharap pada Apa yang Ada di Tangan Manusia

اعلم أن الفقر محمود كما أوردناه في كتاب الفقر ولكن ينبغي أن يكون الفقير قانعاً منقطع الطمع عن الخلق غير ملتفت إِلَى مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَلَا حَرِيصًا عَلَى اكتساب المال كيف كان ولا يمكنه ذلك إلا بأن يقنع بقدر الضرورة

Ketahuilah bahwasanya kefakiran itu terpuji sebagaimana yang telah kami uraikan dalam Kitab al-Faqr (Kitab Kefakiran). Namun, hendaknya seorang fakir itu bersikap qana'ah (merasa cukup), memutus harapan dari para makhluk, tidak berpaling (memperhatikan) apa yang ada di tangan mereka, dan tidak berambisi untuk mencari harta dengan cara apa pun. Hal itu tidak mungkin terwujud melainkan dengan merasa cukup pada kadar kebutuhan yang mendesak (dharurah)

من المطعم والملبس والمسكن ويقتصر على أقله قدراً وأخسه نوعاً ويرد أمله إلى يومه أو إلى شهره ولا يشغل قلبه بما بعد شهر فإن تشوق إلى الكثير أو طول أمله فاته عز القناعة وتدنس لا محالة بالطمع وذل الحرص وجره الحرص والطمع إلى مساوئ الأخلاق وارتكاب المنكرات الخارقة للمروءات وَقَدْ جُبِلَ الْآدَمِيُّ عَلَى الْحِرْصِ وَالطَّمَعِ وَقِلَّةِ الْقَنَاعَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذهب لابتغى لهما ثالثاً ولا يملأ جوف ابن آدم إلا التراب ويتوب الله على من تاب وعن أبي واقد الليثي قال كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إذا أوحى أليه أتيناه يعلمنا مما أوحى إليه فجئته ذات يوم فقال إن الله ﷿ يقول إنا أنزلنا المال لإقام الصلاة وإيتاء الزكاة ولو كان لابن آدم واد من ذهب لأحب أن يكون له ثان ولو كان له الثاني لأحب أن يكون لهما ثالث ولا يملأ جوف ابن آدم إلا التراب ويتوب الله على من تاب وقال أبو موسى الأشعري نزلت سورة نحو براءة ثم رفعت وحفظ منها إن الله يؤيد هذا الدين بأقوام لا خلاق لهم ولو أن لابن آدم واديين من مال لتمنى وادياً ثالثاً ولا يملأ جوف ابن آدم إلا التراب ويتوب الله على من تاب

mengenai makanan, pakaian, dan tempat tinggal, serta mencukupkan diri dengan kadar yang paling sedikit dan jenis yang paling sederhana. Hendaknya ia membatasi angan-angannya untuk hari ini atau hingga bulan ini, dan tidak menyibukkan hatinya dengan apa yang ada setelah satu bulan. Sebab jika ia merindukan kelimpahan atau memanjangkan angan-angannya, niscaya ia akan kehilangan kemuliaan qana'ah, dan tak dapat dimungkiri hatinya akan terotori oleh ketamakan serta kehinaan keserakahan, hingga keserakahan dan ketamakan itu menyeretnya pada akhlak yang buruk serta melakukan kemungkaran yang merusak harga diri (muru'ah). Manusia memang diciptakan dengan tabiat serakah, tamak, dan sedikit rasa qana'ah. Rasulullah ﷺ bersabda: 'Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Dan tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam selain tanah, dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.' Diriwayatkan dari Abu Waqid al-Laitsi, ia berkata: Rasulullah ﷺ apabila menerima wahyu, kami mendatangi beliau agar beliau mengajarkan kepada kami apa yang diwahyukan kepadanya. Maka aku mendatangi beliau pada suatu hari, lalu beliau bersabda: 'Sesungguhnya Allah ﷻ berfirman: Sesungguhnya Kami menurunkan harta untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki yang kedua. Dan jika ia memiliki yang kedua, niscaya ia ingin memiliki yang ketiga. Dan tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam selain tanah, dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.' Abu Musa al-Asy'ari berkata: Pernah diturunkan suatu surah yang panjangnya menyerupai surah Bara'ah (at-Taubah), kemudian diangkat kembali (dinasakh), dan yang dihafalkan darinya adalah: 'Sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan kaum yang tidak memiliki bagian (pahala) di akhirat. Dan seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia mengumpulkan lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang memenuhi perut anak Adam selain tanah, dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.'

وقال ﷺ منهومان لا يشبعان منهوم العلم ومنهوم المال

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Dua kelompok orang yang rakus tidak akan pernah merasa kenyang: orang yang rakus terhadap ilmu dan orang yang rakus terhadap harta.'

وقال ﷺ يهرم ابن آدم ويشب معه اثنتان الأمل وحب المال أو كما قال

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Anak Adam menjadi tua, namun ada dua hal yang tetap muda bersamanya: angan-angan dan kecintaan pada harta,' atau sebagaimana yang beliau sabdakan.

ولما كانت هذه جبلة للآدمي مضلة وغريزة مهلكه أثنى الله تعالى ورسوله على القناعة فقال ﷺ طوبى لمن هدي للإسلام وكان عيشه كفافاً وقنع به

Oleh karena tabiat manusia ini menyesatkan dan naluri ini membinasakan, maka Allah Ta'ala dan Rasul-Nya memuji sikap qana'ah. Rasulullah ﷺ bersabda: 'Beruntunglah orang yang diberi petunjuk kepada Islam, dan penghidupannya sekadar cukup (kafaf), serta ia merasa cukup (qana'ah) dengannya.'

وَقَالَ ﷺ مَا مِنْ أحد فقير ولا غني إلا ود يوم القيامة أنه كان أوتي قوتاً في الدنيا

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidak ada seorang pun, baik yang fakir maupun yang kaya, melainkan pada hari kiamat kelak ia berangan-angan seandainya dahulu di dunia ia hanya diberi makanan sekadar penopang hidup (qut).'

وقال ﷺ ليس الغنى عن كثرة العرض إنما الغنى غنى النفس

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, melainkan kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (ghina an-nafs).'

ونهى عن شدة الحرص والمبالغة في الطلب فقال أيها الناس أجملوا في الطلب فإنه ليس لعبد إلا ما كتب له ولن يذهب عبد من الدنيا حتى يأتيه ما كتب له من الدنيا وهي راغمة

Beliau melarang dari sikap sangat serakah dan berlebih-lebihan dalam mencari (dunia), seraya bersabda: 'Wahai manusia, carilah (rezeki) dengan cara yang baik (ajmilu fi ath-thalab), karena seorang hamba tidak akan memperoleh kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya. Dan seorang hamba tidak akan meninggalkan dunia ini sampai mendatangi kepadanya apa yang telah ditetapkan untuknya dari dunia, dalam keadaan dunia itu tunduk kepadanya.'

وروي أن موسى ﵇ سأل ربه تعالى فقال أي عبادك أغنى قال أقنعهم مما أعطيته قال فأيهم أعدل قال من أنصف من نفسه حديث ابن مسعود إن روح القدس نفث في روعى إن نفساً لن تموت حتى تستكمل رزقها الحديث أخرجه ابن أبي الدنيا في القناعة والحاكم مع اختلاف وقد تقدم فيه حديث أبي هريرة كن ورعاً تكن أعبد الناس الحديث أخرجه ابن ماجه وقد تقدم //

Diriwayatkan bahwasanya Nabi Musa ʿalaihis-salām bertanya kepada Tuhannya Ta'ala: 'Siapakah di antara hamba-Mu yang paling kaya?' Allah berfirman: 'Orang yang paling qana'ah (merasa cukup) terhadap apa yang Aku berikan kepadanya.' Nabi Musa bertanya: 'Lalu siapakah yang paling adil?' Allah berfirman: 'Orang yang berlaku adil terhadap dirinya sendiri.' [Adapun] hadis Ibnu Mas'ud: 'Sesungguhnya Ruhul Qudus (Malaikat Jibril) membisikkan ke dalam hatiku bahwasanya suatu jiwa tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya…' Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam Al-Qana'ah dan Al-Hakim dengan sedikit perbedaan lafal, dan telah disebutkan sebelumnya. Demikian pula hadis Abu Hurairah: 'Jadilah orang yang wara', niscaya engkau menjadi manusia yang paling taat beribadah…' Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan telah disebutkan sebelumnya.

ونهى رسول الله ﷺ عن الطمع فيما رواه أبو أيوب الأنصاري أن أعرابياً أتى النبي ﷺ فقال يا رسول الله عظني وأوجز فقال إذا صليت فصل صلاة مودع ولا تحدثن بحديث تعتذر منه غداً وأجمع اليأس مما في أيدي الناس

Rasulullah ﷺ melarang dari sikap tamak sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Ayyub al-Anshari, bahwasanya seorang Arab Badui mendatangi Nabi ﷺ lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, berilah aku nasihat yang ringkas!' Beliau bersabda: 'Apabila engkau mendirikan shalat, shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah (muwaddi'), janganlah engkau mengucapkan suatu perkataan yang membuatmu harus meminta maaf darinya besok, dan bulatkanlah keputusasaan (jangan berharap) terhadap apa yang ada di tangan manusia.'

وقال عوف بن مالك الأشجعي كنا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ تسع أو ثمانية أو سبعة فقال ألا تبايعون رسول الله قلنا أو ليس قد بايعناك يا رسول الله ثم قال ألا تبايعون رسول الله فبسطنا أيدينا فبايعناه فقال قائل منا قد بايعناك فعلى ماذا نبايعك قال أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئاً وتصلوا الخمس وأن تسمعوا وتطيعوا وأسر كلمة خفية ولا تسألوا الناس شيئاً قال فلقد كان بعض أولئك النفر يسقط سوطه فلا يسأل أحداً أن يناوله إياه

Auf bin Malik al-Asyja'i berkata: Kami pernah berada di sisi Rasulullah ﷺ sebanyak sembilan, delapan, atau tujuh orang. Lalu beliau bersabda: 'Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?' Kami menjawab: 'Bukankah kami telah berbaiat kepadamu, wahai Rasulullah?' Kemudian beliau bersabda lagi: 'Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?' Maka kami membentangkan tangan kami dan berbaiat kepadanya. Salah seorang dari kami bertanya: 'Kami telah berbaiat kepadamu, maka atas dasar apa kami berbaiat kepadamu?' Beliau bersabda: 'Hendaklah kalian menyembah Allah dan tidak menysekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat lima waktu, serta mendengar dan taat.' Lalu beliau membisikkan satu kalimat secara pelan: 'Dan janganlah kalian meminta sesuatu pun kepada manusia.' Auf berkata: 'Sungguh aku melihat beberapa orang dari kelompok tersebut, apabila cambuknya terjatuh, ia tidak meminta kepada seorang pun untuk mengambilkannya.'

الآثار قال عمر ﵁ إن الطمع فقر وإن اليأس غنى وإنه من ييأس عما في أيدي الناس استغنى عنهم وقيل لبعض الحكماء ما الغنى قال قلة تمنيك ورضاك بما يكفيك وفي ذلك قيل

Atsar-atsar (Riwayat Para Sahabat dan Salaf): Umar ﵁ berkata: 'Sesungguhnya ketamakan adalah kefakiran, dan tidak berharap (putus asa dari makhluk) adalah kekayaan. Barang siapa tidak berharap pada apa yang ada di tangan manusia, niscaya ia tidak memerlukan mereka.' Dikatakan kepada sebagian orang bijak: 'Apakah kekayaan itu?' Ia menjawab: 'Sedikitnya berangan-angan dan ridha terhadap apa yang mencukupimu.' Mengenai hal ini dikatakan:

العيش ساعات تمر … وخطوب أيام تكر

Kehidupan hanyalah jam-jam yang berlalu… dan peristiwa hari-hari yang terus berulang.

أقنع بعيشك ترضه … واترك هواك تعيش حر

Merasa cukup dengan hidupmu niscaya engkau meridhainya… dan tinggalkan hawa nafsumu niscaya engkau hidup merdeka.

فلرب حتف ساقه … ذهب وياقوت ودر

Berapa banyak kebinasaan yang diseret oleh… emas, batu yakut, dan mutiara.

وكان محمد بن واسع يبل الخبز اليابس بالماء ويأكل ويقول من قنع بهذا لم يحتج إلى أحد وقال سفيان خير دنياكم ما لم تبتلوا به وخير ما ابتليتم به ما خرج من أيديكم وقال ابن مسعود ما من يوم إلا وملك ينادى يا ابن آدم قليل يكفيك خير من كثير يطغيك وقال سميط بن عجلان إنما بطنك يابن آدم شبر في شبر فلم يدخلك النار وقيل لحكيم ما مالك قال التجمل في الظاهر والقصد في الباطن واليأس مما في أيدي الناس ويروى إن الله ﷿ قال يا ابن آدم لو كانت الدنيا كلها لك لم يكن لك منها إلا القوت وإذا أنا أعطيتك منها القوت وجعلت حسابها على غيرك فأنا إليك محسن وقال ابن مسعود إذا طلب أحدكم الحاجة فليطلبها طلباً يسيراً ولا يأتي الرجل فيقول إنك وإنك فيقطع ظهره فإنما يأتيه ما قسم له من الرزق أو ما رزق وكتب بعض بني أمية إلى أبي حازم يعزم عليه إلا رفع إليه حوائجه فكتب إليه قد رفعت حوائجي إلى مولاي فما أعطاني منها قبلت وما أمسك عني قنعت وقيل لبعض الحكماء أي شيء أسر للعاقل وإيما شيء أعون على دفع الحزن فقال أسرها إليه ما قدم من صالح العمل وأعونها له على دفع الحزن الرضا بمحتوم القضاء وقال بعض الحكماء وجدت أطول الناس غماً الحسود وأهنأهم عيشاً القنوع وأصبرهم على الأذى الحريص إذا طمع وأخفضهم عيشاً أرفضهم للدنيا وأعظمهم ندامة العالم المفرط وفي ذلك قيل

Muhammad bin Wasi' pernah membasahi roti kering dengan air lalu memakannya seraya berkata: 'Barang siapa yang merasa cukup dengan ini, niscaya ia tidak membutuhkan seorang pun.' Sufyan berkata: 'Sebaik-baik duniamu adalah apa yang tidak menjadi ujian bagimu, dan sebaik-baik apa yang mengujimu adalah apa yang telah keluar dari tanganmu.' Ibnu Mas'ud berkata: 'Tidak ada suatu hari pun melainkan ada malaikat yang berseru: Wahai anak Adam, yang sedikit namun mencukupimu itu lebih baik daripada yang banyak tetapi membuatmu melampaui batas (yatgha).' Sumaith bin 'Ajlan berkata: 'Sesungguhnya perutmu, wahai anak Adam, hanyalah sejengkal kali sejengkal, maka mengapa ia memasukkanmu ke dalam neraka?' Dikatakan kepada seorang bijak: 'Apakah hartamu?' Ia menjawab: 'Menjaga kehormatan di lahiriah, bersikap sederhana (qashd) di batiniah, dan memutus harapan dari apa yang ada di tangan manusia.' Diriwayatkan bahwa Allah ﷻ berfirman: 'Wahai anak Adam, seandainya dunia ini seluruhnya milikmu, tidak ada bagimu darinya kecuali makanan pokok (qut). Dan apabila Aku telah memberimu makanan pokok darinya dan menjadikan hisabnya atas orang lain, maka Aku telah berbuat baik kepadamu.' Ibnu Mas'ud berkata: 'Apabila salah seorang di antara kalian meminta suatu hajat, hendaklah ia memintanya dengan cara yang sederhana dan janganlah ia mendatangi seseorang lalu memujinya: Sesungguhnya engkau begini dan begitu, hingga ia mematahkan punggungnya. Sebab yang akan datang kepadanya hanyalah rezeki yang telah dibagikan atau dirizikokan untuknya.' Sebagian penguasa Bani Umayyah menulis surat kepada Abu Hazim dan mendesaknya agar menyampaikan kebutuhan-kebutuhannya kepadanya. Maka Abu Hazim membalas suratnya: 'Aku telah menyampaikan kebutuhan-kebutuhanku kepada Pelindungku (Allah). Maka apa yang Dia berikan kepadaku darinya aku terima, dan apa yang Dia tahan dariku aku bersikap qana'ah.' Dikatakan kepada sebagian orang bijak: 'Apakah sesuatu yang paling menggembirakan bagi orang yang berakal, dan apakah sesuatu yang paling membantu menolak kesedihan?' Ia menjawab: 'Yang paling menggembirakan baginya adalah amal saleh yang telah ia dahulukan, dan yang paling membantunya menolak kesedihan adalah keridhaan terhadap ketetapan takdir (qadha') yang pasti.' Sebagian orang bijak berkata: 'Aku mendapati orang yang paling panjang kesedihannya adalah orang yang pendengki (hasud), orang yang paling tenteram hidupnya adalah orang yang merasa cukup (qanu'), orang yang paling sabar menanggung penderitaan adalah orang yang serakah apabila ia tamak, orang yang paling tenang hidupnya adalah orang yang paling menolak dunia, dan orang yang paling besar penyesalannya adalah orang alim yang melalaikan jalannya.' Mengenai hal ini dikatakan:

آرفه ببال فتى أمسى على ثقة … أن الذي قسم الأرزاق يرزقه

Alangkah tenangnya jiwa pemuda yang memasuki sore hari dalam keyakinan… bahwasanya Zat yang membagi-bagikan rezeki pasti memberi rezeki kepadanya.

فالعرض منه مصون لا يدنسه … والوجه منه جديد ليس يخلقه

Maka harga dirinya terjaga tidak terotori… dan wajahnya tetap berseri tidak menjadi usang (terhina).

إن القناعة من يحلل بساحتها … لم يلق في دهره شيئاً يؤرقه

Sesungguhnya qana'ah itu, barang siapa yang singgah di pekarangannya… niscaya ia tidak akan menemui sepanjang hidupnya sesuatu yang membuatnya gelisah.

وقد قيل أيضاً

Dan telah dikatakan pula:

حتى متى أنا في حل وترحال … وطول سعي وإدبار وإقبال

Sampai kapan aku terus menetap dan mengembara… selalu berusaha, berpaling, dan melangkah maju?

ونازح الدار لا أنفك مغترباً … عن الأحبة لا يدرون ما حالي

Tinggal jauh dari rumah, tiada henti merantau… terpisah dari kekasih yang tak tahu bagaimana keadaanku.

بمشرق الأرض طوراً ثم مغربها … لا يخطر الموت من حرصي على بالي

Kadang di timur bumi, kadang di baratnya… kematian tak pernah terlintas di pikiranku karena tamaknya diriku.

ولو قنعت أتاني الرزق في دعه … إن القنوع الغنى لا كثرة المال

Seandainya aku *qana'ah* (merasa cukup), rezeki akan datang kepadaku dengan tenang… Sungguh *qana'ah* itu adalah kekayaan yang sejati, bukan banyaknya harta.

وقال عمر ﵁ ألا أخبركم بما أستحل من مال الله تعالى حلتان لشتائي وقيظي وما يسعني من الظهر لحجي وعمرتي وقوتي بعد ذلك كقوت رجل من قريش لست بأرفعهم ولا بأوضعهم فوالله ما أدري أيحل ذلك أم لا كأنه شك في أن هذا القدر هل هو زيادة على الكفاية التي تجب القناعة بها وعاتب أعرابي أخاه على الحرص فقال يا أخي أنت طالب ومطلوب يطلبك من لا تفوته وتطلب أنت ما قد كفيته وكأن ما غاب عنك قد كشف لك وما أنت فيه قد نقلت عنه كأنك يا أخي لم تر حريصاً محروماً وزاهداً مرزوقاً

Umar r.a. berkata, "Maukah aku beritahukan kepada kalian apa yang aku halalkan bagi diriku dari harta Allah Ta'ala? Dua pasang pakaian untuk musim dingin dan musim panasku, serta kendara seperlunya untuk ibadah haji dan umrahku, serta makanan pokokku setelah itu seperti makanan pokok seorang laki-laki dari suku Quraisy; aku bukanlah yang paling tinggi derajatnya di antara mereka dan bukan pula yang paling rendah. Maka demi Allah, aku tidak tahu apakah hal itu halal bagiku atau tidak." Seakan-akan beliau ragu apakah kadar ini tergolong melebihi kecukupan yang wajib untuk dipuaskan (*qana'ah*). Seorang Arab Badui mencela saudaranya atas ketamakannya, seraya berkata, "Wahai saudaraku, engkau adalah pencari sekaligus yang dicari. Engkau dicari oleh (ajal) yang tidak dapat engkau hindari, dan engkau mencari apa yang telah dicukupkan untukmu. Seolah-olah apa yang gaib darimu telah disingkapkan untukmu, dan apa yang sedang engkau jalani telah engkau tinggalkan. Seakan-akan engkau, wahai saudaraku, belum pernah melihat orang yang tamak terhalang dari rezekinya, dan orang yang zuhud dikaruniai rezeki."

وفي ذلك قيل

Mengenai hal itu dikatakan:

أراك يزيدك الإثراء حرصاً … على الدنيا كأنك لا تموت

Aku melihat kekayaan makin menambah ketamakanmu… terhadap dunia, seolah-olah engkau takkan pernah mati.

فهل لك غاية إن صرت يوماً … إليها قلت حسبي قد رضيت

Apakah engkau memiliki batas akhir, yang jika suatu hari engkau mencapainya… engkau akan berkata: "Cukuplah bagiku, aku telah ridha"?

وقال الشعبي حكي أن رجلاً صاد قنبرة فقالت ما تريد أن تصنع بي قال أذبحك وآكلك قالت والله ما أشفى من قرم ولا أشبع من جوع ولكن أعلمك ثلاث خصال هي خير لك من أكلي أما واحدة فأعلمك وأنا في يدك وأما الثانية فإذا صرت على الشجرة وأما الثالثة فإذا صرت على الجبل قالت هات الأولى قالت لا تلهفن على ما فاتك فخلاها فلما صارت على الشجرة قال هات الثانية لا تصدقن بما لا يكون أنه يكون ثم طارت فصارت على الجبل فقالت يا شقي لو ذبحتني لأخرجت من حوصلتي درتين زنة كل درة عشرون مثقالاً قال فعض على شفته وتلهف وقال هات الثالثة قالت أنت قد نسيت اثنتين فكيف أخبرك بالثالثة ألم أقل لك لا تلهفن على ما فاتك ولا تصدقن بما لا يكون أن يكون أنا لحمي ودمي وريشي لا يكون عشرين مثقالاً فكيف يكون في حوصلتي درتان كل واحدة عشرون مثقالاً ثم طارت فذهبت وهذا مثال لفرط طمع الآدمي فإنه يعميه عن درك الحق حتى يقدر ما لا يكون أنه يكون وقال ابن السماك إن الرجاء حبل في قلبك وقيد في رجلك فأخرج الرجاء من قلبك يخرج القيد من رجلك وقال أبو محمد اليزيدي دخلت على الرشيد فوجدته ينظر في ورقة مكتوب فيها بالذهب فلما رآني تبسم فقلت فائدة أصلح الله أمير المؤمنين قال نعم وجدت هذين البيتين في بعض خزائن بني أمية فاستحسنتهما وقد أضفت إليهما ثالثاً

Asy-Sya'bi berkata: Diceritakan bahwa seorang laki-laki menangkap seekor burung burung pipit (*qunburah*). Burung itu berkata, "Apa yang hendak engkau perbuat padaku?" Laki-laki itu menjawab, "Aku akan menyembelihmu dan memakanmu." Burung itu berkata, "Demi Allah, aku tidak dapat menyembuhkan kelaparan yang sangat dan tidak dapat mengenyangkan dari rasa lapar. Namun aku akan mengajarkanmu tiga perkara yang lebih baik bagimu daripada memakanku. Adapun yang pertama akan kuajarkan kepadamu saat aku masih di tanganmu. Yang kedua ketika aku berada di atas pohon. Dan yang ketiga ketika aku berada di atas gunung." Laki-laki itu berkata, "Berikan yang pertama!" Burung itu berkata, "Janganlah engkau bersedih atas apa yang telah luput darimu." Maka laki-laki itu melepaskannya. Ketika burung itu sampai di atas pohon, laki-laki itu berkata, "Berikan yang kedua!" Burung itu berkata, "Janganlah sekali-kali engkau membenarkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi bahwasanya itu akan terjadi." Kemudian burung itu terbang hingga berada di atas gunung, lalu berkata, "Wahai orang yang celaka, seandainya engkau menyembelihku, niscaya engkau mengeluarkan dari tembolokku dua mutiara yang masing-masing seberat dua puluh misqal." Laki-laki itu menggigit bibirnya, menyesal, dan berkata, "Berikan yang ketiga!" Burung itu berkata, "Engkau telah melupakan dua hal sebelumnya, bagaimana aku akan memberitahumu yang ketiga? Bukankah aku telah berkata kepadamu: Janganlah bersedih atas apa yang telah luput darimu, dan janganlah membenarkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi bahwa itu akan terjadi! Dagingku, darahku, dan buluku saja tidak akan mencapai berat dua puluh misqal, lalu bagaimana mungkin di dalam tembolokku ada dua mutiara yang masing-masing seberat dua puluh misqal?" Kemudian burung itu terbang dan pergi. Ini adalah perumpamaan bagi berlebihannya ketamakan manusia, karena ketamakan itu membutakannya dari menangkap kebenaran hingga ia mengira hal yang tidak mungkin terjadi itu bisa terjadi. Ibnus-Sammak berkata, "Sesungguhnya angan-angan adalah tali di dalam hatimu dan belenggu di kakimu. Maka keluarkanlah angan-angan itu dari hatimu, niscaya belenggu itu akan terlepas dari kakimu." Abu Muhammad Al-Yazidi berkata: Aku menemui Ar-Rasyid dan mendapatinya sedang melihat selembar kertas yang tertulis dengan tinta emas. Ketika ia melihatku, ia tersenyum. Aku berkata, "Suatu faedah, semoga Allah memperbaiki keadaan Amirul Mukminin?" Ia menjawab, "Ya, aku menemukan dua bait puisi ini di salah satu perbendaharaan Bani Umayyah, lalu aku menganggapnya indah dan aku menambahkan bait ketiga padanya."

وأنشدني

Lalu beliau membacakannya kepadaku:

إذا سد باب عنك من دون حاجة … فدعه لأخرى ينفتح لك بابها

Jika sebuah pintu tertutup bagimu untuk suatu keperluan… maka tinggalkanlah menuju pintu lain yang akan terbuka bagimu.

فإن قراب البطن يكفيك ملؤه … ويكفيك سوءات الأمور اجتنابها

Sesungguhnya wadah perutmu cukuplah bagimu untuk mengisinya… dan cukuplah bagimu menghindari perkara-perkara yang buruk.

ولا تك مبذالاً لعرضك واجتنب … ركوب المعاصي يجتنبك عقابها

Dan janganlah engkau mendedahkan kehormatan dirimu, serta jauhilah… melakukan kemaksiatan, niscaya siksaannya akan menjauhimu.

وقال عبد الله بن سلام لكعب ما يذهب العلوم من قلوب العلماء إذ وعوها وعقلوها قال الطمع وشره النفس وطلب الحوائج

Abdullah bin Salam berkata kepada Ka'ab, "Apakah yang melenyapkan ilmu-ilmu dari hati para ulama setelah mereka dihafal dan dipahaminya?" Ka'ab menjawab, "Ketamakan, kerakusan jiwa, dan menuntut pemenuhan kebutuhan-kebutuhan."

وقال رجل للفضيل فسر لي قول كعب قال يطمع الرجل في الشيء يطلبه فيذهب عليه دينه وأما الشره فشره النفس في هذا حتى لا تحب أن يفوتها شيء ويكون لك إلى هذا حاجة وإلى هذا حاجة فإذا قضاها لك خرم أنفك وقادك حيث شاء واستمكن منك وخضعت له فمن حبك للدنيا سلمت عليه

Seseorang berkata kepada Al-Fudhayl, "Jelaskanlah kepadaku perkataan Ka'ab!" Beliau menjawab, "Seseorang menginginkan sesuatu lalu menuntutnya, sehingga hilanglah agamanya. Adapun kerakusan (*syarah*), ia adalah kehausan jiwa dalam hal ini hingga ia tidak suka ada sesuatu yang luput darinya, dan engkau memiliki hajat kepada orang ini dan orang itu. Apabila ia telah memenuhi hajatmu, ia telah menindik hidungmu dan menuntunmu ke mana pun ia suka, menguasaimu, dan engkau pun tunduk kepadanya. Karena kecintaanmu pada dunia, engkau memberi salam kepadanya…

إذا مررت به وعدته إذا مرض لم تسلم عليه لله ﷿ ولم تعده لله فلو لم يكن لك إليه حاجة كان خيراً لك

…apabila engkau melewatinya dan menjenguknya ketika ia sakit, engkau tidak memberi salam kepadanya karena Allah 'Azza wa Jalla dan tidak pula menjenguknya karena Allah. Seandainya engkau tidak memiliki hajat kepadanya, sungguh itu lebih baik bagimu."

ثم قال هذا خير لك من مائة حديث عن فلان عن فلان قال بعض الحكماء من عجيب أمر الإنسان أنه لو نودي بدوام البقاء في أيام الدنيا لم يكن في قوى خلقته من الحرص على الجمع أكثر مما قد استعمله مع قصر مدة التمتع وتوقع الزوال وقال عبد الواحد بن زيد مررت براهب فقلت له من أين تأكل قال من بيدر اللطيف الخبير الذي خلق الرحا يأتيها بالطحين وأومأ بيده إلى رحا أضراسه فسبحان القدير الخبير

Kemudian beliau berkata, "Ini lebih baik bagimu daripada seratus hadis dari Fulan dari Fulan." Sebagian ahli hikmah berkata, "Di antara hal yang menakjubkan dari urusan manusia adalah bahwa seandainya ia diseru akan kekekalan di hari-hari dunia, tidaklah ada dalam kekuatan fitrahnya ketamakan untuk mengumpulkan harta yang lebih besar daripada apa yang telah ia lakukan sekarang, padahal singkatnya masa menikmati dan pasti lenyapnya dunia." Abdul Wahid bin Zaid berkata, "Aku lewat di hadapan seorang rahib lalu aku bertanya kepadanya, 'Dari manakah engkau makan?' Ia menjawab, 'Dari tempat penggilingan Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui, Yang menciptakan batu kilangan dan mendatangkan tepung kepadanya.' Dan ia mengisyaratkan tangannya ke batu kilangan gigi-giginya. Maka Mahasuci Tuhan Yang Mahakuasa lagi Maha Mengetahui.

بيان علاج الحرص والطمع والدواء الذي يكتسب به صفة القناعة

Penjelasan tentang Obat untuk Menghilangkan Ketamakan dan Serakus Jiwa Serta Penawar yang Membentuk Sifat Qana'ah

اعلم أن هذا الدواء مركب من ثلاثة أركان الصبر والعلم والعمل ومجموع ذلك خمسة أمور

Ketahuilah bahwasanya obat ini tersusun dari tiga rukun: kesabaran, ilmu, dan amal. Dan keseluruhan hal tersebut mencakup lima perkara.

الأول وهو العمل الاقتصاد في المعيشة والرفق في الإنفاق فمن أراد عز القناعة فينبغي أن يسد عن نفسه أبواب الخروج ما أمكنه ويرد نفسه إلا ما لا بد له منه فمن كَثُرَ خَرْجُهُ وَاتَّسَعَ إِنْفَاقُهُ لَمْ تُمْكِنْهُ الْقَنَاعَةُ بل إن كان وحده فينبغي أن يقنع بثوب واحد خشن ويقنع بأي طعام كان ويقلل من الإدام ما أمكنه ويوطن نفسه عليه وإن كان له عيال فيرد كل واحد إلى هذا القدر فإن هذا القدر يتيسر بأدنى جهد ويمكن معه الإجمال في الطلب والاقتصاد في المعيشة وهو الأصل في القناعة ونعني به الرفق في الإنفاق وترك الخرق فيه قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن الله يحب الرفق الأمر كله

Pertama, yaitu sisi amaliah: sederhana dalam penghidupan dan berkelembutan (hemat) dalam berinfak. Barang siapa menginginkan kemuliaan qana'ah (kerelaan menerima apa adanya), hendaknya ia menutup pintu-pintu pengeluaran semampunya dan menahan dirinya kecuali pada hal-hal yang benar-benar mendesak (pasti dibutuhkannya). Sebab, barang siapa yang pengeluarannya banyak dan pembelanjaannya meluas, ia tidak akan sanggup ber-qana'ah. Bahkan jika ia hidup sendirian, hendaklah ia merasa cukup dengan satu pakaian yang kasar, merasa cukup dengan makanan apa saja yang ada, mengurangi lauk pauk semampunya, dan membiasakan dirinya atas hal itu. Jika ia memiliki keluarga, hendaklah ia membawa setiap anggotanya pada kadar ini. Sebab kadar ini dapat diperoleh dengan usaha yang amat ringan, dan bersamanya dimungkinkan pencarian rezeki yang baik (sopan) serta kesederhanaan dalam hidup. Inilah pokok dari qana'ah, yang kami maksudkan dengannya adalah kelembutan (kebijaksanaan) dalam berinfak dan meninggalkan sifat boros/ceroboh di dalamnya. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam seluruh perkara."

وقال ﷺ ما عال من اقتصد

Dan Beliau ﷺ bersabda: "Tidak akan jatuh miskin orang yang hidup hemat (sederhana)."

وقال ﷺ ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ خَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ وَالْقَصْدُ فِي الْغِنَى والفقر والعدل في الرضا والغضب

Dan Beliau ﷺ bersabda: "Tiga hal yang menyelamatkan: takut kepada Allah saat tersembunyi maupun terang-terangan, bersikap sederhana saat kaya maupun miskin, dan berlaku adil saat rida maupun marah."

وروي أن رجلاً أبصر أبا الدرداء يلتقط حباً من الأرض وهو يقول إن من فقهك رفقك في معيشتك وقال ابن عباس ﵄ قال النبي ﷺ الِاقْتِصَادُ وَحُسْنُ السَّمْتِ والهدى الصالح جزء من بضع وعشرين جزءاً من النبوة

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki melihat Abu ad-Darda' sedang memunguti butir-butir biji dari tanah seraya berkata, "Sesungguhnya di antara tanda kefahaman (fiqih)-mu adalah kelembutan (kebijaksanaan)-mu dalam mengelola penghidupanmu." Dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, Nabi ﷺ bersabda: "Kesederhanaan, penampilan yang baik, dan petunjuk yang saleh adalah satu bagian dari dua puluh sekian bagian dari kenabian."

وفي الخبر التدبير نصف المعيشة

Dan dalam sebuah riwayat disebutkan: "Pengaturan (manajemen hidup) adalah separuh dari penghidupan."

وقال ﷺ من اقْتَصَدَ أَغْنَاهُ اللَّهُ وَمَنْ بَذَّرَ أَفْقَرَهُ اللَّهُ ومن ذكر الله ﷿ أحبه الله أخرجه البزار من حديث طلحة بن عبيد الله دون قوله ومن ذكر الله أحبه الله وشيخه فيه عمران بن هارون البصري قال الذهبي شيخ لا يعرف حاله أتى بخبر منكر أي هذا الحديث ولأحمد وأبي يعلى في حديث لأبي سعيد ومن أكثر من ذكر الله أحبه الله حديث ذا أردت أمراً فعليك بالتؤدة حتى يجعل الله فيه فرجا ومخرجا رواه ابن المبارك في البر والصلة وقد تقدم // والتؤدة في الإنفاق من أهم الأمور

Dan Beliau ﷺ bersabda: "Barang siapa yang berhemat, niscaya Allah akan mencukupkannya; dan barang siapa yang berbuat boros, niscaya Allah akan memiskinannya." [Dan barang siapa banyak mengingat Allah 'Azza wa Jalla, niscaya Allah mencintainya — diriwayatkan oleh al-Bazzar dari hadis Thalhah bin Ubaidillah tanpa kalimat 'dan barang siapa…'; dan gurunya di sana adalah Imran bin Harun al-Basri, adz-Dhahabi berkata: dia guru yang tidak diketahui keadaannya, ia membawa riwayat munkar yaitu hadis ini. Bagi Ahmad dan Abu Ya'la dalam hadis Abu Sa'id: 'Dan barang siapa banyak mengingat Allah, niscaya Allah mencintainya.' Hadis: 'Jika engkau menginginkan suatu perkara, hendaklah engkau tenang/hati-hati hingga Allah menjadikan padanya jalan keluar dan kemudahan' diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam al-Birr wa ash-Shilah dan telah berlalu]. Kehati-hatian (tidak tergesa-gesa) dalam berinfak termasuk perkara yang sangat penting.

الثاني أنه إذا تيسر له في الحال ما يكفيه فلا ينبغي أن يكون شديد الاضطراب لأجل المستقبل ويعينه على ذلك قصر الأمل والتحقق بِأَنَّ الرِّزْقَ الَّذِي قُدِّرَ لَهُ لَا بُدَّ وأن يأتيه وإن لم يشتد حرصه فإن شدة الحرص ليست هي السبب لوصول الأرزاق بل ينبغي أن يكون واثقاً بوعد الله تعالى إذ قال ﷿ ﴿وما من دابة في الأرض﴾

Kedua, apabila saat ini telah tersedia baginya apa yang mencukupinya, hendaknya ia tidak sangat gelisah memikirkan masa depan. Hal yang membantunya dalam hal ini adalah pendek angan-angan (qashar al-amal) serta keyakinan mendalam bahwa rezeki yang telah ditakdirkan untuknya pasti akan mendatanginya, sekalipun ketamakannya tidak bersenang-senang. Sebab, besarnya ketamakan bukanlah sebab sampainya rezeki. Sebaliknya, hendaknya ia percaya penuh pada janji Allah Ta'ala ketika Dia 'Azza wa Jalla berfirman: "Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi…"

﴿إلا على الله رزقها﴾ وذلك لأن الشيطان يعده الفقر ويأمره بالفحشاء ويقول إن لم تحرص على الجمع والادخار فربما تمرض وربما تعجز وتحتاج إلى احتمال الذل في السؤال فلا يزال طول العمر يتعبه في الطلب خوفاً من الفقر ويضحك عليه في احتماله التعب نقداً مع الغفلة عن الله لتوهم تعب في ثاني الحال وربما لا يكون وفي مثله قيل

"… melainkan Allahlah yang menanggung rezekinya." Hal itu karena setan menjanjikan kemiskinan kepadanya dan menyuruhnya berbuat keji, seraya membisikkan: "Jika engkau tidak gencar mengumpulkan dan menimbun harta, boleh jadi engkau akan sakit, atau menjadi lemah, dan membutuhkan rasa hina saat meminta-minta." Maka setan terus-menerus sepanjang umurnya membuatnya letih dalam mencari harta karena takut miskin, dan menertawakannya atas kelelahannya yang nyata saat ini beserta kelalaiannya dari Allah, hanya karena prasangka kelelahan di masa mendatang yang belum tentu terjadi. Mengenai hal semacam ini dikatakan:

ومن ينفق الساعات في جمع ماله … مخافة فقر فالذي فعل الفقر

"Barang siapa menghabiskan waktu demi mengumpulkan hartanya … karena takut miskin, maka apa yang dilakukannya itulah kemiskinan yang sebenarnya."

وقد دخلا ابنا خالد عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فقال لهما لا تيأسا من الرزق ما تهزهزت رؤوسكما فإن الإنسان تلده أمه أحمر ليس عليه قشر ثم يرزقه الله تعالى

Dua putra Khalid pernah masuk menemui Rasulullah ﷺ, lalu Beliau bersabda kepada keduanya: "Janganlah kalian berdua putus asa dari rezeki selama kepala kalian masih bergerak (masih hidup). Sebab manusia itu dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah tanpa sehelai kulit (pakaian) pun, kemudian Allah Ta'ala memberi rezeki kepadanya."

ومر رسول الله ﷺ بابن مسعود وهو حزين فقال له لا تكثر همك ما قدر يكن وما ترزق يأتك

Rasulullah ﷺ pernah berjalan melewati Ibnu Mas'ud yang sedang bersedih, lalu Beliau bersabda kepadanya: "Janganlah engkau memperbanyak kecemasanmu. Apa yang telah ditakdirkan pasti terjadi, dan apa yang telah menjadi rezekimu pasti akan mendatangi dirimu."

وقال ﷺ ألا أيها الناس أجملوا في الطلب فإنه ليس لعبد إلا ما كتب له ولن يذهب عبد من الدنيا حتى يأتيه ما كتب له من الدنيا وهي راغمة حديث أبى الله أن يرزق عبده المؤمن إلا من حيث لا يحتسب أخرجه ابن حبان في الضعفاء من حديث علي بإسناد رواه ورواه ابن الجوزي في الموضوعات حديث عز المؤمن استغناؤه عن الناس أخرجه الطبراني في الأوسط والحاكم وصحح إسناده وأبو الشيخ في كتاب الثواب وأبو نعيم في الحلية من حديث سهل بن سعد أن جبريل قاله للنبي ﷺ في أثناء حديث وفيه زفر بن سليمان عن محمد بن عيينة وكلاهما مختلف فيه وجعله القضاعي في مسند الشهاب من قول النبي ﷺ ففي القناعة الحرية

Dan Beliau ﷺ bersabda: "Ketahuilah wahai manusia, perbaikilah (bersikap sopan dan wajar) dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya seorang hamba tidak akan memperoleh kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya, dan seorang hamba tidak akan keluar dari dunia sampai datang kepadanya apa yang telah ditetapkan baginya dari dunia ini dalam keadaan tunduk." [Hadis: 'Allah enggan memberi rezeki kepada hamba-Nya yang beriman melainkan dari arah yang tidak disangka-sangka' dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam adh-Dhu'afa' dari hadis Ali dengan sanad yang diriwayatkannya, dan diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu'at. Hadis: 'Kemuliaan seorang mukmin adalah ketidakbergantungannya pada manusia' dikeluarkan oleh at-Thabrani dalam al-Ausath, al-Hakim yang mensahihkan sanadnya, Abu ash-Syaikh dalam Kitab at-Thawab, dan Abu Nu'aim dalam al-Hilyah dari hadis Sahl bin Sa'd bahwa Jibril mengatakannya kepada Nabi ﷺ di sela-sela hadis, dan di dalamnya terdapat Zufar bin Sulaiman dari Muhammad bin Uyainah, keduanya diperselisihkan, dan al-Qudha'i menjadikannya dalam Musnad asy-Syihab sebagai sabda Nabi ﷺ]. Maka di dalam qana'ah terdapat kemerdekaan…

والعز ولذلك قيل استغن عمن شئت تكن نظيره واحتج إلى من شئت تكن أسيره وأحسن إلى من شئت تكن أميره

… dan kemuliaan. Oleh karena itu dikatakan: "Merasalah tidak butuh dari siapa pun yang engkau kehendaki, niscaya engkau menjadi setara dengannya; butuhlah kepada siapa pun yang engkau kehendaki, niscaya engkau menjadi tawanannya; dan berbuat baiklah kepada siapa pun yang engkau kehendaki, niscaya engkau menjadi pemimpingnya."

الرابع أن يكثر تأمله في تنعم اليهود والنصارى وأراذل الناس والحمقى من الأكراد والأعراب الأجلاف ومن لا دين لهم ولا عقل ثم ينظر إلى أحوال الأنبياء والأولياء وإلى سمت الخلفاء الراشدين وسائر الصحابة والتابعين وَيَسْتَمِعَ أَحَادِيثَهُمْ وَيُطَالِعَ أَحْوَالَهُمْ وَيُخَيِّرَ عَقْلَهُ بَيْنَ أن يكون على مشابهة أراذل الناس أو على الاقتداء بمن هو أعز أصناف الخلق عند الله حتى يهون عليه بذلك الصبر على الضنك والقناعة باليسير فإنه إن تنعم في البطن فالحمار أكثر أكلاً منه وإن تنعم في الوقاع فالخنزير أعلى رتبة منه وإن تزين في الملبس والحلي ففي اليهود من هو أعلى زينة منه وإن قنع بالقليل ورضي به لم يساهمه في رتبته إلا الأنبياء والأولياء

Keempat, hendaknya ia memperbanyak perenungan terhadap kenikmatan hidup kaum Yahudi, Nasrani, orang-orang rendah, orang-orang bodoh dari kalangan Kurdi dan Arab Badui yang kasar, serta orang-orang yang tidak memiliki agama maupun akal. Kemudian hendaknya ia melihat keadaan para nabi, para wali, serta keteladanan Khulafaur Rasyidin dan seluruh Sahabat serta Tabi'in. Hendaklah ia mendengarkan kisah-kisah mereka, mempelajari keadaan mereka, dan menyuruh akalnya memilih: apakah ingin menyerupai orang-orang yang paling rendah, ataukah meneladani golongan makhluk yang paling mulia di sisi Allah? Dengan demikian, menjadi ringan baginya kesabaran atas kesempitan hidup dan kerelaan (qana'ah) terhadap yang sedikit. Sebab, jika ia hanya mencari kenikmatan isi perut, maka keledai jauh lebih banyak makannya daripada dirinya; jika ia mencari kenikmatan bersenggama, maka babi lebih tinggi derajatnya dalam hal itu; jika ia berhias dengan pakaian dan perhiasan, maka di antara kaum Yahudi ada yang lebih indah perhiasannya. Namun jika ia merasa cukup dengan yang sedikit dan rida dengannya, maka tidak ada yang menyamai derajatnya kecuali para nabi dan para wali.

الْخَامِسُ أَنْ يَفْهَمَ مَا فِي جَمْعِ الْمَالِ مِنَ الْخَطَرِ كَمَا ذَكَرْنَا فِي آفَاتِ الْمَالِ وما فيه من خوف السرقة والنهب والضياع وما في خلو اليد من الأمن والفراغ ويتأمل ما ذكرناه في آفات المال مع ما يفوته من المدافعة عن باب الجنة إلى خمسمائة عام فإنه إذا لم يقنع مما يكفيه ألحق بزمرة الأغنياء وأخرج من جريدة الفقراء وَيَتِمُّ ذَلِكَ بِأَنْ يَنْظُرَ أَبَدًا إِلَى مَنْ دُونَهُ فِي الدُّنْيَا لَا إِلَى مَنْ فَوْقَهُ فإن الشيطان أبداً يصرف نظره في الدنيا إلى من فوقه فيقول لم تفتر عن الطلب وأرباب الأموال يتنعمون في المطاعم والملابس ويصرف نظره في الدين إلى من دونه فيقول ولم تضيق على نفسك وتخاف الله وفلان أعلم منك وهو لا يخاف الله والناس كلهم مشغولون بالتنعم فلم تريد أن تتميز عنهم قال أبو ذر أوصاني خليلي ﷺ أن أنظر إلى من هو دوني لا إلا من هو فوقي وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إذا نظر أحدكم إلى من فضله الله عليه في المال والخلق فلينظر إلى من هو أسفل منه ممن فضل عليه

Kelima, hendaklah ia memahami bahaya yang ada dalam mengumpulkan harta sebagaimana telah kami sebutkan pada bab bahaya-bahaya harta, seperti adanya rasa takut akan pencurian, perampokan, dan kehilangan, serta ketenteraman dan kelapangan yang ada saat tangan dalam keadaan kosong. Hendaklah ia merenungkan apa yang telah kami sebutkan mengenai bahaya harta, di samping tertundanya ia dari pintu surga selama lima ratus tahun. Sebab jika ia tidak merasa cukup dengan apa yang mencukupinya, ia akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang kaya dan dikeluarkan dari catatan orang-orang fakir. Hal itu dapat sempurna dengan selalu melihat kepada orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia, bukan kepada orang yang ada di atasnya. Sebab setan senantiasa memalingkan pandangannya dalam urusan dunia kepada orang yang di atasnya, seraya berkata: "Mengapa engkau kendur dari mencari harta padahal para pemilik harta bersenang-senang dengan makanan dan pakaian?" Dan setan memalingkan pandangannya dalam urusan agama kepada orang yang di bawahnya, seraya berkata: "Mengapa engkau menyempitkan dirimu dan takut kepada Allah, padahal si Fulan lebih berilmu darimu namun ia tidak takut kepada Allah, dan semua orang sibuk bersenang-senang, lalu mengapa engkau ingin tampil beda dari mereka?" Abu Dzarr berkata: "Kekasihku ﷺ berwasiat kepadaku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku, bukan kepada orang yang ada di atas ku." Dan Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian melihat orang yang dilebihkan oleh Allah atas dirinya dalam hal harta dan rupa, hendaknya ia melihat kepada orang yang lebih rendah darinya dari kalangan orang-orang yang ia diberi kelebihan atasnya."

فَبِهَذِهِ الْأُمُورِ يَقْدِرُ عَلَى اكْتِسَابِ خُلُقِ الْقَنَاعَةِ

Maka dengan hal-hal inilah seseorang akan mampu memperoleh akhlak qana'ah.

وعماد الأمر الصبر وقصر الأمل وأن يعلم أن غاية صبره في الدنيا أيام قلائل للتمتع دهراً طويلاً فيكون كالمريض الذي يصبر على مرارة الدواء لشدة طعمه في انتظار الشفاء

Dan tiang dari perkara ini adalah kesabaran dan pendek angan-angan, serta kesadaran bahwa puncak kesabarannya di dunia hanyalah beberapa hari saja demi menikmati kebahagiaan kurun waktu yang sangat panjang (di akhirat). Maka ia bagaikan orang sakit yang bersabar menahan pahitnya obat demi menanti kesembuhan.

بَيَانُ فَضِيلَةِ السَّخَاءِ

PENJELASAN TENTANG KEUTAMAAN SIFAT DERMAWAN (AS-SAKHA')

اعْلَمْ أَنَّ الْمَالَ إِنْ كَانَ مَفْقُودًا فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ حَالُ الْعَبْدِ الْقَنَاعَةَ وَقِلَّةَ الْحِرْصِ وَإِنْ كَانَ مَوْجُودًا فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ حَالُهُ الْإِيثَارَ وَالسَّخَاءَ وَاصْطِنَاعَ الْمَعْرُوفِ وَالتَّبَاعُدَ عَنِ الشُّحِّ وَالْبُخْلِ فَإِنَّ السَّخَاءَ مِنْ أَخْلَاقِ الْأَنْبِيَاءِ ﵈ وَهُوَ أَصْلٌ مِنْ أصول النجاة وعنه عبر النبي ﷺ حيث قال السخاء شجرة من شجر الجنة أغصانها متدلية إلى الأرض فمن أخذ بغصن منها قاده ذلك الغصن إلى الجنة حديث جابر مرفوعا حكاية عن جبريل عن الله تعالى إن هذا دين رضيته لنفسي ولن يصلحه إلا السخاء وحسن الخلق أخرجه الدارقطني في المستجاد وقد تقدم // وفي رواية فأكرموه بهما ما صحبتموه وعن عائشة الصديقية رضي

Ketahuilah bahwa harta, apabila tidak ada, maka keadaan hamba yang sepatutnya adalah ber-qana'ah dan tidak tamak; dan apabila harta itu ada, maka keadaan hamba yang sepatutnya adalah al-itsaar (mementingkan orang lain), kedermawanan, berbuat kebaikan, serta menjauhi sifat kikir (syuhh) dan bakhil. Sebab kedermawanan adalah termasuk akhlak para nabi 'alaihimus-salam dan ia merupakan salah satu pokok dari pokok-pokok keselamatan. Hal itu diungkapkan oleh Nabi ﷺ saat bersabda: "Kedermawanan adalah sebuah pohon di antara pohon-pohon surga, dahan-dahannya menjuntai ke bumi. Barang siapa mengambil salah satu dahannya, niscaya dahan itu akan menuntunnya ke surga." [Hadis Jabir secara marfu' sebagai hikayat dari Jibril dari Allah Ta'ala: 'Sesungguhnya agama ini telah Aku ridai untuk diri-Ku, dan tidak ada yang dapat memperbaikinya kecuali kedermawanan dan akhlak yang baik' dikeluarkan oleh ad-Daraquthni dalam al-Mustajad dan telah berlalu; dan dalam satu riwayat: 'Maka muliakanlah agama ini dengan keduanya selama kalian menyertainya']. Dan dari Aisyah ash-Shiddiqah radhiyallahu…

الله عنها قالت قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ما جبل الله تعالى ولياً له إلا على حسن الخلق والسخاء وعن جابر قال قيل يا رسول الله أي الأعمال أفضل قال الصبر والسماحة وقال عبد الله بن عمرو

… 'anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah Allah Ta'ala menciptakan seorang wali-Nya melainkan di atas tabiat akhlak yang baik dan kedermawanan." Dan dari Jabir, ia berkata: Ditanyakan, "Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?" Beliau bersabda: "Kesabaran dan kedermawanan/kelapangan hati." Dan Abdullah bin 'Amr berkata…

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خلقان يحبهما الله ﷿ وخلقان يبغضهما الله ﷿ فأما اللذان يحبهما الله تعالى فحسن الخلق والسخاء وأما اللذان يبغضهما الله فسوء الْخُلُقِ وَالْبُخْلُ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا استعمله في قضاء حوائج الناس

Rasulullah ﷺ bersabda, "Dua akhlak yang dicintai Allah Azza wa Jalla dan dua akhlak yang dimurkai Allah Azza wa Jalla. Adapun dua akhlak yang dicintai Allah Ta'ala adalah akhlak yang baik dan kedermawanan (sakha'). Sedangkan dua akhlak yang dimurkai Allah adalah akhlak yang buruk dan kebakhilan. Dan apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia."

وروى المقدام بن شريح عن أبيه عن جده قال قلت يا رسول الله دلني على عمل يدخلني الجنة قال إن مُوجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ بَذْلُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ وَحُسْنُ الكلام حديث المقدام بن شريح عن أبيه عن جده إِنَّ مِنْ مُوجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ بَذْلُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السلام وحسن الكلام أخرجه الطبراني بلفظ بذل السلام وحسن الكلام وفي رواية له يوجب الجنة إطعام الطعام وإفشاء السلام وفي رواية له عليك بحسن الكلام وبذل الطعام حديث أبو هريرة السخاء شجرة في الجنة الحديث وفيه والشح شجرة في النار الحديث أخرجه الدارقطني في المستجاد وفيه عبد العزيز ابن عمران الزهري ضعيف جدا حديث أبي سعيد يقول الله تعالى أطلبوا الفضل من الرحماء من عبادي تعيشوا في أكنافهم الحديث أخرجه ابن حبان في الضعفاء والخرائطي في مكارم الأخلاق والطبراني في الأوسط وفيه محمد بن مروان السدي الصغير ضعيف ورواه العقيلي في الضعفاء فجعله عبد الرحمن السدي وقال إنه مجهول وتابع محمد بن مروان السدي عليه عبد الملك ابن الخطاب وقد غمزه ابن القطان وتابعه عليه عبد الغفار بن الحسن بن دينار قال فيه أبو حاتم لا بأس بحديثه وتكلم فيه الجوزجاني والأزدي ورواه الحاكم من حديث علي وقال إنه صحيح الإسناد وليس كما قال حديث ابن عباس تجافوا عن ذنب السخي فإن الله أخذ بيده كلما عثر أخرجه الطبراني في الأوسط والخرائطي في مكارم الأخلاق وقال الخرائطي أقيلوا السخي زلته وفيه ليث بن أبي سليم مختلف فيه ورواه الطبراني فيه وأبو نعيم من حديث ابن مسعود نحوه بإسناد ضعيف ورواه ابن الجوزي في الموضوعات من طريق الدارقطني حديث ابن مسعود الرزق إلى مطعم الطعام أسرع من السكين إلى ذروة البعير الحديث لم أجده من حديث ابن مسعود ورواه ابن ماجه من حديث أنس ومن حديث ابن عباس بلفظ الخير أسرع إلى البيت الذي يغشى وفي حديث ابن عباس يؤكل فيه عن الشفرة إلى سنام البعير ولأبي الشيخ في كتاب الثواب من حديث جابر الرزق إلى أهل البيت الذي فيه السخاء الحديث وكلها ضعيفة حديث إن الله جواد يجب الجود ويحب معالي الأمور ويكره سفسافها أخرجه الخرائطي في مكارم الأخلاق من حديث طلحة بن عبيد الله ابن كريز وهذا مرسل وللطبراني في الكبير والأوسط والحاكم والبيهقي من حديث سهل بن سعد إن الله كريم يحب الكرم ويحب معالي الأمور وفي الكبير والبيهقي معالي الأخلاق الحديث وإسناده صحيح وتقدم آخر الحديث في أخلاق النبوة //

Dan Al-Miqdam bin Syuraih meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Aku berkata, "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga." Beliau bersabda, "Sesungguhnya di antara hal-hal yang memastikan ampunan adalah memberikan makanan, menyebarkan salam, dan tutur kata yang baik." Hadis Miqdam bin Syuraih dari ayahnya dari kakeknya: "Sesungguhnya di antara hal-hal yang memastikan ampunan adalah memberikan makanan, menyebarkan salam, dan tutur kata yang baik" diriwayatkan oleh At-Thabrani dengan lafaz "memberikan salam dan tutur kata yang baik". Dalam riwayatnya yang lain: "Yang mewajibkan surga adalah memberi makan dan menyebarkan salam". Dan dalam riwayatnya yang lain: "Hendaklah engkau bertutur kata yang baik dan memberi makan". Hadis Abu Hurairah: "Kedermawanan adalah sebuah pohon di surga…" dan di dalamnya: "dan kebakhilan adalah sebuah pohon di neraka…". Hadis ini diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dalam Al-Mustajad, dan di dalamnya terdapat Abdul Aziz bin Imran Az-Zuhri yang sangat lemah (dha'if jiddan). Hadis Abu Sa'id: Allah Ta'ala berfirman: "Tuntutlah karunia dari hamba-hamba-Ku yang penyayang, niscaya kalian hidup dalam naungan mereka…" Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam Al-Dhu'afa', Al-Kharai'thi dalam Makarim Al-Akhlaq, dan At-Thabrani dalam Al-Ausath, dan di dalamnya terdapat Muhammad bin Marwan As-Suddi Ash-Shaghir yang lemah. Al-Uqaili meriwayatkannya dalam Al-Dhu'afa' dan menjadikannya Abdurrahman As-Suddi lalu berkata bahwa dia majhul (tidak dikenal). Muhammad bin Marwan As-Suddi diikuti oleh Abdul Malik bin Al-Khatthab yang diisyaratkan kelemahannya oleh Ibn al-Qatthan. Ia juga diikuti oleh Abdul Ghaffar bin Al-Hasan bin Dinar, Abu Hatim berkata tentangnya: "Hadisnya tidak apa-apa", namun dikritik oleh Al-Juzajani dan Al-Azdi. Al-Hakim meriwayatkannya dari hadis Ali dan berkata: "Sanadnya shahih", tetapi tidak seperti yang dikatakannya. Hadis Ibn Abbas: "Maafkanlah dosa orang yang dermawan, karena sesungguhnya Allah memegang tangannya setiap kali ia tersandung." Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Ausath dan Al-Kharai'thi dalam Makarim Al-Akhlaq; Al-Kharai'thi menyebutkan dengan lafaz: "Ampunilah kekhilafan orang yang dermawan." Di dalamnya terdapat Laits bin Abi Sulaim yang diperselisihkan. At-Thabrani dan Abu Nu'aim meriwayatkannya dari hadis Ibn Mas'ud yang senada dengan sanad yang lemah. Ibn al-Jauzi meriwayatkannya dalam Al-Maudhu'at dari jalur Ad-Daraquthni. Hadis Ibn Mas'ud: "Rezeki kepada orang yang memberi makan itu lebih cepat daripada pisau ke bongkok unta…" Saya tidak menemukannya dari hadis Ibn Mas'ud. Diriwayatkan oleh Ibn Majah dari hadis Anas dan dari hadis Ibn Abbas dengan lafaz: "Kebaikan itu lebih cepat mendatangi rumah yang sering dikunjungi…" dan dalam hadis Ibn Abbas: "yang makan di dalamnya, daripada pisau ke bongkok unta." Dan Abu Asy-Syaikh dalam Kitab Ath-Thawab meriwayatkan dari hadis Jabir: "Rezeki kepada penghuni rumah yang di dalamnya ada kedermawanan…" Semuanya adalah dha'if. Hadis: "Sesungguhnya Allah Mahadermawan, menyukai kedermawanan dan menyukai perkara-perkara yang mulia serta membenci perkara-perkara yang hina." Diriwayatkan oleh Al-Kharai'thi dalam Makarim Al-Akhlaq dari hadis Talhah bin Ubaidillah bin Kariz, dan ini mursal. Bagi At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath, Al-Hakim, serta Al-Baihqi dari hadis Sahl bin Sa'd: "Sesungguhnya Allah Mahamulia menyukai kemuliaan dan menyukai perkara-perkara yang mulia." Dalam Al-Kabir dan Al-Baihqi: "akhlak-akhlak yang mulia…" dan sanadnya shahih. Bagian akhir hadis ini telah dijelaskan sebelumnya dalam Bab Akhlak Kenabian.

وَقَالَ أنس إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لم يسأل على الإسلام شيئا إلا

Anas berkata, "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ tidak pernah dimintai sesuatu atas nama Islam melainkan…"

أَعْطَاهُ وَأَتَاهُ رَجُلٌ فَسَأَلَهُ فَأَمَرَ لَهُ بِشَاءٍ كَثِيرٍ بَيْنَ جَبَلَيْنِ مِنْ شَاءِ الصَّدَقَةِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِي عَطَاءَ مَنْ لَا يَخَافُ الْفَاقَةَ

"…beliau pasti memberikannya. Suatu ketika seorang laki-laki datang meminta kepada beliau, maka beliau memerintahkan agar memberinya kambing yang sangat banyak di antara dua gunung dari kambing hasil sedekah. Laki-laki itu pun kembali kepada kaumnya seraya berkata, 'Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian! Karena sesungguhnya Muhammad memberi dengan pemberian orang yang tidak takut akan kemiskinan.'"

وقال ابن عمر قال ﷺ إن لله عباداً يخصهم بالنعم لمنافع العباد فمن بخل بتلك المنافع على العباد نقلها الله تعالى عنه وحولها إلى غيره حديث الهلالي أتى النبي ﷺ بأسرى من بني العنبر فأمر بقتلهم وأفرد منهم رجلا الحديث وفيه فإن الله شكر له سخاء فيه لم أجد له أصلا حديث إن لكل شيء ثمرة وثمرة المعروف تعجيل السراح لم أقف له على أصل حديث نافع عن ابن عمر طعام الجواد دواء وطعام البخيل داء أخرجه ابن عدي والدارقطني في غرائب مالك وأبو علي الصدفي في عواليه رجاله ثقات أئمة قال ابن القطان ومنهم لمشاهير ثقات إلا مقدام بن داود فإن أهل مصر تكلموا فيه حديث من عظمت نعمة الله عليه عظمت مؤنة الناس عليه رواه ابن عدي وابن حبان في الضعفاء من حديث معاذ بلفظ ما عظمت نعمة الله على عبد إلا ذكره وفيه أحمد بن مهران قال أبو حاتم مجهول والحديث باطل ورواه الخرائطي في مكارم الأخلاق من حديث عمر بإسناد منقطع وفيه حليس بن محمد أحد المتروكين ورواه العقيلي من حديث ابن عباس قال ابن عدي يروى من وجوه كلها غير محفوظة فمن لم يحتمل تلك المؤنة عرض تلك النعمة للزوال وقال عيسى ﵇ استكثروا من شيء لا تأكله النار وقيل وما هو قال المعروف وقالت عائشة ﵂ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الجنة دار الأسخياء

Ibnu Umar berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dikhususkan dengan nikmat-nikmat demi kemanfaatan hamba-hamba-Nya. Barangsiapa yang bakhil dengan manfaat-manfaat tersebut kepada hamba-hamba Allah, niscaya Allah Ta'ala akan mencabut nikmat itu darinya dan memindahkannya kepada orang lain." Hadis Al-Hilali: Nabi ﷺ didatangi tawanan dari Bani Al-Anbar lalu memerintahkan untuk membunuh mereka dan menyisihkan seorang laki-laki di antara mereka… dan di dalamnya: "Sesungguhnya Allah bersyukur atas kedermawanannya…" Saya tidak menemukan asal-usulnya. Hadis: "Sesungguhnya bagi segala sesuatu ada buahnya, dan buah dari kebaikan adalah menyegerakan pembebasan." Saya tidak mendapati asal-usulnya. Hadis Nafi' dari Ibnu Umar: "Makanan orang yang dermawan adalah obat, dan makanan orang yang bakhil adalah penyakit." Diriwayatkan oleh Ibn Adi dan Ad-Daraquthni dalam Gharai'ib Malik, serta Abu Ali Ash-Shadafi dalam Awalih; para perawinya tsiqah dan para imam. Ibn al-Qatthan berkata: Di antara mereka adalah perawi tsiqah yang masyhur kecuali Miqdam bin Daud, karena penduduk Mesir membicarakannya (mengkritiknya). Hadis: "Barangsiapa yang nikmat Allah padanya makin besar, makin besar pula beban kebutuhan manusia kepadanya." Diriwayatkan oleh Ibn Adi dan Ibn Hibban dalam Al-Dhu'afa' dari hadis Mu'adz dengan lafaz: "Tidaklah nikmat Allah makin besar pada seorang hamba melainkan…" Di dalamnya terdapat Ahmad bin Mihran; Abu Hatim berkata: majhul, dan hadis ini bathil. Al-Kharai'thi meriwayatkannya dalam Makarim Al-Akhlaq dari hadis Umar dengan sanad munqathi' (terputus), dan di dalamnya terdapat Hulis bin Muhammad, salah satu perawi yang ditinggalkan (matruk). Al-Uqaili meriwayatkannya dari hadis Ibn Abbas; Ibn Adi berkata: Diriwayatkan dari beberapa jalur yang semuanya tidak mahfuzh. Maka barangsiapa yang tidak mampu menanggung beban tersebut, berarti ia mempertaruhkan nikmat itu menuju kepunahan. Nabi Isa ʿalaihis-salām berkata, "Perbanyaklah oleh kalian sesuatu yang tidak dimakan oleh api!" Lalu ditanyakan, "Apakah itu?" Beliau menjawab, "Perbuatan baik (al-ma'ruf)." Dan Aisyah ʿalaihas-salām berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Surga adalah kediaman orang-orang yang dermawan."

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِنَّ السَّخِيَّ قَرِيبٌ مِنَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنَ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ وَإِنَّ الْبَخِيلَ بَعِيدٌ مِنَ الله مِنَ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنَ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنَ النَّارِ وَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ عالم بخيل وأدوأ الداء البخل حديث اصنع المعروف إلى أهله وإلى من ليس من أهله أخرجه الدارقطني في المستجاد من رواية جعفر بن محمد عن أبيه عن جده مرسلا وتقدم في آداب المعيشة حديث إن بدلاء أمتي لم يدخلوا الجنة بصلاة ولا صيام ولكن دخلوها بسماحة الأنفس الحديث أخرجه الدارقطني في المستجاد وأبو بكر بن لال في مكارم الأخلاق من حديث أنس وفيه محمد بن عبد العزيز المبارك الدينوي أورد ابن عدي له مناكير وفي الميزان أنه ضعيف منكر الحديث ورواه الخرائطي في مكارم الأخلاق من حديث أبي سعيد نحوه وفيه صالح المري متكلم فيه //

Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Dan sesungguhnya orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Sungguh, orang awam/bodoh yang dermawan lebih dicintai oleh Allah daripada seorang alim yang bakhil. Dan seburuk-buruk penyakit adalah kebakhilan." Hadis: "Berbuatlah kebaikan kepada orang yang berhak menerimanya dan kepada orang yang bukan berhak menerimanya." Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dalam Al-Mustajad dari riwayat Ja'far bin Muhammad dari ayahnya dari kakeknya secara mursal, dan telah disebutkan sebelumnya dalam Adab Al-Ma'isyah. Hadis: "Sesungguhnya para wali Abdal dari umatku tidak masuk surga karena banyaknya shalat maupun puasa, tetapi mereka memasukinya karena kemurahan hati…" Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dalam Al-Mustajad dan Abu Bakr bin Lal dalam Makarim Al-Akhlaq dari hadis Anas, dan di dalamnya terdapat Muhammad bin Abdul Aziz Al-Mubaraki Ad-Dinawari; Ibn Adi menyebutkan beberapa hadis mungkar darinya, dan dalam Al-Mizan disebutkan bahwa dia lemah lagi munkarul-hadits. Al-Kharai'thi meriwayatkannya dalam Makarim Al-Akhlaq dari hadis Abu Sa'id yang serupa, dan di dalamnya terdapat Shalih Al-Murri yang diperbincangkan kelemahannya.

وقال أبو سعيد الخدري قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ﴿إن﴾

Abu Sa'id Al-Khudri berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya…"

الله ﷿ جعل للمعروف وجوهاً من خلقه حبب إليهم المعروف وحبب إليهم فعاله ووجه طلاب المعروف إليهم ويسر عليهم إعطاءه كما يسر الغيث إلى البلدة الجدبة فيحييها ويحيي به أهلها

"…Allah Azza wa Jalla menjadikan bagi perbuatan kebajikan itu sosok-sosok khusus dari kalangan makhluk-Nya. Dia menjadikan mereka mencintai kebajikan dan mencintai pengamalannya, serta mengarahkan para pencari kebajikan kepada mereka, dan memudahkan bagi mereka untuk memberikannya sebagaimana Dia memudahkan hujan ke negeri yang tandus, sehingga Dia menghidupkannya dan menghidupkan penduduknya dengannya."

وَقَالَ ﷺ كُلُّ مَعْرُوفٍ صدقة وكل ما أنفق الرجل على نفس وَأَهْلِهِ كُتِبَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا وَقَى بِهِ الرَّجُلُ عِرْضَهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ مِنْ نَفَقَةٍ فَعَلَى اللَّهِ خَلْفُهَا

Nabi ﷺ bersabda, "Setiap perbuatan baik adalah sedekah, dan setiap apa yang dinafkahkan seseorang untuk dirinya dan keluarganya dicatat baginya sebagai sedekah, dan apa saja yang digunakan seseorang untuk menjaga kehormatannya adalah sedekah baginya, dan nafkah apa pun yang dikeluarkan oleh seseorang, maka Allah-lah yang akan menggantinya."

وَقَالَ ﷺ كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ والدال على الخير كفاعله الله يحب إغاثة اللهفان

Nabi ﷺ bersabda, "Setiap perbuatan baik adalah sedekah, dan orang yang menunjukkan kepada kebaikan adalah seperti pelakunya. Allah menyukai tindakan menolong orang yang sedang menderita kesulitan."

وَقَالَ ﷺ كُلُّ مَعْرُوفٍ فعلته إلى غني أو فقير صدقة

Nabi ﷺ bersabda, "Setiap perbuatan baik yang engkau lakukan kepada orang kaya maupun orang miskin adalah sedekah."

وروي أن الله تعالى أوحى إلى موسى ﵇ لا تقتل السامري فإنه سخي وقال جابر بعث رسول الله ﷺ بعثاً عليهم قيس بن سعد بن عبادة فجهدوا فنحر لهم قيس تسع ركائب فحدثوا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِذَلِكَ فقال ﷺ إن الجود لمن شيمة أهل ذلك البيت // حديث جابر بعث رسول الله ﷺ بعثاً عليهم قيس بن سعد بن عبادة فجهدوا فنحر لهم الحديث وفيه فقال إن الجود لمن شيمة أهل ذلك البيت أخرجه الدارقطني فيه من رواية أبي حمزة الحميري عن جابر ولا يعرف اسمه ولا حاله الآثار قال علي كرم الله وجهه إذا أقبلت عليك الدنيا فأنفق منها فإنها لا تفنى وإذا أدبرت عنك فأنفق منها فإنها لا تبقى وأنشد

Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala berwahyu kepada Musa ʿalaihis-salām, "Janganlah engkau membunuh Samiri, karena sesungguhnya dia adalah seorang yang dermawan." Dan Jabir berkata: Rasulullah ﷺ mengirim suatu pasukan yang dipimpin oleh Qais bin Sa'd bin Ubadah, lalu mereka mengalami kelaparan, maka Qais menyembelih sembilan ekor unta untuk mereka. Lalu mereka menceritakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau ﷺ bersabda, "Sesungguhnya kedermawanan adalah karakter dari penghuni rumah itu." Hadis Jabir: "Rasulullah ﷺ mengirim suatu pasukan…" dan di dalamnya: Beliau bersabda: "Sesungguhnya kedermawanan adalah karakter dari penghuni rumah itu" diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni di dalamnya dari riwayat Abu Hamzah Al-Himyari dari Jabir, dan tidak diketahui nama maupun keadaannya. Atsar-atsar: Ali Karramallahu Wajhah berkata, "Jika dunia menghampirimu, maka nafkahkanlah darinya karena ia tidak akan habis. Dan jika dunia berpaling darimu, maka tetap nafkahkanlah darinya karena ia tidak akan bertahan selamanya." Dan beliau bersyair:

لا تبخلن بدنيا وهي مقبلة … فليس ينقصها التبذير والسرف

"Janganlah sekali-kali engkau bakhil dengan dunia tatkala ia datang menghampiri… Sebab sifat berlebihan tidaklah akan menguranginya."

وإن تولت فأحرى أن تجود بها … فالحمد منها إذا ما أدبرت خلف

"Dan jika dunia itu berpaling, maka lebih patut bagimu untuk mendermakannya… Sebab pujian yang diperoleh darinya tatkala ia berpaling adalah pengganti yang berharga."

وسأل معاوية الحسن بن علي ﵃ عن المروءة والنجدة والكرم فقال أما المروءة فحفظ الرجل دينه وحذره نفسه وحسن قيامه بضيفه وحسن المنازعة والأقدام في الكراهية وأما النجدة فالذب عن الجار والصبر في المواطن وأما الكرم فالتبرع بِالْمَعْرُوفِ قَبْلَ السُّؤَالِ وَالْإِطْعَامُ فِي الْمَحَلِّ وَالرَّأْفَةُ بالسائل مع بذل النائل ورفع رجل إلى الحسن بن علي ﵄ رقعة فقال حاجتك مقضية فقيل له يا ابن رسول الله لو نظرت في رقعته ثم رددت الجواب على قدر ذلك فقال يسألني الله ﷿ عن ذل مقامه بين يدي حتى أقرأ رقعته وقال ابن السماك عجبت لمن يشتري المماليك بماله ولا يشتري الأحرار بمعروفه وسئل بعض الأعراب من سيدكم فقال من احتمل شتمنا وأعطى سائلنا وأغضى عن جاهلنا وقال علي بن الحسين ﵄ من وصف ببذل ما له لطلابه لم يكن سخياً وإنما السخي من يبتديء بحقوق الله تعالى في أهل طاعته ولا تنازعه نفسه إلى حب الشكر له إذا كان يقينه بثواب الله تعالى تاماً وقيل للحسن البصري ما السخاء فقال أن تجود بمالك في الله ﷿ قيل فما الحزم قال أن تمنع مالك فيه قيل فما الإسراف قال الإنفاق لحب الرياسة

Mu'awiyah bertanya kepada Al-Hasan bin Ali ʿalaihimas-salām tentang muru'ah (kehormatan diri), najdah (keberanian), dan karam (kedermawanan). Beliau menjawab, "Adapun muru'ah adalah seseorang yang menjaga agamanya, bersikap waspada terhadap dirinya, mengurus tamunya dengan baik, bertengkar secara beradab, dan berani menghadapi hal-hal yang tidak disukai. Adapun najdah adalah membela tetangga dan bersabar dalam berbagai situasi. Sedangkan karam adalah mendermakan kebaikan sebelum diminta, memberi makan pada masa panceklik, berbelas kasih kepada peminta-minta disertai pemberian karunia, dan mencukupi kebutuhan." Dan seorang laki-laki menyerahkan sepucuk surat permohonan bantuan kepada Al-Hasan bin Ali ʿalaihimas-salām, maka beliau berkata, "Kebutuhanmu telah dipenuhi." Dikatakan kepadanya, "Wahai putra Rasulullah, bagaimana jika engkau memeriksa suratnya terlebih dahulu kemudian memberikan jawaban sesuai dengan kadarnya?" Beliau menjawab, "Allah Azza wa Jalla kelak akan menanyakan kepadaku tentang kehinaan berdirinya di hadapanku hingga aku sempat membaca suratnya." Dan Ibn As-Sammak berkata, "Aku heran terhadap orang yang membeli budak-budak dengan hartanya, tetapi tidak membeli orang-orang merdeka dengan perbuatan baiknya." Dan ditanyakan kepada sebagian orang Arab Badui, "Siapakah pemimpin kalian?" Ia menjawab, "Orang yang menanggung makian kami, memberi peminta-minta kami, dan memaafkan ketidaktahuan kami." Ali bin Al-Husain ʿalaihimas-salām berkata, "Barangsiapa yang disifati dengan mendermakan hartanya hanya kepada para pemintanya, maka ia belum dinamakan dermawan. Sesungguhnya orang yang dermawan itu adalah orang yang memulai menunaikan hak-hak Allah Ta'ala kepada ahli ketaatan-Nya, sedang jiwanya tidak terdorong untuk menuntut ucapan terima kasih tatkala keyakinannya terhadap pahala Allah Ta'ala telah sempurna." Dan dikatakan kepada Al-Hasan Al-Bashri, "Apakah kedermawanan (as-sakha') itu?" Beliau menjawab, "Engkau mendermakan hartamu di jalan Allah Azza wa Jalla." Ditanyakan, "Lalu apakah keteguhan/kewaspadaan (al-hazm) itu?" Beliau menjawab, "Engkau menahan hartamu pada tempat yang seharusnya." Ditanyakan, "Lalu apakah pemborosan (al-israf) itu?" Beliau menjawab, "Pengeluaran harta demi kecintaan pada kepemimpinan dan kedudukan."

وقال جعفر الصادق رحمة الله عليه لا مال أعون من العقل ولا مصيبة أعظم من الجهل ولا مظاهرة كالمشاورة ألا وإن الله ﷿ يقول إني جواد كريم لا يجاورني لئيم واللؤم من الكفر وأهل الكفر في النار والجود والكرم من الإيمان وأهل الإيمان في الجنة وقال حذيفة

Ja'far Ash-Shadiq rahmatullah 'alaih berkata, "Tidak ada harta yang lebih membantu daripada akal, tidak ada musibah yang lebih besar daripada kebodohan, dan tidak ada penopang yang sebanding dengan musyawarah. Ketahuilah, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Sesungguhnya Aku Maha Pemurah lagi Mahamulia, tidak akan berdampingan dengan-Ku orang yang dicela (bakhil). Kebakhilan adalah bagian dari kekufuran, dan pemeluk kekufuran berada di neraka; sedangkan kedermawanan dan kemuliaan adalah bagian dari iman, dan pemeluk keimanan berada di surga.'" Dan Hudzaifah…

رضي الله عنه رب فاجر في دينه أخرق في معيشته يدخل الجنة بسماحته وروي أن الأحنف بن قيس رأى رجلاً في يده درهم فقال لمن هذا الدرهم فقال لي فقال أما إنه ليس لك حتى يخرج من يدك وفي معناه قيل

…radhiyallahu 'anhu berkata, "Betapa banyak orang yang pelaku dosa dalam agamanya dan kaku dalam penghidupannya, namun ia masuk surga karena kemurahan hatinya." Diriwayatkan bahwa Al-Ahnaf bin Qais melihat seorang laki-laki memegang dirham di tangannya, lalu beliau bertanya, "Milik siapakah dirham ini?" Laki-laki itu menjawab, "Milikku." Maka Al-Ahnaf berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya ia belum menjadi milikmu hingga ia keluar dari tanganmu." Dan dalam makna yang sama dikatakan dalam syair:

أنت للمال إذا أمسكته … فإذا أنفقته فالمال لك

"Engkau adalah milik harta selama engkau menahannya… Namun apabila engkau menafkahkannya, barulah harta itu menjadi milikmu."

وسمي واصل بن عطاء الغزال لأنه كان يجلس إلى الغزالين فإذا رأى امرأة ضعيفة أعطاها شيئاً وقال الأصمعي كتب الحسن بن علي إلى الحسين بن علي رضوان الله عليهم يعتب عليه في إعطاء الشعراء فكتب إليه خير المال ما وقي به العرض وقيل لسفيان بن عيينة ما السخاء قال السخاء البر بالإخوان والجود بالمال قال وورث أبي خمسين ألف درهم فبعث بها صرراً إلى إخوانه وقال قد كنت أسأل الله تعالى لإخواني الجنة في صلاتي أفأبخل عليهم بالمال وقال الحسن بذل المجهود في بذل الموجود منتهى الجود وقيل لبعض الحكماء من أحب الناس إليك قال من كثرت أياديه عندي قيل فإن لم يكن قال من كثرت أيادي عنده وقال عبد العزيز بن مروان إذا الرجل أمكنني من نفسه حتى أضع معروفي عنده فيده عندي مثل يدي عنده وقال المهدي لشبيب بن شبة كيف رأيت الناس في داري فقال يا أمير المؤمنين إن الرجل منهم ليدخل راجياً ويخرج راضياً وتمثل متمثل عند عبد الله بن جعفر فقال

Wasil bin Ata dinamai 'Al-Ghazzal' (pemintal benang) karena ia biasa duduk dekat para pemintal benang; apabila ia melihat wanita yang lemah (miskin), ia berikan sesuatu padanya. Al-Asma'i berkata: Al-Hasan bin Ali menulis surat kepada Al-Husain bin Ali radhiyallahu 'anhum, menegurnya karena memberi harta kepada para penyair. Maka Al-Husain membalas suratnya: "Sebaik-baik harta adalah apa yang digunakan untuk menjaga kehormatan." Dan ditanyakan kepada Sufyan bin Uyainah, "Apakah kedermawanan (as-sakha') itu?" Beliau menjawab, "Kedermawanan adalah berbuat baik kepada saudara-saudara dan mendermakan harta." Ia melanjutkan, "Ayahku mewarisi lima puluh ribu dirham, lalu beliau mengirimkannya dalam kantong-kantong uang kepada saudara-saudaraku seraya berkata: 'Aku senantiasa memohonkan surga kepada Allah Ta'ala untuk saudara-saudaraku dalam shalatku, apakah aku akan bakhil harta kepada mereka?'" Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Mencurahkan segala kemampuan dalam memberikan apa yang ada merupakan puncak kedermawanan." Ditanyakan kepada sebagian orang bijak, "Siapakah manusia yang paling engkau cintai?" Ia menjawab, "Orang yang banyak kebaikannya kepadaku." Ditanyakan, "Jika tidak ada?" Ia menjawab, "Orang yang banyak kebaikanku padanya." Abdul Aziz bin Marwan berkata, "Apabila seseorang memberiku kesempatan atas dirinya hingga aku dapat menanamkan kebaikanku padanya, maka tangannya di sisiku sama nilainya dengan tanganku di sisinya." Al-Mahdi berkata kepada Syabib bin Syabbah, "Bagaimana pendapatmu tentang orang-orang di rumahku?" Syabib menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya setiap orang dari mereka masuk dengan penuh harapan dan keluar dengan rasa ridha." Dan seorang penyair bersyair di hadapan Abdullah bin Ja'far, lalu ia mengutip:

إن الصنيعة لا تكون صنيعة … حتى يصاب بها طريق المصنع

"Sesungguhnya suatu budi baik tidaklah dinamakan budi baik… Hingga ia mengenai sasaran yang tepat bagi orang yang diperbuat baik padanya."

فإذا اصطنعت صنيعة فاعمد بها … لله أو لذوي القرابة أو دع

Jika engkau melakukan suatu kebajikan, tujukanlah ia… karena Allah atau untuk para kerabat, atau tinggalkanlah.

فقال عبد الله بن جعفر إن هذين البيتين ليبخلان الناس ولكن أَمْطِرِ الْمَعْرُوفَ مَطَرًا فَإِنْ أَصَابَ الْكِرَامَ كَانُوا لَهُ أَهْلًا وَإِنْ أَصَابَ اللِّئَامَ كُنْتَ لَهُ أهلاً حكايات الأسخياء

Maka 'Abdullah bin Ja'far berkata: "Sesungguhnya dua bait ini benar-benar membuat manusia menjadi bakhil. Akan tetapi, curahkanlah kedermawanan bagaikan hujan! Jika mengenai orang yang mulia, mereka memang layak menerimanya; dan jika mengenai orang yang hina, engkaulah yang layak (dipuji) atas kebaikan itu." Kisah-Kisah Orang yang Dermawan.

عن محمد بن المنكدر عن أم درة وكانت تخدم عائشة ﵂ قالت إن معاوية بعث إليها بمال في غرارتين ثمانين ومائة ألف درهم فدعت بطبق فجعلت تقسمه بين الناس فلما أمست قالت يا جارية هلم فطوري فجاءتها بخبز وزيت فقالت لها أم درة ما استطعت فيما قسمت اليوم أن تشتري لنا بدرهم لحماً نفطر عليه فقالت لو كنت ذكرتيني لفعلت

Dari Muhammad bin al-Munkadir, dari Ummu Durrah—yang pernah melayani 'Aisyah radhiyallahu 'anha—ia berkata: Bahwasanya Mu'awiyah pernah mengirimkan harta kepada 'Aisyah dalam dua karung berisi seratus delapan puluh ribu dirham. Lalu 'Aisyah meminta sebuah nampan besar dan mulai membagi-bagikan harta itu kepada orang-orang. Ketika sore hari, ia berkata: "Wahai pelayan, bawakan makanan berbuka puasaku." Pelayan itu membawakannya roti dan minyak zaitun. Ummu Durrah berkata kepadanya: "Tidakkah engkau sanggup menyisihkan satu dirham saja dari harta yang engkau bagikan hari ini untuk membeli daging agar kita bisa berbuka darinya?" 'Aisyah menjawab: "Seandainya engkau mengingatkanku tadi, niscaya aku lakukan."

وعن أبان بن عثمان قال أراد رجل أن يضار عبيد الله بن عباس فأتى وجوه قريش فقال يقول لكم عبيد الله تغدوا عندي اليوم فأتوه حتى ملؤا عليه الدار فقال ما هذا فأخبر الخبر فأمر عبيد الله بشراء فاكهة وأمر قوماً فطبخوا وخبزوا وقدمت الفاكهة إليهم فلم يفرغوا منها حتى وضعت الموائد فأكلوا حتى صدروا فقال عبيد الله لوكلائه أو موجود لنا هذا كل يوم قالوا نعم قال فليتغد عندنا هؤلاء في كل يوم

Dari Aban bin 'Utsman, ia berkata: Ada seorang laki-laki berniat menyusahkan 'Ubaidullah bin 'Abbas. Ia mendatangi para pemuka Quraisy dan berkata: "'Ubaidullah menyampaikan pesan agar kalian makan siang di rumahnya hari ini." Maka mereka mendatangi rumahnya hingga memenuhi rumah tersebut. 'Ubaidullah bertanya: "Ada apa ini?" Lalu dijelaskanlah kejadian sebenarnya. Maka 'Ubaidullah memerintahkan untuk membeli buah-buahan, serta memerintahkan sekelompok orang untuk memasak dan membuat roti. Buah-buahan disajikan kepada mereka, dan belum sempat mereka selesai menyantapnya, hidangan makanan telah disiapkan. Mereka pun makan hingga kenyang. 'Ubaidullah lalu berkata kepada para pengurus rumahnya: "Apakah persediaan seperti ini ada pada kita setiap hari?" Mereka menjawab: "Ya." Ia berkata: "Maka hendaknya orang-orang ini makan siang di rumah kita setiap hari."

وقال مصعب بن الزبير حج معاوية فلما انصرف مر بالمدينة فقال الحسين بن علي لأخيه الحسن لا تلقه ولا تسلم عليه فلما خرج معاوية قال الحسن إن علينا ديناً فلا بد لنا من إتيانه فركب في أثره ولحقه فسلم عليه وأخبره بدينه فمروا عليه ببختي عليه ثمانون ألف دينار وقد أعيا وتخلف عن الإبل وقوم يسوقونه فقال معاوية ما هذا فذكر له فقال اصرفوه بما عليه إلى أبي محمد

Mush'ab bin az-Zubair berkata: Mu'awiyah melaksanakan ibadah haji. Ketika selesai dan hendak kembali, ia melewati Madinah. Al-Husain bin 'Ali berkata kepada saudaranya, Al-Hasan: "Janganlah engkau menemuinya dan jangan mengucapkan salam padanya." Namun ketika Mu'awiyah berangkat keluar, Al-Hasan berkata: "Sesungguhnya kita memiliki tanggungan utang, maka kita harus menemuinya." Lalu ia menunggangi tunggangannya menyusul Mu'awiyah hingga berhasil menyusul dan mengucapkan salam serta memberitahukan tentang utangnya. Saat itu melintaslah seekor unta Bukhti yang membawa muatan delapan puluh ribu dinar, unta itu tampak kelelahan dan tertinggal dari rombongan unta lainnya sementara beberapa orang menggiringnya. Mu'awiyah bertanya: "Apa ini?" Lalu dijelaskan kepadanya. Mu'awiyah berkata: "Palingkanlah unta ini beserta seluruh muatannya kepada Abu Muhammad (Al-Hasan)."

وعن واقد بن محمد الواقدي قال حدثني أبي أنه رفع رقعة إلى المأمون يذكر فيها كثرة الدين وقلة صبره عليه فوقع المأمون على ظهر رقعته إنك رجل اجتمع فيك خصلتان السخاء والحياء فأما السخاء فهو الذي أطلق

Dari Waqid bin Muhammad al-Waqidi, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku bahwa ia mengajukan selembar surat permohonan kepada Al-Ma'mun yang berisi tuturan tentang besarnya utang dan ketidaksabarannya menanggung hal itu. Maka Al-Ma'mun menuliskan catatan balasan di balik surat tersebut: "Sesungguhnya engkau adalah seorang lelaki yang terhimpun pada dirimu dua sifat: kedermawanan dan rasa malu. Adapun kedermawanan, dialah yang melepaskan…

ما في يديك وأما الحياء فهو الذي يمنعك عن تبليغنا ما أنت عليه وقد أمرت لك بمائة ألف درهم فإن كنت قد أصبت فازدد في بسط يدك وإن لم أكن قد أصبت فجنايتك على نفسك وأنت حدثتني وكنت على قضاء الرشيد عن محمد بن إسحق عن الزهري عن أنس أن النبي ﷺ قال للزبير بن العوام يا زبير اعلم أن مفاتيح أرزاق العباد بإزاء العرش يبعث الله ﷿ إلى كل عبد بقدر نفقته فمن كثر كثر له ومن قلل قلل له وأنت أعلم

…apa yang ada di tanganmu. Sedangkan rasa malu, dialah yang menghalangimu untuk menyampaikan kepada kami keadaanmu yang sebenarnya. Sungguh aku telah memerintahkan pemberian seratus ribu dirham untukmu. Jika tindakanku ini benar, maka tambahkanlah kelapangan tanganmu (kedermawananmu); dan jika aku belum tepat, maka itu adalah kesalahanmu sendiri atas dirimu. Dan engkau telah menceritakan kepadaku—saat engkau menjabat sebagai qadhi (hakim) bagi Ar-Rasyid—dari Muhammad bin Ishaq, dari Az-Zuhri, dari Anas, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda kepada Az-Zubair bin al-'Awwam: 'Wahai Zubair, ketahuilah bahwa kunci-kunci rezeki para hamba berada di hadapan 'Arsy. Allah 'Azza wa Jalla mengirimkan kepada setiap hamba sesuai kadar nafkah (yang ia keluarkan). Barangsiapa membanyakkan (infaknya), niscaya dibanyakkan baginya; dan barangsiapa menyedikitkan, niscaya disedikitkan baginya.' Dan engkau tentu lebih mengetahui hal ini."

قال الواقدي فوالله لمذاكرة المأمون إياي بالحديث أحب إلى من الجائزة وهي مائة ألف درهم

Al-Waqidi berkata: "Demi Allah, sungguh ingatan Al-Ma'mun kepadaku mengenai hadis tersebut lebih aku cintai daripada hadiah itu sendiri, yaitu uang seratus ribu dirham."

وسأل رجل الحسن بن علي ﵄ حاجة فقال له يا هذا حق سؤالك إياي يعظم لدي ومعرفتي بما يجب لك تكبر علي ويدي تعجز عن نيلك بما أنت أهله والكثير في ذات الله تعالى قليل وما في ملكي وفاه لشكرك فإن قبلت الميسور ورفعت عني مؤنة الاحتمال والاهتمام لما أتكلفه من واجب حقك فعلت فقال يا ابن رسول الله أقبل وأشكر العطية وأعذر علي المنع فدعا الحسن بوكيله وجعل يحاسبه على نفقاته حتى استقصاها فقال هات الفضل من الثلثمائة ألف درهم فأحضر خمسين ألف قال فما فعلت بالخمسمائة دينار قال هي عندي قال أحضرها فأحضرها فدفع الدنانير والدراهم إلى الرجل وقال هات من يحملها لك فأتاه بحمالين فدفع إليه الحسن رداءه لكراء الحمالين فقال له مواليه والله ما عندنا درهم فقال أرجو أن يكون لي عند الله أجر عظيم

Seorang laki-laki meminta bantuan suatu hajat kepada Al-Hasan bin 'Ali radhiyallahu 'anhuma. Maka Al-Hasan berkata kepadanya: "Wahai Fulan, hak permohonanmu kepadaku terasa amat besar bagiku, dan pemahamanku atas apa yang menjadi hakmu sangat berat bagiku, sementara tanganku tak sanggup memberimu apa yang sepantasnya bagimu. Sesuatu yang banyak demi Zat Allah Ta'ala itu terasa sedikit, dan apa yang ada dalam kepemilikanku tidaklah cukup untuk memenuhi rasa syukurnya. Jika engkau mau menerima apa yang ada/mudah ini dan membebaskan aku dari beban penderitaan serta kecemasan atas apa yang harus kubebankan pada diriku demi menunaikan hakmu yang wajib, niscaya aku lakukan." Laki-laki itu menjawab: "Wahai putra Rasulullah, aku menerima, bersyukur atas pemberian, dan memaklumi jika ada hal yang tertahan." Lalu Al-Hasan memanggil pengurus hartanya dan mulai menghitung pengeluarannya hingga meneliti seluruhnya secara mendalam. Kemudian ia berkata: "Bawakan sisa dari tiga ratus ribu dirham itu!" Lalu ia membawakan lima puluh ribu dirham. Al-Hasan bertanya: "Apa yang engkau lakukan dengan lima ratus dinar?" Ia menjawab: "Masih ada padaku." Al-Hasan berkata: "Bawakan kemari!" Maka ia membawakannya. Al-Hasan menyerahkan dinar dan dirham tersebut kepada laki-laki tadi seraya berkata: "Bawalah orang yang sanggup memikulnya untukmu." Maka ia membawa dua orang kuli angkut. Al-Hasan pun memberikan selendangnya kepada mereka untuk ongkos kuli tersebut. Para pelayannya berkata kepada Al-Hasan: "Demi Allah, kita tidak punya satu dirham pun tersisa." Al-Hasan menjawab: "Aku berharap mendapatkan pahala yang agung di sisi Allah."

واجتمع قراء البصرة إلى ابن عباس وهو عامل بالبصرة فقالوا لنا جار صوام قوام يتمنى كل واحد منا أن يكون مثله وقد زوج بنته من ابن أخيه وهو فقير وليس عنده ما يجهزها به فقام عبد الله بن عباس فأخذ بأيديهم وأدخلها داره وفتح صندوقا فأخرج منه ست بدر فقال احملوا فحملوا فقال ابن عباس ما أنصفناه أعطيناه ما يشغله عن قيامه وصيامه ارجعوا بنا نكن أعوانه على تجهيزها فليس للدنيا من القدر ما يشغل مؤمناً عن عبادة ربه وما بنا من الكبر ما لا نخدم أولياء الله تعالى ففعل وفعلوا

Para ahli Al-Qur'an (Qurra') Basrah berkumpul menemui Ibn 'Abbas ketika ia menjabat sebagai gubernur di Basrah. Mereka berkata: "Kami memiliki seorang tetangga yang rajin berpuasa dan mendirikan shalat malam, yang mana setiap dari kami berangan-angan bisa menjadi seperti dirinya. Ia telah menikahkan putrinya dengan putra saudaranya, namun ia seorang yang fakir dan tidak memiliki apa-apa untuk menyiapkan perlengkapan perikahannya." Maka 'Abdullah bin 'Abbas bangkit, memegang tangan mereka, dan membawa mereka masuk ke rumahnya. Ia membuka sebuah peti lalu mengeluarkan enam pundi-pundi harta (badrash) darinya, lalu berkata: "Bawalah ini!" Mereka pun membawanya. Ibn 'Abbas kemudian berkata: "Kita belum berlaku adil kepadanya. Kita telah memberinya sesuatu yang bisa memalingkan perhatiannya dari shalat malam dan puasanya. Mari kita kembali bersamanya untuk membantunya menyiapkan perlengkapan putri tersebut, sebab dunia ini tidak memiliki kedudukan yang layak untuk memalingkan seorang mukmin dari beribadah kepada Rabb-nya, dan tidak ada kesombongan pada diri kita sehingga enggan melayani para kekasih Allah Ta'ala." Maka ia melakukannya dan mereka pun ikut melakukannya.

وحكي أنه لما أجدب الناس بمصر وعبد الحميد بن سعد أميرهم فقال والله لأعلمن الشيطان أني عدوه فعال محاويجهم إلى أن رخصت الأسعار ثم عزل عنهم فرحل وللتجار عليه ألف ألف درهم فرهنهم بها حلي نسائه وقيمتها خمسمائة ألف ألف فلما تعذر عليه ارتجاعها كتب إليهم ببيعها ودفع الفاضل منها عن حقوقهم إلى من لم تنله صلاته

Diceritakan bahwa tatkala kekeringan dan kemarau melanda rakyat di Mesir saat Abdul Hamid bin Sa'id menjadi gubernur mereka, ia berkata: "Demi Allah, sungguh aku akan menunjukkan kepada setan bahwa aku adalah musuhnya!" Maka ia menanggung beban hidup orang-orang miskin di antara mereka hingga harga-harga barang menjadi murah kembali. Kemudian ia dicopot dari jabatannya lalu pergi, sementara ia menanggung utang kepada para pedagang sebesar satu juta dirham. Ia mengagunkan perhiasan istri-istrinya yang bernilai lima ratus juta dirham kepada mereka. Ketika ia mengalami kesulitan untuk menebusnya kembali, ia berkirim surat kepada mereka agar menjual perhiasan tersebut dan memberikan sisa kelebihannya setelah pelunasan hak-hak mereka kepada orang-orang yang belum tersentuh oleh pemberiannya.

وكان أبو طاهر بن كثير شيعياً فقال له رجل بحق علي بن أبي طالب لما وهبت لي نخلتك بموضع كذا وكذا فقال قد فعلت وحقه لأعطينك ما يليها وكان ذلك أضعاف ما طلب الرجل

Abu Thahir bin Katsir adalah seorang penganut Syiah. Seseorang berkata kepadanya: "Demi hak 'Ali bin Abi Thalib, berikanlah kepadaku pohon kurmamu yang ada di tempat anu." Abu Thahir menjawab: "Aku telah melakukannya. Dan demi haknya pulalah, sungguh aku akan memberikan kepadamu tanah/kebun yang ada di sekitarnya." Padahal hal itu berlipat-lipat nilainya dari apa yang diminta oleh orang tersebut.

وكان أبو مرثد أحد الكرماء فمدحه بعض الشعراء فقال للشاعر والله ما عندي ما أعطيك ولكن قدمني إلى القاضي وادع علي بعشرة آلاف درهم حتى أقر لك بها ثم احبسني فإنأهلي لا يتركوني محبوساً ففعل ذلك فلم يمس حتى دفع إليه عشرة آلاف درهم وأخرج أبو مرثد من الحبس

Abu Martsad adalah salah seorang yang sangat dermawan. Seorang penyair memujinya, lalu ia berkata kepada penyair itu: "Demi Allah, aku tidak memiliki sesuatu untuk kuberikan kepadamu. Akan tetapi, bawa aku ke hadapan hakim dan dakwalah aku memiliki utang sepuluh ribu dirham kepadamu hingga aku mengakunya di hadapan hakim, lalu penjarakanlah aku! Karena sesungguhnya keluargaku tidak akan membiarkanku mendekam di penjara." Penyair itu pun melakukan hal tersebut, dan belum sampai sore hari, uang sepuluh ribu dirham telah diserahkan kepadanya dan Abu Martsad dibebaskan dari penjara.

وكان معن بن زائدة عاملاً على العراقين بالبصرة فحضر بابه شاعر فأقام مدة وأراد الدخول على معن فلم يتهيأ له فقال يوماً لبعض خدام معن إذا دخل الأمير البستان فعرفني فلما دخل الأمير البستان أعلمه فكتب الشاعر بيتاً على خشبة وألقاها في الماء الذي يدخل البستان وكان معن على رأس الماء فلما بصر بالخشبة أخذها وقرأها فإذا مكتوب عليها

Ma'n bin Za'idah adalah gubernur untuk wilayah dua Irak di Basrah. Seorang penyair datang ke pintunya dan menetap beberapa waktu, ingin menemui Ma'n namun tidak berhasil. Suatu hari ia berkata kepada salah seorang pelayan Ma'n: "Jika Amir masuk ke dalam kebun, beritahukanlah kepadaku." Ketika Amir masuk ke dalam kebun, pelayan itu memberitahukannya. Maka penyair itu menulis satu bait syair pada sepotong kayu dan melemparnya ke saluran air yang mengalir ke dalam kebun. Saat itu Ma'n berada di hulu air tersebut. Ketika ia melihat kayu itu, ia mengambilnya dan membacanya, ternyata di situ tertulis:

أيا جود معن ناج معنا بحاجتي … فما لي إلى معن سواك شفيع

"Wahai kedermawanan Ma'n, bisikkanlah hajatku kepada Ma'n… Karena bagiku tak ada perantara kepada Ma'n selain dirimu."

فقال من صاحب هذه فدعي بالرجل فقال له كيف قلت فقال له فأمر له بعشر بدر فأخذهاووضع الأمير الخشبة تحت بسطاه فلما كان اليوم الثاني أخرجها من تحت البساط وقرأها ودعا بالرجل فدفع إليه مائة ألف درهم فلما أخذها الرجل تفكر وخاف أن يأخذ منه ما أعطاه فخرج فلما كان في اليوم الثالث قرأ ما فيها ودعا بالرجل فطلب فلم يوجد فقال معن حق علي أن أعطيه حتى لا يبقى في بيت مالي ولا دينار

Maka Ma'n berkata: "Siapa pemilik kayu ini?" Lalu dipanggillah laki-laki itu. Ma'n bertanya: "Bagaimana syair yang engkau katakan tadi?" Laki-laki itu mengulangnya, lalu Ma'n memerintahkan pemberian sepuluh kantong harta (badrash) kepadanya dan ia pun menyimpannya. Amir lalu meletakkan kayu itu di bawah permadaninya. Pada hari kedua, ia mengeluarkannya dari bawah permadani, membacanya, dan memanggil laki-laki itu kembali, lalu menyerahkan seratus ribu dirham kepadanya. Ketika laki-laki itu mengambilnya, ia berpikir dan takut jangan-jangan Ma'n akan mengambil kembali apa yang telah berikan, maka ia pun pergi. Pada hari ketiga, Ma'n membaca kembali apa yang ada pada kayu itu dan memanggil laki-laki itu, namun saat dicari ia tidak ditemukan. Maka Ma'n berkata: "Sesungguhnya sudah menjadi kewajibanku untuk terus memberinya sampai tidak tersisa satu dinar pun di baitulmalku."

وقال أبو الحسن المدائني خرج الحسن والحسين وعبد الله بن جعفر حجاجاً ففاتهم أثقالهم فجاعوا وعطشوا فمروا بعجوز في خباء لها فقالوا هل من شراب فقالت نعم فأناخوا إليها وليس لها إلا شويهة في كسر الخيمة فقالت احلبوها وامتذقوا لبنها ففعلوا ذلك ثم قالوا لها هل من طعام قالت لا إلا هذه الشاة فليذبحها أحدكم حتى أهيء لكم ما تأكلون فقام إليها أحدهم وذبحها وكشطها ثم هيأت لهم طعاماً فأكلوا وأقاموا حتى أبردوا فلما ارتحلوا قالوا لها نحن نفر من قريش نريد هذا الوجه فإذا رجعنا سالمين فألمي بنا فإنا صانعون بك خيراً ثم ارتحلوا وأقبل زوجها فأخبرته بخبر القوم والشاة فغضب الرجل وقال ويلك تذبحين شاتي لقوم لا تعرفيهم ثم تقولين نفر من قريش قال ثم بعد مدة ألجأتهما الحاجة إلى دخول المدينة فدخلاها وجعلا ينقلان البعر إليها ويبيعانه ويتعيشان بثمنه فمرت العجوز ببعض سكك المدينة فإذا الحسن بن علي جالس على باب داره فعرف العجوز وهي له منكرة فبعث غلامه فدعا بالعجوز وقال لها يا أمة الله أتعرفيني قالت لا قال أنا ضيفك يوم كذا ويوم كذا فقالت العجوز بأبي أنت وأمي أنت هو قال نعم ثم أمر الحسن فاشتروا لها من شياه الصدقة ألف شاة وأمر لها معها بألف دينار وبعث بها مع غلامه إلى الحسين فقال لها الحسين بكم وصلك أخي قالت بألف شاة وألف دينار فأمر لها الحسين أيضاً بمثل ذلك ثم بعث بها مع غلامه إلى عبد الله بن جعفر فقال لها بكم وصلك الحسن والحسين قالت بألفي شاة وألفي دينار فأمر لها عبد الله بألفي شاة وألفي دينار وقال لها لو بدأت بي لأتعبتهما فرجعت العجوز إلى زوجها بأربعة آلاف شاة وأربعة آلاف دينار

Abu al-Hasan al-Mada'ini menceritakan: Al-Hasan, Al-Husain, dan 'Abdullah bin Ja'far pergi untuk menunaikan ibadah haji, namun perbekalan mereka tertinggal sehingga mereka kelaparan dan kehausan. Mereka melewati seorang wanita tua yang tinggal di sebuah kemah kecil, lalu mereka bertanya: "Apakah ada minuman?" Wanita tua itu menjawab: "Ya." Maka mereka menderumkan unta di dekatnya. Wanita itu hanya memiliki seekor domba betina kecil di sudut kemahnya. Wanita itu berkata: "Perahlah susunya dan campurlah dengan air untuk kalian minum." Mereka pun melakukannya. Kemudian mereka bertanya: "Apakah ada makanan?" Wanita itu menjawab: "Tidak ada, kecuali domba ini. Hendaknya salah seorang dari kalian menyembelihnya agar aku bisa menyiapkan makanan untuk kalian." Salah seorang dari mereka berdiri menyembelihnya dan mengulitinya, lalu wanita itu menyiapkan makanan untuk mereka. Mereka pun makan dan beristirahat hingga cuaca mulai sejuk. Ketika akan berangkat, mereka berkata kepadanya: "Kami adalah sekelompok orang dari Quraisy yang hendak menuju arah ini. Jika kami telah kembali dengan selamat, singgahlah kepada kami, karena kami akan membalas kebaikanmu." Kemudian mereka berangkat. Tak lama kemudian suaminya datang dan wanita itu menceritakan kisah tentang rombongan tersebut serta domba mereka. Suaminya marah dan berkata: "Celaka engkau! Engkau menyembelih dombaku untuk orang-orang yang tidak engkau kenal, lalu engkau katakan mereka sekelompok orang dari Quraisy?!" Ia melanjutkan: Setelah beberapa waktu, kebutuhan hidup memaksa sepasang suami istri itu untuk masuk ke Madinah. Mereka masuk ke kota itu dan mulai mengumpulkan kotoran unta untuk dijual dan hidup dari hasilnya. Suatu ketika wanita tua itu melewati salah satu jalan di Madinah, ternyata Al-Hasan bin 'Ali sedang duduk di depan pintu rumahnya. Al-Hasan mengenali wanita tua itu, sementara wanita itu tidak mengenalinya. Al-Hasan mengutus pelayannya untuk memanggil wanita tua tersebut dan berkata kepadanya: "Wahai hamba Allah, apakah engkau mengenaliku?" Wanita itu menjawab: "Tidak." Al-Hasan berkata: "Aku adalah tamumu pada hari anu dan hari anu." Wanita tua itu berkata: "Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, apakah benar engkau orangnya?" Al-Hasan menjawab: "Ya." Kemudian Al-Hasan memerintahkan agar dibelikan seribu ekor domba dari domba zakat untuknya dan memerintahkan pula pemberian seribu dinar bersamanya. Lalu Al-Hasan menyuruh pelayannya membawa wanita itu kepada Al-Husain. Al-Husain bertanya kepadanya: "Berapa banyak saudaraku memberimu?" Ia menjawab: "Seribu ekor domba dan seribu dinar." Maka Al-Husain pun memerintahkan pemberian dalam jumlah yang sama untuknya. Kemudian ia menyuruh pelayannya membawa wanita itu kepada 'Abdullah bin Ja'far. 'Abdullah bertanya: "Berapa banyak Al-Hasan dan Al-Husain memberimu?" Ia menjawab: "Dua ribu ekor domba dan dua ribu dinar." Maka 'Abdullah memerintahkan pemberian dua ribu ekor domba dan dua ribu dinar untuknya seraya berkata: "Seandainya engkau memulai dariku terlebih dahulu, niscaya aku akan menyusahkan mereka berdua (karena aku akan memberi lebih banyak)." Maka wanita tua itu kembali kepada suaminya dengan membawa empat ribu ekor domba dan empat ribu dinar.

وخرج عبد الله بن عامر بن كريز من المسجد يريد منزله وهو وحده فقام إليه غلام من ثقيف فمشى إلى جانبه فقال له عبد الله ألك حاجة يا غلام قال صلاحك وفلاحك رأيتك تمشي وحدك فقلت أقيك بنفسي وأعوذ بالله إن طار بجانبك مكروه فأخذ عبد الله بيده ومشى معه إلى منزله ثم دعا بألف دينار فدفعها إلى الغلام وقال استنفق هذه فنعم ما أدبك أهلك

'Abdullah bin 'Amir bin Kuraiz keluar dari masjid menuju rumahnya sendirian. Lalu seorang pemuda dari suku Tsaqif menghampirinya dan berjalan di sampingnya. 'Abdullah bertanya kepadanya: "Apakah engkau memiliki suatu hajat, wahai pemuda?" Pemuda itu menjawab: "Kebaikan dan keberuntunganmu (yang kuharapkan). Aku melihatmu berjalan sendirian, maka aku berkata pada diriku: Aku akan melindungimu dengan jiwaku, dan aku berlindung kepada Allah jika ada keburukan yang menimpamu." Maka 'Abdullah memegang tangannya dan berjalan bersamanya menuju rumahnya, kemudian ia meminta dibawakan seribu dinar dan menyerahkannya kepada pemuda tersebut seraya berkata: "Gunakanlah ini untuk nafkahmu, betapa baiknya pendidikan yang diberikan keluargamu kepadamu."

وحكي أن قوماً من العرب جاءوا إلى قبر بعض أسخيائهم للزيارة فنزلوا عند قبره وباتوا عنده وقد كانوا جاءوا من سفر بعيد فرأى رجل منهم في النوم صاحب القبر وهو يقول له هل لك أن تبادل بعيرك بنجيبي وكان السخي الميت قد خلف نجيباً معروفاً به ولهذا الرجل بعير سمين فقال له في النوم نعم فباعه في النوم بعيره بنجيبه فلما وقع بينهما العقد عمد هذا الرجل إلى بعيره فنحره في النوم فانتبه الرجل من نومه فإذا الدم يثج من نحر بعيره فقام الرجل فنحره وقسم لحمه فطبخوه وقضوا حاجتهم منه ثم رحلوا وساروا فلما كان اليوم الثاني وهم في الطريق استقبلهم ركب فقال رجل منهم من فلان بن فلان منكم باسم ذلك الرجل فقال أنا فقال له هل بعت من فلان بن فلان شيئاً وذكر الميت صاحب القبر قال نعم بعت بعيري بنجيبه في

Diceritakan bahwa sekelompok orang Arab mendatangi makam salah seorang dermawan di antara mereka untuk berziarah. Mereka singgah dan bermalam di dekat makamnya setelah menempuh perjalanan jauh. Salah seorang di antara mereka bermimpi melihat penghuni makam tersebut berkata kepadanya: "Maukah engkau menukarkan untamu dengan unta pacuanku (najib)?" Dermawan yang telah meninggal itu memang meninggalkan seekor unta pacuan unggul yang terkenal dengannya, sedangkan lelaki ini memiliki seekor unta yang gemuk. Laki-laki itu menjawab dalam mimpinya: "Ya." Maka dalam mimpi itu ia menjual untanya dengan unta pacuan si ahli kubur. Ketika akad di antara keduanya telah terjadi, lelaki penghuni kubur itu menghampiri unta milik laki-laki tersebut lalu menyembelihnya dalam mimpi. Laki-laki itu pun terbangun dari tidurnya dan mendapati darah mengalir deras dari leher untanya. Maka laki-laki itu pun menyempurnakan penyembelihannya dan membagi-bagikan dagingnya. Mereka memasaknya dan memenuhi kebutuhan makan mereka darinya, kemudian mereka berangkat melanjutkan perjalanan. Pada hari kedua sewaktu di perjalanan, sebuah rombongan menyongsong mereka, lalu salah seorang di antara mereka bertanya: "Siapa di antara kalian yang bernama Fulan bin Fulan?"—menyebutkan nama laki-laki tadi. Laki-laki itu menjawab: "Aku." Ia bertanya lagi: "Apakah engkau telah menjual sesuatu kepada Fulan bin Fulan?"—menyebutkan nama si mayit pemilik makam. Ia menjawab: "Ya, aku telah menjual untaku dengan unta pacuannya di dalam…

النوم فقال خذ هذا نجيبه ثم قال هو أبي وقد رأيته في النوم وهو يقول إن كنت ابني فادفع نجيبي إلى فلان بن فلان وسماه

…mimpi." Orang itu berkata: "Ambillah ini unta pacuannya." Kemudian ia berkata lagi: "Almarhum adalah ayahku, dan aku telah bermimpi melihatnya berkata: 'Jika engkau benar-benar anakku, serahkanlah unta pacuanku kepada Fulan bin Fulan'—dan beliau menyebutkan namanya."

وقدم رجل من قريش من السفر فمر برجل من الأعراب على قارعة الطريق قد أقعده الدهر وأضر به المرض فقال يا هذا أعنا على الدهر فقال الرجل لغلامه ما بقي معك من النفقة فادفعه إليه فصب الغلام في حجر الأعرابي أربعة آلاف درهم فذهب لينهض فلم يقدر من الضعف فبكى فقال له الرجل ما يبكيك لعلك استقللت ما أعطيناك قال لا ولكن ذكرت ما تأكل الأرض من كرمك فأبكاني

Seorang laki-laki dari suku Quraisy baru kembali dari suatu perjalanan, lalu ia melintasi seorang Arab Badui di pinggir jalan yang telah dilumpuhkan oleh perjalanan waktu dan dimudaratkan oleh penyakit. Orang Badui itu berkata, "Wahai Fulan, bantulah kami menghadapi kerasnya zaman." Maka laki-laki Quraisy itu berkata kepada pelayannya, "Serahkanlah sisa nafkah yang ada padamu kepadanya!" Pelayan itu pun menuangkan empat ribu dirham ke pangkuan sang Badui. Ketika sang Badui hendak berdiri, ia tidak sanggup karena terlalu lemah, lalu ia menangis. Laki-laki Quraisy itu bertanya, "Apa yang membuatmu menangis? Apakah engkau menganggap pemberian kami terlalu sedikit?" Sang Badui menjawab, "Tidak, tetapi aku teringat bahwa tanah kelak akan memakan kedermawananmu, dan hal itulah yang membuatku menangis."

واشترى عبد الله بن عامر من خالد بن عقبة بن أبي معيط داره التي في السوق بِتِسْعِينَ أَلْفَ دِرْهَمٍ فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ سَمِعَ بكاء أهل خالد فقال لأهله ما لهؤلاء قالوا يبكون لدارهم فقال يا غلام ائتهم فأعلمهم أن المال والدار لهم جميعاً

Abdullah bin Amir membeli rumah milik Khalid bin Uqbah bin Abi Mu'aith yang berada di pasar seharga sembilan puluh ribu dirham. Ketika malam tiba, ia mendengar tangisan keluarga Khalid. Ia bertanya kepada keluarganya, "Ada apa dengan mereka?" Mereka menjawab, "Merek menangisi rumah mereka." Maka ia berkata, "Wahai pelayan, pergilah kepada mereka dan beritahukanlah bahwa uang dan rumah itu semuanya menjadi milik mereka."

وقيل بعث هارون الرشيد إلى مالك بن أنس ﵀ بخمسمائة دينار فبلغ ذلك الليث به سعد فأنفذ إليه ألف دينار فغضب هارون وقال أعطيته خمسمائة وتعطيه ألفاً وأنت من رعيتي فقال يا أمير المؤمنين إن لي من غلتي كل يوم ألف دينار فاستحييت أن أعطي مثله أقل من دخل يوم وحكي أنه لم تجب عليه الزكاة مع أن دخله كل يوم ألف دينار وحكي أن امرأة سألت الليث بن سعد رحمة الله عليه شيئاً من عسل فأمر لها بزق من عسل فقيل له إنها كانت تقنع بدون هذا فقال إنها سألت على قدر حاجتها ونحن نعطيها على قدر النعمة علينا وكان الليث ابن سَعْدٍ لَا يَتَكَلَّمُ كُلَّ يَوْمٍ حَتَّى يَتَصَدَّقَ على ثلثمائة وستين مسكيناً

Dikatakan bahwa Harun ar-Rasyid mengirimkan lima ratus dinar kepada Malik bin Anas r.a. Kabar tersebut sampai kepada Al-Laits bin Sa'ad, maka ia mengirimkan seribu dinar kepada Imam Malik. Harun pun marah dan berkata, "Aku memberinya lima ratus, sedangkan engkau memberinya seribu padahal engkau adalah rakyatku?" Al-Laits menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya hasil pendapatanku setiap hari adalah seribu dinar, maka aku malu memberikan kepada orang sepertinya kurang dari pendapatan satu hari." Diriwayatkan pula bahwa tidak pernah wajib zakat atas dirinya padahal pendapatannya sehari seribu dinar. Diceritakan juga bahwa seorang wanita meminta sedikit madu kepada Al-Laits bin Sa'ad rahmatullah 'alaih, lalu beliau memerintahkan untuk memberinya satu kantung kulit berisi madu. Ada yang berkata kepadanya, "Sesungguhnya dia sudah merasa cukup dengan yang lebih sedikit dari ini." Beliau menjawab, "Dia meminta sesuai dengan kadar kebutuhannya, sedangkan kami memberinya sesuai dengan kadar nikmat Allah atas kami." Dan Al-Laits bin Sa'ad tidak berbicara setiap harinya sebelum ia bersedekah kepada tiga ratus enam puluh orang miskin.

وقال الأعمش اشتكت شاة عندي فكان خيثمة بن عبد الرحمن يعودها بالغداة والعشي ويسألني هل استوفت علفها وكيف صبر الصبيان منذ فقدوا لبنها وكان تحتي لبد أجلس عليه فإذا خرج قال خذ ما تحت اللبد حتى وصل إلي في علة الشاة أكثر من ثلثمائة دينار من بره حتى تمنيت أن الشاة لم تبرأ

Al-A'masy berkata, "Satu ekor domba milikku pernah sakit. Lalu Khaitsamah bin Abdurrahman rutin menjenguknya pada pagi dan petang hari. Ia bertanya kepadaku, 'Apakah rumput makanannya sudah terpenuhi? Bagaimana kesabaran anak-anak sejak tidak mendapatkan susunya?' Di bawah tempat dudukku ada alas wol yang kududuki. Setiap kali ia hendak keluar, ia berkata, 'Ambillah apa yang ada di bawah alas wol itu!' Hingga kebaikannya yang sampai kepadaku selama masa sakit domba tersebut mencapai lebih dari tiga ratus dinar, sampai-sampai aku berharap domba itu tidak pernah sembuh."

وقال عبد الملك بن مروان لأسماء بن خارجة بلغني عنك خصال فحدثني بها فقال هي من غيري أحسن منها مني فقال عزمت عليك إلا حدثتني بها فقال يا أمير المؤمنين مَا مَدَدْتُ رِجْلِي بَيْنَ يَدَيْ جَلِيسٍ لِي قَطُّ وَلَا صَنَعْتُ طَعَامًا قَطُّ فَدَعَوْتُ عَلَيْهِ قوماً إلا كانوا أَمَنَّ عَلَيَّ مِنِّي عَلَيْهِمْ وَلَا نَصَبَ لِي رَجُلٌ وَجْهَهُ قَطُّ يَسْأَلُنِي شَيْئًا فَاسْتَكْثَرْتُ شَيْئًا أعطيته إياه

Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Asma' bin Kharijah, "Telah sampai kepadaku beberapa sifat kebaikanmu, maka ceritakanlah kepadaku!" Asma' menjawab, "Sifat-sifat itu jika diceritakan dari orang lain tentu lebih indah daripada dari diriku sendiri." Abdul Malik berkata, "Aku mendesakmu agar engkau menceritakannya kepadaku." Asma' berkata, "Wahai Amirul Mukminin, aku tidak pernah sekali pun meluruskan kakiku di hadapan teman dudukku, aku tidak pernah membuat makanan lalu mengundang suatu kaum melainkan aku merasa mereka lebih berjasa kepadaku daripada jasaku kepada mereka, dan tidak pernah ada seseorang yang memandang wajahku untuk meminta sesuatu lalu aku menganggap banyak apa yang kuberikan kepadanya."

ودخل سعيد بن خالد على سليمان بن عبد الملك وكان سعيد رجلاً جواداً فإذا لم يجد شيئاً كتب لمن سأله صكاً على نفسه حتى يخرج عطاؤه فلما نظر إليه سليمان تمثل بهذا البيت فقال

Sa'id bin Khalid menghadap Sulaiman bin Abdul Malik. Sa'id adalah seorang pria yang sangat pemurah, jika ia tidak memiliki sesuatu, ia menulis surat utang atas dirinya bagi orang yang meminta kepadanya hingga tunjangan negaranya keluar. Ketika Sulaiman memandangnya, ia berungkap dengan bait syair ini lalu berkata:

إني سمعت مع الصباح مناديا … يا من يعين على الفتى المعوان

"Sungguh pada pagi hari aku mendengar seorang penyeru mengimbau: Wahai siapa saja yang sudi membantu pemuda yang gemar membantu…"

ثم قال ما حاجتك قال ديني قال وكم هو قال ثلاثون ألف دينار قال لك دينك ومثله

Kemudian Sulaiman berkata, "Apakah keperluanmu?" Sa'id menjawab, "Utangku." Sulaiman bertanya, "Berapa jumlahnya?" Ia menjawab, "Tiga puluh ribu dinar." Sulaiman berkata, "Untukmu pelunasan utangmu dan sejumlah itu pula untukmu."

وقيل مرض قيس بن سعد بن عبادة فاستبطأ إخوانه فقيل له إنهم يستحيون مما لك عليهم من الدين فقال أخزى الله مالا يمنع الإخوان من الزيارة ثم أمر منادياً فنادى من كان عليه لقيس بن سعد حق فهو منه بريء قال فانكسرت درجته بالعشي لكثرة من زاره وعاده

Dikatakan bahwa Qais bin Sa'ad bin Ubadah sakit, lalu ia merasa saudara-saudaranya lambat menjenguknya. Dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya mereka malu karena piutang yang engkau miliki atas mereka." Maka ia berkata, "Semoga Allah menghinakan harta yang menghalangi saudara-saudara untuk berkunjung!" Kemudian ia memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan: "Barang siapa yang memiliki tanggungan hak/utang kepada Qais bin Sa'ad, maka ia telah dibebaskan darinya." Diceritakan bahwa tangga rumahnya sampai patah pada sore harinya karena banyaknya orang yang datang berkunjung dan menjenguknya.

عن أبي إسحاق قال صليت العصر في مسجد الأشعث بالكوفة أطلب غريماً لي فلما صليت وضع بين يدي حلة ونعلان فقلت لست من أهل هذا المسجد فقالوا إن الأشعث بن قيس الكندي قدم البارحة من مكة فأمر لكل من صلى في المسجد بحلة ونعلين

Dari Abu Ishaq, ia berkata, "Aku melaksanakan shalat Asar di Masjid Al-Asy'ats di Kufah untuk mencari orang yang berutang kepadaku. Selesai shalat, diletakkan di hadapanku sepasang pakaian dan sepasang sandal. Aku berkata, 'Aku bukan jemaah tetap masjid ini.' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya Al-Asy'ats bin Qais Al-Kindi baru tiba tadi malam dari Makkah, lalu ia memerintahkan untuk memberikan sepasang pakaian dan sepasang sandal kepada setiap orang yang shalat di masjid ini.'"

وقال الشيخ أبو سعد الحركوشي النيسابوري ﵀ سمعت محمد بن محمد الحافظ يقول سمعت الشافعي المجاور بمكة يقول كان بمصر رجل عرف بأن يجمع للفقراء شيئاً فولد لبعضهم مولود قال فجئت إليه وقلت له ولد لي مولود وليس معي شيء فقام معي ودخل على جماعة فلم يفتح بشيء فجاء إلى قبر رجل وجلس عنده وقال رحمك الله كنت تفعل وتصنع وإني درت اليوم على جماعة فكلفتهم دفع شيء لمولود فلم يتفق لي شيء قال ثم قام وأخرج ديناراً وقسمه نصفين وناولني نصفه وقال هذا دين عليك إلى أن يفتح الله عليك بشيء قال فأخذته وانصرفت فأصلحت ما اتفق لي به قال فرأى ذلك المحتسب تلك الليلة ذلك الشخص في منامه فقال سمعت جميع ما قلت وليس لنا إذن في الجواب ولكن أحضر منزلي وقل لأولادي يحفروا مكان الكانون ويخرجوا قرابة فيها خمسمائة دينار فاحملها إلى هذا الرجل فلما كان من الغد تقدم إلى منزل الميت وقص عليهم القصة فقالوا له اجلس وحفروا الموضع وأخرجوا الدنانير وجاءوا بها فوضعوها بين يديه فقال هذا مالكم وليس لرؤياي حكم فقالوا هو يتسخى ميتاً ولا نتسخى نحن أحياء فلما ألحوا عليه حمل الدنانير إلى الرجل صاحب المولود وذكر له القصة قال فأخذ منها ديناراً فكسره نصفين فأعطاه النصف الذي أقرضه وحمل النصف الآخر وقال يكفيني هذا وتصدق به على الفقراء فقال أبو سعيد فلا أدري أي هؤلاء أسخى

Syaikh Abu Sa'd Al-Harkusyi An-Naisaburi r.a. berkata: Aku mendengar Muhammad bin Muhammad Al-Hafizh berkata: Aku mendengar Asy-Syafi'i yang bermujawar (tinggal) di Makkah berkata: Di Mesir ada seorang pria yang dikenal suka mengumpulkan bantuan untuk kaum fakir. Suatu ketika ada seorang bayi lahir pada keluarga salah seorang dari mereka. Pria itu berkata, "Lalu aku mendatangi pria tersebut dan berkata kepadanya, 'Telah lahir bagiku seorang anak dan aku tidak memiliki apa-apa.' Maka ia berdiri bersamaku dan mendatangi sekelompok orang, namun tidak mendapatkan hasil apa pun. Kemudian ia mendatangi makam seseorang, duduk di sampingnya, lalu berkata, 'Semoga Allah merahmatimu, dahulu engkau sering berbuat demikian dan demikian. Hari ini aku mendatangi sekelompok orang dan meminta mereka memberikan sesuatu untuk bayi yang baru lahir, namun aku tidak mendapatkan apa-apa.' Kemudian ia berdiri, mengeluarkan satu dinar, membelahnya menjadi dua, dan menyerahkan separuhnya kepadaku seraya berkata, 'Ini adalah utang atasmu sampai Allah membukakan jalan bagimu.' Aku membelanjakannya untuk keperluanku. Pada malam harinya, orang yang bertindak membantu itu bermimpi bertemu si ahli kubur dalam tidurnya. Ahli kubur itu berkata, 'Aku mendengar semua yang engkau katakan, tetapi kami tidak diizinkan untuk menjawab. Datanglah ke rumahku dan katakan kepada anak-anakku agar menggali tempat perapian dan mengeluarkan wadah berisi lima ratus dinar, lalu bawalah ke pria tersebut.' Keesokan harinya, ia mendatangi rumah almarhum dan menceritakan kisah itu kepada mereka. Mereka berkata, 'Duduklah.' Lalu mereka menggali tempat tersebut dan mengeluarkan dinar-dinar itu, membawanya dan meletakkannya di hadapannya. Pria itu berkata, 'Ini adalah harta kalian, dan mimpiku tidak memiliki hukum kewajiban.' Namun mereka menjawab, 'Beliau bisa begitu dermawan saat sudah meninggal, masa kami tidak dermawan saat masih hidup?' Ketika mereka mendesaknya, ia membawa dinar-dinar tersebut kepada pria yang baru mendapatkan anak dan menceritakan kisahnya. Pria itu mengambil satu dinar darinya, membelahnya menjadi dua, memberikan separuhnya yang pernah dipinjamkannya, lalu mengambil separuh lainnya seraya berkata, 'Ini saja sudah cukup bagiku,' lalu ia menyedekahkan sisanya kepada kaum fakir. Abu Sa'id berkata, "Maka aku tidak tahu siapakah di antara mereka yang paling dermawan."

وروي أن الشافعي ﵀ لما مرض مرض موته بمصر قال مروا فلاناً يغسلني فلما توفي بلغه خبر وفاته فحضر وقال ائتوني بتذكرته فأتي بها فنظر فيها فإذا على الشافعي سبعون ألف درهم دين فكتبها على نفسه وقضاها عنه وقال هذا غسلي إياه أي أراد به هذا وقال أبو سعيد الواعظ الحركوشي لما قدمت مصر طلبت منزل ذلك الرجل فدلوني عليه فرأيت جماعة من أحفاده وزرتهم فرأيت فيهم سيما الخير وآثار الفضل فقلت بلغ أثره في الخير إليهم وظهرت بركته فيهم مستدلاً بقوله تعالى وكان أبوهما صالحاً وقال الشافعي ﵀ لا أزال أحب حماد بن أبي سليمان لشيء بلغني عنه أنه كان ذات يوم راكباً حماره فحركه فانقطع زره فمر على الخياط فأراد أن ينزل إليه ليسوي زره فقال الخياط والله لا نزلت فقام الخياط إليه فسوى زره فأخرج إليه صرة فيها عشرة دنانير فسلمها إلى الخياط واعتذر إليه من قلتها وأنشد الشافعي ﵀ لِنَفْسِهِ

Diriwayatkan bahwa ketika Imam Asy-Syafi'i r.a. menderita sakit yang membawa wafatnya di Mesir, beliau berkata, "Suruhlah Fulan memandikan jenazahku." Ketika beliau wafat dan kabar duka sampai kepada Fulan tersebut, ia pun hadir dan berkata, "Bawakanlah buku catatan utangnya kepadaku." Lalu buku itu dibawakan kepadanya, dan setelah diperiksa, ternyata Imam Asy-Syafi'i memiliki utang sebesar tujuh puluh ribu dirham. Maka Fulan menanggung utang itu atas dirinya sendiri dan melunasinya untuk Imam Asy-Syafi'i seraya berkata, "Inilah maksud dari perkataan beliau agar aku memandikannya." Abu Sa'id Al-Wa'izh Al-Harkusyi berkata, "Ketika aku datang ke Mesir, aku mencari rumah pria tersebut, lalu orang-orang menunjukkannya kepadaku. Aku bertemu dengan sekumpulan keturunannya dan mengunjungi mereka, lalu aku melihat pada diri mereka tanda-tanda kebaikan dan atsar keutamaan. Maka aku berkata, 'Pengaruh kebaikannya telah sampai kepada mereka dan berkahnya tampak pada diri mereka,' dengan berdalil pada firman Allah Ta'ala: 'Sedangkan ayah mereka berdua adalah seorang yang saleh' (QS. Al-Kahf: 82)." Dan Imam Asy-Syafi'i r.a. berkata, "Aku senantiasa mencintai Hammad bin Abi Sulaiman karena suatu hal yang sampai kepadaku tentangnya, yaitu pada suatu hari ia sedang menunggangi keledainya lalu memacunya hingga kancing bajunya terputus. Ketika melewati seorang penjahit, ia hendak turun untuk memperbaiki kancingnya, namun penjahit itu berkata, 'Demi Allah, janganlah Anda turun!' Penjahit itu pun menghampirinya dan memperbaiki kancingnya. Lalu Hammad mengeluarkan seikat kantong berisi sepuluh dinar dan menyerahkannya kepada penjahit itu seraya meminta maaf atas sedikitnya pemberian tersebut." Kemudian Imam Asy-Syafi'i r.a. melantunkan syair buatan beliau sendiri:

يَا لَهْفَ قَلْبِي عَلَى مَالٍ أَجُودُ بِهِ … عَلَى الْمُقِلِّينَ مِنْ أَهْلِ الْمُرُوءَاتِ

"Betapa rindunya hatiku akan harta yang bisa kubagikan… Kepada orang-orang tak berpunya dari kalangan orang yang menjaga kehormatan diri."

إِنَّ اعْتِذَارِي إِلَى مَنْ جَاءَ يَسْأَلُنِي … مَا لَيْسَ عندي لمن إِحْدَى الْمُصِيبَاتِ

"Sesungguhnya permohonan maafku kepada orang yang datang meminta kepadaku… Atas sesuatu yang tidak kumiliki, sungguh merupakan salah satu musibah bagiku."

وَعَنْ الربيع بن سليمان قَالَ أَخَذَ رَجُلٌ بِرِكَابِ الشَّافِعِيِّ ﵀ فَقَالَ يَا ربيع أَعْطِهِ أَرْبَعَةَ دَنَانِيرَ وَاعْتَذِرْ إِلَيْهِ عني وقال الربيع سمعت الحميدي يقول قدم الشافعي من صنعاء إلى مكة بعشرة آلاف دينار فضرب خباءه في موضع خارج عن مكة ونثرها على ثوب ثم أقبل على كل من دخل عليه يقبض له قبضة ويعطيه حتى صلى الظهر ونفض الثوب وليس عليه شيء

Dari Ar-Rabi' bin Sulaiman, ia berkata, "Seorang pria memegang pijakan kaki tunggangan Imam Asy-Syafi'i r.a. (untuk membantunya naik), maka beliau berkata, 'Wahai Rabi', berikanlah kepadanya empat dinar dan sampaikan permohonan maafku kepadanya!'" Ar-Rabi' juga berkata: Aku mendengar Al-Humaidi berkata: Imam Asy-Syafi'i datang dari Shan'a ke Makkah dengan membawa sepuluh ribu dinar. Beliau mendirikan kemahnya di suatu tempat di luar Makkah, lalu menumpahkan uang itu di atas sehelai kain. Setelah itu beliau menemui setiap orang yang masuk menemuinya dengan mengambil segenggam uang dan memberikannya kepadanya, hingga ketika beliau selesai shalat Dzuhur, beliau mengibaskan kain itu dan tidak ada lagi sisa sedikit pun di atasnya.

وعن أبي ثور قال أراد الشافعي الخروج إلى مكة ومعه مال وكان قلما يمسك شيئاً من سماحته فقلت له ينبغي أن تشتري بهذا المال ضيعة تكون لك ولولدك قال فخرج ثم قدم علينا فسألته عن ذلك المال فقال ما وجدت بمكة ضيعة يمكنني أن أشتريها لمعرفتي بأصلها وقد وقف أكثرها ولكني بنيت بمنى مضربا يكون لأصحابنا إذا حجوا أن ينزلوا فيه وأنشد الشافعي ﵀ لنفسه يقول

Dari Abu Tsaur, ia berkata: Imam Asy-Syafi'i hendak berangkat ke Makkah dengan membawa sejumlah harta, dan beliau hampir tidak pernah menahan harta apa pun karena kedermawanannya. Maka aku berkata kepadanya, "Seyogianya engkau membeli tanah/kebun dengan harta ini agar menjadi milikmu dan anak-anakmu." Ia berkata: Lalu beliau berangkat dan kemudian kembali kepada kami. Aku bertanya kepadanya tentang harta tersebut, lalu beliau menjawab, "Aku tidak menemukan tanah di Makkah yang dapat kubeli karena aku tahu asal-usulnya dan sebagian besarnya telah diwakafkan. Namun, aku membangun sebuah tempat singgah di Mina agar para sahabat kita dapat menempatinya ketika mereka menunaikan ibadah haji." Kemudian Imam Asy-Syafi'i r.a. melantunkan syair buatan beliau sendiri, beliau berkata:

أرى نفسي تتوق إلى أمور … يقصر دون مبلغهن مالي

"Aku melihat jiwaku merindukan berbagai hal mulia… Yang hartaku tidak mampu mencapainya."

فنفسي لا تطاوعني ببخل … ومالي لا يبلغني فعالي

"Namun jiwaku tidak membiarkanku untuk kikir… Sementara hartaku tak sanggup mengimbangi perbuatanku."

وقال محمد بن عباد المهلبي دخل أبي على المأمون فوصله بمائة ألف درهم فلما قام من عنده تصدق بها فأخبر بذلك المأمون فلما عاد إليه عاتبه المأمون في ذلك فقال يا أمير المؤمنين منع الموجود سوء ظن بالمعبود فوصله بمائة ألف أخرى

Muhammad bin Abbad Al-Muhallabi berkata: Ayahku menghadap Al-Ma'mun, lalu Al-Ma'mun memberinya hadiah seratus ribu dirham. Ketika ia beranjak dari hadapannya, ia menyedekahkan semuanya. Kabar tersebut sampai kepada Al-Ma'mun. Ketika ayahku kembali menemuinya, Al-Ma'mun menegurnya atas tindakan itu. Ayahku menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, menahan apa yang ada merupakan prasangka buruk kepada Sang Sesembahan (Allah)." Maka Al-Ma'mun memberinya seratus ribu dirham lagi.

وَقَامَ رَجُلٌ إِلَى سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ فَسَأَلَهُ فَأَمَرَ لَهُ بِمِائَةِ أَلْفِ دِرْهَمٍ فَبَكَى فَقَالَ لَهُ سعيد مَا يُبْكِيكَ قَالَ أَبْكِي عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ مِثْلَكَ فَأَمَرَ لَهُ بِمِائَةِ ألف أخرى

Seorang pria mendatangi Sa'id bin Al-'Ash lalu meminta kepadanya, maka Sa'id memerintahkan agar ia diberi seratus ribu dirham. Pria itu pun menangis. Sa'id bertanya kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Pria itu menjawab, "Aku menangis karena tanah kelak akan memakan orang sepertimu." Maka Sa'id memerintahkan agar ia diberi seratus ribu dirham lagi.

ودخل أبو تمام على إبراهيم بن شكلة بأبيات امتدحه بها فوجده عليلاً فقبل منه المدحة وأمر حاجبه بنيله ما يصلحه وقال

Abu Tammam mendatangi Ibrahim bin Syaklah membawa bait-bait puisi untuk memujinya. Namun, ia mendapatinya sedang sakit. Ibrahim pun menerima pujian tersebut dan memerintahkan pengawalnya untuk memberinya pemberian yang memadai baginya, lalu berkata:

عسى أن أقوم من مرضي فأكافئه فأقام شهرين فوحشه طول المقام فكتب إليه يقول

"Semoga aku segera sembuh dari sakitku ini sehingga aku dapat membalas kebaikannya." Maka Abu Tammam tinggal selama dua bulan hingga ia merasa jemu karena terlalu lama menunggu, lalu ia menulis surat kepadanya yang berbunyi:

إن حراماً قبول مدحتنا … وترك ما نرتجي من الصفد

"Sungguh haram menerima pujian kami … namun meninggalkan pemberian yang kami harapkan."

كما الدراهم والدنانير في البيعحرام إلا يدا بيد

"Sebagaimana dirham dan dinar dalam jual beli … haram hukumnya kecuali tunai (dari tangan ke tangan)."

فلما وصل البيتان إلى إبراهيم قال لحاجبه كم أقام بالباب قال شهرين قال أعطه ثلاثون ألف وجئني بدواة فكتب إليه

Ketika dua bait puisi itu sampai kepada Ibrahim, ia bertanya kepada pengawalnya, "Berapa lama dia menunggu di pintu?" Pengawalnya menjawab, "Dua bulan." Ibrahim berkata, "Berikan dia tiga puluh ribu (dirham) dan bawakan aku tempat tinta!" Lalu Ibrahim membalas suratnya:

أعجلتنا فأتاك عاجل برنا … قلا ولو أمهلتنا لم نقلل

"Engkau terburu-buru menagih kami, maka datanglah kedermawanan kami yang ala kadarnya … Sedikit memang, namun seandainya engkau memberi kami waktu, kami tidak akan memberi sedikit."

فخذ القليل وكن كأنك لم تقل … ونقول نحن كأننا لم نفعل

"Maka terimalah yang sedikit ini dan beraktinglah seolah engkau tidak pernah berkata (meminta) … dan kami pun menganggap seolah-olah kami belum memberi apa-apa."

وروي أنه كان لعثمان على طلحة ﵄ خمسون ألف درهم فخرج عثمان يوماً إلى المسجد فقال له طلحة قد تهيأ مالك فاقبضه فقال هو لك يا أبا محمد معونة لك على مروءتك وقالت سعدى بنت عوف دخلت على طلحة فرأيت منه ثقلاً فقلت له مالك فقال اجتمع عندي مال وقد غمني فقلت وما يغمك ادع قومك فقال يا غلام علي بقومي فقسمه فيهم فسألت الخادم كم كان قال أربعمائة ألف

Diriwayatkan bahwa 'Utsman memiliki piutang pada Talhah radhiyallahu 'anhuma sebesar lima puluh ribu dirham. Suatu hari 'Utsman keluar menuju masjid, lalu Talhah berkata kepadanya, "Harta (hutang)-mu telah siap, maka terimalah." 'Utsman menjawab, "Harta itu untukmu wahai Abu Muhammad, sebagai bantuan untuk mendukung kemurahan hatimu (muru'ah)." Dan Su'da binti 'Auf berkata: Aku pernah menemui Talhah lalu aku melihatnya dalam keadaan bersedih. Aku bertanya kepadanya, "Ada apa denganmu?" Ia menjawab, "Telah terkumpul padaku sejumlah harta dan hal itu membuatku cemas." Aku berkata, "Apa yang membuatmu cemas? Panggillah kaummu!" Maka Talhah berkata, "Wahai pelayan, panggilkan kaumku!" Lalu ia membagikan harta itu di antara mereka. Aku bertanya kepada pelayan tersebut, "Berapa jumlahnya?" Ia menjawab, "Empat ratus ribu (dirham)."

وجاء أعرابي إلى طلحة فسأله وتقرب إليه برحم فقال إن هذه الرحم ما سألني بها أحد قبلك إن لي أرضاً قد أعطاني بها عثمان ثلثمائة ألف فإن شئت فاقبضها وإن شئت بعتها من عثمان ودفعت إليك الثمن فقال الثمن فباعها من عثمان ودفع إليه الثمن

Seorang Arab Badui datang kepada Talhah lalu meminta bantuan kepadanya dengan menyebutkan ikatan kekerabatan (silaturahmi). Talhah berkata, "Sungguh, ikatan kekerabatan ini belum pernah ada orang yang memintaku dengannya sebelummu. Aku memiliki sebidang tanah yang ditawar 'Utsman seharga tiga ratus ribu. Jika engkau mau, ambillah tanah itu. Namun jika engkau mau, aku akan menjualnya kepada 'Utsman dan menyerahkan uangnya kepadamu." Orang Badui itu menjawab, "Uangnya saja." Maka Talhah menjualnya kepada 'Utsman dan menyerahkan seluruh uang harganya kepada orang Badui tersebut.

وقيل بكى علي كرم الله وجهه يوماً فَقِيلَ مَا يُبْكِيكَ فَقَالَ لَمْ يَأْتِنِي ضَيْفٌ مُنْذُ سَبْعَةِ أَيَّامٍ أَخَافُ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ قد أهانني

Dikatakan bahwa 'Ali karramallahu wajhah menangis pada suatu hari, lalu ditanyakan kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Beliau menjawab, "Tidak ada tamu yang mendatangi aku selama tujuh hari. Aku takut jangan-jangan Allah telah menghinakanku."

وأتى رجل صَدِيقًا لَهُ فَدَقَّ عَلَيْهِ الْبَابَ فَقَالَ مَا جَاءَ بِكَ قَالَ عَلَيَّ أَرْبَعُمِائَةِ دِرْهَمٍ دَيْنٌ فوزن أربعمائة درهم وأخرجها إليها وعاد يبكي فقالت امرأته لم أعطيته إذ شق عليك فقال إنما أَبْكِي لِأَنِّي لَمْ أَتَفَقَّدْ حَالَهُ حَتَّى احْتَاجَ إلى مفاتحتي فرحم الله من هذه صفاتهم وغفر لهم أجمعين

Seseorang mendatangi sahabatnya lalu mengetuk pintunya. Sahabatnya bertanya, "Apa yang membuatmu datang?" Ia menjawab, "Aku menanggung hutang sebesar empat ratus dirham." Maka sahabatnya menimbang empat ratus dirham dan mengeluarkannya kepadanya, lalu ia kembali sambil menangis. Istrinya berkata, "Mengapa engkau memberinya jika itu membuatmu merasa berat?" Ia menjawab, "Aku menangis hanyalah karena aku tidak memberi perhatian pada keadaannya hingga dia terpaksa meminta kepadaku." Maka semoga Allah meratai rahmat-Nya kepada orang-orang yang berakhlak demikian dan mengampuni mereka semua.

بَيَانُ ذَمِّ الْبُخْلِ

PENJELASAN TENTANG CELAAN TERHADAP SIFAT KIKIR (BAKHIL)

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَمَنْ يوق شح نفسه فأولئك هم المفلحون وَقَالَ تَعَالَى وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتاهم الله من فضله هو خير لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بخلوا به يوم القيامة وقال تعالى الذين يبخلون ويأمرون الناس بالبخل ويكتمون ما آتاهم الله من فضله وَقَالَ ﷺ إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أن سفكوا دماءهم واستحلوا محارمهم

Allah Ta'ala berfirman: "Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sekali-kali janganlah orang-orang yang kikir dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kikir itu baik bagi mereka. Sebenarnya kikir itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak pada hari Kiamat." (QS. Ali 'Imran: 180). Dan Allah Ta'ala berfirman: "(Yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka." (QS. An-Nisa': 37). Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Jauhilah olehmu sifat kikir (syuhh), karena sesungguhnya sifat kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kamu; sifat itu telah mendorong mereka untuk mengalirkan darah sesama mereka dan menghalalkan apa yang diharamkan bagi mereka."

وَقَالَ ﷺ إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Jauhilah olehmu sifat kikir (syuhh)."

فإنه دعا من كان قبلكم فسفكوا دماءهم ودعاهم فاستحلوا محارمهم ودعاهم فقطعوا أرحامهم وَقَالَ ﷺ لَا يَدْخُلُ الجنة بخيل ولا خب ولا خائن ولا سيء الملكة

"Karena sesungguhnya sifat kikir itu telah menyeru orang-orang sebelum kamu sehingga mereka mengalirkan darah mereka, menyeru mereka sehingga mereka menghalalkan hal-hal yang diharamkan bagi mereka, dan menyeru mereka sehingga mereka memutuskan tali silaturahmi." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang kikir, orang yang licik, orang yang berkhianat, dan orang yang buruk perlakuan terhadap budaknya/bawahannya."

وفي رواية ولا جبار وفي رواية ولا منان وَقَالَ ﷺ ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ حديث أن الله يبغض ثلاثا الشيخ الزاني والبخيل المنان والفقير المختال أخرجه الترمذي والنسائي من حديث أبي ذر دون قوله البخيل المنان وقال فيه الغني الظلوم وقد تقدم وللطبراني في الأوسط من حديث علي إن الله ليبغض الغني الظلوم والشيخ الجهول والعائل المختال وسنده ضعيف حديث مثل المنفق والبخيل كمثل رجلين عليهما جبة من حديد الحديث متفق عليه من حديث أبي هريرة حديث خَصْلَتَانِ لَا تَجْتَمِعَانِ فِي مُؤْمِنٍ الْبُخْلُ وَسُوءُ الخلق أخرجه الترمذي من حديث أبي سعيد وقال غريب حديث اللهم إني أعوذ بك من البخل وأعوذ بك من الجبن الحديث أخرجه البخاري من حديث سعد وتقدم في الأذكار حديث إياكم والظلم فإن الظلم ظلمات يوم القيامة الحديث أخرجه الحاكم من حديث عبد الله بن عمرو دون قوله أمرهم بالكذب فكذبوا وأمرهم بالظلم فظلموا قال عوضا عنهما وبالبخل فبخلوا وبالفجور ففجروا وكذا رواه أبو داود على ذكر الشح وقد تقدم قبله بسبعة أحاديث ولمسلم من حديث جابر اتقوا الظلم فإن الظلم ظلمات يوم القيامة واتقوا الشح فذكره بلفظ آخر ولم يذكر الفحش حديث شر ما في الرجل شح هالع وجبن خالع أخرجه أبو داود من حديث جابر بسند جيد حديث وما يدريك أنه شهيد فلعله كان يتكلم فيما لا يعنيه أو يبخل بما لا ينقصه أخرجه أبو يعلى من حديث أبي هريرة بسند ضعيف وللبيهقي في الشعب من حديث أنس أن أمه قالت ليهنك الشهادة وهو عند الترمذي إلا أن رجلاً قال له أبشر بالجنة حديث جبير بن مطعم بينما نحن نسير مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ومعه الناس مقفلة من حنين علقت الأعراب به الحديث أخرجه البخاري وتقدم في أخلاق النبوة //

Dalam satu riwayat: "dan tidak pula orang yang sombong (jabbar)." Dalam riwayat lain: "dan tidak pula orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian (mannan)." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Tiga hal yang membinasakan: sifat kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan rasa takjub seseorang terhadap dirinya sendiri." Hadis "Sesungguhnya Allah membenci tiga golongan: orang tua yang berzina, orang kikir yang suka mengungkit pemberian, dan orang miskin yang sombong," diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa'i dari hadis Abu Dzarr tanpa lafaz "orang kikir yang suka mengungkit pemberian", melainkan dengan lafaz "orang kaya yang zalim", sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Diriwayatkan pula oleh at-Thabarani dalam al-Awsath dari hadis 'Ali: "Sesungguhnya Allah membenci orang kaya yang zalim, orang tua yang amat bodoh, dan orang miskin yang sombong," dan sanadnya dha'if. Hadis "Perumpamaan orang yang berinfak dan orang yang kikir seperti dua orang yang mengenakan baju besi…", hadis ini muttafaq 'alaih dari hadis Abu Hurairah. Hadis "Dua sifat yang tidak akan berkumpul pada diri seorang mukmin: kikir dan akhlak yang buruk," diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari hadis Abu Sa'id dan ia berkata: gharib. Hadis "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut…", diriwayatkan oleh al-Bukhari dari hadis Sa'ad dan telah disebutkan sebelumnya pada Kitab al-Adzkar. Hadis "Jauhilah olehmu perbuatan zalim, karena kelaziman itu adalah kegelapan pada hari Kiamat…", diriwayatkan oleh al-Hakim dari hadis 'Abdullah bin 'Amr tanpa lafaz "sifat kikir menyuruh mereka berdusta maka mereka berdusta, dan menyuruh mereka berbuat zalim maka mereka berbuat zalim", ia menyebutkan sebagai gantinya "dan menyuruh mereka kikir maka mereka kikir, dan menyuruh mereka berbuat maksiat maka mereka berbuat maksiat". Demikian pula diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan menyebutkan sifat kikir (syuhh), dan telah disebutkan tujuh hadis sebelumnya. Diriwayatkan pula oleh Muslim dari hadis Jabir: "Takutlah kamu akan perbuatan zalim…", di mana beliau menyebutkannya dengan lafaz lain tanpa menyebutkan kekejian (fahsy). Hadis "Seburuk-buruk sifat yang ada pada diri seorang laki-laki adalah sifat kikir yang sangat gelisah dan sifat pengecut yang sangat mencemaskan," diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadis Jabir dengan sanad yang baik (jayyid). Hadis "Tahu darimana engkau bahwa ia seorang syahid? Boleh jadi ia dahulu membicarakan hal yang tidak berguna baginya atau kikir terhadap sesuatu yang tidak akan menguranginya," diriwayatkan oleh Abu Ya'la dari hadis Abu Hurairah dengan sanad yang dha'if. Diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman dari hadis Anas bahwa ibunya berkata, "Selamat atas kesyahidanmu," dan hadis ini terdapat dalam at-Tirmidzi hanya saja ada seseorang yang berkata kepadanya, "Bergembiralah dengan surga." Hadis Jubair bin Muth'im, "Ketika kami berjalan bersama Rasulullah ﷺ dan orang-orang kembali dari Perang Hunain, orang-orang Arab Badui menggelayuti beliau…", diriwayatkan oleh al-Bukhari dan telah disebutkan pada Bab Akhlak Kenabian.

وقال عمر ﵁ قسم رسول الله ﷺ قسماً فقلت غير هؤلاء كان أحق به

Dan 'Umar radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ membagikan suatu pembagian harta, lalu aku berkata, "Selain mereka sungguh lebih berhak menerimanya daripada mereka."

﴿منهم فقال﴾ إنهم يخيروني بين أن يسألوني بالفحش أو يبخلوني ولست بباخل

Maka Beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya mereka memberiku pilihan antara mereka memintaku dengan cara yang kasar (mendesak) atau mereka menganggapku kikir, padahal aku bukanlah seorang yang kikir."

وقال أبو سعيد الخدري دخل رجلان عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فسألاه ثمن بعير فأعطاهما دينارين فخرجا من عنده فلقيهما عمر بن الخطاب ﵁ فأثنيا وقالا معروفاً وشكراً ما صنع بهما فدخل عمر عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فأخبره بما قالا فقال ﷺ لكن فلان أعطيته ما بين عشرة إلى مائة ولم يقل ذلك إن أحدكم ليسألني فينطلق في مسألته متأبطها وهي نار فقال عمر فلم تعطهم ما هو نار فقال يأبون إلا أن يسألوني ويأبى الله لي البخل

Abu Sa'id al-Khudri berkata: Dua orang laki-laki mendatangi Rasulullah ﷺ lalu meminta kepada beliau harga seekor unta, maka beliau memberi mereka dua dinar. Keduanya pun keluar dari hadapan beliau lalu ditemui oleh 'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. Keduanya lalu memuji dan mengucapkan kebaikan serta rasa syukur atas apa yang dilakukan Rasulullah terhadap mereka. Maka 'Umar masuk menemui Rasulullah ﷺ dan memberitahukan apa yang dikatakan oleh kedua orang tersebut. Beliau ﷺ bersabda: "Akan tetapi si Fulan telah aku beri antara sepuluh hingga seratus dinar namun ia tidak mengucapkan hal seperti itu. Sungguh, salah seorang dari kalian meminta kepadaku lalu pergi membawa permintaannya sambil mengapitnya di bawah ketiaknya, padahal permintaan itu adalah api neraka." 'Umar bertanya, "Lantas mengapa Engkau tetap memberikan kepada mereka sesuatu yang merupakan api neraka?" Beliau menjawab: "Merekalah yang enggan kecuali tetap meminta kepadaku, dan Allah enggan bagiku untuk bersikap kikir."

وعن ابن عباس قال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الجود من جود الله تعالى فجودوا يجد الله لكم ألا إن الله ﷿ خلق الجود فجعله في صورة رجل وجعل رأسه راسخاً في أصل شجرة طوبى وشد أغصانها بأغصان سدرة المنتهى ودلى بعض أغصانها إلى الدنيا فمن تعلق بغصن منها أدخله الجنة ألا إن السخاء من الإيمان والإيمان في الجنة وخلق البخل من مقته وجعل رأسه راسخاً في أصل شجرة الزقوم ودلى بعض أغصانها إلى الدنيا فمن تعلق بغصن منها أدخله النار ألا إن البخل من الكفر والكفر في النار

Dari Ibn 'Abbas ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: "Kedermawanan itu berasal dari kedermawanan Allah Ta'ala, maka berdermawanlah kalian, niscaya Allah akan berdermawan kepada kalian. Ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla menciptakan kedermawanan lalu menjadikannya dalam rupa seorang laki-laki, dan menjadikan kepalanya tertancap kokoh di pangkal pohon Thuba serta mengikat dahan-dahannya dengan dahan-dahan Sidratul Muntaha, lalu menjulurkan sebagian dahannya ke dunia. Barangsiapa berpegang pada salah satu dahannya, niscaya dahan itu akan memasukkannya ke dalam surga. Ketahuilah, sesungguhnya kedermawanan itu bagian dari iman dan iman berada di surga. Dan Allah menciptakan sifat kikir dari kemurkaan-Nya, lalu menjadikannya dalam rupa seorang laki-laki dan menjadikan kepalanya tertancap kokoh di pangkal pohon Zaqqum, serta menjulurkan sebagian dahannya ke dunia. Barangsiapa berpegang pada salah satu dahannya, niscaya dahan itu akan memasukkannya ke dalam neraka. Ketahuilah, sesungguhnya sifat kikir itu bagian dari kekufuran dan kekufuran berada di dalam neraka."

وقال ﷺ السخاء شجرة تنبت في الجنة فلا يلج الجنة إلا سخي والبخل شجرة تنبت في النار فلا يلج النار إلا بخيل

Dan Beliau ﷺ bersabda: "Kedermawanan adalah pohon yang tumbuh di surga, maka tidak akan masuk surga kecuali orang yang dermawan. Sedangkan sifat kikir adalah pohon yang tumbuh di neraka, maka tidak akan masuk neraka kecuali orang yang kikir."

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِوَفْدِ بَنِي لَحْيَانَ مَنْ سيدكم يا بني لحيان قالوا سيدنا جد بن قيس إِلَّا أَنَّهُ رَجُلٌ فِيهِ بُخْلٌ فَقَالَ ﷺ وَأَيُّ دَاءٍ أَدْوَأُ مِنَ الْبُخْلِ وَلَكِنَّ سَيِّدَكُمْ عَمْرُو بن الجموح

Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepada utusan Bani Lihyan, "Siapakah pemimpin kalian, wahai Bani Lihyan?" Mereka menjawab, "Pemimpin kami adalah Jadd bin Qais, hanya saja dia seorang yang memiliki sifat kikir." Maka Beliau ﷺ bersabda, "Penyakit manakah yang lebih parah daripada kikir? Akan tetapi pemimpin kalian adalah 'Amr bin al-Jamuh."

وفي رواية أنهم قالوا سيدنا جد بن قيس فقال بم تسودونه قالوا إنه أكثر مالاً وأنا على ذلك لنرى منه البخل فَقَالَ ﷺ وَأَيُّ دَاءٍ أدوأ من البخل ليس ذلك سيدكم قالوا فمن سيدنا يا رسول الله قالوا سيدكم بشر بن البراء وقال علي ﵁ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِنَّ اللَّهَ يَبْغَضُ الْبَخِيلَ فِي حَيَاتِهِ السَّخِيَّ عنه موته

Dalam suatu riwayat, mereka berkata, "Pemimpin kami adalah Jadd bin Qais." Beliau bersabda, "Dengan alasan apa kalian menjadikannya pemimpin?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya dia adalah orang yang paling banyak hartanya, padahal kami melihat adanya sifat kikir padanya." Maka Beliau ﷺ bersabda, "Penyakit manakah yang lebih parah daripada sifat kikir? Dia bukanlah pemimpin kalian." Mereka bertanya, "Lantas siapakah pemimpin kami, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Pemimpin kalian adalah Bisyir bin al-Bara'." Dan Ali ﵁ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah membenci orang yang kikir semasa hidupnya dan baru dermawan ketika menjelang matinya."

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ السخي الجهول أحب إلى الله من العابد البخيل

Dan Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang dermawan yang awam lebih dicintai oleh Allah daripada ahli ibadah yang kikir."

وقال أيضاً قال ﷺ الشح والإيمان لا يجتمعان في قلب عبد

Dan Beliau bersabda pula: Rasulullah ﷺ bersabda, "Keserakahan dan iman tidak akan pernah menyatu dalam hati seorang hamba."

وقال أيضاً خصلتان لا يجتمعان في مؤمن البخل وسوء الخلق

Dan Beliau bersabda pula, "Dua perkara yang tidak akan berkumpul pada diri seorang mukmin: sifat kikir dan akhlak yang buruk."

وقال ﷺ لا ينبغي لمؤمن أن يكون بخيلاً ولا جباناً

Dan Beliau ﷺ bersabda, "Tidak sepatutnya bagi seorang mukmin menjadi orang yang kikir dan tidak pula penakut."

وقال ﷺ يقول قائلكم الشحيح

Dan Beliau ﷺ bersabda, "Seseorang di antara kalian ada yang berkata bahwa orang yang serakah (kikir)…"

أعذر من الظالم وأي ظلم أظلم عند الله من الشح حلف الله تعالى بعزته وعظمته وجلاله لا يدخل الجنة شحيح ولا بخيل حديث كان يطوف بالبيت فإذا رجل متعلق بأستار الكعبة وهو يقول بحرمة هذا البيت إلا غفرت لي الحديث في ذم البخل وفيه قال إليك عني لا تحرقني بنارك الحديث بطوله وهو باطل لا أصل له

"…lebih dapat dimaklumi daripada orang yang zalim. Padahal kezaliman manakah yang lebih besar di sisi Allah daripada keserakahan (kikir)? Allah Ta'ala telah bersumpah demi kemuliaan-Nya, keagungan-Nya, dan kebesaran-Nya bahwa tidak akan masuk surga orang yang serakah maupun orang yang kikir." Hadis tentang seseorang yang bertawaf di Baitullah lalu melihat seorang laki-laki berpegangan pada kelambu Ka'bah seraya berdoa: "Demi kehormatan rumah ini, ampunilah aku…" sebuah hadis panjang tentang celaan kikir yang di dalamnya disebutkan: "Pergilah dariku, jangan bakar aku dengan apimu…", adalah hadis yang batil dan tidak memiliki asal-usul.

الآثار قال ابن عباس ﵄ لما خلق الله جنة عدن قال لها تزيني فتزينت ثم قال لها أظهري أنهارك فأظهرت عين السلسبيل وعين الكافور وعين التسنيم فتفجر منها في الجنان أنهار الخمر وأنهار العسل واللبن ثم قال لها أظهري سررك وحجالك وكراسيك وحليك وحللك وحور عينك فأظهرت فنظر إليها فقال تكلمى فقالت طوبى لمن دخلني فقال الله تعالى وعزتي لا أسكنك بخيلاً

Atsar para Sahabat dan Tabi'in: Ibn Abbas ﵄ berkata, "Ketika Allah menciptakan Surga 'Adn, Dia berfirman kepadanya: 'Berhiaslah!' Maka surga pun berhias. Kemudian Allah berfirman: 'Tampakkanlah sungai-sungaimu!' Maka memancarlah mata air Salsabil, mata air Kafur, dan mata air Tasnim, lalu mengalirlah di dalamnya sungai-sungai khamr, sungai-sungai madu, dan susu. Kemudian Allah berfirman kepadanya: 'Tampakkanlah tempat-tempat tidurmu, kubah-kubahmu, kursi-kursimu, perhiasanmu, pakaian-pakaianmu, dan bidadari-bidadarimu!' Maka surga pun menampakkannya. Allah memandangnya seraya berfirman: 'Bicaralah!' Surga berkata: 'Beruntunglah orang yang memasukiku.' Maka Allah Ta'ala berfirman: 'Demi kemuliaan-Ku, Aku tidak akan menempatkan orang yang kikir di dalammu.'"

وقالت أم البنين أخت عمر بن عبد العزيز أف للبخيل لو كان البخل قميصاً ما لبسته ولو كان طريقاً ما سلكته

Ummu al-Banin, saudara perempuan Umar bin Abdul Aziz, berkata, "Celah bagi orang yang kikir! Seandainya sifat kikir itu adalah sebuah baju, niscaya aku tidak akan mengenakannya, dan seandainya ia adalah sebuah jalan, niscaya aku tidak akan menempuhnya."

وقال طلحة بن عبيد الله ﵁ إنا لنجد بأموالنا ما يجد البخلاء لكننا نتصبر

Talhah bin Ubaidillah ﵁ berkata, "Sesungguhnya kami merasakan keterikatan terhadap harta kami sebagaimana yang dirasakan oleh orang-orang kikir, akan tetapi kami berusaha untuk tetap bersabar."

وقال محمد بن المنكدر كان يقال إذا أراد الله بقوم شراً أمر الله عليهم شرارهم وجعل أرزاقهم بأيدي بخلائهم

Muhammad bin al-Munkadir berkata, "Dahulu sering dikatakan: 'Apabila Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum, maka Allah menjadikan orang-orang jahat di antara mereka sebagai pemimpin, dan menjadikan rezeki mereka berada di tangan orang-orang kikir di antara mereka.'"

وقال علي كرم الله وجهه في خطبته إنه سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ عَضُوضٌ يَعَضُّ الْمُوسِرُ عَلَى مَا فِي يَدِهِ وَلَمْ يُؤْمَرْ بِذَلِكَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ وقال عبد اللهبن عمرو الشح أشد من البخل لأن الشحيح هو الذي يشح على ما في يد غيره حتى يأخذه ويشح بما في يده فيحبسه والبخيل هو الذي يبخل بما في يده

Ali Karramallahu Wajhah berkata dalam khotbahnya, "Sesungguhnya akan datang kepada manusia suatu zaman yang sangat sulit, di mana orang yang berkecukupan menahan dengan erat apa yang ada di tangannya, padahal ia tidak diperintahkan demikian. Allah Ta'ala berfirman: 'Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu.' (QS. Al-Baqarah: 237)." Dan Abdullah bin Amr berkata, "Sifat syuhh (kikir yang disertai keserakahan) lebih parah daripada bukhl (kikir biasa). Sebab, orang yang syahih adalah orang yang serakah terhadap apa yang ada di tangan orang lain hingga ia mengambilnya, serta pelit terhadap apa yang ada di tangannya sehingga menahannya. Sedangkan orang yang bakhil adalah orang yang hanya pelit terhadap apa yang ada di tangannya sendiri."

وَقَالَ الشَّعْبِيُّ لَا أَدْرِي أَيُّهُمَا أَبْعَدُ غَوْرًا في نار جهنم البخل أو الكذب وقيل ورد على أنوشروان حكيم الهند وفيلسوف الروم فقال للهندي تكلم فقال خير الناس من ألفى سخياً وعند الغضب وقوراً وفي القول متأنياً وفي الرفعة متواضعاً وعلى كل ذي رحم مشفقاً

Asy-Sya'bi berkata, "Aku tidak tahu mana di antara keduanya yang lebih dalam jurangnya di neraka Jahanam: sifat kikir atau kedustaan." Dan dikatakan bahwa seorang hukama (orang bijak) dari India dan seorang filsuf dari Romawi menemui Anusyirwan. Maka Anusyirwan berkata kepada orang bijak India, "Bicaralah!" Ia berkata, "Sebaik-baik manusia adalah orang yang mendapati dirinya dermawan, bermartabat ketika marah, berhati-hati dalam berkata-kata, tawaduk dalam keluhuran derajat, serta penuh kasih sayang kepada setiap kerabatnya."

وقام الرومي فقال من كان بخيلاً ورث عدوه ماله ومن قل شكره لم ينل النجح وأهل الكذب مذمومون وأهل النميمة يموتون فقراء ومن لم يرحم سلط عليه من لا يرحمه

Lalu filsuf Romawi berdiri dan berkata, "Barang siapa yang kikir, niscaya musuhnya akan mewarisi hartanya; barang siapa yang sedikit bersyukur, niscaya ia tidak akan memperoleh keberhasilan; orang-orang pembohong itu dicela; pelaku adu domba akan mati dalam keadaan fakir; dan barang siapa yang tidak menyayangi, maka akan dikuasakan kepadanya orang yang tidak menyayanginya."

وقال الضحاك في قوله تعالى إنا جعلنا في أعناقهم أغلالاً قال البخل أمسك الله تعالى أيديهم عن النفقة في سبيل الله فهم لا يبصرون الهدى

Adh-Dhahhak berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "Sungguh, Kami telah memasang belenggu di leher mereka" (QS. Yasin: 8), ia berkata: "Maksudnya adalah sifat kikir; Allah Ta'ala menahan tangan mereka dari berinfak di jalan Allah, sehingga mereka tidak dapat melihat petunjuk."

وقال كعب ما من صباح إلا وقد وكل به ملكان يناديان اللهم عجل لممسك تلفا

Ka'ab berkata, "Tidak ada satu pagi pun melainkan dua malaikat telah ditugaskan untuk menyerukan: 'Ya Allah, berikanlah kebinasaan bagi orang yang menahan hartanya…'

وعجل لمنفق خلفاً

"…dan berikanlah ganti bagi orang yang menginfakkan hartanya.'"

وقال الأصمعي سمعت أعرابياً وقد وصف رجلاً فقال لقد صغر فلان في عيني لعظم الدنيا في عينه وكأنما يرى السائل ملك الموت إذا أتاه

Al-Asma'i berkata, "Aku mendengar seorang Arab Badui menggambarkan seorang laki-laki, ia berkata: 'Sungguh si Fulan menjadi sangat kerdil di mataku karena begitu besarnya dunia di matanya. Seolah-olah ia melihat orang yang meminta-minta kepadanya bagaikan Malaikat Maut ketika mendatangi dirinya.'"

وقال أبو حنيفة ﵀ لا أرى أن أعدل بخيلاً لأن البخل يحمله على الاستقصاء فيأخذ فوق حقه خيفة من أن يغبن فمن كان هكذا لا يكون مأمون الأمانة

Abu Hanifah—semoga Allah merahmatinya—berkata, "Aku tidak memandang adil (tidak menerima kesaksian) orang yang bakhil (pelit). Sebab, kebakhilan mendorongnya untuk bersikap berlebihan menuntut hak secara detail, sehingga ia mengambil melebihi haknya karena takut dirugikan. Barang siapa yang demikian kedudukannya, maka amanahnya tidak dapat dipercaya."

وقال علي كرم الله وجهه وَاللَّهِ مَا اسْتَقْصَى كَرِيمٌ قَطُّ حَقَّهُ

Ali—semoga Allah memuliakan wajahnya—berkata, "Demi Allah, orang yang mulia (dermawan) tidak pernah menuntut haknya secara berlebihan hingga sedetail-detailnya."

قَالَ الله تعلى عرف بعضه وأعرض عن بعض وقال الجاحظ ما بقي من اللذات إلا ثلاث دم البخلاء وأكل القديد وحك الجرب

Allah Ta'ala berfirman, 'Dia memberitahukan sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain.' (QS. At-Tahrim: 3). Al-Jahizh berkata, 'Tidak ada kelezatan yang tersisa kecuali tiga hal: mencela orang-orang bakhil, memakan daging dendeng, dan menggaruk penyakit kudis.'

وَقَالَ بِشْرُ بْنُ الْحَارِثِ الْبَخِيلُ لَا غِيبَةَ لَهُ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ إنك إذاً لبخيل ومدحت امرأة عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فقالوا صوامة قوامة إلا أن فيها بخلاً قال فما خيرها إذن // حديث مدحت امرأة عند النبي ﷺ فقالوا صوامة قوامة إلا أن فيها بخلا الحديث تقدم في آفات اللسان

Bishr bin al-Harits berkata, "Orang yang bakhil tidak ada ghibah baginya (boleh dibicarakan keburukannya)." Nabi ﷺ bersabda, 'Kalau begitu, sungguh engkau benar-benar bakhil.' Dan seorang wanita dipuji di hadapan Rasulullah ﷺ, mereka berkata, "Ia rajin berpuasa dan rajin shalat malam, hanya saja ia memiliki sifat bakhil." Beliau bersabda, 'Lantas apa kebaikannya kalau begitu?' // Hadis: Dipuji seorang wanita di hadapan Nabi ﷺ lalu mereka berkata bahwa ia rajin puasa dan shalat malam namun bakhil… Hadis ini telah disebutkan sebelumnya pada Bab Bahaya Lisan.

وَقَالَ بشر النَّظَرُ إِلَى الْبَخِيلِ يُقَسِّي الْقَلْبَ وَلِقَاءُ الْبُخَلَاءِ كَرْبٌ عَلَى قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ

Bishr juga berkata, "Memandang orang bakhil dapat mengerasakan hati, dan bertemu dengan orang-orang bakhil adalah duka bagi hati orang-orang beriman."

وَقَالَ يحيى بن معاذ ما في القلب للأسخياء إلا حب ولو كانوا فجاراً وللبخلاء إلا بغض ولو كانوا أبراراً

Yahya bin Mu'adz berkata, "Tidak ada di dalam hati bagi orang-orang dermawan melainkan kecintaan meskipun mereka pelaku maksiat (fajir), dan tidak ada bagi orang-orang bakhil melainkan kebencian meskipun mereka orang-orang saleh (abrar)."

وَقَالَ ابن المعتز أَبْخَلُ النَّاسِ بِمَالِهِ أَجْوَدُهُمْ بعرضه

Ibnu al-Mu'tazz berkata, "Manusia yang paling bakhil dengan hartanya adalah orang yang paling dermawan dengan kehormatannya (mengkorbankan kehormatannya untuk dicela)."

ولقي يحيى بن زكريا ﵉

Yahya bin Zakariya—'alaihissalam—pernah bertemu dengan…

إبليس في صورته فقال له يا إبليس أخبرني بأحب الناس إليك وأبغض الناس إليك قال أحب الناس إلي المؤمن البخيل وأبغض الناس إلي الفاسق السخي قال له لم قال لأن البخيل قد كفاني بخله والفاسق السخي الخوف أن يطلع الله عليه في سخائه فيقبله ثم ولى وهو يقول لولا أنك يحيى لما أخبرتك حكايات البخلاء

…Iblis dalam wujud aslinya. Yahya berkata kepadanya, "Wahai Iblis, beritahukan kepadaku siapa orang yang paling engkau cintai dan siapa orang yang paling engkau benci?" Iblis menjawab, "Orang yang paling aku cintai adalah mukmin yang bakhil, sedangkan orang yang paling aku benci adalah orang fasik yang dermawan." Yahya bertanya kepadanya, "Mengapa demikian?" Iblis menjawab, "Karena kebakhilan si mukmin telah cukup bagiku (untuk merusaknya), sedangkan pada orang fasik yang dermawan, aku khawatir Allah melihat kedermawanannya lalu menerima (mengampuni)-nya." Kemudian Iblis berpaling seraya berkata, "Seandainya engkau bukan Yahya, tentu aku tidak akan memberitahumu." Kisah-kisah tentang orang-orang bakhil:

قيل كان بالبصرة رجل موسر بخيل فدعاه بعض جيرانه وقدم إليه طباهجة ببيض فأكل منه فأكثر وجعل يشرب الماء فانتفخ بطنه ونزل به الكرب والموت فجعل يتلوى فلما جهده الأمر وصف حاله للطبيب فقال لا بأس عليك تقيأ ما أكلت فقال هاه أتقيأ طباهجة ببيض الموت ولا ذلك

Diceritakan bahwa di Bashrah ada seorang laki-laki kaya yang bakhil. Sebagian tetangganya mengundangnya dan menyajikan tumis daging kuring bertekstur telur (thabahijah dengan telur). Ia pun makan sangat banyak lalu terus-menerus minum air, hingga perutnya membusung dan ia merasakan kesakitan yang membawanya pada ambang kematian. Ia pun menggeliat kesakitan. Ketika kondisinya semakin kritis, dijelaskan keadaannya kepada dokter. Dokter berkata, "Tidak apa-apa, muntahkanlah apa yang telah engkau makan!" Ia menjawab, "Apa? Memuntahkan tumis daging bertelur? Kematian lebih baik daripada melakukan itu!"

وقيل أقبل أعرابي يطلب رجلاً وبين يديه تين فغطى التين بكسائه فجلس الأعرابي فقال له الرجل هل تحسن من القرآن شيئاً قال نعم فقرأ والزيتون وطور سينين فقال وأين التين قال هو تحت كسائك

Diceritakan pula bahwa seorang Arab Badui datang mencari seseorang. Di hadapan orang tersebut ada buah tin, maka ia pun menutupi buah tin itu dengan jubahnya. Arab Badui itu lalu duduk, dan orang itu bertanya kepadanya, "Apakah engkau bisa membaca sesuatu dari Al-Qur'an?" Arab Badui itu menjawab, "Ya." Lalu ia membaca, 'Demi buah zaitun, dan demi gunung Sinai…' Orang itu bertanya, "Mana kata 'demi buah tin' (wat-tiin)?" Arab Badui itu menjawab, "Buah tin itu ada di bawah jubahmu!"

ودعا بعضهم أخاً له ولم يطعمه شيئاً فحبسه إلى العصر حتى اشتد جوعه وأخذه مثل الجنون فأخذ صاحب البيت العود وقال له بحياتي أي صوت تشتهي أن أسمعك قال صوت المقلى

Seseorang mengundang saudaranya namun tidak memberinya makanan sedikit pun. Ia menahannya hingga waktu Ashar sampai saudaranya itu sangat kelaparan dan hampir gila karena lapar. Pemilik rumah lalu mengambil ud (alat musik petik) dan berkata kepadanya, "Demi hidupku, suara apa yang ingin engkau dengarkan dariku?" Orang itu menjawab, "Suara wajan penggorengan!"

ويحكى أن محمد بن يحيى بن خالد بن برمك كان بخيلاً قبيح البخل فسئل نسيب له كان يعرفه عنه فقال له قائل صف لي مائدته فقال هي فتر في فتر وصحافه منقورة من حب الخشخاش قيل فمن يحضرها قال الكرام الكاتبون قال فما يأكل معه أحد قال بلى الذباب فقال سوأتك بدت وأنت خاص به وثوبك مخرق قال أنا والله ما أقدر على إبرة أخيطه بها ولو ملك محمد بيتاً من بغداد إلى النوبة مملوءاً إبراً ثم جاءه جبريل وميكائيل ومعهما يعقوب النبي ﵇ يطلبون منه إبرة ويسألونه إعارتهم إياها ليخيط بها قميص يوسف الذي قد من دبر ما فعل ويقال كان مروان بن أبي حفصة لا يأكل اللحم بخلاً حتى يقرم إليه فإذا قرم إليه أرسل غلامه فاشترى له رأساً فأكله فقيل له

Diriwayatkan bahwa Muhammad bin Yahya bin Khalid bin Barmak sangat bakhil dan amat buruk kebakhilannya. Seorang kerabatnya yang mengenalnya ditanya oleh seseorang, "Gambarkanlah kepadaku bagaimana hidangan makanannya!" Kerabat itu menjawab, "Ukuran hidangannya hanya sejengkal kali sejengkal, dan piring-piringnya seukuran biji popi (sangat kecil)." Ditanyakan lagi, "Lalu siapa yang menghadirinya?" Ia menjawab, "Para malaikat Kiraman Katibin." Ditanyakan lagi, "Apakah tidak ada seorang pun yang makan bersamanya?" Ia menjawab, "Ada, yaitu lalat." Seseorang berkata kepadanya, "Aibmu terlihat padahal engkau kerabat dekatnya, dan bajumu robek-robek." Ia menjawab, "Demi Allah, aku tidak sanggup membeli sebatang jarum untuk menjahitnya. Seandainya Muhammad memiliki rumah dari Baghdad hingga Nubia yang penuh berisikan jarum, lalu datang Malaikat Jibril dan Mikail bersama Nabi Ya'qub 'alaihissalam meminta sebatang jarum kepadanya dan memohon dipinjami agar dapat menjahit baju Yusuf yang terkoyak dari belakang, niscaya ia tidak akan memberikannya." Dikatakan pula bahwa Marwan bin Abi Hafshah tidak pernah memakan daging karena bakhil sampai ia sangat mengidamkannya. Jika ia sangat mengidamkannya, ia mengutus pelayannya untuk membelikan sebuah kepala hewan, lalu ia memakannya. Maka ditanyakan kepadanya:

نراك لا تأكل إلا الرءوس في الصيف والشتاء فلم تختار ذلك قال نعم الرأس أعرف سعره فآمن خيانة الغلام ولا يستطيع أن يغبنني فيه وليس بلحم يطبخه الغلام فيقدر أن يأكل منه إن مس عيناً أو أذناً أو خداً وقفت على ذلك وآكل منه ألواناً عينه لوناً وأذنه لوناً ولسانه لوناً وغلصمته لوناً ودماغه لوناً وأكفي مؤونة

"Kami melihat engkau tidak memakan kecuali kepala hewan, baik di musim panas maupun musim dingin. Mengapa engkau memilih hal itu?" Ia menjawab, "Ya, karena harga kepala hewan sudah aku ketahui dengan pasti, sehingga aku terhindar dari pengkhianatan pelayan dan ia tidak dapat merugikanku dalam harganya. Lagi pula, itu bukan daging yang dimasak pelayan sehingga ia bisa mencuri makan darinya; jika ia menyentuh mata, telinga, atau pipinya, aku pasti mengetahuinya. Selain itu, aku dapat memakan bermacam-macam rasa darinya: matanya satu rasa, telinganya satu rasa, lidahnya satu rasa, kerongkongannya satu rasa, dan otaknya satu rasa. Dan aku juga terbebas dari repotnya…"

طبخه فقد اجتمعت لي فيه مرافق

…memasak daging, sehingga berkumpullah bagiku berbagai kemudahan di dalamnya."

وخرج يوماً يريد الخليفة المهدي فقالت له امرأة من أهله مالي عليك إن رجعت بالجائزة فقال إن أعطيت مائة ألف أعطيتك درهماً فأعطي ستين ألف فأعطاها أربعة دوانق

Suatu hari ia keluar hendak menemui Khalifah Al-Mahdi. Seorang wanita dari keluarganya berkata kepadanya, "Apa bagianku darimu jika engkau pulang membawa hadiah?" Ia menjawab, "Jika aku diberi seratus ribu (dirham), aku akan memberimu satu dirham." Ternyata ia diberi enam puluh ribu, maka ia pun memberinya empat daniq (dua pertiga dirham).

واشترى مرة لحماً بدرهم فدعاه صديق له فرد اللحم إلى القصاب بنقصان دانق وقال أكره الإسراف

Suatu kali ia membeli daging seharga satu dirham, lalu seorang sahabatnya mengundangnya makan. Maka ia mengembalikan daging itu kepada penjual daging dengan potongan kerugian satu daniq, seraya berkata, "Aku benci pemborosan."

وكان للأعمش جار وكان لا يزال يعرض عليه المنزل ويقول لو دخلت فأكلت كسرة وملحاً فيأبى عليه الأعمش فعرض عليه ذات يوم فوافق جوع الأعمش فقال سر بنا فدخل منزله فقرب إليه كسرة وملحاً فجاء سائل فقال له رب المنزل بورك فيك فأعاد عليه المسألة فقال له بورك فيك فلما سأل الثالثة قال له اذهب والله وإلا خرجت إليك بالعصا قال فناداه الأعمش وقال اذهب ويحك فلا والله ما رأيت أحداً أصدق مواعيد منه هو منذ مدة يدعوني على كسرة وملح فوالله ما زادني عليهما

Al-A'mash memiliki seorang tetangga yang selalu menawarkannya singgah ke rumahnya seraya berkata, "Seandainya engkau mau masuk dan memakan sepotong roti kering dan garam." Namun Al-A'mash selalu menolaknya. Suatu hari ia menawarkan hal itu kembali dan bertepatan dengan rasa lapar yang dialami Al-A'mash, maka Al-A'mash berkata, "Mari kita berangkat." Al-A'mash pun masuk ke rumahnya dan disajikan sepotong roti kering dan garam. Lalu datanglah seorang pengemis, maka pemilik rumah berkata kepadanya, "Semoga Allah memberkahimu (menolak secara halus)." Pengemis itu mengulangi permintaannya, dan ia berkata lagi, "Semoga Allah memberkahimu." Ketika pengemis itu meminta untuk ketiga kalinya, pemilik rumah berkata, "Pergilah! Demi Allah, jika tidak, aku akan keluar membawakan tongkat untukmu!" Al-A'mash lalu memanggil pengemis itu dan berkata, "Pergilah, celaka engkau! Demi Allah, aku belum pernah melihat orang yang paling menepati janji melebihi dirinya. Sudah sekian lama ia mengundangku untuk makan sepotong roti kering dan garam, dan demi Allah, ia tidak pernah menambahinya sedikit pun untukku!"

بَيَانُ الْإِيثَارِ وَفَضْلُهُ

PENJELASAN TENTANG AL-ITSAR (MENDAHULUKAN ORANG LAIN) DAN KEUTAMAANNYA

اعْلَمْ أَنَّ السَّخَاءَ وَالْبُخْلَ كل منهما ينقسم إلى درجات

Ketahuilah bahwa kemurahan hati (kedermawanan) dan kebakhilan, masing-masing terbagi menjadi beberapa tingkatan.

فأرفع درجة السخاء الإيثار وهو أن يجود بالمال مع الحاجة

Maka tingkatan kedermawanan (sakha') yang paling tinggi adalah itsaar (mementingkan orang lain), yaitu mendermakan harta padahal ia sendiri menyampaikannya pada kebutuhan.

وَإِنَّمَا السَّخَاءُ عِبَارَةٌ عَنْ بَذْلِ مَا لَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ لِمُحْتَاجٍ أَوْ لِغَيْرِ مُحْتَاجٍ وَالْبَذْلُ مَعَ الْحَاجَةِ أَشُدُّ

Sesungguhnya kedermawanan (sakha') itu adalah ungkapan dari memberikan sesuatu yang tidak dibutuhkan kepada orang yang membutuhkan atau yang tidak membutuhkan; sedangkan mendermakan sesuatu di kala ia sendiri membutuhkannya adalah tingkatan yang lebih tinggi dan berat.

وَكَمَا أَنَّ السَّخَاوَةَ قَدْ تَنْتَهِي إِلَى أَنْ يَسْخُوَ الْإِنْسَانُ عَلَى غَيْرِهِ مَعَ الْحَاجَةِ فَالْبُخْلُ قَدْ يَنْتَهِي إِلَى أَنْ يَبْخَلَ عَلَى نَفْسِهِ مَعَ الْحَاجَةِ فَكَمْ مِنْ بَخِيلٍ يُمْسِكُ الْمَالَ وَيَمْرَضُ فَلَا يَتَدَاوَى وَيَشْتَهِي الشَّهْوَةَ فَلَا يَمْنَعُهُ مِنْهَا إِلَّا الْبُخْلُ بِالثَّمَنِ وَلَوْ وَجَدَهَا مَجَّانًا لَأَكَلَهَا

Sebagaimana kedermawanan dapat mencapai puncak ketika seseorang bersikap dermawan kepada orang lain meskipun ia sendiri membutuhkan, maka kebakhilan pun dapat mencapai puncak ketika seseorang bakhil terhadap dirinya sendiri padahal ia membutuhkan. Betapa banyak orang bakhil yang menahan hartanya, lalu ketika ia sakit ia tidak berobat, atau ketika menginginkan sesuatu tidak ada yang menghalanginya selain rasa bakhil untuk mengeluarkan harganya; sekiranya ia mendapatkannya secara gratis, niscaya ia akan memakannya.

فَهَذَا بَخِيلٌ عَلَى نَفْسِهِ مَعَ الْحَاجَةِ وَذَلِكَ يُؤْثِرُ عَلَى نَفْسِهِ غَيْرَهُ مَعَ أَنَّهُ مُحْتَاجٌ إِلَيْهِ

Orang jenis ini bakhil terhadap dirinya sendiri padahal ia membutuhkan, sedangkan orang yang tadi mengutamakan orang lain atas dirinya padahal ia sendiri membutuhkannya.

فَانْظُرْ مَا بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ فَإِنَّ الْأَخْلَاقَ عَطَايَا يَضَعُهَا اللَّهُ حَيْثُ يَشَاءُ وَلَيْسَ بَعْدَ الْإِيثَارِ دَرَجَةٌ فِي السَّخَاءِ

Perhatikanlah perbedaan antara kedua orang tersebut! Sesungguhnya akhlak adalah anugerah yang diletakkan Allah pada siapa pun yang Dia kehendaki. Dan tidak ada tingkatan dalam kedermawanan yang melebihi itsaar (mementingkan orang lain).

وَقَدْ أَثْنَى اللَّهُ عَلَى الصَّحَابَةِ ﵃ بِهِ فَقَالَ وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ ولو كان بهم خصاصة وقال النبي ﷺ أيما امرئ اشتهى شهوة فرد شهوته وآثر على نفسه غفر له حديث عائشة ما شبع رسول الله ﷺ ثلاثة أيام متواليات ولو شئنا لشبعنا ولكنا كنا نؤثر على أنفسنا أخرجه البيهقي في الشعب بلفظ ولكنه كان يؤثر على نفسه وأول الحديث عند مسلم بلفظ ما شبع رسول الله ﷺ ثلاثة أيام تباعاً من خبز بر حتى مضى لسبيله وللشيخين ما شبع آل محمد منذ قدم المدينة ثلاثة ليال تباعا حتى قبض زاد مسلم من طعام

Sungguh Allah telah memuji para sahabat ra. dengan sifat tersebut, Dia berfirman: 'Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.' (QS. Al-Hasyr: 9). Dan Nabi ﷺ bersabda: 'Siapa saja yang menginginkan sesuatu lalu ia menahan keinginannya itu dan mengutamakan orang lain atas dirinya, niscaya diampuni baginya.' Hadis Aisyah ra.: 'Rasulullah ﷺ tidak pernah kenyang selama tiga hari berturut-turut; sekiranya kami mau, niscaya kami bisa kenyang, tetapi kami selalu mengutamakan orang lain atas diri kami.' Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman dengan redaksi: 'Akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain atas dirinya.' Awal hadis ini terdapat dalam Sahih Muslim dengan redaksi: 'Rasulullah ﷺ tidak pernah kenyang dari gandum halus selama tiga hari berturut-turut hingga beliau wafat.' Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim: 'Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang sejak tiba di Madinah selama tiga malam berturut-turut hingga beliau diwafatkan.' Muslim menambahkan: 'dari makanan.'

ونزل بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ ضَيْفٌ فَلَمْ يَجِدْ عِنْدَ أَهْلِهِ شَيْئًا فَدَخَلَ عَلَيْهِ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ فَذَهَبَ بِالضَّيْفِ إِلَى أَهْلِهِ ثُمَّ وَضَعَ بَيْنَ يَدَيْهِ الطَّعَامَ وَأَمَرَ امْرَأَتَهُ بِإِطْفَاءِ السِّرَاجِ وَجَعَلَ يَمُدُّ يَدَهُ إِلَى الطَّعَامِ كَأَنَّهُ يَأْكُلُ وَلَا يَأْكُلُ حَتَّى أَكَلَ الضَّيْفُ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَقَدْ عَجِبَ اللَّهُ مِنْ صَنِيعِكُمُ اللَّيْلَةَ إِلَى ضَيْفِكُمْ وَنَزَلَتْ وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أنفسهم ولو كان بهم خصاصة // حديث نزل به ضَيْفٌ فَلَمْ يَجِدْ عِنْدَ أَهْلِهِ شَيْئًا فَدَخَلَ عليه رجل من الأنصار فذهب به إلى أهله الحديث في نزول قوله تعالى وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ متفق عليه من حديث أبي هريرة

Seseorang bertamu kepada Rasulullah ﷺ, namun beliau tidak menemukan sesuatu pun di rumah keluarganya. Lalu seorang laki-laki dari kaum Anshar mendatangi beliau dan membawa tamu tersebut ke keluarganya. Kemudian ia menghidangkan makanan di hadapan tamu itu dan memerintahkan istrinya untuk memadamkan lampu. Ia pun berpura-pura mengulurkan tangannya ke makanan seolah-olah ia ikut makan padahal tidak makan, hingga sang tamu selesai makan. Ketika pagi hari, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: 'Sungguh Allah kagum terhadap perbuatan kalian berdua tadi malam kepada tamu kalian.' Lalu turunlah ayat: 'Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.' // Hadis tentang bertamunya seseorang lalu beliau tidak menemukan apa pun di keluarganya, lalu seorang laki-laki Anshar membawanya ke rumahnya… Hadis mengenai sebab turunnya firman Allah Ta'ala: 'Wa yu'tsiruuna 'ala anfusihim walau kana bihim khashashah' ini muttafaq 'alaih dari hadis Abu Hurairah.

فَالسَّخَاءُ خُلُقٌ مِنْ أَخْلَاقِ اللَّهِ تَعَالَى وَالْإِيثَارُ أعلى درجات السخاء

Maka kedermawanan (sakha') adalah salah satu dari akhlak Allah Ta'ala, dan itsaar (mementingkan orang lain) adalah derajat kedermawanan yang tertinggi.

وكان ذلك من أدب رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حَتَّى سَمَّاهُ اللَّهُ تَعَالَى عَظِيمًا فَقَالَ تَعَالَى وَإِنَّكَ لعلى خلق عظيم وقال سهل بن عبد الله التستري قال موسى ﵇ يا رب أرني بعض درجات محمد ﷺ وأمته فقال يا موسى إنك لن تطيق ذلك ولكن أريك منزلة من منازله جليلة عظيمة فضلته بها عليك وعلى جميع خلقي قال فكشف له عن ملكوت السموات فنظر إلى منزلة كادت تتلف نفسه من أنوارها وقربها

Hal itu termasuk adab Rasulullah ﷺ hingga Allah Ta'ala menyifati beliau dengan keagungan, firman-Nya Ta'ala: 'Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.' (QS. Al-Qalam: 4). Sahl bin Abdullah At-Tustari berkata: Nabi Musa 'as. berkata: 'Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku sebagian dari derajat Muhammad ﷺ dan umatnya!' Allah berfirman: 'Wahai Musa, engkau tidak akan sanggup memikulnya, tetapi Aku akan memperlihatkan kepadamu salah satu kedudukannya yang mulia dan agung, yang dengannya Aku melebihkannya atasmu dan atas seluruh makhluk-Ku.' Sahl berkata: Lalu dibukakan baginya rahasia alam malakut langit, maka beliau melihat sebuah kedudukan yang hampir saja jiwanya binasa karena keindahan cahaya dan kedekatannya…

من الله تعالى فقال يارب بماذا بلغت به إلى هذه الكرامة قال بخلق اختصصته به من بينهم وهو الإيثار يا موسى لا يأتيني أحد منهم قد عمل به وقتاً من عمره إلا استحييت من محاسبته وبوأته من جنتي حيث يشاء وقيل خرج عبد الله بن جعفر إِلَى ضَيْعَةٍ لَهُ فَنَزَلَ عَلَى نَخِيلِ قَوْمٍ وَفِيهِ غُلَامٌ أَسْوَدُ يَعْمَلُ فِيهِ إِذْ أَتَى الْغُلَامُ بِقُوتِهِ فَدَخَلَ الْحَائِطَ كَلْبٌ وَدَنَا مِنَ الْغُلَامِ فَرَمَى إِلَيْهِ الْغُلَامُ بِقُرْصٍ فَأَكَلَهُ ثُمَّ رَمَى إِلَيْهِ الثَّانِيَ وَالثَّالِثَ فَأَكَلَهُ وَعَبْدُ اللَّهِ يَنْظُرُ إِلَيْهِ فَقَالَ يَا غُلَامُ كَمْ قُوتُكَ كُلَّ يَوْمٍ قَالَ مَا رَأَيْتَ قَالَ فَلِمَ آثَرْتَ بِهِ هَذَا الْكَلْبَ قَالَ مَا هِيَ بِأَرْضِ كِلَابٍ إِنَّهُ جَاءَ مِنْ مَسَافَةٍ بَعِيدَةٍ جَائِعًا فَكَرِهْتُ أَنْ أَشْبَعَ وَهُوَ جَائِعٌ قَالَ فَمَا أَنْتَ صَانِعٌ الْيَوْمَ قَالَ أَطْوِي يَوْمِي هَذَا فَقَالَ عبد الله بن جعفر أُلَامُ عَلَى السَّخَاءِ إِنَّ هَذَا الْغُلَامَ لَأَسْخَى مِنِّي فَاشْتَرَى الْحَائِطَ وَالْغُلَامَ وَمَا فِيهِ مِنَ الْآلَاتِ فَأَعْتَقَ الْغُلَامَ وَوَهَبَهُ مِنْهُ

…dari Allah Ta'ala. Maka Musa berkata: 'Wahai Tuhan, dengan apa Engkau menyampaikannya pada kemuliaan ini?' Allah berfirman: 'Dengan satu akhlak yang secara khusus Aku berikan kepadanya di antara mereka, yaitu itsaar (mementingkan orang lain). Wahai Musa, tidaklah seseorang dari mereka mendatangi-Ku padahal ia pernah mengamalkannya walau sesaat dalam umurnya, melainkan Aku malu untuk menghisabnya dan Aku tempatkan ia di surga-Ku di mana pun ia kehendaki.' Diceritakan bahwa Abdullah bin Ja'far pergi ke sebuah kebun miliknya, lalu beristirahat di dekat kebun kurma milik suatu kaum yang di dalamnya ada seorang budak hitam yang sedang bekerja. Ketika makanan pokok budak itu dibawakan, masuklah seekor anjing ke dalam kebun dan mendekati budak tersebut. Budak itu melemparkan sepotong roti kepadanya, lalu anjing itu memakannya. Kemudian ia melemparkan potongan kedua dan ketiga, lalu anjing itu memakannya pula, sementara Abdullah memerhatikannya. Abdullah bertanya: 'Wahai budak, berapa jatah makananmu setiap hari?' Ia menjawab: 'Seperti yang engkau lihat.' Abdullah bertanya: 'Lalu mengapa engkau mengutamakan anjing ini dengan makananmu?' Ia menjawab: 'Negeri ini bukanlah daerah yang banyak anjingnya, ia pasti datang dari jarak yang jauh dalam keadaan lapar, maka aku tidak suka kenyang sementara ia kelaparan.' Abdullah bertanya: 'Lalu apa yang akan engkau lakukan hari ini?' Ia menjawab: 'Aku akan berpuasa menahan lapar sepanjang hari ini.' Maka Abdullah bin Ja'far berkata: 'Apakah aku dicela karena kedermawananku? Sungguh budak ini jauh lebih dermawan daripada aku.' Lalu ia membeli kebun itu, budak tersebut, beserta seluruh peralatan di dalamnya, kemudian memerdekakan budak itu dan menghibahkan kebun tersebut kepadanya.

وَقَالَ عمر ﵁ أهدي إلى رجل مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ رَأْسُ شَاةٍ فَقَالَ إِنْ أَخِي كَانَ أَحْوَجَ مِنِّي إِلَيْهِ فَبَعَثَ بِهِ إِلَيْهِ فَلَمْ يزل وَاحِدٍ يَبْعَثُ بِهِ إِلَى آخَرَ حَتَّى تَدَاوَلَهُ سبعة أبيات ورجع إلى الأول

Umar ra. berkata: 'Dihadiahkan seekor kepala domba kepada seorang sahabat Rasulullah ﷺ, lalu ia berkata: Sesungguhnya saudaraku lebih membutuhkannya daripada aku, maka ia mengirimkannya kepadanya. Dan terus-menerus orang itu mengirimkannya kepada yang lain hingga berputar ke tujuh rumah dan akhirnya kembali kepada orang yang pertama.'

وبات علي كرم الله وجهه على فراش رسول الله ﷺ فأوحى الله تعالى إلى جبريل وميكائيل ﵉ إني آخيت بينكما وجعلت عمر أحدكما أطول من عمر الآخر فأيكما يؤثر صاحبه بالحياة فاختارا كلاهما الحياة وأحباها فأوحى الله ﷿ إليهما أفلا كنتما مثل علي بن أبي طالب آخيت بينه وبين نبيي محمد ﷺ فبات على فراشه يفديه بنفسه ويؤثره بالحياة اهبطا إلى الأرض فاحفظاه من عدوه فكان جبريل عند رأسه وميكائيل عند رجليه وجبريل ﵇ يقول بخ بخ من مثلك يا ابن أبي طالب والله تعالى يباهى بك الملائكة فأنزل الله تعالى ومن الناس من يشري نفسه ابتغاء مرضات الله والله رءوف بالعباد // حديث بات علي على فراش رسول الله ﷺ فأوحى الله إلى جبريل وميكائيل إني آخيت بينكما وجعلت عمر أحدكما أطول من الآخر الحديث في نزول قوله تعالى ومن الناس من يشري نفسه ابتغاء مرضات الله أخرجه أحمد مختصرا من حديث ابن عباس شرى على نفسه فلبس ثوب النبي ﷺ ثم نام مكانه الحديث وليس فيه ذكر جبريل وميكائيل ولم أقف لهذه الزيادة على أصل وفيه أبو بلج مختلف فيه والحديث منكر

Ali Karramallahu Wajhah pernah tidur di tempat tidur Rasulullah ﷺ (pada malam hijrah). Lalu Allah Ta'ala mewahyukan kepada Jibril dan Mikail 'as.: 'Aku telah mempersaudarakan kalian berdua dan menjadikan umur salah seorang di antara kalian lebih panjang dari yang lain. Maka siapakah di antara kalian yang mau mengutamakan saudaranya dalam hal kehidupan?' Keduanya ternyata sama-sama memilih kehidupan dan menginginkannya. Maka Allah 'Azza wa Jalla mewahyukan kepada keduanya: 'Mengapa kalian tidak seperti Ali bin Abi Thalib? Aku telah mempersaudarakan antara dirinya dengan Nabi-Ku, Muhammad ﷺ, lalu ia tidur di tempat tidurnya untuk mengorbankan jiwanya demi beliau dan mengutamakannya atas hidupnya sendiri. Turunlah kalian berdua ke bumi dan jagalah ia dari musuhnya!' Maka Jibril berada di dekat kepalanya dan Mikail di dekat kakinya, dan Jibril 'as. berkata: 'Wahai, betapa mulianya! Siapakah yang sepertimu, wahai putra Abu Thalib? Allah Ta'ala membanggakanmu di hadapan para malaikat.' Lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat: 'Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.' (QS. Al-Baqarah: 207). // Hadis 'Ali tidur di tempat tidur Rasulullah ﷺ lalu Allah mewahyukan kepada Jibril dan Mikail: Sesungguhnya Aku mempersaudarakan kalian berdua…' Hadis mengenai sebab turunnya firman Allah Ta'ala: 'Wa minan-naasi may yasyrii nafsahub-tighaa'a mardhaatillaah', diriwayatkan oleh Ahmad secara ringkas dari hadis Ibn 'Abbas: 'Ali mengorbankan dirinya lalu mengenakan pakaian Nabi ﷺ kemudian tidur di tempatnya…' Dalam riwayat tersebut tidak disebutkan nama Jibril dan Mikail, dan saya tidak menemukan sanad asli untuk tambahan ini, serta di dalamnya terdapat perawi Abu Balj yang diperselisihkan dan hadis ini tergolong mungkar.

وعن أبي الحسن الأنطاكي أنه اجتمع عنده نيف وثلاثون نفساً وكانوا في قرية بقرب الري ولهم أرغفة معدودة لم تشبع جميعهم فكسروا الرغفان وأطفئوا السراج وجلسوا للطعام فلما رفع فإذا الطعام بحاله ولم يأكل أحد منه شيئاً إيثاراً لصاحبه على نفسه

Diriwayatkan dari Abu al-Hasan al-Antaki bahwa pernah berkumpul di rumahnya tiga puluh orang lebih di sebuah desa dekat Rai. Mereka hanya memiliki beberapa potong roti yang terbatas yang tidak akan mengenyangkan mereka semua. Maka mereka memotong-motong roti tersebut dan memadamkan lampu, lalu duduk untuk makan. Ketika makanan diangkat kembali, ternyata makanan itu masih utuh dalam keadaannya semula, tidak ada seorang pun yang memakannya sedikit pun karena masing-masing mengutamakan saudaranya atas dirinya sendiri.

وروي أن شعبة جاءه سائل وليس عنده شيء فنزع خشبة من سقف بيته فأعطاه ثم اعتذر إليه وقال حذيفة العدوي انطلقت يوم اليرموك أَطْلُبُ ابْنَ عَمٍّ لِي وَمَعِي شَيْءٌ مِنْ مَاءٍ وَأَنَا أَقُولُ إِنْ كَانَ بِهِ رَمَقٌ سَقَيْتُهُ وَمَسَحْتُ بِهِ وَجْهَهُ فَإِذَا أَنَا بِهِ فَقُلْتُ أَسْقِيكَ فَأَشَارَ إِلَيَّ أَنْ نَعَمْ فَإِذَا رَجُلٌ يَقُولُ آهْ فَأَشَارَ ابْنُ عَمِّي إِلَيَّ أن أنطلق به إليه فَجِئْتُهُ فَإِذَا هُوَ هِشَامُ بْنُ الْعَاصِ فَقُلْتُ أَسْقِيكَ فَسَمِعَ بِهِ آخَرُ فَقَالَ آهْ فَأَشَارَ هشام انْطَلِقْ بِهِ إِلَيْهِ فَجِئْتُهُ فَإِذَا هُوَ قَدْ مَاتَ فَرَجَعْتُ إِلَى هشام فَإِذَا هُوَ قد مات فرجعت إن ابْنِ عَمِّي فَإِذَا هُوَ قَدْ مَاتَ رَحْمَةُ الله عليهم أجمعين

Diriwayatkan bahwa Syu'bah pernah didatangi oleh seorang peminta-minta sedang ia tidak memiliki apa pun, maka ia mencabut sebilah kayu dari atap rumahnya lalu memberikannya kepada peminta itu seraya meminta maaf kepadanya. Hudzaifah al-'Adawi berkata: 'Pada hari Perang Yarmuk aku pergi mencari sepupuku dengan membawa sedikit air, seraya berkata dalam hati: Jika ia masih memiliki sisa nyawa, aku akan memberinya minum dan membasuh wajahnya. Lalu aku menemukannya dan bertanya: Maukah aku beri minum? Ia memberi isyarat Ya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki lain yang merintih Ah!, maka sepupuku memberi isyarat agar aku membawa air itu kepadanya. Aku menghampirinya dan ternyata ia adalah Hisham bin al-'Ash, aku bertanya: Maukah aku beri minum? Lalu orang lain mendengarnya dan merintih Ah!, maka Hisham memberi isyarat agar aku membawanya kepada orang itu. Aku mendatangi orang itu, namun ternyata ia telah wafat. Aku kembali kepada Hisham, dan ternyata ia pun telah wafat. Lalu aku kembali kepada sepupuku, dan ternyata ia pun telah wafat. Semoga rahmat Allah tercurah kepada mereka semua.'

وقال عباس بن دهقان ما خرج أحد من الدنيا كما دخلها إلا بشر بن الحرث فإنه أتاه رجل في مرضه فشكا إليه الحاجة فنزع قميصه وأعطاه إياه واستعار ثوباً فمات فيه

Abbas bin Dihqan berkata: 'Tidak ada seorang pun yang keluar dari dunia dalam keadaan bersih sebagaimana ia memasukinya kecuali Bisyr bin al-Harits, karena sesungguhnya pernah ada seorang laki-laki mendatanginya sewaktu ia sakit lalu mengadukan kebutuhannya. Bisyr pun melepas gamisnya dan memberikannya kepada orang itu, lalu ia meminjam sehelai baju lain dan wafat dalam keadaan mengenakannya.'

وعن بعض الصوفية قال كنا بطرسوس فاجتمعنا جماعة وخرجنا إلى باب الجهاد فتبعنا كلب من البلد فلما بلغنا ظاهر الباب إذا نحن بدابة ميتة فصعدنا إلى موضع عال وقعدنا

Diriwayatkan dari sebagian kaum Sufi, ia berkata: 'Kami berada di Tarsus, lalu kami berkumpul dalam suatu rombongan dan keluar menuju pintu gerbang jihad. Seekor anjing dari kota mengikuti kami. Ketika kami sampai di luar gerbang, kami mendapati bangkai seekor hewan. Kami pun naik ke tempat yang tinggi dan duduk.'

فلما نظر الكلب إلى الميتة رجع إلى البلد ثم عاد بعد ساعة ومعه مقدار عشرين كلباً فجاء إلى تلك الميتة وقعد ناحية ووقعت الكلاب في الميتة فما زالت تأكلها وذلك الكلب قاعد ينظر إليها حتى أكلت الميتة وبقي العظم ورجعت الكلاب إلى البلد فقام ذلك الكلب

Ketika anjing itu melihat bangkai tersebut, ia kembali ke dalam kota. Tak lama kemudian ia datang kembali membawa sekitar dua puluh ekor anjing lainnya. Ia menghampiri bangkai itu lalu duduk di satu sisi, sementara anjing-anjing yang lain mengerumuni bangkai tersebut dan terus memakannya. Anjing itu tetap duduk memerhatikan mereka hingga bangkai itu habis dan hanya tersisa tulangnya saja, lalu anjing-anjing itu kembali ke dalam kota. Barulah anjing tersebut bangkit…

وجاء إلى تلك العظام فأكل مما بقي عليها قليلاً ثم انصرف

…dan menghampiri tulang-tulang tersebut, lalu memakan sedikit sisa-sisa yang menempel padanya, kemudian pergi.

وقد ذكرنا جملة من أخبار الإيثار وأحوال الأولياء في كتاب الفقر والزهد فلا حاجة إلى الإعادة ههنا وبالله التوفيق وعليه التوكل فيما يرضيه ﷿

Sungguh kami telah menyebutkan sejumlah kisah tentang itsaar (mementingkan orang lain) dan ihwal para wali dalam Kitab al-Faqr wa az-Zuhd (Kitab Fakir dan Zuhud), maka tidak perlu mengulangnya di sini. Dan hanya kepada Allah petunjuk keberhasilan (taufiq) serta kepada-Nya pula bertawakal dalam segala hal yang diridai-Nya 'Azza wa Jalla.

بيان حد السخاء والبخل وحقيقتهما

Penjelasan Mengenai Batasan Kedermawanan (Sakha') dan Kebakhilan (Bukhl) serta Hakikat Keduanya

لعلك تقول قد عرف بشواهد الشرع أن البخل من المهلكات ولكن ما حد البخل وبماذا يصير الإنسان بخيلاً وما من إنسان إلا وهو يرى نفسه سخياً وربما يراه غيره بخيلاً وقد يصدر فعل من إنسان فيختلف فيه الناس فيقول قوم هذا بخل ويقول آخرون ليس هذا من البخل

Mungkindah engkau akan berkata: Telah diketahui berdasarkan dalil-dalil syariat bahwa bakhil (kikir) termasuk dari perkara-perkara yang membinasakan (al-muhlikat), akan tetapi apakah batasan bakhil itu, dan dengan hal apa seseorang menjadi bakhil? Tiada seorang pun melainkan menganggap dirinya dermawan, padahal mungkin orang lain memandangnya bakhil. Dan terkadang lahir suatu perbuatan dari seseorang lalu manusia berselisih padanya; sebagian orang berkata, "Ini adalah kebakhilan," sedang yang lain berkata, "Ini bukan termasuk kebakhilan."

وما من إنسان إلا ويجد من نفسه حباً للمال ولأجله يحفظ المال ويمسكه فإن كان يصير بإمساك المال بخيلاً فإذا لا ينفك أحد عن البخل

Serta tiada seorang pun melainkan ia mendapati dalam dirinya rasa cinta terhadap harta, dan karena itulah ia menjaga serta menahan hartanya. Maka apabila seseorang menjadi bakhil disebabkan menahan harta, tentu tidak ada seorang pun yang terbebas dari sifat bakhil.

وإذا كان الإمساك مطلقاً لا يوجب البخل ولا معنى للبخل إلا الإمساك فما البخل الذي يوجب الهلاك وما حد السخاء الذي يستحق به البعد صفة السخاوة وثوابها فنقول قد قال قائلون حد البخل منع الواجب فكل من أدى ما يجب عليه فليس ببخيل ٤ وهذا غير كاف فإن من يرد اللحم مثلاً إلى القصاب والخبز للخباز بنقصان حبة أو نصف حبة فإنه يعد بخيلاً بالاتفاق

Dan jika menahan harta secara mutlak tidak menyebabkan kebakhilan, padahal tiada makna bagi kebakhilan melainkan menahan harta, lantas apakah kebakhilan yang menyebabkan kebinasaan itu? Dan apakah batasan kedermawanan (sakha') yang darinya seorang hamba berhak memperoleh sifat kedermawanan beserta pahalanya? Maka kami katakan: Sebagian ulama telah berpendapat bahwa batasan bakhil adalah menahan (tidak menunaikan) kewajiban. Maka setiap orang yang menunaikan apa yang wajib atasnya tidaklah dianggap bakhil. Namun penafsiran ini tidak cukup, sebab barang siapa yang mengembalikan daging—umpamanya—kepada tukang jagal atau roti kepada tukang roti hanya karena kurang satu biji atau setengah biji, niscaya ia dianggap bakhil berdasarkan kesepakatan (ijma').

وكذلك من يسلم إلى عياله القدر الذي يفرضه القاضي ثم يضايقهم في لقمة ازدادوها عليه أو تمرة أكلوها من ماله يعد بخيلاً

Demikian pula barang siapa yang menyerahkan kepada keluarganya kadar nafkah yang ditetapkan oleh hakim (qadhi), kemudian ia menyulitkan mereka dalam sekerat makanan yang mereka tambahkan darinya atau sebutir kurma yang mereka makan dari hartanya, niscaya ia dianggap sebagai orang yang bakhil.

ومن كان بين يديه رغيف فحضر من يظن أنه يأكل معه فأخفاه عنه عد بخيلاً

Dan barang siapa yang di hadapannya terdapat sepotong roti, lalu hadir seseorang yang ia kira akan makan bersamanya, kemudian ia menyembunyikannya dari orang tersebut, maka ia pun dianggap bakhil.

وقال قائلون البخيل هو الذي يستصعب العطية وهو أيضاً قاصر فإنه إن أريد به أنه يستصعب كل عطية فكم من بخيل لا يستصعب العطية القليلة كالحبة وما يقرب منها ويستصعب ما فوق ذلك وإن أريد به أنه يستصعب بعض العطايا فمن من جواد إلا وقد يستصعب بعض العطايا وهو ما يستغرق جميع ماله أو المال العظيم

Ada pula yang berpendapat: Orang bakhil adalah orang yang merasa berat untuk memberi. Penjelasan ini pun kurang sempurna; sebab jika yang dimaksud adalah merasa berat atas setiap pemberian, betapa banyak orang bakhil yang tidak merasa berat terhadap pemberian yang sedikit seperti sebutir biji dan yang mendekatinya, namun ia merasa berat terhadap pemberian di atas itu. Dan jika yang dimaksud adalah merasa berat terhadap sebagian pemberian, maka siapakah di antara dermawan (jawad) yang tidak merasa berat terhadap sebagian pemberian, yaitu pemberian yang menghabiskan seluruh hartanya atau harta yang amat besar?

فهذا لا يوجب الحكم بالبخل

Maka hal ini tidak dapat menetapkan hukum kebakhilan padanya.

وكذلك تكلموا في الجود فقيل الجود عطاء بلا من وإسعاف من غير روية

Demikian pula mereka membicarakan tentang al-Jud (kemurahan hati/kedermawanan). Ada yang mengatakan: Al-Jud adalah memberi tanpa menyebut-nyebut pemberian (mann) dan menolong tanpa perlu pertimbangan berbelit-belit.

وقيل الجود عطاء من غير مسألة على رؤية التقليل

Dan ada yang mengatakan: Al-Jud adalah memberi tanpa diminta dengan menganggap pemberian tersebut sedikit.

وقيل الجود السرور بالسائل والفرح بالعطاء لما أمكن

Dan ada yang mengatakan: Al-Jud adalah rasa gembira dengan hadirnya orang yang meminta dan bersuka cita atas pemberian sejauh yang dimungkinkan.

وقيل الجود عطاء على رؤية أن المال لله تعالى والعبد لله ﷿ فيعطى عبد الله مال الله على غير رؤية الفقر

Ada pula yang mengatakan: Al-Jud adalah memberi berdasarkan kesadaran bahwa harta adalah milik Allah Ta'ala dan hamba adalah milik Allah 'Azza wa Jalla, sehingga hamba Allah memberikan harta Allah tanpa rasa takut akan kemiskinan.

وقيل من أعطى البعض وأبقى البعض فهو صاحب سخاء ومن بذل الأكثر وأبقى لنفسه شيئاً فهو صاحب جود ومن قاسى الضر وآثر غيره بالبلغة فهو صاحب إيثار ومن لم يبذل شيئاً فهو صاحب بخل

Dan dikatakan pula: Barang siapa memberi sebagian dan menyisakan sebagian, maka ia adalah orang yang dermawan (shahibu sakha'); barang siapa menginfakkan mayoritas hartanya dan menyisakan sedikit untuk dirinya, maka ia adalah orang yang murah hati (shahibu jud); barang siapa menanggung kesusahan dan mengutamakan orang lain atas sekadar penopang hidupnya, maka ia adalah pemilik sifat isar (shahibu itsar); dan barang siapa yang tidak menginfakkan sesuatu pun, maka ia adalah pemilik sifat bakhil.

وجملة هذه الكلمات غير محيطة بحقيقة الجود والبخل بل نقول المال خلق لحكمة ومقصود وهو صلاحه لحاجات الخلق ويمكن إمساكه عن الصرف إلى ما خلق للصرف إِلَيْهِ وَيُمْكِنُ بَذْلُهُ بِالصَّرْفِ إِلَى مَا لَا يَحْسُنُ الصَّرْفُ إِلَيْهِ وَيُمْكِنُ التَّصَرُّفُ فِيهِ بِالْعَدْلِ وَهُوَ أَنْ يُحْفَظَ حَيْثُ يَجِبُ الْحِفْظُ وَيُبْذَلَ حَيْثُ يَجِبُ الْبَذْلُ

Keseluruhan ucapan-ucapan ini belum mencakup hakikat al-Jud dan al-Bukhl. Sebaliknya, kami katakan: Harta diciptakan untuk suatu hikmah dan tujuan, yaitu kelayakannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan makhluk. Harta dapat ditahan dari pembelanjaan ke tempat yang ia diciptakan untuk dibelanjakan kepadanya, dapat pula diinfakkan dengan membelanjakannya ke tempat yang tidak sepatutnya dibelanjakan, dan dapat pula dipergunakan secara adil, yaitu dengan menjaganya pada tempat yang wajib dijaga serta menginfakkannya pada tempat yang wajib diinfakkan.

فَالْإِمْسَاكُ حَيْثُ يَجِبُ الْبَذْلُ بخل والبذل حيث يجب الإمساك تبذير

Maka menahan harta pada tempat yang wajib diinfakkan adalah kebakhilan (bukhul), dan menginfakkan harta pada tempat yang wajib ditahan adalah pemborosan (tabdzir).

وبينهما وسط وهو الْمَحْمُودُ وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ السَّخَاءُ وَالْجُودُ عِبَارَةً عَنْهُ إِذْ لَمْ يُؤْمَرُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِلَّا بِالسَّخَاءِ وَقَدْ قِيلَ له وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تبسطها كل البسط وَقَالَ تَعَالَى وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا ولم يقتروا وكان بين ذلك قواماً فَالْجُودُ وَسَطٌ بَيْنَ الْإِسْرَافِ وَالْإِقْتَارِ وَبَيْنَ الْبَسْطِ وَالْقَبْضِ وَهُوَ أَنْ يُقَدَّرَ بَذْلُهُ وَإِمْسَاكُهُ بِقَدْرِ الواجب ولا يكفي أن يفعل ذلك بجوارحه ما لم يكن قَلْبُهُ طَيِّبًا بِهِ غَيْرَ مُنَازِعٍ لَهُ فِيهِ

Di antara keduanya terdapat sikap pertengahan yang terpuji, dan hendaknya sifat as-sakha' dan al-jud merupakan ungkapan baginya. Sebab, Rasulullah ﷺ tidaklah diperintahkan melainkan dengan kedermawanan (as-sakha'), dan sungguh telah difirmankan kepada beliau: "Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah engkau terlalu mengulurkannya," dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya adalah pertengahan." Maka al-Jud adalah pertengahan antara israf (berlebih-lebihan) dan iqtar (terlalu kikir), serta antara mengulurkan dan menahan. Yaitu dengan mengukur pemberian dan penahanannya sesuai kadar yang wajib. Dan tidak cukup seseorang melakukan hal itu hanya dengan anggota badannya saja selama hatinya tidak merasa rela dan tidak bergejolak menolak perbuatan itu.

فإن بذل في محل وجوب البذل ونفسه تنازعه وهو يصابرها فهو متسخ وليس بسخي بل ينبغي أن لا يكون لقلبه علاقة مع المال إلا من حيث يراد المال له وهو صرفه إلى ما يجب صرفه إليه

Apabila ia menginfakkan harta pada tempat yang wajib diinfakkan sementara jiwanya menolak dan ia berusaha bersabar menahannya, maka ia adalah orang yang berpura-pura dermawan (mutasakhkhin), bukan orang yang benar-benar dermawan (sakhi). Sebaliknya, seyogianya hati tidak memiliki keterikatan dengan harta kecuali dari sisi maksud diadakannya harta itu, yaitu membelanjakannya ke tempat yang wajib dibelanjakan kepadanya.

فإن قلت فقد صار هذا موقوفاً على معرفة الواجب فما الذي يجب بذله

Jika engkau berkata: "Dengan demikian, masalah ini bergantung pada pengetahuan tentang kewajiban, lantas apa yang wajib diinfakkan?"

فأقول إن الواجب قِسْمَانِ وَاجِبٌ بِالشَّرْعِ وَوَاجِبٌ بِالْمُرُوءَةِ وَالْعَادَةِ

Maka aku katakan: Sesungguhnya kewajiban itu ada dua bagian: kewajiban menurut syariat dan kewajiban menurut muru'ah (kehormatan diri) serta adat kebiasaan.

وَالسَّخِيُّ هُوَ الَّذِي لَا يَمْنَعُ وَاجِبَ الشَّرْعِ وَلَا وَاجِبَ الْمُرُوءَةِ فَإِنْ مَنَعَ وَاحِدًا مِنْهُمَا فَهُوَ بَخِيلٌ وَلَكِنَّ الَّذِي يَمْنَعُ وَاجِبَ الشَّرْعِ أَبْخَلُ كَالَّذِي يَمْنَعُ أَدَاءَ الزَّكَاةِ وَيَمْنَعُ عِيَالَهُ وَأَهْلَهُ النَّفَقَةَ أَوْ يُؤَدِّيهَا وَلَكِنَّهُ يَشُقُّ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ بخيل بالطبع وإنما يتسخى بالتكلف أَوِ الَّذِي يَتَيَمَّمُ الْخَبِيثَ مِنْ مَالِهِ وَلَا يَطِيبُ قَلْبُهُ أَنْ يُعْطِيَ مِنْ أَطْيَبِ مَالِهِ أو من وسطه فهذا كله بخل

Dan orang yang dermawan (as-sakhi) adalah orang yang tidak menahan kewajiban syariat dan tidak menahan kewajiban muru'ah. Jika ia menahan salah satu dari keduanya, maka ia tergolong bakhil, akan tetapi orang yang menahan kewajiban syariat adalah orang yang paling bakhil, seperti orang yang menahan pembayaran zakat dan menahan nafkah untuk keluarga serta istrinya, atau ia menunaikannya namun merasa amat berat, maka sesungguhnya ia bakhil secara watak dan hanya berpura-pura dermawan secara dipaksakan; atau orang yang sengaja memilih harta yang buruk dari miliknya dan hatinya tidak rela untuk memberikan harta yang paling baik atau yang pertengahan. Maka ini semua adalah kebakhilan.

وأما واجب المروءة فهو تَرْكُ الْمُضَايَقَةِ وَالِاسْتِقْصَاءِ فِي الْمُحَقَّرَاتِ فَإِنَّ ذَلِكَ مُسْتَقْبَحٌ وَاسْتِقْبَاحُ ذَلِكَ يَخْتَلِفُ بِالْأَحْوَالِ وَالْأَشْخَاصِ

Adapun kewajiban muru'ah, ia adalah meninggalkan sikap memperhitungkan secara rumit dan terlalu ketat dalam perkara-perkara yang remeh, karena hal itu dipandang buruk. Dan keburukan hal tersebut berbeda-beda sesuai dengan keadaan dan diri orang yang bersangkutan.

فَمَنْ كَثُرَ مَالُهُ اسْتُقْبِحَ مِنْهُ مَا لَا يُسْتَقْبَحُ مِنَ الْفَقِيرِ مِنَ الْمُضَايَقَةِ وَيُسْتَقْبَحُ مِنَ الرَّجُلِ المضايقة مع أهله وأقاربه ومماليكه ما لا يستقبح مع الْأَجَانِبِ وَيُسْتَقْبَحُ مِنَ الْجَارِ مَا لَا يُسْتَقْبَحُ مع الْبَعِيدِ وَيُسْتَقْبَحُ فِي الضِّيَافَةِ مِنَ الْمُضَايَقَةِ مَا لا يستقبح في المعاملة فيختلف ذلك بما فيه من المضايقة في ضيافة أو معاملة وبما به المضايقة من طعام أو ثوب إذ يستقبح في الأطعمة ما لا يستقبح في غيرها ويستقبح في شراء الكفن مثلاً أو شراء الأضحية أو شراء خبز الصدقة ما لا يستقبح في غيره من المضايقة

Barangsiapa yang berlimpah hartanya, maka dianggap buruk darinya sikap terlalu perhitungan (kikir) yang tidak dianggap buruk jika dilakukan oleh orang fakir. Dianggap buruk pula bagi seorang laki-laki sikap terlalu perhitungan terhadap keluarga, kerabat, dan hamba sahayanya, sesuatu yang tidak dianggap buruk jika dilakukan terhadap orang lain (asing). Dianggap buruk dari seorang tetangga apa yang tidak dianggap buruk jika dilakukan terhadap orang yang jauh. Begitu pula dianggap buruk dalam hal jamuan tamu sikap terlalu perhitungan yang tidak dianggap buruk dalam hal muamalah jual beli. Hal itu berbeda-beda sesuai dengan bentuk perhitungannya, apakah dalam jamuan tamu atau muamalah, serta objek yang diperhitungkan, seperti makanan atau pakaian; sebab dalam hal makanan dianggap buruk apa yang tidak dianggap buruk pada selainnya. Dan dianggap buruk dalam membeli kain kafan—misalnya—atau membeli hewan kurban, atau membeli roti untuk sedekah, sikap perhitungan yang tidak dianggap buruk pada pembelian lainnya.

وكذلك بمن معه المضايقة من صديق أو أخ أو قريب أو زوجة أو ولد أو أجنبي

Demikian pula (berbeda-beda kriteria keburukannya) berdasarkan pihak yang diajak berhitung tersebut, apakah ia seorang sahabat, saudara, kerabat, istri, anak, atau orang lain.

وبمن منه المضايقة من صبي أو امرأة أو شيخ أو شاب أو عالم أو جاهل أو موسر أو فقير

Serta berdasarkan siapa pelaku sikap terlalu perhitungan tersebut, apakah ia seorang anak kecil, wanita, orang tua, pemuda, orang alim, orang awam, orang berkecukupan, atau orang fakir.

فَالْبَخِيلُ هُوَ الَّذِي يَمْنَعُ حَيْثُ يَنْبَغِي أَنْ لَا يَمْنَعَ إِمَّا بِحُكْمِ الشَّرْعِ وَإِمَّا بِحُكْمِ المروءة وذلك لا يمكن التنصيص على مقداره

Maka orang yang kikir (bakhil) adalah orang yang menahan (harta) pada tempat yang seharusnya tidak ia tahan, baik berdasarkan hukum syariat maupun berdasarkan hukum muruah (kehormatan diri). Dan hal itu tidak mungkin ditetapkan kadarnya secara pasti melalui ketentuan eksplisit.

ولعل حد البخل هو إمساك المال عن غرض ذلك الغرض هو أهم من حفظ المال فإن صيانة الدين أهم من حفظ المال فمانع الزكاة والنفقة بخيل

Dan barangkali batasan kebakhilan adalah menahan harta dari suatu tujuan yang mana tujuan tersebut lebih penting daripada sekadar menjaga harta. Sebab, menjaga agama itu lebih penting daripada menjaga harta; maka orang yang menolak membayar zakat dan nafkah adalah orang yang kikir.

وصيانة المروءة أهم من حفظ المال والمضايق في الدقائق مع من لا تحسن المضايقة معه هاتك ستر المروءة لحب المال فهو بخيل

Menjaga muruah pun lebih penting daripada menjaga harta. Orang yang terlalu perhitungan dalam hal-hal rincian kecil terhadap orang yang tidak sepatutnya diperhitungkan, berarti telah merobek tirai muruahnya karena cinta harta, maka ia adalah orang yang kikir.

ثم تبقى درجة أخرى وهو أن يكون الرجل ممن يؤدي الواجب ويحفظ المروءة ولكن معه مال كثير قد جمعه ليس يصرفه إلى الصدقات وإلى المحتاجين فقد تقابل غرض حفظ المال ليكون له عدة على نوائب الزمان وغرض الثواب ليكون رافعاً لدرجاته في الآخرة وإمساك المال عن هذا الغرض بخل عند الأكياس وليس ببخل عند عوام الخلق وذلك لأن نظر العوام مقصور على حظوظ الدنيا فيرون إمساكه لدفع نوائب الزمان مهماً وربما يظهر عند العوام أيضاً سمة البخل عليه إن كان في جواره محتاج فمنعه وقال قد أديت الزكاة الواجبة وليس على غيرها

Kemudian tersisa tingkatan lain, yaitu seseorang yang menunaikan kewajiban dan menjaga muruah, namun ia memiliki harta melimpah yang dikumpulkannya tetapi tidak ia infakkan untuk sedekah dan orang-orang yang membutuhkan. Dalam hal ini, berhadapanlah antara tujuan menyimpan harta sebagai persiapan menghadapi bencana zaman dengan tujuan meraih pahala untuk meninggikan derajatnya di akhirat. Menahan harta dari tujuan (pahala) ini dianggap kebakhilan menurut orang-orang yang cerdas (para arif/al-akyas), namun bukan merupakan kebakhilan menurut kalangan awam. Hal itu karena pandangan awam terbatas pada bagian-bagian duniawi, sehingga mereka menganggap penahanan harta demi menghadapi bencana zaman adalah hal yang penting. Namun kadang kala timbul pula tanda kebakhilan padanya di mata awam jika di tetangganya ada orang yang membutuhkan lalu ia menahannya seraya berkata, 'Aku telah menunaikan zakat yang wajib, dan tidak ada kewajiban lain atas diriku.'

ويختلف استقباح ذلك باختلاف مقدار ماله وباختلاف شدة حاجة المحتاج وصلاح دينه واستحقاقه

Anggapan buruk terhadap hal tersebut berbeda-beda sesuai dengan kadar hartanya, tingkat mendesaknya kebutuhan orang yang memerlukan, kesalehan agamanya, serta kelayakannya untuk dibantu.

فمن أَدَّى وَاجِبَ الشَّرْعِ وَوَاجِبَ الْمُرُوءَةِ اللَّائِقَةِ بِهِ فَقَدْ تَبَرَّأَ مِنَ الْبُخْلِ

Maka barangsiapa telah menunaikan kewajiban syariat dan kewajiban muruah yang layak baginya, sungguh ia telah terbebas dari sifat kikir (kebakhilan).

نَعَمْ لَا يَتَّصِفُ بِصِفَةِ الْجُودِ وَالسَّخَاءِ مَا لَمْ يَبْذُلْ زِيَادَةً على ذلك لطلب الفضيلة ونيل الدرجات فإذا اتسعت نفسه لبذل المال حيث لا يوجبه الشرع ولا تتوجه إليه الملامة في العادة فهو جواد بقدر ما تتسع له نفسه من قليل أو كثير

Benar, ia belum tergolong memiliki sifat dermawan (jood) dan kelapangan hati (sakha') selama belum mendermakan tambahan di atas kewajiban tersebut demi mencari keutamaan dan meraih derajat tinggi. Apabila jiwanya lapang untuk mendermakan harta pada situasi di mana syariat tidak mewajibkannya dan adat kebiasaan pun tidak mencelanya jika ia menahannya, maka ia adalah orang yang dermawan sejauh kelapangan jiwanya, baik sedikit maupun banyak.

ودرجات ذلك لا تحصر وبعض الناس أجود من بعض فَاصْطِنَاعُ الْمَعْرُوفِ وَرَاءَ مَا تُوجِبُهُ الْعَادَةُ وَالْمُرُوءَةُ هُوَ الْجُودُ وَلَكِنْ بِشَرْطِ أَنْ يَكُونَ عَنْ طيب نفس ولا يكون طَمَعٍ وَرَجَاءِ خِدْمَةٍ أَوْ مُكَافَأَةٍ أَوْ شُكْرٍ أَوْ ثَنَاءٍ فَإِنَّ مَنْ طَمِعَ فِي الشُّكْرِ وَالثَّنَاءِ فَهُوَ بَيَّاعٌ وَلَيْسَ بِجَوَّادٍ فَإِنَّهُ يَشْتَرِي المدح بماله والمدح لذيذ وهو مقصود في نفسه والجود هو بذل الشيء من غير عوض

Tingkatan hal itu tidak terhitung, dan sebagian orang lebih dermawan daripada sebagian yang lain. Maka berbuat kebaikan di luar apa yang diwajibkan oleh adat kebiasaan dan muruah itulah hakikat kedermawanan, namun dengan syarat hal itu dilakukan atas kerelaan jiwa, tanpa ada ketamakan dan harapan akan pelayanan, balasan, ucapan terima kasih, ataupun pujian. Sebab barangsiapa yang tamak akan ucapan terima kasih dan pujian, pada hakikatnya ia adalah seorang pedagang (penjual-beliau) dan bukan orang yang dermawan, karena ia membeli pujian dengan hartanya; sedangkan pujian itu terasa lezat dan menjadi tujuan tersendiri baginya. Padahal kedermawanan adalah memberikan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan.

هذا هو الحقيقة ولا يتصور ذلك إلا من الله تعالى أما الآدمي فاسم الجود عليه مجاز إذ لا يبذل الشيء إلا لغرض ولكنه إذا لم يكن غرضه إلا

Inilah hakikat kedermawanan yang sejati, dan hal itu tidak tergambarkan secara mutlak melainkan hanya dari Allah Ta'ala. Adapun pada manusia, penamaan 'dermawan' baginya hanyalah bersifat majazi (kiasan), sebab ia tidak memberi sesuatu melainkan karena adanya suatu tujuan. Namun, apabila tujuannya tidak lain hanyalah…

الثواب في الآخرة أو اكتساب فضيلة الجود وتطهير النفس عن رذالة البخل فيسمى جواداً فإن كان الباعث عليه الخوف من الهجاء مثلاً أو من ملامة الخلق أو ما يتوقعه من نفع يناله من المنعم عليه فكل ذلك لَيْسَ مِنَ الْجُودِ لِأَنَّهُ مُضْطَرٌّ إِلَيْهِ بِهَذِهِ الْبَوَاعِثِ وَهِيَ أَعْوَاضٌ مُعَجَّلَةٌ لَهُ عَلَيْهِ فَهُوَ معتاض لا جواد كما روي عن بعض المتعبدات أنها وقفت على حبان بن هلال وهو جالس مع أصحابه فقالت هل فيكم من أسأله عن مسألة فقالوا لها سلي عما شئت وأشاروا إلى حبان بن هلال فقالت ما السخاء عندكم قالوا العطاء والبذل والإيثار قالت هذا السخاء في الدنيا فما السخاء في الدين قالوا أن نعبد الله سبحانه سخية بها أنفسنا غير مكرهة قالت فتريدون على ذلك أجراً قالوا نعم قالت ولم قالوا لأن الله تعالى وعدنا بالحسنة عشر أمثالها قالت سبحان الله فإذا أعطيتم واحدة وأخذتم عشرة فبأي شيء تسخيتم عليه قالوا لها فما السخاء عندك يرحمك الله قالت السخاء عندي أن تعبدوا الله متنعمين متلذذين بطاعته غير كارهين لا تريدون على ذلك أجراً حتى يكون مولاكم يفعل بكم ما يشاء ألا تستحيون من الله أن يطلع على قلوبكم فيعلم منها أنكم تريدون شيئاً بشيء إن هذا في الدنيا لقبيح وقالت بعض المتعبدات أتحسبون أن السخاء في الدرهم والدينار فقط قيل ففيم قالت السخاء عندي في المهج

…pahala di akhirat, atau memperoleh keutamaan kedermawanan, serta menyucikan jiwa dari kehinaan sifat kikir, maka ia disebut orang yang dermawan. Akan tetapi, jika pendorongnya adalah rasa takut akan celaan, misalnya, atau takut dari celaan makhluk, atau karena keuntungan yang ia harapkan dari orang yang dibantunya, maka semua itu bukanlah bagian dari kedermawanan. Sebab ia terpaksa melakukannya karena pendorong-pendorong tersebut, padahal itu semua adalah imbalan yang disegerakan baginya, sehingga ia adalah orang yang bertransaksi/mengambil ganti, bukan orang yang dermawan. Sebagaimana diriwayatkan dari seorang wanita ahli ibadah bahwa ia pernah mendatangi Hibban bin Hilal yang sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya, lalu wanita itu bertanya, 'Apakah ada di antara kalian yang bisa kutanya tentang suatu masalah?' Mereka menjawab, 'Tanyakanlah apa yang engkau kehendaki,' seraya menunjuk kepada Hibban bin Hilal. Wanita itu bertanya, 'Apakah kelapangan hati (sakha') menurut kalian?' Mereka menjawab, 'Pemberian, kedermawanan, dan mengutamakan orang lain (itsār).' Ia berkata, 'Itu adalah sakha' dalam urusan dunia. Lalu apakah sakha' dalam agama?' Mereka menjawab, 'Kami beribadah kepada Allah Subhānahu wa Ta'ālā dengan kerelaan jiwa, tanpa ada rasa terpaksa.' Ia bertanya lagi, 'Apakah kalian menginginkan pahala atas hal itu?' Mereka menjawab, 'Ya.' Ia bertanya, 'Mengapa?' Mereka menjawab, 'Karena Allah Ta'ala berjanji kepada kami balasan sepuluh kali lipat untuk satu kebaikan.' Wanita itu berkata, 'Maha Suci Allah! Jika kalian memberi satu dan mengambil sepuluh, lalu dengan apa kalian berlapang hati kepada-Nya?' Mereka bertanya kepadanya, 'Lantas apakah sakha' menurutmu, semoga Allah merahmatimu?' Ia menjawab, 'Sakha' menurutku adalah kalian beribadah kepada Allah dalam keadaan menikmati dan merasakan kelezatan dalam ketaatan kepada-Nya tanpa rasa benci, serta tidak mengharapkan pahala atasnya, sehingga Pelindungmu (Mula-mu) bertindak terhadapmu sesuai kehendak-Nya. Tidakkah kalian malu kepada Allah jika Dia menatap hati kalian lalu mengetahui bahwa kalian menginginkan sesuatu dengan menukarkan sesuatu? Sungguh, hal seperti ini dalam urusan dunia saja amatlah buruk!' Dan seorang ahli ibadah wanita lainnya berkata, 'Apakah kalian mengira kelapangan hati (sakha') itu hanya pada dirham dan dinar saja?' Ditanyakan kepadanya, 'Lantas pada apa?' Ia menjawab, 'Sakha' menurutku adalah pada pertaruhan jiwa.'

وقال المحاسبي السخاء في الدين أن تسخوا بنفسك تتلفها لله ﷿ ويسخو قلبك ببذل مهجتك وإهراق دمك لله تعالى بسماحة من غير إكراه ولا تريد بذلك ثواباً عاجلاً ولا آجلاً وإن كنت غير مستغن عن الثواب ولكن يغلب على ظنك حسن كمال السخاء بترك الاختيار على الله حتى يكون مولاك هو الذي يفعل لك ما لا تحسن أن تختار لنفسك

Al-Muhasibi berkata, 'Kelapangan hati (sakha') dalam agama adalah engkau berpasrah mengorbankan dirimu untuk Allah 'Azza wa Jalla, dan hatimu berlapang dada untuk menyerahkan jiwamu serta mengalirkan darahmu demi Allah Ta'ala dengan penuh kerelaan tanpa rasa terpaksa, tanpa mengharapkan pahala yang disegerakan (duniawi) maupun yang ditangguhkan (akhirat). Meskipun engkau tetap membutuhkan pahala tersebut, namun sangkaan baikmu mengalahkan ketidakbutuhanmu demi kesempurnaan kelapangan hati dengan cara meninggalkan pilihan pribadi di hadapan Allah, sehingga Pelindungmu Dialah yang melakukan bagimu apa yang tidak mampu engkau pilih dengan baik untuk dirimu sendiri.'

بَيَانُ عِلَاجِ الْبُخْلِ

PENJELASAN TENTANG TERAPI MENGOBATI KEBAKHILAN (KIKIR)

اعْلَمْ أَنَّ الْبُخْلَ سَبَبُهُ حُبُّ الْمَالِ

Ketahuilah bahwa sifat kikir (bakhil) itu disebabkan oleh rasa cinta kepada harta.

وَلِحُبِّ ٢ الْمَالِ سَبَبَانِ أَحَدُهُمَا حُبُّ الشَّهَوَاتِ الَّتِي لَا وُصُولَ إِلَيْهَا إِلَّا بِالْمَالِ مع طول الأمل فإن الإنسان لو علم أنه يموت بعد يوم ربما أنه كان لا يبخل بماله إذ القدر الذي يحتاج إليه في يوم أو في شهر أو في سنة قريب وإن كان قصير الأمل ولكن كان له أولاد أقام الولد مقام طول الأمل فإنه يقدر بقاءهم كبقاء نفسه فيمسك لأجلهم

Dan cinta harta itu memiliki dua sebab. Salah satunya adalah cinta pada kelezatan syahwat yang tidak dapat dicapai melainkan dengan harta, disertai dengan panjang angan-angan (thūlul amal). Sebab jika seseorang mengetahui bahwa ia akan mati besok, tentulah ia tidak akan bakhil dengan hartanya, karena kadar yang ia butuhkan dalam sehari, sebulan, atau setahun amatlah dekat. Namun jika ia pendek angan-angan tetapi memiliki anak, maka anak menduduki posisi panjang angan-angan; sebab ia memperkirakan kelangsungan hidup anak-anaknya seperti kelangsungan hidup dirinya sendiri, sehingga ia menahan hartanya demi mereka.

ولذلك قال ﷺ ﵇ الولد مبخلة مجبنة مجهلة // حديث الولد مبخلة زاد في رواية محزنة ابن ماجه من حديث يعلى بن مره دون قوله محزنة رواه بهذه الزيادة أبو يعلى والبزار من حديث أبي سعيد والحاكم من حديث الأسود بن خلف وإسناده صحيح

Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda, 'Anak itu memicu kebakhilan, penakut, dan kebodohan.' // Hadis: 'Anak itu memicu kebakhilan…', terdapat tambahan dalam suatu riwayat 'membuat sedih (mahzanah)'. Diriwayatkan oleh Ibn Majah dari hadis Ya'la bin Murrah tanpa lafal 'mahzanah'. Diriwayatkan dengan tambahan ini oleh Abu Ya'la dan al-Bazzar dari hadis Abu Sa'id, serta al-Hakim dari hadis al-Aswad bin Khalaf, dan sanadnya sahih.

فإذا انضاف إلى ذلك خوف الفقر وقلة الثقة بمجيء الرزق قوي البخل لا محالة

Apabila ditambah lagi dengan rasa takut akan kemiskinan dan kurangnya keyakinan (kepercayaan) terhadap datangnya rezeki, niscaya sifat kikir tersebut menjadi sangat kuat tanpa keraguan lagi.

السبب الثاني أن يحب عين المال فمن الناس من معه ما يكفيه لبقية عمره إذا اقتصر على ما جرت به عادته بنفقته وتفضل آلاف وهو شيخ بلا ولد ومعه أموال كثيرة ولا تسمح نفسه بإخراج الزكاة ولا بمداواة نفسه عند المرض بل صار محباً للدنانير عاشقاً لها يلتذ بوجودها في يده وبقدرته عليها فيكنزها تحت الأرض وهو يعلم أنه يموت فتضيع أو يأخذها أعداؤه هذا فلا تسمح نفسه بأن يأكل أو يتصدق منها بحبة واحدة وهذا مرض للقلب عظيم عسير العلاج لا سيما في كبر السن وهو مرض مزمن لا يرجى علاجه

Sebab kedua adalah mencintai bentuk fisik/zat harta itu sendiri. Sebagian manusia ada yang memiliki harta yang mencukupinya untuk sisa usianya jika ia membatasi diri pada kadar nafkah yang biasa ia keluarkan, bahkan masih tersisa ribuan lagi. Ia adalah seorang tua yang tidak beranak dan memiliki harta melimpah, namun jiwanya tidak merelakan untuk mengeluarkan zakat, tidak pula untuk mengobati dirinya saat sakit. Ia justru telah menjadi pencinta dinar, jatuh kasmaran padanya, merasa lezat dengan keberadaannya di tangannya dan kemampuannya menguasainya, lalu ia menyimpannya di bawah tanah padahal ia tahu ia akan mati sehingga harta itu sirna atau diambil oleh musuh-musuhnya. Jiwanya tidak merelakan untuk memakan atau menyedekahkan harta itu meski sekadar sebutir biji pun. Ini adalah penyakit hati yang sangat besar dan amat sulit diobati, terlebih pada usia tua; ia merupakan penyakit kronis yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya.

ومثال صاحبه مثال رجل عشق شخصاً فأحب رسوله لنفسه ثم نسي محبوبه واشتغل برسوله فإن الدنانير رسول يبلغ إلى الحاجات فصارت محبوبة لذلك لأن الموصل إلى اللذيذ لذيذ ثم قد تنسى الحاجات ويصير الذهب عنده كأنه محبوب في نفسه وهو غاية الضلال بل من رأى بينه وبين الحجر فرقاً فهو جاهل إلا من حيث قضاء حاجته به فالفاضل عن قدر حاجته والحجر بمثابة واحدة

Permisalan pemiliknya adalah seperti seseorang yang kasmaran terhadap seseorang, lalu ia mencintai utusan kekasihnya demi kekasih itu sendiri, namun kemudian ia melupakan kekasihnya dan sibuk dengan sang utusan. Sesungguhnya dinar-dinar adalah utusan yang menyampaikan kepada berbagai kebutuhan, sehingga dinar-dinar itu dicintai karena alasan tersebut, sebab apa yang menyampaikan kepada hal yang lezat adalah lezat. Kemudian, terkadang berbagai kebutuhan itu dilupakan, dan emas menjadi seolah-olah dicintai pada dirinya sendiri, dan ini adalah puncak kesesatan. Bahkan, barangsiapa yang melihat perbedaan antara emas dan batu, maka ia adalah orang yang bodoh, kecuali dari segi pemenuhan kebutuhannya. Maka, harta yang melebihi kadar kebutuhannya dan batu adalah berada pada kedudukan yang sama.

فهذه أسباب حب المال

Maka inilah sebab-sebab kecintaan kepada harta.

وإنما علاج كل علة بمضادة سببها فتعالج حب الشهوات بالقناعة

Sesungguhnya obat dari setiap penyakit adalah dengan menentang sebabnya. Maka, engkau mengobati cinta pada syahwat dengan sikap qana'ah (merasa cukup),

باليسير وبالصبر وتعالج طُولُ الْأَمَلِ بِكَثْرَةِ ذِكْرِ الْمَوْتِ وَالنَّظَرِ فِي مَوْتِ الْأَقْرَانِ وَطُولِ تَعَبِهِمْ فِي جَمْعِ الْمَالِ وضياعه بعدهم وتعالج الْتِفَاتُ الْقَلْبِ إِلَى الْوَلَدِ بِأَنَّ خَالِقَهُ خَلَقَ معه رزقه وكم من ولد ولم يَرِثْ مِنْ أَبِيهِ مَالًا وَحَالُهُ أَحْسَنُ مِمَّنْ وَرِثَ وَبِأَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يَجْمَعُ الْمَالَ لِوَلَدِهِ يريد أن يترك ولده بخير وينقلب هو إلى شر وأن ولده إن كان تقياً صالحاً فالله كافيه وإن كان فاسقاً فيستعين بماله على المعصية وترجع مظلمته إليه

dengan hal yang sedikit dan dengan kesabaran. Engkau juga mengobati panjang angan-angan (thulul amal) dengan memperbanyak mengingat kematian, memperhatikan kematian teman-teman sebaya, serta panjangnya kelelahan mereka dalam mengumpulkan harta dan kesia-siaannya setelah mereka tiada. Engkau mengobati keterikatan hati kepada anak dengan menyadari bahwa Sang Pencipta anak tersebut telah menciptakan rezekinya bersamanya. Betapa banyak anak yang tidak mewarisi harta dari ayahnya, namun keadaannya jauh lebih baik daripada orang yang menerima warisan. Serta dengan menyadari bahwa ia mengumpulkan harta untuk anaknya dengan maksud meninggalkan anaknya dalam kebaikan, sementara ia sendiri pulang menuju keburukan di akhirat. Dan sesungguhnya jika anaknya adalah seorang yang bertakwa lagi saleh, maka Allah yang akan mencukupinya; namun jika anaknya seorang yang fasik, maka ia akan menggunakan harta itu untuk kemaksiatan, sehingga akibat kezalimannya akan kembali kepada dirinya sendiri.

ويعالج أيضاً قلبه بِكَثْرَةِ التَّأَمُّلِ فِي الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي ذَمِّ الْبُخْلِ وَمَدْحِ السَّخَاءِ وَمَا تَوَعَّدَ اللَّهُ بِهِ عَلَى الْبُخْلِ مِنَ الْعِقَابِ الْعَظِيمِ

Ia juga mengobati hatinya dengan banyak merenungkan riwayat-riwayat (khabar) yang datang mengenai celaan terhadap sifat kikir (bukhil) dan pujian terhadap sifat dermawan (sakha'), serta azab yang sangat besar yang diancamkan Allah atas sifat kikir.

وَمِنَ الْأَدْوِيَةِ النَّافِعَةِ كَثْرَةُ التَّأَمُّلِ فِي أَحْوَالِ الْبُخَلَاءِ وَنَفْرَةُ الطَّبْعِ عَنْهُمْ وَاسْتِقْبَاحُهُمْ لَهُ فَإِنَّهُ مَا مِنْ بَخِيلٍ إِلَّا وَيَسْتَقْبِحُ الْبُخْلَ مِنْ غَيْرِهِ وَيَسْتَثْقِلُ كل بخيل مِنْ أَصْحَابِهِ فَيَعْلَمُ أَنَّهُ مُسْتَثْقَلٌ وَمُسْتَقْذَرٌ فِي قُلُوبِ النَّاسِ مِثْلُ سَائِرِ الْبُخَلَاءِ فِي قَلْبِهِ

Di antara obat yang bermanfaat adalah memperbanyak perenungan terhadap keadaan orang-orang yang kikir, rasa enggan watak dasar terhadap mereka, serta menganggap buruk sifat mereka. Sebab, tidak ada seorang pun yang kikir melainkan ia menganggap buruk sifat kikir pada orang lain dan merasa risih terhadap setiap orang kikir di antara teman-temannya. Maka, ia mengetahui bahwa dirinya pun dirasa berat dan dibenci di dalam hati manusia, sebagaimana orang-orang kikir lainnya di dalam hatinya sendiri.

ويعالج أيضاً قلبه بِأَنْ يَتَفَكَّرَ فِي مَقَاصِدِ الْمَالِ وَأَنَّهُ لِمَاذَا خلق ولا يحفظ من المال إلا بقدر حاجته إليه وَالْبَاقِي يَدَّخِرُهُ لِنَفْسِهِ فِي الْآخِرَةِ بِأَنْ يَحْصُلَ لَهُ ثَوَابُ بَذْلِهِ

Ia juga mengobati hatinya dengan bertafakur tentang tujuan-tujuan harta dan untuk apa harta itu diciptakan, serta tidak menyimpan harta kecuali sekadar kebutuhan dirinya padanya, sedangkan sisanya ia tabung untuk dirinya di akhirat dengan cara memperoleh pahala dari kedermawanannya (badzl).

فَهَذِهِ الْأَدْوِيَةُ مِنْ جِهَةِ الْمَعْرِفَةِ وَالْعِلْمِ فَإِذَا عَرَفَ بِنُورِ الْبَصِيرَةِ أَنَّ الْبَذْلَ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الْإِمْسَاكِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ هَاجَتْ رَغْبَتُهُ فِي الْبَذْلِ إِنْ كَانَ عاقلاً فإن تَحَرَّكَتِ الشَّهْوَةُ فَيَنْبَغِي أَنْ يُجِيبَ الْخَاطِرَ الْأَوَّلَ وَلَا يَتَوَقَّفَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَعِدُهُ الْفَقْرَ وَيُخَوِّفُهُ ويصده عنه

Maka obat-obat ini adalah dari segi makrifat dan ilmu. Apabila ia telah mengetahui dengan cahaya basirah (mata hati) bahwa mendermakan harta itu lebih baik baginya daripada menahannya, baik di dunia maupun di akhirat, niscaya bergejolaklah keinginannya untuk mendermakannya jika ia orang yang berakal. Apabila syahwat untuk menahan bergerak, maka seyogianya ia menuruti lintasan hati (khatir) yang pertama dan tidak ragu-ragu, karena setan senantiasa menjanjikannya kefakiran, menakut-nakutinya, dan menghalanginya dari kedermawanan.

حكي أن أبا الحسن البوشنجي كان ذات يوم في الخلاء فدعا تلميذاً له وقال انزع عني القميص وادفعه إلى فلان فقال هلا صبرت حتى تخرج قال لم آمن على نفسي أن تتغير وكان قد خطر لي بذله ولا تزول صفة البخل إلا بالبذل تكلفاً كما لا يزول العشق إلا بمفارقة المعشوق بالسفر عن مستقره حتى إذا سافر وفارق تكلفاً وصبر عنه مدة تسلى عنه قلبه فكذلك الذي يريد علاج البخل ينبغي أن يفارق المال تكلفاً بأن يبذله بل لو رماه في الماء كان أولى به من إمساكه إياه مع الحب له

Dikisahkan bahwa Abu al-Hasan al-Busyanji pada suatu hari berada di kamar mandi (toilet), lalu ia memanggil muridnya dan berkata, "Lepaskan gamisku ini dan serahkan kepada si Fulan!" Muridnya berkata, "Mengapa engkau tidak bersabar sampai engkau keluar?" Ia menjawab, "Aku tidak merasa aman dari diriku bahwa hatiku akan berubah, padahal tadi telah terlintas dalam hatiku untuk mendermakannya. Sifat kikir tidak akan hilang kecuali dengan mendermakan harta secara dipaksakan (takalluf), sebagaimana kerinduan tidak akan hilang kecuali dengan berpisah dari yang dicintai melalui bepergian jauh dari tempat tinggalnya, hingga ketika ia bepergian dan berpisah secara memaksakan diri serta bersabar atasnya selama beberapa waktu, hatinya menjadi terhibur (lupa darinya). Begitu pula orang yang ingin mengobati sifat kikir, seyogianya ia memisahkan diri dari harta secara dipaksakan dengan cara mendermakannya; bahkan sekiranya ia melemparkannya ke dalam air, itu lebih utama baginya daripada menahannya disertai kecintaan kepadanya."

ومن لطائف الحيل فيه أن يخدع نفسه بحسن الاسم والاشتهار بالسخاء فيبذل على قصد الرياء حتى تسمح نفسه بالبذل طمعاً في حشمة الجود فيكون قد أزال عن نفسه خبث البخل واكتسب بها خبث الرياء ولكن ينعطف بعد ذلك على الرياء ويزيله بعلاجه ويكون طلب الاسم كالتسلية للنفس عند فطامها عن المال كما يسلي الصبي عند الفطام عن الثدي باللعب بالعصافير وغيرها لا ليخلى واللعب ولكن لينفك عن الثدي إليه ثم ينقل عنه إلى غيره فكذلك هذه الصفات الخبيثة ينبغي أن يسلط بعضها على بعض كما تسلط الشهوة على الغضب وتكسر سورته بها ويسلط الغضب على الشهوة وتكسر رعونتها به إلا أن هذا مفيد في حق من كان البخل أغلب عليه من حب الجاه والرياء فيبذل الأقوى بالأضعف فإن كان الجاه محبوباً عنده كالمال فلا فائدة فيه فإنه يقلع من علة ويزيد في أخرى مثلها إلا أن علامة ذلك أن لا يثقل عليه البذل لأجل الرياء فلذلك يتبين أن الرياء أغلب عليه فإن كان البذل يشق عليه مع الرياء فينبغي أن يبذل فإن ذلك يدل على أن مرض البخل أغلب على قلبه

Di antara kelembutan siasat (latha'iful hiyal) dalam hal ini adalah hendaknya ia memperdaya dirinya sendiri dengan nama yang baik dan ketenaran atas sifat dermawan, lalu ia memberi dengan maksud riya hingga jiwanya mau mendermakan harta karena mendambakan kehormatan kedermawanan. Dengan demikian, ia telah menghilangkan keburukan kikir dari dirinya namun memperoleh keburukan riya. Akan tetapi, setelah itu ia berbalik menyerang sifat riya dan menghilangkannya dengan obatnya. Pencarian nama baik ini menjadi seperti hiburan bagi jiwa ketika disapih dari harta, sebagaimana anak kecil yang dihibur saat disapih dari mimik ASI dengan bermain burung-burungan dan sejenisnya, bukan untuk dibiarkan terus bermain, melainkan agar terlepas dari mimik ASI menuju permainan itu, kemudian dipindahkan darinya ke hal lain. Begitu pula sifat-sifat buruk ini, seyogianya sebagian diantaranya dikuasakan atas sebagian yang lain, sebagaimana syahwat dikuasakan atas kemarahan sehingga gejolaknya patah dengannya, dan kemarahan dikuasakan atas syahwat sehingga ketololannya patah dengannya. Hanya saja hal ini bermanfaat bagi orang yang sifat kikirnya lebih dominan ketimbang cinta kedudukan (jah) dan riya, sehingga ia mengorbankan yang lebih kuat dengan yang lebih lemah. Apabila kedudukan sama-sama dicintainya seperti harta, maka tidak ada manfaat padanya, karena ia mencabut satu penyakit namun menambah penyakit lain yang sepadan. Akan tetapi, tanda dari hal tersebut adalah bahwa pendermaan harta tidak terasa berat baginya demi riya, maka dari situ jelaslah bahwa riya lebih dominan padanya. Jika pendermaan harta itu terasa berat baginya meskipun disertai riya, maka seyogianya ia tetap mendermakannya, karena hal itu menunjukkan bahwa penyakit kikir lebih dominan atas hatinya.

ومثال دفع هذه الصفات بعضها ببعض ما يقال إن الميت تستحيل جمع أجزائه دوداً ثم يأكل بعض الديدان البعض حتى يقل عددها ثم يأكل بعضها بعضاً حتى ترجع إلى اثنتين قويتين عظيمتين ثم لا تزالان تتقاتلان إلى أن تغلب إحداهما الأخرى فتأكلها وتسمن بها ثم لا تزال تبقى جائعة وحدها إلى أن تموت فكذلك هذه الصفات الخبيثة يمكن أن يسلط بعضها على بعض حتى يقمعها ويجعل الأضعف قوتاً للأقوى إلى أن لا يبقى إلا واحدة ثم تقع العناية بمحوها وإذابتها بالمجاهدة وهو منع القوت عنها

Permisalan menolak sifat-sifat ini sebagian dengan sebagian yang lain adalah seperti apa yang dikatakan bahwa seluruh anggota tubuh mayat berubah menjadi ulat-ulat, kemudian sebagian ulat memakan sebagian lainnya hingga jumlahnya berkurang, lalu sebagian memakan sebagian yang lain hingga tersisa dua ekor yang kuat dan besar. Kemudian keduanya tidak henti-hentinya bertarung hingga salah satunya mengalahkan yang lain, memakannya, dan menjadi gemuk karenanya, lalu ia terus kelaparan seorang diri hingga akhirnya mati. Demikian pulalah sifat-sifat buruk ini, dapat dikuasakan sebagian atas sebagian yang lain hingga dapat menumpasnya dan menjadikan yang lebih lemah sebagai makanan bagi yang lebih kuat, sampai tidak tersisa melainkan satu sifat saja. Kemudian barulah perhatian ditujukan untuk menghapus dan meleburkannya dengan mujahadah, yaitu dengan menahan makanan darinya.

ومنع القوت عن الصفات أن لا يعمل بمقتضاها فإنها تقتضي لا محالة أعمالاً وإذا خولفت خمدت الصفات وماتت

Dan menahan makanan dari sifat-sifat buruk itu adalah dengan tidak mengamalkan apa yang dituntutnya, karena sifat-sifat itu pasti menuntut perbuatan-perbuatan tertentu. Apabila ditentang, niscaya sifat-sifat tersebut akan padam dan mati.

مثل البخل فإنه يقتضي إمساك

Seperti sifat kikir, sesungguhnya ia menuntut penahanan

المال فإذا منع مقتضاه وبذل المال مع الجهد مرة بعد أخرى ماتت صفة البخل وصار البذل طبعاً وسقط التعب فيه فإن علاج البخل بعلم وعمل فالعلم يرجع إلى معرفة آفة البخل وفائدة الجود والعمل يرجع إلى الجود والبذل على سبيل التكلف ولكن قد يقوى البخل بحيث يعمي ويصم فيمنع تحقق المعرفة فيه وإذا لم تتحقق المعرفة لم تتحرك الرغبة فلم يتيسر العمل فتبقى العلة مزمنة كالمرض الذي يمنع معرفة الدواء وإمكان استعماله فإنه لا حيلة فيه إلا الصبر إلى الموت

harta. Maka apabila tuntutannya dihalangi dan harta didermakan dengan kepayahan berkali-kali, matilah sifat kikir tersebut, dan mendermakan harta menjadi suatu watak (tabiat) serta hilanglah kesukaran di dalamnya. Sesungguhnya obat dari kikir adalah dengan ilmu dan amal. Ilmu kembali kepada pengenalan akan bahaya (afah) sifat kikir dan manfaat kedermawanan, sedangkan amal kembali kepada kedermawanan dan pendermaan harta secara dipaksakan. Akan tetapi, terkadang sifat kikir demikian kuat sehingga membutakan dan meletupkan kemudahan, lalu menghalangi terwujudnya makrifat (pengetahuan) di dalamnya. Apabila makrifat tidak terwujud, maka keinginan tidak akan tergerak sehingga amal menjadi tidak mudah, dan penyakit itu tetap menjadi kronis seperti penyakit yang menghalangi pengetahuan akan obat dan kemungkinan penggunaannya, yang tidak ada daya padanya selain bersabar hingga datangnya kematian.

وكان من عادة بعض شيوخ الصوفية في معالجة / علة البخل في المريدين أن يمنعهم من الاختصاص بزواياهم

Dahulu merupakan kebiasaan sebagian syekh Sufi dalam mengobati penyakit kikir pada para murid adalah melarang mereka dari mengkhususkan zawiyah-zawiyah (sudut tempat ibadah/kamar) untuk diri mereka sendiri.

وكان إذا توهم في مريد فرحه بزاويته وما فيها نقله إلى زاوية غيرها ونقل زاوية غيره إليه وأخرجه عن جميع ما ملكه وإذا رآه يلتفت إلى ثوب جديد يلبسه أو سجادة يفرح بها يأمره بتسليمها إلى غيره ويلبسه ثوباً خلقاً لا يميل إليه قلبه

Apabila sang syekh menduga adanya rasa senang pada diri seorang murid terhadap zawiyahnya beserta isinya, beliau memindahkannya ke zawiyah murid yang lain dan memindahkan zawiyah murid lain itu kepadanya, serta mengeluarkannya dari semua yang dimilikinya. Dan apabila sang syekh melihatnya cenderung pada pakaian baru yang mengenakannya atau sajadah yang membuatnya gembira, beliau memerintahkannya untuk menyerahkannya kepada orang lain, lalu mengenakannya pakaian yang usang yang tidak disukai oleh hatinya.

فبهذا يتجافى القلب عن متاع الدنيا

Maka dengan cara inilah hati meregang (menjauh) dari kesenangan duniawi.

فمن لم يسلك هذا السبيل أنس بالدنيا وأحبها فإن كان له ألف متاع كان له ألف محبوب ولذلك إذا سرق كل واحد منه ألمت به مصيبة بقدر حبه له فإذا مات نزل به ألف مصيبة دفعة واحدة لأنه كان يحب الكل وقد سلب عنه بل هو في حياته على خطر المصيبة بالفقد والهلاك

Maka barangsiapa tidak menempuh jalan ini, ia akan merasa nyaman dengan dunia dan mencintainya. Apabila ia memiliki seribu barang kesenangan, maka ia memiliki seribu kekasih. Oleh karena itu, jika masing-masing barang itu dicuri darinya, ia ditimpa musibah sedalam kadar cintanya padanya. Dan apabila ia meninggal, turunlah kepadanya seribu musibah sekaligus karena ia mencintai semuanya sedangkan semua itu telah dirampas darinya. Bahkan semasa hidupnya pun ia senantiasa berada dalam ancaman musibah akibat kehilangan dan kebinasaan.

حمل إلى بعض الملوك قدح من فيروزج مرصع بالجواهر لم ير له نظير ففرح الملك بذلك فرحاً شديداً فقال لبعض الحكماء عنده كيف ترى هذا قال أراه مصيبة أو فقراً قال كيف قال إن كسر كان مصيبة لا جبر لها وإن سرق صرت فقيراً إليه ولم تجد مثله وقد كنت قبل أن يحمل إليك في أمن من المصيبة والفقر ثم اتفق يوماً أن كسر أو سرق وعظمت مصيبة الملك عليه فقال صدق الحكيم ليته لم يحمل إلينا وهذا شأن جميع أسباب الدنيا فإن الدنيا عدوة لأعداء الله تسوقهم إلى النار وعدوة أولياء الله إذ تغمهم بالصبر عنها وعدوة الله إذ تقطع طريقه على عباده وعدوة نفسها فإنها تأكل نفسها فإن المال لا يحفظ إلا بالخزائن والحراس

Pernah dibawakan kepada seorang raja sebuah cawan dari batu pirus (fairuzaj) yang dihiasi permata, yang belum pernah terlihat tandingannya. Sang raja pun sangat gembira dengannya. Lalu ia berkata kepada salah seorang hakim (ahli hikmah) di sisinya, "Bagaimana pendapatmu tentang ini?" Ia menjawab, "Aku melihatnya sebagai musibah atau kefakiran." Raja bertanya, "Bagaimana bisa?" Ia menjawab, "Jika ia pecah, itu menjadi musibah yang tidak ada penambalnya; dan jika ia dicuri, engkau menjadi fakir terhadapnya dan tidak akan menemukan tandingannya. Padahal sebelum cawan ini dibawakan kepadamu, engkau berada dalam keamanan dari musibah dan kefakiran." Kemudian pada suatu hari ditakdirkan cawan itu pecah atau dicuri, sehingga musibah raja terasa amat besar karenanya. Raja pun berkata, "Benar apa yang dikatakan sang ahli hikmah, aduhai sekiranya cawan itu tidak pernah dibawakan kepada kita." Begitulah keadaan seluruh sarana dunia. Sesungguhnya dunia adalah musuh bagi musuh-musuh Allah karena ia menggiring mereka ke neraka; musuh bagi wali-wali Allah karena ia menyusahkan mereka untuk bersabar darinya; musuh bagi Allah karena ia memotong jalan-Nya bagi hamba-hamba-Nya; dan musuh bagi dirinya sendiri karena ia memakan dirinya sendiri. Sebab, harta tidak dapat dijaga melainkan dengan tempat penyimpanan (khaza'in) dan para penjaga.

والخزائن والحراس لا يمكن تحصيلها إلا بالمال وهو بذل الدراهم والدنانير فالمال يأكل نفسه ويضاد ذاته حتى يفنى ومن عرف آفة المال لم يأنس به ولم يفرح ولم يأخذ منه إلا بقدر حاجته ومن قنع بقدر الحاجة فلا يبخل لأن ما أمسكه لحاجته فليس ببخل ولا يحتاج إليه فلا يتعب نفسه بحفظه فيبذله بل هو كالماء على شط الدجلة إذ لا يبخل به أحد لقناعة الناس منه بمقدار الحاجة

Sedangkan tempat penyimpanan dan para penjaga tidak mungkin diperoleh melainkan dengan harta, yaitu dengan mengeluarkan dirham dan dinar. Maka harta memakan dirinya sendiri dan menentang zatnya hingga ia sirna. Barangsiapa mengetahui bahaya (afah) harta, ia tidak akan merasa nyaman dengannya, tidak bergembira darinya, dan tidak mengambil darinya melainkan sekadar kebutuhannya. Barangsiapa merasa cukup dengan kadar kebutuhan, maka ia tidak akan kikir, karena apa yang ditahannya untuk kebutuhannya bukanlah sifat kikir, sedangkan apa yang tidak dibutuhkannya, ia tidak akan menyusahkan dirinya untuk menjaganya sehingga ia mendermakannya. Bahkan harta baginya seperti air di tepi sungai Tigris (Dijlah), di mana tidak ada seorang pun yang kikir dengannya karena manusia merasa cukup dengannya sekadar kebutuhan.

بيان مجموع الوظائف التي على العبد في ماله

Penjelasan tentang Keseluruhan Kewajiban Spiritual yang Harus Dilakukan Hamba Terhadap Hartanya

اعلم أن المال كما وصفناه خير من وجه وشر من وجه

Ketahuilah bahwa harta, sebagaimana telah kami jelaskan, memiliki sisi kebaikan dari satu sudut pandang dan memiliki sisi keburukan dari sudut pandang lainnya.

ومثاله مثال حية يأخذها الراقي ويستخرج منها الترياق ويأخذها الغافل فيقتله سمها من حيث لا يدري ولا يخلو أحد عن سم المال إلا بالمحافظة على خمس وظائف

Perumpamaannya seperti seekor ular yang ditangkap oleh seorang penawar bisa (pawang) lalu diekstrak obat penawar darinya; sementara jika ditangkap oleh orang yang lalai, bisa ular tersebut akan membunuhnya tanpa ia sadari. Tidak ada seorang pun yang selamat dari racun harta kecuali dengan menjaga lima kewajiban spiritual:

الأولى أن يعرف مقصود المال وأنه لماذا خلق وأنه لم يحتج إليه حتى يكتسب ولا يحفظ إلا قدر الحاجة ولا يعطيه من همته فوق ما يستحقه

Pertama, hendaknya ia memahami tujuan harta, untuk apa harta diciptakan, serta menyadari bahwa harta tidaklah dibutuhkan melainkan sekadar untuk dicari dan disimpan sesuai kadar kebutuhan, dan tidak mendermakan tekad hatinya melebihi kadar kedudukan harta yang sebenarnya.

الثانية أن يراعي جهة دخل المال فيجتنب الحرام المحض وما الغالب عليه الحرام كمال السلطان ويجتنب الجهات المكروهة القادحة في المروءة كالهدايا التي فيها شوائب الرشوة وكالسؤال الذي فيه الذلة وهتك المروءة وما يجري مجراه

Kedua, hendaknya ia memperhatikan sumber pemasukan harta. Ia harus menjauhi hal yang murni haram dan sesuatu yang didominasi oleh keharaman seperti harta penguasa zalim. Ia juga wajib menjauhi jalur-jalur yang makruh yang merusak muruah (kehormatan diri), seperti hadiah yang tercemar unsur suap, atau meminta-minta yang mengandung kehinaan dan merusak kehormatan diri, serta hal-hal yang sejenisnya.

الثالثة في المقدار الذي يكتسبه فلا يستكثر منه ولا يستقل بل القدر الواجب ومعياره الحاجة والحاجة

Ketiga, berkenaan dengan kadar yang ia usahakan (cari). Hendaknya ia tidak memperbanyaknya dan tidak pula terlalu meremehkannya, melainkan sebatas kadar yang wajib, di mana ukurannya adalah kebutuhan. Dan kebutuhan itu meliputi:

ملبس ومسكن ومطعم

Pakaian, tempat tinggal, dan makanan.

ولكل واحد ثلاث درجات أدنى وأوسط وأعلى

Masing-masing dari ketiganya memiliki tiga tingkatan: terendah, pertengahan, dan tertinggi.

وما دام مائلاً إلى جانب القلة ومتقرباً من حد الضرورة كان محقاً ويجيء من جملة المحقين وإن جاوز ذلك وقع في هاوية لا آخر لعمقها

Selama seseorang cenderung pada batas yang minimal dan mendekati kadar darurat, maka ia berada dalam kebenaran dan tergolong sebagai orang yang menempuh jalan kebenaran (al-muhiqqin). Namun jika ia melampaui batas tersebut, ia akan jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar kedalamannya.

وقد ذكرنا تفصيل هذه الدرجات في كتاب الزهد

Kami telah menyebutkan rincian tingkatan-tingkatan ini dalam Kitab Az-Zuhd (Kitab Kesederhanaan Hati).

الرابعة أن يراعي جهة المخرج ويقتصد في الإنفاق غير مبذر ولا مقتر كما ذكرناه فيضع ما اكتسبه من حله في حقه ولا يضعه في غير حقه فإن الإثم في الأخذ من غير حقه والوضع في غير حقه سواء

Keempat, hendaknya ia memperhatikan alokasi pengeluaran dan bersikap hemat dalam berinfak, tidak berlebih-lebihan (mubadzir) dan tidak pula kikir (muqattir), sebagaimana yang telah kami jelaskan. Maka ia meletakkan harta yang diperoleh secara halal pada tempat yang semestinya dan tidak menempatkannya pada yang bukan haknya, karena dosa mengambil yang bukan haknya dan menempatkan harta pada yang bukan haknya adalah sama.

الخامسة أن يصلح نيته في الأخذ والترك والإنفاق والإمساك فيأخذ ما يأخذ ليستعين به على العبادة ويترك ما يترك زهداً فيه واستحقاراً له إذا فعل ذلك لم يضره وجود المال ولذلك قال علي ﵁ لو أن رجلاً أخذ جميع ما في الأرض وأراد به وجه الله تعالى فهو زاهد ولو أنه ترك الجميع ولم يرد به وجه الله تعالى فليس بزاهد

Kelima, hendaknya ia membaguskan niatnya dalam mengambil, meninggalkan, menginfakkan, dan menahan harta. Ia mengambil apa yang ia ambil untuk menjadikannya sarana penopang ibadah, dan ia meninggalkan apa yang ia tinggalkan karena zuhud dan menganggap remeh harta tersebut. Jika ia melakukan hal itu, keberadaan harta tidak akan membahayakannya. Oleh karena itu, Ali radhiyallahu 'anhu berkata: 'Seandainya seseorang mengambil seluruh apa yang ada di bumi dengan mengharapkan keridaan Allah Ta'ala, maka ia adalah seorang yang zahid (zuhud). Sebaliknya, seandainya ia meninggalkan semuanya namun tidak mengharapkan keridaan Allah Ta'ala, maka ia bukanlah seorang yang zahid.'

فلتكن جميع حركاتك وسكناتك لله مقصورة على عبادة أو ما يعين على العبادة فإن أبعد الحركات عن العبادة الأكل وقضاء الحاجة وهما معينان على العبادة فإذا كان ذلك قصدك بهما صار ذلك عبادة في حقك

Maka hendaknya seluruh gerak dan diammu semata-mata karena Allah, terbatas pada ibadah atau pada hal yang menopang ibadah. Sebab, gerak-gerik yang paling jauh dari ibadah sekalipun—seperti makan dan buang hajat—keduanya merupakan penopang bagi ibadah. Apabila hal itu yang menjadi niatmu pada keduanya, maka hal tersebut menjadi bernilai ibadah bagimu.

وكذلك ينبغي أن تكون نيتك في كل ما يحفظك من قميص وإزار وفراش وآنية لأن كل ذلك مما يحتاج إليه في الدين وما فضل من الحاجة ينبغي أن يقصد به أن ينتفع به عبد من عباد الله ولا يمنعه منه عند حاجته فمن فعل ذلك فهو الذي أخذ من حية المال جوهرها وترياقها واتقى سمها فلا تضره كثرة المال ولكن لا يتأتى ذلك إلا لمن رسخ في الدين قدمه وعظم فيه علمه

Demikian pula hendaknya niatmu dalam segala hal yang menjagamu, mulai dari baju, kain sarung, alas tidur, hingga bejana; karena semua itu termasuk hal yang dibutuhkan dalam menopang urusan agama. Adapun kelebihan dari kebutuhan tersebut, hendaknya ditujukan agar dapat dimanfaatkan oleh hamba dari hamba-hamba Allah dan tidak menahannya dari mereka ketika mereka membutuhkannya. Barangsiapa melakukan hal itu, dialah orang yang telah mengambil intisari dan penawar dari ular harta serta menjaga diri dari racunnya, sehingga banyaknya harta tidak akan membahayakannya. Namun, hal ini tidak akan terwujud melainkan bagi orang yang telah kokoh pijakan agamanya dan agung keilmuannya.

والعامي إذا تشبه بالعالم في الاستكثار من المال وزعم أنه يشبه أغنياء الصحابة شابه الصبي الذي يرى المعزم الحاذق يأخذ الحية ويتصرف فيها فيخرج ترياقها فيقتدي به ويظن أنه أخذها مستحسناً صورتها وشكلها ومستليناً جلدها فيأخذها اقتداء به فتقتله في الحال إلا أن قتيل الحية يدري أنه قتيل وقتيل المال قد لا يعرف

Orang awam yang meniru orang alim dalam memperbanyak harta dengan mengklaim bahwa ia meniru para sahabat yang kaya, menyerupai anak kecil yang melihat seorang pawang ular yang mahir memegang ular dan mengelolanya hingga mengeluarkan obat penawarnya, lalu anak kecil itu mengikutinya karena menduga pawang itu mengambilnya lantaran mengagumi rupa dan bentuknya serta merasa kulitnya halus, lalu ia memegangnya karena meniru pawang tersebut sehingga ular itu membunuhnya seketika. Hanya saja, orang yang terbunuh oleh ular menyadari bahwa dirinya terbunuh, sedangkan orang yang terbunuh oleh harta sering kali tidak menyadarinya.

وقد شبهت الدنيا بالحية فقيل

Dunia telah diserupakan dengan ular, sebagaimana dikatakan dalam bait syair:

هي دنيا كحية تنفث السم … وإن كانت المجسة لانت

Dunia itu bagaikan ular yang menyemburkan racun … walau saat disentuh kulitnya terasa amat lembut.

وكما يستحيل أن يتشبه الأعمى بالبصير في تخطي قلل الجبال وأطراف البحر والطرق المشوكة فمحال أن يتشبه العامي بالعالم الكامل في تناول المال

Sebagaimana mustahil bagi orang buta untuk meniru orang yang melihat dalam melangkahi puncak-puncak gunung, tepi-tepi lautan, dan jalanan yang berduri, maka mustahil pula bagi orang awam untuk meniru seorang alim yang sempurna dalam mengambil harta.

بيان ذم الغنى ومدح الفقر

Penjelasan tentang Celaan Terhadap Kekayaan dan Pujian Terhadap Kefakiran

اعلم أن الناس قد اختلفوا في تفضيل الغني الشاكر على الفقير الصابر وقد أوردنا ذلك في كتاب الفقر والزهد وكشفنا عن تحقيق الحق فيه ولكنا في هذا الكتاب ندل على أن الفقر أفضل وأعلى من الغني على الجملة من غير التفات إلى تفصيل الأحوال ونقتصر فيه على حكاية فصل ذكره الحارث المحاسبي ﵁ في بعض كتبه في الرد على بعض العلماء من الأغنياء حيث احتج بأغنياء الصحابة وبكثرة مال عبد الرحمن بن عوف وشبه نفسه بهم والمحاسبي ﵀ حبر الأمة في علم المعاملة وله السبق على جميع الباحثين عن عيوب النفس وآفات الأعمال وأغوار العبادات وكلامه جدير بأن يحكى على وجهه

Ketahuilah bahwa para ulama telah berselisih pendapat mengenai keutamaan orang kaya yang bersyukur dibandingkan dengan orang fakir yang bersabar. Kami telah menguraikan hal itu dalam Kitab Kefakiran dan Zuhud serta menyingkap kebenaran sejati di dalamnya. Namun dalam kitab ini, kami menuntun bahwa kefakiran secara umum lebih utama dan lebih tinggi derajatnya daripada kekayaan, tanpa memandang rincian keadaan masing-masing. Kami membatasi pembahasan di sini dengan mengutip sebuah fasal yang disebutkan oleh Al-Harits al-Muhasibi radhiyallahu 'anhu dalam salah satu kitabnya untuk membantah sebagian ulama yang kaya, yang berhujjah dengan kekayaan para sahabat serta berlimpahnya harta Abdurrahman bin Auf dan menyamakan dirinya dengan mereka. Al-Muhasibi rahimahullah adalah ulama ulung (habr) umat ini dalam ilmu muamalah batiniah dan memiliki keunggulan atas seluruh pengkaji cela-cela jiwa, bahaya-bahaya amal, serta kedalaman ibadah; dan perkataannya sangat layak untuk dikutip secara utuh sebagaimana mestinya.

وقد قال بعد كلام له في الرد على علماء السوء بلغنا أن عيسى ابن مريم ﵇ قال يا علماء السوء تصومون وتصلون وتصدقون ولا تفعلون ما تؤمرون وتدرسون مالا تعملون فيا سوء ما تحكمون تتوبون بالقول والأماني وتعملون بالهوى وما يغني عنكم أن تنقو جلودكم وقلوبكم دنسة بحق أقول لكم لا تكونوا كالمنخل يخرج منه الدقيق الطيب وتبقى فيه النخالة كذلك أنتم

Dan dia berkata setelah perkataannya dalam membantah ulama keburukan (ulama su'): "Telah sampai kepada kami bahwasanya 'Isa bin Maryam 'alaihissalam berkata: 'Wahai ulama keburukan, kalian berpuasa, shalat, dan bersedekah, tetapi kalian tidak melakukan apa yang diperintahkan kepada kalian. Kalian mempelajari apa yang tidak kalian amalkan, betapa buruknya apa yang kalian putuskan! Kalian bertobat hanya dengan ucapan dan angan-angan, tetapi kalian beramal menuruti hawa nafsu. Tidak ada gunanya bagi kalian membersihkan kulit luar kalian sementara hati kalian kotor. Sungguh demi kebenaran Aku katakan kepada kalian, janganlah kalian seperti ayakan yang mengeluarkan tepung yang halus (baik) tetapi menyisakan ampas (dedak) di dalamnya; demikian pulalah kalian,

تخرجون الحكم من أفواهكم ويبقى الغل في صدوركم يا عبيد الدنيا كيف يدرك الآخرة من لا تنقضي من الدنيا شهوته ولا تنقطع منها رغبته بحق أقول لكم إن قلوبكم تبكي من أعمالكم جعلتم الدنيا تحت ألسنتكم والعمل تحت أقدامكم بحق أقول لكم أفسدتم آخرتكم فصلاح الدنيا أحب إليكم من صلاح الآخرة فأي الناس أخسر منكم لو تعلمون ويلكم حتام تصفون الطريق للمدلجين وتقيمون في محل المتحيرين كأنكم تدعون أهل الدنيا ليتركوها لكم مهلاً مهلاً ويلكم ماذا يغني عن البيت المظلم أن يوضع السراج فوق ظهره وجوفه وحش مظلم كذلك لا يغني عنكم أن يكون نور العلم بأفواهكم وأجوافكم منه وحشة متعطلة يا عبيد الدنيا لا كعبيد أتقياء ولا كأحرار كرام توشك الدنيا أن تقلعكم عن أصولكم فتلقيكم على وجوهكم ثم تكبكم على مناخركم ثم تأخذ خطاياكم بنواصيكم ثم تدفعكم من خلفكم حتى تسلمكم إلى الملك الديان عراة فرادى فيوقفكم على سوآتكم ثم يجزيكم بسوء أعمالكم

kalian mengeluarkan hikmah dari mulut kalian, sementara kedengkian tetap bersemayam di dalam dada kalian. Wahai hamba-hamba dunia, bagaimana mungkin dapat meraih akhirat orang yang syahwat dunianya tidak pernah habis dan hasratnya terhadap dunia tidak pernah terputus? Sungguh demi kebenaran Aku katakan kepada kalian: sesungguhnya hati kalian menangis karena perbuatan kalian. Kalian menjadikan dunia di bawah lidah kalian dan amal di bawah telapak kaki kalian. Sungguh demi kebenaran Aku katakan kepada kalian: kalian telah merusak akhirat kalian, karena kemaslahatan dunia lebih kalian cintai daripada kemaslahatan akhirat. Maka siapakah manusia yang lebih rugi daripada kalian jika kalian mengetahui? Celakalah kalian, sampai kapan kalian menggambarkan jalan bagi orang-orang yang berjalan di malam hari, sementara kalian sendiri berdiam di tempat orang-orang yang bingung? Seakan-akan kalian menyeru ahli dunia agar meninggalkannya untuk kalian. Pelan-pelanlah! Celakalah kalian, apakah gunanya bagi rumah yang gelap bila pelita diletakkan di atas atapnya, sedangkan bagian dalamnya tetap hampa dan gelap gulita? Demikian pula tidak berguna bagi kalian cahaya ilmu yang berada di mulut kalian, sementara bagian dalam (hati) kalian sepi dan hampa darinya. Wahai hamba-hamba dunia, kalian tidak seperti hamba-hamba yang bertakwa, dan tidak pula seperti orang-orang merdeka yang mulia. Hampir tiba saatnya dunia mencabut kalian dari akar-akar kalian, lalu melemparkan kalian di atas wajah-wajah kalian, kemudian menyungkurkan kalian di atas hidung kalian, lalu dosa-dosa kalian memegang ubun-ubun kalian, kemudian mendorong kalian dari belakang hingga menyerahkan kalian kepada Maha Raja Yang Maha Membalas dalam keadaan telanjang dan sendiri-sendiri, lalu Dia memperlihatkan keburukan-keburukan kalian, kemudian membalas kalian atas keburukan amal perbuatan kalian."

ثم قال الحارث ﵀ إخواني فهؤلاء علماء السوء شياطين الإنس وفتنه على الناس رغبوا في عرض الدنيا ورفعتها وآثروها على الآخرة واولوا الدين للدنيا فهم في العاجل عار وشين وفي الآخرة هم الخاسرون أو يعفو الكريم بفضله

Kemudian Al-Harits rahimahullah berkata: "Wahai saudara-saudaraku, mereka itulah ulama keburukan (ulama su'), setan-setan dari golongan manusia dan fitnah bagi manusia. Mereka menyukai kesenangan duniawi dan kedudukannya serta mengutamakannya daripada akhirat, dan menakwilkan agama demi kepentingan dunia. Maka di dunia mereka adalah cemoohan dan keaiban, dan di akhirat merekalah orang-orang yang rugi, kecuali jika Yang Maha Pemurah mengampuni dengan karunia-Nya."

وبعد فإني رأيت الهالك المؤثر للدنيا سروره ممزوج بالتنغيص فيتفجر عنه أنواع الهموم وفنون المعاصي وإلى البوار والتلف مصيره فرح الهالك برجائه فلم تبق له دنياه ولم يسلم له دينه ﴿خسر الدنيا والآخرة ذلك هو الخسران المبين﴾ فيا لها من مصيبة ما أفظعها ورزية ما أجلها ألا فراقبوا الله إخواني ولا يغرنكم الشيطان وأولياؤه من الآنسين بالحجج الداحضة عند الله فإنهم يتكالبون على الدنيا ثم يطلبون لأنفسهم المعاذير والحجج ويزعمون أَنَّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كانت لهم أموال فيتزين المغرورون بذكر الصحابة ليعذرهم الناس على جمع المال ولقد دهاهم الشيطان وما يشعرون

Selanjutnya, sesungguhnya aku melihat orang yang binasa yang mengutamakan dunia, kegembiraannya bercampur dengan keruhan, sehingga memancarkan berbagai macam kecemasan dan beragam kemaksiatan, dan kepada kebinasaan serta kehancuranlah tempat kembalinya. Orang yang binasa itu bergembira dengan angan-angannya, padahal dunianya tidak tersisa baginya dan agamanya tidak selamat baginya. "Dia rugi di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." Betapa dahsyatnya musibah ini dan betapa besarnya petaka ini! Ingatlah, maka bertakwalah (muraqabah-lah) kepada Allah wahai saudara-saudaraku, dan janganlah kalian terperdaya oleh setan beserta para walinya dari kalangan manusia dengan dalih-dalih yang batil di sisi Allah. Sebab, mereka berebut harta dunia secara rakus lalu mencari alasan dan dalih bagi diri mereka sendiri, seraya mengklaim bahwa para sahabat Rasulullah ﷺ juga memiliki harta kekayaan. Maka orang-orang yang terperdaya menghiasi diri mereka dengan menyebut-nyebut para sahabat agar manusia memaklumi mereka dalam mengumpulkan harta, padahal setan telah memperdaya mereka tanpa mereka sadari.

ويحك أيها المفتون إن احتجاجك بمال عبد الرحمن بن عوف مكيدة من الشيطان ينطق بها على لسانك فتهلك لأنك متى زعمت أن أخيار الصحابة أرادوا المال للتكاثر والشرف والزينة فقد اغتبت السادة ونسبتهم إلى أمر عظيم ومتى زعمت أن جمع المال الحلال أعلى وأفضل من تركه فقد ازدريت محمداً والمرسلين ونسبتهم إلى قلة الرغبة والزهد في هذا الخير الذي رغبت فيه أنت وأصحابك من جمع المال ونسبتهم إلى الجهل إذ لم يجمعوا المال كما جمعت ومتى زعمت أن جمع المال الحلال أعلى من تركه فقد زعمت أن رسول الله ﷺ لم ينصح للأمة إذ نهاهم عن جمع المال // حديث النهي عن جمع المال أخرجه ابن عدي من حديث ابن مسعود ما أوحى الله إلي أن أجمع المال وأكون من الفاجرين الحديث ولأبي نعيم والخطيب في التاريخ والبيهقي في الزهد من حديث الحارث بن سويد في أثناء الحديث لا تجمعوا ما لا تأكلون وكلاهما ضعيف

Celakalah engkau, wahai orang yang terfitnah! Sesungguhnya berhujjahmu dengan harta 'Abdurrahman bin 'Auf adalah tipu daya setan yang diucapkannya melalui lidahmu sehingga engkau binasa. Karena jika engkau menganggap bahwa sahabat-sahabat pilihan menginginkan harta untuk bermegah-megahan, mencari kemuliaan, dan perhiasan, maka engkau telah menggunjing para pemuka agama itu dan menisbatkan perkara yang besar kepada mereka. Dan jika engkau menganggap bahwa mengumpulkan harta yang halal itu lebih tinggi dan lebih utama daripada meninggalkannya, maka engkau telah merendahkan Muhammad dan para rasul, serta menisbatkan mereka kepada kurangnya hasrat dan kezuhudan terhadap kebaikan yang justru engkau dan teman-temanmu hasrati dalam mengumpulkan harta, dan engkau menisbatkan mereka kepada kebodohan karena mereka tidak mengumpulkan harta sebagaimana yang engkau kumpulkan. Dan jika engkau menganggap bahwa mengumpulkan harta yang halal itu lebih utama daripada meninggalkannya, maka engkau telah menganggap bahwa Rasulullah ﷺ tidak memberi nasihat yang tulus kepada umat tatkala beliau melarang mereka mengumpulkan harta // Hadits tentang larangan mengumpulkan harta diriwayatkan oleh Ibn 'Adi dari hadits Ibn Mas'ud: "Allah tidak mewahyukan kepadaku untuk mengumpulkan harta dan menjadi bagian dari orang-orang jahat…" al-hadits. Dan diriwayatkan oleh Abu Nu'aim, Al-Khathib dalam Al-Tarikh, dan Al-Baihaqi dalam Al-Zuhd dari hadits Al-Harits bin Suwaid di tengah-tengah hadits: "Janganlah kalian mengumpulkan apa yang tidak kalian makan." Dan keduanya dha'if. //

وقد علم أن جمع المال خير للأمة فقد غشهم بزعمك حين نهاهم عن جمع المال كذبت ورب السماء عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فلقد كان للأمة ناصحاً وعليهم مشفقاً وبهم رءوفا

Padahal jika diketahui bahwa mengumpulkan harta adalah kebaikan bagi umat, maka berarti beliau telah bertindak curang terhadap mereka menurut persangkaanmu ketika melarang mereka dari mengumpulkan harta. Demi Tuhan pemilik langit, engkau telah berdusta atas nama Rasulullah ﷺ! Sungguh beliau adalah pemberi nasihat yang tulus bagi umat, amat pengasih, dan penyayang kepada mereka.

ومتى زعمت أن جمع المال أفضل فقد زعمت إن الله ﷿ لم ينظر لعباده حين نهاهم عن جمع المال وقد علم أن جمع المال خير لهم أو زعمت أن الله تعالى لم يعلم أن الفضل في الجمع فلذلك نهاهم عنه وأنت عليم بما في المال من الخير والفضل لذلك رغبت في الاستكثار كأنك أعلم بموضع الخير والفضل من ربك تعالى الله عن جهلك أيها المفتون تدبر بعقلك ما دهاك به الشيطان حين زين لك الاحتجاج بمال الصحابة ويحك ما ينفعك الاحتجاج بمال عبد الرحمن بن عوف وقد ود عبد الرحمن بن عوف في القيامة أنه لم يؤت من الدنيا إلا قوتاً

Dan tatkala engkau menganggap bahwa mengumpulkan harta itu lebih utama, maka engkau telah menganggap bahwa Allah 'Azza wa Jalla tidak mengindahkan hamba-hamba-Nya ketika Dia melarang mereka dari mengumpulkan harta, padahal diketahui bahwa mengumpulkan harta itu lebih baik bagi mereka; atau engkau menganggap bahwa Allah Ta'ala tidak mengetahui bahwa keutamaan ada pada mengumpulkan harta sehingga Dia melarang mereka darinya, sedangkan engkau mengetahui kebaikan dan keutamaan yang ada pada harta sehingga engkau berkeinginan untuk memperbanyaknya, seolah-olah engkau lebih mengetahui tempat kebaikan dan keutamaan daripada Tuhanmu. Mahasuci Allah dari kebodohanmu, wahai orang yang terfitnah! Renungkanlah dengan akalmu apa yang telah ditimpakan setan kepadamu tatkala ia menghiasi bagimu berhujjah dengan harta para sahabat. Celakalah engkau, apa gunanya bagimu berhujjah dengan harta 'Abdurrahman bin 'Auf, padahal 'Abdurrahman bin 'Auf sendiri di hari kiamat sangat berharap sekiranya ia tidak diberi harta dunia kecuali sebatas makanan pokok saja?

وقد بلغني أنه لما توفي عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ ﵁ قال أناس مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إنا نخاف على عبد الرحمن فيما ترك فقال كعب سبحان الله وما تخافون على عبد الرحمن كسب طيباً وأنفق طيباً وترك طيبا فبلغ ذلك أبا ذر فخرج مغضباً يريد كعباً فمر بعظم لحي بعير فأخذه بيده ثم انطلق يريد كعباً فقيل لكعب

Telah sampai kepadaku bahwasanya tatkala 'Abdurrahman bin 'Auf radhiyallahu 'anhu wafat, beberapa orang dari sahabat Rasulullah ﷺ berkata: "Sesungguhnya kami mengkhawatirkan 'Abdurrahman atas harta yang ditinggalkannya." Maka Ka'b berkata: "Maha Suci Allah, apa yang kalian khawatirkan atas 'Abdurrahman? Ia mengusahakannya dengan cara yang baik, menafkahkan secara baik, dan meninggalkan secara baik." Maka hal itu sampai kepada Abu Dharr, lalu ia keluar dalam keadaan marah mencari Ka'b. Ia melewati tulang rahang unta lalu mengambilnya dengan tangannya, kemudian pergi mencari Ka'b. Lalu dikatakan kepada Ka'b:

إن أبا ذر يطلبك فخرج هارباً حتى دخل على عثمان يستغيث به وأخبره الخبر وأقبل أبو ذر يقص الأثر في طلب كعب حتى انتهى إلى دار عثمان فلما دخل قام كعب فجلس خلف عثمان هارباً من أبي ذر فقال له أبو ذر هيه يا ابن اليهودية تزعم أن لا بأس بما ترك عبد الرحمن بن عوف ولقد خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يوماً نحو أحد وأنا معه فقال يا أبا ذر فقلت لبيك يا رسول الله فقال الأكثرون هم الأقلون يوم القيامة إلا من قال هكذا وهكذا عن يمينه وشماله وقدامه وخلفه وقليل ما هم ثم قال يا أبا ذر قلت نعم يا رسول الله بأبي أنت وأمي قال ما يسرني أن لي مثل أحد أنفقه في سبيل الله أموت يوم أموت وأترك منه قيراطين قلت أو قنطارين يا رسول الله قال بل قيراطان ثم قال يا أبا ذر أنت تريد الأكثر وأنا أريد الأقل حديث أنه قال أما إنك أول من يدخل الجنة من أغنياء أمتي وما كدت تدخلها إلا حبوا أخرجه البزار من حديث أنس بسند ضعيف والحاكم من حديث عبد الرحمن ابن عوف يا ابن عوف إنك من الأغنياء ولن تدخل الجنة إلا زحفا وقال صحيح الإسناد قلت بل ضعيف فيه خالد بن أبي مالك ضعفه الجهور

"Sesungguhnya Abu Dharr sedang mencarimu!" Maka Ka'b keluar melarikan diri hingga masuk ke kediaman 'Utsman untuk meminta perlindungan kepadanya dan memberitahukan kabar tersebut. Abu Dharr pun datang menyusuri jejak untuk mencari Ka'b hingga sampai di rumah 'Utsman. Ketika Abu Dharr masuk, Ka'b berdiri lalu duduk di belakang 'Utsman melarikan diri dari Abu Dharr. Maka Abu Dharr berkata kepadanya: "Hei, wahai anak wanita Yahudi! Engkau menganggap tidak mengapa dengan apa yang ditinggalkan oleh 'Abdurrahman bin 'Auf? Padahal Rasulullah ﷺ pada suatu hari keluar menuju Uhud dan aku bersama beliau, lalu beliau bersabda: 'Wahai Abu Dharr!' Aku menjawab: 'Labbaik, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Orang-orang yang terbanyak hartanya adalah orang-orang yang paling sedikit (pahalanya) pada hari kiamat, kecuali orang yang mengucapkan (membagikan hartanya) begini dan begini, dari sebelah kanannya, kirinya, depannya, dan belakangnya, dan betapa sedikitnya mereka!' Kemudian beliau bersabda: 'Wahai Abu Dharr!' Aku menjawab: 'Ya, wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.' Beliau bersabda: 'Tidaklah membahagiakanku jika aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud yang diinfakkan di jalan Allah, lalu pada hari aku mati aku meninggalkan darinya dua qirath.' Aku bertanya: 'Atau dua qinthar, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Bahkan dua qirath.' Kemudian beliau bersabda: 'Wahai Abu Dharr, engkau menginginkan yang terbanyak sedangkan aku menginginkan yang tersedikit.'" // Hadits bahwa beliau bersabda: "Ketahuilah sesungguhnya engkau adalah orang kaya pertama yang masuk surga dari umatku, dan engkau hampir tidak masuk kecuali dengan merangkak." Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari hadits Anas dengan sanad dha'if, dan Al-Hakim dari hadits 'Abdurrahman bin 'Auf: "Wahai Ibnu 'Auf, sesungguhnya engkau termasuk orang kaya dan engkau tidak akan masuk surga melainkan dengan merangkak." Dan ia (Al-Hakim) berkata: Sanadnya shahih. Aku (Al-'Iraqi) katakan: Bahkan ini dha'if, di dalamnya terdapat Khalid bin Abi Malik yang didha'ifkan oleh mayoritas ulama. //

ويحك أيها المفتون فما احتجاجك بالمال وهذا عبد الرحمن في فضله وتقواه وصنائعه المعروف وبذله الأموال في سبيل الله مع صحبته لرسول الله ﷺ وبشراه بالجنة // حديث بشر النبي ﷺ عبد الرحمن بن عوف بالجنة أخرجه الترمذي والنسائي في الكبرى من حديثه أبو بكر في الجنة الحديث وفيه وعبد الرحمن بن عوف في الجنة وهو عند الأربعة من حديث سعيد بن زيد قال البخاري والترمذي وهذا أصح

Celakalah engkau, wahai orang yang terfitnah! Apakah hujjahmu dengan harta padahal ini adalah 'Abdurrahman dengan segala keutamaan, ketakwaan, perbuatan-perbuatan baik, dan kedermawanannya menginfakkan harta di jalan Allah, beserta persahabatannya dengan Rasulullah ﷺ dan kabar gembira baginya berupa surga // Hadits bahwa Nabi ﷺ memberi kabar gembira kepada 'Abdurrahman bin 'Auf dengan surga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa'i dalam Al-Kubra dari haditsnya: "Abu Bakar di surga…" al-hadits, dan di dalamnya: "dan 'Abdurrahman bin 'Auf di surga." Dan hadits ini terdapat pada empat penyusun Sunan dari hadits Sa'id bin Zaid, Al-Bukhari dan At-Tirmidzi berkata: Ini lebih shahih. //

أيضاً يوقف في عرصات القيامة وأهوالها بسبب ماله كسبه من حلال للتعفف ولصنائع المعروف وأنفق منه قصداً وأعطي في سبيل الله سمحا

ia juga dihentikan di pelataran Kiamat dan huru-haranya disebabkan hartanya, padahal ia mengusahakannya dari jalan yang halal untuk menjaga kehormatan diri dan perbuatan-perbuatan baik, serta menginfakkannya secara bersahaja dan memberikannya di jalan Allah dengan kemurahan hati.

منع من السعي إلى الجنة مع الفقراء المهاجرين وصار يحبو في آثارهم حبوا فما ظنك بأمثالنا الغرقى في فتن الدنيا وبعد فالعجب كل العجب لك يا مفتون تتمرغ في تخاليط الشبهات والسحت وتتكالب على أوساخ الناس وتتقلب في الشهوات والزينة والمباهاة وتتقلب في فتن الدنيا ثم تحتج بعبد الرحمن وتزعم أنك إن جمعت المال فقد جمعه الصحابة كأنك أشبهت السلف وفعلهم ويحك إن هذا من قياس إبليس ومن فتياه لأوليائه وسأصف لك أحوالك وأحوال السلف لتعرف فضائحك وفضل الصحابة

Ia terhalang dari berjalan bergegas menuju surga bersama kaum fakir dari kalangan Muhajirin, dan ia berjalan merangkak di belakang jejak-jejak mereka. Maka bagaimana dugaanmu terhadap orang-orang seperti kita yang tenggelam dalam fitnah-fitnah dunia? Sungguh amat mengherankan bagimu wahai orang yang terfitnah! Engkau bergelimang dalam percampuran syubhat dan barang haram, berebut kotoran manusia, berguling-guling dalam syahwat, perhiasan, dan kebanggaan diri, serta berbolak-balik dalam fitnah-fitnah dunia, kemudian engkau berhujjah dengan 'Abdurrahman dan mengklaim bahwa jika engkau mengumpulkan harta maka para sahabat pun telah mengumpulkannya, seolah-olah engkau menyerupai kaum Salaf dan perbuatan mereka! Celakalah engkau, sesungguhnya ini adalah bagian dari qiyas (analogi) Iblis dan fatwanya kepada para walinya. Dan aku akan menggambarkan kepadamu keadaan-keadaanmu dan keadaan-keadaan kaum Salaf agar engkau mengetahui keaiban-keaibanmu serta keutamaan para sahabat.

ولعمري لقد كان لبعض الصحابة أموال أرادوها للتعفف والبذل في سبيل الله فكسبوا حلالاً وأكلوا طيباً وأنفقوا قصداً وقدموا فضلاً ولم يمنعوا منها حقاً ولم يبخلوا بها لكنهم جادوا لله بأكثرها وجاد بعضهم بجميعها وفي الشدة آثروا الله على أنفسهم كثيراً فبالله أكذلك أنت والله إنك لبعيد الشبه بالقوم

Demi umurku, sungguh sebagian sahabat memang memiliki harta yang mereka kehendaki untuk menjaga kehormatan diri dan kedermawanan di jalan Allah; maka mereka mengusahakan yang halal, memakan yang baik, menginfakkan secara bersahaja, mendahulukan keutamaan, tidak menahan hak darinya, dan tidak kikir dengannya. Akan tetapi, mereka mendermakan sebagian besarnya demi Allah, bahkan sebagian dari mereka mendermakan seluruhnya, dan dalam kesempitan mereka sangat mengutamakan (keridhaan) Allah atas diri mereka sendiri. Maka demi Allah, apakah engkau demikian? Demi Allah, sungguh engkau sangat jauh kemiripannya dengan kaum tersebut!

وبعد فإن أخيار الصحابة كانوا للمسكنة محبين ومن خوف الفقر آمنين وبالله في أرزاقهم واثقين وبمقادير الله مسرورين وفي البلاء راضين وفي الرخاء شاكرين وفي الضراء صابرين وفي السراء حامدين وكانوا لله متواضعين وعن حب العلو والتكاثر ورعين

Selanjutnya, sesungguhnya para sahabat pilihan adalah orang-orang yang mencintai kemiskinan (kesederhanaan jiwa), merasa aman dari rasa takut akan kemiskinan harta, yakin kepada Allah dalam rezeki-rezeki mereka, bergembira dengan takdir-takdir Allah, ridha dalam cobaan, bersyukur dalam kelapangan, bersabar dalam kesempitan, memuji Allah dalam kesenangan, bertawadhu' karena Allah, dan bersikap wara' dari mencintai kedudukan serta bermegah-megahan.

لم ينالوا من الدنيا إلا المباح لهم بالبلغه منها وزجوا الدنيا وصبروا على مكارهها وتجرعوا مرارتها وزهدوا في نعيمها وزهرتها

Mereka tidak mengambil dari dunia melainkan apa yang dihalalkan bagi mereka sekadar bekal secukupnya, melintasi dunia, bersabar atas hal-hal yang tidak disukai darinya, meneguk kepahitannya, serta bersikap zuhud terhadap kenikmatan dan keindahannya.

فبالله أكذلك أنت

Maka demi Allah, apakah engkau demikian?

ولقد بلغنا أنهم كانوا إذا أقبلت الدنيا عليهم حزنوا وقالوا ذنب عجلت عقوبته من الله وإذا رأوا الفقر مقبلاً قالوا مرحباً بشعار الصالحين

Sungguh telah sampai kepada kami bahwasanya mereka, apabila dunia datang menghampiri mereka, mereka bersedih dan berkata: "Ini adalah dosa yang disegerakan hukumannya dari Allah." Dan apabila mereka melihat kemiskinan datang menghampiri, mereka berkata: "Selamat datang syiar orang-orang saleh."

وبلغنا أن بعضهم كان إذا أصبح وعند عياله شيء أصبح كئيباً حزيناً وإذا لم يكن عندهم شيء أصبح فرحاً مسروراً فقيل له إن الناس إذا لم يكن عندهم شيء حزنوا وإذا كان عندهم شيء فرحوا وأنت لست كذلك قال إني إذا أصبحت وليس عند عيالي شيء فرحت إذ كان لي برسول الله ﷺ أسوة وإذا كان عند عيالي شيء اغتممت إذ لم يكن لي بآل محمد أسوة

Dan telah sampai kepada kami bahwasanya sebagian dari mereka, apabila memasuki pagi hari sementara keluarganya memiliki sesuatu (makanan/harta), ia berada dalam keadaan muram dan sedih; dan apabila keluarganya tidak memiliki apa-apa, ia memasuki pagi hari dalam keadaan gembira dan bersuka cita. Maka dikatakan kepadanya: "Sesungguhnya manusia jika tidak memiliki apa-apa mereka bersedih, dan jika memiliki sesuatu mereka bergembira, tetapi engkau tidak demikian?" Ia menjawab: "Sesungguhnya jika aku memasuki pagi hari sementara keluargaku tidak memiliki apa-apa, aku bergembira karena aku memiliki teladan pada Rasulullah ﷺ; dan jika keluargaku memiliki sesuatu, aku bersedih karena aku tidak meneladani keluarga Muhammad."

وبلغنا أنهم كانوا إذا سلك بهم سبيل الرخاء حزنوا وأشفقوا وقالوا ما لنا وللدنيا وما يراد بها فكأنهم على جناح خوف وإذا سلك بهم سبيل البلاء فرحوا واستبشروا وقالوا الآن تعاهدنا ربنا

Dan telah sampai kepada kami bahwasanya mereka, apabila dijalankan bagi mereka jalan kelapangan (kesenangan), mereka bersedih dan merasa cemas seraya berkata: "Apa urusan kita dengan dunia dan apa yang diinginkan darinya?" Seolah-olah mereka berada di atas sayap ketakutan. Namun apabila dijalankan bagi mereka jalan penderitaan/cobaan, mereka bergembira dan bersuka cita seraya berkata: "Sekarang Tuhan kita sedang memperhatikan dan menyapa kita."

فهذه أحوال السلف ونعتهم وفيهم من الفضل أكثر مما وصفنا

Maka inilah keadaan-keadaan kaum Salaf dan sifat-sifat mereka, dan pada diri mereka terdapat keutamaan yang lebih banyak dari apa yang telah kami gambarkan.

فبالله أكذلك أنت إنك لبعيد الشبه بالقوم

Maka demi Allah, apakah engkau demikian pula? Sungguh, engkau sangat jauh keserupaannya dengan kaum tersebut.

وسأصف لك أحوالك أيها المفتون ضداً لأحوالهم وذلك أنك تطغي عند الغنى وتبطر عند الرخاء وتمرح عند السراء وتغفل عن شكر ذي النعماء وتقنط عند الضراء وتسخط عند البلاء ولا ترضى بالقضاء ٢

Dan aku akan menggambarkan keadaanmu kepadamu, wahai orang yang terperdaya, yang bertolak belakang dengan keadaan mereka. Yaitu bahwa engkau melampaui batas ketika kaya, sombong saat lapang, bersuka ria secara berlebihan saat senang, lalai dari bersyukur kepada Sang Pemberi Nikmat, berputus asa saat tertimpa kesulitan, murka saat ditimpa cobaan, dan tidak ridha terhadap ketetapan (qadha) Allah.

نعم وتبغض الفقر وتأنف من المسكنة وذلك فخر المرسلين وأنت تأنف من فخرهم

Ya, engkau membenci kefakiran dan merasa gengsi terhadap kemiskinan, padahal hal itu adalah kebanggaan para Rasul, sedangkan engkau justru enggan terhadap apa yang menjadi kebanggaan mereka.

وأنت تدخر المال وتجمعه خوفاً من الفقر وذلك من سوء الظن بالله ﷿ وقلة اليقين بضمانه وكفى به إثماً وعساك تجمع المال لنعيم الدنيا وزهرتها وشهواتها ولذاتها

Engkau menimbun harta dan mengumpulkannya karena takut fakir. Yang demikian itu termasuk prasangka buruk (su'udzon) kepada Allah 'Azza wa Jalla serta menipisnya keyakinan terhadap jaminan-Nya, dan cukuplah hal itu sebagai sebuah dosa. Boleh jadi engkau mengumpulkan harta demi kenikmatan dunia, kemewahannya, hawa nafsunya, serta kelezatan-kelezatannya.

ولقد بلغنا أن رسول الله ﷺ قال شرار أمتي الذين غذوا بالنعيم فربت عليهم أجسامهم // حديث شرار أمتي الذين غذوا بالنعيم الحديث تقدم ذكره في أوائل كتاب ذم البخل عند الحديث الرابع منه من أسف على دنيا فاتته اقترب من النار مسيرة سنة

Sungguh telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Seburuk-buruk umatku adalah mereka yang diberi makan dengan berbagai kemewahan, lalu tubuh mereka tumbuh darinya." // Hadis "Seburuk-buruk umatku adalah orang-orang yang diberi makan dengan kemewahan…" telah disebutkan sebelumnya di awal Kitab Dzammu al-Bukhl (Celaan Terhadap Kikir) pada hadis keempatnya; "Barang siapa bersedih atas dunia yang luput darinya, maka ia telah mendekat ke neraka sejauh perjalanan satu tahun."

وبلغنا أن بعض أهل العلم قال ليجيء يوم القيامة قوم يطلبون حسنات لهم فيقال لهم ﴿أذهبتم طيباتكم في حياتكم الدنيا واستمتعتم بها﴾ وأنت في غفلة قد حرمت نعيم الآخرة بسبب نعيم الدنيا فيا لها حسرة ومصيبة نعم وعساك أن تجمع المال للتكاثر والعلو والفخر والزينة في الدنيا وقد بلغنا أنه من طلب الدنيا للتكاثر أو للتفاخر لقي الله وهو عليه غضبان وأنت غير مكترث بما حل بك من غضب ربك حين أردت التكاثر والعلو

Telah sampai pula kepada kami bahwa sebagian ahli ilmu berkata: "Sungguh kelak pada hari kiamat akan datang suatu kaum yang menuntut kebaikan-kebaikan mereka, lalu dikatakan kepada mereka: 'Kamu telah menghabiskan rezeki yang baik untuk kehidupan duniamu dan kamu telah bersenang-senang dengannya' (QS. Al-Ahqaf: 20)." Sementara engkau berada dalam kelalaian, sungguh telah terhalang dari kenikmatan akhirat disebabkan kenikmatan dunia. Betapa besarnya penyesalan dan musibah ini! Ya, boleh jadi engkau mengumpulkan harta untuk bermegah-megahan, merasa tinggi, berbangga diri, dan berhias di dunia. Dan telah sampai kepada kami bahwa barang siapa mencari dunia untuk bermegah-megahan atau berbangga-bangga, niscaya ia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya. Padahal engkau tidak peduli dengan murka Tuhanmu yang menimpamu tatkala engkau menginginkan bermegah-megahan dan ketinggian.

نعم وعساك المكث في الدنيا أحب إليك من النقلة إلى جوار الله فأنت تكره لقاء الله والله للقائك أكره وأنت في غفلة وعساك تأسف على ما فاتك من عرض الدنيا وقد بلغنا أن رسول الله ﷺ قال من أسف على دنيا فاتته اقترب من النار مسيرة شهر

Ya, boleh jadi menetap di dunia lebih engkau cintai daripada berpindah ke sisi Allah, sehingga engkau membenci bertemu dengan Allah, sedangkan Allah lebih benci bertemu denganmu, sementara engkau berada dalam kelalaian. Boleh jadi pula engkau bersedih hati atas perhiasan dunia yang luput darimu, padahal telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa bersedih atas kesenangan dunia yang luput darinya, maka ia telah mendekat ke neraka sejauh perjalanan satu bulan."

وقيل سنة

Dan dikatakan (dalam riwayat lain): "Sejauh perjalanan satu tahun."

وأنت تأسف على ما فاتك غير مكترث بقربك من عذاب الله

Dan engkau bersedih atas apa yang luput darimu tanpa mempedulikan betapa dekatnya dirimu dengan siksa Allah.

نعم ولعلك تخرج من دينك أحياناً لتوفير دنياك وتفرح بإقبال الدنيا عليك وترتاح لذلك سروراً بها وقد بلغنا أن رسول الله ﷺ قال من أحب الدنيا وسر بها ذهب خوف الآخرة من قلبه حديث من اجترأ على الشبهات أوشك أن يقع في الحرام متفق عليه من حديث النعمان بن بشير نحوه وقد تقدم في كتاب الحلال والحرام أول الحديث

Ya, dan boleh jadi engkau terkadang keluar dari agamamu demi melimpahkan duniamu, lalu engkau bergembira ketika dunia menghampirimu dan merasa lega penuh sukacita dengannya. Padahal telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa mencintai dunia dan merasa gembira dengannya, niscaya rasa takut akan akhirat hilang dari hatinya." // Hadis "Barang siapa berani melakukan syubhat, ia hampir jatuh ke dalam haram" disepakati kesahihannya (muttafaq 'alaih) dari hadis An-Nu'man bin Basyir yang serupa dengannya, dan telah disebutkan sebelumnya di bagian awal Kitab Al-Halal wa Al-Haram.

أيها المغرور أما علمت أن خوفك من اقتحام الشبهات أعلى وأفضل وأعظم لقدرك عند الله من اكتساب الشبهات وبذلها في سبيل الله وسبيل البر بلغنا ذلك عن بعض أهل العلم قال لأن تدع درهماً واحداً مخافة أن لا يكون حلالاً خير لك من أن تتصدق بألف دينار من شبهة لا تدري

Wahai orang yang terperdaya, tidakkah engkau tahu bahwa rasa takutmu untuk menerjang hal-hal yang syubhat itu lebih tinggi, lebih utama, dan lebih agung kedudukanmu di sisi Allah daripada engkau mengusahakan harta syubhat lalu mendermakannya di jalan Allah dan jalan kebaikan? Telah sampai kepada kami dari sebagian ahli ilmu yang berkata, "Engkau meninggalkan satu dirham karena takut hal itu tidak halal, sungguh lebih baik bagimu daripada engkau bersedekah seribu dinar dari harta syubhat yang tidak engkau ketahui…

أيحل لك أم لا فإن زعمت أنك أتقى وأورع من أن تتلبس بالشبهات وإنما تجمع المال بزعمك من الحلال للبذل في سبيل الله ويحك إن كنت كما زعمت بالغاً في الورع فلا تتعرض للحساب فإن خيار الصحابة خافوا المسألة وبلغنا أن بعض الصحابة قال ما سرني أن أكتسب كل يوم ألف دينار من حلال وأنفقها في طاعة الله ولم يشغلني الكسب عن صلاة الجمعة قالوا ولم ذاك رحمك الله قال لأني غني عن مقام يوم القيامة فيقول عبدي من أين اكتسبت وفي أي شيء أنفقت فهؤلاء المتقون كانوا في جدة الإسلام والحلال موجود لديهم تركوا المال وجلا من الحساب مخافة أن لا يقوم خير المال بشره وأنت بغاية الأمن والحلال في دهرك مفقود

…apakah halal bagimu atau tidak." Apabila engkau mengklaim bahwa engkau lebih bertakwa dan lebih warak daripada terjerumus dalam syubhat, dan engkau hanya mengumpulkan harta—menurut pengakuanmu—dari jalan yang halal untuk didermakan di jalan Allah; celakalah engkau! Jika engkau memang sebagaimana yang engkau klaim telah mencapai puncak sikap warak, maka janganlah engkau mempertaruhkan dirimu pada hisab (pemeriksaan). Sebab, para sahabat pilihan saja sangat takut akan pertanyaan/pemeriksaan tersebut. Dan telah sampai kepada kami bahwa sebagian sahabat berkata, "Aku tidak gembira jika aku mampu menghasilkan seribu dinar setiap hari dari jalan yang halal lalu menginfakkannya dalam ketaatan kepada Allah, tanpa menggangguku dari shalat Jum'at." Orang-orang bertanya, "Mengapa demikian, semoga Allah merahmatimu?" Ia menjawab, "Karena aku ingin terbebas dari penantian pada hari kiamat ketika Dia berfirman: 'Hamba-Ku, dari mana engkau mendapatkan harta dan untuk apa engkau infakkan?'" Maka mereka yang bertakwa ini berada pada awal zaman Islam di mana harta halal sangat melimpah bagi mereka, namun mereka meninggalkan harta karena takut akan hisab, khawatir kebaikan harta itu tidak sebanding dengan keburukannya. Sedangkan engkau merasa sangat aman, padahal harta halal di zamanmu sudah langka.

تتكالب على الأوساخ ثم تزعم أنك تجمع المال من الحلال ويحك أين الحلال فتجمعه

Engkau berebut dan saling menerkam atas kotoran-kotoran dunia, lalu engkau mengklaim bahwa engkau mengumpulkan harta dari jalan halal. Celakalah engkau! Di manakah harta halal itu sehingga engkau dapat mengumpulkannya?

وبعد فلو كان الحلال موجوداً لديك أما تخاف أن يتغير عند الغنى قلبك وقد بلغنا أن بعض الصحابة كان يرث المال الحلال فيتركه مخافة أن يفسد قلبه أفتطمع أن يكون قلبك أنقى من قلوب الصحابة فلا يزول عن شيء من الخلق في أمرك وأحوالك لئن ظننت ذلك لقد أحسنت الظن بنفسك الأمارة بالسوء ويحك إني لك ناصح أرى لك أن تقنع بالبلغة ولا تجمع المال لأعمال البر ولا تتعرض للحساب فإنه بلغنا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أنه قال من نوقش الحساب عذب حديث يؤتى بالرجل يوم القيامة وقد جمع مالاً من حرام وأنفقه في حرام فيقال اذهبوا به إلى النار الحديث بطوله لم أقف له على أصل

Kemudian, sekiranya harta halal itu ada padamu, tidakkah engkau takut hatimu akan berubah saat kaya? Sungguh telah sampai kepada kami bahwa sebagian sahabat pernah mewarisi harta halal, namun ia meninggalkannya karena takut merusak hatinya. Apakah engkau berharap hatimu lebih bersih daripada hati para sahabat, sehingga tidak bergeser sedikit pun dari akhlak yang luhur dalam urusan dan keadaanmu? Jika engkau menyangka demikian, sungguh engkau telah terlalu berprasangka baik kepada nafsumu yang selalu menyuruh kepada keburukan (nafsu ammarah bis-su'). Celakalah engkau! Sesungguhnya aku adalah penasihat bagimu. Aku berpendapat hendaknya engkau merasa cukup dengan sekadar bekal yang ada (al-bulghah) dan tidak mengumpulkan harta sekalipun untuk amal-amal kebaikan, serta jangan mempertaruhkan dirimu pada hisab. Karena telah sampai kepada kami dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, "Barang siapa yang dihisab secara rinci, niscaya ia diazab." // Hadis "Seseorang didatangkan pada hari kiamat dan sungguh ia telah mengumpulkan harta dari yang haram…" hadis secara panjangnya, aku tidak menemukan sanad asalnya.

ويحك فمن ذا الذي يتعرض لهذه المسألة التي كانت لهذا الرجل الذي تقلب في الحلال وقام بالحقوق كلها وأدى الفرائض بحدودها حوسب هذه المحاسبة فكيف ترى يكون حال أمثالنا الغرقى في فتن الدنيا وتخاليطها وشبانها وشهواتها وزينتها ويحك لأجل هذه المسائل يخاف المتقون أن يتلبسوا بالدنيا فرضوا بالكفاف منها وعملوا بأنواع البر من كسب المال فلك ويحك بهؤلاء الأخيار أسوة فإن أبيت ذلك وزعمت أنك بالغ من الورع والتقى ولم تجمع المال إلا من حلال بزعمك للتعفف والبذل في سبيل الله ولم تنفق شيئاً من الحلال إلا بحق ولم يتغير بسبب المال قلبك عما يحب الله ولم تسخط الله في شيء من سرائرك وعلانيتك ويحك فإن كنت كذلك ولست كذلك فقد ينبغي لك أن ترضى بالبلغة وتعتزل ذوي الأموال إذا وقفوا للسؤال وتسق مع الرعيل الأول في

Celakalah engkau! Siapakah yang berani menghadapi pemeriksaan seperti yang dialami orang yang bergelimang dalam hal halal, menunaikan seluruh hak, dan melaksanakan kewajiban-kewajiban sesuai batasannya ini, namun tetap dihisab dengan hisab sejelas ini? Lantas bagaimana menurutmu keadaan orang-orang seperti kita yang tenggelam dalam fitnah-fitnah dunia, kerancuannya, gelora kemudaannya, hawa nafsunya, dan perhiasannya? Celakalah engkau! Justru karena pemeriksaan inilah orang-orang yang bertakwa takut terikat dengan dunia, sehingga mereka ridha dengan sekadar kecukupan (al-kafaf) darinya dan enggan mengumpulkan harta demi amal kebaikan. Maka celakalah engkau, hendaknya padamu ada teladan dari orang-orang pilihan tersebut. Namun jika engkau menolak dan mengklaim bahwa engkau telah mencapai puncak warak dan ketakwaan, serta tidak mengumpulkan harta melainkan dari yang halal—menurut anggapanmu—demi menjaga kehormatan diri (at-ta'affuf) dan mendermakan di jalan Allah, tidak menginfakkan sesuatu yang halal melainkan pada tempat yang hak, hatimu tidak berubah dari apa yang dicintai Allah karena harta itu, dan engkau tidak menyebabkan murka Allah dalam hal rahasia maupun terang-terangan; celakalah engkau, jika pun engkau memang demikian—padahal engkau tidaklah demikian—seharusnya engkau tetap ridha dengan sekadar bekal secukupnya, serta memisahkan diri dari pemilik harta ketika mereka dihentikan untuk dipertanyakan, lalu berjalan bersama rombongan terdepan (ar-ra'il al-awwal) dalam…

زمرة المصطفى لا حبس عليك للمسألة والحساب فإما سلامة وإما عطب

…kelompok orang-orang pilihan (al-Musthafa), tanpa ada penahanan atasmu untuk pemeriksaan dan hisab. Sebab pilihan yang ada hanyalah keselamatan atau kebinasaan.

فإنه بلغنا أن رسول الله ﷺ قال يدخل صعاليك المهاجرين قبل أغنيائهم الجنة بخمسمائة عام حديث يدخل فقراء المؤمنين الجنة قبل أغنيائهم فيتمتعون ويأكلون الحديث لم أر له أصلا

Sebab telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang-orang fakir dari kaum Muhajirin akan masuk surga lima ratus tahun sebelum orang-orang kaya mereka." // Hadis "Orang-orang fakir dari kaum mukminin masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka, lalu mereka bersenang-senang dan makan…", aku tidak menemukan sanad asalnya.

وبلغنا أن بعض أهل العلم قال

Dan telah sampai kepada kami bahwa sebagian ahli ilmu berkata:

ما سرني أن لي حمر النعم ولا أكون في الرعيل الأول مع محمد ﷺ وحزبه

"Tidaklah membuatku gembira memiliki unta-unta merah (harta berharga), sementara aku tidak berada di barisan terdepan bersama Muhammad ﷺ dan golongannya."

يا قوم فاستبقوا السباق مع المخفين في زمرة المرسلين ﵈ وكونوا وجلين من التخلف والانقطاع عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وجل المتقين

Wahai kaumku, berlombalah dalam perlombaan bersama orang-orang yang berbeban ringan (al-mukhiffin) dalam golongan para Rasul 'alaihimus-salam, dan takutlah kalian dari tertinggal serta terputus dari Rasulullah ﷺ sebagaimana rasa takutnya orang-orang yang bertakwa!

لقد بلغني أن بعض الصحابة وهو أبو بكر ﵁ عطش فاستسقى فأتي بشربة من ماء وعسل فلما ذاقه خنقته العبرة ثم بكى وأبكى ثم مسح الدموع عن وجهه وذهب ليتكلم فعاد في البكاء فلما أكثر البكاء قيل له أكل هذا من أجل هذه الشربة قال نعم بينا أنا ذات يوم عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وما معه أحد في البيت غيري فجعل يدفع عن نفسه وهو يقول إليك عني فقلت له فداك أبي وأمي ما أرى بين يديك أحداً فمن تخاطب فقال هذه الدنيا تطاولت إلي بعنقها ورأسها فقالت لي

Sungguh telah sampai kepadaku berita bahwa salah seorang sahabat, yaitu Abu Bakar r.a., merasa haus lalu meminta minuman. Kemudian dibawakanlah kepadanya seteguk air yang dicampur madu. Ketika beliau mencicipinya, beliau tersedak oleh air mata, lalu menangis dan membuat orang lain ikut menangis. Kemudian beliau mengusap air mata dari wajahnya dan beranjak untuk berbicara, tetapi beliau kembali menangis. Ketika tangisnya semakin menjadi, dikatakan kepadanya, "Apakah semua menangis ini hanya karena seteguk minuman ini?" Beliau menjawab, "Ya, ketika suatu hari aku sedang berada di sisi Rasulullah s.a.w. dan tidak ada seorang pun di rumah bersama beliau selain aku, beliau mulai mengibaskan sesuatu dari dirinya seraya bersabda, 'Jauhilah aku!' Maka aku berkata kepada beliau, 'Tebusanku ayah dan ibuku demi engkau, aku tidak melihat seorang pun di hadapanmu, lalu siapakah yang engkau ajak bicara?' Beliau bersabda, 'Dunia ini menjulurkan leher dan kepalanya kepadaku, lalu ia berkata kepadaku:'"

يا محمد خذني فقلت

'Wahai Muhammad, ambillah aku!' Lalu aku berkata:

إليك عني فقالت

'Jauhilah aku!' Maka dunia itu berkata:

إن تنج مني يا محمد فإنه لا ينجو مني من بعدك فأخاف أن تكون هذه قد لحقتني تقطعني عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حديث إن بعض الصحابة عطش فاستسقى بشربة ماء وعسل الحديث في دفع النبي ﷺ الدنيا عن نفسه وقوله إليك عني الحديث أخرجه البزار والحاكم من حديث زيد بن أرقم وقال كنا عند أبي بكر فدعا بشراب فأتي بماء وعسل الحديث قال الحاكم صحيح الإسناد قلت بل ضعيف وقد تقدم قبل هذا الكتاب

'Jika engkau selamat dariku, wahai Muhammad, maka sungguh orang setelahmu tidak akan selamat dariku.' Maka aku (Abu Bakar) takut jika minuman ini telah menyusulku dan memutuskan hubunganku dari Rasulullah s.a.w." [Hadis: Bahwa sebagian sahabat merasa haus lalu meminta minuman air dan madu… Al-Hadis tentang penolakan Nabi s.a.w. terhadap dunia dari dirinya dan sabdanya "Jauhilah aku", Al-Hadis diriwayatkan oleh al-Bazzar dan al-Hakim dari hadis Zaid bin Arqam, ia berkata: "Kami pernah berada di sisi Abu Bakar lalu ia meminta minuman…" Al-Hadis. Al-Hakim berkata: Isnadnya shahih. Aku katakan: Bahkan hadis ini dha'if, dan telah dijelaskan sebelum kitab ini].

يا قوم فهؤلاء الأخبار بكوا وجلا أن تقطعهم عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ شربة من حلال ويحك أنت في أنواع من النعم والشهوات من مكاسب السحت والشبهات لا تخشى الانقطاع أف لك ما أعظم جهلك ويحك فإن تخلفت في القيامة عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ محمد المصطفى لتنظرن إلى أهوال جزعت منها الملائكة والأنبياء ولئن قصرت عن السباق فليطولن عليك اللحاق ولئن أردت الكثرة لتصيرن إلى حساب عسير ولئن لم تقنع بالقليل لتصيرن إلى وقوف طويل وصراخ وعويل ولئن رضيت بأحوال المتخلفين لتقطعن عن أصحاب اليمين وعن رسول رب العالمين ولتبطئن عن نعيم المتنعمين ولئن خالفت أحوال المتقين لتكونن من المحتسبين في أهوال يوم الدين

Wahai kaumku, mereka itu adalah orang-orang mulia yang menangis karena takut terputus dari Rasulullah s.a.w. hanya disebabkan seteguk minuman yang halal! Celakalah engkau, sedangkan engkau bergelimang dalam berbagai kenikmatan dan syahwat dari hasil pencaharian yang haram (suht) dan syubhat, namun engkau tidak takut akan terputus! Ah bagi engkau, betapa besarnya kebodohanmu! Celakalah engkau, jika pada hari kiamat kelak engkau tertinggal dari Rasulullah s.a.w. Muhammad al-Musthafa, sungguh engkau akan menyaksikan dahsyatnya kengerian yang membuat para malaikat dan para nabi pun merasa gentar. Dan jika engkau tertinggal dari perlombaan kebaikan, niscaya akan sangat lama bagimu untuk menyusul. Jika engkau menginginkan kelimpahan harta dunia, niscaya engkau akan berujung pada hisab yang amat berat. Jika engkau tidak merasa cukup (qana'ah) dengan yang sedikit, niscaya engkau akan berujung pada masa berdiri yang sangat lama di padang Mahsyar serta jeritan dan ratapan. Jika engkau ridha dengan keadaan orang-orang yang tertinggal, sungguh engkau akan terputus dari Golongan Kanan (Ashabul Yamin) dan dari Rasul Rabb semesta alam, serta engkau akan terlambat dari kenikmatan orang-orang yang meraih nikmat. Dan jika engkau menyelisih keadaan orang-orang yang bertakwa, niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang diperhitungkan dosanya dalam kengerian Hari Pembalasan.

فتدبر ويحك ما سمعت وبعد

Maka renungkanlah, celakalah engkau, apa yang telah engkau dengar! Kemudian daripada itu,

فإن زعمت أنك في مثال خيار السلف قانع بالقليل زاهد في الحلال بذول لمالك مؤثر على نفسك لا تخشى الفقر ولا تدخر شيئاً لغدك مبغض للتكاثر والغنى راض بالفقر والبلاء فرح بالقلة والمسكنة مسرور بالذل والضعة كاره للعلو والرفعة قوي في أمرك لا يتغير عن الرشد قلبك قد حاسبت نفسك في الله وحكمت أمورك كلها على ما وافق رضوان الله ولن توقف في المسألة ولن يحاسب مثلك من المتقين

Jika engkau menganggap bahwa engkau mengikuti teladan Generasi Salaf yang terbaik: merasa cukup (qana'ah) dengan yang sedikit, zuhud terhadap yang halal, sangat dermawan dengan hartamu, mengutamakan orang lain atas dirimu sendiri (itsar), tidak takut akan kefakiran, tidak menyimpan sesuatu pun untuk hari esokmu, membenci kemewahan dan kekayaan, ridha dengan kefakiran dan cobaan, bergembira dengan ketersediaan yang sedikit dan kemiskinan, bahagia dengan kerendahan diri di mata manusia, membenci kedudukan tinggi dan keagungan, kuat dalam urusanmu, hatimu tidak berpaling dari petunjuk, engkau telah mengintrospeksi (muhasabah) dirimu demi Allah, dan engkau telah memutuskan segala urusanmu sesuai dengan apa yang diridhai Allah, serta engkau tidak akan dihentikan untuk diinterogasi dan orang bertakwa seperti engkau tidak akan dihisab,

وإنما تجمع المال الحلال للبذل في سبيل الله ويحك أيها المغرور فتدبر الأمر وأمعن النظر أما علمت أن ترك الاشتغال بالمال وفراغ القلب للذكر والتذكر والتذكار والفكر والاعتبار

dan engkau hanyalah mengumpulkan harta yang halal untuk didermakan di jalan Allah—celakalah engkau wahai orang yang terpedaya! Maka renungkanlah perkara ini dan tajamkanlah pandanganmu. Tidakkah engkau tahu bahwa meninggalkan kesibukan dengan harta serta mengosongkan hati untuk berzikir, mengingat, merenung, bertafakur, dan mengambil iktibar (pelajaran),

أسلم للدين وأيسر للحساب وأخف للمسألة وآمن من روعات القيامة وأجزل للثواب وأعلي لقدرك عند الله أضعافاً

adalah lebih menyelamatkan bagi agama, lebih mudah saat hisab, lebih ringan saat dipertanyakan, lebih aman dari kegentingan Hari Kiamat, lebih melimpahkan pahala, dan lebih meninggikan derajatmu di sisi Allah berlipat-lipat ganda?

بلغنا عن بعض الصحابة أنه قال لو أن رجلاً في حجره دنانير يعطيها والآخر يذكر الله لكان

Telah sampai kepada kami dari sebagian sahabat bahwa ia berkata: "Seandainya seseorang memiliki dinar di pangkuannya yang ia bagikan (sedekahkan), sedangkan orang lain berzikir mengingat Allah, sungguh"

الذاكر أفضل

orang yang berzikir itu lebih utama."

وسئل بعض أهل العلم عن الرجل يجمع المال لأعمال البر قال تركه أبر به

Dan sebagian ulama ditanya tentang seseorang yang mengumpulkan harta untuk amal-amal kebaikan, beliau menjawab: "Meninggalkan pengumpulan harta itu adalah lebih baik baginya."

وبلغنا أن بغض خيار التابعين سئل عن رجلين أحدهما

Dan telah sampai kepada kami bahwa sebagian generasi Tabi'in terbaik ditanya tentang dua orang pria, yang salah satunya:

طلب الدنيا حلالاً فأصابها فوصل بها رحمه وقدم لنفسه

Mencari dunia secara halal lalu memperolehnya, kemudian menggunakannya untuk menyambung tali silaturahmi dan mempersiapkan bekal untuk dirinya,

وأما الآخر

Sedangkan yang satunya lagi:

فإنه جانبها فلم يطلبها ولم يتناولها فأيهما أفضل قال

Menjauhinya, tidak mencarinya, dan tidak mengambilnya. Manakah dari keduanya yang lebih utama? Beliau menjawab:

بعيد والله ما بينهما الذي جانبها أفضل كما بين مشارق الأرض ومغاربها

"Demi Allah, sungguh jauh perbedaan antara keduanya! Orang yang menjauhinya adalah lebih utama sejauh jarak antara timur dan barat bumi."

ويحك فهذا الفضل لك بترك الدنيا على من طلبها ولك في العاجل إن تركت الاشتغال بالمال وإن ذلك أروح لبدنك وأقل لتعبك وأنعم لعيشك وأرضى لبالك وأقل لهمومك

Celakalah engkau, keutamaan ini milikmu dengan meninggalkan dunia mengungguli orang yang mencarinya. Dan bagimu di dunia saat ini, jika engkau meninggalkan kesibukan mengumpulkan harta, sungguh hal itu lebih mengistirahatkan tubuhmu, mengurangi keletihanmu, lebih menentramkan hidupmu, lebih menenangkan hatimu, dan mengurangi kecemasanmu.

فما عذرك في جمع المال وأنت بترك المال أفضل ممن طلب المال لأعمال البر نعم وشغلك بذكر الله أفضل من بذل المال في سبيل الله فاجتمع لك راحة العاجل مع السلامة والفضل في الآجل

Maka apa alasanmu dalam mengumpulkan harta, padahal dengan meninggalkan harta engkau lebih utama daripada orang yang mencari harta untuk amal kebaikan? Ya, dan kesibukanmu dengan berzikir mengingat Allah adalah lebih utama daripada mendermakan harta di jalan Allah. Maka terhimpunlah bagimu ketenangan di dunia beserta keselamatan dan keutamaan di akhirat.

وبعد

Kemudian daripada itu,

فلو كان في جمع المال فضل عظيم لوجب عليك في مكارم الأخلاق أن تتأسى بنبيك إذ هداك الله به وترضى ما اختاره لنفسه من مجانبة الدنيا

Seandainya dalam mengumpulkan harta terdapat keutamaan yang besar, niscaya wajib bagimu demi keluhuran akhlak untuk meneladani Nabimu—saat Allah memberimu petunjuk melalui beliau—dan meredai apa yang beliau pilih untuk dirinya sendiri, yaitu menjauhi dunia.

ويحك تدبر ما سمعت وكن على يقين أن السعادة والفوز في مجانبة الدنيا فسر مع لواء المصطفى سابقاً إلى جنة المأوى

Celakalah engkau! Renungkanlah apa yang telah engkau dengar dan yakinlah sepenuhnya bahwa kebahagiaan serta kemenangan terletak pada tindakan menjauhi dunia. Maka berjalanlah di bawah panji Al-Musthafa (Nabi Muhammad ﷺ), berlomba-lomba menuju Surga al-Ma'wa.

فإنه بلغنا أن رسول الله ﷺ قال سادات المؤمنين في الجنة من إذا تغدى لم يجد عشاء وإذا استقرض لم يجد قرضاً وليس له فضل كسوة إلا ما يواريه ولم يقدر على أن يكتسب ما يغنيه يمسي مع ذلك ويصبح راضياً عن ربه ﴿فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقاً﴾ // حديث سادات المؤمنين في الجنة من إذا تغدى لم يجد عشاء الحديث عزاه صاحب مسند الفردوس للطبراني من رواية أبي حازم عن أبي هريرة مختصرا بلفظ سادة الفقراء في الجنة الحديث ولم أره في معاجم الطبراني

Sungguh telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Pemimpin kaum mukminin di surga adalah orang yang apabila ia makan siang, ia tidak mendapati makan malam; apabila ia hendak meminjam, ia tidak mendapatkan pinjaman; ia tidak memiliki kelebihan pakaian selain yang menutup auratnya; dan ia tidak mampu mengusahakan penghasilan yang mencukupinya; namun demikian, ia melewati petang dan pagi hari dalam keadaan reda kepada Rabbnya." "Maka mereka itu bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah dari kalangan para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." // Hadis: "Pemimpin kaum mukminin di surga adalah orang yang apabila makan siang tidak mendapati makan malam…" Hadis ini dinisbahkan oleh penyusun Musnad al-Firdaus kepada At-Thabrani dari riwayat Abu Hazim dari Abu Hurairah secara ringkas dengan lafaz: "Pemimpin kaum fakir di surga…" Dan saya tidak menemukannya dalam kitab-kitab Mu'jam At-Thabrani.

ألا يا أخي متى جمعت هذا المال بعد هذا البيان فإنك مبطل فيما ادعيت أنك للبر والفضل تجمعه لا ولكنك خوفاً من الفقر تجمعه وللنعيم والزينة والتكاثر والفخر والعلو والرياء والسمعة والتعظيم والتكرمة تجمعه ثم تزعم إنك لأعمال البر تجمع المال ويحك راقب الله واستحي من دعواك أيها المغرور

Ketahuilah, wahai saudaraku! Bilamana engkau tetap mengumpulkan harta ini setelah adanya penjelasan ini, maka engkau adalah orang yang batil dalam pengakuanmu bahwa engkau mengumpulkannya demi kebaikan dan keutamaan. Tidak, melainkan engkau mengumpulkannya karena takut akan kemiskinan, serta demi kenikmatan, perhiasan, bermegah-megahan, kebanggaan, kesombongan, riya, sum'ah, pengagungan, dan penghormatan. Lalu engkau mengklaim bahwa engkau mengumpulkan harta untuk amal kebaikan?! Celakalah engkau! Merasalah diawasi oleh Allah (muraqabah) dan marilah merasa malu atas klaimmu wahai orang yang terperdaya!

ويحك إن كنت مفتوناً بحب المال والدنيا فكن مقراً أن الفضل والخير في الرضا بالبلغة ومجانبة الفضول نعم وكن عند جمع المال مزرياً على نفسك معترفاً بإساءتك وجلا من الحساب فذلك أنجى لك وأقرب إلى الفضل من طلب الحجج لجمع المال

Celakalah engkau! Jika engkau memang terfitnah oleh kecintaan pada harta dan dunia, maka akuilah bahwa keutamaan dan kebaikan itu terletak pada perasaan cukup dengan sekadar bekal yang ada (al-bulghah) serta menjauhi hal-hal yang berlebihan. Ya, dan ketika engkau mengumpulkan harta, celalah dirimu sendiri, akuilah keburukanmu, dan merasa takutlah akan hari perhitungan (hisab). Sungguh, yang demikian itu lebih menyelamatkan bagimu dan lebih dekat kepada keutamaan daripada mencari dalih untuk mengumpulkan harta.

إخواني اعلموا أن دهر الصحابة كان الحال فيه موجوداً وكانوا مع ذلك من أورع الناس وأزهدهم في المباح لهم ونحن في دهر الحلال فيه مفقوداً وكيف لنا من الحلال مبلغ القوت وستر العورة

Wahai saudara-saudaraku, ketahuilah bahwa pada zaman para Sahabat, harta halal itu tersedia (mudah ditemukan), namun mereka tetap menjadi orang yang paling wara' dan paling zuhud terhadap apa yang dihalalkan bagi mereka. Sedangkan kita berada pada zaman di mana harta halal telah langka. Maka bagaimanakah kita bisa mendapatkan yang halal sekadar untuk makanan pokok dan penutup aurat?

فأما جمع المال في دهرنا فأعاذنا الله وإياكم منه

Adapun mengumpulkan harta pada zaman kita ini, semoga Allah melindungi kami dan kalian darinya.

وبعد فأين لنا بمثل تقوى الصحابة وورعهم ومثل زهدهم واحتياطهم وأين لنا مثل ضمائرهم وحسن نياتهم دهينا ورب السماء بأدواء النفوس وأهوائها وعن قريب يكون الورود فيا سعادة المخفين يوم النشور وحزن طويل لأهل التكاثر والتخاليط وقد نصحت لكم إن قبلتم والقابلون لهذا قليل

Kemudian, di manakah kita bisa menyamai ketakwaan dan kewara'an para Sahabat, serta kezuhudan dan kehati-hatian mereka? Di manakah kita bisa menyamai kesucian mata hati dan kebaikan niat mereka? Demi Rabb langit, kita telah ditimpa oleh penyakit-penyakit jiwa dan hawa nafsunya, padahal tidak lama lagi saat menghadap (Allah) akan tiba. Maka betapa bahagianya orang-orang yang berbeban ringan pada hari kebangkitan, dan betapa panjangnya kesedihan bagi orang-orang yang menumpuk harta dan mencampuradukkan perkara haram. Sungguh, aku telah menasihati kalian jika kalian mau menerima, walaupun orang yang menerima nasihat ini amat sedikit.

وفقنا الله وإياكم فكل خير برحمته آمين

Semoga Allah memberi taufik kepada kami dan kalian menuju setiap kebaikan dengan rahmat-Nya, amin.

هذا آخر كلامه وفيه كفاية في إظهار فضل الفقر على الغنى ولا مزيد عليه

Inilah akhir dari perkataannya, dan di dalamnya terdapat kecukupan dalam menjelaskan keutamaan kefakiran atas kekayaan, serta tidak ada tambahan lagi di atasnya.

ويشهد لذلك جميع الأخبار التي أوردناها في كتاب ذم الدنيا وفي كتاب الفقر والزهد

Hal itu disaksikan pula oleh seluruh riwayat yang telah kami cantumkan dalam Kitab Mencela Dunia dan dalam Kitab Kefakiran dan Kezuhudan.

ويشهد له أيضاً ما روي عن أبي أمامة الباهلي أن ثعلبة بن حاطب قال يا رسول الله ادع الله أن يرزقني مالاً قال يا ثعلبة قليل تؤدي شكره خير من كثير لا تطيقه قال يا رسول الله ادع الله أن يرزقني مالاً قال يا ثعلبة أما لك في أسوة أما ترضى أن تكون مثل نبي الله تعالى أما والذي نفسي بيده لو شئت أن تسير معي الجبال ذهباً وفضة لسارت قال والذي بعثك بالحق نبياً لئن دعوت الله أن يرزقني مالاً لأعطين كل ذي حق حقه ولأفعلن ولأفعلن قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ اللهم ارزق ثعلبة مالاً فاتخذ غنماً فنمت كما ينمو الدود فضاقت

Hal itu juga disaksikan oleh riwayat dari Abu Umamah Al-Bahili bahwa Tsa'labah bin Hatib berkata, "Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menganugerahkan harta kepadaku." Beliau bersabda, "Wahai Tsa'labah, sedikit yang engkau tunaikan kesyukurannya itu lebih baik daripada banyak yang engkau tidak sanggup menanggungnya." Tsa'labah berkata lagi, "Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menganugerahkan harta kepadaku." Beliau bersabda, "Wahai Tsa'labah, bukankah padaku ada teladan bagimu? Tidakkah engkau rela menjadi seperti Nabi Allah Ta'ala? Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya aku menghendaki gunung-gunung berjalan bersamaku menjadi emas dan perak, niscaya ia akan berjalan." Tsa'labah berkata, "Demi Zat yang mengutusmu dengan hak sebagai Nabi, sungguh jika engkau berdoa kepada Allah agar menganugerahkan harta kepadaku, pasti aku akan memberikan kepada setiap orang yang berhak haknya, dan sungguh aku akan melakukan ini dan itu." Maka Rasulullah ﷺ berdoa: "Ya Allah, karuniakanlah harta kepada Tsa'labah." Lalu ia memelihara kambing hingga berkembang biak dengan sangat cepat bagaikan ulat, sampai-sampai…

عليه المدينة فتنحى عنها فنزل واديا من أوديتها حتى جعل يصلي الظهر والعصر في الجماعة ويدع ما سواهما ثم نمت وكثرت فتنحى حتى ترك الجماعة إلا الجمعة وهي تنمو كما ينمو الدود حتى ترك الجمعة وطفق يلقى الركبان يوم الجمعة فيسألهم عن الأخبار في المدينة وسأل رسول الله ﷺ عنه فقال ما فعل ثعلبة بن حاطب فقيل يا رسول الله اتخذ غنماً فضاقت عليه المدينة وأخبر بأمره كله فقال يا ويح ثعلبة يا ويح ثعلبة يا ويح ثعلبة قال وأنزل الله تعالى خذ من أموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها وصل عليهم إن صلاتك سكن لهم وأنزل الله تعالى فرائض الصدقة فبعث رسول الله ﷺ رجلاً من جهينة ورجلاً من بني سليم عن الصدقة وكتب لهما كتاباً بأخذ الصدقة وأمرهما أن يخرجا فيأخذا من المسلمين وقال مرا بثعلبة بن حاطب وبفلان رجل من بني سليم وخذا صدقاتهما فخرجا حتى أتيا ثعلبة فسألاه الصدقة وأقرآه كتاب رسول الله ﷺ فقال ما هذه إلا جزية ما هذه إلا جزية ما هذه إلا أخت الجزية انطلقا حتى تفرغا ثم تعودا إلي فانطلقا نحو السليمي فسمع بهما فقام إلى خيار أسنان إبله فعزلها للصدقة ثم استقبلهما بها فلما رأوها قالوا لا يجب عليك ذلك وما نريد نأخذ هذا منك قال بلى خذوها فلما فرغا من صدقاتهما رجعا حتى مرا بثعلبة فسألاه الصدقة فقال أروني كتابكما فنظر فيه فقال هذه أخت الجزية انطلقا حتى أرى رأيي فانطلقا حتى أتيا النبي ﷺ فلما رآهما قال يا ويح ثعلبة قبل أن يكلماه ودعا للسليمي فأخبراه بالذي صنع ثعلبة وبالذي صنع السليمي فأنزل الله تعالى في ثعلبة وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يكذبون وعند رسول الله ﷺ رجل من أقارب ثعلبة فسمع ما أنزل الله فيه فخرج حتى أتى ثعلبة فقال لا أم لك يا ثعلبة قد أنزل الله فيك كذا فخرج ثعلبة حتى أتى النبي ﷺ فسأله أن يقبل منه صدقته فقال إن الله منعني أن أقبل منك صدقتك فجعل يحثو التراب على رأسه فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ هذا عملك أمرتك فلم تطعني فلما أبى أن يقبل منه شيئاً رجع إلى منزله فلما قبض رسول ﷺ جاء بها إلى أبي بكر الصديق ﵁ فأبى أن يقبلها منه وجاء بها إلى عمر بن الخطاب ﵁ فأبى أن يقبلها منه وتوفي ثعلبة بعد في خلافه عثمان // حديث أبي أمامة أن ثعلبة بن حاطب قال يا رسول الله ادع الله أن يرزقني مالاً قال يا ثعلبة قليل تؤدي شكره خير من كثير لا تطيقه الحديث بطوله أخرجه الطبراني بسند ضعيف

Kota Madinah terasa sempit baginya. Ia pun menyendiri dan tinggal di salah satu lembah Madinah, hingga ia hanya melaksanakan shalat Zuhur dan Asar secara berjamaah dan meninggalkan shalat lainnya. Kemudian ternaknya semakin berkembang dan bertambah banyak, sehingga ia makin menjauh dan meninggalkan shalat berjamaah kecuali shalat Jumat. Ternaknya terus berkembang pesat bagaikan ulat hingga ia pun meninggalkan shalat Jumat, dan ia hanya menemui para penunggang unta pada hari Jumat untuk menanyakan kabar berita di Madinah. Rasulullah ﷺ bertanya tentang dirinya, "Apa yang dilakukan Tsa'labah bin Hatib?" Lalu dikatakan, "Wahai Rasulullah, ia memelihara ternak kambing sehingga Kota Madinah terasa sempit baginya," lalu dikabarkanlah seluruh urusannya. Beliau bersabda, "Celakalah Tsa'labah! Celakalah Tsa'labah! Celakalah Tsa'labah!" Dan Allah Ta'ala menurunkan ayat: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoakanlah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka." Dan Allah Ta'ala menurunkan kewajiban-kewajiban zakat, maka Rasulullah ﷺ mengutus seorang pria dari Juhainah dan seorang pria dari Bani Sulaim untuk memungut zakat, serta menuliskan surat ketentuan pemungutan zakat bagi keduanya. Beliau memerintahkan mereka berdua keluar untuk mengambil zakat dari kaum muslimin dan bersabda, "Datangilah Tsa'labah bin Hatib dan si Fulan dari Bani Sulaim, dan ambillah zakat mereka." Keduanya berangkat hingga mendatangi Tsa'labah lalu meminta zakat kepadanya dan membacakan surat Rasulullah ﷺ. Tsa'labah berkata, "Ini tidak lain hanyalah jizyah! Ini tidak lain hanyalah saudara jizyah! Pergilah kalian berdua hingga selesai, lalu kembalilah kepadaku." Maka keduanya pergi menuju pria Sulami. Pria Sulami itu mendengar kedatangan mereka, lalu ia menuju ke unta-untanya yang paling baik usianya dan menyisihkannya untuk zakat, kemudian menyambut mereka berdua dengannya. Ketika mereka melihatnya, mereka berkata, "Engkau tidak diwajibkan memberikan ini, dan kami tidak ingin mengambilnya darimu." Ia menjawab, "Tidak, ambillah ini!" Setelah selesai memungut zakat, keduanya kembali dan melewati Tsa'labah, lalu meminta zakat kepadanya. Tsa'labah berkata, "Perlihatkan surat kalian kepadaku!" Ia melihatnya lalu berkata, "Ini adalah saudara jizyah. Pergilah sampai aku memikirkan pendapatku." Keduanya berangkat hingga menghadap Nabi ﷺ. Ketika melihat mereka berdua, sebelum mereka berbicara, beliau bersabda, "Celakalah Tsa'labah!" dan mendoakan kebaikan bagi pria Sulami. Keduanya lalu memberitahukan apa yang diperbuat Tsa'labah dan apa yang diperbuat pria Sulami. Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang Tsa'labah: "Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: 'Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.' Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memang orang-orang yang membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada hari mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka janjikan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta." Di sisi Rasulullah ﷺ ada seorang kerabat Tsa'labah yang mendengar apa yang diturunkan Allah tentangnya. Ia pun keluar hingga menemui Tsa'labah dan berkata, "Celaka engkau, wahai Tsa'labah! Allah telah menurunkan tentangmu ayat demikian dan demikian." Tsa'labah lalu keluar menghadap Nabi ﷺ dan memohon agar beliau menerima zakatnya. Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah melarangku untuk menerima zakatmu." Maka Tsa'labah menyiramkan tanah ke atas kepalanya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Inilah perbuatanmu, aku telah memerintahkanmu tetapi engkau tidak menaatiku." Ketika beliau enggan menerima sesuatu pun darinya, ia kembali ke rumahnya. Dan ketika Rasulullah ﷺ wafat, ia membawanya kepada Abu Bakar As-Siddiq ﵁, namun beliau enggan memperimanya. Lalu ia membawanya kepada Umar bin Al-Khattab ﵁, namun beliau pun enggan memperimanya. Tsa'labah kemudian meninggal dunia pada masa kekhalifahan Utsman. // Hadis Abu Umamah bahwa Tsa'labah bin Hatib berkata, "Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menganugerahkan harta kepadaku…", hadis selengkapnya dikeluarkan oleh At-Thabrani dengan sanad yang daif.

فهذا طغيان المال وشؤمه وقد عرفته من هذا الحديث ولأجل بركة الفقر وشؤم الغني آثر رسول الله ﷺ الفقر لنفسه ولأهل بيته حتى روى عن عمران بن حصين ﵁ أنه قال كانت لي من رسول الله منزلة وجاه فقال يا عمران إن لك عندنا منزلة وجاهاً فهل لك في عيادة فاطمة بنت رسول الله ﷺ فقلت نعم بأبي أنت وأمي يا رسول الله فقام وقمت معه حتى وقفت بباب منزل فاطمة فقرع الباب وقال السلام عليكم أأدخل فقالت ادخل يا رسول الله قال أنا ومن معي قالت ومن معك يا رسول الله فقال عمران بن حصين فقالت والذي بعثك بالحق نبياً ما علي إلا عباءة فقال اصنعي بها هكذا وهكذا وأشار بيده فقالت هذا جسدي فقد واريته فكيف برأسي فألقى إليها ملاءة كانت عليه خلقة فقال شدي بها على رأسك ثم أذنت له فدخل فقال السلام عليك يابنتاه كيف أصبحت قالت أصبحت والله وجعة وزادني وجعاً على ما بي أني لست أقدر على طعام آكله فقد أجهدني الجوع فبكى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَقَالَ لا تجزعي يا بنتاه فوالله ما ذقت طعاماً منذ ثلاثة وإني لأكرم على الله منك ولو سألت ربي لأطعمني ولكني آثرت الآخرة على الدنيا

Inilah bentuk kesombongan akibat harta dan kesialannya, dan engkau telah mengetahuinya dari hadis ini. Oleh karena keberkahan kefakiran dan kesialan kekayaan, Rasulullah ﷺ mengutamakan kefakiran bagi dirinya dan bagi ahli rumahnya. Hingga diriwayatkan dari Imran bin Hushain ﵁ bahwa ia berkata: Aku memiliki kedudukan dan martabat di sisi Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda, "Wahai Imran, sesungguhnya engkau memiliki kedudukan dan martabat di sisi kami, maukah engkau menjenguk Fatimah putri Rasulullah ﷺ?" Aku menjawab, "Ya, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah." Beliau pun berdiri dan aku berdiri bersama beliau hingga sampai di pintu rumah Fatimah. Beliau mengetuk pintu dan mengucapkan, "Assalamu 'alaikum, bolehkah aku masuk?" Fatimah menjawab, "Masuklah, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Aku dan orang yang bersamaku." Fatimah bertanya, "Siapa yang bersamamu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Imran bin Hushain." Fatimah berkata, "Demi Zat yang mengutusmu dengan hak sebagai Nabi, tidak ada kain padaku melainkan selembar jubah." Beliau bersabda, "Buatlah begini dan begini dengannya," seraya memberi isyarat dengan tangannya. Fatimah berkata, "Ini tubuhku telah aku tutupi, lalu bagaimana dengan kepalaku?" Maka beliau melemparkan selembar kain selendang lapuk yang ada pada beliau dan bersabda, "Ikatkanlah ini pada kepalamu." Kemudian Fatimah mengizinkannya, lalu beliau masuk dan bersabda, "Assalamu 'alaiki wahai putriku, bagaimana keadaanmu pagi ini?" Ia menjawab, "Demi Allah, aku memasuki pagi dalam keadaan sakit, dan yang menambah rasa sakitku adalah aku tidak mendapati makanan untuk kumakan, sungguh kelaparan telah memayahkan diriku." Maka Rasulullah ﷺ menangis dan bersabda, "Janganlah engkau bersedih hati wahai putriku, demi Allah, aku pun belum mengecap makanan sejak tiga hari, padahal aku lebih mulia di sisi Allah daripada engkau. Seandainya aku memohon kepada Rabbku niscaya Dia memberiku makan, tetapi aku lebih mengutamakan akhirat daripada dunia."

ثم ضرب بيده على منكبها وقال لها أبشري فوالله إنك لسيدة نساء أهل الجنة فقالت فأين آسية امرأة فرعون ومريم ابنة عمران فقال آسية سيدة نساء عالمها ومريم سيدة نساء عالمها وخديجة سيدة نساء عالمها وأنت سيدة نساء عالمك إنكن في بيوت من قصب لا أذى فيها ولا صخب ثم قال لها اقنعي بابن عمك فوالله لقد زوجتك سيداً في الدنيا سيداً في الآخرة // حديث عمران بن حصين كانت لي من رسول الله ﷺ منزلة وجاء فقال فهل لك في عيادة فاطمة بنت رسول الله ﷺ الحديث بطوله وفيه لقد زوجتك سيداً في الدنيا وسيداً في الآخرة لم أجده من حديث عمران ولأحمد والطبراني من حديث معقل بن يسار وضأت النبي ﷺ ذات يوم فقال هل لك في فاطمة تعودها الحديث وفيه أما ترضين أن زوجتك أقدم أمتي سلما وأكثرهم علما وأعظمهم حلما وإسناده صحيح

Kemudian beliau menepukkan tangannya ke bahunya dan bersabda kepadanya, "Bergembiralah, demi Allah sesungguhnya engkau adalah penghulu wanita ahli surga." Fatimah bertanya, "Lalu di manakah Asiyah istri Firaun dan Maryam putri Imran?" Beliau bersabda, "Asiyah adalah penghulu wanita di zamannya, Maryam adalah penghulu wanita di zamannya, Khadijah adalah penghulu wanita di zamannya, dan engkau adalah penghulu wanita di zamanmu. Sesungguhnya kalian berada di dalam rumah-rumah dari permata yang tiada kesusahan di dalamnya dan tiada kegaduhan." Kemudian beliau bersabda kepadanya, "Redalah dengan sepupumu (Ali), demi Allah sungguh aku telah menikahkanmu dengan seorang pemimpin di dunia dan pemimpin di akhirat." // Hadis Imran bin Hushain: "Aku memiliki kedudukan dan martabat di sisi Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda: 'Maukah engkau menjenguk Fatimah putri Rasulullah ﷺ…'"; hadis selengkapnya, dan di dalamnya terdapat: "Sungguh aku telah menikahkanmu dengan seorang pemimpin di dunia dan pemimpin di akhirat", saya tidak menemukannya dari hadis Imran. Namun bagi Ahmad dan At-Thabrani dari hadis Ma'qil bin Yasar: Aku mengwudukan Nabi ﷺ pada suatu hari, lalu beliau bersabda: "Maukah engkau menjenguk Fatimah…", dan di dalamnya terdapat: "Apakah engkau tidak reda bahwa aku telah menikahkanmu dengan umatku yang paling awal masuk Islam, paling banyak ilmunya, dan paling agung kesabarannya?", sanadnya sahih.

فانظر الآن إلى حال فاطمة ﵂ وهي بضعة من رسول الله ﷺ كيف آثرت الفقر وتركت المال

Maka lihatlah sekarang keadaan Fatimah ﵂, padahal beliau adalah belahan jiwa Rasulullah ﷺ, bagaimana beliau mengutamakan kefakiran dan meninggalkan harta.

ومن راقب أحوال الأنبياء والأولياء وأقوالهم وما ورد من أخبارهم وآثارهم لم يشك في أن فقد المال أفضل من وجوده وإن صرف إلى الخيرات إذ أقل ما فيه من أداء الحقوق والتوقي من الشبهات والصرف إلى الخيرات اشتغال لهم بإصلاحه وانصرافه عن ذكر الله إذ لا ذكر إلا مع الفراغ ولا فراغ مع شغل المال

Barang siapa mengamati keadaan para nabi dan wali, perkataan mereka, serta apa yang diriwayatkan dari kisah dan atsar mereka, niscaya ia tidak ragu lagi bahwa ketiadaan harta itu lebih utama daripada keberadaannya, meskipun harta itu diinfakkan dalam kebaikan. Sebab, hal minimal yang ada padanya—seperti menunaikan hak-hak, menjaga diri dari syubhat, dan menginfakkannya pada kebaikan—tetap membuat mereka sibuk mengurusnya dan terpaling dari zikrullah. Karena tidak ada zikir kecuali bersama kelapangan (hati), dan tidak ada kelapangan bersama kesibukan mengurus harta.

وقد روي عن جرير عن ليث قال صحب رجل عيسى ابن مريم ﵇ فقال أكون معك وأصحابك فانطلقا فانتهيا إلى شط نهر فجلسا يتغديان ومعهما ثلاثة أرغفة فأكلا رغيفين وبقي رغيف ثالث فقام عيسى ﵇ إلى النهر فشرب ثم رجع فلم يجد الرغيف فقال للرجل من أخذ الرغيف فقال لا أدري قال فانطق ومعه صاحبه فرأى ظبية ومعها خشفان لها قال فدعا أحدهما فأتاه فذبحه فاشتوى منه فأكل هو وذلك الرجل ثم قال للخشف قم بإذن الله فقام فذهب فقال للرجل أسألك بالذي أراك هذه الآية من أخذ الرغيف فقال لا أدري ثم انتهيا إلى وادي ماء فأخذ عيسى بيد الرجل فمشيا على الماء فلما جاوزا قال له أسألك بالذي أراك هذه الآية من أخذ الرغيف فقال لا أدري فانتهيا إلى مفازة فجلسا فأخذ عيسى ﵇ يجمع تراباً وكثيباً ثم قال كن ذهباً بإذن الله تعالى فصار ذهبا فقسمه ثلاثة أثلاث ثم قال ثلث لي وثلث لك وثلث لمن أخذ الرغيف فقال أنا الذي أخذت الرغيف فقال كله لك وفارقه عيسى ﵇ فانتهى إليه رجلان في المفازة ومعه المال فأرادا أن يأخذاه منه ويقتلاه فقال هو بيننا أثلاثاً فابعثوا أحدكم إلى القرية حتى يشتري لنا طعاماً نأكله قال فبعثوا أحدهم فقال الذي بعث لأي شيء أقاسم هؤلاء هذا المال لكني أضع في هذا الطعام سماً فأقتلهما وآخذ المال وحدي قال ففعل وقال ذانك الرجلان لأي شيء نجعل لهذا ثلث المال ولكن إذا رجع قتلناه واقتسمنا المال بيننا قال فلما رجع إليهما قتلاه وأكلا الطعام فماتا فبقي ذلك المال في المفازة وأولئك الثلاثة عنده قتلى فمر بهم عيسى ﵇ على تلك الحالة فقال لأصحابه هذه الدنيا فاحذروها

Diriwayatkan dari Jarir dari Laits, ia berkata: Seorang pria menyertai Isa bin Maryam ﵇ dan berkata, "Aku ingin bersamamu dan menjadi sahabatmu." Keduanya pun berangkat hingga sampai di tepi sungai, lalu duduk untuk makan siang dengan membawa tiga potong roti. Mereka memakan dua potong roti dan tersisa roti yang ketiga. Isa ﵇ berdiri menuju sungai untuk minum, lalu kembali namun tidak mendapati roti tersebut. Beliau bertanya kepada pria itu, "Siapakah yang mengambil roti itu?" Pria itu menjawab, "Aku tidak tahu." Lalu beliau melanjutkan perjalanan bersama sahabatnya itu, hingga melihat seekor rusa betina bersama dua ekor anaknya. Isa memanggil salah satu anak rusa itu, lalu anak rusa itu mendatangi beliau, kemudian beliau menyembelih dan memanggangnya. Beliau dan pria itu memakannya, lalu beliau bersabda kepada anak rusa yang telah disembelih itu, "Bangkitlah dengan izin Allah!" Maka anak rusa itu bangkit dan pergi. Isa bersabda kepada pria itu, "Aku bertanya kepadamu demi Zat yang memperlihatkan kepadamu tanda kekuasaan ini, siapakah yang mengambil roti itu?" Pria itu menjawab, "Aku tidak tahu." Kemudian keduanya sampai di sebuah lembah air, lalu Isa memegang tangan pria itu dan keduanya berjalan di atas air. Ketika mereka telah menyeberang, beliau bersabda kepadanya, "Aku bertanya kepadamu demi Zat yang memperlihatkan kepadamu tanda kekuasaan ini, siapakah yang mengambil roti itu?" Pria itu tetap menjawab, "Aku tidak tahu." Hingga akhirnya keduanya sampai di padang sahara yang tandus lalu duduk. Isa ﵇ mulai mengumpulkan tanah dan gundukan pasir lalu bersabda, "Jadilah emas dengan izin Allah Ta'ala!" Maka gundukan itu menjadi emas. Beliau membaginya menjadi tiga bagian seraya bersabda, "Sepertiga untukku, sepertiga untukmu, dan sepertiga untuk orang yang mengambil roti." Pria itu serta merta mengaku, "Akulah yang mengambil roti itu!" Isa bersabda, "Semuanya untukmu," lalu Isa ﵇ meninggalkannya. Kemudian dua orang pria mendatangi orang itu di padang sahara sedang ia membawa harta tersebut. Kedua orang itu hendak mengambil harta darinya dan membunuhnya, maka ia berkata, "Harta ini dibagi tiga di antara kita. Utuslah salah seorang dari kalian ke desa agar membeli makanan untuk kita makan." Lalu mereka mengutus salah seorang dari mereka. Pria yang diutus itu berkata dalam hatinya, "Mengapa aku harus berbagi harta ini dengan mereka? Aku akan menaruh racun dalam makanan ini lalu membunuh mereka berdua dan mengambil harta ini sendirian." Ia pun melakukannya. Sementara dua pria yang tinggal berkata, "Mengapa kita harus memberi orang ini sepertiga harta? Jika ia kembali nanti, kita bunuh saja dia dan kita bagi harta ini berdua." Ketika pria itu kembali, keduanya langsung membunuhnya, lalu mereka memakan makanan tersebut hingga keduanya mati. Maka harta itu tetap tergeletak di padang sahara bersama ketiga orang terbunuh di sisinya. Lalu Isa ﵇ melewati mereka dalam keadaan demikian dan bersabda kepada para sahabatnya, "Inilah dunia, maka waspadalah kalian terhadapnya!"

وحكي أن ذا القرنين أتى على أمة من الأمم ليس بأيديهم شيء مما يستمتع به الناس من دنياهم قد احتفروا قبورا فإذا أصبحوا تعهدوا تلك القبور وكنسوها وصلوا عندها ورعوا البقل كما ترعى البهائم وقد قيض لهم في ذلك معايش من نبات الأرض وأرسل ذو القرنين إلى ملكهم فقال له أجب ذو القرنين فقال مالي إليه حاجة فإن كان له حاجة فليأتني فقال ذو القرنين صدق فأقبل إليه ذو القرنين وقال له أرسلت إليك لتأتيني فأبلت فها أنا قد جئت فقال لو كان لي إليك حاجة لأتيتك فقال له ذو القرنين مالي أراكم على حالة لم أر أحداً من الأمم عليها قال وما ذاك قال ليس لكم دنيا ولا شيء أفلا اتخذتم الذهب والفضة فاستمتعتم بهما قالوا إنما كرهناهما

Diceritakan bahwa Dzul Qarnain mendatangi suatu kaum di antara umat-umat manusia yang di tangan mereka tidak ada sedikit pun dari kenikmatan dunia yang dinikmati manusia. Mereka telah menggali kubur-kubur, dan apabila pagi tiba mereka merawat kuburan tersebut, menyapunya, shalat di sisinya, serta memakan sayur-sayuran sebagaimana hewan ternak makan. Allah telah menentukan bagi mereka penghidupan berupa tumbuh-tumbuhan bumi. Dzul Qarnain mengirim utusan kepada raja mereka dan berpesan padanya, "Penuhilah panggilan Dzul Qarnain." Raja itu menjawab, "Aku tidak memiliki keperluan dengannya. Jika ia memiliki keperluan denganku, hendaklah ia yang mendatangi aku." Dzul Qarnain berkata, "Ia benar." Maka Dzul Qarnain pun mendatanginya dan berkata kepadanya, "Aku telah mengutus seseorang kepadamu agar engkau mendatangi aku, namun engkau enggan, maka inilah aku telah datang." Raja itu berkata, "Seandainya aku memiliki keperluan kepadamu, niscaya aku telah mendatangi engkau." Dzul Qarnain berkata kepadanya, "Mengapa aku melihat kalian dalam keadaan yang belum pernah kulihat pada satu pun umat lainnya?" Raja bertanya, "Apa itu?" Dzul Qarnain menjawab, "Kalian tidak memiliki harta dunia dan sesuatu pun. Mengapa kalian tidak mengambil emas dan perak lalu menikmati keduanya?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami membenci keduanya…

لأن أحداً لم يعط منهما شيئاً إلا تاقت نفسه ودعته إلى ما هو أفضل منه

…karena tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu dari keduanya melainkan jiwanya akan mendambakan dan mendesaknya kepada apa yang lebih utama darinya."

فقال ما بالكم قد احتفرتم قبوراً فإذا أصبحتم تعاهدتموها فكنستموها وصليتم عندها قالوا أردنا إذا نظرنا إليها وأملنا الدنيا منعتنا قبورنا من الأمل

Lalu ia (Zulkarnain) berkata, "Mengapa kalian menggali kubur-kubur, kemudian di pagi hari kalian merawatnya, menyapunya, dan shalat di sisinya?" Mereka menjawab, "Kami menghendaki agar apabila kami melihatnya dan kami mendambakan dunia, kubur-kubur kami mencegah kami dari angan-angan (panjang angan-angan)."

قال وأراكم لا طعام لكن إلا البقل من الأرض أفلا اتخذتم البهائم من الأنعام فاحتلبتموها وركبتموها فاستمتعتم بها قالوا كرهنا أن نجعل بطوننا قبوراً لها ورأينا في نبات الأرض بلاغاً وإنما يكفي ابن أدنى العيش من الطعام وأيما ما جاوز الحنك من الطعام لم نجد له طعماً كائناً ما كان من الطعام ثم بسط ملك تلك الأرض يده خلف ذي القرنين فتناول جمجمة فقال ياذا القرنين أتدري من هذا قال لا ومن هو قال ملك من ملوك الأرض أعطاه الله سلطاناً على أهل الأرض فغشم وظلم وعتا فلما رأى الله سبحانه ذلك منه جسمه بالموت فصار كالحجر الملقى وقد أحصى الله عليه عمله حتى يجزيه به في آخرته

Ia berkata, "Aku melihat kalian tidak memiliki makanan selain tumbuh-tumbuhan dari bumi. Mengapa kalian tidak memelihara binatang ternak, lalu kalian memerah susunya, menungganginya, dan bersenang-senang dengannya?" Mereka menjawab, "Kami enggan menjadikan perut-perut kami sebagai kuburan bagi hewan-hewan itu, dan kami memandang tumbuh-tumbuhan bumi sudah cukup sebagai bekal hidup. Sesungguhnya anak Adam itu hanya membutuhkan makanan paling sederhana untuk kelangsungan hidupnya. Apapun makanan yang telah melewati langit-langit mulut (kerongkongan), kita tidak lagi merasakan kelezatannya, apapun jenis makanan itu." Kemudian raja negeri itu mengulurkan tangannya ke belakang Zulkarnain lalu mengambil sebuah tengkorak, seraya berkata, "Wahai Zulkarnain, tahukah engkau siapakah ini?" Zulkarnain menjawab, "Tidak, siapakah dia?" Raja itu berkata, "Dia adalah salah seorang raja bumi yang telah Allah beri kekuasaan atas penduduk bumi, namun ia berbuat sewenang-wenang, zalim, dan melampaui batas. Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala melihat hal itu darinya, Allah mematikan tubuhnya sehingga ia menjadi seperti batu yang terlempar, dan sungguh Allah telah menghitung amal perbuatannya hingga Dia membalasnya di akhirat kelak."

ثم تناول جمجمة أخرى بالية فقال ياذا القرنين هل تدري من هذا قال لا أدري ومن هو قال هذا ملك ملكه الله بعده قد كان يرى ما يصنع الذي قبله بالناس من الغشم والظلم والتجبر فتواضع وخشع لله ﷿ وأمر بالعدل في أهل مملكته فصار كما ترى قد أحصى الله عليه عمله حتى يجزيه به في آخرته

Kemudian ia mengambil tengkorak lain yang telah rapuh, lalu berkata, "Wahai Zulkarnain, tahukah engkau siapakah ini?" Zulkarnain menjawab, "Aku tidak tahu, siapakah dia?" Raja itu berkata, "Ini adalah seorang raja yang diberi kerajaan oleh Allah setelah raja sebelumnya. Ia menyaksikan apa yang dilakukan raja sebelum dirinya terhadap manusia berupa kesewenang-wenangan, kezaliman, dan kesombongan, maka ia pun bertawaduk dan khusyuk kepada Allah 'Azza wa Jalla, serta memerintahkan keadilan di antara rakyat kerajaannya. Lalu ia menjadi seperti yang engkau lihat ini; sungguh Allah telah menghitung amal perbuatannya hingga Dia membalasnya di akhirat kelak."

ثم أهوى إلى جمجمة ذي القرنين فقال

Kemudian ia mengisyaratkan tangannya ke tengkorak Zulkarnain sendiri, lalu berkata,

وهذه الجمجمة قد كانت كهذين فانظر ياذا القرنين ما أنت صانع فقال له ذو القرنين هل لك في صحبتي فأتخذك أخاً ووزيراً وشريكاً فيما أتاني الله من هذا المال قال ما أصلح أنا وأنت في مكان ولا أن نكون جميعاً قال ذو القرنين ولم قال من أجل أن الناس كلهم لك عدو ولي صديق قال ولم قال يعادونك لما في يديك من الملك والمال والدنيا ولا أجد أحداً يعاديني لرفضي لذلك ولما عندي من الحاجة وقلة الشيء قال فانصرف عنه ذو القرنين متعجباً منه ومتعظاً به فهذه الحكايات تدلك على آفات الغنى مع ما قدمناه من قبل وبالله التوفيق

"Dan tengkorak ini dahulunya juga seperti kedua tengkorak ini. Maka renungkanlah wahai Zulkarnain, apa yang akan engkau perbuat?" Zulkarnain berkata kepadanya, "Maukah engkau menjadi sahabatku, sehingga aku menjadikannya saudara, menteri, dan sekutu dalam harta yang telah Allah berikan kepadaku ini?" Raja itu menjawab, "Aku dan engkau tidak cocok berada di satu tempat, tidak pula hidup bersama." Zulkarnain bertanya, "Mengapa?" Ia menjawab, "Karena seluruh manusia adalah musuh bagimu dan menjadi sahabat bagiku." Zulkarnain bertanya, "Mengapa demikian?" Ia menjawab, "Mereka memusuhimu karena kerajaan, harta, dan dunia yang ada di tanganmu, sementara aku tidak mendapati seorang pun memusuhiku karena aku menolak semua itu dan karena kefakiran serta sedikitnya harta yang kupunyai." Zulkarnain pun pergi meninggalkannya dengan penuh ketakjuban dan mengambil pelajaran darinya. Maka kisah-kisah ini menunjukkan kepadamu tentang bahaya-bahaya kekayaan (afat al-ghina) bersama apa yang telah kami paparkan sebelumnya. Dan hanya kepada Allah-lah taufik itu memohon.