بيان معنى النفس والروح والقلب والعقل وما هو المراد بهذه الأسامي
بيان معنى النفس والروح والقلب والعقل وما هو المراد بهذه الأسامي
Penjelasan tentang makna Nafs (jiwa), Ruh (roh), Qalb (hati), dan 'Aql (akal), serta apa yang dimaksud dengan istilah-istilah ini.
اعلم أن هذه الأسماء الأربعة تستعمل في هذه الأبواب ويقل في فحول العلماء من يحيط بهذه الأسامي واختلاف معانيها وحدودها ومسمياتها وأكثر الأغاليط منشؤها الجهل بمعنى هذه الأسامي واشتراكها بين مسميات مختلفة ونحن نشرح في معنى هذه الأسامي ما يتعلق بغرضنا
Ketahuilah bahwa keempat istilah ini digunakan dalam bab-bab ini, dan sedikit sekali di antara ulama terkemuka yang mampu menguasai secara menyeluruh istilah-istilah ini beserta perbedaan makna, batasan-batasan, dan penunjukannya. Sebagian besar kekeliruan bersumber dari ketidaktahuan akan makna istilah-istilah ini serta penggunaannya secara bersamaan untuk berbagai penunjukan yang berlainan. Kami akan menjelaskan makna istilah-istilah tersebut sebatas yang berkaitan dengan tujuan kami.
اللفظ الأول لفظ القلب وهو يطلق لمعنيين
Istilah pertama adalah kata Qalb (hati), yang digunakan untuk dua makna.
أحدهما اللحم الصنوبري الشكل المودع في الجانب الأيسر من الصدر وهو لحم مخصوص وفي باطنه تجويف وفي ذلك التجويف دم أسود هو منبع الروح ومعدنه ولسنا نقصد الآن شرح شكله وكيفيته إذ يتعلق به غرض الأطباء ولا يتعلق به الأغراض الدينية وهذا القلب موجود للبهائم بل هو موجود للميت ونحن إذا أطلقنا لفظ القلب في هذا الكتاب لم نعن به ذلك فإنه قطعة لحم لا قدر له وهو من عالم الملك والشهادة إذ تدركه البهائم بحاسة البصر فضلاً عن الآدميين
Pertama, segumpal daging berbentuk buah pinus yang diletakkan di rongga dada sebelah kiri. Ia adalah daging khusus yang di dalamnya terdapat rongga berisikan darah hitam, yang menjadi sumber dan muara ruh. Kami tidak bermaksud menjelaskan bentuk dan kaifiatnya saat ini, karena hal itu menjadi ranah para dokter dan tidak berkaitan dengan tujuan-tujuan keagamaan. Hati fisik ini juga dimiliki oleh binatang, bahkan ada pada mayat. Ketika kami menggunakan istilah Qalb dalam kitab ini, kami tidak bermaksud merujuk pada bentuk tersebut, karena ia hanyalah segumpal daging yang tidak memiliki nilai spiritual secara langsung dan termasuk dalam alam mulk dan syahadah (alam nyata), sebab dapat diindra oleh penglihatan binatang, apalagi manusia.
والمعنى الثاني هو لطيفة ربانية روحانية لها بهذا القلب الجسماني تعلق وتلك اللطيفة هي حقيقة الإنسان وهو المدرك العالم العارف من الإنسان وهو المخاطب والمعاقب والمعاتب والمطالب ولها علاقة مع القلب الجسماني وقد تحيرت عقول أكثر الخلق في إدراك وجه علاقته فإن تعلقه به يضاهي تعلق الأعراض بالأجسام والأوصاف بالموصوفات أو تعلق المستعمل للآلة بالآلة أو تعلق المتمكن بالمكان وشرح ذلك مما نتوقاه لمعنيين
Makna kedua adalah entitas halus (latifah) yang bersifat ketuhanan (rabbaniyyah) dan keruhanian (ruhaniyyah), yang memiliki keterikatan dengan hati jasmani ini. Entitas halus inilah hakikat manusia; ia adalah bagian dari manusia yang menyadari, mengetahui, dan mengenal (ma'rifat). Ia pulalah yang diseru, dihukum, ditegur, dan dituntut. Entitas ini memiliki hubungan dengan hati jasmani, dan akal mayoritas makhluk telah dibuat bingung untuk memahami bentuk hubungannya. Keterikatannya menyerupai keterikatan sifat ('aradh) dengan benda (jism), atau keterikatan pengguna alat dengan alatnya, atau keterikatan tempat tinggal dengan tempatnya. Penjelasan terperinci mengenai hal itu kami hindari karena dua alasan.
أحدهما أنه متعلق بعلوم المكاشفة وليس غرضنا من هذا الكتاب إلا علوم المعاملة
Pertama, hal tersebut berkaitan dengan ilmu mukasyafah (ilmu pembingkaran rahasia spiritual), sedangkan tujuan kami dalam kitab ini hanyalah ilmu mu'amalah (ilmu perbuatan dan amalan).
والثاني أن تحقيقه يستدعي إفشاء سر الروح وذلك مما لم يتكلم فيه رسول الله ﷺ فليس لغيره أن يتكلم فيه والمقصود أنا إذا أطلقنا لفظ القلب في هذا الكتاب أردنا به هذه اللطيفة وغرضنا ذكر أوصافها وأحوالها لا ذكر حقيقتها في ذاتها وعلم المعاملة يفتقر إلى معرفة صفاتها وأحوالها ولا يفتقر إلى ذكر حقيقتها
Kedua, pembahasan mendalam mengenainya menuntut pembukaan rahasia tentang Ruh, padahal hal itu merupakan sesuatu yang tidak dibicarakan oleh Rasulullah ﷺ, maka tidak sewajarnya bagi selain beliau untuk membicarakannya. Maksudnya, apabila kami menyebut istilah Qalb dalam kitab ini, yang kami maksudkan adalah entitas halus (latifah) ini. Tujuan kami adalah menyebutkan sifat-sifat dan kondisi-kondisinya, bukan menyebutkan hakikat zatnya itu sendiri. Ilmu mu'amalah membutuhkan pengetahuan tentang sifat dan kondisinya, tetapi tidak membutuhkan penyingkapan hakikat zatnya.
اللفظ الثاني الروح وهو أيضاً يطلق فيما يتعلق بجنس غرضنا لمعنيين
Istilah kedua adalah Ruh, yang juga digunakan—sebatas yang berkaitan dengan tujuan kami—untuk dua makna.
أحدهما جسم لطيف منبعه تجويف القلب الجمساني فينشر بواسطة العروق الضوارب إلى سائر أجزاء البدن وجريانه في البدن وفيضان أنوار الحياة والحس والبصر والسمع والشم منها على أعضائها يضاهي فيضان النور من السراج الذي يدار في زوايا البيت فإنه لا ينتهي إلى جزء من البيت إلا ويستنير به والحياة مثالها النور الحاصل في الحيطان والروح مثالها السراج وسريان الروح وحركته في الباطن مثال حركة السراج في جوانب البيت بتحريك محركه والأطباء إذا أطلقوا لفظ
Pertama, materi halus (jism lathif) yang bersumber dari rongga hati jasmani, lalu menyebar melalui pembuluh-pembuluh darah arteri ke seluruh bagian tubuh. Alirannya di dalam tubuh serta limpahan cahaya kehidupan, indra, penglihatan, pendengaran, dan penciuman dengannya ke anggota-anggota tubuh menyerupai limpahan cahaya dari lampu yang diputar ke sudut-sudut rumah; tidaklah ia sampai pada suatu bagian rumah melainkan bagian itu menjadi terang. Kehidupan diumpamakan sebagai cahaya yang berada pada dinding-dinding, sedangkan ruh diumpamakan sebagai lampu tersebut, dan peredaran serta pergerakan ruh di dalam batin diumpamakan sebagai pergerakan lampu di sudut-sudut rumah oleh penggeraknya. Ketika para dokter menggunakan istilah…
الروح أرادوا به هذا المعنى وهو بخار لطيف أنضجته حرارة القلب وليس شرحه من غرضنا إذ المتعلق به غرض الأطباء الذين يعالجون الأبدان فأما غرض أطباء الدين المعالجين للقلب حتى ينساق إلى جوار رب العالمين فليس يتعلق بشرح هذه الروح أصلاً
…Ruh, yang mereka maksudkan adalah makna ini, yaitu uap halus yang dimatangkan oleh panasnya hati. Penjelasannya bukanlah tujuan kami, sebab hal itu berkaitan dengan kepentingan para dokter yang mengobati badan. Adapun tujuan para dokter agama yang mengobati hati agar tertuntun menuju ke hadirat Tuhan semesta alam, sama sekali tidak berkaitan dengan penjelasan tentang ruh fisik ini.
المعنى الثاني هو اللطيفة العالمة المدركة من الإنسان وهو الذي شرحناه في أحد معاني القلب وهو الذي أراده الله تعالى بقوله قل الروح من أمر ربي وهو أمر عجيب رباني تعجز أكثر العقول والأفهام عن درك حقيقته
Makna kedua adalah entitas halus (latifah) yang mengetahui dan menyadari pada diri manusia, yaitu yang telah kami jelaskan dalam salah satu makna Qalb. Ini pula yang dimaksudkan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya, "Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku", yang merupakan perkara ajaib yang bersifat ketuhanan (rabbani), di mana mayoritas akal dan pemahaman tidak mampu menggapai hakikatnya.
اللفظ الثالث النفس وهو أيضا مشترك بين معان ويتعلق بغرضنا منه معنيان
Istilah ketiga adalah Nafs (jiwa), yang juga persekutuan istilah antara beberapa makna, dan yang berkaitan dengan tujuan kami ada dua makna.
أحدهما أنه يراد به المعنى الجامع لقوة الغضب والشهوة في الإنسان على ما سيأتي شرحه وهذا الاستعمال هو الغالب على أهل التصوف لأنهم يريدون بالنفس الأصل الجامع للصفات المذمومة من الإنسان فيقولون لا بد من مجاهدة النفس وكسرها وإليه الإشارة بقوله ﷺ أعدى عدوك نفسك التي بين جنبيك أخرجه البيهقي في كتاب الزهد من حديث ابن عباس وفيه محمد بن عبد الرحمن بن غزوان أحد الوضاعين
Pertama, ia dimaksudkan sebagai makna yang menghimpun daya amarah (ghadhab) dan nafsu syahwat pada manusia, sebagaimana penjelasan yang akan datang. Penggunaan ini adalah yang dominan di kalangan ahli Tasawuf, karena yang mereka maksudkan dengan Nafs adalah muara yang menghimpun sifat-sifat tercela dari manusia. Oleh karena itu mereka berkata: "Harus dilakukan mujahadatun nafs (perjuangan melawan jiwa) dan menundukkannya." Dan hal ini diisyaratkan oleh sabda Nabi ﷺ, "Musuhmu yang paling memusuhi adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu." (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Kitab az-Zuhd dari hadis Ibn 'Abbas, dan di dalamnya terdapat Muhammad bin 'Abdirrahman bin Ghazwan, salah satu pemalsu hadis).
المعنى الثاني هي اللطيفة التي ذكرناها التي هي الإنسان بالحقيقة وهي نفس الإنسان وذاته ولكنها توصف بأوصاف مختلفة بحسب اختلاف أحوالها فإذا سكنت تحت الأمر وزايلها الاضطراب بسبب معارضة الشهوات سميت النفس المطمئنة
Makna kedua adalah entitas halus (latifah) yang telah kami sebutkan, yaitu diri manusia yang sejati, yakni jiwa manusia dan zatnya. Akan tetapi, ia disifati dengan sifat yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisinya. Apabila ia telah tenang di bawah perintah Allah dan hilang keguncangannya akibat penentangan syahwat, ia dinamakan Nafs Muthma'innah (jiwa yang tenang).
قال الله تعالى في مثلها ﴿يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي إلى ربك راضية مرضية﴾ والنفس بالمعنى الأول لا يتصور رجوعها إلى الله تعالى فإنها مبعدة عن الله وهي من حزب الشيطان
Allah Ta'ala berfirman mengenai hal seperti itu, "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai." Sedangkan jiwa (Nafs) dalam makna pertama tidak dapat dibayangkan untuk kembali kepada Allah Ta'ala, sebab ia terpencil jauh dari Allah dan termasuk golongan setan.
وإذا لم يتم سكونها ولكنها صارت مدافعة للنفس الشهوانية ومعترضة عليها سميت النفس اللوامة لأنها تلوم صاحبها عند تقصيره في عبادة مولاه
Dan apabila ketenangannya belum sempurna, namun ia mulai menentang jiwa yang sarat syahwat dan mengkritiknya, ia dinamakan Nafs Lawwamah (jiwa yang mencela/menyesali diri), karena ia mencela pemiliknya ketika lalai atau kurang dalam beribadah kepada Pelindungnya (Allah).
قال الله تعالى ﴿ولا أقسم بالنفس اللوامة﴾ وإن تركت الاعتراض وأذعنت وأطاعت لمقتضى الشهوات ودواعي الشيطان سميت النفس الأمارة بالسوء
Allah Ta'ala berfirman, "Dan aku bersumpah demi jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)." Namun jika ia meninggalkan penentangan, serta tunduk dan patuh pada tuntutan syahwat dan ajakan setan, ia dinamakan Nafs Ammarah bis-Su' (jiwa yang menyeru kepada kejahatan).
قال الله تعالى إخباراً عن يوسف ﵇ أو امرأة العزيز ﴿وما أبرئ نفسي إن النفس لأمارة بالسوء﴾ وقد يجوز أن يقال المراد بالأمارة بالسوء هي النفس بالمعنى الأول فإذن النفس بالمعنى الأول مذمومة غاية الذم وبالمعنى الثاني محمودة لأنها نفس الإنسان أي ذاته وحقيقته العالمة بالله تعالى وسائر المعلومات
Allah Ta'ala berfirman menukilkan perkataan Nabi Yusuf a.s. atau istri al-Aziz, "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan." Boleh juga dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Ammarah bis-Su' adalah jiwa dalam makna pertama. Dengan demikian, jiwa dalam makna pertama amat tercela secara mutlak, sedangkan dalam makna kedua ia terpuji, karena ia adalah jiwa manusia itu sendiri, yakni zat dan hakikatnya yang mengenal Allah Ta'ala dan segenap pengetahuan.
اللفظ الرابع العقل وهو أيضاً مشترك لمعان مختلفة ذكرناها في كتاب العلم والمتعلق بغرضنا من جملتها معنيان
Istilah keempat adalah 'Aql (akal), yang juga bersekutu untuk berbagai makna berbeda yang telah kami sebutkan dalam Kitab al-'Ilm (Kitab Ilmu). Dari keseluruhan makna tersebut, yang berkaitan dengan tujuan kami ada dua makna.
أحدهما أنه قد يطلق ويراد به العلم بحقائق الأمور فيكون عبارة عن صفة العلم الذي محله القلب
Pertama, ia terkadang digunakan dengan maksud pengetahuan tentang hakikat-hakikat perkara, sehingga ia merupakan sebutan bagi sifat ilmu yang tempatnya berada di dalam hati.
والثاني أنه قد يطلق ويراد به المدرك للعلوم فيكون هو القلب أعني تلك اللطيفة
Makna kedua (dari akal), bahwasanya ia terkadang dimaksudkan sebagai entitas yang menangkap pengetahuan, maka ia adalah Hati, yakni entitas yang halus (al-lathifah) tersebut.
ونحن نعلم أن كل عالم فله في نفسه وجود هو أصل قائم بنفسه والعلم صفة حالة فيه والصفة غير الموصوف والعقل قد يطلق ويراد به صفة العالم وقد يطلق ويراد به محل الإدراك أعني المدرك وهو المراد بقوله ﷺ أول ما خلق الله العقل // حديث أول ما خلق الله العقل وفي الخبر أنه قال له أقبل فأقبل وقال أدبر فأدبر الحديث تقدم في العلم
Dan kita mengetahui bahwa setiap orang yang berilmu memiliki eksistensi pada dirinya sendiri yang merupakan substansi yang berdiri sendiri, sedangkan ilmu adalah sifat yang bertempat padanya, dan sifat itu berbeda dengan yang disifati. Istilah akal terkadang digunakan dengan maksud sifat orang yang berilmu, dan terkadang digunakan dengan maksud tempat penangkapan (persepsi), yakni entitas yang menangkap. Dan itulah yang dimaksud dengan sabda Nabi ﷺ, "Pertama kali yang diciptakan Allah adalah akal." // Hadis "Pertama kali yang diciptakan Allah adalah akal…" dan dalam riwayat disebutkan bahwa Allah berfirman kepadanya: "Menghadaplah!", maka ia menghadap, lalu berfirman: "Membelakangilah!", maka ia membelakangi… Hadis ini telah disebutkan sebelumnya pada Kitab Ilmu.
فإن العلم عرض لا يتصور أن يكون أول مخلوق بل لابد وأن يكون المحل مخلوقاً قبله أو معه ولأنه لا يمكن الخطاب معه
Sebab, ilmu itu adalah 'aradh (sifat aksidental) yang tidak dapat dibayangkan untuk menjadi ciptaan yang pertama kali diciptakan, melainkan tempatnya (al-mahall) haruslah diciptakan sebelum atau bersamanya, dan juga karena tidak mungkin menyampaikan khithab (seruan/perintah) kepada 'aradh.
وفي الخبر أنه قال له تعالى أقبل فأقبل ثم قال له أدبر فأدبر الحديث
Dan di dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allah Ta'ala berfirman kepadanya: "Menghadaplah!", maka ia pun menghadap. Kemudian Allah berfirman kepadanya: "Membelakangilah!", maka ia pun membelakangi… (al-hadits).
فإذن قد انكشف لك أن معاني هذه الأسماء موجودة وهي القلب الجسماني والروح الجسماني والنفس الشهوانية والعلوم
Dengan demikian, telah tersingkap bagimu bahwa makna-makna dari istilah-istilah ini adalah wujud nyata, yaitu hati jasmani, roh jasmani, nafsu syahwat, dan ilmu-ilmu pengetahuan.
فهذه أربعة معان يطلق عليها الألفاظ الأربعة ومعنى خامس وهي اللطيفة العالمة المدركة من الإنسان
Maka ini adalah empat makna yang ditujukan oleh empat lafal tersebut, serta makna kelima, yaitu entitas yang halus (al-lathifah), yang mengetahui lagi menangkap pengetahuan dari diri manusia.
والألفاظ الأربعة بجملتها تتوارد عليها فالمعاني خمسة والألفاظ أربعة وكل لفظ أطلق لمعنيين
Keempat lafal tersebut secara keseluruhan saling tumpang-tindih penggunaannya pada makna-makna itu. Dengan demikian, maknanya ada lima sedangkan lafalnya ada empat, dan setiap lafal digunakan untuk merujuk pada dua makna.
وأكثر العلماء قد التبس عليهم اختلاف هذه الألفاظ وتواردها فتراهم يتكلمون في الخواطر ويقولون هذا خاطر العقل وهذا خاطر الروح وهذا خاطر القلب وهذا خاطر النفس وليس يدري الناظر اختلاف معاني هذه الأسماء ولأجل كشف الغطاء عن ذلك قدمنا شرح هذه الأسامي وحيث ورد في القرآن والسنة لفظ القلب فالمراد به المعنى الذي يفقه من الإنسان ويعرف حقيقة الأشياء وقد يكنى عنه بالقلب الذي في الصدر لأن بين تلك اللطيفة وبين جسم القلب علاقة خاصة فإنها وإن كانت متعلقة بسائر البدن ومستعملة له ولكنها تتعلق به بواسطة القلب فتعلقها الأول بالقلب وكأنه محلها ومملكتها وعالمها ومطيتها ولذلك شبه سهل التستري القلب بالعرش والصدر بالكرسي فقال القلب هو العرش والصدر هو الكرسي ولا يظن به أنه يرى أنه عرش الله وكرسيه فإن ذلك محال بل أراد به أنه مملكة الإنسان والمجرى الأول لتدبيره وتصرفه فهما بالنسبة إليه كالعرش والكرسي بالنسبة إلى الله تعالى ولا يستقيم هذا التشبيه أيضاً إلا من بعض الوجوه وشرح ذلك أيضاً لا يليق بغرضنا فلنجاوزه
Sebagian besar ulama mengalami kekeliruan akibat perbedaan lafal-lafal ini dan tumpang-tindih penggunaannya. Maka engkau melihat mereka membicarakan tentang bisikan-bisikan hati (al-khawathir) dengan mengatakan: "Ini adalah bisikan akal, ini bisikan roh, ini bisikan hati, dan ini bisikan nafsu," sementara pengamat tidak menyadari perbedaan makna dari istilah-istilah ini. Oleh karena itu, demi menyingkap tabir tersebut, kami mendahulukan penjelasan tentang istilah-istilah ini. Dan di mana pun lafal al-qalb (hati) disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, yang dimaksudkan adalah makna yang memahami dari diri manusia dan mengenali hakikat segala sesuatu. Terkadang hal itu dikiaskan dengan hati yang berada di dalam dada, karena antara entitas halus (al-lathifah) itu dengan organ fisik hati terdapat keterkaitan yang khusus. Meskipun entitas halus itu terhubung dengan seluruh anggota badan dan menggunakannya, namun keterhubungannya adalah melalui perantara hati. Jadi, keterkaitannya yang utama adalah dengan hati, seolah-olah hati adalah tempatnya, kerajaannya, alamnya, dan kendaraannya. Karena itulah Sahl at-Tustari menyerupakan hati dengan Arsy dan dada dengan Kursi, lalu berkata: "Hati adalah Arsy dan dada adalah Kursi." Dan janganlah disangka bahwa beliau berpendapat bahwa itu adalah Arsy Allah dan Kursi-Nya, sebab hal demikian adalah mustahil; melainkan yang beliau maksudkan adalah bahwa hati merupakan kerajaan manusia dan saluran utama bagi pengaturan serta tindakannya. Maka keduanya (hati dan dada) bagi manusia adalah bagaikan Arsy dan Kursi bagi Allah Ta'ala. Pengumpamaan ini pun tidak sepenuhnya tepat kecuali dari beberapa sisi saja, dan penjelasan mengenai hal itu juga tidak sesuai dengan tujuan kita di sini, maka marilah kita lewati.
بيان جنود القلب
Penjelasan tentang Prajurit-Prajurit Hati
قال الله تعالى وما يعلم جنود ربك إلا هو فلله سبحانه في القلوب والأرواح وغيرها من العوالم جنود مجندة لا يعرف حقيقتها وتفصيل عددها إلا هو
Allah Ta'ala berfirman, "Dan tidak ada yang mengetahui prajurit-prajurit Tuhanmu melainkan Dia sendiri." Maka milik Allah Mahasuci Dia di dalam hati, roh, dan alam-alam lainnya terdapat prajurit-prajurit yang terhimpun, yang tidak ada yang mengetahui hakikat dan rincian jumlahnya melainkan Dia sendiri.
ونحن الآن نشير إلى بعض جنود القلب فهو الذي يتعلق بغرضنا
Dan kita sekarang akan mengisyaratkan kepada sebagian dari prajurit-prajurit hati, karena hal itulah yang berkaitan dengan tujuan pembahasan kita.
وله جندان جند يرى بالأبصار وجند لا يرى إلا بالبصائر وهو في حكم الملك والجنود في حكم الخدم والأعوان فهذا معنى الجند فأما جنده المشاهد بالعين فهو اليد والرجل والعين والأذن واللسان وسائر الأعضاء الظاهرة والباطنة فإن جميعها خادمة للقلب ومسخرة له فهو المتصرف فيها والمردد لها وقد خلقت مجبولة على طاعته لا تستطيع له خلافاً ولا عليه تمرداً فإذا أمر العين بالانفتاح انفتحت وإذا أمر الرجل بالحركة تحركت وإذا أمر اللسان بالكلام وجزم الحكم به تكلم وكذا سائر الأعضاء
Hati memiliki dua kelompok prajurit: kelompok prajurit yang dapat dilihat dengan mata telanjang, dan kelompok prajurit yang tidak dapat dilihat kecuali dengan mata hati (bashirah). Hati berkedudukan sebagai raja, sedangkan prajurit-prajurit berkedudukan sebagai pelayan dan pembantu. Inilah makna prajurit. Adapun prajuritnya yang dapat disaksikan dengan mata adalah tangan, kaki, mata, telinga, lidah, serta seluruh anggota badan yang tampak maupun yang batin. Sesungguhnya seluruhnya adalah pelayan bagi hati dan ditundukkan untuknya. Hatilah yang mengendalikan dan menggerakkan semuanya, dan anggota-anggota tubuh tersebut diciptakan dengan watak patuh kepadanya, tidak mampu menyelisihinya dan tidak mampu membangkang terhadapnya. Apabila hati memerintahkan mata untuk terbuka, maka ia terbuka; apabila memerintahkan kaki untuk bergerak, maka ia bergerak; dan apabila memerintahkan lidah untuk berbicara serta menetapkan keputusan padanya, maka ia pun berbicara; demikian pula halnya dengan seluruh anggota badan lainnya.
وتسخير الأعضاء والحواس للقلب يشبه من وجه تسخير الملائكة لله تعالى فإنهم مجبولون على الطاعة لا يستطيعون له خلافاً بل لا يعصون الله ما أمرهم ويفعلون ما يؤمرون وإنما يفترقان في شيء وهو أن الملائكة ﵈ عالمة بطاعتها وامتثالها والأجفان تطيع القلب في الانفتاح والإنطباق على سبيل التسخير ولا خبر لها من نفسها ومن طاعتها للقلب وإنما افتقر القلب إلى هذه الجنود من حيث افتقاره إلى المركب والزاد لسفره الذي لأجله خلق وهو السفر إلى الله سبحانه وقطع المنازل إلى لقائه فلأجله خلقت القلوب
Penundukan anggota-anggota badan dan indra bagi hati menyerupai penundukan para malaikat bagi Allah Ta'ala dari satu sisi, sebab mereka diciptakan dengan watak patuh dan tidak mampu menyelisohi-Nya, bahkan "mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." Keduanya hanya berbeda dalam satu hal, yaitu bahwa para malaikat 'alaihimassalam menyadari kepatuhan dan ketertundukan mereka, sedangkan kelopak mata mematuhi hati untuk terbuka dan terpejam secara tunduk patuh tanpa memiliki kesadaran tentang dirinya sendiri maupun tentang kepatuhannya kepada hati. Dan sesungguhnya hati membutuhkan prajurit-prajurit ini dari sisi keterbukaannya kepada kendaraan dan bekal untuk perjalanannya yang demi perjalanan itulah ia diciptakan, yaitu perjalanan menuju Allah Mahasuci Dia dan menempuh tahapan-tahapan (manazil) untuk bertemu dengan-Nya. Maka demi itulah hati diciptakan.
قال الله تعالى وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون وإنما مركبه البدن وزاده العلم
Allah Ta'ala berfirman, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." Dan kendaraannya tidak lain adalah badan, sedangkan bekalnya adalah ilmu.
وإنما الأسباب التي توصله إلى الزاد وتمكنه من التزود منه هو العمل الصالح وليس يمكن العبد أن يصل إلى الله سبحانه ما لم يسكن البدن ولم يجاوز الدنيا فإن المنزل الأدنى لا بد من قطعه للوصول إلى المنزل الأقصى فالدنيا مزرعة الآخرة وهي منزل من منازل الهدى وإنما سميت دنيا لأنها أدنى المنزلتين فاضطر إلى أن يتزود من هذا العالم فالبدن مركبه الذي يصل به إلى هذا العالم فافتقر إلى تعهد البدن وحفظه وإنما يحفظ البدن بأن يجلب إليه ما يوافقه من الغذاء وغيره وأن يدفع عنه ما ينافيه من أسباب الهلاك فافتقر لأجل جلب الغذاء إلى جندين باطن وهو الشهوة
Satu-satunya sarana yang menyampaikannya kepada bekal tersebut dan memungkinkannya untuk mengambil bekal darinya adalah amal saleh. Dan seorang hamba tidak mungkin dapat sampai kepada Allah Mahasuci Dia selama ia tidak mendiami badan ini dan belum melintasi dunia. Sebab, persinggahan terdekat (dunia) haruslah ditempuh terlebih dahulu untuk sampai ke persinggahan terjauh (akhirat). Dunia adalah ladang bercocok tanam untuk akhirat, dan ia merupakan salah satu persinggahan petunjuk hidayah. Disebut dunia (terendah/terdekat) hanya karena ia merupakan tempat yang terendah di antara dua tempat persinggahan. Maka manusia terpaksa harus mengambil bekal dari alam ini, sedangkan badan adalah kendaraannya yang ia gunakan untuk sampai ke alam ini. Oleh karena itu, ia membutuhkan perawatan dan penjagaan badan. Dan badan itu hanya dapat dijaga dengan cara menarik hal-hal yang sesuai baginya berupa makanan dan selainnya, serta menolak hal-hal yang bertentangan dengannya berupa sebab-sebab kebinasaan. Maka untuk menarik makanan, ia membutuhkan dua kelompok prajurit: prajurit batin, yaitu syahwat (keinginan/hasrat),
وظاهر وهو اليد والأعضاء الجالبة للغذاء فخلق في القلب من الشهوات ما احتاج إليه وخلقت الأعضاء التي هي آلات الشهوات فافتقر لأجل دفع المهلكات إلى جندين باطن وهو الغضب الذي به يدفع المهلكات وينتقم من الأعداء
dan prajurit lahir, yaitu tangan dan anggota-anggota tubuh yang bertugas menarik makanan. Maka diciptakanlah di dalam hati berbagai syahwat yang dibutuhkannya, dan diciptakan pula anggota-anggota tubuh yang menjadi alat-alat bagi syahwat tersebut. Kemudian untuk menolak hal-hal yang membinasakan, ia membutuhkan dua kelompok prajurit: prajurit batin, yaitu al-ghadhab (dorongan amarah/pertahanan) yang dengannya ia menolak hal-hal yang membinasakan dan membalas musuh-musuh,
وظاهر
dan prajurit lahir,
وهو اليد والرجل للذين بهما يعمل بمقتضى الغضب وكل ذلك بأمور خارجة فالجوارح من البدن كالأسلحة وغيرها ثم المحتاج إلى الغذاء ما لم يعرف الغذاء لم تنفعه شهوة الغذاء وإلفه فافتقر للمعرفة إلى جندين باطن وهو إدراك السمع والبصر والشم واللمس والذوق وظاهر وهو العين والأذن والأنف وغيرها
yaitu tangan dan kaki yang dengannya ia bertindak sesuai dengan tuntutan al-ghadhab tersebut. Dan semua itu terjadi melalui perkara-perkara luar, sehingga anggota-anggota badan itu bagaikan senjata dan peralatannya. Kemudian, entitas yang membutuhkan makanan itu, selama ia tidak mengenali makanan, maka kehendak dan kebiasaannya terhadap makanan tidak akan memberi manfaat baginya. Oleh karena itu, ia membutuhkan dua kelompok prajurit untuk mengenali (persepsi): prajurit batin, yaitu pengindraan pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, dan pengecapan; serta prajurit lahir, yaitu mata, telinga, hidung, dan selainnya.
وتفصيل وجه الحاجة إليها ووجه الحكمة فيها يطول ولا تحويه مجلدات كثيرة
Rincian mengenai bentuk kebutuhan terhadap hal-hal tersebut dan bentuk hikmah yang terkandung di dalamnya sangatlah panjang dan tidak akan muat dalam banyak jilid buku.
وقد أشرنا إلى طرف يسير منها في كتاب الشكر فليقتنع به
Dan kami telah mengisyaratkan sebagian kecil darinya dalam Kitab Asy-Syukr (Buku Syukur), maka cukuplah berpuas diri dengannya.
فجملة جنود القلب تحصرها ثلاثة أصناف صنف باعث ومستحث إما إلى جلب النافع الموافق كالشهوة وإما إلى دفع الضار المنافي كالغضب وقد يعبر عن هذا الباعث بالإرادة
Maka seluruh tentara hati terbagi ke dalam tiga kelompok: kelompok pendorong dan penggerak, baik untuk menarik hal yang bermanfaat dan sesuai seperti syahwat (keinginan nafsu), maupun untuk menolak hal yang memudaratkan dan berlawanan seperti amarah (ghadhab). Pendorong ini terkadang diungkapkan dengan istilah kehendak (iradah).
والثاني هو المحرك للأعضاء إلى تحصيل هذه المقاصد ويعبر عن هذا الثاني بالقدرة وهي جنود مبثوثة في سائر الأعضاء لا سيما العضلات منها والأوتار
Kelompok kedua adalah penggerak anggota tubuh untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Kelompok kedua ini diungkapkan dengan istilah kemampuan (kudrat), yaitu tentara yang tersebar di seluruh anggota tubuh, terutama pada otot-otot dan urat-urat.
والثالث هو المدرك المتعرف للأشياء كالجواسيس وهي قوة البصر والسمع والشم والذوق واللمس وهي مبثوثة في أعضاء معينة ويعبر عن هذا بالعلم والإدراك ومع كل واحد من هذه الجنود الباطنة جنود ظاهرة وهي الأعضاء المركبة من الشحم واللحم والعصب والدم والعظم التي أعدت آلات لهذه الجنود فإن قوة البطش إنما هي بالأصابع وقوة البصر إنما هي بالعين
Kelompok ketiga adalah daya persepsi (pengenal) yang mengetahui segala sesuatu bagaikan mata-mata, yaitu daya penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan peraba. Daya-daya ini tersebar pada anggota tubuh tertentu, dan diungkapkan dengan istilah ilmu dan persepsi (idrak). Bersama setiap tentara batin ini terdapat tentara lahiriah, yaitu anggota tubuh yang tersusun dari lemak, daging, urat saraf, darah, dan tulang, yang disiapkan sebagai alat bagi tentara batin ini. Sebab, daya menggenggam (memukul) hanyalah melalui jari-jemari, dan daya penglihatan hanyalah melalui mata.
وكذا سائر القوى ولسنا نتكلم في الجنود الظاهرة أعني الأعضاء فإنها من عالم الملك والشهادة وإنما نتكلم الآن فيما أيدت به من جنود لم تروها
Demikian pula dengan daya-daya lainnya. Kita tidak sedang membicarakan tentara lahiriah, yakni anggota-anggota tubuh, karena itu termasuk alam realitas fisik (alam mulk wa syahadah). Pembahasan kita saat ini hanyalah tentang apa yang dengannya hati dikuatkan, yaitu tentara-tentara yang tidak kalian lihat.
وهذا الصنف الثالث وهو المدرك من هذه الجملة ينقسم إلى ما قد أسكن المنازل الظاهرة وهي الحواس الخمس أعني السمع والبصر والشم والذوق واللمس وإلى ما أسكن منازل باطنة وهي تجاويف الدماغ وهي أيضاً خمسة فإن الإنسان بعد رؤية الشيء يغمض عينه فيدرك صورته في نفسه وهو الخيال ثم تبقى تلك الصورة معه بسبب شيء يحفظه وهو الجند الحافظ ثم يتفكر فيما حفظة فيركب بعض ذلك إلى البعض ثم يتذكر ما قد نسيه ويعود إليه ثم يجمع جملة معاني المحسوسات في خياله بالحس المشترك بين المحسوسات ففي الباطن حس مشترك وتخيل وتفكر وتذكر وحفظ ولولا خلق الله قوة الحفظ والفكر والذكر والتخيل لكان الدماغ يخلو عنه كما تخلو اليد والرجل عنه فتلك القوى أيضاً جنود باطنة وأماكنها أيضاً باطنه فهذه هي أقسام جنود القلب وشرح ذلك بحيث يدركه فهم الضعفاء بضرب الأمثلة يطول
Kelompok ketiga ini, yaitu daya persepsi (al-mudrik), terbagi menjadi dua: yang ditempatkan pada kediaman lahiriah, yaitu pancaindra (pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, dan peraba); serta yang ditempatkan pada kediaman batiniah, yaitu rongga-rongga otak yang juga berjumlah lima. Manusia, setelah melihat sesuatu, kemudian memejamkan matanya, ia tetap dapat menangkap bayangan bentuk benda itu dalam dirinya; inilah yang dinamakan imajinasi (al-khayal). Kemudian bayangan itu tetap bertahan bersamanya karena adanya sesuatu yang menyimpannya, yaitu tentara penyimpan (al-hafizh). Lalu ia memikirkan apa yang disimpannya itu, dengan merangkai sebagian dengannya yang lain. Kemudian ia mengingat kembali apa yang sempat dilupakannya dan kembali kepadanya. Selanjutnya ia mengumpulkan seluruh makna dari objek-objek indrawi dalam khayalnya melalui indra bersama (al-hiss al-musytarak). Jadi, di dalam batin terdapat indra bersama, imajinasi (takhayyul), pemikiran (tafakkur), pengingatan (tadzakkur), dan penyimpanan (hifzh). Seandainya Allah tidak menciptakan daya penyimpanan, pemikiran, pengingatan, dan imajinasi, niscaya otak akan kosong darinya sebagaimana tangan dan kaki yang kosong darinya. Daya-daya tersebut juga merupakan tentara-tentara batin, dan tempatnya pun berada di batin. Inilah pembagian tentara-tentara hati, dan penjelasan rinci mengenai hal ini agar dapat dipahami oleh orang-orang yang lemah pemahamannya melalui perumpamaan-perumpamaan akan memakan waktu yang panjang.
ومقصود مثل هذا الكتاب أن ينتفع به الأقوياء والفحول من العلماء ولكنا نجتهد في تفهيم الضعفاء بضرب الأمثلة ليقرب ذلك من أفهامهم
Tujuan dari kitab semacam ini adalah agar memberi manfaat bagi orang-orang yang kuat dan para ulama yang mumpuni. Namun demikian, kami berusaha untuk pemahaman orang-orang yang lemah dengan memberikan perumpamaan-perumpamaan agar hal tersebut menjadi lebih dekat dengan pemahaman mereka.
بيان أمثلة القلب مع جنوده الباطنة
Penjelasan Perumpamaan-Perumpamaan Hati Beserta Tentara Batinnya
اعلم أن جندي الغضب والشهوة قد ينقادان للقلب انقياداً تاماً فيعينه ذلك على طريقه الذي يسلكه وتحسن مرافقتهما في السفر الذي هو بصدده وقد يستعصيان عليه استعصاء بغي وتمرد حتى يملكاه ويستبعداه وفيه هلاكه وانقطاعه عن سفره الذي به وصوله إلى سعادة الأبد وللقلب جند آخر وهو العلم والحكمة والتفكر كما سيأتي شرحه وحقه أن يستعين بهذا الجند فإنه حزب الله تعالى على الجندين الآخرين فإنهما قد يلتحقان بحزب الشيطان
Ketahuilah bahwa dua tentara, yaitu amarah (ghadhab) dan nafsu syahwat, terkadang tunduk sepenuhnya kepada hati, sehingga hal itu membantunya dalam menempuh jalan yang dilaluinya dan memperbaik penyertaannya dalam perjalanan yang sedang ditujunya. Namun terkadang, keduanya membangkang kepadanya dengan pembangkangan yang melampaui batas dan membangkang, hingga mereka menguasai serta memperbudaknya. Di sinilah letak kehancurannya dan terputusnya ia dari perjalanan yang membawanya menuju kebahagiaan abadi. Hati juga memiliki tentara lain, yaitu ilmu, hikmah, dan pemikiran (tafakkur), sebagaimana akan datang penjelasannya. Sepantasnya hati meminta pertolongan kepada tentara ini, karena tentara ini adalah golongan (hizb) Allah Ta'ala untuk menghadapi dua tentara sebelumnya yang terkadang bergabung dengan golongan setan.
فإن ترك الاستعانة وسلط على نفسه جند الغضب والشهوة هلك يقيناً وخسر خسراناً مبيناً وذلك حالة أكثر الخلق فإن عقولهم صارت مسخرة لشهواتهم في استنباط الحيل لقضاء الشهوة وكان ينبغي أن تكون الشهوة مسخرة لعقولهم فيما يفتقر العقل إليه ونحن نقرب ذلك إلى فهمك بثلاثة أمثلة
Jika ia meninggalkan permohonan pertolongan ini dan justru menundukkan dirinya pada tentara amarah dan syahwat, maka ia pasti akan binasa dan merugi dengan kerugian yang nyata. Demikianlah keadaan mayoritas makhluk; akal mereka telah ditundukkan oleh syahwat mereka dalam merancang berbagai tipu daya untuk memenuhi syahwat tersebut. Padahal, seharusnya syahwatlah yang ditundukkan oleh akal mereka untuk hal-hal yang dibutuhkan oleh akal. Kami akan mendekatkan hal itu ke dalam pemahamanmu melalui tiga perumpamaan.
المثال الأول أن نقول مثل نفس الإنسان في بدنه أعني بالنفس اللطيفة المذكورة كمثل ملك في مدينته ومملكته
Perumpamaan pertama: Kita katakan bahwa perumpamaan jiwa manusia di dalam tubuhnya—yang aku maksud dengan jiwa adalah substansi yang halus (al-lathifah) yang telah disebutkan—adalah seperti perumpamaan seorang raja di dalam kota dan kerajaannya.
فإن البدن مملكة النفس وعالمها ومستقرها ومدينتها وجوارحها وقواها بمنزلة الصناع والعملة والقوة العقلية المفكرة له كالمشير الناصح والوزير العاقل
Sebab, tubuh adalah kerajaan bagi jiwa, alamnya, tempat menetapnya, dan kotanya. Sedangkan anggota-anggota tubuh beserta daya-dayanya berkedudukan seperti para pengrajin dan pekerja. Adapun daya akal yang berpikir baginya adalah seperti penasihat yang tulus dan wazir (perdana menteri) yang berakal.
والشهوة له كالعبد السوء يجلب الطعام والميرة إلى المدينة والغضب والحمية له كصاحب الشرطة
Sedangkan syahwat baginya bagaikan hamba sahaya yang buruk, yang mendatangkan makanan dan perbekalan ke kota. Adapun amarah dan pembelaan diri (al-hamiyyah) baginya bagaikan kepala kepolisian.
والعبد الجالب للميرة كذاب مكار خداع خبيث يتمثل بصورة الناصح وتحت نصحه الشر الهائل والسم القاتل وديدنه وعادته منازعة الوزير الناصح في آرائه وتدبيراته حتى لا يخلو من منازعته ومعارضته ساعة كما أن الوالي في مملكته إذا كان مستغنياً في تدبيراته بوزيره مستشيراً له ومعرضاً عن إشارة هذا العبد الخبيث مستدلاً بإشارته في أن الصواب في نقيض رأيه أدبه صاحب شرطته وساسه لوزيره وجعله مؤتمراً له مسلطاً من جهته على هذا العبد الخبيث وأتباعه وأنصاره حتى يكون العبد مسوساً لا سائساً ومأموراً مدبراً لا أميراً مدبراً استقام أمر بلده وانتظم العدل بسببه فكذا النفس متى استعانت بالعقل وأدبت بحمية الغضب وسلطتها على الشهوة واستعانت بإحداهما على الأخرى تارة بأن تقلل مرتبة الغضب وغلوائه بمخالفة الشهوة واستدراجها وتارة بقمع الشهوة وقهرها بتسليط الغضب والحمية عليها وتقبيح مقتضياتها اعتدلت قواها وحسنت أخلاقها ومن عدل عن هذه الطريقة كان كمن قال الله تعالى فيه أفرأيت من اتخذ إلهه هواه وأضله الله على علم وقال تعالى واتبع هواه فمثله كمثل الكلب إن تحمل عليه يلهث أو تتركه يلهث وقال ﷿ فيمن نهى النفس عن الهوى وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عن الهوى فإن الجنة هي المأوى وسيأتي كيفية مجاهدة هذه الجنود وتسليط بعضها على بعض في كتاب رياضة النفس إن شاء الله تعالى
Hamba sahaya yang membawa perbekalan itu adalah seorang pembohong, penipu, perencana makar, dan jahat; ia menampakkan diri dalam rupa seorang penasihat, padahal di balik nasihatnya tersembunyi kejahatan yang mengerikan dan racun yang mematikan. Kebiasaan dan perangainya adalah menentang pendapat dan pengaturan sang wazir yang tulus, sehingga tidak pernah luput dari menentang dan menyelisihinya sesaat pun. Sebagaimana seorang penguasa di kerajaannya, apabila ia mencukupkan diri dalam pengaturannya dengan perantara wazirnya, bermusyawarah dengannya, berpaling dari petunjuk hamba yang jahat ini, serta menjadikannya petunjuk bahwa kebenaran berada pada kebalikan dari pendapat hamba tersebut, lalu ia mendidik hamba itu melalui kepala kepolisiannya dan mengarahkannya tunduk kepada sang wazir, menunjukkannya agar mematuhi wazir dan memberi kekuasaan kepada kepala kepolisian atas hamba yang jahat ini beserta para pengikut dan penolongnya—sehingga hamba itu menjadi pihak yang diatur bukan mengatur, serta menjadi pihak yang diperintah bukan memerintah—niscaya urusan negerinya akan lurus dan keadilan terwujud karenanya. Demikian pula jiwa; apabila ia meminta bantuan kepada akal, mendidik dengan amarah dan ketegasan (al-hamiyyah) serta menundukkannya atas syahwat, dan meminta bantuan salah satu dari keduanya untuk menaklukkan yang lain—terkadang dengan mengurangi kadar amarah dan gejolaknya melalui penolakan terhadap syahwat serta penjinakannya, dan terkadang dengan menekan dan menundukkan syahwat melalui penundukan amarah kepadanya serta memburukkan tuntutannya—maka daya-dayanya akan menjadi seimbang dan akhlaknya akan menjadi baik. Barangsiapa yang berpaling dari jalan ini, maka ia seperti orang yang difirmankan oleh Allah Ta'ala: 'Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya' [QS. Al-Jatsiyah: 23]. Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Dan dia mengikuti hawa nafsunya, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia mengulurkan lidahnya juga' [QS. Al-A'raf: 176]. Dan Allah Azza wa Jalla berfirman tentang orang yang menahan dirinya dari hawa nafsu: 'Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya)' [QS. An-Nazi'at: 40-41]. Cara bermujahadah melawan tentara-tentara ini dan menguasakan sebagian atas sebagian yang lain akan dijelaskan dalam kitab Riyadhah an-Nafs (Melatih Jiwa), insya Allah Ta'ala.
المثال الثاني اعلم أن البدن كالمدينة والعقل أعني المدرك من الإنسان كملك مدبر لها وقواه المدركة من الحواس الظاهرة والباطنة كجنوده وأعوانه وأعضاؤه كرعيته والنفس الأمارة بالسوء التي هي الشهوة والغضب كعدو ينازعه في مملكته ويسعى في إهلاك رعيته فصار بدنه كرباط وثغر ونفسه كمقيم فيه مرابط فإن هو جاهد عدوه وهزمه وقهره على ما يحب حمد أثره وإذا عاد إلى الحضرة كما قال الله تعالى والمجاهدون في سبيل الله بأموالهم وأنفسهم فضل الله المجاهدين بأموالهم وأنفسهم على القاعدين درجة وإن ضيع ثغره وأهمل رعيته ذم أثره فانتقم منه عند الله تعالى فيقال له يوم القيامة يا راعي السوء أكلت اللحم وشربت اللبن ولم تأو الضالة ولم تجبر الكسير اليوم أنتقم منك حديث رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر أخرجه البيهقي في الزهد من حديث جابر وقال هذا إسناد في ضعف
Perumpamaan kedua: Ketahuilah bahwa tubuh itu bagaikan kota, dan akal—yakni daya persepsi pada manusia—bagaikan raja yang mengaturnya. Daya-daya persepsinya dari pancaindra lahir dan batin bagaikan tentara dan pembantunya, anggota tubuhnya bagaikan rakyatnya, sedangkan nafsu ammarah bis-su' (jiwa yang menyuruh kepada kejahatan) yang berupa syahwat dan amarah bagaikan musuh yang merebut kerajaannya dan berusaha membinasakan rakyatnya. Maka tubuhnya menjadi seperti benteng perbatasan (ribath wa tsaghr), dan jiwanya seperti penjaga yang siaga di dalamnya. Jika ia bermujahadah melawan musuhnya, mengalahkannya, dan menundukkannya sesuai dengan apa yang disukai, niscaya terpujilah jejak jalannya ketika ia kembali ke hadirat Allah, sebagaimana firman Allah Ta'ala: 'Dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka; Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk' [QS. An-Nisa': 95]. Namun jika ia menyia-nyiakan benteng perbatasannya dan mengabaikan rakyatnya, dicelalah jejak jalannya dan ia akan dibalas di sisi Allah Ta'ala. Ditanyakan kepadanya kelak pada hari kiamat: 'Wahai gembala yang buruk! Engkau memakan daging dan meminum susu, namun engkau tidak melindungi hewan yang tersesat dan tidak merawat hewan yang patah tulang, hari ini Aku akan membalasmu.' Hadis: 'Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad besar,' diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Kitab Az-Zuhd dari hadis Jabir, dan beliau berkata: 'Sanad ini memiliki kelemahan.'
المثال الثالث مثل العقل مثل فارس متصيد وشهوته كفرسه وغضبه ككلبه فمتى كان الفارس حاذقاً وفرسه مروضاً وكلبه مؤدباً معلماً كان جديراً بالنجاح ومتى كان هو في نفسه أخرق وكان الفرس جموحاً والكلب عقوراً فلا فرسه ينبعث تحته منقاداً ولا كلبه يسترسل بإشارته مطيعاً فهو خليق بأن يعطب فضلاً عن أن ينال ما طلب وإنما خرق الفارس مثل جهل الإنسان وقلة حكمته وكلال بصيرته وجماح الفرس مثل غلبة الشهوة خصوصاً شهوة البطن والفرج وعقر الكلب مثل غلبة الغضب واستيلائه
Perumpamaan ketiga: Perumpamaan akal adalah seperti seorang penunggang kuda yang sedang berburu, syahwatnya bagaikan kudanya, dan amarahnya bagaikan anjing pemburunya. Apabila penunggang kuda itu mahir, kudanya terlatih, dan anjingnya terdidik serta terlatih, maka ia sangat layak meraih keberhasilan. Namun apabila ia sendiri seorang yang ceroboh (bodoh), kudanya liar tak terkendali, dan anjingnya suka menggigit (galak), maka kudanya tidak akan bergerak patuh di bawah kendalinya dan anjingnya pun tidak akan terlepas menurut isyaratnya secara taat. Maka ia sangat patut untuk binasa, alih-alih memperoleh apa yang dicarinya. Kecerobohan penunggang kuda ini adalah perumpamaan dari kebodohan manusia, kurangnya hikmah, dan tumpulnya mata hatinya (bashirah). Liarnya kuda adalah perumpamaan dari dominasi syahwat, terutama syahwat perut dan kemaluan. Sedangkan galaknya anjing adalah perumpamaan dari dominasi amarah dan penguasaannya.
نسأل الله حسن التوفيق بلطفه
Kita memohon kepada Allah kebaikan taufik dengan kelembutan-Nya.
بيان خاصية قلب الإنسان
Penjelasan Keistimewaan Hati Manusia
اعلم أن جملة ما ذكرناه قد أنعم الله به على سائر الحيوانات سوى الآدمي إذ للحيوان الشهوة والغضب والحواس
Ketahuilah bahwa seluruh apa yang telah kami sebutkan ini telah dikurniakan oleh Allah pula kepada segenap hewan selain manusia; karena hewan juga memiliki syahwat, amarah, serta indra…
الظاهرة والباطنة أيضاً حتى إن الشاة ترى الذئب بعينها فتعلم عداوته بقلبها فتهرب منه فذلك هو الإدراك الباطن
…lahiriah dan batiniah juga. Bahkan seekor domba melihat serigala dengan matanya, lalu mengetahui permusuhannya dengan hatinya (batinnya), sehingga ia lari darinya. Maka itulah yang dinamakan persepsi batin (al-idrak al-batin).
فلنذكر ما يختص به قلب الإنسان ولأجله عظم شرفه واستأهل القرب من الله تعالى
Maka hendaklah kita sebutkan apa yang menjadi keistimewaan khusus bagi hati manusia, yang karenanya menjadi agunglah kemuliaannya dan ia berhak mendapatkan kedekatan (al-qurb) dari Allah Ta'ala.
وهو راجع إلى علم وإرادة
Dan hal itu bermuara pada ilmu dan iradah (kehendak).
أما العلم فهو العلم بالأمور الدنيوية والأخروية والحقائق العقلية فإن هذه أمور وراء المحسوسات ولا يشاركه فيها الحيوانات بل العلوم الكلية الضرورية من خواص العقل إذ يحكم الإنسان بأن الشخص الواحد لا يتصور أن يكون في مكانين في حالة واحدة وهذا حكم منه على كل شخص
Adapun ilmu, ia adalah pengetahuan tentang perkara-perkara duniawi, ukhrawi, dan hakikat-hakikat rasional (akliyah). Sebab, perkara-perkara ini berada di luar jangkauan hal-hal yang terindera (mahsuusat), dan hewan tidak berserikat dengannya. Bahkan, ilmu-ilmu universal yang aksiomatis (al-ulum al-kulliyyah adh-dharuriyyah) merupakan keistimewaan akal, di mana manusia berhukum bahwa satu individu tidak mungkin berada di dua tempat secara bersamaan, dan ini merupakan ketetapan hukumnya atas setiap individu.
ومعلوم أنه لم يدرك بالحس إلا بعض الأشخاص فحكمه على جميع الأشخاص زائد على ما أدركه الحس
Dan sudah maklum bahwa ia tidak mengindra kecuali sebagian individu saja, sehingga hukumnya atas seluruh individu melampaui apa yang ditangkap oleh indera.
وإذا فهمت هذا في العلم الظاهر الضروري فهو في سائر النظريات أظهر
Jika engkau telah memahami hal ini dalam ilmu zahir yang bersifat aksiomatis (dharuri), maka dalam seluruh ilmu spekulatif (nazhariyyat) hal itu jauh lebih jelas.
وأما الإرادة فإنه إذا أدرك بالعقل عاقبة الأمر وطريق الصلاح فيه انبعث من ذاته شوق إلى جهة المصلحة وإلى تعاطي أسبابها والإرادة لها وذلك غير إرادة الشهوة وإرادة الحيوانات بل يكون على ضد الشهوة
Adapun iradah (kehendak), ketika akal memahami dampak akhir dari suatu perkara dan jalan kebaikan di dalamnya, timbullah dari dalam dirinya dorongan kerinduan menuju kemaslahatan, serta keinginan untuk mengambil sebab-sebabnya dan menghendakinya. Hal itu berbeda dengan keinginan syahwat dan kehendak hewan, bahkan sering kali berlawanan dengan syahwat.
فإن الشهوة تنفر عن الفصد والحجامة والعقل يريدها ويطلبها ويبذل المال فيها
Sebab syahwat merasa enggan terhadap pemotongan pembuluh darah (fasad) dan bekam (hijamah), sedangkan akal justru menghendakinya, mencarinya, dan mengorbankan harta untuknya.
والشهوة تميل إلى لذائذ الأطعمة في حين المرض والعاقل يجد في نفسه زاجراً عنها وليس ذلك زاجر الشهوة
Syahwat cenderung pada kelezatan makanan saat sakit, sedangkan orang berakal menemukan pencegah dalam dirinya untuk tidak memakannya, dan pencegah itu bukanlah pencegah syahwat.
ولو خلق الله العقل المعرف بعواقب الأمور ولم يخلق هذا الباعث المحرك للأعضاء على مقتضى حكم العقل لكان حكم العقل ضائعاً على التحقيق
Seandainya Allah menciptakan akal yang mengenalkan dampak akhir dari berbagai perkara, namun tidak menciptakan dorongan yang menggerakkan anggota tubuh sesuai konsekuensi hukum akal, niscaya ketetapan akal itu akan sia-sia secara hakiki.
فإذن قلب الإنسان اختص بعلم وإرادة ينفك عنها سائر الحيوان بل ينفك عنها الصبي في أول الفطرة وإنما يحدث ذلك فيه بعد البلوغ
Maka dari itu, hati manusia teristimewakan dengan ilmu dan iradah (kehendak) yang terpisah dari hewan-hewan lainnya, bahkan terlepas pula dari anak kecil pada awal fitrahnya; hal itu baru muncul padanya setelah mencapai usia balig.
وأما الشهوة والغضب والحواس الظاهرة والباطنة فإنها موجودة في حق الصبي
Adapun syahwat, amarah, serta indera lahiriah dan batiniah, semuanya itu sudah ada pada anak kecil.
ثم الصبي في حصول هذه العلوم فيه له درجتان
Kemudian anak kecil dalam hal tercapainya ilmu-ilmu ini padanya memiliki dua tingkatan:
إحداهما أن يشتمل قلبه على سائر العلوم الضرورية الأولية كالعلم باستحالة المستحيلات وجواز الجائزات الظاهرة فتكون العلوم النظرية فيها غير حاصلة إلا أنها صارت ممكنة قريبة الإمكان والحصول ويكون حاله بالإضافة إلى العلوم كحال الكاتب الذي لا يعرف من الكتابة إلا الدواة والقلم والحروف المفردة دون المركبة فإنه قد قارب الكتابة ولم يبلغها بعد
Tingkatan pertama: hatinya mencakup seluruh ilmu aksiomatis yang mendasar (dharuriyyah awwaliyyah), seperti pengetahuan tentang kemustahilan hal yang mustahil dan kebolehan hal-hal yang memungkinkan yang nyata. Namun ilmu-ilmu spekulatif (nazhariyyah) belum terwujud padanya, hanya saja telah menjadi mungkin dan amat dekat kemungkinannya untuk diperoleh. Keadaannya nisbi terhadap ilmu adalah seperti keadaan seorang penulis yang tidak mengetahui tentang tulis-menulis kecuali tempat tinta, pena, dan huruf-huruf tunggal tanpa susunan kalimat; sungguh ia telah mendekati kemampuan menulis namun belum mencapainya.
الثانية أن تتحصل له العلوم المكتسبة بالتجارب والفكر فتكون كالمخزونة عنده فإذا شاء رجع إليها وحاله حال الحاذق بالكتابة إذ يقال له كاتب وإن لم يكن مباشراً للكتابة بقدرته عليها
Tingkatan kedua: tercapainya ilmu-ilmu yang diperoleh melalui pengalaman dan pemikiran (muktasabah), sehingga ilmu itu tersimpan padanya; bila ia berkehendak, ia dapat merujuk kepadanya. Keadaannya seperti pakar dalam tulis-menulis yang disebut sebagai 'penulis' meskipun sedang tidak berpraktik menulis, karena ia memiliki kemampuan atas hal itu.
وهذه هي غاية درجة الإنسانية
Dan inilah puncak derajat kemanusiaan.
ولكن في هذه الدرجة مراتب لا تحصى بتفاوت الخلق فيها بكثرة المعلومات وقلتها وبشرف المعلومات وخستها وبطريق تحصيلها إذ تحصل لبعض القلوب بإلهام إلهي على سبيل المبادأة والمكاشفة ولبعضهم بتعلم واكتساب وقد يكون سريع الحصول وقد يكون بطئ الحصول
Namun dalam derajat ini terdapat tingkatan-tingkatan yang tidak terhitung jumlahnya disebabkan perbedaan kualitas makhluk padanya; dari segi banyaknya informasi (banyak-sedikitnya ilmu), kemuliaan atau kerendahan ilmu tersebut, serta cara memperolehnya. Sebab, bagi sebagian hati, ilmu diperoleh melalui ilham ilahi secara langsung (mubada'ah) dan pemingkapan rahasia (mukasyafah); sedangkan bagi sebagian yang lain melalui proses belajar dan usaha (iktisab). Ada yang memperolehnya secara cepat dan ada pula yang lambat.
وفي هذا المقام تتباين منازل العلماء والحكماء والأنبياء والأولياء فدرجات الترقي فيه غير محصورة إذ معلومات الله سبحانه لا نهاية لها
Pada maqam (kedudukan) inilah berbeda-beda tingkatan para ulama, para hukama (ahli hikmah), para nabi, dan para wali. Maka derajat peningkatan padanya tidak terbatas, sebab ilmu-ilmu Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak bertepi dan tiada berkesudahan.
وأقصى الرتب رتبة النبي الذي تنكشف له كل الحقائق أو أكثرها من غير اكتساب وتكلف بكشف إلهي في أسرع وقت وبهذه السعادة يقرب العبد العبد من الله تعالى قرباً بالمعنى والحقيقة والصفة لا بالمكان والمسافة ومراقي هذه الدرجات هي منازل السائرين إلى الله تعالى ولا حصر لتلك المنازل وإنما يعرف كل سالك منزله الذي بلغه في سلوكه فيعرفه ويعرف ما خلفه من المنزل
Tingkatan tertinggi adalah kedudukan Nabi, yang mana tersingkap baginya seluruh hakikat atau sebagian besarnya tanpa usaha (iktisab) dan tanpa membebani diri, yaitu melalui penyingkapan ilahi (kasyf ilahi) dalam waktu yang amat singkat. Melalui kebahagiaan inilah seorang hamba mendekat kepada Allah Ta'ala secara makna, hakikat, dan sifat; bukan secara tempat maupun jarak fisik. Tangga-tangga derajat ini merupakan tempat-tempat singgah (manazil) bagi para pejalan menuju Allah (as-salikun ila Allah). Manazil tersebut tidak terbatas jumlahnya, dan setiap salik hanya mengetahui manzil yang telah ia capai dalam penyulukan (suluk)-nya, sehingga ia mengenalnya dan mengenal manzil yang telah ia tinggalkan di belakangnya.
فأما ما بين يديه فلا يحيط بحقيقته علما لكن قد يصدق به إيماناً بالغيب كما أنا نؤمن بالنبوة والنبي ونصدق بوجوده ولكن لا يعرف حقيقة النبوة إلا النبي وكما لا يعرف الجنين حال الطفل ولا الطفل حال المميز وما يفتح له من
Adapun apa yang ada di hadapannya (yang belum ia capai), ia tidak mengapit hakikatnya secara pengetahuan, tetapi ia membenarkannya sebagai bentuk iman kepada hal gaib. Sebagaimana kita beriman kepada kenabian dan Nabi serta membenarkan keberdaannya, namun tidak ada yang mengetahui hakikat kenabian selain Nabi itu sendiri. Sebagaimana janin tidak mengetahui keadaan bayi, dan bayi tidak mengetahui keadaan anak yang sudah mumayyiz beserta apa yang dibukakan baginya berupa…
العلوم الضرورية ولا المميز حال العاقل وما اكتسبه من العلوم النظرية فكذلك لا يعرف العاقل ما افتتح الله على أوليائه وأنبيائه من مزايا لطفه ورحمته ما يفتح الله للناس من رحمة فلا ممسك لها وهذه الرحمة مبذولة بحكم الجود والكرم من الله ﷾ غير مضنون بها على أحد ولكن إنما تظهر في القلوب المتعرضة لنفحات رحمة الله تعالى كما قال ﷺ إن لربكم في أيام دهركم لنفحات ألا فتعرضوا لها حديث يقول الله ﷿ لقد طال شوق الأبرار إلى لقائي الحديث لم أجد له أصلا إلا أن صاحب الفردوس خرجه من حديث أبي الدرداء ولم يذكر له ولده في مسند الفردوس إسنادا
…ilmu-ilmu aksiomatis (dharuriyyah), dan anak mumayyiz tidak mengetahui keadaan orang berakal dewasa serta apa yang ia peroleh dari ilmu-ilmu spekulatif (nazhariyyah). Demikian pula orang yang berakal tidak mengetahui apa yang dibukakan oleh Allah bagi para wali dan nabi-Nya dari keistimewaan kelembutan dan rahmat-Nya: 'Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya' (QS. Fatir: 2). Rahmat ini dicurahkan berdasarkan kemurahan dan kedermawanan dari Allah 'Azza wa Jalla, tanpa dipelitkan kepada siapa pun. Namun, rahmat tersebut hanya nampak pada hati yang menyongsong embusan-embusan (nafahat) rahmat Allah Ta'ala, sebagaimana bersabda Rasulullah ﷺ: 'Sesungguhnya bagi Rabb kalian di hari-hari sepanjang zaman kalian terdapat embusan-embusan rahmat, maka songsonglah ia.' Adapun hadis di mana Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Sungguh telah lama kerinduan orang-orang kebajikan (al-abrar) untuk bertemu dengan-Ku…' -hadis ini tidak aku temukan asal-usulnya, kecuali bahwa penyusun al-Firdaus mengeluarkannya dari hadis Abu ad-Darda', dan putranya tidak menyebutkan sanad baginya dalam Musnad al-Firdaus.
وبقوله تعالى من تقرب إلي شبراً تقربت إليه ذراعا حديث لولا أن الشياطين يحومون على قلوب بني آدم الحديث أخرجه أحمد من حديث أبي هريرة بنحوه وقد تقدم في الصيام
Dan sebagaimana firman-Nya Ta'ala (dalam hadis qudsi): 'Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal, niscaya Aku mendekat kepadanya sehasta.' Adapun hadis: 'Seandainya setan-setan tidak mengelilingi hati anak cucu Adam…' -hadis ini dikeluarkan oleh Ahmad dari hadis Abu Hurairah dengan redaksi serupa, dan telah disebutkan sebelumnya pada pembahasan Puasa.
ومن هذه الجملة يتبين أن خاصية الإنسان العلم والحكمة
Dari keseluruhan penjelasan ini, menjadi jelas bahwa keistimewaan (khashiyyah) manusia yang paling utama adalah ilmu dan hikmah.
وأشرف أنواع العلم هو العلم بالله وصفاته وأفعاله فبه كمال الإنسان وفي كماله سعادته وصلاحه لجوار حضرة الجلال والكمال
Dan jenis ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah, sifat-sifat-Nya, serta perbuatan-perbuatan-Nya. Dengan ilmu itulah terwujud kesempurnaan manusia, dan dalam kesempurnaannya terletak kebahagiaan serta kelayakannya untuk berdampingan di hadirat Keagungan dan Kesempurnaan-Nya (Hadratul Jalal wal Kamal).
فالبدن مركب للنفس والنفس محل للعلم والعلم هو مقصود الإنسان وخاصيته التي لأجله خلق
Maka badan adalah tunggangan bagi jiwa (nafs), jiwa adalah tempat bagi ilmu, dan ilmu adalah tujuan manusia serta keistimewaan yang menjadi alasan ia diciptakan.
وكما أن الفرس يشارك الحمار في قوة الحمل ويختص عنه بخاصية الكر والفر وحسن الهيئة فيكون الفرس مخلوقاً لأجل تلك الخاصية فإن تعطلت منه نزل إلى حضيض رتبة الحمار
Dan sebagaimana kuda berserikat dengan keledai dalam kekuatan menanggung beban, namun kuda memiliki keistimewaan khusus berupa keahlian menyerang dan bertahan (dalam peperangan) serta keindahan bentuk tubuh, maka kuda diciptakan demi keistimewaan tersebut; jika keistimewaan itu hilang padanya, ia akan merosot ke tingkatan keledai yang rendah.
وكذلك الإنسان يشارك الحمار والفرس في أمور ويفارقها في أمور هي خاصيته وتلك الخاصية من صفات الملائكة المقربين من رب العالمين
Demikian pula manusia, ia berserikat dengan keledai dan kuda dalam beberapa perkara, namun berbeda dengan keduanya dalam hal-hal yang menjadi keistimewaannya. Keistimewaan tersebut termasuk di antara sifat-sifat para malaikat muqarrabin yang dekat dengan Tuhan semesta alam.
والإنسان على رتبة بين البهائم والملائكة فإن الإنسان من حيث يتغذى وينسل فنبات ومن حيث يحس ويتحرك بالاختيار فحيوان ومن حيث صورته وقامته فكالصورة المنقوشة على الحائط وإنما خاصيته معرفة حقائق الأشياء
Manusia berada pada tingkatan di antara hewan dan malaikat. Ditinjau dari segi tumbuh dan berkembang biak, manusia adalah tumbuh-tumbuhan; ditinjau dari segi memiliki indra dan bergerak secara sukarela, manusia adalah hewan; ditinjau dari rupa dan postur tubuhnya, ia bagaikan lukisan yang terukir di dinding; sedangkan keistimewaannya yang hakiki tidak lain adalah makrifat (pengetahuan) akan hakikat segala sesuatu.
من استعمل جميع أعضائه وقواه على وجه الاستعانة بها على العلم والعمل فقد تشبه بالملائكة فحقيق بأن يلحق بهم وجدير بأن يسمى ملكاً وربانياً كما أخبر الله تعالى عن صواحبات يوسف ﵇ بقوله ما هذا بشراً إن هذا إلا ملك كريم
Barang siapa mempergunakan seluruh anggota tubuh dan potensinya dengan menjadikannya sarana untuk menuntut ilmu dan beramal, maka ia telah menyerupai para malaikat, sehingga ia patut dihubungkan dengan mereka dan layak dinamai sebagai malaikat serta manusia Rabbani. Sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Ta'ala mengenai teman-teman wanita Yusuf 'alaihissalam melalui firman-Nya: "Ini bukanlah manusia. Ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia."
ومن صرف همته إلى اتباع اللذات البدنية يأكل كما تأكل الأنعام فقد انحط إلى حضيض أفق البهائم فيصير إما غمراً كثور وإما شرهاً كخنزير
Dan barang siapa memalingkan cita-citanya untuk mengikut hawa nafsu dan kelezatan jasmani, makan sebagaimana makan hewan ternak, maka sungguh ia telah merosot ke jurang derajat binatang. Ia akan menjadi sosok yang dungu seperti lembu, atau tamak seperti babi,
وإما ضربا ككلب أو سنور أو حقوداً كجمل
atau pendendam dan penyerang seperti anjing atau kucing, atau pemendam kedengkian seperti unta,
أو متكبراً كنمر أو ذا روغان كثعلب أو يجمع ذلك كله كشيطان مريد
atau sombong seperti harimau, atau licik seperti musang, atau bahkan menghimpun seluruh sifat buruk tersebut hingga menjadi seperti setan yang membangkang.
وما من عضو من الأعضاء ولا حاسة من الحواس إلا ويمكن الاستعانة به على طريق الوصول إلى الله تعالى كما سيأتي بيان طرف منه في كتاب الشكر فمن استعمله فيه فقد فاز ومن عدل عنه فقد خسر وخاب
Tidak ada satu pun anggota tubuh dan indra melainkan dapat dijadikan sarana penunjang dalam menempuh jalan menuju Allah Ta'ala, sebagaimana sebagian penjelasannya akan hadir dalam Kitab Syukur. Maka barang siapa menggunakannya pada jalan tersebut, sungguh ia telah beruntung; dan barang siapa berpaling darinya, sungguh ia telah rugi dan celaka.
وجملة السعادة في ذلك أن يجعل لقاء الله تعالى مقصده والدار الآخرة مستقره والدنيا منزله والبدن مركبه والأعضاء
Dan puncak kebahagiaan dalam hal ini adalah dengan menjadikan perjumpaan dengan Allah Ta'ala sebagai tujuannya, negeri akhirat sebagai tempat tingginya, dunia sebagai tempat singgahnya, tubuh sebagai tunggangannya, serta anggota-anggota tubuh
خدمه
sebagai pelayannya.
فيستقر هو أعني المدرك من الإنسان في القلب الذي هو وسط مملكته كالملك ويجري القوة الخيالية المودعة في مقدم الدماغ مجرى صاحب بريده إذ تجتمع أخبار المحسوسات عنده ويجري القوة الحافظة التي مسكنها مؤخر الدماغ مجرى خازنه ويجري اللسان مجرى ترجمانه ويجري الأعضاء المتحركة مجرى كتابه ويجري الحواس الخمس مجرى جواسيسه فيوكل كل واحد منها بأخبار صقع من الأصقاع فيوكل العين بعالم الألوان والسمع بعالم الأصوات والشم بعالم الروائح
Maka ia—yakni daya persepsi (al-mudrik) dalam diri manusia—bersemayam di dalam hati yang merupakan pusat kerajaannya bagaikan seorang raja. Ia memperlakukan daya imajinasi (al-quwwah al-khayaliyyah) yang ditempatkan di bagian depan otak seperti kurirnya, karena berita-berita dari panca indra berkumpul padanya; memperlakukan daya penyimpan (al-quwwah al-hafizhah) yang berpusat di bagian belakang otak seperti bendaharanya; memperlakukan lidah seperti penerjemahnya; memperlakukan anggota tubuh yang bergerak seperti para juru tulisnya; serta memperlakukan kelima panca indra seperti para mata-matanya. Ia menugaskan masing-masing indra untuk membawa berita dari kawasan tertentu: menugaskan mata untuk alam warna-warni, pendengaran untuk alam suara, dan penciuman untuk alam aroma,
وكذلك سائرها فإنها أصحاب أخبار يلتقطونها من هذه العوالم ويؤدونها إلى القوة الخيالية التي هي كصاحب البريد ويسلمها صاحب البريد إلى الخازن وهي الحافظة ويعرضها الخازن على الملك فيقتبس الملك منها ما يحتاج إليه في تدبير مملكته وإتمام سفره الذي هو بصدده وقمع عدوه الذي هو مبتلي به ودفع قواطع الطريق عليه فإذا فعل ذلك كان موفقاً سعيداً شاكراً نعمة الله وإذا عطل هذه الجملة أو استعملها لكن في مراعاة أعدائه وهي الشهوة والغضب وسائر الحظوظ العاجلة أو في عمارة طريقه دون منزله إذ الدنيا طريقه التي عليها عبوره ووطنه ومستقره الآخرة كان مخذولاً شقياً كافراً بنعمة الله تعالى مضيعاً لجنود الله تعالى ناصراً لأعداء الله مخذلاً لحزب الله فيستحق المقت والإبعاد في المنقلب والمعاد نعوذ بالله من ذلك
demikian pula indra-indra lainnya. Sebab semuanya adalah pembawa berita yang mengumpulkan maklumat dari alam-alam ini lalu menyampaikannya kepada daya imajinasi yang berposisi seperti kurir. Kurir tersebut kemudian menyerahkannya kepada bendahara, yaitu daya penyimpan (al-hafizhah), dan sang bendahara menyajikannya kepada raja. Dari situlah sang raja mengambil apa yang diperlukannya dalam mengelola kerajaannya, menyempurnakan perjalanan yang sedang ditempuhnya, menumpas musuh yang menimpanya, serta menghalau para penyamun di tengah jalan. Apabila sang raja melakukan hal tersebut, maka ia akan mendapat taufik, bahagia, dan bersyukur atas nikmat Allah. Namun jika ia menelantarkan semua ini atau menggunakannya untuk menuruti musuh-musuhnya—yaitu syahwat, amarah, dan seluruh kesenangan duniawi yang fana—atau menggunakannya untuk memakmurkan jalan yang dilaluinya ketimbang tempat tinggalnya yang sejati—sebab dunia hanyalah perlintasan yang harus diseberangi sedangkan tanah air dan tempat tinggalnya adalah akhirat—maka ia menjadi orang yang terlantar, celaka, mengkufuri nikmat Allah Ta'ala, menyia-nyiakan prajurit-prajurit Allah Ta'ala, menolong musuh-musuh Allah, dan membiarkan kelompok Allah terpuruk. Sehingga ia berhak mendapat kemurkaan dan pengusiran pada tempat kembali kelak. Kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.
وإلى المثال الذي ضربناه أشار كعب الأحبار حيث قال دخلت على عائشة ﵂ فقلت الإنسان عيناه هاد وأذناه قمع ولسانه ترجمان ويداه جناحان ورجلاه بريد والقلب منه ملك // حديث عائشة الإنسان عيناه هاد وأذناه قمع ولسانه ترجمان الحديث أخرجه أو نعيم في الطب النبوي والطبراني في مسند الشاميين والبيهقي في الشعب من حديث أبي هريرة ونحوه وله ولأحمد من حديث أبي ذر وأما الأذن فقمع وأما العين فمقرة لما يوعي القلب ولا يصح منها شيء
Kepada perumpamaan yang telah kami buat inilah Ka'b al-Ahbar mengisyaratkan tatkala ia berkata, "Aku menemui 'Aisyah radhiyallahu 'anha lalu berkata: 'Manusia itu, kedua matanya adalah penunjuk jalan, kedua telinganya adalah corong (penampung berita), lidahnya adalah penerjemah, kedua tangannya adalah dua sayap, kedua kakinya adalah kurir, dan hatinya adalah sang raja.'" // Hadis 'Aisyah: "Manusia itu, kedua matanya adalah penunjuk jalan dan kedua telinganya adalah corong…" Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Thibb al-Nabawi, al-Thabrani dalam Musnad al-Syammiyyin, dan al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman dari hadis Abu Hurairah dan yang seumpamanya; serta diriwayatkan pula olehnya dan Ahmad dari hadis Abu Dzarr: "Adapun telinga adalah corong, dan adapun mata adalah penatap apa yang ditampung oleh hati," namun tidak ada satu pun dari riwayat ini yang sahih.
فإذا طاب الملك طابت جنوده فقالت هكذا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول
Ka'b melanjutkan: "Maka apabila sang raja baik, tentara-tentaranya pun ikut baik." Maka 'Aisyah berkata: "Demikianlah aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda."
وقال علي ﵁ في تمثيل القلوب إن لله تعالى في أرضه آنية وهي القلوب فأحبها إليه تعالى أرقها وأصفاها وأصلبها ثم فسره فقال أصلبها في الدين وأصفاها في اليقين وأرقها على الإخوان وهو إشارة إلى قوله تعالى أشداء على الكفار رحماء بينهم وقوله تعالى مثل نوره كمشكاة فيها مصباح قال أبي بن كعب ﵁ معناه مثل نور المؤمن وقلبه وقوله تعالى أو كظلمات في بحر لجى مثل قلب المنافق
Dan 'Ali radhiyallahu 'anhu berkata dalam membuat perumpamaan bagi hati: "Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki bejana-bejana di bumi-Nya, yaitu hati. Maka hati yang paling dicintai-Nya Ta'ala adalah yang paling lembut, paling jernih, dan paling kokoh." Kemudian beliau menafsirkannya seraya berkata: "Yaitu yang paling kokoh dalam agamanya, paling jernih dalam keyakinannya, dan paling lembut terhadap sesama saudaranya." Ini merupakan isyarat kepada firman Allah Ta'ala: "Keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka," dan firman-Nya Ta'ala: "Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita." Ubay bin Ka'b radhiyallahu 'anhu berkata: "Maknanya adalah perumpamaan cahaya seorang mukmin dan hatinya." Sedangkan firman-Nya Ta'ala: "Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam," adalah perumpamaan bagi hati orang munafik.
وقال زيد بن أسلم في قوله تعالى في لوح محفوظ وهو قلب المؤمن
Zaid bin Aslam berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "(Tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh," bahwa yang dimaksud adalah hati seorang mukmin.
وقال سهل مثل القلب والصدر مثل العرش والكرسي فهذه أمثلة القلب
Sahl berkata: "Perumpamaan hati dan dada adalah seperti Arsy dan Kursi." Inilah perumpamaan-perumpamaan mengenai hati.
بيان مجامع أوصاف القلب وأمثلته
Penjelasan tentang Perpaduan Sifat-Sifat Hati dan Perumpamaannya.
اعلم أن الإنسان قد اصطحب في خلقته وتركيبه أربع شوائب فلذلك اجتمع عليه أربعة أنواع من الأوصاف وهي الصفات السبعية والبهيمية والشيطانية والربانية
Ketahuilah bahwasanya manusia dalam penciptaan dan struktur tubuhnya telah disertai oleh empat unsur campuran. Oleh karena itu, terkumpul padanya empat jenis sifat, yaitu: sifat-sifat buas (sabu'iyyah), sifat-sifat kehewanan (bahimiyyah), sifat-sifat setan (syaithaniyyah), dan sifat-sifat ketuhanan (rabbaniyyah).
فهو من حيث سلط عليه الغضب يتعاطى أفعال السباع من العداوة والبغضاء والتهجم على الناس بالضرب والشتم
Maka dari segi dikuasainya ia oleh amarah (ghadhab), ia melakukan perbuatan binatang buas seperti permusuhan, kebencian, serta menyerang manusia dengan pukulan dan caci maki.
ومن حيث سلطت عليه الشهوة يتعاطى أفعال البهائم من الشره والحرص والشبق وغيره
Dan dari segi dikuasainya ia oleh syahwat, ia melakukan perbuatan binatang ternak seperti ketamakan, kerakusan, hawa nafsu birahi, dan sejenisnya.
ومن حيث أنه في نفسه أمر رباني كما قال الله تعالى قل الروح من أمر ربي فإنه يدعى لنفسه الربوبية ويحب الاستيلاء والاستعلاء والتخصص والاستبداد بالأمور كلها والتفرد بالرياسة والانسلال عن ربقة العبودية والتواضع ويشتهي الاطلاع على العلوم كلها بل يدعي لنفسه العلم والمعرفة والإحاطة بحقائق الأمور ويفرح إذا نسب إلى العلم ويحزن إذا نسب إلى الجهل والإحاطة بجميع الحقائق والاستيلاء بالقهر على جميع الخلائق من أوصاف الربوبية وفي الإنسان حرص على ذلك
Dan dari segi bahwa di dalam dirinya terdapat urusan ketuhanan (amr rabbani)—sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Katakanlah: 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku'"—maka ia mengklaim ketuhanan (rububiyyah) bagi dirinya sendiri. Ia menyukai penguasaan, keunggulan, kekhususan, kesewenang-wenangan dalam segala hal, keutamaan dalam kepemimpinan, melepaskan diri dari ikatan penghambaan ('ubudiyyah) dan kerendahan hati (tawadhu'). Ia juga berhasrat untuk menyingkap seluruh ilmu, bahkan mengklaim bagi dirinya pengetahuan, makrifat, dan penguasaan atas hakikat segala perkara. Ia merasa gembira jika dinisbatkan kepada ilmu dan merasa sedih jika dinisbatkan kepada kebodohan. Menguasai seluruh hakikat dan menundukkan seluruh makhluk dengan paksaan adalah bagian dari sifat-sifat rububiyyah (ketuhanan), dan pada diri manusia terdapat kerakusan terhadap hal tersebut.
ومن حيث يختص من البهائم بالتمييز مع مشاركته لها في الغضب والشهوة حصلت فيه شيطانية فصار شريراً يستعمل التمييز في
Dan dari segi bahwa ia dibedakan dari hewan ternak dengan adanya daya pembeda (tamyiz/akal), di samping keikutsertaannya bersama hewan dalam hal amarah dan syahwat, maka muncullah sifat kesetanan (syaithaniyyah) padanya. Sehingga ia menjadi sosok yang jahat, yang menggunakan daya pembedanya untuk…
استنباط وجوه الشر ويتوصل إلى الأغراض بالمكر والحيلة والخداع ويظهر الشر في معرض الخير وهذه أخلاق الشياطين
…mengeksplorasi berbagai bentuk kejahatan dan mencapai tujuan-tujuannya melalui tipu daya, kelicikan, serta kecurangan, serta menampilkan kejahatan dalam wujud kebaikan. Dan inilah akhlak para setan.
وكل إنسان فيه شوب من هذه الأصول الأربعة أعني الربانية والشيطانية والسبعية والبهيمية وكل ذلك مجموع في القلب
Setiap manusia memiliki campuran dari empat unsur pokok ini, yaitu unsur rabbaniyyah (ketuhanan), syaithaniyyah (kesetanan), sabu'iyyah (kebuasan), dan bahimiyyah (kehewanan); dan semua itu terhimpun di dalam hati.
فكأن المجموع في إهاب الإنسان خنزير وكلب وشيطان وحكيم
Seolah-olah yang terhimpun di dalam raga manusia itu adalah seekor babi, seekor anjing, seorang setan, dan seorang yang bijaksana (hakiim).
فالخنزير هو الشهوة فإنه لم يكن الخنزير مذموماً للونه وشكله وصورته بل لجشعه وكلبه وحرصه
Babi itu adalah perumpamaan syahwat, sebab babi dicela bukanlah karena warna, bentuk, atau rupa fisiknya, melainkan karena ketamakan, kerakusan, dan keseramakahannya.
والكلب هو الغضب فإن السبع الضاري والكلب العقور ليس كلباً وسبعاً باعتبار الصورة واللون والشكل بل روح معنى السبعية الضراوة والعدوان والعقر وفي باطن الإنسان ضراوة السبع وغضبه وحرص الخنزير وشبقه
Anjing itu adalah perumpamaan amarah (ghadhab). Sesungguhnya binatang buas yang ganas dan anjing gila bukannya menjadi anjing atau binatang buas ditinjau dari rupa, warna, dan bentuknya, melainkan hakikat makna kebuasan itu adalah keganasan, permusuhan, dan gigitan yang melukai. Di dalam batin manusia terdapat keganasan dan amarah binatang buas, serta keserakahan dan hawa nafsu babi.
فالخنزير يدعو بالشره إلى الفحشاء والمنكر والسبع بالغضب إلى الظلم والإيذاء
Maka babi itu, dengan ketamakannya, mengajak kepada perbuatan keji dan mungkar; sedangkan binatang buas itu, dengan amarahnya, mengajak kepada kezaliman dan penganiayaan.
والشيطان لا يزال يهيج شهوة الخنزير وغيظ السبع ويغري أحدهما بالآخر ويحسن لهما ما هما مجبولان عليه
Adapun setan senantiasa membakar syahwat babi dan kemarahan binatang buas, memprovokasi salah satunya melawan yang lain, serta memperindah bagi keduanya apa yang memang menjadi tabiat bawaan mereka.
والحكيم الذي هو مثال العقل مأمور بأن يدفع كيد الشيطان ومكره بأن يكشف عن تلبيسه ببصيرته النافذة ونوره المشرق الواضح وأن يكسر شره هذا الخنزير بتسليط الكلب عليه إذ بالغضب يكسر سورة الشهوة ويدفع ضراوة الكلب بتسليط الخنزير عليه ويجعل الكلب مقهوراً تحت سياسته فإن فعل ذلك وقدر عليه اعتدل الأمر وظهر العدل في مملكة البدن وجرى الكل على الصراط المستقيم وإن عجز عن قهرها وقهروه واستخدموه فلا يزال في استنباط الحيل وتدقيق الفكر ليشبع الخنزير ويرضى الكلب فيكون دائماً في عبادة كلب وخنزير
Dan sang bijaksana (hakiim) yang merupakan perumpamaan bagi akal diperintahkan untuk menolak tipu daya dan kelicikan setan dengan menyingkap kepalsuannya melalui mata hati (bashirah) yang tajam serta cahayanya yang terang benderang; menundukkan ketamakan babi ini dengan menguasakan anjing kepadanya, sebab dengan amarah (ghadhab) gejolak syahwat dapat dipatahkan; dan menolak keganasan anjing dengan menguasakan babi kepadanya, serta menjadikan anjing tersebut tunduk di bawah kendalinya. Jika ia mampu melakukan itu dan sanggup mengendalikannya, niscaya keadaan menjadi seimbang, keadilan tampak di dalam kerajaan tubuh, dan semuanya berjalan di atas jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim). Namun jika ia lemah dan gagal menundukkan ketiganya, lalu ketiganya justru menundukkan dan memanfaatkannya, maka ia akan senantiasa sibuk mencari berbagai kelicikan dan memeras pikiran demi memuaskan babi dan menyenangkan anjing, sehingga ia selamanya berada dalam penghambaan kepada anjing dan babi.
وهذا حال أكثر الناس مهما كان أكثر همتهم البطن والفرج ومنافسة الأعداء والعجب منه أنه ينكر على عبدة الأصنام عبادتهم للحجارة ولو كشف الغطاء عنه وكوشف بحقيقة حاله ومثل له حقيقة حاله كما يمثل للمكاشفين إما في النوم أو في اليقظة لرأى نفسه ماثلاً بين يدي خنزير ساجداً له مرة وراكعاً أخرى ومنتظراً لإشارته وأمره
Demikianlah keadaan mayoritas manusia apabila perhatian utama mereka hanyalah perut, kemaluan, dan memusuhi lawan-lawan mereka. Dan yang mengherankan darinya, ia mengingkari para penyembah berhala atas penyembahan mereka kepada batu, padahal seandainya singkapan penutup (ghitha') dibuka darinya dan disingkapkan baginya hakikat keadaannya—sebagaimana diperlihatkan kepada orang-orang yang memperoleh mukasyafah, baik dalam tidur maupun terjaga—niscaya ia akan melihat dirinya berdiri di hadapan seekor babi, sujud kepadanya di satu waktu dan ruku' di waktu yang lain, seraya menanti isyarat dan perintahnya.
فمهما هاج الخنزير لطلب شيء من شهواته انبعث على الفور في خدمته وإحضار شهوته أو رأى نفسه ماثلا بين يدي كلب عقور عابداً له مطيعاً سامعاً لما يقتضيه ويلتمسه مدققاً بالفكر في حيل الوصول إلى طاعته وهو بذلك ساع في مسرة شيطانه فإنه الذي يهيج الخنزير ويثير الكلب ويبعثهما على استخدامه فهو من هذا الوجه يعبد الشيطان بعبادتهما فليراقب كل عبد حركاته وسكناته وسكوته ونطقه وقيامه وقعوده ولينظر بعين البصيرة فلا يرى إن أنصف نفسه إلا ساعياً طول النهار في عبادة هؤلاء وهذا غاية الظلم إذ جعل المالك مملوكاً والرب مربوباً والسيد عبداً والقاهر مقهروا إذ العقل هو المستحق للسيادة والقهر والاستيلاء وقد سخره لخدمة هؤلاء الثلاثة فلا جرم ينتشر إلى قلبه من طاعة هؤلاء الثلاثة صفات تتراكم عليه حتى يصير طابعاً وريناً مهلكاً للقلب ومميتاً له أما طاعة خنزير الشهوة فتصدر منها صفة الوقاحة والخبث والتبذير والتقتير والرياء والهتكة والمجانة والعبث والحرص والجشع والملق والحسد والحقد والشماتة وغيرها
Maka kapan pun babi itu bergejolak menuntut sesuatu dari syahwatnya, ia akan serta-merta bangkit melayaninya dan memenuhi syahwat tersebut. Atau ia melihat dirinya berdiri di hadapan seekor anjing gila, menyembahnya, menaatinya, serta mendengarkan apa yang dituntut dan dimintanya, seraya memeras pikiran dalam mencari cara untuk menaatinya; padahal dengan demikian ia sedang berusaha menyenangkan setannya, karena dialah yang membakar syahwat babi dan memicu amarah anjing serta memperdaya keduanya untuk memanfaatkannya. Maka dari sudut pandang ini, ia telah menyembah setan dengan cara menyembah kedua binatang tersebut. Maka hendaklah setiap hamba mengawasi (muraqabah) setiap gerak-gerik, diam, bicaranya, serta berdiri dan duduknya; dan hendaklah ia memandang dengan mata hati (bashirah). Jika ia jujur terhadap dirinya sendiri, niscaya ia tidak akan melihat dirinya melainkan tengah berusaha sepanjang hari dalam menyembah mereka ini. Dan ini merupakan puncak kezaliman, sebab ia telah menjadikan pemilik sebagai yang dimiliki, pemelihara sebagai yang dipelihara, tuan sebagai hamba, dan penguasa sebagai yang dikuasai. Padahal akallah yang berhak atas kepemimpinan, kekuasaan, dan penguasaan, tetapi ia justru menundukkannya untuk melayani ketiga hal tersebut. Maka tak pelak lagi, dari ketaatan kepada ketiga hal ini terpancar ke dalam hatinya sifat-sifat yang menumpuk hingga menjadi stempel penutup dan karat (rain) yang membinasakan serta mematikan hati. Adapun ketaatan kepada babi syahwat, darinya memancar sifat lancang, keji, pemborosan (tabdzir), kikir, riya', penyingkapan aib, kejahilan, kesia-siaan, keserakahan, ketamakan, penjilatan, dengki (hasad), dendam, kegembiraan atas penderitaan orang lain (syamatah), dan sejenisnya.
وأما طاعة كلب الغضب فتنتشر منها إلى القلب صفة التهور والبذالة والبذخ والصلف والاستشاطة والتكبر والعجب والاستهزاء والاستخفاف وتحقير الخلق وإرادة الشر وشهوة الظلم وغيرها
Adapun ketaatan kepada anjing amarah, darinya menyebar ke dalam hati sifat nekat (tahawwur), kesewenang-wenangan, kemewahan yang berlebihan, kesombongan, amukan murka, takabur, ujub, olok-olok, meremehkan dan menghina makhluk, menginginkan kejahatan, syahwat kezaliman, serta sejenisnya.
وأما طاعة الشيطان بطاعة الشهوة والغضب فيحصل منها صفة المكر والخداع والحيلة والدهاء والجراءة والتلبيس والتضريب والغش والخب والخنا وأمثالها
Adapun ketaatan kepada setan melalui ketaatan kepada syahwat dan amarah, darinya timbul sifat tipu daya (makr), kecurangan, kelicikan, kelicikan yang mendalam, kelancangan, manipulasi (talbis), adu domba, penipuan, pengkhianatan, keji dalam berucap, dan seumpamanya.
ولو عكس الأمر وقهر الجميع تحت سياسة الصفة الربانية لاستقر في القلب من الصفات الربانية العلم والحكمة واليقين والإحاطة بحقائق الأشياء ومعرفة الأمور على ما هي عليه والاستيلاء على الكل بقوة العلم والبصيرة واستحقاق التقدم على الخلق لكمال العلم وجلاله ولاستغنى عن عبادة الشهوة والغضب ولانتشر إليه
Seandainya perkara ini dibalik dan seluruhnya ditundukkan di bawah kendali sifat rabbaniyyah (ketuhanan), niscaya akan bersemayam di dalam hati sifat-sifat rabbaniyyah berupa ilmu, hikmah, keyakinan (yaqin), penguasaan atas hakikat segala sesuatu, pengenalan perkara-perkara sebagaimana adanya, serta penguasaan atas segalanya dengan kekuatan ilmu dan mata hati (bashirah), serta kelayakan untuk mendahului makhluk karena kesempurnaan dan keagungan ilmu. Ia pun akan merasa cukup tanpa perlu menyembah syahwat dan amarah, serta akan memancar darinya…
من ضبط خنزير الشهوة ورده إلى حد الاعتدال صفات شريفة مثل العفة والقناعة والهدو والزهد والورع والتقوى والانبساط وحسن الهيئة والحياء والظرف والمساعدة وأمثالها ويحصل فيه من ضبط قوة الغضب وقهرها وردها إلى حد الواجب صفة الشجاعة والكرم والنجدة وضبط النفس والصبر والحلم والاحتمال والعفو والثبات والنبل والشهامة والوقار وغيرها
…dari hasil mengendalikan babi syahwat dan mengembalikannya ke batas kelayakan (keseimbangan), sifat-sifat yang mulia seperti menjaga kesucian diri ('iffah), qana'ah, ketenangan, zuhud, wara', takwa, kelapangan dada, penampilan yang baik, rasa malu, keramahan, kepedulian menolong, dan sejenisnya. Serta terwujud pula di dalam hati dari hasil mengendalikan kekuatan amarah, menundukkannya, dan mengembalikannya ke batas kewajiban, sifat keberanian (syaja'ah), kedermawaan, kewibawaan menolong, penguasaan diri, kesabaran, kelembutan hati (hilm), ketahanan menanggung beban, pemaafan, keteguhan, kemuliaan jiwa, keberanian yang luhur, ketenangan yang anggun (waqar), dan sejenisnya.
فالقلب في حكم مرآة قد اكتنفته هذه الأمور المؤثرة فيه وهذه الآثار على التواصل واصلة إلى القلب
Maka hati itu kedudukannya bagaikan cermin yang dikelilingi oleh perkara-perkara yang memengaruhinya ini, dan pengaruh-pengaruh ini terus-menerus sampai ke dalam hati.
أما الآثار المحمودة التي ذكرناها فإنها تزيد مرآة القلب جلاء وإشراقاً ونوراً وضياءً حتى يتلألأ فيه جلية الحق وينكشف فيه حقيقة الأمر المطلوب في الدين وإلى مثل هذا القلب الإشارة بقوله ﷺ إذا أراد الله بعبد خيراً جعل له واعظاً من قلبه حديث من كان له من قلبه واعظ كان عليه من الله حافظ لم أجد له أصلا
Adapun bekas-bekas yang terpuji yang telah kami sebutkan, ia akan menambah cermin hati semakin bening, bersinar, bercahaya, dan terang benderang, sehingga kebenaran yang nyata berkilauan di dalamnya dan tersingkaplah padanya hakikat perkara yang dituntut dalam agama. Kepada hati yang seperti inilah isyarat dari sabda Nabi ﷺ, "Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia menjadikan baginya penasihat dari dalam hatinya." (Adapun hadis: "Barang siapa memiliki penasihat dari hatinya, niscaya ia memiliki penjaga dari Allah", saya tidak menemukan asal-usul riwayatnya).
وهذا القلب هو الذي يستقر فيه الذكر قال الله تعالى ألا بذكر الله تطمئن القلوب
Hati inilah yang menjadi tempat bersemayamnya zikir. Allah Ta'ala berfirman: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28).
وأما الآثار المذمومة فإنها مثل دخان مظلم يتصاعد إلى مرآة القلب ولا يزال يتراكم عليه مرة بعد أخرى إلى أن يسود ويظلم ويصير بالكلية محجوباً عن الله تعالى وهو الطبع وهو الرين قال الله تَعَالَى كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كانوا يكسبون وقال ﷿ أن لو نشاء أصبناهم بذنبوهم ونطبع على قلوبهم فهم لا يسمعون فربط عدم السماع بالطبع بالذنوب كما ربط السماع بالتقوى فقال تعالى واتقوا الله واسمعوا واتقوا الله ويعلمكم الله
Adapun bekas-bekas yang tercela, ia bagaikan asap gelap yang membumbung tinggi menuju cermin hati dan terus-menerus menumpuk darinya kali demi kali hingga hati menjadi hitam, gelap, dan sepenuhnya terhalang (mahjub) dari Allah Ta'ala. Itulah at-thab'u (penguncian mati) dan ar-rain (karat noda). Allah Ta'ala berfirman: "Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14). Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: "Apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai bumi sesudah (lenyapnya) penghuni-penghuninya, bahwa jikalau Kami menghendaki niscaya Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami mengunci hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar?" (QS. Al-A'raf: 100). Maka Allah mengaitkan ketidakmampuan mendengar dengan penguncian hati akibat dosa-dosa, sebagaimana Dia mengaitkan kemampuan mendengar dengan ketakwaan, di mana Allah Ta'ala berfirman: "Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah" (QS. Al-Ma'idah: 108), serta: "Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah mengajarimu." (QS. Al-Baqarah: 282).
ومهما تراكمت الذنوب طبع على القلوب وعند ذلك يعمى القلب عن إدراك الحق وصلاح الدين ويستهين بأمر الآخرة ويستعظم أمر الدنيا ويصير مقصور الهم عليها
Manakala dosa-dosa terus menumpuk, dikuncilah hati tersebut. Pada saat itulah hati menjadi buta dari menangkap kebenaran dan kemaslahatan agama, meremehkan urusan akhirat, mengagungkan urusan dunia, dan seluruh cita-citanya menjadi terbatas hanya padanya.
فإذا قرع سمعه أمر الآخرة وما فيها من الأخطار دخل من أذن وخرج من أذن ولم يستقر في القلب ولم يحركه إلى التوبة والتدارك أولئك يئسوا من الآخرة كما يئس الكفار من أصحاب القبور وهذا هو معنى اسوداد القلب بالذنوب كما نطق به القرآن والسنة
Maka apabila pendengarannya mengetuk urusan akhirat beserta bahaya-bahaya di dalamnya, ia masuk dari telinga yang satu dan keluar dari telinga yang lain, tidak menetap di dalam hati serta tidak menggerakkannya menuju tobat dan perbaikan. Mereka itulah orang-orang yang putus asa dari akhirat sebagaimana orang-orang kafir putus asa terhadap penghuni kubur. Inilah makna menghitamnya hati akibat dosa-dosa sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah.
قال ميمون بن مهران إذا أذنب العبد ذنباً نكت في قلبه نكته سوداء فإذا هو نزع وتاب صقل وإن عاد زيد فيها حتى يعلو قلبه فهو الران وقد قال النبي ﷺ قلب المؤمن أجرد فيه سراج يزهر وقلب الكافر أسود منكوس حديث القلوب أربعة قلب أجرد فيه سراج يزهر الحديث أخرجه أحمد والطبراني في الصغير من حديث أبي سعيد الخدري وقد تقدم
Maimun bin Mihran berkata, "Apabila seorang hamba berbuat satu dosa, ditorehkanlah satu titik hitam pada hatinya. Jika ia mencabut diri dari dosa dan bertobat, hatinya kembali bening mengkilat. Namun jika ia mengulangi, ditambahkanlah titik tersebut hingga memenuhi hatinya; itulah ar-ran (karat hati)." Dan Nabi ﷺ telah bersabda, "Hati orang mukmin itu bersih, di dalamnya terdapat pelita yang bersinar terang, sedangkan hati orang kafir itu hitam dan terbalik." (Hadis: "Hati itu ada empat: hati yang bersih di dalamnya terdapat pelita yang bersinar…", hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Thabarani dalam Al-Mu'jam As-Shaghir dari hadis Abu Sa'id Al-Khudri, dan telah disebutkan terdahulu).
فمثل الإيمان فيه كمثل البقلة يمدها الماء الطيب
Maka perumpamaan iman di dalamnya adalah seperti tumbuhan hijau yang disiram oleh air yang baik.
ومثل النفاق فيه كمثل القرحة يمدها القيح والصديد فأي المادتين غلبت عليه حكم له بها وفي رواية ذهبت به
Dan perumpamaan nifak (kemunafikan) di dalamnya adalah seperti luka/bisul yang disiram oleh nanah dan cairan busuk. Mana saja dari kedua substansi tersebut yang mengalahkan hati, maka hati itu dihukumi dengannya — dan dalam satu riwayat: membawa (membinasakan) dirinya.
قال الله تَعَالَى إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ من الشيطان تذكروا فإذا هم مبصرون فأخبر أن جلاء القلب وإبصاره يحصل بالذكر وأنه لا يتمكن منه إلا الذين اتقوا
Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwalah apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat dari setan, mereka pun teringat kepada Allah, maka seketika itu juga mereka melihat (menyadari kesalahannya)." (QS. Al-A'raf: 201). Maka Dia mengabarkan bahwa beningnya hati dan cemerlangnya mata hati terjadi melalui zikir, dan bahwa hal itu tidak akan dapat dicapai kecuali oleh orang-orang yang bertakwalah.
فالتقوى باب الذكر والذكر باب الكشف والكشف باب الفوز الأكبر وهو الفوز بلقاء الله تعالى
Maka takwa adalah pintu menuju zikir, zikir adalah pintu menuju kasyaf (penyingkapan rahasia ghaib), dan kasyaf adalah pintu menuju kemenangan terbesar, yaitu kemenangan berupa perjumpaan dengan Allah Ta'ala.
بيان مثل القلب بالإضافة إلى العلوم خاصة
Penjelasan Mengenai Perumpamaan Hati Secara Khusus Apabila Dikaitkan dengan Ilmu Pengetahuan
اعلم أن محل العلم هو القلب أعني اللطيفة المدبرة لجميع الجوارح وهي المطاعة المخدومة من جميع الأعضاء وهي بالإضافة إلى حقائق المعلومات كالمرآة بالإضافة إلى صور المتلونات فكما أن للمتلون صورة ومثال تلك الصورة ينطبع في المرآة ويحصل بها كذلك لكل معلوم حقيقة ولتلك الحقيقة صورة تنطبع في مرآة القلب وتتضح فيها وكما أن المرآة غير وصور الأشخاص غير وحصول مثالها في المرآة غير فهي ثلاثة أمور
Ketahuilah bahwa tempat ilmu adalah hati, yaitu zat yang halus (al-lathifah) yang mengendalikan seluruh anggota tubuh, yang ditaati dan dilayani oleh seluruh anggota badan. Hati, jika dikaitkan dengan hakikat-hakikat objek yang diketahui (al-ma'lumat), bagaikan cermin yang dikaitkan dengan rupa benda-benda berwarna. Sebagaimana benda berwarna memiliki rupa dan bayangan rupa itu terukir pada cermin serta terwujud dengannya, demikian pula setiap objek yang diketahui memiliki hakikat, dan hakikat itu memiliki bentuk yang terukir dalam cermin hati serta tampak jelas di dalamnya. Sebagaimana cermin itu merupakan satu hal, rupa sosok benda merupakan hal yang lain, dan terwujudnya bayangan rupa benda pada cermin merupakan hal yang lain lagi — sehingga ketiganya adalah tiga perkara yang berbeda.
فكذلك ههنا ثلاثة أمور القلب وحقائق الأشياء وحصول نفس الحقائق في القلب وحضورها فيه
Demikian pula di sini ada tiga perkara: hati, hakikat-hakikat segala sesuatu, dan terwujudnya serta hadirnya hakikat-hakikat itu sendiri di dalam hati.
فالعالم عبارة عن القلب الذي فيه يحل مثال حقائق الأشياء والمعلوم عبارة عن حقائق الأشياء
Maka 'alim (subjek yang mengetahui) adalah ungkapan bagi hati yang di dalamnya bertempat bayangan hakikat-hakikat segala sesuatu, sedangkan ma'lum (objek yang diketahui) adalah ungkapan bagi hakikat-hakikat segala sesuatu itu sendiri.
والعلم عبارة عن حصول المثال في المرآة
Sedangkan 'ilm (ilmu/pengetahuan) adalah ungkapan bagi terwujudnya bayangan bentuk tersebut di dalam cermin (hati).
وكما أن القبض مثلاً يستدعي قابضاً كاليد ومقبوضاً كالسيف ووصولاً بين السيف واليد بحصول السيف في اليد ويسمى قبضاً فكذلك وصول مثال المعلوم إلى القلب يسمى علماً وقد كانت الحقيقة موجودة والقلب موجودا ولم يكن العلم حاصلاً لأن العلم عبارة عن وصول الحقيقة إلى القلب كما أن السيف موجود واليد موجودة ولم يكن اسم القبض والأخذ حاصلاً لعدم وقوع السيف في اليد نعم القبض عبارة عن حصول السيف بعينه في اليد والمعلوم بعينه لا يحصل في القلب فمن علم النار لم تحصل عين النار في قلبه ولكن الحاصل حدها وحقيقتها المطابقة لصورتها فتمثيله بالمرآة أولى لأن عين الإنسان لا تحصل في المرآة وإنما يحصل مثال مطابق له
Sebagaimana genggaman (al-qabdh), misalnya, menuntut adanya pemegang seperti tangan, benda yang dipegang seperti pedang, dan pertalian antara pedang dengan tangan melalui masuknya pedang ke dalam tangan sehingga dinamakan genggaman, maka demikian pula sampainya bayangan ma'lum (hal yang diketahui) ke dalam hati dinamakan ilmu. Padahal tadinya hakikat itu telah ada dan hati pun telah ada, namun ilmu belum terwujud, karena ilmu merupakan ungkapan bagi sampainya hakikat ke dalam hati; sebagaimana pedang itu ada dan tangan itu ada, tetapi sebutan genggaman dan pengambilan belum terwujud karena belum beradanya pedang di tangan. Benar bahwa genggaman adalah ungkapan bagi terwujudnya fisik pedang itu sendiri di tangan, sedangkan zat ma'lum itu sendiri tidak terwujud di dalam hati. Barang siapa mengetahui tentang api, zat api itu sendiri tidak berada di dalam hatinya, melainkan yang terwujud adalah batasan dan hakikatnya yang sesuai dengan gambarannya. Oleh karena itu, mengumpamakannya dengan cermin adalah lebih tepat, sebab sosok manusia itu sendiri tidak masuk ke dalam cermin, melainkan yang terwujud hanyalah bayangan yang sesuai dengannya.
وكذلك حصول مثال مطابق لحقيقة المعلوم في القلب يسمى علماً
Demikian pula terwujudnya bayangan yang sesuai dengan hakikat objek yang diketahui di dalam hati dinamakan ilmu.
وكما أن المرآة لا تنكشف فيها الصورة لخمسة أمور
Sebagaimana cermin tidak dapat menyingkapkan bayangan rupa karena lima perkara:
أحدها نقصان صورتها كجوهر الحديد قبل أن يدور ويشكل ويصقل
Salah satunya adalah cacat atau kurangnya bentuk cermin tersebut, seperti bahan dasar besi sebelum ditempa, dibentuk, dan dipoles.
والثاني لخنثه وصدئه وكدورته وإن كان تام الشكل
Sebab kedua adalah karena cacatnya, karatnya, dan kekeruhannya, meskipun bentuk fisiknya telah sempurna.
والثالث لكونه معدولاً به عن جهة الصورة إلى غيرها كما إذا كانت الصورة وراء المرآة
Sebab ketiga adalah karena cermin tersebut dipalingkan dari arah objek gambar ke arah lain, sebagaimana apabila objek tersebut berada di belakang cermin.
والرابع لحجاب مرسل بين المرآة والصورة
Sebab keempat adalah karena adanya penghalang (hijab) yang terbentang antara cermin dan objek gambar.
والخامس للجهل بالجهة التي فيها الصورة المطلوبة حتى يتعذر بسببه أن يحاذى بها شطر الصورة وجهتها
Sebab kelima adalah karena ketidaktahuan tentang arah keberadaan objek gambar yang dicari, sehingga karenanya menjadi sulit untuk dihadapkan cermin tersebut tepat ke arah dan posisi objek gambar.
فكذلك القلب مرآة مستعدة لأن ينجلى فيها حقيقة الحق في الأمور كلها وإنما خلت القلوب عن العلوم التي خلت عنها لهذه الأسباب الخمسة
Demikian pula hati, ia bagaikan cermin yang memiliki kesiapan untuk menyingkapkan hakikat kebenaran dalam segala perkara. Sungguh, hampanya hati dari ilmu-ilmu pengetahuan yang tidak dimilikinya hanyalah disebabkan oleh lima faktor ini.
أولها نقصان في ذاته كقلب الصبي فإنه لا ينجلى له المعلومات لنقصانه
Pertama, adanya kekurangan pada zat hati itu sendiri, seperti hati seorang anak kecil, di mana hal-hal yang dapat diketahui tidak dapat tersingkap baginya karena kekurangan (keterbatasan) jiwanya.
والثاني لكدورة المعاصي والخبث الذي يتراكم على وجه القلب من كثرة الشهوات فإن ذلك يمنع صفاء القلب وجلاءه فيمتنع ظهور الحق فيه لظلمته وتراكمه
Kedua, karena kekeruhan kemaksiatan dan kotoran yang menumpuk di permukaan hati akibat banyaknya memperturutkan syahwat. Sungguh, hal itu menghalangi kesucian dan kejernihan hati, sehingga terhalanglah penampakan kebenaran padanya disebabkan oleh kegelapan dan penumpukan kotoran tersebut.
وإليه الإشارة بقوله ﷺ من قارف ذنباً فارقه عقل لا يعود إليه أبدا ﴿حديث﴾ من عمل بما علم ورثه الله علم ما لم يعلم رواه أبو نعيم في الحلية من حديث أنس وقد تقدم في العلم
Hal itu diisyaratkan oleh sabda Rasulullah ﷺ: "Barang siapa melakukan suatu dosa, maka akalnya meloloskan diri darinya dan tidak akan pernah kembali kepadanya selamanya." Dan hadis: "Barang siapa mengamalkan apa yang ia ketahui, niscaya Allah mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui." Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah dari hadis Anas, dan telah disebutkan sebelumnya pada Bab Ilmu.
الثالث أن يكون معدولاً به عن جهة الحقيقة المطلوبة فإن قلب المطيع الصالح وإن كان صافياً فإنه ليس يتضح فيه جلية الحق لأنه ليس يطلب الحق وليس محاذياً بمرآته شطر المطلوب
Ketiga, hati tersebut dipalingkan dari arah hakikat yang dicari. Sebab hati orang yang taat dan saleh, sekalipun jernih, kebenaran yang nyata belum tentu tampak jelas padanya karena ia sedang tidak mencari kebenaran tersebut dan tidak menghadapkan cermin hatinya ke arah objek yang dicari.
بل ربما يكون متسوعب الهم بتفصيل الطاعات البدنية أو بتهيئة أسباب المعيشة ولا يصرف فكره إلى التأمل في حضرة الربوبية والحقائق الخفية الإلهية فلا ينكشف له إلا ما هو متفكر فيه من دقائق آفات الأعمال وخفايا عيوب النفس إن كان متفكراً فيها أو مصالح المعيشة إن كان متفكرا فيها
Bahkan, boleh jadi seluruh perhatiannya tercurahkan pada rincian ketaatan fisik (badaniyah) atau menyiapkan sarana penghidupan (mata pencaharian), dan ia tidak memalingkan pikirannya untuk merenungkan Hadirat Ketuhanan (hadhrah ar-rububiyyah) serta hakikat-hakikat rahasia Ilahi. Maka tidak akan tersingkap baginya kecuali apa yang sedang ia pikirkan, baik berupa kehalusan bahaya-bahaya amal dan kecacatan jiwa yang tersembunyi—jika ia memikirkannya—atau kemaslahatan penghidupan—jika ia memikirkannya.
وإذا كان تقييد الهم بالأعمال وتفصيل الطاعات مانعاً عن انكشاف جليه الحق فما ظنك فيمن صرف الهم إلى الشهوات الدنيوية ولذاتها وعلائقها فكيف لا يمنع عن الكشف الحقيقي
Jika terikatnya perhatian pada amalan-amalan dan rincian ketaatan saja dapat menghalangi tersingkapnya kebenaran yang nyata, maka bagaimana sangkaanmu terhadap orang yang memalingkan perhatiannya pada syahwat duniawi, kelezatan, dan keterikatannya? Bagaimana mungkin hal itu tidak menghalanginya dari penyingkapan hakiki (kasyaf)?
الرابع الحجاب فإن المطيع القاهر لشهواته المتجرد الفكر في حقيقة من الحقائق قد لا ينكشف له ذلك لكونه محجوباً عنه باعتقاد سبق إليه منذ الصبا على سبيل التقليد والقبول بحسن الظن فإن ذلك يحول بينه وبين حقيقة الحق ويمنع من أن ينكشف في قلبه خلاف ما تلقفه من ظاهر التقليد وهذا أيضاً حجاب عظيم به حجب أكثر المتكلمين والمتعصبين للمذاهب بل أكثر الصالحين المتفكرين في ملكوت السموات والأرض لأنهم محجوبون باعتقادات تقليدية جمدت في نفوسهم ورسخت في قلوبهم وصارت حجاباً بينهم وبين درك الحقائق
Keempat, adanya penghalang (hijab). Sungguh, orang yang taat, yang sanggup menundukkan syahwatnya, serta memfokuskan pikirannya pada suatu hakikat, terkadang hal itu tetap belum tersingkap baginya karena ia terhalang oleh akidah yang dianutnya sejak kecil secara taqlid dan diterima begitu saja karena prasangka baik. Hal itu menjadi penghalang antara dirinya dengan hakikat kebenaran, serta mencegah tersingkapnya di dalam hatinya apa yang bertentangan dengan apa yang ditangkapnya secara lahiriah taqlid. Ini juga merupakan hijab yang sangat besar, yang dengannya sebagian besar ahli kalam (mutakallimin) dan orang-orang yang fanatik mazhab terhalang, bahkan sebagian besar orang saleh yang merenungkan kerajaan langit dan bumi (malakut as-samawati wal-ardh), karena mereka terhalang oleh akidah-akidah taklid yang membeku dalam jiwa mereka dan mengakar kuat di dalam hati mereka, sehingga menjadi hijab antara mereka dan pencapaian hakikat-hakikat.
الخامس الجهل بالجهة التي يقع منها العثور على المطلوب فإن طالب العلم ليس يمكنه أن يحصل العلم بالمجهول إلا بالتذكر للعلوم التي تناسب مطلوبه حتى إذا تذكرها ورتبها في نفسه ترتيباً مخصوصاً يعرفه العلماء بطرق الاعتبار فعند ذلك يكون قد عثر على جهة المطلوب فتنجلى حقيقة المطلوب لقلبه فإن العلوم المطلوبة التي ليست فطرية لا تقتنص إلا بشبكة العلوم الحاصلة بل كل علم لا يحصل إلا عن علمين سابقين يأتلفا ويزدوجان على وجه مخصوص فيحصل من ازدواجهما علم ثالث على مثال ما يحصل النتاج من ازدواج الفحل والأنثى
Kelima, ketidaktahuan tentang metode (arah) yang melaluinya hal yang dicari dapat ditemukan. Seorang penuntut ilmu tidak mungkin memperoleh pengetahuan tentang hal yang tidak diketahui (matlub) kecuali dengan mengingat kembali ilmu-ilmu yang sesuai dengan apa yang dicarinya. Ketika ia telah mengingat dan menyusunnya dalam jiwanya dengan susunan khusus yang diketahui oleh para ulama melalui metode penalaran (turuq al-i'tibar), pada saat itulah ia telah menemukan arah objek yang dicari, sehingga tersingkaplah hakikat yang dicari itu bagi hatinya. Sebab ilmu-ilmu yang dicari yang bersifat tidak fitri (kasbi) tidak dapat ditangkap melainkan dengan jaring ilmu-ilmu yang telah dimiliki; bahkan setiap ilmu tidak akan diperoleh kecuali dari dua ilmu terdahulu yang berpadu dan berpasangan dengan cara tertentu, sehingga dari perkawinan keduanya lahirlah ilmu ketiga, sebagaimana lahirnya keturunan dari perkawinan jantan dan betina.
ثم كما أن من أراد أن يستنتج رمكة لم يمكنه ذلك من حمار وبعير وإنسان بل من أصل مخصوص من الخيل الذكر والأنثى وذلك إذا وقع بينهما ازدواج مخصوص
Kemudian, sebagaimana orang yang ingin memperoleh keturunan kuda betina tidak mungkin mendapatkannya dari keledai, unta, atau manusia, melainkan dari asal (induk) khusus yaitu kuda jantan dan betina apabila terjadi perkawinan tertentu di antara keduanya;
فكذلك كل علم فله أصلان مخصوصان وبينهما طريق في الازدواج يحصل من ازدواجهما العلم المستفاد المطلوب فالجهل بتلك الأصول وبكيفية الازدواج هو المانع من العلم
demikian pula setiap ilmu memiliki dua landasan khusus dan memiliki cara perpaduan tertentu di antara keduanya, yang dari perpaduan itu diperoleh ilmu bermanfaat yang dicari. Maka, ketidaktahuan akan landasan-landasan tersebut serta cara perpaduannya adalah penghalang untuk memperoleh ilmu.
ومثاله ما ذكرناه من الجهل بالجهة التي الصورة فيها بل مثاله أن يريد الإنسان أن يرى قفاه مثلاً بالمرآة فإنه إذا رفع المرآة بإزاء وجهه لم يكن قد حاذى بها شطر القفا فلا يظهر فيها القفا وإن رفعها وراء القفا وحاذاه كان قد عدل بالمرآة عن عينه فلا يرى المرآة ولا صورة القفا فيها فيحتاج إلى مرآة أخرى ينصبها وراء القفا وهذه في مقابلتها بحيث يبصرها ويراعى مناسبة بين وضع المرآتين حتى تنطبع صورة القفا في المرآة المحاذية للقفا ثم تنطبع صورة هذه المرآة في المرآة الأخرى التي في مقابلة العين ثم تدرك العين صورة القفا فكذلك في اقتناص العلوم طرق عجيبة فيها ازورارات وتحريفات أعجب ما ذكرناه في المرآة يعز على بسيط الأرض من يهتدي إلى كيفية الحيلة في تلك الازورارات
Perumpamaannya adalah seperti apa yang telah kami sebutkan mengenai ketidaktahuan tentang arah keberadaan gambar. Bahkan contoh lainnya: jika seseorang hendak melihat bagian belakang lehernya (tengkuknya) dengan cermin, apabila ia mengangkat cermin itu di hadapan wajahnya, berarti ia belum menghadapkannya ke arah tengkuknya, sehingga tengkuk itu tidak nampak di cermin. Jika ia mengangkatnya di belakang tengkuk dan menghadapkannya ke sana, berarti ia telah memalingkan cermin dari matanya, sehingga ia tidak dapat melihat cermin maupun bayangan tengkuk di dalamnya. Maka ia memerlukan cermin kedua yang dipasang di belakang tengkuk dan cermin ini berada di hadapan cermin lainnya sekira ia dapat melihatnya, serta memperhatikan keselarasan posisi antara kedua cermin tersebut, hingga bayangan tengkuk terpantul pada cermin yang menghadap tengkuk, kemudian bayangan cermin ini terpantul pada cermin lain yang berada di depan mata, lalu mata dapat menangkap bayangan tengkuk tersebut. Demikian pula dalam menangkap ilmu-ilmu terdapat metode-metode menakjubkan yang di dalamnya terdapat kebelokan dan pemalingan yang lebih menakjubkan daripada yang kami sebutkan pada cermin; sangat langka di muka bumi ini orang yang mendapat petunjuk kepada cara rahasia (siasat) dalam mengatasi kebelokan-kebelokan tersebut.
فهذه هي الأسباب المانعة للقلوب من معرفة حقائق الأمور
Maka inilah sebab-sebab yang menghalangi hati dari mengenali hakikat-hakikat segala perkara.
وإلا فكل قلب فهو بالفطرة صالح لمعرفة الحقائق لأنه أمر رباني شريف فارق سائر جواهر العالم بهذه الخاصية والشرف
Jika tidak demikian, maka setiap hati secara fitrah pada dasarnya mampu untuk mengenali hakikat-hakikat, karena hati merupakan urusan ketuhanan (amr rabbani) yang mulia, yang berbeda dari seluruh substansi alam ini dengan keistimewaan dan kemuliaan ini.
وإليه الإشارة بقوله ﷿ إنا عرضنا الأمانة على السموات والأرض والجبال فأبين أن يحملنها وأشفقن منها وحملها الإنسان إشارة إلى أن له خاصية تميز بها عن السموات والأرض والجبال بها صار مطيقاً لحمل أمانة الله تعالى
Hal itu diisyaratkan oleh firman Allah Azza wa Jalla: "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikulnya dan merasa takut kepadanya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia." Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki keistimewaan yang membedakannya dari langit, bumi, dan gunung-gunung, yang karenanya ia sanggup memikul amanat Allah Ta'ala.
وتلك الأمانة هي المعرفة والتوحيد وقلب كل آدمي مستعد لحمل الأمانة ومطيق لها في الأصل ولكن يثبطه عن النهوض بأعبائها والوصول إلى تحقيقها الأسباب التي ذكرناها
Amanat tersebut adalah ma'rifatullah dan tauhid. Hati setiap manusia memiliki kesiapan untuk memikul amanat itu serta sanggup secara asal (fitrahnya), tetapi faktor-faktor yang telah kami sebutkan itulah yang menghambatnya dari menanggung bebannya dan mencapai perwujudannya.
ولذلك قال ﷺ كل مولود يولد على الفطرة وإنما أبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه // حديث كل مولود يولد على الفطرة الحديث متفق عليه من حديث أبي هريرة
Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda, "Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." // Hadis "Setiap anak dilahirkan di atas fitrah…", muttafaq 'alaih dari hadis Abu Hurairah.
وقول رسول الله
Dan sabda Rasulullah
صلى الله عليه وسلم لولا أن الشياطين يحومون على قلوب بني آدم لنظروا إلى ملكوت السماء حديث ابن عمر أين الله قال في قلوب عباده المؤمنين لم أجده بهذا اللفظ وللطبراني من حديث أبي عتبة الخولاني يرفعه إلى النبي ﷺ قال إن لله آنية من أهل الأرض وآنية ربكم قلوب عباده الصالحين الحديث فيه بقية بن الوليد وهو مدلس لكنه صرح فيه بالتحديث حديث قال الله ما وسعني أرضي ولا سمائي ووسعني قلب عبدي المؤمن اللين الوادع لم أر له أصلا وفي حديث أبي عتبة قبله عند الطبراني بعد قوله وآنية ربكم قلوب عباده الصالحين وأحبها إليه ألينها وأرقها
shallallahu 'alaihi wa sallam: "Sekiranya setan-setan tidak mengelilingi (mengintai) hati anak cucu Adam, niscaya mereka akan melihat ke malakut (alam gaib) langit." (Hadis Ibnu Umar: "Di manakah Allah? Beliau menjawab: Di dalam hati hamba-hamba-Nya yang beriman", saya tidak meletakkannya dengan lafaz ini. Bagi At-Thabrani dari hadis Abu 'Utbah Al-Khulani secara marfu' kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah memiliki bejana-bejana dari kalangan penduduk bumi, dan bejana Tuhanmu adalah hati hamba-hamba-Nya yang saleh…" Dalam hadis ini terdapat Baqiyyah bin Al-Walid dan dia seorang mudallis, tetapi ia secara tegas menyatakan mendengar [at-tahdits]. Hadis: "Allah berfirman: Bumi-Ku dan langit-Ku tidak memuat-Ku, namun hati hamba-Ku yang beriman, yang lembut lagi tenang memuat-Ku", saya tidak menemukan asal usulnya. Dalam hadis Abu 'Utbah sebelumnya di sisi At-Thabrani setelah sabdanya: "dan bejana Tuhanmu adalah hati hamba-hamba-Nya yang saleh", [terdapat tambahan:] "dan yang paling dicintai-Nya adalah yang paling lembut dan paling halus").
وفي الخبر أنه قيل يا رسول الله من خير الناس فقال كل مؤمن مخموم القلب فقيل وما مخموم القلب فقال هو التقي النقي الذي لا غش فيه ولا بغي ولا غدر ولا غل ولا حسد
Dan dalam riwayat disebutkan bahwa pernah ditanyakan, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?" Beliau menjawab, "Setiap mukmin yang makhmumul qalb (bersih hatinya)." Ditanyakan lagi, "Apakah yang dimaksud dengan makhmumul qalb?" Beliau bersabda, "Yaitu orang yang bertakwa dan bersih, yang tidak ada kecurangan, kedengkian, pengkhianatan, dendam, dan iri hati di dalamnya."
ولذلك قال عمر ﵁ رأى قلبي ربي
Oleh karena itu, Umar r.a. berkata, "Hatiku telah melihat Tuhanku,"
إذ كان قد رفع الحجاب بالتقوى ومن ارتفع الحجاب بينه وبين الله تجلى صورة الملك والملكوت في قلبه فيرى جنة عرض بعضها السموات والأرض أما جملتها فأكثر سعة من السموات والأرض لأن السموات والأرض عبارة عن عالم الملك والشهادة وهو وإن كان واسع الأطراف متباعد الأكناف فهو متناه على الجملة وأما عالم الملكوت وهي الأسرار الغائبة عن مشاهدة الأبصار المخصوصة بإدراك البصائر فلا نهاية له نعم الذي يلوح للقلب منه مقدار متناه ولكنه في نفسه وبالإضافة إلى علم الله لا نهاية له
Karena hijab (penutup) telah terangkat dengan ketakwaan. Dan barangsiapa yang hijab antara dirinya dan Allah telah terangkat, maka terpancarlah (tajalli) gambaran alam Mulk (alam nyata) dan Malakut (alam gaib) di dalam hatinya. Maka ia melihat surga yang seluas langit dan bumi, bahkan secara keseluruhan jauh lebih luas dari langit dan bumi. Sebab, langit dan bumi merupakan ungkapan bagi alam Mulk dan Syahadah (alam nyata). Meskipun alam nyata ini sangat luas penjurunya dan jauh batas-batasnya, namun secara keseluruhan ia terbatas. Adapun alam Malakut—yaitu rahasia-rahasia yang gaib dari penglihatan mata kasat dan hanya khusus ditangkap oleh pandangan mata hati (bashirah)—tidak ada batasnya. Benar bahwa apa yang tampak bagi hati darinya adalah kadar yang terbatas, tetapi secara hakikat dan dikaitkan dengan ilmu Allah, ia tidak bertepi.
وجملة عالم الملك والملكوت إذا أخذت دفعة واحدة تسمى الحضرة الربوبية لأن الحضرة الربوبية محيطة بكل الموجودات إذ ليس في الوجود شيء سوى الله تعالى وأفعاله ومملكته وعبيده من أفعاله فما يتجلى من ذلك للقلب هي الجنة بعينها عند قوم وهو سبب استحقاق الجنة عند أهل الحق ويكون سعة ملكه في الجنة بحسب سعة معرفته وبمقدار ما تجلى له من الله وصفاته وأفعاله
Dan keseluruhan alam Mulk dan Malakut jika diambil sekaligus, dinamakan Al-Hadhrah Ar-Rabbaniyyah (Kehadiran Ketuhanan). Sebab, Al-Hadhrah Ar-Rabbaniyyah meliputi segala yang ada (al-maujudat), karena tidak ada dalam wujud ini sesuatu pun selain Allah Ta'ala, perbuatan-perbuatan-Nya, kerajaan-Nya, dan para hamba-Nya yang termasuk dalam perbuatan-Nya. Maka apa yang tajalli (tersingkap) darinya ke dalam hati itulah surga yang sebenarnya menurut sebagian kaum, dan itu merupakan sebab kelayakan mendapat surga menurut Ahlul Haq (para pengikut kebenaran). Dan keleluasaan kerajaannya di surga adalah sesuai dengan keluasan ma'rifat-nya (pengetahuannya tentang Allah) serta sejauh mana tajalli yang tampak baginya tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.
وإنما مراد الطاعات وأعمال الجوارح كلها تصفية القلب وتزكيته وجلاؤه ﴿قد أفلح من زكاها﴾ ومراد تزكيته حصول أنوار الإيمان فيه أعني إشراق نور المعرفة وهو المراد بقوله تعالى فمن يرد الله أن يهديه يشرح صدره للإسلام أفمن شرح الله صدره للإسلام فهو على نور من ربه
Sesungguhnya tujuan seluruh ketaatan dan amal perbuatan anggota badan adalah untuk menyucikan hati (tashfiyatul qalb), membersihkannya (tazkiyah), dan menggilapkannya: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu" (QS. Asy-Syams: 9). Dan yang dimaksud dengan penyuciannya adalah tergapainya cahaya-cahaya iman di dalamnya, yaitu terpancarnya cahaya ma'rifat. Hal itulah yang dimaksud oleh firman Allah Ta'ala: "Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk memberi petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam" (QS. Al-An'am: 125) dan "Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?" (QS. Az-Zumar: 22).
نعم هذا التجلي وهذا الإيمان له ثلاث مراتب
Benar, tajalli ini dan keimanan ini memiliki tiga tingkatan:
المرتبة الأولى إيمان العوام وهو إيمان التقليد المحض
Tingkatan pertama: Imannya orang awam (imanul 'awam), yaitu iman yang berupa taklid murni (taqlid mahdh).
والثانية إيمان المتكلمين وهو ممزوج بنوع استدلال ودرجته قريبة من درجة إيمان العوام
Tingkatan kedua: Imannya para ahli kalam (imanul mutakallimin), yaitu iman yang bercampur dengan semacam penalaran dalil (istidlal), dan derajatnya dekat dengan derajat imannya orang awam.
والثالثة إيمان العارفين وهو المشاهد بنور اليقين
Tingkatan ketiga: Imannya para 'arifin (orang-orang yang makrifat), yaitu iman yang disaksikan dengan cahaya keyakinan (nurul yaqin).
ونبين لك هذه المراتب بمثال وهو أن تصديقك بكون زيد مثلاً في الدار له ثلاث درجات
Dan kami akan jelaskan tingkatan-tingkatan ini kepadamu dengan sebuah perumpamaan, yaitu bahwa pembenaranmu (tashdiq) akan keberadaan Zaid misalnya di dalam rumah memiliki tiga derajat:
الأولى أن يخبرك من جربته بالصدق ولم تعرفه بالكذب ولا اتهمته في القول فإن قلبك يسكن إليه ويطمئن بخبره بمجرد السماع وهذا الإيمان بمجرد التقليد وهو مثل إيمان العوام فإنهم لما بلغوا سن التمييز سمعوا من آبائهم وأمهاتهم وجود الله تعالى وعلمه وإرادته وقدرته وسائر صفاته وبعثة الرسل وصدقهم وما جاءوا به وكما سمعوا به قبلوه وثبتوا عليه واطمأنوا إليه ولم يخطر ببالهم خلاف ما قالوه لهم لحسن ظنهم بآبائهم وأمهاتهم ومعلميهم وهذا الإيمان سبب النجاة في الآخرة وأهله من أوائل رتب أصحاب اليمين وليسوا من المقربين لأنه ليس فيه كشف وبصيرة وانشراح صدر بنور اليقين إذ الخطأ ممكن فيما سمع من الآحاد بل من الأعداد فيما يتعلق
Derajat pertama: Seseorang yang telah engkau uji kejujurannya, tidak pernah engkau kenal berdusta, dan tidak engkau curigai perkataannya, memberitahumu (bahwa Zaid ada di rumah). Maka hatimu merasa tenang dan mantap dengan beritanya hanya sekadar mendengar. Keimanan ini lahir dari sekadar taklid, dan ini seperti imannya orang awam. Ketika mereka mencapai usia tamyiz (dapat membedakan), mereka mendengar dari ayah dan ibu mereka tentang keberadaan Allah Ta'ala, ilmu-Nya, kehendak-Nya, kekuasaan-Nya, dan sifat-sifat-Nya yang lain, serta tentang diutusnya para rasul, kejujuran mereka, dan apa yang mereka bawa. Sebagaimana mereka mendengarnya, mereka pun menerimanya, teguh di atasnya, serta merasa tenang dengannya. Tidak terlintas dalam benak mereka hal yang menyelisahi apa yang dikatakan kepada mereka, karena prasangka baik mereka kepada ayah, ibu, dan guru-guru mereka. Keimanan ini merupakan sebab keselamatan di akhirat, dan pemiliknya termasuk dalam tingkatan awal dari golongan kanan (ashhabul yamin), namun mereka bukan bagian dari al-muqarrabun (orang-orang yang didekatkan kepada Allah). Hal itu karena di dalamnya tidak ada kasyf (singkapan spiritual), bashirah (mata hati), dan kelapangan dada oleh cahaya keyakinan, mengingat kesalahan masih mungkin terjadi pada apa yang didengar dari perseorangan, bahkan dari kelompok dalam hal-hal yang berkaitan
بالاعتقادات فقلوب اليهود والنصارى أيضاً مطمئنة بما يسمعونه من آبائهم وأمهاتهم إلا أنهم اعتقدوا ما اعتقدوا خطأ لأنهم ألقي إليهم الخطأ والمسلمون اعتقدوا الحق لا لاطلاعهم عليه ولكن ألقي إليهم كلمة الحق
dengan iktikad/keyakinan. Hati orang-orang Yahudi dan Nasrani pun merasa tenang dengan apa yang mereka dengar dari ayah dan ibu mereka, hanya saja mereka meyakini apa yang mereka yakini secara keliru karena ditanamkan kekeliruan kepada mereka. Sedangkan kaum Muslimin meyakini kebenaran bukan karena mereka telah menyaksikannya secara langsung, melainkan karena kalimat kebenaran telah disampaikan kepada mereka.
الرتبة الثانية أن تسمع كلام زيد وصوته من داخل الدار ولكن من وراء جدار فتستدل به على كونه في الدار فيكون إيمانك وتصديقك ويقينك بكونه في الدار أقوى من تصديقك بمجرد السماع فإنك إذا قيل لك إنه في الدار ثم سمعت صوته ازددت به يقيناً لأن الأصوات تدل على الشكل والصورة عند من يسمع الصوت في حال مشاهدة الصورة فيحكم قلبه بأن هذا صوت ذلك الشخص وهذا إيمان ممزوج بدليل والخطأ أيضاً ممكن أن يتطرق إليه إذ الصوت قد يشبه الصوت وقد يمكن التكلف بطريق المحاكاة إلا أن ذلك قد لا يخطر ببال السامع لأنه ليس يجعل للتهمة موضعاً ولا يقدر في هذا التلبيس والمحاكاة غرضاً
Derajat kedua: Engkau mendengar perkataan dan suara Zaid dari dalam rumah, namun dari balik dinding, lalu engkau menjadikannya dalil atas keberadaannya di dalam rumah. Maka imanmu, pembenaranmu, dan keyakinanmu akan keberadaannya di dalam rumah menjadi lebih kuat daripada pembenaran yang sekadar berdasarkan pendengaran berita. Sebab, jika dikatakan kepadamu bahwa ia ada di dalam rumah kemudian engkau mendengar suaranya, bertambahlah keyakinanmu, karena suara menunjukkan bentuk dan sosok bagi orang yang pernah mendengar suara itu saat menyaksikan sosoknya, sehingga hatinya memutuskan bahwa ini adalah suara orang tersebut. Ini adalah iman yang bercampur dengan dalil (bukti). Kekeliruan pun masih mungkin menyusup ke dalamnya, sebab suatu suara bisa saja mirip dengan suara lain, dan memungkinkan untuk dibuat-buat melalui peniruan. Hanya saja hal itu mungkin tidak terlintas dalam pikiran pendengar karena ia tidak memberi tempat bagi kecurigaan dan tidak mengira adanya maksud pemalsuan serta peniruan ini.
الرتبة الثالثة أن تدخل الدار فتنظر إليه بعينك وتشاهده وهذه هي المعرفة الحقيقية والمشاهدة اليقينية وهي تشبه معرفة المقربين والصديقين لأنهم يؤمنون عن مشاهدة فينطوي في إيمانهم إيمان العوام والمتكلمين ويتميزون بمزية بينة يستحيل معها إمكان الخطأ
Derajat ketiga: Engkau masuk ke dalam rumah lalu melihatnya dengan matamu sendiri dan menyaksikannya. Inilah ma'rifat (pengetahuan) yang hakiki dan musyahadah (penyaksian) yang meyakinkan. Ini menyerupai ma'rifat para muqarrabun (orang-orang yang didekatkan) dan shiddiqin (orang-orang yang jujur imannya), karena mereka beriman berdasarkan penyaksian (musyahadah). Maka terangkumlah di dalam iman mereka imannya orang awam dan ahli kalam, serta mereka memiliki keunggulan yang nyata yang dengannya mustahil terjadi kekeliruan.
نعم وهم أيضاً يتفاوتون بمقادير العلوم وبدرجات الكشف
Benar, mereka juga bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar ilmu dan derajat kasyf (singkapan gaib) masing-masing.
أما درجات الكشف فمثاله أن يبصر زيداً في الدار عن قرب وفي صحن الدار في وقت إشراق الشمس فيكمل له إدراكه والآخر يدركه في بيت أو من بعد أو في وقت عشية فيتمثل له في صورته ما يستيقن معه أنه هو ولكن لا يتمثل في نفسه الدقائق والخفايا من صورته
Adapun derajat kasyf, perumpamaannya adalah seseorang melihat Zaid di dalam rumah dari jarak dekat dan di pelataran rumah pada saat matahari bersinar terang, sehingga pencerapan (idrak)-nya sempurna. Sementara orang lain melihatnya di dalam kamar, atau dari kejauhan, atau pada waktu petang, maka tergambar padanya sosok Zaid yang membuat dirinya yakin bahwa itu memang dia, namun rincian dan kehalusan dari rupa Zaid tidak tergambar secara sempurna dalam dirinya.
ومثل هذا متصور في تفاوت المشاهدة للأمور الإلهية
Hal seperti ini dapat digambarkan dalam tingkatan perbedaan musyahadah (penyaksian) terhadap perkara-perkara ketuhanan (al-umur al-ilahiyyah).
وأما مقادير العلوم فهو بأن يرى في الدار زيداً وعمراً وبكراً غير ذلك وآخر لا يرى إلا زيداً فمعرفة ذلك تزيد بكثرة المعلومات لا محالة
Adapun kadar atau kuantitas pengetahuan, hal itu seperti seseorang yang melihat Zaid, 'Amr, dan Bakr serta selain mereka di dalam rumah, sementara orang lain hanya melihat Zaid. Maka pengetahuan tersebut niscaya bertambah seiring dengan banyaknya objek pengetahuan (ma'lumat).
فهذا حال القلب بالإضافة إلى العلوم والله تعالى أعلم بالصواب
Demikianlah keadaan hati nisbetnya dengan ilmu pengetahuan. Dan Allah Ta'ala lebih mengetahui apa yang benar.
بيان حال القلب بالإضافة إلى أقسام العلوم العقلية والدينية والدنيوية
Penjelasan Keadaan Hati Berdasarkan Pembagian Ilmu-Ilmu Rasional (Aqliyyah), Keagamaan (Diniyyah), Keduniaan (Dunyawiyyah),
والأخروية
dan Keakhiratan (Ukhrawiyyah).
اعلم أن القلب بغريزته مستعد لقبول حقائق المعلومات كما سبق ولكن العلوم التي تحل فيه تنقسم إلى عقلية وإلى شرعية
Ketahuilah bahwa hati secara fitrah dasarnya siap menerima hakikat dari segala objek pengetahuan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Namun, ilmu-ilmu yang bersemayam di dalamnya terbagi menjadi ilmu-ilmu rasional (aqliyyah) dan ilmu-ilmu syariat (syar'iyyah).
والعقلية تنقسم إلى ضرورية ومكتسبة
Ilmu rasional (aqliyyah) terbagi menjadi ilmu aksiomatis (dharuriyyah) dan ilmu perolehan (muktasabah).
والمكتسبة إلى دنيوية وأخروية
Sedangkan ilmu perolehan (muktasabah) terbagi menjadi ilmu keduniaan dan ilmu keakhiratan.
أما العقلية فنعني بها ما تقضي بها غريزة العقل ولا توجد بالتقليد والسماع وهي تنقسم إلى ضرورية لا يدري من أين حصلت وكيف حصلت كعلم الإنسان بأن الشخص الواحد لا يكون في مكانين والشيء الواحد لا يكون حادثاً قديماً موجوداً معدوماً معاً فإن هذه علوم يجد الإنسان نفسه منذ الصبا مفطوراً عليها ولا يدري متى حصل له هذا العلم ولا من أين حصل له أعني أنه لا يدري له سبباً قريباً وإلا فليس يخفى عليه أن الله هو الذي خلقه وهداه
Adapun ilmu rasional (aqliyyah), yang kami maksudkan dengannya adalah apa yang diputuskan oleh potensi dasar akal (gharizatul 'aql) serta tidak didapatkan melalui taklid dan pendengaran semata. Ilmu ini terbagi menjadi aksiomatis (dharuriyyah) yang tidak diketahui dari mana dan bagaimana diperolehnya, seperti pengetahuan manusia bahwa seseorang tidak mungkin berada di dua tempat sekaligus, dan satu hal tidak mungkin berstatus baru (hadits) sekaligus terdahulu (qadim), atau ada (mawjud) sekaligus tiada (ma'dum) secara bersamaan. Sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang didapati manusia dalam dirinya sejak kecil sebagai fitrah bawaan, tanpa mengetahui kapan atau dari mana pengetahuan itu diperoleh—maksudnya, ia tidak mengetahui sebab langsungnya, sebab jika tidak demikian, tentu tidak tersembunyi baginya bahwa Allah-lah yang telah menciptakan dan memberinya petunjuk.
وإلى علوم مكتسبة وهي المستفادة بالتعلم والاستدلال وكلا القسمين قد يسمى عقلاً
Dan terbagi pula kepada ilmu perolehan (muktasabah), yaitu yang diperoleh melalui proses belajar (ta'allum) dan penalaran (istidlal). Kedua bagian ini terkadang sama-sama dinamakan 'akal'.
قال علي ﵁
Ali radhiyallahu 'anhu berkata:
رأيت العقل عقلين … فمطبوع ومسموع
Aku melihat akal itu ada dua macam… akal bawaan (matbu') dan akal yang didengar (masmu').
ولا ينفع مسموع … إذا لم يك مطبوع
Dan tidaklah berguna ilmu yang didengar… jika tidak ada akal bawaan.
كما لا تنفع الشمس … وضوء العين ممنوع
Sebagaimana tidak bergunanya sinar matahari… bilamana cahaya mata terhalangi.
والأول هو المراد بقوله ﷺ لعلي ما خلق الله خلقاً أكرم عليه من العقل
Yang pertama itulah yang dimaksud dalam sabda Nabi ﷺ kepada Ali: "Tidaklah Allah menciptakan suatu makhluk yang lebih mulia di sisi-Nya daripada akal."
والثاني هو المراد بقوله ﷺ لعلي ﵁ إذا تقرب الناس إلى الله تعالى بأنواع البر فتقرب أنت بعقلك
Dan yang kedua adalah yang dimaksud dalam sabda Nabi ﷺ kepada Ali radhiyallahu 'anhu: "Apabila manusia mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan pelbagai jenis kebaikan, maka mendekatlah engkau dengan akalmu."
إذ لا يمكن التقرب بالغريزة الفطرية ولا بالعلوم الضرورية بل بالمكتسبة ولكن مثل على ﵁ هو الذي يقدر على التقرب باستعمال العقل في اقتناص العلوم التي بها ينال القرب من رب العالمين فالقلب جار مجرى العين وغريزة العقل فيه جارية مجرى قوة البصر في العين وقوة الإبصار لطيفة تفقد في العمى وتوجد في البصر وإن كان قد غمض عينيه أو جن عليه الليل والعلم الحاصل منه في القلب جار مجرى قوة إدراك البصر في العين ورؤيته لأعيان الأشياء وتأخر العلوم عن عين العقل في مدة الصبا إلى أوان التمييز أو البلوغ يضاهي تأخر الرؤية عن البصر إلى أوان إشراق الشمس وفيضان نورها على المبصرات والقلم الذي سطر الله به العلوم على صفحات القلوب يجري مجرى قرص الشمس وإنما لم يحصل العلم في قلب الصبي قبل التمييز لأن لوح قلبه لم يتهيأ بعد لقبول نفس العلم والقلم عبارة عن خلق من خلق الله تعالى جعله سبباً لحصول نقش العلوم في قلوب البشر قال الله تعالى ﴿الذي علم بالقلم علم الإنسان ما لم يعلم﴾ وقلم الله تعالى لا يشبه قلم خلقه كما لا يشبه وصفه وصف خلقه فليس قلمه من قصب ولا خشب كما أنه تعالى ليس من جوهر ولا عرض فالموازنة بين البصيرة الباطنة والبصر الظاهر صحيحة من هذه الوجوه إلا أنه لا مناسبة بينهما في الشرف فإن البصيرة الباطنة هي عين النفس التي هي اللطيفة المدركة وهي كالفارس والبدن كالفرس وعمى الفارس أضر على الفارس من عمى الفرس بل لا نسبة لأحد الضررين إلى الآخر
Sebab, tidak mungkin seseorang mendekatkan diri kepada Allah hanya dengan potensi fitrah dasar maupun ilmu aksiomatis (dharuriyyah), melainkan dengan ilmu perolehan (muktasabah). Namun, sosok seperti Ali radhiyallahu 'anhu lah yang mampu mendekatkan diri dengan mengandalkan akalnya untuk menguasai ilmu-ilmu yang menghantarkan pada kedekatan dengan Tuhan semesta alam. Maka hati itu diumpamakan seperti mata, dan potensi akal (gharizatul 'aql) di dalamnya diumpamakan seperti daya penglihatan pada mata. Daya penglihatan adalah suatu potensi yang halus, yang sirna pada kebutaan dan wujud pada mata yang sehat, meskipun matanya dipejamkan atau diliputi kegelapan malam. Sedangkan ilmu yang dihasilkan di dalam hati diumpamakan seperti daya persepsi penglihatan mata dan persepsinya terhadap esensi benda-benda. Keterlambatan lahirnya ilmu-ilmu pada mata-akal selama masa kanak-kanak hingga masa tamyiz (dapat membedakan) atau balig menyerupai keterlambatan penglihatan pada mata hingga terbitnya matahari dan mengalirnya cahayanya ke benda-benda yang dilihat. Dan Pena (al-Qalam) yang dengannya Allah menggoreskan ilmu-ilmu di atas lembaran-lembaran hati berkedudukan seperti piringan matahari. Adapun belum dihasilkannya ilmu di dalam hati anak kecil sebelum masa tamyiz adalah karena luh (papan) hatinya belum siap untuk menerima ilmu itu sendiri. Dan Pena tersebut merupakan kiasan untuk suatu makhluk ciptaan Allah Ta'ala yang dijadikan-Nya sebagai sebab terukirnya ilmu-ilmu di dalam hati manusia. Allah Ta'ala berfirman: "Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq: 4-5). Dan Pena Allah Ta'ala tidak menyerupai pena ciptaan-Nya, sebagaimana sifat-Nya tidak menyerupai sifat ciptaan-Nya. Maka Pena-Nya bukanlah dari bambu atau kayu, sebagaimana Dia Ta'ala maha suci dari substansi (jawhar) maupun aksiden ('aradh). Maka komparasi antara mata batin (bashirah batinah) dan mata lahir (bashar dhahir) adalah benar dari segi-segi ini, hanya saja tidak ada kemiripan di antara keduanya dalam hal kemuliaan. Sebab, mata batin adalah esensi jiwa yang merupakan entitas halus yang menangkap (al-lathifah al-mudrikah), ia seperti penunggang kuda dan badan adalah seperti kudanya. Dan kebutaan si penunggang kuda jauh lebih berbahaya baginya daripada kebutaan si kuda, bahkan tidak ada perbandingan sama sekali antara kedua kemudaratan tersebut.
ولموازنة البصيرة الباطنة للبصر الظاهر سماه الله تعالى باسمه فقال ﴿ما كذب الفؤاد ما رأى﴾ سمى إدراك الفؤاد رؤية وكذلك قوله تعالى وكذلك نرى إبراهيم ملكوت السموات والأرض وما أراد به الرؤية الظاهرة فإن ذلك غير مخصوص بإبراهيم ﵇ حتى يعرض في معرض الامتنان ولذلك سمي ضد إدراكه عمى فقال تعالى ﴿فإنها لا تعمى الأبصار ولكن تعمي القلوب التي في الصدور﴾ وقال تعالى ﴿ومن كان في هذه أعمى فهو في الآخرة أعمى وأضل سبيلاً﴾ فهذا بيان العلم العقلي
Oleh karena adanya penyeimbangan antara mata batin (bashirah batinah) dan mata lahir (bashar dhahir), Allah Ta'ala menamakannya dengan nama mata lahir, sebagaimana firman-Nya: "Hati tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya." (QS. An-Najm: 11). Dia menamai penangkapan hati (idrakul fu'ad) sebagai penglihatan (ru'yah). Demikian pula firman-Nya: "Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (yang agung) di langit dan di bumi…" (QS. Al-An'am: 75), dan yang dimaksud di sini bukanlah penglihatan lahiriah, sebab hal itu tidak khusus bagi Ibrahim 'alaihissalam sehingga disebut dalam bentuk karunia khusus. Oleh sebab itu pula, kebalikan dari penangkapannya dinamai 'kebutaan', sebagaimana firman-Nya Ta'ala: "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." (QS. Al-Hajj: 46), dan firman-Nya Ta'ala: "Dan barangsiapa yang di dunia ini buta, niscaya di akhirat ia akan buta dan lebih tersesat jalannya." (QS. Al-Isra': 72). Maka inilah penjelasan mengenai ilmu rasional ('ilm 'aqli).
أما العلوم الدينية فهي المأخوذة بطريق التقليد من الأنبياء صلوات الله عليهم وسلامه وذلك يحصل بالتعلم لكتاب اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ وفهم معانيهما بعد السماع وبه كمال صفة القلب وسلامته عن الأدواء والأمراض فالعلوم العقلية غير كافية في سلامة القلب وإن كان محتاجاً إليها كما أن العقل غير كاف في استدامة صحة أسباب البدن بل يحتاج إلى معرفة خواص الأدوية والعقاقير بطريق التعلم من الأطباء إذ مجرد العقل لا يهتدي إليه ولكن لا يمكن فهمه بعد سماعه إلا بالعقل فلا غنى بالعقل عن السماع ولا غنى بالسماع عن العقل فالداعي إلى محض التقليد مع عزل العقل بالكلية جاهل والمكتفي بمجرد العقل عن أنوار القرآن والسنة مغرور فإياك أن تكون من أحد الفريقين وكن جامعاً بين الأصلين فإن العلوم العقلية كالأغذية والعلوم الشرعية كالأدوية والشخص المريض يستضر بالغذاء متى فاته الدواء فكذلك أمراض القلوب لا يمكر علاجها إلا بالأدوية المستفادة من الشريعة وهي وظائف العبادات والأعمال التي ركبها الأنبياء صلوات الله عليهم لإصلاح القلوب فمن لا يداوى قلبه المريض بمعالجات العبادة الشرعية واكتفى بالعلوم العقلية استضر بها كما يستضر المريض بالغذاء وظن من يظن أن العلوم العقلية مناقضة للعلوم الشرعية وأن الجمع بينهما غير ممكن هو ظن صادر عن عمى في عين البصيرة نعوذ بالله منه بل هذا القائل ربما يناقض عنده بعض العلوم الشرعية لبعض فيعجز عن الجمع بينهما فيظن أنه تناقض في الدين فيتحير به فينسل من الدين انسلال الشعرة من العجين وإنما ذلك لأن عجزه في نفسه خيل إليه نقضا في الدين وهيهات وإنما مثاله مثال الأعمى الذي دخل دار قوم فتعثر فيها بأواني الدار فقال لهم ما بال هذه الأواني
Adapun ilmu-ilmu keagamaan (diniyyah), yaitu ilmu yang diambil melalui jalan penerimaan (taqlid) dari para nabi—shalawat Allah dan salam-Nya atas mereka. Hal itu diperoleh dengan mempelajari Kitab Allah Ta'ala dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ serta memahami makna keduanya setelah mendengarnya. Dengan ilmu inilah terwujud kesempurnaan sifat hati dan keselamatannya dari segala penyakit dan kebinasaan. Maka ilmu-ilmu rasional saja tidak cukup untuk keselamatan hati, meskipun hati tetap membutuhkannya, sebagaimana akal semata tidak cukup untuk menjaga kelangsungan kesehatan fisik badan, melainkan membutuhkan pengetahuan tentang khasiat obat-obatan dan ramuan melalui proses belajar dari para dokter, sebab akal semata tidak dapat menunjukkannya. Namun, hal itu tidak mungkin dapat dipahami setelah didengar melainkan dengan akal. Maka akal tidak dapat lepas dari pendengaran wahyu (sima'), dan pendengaran wahyu tidak dapat lepas dari akal. Maka orang yang menyeru kepada taklid murni semata seraya mengenyampingkan akal secara total adalah orang yang bodoh (jahil), sedangkan orang yang merasa cukup hanya dengan akal semata tanpa cahaya Al-Qur'an dan Sunnah adalah orang yang tertipu (maghrur). Maka waspadalah jangan sampai engkau menjadi salah satu dari kedua kelompok tersebut, dan jadilah orang yang menghimpun kedua landasan dasar ini. Sebab, ilmu-ilmu rasional itu bagaikan makanan, sedangkan ilmu-ilmu syariat bagaikan obat. Seorang yang sakit akan bahaya terkena makanan apabila ia tidak mendapatkan obat. Demikian pula penyakit-penyakit hati tidak mungkin diobati melainkan dengan obat-obatan yang dipetik dari syariat, yaitu rutinitas ibadah dan amal-amal yang telah diracik oleh para nabi—shalawat Allah atas mereka—untuk membenahi hati. Maka barangsiapa tidak mengobati hatinya yang sakit dengan pengobatan ibadah syar'i dan hanya mencukupkan diri dengan ilmu-ilmu rasional, niscaya ia akan terancam bahaya sebagaimana orang sakit tertimpa bahaya akibat makanan. Dan prasangka sebagian orang bahwa ilmu rasional bertentangan dengan ilmu syariat serta penggabungan keduanya adalah hal yang tidak mungkin, merupakan prasangka yang bersumber dari kebutaan pada mata batin ('ainul bashirah)—kita berlindung kepada Allah darinya. Bahkan, orang yang beranggapan demikian terkadang menganggap sebagian ilmu syariat saling bertentangan satu sama lain, lalu ia lemah dalam memadukannya sehingga ia mengira terjadi kontradiksi dalam agama, yang membuatnya bingung lalu terlepas dari agama sebagaimana terlepasnya sehelai rambut dari adonan tepung. Hal itu tidak lain karena kelemahan dirinya sendiri yang membayangkan adanya kontradiksi dalam agama—sungguh jauh dari kenyataan! Permisalan dirinya hanyalah seperti seorang buta yang memasuki rumah suatu kaum lalu ia tersandung bejana-bejana di rumah itu, kemudian ia berkata kepada mereka: 'Mengapa bejana-bejana ini
تركت على الطريق لم لا ترد إلى مواضعها فقالوا له تلك الأواني في مواضعها وإنما أنت لست تهتدي للطريق لعماك فالعجب منك أنك لا تحيل عثرتك على عماك وإنما تحيلها على تقصير غيرك فهذه نسبة العلوم الدينية إلى العلوم العقلية
dibiarkan di tengah jalan, mengapa tidak dikembalikan ke tempatnya?' Maka mereka menjawab: 'Bejana-bejana itu sudah berada pada tempatnya, hanya saja engkau yang tidak menemukan jalan karena kebutaanmu. Sungguh aneh engkau, tidak menisbahkan tersandungmu itu kepada kebutaanmu sendiri, melainkan menisbahkannya pada kelalaian orang lain.' Maka inilah gambaran nisbet ilmu-ilmu keagamaan terhadap ilmu-ilmu rasional.
والعلوم العقلية تنقسم إلى دنيوية وأخروية
Dan ilmu-ilmu rasional terbagi menjadi ilmu keduniaan (dunyawiyyah) dan ilmu keakhiratan (ukhrawiyyah).
فالدنيوية كعلم الطب والحساب والهندسة والنجوم وسائر الحرف والصناعات
Adapun ilmu-ilmu keduniaan adalah seperti ilmu kedokteran, aritmatika (hisab), geometri, astronomi (nujum), serta seluruh bidang keahlian dan kerajinan.
والأخروية كعلم أحوال القلب وآفات الأعمال والعلم بالله تعالى وبصفاته وأفعاله كما فصلناه في كتاب العلم وهما علمان متنافيان أعني أن من صرف عنايته إلى أحدهما حتى تعمق فيه قصرت بصيرته عن الآخر على الأكثر ولذلك ضرب علي ﵁ للدنيا والآخرة ثلاثة أمثلة فقال هما ككفتي الميزان وكالمشرق والمغرب وكالضرتين إذا أرضيت إحداهما أسخطت الأخرى
Sedangkan ilmu-ilmu keakhiratan adalah seperti ilmu tentang kondisi-kondisi hati (ahwal al-qalb), bahaya-bahaya amal (afat al-a'mal), serta ma'rifatullah (ilmu tentang Allah Ta'ala, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya) sebagaimana telah kami perincikan dalam Kitab al-'Ilm. Kedua ilmu ini saling bertolak belakang; maksudnya, barangsiapa mencurahkan perhatiannya kepada salah satunya hingga mendalaminya, maka pada umumnya bashirah (mata hati)-nya akan kurang mampu menjangkau yang lainnya. Oleh karena itu, Ali radhiyallahu 'anhu membuat tiga perumpamaan untuk dunia dan akhirat, beliau berkata: 'Niscaya keduanya seperti dua daun timbangan, seperti timur dan barat, dan seperti dua orang madu (istri dari suami yang sama); jika engkau meredhai salah satunya, maka engkau membuat yang lain murka.'
ولذلك ترى الأكياس في أمور الدنيا وفي علم الطب والحساب والهندسة والفلسفة جهالاً في أمور الآخرة والأكياس في دقائق علوم الآخرة جهالاً في أكثر علوم الدنيا لأن قوة العقل لا تفي بالأمرين جميعاً في الغالب فيكون أحدهما مانعاً من الكمال في الثاني ولذلك قال ﷺ إن أكثر أهل الجنة البله أي البله في أمور الدنيا
Oleh sebab itu, engkau melihat orang-orang yang cerdas dalam urusan dunia, ilmu kedokteran, hisab, geometri, dan filsafat, justru awam (bodoh) dalam urusan akhirat. Sebaliknya, orang-orang yang cerdas dalam kelembutan ilmu-ilmu akhirat sering kali tidak tahu-menahu tentang sebagian besar ilmu dunia. Hal itu karena kekuatan akal pada umumnya tidak mencukupi untuk menguasai kedua hal tersebut secara bersamaan, sehingga salah satunya menjadi penghalang dari kesempurnaan pada yang kedua. Karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya mayoritas penghuni surga adalah orang-orang yang al-bulh (lugu/bodoh),' yakni bodoh dalam urusan-urusan dunia.
وقال الحسن في بعض مواعظه لقد أدركنا أقواماً لو رأيتموهم لقلتم مجانين ولو أدركوكم لقالوا شياطين فمهما سمعت أمراً غريباً من أمور الدين جحده أهل الكياسة في سائر العلوم فلا يغرنك جحودهم عن قبوله إذ من المحال أن يظفر سالك طريق المشرق بما يوجد في المغرب فكذلك يجري أمر الدنيا والآخرة ولذلك قال تعالى ﴿إن الذين لا يرجون لقاءنا ورضوا بالحياة الدنيا واطمأنوا بها﴾ الآية وقال تعالى ﴿يعلمون ظاهراً من الحياة الدنيا وهم عن الآخرة هم غافلون﴾ وقال ﷿ فأعرض عمن تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدنيا ذلك مبلغهم من العلم فالجمع بين كمال الاستبصار في مصالح الدنيا والدين لا يكاد يتيسر إلا لمن رسخه الله لتدبير عباده في معاشهم ومعادهم وهم الأنبياء المؤيدون بروح القدس المستمدون من القوة الإلهية التي تتسع لجميع الأمور ولا تضيق عنها فأما قلوب سائر الخلق فإنها إذا استقلت بأمر الدنيا انصرفت عن الآخرة وقصرت عن الاستكمال فيها
Al-Hasan (Al-Bashri) berkata dalam sebagian nasihatnya: 'Sungguh kami telah mendapati kaum-kaum yang jika kalian melihat mereka, niscaya kalian akan mengira mereka gila; dan jika mereka mendapati kalian, niscaya mereka akan menganggap kalian adalah setan.' Maka, kapan pun engkau mendengar suatu perkara asing dalam urusan agama yang diingkari oleh orang-orang yang pandai dalam ilmu-ilmu dunia lainnya, janganlah penolakan mereka memperdayamu untuk tidak menerimanya. Sebab, sungguh mustahil seorang pejalan ke arah timur akan menemukan apa yang ada di barat. Demikian pulalah halnya perkara dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengannya…' (QS. Yunus: 7). Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Mereka hanya mengetahui yang lahiriah dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap akhirat mereka lalai.' (QS. Ar-Rum: 7). Serta Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Maka berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini melainkan kehidupan dunia. Itulah sejauh-jauh pencapaian ilmu mereka.' (QS. An-Najm: 29-30). Dengan demikian, mengumpulkan kesempurnaan bimbingan (istibshar) dalam kemaslahatan dunia dan agama hampir tidak dimungkinkan kecuali bagi orang yang telah diteguhkan oleh Allah untuk mengatur hamba-hamba-Nya dalam urusan penghidupan dan tempat kembali mereka, yaitu para Nabi yang dikuatkan dengan Ruhul Kudus (Malaikat Jibril) yang mendapat limpahan dari kekuatan Ilahi yang sanggup mencakup segala perkara tanpa ada kesempitan. Adapun hati manusia lainnya, apabila telah tersibukkan secara mandiri oleh urusan dunia, maka ia akan berpaling dari akhirat dan menjadi serba kurang dalam mencapai kesempurnaan padanya.
بيان الفرق بين الإلهام والتعلم والفرق بين طريق الصوفية في استكشاف الحق
Penjelasan tentang Perbedaan antara Ilham dan Pembelajaran (Ta'allum), serta Perbedaan antara Jalan Kaum Sufi dalam Mengungkap Kebenaran
وطريق النظار
dan Jalan Ahli Pikir (Nuzzhar/Ahli Penalaran).
اعلم أن العلوم التي ليست ضرورية وإنما تحصل في القلب في بعض الأحوال تختلف الحال في حصولها فتارة تهجم على القلب كأنه ألقى فيه من حيث لا يدري وتارة تكتسب بطريق الاستدلال والتعلم فالذي يحصل لا بطريق الاكتساب وحيلة الدليل يسمى إلهاماً والذي يحصل بالاستدلال يسمى اعتباراً واستبصاراً ثم الواقع في القلب بغير حيلة وتعلم واجتهاد من العبد ينقسم إلى ما لا يدري العبد أنه كيف حصل له ومن أين حصل وإلى ما يطلع معه على السبب الذي منه استفاد ذلك العلم وهو مشاهدة الملك الملقى في القلب
Ketahuilah bahwa ilmu-ilmu yang bukan bersifat daruri (primer/dapat langsung dipahami), melainkan diperoleh di dalam hati pada sebagian kondisi, berbeda-beda cara perolehannya. Kadang kala ilmu itu menyeruak secara tiba-tiba ke dalam hati seolah-olah ditanamkan ke dalamnya dari arah yang tidak ia ketahui, dan kadang kala diperoleh melalui jalan penalaran (istidlal) dan belajar. Ilmu yang diperoleh tanpa melalui jalan usaha (iktisab) dan perantara dalil dinamakan 'ilham'. Sedangkan ilmu yang diperoleh melalui penalaran dinamakan 'i'tibar' (perenungan) dan 'istibshar' (penjelasan batin). Kemudian, ilmu yang jatuh ke dalam hati tanpa usaha, proses belajar, maupun ijtihad dari hamba ini terbagi menjadi dua: ilmu yang hamba tersebut tidak mengetahui bagaimana ia mendapatkannya dan dari mana asalnya; serta ilmu yang disertainya pengetahuan tentang sebab darinya ia memperoleh ilmu tersebut, yaitu menyaksikan malaikat yang membisikkannya ke dalam hati.
والأول يسمى إلهاماً ونفثاً في الروع
Bagian yang pertama dinamakan 'ilham' dan 'nafats fi ar-rau'' (hembusan ke dalam jiwa/hati).
والثاني يسمى وحياً وتختص به الأنبياء
Sedangkan bagian yang kedua dinamakan 'wahyu', yang khusus dianugerahkan kepada para Nabi.
والأول يختص به الأولياء والأصفياء والذي قبله وهو المكتسب بطريق الاستدلال يختص به العلماء وحقيقة القول فيه أن القلب مستعد لأن تنجلي فيه حقيقة الحق في الأشياء كلها
Adapun yang pertama (ilham) khusus bagi para wali dan hamba-hamba pilihan (ashfiya'). Sedangkan ilmu yang sebelumnya, yaitu yang diusahakan melalui jalan penalaran (istidlal), khusus bagi para ulama. Hakikat penjelasan mengenai hal ini adalah bahwa hati pada dasarnya memiliki kesiapan untuk tersingkapnya hakikat kebenaran pada segala sesuatu padanya.
وإنما حيل بينه وبينها بالأسباب الخمسة التي سبق ذكرها فهي كالحجاب المسدل الحائل بين مرآة القلب وبين اللوح المحفوظ الذي هو منقوش بجميع ما قضى الله به إلى يوم القيامة
Hanya saja, terhalang antara hati dan hakikat tersebut disebabkan oleh lima faktor yang telah disebutkan terdahulu. Faktor-faktor itu bagaikan tirai terbentang yang menghalangi antara cermin hati dan Lauh Mahfuzh, yang padanya tertulis segala apa yang telah ditetapkannya oleh Allah hingga hari kiamat.
وتجلى حقائق العلوم من مرآة اللوح في مرآة القلب يضاهي انطباع صورة من مرآة في مرآهتقابلها والحجاب بين المرآتين تارة يزال باليد وأخرى يزول بهبوب الرياح تحركه وكذلك قد تهب رياح الألطاف وتنكشف الحجب عن أعين القلوب فينجلي فيها بعض ما هو مسطور في اللوح المحفوظ ويكون ذلك تارة عند المنام فيعلم به ما يكون في المستقبل وتمام ارتفاع الحجاب بالموت فبه ينكشف الغطاء وينكشف أيضاً في اليقظة حتى يرتفع الحجاب بلطف خفي من الله تعالى فيلمع في القلوب من وراء ستر الغيب شيء من غرائب العلم تارة كالبرق الخاطف وأخرى على التوالي إلى حد ما
Tersingkapnya hakikat ilmu-ilmu dari cermin Lauh Mahfuzh ke dalam cermin hati menyerupai terpantulnya bayangan gambar dari suatu cermin ke cermin lain yang berhadapan dengannya. Tirai penghalang di antara kedua cermin itu kadang-kadang disingkapkan dengan tangan, dan di waktu lain tersingkap oleh bertiupnya angin yang menggerakkannya. Demikian pula, terkadang bertiup angin kelembutan Allah (ath-thalathaf) dan tersingkaplah tirai-tirai dari mata hati, sehingga terpancar di dalamnya sebagian dari apa yang tertulis di Lauh Mahfuzh. Hal itu terkadang terjadi sewaktu tidur, sehingga diketahui melaluinya apa yang bakal terjadi di masa depan; sedangkan pengangkatan tirai secara sempurna adalah dengan kematian, yang dengannya tersingkaplah penutup batin. Hal tersebut juga bisa tersingkap dalam keadaan jaga (sadar), sehingga tirai terangkat melalui kelembutan yang samar dari Allah Ta'ala, lalu memancarlah di dalam hati dari balik tirai gaib sesuatu dari keajaiban-keajaiban ilmu; kadang bagaikan kilat yang menyambar, dan kadang berlangsung secara terus-menerus hingga batas tertentu.
ودوامة في غاية الندور فلم يفارق الإلهام الاكتساب في نفس العلم ولا في محله ولا في سببه ولكن يفارقه من جهة زوال الحجاب فإن ذلك ليس باختيار العبد ولم يفارق الوحي الإلهام في شيء من ذلك بل في مشاهدة الملك المفيد للعلم فإن العلم إنما يحصل في قلوبنا بواسطة الملائكة وإليه الإشارة بقوله تعالى ﴿وما كان لبشر أن يكلمه الله إلا وحياً أو من وراء حجاب أو يرسل رسولاً فيوحي بإذنه ما يشاء﴾
Adapun kelestarian pancaran itu amat sangat langka. Maka ilham tidaklah berbeda dari usaha mencari ilmu (iktisab) dari segi substansi ilmu itu sendiri, tidak pula dari segi tempatnya maupun sebabnya, melainkan berbeda dari segi cara terangkatnya tirai penghalang; karena terangkatnya tirai itu bukan atas ikhtiar (kehendak) hamba. Begitu pula wahyu tidak berbeda dari ilham dalam hal-hal tersebut, melainkan perbedaannya terletak pada penyaksian malaikat yang menyampaikan ilmu. Sebab, ilmu itu sesungguhnya sampai ke dalam hati kita melalui perantara malaikat, sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah Ta'ala: 'Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki.' (QS. Asy-Syura: 51).
فإذا عرفت هذا فاعلم أن ميل أهل التصوف إلى العلوم الإلهامية دون التعليمية فلذلك لم يحرصوا على دراسة العلم وتحصيل ما صنفه المصنفون والبحث عن الأقاويل والأدلة المذكورة بل قالوا الطريق تقديم المجاهدة ومحو الصفات المذمومة وقطع العلائق كلها والإقبال بكنه الهمة على الله تعالى ومهما حصل ذلك كان الله هو المتولي لقلب عبده والمتكفل له بتنويره بأنوار العلم وإذا تولى الله أمر القلب فاضت عليه الرحمة وأشرق النور في القلب وانشرح الصدر وانكشف له سر الملكوت وانقشع عن وجه القلب حجاب الغرة بلطف الرحمة وتلألأت فيه حقائق الأمور الإلهية فليس على العبد إلا الاستعداد بالتصفية المجردة وإحضار الهمة مع الإرادة الصادقة والتعطش التام والترصد بدوام الانتظار لما يفتحه الله تعالى من الرحمة
Jika engkau telah memahami hal ini, ketahuilah bahwa kecenderungan kaum Sufi adalah pada ilmu-ilmu ilhamiah (ladunni), bukan ilmu-ilmu hasil pengajaran (ta'limiyyah). Oleh karena itu, mereka tidak sangat berambisi meneliti pelajaran ilmu formal, mengumpulkan kitab-kitab susunan para pengarang, serta membahas pendapat-pendapat dan dalil-dalil yang disebutkan. Sebaliknya mereka berkata: Jalan yang utama adalah mendahulukan mujahadah (perjuangan batin), menghapuskan sifat-sifat tercela, memutus seluruh keterikatan duniawi (ala'iq), dan menghadap dengan segenap kesungguhan cita-cita (himmah) hanya kepada Allah Ta'ala. Bilamana hal tersebut tercapai, maka Allah-lah yang menguasai dan mengurus hati hamba-Nya serta menjamin untuk menyanginya dengan cahaya-cahaya ilmu. Apabila Allah telah mengurus perkara hati, limpahan rahmat akan mencurah kepadanya, cahaya terpancar di dalam hati, dada menjadi lapang, rahasia alam Malakut tersingkap baginya, dan tirai kelalaian tersingkap dari permukaan hati dengan kelembutan rahmat-Nya, sehingga berkilauanlah di dalamnya hakikat-hakikat perkara Ilahi. Maka tiada kewajiban bagi hamba kecuali bersiap diri dengan penyucian batin yang murni, menghadirkan himmah disertai iradah (keinginan) yang jujur, rasa haus yang sempurna, serta terus-menerus menanti apa yang dibuka oleh Allah Ta'ala dari rahmat-Nya.
فالأنبياء والأولياء انكشف لهم الأمر وفاض على صدورهم النور لا بالتعلم والدراسة والكتابة للكتب بل بالزهد في الدنيا والتبري من علائقها وتفريغ القلب من شواغلها والإقبال بكنه الهمة على الله تعالى فمن كان لله كان الله له وزعموا أن الطريق في ذلك أولا بانقطاع علائق الدنيا بالكلية وتفريغ القلب منها وبقطع الهمة عن الأهل والمال والولد والوطن وعن العلم والولاية والجاه بل يصير قلبه إلى حالة يستوي فيها وجود كل شيء وعدمه ثم يخلو بنفسه في زواية مع الاقتصار على الفرائض والرواتب ويجلس فارغ القلب مجموع الهم ولا يفرق فكره بقراءة قرآن ولا بالتأمل في تفسير ولا بكتب حديث ولا غيره بل يجتهد أن لا يخطر بباله شيء سوى الله تعالى فلا يزال بعد جلوسه في الخلوة قائلاً بلسانه الله الله على الدوام مع حضور القلب حتى ينتهي إلى حالة يترك تحريك اللسان ويرى كأن الكلمة جارية على لسانه ثم يصبر عليه إلى أن يمحى أثره عن اللسان ويصادف قلبه مواظباً على الذكر ثم يواظب عليه إلى أن يمحى عن القلب صورة اللفظ وحروفه وهيئة الكلمة ويبقى معنى الكلمة مجرداً في قلبه حاضراً فيه كأنه لازم له لا يفارقه وله اختيار إلى أن ينتهي إلى هذا الحد واختيار في استدامة هذه الحالة بدفع الوسواس وليس له اختيار في استجلاب رحمة الله تعالى بل هو بما فعله صار متعرضاً لنفحات رحمة الله فلا يبقى إلا الانتظار لما يفتح الله من الرحمة كما فتحها على الأنبياء والأولياء بهذه الطريق وعند ذلك إذا صدقت إرادته وصفت همته وحسنت مواظبته فلم تجاذبه شهواته ولم يشغله حديث النفس بعلائق الدنيا تلمع لوامع الحق في قلبه ويكون في ابتدائه
Maka para Nabi dan para Wali tersingkaplah hakikat perkara bagi mereka dan melimpahlah cahaya ke atas dada-dada mereka bukan dengan belajar, meneliti, atau menulis buku, melainkan dengan zuhud terhadap dunia, berlepas diri dari keterikatannya, mengosongkan hati dari segala kesibukannya, dan menghadap dengan segenap cita-cita (himmah) kepada Allah Ta'ala. Maka barangsiapa hidupnya untuk Allah, niscaya Allah menjadi miliknya. Mereka menganggap bahwa jalan untuk mencapai hal itu pertama-tama adalah dengan memutus total keterikatan dunia, mengosongkan hati darinya, serta memutus fokus perhatian dari keluarga, harta, anak, tanah air, bahkan dari ilmu, kepemimpinan (wilayah), dan kedudukan (jah). Bahkan hatinya sampai pada suatu keadaan di mana keberadaan dan ketiadaan segala sesuatu bernilai sama baginya. Kemudian ia menyendiri (khalwat) di suatu sudut ruang dengan hanya mencukupi diri pada shalat-shalat fardhu dan sunnah rawatib; ia duduk dengan hati kosong dan himmah yang terpusat, tidak memecah pikirannya dengan membaca Al-Qur'an, tidak pula dengan merenungkan tafsir, buku hadits, atau lainnya, melainkan bersungguh-sungguh agar tidak ada sesuatu pun yang terlintas di dalam hatinya selain Allah Ta'ala. Maka ia senantiasa setelah duduk di tempat khalwat terus mengucapkan dengan lisannya: 'Allah, Allah' secara berkesinambungan disertai kehadiran hati (hudhur al-qalb), hingga ia mencapai kondisi di mana ia meninggalkan gerakan lisan dan melihat seolah-olah kalimat itu terus mengalir di atas lisannya. Kemudian ia bersabar atas keadaan itu hingga bekasnya terhapus dari lisan dan ia mendapati hatinya terus-menerus melanggengkan zikir. Lalu ia melanggengkannya hingga terhapus dari hati gambaran lafaz, huruf-hurufnya, dan bentuk kalimatnya, sehingga yang tersisa hanyalah makna kalimat tersebut secara murni di dalam hatinya, hadir padanya seolah-olah melekat dan tak berpisah darinya. Dalam hal ini ia memiliki pilihan ikhtiar hingga mencapai batas ini, serta memiliki pilihan dalam mengekalkan keadaan ini dengan menolak bisikan-bisikan jahat (waswas). Namun ia tidak memiliki pilihan ikhtiar dalam mendatangkan rahmat Allah Ta'ala; melainkan dengan apa yang diperbuatnya itu ia telah mengondisikan dirinya untuk menerima hembusan-hembusan (nafahat) rahmat Allah. Maka tidak ada yang tersisa kecuali menantikan apa yang dibuka Allah dari rahmat-Nya sebagaimana Dia telah membukanya kepada para Nabi dan Wali melalui jalan ini. Pada saat itulah, jika iradahnya jujur, himmahnya bersih, dan ketekunannya baik, sehingga syahwat tidak menyeretnya dan bisikan jiwa tidak menyibukkannya dengan keterikatan dunia, niscaya akan berkilauanlah kilatan-kilatan Kebenaran (al-Haqq) di dalam hatinya, yang mana pada permulaannya…
كالبرق الخاطف لا يثبت ثم يعود وقد يتأخر وإن عاد فقد يثبت وقد يكون مختطفاً وإن ثبت قد يطول ثباته وقد لا يطول وقد يتظاهر أمثاله على التلاحق وقد يقتصر على فن واحد ومنازل أولياء الله تعالى فيه لا تحصر كما لا يحصى تفاوت خلقهم وأخلاقهم وقد رجع هذا الطريق إلى تطهير محض من جانبك وتصفية وجلاء ثم استعداد وانتظار فقط
…seperti kilat menyambar yang tidak bertahan lama, kemudian ia kembali lagi dan terkadang agak terlambat. Jika kembali, kadang ia bertahan lama dan kadang menyambar sekilas; jika bertahan, kadang durasinya lama dan kadang tidak lama. Terkadang hal-hal yang serupa saling beriringan secara berurutan, dan terkadang hanya terbatas pada satu jenis saja. Kedudukan (manazil) para wali Allah Ta'ala dalam hal ini tidak terhitung jumlahnya sebagaimana tidak terhitungnya perbedaan bentuk fisik dan akhlak mereka. Sungguh jalan ini bersumber pada penyucian murni dari pihakmu, pembersihan, dan pemolesan hati, kemudian setelah itu hanyalah kesiapan dan penantian semata.
وأما النظار وذوو الاعتبار فلم ينكروا وجود هذا الطريق وإمكانه وإفضائه إلى هذا المقصد على الندور فإنه أكثر أحوال الأنبياء والأولياء ولكن استوعروا هذا الطريق واستبطؤا ثمرته واستبعدوا استجماع شروطه وزعموا أن محو العلائق إلى ذلك الحد كالمتعذر وإن حصل في حال فثباته أبعد منه إذ أدنى وسواس وخاطر يشوش الْقَلْبِ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قلب المؤمن أشد تقلباً من القدر في غليانها أخرجه أحمد والحاكم حديث قلب المؤمن بين إصبعين من أصابع الرحمن أخرجه مسلم من حديث عبد الله بن عمر وفي أثناء هذه المجاهدة قد يفسد المزاج ويختلط العقل ويمرض البدن وإذا لم تتقدم رياضة النفس وتهذيبها بحقائق العلوم نشبت بالقلب خيالات فاسدة تطمئن النفس إليها مدة طويلة إلى أن يزول وينقضي العمر قبل النجاح فيها فكم من صوفي سلك هذا الطريق ثم بقي في خيال واحد عشرين سنة ولو كان قد أتقن العلم من قبل لانفتح له وجه التباس ذلك الخيال في الحال فالاشتغال بطريق التعلم أوثق وأقرب إلى الغرض وزعموا أن ذلك يضاهي ما لو ترك الإنسان تعلم الفقه وزعم أن النبي ﷺ لم يتعلم ذلك وصار فقيهاً بالوحي والإلهام من غير تكرير وتعليق وأنا أيضاً ربما انتهت بي الرياضة والمواظبة إليه ومن ظن ذلك فقد ظلم نفسه وضيع عمره بل هو كمن يترك طريق الكسب والحراثة رجاء العثور على كنز من الكنوز فإن ذلك ممكن ولكنه بعيد جداً فكذلك هذا وقالوا لا بد أولاً من تحصيل ما حصله العلماء وفهم ما قالوه ثم لا بأس بعد ذلك بالانتظار لما لم ينكشف لسائر العلماء فعساه ينكشف بعد ذلك بالمجاهدة
Adapun kaum nuzzhar (ahli pikir/penalaran) dan pemilik ikhtibar (pengamatan mendalam), mereka tidak mengingkari keberadaan jalan ini, kemungkinannya, dan keberhasilannya dalam mengantarkan kepada tujuan ini meskipun tergolong langka; sebab hal itu adalah sebagian besar kondisi para Nabi dan Wali. Akan tetapi, mereka menganggap jalan ini sangat terjal, lambat membuahkan hasil, dan jauh untuk dapat mengumpulkan syarat-syaratnya. Mereka menganggap bahwa menghapuskan keterikatan dunia hingga batas sedemikian rupa hampir mustahil; dan jika pun terjadi dalam suatu keadaan, maka melanggengkannya lebih jauh lagi dari kemungkinan tersebut. Hal itu karena bisikan halus (waswas) dan lintasan pikiran (khathir) paling kecil sekalipun dapat mengacaukan hati. Rasulullah ﷺ bersabda: 'Hati seorang mukmin lebih cepat berbolak-balik daripada periuk sewaktu mendidih.' (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hakim, dan hadits 'Hati seorang mukmin berada di antara dua jemari dari jemari Ar-Rahman' diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abdullah bin Umar). Lagi pula, di tengah-tengah perjuangan batin (mujahadah) ini, terkadang kondisi temperamen (mizaj) bisa rusak, akal terganggu, dan badan menjadi sakit. Dan jika tidak didahului oleh latihan jiwa (riyadhatun nafs) serta pembersihan jiwanya dengan hakikat-hakikat ilmu, niscaya imajinasi-imajinasi yang rusak akan melekat pada hati, lalu jiwa merasa tenang bersamanya dalam jangka waktu yang lama hingga sirna dan berakhirlah umur sebelum mencapai keberhasilan. Betapa banyak Sufi yang menempuh jalan ini kemudian bertahan dalam satu khayalan semata selama dua puluh tahun; padahal seandainya ia telah menguasai ilmu sebelumnya, niscaya akan tersingkap baginya letak kesamaran khayalan itu seketika. Maka menyibukkan diri dengan jalan belajar (ta'allum) lebih kokoh dan lebih dekat kepada tujuan. Mereka menganggap bahwa hal itu menyerupai seseorang yang meninggalkan belajar fiqih lalu mengklaim bahwa Nabi ﷺ tidak mempelajari hal itu namun menjadi seorang faqih melalui wahyu dan ilham tanpa pengulangan (takrar) dan pengikatan catatan (ta'liq), lalu ia berkata: 'Aku pun mungkin dengan riyadhah dan ketekunan akan sampai pada derajat itu.' Barangsiapa berprasangka demikian, sungguh ia telah menzalimi dirinya sendiri dan menyia-nyiakan umurnya; bahkan ia seperti orang yang meninggalkan mata pencaharian dan bercocok tanam demi berharap menemukan harta karun, yang mana hal itu memang mungkin, tetapi sangatlah jauh. Oleh karena itu mereka berkata: Haruslah terlebih dahulu menguasai apa yang telah dikuasai oleh para ulama dan memahami apa yang telah mereka katakan, baru kemudian tidak mengapa setelah itu menantikan apa yang belum tersingkap bagi seluruh ulama, mudah-mudahan hal itu akan tersingkap nantinya melalui mujahadah.
بيان الفرق بين المقامين بمثال محسوس
Penjelasan tentang Perbedaan antara Kedua Maqam (Kedudukan/Metode) dengan Perumpamaan yang Konkret
اعلم أن عجائب القلب خارجة عن مدركات الحواس لأن القلب أيضاً خارج عن إدراك الحس وما لبس مدركاً بالحواس تضعف الأفهام عن دركه إلا بمثال محسوس ونحن نقرب ذلك إلى الأفهام الضعيفة بمثالين
Ketahuilah bahwa keajaiban-keajaiban hati berada di luar jangkauan indra, karena hati itu sendiri berada di luar persepsi indrawi. Dan apa yang tidak dapat dijangkau oleh indra, pemahaman manusia akan lemah untuk menangkapnya kecuali dengan perumpamaan yang konkret (dapat diindra). Maka kami mendekatkan hal itu kepada pemahaman yang lemah dengan dua perumpamaan.
أحدهما أنه لو فرضنا حوضاً محفوراً في الأرض احتمل أن يساق الماء من فوقه بأنهار تفتح فيه ويحتمل أن يحفر أسفل الحوض ويرفع منه التراب إلى أن يقرب من مستقر الماء الصافي فينفجر الماء من أسفل الحوض ويكون ذلك الماء أصفى وأدوم وقد يكون أغزر وأكثر فذلك القلب مثل الحوض والعلم مثل الماء وتكون الحواس الخمس مثال الأنهار وقد يمكن أن تساق العلوم إلى القلب بواسطة أنهار الحواس والاعتبار بالمشاهدات حتى يمتليء علماً ويمكن أن تسد هذه الأنهار بالخلوة والعزلة وغض البصر ويعمد إلى عمق القلب بتطهيره ورفع طبقات الحجب عنه حتى تنفجر ينابيع العلم من داخله
Salah satunya adalah jika kita andaikan sebuah kolam yang digali di tanah, ada kemungkinan air dialirkan ke dalamnya dari atas melalui sungai-sungai yang dibuka menuju ke sana, dan ada kemungkinan bagian dasar kolam itu digali serta tanahnya diangkat hingga mendekati sumber air jernih, lalu air memancar dari dasar kolam tersebut; dan air yang demikian itu akan lebih jernih, lebih langgeng, serta terkadang lebih melimpah dan lebih banyak. Maka hati itu ibarat kolam, ilmu ibarat air, dan indra yang lima ibarat sungai-sungai. Sungguh dimungkinkan ilmu-ilmu dialirkan ke dalam hati melalui sungai-sungai indra dan ikhtibar dengan penyaksian hingga hati penuh dengan ilmu; dan dimungkinkan pula sungai-sungai ini disumbat melalui khalwat, uzlah, serta menundukkan pandangan (ghaddhul bashar), lalu beralih menuju kedalaman hati dengan menyucikannya dan mengangkat lapisan-lapisan penghalang darinya hingga memancarlah mata air-mata air ilmu dari dalam dirinya sendiri.
فإن قلت فكيف يتفجر العلم من ذات القلب وهو خال عنه فاعلم أن هذا من عجائب أسرارالقلب ولا يسمح بذكره في علم المعاملة بل القدر الذي يمكن ذكره أن حقائق الأشياء مسطورة في اللوح المحفوظ بل في قلوب الملائكة المقربين فكما أن المهندس يصور أبنية الدار في بياض ثم يخرجها إلى الوجود على وفق تلك النسخة فكذلك فاطر
Jika engkau bertanya, "Bagaimana ilmu bisa memancar dari zat hati padahal hati tersebut kosong darinya?" Maka ketahuilah bahwa ini termasuk di antara keajaiban rahasia-rahasia hati, dan tidak diizinkan untuk dikemukakan dalam ilmu muamalah. Akan tetapi, kadar yang memungkinkan untuk disebutkan adalah bahwa hakikat segala sesuatu telah tertulis di Lauhulmahfuz, bahkan di dalam hati para malaikat Muqarrabīn. Sebagaimana seorang arsitek merancang bentuk-bentuk bangunan rumah di atas kertas putih kemudian mengeluarkannya ke alam wujud sesuai dengan cetakan tersebut, maka demikian pula Pencipta…
السموات والأرض كتب نسخة العالم من أوله إلى آخره في اللوح المحفوظ ثم أخرجه إلى الوجود على وفق تلك النسخة والعالم الذي خرج إلى الوجود بصورته تتأدى منه صورة أخرى إلى الحس والخيال فإن من ينظر إلى السماء والأرض ثم يغض بصره يرى صورة السماء والأرض في خياله حتى كأنه ينظر إليها ولو انعدمت السماء والأرض وبقي هو في نفسه لوجد صورة السماء والأرض في نفسه كأنه يشاهدهما وينظر إليهما ثم يتأدى من خياله أثر إلى القلب فيحصل فيه حقائق الأشياء التي دخلت في الحس والخيال والحاصل في القلب موافق للعالم الحاصل في الخيال والحاصل في الخيال موافق للعالم الموجود في نفسه خارجاً من خيال الإنسان وقلبه والعالم الموجود موافق للنسخة الموجودة في اللوح المحفوظ
…langit dan bumi telah menuliskan salinan alam semesta dari awal hingga akhirnya di Lauhulmahfuz, kemudian mengeluarkannya ke alam wujud sesuai dengan salinan tersebut. Alam yang telah keluar ke alam wujud dengan bentuknya itu memancarkan bentuk lain ke indra dan imajinasi (khayal). Sebab, barangsiapa yang memandang ke langit dan bumi kemudian memejamkan matanya, ia akan melihat bentuk langit dan bumi di dalam imajinasinya seolah-olah ia sedang memandangnya. Sekiranya langit dan bumi itu lenyap dan ia tetap ada pada dirinya sendiri, niscaya ia menemukan bentuk langit dan bumi di dalam dirinya seakan-akan ia menyaksikan dan memandangnya. Kemudian dari imajinasinya tertanamlah suatu kesan (atsar) ke dalam hati, sehingga terwujudlah di dalamnya hakikat segala sesuatu yang telah masuk melalui indra dan imajinasi. Apa yang terwujud di dalam hati itu sesuai dengan alam yang terwujud di dalam imajinasi, dan apa yang terwujud di dalam imajinasi sesuai dengan alam yang wujud pada dirinya sendiri di luar imajinasi dan hati manusia, sedangkan alam yang wujud itu sesuai dengan salinan yang ada di Lauhulmahfuz.
فكأن للعالم أربع درجات في الوجود وجود في اللوح المحفوظ وهو سابق على وجوده الجسماني ويتبعه وجوده الحقيقي ويتبع وجوده الحقيقي وجوده الخيالي أعني وجود صورته في الخيال ويتبع وجوده الخيالي وجوده العقلي أعني وجود صورته في القلب
Seolah-olah alam ini memiliki empat tingkatan dalam keberadaannya (wujūd): keberadaan di Lauhulmahfuz, yang mendahului keberadaan jasmaninya; diikuti oleh keberadaan hakikinya; diikuti oleh keberadaan imajinasinya (wujūd khayālī), yakni keberadaan bentuknya di dalam imajinasi; dan diikuti oleh keberadaan akalnya (wujūd 'aqlī), yakni keberadaan bentuknya di dalam hati.
وبعض هذه الوجودات روحانية وبعضها جسمانية والروحانية بعضها أشد روحانية من البعض وهذا اللطف من الحكمة الإلهية إذ جعل حدقتك على صغر حجمها بحيث تنطبع صورة العالم والسموات والأرض على اتساع أكنافها فيها ثم يسري من وجودها في الحس وجود إلى الخيال ثم منه وجود في القلب فإنك أبداً لا تدرك إلا ما هو واصل إليك فلو لم يجعل للعالم كله مثالاً في ذاتك لما كان لك خبر مما يباين ذاتك فسبحان من دبر هذه العجائب في القلوب والأبصار ثم أعمى عن دركها القلوب والأبصار حتى صارت قلوب أكثر الخلق جاهلة بأنفسها وبعجائبها
Sebagian dari keberadaan ini bersifat spiritual (rūḥāniyyah) dan sebagian lainnya bersifat jasmani (jismāniyyah). Sebagian yang spiritual itu ada yang lebih kuat sifat spiritualitasnya dibanding yang lain. Kelembutan ini merupakan bagian dari hikmah ilahi, di mana Dia menjadikan pupil matamu—meskipun ukurannya kecil—dapat menangkap pantulan bentuk alam semesta serta langit dan bumi dengan segala keluasannya. Kemudian dari keberadaannya di dalam indra, mengalir suatu keberadaan ke dalam imajinasi, lalu dari situ mengalir keberadaan ke dalam hati. Sebab, engkau selamanya tidak dapat mempersepsi kecuali apa yang sampai kepadamu. Sekiranya Dia tidak menjadikan perumpamaan (mitsāl) bagi seluruh alam semesta di dalam zatmu, niscaya engkau tidak akan memiliki kabar/pengetahuan tentang apa yang berbeda dari zatmu. Maka Mahasuci Dzat yang telah mengatur keajaiban-keajaiban ini pada hati dan penglihatan, kemudian membutakan hati dan penglihatan dari memahaminya, hingga hati sebagian besar makhluk menjadi tidak mengenal dirinya sendiri dan keajaiban-keajaibannya.
ولنرجع إلى الغرض المقصود فنقول القلب قد يتصور أن يحصل فيه حقيقة العالم وصورته تارة من الحواس وتارة من اللوح المحفوظ كما أن العين يتصور أن يحصل فيها صورة الشمس تارة من النظر إليها وتارة من النظر إلى الماء الذي يقابل الشمس ويحكي صورتها فمهما ارتفع الحجاب بينه وبين اللوح المحفوظ رأى الأشياء فيه وتفجر إليه العلم منه فاستغنى عن الاقتباس من داخل الحواس فيكون ذلك كتفجر الماء من عمق الأرض ومهما أقبل على الخيالات الحاصلة من المحسوسات كان ذلك حجاباً له عن مطالعة اللوح المحفوظ كما أن الماء إذا اجتمع في الأنهار منع ذلك من التفجر في الأرض وكما أن من نظر إلى الماء الذي يحكي صورة الشمس لا يكون ناظراً إلى نفس الشمس فإذن للقلب بابان باب مفتوح إلى عالم الملكوت وهو اللوح المحفوظ وعالم الملائكة وباب مفتوح إلى الحواس الخمس المتمسكة بعالم الملك والشهادة وعالم الشهادة والملك أيضاً يحاكي عالم الملكوت نوعاً من المحاكاة فأما انفتاح باب القلب إلى الاقتباس من الحواس فلا يخفى عليك وأما انفتاح بابه الداخل إلى عالم الملكوت ومطالعة اللوح المحفوظ فتعلمه علما يقينيا بالتأمل في عجائب الرؤيا واطلاع القلب في النوم على ما سيكون في المستقبل أو كان في الماضي من غير اقتباس من جهة الحواس وإنما ينفتح ذلك الباب لمن انفرد بذكر اللَّهُ تَعَالَى وَقَالَ ﷺ سبق المفردون قيل ومن هم المفردون يا رسول الله قال المتنزهون بذكر الله تعالى وضع الذكر عنهم أوزارهم فوردوا القيامة خفافاً ثم قال في وصفهم إخباراً عن الله تعالى فقال ثم أقبل بوجهي عليهم أترى من واجهته بوجهي يعلم أحد أي شيء أريد أن أعطيه ثم قال تعالى أول ما أعطيهم أن أقذف النور في قلوبهم فيخبرون عني كما أخبر عنهم // حديث سبق المفردون قيل ومن هم قال المستهترون بذكر الله الحديث أخرجه مسلم من حديث أبي هريرة مقتصرا على أول الحديث وقال فيه وما المفردون قال الذاكرون الله كثيرا والذاكرات ورواه الحاكم بلفظ قال الذين يستهترون بذكر الله وقال صحيح على شرط الشيخين وزاد فيه البيهقي في الشعب يضع الذكر عنهم أثقالهم ويأتون يوم القيامة خفافا ورواه هكذا الطبراني في المعجم الكبير من حديث أبي الدرداء دون الزيادة التي ذكرها المصنف في آخره وكلاهما ضعيف ومدخل
Mari kita kembali kepada tujuan utama. Kita katakan bahwa hati terkadang dapat tergambar terwujudnya hakikat dan bentuk alam di dalamnya, terkadang melalui indra dan terkadang dari Lauhulmahfuz. Sebagaimana mata dapat tergambar memperoleh bentuk matahari, terkadang dengan memandangnya secara langsung dan terkadang dengan memandang air yang berhadapan dengan matahari serta memantulkan bentuknya. Maka, kapan pun terangkat penghalang (ḥijāb) antara hati dan Lauhulmahfuz, ia akan melihat segala sesuatu di dalamnya dan ilmu akan memancar kepadanya dari sana, sehingga ia tidak memerlukan lagi pengambilan (iqtibās) dari balik indra. Hal itu seperti memancarnya air dari kedalaman bumi. Dan kapan pun hati itu menghadap kepada imajinasi-imajinasi yang diperoleh dari indrawi, maka hal itu menjadi penghalang baginya untuk meneliti Lauhulmahfuz, sebagaimana air apabila berkumpul di sungai-sungai akan menghalangi terpancarnya air dari dalam tanah, dan sebagaimana orang yang memandang ke air yang memantulkan bentuk matahari tidaklah memandang matahari itu sendiri. Maka dengan demikian, hati memiliki dua pintu: pintu yang terbuka ke alam Malakut, yaitu Lauhulmahfuz dan alam malaikat; dan pintu yang terbuka ke indra lima yang terikat dengan alam Mulk (alam nyata) dan Syahadah. Alam Syahadah dan Mulk ini juga menyerupai alam Malakut dengan suatu bentuk penyerupaan. Adapun terbukanya pintu hati untuk mengambil ilmu dari indra, maka hal itu tidaklah samar bagimu. Sedang terbukanya pintu bagian dalam ke alam Malakut dan meneliti Lauhulmahfuz, maka engkau dapat mengetahuinya secara ilmu yakin dengan merenungkan keajaiban-keajaiban mimpi (ru'yā) serta penyingkapan hati saat tidur terhadap apa yang akan terjadi di masa depan atau telah terjadi di masa lalu tanpa mengambilnya dari jalur indra. Pintu tersebut hanyalah terbuka bagi orang yang menyendiri untuk berzikir mengingat Allah Ta'ala. Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Telah mendahului orang-orang al-Mufradūn." Ditanyakan: "Siapakah orang-orang al-Mufradūn itu, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Orang-orang yang senantiasa bersuci/tenggelam dalam zikir kepada Allah Ta'ala. Zikir telah mengugurkan beban-beban dosa mereka, sehingga mereka mendatangi hari kiamat dalam keadaan ringan." Kemudian beliau bersabda mengenai sifat mereka dengan mengabarkan dari Allah Ta'ala: "Kemudian Aku menghadapkan wajah-Ku kepada mereka. Apakah engkau kira orang yang Aku hadapkan wajah-Ku kepadanya, ada seseorang yang tahu apa yang ingin Aku berikan kepadanya?" Kemudian Allah Ta'ala berfirman: "Pertama kali yang Aku berikan kepada mereka adalah Aku pancarkan cahaya ke dalam hati mereka, sehingga mereka mengabarkan tentang Diri-Ku sebagaimana Aku mengabarkan tentang mereka." // Hadis: "Sabaqal-mufradūn…" Ditanyakan: Siapakah mereka? Beliau menjawab: "Orang-orang yang terpesona/tenggelam dalam zikir kepada Allah…" Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Abu Hurairah secara ringkas pada awal hadis, dan di dalamnya disebutkan: "Dan apakah al-Mufradūn itu?" Beliau bersabda: "Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah." Diriwayatkan oleh al-Hakim dengan lafaz: Beliau bersabda: "Orang-orang yang terpesona/gandrung dengan zikir kepada Allah," dan ia mengatakan sahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim. Al-Baihaqi menambahkan dalam Asy-Syu'ab: "Zikir merontokkan beban-beban berat mereka dan mereka datang pada hari kiamat dalam keadaan ringan." Al-Thabarani meriwayatkannya demikian dalam Al-Mu'jam Al-Kabir dari hadis Abu ad-Darda' tanpa tambahan yang disebutkan penulis di akhirnya, dan keduanya bernilai daif. Dan pokok bahasan dari berita-berita ini adalah pintu batin.
هذه الأخبار هو الباب الباطن فإذا الفرق بين علوم الأولياء والأنبياء وبين علوم العلماء والحكماء هذا وهو أن علومهم تأتي من داخل القلب من الباب المنفتح إلى عالم الملكوت وعلم الحكمة يتأتى من أبواب الحواس المفتوحة إلى عالم الملك وعجائب عالم القلب وتردده بين عالمي الشهادة والغيب لا يمكن أن يستقصى في علم المعاملة فهذا مثال يعلمك الفرق بين مدخل العالمين
Maka, perbedaan antara ilmu para wali dan nabi dengan ilmu para ulama dan ahli hikmah (filsuf) adalah ini: bahwasanya ilmu mereka (para wali dan nabi) datang dari dalam hati melalui pintu yang terbuka menuju alam Malakut, sedangkan ilmu hikmah datang dari pintu-pintu indra yang terbuka menuju alam Mulk. Keajaiban-keajaiban alam hati dan bolak-baliknya hati di antara alam Syahadah (nyata) dan alam Gaib tidak mungkin dipaparkan secara tuntas dalam ilmu muamalah. Maka ini adalah satu perumpamaan yang mengajarkanmu perbedaan antara jalan masuk kedua jenis ilmu tersebut.
المثال الثاني يعرفك الفرق بين العملين أعني عمل العلماء وعمل الأولياء فإن العلماء يعملون في اكتساب نفس العلوم واجتلابها إلى القلب وأولياء الصوفية يعملون في جلاء القلوب وتطهيرها وتصفيتها وتصقيلها فقط فقد حكي أن أهل الصين وأهل الروم تباهوا بين يدي بعض الملوك بحسن صناعة النقش والصور فاستقر رأي الملك على أن يسلم إليهم صفة لينقش أهل الصين منها جانبا وأهل الروم جانبا ويرخي بينهما حجاب يمنع اطلاع كل فريق على الآخر ففعل ذلك فجمع أهل الروم من الأصباغ الغريبة ما لا ينحصر ودخل أهل الصين من غير صبغ وأقبلوا يجلون جانبهم ويصقلونه فلما فرغ أهل الروم ادعى أهل الصين أنهم قد فرغوا أيضاً فعجب الملك من قولهم وأنهم كيف فرغوا من النقش من غير صبغ فقيل وكيف فرغتم من غير صبغ فقالوا ما عليكم ارفعوا الحجاب فرفعوا وإذا بجانبهم يتلألأ منه عجائب الصنائع الرومية مع زيادة إشراق وبريق إذ كان قد صار كالمرآة المجلوة لكثرة التصقيل فازداد حسن جانبهم بمزيد التصقيل فكذلك عناية الأولياء بتطهير القلب وجلائه وتزكيته وصفائه حتى يتلألأ فيه جلية الحق بنهاية الإشراق كفعل أهل الصين وعناية الحكماء والعلماء بالاكتساب ونقش العلوم وتحصيل نقشها في القلب كفعل أهل الروم فكيفما كان الأمر فقلب المؤمن لا يموت وعلمه عند الموت لا يمحى وصفاؤه لا يتكدر وإليه أشار الحسن ﵀ عليه بقوله التراب لا يأكل محل الإيمان بل يكون وسيلة وقربة إلى الله تعالى
Perumpamaan kedua memberikan pemahaman kepadamu tentang perbedaan antara dua amalan, yakni amalan para ulama dan amalan para wali. Sesungguhnya para ulama beramal dalam mengusahakan (iktisāb) ilmu itu sendiri serta menariknya ke dalam hati, sedangkan para wali sufi beramal dalam menjernihkan hati, mensucikannya, memurnikannya, dan mengilapkannya saja. Dikisahkan bahwa penduduk Cina dan penduduk Romawi saling membanggakan keindahan seni ukir dan lukis di hadapan seorang raja. Raja menetapkan keputusan untuk menyerahkan sebuah ruangan kepada mereka, agar penduduk Cina mengukir pada satu sisi dan penduduk Romawi pada sisi lainnya, serta dibentangkan kelambu di antara keduanya yang menghalangi masing-masing kelompok melihat kelompok lainnya. Hal itu pun dilakukan. Penduduk Romawi mengumpulkan cat-cat langka yang tak terhitung jumlahnya, sedangkan penduduk Cina masuk tanpa membawa cat sama sekali; mereka mulai menggosok dan mengilapkan sisi milik mereka. Ketika penduduk Romawi selesai, penduduk Cina pun mengklaim bahwa mereka juga telah selesai. Raja pun heran dengan perkataan mereka, bagaimana mereka selesai mengukir tanpa cat? Maka ditanyakan: "Bagaimana kalian selesai tanpa cat?" Mereka menjawab: "Terserah Anda, angkatlah kelambu itu!" Kelambu pun diangkat, dan tiba-tiba sisi dinding mereka berkilauan memantulkan keajaiban karya-karya Romawi dengan ketajaman dan kilau yang jauh lebih indah, karena dinding tersebut telah menjadi seperti cermin yang sangat jernih akibat terus-menerus diilapkan, sehingga keindahan sisi mereka bertambah seiring tingginya kualitas kilapan tersebut. Maka demikian pulalah perhatian para wali terhadap penyucian hati, penjernihannya, pembersihannya, dan kemurniannya, sehingga hakikat kebenaran berkilauan di dalamnya dengan puncak kearifan, seperti yang dilakukan oleh penduduk Cina. Sementara perhatian para ahli hikmah dan ulama difokuskan pada pengusahaan (iktisāb), pengukiran ilmu, dan penghasilan pahatan ilmu di dalam hati seperti yang dilakukan penduduk Romawi. Bagaimanapun jalannya, hati seorang mukmin tidak akan mati, ilmunya saat mati tidak akan terhapus, dan kejernihannya tidak akan keruh. Kepada hal inilah al-Hasan—semoga rahmat Allah tercurah atasnya—mengisyaratkan melalui ucapannya: "Tanah tidak memakan tempat keimanan, melainkan hal itu menjadi wasilah dan sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala."
وأما ما حصله من نفس العلم وما حصله من الصفاء والاستعداد لقبول نفس العلم فلا غنى به عنه ولا سعادة لأحد إلا بالعلم والمعرفة وبعض السعادات أشرف من بعض كما أنه لا غنى إلا بالمال فصاحب الدرهم غني وصاحب الخزائن المترعة غني وتفاوت درجات السعداء بحسب تفاوت المعرفة والإيمان كما تتفاوت درجات الأغنياء بحسب قلة المال وكثرته فالمعارف أنوار ولا يسعى المؤمنون إلى لقاء الله تعالى إلا بأنوارهم قال الله تعالى يسعى نورهم بين أيديهم وبأيمانهم وقد روي في الخبر أن بعضهم يعطى نوراً مثل الجبل وبعضهم أصغر حتى يكون آخرهم رجلاً يعطى نوراً على إبهام قدميه فيضيء مرة وينطفيء أخرى فإذا أضاء قدم قدميه فمشى وإذا طفيء قام ومرورهم على الصراط على قدر نورهم فمنهم من يمر كطرف العين ومنهم من يمر كالبرق ومنهم من يمر كالسحاب ومنه من يمر كانقضاض الكواكب ومنهم من يمر كالفرس إذا اشتد في ميدانه والذي أعطي نوراً على إبهام قدمه يحبوحبوا على وجهه ويديه ورجليه يجر يداً ويعلق أخرى ويصيب جوانبه النار فلا يزال كذلك حتى يخلص حديث صحيح على شرط الشيخين
Adapun apa yang dihasilkannya dari ilmu itu sendiri dan apa yang dihasilkannya dari kejernihan serta kesiapan untuk menerima ilmu itu sendiri, maka seseorang tidak dapat lepas darinya, dan tidak ada kebahagiaan bagi seseorang kecuali dengan ilmu dan ma'rifat. Sebagian kebahagiaan lebih mulia daripada sebagian yang lain, sebagaimana tidak ada kekayaan melainkan dengan harta: pemilik satu dirham adalah orang kaya dan pemilik perbendaharaan yang penuh melimpah juga orang kaya. Perbedaan tingkatan orang-orang yang berbahagia adalah sesuai dengan perbedaan ma'rifat dan iman, sebagaimana berbedanya tingkat orang-orang kaya berdasarkan sedikit dan banyaknya harta. Ma'rifat-ma'rifat itu adalah cahaya (anwār), dan orang-orang mukmin tidak akan berjalan menuju pertemuan dengan Allah Ta'ala melainkan dengan cahaya mereka. Allah Ta'ala berfirman: "Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka." (QS. At-Tahrim: 8). Dan telah diriwayatkan dalam riwayat bahwasanya sebagian mereka diberi cahaya sebesar gunung, sebagian mereka lebih kecil darinya, hingga yang paling terakhir dari mereka adalah seorang laki-laki yang diberi cahaya di atas ibu jari kakinya; cahaya itu menyala sesekali dan padam di kali lain. Apabila menyala, ia melangkahkan kakinya lalu berjalan, dan apabila padam, ia berhenti. Penyeberangan mereka di atas Sirath adalah sesuai dengan kadar cahaya mereka: di antara mereka ada yang menyeberang sekejap mata, ada yang menyeberang bagaikan kilat, ada yang menyeberang bagaikan awan, ada yang menyeberang bagaikan meteor yang meluncur, dan ada yang menyeberang bagaikan kuda kencang saat berlari di padang pacuan. Adapun orang yang diberi cahaya pada ibu jari kakinya, ia merangkak dengan wajah, kedua tangan, dan kedua kakinya; ia menyeret satu tangan dan menggantungkan tangan lainnya, sementara kobaran api mengenai lambungnya. Ia terus-menerus dalam keadaan demikian hingga ia selamat. Hadis sahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim.
الحديث فبهذا يظهر تفاوت الناس في الإيمان ولو وزن إيمان أبي بكر بإيمان العالمين سوى النبيين والمرسلين لرجح فهذا أيضاً يضاهي قول القائل لو وزن نور الشمس بنور السرج كلها لرجح فإنما أحاد العوام نوره مثل نور السراج وبعضهم نوره كنور الشمع وإيمان الصديقين نوره كنور القمر والنجوم وإيمان الأنبياء كالشمس وكما ينكشف في نور الشمس صورة الآفاق مع
… Al-Hadits. Maka dari sinilah tampak perbedaan derajat manusia dalam keimanan. Seandainya iman Abu Bakar ditimbang dengan iman seluruh alam selain para nabi dan rasul, niscaya iman Abu Bakar lebih berat. Hal ini juga serupa dengan ucapan orang yang berkata: 'Seandainya cahaya matahari ditimbang dengan seluruh cahaya lampu, niscaya cahaya matahari lebih berat.' Maka sesungguhnya setiap individu dari orang awam, cahayanya seperti cahaya lampu, sebagian mereka cahayanya seperti cahaya lilin, sedangkan iman para shiddiqin cahayanya seperti cahaya bulan dan bintang-bintang, dan iman para nabi seperti matahari. Sebagaimana tampak jelas gambaran penjuru ufuk di dalam cahaya matahari beserta…
اتساع أقطارها ولا ينكشف في نور السراج إلا زواية ضيقة من البيت فكذلك تفاوت انشراح الصدر بالمعارف وانكشاف سعة الملكوت لقلوب العارفين ولذلك جاء في الخبر أنه يقال يوم القيامة أخرجوا من النار من كان في قلبه مثقال ذرة من إيمان ونصف مثقال وربع مثقال وشعيرة وذرة متفق عليه حديث ليس شيء خيراً من ألف مثله إلا الإنسان أو المؤمن أخرجه الطبراني من حديث سلمان بلفظ ﴿الإنسان﴾ ولأحمد من حديث ابن عمر لا نعلم شيئا خيرا من مائة مثله إلا الرجل المؤمن وإسنادهما حسن إشارة إلى تفضيل قلب العارف بالله تعالى الموقن فإنه خير من ألف قلب من العوام وقد قال تعالى وأنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين تفضيلاً للمؤمنين على المسلمين والمراد به المؤمن العارف دون المقلد وقال ﷿ يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا العلم درجات فأراد ههنا بالذين آمنوا الذين صدقوا من غير علم وميزهم عن الذين أوتوا العلم
…Dan hal itu menunjukkan bahwa sebutan (nama) 'mukmin' berlaku pula pada seorang muqallid (pengekor/taklid), meskipun pembenarannya tidak berasal dari mata hati (baṣīrah) dan penyingkapan batin (kasyaf).
ويدل ذلك على أن اسم المؤمن يقع على المقلد وإن لم يكن تصديقه عن بصيرة وكشف
Hal itu menunjukkan bahwa sebutan "mukmin" juga berlaku bagi orang yang bertaklid (muqallid), meskipun pembenaran (tasdiq)-nya tidak berasal dari mata hati (bashirah) dan kasyaf (penyingkapan spiritual).
وفسر ابن عباس ﵄ قوله تعالى والذين أوتوا العلم درجات فقال يرفع الله العالم فوق المؤمن بسبعمائة درجة بين كل درجتين كما بين السماء والأرض وقال ﷺ أكثر أهل الجنة البله وعليون لذوي الألباب حديث فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَى رجل من أصحابي أخرجه الترمذي من حديث أبي أمامة وصححه وقد تقدم في العلم وكذلك الرواية الثانية وفي رواية كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ فبهذه الشواهد يتضح لك تفاوت درجات أهل الجنة بحسب تفاوت قلوبهم ومعارفهم ولهذا كان يوم القيامة يوم التغابن إذ المحروم من رحمة الله عظيم الغبن والخسران والمحروم يرى فوق درجته درجات عظيمة فيكون نظره إليها كنظر الغني الذي يملك عشرة دراهم إلى الغني الذي يملك الأرض من المشرق إلى المغرب وكل واحد منهما غني ولكن ما أعظم الفرق بينهما وما أعظم الغبن على من يخسر حظه من ذلك ﴿وللآخرة أكبر درجات وأكبر تفضيلا﴾
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan firman Allah Ta'ala: "Dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat," lalu berkata: "Allah meninggikan derajat seorang alim di atas seorang mukmin biasa sebanyak tujuh ratus derajat, jarak antara dua derajat adalah seperti jarak antara langit dan bumi." Dan Nabi ﷺ bersabda: "Sebagian besar penghuni surga adalah orang-orang yang polos (al-bulh), sedangkan tempat tertinggi ('Illiyyūn) adalah bagi orang-orang yang berakal tajam (ulul albāb)." Hadis: "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah dari sahabatku." Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dari hadis Abu Umamah dan ia menilainya sahih, dan telah disebutkan di dalam Kitab Ilmu. Demikian pula riwayat kedua, dan dalam sebuah riwayat: "Seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang-bintang." Maka dengan bukti-bukti (syawāhid) ini menjadi jelas bagimu perbedaan derajat penghuni surga sesuai dengan perbedaan hati dan ma'rifat mereka. Oleh sebab itulah hari kiamat disebut Yaumut-Taghābun (Hari Dinampakkannya Kerugian), sebab orang yang terhalang dari rahmat Allah berada dalam kerugian dan kebangkrutan yang amat besar. Orang yang terhalang itu melihat tingkatan-tingkatan yang sangat agung di atas tingkatannya, sehingga pandangannya ke tingkatan itu bagaikan pandangan orang kaya yang hanya memiliki sepuluh dirham kepada orang kaya yang menguasai bumi dari timur hingga barat. Masing-masing dari keduanya memang kaya, namun betapa besarnya perbedaan di antara keduanya dan betapa besarnya kerugian bagi orang yang kehilangan bagiannya dari hal itu. "Dan sungguh, kehidupan akhirat itu lebih besar tingkatannya dan lebih besar keutamaannya." (QS. Al-Isra': 21).
بيان شواهد الشرع على صحة طريق أهل التصوف في اكتساب المعرفة لا من
Penjelasan Bukti-Bukti Syariat atas Keabsahan Jalan Kaum Sufi dalam Memperoleh Ma'rifat, Bukan Melalui…
التعلم ولا من الطريق المعتاد
…Pembelajaran (Formal) dan Bukan Pula Melalui Jalan yang Biasa.
اعلم أن من انكشف له شيء ولو الشيء اليسير بطريق الإلهام والوقوع في القلب من حيث لا يدري فقد صار عارفاً بصحة الطريق ومن لم يدرك ذلك من نفسه قط فينبغي أن يؤمن به فإن درجة المعرفة فيه عزيزة جداً ويشهد لذلك شواهد الشرع والتجارب والحكايات
Ketahuilah bahwa barangsiapa yang telah tersingkap baginya sesuatu—meskipun sangat sedikit—melalui jalan ilham dan terlintas di dalam hati dari arah yang tidak ia ketahui, maka ia telah menjadi orang yang paham ('ārif) akan keabsahan jalan ini. Dan barangsiapa yang sama sekali belum pernah merasakan hal tersebut dari dirinya, maka selayaknya ia beriman/percaya kepadanya, karena derajat ma'rifat pada hal ini sangatlah langka dan mulia. Hal tersebut disaksikan oleh bukti-bukti syariat, pengalaman-pengalaman nyata, dan kisah-kisah.
أما الشواهد فقوله تعالى ﴿والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا﴾ فكل حكمة تظهر من القلب بالمواظبة على العبادة من غير تعلم فهو بطريق الكشف والإلهام وقال ﷺ من عمل بما علم ورثه الله علم ما لم يعلم ووفقه فيما يعمل حتى يستوجب الجنة ومن لم يعمل بما يعلم تاه فيما يعلم ولم يوفق فيما يعمل حتى يستوجب النار // حديث من عمل بما علم الحديث تقدم في العلم دون قوله ووفقه فيما يعمل فلم أرها وقال الله تعالى ﴿ومن يتق الله يجعل له مخرجاً﴾ من الإشكالات والشبه ﴿ويرزقه من حيث لا يحتسب﴾ يعلمه
Adapun dalil-dalil penguatnya adalah firman Allah Ta'ala: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." Maka setiap hikmah yang memancar dari hati dengan melanggengkan ibadah tanpa melalui proses belajar (secara formal), hal itu terjadi melalui jalan kasyaf dan ilham. Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa mengamalkan apa yang ia ketahui, niscaya Allah menganugerahkan kepadanya ilmu tentang apa yang belum ia ketahui, dan memberi taufik kepadanya dalam apa yang ia amalkan hingga ia berhak mendapatkan surga. Dan barang siapa tidak mengamalkan apa yang ia ketahui, niscaya ia tersesat dalam apa yang ia ketahui dan tidak diberi taufik dalam apa yang ia amalkan hingga ia berhak mendapatkan neraka." // Hadits "Barang siapa mengamalkan apa yang ia ketahui…" Hadits ini telah disebutkan di Kitab Al-'Ilm tanpa redaksi "dan memberi taufik kepadanya dalam apa yang ia amalkan", karena aku belum menemukannya. Dan Allah Ta'ala berfirman: "Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya" dari berbagai kerumitan dan syubhat, "dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya" yaitu Allah mengajarkannya.
علماً من غير تعلم ويفطنه من غير تجربة وقال اللَّهُ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تتقوا الله يجعل لكم فرقاناً﴾ قيل نوراً يفرق به بين الحق والباطل ويخرج به من الشبهات ولذلك كان ﷺ يكثر في دعائه من سؤال النور فقال ﷺ اللهم أعطني نوراً وزدني نوراً واجعل لي في قلبي نوراً وفي قبري نوراً وفي سمعي نوراً وفي بصري نوراً حتى قال في شعري وفي بشري وفي لحمي ودمي وعظامي متفق عليه حديث سئل عن قوله تعالى أفمن شرح الله صدر للإسلام الحديث وفي المستدرك من حديث ابن مسعود وقد تقدم في العلم وقال ﷺ لابن عباس اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل حديث علي ما عندنا شيء أسره إلينا رسول الله ﷺ إلا إن يؤتي الله عبداً فهماً في كتابه تقدم في آداب تلاوة القرآن وقيل في تفسير قوله تعالى ﴿يؤتى الحكمة من يشاء﴾ إنه الفهم في كتاب الله وقال تعالى ﴿ففهمناها سليمان﴾ خص ما انكشف باسم الفهم وكان أبو الدرداء يقول المؤمن من ينظر بنور الله من وراء ستر رقيق والله إنه للحق يقذفه الله في قلوبهم ويجريه على ألسنتهم وقال بعض السلف ظن المؤمن كهانة
(Yaitu) ilmu tanpa belajar dan kefahaman tanpa pengalaman. Allah Ta'ala berfirman, 'Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (petunjuk pembeda antara hak dan batil).' Dikatakan (maknanya) adalah cahaya yang membedakan antara yang hak dan yang batil serta mengeluarkan manusia dari syubhat (keraguan). Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ memperbanyak doa memohon cahaya. Beliau ﷺ berdoa, 'Ya Allah, berikanlah aku cahaya, tambahkanlah cahaya padaku, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam kuburku, cahaya pada pendengaranku, dan cahaya pada penglihatanku,' hingga beliau bersabda, 'pada rambutku, kulitku, dagingku, darahku, dan tulang-tulangku.' (Muttafaq 'alaih). Hadis ketika beliau ditanya tentang firman Allah Ta'ala, 'Maka apakah orang yang dilapangkan Allah dadanya untuk (menerima) agama Islam…' (al-hadits), dan dalam Al-Mustadrak dari hadis Ibn Mas'ud, yang telah disebutkan dalam Kitab Ilmu. Dan Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ibn 'Abbas, 'Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan ajarkanlah kepadanya takwil.' Hadis 'Ali: 'Tidak ada pada kami sesuatu yang dirahasiakan oleh Rasulullah ﷺ kepada kami, melainkan bahwa Allah menganugerahkan kepada seorang hamba pemahaman tentang Kitab-Nya,' telah lalu dalam Adab Tilawah Al-Qur'an. Dikatakan dalam tafsir firman Allah Ta'ala, 'Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dikehendaki-Nya,' bahwa hikmah itu adalah pemahaman terhadap Kitab Allah. Allah Ta'ala juga berfirman, 'Maka Kami telah memberikan pemahaman kepada Sulaiman (tentang hukum yang tepat),' di mana Dia mengkhususkan apa yang tersingkap itu dengan nama 'pemahaman'. Abu ad-Darda' pernah berkata, 'Orang mukmin adalah orang yang melihat dengan cahaya Allah dari balik tabir yang tipis. Demi Allah, sungguh itu adalah kebenaran yang Allah pancarkan ke dalam hati mereka dan Dialirkan melalui lidah mereka.' Dan sebagian Ulama Salaf berkata, 'Dugaan orang mukmin itu bagaikan ramalan (karena ketepatannya).'
وقال ﷺ اتقوا فراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله تعالى أخرجه الترمذي حديث العلم علمان الحديث تقدم في العلم وسئل بعض العلماء عن العلم الباطن ما هو فقال هو سر من أسرار الله تعالى يقذفه الله تعالى في قلوب أحبابه لم يطلع عليه ملكاً ولا بشراً وقد قال ﷺ إن من أمتي محدثين ومعلمين ومكلمين وإن عمر منهم حديث إن من أمتي محدثين ومكلمين وإن عمر منهم أخرجه البخاري من حديث أبي هريرة لقد كان فيما قبلكم من الأمم محدثون فإن يك في أمتي أحد فإنه عمر ورواه مسلم من حديث عائشة وقرأ ابن عباس ﵄ وما أرسلنا من قبلك من رسول ولا نبي ولا محدث يعني الصديقين والمحدث هو الملهم والملهم هو الذي انكشف له في باطن قلبه من جهة الداخل لا من جهة المحسوسات الخارجة
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Takutlah kamu akan firasat seorang mukmin, karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah Ta'ala." Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi. Hadis: "Ilmu itu ada dua…" Hadis ini telah disebutkan sebelumnya pada Kitab Ilmu. Dan sebagian ulama ditanya tentang ilmu batin, apakah itu? Maka ia menjawab: "Ia adalah rahasia dari rahasia-rahasia Allah Ta'ala yang dihunjamkan-Nya ke dalam hati para kekasih-Nya, yang tidak diperlihatkan-Nya kepada malaikat maupun manusia." Dan Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya di antara umatku terdapat orang-orang yang diberi ilham (muḥaddatsūn), diajari, dan diajak bicara, dan sesungguhnya Umar adalah salah satu dari mereka." Hadis: "Sesungguhnya di antara umatku terdapat orang-orang yang diberi ilham dan diajak bicara, dan sesungguhnya Umar adalah salah satu dari mereka." Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari hadis Abu Hurairah: "Sungguh telah ada sebelum kamu dari umat-umat terdahulu orang-orang yang diberi ilham (muḥaddatsūn). Jika ada seorang di antara umatku, maka dialah Umar." Dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Aisyah. Dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma membaca: "Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun, tidak pula seorang nabi, dan tidak pula seorang muḥaddats (orang yang diberi ilham)"—yakni para Ṣiddīqīn. Dan seorang muḥaddats adalah orang yang diberi ilham (mulham), sedangkan orang yang diberi ilham adalah orang yang tersingkap baginya di dalam batin hatinya dari arah dalam, bukan dari arah indrawi luar.
والقرآن مصرح بأن التقوى مفتاح الهداية والكشف وذلك علم من غير تعلم وقال الله تعالى وما خلق الله في السموات والأرض لآيات لقوم يتقون خصصها بهم وقال تعالى ﴿هذا بيان للناس وهدى وموعظة للمتقين﴾ وكان أبو يزيد وغيره يقول ليس العالم الذي يحفظ من كتاب فإذا نسي ما حفظه صار جاهلاً إنما العالم الذي يأخذ علمه من ربه أي وقت شاء بلا حفظ ولا درس وهذا هو العلم الرباني وإليه الإشارة بقوله تعالى ﴿وعلمناه من لدنا علماً﴾ مع أن كل علم من لدنه ولكن بعضها بوسائط تعليم الخلق فلا يسمى ذلك علماً لدنيا بل اللدني الذي ينفتح في سر القلب من غير سبب مألوف من خارج فهذه شواهد النقل ولو جمع كل ما ورد فيه من الآيات والأخبار والآثار لخرج عن الحصر
Dan Al-Qur'an menyatakan dengan tegas bahwa takwa adalah kunci petunjuk dan penyingkapan (kasyaf), dan hal itu merupakan ilmu tanpa proses belajar. Allah Ta'ala berfirman: "Dan apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi benar-benar menjadi tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kaum yang bertakwa." (QS. Yunus: 6), di mana Allah mengkhususkan tanda-tanda tersebut bagi mereka. Dan Allah Ta'ala berfirman: "Ini (Al-Qur'an) adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 138). Abu Yazid dan ulama lainnya pernah berkata: "Bukanlah seorang alim itu orang yang menghafal dari buku, sehingga apabila ia lupa apa yang dihafalnya ia menjadi bodoh. Hanyalah seorang alim itu orang yang mengambil ilmunya dari Tuhannya kapan pun ia kehendaki tanpa hafalan dan tanpa pelajaran." Dan inilah yang dinamakan ilmu Rabbani, yang diisyaratkan melalui firman Allah Ta'ala: "Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami (Ilmu Laduni)." (QS. Al-Kahfi: 65). Padahal seluruh ilmu pada hakikatnya berasal dari sisi-Nya, namun sebagian ilmu dipelajari melalui perantara pengajaran makhluk sehingga tidak dinamakan ilmu Laduni. Sebaliknya, ilmu Laduni adalah ilmu yang terbuka di dalam rahasia hati (sirrul-qalb) tanpa sebab yang biasa dari luar. Maka inilah bukti-bukti nukilan (dalil), dan sekiranya dikumpulkan semua ayat, hadis, dan atsar yang berkenaan dengannya, niscaya akan melampaui batas perhitungan.
وأما مشاهدة ذلك بالتجارب فذلك أيضاً خارج عن الحصر وظهر ذلك على الصحابة والتابعين ومن بعدهم وقال أبو بكر الصديق ﵁ لعائشة ﵂ عند موته إنما هما أخواك وأختاك وكانت زوجته
Adapun penyaksian hal tersebut melalui pengalaman nyata (tajārib), maka itu pun di luar perhitungan yang tak terhingga. Hal tersebut telah tampak jelas pada para Sahabat, Tabiin, dan orang-orang setelah mereka. Abu Bakar as-Siddiq radhiyallahu 'anhu pernah berkata kepada Aisyah radhiyallahu 'anha ketika menjelang wafatnya: "Sesungguhnya mereka itu hanyalah dua orang saudaramu laki-laki dan dua orang saudaramu perempuan," padahal istrinya…
حاملاً فولدت بنتاً فكان قد عرف قبل الولادة أنها بنت وقال عمر ﵁ في أثناء خطبته يا سارية الجبل الجبل إذ انكشف له أن العدو قد أشرف عليه فحذره لمعرفته ذلك ثم بلوغ صوته إليه من جملة الكرامات العظيمة وعن أنس بن مالك ﵁ قال دخلت على عثمان ﵁ وكنت قد لقيت امرأة في طريقي فنظرت إليها شزراً وتأملت محاسنها فقال عثمان ﵁ لما دخلت يدخل علي أحدكم وأثر الزنا ظاهر على عينيه أما علمت أن زنا العينين النظر لتتوبن أولأعزرنك فقلت أوحي بعد النبي فقال لا ولكن بصيرة وبرهان وفراسة صادقة وعن أبي سعيد الخراز قال دخلت المسجد الحرام فرأيت فقيراً عليه خرقتان فقلت في نفسي هذا وأشباهه كل على الناس فناداني وقال والله يعلم ما في أنفسكم فاحذروه فاستغفرت الله في سري فناداني وقال ﴿وهو الذي يقبل التوبة عن عباده﴾ ثم غاب عني ولم أره
…sedang hamil lalu melahirkan anak perempuan. Beliau telah mengetahui sebelum kelahiran bahwa janin itu perempuan. Dan Umar radhiyallahu 'anhu berkata di tengah khotbahnya, 'Wahai Sariah, ke gunung! Ke gunung!' ketika tersingkap baginya bahwa musuh sedang mengintai pasukan Sariah, lalu beliau memperingatkannya karena pengetahuannya tersebut, kemudian sampainya suara beliau kepadanya termasuk di antara karamah-karamah yang agung. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku menemui Utsman radhiyallahu 'anhu, dan aku sempat bertemu seorang wanita di jalan lalu aku memandangnya dengan sudut mata dan mengamati keindahannya. Ketika aku masuk, Utsman radhiyallahu 'anhu berkata, 'Salah seorang dari kalian masuk menemuiku sementara bekas zina tampak jelas pada kedua matanya. Tidakkah engkau tahu bahwa zina kedua mata adalah pandangan? Hendaknya engkau bertaubat atau aku benar-benar akan memberimu hukuman ta'zir.' Aku bertanya, 'Apakah ada wahyu setelah Nabi?' Utsman menjawab, 'Tidak, melainkan mata hati (bashirah), bukti nyata (burhan), dan firasat yang jujur (firasah shadiqah).' Dari Abu Sa'id al-Kharraz, ia berkata: Aku masuk ke Masjidil Haram lalu melihat seorang fakir mengenakan dua helai kain lusuh. Aku berkata dalam hatiku, 'Orang ini dan yang sepertinya hanya menjadi beban bagi manusia.' Maka fakir itu memanggilku dan berkata, '(Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatimu,) maka takutlah kepada-Nya.' Aku pun memohon ampun kepada Allah di dalam hatiku. Lalu fakir itu memanggilku lagi dan membaca, 'Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya.' Kemudian ia menghilang dariku dan aku tidak melihatnya lagi.
وقال زكريا بن داود دخل أبو العباس بن مسروق على أبي الفضل الهاشمي وهو عليل وكان ذا عيال ولم يعرف له سبب يعيش به قال فلما قمت قلت في نفسي من أين يأكل هذا الرجل قال فصاح بي يا أبا العباس رد هذه الهمة الدنية فإن لله تعالى ألطافاً خفية وقال أحمد النقيب دخلت على الشبلي فقال مفتوناً يا أحمد فقلت ما الخبر قال كنت جالسا فجرى بخاطري أنك بخيل فقلت ما أنا بخيل فعاد مني خاطري وقال بل أنت بخيل فقلت ما فتح اليوم علي بشيء إلا دفعته إلى أول فقير يلقاني قال فما استتم الخاطر حتى دخل علي صاحب لمؤنس الخادم ومعه خمسون ديناراً فقال اجعلها في مصالحك قال وقمت فأخذتها وخرجت وإذا بفقير مكفوف بين يدي مزين يحلق رأسه فتقدمت إليه وناولته الدنانير فقال أعطها المزين فقلت إن جملتها كذا وكذا قال أو ليس قد قلنا لك إنك بخيل قال فناولتها المزين فقال المزين قد عقدنا لما جلس هذا الفقير بين أيدينا أن لا نأخذ عليه أجراً قال فرميت بها في دجلة وقلت ما أعزك أحد إلا أذله الله ﷿ وقال حمزة بن عبد الله العلوي دخلت على أبي الخير النيناني واعتقدت في نفسي أن أسلم عليه ولا آكل في داره طعاماً فلما خرجت من عنده إذا به قد لحقني وقد حمل طبقاً فيه طعام وقال يا فتى كل فقد خرجت الساعة من اعتقادك وكان أبو الخير النيناني هذا مشهوراً بالكرامات وقال إبراهيم الرقي قصدته مسلماً عليه فحضرت صلاة المغرب فلم يكد يقرأ الفاتحة مستوياً فقلت في نفسي ضاعت سفرتي فلما سلم خرجت إلى الطهارة فقصدني سبع فعدت إلى أبي الخير وقلت قصدني سبع فخرج وصاح به وقال ألم أقل لك لا تتعرض لضيفاني فتنحى الأسد فتطهرت فلما رجعت قال لي اشتغلتم بتقويم الظاهر فخفتم الأسد واشتغلنا بتقويم البواطن فخافنا الأسد
Zakaria bin Dawud berkata: Abu al-Abbas bin Masruq masuk menemui Abu al-Fadhl al-Hasyimi yang sedang sakit. Beliau memiliki keluarga dan tidak diketahui mata pencaharian untuk hidupnya. Abu al-Abbas berkata: Ketika aku berdiri hendak pamit, aku berkata dalam hatiku, 'Dari mana orang ini makan?' Maka beliau berteriak kepadaku, 'Wahai Abu al-Abbas! Buanglah hasrat yang hina ini, karena sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki kelembutan-kelembutan yang tersembunyi (althaf khafiyyah).' Ahmad al-Naqib berkata: Aku menemui al-Syibli, lalu beliau berkata dalam keadaan teruji, 'Wahai Ahmad!' Aku bertanya, 'Ada berita apa?' Beliau menjawab, 'Aku sedang duduk, lalu terlintas di hatiku (khatir) bahwa aku ini bakhil. Aku katakan pada diriku, "Aku bukan orang bakhil." Namun lintasan hati itu kembali dan berkata, "Bahkan engkau bakhil!" Maka aku berikrar, "Tidaklah dibuka bagiku rezeki hari ini melainkan akan aku serahkan kepada fakir pertama yang aku temui."' Beliau melanjutkan, 'Belum selesai lintasan hati itu, masuklah seorang utusan Mu'nis al-Khadim membawa lima puluh dinar dan berkata, "Gunakan ini untuk keperluanmu." Aku berdiri, mengambilnya, lalu keluar. Tiba-tiba ada seorang fakir buta di hadapan tukang cukur yang sedang mencukur rambutnya. Aku mendekatinya dan menyodorkan dinar-dinar itu. Fakir itu berkata, "Berikan kepada tukang cukur." Aku berkata, "Jumlahnya sekian banyak." Fakir itu berkata, "Bukankah kami telah katakan kepadamu bahwa engkau ini bakhil?" Beliau berkata: Maka aku menyodorkannya kepada tukang cukur. Tukang cukur itu berkata, "Kami telah berjanji ketika orang fakir ini duduk di hadapan kami bahwa kami tidak akan mengambil upah darinya." Al-Syibli berkata: Maka aku melemparkan dinar-dinar itu ke Sungai Tigris dan berkata, "Tidaklah seorang pun mengagungkanmu (harta) melainkan Allah Azza wa Jalla akan menghinakannya."' Hamzah bin Abdillah al-Alawi berkata: Aku masuk menemui Abu al-Khair al-Tinani dan aku bertekad dalam hatiku hanya akan mengucapkan salam kepadanya dan tidak akan memakan makanan di rumahnya. Ketika aku keluar dari rumahnya, tiba-tiba beliau menyusulku seraya membawa nampan berisi makanan dan berkata, 'Wahai pemuda, makanlah! Engkau baru saja keluar dari tekadmu.' Abu al-Khair al-Tinani ini sangat masyhur dengan karamah-karamahnya. Ibrahim al-Raqqi berkata: Aku mendatangi Abu al-Khair untuk mengucapkan salam. Tiba waktu shalat Maghrib, dan beliau hampir tidak dapat membaca Al-Fatihah dengan benar. Aku berkata dalam hatiku, 'Sia-sialah perjalananku ini.' Ketika beliau salam, aku keluar untuk bersuci, lalu seekor binatang buas (singa) mengintaimu. Aku kembali kepada Abu al-Khair dan berkata, 'Seekor singa mengintaimu.' Beliau pun keluar dan berteriak kepada singa itu, 'Bukankah aku telah katakan padamu agar tidak mengganggu tamu-tamuku?' Singa itu pun menjauh, lalu aku bersuci. Ketika aku kembali, beliau berkata kepadaku, 'Kalian sibuk meluruskan lahiriah sehingga kalian takut kepada singa, sedangkan kami sibuk meluruskan batiniah sehingga singa yang takut kepada kami.'
وما حكي من تفرس المشايخ وإخبارهم عن اعتقادات الناس وضمائرهم يخرج عن الحصر بل ما حكي عنهم من مشاهدة الخضر ﵇ والسؤال منه ومن سماع صوت الهاتف ومن فنون الكرامات خارج عن الحصر والحكاية لا تنفع الجاحد ما لم يشاهد ذلك من نفسه ومن أنكر الأصل أنكر التفصيل والدليل القاطع الذي لا يقدر أحد على جحده أمران أحدهما عجائب الرؤيا الصادقة فإنه ينكشف بها الغيب وإذا جاز ذلك في النوم فلا يستحيل أيضاً في اليقظة فلم يفارق النوم اليقظة إلا في ركود الحواس وعدم اشتغالها بالمحسوسات فكم من مستيقظ غائص لا يسمع ولا يبصر لاشتغاله بنفسه والثاني أَخْبَارِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ عن الغيب وأمور في المستقبل كما اشتمل عليه القرآن وإذا جاز ذلك للنبي ﷺ جاز لغيره إذ النبي عبارة عن شخص كوشف بحقائق الأمور وشغل بإصلاح الخلق فلا يستحيل أن يكون في الوجود شخص مكاشف بالحقائق ولا يشتغل بإصلاح الخلق وهذا
Kisah-kisah yang diriwayatkan tentang firasat para syekh serta pemberitahuan mereka mengenai iktikad dan isi hati manusia tidaklah terhitung jumlahnya. Bahkan apa yang diriwayatkan dari mereka tentang menyaksikan Khadhir 'alaihissalam dan bertanya kepadanya, mendengar suara tanpa rupa (hatif), serta berbagai jenis karamah lainnya, berada di luar hitungan. Namun, riwayat tidak akan berguna bagi orang yang mengingkari selama ia tidak menyaksikannya sendiri. Barang siapa mengingkari pokoknya, ia tentu akan mengingkari rinciannya. Adapun dalil qath'i (pasti) yang tidak mampu diingkari oleh seorang pun ada dua hal: Pertama, keajaiban mimpi yang benar (al-ru'ya al-shadiqah), sebab dengannya hal ghaib dapat tersingkap. Jika hal itu mungkin terjadi dalam keadaan tidur, maka tidak mustahil pula terjadi dalam keadaan jaga. Tidur tidaklah berbeda dari keadaan jaga kecuali dalam hal tenang/lumpuhnya indra dan tidak tersibukkannya indra dengan objek-objek terinderai. Betapa banyak orang yang terjaga namun tenggelam hingga tidak mendengar dan tidak melihat karena tersibukkan dengan jiwanya sendiri. Kedua, berita-berita dari Rasulullah ﷺ tentang hal ghaib dan perkara masa depan sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur'an. Jika hal itu mungkin terjadi bagi Nabi ﷺ, maka mungkin pula bagi selainnya, sebab Nabi adalah ungkapan bagi seseorang yang tersingkap (mukashafah) baginya hakikat-hakikat perkara dan disibukkan dengan perbaikan makhluk. Maka tidak mustahil jika dalam kewujudan ini ada seseorang yang tersingkap baginya hakikat-hakikat namun tidak disibukkan dengan perbaikan makhluk. Dan orang ini…
لا يسمى نبياً بل يسمى ولياً فمن آمن بالأنبياء وصدق بالرؤيا الصحيحة لزمه لا محالة أن يقر بأن القلب له بابان باب إلى خارج وهو الحواس وباب إلى الملكوت من داخل القلب وهو باب الإلهام والنفث في الروع والوحي فإذا أقربهما جميعاً لم يمكنه أن يحصر العلوم في التعلم ومباشرة الأسباب المألوفة بل يجوز أن تكون المجاهدة سبيل إليه فهذا ما ينبه على حقيقة ما ذكرناه من عجيب تردد القلب بين عالم الشهادة وعالم الملكوت وأما السبب في انكشاف الأمر في المنام بالمثال المحوج إلى التعبير وكذلك تمثل الملائكة للأنبياء والأولياء بصور مختلفة فذلك أيضاً من أسرار عجائب القلب ولا يليق ذلك إلا بعلم المكاشفة فلنقتصر على ما ذكرناه فإنه كاف للاستحثاث على المجاهدة وطلب الكشف منها فقد قال بعض المكاشفين ظهر لي الملك فسألني أملي عليه شيئاً من ذكري الخفي عن مشاهدتي من التوحيد وقال ما نكتب لك عملاً ونحن نحب أن نصعد لك بعمل تتقرب به إلى الله ﷿ فقلت ألستما تكتبان الفرائض قالا بلى قلت فيكفيكما ذلك وهذه إشارة إلى أن الكرام الكاتبين لا يطلعون على أسرار القلب وإنما يطلعون على الأعمال الظاهرة وقال بعض العارفين سألت بعض الأبدال عن مسألة من مشاهدة اليقين فالتفت إلى شماله فقال ما تقول رحمك الله ثم التفت إلى يمينه فقال ما تقول رحمك الله ثم أطرق إلى صدره وقال ما تقول رحمك الله ثم أجاب بأغرب جواب سمعته فسألته عن التفاته فقال لم يكن عندي في المسألة جواب عتيد فسألت صاحب الشمال فقال لا أدري فسألت صاحب اليمين وهو أعلم منه فقال لا أدري فنظرت إلى قلبي وسألته فحدثني بما أجبتك فإذا هو أعلم منهما وكأن هذا هو معنى قوله ﷺ إن في أمتي محدثين وإن عمر منهم
…tidak dinamakan nabi, melainkan dinamakan wali. Barang siapa beriman kepada para nabi dan membenarkan mimpi yang shahih, maka ia secara pasti harus mengakui bahwa hati memiliki dua pintu: pintu ke arah luar yaitu pancaindra, dan pintu ke alam Malakut dari dalam hati yaitu pintu ilham, tiupan ke dalam jiwa (nafth fi al-rau'), dan wahyu. Apabila ia mengakui keduanya, ia tidak akan mungkin membatasi ilmu hanya pada proses belajar (ta'allum) dan mengupayakan sebab-sebab yang biasa, melainkan ia membolehkan bahwa mujahadah bisa menjadi jalan menuju ilmu tersebut. Inilah apa yang mengingatkan pada hakikat dari apa yang telah kami sebutkan tentang ajaibnya bolak-baliknya hati antara alam Syahadah dan alam Malakut. Adapun sebab tersingkapnya perkara dalam tidur melalui perumpamaan yang membutuhkan takwil (ta'bir), demikian pula penjelmaan malaikat kepada para nabi dan wali dalam rupa yang berbeda-beda, maka itu pun termasuk dari rahasia-rahasia keajaiban hati yang hanya layak dibahas dalam ilmu Mukashafah. Maka cukuplah kita membatasi pada apa yang telah kami sebutkan, karena itu sudah cukup untuk mendorong mujahadah dan menuntut tersingkapnya rahasia (kasyf) darinya. Sungguh sebagian ahli mukashafah berkata: 'Malaikat menampakkan diri kepadaku lalu memintaku mendiktenkan kepadanya sesuatu dari zikir tersembunyiku dari penyaksianku (musyahadah) tentang tauhid. Malaikat itu berkata: "Kami tidak mencatat suatu amal bagimu, sedangkan kami ingin naik membawakan amal bagimu yang dengannya engkau mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla." Aku menjawab: "Bukankah kalian berdua mencatat kewajiban-kewajiban?" Mereka menjawab: "Ya." Aku berkata: "Cukuplah itu bagi kalian."' Ini adalah isyarat bahwa para malaikat pencatat yang mulia (kiraman katibin) tidak melihat rahasia-rahasia hati, melainkan hanya mengetahui amal-amal lahiriah. Sebagian arifin (orang bijak makrifat) berkata: Aku bertanya kepada salah seorang Wali Abdal tentang satu masalah dari penyaksian keyakinan (musyahadah al-yaqin). Maka ia menoleh ke sebelah kirinya dan berkata, 'Apa pendapatmu, semoga Allah merahmatimu?' Kemudian ia menoleh ke sebelah kanannya dan berkata, 'Apa pendapatmu, semoga Allah merahmatimu?' Lalu ia menundukkan kepala ke dadanya dan berkata, 'Apa pendapatmu, semoga Allah merahmatimu?' Kemudian ia menjawab dengan jawaban paling menakjubkan yang pernah aku dengar. Aku bertanya kepadanya tentang pilihannya menoleh, maka ia menjawab, 'Aku tidak memiliki jawaban yang siap untuk masalah tersebut. Maka aku bertanya kepada malaikat sebelah kiri, ia menjawab: Aku tidak tahu. Aku bertanya kepada malaikat sebelah kanan yang lebih tahu darinya, ia pun menjawab: Aku tidak tahu. Lalu aku melihat ke dalam hatiku dan bertanya kepadanya, maka hati menuturkan kepadaku apa yang telah kujawabkan kepadamu, ternyata hati lebih tahu dari keduanya.' Seakan-akan inilah makna dari sabda Nabi ﷺ: 'Sesungguhnya di antara umatku terdapat al-muhaddatsun (orang-orang yang diberi ilham), dan sesungguhnya Umar adalah salah satu dari mereka.'
وفي الأثر إن الله تعالى يقول أيما عبد اطلعت على قلبه فرأيت الغالب عليه التمسك بذكرى توليت سياسته وكنت جليسه ومحادثه وأنيسه وقال أبو سليمان الداراني رحمة الله عليه القلب بمنزلة القبة المضروبة حولها أبواب مغلقة فأي باب فتح له عمل فيه فقد ظهر انفتاح باب من أبواب القلب إلى جهة الملكوت والملأ الأعلى وينفتح ذلك الباب بالمجاهدة والورع والإعراض عن شهوات الدنيا ولذلك كتب عمر ﵁ إلى أمراء الأجناد احفظوا ما تسمعون من المطيعين فإنهم ينجلي لهم أمور صادقة وقال بعض العلماء يد الله على أفواه الحكماء لا ينطقون إلا بما هيأ الله لهم من الحق وقال آخر لو شئت لقلت إن الله تعالى يطلع الخاشعين على بعض سره
Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Allah Ta'ala berfirman: 'Hamba mana pun yang Aku lihat hatinya, lalu Aku mendapati yang mendominasi dirinya adalah berpegang teguh pada mengingat-Ku (zikir kepada-Ku), maka Aku yang mengurus bimbingannya, dan Aku menjadi teman duduknya, teman bicaranya, serta penghiburnya.' Abu Sulaiman al-Darani rahmatullah 'alaihi berkata: 'Hati itu bagaikan kubah yang ditegakkan, di sekelilingnya terdapat pintu-pintu yang tertutup. Pintu mana pun yang dibuka baginya, ia akan beramal padanya.' Sungguh telah tampak terbukanya salah satu pintu hati ke arah alam Malakut dan al-Mala' al-A'la (para malaikat tertinggi), dan pintu itu terbuka dengan mujahadah, warak, serta berpaling dari syahwat-syahwat dunia. Oleh karena itu, Umar radhiyallahu 'anhu menulis surat kepada para panglima pasukan: 'Peliharalah apa yang kalian dengar dari orang-orang yang taat, karena sesungguhnya tersingkap bagi mereka perkara-perkara yang jujur (benar).' Sebagian ulama berkata: 'Tangan Allah berada di atas mulut orang-orang bijak (hukama'), mereka tidak berbicara melainkan dengan kebenaran yang telah disiapkan Allah bagi mereka.' Yang lain berkata: 'Jika aku mau, sungguh aku dapat katakan bahwa Allah Ta'ala memperlihatkan sebagian rahasia-Nya kepada orang-orang yang khusyuk.'
بيان تسلط الشيطان على القلب بالوساوس ومعنى الوسوسة وسبب غلبتها
Penjelasan tentang Penguasaan Setan atas Hati dengan Bisikan-Bisikan (Waswas), Makna Waswas, dan Sebab Dominasinya
اعلم أن القلب كما ذكرناه مثل قبة مضروبة لها أبواب تنصب إليه الأحوال من كل باب ومثاله أيضاً مثال هدف تنصب إليه السهام من الجوانب أو هو مثال مرآة منصوبة تجتاز عليها أصناف الصور المختلفة فتتراءى فيها صورة بعد صورة ولا تخلو عنها أو مثال حوض تنصب فيه مياه مختلفة من أنهار مفتوحة إليه وإنما مداخل هذه الآثار المتجددة في القلب في كل حال أما من الظاهر فالحواس الخمس وأما من الباطن فالخيال والشهوة والغضب والأخلاق المركبة من مزاج الإنسان فإنه إذا أدرك بالحواس شيئاً حصل منه أثر في القلب وكذلك إذا هاجت الشهوة مثلاً بسبب كثرة الأكل وبسبب قوة في المزاج حصل منها في القلب أثر وإن كف عن الإحساس فالخيالات الحاصلة في النفس تبقى وينتقل الخيال من شيء إلى شيء وبحسب انتقال الخيال ينتقل القلب من حال إلى حال آخر والمقصود أن القلب في التغير والتأثر دائماً من هذه الأسباب وأخص الآثار الحاصلة في القلب هو الخواطر وأعني بالخواطر ما يحصل فيه من الأفكار والأذكار وأعني به إدراكاته علوماً إما على سبيل التجدد وإما على سبيل التذكر فإنها تسمى خواطر من حيث أنها تخطر بعد أن كان القلب غافلاً عنها والخواطر هي المحركات للإرادات
Ketahuilah bahwa hati, sebagaimana telah kami sebutkan, ibarat kubah yang didirikan yang memiliki pintu-pintu, di mana keadaan-keadaan (ahwal) mengalir kepadanya dari setiap pintu. Perumpamaannya juga seperti sasaran yang dihujani anak panah dari segala penjuru, atau seperti cermin yang dipasang lalu dilewati oleh berbagai jenis bentuk gambaran yang berbeda, sehingga tampak padanya gambaran demi gambaran dan tidak pernah kosong darinya, atau seperti kolam yang dialiri berbagai air dari sungai-sungai yang terbuka menuju kepadanya. Adapun tempat-tempat masuknya bekas-bekas (atsar) yang baru terjadi di dalam hati pada setiap keadaan, dari segi lahiriah adalah pancaindra yang lima, sedangkan dari segi batiniah adalah khayal (imajinasi), syahwat, amarah, dan akhlak yang terkomposisi dari watak/temperamen manusia. Sebab apabila seseorang mengindera sesuatu dengan pancaindra, maka timbullah suatu kesan di dalam hati. Demikian pula jika syahwat bergejolak—misalnya karena banyak makan dan karena kuatnya temperamen—maka timbullah dengannya suatu kesan di dalam hati. Dan jika ia menahan diri dari mengindera, maka khayalan-khayalan yang terjadi dalam jiwa tetap ada, dan khayalan berlanjut dari satu hal ke hal lain; sesuai dengan perpindahan khayalan itu, berpindahlah hati dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Maksudnya adalah bahwa hati senantiasa berada dalam perubahan dan pengaruh dari sebab-sebab ini. Dan kesan paling khusus yang terjadi dalam hati adalah lintasan-lintasan pikiran (khawatir). Yang aku maksud dengan khawatir adalah apa yang terjadi di dalam hati berupa pikiran-pikiran dan ingatan-ingatan, yaitu persepsinya terhadap pengetahuan baik secara pembaharuan maupun secara pengingatan kembali. Ia dinamakan khawatir (lintasan hati) dari segi bahwa ia melintas setelah sebelumnya hati lalai darinya. Dan lintasan-lintasan hati itulah yang menggerakkan kehendak-kehendak (iradah).
فإن النية والعزم والإرادة إنما تكون بعد خطور المنوى بالبال لا محالة فمبدأ الأفعال الخواطر ثم الخاطر يحرك الرغبة والرغبة تحرك العزم والعزم يحرك النية والنية تحرك الأعضاء والخواطر المحركة للرغبة تنقسم إلى ما يدعو إلى الشر أعني إلى ما يضر في العاقبة وإلى ما يدعو إلى الخير أعني إلى ما ينفع في الدار الآخرة فهما خاطران مختلفان فافتقرا إلى اسمين مختلفين فالخاطر المحمود يسمى إلهاماً والخاطر المذموم أعنى الداعي إلى الشر يسمى وسواساً ثم إنك تعلم أن هذه الخواطر حادثة ثم إن كل حادث فلا بد له من محدث ومهما اختلفت الحوادث دل ذلك على اختلاف الأسباب هذا ما عرف من سنة الله تعالى في ترتيب المسببات على الأسباب
Sebab niat, tekad (azam), dan kehendak (iradah) tidak lain terjadi melainkan setelah terlintasnya hal yang diniatkan di dalam pikiran secara pasti. Maka permulaan dari amal perbuatan adalah lintasan hati (khathir), kemudian lintasan hati menggerakkan hasrat (raghbah), hasrat menggerakkan tekad (azam), tekad menggerakkan niat, dan niat menggerakkan anggota badan. Lintasan-lintasan hati yang menggerakkan hasrat terbagi menjadi apa yang mengajak kepada keburukan—maksudku apa yang memudaratkan di kemudian hari (akhirat)—dan apa yang mengajak kepada kebaikan—maksudku apa yang bermanfaat di negeri akhirat. Keduanya adalah dua lintasan hati yang berbeda, sehingga membutuhkan dua nama yang berbeda pula. Lintasan hati yang terpuji dinamakan ilham, sedangkan lintasan hati yang tercela—yaitu yang mengajak kepada keburukan—dinamakan waswas (bisikan setan). Kemudian engkau mengetahui bahwa lintasan-lintasan hati ini adalah sesuatu yang baru (hadits), dan setiap yang baru pasti membutuhkan pencipta/penimbul (muhdits). Setiap kali hal-hal yang baru itu berbeda, hal itu menunjukkan perbedaan sebab-sebabnya. Inilah apa yang diketahui dari sunnatullah Ta'ala dalam mengurutkan akibat-akibat (musabbabat) berdasarkan sebab-sebabnya (asbab).
فمهما استنارت حيطان البيت بنور النار وأظلم سقفه واسود بالدخان علمت أن سبب السواد غير سبب الاستنارة
Maka ketika dinding-dinding rumah menjadi terang oleh cahaya api, sedangkan atapnya menjadi gelap dan menghitam oleh asap, engkau mengetahui bahwa sebab kehitaman itu berbeda dari sebab penerangan.
وكذلك لأنوار القلب وظلمته سببان مختلفان فسبب الخاطر الداعي إلى الخير يسمى ملكاً وسبب الخاطر الداعي إلى الشر يسمى شيطانا واللطف الذي يتهيأ به القلب لقبول إلهام الخير يسمى توفيقا والذي به يتهيأ لقبول وسواس الشيطان يسمى إغواء وخذلاناً فإن المعاني المختلفة تفتقر إلى أسامي مختلفة والملك عبارة عن خلق خلقه الله تعالى شأنه إفاضة الخير وإفادة العلم وكشف الحق والوعد بالخير والأمر بالمعروف وقد خلقه وسخره لذلك والشيطان عبارة عن خلق شأنه ضد ذلك وهو الوعد بالشر والأمر بالفحشاء والتخويف عند الهم بالخير بالفقر فالوسوسة في مقابلة الإلهام والشيطان في مقابلة الملك والتوفيق في مقابلة الخذلان وإليه الإشارة بقوله تعالى ﴿ومن كل شيء خلقنا زوجين﴾ فإن الموجودات كلها متقابلة مزدوجة إلا الله تعالى فإنه فرد لا مقابل له بل هو الواحد الحق الخالق للأزواج كلها فالقلب متجاذب بين الشيطان والملك وقد قال ﷺ في القلب لمتان لمة من الملك إيعاد بالخير وتصديق بالحق فمن وجد ذلك فليعلم أنه من الله سبحانه وليحمد الله ولمة من العدو إيعاد بالشر وتكذيب بالحق ونهي عن الخير فمن وجد ذلك فليستعذ بالله من الشيطان الرجيم ثم تلا قوله تعالى الشيطان يعدكم الفقر ويأمركم بالفحشاء أخرجه الترمذي والنسائي حديث قلب المؤمن بين إصبعين الحديث تقدم فالله يتعالى عن أن يكون له أصبع مركبة من لحم ودم وعصب منقسمة بالأنامل ولكن روح الإصبع سرعة التقليب والقدرة على التحريك والتغيير فإنك لا تريد إصبعك لشخصه بل لفعله في التقليب والترديد كما أنك تتعاطى الأفعال بأصابعك والله تعالى يفعل ما يفعل باستسخار الملك والشيطان وهما مسخران بقدرته في تقليب القلوب كما أن أصابعك مسخرة لك في تقليب الأجسام مثلا والقلب بأصل الفطرة صالح لقبول آثار الملك ولقبول آثار الشيطان صلاحاً متساوياً ليس يترجح أحدهما على الآخر وإنما يترجح أحد الجانبين باتباع الهوى والإكباب على الشهوات أو الإعراض عنها ومخالفتها فإن اتبع الإنسان مقتضى الغضب والشهوة ظهر تسلط الشيطان بواسطة الهوى وصار القلب عش الشيطان ومعدنه لأن الهوى هو مرعى الشيطان ومرتعه وإن جاهد الشهوات ولم يسلطها على نفسه وتشبه بأخلاق الملائكة ﵈ صار قلبه مستقر الملائكة ومهبطهم ولما كان لا يخلو قلب عن شهوة وغضب وحرص وطمع وطول أمل إلى غير ذلك من صفات البشرية المتشعبة عن الهوى لا جرم لم يخل قلب عن أن يكون للشيطان فيه جولان بالوسوسة ولذلك قال ﷺ ما منكم
Demikian pula bagi cahaya-cahaya hati dan kegelapannya terdapat dua sebab yang berbeda. Sebab bagi lintasan hati yang mengajak kepada kebaikan dinamakan Malaikat, sedangkan sebab bagi lintasan hati yang mengajak kepada keburukan dinamakan Setan. Kelembutan (taufik/kelembutan Ilahi) yang membuat hati bersiap menerima ilham kebaikan dinamakan Taufik, sedangkan yang membuatnya bersiap menerima bisikan setan dinamakan Penyesatan (Ighwa') dan Penelantaran (Khidzlan). Sebab makna-makna yang berbeda memerlukan nama-nama yang berbeda pula. Malaikat adalah ungkapan tentang makhluk yang diciptakan Allah Ta'ala yang urusannya adalah melimpahkan kebaikan, memberi faedah ilmu, menyingkap kebenaran, menjanjikan kebaikan, dan menyuruh kepada yang ma'ruf; Allah telah menciptakan dan menundukkannya untuk hal tersebut. Sedangkan Setan adalah ungkapan tentang makhluk yang urusannya berlawanan dengan itu, yaitu menjanjikan keburukan, menyuruh kepada kekejian, dan menakut-nakuti dengan kemiskinan ketika hendak berbuat kebaikan. Maka bisikan (waswas) berhadapan dengan ilham, Setan berhadapan dengan Malaikat, dan Taufik berhadapan dengan Khidzlan (penelantaran). Kepadanyalah isyarat firman Allah Ta'ala: 'Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan.' Sebab semua keberadaan (wujud) berpasangan dan berlawanan kecuali Allah Ta'ala, karena Dia Maha Tunggal tidak ada tandingan/pasangan bagi-Nya, melainkan Dialah Yang Maha Esa lagi Mahabenar, Pencipta seluruh pasangan. Maka hati ditarik di antara Setan dan Malaikat. Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Di dalam hati terdapat dua bisikan/sentuhan (lammah): bisikan dari Malaikat yaitu janji kebaikan dan pembenaran terhadap kebenaran; barang siapa mendapati hal itu maka hendaknya ia mengetahui bahwa itu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hendaknya memuji Allah. Dan bisikan dari musuh (setan) yaitu janji keburukan, pendustaan terhadap kebenaran, dan larangan dari kebaikan; barang siapa mendapati hal itu maka hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.' Kemudian beliau membaca firman Allah Ta'ala: 'Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji' (Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dan al-Nasa'i). Hadis 'Hati seorang mukmin berada di antara dua jemari…' hadis ini telah lalu. Allah Maha Suci dari memiliki jari yang tersusun dari daging, darah, dan urat yang terbagi atas ruas-ruas jari, tetapi substansi (ruh) dari 'jari' adalah kecepatan membolak-balikkan serta kemampuan untuk menggerakkan dan mengubah. Sebab engkau tidak menghendaki jarimu karena zat fisiknya, melainkan karena perbuatannya dalam membolak-balik dan memutar, sebagaimana engkau melakukan perbuatan-perbuatan dengan jari-jarimu. Allah Ta'ala melakukan apa yang Dia kehendaki dengan menundukkan Malaikat dan Setan, dan keduanya ditundukkan oleh kekuasaan-Nya dalam membolak-balikkan hati, sebagaimana jari-jarimu ditundukkan bagimu dalam membolak-balikkan benda-benda misalnya. Hati berdasarkan asal fitrahnya layak menerima kesan Malaikat dan menerima kesan Setan dengan kelayakan yang setara, tidak satu pun yang mengungguli yang lain. Salah satu sisi hanyalah mengungguli dengan cara mengikuti hawa nafsu dan memperturutkan syahwat, atau berpaling darinya dan menyelisihinya. Jika manusia mengikuti tuntutan amarah dan syahwat, tampaklah penguasaan Setan melalui perantara hawa nafsu, sehingga hati menjadi sarang dan markas Setan, karena hawa nafsu adalah ladang dan tempat gembala Setan. Namun jika ia memusuhi syahwat dan tidak menguasakannya atas dirinya serta menyerupai akhlak para malaikat 'alaihimussalam, jadilah hatinya tempat kediaman dan tempat turunnya para malaikat. Dan karena tidak ada satu hati pun yang sunyi dari syahwat, amarah, ketamakan, kerakusan, panjang angan-angan, dan sifat-sifat kemanusiaan lainnya yang bercabang dari hawa nafsu, maka niscaya tidak ada hati yang sunyi dari adanya penjelajahan Setan di dalamnya dengan bisikan. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidak ada seorang pun di antara kalian…'
من أحد إلا وله شيطان قالوا وأنت يا رسول الله قال وأنا إلا أن الله أعانني عليه فأسلم فلا يأمر إلا بخير أخرجه مسلم حديث ابن أبي العاص إن الشيطان حال بيني وبين صلاتي الحديث أخرجه مسلم من حديث ابن أبي العاص
…melainkan ia memiliki setan.' Para sahabat bertanya, 'Apakah engkau juga, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Aku pun demikian, hanya saja Allah telah menolongku menghadapinya sehingga ia masuk Islam (atau: aku selamat darinya), maka ia tidak menyuruhku kecuali kepada kebaikan.' (Diriwayatkan oleh Muslim). Hadis Ibn Abi al-Ash: 'Sesungguhnya setan telah menghalangi antara aku dan shalatku…' Hadis diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Ibn Abi al-Ash.
وفي الخبر إن للوضوء شيطاناً يقال له الولهان فاستعيذوا بالله منه أخرجه ابن ماجه والترمذي غريب وليس اسناده بالقوي حديث أنس إن الشيطان واضع خطمه على قلب ابن آدم الحديث أخرجه ابن أبي الدنيا في كتاب مكايد الشيطان وأبو يعلى الموصلي وابن عدي في الكامل وضعفه وقال ابن وضاح في حديث ذكره إذا بلغ الرجل أربعين سنة ولم يتب ولم يتب مسح الشيطان وجهه بيده
Dalam riwayat disebutkan: 'Sesungguhnya dalam wudhu terdapat setan yang dinamakan al-Walahan, maka memohonlah perlindungan kepada Allah darinya.' (Diriwayatkan oleh Ibn Majah dan al-Tirmidzi, gharib dan sanadnya tidak kuat). Hadis Anas: 'Sesungguhnya setan meletakkan belalainya di atas hati anak Adam…' Hadis diriwayatkan oleh Ibn Abi al-Dunya dalam kitab Makayid al-Syaythan, Abu Ya'la al-Maushili, dan Ibn 'Adi dalam al-Kamil dan ia melemahkannya. Ibn Wadhdhah berkata dalam hadis yang disebutkannya: 'Jika seseorang telah mencapai usia empat puluh tahun dan belum bertaubat, setan mengusap wajah orang itu dengan tangannya…'
وقال بأبى وجه من لا يفلح حديث إن الشيطان يجري من ابن آدم مجرى الدم تقدم وذلك لأن الجوع يكسر الشهوة ومجرى الشيطان الشهوات ولأجل اكتناف الشهوات للقلب من جوانبه قال الله تعالى إخباراً عن إبليس لأقعدن لهم صراطك المستقيم ثم لآتينهم من بين أيديهم ومن خلفهم وعن أيمانهم وعن شمائلهم وقال ﷺ إن الشيطان قعد لابن آدم بطرق فقعد له بطريق الإسلام فقال أتسلم وتترك دينك ودين آبائك فعصاه وأسلم ثم قعد له بطريق الهجرة فقال أتهاجر أتدع أرضك وسمائك فعصاه وهاجر هو قعد له بطريق الجهاد فقال أتجاهد وهو تلف النفس والمال فتقاتل فتقتل فتنكح نساؤك ويقسم مالك فعصاه وجاهد حديث ما من أحد إلا له شيطان الحديث تقدم
…dan setan berkata: "Demi ayahku, inilah wajah orang yang tidak beruntung."' Hadis: 'Sesungguhnya setan berjalan pada anak Adam melalui aliran darah,' telah disebutkan sebelumnya. Hal itu karena lapar mematahkan syahwat, sedangkan jalan aliran setan adalah syahwat. Karena mengepungnya syahwat pada hati dari segala penjuru, Allah Ta'ala berfirman memberitahukan tentang Iblis: 'Pasti aku akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.' Dan Nabi ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya setan menghadang anak Adam di jalan-jalannya. Ia menghalanginya di jalan Islam seraya berkata: "Apakah engkau akan masuk Islam dan meninggalkan agamamu serta agama nenek moyangmu?" Namun ia mendurhakainya dan tetap masuk Islam. Kemudian setan menghalanginya di jalan hijrah seraya berkata: "Apakah engkau akan berhijrah dan meninggalkan tanah airmu serta langitmu?" Namun ia mendurhakainya dan tetap berhijrah. Lalu setan menghalanginya di jalan jihad seraya berkata: "Apakah engkau akan berjihad padahal itu membinasakan jiwa dan harta, engkau akan berperang lalu terbunuh sehingga istri-istrimu dinikahi orang lain dan hartamu dibagi-bagikan?" Namun ia mendurhakainya dan tetap berjihad.' Hadis 'Tidak ada seorang pun melainkan ia memiliki setan…' hadis ini telah disebutkan sebelumnya.
فقد اتضح بهذا النوع من الاستبصار معنى الوسوسة والإلهام والملك والشيطان والتوفيق والخذلان فبعد هذا نظر من ينظر في ذات الشيطان أنه جسم لطيف أو ليس بجسم وإن كان جسماً فكيف يدخل بدن الإنسان ما هو جسم فهذا الآن غير محتاج إليه في علم المعاملة بل مثال الباحث عن هذا مثال من دخلت في ثيابه حية وهو محتاج إلى إزالتها ودفع ضررها فاشتغل بالبحث عن لونها وشكلها وطولها وعرضها وذلك عين الجهل فمصادمة الخواطر الباعثة على الشر قد علمت ودل ذلك على أنه عن سبب لا محالة وعلم أن الداعي إلى الشر المحذور في المستقبل عدو فقد عرف العدو لا محال فينبغي أن يشتغل بمجاهدته وقد عرف الله سبحانه عداوته في مواضع كثيرة من كتابه ليؤمن به ويحترز عنه فقال تعالى إن الشيطان لكم عدو فاتخذوه عدواً إنما يدعو حزبه ليكونوا من أصحاب السعير وقال تعالى ألم أعهد إليكم يا بني آدم أن لا تعبدوا الشيطان إنه لكم عدو مبين فينبغي للعبد أن يشتغل بدفع العدو عن نفسه لا بالسؤال عن أصله ونسبه ومسكنه نعم ينبغي أن يسأل عن سلاحه ليدفعه عن نفسه وسلاح الشيطان الهوى والشهوات وذلك كاف للعالمين فأما معرفة ذاته وصفاته وحقيقته نعوذ بالله منه وحقيقة الملائكة فذلك ميدان العارفين المتغلغلين في علوم المكاشفات فلا يحتاج في علم المعاملة إلى معرفته نعم ينبغي أن يعلم أن الخواطر تنقسم إلى ما يعلم قطعاً أنه داع إلى الشر فلا يخفى كونه وسوسة وإلى ما يعلم أنه داع إلى الخير فلا يشك في كونه إلهاماً وإلى ما يتردد فيه فلا يدري أنه من لمة الملك أو من لمة الشيطان فإن من مكايد الشيطان أن يعرض الشر في معرض الخير والتمييز في ذلك غامض وأكثر العباد به يهلكون فإن الشيطان لا يقدر على دعائهم إلى الشر الصريح فيصور الشر بصورة الخير كما يقول للعالم بطريق الوعظ أما تنظر إلى الخلق وهم موتى من الجهل هلكى من الغفلة قد أشرفوا على النار
Maka telah jelas dengan jenis pengamatan mendalam ini makna waswas, ilham, malaikat, setan, taufik, dan khidzlan (penelantaran). Setelah ini, pandangan orang yang meneliti zat setan apakah ia berupa jasad yang halus (jism lathif) atau bukan jasad, dan jika berupa jasad bagaimana sesuatu yang berupa jasad dapat masuk ke dalam tubuh manusia, maka hal ini sekarang tidak dibutuhkan dalam ilmu Muamalah. Bahkan perumpamaan orang yang memedulikan hal ini adalah seperti orang yang bajunya dimasuki ular dan ia perlu menyingkirkannya serta menolak bahayanya, namun ia justru sibuk meneliti warna, bentuk, panjang, dan lebarnya, dan hal itu adalah murni kebodohan. Pertembungan lintasan-lintasan hati yang mendorong kepada keburukan telah diketahui, dan hal itu menunjukkan bahwa ia berasal dari suatu sebab secara pasti. Dan diketahui bahwa yang mengajak kepada keburukan yang dikhawatirkan di masa depan adalah musuh; maka musuh itu telah diketahui secara pasti, sehingga sepantasnya seseorang sibuk memusuhinya/memeranginya. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberitahukan permusuhannya di banyak tempat dalam Kitab-Nya agar manusia beriman kepadanya dan berhati-hati darinya. Allah Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.' Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai anak Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.' Maka sepantasnya bagi seorang hamba untuk disibukkan dengan menolak musuh dari dirinya, bukan bertanya tentang asal-usulnya, nasabnya, dan tempat tinggalnya. Ya, memang sepantasnya ia bertanya tentang senjatanya agar ia dapat menolaknya dari dirinya; dan senjata setan adalah hawa nafsu serta syahwat, dan hal itu cukuplah bagi orang-orang yang berilmu. Adapun mengenali zatnya, sifat-sifatnya, dan hakikatnya—kita memohon perlindungan kepada Allah darinya—serta hakikat para malaikat, maka itu adalah medan bagi para arifin yang mendalami ilmu-ilmu Mukashafah, sehingga tidak dibutuhkan dalam ilmu Muamalah untuk mengetahuinya. Ya, sepantasnya ia mengetahui bahwa lintasan-lintasan hati terbagi menjadi: apa yang diketahui secara pasti bahwa ia mengajak kepada keburukan sehingga tidak tersembunyi keberadaannya sebagai waswas; apa yang diketahui bahwa ia mengajak kepada kebaikan sehingga tidak diragukan keberadaannya sebagai ilham; dan apa yang diragukan di dalamnya sehingga tidak diketahui apakah itu dari bisikan malaikat atau dari bisikan setan. Sebab di antara tipu daya setan adalah menampilkan keburukan dalam wujud kebaikan, dan pembedaan dalam hal itu sangat samar sehingga kebanyakan hamba binasa karenanya. Karena setan tidak mampu mengajak mereka kepada keburukan secara terang-terangan, maka ia menggambarkan keburukan dengan rupa kebaikan, sebagaimana ia berkata kepada seorang alim dengan cara menasihati: 'Tidakkah engkau melihat kepada makhluk bahwa mereka mati karena kebodohan, binasa karena kelalaian, dan telah berada di tepi jurang neraka?
أما لك رحمة على عباد الله تنقذهم من المعاطب بنصحك ووعظك وقد أنعم الله عليك بقلب بصير ولسان ذلق ولهجة مقبولة فكيف تكفر نعمة الله تعالى وتتعرض لسخطه وتسكت عن إشاعة العلم ودعوة الخلق إلى الصراط المستقيم وهو لا يزال يقرر ذلك في نفسه ويستجره بلطيف الحيل إلى أن يشتغل بوعظ الناس ثم يدعوه بعد ذلك إلى أن يتزين لهم ويتصنع بتحسين اللفظ وإظهار الخير ويقول له إن لم تفعل ذلك سقط وقع كلامك من قلوبهم ولم يهتدوا إلى الحق ولا يزال يقرر ذلك عنده وهو في أثنائه يؤكد فيه شوائب الرياء وقبول الخلق ولذة الجاه والتعزز بكثرة الأتباع والعلم والنظر إلى الخلق بعين الاحتقار فيستدرج المسكين بالنصح إلى الهلاك فيتكلم وهو يظن أن قصده الخير وإنما قصده الجاه والقبول فيهلك بسببه وهو يظن أنه عند الله بمكان وهو من الذين قال فيهم رسول الله ﷺ أن الله ليؤيد هذا الدين بقوم لا خلاق لهم حديث إن الله يؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر متفق عليه من حديث أبي هريرة وقد تقدم في العلم ولذلك روي أن إبليس لعنه الله تمثل لعيسى ابن مريم ﷺ فقال له قل لا إله إلا الله فقال كلمة حق ولا أقولها بقولك لأن له أيضاً تحت الخير تلبيسات وتلبيسات الشيطان من هذا الجنس لا تتناهى وبها يهلك العلماء والعباد والزهاد والفقراء والأغنياء وأصناف الخلق ممن يكرهون ظاهر الشر ولا يرضون لأنفسهم الخوض في المعاصي المكشوفة
Tidakkah engkau memiliki rasa kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah untuk menyelamatkan mereka dari kebinasaan dengan nasihat dan khotbahmu, padahal Allah telah menganugerahkan kepadamu hati yang tajam, lidah yang fasih, dan tutur kata yang diterima? Maka bagaimana engkau mengingkari nikmat Allah Ta'ala, menyongsong kemurkaan-Nya, dan berdiam diri dari menyebarkan ilmu serta mengajak makhluk ke jalan yang lurus?' Setan senantiasa menanamkan hal itu dalam jiwanya dan menyeretnya dengan tipu daya yang halus hingga ia disibukkan dengan menasihati manusia. Kemudian setelah itu setan mengajak untuk berhias di hadapan mereka dan bersikap dibuat-buat dengan memperindah lafaz serta menampakkan kebaikan, seraya berkata kepadanya: 'Jika engkau tidak melakukan itu, pengaruh ucapanmu akan jatuh dari hati mereka dan mereka tidak akan mendapat petunjuk menuju kebenaran.' Setan terus menanamkan hal itu padanya, padahal di sela-sela itu setan meneguhkan noda-noda riya, keinginan diterima oleh makhluk, kelezatan kedudukan (jah), rasa bangga dengan banyaknya pengikut dan ilmu, serta memandang makhluk dengan pandangan hina. Maka kasihanlah orang miskin itu diumpan secara bertahap (istidraj) melalui nasihat menuju kebinasaan; ia berbicara sementara ia mengira maksudnya adalah kebaikan, padahal maksudnya hanyalah kedudukan dan penerimaan orang, sehingga ia binasa karenanya sedang ia mengira bahwa dirinya memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Ia termasuk orang-orang yang tentang mereka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya Allah benar-benar menguatkan agama ini dengan kaum yang tidak memiliki bagian (kebaikan di akhirat).' Hadis: 'Sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan orang yang jahat (fajir),' muttafaq 'alaih dari hadis Abu Hurairah dan telah disebutkan dalam Kitab Ilmu. Oleh karena itulah diriwayatkan bahwa Iblis—laknatullah 'alaih—menjelma di hadapan Isa bin Maryam 'alaihissalam lalu berkata kepadanya: 'Katakanlah: La ilaha illallah.' Maka Isa menjawab: 'Itu adalah kalimat yang haq (benar), namun aku tidak mengucapkannya atas perintahmu.' Karena setan juga memiliki penyesatan-penyesatan (talbis) di balik kebaikan. Dan penyesatan-penyesatan setan dari jenis ini tidak ada akhirnya, dengannya binasalah para ulama, ahli ibadah, ahli zuhud, orang-orang fakir, orang-orang kaya, dan berbagai tingkatan makhluk dari kalangan yang membenci keburukan lahiriah dan tidak meredai diri mereka untuk menceburkan diri dalam kemaksiatan yang terang-terangan.
وسنذكر جملة من مكايد الشيطان في كتاب الغرور في آخر هذا الربع ولعلنا إن أمهل الزمان صنفنا فيه كتاباً على الخصوص نسميه تلبيس إبليس فإنه قد انتشر الآن تلبيسه في البلاد والعباد لا سيما في المذاهب والاعتقادات حتى لم يبق من الخيرات إلا رسمها كل ذلك إذعاناً لتلبيسات الشيطان ومكايده
Dan kami akan menyebutkan sejumlah tipu daya setan dalam Kitab al-Ghurur (Tipu Daya) di akhir seperempat (Rubu') kitab ini. Dan mudah-mudahan jika waktu melapangkan, kami akan menyusun dengannya satu kitab secara khusus yang kami namakan Talbis Iblis (Tipu Daya Iblis), karena sungguh penyesatannya telah tersebar saat ini di berbagai negeri dan di kalangan para hamba, khususnya dalam mazhab-mazhab dan iktikad-iktikad, hingga tidak tersisa dari kebaikan-kebaikan melainkan sekadar formalitasnya saja; semua itu karena tunduk pada penyesatan-penyesatan setan dan tipu dayanya.
فحق على العبد أن يقف عند كل هم يخطر له ليعلم أنه من لمة الملك أو من لمة الشيطان وأن يمعن النظر فيه بعين البصيرة لا بهوى من الطبع ولا يطلع عليه إلا بنور التقوى والبصيرة وغزارة العلم كما قال تَعَالَى إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ من الشيطان تذكروا أي رجعوا إلى نور العلم فإذا هم مبصرون أي ينكشف لهم الإشكال فأما من لم يرض نفسه بالتقوى فيميل طبعه إلى الإذعان بتلبيسه بمتابعة الهوى فيكثر فيه غلطه ويتعجل فيه هلاكه وهو لا يشعر وفي مثلهم قال ﷾ وبدا لهم من الله ما لم يكونوا يحتسبون قيل هي أعمال ظنوها حسنات فإذا هي سيئات وأغمض أنواع علوم المعاملة الوقوف على خدع النفس ومكايد الشيطان وذلك فرض عين على كل عبد وقد أهمله الخلق واشتغلوا بعلوم تستجر إليهم الوسواس وتسلط عليهم الشيطان وتنسيهم عداوته وطريق الاحتراز عنه ولا ينجى من كثرة الوسواس إلا سد أبواب الخواطر وأبوابها الحواس الخمس وأبوابها من داخل الشهوات وعلائق الدنيا والخلوة في بيت مظلم تسد باب الحواس والتجرد عن الأهل والمال يقلل مداخل الوسواس من الباطن ويبقى مع ذلك مداخل باطنة في التخيلات الجارية في القلب وذلك لا يدفع إلا بشغل القلب بذكر الله تعالى ثم أنه لا يزال يجاذب القلب وينازعه ويلهيه عن ذكر الله تعالى فلا بد من مجاهدته وهذه مجاهدة لا آخر لها إلا الموت إذ لا يتخلص أحد من الشيطان ما دام حياً نعم قد يقوى بحيث لا ينقاد له ويدفع عن نفسه شره بالجهاد ولكن لا يستغنى قط عن الجهاد والمدافعة ما دام الدم يجري في بدنه فإذا ما دام حياً فأبواب الشيطان مفتوحة إلى قلبه لا تنغلق وهي الشهوة والغضب والحسد والطمع والشره وغيرها كما سيأتي شرحها ومهما كان الباب مفتوحاً والعدو غير غافل لم يدفع إلا بالحراسة والمجاهدة
Maka wajib bagi seorang hamba untuk berhenti pada setiap keinginan (hamm) yang terlintas padanya agar ia mengetahui apakah itu dari bisikan malaikat atau dari bisikan setan, dan hendaknya ia mencermatinya dengan mata hati (bashirah), bukan dengan hawa nafsu wataknya. Dan hal itu tidak dapat diketahui melainkan dengan cahaya ketakwaan, mata hati, dan melimpahnya ilmu, sebagaimana firman Allah Ta'ala: 'Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat,' yaitu mereka kembali kepada cahaya ilmu, 'maka seketika itu juga mereka melihat,' yaitu tersingkaplah keraguan bagi mereka. Adapun orang yang tidak melatih jiwanya dengan ketakwaan, maka wataknya akan cenderung tunduk pada penyesatan setan dengan mengikut hawa nafsu, sehingga makin banyak kesalahannya dan makin cepat kebinasaannya sedangkan ia tidak menyadarinya. Tentang orang-orang seperti mereka Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.' Dikatakan bahwa itu adalah amal-amal yang mereka kira kebaikan padahal nyatanya adalah keburukan-keburukan. Dan jenis ilmu muamalah yang paling samar adalah mengetahui tipu daya jiwa (nafs) dan kecurangan setan; dan hal itu hukumnya fardhu 'ain bagi setiap hamba. Namun manusia telah mengabaikannya dan tersibukkan dengan ilmu-ilmu yang menyeret bisikan setan kepada mereka, menguasakan setan atas mereka, serta membuat mereka lupa akan permusuhan setan dan jalan berhati-hati darinya. Tidak ada yang menyelamatkan dari banyaknya bisikan setan melainkan dengan menutup pintu-pintu lintasan hati (khawatir); pintu-pintunya dari luar adalah pancaindra yang lima, sedangkan pintu-pintunya dari dalam adalah syahwat dan keterikatan-keterikatan duniawi. Menyendiri (khalwat) di rumah yang gelap dapat menutup pintu pancaindra, dan melepaskan diri dari keluarga serta harta akan mengurangi pintu masuknya bisikan dari batin. Namun di samping itu masih tersisa pintu-pintu batin dalam khayalan-khayalan yang berjalan di dalam hati, dan hal itu tidak dapat ditolak melainkan dengan menyibukkan hati dengan zikrullah (mengingat Allah Ta'ala). Kemudian setan senantiasa menarik-narik hati, membantahnya, dan memalingkannya dari zikrullah, maka tidak boleh tidak harus ada mujahadah. Dan ini adalah mujahadah yang tidak ada akhirnya kecuali kematian, sebab tidak ada seorang pun yang terbebas dari setan selama ia masih hidup. Ya, terkadang seseorang bisa menjadi kuat sekira ia tidak tunduk kepadanya dan dapat menolak keburukan setan dari dirinya dengan perjuangan (jihad), namun ia sama sekali tidak pernah bisa lepas dari jihad dan penolakan selama darah masih mengalir di dalam tubuhnya. Maka selama ia masih hidup, pintu-pintu setan menuju hatinya selalu terbuka dan tidak terkunci, yaitu syahwat, amarah, dengki (hasad), ketamakan, kerakusan, dan lainnya sebagaimana akan datang penjelasannya. Dan selama pintu itu terbuka sementara musuh tidak pernah lalai, maka ia tidak dapat ditolak melainkan dengan penjagaan dan mujahadah.
قال رجل للحسن يا أبا سعيد أينام الشيطان فتبسم وقال لو نام لاسترحنا فإذن لا خلاص للمؤمن منه نعم له سبيل إلى دفعه وتضعيف قوته قال ﷺ إن المؤمن ينضى شيطانه كما ينضى أحدكم بعيره في سفره حديث ابن مسعود خط لنا رسول الله ﷺ خطا فقال هذا سبيل الله الحديث أخرجه النسائي في الكبرى والحاكم وقال صحيح الإسناد فبين ﷺ كثرة طرقه وقد ذكرنا مثالاً للطريق الغامض من طرقه وهو الذي يخدع به العلماء والعباد المالكين لشهواتهم الكافين عن المعاصي الظاهرة فلنذكر مثالاً لطريقه الواضح الذي لا يخفى إلا أن يضطر الآدمي إلى سلوكه وذلك كَمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أنه قال كان راهب في بني إسرائيل فعمد الشيطان إلى جارية فخنقها وألقى في قلوب أهلها أن دواءها عند الراهب فأتوا بها إليه فأبى أن يقبلها فلم يزالوا به حتى قبلها فلما كانت عنده ليعالجها أتاه الشيطان فزين له مقاربتها ولم يزل به حتى واقعها فحملت منه فوسوس إليه وقال الآن تفتضح يأتيك أهلها فاقتلها فإن سألوك فقل ماتت فقتلها ودفنها فأتي الشيطان أهلها فوسوس إليهم وألقى في قلوبهم أنه أحبلها ثم قتلها ودفنها فأتاه أهلها فسألوه عنها فقال ماتت فأخذوه ليقتلوه بها فأتاه الشيطان فقال أنا الذي خنقتها وأنا الذي ألقيت في قلوب أهلها فأطعني تنج وأخلصك منهم قال بماذا قال اسجد لي سجدتين فسجد له سجدتين فقال له الشيطان إني بريء منك فهو الذي قال الله تعالى فيه ﴿كمثل الشيطان إذ قال للإنسان اكفر فلما كفر قال إني بريء منك﴾ حديث من حام حول الحمى يوشك أن يقع فيه متفق عليه من حديث النعمان ابن بشير من يرتع حول الحمى يوشك أن يواقعه لفظ البخاري
Seorang laki-laki berkata kepada al-Hasan: 'Wahai Abu Sa'id, apakah setan itu tidur?' Beliau tersenyum dan berkata: 'Seandainya ia tidur, tentu kita dapat beristirahat.' Maka tidak ada jalan lepas bagi seorang mukmin darinya, namun ia memiliki jalan untuk menolaknya dan melemahkan kekuatannya. Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya seorang mukmin benar-benar dapat meletihkan setannya sebagaimana salah seorang dari kalian meletihkan untanya dalam perjalanannya.' Hadis Ibn Mas'ud: 'Rasulullah ﷺ membuat satu garis untuk kami lalu bersabda: Ini adalah jalan Allah…' Hadis diriwayatkan oleh al-Nasa'i dalam al-Kubra dan al-Hakim, ia berkata: Shahih isnadnya. Maka Nabi ﷺ menjelaskan banyaknya jalan-jalannya. Dan kami telah menyebutkan perumpamaan bagi jalan yang samar dari jalan-jalannya, yaitu yang dengannya ia menipu para ulama dan ahli ibadah yang mampu mengendalikan syahwat mereka serta menahan diri dari kemaksiatan lahiriah. Maka marilah kita sebutkan perumpamaan bagi jalannya yang jelas, yang tidak tersembunyi melainkan jika manusia terpaksa menempuhnya. Hal itu sebagaimana diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: 'Dahulu ada seorang rahib di kalangan Bani Israil. Lalu setan sengaja mendatangi seorang gadis muda dan mencekiknya, serta membisikkan ke dalam hati keluarganya bahwa obatnya ada pada si rahib. Maka mereka membawanya kepada rahib, namun rahib menolak memprotesnya. Mereka terus membujuknya hingga akhirnya ia menerimanya. Ketika gadis itu berada di sisinya untuk diobati, setan mendatangi rahib dan menghiasi dalam pandangannya untuk mendekatinya. Setan terus membujuknya hingga ia menyetubuhinya lalu gadis itu hamil. Maka setan membisikkan padanya: "Sekarang engkau akan terancam cela; keluarganya akan mendatangi engkau, maka bunuhlah dia! Jika mereka bertanya padamu, katakanlah bahwa ia telah meninggal." Maka rahib membunuhnya dan menguburnya. Lalu setan mendatangi keluarga gadis itu dan membisikkan serta menanamkan dalam hati mereka bahwa rahib telah menghamilinya kemudian membunuh dan menguburnya. Maka keluarganya mendatangi rahib dan menanyakannya, ia menjawab: "Dia telah meninggal." Lalu mereka menangkapnya untuk membunuhnya sebagai balasan. Maka setan mendatangi rahib dan berkata: "Akulah yang mencekiknya dan akulah yang menanamkan hal itu dalam hati keluarganya, maka taatilah aku niscaya engkau selamat dan aku akan membebaskanmu dari mereka." Rahib bertanya: "Dengan apa?" Setan berkata: "Sujudlah kepadaku dua kali sujud." Maka rahib sujud kepadanya dua kali sujud. Lalu setan berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku berlepas diri darimu."' Dialah yang tentangnya Allah Ta'ala berfirman: '(Bujukan orang-orang munafik itu) adalah seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu."' Hadis 'Barang siapa yang menggembala di sekitar larangan (hima), dikhawatirkan ia akan terperosok ke dalamnya,' Muttafaq 'alaih dari hadis al-Nu'man bin Basyir dengan lafaz al-Bukhari: 'Barang siapa menggembala di sekitar larangan, dikhawatirkan ia akan melakukannya.'
بيان تفصيل مداخل الشيطان إلى القلب
Penjelasan Rincian Pintu-Pintu Masuk Setan ke Dalam Hati
اعلم أن مثال القلب مثال حصن والشيطان عدو يريد أن يدخل الحصن فيملكه ويستولي عليه ولا يقدر على حفظ الحصن من العدو إلا بحراسة أبواب الحصن ومداخله ومواضع ثلمه ولا يقدر على حراسة أبوابه من لا يدري أبوابه فحماية القلب عن وسواس الشيطان واجبة وهو فرض عين على كل عبد مكلف وما لا يتوصل إلى الواجب إلا به فهو أيضاً واجب ولا يتوصل إلى دفع الشيطان إلا بمعرفة مداخله فصارت معرفة مداخله واجبة ومداخل الشيطان وأبوابه صفات العبد وهي كثيرة ولكنا نشير إلى الأبواب العظيمة الجارية مجرى الدروب التي لا تضيق عن كثرة جنود الشيطان
Ketahuilah bahwa perumpamaan hati adalah seperti sebuah benteng, dan setan adalah musuh yang ingin memasuki benteng untuk memiliki dan menguasainya. Tidaklah seseorang mampu menjaga benteng dari musuh melainkan dengan mengawal pintu-pintu benteng, tempat-tempat masuknya, dan celah-celah jalannya. Dan tidaklah mampu mengawal pintu-pintunya orang yang tidak mengetahui pintu-pintu tersebut. Maka melindungi hati dari bisikan (waswas) setan adalah wajib, dan hukumnya fardhu 'ain bagi setiap hamba mukallaf. Sesuatu yang suatu kewajiban tidak dapat sempurna melainkan dengannya, maka hukumnya juga wajib. Dan tidaklah dapat sampai pada usaha menolak setan melainkan dengan mengetahui pintu-pintu masuknya, maka mengetahui pintu-pintu masuknya menjadi wajib. Pintu-pintu masuk dan lorong-lorong setan adalah sifat-sifat hamba, dan itu sangat banyak, namun kami akan mengisyaratkan pada pintu-pintu utama yang berlaku seperti jalan-jalan besar yang tidak sempit bagi banyaknya pasukan setan.
فمن أبوابه العظيمة الغضب والشهوة فإن الغضب هو غول العقل وإذا ضعف جند العقل هجم جند الشيطان ومهما غضب الإنسان لعب الشيطان به كما يلعب الصبي بالكرة فقد روي أن موسى ﵇ لقيه إبليس فقال له يا موسى أنت الذي اصطفاك الله برسالته وكلمك تكليما وأنا خلق من خلق الله أذنبت وأريد أن أتوب فاشفع لي إلى ربي أن يتوب علي فقال موسى نعم فلما صعد موسى الجبل وكلم ربه ﷿ وأراد النزول قال له ربه أد الأمانة فقال موسى يا رب عبدك إبليس يريد أن تتوب عليه فأوحى الله تعالى إلى موسى يا موسى قد قضيت حاجتك مرة أن يسجد لقبر آدم حتى يتاب عليه فلقي موسى إبليس فقال له قد قضيت حاجتك أمرت أن تسجد لقبر آدم حتى يتاب عليك فغضب واستكبر وقال لم أسجد له حياً أسجد له ميتاً ثم قال له يا موسى إن لك علي حقاً بما شفعت لي إلى ربك فاذكرني عند ثلاث لا أهلكك فيهن اذكرني حين تغضب فإن روحي في قلبك وعيني في عينك وأجري منك مجرى الدم اذكرني إذا غضبت فإنه إذا غضب الإنسان نفخت فيه أنفه فما يدري ما يصنع واذكرني حين تلقى الزحف فإني آتي ابن آدم حين يلقى الزحف فأذكره زوجته وولده وأهله حتى يولى وإياك أن تجلس إلى امرأة ليست بذات محرم فإني رسولها إليك ورسولك إليها فلا أزال حتى أفتنك بها وأفتنها بك فقد أشار بهذا إلى الشهوة والغضب والحرص فإن الفرار من الزحف حرص على الدنيا وامتناعه من السجود لآدم ميتاً هو الحسد وهو أعظم مداخله وقد ذكر أن بعض الأولياء قال لإبليس أرني كيف تغلب ابن آدم فقال آخذه عند الغضب وعند الهوى فقد حكي أن إبليس ظهر لراهب فقال له الراهب أي أخلاق بني آدم أعون لك قال الحدة فإن العبد إذا كان حديداً قلبناه كما يقلب الصبيان الكرة وقيل إن الشيطان يقول كيف يغلبني ابن آدم وإذا رضي جئت حتى أكون في قلبه وإذا غضب طرت حتى أكون في رأسه
Di antara pintu-pintu masuknya yang sangat besar adalah marah (amarah) dan syahwat. Amarah adalah pembinasa akal. Apabila prajurit akal melemah, prajurit setan akan menyerang. Setiap kali manusia marah, setan akan memainkannya sebagaimana anak kecil memainkan bola. Diriwayatkan bahwa Nabi Musa ʿalaihis-salām pernah bertemu dengan Iblis, lalu Iblis berkata kepadanya, "Wahai Musa, engkaulah orang yang telah dipilih Allah dengan risalah-Nya dan Dia telah berbicara langsung kepadamu. Sementara aku adalah salah satu makhluk ciptaan Allah yang telah berbuat dosa dan aku ingin bertobat. Maka berilah syafaat (permohonan) untukku kepada Tuhanku agar Dia menerima tobatku." Musa menjawab, "Ya." Ketika Musa naik ke gunung dan bermunajat kepada Tuhannya Azza wa Jalla, lalu hendak turun, Tuhannya berfirman kepadanya, "Sampaikanlah amanat itu." Musa berkata, "Wahai Tuhanku, hamba-Mu Iblis ingin agar Engkau menerima tobatnya." Maka Allah Ta'ala mengaitkan wahyu kepada Musa, "Wahai Musa, Aku telah mengabulkan hajatmu dengan syarat dia bersujud kepada kubur Adam agar tobatnya diterima." Lalu Musa bertemu Iblis dan berkata kepadanya, "Aku telah menyampaikan hajatmu; engkau diperintahkan untuk bersujud kepada kubur Adam agar tobatmu diterima." Maka Iblis pun marah dan menyombongkan diri seraya berkata, "Aku tidak mau bersujud kepadanya ketika dia hidup, apakah aku harus bersujud kepadanya setelah dia mati?" Kemudian Iblis berkata kepada Musa, "Wahai Musa, engkau memiliki hak atas diriku karena telah memohonkan syafaat untukku kepada Tuhanmu. Maka ingatlah aku pada tiga perkara, niscaya aku tidak akan membinasakanmu pada ketiga perkara itu: Ingatlah aku ketika engkau marah, karena sesungguhnya rohku berada di dalam hatimu, mataku ada pada matamu, dan aku mengalir di dalam dirimu seumpama aliran darah. Ingatlah aku jika engkau marah, sebab apabila manusia marah, aku meniup ke dalam hidungnya sehingga dia tidak tahu apa yang dia perbuat. Dan ingatlah aku ketika engkau bertemu pasukan di medan perang, karena aku mendatangi anak cucu Adam ketika dia bertemu pasukan perang, lalu aku mengingatkannya pada istrinya, anaknya, dan keluarganya sampai dia berpaling melarikan diri. Dan berpalinglah dari duduk bersanding dengan wanita yang bukan mahram, sebab aku adalah utusannya kepadamu dan utusanmu kepadanya, aku tidak akan berhenti sampai aku memfitnahmu dengannya dan memfitnahnya denganmu." Maka dengan kisah ini, dia telah mengisyaratkan kepada syahwat, amarah, dan ketamakan (hirsh), sebab melarikan diri dari barisan perang adalah ketamakan terhadap dunia, sedangkan keengganannya bersujud kepada Adam setelah wafat adalah kedengkian (hasad), dan itulah pintu masuknya yang terbesar. Dan telah disebutkan bahwa sebagian wali berkata kepada Iblis, "Perlihatkanlah kepadaku bagaimana engkau mengalahkan anak cucu Adam!" Maka Iblis menjawab, "Aku mencengkeramnya ketika dia marah dan ketika menuruti hawa nafsu." Diceritakan pula bahwa Iblis menampakkan diri kepada seorang rahib, lalu rahib itu bertanya kepadanya, "Akhlak anak cucu Adam manakah yang paling membantumu?" Iblis menjawab, "Sifat temperamental (labil/mudah marah), sebab jika seorang hamba itu temperamental, kami membolak-balikkannya sebagaimana anak-anak membolak-balikkan bola." Dan dikatakan bahwa setan berkata, "Bagaimana anak cucu Adam bisa mengalahkanku? Apabila dia rida, aku datang hingga berada di dalam hatinya, dan apabila dia marah, aku terbang hingga berada di kepalanya."
ومن أبوابه العظيمة الحسد والحرص فمهما كان العبد حريصاً على كل شيء أعماه حرصه وأصمه إذ قال ﷺ حبك للشيء يعمي ويصم // حديث حبك للشيء يعمي ويصم أخرجه أبو داود من حديث أبي الدرداء بإسناد ضعيف ونور البصيرة هو الذي يعرف مداخل الشيطان فإذا غطاء الحسد والحرص لم يبصر فحينئذ يجد الشيطان فرصة فيحسن عند الحريص كل ما يوصله إلى شهوته وإن كان منكراً وفاحشاً فقد روي أن نوحاً ﵇ لما ركب السفينة حمل فيها من كل زوجين اثنين كما أمره الله تعالى فرأى في السفينة شيخاً لم يعرفه فقال له نوح ما أدخلك فقال دخلت لأصيب قلوب أصحابك فتكون قلوبهم معي وأبدانهم معك فقال له نوح أخرج منها يا عدو الله فإنك لعين فقال له إبليس خمس أهلك بهن الناس وسأحدثك منهم بثلاث ولا أحدثك باثنتين فأوحى الله تعالى إلى نوح أنه لا حاجة لك بالثلاث فليحدثك بالاثنين فقال له نوح
Di antara pintu-pintu masuknya yang besar pula adalah dengki (hasad) dan tamak (hirsh). Setiap kali seorang hamba sangat tamak terhadap segala sesuatu, maka ketamakannya akan membutakan dan mepekakkannya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Cintamu pada sesuatu membutakan dan mepekakkan." // Hadis "Cintamu pada sesuatu membutakan dan mepekakkan" diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadis Abu ad-Darda' dengan sanad yang daif // Cahaya basirah (mata hati) dialah yang mengenali pintu-pintu masuk setan. Apabila tertutup oleh penutup hasad dan tamak, maka ia tidak dapat melihat. Pada saat itulah setan menemukan kesempatan, sehingga dia memperindah di mata orang yang tamak segala sesuatu yang menyampaikannya pada syahwatnya, meskipun itu perkara mungkar dan keji. Diriwayatkan bahwa Nabi Nuh ʿalaihis-salām ketika menaiki bahtera, beliau membawa di dalamnya dari tiap-tiap jenis sepasang (jantan dan betina) sebagaimana yang diperintahkan Allah Ta'ala. Lalu beliau melihat di dalam bahtera seorang lelaki tua yang tidak beliau kenal. Maka Nuh berkata kepadanya, "Apa yang membuatmu masuk ke sini?" Dia menjawab, "Aku masuk untuk memperdaya hati sahabat-sahabatmu, sehingga hati mereka bersamaku sedangkan jasad mereka bersamamu." Nuh berkata kepadanya, "Keluarlah engkau darinya, wahai musuh Allah, karena engkau adalah makhluk yang terkutuk!" Lalu Iblis berkata kepadanya, "Ada lima hal yang dengannya aku membinasakan manusia; aku akan memberitahumu tiga di antaranya dan tidak akan memberitahumu yang dua." Maka Allah Ta'ala mengwahyukan kepada Nuh, "Engkau tidak butuh pada yang tiga itu, biarlah dia memberitahumu yang dua saja." Maka Nuh berkata kepadanya:
ما الاثنتان فقال هما اللتان لا تكذباني هما اللتان لا تخلفاني بهما أهلك الناس الحرص والحسد فبالحسد لعنت وجعلت شيطاناً رجيماً وأما الحرص فإنه أبيح لآدم الجنة كلها إلا الشجرة فأصبت حاجتي منه بالحرص
"Apakah yang dua perkara itu?" Iblis menjawab, "Dua hal itu adalah perkara yang tidak pernah mendustakanku dan tidak pernah menyelisihiku; dengannya aku membinasakan manusia, yaitu tamak (hirsh) dan dengki (hasad). Sebab dengki, aku dilaknat dan dijadikan setan yang terkutuk. Adapun tamak, sesungguhnya dihalalkan bagi Adam seluruh surga kecuali satu pohon, maka aku mendapatkan hajatku darinya melalui jalan tamak."
ومن أبوابه العظيمة الشبع من الطعام وإن كان حلالاً صافياً فإن الشبع يقوي الشهوات والشهوات أسلحة الشيطان فقد روي أن إبليس ظهر ليحيى بن زكريا ﵉ فرأى عليه معاليق من كل شيء فقال له يا إبليس ما هذه المعاليق قال هذه الشهوات التي أصبت بها ابن آدم فقال فهل فيها من شيء قال ربما شبعت فثقلناك عن الصلاة وعن الذكر قال فهل غير ذلك قال لا قال لله على أن لا أملأ بطني من الطعام أبداً فقال له إبليس ولله على أن لا أنصح مسلماً أبداً ويقال في كثرة الأكل ست خصال مذمومة أولها أن يذهب خوف الله من قلبه الثاني أن يذهب رحمة الخلق من قلبه لأنه يظن أنهم كلهم شباع والثالث أنه يثقل عن الطاعة والرابع أنه إذا سمع كلام الحكمة لا يجد له رقة والخامس أنه إذا تكلم بالموعظة والحكمة لا يقع في قلوب الناس والسادس أن يهيج فيه الأمراض
Di antara pintu-pintu masuknya yang besar adalah kenyang dari makanan, meskipun makanan itu halal lagi murni. Sebab kenyang itu menguatkan syahwat, sedangkan syahwat adalah senjata-senjata setan. Diriwayatkan bahwa Iblis menampakkan diri kepada Yahya bin Zakariya ʿalaihimas-salām, lalu beliau melihat padanya ada gantungan-gantungan dari segala sesuatu. Beliau bertanya kepadanya, "Wahai Iblis, gantungan-gantungan apakah ini?" Iblis menjawab, "Ini adalah syahwat-syahwat yang dengannya aku menjerat anak cucu Adam." Beliau bertanya, "Apakah padanya terdapat sesuatu yang untukku?" Iblis menjawab, "Bisa jadi engkau kenyang, lalu kami melembabkan/memberatkanmu dari shalat dan dari zikir." Beliau bertanya, "Apakah ada yang lain?" Iblis menjawab, "Tidak ada." Yahya berkata, "Demi Allah, aku berjanji tidak akan pernah memenuhi perutku dengan makanan selama-lamanya." Maka Iblis berkata kepadanya, "Dan demi Allah, aku berjanji tidak akan pernah memberi nasihat kepada seorang muslim pun selama-lamanya." Dan dikatakan mengenai banyaknya makan terdapat enam perkara yang tercela: pertama, hilang rasa takut kepada Allah dari hatinya; kedua, hilang rasa kasih sayang kepada sesama makhluk dari hatinya karena dia mengira bahwa mereka semua kenyang; ketiga, dia merasa berat untuk melakukan ketaatan; keempat, apabila dia mendengar kalam hikmah, dia tidak merasakan kelembutan hatinya; kelima, apabila dia berbicara dengan nasihat dan hikmah, perkatannya tidak merasuk ke dalam hati manusia; dan keenam, bergejolak penyakit-penyakit di dalam tubuhnya.
ومن أبوابه حب التزين من الأثاث والثياب والدار فإن الشيطان إذا رأى ذلك غالباً على قلب الإنسان باض فيه وفرخ فلا يزال يدعوه إلى عمارة الدار وتزيين سقوفها وحيطانها وتوسيع أبنيتها ويدعوه إلى التزين بالثياب والدواب ويستسخره فيها طول عمره وإذا أوقعه في ذلك فقد استغنى أن يعود إليه ثانية فإن بعض ذلك يجره إلى البعض فلا يزال يؤديه من شيء إلى شيء إلى أن يساق إليه أجله فيموت وهو في سبيل الشيطان واتباع الهوى ويخشى من ذلك سوء العاقبة بالكفر نعوذ بالله منه
Di antara pintu-pintu masuknya adalah menyukai perhiasan yang berupa perabot, pakaian, dan rumah. Sebab setan apabila melihat hal tersebut menguasai hati manusia, dia bertelur dan menetas di dalamnya. Maka dia tidak henti-hentinya mengajak manusia untuk memakmurkan rumah, menghiasi atap dan dindingnya, serta memperluas bangunannya; dan mengajak untuk berhias dengan pakaian dan binatang tunggangan, serta memperalatnya sepanjang umurnya. Apabila setan telah menjerumuskannya ke dalam hal itu, maka dia tidak perlu lagi kembali kepadanya untuk kedua kalinya, karena sebagian dari hal itu akan menyeret kepada sebagian yang lain, sehingga terus membawanya dari satu perkara ke perkara lain sampai ajalnya dijemput dan dia mati dalam keadaan berada di jalan setan serta mengikut hawa nafsu. Dan dikhawatirkan dari hal itu su'ul khatimah (akhir yang buruk) berupa kekufuran, kita berlindung kepada Allah darinya.
ومن أبوابه العظيمة الطمع في الناس لأنه إذا غلب الطمع على القلب لم يزل الشيطان يحبب إليه التصنع والتزين لمن طمع فيه بأنواع الرياء والتلبيس حتى المطموع فيه كأنه معبوده فلا يزال يتفكر في حيلة التودد والتحبب إليه ويدخل كل مدخل للوصول إلى ذلك وأقل أحواله الثناء عليه بما ليس فيه والمداهنة له بترك الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر فقد روى صفوان بن سليم أن إبليس تمثل لعبد الله بن حنظلة فقال له يا ابن حنظلة احفظ عني شيئاً أعلمك به فقال لا حاجة لي به قال انظر فإن كان خيراً أخذت وإن كان شراً رددت يا ابن حنظلة لا تسأل أحداً غير الله سؤال رغبة وانظر كيف تكون إذا غضبت فإني أملكك إذا غضبت
Di antara pintu-pintu masuknya yang besar adalah tamak (berharap) kepada manusia. Sebab apabila sifat tamak telah menguasai hati, setan senantiasa menjadikan indah di matanya sikap berpura-pura (tasannu') dan berhias di hadapan orang yang diharapkannya dengan berbagai jenis riya dan pencitraan (talbis), hingga orang yang diharapkan itu seolah-olah menjadi sesembahannya. Maka dia tidak henti-hentinya memikirkan tipu daya untuk cari muka dan mengambil hati dengannya, serta memasuki setiap pintu untuk mencapai hal itu. Dan keadaan yang paling ringan darinya adalah memuji orang tersebut dengan apa yang tidak ada padanya, dan bermudah-mudahan (mudahanah) kepadanya dengan meninggalkan amar makruf nahi mungkar. Diriwayatkan bahwa Shafwan bin Sulaim menceritakan bahwa Iblis menyerupakan diri kepada Abdullah bin Hanzhalah lalu berkata kepadanya, "Wahai Ibnu Hanzhalah, hafalkanlah dariku sesuatu yang akan aku ajarkan kepadamu." Dia menjawab, "Aku tidak butuh padanya." Iblis berkata, "Lihatlah, jika itu kebaikan maka ambillah dan jika itu keburukan maka tolaklah. Wahai Ibnu Hanzhalah, janganlah engkau meminta kepada seorang pun selain Allah dengan permintaan yang penuh harapan, dan perhatikanlah bagaimana keadaanmu ketika engkau marah, sebab aku menguasaimu ketika engkau marah."
ومن أبوابه العظيمة العجلة وترك التثبت في الأمور وقال ﷺ العجلة من الشيطان والتأني من الله تعالى // حديث العجلة من الشيطان والتأني من الله أخرجه الترمذي من حديث سهل بن سعد بلفظ الأناة وقال حسن وقال ﷿ ﴿خلق الإنسان من عجل﴾ وقال تعالى ﴿وكان الإنسان عجولاً﴾ وقال لنبيه ﷺ ﴿ولا تعجل بالقرآن من قبل أن يقضي إليك وحيه﴾ وهذا لأن الأعمال ينبغي أن تكون بعد التبصرة والمعرفة والتبصرة تحتاج إلى تأمل وتمهل والعجلة تمنع من ذلك وعند الاستعجال يروج الشيطان شره على الإنسان من حيث لا يدري فقد روي أنه لما ولد عيسى بن مريم ﵇ أتت الشياطين إبليس فقالوا أصبحت الأصنام قد نكست رءوسها فقال هذا حادث مكانكم فطار حتى أتي خافقي الأرض فلم يجد شيئاً ثم وجد عيسى ﵇ قد ولد وإذا الملائكة حافين به فرجع إليهم فقال إن نبياً قد ولد البارحة ما حملت أنثى قط ولا وضعت إلا وأنا حاضرها إلا هذا فأيسوا من أن تعبد الأصنام بعد هذه الليلة ولكن ائتوا بني آدم من قبل العجلة والخفة
Di antara pintu-pintu masuknya yang besar adalah tergesa-gesa (terburu-buru) dan meninggalkan ketelitian (tatsabbut) dalam berbagai urusan. Nabi ﷺ bersabda: "Ketergesa-gesaan itu berasal dari setan, sedangkan kehati-hatian (tidak tergesa-gesa) itu dari Allah Ta'ala." // Hadis "Ketergesa-gesaan itu dari setan dan kehati-hatian dari Allah" diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari hadis Sahl bin Sa'd dengan lafaz "al-anah" dan beliau berkata: hasan // Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: "Manusia diciptakan bersifat tergesa-gesa." (QS. Al-Anbiya': 37). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan manusia adalah bersifat tergesa-gesa." (QS. Al-Isra': 11). Dan Dia berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ: "Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum disempurnakan wahyunya kepadamu." (QS. Taha: 114). Hal ini karena amal perbuatan hendaknya dilakukan setelah adanya kecermatan (tabshirah) dan pengetahuan, sedangkan kecermatan membutuhkan perenungan dan ketenangan, sementara tergesa-gesa menghalangi hal tersebut. Saat tergesa-gesa, setan memasarkan keburukannya kepada manusia dari arah yang tidak disadarinya. Diriwayatkan bahwa ketika Isa bin Maryam ʿalaihis-salām dilahirkan, para setan mendatangi Iblis lalu berkata, "Pagi ini patung-patung berhala telah jungkir balik kepalanya." Iblis berkata, "Ini adalah kejadian baru, tetaplah di tempat kalian!" Lalu Iblis terbang hingga mendatangi dua ujung bumi tetapi tidak menemukan apa-apa, kemudian dia menemukan bahwa Isa ʿalaihis-salām telah lahir dan para malaikat mengelilinginya. Maka dia kembali kepada mereka dan berkata, "Sesungguhnya seorang nabi telah lahir tadi malam; tidaklah seorang wanita pun mengandung dan melahirkan melainkan aku menghadirinya kecuali anak ini. Maka berputus asalah kalian dari disembahnya berhala setelah malam ini, tetapi datangilah anak cucu Adam dari pintu ketergesa-gesaan dan keringanan (sikap gegabah)."
ومن أبوابه العظيمة الدراهم والدنانير وسائر أصناف الأموال من العروض والدواب والعقار فإن كل ما يزيد
Di antara pintu-pintu masuknya yang besar adalah dirham, dinar, dan seluruh jenis harta benda yang berupa barang dagangan, hewan ternak, dan tanah/bangunan. Sebab segala sesuatu yang melebihi
على قدر القوت والحاجة فهو مستقر الشيطان فإن من معه قوته فهو فارغ القلب فلو وجد مائة دينار مثلاً على طريق انبعث من قلبه شهوات تحتاج كل شهوة منها إلى مائة دينار أخرى فلا يكفيه ما وجد بل يحتاج إلى تسعمائة أخرى وقد كان قبل وجود المائة مستغنياً فالآن لما وجد مائة ظن أنه صار بها غنياً وقد صار محتاجاً إلى تسعمائة ليشتري داراً يعمرها وليشتري جارية وليشتري أثاث البيت ويشتري الثياب الفاخرة وكل شيء من ذلك يستدعي شيئاً آخر يليق به وذلك لا آخر له فيقع في هاوية آخرها عمق جهنم فلا آخر لها سواهقال ثابت البناني لما بعث رسول الله ﷺ قال إبليس لشياطينه لقد حدث أمر فانظروا ما هو فانطلقوا حتى أعيوا ثم جاءوا وقالوا ما ندري قال أنا آتيكم بالخبر فذهب ثم جاء وقال قد بعث الله محمداً ﷺ قال فجعل يرسل شياطينه إلى أصحاب النبي ﷺ فينصرفون خائبين ويقولون ما صحبنا قوماً قط مثل هؤلاء نصيب منهم ثم يقومون إلى صلاتهم فيمحى ذلك فقال لهم إبليس رويداً بهم عسى الله أن يفتح لهم الدنيا فنصيب منهم حاجتنا حديث أبي أمامة إن إبليس لما نزل إلى الأرض قال يارب أنزلتني إلى الأرض وجعلتني رجيماً فاجعل لي بيتاً قال الحمام الحديث أخرجه الطبراني في الكبير وإسناده ضعيف جدا ورواه بنحوه من حديث ابن عباس بإسناد ضعيف أيضا
kadar makanan pokok dan kebutuhan dasar adalah tempat bermukimnya setan. Barang siapa yang bersamanya ada makanan pokoknya, maka hatinya berada dalam keadaan lapang (kosong dari kesibukan duniawi). Seandainya dia menemukan seratus dinar misalnya di jalan, niscaya bangkitlah dari hatinya berbagai syahwat yang setiap satu syahwat membutuhkan seratus dinar yang lain, sehingga apa yang ditemukannya tidak mencukupinya, bahkan dia membutuhkan sembilan ratus dinar lainnya. Padahal sebelum menemukan seratus dinar itu dia merasa cukup (tidak merasa butuh). Namun sekarang ketika dia menemukan seratus dinar, dia mengira dirinya menjadi kaya dengannya, padahal dia justru menjadi butuh kepada sembilan ratus dinar untuk membeli rumah yang dibangunnya, membeli hamba sahaya perempuan, membeli perabot rumah, dan membeli pakaian yang mewah. Dan setiap sesuatu dari hal itu menuntut sesuatu yang lain yang sesuai dengannya, dan hal itu tidak ada akhirnya, sehingga dia jatuh ke dalam jurang yang dasarnya adalah kedalaman Jahannam yang tidak memiliki akhir selainnya. Tsabit al-Bunani berkata: Ketika Rasulullah ﷺ diutus, Iblis berkata kepada setan-setannya, "Sesungguhnya telah terjadi suatu perkara besar, maka lihatlah apa itu!" Lalu mereka pergi hingga merasa kepayahan, kemudian kembali dan berkata, "Kami tidak tahu." Iblis berkata, "Aku sendiri yang akan membawakan kabarnya kepada kalian." Maka dia pergi lalu kembali dan berkata, "Sungguh Allah telah mengutus Muhammad ﷺ." Lalu dia mulai mengutus setan-setannya kepada para sahabat Nabi ﷺ, namun mereka kembali dalam keadaan kecewa dan berkata, "Kami tidak pernah menyertai suatu kaum seperti mereka ini; kami mengenai mereka dengan dosa tetapi kemudian mereka berdiri shalat sehingga dosa itu terhapus." Maka Iblis berkata kepada mereka, "Tunggulah mereka, mudah-mudahan Allah membukakan dunia untuk mereka sehingga kita bisa mendapatkan hajat kita dari mereka." Hadis Abu Umamah: "Sesungguhnya Iblis ketika diturunkan ke bumi berkata, 'Wahai Tuhan, Engkau telah melemparkanku ke bumi dan menjadikanku terkutuk, maka jadikanlah tempat tinggal untukku.' Allah berfirman, 'Kamar mandi.'" Hadis ini dikeluarkan oleh at-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir dan sanadnya sangat lemah, dan diriwayatkan yang senada darinya dari hadis Ibnu Abbas dengan sanad yang lemah juga.
ومن أبوابه العظيمة التوصل التعصب للمذاهب والأهواء والحقد على الخصوم والنظر إليهم بعين الازدراء والاستحقار وذلك مما يهلك العباد والفساق جميعاً فإن الطعن في الناس والاشتغال بذكر نقصهم صفة مجبولة في
Di antara pintu-pintu masuknya yang besar adalah fanatisme (ta'ashshub) terhadap mazhab-mazhab dan hawa nafsu, kedengkian terhadap lawan/penolak, serta memandang mereka dengan pandangan meremehkan dan menghina. Hal itu termasuk perkara yang membinasakan para hamba (ahli ibadah) dan orang-orang fasik sekaligus. Sebab mencela manusia dan sibuk menyebutkan kekurangan mereka adalah sifat yang tertanam dalam
الطبع من الصفات السبعية فإذا خيل إليه الشيطان أن ذلك هو الحق وكان موافقاً لطبعه غلبت حلاوته على قلبه فاشتغل به بكل همته وهو بذلك فرحان مسرور يظن أنه يسعى في الدين وهو ساع في اتباع الشياطين فترى الواحد منهم يتعصب لأبي بكر الصديق ﵁ وهو آكل الحرام ومطلق اللسان بالفضول والكذب ومتعاط لأنواع الفساد ولو رآه أبو بكر لكان أول عدو له إذ موالي أبي بكر من أخذ سبيله وسار بسيرته وحفظ ما بين لحييه وكان من سيرته ﵁ أن يضع حصاة في فمه ليكف لسانه عن الكلام فيما لا يعنيه فأنى لهذا الفضولي أن يدعي ولاءه وحبه ولا يسير بسيرته وترى فضولياً آخر يتعصب لعلي ﵁ وكان من زهد علي وسيرته أنه لبس في خلافته ثوباً اشتراه بثلاثة دراهم وقطع رأس الكمين إلى الرسغ ونرى الفاسق لابساً الثياب الحرير ومتجملاً بأموال اكتسبها من حرام وهو يتعاطى حب علي ﵁ ويدعيه وهو أول خصمائه يوم القيامة وليت شعري من أخذ ولداً عزيزاً لإنسان هو قرة عينه وحياة قلبه فأخذ يضربه ويمزقه وينتف شعره ويقطعه بالمقراض وهو مع ذلك يدعي حب أبيه وولاءه فكيف يكون حاله عنده ومعلوم أن الدين والشرع كانا أحب إلا أبي بكر وعمر وعثمان وعلي وسائر الصحابة ﵃ من الأهل والولد بل من أنفسهم والمقتحمون لمعاصي الشرع هم الذين يمزقون الشرع ويقطعونه بمقاريض الشهوات ويتوددون به إلى عدو الله إبليس وعدو أوليائه فترى كيف يكون حالهم يوم القيامة عند الصحابة وعند أولياء الله تعالى لا بل لو كشف الغطاء وعرف هؤلاء ما تحبه الصحابة في أمة رسول الله ﷺ لاستحيوا أن يجروا على اللسان ذكرهم مع قبح أفعالهم ثم إن الشيطان يخيل إليهم أن من مات محباً لأبي بكر وعمر فالنار لا تحوم حوله ويخيل إلى الآخر أنه إذا مات محباً لعلي لم يكن عليه خوف وهذا رسول الله ﷺ يقول لفاطمة ﵂ وهي بضعة منه اعملي فإني لا أغني عنك من الله شيئاً // حديث إني لا أغني عنك من الله شيئاً قاله لفاطمة متفق عليه من حديث أبي هريرة وهذا مثال أوردناه من جملة الأهواء وهكذا حكم المتعصبين للشافعي وأبي حنيفة ومالك وأحمد وغيرهم من الأئمة فكل من ادعى مذهب إمام وهو ليس يسير بسيرته فذلك الإمام هو خصمه يوم القيامة إذ يقول له كان مذهبي العمل دون الحديث باللسان وكان الحديث باللسان لأجل العمل لا لأجل الهذيان فما بالك خالفتني في العمل والسيرة التي هي مذهبي ومسلكي الذي سلكته وذهبت فيه إلى الله تعالى ثم ادعيت مذهبي كاذباً وهذا مدخل عظيم من مداخل الشيطان قد أهلك به أكثر العالم وقد سلمت المدارس لأقوام قل من الله خوفهم وضعفت في الدين بصيرتهم وقويت في الدنيا رغبتهم واشتد على الاستتباع حرصهم ولم يتمكنوا من الاستتباع وإقامة الجاه إلا بالتعصب فحبسوا ذلك في صدورهم ولم ينبهوهم على مكايد الشيطان فيه بل نابوا عن الشيطان في تنفيذ مكيدته فاستمر الناس عليه ونسوا أمهات دينهم فقد هلكوا وأهلكوا فالله تعالى يتوب علينا وعليهم وقال الحسن بلغنا أن إبليس قال سولت لأمة محمد ﷺ المعاصي فقصموا ظهري بالاستغفار فسولت لهم ذنوباً لا يستغفرون الله تعالى منها وهي الأهواء وقد صدق الملعون فإنهم لا يعلمون أن ذلك من الأسباب التي تجر إلى المعاصي فكيف يستغفرون منها
tabiat dasar manusia yang berasal dari sifat kehewanan (al-shifat al-sabu'iyyah). Apabila setan mengkhayalkan kepadanya bahwa hal itu adalah kebenaran dan sesuai dengan tabiatnya, maka kelezzatannya menguasai hatinya sehingga dia sibuk dengannya dengan segala cita-citanya. Dia merasa gembira dan bersuka cita atas hal itu seraya mengira bahwa dia sedang berjuang membela agama, padahal dia sedang berjuang mengitari langkah-langkah setan. Maka engkau melihat salah seorang dari mereka bersikap fanatik kepada Abu Bakar as-Siddiq radhiyallāhu ʿanhu, padahal dia pemakan barang haram, melepaskan lidahnya dalam perkataan yang sia-sia dan dusta, serta melakukan berbagai bentuk kerusakan. Seandainya Abu Bakar melihatnya, niscaya Abu Bakar menjadi musuh pertamanya; karena para pengikut Abu Bakar adalah orang yang mengambil jalannya, berjalan dengan perjalanannya, dan menjaga apa yang ada di antara kedua tulang janggutnya (lidahnya). Dan di antara perjalanan hidup beliau radhiyallāhu ʿanhu adalah meletakkan batu kecil di dalam mulutnya untuk menahan lidahnya dari berbicara pada hal yang tidak berguna baginya. Maka dari mana si pembuat kesia-siaan ini mengaku menjadi pengikut dan mencintainya padahal dia tidak berjalan dengan perjalanannya? Dan engkau melihat pembuat kesia-siaan yang lain bersikap fanatik kepada Ali radhiyallāhu ʿanhu, padahal di antara kezuhudan Ali dan perjalanan hidupnya adalah beliau memakai pakaian pada masa kekhalifahannya yang dibelinya seharga tiga dirham dan memotong ujung kedua lengan bajunya sampai pergelangan tangan. Namun kita melihat orang fasik memakai pakaian sutra dan berhias dengan harta yang diperoleh dari cara haram sementara dia mengaku mencintai Ali radhiyallāhu ʿanhu dan mendakwakannya, padahal dia adalah penuntut pertamanya pada hari kiamat. Aduhai, seandainya seseorang mengambil anak tercinta milik seseorang yang merupakan buah hatinya dan kehidupan jiwanya, lalu dia mulai memukulinya, mencabiknya, mencabuti rambutnya, dan memotong-motongnya dengan gunting, sementara bersamaan dengan itu dia mengaku mencintai ayahnya dan loyal kepadanya; bagaimanakah keadaannya di sisi ayah anak tersebut? Dan telah maklum bahwa agama dan syariat adalah lebih dicintai oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan seluruh sahabat radhiyallāhu ʿanhum daripada keluarga dan anak-anak mereka, bahkan daripada diri mereka sendiri. Orang-orang yang menerobos kemaksiatan syariat dialah orang-orang yang mencabik-cabik syariat dan memotong-motongnya dengan gunting-gunting syahwat, serta bermesraan dengannya kepada musuh Allah, Iblis, dan musuh para wali-Nya. Maka perhatikanlah bagaimana keadaan mereka pada hari kiamat di hadapan para sahabat dan para wali Allah Ta'ala! Bahkan seandainya penutup itu dibuka dan mereka mengetahui apa yang dicintai para sahabat bagi umat Rasulullah ﷺ, niscaya mereka malu untuk menjalankan lidah mereka menyebut nama para sahabat bersamaan dengan buruknya perbuatan mereka. Kemudian setan mengkhayalkan kepada mereka bahwa barang siapa yang mati dalam keadaan mencintai Abu Bakar dan Umar, maka neraka tidak akan mendekatinya; dan mengkhayalkan kepada yang lain bahwa apabila dia mati dalam keadaan mencintai Ali maka tidak ada ketakutan atasnya. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda kepada Fatimah radhiyallāhu ʿanhā yang merupakan putri kandungnya: "Beramallah engkau, karena sesungguhnya aku tidak mampu membantumu sedikit pun di hadapan Allah." // Hadis "Sesungguhnya aku tidak mampu membantumu sedikit pun di hadapan Allah" beliau sabrakan kepada Fatimah, muttafaq 'alaih dari hadis Abu Hurairah // Dan ini adalah contoh yang kami kemukakan dari sekian banyak hawa nafsu. Demikian pula hukum bagi orang-orang yang fanatik terhadap Asy-Syafi'i, Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan selain mereka dari kalangan para imam. Setiap orang yang mengklaim mazhab seorang imam padahal dia tidak berjalan sesuai dengan perjalanan hidupnya, maka imam tersebut adalah musuhnya pada hari kiamat, ketika imam itu berkata kepadanya: "Mazhabku adalah beramal bukan sekadar berkata dengan lidah, dan perataan lidah itu dilakukan untuk tujuan amal bukan untuk bualan yang sia-sia. Mengapa engkau menyelisihiku dalam amal dan perjalanan hidup yang merupakan mazhab dan jalanku yang aku tempuh menuju Allah Ta'ala, lalu engkau mengklaim mazhabku secara dusta?" Dan ini adalah pintu masuk yang sangat besar dari pintu-pintu masuk setan yang dengannya dia telah membinasakan sebagian besar alam semesta. Dan lembaga-lembaga pendidikan telah diserahkan kepada kaum yang sangat sedikit rasa takut mereka kepada Allah, lemah basirah mereka dalam agama, kuat hasrat mereka terhadap dunia, dan sangat besar ketamakan mereka untuk mendapatkan pengikut. Mereka tidak mampu mendapatkan pengikut dan menegakkan kedudukan kecuali dengan sikap fanatisme, maka mereka memendam hal itu di dalam dada mereka dan tidak memperingatkan mereka tentang tipu daya setan di dalamnya; bahkan mereka menggantikan posisi setan dalam menjalankan tipu dayanya, sehingga manusia terus-menerus berada di atasnya dan melupakan pokok-pokok agama mereka. Sungguh mereka telah binasa dan membinasakan. Maka semoga Allah Ta'ala menerima tobat kami dan tobat mereka. Al-Hasan berkata: Telah sampai berita kepada kami bahwa Iblis berkata: "Aku telah memperindah maksiat bagi umat Muhammad ﷺ lalu mereka mematahkan punggungku dengan istigfar, maka aku memperindah bagi mereka dosa-dosa yang membuat mereka tidak memohon ampunan kepada Allah Ta'ala darinya, yaitu hawa nafsu (bid'ah/keinginan diri)." Dan si terkutuk itu telah berkata benar, sebab mereka tidak mengetahui bahwa hal itu termasuk sebab-sebab yang menyeret kepada kemaksiatan, maka bagaimana mungkin mereka beristigfar darinya?
ومن عظيم حيل الشيطان أن يشغل الإنسان عن نفسه بالاختلافات الواقعة بين الناس في المذاهب والخصومات قال عبد الله بن مسعود جلس قوم يذكرون الله تعالى فأتاهم الشيطان ليقيمهم عن مجلسهم ويفرق بينهم فلم يستطع فأتى رفقة أخرى يتحدثون بحديث الدنيا فأفسد بينهم فقاموا يقتتلون وليس إياهم يريد فقام الذين يذكرون الله تعالى
Di antara tipu daya setan yang sangat besar adalah menyibukkan manusia dari dirinya sendiri dengan perselisihan-perselisihan yang terjadi di antara manusia dalam mazhab-mazhab dan percekcokan. Abdullah bin Mas'ud berkata: Suatu kaum duduk berzikir mengingat Allah Ta'ala, lalu setan mendatangi mereka untuk membubarkan mereka dari majelis mereka dan memecah belah di antara mereka, namun dia tidak mampu. Maka dia mendatangi sekelompok rombongan lain yang sedang membicarakan urusan dunia, lalu dia merusak di antara mereka sehingga mereka berdiri dan saling membunuh, padahal bukan mereka yang diincarnya. Maka orang-orang yang sedang berzikir ingat Allah itu berdiri
فاشتغلوا بهم يفصلون بينهم فتفرقوا عن مجلسهم وذلك مراد الشيطان منهم
lalu sibuk meleraikan dan memisahkan di antara mereka, sehingga mereka pun terpecah dari majelis mereka. Dan itulah yang dikehendaki setan dari mereka.
ومن أبوابه حمل العوام الذين لم يمارسوا العلم ولم يتبحروا فيه على التفكر في ذات الله تعالى وصفاته وفي أمور لا يبلغها حد عقولهم حتى يشككهم في أصل الدين أو يخيل إليهم في الله تعالى خيالات يتعالى الله عنها يصير أحدهم بها كافراً أو مبتدعاً وهو به فرح مسرور مبتهج بما وقع في صدره يظن ذلك هو المعرفة والبصيرة وأنه انكشف له ذلك بذكائه وزيادة عقله فأشد الناس حماقة أقواهم اعتقاداً في عقل نفسه وأثبت الناس عقلاً أشدهم اتهاماً لنفسه وأكثرهم سؤالاً من العلماء قالت عائشة ﵂ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن الشيطان يأتي أحدكم فيقول من خلقك فيقول الله ﵎ فيقول فمن خلق الله فإذا وجد أحدكم ذلك فليقل آمنت بالله ورسوله فإن ذلك يذهب عنه والنبي ﷺ لم يأمر بالبحث في علاج هذا الوسواس فإن هذا وسواس يجده عوام الناس دون العلماء وإنما حق العوام أن يؤمنوا ويسلموا ويشتغلوا بعبادتهم ومعايشهم ويتركوا العلم للعلماء فالعامي لو يزني ويسرق كان خيراً له من أن يتكلم في العلم فإنه من تكلم في الله وفي دينه من غير إتقان العلم وقع في الكفر من حيث لا يدري كمن يركب لجة البحر وهو لا يعرف السباحة ومكايد الشيطان فيما يتعلق بالعقائد والمذاهب لا تحصر وإنما أردنا بما أوردناه المثال
Di antara pintu-pintu masuknya adalah membawa orang-orang awam yang belum mendalami ilmu dan belum mendalaminya untuk memikirkan tentang zat Allah Ta'ala dan sifat-sifat-Nya serta hal-hal yang tidak mampu dijangkau oleh batas akal mereka, hingga membuat mereka ragu pada pokok agama atau mengkhayalkan pada Allah Ta'ala khayalan-khayalan yang Maha Suci Allah darinya yang membuat salah seorang dari mereka menjadi kafir atau pelaku bid'ah, sementara dia merasa gembira, bersuka cita, dan bahagia dengan apa yang terbersit di dalam dadanya seraya mengira bahwa hal itu adalah makrifat dan basirah, serta meyakini bahwa hal itu tersingkap baginya berkat kecerdasannya dan kelebihan akalnya. Padahal manusia yang paling dungu adalah yang paling kuat kepercayaannya pada akal dirinya sendiri, dan manusia yang paling kokoh akalnya adalah yang paling keras persangkaan buruknya (tuduhannya) terhadap dirinya sendiri dan paling banyak bertanya kepada para ulama. Aisyah radhiyallāhu ʿanhā berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang dari kalian lalu berkata: 'Siapakah yang menciptakanmu?' Maka dia menjawab: 'Allah.' Setan berkata lagi: 'Lalu siapakah yang menciptakan Allah?' Apabila salah seorang dari kalian mendapati hal itu, maka hendaklah dia mengucapkan: 'Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,' karena sesungguhnya hal itu akan mengusirnya." Dan Nabi ﷺ tidak memerintahkan untuk melakukan penelitian dalam mengobati waswas ini, karena waswas ini didapati oleh orang awam bukan para ulama. Hak orang awam hanyalah beriman, pasrah, dan sibuk dengan ibadah serta mata pencaharian mereka, serta menyerahkan ilmu kepada para ulama. Orang awam jika berzina dan mencuri itu lebih baik baginya daripada berbicara mengenai ilmu (agama tanpa dasar), sebab barang siapa berbicara tentang Allah dan agama-Nya tanpa penguasaan ilmu yang mendalam, niscaya dia akan jatuh ke dalam kekufuran dari arah yang tidak disadarinya, seperti orang yang mengarungi lautan luas padahal dia tidak pandai berenang. Dan tipu daya setan dalam hal yang berkaitan dengan akidah dan mazhab tidaklah terhitung banyaknya, dan sesungguhnya kami hanya bermaksud menyajikan contoh dari apa yang telah kami sebutkan.
ومن أبوابه سوء الظن بالمسلمين قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إثم﴾ فمن يحكم بشر على غيره بالظن بعثه الشيطان على أن يطول فيه اللسان بالغيبة فيهلك أو يقصر في القيام بحقوقه أو يتوانى في إكرامه وينظر إليه بعين الاحتقار ويرى نفسه خيراً منه وكل ذلك من المهلكات ولأجل ذلك منع الشرع من التعرض للتهم فقال ﷺ اتقوا مواضع التهم حديث صفية بنت حيى أن النبي ﷺ كان معتكفاً فأتيته فتحدثت عنده الحديث وفيه أن الشطيان يجري من ابن آدم مجرى الدم متفق عليه فانظر كيف أشفق ﷺ على دينهما فحرسهما وكيف أشفق على أمته فعلمهم طريق الاحتراز من التهمة حتى لا يتساهل العالم الورع المعروف بالدين في أحواله فيقول مثلي لا يظن به إلا الخير إعجابا منه بنفسه فإن أورع الناس وأتقاهم وأعلمهم لا ينظر الناس كلهم إليه بعين واحدة بل بعين الرضا بعضهم وبعين السخط بعضهم ولذلك قال الشاعر
Di antara pintu-pintu masuknya yang besar adalah prasangka buruk (suudzon) terhadap kaum muslimin. Allah Ta'ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa." (QS. Al-Hujurat: 12). Barang siapa yang menghukumi keburukan atas orang lain berdasarkan prasangka, niscaya setan akan membangkitkannya untuk memperpanjang lidah melakukan ghibah (penggunjingan) sehingga dia binasa, atau mengurangi pemenuhan hak-haknya, atau lalai dalam memuliakannya, serta memandangnya dengan pandangan hina dan menganggap dirinya lebih baik daripadanya. Dan semua itu termasuk perkara yang membinasakan. Oleh karena itulah syariat melarang dari menempatkan diri pada tempat-tempat tuduhan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Peliharalah diri kalian dari tempat-tempat tuduhan." // Hadis Safiyyah binti Huyay bahwa Nabi ﷺ sedang beriktikaf lalu dia mendatangi beliau dan berbicara di sisi beliau… dan di dalamnya disebutkan: "Sesungguhnya setan mengalir dalam diri anak cucu Adam seumpama aliran darah," muttafaq 'alaih // Maka perhatikanlah bagaimana beliau ﷺ sangat menyayangi agama keduanya lalu menjaga keduanya, dan bagaimana beliau sangat menyayangi umatnya lalu mengajarkan kepada mereka jalan berhati-hati dari tuduhan, hingga seorang alim yang warak yang dikenal keagamaannya tidak bermudah-mudahan dalam keadaan-keadaannya seraya berkata: "Orang seperti aku tidak akan diprasangkai melainkan kebaikan," karena ujub (kagum) terhadap dirinya sendiri. Sebab orang yang paling warak, paling bertakwa, dan paling berilmu pun tidaklah dipandang oleh seluruh manusia dengan satu mata pandangan, melainkan sebagian mereka memandang dengan mata keridaan dan sebagian lain dengan mata kemarahan. Oleh karena itu seorang penyair berkata:
وعين الرضا عن كل عيب كليلة … ولكن عين السخط تبدي المساويا
Mata keridaan terhadap setiap cela terasa tumpul (tidak melihat keburukan) … Namun mata kebencian akan menampakkan segala keburukan.
فيجب الاحتراز عن ظن السوء وعن تهمة الأشرار فإن الأشرار لا يظنون بالناس كلهم إلا الشر فمهما رأيت إنساناً يسيء الظن بالناس طالباً للعيوب فاعلم أنه خبيث الباطن وأن ذلك خبثه يترشح منه وإنما رأى غيره من حيث هو فإن المؤمن يطلب المعاذير والمنافق يطلب العيوب والمؤمن سليم الصدر في حق كافة الخلق فهذه بعض مداخل الشيطان إلى القلب ولو أردت استقصاء جميعها لم أقدر عليه وفي هذا القدر ما ينبه على غيره فليس في الآدمي صفة
Maka wajib berhati-hati dari prasangka buruk dan dari tuduhan orang-orang jahat, karena orang-orang jahat tidak pernah berprasangka kepada manusia seluruhnya kecuali keburukan. Setiap kali engkau melihat seseorang yang berprasangka buruk kepada manusia serta mencari-cari cela, maka ketahuilah bahwa dia buruk batinnya dan sesungguhnya keburukan batinnya itulah yang merembes keluar darinya. Dia hanya melihat orang lain dari sudut pandang dirinya sendiri; padahal seorang mukmin itu mencari uzur (alasan kebaikan) sedangkan orang munafik mencari-cari cela, dan seorang mukmin itu bersih dadanya (sejahtera hatinya) terhadap seluruh makhluk. Maka inilah sebagian pintu-pintu masuk setan ke dalam hati, dan jika aku hendak menguraikan semuanya niscaya aku tidak akan sanggup melakukannya. Dan pada kadar ini terdapat sesuatu yang mengingatkan pada perkara lainnya, sebab tidak ada satu pun sifat pada diri manusia
مذمومة إلا وهي سلاح الشيطان ومدخل من مداخله
yang tercela melainkan sifat itu menjadi senjata setan dan pintu masuk dari pintu-pintu masuknya.
فإن قلت فما العلاج في دفع الشيطان وهل يكفي في ذلك ذكر الله تعالى وقول الإنسان لا حول ولا قوة إلا بالله فاعلم أن علاج القلب في ذلك سد هذه المداخل بتطهير القلب من هذه الصفات المذمومة وذلك مما يطول ذكره وغرضنا في هذا الربع من الكتاب بيان علاج الصفات المهلكات وتحتاج كل صفة إلى كتاب منفرد على ما سيأتي شرحه نعم إذا قطعت من القلب أصول هذه الصفات كان للشيطان بالقلب اجتيازات وخطرات ولم يكن له استقرار ويمنعه من الاجتياز ذكر الله تعالى لأن حقيقة الذكر لا تتمكن من القلب إلا بعد عمارة القلب بالتقوى وتطهيره من الصفات المذمومة وإلا فيكون الذكر حديث نفس لا سلطان له على القلب فلا يدفع سلطان الشيطان ولذلك قال الله تَعَالَى ﴿إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ من الشيطان تذكروا فإذا هم مبصرون﴾ خصص بذلك المتقي فمثل الشيطان كمثل كلب جائع يقرب منك فإن لم يكن بين يديك خبز أو لحم فإنه ينزجر بأن تقول له اخسأ فمجرد الصوت يدفعه فإن كان بين يديك لحم وهو جائع فإنه يهجم على اللحم ولا يندفع بمجرد الكلام فالقلب الخالي عن قوت الشيطان ينزجر عنه بمجرد الذكر فأما الشهوة إذا غلبت على القلب دفعت حقيقة الذكر إلى حواشي القلب فلم يتمكن من سويدائه فيستقر الشيطان في سويداء القلب وأما قلوب المتقين الخالية من الهوى والصفات المذمومة فإنه يطرقها الشيطان لا للشهوات بل لخلوها بالغفلة عن الذكر فإذا عاد إلى الذكر خنس الشيطان ودليل ذلك قوله تعالى ﴿فاستعذ بالله من الشيطان الرجيم﴾ وسائر الأخبار والآيات الواردة في الذكر
Jika engkau bertanya: "Apakah terapi dalam menolak setan, dan apakah cukup dalam hal itu dengan zikir kepada Allah Ta'ala serta ucapan seseorang 'Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh'?" Ketahuilah bahwa terapi hati dalam hal tersebut adalah menyumbat pintu-pintu masuk ini dengan cara menyucikan hati dari sifat-sifat tercela ini, dan hal itu membutuhkan uraian yang panjang. Maksud kami dalam seperempat bagian kitab ini adalah menjelaskan terapi sifat-sifat yang membinasakan (al-muhlikat), dan setiap sifat membutuhkan kitab tersendiri sebagaimana penjelasannya akan datang. Ya, apabila akar sifat-sifat ini telah dipotong dari hati, maka setan hanya memiliki lintasan-lintasan dan terlintasnya pikiran di dalam hati dan tidak memiliki ketetapan tempat, serta zikir kepada Allah Ta'ala akan menghalanginya dari melintas. Karena hakikat zikir tidak akan bertempat di dalam hati kecuali setelah memakmurkan hati dengan ketakwaan dan menyucikannya dari sifat-sifat tercela. Jika tidak demikian, maka zikir hanya menjadi pembicaraan jiwa (hadits nafsin) yang tidak memiliki kekuasaan atas hati sehingga tidak mampu menolak kekuasaan setan. Oleh karena itulah Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka seketika itu juga mereka melihat (menyadari kesalahan-kesalahannya)." (QS. Al-A'raf: 201). Dia mengkhususkan hal itu bagi orang yang bertakwa. Perumpamaan setan adalah seperti anjing kelaparan yang mendekat kepadamu; jika di hadapanmu tidak ada roti atau daging, niscaya dia akan dicegah cukup dengan engkau katakan kepadanya "Pergilah/enyahlah!", maka sekadar suara akan menolaknya. Namun jika di hadapanmu ada daging sedangkan dia dalam keadaan lapar, niscaya dia akan menerjang daging itu dan tidak dapat ditolak hanya dengan ucapan kata-kata. Maka hati yang kosong dari makanan setan akan dicegah darinya hanya dengan sekadar zikir. Adapun apabila syahwat telah menguasai hati, niscaya ia akan mendesak hakikat zikir ke pinggiran hati sehingga zikir tidak bertempat di bagian yang paling dalam (suwaida' al-qalb), lalu setan pun bermukim di bagian paling dalam dari hati itu. Adapun hati orang-orang yang bertakwa yang kosong dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela, maka setan mengetuknya bukan karena syahwat tetapi karena kosongnya hati akibat kelalaian dari zikir. Apabila dia kembali kepada zikir, setan pun bersembunyi (khanas). Dan dalil atas hal itu adalah firman Allah Ta'ala: "Maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." (QS. An-Nahl: 98) serta seluruh khabar dan ayat yang warid tentang zikir.
قال أبو هريرة التقى شيطان المؤمن وشيطان الكافر فإذا شيطان الكافر دهين سمين كاس وشيطان المؤمن مهزول أشعث أغبر عار فقال شيطان الكافر لشيطان المؤمن مالك مهزول قال أنا مع رجل إذا أكل سمى الله فأظل جائعاً وإذا شرب سمى الله فأظل عطشاناً وإذا لبس سمى الله فأظل عريانا وإذا ادهن سمى الله فأظل شعثاً فقال لكني مع رجل لا يفعل شيئاً من ذلك فأنا أشاركه في طعامه وشرابه ولباسه وكان محمد بن واسع يقول كل يوم بعد صلاة الصبح اللهم إنك سلطت علينا عدوا بصيرا بعيوبنا يرانا هو وقبيله من حيث لا نراهم اللهم فآيسه منا كما آيسته من رحمتك وقنطه منا كما قنطته من عفوك وباعد بيننا وبينه كما باعدت بينه وبين رحمتك إنك على كل شيء قدير قال فتمثل له إبليس يوماً في طريق المسجد فقال له يا ابن واسع هل تعرفني قال ومن أنت قال أنا إبليس فقال وما تريد قال أريد أن لا تعلم أحد هذه الاستعاذة ولا أتعرض لك قال والله لا أمنعها ممن أراد فاصنع ما شئت وعن عبد الرحمن ابن أبي ليلى قال كان شيطان يأتي النبي ﷺ بيده شعلة من نار فيقوم بين يديه وهو يصلي فيقرأ ويتعوذ فلا يذهب فأتاه جبرائيل ﵇ فقال له قل أعوذ بكلمات الله التامات التي لا يجاوزهن بر ولا فاجر من شر ما يلج في الأرض وما يخرج منها وما ينزل من السماء وما يعرج فيها ومن فتن الليل والنهار ومن طوارق الليل والنهار إلا طارقاً يطرق بخير يا رحمن فقال ذلك فطفئت شعلته وخر على وجهه وقال الحسن نبئت أن جبرائيل ﵇ أتى النبي ﷺ فقال إن عفريتاً من الجن يكيدك فإذا أويت إلى فراشك فاقرأ آية الكرسي // حديث الحسن نبئت أن جبريل أتى النبي ﷺ فقال إن عفريتاً من الجن يكيدك الحديث أخرجه ابن أبي الدنيا في مكايد الشيطان هكذا مرسلا وقال ﷺ أتاني الشيطان فنازعني ثم نازعني فأخذت
Abu Hurairah berkata: Setan orang mukmin bertemu dengan setan orang kafir. Tiba-tiba setan orang kafir itu berminyak, gemuk, dan berpakaian; sedangkan setan orang mukmin itu kurus, kusut, berdebu, dan telanjang. Maka setan orang kafir berkata kepada setan orang mukmin: "Mengapa engkau kurus begini?" Dia menjawab: "Aku bersama seorang lelaki yang apabila dia makan membaca basmalah menyebut nama Allah sehingga aku tetap kelaparan, apabila minum membaca basmalah sehingga aku tetap kehausan, apabila berpakaian membaca basmalah sehingga aku tetap telanjang, dan apabila meminyaki rambut membaca basmalah sehingga aku tetap kusut." Setan orang kafir berkata: "Tetapi aku bersama seorang lelaki yang tidak melakukan sesuatu pun dari hal itu, maka aku berserikat dengannya dalam makanannya, minumannya, dan pakaiannya." Muhammad bin Wasi' biasa mengucapkan setiap hari setelah shalat Subuh: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menguasakan atas kami musuh yang melihat kekurangan-kekurangan kami, dia dan pengikutnya melihat kami dari arah yang kami tidak melihat mereka. Ya Allah, putuskanlah harapannya dari kami sebagaimana Engkau memutuskan harapannya dari rahmat-Mu, buatlah dia berputus asa dari kami sebagaimana Engkau membuatnya berputus asa dari ampunan-Mu, dan jauhkah antara kami dan dia sebagaimana Engkau menjauhkan antara dia dan rahmat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." Dia berkata: Maka Iblis menampakkan diri kepadanya pada suatu hari di jalan menuju masjid lalu berkata kepadanya: "Wahai Ibnu Wasi', apakah engkau mengenalku?" Beliau bertanya: "Siapakah engkau?" Dia menjawab: "Aku adalah Iblis." Beliau bertanya: "Dan apa yang engkau inginkan?" Iblis menjawab: "Aku ingin engkau tidak mengajarkan perlindungan (doa) ini kepada seorang pun dan aku tidak akan mengganggumu." Beliau berkata: "Demi Allah, aku tidak akan menghalanginya dari orang yang menghendakinya, maka perbuatlah apa yang engkau kehendaki." Dari Abdurrahman bin Abi Laila, dia berkata: Dahulu ada setan yang mendatangi Nabi ﷺ dengan membawa suluh api di tangannya, lalu dia berdiri di hadapan beliau saat beliau sedang shalat. Beliau membaca ayat dan memohon perlindungan tetapi setan itu tidak pergi. Maka Jibril ʿalaihis-salām mendatangi beliau dan berkata: "Ucapkanlah: 'Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna yang tidak dapat ditembus oleh orang baik maupun orang jahat, dari keburukan apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, dari apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke dalamnya, dari fitnah-fitnah malam dan siang, serta dari peristiwa-peristiwa yang datang di malam dan siang hari kecuali peristiwa yang datang membawa kebaikan, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.'" Maka beliau mengucapkan doa tersebut, lalu padamlah suluh apinya dan setan itu tersungkur jatuh pada wajahnya. Al-Hasan berkata: Telah sampai berita kepadaku bahwa Jibril ʿalaihis-salām mendatangi Nabi ﷺ lalu berkata: "Sesungguhnya ada Jin Ifrit yang hendak bertindak tipu daya terhadapmu, maka apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, bacalah Ayat Kursi." // Hadis Al-Hasan "Telah sampai berita kepadaku bahwa Jibril mendatangi Nabi ﷺ lalu berkata: Sesungguhnya Ifrit dari kalangan jin bertindak tipu daya terhadapmu…" hadis ini dikeluarkan oleh Ibn Abi ad-Dunya dalam Maka'id ash-Shaitan secara mursal seperti ini // Dan Nabi ﷺ bersabda: "Setan mendatangi aku lalu dia memusuhiku, kemudian dia terus memusuhiku, maka aku memegangnya…"
بحلقه فوالذي بعثني بالحق ما أرسلته حتى وجدت برد ماء لسانه على يدي ولولا دعوة أخي سليمان ﵇ لأصبح طريحا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالَ ﷺ ما سلك عمر فجا إلا سلك الشيطان فجا غير الذي سلكه عمر وهذا لأن القلوب كانت مطهرة عن مرعى الشيطان وقوته وهي الشهوات فمهما طمعت في أن يندفع الشيطان عنك بمجرد الذكر كما اندفع عن عمر ﵁ كان محالاً وكنت كمن يطمع أن يشرب دواء قبل الاحتماء والمعدة مشغولة بغليظ الأطعمة ويطمع أن ينفعه كما نفع الذي شربه بعد الاحتماء وتخلية المعدة والذكر الدواء والتقوى احتماء وهي تخلي القلب عن الشهوات فإذا نزل الذكر قلباً فارغاً عن غير الذكر اندفع الشيطان كما تندفع العلة بنزول الدواء في المعدة الخالية عن الأطعمة قال الله تعالى ﴿إن في ذلك لذكرى لمن كان له قلب﴾ وقال تعالى ﴿كتب عليه أنه من تولاه فإنه يضله ويهديه إلى عذاب السعير﴾ ومن ساعد الشيطان بعمله فهو مواليه وإن ذكر الله بلسانه وإن كنت تقول الحديث قد ورد مطلقاً بأن الذكر يطرد الشيطان ولم تفهم أن أكثر عمومات الشرع مخصوصة بشروط نقلها علماء الدين فانظر إلى نفسك فليس الخبر كالعيان وتأمل أن منتهى ذكرك وعبادتك الصلاة فراقب قلبك إذا كنت في صلاتك كيف يجاذبه الشيطان إلى الأسواق وحساب العالمين وجواب المعاندين وكيف يمر بك في أودية الدنيا ومهالكها حتى إنك لا تذكر ما قد نسيته من فضول الدنيا إلا في صلاتك ولا يزدحم الشيطان على قلبك إلا إذا صليت فالصلاة محك القلوب فبها يظهر محاسنها ومساويها فالصلاة لا تقبل من القلوب المشحونة بشهوات الدنيا فلا جرم لا ينطرد عنك الشيطان بل ربما يزيد عليك الوسواس كما أن الدواء قبل الاحتماء ربما يزيد عليك الضرر فإن أردت الخلاص من الشيطان فقدم الاحتماء بالتقوى ثم أردفه بدواء الذكر يفر الشيطان منك كما فر من عمر ﵁ ولذلك قال وهب بن منبه اتق الله ولا تسب الشيطان في العلانية وأنت صديقه في السر أي أنت مطيع له وقال بعضهم يا عجبا لمن يعصى المحسن بعد معرفته بإحسانه ويطيع اللعين بعد معرفته بطغيانه وكما إن الله تعالى قال ﴿ادعوني أستجب لكم﴾ وأنت تدعوه ولا يستجيب لك فكذلك تذكر الله ولا يهرب الشيطان منك لفقد شروط الذكر والدعاء
pada tenggorokannya. Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, aku tidak melepaskannya hingga aku merasakan dinginnya air liur lidahnya di tanganku. Seandainya bukan karena doa saudaraku Sulaiman 'alaihissalam, niscaya ia telah terikat di masjid.' Dan Beliau ﷺ bersabda, 'Tidaklah Umar menempuh suatu jalan, melainkan Setan akan menempuh jalan yang berbeda dari jalan yang ditempuh Umar.' Hal ini karena hati Umar telah disucikan dari padang gembala Setan dan kekuatannya, yaitu syahwat. Maka kapan pun engkau berharap Setan terusir darimu hanya dengan sekadar zikir sebagaimana ia terhalau dari Umar radhiyallahu 'anhu, hal itu adalah mustahil. Engkau seperti orang yang berharap minum obat sebelum berpantang (menjaga makanan), sementara perutnya masih penuh dengan makanan keras, lalu berharap obat itu bermanfaat baginya sebagaimana bermanfaat bagi orang yang meminumnya setelah berpantang dan mengosongkan perut. Zikir adalah obat, sedangkan takwa adalah pantangannya, yaitu mengosongkan hati dari syahwat. Apabila zikir itu turun ke dalam hati yang kosong dari selain zikir, maka Setan akan terhalau sebagaimana penyakit hilang dengan masuknya obat ke dalam perut yang kosong dari makanan. Allah Ta'ala berfirman, 'Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati' (QS. Qaf: 37). Dan Allah Ta'ala berfirman, 'Yang telah ditetapkan terhadap setan itu, bahwa barangsiapa yang menjadikannya pemimpin, maka sesungguhnya dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka' (QS. Al-Hajj: 4). Barangsiapa membantu Setan dengan perbuatannya, maka ia telah menjadikannya pemimpin (walinya), meskipun ia berzikir kepada Allah dengan lidahnya. Jika engkau berkata bahwa hadis telah diriwayatkan secara mutlak bahwa zikir itu mengusir Setan, dan engkau tidak memahami bahwa sebagian besar keumuman syariat itu dikhususkan dengan syarat-syarat yang dinukilkan oleh para ulama agama, maka lihatlah dirimu sendiri, sebab berita itu tidak sama dengan menyaksikan sendiri. Renungkanlah bahwa puncak zikir dan ibadahmu adalah shalat; maka awasilah hatimu ketika engkau berada di dalam shalatmu, bagaimana Setan menariknya ke pasar-pasar, perhitungan duniawi, dan jawaban terhadap orang yang memusuhi, serta bagaimana ia membawamu mengarungi lembah-lembah dunia dan kebinasaannya, hingga engkau tidak mengingat hal-hal sia-sia dari dunia yang telah engkau lupakan melainkan di dalam shalatmu! Tidaklah Setan berkerumun di hatimu melainkan ketika engkau shalat. Maka shalat adalah batu ujian bagi hati; dengannya akan nampak kebaikan dan keburukan hati. Shalat tidak diterima dari hati yang dipenuhi dengan syahwat duniawi. Maka tidak heran Setan tidak terhalau darimu, bahkan terkadang bisikan (waswas) makin bertambah padamu, sebagaimana obat sebelum berpantang terkadang justru menambah bahaya bagimu. Jika engkau menginginkan keselamatan dari Setan, maka dahulukanlah pantangan dengan takwa, kemudian iringilah dengan obat zikir, niscaya Setan akan lari darimu sebagaimana ia lari dari Umar radhiyallahu 'anhu. Oleh karena itu, Wahb bin Munabbih berkata, 'Bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau mencaci Setan secara terang-terangan sementara engkau menjadi temannya secara rahasia,' yakni engkau menaatinya. Sebagian ulama berkata, 'Sungguh mengherankan orang yang memaksiati Dzat Yang Maha Berbuat Baik setelah mengetahui kebaikan-Nya, dan menaati makhluk yang terkutuk setelah mengetahui kedurhakaannya.' Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu' (QS. Ghafir: 60), namun engkau berdoa kepada-Nya dan Dia tidak memperkenankan bagimu, begitu pula engkau berzikir kepada Allah tetapi Setan tidak lari darimu karena tiadanya syarat-syarat zikir dan doa.
قيل لإبراهيم بن أدهم ما بالنا ندعو فلا يستجاب لنا وقد قال تعالى ﴿ادعوني أستجب لكم﴾ قال لأن قلوبكم ميتة قيل وما الذي أماتها قال ثمان خصال عرفتم حق الله ولم تقوموا بحقه وقرأتم القرآن ولم تعملوا بحدوده وقلتم نحب رسول الله ﷺ ولم تعملوا بسنته وقلتم نخشى الموت ولم تستعدوا له وقال تعالى إن الشيطان لكم عدواً فاتخذوه عدواً فواطأتموه على المعاصي وقلتم نخاف النار وأرهقتم أبدانكم فيها وقلتم نحب الجنة ولم تعملوا لها وإذا قمتم من فرشكم رميتم عيوبكم وراء ظهوركم وافترشتم عيوب الناس أمامكم فأسخطتم ربكم فكيف يستجيب لكم
Dikatakan kepada Ibrahim bin Adham, 'Mengapa kami berdoa namun tidak dikabulkan bagi kami, padahal Allah Ta'ala telah berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu"?' Beliau menjawab, 'Karena hati kalian telah mati.' Danyakan, 'Apakah yang telah mematikannya?' Beliau menjawab, 'Delapan perkara: kalian mengetahui hak Allah tetapi tidak menunaikan hak-Nya; kalian membaca Al-Qur'an tetapi tidak mengamalkan hukum-hukum batasannya; kalian mengaku mencintai Rasulullah ﷺ tetapi tidak mengamalkan sunnahnya; kalian mengaku takut akan kematian tetapi tidak bersiap menghadapinya; Allah Ta'ala telah berfirman, "Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh" (QS. Fatir: 6), namun kalian menyepakatinya dalam kemaksiatan; kalian mengaku takut pada neraka tetapi kalian menjerumuskan tubuh kalian ke dalamnya; kalian mengaku mencintai surga tetapi tidak beramal untuknya; dan apabila kalian bangun dari tempat tidur, kalian melemparkan aib-aib kalian ke belakang punggung kalian dan membentangkan aib-aib orang lain di hadapan kalian, sehingga kalian memurkai Tuhan kalian. Maka bagaimana mungkin Dia memperkenankan doa kalian?'
فإن قلت فالداعي إلى المعاصي المختلفة شيطان واحد أو شياطين مختلفون فاعلم أنه لا حاجة لك إلى معرفة ذلك في المعاملة فاشتغل بدفع العدو ولا تسأل عن صفته كل البقل من حيث يؤتى ولا تسأل عن المبقلة ولكن الذي
Jika engkau bertanya, 'Apakah yang mengajak kepada berbagai maksiat yang berbeda-beda itu satu setan ataukah setan-setan yang berbeda?' Maka ketahuilah bahwa engkau tidak membutuhkan pengetahuan tentang hal itu dalam amaliah (muamalah). Sibukkanlah dirimu untuk menghalau musuh dan jangan bertanya tentang sifatnya; makanlah sayur dari mana pun ia didatangkan dan jangan bertanya tentang kebun sayurnya. Akan tetapi, yang
يتضح بنور الاستبصار في شواهد الأخبار أنهم جنود مجندة وأن لكل نوع من المعاصي شيطاناً يخصه ويدعو إليه فأما طريق الاستبصار فذكره يطول ويكفيك القدر الذي ذكرناه وهو أن اختلاف المسببات يدل على اختلاف الأسباب كما ذكرناه في نور النار وسواد الدخان
menjadi jelas dengan cahaya mata hati (istibshar) melalui bukti-bukti riwayat adalah bahwa mereka merupakan pasukan yang terorganisir, dan bahwa setiap jenis kemaksiatan memiliki setan khusus yang bertugas memicu dan mengajak kepadanya. Adapun jalan istibshar (penyingkapan batin) membutuhkan penjelasan yang panjang, dan cukuplah bagimu kadar yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa perbedaan akibat (musaibab) menunjukkan perbedaan sebab (asbab), sebagaimana telah kami sebutkan tentang cahaya api dan hitamnya asap.
وأما الأخبار فقد قال مجاهد لإبليس خمسة من الأولاد قد جعل كل واحد منهم على شيء من أمره ثبر والأعور ومبسوط وداسم وزلنبور فأما ثبر فهو صاحب المصائب الذي يأمر بالثبور وشق الجيوب ولطم الخدود ودعوى الجاهلية وأما الأعور فإنه صاحب الزنا يأمر به ويزينه وأما مبسوط فهو صاحب الكذب وأما داسم فإنه يدخل مع الرجل إلى أهله يرميهم بالعيب عنده ويغضبه عليهم وأما زلنبور فهو صاحب السوق فبسببه لا يزالون متظلمين وشيطان الصلاة يسمى خنزب وشيطان الوضوء يسمى الولهان حديث أبي أمامة وكل بالمؤمن مائة وستون ملكا يذبون عنه الحديث أخرجه ابن أبي الدنيا في مكايد الشيطان والطبراني في المعجم الكبير بإسناد ضعيف حديث أبي الدرداء خلق الله الجن ثلاثة أصناف صنف حيات وعقارب الحديث أخرجه ابن أبي الدنيا في مكايد الشيطان وابن حبان في الضعفاء في ترجمة يزيد بن سنان وضعفه والحاكم نحوه مختصرا في الجن فقط ثلاثة أصناف من حديث أبي ثعلبة الخشني وقال صحيح الإسناد وقال وهيب بن الورد بلغنا أن إبليس تمثل ليحيى بن زكريا ﵉ وقال إني أريد أن أنصحك قال لا حاجة لي في نصحك ولكن أخبرني عن بني آدم قال هم عندنا ثلاثة أصناف أما صنف منهم وهم أشد الأصناف علينا نقبل على أحدهم حتى نفتنه ونتمكن منه
Adapun riwayat-riwayat, Mujahid telah berkata, 'Iblis memiliki lima anak, yang masing-masing telah diserahi tugas dari urusannya: Tsabar, Al-A'war, Mabsut, Dasim, dan Zalanbur. Adapun Tsabar adalah penguasa musibah yang menyuruh pada kebinasaan, merobek kerah baju, menampar pipi, dan menyerukan seruan jahiliyah. Al-A'war adalah penguasa perzinaan yang menyuruh dengannya serta memperindahnya. Mabsut adalah penguasa kedustaan. Dasim adalah yang masuk bersama seseorang kepada keluarganya, memicu timbulnya prasangka cela pada keluarganya dan membuatnya marah kepada mereka. Sedangkan Zalanbur adalah penguasa pasar, yang disebabkan olehnya orang-orang senantiasa berbuat zalim.' Setan yang mengganggu shalat dinamakan Khinzab, dan setan pengganggu wudhu dinamakan Al-Walahan. Hadis Abu Umamah: 'Telah ditugaskan kepada seorang mukmin seratus enam puluh malaikat yang memeliharanya…' (Diriwayatkan oleh Ibn Abid Dunya dalam Makayid asy-Syaithan dan At-Tabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir dengan sanad dhaif). Hadis Abu Darda': 'Allah menciptakan jin menjadi tiga golongan: golongan ular dan kalajengking…' (Diriwayatkan oleh Ibn Abid Dunya dalam Makayid asy-Syaithan dan Ibn Hibban dalam Al-Dhu'afa' pada biografi Yazid bin Sinan dan ia melemahkannya; Al-Hakim meriwatkannya secara ringkas khusus tentang jin tiga golongan dari hadis Abu Tha'labah Al-Khushani dan berkata sanadnya shahih). Wurayb bin Al-Ward berkata: 'Telah sampai kepada kami bahwa Iblis menampakkan diri kepada Yahya bin Zakariya 'alaihissalam dan berkata, "Aku ingin menasihatimu." Yahya menjawab, "Aku tidak butuh nasihatmu, tetapi beritahukanlah kepadaku tentang anak cucu Adam." Iblis berkata, "Mereka di tempat kami terbagi menjadi tiga golongan. Adapun satu golongan dari mereka, yaitu golongan yang paling berat bagi kami: kami mendatangi salah seorang dari mereka hingga kami menyesatkannya dan menguasainya,"
فيفزع إلى الاستغفار والتوبة فيفسد علينا كل شيء أدركنا منه ثم نعود إليه فيعود فلا نحن نيأس منه ولا نحن ندرك منه حاجتنا فنحن منه في عناء وأما الصنف الآخر فهم في أيدينا بمنزل الكرة في أيدي صبيانكم نقلبهم كيف شئنا قد كفونا أنفسهم وأما الصنف الثالث فهم مثلك معصومون لا نقدر منهم على شيء
'maka ia segera berlari memohon ampunan (istighfar) dan bertobat, sehingga ia merusak kembali semua yang telah kami dapatkan darinya. Kemudian kami mendatangi kembali, dan ia pun kembali bertobat. Kami tidak sampai putus asa darinya, dan kami pun tidak dapat memenuhi hajat kami darinya, sehingga kami berada dalam kepayahan menghadapinya. Adapun golongan yang lain, mereka berada di tangan kami bagaikan bola di tangan anak-anak kalian; kami membolak-balikkan mereka sekehendak kami, mereka telah mencukupi kami dari usaha menangkap mereka. Sedangkan golongan ketiga adalah seperti engkau, orang-orang yang terjaga (ma'shum), kami tidak mampu memperdaya mereka sedikit pun.'
فإن قلت فكيف يتمثل الشيطان لبعض الناس دون البعض وإذا رأى صورة فهل هي صورته الحقيقية أو هو مثال يمثل له به فإن كان على صورته الحقيقية فكيف يرى بصور مختلفة وكيف يرى في وقت واحد في مكانين وعلى صورتين حتى يراه شخصان بصورتين مختلفتين فاعلم أن الملك والشيطان لهما صورتان هي حقيقة صورتهما ولا تدرك حقيقة صورتهما بالمشاهدة إلا بأنوار النبوة فما رأى النبي ﷺ جبرائيل ﵇ في صورته إلا مرتين وذلك أنه سأله أن يريه نفسه على صورته فواعده بالبقيع وظهر له بحراء فسد الأفق من المشرق إلى المغرب ورآه مرة أخرى على صورته ليلة المعراج عند سدرة المنتهى وإنما كان يراه في صورة الآدمي غالباً فكان يراه في صورة دحية الكلبي وكان رجلاً حسن الوجه والأكثر أنه يكاشف أهل المكاشفة من أرباب القلوب بمثال صورته فيتمثل الشيطان له في اليقظة فيراه بعينه ويسمع كلامه بأذنه فيقوم ذلك مقام حقيقة صورته كما ينكشف في المنام لأكثر الصالحين وإنما المكاشف في اليقظة هو الذي انتهى إلى رتبة لا يمنعه اشتغال الحواس بالدنيا عن المكاشفة التي تكون في المنام فيرى في اليقظة ما يراه غيره في المنام كما روي عن عمر بن عبد العزيز ﵀ أن رجلاً سأل ربه أن يريه موضع الشيطان من قلب ابن آدم فرأى في النوم جسد رجل شبه البلور يرى داخله من خارجه ورأى الشيطان في صورة ضفدع قاعد على منكبه الأيسر بين منكبه وأذنه له خرطوم طويل دقيق قد أدخله من منكبه الأيسر إلى قلبه يوسوس إليه فإذا ذكر الله تعالى خنس ومثل هذا قد يشاهد بعينه في اليقظة فقد رآه بعض المكاشفين في صورة كلب جاثم على جيفة يدعو الناس إليها وكانت الجيفة مثال الدنيا وهذا يجري مجرى مشاهدة صورته الحقيقية فإن القلب لا بد وأن تظهر فيه حقيقة من الوجه الذي يقابل عالم الملكوت وعند ذلك يشرق أثره على وجهه الذي يقابل عالم الملك والشهادة لأن أحدهما متصل بالآخر وقد بينا أن القلب له وجهان وجه إلى عالم الغيب وهو مدخل الإلهام والوحي ووجه إلى عالم الشهادة فالذي يظهر منه في الوجه الذي يلي جانب عالم الشهادة لا يكون إلا صورة متخيلة لأن عالم الشهادة كله متخيلات إلا أن الخيال تارة يحصل من النظر إلى ظاهر عالم الشهادة بالحس فيجوز أن لا تكون الصورة على وفق المعنى حتى يرى شخصاً جميل الصورة وهو خبيث الباطن قبيح السر لأن عالم الشهادة عالم كثير التلبيس
Jika engkau bertanya, 'Bagaimana Setan menyerupakan diri (berpenampilan) bagi sebagian orang dan tidak bagi yang lain? Dan apabila seseorang melihat suatu bentuk rupa, apakah itu bentuk rupanya yang hakiki ataukah itu sekadar pemisalan (representasi) yang disimulasikan kepadanya? Jika itu adalah bentuk rupanya yang hakiki, bagaimana ia dapat terlihat dalam bentuk rupa yang berbeda-beda, dan bagaimana ia dapat terlihat pada satu waktu di dua tempat dengan dua rupa berbeda, hingga dua orang melihatnya dalam dua rupa yang berbeda?' Maka ketahuilah bahwa Malaikat dan Setan memiliki bentuk rupa hakiki dari wujud mereka. Hakikat bentuk rupa mereka tidak dapat ditangkap melalui penglihatan kasatmata melainkan dengan cahaya-cahaya kenabian. Nabi ﷺ tidak pernah melihat Jibril 'alaihissalam dalam bentuk rupa aslinya kecuali dua kali. Hal itu terjadi ketika Beliau meminta Jibril memperlihatkan wujud aslinya, lalu Jibril menjanjikannya di Al-Baqi' dan menampakkan diri kepadanya di Hira' hingga menutupi ufuk dari timur sampai barat; dan Beliau melihatnya sekali lagi dalam wujud aslinya pada malam Mi'raj di dekat Sidratul Muntaha. Padahal biasanya Beliau melihatnya dalam rupa manusia biasa, yaitu dalam rupa Dihyah Al-Kalbi, seorang laki-laki yang berwajah tampan. Namun yang sering terjadi adalah penyingkapan batin (mukasyafah) bagi para pemilik hati (arbab al-qulub) berupa simulasi bentuk rupa (mitsal). Maka Setan menyimulasikan diri padanya dalam keadaan terjaga, sehingga ia melihatnya dengan matanya dan mendengar perkataannya dengan telinganya, dan hal itu menggantikan kedudukan rupa hakikinya, sebagaimana hal itu tersingkap dalam tidur bagi kebanyakan orang-orang shalih. Orang yang mengalami mukasyafah dalam keadaan terjaga adalah orang yang telah mencapai tingkatan di mana kesibukan indra dengan dunia tidak menghalanginya dari mukasyafah yang biasa terjadi dalam tidur. Maka ia melihat dalam keadaan terjaga apa yang dilihat orang lain dalam mimpi. Sebagaimana diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz rahmatullah 'alaih bahwa ada seorang laki-laki memohon kepada Tuhannya agar diperlihatkan tempat Setan di dalam hati anak Adam. Lalu ia melihat dalam tidurnya jasad seorang laki-laki seperti kristal, yang bagian dalamnya terlihat dari luar, dan ia melihat Setan dalam rupa seekor katak yang duduk di atas bahu kirinya, di antara bahu dan telinganya, memiliki belalai yang panjang dan halus yang dimasukkannya dari bahu kiri ke dalam hatinya untuk membisikkan (waswas). Apabila orang itu berzikir kepada Allah Ta'ala, Setan itu bersembunyi (khanas). Hal serupa ini terkadang disaksikan langsung dengan mata dalam keadaan terjaga; sebagian ahli mukasyafah telah melihat Setan dalam rupa seekor anjing yang mendekam di atas bangkai seraya mengajak manusia kepadanya, di mana bangkai itu adalah pemisalan dari dunia. Ini berlaku sebagaimana menyaksikan rupa hakikinya. Sebab, hati tidak boleh tidak pasti menampakkan hakikat dari sisi yang menghadap ke alam Malakut. Pada saat itulah bekasnya memancar pada sisi yang menghadap ke alam Mulk dan Syahadah (alam kasatmata), karena salah satunya terhubung dengan yang lain. Kami telah menjelaskan bahwa hati memiliki dua sisi: sisi yang menghadap ke alam Gaib yang merupakan pintu masuk ilham dan wahyu, serta sisi yang menghadap ke alam Syahadah. Maka apa yang nampak darinya pada sisi yang menghadap ke alam Syahadah tidak lain berupa bentuk khayalan (imajinatif), karena alam Syahadah seluruhnya adalah hal-hal yang terbayangkan (mutakhayyalat). Hanya saja khayalan itu terkadang diperoleh dari melihat ke dhahir alam Syahadah dengan indra, sehingga bisa jadi rupa itu tidak sesuai dengan maknanya, seperti seseorang melihat sosok yang tampan rupanya padahal jahat batinnya dan buruk rahasianya, karena alam Syahadah adalah alam yang penuh dengan kekeliruan dan manipulasi.
أما الصورة التي تحصل في الخيال من إشراق عالم الملكوت على باطن سر القلوب فلا تكون إلا محاكية للصفة وموافقة لها لأن الشيطان في صورة كلب وضفدع للصفة وموافقة لها فلا جرم لا يرى المعنى القبيح إلا بصورة قبيحة فيرى الشيطان في صورة كلب وضفدع وخنزير وغيرها ويرى الملك في صورة جميلة فتكون تلك الصورة عنوان المعاني ومحاكية لها بالصدق ولذلك يدل القرد والخنزير في النوم على إنسان خبيث وتدل الشاة على إنسان سليم الصدر وهكذا جميع أبواب الرؤيا والتعبير وهذه أسرار عجيبة وهي من أسرار عجائب القلب ولا يليق ذكرها بعلم المعاملة
Adapun bentuk rupa yang dihasilkan dalam imajinasi (khayal) dari pancaran alam Malakut ke atas batin rahasia hati, tidaklah terjadi melainkan sebagai penyerupaan bagi sifat dan kesesuaian dengannya. Oleh karena itu, makna yang buruk tidak akan terlihat melainkan dalam rupa yang buruk, sehingga Setan terlihat dalam rupa anjing, katak, babi, dan lainnya, sedangkan Malaikat terlihat dalam rupa yang indah. Maka rupa tersebut menjadi lambang dari makna-makna itu dan menyerupainya secara jujur (akurat). Oleh sebab itulah, kera dan babi dalam mimpi menunjukkan seorang manusia yang jahat, sedangkan domba menunjukkan manusia yang bersih dadanya (berhati lurus). Demikianlah seluruh bab tentang mimpi dan takwilnya. Ini semua adalah rahasia-rahasia yang menakjubkan dan termasuk rahasia keajaiban hati, yang tidak layak dituturkan dalam ilmu muamalah.
وإنما المقصود أن تصدق
Adapun maksudnya adalah agar engkau membenarkan
بأن الشيطان ينكشف لأرباب القلوب وكذلك الملك تارة بطريق التمثيل والمحاكاة كما يكون ذلك في النوم وتارة بطريق الحقيقة والأكثر هو التمثيل بصورة محاكية للمعنى هو مثال المعنى لا عين المعنى إلا أنه يشاهد بالعين مشاهدة محققة وينفرد بمشاهدته المكاشف دون من حوله كالنائم
bahwa Setan dapat tersingkap bagi para pemilik hati (arbab al-qulub), demikian pula Malaikat, terkadang dengan cara pemisalan dan simulasi sebagaimana yang terjadi dalam mimpi, dan terkadang dengan cara hakikat. Namun yang sering terjadi adalah pemisalan dengan rupa yang menyerupai makna; ia adalah mitsal (simbol) makna tersebut, bukan dzat makna itu sendiri, hanya saja ia disaksikan dengan mata secara penglihatan yang nyata, dan hanya dialami penglihatannya oleh orang yang mengalami mukasyafah tanpa orang-orang di sekitarnya, sebagaimana orang yang tertidur.
بيان ما يؤاخذ به العبد من وساوس القلوب وهمها وخواطرها وقصودها وما يعفى
Penjelasan tentang Apa yang Dituntut (Dihisab) dari Hamba berupa Bisikan Hati, Keinginan, Lintasan Pikiran, dan Maksud Hati, serta Apa yang Dimaafkan
عنه ولا يؤاخذ به
darinya dan Tidak Dituntut dengannya
اعلم أن هذا أمر غامض وقد وردت فيه آيات وأخبار متعارضة يلتبس طريق الجمع بينها إلا على سماسرة العلماء بالشرع فقد رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أنه قال عفى عن أمتي ما حدثت به نفوسها ما لم تتكلم به أو تعمل به وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ للحفظة إذا هم عبدي بسيئة فلا تكتبوها فإن عملها فاكتبوها سيئة وإذا هم بحسنة لم يعملها فاكتبوها حسنة فإن عملها فاكتبوها عشراً وقد خرجه البخاري ومسلم في الصحيحين وهو دليل على العفو عن عمل القلب وهمه بالسيئة وفي لفظ آخر من هم بحسنة فلم يعملها كتبت له حسنة ومن هم بحسنة فعملها كتبت له إلى سبعمائة ضعف ومن هم بسيئة فلم يعملها لم تكتب عليه وإن عملها كتبت وفي لفظ آخر وإذا تحدث بأن يعمل سيئة فأنا أغفرها له ما لم يعملها وكل ذلك يدل على العفو فأما ما يدل على المؤاخذة فقوله سبحانه إن تبدوا ما في أنفسكم أو تخفوه يحاسبكم به الله فيغفر لمن يشاء ويعذب من يشاء وقوله تعالى ﴿ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسؤولا﴾ فدل على أن عمل الفؤاد كعمل السمع والبصر فلا يعفى عنه وقوله تعالى ﴿ولا تكتموا الشهادة ومن يكتمها فإنه آثم قلبه﴾ وقوله تعالى ﴿لا يؤاخذكم الله باللغو في أيمانكم ولكن يؤاخذكم بما كسبت قلوبكم﴾ والحق عندنا في هذه المسألة لا يوقف عليه ما لم تقع الإحاطة بتفصيل أعمال القلوب من مبدأ ظهورها إلى أن يظهر العمل على الجوارح فنقول أول ما يرد على القلب الخاطر كما لو خطر له مثلاً صورة امرأة وأنها وراء ظهره في الطريق لو التفت إليها لرآها
Ketahuilah bahwa perkara ini adalah hal yang samar (rumit), dan telah diriwayatkan padanya ayat-ayat serta hadis-hadis yang tampaknya saling bertentangan, yang jalannya sulit dikompromikan kecuali oleh para ulama yang mendalam ilmunya dalam syariat. Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa Beliau bersabda, 'Dimaafkan dari umatku apa yang dibisikkan oleh jiwanya selama belum diucapkan atau diamalkan.' Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, 'Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman kepada malaikat pencatat amal: Apabila hamba-Ku berkeinginan (hamm) melakukan keburukan, maka janganlah kalian mencatatnya; jika ia mengamalkannya, maka catatlah sebagai satu keburukan. Dan jika ia berkeinginan melakukan kebaikan namun tidak mengamalkannya, catatlah sebagai satu kebaikan; jika ia mengamalkannya, catatlah sepuluh kali lipat.' (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka). Ini merupakan dalil atas dimaafkannya perbuatan hati dan kehendaknya terhadap keburukan. Dalam lafaz lain: 'Barangsiapa berkeinginan melakukan kebaikan lalu tidak mengamalkannya, dituliskan baginya satu kebaikan…'. Dan dalam lafaz lain: 'Dan apabila ia membisikkan untuk mengamalkan keburukan, maka Aku mengampuninya selama ia belum mengamalkannya.' Semua itu menunjukkan dimaafkan. Adapun dalil yang menunjukkan pertanggungjawaban (dihisab) adalah firman Allah Subhanah: 'Jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan itu' (QS. Al-Baqarah: 284), dan firman-Nya Ta'ala: 'Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya' (QS. Al-Isra: 36), yang menunjukkan bahwa perbuatan hati sama seperti perbuatan pendengaran dan penglihatan yang tidak dimaafkan begitu saja. Serta firman-Nya Ta'ala: 'Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan kesaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya' (QS. Al-Baqarah: 283), dan firman-Nya Ta'ala: 'Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpah yang disengaja) oleh hatimu' (QS. Al-Baqarah: 225). Kebenaran menurut kami dalam masalah ini tidak akan dapat dipahami selama belum meliputi rincian perbuatan hati dari permulaan munculnya hingga tampak menjadi amalan pada anggota badan. Maka kami katakan: Yang pertama kali masuk ke dalam hati adalah lintasan (khatir), seperti misalnya terlintas di hatinya rupa seorang wanita yang berada di belakang punggungnya di jalan, yang jika ia menoleh niscaya ia akan melihatnya.
والثاني هيجان الرغبة إلى النظر وهو حركة الشهوة في الطبع وهذا يتولد من الخاطر الأول ونسميه ميل الطبع ويسمى الأول حديث النفس
Yang kedua adalah gejolak keinginan untuk melihat, yaitu pergerakan syahwat dalam tabiat. Hal ini terlahir dari lintasan yang pertama, dan kami menamakannya kecenderungan tabiat (mail ath-thab'), sedangkan yang pertama dinamakan bisikan jiwa (hadits an-nafs).
والثالث حكم القلب بأن هذا ينبغي أن يفعل أي ينبغي أن ينظر إليها فإن الطبع إذا مال لم تنبعث الهمة والنية ما لم تندفع الصوارف فإنه قد يمنعه حياء أو خوف من الالتفات وعدم هذه الصوارف ربما يكون بتأمل وهو على كل حال حكم من جهة العقل ويسمى هذا اعتقاداً وهو يتبع الخاطر والميل
Yang ketiga adalah keputusan hati (hukum al-qalb) bahwa hal ini hendaknya dilakukan, yakni hendaknya ia melihat wanita tersebut. Sebab, jika tabiat telah cenderung, tekad dan niat tidak akan terdorong selama faktor penghalang belum tersingkirkan, karena terkadang rasa malu atau takut menghalanginya dari menoleh. Ketiadaan penghalang ini terkadang terjadi melalui perenungan, dan ini bagaimanapun juga merupakan keputusan dari pihak akal, yang dinamakan keyakinan/pendirian (i'tiqad), dan ia mengikuti lintasan serta kecenderungan.
الرابع تصميم العزم على الالتفات وجزم النية فيه وهذا نسميه هما بالفعل ونية وقصداً وهذا الهم قد يكون له مبدأ ضعيف ولكن إذا أصغى القلب إلى الخاطر الأول حتى طالت مجاذبته للنفس تأكد هذا الهم وصار إرادة مجزومة فإذا انجزمت الإرادة فربما يندم بعد الجزم فيترك العمل وربما يغفل بعارض فلا يعمل به ولا يلتفت إليه وربما يعوقه عائق فيتعذر عليه العمل
Yang keempat adalah kebulatan tekad (tashmim al-'azm) untuk menoleh dan memantapkan niat padanya. Hal ini kami namakan kehendak kuat melakukan perbuatan (hamm bi al-fi'l), niat, dan maksud. Kehendak kuat ini terkadang memiliki permulaan yang lemah, namun jika hati mendengarkan lintasan pertama hingga lama pergulatannya dengan jiwa, kehendak kuat ini menjadi kukuh dan menjadi keinginan yang pasti (iradah majzumah). Apabila keinginan itu telah memuncak dan mantap, terkadang seseorang menyesal setelah kemantapan tersebut lalu meninggalkan perbuatan itu, atau terkadang ia lalai karena suatu halangan sehingga tidak mengamalkannya dan tidak memikirkannya lagi, atau terkadang dihalangi oleh suatu penghambat sehingga perbuatan itu menjadi mustahil baginya.
فههنا أربع أحوال للقلب قبل العمل بالجارحة الخاطر وهو حديث النفس ثم الميل ثم الاعتقاد ثم الهم
Maka di sini terdapat empat tingkatan kondisi bagi hati sebelum dilakukannya perbuatan oleh anggota badan: lintasan (khatir) yaitu bisikan jiwa (hadits an-nafs), kemudian kecenderungan (mail), kemudian keyakinan/pendirian (i'tiqad), lalu kehendak kuat (hamm).
فنقول أما الخاطر فلا يؤاخذ به لأنه لا يدخل تحت الاختيار وكذلك الميل وهيجان الشهوة لأنهما لا يدخلان
Maka kami katakan: Adapun lintasan (khatir), tidak dituntut (dihisab) dengannya karena ia tidak berada di bawah ikhtiar (pilihan bebas manusia). Demikian pula kecenderungan dan gejolak syahwat, karena keduanya juga tidak berada
أيضاً تحت الاختيار وهما المرادان بقوله ﷺ ﷺ عفى عن أمتي ما حدثت به نفوسها فحديث النفس عبارة عن الخواطر التي تهجس في النفس ولا يتبعها عزم على الفعل فأما الهم والعزم فلا يسمى حديث النفس بل حديث النفس كما روي عن عثمان بن مظعون حيث قال للنبي ﷺ يا رسول الله نفسي تحدثني أن أطلق خولة قال مهلاً إن من سنتي النكاح قال نفسي تحدثني أن أجب نفسي قال مهلاً خصاء أمتي دءوب الصيام قال نفسي تحدثني أن أترهب قال مهلاً رهبانية أمتي الجهاد والحج قال نفسي تحدثني أن أترك اللحم قال مهلاً فإني أحبه ولو أصبته لأكلته ولو سألت الله لأطعمنيه حديث قالت الملائكة رب ذاك عبدك يريد أن يعمل سيئة وهو أبصر الحديث قال المصنف إنه في الصحيح وهو كما قال في صحيح مسلم من حديث أبي هريرة حديث إنما يحشر الناس على نياتهم أخرجه ابن ماجة من حديث جابر دون قوله ﴿إنما﴾ وله من حديث أبي هريرة إنما يبعث الناس على نياتهم وإسنادهما حسن ومسلم من حديث عائشة يبعثهم الله على نياتهم وله من حديث أم سلمة يبعثون على نياتهم ونحن نعلم أن من عزم ليلاً على أن يصبح ليقتل مسلماً أو يزني بامرأة فمات تلك
di bawah ikhtiar, dan keduanyalah yang dimaksud dengan sabda Beliau ﷺ, 'Dimaafkan dari umatku apa yang dibisikkan oleh jiwanya.' Bisikan jiwa (hadits an-nafs) adalah ungkapan untuk lintasan-lintasan yang terbersit di dalam jiwa tanpa diiringi oleh tekad bulat untuk berbuat. Adapun kehendak kuat (hamm) dan tekad ('azm), maka tidak dinamakan bisikan jiwa. Melainkan bisikan jiwa adalah sebagaimana diriwayatkan dari Utsman bin Maz'un ketika ia berkata kepada Nabi ﷺ, 'Wahai Rasulullah, jiwaku membisikkan kepadaku untuk menceraikan Khaulah.' Beliau bersabda, 'Tahanlah, sesungguhnya termasuk sunnahku adalah menikah.' Ia berkata, 'Jiwaku membisikkan kepadaku untuk mengebiri diriku.' Beliau bersabda, 'Tahanlah, pengebirian umatku adalah ketekunan berpuasa.' Ia berkata, 'Jiwaku membisikkan kepadaku untuk berkerahiban.' Beliau bersabda, 'Tahanlah, kerahiban umatku adalah jihad dan haji.' Ia berkata, 'Jiwaku membisikkan kepadaku untuk meninggalkan daging.' Beliau bersabda, 'Tahanlah, sesungguhnya aku menyukainya, dan seandainya aku mendapakannya niscaya aku memakannya, dan seandainya aku memohon kepada Allah niscaya Dia memberiku makan dengannya.' Hadis: Malaikat berkata, 'Wahai Tuhan, itu hamba-Mu hendak melakukan keburukan padahal Dia lebih melihat…' Penulis berkata: Sesungguhnya hadis ini ada dalam As-Shahih, sebagaimana dikatakannya dalam Shahih Muslim dari hadis Abu Hurairah. Hadis: 'Hanyasanya manusia dibangkitkan berdasarkan niat-niat mereka' (Diriwayatkan oleh Ibn Majah dari hadis Jabir tanpa kata 'inmama', dan baginya dari hadis Abu Hurairah 'Hanyasanya manusia dibangkitkan…', sanad keduanya hasan; dan Muslim dari hadis Aisyah 'Allah membangkitkan mereka atas niat-niat mereka', serta darinya dari hadis Umm Salamah 'Mereka dibangkitkan atas niat-niat mereka'). Kita mengetahui bahwa barangsiapa bertekad bulat pada malam hari untuk bangun pagi membunuh seorang muslim atau berzina dengan seorang wanita, lalu ia meninggal pada malam
الليلة مات مصراً ويحشر على نيته وقد هم بسيئة ولم يعملها
itu, ia meninggal dalam keadaan terus-menerus dalam dosa (mushirr) dan dibangkitkan atas niatnya, padahal ia baru berkehendak kuat melakukan keburukan dan belum mengamalkannya.
والدليل القاطع فيه ما رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أنه قال إذا التقى المسلمان بسيفيهما فالقاتل والمقتول في النار فقيل يا رسول الله هذا القاتل فما بال المقتول قال لأنه أراد قتل صاحبه حديث لما نزل قوله تعالى ﴿وإن تبدوا ما في أنفسكم أو تخفوه يحاسبكم به الله﴾ جاء ناس من الصحابة إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فقالوا كلفنا ما لا نطيق الحديث أخرجه مسلم من حديث أبي هريرة وابن عباس نحوه فأنزل الله الفرج بعد سنة بقوله ﴿لا يكلف الله نفساً إلا وسعها﴾ فظهر به أن كل ما لا يدخل تحت الوسع من أعمال القلب هو الذي لا يؤاخذ به فهذا هو كشف الغطاء عن هذا الالتباس وكل من يظن أن كل ما يجري على القلب يسمى حديث النفس ولم يفرق بين هذه الأقسام الثلاثة فلا بد وأن يغلط وكيف لا يؤاخذ بأعمال القلب من الكبر والعجب والرياء والنفاق والحسد وجملة الخبائث من أعمال القلب بل السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا أي ما يدخل تحت الاختيار فلو وقع البصر بغير اختيار على غير ذي محرم لم يؤاخذ به فإن أتبعها نظرة ثانية كان مؤاخذاً به لأنه مختار فكذا خواطر القلب تجري هذا المجرى بل القلب أولى بمؤاخذته لأنه الأصل قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ التقوى ههنا وأشار إلى القلب وقال الله تعالى ﴿لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يناله التقوى منكم﴾ وقال ﷺ الإثم حواز القلوب وقال البر ما اطمأن إليه القلب وإن أفتوك وأفتوك حتى إنا نقول إذا حكم القلب المفتى بإيجاب شيء وكان مخطئاً فيه صار مثاباً عليه بل من قد ظن أنه تطهر فعليه أن يصلي فإن صلى ثم تذكر أنه لم يتوضأ كان له ثواب بفعله فإن تذكر ثم تركه كان معاقباً عليه ومن وجد على فراشه امرأة فظن أنها زوجته لم يعص بوطئها وإن كانت أجنبية فإن ظن أنها أجنبية ثم وطئها عصى بوطئها وإن كانت زوجته وكل ذلك نظر إلى القلب دون الجوارح
Dalil yang tegas mengenai hal ini adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda: "Apabila dua orang Muslim bertemu dengan membawa pedang masing-masing, maka yang membunuh dan yang dibunuh berada di neraka." Lalu ditanyakan: "Wahai Rasulullah, ini untuk pembunuh, lantas bagaimana dengan yang dibunuh?" Beliau menjawab: "Karena sesungguhnya ia juga berkeinginan untuk membunuh kawannya." Dan hadis ketika turun firman Allah Ta'ala: ﴿Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu﴾, datanglah sejumlah Sahabat kepada Rasulullah ﷺ lalu mereka berkata: "Kami dibebani apa yang tidak mampu kami sanggupi…" (Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Abu Hurairah, dan Ibnu Abbas meriwayatkan seumpamanya). Maka Allah menurunkan kelapangan setelah satu tahun melalui firman-Nya: ﴿Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya﴾. Dengan demikian tampak jelas bahwa segala amalan hati yang berada di luar batas kesanggupan itulah yang tidak dihisab (dihukum). Inilah pembuka tabir dari keraguan ini. Siapa saja yang mengira bahwa semua yang melintas di dalam hati dinamakan bisikan jiwa (hadits an-nafs) tanpa membedakan ketiga tingkatan ini, pasti ia akan keliru. Bagaimana mungkin amalan hati seperti kesombongan (kibriya'), kebanggaan diri ('ujub), riya, kemunafikan, kedengkian (hasad), dan seluruh keburukan amalan hati tidak dihisab? Padahal firman-Nya: ﴿Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya﴾, yakni apa saja yang berada di bawah kehendak bebas (ikhtiyar). Apabila pandangan mata jatuh tanpa disengaja kepada wanita yang bukan mahram, ia tidak dihisab dengannya. Namun jika ia mengikutinya dengan pandangan kedua, ia akan dihisab darinya karena hal itu atas pilihannya sendiri. Begitu pula lintasan pikiran (khawatir) di dalam hati berlaku demikian, bahkan hati lebih utama untuk dihisab karena hati adalah asasnya. Rasulullah ﷺ bersabda: "Taqwa itu ada di sini," seraya menunjuk ke hatinya. Dan Allah Ta'ala berfirman: ﴿Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya﴾. Beliau ﷺ juga bersabda: "Dosa adalah apa yang menggelisahkan hati." Dan beliau bersabda: "Kebajikan adalah apa yang melegakan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan memberi fatwa kepadamu." Sampai-sampai kami katakan: Apabila hati seorang pemberi fatwa (mufti) menilai wajibnya sesuatu padahal ia keliru di dalamnya, ia tetap mendapat pahala atasnya. Bahkan barang siapa menduga bahwa dirinya telah bersuci, maka ia wajib shalat; jika ia shalat lalu teringat bahwa ia belum berwudhu, ia tetap mendapatkan pahala atas perbuatannya. Namun jika ia teringat lalu meninggalkannya (tidak mengulanginya), maka ia diancam hukuman/dosa. Dan barang siapa menemukan seorang wanita di atas tempat tidurnya lalu menyangka bahwa wanita itu adalah istrinya, ia tidak bermaksiat dengan menggaulinya meskipun kenyataannya wanita itu adalah orang lain. Sebaliknya, jika ia menyangka wanita itu adalah orang lain lalu menggaulinya, ia telah bermaksiat dengan menggaulinya meskipun kenyataannya wanita itu adalah istrinya sendiri. Semua hal tersebut berpatokan pada keadaan hati, bukan semata-mata anggota badan.
بيان أن الوسواس هل يتصور أن ينقطع بالكلية عند الذكر أم لا
Penjelasan Mengenai Apakah Bisikan Setan (Al-Waswas) Dapat Diterbayangkan Putus Secara Keseluruhan Ketika Berzikir atau Tidak
اعلم أن العلماء المراقبين للقلوب الناظرين في صفاتها وعجائبها اختلفوا في هذه المسألة على خمس فرق
Ketahuilah bahwasanya para ulama yang mengawasi keadaan hati (al-muraqibuna lil-qulub) serta memperhatikan sifat-sifat dan keajaibannya berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi lima kelompok.
فقالت فرقة الوسوسة تنقطع بذكر الله ﷿ لأنه ﷺ قال فإذا ذكر الله خنس // حديث إذا ذكر الله خنس أخرجه ابن أبي الدنيا وابن عدي من حديث أنس في أثناء حديث إن الشيطان واضع خطمه على قلب ابن آدم الحديث وقد تقدم قريبا والخنس هو السكوت فكأنه يسكت
Satu kelompok berpendapat bahwa bisikan setan (al-waswasah) terputus dengan zikir kepada Allah 'Azza wa Jalla, karena Nabi ﷺ bersabda: "Maka apabila ia mengingat Allah (berzikir), setan itu bersembunyi/mundur (khanasa)." // (Hadis: "Apabila mengingat Allah ia mundur", diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dan Ibnu 'Adi dari hadis Anas di tengah-tengah hadis "Sesungguhnya setan meletakkan belalainya pada hati anak Adam…", dan telah disebutkan sebelumnya. Al-khunas berarti berdiam diri, seakan-akan setan itu terdiam).
وقالت فرقة لا ينعدم أصله ولكن يجري في القلب ولا يكون له أثر لأن القلب إذا صار مستوعباً بالذكر كان محجوباً عن التأثر بالوسوسة كالمشغول بهمه فإنه قد يتكلم ولا يفهم وإن كان الصوت يمر على سمعه
Kelompok lain berpendapat bahwa dasar dari bisikan itu tidaklah sirna secara total, tetapi ia tetap mengalir di dalam hati tanpa meninggalkan pengaruh (atsar). Sebab, apabila hati telah dipenuhi oleh zikir, ia akan terhalang dari terpengaruh oleh bisikan setan, sebagaimana orang yang tenggelam dalam kesusahannya; kadang ia diajak bicara tetapi ia tidak memahami, meskipun suara itu melewati pendengarannya.
وقالت فرقة لا تسقط الوسوسة ولا أثرها أيضاً ولكن تسقط غلبتها للقلب فكأنه يوسوس من بعد وعلى ضعف
Kelompok lain berpendapat bahwa bisikan setan tidaklah gugur, tidak pula pengaruhnya, melainkan yang gugur adalah penguasaannya atas hati. Maka seolah-olah ia membisikkan dari kejauhan dan dalam keadaan lemah.
وقالت فرقة ينعدم عند الذكر في لحظة وينعدم الذكر في لحظه ويتعاقبان في أزمنة متقاربة يظن لتقاربها أنها متساوقة وهي كالكرة التي عليها نقط متفرقة فإنك إذا أدرتها بسرعة تواصلها بالحركة واستدل هؤلاء بأن الخنس قد ورد ونحن نشاهد الوسوسة مع الذكر ولا وجه له إلا هذا
Kelompok lain berpendapat bahwa bisikan itu sirna pada saat berzikir dalam suatu sekejap, dan zikir sirna pada sekejap berikutnya; keduanya saling bergantian dalam selang waktu yang sangat berdekatan, sehingga karena sangat berdekatan dikira berlangsung serentak. Hal ini bagaikan bola yang di atasnya terdapat titik-titik terpisah, jika engkau memutarnya dengan cepat, titik-titik itu terlihat tersambung karena cepatnya gerakan. Mereka berdalil bahwa sebutan al-khunas (mundurnya setan) telah diriwayatkan, sementara kita menyaksikan adanya bisikan bersamaan dengan zikir, sehingga tidak ada penjelasan lain selain cara ini.
وقالت فرقة الوسوسة والذكر يتساوقان في الدوام على القلب تساوقاً لا ينقطع وكما أن الإنسان قد يرى بعينيه شيئين في حالة واحدة فكذلك القلب قد يكون مجرى لشيئين فقد قال ﷺ ما من عبد إلا وله أربعة أعين عينان في رأسه يبصر بهما أمر دنياه وعينان في قلبه يبصر بهما أمر دينه // حديث ما من عبد إلا وله أربعة أعين عينان في رأسه يبصر بهما أمر دنياه وعينان في قلبه يبصر بهما أمر دينه أخرجه أبو منصور الديلمي في مسند الفردوس من حديث معاذ بلفظ الآخرة مكان دينه وفيه الحسين بن أحمد بن محمد الهروي السماخي الحافظ كذبه الحاكم والآفة منه وإلى هذا ذهب المحاسبي والصحيح عندنا أن كل هذه المذاهب صحيحة ولكن كلها قاصرة عن الإحاطة بأصناف الوسواس وإنما نظر كل واحد منهم إلى صنف واحد من الوسواس فأخبر عنه
Kelompok lain berpendapat bahwa bisikan setan dan zikir berjalan berdampingan secara terus-menerus di dalam hati tanpa terputus. Sebagaimana manusia terkadang melihat dua benda sekaligus dengan kedua matanya dalam satu keadaan, begitu pula hati dapat menjadi muara bagi dua hal sekaligus. Sungguh Nabi ﷺ telah bersabda: "Tidak ada seorang hamba pun melainkan ia memiliki empat mata: dua mata di kepalanya yang dengannya ia melihat urusan dunianya, dan dua mata di hatinya yang dengannya ia melihat urusan agamanya." // (Hadis: "Tidak ada seorang hamba pun melainkan ia memiliki empat mata…", diriwayatkan oleh Abu Mansur Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus dari hadis Mu'adz dengan lafal 'akhirat' sebagai ganti 'agamanya'. Di dalam sanadnya terdapat Al-Husain bin Ahmad bin Muhammad Al-Harawi As-Samakhi Al-Hafizh, yang dianggap berdusta oleh Al-Hakim dan kelemahan hadis ini bersumber darinya). Pendapat inilah yang dianut oleh Al-Muhasibi. Menurut pandangan kami yang shahih, seluruh mazhab (pendapat) ini benar, namun semuanya masih terbatas untuk mencakup seluruh jenis bisikan setan (asynaf al-waswas). Masing-masing dari mereka hanya melihat pada satu jenis bisikan setan lalu memberitakannya.
والوسواس أصناف
Dan bisikan setan (al-waswas) itu bermacam-macam jenisnya:
الأول أن يكون من جهة التلبيس بالحق فإن الشطيان قد يلبس بالحق فيقول للإنسان تترك التنعم باللذات فإن العمر طويل والصبر عن الشهوات طول العمر ألمه عظيم فعند هذا إذا ذكر العبد عظيم حق الله تعالى وعظيم ثوابه وعقابه وقال لنفسه الصبر عن الشهوات شديد ولكن الصبر على النار أشد منه ولا بد من أحدهما فإذا ذكر العبد وعد الله تعالى ووعيده وجدد إيمانه ويقينه خنس الشيطان وهرب إذ لا يستطيع أن يقول له النار أيسر من الصبر على المعاصي ولا يمكنه أن يقول المعصية لا تفضي إلى النار فإن إيمانه بكتاب الله ﷿ يدفعه عن ذلك فينقطع وسواسه وكذلك يوسوس إليه بالعجب بعمله فيقول أي عبد يعرف الله كما تعرفه ويعبده كما تعبده فما أعظم مكانك عند الله تعالى فيتذكر العبد حينئذ أن معرفته وقلبه وأعضاءه التي بها عمله وعلمه كل ذلك من خلق الله تعالى فمن أين يعجب به فيخنس الشيطان إذ لا يمكنه أن يقول ليس هذا من الله فإن المعرفة والإيمان يدفعه فهذا نوع من الوسواس ينقطع بالكلية عن العارفين المستبصرين بنور الإيمان والمعرفة
Jenis pertama: Terjadi dari segi perancuan (talbis) dengan kebenaran. Sesungguhnya setan terkadang menyamarkan kebenaran, ia berkata kepada manusia: "Apakah engkau akan meninggalkan kenikmatan dari kelezatan dunia, padahal umur masih panjang dan bersabar dari syahwat sepanjang umur itu pedihnya sangat besar?" Maka pada saat itu, apabila hamba tersebut mengingat besarnya hak Allah Ta'ala serta besarnya pahala dan siksa-Nya, lalu ia berkata kepada jiwanya: "Bersabar dari syahwat memang berat, namun bersabar di dalam neraka jauh lebih berat lagi, dan salah satu dari keduanya pasti harus dijalani." Apabila hamba mengingat janji (wa'd) dan ancaman (wa'id) Allah Ta'ala serta memperbarui iman dan keyakinannya, maka setan akan mundur (khanasa) dan lari. Sebab setan tidak sanggup berkata kepadanya: "Neraka itu lebih ringan daripada bersabar atas kemaksiatan," dan tidak mungkin pula ia berkata: "Kemaksiatan tidak membawa ke neraka," karena imannya kepada Kitab Allah 'Azza wa Jalla menolak hal itu, sehingga terputuslah bisikannya. Demikian pula setan membisikkan rasa bangga diri ('ujub) terhadap amalnya, dengan berkata: "Hamba mana yang mengenal Allah sebagaimana engkau mengenal-Nya, dan menyembah-Nya sebagaimana engkau menyembah-Nya? Betapa agungnya kedudukanmu di sisi Allah Ta'ala!" Maka hamba itu teringat pada saat itu bahwa makrifatnya, hatinya, serta anggota badannya yang digunakannya untuk beramal dan berilmu, semuanya adalah ciptaan Allah Ta'ala. Lantas dari mana ia harus bangga? Maka mundurlah setan, sebab ia tidak dapat mengatakan "Ini bukan dari Allah," karena makrifat dan iman menolaknya. Jenis bisikan ini terputus secara total dari orang-orang arif (al-'arifin) yang mendapat ketajaman mata hati (al-mustabsirin) dengan cahaya iman dan makrifat.
الصنف الثاني أن يكون وسواسه بتحريك الشهوة وهيجانها وهذا ينقسم إلى ما يعلم العبد يقيناً أنه معصية وإلى ما يظنه بغالب الظن فإن علمه يقيناً خنس الشيطان عن تهييج يؤثر في تحريك الشهوة ولم يخنس عن التهييج وإن كان مظنوناً فربما يبقى مؤثراً بحيث يحتاج إلى مجاهدة في دفعه فتكون الوسوسة موجودة ولكنها مدفوعة غير غالبة
Jenis kedua: Bisikannya berupa perangsangan dan gejolak syahwat. Ini terbagi menjadi dua: apa yang diketahui secara yakin oleh hamba bahwa itu adalah maksiat, dan apa yang disangkanya menurut dugaan kuat (ghalabat adz-dzann). Apabila ia mengetahuinya secara yakin, maka setan akan mundur dari gejolak yang dapat menggerakkan syahwat, namun ia tidak mundur dari godaan awal itu sendiri. Adapun jika hal itu masih dalam dugaan, maka kerap kali gejolak tersebut tetap berpengaruh sehingga membutuhkan perjuangan (mujahadah) untuk menolaknya; maka bisikan itu tetap ada tetapi tertolak dan tidak menguasai.
الصنف الثالث أن تكون وسوسة بمجرد الخواطر وتذكر الأحوال الغالبة والتفكر في غير الصلاة مثلاً فإذا أقبل على الذكر تصور أن يندفع ساعة ويعود ويندفع ويعود فيتعاقب الذكر والوسوسة ويتصور أن يتساوقا جميعاً حتى يكون الفهم مشتملاً على فهم معنى القراءة وعلى تلك الخواطر كأنهما في موضعين من القلب وبعيد جداً أن يندفع هذا الخنس بالكلية بحيث لا يخطر ولكنه ليس محالاً إذا قَالَ ﷺ مَنْ صَلَّى ركعتين لم يحدث فيهما
Jenis ketiga: Bisikan itu berupa lintasan-lintasan pikiran belaka (mufarrad al-khawatir), mengingat hal-hal yang mendominasi, dan memikirkan hal di luar shalat misalnya. Ketika ia berhadapan dengan zikir, mungkin saja bisikan itu terdorong sejenak lalu kembali, terdorong lalu kembali, sehingga zikir dan bisikan itu saling bergantian. Mungkin pula keduanya berlangsung bersamaan sehingga pemahaman mencakup pemahaman makna bacaan sekaligus lintasan-lintasan pikiran tersebut, seolah-olah berada di dua bagian dari hati. Sangat jauh kemungkinan bahwa mundurnya setan (al-khunas) ini terjadi secara total sehingga tidak pernah terlintas sama sekali, namun hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil, sebab Nabi ﷺ telah bersabda: "Barang siapa shalat dua rakaat tanpa membisikkan…
نفسه بشيء من أمر الدنيا غفر له ما تقدم من ذنبه فلولا أنه متصور لما ذكره إلا أنه لا يتصور ذلك إلا في قلب استولى عليه الحب حتى صار كالمستهتر فإنا قد نرى المستوعب القلب بعدو تأذى به قد يتفكر بمقدار ركعتين وركعات في مجادلة عدوه بحيث لا يخطر بباله غير حديث عدوه وكذلك المستغرق في الحب قد يتفكر في محادثة محبوبه بقلبه ويغوص في فكره بحيث لا يخطر بباله غير حديث محبوبه ولو كلمه غيره لم يسمع ولو اجتاز بين يد أحد لكان كأن لا يراه وإذا تصور هذا في خوف من عدو وعند الحرص على مال وجاه فكيف لا يتصور من خوف النار والحرص على الجنة ولكن ذلك عزيز لضعف الإيمان بالله تعالى واليوم الآخر وإذا تأملت جملة هذه الأقسام وأصناف الوسواس علمت أن لكل مذهب من المذاهب وجهاً في محل مخصوص
…kepada dirinya sesuatu pun dari urusan dunia, niscaya diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu." Sekiranya hal itu tidak dapat terbayangkan (terjadi), niscaya beliau tidak akan menyebutkannya. Hanya saja hal itu tidak terbayangkan kecuali pada hati yang telah dikuasai oleh rasa cinta (al-hubb) hingga ia menjadi bagaikan orang yang mabuk kepayang. Sebab kita kerap melihat seseorang yang hatinya dipenuhi oleh musuh yang menyakitinya, ia dapat berpikir seukuran dua rakaat atau beberapa rakaat dalam memperdebatkan musuhnya sehingga tidak terlintas di benaknya selain perihal musuhnya. Demikian pula orang yang tenggelam dalam cinta, ia dapat berpikir tentang percakapan dengan kekasihnya di dalam hatinya dan menyelam dalam pikirannya sehingga tidak terlintas di benaknya selain perihal kekasihnya; sekiranya orang lain berbincang dengannya ia tidak mendengar, dan sekiranya ia melintas di hadapan seseorang seolah-olah ia tidak melihatnya. Jika hal ini dapat terbayangkan terjadi pada rasa takut kepada musuh atau ketika rakus akan harta dan kedudukan, bagaimana mungkin tidak terbayangkan terjadi dari rasa takut akan neraka dan kerinduan akan surga? Akan tetapi hal demikian sangat langka karena lemahnya iman kepada Allah Ta'ala dan Hari Akhir. Apabila engkau mencermati keseluruhan pembagian ini beserta jenis-jenis bisikan setan, engkau akan tahu bahwa setiap mazhab (pendapat) memiliki landasan pada kondisi yang khusus.
وبالجملة فالخلاص من الشيطان في لحظة أو ساعة غير بعيد ولكن الخلاص منه عمرا طويلا بعيد جداً ومحال في الوجود ولو تخلص أحد من وساوس الشيطان بالخواطر وتهييج الرغبة لتخلص رسول الله ﷺ فقد روي أنه نظر إلى علم ثوبه في الصلاة فلما سلم رمى بذلك الثوب وقال شغلني عن الصلاة ﴿وقال﴾ اذهبوا به إلى أبي جهم وائتوني بأنبجانيته وكان في يده خاتم من ذهب فنظر إليه وهو على المنبر ثم رمى به قال نظرة إليه ونظرة إليكم // حديث كان في يده خاتم من ذهب فنظر إليه على المنبر فرماه فقال نظرة إليكم أخرجه النسائي من حديث ابن عباس وتقدم في الصلاة وكان ذلك لوسوسة الشيطان بتحريك لذة النظر إلى خاتم الذهب وعلم الثوب وكان ذلك قبل تحريم الذهب فلذلك لبسه ثم رمى به فلا تنقطع وسوسة عروض الدنيا ونقدها إلا بالرمي والمفارقة فما دام يملك شيئاً وراء حاجته ولو ديناراً واحداً لا يدعه الشيطان في صلاته من الوسوسة في الفكر في ديناره وأنه كيف يحفظه وفيماذا ينفقه وكيف يخفيه حتى لا يعلم به أحد وكيف يظهره حتى يتباهى به إلى غير ذلك من الوساوس فمن أنشب مخالبه في الدنيا وطمع في أن يتخلص من الشطيان كان كمن انغمس في العسل وظن أن الذباب لا يقع عليه فهو محال فالدنيا باب عظيم لوسوسة الشيطان وليس له باب واحد بل أبواب كثيرة قال حكيم من الحكماء الشيطان يأتي ابن آدم من قبل المعاصي فإن امتنع أتاه من وجه النصيحة حتى يلقيه في بدعة فإن أبى أمره بالتحرج والشدة حتى يحرم ما ليس بحرام فإن أبى شككه في وضوئه وصلاته حتى يخرجه عن العلم فإن أبى خفف عليه أعمال البر حتى يراه الناس صابراً عفيفاً فتميل قلوبهم إليه فيعجب نفسه وبه يهلكه وعند ذلك يشتد إلحاحه فإنها آخر درجة ويعلم أنه لو جاوزها أفلت منه إلى الجنة
Kesimpulannya, terbebas dari setan dalam sekejap atau satu jam bukanlah hal yang jauh (mustahil), tetapi terbebas darinya sepanjang umur adalah hal yang sangat jauh dan mustahil dalam realitas kehidupan. Sekiranya ada seseorang yang bisa selamat dari bisikan setan berupa lintasan pikiran dan gejolak keinginan, niscaya Rasulullah ﷺ telah selamat darinya. Sungguh telah diriwayatkan bahwa beliau memandang corak pakaian beliau dalam shalat, maka seusai salam beliau melepaskan pakaian tersebut dan bersabda: "Pakaian ini telah menggangguku dari shalatku," dan beliau bersabda: "Bawalah pakaian ini kepada Abu Jahm dan bawakan untukku pakaian anbijaniyah-nya (kain tebal tanpa corak)." Dahulu di tangan beliau juga terdapat cincin emas, lalu beliau memandangnya ketika berada di atas mimbar, kemudian beliau melemparkannya seraya bersabda: "Sekali pandang kepadanya dan sekali pandang kepada kalian." // (Hadis: "Di tangannya terdapat cincin emas lalu beliau memandangnya di atas mimbar lalu melemparkannya…", diriwayatkan oleh An-Nasa'i dari hadis Ibnu Abbas dan telah disebutkan dalam kitab Shalat). Hal itu terjadi karena bisikan setan melalui penggerakan kelezatan memandang cincin emas dan corak pakaian—dan itu terjadi sebelum diharamkannya emas, karena itulah beliau memakainya lalu membuangnya. Maka bisikan kesenangan dunia dan perhiasannya tidak akan terputus kecuali dengan membuang dan meninggalkannya. Selama seseorang masih memiliki sesuatu di luar kebutuhannya, meskipun hanya satu dinar, setan tidak akan membiarkannya dalam shalatnya dari bisikan untuk memikirkan dinarnya: bagaimana menjaganya, untuk apa menginfakkannya, bagaimana menyembunyikannya agar tidak ada yang tahu, atau bagaimana menampakkannya agar bisa dibanggakan, dan bisikan-bisikan lainnya. Barang siapa menancapkan kuku-kukunya pada dunia tetapi mendambakan terbebas dari setan, ia bagaikan orang yang menyeburkan diri ke dalam madu namun mengira lalat tidak akan menempel padanya; hal itu adalah mustahil. Dunia adalah pintu utama bagi bisikan setan, dan setan tidak hanya memiliki satu pintu, melainkan banyak pintu. Berkata seorang ahli hikmah: "Setan mendatangi anak Adam dari pintu kemaksiatan; jika anak Adam menolak, ia mendatanginya dari pintu nasihat hingga menjatuhkannya ke dalam bidah; jika ia menolak, setan menyuruhnya bersikap terlalu ketat dan keras hingga mengharamkan apa yang tidak diharamkan; jika ia menolak, setan meragukannya dalam wudhu dan shalatnya hingga mengeluarkannya dari batas ilmu; jika ia menolak, setan meringankan baginya amalan-amalan kebaikan hingga orang-orang melihatnya sebagai orang yang sabar dan iffah (menjaga diri), sehingga hati mereka cenderung kepadanya lalu ia menjadi bangga diri ('ujub), dan dengan itulah setan membinasakannya. Pada saat itulah desakan setan semakin keras, karena itu adalah tingkatan terakhir, dan setan tahu bahwa jika ia melampauinya, manusia itu akan lolos darinya menuju surga."
بيان سرعة تقلب القلب وانقسام القلوب في التغير والثبات
Penjelasan Mengenai Cepatnya Gejolak Perubahan Hati (Taqallub al-Qalb) dan Pembagian Hati Dalam Hal Perubahan dan Keteguhannya
اعلم أن القلب كما ذكرناه تكتنفه الصفات التي ذكرناها وتنصب إليه الآثار والأحوال من الأبواب التي وصفناها فكأنه هدف يصاب على الدوام من كل جانب فإذا أصابه شيء يتأثر به أصابه من جانب آخر ما يضاده فتتغير صفته فإن نزل به الشيطان فدعاه إلى الهوى نزل به الملك وصرفه عنه وإن جذبه شيطان إلى شر جذبه شيطان آخر إلى غيره وإن جذبه ملك إلى خير جذبه آخر إلى غيره فتارة يكون متنازعاً بين ملكين وتارة بين شيطانين وتارة بين ملك وشيطان لا يكون قط مهملا وإليه الإشارة بقوله تعالى ونقلب أفئدتهم وأبصارهم ولاطلاع رسول الله ﷺ على عجيب صنع الله تعالى في عجائب القلب وتقلبه كان يحلف
Ketahuilah bahwasanya hati, sebagaimana telah kami sebutkan, dikelilingi oleh sifat-sifat yang telah kami jelaskan, dan dialiri oleh pengaruh-pengaruh serta keadaan-keadaan dari pintu-pintu yang telah kami paparkan. Seolah-olah hati adalah sasaran tembak yang terus-menerus dihantam dari setiap sisi. Apabila mengenai padanya sesuatu yang memengaruhinya, maka dari sisi lain akan datang hal yang menentangnya sehingga berubah pulalah sifatnya. Jika setan hinggap padanya lalu mengajaknya kepada hawa nafsu, maka malaikat pun turun dan memalingkannya dari hawa nafsu tersebut. Jika satu setan menariknya kepada keburukan, setan lain menariknya kepada keburukan yang lain. Jika satu malaikat menariknya kepada kebaikan, malaikat lain menariknya kepada kebaikan yang lain. Maka terkadang hati diperebutkan di antara dua malaikat, terkadang di antara dua setan, dan terkadang di antara satu malaikat dan satu setan; hati tidak pernah dibiarkan terlantar begitu saja. Kepada hal inilah diisyaratkan melalui firman-Nya Ta'ala: ﴿Dan Kami memalingkan hati mereka dan penglihatan mereka﴾. Dan karena pemahaman Rasulullah ﷺ akan menakjubkannya ciptaan Allah Ta'ala dalam keajaiban hati dan perubahannya, beliau kerap bersumpah…
به فيقول لا ومقلب القلوب
…dengannya, dengan bersabda: "Tidak, demi Pengbolak-balik hati (Muqallib al-Qulub)."
وكان كثيراً ما يقول يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك قالوا أو تخاف يا رسول الله قال وما يؤمنني والقلب بين إصبعين من أصابع الرحمن يقلبه كيف يشاء وفي لفظ آخر إن شاء أن يقيمه أقامه وإن شاء أن يزيغه أزاغه
Beliau juga sering kali berdoa: "Wahai Pengbolak-balik hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." Para sahabat bertanya: "Apakah engkau merasa takut, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Apa yang membuatku merasa aman, padahal hati berada di antara dua jemari dari jemari Ar-Rahman, Dia membolak-balikkannya sebagaimana yang Dia kehendaki?" Dalam lafal lain: "Jika Dia berkehendak meluruskannya, Dia meluruskannya; dan jika Dia berkehendak menyesatkannya, Dia menyesatkannya."
وضرب له ﷺ ثلاثة أمثلة فقال مثل القلب مثل العصفور يتقلب في كل ساعة وقال ﷺ مثل القلب في تقلبه كالقدر إذا استجمعت غليانا وقال مثل القلب كمثل ريشة في أرض فلاة تقلبها الرياح ظهراً لبطن وهذه التقلبات وعجائب صنع الله تعالى في تقلبها من حيث لا تهدى إليه المعرفة لا يعرفها إلا المراقبون والمراعون لأحوالهم مع الله تعالى
Rasulullah ﷺ juga membuat tiga perumpamaan untuk hati, beliau bersabda: "Perumpamaan hati adalah seperti burung kecil yang berbolak-balik setiap saat." Beliau ﷺ juga bersabda: "Perumpamaan hati dalam perubahannya adalah seperti kuali ketika bergejolak mendidih." Dan beliau bersabda: "Perumpamaan hati adalah seperti sehelai bulu di tanah lapang yang dibolak-balikkan oleh angin bolak-balik." Perubahan-perubahan ini dan keajaiban ciptaan Allah Ta'ala dalam pembolak-balikan hati dari arah yang tidak terjangkau oleh pengetahuan biasa, tidaklah diketahui melainkan oleh orang-orang yang senantiasa mengawasi (al-muraqibun) dan memelihara keadaan diri mereka bersama Allah Ta'ala.
والقلوب في الثبات على الخير والشر والتردد بينهما ثلاثة قلب عمر بالتقوى وزكا بالرياضة وطهر عن خبائث الأخلاق تنقدح فيه خواطر الخير من خزائن الغيب ومداخل الملكوت فينصرف العقل إلى التفكر فيما خطر له ليعرف دقائق الخير فيه ويطلع على أسرار فوائده فينكشف له بنور البصيرة وجهه فيحكم بأنه لا بد من فعله فيستحثه عليه ويدعوه إلى العمل به وينظر الملك إلى القلب فيجده طيباً في جوهره طاهراً بتقواه مستنيراً بضياء العقل معموراً بأنوار المعرفة فيراه صالحاً لأن يكون له مستقراً ومهبطا فعند ذلك يمده بجنود لا ترى ويهديه إلى خيرات أخرى حتى ينجر الخير إلى الخير وكذلك على الدوام ولا يتناهى إمداده بالترغيب بالخير وتيسير الأمر عليه وإليه الإشارة بقوله تعالى فأما من أعطى واتقى وصدق بالحسنى فسنيسره لليسرى وفي مثل هذا القلب يشرق نور المصباح من مكشاة الربوبية حتى لا يخفي فيه الشرك الخفي الذي هو أخفى من دبيب النملة السوداء في الليلة الظلماء فلا يخفى على هذا النور خافية ولا يروج عليه شيء من مكايد الشيطان بل يقف الشيطان ويوحي زخرف القول غروراً فلا يلتفت إليه وهذا القلب بعد طهارته من المهلكات يصير على القرب معموراً بالمنجيات التي سنذكرها من الشكر والصبر والخوف والرجاء والفقر والزهد والمحبة والرضا والشوق والتوكل والتفكر والمحاسبة وغير ذلك وهو القلب الذي أقبل الله ﷿ بوجهه عليه وهو القلب المطمئن المراد بقوله تعالى ألا بذكر الله تطمئن القلوب وبقوله ﷿ يا أيتها النفس المطمئنة
Hati dalam hal keteguhannya di atas kebaikan dan keburukan serta keraguan di antara keduanya terbagi menjadi tiga tingkatan: Pertama: Hati yang dimakmurkan dengan ketakwaan, disucikan dengan olah jiwa (riyadhah), dan dibersihkan dari keburukan akhlak. Pada hati ini memancar lintasan-lintasan kebaikan dari khazanah gaib dan jalan-jalan alam Malakut. Maka akal pun beranjak memikirkan apa yang terlintas padanya agar ia mengetahui kelembutan-kelembutan kebaikan di dalamnya dan menyingkap rahasia-rahasia manfaatnya, sehingga tersingkaplah baginya dengan cahaya bashirah (mata hati) hakikat kebaikan itu, lalu ia memutuskan bahwa kebaikan itu harus dikerjakan; akal pun mendorongnya dan mengundangnya untuk mengamalkannya. Malaikat memandang ke dalam hati tersebut, lalu ia mendapatinya suci pada substansinya, bersih dengan ketakwaannya, terang dengan pencerahan akal, serta dimakmurkan oleh cahaya-cahaya makrifat. Malaikat menyatakannya layak untuk menjadi tempat singgah dan turunnya rahmat. Pada saat itulah malaikat membantunya dengan tentara-tentara yang tidak terlihat dan membimbingnya kepada kebaikan-kebaikan yang lain, hingga kebaikan ditarik kepada kebaikan berikutnya, dan demikianlah seterusnya tanpa henti bantuan dalam mendorong pada kebaikan dan memudahkan urusan baginya. Kepada hal inilah diisyaratkan dalam firman-Nya Ta'ala: ﴿Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan darinya jalan yang mudah﴾. Di dalam hati yang seperti inilah memancar cahaya pelita dari celah (misykat) Ketuhanan, hingga tidak ada lagi syirik tersembunyi (asy-syirk al-khafi) yang lebih samar daripada rayapan semut hitam di malam yang pekat. Maka tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi cahaya ini, dan tidak ada satu pun dari tipu daya setan yang mampu memengaruhinya; bahkan setan pun terhenti saat membisikkan kata-kata indah yang menipu, lalu hati tidak berpaling padanya. Hati ini, setelah suci dari hal-hal yang membinasakan (al-muhlikat), dalam waktu dekat akan menjadi makmur dengan hal-hal yang menyelamatkan (al-munjiyat) yang akan kami sebutkan kelak, yaitu: syukur, sabar, khauf (rasa takut), raja' (harapan), faqr (kefakiran spiritual), zuhud, mahabbah (cinta), ridha, syauq (kerinduan), tawakal, tafakur, muhasabah, dan lainnya. Inilah hati yang Allah 'Azza wa Jalla menghadap padanya dengan keridaan-Nya, dan inilah hati yang tenang (al-qalb al-muthma'inn) yang dimaksudkan dalam firman-Nya Ta'ala: ﴿Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram﴾ dan firman-Nya 'Azza wa Jalla: ﴿Wahai jiwa yang tenang!﴾.
القلب الثاني القلب المخذول المشحون بالهوى المدنس بالأخلاق المذمومة والخبائث المفتوح فيه أبواب الشياطين المسدود عنه أبواب الملائكة ومبدأ الشر فيه أن ينقدح فيه خاطر من الهوى ويهجس فيه فينظر القلب إلى حاكم العقل ليستفتي منه ويستكشف وجه الصواب فيه فيكون العقل قد ألف خدمة الهوى وأنس به واستمر على استنباط الحيل له وعلى مساعدة الهوى فتستولي النفس وتساعد عليه فينشرح الصدر بالهوى وتنبسط فيه
Hati kedua adalah hati yang ditinggalkan dari pertolongan Allah, yang dipenuhi oleh hawa nafsu, dikotori oleh akhlak-akhlak tercela dan keburukan-keburukan, yang pintu-pintu setan terbuka padanya sedangkan pintu-pintu malaikat tertutup baginya. Permulaan kejahatan padanya adalah ketika terbersit dalam hati itu suatu lintasan pikiran (khathir) dari hawa nafsu dan berbisik di dalamnya. Lalu hati itu memandang kepada pertimbangan akal untuk meminta fatwa darinya serta menyingkap sisi kebenaran darinya. Namun ternyata akal telah terbiasa melayani hawa nafsu, merasa nyaman dengannya, serta terus-menerus merancang tipu daya untuknya dan membantu hawa nafsu tersebut. Maka nafsu pun menguasai dan membantunya, sehingga dada menjadi lapang untuk menerima hawa nafsu dan membentanglah di dalamnya
ظلماته لانحباس جند العقل عن مدافعته
kegelapan-kegelapannya disebabkan terhalangnya pasukan akal untuk menahannya.
فيقوى سلطان الشيطان لاتساع مكانه بسبب انتشار الهوى فيقبل عليه بالتزيين والغرور والأماني ويوحي بذلك زخرفاً من القول غروراً فيضعف سلطان الإيمان بالوعد والوعيد ويخبو نور اليقين لخوف الآخرة إذ يتصاعد عن الهوى دخان مظلم إلى القلب يملأ جوانبه حتى تنطفيء أنواره فيصير العقل كالعين التي ملأ الدخان أجفانها فلا يقدر على أن ينظر وهكذا تفعل غلبة الشهوة بالقلب حتى لا يبقى للقلب إمكان التوقف والاستبصار ولو بصره واعظ وأسمعه ما هو الحق فيه عمى عن الفهم وصم عن السمع وهاجت الشهوة فيه وسطا الشيطان وتحركت الجوارح على وفق الهوى فظهرت المعصية إلى عالم الشهادة من عالم الغيب بقضاء من الله تعالى وقدره وإلى مثل هذا القلب الإشارة بقوله تعالى أرأيت من اتخذ إلهه هواه أفأنت تكون عليه وكيلاً أم تحسب أن أكثرهم يسمعون أو يعقلون إن هم إلا كالأنعام بل هم أضل سبيلا وبقوله ﷿ لقد حق القول على أكثرهم فهم لا يؤمنون وبقوله سواء عليهم أأنذرتهم أم لم تنذرهم لا يؤمنون ورب قلب هذا حاله بالإضافة إلى بعض الشهوات كالذي يتورع عن بعض الأشياء ولكنه إذا رأى وجهاً حسناً لم يملك عينه وقلبه وطاش عقله وسقط مساك قلبه أو كالذي لا يملك نفسه فيما فيه الجاه والرياسة والكبر ولا يبقى معه مسكة للتثبت عند ظهور أسبابه أو كالذي لا يملك نفسه عند الغضب مهما استحقر وذكر عيب من عيوبه أو كالذي لا يملك نفسه عند القدرة على أخذ درهم أو دينار بل يتهالك عليه تهالك الواله المستهتر فينسى فيه المروءة والتقوى فكل ذلك لتصاعد دخان الهوى إلى القلب حتى يظلم وتنطفيء منه أنواره فينطفيء نور الحياء والمروءة والإيمان ويسعى في تحصيل مراد الشيطان
Maka menguatlah kekuasaan setan karena semakin luas tempat baginya akibat menyebarnya hawa nafsu. Lalu setan mendatangi hati itu dengan penghiasan keburukan, tipu daya, dan angan-angan kosong, membisikkan perkataan-perkataan indah yang menipu. Akibatnya, mengendurlah kekuasaan iman terhadap janji pahala dan ancaman siksa, serta reduplah cahaya keyakinan akan ketakutan pada akhirat; sebab dari hawa nafsu timbul asap gelap yang membubung ke hati, memenuhi setiap sudutnya hingga padamlah cahaya-cahaya hati itu. Akal pun menjadi seperti mata yang kelopak matanya dipenuhi asap sehingga tidak lagi mampu melihat. Begitulah dominasi syahwat terhadap hati, sampai-sampai tidak tersisa lagi kesempatan bagi hati untuk berhenti dan merenung secara jernih. Sekiranya seorang penasihat memberikan pandangan padanya dan memperdengarkan kebenaran kepadanya, ia tetap buta dalam memahami dan tuli dalam mendengar; syahwat di dalamnya bergejolak, setan pun menerjang, dan anggota tubuh bergerak menuruti hawa nafsu. Maka tampaklah maksiat ke alam nyata dari alam gaib berdasarkan ketetapan (qadha') dan takdir Allah Ta'ala. Kepada hati yang seperti inilah isyarat firman Allah Ta'ala: "Terangkanlah aku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya." (QS. Al-Furqan: 43-44), dan firman-Nya Azza wa Jalla: "Sungguh telah pasti berlaku perkataan (ketetapan azab) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman." (QS. Yasin: 7), serta firman-Nya: "Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka atau kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." (QS. Yasin: 10). Dan betapa banyak hati yang keadaannya seperti ini berkenaan dengan sebagian syahwat; seperti orang yang bersikap wara' (berhati-hati) dari sebagian hal, namun ketika melihat wajah yang elok, ia tidak sanggup menguasai mata dan hatinya, akalnya menjadi oleng, dan pertahanan hatinya runtuh. Atau seperti orang yang tidak mampu menguasai dirinya dalam hal kedudukan, kepemimpinan, dan kesombongan, sehingga tidak tersisa sedikit pun keteguhan padanya ketika sebab-sebabnya muncul. Atau seperti orang yang tidak mampu menguasai dirinya tatkala marah saat diremehkan atau disebutkan salah satu aibnya. Atau seperti orang yang tidak mampu menguasai dirinya ketika berkesempatan mengambil dirham atau dinar, bahkan ia sangat bernafsu mengejarnya bagaikan orang yang mabuk kepayang dan acuh tak acuh, sehingga ia melupakan harga diri (muru'ah) dan ketakwaan. Semua itu terjadi akibat membubungnya asap hawa nafsu ke dalam hati hingga hati menjadi gelap dan cahaya-cahaya darinya padam, maka padam pulalah cahaya rasa malu, harga diri, dan iman, lalu ia pun berusaha keras memenuhi kehendak setan.
القلب الثالث قلب تبدو فيه خواطر الهوى فتدعوه إلى الشر فيلحقه خاطر الإيمان فيدعوه إلى الخير فتنبعث النفس بشهوتها إلى نصرة خاطر الشر فتقوى الشهوة وتحسن التمتع والتنعم فينبعث العقل إلى خاطر الخير ويدفع في وجه الشهوة ويقبح فعلها وينسبها إلى الجهل ويشبهها بالبهيمة والسبع في تهجمها على الشر وقلة اكتراثها بالعواقب فتميل النفس إلى نصح العقل فيحمل الشيطان حملة على العقل فيقوي داعي الهوى ويقول ما هذا التحرج البارد ولم تمتنع عن هواك فتؤذي نفسك وهل ترى أحداً من أهل عصرك يخالف هواه أو يترك غرضه أفتترك لهم ملاذ الدنيا يتمتعون بها وتحجر على نفسك حتى تبقى محروماً شقياً متعوباً يضحك عليك أهل الزمان أفتريد أن يزيد منصبك على فلان وفلان وقد فعلوا مثل ما اشتهيت ولم يمتنعوا أما ترى العالم الفلاني ليس يحترز من مثل ذلك ولو كان ذلك شرا لامتنع منه فتميل النفس إلى الشيطان وتنقلب إليه فيحمل الملك حملة على الشيطان ويقول هل لك إلا من اتبع لذة الحال ونسى العاقبة أفتقنع بلذة يسيرة وتترك لذة الجنة ونعيمها أبد الآباد أم تستثقل ألم الصبر عن شهوتك ولا تستثقل ألم النار أتغتر بغفلة الناس عن أنفسهم واتباعهم هواهم ومساعدتهم الشيطان مع أن عذاب النار لا يخففه عنك معصية غيرك أرأيت لو كنت في يوم صائف شديد الحر ووقف الناس كلهم في الشمس وكان لك بيت بارد أكنت تساعد الناس أو تطلب لنفسك الخلاص فكيف تخالف الناس خوفاً من حر الشمس ولا تخالفهم خوفاً من حر النار فعند ذلك تمتثل النفس إلى قول الملك فلا يزال يتردد بين الجندين متجاذباً بين الحزبين إلى أن يغلب على القلب ما هو أولى به فإن كانت الصفات التي في القلب الغالب عليها الصفات الشيطانية التي ذكرناها غلب الشيطان ومال القلب إلى جنسه من أحزاب الشيطان معرضاً عن حزب الله تعالى وأوليائه ومساعداً لحزب الشيطان وأعدائه وجرى على جوارحه بسابق القدر ما هو سبب بعده عن الله تعالى وإن كان الأغلب على القلب الصفات الملكية لم يصغ القلب إلى إغواء الشيطان
Hati ketiga adalah hati yang di dalamnya muncul lintasan-lintasan pikiran (khathir) hawa nafsu yang mengajak kepada keburukan, lalu menyusul padanya lintasan pikiran iman yang mengajak kepada kebaikan. Maka nafsu pun berbangkit dengan syahwatnya untuk membela lintasan keburukan, sehingga syahwat menjadi kuat dan memandang indah kesenangan serta kenikmatan. Lalu akal pun berbangkit menyambut lintasan kebaikan dan menepis syahwat, menganggap buruk perbuatannya, mengaitkannya dengan kebodohan, dan menyerupakannya dengan binatang ternak dan binatang buas dalam hal menerjang kejahatan serta kurangnya kepedulian terhadap akibat. Maka nafsu cenderung menerima nasihat akal. Namun kemudian setan melancarkan serangan terhadap akal dan memperkuat pendorong hawa nafsu seraya berkata: "Apakah kekhawatiran yang dingin ini? Mengapa engkau menahan hawa nafsumu sehingga menyiksa dirimu sendiri? Mampukah engkau melihat seseorang dari ahli zamanmu yang menyelisih hawa nafsunya atau meninggalkan tujuannya? Apakah engkau akan membiarkan kenikmatan dunia untuk mereka nikmati, sementara engkau mengekang dirimu sendiri hingga engkau tetap terhalang, sengsara, dan lelah, serta menjadi bahan tertawaan orang-orang zaman ini? Apakah engkau ingin kedudukanmu melebihi si Fulan dan si Fulan, padahal mereka melakukan apa yang engkau inginkan dan tidak menahannya? Tidakkah engkau melihat alim ulama Fulan tidak menjaga diri dari hal serupa, padahal sekiranya itu buruk niscaya ia akan menjauhinya?" Maka nafsu berpaling mendukung setan dan berpihak padanya. Lalu malaikat melancarkan serangan terhadap setan seraya berkata: "Apakah engkau hanya mengikuti orang yang menuruti kenikmatan sesaat dan melupakan akibat akhir? Akankah engkau merasa puas dengan kenikmatan yang sedikit lalu meninggalkan kenikmatan surga dan keindahannya selama-lamanya? Ataukah engkau merasa berat dengan perihnya bersabar dari syahwatmu, namun tidak merasa berat dengan perihnya api neraka? Apakah engkau terperdaya oleh kelalaian manusia terhadap diri mereka sendiri, kepatuhan mereka pada hawa nafsu, dan bantuan mereka kepada setan, padahal azab neraka tidak akan diringankan darimu hanya karena kemaksiatan orang lain? Bagaimana pendapatmu jika engkau berada di hari musim panas yang sangat terik, seluruh manusia berdiri di bawah terik matahari, sedangkan engkau memiliki rumah yang sejuk, apakah engkau akan menyamai orang-orang atau engkau menuntut keselamatan bagi dirimu sendiri? Lalu mengapa engkau berbeda dari orang lain karena takut panas matahari, namun engkau tidak mau berbeda dari mereka karena takut panas api neraka?" Pada saat itulah nafsu mematuhi perkataan malaikat. Maka hati senantiasa berbolak-balik di antara kedua pasukan dan ditarik-tarik oleh kedua golongan tersebut, hingga akhirnya yang unggul atas hati adalah apa yang paling dominan padanya. Jika sifat-sifat yang ada pada hati itu mayoritasnya adalah sifat-sifat setan yang telah kami sebutkan, maka setanlah yang menang, dan hati pun cenderung kepada golongannya dari kelompok setan, seraya berpaling dari kelompok Allah Ta'ala dan para wali-Nya serta membantu kelompok setan dan musuh-musuh-Nya, lalu berlakulah pada anggota tubuhnya berdasarkan takdir terdahulu hal-hal yang menjadi sebab kejauhan dirinya dari Allah Ta'ala. Sebaliknya, jika yang dominan pada hati adalah sifat-sifat malaikat, maka hati tidak akan mendengarkan godaan setan
وتحريضه إياه على العاجلة وتهوينه أمر الآخرة بل مال إلى حزب الله تعالى وظهرت الطاعة بموجب ما سبق من القضاء على جوارحه فقلب المؤمن بين إصبعين من أصابع الرحمن أي بين تجاذب هذين الجندين وهو الغالب أعني التقليب والانتقال من حزب إلى حزب أما الثبات على الدوام مع حزب الملائكة أو مع حزب الشيطان فنادر من الجانبين وهذه الطاعات والمعاصي تظهر من خزائن الغيب إلى عالم الشهادة بواسطة خزانة القلب فإنه من خزائن الملكوت وهي أيضاً إذا ظهرت كانت علامات تعرف أرباب القلوب سابق القضاء
dan hasutannya untuk mengejar dunia yang sekejap ini serta peremehannya terhadap urusan akhirat; melainkan hati itu akan cenderung kepada kelompok Allah Ta'ala dan ketaatan pun tampak pada anggota tubuhnya sesuai dengan ketentuan takdir yang telah ditetapkan sebelumnya. Maka hati seorang mukmin berada di antara dua jari dari jari-jari Yang Maha Pengasih (Ar-Rahman), yakni berada di antara tarikan kedua pasukan ini, dan itulah yang lazim terjadi—maksud kami berbolak-baliknya hati dan perpindahannya dari satu kelompok ke kelompok lain. Adapun ketetapan yang terus-menerus bersama kelompok malaikat atau kelompok setan merupakan hal yang langka dari kedua sisinya. Ketaatan-ketaatan dan kemaksiatan-kemaksiatan ini tampak dari perbendaharaan alam gaib ke alam nyata (kesaksian) melalui perantaraan perbendaharaan hati, karena hati termasuk perbendaharaan alam Malakut. Hal-hal tersebut apabila tampak, menjadi tanda-tanda yang melaluinya para pemilik hati (arbab al-qulub) dapat mengetahui ketetapan takdir terdahulu (sabiq al-qadha').
فمن خلق للجنة يسرت له أسباب الطاعات ومن خلق للنار يسرت له أسباب المعاصي وسلط عليه أقران السوء وألقي في قلبه حكم الشيطان فإنه بأنواع الحكم يغر الحمقى بقوله إن الله رحيم فلا تبال وإن الناس كلهم ما يخافون الله فلا تخالفهم وإن العمر طويل فاصبر حتى تتوب غداً يعدهم ويمنيهم وما يعدهم الشيطان إلا غروراً يعدهم التوبة ويمنيهم المغفرة فيهلكهم بإذن الله تعالى بهذه الحيل وما يجري مجراها فيوسع قلبه لقبول الغرور ويضيقه عن قبول الحق وكل ذلك بقضاء من الله وقدر فمن يرد الله أن يهديه يشرح صدره للإسلام ومن يرد أن يضله يجعل صدره ضيقاً حرجاً كأنما يصعد في السماء إن ينصركم الله فلا غالب لكم وإن يخذلكم فمن ذا الذي ينصركم من بعده فهو الهادي والمضل يفعل ما يشاء ويحكم ما يريد لا راد لحكمه ولا معقب لقضائه خلق الجنة وخلق لها أهلاً فاستعملهم بالطاعة وخلق النار وخلق لها أهلا فاستعمله بالمعاصي وعرف الخلق علامة أهل الجنة وأهل النار فقال إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جحيم ثم قال تعالى فيما روى عن نبيه ﷺ هؤلاء في الجنة ولا أبالي وهؤلاء في النار ولا أبالي فتعالى الله الملك الحق لا يسئل عما يفعل وهم يسئلون
Barang siapa diciptakan untuk surga, maka dimudahkan baginya sebab-sebab ketaatan. Dan barang siapa diciptakan untuk neraka, maka dimudahkan baginya sebab-sebab kemaksiatan, ditimpakan kepadanya teman-teman yang jahat, serta diinfiltrasikan ke dalam hatinya propaganda-propaganda hikmah setan. Sebab, setan dengan berbagai dalih kebijaksanaan menipu orang-orang bodoh dengan perkataannya: "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, maka janganlah engkau peduli! Sesungguhnya seluruh manusia tidak takut kepada Allah, maka janganlah engkau menyelisihi mereka! Dan sesungguhnya umur itu masih panjang, maka bersabarlah hingga engkau bertobat esok hari." Setan memberikan janji-janji kepada mereka dan menanamkan angan-angan kosong pada mereka, padahal tidaklah setan memberikan janji kepada mereka melainkan tipu daya semata; ia menjanjikan tobat dan menanamkan angan-angan ampunan, sehingga ia membinasakan mereka dengan izin Allah Ta'ala melalui tipu daya ini dan yang sejenisnya. Maka Allah melapangkan hatinya untuk menerima tipu daya dan menyempitkannya dari menerima kebenaran. Semua itu terjadi dengan qadha' dan qadar dari Allah. "Barang siapa yang Allah kehendaki untuk memberi petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barang siapa yang Allah kehendaki kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sempit lagi sesak, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit." (QS. Al-An'am: 125). "Jika Allah menolong kamu, maka tak ada yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain dari Allah) sesudah itu?" (QS. Ali 'Imran: 160). Dialah Yang Maha Memberi Petunjuk dan Yang Maha Menyesatkan, Dia melakukan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan hukum menurut apa yang Dia inginkan; tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya dan tidak ada yang dapat mengubah qadha'-Nya. Dia menciptakan surga dan menciptakan penghuni untuknya, lalu menggerakkan mereka dalam ketaatan; dan Dia menciptakan neraka serta menciptakan penghuni untuknya, lalu menggerakkan mereka dalam kemaksiatan. Dia juga telah memberitahukan kepada makhluk tanda penghuni surga dan penghuni neraka, sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan (surga), dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka." (QS. Al-Infitar: 13-14). Kemudian Allah Ta'ala berfirman dalam apa yang diriwayatkan dari Nabi-Nya ﷺ: "Mereka ini berada di surga dan Aku tidak peduli, dan mereka ini berada di neraka dan Aku tidak peduli." Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Mahabenar, "Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, melainkan merekalah yang akan ditanyai." (QS. Al-Anbiya: 23).
ولنقتصر على هذا القدر اليسير من ذكر عجائب القلب فإن استقصاءه لا يليق بعلم المعاملة وإنما ذكرنا منه ما يحتاج إليه لمعرفة أغوار علوم المعاملة وأسرارها لينتفع بها من لا يقنع بالظواهر ولا يجتزئ بالقشر عن اللباب بل يتشوق إلى معرفة دقائق حقائق الأسباب وفيما ذكرناه كفاية له ومقنع إن شاء الله تعالى والله ولي التوفيق
Cukuplah kita membatasi pembahasan pada kadar yang sedikit ini dari penuturan keajaiban-keajaiban hati, karena pembahasan yang terlalu mendalam tidaklah sesuai dengan ilmu muamalah. Kami hanya menyebutkan hal-hal yang dibutuhkan untuk memahami kedalaman ilmu muamalah dan rahasia-rahasianya, agar dapat diambil manfaatnya oleh orang yang tidak puas dengan hal-hal lahiriah belaka dan tidak mencukupkan diri dengan kulit tanpa inti, melainkan merindukan untuk mengetahui kelembutan hakikat dari sebab-sebab. Dalam apa yang telah kami sebutkan ini terdapat kecukupan dan pemuas baginya, insya Allah Ta'ala. Dan Allah adalah Pelindung petunjuk (Waliyyut Taufiq).
تم كتاب عجائب القلب ولله الحمد والمنة ويتلوه كتاب رياضة النفس وتهذيب الأخلاق والحمد لله وحده وصلى الله على كل عبد مصطفى
Telah selesai Kitab Keajaiban Hati (Kitab 'Aja'ib al-Qalb), segala puji dan karunia hanya milik Allah. Dan akan dilanjutkan oleh Kitab Melatih Nafsu dan Memperbaiki Akhlak (Kitab Riyadhat an-Nafs wa Tahdzib al-Akhlaq). Segala puji bagi Allah semata, dan semoga shalawat Allah tercurah kepada setiap hamba yang terpilih.