كتاب آفات اللسان
تم كتاب كسر الشهوتين بحمد الله تعالى وكرمه يتلوه إن شاء الله تعالى كتاب آفات اللسان والحمد لله أولاً وآخراً وظاهراً وباطناً وصلاته على سيدنا محمد خير خلقه وعلى كل عبد مصطفى من أهل الأرض والسماء وسلم تسليماً كثيراً
Telah selesai Kitab Mematahkan Dua Syahwat (Kitab Kasr asy-Syahwatain) dengan pujian kepada Allah Ta'ala dan kemurahan-Nya, diikuti insya Allah Ta'ala Kitab Bahaya-bahaya Lidah (Kitab Afat al-Lisan). Segala puji bagi Allah pada awal dan akhir, lahir dan batin, serta salawat-Nya atas junjungan kita Nabi Muhammad, sebaik-baik ciptaan-Nya, dan atas setiap hamba pilihan dari penduduk bumi dan langit, serta salam yang melimpah.
كتاب آفات اللسان وهو الكتاب الرابع من ربع المهلكات من كتاب إحياء
Kitab Bahaya-bahaya Lidah (Kitab Afat al-Lisan), yaitu kitab keempat dari seperempat Bagian yang Membinasakan (Rub' al-Muhlikat) dari Kitab Ihya' Ulumuddin.
علوم الدين
Ilmu-Ilmu Agama
﷽
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الحمد لله الذي أحسن خلق الإنسان وعدله وألهمه نور الإيمان فزينه به وجمله وعلمه البيان فقدمه به وفضله وأفاض على قلبه خزائن العلوم فأكمله ثم أرسل عليه ستراً من رحمته وأسبله ثم أمده بلسان يترجم به عما حواه القلب وعقله ويكشف عنه ستره الذي أرسله وأطلق بالحق مقوله وأفصح بالشكر عما أولاه وخوله
Segala puji bagi Allah yang telah memperindah ciptaan manusia dan menyempurnakan bentuknya, mengilhamkan cahaya iman kepadanya lalu menghiasinya dan memperindahnya dengannya, mengajarinya kemampuan berbicara (al-bayan) lalu mengutamakannya dan memuliakannya dengannya, serta mencurahkan perbendaharaan ilmu ke dalam hatinya lalu menyempurnakannya. Kemudian Dia mengulurkan tirai dari rahmat-Nya dan melabuhkannya, lalu membekalinya dengan lisan yang menerjemahkan apa yang dihimpun dan dipahami oleh hati, menyibak tirai yang dilabuhkan padanya, melepaskan ucapannya dengan kebenaran, serta menyuarakan rasa syukur dengan fasih atas apa yang telah Dia anugerahkan dan limpahkan kepadanya,
من علم حصله ونطق سهله وأشهد أن لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ له وأن محمداً عبده ورسوله الذي أكرمه وبجله ونبيه الذي أرسله بكتاب أنزله وأسمى فضله وبين سبله ﷺ ومن قبله ما كبر الله عبد وهلله
dari ilmu yang diraihnya dan tutur kata yang dipermudah-Nya. Dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang telah Dia muliakan dan agungkan, serta Nabi-Nya yang telah Dia utus dengan Kitab yang diturunkan-Nya, yang ditinggikan keutamaannya dan dijelaskan jalan-jalannya ﷺ, beserta para nabi sebelum beliau, selama hamba bertakbir dan bertahlil mengagungkan Allah.
أما بعد فإن اللسان من نعم الله العظيمة ولطائف صنعه الغريبه فإنه صغير جرمه عظيم طاعته وجرمه إذا لا يستبين الكفر والإيمان إلا بشهادة اللسان وهما غاية الطاعة والعصيان ثم إنه ما من موجود أو معدوم خالق أو مخلوق متخيل أو معلوم مظنون أو موهوم إلا واللسان يتناوله ويتعرض له بإثبات أو نفي فإن كل ما يتناوله العلم يعرب عنه اللسان إما بحق أو باطل ولا شيء إلا والعلم متناول له وهذه خاصية لا توجد في سائر الأعضاء فإن العين لا تصل إلى غير الألوان والصور والآذان لا تصل إلى غير الأصوات واليد لا تصل إلى غير الأجسام وكذا سائر الأعضاء واللسان رحب الميدان ليس له مرد ولا لمجاله منتهى وحد له في الخير مجال رحب وله في الشر ذيل سحب فمن أطلق عذبة اللسان وأهمله مرخى العنان سلك به الشيطان في كل ميدان وساقه إلى شفا جرف هار إلى أن يضطره إلى البوار ولا يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حصائد ألسنتهم ولا ينجو من شر اللسان إلا من قيده بلجام الشرع فلا يطلقه إلا فيما ينفعه في الدنيا والآخرة ويكفه عن كل ما يخشى غائلته في عاجله وآجله وعلم ما يحمد فيه إطلاق اللسان أو يذم غامض عزيز والعمل بمقتضاه على من عرفه ثقل عسير وأعصى الأعضاء على الإنسان اللسان فإنه لا تعب في إطلاقه ولا مؤنة في تحريكه وقد تساهل الخلق في الاحتراز عن آفاته وغوائله والحذر من مصائده وحبائله وإنه أعظم آلة الشيطان في استغواء الإنسان ونحن بتوفيق الله وحسن تدبيره نفصل مجامع آفات اللسان ونذكرها واحدة واحدة بحدودها وأسبابها وغوائلها ونعرف طريق الاحتراز عنها ونورد ما ورد من الأخبار والآثار في ذمها فنذكر أولاً فضل الصمت ونردفه بذكر آفة الكلام فيما لا يعني ثم آفة فضول الكلام ثم آفة الخوض في الباطل ثم آفة المراء والجدال ثم آفة الخصومة ثم آفة التقعر في الكلام بالتشدق وتكلف السجع والفصاحة والتصنع فيه وغير ذلك مما جرت به عادة المتفاصحين المدعين للخطابة ثم آفة الفحش والسب وبذاءة اللسان ثم آفة اللَّعْنُ إِمَّا لِحَيَوَانٍ أَوْ جَمَادٍ أَوْ إِنْسَانٍ ثم آفة الغناء بالشعر وقد ذكرنا في كتاب السماع ما يحرم من الغناء وما يحل فلا نعيده ثم آفة المزاح ثم آفة السخرية والاستهزاء ثم آفة إفشاء السر ثم آفة الوعد الكاذب ثم آفة الكذب في القول واليمين ثم بيان التعاريض في الكذب ثم آفة الغيبة ثم آفة النميمة ثم آفة ذي اللسانين الذي يتردد بين المتعاديين فيكلم كل واحد بكلام يوافقه ثم آفة المدح ثم آفة الغفلة عن دقائق الخطأ في فحوى الكلام لا سيما فيما يتعلق بالله وصفاته ويرتبط بأصول الدين ثم آفة سؤال العوام عن صفات الله ﷿ وعن الحروف أهي قديمة أو محدثة وهي آخر الآفات وما يتعلق بذلك وجملتها عشرون آفة ونسأل الله حسن التوفيق بمنه وكرمه
Amma ba'du: Sesungguhnya lisan merupakan salah satu nikmat Allah yang amat besar dan kelembutan ciptaan-Nya yang menakjubkan. Bentuk fisiknya kecil, namun ketaatan maupun kemaksiatan yang dihasilkannya sangatlah besar. Sebab, kekufuran dan keimanan tidak dapat tampak secara jelas melainkan melalui kesaksian lisan, padahal keduanya adalah puncak ketaatan dan pembangkangan. Kemudian, tidak ada sesuatu pun yang ada maupun yang tiada, pencipta maupun makhluk, yang terbayang maupun yang diketahui, yang diduga maupun yang diandaikan, melainkan lisan dapat menjangkaunya dan menyentuhnya melalui penetapan (itsbat) atau penolakan (nafi). Sebab, segala hal yang dijangkau oleh ilmu dapat diungkapkan oleh lisan, baik secara hak maupun batil, dan tidak ada sesuatu pun melainkan ilmu dapat menjangkaunya. Ini adalah keistimewaan yang tidak terdapat pada seluruh anggota tubuh lainnya. Mata tidak dapat menjangkau selain warna dan rupa, telinga tidak dapat menjangkau selain suara, tangan tidak dapat menjangkau selain benda fisik, demikian pula anggota tubuh lainnya. Sedangkan lisan, lapangannya sangat luas, tidak ada penghalang baginya dan tidak ada batas akhir bagi jelajahnya. Lisan memiliki lapangan yang luas dalam kebaikan, dan memiliki ekor yang menjuntai dalam keburukan. Barang siapa melepaskan kendali lisannya dan membiarkannya tanpa bimbingan, niscaya setan akan membawanya ke segala medan dan menuntunnya ke jurang kehancuran hingga memasukkannya ke dalam kebinasaan. Dan tidaklah manusia disungkurkan ke dalam neraka di atas wajah (atau hidung) mereka melainkan akibat dari buah tuaian lisan mereka. Tidak ada yang selamat dari kejahatan lisan melainkan orang yang mengekangnya dengan tali kekang syariat, sehingga ia tidak melepaskannya melainkan pada hal yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat, serta menahannya dari segala hal yang dikhawatirkan bahayanya baik saat ini maupun di masa depan. Mengetahui kapan lisan terpuji saat dilepaskan atau tercela adalah hal yang samar lagi rumit, dan beramal sesuai tuntutannya bagi orang yang mengetahuinya adalah beban yang berat lagi sulit. Anggota tubuh yang paling membangkang pada manusia adalah lisan, sebab tidak ada keletihan dalam melepaskannya dan tidak ada biaya dalam menggerakkannya. Manusia telah bersikap meremehkan dalam menjaga diri dari bahaya dan bencana lisan, serta dalam mewaspadai perangkap dan jeratnya. Lisan adalah alat setan yang paling besar untuk menyesatkan manusia. Dengan taufik Allah dan kebaikan penataan-Nya, kami akan merinci muara bahaya-bahaya (bencana) lisan dan menyebutkannya satu demi satu beserta batasan, sebab-sebab, dan dampaknya. Kami juga akan mengenalkan jalan untuk menjaga diri darinya, serta mengutip atsar dan riwayat yang datang tentang celaannya. Pertama-tama, kami akan menyebutkan keutamaan diam (ash-shamt), lalu menyusulnya dengan menyebutkan bencana pembicaraan yang tidak berguna, kemudian bencana pembicaraan berlebihan, kemudian bencana tenggelam dalam kebatilan, kemudian bencana perdebatan dan pertengkaran (al-mira' wal-jidal), kemudian bencana permusuhan (al-khushumah), kemudian bencana bersikap dibuat-buat dalam berbicara (al-taqqa'ur) dengan bertutur kata sok fasih, memaksakan sajak, kefasihan yang dibuat-buat, dan kebiasaan para pengaku ahli pidato, kemudian bencana perkataan kotor, caci maki, dan lidah yang tajam, kemudian bencana melaknat—baik terhadap hewan, benda mati, maupun manusia—kemudian bencana bernyanyi dengan bait syair (kami telah menyebutkan dalam Kitab as-Sama' tentang nyanyian yang diharamkan dan yang dihalalkan sehingga tidak kami ulangi lagi), kemudian bencana bergurau (al-muzah), kemudian bencana celaan dan olok-olok (as-sukhriyyah wal-istihza'), kemudian bencana membocorkan rahasia, kemudian bencana janji palsu, kemudian bencana kedustaan dalam perkataan dan sumpah, kemudian penjelasan tentang sindiran (ta'ridh) dalam kedustaan, kemudian bencana ghibah (menggunjing), kemudian bencana namimah (adu domba), kemudian bencana orang yang bermuka dua (dzul-lisanain) yang bolak-balik di antara dua orang yang bermusuhan lalu berbicara kepada masing-masing dengan kata-kata yang menyenangkannya, kemudian bencana pujian, kemudian bencana kelalaian dari kehalusan kesalahan dalam kandungan ucapan khususnya terkait Allah dan sifat-sifat-Nya serta yang terikat dengan pokok-pokok agama, kemudian bencana pertanyaan orang awam tentang sifat-sifat Allah ﷿ dan tentang huruf-huruf apakah qadim atau hadits (baru)—dan ini adalah bencana yang terakhir beserta hal-hal yang berkaitan dengannya. Seluruhnya berjumlah dua puluh bencana. Kami memohon kepada Allah kebaikan taufik dengan karunia dan kemurahan-Nya.
بيان عظيم خطر اللسان وفضيلة الصمت
Penjelasan tentang Besarnya Bahaya Lisan dan Keutamaan Diam
اعْلَمْ أَنَّ خَطَرَ اللِّسَانِ عَظِيمٌ وَلَا نَجَاةَ من خطره إلا بالصمت فلذلك مدح الشرع الصمت وحث عليه فقال ﷺ من صمت نجا وقال ﷺ الصمت حكم وقليل فاعله بلفظ حكم بدل حكمة وقال غلط فيه عثمان بن سعد والصحيح رواية ثابت قال والصحيح عن أنس أن لقمان قال ورواه كذلك هو وابن حبان في كتاب روضة العقلاء بسند صحيح إلى أنس أي حكمة وحزم وروي
Ketahuilah bahwa bahaya lisan itu amat besar, dan tidak ada keselamatan dari bahayanya melainkan dengan diam. Oleh karena itu, syariat memuji sikap diam dan mendorong kepadanya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa yang diam, maka ia selamat." Beliau ﷺ juga bersabda, "Diam itu adalah hukm (hikmah/kebijaksanaan) namun sedikit pelakunya"—dengan lafazh hukm sebagai ganti hikmah. Dikatakan bahwa Utsman bin Sa'id keliru di dalamnya, sedangkan yang shahih adalah riwayat Tsabit, ia berkata: Yang shahih dari Anas bahwasanya Luqman berkata demikian. Diriwayatkan pula oleh beliau dan Ibnu Hibban dalam kitab Raudhatul 'Uqala' dengan sanad yang shahih sampai kepada Anas, yakni bermakna hikmah dan keteguhan sikap. Dan diriwayatkan…
عبد الله بن سفيان عن أبيه قال قلت يا رسول الله أخبرني عن الإسلام بأمر لا أسأل عنه أحداً بعدك قال قل آمنت بالله ثم استقم قال قلت فما أتقي فأوما بيده إلى لسانه وقال عقبة بن عامر قلت يا رسول الله ما النجاة قال أمسك عليك لسانك وليسعك بيتك وابك على خطيئتك وقال سهل بن سعد الساعدي
…oleh Abdullah bin Sufyan dari ayahnya, ia berkata: Aku berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang Islam suatu perkara yang tidak akan aku tanyakan lagi kepada seorang pun setelah engkau." Beliau bersabda, "Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah." Aku bertanya, "Lantas apa yang harus aku jaga/waspadai?" Maka beliau memberi isyarat dengan tangannya ke lisannya. Dan 'Uqbah bin 'Amir berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?" Beliau bersabda, "Tahanlah lisanmu, hendaknya rumahmu membuatmu betah, dan menangislah atas dosa-dosamu." Dan Sahl bin Sa'd as-Sa'idi berkata…
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من يتكفل لي بما بين لحييه ورجليه أتكفل له بالجنة وقال ﷺ من وقي شر قبقبه وذبذبه ولقلقه فقد وقي الشر كله القبقب هو البطن والذبذب الفرج واللقلق اللسان فهذه الشهوات الثلاث بها يهلك أكثر الخلق ولذلك اشتغلنا بذكر آفات اللسان لما فرغنا من ذكر آفة الشهوتين البطن والفرج وقد سئل رسول الله ﷺ عن أكثر ما يدخل الناسالجنة فقال تقوى الله وحسن الخلق وسئل عن أكثر ما يدخل النار فقال الأجوفان الفم والفرج فيحتمل أن يكون المراد بالفم آفات اللسان لأنه محله ويحتمل أن يكون المراد به البطن لأنه منفذه فقد قال مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أنؤاخذ بما نقول فقال ثكلتك أمك يَا ابن جبل وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النار على مناخرهم إلا حصائد ألسنتهم حديث عبد الله الثقفي قلت يا رسول الله حدثني بأمر أعتصم به الحديث رواه النسائي قال ابن عساكر وهو خطأ والصواب سفيان بن عبد الله الثقفي كما رواه الترمذي وصححه ابن ماجه وقد تقدم قبل هذا بخمسة أحاديث حديث أن معاذاً قال يا رسول الله أي الأعمال أفضل فأخرج لسانه ثم وضع يده عليه أخرجه الطبراني وابن أبي الدنيا في الصمت قال أصبعه مكان يده حديث أنس لا يستقيم إيمان عبد حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يستقيم لسانه الحديث أخرجه ابن أبي الدنيا في الصمت والخرائطي في مكارم الأخلاق بسند فيه ضعف حديث من سره أن يسلم فليلزم الصمت أخرجه ابن أبي الدنيا في الصمت وأبو الشيخ في فضائل الأعمال والبيهقي في الشعب من حديث أنس بإسناد ضعيف حديث إذا أصبح ابن آدم أصبحت الأعضاء كلها تذكر اللسان الحديث أخرجه الترمذي من حديث أبي سعيد الخدري رفعه ووقع في الإحياء عن سعيد بن جبير مرفوعاً وإنما هو عن سعيد بن جبير عن أبي سعيد رفعه ورواه الترمذي موقوفا على عمار بن زيد وقال هذا أصح حديث إن عمر اطلع على أبي بكر وهو يمد لسانه فقال ما تصنع يا خليفة رسول الله قال إن هذا أوردني الموارد أن رسول الله ﷺ قال ليس شيء من الجسد إلا يشكو إلى الله ﷿ اللسان على حدته أخرجه ابن أبي الدنيا في الصمت وأبو يعلى في مسنده والدارقطني في العلل والبيهقي في الشعب من رواية أسلم مولى عمر وقال الدارقطني إن المرفوع وهم على الدراوردي قال وروي هذا الحديث عن قيس بن أبي حازم عن أبي بكر ولا علة له // وعن ابن مسعود
Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan), niscaya aku jamin baginya surga." Beliau ﷺ juga bersabda: "Barang siapa yang dijaga dari kejahatan qabqab-nya, dzabdzab-nya, dan laqlaq-nya, maka sungguh ia telah dijaga dari seluruh kejahatan." Qabqab adalah perut, dzabdzab adalah kemaluan, dan laqlaq adalah lisan. Tiga syahwat inilah yang menjadi sebab binasanya sebagian besar makhluk. Oleh sebab itu, kami menyibukkan diri untuk menyebutkan bencana-bencana lisan setelah selesai menyebutkan bencana dua syahwat: perut dan kemaluan. Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau bersabda, "Taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik." Dan beliau ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, maka beliau bersabda, "Dua lubang (al-ajwafan): mulut dan kemaluan." Ada kemungkinan yang dimaksud dengan mulut adalah bencana-bencana lisan karena lisan berada di sana, dan ada kemungkinan yang dimaksud adalah perut karena mulut adalah jalurnya. Mu'adz bin Jabal berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kita akan dihukum atas apa yang kita ucapkan?" Maka beliau bersabda, "Semoga ibumu kehilanganmu wahai Ibnu Jabal! Bukankah tidak ada yang menyungkurkan manusia ke dalam neraka di atas wajah (atau hidung) mereka melainkan akibat buah tuaian lisan mereka?" Hadits Abdullah ats-Tsaqafi: Aku berkata: Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku suatu perkara yang dengannya aku berpegang teguh… al-hadits, diriwayatkan oleh an-Nasa'i. Ibnu 'Asakir berkata: Ini adalah kekeliruan, dan yang benar adalah Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi sebagaimana diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Majah. Dan telah lalu lima hadits sebelum ini hadits bahwa Mu'adz berkata: Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama? Lalu beliau mengeluarkan lisannya kemudian meletakkan tangannya di atasnya (diriwayatkan oleh at-Thabrani dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam as-Shamt, ia menyebutkan "jarinya" sebagai ganti "tangannya"). Hadits Anas: "Tidak akan istiqamah iman seorang hamba hingga istiqamah hatinya, dan tidak akan istiqamah hatinya hingga istiqamah lisannya…" al-hadits (diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam as-Shamt dan al-Kharai-thi dalam Makarim al-Akhlaq dengan sanad yang padanya terdapat kelemahan). Hadits: "Barang siapa yang ingin selamat hendaknya ia menetapi sikap diam" (diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam as-Shamt, Abu asy-Syeikh dalam Fadhail al-A'mal, dan al-Baihaqi dalam asy-Syu'ab dari hadits Anas dengan isnad lemah). Hadits: "Apabila anak Adam memasuki pagi hari, seluruh anggota tubuh mengingatkan lisan…" al-hadits (diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari hadits Abu Sa'id al-Khudri secara marfu', dan dalam al-Ihya' terdapat riwayat dari Sa'id bin Jubair secara marfu', padahal sebenarnya dari Sa'id bin Jubair dari Abu Sa'id secara marfu', dan at-Tirmidzi meriwayatkannya secara mauquf atas 'Ammar bin Zaid dan berkata: Ini lebih shahih). Hadits bahwa Umar melihat Abu Bakr sedang menarik lisannya, lalu berkata, "Apa yang engkau lakukan wahai khalifah Rasulullah?" Abu Bakr menjawab, "Ini yang telah membawaku ke tempat-tempat kebinasaan, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak ada sesuatu pun dari jasad melainkan mengadukan tajamnya lisan kepada Allah ﷿" (diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam as-Shamt, Abu Ya'la dalam Musnad-nya, ad-Daraquthni dalam al-'Ilal, dan al-Baihaqi dalam asy-Syu'ab dari riwayat Aslam maula Umar; ad-Daraquthni berkata bahwa riwayat marfu' adalah kekeliruan atas ad-Darawardi, dan ia berkata: Diriwayatkan hadits ini dari Qais bin Abi Hazim dari Abu Bakr tanpa ada cacat/illat). Dan dari Ibnu Mas'ud…
أنه كان على الصفا يلبي ويقول يَا لِسَانُ قُلْ خَيْرًا تَغْنَمْ وَاسْكُتْ عَنْ شر تسلم من قبل أن تندم فقيل له يا أبا عبد الرحمن أهذا شيء تقوله أو شيء سمعته فقال لا بل سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول إن أكثر خطايا ابن آدم في لسانه وقال ابن عمر قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَنْ كَفَّ لِسَانَهُ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ مَلَكَ غَضَبَهُ وَقَاهُ اللَّهُ عَذَابَهُ وَمَنِ اعتذر إلى الله قبل الله عذره وروي أن معاذ بن جبل قال يا رسول الله أوصني قال اعبد الله كأنك تراه وعد نفسك في الموتى وإن شئت أنبأتك بما هو أملك لك من هذا كله وأشار بيده إلى لسانه وعن صفوان بن سليم قال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إلا أخبركم بأيسر العبادة وأهونها على البدن الصمت وحسن الخلق حديث أبي هريرة مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خيراً أو ليسكت متفق عليه حديث الحسن ذكر لنا أن رسول الله ﷺ قال رحم الله عبداً تكلم فغنم أو سكت فسلم أخرجه ابن أبي الدنيا في الصمت والبيهقي في الشعب من حديث أنس بسند فيه ضعف فإنه من رواية إسماعيل بن عياش عن الحجازيين وقيل لعيسى ﵇ دلنا على عمل ندخل به الجنة قال لا تنطقوا أبداً قالوا لا نستطيع ذلك فقال فلا تنطقوا إلا بخير وقال سليمان بن داود ﵉ إن كان الكلام من فضة فالسكوت من ذهب وعن البراء بن عازب قال جاء أعرابي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فقال دلني على عمل يدخلني الجنة قال أطعم الجائع واسق الظمآن وأمر بالمعروف وانه عن المنكر فإن لم تطق فكف لسانك إلا من خير
bahwasanya beliau berada di atas bukit Shafa seraya bertalbiyah dan berkata, "Wahai lisan, katakanlah kebaikan niscaya engkau beruntung, dan diamlah dari keburukan niscaya engkau selamat sebelum engkau menyesal." Lalu dikatakan kepadanya, "Wahai Abu Abdirrahman, apakah ini sesuatu yang engkau katakan dari dirimu sendiri atau sesuatu yang engkau dengar?" Maka beliau menjawab, "Tidak, melainkan aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya sebagian besar kesalahan anak Adam ada pada lisannya." Dan Ibnu Umar berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa menahan lisannya, Allah akan menutup aibnya; barang siapa menguasai marahnya, Allah akan melindunginya dari azab-Nya; dan barang siapa menyampaikan uzur (bertaubat) kepada Allah, maka Allah akan menerima uzurnya." Dan diriwayatkan bahwa Mu'adz bin Jabal berkata: Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat. Beliau bersabda, "Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan hitunglah dirimu termasuk golongan orang-orang yang mati. Dan jika engkau mau, aku akan memberitahukan padamu sesuatu yang lebih memiliki kendali atas dirimu dari semua ini." Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke lisannya. Dan dari Shafwan bin Sulaim berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Maukah kalian aku beritahukan tentang ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi badan? Yaitu diam dan berakhlak baik." Hadits Abu Hurairah: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam" (Muttafaqun 'alaih). Hadits al-Hasan: Disebutkan kepada kami bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berbicara lalu mendapat keuntungan (pahala), atau diam lalu selamat" (diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam as-Shamt dan al-Baihaqi dalam asy-Syu'ab dari hadits Anas dengan sanad yang di dalamnya ada kelemahan, karena dari riwayat Ismail bin Ayyasy dari orang-orang Hijaz). Dan dikatakan kepada Isa ﵇, "Tunjukkanlah kepada kami suatu amalan yang dapat memasukkan kami ke dalam surga!" Beliau menjawab, "Janganlah kalian berbicara selamanya!" Mereka berkata, "Kami tidak sanggup melakukan itu." Beliau bersabda, "Jika demikian, janganlah kalian berbicara kecuali kebaikan." Dan Sulaiman bin Daud ﵉ berkata, "Jika berbicara itu dari perak, maka diam itu dari emas." Dan dari al-Bara' bin 'Azib berkata: Seorang Arab badui datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, "Tunjukkanlah kepadaku amalan yang memasukkanku ke dalam surga!" Beliau bersabda, "Berilah makan orang yang lapar, berilah minum orang yang haus, perintahkanlah kebaikan, dan cegahlah kemungkaran. Jika engkau tidak sanggup, maka tahanlah lisanmu kecuali dari kebaikan."
وقال ﷺ اخْزُنْ لِسَانَكَ إِلَّا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّكَ بِذَلِكَ تغلب الشيطان وَقَالَ ﷺ إِنَّ اللَّهَ عند لسان كل قائل فليتق الله امرؤ علم ما يقول وقال ﷺ إذا رأيتم المؤمن صموتاً وقوراً فادنوا منه فإنه يلقن الحكمة
Dan Beliau ﷺ bersabda: "Simpanlah (jagalah) lisanmu kecuali dari kebaikan, karena dengan demikian engkau mengalahkan setan." Dan Beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah berada di sisi lisan setiap pembicara, maka hendaklah seseorang bertakwa kepada Allah dengan menyadari apa yang ia ucapkan." Dan Beliau ﷺ bersabda: "Apabila kalian melihat seorang mukmin yang banyak diam lagi tenang, maka mendekatlah kepadanya, karena sesungguhnya ia diajari hikmah."
وقال ابن مسعود قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الناس ثلاثة غانم وسالم وشاحب فالغانم الذي يذكر الله تعالى والسالم الساكت والشاحب الذي يخوض في الباطل وقال ﷺ إن لسان المؤمن وراء قلبه فإذا أراد أن يتكلم بشيء تدبره بقلبه ثم أمضاه بلسانه وإن لسان المنافق أمام قلبه فإذا هم بشيء أمضاه بلسانه ولم يتدبره بقلبه وقال عيسى ﵇ العبادة عشرة أجزاء تسعة منها في الصمت
Dan Ibnu Mas'ud berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Manusia itu ada tiga golongan: beruntung (ghanim), selamat (salim), dan celaka (syahib). Orang yang beruntung adalah yang mengingat Allah Ta'ala, orang yang selamat adalah yang diam, dan orang yang celaka adalah yang tenggelam dalam kebatilan." Dan Beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya lisan orang mukmin itu berada di belakang hatinya; apabila ia hendak membicarakan sesuatu, ia merenungkannya dengan hatinya lalu melaksanakannya dengan lisannya. Sedangkan lisan orang munafik berada di depan hatinya; apabila ia menginginkan sesuatu, ia langsung melaksanakannya dengan lisannya tanpa merenungkannya dengan hatinya." Dan Nabi Isa ﵇ berkata: "Ibadah itu terdiri dari sepuluh bagian, sembilan di antaranya ada dalam sikap diam,"
وجزء في الفرار من الناس وقال نبينا ﷺ من كثر كلامه كثر سقطه ومن كثر سقطه كثرت ذنوبه ومن كثرت ذنوبه كانت النار أولى به
"dan satu bagian lagi ada dalam menghindar (mengasingkan diri) dari manusia." Dan Nabi kita ﷺ bersabda: "Barang siapa yang banyak bicaranya, maka banyak pula salahnya. Barang siapa yang banyak salahnya, maka banyak pula dosanya. Dan barang siapa yang banyak dosanya, maka neraka lebih layak baginya."
الآثار كان أبو بكر الصديق ﵁ يضع حصاة في فيه يمنع بها نفسه عن الكلام وكان يشير إلى لسانه ويقول هذا الذي أوردني الموارد وقال عبد الله بن مسعود والله الذي لا إله إلا هو ما شيء أحوج إلى طول سجن من لسان وقال طاوس لساني سبع إن أرسلته أكلني وقال وهب بن منبه في حكمة آل داود حق على العاقل أن يكون عارفاً بزمانه حافظاً للسانه مقبلاً على شأنه وقال الحسن ما عقل دينه من لم يحفظ لسانه وقال الأوزاعي كتب إلينا عمر بن عبد العزيز ﵀ أما بعد فإن من أكثر ذكر الموت رضي من الدنيا باليسير ومن عد كلامه من عمله قل كلامه إلا فيما يعنيه وقال بعضهم الصمت يجمع للرجل فضيلتين السلامة في دينه والفهم عن صاحبه وقال محمد بن واسع لمالك بن دينار يا أبا يحيى حفظ اللسان أشد على الناس من حفظ الدينار والدرهم وقال يونس بن عبيد ما من الناس أحد يكون منه لسانه على بال إلا رأيت صلاح ذلك في سائر عمله وقال الحسن تكلم قوم عند معاوية ﵀ والأحنف بن قيس ساكت فقال له مالك يا أبا بحر لا تتكلم فقال له أخشى الله إن كذبت وأخشاك إن صدقت وقال أبو بكر بن عياش اجتمع أربعة ملوك ملك الهند وملك الصين وكسرى وقيصر فقال أحدهم أنا أندم على ما قلت ولا أندم على ما لم أقل وقال الآخر إني إذا تكلمت بكلمة ملكتني ولم أملكها وإذا لم أتكلم بها ملكتها ولم تملكني وقال الثالث عجبت للمتكلم إن رجعت عليه كلمته ضرته وإن لم ترجع لم تنفعه وقال الرابع أنا على رد ما لم أقل أقدر مني على رد ما قلت وقيل أقام المنصور بن المعتز لم يتكلم بكلمة بعد العشاء الآخرة أربعين سنة وقيل ما تكلم الربيع بن خيثم بكلام الدنيا عشرين سنة وكان إذا أصبح وضع دواة وقرطاساً وقلماً فكل ما تكلم به كتبه ثم يحاسب نفسه عند المساء
Atsar-atsar (Riwayat Para Sahabat dan Salaf): Abu Bakr ash-Shiddiq ﵁ pernah meletakkan batu kecil di dalam mulutnya untuk menahan dirinya dari berbicara, dan beliau menunjuk ke lisannya seraya berkata, "Inilah yang telah membawaku ke tempat-tempat kebinasaan." Abdullah bin Mas'ud berkata, "Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, tidak ada sesuatu pun yang lebih membutuhkan pemenjaraan yang lama melainkan lisan." Thawus berkata, "Lisanku adalah binatang buas, jika aku melepaskannya niscaya ia memangsaku." Wahb bin Munabbih berkata dalam Hikmah Keluarga Daud: "Wajib bagi orang yang berakal untuk mengenali zamannya, menjaga lisannya, dan fokus pada urusannya." Al-Hasan berkata, "Belum memahami agamanya orang yang tidak menjaga lisannya." Al-Auza'i berkata: Umar bin Abdul Aziz ﵀ menulis surat kepada kami: Amma ba'du, sesungguhnya barang siapa yang banyak mengingat kematian, ia akan ridha terhadap dunia meski sedikit. Dan barang siapa yang memperhitungkan ucapannya sebagai bagian dari amalnya, niscaya bicaranya akan sedikit kecuali dalam hal yang berguna baginya. Sebagian ulama berkata, "Diam itu menghimpun dua keutamaan bagi seseorang: keselamatan dalam agamanya dan pemahaman terhadap rekannya." Muhammad bin Wasi' berkata kepada Malik bin Dinar, "Wahai Abu Yahya, menjaga lisan itu lebih berat bagi manusia daripada menjaga dinar dan dirham." Yunus bin Ubaid berkata, "Tidak ada seorang pun yang senantiasa memperhatikan lisannya melainkan engkau akan melihat kebaikan hal itu pada seluruh amalnya." Al-Hasan menceritakan: Suatu kaum berbicara di hadapan Mu'awiyah ﵀ sementara Al-Ahnaf bin Qais diam saja. Maka Malik berkata kepadanya, "Wahai Abu Bahr, mengapa engkau tidak berbicara?" Beliau menjawab, "Aku takut kepada Allah jika aku berdusta, dan aku takut kepadamu jika aku berkata jujur." Abu Bakr bin 'Ayyasy berkata: Empat orang raja berkumpul: Raja India, Raja Cina, Kisra (Raja Persia), dan Kaisar (Raja Romawi). Salah satu dari mereka berkata, "Aku menyesali apa yang telah aku katakan, namun aku tidak menyesali apa yang tidak aku katakan." Yang lain berkata, "Sesungguhnya jika aku telah mengucapkan suatu kalimat, ia menguasaiku dan aku tidak lagi menguasainya. Namun jika aku belum mengucapkannya, aku menguasainya dan ia tidak menguasaiku." Yang ketiga berkata, "Aku heran pada pembicara; jika kalimatnya berbalik kepadanya niscaya membahayakannya, dan jika tidak berbalik tidak memberi manfaat padanya." Yang keempat berkata, "Aku lebih sanggup menarik kembali apa yang belum aku katakan daripada menarik kembali apa yang telah aku katakan." Dan dikatakan bahwa Al-Manshur bin al-Mu'tazz tidak pernah berbicara sepatah kata pun setelah shalat Isya selama empat puluh tahun. Dikatakan pula bahwa Ar-Rabi' bin Khutsaim tidak pernah membicarakan urusan duniawi selama dua puluh tahun; apabila pagi tiba ia meletakkan tempat tinta, kertas, dan pena, lalu setiap apa yang ia ucapkan dicatatnya, kemudian ia mengoreksi dirinya di sore hari.
فإن قلت فهذا الفضل الكبير للصمت ما سببه فاعلم أن سببه كثرة آفات اللسان من الخطأ والكذب والغيبة والنميمة والرياء والنفاق والفحش والمراء وتزكية النفس والخوض في الباطل والخصومة والفضول والتحريف والزيادة والنقصان وإيذاء الخلق وهتك العورات
Jika engkau bertanya: Apakah sebab dari keutamaan yang begitu besar bagi sikap diam ini? Maka ketahuilah bahwasanya sebabnya adalah banyaknya bencana lisan, seperti: kesalahan (kesilapan), kedustaan, ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), riya', nifak, perkataan kotor, perdebatan (al-mira'), memuji diri sendiri (tazkiyatun-nafs), tenggelam dalam kebatilan, pertengkaran (al-khushumah), pembicaraan berlebihan (al-fudhul), penyimpangan kata, penambahan, pengurangan, menyakiti makhluk, serta menyingkap aib-aib.
فهذه آفات كثيرة وهي سيانة إلى اللسان لا تثقل عليه ولها حلاوة في القلب وعليها بواعث من الطبع ومن الشيطان والخائض فيها قلما يقدر أن يمسك اللسان فيطلقه بما يحب ويكفه عما لا يحب فإن ذلك من غوامض العلم كما سيأتي تفصيله ففي الخوض خطر وفي الصمت سلامة فلذلك عظمت فضيلته هذا مع ما فيه من جمع الهم ودوام الوقار والفراغ للفكر والذكر والعبادة والسلامة من تبعات القول في الدنيا ومن حسابه في الآخرة فقد قال الله تعالى ﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عتيد﴾
Bencana-bencana ini amat banyak, serta mengalir deras menuju lisan tanpa terasa berat baginya. Ia memiliki kelezatan dalam hati dan didorong oleh watak dasar manusia serta bisikan setan. Orang yang terjerumus di dalamnya jarang sekali mampu menahan lisannya, sehingga ia melepaskannya pada apa yang disukai dan menahannya dari apa yang tidak disukai; sebab hal itu termasuk kehalusan ilmu sebagaimana akan datang perinciannya. Maka dalam perbincangan terdapat bahaya, sedangkan dalam diam terdapat keselamatan, itulah mengapa keutamaannya begitu agung. Di samping itu, diam juga menghimpun konsentrasi niat, mengekalkan kewibawaan, memberikan kelapangan untuk berfikir, berdzikir, dan beribadah, serta menyelamatkan dari tuntutan ucapan di dunia dan hisabnya di akhirat. Sungguh Allah Ta'ala telah berfirman: "Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. Qaf: 18).
ويدلك على فضل لزوم الصمت أمر وهو أن الكلام أربعة أقسام قسم هو ضرر محض وقسم هو نفع محض وقسم فيه ضرر ومنفعة وقسم ليس فيه ضرر ولا منفعة
Dan satu hal yang menunjukkan kepadamu akan keutamaan senantiasa diam adalah bahwasanya pembicaraan terbagi menjadi empat bagian: bagian yang murni mendatangkan kemudaratan, bagian yang murni mendatangkan manfaat, bagian yang di dalamnya terdapat kemudaratan dan manfaat, serta bagian yang tidak mengandung kemudaratan maupun manfaat.
أما الذي هو ضرر محض فلا بد من السكوت عنه وكذلك ما فيه ضرر ومنفعة لا تفي بالضرر
Adapun pembicaraan yang murni mendatangkan kemudaratan, maka wajib untuk diam darinya. Demikian pula pembicaraan yang mengandung kemudaratan dan manfaat yang tidak sebanding untuk menutupi kemudaratan tersebut.
وأما ما لا منفعة فيه ولا ضرر فهو فضول والاشتغال به تضييع زمان وهو عين الخسران فلا يبقى إلا القسم الرابع فقد سقط ثلاثة أرباع الكلام وبقي ربع وهذا الربع فيه خطر إذ يمتزج بما فيه إثم من دقائق الرياء والتصنع والغيبة وتزكية النفس وفضول الكلام امتزاجا يخفى دركه فيكون الإنسان به مخاطراً ومن عرف دقائق
Adapun yang tidak mengandung manfaat maupun kemudaratan, maka itu adalah omong kosong (sia-sia) dan menyibukkan diri dengannya berarti membuang-buang waktu yang merupakan hakikat kerugian. Maka tidak tersisa melainkan bagian yang keempat. Dengan demikian gugurlah tiga perempat dari pembicaraan dan tersisa seperempatnya saja. Seperempat bagian ini pun mengandung bahaya, karena ia dapat bercampur dengan hal-hal yang berlarut dalam dosa dari kehalusan riya', kebohongan yang dibuat-buat, ghibah, memuji diri sendiri, serta ucapan berlebihan dengan pencampuran yang samar untuk dideteksi, sehingga manusia tetap berada dalam risiko dengannya. Dan barang siapa yang mengetahui kehalusan-kehalusan…
آفات اللسان على ما سنذكره علم قطعاً أن ما ذكره ﷺ هو فصل الخطاب حيث قال من صمت نجا
…bencana-bencana lisan sebagaimana yang akan kami sebutkan, niscaya ia mengetahui secara pasti bahwa apa yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ adalah keputusan ucapan yang paling tegas (fashlul-khithab), yaitu ketika beliau bersabda: "Barang siapa yang diam, maka ia selamat."
فلقد أوتى والله جواهر الحكم قطعا وجوامع الكلم ولا يعرف ما تحت آحاد كلماته من بحار المعاني إلا خواص العلماء وفيما سنذكره من الآفات وعسر الاحتراز عنها ما يعرفك حقيقة ذلك إن شاء الله تعالى
Demi Allah, sungguh beliau (Rasulullah ﷺ) telah dikaruniai mutiara-mutiara hikmah secara pasti dan jawami' al-kalim (kalimat-kalimat yang singkat namun padat makna). Tidak ada yang mampu mengetahui samudra makna di balik setiap patah kata beliau kecuali para ulama yang khusus (khawas). Dan dalam bahaya-bahaya (lisan) serta sulitnya menjaga diri darinya yang akan kami sebutkan nanti, terdapat sesuatu yang akan memahamkanmu tentang hakikat hal tersebut, insya Allah Ta'ala.
ونحن الآن نعد آفات اللسان ونبتديء بأخفها ونترقى إلى الأغلظ قليلاً ونؤخر الكلام في الغيبة والنميمة والكذب فإن النظر فيها أطول وهي عشرون آفة فاعلم ذلك ترشد بعون الله تعالى الآفة الأولى الكلام فيما لا يعنيك
Dan kini kami akan merinci bahaya-bahaya (afat) lisan, dimulai dari yang paling ringan lalu berangsur-angsur naik ke yang agak berat, serta menangguhkan pembahasan tentang ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dan dusta, karena pembahasan mengenai ketiganya membutuhkan pemaparan yang lebih panjang. Seluruhnya ada dua puluh bahaya. Ketahuilah hal itu, niscaya engkau mendapat petunjuk dengan pertolongan Allah Ta'ala. Bahaya Pertama: Berbicara tentang hal yang tidak berguna bagimu (kalam fima la ya'nik).
اعلم أن أحسن أحوالك أن تحفظ ألفاظك من جميع الآفات التي ذكرناها من الغيبة والنميمة والكذب والمراء والجدال وغيرها وتتكلم فيما هو مباح لا ضرر عليك فيه ولا على مسلم أصلاً إلا أنك تتكلم بما أنت مستغن عنه ولا حاجة بك إليه فإنك مضيع به زمانك ومحاسب على عمل لسانك وتستبدل الذي هو أدنى بالذي هو خير لأنك لو صرفت زمان الكلامإلى الفكر ربما كان ينفتح لك من نفحات رحمة الله عند الفكر ما يعظم جدواه ولو هللت الله سبحانه وذكرته وسبحته لكان خيراً لك فكم من كلمة يبنى بها قصراً في الجنة ومن قدر على أن يأخذ كنزاً من الكنوز فأخذ مكانه مدرة لا ينتفع بها كان خاسراً خسراناً مبيناً وهذا مثال من ترك ذكر الله تعالى واشتغل بمباح لا يعنيه فإنه وإن لم يأثم فقد خسر حيث فاته الربح العظيم بذكر الله تعالى فإن المؤمن لا يكون صمته إلا فكرا ونظره إلا عبرة ونطقه إلا ذكراً هكذا قال النبي ﷺ
Ketahuilah bahwa kondisi terbaikmu adalah ketika engkau menjaga ucapanmu dari seluruh bahaya yang telah kami sebutkan, seperti ghibah, namimah, dusta, perdebatan (mira'), pertengkaran (jidal), dan selainnya, lalu engkau berbicara mengenai hal yang mubah yang sama sekali tidak membahayakanmu dan tidak pula membahayakan seorang muslim pun; hanya saja engkau membicarakan hal yang tidak engkau perlukan dan tidak ada hajat padanya. Sungguh, dengan demikian engkau telah menyia-nyiakan waktumu dan akan dihisab atas perbuatan lisanmu, serta engkau menukar hal yang lebih rendah dengan yang lebih baik. Sebab, seandainya engkau alihkan waktu untuk berbicara itu kepada tafakur, boleh jadi akan terkuak bagimu karunia rahmat Allah saat bertafakur yang sangat besar manfaatnya. Dan seandainya engkau mengucapkan tahlil, mengingat-Nya, serta bertasbih kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, niscaya hal itu jauh lebih baik bagimu. Betapa banyak satu kalimat yang dengannya dibangun sebuah istana di surga. Barang siapa yang mampu mengambil satu simpanan harta karun lalu ia mengambil bongkahan tanah yang tidak berguna sebagai gantinya, maka ia telah rugi dengan kerugian yang nyata. Ini adalah perumpamaan orang yang meninggalkan zikir kepada Allah Ta'ala dan disibukkan dengan hal mubah yang tidak berguna baginya. Sebab, meskipun ia tidak berdosa, ia telah rugi karena terlewat dari keuntungan yang amat besar dengan berzikir kepada Allah Ta'ala. Sesungguhnya seorang mukmin itu, diamnya tidak lain adalah tafakur, pandangannya adalah pelajaran ('ibrah), dan ucapannya adalah zikir. Demikianlah yang disabdakan oleh Nabi ﷺ.
بل رأس مال العبد أوقاته ومهما صرفها إلى مالا يَعْنِيهِ وَلَمْ يَدَّخِرْ بِهَا ثَوَابًا فِي الْآخِرَةِ فَقَدْ ضَيَّعَ رَأْسَ مَالِهِ وَلِهَذَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المرء تركه مالا يعنيه
Bahkan, modal utama seorang hamba adalah waktu-waktunya. Manakala ia menyia-nyiakannya untuk hal yang tidak berguna baginya dan tidak menabung pahala padanya untuk akhirat, sungguh ia telah menyia-nyiakan modal utamanya. Oleh karena itulah Nabi ﷺ bersabda: "Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya."
بل ورد ما هو أشد من هذا قال أنس استشهد غلام منا يوم أحد فوجدنا على بطنه حجراً مربوطاً من الجوع فمسحت أمه عن وجهه التراب وقالت هنيئاً لك الجنة يا بني فَقَالَ ﷺ وَمَا يُدْرِيكِ لعله كان يتكلم فيما لا يعنيه وَيَمْنَعُ مَا لَا يَضُرُّهُ
Bahkan telah diriwayatkan hal yang lebih keras dari ini. Anas ﵁ berkata: Seseorang pemuda di antara kami gugur sebagai syahid pada perang Uhud, lalu kami menemukan batu terikat di perutnya karena menahan lapar. Ibunya mengusap debu dari wajahnya seraya berkata: "Selamat bagimu mendapatkan surga, wahai anakku." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Tahu dari mana engkau? Boleh jadi ia dahulu pernah berbicara tentang hal yang tidak berguna baginya, atau menahan apa (harta/bantuan) yang tidak akan memudaratkannya (jika diberikan)."
وَفِي حَدِيثٍ آخَرَ إن النبي ﷺ فقد كعباً فسأل عنه فقالوا مريض فخرج يمشي حتى أتاه فلما دخل عليه قال أبشر يا كعب فقالت أمه هنيئاً لك الجنة يا كعب فَقَالَ ﷺ مَنْ هَذِهِ المتألية على الله قال هي أمي يا رسول الله قال وما يدريك يا أم كعب لعل كعباً قال ما لا يعنيه أو منع ما لا يغنيه
Dalam hadis yang lain diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ tidak mendapati Ka'ab, lalu beliau menanyakannya. Para sahabat menjawab: "Ia sedang sakit." Maka beliau keluar berjalan kaki hingga mendatangi Ka'ab. Ketika beliau masuk menjenguknya, beliau bersabda: "Bergembiralah, wahai Ka'ab!" Lalu ibunya berkata: "Selamat bagimu mendapatkan surga, wahai Ka'ab." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapakah perempuan yang mendahului kehendak Allah ini?" Ka'ab menjawab: "Dia ibuku, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Tahu dari mana engkau, wahai ibu Ka'ab? Boleh jadi Ka'ab pernah mengucapkan apa yang tidak berguna baginya atau menahan apa yang tidak memperkayanya."
ومعناه أنه إنما تتهيأ الجنة لمن لا يحاسب ومن تكلم فيما لا يعنيه حوسب عليه وإن كان كلامه غير مباح فلا تتهيأ الجنة مع المناقشة في الحساب فإنه نوع من العذاب
Maknanya adalah bahwa surga itu diperuntukkan bagi orang yang tidak dihisab. Barang siapa yang berbicara mengenai hal yang tidak berguna baginya, niscaya ia akan dihisab atasnya, meskipun ucapannya bukan hal yang haram. Dan surga tidaklah serta-merta disiapkan bersamaan dengan pemeriksaan hisab yang ketat (munaqasyah), sebab hal itu sendiri merupakan sejenis azab.
وعن محمد بن كعب قال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن أول من يدخل من هذا الباب رجل من أهل الجنة فدخل عبد الله بن سلام فقام إليه ناس مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فأخبروه بذلك وقالوا أخبرنا بأوثق عمل في نفسك ترجو به فقال إني لضعيف وإن أوثق ما أرجو به الله سلامة الصدر وترك ما لا يعنيني
Diriwayatkan dari Muhammad bin Ka'ab, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya orang yang pertama kali masuk dari pintu ini adalah seorang laki-laki ahli surga." Lalu masuklah Abdullah bin Salam. Maka beberapa orang sahabat Rasulullah ﷺ berdiri menemuinya dan memberitahukan hal itu kepadanya seraya berkata: "Beritahukan kepada kami tentang amal yang paling engkau andalkan dalam dirimu yang engkau harapkan pahalanya!" Ia menjawab: "Sesungguhnya aku ini lemah, namun amal yang paling aku harapkan di sisi Allah adalah keselamatan hati (salamat ash-shadr) dan meninggalkan apa yang tidak berguna bagiku."
وقال أبو ذر قال لي رسول الله ﷺ إلا أعلمك بعمل خفيف على البدن ثقيل في الميزان قلت بلى يا رسول الله قال هو الصمت وحسن الخلق وترك ما لا يعنيك وقال مجاهد سمعت ابن عباس يقول خمس لهن أحب إلى من الدهم الموقوفة لا تتكلم فيما لا يعنيك فإنه فضل ولا آمن عليك الوزر ولا تتكلم فيما يعنيك حتى تجد له موضعاً فإنه رب متكلم في أمر يعنيه قد وضعه في غير موضعه فعنت ولا تمار حليماً ولا سفيهاً فإن الحليم يقليك والسفيه يؤذيك واذكر أخاك إذا غاب عنك بما تحب أن يذكرك به وأعفه مما تحب أن يعفيك منه وعامل أخاك بما تحب أن يعاملك به واعمل عمل رجل يعلم أنه مجازى بالإحسان مأخوذ بالاحترام وقيل للقمان الحكيم ما حكمتك قال لا أسأل عما كفيت ولا أتكلف ما لا يعنيني وقال مورق العجلي أمر أنا في طلبه منذ عشرين سنة لم أقدر عليه ولست بتارك طلبه قالوا وما هو قال السكوت عما لا يعنيني وقال عمر ﵁ لا تتعرض لما لا يعنيك واعتزل عدوك وأحذر صديقك من القوم إلا الأمين ولا أمين إلا من خشى الله تعالى ولا تصحب الفاجر فتتعلم من فجوره ولا تطلعه على سرك واستشر في أمرك الذين يخشون الله تعالى
Abu Dzar ﵁ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: "Maukah aku ajarkan kepadamu suatu amalan yang ringan bagi badan namun berat di dalam timbangan (mizan)?" Aku menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Yaitu diam, akhlak yang baik, dan meninggalkan apa yang tidak berguna bagimu." Mujahid berkata: Aku mendengar Ibn 'Abbas ﵁ berkata: "Ada lima perkara yang lebih aku cintai daripada unta-unta hitam yang ditambat: (1) Janganlah engkau berbicara mengenai hal yang tidak berguna bagimu, sebab hal itu adalah kelebihan yang sia-sia dan aku tidak menjamin engkau selamat dari dosa. (2) Janganlah engkau berbicara mengenai hal yang berguna bagimu hingga engkau menemukan tempat/waktu yang tepat untuknya, sebab betapa banyak orang berbicara tentang hal yang penting baginya tetapi meletakkannya bukan pada tempatnya sehingga ia menemui kesulitan. (3) Janganlah engkau berdebat dengan orang yang santun (halim) maupun orang yang bodoh (safih), sebab orang yang santun akan membencimu dan orang yang bodoh akan menyakitimu. (4) Sebutlah saudaramu ketika ia tidak ada di hadapanmu dengan perkara yang engkau sukai jika ia menyebutmu dengannya, dan maafkanlah ia dari perkara yang engkau ingin ia memaafkanmu darinya. (5) Perakukanlah saudaramu sebagaimana engkau suka ia memperlakukanmu, dan beramallah seperti amalan seseorang yang sadar bahwa ia akan dibalas karena kebaikan dan dimintai pertanggungjawaban." Ditanyakan kepada Luqman al-Hakim: "Apakah inti hikmahmu?" Ia menjawab: "Aku tidak menanyakan apa yang telah dicukupi bagiku, dan aku tidak memaksakan diri melakukan apa yang tidak berguna bagiku." Muwarriq al-'Ujali berkata: "Suatu perkara yang telah aku cari selama dua puluh tahun dan aku belum mampu menguasainya, namun aku tidak akan berhenti mencarinya." Mereka bertanya: "Apakah itu?" Ia menjawab: "Diam dari hal-hal yang tidak berguna bagiku." Umar ﵁ berkata: "Janganlah engkau mencampuri apa yang tidak berguna bagimu, jauhilah musuhmu, dan waspadailah temanmu di antara kaum tersebut kecuali yang terpercaya (al-amin). Dan tidak ada orang yang terpercaya kecuali yang takut kepada Allah Ta'ala. Janganlah engkau berteman dengan orang jahat (fajir) sehingga engkau mempelajari kejahatannya, jangan beritahukan rahasiamu kepadanya, dan bermusyawarahlah dalam urusanmu dengan orang-orang yang takut kepada Allah Ta'ala."
وحد الكلام فيما لا يعنيك أن تتكلم بكلام ولو سكت عنه لم تأثم ولم تستضر به في حال ولا مال مثاله أن تجلس مع قوم فتذكر لهم أسفارك وما رأيت فيها من جبال وأنهار وما وقع لك من الوقائع وما استحسنته من الأطعمة والثياب وما تعجبت منه من مشايخ البلاد ووقائعهم فهذه أمور لو سكت عنها لم تأثم ولم تستضر وإذا بالغت في الجهاد حتى لم يمتزج بحكايتك زيادة ولا نقصان ولا تزكية نفس من حيث التفاخر بمشاهدة الأحوال العظيمة ولا اغتياب لشخص ولا مذمة لشيء مما خلقه الله تعالى فأنت مع ذلك كله مضيع زمانك وأنى تسلم من الآفات التي ذكرناها ومن جملتها أن تسأل غيرك عما لا يعنيك فأنت بالسؤال مضيع وقتك وقد الجأت صاحبك أيضاً بالجواب إلى التضييع هذا إذا كان الشيء مما يتطرق إلى السؤال عنه آفة وأكثر الأسئلة فيها آفات فإنك تسأل غيرك عن عبادته مثلاً فتقول له هل أنت صائم فإن قال نعم كان مظهراً لعبادته فيدخل عليه الرياء وإن لم يدخل سقطت عبادته من ديوان السر وعبادة السر تفضل عبادة الجهر بدرجات وإن قال لا كان كاذباً وإن سكت كان مستحقراً لك وتأذيت به وإن احتال لمدافعة الجواب افتقر إلى جهد وتعب فيه فقد عرضته بالسؤال إما للرياء أو للكذب أو للاستحقار أو للتعب في حيلة الدفع وكذلك سؤالك عن سائر عباداته وكذلك سؤالك عن المعاصي وعن كل ما يخفيه ويستحي منه وسؤالك عما حدث به غيرك فتقول له ماذا تقول وفيم أنت وكذلك ترى إنساناً في الطريق فتقول من أين فربما يمنعه مانع من ذكره فإن ذكره تأذى به واستحيا وإن لم يصدق وقع في الكذب وكنت السبب فيه
Batasan ucapan tentang hal yang tidak berguna bagimu (kalam fima la ya'nik) adalah engkau mengucapkan suatu ucapan yang seandainya engkau diam darinya, engkau tidak berdosa dan tidak mendapat kemudaratan baik pada kondisimu saat ini maupun pada hartamu di masa depan. Contohnya, engkau duduk bersama suatu kaum lalu menceritakan perjalanan-perjalananmu kepada mereka, gunung-gunung dan sungai-sungai yang engkau lihat, peristiwa-peristiwa yang engkau alami, makanan dan pakaian yang engkau sukai, serta keherananmu terhadap syekh-syekh suatu negeri dan kejadian-kejadian mereka. Ini semua adalah perkara yang jika engkau diam darinya, engkau tidak berdosa dan tidak dirugikan. Bahkan jika engkau bersungguh-sungguh berjuang hingga kesaksianmu tidak tercampur penambahan, pengurangan, penyucian diri (tazkiyat an-nafs) demi kebanggaan karena melihat kondisi-kondisi hebat, tidak pula mengandung penggunjingan (ghibah) seseorang, atau celaan terhadap apa pun yang diciptakan Allah Ta'ala; maka bersamaan dengan itu semua, engkau tetap telah menyia-nyiakan waktumu. Dan bagaimana mungkin engkau bisa selamat dari bahaya-bahaya yang telah kami sebutkan? Di antaranya adalah engkau menanyakan kepada orang lain hal yang tidak berguna bagimu. Dengan bertanya, engkau telah menyia-nyiakan waktumu dan secara tidak langsung memaksa temanmu menyia-nyiakan waktunya untuk menjawab. Ini jika pertanyaan itu berpotensi membawa bahaya; padahal sebagian besar pertanyaan mengandung bahaya. Misalnya, engkau menanyakan ibadah orang lain, engkau berkata kepadanya: "Apakah engkau sedang berpuasa?" Jika ia menjawab "ya", ia telah menampakkan ibadahnya sehingga riya bisa merasukinya. Dan jikapun riya tidak merasuki, ibadahnya gugur dari catatan amalan rahasia, padahal ibadah rahasia lebih utama beberapa derajat dibanding ibadah yang terang-terangan. Jika ia menjawab "tidak", ia telah berdusta. Jika ia diam, ia dianggap meremehkanmu dan engkau merasa tersakiti olehnya. Jika ia berputar otak untuk menghindari jawaban, ia memerlukan usaha dan kepayahan. Sungguh engkau telah mengedepankannya melalui pertanyaanmu kepada riya, dusta, sikap meremehkan, atau kepayahan dalam bersiasat menolak jawaban. Begitu pula pertanyaanmu tentang ibadah-ibadahnya yang lain, maksiat-maksiatnya, serta segala hal yang ia sembunyikan dan ia malu darinya. Begitu pula pertanyaanmu tentang apa yang ia bicarakan dengan orang lain, seperti engkau berkata kepadanya: "Apa yang sedang engkau katakan dan dalam urusan apa engkau?" Demikian pula engkau melihat seseorang di jalan lalu berkata: "Dari mana engkau?" Boleh jadi ada halangan baginya untuk menyebutkannya; jika ia menyebutkannya, ia merasa terganggu dan malu, dan jika ia tidak jujur, ia jatuh ke dalam dusta dan engkau menjadi penyebabnya.
وكذلك تسأل عن مسألة لا حاجة بك إليها والمسئول ربما لم تسمح نفسه بأن يقول لا أدري فيجيب عن غير بصيرة
Demikian pula engkau menanyakan suatu masalah yang tidak engkau butuhkan, sementara orang yang ditanya boleh jadi hatinya tidak rela untuk mengatakan "aku tidak tahu", sehingga ia menjawab tanpa ilmu (ghair bashirah).
ولست أعني بالتكلم فيما لا يعني هذه الأجناس فإن هذا يتطرق إليه إثم أو ضرر
Aku tidak bermaksud bahwa berbicara mengenai hal yang tidak berguna terbatas pada jenis-jenis ini saja, sebab jenis-jenis ini sudah dapat menimbulkan dosa atau mudarat.
وإنما مثال ما لا يعني ما روي أن لقمان الحكيم دخل على داود ﵇ وهو يسرد درعاً ولم يكن رآها قبل ذلك اليوم فجعل يتعجب مما رأى فأراد أن يسأله عن ذلك فمنعته حكمته فأمسك نفسه ولم يسأله فلما فرغ قام داود ولبسه ثم قال نعم الدرع للحرب فقال لقمان الصمت حكم وقليل فاعله أي حصل العلم به من غير سؤال فاستغنى عن السؤال وقيل انه كان يتردد إليه سنة وهو يريد أن يعلم ذلك من غير سؤال فهذا وأمثاله من الأسئلة إذا لم يكن فيه ضرر وهتك ستر وتوريط في رياء وكذب هو مما لا يعني وتركه من حسن الإسلام فهذا حده
Sesungguhnya contoh nyata dari apa yang tidak berguna adalah apa yang diriwayatkan bahwa Luqman al-Hakim masuk menemui Nabi Daud ﵇ saat beliau sedang menganyam baju besi. Luqman belum pernah melihatnya sebelum hari itu, maka ia merasa takjub dengan apa yang dilihanya dan hendak menanyakannya. Namun hikmahnya menahannya, sehingga ia menahan diri dan tidak bertanya. Ketika Daud telah selesai, beliau berdiri lalu mengenakannya dan berkata: "Sebaik-baik baju besi untuk peperangan." Maka Luqman berkata: "Diam adalah hikmah, tetapi sedikit pelakunya." Artinya, pengetahuan tentang hal itu telah diperoleh tanpa perlu bertanya, sehingga tidak memerlukan pertanyaan lagi. Dikatakan pula bahwa Luqman bolak-balik menemuinya selama setahun demi mengetahui hal itu tanpa bertanya. Maka ini dan yang seumpamanya dari pertanyaan-pertanyaan—selama di dalamnya tidak ada bahaya, pembongkaran rahasia (hatk sitr), serta penjerumusan ke dalam riya dan dusta—termasuk hal yang tidak berguna (la ya'ni), dan meninggalkannya merupakan bagian dari kebaikan Islam seseorang. Inilah batasannya.
وأما سببه الباعث عليه فالحرص عَلَى مَعْرِفَةِ مَا لَا حَاجَةَ بِهِ إِلَيْهِ أو المباسطة بالكلام على سبيل التودد أَوْ تَزْجِيَةِ الْأَوْقَاتِ بِحِكَايَاتِ أَحْوَالٍ لَا فَائِدَةَ فِيهَا
Adapun sebab yang mendorongnya adalah ketamakan (hirsh) untuk mengetahui apa yang tidak dibutuhkannya, atau keinginan mencairkan suasana perbincangan untuk menunjukkan rasa ramah, atau sekadar menghabiskan waktu dengan menceritakan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.
وَعِلَاجُ ذَلِكَ كُلِّهِ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ الموت بين يديه وأنه مسؤول عن كل كلمة وأن أَنْفَاسَهُ رَأْسُ مَالِهِ وَأَنَّ لِسَانَهُ شَبَكَةٌ يَقْدِرُ أن يقتنص بها الحور العين فإهماله ذلك وتضييعه خسران مبين هذا علاجه من حيث العلم وأما من حيث العمل فالعزلة أو أن يضع حصاة في فيه وأن يلزم نفسه السكوت بها عن بعض ما يعنيه حتى يعتاد اللسان ترك ما لا يعنيه وضبط اللسان في هذا على غير المعتزل شديد جداً الْآفَةُ الثَّانِيَةُ فُضُولُ الْكَلَامِ
Obat dari semua itu adalah hendaknya seseorang menyadari bahwa kematian ada di hadapannya, bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap kata, bahwa helaan napasnya adalah modal utamanya, dan bahwa lisannya adalah jaring yang dengannya ia mampu menawan bidadari surga (hur 'in). Maka mengabaikan dan menyia-nyiakannya adalah kerugian yang nyata. Ini adalah obatnya dari segi ilmu. Adapun dari segi amal, yaitu dengan melakukan uzlah (pengasingan diri), atau menaruh kerikil di dalam mulutnya, dan mewajibkan dirinya untuk diam dengannya bahkan dari sebagian hal yang penting baginya, hingga lisannya terbiasa meninggalkan apa yang tidak berguna baginya. Dan mengendalikan lisan dalam hal ini bagi orang yang tidak ber-uzlah adalah sangat berat. Bahaya Kedua: Berlebih-lebihan dalam Berbicara (Fudhul al-Kalam).
وَهُوَ أَيْضًا مَذْمُومٌ وَهَذَا يَتَنَاوَلُ الْخَوْضَ فِيمَا لَا يَعْنِي وَالزِّيَادَةَ فِيمَا يَعْنِي عَلَى قَدْرِ الْحَاجَةِ فَإِنَّ مَنْ يَعْنِيهِ أَمْرٌ يُمْكِنُهُ أَنْ يَذْكُرَهُ بِكَلَامٍ مُخْتَصَرٍ ويمكنه أن يجسمه ويقرره وَيُكَرِّرَهُ وَمَهْمَا تَأَدَّى مَقْصُودُهُ بِكَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ فَذَكَرَ كَلِمَتَيْنِ فَالثَّانِيَةُ فُضُولٌ أَيْ فَضْلٌ عَنِ الْحَاجَةِ وَهُوَ أَيْضًا مَذْمُومٌ لِمَا سَبَقَ وَإِنْ لَمْ يكن فيه إثم ولا ضرر قال عطاء بن أبي رباح إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَكْرَهُونَ فُضُولَ الْكَلَامِ وَكَانُوا يَعُدُّونَ فُضُولَ الْكَلَامِ مَا عَدَا كِتَابَ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَوْ أَمْرًا بِمَعْرُوفٍ أَوْ نهياً عن منكر أو أن تنطق بحاجتك في معيشتك التي لا بد لك مِنْهَا أَتُنْكِرُونَ أَنَّ عَلَيْكُمْ حَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَا يَلْفِظُ من قول إلا لديه رقيب عتيد أَمَا يَسْتَحِي أَحَدُكُمْ إِذَا نُشِرَتْ صَحِيفَتُهُ الَّتِي أَمْلَاهَا صَدْرَ نَهَارِهِ كَانَ أَكْثَرُ مَا فِيهَا ليس من أمر دينه ولا دنياه وعن بعض الصحابة قال إن الرجل ليكلمني بالكلام لجوابه أشهى إلي من الماء البارد إلى الظمآن فأترك جوابه خيفة أن يكون فضولاً وقال مطرف ليعظم جلال الله في قلوبكم فلا تذكروه عند مثل قول أحدكم للكلب والحمار اللهم اخزه وما أشبه ذلك
Hal ini juga tercela. Ini mencakup pembicaraan mendalam pada apa yang tidak berguna serta menambahi penjelasan melebihi kadar kebutuhan pada apa yang berguna. Sebab, orang yang memiliki urusan penting, ia memungkinkan menyampaikannya dengan kata-kata yang ringkas, dan ia pun memungkinkan memanjangkan, memperjelas, serta mengulangnya. Manakala maksudnya sudah tercapai dengan satu kata lalu ia menyampaikan dua kata, maka kata kedua itu adalah fudhul (berlebihan/melebihi kebutuhan). Hal ini juga tercela berdasarkan alasan yang telah lalu, meskipun tidak ada dosa dan bahaya padanya. 'Atha' bin Abi Rabah berkata: "Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian membenci ucapan yang berlebihan. Mereka menganggap ucapan yang berlebihan itu adalah segala sesuatu selain Kitabullah Ta'ala, Sunnah Rasulullah ﷺ, amar ma'ruf, nahi munkar, atau engkau mengutarakan kebutuhan hidupmu yang tidak bisa tidak bagimu. Apakah kalian mengingkari bahwa di atas kalian ada malaikat-malaikat penjaga, yang mulia, lagi mencatat, di sebelah kanan dan kiri yang duduk mengawasi? Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. Apakah seseorang di antara kalian tidak malu ketika lembaran catatannya dibuka—yang telah ia imla-kan sepanjang awal harinya—ternyata sebagian besar isinya bukanlah mengenai urusan agama maupun dunianya?" Diriwayatkan dari sebagian sahabat, ia berkata: "Sesungguhnya seseorang pernah mengutarakan suatu ucapan kepadaku, yang mana jawaban atas ucapan itu lebih aku inginkan daripada air dingin bagi orang yang haus, namun aku meninggalkan jawabannya karena takut hal itu menjadi ucapan yang berlebihan (fudhul)." Mutarrif berkata: "Hendaknya keagungan Allah menjadi besar di dalam hati kalian, maka janganlah kalian menyebut nama-Nya pada perkataan seperti ucapan salah seorang di antara kalian kepada anjing atau keledai: Ya Allah, hinakanlah dia! dan yang seumpamanya."
وَاعْلَمْ أَنَّ فُضُولَ الْكَلَامِ لَا يَنْحَصِرُ بَلِ الْمُهِمُّ مَحْصُورٌ فِي كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى قَالَ اللَّهُ ﷿ لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ معروف أو إصلاح بَيْنَ النَّاسِ وَقَالَ ﷺ طُوبَى لِمَنْ أَمْسَكَ الْفَضْلَ مِنْ لِسَانِهِ وَأَنْفَقَ الْفَضْلَ مِنْ مَالِهِ
Ketahuilah bahwa ucapan yang berlebihan tidak terbatas jumlahnya, sedangkan ucapan yang penting telah dibatasi dalam Kitabullah Ta'ala. Allah ﷿ berfirman: "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia." (QS. An-Nisa': 114). Dan Nabi ﷺ bersabda: "Beruntunglah orang yang menahan kelebihan dari lisannya dan menginfakkan kelebihan dari hartanya."
فَانْظُرْ كَيْفَ قَلَبَ النَّاسُ الْأَمْرَ فِي ذَلِكَ فَأَمْسَكُوا فَضْلَ الْمَالِ وَأَطْلَقُوا فضل اللسان وعن مطرف بن عبد الله عن أبيه قال قدمت عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ في رهط من بني عامر
Maka lihatlah bagaimana manusia membalikkan perkara dalam hal ini! Mereka menahan kelebihan harta dan melepaskan kelebihan lisan. Diriwayatkan dari Mutarrif bin Abdullah dari ayahnya, ia berkata: Aku mendatangi Rasulullah ﷺ dalam rombongan dari Bani 'Amir.
فقالوا أنت والدنا وأنت سيدنا وأنت أفضلنا علينا فضلاً وأنت أطولنا علينا طولاً وأنت الجفنة الغراء وأنت وأنت فقال قولوا قولكم ولا يستهوينكم الشيطان حديث عمرو بن دينار تكلم رجل عند النبي ﷺ فأكثر فقال كم دون لسانك من حجاب الحديث أخرجه ابن أبي الدنيا هكذا مرسلا ورجاله ثقات // وفي رواية أنه قال ذلك في رجل أثنى عليه فاستهتر في الكلام ثم قال مَا أُوتِيَ رَجُلٌ شَرًّا مِنْ فَضْلٍ فِي لسانه وقال عمر بن عبد العزيز ﵀ عليه إنه ليمنعني من كثير من الكلام خوف المباهاة وقال بعض الحكماء إذا كان الرجل في مجلس فأعجبه الحديث فليسكت وإن كان ساكتاً فأعجبه السكوت فليتكلم وقال يزيد بن أبي حبيب من فتنة العالم أن يكون الكلام أحب إليه من الاستماع فإن وجد من يكفيه فإن في الاستمتاع سلامة وفي الكلام تزيين وزيادة ونقصان وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ إِنَّ أَحَقَّ مَا طَهَّرَ الرجل لسانه ورأى أبو الدرداء امرأة سليطة فقال لو كانت هذه خرساء كان خيراً لها وقال إبراهيم يهلك الناس خلتان فضول المال وفضول الكلام فهذه مذمة فضول الكلام وكثرته وسببه الباعث عليه وعلاجه ما سبق في الكلام فيما لا يعني الْآفَةُ الثَّالِثَةُ الْخَوْضُ فِي الْبَاطِلِ
Lalu mereka berkata: "Engkau adalah orang tua kami, engkau adalah junjungan kami, engkau adalah yang paling utama di antara kami, engkau yang paling dermawan di antara kami, engkau adalah nampan yang megah (penjamu tamu), dan engkau… engkau…" Maka beliau bersabda: "Ucapkanlah perkataan kalian yang biasa dan jangan sampai kalian diseret oleh setan!" Hadis 'Amr bin Dinar: Seseorang berbicara di hadapan Nabi ﷺ dengan amat panjang lebar, maka beliau bersabda: "Berapa banyak penghalang di balik lisanmu?" (Diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dunya secara mursal dan perawinya tsiqah). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau mengatakan hal itu kepada seseorang yang memujinya lalu berlebih-lebihan dalam bicara, kemudian beliau bersabda: "Tidaklah seseorang dikaruniai keburukan yang lebih besar daripada kelebihan pada lisannya." Umar bin Abdul Aziz ﵀ berkata: "Sesungguhnya rasa takut akan kebanggaan diri (mubahah) telah menahanku dari banyak bicara." Sebagian hukama (orang bijak) berkata: "Jika seseorang berada di suatu majelis lalu ucapan membuatnya takjub, hendaklah ia diam; dan jika ia sedang diam lalu sikap diam itu membuatnya takjub, hendaklah ia berbicara." Yazid bin Abi Habib berkata: "Di antara fitnah seorang alim adalah ketika berbicara lebih ia cintai daripada mendengarkan. Padahal jika ia mendapati orang yang telah mencukupinya, sesungguhnya dalam mendengarkan ada keselamatan, sedangkan dalam berbicara terdapat perhiasan, penambahan, dan pengurangan." Ibn Umar berkata: "Sesungguhnya perkara yang paling berhak disucikan oleh seseorang adalah lisannya." Abu ad-Darda' melihat seorang wanita tajam lisannya (shalithah), lalu ia berkata: "Seandainya wanita ini bisu, itu jauh lebih baik baginya." Ibrahim berkata: "Manusia dibinasakan oleh dua tabiat: kelebihan harta dan kelebihan bicara." Inilah celaan terhadap kelebihan bicara dan banyaknya ucapan, adapun sebab pendorongnya dan obatnya adalah sebagaimana yang telah berlalu pada pembahasan bicara tentang hal yang tidak berguna. Bahaya Ketiga: Larut dalam Kebatilan (Al-Khawdh fi al-Bathil).
وَهُوَ الْكَلَامُ فِي الْمَعَاصِي كَحِكَايَةِ أَحْوَالِ النِّسَاءِ وَمَجَالِسِ الْخَمْرِ ومقامات الفساق وتنعم الأغنياء وتجبر الملوك ومراسمهم المذمومة وأحوالهم المكروهة فإن كل ذلك مما لا يحل الخوض فيه وهو حرام وأما الكلام فيما لا يعني أو أكثر مما يعني فهو ترك الأولى ولا تحريم فيه نعم من يكثر الكلام فيما لا يعني لا يؤمن عليه الخوض في الباطل وَأَكْثَرُ النَّاسِ يَتَجَالَسُونَ لِلتَّفَرُّجِ بِالْحَدِيثِ وَلَا يَعْدُو كَلَامُهُمُ التَّفَكُّهَ بِأَعْرَاضِ النَّاسِ أَوِ الْخَوْضَ فِي الْبَاطِلِ وَأَنْوَاعُ الْبَاطِلِ لَا يُمْكِنُ حَصْرُهَا لِكَثْرَتِهَا وَتَفَنُّنِهَا فَلِذَلِكَ لَا مَخْلَصَ مِنْهَا إِلَّا بِالِاقْتِصَارِ عَلَى مَا يَعْنِي مِنْ مُهِمَّاتِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا وفي هذا الجنس تقع كلمات يهلك بها صاحبها وهو يستحقرها فقد قال بلال بن الحارث قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ ما يظن أن تبلغ ما بلغت فيكتب
Yaitu membicarakan kemaksiatan-kemaksiatan, seperti menceritakan keadaan para wanita, majelis-majelis khamar, tingkah laku orang-orang fasik, kemewahan orang-orang kaya, kesombongan para raja, tradisi-tradisi mereka yang tercela, serta kondisi-kondisi mereka yang dibenci. Sesungguhnya semua itu termasuk hal yang tidak halal diperbincangkan dan hukumnya haram. Adapun berbicara mengenai hal yang tidak berguna atau melebihi kadar yang dibutuhkan, maka itu adalah meninggalkan yang lebih utama (tark al-awla) dan tidak ada keharaman padanya. Namun, barang siapa yang memperbanyak bicara tentang hal yang tidak berguna, ia tidak terjamin aman dari terjerumus ke dalam kebatilan. Kebanyakan orang duduk bersama untuk mencari hiburan dengan berbincang-bincang, dan ucapan mereka tidak lepas dari mencicipi kehormatan manusia (menggunjing) atau larut dalam kebatilan. Jenis-jenis kebatilan tidak mungkin dihitung karena sangat banyak dan beraneka ragam. Oleh karena itu, tidak ada jalan keluar darinya kecuali dengan membatasi diri pada apa yang berguna dari urusan-urusan penting agama dan dunia. Dan dalam jenis ini sering kali terucap kata-kata yang membinasakan pengucapnya sementara ia meremehkannya. Sungguh Bilal bin al-Harits berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya seseorang benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang diridhai Allah, yang tidak ia sangka akan mencapai apa yang dicapainya, lalu dicatat…"
اللَّهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ مَا يظن أن تبلغ به ما بلغت فيكتب اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ حديث إن الرجل ليتكلم الكلمة يضحك بها جلساءه يهوى بها أبعد من الثريا أخرجه ابن أبي الدنيا من حديث أبي هريرة بسند حسن وللشيخين والترمذي إن الرجل ليتكلم بالكلمة لا يرى بها بأسا يهوى بها سبعين خريفا في النار لفظ الترمذي وقال حسن غريب حديث أَعْظَمُ النَّاسِ خَطَايَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ خَوْضًا في الباطل أخرجه ابن أبي الدنيا من حديث قتادة مرسلا ورجاله ثقات ورواه هو والطبراني موقوفا على ابن مسعود بسند صحيح حديث لَا تُمَارِ أَخَاكَ وَلَا تُمَازِحْهُ وَلَا تَعِدْهُ موعداً فتخلفه أخرجه الترمذي من حديث ابن عباس وقد تقدم وقال ﷺ ذروا المراء فإنه لا تفهم حكمته ولا تؤمن فتنته وَقَالَ ﷺ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي أعلى الجنة ومن تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ في ربض الجنة وعن أم سلمة ﵂ قالت قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن أول ما عهد إلي ربي ونهاني عنه بعد عبادة الأوثان وشرب الخمر ملاحاة الرجال وقال أيضاً مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ أَنْ هَدَاهُمُ اللَّهُ تعالى إلا أوتوا الجدل وقال أيضاً لَا يَسْتَكْمِلُ عَبْدٌ حَقِيقَةَ الْإِيمَانِ حَتَّى يَدَعَ المراء وإن كان محقاً
…Allah menetapkan keridaan-Nya baginya sampai hari kiamat. Dan sungguh, seseorang mengucapkan suatu kalimat dari kemurkaan Allah yang tidak ia duga akan berakibat sejauh itu, maka Allah menetapkan kemurkaan-Nya atasnya sampai hari kiamat." Hadis: "Sesungguhnya seorang laki-laki mengucapkan suatu perkataan untuk membuat teman-temannya tertawa, yang dengannya ia terperosok ke tempat yang lebih jauh dari bintang Tsurayya." Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunia dari hadis Abu Hurairah dengan sanad hasan. Dalam Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi: "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang menurutnya tidak mengapa, padahal kalimat itu membuatnya terjerumus selama tujuh puluh musim gugur (tahun) di dalam neraka." (Lafaz At-Tirmidzi, dan beliau berkata: hasan gharib). Hadis: "Manusia yang paling besar kesalahannya pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak tenggelam dalam kebatilan." Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunia dari hadis Qatadah secara mursal dan para perawinya terpercaya (tsiqaat). Diriwayatkan pula oleh beliau dan At-Thabrani secara mauquf pada Ibnu Mas'ud dengan sanad sahih. Hadis: "Janganlah engkau berbantah-bantahan (mira') dengan saudaramu, jangan bercanda berlebihan dengannya, dan jangan berjanji kepadanya lalu engkau mengingkarinya." Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadis Ibnu Abbas dan telah berlalu penjelasannya. Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Tinggalkanlah berbantah-bantahan (mira'), karena hikmahnya tidak dapat dipahami dan fitnahnya tidak aman." Beliau ﷺ juga bersabda: "Barangsiapa meninggalkan berbantah-bantahan padahal ia berada di pihak yang benar, dibangunkan baginya sebuah rumah di bagian atas surga. Dan barangsiapa meninggalkan berbantah-bantahan padahal ia di pihak yang salah, dibangunkan baginya sebuah rumah di pinggiran surga." Dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya hal pertama yang ditugaskan dan dilarang oleh Rabbku kepadaku setelah penyembahan berhala dan meminum khamar adalah berbantah-bantahan dengan sesama manusia." Beliau juga bersabda: "Tidaklah suatu kaum tersesat setelah Allah Ta'ala memberi petunjuk kepada mereka, melainkan karena mereka diberi sifat gemar berdebat." Beliau juga bersabda: "Seorang hamba tidak akan menyempurnakan hakikat iman hingga ia meninggalkan perdebatan (mira'), meskipun ia berada di pihak yang benar."
وقال أيضاً ست من كن فيه بلغ حقيقة
Beliau ﷺ juga bersabda: "Ada enam perkara yang barangsiapa memilikinya, niscaya ia telah mencapai hakikat…
الإيمان الصيام في الصيف وضرب أعداء الله بالسيف وتعجيل الصلاة في اليوم الدجن والصبر على المصيبات وإسباغ الوضوء على المكاره وترك المراء وهو صادق وقال الزبير لابنه لا تجادل الناس بالقرآن فإنك لا تستطيعهم ولكن عليك بالسنة وقال عمر بن عبد العزيز ﵀ عليه من جعل دينه عرضة للخصومات أكثر التنقل وقال مسلم بن يسار إياكم والمراء فإنه ساعة جهل العالم وعندها يبتغي الشيطان زلته وقيل ما ضل قوم بعد إذ هداهم الله إلا بالجدل وقال مالك بن أنس رحمة الله عليه ليس هذا الجدال من الدين في شيء وقال أيضاً المراء يقسي القلوب ويورث الضغائن وقال لقمان لابنه يا بني لا تجادل العلماء فيمقتوك وَقَالَ بِلَالُ بْنُ سَعْدٍ إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ لَجُوجًا مُمَارِيًا مُعْجَبًا بِرَأْيِهِ فَقَدْ تَمَّتْ خَسَارَتُهُ وقال سفيان لو خالفت أخي في رمانة فقال حلوة وقلت حامضة لسعى بي إلى السلطان وقال أيضاً صاف من شئت ثم أغضبه بالمراء فليرمينك بداهية تمنعك العيش وَقَالَ ابْنُ أَبِي لَيْلَى لَا أُمَارِي صَاحِبِي فإما أن أكذبه وإما أن أغضبه وقال أبو الدرداء كفى بك إثماً أن لا تزال ممارياً وقال ﷺ تكفير كل لحاء ركعتان وقال عمر ﵁ لا تتعلم العلم لثلاث ولا تتركه لثلاث
…keimanan: berpuasa di musim panas, memukul musuh-musuh Allah dengan pedang, menyegerakan shalat pada hari yang mendung, bersabar atas musibah, menyempurnakan wudhu pada kondisi yang tidak disukai, dan meninggalkan berbantah-bantahan padahal ia berada di pihak yang benar." Az-Zubair berkata kepada putranya, "Janganlah engkau mendebat manusia menggunakan Al-Qur'an, sebab engkau tidak akan sanggup melayani mereka, tetapi gunakanlah As-Sunnah." Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata, "Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran percekcokan, niscaya ia akan sering berpindah-pindah pendirian." Muslim bin Yasar berkata, "Jauhilah oleh kalian perdebatan, karena itu adalah saat kebodohan seorang alim dan pada saat itulah setan mencari kelengahannya." Dan dikatakan, "Tidaklah suatu kaum tersesat setelah Allah memberi petunjuk kepada mereka melainkan karena perdebatan." Malik bin Anas rahimahullah berkata, "Perdebatan ini sama sekali bukan bagian dari agama." Beliau juga berkata, "Berbantah-bantahan itu mengeras hati dan mewariskan kedengkian." Luqman berkata kepada putranya, "Wahai putraku, janganlah engkau mendebat para ulama sehingga mereka membencimu." Bilal bin Sa'ad berkata, "Jika engkau melihat seorang laki-laki yang keras kepala, suka berbantah-bantahan, dan kagum dengan pendapatnya sendiri, maka sungguh telah sempurna kerugiannya." Sufyan berkata, "Seandainya aku berselisih dengan saudaraku mengenai sebutir delima; ia berkata manis dan aku berkata asam, niscaya ia akan mengadukanku kepada penguasa." Beliau juga berkata, "Bercintalah dengan siapa saja yang engkau kehendaki, kemudian buatlah ia marah dengan perdebatan, niscaya ia akan melemparmu dengan petaka yang merenggut ketenangan hidupmu." Ibnu Abi Laila berkata, "Aku tidak pernah berbantah-bantahan dengan sahabatku, sebab jika aku melakukannya, kemungkinan aku mendustakannya atau membuatnya marah." Abu Ad-Darda' berkata, "Cukuplah bagimu suatu dosa jika engkau senantiasa berbantah-bantahan." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Penebus setiap percekcokan (liha') adalah shalat dua rakaat." Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Janganlah engkau menuntut ilmu karena tiga perkara, dan jangan pula meninggalkannya karena tiga perkara:
لا تتعلمه لتماري به ولا لتباهي به ولا لترائي به ولا تتركه حياء من طلبه ولا زهادة فيه ولا رضا بالجهل منه
Janganlah engkau mempelajarinya untuk berbantah-bantahan dengannya, untuk bermegah-megahan dengannya, atau untuk pamer (riya') dengannya. Dan janganlah engkau meninggalkannya karena malu menuntutnya, karena enggan padanya, atau karena ridha dengan kebodohan diri dengannya."
وقال عيسى ﵇ من كثر كذبه ذهب جماله ومن لاحى الرجال سقطت مروءته ومن كثر همه سقم جسمه ومن ساء خلقه عذب نفسه وقيل لميمون بن مهران مالك لا تترك أخاك عن قلى قال لأني لا أشاريه ولا أماريه وَمَا وَرَدَ فِي ذَمِّ الْمِرَاءِ وَالْجِدَالِ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ يُحْصَى
Nabi Isa 'alaihissalam berkata: "Barangsiapa banyak dustanya, hilanglah keindahannya; barangsiapa suka mercekcok dengan sesama manusia, gugurlah muru'ahnya (kehormatan dirinya); barangsiapa banyak kecemasannya, sakitlah tubuhnya; dan barangsiapa buruk akhlaknya, ia menyiksa dirinya sendiri." Dikatakan kepada Maimun bin Mihran, "Mengapa engkau tidak meninggalkan saudaramu karena adanya kebencian?" Ia menjawab, "Karena aku tidak menentangnya dan tidak berbantah-bantahan dengannya." Riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang celaan terhadap sikap berbantah-bantahan (mira') dan perdebatan (jidal) amatlah banyak hingga tidak terhitung.
وَحَدُّ الْمِرَاءِ هُوَ كُلُّ اعْتِرَاضٍ عَلَى كَلَامِ الْغَيْرِ بِإِظْهَارِ خَلَلٍ فِيهِ إِمَّا فِي اللَّفْظِ وَإِمَّا فِي الْمَعْنَى وَإِمَّا فِي قَصْدِ الْمُتَكَلِّمِ وَتَرْكُ الْمِرَاءِ بِتَرْكِ الْإِنْكَارِ وَالِاعْتِرَاضِ فَكُلُّ كَلَامٍ سَمِعْتَهُ فَإِنْ كَانَ حَقًّا فَصَدِّقْ بِهِ وَإِنْ كَانَ بَاطِلًا أَوْ كَذِبًا وَلَمْ يَكُنْ مُتَعَلِّقًا بِأُمُورِ الدِّينِ فَاسْكُتْ عَنْهُ
Batasan mira' (berbantah-bantahan) adalah setiap bentuk penentangan terhadap perkataan orang lain dengan menampakkan cacat/kekurangan padanya, baik pada lafalnya, maknanya, maupun pada maksud penuturnya. Sedangkan cara meninggalkan mira' adalah dengan meninggalkan penolakan dan sanggahan. Maka setiap perkataan yang engkau dengar, jika itu benar maka benarkanlah; dan jika itu batil atau dusta serta tidak berkaitan dengan urusan agama, maka diamlah darinya.
والطعن في كلام الغير تارة يكون في لفظه بإظهار خلل فيه من جهة النحو أو من جهة اللغة أو من جهة العربية أو من جهة النظم والترتيب بسوء تقديم أو تأخير وذلك يكون تارة من قصور المعرفة وتارة يكون بطغيان اللسان وكيفما كان فلا وجه لإظهار خلله
Adapun mencela perkataan orang lain terkadang terjadi pada lafalnya, yaitu dengan menampakkan cacat dari sisi tata bahasa (nahwu), bahasa (lughah), struktur bahasa Arab, atau dari sisi susunan dan urutannya berupa kekeliruan mendahulukan atau mengakhirkan kata. Hal tersebut terkadang lahir dari keterbatasan pengetahuan dan terkadang dari kelantangan lidah. Bagaimanapun kondisinya, tidak ada alasan untuk memperlihatkan cacat perkataan tersebut.
وأما في المعنى فبأن يقول ليس كما تقول وقد أخطأت فيه من وجه كذا وكذا
Adapun celaan pada makna, yaitu dengan mengatakan: "Perkaranya tidak seperti yang engkau katakan, dan engkau telah keliru padanya dari sisi ini dan itu."
وأما في قصده فمثل أن يقول هذا الكلام حق ولكن ليس قصدك منه الحق وإنما أنت فيه صاحب غرض وما يجري مجراه وهذا الجنس إن جرى في مسألة علمية ربما خص باسم الجدل وهو أيضاً مذموم بل الواجب السُّكُوتُ أَوِ السُّؤَالُ فِي مَعْرِضِ الِاسْتِفَادَةِ لَا على وجه العناد والنكارة أَوِ التَّلَطُّفُ فِي التَّعْرِيفِ لَا فِي مَعْرِضِ الطعن
Adapun celaan pada maksud penutur, seperti mengatakan: "Perkataan ini benar, namun maksudmu dengannya bukanlah kebenaran; engkau hanya memiliki kepentingan terselubung," dan yang sejenisnya. Jenis ini, jika terjadi dalam masalah keilmuan, terkadang secara khusus dinamai jidal (perdebatan), dan ini pun tercela. Yang wajib dilakukan justru diam, atau bertanya dalam rangka menimba ilmu (istifadah) bukan atas dasar pembangkangan dan penolakan, atau bersikap lemah lembut dalam memberi pemahaman, bukan dalam bentuk mencela.
وأما المجادلة فعبارة عن قَصْدُ إِفْحَامِ الْغَيْرِ وَتَعْجِيزِهِ وَتَنْقِيصِهِ بِالْقَدْحِ فِي كلامه ونسبته إلى القصور والجهل فيه وآية ذلك أن يكون تنبيهه للحق من جهة أخرى مكروها عند المجادل يجب أن يكون هو المظهر له خطأ ليبين به فضل نفسه ونقص صاحبه ولا نجاة من هذا إلا بالسكوت عن كل ما لا يأثم به لو سكت عنه
Adapun mujadalah (memperdebatkan) adalah ungkapan tentang maksud membungkam lawan bicara, melemahkannya, dan merendahkannya dengan mencela perkataannya serta menisbahkan keterbatasan dan kebodohan padanya. Tanda dari hal ini adalah jika pengingatan orang lain akan kebenaran dari sudut pandang lain justru dibenci oleh sang pembanding (pemungkir), karena ia ingin dialah yang menyingkap kelemahan itu untuk menunjukkan keunggulan dirinya dan kekurangan temannya. Tidak ada keselamatan dari hal ini melainkan dengan diam dari segala sesuatu yang ia tidak berdosa seandainya ia diam darinya.
وأما الباعث على هذا فهو التَّرَفُّعُ بِإِظْهَارِ الْعِلْمِ وَالْفَضْلِ وَالتَّهَجُّمِ عَلَى الْغَيْرِ بإظهار نقصه وهما شهوتان باطنتان
Adapun pendorong sikap ini adalah dorongan untuk meninggikan diri dengan menampakkan keilmuan dan keutamaan, serta menyerang orang lain dengan menampakkan kekurangannya. Keduanya merupakan dua keinginan batin…
للنفس قويتان لها
…bagi jiwa yang sangat kuat pengaruhnya.
وأما إظهار الفضل فهو من قبل تزكية النفس وهي من مقتضى ما في العبد من طغيان دعوى العلو والكبرياء وهي من صفات الربوبية وأما تنقيض الآخر فهو من مقتضى طبع السبعية فإنه يقتضي أن يمزق غيره ويقصمه ويصدمه ويؤذيه وهاتان صفتان مذمومتان مهلكتان وإنما قوتهما المراء والجدال فالمواظب على المراء والجدال مقو لهذه الصفات المهلكة وهذا مجاوز حد الكراهة بل هو معصية مهما حصل فيه إيذاء الغير
Adapun menampakkan keutamaan, hal itu timbul dari pensucian diri (tazkiyatun nafs yang berlebihan), yang merupakan tuntutan dari kesombongan klaim keluhuran dan keagungan dalam diri hamba, padahal itu merupakan sifat-sifat ketuhanan (rububiyyah). Adapun merendahkan orang lain, hal itu timbul dari tuntutan naluri kebinatangan (sabu'iyyah), yang mendorong untuk mencabik-cabik orang lain, menghancurkan, menghantam, dan menyakitinya. Keduanya adalah dua sifat tercela yang membinasakan, dan kekuatan keduanya dipicu oleh mira' dan jidal. Orang yang terus-menerus melakukan mira' dan jidal berarti memperkuat sifat-sifat yang membinasakan ini. Hal ini sudah melampaui batas makruh, bahkan merupakan maksiat selama di dalamnya terdapat perbuatan menyakiti orang lain.
وَلَا تَنْفَكُّ الْمُمَارَاةُ عَنِ الْإِيذَاءِ وَتَهْيِيجِ الْغَضَبِ وَحَمْلِ الْمُعْتَرَضِ عَلَيْهِ عَلَى أَنْ يَعُودَ فَيَنْصُرَ كَلَامَهُ بِمَا يُمْكِنُهُ مِنْ حَقٍّ أَوْ بَاطِلٍ وَيَقْدَحَ فِي قَائِلِهِ بِكُلِّ مَا يُتَصَوَّرُ لَهُ فيثور الشجار بين المتماريين كما يثور الهراش بين الكلبين يقصد كل واحد منهما أن يعض صاحبه بما هو أعظم نكاية وأقوى في إفحامه وإلجامه
Perbantahan (mumarah) tidak akan pernah terlepas dari tindakan menyakiti, membangkitkan kemarahan, dan mendorong orang yang disanggah untuk balik membela perkataannya dengan segala cara yang ia mampu, baik dengan kebenaran maupun kebatilan, serta mencela penuturnya dengan segala hal yang dapat ia bayangkan. Maka bergejolaklah pertikaian di antara dua orang yang saling berbantah sebagaimana perkelahian antara dua ekor anjing, yang mana masing-masing bermaksud menggigit lawannya dengan gigitan yang paling menyakitkan dan paling ampuh untuk membungkamnya.
وَأَمَّا عِلَاجُهُ فَهُوَ بِأَنْ يَكْسِرَ الْكِبْرَ الْبَاعِثَ له على إظهار فضله والسبعية الباعث له على تنقيص غيره كما سيأتي ذلك في كتاب ذم الكبر والعجب وكتاب ذم الغضب فإن علاج كل علة بإماطة سببها وسبب المراء والجدال ما ذكرناه ثم المواظبة عليه تجعله عادة وطبعا حتى يتمكن من النفس ويعسر الصبر عنه
Adapun obatnya adalah dengan menundukkan kesombongan yang mendorongnya menampakkan keutamaannya, serta menundukkan naluri kebuasan (sabu'iyyah) yang mendorongnya merendahkan orang lain, sebagaimana hal itu akan dijelaskan dalam Kitab Dzammil Kibri wal 'Ujb (Tercelanya Kesombongan dan Ujub) serta Kitab Dzammil Ghadhab (Tercelanya Kemarahan). Sebab pengobatan setiap penyakit adalah dengan menghilangkan penyebabnya, dan penyebab mira' serta jidal adalah apa yang telah kami sebutkan. Kemudian, terus-menerus melakukannya akan menjadikannya sebagai kebiasaan dan watak sehingga meresap ke dalam jiwa dan sangat sulit untuk menahannya.
روي أن أبا حنيفة رحمة الله عليه قال لداود الطائي لم آثرت الإنزواء قال لأجاهد نفسي بترك الجدال فقال احضر المجالس واستمع ما يقال ولا تتكلم قال ففعلت ذلك فما رأيت مجاهدة أشد علي منها وهو كما قال لأن من سمع الخطأ من غيره وهو قادر على كشفه يعسر عليه الصبر عند ذلك جداً ولذلك قَالَ ﷺ مَنْ تَرَكَ المراء وهو محق بنى الله له بيتاً في أعلى الجنة لشدة ذلك على النفس وأكثر ما يغلب ذلك في المذاهب والعقائد
Diriwayatkan bahwa Abu Hanifah rahimahullah berkata kepada Daud At-Tha'i, "Mengapa engkau lebih memilih mengasingkan diri (inziwa')?" Ia menjawab, "Untuk melatih jiwaku (mujahadah) dengan meninggalkan perdebatan." Maka Abu Hanifah berkata, "Hadirilah majelis-majelis, dengarkan apa yang dikatakan, dan janganlah engkau berbicara." Daud berkata, "Maka aku melakukan hal itu, dan aku tidak melihat mujahadah yang lebih berat bagiku daripada itu." Hal itu sebagaimana yang ia katakan; sebab barangsiapa mendengar kesalahan dari orang lain padahal ia mampu meluruskannya, amatlah berat baginya untuk bersabar saat itu. Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa meninggalkan perdebatan (mira') padahal ia berada di pihak yang benar, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di tempat tertinggi di surga," karena betapa beratnya hal itu bagi jiwa. Dan hal ini paling banyak mendominasi dalam urusan mazhab-mazhab dan akidah-akidah.
فإن المراء طبع فإذا ظن أن له عليه ثواباً اشتد عليه حرصه وتعاون الطبع والشرع عليه وذلك خطأ محض بل ينبغي للإنسان أن يكف لسانه عن أهل القبلة وإذا رأى مبتدعاً تلطف في نصحه في خلوة لا بطريق الجدال فإن الجدال يخيل إليه أنها حيلة منه في التلبيس وأن ذلك صنعة يقدر المجادلون من أهل مذهبه على أمثالها لو أرادوا فتستمر البدعة في قلبه بالجدل وتتأكد فإذا عرف أن النصح لا ينفع اشتغل بنفسه وتركه وقال ﷺ رحم الله من كف لسانه عن أهل القبلة إلا بأحسن ما يقدر عليه وقال هشام بن عروة كان ﵇ يردد قوله هذا سبع مرات وكل من اعتاد المجادلة مدة وأثنى الناس عليه ووجد لنفسه بسببه عزاً وقبولاً قويت فيه هذه المهلكات ولا يستطيع عنها نزوعاً إذا اجتمع عليه سلطان الغضب والكبر والرياء وحب الجاه والتعزز بالفضل وآحاد هذه الصفات يشق مجاهدتها فكيف بمجموعها الْآفَةُ الْخَامِسَةُ الْخُصُومَةُ
Sebab perdebatan (mira') itu adalah watak dasar; jika seseorang mengira bahwa ia mendapat pahala atasnya, niscaya makin kuatlah keinginannya, sehingga berkumpullah dorongan watak dan anggapan syariat atasnya. Padahal hal itu adalah kekeliruan murni. Sebaliknya, hendaknya seseorang menahan lisannya dari ahli kiblat. Apabila ia melihat seorang pelaku bid'ah, hendaknya ia menasihatinya dengan lembut secara rahasia, bukan dengan cara mendebatnya. Sebab perdebatan akan membayangkan kepada pelaku bid'ah itu bahwa debat itu hanyalah tipu daya untuk mengaburkan kebenaran, dan bahwa hal itu adalah keahlian yang juga mampu dilakukan oleh para pembanding dari pengikut mazhabnya jika mereka mau, sehingga bid'ah itu justru makin mengakar di hatinya dan semakin kuat akibat perdebatan. Jika ia mengetahui bahwa nasihat tidak lagi bermanfaat, hendaklah ia sibuk dengan dirinya sendiri dan meninggalkannya. Beliau ﷺ bersabda: "Semoga Allah merahmati orang yang menahan lisannya dari ahli kiblat kecuali dengan cara terbaik yang mampu ia lakukan." Hisham bin 'Urwah berkata bahwa beliau 'alaihissalam mengulang-ulang perkataannya ini sebanyak tujuh kali. Barangsiapa yang telah terbiasa berdebat dalam jangka waktu tertentu, lalu orang-orang memujinya, serta ia memperoleh kemuliaan dan penerimaan diri karenanya, maka makin kuatlah sifat-sifat yang membinasakan ini dalam dirinya, dan ia tidak akan sanggup melepaskan diri darinya ketika ia dikuasai oleh dorongan kemarahan, kesombongan, riya, kecintaan akan kedudukan, dan kebanggaan akan keutamaan. Padahal melawan satu saja dari sifat-sifat ini amatlah berat, lantas bagaimana jika semuanya berkumpul? Bahaya Kelima: Percekcokan (Al-Khushumah).
وَهِيَ أَيْضًا مَذْمُومَةٌ وَهِيَ وراء الجدال والمراء فالمراء طعن في كلام الغير بإظهار خلل فيه من غير أن يرتبط به غرض سوى تحقير الغير
Ini juga merupakan hal yang tercela, dan posisinya berada di luar (tingkatannya setelah) perdebatan (jidal) dan perbantahan (mira'). Perbantahan (mira') adalah mencela perkataan orang lain dengan menampakkan cacat padanya tanpa ada tujuan lain selain merendahkan orang lain…
وإظهار مزية الكياسة والجدال عبارة عن أمر يتعلق بإظهار المذاهب وتقريرها
…dan menampakkan keunggulan kecerdasan. Sedangkan jidal (perdebatan) adalah ungkapan tentang perkara yang berkaitan dengan menampakkan dan menetapkan mazhab-mazhab.
والخصومة لَجَاجٌ فِي الْكَلَامِ لِيُسْتَوْفَى بِهِ مَالٌ أَوْ حق مقصود وذلك تارة يكون ابتداء وتارة يكون اعتراضاً
Adapun khushumah (percekcokan) adalah kegigihan/kekerasan dalam berkata-kata demi menuntut penyerahan harta atau hak yang dituju. Hal itu terkadang dimulai sejak awal (ibtida') dan terkadang berupa sanggahan (i'tiradh).
والمراء لا يكون إلا باعتراض على كلام سبق فقد قالت عائشة ﵂ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن أبغض
Adapun mira' (perdebatan untuk menjatuhkan) tidaklah terjadi melainkan dengan menentang perkataan yang telah disampaikan sebelumnya. Aisyah radiyallahu 'anha menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya manusia yang paling dibenci…
الرجال إلى الله الألد الخصم وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من جادل في خصومة بغير علم لم يزل في سخط الله حتى ينزع وقال بعضهم إياك والخصومة فإنها تمحق الدين ويقال ما خاصم ورع قط في الدين وقال ابن قتيبة مر بي بشر بن عبد الله بن أبي بكرة فقال ما يجلسك ههنا قلت خصومة بيني وبين ابن عم لي فقال إن لأبيك عندي يداً وإني أريد أن أجزيك بها وإني والله ما رأيت شيئاً أذهب للدين ولا أنقص للمروءة ولا أضيع للذة ولا أشغل للقلب من الخصومة قال فقمت لأنصرف فقال لي خصمي مالك قلت لا أخاصمك قال إنك عرفت أن الحق لي قلت لا ولكن أكرم نفسي عن هذا قال فإني لا أطلب منك شيئاً هو لك
…oleh Allah adalah orang yang paling keras penentangannya lagi suka bertengkar." Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berbantah-bantahan dalam suatu perselisihan tanpa dasar ilmu, niscaya ia senantiasa berada dalam kemurkaan Allah hingga ia menghentikannya." Sebagian ulama berkata, "Jauhilah olehmu permusuhan (pertengkaran), karena sesungguhnya ia mengikis agama." Dikatakan pula, "Tidak pernah ada seorang yang wara' bertengkar dalam masalah agama sama sekali." Ibnu Qutaibah bercerita: Bisyir bin Abdullah bin Abi Bakrah melewatikupun bertanya, "Apa yang membuatmu duduk di sini?" Aku menjawab, "Perselisihan antara aku dan putra pamanku." Ia berkata, "Sesungguhnya ayahmu memiliki jasa padaku, dan aku ingin membalasnya kepadamu. Demi Allah, aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih menghilangkan agama, lebih mengurangi harga diri (muru'ah), lebih menyia-nyiakan kenikmatan, dan lebih menyibukkan hati daripada percekcokan (pertengkaran)." Ibnu Qutaibah berkata: "Maka aku pun berdiri untuk pergi." Lawan bertengkarku bertanya, "Ada apa denganmu?" Aku menjawab, "Aku tidak akan mempertengkarkannya lagi denganmu." Ia berkata, "Apakah engkau telah menyadari bahwa kebenaran ada di pihakku?" Aku menjawab, "Tidak, tetapi aku ingin menjaga kehormatan diriku dari percekcokan ini." Ia berkata, "Kalau begitu, aku tidak akan menuntut darimu apa pun yang menjadi hakmu."
فإن قلت فإذا كان للإنسان حق فلا بد له من الخصومة في طلبه أو في حفظه مهما ظلمه ظالم فكيف يكون حكمه وكيف تذم خصومته فاعلم أن هذا الذم يتناول الذي يخاصم بالباطل والذي يخاصم بغير علم مثل وكيل القاضي فإنه قبل أن يتعرف أن الحق في أي جانب هو يتوكل في الخصومة من أي جانب كان فيخاصم بغير علم ويتناول الذي يطلب حقه ولكنه لا يقتصر على قدر الحاجة بل يظهر اللدد في الخصومة على قصد التسلط أو على قصد الإيذاء ويتناول الذي يمزج بالخصومة كلمات مؤذية ليس يحتاج إليها في نصرة الحجة وإظهار الحق ويتناول الذي يَحْمِلُهُ عَلَى الْخُصُومَةِ مَحْضُ الْعِنَادِ لِقَهْرِ الْخَصْمِ وَكَسْرِهِ مَعَ أَنَّهُ قَدْ يَسْتَحْقِرُ ذَلِكَ الْقَدْرَ مِنَ الْمَالِ وَفِي النَّاسِ مَنْ يُصَرِّحُ بِهِ ويقول إنما قصدي عناده وكسر عرضه وَإِنِّي إِنْ أَخَذْتُ مِنْهُ هَذَا الْمَالَ رُبَّمَا رِمَيْتُ بِهِ فِي بِئْرٍ وَلَا أُبَالِي وَهَذَا مَقْصُودُهُ اللَّدَدُ وَالْخُصُومَةُ وَاللَّجَاجُ وَهُوَ مَذْمُومٌ جِدًّا فَأَمَّا الْمَظْلُومُ الَّذِي يَنْصُرُ حُجَّتَهُ بِطَرِيقِ الشَّرْعِ مِنْ غَيْرِ لَدَدٍ وَإِسْرَافٍ وَزِيَادَةِ لَجَاجٍ عَلَى قَدْرِ الْحَاجَةِ وَمِنْ غَيْرِ قَصْدِ عِنَادٍ وَإِيذَاءٍ فَفِعْلُهُ لَيْسَ بِحَرَامٍ وَلَكِنِ الْأَوْلَى تَرْكُهُ مَا وَجَدَ إِلَيْهِ سَبِيلًا فَإِنَّ ضَبْطَ اللِّسَانِ فِي الخصومة على حد الِاعْتِدَالِ مُتَعَذِّرٌ وَالْخُصُومَةُ تُوغِرُ الصَّدْرَ وَتُهَيِّجُ الْغَضَبَ وإذا هاج الغضب نُسِيَ الْمُتَنَازَعُ فِيهِ وَبَقِيَ الْحِقْدُ بَيْنَ الْمُتَخَاصِمَيْنِ حَتَّى يَفْرَحَ كُلُّ وَاحِدٍ بِمَسَاءَةِ صَاحِبِهِ وَيَحْزَنَ بِمَسَرَّتِهِ وَيُطْلِقَ اللِّسَانَ فِي عِرْضِهِ فَمَنْ بَدَأَ بِالْخُصُومَةِ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِهَذِهِ الْمَحْذُورَاتِ وَأَقَلُّ مَا فِيهِ تَشْوِيشُ خَاطِرِهِ حَتَّى إِنَّهُ فِي صَلَاتِهِ يَشْتَغِلُ بِمُحَاجَّةِ خَصْمِهِ فَلَا يَبْقَى الْأَمْرُ عَلَى حَدِّ الْوَاجِبِ فَالْخُصُومَةُ مَبْدَأُ كُلِّ شَرٍّ وَكَذَا الْمِرَاءُ وَالْجِدَالُ فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَفْتَحَ بَابَهُ إِلَّا لِضَرُورَةٍ وَعِنْدَ الضَّرُورَةِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْفَظَ اللِّسَانَ وَالْقَلْبَ عَنْ تَبِعَاتِ الْخُصُومَةِ وَذَلِكَ مُتَعَذِّرٌ جداً فمن اقتصر على الواجب في خصومته سلم من الإثم ولا تذم خصومته إلا أنه إن كان مستغنياً عن الخصومة فيما خاصم فيه لأن عنده ما يكفيه فيكون تاركاً للأولى ولا يكون آثماً نَعَمْ أَقَلُّ مَا يَفُوتُهُ فِي الْخُصُومَةِ وَالْمِرَاءِ والجدال طيب الكلام وما ورد فيه من الثواب إذ أقل درجات طيب الكلام إظهار الموافقة ولا خشونة في الكلام أعظم من الطعن والاعتراض الذي حاصله إما تجهيل وإما تكذيب فإن من جادل غيره أو ماراه أو خاصمه فقد جهله أو كذبه فيفوت به طيب الكلام
Jika engkau bertanya: "Apabila seseorang memiliki hak, maka mau tidak mau ia harus berselisih (berperkara) dalam menuntut atau mempertahankannya sewaktu ditzalimi oleh orang yang zalim. Lantas bagaimana hukumnya dan mengapa pertengkaran tersebut dicela?" Ketahuilah bahwa celaan ini ditujukan kepada orang yang berselisih demi kebatilan, dan orang yang bertengkar tanpa dasar ilmu—seperti pengacara di pengadilan, yang sebelum mengetahui pihak mana yang benar, ia telah menerima kuasa untuk berselisih dari pihak mana saja sehingga ia bertengkar tanpa ilmu. Celaan ini juga mencakup orang yang menuntut haknya tetapi tidak mencukupkan diri sebatas kadar kebutuhan, melainkan menunjukkan perlawanan sengit dengan maksud mendominasi atau menyakiti. Ini juga mencakup orang yang mencampur pertengkarannya dengan kata-kata yang menyakiti yang tidak diperlukan untuk mendukung argumen dan menyingkap kebenaran. Ia juga mencakup orang yang didorong oleh semata-mata pembangkangan untuk menundukkan dan menjatuhkan lawannya, padahal boleh jadi ia memandang remeh nilai harta tersebut. Di antara manusia bahkan ada yang menyatakan dengan terang-terangan: "Maksudku semata-mata menentangnya dan menjatuhkan kehormatannya. Sekiranya aku mengambil harta ini darinya, mungkin akan kulemparkan ke dalam sumur dan aku tidak peduli." Orang seperti ini tujuannya adalah permusuhan, pertengkaran, dan kebebalan, dan hal itu sangat dicela. Adapun orang terzalimi yang membeberkan argumennya melalui jalan syariat tanpa perlawanan yang melampaui batas, tanpa kebebalan berlebih melebihi kadar kebutuhan, serta tanpa maksud membangkang atau menyakiti, maka perbuatannya bukanlah hal yang haram. Namun, yang lebih utama (al-awla) adalah meninggalkannya selagi ada jalan untuk itu. Sebab, menjaga lisan dalam perselisihan agar tetap berada pada batas moderat adalah hal yang sangat sulit. Pertengkaran dapat memanaskan dada dan memicu kemarahan. Apabila kemarahan telah memuncak, hal yang diperselisihkan akan terlupakan dan yang tersisa hanyalah kedengkian di antara kedua pihak yang berselisih, hingga masing-masing merasa senang atas kemalangan lawannya dan bersedih atas kegembiraannya, serta melepaskan lisannya untuk mencemarkan kehormatannya. Maka siapa saja yang memulai pertengkaran, sungguh ia telah membuka diri terhadap bahaya-bahaya ini. Sekurang-kurangnya, hatinya akan terganggu hingga di dalam shalatnya pun ia sibuk berdebat dengan lawannya, sehingga perkara ibadahnya tidak lagi berada pada batas kewajiban yang sempurna. Maka pertengkaran adalah pangkal dari segala keburukan, begitu pula mira' (perdebatan) dan jidal (perbantahan). Maka hendaknya seseorang tidak membuka pintunya melainkan karena darurat. Dan saat darurat pun, hendaknya ia menjaga lisan dan hatinya dari dampak buruk perselisihan, padahal hal itu sangatlah sulit. Barangsiapa yang membatasi diri pada kadar yang wajib dalam perselisihannya, niscaya ia selamat dari dosa dan perselisihannya tidak dicela. Hanya saja, jika ia sebenarnya tidak membutuhkan pertengkaran itu karena ia sudah memiliki kecukupan, maka ia dikategorikan meninggalkan yang lebih utama (tarik al-awla) dan tidak berdosa. Ya, sekurang-kurangnya hal yang luput darinya dalam pertengkaran, mira', dan jidal adalah tutur kata yang baik (thiybul kalam) beserta pahala yang dijanjikan di dalamnya. Sebab, derajat terendah dari tutur kata yang baik adalah menunjukkan kesepakatan, sedangkan tidak ada kekasaran dalam berkata-kata yang lebih besar daripada celaan dan penentangan yang muaranya adalah menganggap bodoh atau mendustakan lawan. Sungguh, barangsiapa yang membantah, memprotes, atau mempertengkarkan orang lain, ia telah menganggapnya bodoh atau mendustakannya, sehingga luputlah darinya tutur kata yang baik.
وقد قال ﷺ يمكنكم من الجنة طيب الكلام وإطعام الطعام
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, "Hal yang dapat mendekatkan kalian ke surga adalah tutur kata yang baik dan memberi makan."
وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ ﵄ مَنْ سَلَّمَ عَلَيْكَ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ فَارْدُدْ ﵇ وَإِنْ كَانَ مَجُوسِيًّا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ ﴿وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أو ردوها﴾ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَيْضًا لَوْ قَالَ لِي فرعون خيراً لرددت عليه وقال أنس قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن في الجنة لغرفاً يرى ظاهرها من باطنها وباطنها من ظاهرها أعدها الله تعالى لمن أطعم الطعام وألان الكلام وروي أن عيسى ﵇ مر به خنزير فقال مر بسلام فقيل يا روح الله أتقول هذا لخنزير فقال أكره أن أعود لساني الشر وقال نبينا ﷺ الكلمة الطيبة صدقة وقال اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تجدوا فبكلمة طيبة وَقَالَ عمر ﵁ الْبِرُّ شَيْءٌ هَيِّنٌ وَجْهٌ طَلِيقٌ وَكَلَامٌ لَيِّنٌ وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ الْكَلَامُ اللَّيِّنُ يَغْسِلُ الضَّغَائِنَ الْمُسْتَكِنَّةَ فِي الجوارح وقال بعض الحكماء كُلُّ كَلَامٍ لَا يُسْخِطُ رَبَّكَ إِلَّا أَنَّكَ تُرْضِي بِهِ جَلِيسَكَ فَلَا تَكُنْ بِهِ عَلَيْهِ بخيلاً فإنه لعله يعوضك منه ثواب المحسنين وهذا كله في فضل الكلام الطيب وتضاده الخصومة والمراء والجدال واللجاج فإنه الكلام المستكره الموحش المؤذي للقلب المنغص للعيش المهيج للغضب الموغر للصدر نسأل الله حسن التوفيق بمنه وكرمه الآفة السادسة
Allah Ta'ala berfirman, "Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83). Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, "Siapa pun dari makhluk Allah yang mengucapkan salam kepadamu, maka balaslah salamnya meskipun ia seorang Majusi. Sebab Allah Ta'ala berfirman: 'Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balasilah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balasilah dengan yang serupa.' (QS. An-Nisa: 86)." Ibnu Abbas juga berkata, "Seandainya Firaun mengucapkan perkataan baik kepadaku, niscaya aku akan membalasnya." Anas menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar, yang Allah sediakan bagi orang yang memberi makan dan melembutkan perkataan." Diriwayatkan pula bahwa Nabi Isa 'alaihis salam pernah dilewati seekor babi, lalu beliau berkata, "Melintaslah dengan selamat." Maka ditanyakan kepadanya, "Wahai Ruhullah, apakah engkau mengatakan ini kepada seekor babi?" Beliau menjawab, "Aku tidak suka membiasakan lisanku dengan keburukan." Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda, "Kalimat yang baik adalah sedekah." Dan beliau bersabda, "Peliharalah dirimu dari api neraka walaupun dengan separuh buah kurma. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka dengan kalimat yang baik." Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Kebaikan itu adalah perkara yang mudah: wajah yang berseri-seri dan perkataan yang lembut." Sebagian hukama (orang bijak) berkata, "Perkataan yang lembut dapat membersihkan kedengkian yang tersimpan dalam anggota tubuh." Sebagian hukama lainnya berkata, "Setiap perkataan yang tidak membuat Tuhanmu murka, melainkan engkau menyenangkan teman dudukmu dengannya, maka janganlah engkau bakhil terhadapnya, karena boleh jadi Allah akan menggantimu dengan pahala orang-orang yang berbuat baik." Seluruh penjelasan ini adalah mengenai keutamaan tutur kata yang baik. Sedangkan lawannya adalah percekcokan, mira', jidal, dan kebebalan; sebab hal itu merupakan perkataan yang dibenci, menakutkan, menyakiti hati, memperkeruh jalan hidup, memicu kemarahan, dan memanaskan dada. Kita memohon kepada Allah taufik yang baik dengan karunia dan kemurahan-Nya. Bencana Keenam:
التقعر في الكلام بالتشدق وتكلف السجع والفصاحة والتصنع فيه بالتشبيبات والمقدمات وما جرى به عادة المتفاصحين المدعين للخطابة وكل ذلك من التصنع المذموم ومن التكلف الممقوت الذي قال فيه رسول الله ﷺ أنا وأتقياء أمتي برءاء من التكلف وقال ﷺ إن أبغضكم إلي وأبعدكم مني مجلساً الثرثارون المتفيهقون المتشدقون في الكلام وقالت فاطمة ﵂ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ شرار أمتي الذين غذوا بالنعيم يأكلون ألوان الطعام ويلبسون ألوان الثياب ويتشدقون في الكلام
Sikap berlebih-lebihan (taqa''ur) dalam berbicara dengan memfasih-fasihkan diri (tasyaqquq), memaksakan rima kalimat (saja'), berpura-pura fasih, serta bersikap dibuat-buat melalui pendahuluan dan pengantar seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang merasa paling fasih dan mengaku-aku orator. Semua itu termasuk kepura-puraan yang dicela dan pemaksaan diri (takalluf) yang dimurkai, yang mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentangnya, "Aku dan orang-orang yang bertakwa dari umatku terbebas dari sikap memaksakan diri (takalluf)." Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda, "Sesungguhnya orang yang paling aku benci di antara kalian dan yang paling jauh tempat duduknya dariku adalah orang-orang yang banyak bicara (at-tsartsarun), orang-orang yang sombong dalam berbicara (al-mutafaihiqun), dan orang-orang yang memfasih-fasihkan pembicaraannya (al-mutasyaqqiqun)." Fathimah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Seburuk-buruk umatku adalah orang-orang yang dibesarkan dalam kenikmatan; mereka memakan bermacam-macam makanan, mengenakan berbagai jenis pakaian, dan memfasih-fasihkan pembicaraannya."
وقال ﷺ ألا هلك المتنطعون ثلاث مرات حديث سعد يأتي على الناس زمان يتخللون الكلام بألسنتهم كما تتخلل البقرة الكلأ بلسانها رواه أحمد // وكأنه أنكر عليه ما قدمه على الكلام من التشبب والمقدمة المصنوعة المتكلفة وهذا أيضاً من آفات اللسان ويدخل فيه كل سجع متكلف وكذلك التفاصح الخارج عن حد العادة وكذلك التكلف بالسجع في المحاورات إذ قضى رسول الله ﷺ بغرة في الجنين فقال بعض قوم الجاني كيف ندى من لا شرب ولا أكل ولا صاح ولا استهل
Dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ingatlah, telah binasa orang-orang yang berlebih-lebihan (al-mutanatthi'un)," beliau mengucapkannya tiga kali. Hadits Sa'ad: "Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana mereka membolak-balikkan perkataan dengan lisan mereka sebagaimana sapi membolak-balikkan rumput dengan lisannya." (Diriwayatkan oleh Ahmad). Seolah-olah beliau mengingkari pengantar berupa pembukaan bernada puitis dan pendahuluan yang dibuat-buat serta dipaksakan sebelum berbicara. Hal ini juga termasuk dari bencana-bencana lisan, dan mencakup setiap rima kalimat (saja') yang dipaksakan, demikian pula berpura-pura fasih yang keluar dari batas kewajaran, serta memaksakan penggunaan rima dalam percakapan sehari-hari. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memutuskan kewajiban membayar ghurrah (denda berupa hamba sahaya) atas janin yang digugurkan, sebagian kaum pelaku kejahatan tersebut berkata: "Bagaimana mungkin kami membayar denda untuk janin yang tidak minum, tidak makan, tidak berteriak, dan tidak menangis…
ومثل ذلك بطل فقال أسجعاً كسجع الأعراب وأنكر ذلك لأن أثر التكلف والتصنع بين عليه بل يَنْبَغِي أَنْ يَقْتَصِرَ فِي كُلِّ شَيْءٍ عَلَى مَقْصُودِهِ وَمَقْصُودُ الْكَلَامِ التَّفْهِيمُ لِلْغَرَضِ وَمَا وَرَاءَ ذلك تصنع مذموم ولا يدخل في هذه تحسين ألفاظ الخطابة والتذكير من غير إفراط وإغراب فإن المقصود منها تحريك القلوب وتشويقها وقبضها وبسطها فلرشاقة اللفظ تأثير فيه فهو لائق به فأما المحاورات التي تجري لقضاء الحاجات فلا يليق بها السجع والتشدق والاشتغال به من التكلف المذموم ولا باعث عليه إلا الرياء وإظهار الفصاحة والتميز بالبراعة وكل ذلك مذموم يكرهه الشرع ويزجر عنه الْآفَةُ السَّابِعَةُ الْفُحْشُ وَالسَّبُّ وَبَذَاءَةُ اللِّسَانِ
…dan hal seperti itu terhitung batil?" Maka beliau bersabda, "Apakah ini rima seperti rimanya orang-orang Arab Badui?" Beliau mengingkari hal itu karena bekas pemaksaan dan kepura-puraan sangat jelas padanya. Sebaliknya, hendaknya seseorang membatasi diri pada tujuan dari setiap hal. Tujuan dari perkataan adalah memahamkan maksud, dan apa yang melebihi itu adalah kepura-puraan yang dicela. Tidak termasuk dalam larangan ini memperindah kata-kata dalam khotbah dan nasihat (at-tadzkir) tanpa berlebihan atau memakai kata-kata asing, karena tujuan khotbah adalah menggerakkan hati, menimbulkan kerinduan, serta melapangkan dan menyempitkan dada, sehingga keindahan lafal memiliki pengaruh dan layak baginya. Adapun percakapan yang berlangsung untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tidaklah layak menggunakan rima kalimat, memfasih-fasihkan diri, dan disibukkan olehnya; karena hal itu termasuk pemaksaan diri yang dicela, yang tidak ada pendorongnya melainkan riya', memamerkan kefasihan, dan ingin menonjolkan keahlian. Semua itu dicela, dibenci, dan dilarang oleh syariat. Bencana Ketujuh: Perkataan Keji, Caci Maki, dan Lisan yang Kotor.
وَهُوَ مَذْمُومٌ وَمَنْهِيٌّ عَنْهُ وَمَصْدَرُهُ الْخُبْثُ وَاللُّؤْمُ قَالَ ﷺ إِيَّاكُمْ وَالْفُحْشَ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الْفُحْشَ وَلَا التَّفَحُّشَ ونهى رسول الله ﷺ عن أَنْ تُسَبَّ قَتْلَى بَدْرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ لَا تَسُبُّوا هَؤُلَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَخْلُصُ إِلَيْهِمْ شَيْءٌ مِمَّا تَقُولُونَ وَتُؤْذُونَ الْأَحْيَاءَ أَلَا إِنَّ البذاء لؤم حديث لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ ولا البذى أخرجه الترمذي بإسناد صحيح من حديث ابن مسعود وقال حسن غريب وصححه وروي موقوفا قال الدارقطني في العلل والموقوف أصح حديث الجنة حرام على كل فاحش أن يدخلها أخرجه ابن أبي الدنيا وأبو نعيم في الحلية من حديث عبد الله بن عمرو حديث أربعة يؤذون أهل النار على ما بهم من الأذى الحديث ﴿وفيه﴾ إن الأبعد كان ينظر إلى كل كلمة خبيثة فيستلذها كما يستلذ الرفث أخرجه ابن أبي الدنيا من حديث شفى بن مانع واختلف في صحبته فذكره أبو نعيم في الصحابة وذكره البخاري وابن حبان في التابعين حديث يا عائشة لو كان الفحش رجلاً لكان رجل سوء أخرجه ابن أبي الدنيا من رواية ابن لهيعة عن أبي النضر عن أبي سلمة عنها حديث البذاء والبيان شعبتان من النفاق أخرجه الترمذي وحسنه الحاكم وصححه على شرطهما من حديث أبي أمامة وقد تقدم // فيحتمل أن يراد بالبيان كشف ما لا يجوز كشفه ويحتمل أيضا المبالغة في الإيضاح حتى ينتهي إلى حد التكلف ويحتمل أيضا البيان في أمور الدين وفي صفات الله تعالى فإن إلقاء ذلك مجملاً إلى أسماع العوام أولى من المبالغة في بيانه إذ قد يثور من غاية البيان فيه شكوك ووساوس فإذا أجملت بادرت القلوب إلى القبول ولم تضطرب ولكن ذكره مقروناً بالبذاء يشبه أن يكون المراد به المجاهرة بما يستحي الإنسان من بيانه فإن الأولى في مثله الإغماض والتغافل دون الكشف والبيان وَقَالَ ﷺ إِنَّ اللَّهَ لا يحب الفاحش
Hal itu merupakan perbuatan yang dicela dan dilarang, yang bersumber dari keburukan jiwa dan kerendahan akhlak. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jauhilah oleh kalian perkataan keji, karena sesungguhnya Allah Ta'ala tidak menyukai kekejian dan perbuatan yang dibuat-buat keji." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga melarang mencaci maki orang-orang musyrik yang tewas dalam Perang Badar, seraya bersabda, "Janganlah kalian mencaci maki mereka, karena sesungguhnya perkataan kalian sedikit pun tidak akan sampai kepada mereka, sedangkan kalian menyakiti perasaan orang-orang yang masih hidup. Ketahuilah bahwa lisan yang kotor adalah cela." Hadits: "Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, maupun berlisan kotor." (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanad shahih dari hadits Ibnu Mas'ud, dan ia berkata: hasan gharib, serta dishahihkannya. Diriwayatkan pula secara mauquf; ad-Daraquthni berkata dalam al-'Ilal: versi mauquf lebih shahih). Hadits: "Surga itu haram dimasuki oleh setiap orang yang berkata keji." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dan Abu Nu'aim dalam al-Hilyah dari hadits Abdullah bin 'Amr). Hadits: "Empat golongan yang menyiksa penghuni neraka di samping siksaan yang telah ada pada mereka…" Hadits [di dalamnya disebutkan]: "Bahwa orang yang paling jauh dari kebaikan tersebut dahulu memandang setiap kata yang buruk lalu menikmatinya sebagaimana menikmati cumbu rayu (rafats)." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dari hadits Syafi bin Mani', dan diperselisihkan status kemuslimannya/persahabatannya dengan Nabi; Abu Nu'aim menyebutnya dalam kalangan sahabat, sedangkan al-Bukhari dan Ibnu Hibban menyebutnya dalam kalangan tabi'in). Hadits: "Wahai Aisyah, seandainya kekejian itu berbentuk seorang manusia, niscaya ia adalah manusia yang buruk." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dari riwayat Ibnu Lahi'ah dari Abu An-Nadhr dari Abu Salamah dari Aisyah). Hadits: "Lisan yang kotor dan al-bayan (penjelasan berlebihan) adalah dua cabang dari kemunafikan." (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia menghasankannya, serta al-Hakim men-shahih-kannya sesuai syarat keduanya dari hadits Abu Umamah, dan telah disebutkan sebelumnya). Maka ada kemungkinan yang dimaksud dengan al-bayan di sini adalah membuka apa yang tidak boleh dibuka, atau menginginkan arti berlebihan dalam menjelaskan hingga mencapai batas pemaksaan diri (takalluf). Boleh jadi pula yang dimaksud adalah penjelasan rinci dalam urusan agama dan sifat-sifat Allah Ta'ala; sebab menyampaikannya secara garis besar (mujmal) kepada telinga orang awam adalah lebih utama daripada berlebihan dalam merincinya, mengingat penjelasan yang terlalu mendalam justru bisa memicu keraguan dan was-was. Apabila disampaikan secara garis besar, hati akan bersegera mengabulkannya dan tidak bimbang. Namun, penyebutannya yang disandingkan dengan lisan yang kotor (al-badza') lebih menyerupai arti: terang-terangan mengungkapkan perkara yang membuat manusia malu untuk menjelaskannya; padahal yang lebih utama dalam perkara semacam itu adalah berpaling dan pura-pura tidak tahu, bukan menyingkap dan menjelaskannya secara terang-terangan. Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berkata keji…
المتفحش الصياح في الأسواق وقال جابر بن سمرة كنت جالساً عند النبي ﷺ وأبي أمامي فقال ﷺ إن الفحش والتفاحش ليسا من الإسلام في شيء وإن أحسن الناس إسلاماً أحاسنهم أخلاقاً وقال إبراهيم بن ميسرة يقال يؤتى بالفاحش المتفحش يوم القيامة في صورة كلب أو في جوف كلب وقال الأحنف بن قيس ألا أخبركم بأدوإ الداء اللسان البذي والخلق الدني
…lagi sengaja berbuat keji, serta berteriak-teriak di pasar-pasar." Jabir bin Samurah bercerita: "Aku pernah duduk di samping Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan ayahku berada di depanku. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya perkataan keji dan kesengajaan berbuat keji sedikit pun bukan bagian dari Islam. Dan sesungguhnya orang yang paling baik keislamannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.' Ibrahim bin Maisarah berkata, "Dikatakan bahwa orang yang berkata keji lagi sengaja berbuat keji akan didatangkan pada hari kiamat dalam rupa seekor anjing atau di dalam perut anjing." Al-Ahnaf bin Qais berkata, "Maukah kalian aku beritahukan tentang penyakit yang paling parah? Yaitu lisan yang kotor dan akhlak yang rendah."
فهذه مذمة الفحش فأما حده وحقيقته فهو التَّعْبِيرُ عَنِ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَحَةِ بِالْعِبَارَاتِ الصَّرِيحَةِ وَأَكْثَرُ ذلك يجري في ألفاظ الوقاع وما يَتَعَلَّقُ بِهِ فَإِنَّ لِأَهْلِ الْفَسَادِ عِبَارَاتٍ صَرِيحَةً فَاحِشَةً يَسْتَعْمِلُونَهَا فِيهِ وَأَهْلُ الصَّلَاحِ يَتَحَاشَوْنَ عَنْهَا بل يكنون عنها ويدلون عليها بالرموز فيذكرون ما يقربها ويتعلق بها وقال ابن عباس إن الله حي كَرِيمٌ يَعْفُو وَيَكْنُو كَنَّى بِاللَّمْسِ عَنِ الْجِمَاعِ فالمسيس واللمس والدخول والصحبة كِنَايَاتٌ عَنِ الْوِقَاعِ وَلَيْسَتْ بِفَاحِشَةٍ وَهُنَاكَ عِبَارَاتٌ فَاحِشَةٌ يُسْتَقْبَحُ ذِكْرُهَا وَيُسْتَعْمَلُ أَكْثَرُهَا فِي الشَّتْمِ والتعيير وهذه العبارات متفاوتة في الفحش وبعضها أفحش من بعض وربما اختلف ذلك بعادة البلاد وأوائلها مكروهة وأواخرها محظورة وبينهما درجات يتردد فيها وليس يختص هذا بالوقاع بل بالكناية بقضاء الحاجة عن البول والغائط أولى من لفظ التغوط والخراء وغيرهما فإن هذا أيضاً ما يخفى وكل ما يخفى يُسْتَحْيَا مِنْهُ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُذْكَرَ أَلْفَاظُهُ الصريحة فإنه فحش وكذلك يستحسن في العادة الكناية عن النساء فلا يقال قالت زوجتك كذا بل يقال قيل في الحجرة أو من وراء الستر أو قالت أم الأولاد فالتلطف في هذه الألفاظ محمود والتصريح فيها يفضي إلى الفحش وكذلك من به عيوب يستحيا منها فلا ينبغي أن يعبر عنها بصريح لفظها كالبرص والقرع والبواسير بل يقال العارض الذي يشكوه وما يجري مجراه فالتصريح بذلك داخل في الفحش وجميع ذلك من آفات اللسان
Inilah celaan terhadap perkataan keji. Adapun batasan dan hakikatnya adalah mengungkapkan hal-hal yang dianggap buruk dengan ungkapan-ungkapan yang eksplisit (terang-terangan). Kebanyakan hal itu berlaku pada lafal persetubuhan dan hal-hal yang berkaitan dengannya; sebab orang-orang yang rusak memiliki ungkapan-ungkapan eksplisit yang keji yang mereka gunakan untuk itu, sedangkan orang-orang yang saleh menjauhinya dan lebih memilih menggunakan kata kiasan (kinayah) serta mengisyaratkannya dengan menyebutkan hal-hal yang mendekati atau berkaitan dengannya. Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia, Dia memaafkan dan menggunakan kata kiasan; Dia mengkiaskan persetubuhan (jima') dengan ungkapan menyentuh (al-lams)." Maka kata menyentuh (al-masis), memegang (al-lams), masuk (ad-dukhul), dan mendampingi (as-suhbah) adalah kiasan untuk persetubuhan dan bukanlah perkataan keji. Namun di sana terdapat ungkapan-ungkapan keji yang dianggap buruk untuk disebutkan, yang kebanyakan digunakan untuk mencaci maki dan mencela. Ungkapan-ungkapan ini memiliki tingkat kekejian yang berbeda-beda, sebagian lebih keji daripada yang lain, dan terkadang berbeda-beda sesuai adat suatu negeri. Tingkat awal darinya berhukum makruh, sedangkan tingkat akhirnya berhukum haram, dan di antara keduanya terdapat tingkatan-tingkatan yang bervariasi. Hal ini tidak hanya terbatas pada masalah persetubuhan, melainkan menggunakan kata kiasan buang hajat untuk kencing dan buang air besar adalah lebih utama daripada menyebut lafal berak, kotoran, atau sejenisnya; sebab hal ini juga termasuk perkara yang tersembunyi, dan segala sesuatu yang tersembunyi itu menimbulkan rasa malu. Maka tidak sepatutnya disebutkan dengan lafal yang eksplisit karena hal itu termasuk perbuatan keji. Begitu pula secara adat, dianjurkan menggunakan kata kiasan untuk merujuk pada perempuan/istri; tidak dikatakan 'Istrimu berkata demikian,' melainkan dikatakan 'Ada yang disampaikan di balik bilik,' atau 'di balik tabir,' atau 'Ibu anak-anak berkata.' Berlemah-lembut dalam lafal-lafal ini adalah hal yang terpuji, sedangkan menyatakannya secara eksplisit dapat membawa kepada kekejian. Demikian pula orang yang memiliki cacat fisik yang membuatnya malu, tidak sepatutnya diungkapkan dengan lafal yang eksplisit seperti sopak, botak, atau ambeien, melainkan dikatakan 'gangguan kesehatan yang dikeluhkannya' atau yang sejenisnya. Menyatakannya secara eksplisit termasuk dalam kategori kekejian, dan seluruh hal tersebut merupakan bagian dari bencana-bencana lisan.
قال العلاء بن هارون وكان عمر بن عبد العزيز يتحفظ في منطقه فخرج تحت إبطه خراج فأتيناه نسأله لنرى ما يقول فقلنا من أين خرج فقال من باطن اليد وَالْبَاعِثُ عَلَى الْفُحْشِ إِمَّا قَصْدُ الْإِيذَاءِ وَإِمَّا الِاعْتِيَادُ الْحَاصِلُ مِنْ مُخَالَطَةِ الْفُسَّاقِ وَأَهْلِ الْخُبْثِ واللؤم ومن عادتهم السب وقال أعرابي لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَوْصِنِي فَقَالَ عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَإِنِ امْرُؤٌ عَيَّرَكَ بشيء يعلمه فيك فلا تعيره بشيء فِيهِ يَكُنْ وَبَالُهُ عَلَيْهِ وَأَجْرُهُ لَكَ وَلَا تَسُبَّنَّ شَيْئًا قَالَ فَمَا سَبَبْتُ شَيْئًا بَعْدَهُ
Al-'Ala bin Harun bercerita: Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang sangat menjaga ucapannya. Suatu ketika tumbuh bisul di bawah ketiaknya, lalu kami mendatanginya untuk bertanya agar melihat bagaimana beliau mengatakannya. Kami bertanya, "Di manakah bisul itu tumbuh?" Beliau menjawab, "Dari bagian dalam tangan." Adapun dorongan untuk berkata keji, adakalanya karena bermaksud menyakiti, atau karena kebiasaan yang diperoleh dari bergaul dengan orang-orang fasik, jahat, dan berakhlak rendah, yang mana kebiasaan mereka adalah mencaci maki. Seorang Arab Badui pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Berilah aku wasiat." Maka beliau bersabda, "Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah. Jika seseorang mencelamu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau mencelanya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya; niscaya dosa akibatnya akan menimpa dirinya dan pahalanya menjadi milikmu, serta janganlah engkau mencaci maki apa pun." Orang Badui itu berkata, "Maka sejak saat itu aku tidak pernah lagi mencaci maki apa pun."
وقال عياض بن حمار قلت يا رسول الله إن الرجل من قومي يسبني وهو دوني هل علي من بأس أن أنتصر منه فقال المستابان شيطانان يتعاويان ويتهارجان
'Iyadh bin Himar bercerita: Aku berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seseorang dari kaumku yang mencaci makiku padahal ia kedudukannya di bawahku. Apakah ada dosa bagiku jika aku membalas membela diri darinya?" Maka beliau bersabda, "Dua orang yang saling mencaci maki adalah dua setan yang saling melolong dan saling mengacau."
وقال ﷺ سِبَابُ الْمُؤْمِنِ فُسُوقٌ وقتاله كفر وقال ﷺ الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالَا فَعَلَى الْبَادِئِ مِنْهُمَا حَتَّى يعتدي المظلوم
Dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Mencaci maki seorang mukmin adalah kefasikan dan memperanginya adalah kekufuran." Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda, "Dua orang yang saling mencaci maki, apa pun yang mereka ucapkan, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memulai, selama orang yang terzalimi tidak melampaui batas."
وقال ﷺ مَلْعُونٌ مَنْ سَبَّ وَالِدَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يسب الرجل
Dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Dilaknat orang yang mencaci maki kedua orang tuanya." Dalam riwayat lain disebutkan: "Termasuk dosa yang paling besar adalah seseorang mencaci maki…
وَالِدَيْهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَسُبُّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ الآخر أباه الآفة الثامنة اللَّعْنُ
…kedua orang tuanya." para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang mencaci maki kedua orang tuanya?" Beliau menjawab, "Ia mencaci maki ayah orang lain, lalu orang lain itu mencaci maki ayahnya." Bencana Kedelapan: Melaknat.
إِمَّا لِحَيَوَانٍ أَوْ جَمَادٍ أَوْ إِنْسَانٍ وَكُلُّ ذَلِكَ مَذْمُومٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ المؤمن ليس بلعان حديث لا تلاعنوا بلعنة الله الحديث أخرجه الترمذي وأبو داود من حديث سمرة بن جندب قال الترمذي حسن صحيح حديث عمران بن حصين بينما رسول الله ﷺ في بعض أسفاره إذا امرأة من الأنصار على ناقة لها فضجرت منها فلعنتها الحديث رواه مسلم حديث عائشة سمع رسول الله ﷺ أبا بكر ﵁ وهو يلعن رقيقه فالتفت إليه فقال يا أبا بكر لعانين وصديقين الحديث أخرجه ابن أبي الدنيا في الصمت وشيخه بشار بن موسى الخفاف ضعفه الجمهور وكان أحمد حسن الرأي فيه حديث إن اللعانين لا يكونون شفعاء ولا شهداء يوم القيامة أخرجه مسلم من حديث أبي الدرداء حديث أنس كان رجل مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ على بعير فلعن بعيره فقال يا عبد الله لا تسر معنا على بعير ملعون أخرجه ابن أبي الدنيا بإسناد جيد // وقال ذلك إنكاراً عليه وَاللَّعْنُ عِبَارَةٌ عَنِ الطَّرْدِ وَالْإِبْعَادِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى وَذَلِكَ غَيْرُ جَائِزٍ إِلَّا عَلَى مَنِ اتَّصَفَ بِصِفَةٍ تُبْعِدُهُ مِنَ اللَّهِ ﷿ وهو الكفر والظلم بأن يقول لعنة الله على الظالمين وعلى الكافرين وينبغي أن يتبع فيه لفظ الشرع فإن في اللعنة خطراً لأنه حكم على الله ﷿ بأنه قد أبعد الملعون وذلك غيب لا يطلع عليه غير الله تعالى ويطلع عليه رسول الله ﷺ إذا أطلعه الله عليه
Baik terhadap hewan, benda mati, maupun manusia, dan semuanya itu dicela. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Seorang mukmin bukanlah orang yang suka melaknat." Hadits: "Janganlah kalian saling melaknat dengan laknat Allah…" (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Abu Dawud dari hadits Samurah bin Jundub; at-Tirmidzi berkata: hasan shahih). Hadits Imran bin Husain: "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berada dalam sebuah perjalanannya, tiba-tiba seorang wanita Anshar yang menunggangi untanya merasa kesal lalu melaknat unta tersebut…" (Diriwayatkan oleh Muslim). Hadits Aisyah: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar Abu Bakar radhiyallahu 'anhu melaknat hamba sahaya miliknya, lalu beliau menoleh kepadanya dan bersabda, "Wahai Abu Bakar, apakah pantas tukang melaknat sekaligus menjadi shiddiqin (orang-orang yang sangat jujur imannya)?" (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dalam al-Shamt, dan gurunya Bashar bin Musa al-Khafaf dilemahkan oleh mayoritas ulama, sedangkan Ahmad berprasangka baik padanya). Hadits: "Sesungguhnya orang-orang yang suka melaknat tidak akan menjadi pemberi syafaat dan tidak pula saksi pada hari kiamat." (Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu ad-Darda'). Hadits Anas: Pernah ada seseorang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menunggangi unta lalu melaknat untanya, maka beliau bersabda, "Wahai hamba Allah, janganlah engkau berjalan bersama kami di atas unta yang dilaknat." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dengan sanad yang baik). Beliau mengucapkan hal itu sebagai bentuk pengingkaran padanya. Melaknat merupakan ungkapan yang bermakna pengusiran dan pemjauhan dari rahmat Allah Ta'ala. Hal itu tidak boleh dilakukan kecuali terhadap orang yang menyandang sifat yang menjauhkannya dari Allah 'Azza wa Jalla, yaitu kekufuran dan kezaliman, seperti dengan mengucapkan: "Laknat Allah atas orang-orang yang zalim dan atas orang-orang kafir." Dan hendaknya dalam hal ini mengikuti lafal syariat, karena dalam melaknat terdapat bahaya sebab ia merupakan penetapan hukum atas nama Allah 'Azza wa Jalla bahwa Dia telah menjauhkan orang yang dilaknat tersebut, padahal itu adalah hal ghaib yang tidak diketahui selain oleh Allah Ta'ala, atau diketahui oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila Allah telah memberitahukannya kepada beliau.
والصفات المقتضية للعن ثلاثة الكفر والبدعة والفسق وللعن في كل واحدة ثلاث مراتب
Sifat-sifat yang konsekuensinya menetapkan laknat ada tiga: kekufuran, bid'ah, dan kefasikan. Melaknat dalam masing-masing dari ketiga hal tersebut memiliki tiga tingkatan.
الأولى اللعن بالوصف الأعم كقولك لعنة الله الكافرين والمبتدعين والفسقة
Tingkatan Pertama: Melaknat dengan sifat yang umum, seperti ucapanmu: "Laknat Allah atas orang-orang kafir, para pelaku bid'ah, dan orang-orang fasik."
الثانية اللعن بأوصاف أخص منه كقولك لعنة الله على اليهود والنصارى والمجوس وعلى القدرية والخوارج والروافض أو على الزناة والظلمة وآكلي الربا وكل ذلك جائز ولكن في لعن أوصاف المبتدعة خطر لأن معرفة البدعة غامضة ولم يرد فيه لفظ مأثور فينبغي أن يمنع منه العوام لأن ذلك يستدعي المعارضة بمثله ويثير نزاعاً بين الناس وفساداً
Tingkatan Kedua: Melaknat dengan sifat-sifat yang lebih khusus darinya, seperti ucapanmu: "Laknat Allah atas orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, golongan Qadariyah, Khawarij, dan Rafidhah," atau "atas para pezina, orang-orang zalim, dan para pemakan riba." Semua itu diperbolehkan, namun melaknat dengan sifat-sifat pelaku bid'ah mengandung bahaya, karena pengetahuan tentang bid'ah itu samar (rumit) dan tidak ada lafal ma'tsur (mualim) mengenai hal itu. Oleh karena itu, hendaknya hal ini dilarang bagi orang-orang awam, sebab hal itu dapat memancing pembalasan yang serupa serta menimbulkan perselisihan dan kerusakan di antara manusia.
الثالثة اللعن للشخص المعين وهذا فيه خطر كقولك زيد لعنه الله وهو كافر أو فاسق أو مبتدع والتفصيل
Bahaya ketiga adalah melaknat orang tertentu secara spesifik, dan hal ini mengandung bahaya besar. Seperti ucapanmu, "Zaid, semoga Allah melaknatnya," padahal ia seorang kafir, fasik, atau ahli bid'ah. Rincian mengenai hal ini…
فيه أن كل شخص ثبتت لعنته شرعاً فتجوز لعنته كقولك فرعون لعنه الله وأبو جهل لعنه الله لأنه قد ثبت أن هؤلاء ماتوا على الكفر وعرف ذلك شرعاً وأما شخص بعينه في زماننا كقولك زيد لعنه الله وهو يهودي مثلاً فهذا فيه خطر فإنه ربما يسلم فيموت مقرباً عند الله فكيف يحكم بكونه ملعوناً
Penjelasannya adalah bahwa setiap orang yang telah ditetapkan laknat atasnya secara syariat, maka boleh dilaknat. Seperti ucapanmu, "Firaun, semoga Allah melaknatnya," dan "Abu Jahal, semoga Allah melaknatnya," karena telah dipastikan secara syariat bahwa mereka mati dalam keadaan kafir. Adapun menyebut seseorang secara spesifik pada zaman kita sekarang, seperti ucapanmu, "Zaid, semoga Allah melaknatnya," padahal ia seorang Yahudi misalnya, maka hal ini mengandung bahaya. Sebab, bisa jadi ia kelak masuk Islam lalu meninggal dalam keadaan mendekatkan diri (muqarrab) di sisi Allah. Lantas bagaimana bisa ia dihukumi sebagai orang yang dilaknat?
فإن قلت يلعن لكونه كافراً في الحال كما يقال للمسلم ﵀ لكونه مسلماً في الحال وإن كان يتصور أن يرتد فاعلم أن معنى قولنا ﵀ أي ثبته الله على الإسلام الذي هو سبب الرحمة وعلى الطاعة ولا يمكن أن يقال ثبت الله الكافر على ما هو سبب اللعنة فإن هذا سؤال للكفر وهو في نفسه كفر بل الجائز أن يقال لعنه الله إن مات على الكفر ولا لعنه الله إن مات على الإسلام وذلك غيب لا يدرى والمطلق متردد بين الجهتين ففيه خطر وليس في ترك اللعن خطر وإذا عرفت هذا في الكافر فهو في زيد الفاسق أو زيد المبتدع أولى فلعن الأعيان فيه خطر لأن الأعيان تتقلب في الأحوال إلا من أعلم به رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَإِنَّهُ يجوز أن يعلم من يموت على الكفر ولذلك عين قوماً باللعن فكان يقول في دعائه على قريش اللهم عليك بأبي جهل بن هشام وعتبة بن ربيعة وذكر جماعة قتلوا على الكفر حتى إن من لم يعلم عاقبته كان يلعنه فنهى عنه إذ روي أنه كان يلعن الذي قتلوا أصحاب بئر معونة في قنوته شهراً فنزل قوله تعالى ليس لك من الأمر شيء أو يتوب عليهم أو يعذبهم فإنهم ظالمون
Jika engkau bertanya, "Ia dilaknat karena keadaannya yang kafir saat ini, sebagaimana diucapkan kepada seorang muslim 'Semoga Allah merahmatinya' karena ia seorang muslim saat ini, meskipun ada kemungkinan ia murtad?" Maka ketahuilah bahwa makna ucapan kita "Semoga Allah merahmatinya" adalah semoga Allah menetapkannya di atas Islam yang menjadi sebab rahmat dan di atas ketaatan. Dan tidak mungkin dikatakan "Semoga Allah menetapkan orang kafir di atas apa yang menjadi sebab laknat," karena hal itu berarti memohonkan kekafiran, dan memohon kekafiran itu sendiri adalah perbuatan kufur. Sebaliknya, yang diperbolehkan adalah mengatakan, "Semoga Allah melaknatnya jika ia mati dalam kekafiran," atau "Semoga Allah tidak melaknatnya jika ia mati dalam Islam." Dan hal itu adalah perkara gaib yang tidak diketahui, sedangkan pelaknatan secara mutlak berada di antara dua kemungkinan tersebut sehingga mengandung bahaya, sementara meninggalkan pelaknatan tidak mengandung bahaya sama sekali. Jika engkau telah memahami hal ini pada orang kafir, maka melaknat Zaid yang fasik atau Zaid yang ahli bid'ah tentu lebih utama untuk dihindari. Melaknat individu secara spesifik (al-a'yan) mengandung bahaya karena keadaan manusia dapat berubah-ubah, kecuali orang yang telah diberitahukan oleh Rasulullah ﷺ. Sebab, beliau diperbolehkan mengetahui siapa yang akan mati dalam kekafiran. Oleh karena itu, beliau menentukan kaum tertentu dengan laknat, di mana beliau berdoa menimpakan keburukan atas Quraisy, "Ya Allah, binasakanlah Abu Jahal bin Hisyam dan 'Utbah bin Rabi'ah," serta menyebutkan sejumlah orang yang kemudian terbunuh dalam kekafiran. Hingga ketika beliau melaknat orang yang belum diketahui akhir hayatnya, beliau pun dilarang dari hal itu. Diriwayatkan bahwa beliau pernah melaknat orang-orang yang membunuh para sahabat di Sumur Ma'unah dalam doa qunutnya selama sebulan, lalu turunlah firman Allah Ta'ala: "Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad) apakah Allah menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka orang-orang zalim." (QS. Ali 'Imran: 128).
يعني أنهم ربما يسلمون فمن أين تعلم أنهم ملعونون وكذلك من بان لنا موته على الكفر جاز لعنه وجاز ذمه إن لم يكن فيه أذى على مسلم فإن كان لم يجز كما رُوِيَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ سأل أبا بكر ﵁ عن قبر مر به وهو يريد الطائف فقال هذا قبر رجل كان عاتياً على الله ورسوله وهو سعيد بن العاص فغضب ابنه عمرو بن سعيد وقال يا رسول الله هذا قبر رجل كان أطعم للطعام وأضرب للهام من أبي قحافة فقال أبو بكر يكلمني هذا يا رسول الله بمثل هذا الكلام فقال ﷺ اكفف عن أبي بكر فانصرف ثم أقبل على أبي بكر فقال يا أبا بكر إذا ذكرتم الكفار فعمموا فإنكم إذا خصصتم غضب الأبناء للآباء فكف الناس عن ذلك حديث شرب نعمان الخمر فحد مرات في مجلس رسول الله ﷺ فقال بعض الصحابة لعنه الله ما أكثر ما يؤتى به فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لا تكن عوناً للشيطان على أخيك وفي رواية لا تقل هذا فإنه يحب الله ورسوله أخرجه ابن عبد البر في الاستيعاب من طريق الزبير بن بكار من رواية محمد بن عمرو بن حزم مرسلا ومحمد هذا ولد في حياته ﷺ وسماه محمدا وكناه عبد الملك وللبخاري من حديث عمر أن رجلا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كان اسمه عبد الله وكان يلقب حمارا وكان يضحك رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَكَانَ قد جلده في الشراب فأتي به يوما فأمر به فجلد فقال رجل من القوم اللهم العنه أكثر ما يؤتى به فقال النبي ﷺ لا تلعنوه فوالله ما علمت إلا أنه يحب الله ورسوله من حديث أبي هريرة في رجل شرب ولم يسم وفيه لا تعينوا عليه الشيطان وفي رواية لا تكونوا عون الشيطان على أخيكم // وفي رواية لا تقل هذا فإنه يحب الله ورسوله فنهاه عن ذلك وهذا يدل على أن
Maksudnya, bisa jadi mereka kelak masuk Islam, maka dari mana engkau tahu bahwa mereka dilaknat? Demikian pula orang yang telah nyata bagi kita kematiannya dalam kekafiran, boleh melaknat dan mencelanya selama tidak menimbulkan gangguan bagi seorang muslim. Jika menimbulkan gangguan, maka tidak boleh. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bertanya kepada Abu Bakar ﵁ tentang sebuah kuburan yang dilewatinya ketika hendak menuju Taif. Abu Bakar berkata, "Ini adalah kuburan seseorang yang sangat melampaui batas terhadap Allah dan Rasul-Nya, yaitu Sa'id bin al-'Ash." Maka anaknya, 'Amr bin Sa'id, menjadi marah dan berkata, "Wahai Rasulullah, ini adalah kuburan seorang pria yang lebih dermawan memberi makanan dan lebih berani memenggal kepala musuh daripada Abu Quhafah." Abu Bakar berkata, "Apakah orang ini berbicara kepadaku seperti ini, wahai Rasulullah?" Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada 'Amr, "Tahanlah dirimu dari Abu Bakar." Kemudian 'Amr pergi. Lalu Nabi ﷺ menghadap Abu Bakar dan bersabda, "Wahai Abu Bakar, jika kalian menyebut orang-orang kafir, maka bersifat umum lah. Karena jika kalian menyebut secara khusus, anak-anak akan marah demi membela bapak-bapak mereka." Maka orang-orang pun berhenti dari hal itu. Juga hadis tentang Nu'man yang meminum khamar sehingga dijatuhi hukuman cambuk beberapa kali di majelis Rasulullah ﷺ. Sebagian sahabat berkata, "Semoga Allah melaknatnya, betapa seringnya ia dihadapkan ke sini!" Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah engkau menjadi penolong setan melawan saudaramu." Dalam riwayat lain: "Jangan katakan ini, karena sesungguhnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya." Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn 'Abd al-Barr dalam al-Isti'ab melalui jalur al-Zubair bin Bakkar dari riwayat Muhammad bin 'Amr bin Hazm secara mursal, dan Muhammad ini lahir pada masa hidup Nabi ﷺ, lalu beliau menamainya Muhammad dan memberinya kunyah 'Abd al-Malik. Dan dalam al-Bukhari dari hadis 'Umar, bahwa ada seorang laki-laki pada zaman Rasulullah ﷺ bernama 'Abdullah yang dijuluki Himar (keledai). Ia sering membuat Rasulullah ﷺ tertawa. Beliau pernah mencambuknya karena meminum khamar. Pada suatu hari ia dihadapkan lagi, lalu Nabi memerintahkan untuk mencambuknya. Seseorang dari kaum itu berkata, "Ya Allah, laknatlah dia, betapa seringnya ia dihadapkan ke sini!" Maka Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian melaknatnya! Demi Allah, yang aku ketahui ia mencintai Allah dan Rasul-Nya." Dari hadis Abu Hurairah tentang seorang pria yang meminum khamar (tanpa disebutkan namanya), di dalamnya terdapat redaksi: "Janganlah kalian membantu setan untuk menguasainya." Dalam riwayat lain: "Janganlah kalian menjadi pembantu setan melawan saudara kalian." Dan dalam riwayat lain: "Jangan katakan hal ini, karena sesungguhnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya." Beliau melarangnya melakukan hal itu, dan ini menunjukkan bahwa…
لعن فاسق بعينه غير جائز وعلى الجملة ففي لعن الأشخاص خطر فليجتنب ولا خطر في السكوت عن لعن إبليس مثلاً فضلاً عن غيره
…melaknat seorang fasik secara spesifik adalah tidak diperbolehkan. Kesimpulannya, melaknat individu secara khusus mengandung risiko bahaya, maka hendaknya dihindari. Dan tidak ada bahaya sedikit pun dalam berdiam diri dari melaknat Iblis misalnya, terlebih lagi melaknat selain dirinya.
فإن قيل هل يجوز لعن يزيد لأنه قاتل الحسين أو آمر به قلنا هذا لم يثبت أصلاً فلا يجوز أن يقال إنه قتله أو أمر به ما لم يثبت فضلاً عن اللعنة لأنه لا تجوز نسبة مسلم إلى كبيرة من غير تحقيق نعم يجوز أن يقال قتل ابن ملجم علياً وقتل أبو لؤلؤة عمر ﵄ فإن ذلك ثبت متواتراً فلا يجوز أن يرمى مسلم بفسق أو كفر من غير تحقيق قال ﷺ لا يرمى رجل رجلاً بالكفر ولا يرميه بالفسق إلا ارتدت عليه إن لم يكن صاحبه كذلك
Jika ditanyakan, "Apakah boleh melaknat Yazid karena ia adalah pembunuh al-Husain atau yang memerintahkannya?" Kami jawab: Hal ini tidak terbukti sama sekali secara sahih, maka tidak boleh dikatakan bahwa ia membunuhnya atau memerintahkan pembunuhannya selama belum terbukti, apalagi melaknatnya. Sebab, tidak boleh menuduh seorang muslim melakukan dosa besar tanpa pembuktian (tahqiq). Memang, boleh dikatakan bahwa Ibn Muljam telah membunuh 'Ali dan Abu Lu'lu'ah telah membunuh 'Umar ﵄, karena hal itu telah terbukti secara mutawatir. Maka tidak boleh menuduh seorang muslim dengan kefasikan atau kekafiran tanpa pembuktian yang jelas. Nabi ﷺ bersabda: "Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kekafiran atau menuduhnya dengan kefasikan, melainkan tuduhan itu akan kembali kepadanya jika saudaranya tidak demikian."
وقال ﷺ ما شهد رجل على رجل بالكفر إلا باء به أحدهما إن كان كافراً فهو كما قال وإن لم يكن كافراً فقد كفر بتكفيره إياه وهذا معناه أن يكفره وهو يعلم أنه مسلم فإن ظن أنه كافر ببدعة أو غيرها كان مخطئاً لا كافراً وقال معاذ قال لي رسول الله ﷺ أنهاك أن تشتم مسلماً أو تعصي إماماً عادلاً والتعرض للأموات أشد قال مسروق دخلت على عائشة ﵂ فقالت ما فعل فلان لعنه الله قلت توفى قالت ﵀ قلت وكيف هذا قالت قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى ما قدموا وقال ﷺ لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فتؤذوا به الأحياء وقال ﷺ أيها الناس احفظوني في أصحابي وإخواني وأصهاري ولا تسبوهم أيها الناس إذا مات الميت فاذكروا منه خيراً
Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah seorang laki-laki bersaksi atas orang lain dengan kekafiran melainkan salah satu dari keduanya terkena akibatnya; jika orang itu memang kafir maka seperti yang ia katakan, tetapi jika tidak kafir, maka ia telah menjadi kafir sebab mengafirkan saudaranya." Makna hal ini adalah jika ia mengafirkannya padahal ia tahu bahwa saudaranya itu seorang muslim. Adapun jika ia mengira bahwa saudaranya kafir karena suatu bid'ah atau lainnya, maka ia keliru, bukan menjadi kafir. Mu'adz berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: "Aku melarangmu mencaci seorang muslim atau mendurhakai seorang imam (pemimpin) yang adil." Mengganggu atau mencela orang yang telah meninggal dunia lebih berat lagi hukumnya. Masruq berkata: Aku menemui 'Aisyah ﵂, lalu ia bertanya, "Apa yang dilakukan si Fulan, semoga Allah melaknatnya?" Aku menjawab, "Ia telah meninggal." 'Aisyah berkata, "Semoga Allah merahmatinya." Aku bertanya, "Bagaimana bisa demikian?" 'Aisyah menjawab: Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian mencaci orang-orang yang telah meninggal, karena mereka telah sampai pada apa yang telah mereka kerjakan." Dan beliau ﷺ bersabda: "Janganlah kalian mencaci orang-orang yang telah meninggal, sehingga kalian menyakiti perasaan orang-orang yang masih hidup." Beliau ﷺ juga bersabda: "Wahai manusia, jagalah hakku pada sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku, dan kerabat-kerabat besanku, dan janganlah kalian mencaci mereka. Wahai manusia, apabila seseorang meninggal dunia, maka sebutlah kebaikan-kebaikannya."
فإن قيل فهل يجوز أن يقال قاتل الحسين لعنه الله أو الآمر بقتله لعنه الله قلنا الصواب أن يقال قاتل الحسين إن مات قبل التوبة لعنه الله لأنه يحتمل أن يموت بعد التوبة فإن وحشياً قاتل حمزة عم رسول الله قتله وهو كافر ثم تاب عن الكفر والقتل جميعاً ولا يجوز أن يعلن والقتل كبيرة ولا تنتهي إلى رتبة الكفر فإذا لم يقيد بالتوبة وأطلق كان فيه خطر وليس في السكوت خطر فهو أولى
Jika ditanyakan, "Apakah boleh dikatakan 'Pembunuh al-Husain, semoga Allah melaknatnya' atau 'Orang yang memerintahkan pembunuhannya, semoga Allah melaknatnya'?" Kami jawab: Yang benar adalah dikatakan, "Pembunuh al-Husain, jika ia meninggal sebelum bertobat, semoga Allah melaknatnya." Karena ada kemungkinan ia meninggal setelah bertobat. Sebab Wahsyi, pembunuh Hamzah paman Rasulullah ﷺ, membunuhnya ketika ia masih kafir, kemudian ia bertobat dari kekafiran dan pembunuhan itu sekaligus, sehingga ia tidak boleh dilaknat. Padahal pembunuhan adalah dosa besar dan tidak sampai pada derajat kekafiran. Apabila pelaknatan tidak diikat dengan syarat "sebelum bertobat" dan diucapkan secara mutlak, maka di dalamnya terdapat bahaya, sementara dalam berdiam diri tidak ada bahaya. Oleh karena itu, berdiam diri adalah lebih utama.
وإنما أوردنا هذا لتهاون الناس باللعنة وإطلاق اللسان بها والمؤمن ليس بلعان فلا ينبغي أن يطلق اللسان باللعنة إلا على من مات على الكفر أو على الأجناس المعروفين بأوصافهم دون الأشخاص المعينين فالاشتغال
Kami menyampaikan hal ini tidak lain karena meremehkannya manusia terhadap masalah laknat dan mudahnya lisan mereka mengucapkannya, padahal seorang mukmin bukanlah seorang pembalas dengan laknat. Maka tidak selayaknya lisan melepaskan laknat kecuali kepada orang yang mati dalam kekafiran, atau kepada golongan umum yang dikenal dengan sifat-sifat mereka, bukan kepada individu-individu tertentu secara khusus. Maka disibukkan…
بذكر الله أولى فإن لم يكن ففي السكوت سلامة
…dengan berzikir mengingat Allah adalah lebih utama. Jika hal itu tidak dilakukan, maka dalam berdiam diri terdapat keselamatan.
قال مكي بن إبراهيم كنا عند ابن عون فذكروا بلال بن أبي بردة فجعلوا يلعنونه ويقعون فيه وابن عون ساكت فقالوا يا ابن عون إنما نذكره لما ارتكب منك فقال إنما هما كلمتان تخرجان من صحيفتي يوم القيامة لا إله إلا الله ولعن الله فلاناً فلأن يخرج من صحيفتي لا إله إلا الله أحب إلي من أين يخرج منها لعن الله فلاناً وقال رجل لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَوْصِنِي فقال أوصيك أن لا تكون لعاناً وقال ابن عمر إن أبغض الناس إلى الله كل طعان لعان وقال بعضهم لعن المؤمن يعد قتله وقال حماد بن زيد بعد أن روى هذا لو قلت إنه مرفوع لم أبال وعن أبي قتادة قال كان يقول من لعن مؤمناً فهو مثل أن يقتله وقد نقل ذلك حديثاً مرفوعاً إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
Makki bin Ibrahim berkata: Kami pernah berada di sisi Ibn 'Aun, lalu mereka menyebut nama Bilal bin Abi Burdah dan mulai melaknatnya serta mencelanya, sedangkan Ibn 'Aun hanya diam. Mereka berkata, "Wahai Ibn 'Aun, kami menyebutnya demikian hanya karena kezaliman yang dilakukannya terhadapmu." Maka beliau menjawab, "Sesungguhnya hanya ada dua kalimat yang keluar dari lembaran catatanku pada hari kiamat: 'La ilaha illallah' dan 'Semoga Allah melaknat si Fulan'. Sungguh, jika keluar dari lembaran catatanku 'La ilaha illallah', itu lebih aku cintai daripada keluar darinya 'Semoga Allah melaknat si Fulan'." Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda, "Aku berwasiat kepadamu agar engkau tidak menjadi orang yang suka melaknat." Ibn 'Umar berkata, "Sesungguhnya manusia yang paling dimurkai Allah adalah setiap orang yang suka mencela dan melaknat." Sebagian ulama berkata, "Melaknat seorang mukmin itu setara dengan membunuhnya." Hammad bin Zaid berkata setelah meriwayatkan hal ini, "Jika aku katakan bahwa hadis ini marfu', aku tidak ragu." Dan dari Abu Qatadah, ia berkata: Dulu dikatakan, "Barangsiapa melaknat seorang mukmin, maka ia seperti membunuhnya." Dan hal itu telah diriwayatkan sebagai hadis marfu' kepada Rasulullah ﷺ.
وَيَقْرُبُ مِنَ اللَّعْنِ الدُّعَاءُ عَلَى الْإِنْسَانِ بِالشَّرِّ حتى الدعاء على الظالم كقول الإنسان مثلاً لا صحح الله جسمه ولا سلمه الله وما يجري مجراه فإن ذلك مَذْمُومٌ وَفِي الْخَبَرِ إِنَّ الْمَظْلُومَ لَيَدْعُو عَلَى الظالم حتى يكافئه ثم يبقى للظالم عنده فضلة يوم القيامة الآفة التاسعة الغناء والشعر
Yang mendekati perbuatan melaknat adalah mendoakan keburukan atas seseorang, bahkan mendoakan keburukan atas orang yang zalim sekalipun. Seperti ucapan seseorang misalnya, "Semoga Allah tidak menyehatkan badannya," atau "Semoga Allah tidak menyelamatkannya," dan kalimat-kalimat yang sejenisnya, karena hal tersebut tercela. Dalam sebuah khabar disebutkan: "Sesungguhnya orang yang terzalimi terus mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya hingga doanya itu membalas kezaliman tersebut secara seimbang, kemudian tersisa kelebihan bagi orang yang zalim di sisinya pada hari kiamat." Bahaya Kesembilan: Nyanyian (Ghinā') dan Syair
وقد ذكرنا في كتاب السماع ما يحرم من الغناء وما يحل فلا نعيده وأما الشعر فكلام حسنه حسن وقبيحه قبيح إلا أن التجرد له مَذْمُومٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لأن يمتليء جوف أحدكم قيحاً حتى يريه خير له من أن يمتليء شعرا وعن مسروق أنه سئل عن بيت من الشعر فكرهه فقيل له في ذلك فقال أنا أكره أن يوجد في صحيفتي شعر وسئل بعضهم عن شيء من الشعر فقال أجعل مكان هذا ذكراً فإن ذكر الله خير من الشعر وعلى الجملة فإنشاد الشعر ونظمه ليس بحرام إذا لم يكن فيه كلام مستكره قال ﷺ إن من الشعر لحكمة نعم مقصود الشعر المدح والذم والتشبيب وقد يدخله الكذب وقد أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حسان بن ثابت الأنصاري بهجاء الكفار والتوسع في المدح فإنه وإن كان كذباً فإنه لا يلتحق في التحريم بالكذب كقول الشاعر ولو لم يكن في كفه غير روحه … لجاد بها فليتق الله سائله
Kami telah menjelaskan dalam Kitab as-Sama' (Mendengarkan Musik dan Nyanyian) tentang apa yang diharamkan dari nyanyian dan apa yang dihalalkan, maka kami tidak mengulangnya di sini. Adapun syair, ia adalah perkataan; yang baik darinya adalah baik, dan yang buruk darinya adalah buruk. Hanya saja, mencurahkan seluruh waktu untuk syair adalah tercela. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh, jika rongga tubuh salah seorang dari kalian penuh dengan nanah yang merusak organ dalamnya, itu lebih baik baginya daripada penuh dengan syair." Dan dari Masruq, bahwasanya ia ditanya tentang sebait syair lalu ia membencinya. Ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, ia menjawab, "Aku benci jika di dalam lembaran catatanku ditemukan syair." Sebagian ulama ditanya tentang sesuatu dari syair, maka ia berkata, "Jadikanlah zikir sebagai ganti dari ini, karena zikir kepada Allah itu lebih baik daripada syair." Kesimpulannya, mendendangkan dan merangkai syair bukanlah hal yang haram jika tidak mengandung perkataan yang dibenci. Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya di antara syair itu terdapat hikmah." Memang, tujuan syair sering kali berupa pujian (madh), celaan (hija'), atau perumpamaan keindahan cinta (tasybib), yang terkadang disusupi kedustaan. Rasulullah ﷺ sendiri pernah memerintahkan Hassan bin Tsabit al-Anshari untuk mencela orang-orang kafir (dengan syair) dan meluaskan pujian. Sebab, meskipun pujian itu mengandung hiperbola yang menyerupai kedustaan, ia tidak tergolong haram sebagaimana kedustaan sesungguhnya. Seperti ungkapan seorang penyair: "Sekiranya tidak ada di telapak tangannya kecuali nyawanya… Niscaya ia akan mendermakannya, maka hendaknya peminta bertakwa kepada Allah."
فإن هذا عبارة عن الوصف بنهاية السخاء فإن لم يكن صاحبه سخياً كان كاذباً وإن كان سخياً فالمبالغة من صنعة الشعر فلا يقصد منه أن يعتقد صورته وقد أنشدت أبيات بين يدي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَوْ تتبعت لوجد فيها مثل ذلك فلم يمنع منه قالت عائشة ﵂ كان رسول الله ﷺ يخصف نعله وكنت جالسة
Ungkapan ini merupakan gambaran tentang puncak kemurahan hati. Jika orang yang dipuji tersebut bukan seorang yang dermawan, maka penyair itu berbuat dusta. Namun jika ia memang dermawan, maka hiperbola (mubalaghah) merupakan seni dalam bersyair, di mana makna harfiahnya tidak dimaksudkan untuk diyakini sebagaimana bentuk lahiriahnya. Sungguh telah dilantunkan bait-bait syair di hadapan Rasulullah ﷺ yang jika diteliti niscaya akan ditemukan hal-hal serupa, namun beliau tidak melarangnya. 'Aisyah ﵂ berkata: Rasulullah ﷺ sedang memperbaiki sandal beliau, dan aku duduk…
أغزل فنظرت إليه فجعل جبينه يعرق وجعل عرقه يتولد نوراً قالت فبهت فنظر إلي فقال مالك بهت فقلت يا رسول الله نظرت إليك فجعل جبينك يعرق وجعل عرقك يتولد نوراً ولو رآك أبو كبير الهذلي لعلم أنك أحق بشعره قال وما يقول يا عائشة أبو كبير الهذلي قلت يقول هذين البيتين
…meminta benang. Lalu aku memandang beliau, dan dahi beliau mulai berkeringat, lalu keringat beliau memancarkan cahaya. 'Aisyah berkata: Maka aku pun terpesona kagum. Beliau memandangku seraya bersabda, "Ada apa denganmu hingga terpesona?" Aku menjawab, "Wahai Rasulullah, aku memandangmu lalu dahimu berkeringat dan keringatmu memancarkan cahaya. Sekiranya Abu Kabir al-Hudzali melihatmu, niscaya ia tahu bahwa engkau lebih berhak atas syairnya." Beliau bertanya, "Apa yang dikatakan Abu Kabir al-Hudzali, wahai 'Aisyah?" Aku menjawab, "Ia mengucapkan dua bait ini:"
ومبرأ من كل غبر حيضة … وفساد مرضعة وداء مغيل
"Ia terbebas dari segala noda darah haid… dari kerusakan susu ibu menyusui, dan penyakit persetubuhan saat menyusui."
وإذا نظرت إلى أسرة وجهه … برقت كبرق العارض المتهلل
"Dan apabila engkau memandang garis-garis wajahnya… bersinar bagaikan kilatan awan mendung yang menyinarkan hujan."
قال فوضع ﷺ ما كان بيده وقام إلي وقبل ما بين عيني وقال جزاك الله خيراً يا عائشة ما سررت مني كسروري منك
'Aisyah berkata: Maka Rasulullah ﷺ meletakkan apa yang ada di tangan beliau, lalu bangkit mendekatiku dan mencium kening di antara kedua mataku seraya bersabda, "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai 'Aisyah. Tidaklah rasa bahagiamu denganku melebihi rasa bahagiaku denganmu."
ولما قسم رسول الله ﷺ الغنائم يوم حنين أمر للعباس بن مرداس بأربع قلائص فاندفع يشكو في شعر له وفي آخره
Dan ketika Rasulullah ﷺ membagikan harta rampasan perang pada perang Hunain, beliau memerintahkan untuk memberikan empat ekor unta muda kepada al-'Abbas bin Mirdas. Maka al-'Abbas melantunkan keluhan dalam syairnya, dan di akhir syair tersebut ia berkata:
وما كان بدر ولا حابس … يسودان مرداس في مجمع
"Bukanlah Badr dan bukan pula Habis… yang mengungguli Mirdas di dalam suatu perhimpunan."
وما كنت دون امرىء منهما … ومن تضع اليوم لا يرفع
Aku tidaklah lebih rendah dari salah satu dari mereka berdua… Dan siapa yang engkau rendahkan hari ini, tak akan ada yang bisa meninggikannya.
فقال ﷺ اقطعوا عني لسانه فذهب به أبو بكر الصديق ﵁ حتى اختار مائة من الإبل ثم رجع وهو من أرضى الناس فقال له ﷺ أتقول في الشعر فجعل يعتذر إليه ويقول بأبي أنت وأمي إني لأجد للشعر دبيباً على لساني كدبيب النمل ثم يقرصني كما يقرص النمل فلا أجد بداً من قول الشعر فتبسم ﷺ وقال لا تدع العرب الشعر حتى تدع الإبل الحنين الآفة العاشرة المزاح
Maka beliau ﷺ bersabda, "Potonglah lidahnya dariku!" Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq ﵁ membawanya hingga ia memilih seratus ekor unta, kemudian ia kembali dalam keadaan menjadi orang yang paling ridha (puas). Nabi ﷺ bersabda kepadanya, "Apakah engkau masih berpuisi?" Lalu ia mulai mengajukan permohonan maaf kepada beliau seraya berkata, "Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, sesungguhnya aku merasakan puisi merayap di lidahku seperti rayapan semut, kemudian menggigitku sebagaimana semut menggigit, sehingga aku tidak menemukan jalan lain kecuali berpuisi." Maka beliau ﷺ tersenyum dan bersabda, "Orang-orang Arab tidak akan meninggalkan puisi sampai unta meninggalkan kerinduannya (suara ringkikannya)." Bahaya Kesepuluh: Bergurau (Al-Mizah).
وأصله مذموم منهي عنه إلا قدراً يسيراً يستثنى منه قَالَ ﷺ لَا تُمَارِ أخاك ولا تمازحه
Pada dasarnya bergurau itu dicela dan dilarang, kecuali dalam jumlah yang sangat sedikit yang dikecualikan darinya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah engkau berbantah-bantahan (marā') dengan saudaramu dan jangan pula engkau bergurau dengannya."
فإن قلت المماراة فيها إيذاء لأن فيها تكذيباً للأخ والصديق أو تجهيلاً له وأما المزاح فمطايبة وفيه انبساط وطيب
Jika engkau berkata: Berbantah-bantahan (al-mumārāh) itu mengandung unsur menyakiti, karena di dalamnya terdapat pendustaan terhadap saudara dan sahabat, atau menganggapnya bodoh. Sedangkan bergurau adalah keramahan, keceriaan, dan kebaikan…
قلب فلم ينهى عنه فاعلم أن المنهي عنه الإفراط فيه أو المداومة عليه
…hati, lalu mengapa ia dilarang? Maka ketahuilah bahwa yang dilarang adalah melampaui batas (berlebihan) di dalamnya atau terus-menerus melakukannya.
أما المداومة فلأنه اشتغال باللعب والهزل فيه واللعب مباح ولكن المواظبة عليه مذمومة وَأَمَّا الْإِفْرَاطُ فِيهِ فَإِنَّهُ يُورِثُ كَثْرَةَ الضَّحِكِ وكثرة الضحك تميت القلب وتورث الضغينة في بعض الأحوال وتسقط المهابة والوقار فما يَخْلُو عَنْ هَذِهِ الْأُمُورِ فَلَا يُذَمُّ كَمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ إِنِّي لَأَمْزَحُ وَلَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا أَلَا إِنَّ مِثْلَهُ يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَمْزَحَ وَلَا يَقُولَ إِلَّا حَقًّا وَأَمَّا غَيْرُهُ إِذَا فَتَحَ بَابَ الْمِزَاحِ كَانَ غَرَضُهُ أَنْ يضحك الناس كيفما كان
Adapun terus-menerus bergurau, karena hal itu sibuk dengan permainan dan kesia-siaan padanya. Permainan itu hukumnya mubah, namun membiasakannya (terus-menerus) adalah tercela. Sedangkan berlebihan padanya dapat menyebabkan banyaknya tertawa, dan banyaknya tertawa itu mematikan hati, memicu rasa kedengkian dalam beberapa keadaan, serta meruntuhkan kewibawaan dan kehormatan (al-waqār). Maka gurauan yang terbebas dari perkara-perkara ini tidaklah dicela, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya aku juga bergurau, namun aku tidak berkata melainkan kebenaran." Ketahuilah bahwa orang seperti beliau ﷺ sanggup bergurau dan tidak berkata kecuali kebenaran. Adapun selain beliau, apabila membuka pintu gurauan, tujuannya adalah membuat orang tertawa bagaimanapun caranya.
وقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن الرجل ليتكلم بالكلمة يضحك بها جلساءه يهوى في النار أبعد من الثريا وقال عمر ﵁ من كثر ضحكه قلت هيبته ومن مزج استخف به ومن أكثر من شيء عرف به ومن كثر كلامه كثر سقطه ومن كثر سقطه قل حياؤه ومن قل حياؤه قل ورعه ومن قل ورعه مات قلبه
Sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat untuk membuat teman-teman duduknya tertawa, lalu karenanya ia jatuh ke dalam neraka lebih jauh dari bintang Tsurayya." Umar ﵁ berkata, "Barangsiapa banyak tertawanya, berkuranglah kewibawaannya. Barangsiapa banyak bergurau, ia akan diremehkan. Barangsiapa memperbanyak sesuatu, ia akan dikenal dengannya. Barangsiapa banyak bicaranya, banyak pula tergelincirnya. Barangsiapa banyak tergelincirnya, berkuranglah rasa malunya. Barangsiapa berkurang rasa malunya, berkurang pulalah sifat wara'-nya. Dan barangsiapa berkurang sifat wara'-nya, maka matilah hatinya."
ولأن الضحك يدل على الغفلة عن الآخرة قال ﷺ لو تعلمون ما أعلم لبكيتم كثيراً ولضحكتم قليلاً وقال رجل لأخيه يا أخي هل أتاك أنك وارد النار قال نعم قال فهل أتاك أنك خارج منها قال لا ففيم الضحك قيل فما رؤي ضاحكاً حتى مات وقال يوسف بن أسباط أقام الحسن ثلاثين سنة لم يضحك وقيل أقام عطاء السلمي أربعين سنة لم يضحك ونظر وهيب بن الورد إلى قوم يضحكون في عيد فطر فقال إن كان هؤلاء قد غفر لهم فما هذا فعل الشاكرين وإن كان لم يغفر لهم فما هذا فعل الخائفين وكان عبد الله بن أبي يعلى يقول أتضحك ولعل أكفانك قد خرجت من عند القصار وقال ابن عباس من أذنب ذنباً وهو يضحك دخل النار وهو يبكي
Dan karena tertawa itu menunjukkan kelalaian terhadap akhirat, Nabi ﷺ bersabda, "Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa." Seseorang berkata kepada saudaranya, "Wahai saudaraku, apakah telah sampai kepadamu berita bahwa engkau akan mendatangi neraka?" Ia menjawab, "Ya." Orang itu bertanya lagi, "Lalu apakah telah sampai kepadamu berita bahwa engkau akan keluar darinya?" Ia menjawab, "Tidak." Orang itu berkata, "Maka untuk apa tertawa?" Dikatakan bahwa setelah itu ia tidak pernah terlihat tertawa hingga wafat. Yusuf bin Asbath berkata, "Al-Hasan (Al-Bashri) menjalani waktu tiga puluh tahun tanpa tertawa." Dikatakan pula bahwa 'Atha' as-Sulami menjalani waktu empat puluh tahun tanpa tertawa. Wuhaib bin al-Ward melihat sekelompok orang yang tertawa pada hari Idulfitri, lalu ia berkata, "Jika mereka telah diampuni, bukanlah begini perbuatan orang-orang yang bersyukur; dan jika mereka belum diampuni, bukanlah begini perbuatan orang-orang yang merasa takut (al-khā'ifīn)." Abdullah bin Abi Ya'la biasa berkata, "Apakah engkau tertawa padahal boleh jadi kain kafanmu sudah keluar dari tukang penatu?" Ibnu Abbas berkata, "Barangsiapa melakukan suatu dosa dalam keadaan tertawa, niscaya ia akan masuk neraka dalam keadaan menangis."
وقال محمد بن واسع إذا رأيت في الجنة رجل يبكي ألست تعجب من بكائه قيل بلى قال فالذي يضحك في الدنيا ولا يدري إلى ماذا يصير هو أعجب منه فهذه آفة الضحك والمذموم منه أن يستغرق ضحكاً والمحمود منه التبسم الذي ينكشف فيه السن ولا يسمع له صوت وكذلك كان ضحك رسول الله ﷺ قال القاسم مولى معاوية أقبل أعرابي إلى النبي ﷺ على قلوص له صعب فسلم فجعل كلما دنا من النبي ﷺ ليسأله يفر به فجعل أصحاب رسول الله ﷺ يضحكون منه ففعل ذلك مراراً ثم وقصه فقتله فقيل يا رسول الله إن الأعرابي قد صرعه قلوصه وقد هلك فقال نعم وأفواهكم ملأى من دمه وأما أداء المزاح إلى سقوط الوقار فقد قال عمر ﵁ من مزح استخف به
Muhammad bin Wasi' berkata, "Jika engkau melihat seseorang di dalam surga menangis, bukankah engkau heran akan tangisannya?" Dijawab, "Ya." Ia berkata, "Maka orang yang tertawa di dunia sementara ia tidak tahu akan berujung ke mana dirinya, itu lebih mengherankan lagi." Inilah bahaya tertawa. Tertawa yang dicela adalah tertawa yang terbahak-bahak hingga larut, sedangkan yang terpuji adalah senyuman yang memperlihatkan gigi tanpa terdengar suara. Demikianlah tertawa Rasulullah ﷺ. Al-Qasim mantan hamba sahaya Mu'awiyah berkata: Seorang Arab Badui menghadap Nabi ﷺ di atas unta mudanya yang liar, lalu ia mengucapkan salam. Namun setiap kali ia mendekat kepada Nabi ﷺ untuk bertanya, untanya justru lari membawanya pergi, sehingga para sahabat Rasulullah ﷺ tertawa melihatnya. Ia melakukan hal itu berulang kali, lalu unta itu menjatuhkannya hingga lehernya patah dan ia tewas. Dikatakan, "Wahai Rasulullah, orang Badui itu telah dijatuhkan oleh untanya dan telah binasa." Maka beliau bersabda, "Ya, sedangkan mulut kalian penuh dengan darahnya." Adapun gurauan yang membawa pada jatuhnya kewibawaan, Umar ﵁ telah berkata, "Barangsiapa bergurau, ia akan diremehkan."
وقال محمد بن المنكدر قالت لي أمي يا بني لا تمازح الصبيان فتهون عندهم وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ الْعَاصِ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ لَا تُمَازِحِ الشَّرِيفَ فَيَحْقِدَ عَلَيْكَ وَلَا الدَّنِيءَ فيجترئ عليك وقال عمر بن عبد العزيز رحمه الله تعالى اتقوا الله وإياكم والمزاح فإنه يورث الضغينة ويجر إلى القبيح تحدثوا بالقرآن وتجالسوا به فإن ثقل عليكم فحديث حسن من حديث الرجال
Muhammad bin al-Munkadir berkata, "Ibuku berkata kepadaku: Wahai anakku, janganlah engkau bergurau dengan anak-anak kecil sehingga engkau menjadi hina di mata mereka." Sa'id bin al-'Ash berkata kepada putranya, "Wahai anakku, janganlah engkau bergurau dengan orang mulia sehingga ia mendendam kepadamu, dan jangan pula dengan orang rendah sehingga ia berani (bersikap lancang) kepadamu." Umar bin Abdul Aziz -rahimahullāh Ta'ālā- berkata, "Bertakwalah kepada Allah dan jauhilah gurauan, karena ia mewariskan kedengkian dan menyeret kepada keburukan. Berbicaralah kalian dengan Al-Qur'an dan duduklah bersama dengannya; apabila hal itu terasa berat bagi kalian, maka bicarakanlah riwayat yang baik dari kisah-kisah para tokoh (rijāl)."
وقال عمر ﵁ أتدرون لما سمي المزاح مزاحاً قالوا لا قال لأنه أزاح صاحبه عن الحق وقيل لكل شيء بذور وبذور الْعَدَاوَةِ الْمِزَاحُ وَيُقَالُ الْمِزَاحُ مَسْلَبَةٌ لِلنُّهَى مَقْطَعَةٌ للأصدقاء
Umar ﵁ berkata, "Apakah kalian tahu mengapa gurauan (al-mizāḥ) dinamakan mizāḥ?" Mereka menjawab, "Tidak." Beliau berkata, "Karena ia menggeser (azāḥa) pelakunya dari kebenaran." Dikatakan pula, "Segala sesuatu memiliki benih, dan benih permusuhan adalah gurauan." Serta dikatakan, "Bergurau itu merenggut akal budi dan memutuskan tali pertemanan."
فإن قلت قد نقل المزاح عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وأصحابه فكيف ينهى عنه فأقول إن قدرت
Jika engkau berkata: Gurauan telah diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, lalu bagaimana ia dilarang? Maka aku katakan: Jika engkau mampu…
على ما قدر عليه رسول الله ﷺ وأصحابه وهو أَنْ تَمْزَحَ وَلَا تَقُولَ إِلَّا حَقًّا وَلَا تُؤْذِيَ قَلْبًا وَلَا تُفَرِّطَ فِيهِ وَتَقْتَصِرَ عَلَيْهِ أَحْيَانًا عَلَى النُّدُورِ فَلَا حَرَجَ عَلَيْكَ فِيهِ ولكن من الغلطالعظيم أن يتخذ الإنسان الْمِزَاحَ حِرْفَةً يُوَاظِبُ عَلَيْهِ وَيُفْرِطُ فِيهِ ثُمَّ يَتَمَسَّكُ بِفِعْلِ الرَّسُولِ ﷺ وَهُوَ كَمَنْ يَدُورُ نَهَارَهُ مَعَ الزُّنُوجِ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَإِلَى رَقْصِهِمْ وَيَتَمَسَّكُ بِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَذِنَ لعائشة فِي النَّظَرِ إِلَى رَقْصِ الزُّنُوجِ فِي يَوْمِ عِيدٍ وهو خطأ إذ من الصغائر ما يصير كبيرة بالإصرار ومن المباحات ما يصير صغيرة بالإصرار فلا ينبغي أن يغفل عن هذا نعم روى أبو هريرة أنهم قالوا يا رسول الله إنك تداعبنا فقال إني وإن داعبتكم لا أقول إلا حقاً وقال عطاء إن رجلاً سأل ابن عباس أكان رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَمْزَحُ فقال نعم قال فما كان مزاحه قال كان مزاحه أنه ﷺ كسا ذات يوم امرأة من نسائه ثوبا واسعا فقال لها البسيه واحمدي وجري منه ذيلاً كذيل العروس وقال أنس أن النبي ﷺ كان من أفكه الناس مع نسائه وروي أنه كان كثير التبسم وعن الحسن قال أتت عجوز إلى النبي ﷺ فقال لها ﷺ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عجوز فبكت فقال إِنَّكِ لَسْتِ بِعَجُوزٍ يَوْمَئِذٍ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿إنا أنشأناهن إنشاء فجعلناهن أبكاراً﴾
…melakukan apa yang mampu dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, yaitu bergurau namun tidak berkata melainkan kebenaran, tidak menyakiti hati, tidak berlebihan padanya, serta membatasi diri padanya hanya sesekali di saat-saat langka, maka tidak ada dosa bagimu padanya. Namun termasuk kesalahan besar apabila seseorang menjadikan gurauan sebagai profesi (kebiasaan) yang ditekuni dan dilakukan secara berlebihan, lalu berhujah dengan perbuatan Rasulullah ﷺ. Hal itu seperti orang yang sepanjang hari berputar-putar bersama orang-orang Zanj (Etiopia/Afrika) untuk melihat mereka dan tarian mereka, lalu berhujah bahwa Rasulullah ﷺ mengizinkan Aisyah untuk melihat tarian orang-orang Zanj pada hari raya. Ini adalah suatu kekeliruan, sebab di antara dosa-dosa kecil ada yang menjadi dosa besar karena terus-menerus dilakukan (al-iṣrār), dan di antara hal-hal mubah ada yang menjadi dosa kecil karena terus-menerus dilakukan. Maka hal ini tidak boleh diabaikan. Ya, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau bersenda gurau dengan kami." Maka beliau bersabda, "Sesungguhnya aku meskipun bersenda gurau dengan kalian, aku tidak berkata melainkan kebenaran." Atha' meriwayatkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas, "Apakah Rasulullah ﷺ bergurau?" Ia menjawab, "Ya." Orang itu bertanya, "Seperti apa gurauan beliau?" Ia menjawab, "Gurauan beliau adalah pada suatu hari beliau ﷺ memakaikan kepada salah seorang istrinya pakaian yang longgar, lalu beliau bersabda kepadanya: 'Kenakanlah ini, bersyukurlah, dan hela lah gaunnya seperti hela gaun pengantin perempuan.'" Anas berkata bahwa Nabi ﷺ adalah orang yang paling jenaka (afkah) di antara manusia saat bersama istri-istrinya, dan diriwayatkan bahwa beliau banyak tersenyum. Dari Al-Hasan ia berkata: Seorang wanita tua datang kepada Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda kepadanya, "Wanita tua tidak akan masuk surga." Maka wanita tua itu menangis. Beliau lalu bersabda, "Sesungguhnya engkau pada hari itu bukanlah wanita tua. Allah Ta'ala berfirman: 'Kami menciptakan mereka secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan.' (QS. Al-Waqi'ah: 35-36)."
وقال زيد بن أسلم إن امرأة يقال لها أم أيمن جاءت إلى النبي ﷺ فَقَالَتْ إِنَّ زَوْجِي يَدْعُوكَ قَالَ وَمَنْ هُوَ أَهُوَ الَّذِي بِعَيْنِهِ بياض قالت والله ما بعينه بياض فقال بَلَى إِنَّ بِعَيْنِهِ بَيَاضًا فَقَالَتْ لَا وَاللَّهِ فَقَالَ ﷺ مَا مِنْ أحد إلا وبعينه بياض وأراد به البياض الْمُحِيطَ بِالْحَدَقَةِ وَجَاءَتِ امْرَأَةٌ أُخْرَى فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ احْمِلْنِي عَلَى بَعِيرٍ فَقَالَ بَلْ نَحْمِلُكِ عَلَى ابْنِ الْبَعِيرِ فَقَالَتْ مَا أَصْنَعُ بِهِ إِنَّهُ لَا يَحْمِلُنِي فَقَالَ ﷺ مَا مِنْ بَعِيرٍ إِلَّا وَهُوَ ابن بعير
Zaid bin Aslam berkata bahwa seorang wanita yang dipanggil Umm Ayman datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata, "Sesungguhnya suamiku mengundangmu." Beliau bersabda, "Siapakah dia? Apakah dia yang di matanya ada warna putih?" Wanita itu berkata, "Demi Allah, tidak ada warna putih di matanya." Beliau bersabda, "Benar, sesungguhnya di matanya ada warna putih." Wanita itu berkata, "Tidak, demi Allah!" Maka Nabi ﷺ bersabda, "Tidak ada seorang pun melainkan di matanya ada warna putih." Yang beliau maksudkan adalah warna putih yang mengelilingi bola mata. Dan datang pula wanita lain seraya berkata, "Wahai Rasulullah, bawalah (naikkanlah) aku di atas unta." Maka beliau bersabda, "Bahkan kami akan menaikkanmu di atas anak unta." Wanita itu berkata, "Apa yang bisa kubuat dengannya? Ia tidak akan mampu mengangkutku." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Tidak ada unta melainkan ia adalah anak dari unta."
فكان يمزح به وَقَالَ أنس كَانَ لأبي طلحة ابْنٌ يُقَالُ له أبو عمير وكان رسول الله ﷺ يأتيهم ويقول يا أبا عمير مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ النُّغَيْرُ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ وَهُوَ فَرْخُ الْعُصْفُورِ وَقَالَتْ عائشة ﵂ خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي غَزْوَةِ بَدْرٍ فقال تعالي حتى أسابقك فشددت درعي على بطني ثُمَّ خَطَطْنَا خَطًّا فَقُمْنَا عَلَيْهِ وَاسْتَبَقْنَا فَسَبَقَنِي وقال هذهمكان ذي المجاز وذلك أنه جاء يوم ونحن بذي المجاز وأنا جارية قد بعثني أبي بشيء فقال أعطنيه فَأَبَيْتُ وَسَعَيْتُ وَسَعَى فِي أَثَرِي فَلَمْ يُدْرِكْنِي وقالت أيضاً سابقني رسول الله ﷺ فسبقته فلما حملت اللحم سابقني فسبقني وقال هذه بتلك وقالت أيضاً ﵂ كَانَ عِنْدِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وسودة بنت زمعة فصنعت حريرة وَجِئْتُ بِهِ فَقُلْتُ لسودة كُلِي فَقَالَتْ لَا أُحِبُّهُ فَقُلْتُ وَاللَّهِ لَتَأْكُلِنَّ أَوْ لَأُلَطِّخَنَّ بِهِ وجهك فقالت ما أنا بذائقته فأخذت
Maka beliau biasa bergurau dengannya. Anas berkata: Abu Thalhah memiliki seorang putra yang dipanggil Abu 'Umair. Rasulullah ﷺ pernah mengunjungi mereka dan bersabda, "Wahai Abu 'Umair, apa yang dilakukan oleh nugair (burung kecil)?" Nugair adalah burung kecil yang biasa dimainkannya. Aisyah ﵂ berkata: Aku keluar bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Badr (atau sebuah perjalanan), lalu beliau bersabda, "Kemarilah, aku ajak engkau berlomba lari." Maka aku mengikat gaunku di perutku, kemudian kami membuat garis, berdiri di atasnya, dan berpacu lari, lalu beliau mendahuluiku. Beliau bersabda, "Ini sebagai balasan atas kejadian di Dzul Majaz." Yaitu suatu hari ketika kami di Dzul Majaz, dan aku masih seorang gadis cilik yang diutus oleh ayahku membawa sesuatu, lalu beliau berkata, "Berikan padaku," namun aku menolak dan berlari, beliau pun mengejarku tetapi tidak berhasil menyusulku. Aisyah juga berkata: Rasulullah ﷺ pernah berlomba lari denganku dan aku mendahuluinya. Namun ketika tubuhku sudah agak gemuk (berdaging), beliau berlomba lari lagi denganku dan mendahuluiku, lalu beliau bersabda, "Ini balasan untuk lomba yang dulu." Aisyah juga berkata ﵂: Rasulullah ﷺ berada di rumahku bersama Sawdah binti Zam'ah, lalu aku membuat bubur harīrah dan membawanya. Aku berkata kepada Sawdah, "Makanlah!" Ia berkata, "Aku tidak menyukainya." Aku berkata, "Demi Allah, engkau harus memakannya atau aku akan melumurkan bubur ini ke wajahmu!" Ia berkata, "Aku tidak akan mencicipinya." Maka aku mengambil…
بِيَدِي مِنَ الصَّحْفَةِ شَيْئًا مِنْهُ فَلَطَّخْتُ بِهِ وجههاً ورسول الله ﷺ جالس بيني وبينها فخفض لها رسول الله ركبتيه لتستقيد مني فَتَنَاوَلَتْ مِنَ الصَّحْفَةِ شَيْئًا فَمَسَحَتْ بِهِ وَجْهِي وَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يضحك وروي أن الضحاك بن سفيان الكلابي كان رجلاً دميماً قبيحاً فلما بايعه النبي ﷺ قال إن عندي امرأتين أحسن من هذه الحميراء وذلك قبل أن تنزل آية الحجاب أفلا أنزل لك عن إحداهما فتتزوجها وعائشة جالسة تسمع فقالت أهي أحسن أم أنت فقال بل أنا أحسن منها وأكرم فضحك رسول الله ﷺ من سؤالها إياه لأنه كان دميماً وروى علقمة عن أبي سلمة أَنَّهُ كَانَ ﷺ يدلع لسانه للحسن ابن علي ﵉ فيرى الصبي لسانه فيهش له فقال له عيينة بن بدر الفزاري وَاللَّهِ لَيَكُونَنَّ لِيَ الِابْنُ قَدْ تَزَوَّجَ وَبَقَلَ وَجْهُهُ وَمَا قَبَّلْتُهُ قَطُّ فَقَالَ ﷺ إِنَّ مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ فَأَكْثَرُ هَذِهِ الْمُطَايَبَاتِ مَنْقُولَةٌ مَعَ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ وَكَانَ ذَلِكَ مِنْهُ ﷺ مُعَالَجَةً لِضَعْفِ قُلُوبِهِمْ مِنْ غَيْرِ مَيْلٍ إِلَى هَزْلٍ وَقَالَ ﷺ مَرَّةً لصهيب وَبِهِ رَمَدٌ وَهُوَ يَأْكُلُ تَمْرًا أَتَأْكُلُ التَّمْرَ وَأَنْتَ رَمِدٌ فَقَالَ إِنَّمَا آكُلُ بِالشِّقِّ الْآخَرِ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَتَبَسَّمَ ﷺ
…dengan tanganku sedikit dari mangkuk itu, lalu aku melumurkannya ke wajahnya, sedangkan Rasulullah ﷺ duduk di antaraku dan antaranya. Maka Rasulullah ﷺ menurunkan kedua lututnya untuk Sawdah agar ia dapat membalasku. Sawdah pun mengambil sedikit dari mangkuk itu lalu mengusapkannya ke wajahku, dan Rasulullah ﷺ tertawa. Diriwayatkan bahwa Adh-Dhahhak bin Sufyan al-Kilabi adalah seorang pria yang berparas tidak tampan dan buruk rupa. Ketika ia membaiat Nabi ﷺ, ia berkata, "Aku memiliki dua orang istri yang lebih cantik dari wanita kemerah-merahan ini (al-Ḥumairā', maksudnya Aisyah)" —hal itu terjadi sebelum turunnya ayat hijab— "Maukah aku lepaskan salah satunya untukmu agar engkau bisa menikahinya?" Aisyah duduk mendengarkannya, lalu ia berkata, "Apakah istri itu lebih bagus ataukah engkau?" Adh-Dhahhak menjawab, "Bahkan aku lebih bagus darinya dan lebih mulia." Maka Rasulullah ﷺ tertawa mendengar pertanyaan Aisyah kepadanya karena pria itu berwajah buruk. Alqamah meriwayatkan dari Abu Salamah bahwa Nabi ﷺ pernah menjulurkan lidahnya kepada Al-Hasan bin Ali ﵉, lalu anak kecil itu melihat lidah beliau dan gembira menyambutnya. 'Uyaynah bin Badr al-Fazari berkata kepada beliau, "Demi Allah, sungguh aku memiliki anak laki-laki yang telah menikah dan tumbuh jenggot di wajahnya, namun aku belum pernah menciumnya sama sekali." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya barangsiapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi." Sebagian besar keceriaan dan keramahan (al-muṭāyabāt) ini diriwayatkan bersama para wanita dan anak-anak kecil, dan hal itu merupakan perlakuan beliau ﷺ untuk mengobati kelemahan hati mereka tanpa ada kecenderungan kepada kesia-siaan. Suatu kali Nabi ﷺ bersabda kepada Suhaib yang sedang sakit mata sementara ia sedang makan kurma, "Apakah engkau makan kurma padahal engkau sedang sakit mata?" Suhaib menjawab, "Sesungguhnya aku hanya mengunyah dengan sisi mata yang satunya lagi, wahai Rasulullah!" Maka beliau ﷺ tersenyum…
قَالَ بَعْضُ الرُّوَاةِ حتى نظرت إلى نواجذه
Sebagian perawi berkata: Hingga aku dapat melihat gigi geraham beliau.
وروي أن خوات ابن جبير الأنصاري كان جالساً إلى نسوة من بني كعب بطريق مكة فطلع عليه رسول الله ﷺ فقال يا أبا عبد الله مالك مع النسوة فقال يفتلن ضغيرا لجمل لي شرود قال فمضى رسول الله ﷺ لحاجته ثم عاد فقال يا أبا عبد الله أما ترك ذلك الجمل الشراد بعد قال فسكت واستحييت وكنت بعد ذلك أتفرر منه كلما رأيته حياء منه حتى قدمت المدينة وبعد ما قدمت المدينة قال فرآني في المسجد يوماً أصلي فجلس إلي فطولت ﴿فقال﴾ لا تطول فإني أنتظرك فلما سلمت قال يا أبا عبد الله أما ترك ذلك الجمل الشراد بعد قال فسكت واستحييت فقام وكنت بعد ذلك أتفرر منه حتى لحقني يوماً وهو على حمار وقد جعل رجليه في شق واحد فقال أبا عبد الله أما ترك ذلك الجمل الشراد بعد فقلت والذي بعثك بالحق ما شرد منذ أسلمت فقال الله أكبر الله أكبر اللهم اهد أبا عبد الله قال فحسن إسلامه وهداه الله // حديث إن خوات بن جبير كان جالساً إلى نسوة من بني كعب بطريق مكة فطلع عليه النبي ﷺ فقال يا أبا عبد الله مالك مع النسوة فقال يفتلن ضغيرا لجمل لي شرود الحديث أخرجه الطبراني في الكبير من رواية زيد بن أسلم عن خوات بن جبير مع اختلاف ورجاله ثقات وأدخل بعضهم بين زيد وبين خوات ربيعة بن عمرو وكان نعيمان الأنصاري رجلاً مزاحاً فكان يشرب الخمر في المدينة فيؤتي بِهِ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فيضربه بنعله ويأمر أصحابه فيضربونه بنعالهم فلما كثر ذلك منه
Diriwayatkan bahwa Khawwat bin Jubair al-Anshari pernah duduk bersama wanita-wanita dari Bani Ka'ab di jalan menuju Makkah, lalu Rasulullah ﷺ muncul di hadapannya dan bersabda, "Wahai Abu Abdillah, ada apa engkau bersama para wanita ini?" Khawwat menjawab, "Mereka sedang memintal tali dari bulu untuk untaku yang suka kabur." Beliau melanjutkan perjalanan untuk hajatnya kemudian kembali dan bersabda, "Wahai Abu Abdillah, apakah unta yang suka kabur itu belum juga berhenti kabur?" Khawwat berkata: Aku pun diam dan merasa malu. Setelah itu, aku selalu berusaha menghindar dari beliau setiap kali melihatnya karena malu, hingga aku tiba di Madinah. Setelah aku tiba di Madinah, pada suatu hari beliau melihatku di masjid sedang shalat, lalu beliau duduk di sampingku. Aku pun memperpanjang shalatku, maka beliau bersabda, "Jangan memperpanjang shalatmu, sesungguhnya aku menunggumu." Ketika aku mengucap salam, beliau bersabda, "Wahai Abu Abdillah, apakah unta yang suka kabur itu belum juga berhenti kabur?" Aku diam dan merasa malu, lalu beliau berdiri. Setelah itu aku terus menghindar dari beliau hingga suatu hari beliau menyusulku saat beliau menunggangi keledai dengan kedua kakinya dijatuhkan di satu sisi. Beliau bersabda, "Wahai Abu Abdillah, apakah unta yang suka kabur itu belum juga berhenti kabur?" Maka aku berkata, "Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, unta itu tidak pernah kabur lagi sejak aku masuk Islam." Beliau bersabda, "Allāhu Akbar, Allāhu Akbar! Ya Allah, berilah petunjuk kepada Abu Abdillah." Khawwat berkata: Maka Islamnya pun menjadi baik dan Allah memberinya petunjuk. // Hadis bahwa Khawwat bin Jubair duduk bersama para wanita dari Bani Ka'ab… diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam al-Mu'jam al-Kabīr dari riwayat Zaid bin Aslam dari Khawwat bin Jubair dengan perbedaan lafaz, dan para perawinya tsiqah; sebagian perawi menyisipkan Rabi'ah bin 'Amr di antara Zaid dan Khawwat. Dan Nu'aiman al-Anshari adalah seorang pria yang suka bergurau. Ia pernah meminum khamar di Madinah lalu dihadapkan kepada Nabi ﷺ, maka beliau memukulnya dengan sandal beliau dan memerintahkan para sahabat untuk memukulnya dengan sandal-sandal mereka. Ketika hal itu sering terjadi padanya…
قال له رجل من الصحابة لعنك الله فقال النبي ﷺ لا تفعل فإنه يحب الله ورسوله وكان لا يدخل المدينة رسل ولا طرفة إلا اشترى منها ثم أتى النَّبِيَّ ﷺ فَيَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا قَدِ اشْتَرَيْتُهُ لَكَ وَأَهْدَيْتُهُ لَكَ فَإِذَا جَاءَ صَاحِبُهَا يَتَقَاضَاهُ بِالثَّمَنِ جَاءَ بِهِ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْطِهِ ثَمَنَ مَتَاعِهِ فيقول له ﷺ أو لم تُهْدِهِ لَنَا فَيَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ عِنْدِي ثَمَنُهُ وَأَحْبَبْتُ أَنْ تَأْكُلَ مِنْهُ فَيَضْحَكُ النَّبِيُّ ﷺ وَيَأْمُرُ لِصَاحِبِهِ بِثَمَنِهِ فَهَذِهِ مُطَايَبَاتٌ يُبَاحُ مِثْلُهَا على الندور لا على الدوام والمواظبة عليها هزل مذموم وسبب للضحك المميت للقلب الآفة الحادية عشر السخرية والاستهزاء
…seorang pria dari kalangan sahabat berkata kepadanya, "Semoga Allah melaknatmu." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Jangan engkau lakukan itu, karena sesungguhnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya." Dan tidaklah ada barang dagangan baru atau barang langka yang masuk ke Madinah melainkan ia membelinya, kemudian ia mendatangi Nabi ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah, barang ini telah kubeli untukmu dan kuhadiahkan padamu." Namun apabila pemilik barang itu datang menagih harganya, ia membawa pemilik barang itu kepada Nabi ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, berikan padanya harga barang dagangannya." Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya, "Bukankah engkau telah menghadiahkannya kepada kami?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki uang pembayarnya, namun aku ingin engkau memakannya." Maka Nabi ﷺ tertawa dan memerintahkan untuk memberikan pembayaran kepada pemiliknya. Inilah bentuk-bentuk keceriaan dan keakraban (muṭāyabāt) yang dibolehkan seumpamanya jika terjadi sesekali (langka), bukan secara terus-menerus. Adapun membiasakannya merupakan main-main yang tercela dan menjadi sebab tertawa yang mematikan hati. Bahaya Kesebelas: Ejekan dan Olok-Olok (As-Sukhriyyah wal-Istihzā').
وهذا محرم مهما كان مؤذياً كما قَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أن يكن خيراً منهن وَمَعْنَى السُّخْرِيَةِ الِاسْتِهَانَةُ وَالتَّحْقِيرُ وَالتَّنْبِيهُ عَلَى الْعُيُوبِ والنقائص عَلَى وَجْهٍ يُضْحَكُ مِنْهُ وَقَدْ يَكُونُ ذَلِكَ بالمحاكاة في الفعل والقول وقد يكون بالإشارة والإيماء وإذا كان بحضرة المستهزأ به لم يسم ذلك غيبة وفيه معنى الغيبة قالت عائشة ﵂ حاكيت إنساناً فقال لي النبي ﷺ والله ما أحب أني حاكيت إنساناً ولي كذا وكذا وقال ابن عباس في قوله تعالى يا ويلتنا ما لهذا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أحصاها إن الصغيرة التبسم بالاستهزاء بالمؤمن والكبيرة القهقهة بذلك وهذا إشارة إلى أن الضحك على الناس من جملة الذنوب والكبائر وعن عبد الله بن زمعة أنه قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وهو يخطب فوعظهم في ضحكهم من الضرطة فقال علام يضحك أحدكم مما يفعل وقال ﷺ إن المستهزئين بالناس يفتح لأحدهم باب من الجنة فيقال هلم هلم فيجيء بكربه وغمه فإذا أتاه أغلق دونه ثم يفتح له باب آخر فيقال هلم هلم فيجيء بكربه وغمه فإذا أتاه أغلق دونه فما يزال كذلك حتى إن الرجل ليفتح له الباب فيقال له هلم هلم فلا يأتيه وقال معاذ بن جبل قال النبي ﷺ من عير أخاه بذنب قد تاب منه لم يمت حتى يعمله وكل هذا يرجع إلى استحقار الغير والضحك عليه استهانة به واستصغاراً لَهُ وَعَلَيْهِ نَبَّهَ قَوْلُهُ تَعَالَى عَسَى أَنْ يكونوا خيراً منهم أَيْ لَا تَسْتَحْقِرْهُ اسْتِصْغَارًا فَلَعَلَّهُ خَيْرٌ مِنْكَ
Hal ini haram apabila menyakiti, sebagaimana firman Allah Ta'ala: 'Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok).' (QS. Al-Hujurat: 11). Makna as-sukhriyyah (ejekan) adalah meremehkan, menghinakan, serta menyingkap cela dan kekurangan seseorang dengan cara yang memancing gelak tawa. Hal itu kadang dilakukan dengan menirukan perbuatan atau ucapan, dan kadang dengan isyarat atau gestur tubuh. Apabila hal itu dilakukan di hadapan orang yang diejek, hal itu tidak dinamakan ghibah, namun di dalamnya terkandung makna ghibah. Aisyah ﵂ berkata: Aku pernah menirukan gerak-gerik seorang manusia, maka Nabi ﷺ bersabda kepadaku, 'Demi Allah, aku tidak suka menirukan gerak-gerik seseorang walaupun aku diberi ini dan itu (imbalan yang besar).' Ibnu Abbas berkata mengenai firman Allah Ta'ala: 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar melainkan mencatatnya secara teliti' (QS. Al-Kahf: 49): 'Sesungguhnya dosa kecil di situ adalah tersenyum saat mengejek seorang mukmin, sedangkan dosa besar adalah tertawa terbahak-bahak saat mengejeknya.' Ini menunjukkan bahwa menertawakan orang lain termasuk dalam golongan dosa dan keharaman. Dari Abdullah bin Zam'ah ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ berkhotbah, lalu beliau menasihati mereka tentang tindakan mereka menertawakan kentut. Beliau bersabda, 'Atas dasar apa salah seorang dari kalian menertawakan apa yang juga dilakukannya sendiri?' Beliau ﷺ juga bersabda, 'Sesungguhnya orang-orang yang suka mengolok-olok orang lain, kelak akan dibukakan bagi salah seorang dari mereka satu pintu surga, lalu dikatakan kepadanya: 'Kemarilah, kemarilah!' Maka ia datang membawa duka dan kesusahannya. Namun ketika ia sampai di pintu itu, pintu tersebut ditutup rapat di hadapannya. Kemudian dibukakan baginya pintu yang lain, lalu dikatakan: 'Kemarilah, kemarilah!' Ia pun datang dengan duka dan kesusahannya, tetapi ketika sampai, pintu itu ditutup lagi di hadapannya. Ia terus mengalami hal demikian hingga dibukakan pintu baginya dan dikatakan: 'Kemarilah, kemarilah!' Namun ia sudah tidak mau lagi mendatanginya.' Mu'adz bin Jabal berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda, 'Barangsiapa mencela saudaranya karena suatu dosa yang telah ia bertobat darinya, niscaya ia tidak akan mati sampai ia sendiri melakukannya.' Semua ini bermuara pada sikap menghinakan orang lain dan menertawakannya karena meremehkan serta menganggapnya kerdil. Mengenai hal inilah Allah Ta'ala mengingatkan dengan firman-Nya: 'Boleh jadi mereka lebih baik dari mereka', yaitu janganlah engkau menghinakannya karena menganggapnya kerdil, sebab boleh jadi ia lebih baik daripada dirimu.
وهذا إنما يحرم في حَقُّ مَنْ يَتَأَذَّى بِهِ فَأَمَّا مَنْ جَعَلَ نَفْسَهُ مَسْخَرَةً وَرُبَّمَا فَرِحَ مِنْ أَنْ يُسْخَرَ بِهِ كَانَتِ السُّخْرِيَةُ فِي حَقِّهِ مِنْ جُمْلَةِ المزاح وَقَدْ سَبَقَ مَا يُذَمُّ مِنْهُ وَمَا يُمْدَحُ وَإِنَّمَا الْمُحَرَّمُ اسْتِصْغَارٌ يَتَأَذَّى بِهِ الْمُسْتَهْزَأُ بِهِ لما
Dan hal ini hanya diharamkan terhadap orang yang merasa tersakiti karenanya. Adapun orang yang menjadikan dirinya sebagai bahan olokan dan bahkan mungkin merasa senang jika diolok-olok, maka olokan terhadapnya termasuk dalam kategori gurauan. Dan telah dijelaskan sebelumnya mengenai gurauan yang dicela dan yang dipuji. Sesungguhnya yang diharamkan adalah anggapan remeh (merendahkan) yang membuat orang yang diejek itu merasa tersakiti karena…
فِيهِ مِنَ التَّحْقِيرِ وَالتَّهَاوُنِ وَذَلِكَ تَارَةً بِأَنْ يَضْحَكَ عَلَى كَلَامِهِ إِذَا تَخَبَّطَ فِيهِ وَلَمْ ينتظم أو على أفعاله إذا كنت مشوشة كالضحك على خطه وعلى صنعته أو على صورته وخلقته إذا كان قصيراً أو ناقصاً لعيب من العيوب فَالضَّحِكُ مِنْ جَمِيعِ ذَلِكَ دَاخِلٌ فِي السُّخْرِيَةِ المنهي عنها الآفة الثانية عشر إِفْشَاءُ السِّرِّ
…adanya unsur penghinaan dan pelecehan di dalamnya. Hal itu terkadang dilakukan dengan menertawakan perkataannya ketika ia keliru dan tidak teratur, atau menertawakan perbuatannya jika kacau, seperti menertawakan tulisan tangannya, buatannya, atau bentuk tubuh dan fisiknya jika ia pendek atau memiliki cacat dari salah satu kelemahan. Maka tertawa atas semua hal tersebut termasuk dalam olok-olokan yang dilarang. Bahaya Kedua Belas: Menyebarkan Rahasia.
وَهُوَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ لِمَا فِيهِ مِنَ الْإِيذَاءِ وَالتَّهَاوُنِ بِحَقِّ الْمَعَارِفِ وَالْأَصْدِقَاءِ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا حَدَّثَ الرجل ثم التفت فهي أمانة
Dan hal itu dilarang karena mengandung unsur menyakiti dan meremehkan hak-hak kerabat dan sahabat. Nabi ﷺ bersabda: "Apabila seseorang membicarakan sesuatu lalu ia berpaling, maka pembicaraan itu adalah amanah."
وقال مطلقاً الحديث بينكم أمانة حديث العدة عطية أخرجه الطبراني في الأوسط من حديث قباث بن أشيم بسند ضعيف وأبو نعيم في الحلية من حديث ابن مسعود ورواه ابن أبي الدنيا في الصمت والخرائطي في مكارم الأخلاق من حديث الحسن مرسلا حديث الوأي مثل الدين أو أفضل أخرجه ابن أبي الدنيا في الصمت من رواية ابن لهيعة مرسلا وقال الوأي يعني الوعد ورواه أبو منصور الديلمي في مسند الفردوس من حديث علي بسند ضعيف حديث عبد الله بن أبي الخنساء بايعت النبي ﷺ فوعدته أَنْ آتِيَهُ بِهَا فِي مَكَانِهِ ذَلِكَ فَنَسِيتُ يومي والغد فأتيه الْيَوْمَ الثَّالِثَ وَهُوَ فِي مَكَانِهِ فَقَالَ يَا بني قد شققت علي أنا ههنا منذ ثلاث أنتظرك رواه أبو داود واختلف في إسناده وقال ابن مهدي ما أظن إبراهيم بن طهمان إلا أخطأ فيه // وقيل
Dan Beliau bersabda secara mutlak: "Pembicaraan di antara kalian adalah amanah." Hadis: "Janji adalah pemberian." Diriwayatkan oleh at-Thabrani dalam al-Ausath dari hadis Qabats bin Asyam dengan sanad daif, dan Abu Nu'aim dalam al-Hilyah dari hadis Ibn Mas'ud, serta diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dunya dalam ash-Shamt dan al-Kharai-thi dalam Makarim al-Akhlaq dari hadis al-Hasan secara mursal. Hadis: "Al-Wa'y (janji) itu seperti utang atau lebih utama." Diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dunya dalam ash-Shamt dari riwayat Ibn Lahi'ah secara mursal, dan ia berkata bahwa Al-Wa'y artinya janji. Diriwayatkan pula oleh Abu Manshur ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus dari hadis Ali dengan sanad daif. Hadis Abdullah bin Abi al-Khansa': "Aku pernah berbaiat kepada Nabi ﷺ dan menjanjikannya untuk datang menemui Beliau di tempat itu, lalu aku lupa hari itu dan keesokan harinya. Maka aku mendatangi Beliau pada hari ketiga dan Beliau masih berada di tempat tersebut. Beliau bersabda: 'Wahai anakku, engkau telah menyusahkanku, aku berada di sini menunggu dirimu sejak tiga hari.'" Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan terjadi perbedaan pendapat tentang sanadnya, dan Ibn Mahdi berkata: "Aku tidak mengira Ibrahim bin Tahman melainkan telah keliru padanya." Dan dikatakan:
لإبراهيم الرجل يواعد الرجل الميعاد فلا يجيء قال ينتظره إلى أن يدخل وقت الصلاة التي تجيء وكان رسول الله ﷺ إذا وعد وعداً قال ﴿عسى﴾ وَكَانَ ابْنُ مَسْعُودٍ لَا يَعِدُ وَعْدًا إِلَّا وَيَقُولُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَهُوَ الْأَوْلَى
ditanyakan kepada Ibrahim: "Seorang laki-laki berjanji kepada orang lain, namun ia tidak datang?" Ia menjawab: "Hendaklah ia menunggunya sampai masuk waktu shalat berikutnya." Dan Rasulullah ﷺ apabila berjanji suatu janji, Beliau mengucapkan: "Semoga (asa)." Dan Ibn Mas'ud tidak pernah berjanji melainkan mengucapkan "Insya Allah" (jika Allah menghendaki), dan itulah yang lebih utama.
ثُمَّ إِذَا فَهِمَ مَعَ ذَلِكَ الْجَزْمِ فِي الْوَعْدِ فَلَا بُدَّ مِنَ الْوَفَاءِ إِلَّا أَنْ يُتَعَذَّرَ فَإِنْ كَانَ عِنْدَ الْوَعْدِ عَازِمًا عَلَى أَنْ لا يفي فهذا هو النفاق
Kemudian, apabila dipahami adanya kepastian dalam janji tersebut, maka wajib untuk menepatinya kecuali jika ada uzur (penghalang). Apabila pada saat berjanji ia sudah berniat untuk tidak menepatinya, maka inilah yang dinamakan kemunafikan.
وقال أبو هريرة قَالَ النَّبِيُّ ﷺ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ فَهُوَ مُنَافِقٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وإذا وعد أخلف وإذا ائتمن خان وقال عبد الله بن عمرو ﵄ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خُلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَ فِيهِ خُلَّةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خاصم فجر وهذا ينزل على عَزَمَ الْخُلْفَ أَوْ تَرَكَ الْوَفَاءَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَأَمَّا مَنْ عَزَمَ عَلَى الْوَفَاءِ فَعَنَّ لَهُ عُذْرٌ مَنَعَهُ مِنَ الْوَفَاءِ لَمْ يَكُنْ مُنَافِقًا وَإِنْ جَرَى عَلَيْهِ مَا هُوَ صُورَةُ النِّفَاقِ وَلَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يَحْتَرِزَ مِنْ صُورَةِ النفاق أيضاً كما يتحرز مِنْ حَقِيقَتِهِ وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَجْعَلَ نَفْسَهُ معذوراً من غير ضرورة حاجزة فَقَدْ رُوِيَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كان وعد أبا الهيثم بن التيهان خادماً فأتى بثلاثة من السبى فأعطى اثنين وبقي واحداً فَأَتَتْ فاطمة ﵂ تَطْلُبُ مِنْهُ خَادِمًا وَتَقُولُ أَلَا تَرَى أَثَرَ الرَّحَى بِيَدِي فَذَكَرَ مَوْعِدَهُ لأبي الهيثم فَجَعَلَ يَقُولُ كَيْفَ بموعدي لأبي الهيثم
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang maka ia adalah seorang munafik, meskipun ia berpuasa, shalat, dan mengaku sebagai seorang muslim: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat." Dan Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Empat perkara yang barang siapa memiliki seluruhnya maka ia adalah munafik murni, dan barang siapa memiliki salah satu darinya maka pada dirinya terdapat satu tabiat kemunafikan hingga ia meninggalkannya: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, jika berjanji ia berkhianat, dan jika berselisih ia melampaui batas." Hadis ini ditujukan kepada orang yang memang berniat menyalahi janji atau meninggalkan pemenuhan janji tanpa uzur. Adapun orang yang berniat menepati janji lalu datang uzur yang menghalanginya untuk menepati, maka ia bukan seorang munafik, meskipun terjadi padanya bentuk yang menyerupai kemunafikan. Namun, seyogianya ia juga menjaga diri dari bentuk kemunafikan sebagaimana ia menjaga diri dari hakikat kemunafikan, dan tidak sepatutnya ia menganggap dirinya mempunyai uzur tanpa adanya dharurat yang benar-benar menghalangi. Sungguh telah diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menjanjikan seorang pembantu (hamba sahaya) kepada Abu al-Haitsam bin at-Tayyihan. Ketika dibawakan tiga orang tawanan perang, Beliau memberikan dua orang dan menyisakan satu orang. Lalu Fathimah radhiyallahu 'anha datang meminta seorang pembantu kepada Beliau seraya berkata: "Apakah engkau tidak melihat bekas batu kilangan gandum pada tanganku?" Maka Beliau mengingat janjinya kepada Abu al-Haitsam dan berkata: "Bagaimana dengan janjiku kepada Abu al-Haitsam?"
فآثره به عَلَى فاطمة لِمَا كَانَ قَدْ سَبَقَ مِنْ مَوْعِدِهِ لَهُ مَعَ أَنَّهَا كَانَتْ تُدِيرُ الرَّحَى بِيَدِهَا الضَّعِيفَةِ
Maka Beliau lebih mengutamakan Abu al-Haitsam untuk menerima pembantu tersebut daripada Fathimah, karena janji yang telah mendahuluinya kepadanya, meskipun Fathimah memutar batu kilangan itu dengan tangannya yang lemah.
وَلَقَدْ كَانَ ﷺ جَالِسًا يُقَسِّمُ غَنَائِمَ هَوَازِنَ بِحُنَيْنٍ فَوَقَفَ عَلَيْهِ رَجُلٌ مِنَ النَّاسِ فَقَالَ إِنَّ لِي عِنْدَكَ مَوْعِدًا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ صَدَقْتَ فَاحْتَكِمْ مَا شِئْتَ فَقَالَ أَحْتَكِمُ ثَمَانِينَ ضَائِنَةً وَرَاعِيَهَا قَالَ هِيَ لَكَ وَقَالَ احْتَكَمْتَ يَسِيرًا
Dan sungguh Rasulullah ﷺ pernah duduk membagikan harta rampasan perang (ghanimah) Hawazin di Hunain, lalu seorang laki-laki berdiri di hadapan Beliau dan berkata: "Sesungguhnya aku memiliki janji padamu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Engkau benar, mintalah keputusan apa yang engkau kehendaki." Laki-laki itu berkata: "Aku meminta delapan puluh ekor domba betina beserta penggembalanya." Beliau bersabda: "Itu untukmu," lalu Beliau bersabda: "Engkau hanya meminta hal yang sedikit."
ولصاحبه موسى ﵇ التي دلته على عظام يوسف كانت أحزم منك وأجزل حكماً منك حين حكمها موسى ﵇ فقال حكمي أن تردني شابة وأدخل معك الجنة قيل فكان الناس يضعفون ما احتكم به حتى جعلا مثلاً فقيل أشح من صاحب الثمانين والراعي وقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ليس الخلف أن يعد الرجل الرجل وفي نيته أن يفي
Dan wanita sahabat Musa 'alaihissalam yang menunjukkan letak tulang-belulang Nabi Yusuf 'alaihissalam jauh lebih teguh dan lebih agung keputusannya daripada dirimu ketika Musa 'alaihissalam menyuruhnya meminta keputusan. Wanita itu berkata: "Keputusanku adalah engkau mengembalikan aku menjadi muda kembali dan aku masuk surga bersamamu." Dikatakan bahwa orang-orang menganggap kecil apa yang diminta oleh orang tersebut, hingga dijadikan peribahasa dengan ucapan: "Lebih kikir daripada pemilik delapan puluh domba dan penggembala." Dan sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Bukanlah termasuk menyalahi janji jika seseorang berjanji kepada orang lain sementara dalam niatnya ia hendak menepatinya."
وفي لفظ آخر إذا وعد الرجل أخاه وفي نيته أن يفي فلم يجد فلا إثم عليه الْآفَةُ الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ الْكَذِبُ فِي الْقَوْلِ وَالْيَمِينِ
Dan dalam lafaz lain: "Apabila seseorang berjanji kepada saudaranya dan dalam niatnya ia hendak menepati, namun ia tidak mendapati kelapangan, maka tidak ada dosa baginya." Bahaya Keempat Belas: Dusta dalam Perkataan dan Sumpah.
وَهُوَ مِنْ قَبَائِحَ الذُّنُوبِ وَفَوَاحِشِ الْعُيُوبِ قَالَ إسماعيل بن واسط سمعت أبا بكر الصديق ﵁ يخطب بعد وفاة رسول الله ﷺ فقال قام فينا رسول الله ﷺ مقامي هذا عام أول ثم بكى
Dusta termasuk dosa-dosa yang buruk dan aib-aib yang sangat keji. Ismail bin Wasith berkata: Aku mendengar Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkhotbah setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, lalu ia berkata: "Rasulullah ﷺ pernah berdiri di antara kami di tempat berdiriku ini pada tahun pertama," kemudian Abu Bakar menangis.
وقال إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّهُ مَعَ الْفُجُورِ وَهُمَا فِي النار
Dan Beliau bersabda: "Jauhilah oleh kalian kebohongan (dusta), karena kebohongan itu bersama kejahatan (kemaksiatan), dan keduanya berada di dalam neraka."
وقال أبو أمامة قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن الكذب باب من أبواب النفاق حديث كَبُرَتْ خِيَانَةً أَنْ تُحَدِّثَ أَخَاكَ حَدِيثًا هُوَ لك به مصدق وأنت له به كاذب أخرجه البخاري في كتاب الأدب المفرد وأبو داود من حديث سفيان بن أسيد وضعفه ابن عدي ورواه أحمد والطبراني من حديث النواس بن سمعان بإسناد جيد حديث ابن مسعود لا يزال العبد يكذب حتى يكتب عند الله كذابا متفق عليه حديث مر برجلين يتبايعان شاة ويتحالفان الحديث وفيه فقال أوجب أحدهما بالإثم والكفارة أخرجه أبو الفتح الأزدي في كتاب الأسماء المفردة من حديث ناسخ الحضرمي وهكذا رويناها في أمالي ابن سمعون وناسخ ذكره البخاري هكذا في التاريخ وقال أبو حاتم هو عبد الله ابن ناسخ حديث الكذب ينقص الرزق أخرجه أبو الشيخ في طبقات الأصبهانيين من حديث أبي هريرة ورويناه كذلك في مشيخة القاضي أبو بكر وإسناده ضعيف حديث إن التجار هم الفجار الحديث وفيه ويحدثون فيكذبون أخرجه أحمد والحاكم وقال صحيح الإسناد والبيهقي من حديث عبد الرحمن بن شبل وقال ﷺ ثلاثة نفر لَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ الْمَنَّانُ بِعَطِيَّتِهِ وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْفَاجِرِ والمسبل إزاره
Dan Abu Umamah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya dusta adalah salah satu pintu dari pintu-pintu kemunafikan." Hadis: "Alangkah besarnya suatu pengkhianatan jika engkau menyampaikan suatu perkataan kepada saudaramu yang ia membenarkanmu, padahal engkau berdusta kepadanya." Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan Abu Dawud dari hadis Sufyan bin Asaid, dan dilemahkan oleh Ibn 'Adi; serta diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Thabrani dari hadis an-Nawwas bin Sam'an dengan sanad yang baik. Hadis Ibn Mas'ud: "Seorang hamba terus-menerus berdusta hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (Muttafaqun 'alaih). Hadis: Beliau melewati dua orang yang sedang melakukan jual beli seekor domba dan saling bersumpah…, di dalamnya disebutkan: Beliau bersabda: "Salah seorang dari keduanya telah memastikan dirinya mendapat dosa dan kafarat." Diriwayatkan oleh Abu al-Fath al-Azdi dalam Kitab al-Asma' al-Mufradah dari hadis Nasikh al-Hadhrami, dan demikianlah kami meriwatkannya dalam Amali Ibn Sam'un. Nasikh disebutkan oleh al-Bukhari demikian dalam at-Tarikh, dan Abu Hatim berkata: Ia adalah Abdullah bin Nasikh. Hadis: "Dusta mengurangi rezeki." Diriwayatkan oleh Abu ash-Sheikh dalam Thabaqat al-Ashbahaniyyin dari hadis Abu Hurairah, dan kami meriwatkannya juga dalam Masyikhat al-Qadhi Abu Bakr, dan sanadnya lemah. Hadis: "Sesungguhnya para pedagang adalah para pelaku kemaksiatan…" di dalamnya disebutkan: "Dan mereka berbicara lalu berdusta." Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Hakim—dan ia berkata sahih sanadnya—serta al-Baihaqi dari hadis Abdurrahman bin Syibl. Dan Beliau ﷺ bersabda: "Tiga golongan yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan memandang mereka: orang yang menyebut-nyebut pemberiannya, orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu, dan orang yang menjulurkan kain sarungnya (isbal)."
وقال ﷺ من حلف حالف بالله فأدخل فيها مثل جناح بعوضة إلا كانت نكتة في قلبه إلى يوم القيامة حديث أبي ذر ثلاثة يحبهم الله الحديث وفيه وثلاثة يشنؤهم الله التاجر أو البائع الحلاف أخرجه أحمد واللفظ له وفيه ابن الأحمس ولا يعرف حاله ورواه هو والنسائي بلفظ آخر بإسناد جيد وللنسائي من حديث أبي هريرة أربعة يبغضهم الله البياع الحلاف الحديث وإسناده جيد حديث ويل للذي يحدث فيكذب ليضحك به القوم ويل له ويل له أخرجه أبو داود والترمذي وحسنه والنسائي في الكبرى من رواية يهز بن حكيم عن أبيه عن جده
Dan Beliau ﷺ bersabda: "Barang siapa bersumpah dengan nama Allah lalu ia memasukkan ke dalamnya (dusta) walau seukuran sayap nyamuk, melainkan hal itu menjadi bintik hitam di dalam hatinya hingga hari kiamat." Hadis Abu Dzar: "Tiga golongan yang dicintai Allah…" di dalamnya disebutkan: "Dan tiga golongan yang dibenci Allah: pedagang atau penjual yang suka bersumpah." Diriwayatkan oleh Ahmad dan lafaz ini milik beliau, di dalamnya terdapat Ibn al-Ahmas yang tidak diketahui keadaannya; dan diriwayatkan oleh beliau dan an-Nasa'i dengan lafaz lain dengan sanad yang baik. Dan bagi an-Nasa'i dari hadis Abu Hurairah: "Empat golongan yang dibenci Allah: penjual yang suka bersumpah…" dan sanadnya baik. Hadis: "Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta agar orang-orang tertawa dengannya, celakalah baginya, celakalah baginya." Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi—dan ia menghasankannya—serta an-Nasa'i dalam al-Kubra dari riwayat Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya.
وقال ﷺ رأيت كأن رجلاً جاءني فقال لي قم فقمت معه فإذا أنا برجلين أحدهما قائم والآخر جالس بيد القائم كلوب من حديد يلقمه في شدق الجالس فيجذبه حتى يبلغ كاهله ثم يجذبه فيلقمه الجانب الآخر فيمده فإذا مده رجع الآخر كما كان فقلت للذي أقامني ما هذا فقال هذا رجل كذاب يعذب في قبره إلى يوم القيامة وعن عبد الله بن جراد قال سألت رسول الله ﷺ فقلت يا رسول الله هل يزني المؤمن قال قد يكون ذلك قال يا نبي الله هل يكذب المؤمن قال ﴿لا﴾ ثم أتبعها ﷺ بقول الله تعالى ﴿إنما يفتري الكذب الذين لا يؤمنون بآيات الله﴾ وقال أبو سعيد الخدري سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يدعو فيقول في دعائه اللهم طهر قلبي من النفاق وفرجي من الزنا ولساني من الكذب وقال ﷺ ثلاثة لا يكلمهم الله ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم شيخ زان وملك كذاب وعائل مستكبر حديث عبد الله بن عامر جاء رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِلَى بيتنا وأنا صبي صغير فذهبت لألعب فقالت أمي يا عبد الله تعال أعطيك فقال وما أردت أن تعطيه قالت تمرا فقال إن لم تفعلي كتبت عليك كذبة رواه أبو داود وفيه من لم يسم وقال الحاكم أن عبد الله بن عامر ولد في حياته ﷺ ولم يسمع منه قلت وله شاهد من حديث أبي هريرة وابن مسعود ورجالهما ثقات إلا أن الزهري لم يسمع من أبي هريرة
Dan Beliau ﷺ bersabda: "Aku bermimpi seolah-olah ada seorang laki-laki mendatangi aku lalu berkata kepadaku: 'Bangkitlah!' Maka aku pun bangkit bersamanya. Tiba-tiba aku melihat dua orang laki-laki, salah satunya berdiri dan yang lain duduk. Di tangan orang yang berdiri ada pengait dari besi yang ia masukkan ke dalam sudut mulut orang yang duduk, lalu ia menariknya hingga mencapai tengkuknya. Kemudian ia menariknya dan memasukkannya ke sudut mulut yang lain lalu merenggangkannya. Ketika ia merenggangkannya, sudut mulut yang lain kembali seperti semula. Maka aku bertanya kepada orang yang membangkitkanku: 'Apakah ini?' Ia menjawab: 'Ini adalah seorang pendusta yang disiksa di dalam kuburnya hingga hari kiamat.'" Dari Abdullah bin Jarad, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: "Wahai Rasulullah, mungkinkah seorang mukmin berzina?" Beliau menjawab: "Kadang hal itu terjadi." Ia bertanya lagi: "Wahai Nabi Allah, mungkinkah seorang mukmin berdusta?" Beliau menjawab: "Tidak." Kemudian Beliau ﷺ mengiringinya dengan firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah." Dan Abu Sa'id al-Khudri berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ berdoa, Beliau mengucapkan dalam doanya: "Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari kemunafikan, kemaluanku dari perzinaan, dan lisanku dari kebohongan." Dan Beliau ﷺ bersabda: "Tiga golongan yang Allah tidak berbicara kepada mereka, tidak memandang mereka, tidak menyucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: orang tua yang berzina, raja yang pendusta, dan orang miskin yang sombong." Hadis Abdullah bin 'Amir: Rasulullah ﷺ mendatangi rumah kami ketika aku masih anak-anak. Lalu aku pergi untuk bermain, maka ibuku berkata: "Wahai Abdullah, kemarilah aku beri sesuatu." Rasulullah bersabda: "Apa yang hendak engkau berikan kepadanya?" Ibuku menjawab: "Kurma." Maka Beliau bersabda: "Jika engkau tidak melakukannya, niscaya dicatat padamu satu kebohongan." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan di dalamnya ada perawi yang tidak disebutkan namanya. Al-Hakim berkata bahwa Abdullah bin 'Amir lahir pada masa hidup Beliau ﷺ namun tidak mendengar langsung dari Beliau. Aku katakan: Hadis ini memiliki penguat dari hadis Abu Hurairah dan Ibn Mas'ud, dan para perawi keduanya tsiqah, hanya saja az-Zuhri tidak mendengar dari Abu Hurairah.
وقال ﷺ لو أفاء الله على نعماً عدد هذا الحصى لَقَسَمْتُهَا بَيْنَكُمْ ثُمَّ لَا تَجِدُونِي بَخِيلًا وَلَا كذاباً ولا جباناً
Dan Beliau ﷺ bersabda: "Sekiranya Allah memberikan kepadaku harta limpahan (fai') sebanyak kerikil ini, niscaya aku akan membagikannya di antara kalian, kemudian kalian tidak akan mendapati aku sebagai orang yang kikir, bukan pendusta, dan bukan pula penakut."
وقال ﷺ وكان متكئاً ألا أنبئكم بأكبر الكبائر الإشراك بالله وعقوق الوالدين ثم قعد وقال إلا وقول الزور وقال ابن عمر قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن العبد ليكذب الكذبة ليتباعد الملك عنه مسيرة ميل من نتن ما جاء به وقال أنس قال النبي ﷺ تقبلوا إلي بست أتقبل لكم بالجنة فقالوا وما هن قال إذا حدث أحدكم فلا يكذب وإذا وعد فلا يخلف وإذا ائتمن فلا يخن وغضوا أبصاركم واحفظوا فروجكم وكفوا أيديكم
Dan Beliau ﷺ bersabda seraya bersandar: "Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa besar yang paling besar? Yaitu mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." Kemudian Beliau duduk lalu bersabda: "Ketahuilah, dan perkataan dusta (kesaksian palsu)!" Dan Ibn Umar berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba jika berdusta satu kebohongan, niscaya malaikat akan menjauh darinya sejauh jarak satu mil karena bau busuk dari apa yang dibawanya." Dan Anas berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Jaminlah kepadaku enam perkara, niscaya aku jamin bagi kalian surga." Para sahabat bertanya: "Apakah enam perkara itu?" Beliau bersabda: "Jika salah seorang dari kalian berbicara maka janganlah berdusta, jika berjanji janganlah mengingkari, jika dipercaya janganlah berkhianat, tundukkanlah pandangan kalian, jagalah kemaluan kalian, dan tahanlah tangan-tangan kalian."
وقال ﷺ إن للشيطان كحلاً ولعوقاً ونشوقاً أما لعوقه فالكذب وأما نشوقه فالغضب وأما كحله فالنوم وخطب عمر ﵁ يوماً فقال قام فينا رسول الله ﷺ كقيامي هذا فيكم فقال أحسنوا إلي أصحابي
Dan Beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya bagi setan itu ada celak, makanan jilatan, dan obat hirup. Adapun makanan jilatannya adalah dusta, obat hirupnya adalah amarah, dan celaknya adalah tidur." Dan Umar radhiyallahu 'anhu berkhotbah pada suatu hari seraya berkata: "Rasulullah ﷺ pernah berdiri di antara kami sebagaimana berdiriku ini di antara kalian, lalu Beliau bersabda: 'Berbuat baiklah kepada para sahabatku…'
ثم الذين يلونهم ثم يفشو الكذب حتى يحلف الرجل على اليمين ولم يستحلف ويشهد ولم يستشهد وقال النبي ﷺ من حدث عني بحديث وهو يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين
…kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka. Setelah itu merebaklah kebohongan hingga seseorang bersumpah padahal tidak diminta bersumpah, dan bersaksi padahal tidak diminta bersaksi.' Dan Nabi ﷺ bersabda: 'Barang siapa menyampaikan dariku suatu hadis padahal ia menyangka bahwa hadis itu adalah dusta, maka ia adalah salah satu dari para pendusta.'
وقال ﷺ مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ بِإِثْمٍ لِيَقْتَطِعَ بِهَا مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لَقِيَ اللَّهَ ﷿ وَهُوَ عليه غضبان وروي عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ رد شهادة رجل في كذبة كذبها
Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa bersumpah palsu (dengan dosa) untuk mengambil harta seorang muslim tanpa hak, ia akan menemui Allah Azza wa Jalla dalam keadaan Dia murka kepadanya." Dan diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau menolak kesaksian seorang laki-laki karena satu kebohongan yang dilakukannya.
وقال ﷺ كل خصلة يطبع أو يطوى عليها المسلم إلا الخيانة والكذب حديث ما كان من خلق الله شيء أشد عند أصحاب رسول الله ﷺ من الكذب ولقد كان يطلع على الرجل من أصحابه على الكذب فما ينجلي من صدره حتى يعلم أنه قد أحدث لله منها توبة أخرجه أحمد من حديث عائشة ورجاله ثقات إلا أنه قال عن ابن أبي مليكة أو غيره وقد رواه أبو الشيخ في الطبقات فقال ابن أبي مليكة ولم يشك وهو صحيح حديث أربع إذا كن فيك فلا يضرك ما فاتك من الدنيا صدق الحديث الحديث أخرجه الحاكم والخرائطي في مكارم الأخلاق من حديث عبد الله بن عمرو وفيه ابن لهيعة حديث أبي بكر عليكم بالصدق فإنه مع البر وهما في الجنة أخرجه ابن ماجه والنسائي في اليوم والليلة وقد تقدم بعضه في أول هذا النوع حديث معاذ أوصيك بتقوى الله وصدق الحديث أخرجه أبو نعيم في الحلية وقد تقدم //
Dan beliau ﷺ bersabda, "Setiap perangai dapat menjadi tabiat atau pembawaan seorang muslim, kecuali pengkhianatan dan kebohongan." Hadis: "Tidak ada satu pun akhlak yang lebih dibenci oleh para sahabat Rasulullah ﷺ daripada kebohongan. Sungguh, apabila ketahuan seorang laki-laki dari para sahabat beliau berbuat bohong, rasa ganjal di dada para sahabat tidak akan hilang sampai mereka mengetahui bahwa ia telah bertobat kepada Allah dari kebohongan itu." (Diriwayatkan oleh Ahmad dari hadis Aisyah, para perawinya tsiqah, hanya saja terdapat perawi yang ragu apakah dari Ibn Abi Mulaikah atau selainnya. Dan Abu al-Syaikh meriwatkannya dalam al-Thabaqat dengan tegas dari Ibn Abi Mulaikah tanpa keraguan, dan hadis ini shahih). Hadis: "Empat hal jika ada padamu, maka tidak akan membahayakanmu apa yang luput darimu dari dunia: jujur dalam berkata…" (Hadis diriwayatkan al-Hakim dan al-Khara'ithiy dalam Makarim al-Akhlaq dari hadis Abdullah bin 'Amr, dan di dalamnya terdapat Ibn Lahi'ah). Hadis Abu Bakar: "Wajib atas kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu bersama kebaikan dan keduanya di dalam surga." (Diriwayatkan oleh Ibn Majah dan an-Nasa'i dalam al-Yaum wa al-Lailah, dan sebagian telah disebutkan di awal bagian ini). Hadis Mu'adz: "Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah dan jujur dalam berkata…" (Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah, dan telah disebutkan sebelumnya).
وأما الآثار فقد قال علي ﵁ أعظم الخطايا عند الله اللسان الكذوب وشر الندامة ندامة يوم القيامة وقال عمر بن عبد العزيز رحمة الله عليه ما كذبت كذبة منذ شددت علي إزاري وقال عمر ﵁ أحبكم إلينا ما لم نركم أحسنكم اسماً فإذا رأيناكم فأحبكم إلينا أحسنكم خلقاً فإذا اختبرناكم فأحبكم إلينا أصدقكم حديثاً وأعظمكم أمانة وعن ميمون بن أبي شبيب قال جلست أكتب كتاباً فأتيت على حرف إن أنا كتبته زينت الكتاب وكنت قد كذبت فعزمت على تركه فنوديت من جانب البيت يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة وقال الشعبي ما أدري أيهما أبعد غور في النار الكذاب أو البخيل وقال ابن السماك ما أراني أوجر على ترك الكذب لأني إنما أدعه أنفه وقيل الخالدين صبيح أيسمى الرجل كاذباً بكذبة واحدة قال نعم وقال مالك بن دينار قرأت في بعض الكتب ما من خطيب إلا وتعرض خطبته على عمله فإن كان صادقاً صدق وإن
Adapun atsar (riwayat dari sahabat dan tabi'in), Ali radhiyallahu 'anhu berkata, "Dosa paling besar di sisi Allah adalah lisan yang suka berbohong, dan seburuk-buruk penyesalan adalah penyesalan pada hari kiamat." Umar bin Abdul Aziz rahmatullah 'alaih berkata, "Aku tidak pernah berbohong sekalipun sejak aku mengencangkan kain sarungku (sejak dewasa)." Dan Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Orang yang paling kami cintai di antara kalian sebelum kami melihat kalian adalah orang yang paling baik namanya. Jika kami telah melihat kalian, maka orang yang paling kami cintai adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan jika kami telah menguji kalian, maka orang yang paling kami cintai di antara kalian adalah orang yang paling jujur perkataannya dan paling besar amanahnya." Diriwayatkan dari Maimun bin Abi Syabib, ia berkata, "Aku duduk menulis sebuah kitab, lalu sampai pada sebuah kata yang jika aku tuliskan niscaya akan memperindah tulisan itu, tetapi aku telah berbuat bohong. Maka aku bertekad untuk meninggalkannya, lalu aku mendengar seruan dari samping rumah: 'Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat'." Al-Sya'bi berkata, "Aku tidak tahu manakah di antara keduanya yang lebih dalam tingkatannya di neraka: si pembohong atau si bakhil (orang kikir)." Ibn al-Sammak berkata, "Aku tidak melihat diriku mendapat pahala karena meninggalkan kebohongan, sebab aku meninggalkannya hanya karena gengsi diri." Dan dikatakan kepada Khalid bin Subaih, "Apakah seseorang dinamakan pembohong hanya karena satu kebohongan?" Ia menjawab, "Ya." Malik bin Dinar berkata, "Aku membaca di dalam sebagian kitab: Tidak ada seorang khatib (penceramah) pun melainkan ceramahnya dihadapkan pada perbuatannya; jika ia jujur maka dibenarkan, dan jika…"
كان كاذباً قرضت شفتاه بمقاريض من نار كلما قرضتا نبتتا
…ia seorang pembohong, kedua bibirnya akan digunting dengan gunting-gunting dari neraka; setiap kali digunting, bibir itu tumbuh kembali.
وقال مالك بن دينار الصدق والكذب يعتركان في القلب حتى يخرج أحدهما صاحبه وكلم عمر بن عبد العزيز الوليد بن عبد الملك في شيء فقال له كذبت فقال عمر والله ما كذبت منذ علمت أن الكذب يشين صاحبه
Malik bin Dinar berkata, "Kejujuran dan kebohongan saling bertarung di dalam hati sampai salah satunya mengusir yang lain." Umar bin Abdul Aziz pernah berbicara dengan Al-Walid bin Abdul Malik tentang suatu hal, lalu Al-Walid berkata kepadanya, "Engkau bohong." Umar pun menjawab, "Demi Allah, aku tidak pernah berbohong sejak aku mengetahui bahwa kebohongan itu mencoreng pelakunya."
بَيَانُ مَا رُخِّصَ فِيهِ مِنَ الْكَذِبِ
Penjelasan tentang Kebohongan yang Diizinkan (Diberi Keringanan)
اعْلَمْ أن الكذب ليس حراماً لعينه بل لِمَا فِيهِ مِنَ الضَّرَرِ عَلَى الْمُخَاطَبِ أَوْ على غيره فإن أقل درجاته أن يعتقد المخبر الشيء على خلاف ما هو عليه فيكون جاهلاً وقد يتعلق به ضرر غيره ورب جهل فيه منفعة ومصلحة فالكذب محصل لذلك الجهل فيكون مأذوناً فيه وربما كان واجباً
Ketahuilah bahwa kebohongan itu tidak diharamkan karena zatnya sendiri, melainkan karena mudarat (bahaya) yang terkandung di dalamnya bagi orang yang diajak bicara atau orang lain. Tingkatan paling ringan dari dampak kebohongan adalah menyebabkan orang yang diberi tahu meyakini sesuatu berbeda dengan keadaan yang sebenarnya, sehingga ia menjadi tidak tahu (bodoh). Kadang kala hal itu berkaitan pula dengan mudarat bagi orang lain. Namun, terkadang ketidaktahuan itu justru mengandung manfaat dan kemaslahatan, sehingga kebohongan yang menghasilkan ketidaktahuan tersebut diizinkan, bahkan terkadang menjadi wajib.
قال ميمون بن مهران الكذب في بعض المواطن خير من الصدق أرأيت لو أن رجلاً سعى خلف إنسان بالسيف ليقتله فدخل داراً فانتهى إليك فقال أرأيت فلاناً ما كنت قائلاً ألست تقول لم أره وما تصدق به وهذا الكذب واجب
Maimun bin Mihran berkata, "Kebohongan dalam beberapa tempat lebih baik daripada kejujuran. Bagaimana pendapatmu jika seorang laki-laki mengejar seseorang dengan pedang untuk membunuhnya, lalu orang yang dikejar itu masuk ke sebuah rumah dan pengejar itu sampai kepadamu seraya bertanya, 'Apakah engkau melihat si Fulan?' Apa yang akan engkau katakan? Bukankah engkau akan mengatakan, 'Aku tidak melihatnya' dan engkau tidak membenarkan kejujuran yang membahayakan itu? Kebohongan seperti ini adalah wajib."
فنقول الكلام وسيلة إلى المقاصد فكل مقصود محمود يمكن التوصل إليه بالصدق والكذب جميعاً فالكذب فيه حرام وإن أمكن التوصل إليه بالكذب دون الصدق فالكذب فيه مباح إن كان تحصيل ذلك القصد مباحاً وواجب إن كان المقصود واجباً كما أن عصمة دم المسلم واجبة فمهما كان في الصدق سفك دم أمرىء مسلم قَدِ اخْتَفَى مِنْ ظَالِمٍ فَالْكَذِبُ فِيهِ وَاجِبٌ ومهما كَانَ لَا يَتِمُّ مَقْصُودُ الْحَرْبِ أَوْ إِصْلَاحُ ذات البين أن استمالة قلب المجني عليه إلا بكذب فالكذب مباح إلا أنه ينبغي أن يحترز منه ما أمكن لأنه إذا فتح باب الكذب على نفسه فيخشى أن يتداعى إلى ما يستغنى عنه وإلى ما لا يقتصر على حد الضرورة فيكون الكذب حراماً في الأصل إلا لضرورة
Maka kami katakan: Perkataan adalah sarana menuju tujuan. Setiap tujuan yang terpuji yang memungkinkan untuk dicapai melalui kejujuran maupun kebohongan sekaligus, maka kebohongan di dalamnya adalah haram. Jika tujuan itu hanya mungkin dicapai dengan kebohongan dan tidak dengan kejujuran, maka kebohongan itu bernilai mubah (boleh) jika pencapaian tujuan tersebut bernilai mubah, dan bernilai wajib jika tujuan tersebut bernilai wajib. Sebagaimana menjaga darah (nyawa) seorang muslim adalah wajib, maka ketika kejujuran akan mengakibatkan pertumpahan darah seorang muslim yang bersembunyi dari kezaliman orang zalim, kebohongan di situ hukumnya wajib. Demikian pula, apabila tujuan peperangan, mendamaikan perselisihan antarsesama, atau meluluhkan hati korban kejahatan tidak dapat tercapai kecuali dengan kebohongan, maka kebohongan itu mubah. Namun demikian, seseorang hendaknya menghindarinya sebisa mungkin, sebab jika ia membuka pintu kebohongan bagi dirinya, dikhawatirkan hal itu akan merembet pada hal-hal yang tidak diperlukan dan tidak terbatas pada batas darurat. Padahal kebohongan itu pada dasarnya haram, kecuali karena ada kedaruratan.
والذي يدل على الاستثناء ما روي عن أم كلثوم قالت ما سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يرخص في شيء من الكذب إلا في ثلاث الرجل يقول القول يريد به الإصلاح والرجل يقول القول في الحرب والرجل يحدث امرأته والمرأة تحدث زوجها وقالت أيضاً قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَيْسَ بِكَذَّابٍ مَنْ أَصْلَحَ بَيْنَ اثْنَيْنِ فَقَالَ خيراً أو نمى خيرا حديث أسماء بنت يزيد كل الكذب يكتب على ابن آدم إلا رجل كذب بين رجلين يصلح بينهما أخرجه أحمد بزيادة فيه وهو عند الترمذي مختصرا وحسنه وروي عن أبي كامل قال وقع بين اثنين من أصحاب النبي ﷺ كلام حتى تصارما فلقيت أحدهما فقلت مالك ولفلان فقد سمعته يحسن عليك الثناء ثم لقيت الآخر فقلت له مثل ذلك حتى اصطلحا ثم قلت أهلكت نفسي وأصلحت بين هذين فأخبرت النبي ﷺ فقال يا أبا كاهل أصلح بين الناس أي ولو بالكذب وقال عطاء بن يسار قال رجل للنبي ﷺ أكذب على أهلي قال لا خير في الكذب قال أعدها وأقول لها قال لا جناح عليك
Hal yang menunjukkan adanya pengecualian ini adalah apa yang diriwayatkan dari Ummu Kultsum, ia berkata, "Aku tidak pernah mendengar Rasulullah ﷺ memberi keringanan (rukhsah) pada sesuatu dari kebohongan kecuali dalam tiga hal: seorang laki-laki yang mengatakan perkataan untuk maksud mendamaikan, seorang laki-laki yang berucap dalam peperangan, dan seorang suami yang berbicara kepada istrinya atau istri yang berbicara kepada suaminya." Ia juga berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Bukanlah seorang pembohong orang yang mendamaikan antara dua orang, lalu ia mengatakan kebaikan atau menyampaikan hal yang baik." Hadis Asma' binti Yazid: "Setiap kebohongan dicatat atas anak Adam, kecuali seseorang yang berbohong di antara dua orang untuk mendamaikan keduanya." (Diriwayatkan oleh Ahmad dengan tambahan di dalamnya, dan diriwayatkan secara ringkas oleh at-Tirmidzi dan beliau menghasankannya). Diriwayatkan dari Abu Kahil, ia berkata, "Terjadi perselisihan ucapan antara dua sahabat Nabi ﷺ hingga keduanya saling memutuskan hubungan. Lalu aku menemui salah satunya dan berkata, 'Ada apa antara engkau dan si Fulan? Sungguh aku mendengar ia memujimu dengan baik.' Kemudian aku menemui yang satunya lagi dan mengatakan hal serupa, hingga keduanya berdamai. Lalu aku berkata (dalam hati), 'Aku telah membinasakan diriku tetapi aku telah mendamaikan keduanya.' Maka aku memberitahukan hal itu kepada Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda, 'Wahai Abu Kahil, damaikanlah antarmanusia'—maksudnya: walaupun dengan kebohongan." Athā' bin Yasār berkata bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ, "Apakah boleh aku berbohong kepada istriku?" Beliau bersabda, "Tidak ada kebaikan dalam kebohongan." Laki-laki itu berkata, "Aku berjanji padanya dan mengatakannya kepadanya." Beliau bersabda, "Tidak ada dosa bagimu."
وروي أن ابن أبي عذرة الدؤلي وكان في خلافة عمر ﵁ كان يخلع النساء اللاتي يتزوج بهن فطارت له في الناس من ذلك أحدوثة يكرهها فلما علم بذلك أخذ بيد عبد الله بن الأرقم حتى أتى به إلى منزله ثم قال لامرأته أنشدك بالله هل تبغضيني قالت لا تنشدني قال فإني أنشدك الله قالت نعم فقال لابن الأرقم أتسمع ثم انطلقا حتى أتيا عمر ﵁ فقال إنكم لتحدثون إني أظلم النساء وأخلعهن فأسأل ابن الأرقم فسأله فأخبره فأرسل إلى امرأة ابن أبي عذرة فجاءت هي وعمتها فقال أنت التي تحدثين لزوجك أنك تبغضينه فقالت إني أول من تاب وراجع أمر الله تعالى إنه ناشدني فتحرجت أن أكذب أفأكذب يا أمير المؤمنين قال نعم فاكذبي فإن كانت إحداكن لا تحب أحدنا فلا تحدثه بذلك فإن أقل البيوت الذي يبنى على الحب ولكن الناس يتعاشرون بالإسلام والأحساب
Diriwayatkan bahwa Ibn Abi 'Udzrah ad-Du'ali—yang hidup pada masa kekhalifahan Umar radhiyallahu 'anhu—sering menceraikan wanita-wanita yang dinikahinya, sehingga tersebar desas-desus tentang dirinya di tengah masyarakat yang tidak disukainya. Ketika mengetahui hal itu, ia memegang tangan Abdullah bin al-Arqam lalu membawanya ke rumahnya. Kemudian ia berkata kepada istrinya, "Aku memohon kepadamu demi Allah, apakah engkau membenciku?" Istrinya menjawab, "Jangan engkau bersumpah atas nama Allah kepadaku." Ia berkata lagi, "Sungguh aku memohon kepadamu demi Allah." Istrinya menjawab, "Ya (aku membencimu)." Maka ia berkata kepada Ibn al-Arqam, "Apakah engkau mendengar?" Kemudian keduanya pergi menemui Umar radhiyallahu 'anhu. Ibn Abi 'Udzrah berkata, "Sesungguhnya kalian membicarakan bahwa aku menzalimi wanita dan menceraikan mereka, maka tanyakanlah kepada Ibn al-Arqam." Umar pun bertanya padanya dan ia memberitahukannya. Lalu Umar mengutus utusan kepada istri Ibn Abi 'Udzrah, maka datanglah sang istri bersama bibinya. Umar berkata, "Apakah engkau yang mengatakan kepada suamimu bahwa engkau membencinya?" Sang istri menjawab, "Aku adalah orang pertama yang bertobat dan kembali kepada perintah Allah Ta'ala. Dia memohon kepadaku demi Allah sehingga aku merasa berdosa untuk berbohong. Apakah aku boleh berbohong, wahai Amirul Mukminin?" Umar menjawab, "Ya, berbohonglah! Jika salah seorang dari kalian (para wanita) tidak menyukai salah seorang dari kami (suami), janganlah ia memberitahukan hal itu kepadanya. Sebab, sedikit sekali rumah tangga yang dibangun di atas cinta semata, melainkan manusia bergaul dengan asas Islam dan kehormatan nasab (tata krama)."
وعن النواس بن سمعان الكلابي قال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مالي أراكم تتهافتون في الكذب تهافت الفراش في النار كل الكذب يكتب على ابن آدم لا محالة إِلَّا أَنْ يَكْذِبَ الرَّجُلُ فِي الْحَرْبِ فَإِنَّ الحرب خدعة أو يكون بين الرجلين شحناء فيصلح بينهما أو يحدث امرأته يرضيها وقال ثَوْبَانُ الْكَذِبُ كُلُّهُ إِثْمٌ إِلَّا مَا نَفَعَ به مسلماً أو دفع عنه ضرراً
Diriwayatkan dari al-Nawwas bin Sam'an al-Kilabi, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Mengapa aku melihat kalian menjatuhkan diri dalam kebohongan sebagaimana laron jatuh ke dalam api? Setiap kebohongan pasti dicatat atas anak Adam tanpa ragu, kecuali jika seseorang berbohong dalam peperangan—karena perang adalah tipu daya—atau jika ada permusuhan antara dua orang lalu ia mendamaikan keduanya, atau ia berbicara kepada istrinya untuk melegakan hatinya." Dan Tsauban berkata, "Kebohongan itu seluruhnya adalah dosa, kecuali kebohongan yang dengannya memberi manfaat kepada seorang muslim atau menolak mudarat darinya."
وقال علي ﵁ إذا حدثتكم عن النبي ﷺ فلأن أخر من السماء أحب إلي من أن أكذب عليه وإذا حدثتكم فيما بيني وبينكم فالحرب خدعة
Ali radhiyallahu 'anhu berkata, "Apabila aku menyampaikan hadis kepada kalian dari Nabi ﷺ, sungguh jatuh dari langit lebih aku sukai daripada aku berbohong atas nama beliau. Namun apabila aku berbicara kepada kalian mengenai urusan di antara aku dan kalian, maka perang itu adalah tipu daya."
فهذه الثلاث ورد فيها صريح الاستثناء وفي معناها ما عداها إذا ارتبط به مقصود صحيح له أو لغيره أما ماله فمثل أن يأخذه ظالم ويسأله عن ماله فله أن ينكره أو يأخذه سلطان فيسأله عن فاحشة بينه وبين الله تعالى ارتكبها فله أن ينكر ذلك فيقول ما زنيت وما سرقت وقال ﷺ من ارتكب شيئاً من هذه القاذورات فليستتر بستر الله
Ketiga hal ini telah diriwayatkan secara tegas bentuk pengecualiannya, dan yang semakna dengannya mencakup hal-hal lain apabila berkaitan dengan tujuan yang benar, baik bagi dirinya maupun orang lain. Adapun yang berkaitan dengan dirinya sendiri, contohnya adalah ketika seorang yang zalim menangkapnya dan menanyakan hartanya, maka ia boleh mengingkarinya; atau ketika seorang penguasa menangkapnya dan menanyakan perbuatan keji yang dilakukannya antara dirinya dengan Allah Ta'ala, maka ia boleh mengingkarinya seraya berkata, "Aku tidak berzina dan tidak mencuri." Dan Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa melakukan sesuatu dari perbuatan kotor ini, hendaklah ia menutupi dirinya dengan tutupan (ampunan) Allah."
وذلك أن إظهار الفاحشة فاحشة أخرى فللرجل أن يحفظ دمه وماله الذي يؤخذ ظلماً وعرضه بلسانه وإن كان كاذباً
Hal itu karena menampakkan perbuatan keji merupakan bentuk kejahatan lainnya. Maka seorang laki-laki berhak menjaga darahnya, hartanya yang hendak diambil secara zalim, dan harga dirinya melalui lisannya, meskipun dengan berkata tidak benar (berbohong).
وأما عرض غيره فبأن يسأله عن سر أخيه فله أن ينكره وأن يصلح بين اثنين وأن يصلح بين الضرات من نسائه بأن يظهر لكل واحدة أنها أحب إليه وإن كانت امرأته لا تطاوعه إلا بوعد لا يقدر عليه فيعدها في الحال تطييباً لقلبها أو يعتذر إلى إنسان وكان لا يطيب قلبه إلا بإنكار ذنب وزيادة تودد فلا بأس به ولكن الحد فيه أن الكذب محذور ولو صدق في هذه المواضع تولد منه محذور فينبغي أن يقابل أحدهما بالآخر ويزن بالميزان القسط فإذا علم أن المحذور الذي يحصل بالصدق أشد وقعاً في الشرع من الكذب فله الكذب وإن كان ذلك المقصود أهون من مقصود الصدق فيجب الصدق وقد يتقابل الأمران بحيث يتردد فيهما وعند ذلك الميل إلى الصدق أولى لأن الكذب يباح لضرورة أو حاجة مهمة فإن شك في كون الحاجة مهمة فالأصل التحريم فيرجع إليه ولأجل غموض إدراك مراتب المقاصد ينبغي أن يحترز الإنسان من الكذب ما أمكنه وكذلك مهما كانت الحاجة له فيستحب له أن يترك أغراضه ويهجر الكذب فأما إذا تعلق بغرض غيره فلا تجوز المسامحة لحق الغير والإضرار به وأكثر كذب الناس إنما هو لحظوظ أنفسهم ثم هو لزيادات المال والجاه ولأمور ليس فواتها
Adapun yang berkaitan dengan kehormatan orang lain, seperti ketika seseorang menanyakan rahasia saudaranya, maka ia berhak mengingkarinya; atau ketika ia mendamaikan dua orang yang berselisih; atau mendamaikan di antara para madu (istri-istrinya) dengan menampakkan kepada masing-masing bahwa dialah yang paling dicintainya; atau jika istrinya tidak mau menuruti perbuatannya kecuali dengan janji yang sebenarnya tidak ia sanggupi, maka ia boleh menjanjiinya saat itu juga demi menyenangkan hatinya; atau ketika ia meminta maaf kepada seseorang yang tidak akan senang hatinya kecuali dengan mengingkari suatu kesalahan dan menambah rasa kasih sayang, maka hal itu tidak mengapa. Akan tetapi, batasan hukumnya adalah bahwa kebohongan pada dasarnya dilarang, dan jika ia jujur dalam kondisi-kondisi ini, akan timbul kemudharatan. Oleh karena itu, hendaknya salah satunya dibandingkan dengan yang lain dan ditimbang dengan timbangan yang adil. Apabila diketahui bahwa kemudharatan yang timbul akibat kejujuran lebih berat kedudukannya dalam Syariat daripada kebohongan, maka ia boleh berbohong. Namun jika tujuan tersebut lebih ringan nilainya daripada tujuan kejujuran, maka kejujuran menjadi wajib. Kadang kala kedua hal tersebut berimbang hingga menimbulkan keraguan, dan dalam keadaan demikian, cenderung kepada kejujuran adalah lebih utama, karena kebohongan hanya dibolehkan untuk kedaruratan atau kebutuhan yang sangat penting. Jika timbul keraguan apakah kebutuhan tersebut penting atau tidak, maka hukum asalnya adalah keharaman, sehingga kembali kepada hukum asal tersebut. Oleh karena rumitnya memahami tingkatan-tingkatan tujuan ini, hendaknya seseorang menjaga diri dari kebohongan sedapat mungkin. Demikian pula, apabila kebutuhan itu menyangkut dirinya sendiri, disunnahkan baginya untuk meninggalkan kepentingan pribadinya dan menjauhi kebohongan. Adapun jika berkaitan dengan kepentingan orang lain, maka tidak boleh ada kelonggaran yang mengabaikan hak orang lain atau memberi kemudharatan kepadanya. Kebanyakan kebohongan manusia sebenarnya hanyalah demi bagian hawa nafsu diri mereka sendiri, kemudian demi penambahan harta, kedudukan, dan perkara-perkara yang sebenarnya tidak menimbulkan bahaya jika luput darinya…
محذوراً حتى إن المرأة لتحكي عن زوجها ما تفخر به وتكذب لأجل مراغمة الضرات وذلك حرام وقالت أسماء سمعت امرأة سألت رسول الله ﷺ قالت إن لي ضرة وإني أتكثر من زوجي بما لم يفعل أضارها بذلك فهل على شيء فيه فقال ﷺ المتشبع بما لم يعط كلابس ثوبي زور وقال ﷺ من تطعم بما لا يطعم أو قال لي وليس له أو أعطيت ولم يعط فهو كلابس ثوبي زور يوم القيامة
…bahkan hingga seorang wanita menceritakan tentang suaminya sesuatu yang ia banggakan dan ia berbohong untuk menyakiti perasaan madu-madunya, dan hal itu adalah haram. Asma' berkata, aku mendengar seorang wanita bertanya kepada Rasulullah ﷺ dengan berkata, "Sesungguhnya aku memiliki madu (istri lain dari suamiku), dan aku berpura-pura mendapatkan pemberian banyak dari suamiku atas apa yang tidak ia lakukan demi menyakiti hatinya, apakah ada dosa bagiku dalam hal itu?" Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang berpura-pura kenyang dengan apa yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian kepalsuan." Dan beliau ﷺ bersabda, "Barangsiapa mengaku kenyang dengan apa yang tidak dimakannya, atau berkata 'aku memiliki ini' padahal tidak dimilikinya, atau 'aku diberi' padahal tidak diberi, maka ia seperti orang yang memakai dua pakaian kepalsuan pada hari kiamat."
ويدخل في هذا فنرى العالم لما لا يتحققه وروايته الحديث الذي لا يتثبته إذ غرضه أن يظهر فضل نفسه فهو لذلك يستنكف من أن يقال لا أدري وهذا حرم ومما يلتحق بالنساء الصبيان فإن الصبي إذا كان لا يرغب في المكتب إلا وعد أو عيد أو تخويف كاذب كان ذلك مباحاً نعم روينا في الأخبار أن ذلك يكتب كذباً ولكن الكذب المباح أيضاً قد يكتب ويحاسب عليه ويطالب بتصحيح قصده فيه ثم يعفى عنه لأنه إنما أبيح بقصد الإصلاح ويتطرق إليه غرور كبير فإنه قد يكون الباعث له حظه وغرضه الذي هو مستغن عنه وإنما يتعلل ظاهراً بالإصلاح فلهذا يكتب وكل من أتي بكذبة فقد وقع في خطر الاجتهاد ليعلم أن المقصود الذي كذب لأجله هل هو أهم في الشرع من الصدق أم لا وذلك غامض جداً والحزم تركه إلا أن يصير واجباً بحيث لا يجوز تركه كما لو أدى إلى سفك دم أو ارتكاب معصية كيف كان
Termasuk dalam hal ini adalah apa yang kita lihat pada seorang alim yang mengaku tahu tentang apa yang tidak ia yakini kebenarannya, atau meriwayatkan hadis yang tidak ia teliti kepastiannya, lantaran tujuannya hanya untuk menampakkan keutamaan dirinya. Oleh karena itu, ia enggan jika dikatakan kepadanya "aku tidak tahu", dan hal ini hukumnya haram. Termasuk pula yang dihubungkan dengan urusan wanita adalah anak-anak kecil. Apabila seorang anak tidak mau pergi ke tempat belajar (maktab) kecuali dengan janji, ancaman, atau menakut-nakutinya secara bohong, maka hal itu dibolehkan. Memang diriwayatkan dalam beberapa riwayat bahwa hal tersebut tetap dicatat sebagai kebohongan, tetapi kebohongan yang dibolehkan pun terkadang tetap dicatat dan diperhitungkan, lalu dituntut perbaikan niatnya, kemudian diampuni karena ia hanya dibolehkan demi tujuan perbaikan. Namun, timbul penipuan diri (ghurur) yang besar dalam hal ini, sebab terkadang pendorongnya adalah bagian hawa nafsu dan tujuannya sendiri yang sebenarnya tidak ia butuhkan, padahal secara lahiriah ia berdalih demi perbaikan. Oleh karena inilah hal itu dicatat. Setiap orang yang melakukan suatu kebohongan telah jatuh ke dalam risiko ijtihad untuk mengetahui apakah tujuan ia berbohong itu lebih penting dalam Syariat daripada kejujuran atau tidak, dan hal itu sangatlah samar. Sikap yang penuh kehati-hatian adalah meninggalkannya, kecuali jika kebohongan itu menjadi wajib sekira tidak boleh ditinggalkan, seperti apabila kejujuran akan mengakibatkan pertumpahan darah atau terjadinya maksiat bagaimanapun bentuknya.
وقد ظن ظانون أنه يجوز وضع الأحاديث في فضائل الأعمال وفي التشديد في المعاصي وزعموا أن القصد منه صحيح وهو خطأ محض إذ قال ﷺ من كذب علي متعمداً فليتبوأ مقعده من النار وهذا لا يرتكب إلا لضرورة ولا ضرورة إذ في الصدق مندوحة عن الكذب ففيما ورد من الآيات والأخبار كفاية عن غيرها وقول القائل إن ذلك قد تكرر على الأسماع وسقط وقعه وما هو جديد فوقعه أعظم فهذا هوس إذ ليس هذا من الأغراض التي تقاوم محذور الكذب عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وعلى الله تعالى ويؤدي فتح بابه إلى أمور تشوش الشريعة فلا يقاوم خير هذا شره أصلى والكذب عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ من الكبائر التي لا يقاومها شيء نسأل الله العفو عنا وعن جميع المسلمين
Sungguh sebagian orang menduga bahwa boleh membuat hadis palsu tentang keutamaan-keutamaan amal (fadhail al-a'mal) dan peringatan keras atas kemaksiatan, dengan mengklaim bahwa tujuannya adalah benar. Ini adalah kekeliruan murni, sebab Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa sengaja berbohong atas namaku, maka hendaklah ia bersiap mengambil tempat duduknya di neraka." Hal ini tidak boleh dilanggar kecuali karena darurat, padahal tidak ada kedaruratan di sini, karena dalam kejujuran terdapat kelapangan yang cukup dari kebohongan. Apa yang termuat dalam ayat-ayat Al-Qur'an dan riwayat-riwayat hadis shahih sudah sangat cukup tanpa memerlukan yang lain. Adapun ucapan seseorang bahwa "hal itu sudah berulang kali didengar sehingga hilang kesannya, sedangkan sesuatu yang baru memiliki kesan yang lebih besar", ini adalah igauan belaka. Sebab, hal ini bukanlah tujuan yang dapat menandingi bahaya larangan berbohong atas nama Rasulullah ﷺ dan atas nama Allah Ta'ala. Membuka pintu pemalsuan ini akan mengarah pada perkara-perkara yang mengacaukan Syariat, sehingga kebaikan hal ini sama sekali tidak dapat menandingi keburukannya. Kebohongan atas nama Rasulullah ﷺ termasuk dosa besar yang tidak dapat ditandingi oleh apa pun. Kita memohon ampunan kepada Allah bagi diri kita dan bagi seluruh kaum muslimin.
بَيَانُ الْحَذَرِ مِنَ الْكَذِبِ بِالْمَعَارِيضِ
Penjelasan tentang Sikap Waspada Terhadap Kebohongan dengan Kata-Kata Sindiran/Kiasan (Al-Ma'aridh)
قَدْ نُقِلَ عَنِ السَّلَفِ إِنَّ فِي الْمَعَارِيضِ مَنْدُوحَةً عَنِ الكذب قال عمر ﵁ أما في المعاريض ما يكفي الرجل عن الكذب وروى ذلك عن ابن عباس وغيره وإنما أرادوا بذلك إِذَا اضْطَرَّ الْإِنْسَانُ إِلَى الْكَذِبِ فَأَمَّا إِذَا لَمْ تَكُنْ حَاجَةٌ وَضَرُورَةٌ فَلَا يَجُوزُ التَّعْرِيضُ وَلَا التَّصْرِيحُ جَمِيعًا وَلَكِنَّ التَّعْرِيضَ أَهْوَنُ وَمِثَالُ التَّعْرِيضِ مَا رُوِيَ أَنَّ مطرفا دَخَلَ عَلَى زياد فَاسْتَبْطَأَهُ فَتَعَلَّلَ بِمَرَضٍ وَقَالَ مَا رَفَعْتُ جَنْبِي مُذْ فَارَقْتُ الْأَمِيرَ إِلَّا مَا رَفَعَنِي الله وقال إبراهيم إذا بلغ الرجل عنك شيء فكرهت أن تكذب فقل إن الله تعالى ليعلم ما قلت من ذلك من شيء فيكون قوله ما حرف نفي عند المستمع وعنده الإبهام وَكَانَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ عَامِلًا لعمر ﵁ فَلَمَّا رَجَعَ قَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ مَا جِئْتَ بِهِ مِمَّا يَأْتِي بِهِ الْعُمَّالُ إِلَى أَهْلِهِمْ وَمَا كَانَ قَدْ أَتَاهَا بِشَيْءٍ فَقَالَ كَانَ عِنْدِي ضَاغِطٌ قَالَتْ كُنْتَ أَمِينًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وعند أبي بكر ﵁ فبعث عمر
Sungguh telah diriwayatkan dari kaum Salaf bahwa dalam ungkapan sindiran halus (*ma'aridh*) terdapat kelapangan untuk mengelak dari kedustaan. Umar ﵁ berkata: "Bukankah dalam ungkapan sindiran terdapat kecukupan bagi seseorang agar terhindar dari dusta?" Hal ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan selainnya. Maksud mereka adalah apabila seseorang terpaksa untuk berdusta. Adapun jika tidak ada hajat dan darurat, maka tidak boleh menggunakan ungkapan sindiran (*ta'ridh*) maupun ungkapan yang tegas (*tasrih*) secara keseluruhan, namun ungkapan sindiran itu lebih ringan. Contoh ungkapan sindiran adalah apa yang diriwayatkan bahwa Mutharrif menemui Ziyad, lalu Ziyad menganggapnya lambat, maka Mutharrif beralasan dengan sakit dan berkata: "Aku tidak pernah mengangkat lambungku sejak berpisah dengan Amir melainkan apa yang diangkat oleh Allah." Ibrahim berkata: "Jika sampai kepada seseorang sesuatu tentang dirimu dan engkau benci untuk berdusta, maka katakanlah: 'Sesungguhnya Allah Ta'ala mengetahui apa yang aku katakan dari hal itu sedikit pun,' sehingga perkataan 'ma' menjadi huruf nafi (penolakan) menurut pendengar, sedangkan menurut pengucapnya adalah samar (ambigu)." Dan Mu'adz bin Jabal pernah menjadi gubernur (pejabat) bagi Umar ﵁. Ketika ia kembali, istrinya berkata kepadanya: "Mana yang engkau bawa sebagaimana para pejabat membawanya kepada keluarga mereka?" Padahal Mu'adz tidak membawa apa pun kepadanya. Maka Mu'adz berkata: "Dahulu bersamaku ada seorang pengawas (*dhaghit*)." Istrinya berkata: "Engkau adalah orang yang terpercaya di sisi Rasulullah ﷺ dan di sisi Abu Bakar ﵁, lalu apakah Umar mengutus…
مَعَكَ ضَاغِطًا وَقَامَتْ بِذَلِكَ بَيْنَ نِسَائِهَا وَاشْتَكَتْ عمر فَلَمَّا بَلَغَهُ ذَلِكَ دَعَا معاذا وَقَالَ بعثت معك ضاغطاً قال لم أَجِدُ مَا أَعْتَذِرُ بِهِ إِلَيْهَا إِلَّا ذَلِكَ فضحك عمر ﵁ وَأَعْطَاهُ شَيْئًا فَقَالَ أَرْضِهَا بِهِ وَمَعْنَى قَوْلِهِ ضاغطاً يعني رَقِيبًا وَأَرَادَ بِهِ اللَّهَ تَعَالَى وَكَانَ النخعي لا يقول لابنته أشتري لك سكراً بل يقول أرأيت لو اشتريت لك سكراً فإنه ربما لا يتفق له ذلك وكان إبراهيم إِذَا طَلَبَهُ مَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَخْرُجَ إِلَيْهِ وَهُوَ فِي الدَّارِ قَالَ لِلْجَارِيَةِ قَوْلِي لَهُ أطلبه في المسجد ولا تقولي له ليس ههنا كيلا يكون كذباً وكان الشعبي إذا طلب في المنزل هو يكرهه خط دائرة وقال للجارية ضعي الأصبع فيها وقولي ليس ههنا وهذا كله في موضع الحاجة فأما في غير موضع الحاجة فلا لأن هذا تفهيم للكذب وإن لم يكن اللفظ كذباً فهو مكروه على الجملة كما روى عبد الله بن عتبة قال دخلت مع أبي على عمر بن عبد العزيز ﵀ عليه فخرجت وعلى ثوب فجعل الناس يقولون هذا كساكه أمير المؤمنين فكنت أقول جزى الله أمير المؤمنين خيراً فقال لي أبي يا بني اتق الكذب وما أشبهه فنهاه عن ذلك لأن فيه تقريراً لهم عن ظن كاذب لأجل غرض المفاخرة وهذا غرض باطل لا فائدة فيه
…seorang pengawas bersamamu?" Istrinya pun menyebarkan hal itu di antara para wanita dan mengeluhkan Umar. Ketika kabar itu sampai kepada Umar, ia memanggil Mu'adz dan berkata: "Apakah aku mengutus seorang pengawas bersamamu?" Mu'adz menjawab: "Aku tidak menemukan alasan untuk menyampaikannya kepadanya kecuali dengan hal itu." Maka Umar ﵁ tertawa dan memberinya sesuatu seraya berkata: "Bikinlah ia ridha dengannya." Makna perkataannya *dhaghit* adalah pengawas, dan yang dimaksudnya adalah Allah Ta'ala. An-Nakha'i juga tidak pernah berkata kepada putrinya: "Aku akan membelikanmu gula," melainkan ia berkata: "Bagaimana pendapatmu jika aku membelikanmu gula?" karena bisa jadi hal itu tidak terlaksana baginya. Dan Ibrahim, apabila ada orang yang tidak disukainya mencarinya sementara ia ada di dalam rumah, ia berkata kepada pelayan wanitanya: "Katakan kepadanya: 'Carilah dia di masjid,' dan jangan katakan kepadanya: 'Dia tidak ada di sini,' agar tidak menjadi kedustaan." Sya'bi juga apabila dicari di rumah oleh orang yang tidak disukainya, ia membuat garis lingkaran dan berkata kepada pelayan wanita: "Letakkan jarimu di dalamnya dan katakan: 'Dia tidak ada di sini'." Ini semua berada dalam kondisi adanya kebutuhan (hajat). Adapun jika bukan dalam kondisi ada kebutuhan, maka tidak boleh, sebab hal ini memberikan pemahaman yang dusta. Meskipun lafalnya bukan kedustaan, namun secara umum hukumnya makruh. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Utbah, ia berkata: "Aku masuk bersama ayahku menemui Umar bin Abdul Aziz ﵀. Lalu aku keluar dan aku mengenakan sebuah pakaian, maka orang-orang mulai berkata: 'Apakah pakaian ini diberikan oleh Amirul Mukminin kepadamu?' Lalu aku menjawab: 'Semoga Allah membalas Amirul Mukminin dengan kebaikan.' Ayahku lalu berkata kepadaku: 'Wahai anakku, jauhilah kedustaan dan hal yang menyerupainya.' Ayahnya melarangnya dari hal itu karena di dalamnya terdapat pembiaran terhadap persangkaan dusta mereka demi tujuan membanggakan diri, dan ini adalah tujuan batil yang tidak ada manfaatnya.
نعم المعاريض تباح لغرض خفيف كتطييب قَلْبِ الْغَيْرِ بِالْمِزَاحِ كَقَوْلِهِ ﷺ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَجُوزٌ وَقَوْلِهِ لِلْأُخْرَى الذي في عين زوجك بياض وللأخرى نحملك على ولد البعير وما أشبهه وأما الكذب الصريح كما فعله نعمان الأنصاري مع عثمان في قصة الضرير إذ قال له إنه نعيمان وكما يعتاده الناس من ملاعبة الحمقى بتغريرهم بأن امرأة قد رغبت في تزويجك فإن كان فيه ضرر يؤدي إلى إيذاء قلب فهو حرام وإن لم يكن إلا لمطايبته فلا يوصف صاحبها بالفسق ولكن ينقص ذلك من درجة إيمانه
Ya, ungkapan sindiran halus (*ma'aridh*) diperbolehkan untuk tujuan yang ringan, seperti menyenangkan hati orang lain dengan gurauan. Seperti sabda Nabi ﷺ: "Tidak akan masuk surga orang tua yang renta," dan sabda beliau kepada wanita lain: "Di dalam mata suamimu ada warna putih," dan kepada yang lain: "Kami akan membawamu di atas anak unta," dan yang serupa dengan itu. Adapun kedustaan yang terang-terangan (jelas), sebagaimana yang dilakukan Nu'aiman Al-Anshari terhadap Utsman dalam kisah orang buta ketika ia berkata kepadanya bahwa dia adalah Nu'aiman, dan sebagaimana yang terbiasa dilakukan orang-orang berupa mempermainkan orang bodoh dengan memperdaya mereka bahwa ada seorang wanita yang ingin menikahinya; maka jika di dalamnya terdapat kemudaratan yang menyebabkan tersakitinya hati, hukumnya adalah haram. Namun jika hanya untuk sekadar menghibur atau bergurau, maka pelakunya tidak disifati dengan kefasikan, tetapi hal itu mengurangi derajat keimanannya.
قال ﷺ لا يكمل للمرء الإيمان حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه وحتى يجتنب الكذب في مزاحه
Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah sempurna iman seseorang hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai bagi dirinya sendiri, dan hingga ia menjauhi kedustaan dalam gurauannya."
وأما قوله ﷺ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بالكلمة ليضحك بها الناس يهوى بها في النار أبعد من الثريا
Adapun sabda beliau ﷺ: "Sesungguhnya seseorang benar-benar mengucapkan suatu kalimat untuk membuat orang-orang tertawa, yang dengannya ia terperosok ke dalam neraka lebih jauh dari bintang Tsurayya."
أراد به ما فيه غيبة مسلم أو إيذاء قلب دون محض المزاح
Maksud beliau adalah perkataan yang mengandung ghibah (gunjingan) terhadap seorang muslim atau menyakiti hati, bukan sekadar gurauan belaka.
ومن الكذب الذي لا يوجب الفسق مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ فِي الْمُبَالَغَةِ كَقَوْلِهِ طلبتك كذا وكذا مرة وقلت لَكَ كَذَا مِائَةَ مَرَّةٍ فَإِنَّهُ لَا يُرِيدُ بِهِ تَفْهِيمَ الْمَرَّاتِ بِعَدَدِهَا بَلْ تَفْهِيمَ الْمُبَالَغَةِ فإن لم يكن طلبه إلا مرة واحدة كان كاذباً وإن كان طلبه مرات لا يعتاد مثلها في الكثرة لا يأثم وإن لم تبلغ مائة وبينهما درجات يتعرض مطلق اللسان بالمبالغة فيها لخطر الكذب
Dan di antara kedustaan yang tidak menyebabkan kefasikan adalah apa yang telah menjadi kebiasaan dalam berlebihan (*mubalaghah/hiperbola*), seperti ucapan seseorang: "Aku telah mencarimu sekian dan sekian kali," atau "Aku telah katakan kepadamu seratus kali." Sebab sesungguhnya ia tidak bermaksud memberikan pemahaman tentang jumlah bilangan kali tersebut, melainkan untuk memberikan pemahaman tentang besarnya penekanan (*mubalaghah*). Maka jika ia tidak mencarinya melainkan hanya satu kali, ia dianggap berdusta. Namun jika ia mencarinya beberapa kali yang secara adat dianggap sangat banyak, ia tidak berdosa walaupun belum mencapai seratus kali. Di antara kedua keadaan ini terdapat tingkatan-tingkatan di mana orang yang mengumbar lisannya dengan hiperbola terancam bahaya kedustaan.
ومما يعتاد الكذب فيه ويتساهل به أَنْ يُقَالَ كُلِ الطَّعَامَ فَيَقُولُ لَا أَشْتَهِيهِ وذلك منهى عنه وهو حرام وإن لم يكن فيه غرض صحيح قال مجاهد قالت أسماء بنت عميس كنت صاحبة عائشة في الليلة التي هيأتها وأدخلتها عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ومعي نسوة قالت فوالله ما وجدنا عنده قرى إلا قدحاً من لبن فشرب ثم ناوله عائشة قالت فاستحيت الجارية فقلت لا تردي يد رسول الله ﷺ خذي منه قالت فأخذت منه على حياء فشربت منه ثم قال ناولي صواحبك فقلن لا نشتهيه فقال لا تجمعن جوعاً وكذباً قالت فقلت يا رسول الله إن قالت إحدانا لشيء تشتهيه لا أشتهيه أيعد ذلك كذبا قال
Dan di antara hal yang terbiasa dilakukan kedustaan di dalamnya serta diremehkan adalah ketika dikatakan kepada seseorang: "Makanlah makanan ini," lalu ia menjawab: "Aku tidak berselera (tidak menginginkannya)." Hal itu dilarang dan hukumnya haram jika tidak ada tujuan yang benar. Mujahid berkata: Asma' binti Umais berkata: "Aku mendampingi Aisyah pada malam ketika beliau dipersiapkan dan diantarkan kepada Rasulullah ﷺ bersama beberapa wanita." Ia berkata: "Demi Allah, kami tidak menemukan hidangan makanan di sisi beliau selain segelas susu. Beliau pun meminumnya lalu menyodorkannya kepada Aisyah." Asma' berkata: "Gadis muda (Aisyah) itu merasa malu, maka aku berkata: 'Jangan menolak tangan Rasulullah ﷺ, ambillah darinya!'" Asma' berkata: "Maka Aisyah mengambilnya dengan rasa malu lalu meminumnya. Kemudian Nabi bersabda: 'Berikanlah kepada kawan-kawanmu.' Wanita-wanita itu menjawab: 'Kami tidak berselera.' Maka beliau bersabda: 'Janganlah kalian menggabungkan antara kelaparan dan kedustaan.' Asma' berkata: Aku lalu bertanya: 'Wahai Rasulullah, jika salah seorang dari kami mengatakan terhadap sesuatu yang ia inginkan: Aku tidak berselera, apakah itu dihitung sebagai kedustaan?' Beliau bersabda:
إن الكذب ليكتب كذباً حتى تكتب الكذبة كذيبة
"Sesungguhnya kedustaan itu benar-benar dicatat sebagai kedustaan, hingga kedustaan kecil pun tetap dicatat sebagai kedustaan kecil (*kudzaybah*)."
وقد كان أهل الورع يحترزون عن التسامح بمثل هذا الكذب
Dan sungguh, ahli warak (*ahlul-wara'*) sangat berhati-hati dan menjaga diri dari bersikap toleran (*tasamuh*) terhadap kedustaan seperti ini.
قال الليث بن سعد كانت عينا سعد بن المسيب ترمص حتى يبلغ الرمص خارج عينيه فيقال له لو مسحت عينيك فيقول وأين قول الطبيب لا تمس عينيك فأقول لا أفعل وهذه مراقبة أهل الورع
Laits bin Sa'ad berkata: Mata Sa'id bin al-Musayyib pernah berkotoran (*belekan*) hingga kotoran mata itu keluar ke pinggir matanya. Lalu dikatakan kepadanya: "Sekiranya engkau mengusap matamu?" Beliau menjawab: "Lalu di mana janji kepada dokter yang mengatakan: 'Jangan sentuh matamu,' lalu aku menjawab: 'Aku tidak akan melakukannya'?" Ini adalah bentuk muraqabah (pengawasan diri) dari para ahli warak.
ومن تركه انسل لسانه في الكذب عند حد اختياره فيكذب ولا يشعر
Dan barang siapa yang meninggalkannya (sikap kewaspadaan ini), maka lisannya akan tergelincir ke dalam kedustaan pada saat ia berkehendak bebas, sehingga ia berdusta tanpa ia sadari.
وعن خوات التيمي قال جاءت أخت الربيع بن خثيم عائدة لابن له فانكبت عليه فقالت كيف أنت يا بني فجلس الربيع وقال أرضعتيه قالت لا قال ما عليك لو قلت يا ابن أخي فصدقت ومن العادة أَنْ يَقُولَ يَعْلَمُ اللَّهُ فِيمَا لَا يَعْلَمُهُ
Dari Khawwat at-Taimi ia berkata: Saudari perempuan ar-Rabi' bin Khutsaim datang menjenguk anak laki-laki ar-Rabi'. Ia pun memeluk anak itu dan berkata: "Bagaimana keadaanmu, wahai anakku?" Maka ar-Rabi' duduk dan berkata: "Apakah engkau telah menyusuinya?" Perempuan itu menjawab: "Tidak." Ar-Rabi' berkata: "Mengapa engkau tidak mengatakan: 'Wahai anak saudaraku' sehingga engkau berkata jujur?" Dan termasuk kebiasaan (yang salah) adalah seseorang berkata "Allah mengetahui" terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya.
قال عيسى ﵇ إن من عظم الذنوب عند الله أن يقول العبد إن الله يعلم لما لا يعلم
Nabi Isa ﵇ berkata: "Sesungguhnya di antara dosa yang sangat besar di sisi Allah adalah seorang hamba berkata 'Sesungguhnya Allah mengetahui' terhadap sesuatu yang tidak ia ketahui."
وربما يكذب في حكاية المنام والإثم فيه عظيم إذ قال ﷺ إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْفِرْيَةِ أَنْ يَدَّعِيَ الرَّجُلُ إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ يُرِيَ عَيْنَيْهِ فِي الْمَنَامِ مَا لَمْ يَرَ أَوْ يَقُولَ عَلَيَّ ما لم أقل حديث من كذب في حلمه كلف يوم القيامة أن يعقد بين شعيرة أخرجه البخاري من حديث ابن عباس حديث كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وعرضه أخرجه مسلم من حديث أي هريرة حديث لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا يغتب بعضكم بعضاً وكونوا عباد الله إخواناً متفق عليه من حديث أبي هريرة دون قوله ولا يغتب بعضكم بعضاً وقد تقدم في آداب الصحبة حديث جابر وأبي سعيد إياكم والغيبة فإن الغيبة أشد من الزنا الحديث أخرجه ابن أبي الدنيا في الصمت وابن حبان في الضعفاء وابن مردويه في التفسير حديث أنس مررت ليلة أسري بي على قوم يخمشون وجوههم بأظفارهم الحديث أخرجه أبو داود مسندا ومرسلا والمسند أصح //
Dan terkadang seseorang berdusta dalam menceritakan mimpi, padahal dosanya sangat besar, karena Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya di antara kebohongan yang paling besar adalah seseorang mengaku keturunan dari selain ayahnya, atau memperlihatkan kepada kedua matanya dalam mimpi apa yang tidak dilihatnya, atau mengatasnamakan diriku apa yang tidak aku katakan." Hadis: "Barang siapa berdusta dalam mimpinya, ia akan dibebani pada hari kiamat untuk mengikat dua biji gandum." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari hadis Ibnu Abbas). Hadis: "Setiap muslim atas muslim lainnya adalah haram: darahnya, hartanya, dan kehormatannya." (Diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Abu Hurairah). Hadis: "Janganlah kalian saling mendengki, jangan saling membenci, dan janganlah sebagian kalian menggunjing (*ghibah*) sebagian yang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (Muttafaq 'alaih dari hadis Abu Hurairah, tanpa lafal "dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain", dan telah terdahulu dalam *Adab as-Suhbah*). Hadis Jabir dan Abu Sa'id: "Jauhilah ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat daripada zina…" Hadis ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam *as-Samt*, Ibnu Hibban dalam *adh-Dhu'afa'*, dan Ibnu Mardawaih dalam *at-Tafsir*. Hadis Anas: "Pada malam aku diisra'kan, aku melewati suatu kaum yang mencakar wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku mereka…" (Dikeluarkan oleh Abu Dawud secara musnad dan mursal, dan yang musnad lebih shahih).
وقال سليم بن جابر أتيت النبي ﷺ فقلت علمني خيراً أنتفع به فقال لا تحقرن
Sulaim bin Jabir berkata: Aku mendatangi Nabi ﷺ lalu berkata: "Ajarilah aku kebaikan yang dapat memberiku manfaat." Beliau bersabda: "Janganlah engkau meremehkan…
من المعروف شيئاً ولو أن تصب من دلوك في إناء المستقى وأن تلقى أخاك ببشر حسن وإن أدبر فلا تغتابنه
…kebaikan sedikit pun, walaupun engkau hanya menuangkan dari timbamu ke dalam wadah orang yang meminta air, dan hendaknya engkau menemui saudaramu dengan wajah yang berseri-seri. Dan jika ia berpaling, maka janganlah engkau menggunjingnya (*ghibah*)."
وقال البراء خطبنا رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حَتَّى أسمع العوانق في بيوتهن فقال يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِقَلْبِهِ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عورته ومن تتبع الله عورته يفضحه في جوف بيته
Al-Bara' berkata: Rasulullah ﷺ berkhotbah kepada kami hingga terdengar oleh para gadis pingitan di dalam rumah-rumah mereka, lalu beliau bersabda: "Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya namun belum beriman dengan hatinya, janganlah kalian menggunjing (*ghibah*) kaum muslimin dan janganlah mencari-cari aib mereka. Karena barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya, Allah akan mencari-cari aibnya; dan barang siapa yang Allah cari-cari aibnya, niscaya Dia akan membuka aibnya meskipun di dalam rumahnya sendiri."
وقيل أوحي الله إلى موسى ﵇ من مات تائباً من الغيبة فهو آخر من يدخل الجنة ومن مات مصراً عليها فهو أول من يدخل النار
Dikatakan bahwa Allah mewahyukan kepada Nabi Musa ﵇: "Barang siapa meninggal dalam keadaan bertobat dari perbuatan ghibah, maka ia adalah orang terakhir yang masuk surga; dan barang siapa meninggal dalam keadaan terus-menerus menggebu melakukannya (tanpa bertobat), maka ia adalah orang pertama yang masuk neraka."
وقال أنس أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الناس بصوم يوم فقال لا يفطرن أحد حتى آذن له فصام الناس حتى إذا أمسوا جعل الرجل يجيء فيقول يا رسول الله ظللت صائماً فائذن لي لأفطر فيأذن له والرجل والرجل حتى جاء رجل فقال يا رسول الله فتاتان من أهلك ظلتا صائمتين وإنهما يستحيان أن يأتياك فائذن لهما أن يفطرا فأعرض عنه ﷺ ثم عاوده فأعرض عنه ثم عاوده فقال إنهما لم يصوما وكيف يصوم من ظل نهاره يأكل لحم الناس اذهب فمرهما إن كانتا صائمتين أن تستقيئا فرجع إليهما فأخبرهما فاستقاءتا فقاءت كل واحدة منهما علقة من دم فرجع إلى النبي ﷺ فأخبره فقال والذي نفسي بيده لو بقيتا في بطونهما لأكلتهما النار
Anas berkata: Rasulullah ﷺ memerintahkan orang-orang untuk berpuasa pada suatu hari, lalu bersabda: "Janganlah ada seorang pun yang berbuka hingga aku memberi izin kepadanya." Orang-orang pun berpuasa hingga ketika sore hari, datanglah seorang laki-laki seraya berkata: "Wahai Rasulullah, aku seharian berpuasa, maka izinkanlah aku untuk berbuka," lalu beliau mengizinkannya. Demikian pula laki-laki berikutnya, hingga datang seorang laki-laki seraya berkata: "Wahai Rasulullah, ada dua gadis dari keluargamu yang seharian berpuasa, dan keduanya malu untuk mendatangi Anda, maka izinkanlah keduanya untuk berbuka." Namun Nabi ﷺ berpaling darinya. Lalu ia mengulanginya lagi, dan beliau berpaling darinya. Lalu ia mengulanginya lagi, maka beliau bersabda: "Sesungguhnya keduanya tidak berpuasa. Bagaimana bisa berpuasa orang yang sepanjang hari memakan daging manusia? Pergilah dan perintahkan keduanya jika mereka benar-benar berpuasa untuk muntah." Laki-laki itu pun kembali kepada kedua gadis tersebut dan memberitahukan hal itu. Keduanya lalu memuntahkan isi perutnya, dan masing-masing memuntahkan gumpalan darah. Laki-laki itu kembali kepada Nabi ﷺ dan memberitahukan kejadian tersebut. Beliau bersabda: "Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya gumpalan darah itu tetap berada di dalam perut mereka berdua, niscaya api neraka akan membakar mereka berdua."
وفي رواية أنه لما أعرض عنه جاء بعد ذلك وقال يا رسول الله والله إنهما قد ماتتا أو كادتا أن تموتا فقال ﷺ ائتوني بهما فجاءتا فدعا رسول الله ﷺ بقدح فقال لإحداهما قيئي فقاءت من قيح ودم وصديد حتى ملأت القدح وقال للأخرى قيئي فقاءت كذلك فقال إن هاتين صامتا عما أحل الله لهما وأفطرتا على ما حرم الله عليهما جلست إحداهما إلى الأخرى فجعلتا تأكلان لحوم الناس
Dan dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ berpaling darinya, ia datang kembali setelah itu dan berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah, keduanya telah mati atau hampir mati." Maka beliau ﷺ bersabda, "Bawalah keduanya kemari." Lalu keduanya datang. Rasulullah ﷺ meminta sebuah wadah (bejana), lalu bersabda kepada salah satunya, "Muntahlah!" Maka ia memuntahkan nanah, darah, dan darah membusuk hingga memenuhi wadah tersebut. Beliau bersabda kepada yang satunya lagi, "Muntahlah!" Maka ia pun memuntahkan hal yang sama. Lalu beliau bersabda, "Sesungguhnya kedua wanita ini berpuasa dari apa yang dihalalkan Allah bagi mereka, namun berbuka dengan apa yang diharamkan Allah atas mereka. Salah satu dari mereka duduk bersama yang lain, lalu keduanya mulai memakan daging manusia (berghibah)."
وقال أنس خطبنا رسول الله ﷺ فذكر الربا وعظم شأنه فقال إن الدرهم يصيبه الرجل من الربا أعظم عند الله في الخطيئة من ست وثلاثين زنية يزنيها الرجل وأربى الربا عرض المسلم
Anas berkata: Rasulullah ﷺ menyampaikan khutbah kepada kami, lalu beliau menyebutkan tentang riba dan betapa besarnya perkara tersebut, seraya bersabda, "Sesungguhnya satu dirham riba yang diperoleh seseorang lebih besar dosanya di sisi Allah daripada tiga puluh enam kali zina yang dilakukan oleh seseorang. Dan riba yang paling berat adalah (merusak) kehormatan seorang muslim."
وقال جابر كنا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ في مسير فأتى على قبرين يعذب صاحباهما فقال إنهما يعذبان وما يعذبان في كبير أما أحدهما فكان يغتاب الناس وأما الآخر فكان لا يستنزه من بوله فدعا بجريدة رطبة أو جريدتين فكسرهما ثم أمر بكل كسرة فغرست على قبر وقال أما إنه سيهون من عذابهما ما كانتا رطبتين أو ما لم ييبسا
Jabir berkata: Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan, lalu beliau mendatangi dua kubur yang penghuninya sedang diazab. Beliau bersabda, "Sesungguhnya keduanya sedang diazab, dan keduanya tidak diazab karena perkara yang (dianggap) besar (oleh mereka). Adapun salah satunya dahulu sering menggunjing (melakukan ghibah terhadap) manusia, sedangkan yang lainnya dahulu tidak menjaga diri dari percikan kencingnya." Kemudian beliau meminta pelepah kurma yang masih basah—atau dua pelepah—lalu mematahkannya dan memerintahkan agar masing-masing patahan ditancapkan pada tiap kubur. Beliau bersabda, "Sesungguhnya azab keduanya akan diringankan selama kedua pelepah ini masih basah atau belum kering."
ولما رجم رسول الله ﷺ ماعزاً في الزنا قال رجل لصاحبه هذا أقعص كما يقعص الكلب فمر ﷺ وهما معه بجيفة فقال انهشا منها فقالا يا رسول الله ننهش
Ketika Rasulullah ﷺ merajam Ma'iz dalam hukuman zina, seorang laki-laki berkata kepada temannya, "Orang ini mati binasa sebagaimana binasanya seekor anjing." Lalu Rasulullah ﷺ berjalan melewati bangkai bersama keduanya, maka beliau bersabda, "Gigitlah (makanlah) dari bangkai ini!" Keduanya berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kami harus menggigit
جيفة فقال ما أصبتما من أخيكما أنتن من هذه وكان الصحابة ﵃ يتلاقون بالبشر ولا يغتابون عند الغيبة ويرون ذلك أفضل الأعمال ويرون خلافه عادة المنافقين وقال أبو هريرة من أكل لحم أخيه في الدنيا قرب إليه لحمه في الآخرة وقيل له كله ميتاً كما أكلته حياً فيأكله فينضج ويكلح // حديث أبي هريرة من أكل لحم أخيه في الدنيا قرب إليه لحمه في الآخرة فيقال له كله ميتاً كما أكلته حياً الحديث أخرجه ابن مردويه في التفسير مرفوعا وموقوفا وفيه محمد بن إسحاق رواه بالعنعنة وروي مرفوعاً كذلك وروي أن رجلين كانا قاعدين عند باب من أبواب المسجد فمر بهما رجل كان مخنثاً فترك ذلك فقالا لقد بقي فيه منه شيء وأقيمت الصلاة فدخلا فصليا مع الناس فحاك في أنفسهما ما قالا فأتيا عطاء فسألاه فأمرهما أن يعيدا الوضوء والصلاة وأمرهما أن يقضيا الصيام إن كانا صائمين وعن مجاهد أنه قال في ويل لكل همزة لمزة الْهُمَزَةُ الطَّعَّانُ فِي النَّاسِ وَاللُّمَزَةُ الَّذِي يَأْكُلُ لحوم الناس وقال قيادة ذكر لنا أن عذاب القبر ثلاثة أثلاث ثلث من الغيبة وثلث من النميمة وثلث من البول وقال الحسن والله للغيبة أسرع في دين الرجل المؤمن من الأكله في الجسد وَقَالَ بَعْضُهُمْ أَدْرَكْنَا السَّلَفَ وَهُمْ لَا يَرَوْنَ الْعِبَادَةَ فِي الصَّوْمِ وَلَا فِي الصَّلَاةِ وَلَكِنْ فِي الْكَفِّ عَنْ أَعْرَاضِ النَّاسِ وَقَالَ ابْنُ عباس إذا أَرَدْتَ أَنْ تَذْكُرَ عُيُوبَ صَاحِبِكَ فَاذْكُرْ عُيُوبَكَ وقال أبو هريرة يبصر أحدكم القذى في عين أخيه ولا يبصر الجذع في عين نفسه وكان الحسن يقول ابن آدم إنك لن تصيب حقيقة الإيمان حتى لا تغيب الناس بعيب هو فيك وحتى تبدأ بصلاح ذلك الغيب فتصلحه من فإذا فعلت ذلك كان شغلك في خاصة نفسك وأحب العباد إلى الله من كان هكذا وقال مالك بن دينار مر عيسى ﵇ ومعه الحواريون بجيفة كلب فقال الحواريون ما أنتن ريح هذا الكلب فقال ﵊ ما أشد بياض أسنانه كأنه ﵄ رجلاً يغتاب آخر فقال له إياك والغيبة فإنها إدام كلاب الناس وقال عمر ﵁ عليكم بذكر الله تعالى فإنه شفاء وإياكم وذكر الناس فإنه داء نسأل الله حسن التوفيق لطاعته
bangkai?" Maka beliau bersabda, "Apa yang telah kalian berdua timpakan kepada saudara kalian itu lebih busuk daripada bangkai ini." Dahulu para sahabat ﵃ saling bertemu dengan wajah yang berseri-seri, tidak pernah berghibah ketika seseorang tidak ada, dan mereka memandang hal itu sebagai seutama-utama amal, serta menganggap kebalikannya sebagai kebiasaan kaum munafik. Abu Hurairah berkata: "Barang siapa memakan daging saudaranya di dunia, maka daging saudaranya itu akan didekatkan kepadanya di akhirat kelak, dan dikatakan kepadanya: Makanlah ini dalam keadaan mati sebagaimana engkau memakannya saat ia hidup! Maka ia pun memakannya hingga terbakar mati dan bermuka masam." // Hadis Abu Hurairah: "Barang siapa memakan daging saudaranya di dunia…", diriwayatkan oleh Ibn Mardawaih dalam al-Tafsir secara marfu' dan mauquf, dan di dalamnya terdapat Muhammad bin Ishaq yang meriwatkannya dengan 'an'anah, serta diriwayatkan secara marfu' pula. Diriwayatkan pula bahwa ada dua orang laki-laki yang sedang duduk di salah satu pintu masjid, lalu lewatlah seorang laki-laki yang tadinya seorang banci (mukhannats) namun telah meninggalkannya. Lalu keduanya berkata, "Masih ada sisa sifat itu pada dirinya." Ketika shalat ditegakkan, keduanya masuk dan shalat bersama orang-orang, lalu timbul keraguan dalam hati mereka atas apa yang telah mereka ucapkan. Maka mereka mendatangi 'Atha' dan bertanya kepadanya, lalu ia memerintahkan keduanya untuk mengulangi wudhu dan shalat, serta memerintahkan keduanya untuk mengqadha puasa jika mereka sedang berpuasa. Dari Mujahid, bahwasanya ia berkata tentang firman-Nya: "Wailul likulli humazatil lumazah" (Celakalah bagi setiap pemfitnah lagi pencela): "Al-Humazah adalah orang yang gemar mencela manusia, sedangkan al-Lumazah adalah orang yang memakan daging manusia (berghibah)." Qatadah berkata: "Diceritakan kepada kami bahwa azab kubur itu terbagi menjadi tiga pertiga: sepertiga karena ghibah, sepertiga karena namimah (adu domba), dan sepertiga karena kencing." Al-Hasan berkata: "Demi Allah, ghibah itu lebih cepat merusak agama seorang mukmin daripada penyakit pembusukan (gangren) memakan tubuh." Sebagian dari mereka (ulama) berkata: "Kami menjumpai ulama Salaf, dan mereka tidak memandang hakikat ibadah itu sekadar pada puasa dan shalat, melainkan pada menahan diri dari merusak kehormatan manusia." Ibnu Abbas berkata: "Jika engkau hendak menyebutkan aib saudaramu, maka ingatlah aib dirimu sendiri." Abu Hurairah berkata: "Salah seorang di antara kalian melihat kotoran kecil di mata saudaranya, namun tidak melihat batang kayu yang besar di mata dirinya sendiri." Al-Hasan sering berkata: "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau tidak akan mencapai hakikat iman sampai engkau tidak lagi menggunjing manusia atas aib yang ada pada dirimu sendiri, dan sampai engkau mulai memperbaiki aib tersebut pada dirimu. Jika engkau telah melakukan hal itu, maka kesibukanmu adalah pada perbaikan dirimu sendiri, dan hamba yang paling dicintai Allah adalah orang yang seperti ini." Malik bin Dinar berkata: Nabi Isa ﵇ berjalan bersama para pengikutnya (Al-Hawariyyun) melewati bangkai anjing. Para Hawariyyun berkata: "Betapa busuknya bau anjing ini!" Maka beliau ﵇ bersabda: "Betapa putihnya gigi-giginya!" Seakan-akan beliau menegur seseorang yang menggunjing orang lain, lalu berkata kepadanya: "Jauhilah ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu adalah lauk-pauk bagi anjing-anjing di antara manusia." Umar ﵁ berkata: "Wajib atas kalian senantiasa berdzikir kepada Allah Ta'ala karena ia adalah penawar (obat), dan jauhilah oleh kalian membicarakan (aib) manusia karena ia adalah penyakit." Kita memohon kepada Allah taufik yang baik untuk menaati-Nya.
بَيَانُ مَعْنَى الْغِيبَةِ وَحُدُودِهَا
Penjelasan tentang Makna Ghibah dan Batas-Batas Definisinya
اعْلَمْ أَنَّ حَدَّ الْغِيبَةِ أَنْ تَذْكُرَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُهُ لَوْ بلغه سواه ذَكَرْتَهُ بِنَقْصٍ فِي بَدَنِهِ أَوْ نَسَبِهِ أَوْ فِي خُلُقِهِ أَوْ فِي فِعْلِهِ أَوْ فِي قَوْلِهِ أَوْ فِي دِينِهِ أَوْ فِي دُنْيَاهُ حَتَّى فِي ثَوْبِهِ وَدَارِهِ وَدَابَّتِهِ
Ketahuilah bahwa batas (definisi) ghibah adalah engkau menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang tidak ia sukai seandainya hal itu sampai kepadanya; baik engkau menyebutkan kekurangan pada fisiknya, nasabnya, akhlaknya, perbuatannya, perkataannya, agamanya, maupun urusan dunianya, bahkan hingga pada pakaiannya, rumahnya, dan hewan tunggangannya.
أَمَّا الْبَدَنُ فكذكرك الْعَمَشَ وَالْحَوَلَ وَالْقَرَعَ وَالْقِصَرَ وَالطُّولَ وَالسَّوَادَ وَالصُّفْرَةَ وَجَمِيعَ مَا يُتَصَوَّرُ أَنْ يُوصَفَ بِهِ مِمَّا يَكْرَهُهُ كَيْفَمَا كَانَ وَأَمَّا النَّسَبُ فَبِأَنْ تَقُولَ أبوه نبطي أو هندي أو فاسق أو خسيس أو إسكاف أو زبال أو شيء مما يكرهه كيفما كان وأما الخلق فبأن تقول هو سيء الخلق بخيل متكبر مراء شديد الغضب جبال عاجز ضعيف القلب مُتَهَوِّرٌ وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهُ وَأَمَّا فِي أَفْعَالِهِ المتعلقة بالدين فكقولك هو سارق أو كذاب أو شارب خمر أو خائن أو ظالم أو متهاون بالصلاة أو الزكاة أو لا يحسن الركوع أو السجود أو لا يحترز من النجاسات أو ليس باراً بوالديه أو لا يضع الزكاة موضعها أو لا يحسن قسمها أو لا يحرس صومه عن الرفث والغيبة والتعرض لأعراض الناس وأما فعله المتعلق بالدنيا فكقولك إنه قليل الأدب متهاون بالناس أو لا يرى لأحد
Adapun kekurangan pada fisik, seperti engkau menyebutkan matanya rabun (belekan), juling, kepalanya botak, tubuhnya pendek, terlalu tinggi, berkulit sangat hitam, pucat kuning, dan semua hal yang dapat digambarkan untuk menyifatinya dari apa yang tidak ia sukai, bagaimanapun bentuknya. Adapun pada nasab, seperti engkau mengatakan: "Ayahnya orang Nabati (orang asing tak beradab), atau orang India, atau orang fasik, atau orang hina, atau tukang jahit sepatu, atau tukang sampah", atau apa saja yang tidak ia sukai, bagaimanapun bentuknya. Adapun pada akhlak, seperti engkau katakan: "Dia berakhlak buruk, kikir, takabur, riya, pemarah, pengecut, lemah, penakut (lemah hati), ceroboh", dan seumpamanya. Adapun pada perbuatannya yang berkaitan dengan agama, seperti perkataanmu: "Dia seorang pencuri, pembohong, peminum khamar, pengkhianat, orang zalim, meremehkan shalat atau zakat, tidak menyempurnakan ruku' atau sujud, tidak menjaga diri dari najis, tidak berbakti kepada kedua orang tuanya, tidak menempatkan zakat pada tempatnya, tidak membagikannya dengan benar, atau tidak menjaga puasanya dari perkataan kotor, ghibah, dan merusak kehormatan orang lain." Adapun perbuatannya yang berkaitan dengan dunia, seperti perkataanmu: "Sesungguhnya dia kurang beradab, meremehkan orang lain, tidak menghargai hak…
على نفسه حقاً أو يرى لنفسه الحق على الناس أو أنه كثير الكلام كثير الأكل نئوم ينام في غير وقت النوم ويجلس فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ وَأَمَّا فِي ثَوْبِهِ فَكَقَوْلِكَ إِنَّهُ وَاسِعُ الْكُمِّ طَوِيلُ الذَّيْلِ وَسِخُ الثِّيَابِ
…siapa pun atas dirinya, atau menganggap dirinya punya hak atas orang lain, atau dia terlalu banyak bicara, banyak makan, sangat pemalas (banyak tidur), tidur bukan pada waktunya, dan duduk bukan pada tempatnya." Adapun mengenai pakaiannya, seperti perkataanmu: "Sesungguhnya bajunya terlalu longgar lengan bajunya, terlalu panjang ujungnya, atau pakaiannya kotor."
وقال قوم لا غيبة في الدين لأنه ذم ما ذمه الله تعالى فذكره بالمعاصي وذمه بها يجوز بدليل ما رُوِيَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ ذكرت له امرأة وكثرة صلاحها وصومها ولكنها تؤذي جيرانها بلسانها فقال هي في النار حديث ذكر امرأة أخرى بأنها بخيلة قال فما خيرها إذن أخرجه الخرائطي في مكارم الأخلاق من حديث أبي جعفر محمد بن علي مرسلا ورويناه في أمالي ابن شمعون هكذا حديث هل تدرون ما الغيبة قالوا الله ورسوله أعلم قال ذكرك أخاك بما يكره الحديث أخرجه مسلم من حديث أبي هريرة حديث معاذ ذكر رجل عقد رسول الله ﷺ فقالوا ما أعجزه الحديث أخرجه الطبراني بسند ضعيف حديث عائشة أنها ذكرت امرأة فقال إنها قصيرة فقال اغتبتيها رواه أحمد وأصله عند أبي داود والترمذي وصححه بلفظ آخر ووقع عند المصنف عن حذيفة عن عائشة وكذا هو في الصمت لابن أبي الدنيا والصواب عن أبي حذيفة كما عند أحمد وأبي داود والترمذي واسم أبي حذيفة سلمة بن صهيب حديث عائشة قلت لامرأة وإن هذه طويلة الذيل فقال ﷺ الفظي فلفظت بضعة من لحم أخرجه ابن أبي الدنيا وابن مردويه في التفسير وفي إسناده امرأة لا أعرفها //
Sebagian kaum berpendapat: "Tidak ada ghibah dalam masalah agama, karena hal itu mencela apa yang telah dicela oleh Allah Ta'ala. Maka menyebutkan maksiatnya dan mencelanya dengan kemaksiatan tersebut adalah boleh," dengan dalil riwayat bahwa Rasulullah ﷺ pernah disebutkan kepada beliau tentang seorang wanita dan banyaknya kebaikan serta puasanya, namun wanita itu menyakiti tetangganya dengan lidahnya, maka beliau bersabda, "Dia di dalam neraka." Hadis lain menyebutkan wanita lain bahwa dia kikir, maka beliau bersabda, "Lantas apa kebaikannya kalau begitu?" (Diriwayatkan oleh Al-Khara'ithi dalam Makaram al-Akhlaq dari hadis Abu Ja'far Muhammad bin 'Ali secara mursal, dan kami meriwayatkannya dalam Amali Ibn Syam'un demikian). Hadis: "Tahukah kalian apa itu ghibah?" Mereka menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda: "Engkau menyebutkan tentang saudaramu apa yang tidak ia sukai…" (Hadis diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Abu Hurairah). Hadis Mu'adz yang menyebutkan seorang laki-laki yang diikat oleh Rasulullah ﷺ, lalu mereka berkata: "Betapa lemahnya orang ini…" (Hadis diriwayatkan oleh At-Thabrani dengan sanad dha'if). Hadis Aisyah bahwa beliau menyebutkan seorang wanita lalu berkata: "Sesungguhnya dia pendek." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Engkau telah menggunjingnya." (Diriwayatkan oleh Ahmad, dan asalnya ada pada Abu Dawud dan At-Tirmidzi yang membenarkannya dengan lafal lain. Dan terjadi pada penulisan mushannif dari Hudzaifah dari Aisyah, demikian pula dalam Kitab al-Shamt karya Ibn Abi al-Dunya, sedangkan yang benar adalah dari Abu Hudzaifah sebagaimana dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi, dan nama Abu Hudzaifah adalah Salamah bin Suhaib). Hadis Aisyah: "Aku berkata tentang seorang wanita bahwa dia bergaun panjang." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Muntahkanlah!" Lalu aku memuntahkan sepotong daging. (Diriwayatkan oleh Ibn Abi al-Dunya dan Ibn Mardawaih dalam al-Tafsir, dan dalam isnadnya ada seorang wanita yang tidak aku kenal). //
بيان أن الغيبة لا تقتصر على اللسان
Penjelasan bahwa Ghibah Tidak Terbatas pada Ucapan Lisan
اعلم أن الذكر باللسان إنما حرم لأن فيه تفهيم الغير نقصان أخيك وتعريفه بما يكرهه فالتعريض بِهِ كَالتَّصْرِيحِ وَالْفِعْلُ فِيهِ كَالْقَوْلِ وَالْإِشَارَةِ وَالْإِيمَاءِ وَالْغَمْزِ وَالْهَمْزِ وَالْكِتَابَةِ وَالْحَرَكَةِ وَكُلُّ مَا يُفْهِمُ الْمَقْصُودَ فَهُوَ دَاخِلٌ فِي الْغِيبَةِ وَهُوَ حَرَامٌ
Ketahuilah bahwa menyebutkan kekurangan dengan lisan diharamkan karena di dalamnya terdapat upaya memahamkan orang lain tentang kekurangan saudaramu dan memberitahukan kepadanya apa yang tidak disukainya. Maka sindiran (ta'ridh) kepadanya sama seperti ungkapan terang-terangan (tashrih), dan perbuatan dalam hal ini sama seperti perkataan, baik dengan isyarat, anggukan kepala, kedipan mata, celaan, tulisan, gerakan, maupun segala hal yang dapat memahamkan maksud tersebut, maka semuanya itu termasuk ke dalam ghibah dan hukumnya haram.
فمن ذلك قول عائشة ﵂ دخلت علينا امرأة فلما ولت أومأت بيدي أنها قصيرة فقال ﷺ
Di antaranya adalah perkataan Aisyah ﵂: "Seorang wanita masuk menemui kami, ketika ia berpaling (hendak keluar), aku mengisyaratkan dengan tanganku bahwa ia pendek." Maka Nabi ﷺ bersabda:
اغتبتيها ومن ذلك المحاكاة يمشي متعارجاً أو كما يمشي فهو غيبة بل هو أشد من الغيبة لأنه أعظم في التصوير والتفهيم ولما رَأَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عائشة حاكت امرأة قال ما يسرني أني حاكيت إنساناً ولي كذا وكذا وكذلك الغيبة بالكتابة فإن القلم أحد اللسانين وذكر المصنف شخصاً معيناً وتهجين كلامه في الكتاب غيبة إلا أن يقترن به شيء من الأعذار المحوجة إلى ذكره كما سيأتي بيانه وأما قوله قال قوم كذا فليس ذلك غيبة وإنما الغيبة التعرض لشخص معين إما حي وإما ميت ومن الغيبة أن تقول بعض من مر بنا اليوم أو بعض من رأيناه إذا كان المخاطب يفهم منه شخصاً معيناً لأن المحذور تفهيمه دون ما به التفهيم فأما إذا لم يفهم عينه جاز
"Engkau telah menggunjingnya." Dan di antara bentuk ghibah juga adalah memperagakan (gaya orang lain), seperti berjalan dengan pincang atau menirukan cara berjalannya, maka hal itu adalah ghibah, bahkan lebih berat dari ghibah (lisan) karena lebih jelas dalam menggambarkan dan memahamkan. Ketika Rasulullah ﷺ melihat Aisyah menirukan gaya seorang wanita, beliau bersabda: "Aku tidak suka menirukan gaya seseorang sekalipun aku diberi begini dan begitu." Demikian pula ghibah melalui tulisan, karena pena adalah salah satu dari dua lisan. Dan penyebutan seseorang yang tertentu oleh penulis serta penghinaan terhadap ucapannya di dalam buku adalah ghibah, kecuali jika disertai udzur yang mendesak untuk menyebutkannya sebagaimana akan datang penjelasannya. Adapun ucapannya: "Sebagian orang berkata demikian", maka itu bukanlah ghibah. Sesungguhnya ghibah itu adalah menyinggung seseorang secara tertentu (spesifik), baik dia masih hidup maupun sudah mati. Dan termasuk ghibah pula jika engkau berkata: "Sebagian dari orang yang melewati kita hari ini" atau "Sebagian orang yang kita lihat", apabila lawan bicara memahami bahwa yang dimaksud adalah orang tertentu, karena hal yang dilarang adalah membuat orang lain paham (akan aib seseorang), bukan sekadar sarana yang digunakannya. Adapun jika lawan bicara tidak memahami siapa orangnya secara spesifik, maka hal itu diperbolehkan.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إذا كره من إنسان شيئاً قال ما بال أقوام يفعلون كذا وكذا فكان لا يعين وقولك بعض مَنْ قَدِمَ مِنَ السَّفَرِ أَوْ بَعْضُ مَنْ يدعي العلم إن كان معه قرينة تفهم عين الشخص فهي غيبة
Rasulullah ﷺ apabila tidak menyukai sesuatu dari seseorang, beliau bersabda: "Mengapa ada kaum yang melakukan begini dan begitu?" Maka beliau tidak menentukan (menyebut nama) siapapun. Dan perkataanmu: "Sebagian orang yang baru datang dari bepergian" atau "Sebagian orang yang mengaku berilmu", jika disertai petunjuk (qarinah) yang memahamkan identitas orang tersebut secara spesifik, maka itu adalah ghibah.
وأخبث أنواع الغيبة غيبة القراء المرائين فإنهم يفهمون المقصود على صيغة أهل الصلاح ليظهروا من أنفسهم التعفف عن الغيبة ويفهمون المقصود ولا يدرون بجهلهم أنهم جمعوا بين فاحشتين الغيبة والرياء وذلك مثل أن يذكر عنده إنسان فيقول الحمد لله الذي لم يبتلنا بالدخول على السلطان والتبذل في طلب الحطام أو يقول نعوذ بالله من قلة الحياء نسأل الله أن يعصمنا منها وإنما قصده أن يفهم عيب الغير فيذكره بصيغة الدعاء وَكَذَلِكَ قَدْ يُقَدِّمُ مَدْحَ مَنْ يُرِيدُ غِيبَتَهُ فيقول ما أحسن أحوال فلان ما كان يقصر في العبادات ولكن قد اعتراه فتور وابتلي بما يبتلي به كلنا وهو قلة الصبر فَيَذْكُرُ نَفْسَهُ وَمَقْصُودُهُ أَنْ يَذُمَّ غَيْرَهُ فِي ضمن ذلك ويمدح نفسه بالتشبه بالصالحين بأن يذم نفسه فيكون مغتاباً ومرائياً ومزكياً نفسه فيجمع بين ثلاث فواحش وهو بجهله يظن أنه من الصالحين المتعففين عن الغيبة ولذلك يلعب الشيطان بأهل الجهل إذا اشتغلوا بالعبادة من غير علم فإنه يتبعهم ويحبط بمكايده عملهم ويضحك عليهم ويسخر منهم وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَذْكُرَ عَيْبَ إِنْسَانٍ فَلَا يَتَنَبَّهُ لَهُ بَعْضُ الْحَاضِرِينَ فَيَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا أَعْجَبَ هَذَا حَتَّى يُصْغَى إِلَيْهِ وَيُعْلَمَ ما يقول فيذكر الله تعالى ويستعمل الاسم آلة في تحقيق خبثه وهو يمتن على الله ﷿ بذكره جهلاً منه وغروراً وَكَذَلِكَ يَقُولُ سَاءَنِي مَا جَرَى عَلَى صَدِيقِنَا من الاستخفاف به نسأل الله أن يروح نفسه فيكون كاذباً في دعوى الاغتمام وفي إظهار الدعاء له بل لو قصد الدعاء لأخفاه في خلوته عقيب صلاته ولو كان يغتم به لاغتم أيضاً بِإِظْهَارِ مَا يَكْرَهُهُ وَكَذَلِكَ يَقُولُ ذَلِكَ الْمِسْكِينُ قَدْ بُلِيَ بِآفَةٍ عَظِيمَةٍ تَابَ اللَّهُ عَلَيْنَا وعليه فهو فِي كُلِّ ذَلِكَ يُظْهِرُ الدُّعَاءَ وَاللَّهُ مُطَّلِعٌ عَلَى خُبْثِ ضَمِيرِهِ وَخَفِيِّ قَصْدِهِ وَهُوَ لِجَهْلِهِ لا يدري أنه قد تعرض لمقت أعظم مما تعرض له الجهال إذا جاهروا
Dan jenis ghibah yang paling keji adalah ghibah-nya para ahli al-Qur'an/penuntut ilmu (Al-Qurra') yang riya. Sesungguhnya mereka menyampaikan maksud ghibah dalam bentuk ucapan orang-orang shalih untuk menampilkan diri mereka seolah-olah menjaga diri dari ghibah, padahal mereka memahamkan maksud celaan itu. Mereka tidak menyadari karena kebodohannya bahwa mereka telah menggabungkan dua kejahatan sekaligus: ghibah dan riya. Hal itu seperti ketika seseorang disebutkan di hadapannya, lalu ia berkata: "Segala puji bagi Allah yang tidak menguji kita dengan mendatangi penguasa dan merendahkan diri dalam mencari kesenangan duniawi", atau ia berkata: "Kita berlindung kepada Allah dari kurangnya rasa malu, kita memohon kepada Allah agar memelihara kita darinya." Padahal maksudnya hanyalah untuk memahamkan aib orang lain, lalu ia menyebutkannya dalam bentuk doa. Demikian pula, terkadang ia mendahului dengan memuji orang yang ingin digunjingnya, lalu berkata: "Betapa indahnya keadaan si Fulan, dahulu ia tidak pernah lalai dalam ibadah, namun kini ia tertimpa rasa malas (futur) dan diuji dengan apa yang menguji kita semua, yaitu kurangnya kesabaran." Maka ia menyebutkan dirinya sendiri, sedangkan maksud sesungguhnya adalah mencela orang lain di balik itu, sekaligus memuji dirinya sendiri dengan menyerupakan diri pada orang-orang shalih melalui celaan pada dirinya sendiri. Dengan demikian, ia menjadi orang yang berghibah, riya, dan menganggap suci dirinya sendiri (tazkiyatun nafs), sehingga ia menggabungkan tiga kejahatan sekaligus. Namun karena kebodohannya, ia menyangka bahwa ia termasuk orang-orang shalih yang menjaga diri dari ghibah. Oleh karena itu, setan mempermainkan orang-orang bodoh apabila mereka sibuk beribadah tanpa ilmu; setan mengikuti mereka, membatalkan amal mereka dengan tipu dayanya, menertawakan mereka, dan mengolok-olok mereka. Di antara bentuk lainnya adalah disebutkan aib seseorang namun sebagian yang hadir tidak memperhatikannya, lalu ia berkata: "Subhanallah, betapa mengherankan hal ini!" agar orang-orang mendengarkannya dan mengetahui apa yang ia katakan. Maka ia berdzikir kepada Allah Ta'ala dan menggunakan nama Allah sebagai sarana untuk melampiaskan kejelakannya, seraya merasa telah berbuat kebaikan kepada Allah ﷿ dengan dzikirnya tersebut karena kebodohan dan tertipu (ghurur). Demikian pula ia berkata: "Aku sangat bersedih atas apa yang terjadi pada sahabat kita berupa penghinaan terhadap dirinya, semoga Allah memberikan kelapangan hatinya." Maka ia telah berdusta dalam pengakuan rasa sedihnya dan dalam penampakan doanya untuknya. Padahal seandainya ia bermaksud berdoa, niscaya ia akan merahasiakannya dalam kesendiriannya seusai shalatnya, dan seandainya ia benar-benar bersedih atasnya, niscaya ia juga akan merasa bersedih dengan menampakkan apa yang tidak disukainya itu. Demikian pula ia berkata: "Kasihan orang miskin itu, ia telah diuji dengan kemalangan yang besar, semoga Allah menerima tobat kita dan tobatnya." Dalam semua itu ia menampakkan doa, padahal Allah Maha Mengetahui atas kebusukan hatinya dan niatnya yang tersembunyi. Dan karena kebodohannya, ia tidak menyadari bahwa ia telah memancing kemurkaan Allah yang lebih besar daripada kemurkaan terhadap orang-orang bodoh yang melakukan ghibah secara terang-terangan.
وَمِنْ ذَلِكَ الْإِصْغَاءُ إِلَى الْغِيبَةِ عَلَى سَبِيلِ التعجب فإنه إنما تظهر التَّعَجُّبَ لِيَزِيدَ نَشَاطُ الْمُغْتَابِ فِي الْغِيبَةِ فَيَنْدَفِعُ فيها وكأنه يستخرج الغيبة منه بهذا الطريق فيقول عجب ما علمت أنه كذلك ما عرفته إلى الآن إلا بالخير وكنت أَحْسَبُ فِيهِ غَيْرَ هَذَا عَافَانَا اللَّهُ مِنْ بَلَائِهِ فَإِنَّ كُلَّ ذَلِكَ تَصْدِيقٌ لِلْمُغْتَابِ وَالتَّصْدِيقُ بالغيبة غيبة بل الساكت شريك
Dan di antara bentuk ghibah juga adalah mendengarkan ghibah dengan cara pura-pura kagum/terkejut (ta'ajjub). Sesungguhnya ia menampakkan kekaguman itu hanyalah agar makin bersemangat orang yang berghibah dalam ghibah-nya, sehingga ia terus melanjutkannya. Seolah-olah ia memancing keluar ghibah darinya melalui cara ini, lalu ia berkata: "Sungguh mengherankan! Aku tidak tahu bahwa dia demikian. Sampai sekarang aku tidak mengenalnya melainkan dengan kebaikan, dan aku menyangka dia tidak seperti ini. Semoga Allah menyelamatkan kita dari musibahnya." Maka semua itu merupakan pembenaran terhadap orang yang berghibah, dan membenarkan ghibah adalah ghibah itu sendiri, bahkan orang yang diam pun menjadi sekutu…
المغتاب قال ﷺ المستمع أحد المغتابين
…orang yang berghibah. Nabi ﷺ bersabda: "Pendengar (ghibah) adalah salah satu dari dua orang yang berghibah."
وقد روي عن أبي بكر وعمر ﵄ أن أحدهما قال لصاحبه إن فلاناً لنئوم ثم إنهما طلبا أدماً من رسول الله ﷺ ليأكلا به الخبز فقال ﷺ قد ائتدمتما فقالا ما نعلمه قال بلى إنكما أكلتما من لحم أخيكما فانظر كيف جمعهما وكان القائل أحدهما والآخر مستمعاً وقال للرجلين اللذين قال أحدهما أقعص الرجل كما يقعص الكلب انهشا من هذه الجيفة فجمع بينهما فالمستمع لا يخرج من إثم الغيبة إِلَّا أَنْ يُنْكِرَ بِلِسَانِهِ أَوْ بِقَلْبِهِ إِنْ خاف وإن قدر على القيام أو قطع الكلام بكلام آخر فلم يفعل لزمه وإن قال بلسانه اسكت وهو مشته لذلك بقلبه فذلك نفاق ولا يخرجه من الإثم ما لم يكرهه بقلبه ولا يكفي في ذلك أن يشير باليد أي اسكت أو يشير بحاجبه وجبينه فإن ذلك استحقار للمذكور بل ينبغي أن يعظم ذلك فيذب عنه صريحاً وقال ﷺ مَنْ أُذِلَّ عِنْدَهُ مُؤْمِنٌ فَلَمْ يَنْصُرْهُ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى نَصْرِهِ أَذَلَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ على رؤوس الخلائق وقال أبو الدرداء قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ بِالْغَيْبِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يَرُدَّ عَنْ عِرْضِهِ يوم القيامة وقال أيضاً من ذب عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ بِالْغَيْبِ كَانَ حَقًّا عَلَى الله أن يعتقه من النار
Sungguh telah diriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar ﵄ bahwa salah seorang dari keduanya berkata kepada temannya: "Sesungguhnya si Fulan itu sangat banyak tidur." Kemudian keduanya meminta lauk kepada Rasulullah ﷺ untuk makan roti. Maka beliau ﷺ bersabda: "Kalian berdua telah berlauk-pauk." Keduanya berkata: "Kami tidak tahu (lauk apa yang kami makan)." Beliau bersabda: "Benar, sesungguhnya kalian berdua telah memakan daging saudara kalian." Maka lihatlah bagaimana beliau menggabungkan dosa keduanya, padahal yang berkata hanyalah salah satu dari mereka dan yang lain hanya mendengarkan. Beliau juga bersabda kepada dua orang laki-laki yang salah satunya berkata: "Orang ini telah mati binasa sebagaimana binasanya anjing": "Makanlah oleh kalian berdua dari bangkai ini!" Maka beliau menggabungkan antara keduanya. Oleh karena itu, pendengar tidak dapat keluar dari dosa ghibah kecuali jika ia mengingkarinya dengan lisannya, atau dengan hatinya jika ia takut. Dan jika ia mampu berdiri pergi atau memotong pembicaraan dengan pembicaraan lain namun ia tidak melakukannya, maka ia ikut menanggung dosa. Jika ia berkata dengan lisannya: "Diamlah!", sementara hatinya menyukai (ghibah) tersebut, maka itu adalah nifak (kemunafikan), dan hal itu tidak melepaskannya dari dosa selama hatinya tidak membencinya. Tidak cukup dalam hal itu hanya memberikan isyarat dengan tangan yang berarti "diamlah", atau memberi isyarat dengan alis dan dahi, karena hal itu justru merupakan bentuk meremehkan orang yang dibicarakan. Sebaliknya, hendaknya ia menganggap besar perbuatan ghibah itu dan membela saudaranya secara tegas. Dan Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa seorang mukmin dihinakan di hadapannya sementara ia mampu menolongnya namun ia tidak menolongnya, niscaya Allah akan menghinakannya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk." Abu al-Darda' berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa membela kehormatan saudaranya ketika ia tidak ada, maka menjadi hak atas Allah untuk membela kehormatannya pada hari kiamat." Beliau juga bersabda: "Barang siapa mempertahankan kehormatan saudaranya ketika ia tidak ada, maka menjadi hak atas Allah untuk membebaskannya dari api neraka."
وقد ورد في نصرة المسلم في الغيبة وفي فضل ذلك أخبار كثيرة أوردناها في كتاب آداب الصحبة وحقوق المسلمين فلا نطول بإعادتها
Dan sungguh telah ada riwayat tentang menolong seorang muslim dari ghibah serta keutamaan hal tersebut berupa banyak riwayat yang telah kami cantumkan dalam Kitab Adab al-Suhbah wa Huquq al-Muslimin (Adab Pergaulan dan Hak-hak Kaum Muslimin), maka kami tidak memperpanjang dengan mengulangnya di sini.
بيان الأسباب الباعثة على الغيبة
Penjelasan tentang Sebab-Sebab yang Mendorong Terjadinya Ghibah
اعلم أن البواعث على الغيبة كثيرة ولكن يجمعها أحد عشر سبباً ثمانية منها تطرد في حق العامة وثلاثة تختص بأهل الدين والخاصة
Ketahuilah bahwa dorongan-dorongan yang memicu ghibah itu sangat banyak, namun terangkum dalam sebelas sebab: delapan di antaranya berlaku secara umum bagi masyarakat awam, dan tiga di antaranya khusus terjadi pada kalangan ahli agama dan orang-orang khusus (khawas).
أما الثمانية فالأول أن يشفى الغيظ وَذَلِكَ إِذَا جَرَى سَبَبٌ غَضِبَ بِهِ عَلَيْهِ فإنه إذا هاج غضبه يشتفى بذكر مساوية فيسبق اللِّسَانُ إِلَيْهِ بِالطَّبْعِ إِنْ لَمْ يَكُنْ ثَمَّ دِينٌ وَازِعٌ وَقَدْ يَمْتَنِعُ تَشَفِّي الْغَيْظِ عِنْدَ الغضب فيحتقن الغضب فِي الْبَاطِنِ فَيَصِيرُ حِقْدًا ثَابِتًا فَيَكُونُ سَبَبًا دائماً لذكر المساوي فَالْحِقْدُ وَالْغَضَبُ مِنَ الْبَوَاعِثِ الْعَظِيمَةِ عَلَى الْغِيبَةِ
Adapun delapan sebab tersebut, yang pertama adalah melampiaskan kejengkelan (kemarahan). Hal itu terjadi apabila ada suatu pemicu yang membuatnya marah kepada seseorang. Ketika kemarahannya meluap, ia merasa lega dengan menyebutkan keburukan-keburukan orang tersebut, sehingga lisan secara alami mendahului untuk membicarakannya jika tidak ada benteng agama yang mencegahnya. Terkadang pelampiasan kejengkelan tertahan saat marah, lalu kemarahan itu mengendap di dalam batin hingga menjadi kedengkian (dendam) yang tertanam kuat, yang menjadi pemicu terus-menerus untuk menyebutkan keburukan-keburukan. Maka dendam dan kemarahan termasuk dorongan terbesar yang memicu ghibah.
الثاني موافقة الأقران ومجاملة الرُّفَقَاءِ وَمُسَاعَدَتُهُمْ عَلَى الْكَلَامِ فَإِنَّهُمْ إِذَا كَانُوا يَتَفَكَّهُونَ بِذِكْرِ الْأَعْرَاضِ فَيَرَى أَنَّهُ لَوْ أَنْكَرَ عَلَيْهِمْ أَوْ قَطَعَ الْمَجْلِسَ اسْتَثْقَلُوهُ وَنَفَرُوا عَنْهُ فيساعدهم ويرى ذلك من حسن المعاشرة ويظن أنه مجاملة في الصحبة وقد يغضب رفقاؤه فيحتاج إِلَى أَنْ يَغْضَبَ لِغَضَبِهِمْ إِظْهَارًا لِلْمُسَاهَمَةِ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ فَيَخُوضُ مَعَهُمْ فِي ذِكْرِ الْعُيُوبِ والمساوي
Kedua, menyetujui teman sebaya, berbasa-basi kepada rekan-rekan, dan membantu percakapan mereka. Sebab jika mereka sedang menikmati pembicaraan tentang merendahkan kehormatan orang lain, ia merasa bahwa jika ia mengkritik mereka atau meninggalkan majelis, mereka akan menganggapnya berat dan menjauh darinya. Maka ia pun membantu mereka dan menganggap hal itu sebagai bagian dari keluhuran pergaulan, serta mengira itu adalah sikap ramah dalam bersahabat. Terkadang teman-temannya marah kepada seseorang, sehingga ia merasa perlu ikut marah demi kemarahan mereka sebagai bentuk solidaritas dalam suka dan duka, lalu ia ikut masuk bersama mereka dalam membicarakan aib dan keburukan-keburukan.
الثالث أن يستشعر من إنسان أنه سيقصده ويطول لسانه عليه أو يقبح حاله عند محتشم أو يشهد عليه بشهادة
Ketiga, merasa khawatir dari seseorang bahwa orang tersebut akan menyerangnya, mencelanya dengan tajam, memperburuk keadaannya di hadapan orang yang dihormati, atau memberikan kesaksian yang menyudutkan atas dirinya.
فيبادره قبل أن يقبح هو حاله ويطعن فيه ليسقط أثر شهادته أو يبتديء بذكر ما فيه صادقاً ليكذب عليه بعده فيروج كذبه بالصدق الأول ويستشهد ويقول ما من عادتي الكذب فإني أخبرتكم بكذا وكذا من أحواله فكان كما قلت
Maka ia mendahuluinya sebelum orang itu merusak nama baiknya, lalu ia mencelanya agar gugur pengaruh kesaksian orang tersebut. Atau ia mulai dengan menyebutkan keburukan yang benar-benar ada padanya secara jujur, agar kelak kebohongan yang ia tuangkan setelahnya menjadi dipercaya; kebohongannya pun laris berkat kejujuran yang pertama. Ia mencari pembenaran seraya berkata, "Bukan kebiasaanku untuk berbohong, bukankah aku pernah memberitahukan kepada kalian hal begini dan begitu tentang keadaannya, dan ternyata benar seperti yang aku katakan?"
الرابع أن ينسب إلى شيء فيريد أن يتبرأ منه فيذكر الذي فعله وكان من حقه أن يبريءنفسه ولا يذكر الذي فعل فلا ينسب غيره إليه أو يذكر غيره بأنه كان مشاركاً له في الفعل ليمهد بذلك عذر نفسه في فعله
Keempat, dituduh melakukan sesuatu lalu ia ingin membebaskan diri darinya, maka ia menyebutkan orang yang sebenarnya melakukannya. Padahal semestinya ia menyucikan dirinya tanpa menyebutkan pelaku sebenarnya sehingga tidak menisbahkan orang lain kepadanya. Atau ia menyebutkan bahwa orang lain ikut serta bersamanya dalam perbuatan itu demi melapangkan uzur (alasan) bagi dirinya atas perbuatan tersebut.
الخامس إِرَادَةُ التَّصَنُّعِ وَالْمُبَاهَاةِ وَهُوَ أَنْ يَرْفَعَ نَفْسَهُ بتنقيص غيره فيقول فلان جاهل وفهمه ركيك وكلامه ضعيف وغرضه أن يثبت في ضمن ذلك فضل نفسه ويريهم أنه أعلم منه أو يحذر أن يعظم مثل تعظيمه فيقدح فيه لذلك
Kelima, keinginan untuk mencitrakan diri (tasannu') dan membanggakan diri, yaitu dengan mengangkat derajat dirinya melalui cara merendahkan orang lain. Ia berkata, "Si Fulan itu bodoh, pemahamannya dangkal, dan perkataannya lemah." Maksudnya adalah untuk menetapkan keutamaan dirinya di balik ucapan tersebut dan memperlihatkan kepada orang lain bahwa ia lebih berilmu daripadanya, atau ia merasa khawatir jika orang tersebut dihormati sebagaimana dirinya dihormati, lalu ia mencelanya karena alasan tersebut.
السادس الحسد وهو أنه ربما يَحْسُدُ مَنْ يُثْنِي النَّاسُ عَلَيْهِ وَيُحِبُّونَهُ وَيُكْرِمُونَهُ فَيُرِيدُ زَوَالَ تِلْكَ النِّعْمَةِ عَنْهُ فَلَا يَجِدُ سبيلاً إليه إلا بالقدح فيه فيريد أن يسقط ماء وجهه عند الناس حتى يكفوا عن كرامته والثناء عليه لأنه يثقل عليه أن يسمع كلام الناس وثناءهم عليه وإكرامهم له وهذا هو عين الحسد وهو غير الغضب والحقد فإن ذلك يستدعي جناية من المغضوب عليه والحسد قد يكون مع الصديق المحسن والرفيق الموافق
Keenam, dengki (hasad), yaitu terkadang seseorang dengki kepada orang yang dipuji, dicintai, dan dimuliakan oleh masyarakat, lalu ia menginginkan hilangnya nikmat tersebut darinya. Ia tidak menemukan jalan untuk itu melainkan dengan mencelanya. Ia ingin menjatuhkan kehormatannya di mata manusia agar mereka berhenti memuliakan dan memujinya, karena terasa berat baginya mendengar pujian dan penghormatan orang-orang terhadapnya. Inilah hakikat dengki, dan ini berbeda dari kemarahan serta dendam; sebab kemarahan dan dendam membutuhkan adanya kejahatan dari orang yang dimarahi, sedangkan dengki bisa terjadi bahkan terhadap teman yang berbuat baik dan rekan yang sejalan.
السابع اللعب والهزل والمطايبة وَتَزْجِيَةُ الْوَقْتِ بِالضَّحِكِ فَيَذْكُرُ عُيُوبَ غَيْرِهِ بِمَا يضحك الناس على سبيل المحاكاة ومنشؤه التكبر والعجب
Ketujuh, main-main, bersenda gurau, berseloroh, dan menghabiskan waktu dengan gelak tawa. Ia menyebutkan aib orang lain dengan cara yang membuat orang tertawa melalui tiruan (meniru gaya/perilaku orang lain), dan sumber dari hal ini adalah kesombongan (takabur) dan rasa bangga diri ('ujub).
الثامن السخرية والاستهزاء استحقاراً له فإن ذلك قد يجري في الحضور ويجري أيضاً في الغيبة ومنشؤه التكبر واستصغار المستهزأ به
Kedelapan, olok-olok dan ejekan karena meremehkannya. Hal itu bisa terjadi secara langsung di hadapannya dan bisa juga terjadi di belakangnya (ghibah), dan pangkal pemicunya adalah kesombongan serta meremehkan orang yang diejek.
وأما الأسباب الثلاثة التي هي في الخاصة فهي أغمضها وأدقها لأنها شرور خبأها الشيطان في معرض الخيرات وفيها خير ولكن شاب الشيطان بها الشر
Adapun tiga sebab yang terjadi pada kalangan khusus (khawas), itu adalah sebab yang paling samar dan paling halus, karena merupakan kejahatan yang disembunyikan setan dalam kemasan kebaikan-kebaikan. Di dalamnya memang terdapat unsur kebaikan, tetapi setan membaurkannya dengan kejahatan.
الأول أن تنبعث من الدين داعية التعجب في إنكار المنكر والخطأ في الدين فيقول ما أعجب ما رأيت من فلان فإنه قد يكون به صادقاً ويكون تعجبه من المنكر ولكن كان حقه أن يتعجب ولا يذكر اسمه فيسهل الشيطان عليه ذكر اسمه في إظهار تعجبه فصار به مغتاباً وآثماً من حيث لا يدري
Pertama, munculnya dorongan rasa heran atas dasar agama ketika mengingkari kemungkaran dan kesalahan dalam beragama, lalu ia berkata, "Alangkah mengherankannya apa yang aku lihat dari si Fulan!" Bisa jadi ia jujur dalam ucapannya dan keheranannya memang terhadap kemungkaran tersebut. Namun, semestinya ia cukup merasa heran tanpa menyebutkan namanya. Setan kemudian mempermudah baginya untuk menyebutkan nama orang tersebut saat menampakkan keheranannya, sehingga ia pun menjadi pelaku ghibah dan berbuat dosa tanpa ia sadari.
ومن ذلك قول الرجل تعجبت من فلان كيف يحب جاريته وهي قبيحة وكيف يجلس بين يدي فلان وهو جاهل
Dan di antara contohnya adalah ucapan seseorang, "Aku heran pada si Fulan, bagaimana ia bisa mencintai budak perempuannya padahal ia buruk rupa," atau "Bagaimana ia bisa duduk berjelabut (berguru) di hadapan si Fulan padahal dia itu bodoh."
الثاني الرحمة وهو أن يغتم بسبب ما يبتلي به فيقول مسكين فلان قد غمني أمره وما ابتلي به فيكون صادقاً في دعوى الاغتمام ويلهيه الغم عن الحذر من ذكر اسمه فيذكره فيصير به مغتاباً فيكون غمه ورحمته خيراً وكذا تعجبه ولكن ساقه الشيطان إلى شر من حيث لا يدري والترحم والاغتمام ممكن دون ذكر اسمه فيهيجه الشيطان على ذكر اسمه ليبطل به ثواب اغتمامه وترحمه
Kedua, rasa kasihan (rahmah), yaitu ia merasa sedih karena ujian yang menimpa seseorang, lalu ia berkata, "Kasihan si Fulan, sungguh menyedihkanku urusannya dan ujian yang menimpanya." Ia benar-benar jujur dalam pengakuan rasa sedihnya, namun kesedihan itu melalaikannya dari berhati-hati agar tidak menyebutkan namanya, lalu ia pun menyebutnya sehingga ia menjadi pelaku ghibah. Maka kesedihannya dan rasa kasihannya sebenarnya adalah kebaikan, begitu pula rasa herannya, tetapi setan menyeretnya kepada kejahatan tanpa ia sadari. Padahal menaruh rasa kasihan dan bersedih itu memungkinkan dilakukan tanpa menyebutkan nama, namun setan menghasutnya untuk menyebutkan namanya agar menghapuskan pahala kesedihan dan rasa kasihannya.
الثالث الغضب لله تعالى فإنه قد يغضب على منكر قارفه إنسان إذا رآه أو سمعه فيظهر غضبه ويذكر اسمه وكان الواجب أن يظهر غضبه عليه بالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ولا يظهره على غيره أو يستر اسمه ولا يذكره بالسوء فهذه الثلاثة مما يغمض دركها على العلماء فضلاً عن العوام فإنهم يظنون أن التعجب والرحمة والغضب إذا كان لله تعالى
Ketiga, marah karena Allah Ta'ala. Sebab terkadang seseorang marah atas kemungkaran yang dilakukan oleh seseorang ketika melihat atau mendengarnya, lalu ia menampakkan kemarahannya dan menyebutkan namanya. Padahal yang wajib adalah ia menampakkan kemarahannya kepada pelaku tersebut dengan amar ma'ruf nahi munkar dan tidak menampakkannya kepada orang lain, atau ia menyembunyikan namanya dan tidak menyebutnya dengan keburukan. Maka ketiga hal ini termasuk hal yang amat samar pemahamannya bagi para ulama, terlebih lagi bagi orang awam; sebab mereka mengira bahwa rasa heran, kasihan, dan marah jika karena Allah Ta'ala…
كان عذراً في ذكر الاسم وهو خطأ بل المرخص في الغيبة حاجات مخصوصة لا مندوحة فيها عن ذكر الاسم كما سيأتي ذكره روي عن عامر بن واثلة أن رجلاً مر على قوم في حياة رسول الله صلى الله عليه وسلم
…adalah uzur (pembenaran) untuk menyebutkan nama, padahal itu adalah suatu kesalahan. Justru yang memberi kelonggaran dalam ghibah adalah kebutuhan-kebutuhan khusus yang tidak ada jalan lain selain menyebutkan nama, sebagaimana nanti akan dijelaskan. Diriwayatkan dari 'Amir bin Watsilah bahwa seorang laki-laki melewati suatu kaum pada masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم,
فسلم عليهم فردوا ﵇ فلما جاوزهم قال رجل منهم إني لأبغض هذا في الله تعالى فقال أهل المجلس لبئس ما قلت والله لننبئنه ثم قالوا يا فلان لرجل منهم قم فأدركه وأخبره بما قال فأدركه رسولهم فأخبره فأتى الرجل رسول الله ﷺ وحكى له ما قال وسأله أن يدعوه له فدعاه وسأله فقال قد قلت ذلك فقال ﷺ لم تبغضه فقال أنا جاره وأنا به خابر والله ما رأيته يصلي صلاة قط إلا هذه المكتوبة قال فاسأله يا رسول الله هل رآني أخرتها عن وقتها أو أسأت الوضوء لها أو الركوع أو السجود فيها فسأله فقال لا فقال والله ما رأيته يصوم شهراً قط إلا هذا الشهر الذي يصومه البر والفاجر قال فاسأله يا رسول الله هل رآني قط أفطرت فيه أو نقصت من حقه شيئاً فسأله عنه فقال لا فقال والله ما رأيته يعطي سائلاً ولا مسكيناً قط ولا رأيته ينفق شيئاً من ماله في سبيل الله إلا هذه الزكاة التي يؤديها البر والفاجر قال فاسأله يا رسول الله هل رآني نقصت منها أو ماكست فيها طالبها الذي يسألها فسأله فقال لا فقال ﷺ للرجل قم فلعله خير منك
lalu ia mengucapkan salam kepada mereka dan mereka pun membalasnya. Ketika orang itu berlalu, seorang laki-laki di antara mereka berkata, "Sesungguhnya aku sungguh membenci orang ini karena Allah Ta'ala." Maka orang-orang yang ada di majelis itu berkata, "Alangkah buruknya apa yang engkau katakan! Demi Allah, kami benar-benar akan memberitahukannya." Kemudian mereka berkata kepada salah seorang dari mereka, "Wahai Fulan, berdirilah, susullah dia dan beritahukan apa yang dikatakannya." Maka utusan mereka pun menyusulnya dan memberitahunya. Lalu orang tersebut mendatangi Rasulullah ﷺ dan menceritakan apa yang dikatakan laki-laki itu serta memohon agar beliau memanggilnya. Maka beliau memanggilnya dan menanyakannya, lalu laki-laki itu menjawab, "Aku memang telah mengatakan hal itu." Beliau ﷺ bertanya, "Mengapa engkau membencinya?" Ia menjawab, "Aku adalah tetangganya dan aku sangat mengenalnya. Demi Allah, aku tidak pernah melihatnya melaksanakan shalat sama sekali selain shalat fardhu ini." Orang itu berkata, "Tanyakanlah kepadanya, wahai Rasulullah, apakah ia pernah melihatku mengakhirkannya dari waktunya, atau memperburuk wudhu untuknya, atau merusak ruku' serta sujudnya?" Beliau pun menanyakannya, dan laki-laki itu menjawab, "Tidak." Laki-laki itu berkata lagi, "Demi Allah, aku tidak pernah melihatnya berpuasa sebulan penuh sama sekali selain bulan (Ramadhan) ini yang dipuasai oleh orang baik maupun orang durhaka." Orang itu berkata, "Tanyakanlah kepadanya, wahai Rasulullah, apakah ia pernah melihatku berbuka padanya atau mengesampingkan sedikit pun dari haknya?" Beliau menanyakannya, dan laki-laki itu menjawab, "Tidak." Laki-laki itu melanjutkan, "Demi Allah, aku tidak pernah melihatnya memberi peminta-minta maupun orang miskin sama sekali, dan aku tidak pernah melihatnya menginfakkan sesuatu pun dari hartanya di jalan Allah selain zakat ini yang ditunaikan oleh orang baik maupun orang durhaka." Orang itu berkata, "Tanyakanlah kepadanya, wahai Rasulullah, apakah ia pernah melihatku menguranginya atau menawar hak penagih yang memintanya?" Beliau menanyakannya, dan laki-laki itu menjawab, "Tidak." Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada laki-laki (yang membenci) itu, "Berdirilah (pergilah), boleh jadi dia lebih baik daripada dirimu."
بيان العلاج الذي يمنع اللسان عن الغيبة
Penjelasan Terapi yang Menahan Lisan dari Ghibah
اعلم أن مساويء الْأَخْلَاقِ كُلَّهَا إِنَّمَا تُعَالَجُ بِمَعْجُونِ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وإنما علاج كل علة بمضادة سببها فلنفحص عن سببها وعلاج كف اللسان عن الغيبة على وجهين أحدهما على الجملة والآخر على التفصيل
Ketahuilah bahwa semua keburukan akhlak hanya dapat diobati dengan ramuan gabungan antara ilmu dan amal. Dan sesungguhnya obat bagi setiap penyakit adalah dengan menentang pemicunya. Maka hendaklah kita menyelidiki pemicunya. Dan obat untuk menahan lisan dari ghibah itu ada dua cara: salah satunya secara garis besar (global) dan yang lainnya secara terperinci (detail).
أما على الجملة فهو أن يعلم تعرضه لسخط الله تعالى بغيبته بهذه الأخبار التي رويناها وأن يعلم أنها محبطة لحسناته يوم القيامة فإنها تنقل حسناته يوم القيامة إلى من اغتابه بدلاً عما استباحه من عرضه فإن لم تكن له حسنات نقل إليه من سيئات خصمه وهو مع ذلك متعرض لمقت الله ﷿ ومشبه عنده بآكل الميتة بل العبد يدخل النار بأن تترجح كفة سيئاته على كفة حسناته وربما تنقل إليه سيئة واحدة ممن اغتابه فيحصل بها الرجحان ويدخل بها النار وإنما أقل الدرجات أن تنقص من ثواب أعماله وذلك بعد المخاصمة والمطالبة والسؤال والجواب والحساب قال ﷺ ما النار في اليبس بأسرع من الغيبة في حسنات العبد وروي أن رجلاً قال للحسن بلغني أنك تغتابني فقال ما بلغ من قدرك عندي أني أحكمك في حسناتي فهما آمَنَ الْعَبْدُ بِمَا وَرَدَ مِنَ الْأَخْبَارِ فِي الْغِيبَةِ لَمْ يُطْلِقْ لِسَانَهُ بِهَا خَوْفًا مِنْ ذَلِكَ وَيَنْفَعُهُ أَيْضًا أَنْ يَتَدَبَّرَ فِي نَفْسِهِ فَإِنْ وَجَدَ فِيهَا عَيْبًا اشْتَغَلَ بِعَيْبِ نَفْسِهِ وَذَكَرَ قَوْلَهُ ﷺ طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ
Adapun secara umum, hendaknya ia menyadari bahwa dirinya merelakan diri mendapat kemurkaan Allah Ta'ala melalui ghibah (menggunjing) yang dilakukannya berdasarkan riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan, dan menyadari bahwa ghibah dapat menggugurkan pahala kebaikannya pada hari kiamat. Sebab, pahala kebaikannya pada hari kiamat akan dipindahkan kepada orang yang digunjingnya sebagai ganti atas kehormatan orang itu yang telah dilanggarnya. Jika ia tidak memiliki pahala kebaikan, maka keburukan (dosa) dari lawannya akan dipindahkan kepadanya. Di samping itu, ia juga menanggung kemurkaan Allah Azza wa Jalla dan diumpamakan oleh-Nya seperti pemakan bangkai. Bahkan seorang hamba dapat masuk neraka hanya karena timbangan keburukannya lebih berat daripada timbangan kebaikannya. Boleh jadi, berpindahnya satu keburukan saja dari orang yang digunjingnya sudah cukup membuat timbangan keburukannya menjadi lebih berat sehingga ia terjerumus ke dalam neraka. Tingkatan paling ringan adalah berkurangnya pahala amal-amalnya, dan itu terjadi setelah proses pertikaian, tuntutan, tanya-jawab, dan hisab. Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidaklah api pada kayu yang kering itu lebih cepat membakar daripada ghibah terhadap pahala kebaikan seorang hamba.' Diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Al-Hasan (Al-Bashri), 'Telah sampai kepadaku berita bahwa engkau menggunjingku.' Al-Hasan menjawab, 'Kedudukanmu di mataku tidaklah sepadan untuk membuatku menyerahkan pahala kebaikanku kepadamu.' Maka, sejauh mana seorang hamba beriman kepada riwayat-riwayat yang ada tentang ghibah, niscaya ia tidak akan melepas lidahnya untuk berghibah karena takut akan hal itu. Bermanfaat pula baginya untuk merenungkan dirinya sendiri; jika ia menemukan cela pada dirinya, hendaklah ia sibuk dengan celanya sendiri dan mengingat sabda Nabi ﷺ: 'Beruntunglah orang yang disibukkan oleh celanya sendiri dari cela orang lain.'
وَمَهْمَا وَجَدَ عَيْبًا فَيَنْبَغِي أَنْ يَسْتَحِيَ مِنْ أَنْ يَتْرُكَ ذَمَّ نَفْسِهِ وَيَذُمَّ غَيْرَهُ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَتَحَقَّقَ أَنَّ عَجْزَ غَيْرِهِ عَنْ نَفْسِهِ فِي التَّنَزُّهِ عَنْ ذَلِكَ الْعَيْبِ كَعَجْزِهِ وَهَذَا إِنْ كَانَ ذَلِكَ عَيْبًا يَتَعَلَّقُ بِفِعْلِهِ وَاخْتِيَارِهِ وَإِنْ كَانَ أَمْرًا خِلْقِيًّا فَالذَّمُّ لَهُ ذَمٌّ لِلْخَالِقِ فَإِنَّ مَنْ ذَمَّ صَنْعَةً فَقَدْ ذَمَّ صانعها قال رجل لحكيم يا قبيح الوجه قال ما كان خلق وجهي إلي فأحسنه وَإِذَا لَمْ يَجِدِ الْعَبْدُ عَيْبًا فِي نَفْسِهِ فَلْيَشْكُرِ اللَّهَ تَعَالَى وَلَا يُلَوِّثَنَّ نَفْسَهُ بِأَعْظَمِ الْعُيُوبِ فَإِنَّ ثَلْبَ النَّاسِ وَأَكْلَ لَحْمِ الْمَيْتَةِ مِنْ أَعْظَمِ الْعُيُوبِ بَلْ لَوْ أَنْصَفَ لَعَلِمَ أَنَّ ظَنَّهُ بِنَفْسِهِ أَنَّهُ بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ عيب جهل بنفسه وهو من أعظم العيوب وينفعه أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ تَأَلُّمَ غَيْرِهِ بِغِيبَتِهِ كَتَأَلُّمِهِ بِغِيبَةِ غَيْرِهِ لَهُ فَإِذَا كَانَ لَا يَرْضَى لِنَفْسِهِ أَنْ يُغْتَابَ فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَرْضَى لغيره ما لا يرضاه لنفسه فهذه معالجات جملية
Setiap kali ia menemukan cela pada dirinya, sepantasnya ia merasa malu jika meninggalkan celaan atas dirinya sendiri lalu mencela orang lain. Justru ia harus menyadari bahwa ketidakmampuan orang lain dalam membersihkan diri dari cela tersebut adalah sama seperti ketidakmampuan dirinya sendiri. Ini jika cela tersebut berkaitan dengan perbuatan dan pilihannya. Adapun jika itu merupakan cacat fisik bawaan (ciptaan), maka mencelanya berarti mencela Sang Pencipta, karena barang siapa mencela suatu karya, berarti ia telah mencela Pembuatnya. Seorang lelaki berkata kepada seorang ahli hikmah, 'Wahai orang yang berwajah buruk!' Ahli hikmah itu menjawab, 'Penciptaan wajahku bukan di tanganku sehingga aku bisa memperbagusnya.' Apabila seorang hamba tidak menemukan cela pada dirinya, hendaklah ia bersyukur kepada Allah Ta'ala dan jangan mengotori dirinya dengan cela yang paling besar; karena mencemarkan nama baik manusia dan memakan daging bangkai adalah termasuk cela terbesar. Bahkan sekiranya ia bersikap adil, niscaya ia tahu bahwa anggapannya tentang diri sendiri bebas dari segala cela merupakan kebodohan terhadap dirinya sendiri, dan itu termasuk cela terbesar. Bermanfaat pula baginya untuk mengetahui bahwa rasa sakit yang dialami orang lain akibat ghibah yang dilakukannya sama seperti rasa sakit yang ia rasakan ketika digunjing orang lain. Jika ia tidak ridha dirinya digunjing, maka hendaknya ia tidak menyukai bagi orang lain apa yang tidak ia sukai bagi dirinya sendiri. Inilah penanganan secara umum.
أما التفصيل فهو أن ينظر في السبب الباعث له على الغيبة فإن علاج العلة بقطع سببها وقد قدمنا الأسباب
Adapun penanganan secara rinci, yaitu dengan melihat sebab yang mendorongnya untuk berghibah. Sebab, pengobatan suatu penyakit adalah dengan mencabut penyebabnya, dan kami telah menjelaskan sebab-sebab tersebut sebelumnya.
أما الغضب فيعالجه بما سيأتي في كتاب آفات الغضب وهو أن يقول إني إذا أمضيت غضبي عليه فلعل الله تعالى يمضي غضبه علي بسبب الغيبة إذ نهاني عنها فاجترأت على نهيه واستخففت بزجره وقد قال ﷺ إن لجهنم باباً لا يدخل منه إلا من شفى غيظه بمعصية اللَّهُ تَعَالَى
Adapun amarah, maka pengobatannya adalah sebagaimana yang akan datang dalam bab Bahaya Amarah, yaitu hendaklah ia berkata pada dirinya: 'Jika aku melampiaskan amarahku kepadanya, boleh jadi Allah Ta'ala akan melampiaskan kemurkaan-Nya kepadaku karena perbuatan ghibah ini, sebab Dia telah melarangku darinya namun aku berani melanggar larangan-Nya dan meremehkan peringatan-Nya.' Sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Sesungguhnya Jahanam memiliki sebuah pintu yang tidak dimasuki kecuali oleh orang yang melampiaskan kemarahannya dengan bermaksiat kepada Allah Ta'ala.'
وَقَالَ ﷺ من اتقى ربه كل لسانه ولم يشف غيظه
Nabi ﷺ juga bersabda: 'Barang siapa bertakwa kepada Tuhannya, niscaya lidahnya akan kelu (terjaga) dan ia tidak akan melampiaskan amarahnya.'
وقال ﷺ من كظم غيظاً وهو يقدر على أن يمضيه دعاه الله تعالى يوم القيامة على رءوس الخلائق حتى يخيره في أي الحور شاء وفي بعض الكتب المنزلة على بعض النبيين يا ابن آدم اذكرني حين تغضب أذكرك حين أغضب فلا أمحقك فيمن أمحق
Dan Nabi ﷺ bersabda: 'Barang siapa menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, Allah Ta'ala akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk hingga Dia memberinya kebebasan memilih bidadari mana saja yang ia kehendaki.' Dan dalam sebagian kitab yang diturunkan kepada sebagian nabi tertulis: 'Wahai anak Adam, ingatlah Aku ketika engkau marah, niscaya Aku akan mengingatmu ketika Aku murka, sehingga Aku tidak membinasakanmu bersama orang-orang yang Aku binasakan.'
وأما الموافقة فبأن تعلم أن الله تعالى يغضب عليك إذا طلبت سخطه في رضا المخلوقين فكيف ترضى لنفسك أن توقر غيرك وتحقر مولاك فتترك رضاه لرضاهم إلا أن يكون غضبك لله تعالى وذلك لا يوجب أن نذكر المغضوب عليه بسوء بل ينبغي أن تغضب لله أيضاً على رفقائك إذا ذكروه بالسوء فإنهم عصوا ربك بأفحش الذنوب وهي الغيبة
Adapun karena ikutan (keselarasan dengan teman pergaulan), hendaknya engkau menyadari bahwa Allah Ta'ala murka kepadamu jika engkau mencari kemurkaan-Nya demi meraih keridhaan makhluk. Bagaimana engkau merelakan dirimu mengagungkan selain-Nya dan meremehkan Pelindungmu (Allah), sehingga engkau meninggalkan keridhaan-Nya demi keridhaan mereka? Kecuali jika marahmu itu karena Allah Ta'ala. Namun, hal itu pun tidak menuntut untuk menyebutkan orang yang dimarahi dengan keburukan. Bahkan sepantasnya engkau juga marah karena Allah terhadap teman-temanmu apabila mereka menyebutnya dengan keburukan, karena mereka telah mendurhakai Tuhanmu dengan dosa yang sangat keji, yaitu ghibah.
وأما تنزيه النفس بنسبة الغير إلى الخيانة حيث يستغنى عن ذكر الغير فتعالجه بأن تعرف أن التعرض لمقت الخالق أشد من التعرض لمقت المخلوقين وأنت بالغيبة متعرض لسخط الله يقيناً ولا تدري أنك تتخلص من سخط الناس أم لا فتخلص نفسك في الدنيا بالتوهم وتهلك في الآخرة وتخسر حسناتك بالحقيقة ويحصل لك ذم الله تعالى نقداً وتنتظر دفع ذم الخلق نسيئة وهذا غاية الجهل والخذلان
Adapun menyucikan diri dengan menuduh orang lain berkhianat—padahal tidak perlu menyebutkan orang lain—maka cara mengobatinya adalah dengan menyadari bahwa menanggung kemurkaan Sang Pencipta jauh lebih berat daripada menanggung kemurkaan makhluk. Dengan berghibah, engkau pasti menanggung kemurkaan Allah secara meyakinkan, sementara engkau tidak tahu apakah engkau akan terbebas dari kemurkaan manusia atau tidak. Maka engkau menyelamatkan dirimu di dunia secara angan-angan semata, namun binasa di akhirat dan benar-benar kehilangan pahala kebaikanmu. Engkau mendapatkan celaan Allah Ta'ala secara tunai, sementara engkau berharap menolak celaan makhluk secara tempo (nanti). Ini adalah puncak kebodohan dan kehinaan.
وأما عذرك كقولك إن أكلت الحرام ففلان يأكله وإن قبلت مال السلطان ففلان يقبله فهذا جهل لأنك تعتذر بالاقتداء بمن لا يجوز الاقتداء به فإن من خالف أمر الله تعالى لا يقتدى به كائناً من كان ولو دخل غيرك النار وأنت تقدر على أن لا تدخلها لم توافقه ولو وافقته لسفه عقلك
Adapun alasanmu seperti ucapanmu: 'Jika aku memakan yang haram, si Fulan pun memakannya; dan jika aku menerima harta penguasa, si Fulan pun menyetujuinya/menerimanya,' maka ini adalah kebodohan. Sebab, engkau beralasan dengan meneladani orang yang tidak boleh diteladani. Barang siapa melanggar perintah Allah Ta'ala, ia tidak boleh diteladani siapa pun dia. Sekiranya orang lain masuk neraka padahal engkau mampu untuk tidak masuk ke dalamnya, engkau tidak akan mengikutinya; dan jika engkau mengikutinya, sungguh alangkah bodohnya akalmu.
ففيما ذكرته غيبة وزيادة معصية أضفتها إلى ما اعتذرت عنه وسجلت مع الجمع بين المعصيتين على جهلك وعباوتك وكنت كالشاة تنظر إلى المعزى تردى نفسها من قلة الجبل فهي أيضاً تردى نفسها ولو كان لها لسان ناطق بالعذر وصرخت بالعذر وقالت العنز أكيس مني وقد أهلكت نفسها فكذلك أنا أفعل لكنت تضحك من جهلها وحالك مثل حالها ثم لا تعجب ولا تضحك من نفسك
Maka dalam apa yang engkau sebutkan itu terdapat ghibah sekaligus penambahan kemaksiatan yang engkau tambahkan pada apa yang engkau jadikan alasan. Dengan menggabungkan dua kemaksiatan itu, engkau telah mengukuhkan kebodohan dan ketololan dirimu. Engkau seperti seekor domba yang melihat kambing betina menjatuhkan dirinya dari puncak gunung, lalu domba itu pun menjatuhkan dirinya pula. Sekiranya domba itu memiliki lidah yang bisa berucap memberi alasan, lalu berteriak memberikan alasan: 'Kambing betina itu lebih cerdas dariku, dan dia telah membinasakan dirinya, maka demikian pula yang aku lakukan,' niscaya engkau akan tertawa karena kebodohannya. Padahal keadaanmu persis seperti keadaannya, tetapi engkau tidak heran dan tidak tertawa terhadap dirimu sendiri.
وأما قصدك المباهاة وتزكية النفس بزيادة الفضل بأن تقدح في غيرك فينبغي أن تعلم أنك بما ذكرته به أبطلت فضلك عند الله وأنت من اعتقاد الناس فضلك على خطر وربما نقص اعتقادهم فيك إذا عرفوك بثلب الناس فتكون قد بعت ما عند الخالق يقيناً بما عند المخلوقين وهما ولو حصل لك من المخلوقين اعتقاد الفضل لكانوا لا يغنون عنك من الله شيئاً
Adapun maksudmu untuk membanggakan diri dan menyucikan diri (tazkiyatun nafs) dengan menunjukkan kelebihan keutamaan melalui mencela orang lain, hendaknya engkau tahu bahwa dengan apa yang engkau sebutkan itu, engkau telah membatalkan keutamaanmu di sisi Allah. Sementara anggapan manusia akan keutamaanmu masih berisiko terancam, dan boleh jadi persangkaan mereka kepadamu justru berkurang jika mereka mengenalmu sebagai pencela manusia. Dengan demikian, engkau telah menjual apa yang ada di sisi Sang Pencipta secara meyakinkan demi apa yang ada di sisi makhluk yang bersifat angan-angan semata. Sekiranya engkau mendapatkan persangkaan keutamaan dari makhluk pun, mereka sama sekali tidak dapat menolak sedikit pun azab Allah darimu.
وأما الغيبة لأجل الحسد فهو جمع بين عذابين لأنك حسدته على نعمة الدنيا وكنت في الدنيا معذباً بالحسد فما قنعت بذلك حتى أضفت إليه عذاب الآخرة فكنت خاسراً نفسك في الدنيا فصرت أيضاً خاسراً في الآخرة
Adapun ghibah karena dengki (hasad), maka itu merupakan penggabungan dua siksaan. Sebab engkau mendengkinya atas kenikmatan dunia dan engkau di dunia tersiksa oleh rasa dengki tersebut, lalu engkau tidak merasa puas dengannya hingga engkau menambahkan siksa akhirat kepadanya. Maka engkau telah merugikan dirimu di dunia, dan engkau pun menjadi orang yang rugi di akhirat.
لتجمع بين النكالين فقد قصدت محسودك فأصبت نفسك وأهديت إليه حسناتك فإذا أنت صديقه وعدو نفسك إذ لا تضره غيبتك وتضرك وتنفعه إذ تنقل إليه حسناتك أو تنقل إليك سيئاته ولا تنفعك وقد جمعت إلى خبث الحسد جهل الحماقة وربما يكون حسدك وقدحك سبب انتشار فضل محسودك كما قيل
Agar engkau menggabungkan dua hukuman; sungguh engkau bermaksud menyerang orang yang engkau dengki, namun engkau justru mengenai dirimu sendiri dan mengadiahkan kebaikan-kebaikanmu kepadanya. Maka seolah-olah engkau adalah temannya dan musuh bagi dirimu sendiri, sebab ghibahmu tidak membahayakannya melainkan membahayakan dirimu, dan memberi manfaat kepadanya karena pahala kebaikanmu dipindahkan kepadanya atau dosa keburukannya dipindahkan kepadamu tanpa memberi manfaat bagimu. Engkau telah menggabungkan keburukan kedengkian dengan kebodohan yang tolol. Dan boleh jadi kedengkian serta celaanmu justru menjadi sebab tersebarnya keutamaan orang yang engkau dengki, sebagaimana dikatakan dalam bait syair:
وإذا أراد الله نشر فضيله … طويت أتاح لها لسان حسود
'Apabila Allah menghendaki tersebarnya suatu keutamaan yang tersembunyi, Dia menjadikan lidah pendengki sebagai sarana baginya.'
وأما الاستهزاء فمقصودك منه إخزاء غيرك عند الناس بإخزاء نفسك عند الله تعالى وعند الملائكة والنبيين عليهم الصلاة والسلام فلو تفكرت في حسرتك وجنايتك وخجلتك وخزيك يوم القيامة يوم تحمل سيئات من استهزأت به وتساق إلى النار لأدهشك ذلك عن إخزاء صاحبك ولو عرفت حالك لكنت أولى أن تضحك منك فإنك سخرت به عند نفر قليل وعرضت نفسك لأن يأخذ يوم القيامة بيدك على ملأ من الناس ويسوقك تحت سيئاته كما يساق الحمار إلى النار مستهزئاً بك وفرحاً بخزيك ومسروراً بنصرة الله تعالى إياه عليك وتسلطه على الانتقام منك
Adapun olok-olok, maka maksudmu melaluinya adalah menghinakan orang lain di hadapan manusia dengan cara menghinakan dirimu sendiri di sisi Allah Ta'ala, para malaikat, dan para nabi 'alaihimus shalatu was salam. Sekiranya engkau memikirkan penyesalanmu, kejahatanmu, rasa malumu, dan kehinaanmu pada hari kiamat—hari di mana engkau memikul keburukan-keburukan orang yang engkau olok-olok lalu digiring ke neraka—niscaya hal itu akan membuatmu terlalu terkejut untuk sempat menghinakan temanmu. Sekiranya engkau menyadari keadaanmu, niscaya engkau lebih layak tertawa atas dirimu sendiri. Sebab engkau telah mengolok-oloknya di hadapan sekelompok kecil orang, namun engkau menyorongkan dirimu agar pada hari kiamat ia memegang tanganmu di hadapan khalayak ramai dan menggiringmu di bawah beban keburukan-keburukannya sebagaimana keledai digiring ke neraka, seraya mengolok-olokmu, bergembira atas kehinaanmu, dan bersukacita atas pertolongan Allah Ta'ala kepadanya atasmu serta kuasanya untuk membalas dendam padamu.
وأما الرحمة له على إثمه فهو حسن ولكن حسدك إبليس فأضلك واستنطقك بما ينقل من حسناتك إليه ما هو أكثر من رحمتك فيكون جبرا لإثم المرحوم فيخرج عن كونه مرحوما وتنقلب أنت مستحقاً لأن تكون مرحوماً إذ حبط أجرك ونقصت من حسناتك وكذلك الغضب لله تعالى لا يوجد الغيبة وإنما الشيطان حبب إليك الغيبة ليحبط أجر غضبك وتصير معرضاً لمقت الله ﷿ بالغيبة
Adapun rasa kasihan kepadanya atas dosanya, maka itu hal yang baik; namun Iblis mendengkimu lalu menyesatkanmu dan membuat lidahmu mengucapkan apa yang memindahkan pahala kebaikanmu kepadanya melebihi kadar rasa kasihanmu. Maka hal itu menjadi penambal dosa orang yang dikasihi tersebut sehingga ia keluar dari status orang yang dikasihi, sedangkan engkau berubah menjadi orang yang berhak dikasihi karena pahalamu gugur dan kebaikan-kebaikanmu berkurang. Demikian pula marah karena Allah Ta'ala tidak mewajibkan ghibah, namun setan membuat ghibah terasa indah bagimu agar membatalkan pahala marahmu dan menjadikanmu terancam murka Allah Azza wa Jalla disebabkan ghibah tersebut.
وأما التعجب إذا أخرجك إلى الغيبة فتعجب من نفسك أنت كيف أهلكت نفسك ودينك بدين غيرك أو بدنياه وأنت مع ذلك لا تأمن عقوبة الدنيا وهو أن يهتك الله سترك كما هتكت بالتعجب ستر أخيك
Adapun keheranan (takjub) jika membawamu pada ghibah, maka heranlah terhadap dirimu sendiri bagaimana engkau membinasakan diri dan agamamu demi agama atau dunia orang lain. Padahal di samping itu engkau tidak merasa aman dari hukuman dunia, yaitu Allah akan menyingkap tirai aibmu sebagaimana engkau menyingkap tirai aib saudaramu melalui rasa heranmu itu.
فإذن علاج جميع ذلك المعرفة فقط والتحقق بهذه الأمور التي هي من أبواب الإيمان فمن قوي إيمانه بجميع ذلك انكف لسانه عن الغيبة لا محالة
Maka dengan demikian, pengobatan atas semua itu hanyalah dengan ma'rifah (pengetahuan) dan penghayatan yang mendalam terhadap perkara-perkara ini yang merupakan bagian dari pintu-pintu iman. Barang siapa yang imannya kuat terhadap seluruh hal tersebut, niscaya lidahnya pasti akan tertahan dari melakukan ghibah.
بيان تحريم الغيبة بالقلب
Penjelasan tentang Keharaman Ghibah dalam Hati
اعْلَمْ أَنَّ سُوءَ الظَّنِّ حَرَامٌ مِثْلُ سُوءِ الْقَوْلِ فَكَمَا يَحْرُمُ عَلَيْكَ أَنْ تُحَدِّثَ غَيْرَكَ بلسانك بمساويءالغير فَلَيْسَ لَكَ أَنْ تُحَدِّثَ نَفْسَكَ وَتُسِيءَ الظَّنَّ بِأَخِيكَ وَلَسْتُ أَعْنِي بِهِ إِلَّا عَقْدَ الْقَلْبِ وحكمه على غيره بالسوء فَأَمَّا الْخَوَاطِرُ وَحَدِيثُ النَّفْسِ فَهُوَ مَعْفُوٌّ عَنْهُ بل الشك أيضاً مَعْفُوٌّ عَنْهُ وَلَكِنَّ الْمَنْهِيَّ عَنْهُ أَنْ يَظُنَّ وَالظَّنُّ عِبَارَةٌ عَمَّا تَرْكَنُ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَيَمِيلُ إليه القلب
Ketahuilah bahwa prasangka buruk (su'udzan) itu haram sebagaimana perkataan yang buruk. Sebagaimana haram bagimu membicarakan keburukan orang lain kepada orang lain dengan lidahmu, maka engkau juga tidak boleh membicarakannya pada dirimu sendiri dan berprasangka buruk kepada saudaramu. Yang aku maksudkan di sini tidak lain adalah ikatan ketetapan hati dan keputusannya atas orang lain dengan keburukan. Adapun bisikan hati (khawatir) dan gejolak jiwa (haditsun nafs), maka hal itu dimaafkan; bahkan keraguan (syak) juga dimaafkan. Namun yang dilarang adalah berprasangka (az-dzann), dan prasangka itu merupakan istilah untuk sesuatu yang jiwa cenderung dan tenang kepadanya serta hati memiringkan pandangan kepadanya.
فقد قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إثم وَسَبَبُ تَحْرِيمِهِ أَنَّ أَسْرَارَ الْقُلُوبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا عَلَّامُ الْغُيُوبِ فَلَيْسَ لَكَ أَنْ تَعْتَقِدَ فِي غَيْرِكَ سُوءًا إِلَّا إِذَا انْكَشَفَ لَكَ بعيان لا يقبل التأويل فعند ذلك لا يمكنك إلا أن تعتقد ما علمته وشاهدته وما لم تشاهده بعينك ولم تسمعه بأذنك ثم وقع في قلبك فَإِنَّمَا الشَّيْطَانُ يُلْقِيهِ إِلَيْكَ فَيَنْبَغِي أَنْ تُكَذِّبَهُ فَإِنَّهُ أَفْسَقُ الْفُسَّاقِ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بنبأ فتبينوا أن تصيبوا قوماً بجهالة فلا يجوز تصديق إبليس وإن كان ثم مخيلة تدل على فساد واحتمل خلافه لم يجز أن تصدق به لأن الفاسق يتصور أن بصدق في خيره ولكن لا يجوز لك أن تصدق به حتى إن من استنكه فوجد منه رائحة الخمر لا يجوز أن يحد إذ يقال يمكن أن يكون قد تمضمض بالخمر ومجها وما شربها أو حمل عليه قهراً فكل ذلك لا محالة دلالة محتملة فلا يجوز تصديقها بالقلب
Sungguh Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa." (QS. Al-Hujurat: 12). Sebab diharamkannya prasangka buruk (su'udzan) adalah karena rahasia-rahasia hati tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Yang Maha Mengetahui hal-hal ghaib. Maka tidak boleh bagimu meyakini keburukan pada diri orang lain kecuali jika hal itu tersingkap bagimu secara kasatmata yang tidak menerima penafsiran lain. Pada saat demikian, engkau tidak dapat menghindar untuk meyakini apa yang telah engkau ketahui dan saksikan. Adapun apa yang tidak engkau saksikan dengan matamu dan tidak engkau dengar dengan telingamu, lalu terbersit dalam hatimu, sesungguhnya setanlah yang membisikkannya kepadamu. Maka selayaknya engkau mendustakannya, karena setan adalah sefasik-fasiknya makhluk fasik. Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya." (QS. Al-Hujurat: 6). Maka tidak boleh membenarkan Iblis. Dan jika di sana terdapat dugaan atau tanda yang menunjukkan kerusakan namun masih memungkinkan kemungkinan sebaliknya, maka tidak boleh engkau membenarkannya. Sebab orang fasik ada kemungkinan berkata benar dalam beritanya, tetapi tetap tidak boleh bagimu membenarkannya. Hingga seseorang yang tercium dari mulutnya bau khamar, ia tidak boleh dijatuhi hukuman hadd, sebab ada kemungkinan ia hanya berkumur dengan khamar lalu membuangnya tanpa meminumnya, atau ia dipaksa melakukannya. Semua itu tak pelak merupakan indikasi yang masih mengandung kemungkinan (probabilitas), sehingga hatimu tidak boleh membenarkannya (meyakini keburukannya).
وإساءة الظن بالمسلم بها وقد قَالَ ﷺ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ مِنَ الْمُسْلِمِ دَمَهُ وَمَالَهُ وَأَنْ يُظَنَّ به ظن السوء فلا يستباح ظن السوء إلا بما يستباح به المال وهو نفس مشاهدته أو بينة عادلة فإذا لم يكن كذلك وخطر لَكَ وَسْوَاسُ سُوءِ الظَّنِّ فَيَنْبَغِي أَنْ تَدْفَعَهُ عَنْ نَفْسِكَ وَتُقَرِّرَ عَلَيْهَا أَنَّ حَالَهُ عِنْدَكَ مَسْتُورٌ كَمَا كَانَ وَأَنَّ مَا رَأَيْتَهُ مِنْهُ يَحْتَمِلُ الْخَيْرَ وَالشَّرَّ فَإِنْ قُلْتَ فَبِمَاذَا يُعْرَفُ عقد الظن والشكوك تختلج والنفس تحدث فتقول أمارة عقد سوء الظَّنِّ أَنْ يَتَغَيَّرَ الْقَلْبُ مَعَهُ عَمَّا كَانَ فَيَنْفِرَ عَنْهُ نُفُورًا مَا وَيَسْتَثْقِلَهُ وَيَفْتُرَ عَنْ مراعاته وتفقده وإكرامه والاغتمام بسببه فهذه أمارات عقد الظن وتحقيقه
Dan berprasangka buruk terhadap seorang muslim itu diharamkan karenanya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan dari seorang muslim darahnya, hartanya, dan berprasangka buruk kepadanya." Maka berprasangka buruk tidaklah dihalalkan melainkan dengan hal yang menghalalkan pengambilalihan harta, yaitu kesaksian langsung dengan mata sendiri atau adanya bukti hukum yang adil (bayyinah 'adilah). Jika tidak demikian, lalu terbersit padamu bisikan su'udzan, maka selayaknya engkau menolaknya dari dirimu dan menetapkan pada hatimu bahwa keadaannya di matamu tetap dalam perlindungan (tertutup aibnya) sebagaimana semula, serta apa yang engkau lihat darinya mengandung kemungkinan baik dan buruk. Jika engkau bertanya, "Lantas dengan apa dapat diketahui bahwa prasangka telah terikat (menjadi iktikad/ketetapan hati), sementara keraguan bergejolak dan jiwa terus berbisik?" Maka katakanlah: Tanda dari terikatnya su'udzan adalah berumahnya perubahan di dalam hati terhadap orang tersebut dari keadaannya semula, sehingga hati menjauh darinya dengan kadar tertentu, merasa berat terhadapnya, menjadi kendor dalam memperhatikannya, menanyakan keadaannya, memuliakannya, serta merasa bersedih karenanya. Inilah tanda-tanda terikat dan terwujudnya prasangka buruk tersebut.
وقد قال ﷺ ثلاث في المؤمن وله منهن مخرج فمخرجه من سوء الظن أن لا يحققه أي لا يحققه فِي نَفْسِهِ بِعَقْدٍ وَلَا فِعْلٍ لَا فِي القلب ولا في الجوارح أما في القلب فبتغيره إلى النفرة والكراهة وأما في الجوارح فبالعمل بموجبه والشيطان قد يقرر على القلب بأدنى مخيلة مساءة الناس ويلقي إليه أن هذا من فطنتك وسرعة فهمك وَذَكَائِكَ وَأَنَّ الْمُؤْمِنَ يَنْظُرُ بِنُورِ اللَّهِ تَعَالَى وَهُوَ عَلَى التَّحْقِيقِ نَاظِرٌ بِغُرُورِ الشَّيْطَانِ وَظُلْمَتِهِ
Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Ada tiga hal yang ada pada diri seorang mukmin, dan baginya ada jalan keluar dari ketiganya; adapun jalan keluar dari prasangka buruk adalah tidak membenarkan (merealisasikan)-nya." Maksudnya, tidak merealisasikannya dalam dirinya baik dengan iktikad hati maupun tindakan fisik, tidak pula dalam hati maupun anggota badan. Adapun di dalam hati yaitu dengan tidak mengubahnya menjadi rasa menjauh dan benci. Sedangkan pada anggota badan yaitu dengan bertindak sesuai dengan tuntutan prasangka tersebut. Dan setan terkadang mengokohkan keburukan orang lain di dalam hati hanya dengan indikasi paling samar, lalu membisikkan kepadanya bahwa hal ini adalah bagian dari kecerdikanmu, kecepatan pemahamanmu, dan kecerdasanmu, serta bahwa "seorang mukmin itu memandang dengan cahaya Allah Ta'ala." Padahal kenyataannya, ia sedang memandang dengan tipu daya dan kegelapan setan.
وأما إذا أخبرك به عدل فمال ظنك إلى تصديقه كنت معذورا لأنك لو كذبته لكنت جانياً على هذا العدل إذ ظننت به الكذب وذلك أيضاً من سوء الظن فلا ينبغي أن تحسن الظن بواحد وتسيء بالآخر نعم ينبغي أن تبحث هل بينهما عداوة ومحاسدة وتعنت فتتطرق التهمة بسببه فقد رد الشرع شهادة الأب العدل للولد للتهمة ورد شهادة العدو فلك عند ذلك أن تتوقف وإن كان عدلاً فلا تصدقه ولا تكذبه ولكن تقول في نفسك المذكور حاله كان عندي في ستر الله تعالى وكان أمره محجوباً عني وقد بقي كما كان لم ينكشف لي شيء من أمره وقد يكون الرجل ظاهره العدالة ولا محاسدة بينه وبين المذكور ولكن قد يكون من عادته التعرض للناس وذكر مساويهم فهذا قد يظن أنه عدل وليس بعدل فإن المغتاب فاسق وإن كان ذلك من عادته ردت شهادته إلا أن الناس لكثرة الاعتياد تساهلوا في أمر الغيبة ولم يكترثوا بتناول أعراض الخلق ومهما خطر لك خاطر بسوء على مسلم فينبغي أن تزيد في مراعاته وتدعو له بالخير فإن ذلك يغيظ الشيطان ويدفعه عنك فلا يلقى إليك الخاطر السوء خيفة من اشتغالك بالدعاء والمراعاة
Adapun jika seorang yang adil memberitahukan hal itu kepadamu lalu cenderunglah prasangkamu untuk membenarkannya, maka engkau dimaklumi. Karena jika engkau mendustakannya, niscaya engkau telah berbuat zalim kepada orang adil ini lantaran engkau menyangkanya berbohong, dan hal itu juga termasuk prasangka buruk (su'udzan). Maka tidak selayaknya engkau berprasangka baik kepada salah satunya namun berprasangka buruk kepada yang lain. Ya, hendaknya engkau meneliti apakah di antara keduanya terdapat permusuhan, rasa dengki, atau sifat mencari-cari kesalahan, sehingga muncul prasangka tuduhan (tuhmah) karenanya. Sungguh syariat telah menolak kesaksian seorang ayah yang adil untuk anaknya karena adanya faktor tuhmah, serta menolak kesaksian musuh. Maka dalam kondisi demikian engkau wajib bersikap tawaqquf (menahan diri). Meskipun ia seorang yang adil, janganlah engkau membenarkannya dan jangan pula mendustakannya, melainkan katakanlah dalam dirimu: "Orang yang disebutkan keadaannya ini sebelumnya berada dalam perlindungan (penutupan aib) Allah Ta'ala dan urusannya tersembunyi dariku, dan ia tetap sebagaimana adanya, tidak tersingkap sedikit pun dariku tentang urusannya." Dan terkadang seseorang secara lahiriah tampak adil serta tidak ada kedengkian antara dirinya dengan orang yang disebutkan, namun sudah menjadi kebiasaannya mengusik orang lain dan menyebutkan keburukan-keburukan mereka. Orang seperti ini mungkin dikira adil padahal sesungguhnya tidak adil, karena pelaku ghibah adalah orang fasik. Jika hal itu sudah menjadi kebiasaannya, kesaksiannya tertolak, hanya saja manusia karena terbiasa telah meremehkan urusan ghibah dan tidak memedulikan perbuatan merusak kehormatan sesama makhluk. Dan kapan pun terbersit dalam hatimu prasangka buruk terhadap seorang muslim, maka hendaknya engkau justru menambah perhatianmu kepadanya dan mendoakan kebaikan untuknya. Sebab hal itu akan menyakitkan hati setan dan mengusirnya darimu, sehingga ia tidak akan melemparkan lintasan pikiran buruk kepadamu karena takut engkau justru sibuk berdoa dan memberi perhatian.
وَمَهْمَا عَرَفْتَ هَفْوَةَ مُسْلِمٍ بِحُجَّةٍ فَانْصَحْهُ فِي السِّرِّ وَلَا يَخْدَعَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَيَدْعُوَكَ إِلَى اغْتِيَابِهِ وإذا وعظته فلا تعظه وأنت مسرور باطلاعك على نقصه لينظر إليك بعين التعظيم وتنظر إليه بعين الاستحقار وتترفع عليه بإيذاء الوعظ وليكن قصدك تخليصه من الإثم وأنت حزين كما تحزن على نفسك إذا دخل عليلا نقصان في دينك وينبغي أن يكون تركه لذلك من غير نصحك أحب إليك من تركه بالنصيحة فإذا أنت فعلت ذلك كنت قد جمعت بين أجر الوعظ وأجر الغم بمصيبته وأجر الإعانة له على دينه
Dan manakala engkau mengetahui kekhilafan seorang muslim berdasarkan bukti yang jelas, maka nasihatilah dia secara rahasia (dalam kesendirian). Jangan sampai setan menipumu lalu mengajakmu untuk menggunjingnya (meng-ghibahnya). Dan apabila engkau menasihatinya, janganlah menasihatinya dalam keadaan engkau merasa senang karena mengetahui kekurangannya agar ia memandangmu dengan pandangan mengagungkan sedangkan engkau memandangnya dengan pandangan meremehkan, serta engkau merasa lebih tinggi darinya melalui cara menasihati yang menyakiti. Hendaknya tujuanmu semata-mata menyelamatkannya dari dosa dalam keadaan engkau bersedih sebagaimana engkau bersedih atas dirimu sendiri jika terjadi kekurangan dalam agamamu. Dan hendaknya ditinggalkannya perbuatan dosa itu olehnya tanpa melalui nasihatmu lebih engkau sukai daripada ditinggalkannya melalui nasihatmu. Jika engkau melakukan hal itu, sungguh engkau telah menggabungkan antara pahala memberi nasihat, pahala bersedih atas musibahnya, dan pahala membantunya dalam menopang agamanya.
وَمِنْ ثَمَرَاتِ سُوءِ الظَّنِّ التَّجَسُّسُ فَإِنَّ الْقَلْبَ لَا يَقْنَعُ بِالظَّنِّ وَيَطْلُبُ التَّحْقِيقَ فَيَشْتَغِلُ بِالتَّجَسُّسِ وَهُوَ أَيْضًا مَنْهِيٌّ عَنْهُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ولا تجسسوا فَالْغِيبَةُ وَسُوءُ الظَّنِّ وَالتَّجَسُّسُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ فِي آيَةٍ وَاحِدَةٍ وَمَعْنَى التَّجَسُّسِ أَنْ لَا يَتْرُكَ عِبَادَ اللَّهِ تَحْتَ سِتْرِ اللَّهِ فَيَتَوَصَّلُ إِلَى الِاطِّلَاعِ وَهَتْكِ السِّتْرِ حَتَّى يَنْكَشِفَ لَهُ مَا لَوْ كَانَ مَسْتُورًا عَنْهُ كَانَ أَسْلَمَ لِقَلْبِهِ ودينه وقد ذكرنا فِي كِتَابِ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ حُكْمُ التَّجَسُّسِ وَحَقِيقَتُهُ
Di antara buah dari prasangka buruk (su'udzan) adalah mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus). Sebab hati tidak merasa puas hanya dengan prasangka dan menuntut kepastian, sehingga ia sibuk melakukan tajassus, padahal hal itu juga dilarang. Allah Ta'ala berfirman, "Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain." (QS. Al-Hujurat: 12). Maka ghibah, su'udzan, dan tajassus semuanya dilarang dalam satu ayat yang sama. Makna tajassus adalah tidak membiarkan hamba-hamba Allah berada di bawah naungan penutup (aib) Allah, lalu berupaya untuk menyingkap dan merobek penutup tersebut hingga tersingkap baginya hal-hal yang seandainya tetap tertutup darinya niscaya akan lebih menyelamatkan hati dan agamanya. Kami telah menyebutkan dalam Kitab Al-Amr bil Ma'ruf (Perintah Kebajikan dan Pencegahan Kemungkaran) mengenai hukum tajassus dan hakikatnya.
بيان الأعذار المرخصة في الغيبة
Penjelasan tentang Udzur-Udzur yang Memperbolehkan Ghibah
اعلم أن المرخص في ذكر مساوي الغير هو غرض صحيح في الشرع لا يمكن التوصل إليه إلا به فيدفع ذلك إثم الغيبة وهي ستة أمور
Ketahuilah bahwa hal yang memberikan keringanan (rukhshah) dalam menyebutkan keburukan orang lain adalah adanya tujuan yang benar secara syariat yang tidak mungkin dicapai melainkan dengan cara tersebut, sehingga hal itu menggugurkan dosa ghibah. Udzur tersebut ada enam perkara:
الأول التظلم فإن من ذكر قاضياً بالظلم والخيانة وأخذ الرشوة كان مغتاباً عاصياً إن لم يكن مظلوماً أما المظلوم من جهة القاضي فله أن يتظلم إلى السلطان وينسبه إلى الظلم إذ لا يمكنه استيفاء حقه إلا به قَالَ ﷺ إِنَّ لِصَاحِبِ الحق مقالاً
Pertama: Mengadukan kezaliman (at-tazhallum). Sesungguhnya siapa yang menyebut seorang hakim dengan kezaliman, pengkhianatan, dan menerima suap, maka ia adalah pelaku ghibah yang bermaksiat jika ia bukan orang yang dizalimi. Adapun orang yang dizalimi oleh hakim tersebut, maka ia boleh mengadukan kezalimannya kepada penguasa (sultan) dan menisbahkan kezaliman itu kepadanya, karena ia tidak mungkin menuntut pemenuhan haknya kecuali dengan cara demikian. Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya bagi pemilik hak ada hak untuk berbicara."
وقال ﵇ مطل الغنى ظلم
Dan Beliau ﷺ bersabda, "Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah sebuah kezaliman."
وقال ﵇ لي الواجد يحل عقوبته وعرضه
Dan Beliau ﷺ bersabda, "Penundaan pembayaran oleh orang yang mampu menghalalkan hukuman atasnya dan celaan terhadap kehalalan kehormatannya."
الثاني الِاسْتِعَانَةُ عَلَى تَغْيِيرِ الْمُنْكَرِ وَرَدِّ الْعَاصِي إِلَى منهج الصلاح كما روي أن عمر ﵁ مر على عثمان وقيل على طلحة ﵁ فسلم عليه فلم يرد السلام فذهب إلى أبي بكر ﵁ فذكر له ذلك فجاء أبو بكر إليه ليصلح ذلك ولم يكن ذلك غيبة عندهم وكذلك لما بلغ عمر ﵁ أن أبا جندل قد عاقر الخمر بالشام كتب إليه بسم الله الرحمن الرحيم حم تنزيل الكتاب من الله العزيز العليم غافر الذنب وقابل التوب شديد العقاب الآية فتاب ولم ير ذلك عمر ممن أبلغه غيبة إذ كان قصده أن ينكر عليه ذلك فينفعه نصحه ما لا ينفعه نصح غيره وإنما إباحة هذا بالقصد الصحيح فإن لم يكن ذلك هو المقصود كان حراماً
Kedua: Meminta bantuan untuk mengubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku maksiat ke jalan kebaikan (manhaj ash-shalah). Sebagaimana diriwayatkan bahwa Umar ﵁ melewati Utsman—dan dikatakan pula Thalhah ﵁—lalu mengucapkan salam kepadanya tetapi ia tidak membalas salamnya. Maka Umar pergi kepada Abu Bakar ﵁ dan menceritakan hal itu kepadanya. Lalu Abu Bakar datang kepadanya untuk mendamaikan hal itu, dan hal tersebut tidaklah dianggap sebagai ghibah di antara mereka. Begitu pula ketika sampai berita kepada Umar ﵁ bahwa Abu Jandal terus-menerus meminum khamar di Syam, Umar menulis surat kepadanya: "Bismillahir-rahmanir-rahim. Haa Miim. Diturunkan Kitab ini dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, Yang Mengampuni dosa dan Menerima pertobatan lagi keras hukuman-Nya…" hingga akhir ayat. Maka ia pun bertobat. Dan Umar tidak menganggap berita dari orang yang mengabarkannya sebagai ghibah, karena tujuannya adalah memungkiri tindakan tersebut sehingga nasihat Umar memberikan manfaat yang tidak dapat diberikan oleh nasihat orang lain. Kebolehan ini hanya sah jika didasari niat/tujuan yang benar. Jika hal itu bukan menjadi tujuannya, maka hukumnya adalah haram.
الثالث الِاسْتِفْتَاءُ كَمَا يَقُولُ لِلْمُفْتِي ظَلَمَنِي أَبِي أَوْ زوجتي أو أخي فكيف طريقي في الخلاص والأسلم التعريض بأن يقول ما قولك في رجل ظلمه أبوه أو أخوه أو زوجته ولكن التعيين مباح بهذا القدر لِمَا رُوِيَ عَنْ هند بنت عتبة أَنَّهَا قَالَتْ لِلنَّبِيِّ ﷺ إِنَّ أبا سفيان رَجُلٌ شَحِيحٌ لَا يُعْطِينِي مَا يكفيني أنا وَوَلَدِي أَفَآخُذُ مِنْ غَيْرِ عِلْمِهِ فَقَالَ خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ فَذَكَرَتِ الشُّحَّ وَالظُّلْمَ لها ولولدها ولم يزجرها ﷺ إذ كان قصدها الاستفتاء
Ketiga: Meminta fatwa (al-istifta'). Seperti seseorang yang berkata kepada mufti, "Ayahku, atau istriku, atau saudaraku telah menzalimiku, lantas bagaimana jalan bagiku untuk lepas darinya?" Namun yang lebih selamat adalah menggunakan sindiran (kiasan/tanpa menyebut nama), dengan mengatakan, "Apa pendapat Anda tentang seorang pria yang dizalimi oleh ayahnya, saudaranya, atau istrinya?" Akan tetapi menyebutkan orangnya secara spesifik (ta'yin) tetap diperbolehkan sebatas kadar ini, berdasarkan riwayat dari Hindun binti Utbah bahwa ia berkata kepada Nabi ﷺ, "Sesungguhnya Abu Sufyan adalah pria yang sangat pelit, ia tidak memberiku kecukupan nafkah untukku dan anakku, apakah boleh aku mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya?" Maka Beliau bersabda, "Ambillah apa yang mencukupimu dan anakmu secara patut (bil-ma'ruf)." Di sini ia menyebutkan sifat pelit dan kezaliman terhadap dirinya dan anaknya, dan Nabi ﷺ tidak menegurnya karena tujuannya adalah meminta fatwa.
الرابع تحذير المسلم من الشر فإذا رأيت فقيهاً يتردد إلى مبتدع أو فاسق وخفت أن تتعدى إليه بدعته وفسقه فلك أن تكشف له بدعته وفسقه مهما كان الباعث لك الخوف عليه من سراية البدعة والفسق لا غيره وذلك موضع الغرور إذ قد يكون الحسد هو الباعث ويلبس الشيطان ذلك بإظهار الشفقة على الخلق وكذلك من اشترى مملوكاً وقد عرفت المملوك بالسرقة أو بالفسق أو بعيب آخر فلك أن تذكر ذلك فإن سكوتك ضرر المشترى وفي ذكرك ضرر العبد والمشترى أولى بمراعاة جانبه وكذلك المزكي إذا سئل عن الشاهد فله الطعن فيه إن علم مطعناً وَكَذَلِكَ الْمُسْتَشَارُ فِي التَّزْوِيجِ وَإِيدَاعِ الْأَمَانَةِ لَهُ أَنْ يَذْكُرَ مَا يَعْرِفُهُ عَلَى قَصْدِ النُّصْحِ للمستشير لا على قصد
Keempat: Peringatan (tahdzir) kepada sesama muslim dari keburukan. Jika engkau melihat seorang ahli fikih (penuntut ilmu) sering mendatangi seorang ahli bidah atau orang fasik, dan engkau khawatir bidah serta kefasikannya akan menular kepadanya, maka engkau boleh menyingkapkan bidah dan kefasikan orang tersebut kepadanya selama pendorong bagimu adalah rasa takut atas penularan bidah dan kefasikan itu, bukan pendorong lain. Dan ini adalah tempat yang rawan tipu daya (ghurur), sebab bisa jadi kedengkianlah yang menjadi pendorongnya, lalu setan menyamarkannya dengan menampilkan kesan kasihan/kasih sayang kepada makhluk. Demikian pula seseorang yang membeli seorang hamba sahaya, padahal engkau mengetahui hamba sahaya itu biasa mencuri, fasik, atau memiliki cacat lainnya, maka engkau boleh menyebutkan hal itu. Karena diammu akan memudaratkan pembeli, sedangkan penuturanmu memudaratkan hamba sahaya tersebut, padahal pembeli lebih utama untuk dijaga haknya. Demikian pula seorang penilai kredibilitas saksi (muzakki) jika ditanya tentang seorang saksi, ia boleh mencacatnya jika memang mengetahui adanya cacat padanya. Begitu pula orang yang dimintai petunjuk/penasihat dalam urusan pernikahan dan penitipan amanah, ia boleh menyebutkan apa yang diketahuinya dengan niat memberi nasihat (an-nushh) kepada orang yang meminta nasihat, bukan dengan niat…
الوقيعة فإن علم أنه يترك التزويج بمجرد قوله لا تصلح لك فهو الواجب وفيه الكفاية وإن علم أنه لا ينزجر إلا بالتصريح بعيبه فله أن يصرح به إذ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أترعوون عن ذكر الفاجر اهتكوه حتى يعرفه الناس اذكروه بما فيه حتى يحذره الناس
…menjatuhkan atau mencela. Jika ia mengetahui bahwa orang tersebut akan membatalkan pernikahan hanya dengan ucapannya "dia tidak cocok bagimu", maka itulah yang wajib dan sudah mencukupi. Namun jika ia mengetahui bahwa orang tersebut tidak akan batal/berhenti melainkan dengan menjelaskan cacatnya secara terang-terangan, maka ia boleh menyatakannya secara jelas. Sebab Rasulullah ﷺ bersabda, "Apakah kalian enggan menyebutkan keburukan orang yang jahat (fajir)? Buka keburukannya agar orang-orang mengetahuinya! Sebutkan apa yang ada padanya agar orang-orang mewaspadainya!"
وكانوا يقولون ثلاثة لا غيبة لهم الإمام الجائر والمبتدع والمجاهر بفسقه
Dahulu para ulama berkata: "Tiga kelompok orang yang tidak ada ghibah bagi mereka: pemimpin yang zalim, ahli bidah, dan orang yang terang-terangan melakukan kefasikan."
الخامس أَنْ يَكُونَ الْإِنْسَانُ مَعْرُوفًا بِلَقَبٍ يُعْرِبُ عَنْ عيبه كالأعرج والأعمش فلا إثم على من يقول روى أبو الزناد عن الأعرج وسلمان عن الأعمش وما يجري مجراه فقد فعل العلماء ذلك لِضَرُورَةِ التَّعْرِيفِ وَلِأَنَّ ذَلِكَ قَدْ صَارَ بِحَيْثُ لَا يَكْرَهُهُ صَاحِبُهُ لَوْ عَلِمَهُ بَعْدَ أَنْ قَدْ صَارَ مَشْهُورًا بِهِ نَعَمْ إِنْ وَجَدَ عَنْهُ مَعْدَلًا وَأَمْكَنَهُ التَّعْرِيفُ بِعِبَارَةٍ أُخْرَى فَهُوَ أَوْلَى وَلِذَلِكَ يُقَالُ لِلْأَعْمَى الْبَصِيرُ عُدُولًا عَنِ اسم النقص
Kelima: Seseorang yang dikenal dengan julukan yang menunjukkan kekurangan/cacat fisiknya, seperti "Si Pincang" (Al-A'raj) atau "Si Mata Rabun" (Al-A'mash). Maka tidak ada dosa bagi orang yang mengatakan, "Abu Az-Zinad meriwayatkan dari Al-A'raj," dan "Salman meriwayatkan dari Al-A'mash," serta yang sepadan dengannya. Sungguh para ulama telah melakukan hal tersebut demi darurat pengenalan identitas (at-ta'rif), dan karena julukan tersebut sudah sedemikian rupa sehingga pemiliknya tidak benci jika mengetahuinya setelah ia menjadi masyhur dengannya. Ya, jika ia menemukan padanan lain dan memungkinkan untuk memperkenalkannya dengan ungkapan yang berbeda, maka itu lebih utama. Oleh karena itulah orang yang buta disebut Al-Bashir (yang melihat) sebagai peralihan dari penamaan yang menunjukkan kekurangan.
السادس أن يكون مجاهراً بالفسق كالمخنث وصاحب الماخور والمجاهر بشرب الخمر ومصادرة الناس وكان ممن يتظاهر به بحيث لا يستنكف من أن يذكر له ولا يكره أن يذكر به فإذا ذكرت فيه ما يتظاهر به فلا إثم عليك قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من ألقى جلباب الحياء عن وجهه فلا غيبة له وقال عمر ﵁ ليس لفاجر حرمة وأراد به المجاهر بفسقه دون المستتر إذا المستتر لا بد من مراعاة حرمته وقال الصلت بن طريف قلت للحسن الرجل الفاسق المعلن بفجوره ذكرى له بما فيه غيبة له قال لا ولا كرامة وقال الحسن ثلاثة لا غيبة لهم صاحب الهوى والفاسق المعلن بفسقه والإمام الجائر فهؤلاء الثلاثة يجمعهم أنهم يتظاهرون به وربما يتفاخرون به فكيف يكرهون ذلك وهم يقصدون إظهاره نعم لو ذكره بغير ما يتظاهر به إثم وقال عوف دخلت على ابن سيرين فتناولت عنده الحجاج فقال إن الله حكم عدل ينتقم للحجاج ممن اغتابه كما ينتقم من الحجاج لمن ظلمه وإنك إذا لقيت الله تعالى غداً كان أصغر ذنب أصبته أشد عليك من أعظم ذنب أصابه الحجاج
Keenam: Seseorang yang terang-terangan melakukan kefasikan (mujahir bil-fisq), seperti pria menyerupai wanita (mukhannats), pemilik tempat maksiat/pelacuran, orang yang terang-terangan meminum khamar dan menyita harta orang lain secara zalim. Ia termasuk orang yang menampakkannya sedemikian rupa sehingga tidak merasa enggan jika hal itu disebutkan padanya dan tidak benci untuk dikenali dengannya. Maka jika engkau menyebutkan padanya apa yang ditampakkannya secara terbuka, tidak ada dosa atasmu. Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa melepaskan tirai rasa malu dari wajahnya, maka tidak ada ghibah baginya." Umar ﵁ berkata, "Tidak ada kehormatan bagi pelaku kejahatan (fajir)." Dan yang beliau maksudkan adalah orang yang terang-terangan dengan kefasikannya, bukan orang yang menyembunyikannya; sebab orang yang menyembunyikan maksiat wajib dijaga kehormatannya. Ash-Shalt bin Tharifi berkata, "Aku bertanya kepada Al-Hasan: Seseorang yang fasik dan terang-terangan dengan kejahatannya, apakah sebutanku tentang keburukannya merupakan ghibah baginya?" Beliau menjawab, "Tidak, dan tidak ada penghormatan baginya." Al-Hasan juga berkata, "Tiga orang yang tidak ada ghibah bagi mereka: pengikut hawa nafsu (ahli bidah), orang fasik yang terang-terangan dengan kefasikannya, dan penguasa yang zalim." Ketiga kelompok ini disatukan oleh sifat bahwa mereka menampakkannya secara terbuka dan bahkan terkadang membanggakannya. Lantas bagaimana mereka benci padahal mereka memang bertujuan menampakkannya? Namun demikian, jika seseorang menyebutkannya dengan keburukan lain yang tidak ditampakkannya secara terbuka, ia berdosa. Auf berkata, "Aku menemui Ibn Sirin lalu aku mencela Al-Hajjaj di hadapannya, maka beliau berkata: Sesungguhnya Allah adalah Hakim Yang Maha Adil, Dia akan membalas dendam untuk Al-Hajjaj dari orang yang meng-ghibahinya sebagaimana Dia membalas dendam dari Al-Hajjaj untuk orang yang dizaliminya. Dan sesungguhnya jika engkau menemui Allah Ta'ala besok, dosa terkecil yang engkau lakukan akan terasa lebih berat bagimu daripada dosa terbesar yang dilakukan oleh Al-Hajjaj."
بَيَانُ كَفَّارَةِ الْغِيبَةِ
Penjelasan tentang Kafirat (Pelebur Dosa) Ghibah
اعْلَمْ أَنَّ الْوَاجِبَ عَلَى الْمُغْتَابِ أَنْ يَنْدَمَ وَيَتُوبَ وَيَتَأَسَّفَ عَلَى مَا فعله ليخرج به مِنْ حَقِّ اللَّهِ سُبْحَانَهُ ثُمَّ يَسْتَحِلُّ الْمُغْتَابَ ليحله فيخرج من مظلمته وينبغي أن يستحله وهو حزين متأسف نادم على فعله إذ المرائي قد يستحل ليظهر من نفسه الورع وفي الباطن لا يكون نادماً فيكون قد قارف معصية أخرى وقال الحسن يكفيه الاستغفار دون الاستحلال وربما استدل في ذلك بما روى أنس بن مالك قال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ كفارة من اغتبته أن تستغفر له وقال مجاهد كفارة أكلك لحم أخيك أن تثني عليه وتدعو له بخير وسئل عطاء بن أبي رباح عن التوبة من الغيبة قال أن تمشي إلى صاحبك فتقول له كذبت فيما قلت وظلمتك وأسأت فإن شئت أخذت بحقك وإن شئت عفوت وهذا هو الأصح وقول القائل العرض لا عوض له فلا يجب الاستحلال منه بخلاف المال كلام ضعيف إذ قد وجب في العرض حد القذف وتثبت المطالبة به بل في الحديث الصحيح ما روي أنه ﷺ قال من كانت لأخيه عنده مظلمة في عرض أو مال فليستحللها منه من قبل أن يأتي يوم ليس هناك دينار
Ketahuilah bahwa yang wajib bagi pelaku ghibah adalah menyesali, bertobat, dan merasa prihatin atas apa yang telah diperbuatnya agar ia terbebas dari hak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kemudian ia meminta kehalalan (istihlal) dari orang yang di-ghibahi agar melepaskannya, sehingga ia terbebas dari kezalimannya. Dan hendaknya ia meminta kehalalan dalam keadaan sedih, prihatin, dan menyesali perbuatannya; sebab orang yang riya terkadang meminta kehalalan sekadar untuk menampakkan sikap wara' pada dirinya padahal secara batin ia tidak menyesal, sehingga ia justru telah melakukan kemaksiatan lain. Al-Hasan berkata, "Cukuplah baginya memohonkan ampunan (istighfar) tanpa harus meminta kehalalan." Dan terkadang hal itu didasarkan pada riwayat Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Kafirat bagi orang yang engkau ghibahi adalah engkau memohonkan ampunan untuknya." Mujahid berkata, "Kafirat dari memakan daging saudaramu adalah engkau memujinya dan mendoakan kebaikan untuknya." Athaa' bin Abi Rabah ditanya tentang tobat dari ghibah, beliau berkata, "Yaitu engkau mendatangi saudaramu lalu berkata kepadanya: Aku telah berdusta dalam apa yang kukatakan, aku telah menzalimimu dan berbuat jahat kepadamu. Jika engkau mau, engkau boleh mengambil hakmu dariku, dan jika engkau mau, engkau boleh memaafkan." Dan inilah pendapat yang lebih shahih. Adapun ucapan seseorang bahwa kehormatan ('ardh) tidak memiliki ganti rugi ('iwadh) sehingga tidak wajib meminta kehalalan darinya berbeda dengan harta, merupakan ucapan yang lemah. Sebab dalam perkara kehormatan telah diwajibkan hukuman hadd qadzaf (tuduhan zina) dan sah penuntutannya. Bahkan dalam hadis shahih diriwayatkan bahwa Beliau ﷺ bersabda, "Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya berkenaan dengan kehormatan atau harta, hendaknya ia meminta kehalalan darinya sebelum datang suatu hari yang tidak ada lagi dinar…"
ولا درهم إنما يؤخذ من حسناته فإن لم يكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فزيدت على سيئاته وقالت عائشة ﵂ لامرأة قالت لأخرى أنها طويلة الذيل قد اغتبتيها فاستحليها فإذن لا بد من الاستحلال إن قدر عليه فإن كان غائباً أو ميتاً فينبغي أن يكثر له الاستغفار والدعاء ويكثر من الحسنات
…dan tidak pula dirham. Kebaikannya hanyalah akan diambil (untuk diberikan kepada korban). Jika ia tidak lagi memiliki kebaikan, maka keburukan korbannya akan diambil lalu ditambahkan ke dalam keburukannya. Aisyah ﵂ pernah berkata kepada seorang wanita yang mengatakan tentang wanita lain bahwa ia berbaju kurung panjang (berkain panjang): 'Engkau telah menggunjingnya, maka mintalah kehalalan (maaf) darinya.' Maka dari itu, memohon kehalalan (istihlal) adalah suatu keharusan jika hal itu memungkinkan. Namun jika orang tersebut gaib (tidak ada) atau telah meninggal dunia, maka hendaknya ia memperbanyak permohonan ampunan (istighfar) dan doa untuknya, serta memperbanyak amal-amal kebaikan.
فإن قلت فالتحليل هل يجب فأقول لا لأنه تبرع والتبرع فضل وليس بواجب ولكنه مستحسن وسبيل المعتذر أن يبالغ في الثناء عليه والتودد إليه ويلازم ذلك حتى يطيب قلبه فإن لم يطب قلبه كان اعتذاره وتودده حسنة محسوبة له يقابل بها سيئة الغيبة في القيامة
Jika engkau bertanya, 'Apakah memberi kehalalan (maaf) itu wajib?' Maka aku katakan: Tidak, karena hal itu adalah bentuk kebaikan sukarela (tabarru'), dan tabarru' adalah sebuah keutamaan (fadhl) bukan suatu kewajiban, namun hal itu sangat dianjurkan. Adapun jalan bagi orang yang meminta maaf adalah bersungguh-sungguh dalam memuji dan menaruh kasih sayang kepadanya, serta terus-menerus melakukan hal itu hingga hatinya menjadi lapang. Jika hatinya belum juga lapang, maka permohonan maaf dan sikap kasih sayangnya itu dicatat sebagai pahala kebaikan baginya, yang kelak pada hari kiamat akan ditandingkan dengan dosa ghibah tersebut.
وكان بعض السلف لا يحلل قال سعيد بن المسيب لا أحلل من ظلمني وقال ابن سيرين إني لم أحرمها عليه فأحللها له إن الله حرم الغيبة عليه وما كنت لأحلل ما حرم الله أبداً
Sebagian ulama Salaf ada yang tidak mau memberi kehalalan (maaf). Sa'id bin al-Musayyib berkata, 'Aku tidak akan menghalalkan (memaafkan) orang yang telah menzalimiku.' Ibn Sirin berkata, 'Aku tidak pernah mengharamkannya atasnya sehingga aku harus menghalalkannya baginya. Sesungguhnya Allah-lah yang telah mengharamkan ghibah atasnya, dan aku tidak akan pernah menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah selama-lamanya.'
فإن قلت فما معنى قول النبي ﷺ ينبغي أن يستحلها وتحليل ما حرمه الله تعالى غير ممكن فنقول المراد به العفو عن المظلمة لا أن ينقلب الحرام حلالاً وما قاله ابن سيرين حسن في التحليل قبل الغيبة فإنه لا يجوز له أن يحلل لغيره الغيبة
Jika engkau bertanya, 'Lalu apa makna sabda Nabi ﷺ bahwa hendaknya ia meminta kehalalan darinya, padahal menghalalkan apa yang diharamkan Allah Ta'ala itu tidak mungkin?' Maka kami katakan: Yang dimaksud dengannya adalah memberi maaf atas perbuatan zalim (hak adami), bukan berarti merubah yang haram menjadi halal. Dan apa yang dikatakan oleh Ibn Sirin itu adalah tepat untuk konteks memberi kehalalan sebelum terjadinya ghibah, sebab seseorang memang tidak boleh menghalalkan ghibah bagi orang lain (sebelum hal itu terjadi).
فإن قلت فما معنى قول النبي ﷺ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكُونَ كأبي ضمضم كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي قد تصدقت بعرضي على الناس حديث نزول ﴿خذ العفو﴾ الآية فقال يا جبريل ﴿ما هذا﴾ فقال إن الله يَأْمُرُكَ أَنْ تَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَتَصِلَ مَنْ قطعك وتعطي من حرمك تقدم في رياضة النفس // وروي عن الحسن أن رجلاً قال له إن فلانا قد اغتابك فعبث إليه رطباً على طبق وقال قد بلغني أنك أهديت إلي من حسناتك فأردت أن أكافئك عليها فاعذرني فإني لا أقدر أن أكافئك على التمام الْآفَةُ السَّادِسَةَ عَشْرَةَ النَّمِيمَةُ
Jika engkau bertanya, 'Lalu apa makna sabda Nabi ﷺ: *Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu menjadi seperti Abu Dhammadham? Jika ia keluar dari rumahnya, ia berdoa: 'Ya Allah, sungguh aku telah mendermakan kehormatanku kepada manusia'*, serta hadis tentang turunnya ayat ﴿Jadilah engkau pemaaf…﴾ lalu beliau bertanya, 'Wahai Jibril, apa ini?' Jibril menjawab, 'Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk memaafkan orang yang menzalimimu, menyambung tali silaturahmi dengan orang yang memutuskannya darimu, dan memberi kepada orang yang menghalangi pemberian kepadamu' (yang telah dijelaskan sebelumnya dalam bab *Riyadhatun Nafs*)?' Dan diriwayatkan dari Al-Hasan bahwa ada seorang lelaki berkata kepadanya, 'Sesungguhnya si Fulan telah menggunjingmu.' Maka Al-Hasan mengirimkan setalam kurma basah kepadanya seraya berkata, 'Telah sampai kepadaku bahwa engkau telah menghadiahkan kebaikan-kebaikanmu kepadaku, maka aku ingin membalas kebaikanmu itu. Mohon maafkan aku, karena aku tidak mampu membalasnya secara sempurna.' Bahaya Keenam Belas: Namimah (Adu Domba).
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿هماز مشاء بنميم﴾ ثم قال ﴿عتل بعد ذلك زنيم﴾ قال عبد الله بن المبارك الزنيم ولد الزنا الذي لا يكتم الحديث وأشار به إلى أن كل من لم يكتم الحديث ومشى بالنميمة دل على أنه ولد زنا استنباطاً من قوله ﷿ ﴿عتل بعد ذلك زنيم﴾ والزنيم هو الدعى وقال تعالى ﴿ويل لكل همزة لمزة﴾ قيل الهمزة النمام
Allah Ta'ala berfirman, ﴿Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah (namimah),﴾ lalu berfirman, ﴿Yang kaku kasar, selain dari itu yang terkenal kejahatannya (zanim).﴾ (QS. Al-Qalam: 11-13). Abdullah bin al-Mubarakar berkata, 'Az-Zanim adalah anak hasil zina yang tidak dapat menyimpan rahasia/pembicaraan.' Dengan ini ia mengisyaratkan bahwa setiap orang yang tidak menyimpan rahasia dan berjalan melakukan adu domba (namimah) menunjukkan bahwa ia adalah anak hasil zina, sebagai bentuk istinbath dari firman Allah ﷿: ﴿Kaku kasar, selain dari itu zanim.﴾ Dan *az-zanim* juga bermakna anak angkat yang diakui secara tidak sah (*da'iy*). Dan Allah Ta'ala berfirman, ﴿Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela.﴾ (QS. Al-Humazah: 1). Dikatakan bahwa *al-humazah* adalah pengadu domba (nammam).
وقال تعالى ﴿حمالة الحطب﴾ قِيلَ إِنَّهَا كَانَتْ نَمَّامَةً حَمَّالَةً لِلْحَدِيثِ وَقَالَ تعالى ﴿فخانتاهما فلم يغنيا عنهما من الله شيئاً﴾ قيل كانت امرأة لوط تخبر بالضيفان وامرأة نوح تخبر أنه مجنون وَقَدْ قَالَ ﷺ لَا يدخل الجنة نمام
Dan Allah Ta'ala berfirman, ﴿Pembawa kayu bakar.﴾ (QS. Al-Lahab: 4). Dikatakan bahwa ia adalah seorang pengadu domba yang suka membawa-bawa perkataan orang. Dan Allah Ta'ala berfirman, ﴿Lalu kedua istri itu mengkhianati suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah.﴾ (QS. At-Tahrim: 10). Dikatakan bahwa istri Nabi Luth memberitahukan tentang keberadaan para tamu (kepada kaumnya yang jahat), sedangkan istri Nabi Nuh memberitahukan bahwa suaminya gila. Dan sungguh Nabi ﷺ telah bersabda, 'Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (nammam).'
وفي حديث آخر لا يدخل الجنة قتات والقتات هو النمام وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَحَبُّكُمْ إِلَى اللَّهِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا الْمُوَطَّئُونَ أَكْنَافًا الَّذِينَ يَأْلَفُونَ وَيُؤْلَفُونَ وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَى اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الإخوان الملتمسون للبرءاء العثرات
Dalam hadis lain disebutkan: 'Tidak akan masuk surga seorang *qattat*.' Dan *qattat* adalah pengadu domba. Abu Hurairah ﵁ meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, 'Orang yang paling dicintai di antara kalian oleh Allah adalah yang paling baik akhlaknya, yang rendah hati (*al-muwaththa'una aknafan*), yang menyukai persahabatan dan disukai. Dan sesungguhnya orang yang paling dibenci di antara kalian oleh Allah adalah orang-orang yang kian kemari melakukan adu domba, yang memecah belah persaudaraan, dan yang mencari-cari kesalahan orang-orang yang tidak bersalah.'
وقال ﷺ إلا أخبركم بشراركم قالوا بلى قال المشاءون بالنميمة المفسدون بين الأحبة الباغون للبرءاء العيب وقال أبو ذر قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من أشاع على مسلم كلمة ليشينه بها بغير حق شانه الله بها في النار يوم القيامة وقال أبو الدرداء قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أيما رجل أشاع على رجل كلمة وهو منها بريءليشينه بها في الدنيا كان حقاً على الله أن يذيبه بها يوم القيامة في النار وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من شهد على مسلم بشهادة ليس لها بأهل فليتبوأ مقعده من النار ويقال إن ثلث عذاب القبر من النميمة وعن ابن عمر عَنِ النَّبِيِّ ﷺ إِنَّ الله لما خلق الجنة قال لها تكلمي فقالت سعد من دخلني فقال الجبار ﷻ وعزتي وجلالي لا يسكن فيك ثمانية نفر من الناس لا يسكنك مدمن خمر ولا مصر على الزنا ولا قتات وهو النمام ولا ديوث ولا شرطي ولا مخنث ولا قاطع رحم ولا الذي يقول على عهد الله إن لم أفعل كذا وكذا ثم لم يف به وروى كعب الأحبار أن بني إسرائيل أصابهم قحط فاستسقى موسى ﵇ مرات فما سقوا فأوحى الله تعالى إليه إني لا أستجيب لك ولمن معك وفيكم نمام قد أصر على النميمة فقال موسى يارب من هو دلني عليه حتى أخرجه من بيننا قال يا موسى أنهاكم عن النميمة وأكون نماماً فتابوا جميعاً فسقوا ويقال اتبع رجل حكيماً سبعمائة فرسخ في سبع كلمات فلما قدم عليه قال إني جئتك للذي آتاك الله تعالى من العلم أخبرني عن السماء وما أثقل منها وعن الأرض وما أوسع منها وعن الصخر وما أقسى منه وعن النار وما أحر منها وعن الزمهرير وما أبرد منه وعن البحر وما أغنى منه وعن اليتيم وما أذل منه فقال له الحكيم البهتان على البريء أثقل من السموات والحق أوسع من الأرض والقلب القانع أغنى من البحر والحرص والحسد أحر من النار والحاجة
Dan Nabi ﷺ bersabda, 'Maukah kalian aku beritahukan tentang orang-orang yang paling jahat di antara kalian?' Para sahabat menjawab, 'Tentu, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda, 'Yaitu orang-orang yang kian kemari melakukan adu domba, yang merusak hubungan di antara orang-orang yang saling mencintai, dan yang mencari-cari cacat pada orang-orang yang tidak bersalah.' Abu Dzar meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, 'Barang siapa menyebarkan suatu tuduhan terhadap seorang muslim tanpa hak untuk memburukkannya, niscaya Allah akan memburukkannya di dalam neraka pada hari kiamat.' Abu ad-Darda' meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, 'Siapa pun orang yang menyebarkan suatu kata tuduhan terhadap seseorang padahal ia bersih darinya untuk memburukkannya di dunia, maka merupakan hak Allah untuk mencairkannya di dalam neraka pada hari kiamat.' Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, 'Barang siapa memberikan kesaksian palsu atas seorang muslim padahal ia bukan ahlinya, maka hendaklah ia bersiap mengambil tempat duduknya di neraka.' Dan dikatakan bahwa sepertiga dari azab kubur disebabkan oleh adu domba (namimah). Dari Ibn Umar, dari Nabi ﷺ: 'Sesungguhnya ketika Allah menciptakan surga, Dia berfirman kepadanya, 'Bicaralah!' Maka surga berkata, 'Sungguh bahagia orang yang memasukiku.' Lalu Al-Jabbar ﷻ berfirman, 'Demi Keagungan dan Keagungan-Ku, tidak akan mendiamimu delapan golongan manusia: tidak akan mendiamimu pecandu khamar, orang yang terus-menerus berzina, seorang *qattat* (pengadu domba), seorang *dayyuts* (suami tanpa rasa cemburu), oknum petugas keamanan (pembantu kezaliman), orang yang banci (*mukhannats*), pemutus tali silaturahmi, dan orang yang berjanji demi janji Allah 'jika aku tidak melakukan begini dan begitu' lalu ia tidak menepatinya.' K'ab al-Ahbar meriwayatkan bahwa Bani Israil ditimpa kemarau panjang, maka Nabi Musa ﵇ memohon hujan (*istisqa'*) berkali-kali namun tidak juga diturunkannya hujan. Lalu Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya, 'Sesungguhnya Aku tidak mengabulkan doamu dan doa orang-orang bersamamu karena di antara kalian ada seorang pengadu domba yang terus-menerus melakukan adu domba.' Nabi Musa berkata, 'Wahai Tuhan, siapakah dia? Tunjukkanlah padaku agar aku meluarkannya dari tengah-tengah kami.' Allah berfirman, 'Wahai Musa, Aku melarang kalian dari adu domba, apakah Aku harus menjadi pengadu domba?' Maka mereka semua bertobat, lalu diturunkanlah hujan kepada mereka. Dan dikatakan bahwa ada seorang lelaki menempuh perjalanan sejauh 700 farsakh menemui seorang hakim (bijak) demi tujuh kalimat. Ketika ia sampai kepadanya, ia berkata, 'Aku datang kepadamu demi ilmu yang telah Allah Ta'ala berikan kepadamu. Beritahukanlah kepadaku tentang langit dan apa yang lebih berat darinya, tentang bumi dan apa yang lebih luas darinya, tentang batu dan apa yang lebih keras darinya, tentang api dan apa yang lebih panas darinya, tentang dingin yang menusuk (*zamharir*) dan apa yang lebih dingin darinya, tentang laut dan apa yang lebih kaya darinya, serta tentang anak yatim dan apa yang lebih hina darinya.' Maka hakim itu berkata kepadanya, 'Fitnah/tuduhan palsu terhadap orang yang tak bersalah itu lebih berat daripada langit; kebenaran (*haqq*) lebih luas daripada bumi; hati yang merasa cukup (*qana'ah*) lebih kaya daripada laut; kerakusan dan kedengkian lebih panas daripada api; dan kebutuhan…
إلى القريب إذا لم تنجح أبرد من الزمهرير وقلب الكافر أقسى من الحجر والنمام إذا بان أمره أذل من اليتيم
…kebutuhan kepada kerabat dekat yang tidak terpenuhi itu lebih dingin daripada zamharir; hati orang kafir lebih keras daripada batu; dan pengadu domba jika telah terbongkar perbuatannya adalah lebih hina daripada anak yatim.'
بيان حد النميمة وما يجب في ردها
Penjelasan tentang Batasan Namimah (Adu Domba) dan Apa yang Wajib Dilakukan dalam Menolaknya
اعلم أن اسم النميمة إنما يطلق في الأكثر على من ينم قول الغير إلى المقول فيه كما تقول فلان كان يتكلم فيك بكذا وكذا وليست النميمة مختصة به بل حدها كَشْفُ مَا يُكْرَهُ كَشْفُهُ سَوَاءٌ كَرِهَهُ الْمَنْقُولُ عَنْهُ أَوِ الْمَنْقُولُ إِلَيْهِ أَوْ كَرِهَهُ ثَالِثٌ وسواء كان الكشف بالقول أبو بِالْكِتَابَةِ أَوْ بِالرَّمْزِ أَوْ بِالْإِيمَاءِ وَسَوَاءٌ كَانَ الْمَنْقُولُ مِنَ الْأَعْمَالِ أَوْ مِنَ الْأَقْوَالِ وَسَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ عَيْبًا وَنَقْصًا فِي الْمَنْقُولِ عَنْهُ أَوْ لَمْ يَكُنْ بَلْ حَقِيقَةُ النَّمِيمَةِ إِفْشَاءُ السِّرِّ وَهَتْكُ السِّتْرِ عَمَّا يُكْرَهُ كَشْفُهُ بَلْ كان ما رآه الإنسان من أحوال الناس مما يكره فَيَنْبَغِي أَنْ يَسْكُتَ عَنْهُ إِلَّا مَا فِي حِكَايَتِهِ فَائِدَةٌ لِمُسْلِمٍ أَوْ دَفْعٌ لِمَعْصِيَةٍ كَمَا إِذَا رَأَى مَنْ يَتَنَاوَلُ مَالَ غَيْرِهِ فَعَلَيْهِ أن يشهد به مراعاة لحق المشهود له فأما إذا رآه يخفي مالا لنفسه فذكره فهو نميمة وإفشاء للسر فإن كان ما ينم به نقصاً وعيباً في المحكي عنه كان قد جمع بين الغيبة والنميمة فالباعث عَلَى النَّمِيمَةِ إِمَّا إِرَادَةُ السُّوءِ لِلْمَحْكِيِّ عَنْهُ أَوْ إِظْهَارُ الْحُبِّ لِلْمَحْكِيِّ لَهُ أَوِ التَّفَرُّجُ بِالْحَدِيثِ وَالْخَوْضُ فِي الْفُضُولِ وَالْبَاطِلِ
Ketahuilah bahwa nama *namimah* pada umumnya hanya disematkan kepada orang yang menyampaikan perkataan seseorang kepada orang yang dibicarakan, seperti engkau katakan: 'Si Fulan tadi membicarakanmu begini dan begitu.' Padahal *namimah* tidak hanya terbatas pada hal itu saja, melainkan batasan hakikatnya adalah: membongkar apa yang tidak disukai untuk dibongkar, baik hal itu dibenci oleh orang yang dibicarakan (sumber perbincangan), oleh orang yang dituju pembicaraan, maupun oleh pihak ketiga. Baik pembongkaran itu dilakukan dengan lisan, tulisan, isyarat, maupun lambang; dan baik yang dipindahkan itu berupa perbuatan maupun perkataan; serta baik hal itu berupa aib dan kekurangan pada diri orang yang diceritakan maupun bukan. Bahkan hakikat *namimah* adalah membocorkan rahasia dan menyingkap tirai penutup dari hal-hal yang tidak disukai untuk dibuka. Bahkan apa pun keadaan manusia yang dilihat seseorang dari hal-hal yang tidak disukai, hendaknya ia diam darinya, kecuali jika dalam menceritakannya terdapat kemaslahatan/manfaat bagi seorang muslim atau untuk menolak maksiat, seperti jika ia melihat orang mengambil harta orang lain, maka ia wajib bersaksi demi menjaga hak pemilik harta. Adapun jika ia melihat seseorang menyembunyikan harta miliknya sendiri lalu ia menceritakannya, maka itu termasuk *namimah* dan pembocoran rahasia. Jika apa yang diadu-dombakan itu mengandung kekurangan atau aib pada diri orang yang diceritakan, maka ia telah menggabungkan antara ghibah dan *namimah*. Adapun dorongan utama melakukan *namimah* adalah: adakalanya karena menginginkan keburukan bagi orang yang diceritakan, atau ingin menunjukkan rasa cinta/kesetiaan kepada orang yang diajak bicara, atau sekadar mencari hiburan dengan omongan serta meluapkan perkataan yang sia-sia dan batil.
وَكُلُّ مَنْ حملت إليه النميمة وقيل له إن فلاناً قال فيك كذا وكذا أو فعل في حقك كذا أو هو يدبر في إفساد أمرك أو في ممالأة عدوك أو تقبيح حالك أو ما يجري مجراه فعليه ستة أمور الأول أن لا يصدقه لأن النمام فاسق وهو مردود الشهادة قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قوماً بجهالة﴾
Dan barang siapa yang dibawakan kepadanya berita *namimah* dan dikatakan kepadanya: 'Sesungguhnya si Fulan berkata tentangmu begini dan begitu,' atau 'melakukan ini terhadap hakmu,' atau 'ia sedang berencana merusak urusanmu,' atau 'ia bersekongkol dengan musuhmu,' atau 'memburukkan keadaanmu,' atau hal-hal lain yang senada, maka ia wajib melakukan enam hal: Pertama, tidak membenarkannya (tidak langsung percaya), sebab seorang *nammam* (pengadu domba) adalah orang fasik yang kesaksiannya ditolak. Allah Ta'ala berfirman, ﴿Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpa musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keradaannya.﴾ (QS. Al-Hujurat: 6).
الثاني أن ينهاه عن ذلك وينصح له ويقبح عليه فعله قال الله تعالى ﴿وأمر بالمعروف وانه عن المنكر﴾
Kedua, melarangnya dari perbuatan tersebut, menasihatinya, dan menganggap buruk perbuatannya itu. Allah Ta'ala berfirman, ﴿Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma'ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar.﴾ (QS. Luqman: 17).
الثالث أن يبغضه في الله تعالى فإنه بغيض عند الله تعالى ويجب بغض من يبغضه الله تعالى
Ketiga, membencinya karena Allah Ta'ala, sebab ia adalah orang yang dimurkai di sisi Allah Ta'ala, dan wajib membenci orang yang dibenci oleh Allah Ta'ala.
الرابع أن لا تظن بأخيك الغائب السوء لقول الله تعالى ﴿اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إثم﴾
Keempat, tidak berprasangka buruk (*su'udzan*) kepada saudaramu yang tidak hadir, berdasarkan firman Allah Ta'ala, ﴿Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.﴾ (QS. Al-Hujurat: 12).
الخامس أن لا يحملك ما حكى لك على التجسس والبحث لتحقق اتباعاً لقول الله تعالى ﴿ولا تجسسوا﴾
Kelima, jangan sampai apa yang diceritakan kepadamu mendorongmu untuk mata-matai (*tajassus*) dan menyelidiki demi membuktikannya, karena meneladani firman Allah Ta'ala, ﴿Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.﴾ (QS. Al-Hujurat: 12).
السادس أن لا ترضى لنفسك ما نهيت النمام عنه ولا تحكي نميمته فتقول فلان قد حكى لي كذا وكذا فتكون به نماماً ومغتاباً وقد تكون قد أتيت ما عنه نهيت وقد روي عن عمر بن عبد العزيز ﵁ أنه دخل عليه رجل فذكر له عن رجل شيئاً فقال له عمر إن شئت نظر نافي أمرك فإن كنت كاذباً فأنت من أهل هذه الآية ﴿إن جاءكم فاسق بنبأ فتبينوا﴾ وإن كنت صادقاً فأنت من أهل هذه الآية ﴿هماز مشاء بنميم﴾ وإن شئت عفونا عنك فقال العفو يا أمير المؤمنين لا أعود إليه أبداً وذكر أن حكيماً من الحكماء زاره بعض إخوانه فأخبره بخبر عن بعض أصدقائه فقال له الحكيم قد أبطأت في الزيارة وأتيت بثلاث جنايات بغضت أخي إلي وشغلت قلبي الفارغ واتهمت نفسك الأمينة وروي أن سليمان بن عبد الملك كان جالساً وعنده الزهري فجاءه رجل فقال له سليمان بلغني أنك وقعت في وقلت كذا وكذا فقال الرجل ما فعلت ولا قلت فقال سليمان إن الذي أخبرني صادق فقال له الزهري لا يكون النمام صادقاً فقال سليمان صدقت ثم قال للرجل اذهب بسلام
Keenam, tidak meredai bagi dirimu sendiri apa yang telah engkau larang bagi pengadu domba tersebut, yaitu tidak menceritakan kembali berita adu dombanya dengan berkata: 'Si Fulan telah menceritakan kepadaku begini dan begitu,' sehingga engkau pun menjadi seorang pengadu domba dan penggunjing (pengghibah), dan sungguh engkau telah melakukan apa yang melarang dengannya. Diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz ﵁ bahwa seorang lelaki masuk menemui beliau lalu menyampaikan sesuatu tentang orang lain. Maka Umar berkata kepadanya, 'Jika engkau mau, kami akan memeriksa urusanmu: Jika engkau berdusta, maka engkau termasuk golongan orang dalam ayat ini: ﴿Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.﴾ Dan jika engkau benar, maka engkau termasuk golongan orang dalam ayat ini: ﴿Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.﴾ Dan jika engkau mau, kami memaafkanmu.' Lelaki itu berkata, 'Maafkanlah aku wahai Amirul Mukminin, aku tidak akan mengulanginya lagi selama-lamanya.' Dan disebutkan pula bahwa seorang hakim (orang bijak) dikunjungi oleh salah seorang saudaranya, lalu saudaranya itu memberitahukan sebuah berita tentang sahabatnya. Maka hakim itu berkata kepadanya, 'Engkau sudah lama tidak berkunjung, lalu ketika datang engkau malah membawa tiga kejahatan sekaligus: engkau membuatku membenci saudaraku, engkau menepis ketenangan hatiku yang semula kosong, dan engkau membuat dirimu yang tadinya terpercaya menjadi tertuduh.' Dan diriwayatkan bahwa Sulaiman bin Abdul Malik sedang duduk bersama Az-Zuhri, lalu datang seorang lelaki. Sulaiman berkata kepadanya, 'Telah sampai kepadaku bahwa engkau telah mencelaku dan berkata begini dan begitu.' Lelaki itu menjawab, 'Aku tidak pernah melakukan maupun mengatakannya.' Sulaiman berkata, 'Sesungguhnya orang yang memberitahukanku adalah orang yang jujur.' Maka Az-Zuhri menimpali, 'Seorang pengadu domba tidak akan pernah menjadi orang jujur.' Sulaiman berkata, 'Engkau benar.' Kemudian ia berkata kepada lelaki itu, 'Pergilah dengan selamat.'
وَقَالَ الحسن مَنْ نَمَّ إِلَيْكَ نَمَّ عَلَيْكَ وَهَذَا إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ النَّمَّامَ يَنْبَغِي أَنْ يُبْغَضَ وَلَا يُوثَقَ بِقَوْلِهِ وَلَا بِصَدَاقَتِهِ وَكَيْفَ لا يبغض وهو لا ينفك عن الكذب والغيبة والغدر والخيانة والغل والحسد والنفاق والإفساد بين الناس والخديعة وهو ممن يسعون فِي قَطْعِ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَقَالَ تَعَالَى ﴿إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الأرض بغير الحق﴾ وَالنَّمَّامُ مِنْهُمْ وَقَالَ ﷺ إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ
Al-Hasan berkata, 'Barang siapa mengadu domba (orang lain) kepadamu, maka ia pun akan mengadu dombakan dirimu (kepada orang lain).' Ini merupakan isyarat bahwa seorang pengadu domba hendaknya dibenci, tidak boleh dipercaya perkataannya, dan tidak boleh dipegang persahabatannya. Dan bagaimana tidak dibenci, padahal ia tidak pernah terlepas dari kebohongan, ghibah, pengkhianatan, kecurangan, kedengkian, iri hati, kemunafikan, perusakan hubungan antarmanusia, dan penipuan. Ia termasuk orang-orang yang berusaha memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di muka bumi. Allah Ta'ala berfirman, ﴿Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa hak.﴾ (QS. Asy-Syura: 42), dan pengadu domba termasuk di antara mereka. Dan Nabi ﷺ bersabda, 'Sesungguhnya di antara seburuk-buruk manusia…'
من اتقاه الناس لشره والنمام منهم وقال لا يدخل الجنة قاطع قيل وما القاطع قال قاطع بين الناس وهو النمام وقيل قاطع الرحم
…adalah orang yang ditakuti manusia karena kejahatannya.' Dan pengadu domba termasuk bagian dari mereka. Dan Nabi bersabda, 'Tidak akan masuk surga seorang pemutus.' Dikatakan, 'Apakah pemutus itu?' Beliau bersabda, 'Pemutus hubungan di antara manusia, yaitu pengadu domba.' Dan dikatakan pula: pemutus tali silaturahmi.
وروي عن علي ﵁ أن رجلاً سعى إليه برجل فقال له يا هذا نحن نسأل عما قلت فإن كنت صادقاً مقتناك وإن كنت كاذباً عاقبناك وإن شئت أن نقيلك أقلناك فقال أقلني يا أمير المؤمنين وَقِيلَ لِمُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ أَيُّ خِصَالِ الْمُؤْمِنِ أَوْضَعُ لَهُ فَقَالَ كَثْرَةُ الْكَلَامِ وَإِفْشَاءُ السر وقبول قول كل أحد وقال رجل لعبد الله ابن عامر وكان أميراً بلغني أن فلاناً أعلم الأمير أني ذكرته بسوء قال قد كان ذلك قال فأخبرني بما قال لك حتى أظهر كذبه عندك قال ما أحب أن أشتم نفسي بلساني وحسبي أني لم أصدقه فيما قال ولا أقطع عنك الوصال
Diriwayatkan dari Ali radhiyallahu 'anhu bahwa ada seorang laki-laki yang mengadukan (menfitnahkan) seseorang kepadanya, maka Ali berkata kepadanya: "Wahai Fulan, kami akan menyelidiki apa yang engkau katakan. Jika engkau benar, kami membencimu. Jika engkau berdusta, kami akan menghukummu. Dan jika engkau ingin kami memaafkanmu, kami akan memaafkanmu." Laki-laki itu berkata: "Maafkanlah saya, wahai Amirul Mukminin." Dan dikatakan kepada Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi: "Sifat mukmin manakah yang paling merendahkan kedudukannya?" Beliau menjawab: "Banyak bicara, menyebarkan rahasia, dan menerima perkataan setiap orang." Seorang laki-laki berkata kepada Abdullah bin Amir saat ia menjabat sebagai penguasa: "Telah sampai kepadaku bahwa Fulan memberitahukan kepada Amir bahwa aku telah menyebutkan keburukan tentangmu." Abdullah menjawab: "Memang hal itu telah terjadi." Orang itu berkata: "Maka beritahukanlah kepadaku apa yang ia katakan kepadamu agar aku dapat membuktikan kedustaannya di hadapanmu." Abdullah menjawab: "Aku tidak suka mencaci diriku sendiri dengan lidahku, dan cukuplah bagiku bahwa aku tidak membenarkan apa yang ia katakan dan aku tidak memutuskan tali silaturahmi darimu."
وذكرت السعاية عند بعض الصالحين فقال ما ظنكم بقوم يحمد الصدق من كل طائفة من الناس إلا منهم وقال مصعب بن الزبير نحن نرى أن قبول السعاية شر من السعاية لأن السعاية دلالة والقبول إجازة وليس من دل على شيء فأخبر به كمن قبله وأجازه فاتقوا الساعي فلو كان صادقاً في قوله لكان لئيماً في صدقه حيث لم يحفظ الحرمة ولم يستر العورة والسعاية هي النميمة إلا أنها إذا كانت إلى من يخاف جانبه سميت سعاية وقد قال ﷺ الساعي بالناس إلى الناس لغير رشدة يعني ليس بولد حلال ودخل رجل على سليمان بن عبد الملك فاستأذنه في الكلام وقال إني مكلمك يا أمير المؤمنين بكلام فاحتمله إن كرهته فإن وراءه ما تحب إن قبلته فقال قل فقال يا أمير المؤمنين إنه قد اكتنفك رجال ابتاعوا دنياك بدينهم ورضاك بسخط ربهم خافوك في الله ولم يخافوا الله فيك فلا تأمنهم على ما ائتمنك الله عليه ولا تصخ إليهم فيما استحفظك الله إياه فإنهم لن يألوا في الأمة خسفاً وفي الأمانة تضييعاً والأعراض قطعاً وانتهاكاً أعلى قربهم البغي والنميمة وأجل وسائلهم الغيبة والوقيعة وأنت مسئول عما أجرموا وليسوا المسئولين عما أجرمت فلا تصلح دنياهم بفساد آخرتك فإن أعظم الناس غبناً من باع آخرته بدنيا غيره وسعى رجل بزياد الأعجم إلى سليمان بن عبد الملك فجمع بينهما للموافقة فأقبل زياد على الرجل وقال
Perihal *si'ayah* (fitnah adu domba kepada penguasa) pernah disebutkan di hadapan sebagian orang saleh, lalu ia berkata: "Bagaimana pendapat kalian tentang suatu kaum yang mana kejujuran itu dipuji dari setiap kelompok manusia, kecuali dari mereka?" Mus'ab bin az-Zubair berkata: "Kami memandang bahwa menerima aduan (*si'ayah*) itu lebih buruk daripada melakukan aduan itu sendiri. Sebab aduan adalah penunjukan, sedangkan penerimaannya adalah pengesahan (*ijazah*). Dan tidaklah sama orang yang menunjukkan sesuatu lalu memberitahukannya dengan orang yang menerima serta mengesahkannya. Maka waspadalah terhadap *as-saci* (pengadu domba/penfitnah). Jikalau ia jujur dalam perkataannya, niscaya ia tetaplah seorang yang tercela dalam kejujurannya, karena ia tidak menjaga kehormatan dan tidak menutup aib." Adapun *si'ayah* itu pada dasarnya adalah *namimah* (adu domba), hanya saja jika ditujukan kepada orang yang ditakuti kekuasaannya, dinamakan *si'ayah*. Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Orang yang mengadu domba manusia kepada manusia lainnya terlahir bukan dari pernikahan yang sah (*li ghoiri rusydah*)." Seorang laki-laki masuk menghadap Sulaiman bin Abdul Malik lalu meminta izin untuk berbicara dan berkata: "Wahai Amirul Mukminin, aku akan membicarakan sesuatu kepadamu, maka tanggunglah perkataan ini jika engkau membencinya, karena di baliknya ada hal yang engkau sukai jika engkau menerimanya." Sulaiman berkata: "Katakanlah!" Ia berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya engkau telah dikelilingi oleh orang-orang yang membeli dunia mereka dengan agama mereka, dan membeli keridaanmu dengan kemurkaan Tuhan mereka. Mereka takut kepadamu dalam urusan Allah, namun tidak takut kepada Allah dalam urusanmu. Maka janganlah engkau mempercayai mereka atas apa yang diamanahkan Allah kepadamu, dan janganlah mendengarkan mereka dalam apa yang Allah minta engkau jaga. Sesungguhnya mereka tidak akan merugi untuk menindas umat, mensia-siakan amanah, serta memutus dan merusak kehormatan. Sarana terdekat mereka adalah kezaliman dan adu domba, dan wasilah terbesar mereka adalah gibah dan celaan. Engkau bertanggung jawab atas kejahatan yang mereka lakukan, sedangkan mereka tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang engkau perbuat. Maka janganlah engkau memperbaiki dunia mereka dengan merusak akhiratmu, karena sesungguhnya orang yang paling tertipu adalah orang yang menjual akhiratnya demi dunia orang lain." Kemudian seorang laki-laki mengadukan Ziyad al-A'jam kepada Sulaiman bin Abdul Malik, lalu Sulaiman mempertemukan keduanya untuk konfirmasi. Maka Ziyad berhadapan dengan orang itu dan berkata:
فأنت امرؤ إما ائتمنتك خالياً … فخنت وإما قلت قولاً بلا علم
"Engkau adalah seorang laki-laki yang bilamana aku mempercayaimu dalam kesendirian… engkau berkhianat, atau engkau mengatakannya tanpa landasan ilmu."
فأنت من الأمر الذي كان بيننا … بمنزلة بين الخيانة والإثم
"Maka dalam urusan yang terjadi di antara kita ini… engkau berada pada kedudukan antara pengkhianatan dan dosa."
وقال رجل لعمرو بن عبيد إن الأسواري ما يزال يذكرك في قصصه بشر فقال له عمرو يا هذا ما رعيت حق مجالسة الرجل حيث نقلت إلينا حديثه ولا أديت حقي حين أعلمتني عن أخي ما أكره ولكن أعلمه أن الموت يعمنا والقبر يضمنا والقيامة تجمعنا والله تعالى يحكم بيننا وهو خير الحاكمين ورفع بعض السعاة إلى الصاحب بن عباد رقعة نبه فيها على مال يتيم يحمله على أخذه لكثرته فوقع على ظهرها السعاية قبيحة وإن كانت صحيحة فإن كنت أجريتها مجرى النصح فخسرانك فيها افضل من الربح ومعاذ الله أن نقبل مهتوكاً في مستور ولولا أنك في خفارة شيبتك لقابلناك بما يقتضيه فعلك في مثلك فتوق يا ملعون العيب فإن الله أعلم بالغيب الميت ﵀ واليتيم جبره الله والمال ثمره الله والساعي لعنه الله وقال لقمان لابنه يا بني أوصيك بخلال إن تمسكت بهن لم تزل
Seorang laki-laki berkata kepada 'Amr bin 'Ubaid: "Sesungguhnya al-Uswari senantiasa menyebutmu dengan keburukan dalam kisah-kisahnya." Maka 'Amr berkata kepadanya: "Wahai Fulan, engkau tidak menjaga hak majelis laki-laki itu ketika engkau memindahkan ucapannya kepada kami, dan engkau juga tidak menunaikan hakku ketika engkau memberitahukan hal yang kubenci dari saudaraku. Namun, beritahukanlah kepadanya bahwa kematian akan meliputi kita semua, kubur akan menghimpun kita, kiamat akan mengumpulkan kita, dan Allah Ta'ala yang akan menghukumi di antara kita, dan Dia adalah sebaik-baik hakim." Sebagian pengadu fitnah pernah mengajukan sepucuk surat kepada ash-Shahib bin 'Abbad yang mengingatkan tentang harta seorang anak yatim agar ia mengambilnya karena jumlahnya yang banyak. Lalu ash-Shahib menulis di balik surat tersebut: "Aduan (*si'ayah*) itu buruk walaupun benar. Jika engkau melakukannya atas dasar nasihat, maka kerugianmu di dalamnya lebih besar daripada keuntungan. Mahasuci Allah dari kita menerima orang yang merobek kehormatan terhadap orang yang tertutup aibnya. Kalaulah bukan karena menjaga ubanmu, niscaya kami akan membalasmu sesuai dengan apa yang layak bagi tindakan orang sepertimu. Maka takutlah wahai orang yang terlaknat akan aib, karena Allah Maha Mengetahui hal yang gaib. Orang yang telah meninggal, semoga Allah merahmatinya; anak yatim, semoga Allah mencukupinya; harta tersebut, semoga Allah membiakkannya; dan pengadu domba itu, semoga Allah melaknatnya." Luqman berkata kepada putranya: "Wahai anakku, aku berwasiat kepadamu dengan beberapa perkara yang jika engkau berpegang teguh padanya, niscaya engkau akan senantiasa
سيداً ابسط خلقك للقريب والبعيد وأمسك جهلك عن الكريم واللئيم واحفظ إخوانك وصل أقاربك وآمنهم من قبول قول ساع أو سماع باغ يريد فسادك ويروم خداعك وليكن إخوانك من إذا فارقتهم وفارقوك لم تعبهم ولم يعيبوك وقال بعضهم النميمة مبنية على الكذب والحسد والنفاق وهي أثافي الذل وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَوْ صَحَّ مَا نَقَلَهُ النَّمَّامُ إليك لكان هو المجتريء بِالشَّتْمِ عَلَيْكَ وَالْمَنْقُولُ عَنْهُ أَوْلَى بِحِلْمِكَ لِأَنَّهُ لم يقابلك بشتمك
menjadi seorang pemimpin: Luaskan akhlakmu bagi kerabat dekat maupun orang jauh, tahanlah kebodohanmu dari orang yang mulia maupun orang tercela, jagalah saudara-saudaramu, sambunglah tali silaturahmi dengan kerabatmu, dan amankanlah mereka dari menerima perkataan adu domba atau mendengarkan penjahat yang menginginkan kerusuhanmu serta mengincar tipu daya terhadapmu. Hendaklah saudara-saudaramu adalah orang-orang yang jika engkau berpisah dari mereka dan mereka berpisah darimu, engkau tidak mencela mereka dan mereka pun tidak mencelamu." Sebagian ulama berkata: "*Namimah* (adu domba) dibangun di atas kedustaan, kedengkian, dan kenifakan, dan ia merupakan penopang kehinaan." Sebagian lainnya berkata: "Seandainya apa yang disampaikan oleh pengadu domba itu benar, niscaya dialah yang berniat meluapkan celaan kepadamu, sedangkan orang yang dituduh lebih berhak atas kesantunan hatimu karena ia tidak mencelamu secara langsung di hadapanmu."
وعلى الجملة فشر النمام عظيم ينبغي أن يتوقى قال حماد بن سلمة باع رجل عبداً وقال للمشتري ما فيه عيب إلا النميمة قال رضيت فاشتراه فمكث الغلام أياماً ثم قال لزوجة مولاه إن سيدي لا يحبك وهو يريد أن يتسرى عليك فخذي الموسى واحلقي من شعر قفاه عند نومه شعرات حتى أسحره عليها فيحبك ثم قال للزوج إن امرأتك اتخذت خليلاً وتريد أن تقتلك فتناوم لها حتى تعرف ذلك فتناوم لها فجاءت المرأة بالموسى فظن أنها تريد قتله فقام إليها فقتلها فجاء أهل المرأة فقتلوا الزوج ووقع القتال بين القبيلتين فنسأل الله حسن التوفيق الآفة السابعة عشرة
Kesimpulannya, kejahatan pengadu domba itu sangat besar dan wajib diwaspadai. Hammad bin Salamah bercerita: Seorang laki-laki menjual seorang budak dan berkata kepada pembelinya: "Tidak ada aib padanya kecuali suka mengadu domba (*namimah*)." Pembeli menjawab: "Aku rida." Lalu ia membelinya. Budak itu tinggal beberapa hari, kemudian ia berkata kepada istri tuannya: "Sesungguhnya tuanku tidak mencintaimu dan ia ingin mengambil selir atasmu. Maka ambillah pisau cukur dan cukurlah beberapa helai rambut dari belakang lehernya saat ia tidur agar aku dapat menyihirnya untukmu sehingga ia mencintaimu." Kemudian ia berkata kepada suaminya: "Sesungguhnya istrimu telah mengambil kekasih gelap dan berniat membunuhmu. Maka pura-puralah tidur agar engkau mengetahuinya." Suaminya pun pura-pura tidur, lalu istrinya datang membawa pisau cukur. Suaminya mengira sang istri hendak membunuhnya, maka ia bangkit dan membunuh istrinya. Kemudian keluarga sang istri datang dan membunuh suami tersebut, lalu terjadilah peperangan antara kedua kabilah. Maka kita memohon kepada Allah taufik yang baik. Bahaya Ketujuh Belas:
كلام ذي اللِّسَانَيْنِ الَّذِي يَتَرَدَّدُ بَيْنَ الْمُتَعَادِيَيْنِ وَيُكَلِّمُ كُلَّ واحد منهما بكلام يوافقه وقلما يخلو عنه من يشاهد متعاديين وذلك عين النفاق
Perkataan orang yang bermuka/berlidah dua (*dzi lisanain*), yaitu orang yang bolak-balik di antara dua orang yang saling bermusuhan dan berbicara kepada masing-masing dari keduanya dengan perkataan yang sesuai dengannya. Jarang sekali orang yang menyaksikan dua pihak yang bermusuhan bisa terbebas dari hal ini, padahal perbuatan tersebut adalah hakikat kenifakan.
قال عمار بن ياسر قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من كان له وجهان في الدنيا كان له لسانان من نار يوم القيامة وقال أبو هريرة قال سول الله ﷺ تجدون من شر عباد الله يوم القيامة ذا الوجهين الذي يأتي هؤلاء بحديث وهؤلاء بحديث وفي لفظ آخر الذي يأتي هؤلاء بوجه وهؤلاء بوجه وقال أبو هريرة لا ينبغي لذي الوجهين أن يكون أميناً عند الله وقال مالك بن دينار قرأت في التوراة بطلت الأمانة والرجل مع صاحبه بشفتين مختلفتين يهلك الله تعالى يوم القيامة كل شفتين مختلفتين وقال ﷺ أبغض خليقة الله إلى الله يوم القيامة الكذابون والمستكبرون والذين يكثرون البغضاء لإخوانهم في صدورهم فإذا لقوهم تملقوا لهم والذين إذا دعوا إلى الله ورسوله كانوا بطاء وإذا دعوا إلى الشيطان وأمره كانوا سراعاً
Ammar bin Yasir menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa memiliki dua wajah di dunia, maka ia akan memiliki dua lidah dari api neraka pada hari kiamat." Dan Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Kalian akan mendapati seburuk-buruk hamba Allah pada hari kiamat adalah orang yang bermuka dua, yang mendatangi kelompok ini dengan suatu perkataan dan mendatangi kelompok itu dengan perkataan yang lain." Dalam lafaz lain: "Yang mendatangi kelompok ini dengan satu wajah dan kelompok itu dengan wajah yang lain." Abu Hurairah berkata: "Tidak selayaknya bagi orang yang bermuka dua menjadi orang yang tepercaya di sisi Allah." Malik bin Dinar berkata: "Aku membaca dalam Taurat: Amanah telah lenyap, dan seorang laki-laki bersama saudaranya memiliki dua bibir yang berbeda; Allah Ta'ala akan membinasakan pada hari kiamat setiap orang yang memiliki dua bibir yang berbeda." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Makhluk Allah yang paling dibenci oleh Allah pada hari kiamat adalah para pendusta, orang-orang sombong, dan orang-orang yang menyimpan banyak kebencian kepada saudara-saudara mereka di dalam dada mereka, tetapi jika bertemu mereka bermuka manis (bercumbu rayu), serta orang-orang yang jika diajak kepada Allah dan Rasul-Nya mereka lambat, namun jika diajak kepada setan dan perintahnya mereka sangat cepat."
وقال ابن مسعود لا يكونن أحدكم إمعة قالوا وما الإمعة قال الذي يجري مع كل ريح واتفقوا على أن ملاقاة الاثنين بوجهين نفاق وللنفاق علامات كثيرة وهذه من جملتها
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian menjadi *imma'ah* (orang yang tidak memiliki pendirian/ikut-ikutan)." Para sahabat bertanya: "Apakah *imma'ah* itu?" Beliau menjawab: "Yaitu orang yang berputar ke mana saja angin berembus." Para ulama sepakat bahwa menemui dua orang (yang bermusuhan) dengan dua wajah adalah kenifakan. Kenifakan itu memiliki banyak tanda, dan ini adalah salah satu di antaranya.
وقد روي أن رجلاً مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مات فلم يصل عليه حذيفة فقال له عمر يموت رجل مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ولم تصل عليه فقال يا أمير المؤمنين إنه منهم فقال نشدتك الله أنا منهم أم لا قال اللهم لا ولا أؤمن منها أحداً بعدك
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah ﷺ meninggal dunia, lalu Hudzaifah tidak menshalatinya. Maka Umar berkata kepadanya: "Seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah ﷺ meninggal dunia dan engkau tidak menshalatinya?" Hudzaifah menjawab: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ia termasuk dari mereka (orang munafik)." Umar berkata: "Aku memohon kepadamu demi Allah, apakah aku termasuk dari mereka atau bukan?" Hudzaifah menjawab: "Ya Allah, tidak, dan aku tidak akan menyatakan kesucian ini kepada seorang pun setelahmu."
فإن قلت بماذا يصير الرجل ذا لسانين وما حد ذلك فأقول إِذَا دَخَلَ عَلَى مُتَعَادِيَيْنِ وَجَامَلَ كُلَّ وَاحِدٍ منهما وكان صادقاً فيه لم يكن منافقاً ولا ذا لسانين فإن الواحد قد يصادق متعاديين ولكن صداقة ضعيفة لا تنتهي إلى حد الأخوة إذ لو تحققت الصداقة لاقتضت معادة الأعداء كما ذكرنا في كتاب آداب الصحبة والأخوة نعم لو نقل
Jika engkau bertanya: Dengan hal apa seseorang menjadi berlidah dua dan apa batasan hal tersebut? Maka aku katakan: Apabila ia masuk menghadap dua orang yang bermusuhan dan bersikap ramah (*jamala*) kepada masing-masing dari keduanya serta ia jujur dalam sikapnya itu, maka ia tidak tergolong munafik dan tidak pula berlidah dua. Sebab seseorang terkadang berteman dengan dua orang yang saling bermusuhan, namun persahabatan yang lemah yang tidak sampai pada tingkat persaudaraan yang sejati. Karena jika persaudaraan itu terwujud secara hakiki, niscaya akan menuntut permusuhan terhadap musuh saudaranya, sebagaimana telah kami sebutkan dalam Kitab *Adab as-Suhbah wa al-Ukhuwwah* (Etika Berdampingan dan Persaudaraan). Ya, tetapi jika ia menyampaikan
كَلَامَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَى الْآخَرِ فَهُوَ ذو لسانين وهو شر من النميمة إذ يصير نماماً بأن ينقل من أحد الجانبين فقط فإذا نقل من الجانبين فهو شر من النمام وإن لم ينقل كلاماً ولكن حسن لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَا هُوَ عَلَيْهِ مِنَ المعاداة مع صاحبه فهذا ذو لسانين وكذلك إذا وعد كل واحد منهما بأن ينصره وكذلك إذا أثنى على واحد منهما في معاداته وكذلك إذا أثنى على أحدهما وكان إذا خرج من عنده يذمه فهو ذو لسانين بل ينبغي أن يسكت أو يثني على المحق من المتعاديين ويثني عليه في غيبته وفي حضوره وبين يدي عدوه
perkataan masing-masing dari keduanya kepada yang lain, maka ia adalah orang yang berlidah dua. Perbuatan ini lebih buruk daripada *namimah* (adu domba), karena seseorang menjadi pengadu domba jika ia menyampaikan dari satu pihak saja; maka jika ia menyampaikan dari kedua pihak, ia lebih buruk daripada adu domba biasa. Jikalau ia tidak menyampaikan perkataan, namun ia memandang baik (membenarkan) permusuhan yang dilakukan oleh masing-masing pihak terhadap saudaranya, maka ini pun berlidah dua. Demikian pula jika ia berjanji kepada masing-masing pihak untuk menolongnya, atau memuji salah satu dari keduanya dalam permusuhannya, atau memuji salah satu dari keduanya namun ketika keluar darinya ia mencelanya, maka ia adalah orang yang berlidah dua. Justru yang sepantasnya dilakukan adalah ia diam, atau memuji pihak yang benar di antara keduanya baik di belakangnya, di hadapannya, maupun di hadapan musuhnya.
قيل لابن عمر ﵄ إنا ندخل على أمرائنا فنقول القول فإذا خرجنا قلنا غيره فقال كنا نعد هذا نفاقاً عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وهذا نفاق مهما كان مستغنياً عن الدخول على الأمير وعن الثناء عليه فلو استغنى عن الدخول ولكن إذا دخل يخاف إن لم يثن فهو نفاق لأنه الذي أحوج نفسه إلى ذلك فإن كان مستغنياً عن الدخول لو قنع بالقليل وترك المال والجاه فدخل لضرورة الجاه والغنى وأثنى فهو منافق وهذا معنى قوله ﷺ حب المال والجاه ينبتان النفاق في القلب كما ينبت الماء البقل لأنه يحوج إلى الأمراء وإلى مراعاتهم ومراءاتهم فأما إذا ابتلى به لضرورة وخاف إن لم يثن فَهُوَ مَعْذُورٌ فَإِنَّ اتِّقَاءَ الشَّرِّ جَائِزٌ قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ ﵁ إِنَّا لَنُكَشِّرُ فِي وُجُوهِ أَقْوَامٍ وَإِنَّ قُلُوبَنَا لَتَلْعَنُهُمْ وَقَالَتْ عائشة ﵂ اسْتَأْذَنَ رَجُلٌ عَلَى رسول الله ﷺ فقال ائْذَنُوا لَهُ فَبِئْسَ رَجُلُ الْعَشِيرَةِ هُوَ ثُمَّ لَمَّا دَخَلَ أَلَانَ لَهُ الْقَوْلَ فَلَمَّا خَرَجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْتَ فِيهِ مَا قُلْتَ ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ الْقَوْلَ فَقَالَ يَا عائشة إِنَّ شَرَّ النَّاسِ الَّذِي يُكْرَمُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ
Dikatakan kepada Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma: "Sesungguhnya kami apabila masuk menghadap para penguasa kami, kami mengatakan perkataan (pujian), namun apabila kami keluar kami mengatakan yang selainnya." Beliau menjawab: "Kami menganggap hal ini sebagai kenifakan pada zaman Rasulullah ﷺ." Ini adalah nifak selama orang tersebut tidak membutuhkan untuk menghadap penguasa dan tidak perlu memujinya. Apabila ia tidak butuh untuk masuk menghadap namun jika masuk ia takut apabila tidak memuji, hal itu tetap nifak karena dialah yang membuat dirinya membutuhkan hal tersebut. Jika ia sebenarnya tidak perlu menghadap seandainya ia merasa cukup dengan yang sedikit serta meninggalkan harta dan kedudukan, namun ia masuk karena darurat mencari kedudukan dan kekayaan lalu ia memuji, maka ia adalah munafik. Inilah makna sabda Nabi ﷺ: "Cinta harta dan kedudukan itu menumbuhkan nifak di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayur-tumbuhan." Karena hal itu membuatnya membutuhkan para penguasa serta menjaga dan mencari muka di hadapan mereka. Adapun jika ia diuji dengannya karena darurat dan ia takut jika tidak memuji, maka ia dimaafkan, karena menjaga diri dari kejahatan adalah boleh. Abu Darda radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya kami tersenyum di hadapan suatu kaum padahal hati kami melaknat mereka." Dan Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Seorang laki-laki meminta izin kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda: "Izinkanlah ia, ia adalah seburuk-buruk kerabat dalam kabilah." Kemudian ketika orang itu masuk, beliau berbicara kepadanya dengan lemah lembut. Ketika orang itu keluar, aku berkata: "Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan tentangnya apa yang engkau katakan, lalu engkau berbicara lembut kepadanya?" Beliau bersabda: "Wahai Aisyah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah orang yang dihormati karena takut akan kejahatannya."
وَلَكِنَّ هَذَا وَرَدَ فِي الْإِقْبَالِ وَفِي الكشر والتبسم فأما الثناء فهو كذب صراح ولا يجوز إلا لضرورة أو إكراه يباح الكذب بمثله كما ذكرناه في آفة الكذب بل لا يَجُوزُ الثَّنَاءُ وَلَا التَّصْدِيقُ وَلَا تَحْرِيكُ الرَّأْسِ فِي مَعْرِضِ التَّقْرِيرِ عَلَى كُلِّ كَلَامٍ بَاطِلٍ فإن فعل ذلك فَهُوَ مُنَافِقٌ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يُنْكِرَ فَإِنْ لم يقدر فيسكت بلسانه وينكر بقلبه الْآفَةُ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ الْمَدْحُ
Akan tetapi, hal ini berlaku dalam hal menyambut, bermuka manis, dan tersenyum. Adapun pujian, maka itu adalah kedustaan yang nyata dan tidak diperbolehkan kecuali karena darurat atau paksaan yang membolehkan kedustaan semisalnya, sebagaimana telah kami sebutkan pada Bahaya Kedustaan. Bahkan tidak boleh memuji, membenarkan, atau menganggukkan kepala sebagai bentuk pembenaran atas setiap perkataan yang batil. Jika ia melakukan hal itu, maka ia adalah seorang munafik. Justru ia wajib mengingkari; jika tidak mampu, maka ia diam dengan lidahnya dan mengingkari dengan hatinya. Bahaya Kedelapan Belas: Memuji (Al-Mad-h).
وَهُوَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ أَمَّا الذَّمُّ فَهُوَ الْغِيبَةُ والوقيعة فقد ذَكَرْنَا حُكْمَهَا وَالْمَدْحُ يَدْخُلُهُ سِتُّ آفَاتٍ أَرْبَعٌ في الْمَادِحِ وَاثْنَتَانِ فِي الْمَمْدُوحِ
Pujian itu dilarang pada beberapa tempat. Adapun celaan, maka ia adalah gibah dan penodaan kehormatan, dan kami telah menyebutkan hukumnya. Sedangkan pujian, di dalamnya terdapat enam bahaya: empat bahaya pada diri pemuji dan dua bahaya pada diri orang yang dipuji.
فَأَمَّا الْمَادِحُ فَالْأُولَى أنه قد يفرط فينتهي به إلى الكذب قال خالد بن معدان من مدح إماماً أو أحداً بما ليس فيه على رءوس الأشهاد بعثه الله يوم القيامة يتعثر بلسانه
Adapun bagi pemuji, bahaya yang pertama adalah bahwa ia terkadang berlebih-lebihan hingga terjerumus ke dalam kedustaan. Khalid bin Ma'dan berkata: "Barangsiapa memuji seorang pemimpin atau seseorang dengan apa yang tidak ada pada dirinya di hadapan khalayak ramai, niscaya Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan tersungkur oleh lidahnya sendiri."
وَالثَّانِيَةُ أَنَّهُ قَدْ يَدْخُلُهُ الرِّيَاءُ فَإِنَّهُ بِالْمَدْحِ مظهر للحب وقد لا يكون مضمراً له وَلَا مُعْتَقِدًا لِجَمِيعِ مَا يَقُولُهُ فَيَصِيرُ بِهِ مرائياً منافقاً
Bahaya yang kedua adalah bahwa ia terkadang kemasukan sifat riya'. Sebab dengan pujian itu ia menampakkan rasa cinta, padahal terkadang ia tidak menyimpannya dalam batin dan tidak meyakini seluruh apa yang dikatakannya, sehingga dengan demikian ia menjadi orang yang riya' lagi munafik.
الثالثة أَنَّهُ قَدْ يَقُولُ مَا لَا يَتَحَقَّقُهُ وَلَا سبيل له إلى الإطلاع عليه وروي أن رجلاً مدح رَجُلًا عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ فقال له ﵇ ويحك قطعت عنق صاحبك لو سمعها ما أفلح ثم قال إن كان أحدكم لا بد مادحا
Bahaya yang ketiga adalah bahwa ia terkadang mengatakan apa yang tidak ia ketahui secara pasti dan tidak ada jalan baginya untuk mengetahuinya. Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki memuji orang lain di hadapan Nabi ﷺ, maka Nabi 'Alaihissalam bersabda kepadanya: "Celaka engkau, engkau telah memotong leher saudaramu! Seandainya ia mendengarnya, niscaya ia tidak akan beruntung." Kemudian beliau bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian harus memuji
أَخَاهُ فَلْيَقُلْ أَحْسَبُ فُلَانًا وَلَا أُزَكِّي عَلَى الله أحد حسيبه الله إن كان يرى أنه كذلك وهذه الآفة تتطرق إلى المدح بالأوصاف المطلقة التي تعرف بالأدلة كقولة إنه متق وورع وزاهد وخير وما يجري مجراه فأما إذا قال رأيته يصلي بالليل ويتصدق ويحج فهذه أمور مستيقنة ومن ذلك قوله إنه عدل رضا فإن ذلك خفي فلا ينبغي أن يجزم القول فيه إِلَّا بَعْدَ خِبْرَةٍ بَاطِنَةٍ سَمِعَ عمر ﵁ رَجُلًا يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ فَقَالَ أَسَافَرْتَ مَعَهُ قَالَ لَا قَالَ أَخَالَطْتَهُ فِي الْمُبَايَعَةِ وَالْمُعَامَلَةِ قَالَ لَا قَالَ فَأَنْتَ جَارُهُ صَبَاحَهُ وَمَسَاءَهُ قَالَ لَا فَقَالَ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَا أُرَاكَ تَعْرِفُهُ
saudaranya, maka hendaklah ia berkata: 'Aku mengira Fulan demikian dan aku tidak mensucikan seorang pun di hadapan Allah, Allah-lah yang memperhitungkannya,' jika ia memandang bahwa orang itu memang demikian." Bahaya ini merembet pada pujian dengan sifat-sifat mutlak yang hanya diketahui melalui dalil/tanda batin, seperti ucapan: "Sesungguhnya ia orang yang bertakwa, warak, zahid, dan baik," serta yang sejenisnya. Adapun jika ia berkata: "Aku melihatnya shalat malam, bersedekah, dan menunaikan ibadah haji," maka ini adalah hal-hal yang diyakini (terlihat). Termasuk dalam hal ini adalah ucapan: "Sesungguhnya ia orang yang adil dan diridai," karena hal itu tersembunyi, sehingga tidak sepantasnya memastikan perkataan padanya kecuali setelah pengalaman batin. Umar radhiyallahu 'anhu pernah mendengar seorang laki-laki memuji seseorang, lalu Umar bertanya: "Apakah engkau pernah bepergian bersamanya?" Ia menjawab: "Tidak." Umar bertanya: "Apakah engkau pernah bermuamalah dengannya dalam jual beli?" Ia menjawab: "Tidak." Umar bertanya: "Apakah engkau tetangganya yang mengetahui pagi dan petangnya?" Ia menjawab: "Tidak." Maka Umar berkata: "Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, aku tidak melihatmu mengenalnya!"
الرابعة أَنَّهُ قَدْ يَفْرَحُ الْمَمْدُوحُ وَهُوَ ظَالِمٌ أَوْ فاسق وذلك غير جائز قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن الله تعالى يغضب إذا مدح الفاسق وقال الحسن مَنْ دَعَا لِظَالِمٍ بِطُولِ الْبَقَاءِ فَقَدْ أحب أن يعصي الله تعالى في أرضه والظالم الفاسق ينبغي أن يذم ليغتم ولا يمدح ليفرح
Keempat, terkadang orang yang dipuji merasa gembira padahal ia seorang yang zalim atau fasik, dan hal demikian itu tidak diperbolehkan. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala murka apabila seorang yang fasik dipuji." Al-Hasan berkata: "Barang siapa mendoakan orang zalim agar panjang umur, maka sungguh ia telah menyukai agar Allah Ta'ala didurhakai di bumi-Nya." Orang yang zalim lagi fasik sepatutnya dicela agar ia bersedih, bukan dipuji agar ia bergembira.
وَأَمَّا الْمَمْدُوحُ فَيَضُرُّهُ مِنْ وَجْهَيْنِ
Adapun bagi orang yang dipuji, maka pujian itu membahayakan dirinya dari dua sisi:
أَحَدُهُمَا أَنَّهُ يحدث فيه كبراً وإعجاباً وهما مهلكان
Salah satunya adalah bahwa pujian itu menimbulkan kesombongan (kibr) dan rasa bangga diri ('ujub) dalam hatinya, sedangkan keduanya merupakan hal yang membinasakan.
قال الحسن ﵁ كان عمر ﵁ جالساً ومعه الدرة والناس حوله إذ أقبل الجارود بن المنذر فقال رجل هذا سيد ربيعة فسمعها عمر ومن حوله وسمعها الجارود فلما دنا منه خفقه بالدرة فقال مالي ولك يا أمير المؤمنين قال مالي ولك أما سمعتها قال سمعتها فمه قال خشيت أن يخالط قلبك منها شيء فأحببت أن أطأطيء منك
Al-Hasan ﵁ berkata: Umar ﵁ pernah duduk dengan memegang cambuk (dirrah) dan orang-orang berada di sekelilingnya, tiba-tiba Al-Jarud bin Al-Mundzir datang. Seseorang berkata, "Ini adalah pemimpin suku Rabi'ah." Umar dan orang-orang di sekitarnya mendengarnya, demikian pula Al-Jarud mendengarnya. Ketika ia mendekat, Umar memukulnya dengan cambuk. Al-Jarud berkata, "Ada apa antara aku dan engkau, wahai Amirul Mukminin?" Umar menjawab, "Ada apa antara aku dan engkau? Apakah engkau tidak mendengarnya?" Ia menjawab, "Aku mendengarnya, lalu ada apa?" Umar berkata, "Aku khawatir ada sesuatu dari ucapan itu yang merasuk ke dalam hatimu, maka aku ingin merendahkan dirimu."
الثاني هو أنه إذا أثنى عليه بالخير فرح به وفتر ورضي عن نفسه ومن أعجب بنفسه قل تشمره وإنما يتشمر للعمل من يرى نفسه مقصراً فأما إذا انطلقت الألسن بالثناء عليه ظن أنه قد أدرك ولهذا قال ﵇ قطعت عنق صاحبك لو سمعها ما أفلح وقال ﷺ إذا مدحت أخاك في وجهه فكأنما أمررت على حلقه موسى وميضاً
Sisi kedua adalah bahwa jika ia dipuji dengan kebaikan, ia merasa gembira darinya lalu menjadi lemah semangatnya (futur) dan rida terhadap dirinya sendiri. Barang siapa merasa bangga dengan dirinya sendiri ('ujub), niscaya berkurang kesungguhannya. Hanyalah orang yang menganggap dirinya penuh kekurangan yang akan bersungguh-sungguh dalam beramal. Adapun ketika lidah-lidah telah berucap menyanjungnya, ia mengira telah mencapai kedudukan yang tinggi. Oleh karena itu, Beliau ﵇ bersabda: "Engkau telah memenggal leher saudaramu, seandainya ia mendengarnya niscaya ia tidak akan beruntung." Dan Beliau ﷺ bersabda: "Jika engkau memuji saudaramu di hadapannya, maka seolah-olah engkau telah menggoreskan pisau cukur yang tajam pada tenggorokannya."
وقال أيضاً لمن مدح رجلاً عقرت الرجل عقرك الله وقال مطرف ما سمعت قط ثناء ولا مدحة إلا تصاغرت إلى نفسي وقال زياد بن أبي مسلم ليس أحد يسمع ثناء عليه أو مدحة إلا تراءى له الشيطان ولكن المؤمن يراجع فقال ابن المبارك لقد صدق كلاهما أما ما ذكره زياد فذلك قلب العوام وأما ما ذكره مطرف فذلك قلب الخواص وقال ﷺ لو مشى رجل إلى رجل بسكين مرهف كان خيراً له من أن يثني عليه في وجهه حديث لو وزن إيمان أبي بكر بإيمان العالمين لرجح تقدم في العلم وقال في عمر لو لم أبعث لبعثت
Dan Beliau juga bersabda kepada orang yang memuji seseorang: "Engkau telah membinasakan orang itu, semoga Allah membinasakanmu!" Mutharrif berkata: "Tidak pernah aku mendengar sanjungan maupun pujian melainkan diriku merasa semakin kecil di hadapan jiwaku sendiri." Ziyad bin Abi Muslim berkata: "Tidak seorang pun yang mendengar sanjungan atau pujian atas dirinya melainkan setan akan menampakkan diri kepadanya, akan tetapi orang beriman akan kembali meneliti jiwanya." Maka Ibnul Mubarak berkata: "Sungguh keduanya benar; adapun yang disebutkan oleh Ziyad, itu adalah keadaan hati orang awam, sedangkan yang disebutkan oleh Mutharrif, itu adalah keadaan hati orang-orang khusus (khawash)." Dan Beliau ﷺ bersabda: "Sekiranya seseorang berjalan mendatangi orang lain dengan membawa pisau yang tajam, itu lebih baik baginya daripada ia menyanjungnya di hadapannya." Hadis "Jikalau iman Abu Bakar ditimbang dengan iman seluruh alam niscaya akan lebih berat" telah disebutkan sebelumnya pada Kitab Ilmu. Dan Beliau bersabda mengenai Umar: "Sekiranya aku tidak diutus, niscaya engkau diutus
يا عمر
wahai Umar."
وأي ثناء يزيد على هذا ولكنه ﷺ قال عن صدق وبصيرة وكانوا ﵃ أجل رتبة من أن يورثهم ذلك كبراً وعجباً وفتوراً بل مدح الرجل نفسه قبيح لما فيه من الكبر والتفاخر إذا قال ﷺ أنا سيد ولد آدم ولا فخر
Sanjungan mana lagi yang melebihi ini? Namun Beliau ﷺ menyatakannya atas dasar kebenaran dan mata hati (bashirah). Lagipula mereka ﵃ memiliki kedudukan yang jauh lebih agung daripada membuat hal itu menimbulkan kesombongan, bangga diri, atau kelesuan ibadah dalam diri mereka. Bahkan pujian seseorang terhadap dirinya sendiri adalah hal yang buruk karena mengandung kesombongan dan kebanggaan diri, ketika Beliau ﷺ bersabda: "Aku adalah pemimpin anak cucu Adam, dan ini bukan untuk membanggakan diri (la fakhra),"
أي لست أقول هذا تفاخراً كما يقصد الناس بالثناء على أنفسهم وذلك لأن افتخاره ﷺ كان بالله وبالقرب من الله لا بولد آدم وتقدمه عليهم كما أن المقبول عند الملك قبولاً عظيماً إنما يفتخر بقبوله إياه وبه يفرح لا بتقدمه على بعض رعاياه وبتفصيل هذه الآفات تقدر على الجمع بين ذم المدح وبين الحث عليه قال ﷺ وجبت
yakni: Aku tidak mengatakan ini untuk membanggakan diri sebagaimana maksud manusia ketika memuji diri mereka sendiri. Hal itu karena kebanggaan Beliau ﷺ adalah dengan Allah dan dengan kedekatan kepada Allah, bukan dengan anak cucu Adam dan keunggulannya atas mereka. Sebagaimana seorang yang diterima dengan baik oleh raja secara luar biasa, hanyalah merasa bangga dan bergembira atas penerimaan raja terhadapnya, bukan karena keunggulannya atas sebagian rakyatnya. Dengan merinci bahaya-bahaya ini, engkau akan mampu mengompromikan antara celaan terhadap pujian dan anjuran untuk memuji. Beliau ﷺ bersabda: "Wajib,"
لما أثنوا على بعض الموتى وقال مجاهد إن لبني آدم جلساء من الملائكة فإذا ذكر الرجل المسلم أخاه المسلم بخير قالت الملائكة ولك بمثله وإذا ذكره بسوء قالت الملائكة يا ابن آدم المستور عورتك أربع على نفسك واحمد الله الذي ستر عورتك فهذه آفات المدح
ketika para sahabat memuji sebagian jenazah (orang yang telah meninggal dunia). Mujahid berkata: "Sesungguhnya anak cucu Adam memiliki pendamping dari kalangan malaikat. Apabila seorang muslim menyebut saudaranya sesama muslim dengan kebaikan, malaikat berkata, 'Dan bagimu balasan yang serupa.' Namun jika ia menyebutnya dengan keburukan, malaikat berkata, 'Wahai anak Adam yang aibnya tertutup, kasihanilah dirimu sendiri dan pujilah Allah yang telah menutup aibmu!'" Maka inilah bahaya-bahaya pujian.
بيان ما على الممدوح
Penjelasan tentang Apa yang Wajib Dilakukan oleh Orang yang Dipuji
اعلم أن على الْمَمْدُوحِ أَنْ يَكُونَ شَدِيدَ الِاحْتِرَازِ عَنْ آفَةِ الكبر والعجب وآفة الفتور ولا ينجو منه إلا بأن يعرف نفسه ويتأمل ما في خطر الخاتمة ودقائق الرياء وآفات الأعمال فإنه يعرف من نفسه ما لا يعرفه المادح ولو انْكَشَفَ لَهُ جَمِيعُ أَسْرَارِهِ وَمَا يَجْرِي عَلَى خواطره لكف المادح عن مدحه وعليه أن يظهر كراهة المدح بإذلال المادح
Ketahuilah bahwa wajib bagi orang yang dipuji untuk sangat berhati-hati terhadap bahaya kesombongan (kibr), bangga diri ('ujub), dan bahaya kelesuan beramal (futur). Ia tidak akan selamat darinya melainkan dengan mengenali dirinya sendiri serta merenungkan bahaya kesudahan hidup (khatimah), kehalusan riya, dan cacat-cacat amal (afat al-a'mal). Sebab, ia mengetahui dari dirinya apa yang tidak diketahui oleh orang yang memujinya. Seandainya tersingkap bagi pemuji itu seluruh rahasianya dan apa yang terlintas dalam benaknya, niscaya pemuji itu akan berhenti dari memujinya. Dan wajib baginya untuk menampakkan ketidaksukaan terhadap pujian dengan cara merendahkan orang yang memujinya.
قال ﷺ احثوا التراب في وجوه المادحين
Rasulullah ﷺ bersabda: "Taburkanlah tanah ke wajah orang-orang yang gemar memuji."
وقال سفيان بن عيينة لا يضر المدح من عرف نفسه وأثنى على رجل من الصالحين فقال اللهم إن هؤلاء لا يعرفوني وأنت تعرفني وقال آخر لما أثنى عليه اللهم إن عبدك هذا تقرب إلي بمقتك وأنا أشهدك على مقته وقال علي ﵁ لما أثنى عليه اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ وَلَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ وَاجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ وأثنى رجل على عمر ﵁ فقال أتهلكني وتهلك نفسك وأثنى رجل على علي كرم الله وجهه في وجهه وكان قد بلغه أنه يقع فيه فقال أنا دون ما قلت وفوق ما في نفسك الآفة التاسعة عشر
Sufyan bin 'Uyaynah berkata: "Pujian tidak akan membahayakan orang yang mengenali dirinya sendiri." Seseorang memuji seorang lelaki saleh, lalu lelaki itu berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya mereka ini tidak mengenaliku, sedangkan Engkau mengenalku." Yang lain berkata ketika dipuji: "Ya Allah, sesungguhnya hamba-Mu ini mencari kedekatan padaku dengan kebencian-Mu, dan aku memohon persaksian-Mu atas kebencianku padanya." Dan 'Ali ﵁ berkata ketika dipuji: "Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, dan janganlah Engkau menghukumku karena apa yang mereka katakan, serta jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka prasangkakan." Seorang lelaki memuji 'Umar ﵁, maka beliau berkata: "Apakah engkau hendak membinasakanku dan membinasakan dirimu sendiri?" Seorang lelaki memuji 'Ali كرم الله وجهه di hadapannya, padahal telah sampai berita kepadanya bahwa lelaki itu mencelanya di belakangnya, maka beliau berkata: "Aku ini lebih rendah dari apa yang engkau ucapkan, dan lebih tinggi dari apa yang ada dalam hatimu." Bahaya Kesembilan Belas:
الغفلة عن دقائق الخطأ في فحوى الكلام لا سيما فيما يتعلق بالله وصفاته ويرتبط بأمور الدين فلا يقدر على تقويم اللفظ في أمور الدين إلا العلماء الفصحاء فمن قصر في علم أو فصاحة لم يخل كلامه عن الزلل لكن الله تعالى يعفو عنه لجهله
Lalai terhadap kehalusan kesalahan dalam isi ucapan, terutama yang berkaitan dengan Allah dan sifat-sifat-Nya serta terikat dengan perkara-perkara agama. Tidak ada yang mampu meluruskan lafal dalam perkara agama melainkan para ulama yang fasih. Barang siapa yang kurang dalam ilmu atau kefasihan, maka perkataannya tidak akan lepas dari kekeliruan, namun Allah Ta'ala memaafkannya karena kebodohannya.
مثاله ما قال حذيفة قال النبي ﷺ لَا يَقُلْ أَحَدُكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ وَلَكِنْ لِيَقُلْ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شِئْتَ وَذَلِكَ لِأَنَّ فِي الْعَطْفِ الْمُطْلَقِ تَشْرِيكًا وَتَسْوِيَةً وَهُوَ عَلَى خِلَافِ الاحترام وقال ابن عباس ﵄ جاء رجل إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يكلمه في بعض الأمر فقال ما شاء الله وشئت فقال
Contohnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Hudzaifah, Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian mengucapkan, 'Atas kehendak Allah dan kehendakmu,' tetapi hendaklah ia mengucapkan, 'Atas kehendak Allah, kemudian kehendakmu.'" Hal itu karena dalam penyambungan kata secara mutlak ('athf muthlaq) terdapat kesan penyekutuan dan penyetaraan, dan hal itu bertentangan dengan penghormatan. Ibn 'Abbas ﵄ berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berbicara dengan Beliau mengenai suatu perkara, kemudian ia berkata, "Atas kehendak Allah dan kehendakmu," maka Beliau
صلى الله عليه وسلم أجعلتني لله عديلاً بل ما شاء الله وحده
ﷺ bersabda: "Apakah engkau menjadikan aku tandingan bagi Allah? Melainkan atas kehendak Allah semata."
وخطب رجل عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فقال من يطع الله ورسوله فقد رشد ومن يعصهما فقد غوى فقال قل ومن يعص الله ورسوله فقد غوى
Seorang lelaki berkhotbah di hadapan Rasulullah ﷺ lalu berkata, "Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya maka sungguh ia telah mendapat petunjuk, dan barang siapa mendurhakai keduanya maka sungguh ia telah sesat." Maka Beliau bersabda: "Katakanlah: 'Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh ia telah sesat.'"
فكره رسول الله ﷺ قوله ومن يعصهما لأنه تسوية وجمع
Maka Rasulullah ﷺ membenci ucapannya "dan barang siapa mendurhakai keduanya" karena hal itu mengandung penyetaraan dan penggabungan.
وَكَانَ إبراهيم يَكْرَهُ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ أَعُوذُ بالله وبك وَيَجُوزُ أَنْ يَقُولَ أَعُوذُ بِاللَّهِ ثُمَّ بِكَ وأن يقول لولا الله ثم فلان ولا يقول لولا الله وفلان وكره بعضهم أن يقال اللهم أعتقنا من النار وكان يقول العتق يكون بعد الورود وكانوا يستجيرون من النار ويتعوذون من النار وقال رجل اللهم اجعلني ممن تصيبه شفاعة محمد ﷺ فقال حذيفة إن الله يغني المؤمنين عن شفاعة محمد وتكون شفاعته للمذنبين من المسلمين وقال إبراهيم إذا قال الرجل للرجل يا حمار يا خنزير قيل له يوم القيامة حماراً رأيتني خلقته خنزيراً رأيتني خلقته وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ﵄ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيُشْرِكُ حَتَّى يُشْرِكَ بِكَلْبِهِ فَيَقُولُ لَوْلَاهُ لسرقنا الليلة وقال عمر ﵁ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ من كان حالفاً فليحلف بالله أو ليصمت
Ibrahim membenci seseorang yang mengucapkan, "Aku berlindung kepada Allah dan kepadamu," tetapi boleh mengucapkan, "Aku berlindung kepada Allah kemudian kepadamu," serta boleh mengucapkan, "Kalaulah bukan karena Allah kemudian si Fulan," dan tidak boleh mengucapkan, "Kalaulah bukan karena Allah dan si Fulan." Sebagian ulama membenci ucapan, "Ya Allah, bebaskanlah kami dari neraka," dan ia berkata: "Pembebasan ('itq) itu terjadi setelah mendatangi neraka (wurud)," padahal para sahabat memohon perlindungan dari neraka dan berlindung kepada Allah darinya. Seorang lelaki berdoa, "Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang mendapat syafaat Muhammad ﷺ," lalu Hudzaifah berkata: "Sesungguhnya Allah mencukupkan orang-orang mukmin dari syafaat Muhammad, dan syafaat Beliau itu diperuntukkan bagi orang-orang yang berbuat dosa dari kalangan kaum muslimin." Ibrahim berkata: "Apabila seseorang berkata kepada orang lain, 'Wahai keledai! Wahai babi!', niscaya akan dikatakan kepadanya pada hari kiamat, 'Apakah engkau melihat-Ku menciptakannya sebagai keledai? Apakah engkau melihat-Ku menciptakannya sebagai babi?'" Diriwayatkan dari Ibn 'Abbas ﵄: "Sesungguhnya salah seorang dari kalian melakukan syirik hingga ia menyekutukan Allah dengan anjingnya, lalu ia berkata, 'Kalaulah bukan karena anjing ini, niscaya kita telah dirampok tadi malam.'" Umar ﵁ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala melarang kalian bersumpah demi nenek moyang kalian. Barang siapa hendak bersumpah, hendaklah ia bersumpah atas nama Allah atau diam."
قال عمر ﵁ فَوَاللَّهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُهَا وَقَالَ ﷺ لا تسموا العنب كرماً إنما الكرم الرجل المسلم
Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Demi Allah, aku tidak pernah lagi bersumpah dengannya sejak aku mendengar larangan tersebut." Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian menamai anggur dengan sebutan al-Karm, karena sesungguhnya al-Karm (yang mulia) itu hanyalah seorang laki-laki muslim."
وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ عَبْدِي وَلَا أَمَتِي كُلُّكُمْ عَبِيدُ اللَّهِ وَكُلُّ نِسَائِكُمْ إماء الله وليقل غلامي وجاريتي وفتاي وفتاتي ولا يقول الْمَمْلُوكُ رَبِّي وَلَا رَبَّتِي وَلْيَقُلْ سَيِّدِي وَسَيِّدَتِي فكلكم عَبِيدُ اللَّهِ وَالرَّبُّ اللَّهُ ﷾ وَقَالَ ﷺ لا تقولوا للفاسق سَيِّدَنَا فَإِنَّهُ إِنْ يَكُنْ سَيِّدَكُمْ فَقَدْ أَسْخَطْتُمْ ربكم
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian mengatakan 'hambaku (laki-laki)' (abdi) atau 'hambaku (perempuan)' (amati), karena kalian semua adalah hamba-hamba Allah dan semua wanita kalian adalah hamba-hamba perempuan Allah. Hendaknya ia mengatakan 'pemudaku' (ghulami), 'pemudiku' (jariyati), 'pemudaku' (fataya), dan 'pemudiku' (fatati). Dan jangan pula seorang hamba sahaya mengatakan 'Tuhanku' (rabbi) atau 'Tuhanku' (rabbati), melainkan hendaknya ia mengatakan 'Tuanku' (sayyidi) dan 'Tuanku' (sayyidati); karena kalian semua adalah hamba-hamba Allah, sedangkan ar-Rabb (Tuhan) adalah Allah Azza wa Jalla." Dan beliau ﷺ bersabda: "Janganlah kalian memanggil orang fasik dengan sebutan 'tuan kami' (sayyidana), karena jika ia menjadi tuan kalian, sungguh kalian telah membuat Rabb kalian murka."
وَقَالَ ﷺ مَنْ قَالَ أنا بريء من الإسلام فإن كان صادقاً فهو كما قال وإن كان كاذباً فلن يرجع إلى الإسلام سالماً
Dan beliau ﷺ bersabda: "Barang siapa berkata, 'Aku terbebas dari Islam', jika ia jujur maka ia seperti yang dikatakannya, dan jika ia berdusta maka ia tidak akan kembali kepada Islam dalam keadaan selamat."
فهذا وأمثاله مما يدخل في الكلام ولا يمكن حصره
Maka ini dan yang seumpamanya termasuk dalam perkara ucapan lisan yang tidak mungkin dibatasi jumlahnya.
ومن تأمل جميع ما أوردنا من آفات اللسان علم أنه إذا أطلق لسانه لم يسلم وعند ذلك يعرف سر قوله ﷺ من صمت نجا
Barang siapa merenungkan seluruh bahaya lisan yang telah kami kemukakan, niscaya ia mengetahui bahwa apabila ia melepasliarkan lisannya, ia tidak akan selamat. Pada saat itulah ia akan memahami rahasia dari sabda beliau ﷺ: "Barang siapa diam, niscaya ia selamat."
لأن هذه الآفات كلها مهالك ومعاطب وهي على طريق المتكلم فإن سكت سلم من الكل وإن نطق وتكلم خاطر بنفسه إلا أن يوافقه لسان فصيح وعلم غزير وورع حافظ ومراقبة لازمة ويقلل من الكلام فعساه يسلم عند ذلك وهو مع جميع ذلك لا ينفك عن الخطر فإن كنت لا تقدر على أن تكون ممن تكلم فغنم فكن ممن سكت فسلم فالسلامة إحدى الغنيمتين الآفة العشرون
Karena seluruh bahaya ini merupakan kebinasaan dan kehancuran yang membentang di jalan orang yang berbicara. Jika ia diam, ia selamat dari semuanya. Namun jika ia berucap dan berbicara, ia mempertaruhkan jiwanya, kecuali jika ia didukung oleh lisan yang fasih, ilmu yang mendalam, sifat wara' yang menjaga, muraqabah yang melekat, serta meminimalkan ucapan; maka boleh jadi ia selamat pada saat itu. Meski demikian, ia tetap tidak terlepas dari bahaya. Apabila engkau tidak mampu menjadi orang yang berbicara lalu meraih keuntungan (ghanim), maka jadilah orang yang diam lalu meraih keselamatan (salim), karena keselamatan itu sendiri adalah salah satu dari dua keuntungan.
سؤال العوام عن صفات الله تعالى وعن كلامه وعن الحروف وأنها قديمة أو محدثة ومن حقهم الاشتغال بالعمل بما في القرآن إلا أن ذلك ثقيل على النفوس والفضول خفيف على القلب والعامي يَفْرَحُ بِالْخَوْضِ فِي الْعِلْمِ إِذِ الشَّيْطَانُ يُخَيِّلُ إليه أنك مِنَ الْعُلَمَاءِ وَأَهْلِ الْفَضْلِ وَلَا يَزَالُ يُحَبِّبُ إليه ذلك حتى يتكلم في العلم بما هو كفر وهو
Bahaya Keduapuluh: Pertanyaan orang awam tentang sifat-sifat Allah Ta'ala, tentang kalam-Nya, dan tentang huruf-huruf apakah qadim atau baru (muhdath). Hakikat kewajiban mereka adalah sibuk mengamalkan apa yang ada dalam Al-Qur'an. Namun hal itu terasa berat bagi nafsu, sementara hal-hal yang tidak berguna (fudhul) terasa ringan bagi hati. Orang awam merasa gembira menyelami ilmu karena setan membayangkan kepadanya bahwa ia termasuk golongan ulama dan ahli keutamaan. Setan senantiasa membuat hal itu tampak indah baginya hingga ia berbicara dalam masalah ilmu dengan ucapan yang bernilai kekufuran, sedangkan ia…
لا يدري وكل كبيرة يرتكبها العامي فهي أسلم له من أن يتكلم في العلم لا سيما فيما يتعلق بالله وصفاته وإنما شأن العوام الاشتغال بالعبادات والإيمان بما ورد به القرآن والتسليم لما جاء به الرسل من غير بحث وسؤالهم عن غير ما يتعلق بالعبادات وسوء أدب منهم يستحقون به المقت من الله ﷿ ويتعرضون لخطر الكفر وهو كسؤال ساسة الدواب عن أسرار الملوك وهو موجب للعقوبة وَكُلُّ مَنْ سَأَلَ عَنْ عِلْمٍ غَامِضٍ وَلَمْ يَبْلُغْ فَهْمُهُ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فَهُوَ مَذْمُومٌ فَإِنَّهُ بالإضافة إليه عامي ولذلك قال ﷺ ذروني ما تركتكم فإنما هلك من كان قبلكم بكثرة سؤالهم واختلافهم على أنبيائهم ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم
…tidak menyadarinya. Setiap dosa besar yang dilakukan orang awam adalah lebih selamat baginya daripada ia berbicara tentang ilmu, terutamanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Allah dan sifat-sifat-Nya. Sesungguhnya tugas orang awam adalah sibuk dengan ibadah, beriman kepada apa yang tercantum dalam Al-Qur'an, dan berserah diri (taslim) terhadap apa yang dibawa oleh para rasul tanpa perlu mengusutnya. Pertanyaan mereka tentang perkara di luar ibadah merupakan bentuk kemerosotan adab yang membuat mereka berhak mendapat kemurkaan dari Allah Azza wa Jalla, serta menyingkapkan diri mereka pada bahaya kekufuran. Hal itu ibarat penggembala hewan ternak yang menanyakan rahasia-rahasia raja, yang mendatangkan hukuman. Setiap orang yang bertanya tentang ilmu yang rumit padahal pemahamannya belum mencapai tingkat itu, maka ia tercela; karena nisbahnya terhadap ilmu tersebut, ia tergolong awam. Oleh sebab itulah beliau ﷺ bersabda: "Biarkanlah aku selama aku meninggalkan kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka. Maka apa yang aku larang atas kalian, jauhilah; dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, lakukanlah semampu kalian."
وقال أنس سأل الناس رسول الله ﷺ يوماً فأكثروا عليه وأغضبوه فصعد المنبر وقال سلوني لا تسألوني عن شيء إلا أنبأتكم به فقام إليه رجل فقال يا رسول الله من أبي فقال أبوك حذافة فقام إليه شابان أخوان فقالا يا رسول الله من أبوناً فقال أبوكما الذي تدعيان إليه ثم قام إليه رجل آخر فقال يا رسول الله أفي الجنة أنا أم في النار فقال لا بل في النار فلما رأى الناس غضب رسول الله ﷺ أمسكوا فقام إليه عمر ﵁ فقال رضينا بالله رباً وبالإسلام ديناً وبمحمد ﷺ نبياً فقال اجلس يا عمر رحمك الله إنك ما علمت لموفق
Anas radhiyallahu 'anhu berkata: Orang-orang pernah mengajukan banyak pertanyaan kepada Rasulullah ﷺ pada suatu hari hingga membuat beliau marah. Lalu beliau naik ke atas mimbar dan bersabda: "Tanyakanlah kepadaku! Tidaklah kalian menanyakan sesuatu kepadaku melainkan aku akan memberitahukannya kepada kalian." Maka berdirilah seorang laki-laki seraya berkata: "Wahai Rasulullah, siapakah ayahku?" Beliau menjawab: "Ayahmu adalah Hudzafah." Kemudian berdirilah dua orang pemuda bersaudara seraya berkata: "Wahai Rasulullah, siapakah ayah kami?" Beliau menjawab: "Ayah kalian adalah orang yang dinisbahkan kepada kalian." Lalu berdirilah laki-laki lain seraya berkata: "Wahai Rasulullah, apakah aku berada di dalam surga ataukah di dalam neraka?" Beliau menjawab: "Tidak, melainkan di dalam neraka." Ketika orang-orang melihat kemarahan Rasulullah ﷺ, mereka pun menahan diri. Lalu Umar radhiyallahu 'anhu berdiri dan berkata: "Kami ridha Allah sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad ﷺ sebagai nabi kami." Maka beliau bersabda: "Duduklah wahai Umar, semoga Allah merahmatimu. Sungguh sepengetahuanku engkau senantiasa mendapat taufik."
وَفِي الْحَدِيثِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنِ الْقِيلِ وَالْقَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ وكثرة السؤال حديث يوشك الناس يتساءلون بينهم حتى يقولوا قد خلق الله الخلق الحديث متفق عليه من حديث أبي هريرة وقد تقدم حديث جابر ما نزلت آية التلاعن إلا لكثرة السؤال رواه البزار بإسناد جيد //
Dalam hadis disebutkan: Rasulullah ﷺ melarang dari qila wa qala (desas-desus/kabar burung), membuang-buang harta, dan banyak bertanya. Hadis: "Hampir-hampir manusia saling bertanya di antara mereka hingga mereka berkata: 'Allah telah menciptakan makhluk…" (al-Hadits) disepakati keshahihannya (muttafaq 'alaih) dari hadis Abu Hurairah. Dan telah disebutkan sebelumnya hadis Jabir: "Tidaklah ayat li'an turun melainkan karena banyaknya pertanyaan," diriwayatkan oleh Al-Bazzar dengan sanad yang baik (jayyid).
وفي قصة موسى والخضر ﵉ تَنْبِيهٌ عَلَى الْمَنْعِ مِنَ السُّؤَالِ قَبْلَ أَوَانِ اسْتِحْقَاقِهِ إِذْ قَالَ ﴿فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ منه ذكراً﴾ فَلَمَّا سَأَلَ عَنِ السَّفِينَةِ أَنْكَرَ عَلَيْهِ حَتَّى اعْتَذَرَ وَقَالَ ﴿لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا ترهقني من أمري عسراً﴾ فلم يَصْبِرْ حَتَّى سَأَلَ ثَلَاثًا قَالَ ﴿هَذَا فِرَاقُ بيني وبينك﴾ وَفَارَقَهُ
Dalam kisah Nabi Musa dan Khadhir (Khidir) 'alaihimassalam terdapat peringatan mengenai larangan bertanya sebelum waktu yang sepatutnya, yaitu ketika ia berkata: "Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu." (QS. Al-Kahfi: 70). Maka ketika beliau menanyakan perkara perahu, ia mengingkarinya hingga beliau meminta maaf dan berkata: "Janganlah engkau menghukumku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebankan kepadaku suatu kesulitan dalam urusanku." (QS. Al-Kahfi: 73). Beliau tidak mampu bersabar hingga bertanya sebanyak tiga kali, lalu ia berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan engkau." (QS. Al-Kahfi: 78), dan ia pun memisahinya.
فَسُؤَالُ الْعَوَامِّ عَنْ غَوَامِضِ الدِّينِ مِنْ أعظم الآفات وهو من المثيرات للفتن فيجب قمعهم ومنعهم من ذلك وخوضهم في حروف القرآن يضاهي حال من كتب الملك إليه كتاباً ورسم له فيه أموراً فلم يشتغل بشيء منها وضيع زمانه في أن قرطاس الكتاب عتيق أم حديث فاستحق بذلك العقوبة لا محالة فكذلك تضييع العامي حدود القرآن واشتغاله بحروفه أهي قديمة أم حديثة وكذلك سائر صفات الله ﷾ والله تعالى أعلم
Maka pertanyaan orang awam tentang rahasia-rahasia agama yang rumit termasuk bencana terbesar dan pemicu timbulnya fitnah. Oleh karena itu, wajib menahan dan melarang mereka dari hal tersebut. Pembahasan mereka mengenai huruf-huruf Al-Qur'an menyerupai keadaan seseorang yang mendapat surat dari seorang raja yang memuat berbagai perintah baginya, namun ia sama sekali tidak menyibukkan diri mengamalkannya dan justru menyia-nyiakan waktunya untuk memperdebatkan apakah kertas surat itu kuno ('atiq) atau baru (hadits). Dengan demikian, ia pasti berhak menerima hukuman. Begitu pula tindakan orang awam yang menyia-nyiakan hukum-hukum Al-Qur'an dan justru menyibukkan diri dengan huruf-hurufnya apakah ia qadim atau baru (hadits), demikian pula seluruh sifat-sifat Allah Azza wa Jalla. Wallahu Ta'ala A'lam.