ربع المهلكات

كتاب ذم الجاه والرياء

كتاب ذم الجاه والرياء

تم كتاب ذم المال والبخل بحمد الله تعالى وعونه ويليه كتاب ذم الجاه والرياء

Telah selesai Kitab Celah Harta dan Kikir dengan memuji Allah Ta'ala dan pertolongan-Nya, dan setelahnya adalah Kitab Celah Kedudukan dan Riya'.

كتاب ذم الجاه والرياء وهو الكتاب الثامن من ربع المهلكات من كتاب إحياء علوم الدين بسم الله الرحمن الرحيم

Kitab Celah Kedudukan dan Riya' yang merupakan kitab kedelapan dari Seperempat Hal-Hal yang Membinasakan (Rub' Al-Muhlikat) dari kitab Ihya' 'Ulumiddin. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

الحمد لله علام الغيوب المطلع على سرائر القلوب المتجاوز عن كبائر الذنوب العالم بما تجنه الضمائر من خفايا الغيوب البصير بسرائر النيات وخفافا الطويات الذي لا يقبل من الأعمال إلا ما كمل ووفي وخلص عن شوائب الرياء والشرك وصفا فإنه المنفرد بالملكوت فهو أغنى الأغنياء عن الشرك

Segala puji bagi Allah, Yang Maha Mengetahui hal-hal gaib, Yang Maha Melihat rahasia-rahasia hati, Yang Maha Mengampuni dosa-dosa besar, Yang Maha Mengetahui apa yang disembunyikan oleh batin dari keghaiban yang tersembunyi, Yang Maha Melihat rahasia niat dan lipatan-lipatan batin yang samar; Yang tidak menerima amal perbuatan kecuali yang sempurna, dipenuhi secara utuh, dan bersih dari noda-noda riya' dan syirik serta murni, karena Dialah Tunggal dalam Kekuasaan Tertinggi (Kerajaan Langit dan Bumi), maka Dialah Yang Mahakaya dari persekutuan (syirik).

والصلاة والسلام على محمد وآله وأصحابه المبرئين من الخيانة والإفك وسلم تسليماً كثيراً

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya yang dibersihkan dari pengkhianatan dan kebohongan, serta kesejahteraan yang melimpah.

أما بعد فقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن أخوف ما أخاف على أمتي الرياء والشهوة الخفية التي هي أخفى من دَبِيبَ النَّمْلَةِ السَّوْدَاءِ عَلَى الصَّخْرَةِ الصَّمَّاءِ فِي الليلة الظلماء // حديث إن أخوف ما أخاف على أمتي الرياء والشهوة الخفية أخرجه ابن ماجه والحاكم من حديث شداد بن أوس وقالا الشرك بدل الرياء وفسراه بالرياء قال الحاكم صحيح الإسناد قلت بل ضعيفه وهو عند ابن المبارك في الزهد ومن طريقه عند البيهقي في الشعب بلفظ المصنف

Amma ba'du, Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Sesungguhnya hal yang paling aku takuti atas umatku adalah riya' dan syahwat yang tersembunyi, yang mana ia lebih samar daripada rayapan semut hitam di atas batu hitam yang pejal pada malam yang gelap gulita." // Hadits: "Sesungguhnya hal yang paling aku takuti atas umatku adalah riya' dan syahwat yang tersembunyi…" Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Hakim dari hadits Syaddad bin Aus, dan keduanya menyebutkan lafal 'syirik' sebagai ganti dari 'riya'' lalu menafsirkannya dengan riya'. Al-Hakim berkata, "Sanadnya shahih." Aku (Al-Iraqi) katakan: Bahkan sanadnya dhaif, dan riwayat ini ada pada Ibnu Al-Mubarrak dalam az-Zuhd, dan dari jalurnya diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab dengan lafal penyusun (Al-Ghazali).

ولذلك عجز عن الوقوف على غوائلها سماسرة

Oleh karena itu, para pakar dan pemerhati dari kalangan…

العلماء فضلاً عن عامة العباد والأتقياء وهو من أواخر غوائل النفس وبواطن مكايدها

para ulama pun tidak mampu menyingkap bahaya-bahayanya yang tersembunyi, apalagi hamba-hamba awam dan orang-orang bertakwa; dan ia merupakan termasuk bahaya jiwa yang paling akhir dan tipu daya batinnya yang paling samar.

وإنما يبتلي به العلماء والعباد والمشمرون عن ساق الجد لسلوك سبيل الآخرة فإنهم مهما قهروا أنفسهم وجاهدوها وفطموها عن الشهوات وصانوها عن الشبهات وحملوها بالقهر على أصناف العبادات عجزت نفوسهم عن الطمع في المعاصي الظاهرة الواقعة على الجوارح فطلبت الاستراحة إلى التظاهر بالخير وإظهار العمل والعلم فوجدت مخلصاً من مشقة المجاهدة إلى لذة القبول عند الخلق ونظرهم إليه بعين الوقار والتعظيم فسارعت إلى إظهار الطاعة وتوصلت إلى اطلاع الخلق ولم تقنع باطلاع الخالق وفرحت بحمد الناس ولم تقنع بحمد الله وحده وعلمت أنهم إذا عرفوا تركه الشهوات وتوقيه الشبهات وتحمله مشاق العبادات أطلقوا ألسنتهم بالمدح والثناء وبالغوا في التقريظ والإطراء ونظروا إليه بعين التوقير والاحترام وتبركوا بمشاهدته ولقائه ورغبوا في بركة دعائه وحرصوا على اتباع رأيه وفاتحوه بالخدمة والسلام وأكرموه في المحافل غاية الإكرام وسامحوه في البيع والمعاملات وقدموه في المجالس وآثروه بالمطاعم والملابس وتصاغروا له متواضعين وانقادوا له في أغراضه موقرين فأصابت النفس في ذلك لذة هي أعظم اللذات وشهوة هي أغلب الشهوات فاستحقرت فيه ترك المعاصي والهفوات واستلانت خشونة المواظبة على العبادات لإدراكها في الباطن لذة اللذات وشهوة الشهوات فهو يظن أن حياته بالله وبعبادته المرضية وإنما حياته بهذه الشهوة الخفية التي تعمى عن دركها العقول النافذة القوية ويرى أنه مخلص في طاعة الله ومجتنب لمحارم الله والنفس قد أبطنت هذه الشهوة تزييناً للعباد وتصنعاً للخلق وفرحاً بما نالت من المنزلة والوقار وأحبطت بذلك ثواب الطاعات وأجور الأعمال وقد أثبتت اسمه في جريدة المنافقين وهو يظن أنه عند الله من المقربين

Sesungguhnya hal ini diujikan kepada para ulama, ahli ibadah, dan orang-orang yang bersungguh-sungguh menempuh jalan akhirat. Sebab, betapapun mereka menundukkan nafsu mereka, memusuhinya, menyapihnya dari kelezatan syahwat, memeliharanya dari hal-hal syubhat, dan memaksanya melakukan berbagai bentuk ibadah, nafsu tersebut menjadi lemah untuk menginginkan maksiat-maksiat lahiriah yang dilakukan anggota badan. Maka nafsu pun mencari rehat dengan berpura-pura tampak baik, serta menampakkan amal dan ilmu. Ia menemukan jalan keluar dari kelelahan mujahadah menuju kelezatan penerimaan di mata makhluk dan pandangan mereka kepadanya dengan penuh penghormatan dan keagungan. Maka nafsu bersegera menampakkan ketaatan dan berusaha agar diketahui oleh makhluk, tidak merasa cukup dengan pengetahuan Sang Pencipta; ia bergembira dengan pujian manusia dan tidak merasa cukup dengan pujian Allah semata. Nafsu menyadari bahwa jika manusia mengetahui ia telah meninggalkan syahwat, menjaga diri dari syubhat, dan menanggung beratnya ibadah, mereka akan melepaskan lidah mereka dengan pujian dan sanjungan, berlebihan dalam menyanjung dan memuji, memandangnya dengan wibawa dan rasa hormat, mengambil keberkahan dari melihat dan menemuinya, mendambakan keberkahan doanya, antusias mengikuti pendapatnya, menyambutnya dengan khidmat dan salam, memuliakannya setinggi-tingginya di majelis-majelis, memudahkannya dalam jual beli dan muamalah, mendahulukannya di tempat-tempat pertemuan, mengutamakannya dalam hal makanan dan pakaian, serta merendahkan diri di hadapannya dengan tawaduk dan tunduk pada maksud-maksudnya dengan penuh penghormatan. Dengan demikian, nafsu memperoleh kelezatan yang merupakan kelezatan terbesar dan syahwat yang paling mendominasi. Maka nafsu pun menganggap remeh usaha meninggalkan maksiat dan kekhilafan, serta merasakan kelembutan di balik kekasaran ketekunan beribadah, karena batinnya telah meraih puncak kelezatan dan keutamaan syahwat. Maka ia mengira bahwa kekuatannya adalah bersama Allah dan ibadahnya yang diridhai, padahal kehidupannya sesungguhnya ditopang oleh syahwat tersembunyi ini yang tidak sanggup dijangkau oleh akal pikiran yang tajam dan kuat sekalipun. Ia mengira dirinya ikhlas dalam menaati Allah dan menjauhi keharaman-keharaman Allah, padahal nafsunya telah menyembunyikan syahwat ini demi mempercantik diri di hadapan para hamba, berhias untuk makhluk, dan bergembira atas kedudukan serta kewibawaan yang diperolehnya, sehingga menghapuskan pahala ketaatan dan ganjaran amal-amalnya; dan namanya telah dicatat dalam lembaran orang-orang munafik, sementara ia menduga bahwa di sisi Allah ia termasuk orang-orang yang didekatkan (al-muqarrabun).

وهذه مكيدة للنفس لا يسلم منها إلا الصديقون ومهواة لا يرقى منها إلا المقربون ولذلك قيل آخر ما يخرج من رؤوس الصديقين حب الرياسة

Ini adalah tipu daya nafsu yang tidak akan selamat darinya kecuali orang-orang yang sangat jujur imannya (ash-shiddiqun), dan jurang yang tidak akan bisa naik darinya kecuali orang-orang yang didekatkan (al-muqarrabun). Oleh karena itu dikatakan, "Hal terakhir yang keluar dari kepala orang-orang shiddiqin adalah cinta akan kepemimpinan (kedudukan)."

وإذا كان الرياء هو الداء الدفين الذي هو أعظم شبكة للشياطين وجب شرح القول في سببه وحقيقته ودرجاته وأقسامه وطرق معالجته والحذر منه ويتضح الغرض منه في ترتيب الكتاب على شطرين الشطر الأول في حب الجاه والشهرة وفيه بيان ذم الشهرة وبيان فضيلة الخمول وبيان ذم الجاه وبيان معنى الجاه وحقيقته وبيان السبب في كونه محبوباً أشد من حب المال وبيان أن الجاه كمال وهمي وليس بكمال حقيقي وبيان ما يحمد من حب الجاه وما يذم وبيان السبب في حب المدح والثناء وكراهية الذم

Apabila riya' merupakan penyakit yang terpendam dan merupakan jaring terbesar bagi setan-setan, maka wajiblah memaparkan penjelasan mengenai sebabnya, hakikatnya, tingkatan-tingkatannya, pembagiannya, metode pengobatannya, dan kewaspadaan terhadapnya. Maksud dari pembahasan ini diperjelas dalam penyusunan kitab yang terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama membahas tentang mencintai kedudukan (al-jah) dan kepopuleran (asy-syuhrah), yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang tercelanya kepopuleran, penjelasan keutamaan tidak dikenal (al-khumul), penjelasan tentang tercelanya kedudukan, penjelasan makna kedudukan dan hakikatnya, penjelasan sebab kedudukan itu lebih dicintai daripada harta, penjelasan bahwa kedudukan adalah kesempurnaan semu (kamal wahmi) dan bukan kesempurnaan sejati, penjelasan tentang apa yang dipuji dan dicela dari mencintai kedudukan, serta penjelasan sebab mencintai pujian dan sanjungan serta membenci celaan.

وبيان العلاج في حب الجاه وبيان علاج حب المدح وبيان علاج كراهة الذم وبيان اختلاف أحوال الناس في المدح والذم

Serta penjelasan obat bagi cinta kedudukan, penjelasan obat bagi cinta pujian, penjelasan obat bagi kebencian terhadap celaan, dan penjelasan perbedaan kondisi manusia dalam menyikapi pujian dan celaan.

فهي إثنا عشر فصلاً منها تنشأ معاني الرياء فلا بد من تقديمها والله الموفق للصواب بلطفه ومنه وكرمه

Semua itu terdiri dari dua belas pasal, yang darinya muncul makna-makna riya', maka perkara-perkara tersebut harus didahulukan. Dan Allah-lah yang memberi taufik kepada kebenaran dengan kelembutan-Nya, karunia-Nya, dan kemurahan-Nya.

بيان ذم الشهرة وانتشار الصيت

Penjelasan tentang Tercelanya Kepopuleran dan Tersebarnya Nama Baik (Kemasyhuran)

اعْلَمْ أَصْلَحَكَ اللَّهُ أَنَّ أَصْلَ الْجَاهِ هُوَ انْتِشَارُ الصِّيتِ وَالِاشْتِهَارِ وَهُوَ مَذْمُومٌ بَلِ الْمَحْمُودُ الخمول إلا من شهرة الله تعالى لِنَشْرِ دِينِهِ مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفِ طَلَبِ الشُّهْرَةِ منه

Ketahuilah—semoga Allah membaikkan dirimu—bahwa dasar dari kedudukan (al-jah) adalah tersebarnya nama baik dan kemasyhuran, dan hal itu adalah tercela. Sebaliknya, yang dipuji adalah sikap tidak menonjolkan diri (al-khumul), kecuali bagi orang yang dipopulerkan oleh Allah Ta'ala demi menyebarkan agama-Nya tanpa ada upaya memaksakan diri (takalluf) untuk mencari kepopuleran dari dirinya sendiri.

قال أنس ﵁ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حَسْبُ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يُشِيرَ النَّاسُ إِلَيْهِ بِالْأَصَابِعِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ إِلَّا مَنْ عصمه الله // حديث أنس حسب امرئ من الشر إلا من عصمه أَنْ يُشِيرَ النَّاسُ إِلَيْهِ بِالْأَصَابِعِ فِي دِينِهِ ودنياه أخرجه البيهقي في الشعب بسند ضعيف

Anas radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah seseorang dikatakan melakukan keburukan apabila orang-orang menunjuknya dengan jari-jari (menjadikannya pusat perhatian) dalam urusan agama maupun dunianya, kecuali orang yang dipelihara oleh Allah." // Hadits Anas: "Cukuplah seseorang dikatakan melakukan keburukan… kecuali orang yang dipelihara oleh Allah…" Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab dengan sanad yang lemah.

وقال جابر بن عبد الله قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بحسب المرء من الشر إلا من عصمه الله من السوء أَنْ يُشِيرَ النَّاسُ إِلَيْهِ

Jabir bin Abdillah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah seseorang dianggap melakukan keburukan—kecuali orang yang dipelihara oleh Allah dari keburukan—jika orang-orang menunjuk kepadanya…

بالأصابع في دينه ودنياه

…dengan jari-jemari (karena ketenarannya) dalam urusan agamanya maupun dunianya."

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم حديث رُبَّ أَشَعْثَ أَغْبَرَ ذِي طِمْرَيْنِ لَا يُؤْبَهُ له لو أقسم على الله لأبره منهم البراء بن مالك أخرجه مسلم من حديث أبي هريرة رب أشعث مدفوع بالأبواب لو أقسم على الله لأبره وللحاكم رب أشعث أغبر ذي طمرين تنبو عنه أعين الناس لو أقسم على الله لأبره وقال صحيح الإسناد ولأبي نعيم في الحلية من حديث أنس ضعيف رب ذِي طِمْرَيْنِ لَا يُؤْبَهُ لَهُ لَوْ أَقْسَمَ على الله لأبره منهم البراء بن مالك وهو عند الحاكم نحوه بهذه الزيادة وقال صحيح الإسناد قلت بل ضعيفه

"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian, melainkan melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian." Hadis: "Berapa banyak orang yang berambut kusut, berdebu, dan berpakaian dua helai kain lusuh yang tidak dipedulikan orang, tetapi sekiranya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya; di antara mereka adalah Al-Bara' bin Malik." Diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Abu Hurairah: "Berapa banyak orang berambut kusut yang ditolak di pintu-pintu, sekiranya ia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah mengabulkannya." Dan diriwayatkan oleh Al-Hakim: "Berapa banyak orang berambut kusut, berdebu, dan berpakaian dua helai kain lusuh yang pandangan mata manusia enggan melihatnya, sekiranya ia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah mengabulkannya," dan beliau (Al-Hakim) berkata: Sanadnya shahih. Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah dari hadis Anas dengan sanad dha'if: "Berapa banyak orang berpakaian dua helai kain lusuh yang tidak dipedulikan orang, sekiranya ia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah mengabulkannya, di antaranya Al-Bara' bin Malik." Hadis ini juga ada di sisi Al-Hakim yang serupa dengan tambahan ini dan beliau berkata sanadnya shahih, namun aku katakan: Bahkan itu dha'if.

منهم البراء بن مالك وقال ابن مسعود قال النبي ﷺ رب ذِي طِمْرَيْنِ لَا يُؤْبَهُ لَهُ لَوْ أَقْسَمَ على الله لأبره لو قال اللهم إني أسألك الجنة لأعطاه الجنة ولم يعطه من الدنيا شيئا // حديث ابن مسعود رب ذِي طِمْرَيْنِ لَا يُؤْبَهُ لَهُ لَوْ أَقْسَمَ على الله لأبره لو قال اللهم إني أسألك الجنة لأعطاء الجنة ولم يعطه من الدنيا شيئا أخرجه ابن أبي الدنيا ومن طريقه أبو منصور الديلمي في مسند الفردوس بسند ضعيف

Di antara mereka adalah Al-Bara' bin Malik. Dan Ibnu Mas'ud berkata, Nabi ﷺ bersabda: "Berapa banyak orang berpakaian dua helai kain lusuh yang tidak dipedulikan orang, sekiranya ia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah mengabulkannya; jika ia berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga, niscaya Allah memberinya surga, dan tidak memberinya sesuatu pun dari keindahan dunia." // Hadis Ibnu Mas'ud: "Berapa banyak orang berpakaian dua helai kain lusuh…" diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dan melalui jalurnya oleh Abu Manshur Ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus dengan sanad yang dha'if.

وقال ﷺ ﴿إلا﴾

Dan Nabi ﷺ bersabda: "Maukah…

أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُسْتَضْعَفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ وَأَهْلُ النَّارِ كل متكبر مستكبر جواظ حديث إن من أمتي من لو أتى أحدكم فسأله ديناراً لم يعطه إياه الحديث أخرجه الطبراني في الأوسط من حديث ثوبان بإسناد صحيح دون قوله ولو سأله الدنيا لم يعطه إياها وما منعها إياه إلا لهوانها عليه

…aku tunjukkan kepada kalian tentang penghuni surga? Yaitu setiap orang yang lemah dan dianggap lemah, yang sekiranya bersumpah atas nama Allah niscaya Allah mengabulkannya. Dan penghuni neraka adalah setiap orang yang sombong, keras, lagi kasar." Hadis: "Sesungguhnya di antara umatku ada orang yang apabila mendatangi salah seorang dari kalian lalu meminta satu dinar, niscaya ia tidak memberinya…" Al-Hadis. Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Awsath dari hadis Tsauban dengan sanad yang shahih tanpa kalimat: "dan sekiranya ia meminta dunia kepadanya niscaya ia tidak memberinya, dan tidaklah Allah menghalanginya dari dunia melainkan karena kehinaannya di sisi-Nya."

وروى أن عمر ﵁ دخل المسجد فرأى معاذ بن جبل يبكي عند قبر رسول الله ﷺ فقال ما يبكيك فقال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول إن اليسير من الرياء وإن الله يحب الأتقياء الأخفياء الذين إن غابوا لم يفتقدوا وإن حضروا لم يعرفوا قلوبهم مصابيح الهدى ينجون من كل غبراء مظلمة حديث أبي أمامة إن أغبط أوليائي عندي مؤمن خفيف الخاذ الحديث أخرجه الترمذي وابن ماجه بإسنادين ضعيفين

Diriwayatkan bahwa Umar ﵁ masuk ke masjid lalu melihat Mu'adz bin Jabal sedang menangis di samping makam Rasulullah ﷺ. Beliau bertanya: "Apa yang membuatmu menangis?" Mu'adz menjawab: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya riya' yang sedikit sekalipun adalah syirik, dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwakal, tersembunyi, lagi tidak terkenal, yang apabila mereka tidak ada mereka tidak dicari, dan apabila mereka hadir mereka tidak dikenal. Hati mereka adalah pelita-pelita petunjuk, mereka selamat dari setiap kegelapan yang penuh fitnah." Hadis Abu Umamah: "Sesungguhnya wali-Ku yang paling aku cemburui keadaannya di sisi-Ku adalah seorang mukmin yang ringan beban hidupnya…" Al-Hadis. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan dua sanad yang dha'if.

وقال عبد الله بن عمر رضي الله تعالى عنهما

Dan Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma berkata:

أحب عباد الله إلى الله الغرباء قيل ومن الغرباء قال الفارون بدينهم يجتمعون يوم القيامة إلى المسيح ﵇

"Hamba-hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah orang-orang yang asing (al-ghuraba')." Ditanyakan: "Siapakah orang-orang yang asing itu?" Beliau menjawab: "Orang-orang yang lari menyelamatkan agama mereka, yang kelak dikumpulkan pada hari kiamat bersama Nabi Isa Al-Masih ﵇."

وقال الفضيل بن عياض بلغني إن الله تعالى يقول في بعض ما يمن به على عبده ألم أنعم عليك ألم أسترك ألم أخمل ذكرك وكان الخليل بن أحمد يقول اللهم اجعلني عندك من أرفع خلقك واجعلني عند نفسي من أوضع خلقك واجعلني عند الناس من أوسط خلقك

Fudhayl bin 'Iyadh berkata: "Telah sampai kepadaku bahwa Allah Ta'ala berfirman dalam sebagian nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada hamba-Nya: 'Bukankah Aku telah memberi nikmat kepadamu? Bukankah Aku telah menutupi aibmu? Bukankah Aku telah menyembunyikan (tidak mempopulerkan) sebutan namamu?'" Dan Al-Khalil bin Ahmad pernah berdoa: "Ya Allah, jadikanlah aku di sisi-Mu termasuk makhluk-Mu yang paling tinggi derajatnya, jadikanlah aku dalam pandangan diriku sendiri termasuk makhluk-Mu yang paling rendah, dan jadikanlah aku di mata manusia sebagai bagian dari rakyat biasa (makhluk-Mu yang pertengahan)."

وقال الثوري وجدت قلبي يصلح بمكة والمدينة مع قوم غرباء أصحاب قوت وعناء

Sufyan At-Tsauri berkata: "Aku mendapati hatiku menjadi baik di Makkah dan Madinah bersama kaum yang asing, yaitu orang-orang yang hidup pas-pasan dan penuh keprihatinan."

وقال إبراهيم بن أدهم ما قرت عيني يوماً في الدنيا قط إلا مرة بت ليلة في بعض مساجد قرى الشام وكان بي البطن فجرني المؤذن برجلي ﷺ حتى أخرجني من المسجد

Ibrahim bin Adham berkata: "Pandangan mataku belum pernah merasa sejuk (sangat bahagia) satu hari pun di dunia melainkan sekali: yaitu pada suatu malam ketika aku menginap di salah satu masjid di desa-desa daerah Syam saat aku menderita sakit perut, lalu muazin menyeret kakiku hingga mengeluarkan aku dari masjid."

وقال الفضيل إن قدرت على أن لا تعرف فافعل

Fudhayl berkata: "Jika engkau sanggup untuk tidak dikenal oleh manusia, maka lakukanlah."

وما عليك أن لا تعرف وما عليك أن لا يثنى عليك وما عليك أن تكون مذموماً عند الناس إذا كنت محموداً عند الله تعالى فهذه الآثار والأخبار تعرفك مذمة الشهرة وفضيلة الخمول

"Tidak ada rugi bagimu jika engkau tidak dikenal, tidak ada rugi bagimu jika engkau tidak dipuji, dan tidak ada rugi bagimu jika engkau dicela di mata manusia apabila engkau terpuji di sisi Allah Ta'ala." Maka riwayat-riwayat dan berita-berita ini memberi pemahaman kepadamu mengenai celaan terhadap ketenaran (as-syuhrah) dan keutamaan tersembunyi/tidak populer (al-khumul).

وإنما الْمَطْلُوبَ بِالشُّهْرَةِ وَانْتِشَارِ الصِّيتِ هُوَ الْجَاهُ وَالْمَنْزِلَةُ في القلوب وحب الجاه هو منشأ كل فساد

Sesungguhnya yang dicari melalui ketenaran dan mahsyurnya nama adalah kedudukan (al-jah) serta tempat di dalam hati manusia, sedangkan mencintai kedudukan (hubbul jah) adalah muara dari segala kerusakan.

فإن قلت فأي شهوة تزيد على شهرة الأنبياء والخلفاء الراشدين وأئمة العلماء فكيف فاتهم فضيلة الخمول فاعلم أن المذموم طلب الشهرة فأما وجودها من جهة الله سبحانه مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ مِنَ الْعَبْدِ فَلَيْسَ بِمَذْمُومٍ

Jika engkau bertanya: "Lantas keinginan apa yang melebihi ketenaran para nabi, Khulafaur Rasyidin, dan para imam ulama? Mengapa mereka melepaskan keutamaan hidup tersembunyi (al-khumul)?" Maka ketahuilah bahwa yang dicela adalah menuntut ketenaran. Adapun hadirnya ketenaran itu dari sisi Allah Subhanahu tanpa adanya ketakallufan (rekayasa/usaha sengaja) dari seorang hamba, maka hal itu bukanlah sesuatu yang dicela.

نعم فيه فتنة على الضعفاء دون الأقوياء وهم كالغريق الضعيف إذا كان معه جماعة من الغرقى فالأولى به أن لا يعرفه أحد منهم فإنهم يتعلقون به فيضعف عنهم فيهلك معهم وأما القوي فالأولى أن يعرفه الغرقى ليتعلقوا به فينجيهم ويثاب على ذلك

Benar, di dalamnya terdapat fitnah bagi orang-orang yang lemah (spiritualnya), bukan bagi orang-orang yang kuat. Mereka bagaikan orang tenggelam yang lemah; jika bersamanya ada sekumpulan orang tenggelam lainnya, maka yang paling utama baginya adalah tidak ada seorang pun dari mereka yang mengenalnya, karena mereka akan berpegangan padanya sehingga ia menjadi tidak berdaya dan binasa bersama mereka. Adapun orang yang kuat, maka yang lebih utama adalah orang-orang yang tenggelam mengenalnya agar mereka berpegangan padanya sehingga ia dapat menyelamatkan mereka dan ia mendapat pahala atas hal itu.

بيان ذم الجاه ومعناه

Penjelasan tentang Celaan Kedudukan (Al-Jah) dan Hakikat Maknanya

وقال اللَّهُ تَعَالَى ﴿تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا﴾ جمع بين إرادة الفساد والعلو وَبَيْنَ أَنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لِلْخَالِي عَنِ الْإِرَادَتَيْنِ جميعا

Allah Ta'ala berfirman: "Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri (menginginkan keunggulan) di bumi dan tidak berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash: 83). Allah menggabungkan antara keinginan berbuat kerusakan dan keinginan untuk unggul/tinggi, serta menjelaskan bahwa negeri akhirat itu khusus diperuntukkan bagi orang yang bersih dari kedua keinginan tersebut sekaligus.

فقال ﷿ ومن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يعملون وَهَذَا أَيْضًا مُتَنَاوِلٌ بِعُمُومِهِ لِحُبِّ الْجَاهِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لَذَّةً مِنْ لَذَّاتِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَأَكْثَرُ زينة من زينتها

Lalu Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan gugurlah apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Hud: 15-16). Ayat ini secara umum juga mencakup kecintaan terhadap kedudukan (hubbul jah), sebab cinta kedudukan merupakan kenikmatan yang lebih besar daripada kelezatan duniawi lainnya dan perhiasan yang paling utama dari perhiasannya.

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حب المال والجاه ينبتان النفاق في القلب كما ينبت الماء البقل حديث ما ذئبان ضاريان أرسلا في زريبة غنم الحديث تقدم أيضا هناك

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Cinta harta dan kedudukan (jah) menumbuhkan kemunafikan di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayur-mayur." Hadis: "Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah kawanan domba…" hadis ini juga telah dijelaskan sebelumnya di sana.

وقال ﷺ لعلي كرم الله وجهه إنما هلاك الناس باتباع الهوى وحب الثناء // حديث إنما هلاك الناس باتباع الهوى وحب الثناء لم أره بهذا اللفظ وقد تقدم في العلم من حديث أنس ثلاث مهلكات شح مطاع وهوى متبع الحديث ولأبي منصور الديلمي في مسند الفردوس من حديث ابن عباس بسند ضعيف حب الثناء من الناس يعمي ويصم

Dan Beliau ﷺ bersabda kepada Ali karramallahu wajhah: "Sesungguhnya kebinasaan manusia itu hanyalah karena menuruti hawa nafsu dan mencintai pujian." // Hadis "Sesungguhnya kebinasaan manusia itu hanyalah karena menuruti hawa nafsu dan mencintai pujian" belum aku temukan dengan lafal ini, dan telah disebutkan sebelumnya dalam Kitab Ilmu dari hadis Anas: "Tiga hal yang membinasakan: kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti…" al-hadis. Dan diriwayatkan oleh Abu Mansur Ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus dari hadis Ibn Abbas dengan sanad yang lemah: "Cinta pujian dari manusia itu membutakan dan menulikan."

نسأل الله العفو والعافية بمنه وكرمه

Kami memohon kepada Allah keampunan dan keselamatan (afiat) dengan karunia dan kemurahan-Nya.

بيان معنى الجاه وحقيقته

Penjelasan Makna Kedudukan (Al-Jah) dan Hakikatnya

اعْلَمْ أَنَّ الْجَاهَ وَالْمَالَ هُمَا رُكْنَا الدُّنْيَا

Ketahuilah bahwa kedudukan (al-jah) dan harta (al-mal) adalah dua pilar kehidupan dunia.

وَمَعْنَى الْمَالِ مِلْكُ الْأَعْيَانِ الْمُنْتَفَعِ بِهَا وَمَعْنَى الجاه ملك القلوب المطلوب تعظيمها وطاعتها

Makna harta adalah kepemilikan atas benda-benda konkret yang dapat diambil manfaatnya, sedangkan makna kedudukan adalah kepemilikan atas hati manusia yang diharapkan penghormatan dan ketaatannya.

وكما أن الغني هو الذي يملك الدراهم والدنانير أي يقدر عليهما ليتوصل بهما إلى الأغراض والمقاصد وقضاء الشهوات وسائر حظوظ النفس فكذلك ذو الجاه هو الذي يملك قلوب الناس أي يقدر على أن يتصرف فيها ليستعمل بواسطتها أربابها في أغراضه ومآربه

Sebagaimana orang kaya adalah orang yang memiliki dirham dan dinar—yakni mampu menguasai keduanya untuk mencapai berbagai tujuan, maksud, pemenuhan kehendak nafsu, serta seluruh bagian kelezatan diri—maka demikian pula pemilik kedudukan adalah orang yang memiliki hati manusia; yakni mampu mengendalikannya agar ia dapat memperalat para pemilik hati tersebut demi mencapai tujuan dan hajatnya.

وكما أنه يكتسب الأموال بأنواع من الحرف والصناعات فكذلك يكتسب قلوب الخلق بأنواع من المعاملات ولا تصير القلوب مسخرة إلا بالمعارف والاعتقادات فكل من اعتقد القلب فيه وصفاً من أوصاف الكمال انقاد له وتسخر له بحسب قوة اعتقاد القلب وبحسب درجة ذلك الكمال عنده وليس يشترط أن يكون الوصف كمالاً في نفسه بل يكفي أن يكون كمالاً عنده وفي اعتقاده وقد يعتقد ما ليس كمالاً كمالاً ويذعن قلبه للموصوف به انقياداً ضرورياً بحسب اعتقاده فإن انقياد القلب حال للقلب

Sebagaimana harta diperoleh melalui berbagai jenis mata pencaharian dan kerajinan, begitu pula hati para makhluk diperoleh melalui berbagai bentuk interaksi. Hati tidak akan tunduk melainkan melalui pengetahuan dan keyakinan. Setiap kali sebuah hati meyakini pada diri seseorang adanya suatu sifat dari sifat-sifat kesempurnaan, maka hati itu akan patuh dan tunduk kepadanya sesuai dengan kekuatan keyakinan hati tersebut serta tingkatan kesempurnaan dalam pandangannya. Dan tidak disyaratkan bahwa sifat itu merupakan kesempurnaan sejati pada dirinya sendiri, melainkan cukuplah jika hal itu dianggap sebagai kesempurnaan menurut pemikiran dan keyakinannya. Terkadang seseorang meyakini sesuatu yang bukan kesempurnaan sebagai sebuah kesempurnaan, sehingga hatinya tunduk kepada pemilik sifat itu dengan ketundukan yang pasti sesuai keyakinannya, karena ketundukan hati merupakan suatu keadaan (hal) bagi hati.

وأحوال القلوب تابعة لاعتقادات القلوب وعلومها وتخيلاتها وكما أن محب المال يطلب ملك الأرقاء والعبيد

Dan keadaan-keadaan hati itu mengikuti keyakinan, pengetahuan, serta persangkaan hati tersebut. Sebagaimana pencinta harta menuntut kepemilikan atas hamba sahaya dan budak,

فطالب الجاه يطلب أن يسترق الأحرار ويستعبدهم ويملك رقابهم بملك قلوبهم بل الرق الذي يطلبه صاحب الجاه أعظم لأن المالك يملك العبد قهراً والعبد متأب بطبعه ولو خلى ورأيه انسل عن الطاعة وصاحب الجاه يطلب الطاعة طوعا ويبغي أن تكون له الأحرار عبيداً بالطبع والطوع مع الفرح بالعبودية والطاعة له فما يطلبه فوق ما يطلبه مالك الرق بكثير

maka pencari kedudukan menuntut untuk memperbudak orang-orang merdeka, menjadikannya hamba, dan menguasai leher-leher mereka dengan cara menguasai hati mereka. Bahkan, perbudakan yang dicari oleh pemilik kedudukan itu lebih dahsyat, sebab seorang tuan menguasai budaknya secara paksa, sementara budak itu secara tabiatnya enggan, dan jika dibiarkan bersama pilihannya niscaya ia akan lepas dari ketaatan. Sedangkan pemilik kedudukan menuntut ketaatan secara sukarela dan menginginkan agar orang-orang merdeka menjadi budak baginya secara watak dan sukarela disertai rasa gembira atas perbudakan dan ketaatan kepadanya. Maka apa yang dicarinya jauh melampaui apa yang dicari oleh pemilik budak biasa.

فإذاً معنى الجاه قيام المنزلة في قلوب الناس أي اعتقاد القلوب لنعت من نعوت الكمال فيه فيقدر ما يعتقدون من كماله تذعن له قلوبهم وبقدر إذعان القلوب تكون قدرته على القلوب وبقدر قدرته على القلوب يكون فرحه وحبه للجاه

Dengan demikian, makna kedudukan (al-jah) adalah berdirinya suatu posisi di dalam hati manusia, yaitu tertanamnya keyakinan di dalam hati mereka akan adanya suatu sifat kesempurnaan pada diri orang tersebut. Seberapa besar kesempurnaan yang mereka yakini darinya, sebesar itu pulalah hati mereka tunduk kepadanya; dan seberapa besar ketundukan hati tersebut, sebesar itu pulalah kemampuannya untuk menguasai hati; serta seberapa besar kemampuannya menguasai hati, sebesar itu pulalah kegembiraannya dan kecintaannya terhadap kedudukan.

فهذا هو معنى الجاه وحقيقته وله ثمرات كالمدح والإطراء فإن المعتقد للكمال لا يسكت عن ذكر ما يعتقده فيثني عليه وكالخدمة والإعانة فإنه لا يبخل ببذل نفسه في طاعته بقدر اعتقاده فيكون سخرة له مثل العبد في أغراضه وكالإيثار وترك المنازعة والتعظيم والتوقير بالمفاتحة بالسلام وتسليم الصدر في المحافل والتقديم في جميع المقاصد فهذه آثار تصدر عن قيام الجاه في القلب ومعنى قيام الجاه في القلب اشتمال القلوب على اعتقاد صفات الكمال في الشخص إما بعلم أو عبادة أو حسن خلق أو نسب أو ولاية أو جمال في صورة أو قوة في بدن أو شيء مما يعتقده الناس كمالاً فإن هذه الأوصاف كلها تعظم محله في القلوب فتكون سبباً لقيام الجاه والله تعالى أعلم

Inilah makna kedudukan (al-jah) dan hakikatnya. Kedudukan memiliki buah (dampak), seperti pujian dan sanjungan—sebab orang yang meyakini adanya kesempurnaan tidak akan berdiam diri dari menyebutkan apa yang diyakininya sehingga ia memujinya—juga seperti pelayanan dan bantuan, sebab ia tidak akan bakhil untuk mengorbankan dirinya dalam menaatinya sesuai kadar keyakinannya, sehingga ia terperalat baginya seperti seorang budak demi tujuan-tujuannya; serta seperti pengutamaan (itsaar), tidak memusuhi, penghormatan, pengagungan dengan mengawali salam, memberikan tempat utama dalam majelis, dan mendahulukannya dalam segala urusan. Ini semua adalah dampak yang timbul dari tancapnya kedudukan di dalam hati. Dan arti dari tancapnya kedudukan di dalam hati adalah terliputinya hati oleh keyakinan akan sifat-sifat kesempurnaan pada diri seseorang, baik karena ilmu, ibadah, akhlak yang baik, nasab, kekuasaan, ketampanan rupa, kekuatan tubuh, atau sesuatu dari hal-hal yang diyakini manusia sebagai kesempurnaan. Sesungguhnya sifat-sifat ini semuanya mengagungkan kedudukannya di dalam hati sehingga menjadi sebab berdirinya kedudukan (jah). Wallahu ta'ala a'lam.

بيان سبب كون الجاه محبوباً بالطبع حتى لا يخلو عنه قلب إلا بشديد

Penjelasan Sebab Mengapa Kedudukan Disukai secara Watak Alami (Tabi'at), Sehingga Tidak Ada Hati yang Terbebas Darinya Melainkan dengan…

المجاهدة

…Perjuangan Jiwa (Mujahadah) yang Keras

اعلم أن السبب الذي يقتضي كون الذهب والفضة وسائر أنواع الأموال محبوباً هو بعينه يقتضي كون الجاه محبوباً بل يقتضي أن يكون أحب من المال كما يقتضي أن يكون يكون الذهب أحب من الفضة مهما تساويا في المقدار وهو أنك تعلم أن الدراهم والدنانير لا غرض في أعيانهما إذ لا تصلح لمطعم ولا مشرب ولا منكح ولا ملبس وإنما هي والحصباء بمثابة واحدة ولكنهما محبوبان لأنهما وسيلة إلى جميع المحاب وذريعة إلى قضاء الشهوات فكذلك الجاه لأن معنى الجاه ملك القلوب وكما أن ملك الذهب والفضة يفيد قدرة يتوصل الإنسان بها إلى سائر أغراضه فكذلك ملك القلوب من الأحرار والقدرة على استسخارها يفيد قدرة على التوصل إلى جميع الأغراض فالاشتراك في السبب اقتضى الاشتراك في المحبة وترجيح الجاه على المال اقتضى أن يكون الجاه أحب من المال ولملك الجاه ترجيح على ملك المال من ثلاثة أوجه

Ketahuilah bahwa sebab yang menjadikan emas, perak, dan seluruh jenis harta dicintai adalah sebab yang sama yang menjadikan kedudukan dicintai; bahkan menuntut kedudukan menjadi lebih dicintai daripada harta, sebagaimana halnya emas lebih dicintai daripada perak manakala keduanya setara dalam jumlah. Hal itu adalah karena engkau mengetahui bahwa dirham dan dinar tidak memiliki tujuan pada wujud fisiknya sendiri, sebab keduanya tidak dapat dimakan, diminum, dinikahi, atau dipakai sebagai pakaian, melainkan keduanya sama saja seperti batu kerikil. Namun, keduanya dicintai karena merupakan sarana menuju segala hal yang disukai dan perantara untuk memenuhi berbagai kehendak nafsu. Demikian pula halnya dengan kedudukan, sebab makna kedudukan adalah penguasaan atas hati. Sebagaimana kepemilikan atas emas dan perak memberikan kemampuan yang dengannya manusia dapat mencapai seluruh tujuannya, demikian pula penguasaan atas hati orang-orang merdeka serta kemampuan untuk memperalatnya memberikan kemampuan untuk mencapai seluruh tujuan. Maka, kebersamaan dalam sebab menuntut kebersamaan dalam rasa cinta, dan keunggulan kedudukan atas harta menuntut kedudukan itu lebih dicintai daripada harta. Kepemilikan atas kedudukan memiliki keunggulan atas kepemilikan harta dari tiga segi:

الأول أن التوصل بالجاه إلى المال أيسر من التوصيل بالمال إلى الجاه فالعالم أو الزاهد الذي تقرر له جاه في القلوب لو قصد اكتساب المال تيسر له فإن أموال أرباب القلوب مسخرة للقلوب ومبذولة لمن اعتقد فيه الكمال وأما الرجل الخسيس الذي لا يتصف بصفة كمال إذا وجد كنزاً ولم يكن له جاه يحفظ ماله وأراد أن يتوصل بالمال إلى الجاه لم يتيسر له فإذاً الجاه آلة ووسيلة إلى المال فمن ملك الجاه فقد ملك المال ومن ملك المال لم يملك الجاه بكل حال فلذلك صار الجاه أحب

Pertama: Bahwa mencapai harta melalui kedudukan itu lebih mudah daripada mencapai kedudukan melalui harta. Maka seorang ulama atau ahli zuhud yang telah tertanam kedudukannya di dalam hati manusia, jika ia bermaksud memperoleh harta, niscaya hal itu mudah baginya, karena harta para pemilik hati itu tunduk kepada hati dan dicurahkan bagi orang yang diyakini memiliki kesempurnaan. Adapun orang yang hina dan tidak memiliki sifat kesempurnaan, jika ia menemukan harta karun sementara ia tidak memiliki kedudukan untuk melindungi hartanya, lalu ia ingin mencapai kedudukan melalui harta tersebut, niscaya hal itu tidak mudah baginya. Maka kedudukan adalah alat dan sarana menuju harta; barang siapa memiliki kedudukan maka ia telah memiliki harta, sedangkan barang siapa memiliki harta tidak serta-merta memiliki kedudukan dalam segala keadaan. Oleh karena itulah kedudukan menjadi lebih dicintai.

الثاني هو أن المال معرض للبلوى والتلف بأن يسرق ويغصب ويطمع فيه الملوك والظلمة ويحتاج فيه إلى الحفظة والحراس والخزائن ويتطرق إليه أخطار كثيرة وأما القلوب إذا ملكت فلا تتعرض لهذه الآفات فهي على التحقيق خزائن عتيدة لا يقدر عليها السراق ولا تتناولها أيدي النهاب والغصاب وأثبت الأموال العقار ولا يؤمن فيه الغصب والظلم ولا يستغني عن المراقبة والحفظ وأما خزائن القلوب فهي محفوظة محروسة بأنفسها والجاه في أمن وأمان من الغصب والسرقة فيها

Kedua: Bahwa harta itu rentan terhadap bencana dan kerusakan, seperti dicuri, dirampas, dirakusi oleh para raja dan orang-orang zalim, serta membutuhkan penjaga, pengawal, dan tempat penyimpanan, serta diintai banyak bahaya. Sedangkan hati, apabila telah dikuasai, tidak terpapar oleh bahaya-bahaya ini; pada hakikatnya hati adalah tempat penyimpanan yang kokoh yang tidak mampu ditembus oleh para pencuri dan tidak dapat dijangkau oleh tangan para perampas serta pengambil paksa. Harta yang paling kokoh adalah tanah atau bangunan ('aqar), namun ia pun tidak aman dari perampasan dan kezaliman serta tidak lepas dari pengawasan dan penjagaan. Adapun perbendaharaan hati, ia terjaga dan terpelihara dengan sendirinya, dan kedudukan berada dalam keamanan dan ketenteraman dari perampasan serta pencurian di dalamnya.

نعم إنما تغضب القلوب بالتصريف وتقبيح الحال وتغيير الاعتقاد فيما صدق به من أوصاف الكمال وذلك مما يهون دفعه ولا يتيسر على محاولة فعله

Benar, hati itu hanyalah dapat direbut atau diubah dengan pemalingan, pemburukan keadaan, serta pengubahan keyakinan terhadap sifat-sifat kesempurnaan yang tadinya dipercayai, dan hal tersebut termasuk sesuatu yang relatif mudah ditolak dan tidak gampang dilakukan oleh orang yang mencoba melakukannya.

الثالث أن ملك القلوب يسرى وينمى ويتزايد من غير حاجة إلى تعب ومقاساة فإن القلوب إذا أذعنت لشخص واعتقدت كماله بعلم أو عمل أو غيره أفصحت الألسنة لا محالة بما فيها فيصف ما يعتقده لغيره ويقتنص ذلك القلب أيضاً له ولهذا المعنى يحب الطبع الصيت وانتشار الذكر

Ketiga: Bahwa kepemilikan atas hati itu menjalar, berkembang, dan terus bertambah tanpa perlu kelelahan dan kesulitan. Sebab apabila hati telah tunduk kepada seseorang dan meyakini kesempurnaannya—baik karena ilmu, amal, maupun selainnya—niscaya lidah-lidah secara pasti akan mengungkapkan apa yang ada di dalam hati itu, sehingga seseorang menggambarkan apa yang diyakininya kepada orang lain dan turut memikat hati orang lain tersebut baginya. Karena makna inilah, watak dasar manusia menyukai kemasyhuran (shit) dan tersebarnya sebutan nama baik.

لأن ذلك إذا استطار في الأقطار اقتنص القلوب ودعاها إلى الإذعان والتعظيم فلا يزال يسري من واحد إلى واحد ويتزايد وليس له مرد معين وأما المال فمن ملك منه شيئاً فهو مالكه ولا يقدر على استنمائه إلا بتعب ومقاساة والجاه أبداً في النماء بنفسه ولا مرد لموقعه والمال واقف ولهذا إذا عظم الجاه وانتشر الصيت وانطلقت الألسنة بالثناء استحقرت الأموال في مقابلته فهذه مجامع ترجيحات الجاه على المال

Sebab hal itu apabila telah tersebar luas ke berbagai penjuru, ia akan memikat hati dan mengajaknya kepada ketundukan serta pengagungan, sehingga terus menjalar dari satu orang ke orang lain dan makin bertambah tanpa ada batas penahan tertentu. Adapun harta, barang siapa memiliki sebagian darinya, dialah pemiliknya dan ia tidak mampu mengembangkannya melainkan dengan kelelahan dan kesukaran. Sementara kedudukan senantiasa berkembang dengan sendirinya tanpa ada bendungan bagi pengaruhnya, sedangkan harta bersifat stagnan. Oleh karena itu, apabila kedudukan telah membesar, kemasyhuran tersebar luas, dan lidah-lidah tergerak memuji, maka harta menjadi tampak kerdil jika dibandingkan dengannya. Inilah himpunan alasan keunggulan kedudukan atas harta.

وإذا فصلت كثرت وجوه الترجيح

Dan apabila dirincikan, niscaya menjadi banyaklah sisi-sisi keunggulannya (tarjih).

فإن قلت فالإشكال قائم في المال والجاه جميعاً فلا ينبغي أن يحب الإنسان المال والجاه

Jika engkau bertanya: 'Maka kekhilafan (kemusykilan) ini tetap berlaku pada harta dan kedudukan sekaligus, sehingga tidak sepatutnya manusia mencintai harta dan kedudukan?'

نعم القدر الذي يتوصل به إلى جلب الملاذ ودفع المضار معلوم كالمحتاج إلى الملبس والمسكن والمطعم أو كالمبتلي بمرض أو بعقوبة إذا كان لا يتوصل إلى دفع العقوبة عن نفسه إلا بمال أو جاه فحبه للمال والجاه معلوم إذ كل ما لا يتوصل إلى المحبوب إلا به فهو محبوب وفي الطباع أمر عجيب وراء هذا وهو حب جمع الأموال وكنز الكنوز وادخار الذخائر واستكثار الخزائن وراء جميع الحاجات حتى لو كان للعبد واديان من ذهب لابتغى لهما ثالثاً وكذلك يحب الإنسان اتساع الجاه وانتشار الصيت إلى أقاصي البلاد التي يعلم قطعاً أنه لا يطؤها ولا يشاهد أصحابها ليعظموه أو ليبروه بمال أو ليعينوه على غرض من أغراضه ومع اليأس من ذلك فإنه يلتذ به غاية الالتذاذ وحب ذلك ثابت في الطبع ويكاد يظن أن ذلك جهل فإنه حب لما لا فائدة فيه لا في الدنيا ولا في الآخرة فنقول نعم هذا الحب لا تنفك عنه القلوب

Benar. Kadar (harta dan kedudukan) yang dijadikan sarana untuk meraih kelezatan dan menolak kemudaratan adalah hal yang dapat dimaklumi, seperti orang yang membutuhkan pakaian, tempat tinggal, dan makanan, atau seperti orang yang diuji dengan penyakit atau hukuman, yang bila ia tidak dapat menolak hukuman itu dari dirinya melainkan dengan harta atau kedudukan, maka kecintaannya terhadap harta dan kedudukan itu dapat dimaklumi. Sebab, segala sesuatu yang tidak bisa mengantarkan kepada yang dicintai melainkan dengannya, maka ia pun ikut dicintai. Namun, dalam watak manusia ada perkara yang menakjubkan di luar hal ini, yaitu gemar mengumpulkan harta, menimbun kekayaan, menyimpan simpanan, dan memperbanyak perbendaharaan melebihi seluruh kebutuhannya. Hingga seandainya hamba itu memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Demikian pula manusia mencintai luasnya kedudukan dan tersebarnya ketenaran hingga ke pelosok negeri yang ia yakini secara pasti tidak akan pernah diinjaknya dan tidak akan pernah ia temui penghuninya, hanya agar mereka mengagungkannya, berbuat baik kepadanya dengan harta, atau membantunya mencapai salah satu tujuannya. Padahal, meskipun ia putus asa untuk mendapatkan hal itu, ia tetap merasakan kelezatan yang sangat dengannya. Kecintaan terhadap hal demikian telah tertanam kokoh dalam watak manusia, sampai-sampai hampir disangka bahwa itu adalah suatu kebodohan, karena ia merupakan kecintaan terhadap hal yang tidak ada manfaatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Maka kami katakan: Benar, kecintaan semacam ini tidak pernah terlepas dari hati manusia.

وله سببان

Dan hal ini memiliki dua sebab:

أحدهما جلي تدركه الكافة

Salah satunya bersifat nyata (jelas) yang dapat dipahami oleh segenap awam.

والآخر خفي وهو أعظم السببين ولكنه أدقهما وأخفاهما وأبعدهما عن أفهام الأذكياء فضلا عن الأغنياء وذلك لاستمداده من عرق خفي في النفس وطبيعة مستكنة في الطبع لا يكاد يقف عليها إلا الغواصون

Dan yang lainnya bersifat tersembunyi (samar), dan inilah sebab yang paling besar, namun sekaligus paling pelik, paling tersembunyi, dan paling jauh dari pemahaman orang-orang cerdas, apalagi orang-orang kaya. Hal itu karena sebab tersebut berakar dari urat yang tersembunyi di dalam jiwa dan tabiat yang tersimpan dalam watak, yang hampir tidak ada yang sanggup mengetahuinya melainkan para penyelam kedalaman jiwa (ahli hakikat).

فأما السبب الأول فهو دفع ألم الخوف لأن الشفيق بسوء الظن مولع والإنسان وإن كان مكفياً في الحال فإنه طويل الأمل ويخطر بباله أن المال الذي فيه كفايته ربما يتلف فيحتاج إلى غيره فإذا خطر ذلك بباله هاج الخوف من قلبه ولا يدفع ألم الخوف إلا الأمن الحاصل بوجود مال آخر يفزع إليه إن أصابت هذا المال جائحة فهو أبدا لشفقته على نفسه وحبه للحياة يقدر طول الحياة ويقدر هجوم الحاجات ويقدر إمكان تطرق الآفات إلى الأموال ويستشعر الخوف من ذلك فيطلب ما يدفع خوفه وهو كثرة المال حتى إن أصيب بطائفة من ماله استغنى بالآخر وهذا خوف لا يوقف له على مقدار مخصوص من المال فلذلك لم يكن لمثله موقف إلى أن يملك جميع ما في الدنيا وَلِذَلِكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ منهومان لا يشبعان منهوم العلم ومنهوم المال // حديث منهومان لا يشبعان الحديث أخرجه الطبراني من حديث ابن مسعود بسند ضعيف والبزار والطبراني في الأوسط من حديث ابن عباس بسند لين وقد تقدم

Adapun sebab yang pertama adalah untuk menolak rasa sakit akibat rasa takut (khauf). Sebab, orang yang senantiasa khawatir sangat mudah dihinggapi prasangka buruk. Manusia, meskipun dalam keadaan cukup saat ini, ia memiliki angan-angan yang panjang (thulul amal), dan terlintas dalam pikirannya bahwa harta yang mencukupinya saat ini mungkin saja akan binasa sehingga ia membutuhkan harta yang lain. Ketika hal itu terlintas di pikirannya, bergejolaklah rasa takut dari hatinya, dan tidak ada yang dapat menolak rasa sakit akibat rasa takut itu melainkan rasa aman yang diperoleh dari keberadaan harta lain yang dapat dijadikan tempat bersandar apabila bencana menimpa harta tersebut. Karena sayangnya kepada diri sendiri dan kecintaannya pada kehidupan, ia selalu mengandaikan panjangnya umur, mengandaikan datangnya berbagai kebutuhan, dan mengandaikan kemungkinannya musibah menimpa harta-hartanya. Ia merasakan ketakutan akan hal itu, lalu mencari apa yang dapat menolak ketakutannya, yaitu banyaknya harta. Sehingga jika sebagian hartanya tertimpa musibah, ia merasa cukup dengan harta yang tersisa. Ini adalah rasa takut yang tidak memiliki batas kadar harta tertentu. Oleh karena itu, orang semacam ini tidak akan pernah berhenti sampai ia memiliki seluruh apa yang ada di dunia. Oleh sebab itulah Rasulullah ﷺ bersabda: 'Dua orang yang serakah tidak akan pernah kenyang: orang yang serakah kepada ilmu dan orang yang serakah kepada harta.' // Hadis 'Dua orang yang serakah tidak akan pernah kenyang…' diriwayatkan oleh At-Thabrani dari hadis Ibn Mas'ud dengan sanad daif, serta Al-Bazzar dan At-Thabrani dalam Al-Ausat dari hadis Ibn Abbas dengan sanad yang lemah (layyin), dan telah dijelaskan terdahulu.

ومثل هذه العلة تطرد في حبه قيام المنزلة والجاه في قلوب الأباعد عن وطنه وبلده فإنه لا يخلو عن تقدير سبب يزعجه عن الوطن أو يزعج أولئك عن أوطانهم إلى وطنه ويحتاج إلى الاستعانة بهم ومهما كان ذلك ممكناً ولم يكن احتياجه إليهم مستحيلاً إحالة ظاهرة كان للنفس فرح ولذة بقيام الجاه في قلوبهم لما فيه من الأمن من هذا الخوف

Alasan (al-'illah) semacam ini juga berlaku secara bertali-temali dalam kecintaannya pada kedudukan dan pengaruh (jah) di dalam hati orang-orang yang jauh dari tanah air dan negerinya. Sebab, ia tidak terlepas dari pengandaian timbulnya suatu sebab yang mengusirnya dari tanah air, atau mengusik mereka dari tanah air mereka menuju negerinya, sehingga ia membutuhkan bantuan mereka. Selama hal itu memungkinkan dan kebutuhannya kepada mereka bukanlah hal yang mustahil secara nyata, maka jiwa akan merasakan kegembiraan dan kelezatan atas tertanamnya kedudukan di dalam hati mereka, karena di dalamnya terdapat rasa aman dari ketakutan ini.

وأما السبب الثاني وهو الأقوى لأن الروح أمر رباني به وصفه الله تعالى إذ قال سبحانه ويسألونك عن الروح قل الروح من أمر ربي أو معنى كونه ربانياً أنه من أسرار علوم المكاشفة ولا رخصة في إظهاره إذا لم يظهره رسول الله ﷺ // حديث أنه ﷺ لم يظهر سر الروح أخرجه البخاري من حديث ابن مسعود وقد تقدم

Adapun sebab yang kedua—dan ini adalah sebab yang lebih kuat—karena ruh itu adalah perkara ketuhanan (amr rabbani) sebagaimana Allah Ta'ala menyifatkannya ketika Dia Mahasuci berfirman: 'Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku' [QS. Al-Isra': 85]. Makna keberdaannya sebagai perkara ketuhanan (rabbani) adalah bahwa ia termasuk rahasia ilmu mukasyafah (penyingkapan batin), dan tidak ada izin untuk menampakkannya jika Rasulullah ﷺ sendiri tidak menampakkannya. // Hadis bahwa Nabi ﷺ tidak menampakkan rahasia ruh diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadis Ibn Mas'ud, dan telah dijelaskan terdahulu.

ولكنك قبل معرفة ذلك تعلم أن للقلب ميلاً إلى صفات بهيمية كالأكل والوقاع وإلى صفات سبعية كالقتل والضرب والإيذاء وإلى صفات شيطانية كالمكر والخديعة والإغواء وإلى صفات ربوبية كالكبر والعز والتجبر وطلب الاستعلاء وذلك لأنه مركب من أصول مختلفة يطول شرحها وتفصيلها فهو لما فيه من الأمر الرباني يحب الربوبية بالطبع ومعنى الربوبية التوحد بالكمال والتفرد بالوجود على سبيل الاستقلال

Namun, sebelum mengetahui hal tersebut, engkau telah mengetahui bahwa hati memiliki kecenderungan kepada sifat-sifat kehewanan (bahimiyyah) seperti makan dan bersetubuh; sifat-sifat kebinatangan buas (sabuiyyah) seperti membunuh, memukul, dan menyakiti; sifat-sifat kesetanan (syaithaniyyah) seperti makar, tipu daya, dan menyesatkan; serta sifat-sifat ketuhanan (rububiyyah) seperti kesombongan, kemuliaan, pemaksaan (kejabaran), dan menuntut keunggulan. Hal itu karena hati tersusun dari unsur-unsur dasar yang beragam yang panjang untuk dijelaskan dan dirincikan. Maka hati, karena adanya unsur perkara ketuhanan (amr rabbani) di dalamnya, secara tabiat mencintai sifat ketuhanan (rububiyyah). Adapun makna rububiyyah adalah kesendirian dalam kesempurnaan (al-tuwahhud bil-kamal) dan keesaan dalam kewujudan secara independen (al-tafarrud bil-wujud).

فصار الكمال من صفات الإلهية فصار محبوباً بالطبع للإنسان والكمال بالتفرد بالوجود فإن المشاركة في الوجود نقص لا محالة فكمال الشمس في أنها موجودة وحدها فلو كان معها شمس أخرى لكان ذلك نقصاً في حقها إذ لم تكن منفددة بكمال معنى الشمسية والمنفرد بالوجود هو الله تعالى إذ ليس معه موجود سواه فإن ما سواه أثر من آثار قدرته لا قوام له بذاته بل هو قائم به فلم يكن موجوداً معه لأن المعية توجب المساواة في الرتبة والمساواة في الرتبة نقصان في الكمال بل الكامل من لا نظير له في رتبته

Maka kesempurnaan itu termasuk sifat-sifat keilahian, sehingga secara tabiat menjadi hal yang dicintai oleh manusia. Dan kesempurnaan itu terletak pada keesaan dalam kewujudan, karena persekutuan dalam kewujudan niscaya merupakan suatu kekurangan. Kesempurnaan matahari terletak pada keberadaannya sendirian; seandainya ada matahari lain bersamanya, tentulah itu menjadi kekurangan bagi haknya karena ia tidak menyendiri dalam kesempurnaan makna kematahariaan. Dan Yang Maha Menyendiri dalam kewujudan adalah Allah Ta'ala, sebab tidak ada wujud lain di samping-Nya. Wujud selain-Nya hanyalah jejak (atsar) dari jejak-jejak kekuasaan-Nya yang tidak dapat berdiri sendiri, melainkan berdiri dengan-Nya. Maka tidak ada wujud yang mendampingi-Nya, karena kedampingan (al-ma'iyyah) meniscayakan kesetaraan tingkatan, dan kesetaraan tingkatan adalah kekurangan dalam kesempurnaan. Justru yang mahasempurna adalah Yang tidak ada tandingan bagi-Nya dalam tingkatan-Nya.

وكما أن إشراق نور الشمس في أقطار الآفاق ليس نقصاناً في الشمس بل هو من جملة كمالها وإنما نقصان الشمس بوجود شمس أخرى تساويها في الرتبة مع الاستغناء عنها فكذلك وجود كل ما في العالم يرجع إلى إشراق أنوار القدرة فيكون تابعاً ولا يكون متبعاً فإذن معنى الربوبية التفرد بالوجود وهو الكمال

Sebagaimana pancaran cahaya matahari di segenap penjuru ufuk bukanlah suatu kekurangan pada matahari melainkan bagian dari kesempurnaannya, dan kekurangan pada matahari hanyalah jika terdapat matahari lain yang menyamainya dalam tingkatan serta saling tidak membutuhkan, maka begitu pula wujud segala sesuatu di alam semesta ini kembali kepada pancaran cahaya-cahaya kekuasaan-Nya (qudrah), sehingga ia menjadi pengikut (tabi') dan bukan yang diikuti (matbu'). Dengan demikian, makna ketuhanan (rububiyyah) adalah keesaan dalam kewujudan, dan itulah kesempurnaan sejati.

وكل إنسان فإنه بطبعه محب لأن يكون هو المنفرد بالكمال ولذلك قال بعض مشايخ الصوفية ما من إنسان إلا وفي باطنه ما صرح به فرعون من قوله أنا ربكم الأعلى ولكنه ليس يجد له مجالاً وهو كما قال فإن العبودية قهر على النفس

Setiap manusia secara tabiatnya mencintai untuk menjadi sosok yang tunggal dalam kesempurnaan. Oleh karena itu, sebagian guru sufi berkata: 'Tidak ada seorang manusia pun melainkan di dalam batinnya terdapat apa yang dinyatakan oleh Fir'aun melalui perkataannya: Aku adalah tuhanmu yang paling tinggi (QS. An-Nazi'at: 24), hanya saja ia tidak menemukan jalan/kesempatan untuk menampakkannya.' Dan perkataan itu memang benar, sebab kehambaan (al-ubudiyyah) adalah penundukan terhadap jiwa.

والربوبية محبوبة بالطبع وذلك للنسبة الربانية التي أومأ إليها قوله تعالى قل الروح من أمر ربي ولكن لما عجزت النفس عن درك منتهى الكمال لم تسقط شهوتها للكمال فهي محبة للكمال ومشتهية له وملتذة به لذاته لا لمعنى آخر وراء الكمال وكل موجود فهو محب لذاته ولكمال ذاته ومبغض للهلاك الذي هو عدم ذاته أو عدم صفات الكمال من ذاته

Dan sifat ketuhanan (rububiyyah) itu dicintai secara tabiat, dikarenakan adanya nisbah ketuhanan (al-nisbah al-rabbaniyyah) yang diisyaratkan oleh firman-Nya Ta'ala: 'Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku' [QS. Al-Isra': 85]. Namun ketika jiwa lemah untuk mencapai puncak kesempurnaan, hasratnya terhadap kesempurnaan tidak serta-merta gugur. Maka jiwa itu mencintai kesempurnaan, menginginkannya, dan merasa lezat dengannya karena zat kesempurnaan itu sendiri, bukan karena alasan lain di balik kesempurnaan. Setiap yang ada (mawjud) tentulah mencintai zatnya dan kesempurnaan zatnya, serta membenci kebinasaan yang merupakan ketiadaan zatnya atau ketiadaan sifat-sifat kesempurnaan dari zatnya.

وإنما الكمال بعد أن يسلم التفرد بالوجود في الاستيلاء على كل الموجودات فإن أكمل الكمال أن يكون وجود غيرك منك فإن لم يكن منك فأن تكون مستولياً عليه فصار الاستيلاء على الكل محبوباً بالطبع لأنه نوع كمال

Kesempurnaan itu—setelah terwujudnya keesaan dalam kewujudan—terletak pada penguasaan (al-istila') atas seluruh yang ada. Sebab, kesempurnaan yang paling sempurna adalah apabila keberadaan selainmu bersumber darimu; dan jika tidak bersumber darimu, setidaknya engkau menguasainya. Maka penguasaan atas segala sesuatu menjadi hal yang dicintai secara tabiat karena ia merupakan sejenis kesempurnaan.

وكل موجود يعرف ذاته فإنه يحب ذاته ويحب كمال ذاته ويلتذ به إلا أن الاستيلاء على الشيء بالقدرة على التأثير فيه وعلى تغييره بحسب الإرادة وكونه مسخراً لك تردده كيف تشاء فأحب الإنسان أن يكون له استيلاء على كل الأشياء الموجودة معه

Setiap yang ada yang mengenali zatnya pasti mencintai zatnya, mencintai kesempurnaan zatnya, dan merasakan kelezatan dengannya. Hanya saja, penguasaan atas sesuatu itu adalah dengan kemampuan memberi pengaruh padanya dan mengubahnya sesuai kehendak, serta keberadaannya yang tunduk kepadamu untuk engkau bolak-balikkan sesukamu. Maka manusia menyukai untuk memiliki penguasaan atas segala sesuatu yang ada bersamanya.

إلا أن الموجودات منقسمة إلى مالا يقبل التغيير في نفسه كذات الله تعالى وصفاته

Hanya saja, segala sesuatu yang ada (al-mawjudat) terbagi menjadi: Pertama, sesuatu yang tidak menerima perubahan pada zatnya, seperti Zat Allah Ta'ala dan sifat-sifat-Nya.

وإلى ما يقبل التغيير ولكن لا يستولى عليه قدرة الخلق كالأملاك والكواكب وملكوت السموات ونفوس الملائكة والجن والشياطين وكالجبال والبحار

Kedua, sesuatu yang menerima perubahan, namun tidak dapat dikuasai oleh kemampuan makhluk, seperti para malaikat, bintang-bintang, kerajaan langit, jiwa para malaikat, jin, dan setan, serta gunung-gunung dan lautan.

وإلى ما يقبل التغيير بقدرة العبد كالأرض وأجزائها وما عليها من المعادن والنبات والحيوان ومن جملتها قلوب الناس فإنها قابلة للتأثير والتغيير مثل أجسادهم وأجساد الحيوانات

Ketiga, sesuatu yang menerima perubahan dengan kemampuan hamba, seperti bumi dan bagian-bagiannya, serta barang tambang, tumbuh-tumbuhan, dan hewan yang ada di atasnya; dan termasuk di antaranya adalah hati manusia, karena hati mereka dapat menerima pengaruh dan perubahan sebagaimana jasad mereka dan jasad hewan-hewan.

فإذا انقسمت الموجودات إلى ما يقدر الإنسان على التصرف فيه كالأرضيات وإلى ما لا يقدر عليه كذات الله تعالى والملائكة والسموات أحب الإنسان أن يستولي على السموات بالعلم والإحاطة والإطلاع على أسرارها فإن ذلك نوع استيلاء إذ المعلوم المحاط به كالداخل تحت العلم والعالم كالمستولي عليه فلذلك أحب أن يعرف

Maka ketika segala sesuatu yang ada terbagi menjadi apa yang sanggup diatur oleh manusia seperti hal-hal yang bersifat kebumian (ardhiyyat), dan apa yang tidak sanggup dikuasainya seperti Zat Allah Ta'ala, para malaikat, dan langit, maka manusia berkeinginan untuk menguasai langit melalui ilmu pengetahuannya, liputan pemahamannya, serta pembongkaran atas rahasia-rahasianya. Sebab, yang demikian itu merupakan sejenis penguasaan, karena hal yang diketahui lagi diliputi itu bagaikan berada di bawah naungan ilmu, dan orang yang berilmu (al-'alim) bagaikan penguasa atasnya. Oleh karena itulah manusia senang untuk mengetahui (berilmu).

الله تعالى والملائكة والأفلاك والكواكب وجميع عجائب السموات وجميع عجائب البحار والجبال وغيرها لأن ذلك نوع استيلاء عليها والاستيلاء نوع كمال

…Allah Ta'ala, para malaikat, cakrawala, bintang-bintang, serta seluruh keajaiban langit, lautan, gunung-gunung, dan selainnya; karena hal itu merupakan sejenis penguasaan (dominasi) atasnya, dan penguasaan tersebut merupakan salah satu bentuk kesempurnaan.

وهذا يضاهي اشتياق من عجز عن صنعة عجيبة إلى معرفة طريق الصنعة فيها كمن يعجز عن وضع الشطرنج فإنه قد يشتهي أن يعرف اللعب به وأنه كيف وضع وكمن يرى صنعة عجيبة في الهندسة أو الشعبذة أو جر الثقيل أو غيره وهو مستشعر في نفسه بعض العجز والقصور عنه ولكنه يشتاق إلى معرفة كيفية فهو متألم ببعض العجز متلذذ بكمال العلم إن علمه

Hal ini serupa dengan kerinduan seseorang yang tidak mampu membuat suatu karya seni yang menakjubkan untuk mengetahui cara pembuatannya, sebagaimana orang yang tidak mampu bermain catur, ia terkadang berhasrat untuk mengetahui cara memainkannya dan bagaimana aturan penataannya; atau seperti orang yang melihat keajaiban karya dalam bidang geometri, sulap, pengangkatan beban berat, atau yang lainnya, sedangkan ia merasakan dalam dirinya adanya kelemahan dan keterbatasan dari hal itu, namun ia rindu untuk mengetahui tata caranya. Maka ia merasa pedih akibat kelemahannya, tetapi merasakan kelezatan melalui kesempurnaan ilmu jika ia mengetahuinya.

وأما القسم الثاني وهو الأرضيات التي يقدر الإنسان عليها فإنه يحب بالطبع أن يستولي عليها بالقدرة على التصرف فيها كيف يريد وهي قسمان أجساد وأرواح

Adapun bagian kedua, yaitu hal-hal bersifat kebumian (duniawi) yang sanggup dikuasai oleh manusia, maka secara tabiat ia suka untuk menguasainya melalui kemampuan mengelolanya sesuai kehendaknya. Hal ini terbagi menjadi dua bagian: jasad-jasad dan ruh-ruh.

أما الأجساد فهي الدراهم والدنانير والأمتعة فيجب أن يكون قادراً عليها يفعل فيها ما شاء من الرفع والوضع والتسليم والمنع فإن ذلك قدرة والقدرة كمال والكمال من صفات الربوبية والربوبية محبوبة بالطبع فلذلك أحب الأموال وإن كان لا يحتاج إليها في ملبسه ومطعمه وفي شهوات نفسه وبذلك طلب استرقاق العبيد واستعباد الأشخاص الأحرار ولو بالقهر والغلبة حتى يتصرف في أجسادهم وأشخاصهم بالاستسخار وإن لم يملك قلوبهم فإنها ربما لم تعتقد كماله حتى يصير محبوباً لها ويقوم القهر منزلته فيها فإن الحشمة القهرية أيضاً لذيذة لما فيها من القدرة

Adapun jasad-jasad, itu adalah dirham, dinar, dan barang-barang benda. Manusia menyukai untuk memiliki kekuasaan atasnya, melakukan apa saja yang dikehendakinya terhadap benda-benda tersebut, baik menaikkan, menurunkan, menyerahkan, atau menahannya. Sebab, yang demikian itu merupakan kemampuan (*qudrah*), kemampuan adalah kesempurnaan, dan kesempurnaan termasuk sifat Ketuhanan (*Rububiyyah*), sedangkan sifat Ketuhanan itu dicintai secara tabiat. Karena itulah manusia mencintai harta benda, meskipun ia tidak membutuhkannya untuk pakaian, makanan, atau pemenuhan syahwat dirinya. Melalui dorongan itu pula, manusia berusaha memperbudak para hamba sahaya dan menundukkan orang-orang merdeka, meskipun dengan cara pemaksaan dan penaklukan, agar ia dapat bertindak bebas atas jasad dan diri mereka dengan mempekerjakannya, sekalipun ia tidak menguasai hati mereka. Sebab, hati mereka mungkin tidak meyakini kesempurnaannya hingga ia menjadi sosok yang dicintai oleh hati tersebut, sehingga kekuasaan fisik menggantikan posisi tersebut di dalam hati. Sungguh, wibawa yang lahir dari pemaksaan (*al-hishmah al-qahriyyah*) itu pun terasa lezat baginya karena di dalamnya terdapat unsur *qudrah* (kekuasaan).

القسم الثاني نفوس الآدميين وقلوبهم وهي أنفس ما على وجه الأرض فهو يحب أن يكون له استيلاء وقدرة عليها لتكون مسخرة له متصرفة تحت إشارته وإرادته لما فيه من كمال الاستيلاء والتشبه بصفات الربوبية والقلوب إنما تتسخر الحب ولا تحب إلا باعتقاد الكمال فإن كل كمال محبوب لأن الكمال من الصفات الإلهية والصفات الإلهية كلها محبوبة بالطبع للمعنى الرباني من جملة معاني الإنسان وهو الذي لا يبليه الموت فيعدمه ولا يتسلط عليه التراب فيأكله فإنه محل الإيمان والمعرفة وهو الواصل إلى لقاء الله تعالى والساعي إليه فإذن معنى الجاه تسخير القلوب ومن تسخرت له القلوب كانت له قدرة واستيلاء عليها والقدرة والاستيلاء كمال وهو من أوصاف الربوبية

Bagian kedua adalah jiwa dan hati manusia, yang merupakan hal paling berharga di muka bumi. Manusia mencintai untuk memiliki penguasaan dan kemampuan atas hati tersebut agar tunduk kepadanya serta bergerak di bawah isyarat dan kehendaknya, karena di dalamnya terdapat kesempurnaan penguasaan dan penyerupaan dengan sifat-sifat Ketuhanan (*Rububiyyah*). Padahal, hati itu hanya dapat ditundukkan melalui rasa cinta, dan hati tidak mencintai kecuali karena meyakini adanya kesempurnaan. Sebab, setiap kesempurnaan itu dicintai, karena kesempurnaan merupakan bagian dari sifat-sifat Keilahian, dan sifat-sifat Keilahian seluruhnya dicintai secara tabiat oleh entitas ketuhanan (*al-ma'na ar-rabbani*) yang ada di dalam diri manusia. Entitas inilah yang tidak akan dihancurkan atau dimusnahkan oleh kematian, serta tidak dapat dikuasai oleh tanah untuk dimakan; sebab ia merupakan tempat persemayaman iman dan makrifat, serta menjadi entitas yang sampai menuju pertemuan dengan Allah Ta'ala dan yang berusaha mendekat kepada-Nya. Maka dengan demikian, hakikat kedudukan (*al-jah*) adalah penundukan hati. Barang siapa yang hatinya telah tunduk kepada seseorang, maka orang tersebut memiliki kekuasaan dan penguasaan atasnya, sedangkan kekuasaan dan penguasaan itu merupakan suatu kesempurnaan yang termasuk dari sifat-sifat Ketuhanan (*Rububiyyah*).

فإذن محبوب القلب بطبعه الكمال بالعلم والقدرة والمال والجاه من أسباب القدرة ولا نهاية للمعلومات ولا نهاية للمقدورات وما دام يبقى معلوم أو مقدور فالشوق لا يسكن والنقصان لا يزول

Oleh karena itu, hal yang dicintai oleh hati secara tabiatnya adalah kesempurnaan melalui ilmu dan kekuasaan (*al-qudrah*). Sementara harta dan kedudukan (*al-jah*) termasuk sebab-sebab lahirnya kekuasaan. Hal-hal yang dapat diketahui (*al-ma'lumat*) serta hal-hal yang dapat dikuasai (*al-maqdurat*) itu tidak ada batasnya; dan selama masih ada hal yang belum diketahui atau belum dikuasai, maka kerinduan tidak akan pernah reda dan perasaan kekurangan tidak akan pernah sirna.

ولذلك قال ﷺ منهومان لا يشبعان فإذن مطلوب القلوب الكمال والكمال بالعلم والقدرة وتفاوت الدرجات فيه غير محصور فسرور كل إنسان ولذته بقدر ما يدركه من الكمال فهذا هو السبب في كون العلم والمال والجاه محبوباً وهو أمر وراء كونه محبوباً لأجل التوصل إلى قضاء الشهوات فإن هذه العلة قد تبقى مع سقوط الشهوات بل يحب الإنسان من العلوم ما لا يصلح للتوصل به إلى الأغراض بل ربما يفوت عليه جملة من الأغراض والشهوات ولكن الطبع يتقاضى طلب العلم في جميع العجائب والمشكلات لأن في العلم استيلاء على المعلوم وهو نوع من الكمال الذي هو من صفات الربوبية فكان محبوباً بالطبع إلا أن في حب كمال العلم والقدرة أغاليط لا بد من بيانها إن شاء الله تعالى

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Dua orang yang rakus tidak akan pernah merasa puas…" Dengan demikian, hal yang dicari oleh hati adalah kesempurnaan, dan kesempurnaan itu dicapai melalui ilmu serta kekuasaan (*qudrah*). Perbedaan tingkatan di dalamnya tidak terbatas, maka kebahagiaan dan kelezatan setiap manusia adalah sejajar dengan kadar kesempurnaan yang berhasil ia capai. Inilah sebab mengapa ilmu, harta, dan kedudukan itu dicintai, yang mana hal ini merupakan perkara di luar alasan dicintainya hal-hal tersebut untuk memenuhi syahwat. Sebab, alasan (hasrat kesempurnaan) ini tetap ada meskipun syahwat-syahwat fisik telah gugur. Bahkan, manusia menyukai jenis-jenis ilmu yang tidak dapat dijadikan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi, bahkan terkadang ilmu itu justru melewatkan banyak tujuan dan syahwatnya. Namun, tabiat manusia menuntut pencarian ilmu tentang segala keajaiban dan kerumitan, karena di dalam ilmu terdapat penguasaan atas objek yang diketahui (*al-ma'lum*), dan itu merupakan sejenis kesempurnaan yang termasuk sifat Ketuhanan (*Rububiyyah*), sehingga ilmu dicintai secara tabiat. Hanya saja, dalam mencintai kesempurnaan ilmu dan kekuasaan terdapat kekeliruan-kekeliruan (*aghalith*) yang harus dijelaskan, insya Allah Ta'ala.

بيان الكمال الحقيقي والكمال الوهمي الذي لا حقيقة له

Penjelasan tentang Kesempurnaan Hakiki dan Kesempurnaan Semu (*al-Wahmi*) yang Tidak Memiliki Hakikat

قد عرفت أنه لا كمال بعد فوات التفرد بالوجود إلا في العلم والقدرة ولكن الكمال الحقيقي فيه متلبس بالكمال الوهمي وبيانه أن كمال العلم لله تعالى وذلك من ثلاثة أوجه

Engkau telah mengetahui bahwa tidak ada kesempurnaan setelah luputnya keesaan dalam wujud (*at-tafarrud bil-wujud*) kecuali pada ilmu dan kekuasaan (*al-qudrah*). Namun, kesempurnaan yang hakiki di dalamnya sering kali tersamar oleh kesempurnaan semu (*al-wahmi*). Penjelasannya adalah bahwa kesempurnaan ilmu bagi Allah Ta'ala itu ditinjau dari tiga segi:

أحدها من حيث كثرة المعلومات وسعتها فإنه محيط

Pertama, dari segi banyaknya objek pengetahuan (*al-ma'lumat*) dan luasnya, karena Dia Maha Meliputi…

بجميع المعلومات فلذلك كلما كانت علوم العبد أكثر كان أقرب إلى الله تعالى

…seluruh objek pengetahuan. Oleh karena itu, semakin banyak ilmu seorang hamba, maka ia semakin dekat kepada Allah Ta'ala.

الثاني من حيث تعلق العلم بالمعلوم على ما هو به وكون المعلوم مكشوفاً به كشفاً تاماً فإن المعلومات مكشوفة لله تعالى بأتم أنواع الكشف على ما هي عليه فلذلك مهما كان علم العبد أوضح وأيقن وأصدق وأوفق للمعلوم في تفاصيل صفات العلوم كان أقرب إلى الله تعالى

Kedua, dari segi keterkaitan ilmu dengan objek pengetahuan sesuai dengan keadaannya yang sebenarnya, serta tersingkapnya objek tersebut secara sempurna (*kasyf tamm*). Sebab, segala objek pengetahuan tersingkap bagi Allah Ta'ala dengan jenis penyingkapan yang paling sempurna sebagaimana mestinya. Maka dari itu, sejauh mana ilmu seorang hamba itu lebih jelas, lebih meyakinkan, lebih jujur, dan lebih sesuai dengan objek pengetahuan hingga ke rincian sifat-sifatnya, maka ia akan semakin dekat kepada Allah Ta'ala.

الثالث من حيث بقاء العلم أبد الآباد بحيث لا يتغير ولا يزول فإن علم الله تعالى باق لا يتصور أن يتغير فكذلك مهما كان علم العبد بمعلومات لا يقبل التغير والانقلاب كان أقرب إلى الله تعالى

Ketiga, dari segi kekekalan ilmu selama-lamanya, sehingga ilmu itu tidak berubah dan tidak sirna. Sungguh, ilmu Allah Ta'ala itu kekal dan tidak dapat dibayangkan akan berubah. Demikian pula, sejauh mana ilmu seorang hamba berkaitan dengan objek-objek pengetahuan yang tidak menerima perubahan dan pergeseran, maka ia akan semakin dekat kepada Allah Ta'ala.

والمعلوم قسمان متغيرات وأزليات

Objek pengetahuan (al-ma'lum) itu terbagi menjadi dua kelompok: perkara-perkara yang berubah-ubah (variabel) dan perkara-perkara yang azali (abadi).

أما المتغيرات فمثالها العلم بكون زيد في الدار فإنه علم له معلوم ولكنه يتصور أن يخرج زيد من الدار ويبقى اعتقاد كونه في الدار كما كان فينقلب جهلاً فيكون نقصاناً لا كمالاً فكلما اعتقدت اعتقاداً موافقاً وتصور أن ينقلب المعتقد فيه كما اعتقدته كنت بصدد أن ينقلب كمالك نقصاً ويعود علمك جهلاً

Adapun hal-hal yang berubah-ubah, contohnya adalah ilmu tentang keberadaan Zaid di dalam rumah. Hal ini merupakan pengetahuan yang memiliki objek tertentu, namun ada kemungkinan Zaid keluar dari rumah sementara keyakinan bahwa ia ada di dalam rumah tetap bertahan seperti semula, sehingga pengetahuan tersebut berubah menjadi kebodohan (*jahl*), yang merupakan suatu kekurangan dan bukan kesempurnaan. Maka, setiap kali engkau meyakini suatu keyakinan yang sesuai (dengan kenyataan), namun ada kemungkinan objek yang diyakini itu berubah dari apa yang engkau yakini, niscaya engkau berada dalam ancaman di mana kesempurnaanmu berubah menjadi kekurangan dan ilmumu kembali menjadi kebodohan.

ويلتحق بهذا المثال جميع متغيرات العالم كعلمك مثلاً بارتفاع جبل ومساحة أرض وبعد البلاد وتباعد ما بينها من الأميال والفراسخ وسائر ما يذكر في المسالك والممالك وكذلك العلم باللغات التي هي اصطلاحات تتغير بتغير الأعصار والأمم والعادات فهذه علوم معلوماتها مثل الزئبق تتغير من حال إلى حال فليس فيه كمال إلا في الحال ولا يبقى كمالاً في القلب

Termasuk dalam contoh ini adalah seluruh hal yang berubah-ubah di dunia, seperti ilmumu tentang tingginya suatu gunung, luas tanah, jarak antar negeri, serta kejauhan di antara tempat-tempat tersebut dalam ukuran mil dan farsakh, dan seluruh apa yang disebutkan dalam kitab-kitab geografi (*al-masalik wa al-mamalik*). Demikian pula ilmu tentang bahasa-bahasa yang merupakan kesepakatan (*istilahat*) yang dapat berubah seiring berjalannya zaman, bangsa, dan adat istiadat. Ilmu-ilmu ini memiliki objek pengetahuan seperti air raksa yang berubah dari satu keadaan ke keadaan lain. Maka tidak ada kesempurnaan di dalamnya kecuali pada saat itu saja, dan ia tidak akan bertahan sebagai kesempurnaan di dalam hati.

القسم الثاني هو المعلومات الأزلية وهو جواز الجائزات ووجوب الواجبات واستحالة المستحيلات فإن هذه معلومات أزلية أبدية إذ لا يستحيل الواجب قط جائزاً ولا الجائز محالاً ولا المحال واجباً

Bagian kedua adalah objek-objek pengetahuan yang azali (*al-ma'lumat al-azaliyyah*), yaitu kebolehan hal-hal yang mungkin (*jawaz al-ja'izat*), kewajiban hal-hal yang wajib (*wujub al-wajibat*), dan kemustahilan hal-hal yang mustahil (*istihalat al-mustahilat*). Sebab, ini semua merupakan pengetahuan azali yang abadi, karena hal yang wajib tidak akan pernah menjadi mungkin, hal yang mungkin tidak menjadi mustahil, dan hal yang mustahil tidak akan pernah menjadi wajib.

فكل هذه الأقسام داخلة في معرفة الله وما يجب له وما يستحيل في صفاته ويجوز في أفعاله فالعلم بالله تعالى وبصفاته وأفعاله وحكمته في ملكوت السموات والأرض وترتيب الدنيا والآخرة وما يتعلق به هو الكمال الحقيقي الذي يقرب من يتصف به من الله تعالى ويبقى كمالاً للنفس بعد الموت وتكون هذه المعرفة نور للعارفين بعد الموت يسعى نورهم بين أيديهم وبأيمانهم يقولون ربنا أتمم لنا نورنا أي تكون هذه المعرفة رأس مال يوصل إلى كشف ما لم ينكشف في الدنيا كما أن من معه سراج خفي فإنه يجوز أن يصير ذلك سبباً لزيادة النور بسراج آخر يقتبس منه فيكمل النور الخفي على سبيل الاستتمام ومن ليس معه أصل السراج فلا مطمع له في ذلك فمن ليس معه أصل معرفة الله تعالى لم يكن له مطمع في هذا النور فيبقى كمن مثله في الظلمات ليس بخارج منها بل كظلمات في بحر لجى يغشاه موج من فوقه موج من فوقه سحاب ظلمات بعضها فوق بعض فإذن لا سعادة إلا في معرفة الله تعالى وأما ما عدا ذلك من المعارف فمنها ما لا فائدة له أصلاً كمعرفة الشعر وأنساب العرب وغيرهما ومنها ما له منفعة في الإعانة على معرفة الله تعالى كمعرفة لغة العرب والتفسير والفقه والأخبار فإن معرفة لغة العرب تعين على معرفة تفسير القرآن ومعرفة التفسير تعين على معرفة ما في القرآن من كيفية العبادات والأعمال التي تفيد تزكية النفس ومعرفة طريق تزكية النفس تفيد استعداد النفس لقبول الهدايا إلى معرفة الله ﷾ كما قال تعالى قد أفلح من زكاها وقال ﷿ والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا فتكون جملة هذه المعارف كالوسائل إلى تحقيق معرفة الله تعالى وإنما الكمال في معرفة الله ومعرفة صفاته وأفعاله وينطوي فيه جميع المعارف المحيطة بالموجودات إذ الموجودات كلها من أفعاله فمن عرفها من حيث هي فعل الله تعالى

Seluruh bagian ini tercakup dalam makrifat kepada Allah, tentang apa yang wajib bagi-Nya, apa yang mustahil pada sifat-sifat-Nya, dan apa yang boleh dalam perbuatan-Nya. Maka ilmu tentang Allah Ta'ala, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, hikmah-Nya dalam kerajaan (*malakut*) langit dan bumi, serta tataan dunia dan akhirat beserta hal-hal yang berkaitan dengannya adalah kesempurnaan hakiki yang dapat mendekatkan orang yang memilikinya kepada Allah Ta'ala. Kesempurnaan ini akan tetap bertahan bagi jiwa setelah kematian, dan makrifat ini akan menjadi cahaya bagi para *'arifin* (orang-orang yang mengenal Allah) setelah mati; cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, seraya berkata: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami." Artinya, makrifat ini menjadi modal utama yang mengantarkan pada tersingkapnya (*kasyf*) apa yang belum tersingkap di dunia. Sebagaimana orang yang membawa pelita redup, sangat mungkin pelita itu menjadi sebab bertambahnya cahaya melalui pelita lain yang dipetik darinya sehingga sempurnalah cahaya yang redup tersebut. Sebaliknya, barang siapa yang tidak memiliki dasar pelita sama sekali, maka tidak ada harapan baginya untuk mendapatkan cahaya itu. Maka barang siapa yang tidak memiliki dasar makrifat kepada Allah Ta'ala, ia tidak akan memiliki harapan untuk meraih cahaya ini, sehingga ia tetap seperti orang yang berada dalam kegelapan yang tidak dapat keluar darinya, bahkan seperti "kegelapan di laut yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-mentindih". Oleh karena itu, tidak ada kebahagiaan kecuali dalam makrifat kepada Allah Ta'ala. Adapun pengetahuan-pengetahuan selain itu, sebagian di antaranya tidak memiliki manfaat sama sekali seperti pengetahuan tentang syair dan silsilah nasab orang Arab, dan sebagian lainnya memiliki manfaat untuk membantu pencapaian makrifat kepada Allah Ta'ala, seperti ilmu bahasa Arab, tafsir, fiqh, dan riwayat-riwayat (*al-akhbar*). Sebab, pengetahuan bahasa Arab membantu memahami tafsir Al-Qur'an, dan pengetahuan tafsir membantu memahami tata cara ibadah dan amal perbuatan dalam Al-Qur'an yang berguna untuk penyucian jiwa (*tazkiyatun nafs*). Pengetahuan tentang jalan penyucian jiwa ini memberikan kesiapan bagi jiwa untuk menerima petunjuk menuju makrifat kepada Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya Ta'ala: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu" dan firman-Nya Azza wa Jalla: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." Dengan demikian, seluruh ilmu ini berkedudukan sebagai sarana (*wasilah*) untuk mewujudkan makrifat kepada Allah Ta'ala. Kesempurnaan yang hakiki hanyalah ada pada makrifat kepada Allah, serta makrifat terhadap sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Di dalamnya tercakup seluruh pengetahuan yang meliputi segala yang ada (*al-maujudat*), karena seluruh yang ada ini merupakan bagian dari perbuatan-perbuatan-Nya bagi siapa yang meyakininya sebagai perbuatan Allah Ta'ala,

ومن حيث ارتباطها بالقدرة والإرادة والحكمة فهي من تكملة معرفة الله تعالى وهذا حكم كمال العلم ذكرناه وإن لم يكن لائقاً بأحكام الجاه والرياء ولكن أوردناه لاستيفاء أقسام الكمال

serta dari segi keterkaitannya dengan kekuasaan (*al-qudrah*), kehendak (*al-iradah*), dan hikmah-Nya; maka hal itu termasuk bagian penyempurna dari makrifat kepada Allah Ta'ala. Inilah hukum mengenai kesempurnaan ilmu yang kami sebutkan, meskipun bahasan ini tidak secara langsung selaras dengan hukum-hukum kedudukan (*al-jah*) dan riya, namun kami menyajikannya guna menyempurnakan pembahasan tentang bagian-bagian kesempurnaan.

وأما القدرة فليس فيها كمال حقيقي للعبد بل للعبد علم حقيقي وليس له قدرة حقيقة وإنما القدرة الحقيقة لله وما يحدث من الأشياء عقيب إرادة العبد وقدرته وحركته فهي حادثة بإحداث الله كما قررناه في كتاب الصبر والشكر وكتاب التوكل وفي مواضع شتى من ربع المنجيات فكمال العلم يبقى معه بعد الموت ويوصله إلى الله تعالى فأما كمال القدرة فلا

Adapun kekuasaan (*al-qudrah*), maka tidak ada kesempurnaan hakiki di dalamnya bagi seorang hamba. Hamba memiliki ilmu yang hakiki, namun tidak memiliki kekuasaan yang hakiki. Sungguh, kekuasaan yang hakiki itu hanyalah milik Allah. Segala sesuatu yang terjadi menyertai kehendak, kemampuan, dan gerakan seorang hamba, sejatinya diciptakan melalui penciptaan Allah, sebagaimana telah kami tetapkan dalam *Kitab as-Sabr wa asy-Syukr*, *Kitab at-Tawakkul*, serta di berbagai tempat dalam seperempat bagian Kitab Penyelamat (*Rub' al-Munjiyat*). Maka, kesempurnaan ilmu akan tetap bertahan bersamanya setelah kematian dan mengantarkannya kepada Allah Ta'ala, sedangkan kesempurnaan kekuasaan tidaklah demikian.

نعم له كمال من جهة القدرة بالإضافة إلى الحال وهي وسيلة له إلى كمال العلم كسلامة أطرافه وقوة يده للبطش ورجله للمشي وحواسه للإدراك فإن هذه القوة آلة للوصول بها إلى حقيقة كمال العلم وقد يحتاج في استيفاء هذه القوى إلى القدرة بمال والجاه للتوصل به إلى المطعم والمشرب والملبس والمسكن وذلك إلى قدر معلوم فإن لم يستعمله للوصول به إلى معرفة جلال الله فلا خير فيه البتة إلا من حيث اللذة الحالية التي تنقضي على القرب ومن ظن ذلك كمالاً فقد جهل فالخلق أكثرهم هالكون في غمره هذا الجهل فإنهم يظنون أن القدرة على الأجساد بقهر الحشمة وعلى أعيان الأموال بسعة الغنى وعلى تعظيم القلوب بسعة الجاه كمال فلما اعتقدوا ذلك أحبوه ولما أحبوه طلبوه ولما طلبوه شغلوا به وتهالكوا عليه فنسوا الكمال الحقيقي الذي يوجب القرب من الله تعالى ومن ملائكته وهو العلم والحرية أما العلم فما ذكرناه من معرفة الله تعالى وأما الحرية فالخلاص من أسر الشهوات وغموم الدنيا والاستيلاء عليها بالقهر تشبهاً بالملائكة الذين لا تستفزهم الشهوة ولا يستهويهم الغضب فإن دفع آثار الشهوة والغضب عن النفس من الكمال الذي هو من صفات الملائكة

Benar, manusia memiliki kesempurnaan dari segi kemampuan (kekuasaan) ditinjau dari kondisinya saat ini, dan itu merupakan perantara baginya menuju kesempurnaan ilmu; seperti kesehatan anggota badannya, kekuatan tangannya untuk memegang, kakinya untuk berjalan, dan indranya untuk menangkap persepsi. Kekuatan ini merupakan sarana untuk mencapai hakikat kesempurnaan ilmu. Dalam menyempurnakan kekuatan-kekuatan ini, ia terkadang membutuhkan kemampuan berupa harta dan kedudukan (jah) untuk memperoleh makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal sebatas kadar tertentu yang diperlukan. Jika ia tidak menggunakannya untuk mencapai pengenalan (ma'rifat) akan keagungan Allah, maka tidak ada kebaikan sama sekali di dalamnya, kecuali sekadar kenikmatan sesaat yang akan segera sirna. Barangsiapa menganggap hal itu sebagai kesempurnaan, sungguh ia telah bodoh. Kebanyakan makhluk binasa dalam liputan kebodohan ini; mereka mengira bahwa kemampuan menguasai tubuh fisik dengan menundukkan wibawa, menguasai aset harta dengan kelapangan kekayaan, serta menguasai pengagungan hati manusia dengan luasnya kedudukan adalah sebuah kesempurnaan. Ketika mereka meyakini hal itu, mereka pun mencintainya; ketika mencintainya, mereka memburunya; dan ketika memburunya, mereka disibukkan darinya dan bertekad bulat memburunya hingga binasa. Akibatnya, mereka melupakan kesempurnaan hakiki yang mengharuskan kedekatan (qurb) dengan Allah Ta'ala dan para malaikat-Nya, yaitu ilmu dan kebebasan (al-hurriyyah). Adapun ilmu, dialah ma'rifatullah (pengenalan kepada Allah Ta'ala) sebagaimana yang telah kami sebutkan. Sedangkan kebebasan, dialah pelepasan diri dari tawanan syahwat dan duka cita dunia, serta menguasainya dengan penundukan, sebagai bentuk keteladanan kepada para malaikat yang tidak diprovokasi oleh syahwat dan tidak disesatkan oleh amarah. Sebab, menepis pengaruh syahwat dan amarah dari jiwa merupakan bagian dari kesempurnaan yang menjadi sifat-sifat para malaikat.

ومن صفات الكمال لله تعالى استحالة التغير والتأثر عليه فمن كان عن التغير والتأثر بالعوارض أبعد كان إلى الله تعالى أقرب وبالملائكة أشبه ومنزلته عند الله أعظم

Di antara sifat kesempurnaan bagi Allah Ta'ala adalah mustahilnya mengalami perubahan dan terpengaruh (oleh sesuatu). Maka barangsiapa yang paling jauh dari perubahan dan pengaruh kondisi-kondisi temporer (al-awarith), dialah yang paling dekat dengan Allah Ta'ala, paling serupa dengan para malaikat, dan paling agung kedudukannya di sisi Allah.

وهذا كمال ثالث سوى كمال العلم والقدرة وإنما لم نورده في أقسام الكلام لأن حقيقته ترجع إلى عدم ونقصان فإن التغير نقصان إذ هو عبارة عن عدم صفة كائنة وهلاكها والهلاك نقص في اللذات وفي صفات الكمال

Ini adalah kesempurnaan ketiga selain kesempurnaan ilmu dan kemampuan (kekuasaan). Kami tidak mencantumkannya dalam pembagian perbincangan ini hanya karena hakikatnya kembali kepada ketiadaan ('adam) dan kekurangan. Sebab, perubahan adalah suatu kekurangan, mengingat ia merupakan ungkapan dari sirnanya suatu sifat yang ada dan kehancurannya, sedangkan kehancuran adalah kekurangan pada kenikmatan dan pada sifat-sifat kesempurnaan.

فإذن الكمالات ثلاثة إن عددنا عدم التغير بالشهوات وعدم الانقياد لها كمالاً ككمال العلم وكمال الحرية وأعني به عدم العبودية للشهوات وإرادة الأسباب الدنيوية وكمال القدرة للعبد طريق إلى اكتساب كمال العلم وكمال الحرية ولا طريق له إلى اكتساب كمال القدرة الباقية بعد موته إذ قدرته على أعيان الأموال وعلى استسخار القلوب والأبدان تنقطع بالموت ومعرفته وحريته لا ينعدمان بالموت بل يبقيان كمالاً فيه ووسيلة إلى القرب من الله تعالى

Dengan demikian, kesempurnaan itu ada tiga jika kita menghitung tidak terpengaruh oleh syahwat dan tidak tunduk padanya sebagai suatu kesempurnaan, yaitu: kesempurnaan ilmu, kesempurnaan kebebasan (yang saya maksudkan adalah ketiadaan perhambaan kepada syahwat dan kehendak pada sebab-sebab duniawi), serta kesempurnaan kemampuan (kekuasaan). Bagi seorang hamba, kesempurnaan kemampuan merupakan jalan untuk memperoleh kesempurnaan ilmu dan kesempurnaan kebebasan. Namun, ia tidak memiliki jalan untuk meraih kesempurnaan kemampuan yang kekal setelah kematiaannya; sebab kemampuannya atas fisik harta benda serta penundukan hati dan raga manusia akan terputus dengan kematian, sedangkan ma'rifat (pengetahuan) dan kebebasannya tidak akan musnah oleh kematian, melainkan tetap bertahan sebagai kesempurnaan pada dirinya dan menjadi perantara menuju kedekatan (qurb) dengan Allah Ta'ala.

فانظر كيف انقلب الجاهلون وانكبوا على وجوههم انكباب العميان فأقبلوا على طلب كمال القدرة بالجاه والمال وهو الكمال الذي لا يسلم وإن سلم فلا بقاء له وأعرضوا عن كمال الحرية والعلم الذي إذا حصل كان أبدياً لا انقطاع له وهؤلاء هم الذين اشتروا الحياة الدنيا بالآخرة فلا جرم لا يخفف عنهم العذاب ولا هم ينصرون وهم الذين لم يفهموا قوله تعالى المال والبنون زينة الحياة الدنيا والباقيات الصالحات خير عند ربك ثواباً وخير أملاً فالعلم والحرية هي الباقيات الصالحات التي تبقى كمالاً في النفس والمال والجاه هو الذي ينقضي على القرب وهو كما مثله الله تعالى حيث قال إنما مثل الحياة الدنيا كماء أنزلناه من السماء فاختلط به نبات الأرض الآية وقال تعالى واضرب لهم مثل الحياة الدنيا كماء أنزلناه من السماء إلى قوله فأصبح هشيماً تذروه الرياح وكل ما تذروه رياح الموت فهو زهرة الحياة الدنيا وكل ما لا يقطعه الموت فهو الباقيات الصالحات

Maka lihatlah bagaimana orang-orang bodoh itu berbalik dan tersungkur di atas wajah-wajah mereka bagaikan orang buta. Mereka menghadap untuk menuntut kesempurnaan kemampuan melalui kedudukan (jah) dan harta, yaitu kesempurnaan yang tidak pernah selamat, dan jikapun selamat, tidak akan kekal. Mereka berpaling dari kesempurnaan kebebasan dan ilmu yang apabila berhasil diraih akan bersifat abadi tanpa terputus. Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan akhirat, maka tidaklah diringankan azab dari mereka dan mereka tidak akan ditolong. Mereka adalah orang-orang yang tidak memahami firman Allah Ta'ala: "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." Maka ilmu dan kebebasan (dari syahwat) itulah amalan-amalan kekal yang saleh (al-baqiyat ash-shalihat) yang tetap menjadi kesempurnaan di dalam jiwa. Sedangkan harta dan kedudukan adalah hal yang akan segera sirna. Hal itu sebagaimana yang diumpamakan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya: "Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanaman-tanaman bumi…" hingga akhir ayat. Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan buatkanlah bagi mereka perumpamaan kehidupan dunia ini, yaitu seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit…" hingga firman-Nya: "…maka jadilah ia kering yang diterbangkan oleh angin." Segala sesuatu yang diterbangkan oleh angin kematian adalah perhiasan kehidupan dunia, dan segala sesuatu yang tidak terputus oleh kematian adalah al-baqiyat ash-shalihat (kebajikan yang kekal).

فقد عرفت بهذا أن كمال القدرة بالمال والجاه كمال ظني لا أصل له وأن من قصر الوقت على طلبه وظنه مقصوداً فهو جاهل وإليه أشار أبو الطيب بقوله

Dengan ini engkau telah mengetahui bahwa kesempurnaan kemampuan melalui harta dan kedudukan (jah) adalah kesempurnaan prasangka (dugaan semata) yang tidak memiliki landasan hakiki. Barangsiapa menyita waktunya hanya untuk memburunya dan menganggapnya sebagai tujuan utama, maka ia adalah orang yang bodoh. Kepada hal inilah Abu ath-Thayyib (Al-Mutanabbi) mengisyaratkan melalui bait syairnya:

ومن ينفق الساعات في جمع ماله … مخافة فقر فالذي فعل الفقر

"Barangsiapa menghabiskan waktu demi mengumpulkan hartanya … karena takut miskin, maka sejatinya apa yang dilakukannya itulah kemiskinan itu sendiri."

إلا قدر البلغة منهما إلى الكمال الحقيقي اللهم اجعلنا ممن وفقته للخير وهديته بلطفك

…kecuali sekadar bekal secukupnya dari keduanya menuju kesempurnaan yang hakiki. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau beri taufik menuju kebaikan dan Engkau beri petunjuk dengan kelembutan-Mu.

بيان ما يحمد من حب الجاه وما يذم

Penjelasan tentang Kecintaan pada Kedudukan (Jah) yang Terpuji dan yang Tercela

مهما عرفت أن معنى الجاه ملك القلوب والقدرة عليها فحكمه حُكْمُ مِلْكِ الْأَمْوَالِ فَإِنَّهُ عَرَضٌ مِنْ أَعْرَاضِ الحياة الدنيا وينقطع بالموت كالمال وَالدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ فَكُلُّ مَا خُلِقَ فِي الدنيا فيمكن أن يتزود منه للآخرة وكما أنه لا بد من أدنى مال لضرورة المطعم والمشرب والملبس فلا بد من أدنى جاه لضرورة المعيشة مع الخلق والإنسان كما لا يستغني عن طعام يتناوله له فيجوز أن يحب الطعام أو المال الذي يبتاع به الطعام فكذلك لا يخلو عن الحاجة إلى خادم يخدمه ورفيق يعينه وأستاذ يرشده وسلطان يحرسه ويدفع عنه ظلم الأشرار فحبه لأن يكون له في قلب خادمه من المحل ما يدعوه إلى الخدمة ليس بمذموم وحبه لأن يكون له في قلب رفيقه من المحل ما يحسن به مرافقته ومعاونته ليس بمذموم وحبه لأن يكون له في قلب أستاذه من المحل ما يحسن به إرشاده وتعليمه والعناية به ليس بمذموم وحبه لأن يكون له من المحل في قلب سلطانه ما يحثه ذلك على دفع الشر عنه ليس بمذموم فإن الجاه وسيلة إلى الأعراض كالمال فلا فرق بينهما إلا أن التحقيق في هذا يفضي إلى أن لا يكون المال والجاه بأعيانهما محبوبين له بل ينزل ذلك منزلة حب الإنسان أن يكون له في داره بيت ماء لأنه مضطر إليه لقضاء حاجته ويود أن لو استغنى عن قضاء الحاجة حتى يستغني عن بيت الماء فهذا على التحقيق ليس محبا لبيت الماء فكل ما يراد للتوصل به إلى محبوب فالمحبوب هو المقصود المتوصل إليه

Setibanya engkau mengetahui bahwa makna jah (kedudukan) adalah kepemilikan dan kekuasaan atas hati manusia, maka hukumnya sama seperti hukum kepemilikan harta. Keduanya merupakan kesenangan sementara ('aradh) dari kesenangan dunia yang akan terputus sebab kematian sebagaimana harta. Padahal dunia adalah ladang untuk akhirat, sehingga segala sesuatu yang diciptakan di dunia memungkinkan untuk dijadikan bekal menuju akhirat. Sebagaimana seseorang harus memiliki kadar minimal dari harta demi darurat makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal, maka ia juga harus memiliki kadar minimal dari kedudukan demi darurat kelangsungan hidup bersama sesama makhluk. Manusia, sebagaimana tidak bisa lepas dari makanan yang dikonsumsinya sehingga boleh baginya menyukai makanan atau harta yang digunakannya untuk membeli makanan tersebut, demikian pula ia tidak terbebas dari kebutuhan akan seorang pelayan yang melayaninya, teman yang membantunya, guru yang membimbingnya, dan penguasa yang menjaganya serta menolak kezaliman orang-orang jahat darinya. Oleh karena itu, kecintaannya untuk memiliki kedudukan di hati pelayannya yang mendorong pelayan itu untuk melayaninya bukanlah hal yang tercela; kecintaannya untuk memiliki kedudukan di hati temannya yang membuat temannya berbuat baik dalam menemani dan membantunya bukanlah hal yang tercela; kecintaannya untuk memiliki kedudukan di hati gurunya yang membuat gurunya membimbing, mengajar, dan memperhatikannya dengan baik bukanlah hal yang tercela; dan kecintaannya untuk memiliki kedudukan di hati penguasanya yang mendorong penguasa tersebut menolak kejahatan darinya juga bukanlah hal yang tercela. Sebab, kedudukan adalah sarana menuju pemenuhan hajat sebagaimana harta, tiada perbedaan di antara keduanya. Hanya saja, pengkajian yang mendalam (tahqiq) dalam hal ini membawa pada kesimpulan bahwa harta dan kedudukan itu sendiri pada hakikatnya tidaklah dicintai demi zatnya, melainkan disamakan posisinya dengan kecintaan seseorang memiliki toilet di rumahnya karena ia terpaksa menggunakannya untuk membuang hajat, padahal ia berharap seandainya ia tidak perlu membuang hajat sehingga tidak membutuhkan toilet tersebut. Maka orang ini, secara hakiki, bukanlah pencinta toilet. Dengan demikian, segala sesuatu yang diinginkan demi menyampaikan pada yang dicintai, maka yang dicintai itulah tujuan sebenarnya yang ingin dicapai.

وتدرك التفرقة بمثال آخر وهو أن الرجل قد يحب زوجته من حيث إنه يدفع بها فضلة الشهوة كما يدفع بيت الماء فضلة الطعام ولو كفى مؤنة الشهوة لكان يهجر زوجته كما أنه لو كفى قضاء الحاجة لكان لا يدخل بيت الماء ولا يدور به وقد يحب الإنسان زوجته لذاتها حب العشاق ولو كفى الشهوة لبقي مستصحباً لنكاحها فهذا هو الحب دون الأول وكذلك الجاه والمال

Perbedaan ini dapat dipahami melalui perumpamaan lain, yaitu bahwa seorang pria terkadang menyukai istrinya sekadar untuk menyalurkan kelebihan syahwat, sebagaimana toilet menyalurkan sisa makanan. Seandainya ia dicukupi dari beban syahwat, tentu ia akan meninggalkan istrinya, sebagaimana jika ia tidak perlu membuang hajat, ia tidak akan memasuki atau mendekati toilet. Namun, terkadang seorang pria mencintai istrinya demi zat sang istri itu sendiri sebagaimana cintanya orang yang kasmaran; seandainya ia dicukupi dari beban syahwat, ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengannya. Inilah kecintaan yang sejati, bukan yang pertama. Demikian pulalah halnya dengan kedudukan (jah) dan harta.

وقد يحب كل واحد منهما على هذين الوجهين فحبهما لأجل التوصل بِهِمَا إِلَى مُهِمَّاتِ الْبَدَنِ غَيْرُ مَذْمُومٍ وَحُبُّهُمَا لِأَعْيَانِهِمَا فِيمَا يُجَاوِزُ ضَرُورَةَ الْبَدَنِ وَحَاجَتَهُ مَذْمُومٌ وَلَكِنَّهُ لَا يُوصَفُ صَاحِبُهُ بِالْفِسْقِ وَالْعِصْيَانِ مَا لم يحمل الحب على مباشرة معصية

Terkadang masing-masing dari keduanya (harta dan kedudukan) dicintai melalui dua cara ini. Mencintai keduanya demi menyampaikan pada kebutuhan-kebutuhan penting jasmani adalah tidak tercela. Sedangkan mencintai keduanya demi zatnya sendiri pada hal-hal yang melebihi batas darurat dan kebutuhan jasmani adalah tercela; namun pelakunya tidaklah disifati dengan kefasikan dan kemaksiatan selama kecintaan tersebut tidak membawanya untuk melakukan kemaksiatan secara langsung.

وما يتوصل به إلى اكتساب بِكَذِبٍ وَخِدَاعٍ وَارْتِكَابِ مَحْظُورٍ وَمَا لَمْ يَتَوَصَّلْ إِلَى اكْتِسَابِهِ بِعِبَادَةٍ فَإِنَّ التَّوَصُّلَ إِلَى الْجَاهِ وَالْمَالِ بِالْعِبَادَةِ جِنَايَةٌ عَلَى الدِّينِ وَهُوَ حَرَامٌ وإليه يرجع معنى الرياء المحظور كما سيأتي

Selama ia tidak dijadikan sarana untuk meraihnya dengan kedustaan, tipu daya, dan pelanggaran hal-hal yang dilarang, serta selama ia tidak dijadikan sarana untuk meraihnya melalui ibadah. Sebab, menjadikan ibadah sebagai sarana untuk meraih kedudukan (jah) dan harta merupakan kejahatan terhadap agama dan hukumnya haram. Ke sanalah bermuara makna riya yang terlarang sebagaimana akan dijelaskan kemudian.

فإن قلت طلبه المنزلة والجاه في قلب أستاذه وخادمه ورفيقه وسلطانه ومن يرتبط به أمره مباح على الإطلاق كيفما كان أو يباح إلى حد مخصوص على وجه مخصوص فأقول يُطْلَبُ ذَلِكَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ وَجْهَانِ مُبَاحَانِ وَوَجْهٌ مَحْظُورٌ

Jika engkau bertanya: "Apakah upayanya mencari kedudukan dan wibawa di hati gurunya, pelayannya, temannya, penguasanya, serta orang yang urusannya terikat dengannya itu dibolehkan secara mutlak bagaimanapun bentuknya, ataukah dibolehkan sampai batas tertentu dengan cara yang khusus?" Maka aku katakan: Hal itu dicari melalui tiga cara; dua cara dibolehkan (mubah) dan satu cara dilarang (mahzhur).

أَمَّا الْوَجْهُ الْمَحْظُورُ فَهُوَ أَنْ يَطْلُبَ قِيَامَ الْمَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِهِمْ بِاعْتِقَادِهِمْ فِيهِ صفة وهو مُنْفَكٌّ عَنْهَا مِثْلَ الْعِلْمِ وَالْوَرَعِ وَالنَّسَبِ فَيَظْهَرُ لَهُمْ أَنَّهُ عَلَوِيٌّ أَوْ عَالِمٌ أَوْ وَرِعٌ وَهُوَ لَا يَكُونُ كَذَلِكَ

Adapun cara yang dilarang adalah ia menuntut tertanamnya kedudukan di hati mereka dengan keyakinan mereka bahwa dirinya memiliki suatu sifat, padahal ia terlepas dari sifat tersebut, seperti ilmu, sifat wara', atau nasab; sehingga ia menampakkan kepada mereka bahwa ia adalah seorang keturunan Alawi (nasab mulia), orang alim, atau orang yang wara', padahal kenyataannya tidaklah demikian.

فَهَذَا حَرَامٌ لِأَنَّهُ كذب وتلبيس أما بالقول أو بالمعاملة

Maka hal ini hukumnya haram, karena tergolong kedustaan dan pemalsuan (penyamaran hakikat), baik melalui ucapan maupun tindakan.

أما أَحَدُ الْمُبَاحَيْنِ فَهُوَ أَنْ يَطْلُبَ الْمَنْزِلَةَ بِصِفَةٍ هُوَ مُتَّصِفٌ بِهَا كَقَوْلِ يُوسُفَ ﷺ فيما أَخْبَرَ عَنْهُ الرَّبُّ تَعَالَى اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الأرض إني حفيظ عليم فَإِنَّهُ طَلَبَ الْمَنْزِلَةَ فِي قَلْبِهِ بِكَوْنِهِ حَفِيظًا عليماً وكان

Adapun salah satu dari dua cara yang dibolehkan adalah ia menuntut kedudukan melalui sifat yang memang ada pada dirinya, sebagaimana ucapan Nabi Yusuf 'alaihis-salam mengenai apa yang dikabarkan oleh Allah Ta'ala: "Jadikanlah aku bendaharawan bumi (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan." Sebab, beliau meminta kedudukan di hati penguasa dengan keberadaannya sebagai orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan, dan beliau…

مُحْتَاجًا إِلَيْهِ وَكَانَ صَادِقًا فِيهِ

…membutuhkannya serta beliau jujur dalam pernyataannya itu.

وَالثَّانِي أَنْ يَطْلُبَ إِخْفَاءَ عَيْبٍ مِنْ عُيُوبِهِ وَمَعْصِيَةٍ مِنْ مَعَاصِيهِ حَتَّى لَا يُعْلَمَ فَلَا تَزُولُ مَنْزِلَتُهُ بِهِ فَهَذَا أَيْضًا مُبَاحٌ لِأَنَّ حِفْظَ السَّتْرِ عَلَى الْقَبَائِحِ جَائِزٌ وَلَا يَجُوزُ هَتْكُ السَّتْرِ وإظهار القبيح

Dan cara kedua (yang dibolehkan) adalah ia berupaya menyembunyikan aib dari aib-aibnya atau kemaksiatan dari kemaksiatan-kemaksiatannya agar tidak diketahui, sehingga kedudukannya tidak sirna karenanya. Ini juga dibolehkan, karena menjaga tirai penutup atas keburukan-keburukan adalah boleh, sedangkan merobek tirai dan menampakkan keburukan adalah tidak boleh.

وهذا ليس فيه تلبيس بل هو سد لطريق العلم بما لا فائدة في العلم به كالذي يخفي عن السلطان أَنَّهُ يَشْرَبُ الْخَمْرَ وَلَا يُلْقِي إِلَيْهِ أَنَّهُ وَرِعٌ فَإِنَّ قَوْلَهُ إِنِّي وَرِعٌ تَلْبِيسٌ وَعَدَمُ إِقْرَارِهِ بِالشُّرْبِ لَا يُوجِبُ اعْتِقَادَ الْوَرَعِ بَلْ يَمْنَعُ الْعِلْمَ بِالشُّرْبِ

Hal ini tidak mengandung pemalsuan (talbis), melainkan penutupan jalan bagi lahirnya pengetahuan tentang sesuatu yang tidak ada manfaatnya untuk diketahui; seperti orang yang menyembunyikan dari penguasa bahwa ia meminum khamar, namun ia tidak menyampaikan kepadanya bahwa ia seorang yang wara'. Sebab, ucapannya "Aku seorang yang wara'" adalah pemalsuan, sedangkan tidak mengakui perbuatan minum khamar tidaklah otomatis menimbulkan keyakinan akan sifat wara'-nya, melainkan hanya mencegah diketahuinya perbuatan minum khamar tersebut.

وَمِنْ جُمْلَةِ الْمَحْظُورَاتِ تَحْسِينُ الصَّلَاةِ بَيْنَ يَدَيْهِ لِيَحْسُنَ فِيهِ اعْتِقَادُهُ فَإِنَّ ذَلِكَ رِيَاءٌ وَهُوَ مُلْبِسٌ إِذْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ مِنَ الْمُخْلِصِينَ الْخَاشِعِينَ لِلَّهِ وَهُوَ مُرَاءٍ بِمَا يَفْعَلُهُ فَكَيْفَ يَكُونُ مُخْلِصًا فَطَلَبُ الْجَاهِ بِهَذَا الطَّرِيقِ حَرَامٌ وَكَذَا بِكُلِّ مَعْصِيَةٍ وَذَلِكَ يجري مجرى اكتساب المال الحرام مِنْ غَيْرِ فَرْقٍ وَكَمَا لَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَمَلَّكَ مَالَ غَيْرِهِ بِتَلْبِيسٍ فِي عِوَضٍ أَوْ غَيْرِهِ فَلَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَمَلَّكَ قَلْبَهُ بِتَزْوِيرٍ وَخِدَاعٍ فَإِنَّ مِلْكَ الْقُلُوبِ أَعْظَمُ من ملك الأموال

Di antara perkara yang diharamkan adalah memperbagus shalat di hadapan orang lain agar persangkaannya terhadap dirinya menjadi baik, karena hal itu adalah riya. Hal itu merupakan penyesatan, sebab dikhayalkan kepadanya bahwa ia termasuk orang-orang yang ikhlas dan khusyuk kepada Allah, padahal ia adalah seorang yang berbuat riya dengan apa yang dilakukannya. Maka bagaimana mungkin ia menjadi seorang yang ikhlas? Oleh karena itu, mencari kedudukan (jah) melalui jalan ini adalah haram, demikian pula dengan setiap maksiat. Hal ini berkedudukan sama seperti memperoleh harta yang haram tanpa ada perbedaan. Sebagaimana tidak boleh baginya untuk menguasai harta orang lain dengan penyamaran atau penipuan dalam transaksi atau selainnya, maka tidak boleh pula baginya menguasai hatinya dengan kepalsuan dan kecurangan, sebab menguasai hati itu lebih besar dampaknya daripada menguasai harta.

بيان السبب في حب المدح والثناء وارتياح النفس به وميل الطبع إليه وبغضها

Penjelasan tentang Sebab Menyukai Pujian dan Sanjungan, Rasa Senang Jiwa dengannya, Kecenderungan Tabiat Kepadanya, serta Kebenciannya…

للذم ونفرتها منه

…terhadap Celaan dan Ketidaksukaan Jiwa darinya

اعلم أن لحب المدح والتذاذ القلب به أربعة أسباب

Ketahuilah bahwa menyukai pujian dan rasa nikmatnya hati dengannya memiliki empat sebab.

السبب الأول وهو الأقوى شعور النفس بالكمال فإنا بينا أن الكمال محبوب وكل محبوب فإدراكه لذيذ

Sebab pertama—dan ini yang paling kuat—adalah kesadaran jiwa akan kesempurnaan dirinya. Sebab, kami telah menjelaskan bahwa kesempurnaan itu dicintai, dan setiap hal yang dicintai, pencapaian dan kesadaran terhadapnya terasa nikmat.

فمهما شعرت النفس بكمالها ارتاحت واعتزت وتلذذت والمدح يشعر نفس الممدوح بكمالها فإن الوصف الذي به مدح لا يخلو إما أن يكون جلياً ظاهراً أو يكون مشكوكاً فيه فإن كان جلياً ظاهراً محسوساً كانت اللذة به أقل ولكنه لا يخلو عن لذة كثنائه عليه بأنه طويل القامة أبيض اللون فإن هذا نوع كمال ولكن النفس تغفل عنه فتخلو عن لذته فإذا استشعرته لم يخل حدوث الشعور عن حدوث لذة وإن كان ذلك الوصف مما يتطرق إليه الشك فاللذة فيه أعظم كالثناء عليه بكمال العلم أو كمال الورع أو بالحسن المطلق فإن الإنسان ربما يكون شاكاً في كمال حسنه وفي كمال علمه وكمال ورعه ويكون مشتاقاً إلى زوال هذا الشك بأن يصير مستيقناً لكونه عديم النظير في هذه الأمور إذ تطمئن نفسه إليه فإذا ذكره غيره أورث ذلك طمأنينة وثقة باستشعار ذلك الكمال فتعظم لذاته وإنما تعظم اللذة بهذه العلة مهما صدر الثناء من بصير بهذه الصفات خبير بها لا يجازف في القول إلا عن تحقيق ذلك كفرح التلميذ بثناء أستاذه عليه بالكياسة والذكاء وغزارة الفضل فإنه في غاية اللذة وإن صدر ممن يجازف في الكلام أو لا يكون بصيراً بذلك الوصف ضعفت اللذة وبهذه العلة يبغض الذم أيضاً ويكرهه لأنه يشعره بنقصان نفسه والنقصان ضد الكمال المحبوب فهو ممقوت الشعور به مؤلم ولذلك يعظم الألم إذا صدر الذم من بصير موثوق به كما ذكرناه في المدح

Maka kapan pun jiwa merasakan kesempurnaannya, ia merasa tenang, merasa bangga, dan merasa nikmat. Pujian menyadarkan jiwa orang yang dipuji akan kesempurnaannya. Sifat yang dengannya pujian dialamatkan tidak lepas dari dua kemungkinan: adakalanya tampak jelas atau diragukan (masih samar). Jika sifat itu tampak jelas dan dapat dirasakan, maka kenikmatannya lebih kecil, namun tidak terlepas dari rasa nikmat, seperti pujian kepadanya bahwa ia berperawakan tinggi atau berkulit putih. Sebab ini merupakan suatu bentuk kesempurnaan, tetapi jiwa sering kali lalai darinya sehingga terluput dari kenikmatannya. Apabila jiwa menyadarinya, munculnya kesadaran itu tidak terlepas dari munculnya kenikmatan. Dan jika sifat itu termasuk hal yang dapat dimasuki keraguan, maka kenikmatan di dalamnya lebih besar, seperti sanjungan atas kesempurnaan ilmu, kesempurnaan sifat wara', atau keindahan yang mutlak. Sebab seseorang terkadang ragu akan kesempurnaan keindahannya, kesempurnaan ilmunya, dan kesempurnaan wara'-nya, lalu ia sangat merindukan sirnanya keraguan ini hingga menjadi yakin bahwa ia tidak ada tandingannya dalam hal-hal tersebut ketika jiwanya merasa tenang dengannya. Maka ketika orang lain menyebutkannya, hal itu membuahkan ketenangan dan kepercayaan dengan merasakan kesempurnaan tersebut, sehingga kenikmatannya menjadi besar. Kenikmatan ini hanya menjadi besar dengan alasan ini bilamana sanjungan itu keluar dari seorang yang jeli terhadap sifat-sifat ini lagi berpengalaman, yang tidak berspekulasi dalam perkataan melainkan berdasarkan penelitian yang sungguh-sungguh; seperti kegembiraan seorang murid atas pujian gurunya terhadap kecerdasan, kepintaran, dan keutamaan ilmunya yang melimpah, maka itu berada dalam puncak kenikmatan. Namun jika pujian itu keluar dari orang yang berspekulasi dalam perkataan atau tidak jeli terhadap sifat tersebut, maka kenikmatannya melemah. Berdasarkan alasan ini pula, celaan menjadi dibenci dan jiwa enggan terhadapnya, karena celaan menyadarkannya akan kekurangan dirinya, sedangkan kekurangan adalah lawan dari kesempurnaan yang dicintai, sehingga menyadari kekurangan itu dibenci dan menyakitkan. Oleh karena itu, rasa sakitnya menjadi besar apabila celaan tersebut keluar dari orang yang jeli dan terpercaya, sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam hal pujian.

السَّبَبُ الثَّانِي أَنَّ الْمَدْحَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ قَلْبَ الْمَادِحِ مَمْلُوكٌ لِلْمَمْدُوحِ وَأَنَّهُ مُرِيدٌ لَهُ وَمُعْتَقِدٌ فِيهِ وَمُسَخَّرٌ تَحْتَ مَشِيئَتِهِ وَمِلْكُ الْقُلُوبِ محبوب والشعور بحصوله لذيذ وبهذه العلة تعظم اللذة مهما صدر الثناء ممن تتسع قدرته وينتفع باقتناص قلبه كالملوك والأكابر ويضعف مهما كان المادح ممن لا يؤبه له ولا يقدر على شيء فإن القدرة عليه بملك قلبه قدرة على أمر حقير فلا يدل المدح إلا على قدرة قاصرة وبهذه العلة أيضاً يكره الذم ويتألم به القلب وإذا كان من الأكابر كانت نكايته أعظم لأن الفائت به أعظم

Sebab kedua: Bahwa pujian menunjukkan bahwa hati orang yang memuji telah menjadi tunduk kepada orang yang dipuji, dan bahwa ia menghendakinya, meyakini keutamaannya, serta tunduk di bawah kehendaknya. Menguasai hati merupakan hal yang dicintai, dan kesadaran akan tercapainya hal itu terasa nikmat. Dengan alasan ini, kenikmatan menjadi besar bilamana sanjungan keluar dari orang yang luas kekuasaannya dan dapat diambil manfaat dengan memikat hatinya, seperti raja-raja dan para pembesar. Kenikmatan itu melemah bilamana pemuji termasuk orang yang tidak diperhitungkan dan tidak berkuasa atas sesuatu pun; sebab kekuasaan atasnya dengan menguasai hatinya adalah kekuasaan atas hal yang remeh, sehingga pujian tersebut tidak menunjukkan melainkan kekuasaan yang terbatas. Dengan alasan ini pula celaan dibenci dan hati merasa sakit karenanya. Dan apabila celaan itu berasal dari para pembesar, maka pengaruh buruknya lebih besar karena hal berharga yang luput karenanya juga lebih besar.

السبب الثَّالِثُ أَنَّ ثَنَاءَ الْمُثْنِي وَمَدْحَ الْمَادِحِ سَبَبٌ لِاصْطِيَادِ قَلْبِ كُلِّ مَنْ يَسْمَعُهُ لَا سِيَّمَا إذا كان ذلك ممن يلتفت إلى قوله ويعتد بثنائه وهذا مختص بثناء يقع على الملأ فلا جرم كلما كان الجمع أكثر والمثني أجدر بأن يلتفت إلى

Sebab ketiga: Bahwa sanjungan orang yang menyanjung dan pujian orang yang memuji menjadi sarana untuk memikat hati setiap orang yang mendengarnya, terlebih lagi jika hal itu berasal dari orang yang perkataannya diperhatikan dan sanjungannya diperhitungkan. Hal ini khusus bagi sanjungan yang disampaikan di hadapan khalayak ramai. Maka tidak diragukan lagi, semakin banyak perkumpulan orang dan semakin layak orang yang memuji untuk diperhatikan…

قوله كان المدح ألذ والذم أشد على النفس

…perkataannya, maka pujian itu terasa lebih nikmat dan celaan terasa lebih berat bagi jiwa.

السبب الرابع أن المدح يدل على حشمة الممدوح واضطرار المادح إلى إطلاق اللسان بالثناء على الممدوح إما عن طوع وإما عن قهر فإن الحشمة أيضاً لذيذة لما فيها من القهر والقدرة وهذه اللذة تحصل وإن كان المادح لا يعتقد في الباطن ما مدح به ولكن كونه مضطراً إلى ذكره نوع قهر واستيلاء عليه فلا جرم تكون لذته بقدر تمنع المادح وقوته فتكون لذة ثناء القوي الممتنع عن التواضع بالثناء أشد

Sebab keempat: Bahwa pujian menunjukkan wibawa orang yang dipuji dan terpaksanya orang yang memuji untuk menggerakkan lidahnya dengan sanjungan kepada yang dipuji, baik secara sukarela maupun karena tunduk. Sebab wibawa itu sendiri juga terasa nikmat karena di dalamnya terdapat unsur penundukan dan kekuasaan. Kenikmatan ini tetap diperoleh meskipun pemuji secara batin tidak meyakini apa yang ia puji, namun keberadaannya yang terpaksa untuk menyebutkannya merupakan sejenis penundukan dan penguasaan atas dirinya. Oleh karena itu, kenikmatannya berada sebanding dengan keteguhan dan kekuatan sang pemuji, sehingga kenikmatan atas sanjungan orang yang kuat yang enggan bertawaduk menjadi lebih dahsyat.

فهذه الأسباب الأربعة قد تجمع في مدح مادح واحد فيعظم بها الالتذاذ وقد تفترق فتنقص اللذة بها

Keempat sebab ini terkadang berkumpul seluruhnya dalam pujian dari satu pemuji, sehingga kenikmatan karenanya menjadi sangat besar, dan terkadang berpisah, sehingga berkuranglah kenikmatan dengannya.

أما الْعِلَّةُ الْأُولَى وَهِيَ اسْتِشْعَارُ الْكَمَالِ فَتَنْدَفِعُ بِأَنْ يَعْلَمَ الْمَمْدُوحُ أَنَّهُ غَيْرُ صَادِقٍ فِي قَوْلِهِ كَمَا إِذَا مُدِحَ بِأَنَّهُ نَسِيبٌ أَوْ سَخِيٌّ أو عالم يعلم أَوْ مُتَوَرِّعٌ عَنِ الْمَحْظُورَاتِ وَهُوَ يَعْلَمُ مِنْ نَفْسِهِ ضِدَّ ذَلِكَ فَتَزُولُ اللَّذَّةُ الَّتِي سَبَبُهَا اسْتِشْعَارُ الْكَمَالِ وَتَبْقَى لَذَّةُ الِاسْتِيلَاءِ عَلَى قَلْبِهِ وعلى لسانه وبقية اللذات فَإِنْ كَانَ يَعْلَمُ أَنَّ الْمَادِحَ لَيْسَ يَعْتَقِدُ مَا يَقُولُهُ وَيَعْلَمُ خُلُوَّهُ عَنْ هَذِهِ الصِّفَةِ بطلب اللذة الثانية وهو استيلاؤه على قلبه وتبقى لذة الاستيلاء والحشمة على اضطرار لسانه إلى النطق بالثناء فإن لم يكن ذلك عن خوف بل كان بطريق اللعب بطلب اللذات كلها فلم يكن فيه أصلاً لذة لفوات الأسباب الثلاثة فهذا ما يكشف الغطاء عن علة التذاذ النفس بالمدح وتألمها بسبب الذم

Adapun alasan pertama, yaitu menyadari kesempurnaan, dapat tertolak apabila orang yang dipuji mengetahui bahwa pemuji tidak benar dalam perkataannya; seperti jika ia dipuji sebagai orang yang berketurunan mulia, pemurah, berilmu, atau memelihara diri (wara') dari hal-hal yang diharamkan, sedangkan ia mengetahui dari dirinya sendiri kebalikan dari hal itu. Maka sirnalah kenikmatan yang disebabkan oleh rasa kesempurnaan itu, sementara yang tersisa adalah kenikmatan menguasai hati dan lidahnya serta kenikmatan-kenikmatan lainnya. Jika ia mengetahui bahwa pemuji tidak meyakini apa yang dikatakannya dan mengetahui bahwa dirinya sunyi dari sifat tersebut, maka hilanglah pencarian kenikmatan kedua yaitu menguasai hatinya, tetapi yang tersisa adalah kenikmatan penguasaan dan kewibawaan atas terpaksanya lidah pemuji untuk mengucapkan pujian. Apabila hal itu terjadi bukan karena takut, melainkan dengan cara bermain-main saja dalam mencari seluruh kenikmatan itu, maka tidak ada kenikmatan sama sekali di dalamnya karena hilangnya ketiga sebab tersebut. Inilah penjelasan yang menyibak tabir tentang alasan nikmatnya jiwa terhadap pujian dan rasanya sakit disebabkan oleh celaan.

وإنما ذكرنا ذلك ليعرف طريق العلاج لحب الجاه وحب المحمدة وخوف المذمة فإن مَا لَا يُعْرَفُ سَبَبُهُ لَا يُمْكِنُ مُعَالَجَتُهُ إِذِ الْعِلَاجُ عِبَارَةٌ عَنْ حَلِّ أَسْبَابِ الْمَرَضِ

Kami hanya menyebutkan hal tersebut agar diketahui jalan pengobatan bagi rasa cinta kedudukan (jah), cinta pujian, dan rasa takut akan celaan. Sebab, apa yang tidak diketahui sebabnya tidaklah mungkin diobati, karena pengobatan itu pada hakikatnya adalah mengurai sebab-sebab penyakit.

والله الموفق بكرمه ولطفه وصلى الله على كل عبد مصطفى

Dan Allah-lah yang memberi taufik dengan kemurahan dan kelembutan-Nya, serta semoga shalawat Allah tercurah kepada setiap hamba yang terpilih.

بَيَانُ عِلَاجِ حُبِّ الْجَاهِ

Penjelasan tentang Pengobatan Cinta Kedudukan (Jah)

اعْلَمْ أَنَّ مَنْ غَلَبَ عَلَى قَلْبِهِ حُبُّ الْجَاهِ صَارَ مَقْصُورَ الْهَمِّ عَلَى مُرَاعَاةِ الْخَلْقِ مَشْغُوفًا بِالتَّوَدُّدِ إِلَيْهِمْ والمراءات لِأَجْلِهِمْ وَلَا يَزَالُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ مُلْتَفِتًا إِلَى مَا يُعَظِّمُ مَنْزِلَتَهُ عِنْدَهُمْ وَذَلِكَ بَذْرُ النِّفَاقِ وَأَصْلُ الْفَسَادِ وَيَجُرُّ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ إِلَى التَّسَاهُلِ فِي الْعِبَادَاتِ وَالْمُرَاءَاةِ بِهَا وَإِلَى اقتحام المحظورات للتوصل إلى اقتناص القلوب ولذلك شبه رسول الله ﷺ حب الشرف والمال وإفسادهما للدين بذئبين ضاريين وقال ﷺ إنه ينبت النفاق كما ينبت الماء البقل إذ النفاق هو مخالفة الظاهر للباطن بالقول أو الفعل وكل من طلب المنزلة في قلوب الناس فيضطر إلى النفاق معهم وإلى التظاهر بخصال حميدة هو خال عنها وذلك هو عين النفاق

Ketahuilah bahwa barang siapa yang hatinya didominasi oleh cinta kedudukan (jah), maka cita-citanya menjadi terbatas hanya untuk memperhatikan penilaian makhluk, sangat tergila-gila untuk mencari simpati mereka dan berbuat riya demi mereka. Ia senantiasa dalam perkataan dan perbuatannya menoleh kepada apa yang dapat mengagungkan kedudukannya di sisi mereka. Hal itu merupakan benih kemunafikan dan pokok kerusakan, yang niscaya menyeret kepada sikap meremehkan ibadah dan berbuat riya dengannya, serta menerjang hal-hal yang diharamkan demi memikat hati manusia. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ menyerupakan cinta kehormatan dan harta serta perusakan keduanya terhadap agama seperti dua ekor serigala yang galak. Beliau ﷺ juga bersabda bahwa hal itu menumbuhkan kemunafikan sebagaimana air menumbuhkan sayur-mayur. Sebab kemunafikan adalah berbedanya lahiriah dengan batiniah, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dan setiap orang yang mencari kedudukan di hati manusia niscaya terpaksa berbuat munafik kepada mereka dan berpura-pura memiliki sifat-sifat terpuji yang sebenarnya tidak ada pada dirinya, dan itulah inti kemunafikan.

فحب الجاه إذا مِنَ الْمُهْلِكَاتِ فَيَجِبُ عِلَاجُهُ وَإِزَالَتُهُ عَنِ الْقَلْبِ فإن طبع جبل عليه القلب كما جبل على حب المال وَعِلَاجُهُ مُرَكَّبٌ مِنْ عِلْمٍ وَعَمَلٍ

Maka cinta kedudukan (jah) termasuk perkara yang membinasakan (al-muhlikat), sehingga wajib mengobatinya dan menghilangkannya dari hati, sebab ia adalah karakter alami yang diciptakan pada hati sebagaimana diciptakannya cinta harta. Dan pengobatannya tersusun dari ilmu dan amal.

أَمَّا الْعِلْمُ فَهُوَ أَنْ يَعْلَمَ السَّبَبَ الَّذِي لِأَجْلِهِ أَحَبَّ الجاه وهو كمال القدرة على أشخاص الناس وعلى قلوبهم وقد بينا أن ذلك إِنْ صَفَا وَسُلِّمَ فَآخِرُهُ الْمَوْتُ فَلَيْسَ هُوَ من الباقيات الصالحات بل لو سجد لك كل من على بسيط الأرض من المشرق إلى المغرب فإلى خمسين سنة لا يبقى الساجد ولا المسجود له ويكون حالك كحال من مات قبلك من ذوي الجاه مع المتواضعين له

Adapun ilmu, yaitu dengan mengetahui sebab yang karenanya ia menyukai kedudukan (jah), yaitu kesempurnaan kekuasaan atas diri manusia dan hati mereka. Kami telah menjelaskan bahwa hal itu, jika murni dan selamat sekalipun, akhirnya adalah kematian, maka ia bukanlah termasuk kebajikan yang kekal (al-baqiyat ash-shalihat). Bahkan seandainya seluruh orang yang ada di hamparan bumi dari timur hingga barat bersujud kepadamu, maka hingga lima puluh tahun mendatang tidak akan tersisa orang yang bersujud maupun yang disujudi, dan keadaanmu akan menjadi seperti keadaan orang-orang berkedudukan sebelummu yang telah mati bersama orang-orang yang tunduk kepadanya.

فهذا لا يَنْبَغِي أَنْ يَتْرُكَ بِهِ الدِّينَ الَّذِي هُوَ الحياة الأبدية التي لا انقطاع لها ومن فهم الكمال الحقيقي والكمال الوهمي كما سبق صغر الجاه في عينه إلا أن ذلك إنما يصغر في عين من ينظر إلى الآخرة كأنه يشاهدها ويستحقر العاجلة ويكون الموت كالحاصل عنده ويكون حاله كحال الحسن البصري حين كتب إلى عمر بن عبد العزيز أما بعد فكأنك بآخر من كتب عليه الموت قد مات فانظر كيف مد نظره نحو المستقبل وقدره كائناً

Maka hal seperti ini tidak sepatutnya membuat seseorang meninggalkan agama, yang merupakan kehidupan abadi yang tiada terputus. Barang siapa memahami kesempurnaan yang hakiki dan kesempurnaan yang semu sebagaimana telah lalu, niscaya kedudukan menjadi kecil dalam pandangannya. Hanya saja, hal itu hanya menjadi kecil dalam pandangan orang yang memandang akhirat seolah-olah ia menyaksikannya langsung, serta menganggap remeh dunia yang sekejap ini dan menganggap kematian seolah-olah sudah terjadi padanya. Keadaannya menjadi seperti keadaan al-Hasan al-Bashri ketika menulis surat kepada 'Umar bin 'Abdul 'Aziz: "Amma ba'du, seolah-olah engkau adalah orang terakhir yang ditetapkan kematian atasnya yang telah mati." Maka perhatikanlah bagaimana beliau memanjangkan pandangannya ke masa depan dan menganggapnya pasti terjadi.

وكذلك حال عمر بن عبد العزيز حين كتب في جوابه أما بعد فكأنك بالدنيا لم تكن

Demikian pula keadaan 'Umar bin 'Abdul 'Aziz ketika menulis balasan suratnya: "Amma ba'du, seolah-olah engkau memandang dunia ini belum pernah ada sama sekali."

وكأنك بالآخرة لم تزل فهؤلاء كان التفاتهم إلى العاقبة فكان عملهم لها بالتقوى إذ علموا أن العاقبة للمتقين فاستحقروا الجاه والمال في الدنيا

Seolah-olah engkau telah berada di akhirat selamanya. Mereka ini adalah orang-orang yang perhatiannya tertuju kepada kesudahan (akhirat), maka amal perbuatan mereka diperuntukkan baginya dengan ketakwaan, karena mereka menyadari bahwa kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Oleh sebab itu, mereka memandang hina kedudukan (jah) dan harta di dunia.

وأبصار أكثر الخلق ضعيفة مقصورة على العاجلة التي لا يمتد نورها إلى مشاهدة العواقب ولذلك قال تعالى بل تؤثرون الحياة الدنيا والآخرة خير وأبقى وقال ﷿ كلا بل تحبون العاجلة وتذرون الآخرة فمن هذا حده فينبغي أن يعالج قلبه من حب الجاه بالعلم بالآفات العاجلة وهو أن يتفكر في الأخطار التي يستهدف لها أرباب الجاه في الدنيا فإن كل ذي جاه محسود ومقصود بالإيذاء وخائف على الدوام على جاهه ومحترز من أن تتغير منزلته في القلوب والقلوب أشد تغيراً من القدر في غليانها وهي مترددة بين الإقبال والإعراض فكل ما يبنى على قلوب الخلق يضاهي ما يبنى على أمواج البحر فإنه لا ثبات له والاشتغال بمراعاة القلوب وحفظ الجاه ودفع كيد الحساد ومنع أذى الأعداء كل ذلك غموم عاجلة ومكدرة للذة الجاه فلا يفي في الدنيا مرجوها بمخوفها فضلاً عما يفوت في الآخرة فبهذا ينبغي أن تعالج البصيرة الضعيفة

Namun, pandangan mata batin mayoritas makhluk itu lemah, terbatas hanya pada kehidupan duniawi yang cepat berlalu (al-'ajilah), yang cahayanya tidak membentang hingga dapat menyaksikan akibat-akibat di akhirat. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman: 'Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.' (QS. Al-A'la: 16-17), dan Dia Azza wa Jalla juga berfirman: 'Sekali-kali tidak! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan kehidupan akhirat.' (QS. Al-Qiyamah: 20-21). Maka barangsiapa yang tingkat kemampuannya demikian, hendaknya ia mengobati hatinya dari kecintaan terhadap kedudukan (jah) dengan mengetahui bahaya-bahaya yang segera terjadi di dunia. Caranya adalah dengan merenungkan risiko-risiko yang mengintai para pemilik kedudukan di dunia. Sebab, setiap orang yang memiliki kedudukan pasti didengki, menjadi sasaran gangguan, dan terus-menerus merasa cemas akan keselamatan kedudukannya, serta senantiasa berwaspada agar kedudukannya di dalam hati manusia tidak berubah. Padahal, hati manusia itu lebih cepat bergejolak daripada kuali yang sedang mendidih, dan senantiasa berbolak-balik antara berpaling dan menerima. Segala sesuatu yang dibangun di atas hati makhluk menyamai apa yang dibangun di atas gelombang lautan, yang tidak memiliki ketetapan. Kesibukan menjaga hati manusia, memelihara kedudukan, menolak tipu daya orang-orang yang dengki, dan mencegah gangguan musuh, semuanya merupakan duka cita yang langsung dirasakan dan memperkeruh kenikmatan kedudukan tersebut. Sehingga apa yang diharapkan di dunia tidak sebanding dengan apa yang ditakutkan darinya, terlebih lagi apa yang luput di akhirat. Dengan cara inilah hendaknya mata batin yang lemah itu diobati.

وأما من نفذت بصيرته وقوي إيمانه فلا يلتفت إلى الدنيا فهذا هو العلاج من حيث العلم

Adapun orang yang mata batinnya telah tajam menembus dan imannya telah kuat, maka ia tidak akan menoleh sedikit pun kepada dunia. Inilah bentuk pengobatan dari sudut pandang ilmu (pengetahuan).

وأما من حيث العمل فإسقاط الجاه على قلوب الخلق بمباشرة أفعال يلام عليها حتى يسقط من أعين الخلق وتفارقه لذة القبول ويأنس بالخمول ويرد الخلق ويقنع بالقبول من الخالق

Adapun pengobatan dari sudut pandang amal (perbuatan), yaitu dengan menjatuhkan kedudukan (jah) di dalam hati makhluk melalui melakukan perbuatan-perbuatan yang memicu celaan, sehingga kedudukannya jatuh di mata manusia, kenikmatan diterima oleh publik meninggalkannya, ia merasa nyaman dengan ketidakterkenalan (khumul), menolak ketergantungan pada makhluk, dan merasa cukup dengan penerimaan dari Sang Pencipta.

وهذا هو مذهب الملامتية إذ اقتحموا الفواحش في صورتها ليسقطوا أنفسهم من أعين الناس فيسلموا من آفة الجاه وهذا غير جائز لمن يقتدى به فإنه يوهن الدين في قلوب المسلمين وأما الذي لا يقتدى به فلا يجوز له أن يقدم على محظور لأجل ذلك بل له أن يفعل من المباحات ما يسقط قدره عند الناس كما روي أن بعض الملوك قصد بعض الزهاد فلما علم بقربه منه استدعى طعاماً وبقلاً وأخذ يأكل بشره ويعظم اللقمة فلما نظر إليه الملك سقط من عينه وانصرف فقال الزاهد الحمد لله الذي صرفك عني

Inilah mazhab golongan Malamatinyah, ketika mereka melanggar perkara-perkara yang secara lahiriah tampak buruk demi menjatuhkan kehormatan diri mereka di mata manusia agar selamat dari bencana kedudukan (jah). Namun, cara ini tidak boleh dilakukan oleh orang yang dijadikan teladan (panutan), sebab hal itu dapat melemahkan agama dalam hati kaum muslimin. Adapun bagi orang yang tidak dijadikan teladan, ia pun tidak boleh melakukan hal yang diharamkan (mahzhur) demi tujuan tersebut. Akan tetapi, ia boleh melakukan hal-hal mubah yang dapat menurunkan kehormatannya di mata manusia. Sebagaimana diriwayatkan bahwa seorang raja bermaksud mengunjungi seorang ahli zuhud. Ketika sang zahid mengetahui keberadaannya yang sudah dekat, ia meminta makanan dan sayur-sayuran, lalu mulai makan dengan lahap dan memperbesar suapan. Ketika sang raja melihatnya, kehormatan zahid tersebut jatuh di matanya lalu sang raja pun pergi. Sang zahid kemudian berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah memalingkanmu dariku.'

ومنهم من شرب شراباً حلالاً في قدح لونه لون الخمر حتى يظن به أنه يشرب الخمر فيسقط من أعين الناس

Di antara mereka ada pula yang meminum minuman halal dalam gelas yang warnanya menyerupai warna khamar, sehingga ia dikira meminum khamar dan jatuhlah kedudukannya di mata manusia.

وهذا في جوازه نظر من حيث الفقه إلا أن أرباب الأحوال ربما يعالجون أنفسهم بما لا يفتي به الفقيه مهما رأوا إصلاح قلوبهم فيه ثم يتداركون ما فرط منهم فيه من صورة التقصير كما فعل بعضهم فإنه عرف بالزهد وأقبل الناس عليه فدخل حماماً ولبس ثياب غيره وخرج فوقف في الطريق حتى عرفوه فأخذوه وضربوه واستردوا منه الثياب وقالوا إنه طرار وهجروه وأقوى الطرق في قطع الجاه الاعتزال عن الناس والهجرة إلى موضع الخمول فإن المعتزل في بيته في البلد الذي هو به مشهور لا يخلو عن حب المنزلة التي ترسخ له في القلوب بسبب عزلته فإنه ربما يظن أنه ليس محباً لذلك الجاه وهو مغرور وإنما سكنت نفسه لأنها قد ظفرت بمقصودها ولو تغير الناس عما اعتقدوه فيه فذموه أو نسبوه إلى أمر غير لائق به جزعت نفسه وتألمت وربما توصلت إلى الاعتذار عن ذلك وإماطة ذلك الغبار عن قلوبهم وربما يحتاج في إزالة ذلك عن قلوبهم إلى كذب وتلبيس ولا يبالي به وبه ويتبين بعد أنه محب للجاه والمنزلة

Kebolehan tindakan seperti ini perlu ditinjau kembali dari sudut pandang fiqih. Hanya saja, para pemilik maqam spiritual (arbab al-ahwal) terkadang mengobati diri mereka dengan perkara yang tidak difatwakan oleh seorang ahli fiqih, selama mereka melihat adanya kebaikan bagi hati mereka di dalamnya, kemudian mereka menambal kekurangan yang muncul dari gambaran kelalaian tersebut. Sebagaimana dilakukan oleh sebagian dari mereka; ia terkenal dengan kezuhudannya sehingga manusia berbondong-bondong mendatanginya. Maka ia memasuki tempat pemandian umum (hamam), mengenakan pakaian milik orang lain, lalu keluar dan berdiri di jalan hingga orang-orang mengenalnya. Mereka menangkapnya, memukulnya, mengambil kembali pakaian itu darinya, dan berkata, 'Sesungguhnya dia seorang pencopet!' Mereka pun meninggalkannya. Jalan yang paling kuat dalam memutuskan kedudukan (jah) adalah mengasingkan diri (i'tizal) dari manusia dan berhijrah ke tempat yang tidak terkenal (khumul). Sebab, orang yang mengasingkan diri di rumahnya di negeri tempat ia terkenal, tidak akan lepas dari kecintaan pada kedudukan yang tertanam kuat di hati manusia disebabkan pengasingan dirinya itu. Sering kali ia mengira bahwa dirinya tidak menyukai kedudukan itu, padahal ia tertipu; jiwanya menjadi tenang hanya karena telah mendapatkan tujuannya. Seandainya pandangan manusia terhadapnya berubah sehingga mereka mencelanya atau menisbahkan hal yang tidak pantas kepadanya, jiwanya akan keluh kesah dan merasa sakit. Bahkan mungkin ia berusaha menyampaikan uzur atas hal itu untuk membersihkan noda tersebut dari hati mereka. Bahkan untuk menghilangkan hal itu dari hati mereka, ia mungkin membutuhkan kebohongan dan manipulasi tanpa ia pedulikan, yang kelak membuktikan bahwa ia sebenarnya menyukai kedudukan dan kemuliaan.

ومن أحب الجاه والمنزلة فهو كمن أحب المال بل هو شر منه فإن فتنة الجاه أعظم ولا يمكنه أن لا يحب المنزلة في قلوب الناس ما دام يطمع في الناس فإذا أحرز قوته من كسبه أو من جهة أخرى وقطع طمعه عن الناس رأساً أصبح الناس كلهم عنده كالأرذال فلا يبالي أكان له منزلة في قلوبهم أم لم يكن كما لا يبالي بما في قلوب الذين هم منه في أقصى المشرق لأنه لا يراهم ولا يطمع فيهم ولا يقطع الطمع عن الناس إلا بالقناعة فمن قنع استغنى عن الناس وإذا استغنى لم يشتغل قلبه بالناس ولم يكن لقيام منزلته في القلوب عنده وزن ولا يتم ترك الجاه إلا بالقناعة وقطع الطمع

Barangsiapa mencintai kedudukan dan kemuliaan, maka ia seperti orang yang mencintai harta, bahkan itu lebih buruk darinya, karena fitnah kedudukan itu lebih besar. Seseorang tidak mungkin tidak menyukai kedudukan di dalam hati manusia selama ia masih menaruh harapan (thama') kepada manusia. Apabila ia telah mengamankan makanan pokoknya dari usahanya sendiri atau dari jalan lain dan memutuskan harapannya dari manusia secara total, maka seluruh manusia di matanya menjadi seperti orang yang tidak berharga. Ia tidak peduli lagi apakah ia memiliki kedudukan di hati mereka atau tidak, sebagaimana ia tidak peduli pada apa yang ada di dalam hati orang-orang yang berada di ujung timur jauh darinya, karena ia tidak melihat mereka dan tidak menaruh harapan pada mereka. Dan ketakserakahan (memutus thama') dari manusia tidak akan tercapai kecuali dengan sikap qana'ah. Barangsiapa yang qana'ah, niscaya ia tidak membutuhkan manusia. Apabila ia sudah tidak membutuhkan mereka, hatinya tidak akan disibukkan lagi oleh manusia, dan keberadaan kedudukannya di dalam hati mereka tidak lagi memiliki bobot nilainya. Maka tidak akan sempurna tindakan meninggalkan kedudukan (jah) melainkan dengan qana'ah dan memutus rasa tamak (thama').

ويستعين على جميع ذلك بِالْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي ذَمِّ

Dan ia memohon pertolongan atas semua itu dengan riwayat-riwayat yang datang mengenai celaan terhadap…

الجاه ومدح الخمول والذل مثل قولهم المؤمن لا يخلو من ذلة أو قلة أو علة

kedudukan (jah) serta pujian terhadap sikap tidak menonjolkan diri (khumul) dan kehinaan (di mata manusia), seperti ucapan mereka: 'Seorang mukmin tidak lepas dari kehinaan (di mata manusia), kekurangan harta, atau penyakit.'

وينظر في أحوال السلف وإيثارهم للذل على العز ورغبتهم في ثواب الآخرة ﵃ أجمعين

Serta dengan mengamati keadaan para ulama salaf dan pengutamaan mereka terhadap kehinaan (di mata manusia) daripada kemuliaan semu, serta kerinduan mereka terhadap pahala akhirat, semoga Allah meredai mereka semuanya.

بَيَانُ وَجْهِ الْعِلَاجِ لِحُبِّ الْمَدْحِ وَكَرَاهَةِ الذَّمِّ

PENJELASAN CARA PENGOBATAN TERHADAP SIKAP MENYUKAI PUJIAN DAN MEMBENCI CELAAN

اعلم أن أكبر الناس إِنَّمَا هَلَكُوا بِخَوْفِ مَذَمَّةِ النَّاسِ وَحُبِّ مَدْحِهِمْ فصار حَرَكَاتُهُمْ كُلُّهَا مَوْقُوفَةً عَلَى مَا يُوَافِقُ رِضَا النَّاسِ رَجَاءً لِلْمَدْحِ وَخَوْفًا مِنَ الذَّمِّ وَذَلِكَ مِنَ الْمُهْلِكَاتِ فَيَجِبُ مُعَالَجَتُهُ وَطَرِيقُهُ مُلَاحَظَةُ الْأَسْبَابِ التي لأجلها يحب المدح ويكره الذم

Ketahuilah bahwa sebagian besar manusia binasa hanyalah karena takut akan celaan manusia dan menyukai pujian mereka. Sehingga seluruh gerak-gerik mereka bergantung pada apa yang sesuai dengan keridaan manusia, demi mengharapkan pujian dan takut akan celaan. Hal demikian termasuk perkara yang membinasakan, maka wajib diobati. Cara pengobatannya adalah dengan memperhatikan sebab-sebab yang karenanya pujian disukai dan celaan dibenci.

أما السبب الأول فهو اسْتِشْعَارُ الْكَمَالِ بِسَبَبِ قَوْلِ الْمَادِحِ فَطَرِيقُكَ فِيهِ أَنْ تَرْجِعَ إِلَى عَقْلِكَ وَتَقُولَ لِنَفْسِكَ هَذِهِ الصِّفَةُ الَّتِي يَمْدَحُكَ بِهَا أَنْتَ مُتَّصِفٌ بِهَا أم لا فإن كنت متصفاً بها فهي إما صفة تستحق بها المدح كالعلم والورع وإما صفة لا تستحق المدح كالثروة والجاه والأعراض الدنيوية فإن كانت من الأعراض الدنيوية فَالْفَرَحُ بِهَا كَالْفَرَحِ بِنَبَاتِ الْأَرْضِ الَّذِي يَصِيرُ عَلَى الْقُرْبِ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَهَذَا مِنْ قلة العقل بل العاقل يقول كما قال المتنبي

Adapun sebab yang pertama adalah perasaan sempurna disebabkan oleh ucapan orang yang memuji. Cara mengobatinya ialah engkau kembali kepada akalmu dan berkata kepada dirimu: 'Sifat yang dipujikan kepadamu ini, apakah engkau benar-benar memilikinya atau tidak?' Jika engkau memilikinya, maka sifat itu adakalanya yang memang berhak mendapat pujian seperti ilmu dan sifat warak, atau sifat yang tidak berhak mendapat pujian seperti kekayaan, kedudukan (jah), dan kenikmatan duniawi yang fana. Jika itu termasuk kenikmatan duniawi, maka kegembiraan dengannya seperti kegembiraan terhadap tumbuh-tumbuhan bumi yang dalam waktu dekat akan menjadi hancur diterbangkan angin. Ini termasuk dari minimnya akal. Bahkan orang yang berakal akan berkata sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Mutanabbi:

أشد الغم عندي في سرور … تيقن عنه صاحبه انتقالا

'Duka cita yang paling berat bagiku adalah dalam kegembiraan… yang diyakini oleh pemiliknya akan segera sirna.'

فلا ينبغي أن يفرح الإنسان بعروض الدنيا وإن فرح فلا ينبغي أن يفرح بمدح المادح بها بوجودها والمدح ليس هو سبب وجودها

Maka tidak sepantasnya seseorang bergembira dengan kesenangan dunia yang fana. Dan jikalau ia bergembira, tidak sepantasnya ia bergembira dengan pujian orang yang memujinya karena keberadaan hal itu, padahal pujian bukanlah sebab keberadaannya.

وإن كانت الصفة مما يستحق الفرح بها كالعلم والورع فينبغي أن لا يفرح بها لأن الخاتمة غير معلومة وهذا إنما يقتضي الفرح لأنه يقرب عند الله زلفى وخطر الخاتمة غير معلومة وهذا إنما يقتضى الفرح لأنه يقرب عند الله زلفى وخطر الخاتمة باق ففي الخوف من سوء الخاتمة شغل عن الفرح بكل ما في الدنيا بل الدنيا دار أحزان وغموم لا دار فرح وسرور ثم إن كنت تفرح بها على رجاء حسن الخاتمة فينبغي أن يكون فرحك بفضل الله عليك بالعلم والتقوى لا بمدح المادح فإن اللذة في استشعار الكمال والكمال موجود من فضل الله لا من المدح والمدح تابع له فلا ينبغي أن تفرح بالمدح والمدح لا يزيدك فضلاً وَإِنْ كَانَتِ الصِّفَةُ الَّتِي مُدِحْتَ بِهَا أَنْتَ خال عنها ففرحك بالمدح غاية الجنون ومثالك مثال من يهزأ به إنسان ويقول سبحان الله ما أكثر العطر الذي في أحشائه وما أطيب الروائح التي تفوح منه إذا قضى حاجته وهو يعلم ما تشتمل عليه أمعاؤه من الأقذار والأنتان ثم يفرح بذلك فكذلك إذا أثنوا عليك بالصلاح والورع ففرحت به والله مطلع على خبائث باطنك وغوائل سريرتك وأقذار صفاتك كان ذلك من غاية الجهل فإذاً المادح إن صدق فليكن فرحك بصفتك التي هي من فضل الله عليك وإن كذب فينبغي أن يغمك ذلك ولا تفرح به

Dan jika sifat tersebut memang termasuk perkara yang patut disyukuri/digembirakan seperti ilmu dan sifat warak, maka tidak sepatutnya ia bergembira dengannya secara berlebihan, karena akhir kehidupan (khatimah) belum diketahui. Hal itu seharusnya hanya menuntut kegembiraan karena dapat mendekatkan diri kepada Allah, sementara bahaya akhir kehidupan yang buruk masih tetap mengintai. Maka rasa takut akan akhir yang buruk (su'ul khatimah) seharusnya menyibukkan diri dari bergembira atas segala sesuatu yang ada di dunia. Bahkan dunia ini adalah negeri duka cita dan kesedihan, bukan negeri kegembiraan dan kesenangan. Kemudian, jika engkau bergembira atas sifat itu karena mengharapkan akhir yang baik, hendaknya kegembiraanmu itu ditujukan pada karunia Allah kepadamu berupa ilmu dan ketakwaan, bukan karena pujian orang yang memuji. Sebab kenikmatan itu ada pada perasaan akan kesempurnaan, sedangkan kesempurnaan itu wujud dari karunia Allah, bukan dari pujian, dan pujian hanyalah pengikut darinya. Maka tidak sepantasnya engkau bergembira dengan pujian, padahal pujian tidak menambah keutamaan dirimu sedikit pun. Dan jika sifat yang dipujikan kepadamu itu tidak ada pada dirimu, maka kegembiraanmu atas pujian itu merupakan puncak kegilaan. Perumpamaanmu seperti orang yang diejek oleh seseorang yang berkata: 'Maha Suci Allah, betapa banyaknya wewangian di dalam perutnya dan betapa harum bau yang tercium darinya saat ia buang hajat!' padahal ia tahu betul kotoran dan bau busuk yang dikandung oleh ususnya, lalu ia malah bergembira atas ucapan itu. Demikian pula jika mereka memujimu dengan kesalehan dan kewarakan, lalu engkau bergembira mengenainya padahal Allah Maha Mengetahui keburukan batinmu, bahaya rahasiamu, dan kotornya sifat-sifatmu, maka hal itu merupakan puncak kebodohan. Oleh karena itu, jika pemuji itu jujur, hendaknya kegembiraanmu tertuju pada sifatmu yang merupakan karunia Allah kepadamu. Dan jika ia berbohong, seharusnya hal itu membuatmu bersedih dan engkau tidak bergembira dengannya.

وأما السبب الثاني وهو دلالة المدح على تسخير قلب المادح وكونه سبباً لتسخير قلب آخر فهذا يرجع إلى حب الجاه والمنزلة في القلوب وقد سبق وجه معالجته وذلك بقطع الطمع عن الناس وطلب المنزلة عند الله وبأن تعلم أن طلبك المنزلة في قلوب الناس وفرحك به يسقط منزلتك عند الله فكيف تفرح به

Adapun sebab yang kedua, yaitu penunjukan pujian tersebut atas tunduknya hati orang yang memuji dan menjadi sebab bagi tunduknya hati orang lain, maka ini kembali kepada kecintaan pada kedudukan (jah) dan kemuliaan di hati manusia. Dan telah lalu cara pengobatannya, yaitu dengan memutus harapan (thama') dari manusia dan mencari kedudukan di sisi Allah, serta dengan menyadari bahwa pencarianmu akan kedudukan di hati manusia dan kegembiraanmu dengannya justru menggugurkan kedudukanmu di sisi Allah; lantas bagaimana engkau bisa bergembira dengannya?

وأما السبب الثالث وهو الحشمة التي اضطرت المادح إلى المدح فهو أيضاً يرجع إلى قدرة عارضة لإثبات لَهَا وَلَا تَسْتَحِقُّ الْفَرَحَ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَغُمَّكَ مَدْحُ الْمَادِحِ وَتَكْرَهَهُ وَتَغْضَبَ بِهِ كَمَا نقل ذلك عن السلف لأن آفة المدح على الممدوح عظيمة كما ذكرناه في كتاب آفات اللسان قال بعض السلف من فرح بمدح فقد مكن الشيطان من أن يدخل في بطنه

Adapun sebab yang ketiga, yaitu rasa segan yang memaksa pemuji untuk menyampaikan pujian, maka hal ini juga kembali kepada kekuasaan semu yang tidak memiliki ketetapan dan tidak berhak untuk digembirakan. Sebaliknya, seharusnya pujian dari orang yang memuji itu membuatmu sedih, engkau membencinya, dan marah karenanya, sebagaimana diriwayatkan dari para salaf. Karena bahaya pujian bagi orang yang dipuji sangatlah besar, sebagaimana telah kami sebutkan dalam Kitab Bahaya-bahaya Lisan (Afat al-Lisan). Sebagian ulama salaf berkata: 'Barangsiapa yang bergembira dengan pujian, maka sungguh ia telah memberi kesempatan bagi setan untuk masuk ke dalam perutnya.'

وقال بعضهم إذا قيل لك نعم الرجل أنت فكان أحب إليك من أن يقال لك بئس الرجل أنت فأنت والله بئس الرجل

Dan sebagian dari mereka berkata: 'Jika dikatakan kepadamu: Betapa baiknya dirimu, lalu hal itu lebih engkau sukai daripada dikatakan kepadamu: Betapa buruknya dirimu, maka demi Allah, engkau adalah seburuk-buruknya lelaki.'

وروي في بعض الأخبار فإن صح فهو قاصم للظهور

Diriwayatkan dalam sebagian atsar (khabar), jika itu shahih, maka hal itu sungguh mematahkan punggung:

أن رجلاً أثنى على رجل خيراً عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فقال لو كان صاحبك حاضراً فرضي الذي قلت فمات على ذلك دخل النار ﴿حديث﴾ ويحك قطعت ظهره الحديث قاله للمادح تقدم

Bahwa seorang laki-laki memuji kebaikan orang lain di hadapan Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, "Seandainya sahabatmu itu hadir lalu ia ridha (senang) dengan apa yang kamu katakan, kemudian ia mati dalam keadaan demikian, niscaya ia masuk neraka." [Hadis] "Celaka kamu, kamu telah mematahkan punggungnya!" Hadis ini beliau katakan kepada orang yang memuji (telah disebutkan sebelumnya).

وقال ﷺ ألا لا تمادحوا وإذا رأيتم المادحين فاحثوا في وجوههم التراب // حديث ألا لا تمادحوا وإذا رأيتم المداحين فاحثوا في وجوههم التراب تقدم دون قوله ألا لا تمادحوا

Dan beliau ﷺ bersabda, "Ketahuilah, janganlah kalian saling memuji! Dan jika kalian melihat orang-orang yang suka memuji, maka taburkanlah debu ke wajah-wajah mereka." // Hadis "Ingatlah, janganlah kalian saling memuji, dan apabila kalian melihat orang-orang yang suka memuji, maka taburkanlah debu ke wajah-wajah mereka" telah disebutkan sebelumnya tanpa redaksi "Ketahuilah, janganlah kalian saling memuji".

فلهذا كان الصحابة رضوان الله عليهم أجمعين على وجل عظيم من المدح وفتنته وما يدخل على القلب من السرور العظيم به حتى إن بعض الخلفاء الراشدين سأل رجلاً عن شيء فقال أنت يا أمير المؤمنين خير مني وأعلم فغضب وقال إني لم آمرك بأن تزكيني وقيل لبعض الصحابة لا يزال الناس بخير ما أبقاك الله فغضب وقال إني لأحسبك عراقياً

Oleh karena inilah, para sahabat—ridhwanullah 'alaihim ajma'in—berada dalam kekhawatiran yang sangat besar terhadap pujian dan fitnahnya, serta rasa gembira luar biasa yang masuk ke dalam hati karenanya. Hingga sebagian Khulafaur Rasyidin pernah bertanya kepada seseorang tentang suatu hal, lalu orang itu menjawab, "Engkau, wahai Amirul Mukminin, lebih baik dan lebih tahu dariku." Maka beliau pun marah dan berkata, "Aku tidak memerintahkanmu untuk menyucikan (memuji) diriku!" Dan dikatakan kepada sebagian sahabat, "Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama Allah mengekalkanmu." Maka beliau marah dan berkata, "Aku sungguh mengira engkau adalah orang Irak."

وقال بعضهم لما مدح اللهم إن عبدك تقرب إلي بمقتك فأشهدك على مقته

Sebagian dari mereka berkata ketika dipuji, "Ya Allah, sesungguhnya hamba-Mu ini mendekatkan diri kepadaku dengan kemurkaan-Mu, maka aku memohon kesaksian-Mu atas kemurkaanku kepadanya."

وإنما كرهوا المدح خيفة أن يفرحوا بمدح الخلق وهم ممقوتون عند الخالق فكان اشتغال قلوبهم بحالهم عند الله تعالى يبغض إليهم مدح الخلق لأن الممدوح هو المقرب عند الله والمذموم بالحقيقة هو المبعد من الله الملقى في النار مع الأشرار فهذا الممدوح إن كان عند الله من أهل النار فما أعظم جهله إذا فرح بمدح غيره وإن كان من أهل الجنة فلا ينبغي أن يفرح إلا بفضل الله تعالى وثنائه عليه إذ ليس أمره بيد الخلق

Sesungguhnya mereka membenci pujian karena takut akan merasa gembira dengan pujian makhluk padahal mereka dimurkai di sisi Sang Pencipta. Maka kesibukan hati mereka dengan keadaan mereka di sisi Allah Ta'ala membuat mereka membenci pujian makhluk; sebab orang yang terpuji (sebenarnya) adalah orang yang didekatkan di sisi Allah, dan orang yang tercela pada hakikatnya adalah orang yang dijauhkan dari Allah serta dilemparkan ke dalam neraka bersama orang-orang jahat. Maka jika orang yang dipuji ini di sisi Allah termasuk penghuni neraka, betapa besarnya kebodohannya apabila ia merasa senang dengan pujian orang lain! Dan jika ia termasuk penghuni surga, maka tidak sepatutnya ia merasa gembira kecuali atas karunia Allah Ta'ala dan pujian-Nya kepadanya, karena urusannya sama sekali tidak berada di tangan makhluk.

ومهما علم أن الأرزاق والآجال بيد الله تعالى قل التفاته إلى مدح الخلق وذمهم وسقط من قلبه حب المدح واشتغل بما يهمه من أمر دينه

Manakala ia menyadari bahwa rezeki dan ajal berada di tangan Allah Ta'ala, niscaya sedikit sekali perhatiannya terhadap pujian dan celaan makhluk, gugurlah kecintaan pada pujian dari hatinya, dan ia pun sibuk dengan hal-hal yang penting bagi urusan agamanya.

والله الموفق للصواب برحمته

Dan Allah-lah Yang memberi petunjuk kepada kebenaran dengan rahmat-Nya.

بيان علاج كراهة الذم

Penjelasan tentang Terapi Mencegah Kebencian terhadap Celaan

قد سبق أن العلة في كراهة الذم هو ضد العلة في حب المدح فعلاجه أيضاً يفهم منه

Telah disebutkan sebelumnya bahwa sebab ('illat) dalam membenci celaan adalah kebalikan dari sebab menyukai pujian, maka terapinya pun dapat dipahami darinya.

وَالْقَوْلُ الْوَجِيزُ فِيهِ أَنَّ مَنْ ذَمَّكَ لَا يخلو من ثلاثة أحوال

Penjelasan yang ringkas mengenai hal ini adalah bahwa orang yang mencelamu tidak lepas dari tiga keadaan:

إما أن يَكُونُ قَدْ صَدَقَ فِيمَا قَالَ وَقَصَدَ بِهِ النُّصْحَ وَالشَّفَقَةَ وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ صَادِقًا وَلَكِنَّ قَصْدَهُ الْإِيذَاءُ وَالتَّعَنُّتُ وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ كَاذِبًا

Adakalanya ia benar dalam apa yang dikatakannya dan bertujuan memberi nasihat serta rasa kasih sayang, adakalanya ia benar tetapi tujuannya untuk menyakiti dan mencari-cari kesalahan, atau adakalanya ia berbohong.

فَإِنْ كَانَ صَادِقًا وَقَصْدُهُ النُّصْحَ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ تَذُمَّهُ وَتَغْضَبَ عَلَيْهِ وَتَحْقِدَ بِسَبَبِهِ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ تَتَقَلَّدَ مِنَّتَهُ فَإِنَّ مَنْ أَهْدَى إِلَيْكَ عُيُوبَكَ فَقَدْ أَرْشَدَكَ إِلَى الْمُهْلِكِ حَتَّى تَتَّقِيَهُ فَيَنْبَغِي أَنْ تَفْرَحَ بِهِ وَتَشْتَغِلَ بِإِزَالَةِ الصِّفَةِ الْمَذْمُومَةِ عَنْ نَفْسِكَ إِنْ قَدَرْتَ عَلَيْهَا فَأَمَّا اغْتِمَامُكَ بِسَبَبِهِ وَكَرَاهَتُكَ لَهُ وَذَمُّكَ إِيَّاهُ فَإِنَّهُ غَايَةُ الْجَهْلِ وَإِنْ كَانَ قَصْدُهُ التَّعَنُّتَ فَأَنْتَ قَدِ انْتَفَعْتَ بِقَوْلِهِ إِذْ أَرْشَدَكَ إِلَى عيبك إن كنت جاهلاً به وأذكرك عيبك إن كنت غافلاً عنه أو قبحه في عينك لينبعث حرصك على إزالته إن كنت قد استحسنته

Jika ia jujur dan tujuannya adalah memberi nasihat, maka tidak sepatutnya engkau mencelanya, memarahinya, atau menaruh dendam kepadanya. Bahkan, sepatutnya engkau merasa berutang budi padanya; sebab barangsiapa menunjukkan aib-aibmu kepadamu, sungguh ia telah menunjukkan kepadamu hal yang membinasakan agar engkau bisa mewaspadainya. Oleh karena itu, hendaknya engkau gembira bersamanya dan sibuk menghilangkan sifat tercela itu dari dirimu jika engkau mampu. Adapun kesedihanmu karena ucapannya, rasa bencimu kepadanya, serta celaanmu terhadapnya, maka hal itu merupakan puncak kebodohan. Dan jika tujuannya adalah mencari-cari kesalahan, sungguh engkau pun telah mengambil manfaat dari perkataannya, karena ia telah menunjukkan aibmu jika engkau belum mengetahuinya, mengingatkanmu akan aibmu jika engkau lalai darinya, atau memperlihatkan keburukannya di matamu agar timbul kesungguhanmu untuk menghilangkannya jika sebelumnya engkau menganggapnya baik.

وكل ذلك أسباب سعادتك وقد استفدته منه فاشتغل بطلب السعادة فقد أتيح لك أسبابها بسبب ما سمعته من المذمة

Semua itu merupakan sebab-sebab kebahagiaanmu yang telah engkau peroleh darinya. Maka sibuklah menuntut kebahagiaan, sebab jalan-jalannya telah terbuka bagimu melalui celaan yang engkau dengar itu.

فمهما قصدت الدخول على ملك وثوبك ملوث بالعذرة وأنت لا تدري ولو دخلت عليه كذلك لخفت أن يحز رقبتك لتلويثك مجلسة بالعذرة فقال قائل أيها الملوث بالعذرة طهر نفسك فينبغي أن تفرح به لأن تنبيهك بقوله غنيمة وجميع مساوي الْأَخْلَاقِ مُهْلِكَةٌ فِي الْآخِرَةِ وَالْإِنْسَانُ إِنَّمَا يَعْرِفُهَا من قول أعدائه فينبغي أن يغتنمه

Apabila engkau hendak menghadap seorang raja dalam keadaan pakaianmu terlumuri kotoran (najis) tanpa engkau sadari, padahal jika engkau masuk menemuinya dalam keadaan demikian engkau takut ia akan memenggal lehermu karena engkau mengotori majelisnya dengan kotoran tersebut, lalu ada seseorang berkata, "Wahai orang yang terlumuri kotoran, bersihkanlah dirimu!", maka hendaknya engkau merasa gembira dengannya, karena peringatannya melalui ucapan itu adalah sebuah keberuntungan (ganimah). Dan seluruh akhlak yang buruk adalah pembinasa di akhirat, padahal manusia sering kali baru mengetahuinya dari perkataan musuh-musuhnya; maka semestinya ia memanfaatkannya sebagai keberuntungan.

وَأَمَّا قَصْدُ الْعَدُوِّ التَّعَنُّتَ فَجِنَايَةٌ مِنْهُ عَلَى دِينِ نَفْسِهِ وَهُوَ نِعْمَةٌ مِنْهُ عَلَيْكَ فَلِمَ تَغْضَبُ عَلَيْهِ بِقَوْلٍ انْتَفَعْتَ بِهِ أَنْتَ وَتَضَرَّرَ هو به

Adapun maksud musuh untuk mencari-cari kesalahan, maka itu adalah kejahatan bagi agamanya sendiri, namun ia menjadi nikmat bagimu darinya. Lantas mengapa engkau harus marah kepadanya atas perkataan yang justru memberi manfaat bagimu, sementara dia sendiri yang mendapatkan kerugian darinya?

الْحَالَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَفْتَرِيَ عَلَيْكَ بِمَا أَنْتَ بَرِيءٌ مِنْهُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى فَيَنْبَغِي أَنْ لَا تَكْرَهَ ذَلِكَ وَلَا تَشْتَغِلْ بِذَمِّهِ بَلْ تتفكر في ثلاثة أمور

Keadaan ketiga adalah ia mengada-ada (menuduh) atasmu dengan sesuatu yang engkau terbebas darinya di sisi Allah Ta'ala. Maka tidak sepatutnya engkau membenci hal itu dan tidak perlu sibuk mencelanya, melainkan hendaklah engkau merenungkan tiga hal:

أحدها أنك إِنْ خَلَوْتَ مِنْ ذَلِكَ الْعَيْبِ فَلَا تَخْلُو عَنْ أَمْثَالِهِ وَأَشْبَاهِهِ وَمَا سَتَرَهُ اللَّهُ مِنْ عُيُوبِكَ أَكْثَرُ فَاشْكُرِ اللَّهَ تَعَالَى إِذْ لَمْ يُطْلِعْهُ عَلَى عُيُوبِكَ وَدَفَعَهُ عَنْكَ بِذِكْرِ مَا أنت بريء عنه

Pertama, sesungguhnya jika engkau bersih dari aib yang dituduhkan itu, engkau tidak akan bersih dari aib-aib lain yang sejenis dan serupa dengannya, dan apa yang ditutupi oleh Allah dari aib-aibmu jauh lebih banyak. Maka bersyukurlah kepada Allah Ta'ala karena Dia tidak memperlihatkan aib-aibmu kepadanya, dan memalingkannya darimu dengan menyebutkan sesuatu yang engkau terbebas darinya.

والثاني أن ذلك كفارات لبقية مساويك وذنوبك فكأنه رماك بعيب أنت بريء منه وطهرك من ذنوب أنت ملوث بها وَكُلُّ مَنِ اغْتَابَكَ فَقَدْ أَهْدَى إِلَيْكَ حَسَنَاتِهِ وَكُلُّ مَنْ مَدَحَكَ فَقَدْ قَطَعَ ظَهْرَكَ

Kedua, sesungguhnya celaan itu menjadi penggugur (kifarat) bagi sisa-sisa keburukan dan dosa-dosamu. Seolah-olah ia menuduhmu dengan aib yang engkau terbebas darinya, padahal ia telah menyucikanmu dari dosa-dosa yang membuatmu terlumuri. Dan setiap orang yang menggunjingmu, sungguh ia telah menghadiahkan kebaikan-kebaikannya kepadamu; sedangkan setiap orang yang memujimu, sungguh ia telah mematahkan punggungmu.

فَمَا بَالُكَ تَفْرَحُ بِقَطْعِ الظَّهْرِ وَتَحْزَنُ لِهَدَايَا الْحَسَنَاتِ الَّتِي تُقَرِّبُكَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَأَنْتَ تَزْعُمُ أَنَّكَ تُحِبُّ الْقُرْبَ مِنَ اللَّهِ

Maka mengapa engkau gembira dengan pematahan punggung (pujian) dan bersedih atas hadiah kebaikan-kebaikan yang mendekatkanmu kepada Allah Ta'ala, padahal engkau mengaku mencintai kedekatan dengan Allah?

وَأَمَّا الثَّالِثُ فَهُوَ أَنَّ الْمِسْكِينَ قَدْ جَنَى عَلَى دِينِهِ حَتَّى سَقَطَ مِنْ عَيْنِ اللَّهِ وَأَهْلَكَ نَفْسَهُ بِافْتِرَائِهِ وَتَعَرَّضَ لِعِقَابِهِ الْأَلِيمِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ تغضب عليه مع غضب الله عليه فَتُشَمِّتَ بِهِ الشَّيْطَانَ وَتَقُولَ اللَّهُمَّ أَهْلِكْهُ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَصْلِحْهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ كَمَا قَالَ ﷺ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي اللَّهُمَّ اهْدِ قومي فإنهم لا يعلمون // حديث اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون قاله لما ضربه قومه أخرجه البيهقي في دلائل النبوة وقد تقدم والحديث في الصحيح أنه ﷺ قاله حكاية عن نبي من الأنبياء حين ضربه قومه

Adapun yang ketiga, sesungguhnya orang miskin (malang) itu telah berbuat dosa terhadap agamanya hingga ia jatuh dari pandangan Allah, membinasakan dirinya dengan kebohongannya, dan memaparkan dirinya pada siksa-Nya yang pedih. Maka tidak sepatutnya engkau ikut murka kepadanya di samping kemurkaan Allah kepadanya, sehingga engkau membuat setan gembira dan engkau berkata, "Ya Allah, binasakanlah dia!" Sebaliknya, hendaknya engkau berkata, "Ya Allah, perbaikilah dia! Ya Allah, terimalah tobatnya! Ya Allah, rahmati-lah dia!" Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, "Ya Allah, ampunilah kaumku; Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." // Hadis: "Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui," beliau ucapkan ketika kaumnya memukul beliau. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Dala'il An-Nubuwwah dan telah disebutkan sebelumnya. Hadis ini terdapat dalam kitab As-Shahih bahwa beliau ﷺ mengucapkannya menceritakan kisah seorang nabi dari para nabi ketika kaumnya memukulnya.

لَمَّا أَنْ كَسَرُوا ثَنِيَّتَهُ وَشَجُّوا وَجْهَهُ وَقَتَلُوا عمه حمزة يوم أحد

Ketika mereka mematahkan gigi seri beliau, melukai wajah beliau, dan membunuh paman beliau, Hamzah, pada perang Uhud.

ودعا إبراهيم بن أدهم لمن شج رأسه بالمغفرة فقيل له في ذلك فقال علمت أني مأجور بسببه وما نالني منه إلا خير فلا أرضى أن يكون هو معاقبا بسببي

Ibrahim bin Adham mendoakan ampunan bagi orang yang melukai kepalanya. Ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, beliau menjawab, "Aku tahu bahwa aku mendapatkan pahala karenanya dan tidak ada yang menimpaku darinya melainkan kebaikan, maka aku tidak ridha jika ia disiksa karena diriku."

ومما يهون عليك كراهة الْمَذَمَّةِ قَطْعُ الطَّمَعِ فَإِنَّ مَنِ اسْتَغْنَيْتَ عَنْهُ مَهْمَا ذَمَّكَ لَمْ يَعْظُمْ أَثَرُ ذَلِكَ فِي قلبه وأصل الدين القناعة وبها يَنْقَطِعُ الطَّمَعُ عَنِ الْمَالِ وَالْجَاهِ وَمَا دَامَ الطَّمَعُ قَائِمًا كَانَ حُبُّ الْجَاهِ وَالْمَدْحِ فِي قَلْبِ مَنْ طَمِعْتَ فِيهِ غَالِبًا وَكَانَتْ هِمَّتُكَ إِلَى تَحْصِيلِ الْمَنْزِلَةِ فِي قَلْبِهِ مَصْرُوفَةً وَلَا يُنَالُ ذَلِكَ إِلَّا بِهَدْمِ الدِّينِ فَلَا يَنْبَغِي أن يطمع طالب المال والجاه وَمُحِبُّ الْمَدْحِ وَمُبْغِضُ الذَّمِّ فِي سَلَامَةِ دِينِهِ فإن ذلك بعيد جداً

Di antara hal yang dapat meringankan rasa benci terhadap celaan bagimu adalah memutus sifat tamak (ketamakan). Sebab orang yang engkau merasa tidak membutuhkannya, seberapa pun ia mencelamu, hal itu tidak akan berdampak besar pada hatinya. Pokok agama adalah qana'ah (merasa cukup), dan dengannya akan terputus ketamakan terhadap harta dan kedudukan (jah). Selama ketamakan masih ada, maka rasa cinta terhadap kedudukan dan pujian di dalam hati orang yang engkau harapkan itu umumnya akan dominan, dan cita-citamu akan tercurah untuk meraih kedudukan di dalam hatinya. Hal itu tidak akan tercapai kecuali dengan meruntuhkan agama. Oleh karena itu, tidak sepatutnya seorang pencari harta dan kedudukan, serta pencinta pujian dan pembenci celaan, mengharapkan keselamatan agamanya, karena hal itu sangat jauh (mustahil).

بيان اختلاف أحوال الناس في المدح والذم

Penjelasan tentang Perbedaan Keadaan Manusia dalam Menghadapi Pujian dan Celaan

اعلم أن للناس أربعة أحوال بالإضافة إلى الذام والمادح

Ketahuilah bahwa manusia memiliki empat keadaan dalam hubungannya dengan orang yang mencela dan orang yang memuji.

الحالة الأولى أن يفرح بالمدح ويشكر المادح ويغضب من الذم ويحقد على الذام ويكافئه أو يحب مكافأته وهذا حال أكثر الخلق وهو غاية درجات المعصية في هذا الباب

Keadaan pertama: Seseorang merasa gembira dengan pujian dan berterima kasih kepada pemuji, serta marah karena celaan dan menyimpan dendam kepada pencela, lalu membalasnya atau ingin membalasnya. Ini adalah keadaan kebanyakan makhluk dan merupakan tingkatan kemaksiatan yang paling tinggi dalam bab ini.

الحالة الثانية أن يمتعض في الباطن على الذام ولكن يمسك لسانه وجوارحه عن مكافاته ويفرح باطنه ويرتاح للمادح ولكن يحفظ ظاهره عن إظهار السرور وهذا من النقصان إلا أنه بالإضافة إلى ما قبله كمال

Keadaan kedua: Seseorang merasa gusar di dalam batinnya terhadap pencela, namun ia menahan lidah dan anggota tubuhnya dari membalasnya; batinnya merasa gembira dan senang kepada pemuji, namun ia menjaga lahiriahnya dari menampakkan kegembiraan tersebut. Ini termasuk kekurangan, akan tetapi jika dibandingkan dengan keadaan sebelumnya, ia merupakan sebuah kesempurnaan.

الحالة الثالثة وهي أول درجات الكمال أن يستوي عنده ذامه ومادحه فلا تغمه المذمة ولا تسره استثقالاً

Keadaan ketiga, yang merupakan tingkatan awal kesempurnaan: Seseorang menganggap sama antara pencela dan pemujinya, sehingga celaan tidak membuatnya bersedih dan pujian tidak membuatnya gembira secara berlebihan.

وهذا قد يظنه بعض العباد بنفسه ويكون مغروراً إن لم يمتحن نفسه بعلاماته

Hal ini terkadang disangka ada pada diri seorang hamba oleh dirinya sendiri, padahal ia tertipu (maghrur) jika ia tidak menguji dirinya dengan tanda-tandanya.

وعلاماته أن لا يجد في نفسه استثقالاً للذام عند تطويله الجلوس عنده أكثر مما يجده في المادح وأن لا يجد في نفسه زيادة هزة ونشاط في قضاء حوائج المادح فوق ما يجده في قضاء حاجة الذام وأن لا يكون انقطاع الذام عن مجلسه أهون عليه من انقطاع المادح وأن لا يكون موت المادح المطري له أشد نكاية في قلبه من موت الذام وأن لا يكون غمه بمصيبة المادح وما يناله من أعدائه أكثر مما يكون بمصيبة الذام وأن لا تكون زلة المادح أخف على قلبه وفي عينه من زلة الذام

Adapun tanda-tandanya adalah: ia tidak merasakan di dalam hatinya rasa berat terhadap pencela ketika orang itu duduk bersamanya dalam waktu lama melebihi apa yang ia rasakan terhadap pemuji; ia tidak merasakan di dalam jiwanya dorongan semangat dan antusiasme berlebih dalam memenuhi kebutuhan pemuji melebihi apa yang ia rasakan dalam memenuhi kebutuhan pencela; ketidakhadiran pencela dari majelisnya tidak terasa lebih ringan baginya daripada ketidakhadiran pemuji; kematian pemuji yang sering menyanjungnya tidak lebih meremukkan hatinya daripada kematian pencela; duka citanya atas musibah yang menimpa pemuji dan apa yang menimpanya dari musuh-musuhnya tidak lebih besar daripada duka citanya atas musibah pencela; serta kekhilafan pemuji tidak lebih ringan di hatinya dan di matanya daripada kekhilafan pencela.

فمهما خف الذام على قلبه كما خف المادح واستويا من كل وجه فقد نال هذه الرتبة وما أبعد ذلك وما أشده على القلوب وأكثر العباد فرحهم بمدح الناس لهم مستبطن في قلوبهم وهم لا يشعرون حيث لا يمتحنون

Maka bilamana keberadaan pencela terasa ringan di hatinya sebagaimana ringannya pemuji, dan keduanya setara dari segala segi, maka ia telah mencapai tingkatan ini. Betapa jauhnya tingkatan itu dan betapa beratnya bagi hati! Kebanyakan hamba, kegembiraan mereka atas pujian manusia tersimpan tersembunyi di dalam hati mereka tanpa mereka sadari, karena mereka tidak menguji…

أنفسهم بهذه العلامات وربما شعر العابد بميل قلبه إلى المادح دون الذام والشيطان يحسن له ذلك ويقول الذام قد عصى الله بمذمتك والمادح قد أطاع الله بمدحك فكيف تسوي بينهما وإنما استثقالك للذام من الدين المحض

…diri mereka dengan tanda-tanda ini. Terkadang seorang hamba merasakan kecondongan hatinya kepada pemuji ketimbang pencela, lalu setan memperindah hal itu baginya seraya berkata, "Pencela itu telah bermaksiat kepada Allah dengan mencelamu, sedangkan pemuji telah mentaati Allah dengan memujimu, maka bagaimana engkau menyamakan keduanya? Sesungguhnya rasa tidak sukamu kepada pencela adalah murni karena agama."

وهنا محض التلبيس فإن العابد لو تفكر علم أن في الناس من ارتكب كبائر المعاصي أكثر مما ارتكب الذام في مذمته ثم إنه لا يستثقلهم ولا ينفر عنهم ويعلم أن المادح الذي مدح لا يخلو عن مذمة غيره

Di sinilah letak kerancuan (talbis) yang murni. Sebab jika hamba itu mau berpikir, ia akan mengetahui bahwa di antara manusia ada yang melakukan dosa-dosa besar yang lebih parah daripada apa yang dilakukan pencela dalam celaannya, namun ia tidak merasa berat atau menjauhi mereka. Dan ia juga tahu bahwa pemuji yang memujinya itu tidak lepas dari mencela orang lain.

ولا يجد في نفسه نفرة عنه بمذمة غيره كما يجد لمذمة نفسه والمذمة من حيث إنها معصية لا تختلف بأن يكون هو المذموم أو غيره

Ia tidak merasakan di dalam hatinya rasa benci kepada pemuji itu karena celaannya kepada orang lain sebagaimana yang ia rasakan ketika dirinya sendiri yang dicela. Padahal celaan, ditinjau dari kedudukannya sebagai maksiat, tidak ada bedanya apakah yang dicela itu dirinya sendiri atau orang lain.

فإذا العابد المغرور لنفسه يغضب ولهواه يمتعض ثم إن الشيطان يخيل إليه أنه من الدين حتى يعتل على الله بهواه فيزيده ذلك بعداً من الله ومن لم يطلع على مكايد الشيطان وآفات النفوس فأكثر عباداته تعب ضائع يفوت عليه الدنيا ويخسره في الآخرة وفيهم قال الله تعالى قل هل ننبئكم بالأخسرين أعمالاً الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يحسبون أنهم يحسنون صنعاً

Maka jelaslah bahwa hamba yang tertipu itu sebenarnya marah demi dirinya sendiri dan gusar demi hawa nafsunya. Kemudian setan membayangkan kepadanya bahwa itu adalah bagian dari agama, hingga ia beralasan kepada Allah dengan hawa nafsunya, sehingga hal itu justru makin menjauhkannya dari Allah. Barang siapa tidak menyingkap tipu daya setan dan penyakit-penyakit jiwa, maka sebagian besar ibadahnya adalah keletihan yang sia-sia, yang meluputkannya dari dunia dan merugikannya di akhirat. Tentang merekalah Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah: 'Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya?' Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya."

الحالة الرابعة وهي الصدق في العبادة أن يكره المدح ويمقت المادح إذا يعلم أنه فتنة عليه قاصمة للظهر مضرة له في الدين ويحب الذام إذ يعلم أنه مهد إليه عيبه ومرشد له إلى مهمه ومهد إليه حسناته فقد قال ﷺ رأس التواضع أن تكره أن تذكر بالبر والتقوى حديث ويل للصائم وويل للقائم وويل لصاحب الصوف الحديث لم أجده هكذا وذكر صاحب الفردوس من حديث أنس ويل لمن لبس الصوف فخالف فعله قوله ولم يخرجه ولد في مسنده

Keadaan keempat, yaitu kejujuran dalam beribadah: Seseorang membenci pujian dan membenci pemuji karena ia mengetahui bahwa pujian itu adalah fitnah baginya yang mematahkan punggung dan memudaratkan agamanya; serta ia mencintai pencela karena ia mengetahui bahwa pencela itu telah menghadiahkan keaibannya kepadanya, membimbingnya kepada perkaranya yang penting, dan menghadiahkan kebaikannya kepadanya. Sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Puncak tawaduk adalah engkau benci untuk disebut-sebut dengan kebaikan dan ketakwaan." // Hadis: "Celakalah bagi orang yang berpuasa, celakalah bagi orang yang shalat malam, dan celakalah bagi pemilik pakaian wol…" Al-Iraqi berkata: Saya tidak menemukannya dengan lafal seperti ini. Penyusun kitab Al-Firdaus menyebutkan dari hadis Anas: "Celakalah bagi orang yang memakai wol lalu perbuatannya menyelisihi perkataannya," dan putranya tidak memuatnya dalam Musnad-nya.

وهذا شديد جداً وغاية أمثالنا الطمع في الحالة الثانية وهو أن يضمر الفرح والكراهة على الذام والمادح ولا يظهر ذلك بالقول والعمل فأما الحالة الثالثة وهي التسوية بين المادح والذام فلسنا نطمع فيها

Tingkatan ini sangat berat sekali, dan puncak harapan orang-orang seperti kita hanyalah mengharapkan keadaan kedua, yaitu menyembunyikan rasa gembira dan rasa benci terhadap pencela dan pemuji, serta tidak menampakkannya dalam perkataan maupun perbuatan. Adapun keadaan ketiga, yaitu menganggap sama antara pemuji dan pencela, maka kita tidak berharap memilikinya.

ثم إن طالبنا أنفسنا بعلامة الحالة الثانية فإنها لا تفي بها لأنه لا بد وأن تتسارع إلى إكرام المادح وقضاء حاجاته وتتثاقل على إكرام الذام والثناء عليه وقضاء حوائجه ولا نقدر على أن نسوي بينهما في الفعل الظاهر كما لا نقدر عليه في سريرة القلب ومن قدر على التسوية بين المادح والذام في ظاهر الفعل فهو جدير بأن يتخذ قدوة في هذا الزمان إن وجد فإنه الكبريت الأحمر يتحدث الناس به ولا يرى فكيف بما بعده من المرتبتين وكل واحدة من هذه الرتب أيضاً فيها درجات

Kemudian, jika kita menuntut diri kita dengan tanda-tanda keadaan kedua, niscaya diri kita tidak akan memenuhinya. Sebab, pasti diri ini akan bergegas memuliakan pemuji dan memenuhi kebutuhannya, serta merasa berat untuk memuliakan pencela, memujinya, dan memenuhi kebutuhannya. Kita tidak mampu menyamakan keduanya dalam perbuatan lahiriah sebagaimana kita tidak mampu menyamakannya dalam rahasia hati. Barang siapa mampu menyamakan antara pemuji dan pencela dalam perbuatan lahiriah, maka ia sangat layak dijadikan teladan di zaman ini jika memang ditemukan. Sebab, ia bagaikan belerang merah (sesuatu yang sangat langka), dibicarakan orang namun tidak terlihat. Maka bagaimana lagi dengan dua tingkatan setelahnya? Dan setiap tingkatan dari tingkatan-tingkatan ini pun memiliki derajat-derajatnya masing-masing.

أما الدرجات في المدح فهو أن من الناس من يتمنى المدحة والثناء وانتشار الصيت فيتوصل إلى نيل ذلك بكل ما يمكن حتى يرائي بالعبادات ولا يبالي بمقارفة المحظورات لاستمالة قلوب الناس واستنطاق ألسنتهم بالمدح وهذا من الهالكين

Adapun derajat-derajat dalam pujian: di antara manusia ada yang mendambakan pujian, sanjungan, dan tersihirnya keharuman nama, lalu ia berusaha mencapainya dengan segala cara yang memungkinkan, hingga ia berbuat riya dengan ibadah-ibadah dan tidak peduli melanggar hal-hal yang dilarang demi memikat hati manusia dan membuat lidah mereka mengucapkan pujian. Orang semacam ini termasuk orang-orang yang binasa.

ومنهم من يريد ذلك ويطلبه بالمباحات ولا يطلبه بالعبادات ولا يباشر المحظورات وهذا على شرف جرف هار فإن حدود الكلام الذي يستميل به القلوب وحدود الأعمال لا يمكنه أن يضبطها فيوشك أن يقع فيما لا يحل لنيل الحمد فهو قريب من الهالكين جداً

Di antara mereka ada pula yang menginginkan hal itu (kedudukan/pujian) dan mencarinya melalui perkara-perkara yang mubah, bukan melalui ibadah, serta tidak pula melakukan hal-hal yang diharamkan. Namun, orang ini berada di tepi jurang yang runtuh. Sebab, batasan ucapan dan tindakan yang dapat memikat hati orang lain tidak mungkin ia kendalikan dengan sempurna, sehingga dikhawatirkan ia akan terperosok ke dalam hal-hal yang tidak halal demi meraih pujian. Oleh karena itu, ia sangat dekat dengan kebinasaan.

ومنهم من لا يريد المدحة ولا يسعى لطلبها ولكن إذا مدح سبق السرور إلى قلبه فإذا لم يقابل ذلك بالمجاهدة ولم يتكلف الكراهية فهو قريب من أن يستجره فرط السرور إلى الرتبة التي قبلها وإن جاهد نفسه في ذلك وكلف قلبه الكراهية وبغض السرور إليه بالتفكر في آفات المدح فهو في خطر المجاهدة فتارة تكون اليد له وتارة تكون عليه

Di antara mereka ada yang tidak menginginkan pujian dan tidak berusaha mencarinya, tetapi apabila ia dipuji, rasa gembira menyelinap masuk ke dalam hatinya terlebih dahulu. Jika ia tidak menyikapi hal itu dengan mujahadah (perjuangan batin) dan tidak memaksa hatinya untuk membencinya, maka kegembiraan yang berlebihan itu berpotensi menyeretnya ke tingkatan sebelumnya. Namun, jika ia memupuk mujahadah pada dirinya dalam hal itu, memaksa hatinya untuk benci dan menolak rasa gembira tersebut dengan merenungkan bahaya-bahaya pujian, maka ia berada dalam kancah pertarungan mujahadah; terkadang ia menang dan terkadang ia kalah.

ومنهم من إذا سمع المدح لم يسر به ولم يغنم به ولم يؤثر فيه وهذا على خير وإن كان قد بقي عليه بقية من الإخلاص

Di antara mereka ada pula orang yang apabila mendengar pujian, ia tidak merasa gembira, tidak merasa beruntung, dan pujian itu tidak memberi pengaruh sedikit pun pada dirinya. Orang ini berada dalam kebaikan, meskipun masih tersisa baginya tugas untuk menyempurnakan keikhlasan.

ومنهم من يكره المدح إذا سمعه ولكن

Dan di antara mereka ada orang yang membenci pujian ketika mendengarnya, akan tetapi…

لا ينتهي به إلى أن يغضب على المادح وينكر عليه وأقصى درجاته أن يكره ويغضب ويظهر الغضب وهو صادق فيه لا أن يظهر الغضب وقلبه محب له فإن ذلك عين النفاق لأنه يريد أن يظهر من نفسه الإخلاص والصدق وهو مفلس عنه وكذلك بالضد من هذا تتفاوت الأحوال في حق الذام وأول درجاته إظهار الغضب وآخرها إظهار الفرح ولا يكون الفرح وإظهاره إلا ممن في قلبه حنق وحقد على نفسه لتمردها عليه وكثرة عيوبها ومواعيدها الكاذبة وتلبيساتها الخبيثة فيبغضها بغض العدو والإنسان يفرح ممن يذم عدوه وهذا شخص عدوه نفسه فيفرح إذا سمع ذمها ويشكر الذام على ذلك ويعتقد فطنته وذكاءه لما وقف على عيوبها فيكون ذلك كالتشفي له من نفسه ويكون غنيمة عنده إذ صار بالمذمة أوضع في أعين الناس حتى لا يبتلي بفتنة الناس وإذا سيقت إليه حسنات لم ينصب فيها فعساه يكون خيراً لعيوبه التي هو عاجز عن إماطتها ولو جاهد المريد نفسه طول عمره في هذه الخصلة الواحدة وهو أن يستوي عنده ذامه ومادحه لكان له شغل شاغل فيه لا يتفرغ معه لغيره وبينه وبين السعادة عقبات كثيرة هذه إحداها ولا يقطع شيئاً منها إلا بالمجاهدة الشديدة في العمر الطويل الشطر الثاني من الكتاب في طلب الجاه والمنزلة بالعبادات

sikapnya tidak sampai pada tingkat memarahi penyanjung dan mengkritiknya. Tingkatan tertingginya adalah ia membenci, marah, serta menampakkan kemarahan itu secara jujur, bukan menampakkan kemarahan padahal hatinya menyukainya. Sebab, hal itu merupakan inti dari kepalsuan (nifak), karena ia hendak menampakkan keikhlasan dan kejujuran dari dirinya sementara ia sama sekali tidak memilikinya. Demikian pula sebaliknya, tingkatan keadaan manusia berbeda-beda dalam menyikapi orang yang mencela. Tingkatan pertama adalah menampakkan kemarahan, dan tingkatan terakhirnya adalah menampakkan kegembiraan. Rasa gembira beserta penampakannya tidak akan terjadi kecuali dari seseorang yang dalam hatinya terdapat kemarahan dan kebencian terhadap nafsunya sendiri karena penentangan nafsu kepadanya, banyaknya aibnya, janji-janji palsunya, serta tipu daya buruknya. Maka ia membenci nafsunya sebagaimana membenci musuh. Manusia senantiasa merasa gembira terhadap orang yang mencela musuhnya, sedangkan orang ini musuhnya adalah nafsunya sendiri; maka ia gembira ketika mendengar celaan atas nafsunya, berterima kasih kepada pencela tersebut, dan menganggap kecerdasan serta kejelian pencela karena telah mengetahui aib-aib nafsunya. Hal itu baginya bagaikan penawar dahaga atas kekesalan terhadap nafsunya sendiri, dan dianggap sebagai keberuntungan baginya karena dengan celaan itu kedudukannya menjadi lebih rendah di mata manusia sehingga ia tidak teruji dengan fitnah manusia. Apabila kebaikan-kebaikan dialirkan kepadanya tanpa ia bersusah payah (karena celaan orang lain), bisa jadi itu menjadi penutup bagi aib-aibnya yang tak sanggup ia hilangkan. Seandainya seorang murid (pencari hakikat) melatih dirinya seumur hidup hanya untuk satu sifat ini—yaitu agar seimbang baginya antara orang yang mencela dan yang memuji—niscaya hal itu sudah menjadi kesibukan luar biasa yang menyita seluruh waktunya dari perkara lain. Dan antara dirinya dengan kebahagiaan (sejati) terdapat banyak rintangan, dan ini adalah salah satunya; tidak ada satu pun rintangan yang dapat dilalui kecuali dengan mujahadah yang berat sepanjang umur yang panjang. Bagian Kedua dari Kitab: Mencari Kedudukan dan Kemuliaan Melalui Ibadah

وهو الرياء وفيه

Yaitu Riya (Pamer), dan di dalamnya terdapat:

بيان ذم الرياء

Penjelasan Celaan Terhadap Riya

وبيان حقيقة الرياء وما يرائى وبيان درجات الرياء وبيان الرياء الخفي وبيان مَا يُحْبِطُ الْعَمَلَ مِنَ الرِّيَاءِ وَمَا لَا يحبط وبيان دواء الرياء وعلاجه وبيان الرخصة في إظهار الطاعات وبيان الرخصة في كتمان الذنوب وبيان ترك الطاعات خوفاً من الرياء والآفات وبيان ما يصح من نشاط العبد للعبادات بسبب رؤية الخلق وبيان ما يجب على المريد أن يلزمه قلبه قبل الطاعة وبعدها

Penjelasan tentang hakikat riya dan perkara-perkara yang dijadikan sarana riya; penjelasan tentang tingkatan-tingkatan riya; penjelasan tentang riya yang tersembunyi (riya khafi); penjelasan tentang riya yang menghapuskan pahala amal dan yang tidak menghapuskannya; penjelasan tentang penawar riya dan pengobatannya; penjelasan tentang kelonggaran (rukhsah) dalam menampakkan ketaatan; penjelasan tentang kelonggaran dalam menyembunyikan dosa; penjelasan tentang meninggalkan ketaatan karena takut riya dan bahaya-bahayanya; penjelasan tentang keabsahan semangat seorang hamba dalam beribadah karena dilihat oleh makhluk; serta penjelasan tentang apa yang wajib ditanamkan oleh seorang murid di dalam hatinya sebelum dan sesudah melakukan ketaatan.

وهي عشرة فصول وبالله التوفيق بيان ذم الرياء

Semua ini terbagi dalam sepuluh pasal, dan hanya kepada Allah memohon taufik. Penjelasan Celaan Terhadap Riya

اعْلَمْ أَنَّ الرِّيَاءَ حَرَامٌ وَالْمُرَائِيَ عِنْدَ اللَّهِ ممقوت وقد شهدت لذلك الآيات والأخبار والآثار

Ketahuilah bahwa riya itu hukumnya haram, dan orang yang berbuat riya adalah orang yang dimurkai di sisi Allah. Hal ini telah dibuktikan oleh ayat-ayat Al-Qur'an, hadis-hadis Nabi, serta atsar para sahabat dan ulama.

أَمَّا الْآيَاتُ فَقَوْلُهُ تَعَالَى فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ وَقَوْلُهُ ﷿ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عذاب شديد ومكر أولئك هو يبور قَالَ مجاهد هُمْ أَهْلُ الرِّيَاءِ

Adapun ayat-ayat Al-Qur'an, di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: 'Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang mereka itu berbuat riya' (QS. Al-Ma'un: 4-6). Dan firman-Nya Azza wa Jalla: 'Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka itu akan hancur' (QS. Fathir: 10). Mujahid berkata: 'Mereka itu adalah orang-orang yang berbuat riya.'

وَقَالَ تَعَالَى إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جزاء ولا شكورا فمدح المخلصين ينفي كُلِّ إِرَادَةٍ سِوَى وَجْهِ اللَّهِ وَالرِّيَاءُ ضِدُّهُ وقال تعالى فمن كان يرجو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بعبادة ربه أحدا // حديث نزول قوله تعالى فمن كان يرجو لقاء ربه الآية فيمن يطلب الآخرة بعباداته وأعماله

Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih' (QS. Al-Insan: 9). Maka pujian kepada orang-orang yang ikhlas ini meniadakan setiap kehendak selain keridhaan Allah, sedangkan riya adalah kebalikannya. Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan kebajikan dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya' (QS. Al-Kahfi: 110). // Hadis tentang sebab turunnya firman Allah Ta'ala: 'Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya…' ayat ini berkenaan dengan orang yang mencari balasan akhirat melalui ibadah dan amalnya.

أخرجه الحاكم من حديث طاوس قال رجل إني أقف الموقف أبتغي وجه الله وأحب أن يرى موطني فلم يرد عليه حتى نزلت هذه الآية

Diriwayatkan oleh Al-Hakim dari hadis Thawus, ia berkata: Ada seorang laki-laki berkata, 'Sesungguhnya aku berdiri di suatu tempat ibadah dengan mengharapkan keridhaan Allah, namun aku juga suka jika tempat kedudukanku dilihat orang.' Beliau tidak menjawabnya hingga turunlah ayat ini.

هكذا في نسختي من المستدرك ولعله سقط منه ابن عباس أو أبو هريرة وللبزار من حديث معاذ بسند ضعيف من صام رياء فقد أشرك الحديث وفيه أنه ﷺ تلا هذه الآية

Demikianlah yang terdapat dalam naskah Al-Mustadrak milikku, dan boleh jadi nama Ibnu Abbas atau Abu Hurairah terlewat darinya. Dan Al-Bazzar meriwayatkan dari hadis Mu'adz dengan sanad yang daif: 'Barangsiapa berpuasa karena riya, maka ia telah berbuat syirik…' (al-hadits), dan di dalamnya disebutkan bahwa Nabi ﷺ membaca ayat ini.

نزل بعد ذَلِكَ فِيمَنْ يَطْلُبُ الْأَجْرَ وَالْحَمْدَ بِعِبَادَاتِهِ وَأَعْمَالِهِ

Ayat tersebut turun berkenaan dengan orang yang mencari pahala sekaligus pujian melalui ibadah dan amal perbuatannya.

وأما الأخبار فقد قال ﷺ حين سأله رجل فقال يا رسول الله فيم النجاة فقال أن لا يعمل العبد بطاعة الله يريد بها الناس وقال أبو هريرة في حديث الثلاثة المقتول في سبيل الله والمتصدق بماله والقارئ لكتاب الله كما أوردناه في كتاب الإخلاص وإن الله ﷿ يقول لكل واحد منهم كذبت بل أردت أن يقال فلان جواد كذبت بل أردت أن يقال فلان شجاع كذبت بل أردت أن يقال فلان قارئ فأخبر صلى الله عليه وسلم

Adapun hadis-hadis Nabi, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda ketika seorang laki-laki bertanya kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, di manakah letak keselamatan?' Beliau menjawab: 'Hendaknya seorang hamba tidak melakukan suatu ketaatan kepada Allah dengan menginginkan (penilaian) manusia.' Dan Abu Hurairah meriwayatkan dalam hadis tentang tiga golongan: orang yang terbunuh di jalan Allah, orang yang bersedekah dengan hartanya, dan orang yang membaca Kitabullah (sebagaimana telah kami paparkan dalam Kitab Keikhlasan), bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman kepada masing-masing dari mereka: 'Engkau dusta! Engkau hanya ingin dikatakan si Fulan dermawan', 'Engkau dusta! Engkau hanya ingin dikatakan si Fulan pemberani', 'Engkau dusta! Engkau hanya ingin dikatakan si Fulan ahli membaca Al-Qur'an.' Maka Nabi ﷺ mengabarkan…

أنهم لم يثابوا وأن رياءهم هو الذي أحبط أعمالهم حديث ابن عمر من راءى راءى الله تعالى به ومن سمع سمع الله به متفق عليه من حديث جندب بن عبد الله وأما حديث ابن عمر فرواه الطبراني في الكبير والبيهقي في الشعب من رواية شيخ يكنى أبا يزيد عنه بلفظ من سمع الناس سمع الله به سامع خلقه وحقره وصغره وفي الزهد لابن المبارك ومسند أحمد بن منيع إنه من حديث عبد الله بن عمرو

…bahwa mereka tidak diberi pahala dan bahwasanya riya merekalah yang menghapuskan amal perbuatan mereka. Hadis Ibnu Umar: 'Barangsiapa berbuat riya, maka Allah akan menyingkapkan riyanya, dan barangsiapa memperdengarkan amalnya (sum'ah), maka Allah akan memperdengarkan keburukannya.' (Muttafaq 'alaih dari hadis Jundub bin Abdillah. Adapun hadis Ibnu Umar diriwayatkan oleh Al-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir dan Al-Baihaqi dalam Syu'ab Al-Iman dari riwayat seorang syekh berkunyah Abu Yazid darinya dengan lafal: 'Barangsiapa memperdengarkan amalnya kepada manusia, Allah akan memperdengarkannya kepada seluruh makhluk-Nya, menghinakannya, dan merendahkannya.' Dalam Kitab Az-Zuhd karya Ibnu Al-Mubarok dan Musnad Ahmad bin Mani' disebutkan bahwa hadis ini dari riwayat Abdullah bin Amr).

وفي حديث آخر طويل إن الله تعالى يقول لملائكته إن هذا لم يردني بعمله فاجعلوه في سجين حديث إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ الحديث أخرجه أحمد والبيهقي في الشعب من حديث محمود بن لبيد وله رواية ورجاله ثقات ورواه الطبراني من رواية محمود بن لبيد عن رافع بن خديج

Dalam hadis lain yang panjang disebutkan bahwa Allah Ta'ala berfirman kepada para malaikat-Nya: 'Sesungguhnya orang ini tidak menghendaki Aku dengan amalnya, maka tempatkanlah ia di Sijjin.' Hadis: 'Sesungguhnya hal yang paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil…' (al-hadits). Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Baihaqi dalam Syu'ab Al-Iman dari hadis Mahmud bin Labid, ia memiliki jalur riwayat dan para perawinya tsiqah (terpercaya). Al-Thabrani juga meriwayatkannya dari jalur Mahmud bin Labid dari Rafi' bin Khadij.

وقال ﷺ استعيذوا بالله ﷿ من جب الحزن قيل وما هو يا رسول الله قال واد في جهنم أعد للقراء المرائين حديث يقول الله مَنْ عَمِلَ لِي عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ غَيْرِي فهو له كله الحديث أخرجه مالك واللفظ له من حديث أبي هريرة دون قوله وأنا منه بريء ومسلم مع تقديم وتأخير دونها أيضا وهي عند ابن ماجه بسند صحيح

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Memohon perlindunganlah kalian kepada Allah Azza wa Jalla dari Jubb Al-Huzn (sumur kesedihan).' Dikatakan: 'Apakah itu wahai Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Ia adalah sebuah lembah di dalam Jahannam yang disediakan bagi para ahli Al-Qur'an yang berbuat riya.' Hadis: Allah berfirman: 'Barangsiapa melakukan suatu amal untuk-Ku yang di dalamnya ia menysekutukan selain-Ku bersama-Ku, maka amal itu seluruhnya untuk sekutunya…' (al-hadits). Diriwayatkan oleh Malik dan lafal ini miliknya dari hadis Abu Hurairah tanpa kalimat 'dan Aku berlepas diri darinya', juga oleh Muslim dengan penjelas pengakhiran/pengawalan tanpa kalimat itu pula, dan kalimat tersebut ada pada Ibnu Majah dengan sanad yang shahih.

وقال عيسى المسيح ﷺ إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلْيَدْهِنْ رَأْسَهُ وَلِحْيَتَهُ وَيَمْسَحْ شَفَتَيْهِ لِئَلَّا يَرَى النَّاسُ أَنَّهُ صَائِمٌ وَإِذَا أَعْطَى بِيَمِينِهِ فَلْيُخْفِ عَنْ شِمَالِهِ وإذا صلى فليرخ ستر بابه فإن الله يقسم الثناء كما يقسم الرزق وقال نبينا ﷺ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ ﷿ عَمَلًا فِيهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ رياء حديث معاذ إن أدنى الرياء شرك أخرجه الطبراني هكذا والحاكم بلفظ إن اليسير من الرياء شرك وقد تقدم

Dan Nabi Isa Al-Masih 'alaihissalam berkata: 'Jika tiba hari puasa salah seorang di antara kalian, hendaklah ia meminyaki kepala dan janggutnya serta menyapu kedua bibirnya agar orang-orang tidak melihat bahwa ia sedang berpuasa. Dan jika ia memberi dengan tangan kanannya, hendaklah ia menyembunyikannya dari tangan kirinya. Apabila ia shalat, hendaklah ia menurunkan tirai pintunya, karena sesungguhnya Allah membagikan pujian sebagaimana Dia membagikan rezeki.' Dan Nabi kita ﷺ bersabda: 'Allah Azza wa Jalla tidak menerima suatu amal yang di dalamnya terdapat seberat dzarrah dari riya.' Hadis Mu'adz: 'Sesungguhnya riya yang paling ringan adalah syirik.' Diriwayatkan oleh Al-Thabrani demikian, dan Al-Hakim dengan lafal: 'Sesungguhnya sedikit dari riya adalah syirik', dan hadis ini telah disebutkan sebelumnya.

وقال ﷺ أخوف ما أخاف عليكم الرياء والشهرة الخفية حديث إِنَّ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إلا ظله رجلاً تصدق بيمينه فكاد أن يخفيها عن شماله متفق عليه من حديث أبي هريرة بنحوه في حديث سبعة يظلهم الله في ظله

Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Hal yang paling aku takuti atas kalian adalah riya dan kemasyhuran yang tersembunyi (syuhrah khafiyyah)." Hadis: "Sesungguhnya di dalam naungan 'Arsy pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, ada seorang laki-laki yang bersedekah dengan tangan kanannya, lalu ia hampir-hampir menyembunyikannya dari tangan kirinya." (Muttafaq 'alaih dari hadis Abu Hurairah dengan makna serupa dalam hadis tujuh golongan yang dinaungi Allah di dalam naungan-Nya).

وَلِذَلِكَ وَرَدَ إِنَّ فَضْلَ عَمَلِ السِّرِّ عَلَى عمل الجهر بسبعين ضعفا حديث إن المرائي ينادى يوم القيامة يا فاجر يا غادر يا مرائي ضل عملك وحبط أجرك الحديث أخرجه ابن أبي الدنيا من رواية جبلة اليحصبي من صحابي لم يسم وزاد يا كافر يا خاسر ولم يقل يا مرائي

Oleh karena itu, terdapat riwayat bahwa keutamaan amal yang tersembunyi dibanding amal yang terang-terangan adalah tujuh puluh kali lipat. Hadis: "Sesungguhnya orang yang riya akan dipanggil pada hari kiamat, 'Wahai orang jahat (fajir), wahai orang pengkhianat (ghadir), wahai orang yang riya, telah sesat amalmu dan telah gugur pahalamu…'". Al-Hadis. (Diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dunya dari riwayat Jabalah al-Yahshtubi dari seorang sahabat yang tidak disebutkan namanya, dan ia menambahkan: "Wahai orang kafir, wahai orang yang rugi", serta tidak menyebutkan "wahai orang yang riya").

وقال شداد بن أوس رأيت النبي ﷺ يبكي فقلت ما يبكيك يا رسول الله

Syaddad bin Aus berkata, "Aku melihat Nabi ﷺ menangis, maka aku bertanya, 'Apa yang membuatmu menangis, wahai Rasulullah?'"

قال إني تخوفت على أمتي الشرك أما إنهم لا يعبدون صنماً ولا شمساً ولا قمراً ولا حجراً ولكنهم يراءون بأعمالهم

Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku mengkhawatirkan syirik atas umatku. Ketahuilah, mereka tidak menyembah berhala, matahari, bulan, ataupun batu, tetapi mereka melakukan riya dengan amal-amal mereka."

وقال ﷺ لما خلق الله الأرض مادت بأهلها فخلق الجبال فصيرها أوتاداً للأرض فقالت الملائكة ما خلق ربنا خلقاً هو أشد من الجبال فخلق الله الحديد فقطع الجبال ثم خلق النار فأذابت الحديد ثم أمر الله الماء بإطفاء النار وأمر الريح فكدرت الماء فاختلفت الملائكة فقالت نسأل الله تعالى قالوا يا رب ما أشد ما خلقت من خلقك قال الله تعالى لم أخلق خلقاً هو أشد على من قلب ابن آدم حين يتصدق بصدقة بيمينه فيخفيها عن شماله فهذا أشد خلقاً خلقه

Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketika Allah menciptakan bumi, bumi guncang bersama penghuninya, lalu Allah menciptakan gunung-gunung dan menjadikannya sebagai pasak-pasak bagi bumi. Para malaikat berkata, 'Rabb kita tidak menciptakan makhluk yang lebih kokoh daripada gunung.' Maka Allah menciptakan besi, lalu besi itu dapat memotong gunung. Kemudian Allah menciptakan api, lalu api mencairkan besi. Kemudian Allah memerintahkan air untuk memadamkan api, dan memerintahkan angin lalu angin menggerakkan air. Para malaikat pun berselisih pendapat, lalu mereka berkata, 'Mari kita bertanya kepada Allah Ta'ala.' Mereka berkata, 'Wahai Rabb, apakah makhluk paling kuat yang Engkau ciptakan?' Allah Ta'ala berfirman, 'Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih kuat bagiku selain hati anak Adam ketika ia bersedekah dengan tangan kanannya lalu ia menyembunyikannya dari tangan kirinya, maka inilah ciptaan paling kuat yang Dia ciptakan.'"

وروى عبد الله بن المبارك بإسناده عن رجل أنه قال لمعاذ بن جبل حدثني حديثاً سمعته من رسول الله ﷺ قال فبكى معاذ حتى ظننت أنه لا يسكت ثم سكت ثم قال سمعت النبي ﷺ قال لي يا معاذ قلت لبيك بأبي أنت وأمي يا رسول الله قال إني محدثك حديثاً إن أنت حفظته نفعك وإن أنت ضيعته ولم تحفظه انقطعت حجتك عند الله يوم القيامة يا معاذ أن الله تعالى خلق سبعة أملاك قبل أن يخلق السموات والأرض ثم خلق السموات فجعل لكل سماء من السبعة ملكاً بواباً عليها قد جللها عظماً فتصعد الحفظة بعمل العبد من حين أصبح إلى حين أمسى له نور كنور الشمس حتى إذا صعدت به إلى السماء الدنيا زكته فكثرته فيقول الملك للحفظة اضربوا بهذا العمل وجه صاحبه أنا صاحب الغيبة أمرني ربي أن لا أدع عمل من اغتاب الناس يجاوزني إلى غيري ﴿قال﴾ ثم تأتي الحفظة بعمل صالح من أعمال العبد فتمر به فتزكيه وتكثره حتى تبلغ به إلى السماء الثانية فيقول لهم الملك الموكل بها قفوا واضروا بهذا العمل وجه صاحبه إنه أراد بعمله هذا عرض الدنيا أمرني ربي أن لا أدع عمله يجاوزني إلى غيري إنه كان يفتخر به على الناس في مجالسهم ﴿قال﴾ وتصعد الحفظة يعلم يبتهج نوراً من صدقة وصيام وصلاة قد أعجب الحفظة فيجاوزون به إلى السماء الثالثة فيقول لهم الملك الموكل بها فقوا واضربوا بها العمل وجه صاحبه أنا ملك الكبر أمرني ربي أن لا أدع عمله يجاوزني إلى غيري إنه كان يتكبر على الناس في مجالسهم ﴿قال﴾ وتصعد الحفظة بعمل العبد يزهر كما يزهر الكوكب الدري له دوى من تسبيح وصلاة وحج وعمرة حتى يجاوزوا به السماء الرابعة فيقول لهم الملك الموكل بها قفوا واضربوا بهذا العمل وجه صاحبه اضربوا به ظهره وبطنه أنا صاحب العجب أمرني ربي أن لا أدع عمله يجاوزني إلى غيري إنه كان إذا عمل عملاً أدخل العجب في عمله ﴿قال﴾ وتصعد الحفظة بعمل العبد حتى يجاوزوا به السماء الخامسة كأنه العروس المزفوفة إلى أهلها فيقول لهم الملك الموكل بها قفوا واضروا بهذا العمل وجه صاحبه واحملوه على عاتقه أنا ملك الحسد إنه كان يحسد الناس من يتعلم ويعمل بمثل عمله وكل من كان يأخذ فضلاً من العبادة يحسدهم ويقع فيهم أمرني ربي أن لا أدع عمله يجاوزني إلى غيري ﴿قال﴾ وتصعد الحفظة بعمل العبد من صلاة وزكاة وحج وعمرة وصيام فيجاوزون بها إلى السماء السادسة فيقول لهم الملك الموكل بها قفوا واضربوا بهذا العمل وجه صاحبه إنه كان لا يرحم إنساناً قط من عباد الله أصابه بلاء أو ضر أضر به بل كان يشمت به أنا ملك الرحمة أمرني ربي أن لا أدع عمله يجاوزني إلى غيري ﴿قال﴾ وتصعد الحفظة بعمل العبد إلى السماء السابعة من صوم وصلاة ونفقة وزكاة واجتهاد وورع له دوي كدوي الرعد وضوء كضوء الشمس معه ثلاثة آلاف ملك فيجاوزون به إلى السماء السابعة فيقول لهم الملك الموكل بها قفوا واضربوا بهذا العمل

Abdullah bin al-Mubarak meriwayatkan dengan sanadnya dari seorang laki-laki bahwasanya ia berkata kepada Mu'adz bin Jabal, "Sampaikanlah kepadaku sebuah hadis yang engkau dengar dari Rasulullah ﷺ." Ia berkata: Maka Mu'adz menangis hingga aku mengira ia tidak akan berhenti. Kemudian ia diam dan berkata, "Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda kepadaku, 'Wahai Mu'adz!' Aku menjawab, 'Labbaika, tebusanku ayah dan ibuku wahai Rasulullah.' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya aku akan menyampaikan hadis kepadamu, jika engkau menghafalnya niscaya bermanfaat bagimu, namun jika engkau menyia-nyiakannya dan tidak menghafalnya, maka terputuslah hujjahmu di hadapan Allah kelak pada hari kiamat. Wahai Mu'adz, sesungguhnya Allah Ta'ala menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Kemudian Dia menciptakan langit dan menjadikan pada setiap langit dari yang tujuh itu seorang malaikat sebagai penjaga pintunya yang diliputi keagungan. Lalu malaikat Hafazhah naik membawa amal seorang hamba dari sejak pagi hingga sore hari, yang memiliki cahaya seperti cahaya matahari. Hingga ketika mereka naik membawanya ke langit dunia, mereka memujinya dan menganggapnya banyak. Maka malaikat penjaga pintu berkata kepada Hafazhah, "Pukulkanlah amal ini ke wajah pemiliknya! Aku adalah malaikat pengawas ghibah, Rabbku memerintahkanku agar tidak membiarkan amal orang yang menggunjing orang lain melebihiku menuju yang lain."' (Mu'adz) berkata: Kemudian Hafazhah datang membawa amal saleh di antara amal-amal hamba, lalu melintas membawanya, memujinya, dan menganggapnya banyak hingga mencapainya ke langit kedua. Maka malaikat yang diserahi tugas di sana berkata kepada mereka, 'Berhentilah dan pukulkanlah amal ini ke wajah pemiliknya! Sesungguhnya dengan amalnya ini ia menginginkan kesenangan dunia. Rabbku memerintahkanku agar tidak membiarkan amalnya melebihiku menuju yang lain, karena ia dahulu membanggakan diri dengan amalnya kepada manusia di majelis-majelis mereka.' (Mu'adz) berkata: Dan Hafazhah naik membawa amal yang sinarnya berseri-seri dari sedekah, puasa, dan shalat yang membuat Hafazhah kagum, lalu mereka membawanya melewati langit ketiga. Maka malaikat yang diserahi tugas di sana berkata kepada mereka, 'Berhentilah dan pukulkanlah amal ini ke wajah pemiliknya! Aku adalah malaikat kesombongan (kibr), Rabbku memerintahkanku agar tidak membiarkan amalnya melebihiku menuju yang lain, karena ia dahulu bersikap sombong kepada manusia di majelis-majelis mereka.' (Mu'adz) berkata: Dan Hafazhah naik membawa amal seorang hamba yang bersinar bagaikan bintang yang berkilau, memiliki gema dari tasbih, shalat, haji, dan umrah, hingga mereka melampaui langit keempat. Maka malaikat yang diserahi tugas di sana berkata kepada mereka, 'Berhentilah dan pukulkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, pukulkanlah ke punggung dan perutnya! Aku adalah malaikat ujub, Rabbku memerintahkanku agar tidak membiarkan amalnya melebihiku menuju yang lain, karena apabila ia melakukan suatu amal, ia memasukkan rasa ujub ke dalam amalnya.' (Mu'adz) berkata: Dan Hafazhah naik membawa amal seorang hamba hingga melampaui langit kelima, seakan-akan seperti pengantin wanita yang diarak menuju keluarganya. Maka malaikat yang diserahi tugas di sana berkata kepada mereka, 'Berhentilah dan pukulkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, serta pikulkanlah di atas tengkuknya! Aku adalah malaikat dengki (hasad). Dahulu ia mendengki manusia yang belajar dan beramal seperti amalnya, serta setiap orang yang mengambil keutamaan dari ibadah, ia mendengki mereka dan mencela mereka. Rabbku memerintahkanku agar tidak membiarkan amalnya melebihiku menuju yang lain.' (Mu'adz) berkata: Dan Hafazhah naik membawa amal seorang hamba berupa shalat, zakat, haji, umrah, dan puasa, lalu melampauinya ke langit keenam. Maka malaikat yang diserahi tugas di sana berkata kepada mereka, 'Berhentilah dan pukulkanlah amal ini ke wajah pemiliknya! Sesungguhnya ia tidak pernah menyayangi seorang manusia pun dari hamba-hamba Allah yang tertimpa cobaan atau kemudaratan yang menimpanya, melainkan ia merasa gembira atas penderitaan orang lain (syamatah). Aku adalah malaikat kasih sayang (rahmah), Rabbku memerintahkanku agar tidak membiarkan amalnya melebihiku menuju yang lain.' (Mu'adz) berkata: Dan Hafazhah naik membawa amal seorang hamba ke langit ketujuh berupa puasa, shalat, nafkah, zakat, kesungguhan, dan wara', yang memiliki gema seperti gema guruh dan cahaya seperti cahaya matahari, bersamanya ada tiga ribu malaikat. Mereka membawanya melewati langit ketujuh, lalu malaikat yang diserahi tugas di sana berkata kepada mereka, 'Berhentilah dan pukulkanlah amal ini…

وجه صاحبه اضربوا به جوارحه اقفلوا به على قلبه إني أحجب عن ربي كل عمل لم يرد به وجه ربي إنه أراد بعمله غير الله تعالى إنه أراد رفعة عند الفقهاء وذكراً عند العلماء وصيتاً في المدائن أمرني ربي أن لا أدع عمله يجاوزني إلى غيري وكل عمل لم يكن لله خالصاً فهو رياء ولا يقبل الله عمل المرائي ﴿قال﴾ وتصعد الحفظة بعمل العبد من صلاة وزكاة وصيام وحج وعمرة وخلق حسن وصمت وذكر لله تعالى وتشيعه ملائكة السموات حتى يقطعوا به الحجب كلها إلى الله ﷿ فيقفون بين يديه ويشهدون له بالعمل الصالح المخلص لله ﴿قال﴾ فيقول الله لهم أنتم الحفظة على عمل عبدي وأنا الرقيب على نفسه إنه لم يردني بهذا العمل وأراد به غيري فعليه لعنتي فتقول الملائكة كلهم عليه لعنتك ولعنتنا وتقول السموات كلها عليه لعنة الله ولغتنا وتلعنه السموات السبع والأرض ومن فيهن قال معاذ قلت يا رسول الله أنت رسول الله وأنا معاذ قال اقتد بي وإن كان في عملك نقص يا معاذ حافظ على لسانك من الوقيعة في إخوانك من حملة القرآن واحمل ذنوبك عليك ولا تحملها عليهم ولا تزك نفسك بذمهم ولا ترفع نفسك عليهم ولا تدخل عمل الدنيا في عمل الآخرة ولا تتكبر في مجلسك لكي يحذر الناس من سوء خلقك ولا تناج رجلاً وعندك آخر ولا تتعظم على الناس فينقطع عنك خير الدنيا ولا تمزق الناس فتمزقك كلاب النار يوم القيامة في النار قال الله تعالى ﴿والناشطات نشطاً﴾ أتدري من هن يا معاذ قلت ما هن بأبي أنت وأمي يا رسول الله قال كلاب في النار تنشط اللحم والعظم قلت بأبي أنت وأمي يا رسول الله فمن يطيق هذه الخصال ومن ينجو منها قال يا معاذ إنه ليسير على من يسره الله عليه // حديث معاذ الطويل أن الله تعالى خلق سبعة أملاك قبل أن يخلق السموات والأرض فجعل لكل سماء من السبعة ملكاً بواباً عليها الحديث بطوله في صعود الحفظة بعمل العبد ورد الملائكة له من كل سماء ورد الله تعالى له بعد ذلك عزاء المصنف إلى رواية عبد الله بن المبارك بإسناده عن رجل عن معاذ وهو كما قال رواه في الزهد وفي إسناده كما ذكر من لم يسم ورواه ابن الجوزي في الموضوعات

…ke wajah pemiliknya, pukulkanlah ke anggota tubuhnya, dan kuncilah dengannya hatinya! Sesungguhnya aku menghalangi dari Rabbku setiap amal yang tidak ditujukan demi Wajah Rabbku. Ia menginginkan dengan amalnya selain Allah Ta'ala; ia menginginkan kedudukan tinggi di sisi para ahli fikih, sebutan di sisi para ulama, dan kemasyhuran di kota-kota. Rabbku memerintahkanku agar tidak membiarkan amalnya melebihiku menuju yang lain. Setiap amal yang tidak murni karena Allah adalah riya, dan Allah tidak menerima amal orang yang riya.' (Mu'adz) berkata: Dan Hafazhah naik membawa amal seorang hamba berupa shalat, zakat, puasa, haji, umrah, akhlak yang baik, diam, dan dzikir kepada Allah Ta'ala, dengan diiringi oleh para malaikat langit hingga mereka menembus seluruh hijab menuju Allah 'Azza wa Jalla. Lalu mereka berdiri di hadapan-Nya dan bersaksi baginya atas amal saleh yang ikhlas karena Allah. (Mu'adz) berkata: Maka Allah berfirman kepada mereka, 'Kalian adalah pencatat atas amal hamba-Ku, sedangkan Aku adalah Pengawas atas jiwanya. Sesungguhnya ia tidak menginginkan Aku dengan amal ini, melainkan menginginkan selain Aku, maka baginya laknat-Ku.' Lalu para malaikat semuanya berkata, 'Atasnya laknat-Mu dan laknat kami.' Seluruh langit berkata, 'Atasnya laknat Allah dan laknat kami,' dan tujuh langit serta bumi beserta seluruh penghuninya melaknatnya." Mu'adz berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, Engkau adalah Rasulullah sedangkan aku adalah Mu'adz (bagaimana aku selamat)?" Beliau bersabda, "Teladanilah aku sekalipun dalam amalmu ada kekurangan. Wahai Mu'adz, jagalah lidahmu dari mencela saudara-saudaramu sesama pembawa Al-Qur'an, tanggunglah dosa-dosamu sendiri dan jangan engkau timpakan kepada mereka, jangan engkau menyucikan dirimu dengan mencela mereka, jangan meninggikan dirimu di atas mereka, jangan memasukkan amal dunia ke dalam amal akhirat, jangan bersikap sombong di majelismu agar orang-orang tidak menjauh dari keburukan akhlakmu, jangan berbisik-bisik dengan seseorang sementara di sisimu ada orang lain, jangan membesarkan diri atas manusia sehingga terputus darimu kebaikan dunia, dan jangan mencabik-cabik manusia sehingga anjing-anjing neraka mencabik-cabikmu kelak pada hari kiamat di neraka." Allah Ta'ala berfirman: "Demi malaikat-malaikat yang mencabut (nyawa) dengan keras" (QS. An-Nazi'at: 2). "Tahukah engkau siapa mereka wahai Mu'adz?" Aku menjawab, "Siapakah mereka, tebusanku ayah dan ibuku wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Yaitu anjing-anjing di neraka yang merobek-robek daging dan tulang." Aku berkata, "Tebusanku ayah dan ibuku wahai Rasulullah, siapakah yang sanggup menanggung sifat-sifat ini dan siapakah yang dapat selamat darinya?" Beliau bersabda, "Wahai Mu'adz, sesungguhnya hal itu sungguh mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah Ta'ala." // Hadis Mu'adz yang panjang bahwa Allah Ta'ala menciptakan tujuh malaikat sebelum menciptakan langit dan bumi, lalu menjadikan pada setiap langit dari yang tujuh itu seorang malaikat penjaga pintu… (hadis secara lengkap tentang naiknya malaikat Hafazhah membawa amal hamba dan penolakan malaikat terhadapnya di setiap langit serta penolakan Allah Ta'ala terhadapnya setelah itu). Penulis menyandarkannya kepada riwayat Abdullah bin al-Mubarak dengan sanadnya dari seorang laki-laki dari Mu'adz, dan hal itu sebagaimana yang beliau katakan, diriwayatkan dalam kitab Az-Zuhd, dan di dalam sanadnya sebagaimana disebutkan terdapat perawi yang tidak dinamai, dan Ibnul Jauzi meriwayatkannya dalam al-Maudhu'at.

قال فما رأيت أكثر تلاوة للقرآن من معاذ للحذر مما في هذا الحديث

Perawi berkata, "Maka aku tidak pernah melihat orang yang paling banyak membaca Al-Qur'an daripada Mu'adz karena kehati-hatiannya terhadap apa yang ada di dalam hadis ini."

وأما الآثار فيروى أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ﵁ رَأَى رَجُلًا يُطَأْطِئُ رَقَبَتَهُ فَقَالَ يَا صَاحِبَ الرَّقَبَةِ ارْفَعْ رَقَبَتَكَ لَيْسَ الْخُشُوعُ فِي الرِّقَابِ إِنَّمَا الْخُشُوعُ فِي الْقُلُوبِ وَرَأَى أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ رَجُلًا فِي الْمَسْجِدِ يَبْكِي فِي سُجُودِهِ فَقَالَ أَنْتَ أَنْتَ لَوْ كَانَ هَذَا فِي بيتك

Adapun atsar, diriwayatkan bahwasanya 'Umar bin al-Khatthab ﵁ melihat seorang laki-laki membungkukkan lehernya, maka beliau berkata, "Wahai pemilik leher, tegakkan lehermu! Khusyuk itu bukanlah pada leher, melainkan khusyuk itu di dalam hati." Dan Abu Umamah al-Bahili melihat seorang laki-laki di masjid sedang menangis dalam sujudnya, maka beliau berkata, "Engkau adalah engkau, sekiranya hal ini dilakukan di rumahmu."

وقال علي كرم الله وجهه للمرائي ثلاث علامات يكسل إذا كان وحده وينشط إذا كان في الناس ويزيد في العمل إذا أثني علي ﷺ هـ وينقص إذا ذم

Dan Ali Karramallahu Wajhah berkata, "Bagi orang yang riya ada tiga tanda: ia malas apabila berada seorang diri, ia bersemangat apabila berada di tengah-tengah manusia, dan ia menambah dalam beramal apabila dipuji serta menguranginya apabila dicela."

وقال رجل لعبادة بن الصامت أقاتل بسيفي في سبيل الله أريد به وجه الله تعالى ومحمدة الناس قال لا شيء لك فسأله ثلاث مرات كل ذلك يقول لا شيء لك ثم قال في الثالثة إن الله يقول أنا أغنى الأغنياء عن الشرك الحديث وسأل رجل سعيد بن المسيب فقال إن أحدنا يصطنع المعروف يحب أن يحمد ويؤجر فقال له أتحب أن تمقت قال لا قال فإذا عملت لله عملاً فأخلصه

Seorang laki-laki berkata kepada 'Ubadah bin ash-Shamit, "Aku berperang dengan pedangku di jalan Allah, aku menginginkan dengannya Wajah Allah Ta'ala dan pujian manusia." Beliau menjawab, "Tidak ada pahala bagimu." Laki-laki itu bertanya tiga kali, dan setiap kali beliau menjawab, "Tidak ada pahala bagimu." Kemudian pada kali ketiga beliau berkata, "Sesungguhnya Allah berfirman: 'Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu…'" Al-Hadis. Dan seorang laki-laki bertanya kepada Sa'id bin al-Musayyib, lalu berkata, "Sesungguhnya salah seorang dari kami berbuat kebaikan, ia suka dipuji dan diberi pahala." Maka Sa'id berkata kepadanya, "Apakah engkau suka dimurkai?" Ia menjawab, "Tidak." Sa'id berkata, "Maka jika engkau beramal karena Allah, ikhlaskanlah ia."

وَقَالَ الضحاك

Dan Adh-Dhahhak berkata,

لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ هَذَا لِوَجْهِ اللَّهِ وَلِوَجْهِكَ وَلَا يَقُولَنَّ هَذَا لِلَّهِ وَلِلرَّحِمِ فإن الله تعالى لا شريك له

"Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian mengatakan, 'Ini demi Wajah Allah dan demi wajahmu,' dan jangan pula mengatakan, 'Ini karena Allah dan karena silaturahmi,' sebab Allah Ta'ala tidak memiliki sekutu."

وضرب عمر رجلاً بالدرة ثم قال له اقتص مني فقال لا بل أدعها لله ولك

Dan Umar memukul seorang laki-laki dengan cambuk, kemudian berkata kepadanya, "Balaslah memukulku!" Laki-laki itu menjawab, "Tidak, melainkan aku meninggalkannya karena Allah dan karenamu."

فقال له عمر ما صنعت شيئاً إما أن تدعها لي فأعرف ذلك أو تدعها لله وحده فقال ودعتها لله وحده فقال فنعم إذن

Maka Umar berkata kepadanya, "Engkau belum berbuat apa-apa. Pilihannya: engkau meninggalkannya karenaku sehingga aku mengakui hal itu, atau engkau meninggalkannya karena Allah semata." Laki-laki itu berkata, "Aku meninggalkannya karena Allah semata." Umar berkata, "Jika demikian, baguslah."

وقال الحسن لقد صحبت أقواماً إن كان أحدهم لتعرض له الحكمة لو نطق بها لنفعته ونفعت أصحابه وما يمنعه منها إلا مخافة الشهرة وإن كان أحدهم ليمر فيرى الأذى في الطريق فما يمنعه أن ينحيه إلا مخافة الشهرة ويقال إن المرائي ينادى يوم القيامة بأربعة أسماء يا مرائي يا غادر يا خاسر يا فاجر اذهب فخذ أجرك ممن عملت له فلا أجر لك عندنا

Dan Al-Hasan berkata, "Sungguh aku telah menyertai kaum-kaum yang mana salah seorang dari mereka mendapati hikmah yang sekiranya ia mengucapkannya niscaya bermanfaat baginya dan sahabat-sahabatnya, dan tidak ada yang menghalanginya dari mengucapkannya melainkan karena takut akan kemasyhuran. Dan sungguh salah seorang dari mereka lewat lalu melihat gangguan di jalan, maka tidak ada yang menghalanginya untuk menyingkirkannya melainkan karena takut akan kemasyhuran." Dan dikatakan bahwasanya orang yang riya akan dipanggil pada hari kiamat dengan empat julukan: "Wahai orang yang riya, wahai orang yang pengkhianat, wahai orang yang rugi, wahai orang jahat! Pergilah dan ambillah pahalamu dari orang yang engkau beramal karenanya, karena tidak ada pahala bagimu di sisi kami."

وقال الفضيل بن عياض كانوا يراءون بما يعملون وصاروا اليوم يراءون

Dan Fuddhail bin 'Iyadh berkata, "Dahulu orang-orang melakukan riya dengan apa yang mereka amalkan, sedangkan hari ini mereka melakukan riya…"

بما لا يعملون

"…dengan apa yang tidak mereka amalkan."

وقال عكرمة إن الله يعطي العبد على نيته ما لا يعطيه على عمله لأن النية لا رياء فيها

Dan 'Ikrimah berkata, "Sesungguhnya Allah memberi kepada hamba berdasarkan niatnya apa yang tidak Dia berikan berdasarkan amalnya, karena niat itu tidak ada riya di dalamnya."

وقال الحسن ﵁ المرائي يريد أن يغلب قدر الله تعالى وهو رجل سوء يريد أن يقول الناس هو رجل صالح وكيف يقولون وقد حل من ربه محل الأردياء فلا بد لقلوب المؤمنين أن تعرفه

Dan Al-Hasan ﵁ berkata, "Orang yang riya hendak mengalahkan takdir Allah Ta'ala, dan ia adalah orang yang buruk yang ingin manusia mengatakan bahwa ia adalah orang yang saleh. Bagaimana mereka akan menyatakannya, padahal ia di sisi Rabbnya berada di kedudukan orang-orang yang hina? Maka hati orang-orang beriman pasti akan mengenali (keburukan) dirinya."

وقال قتادة إذا راءى العبد يقول الله تعالى انظروا إلى عبدي يستهزئ بي

Qatadah berkata, "Apabila seorang hamba berbuat riya, Allah Ta'ala berfirman, 'Lihatlah hamba-Ku ini, ia sedang memperolok-olok Aku.'"

وقال مالك بن دينار الفراء ثلاثة قراء الرحمن وقراء الدنيا وقراء الملوك وأن محمد بن واسع من قراء الرحمن

Malik bin Dinar berkata, "Para pembaca (Al-Qur'an/ahli ilmu) itu ada tiga golongan: pembaca Ar-Rahman (karena Allah), pembaca dunia, dan pembaca para penguasa. Dan sesungguhnya Muhammad bin Wasi' termasuk dalam golongan pembaca Ar-Rahman."

وقال الفضل من أراد أن ينظر إلى مراء فلينظر إلي

Al-Fadhl berkata, "Barang siapa ingin melihat seorang yang berbuat riya, hendaklah ia melihat kepadaku."

وقال محمد بن المبارك الصوري أظهر السمت بالليل فإنه أشرف من سمتك بالنهار لأن السمت بالنهار للمخلوقين وسمت الليل لرب العالمين

Muhammad bin Al-Mubarak As-Suri berkata, "Tampakkanlah sikap ibadah yang baik pada malam hari, karena itu lebih mulia daripada sikapmu di siang hari. Sebab, penampilan pada siang hari ditunjukkan kepada makhluk, sedangkan penampilan di malam hari ditunjukkan kepada Tuhan semesta alam."

وقال أبو سليمان التوقي عن العمل أشد من العمل

Abu Sulaiman berkata, "Sikap menjaga diri (dari cela) dalam beramal itu lebih berat daripada amal itu sendiri."

وقال ابن المبارك إن كان الرجل ليطوف بالبيت وهو بخراسان فقيل له وكيف ذاك قال يحب أن لا يذكر أنه مجاور بمكة

Ibnul Mubarak berkata, "Sungguh ada seorang laki-laki yang seakan-akan bertawaf di Baitullah padahal ia berada di Khurasan." Ditanyakan kepadanya, "Bagaimana bisa demikian?" Beliau menjawab, "Ia suka agar orang tidak menyebutkan bahwa ia sedang bermukim di Mekkah."

وقال إبراهيم بن أدهم ما صدق الله من أراد أن يشتهر

Ibrahim bin Adham berkata, "Tidaklah jujur kepada Allah orang yang ingin menjadi terkenal."

بيان حقيقة الرياء وما يُرَاءَى بِهِ

Penjelasan tentang Hakikat Riya dan Sarana-Sarana Riya

اعْلَمْ أَنَّ الرِّيَاءَ مُشْتَقٌّ مِنَ الرؤية والسمعة مشتقة من السماع وإنما الرياء أصله طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِ النَّاسِ بِإِيرَائِهِمْ خِصَالَ الخير إلا أن الجاه والمنزلة تطلب في القلب بأعمال سوى العبادات وتطلب بالعبادات

Ketahuilah bahwa kata riya terambil dari kata *ar-ru'yah* (melihat) dan *as-sum'ah* terambil dari kata *as-sama'* (mendengar). Pada dasarnya, riya adalah mencari kedudukan di hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka kebaikan-kebaikan. Hanya saja, kedudukan dan martabat itu terkadang dicari di dalam hati manusia melalui perbuatan-perbuatan selain ibadah, dan terkadang dicari melalui ibadah.

واسم الرياء مخصوص بحكم العادة بطلب المنزلة في القلوب بالعبادة وإظهارها فحد الرياء هو إرادة العباد بطاعة الله فالمرائي هو العابد والمراءى هو الناس المطلوب رؤيتهم بطلب المنزلة في قلوبهم والمراءى به هو الخصال التي قصد المرائي إظهارها والرياء هو قصده إظهار ذلك والمراءى به كثير وتجمعه خَمْسَةُ أَقْسَامٍ وَهِيَ مَجَامِعُ مَا يَتَزَيَّنُ بِهِ الْعَبْدُ لِلنَّاسِ وَهُوَ الْبَدَنُ وَالزِّيُّ وَالْقَوْلُ وَالْعَمَلُ والأتباع والأشياء الخارجة

Menurut kebiasaan, istilah riya dikhususkan pada upaya mencari kedudukan di hati manusia melalui ibadah dan penampakannya. Maka batasan (definisi) riya adalah menghendaki manusia (makhluk) dengan ketaatan kepada Allah. Pelaku riya (*al-mura'i*) adalah orang yang beribadah, pihak yang dituju riya (*al-mura'a*) adalah manusia yang diharapkan penglihatannya demi mencari kedudukan di hati mereka, sarana riya (*al-mura'a bihi*) adalah sifat-sifat yang bermaksud ditampakkan oleh pelaku riya, sedangkan riya itu sendiri adalah maksudnya untuk menampakkan hal tersebut. Sarana riya itu sangat banyak, namun terangkum dalam lima bagian yang menjadi muara dari apa yang digunakan seorang hamba untuk mempercantik diri di hadapan manusia, yaitu: badan, pakaian/penampilan, ucapan, perbuatan, serta pengikut dan hal-hal di luar diri.

وكذلك أهل الدنيا يراءون بهذه الأسباب الخمسة إلا أن طلب الجاه وقصد الرياء بأعمال ليست من جملة الطاعات أهون من الرياء بالطاعات

Demikian pula ahli dunia, mereka berbuat riya dengan lima sarana ini. Hanya saja, mencari kedudukan dan bermaksud riya dengan perbuatan-perbuatan yang bukan termasuk ketaatan itu lebih ringan daripada berbuat riya dengan ketaatan (ibadah).

القسم الأول الرياء في الدين بالبدن وذلك بإظهار النُّحُولِ وَالصَّفَارِ لِيُوهِمَ بِذَلِكَ شِدَّةَ الِاجْتِهَادِ وَعِظَمَ الحزن على أمر الدين وغلبة خوف الآخرة وليدل بالنحول على قلة الأكل وبالصفار على سهر الليل وكثرة الاجتهاد وعظم الحزن على الدين وكذلك يرائي بتشعيث الشَّعْرِ لِيَدُلَّ بِهِ عَلَى اسْتِغْرَاقِ الْهَمِّ بِالدِّينِ وعدم التفرغ لتسريح الشعر

Bagian pertama: Riya dalam urusan agama melalui badan. Hal itu dilakukan dengan memperlihatkan tubuh yang kurus dan wajah yang pucat agar memberi kesan betapa sungguh-sungguhnya ia dalam beribadah, besarnya kesedihannya atas urusan agama, serta dominasi rasa takut akan akhirat. Tubuh kurus digunakan untuk menunjukkan sedikitnya makan, dan wajah pucat untuk menunjukkan seringnya berjaga di malam hari (qiyamul lail), banyaknya kesungguhan, dan besarnya duka atas urusan agama. Demikian pula ia berbuat riya dengan membiarkan rambutnya terurai acak-acakan untuk menunjukkan tenggelamnya perhatian pada urusan agama sehingga tidak sempat menyisir rambut.

وهذه الأسباب مهما ظهرت استدل الناس بها على هذه الأمور فارتاحت النفس لمعرفتهم فلذلك تدعوه النفس إلى إظهارها لنيل تلك الراحة

Sarana-sarana ini, kapan pun tampak, manusia akan menggunakannya sebagai petunjuk atas hal-hal tersebut, sehingga nafsu pun merasa senang dengan penilaian mereka. Oleh karena itu, nafsu mendorongnya untuk menampakkannya demi memperoleh kesenangan tersebut.

ويقرب من هذا خفض الصوت وإغارة العينين وذبول الشفتين لِيَسْتَدِلَّ بِذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ مُوَاظِبٌ عَلَى الصَّوْمِ وأن وقار الشرع هو الذي خفض من صوته أو ضعف الجوع هو الذي ضعف من قوته

Yang mendekati hal ini adalah memelankan suara, meredupkan mata, dan membuat bibir tampak layu agar dijadikan petunjuk bahwa ia senantiasa berpuasa, dan bahwa kewibawaan syariatlah yang melunakkan suaranya, atau kelemahan akibat lapar yang telah melemahkan kekuatannya.

وعن هذا قال المسيح ﵇ إِذَا صَامَ أَحَدُكُمْ فَلْيَدْهِنْ رَأْسَهُ وَيُرَجِّلْ شَعْرَهُ ويكحل عينيه

Berkaitan dengan hal inilah Al-Masih 'alaihissalam berkata, "Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, hendaklah ia meminyaki kepalanya, menyisir rambutnya, dan memakai celak pada matanya."

وكذلك روي عن أبي هريرة وذلك كله لِمَا يُخَافُ عَلَيْهِ مِنْ نَزْغِ الشَّيْطَانِ بِالرِّيَاءِ ولذلك قال ابن مسعود أصبحوا صياماً مدهنين

Demikian pula diriwayatkan dari Abu Hurairah. Semua itu dilakukan karena rasa khawatir terhadap godaan setan berupa riya. Oleh sebab itu, Ibn Mas'ud berkata, "Masuklah kalian ke waktu pagi dalam keadaan berpuasa dan rapi berminyak."

فهذه مراءاة أهل الدين بالبدن

Maka inilah bentuk riya para ahli agama melalui badan.

فأما أهل الدنيا فيراءون بإظهار السمن وصفاء اللون واعتدال القامة وحسن الوجه ونظافة البدن وقوة الأعضاء وتناسبها

Adapun ahli dunia, mereka berbuat riya dengan menampakkan tubuh yang gemuk, warna kulit yang bersih, postur tubuh yang tegap, wajah yang tampan, kebersihan badan, serta kekuatan dan keserasian anggota tubuh.

الثاني الرياء بالهيئة والزي أما الهيئة فبتشعيث شعر الرأس وحلق الشارب وإطراق الرأس في المشي والهدوء فِي الْحَرَكَةِ وَإِبْقَاءِ أَثَرِ السُّجُودِ عَلَى الْوَجْهِ وَغِلَظِ الثِّيَابِ وَلُبْسِ الصُّوفِ وَتَشْمِيرِهَا إِلَى قَرِيبٍ من الساق وتقصير الأكمام وترك تنظيف الثوب وتركه مخرقاً كل ذلك يرائي به ليظهر من نفسه أنه متبع للسنة فيه ومقتد فيه بعباد الله

Bagian kedua: Riya dengan penampilan lahiriah dan pakaian. Adapun penampilan lahiriah, dilakukan dengan membiarkan rambut kepala acak-acakan, mencukur kumis, menundukkan kepala saat berjalan, bersikap tenang dalam bergerak, membiarkan bekas sujud pada wajah, mengenakan pakaian kasar, memakai kain wol (shuf), menyingsingkan pakaian hingga mendekati betis, memendekkan lengan baju, serta membiarkan pakaian kotor dan berlubang. Semua itu dilakukannya demi berbuat riya agar tampak bahwa dirinya adalah pengikut sunnah dan meneladani hamba-hamba Allah…

الصالحين وَمِنْ ذَلِكَ لُبْسُ الْمُرَقَّعَةِ وَالصَّلَاةُ عَلَى السَّجَّادَةِ وَلُبْسُ الثِّيَابِ الزُّرْقِ تَشَبُّهًا بِالصُّوفِيَّةِ مَعَ الْإِفْلَاسِ مِنْ حَقَائِقِ التَّصَوُّفِ فِي الْبَاطِنِ

…yang saleh. Termasuk dalam hal ini adalah mengenakan pakaian tambalan (*muraqqa'ah*), shalat di atas sajadah khusus, dan memakai pakaian berwarna biru agar menyerupai kaum sufi, padahal batinnya hampa dari hakikat-hakikat tasawuf.

وَمِنْهُ التَّقَنُّعُ بالإزار فوق العمامة وإسبال الرداء على العينين ليرى به أنه قد انتهى تقشفه إلى الحذر من غبار الطريق ولتنصرف إليه الأعين بسبب تميزه بتلك العلامة

Termasuk di antaranya adalah menutup kepala (bertaqannu') dengan kain di atas sorban dan menurunkan selendang hingga menutup kedua mata agar ia dipandang telah mencapai puncak kesederhanaan hingga berhati-hati dari debu jalanan, serta agar pandangan mata tertuju kepadanya karena keistimewaannya dengan tanda tersebut.

ومنه الدراعة والطيلسان يَلْبَسُهُ مَنْ هُوَ خَالٍ عَنِ الْعِلْمِ لِيُوهِمَ أَنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ

Termasuk di antaranya pula adalah mengenakan baju kurung (dir'ah) dan selendang ulama (thailasan) yang dipakai oleh orang yang kosong dari ilmu, guna memberi kesan seolah-olah ia termasuk ahli ilmu.

وَالْمُرَاءُونَ بِالزِّيِّ عَلَى طبقات فمنهم من يطلب المنزلة عند أهل الصلاح بإظهار الزهد فيلبس الثياب المخرقة الوسخة القصيرة الغليظة ليرائي بغلظها ووسخها وقصرها وتخرقها أنه غير مكترث بالدنيا ولو كلف أن يلبس ثوباً وسطاً نظيفاً مما كان السلف يلبسه لكان عِنْدَهُ بِمَنْزِلَةِ الذَّبْحِ وَذَلِكَ لِخَوْفِهِ أَنْ يَقُولَ النَّاسُ قَدْ بَدَا لَهُ مِنَ الزُّهْدِ وَرَجَعَ عن تلك الطريقة ورغب في الدنيا

Orang-orang yang berbuat riya dengan pakaian terbagi dalam beberapa tingkatan. Di antara mereka ada yang mencari kedudukan di mata orang-orang saleh dengan menampakkan kesederhanaan (zuhud). Maka ia mengenakan pakaian yang robek-robek, kotor, pendek, dan kasar agar ia dapat menunjukkan riya—melalui kasarnya, kotornya, pendeknya, dan robeknya pakaian itu—bahwa ia tidak peduli pada dunia. Seandainya ia dituntut memakai pakaian sederhana yang bersih sebagaimana yang biasa dikenakan para Salaf, niscaya hal itu dirasakannya bagaikan disembelih. Hal itu disebabkan ketakutannya jika orang-orang berkata bahwa ia telah berpaling dari zuhud, meninggalkan jalan tersebut, dan menyukai dunia.

وطبقة أخرى يطلبون القبول عند أهل الصلاح وعند أهل الدنيا من الملوك والوزراء والتجار ولو لبسوا الثياب الفاخرة ردهم القراء ولو لبسوا الثياب المخرقة البذلة ازدرتهم أعين الملوك والأغنياء فهم يريدون الجمع بين قبول أهل الدين والدنيا فلذلك يطلبون الأصواف الدقيقة والأكسية الرقيقة والمرقعات المصبوغة والفوط الرفيعة فيلبسونها ولعل قيمة ثوب أحد الأغنياء ولونه وهيأته لون ثياب الصلحاء فيلتمسون القبول عند الفريقين وهؤلاء إن كلفوا لبس ثوب خشن أو وسخ لكان عندهم كالذبح خوفاً من السقوط من أعين الملوك والأغنياء ولو كلفوا لبس الديبقى والكتان الدقيق الأبيض والمقصب المعلم وإن كانت قيمته دون قيمة ثيابهم لعظم ذلك عليهم خوفاً من أن يقول أهل الصلاح قد رغبوا في زي أهل الدنيا

Tingkatan lainnya adalah orang-orang yang mencari penerimaan di sisi orang-orang saleh sekaligus di sisi ahli dunia dari kalangan raja, menteri, dan pedagang. Seandainya mereka memakai pakaian mewah, para ahli Al-Qur'an (al-qurra') akan menolak mereka; dan seandainya mereka memakai pakaian yang robek dan lusuh, mata para raja dan orang kaya akan memandang hina mereka. Maka mereka ingin menggabungkan antara penerimaan ahli agama dan ahli dunia. Oleh karena itu, mereka mencari kain wol (shuf) yang halus, jubah yang lembut, pakaian bertambal yang diwarnai, serta kain selendang (futhah) yang bermutu tinggi, lalu memakainya. Boleh jadi nilai pakaian salah seorang dari mereka sama harganya dengan pakaian orang kaya, namun warna dan bentuknya menyerupai pakaian orang-orang saleh, sehingga mereka mencari penerimaan di mata kedua kelompok tersebut. Apabila mereka dituntut untuk memakai pakaian yang kasar atau kotor, hal itu dirasakan bagaikan disembelih karena takut jatuh hina dalam pandangan para raja dan orang kaya. Sebaliknya, jika mereka dituntut memakai kain Dabiqi (sutra halus), linen putih yang halus, atau kain bersulam benang emas yang bermotif, walaupun harganya lebih murah dari nilai pakaian mereka sendiri, niscaya hal itu sangat berat bagi mereka karena takut orang-orang saleh akan berkata bahwa mereka telah menyukai pakaian ahli dunia.

وكل طبقة منهم رأى مَنْزِلَتَهُ فِي زِيٍّ مَخْصُوصٍ فَيَثْقُلُ عَلَيْهِ الِانْتِقَالُ إلى ما دونه أو إلى ما فوقه وإن كان مباحاً خيفة من المذمة

Setiap tingkatan dari mereka memandang kedudukannya terletak pada pakaian yang khusus. Maka terasa berat baginya untuk berpindah ke tingkatan di bawahnya atau di atasnya, meskipun hal itu mubah (diperbolehkan), karena takut akan celaan.

وأما أهل الدنيا فمراءاتهم بالثياب النفيسة والمراكب الرفيعة وأنواع التوسع والتجمل في الملبس والمسكن وأثاث البيت وفره الخيول وبالثياب المصبغة والطيالسة النفيسة وذلك ظاهر بين الناس فإنهم يلبسون في بيوتهم الثياب الخشنة ويشتد عليهم لو برزوا للناس على تلك الهيئة ما لم يبالغوا في الزينة

Adapun ahli dunia, maka riya mereka dilakukan dengan pakaian yang mahal, kendaraan yang mewah, serta berbagai bentuk kelapangan dan keindahan dalam berpakaian, tempat tinggal, perabotan rumah, kuda-kuda yang tangkas, pakaian berhias warna, dan selendang-selendang yang berharga tinggi. Hal itu tampak nyata di tengah masyarakat, sebab di dalam rumah mereka memakai pakaian yang kasar, dan terasa amat berat bagi mereka seandainya tampil di hadapan orang banyak dalam keadaan demikian selama belum bersolek secara berlebihan.

الثالث الرياء بالقول ورياء أَهْلِ الدِّينِ بِالْوَعْظِ وَالتَّذْكِيرِ وَالنُّطْقِ بِالْحِكْمَةِ وَحِفْظِ الأخبار والآثار لأجل الاستعمال في المحاورة وإظهاراً لغزارة العلم ودلالة على شدة العناية بأحوال السلف الصَّالِحِينَ وَتَحْرِيكِ الشَّفَتَيْنِ بِالذِّكْرِ فِي مَحْضَرِ النَّاسِ وَالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ بِمَشْهَدِ الْخَلْقِ وَإِظْهَارِ الْغَضَبِ لِلْمُنْكَرَاتِ وَإِظْهَارِ الْأَسَفِ عَلَى مُقَارَفَةِ الناس للمعاصي وتضعيف الصوت في الكلام وترقيق الصوت بقراءة القرآن ليدل بذلك على الخوف والحزن وادعاء حفظ الحديث ولقاء الشيوخ والدق على من يروي الحديث ببيان خلل في لفظه ليعرف أنه بصير بالأحاديث وَالْمُبَادَرَةِ إِلَى أَنَّ الْحَدِيثَ صَحِيحٌ أَوْ غَيْرُ صَحِيحٍ لِإِظْهَارِ الْفَضْلِ فِيهِ وَالْمُجَادَلَةِ عَلَى قَصْدِ إفحام الخصم ليظهر للناس قوته علم الدين

Yang ketiga adalah riya dengan ucapan (perkataan). Riya ahli agama dilakukan melalui nasihat, peringatan, menuturkan kata-kata hikmah, serta menghafal riwayat-riwayat hadis dan atsar untuk dipergunakan dalam percakapan guna menampakkan keluasan ilmu, menunjukkan besarnya perhatian terhadap keadaan para Salafus Saleh, menggerakkan kedua bibir dengan zikir di hadapan manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar di depan khalayak, menampakkan kemarahan terhadap kemungkaran, menampakkan keprihatinan atas perbuatan maksiat orang-orang, merendahkan suara dalam berbicara, serta melembutkan suara saat membaca Al-Qur'an agar dengan itu menunjukkan adanya rasa takut dan kesedihan. Begitu pula dengan mengklaim hafal hadis dan pernah bertemu para guru (masyayikh), mengkritik perawi hadis dengan menunjukkan cacat pada lafalnya agar diketahui bahwa ia seorang ahli hadis, menyegera memberikan penilaian bahwa suatu hadis itu sahih atau tidak sahih demi menampakkan keutamaannya dalam ilmu tersebut, serta berdebat dengan maksud membungkam lawan agar tampak di hadapan manusia kekuatannya dalam ilmu agama.

والرياء بالقول كثير وأنواعه لا تنحصر

Riya dengan ucapan itu amat banyak, dan jenis-jenisnya tidak terhitung.

وأما أهل الدنيا فمراءاتهم بالقول بحفظ الأشعار والأمثال والتفاصح في العبارات وحفظ النحو الغريب للأغراب على أهل الفضل وإظهار التودد إلى الناس لاستمالة القلوب

Adapun ahli dunia, riya ucapan mereka dilakukan dengan menghafal syair-syair, peribahasa, bersilat kata dalam ungkapan, menghafal kaidah tata bahasa (nahwu) yang asing untuk mengungguli orang-orang berilmu, serta menampakkan keramahan kepada manusia demi memikat hati mereka.

الرابع الرياء بالعمل كمراءاة المصلي بطول القيام ومد الظهر وَطُولِ السُّجُودِ وَالرُّكُوعِ وَإِطْرَاقِ الرَّأْسِ وَتَرْكِ الِالْتِفَاتِ وإظهار الهدوء والسكون وتسوية القدمين واليدين وكذلك بالصوم والغزو والحج وبالصدقة وبإطعام الطعام وبالإخبات في المشي عند اللقاء كإرخاء الجفون وتنكيس الرأس والوقار في الكلام حتى إن المرائي قد يسرع في المشي إلى حاجته فإذا اطلع عليه أحد من أهل الدين رجع إلى الوقار وإطراق الرأس خوفاً من

Yang keempat adalah riya dengan perbuatan (amal), seperti riyanya orang yang shalat dengan memperpanjang berdiri, meluruskan punggung, memperlama sujud dan rukuk, menundukkan kepala, tidak menoleh, menampakkan ketenangan dan kedamaian, serta merapikan posisi kedua kaki dan tangan. Demikian pula dalam berpuasa, berperang, berhaji, bersedekah, memberi makan, serta menunjukkan sikap khusyuk dalam berjalan ketika bertemu orang lain, seperti merendahkan kelopak mata, menundukkan kepala, dan bersikap tenang dalam berbicara. Bahkan seorang pelaku riya mungkin berjalan cepat untuk keperluannya, namun apabila ada salah seorang ahli agama yang melihatnya, ia kembali pada sikap tenang dan menundukkan kepala karena takut…

أن ينسبه إلى العجلة وقلة الوقار فإن غاب الرجل عاد إلى عجلته فإذا رآه عاد إلى خشوعه ولم يحضره ذكر الله حتى يكون يجدد الخشوع له بل هو لإطلاع إنسان عليه يخشى أن لا يعتقد فيه أنه من العباد والصلحاء ومنهم من إذا سمع هذا استحيا من أن تخالف مشيته في الخلوة مشيته بمرأى من الناس فيكلف نفسه المشية الحسنة في الخلوة حتى إذا رآه الناس لم يفتقر إلى التغيير ويظن أنه يتخلص به عن الرياء وقد تضاعف به رياؤه فإنه صار في خلوته أيضاً مرائياً فإنه إنما يحسن مشيته في الخلوة ليكون كذلك في الملأ لا لخوف من الله وحياء منه

…dinisbahkan pada sikap terburu-buru dan kurangnya ketenangan. Jika orang itu telah pergi, ia kembali pada langkah cepatnya; dan jika melihatnya lagi, ia kembali pada kekhusyukannya. Sama sekali tidak terlintas dalam hatinya zikir kepada Allah sehingga ia memperbarui kekhusyukan bagi-Nya, melainkan itu semata-mata karena dilihat oleh manusia karena ia takut tidak diyakini sebagai golongan ahli ibadah dan orang-orang saleh. Di antara mereka ada pula yang apabila mendengar hal ini merasa malu jika jalannya saat sendiri berbeda dengan jalannya di hadapan manusia. Maka ia memaksakan diri melakukan cara jalan yang baik saat sendiri agar ketika manusia melihatnya, ia tidak perlu mengubahnya lagi, dan ia mengira bahwa dengan demikian ia terbebas dari riya. Padahal, justru riyanya semakin berlipat ganda, karena ia dalam kesendiriannya pun telah menjadi pelaku riya, sebab ia memperbagus jalannya saat sendiri hanyalah agar tetap seperti itu di hadapan khalayak ramai, bukan karena takut dan malu kepada Allah.

وأما أهل الدنيا فمراءاتهم بالتبختر والاختيال وتحريك اليدين وتقريب الخطا والأخذ بأطراف الذيل وإرادة العطفين ليدلوا بذلك على الجاه والحشمة

Adapun ahli dunia, riya mereka dilakukan dengan berjalan membusungkan dada, membusungkan badan, menggerakkan kedua tangan, memperpendek langkah, memegang ujung jubah, serta menggerakkan kedua bahu untuk menunjukkan kedudukan dan kehormatan.

الخامس الْمُرَاءَاةُ بِالْأَصْحَابِ وَالزَّائِرِينَ وَالْمُخَالِطِينَ كَالَّذِي يَتَكَلَّفُ أَنْ يَسْتَزِيرَ عَالِمًا مِنَ الْعُلَمَاءِ لِيُقَالَ إِنَّ فُلَانًا قَدْ زَارَ فُلَانًا أَوْ عَابِدًا مِنَ الْعُبَّادِ لِيُقَالَ إِنَّ أَهْلَ الدِّينِ يَتَبَرَّكُونَ بِزِيَارَتِهِ وَيَتَرَدَّدُونَ إليه أو ملكاً من الملوك أو عاملاً من عمال السلطان ليقال إنهم يتبركون به لعظم رتبته في الدين

Yang kelima adalah riya dengan para sahabat, tamu, dan orang-orang yang bergaul dengannya. Seperti orang yang memaksakan diri mengundang seorang alim dari kalangan ulama agar dikatakan bahwa si Fulan telah mengunjungi si Fulan, atau seorang ahli ibadah agar dikatakan bahwa ahli agama mengambil berkah dengan berkunjung kepadanya dan sering bolak-balik menemuinya; atau mengundang seorang raja atau pejabat penguasa agar dikatakan bahwa mereka mencari berkah dengannya karena keagungan derajatnya dalam agama.

وكالذي يكثر ذكر الشيوخ ليرى أنه لقي شيوخاً كثيرة واستفاد منهم فيباهي بشيوخه ومباهاته ومراءاته تشرشح منه عند مخاصمته فيقول لغيره من لقيت من الشيوخ وأنا قد لقيت فلاناً وفلاناً ودرت البلاد وخدمت الشيوخ وما يجري مجراه فَهَذِهِ مَجَامِعُ مَا يُرَائِي بِهِ الْمُرَاءُونَ وَكُلُّهُمْ يَطْلُبُونَ بِذَلِكَ الْجَاهَ وَالْمَنْزِلَةَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ

Atau seperti orang yang sering menyebut-nyebut nama para guru (syaikh) agar terlihat bahwa ia telah bertemu banyak guru dan mengambil manfaat dari mereka, lalu ia membanggakan para gurunya. Kebanggaan dan riyanya ini tampak jelas ketika ia berdebat dengan orang lain, seraya berkata, 'Siapa guru yang pernah engkau temui? Padahal aku telah bertemu Fulan dan Fulan, menjelajahi berbagai negeri, serta mengabdi kepada para syaikh,' dan perkataan semisal itu. Inilah himpunan hal-hal yang dijadikan sarana riya oleh orang-orang yang berbuat riya, dan mereka semua dengan itu bertujuan mencari kedudukan serta tempat di dalam hati para hamba.

ومنهم من يقنع بحسن الاعتقادات فيه فكم من راهب انزوى إلى ديره سنين كثيرة وكم من عابد اعتزل إلى قلة جبل مدة مديدة وإنما خبأته من حيث علمه بقيام جاهه في قلوب الخلق ولو عرف أنهم نسبوه إلى جريمة في ديره أو صومعته لتشوش قلبه ولم يقنع بعلم الله ببراءة ساحته بل يشتد لذلك غمه ويسعى بكل حيلة في إزالة ذلك من قلوبهم مع أنه قد قطع طمعه من أموالهم ولكنه يحب مجرد الجاه فإنه لذيذ كما ذكرناه في أسبابه فإنه نَوْعُ قُدْرَةٍ وَكَمَالٍ فِي الْحَالِ وَإِنْ كَانَ سَرِيعَ الزَّوَالِ لَا يَغْتَرُّ بِهِ إِلَّا الْجُهَّالُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ جُهَّالٌ وَمِنَ الْمُرَائِينَ مَنْ لا يقنع بقيام منزلته بل يلتمس من ذَلِكَ إِطْلَاقَ اللِّسَانِ بِالثَّنَاءِ وَالْحَمْدِ

Di antara mereka ada yang cukup merasa puas dengan prasangka baik orang lain terhadapnya. Betapa banyak rahib yang mengurung diri di biara selama bertahun-tahun, dan betapa banyak ahli ibadah yang mengasingkan diri ke puncak gunung dalam jangka waktu yang lama, padahal persembunyiannya itu semata-mata berakar dari pengetahuannya tentang tertanamnya kedudukannya di dalam hati para makhluk. Seandainya ia tahu bahwa mereka menisbahkan suatu kejahatan kepadanya di biara atau tempat pertapaannya, niscaya hatinya akan resah dan tidak merasa cukup dengan pengetahuan Allah akan kesucian dirinya. Bahkan kesedihannya akan sangat berat, dan ia akan berusaha dengan segala cara untuk menghilangkan hal itu dari hati mereka, meskipun ia telah memutus ketamakan dari harta benda mereka. Akan tetapi, ia menyukai kedudukan itu sendiri, karena kedudukan itu memang lezat sebagaimana telah kami sebutkan dalam sebab-sebabnya. Sebab, kedudukan adalah sejenis kekuasaan dan kesempurnaan pada saat itu, meskipun amat cepat sirna; tidak ada yang terperdaya dengannya kecuali orang-orang bodoh, tetapi kebanyakan manusia adalah orang-orang jahil. Dan di antara pelaku riya ada yang tidak puas hanya dengan tertanamnya kedudukannya, melainkan ia juga menuntut agar lidah orang-orang mengucapkan pujian dan sanjungan kepadanya.

وَمِنْهُمْ مَنْ يريد انتشار الصيت في البلاد لتكثر الرحلة إليه

Di antara mereka ada pula yang menginginkan kemasyhuran namanya tersebar di berbagai negeri agar orang-orang banyak melakukan perjalanan kepadanya.

ومنهم من يريد الاشتهار عند الملوك لتقبل شفاعته وتنجز الحوائج على يده فيقوم له بذلك جَاهٌ عِنْدَ الْعَامَّةِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَقْصِدُ التَّوَصُّلَ بِذَلِكَ إِلَى جَمْعِ حُطَامٍ وَكَسْبِ مَالٍ وَلَوْ من الأوقاف وأموال اليتامى وغير ذلك من الحرام وهؤلاء شر طبقات المرائين الذين يراءون بالأسباب التي ذكرناها

Di antara mereka ada yang menginginkan ketenaran di hadapan para raja agar pertolongannya (syafaatnya) diterima dan kebutuhan-kebutuhan terpenuhi melalui perantara tangannya, sehingga dengan demikian tertanamlah baginya kedudukan di mata orang awam. Dan di antara mereka ada pula yang bermaksud menjadikan hal itu sebagai jalan untuk mengumpulkan kenikmatan duniawi yang fana dan mengaut harta, meskipun dari harta wakaf, harta anak yatim, dan hal-hal haram lainnya. Mereka inilah seburuk-buruk tingkatan pelaku riya dari kalangan yang berbuat riya dengan sebab-sebab yang telah kami sebutkan.

فهذه حقيقة الرياء وما به يقع الرياء

Maka inilah hakikat riya dan sarana-sarana yang dengannya riya itu terjadi.

فإن قلت فالرياء حرام أو مكروه أو مباح أو فيه تفصيل فأقول فيه تفصيل فإن الرياء هو طلب الجاه وهو إِمَّا أَنْ يَكُونَ بِالْعِبَادَاتِ أَوْ بِغَيْرِ الْعِبَادَاتِ فإن كان بغير العبادات فهو كطلب المال فلا يحرم من حيث إنه طلب منزلة في قلوب العباد ولكن كما يمكن كسب المال بتلبيسات وأسباب محظورات فكذلك الجاه وكما أن كسب قليل من المال هو ما يحتاج إليه الإنسان محمود فكسب قليل من الجاه وهو ما يسلم به عن الآفات أيضاً محمود وهو الذي طلبه يوسف ﵇ حيث قال ﴿إني حفيظ عليم﴾ وكما أن المال فيه سم ناقع ودرياق نافع فكذلك الجاه وكما أن كثير المال يلهى ويطفى وينسي ذكر الله والدار الآخرة فكذلك كثير الجاه بل أشد وفتنة الجاه أعظم من فتنة المال وكما أنا نقول تملك المال الكثير حرام فلا نقول أيضاً تملك القلوب الكثيرة حرام إلا إذا حملته كثرة المال وكثرة الجاه على مباشرة ما لا يجوز

Jika engkau bertanya, 'Apakah riya itu hukumnya haram, makruh, mubah, ataukah ada rinciannya?' Maka aku katakan: Di dalamnya terdapat rincian. Sebab, riya adalah menuntut kedudukan (jah), yang mana ia bisa terjadi melalui ibadah-ibadah atau selain ibadah. Jika terjadi melalui selain ibadah, maka hukumnya seperti menuntut harta; tidak haram ditinjau dari segi bahwa ia adalah upaya mencari tempat di hati para hamba. Namun, sebagaimana harta dapat diperoleh melalui pemalsuan dan sarana-sarana yang dilarang, demikian pula halnya dengan kedudukan. Dan sebagaimana memperoleh sedikit harta untuk mencukupi kebutuhan manusia itu terpuji, maka memperoleh sedikit kedudukan—yaitu yang menyelamatkannya dari berbagai bahaya—juga terpuji; dan itulah yang dimohon oleh Nabi Yusuf 'alaihis-salam tatkala beliau berkata: 'Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan' (QS. Yusuf: 55). Dan sebagaimana pada harta terdapat racun yang mematikan serta obat penawar yang bermanfaat, demikian pula pada kedudukan. Sebagaimana harta yang banyak dapat melalaikan, memadamkan cahaya hati, dan melupakan zikir kepada Allah serta negeri akhirat, demikian pula kedudukan yang banyak, bahkan lebih dahsyat; fitnah kedudukan itu lebih besar daripada fitnah harta. Dan sebagaimana kita tidak mengatakan bahwa memiliki harta yang banyak itu haram, kita juga tidak mengatakan bahwa menguasai banyak hati itu haram, kecuali apabila banyaknya harta dan kedudukan itu mendorongnya untuk melakukan apa yang tidak diperbolehkan.

نعم انصراف الهم إلى سعة الجاه مبدأ الشرور كانصراف الهم إلى كثرة المال ولا يقدر محب الجاه والمال على ترك معاصي القلب واللسان وغيرها وأما سعة

Benar, berpalingnya cita-cita (keinginan kuat) menuju luasnya kedudukan adalah pangkal dari segala keburukan, sebagaimana berpalingnya keinginan kuat menuju banyaknya harta. Orang yang mencintai kedudukan dan harta tidak akan sanggup meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan hati, lisan, dan lainnya. Adapun luasnya…

الجاه من غير حرص منك على طلبه ومن غير اغتمام بزواله إن زال فلا ضرر فيه فلا جاه أوسع من جاه ورسول الله ﷺ وجاه الخلفاء الراشدين ومن بعدهم من علماء الدين ولكن انصراف الهم إلى طلب الجاه نقصان في الدين ولا يوصف بالتحريم فعلى هذا نقول تحسين الثوب الذي يلبسه الإنسان عند الخروج إلى الناس مراءاة وهو ليس بحرام لأنه ليس رياء بالعبادة بل بالدنيا وقس على هذا كل ما تجمل للناس وتزين لهم

Kedudukan (jah) yang diperoleh tanpa adanya kemauan keras dari dirimu untuk mencarinya dan tanpa rasa sedih atas kelenyapannya jika ia hilang, maka hal itu tidak membawa bahaya sama sekali. Tidak ada kedudukan yang lebih luas melebihi kedudukan Rasulullah ﷺ, kedudukan Al-Khulafa' Ar-Rasyidin, serta ulama agama setelah mereka. Namun, berpalingnya tekad (himmah) semata-mata untuk mencari kedudukan merupakan suatu kekurangan dalam beragama, meskipun tidak sampai disifati sebagai hal yang haram. Atas dasar ini, kami katakan bahwa memperindah pakaian yang dikenakan seseorang ketika keluar menemui manusia termasuk bentuk pencitraan (mura'ah), tetapi hal itu bukanlah haram karena bukan merupakan riya dalam hal ibadah, melainkan dalam urusan dunia. Kaskanlah (analogikanlah) atas hal ini segala bentuk mempercantik dan berhias diri di hadapan manusia.

والدليل عليه ما روي عن عائشة ﵂ أن رسول الله ﷺ أراد أن يخرج يوماً إلى الصحابة فكان ينظر في جب الماء ويسوي عمامته وشعره فقالت أو تفعل ذلك يا رسول الله قال نعم إن الله تعالى يحب من العبد أن يتزين لإخوانه إذا خرج إليهم // حديث عائشة أراد أن يخرج على أصحابه وكان ينظر في جب الماء ويسوي عمامته وشعره الحديث أخرجه ابن عدي في الكامل وقد تقدم في الطهارة

Dalil atas hal tersebut adalah riwayat dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Rasulullah ﷺ pada suatu hari hendak keluar menemui para sahabat, lalu beliau melihat ke dalam bejana air (sebagai cermin) serta merapikan sorban dan rambut beliau. 'Aisyah bertanya, "Apakah engkau melakukan itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya, sesungguhnya Allah Ta'ala menyukai seorang hamba yang berhias untuk saudara-saudaranya apabila ia keluar menemui mereka." // Hadis 'Aisyah "Beliau hendak keluar kepada para sahabatnya dan melihat ke dalam bejana air serta merapikan sorban dan rambutnya…" Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn 'Adi dalam Al-Kamil dan telah disebutkan sebelumnya dalam bab Bersuci (Ath-Thaharah).

نعم هذا كان من رسول الله ﷺ عبادة لأنه كان مأموراً بدعوة الخلق وترغيبهم في الاتباع واستمالة قلوبهم ولو سقط من أعينهم لم يرغبوا في اتباعه فكان يجب عليه أن يظهر لهم محاسن أحواله لئلا تزدريه أعينهم فإن أعين عوام الخلق تمتد إلى الظواهر دون السرائر فكان ذلك قصد رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَلَكِنْ لو قصد قاصد به أن يحسن نفسه في أعينهم حذراً من ذمهم ولومهم واسترواحاً إلى توقيرهم واحترامهم كان قد قصد أمراً مباحاً إذ للإنسان أن يحترز من ألم المذمة ويطلب راحة الأنس بالإخوان

Benar, perbuatan Rasulullah ﷺ tersebut bernilai ibadah karena beliau diperintahkan untuk berdakwah kepada makhluk, menumbuhkan minat mereka untuk mengikutinya, serta memikat hati mereka. Seandainya kedudukan beliau jatuh di mata mereka, tentu mereka tidak akan berkeinginan untuk mengikuti beliau. Oleh karena itu, wajib bagi beliau untuk menampakkan kebaikan-kebaikan keadaannya kepada mereka agar mata mereka tidak memandangnya hina. Sebab, pandangan masyarakat awam cenderung tertuju pada hal-hal lahiriah bukan hal-hal batiniah. Demikianlah maksud Rasulullah ﷺ. Akan tetapi, seandainya seseorang bertujuan memperelok dirinya di mata manusia demi memelihara diri dari celaan dan celaan mereka, serta untuk mendapatkan rasa tenang berupa penghormatan dan pemuliaan mereka, maka ia telah bertujuan pada perkara yang mubah (boleh). Sebab, manusia berhak menjaga diri dari kepedihan celaan dan mencari kenyamanan rasa keakraban bersama saudara-saudaranya.

ومهما استثقلوه واستقذروه لم يأنس بهم

Dan apabila mereka merasa berat hati terhadapnya atau menganggapnya jijik, niscaya ia tidak akan dapat merasa akrab dengan mereka.

فإذن المراءاة بما ليس من العبادات قد تكون مباحة وقد تكون طاعة وقد تكون مذمومة وذلك بحسب الغرض المطلوب بها

Dengan demikian, memperlihatkan diri (mura'ah) melalui perkara-perkara yang bukan termasuk ibadah terkadang bersifat mubah, terkadang bernilai ketaatan, dan terkadang bernilai tercela; hal itu bergantung pada tujuan yang hendak dicapai melaluinya.

ولذلك نقول الرجل إذا أنفق ماله على جماعة من الأغنياء لا في معرض العبادة والصدقة ولكن ليعتقد الناس أنه سخي فهذا مراءاة وليس بحرام وكذلك أمثاله

Oleh karena itu kami katakan: Apabila seseorang menginfakkan hartanya kepada sekelompok orang kaya bukan dalam rangka ibadah maupun sedekah, melainkan agar orang-orang menganggapnya dermawan, maka ini adalah bentuk mura'ah (pencitraan duniawi) dan hukumnya tidak haram, demikian pula hal-hal yang serupa dengannya.

أما العبادات كالصدقة والصلاة والصيام والغزو والحج فللمرائي فيه حالتان

Adapun dalam hal ibadah, seperti sedekah, shalat, puasa, berperang (jihad), dan haji, maka orang yang berbuat riya padanya memiliki dua kondisi:

إحداهما أن لا يكون له قصد إلا الرياء المحض دون الأجر وهذا يبطل عبادته لأن الأعمال بالنيات وهذا ليس بقصد العبادة لا يقتصر على إحباط عبادته حتى نقول صار كما كان قبل العبادة بل يعصي بذلك ويأثم كما دلت عليه الأخبار والآيات

Salah satunya adalah ketika ia tidak memiliki niat sama sekali selain riya murni tanpa mengharapkan pahala. Hal ini membatalkan ibadahnya karena "segenap amal tergantung pada niat", sedangkan ini bukanlah niat ibadah. Kebatalan ini tidak sebatas menghapuskan ibadahnya hingga kita katakan ia kembali seperti keadaannya sebelum beribadah, melainkan ia bermaksiat dan berdosa karenanya, sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat-riwayat dan ayat-ayat Al-Qur'an.

وَالْمَعْنِيُّ فِيهِ أَمْرَانِ

Maksud di dalamnya mencakup dua perkara:

أَحَدُهُمَا يَتَعَلَّقُ بِالْعِبَادِ وَهُوَ التَّلْبِيسُ وَالْمَكْرُ لِأَنَّهُ خُيِّلَ إِلَيْهِمْ أَنَّهُ مُخْلِصٌ مُطِيعٌ لِلَّهِ وَأَنَّهُ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ وَلَيْسَ كذلك والتلبيس في أمر الدنيا حرام أيضاً حتى لو قضى دين جماعة وخيل للناس أنه متبرع عليهم ليعتقدوا سخاوته أثم به لما فيه من التلبيس وتملك القلوب بالخداع والمكر

Pertama, yang berkaitan dengan para hamba, yaitu penipuan (talbis) dan makar. Sebab, ia memberi kesan kepada mereka seolah-olah ia adalah orang yang ikhlas, taat kepada Allah, dan termasuk ahli agama, padahal kenyataannya tidak demikian. Penipuan dalam urusan dunia pun hukumnya haram, bahkan seandainya ia melunasi utang sekelompok orang lalu memberi kesan kepada manusia bahwa ia berderma kepada mereka agar mereka menganggap kedermawanannya, maka ia berdosa karenanya disebabkan adanya unsur penipuan serta upaya menguasai hati manusia dengan tipu daya dan makar.

والثاني يَتَعَلَّقُ بِاللَّهِ وَهُوَ أَنَّهُ مَهْمَا قَصَدَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى خَلْقَ اللَّهِ فَهُوَ مُسْتَهْزِئٌ بِاللَّهِ

Kedua, yang berkaitan dengan Allah, yaitu bahwa kapan pun ia bermaksud ditujukannya ibadah kepada Allah Ta'ala itu untuk makhluk Allah, maka pada hakikatnya ia sedang mengolok-olok Allah.

ولذلك قال قتادة إذا راءى العبد قال الله لملائكته انظروا إليه كيف يستهزئ بي

Oleh karena itu, Qatadah berkata: "Apabila seorang hamba berbuat riya, Allah berfirman kepada para malaikat-Nya, 'Lihatlah dia, betapa dia mengolok-olok Aku.'"

وَمِثَالُهُ أَنْ يَتَمَثَّلَ بَيْنَ يَدَيْ مَلِكٍ مِنَ الْمُلُوكِ طُولَ النَّهَارِ كَمَا جَرَتْ عَادَةُ الْخَدَمِ وإنما وقوفه لملاحظة جارية من جواري الملك أَوْ غُلَامٍ مِنْ غِلْمَانِهِ فَإِنَّ هَذَا اسْتِهْزَاءٌ بالملك إذ لم يقصد التقريب إلى الملك بِخِدْمَتِهِ بَلْ قَصَدَ بِذَلِكَ عَبْدًا مِنْ عَبِيدِهِ فَأَيُّ اسْتِحْقَارٍ يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقْصِدَ الْعَبْدُ بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى مُرَاءَاةَ عَبْدٍ ضَعِيفٍ لَا يَمْلِكُ لَهُ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَهَلْ ذَلِكَ إِلَّا لِأَنَّهُ يَظُنُّ أَنَّ ذَلِكَ الْعَبْدَ أَقْدَرُ عَلَى تَحْصِيلِ أَغْرَاضِهِ مِنَ اللَّهِ وَأَنَّهُ أَوْلَى بالتقريب إِلَيْهِ مِنَ اللَّهِ إِذْ آثَرَهُ عَلَى مَلِكِ الْمُلُوكِ فَجَعَلَهُ مَقْصُودَ عِبَادَتِهِ وَأَيُّ اسْتِهْزَاءٍ يَزِيدُ عَلَى رَفْعِ الْعَبْدِ فَوْقَ الْمَوْلَى فَهَذَا مِنْ كبائر المهلكات ولهذا

Permisalannya adalah seperti seseorang yang berdiri khidmat di hadapan seorang raja sepanjang hari sebagaimana kebiasaan para pelayan, padahal berdirinya itu hanya untuk memperhatikan salah seorang budak wanita atau budak laki-laki milik raja tersebut. Sungguh hal ini merupakan pengolokan terhadap raja, sebab ia tidak bermaksud mendekatkan diri kepada raja melalui pengabdiannya, melainkan bermaksud kepada hamba dari hamba-hamba raja tersebut. Maka penghinaan manakah yang lebih besar daripada seorang hamba yang bermaksud melakukan ketaatan kepada Allah Ta'ala demi memperlihatkannya kepada hamba yang lemah yang tidak memiliki daya untuk memberi bahaya maupun manfaat baginya? Bukankah itu tidak lain karena ia menyangka bahwa hamba tersebut lebih mampu mewujudkan tujuan-tujuannya daripada Allah, dan bahwa hamba itu lebih berhak untuk didekati daripada Allah, karena ia telah mengutamakannya atas Raja dari segala raja serta menjadikannya tujuan ibadahnya? Pengolokan manakah yang lebih besar daripada meninggikan posisi hamba di atas Sang Majikan (Mawla)? Hal ini termasuk dosa-dosa besar yang membinasakan. Oleh sebab itu,

سَمَّاهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الشرك الأصغر // حديث سمى الرياء الشرك الأصغر أخرجه أحمد من حديث محمود بن لبيد وقد تقدم ورواه الطبراني من رواية محمود بن لبيد عن رافع بن خديج فجعله في مسند رافع وتقدم قريبا وللحاكم وصحح إسناده من حديث شداد بن أوس كنا نعد عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أن الرياء الشرك الأصغر

Rasulullah ﷺ menamainya sebagai Syirik Kecil (Asy-Syirk Al-Asghar). // Hadis yang menamai riya sebagai syirik kecil diriwayatkan oleh Ahmad dari hadis Mahmud bin Labid dan telah disebutkan sebelumnya. Diriwayatkan pula oleh At-Thabrani dari riwayat Mahmud bin Labid dari Rafi' bin Khadij, sehingga dimuat dalam Musnad Rafi' dan telah disebutkan baru-baru ini. Juga diriwayatkan oleh Al-Hakim yang menshahihkan sanadnya dari hadis Syaddad bin Aus: "Kami pada zaman Rasulullah ﷺ menganggap bahwa riya adalah syirik kecil."

نعم بعض درجات الرياء أشد من بعض كما سيأتي بيانه في درجات الرياء إن شاء الله تعالى ولا يخلو شيء منه عن إثم غليظ أو خفيف بحسب ما به المراءاة وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي الرِّيَاءِ إِلَّا أَنَّهُ يَسْجُدُ وَيَرْكَعُ لِغَيْرِ اللَّهِ لَكَانَ فِيهِ كِفَايَةٌ فَإِنَّهُ وَإِنْ لَمْ يَقْصِدِ التَّقَرُّبَ إِلَى اللَّهِ فقد قصد غير الله ولعمري لو عظم غير الله بالسجود لكفر كفراً جلياً إلا أن الرياء هو الكفر الخفي لأن المرائي عظم في قلبه الناس فاقتضت تلك العظمة أن يسجد ويركع فكان الناس هم المعظمون بالسجود من وجه ومهما زال قصد تعظيم الله بالسجود وبقي تعظيم الخلق كان ذلك قريباً من الشرك إلا أنه قصد تعظيم نفسه في قلب من عظم عنده بإظهاره من نفسه صورة التعظيم لله فعن هذا كان شركاً خفياً لا شركاً جلياً وَذَلِكَ غَايَةُ الْجَهْلِ وَلَا يُقْدِمُ عَلَيْهِ إِلَّا مَنْ خَدَعَهُ الشَّيْطَانُ وَأَوْهَمَ عِنْدَهُ أَنَّ الْعِبَادَ يملكون من ضره ونفعه ورزقه وأجله ومصالح حاله ومآله أكثر مما يملكه الله تعالى فلذلك عدل بوجهه عن الله إليهم وأقبل بقلبه عليهم ليستميل بذلك قلوبهم ولو وكله الله تعالى إليهم في الدنيا والآخرة لكان ذلك أقل مكافأة له على صنيعه فإن الْعِبَادَ كُلَّهُمْ عَاجِزُونَ عَنْ أَنْفُسِهِمْ لَا يَمْلِكُونَ لأنفسهم نفعاً ولا ضراً فَكَيْفَ يَمْلِكُونَ لِغَيْرِهِمْ هَذَا فِي الدُّنْيَا فَكَيْفَ فِي يَوْمٍ لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا بَلْ تَقُولُ الْأَنْبِيَاءُ فِيهِ نَفْسِي نَفْسِي فَكَيْفَ يستبدل الجاهل عن ثواب الآخرة ونيل القرب عند الله مَا يَرْتَقِبُهُ بِطَمَعِهِ الْكَاذِبِ فِي الدُّنْيَا مِنَ النَّاسِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ نَشُكَّ فِي أَنَّ المرائي بطاعة الله في سخط الله من حيث النقل والقياس جميعاً هذا إذا لم يقصد الأجر فأما إذا قصد الأجر والحمد جميعاً في صدقته أو صلاته فهو الشرك الذي يناقض الإخلاص

Benar, sebagian tingkatan riya lebih berat dari sebagian yang lain sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan tingkatan-tingkatan riya, insya Allah Ta'ala. Dan tidak ada satu pun dari bentuk riya yang terbebas dari dosa besar atau ringan sesuai dengan hal yang diperlihatkan dengannya. Seandainya di dalam riya tidak ada perkara lain selain bahwa ia bersujud dan ruku' untuk selain Allah, maka hal itu sudah cukup sebagai keburukan. Sebab, meskipun ia tidak bermaksud mendekatkan diri kepada Allah, ia telah bermaksud kepada selain Allah. Demi umurku, seandainya ia mengagungkan selain Allah dengan sujud, niscaya ia telah kafir dengan kekufuran yang nyata (kufur jali). Namun riya merupakan kekufuran yang samar (kufur khafi), karena orang yang berbuat riya mengagungkan manusia di dalam hatinya, sehingga keagungan itu menuntutnya untuk sujud dan ruku', seakan-akan manusialah yang diagungkan dengan sujud tersebut dari satu sisi. Kapan saja niat mengagungkan Allah dalam sujud itu hilang dan yang tersisa hanyalah mengagungkan makhluk, maka hal itu mendekati kesyirikan. Hanya saja ia bertujuan mengagungkan dirinya sendiri di dalam hati orang yang ia agungkan dengan cara menampakkan bentuk pengagungan kepada Allah dari dirinya; karena itulah ia menjadi syirik samar (khafi) dan bukan syirik nyata (jali). Yang demikian itu adalah puncak kebodohan, dan tidak ada yang berani melakukannya melainkan orang yang telah ditipu oleh setan dan dibisiki ilusi bahwa para hamba memiliki kuasa atas kemudaratan, manfaat, rezeki, ajal, serta kemaslahatan kondisi dan akhir hayatnya lebih dari apa yang dimiliki Allah Ta'ala. Oleh karena itu, ia memalingkan wajahnya dari Allah kepada mereka dan mengarahkan hatinya kepada mereka demi memikat hati mereka. Seandainya Allah Ta'ala menyerahkan urusannya kepada mereka di dunia dan akhirat, niscaya itu adalah balasan paling minimal atas perbuatannya. Padahal seluruh hamba itu lemah atas diri mereka sendiri, tidak memiliki kuasa atas manfaat maupun kemudaratan bagi diri mereka sendiri, maka bagaimana mungkin mereka memilikinya untuk orang lain? Ini di dunia, lalu bagaimana pada hari ketika "seorang bapak tidak dapat membela anaknya dan seorang anak tidak dapat membela bapaknya sedikit pun"? Bahkan para nabi pada hari itu berkata, "Diriku, diriku!" Maka bagaimana bisa orang yang bodoh menukar pahala akhirat dan pencapaian kedekatan di sisi Allah dengan apa yang ia harapkan melalui ketamakannya yang dusta di dunia terhadap manusia? Maka tidak sepatutnya kita meragukan bahwa orang yang berbuat riya dengan ketaatan kepada Allah berada dalam kemurkaan Allah, baik ditinjau dari dalil naqli (riwayat) maupun qiyas (analisis rasional). Ini jika ia sama sekali tidak bermaksud mencari pahala. Adapun jika ia bermaksud mencari pahala sekaligus pujian dalam sedekah atau shalatnya, maka itu adalah syirik yang meniadakan ikhlas.

وقد ذكرنا حكمه في كتاب الإخلاص ويدل على ما نقلناه من الآثار قول سعيد بن المسيب وعبادة بن الصامت إنه لا أجر له فيه أصلاً

Dan telah kami sebutkan hukumnya dalam Kitab Al-Ikhlas. Hal yang menunjukkan pada apa yang kami kutip dari atsar adalah perkataan Sa'id bin Al-Musayyib dan Ubadah bin As-Samit bahwasanya tidak ada pahala baginya sama sekali di dalamnya.

بيان درجات الرياء

Penjelasan tentang Tingkatan-Tingkatan Riya

اعلم أن بعض أبواب الرياء أشد وأغلظ من بعض واختلافه باختلاف أركانه وتفاوت الدرجات فيه وأركانه ثلاثة المراءى به والمراءى لأجله ونفس قصد الرياء

Ketahuilah bahwa sebagian pintu riya lebih berat dan lebih keras dari sebagian yang lain. Perbedaannya terjadi sesuai dengan perbedaan rukun-rukunnya serta keanekaragaman tingkatan di dalamnya. Rukun-rukun riya ada tiga: hal yang diperlihatkan (al-mura'a bihi), pihak yang karenanya seseorang berbuat riya (al-mura'a li-ajlihi), dan niat riya itu sendiri (nafs qasd ar-riya').

الركن الأول نفس قصد الرياء وذلك لا يخلو إما أن يكون مجرداً دون إرادة عبادة الله تعالى والثواب وإما أن يكون مع إرادة الثواب فإن كان كذلك فلا يخلو إما أن تكون إرادة الثواب أقوى وأغلب أو أضعف أو مساوية لإرادة العبادة فتكون الدرجات أربعاً

Rukun Pertama: Niat riya itu sendiri. Hal tersebut tidak lepas dari kemungkinan: apakah murni tanpa ada keinginan beribadah kepada Allah Ta'ala dan mengharapkan pahala, ataukah disertai dengan keinginan mengharapkan pahala. Apabila disertai keinginan pahala, maka tidak lepas dari: apakah keinginan pahala itu lebih kuat dan dominan, lebih lemah, atau seimbang dengan niat pencitraan. Maka tingkatan-tingkatan tersebut ada empat:

الأولى وهي أغلظها أن لا يكون مراده الثواب أصلاً كالذي يصلي بين أظهر الناس ولو انفرد لكان لا يصلي بل ربما يصلي من غير طهارة مع الناس فهذا جرد قصده إلى الرياء فهو الممقوت عند الله تعالى

Tingkatan Pertama, dan ini adalah yang paling berat/buruk: yaitu ia sama sekali tidak bermaksud mendapatkan pahala, seperti orang yang shalat di tengah-tengah manusia tetapi jika ia sendirian ia tidak akan shalat, bahkan terkadang ia shalat tanpa bersuci bersama orang banyak. Orang ini telah memurnikan niatnya untuk riya semata, maka ia adalah orang yang dimurkai di sisi Allah Ta'ala.

وكذلك من يخرج الصدقة خوفاً من مذمة الناس وهو ولا يقصد الثواب ولا خلا بنفسه لما أداها فهذه الدرجة العليا من الرياء

Demikian pula orang yang mengeluarkan sedekah karena takut akan celaan manusia, padahal ia sama sekali tidak mengharapkan pahala, dan seandainya ia seorang diri tentu ia tidak akan menunaikannya. Maka ini adalah tingkatan riya’ yang paling tinggi (paling parah).

الثانية أن يكون له قصد الثواب أيضاً ولكن قصداً ضعيفاً بحيث لو كان في الخلوة لكان لا يفعله ولا يحمله ذلك القصد على العمل ولو لم يكن قصد الثواب لكان الرياء يحمله على العمل فهذا قريب مما قبله

Tingkatan kedua, ia juga memiliki maksud untuk meraih pahala, namun maksud tersebut sangat lemah. Sekiranya ia berada dalam kesendirian, ia tidak akan melakukannya, dan maksud meraih pahala itu saja tidak sanggup mendorongnya untuk beramal. Seandainya tidak ada niat mengharapkan pahala pun, riya' itu sendiri sudah cukup mendorongnya untuk beramal. Maka tingkatan ini mendekati tingkatan sebelumnya.

وما فيه من شائبة قصد ثواب لا يستقل بحمله على العمل لا ينفي عنه المقت والإثم

Adanya sedikit noda berupa maksud mencari pahala yang tidak mandiri dalam mendorongnya untuk beramal itu tidak dapat meniadakan kemurkaan Allah dan dosa darinya.

الثالثة أن يكون له قصد الثواب وقصد الرياء متساويين بحيث لو كان كل واحد منهما خالياً عن الآخر لم يبعثه على العمل فلما اجتمعا انبعثت الرغبة أو كان كل واحد منهما لو انفرد لاستقل بحمله على العمل فهذا قد أفسد مثل ما أصلح فنرجو أن يسلم رأساً برأس لا له ولا عليه أو يكون له من الثواب مثل ما عليه من العقاب وظواهر الأخبار تدل على أنه لا يسلم وقد تكلمنا عليه في كتاب الإخلاص

Tingkatan ketiga, niat mencari pahala dan niat riya' seimbang, sedemikian rupa sehingga jika masing-masing berdiri sendiri tanpa yang lain, tidak akan mampu mendorongnya beramal, namun ketika keduanya menyatu barulah timbul keinginan beramal. Atau, masing-masing dari kedua niat itu jika berdiri sendiri sebenarnya cukup kuat untuk mendorongnya beramal. Maka orang ini telah merusak sebanyak apa yang ia perbaiki. Kita berharap ia selamat secara seimbang (impas), tidak mendapat pahala dan tidak pula mendapat dosa, atau pahala yang ia peroleh sebanding dengan siksa yang menimpanya. Namun, makna lahiriah dari khabar (hadis-hadis) menunjukkan bahwa ia tidak selamat, dan kami telah membicarakan hal ini dalam Kitab al-Ikhlas.

الرابعة أن يكون اطلاع الناس مرجحاً ومقوياً لنشاطه ولو لم يكن لكان لا يترك العبادة ولو كان قصد الرياء وحده لما أقدم عليه فالذي نظنه والعلم عند الله أنه لا يحبط أصل الثواب ولكنه ينقص منه أو يعاقب على مقدار قصد الرياء ويثاب على مقدار قصد الثواب وأما قَوْلُهُ ﷺ يَقُولُ اللَّهُ تعالى أنا أغنى الأغنياء عن الشرك فهو محمول على ما إذا تساوى القصدان أو كان قصد الرياء أرجح

Tingkatan keempat, penglihatan (pengetahuan) manusia hanya menjadi pendorong dan penguat semangatnya. Seandainya tidak ada manusia yang melihat pun, ia tidak akan meninggalkan ibadah tersebut, dan seandainya hanya ada niat riya' semata, ia tidak akan berani melakukannya. Maka dugaan kami—dan ilmu hanya ada pada Allah—hal itu tidak menggugurkan pokok pahalanya, melainkan berkurang dengannya, atau ia disiksa sesuai kadar niat riya' dan diberi pahala sesuai kadar niat mencari pahala. Adapun sabda Nabi ﷺ, 'Allah Ta'ala berfirman: Aku adalah Yang Paling Tidak Membutuhkan sekutu dari segala yang bersekutu,' hal itu dipahami apabila kedua niat tersebut seimbang atau niat riya' lebih dominan.

الركن الثاني المراءى به وهو الطاعات وذلك ينقسم إلى الرياء بأصول العبادات وإلى الرياء بأوصافها

Rukun kedua: hal yang dijadikan sarana riya' (al-mura'a bihi), yaitu ketaatan-ketaatan. Hal ini terbagi menjadi riya' pada pokok-pokok ibadah (ushul al-'ibadat) dan riya' pada sifat-sifat (tata cara/kesempurnaan) ibadah.

القسم الأول وهو الأغلظ الرياء بالأصول وهو على ثلاث درجات

Bagian pertama, dan ini yang paling berat (paling parah), yaitu riya' pada pokok-pokok ibadah, dan ini terbagi menjadi tiga tingkatan.

الأولى الرياء بأصل الإيمان وهذا أغلظ أبواب الرياء وَصَاحِبُهُ مُخَلَّدٌ فِي النَّارِ وَهُوَ الَّذِي يُظْهِرُ كلمتي الشهادة وباطنه مشحون بالتكذيب ولكنه يرائي بظاهر الإسلام وهو الذي ذكره الله تعالى في كتابه في مواضع شتى كقوله ﷿ ﴿إذا جاءك المنافقون قالوا نشهد إنك لرسول الله والله يعلم إنك لرسوله والله يشهد إن المنافقين لكاذبون﴾ أي في دلالتهم بقولهم على ضمائرهم وقال تعالى ﴿ومن الناس من يعجبك قوله في الحياة الدنيا ويشهد الله على ما في قلبه وهو ألد الخصام وإذا تولى سعى في الأرض ليفسد فيها﴾ الآية وقال تعالى ﴿وإذا لقوكم قالوا آمنا وإذا خلوا عضوا عليكم الأنامل من الغيظ﴾ وقال تعالى ﴿يراؤون الناس ولا يذكرون الله إلا قليلاً مذبذبين بين ذلك﴾ والآيات فيهم كثيرة

Tingkatan pertama: riya' pada pokok keimanan. Ini adalah pintu riya' yang paling parah dan pelakunya kekal di dalam neraka. Yaitu orang yang menampakkan dua kalimat syahadat sedangkan batinnya dipenuhi dengan pendustaan, tetapi ia melakukan riya' dengan lahiriah Islam. Dialah yang disebutkan oleh Allah Ta'ala dalam kitab-Nya di berbagai tempat, seperti firman-Nya Azza wa Jalla: 'Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta' [QS. Al-Munafiqun: 1], yaitu pendusta dalam menunjukkan apa yang ada di dalam hati mereka melalui perkataan mereka. Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan disaksikannya kepada Allah atas apa yang ada dalam hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk berbuat kerusakan padanya' [QS. Al-Baqarah: 204-205]. Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Dan apabila mereka berjumpa dengan kamu, mereka berkata: Kami telah beriman. Dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu' [QS. Ali 'Imran: 119]. Dan Allah Ta'ala berfirman: 'Mereka bermaksud riya' di hadapan manusia dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian' [QS. An-Nisa': 142-143]. Dan ayat-ayat mengenai mereka sangatlah banyak.

وكان النفاق يكثر في ابتداء الإسلام ممن يدخل في ظاهر الإسلام ابتداء لغرض وذلك مما يقل في زماننا ولكن يكثر نفاق من ينسل عن الدين باطناً فيجحد الجنة والنار والدار الآخرة ميلاً إلى قول الملحدة أو يعتقد على بِسَاطِ الشَّرْعِ وَالْأَحْكَامِ مَيْلًا إِلَى أَهْلِ الْإِبَاحَةِ أو يعتقد كفراً أو بدعة وهو يظهر خلافه فهؤلاء من المنافقين والمرائين المخلدين في النار وليس وراء هذا الرياء رياء وحال هؤلاء أشد حالاً من الكفار المجاهرين فإنهم جمعوا بين كفر الباطن ونفاق الظاهر

Nifak pada awal perkembangan Islam sering terjadi pada orang yang masuk Islam secara lahiriah demi suatu tujuan tertentu, dan hal semacam itu sudah jarang terjadi pada zaman kita. Namun, yang banyak terjadi adalah nifak dari orang yang terlepas dari agama secara batiniah, sehingga ia mengingkari surga, neraka, dan negeri akhirat karena cenderung pada pemikiran kaum mulhid (pengingkar Tuhan), atau ia berkeyakinan di luar bentangan syariat dan hukum-hukum agama karena cenderung pada kaum ibahiyyah (orang-orang yang menganggap segala hal bebas aturan), atau ia meyakini kekufuran atau bidah tetapi menampakkan kebalikannya. Mereka ini termasuk orang-orang munafik dan pelaku riya' yang kekal di dalam neraka, dan tidak ada riya' yang lebih parah melebihi riya' ini. Keadaan mereka bahkan lebih buruk daripada orang-orang kafir yang terang-terangan, sebab mereka menggabungkan antara kekufuran batin dan nifak lahiriah.

الثانية الرياء بأصول العبادات مع التصديق بأصل الدين وهذا أيضاً عظيم عند الله ولكنه دون الأول بكثير

Tingkatan kedua: riya' pada pokok-pokok ibadah (wajib) disertai pembenaran (tashdiq) terhadap pokok agama (keimanan). Ini juga merupakan perkara yang besar (dosa besar) di sisi Allah, akan tetapi jauh di bawah tingkatan yang pertama.

ومثاله أن يكون مال الرجل في يد غيره فيأمره بإخراج الزكاة خوفاً من ذمه وَاللَّهُ يَعْلَمُ مِنْهُ أَنَّهُ لَوْ كَانَ فِي يده لما أخرجها أو يدخل وقت الصلاة وهو في جمع وعادته ترك الصلاة في الخلوة وكذلك يصوم رمضان وهو يشتهى خلوة من الخلق ليفطر وكذلك يحضر الجمعة وَلَوْلَا خَوْفُ الْمَذَمَّةِ لَكَانَ لَا يَحْضُرُهَا أَوْ يَصِلُ رَحِمَهُ أَوْ يَبَرُّ وَالِدَيْهِ لَا عَنْ رغبة ولكن خوفاً من الناس أو يغزو أو يحج كذلك

Contohnya adalah harta seorang laki-laki berada di tangan orang lain, lalu ia menyuruhnya untuk mengeluarkan zakat karena takut dicela orang, padahal Allah tahu darinya bahwa seandainya harta itu berada di tangannya sendiri niscaya ia tidak akan mengeluarkannya. Atau masuk waktu shalat ketika ia berada di tengah kerumunan orang, padahal kebiasaannya adalah meninggalkan shalat saat sendirian. Demikian pula ia berpuasa Ramadhan padahal ia sangat menginginkan kesendirian dari manusia agar bisa berbuka (membatalkan puasa). Begitu juga ia menghadiri shalat Jumat yang seandainya bukan karena takut celaan niscaya ia tidak akan menghadirinya. Atau ia menyambung tali silaturahmi atau berbakti kepada kedua orang tuanya bukan karena dorongan keinginan ikhlas, melainkan karena takut pada manusia, atau ia berperang dan berhaji dengan niat yang demikian pula.

فهذا مراء معه أصل الإيمان بالله يعتقد أنه لا معبود سواه ولو كلف أن يعبد غير الله أو يسجد لغيره لم يفعل ولكنه يترك العبادات للكسل وينشط عند اطلاع الناس فتكون منزلته عند الخلق أحب إليه من منزلته عند الخالق وخوفه مِنْ مَذَمَّةِ النَّاسِ أَعْظَمَ مِنْ خَوْفِهِ مِنْ عقاب الله ورغبته في محمدتهم أشد مرغبته في ثواب اللَّهِ وَهَذَا غَايَةُ الْجَهْلِ وَمَا أَجْدَرَ صَاحِبَهُ بالمقت وإن كان غير منسل عن أصل الإيمان من حيث الاعتقاد

Maka orang ini adalah pelaku riya' yang masih memiliki pokok keimanan kepada Allah. Ia meyakini bahwa tidak ada sesembahan selain-Nya, dan sekiranya ia diperintahkan untuk menyembah selain Allah atau bersujud kepada selain-Nya niscaya ia tidak akan mau melakukannya. Namun ia meninggalkan ibadah-ibadah karena malas dan menjadi bersemangat ketika dilihat manusia. Kedudukannya di mata makhluk menjadi lebih ia cintai daripada kedudukannya di mata Sang Pencipta, rasa takutnya terhadap celaan manusia lebih besar daripada rasa takutnya terhadap siksa Allah, dan keinginannya untuk mendapat pujian mereka lebih kuat daripada keinginannya terhadap pahala dari Allah. Ini adalah puncak kebodohan, dan betapa layaknya pelakunya mendapat kemurkaan Allah, meskipun ia belum terlepas dari pokok keimanan dari segi akidah.

الثالثة أن لا يرائي بالإيمان ولا بالفرائض ولكنه يرائي بالنوافل والسنن التي لو تركها لا يعصى ولكنه يكسل عنها في الخلوة لفتور رغبته في ثوابها ولإيثار لذة الكسل على ما يرجى من الثواب ثم يبعثه الرياء على فعلها وذلك كحضور الجماعة في الصلاة وعيادة المريض واتباع الجنازة وغسل الميت وكالتهجد بالليل وصيام يوم عرفة وعاشوراء ويوم الاثنين والخميس

Tingkatan ketiga: ia tidak melakukan riya' pada keimanan dan tidak pula pada amalan-amalan fardu, tetapi ia melakukan riya' pada amalan-amalan sunnah dan nafilah yang jika ditinggalkan ia tidak berdosa. Namun ia bermalas-malasan mengerjakannya saat sendirian karena lemahnya keinginan terhadap pahalanya dan karena lebih mengutamakan kenikmatan bermalas-malasan daripada pahala yang diharapkan, kemudian riya' mendorongnya untuk melakukannya. Contohnya seperti menghadiri shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memandikan mayat, shalat tahajud di malam hari, serta puasa hari Arafah, Asyura, dan hari Senin dan Kamis.

فقد يفعل المرائي جملة ذلك خوفاً من المذمة أو طلبا للمحمدة ويعلم الله تعالى منه أَنَّهُ لَوْ خَلَا بِنَفْسِهِ لَمَا زَادَ عَلَى أداء الفرائض

Kadang kala pelaku riya' mengerjakan seluruh amalan tersebut karena takut dicela atau demi mencari pujian, padahal Allah Ta'ala mengetahui darinya bahwa seandainya ia menyendiri, niscaya ia tidak akan menambah amalan melebihi penunaian kewajiban-kewajiban semata.

فهذا أيضاً عظيم ولكنه دون ما قبله فإن الذي قبله آثر حمد الخلق على حمد الخالق

Maka ini juga merupakan perkara yang besar (dosa besar), namun tingkatannya di bawah yang sebelumnya. Sebab orang pada tingkatan sebelumnya lebih mengutamakan pujian makhluk daripada pujian Sang Pencipta.

وهذا أيضاً قد فعل ذلك واتقى ذم الخلق دون ذم الخالق فكان ذم الخلق أعظم عنده من عقاب الله وأما هذا فلم يفعل ذلك لأنه لم يخف عقاباً على ترك النافلة لو تركها وكأنه على شطر من الأول وعقابه نصف عقابه

Orang yang sebelumnya itu juga melakukan hal tersebut dan menjaga diri dari celaan makhluk daripada celaan Sang Pencipta, sehingga celaan makhluk baginya lebih besar daripada siksa Allah. Adapun orang pada tingkatan ini tidak melakukan demikian karena ia memang tidak takut akan siksa atas penelantaran amalan sunnah jika ia meninggalkannya. Seolah-olah ia berada pada separuh dari tingkatan pertama (sebelumnya), dan siksa baginya adalah separuh dari siksanya.

فهذا هو الرياء بأصول العبادات

Maka inilah gambaran mengenai riya' pada pokok-pokok ibadah.

القسم الثاني الرياء بأوصاف العبادات لا بأصولها وهو أيضاً على ثلاثة درجات

Bagian kedua: riya' pada sifat-sifat (tata cara/kesempurnaan) ibadah, bukan pada pokok-pokoknya. Bagian ini juga terbagi menjadi tiga tingkatan.

الأولى أن يُرَائِي بِفِعْلِ مَا فِي تَرْكِهِ نُقْصَانُ الْعِبَادَةِ كَالَّذِي غَرَضُهُ أَنْ يُخَفِّفَ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ وَلَا يُطَوِّلَ الْقِرَاءَةَ فَإِذَا رَآهُ النَّاسُ أَحْسَنَ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ وَتَرَكَ الِالْتِفَاتَ وَتَمَّمَ الْقُعُودَ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ وقد قال ابن مسعود من فعل ذلك فهو استهانة يستهين بها ربه ﷿ أي أنه ليس يبالي باطلاع الله عليه في الخلوة فإذا اطلع عليه آدمي أحسن الصلاة ومن جلس بين يدي إنسان متربعاً أو متكئاً فدخل غلامه فاستوى وأحسن الجلسة كان ذلك منه تقديماً للغلام على السيد واستهانة بالسيد لا محالة وهذا حال المرائي بتحسين الصلاة في الملأ دون الخلوة

Tingkatan pertama: seseorang melakukan riya' dengan mengerjakan hal yang jika ditinggalkan akan mengurangi kesempurnaan ibadah. Seperti orang yang tujuannya adalah meringankan (mempercepat) rukuk dan sujud serta tidak memanjangkan bacaan, namun ketika manusia melihatnya, ia memperbagus rukuk dan sujudnya, tidak menoleh-noleh, dan menyempurnakan duduk di antara dua sujud. Ibnu Mas'ud sungguh telah berkata: 'Barang siapa berbuat demikian, maka itu adalah bentuk pelecehan yang ia lakukan terhadap Rabbnya Azza wa Jalla.' Artinya, ia tidak peduli penglihatan Allah terhadap dirinya ketika sendirian, namun apabila manusia melihatnya, ia memperbagus shalatnya. Barang siapa duduk di hadapan seseorang dalam keadaan bersila atau bersandar, lalu masuklah pelayannya kemudian ia segera membetulkan dan memperbagus duduknya, maka hal itu tanpa diragukan lagi merupakan bentuk mendahulukan pelayan atas tuannya serta pelecehan terhadap sang tuan. Dan demikian itulah keadaan orang yang memperbagus shalat di keramaian dan tidak di kala sendirian.

وَكَذَلِكَ الَّذِي يَعْتَادُ إِخْرَاجَ الزَّكَاةِ مِنَ الدَّنَانِيرِ الرَّدِيئَةِ أَوْ مِنَ الْحَبِّ الرَّدِيءِ فَإِذَا اطَّلَعَ عَلَيْهِ غَيْرُهُ أَخْرَجَهَا مِنَ الْجَيِّدِ خَوْفًا مِنْ مَذَمَّتِهِ وَكَذَلِكَ الصَّائِمُ يَصُونُ صَوْمَهُ عَنِ الْغِيبَةِ وَالرَّفَثِ لِأَجْلِ الْخَلْقِ لَا إِكْمَالًا لِعِبَادَةِ الصَّوْمِ خَوْفًا مِنَ الْمَذَمَّةِ فَهَذَا أَيْضًا مِنَ الرِّيَاءِ الْمَحْظُورِ لِأَنَّ فِيهِ تَقْدِيمًا لِلْمَخْلُوقِينَ عَلَى الْخَالِقِ ولكنه دون الرياء بأصول التطوعات

Demikian pula orang yang terbiasa mengeluarkan zakat dari dinar yang buruk atau biji-bijian yang berkualitas rendah, namun apabila ada orang lain yang melihatnya, ia mengeluarkannya dari kualitas yang baik karena takut akan celaan orang tersebut. Begitu pula orang yang berpuasa memelihara puasanya dari ghibah dan kata-kata kotor demi manusia—bukan demi menyempurnakan ibadah puasa—karena takut akan celaan. Maka ini juga termasuk riya' yang diharamkan, karena di dalamnya terdapat sikap mendahulukan makhluk atas Sang Pencipta, akan tetapi tingkatannya di bawah riya' pada pokok-pokok amalan sunnah.

فَإِنْ قَالَ الْمُرَائِي إِنَّمَا فَعَلْتُ ذَلِكَ صِيَانَةً لألسنتهم عن الغيبة فإنهم إذا رأوا تخفيف الركوع والسجود وكثرة الالتفات أطلقوا اللسان بالذم والغيبة وإنما قصدت صيانتهم عن هذه المعصية فَيُقَالُ لَهُ هَذِهِ مَكِيدَةٌ لِلشَّيْطَانِ عِنْدَكَ وَتَلْبِيسٌ وَلَيْسَ الْأَمْرُ كَذَلِكَ فَإِنَّ ضَرَرَكَ مِنْ نُقْصَانِ صَلَاتِكَ وَهِيَ خِدْمَةٌ مِنْكَ لِمَوْلَاكَ أَعْظَمُ مِنْ ضَرَرِكَ بِغِيبَةِ غَيْرِكَ فَلَوْ كَانَ بَاعِثُكَ الدِّينَ لكان شفقتك على نفسك أكثر وما أنت في هذا إلا كمن يهدي وصيفة إلى ملك لينال منه فضلاً وولاية يتقلدها فيهديها إليه وهي عوراء قبيحة مقطوعة الأطراف ولا يبالي به إذا كان الملك وحده وإذا كان عنده بعض غلمانه امتنع خوفاً من مذمة غلمانه وذلك محال بل من يراعي جانب غلام الملك ينبغي أن تكون مراقبته للملك أكثر

Jika orang yang berbuat riya' berkata, "Aku melakukan hal itu hanyalah untuk menjaga lisan mereka dari ghibah (mencela). Sebab, jika mereka melihat ringannya rukuk dan sujudku serta banyaknya aku menoleh, niscaya lisan mereka akan mencela dan menggunjing. Aku hanya bermaksud menjaga mereka dari maksiat ini." Maka dikatakan kepadanya: Ini adalah tipu daya dan penyamaran (talbis) setan padamu, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Sebab, bahaya yang menimpamu akibat berkurangnya kesempurnaan shalatmu—yang merupakan pengabdianmu kepada Tuanmu (Allah)—jauh lebih besar daripada bahaya yang menimpamu akibat ghibah orang lain. Seandainya doronganmu adalah agama, niscaya kasih sayangmu terhadap dirimu sendiri akan lebih besar. Dalam hal ini, engkau tidak lain bagaikan seseorang yang mempersembahkan seorang hamba perempuan kepada seorang raja untuk memperoleh karunia dan jabatan dengannya. Lalu ia mempersembahkannya dalam keadaan buta sebelah, buruk rupa, dan terpotong anggota tubuhnya. Ia tidak peduli hal itu jika sang raja sendirian, namun ketika di samping raja ada sebagian pelayannya, ia menahannya karena takut akan celaan para pelayan tersebut. Hal itu tentu tidak masuk akal (mustahil); justru barangsiapa yang memperhatikan perasaan pelayan raja, hendaknya pengawasannya (muraqabah-nya) terhadap raja itu jauh lebih besar.

نعم للمرائي فيه حالتان

Ya, bagi orang yang berbuat riya' dalam hal ini terdapat dua keadaan:

إحداهما أن يطلب بذلك المنزلة والمحمدة عند الناس وذلك حرام قطعاً

Pertama, ia mencari kedudukan dan pujian di hadapan manusia dengan perbuatan tersebut, dan hal ini hukumnya haram secara pasti (qath'i).

والثانية أن يقول ليس يحضرني في الإخلاص في تحسين الركوع والسجود ولو خففت كانت صلاتي عندهم ناقصة وآذاني الناس بذمهم وغيبتهم فأستقيد بتحسين الهيبة دفع مذمتهم ولا أرجو عليه ثواباً فهو خير من أن أترك تحسين الصلاة فيفوت الثواب وتحصل المذمة فهذا فيه أدنى نظر

Kedua, ia berkata, "Aku tidak bisa menghadirkan keikhlasan dalam memperindah rukuk dan sujud. Seandainya aku meringankannya, shalatku akan dianggap kurang oleh mereka, dan orang-orang akan menyakitiku dengan celaan serta ghibah mereka. Maka aku mengambil manfaat dengan memperindah penampilan shalat demi menolak celaan mereka, tanpa mengharapkan pahala darinya. Hal itu lebih baik daripada aku meninggalkan keindahan shalat sehingga pahala hilang dan celaan didapatkan." Maka dalam hal ini terdapat sedikit bahan pertimbangan.

والصحيح أن الواجب عليه أن يحسن ويخلص فإن لم تحضره النية فينبغي أن يستمر على عادته في الخلوة فليس له أن يدفع الذم بالمراءاة بطاعة الله فإن ذلك استهزاء كما سبق

Pendapat yang sahih adalah bahwa yang wajib baginya adalah memperindah shalat sekaligus ikhlas. Jika niat ikhlas belum hadir padanya, maka hendaknya ia tetap melaksanakannya sebagaimana kebiasaannya saat menyendiri (khalwat). Ia tidak boleh menolak celaan dengan cara berpura-pura (riya') melalui ketaatan kepada Allah, karena hal itu merupakan bentuk penghinaan (olok-olok) sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

الدرجة الثانية أن يرائي بفعل مالا نُقْصَانَ فِي تَرْكِهِ وَلَكِنَّ فِعْلَهُ فِي حُكْمِ التَّكْمِلَةِ وَالتَّتِمَّةِ لِعِبَادَتِهِ كَالتَّطْوِيلِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَمَدِّ الْقِيَامِ وَتَحْسِينِ الْهَيْئَةِ وَرَفْعِ الْيَدَيْنِ وَالْمُبَادَرَةِ إِلَى التَّكْبِيرَةِ الْأُولَى وَتَحْسِينِ الِاعْتِدَالِ

Tingkatan kedua adalah berbuat riya' dengan melakukan sesuatu yang meninggalkannya tidak menimbulkan kekurangan pada keabsahan ibadah, namun melakukannya berstatus sebagai penyempurna dan pelengkap bagi ibadahnya. Contohnya seperti memanjangkan rukuk dan sujud, memperlama berdiri, memperindah sikap tubuh (hai'at), mengangkat kedua tangan, bersegera menuju takbiratul ihram (takbir pertama), serta memperindah iktidal.

والزيادة في القراءة على السور الْمُعْتَادَةِ وَكَذَلِكَ كَثْرَةُ الْخَلْوَةِ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ وطول الصمت وكاختيار الأجود على الجيد في الزكاة وإعتاق الرقبة الغالية في الكفارة

Dan menambah bacaan melebihi surah-surah yang biasa dibaca, demikian pula memperbanyak menyendiri (berkhalwat) pada puasa Ramadan, memperlama diam, serta memilih kualitas yang paling utama daripada sekadar yang baik dalam zakat, atau memerdekakan budak yang mahal harganya dalam kafarat.

وكل ذلك مِمَّا لَوْ خَلَا بِنَفْسِهِ لَكَانَ لَا يُقْدِمُ عليه

Semua itu merupakan hal-hal yang seandainya ia berada sendirian, niscaya ia tidak akan melakukannya.

الثالثة أن يُرَائِي بِزِيَادَاتٍ خَارِجَةٍ عَنْ نَفْسِ النَّوَافِلِ أَيْضًا كَحُضُورِهِ الْجَمَاعَةَ قَبْلَ الْقَوْمِ وَقَصْدِهِ لِلصَّفِّ الْأَوَّلِ وَتَوَجُّهِهِ إِلَى يَمِينِ الْإِمَامِ وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهُ

Tingkatan ketiga adalah berbuat riya' dengan tambahan-tambahan di luar ibadah sunnah itu sendiri, seperti menghadiri shalat berjamaah sebelum orang lain datang, menuju saf pertama, berada di sebelah kanan imam, dan hal-hal yang sejenisnya.

وَكُلُّ ذَلِكَ مِمَّا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ لَوْ خَلَا بِنَفْسِهِ لَكَانَ لَا يُبَالِي أَيْنَ وَقَفَ وَمَتَى يُحْرِمُ بِالصَّلَاةِ فَهَذِهِ دَرَجَاتُ الرِّيَاءِ بالإضافة إلى ما يرائي بِهِ وَبَعْضُهُ أَشَدُّ مِنْ بَعْضٍ

Semua itu merupakan hal yang diketahui oleh Allah darinya bahwa seandainya ia sendirian, ia tidak akan peduli di mana ia berdiri dan kapan ia memulai takbiratul ihram untuk shalat. Inilah tingkatan-tingkatan riya' ditinjau dari aspek apa yang digunakan untuk berbuat riya', yang sebagian darinya lebih berat daripada sebagian yang lain.

وَالْكُلُّ مَذْمُومٌ

Dan semuanya adalah tercela.

الركن الثالث المرائي لأجله فإن لِلْمُرَائِي مَقْصُودًا لَا مَحَالَةَ وَإِنَّمَا يُرَائِي لِإِدْرَاكِ مَالٍ أَوْ جَاهٍ أَوْ غَرَضٍ مِنَ الْأَغْرَاضِ لا محالة وله أيضاً ثلاث درجات

Rukun Ketiga: Tujuan berbuat riya' (al-murai li-'ajlih). Sebab, orang yang berbuat riya' pasti memiliki maksud tertentu; ia berbuat riya' tidak lain untuk memperoleh harta, kedudukan (jah), atau salah satu dari berbagai tujuan duniawi lainnya. Ini pun memiliki tiga tingkatan:

الأولى وهي أشدها وأعظمها أَنْ يَكُونَ مَقْصُودُهُ التَّمَكُّنَ مِنْ مَعْصِيَةٍ كَالَّذِي يرائي بعبادته ويظهر التقوى والورع بكثرة النوافل والامتناع عن أكل الشبهات وغرضه أن يعرف بالأمانة فيولى القضاء أو الأوقاف أو الوصايا أو مال الأيتام فيأخذها أو يسلم إليه تفرقة الزكاة أو الصدقات ليستأثر بما قدر عليه منها أو يودع الودائع فيأخذها ويجحدها أو تسلم إليه الأموال التي تنفق في طريق الحج فيختزل بعضها أو كلها أو يتوصل بها إلى استتباع الحجيج ويتوصل بقوتهم إلى مقاصدة الفاسدة في المعاصي

Tingkatan pertama, dan ini yang paling parah serta paling besar bahayanya, adalah jika maksudnya adalah agar dapat melakukan maksiat. Seperti orang yang berbuat riya' dengan ibadahnya serta menampakkan ketakwaan dan sifat wara' dengan memperbanyak amalan sunnah dan menahan diri dari memakan hal-hal yang syubhat, padahal tujuannya adalah agar ia dikenal sebagai orang yang amanah, sehingga diserahi jabatan hakim (qadhi), pengelolaan wakaf, wasiat, atau harta anak yatim lalu ia mengambilnya; atau diserahi pembagian zakat atau sedekah agar ia dapat menguasai sebagian dengannya; atau dititipi barang-barang titipan lalu ia mengambilnya dan mengingkarinya; atau diserahi harta yang dinafkahkan untuk perjalanan haji lalu ia mengambil sebagian atau seluruhnya, atau menggunakannya untuk menundukkan para jamaah haji serta memanfaatkan kekuatan mereka untuk mencapai tujuan-tujuan maksiatnya yang rusak.

وقد يظهر بعضهم زي التصوف وهيئة الخشوع وكلام الحكمة على سبيل الوعظ والتذكير وإنما قصده التحبب إلى امرأة أو غلام لأجل الفجور وقد يحظرون مجالس العلم والتذكيروحلق القرآن يظهرون الرغبة في سماع العلم والقرآن وغرضهم ملاحظة النساء والصبيان أو يخرج إلى الحج ومقصوده الظفر بمن في الرفقة من امرأة أو غلام

Sebagian dari mereka terkadang menampilkan pakaian tasawuf, sikap kekhusyukan, dan ucapan hikmah dengan cara memberi nasihat dan peringatan, padahal maksudnya hanyalah untuk menarik simpati seorang wanita atau pemuda demi perbuatan fujur (kejahatan/kemaksiatan). Mereka juga terkadang menghadiri majelis ilmu, peringatan, dan halqah Al-Qur'an dengan menampakkan minat untuk mendengarkan ilmu dan Al-Qur'an, padahal tujuan mereka adalah untuk melirik para wanita dan anak-anak. Atau ia berangkat haji dengan maksud mendapatkan orang yang ada dalam rombongan, baik wanita maupun pemuda.

وهؤلاء أَبْغَضُ الْمُرَائِينَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى لِأَنَّهُمْ جَعَلُوا طاعة ربهم سلماً إلى معصيته واتخذوها آلة ومتجراً وبضاعة لهم في فسقهم ويقرب من هؤلاء وإن كان دونهم من هو مقترف جريمة اتهم بها وهو مصر عليها ويريد أن ينفي التهمة عن نفسه فيظهر التقوى لنفي التهمة كالذي جحد وديعة واتهمه الناس بها فيتصدق بالمال ليقال إنه يتصدق بمال نفسه فكيف يستحل مال غيره وكذلك من ينسب إلى فجور بامرأة أو غلام فيدفع التهمة عن نفسه بالخشوع وإظهار التقوى

Mereka ini adalah orang-orang yang paling dimurkai Allah Ta'ala di antara para pelaku riya', karena mereka telah menjadikan ketaatan kepada Tuhan mereka sebagai tangga menuju kemaksiatan kepada-Nya, serta menjadikannya alat, barang dagangan, dan modal bagi kefasikan mereka. Mendekati kelompok ini—meskipun tingkatannya di bawah mereka—adalah orang yang melakukan suatu kejahatan yang dituduhkan kepadanya padahal ia terus-menerus melakukannya, lalu ia ingin menepis tuduhan tersebut dari dirinya dengan cara menampakkan ketakwaan demi menolak tuduhan itu. Seperti orang yang mengingkari barang titipan dan orang-orang menuduhnya, lalu ia bersedekah dengan harta agar dikatakan bahwa ia bersedekah dengan hartanya sendiri, maka bagaimana mungkin ia menghalalkan harta orang lain? Demikian pula orang yang dituduh melakukan perbuatan fujur dengan seorang wanita atau pemuda, lalu ia menolak tuduhan dari dirinya dengan menampilkan kekhusyukan dan menampakkan ketakwaan.

الثانية أن يكون غرضه نيل حظ مباح مِنْ حُظُوظِ الدُّنْيَا مِنْ مَالٍ أَوْ نِكَاحِ امرأة جميلة أو شريفة كالذي يظهر الحزن والبكاء ويشتغل بالوعظ والتذكير لتبذل له الأموال ويرغب في نكاحه النساء فيقصد إما امرأة بعينها لينكحها أو امرأة شريفة على الجملة وكالذي يرغب أن يتزوج بنت عالم عابد فيظهر له العلم والعبادة ليرغب في تزويجه ابنته

Tingkatan kedua adalah tujuannya untuk memperoleh bagian duniawi yang mubah dari kenikmatan dunia, seperti harta atau menikahi wanita yang cantik atau terhormat. Seperti orang yang menampakkan kesedihan dan tangisan serta sibuk dengan memberi nasihat dan peringatan agar harta diserahkan kepadanya dan para wanita berhasrat untuk menikah dengannya, sehingga ia menargetkan wanita tertentu untuk dinikahi atau wanita terhormat secara umum. Atau seperti orang yang berhasrat menikahi putri dari seorang ulama yang ahli ibadah, lalu ia menampakkan ilmu dan ibadah di hadapan ulama tersebut agar ia tertarik untuk menikahkan putrinya dengannya.

فَهَذَا رِيَاءٌ مَحْظُورٌ لِأَنَّهُ طَلَبَ بِطَاعَةِ اللَّهِ متاع الحياة الدنيا ولكنه دون الأول فإنه المطلوب بهذا مباح في نفسه

Maka ini adalah riya' yang terlarang (diharamkan), karena ia mencari kesenangan kehidupan dunia melalui ketaatan kepada Allah. Namun, nilainya di bawah tingkatan pertama, sebab hal yang dicari ini pada dasarnya adalah mubah.

الثَّالِثَةُ أَنْ لَا يَقْصِدَ نَيْلَ حَظٍّ وَإِدْرَاكَ مال أو نكاح ولكن يظهر عبادته خَوْفًا مِنْ أَنْ يُنْظَرَ إِلَيْهِ بِعَيْنِ النَّقْصِ وَلَا يُعَدَّ مِنَ الْخَاصَّةِ وَالزُّهَّادِ وَيُعْتَقَدَ أَنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ الْعَامَّةِ كَالَّذِي يَمْشِي مُسْتَعْجِلًا فَيَطَّلِعُ عَلَيْهِ النَّاسُ فَيُحْسِنُ الْمَشْيَ وَيَتْرُكُ الْعَجَلَةَ كَيْلَا يُقَالَ إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ اللَّهْوِ وَالسَّهْوِ لَا من أهل الوقار وكذلك إن سبق إلى الضحك أو بدا مِنْهُ الْمِزَاحُ فَيَخَافُ أَنْ يُنْظَرَ إِلَيْهِ بِعَيْنِ الِاحْتِقَارِ فَيُتْبِعَ ذَلِكَ بِالِاسْتِغْفَارِ وَتَنَفُّسِ الصُّعَدَاءِ وَإِظْهَارِ الْحُزْنِ وَيَقُولُ مَا أَعْظَمَ غَفْلَةَ الْآدَمِيِّ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مِنْهُ أَنَّهُ لَوْ كَانَ فِي خَلْوَةٍ لَمَا كَانَ يَثْقُلُ عَلَيْهِ ذَلِكَ وَإِنَّمَا يَخَافُ أَنْ يُنْظَرَ إِلَيْهِ بِعَيْنِ الِاحْتِقَارِ لَا بِعَيْنِ التَّوْقِيرِ وَكَالَّذِي يَرَى جَمَاعَةً يُصَلُّونَ التراويح أو يتهجدون أَوْ يَصُومُونَ الْخَمِيسَ وَالِاثْنَيْنِ أَوْ يَتَصَدَّقُونَ فَيُوَافِقُهُمْ خِيفَةَ أَنْ يُنْسَبَ إِلَى الْكَسَلِ وَيَلْحَقَ بِالْعَوَامِّ وَلَوْ خَلَا بِنَفْسِهِ لَكَانَ

Tingkatan ketiga adalah ia tidak bermaksud memperoleh bagian materi, harta, atau pernikahan, melainkan ia menampakkan ibadahnya karena takut dipandang dengan pandangan cela/kekurangan, tidak dihitung sebagai bagian dari kalangan khusus (khawwas) dan ahli zuhud, serta dianggap termasuk golongan awam. Seperti orang yang berjalan terburu-buru, lalu orang-orang melihatnya, maka ia memperbaiki jalannya dan meninggalkan ketergesa-gesaan agar tidak dikatakan bahwa ia termasuk ahli lalai dan sia-sia, bukan orang yang berwibawa (waqar). Demikian pula jika ia terlanjur tertawa atau berbuat gurauan, lalu ia takut dipandang dengan pandangan hina, maka ia mengiringinya dengan istighfar, menarik napas dalam-dalam, serta menampakkan kesedihan seraya berkata, "Alangkah besarnya kelalaian manusia terhadap dirinya." Padahal Allah mengetahui bahwa seandainya ia berada dalam keadaan sendiri, hal itu tidak akan terasa berat baginya; ia hanya takut dipandang dengan pandangan hina, bukan pandangan penghormatan. Juga seperti orang yang melihat sekelompok orang sedang shalat Tarawih, shalat tahajud, berpuasa Senin-Kamis, atau bersedekah, lalu ia menyamai/mengikuti mereka karena takut dinisbatkan kepada sifat malas dan digolongkan kepada kaum awam, padahal seandainya ia sendirian niscaya…

لَا يَفْعَلُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ وَكَالَّذِي يَعْطَشُ يوم عرفة أو عاشوراء أو في الأشهر الحرم فَلَا يَشْرَبُ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَعْلَمَ النَّاسُ أنه غير صائم فإذا ظنوا به الصوم امتنع عن الأكل لأجله أَوْ يُدْعَى إِلَى طَعَامٍ فَيَمْتَنِعُ لِيُظَنَّ أَنَّهُ صائم وقد لا يصرح بأني صَائِمٌ وَلَكِنْ يَقُولُ لِي عُذْرٌ وَهُوَ جَمْعٌ بَيْنَ خَبِيثَيْنِ فَإِنَّهُ يُرِي أَنَّهُ صَائِمٌ ثُمَّ يُرِي أَنَّهُ مُخْلِصٌ لَيْسَ بِمُرَاءٍ وَأَنَّهُ يَحْتَرِزُ مِنْ أَنْ يَذْكُرَ عِبَادَتَهُ لِلنَّاسِ فَيَكُونَ مُرَائِيًا فَيُرِيدُ أَنْ يُقَالَ إِنَّهُ سَاتِرٌ لِعِبَادَتِهِ ثُمَّ إِنِ اضْطُرَّ إِلَى شُرْبٍ لَمْ يَصْبِرْ عَنْ أَنْ يَذْكُرَ لِنَفْسِهِ فِيهِ عُذْرًا تَصْرِيحًا أَوْ تَعْرِيضًا بِأَنْ يَتَعَلَّلَ بِمَرَضٍ يَقْتَضِي فَرْطَ الْعَطَشِ وَيَمْنَعُ مِنَ الصَّوْمِ أَوْ يَقُولُ أَفْطَرْتُ تَطْيِيبًا لقلب فلان ثم قد لا يذكر ذلك متصلاً بشربه كي لا يظن به أن يعتذر رياء ولكنه يصبر ثم يذكر عذره في معرض حكاية عرضا مثل أن يقول إن فلاناً مُحِبٌّ لِلْإِخْوَانِ شَدِيدُ الرَّغْبَةِ فِي أَنْ يَأْكُلَ الْإِنْسَانُ مِنْ طَعَامِهِ وَقَدْ أَلَحَّ عَلَيَّ الْيَوْمَ وَلَمْ أَجِدْ بُدًّا مِنْ تَطْيِيبِ قَلْبِهِ

…ia tidak akan melakukan sesuatu pun dari hal itu. Dan seperti orang yang merasa haus pada hari Arafah, hari Asyura, atau pada bulan-bulan haram, namun ia tidak minum karena takut orang-orang mengetahui bahwa ia tidak berpuasa. Apabila mereka mengira dirinya berpuasa, ia menahan diri dari makan demi sangkaan itu. Atau ia diundang makan lalu menolak agar dikira sedang berpuasa. Terkadang ia tidak menyatakan secara tegas, "Aku sedang berpuasa," melainkan berkata, "Aku ada uzur." Hal ini merupakan gabungan dua keburukan, sebab ia memperlihatkan seolah-olah ia berpuasa, kemudian memperlihatkan pula bahwa ia orang yang ikhlas dan bukan pelaku riya', serta menjaga diri agar tidak menyebutkan ibadahnya kepada orang-orang yang membuatnya menjadi orang yang riya'. Ia ingin agar dikatakan bahwa ia menyembunyikan ibadahnya. Kemudian, jika ia terpaksa harus minum, ia tidak sabar untuk tidak menyebutkan uzur bagi dirinya, baik secara tegas maupun sindiran (isyarat), yaitu dengan beralasan adanya penyakit yang menyebabkan dahaga sangat luar biasa dan menghalangi puasa, atau berkata, "Aku berbuka demi menyenangkan hati si Fulan." Lalu terkadang ia tidak menyebutkan hal itu berbarengan saat ia minum agar tidak dikira menyampaikan uzur karena riya', melainkan ia bersabar, kemudian menyebutkan uzurnya di sela-sela cerita secara sepintas, seperti mengatakan, "Sesungguhnya si Fulan sangat mencintai saudara-saudara seiman dan sangat berhasrat agar orang lain memakan makanannya, dan ia sangat mendesakku hari ini sehingga aku tidak menemukan jalan lain selain menyenangkan hatinya."

وَمِثْلَ أن يقول إن أمي ضعيفة القلب مشفقة علي تظن أني لو صمت يوماً مرضت فلا تدعني أَصُومُ فَهَذَا وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهُ مِنْ آفَاتِ الرياء فلا يسبق إلى اللسان إِلَّا لِرُسُوخِ عِرْقِ الرِّيَاءِ فِي الْبَاطِنِ

Dan seperti ucapan: "Ibuku itu lemah hatinya dan sangat mengasihaniku; beliau mengira seandainya aku berpuasa sehari saja maka aku akan sakit, sehingga beliau tidak membiarkanku berpuasa." Hal ini dan yang sejenisnya termasuk dari bahaya-bahaya (afat) riya', yang tidak terucap oleh lisan melainkan karena telah tertancap kuatnya akar riya' di dalam batin.

أَمَّا الْمُخْلِصُ فَإِنَّهُ لَا يُبَالِي كَيْفَ نَظَرَ الْخَلْقُ إِلَيْهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ رَغْبَةٌ فِي الصوم وقد علم الله ذلك مِنْهُ فَلَا يُرِيدُ أَنْ يَعْتَقِدَ غَيْرُهُ مَا يُخَالِفُ عِلْمَ اللَّهِ فَيَكُونَ مُلَبِّسًا وَإِنْ كَانَ لَهُ رَغْبَةٌ فِي الصَّوْمِ لِلَّهِ قَنَعَ بِعِلْمِ اللَّهِ تَعَالَى وَلَمْ يُشْرِكْ فِيهِ غَيْرَهُ وَقَدْ يَخْطُرُ لَهُ أَنَّ فِي إِظْهَارِهِ اقْتِدَاءَ غَيْرِهِ بِهِ وَتَحْرِيكَ رَغْبَةِ النَّاسِ فِيهِ وَفِيهِ مَكِيدَةٌ وغرور وسيأتي شرح ذلك وشروطه

Adapun orang yang ikhlas (mukhlis), maka ia tidak peduli bagaimana makhluk memandangnya. Jika ia tidak memiliki keinginan untuk berpuasa dan Allah mengetahui hal itu darinya, maka ia tidak ingin orang lain meyakini sesuatu yang menyalahi pengetahuan Allah sehingga ia menjadi orang yang bertopeng (memalsukan keadaan). Dan jika ia memiliki keinginan untuk berpuasa karena Allah, ia merasa cukup dengan pengetahuan Allah Ta'ala dan tidak menysekutukan selain-Nya dalam hal itu. Dan terkadang terlintas dalam benaknya bahwa dengan menampakkannya, orang lain dapat meneladaninya serta membangkitkan keinginan manusia terhadap ibadah tersebut; padahal di dalamnya terdapat tipu daya dan perdayaan, dan penjelasan mengenai hal tersebut beserta syarat-syaratnya akan dibahas kemudian.

فَهَذِهِ دَرَجَاتُ الرِّيَاءِ وَمَرَاتِبُ أَصْنَافِ الْمُرَائِينَ وَجَمِيعُهُمْ تحت مقت الله وغضبه وهو من أشد المهلكات وإن من شدته أن فيه شوائب هي أخفى من دبيب النمل كما ورد به الخبر يزل فيه فحول العلماء فضلاً عن العباد الجهلاء بآفات النفوس وغوائل القلوب والله أعلم

Maka inilah tingkatan-tingkatan riya dan urutan kelompok orang-orang yang berbuat riya. Mereka semua berada di bawah kemurkaan dan kemarahan Allah. Riya merupakan salah satu dari perkara yang paling membinasakan (al-muhlikat). Bahkan, di antara kerumitannya yang sangat mendalam adalah bahwasanya di dalamnya terdapat noda-noda yang lebih samar daripada langkah kaki semut, sebagaimana yang diriwayatkan dalam khabar (hadis). Ulama-ulama besar pun bisa tergelincir di dalamnya, terlebih lagi para ahli ibadah yang bodoh terhadap bahaya-bahaya jiwa (afat an-nufs) dan perdayaan-perdayaan hati (ghawail al-qulub). Wallahu a'lam.

بَيَانُ الرِّيَاءِ الْخَفِيِّ الَّذِي هُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ

Penjelasan tentang Riya Samar (Riya Khafi) yang Lebih Samar daripada Langkah Kaki Semut.

اعْلَمْ أَنَّ الرِّيَاءَ جَلِيٌّ وَخَفِيٌّ فَالْجَلِيُّ هُوَ الَّذِي يَبْعَثُ عَلَى الْعَمَلِ وَيَحْمِلُ عَلَيْهِ وَلَوْ قَصَدَ الثَّوَابَ وَهُوَ أَجْلَاهُ وَأَخْفَى مِنْهُ قَلِيلًا هُوَ مَا لَا يَحْمِلُ عَلَى الْعَمَلِ بِمُجَرَّدِهِ إِلَّا أَنَّهُ يُخَفِّفُ الْعَمَلَ الَّذِي يُرِيدُ بِهِ وَجْهَ اللَّهِ كَالَّذِي يَعْتَادُ التَّهَجُّدَ كُلَّ لَيْلَةٍ وَيَثْقُلُ عَلَيْهِ فَإِذَا نَزَلَ عِنْدَهُ ضيف تنشط له وخف عليه وعلم أنه لولا رجاء الثواب لكان لا يصلي لمجرد رياء الضيفان وَأَخْفَى مِنْ ذَلِكَ مَا لَا يُؤَثِّرُ فِي الْعَمَلِ وَلَا بِالتَّسْهِيلِ وَالتَّخْفِيفِ أَيْضًا وَلَكِنَّهُ مَعَ ذلك مستبطن في القلب ومهما لم يؤثر في الدعاء إلى العمل لم يمكن أن يعرف إلا بالعلامات وَأَجْلَى عَلَامَاتِهِ أَنْ يُسَرَّ بِاطِّلَاعِ النَّاسِ عَلَى طَاعَتِهِ فَرُبَّ عَبْدٍ يُخْلِصُ فِي عَمَلِهِ وَلَا يَعْتَقِدُ الرِّيَاءَ بَلْ يَكْرَهُهُ وَيَرُدُّهُ وَيُتَمِّمُ الْعَمَلَ كَذَلِكَ وَلَكِنْ إِذَا اطَّلَعَ عَلَيْهِ النَّاسُ سَرَّهُ ذَلِكَ وَارْتَاحَ لَهُ وَرَوَّحَ ذَلِكَ عَنْ قَلْبِهِ شِدَّةَ الْعِبَادَةِ وَهَذَا السُّرُورُ يَدُلُّ عَلَى رِيَاءٍ خَفِيٍّ مِنْهُ يُرَشِّحُ السُّرُورَ وَلَوْلَا الْتِفَاتُ الْقَلْبِ إلى الناس لما ظَهَرَ سُرُورُهُ عِنْدَ اطِّلَاعِ النَّاسِ فَلَقَدْ كَانَ الرِّيَاءُ مُسْتَكِنًّا فِي الْقَلْبِ اسْتِكْنَانَ النَّارِ فِي الحجر فأظهر عنه اطِّلَاعُ الْخَلْقِ أَثَرَ الْفَرَحِ وَالسُّرُورِ ثُمَّ إِذَا اسْتَشْعَرَ لَذَّةَ السُّرُورِ بِالِاطِّلَاعِ وَلَمْ يُقَابِلْ ذَلِكَ بِكَرَاهِيَةٍ فَيَصِيرُ ذَلِكَ قُوتًا وَغِذَاءً لِلْعِرْقِ الْخَفِيِّ من الرِّيَاءِ حَتَّى يَتَحَرَّكَ عَلَى نَفْسِهِ حَرَكَةً خَفِيَّةً فَيَتَقَاضَى تَقَاضِيًا خَفِيًّا أَنْ يَتَكَلَّفَ سَبَبًا يُطَّلَعُ عليه بالتعريض وإلقاء الكلام عرضاً وإن كان لا يدعو إلى التصريح وقد يخفى فلا يدعو إلى الإظهار بالنطق تعريضاً وتصريحاً ولكن بالشمائل كإظهار النحول والصفار وخفض الصوت ويبس الشفتين وجفاف الريق وآثار الدموع وغلبة النعاس الدال على طول التهجد وَأَخْفَى مِنْ ذَلِكَ أَنْ يَخْتَفِيَ بِحَيْثُ لَا يُرِيدُ الِاطِّلَاعَ وَلَا يُسَرُّ بِظُهُورِ طَاعَتِهِ وَلَكِنَّهُ مَعَ ذَلِكَ إِذَا رَأَى النَّاسَ أَحَبَّ أَنْ يبدءوه بالسلام وأن يُقَابِلُوهُ بِالْبَشَاشَةِ وَالتَّوْقِيرِ وَأَنْ يُثْنُوا عَلَيْهِ

Ketahuilah bahwasanya riya itu ada yang nyata (jali) dan ada yang samar (khafi). Riya yang nyata adalah riya yang menjadi pendorong dan penggerak utama untuk beramal, meskipun seseorang juga meniatkan pahala, dan ini adalah tingkatan riya yang paling jelas. Adapun yang sedikit lebih samar darinya adalah riya yang tidak sendirian mendorong terjadinya amal, akan tetapi ia meringankan amal yang sejatinya ditujukan demi mengharap Wajah Allah. Seperti orang yang terbiasa melaksanakan tahajud setiap malam namun merasa berat, lalu ketika ada tamu yang menginap di rumahnya, ia menjadi bersemangat dan ibadah terasa ringan baginya, padahal ia tahu jika bukan karena mengharap pahala ia tidak akan shalat hanya semata-mata karena riya kepada para tamu tersebut. Dan yang lebih samar daripada itu adalah riya yang sama sekali tidak memengaruhi amal, tidak pula mempermudah atau meringankannya, akan tetapi meskipun demikian ia tersembunyi di dalam hati. Selama ia tidak memengaruhi dorongan untuk beramal, maka ia tidak dapat diketahui kecuali melalui tanda-tanda. Tanda yang paling jelas adalah merasa senang ketika manusia mengetahui ketaatannya. Betapa banyak hamba yang ikhlas dalam beramal dan tidak berniat riya, bahkan ia membenci dan menolaknya serta menyempurnakan amal tersebut dalam keadaan demikian, namun ketika manusia mengetahuinya, timbul rasa gembira dan tenang dalam hatinya, sehingga hal itu meredakan kepayahan ibadah dari hatinya. Rasa gembira ini menunjukkan adanya riya samar dalam dirinya yang merembeskan rasa gembira tersebut. Seandainya hati tidak berpaling kepada manusia, niscaya rasa gembira itu tidak akan muncul saat manusia mengetahuinya. Sungguh, riya tersebut sebelumnya tersembunyi di dalam hati sebagaimana tersembunyinya api di dalam batu, lalu ketahuan makhluk memunculkan bekas kegembiraan dan kesenangan itu. Kemudian jika ia merasakan kenikmatan rasa gembira karena diketahui orang lain dan tidak menyikapinya dengan kebencian, maka hal itu menjadi asupan dan makanan bagi benih samar riya tersebut hingga ia bergerak secara halus dalam dirinya. Lalu ia secara samar menuntut dirinya untuk mengupayakan sarana agar ketaatannya diketahui melalui isyarat (ta'ridh) dan pembicaraan sepintas, meskipun tidak sampai mendorongnya untuk berterus terang (tashrih). Dan kadang-kadang ia lebih samar lagi sehingga tidak mendorong penampakan melalui ucapan, baik secara isyarat maupun terus terang, melainkan melalui perawakan dan sikap tubuh (syama'il), seperti menampakkan tubuh yang kurus, wajah pucat, suara lemah, bibir kering, ludah mengering, bekas air mata, dan rasa kantuk yang berat yang menunjukkan lamanya tahajud. Dan yang lebih samar dari semua itu adalah riya yang tersembunyi sedemikian rupa sehingga seseorang tidak ingin amalnya diketahui dan tidak gembira dengan tampaknya ketaatannya, tetapi meskipun demikian, ketika ia melihat orang-orang, ia menyukai agar mereka mendahuluinya dalam memberi salam, menyambutnya dengan wajah berseri-seri dan penghormatan, serta memujinya…

وَأَنْ يَنْشَطُوا فِي قَضَاءِ حَوَائِجِهِ وَأَنْ يُسَامِحُوهُ فِي الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَأَنْ يُوَسِّعُوا لَهُ فِي الْمَكَانِ فَإِنْ قَصَّرَ فِيهِ مُقَصِّرٌ ثَقُلَ ذَلِكَ عَلَى قَلْبِهِ وَوَجَدَ لِذَلِكَ اسْتِبْعَادًا فِي نَفْسِهِ كَأَنَّهُ يَتَقَاضَى الِاحْتِرَامَ مَعَ الطَّاعَةِ الَّتِي أَخْفَاهَا مع أنه لم يطلع عليه ولو لم يكن قد سبق منه تلك الطاعة لما كان يستبعد تقصير الناس في حقه وَمَهْمَا لَمْ يَكُنْ وُجُودُ الْعِبَادَةِ كَعَدَمِهَا فِي كل ما يتعلق بالخلق لم يكن قد قنع بعلم الله ولم يَكُنْ خَالِيًا عَنْ شَوْبٍ خَفِيٍّ مِنَ الرِّيَاءِ أخفى من دبيب النمل // حديث في الرياء شوائب أخفى من دبيب النمل أخرجه أحمد والطبراني من حديث أبي موسى الأشعري اتقوا هذا الشرك فإنه أخفى من دبيب النمل ورواه ابن حبان في الضعفاء من حديث أبي بكر الصديق وضعفه هو والدارقطني

…dan agar mereka bersemangat dalam menunaikan kebutuhan-kebutuhannya, memberi kemudahan baginya dalam jual beli, serta melapangkan tempat baginya. Jika ada seseorang yang lalai dalam melakukan hal itu, terasa beratlah hal tersebut bagi hatinya dan ia merasa heran serta kecewa dalam dirinya, seakan-akan ia menuntut penghormatan atas ketaatan yang telah disembunyikannya, padahal ketaatan itu tidak diketahui orang tersebut. Seandainya ketaatan itu tidak pernah dilakukannya sebelumnya, niscaya ia tidak akan menganggap aneh kelalaian manusia terhadap haknya. Selama keberadaan ibadah tidak sama seperti ketiadaannya dalam segala hal yang berkaitan dengan makhluk, maka ia belum merasa cukup dengan pengetahuan Allah dan belum bebas dari noda samar riya yang lebih samar daripada langkah kaki semut. // Hadis tentang riya yang memiliki noda-noda lebih samar daripada langkah kaki semut: Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani dari hadis Abu Musa Al-Asy'ari: "Waspadalah kalian terhadap syirik ini, karena sesungguhnya ia lebih samar daripada langkah kaki semut." Dan diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam adh-Dhu'afa' dari hadis Abu Bakr Ash-Shiddiq, dan ia (Ibn Hibban) serta Ad-Daraquthni memvonisnya dha'if.

وَكُلُّ ذَلِكَ يُوشِكُ أَنْ يُحْبِطَ الْأَجْرَ وَلَا يسلم منه إلا الصديقون

Dan semua hal itu berpotensi menggugurkan pahala, dan tidak ada yang selamat darinya melainkan para shiddiqin (orang-orang yang benar-benar jujur dalam keimanannya).

وقد روي عن علي كرم الله وجهه أنه قال إن الله ﷿ يقول للقراء يوم القيامة ألم يكن يرخص عليكم السعر ألم تكونوا تبتدءون بالسلام ألم تكونوا تقضى لكم الحوائج

Sungguh telah diriwayatkan dari 'Ali Karramallahu Wajhah bahwasanya beliau berkata: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman kepada para ahli Al-Qur'an (al-qurra') pada hari kiamat: 'Bukankah harga barang pernah dimurahkan untukmu? Bukankah kamu pernah didahului dalam ucapan salam? Bukankah kebutuhan-kebutuhanmu pernah dipenuhi?'"

وفي الحديث لا أجر لكم قد استوفيتم أجوركم وقال عبد الله بن المبارك

Dan dalam hadis disebutkan: "Tidak ada pahala bagi kalian, kalian telah menerima pahala kalian secara sempurna." Dan Abdullah ibn al-Mubarak berkata:

روي عن وهب بن منبه أنه قال إن رجلاً من السواح قال لأصحابه إنا إنما فارقنا الأموال والأولاد مخافة الطغيان فنخاف أن نكون قد دخل علينا في أمرنا هذا من الطغيان أكثر مما دخل على أهل الأموال في أموالهم إن أحدنا إذا لقي أحب أن يعظم لمكان دينه وإن سأل حاجة أحب أن تقضى له لمكان دينه وإن اشترى شيئا أحب أن يرخص عليه لمكان دينه فبلغ ذلك ملكهم فركب في موكب من الناس فإذا السهل والجبل قد امتلأ بالناس فقال السائح ما هذا قيل هذا الملك قد أظللك فقال للغلام ائتي بطعام فأتاه ببقل وزيت وقلوب الشجر فجعل يحشو شدقه ويأكل أكلاً عنيفاً فقال الملك أين صاحبكم فقالوا هذا قال كيف أنت قال كالناس وفي حديث آخر بخير فقال الملك ما عند هذا من خير فانصرف عنه فقال السائح الحمد لله الذي صرفك عني وأنت لي ذام فلم يَزَلِ الْمُخْلِصُونَ خَائِفِينَ مِنَ الرِّيَاءِ الْخَفِيِّ يَجْتَهِدُونَ لذلك في مخادعة الناس عن أعمالهم الصالحة يحرصون على إِخْفَائِهَا أَعْظَمَ مِمَّا يَحْرِصُ النَّاسُ عَلَى إِخْفَاءِ فَوَاحِشِهِمْ كُلُّ ذَلِكَ رَجَاءَ أَنْ تَخْلُصَ أَعْمَالُهُمُ الصالحة فيجازيهم الله في القيامة بإخلاصهم على ملأ من الخلق إِذْ عَلِمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ فِي الْقِيَامَةِ إِلَّا الْخَالِصَ وَعَلِمُوا شِدَّةَ حَاجَتِهِمْ وَفَاقَتِهِمْ فِي الْقِيَامَةِ وَأَنَّهُ يَوْمٌ لَا يَنْفَعُ فِيهِ مَالٌ وَلَا بَنُونَ وَلَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ ولده ويشتغل الصديقون بأنفسهم فيقول كل واحد

Diriwayatkan dari Wahb ibn Munabbih bahwasanya beliau berkata: Ada seorang laki-laki dari kalangan ahli kelana (pengembara ibadah) berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Sesungguhnya kita berpisah dari harta dan anak-anak hanyalah karena takut akan kesombongan (ketiadaan batas). Maka kita khawatir justru telah masuk ke dalam urusan kita ini bentuk kesombongan yang lebih besar daripada yang masuk pada pemilik harta dalam harta mereka. Sesungguhnya jika salah seorang dari kita bertemu seseorang, ia senang diagungkan karena kedudukan agamanya; jika ia meminta suatu kebutuhan, ia senang jika dipenuhi karena kedudukan agamanya; dan jika ia membeli sesuatu, ia senang dimurahkan harganya karena kedudukan agamanya." Maka hal itu terdengar oleh raja mereka, lalu sang raja naik berkuda dalam rombongan besar manusia hingga lembah dan gunung dipenuhi oleh manusia. Pengembara itu bertanya, "Apa ini?" Dijawab, "Ini adalah raja yang telah mendatangi tempatmu." Maka pengembara itu berkata kepada pembantunya, "Bawakan makanan!" Lalu pembantunya membawakan sayur-sayuran, minyak, dan pucuk-pucuk pohon. Pengembara itu pun mulai memasukkan makanan ke mulutnya dan makan dengan cara yang sangat gelojoh. Raja berkata, "Di mana sahabat kalian (sang ahli ibadah)?" Mereka menjawab, "Ini dia." Raja bertanya kepada pengembara itu, "Bagaimana keadaanmu?" Ia menjawab, "Seperti manusia pada umumnya" —dalam hadis lain: "Baik-baik saja"—. Maka raja berkata, "Orang ini tidak memiliki kebaikan sama sekali," lalu raja berlalu darinya. Pengembara itu berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memalingkanmu dariku dalam keadaan engkau mencelaku." Oleh karena itu, orang-orang yang ikhlas senantiasa takut terhadap riya yang samar. Mereka berusaha keras untuk menyembunyikan amal-amal shaleh mereka dari pandangan manusia, menjaga kerahasiaannya lebih besar daripada kegigihan manusia dalam menyembunyikan kejahatan-kejahatan mereka. Semua itu demi mengharapkan agar amal-amal shaleh mereka murni ikhlas sehingga Allah membalas mereka pada hari kiamat atas keikhlasan mereka di hadapan seluruh khalayak makhluk. Sebab mereka mengetahui bahwa Allah tidak menerima pada hari kiamat kecuali yang murni (ikhlas), dan mereka menyadari betapa sangatnya kebutuhan serta ketiadaan daya mereka pada hari kiamat, yaitu hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, dan tidak ada seorang ayah pun yang dapat membela anaknya. Pada hari itu para shiddiqin disibukkan oleh diri mereka sendiri, sehingga masing-masing berkata:

نفسي نفسي فضلاً عن غيرهم فكانوا كزوار بيت الله إذا توجهوا إلى مكة فإنهم يستصحبون مع أنفسهم الذهب المغربي الخالص لعلمهم أن أرباب البوادي لا يروج عندهم الزائف والبهرج والحاجة تشتد في البادية ولا وطن يفزع إليه ولا حميم يتمسك به فلا ينجي إلى الخالص من النقد فكذا يشاهد أرباب القلوب يوم القيامة والزاد الذي يتزودونه له من التقوى

"Diriku, diriku!" jangankan memikirkan orang lain. Maka mereka bagaikan para peziarah Baitullah ketika menuju Makkah, mereka membawa serta emas Maghribi yang murni karena mereka mengetahui bahwa para penghuni padang pasir tidak menerima uang palsu dan sepuhan (tiruan). Padahal kebutuhan sangat mendesak di padang pasir, tidak ada tanah air tempat berlindung dan tidak ada kerabat tempat berpegang, sehingga tidak ada yang menyelamatkan kecuali mata uang yang murni. Demikian pulalah yang disaksikan oleh para pemilik hati (arbab al-qulub) tentang hari kiamat dan bekal takwa yang mereka persiapkan untuknya.

فَإِذَنْ شَوَائِبُ الرِّيَاءِ الْخَفِيِّ كَثِيرَةٌ لَا تَنْحَصِرُ وَمَهْمَا أَدْرَكَ مِنْ نَفْسِهِ تَفْرِقَةً بَيْنَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَى عِبَادَتِهِ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ فَفِيهِ شعبة من الرياء فإنه لما قطع طعمه عن البهائم لم يبال حضره البهائم أو الصبيان الرضع أم غابوا اطلعوا على حركته أم لم يطلعوا فلو كان مخلصاً قانعاً بعلم الله لاستحقر عقلاء العباد كما استحقر صبيانهم ومجانينهم وعلم أن العقلاء لا يقدرون له عَلَى رِزْقٍ وَلَا أَجَلٍ وَلَا زِيَادَةِ ثَوَابٍ ونقصان عقاب كما لا يقدر عليه البهائم والصبيان والمجانين فإذا لم يجد ذلك ففيه شوب خفي ولكن ليس كل شوب محبطاً للأجر مفسداً للعمل بل فيه تفضيل

Dengan demikian, noda-noda riya samar sangat banyak dan tidak terhitung. Setiap kali seseorang mendapati dalam dirinya perbedaan perasaan antara ketaatannya diketahui oleh manusia atau oleh hewan, maka di dalam dirinya terdapat salah satu cabang riya. Sebab, ketika ia memutuskan harapannya dari hewan, ia tidak peduli apakah hewan atau bayi menyaksikannya atau tidak, mengetahui gerak-geriknya atau tidak. Seandainya ia seorang yang ikhlas dan cukup dengan pengetahuan Allah, niscaya ia akan memandang rendah (tidak menggantungkan harapan pada) orang-orang berakal sebagaimana ia tidak mempedulikan anak-anak kecil dan orang gila di antara mereka. Ia mengetahui bahwa orang-orang berakal tidak mampu memberinya rezeki, tidak memajukan atau menunda ajalnya, serta tidak bisa menambah pahala atau mengurangi hukumannya, sebagaimana hewan, anak-anak kecil, dan orang gila pun tidak mempunyai kuasa atas hal itu. Apabila ia tidak menemukan sikap demikian pada dirinya, maka dalam dirinya terdapat noda samar (riya). Akan tetapi, tidak semua noda riya itu membatalkan pahala dan merusak amal, melainkan di dalamnya terdapat rincian.

فَإِنْ قُلْتَ فَمَا نَرَى أَحَدًا يَنْفَكُّ عَنِ السُّرُورِ إِذَا عُرِفَتْ طَاعَاتُهُ فَالسُّرُورُ مَذْمُومٌ كُلُّهُ أو بعضه محمود وبعضه مذموم فنقول

Jika engkau bertanya: "Kami melihat tidak ada seorang pun yang terbebas dari rasa gembira apabila ketaatannya diketahui orang lain, apakah rasa gembira itu tercela seluruhnya, ataukah sebagian tercela dan sebagian lagi terpuji?" Maka kami katakan:

أولاً كل سرور فليس بمذموم بل السرور منقسم إلى محمود وإلى مذموم

Pertama, tidak setiap kegembiraan itu tercela, melainkan kegembiraan itu terbagi menjadi kegembiraan yang terpuji dan kegembiraan yang tercela.

فأما المحمود فأربعة أقسام

Adapun kegembiraan yang terpuji terbagi menjadi empat bagian:

الأول أَنْ يَكُونَ قَصْدُهُ إِخْفَاءَ الطَّاعَةِ وَالْإِخْلَاصَ لِلَّهِ وَلَكِنْ لَمَّا اطَّلَعَ عَلَيْهِ

Bagian pertama: Bahwasanya niat awalnya adalah menyembunyikan ketaatan dan ikhlas karena Allah, namun ketika makhluk mengetahuinya…

الْخَلْقُ عَلِمَ أَنَّ اللَّهَ أَطْلَعَهُمْ وَأَظْهَرَ الْجَمِيلَ مِنْ أَحْوَالِهِ فَيَسْتَدِلُّ بِهِ عَلَى حُسْنِ صُنْعِ الله به ونظره إليه وإلطافه به فإنه يستر الطاعة والمعصية ثم الله يستر عليه المعصية ويظهر الطاعة ولا لُطْفَ أَعْظَمُ مِنْ سَتْرِ الْقَبِيحِ وَإِظْهَارِ الْجَمِيلِ فَيَكُونُ فَرَحُهُ بِجَمِيلِ نَظَرِ اللَّهِ لَهُ لَا بِحَمْدِ النَّاسِ وَقِيَامِ الْمَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِهِمْ وَقَدْ قَالَ تَعَالَى ﴿قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فليفرحوا﴾ فكأنه ظهر له أنه عند الله مقبول ففرح به

…ia mengetahui bahwa Allahlah yang membuat mereka tahu dan menampakkan kebaikan dari keadaannya. Maka ia menjadikannya sebagai petunjuk atas indahnya perlakuan Allah kepadanya, perhatian-Nya, dan kelembutan-Nya (luthf). Sebab ia menyembunyikan ketaatan maupun kemaksiatannya, lalu Allah menutupi kemaksiatannya dan menampakkan ketaatannya; padahal tidak ada kelembutan yang lebih besar daripada menutupi keburukan dan menampakkan kebaikan. Maka kegembiraannya adalah karena indahnya perhatian Allah kepadanya, bukan karena pujian manusia atau kedudukan di hati mereka. Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah: 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira'" (QS. Yunus: 58). Maka seolah-olah tampak baginya bahwa ia diterima di sisi Allah, lalu ia pun bergembira karenanya.

الثاني أن يستدل بإظهار الله الجميل وستره القبيح عليه في الدنيا أنه كذلك يفعل في الآخرة إذ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ما ستر الله على عبد ذنباً في الدنيا إلا ستره عليه في الآخرة حديث قال لرجل قال صمت الدهر قال ما صمت ولا أفطرت أخرجه مسلم من حديث أبي قتادة قال عمر يا رسول الله كيف بمن يصوم الدهر قال لا صام ولا أفطر وللطبراني من حديث أسماء بنت يزيد في أثناء حديث فيه فقال رجل إني صائم قال بعض القوم إنه لا يفطر إنه يصوم كل يوم قال النبي ﷺ لا صام ولا أفطر من صام الأبد ولم أجده بلفظ الخطاب

Bagian kedua: Ia menjadikan penampakan kebaikan dan penutupan keburukan oleh Allah atas dirinya di dunia sebagai petunjuk bahwa Allah juga akan berbuat demikian di akhirat, karena Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah Allah menutupi dosa seorang hamba di dunia melainkan Allah akan menutupinya di akhirat." // Hadis: Beliau bersabda kepada seseorang yang berkata "Aku berpuasa sepanjang masa (shaum ad-dahr)", beliau bersabda: "Ia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka." Diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Abu Qatadah, Umar berkata: "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang berpuasa sepanjang masa?" Beliau bersabda: "Ia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka." Dan bagi Ath-Thabrani dari hadis Asma' binti Yazid di sela-sela hadis yang di dalamnya: Maka seorang laki-laki berkata: "Sesungguhnya aku berpuasa." Sebagian kaum berkata: "Sesungguhnya ia tidak pernah berbuka, ia berpuasa setiap hari." Nabi ﷺ bersabda: "Ia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka, barangsiapa berpuasa selamanya." Dan aku tidak mendapatkannya dengan lafaz khithab (kalimat sapaan langsung).

فقال بعضهم إنما قال ذلك لأنه أظهره وقيل هو إشارة إلى كراهة صوم الدهر

Maka sebagian ulama berkata: Sesungguhnya beliau bersabda demikian karena orang tersebut menampakkannya (menceritakannya). Dan dikatakan pula: Hal itu merupakan isyarat atas karahiyah (makruhnya) puasa sepanjang masa.

وكيفما كان فيحتمل أن يكون ذلك من رسول الله ﷺ ومن ابن مسعود استدلالاً على أن قلبه عند العبادة لم يخل عن عقد الرياء وقصده له لما أن ظهر منه التحدث به إذ يبعد أن يكون ما يطرأ بعد العمل مبطلاً لثواب العمل بل الأقيس أن يقال إنه مثاب على عمله الذي مضى ومعاقب على مراءاته بطاعة الله بعد الفراغ منها

Bagaimanapun keadaannya, ada kemungkinan bahwa hal tersebut berasal dari Rasulullah ﷺ dan dari Ibn Mas'ud sebagai petunjuk bahwa hatinya ketika beribadah tidak sepi dari ikatan riya dan tujuannya kepadanya saat terbukti darinya menceritakannya. Sebab sangat jauh kemungkinan bahwa apa yang timbul setelah selesainya amal dapat membatalkan pahala amal tersebut; melainkan yang lebih sesuai kias adalah dikatakan bahwa ia diberi pahala atas amalnya yang telah lalu, dan dihukum atas perbuatan riyanya dengan ketaatan kepada Allah setelah selesai dari ketaatan tersebut.

بخلاف ما لو تغير عقده إلى الرياء قبل الفراغ من الصلاة فإن ذلك قد يبطل الصلاة ويحبط العمل

Berbeda halnya jika niat (ikatan hatinya) berubah menjadi riya sebelum selesai dari shalat, karena hal tersebut dapat membatalkan shalat dan menggugurkan amal.

وَأَمَّا إِذَا وَرَدَ وَارِدُ الرِّيَاءِ قَبْلَ الْفَرَاغِ من الصلاة مثلاً وكان قد عقد على الإخلاص ولكن ورد في أثنائها وارد الرياء فلا يخلو إما أن يكون مجرد سرور لا يؤثر في العمل وإما ان يكون رياء باعثاً على العمل فإن كان بَاعِثًا عَلَى الْعَمَلِ وَخَتَمَ الْعِبَادَةَ بِهِ حَبِطَ أجره

Adapun apabila bisikan riya' itu datang sebelum selesainya shalat misalnya—padahal ia telah meniatkan shalatnya atas dasar ikhlas, namun di tengah-tengah shalat timbul bisikan riya'—maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi itu hanya sebatas kesenangan yang tidak mempengaruhi amalan, atau bisa jadi riya' tersebut menjadi pendorong (pembangkit) amalan. Jika riya' itu menjadi pendorong amalan dan ia mengakhiri ibadahnya dengannya, maka gugurlah pahalanya.

ومثاله أن يكون في تطوع فتجددت له نظارة أو حضر ملك من الملوك وهو يشتهي أن ينظر إليه أو يذكر شيئاً نسيه من ماله وهو يريد أن يطلبه ولولا الناس لقطع الصلاة فاستتمها خوفاً من مذمة الناس فقد حبط أجره وعليه الإعادة إن كان في فريضة وقد قال ﷺ العمل كالوعاء إذا طاب آخره طاب أوله حديث من راءى بعمله ساعة حبط عمله الذي كان قبله لم أجده بهذا اللفظ وللشيخين من حديث جندب من سمع سمع الله به ومن راءى راءى الله به ورواه مسلم من حديث ابن عباس

Contohnya, seseorang sedang melaksanakan shalat sunnah, lalu tiba-tiba ada penonton yang baru datang, atau hadir seorang raja dari para raja dan ia berkeinginan agar raja itu melihatnya, atau ia teringat sesuatu dari hartanya yang terlupa dan ingin mencarinya, yang seandainya bukan karena keberadaan orang-orang niscaya ia telah membatalkan shalatnya; lalu ia menyempurnakannya semata-mata karena takut akan celaan manusia, maka pahalanya telah gugur dan ia wajib mengulanginya jika shalat tersebut adalah shalat fardhu. Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Amalan itu bagaikan bejana, jika baik bagian akhirnya maka baik pula bagian awalnya." (Hadis: "Barangsiapa pamer dengan amalannya sesaat, gugurlah amalnya yang sebelumnya," aku tidak menemukannya dengan lafaz ini. Namun diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadis Jundub: "Barangsiapa mencari ketenaran, maka Allah akan membeberkan aibnya, dan barangsiapa berbuat riya', maka Allah akan memperlihatkan keburukannya," dan Muslim meriwayatkannya pula dari hadis Ibn 'Abbas).

وهذا منزل على الصلاة في هذه الصورة لا على الصدقة ولا على القراءة فإن كل جزء من ذلك مفرد فما يطرأ يفسد الباقي دون الماضي والصوم والحج من قبيل الصلاة

Hal ini diberlakukan pada shalat dalam gambaran kasus seperti ini, bukan pada sedekah dan pembacaan Al-Qur'an (qira'ah); sebab setiap bagian dari sedekah atau qira'ah berdiri sendiri, sehingga apa yang timbul kemudian hanya merusak bagian yang tersisa tanpa merusak bagian yang telah berlalu. Adapun puasa dan haji, kedudukannya sama seperti shalat.

وأما إذا كان وراد الرياء بحيث لا يمنعه من قصد الإتمام لأجل الثواب كما لو حضر جماعة في أثناء الصلاة ففرح بحضورهم وعقد الرياء وقصد تحسين الصلاة لأجل نظرهم وكان لولا حضورهم لكان يتمها أيضاً فهذا رياء قد أثر في العمل وانتهض باعثاً على الحركات فإن غلب حتى انمحق معه الإحساس بقصد العبادة والثواب وصار قصد العبادة مغموراً فهذا أيضاً ينبغي أن يفسد العبادة مهما مضى ركن من أركانها على هذا الوجه لأنا نكتفي بالنية السابقة عند الإحرام بشرط أن لا يطرأ عليها ما يغلبها ويغمرها ويحتمل أن يقال لا يفسد العبادة نظراً إلى حالة العقد وإلى بقاء قصد أصل الثواب وإن ضعف بهجوم قصد هو أغلب منه

Adapun jika bisikan riya' itu sekadar timbul tanpa mencegahnya dari niat menyempurnakan shalat demi mengharapkan pahala—seperti apabila sekelompok orang hadir di tengah-tengah shalatnya lalu ia merasa senang dengan kehadiran mereka, berniat riya', dan bermaksud memperindah shalatnya agar dilihat oleh mereka, padahal seandainya mereka tidak hadir pun ia tetap akan menyempurnakannya—maka ini adalah riya' yang telah mempengaruhi amalan dan menjadi pendorong bagi gerakan-gerakan shalat. Jika riya' ini mendominasi hingga menghapuskan kesadaran akan maksud ibadah dan pahala, sehingga maksud ibadah menjadi tenggelam, maka keadaan ini pun seyogianya merusak ibadah selama ada satu rukun dari rukun-rukunnya yang berlalu dalam kondisi demikian. Sebab, kita hanya mencukupkan dengan niat terdahulu saat ihram (takbiratul ihram) dengan syarat tidak timbul hal yang mengalahkan dan menenggelamkannya. Namun, ada kemungkinan pula untuk dikatakan bahwa hal itu tidak merusak ibadah, dengan mempertimbangkan keadaan saat niat awal digoreskan serta masih tersisanya maksud mencari pahala dasar, meskipun melemah akibat gempuran maksud lain yang lebih dominan.

ولقد ذهب الحارث المحاسبي رحمه الله تعالى إلى الإحباط في أمر هو أهون من هذا وقال إذا لم يرد إلا مجرد السرور باطلاع الناس يعني سروراً هو كحب المنزلة والجاه قال قد اختلف الناس في هذا فصارت فرقة إلى أنه محبط لأنه نقض العزم الأول وركن إلى حمد المخلوقين ولم يختم عمله بالإخلاص وإنما يتم العمل بخاتمته ثم قال ولا أقطع عليه بالحبط وإن لم يتزيد في العمل ولا آمن عليه وقد كنت أقف فيه لاختلاف الناس والأغلب على قلبي أنه يحبط إذا ختم عمله بالرياء ثم قال فإن قيل قد قال الحسن رحمه الله تعالى إنهما حالتان فإذا كانت الأولى لم تضره الثانية

Sungguh, Al-Harits Al-Muhasibi رحمة الله تعالى berpendapat bahwa amalan bisa gugur (habith) dalam perkara yang lebih ringan dari ini. Beliau berkata: Jika seseorang tidak menginginkan kecuali sebatas rasa senang atas terlihatnya amalan oleh manusia—yaitu kesenangan berupa kecintaan terhadap kedudukan dan kehormatan—maka para ulama telah berselisih pendapat mengenai hal ini. Satu kelompok berpendapat bahwa hal itu menggugurkan pahala, karena telah merusak azam (tekad) yang pertama, bersandar pada pujian makhluk, dan tidak mengakhiri amalnya dengan keikhlasan; padahal amalan itu disempurnakan oleh penutupnya. Kemudian beliau berkata: Saya tidak memastikan gugurnya pahala jika ia tidak menambah-nambah dalam amalannya, namun saya juga tidak menjamin keselamatannya. Dulu saya bersikap ragu-ragu (tawaqquf) dalam hal ini karena perselisihan pendapat para ulama, namun yang paling kuat dalam hatiku adalah bahwa amalan itu gugur jika ia mengakhiri amalannya dengan riya'. Lalu beliau berkata: Jika ada yang bertanya, "Bukankah Al-Hasan (Al-Bashri) رحمة الله تعالى pernah berkata bahwa itu adalah dua keadaan yang berbeda, maka jika keadaan pertama ikhlas, keadaan kedua tidak memudaratkannya?"

وقد روي أن رجلاً قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ يا رسول الله أسر العمل لا أحب أن يطلع عليه فيطلع عليه فيسرني قال لك أجران أجر السر وأجر العلانية // حديث أن رجلا قال أسر العمل لا أحب أن يطلع عليه فيطلع عليه فيسرني فقال لك أجران الحديث أخرجه البيهقي في شعب الإيمان من رواية ذكوان عن ابن مسعود ورواه الترمذي وابن حبان من رواية ذكوان عن أبي هريرة الرجل يعمل العمل فيسره فإذا اطلع عليه أعجبه قال له أجر السر والعلانية قال الترمذي غريب وقال إنه روي عن أبي صالح وهو ذكر أنه مرسل

Sungguh telah diriwayatkan bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah ﷺ: "Wahai Rasulullah, saya merahasiakan suatu amalan dan tidak suka jika ada orang yang mengetahuinya, namun kemudian ada yang mengetahuinya sehingga membuat saya senang." Beliau bersabda: "Bagimu dua pahala: pahala kerahasiaan dan pahala keterangan." (Hadis: Bahwa seseorang berkata, "Aku merahasiakan amalan…", dikeluarkan oleh Al-Baihaki dalam Syu'abul Iman dari riwayat Dzakwan dari Ibn Mas'ud; dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi serta Ibn Hibban dari riwayat Dzakwan dari Abu Hurairah: "Seseorang melakukan suatu amalan secara rahasia, lalu ketika diketahui orang lain ia merasa senang…" Beliau bersabda: "Bagi orang itu pahala kerahasiaan dan keterangan." At-Tirmidzi berkata: "Gharib", dan menyebutkan bahwa riwayat ini juga diriwayatkan dari Abu Shalih secara mursal).

ثم تكلم على الخبر والأثر فقال أما الحسن فإنه أراد بقوله لا يضره أي لا يدع العمل ولا تضره الخطرة وهو يريد الله ولم يقل إذا عقد الرياء بعد عقد الإخلاص لم يضره وأما الحديث فتكلم عليه بكلام طويل يرجع حاصله إلى ثلاثة أوجه

Kemudian beliau (Al-Muhasibi) membahas tentang khabar (hadis) dan atsar tersebut, seraya berkata: Adapun Al-Hasan, sesungguhnya yang beliau maksudkan dengan perkataan "tidak memudaratkannya" adalah hendaklah ia tidak meninggalkan amalan dan lintasan hati itu tidak merugikannya selama ia tetap menginginkan Allah. Beliau tidak mengatakan bahwa jika seseorang berniat riya' setelah berniat ikhlas hal itu tidak memudaratkannya. Adapun mengenai hadis tersebut, beliau membahasnya dengan penjelasan yang panjang yang kesimpulannya bermuara pada tiga sudut pandang.

أحدها أنه يحتمل أنه أراد ظهور عمله بعد الفراغ وليس في الحديث أنه قبل الفراغ

Pertama: Ada kemungkinan bahwa maksudnya adalah tampaknya amalan tersebut setelah selesainya pelaksanaan ibadah, dan tidak ada dalam hadis indikasi bahwa itu terjadi sebelum selesainya ibadah.

الثاني أنه أراد أن يسر به للاقتداء به أو لسرور آخر محمود مما ذكرناه قبل لا سروراً بسبب حب المحمدة والمنزلة بدليل أنه جعل له به أجراً ولا ذاهب من الأمة إلى أن للسرور بالمحمدة أجراً وغايته أن يعفى عنه فكيف يكون للمخلص أجر وللمرائي أجران

Kedua: Bahwa maksudnya adalah merasa senang agar amalan tersebut diteladani, atau karena kegembiraan lain yang terpuji sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya; bukan kesenangan karena mencintai pujian dan kedudukan. Dalilnya adalah bahwasanya Nabi menjanjikan pahala baginya atas hal tersebut, sedangkan tidak ada seorang pun dari umat ini yang berpendapat bahwa merasa senang atas pujian manusia mendapatkan pahala. Batas maksimalnya adalah hal itu dimaafkan, maka bagaimana mungkin orang yang ikhlas mendapat satu pahala sedangkan orang yang riya' mendapat dua pahala?

والثالث أنه قال أكثر من يروي الحديث يرويه غير متصل إلى أبي هريرة بل أكثرهم يوقفه على أبي صالح ومنهم من يرفعه فالحكم

Ketiga: Beliau berkata bahwa sebagian besar perawi yang meriwayatkan hadis ini meriwayatkannya secara tidak bersambung (sanadnya) sampai kepada Abu Hurairah, bahkan mayoritas dari mereka menghentikannya (mewakafkannya) pada Abu Shalih, dan sebagian lain memarfukkannya. Maka hukum…

بالعمومات الواردة في الرياء أولى

…berpegang pada dalil-dalil umum yang datang mengenai larangan riya' adalah lebih utama.

هذا ما ذكره ولم يقطع به بل أظهر ميلاً إلى الإحباط

Inilah apa yang beliau sebutkan dan beliau tidak memastikannya secara mutlak, melainkan lebih menunjukkan kecenderungan pada gugurnya pahala (ihbath).

والأقيس عندنا أن هذا القدر إذا لم يظهر أثره في العمل بل بقي العمل صادراً عن باعث الدين وإنما انضاف إليه السرور بالاطلاع فلا يفسد العمل لأنه لم ينعدم به أصل نيته وبقيت تلك النية باعثة على العمل وحاملة على الإتمام

Namun yang lebih sesuai dengan qiyas menurut kami adalah bahwa kadar seperti ini, apabila tidak tampak pengaruhnya dalam bentuk perbuatan fisik amalan melainkan amalan tersebut tetap terbit dari dorongan agama dan hanya saja tertambah oleh rasa senang atas terlihatnya amalan, maka tidaklah merusak amalan. Hal itu karena dasar niatnya tidak lenyap dengannya, dan niat tersebut tetap menjadi pendorong untuk beramal serta pendorong untuk menyempurnakannya.

وأما الأخبار التي وردت في الرياء فهي محمولة على ما إذا لم يرد به إلا الخلق وأما ما ورد في الشركة فهو محمول على ما إذا كان قصد الرياء مساوياً لقصد الثواب أو أغلب منه أما إذا كان ضعيفاً بالإضافة إليه فلا يحبط بالكلية ثواب الصدقة وسائر الأعمال ولا ينبغي أن يفسد الصلاة ولا يبعد أن يقال إن الذي أوجب عليه صلاة خالصة لِوَجْهِ اللَّهِ وَالْخَالِصُ مَا لَا يَشُوبُهُ شَيْءٌ فَلَا يَكُونُ مُؤَدِّيًا لِلْوَاجِبِ مَعَ هَذَا الشَّوْبِ والعلم عند الله فيه

Adapun riwayat-riwayat yang datang mengenai pencelaan riya', maka hal itu dipahami apabila seseorang tidak menginginkan dengan amalannya kecuali hanya makhluk. Sementara riwayat yang datang tentang syirk (perserikatan niat), dipahami apabila maksud riya' itu setara dengan maksud mencari pahala atau lebih dominan darinya. Namun jika maksud riya' itu lemah dibandingkan niat pahala, maka tidaklah menggugurkan pahala sedekah dan amalan-amalan lainnya secara keseluruhan, serta tidak seyogianya merusak shalat. Walaupun demikian, tidaklah jauh untuk dikatakan bahwa Zat yang mewajibkan atasnya shalat yang murni demi wajah Allah—dan yang murni itu adalah apa yang tidak tercampur oleh sesuatu pun—menyebabkan ia belum menunaikan kewajiban jika terdapat campuran ini. Dan ilmu tentang hal itu ada pada Allah.

وقد ذكرنا في كتاب الإخلاص كلاماً أوفى مما أوردناه الآن فليرجع إليه فهذا حكم الرياء الطارئ بعد عقد العبادة إما قبل الفراغ أو بعد الفراغ

Kami telah menyebutkan dalam Kitab Al-Ikhlas penjelasan yang lebih sempurna dari apa yang kami paparkan sekarang, maka hendaknya dirujuk ke sana. Inilah hukum riya' yang datang menyusul setelah niat ibadah diikat, baik sebelum selesainya ibadah maupun setelah selesainya.

القسم الثالث الذي يقارن حال العقد بأن يَبْتَدِئُ الصَّلَاةَ عَلَى قَصْدِ الرِّيَاءِ فَإِنِ اسْتَمَرَّ عليه سَلَّمَ فَلَا خِلَافَ فِي أَنَّهُ يَقْضِي وَلَا يُعْتَدُّ بِصَلَاتِهِ وَإِنْ نَدِمَ عَلَيْهِ فِي أَثْنَاءِ ذلك واستغفر ورجع قبل التمام ففيما يلزمه ثلاثة أوجه

Kategori ketiga: Riya' yang menyertai saat awal niat diikat, yaitu seperti seseorang mengawali shalat dengan maksud riya'. Jika ia terus-menerus dalam riya' tersebut hingga mengucapkan salam, maka tidak ada perselisihan pendapat bahwa ia wajib mengqadha shalatnya dan shalatnya tidak dihitung (tidak sah). Namun jika ia menyesal di tengah-tengah shalat, memohon ampun, dan kembali ikhlas sebelum selesai, maka mengenai apa yang diwajibkan atasnya terdapat tiga pandangan.

قالت فرقة لم تنعقد صلاته مع قصد الرياء فليستأنف

Satu kelompok berpendapat bahwa shalatnya tidak terikat sejak awal bersamaan dengan maksud riya', maka hendaklah ia mengulanginya dari awal.

وقالت فرقة تلزمه إعادة الأفعال كالركوع والسجود وتفسد أفعاله دون تحريمة الصلاة لأن التحريم عقد والرياء خاطر في قلبه لا يخرج التحريم عن كونه عقداً

Kelompok lain berpendapat bahwa ia wajib mengulangi perbuatan-perbuatan shalat seperti rukuk dan sujud; perbuatan-perbuatannya batal, namun takbiratul ihramnya tidak batal. Hal itu karena takbiratul ihram adalah ikatan (aqad), sedangkan riya' adalah lintasan dalam hatinya yang tidak mengeluarkan takbiratul ihram dari kedudukannya sebagai ikatan.

وقالت فرقة لا يلزم إعادة شيء بل يستغفر الله بقلبه ويتم العبادة على الإخلاص والنظر إلى خاتمة العبادة كما لو ابتدأ بالإخلاص وختم بالرياء لكان يفسد عمله

Kelompok lainnya lagi berpendapat bahwa ia tidak wajib mengulangi apa pun, melainkan ia memohon ampun kepada Allah dengan hatinya dan menyempurnakan ibadahnya atas dasar ikhlas. Penilaiannya dipandang dari penutup ibadah, sebagaimana jika ia mengawali dengan ikhlas tetapi mengakhirinya dengan riya', niscaya amalannya menjadi batal.

وشبهوا ذلك بثوب أبيض لطخ بنجاسة عارضة فإذا أزيل العارض عاد إلى الأصل فقالوا إن الصلاة والركوع والسجود لا تكون إلا لله ولو سجد لغير الله لكان كافراً ولكن اقترن به عارض الرياء ثم زال بالندم والتوبة وصار إلى حالة لا يبالي بحمد الناس وذمهم فتصح صلاته

Mereka mengumpamakan hal itu seperti pakaian putih yang terkena noda najis yang datang kemudian; apabila noda yang datang itu dihilangkan, maka pakaian itu kembali ke keadaan aslinya. Mereka berkata: Sesungguhnya shalat, rukuk, dan sujud tidak boleh dilakukan kecuali hanya untuk Allah, dan seandainya ia sujud kepada selain Allah niscaya ia menjadi kafir; akan tetapi hal itu terikat oleh noda riya' yang datang kemudian, lalu lenyap dengan penyesalan dan tobat, sehingga ia kembali ke keadaan di mana ia tidak peduli lagi terhadap pujian manusia maupun celaan mereka, maka shalatnya menjadi sah.

ومذهب الفريقين الآخرين خارج عن قياس الفقه جداً خصوصاً من قال يلزمه إعادة الركوع والسجود دون الافتتاح لأن الركوع والسجود إن لم يصح صارت أفعالاً زائدة في الصلاة فتفسد الصلاة

Pendapat dua kelompok lainnya sangat keluar dari analogi (qiyas) fiqih, khususnya orang yang mengatakan bahwa ia wajib mengulang rukuk dan sujud tanpa mengulang takbiratul ihram (iftitah). Hal ini karena jika rukuk dan sujud tersebut tidak sah, maka keduanya menjadi perbuatan tambahan dalam shalat, sehingga membatalkan shalat tersebut.

وكذلك قول من يقول لو ختم بالإخلاص صح نظراً إلى الآخر فهو أيضاً ضعيف لأن الرياء يقدح في النية وأولى الأوقات بمراعاة أحكام النية حال الافتتاح فالذي يستقيم على قياس الفقه هو أن يقال إن كان باعثه مجرد الرياء في ابتداء العقد دون طلب الثواب وامتثال الأمر لم ينعقد افتتاحه ولم يصح ما بعده وذلك فيمن إذا خلا بنفسه لم يصل ولما رأى الناس تحرم بالصلاة وكان بحيث لو كان ثوبه نجساً أيضاً كان يصلي لأجل الناس فهذه صلاة لا نية فيها إذ النية عبارة عن إجابة باعث الدين وههنا لا باعث ولا إجابة

Demikian pula pendapat orang yang mengatakan bahwa jika ia mengakhirinya dengan keikhlasan maka shalatnya sah karena melihat pada bagian akhir, ini juga pendapat yang lemah. Sebab, riya merusak niat, sedangkan waktu yang paling utama untuk memelihara hukum-hukum niat adalah saat memulainya (takbiratul ihram). Maka, pendapat yang lurus sesuai analogi fiqih adalah dikatakannya: Jika dorongannya semata-mata riya pada awal memulai akad shalat tanpa mencari pahala dan tanpa menjalankan perintah, maka takbiratul ihramnya tidak sah dan perbuatan setelahnya juga tidak sah. Hal itu terjadi pada orang yang apabila sendirian ia tidak shalat, namun ketika melihat orang-orang ia memulai shalat, bahkan sekiranya bajunya najis pun ia tetap shalat demi manusia. Maka ini adalah shalat tanpa niat, karena niat adalah menyambut pendorong agama (bā'its ad-dīn), sedangkan di sini tidak ada pendorong dan tidak ada penyambutan.

فأما إذا كان بحيث لولا الناس أيضاً لكان يصلي إلا أنه ظهر له الرغبة في المحمدة أيضاً فاجتمع الباعثان فهذا إما أن يكون في صدقة وقراءة وما ليس فيه تحليل وتحريم أو في عقد صلاة وحج فإن كان في صدقة فقد عصى بإجابة باعث الرياء وأطاع بإجابة باعث الثواب ﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يعمل مثقال ذرة شراً يره﴾ فله ثواب بقدر قصده الصحيح وعقاب بقدر قصده الفاسد ولا يحبط أحدهما الآخر

Adapun jika keadaannya adalah seandainya tidak ada manusia pun ia tetap akan shalat, hanya saja timbul pula padanya keinginan untuk dipuji sehingga berkumpullah dua pendorong, maka hal ini bisa terjadi pada sedekah, bacaan Al-Qur'an, dan amalan yang tidak ada takbiratul ihram dan salamnya (tahlīl dan tahrīm), atau pada akad shalat dan haji. Jika itu terjadi pada sedekah, maka ia telah bermaksiat karena menyambut pendorong riya, dan ia telah taat karena menyambut pendorong pahala. "Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Az-Zalzalah: 7-8). Maka baginya pahala sesuai kadar maksudnya yang benar, dan dosa sesuai kadar maksudnya yang rusak, dan salah satunya tidak menghapuskan yang lain.

وإن كان في صلاة تقبل الفساد بتطرق خلل إلى النية فلا يخلو إما أن تكون فرضاً أو نفلاً فإن كانت نفلاً فحكمها أيضاً حكم الصدقة فقد عصى من وجه وأطاع من وجه إذ اجتمع في قلبه الباعثان ولا يمكن أن يقال صلاته فاسدة والاقتداء به باطل حتى إن من صلى

Namun jika itu terjadi dalam shalat yang dapat menjadi batal karena masuknya cacat pada niat, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah shalat fardhu atau shalat sunnah (nafilah). Jika berupa shalat sunnah, maka hukumnya juga seperti hukum sedekah; ia telah bermaksiat dari satu sisi dan taat dari sisi yang lain, karena berkumpul dua pendorong di dalam hatinya. Dan tidak mungkin dikatakan shalatnya batal serta bermakmum kepadanya adalah tidak sah, hingga seseorang yang shalat…

التراويح وتبين من قرائن حاله أن يصده الرياء بإظهار حسن القراءة ولولا اجتماع الناس خلفه وخلا في بيت وحده لما صلى لا يصح الاقتداء به فإن المصير إلى هذا بعيد جداً بل يظن بالمسلم أنه يقصد الثواب أيضاً بتطوعه فتصح باعتبار ذلك القصد صلاته ويصح الاقتداء به وإن اقترن به قصد آخر وهو به عاص فأما إذا كان في فرض واجتمع الباعثان وكان كل واحد لا يستقل وإنما يحصل الانبعاث بمجموعهما فهذا لا يسقط الواجب عنه لأن الإيجاب لم ينتهض باعثاً في حقه بمجرده واستقلاله وإن كان كل باعث مستقلاً حتى لو لم يكن باعث الرياء لأدى الفرائض ولو لم يكن باعث الفرض لأنشأ صلاة تطوعاً لأجل الرياء فهذا محل النظر وهو محتمل جداً فيحتمل أن يقال إن الواجب صلاة خالصة لوجه الله ولم يؤد الواجب الخالص ويحتمل أن يقال الواجب امتثال الأمر بباعث مستقل بنفسه وقد وجد فاقتران غيره به لا يمنع سقوط الفرض عنه كما لو صلى في دار مغصوبة فإنه وإن كان عاصياً بإيقاع الصلاة في الدار المغصوبة فإنه مطيع بأصل الصلاة ومسقط للفرض عن نفسه وتعارض الاحتمال في تعارض البواعث في أصل الصلاة أما إذا كان الرياء في المبادرة مثلاً دون أصل الصلاة مثل من بادر إلى الصلاة في أول الوقت لحضور جماعة ولو خلا لأخر إلى وسط الوقت ولولا الفرض لكان لا يبتدئ صلاة لأجل الرياء فهذا مما يقطع بصحة صلاته وسقوط الفرض به لأن باعث أصل الصلاة من حيث إنها صلاة لم يعارضه غيره بل من حيث تعيين الوقت فهذا أبعد من القدح في النية هذا في رياء يكون باعثاً على العمل وحاملاً عليه وأما مجرد السرور باطلاع الناس عليه إذا لم يبلغ أثره إلى حيث يؤثر في العمل فبعيد أن يفسد الصلاة

…Tarawih dan tampak jelas dari petunjuk keadaannya bahwa riya mendorongnya untuk memperlihatkan keindahan bacaan, dan seandainya bukan karena berkumpulnya orang-orang di belakangnya serta jika ia sendirian di rumahnya ia tidak akan shalat, (dikatakan bahwa) tidak sah bermakmum kepadanya. Sungguh, berpegang pada pendapat ini amatlah jauh dari kebenaran. Sebaliknya, seorang muslim harus diprasangkai baik bahwa ia juga menghendaki pahala dengan shalat sunnahnya, maka shalatnya sah berdasarkan maksud tersebut dan sah bermakmum padanya, walaupun disertai oleh maksud lain yang menjadikannya bermaksiat dengannya. Adapun jika itu terjadi pada shalat fardhu dan dua pendorong itu berkumpul, sementara masing-masing pendorong tidak dapat berdiri sendiri melainkan dorongan itu hanya timbul dari gabungan keduanya, maka hal ini tidak menggugurkan kewajiban darinya; karena kewajiban tidak bangkit sebagai pendorong dalam haknya secara mandiri. Namun jika masing-masing pendorong bersifat mandiri—sehingga seandainya pendorong riya tidak ada pun ia tetap menunaikan shalat fardhu, dan seandainya pendorong fardhu tidak ada ia akan melakukan shalat sunnah demi riya—maka inilah tempat yang perlu dicermati dan memiliki dua kemungkinan yang sangat masuk akal: Boleh jadi dikatakan bahwa yang wajib adalah shalat yang murni karena Allah sedangkan ia belum menunaikan kewajiban yang murni tersebut; dan boleh jadi dikatakan bahwa yang wajib adalah menjalankan perintah dengan pendorong yang mandiri dan itu telah ada, sehingga berbarengannya niat lain dengannya tidak menghalangi gugurnya kewajiban, sebagaimana orang yang shalat di rumah hasil ghasab, sebab meskipun ia bermaksiat dengan melakukan shalat di rumah ghasab, ia tetap taat dengan asal shalatnya dan menggugurkan kewajiban dari dirinya. Pertentangan dua kemungkinan ini terjadi pada benturan pendorong dalam asal shalat. Adapun jika riya terjadi pada hal seperti menyegerakan shalat, bukan pada asal shalat—seperti orang yang menyegerakan shalat di awal waktu untuk menghadiri jamaah, yang seandainya sendirian ia akan menundanya hingga pertengahan waktu, dan seandainya bukan karena kewajiban ia tidak akan memulai shalat hanya demi riya—maka ini termasuk hal yang dipastikan keabsahan shalatnya dan gugurnya kewajiban dengannya. Sebab pendorong asal shalat ditinjau dari hakikatnya sebagai shalat tidak disaingi oleh yang lain, melainkan hanya dari sisi penentuan waktunya, sehingga hal ini makin jauh untuk merusak niat. Ini adalah mengenai riya yang menjadi pendorong dan penggerak amal. Adapun sekadar rasa senang karena orang lain melihat amalnya, jika pengaruhnya tidak sampai merubah atau mempengaruhi amal, maka amat jauh jika hal itu sampai membatalkan shalat.

فهذا ما نراه لائقاً بقانون الفقه والمسألة غامضة من حيث أن الفقهاء لم يتعرضوا لها في فن الفقه والذين خاضوا فيها وتصرفوا لم يلاحظوا قوانين الفقه ومقتضى فتاوي الفقهاء في صحة الصلاة وفسادها بل حملهم الحرص على تصفية القلوب وطلب الإخلاص على إفساد العبادات بأن الخواطر وما ذكرناه هو الأقصد فيما نراه والعلم عند الله ﷿ فيه وهو عالم الغيب والشهادة وهو الرحمن الرحيم

Inilah apa yang kami pandang sesuai dengan kaidah-kaidah fiqih. Masalah ini memang samar karena para ahli fiqih (fuqaha) tidak membahasnya secara mendalam dalam disiplin ilmu fiqih, sedangkan orang-orang yang menyelami dan menguraikannya tidak memperhatikan kaidah-kaidah fiqih dan konsekuensi fatwa para ahli fiqih mengenai sah dan batalnya shalat. Sebaliknya, dorongan semangat mereka untuk menyucikan hati dan menuntut keikhlasan telah membawa mereka membatalkan ibadah-ibadah hanya karena terlintasnya bisikan-bisikan hati (lintasan pikiran). Apa yang kami sebutkan inilah yang paling moderat menurut pandangan kami. Dan ilmu yang sempurna ada di sisi Allah Azza wa Jalla, Dia Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, dan Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

بَيَانُ دَوَاءِ الرِّيَاءِ وَطَرِيقِ مُعَالَجَةِ الْقَلْبِ فِيهِ

Penjelasan Obat Riya dan Cara Mengobati Hati Padanya

قد عَرَفْتَ مِمَّا سَبَقَ أَنَّ الرِّيَاءَ مُحْبِطٌ لِلْأَعْمَالِ وَسَبَبٌ لِلْمَقْتِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى وَأَنَّهُ مِنْ كَبَائِرِ الْمُهْلِكَاتِ وَمَا هَذَا وَصْفُهُ فَجَدِيرٌ بِالتَّشْمِيرِ عن ساق الجد في إزالته ولو بالمجاهدة وتحمل المشاق فلا شفاء إلا في شرب الأدوية المرة البشعة وهذه مجاهدة يضطر إليها العباد كلهم إذ الصبي يخلق ضعيف العقل والتمييز ممتد العين إلى الخلق كثير الطمع فيهم فيرى الناس يتصنع بعضهم لبعض فيغلب عليه حب التصنع بالضرورة ويرسخ ذلك في نفسه وإنما يشعر بكونه مهلكاً بعد كمال عقله وقد انغرس الرياء في قلبه وترسخ فيه فلا يقدر على قمعه إلا بمجاهدة شديدة ومكابدة لقوة الشهوات

Engkau telah mengetahui dari pembahasan terdahulu bahwa riya itu menghapuskan amal-amal dan menjadi penyebab kemurkaan di sisi Allah Ta'ala, serta merupakan bagian dari dosa-dosa besar yang membinasakan. Sesuatu yang sifatnya demikian sudah sepatutnya disikapi dengan bersungguh-sungguh dan menyingsingkan lengan baju untuk menghilangkannya, meskipun dengan bersusah payah (mujahadah) dan menanggung kesulitan. Sebab tidak ada kesembuhan melainkan dengan meminum obat-obat yang pahit dan tidak menyenangkan. Mujahadah ini merupakan hal yang pasti dibutuhkan oleh seluruh hamba, karena seorang anak kecil terlahir dalam keadaan lemah akal dan pembedaannya (tamyiz), matanya selalu tertuju kepada makhluk, dan sangat berharap kepada mereka. Ia melihat orang-orang saling bersikap dibuat-buat satu sama lain, sehingga secara pasti cintanya pada sikap berpura-pura menjadi dominan dan tertanam kuat dalam jiwanya. Ia baru menyadari bahwa hal itu membinasakan setelah akalnya sempurna, padahal riya telah tertanam dan mengakar di dalam hatinya. Maka ia tidak akan mampu menundukkannya melainkan dengan perjuangan yang keras dan perlawanan berat terhadap kekuatan syahwat.

فلا ينفك أحد عن الحاجة إلى هذه المجاهدة ولكنها تشق أولاً وتخف آخراً وَفِي عِلَاجِهِ مَقَامَانِ

Maka tidak ada seorang pun yang lepas dari kebutuhan akan mujahadah ini; hanya saja ia terasa berat pada mulanya dan menjadi ringan pada akhirnya. Dalam pengobatannya terdapat dua tingkatan (maqam):

أَحَدُهُمَا قَلْعُ عُرُوقِهِ وَأُصُولِهِ الَّتِي مِنْهَا انْشِعَابُهُ

Pertama: Mencabut akar-akar dan pokok-pokoknya yang darinya riya itu bercabang-cabang.

وَالثَّانِي دَفْعُ مَا يَخْطُرُ مِنْهُ فِي الْحَالِ

Kedua: Menolak apa yang terlintas darinya pada saat itu (seketika).

الْمَقَامُ الْأَوَّلُ فِي قَلْعِ عروقه واستئصال أصوله وأصله حب المنزلة والجاه

Tingkatan pertama: Mencabut akar-akarnya dan membasmi pokok-pokoknya. Dan akar utamanya adalah cinta kedudukan dan kehormatan (jah).

وإذا فضل رجع إلى ثلاثة أصول وهي لَذَّةِ الْمَحْمَدَةِ وَالْفِرَارُ مِنْ أَلَمِ الذَّمِّ وَالطَّمَعُ فيما في أيدي الناس

Jika diperinci, hal itu kembali kepada tiga pokok, yaitu: kenikmatan dipuji, lari dari kepedihan celaan, dan ketamakan terhadap apa yang ada di tangan manusia.

ويشهد للرياء بهذه الأسباب وأنها الباعثة للمرائي ما روى أبو موسى أن أعرابياً سأل النبي ﷺ فقال يا رسول الله الرجل يقاتل // حديث أبي موسى أن أعرابياً قال يا رسول الله الرجل يقاتل حمية الحديث متفق عليه

Bukti bahwa riya disebabkan oleh sebab-sebab ini dan bahwasanya hal itu menjadi pendorong bagi orang yang riya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Musa, bahwa seorang Arab Badui bertanya kepada Nabi ﷺ seraya berkata: "Wahai Rasulullah, ada seseorang berperang karena fanatisme…" (Hadits Abu Musa bahwa seorang Arab Badui berkata: "Wahai Rasulullah, ada seseorang berperang karena fanatisme…", hadits ini muttafaqun 'alaih).

حمية ومعناه أنه يأنف أن يقهر أو يذم بأنه مقهور مغلوب وقال والرجل يقاتل ليرى مكانه وهذا هو طلب لذة الجاه والقدر

…karena fanatisme—dan maknanya adalah ia enggan untuk dikalahkan atau dicela bahwa ia dikalahkan. Dan ia berkata: "Dan seseorang berperang agar diperlihatkan kedudukannya"—dan ini adalah pencarian atas kenikmatan kehormatan dan kedudukan…

في القلوب والرجل يقاتل للذكر وهذا هو الحمد باللسان فقال ﷺ من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله وقال ابن مسعود إذا التقى الصفان نزلت الملائكة فكتبوا الناس على مراتبهم فلان يقاتل للذكر وفلان يقاتل للملك والقتال للملك إشارة إلى الطمع في الدنيا

…di dalam hati. "Dan seseorang berperang agar dikenang (disebut-sebut kebaikannya)"—dan ini adalah pujian melalui lisan. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka ia berada di jalan Allah." Dan Ibnu Mas'ud berkata: "Apabila dua barisan pasukan bertemu, para malaikat turun lalu mencatat manusia sesuai tingkatan mereka: si Fulan berperang demi sebutan (kemasyhuran), dan si Fulan berperang demi kekuasaan." Dan berperang demi kekuasaan adalah isyarat kepada ketamakan terhadap dunia.

وقال عمر ﵁ يقولون فلان شهيد ولعله يكون قد ملأ دفتي راحلته ورقاً

Dan Umar ﵁ berkata: "Orang-orang berkata si Fulan mati syahid, padahal bisa jadi ia telah memenuhi kedua sisi kantong pelana untanya dengan perak (harta rampasan perang)."

وقال ﷺ من غزا لا يبغي إلا عقالاً فله ما نوى // حديث من غزا لا يبغي إلا عقالاً فله ما نوى أخرجه النسائي وقد تقدم

Dan Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa berperang tanpa menginginkan selain tali pengikat unta, maka baginya adalah apa yang ia niatkan." (Hadits: "Barangsiapa berperang tanpa menginginkan selain tali pengikat unta, maka baginya adalah apa yang ia niatkan," diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan telah disebutkan sebelumnya).

فهذا إشارة إلى الطمع

Maka hal ini adalah isyarat kepada sifat tamak.

وقد لا يشتهي الحمد ولا يطمع فيه ولكن يحذر من ألم الذم كالبخيل بين الأسخياء وهم يتصدقون بالمال الكثير فإنه يتصدق بالقليل كي لا يبخل وهو ليس يطمع في الحمد وقد سبقه غيره وكالجبان بين الشجعان لا يفر من الزحف خوفاً من الذم وهو لا يطمع في الحمد وقد هجم غيره على صف القتال

Kadang kala seseorang tidak menginginkan pujian dan tidak pula tamak padanya, tetapi ia takut akan pedihnya celaan; sebagaimana orang kikir di tengah-tengah orang dermawan yang bersedekah dengan harta yang banyak, maka ia pun bersedekah sedikit agar tidak dianggap kikir, padahal ia tidak tamak akan pujian karena telah didahului oleh orang lain. Dan sebagaimana penakut di tengah-tengah orang pemberani, ia tidak lari dari medan perang karena takut celaan, padahal ia tidak tamak akan pujian karena orang lain telah mendahuluinya menyerbu barisan pertempuran.

ولكن إذا أيس من الحمد كره الذم وكالرجل بين قوم يصلون جميع الليل فيصلي ركعات معدودة حتى لا يذم بالكسل وهو لا يطمع في الحمد

Akan tetapi, apabila seseorang telah berputus asa dari pujian, ia tetap membenci celaan. Hal ini seperti seseorang yang berada di tengah-tengah kaum yang melaksanakan shalat sepanjang malam, lalu ia shalat beberapa rakaat agar tidak dicela sebagai orang yang malas, padahal ia tidak mengharapkan pujian.

وقد يقدر الإنسان على الصبر عن لذة الحمد ولا يقدر على الصبر على ألم الذم ولذلك قد يترك السؤال عن علم هو محتاج إليه خيفة من أن يذم بالجهل ويفتى بغير علم ويدعى العلم بالحديث وهو به جاهل كل ذلك حذراً من الذم

Kadang-kadang manusia mampu bersabar dari kelezatan pujian, namun tidak mampu bersabar menahan pedihnya celaan. Oleh karena itu, terkadang ia enggan bertanya tentang ilmu yang sangat ia butuhkan karena takut dicela sebagai orang bodoh, atau ia memberi fatwa tanpa ilmu, dan mengaku memahami ilmu hadis padahal ia bodoh tentangnya; semuanya itu dilakukan semata-mata karena takut akan celaan.

فهذه الأمور الثَّلَاثَةُ هِيَ الَّتِي تُحَرِّكُ الْمُرَائِيَ إِلَى الرِّيَاءِ وعلاجه ما ذكرناه في الشطر الأول من الكتاب على الجملة

Maka tiga perkara inilah yang menggerakkan orang yang riya untuk berbuat riya. Adapun obatnya secara umum adalah apa yang telah kami sebutkan pada bagian pertama dari kitab ini.

ولكنا نذكر الآن ما يخص الرياء وليس يخفى أن الإنسان إنما يقصد الشيء ويرغب فيه لظنه أنه خير له ونافع ولذيذ إما في الحال وإما في المآل فإن علم أنه لذيذ في الحال ولكنه ضار في المآل سهل عَلَيْهِ قَطْعُ الرَّغْبَةِ عَنْهُ كَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّ الْعَسَلَ لَذِيذٌ وَلَكِنْ إِذَا بَانَ لَهُ أَنَّ فيه سماً أعرض عنه فكذلك طريق قطع هذه الرغبة أن يعلم ما فيه من المضرة

Namun, sekarang kami akan menyebutkan obat secara khusus untuk riya. Tidak tersembunyi lagi bahwa manusia hanyalah bermaksud dan menyukai sesuatu karena prasangkanya bahwa hal itu baik, bermanfaat, dan lezat baginya, baik saat ini (di dunia) maupun di masa depan (di akhirat). Jika ia mengetahui bahwa sesuatu itu lezat di saat ini tetapi membahayakan di masa depan, niscaya akan mudah baginya untuk memutus keinginan terhadapnya, sebagaimana orang yang mengetahui bahwa madu itu lezat, namun ketika tampak baginya bahwa di dalamnya terdapat racun, ia pun berpaling darinya. Demikian pula jalan untuk memutus keinginan (riya) ini adalah dengan mengetahui bahaya yang terkandung di dalamnya.

ومهما عرف العبد مَضَرَّةَ الرِّيَاءِ وَمَا يَفُوتُهُ مِنْ صَلَاحِ قَلْبِهِ وَمَا يَحْرُمُ عَنْهُ فِي الْحَالِ مِنَ التَّوْفِيقِ وفي الآخرة من المنزلة عند الله وما يتعرض له من العقاب العظيم والمقت الشديد والخزي الظاهر

Setiap kali seorang hamba menyadari bahaya riya, apa yang sirna darinya berupa kebaikan hatinya, apa yang menghalanginya di dunia berupa taufik (petunjuk Allah), dan di akhirat berupa kedudukan tinggi di sisi Allah, serta siksa yang agung, kemurkaan yang sangat, dan kehinaan yang nyata yang mengancamnya,

حيث ينادي على رؤوس الخلائق يا فاجر يا غادر يا مرائي أما استحييت إذا اشتريت بطاعة الله عرض الدنيا وراقبت قلوب العباد واستهزأت بطاعة الله وتحببت إلى العباد بالتبغض إلى الله وتزينت لهم بالشين عند الله وتقربت إليهم بالبعد من الله وتحمدت إليهم بالتذمم عند الله وطلبت رضاهم بالتعرض لسخط الله أما كان أحد أهون عليك من الله فَمَهْمَا تَفَكَّرَ الْعَبْدُ فِي هَذَا الْخِزْيِ وَقَابَلَ مَا يَحْصُلُ لَهُ مِنَ الْعِبَادِ وَالتَّزَيُّنِ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا بِمَا يُفَوِّتُهُ فِي الْآخِرَةِ وَبِمَا يحبط من ثواب الأعمال مع أن العمل الواحد ربما كان يترجح به ميزان حسناته لو خلص فإذا فسد بالرياء حول إلى كفة السيئات فترجح به ويهوي إلى النار فلو لم يكن في الرياء إلا إحباط عبادة واحدة لكان ذلك كافياً في معرفة ضرره وإن كان مع ذلك سائر حسناته راجحة فقد كان ينال بهذه الحسنة علو الرتبة عند الله في زمرة النبيين والصديقين وقد حط عنهم بسبب الرياء رد إلى صف النعال من مراتب الأولياء هذا مع ما يتعرض له في الدنيا من تشتت الهم بسبب ملاحظة قلوب الخلق فإن رضا الناس غاية لا تدرك فكل ما يرضى به فريق يسخط به فريق ورضا بعضهم في سخط بعضهم ومن طلب رضاهم في سخط الله سخط الله عليه وأسخطهم أيضاً عليه ثُمَّ أَيُّ غَرَضٍ لَهُ فِي مَدْحِهِمْ وَإِيثَارِ ذَمِّ اللَّهِ لِأَجْلِ حَمْدِهِمْ وَلَا يَزِيدُهُ حَمْدُهُمْ رِزْقًا وَلَا أَجَلًا وَلَا يَنْفَعُهُ يَوْمَ فَقْرِهِ وَفَاقَتِهِ وَهُوَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ وَأَمَّا الطَّمَعُ فِيمَا فِي أَيْدِيهِمْ فَبِأَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى هُوَ الْمُسَخِّرُ لِلْقُلُوبِ بِالْمَنْعِ وَالْإِعْطَاءِ وَأَنَّ الْخَلْقَ مُضْطَرُّونَ فِيهِ وَلَا رَازِقَ إِلَّا اللَّهُ وَمَنْ طَمِعَ فِي الْخَلْقِ لَمْ يَخْلُ مِنَ الذُّلِّ وَالْخَيْبَةِ وَإِنْ وَصَلَ إِلَى الْمُرَادِ لَمْ يَخْلُ عَنِ الْمِنَّةِ وَالْمَهَانَةِ فَكَيْفَ يَتْرُكُ مَا عِنْدَ الله برجاء

Di mana ia dipanggil di hadapan seluruh makhluk: 'Wahai orang yang durhaka, wahai pengkhianat, wahai orang yang riya! Tidakkah engkau malu ketika engkau menukar ketaatan kepada Allah dengan kesenangan dunia yang fana, memperhatikan hati para hamba, memperolok-olok ketaatan kepada Allah, mencari kecintaan manusia dengan cara menimbulkan kemurkaan Allah, berhias di hadapan mereka dengan keburukan di sisi Allah, mendekatkan diri kepada mereka dengan menjauh dari Allah, mencari pujian mereka dengan celaan di sisi Allah, dan mencari keridaan mereka dengan mengundang kemurkaan Allah? Adakah sesuatu yang lebih engkau sepelekan daripada Allah?' Maka setiap kali seorang hamba merenungkan kehinaan ini, dan membandingkan apa yang ia peroleh dari manusia berupa hiasan diri bagi mereka di dunia dengan apa yang luput darinya di akhirat serta apa yang membatalkan pahala amal-amalnya—padahal bisa jadi satu amal saja dapat memberatkan timbangan kebaikannya jika dikerjakan secara ikhlas, tetapi ketika rusak karena riya, amal itu dipindahkan ke timbangan keburukan sehingga memberatkannya dan mencampakkannya ke dalam neraka—seandainya pada riya itu tidak ada dampak selain menggugurkan satu ibadah saja, niscaya itu sudah cukup untuk menyadari bahayanya. Apabila amal kebaikan lainnya masih lebih berat, ia tadinya bisa meraih dengan satu kebaikan ini kedudukan yang tinggi di sisi Allah bersama rombongan para nabi dan shiddiqin, namun diturunkan dari mereka karena riya, hingga dikembalikan ke barisan paling bawah dari tingkatan para wali. Hal ini di samping bahaya yang menimpanya di dunia berupa kegelisahan dan perpecahan pikiran karena sibuk memperhatikan hati para makhluk, sebab keridaan manusia adalah tujuan yang tak akan pernah tercapai. Setiap hal yang disukai suatu kelompok pasti dibenci kelompok lain, dan keridaan sebagian mereka berada dalam kemurkaan sebagian yang lain. Barang siapa mencari keridaan manusia dengan cara menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan membuat manusia pun murka kepadanya. Kemudian, kepentingan apakah yang ia dapatkan dari pujian mereka, serta memilih celaan Allah demi meraih pujian mereka? Padahal pujian mereka tidak akan menambah rezekinya maupun ajalnya, tidak pula memberi manfaat padanya pada hari kemelaratan dan kebutuhannya yang sangat, yaitu Hari Kiamat. Adapun ketamakan terhadap apa yang ada di tangan manusia, hendaknya ia menyadari bahwa Allah Ta'ala Dialah Yang Menundukkan hati untuk menahan atau memberi, dan bahwa makhluk berada dalam keterpaksaan (di bawah kekuasaan-Nya) serta tidak ada pemberi rezeki melainkan Allah. Barang siapa tamak kepada makhluk, ia tak akan lepas dari kehinaan dan kekecewaan, dan sekiranya ia mencapai tujuannya, ia tak akan bebas dari budi jasa dan kerendahan. Lantas, bagaimana ia meninggalkan apa yang ada di sisi Allah hanya dengan harapan

كاذب ووهم فاسد قد يُصِيبُ وَقَدْ يُخْطِئُ وَإِذَا أَصَابَ فَلَا تَفِي لذته بألم منثه وَمَذَلَّتِهِ وَأَمَّا ذَمُّهُمْ فَلَمْ يَحْذَرْ مِنْهُ وَلَا يزيده ذمهم شيئاً ما لم يكتبه عليه الله وَلَا يُعَجِّلُ أَجَلَهُ وَلَا يُؤَخِّرُ رِزْقَهُ وَلَا يَجْعَلُهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَلَا يُبَغِّضُهُ إِلَى اللَّهِ إِنْ كان محموداً عند الله ولا يزيده مقتاً إن كان ممقوتاً عِنْدَ اللَّهِ فَالْعِبَادُ كُلُّهُمْ عَجَزَةٌ لَا يَمْلِكُونَ لأنفسهم ضراً ولا نفعاً ولا يملكون موتا ولا حياتا ولا نشورا

palsu dan prasangka yang rusak, yang kadang tepat dan kadang meleset? Apabila prasangka itu tepat, kelezatannya tidak dapat menandingi kepedihan dari budi jasa mereka dan kehinaannya. Adapun celaan mereka, mengapa ia harus takut kepadanya? Celaan mereka tidak akan menambah apa pun baginya melebihi apa yang telah ditetapkan Allah atas dirinya, tidak menyegerakan ajalnya, tidak menunda rezekinya, tidak menjadikannya penghuni neraka jika ia termasuk penghuni surga, tidak membuatnya dibenci Allah jika ia dipuji di sisi Allah, dan tidak menambah kemurkaan baginya jika ia memang dibenci di sisi Allah. Sebab seluruh hamba adalah lemah, mereka tidak memiliki kuasa untuk mendatangkan bahaya maupun manfaat bagi diri mereka sendiri, dan tidak memiliki kuasa atas kematian, kehidupan, maupun kebangkitan.

فَإِذَا قُرِّرَ فِي قَلْبِهِ آفَةُ هَذِهِ الْأَسْبَابِ وَضَرَرُهَا فَتَرَتْ رَغْبَتُهُ وَأَقْبَلَ عَلَى اللَّهِ قَلْبُهُ فإن العاقل لَا يَرْغَبُ فِيمَا يَكْثُرُ ضَرَرُهُ وَيَقِلُّ نَفْعُهُ ويكفيه أن الناس لو علموا ما في باطنه من قصد الرياء وإظهار الإخلاص لمقتوه وسيكشف الله عن سره حتى يبغضه إلى الناس ويعرفهم أنه مراء وممقوت عند الله ولو أخلص لله لكشف الله لهم إخلاصه وحببه إليهم وسخرهم له وأطلق ألسنتهم بالمدح والثناء عليه مع أنه لا كمال في مدحهم ولا نقصان في ذمهم كما قال شاعر بني تميم إن مدحي زين وإن ذمي شين فقال لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ كذبت ذاك الله الذي لا إله إلا هو // حديث قال شاعر من بني تميم إن مدحي زين وإن ذمي شين فقال كذبت ذاك الله أخرجه أحمد من حديث الأقرع بن حابس وهو قائل ذلك دون قوله كذبت ورجاله ثقات إلا أني لا أعرف لأبي سلمة بن عبد الرحمن سماعا من الأقرع ورواه الترمذي من حديث البراء وحسنه بلفظ فقال رجل إن حمدي

Maka apabila bahaya dan cacat dari sebab-sebab ini telah tertanam kuat di dalam hatinya, melemahlah keinginannya (pada dunia/pujian) dan hatinya pun menghadap kepada Allah. Sebab orang yang berakal tidak akan menyukai sesuatu yang bahayanya besar dan manfaatnya sedikit. Cukuplah baginya bahwasanya manusia sekiranya mengetahui apa yang ada di dalam batinnya berupa niat riya dan kepura-puraan menunjukkan keikhlasan, niscaya mereka akan membencinya. Dan Allah kelak akan menyingkap rahasianya hingga membuat manusia membencinya dan memberitahukan kepada mereka bahwa ia adalah orang yang riya dan dimurkai di sisi Allah. Seandainya ia ikhlas karena Allah, niscaya Allah akan menyingkap keikhlasannya kepada mereka, menjadikannya dicintai oleh mereka, menundukkan mereka baginya, dan menggerakkan lidah mereka untuk memuji dan menyanjungnya, meskipun tidak ada kesempurnaan dalam pujian mereka dan tidak ada kekurangan dalam celaan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair dari Bani Tamim: 'Sesungguhnya pujianku adalah kehiasan dan celaanku adalah keburukan.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: 'Engkau berdusta, yang demikian itu hanyalah milik Allah yang tidak ada tuhan selain Dia.' // Hadis: Seseorang penyair dari Bani Tamim berkata: 'Sesungguhnya pujianku adalah kehiasan dan celaanku adalah keburukan.' Maka beliau bersabda: 'Engkau berdusta, yang demikian itu adalah Allah.' Diriwayatkan oleh Ahmad dari hadis Al-Aqra' bin Habis, dan dialah yang mengucapkan perkataan tersebut tanpa lafaz 'Engkau berdusta', dan para perawinya tsiqah (terpercaya), hanya saja saya tidak mengetahui apakah Abu Salamah bin Abdurrahman pernah mendengar langsung dari Al-Aqra'. Diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi dari hadis Al-Bara' dan ia menghasankannya dengan lafaz: Maka seorang laki-laki berkata: 'Sesungguhnya pujianku…'

إذ لا زين إلا في مدحه ولا شين إلا في ذمه فأي خير لك في مدح الناس

sebab tidak ada kehiasan melainkan pada pujian-Nya dan tidak ada keburukan melainkan pada celaan-Nya. Lantas kebaikan apakah bagimu dalam pujian manusia,

وأنت عند الله مذموم ومن أهل النار وأي شر لك من ذم الناس وأنت عند الله محمود في زمرة المقربين فمن أحضر في قلبه الآخرة ونعيمها المؤبد والمنازل الرفيعة عند الله استحقر ما يتعلق بالخلق أيام الحياة مع ما فيه من الكدورات والمنغصات واجتمع همه وانصرف إلى الله قلبه وتخلص من مذلة الرياء ومقاساة قلوب الخلق وانعطف من إخلاصه أنوار على قلبه ينشرح بها صدره وينفتح بها له من لطائف المكاشفات ما يزيد به أنسه بالله ووحشته من الخلق واستحقاره للدنيا واستعظامه للآخرة وسقط محل الخلق من قلبه وانحل عنه داعية الرياء وتذلل له منهج الإخلاص

sedangkan engkau di sisi Allah dicela dan termasuk penghuni neraka? Dan keburukan apakah bagimu dari celaan manusia, sedangkan engkau di sisi Allah dipuji dan berada dalam rombongan hamba-hamba yang dekat (al-muqarrabun)? Maka barang siapa mendatangkan ingatan akan akhirat, kenikmatannya yang abadi, serta kedudukan yang tinggi di sisi Allah ke dalam hatinya, niscaya ia akan memandang remeh apa pun yang berkaitan dengan makhluk selama hari-hari kehidupan dunia yang penuh kekeruhan dan gangguan ini. Maka terhimpunlah cita-citanya, hatinya pun beralih sepenuhnya kepada Allah, ia terbebas dari kehinaan riya dan kepayahan mengurusi hati makhluk, serta terpancar dari keikhlasannya cahaya-cahaya ke dalam hatinya yang melapangkan dadanya. Dengannya terbukalah baginya kelembutan-kelembutan mukasyafah (tersingkapnya rahasia gaib) yang menambah keakrabannya dengan Allah, kerasingannya terhadap makhluk, kepandang-remehannya terhadap dunia, dan keagungannya terhadap akhirat. Maka jatuhlah kedudukan makhluk dari hatinya, terurailah darinya dorongan riya, dan menjadi mudahlah baginya jalan keikhlasan.

فهذا وما قدمنا في الشطر الأول هي الْأَدْوِيَةِ الْعِلْمِيَّةِ الْقَالِعَةِ مَغَارِسَ الرِّيَاءِ

Maka hal ini dan apa yang telah kami uraikan pada bagian pertama merupakan obat-obat ilmiah (teoretis) yang mencabut akar-akar tanaman riya.

وَأَمَّا الدَّوَاءُ الْعَمَلِيُّ فَهُوَ أَنْ يُعَوِّدَ نَفْسَهُ إِخْفَاءَ الْعِبَادَاتِ وَإِغْلَاقَ الْأَبْوَابِ دُونَهَا كَمَا تُغْلَقُ الْأَبْوَابُ دُونَ الفواحش حتى يقنع قلبه بعلم الله أو إطلاعه على عباداته ولا تنازعنه النفس إلى طلب علم غير الله به

Adapun obat amali (praktis), hendaklah ia membiasakan dirinya untuk menyembunyikan ibadah-ibadah dan mengunci pintu-pintu dari memperlihatkannya sebagaimana dikuncinya pintu-pintu dari keji dan dosa, hingga hatinya merasa cukup dengan pengetahuan Allah dan pengawasan-Nya atas ibadah-ibadahnya, serta jiwanya tidak lagi menuntut agar ibadahnya diketahui oleh selain Allah.

وقد روي أن بعض أصحاب أبي حفص الحداد ذم الدنيا وأهلها فقال أظهرت ما كان سبيلك أن تخفيه لا تجالسنا بعد هذا

Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat Abu Hafs al-Haddad mencela dunia dan para penghuninya, maka Abu Hafs berkata: 'Engkau telah menampakkan apa yang seharusnya engkau sembunyikan, jangan lagi duduk bersamaku setelah ini.'

فلم يرخص في إظهار هذا القدر لأن في ضمن ذم الدنيا دعوى الزهد فيها فلا دواء للرياء مثل الإخفاء وذلك يشق في بداية المجاهدة وإذا صبر عليه مدة بالتكلف سقط عنه ثقله وهان عليه ذلك بتواصل ألطاف الله وما يمد به عباده من حسن التوفيق والتأييد والتسديد وإن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم فمن العبد المجاهدة ومن الله الهداية ومن العبد قرع الباب ومن الله فتح الباب والله لا يضيع أجر المحسنين وإن تك حسنة يضاعفها ويؤت من لدنه أجراً عظيماً

Maka beliau tidak memberi keringanan untuk menampakkan sejauh ini, karena di dalam celaan terhadap dunia tersirat pengakuan (klaim) zuhud terhadapnya. Maka tidak ada obat bagi riya seperti halnya menyembunyikan amal. Hal itu memang terasa berat pada awal kesungguhan (mujahadah), namun jika seseorang bersabar atasnya selama beberapa waktu dengan memaksakan diri, niscaya gugurlah keberatannya dan hal itu menjadi mudah baginya berkat kelembutan-kelembutan Allah yang berkesinambungan serta apa yang Dia karuniakan kepada hamba-hamba-Nya berupa taufik yang baik, penguatan, dan kelurusan. 'Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.' Maka dari hamba adalah mujahadah (kesungguhan) dan dari Allah adalah petunjuk; dari hamba adalah mengetuk pintu dan dari Allah adalah membukakan pintu; dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. 'Dan jika ada kebaikan, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.'

المقام الثاني في دفع العارض منه في أثناء العبادة وذلك لا بد من تعلمه أيضاً فإن من جاهد نفسه وقلع مغارس الرياء من قلبه بالقناعة وقطع الطمع وإسقاط نفسه من أعين المخلوقين واستحقار مدح المخلوقين وذمهم فالشيطان لا يتركه في أثناء العبادات بل يعارضه بخطرات الرياء ولا تنقطع عنه نزعاته وهوى النفس وميلها لا ينمحي بالكلية فلا بد وأن يتشمر لدفع ما يعرض من خاطر الرياء

Tingkatan kedua adalah tentang menolak riya yang datang mendadak di tengah-tengah ibadah. Hal itu pun harus dipelajari pula. Sebab orang yang telah bermujahadah menundukkan nafsunya dan mencabut akar-akar riya dari hatinya dengan sifat qana'ah, memutus ketamakan, menjatuhkan harga dirinya dari pandangan makhluk, serta memandang remeh pujian dan celaan makhluk, setan tetap tidak akan membiarkannya di tengah-tengah pelaksanaan ibadah. Bahkan setan akan merintanginya dengan bisikan-bisikan riya, dan dorongan-dorongannya tidak pernah terputus darinya. Keinginan nafsu dan kecenderungannya tidak akan terhapus secara keseluruhan, maka ia harus bersiap sedia untuk menolak setiap bisikan riya yang datang.

وخواطر الرياء ثلاثة قد تخطر دفعة واحدة كالخاطر الواحد وقد تترادف على التدريج فالأول العلم باطلاع الخلق ورجاء اطلاعهم

Bisikan-bisikan (khawatir) riya ada tiga, yang terkadang terlintas sekaligus seolah satu lintasan pikiran, dan terkadang datang berturut-turut secara bertahap. Lintasan pertama adalah kesadaran akan penglihatan makhluk dan harapan agar mereka melihatnya.

ثم يتلوه هيجان الرغبة

Kemudian disusul oleh gejolak keinginan

من النفس في حمدهم وحصول المنزلة عندهم

dari dalam jiwa untuk mendapatkan pujian mereka dan memperoleh kedudukan di sisi mereka.

ثم يتلوه هيجان الرغبة في قبول النفس له والركون إليه وعقد الضمير على تحقيقه

Kemudian disusul oleh gejolak keinginan dalam jiwa untuk menerimanya, cenderung kepadanya, serta menetapkan hati untuk mewujudkannya.

فالأول معرفة

Maka lintasan pertama adalah pengetahuan (kesadaran).

والثاني حالة تسمى الشهوة والرغبة

Dan yang kedua adalah kondisi yang dinamakan syahwat (keinginan) dan hasrat (kesenangan).

والثالث فعل يسمى العزم وتصميم العقد

Dan yang ketiga adalah perbuatan yang dinamakan tekad ('azam) dan penetapan niat yang kuat.

وإنما كمال القوة في دفع الخاطر الأول ورده قبل أن يتلوه الثاني فإذا خطر له معرفة اطلاع الخلق أو رجاء اطلاعهم دفع ذلك بأن قال مالك وَلِلْخَلْقِ عَلِمُوا أَوْ لَمْ يَعْلَمُوا وَاللَّهُ عَالِمٌ بِحَالِكَ فَأَيُّ فَائِدَةٍ فِي عِلْمِ غَيْرِهِ فَإِنْ هاجت الرغبة إلى لذة الحمد يذكر مَا رَسَخَ فِي قَلْبِهِ مِنْ قَبْلُ مِنْ آفة الرياء وتعرضه للمقت عند الله في القيامة وخيبته في أحوج أوقاته إلى أعماله فكما أن معرفة اطلاع الناس تثير شهوة ورغبة في الرياء فمعرفة آفة الرياء تثير كراهة له تقابل تلك الشهوة إذ يتفكر في تعرضه لمقت الله وعقابه الأليم والشهوة تدعوه إلى القبول والكراهة تدعوه إلى الإباء والنفس تطاوع لا محالة أقواهما وأغلبهما

Sesungguhnya kesempurnaan kekuatan itu terletak pada menolak lintasan hati (khatir) yang pertama dan menangkisnya sebelum disusul oleh yang kedua. Maka apabila terlintas di hatinya pengetahuan tentang penglihatan makhluk atau harapan agar mereka melihatnya, ia menolaknya dengan berkata pada dirinya: 'Apa urusanmu dengan makhluk, baik mereka tahu maupun tidak tahu? Padahal Allah Maha Mengetahui keadaanmu, maka apakah faedahnya pengetahuan selain-Nya?' Lalu jika gejolak hasrat menuju kelezatan pujian itu bangkit, ia mengingatkan apa yang telah tertanam kokoh di dalam hatinya sebelumnya tentang bahaya (bencana) riya, bahwasanya riya menyebabkannya terancam kemurkaan di sisi Allah pada hari Kiamat, serta kekecewaannya pada saat ia paling membutuhkan amal-amalnya. Sebagaimana pengetahuan akan penglihatan manusia dapat membangkitkan syahwat dan keinginan untuk riya, maka pengetahuan tentang bahaya riya akan membangkitkan kebencian terhadapnya yang menandingi syahwat tersebut, yaitu ketika ia merenungkan ancaman kemurkaan Allah dan azab-Nya yang pedih. Syahwat mengajak pada penerimaan, sedangkan kebencian mengajak pada penolakan, dan jiwa secara pasti akan menuruti yang mana di antara keduanya yang lebih kuat dan dominan.

فإذن لا بد في رد الرياء من ثلاثة أمور

Maka dari itu, untuk menolak riya mutlak diperlukan tiga hal:

المعرفة والكراهة والإباء

Yaitu pengetahuan (pengetahuan akan bahayanya), kebencian (terhadapnya), dan penolakan (atas kehendaknya).

وقد يشرع العبد في العبادة على عزم الإخلاص ثم يرد خاطر الرياء فيقبله ولا تحضره المعرفة ولا الكراهة التي كان الضمير منطوياً عليها وإنما سبب ذلك امتلاء القلب بخوف الذم وحب الحمد واستيلاء الحرص عليه بحيث لا يبقى في القلب متسع لغيره فيعزب عن القلب المعرفة السابقة بآفات الرياء وشؤم عاقبته إذ لم يبق موضع في القلب خال عن شهوة الحمد أو خوف الذم وهو كالذي يحدث نفسه بالحلم وذم الغضب ويعزم على التحلم عند جريان سبب الغضب ثم يجري من الأسباب ما يشتد به غضبه فينسى سابقة عزمه ويمتلئ قلبه غيظاً يمنع من تذكر آفة الغضب ويشغل قلبه عنه فكذلك حلاوة الشهوة تملأ القلب وتدفع نور المعرفة مثل مرارة الغضب

Kadangkala seorang hamba memulai ibadah dengan tekad keikhlasan, lalu datanglah lintasan riya kemudian ia menerimanya, sementara pengetahuan dan kebencian yang tadinya tersimpan di dalam jiwanya tidak hadir padanya. Penyebab hal itu tidak lain adalah kepenuhan hati oleh rasa takut akan celaan dan kecintaan pada pujian, serta dominasi ketamakan atasnya sehingga tidak tersisa lagi ruang di dalam hati bagi selainnya. Maka lenyaplah dari hati pengetahuan terdahulu tentang bahaya-bahaya riya dan kesialan dampaknya, karena tidak ada lagi satu tempat pun di dalam hati yang kosong dari syahwat pujian atau takut akan celaan. Hal ini seperti orang yang menasihati dirinya sendiri untuk bersabar (santun) dan mencela kemarahan, serta bertekad untuk bersikap sabar ketika timbul sebab kemarahan, namun kemudian terjadi sebab-sebab yang membuat kemarahannya memuncak, sehingga ia melupakan tekad awalnya dan hatinya dipenuhi kejengkelan yang menghalangi dari mengingat bahaya marah serta memalingkan hatinya dari hal itu. Demikian pulalah manisnya syahwat dapat memenuhi hati dan mengusir cahaya pengetahuan, persis seperti pahitnya kemarahan.

وإليه أشار جابر بقوله بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ تحت الشجرة على أن لا نفر ولم نبايعه على الموت فأنسيناها يوم حنين // حديث جابر بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ تحت الشجرة على أن لا نفر الحديث أخرجه مسلم مختصرا دون ذكر يوم حنين فرواه مسلم من حديث العباس

Hal itu diisyaratkan oleh Jabir dengan perkataannya: 'Kami membaiat Rasulullah ﷺ di bawah pohon untuk tidak lari (dari medan perang), dan kami tidak membaiat beliau di atas kematian, namun kami dilupakan akan hal itu pada perang Hunain.' // Hadis Jabir: 'Kami membaiat Rasulullah ﷺ di bawah pohon untuk tidak lari…' Al-Hadis diriwayatkan oleh Muslim secara ringkas tanpa menyebutkan peristiwa perang Hunain, dan Muslim merawikannya dari hadis Al-Abbas.

حتى نودي يا أصحاب الشجرة فرجعوا

Hingga diserukan: 'Wahai para pengikut baiat di bawah pohon (Ashab ash-Syajarah)!', maka mereka pun kembali.

وذلك لأن القلوب امتلأت بالخوف فنسيت العهد السابق حتى ذكروا وأكثر الشهوات التي تهجم فجأة هكذا تكون إذ ينسى معرفة مضرته الداخلة في عقد الإيمان

Hal itu terjadi karena hati telah dipenuhi oleh rasa takut, sehingga melupakan janji terdahulu hingga mereka diingatkan kembali. Dan sebagian besar syahwat yang menyerang secara tiba-tiba adalah demikian jalannya, yaitu ketika seseorang melupakan pengetahuan tentang bahayanya yang semestinya sudah terikat di dalam ikatan iman.

ومهما نسي المعرفة لم تظهر الكراهة فإن الكراهة ثمرة المعرفة

Dan manakala seseorang melupakan pengetahuan tersebut, maka tidak akan tampak rasa benci (terhadap riya), karena kebencian itu adalah buah dari pengetahuan.

وقد يتذكر الإنسان فيعلم أن الخاطر الذي خطر له هو خاطر الرياء الذي يعرضه لسخط الله ولكن يستمر عليه لشدة شهوته فيغلب هواه عقله ولا يقدر على ترك لذة الحال فيسوف بالتوبة أو يتشاغل عن التفكر في ذلك لشدة الشهوة فكم من عالم يحضره كلام لا يدعوه إلى فعله إلا رياء الخلق وهو يعلم ذلك ولكنه يستمر عليه فتكون الحجة عليه أوكد إذ قبل داعي الرياء مع علمه بغائلته وكونه مذموماً عند الله ولا تنفعه معرفته إذا خلت المعرفة عن الكراهة

Kadangkala seseorang teringat dan mengetahui bahwa lintasan yang terbersit di hatinya adalah lintasan riya yang menyebabkannya terancam murka Allah, namun ia tetap melanjutkannya karena kuatnya syahwatnya. Maka hawa nafsunya mengalahkan akalnya dan ia tidak sanggup meninggalkan kelezatan saat itu, lalu ia menunda-nunda bertobat atau melalaikan diri dari merenungkannya karena teramat kuatnya syahwat. Betapa banyak orang alim yang terlintas padanya suatu perkataan yang tidak mendorongnya untuk mengucapkannya melainkan karena riya kepada manusia, padahal ia mengetahui hal itu, namun ia tetap meneruskannya. Maka hujjah (ancaman) atasnya menjadi lebih kuat, karena ia menerima bisikan riya padahal ia mengetahui bahayanya dan keadaannya yang dicela di sisi Allah. Dan pengetahuannya itu tidak akan bermanfaat baginya apabila pengetahuan tersebut sunyi dari rasa benci (terhadap riya).

وقد تحضر المعرفة والكراهة ولكن مع ذلك يقبل داعي الرياء لكون الكراهة ضعيفة بالإضافة إلى قوة الشهوة وهذا أيضاً لا ينتفع بكراهته إذ الغرض من الكراهة أن تصرف عن الفعل

Dan kadangkala pengetahuan dan kebencian itu hadir, tetapi meskipun demikian ia tetap menerima bisikan riya karena kebencian itu lemah jika dibandingkan dengan kekuatan syahwat. Orang seperti ini pun tidak dapat mengambil manfaat dari kebenciannya, sebab tujuan dari kebencian adalah untuk memalingkan dari perbuatan tersebut.

فإذن لا فائدة إلا في اجتماع الثلاث وهي المعرفة والكراهة والإباء

Maka dengan demikian, tidak ada faedahnya kecuali dengan terhimpunnya ketiga hal tersebut, yaitu: pengetahuan (ma'rifah), kebencian (karahah), dan penolakan (iba').

فالإباء ثمرة الكراهة والكراهة ثمرة المعرفة وقوة المعرفة بحسب قوة الإيمان ونور العلم وضعف المعرفة بحسب الغفلة وحب الدنيا ونسيان الآخرة وقلة التفكر فيما عند الله وقلة التأمل في آفات الحياة الدنيا وعظيم نعيم الآخرة وبعض ذلك ينتج بعضاً ويثمره وأصل ذلك كله حب الدنيا وغلبة الشهوات فهو رأس كل خطيئة ومنبع كل ذنب لأن حلاوة حب الجاه والمنزلة ونعيم الدنيا هي التي تغضب القلب وتسلبه وتحول بينه وبين التفكر في العاقبة والاستضاءة بنور الكتاب والسنة وأنوار العلوم

Penolakan (iba') adalah buah dari kebencian (karahah), dan kebencian adalah buah dari pengetahuan (ma'rifah). Kekuatan pengetahuan itu tergantung pada kadar kekuatan iman dan cahaya ilmu, sedangkan lemahnya pengetahuan tergantung pada kadar kelalaian, kecintaan pada dunia, kelupaan akan akhirat, sedikitnya perenungan terhadap apa yang ada di sisi Allah, serta minimnya pencermatan atas bahaya-bahaya kehidupan dunia dan keagungan nikmat akhirat. Sebagian dari hal itu membuahkan dan menghasilkan sebagian yang lain. Adapun muara dari semua itu adalah cinta dunia dan dominasi syahwat, maka ia adalah pangkal setiap kesalahan dan sumber dari segala dosa, karena manisnya cinta kedudukan, kemuliaan, dan kenikmatan dunia itulah yang membutakan hati, merampas kebeningannya, serta menghalangi antara hati dan perenungan akan kesudahan (akibat akhir), serta menghalangi dari mencari petunjuk dengan cahaya Al-Kitab, As-Sunnah, dan cahaya-cahaya ilmu.

فإن قلت فمن صادف من نفسه كراهة الرياء وحملته الكراهة على الإباء ولكنه مع ذلك غير خال عن ميل الطبع إليه وحبه له ومنازعته إياه إلا أنه كاره لحبه ولميله إليه وغير محبب إليه فهل يكون في زمرة المرائين فاعلم أن الله لم يكلف العباد إلا ما تطيق وليس في طاقة العبد منع الشيطان عن نزغاته ولا قمع الطبع حتى لا يميل إلى الشهوات ولا ينزع إليها وإنما غايته أن يقابل شهوته بكراهة استثمارها من معرفة العواقب وعلم الدين وأصول الإيمان بالله واليوم الآخر فإذا فعل ذلك فهو الغاية في أداء ما كلف به

Jika engkau bertanya: 'Bagaimana dengan orang yang mendapati dalam dirinya rasa benci terhadap riya dan kebencian itu mendorongnya untuk menolak (riya), namun meskipun demikian dirinya tidak sunyi dari kecenderungan watak alaminya pada riya, menyukainya, dan kecenderungan itu terus menggoyahkannya, hanya saja ia membenci rasa suka dan kecenderungannya itu serta tidak menyenanginya; apakah ia tergolong ke dalam barisan orang-orang yang riya?' Maka ketahuilah bahwasanya Allah tidak membebani para hamba melainkan sebatas kemampuan mereka. Dan bukanlah dalam batas kemampuan seorang hamba untuk mencegah syaitan dari bisikan-bisikannya, tidak pula menundukkan watak alamiahnya sehingga tidak cenderung pada syahwat dan tidak tertarik padanya. Tujuan utamanya hanyalah menandingi syahwatnya dengan rasa benci untuk membuahkan perbuatan riya itu—yang lahir dari pengetahuan tentang akibat-akibatnya, ilmu agama, dan asas-asas keimanan kepada Allah dan Hari Akhir. Apabila ia telah melakukan hal tersebut, maka ia telah mencapai puncak dalam menunaikan apa yang dibebankan kepadanya.

ويدل على ذلك من الأخبار ما روي أَنَّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ شكوا إليه وقالوا تعرض لقلوبنا أشياء لأن تخر من السماء فتخطفنا الطير أو تهوي بنا الريح في مكان سحيق أحب إلينا من أن نتكلم بها فقال ﷺ أو قد وجدتموه قالوا نعم قال ذلك صريح الإيمان حديث ابن عباس الحمد لله الذي رد كيد الشيطان إلى الوسوسة أخرجه أبو داود والنسائي في اليوم والليلة بلفظ كيده

Hal itu ditunjukkan oleh riwayat-riwayat yang ada, di antaranya apa yang diriwayatkan bahwasanya para sahabat Rasulullah ﷺ mengadu kepada beliau seraya berkata: 'Sesungguhnya terlintas dalam hati kami sesuatu yang jika kami jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang sangat jauh, itu lebih kami sukai daripada kami mengucapkannya.' Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Apakah kalian benar-benar telah merasakannya?' Mereka menjawab: 'Ya.' Beliau bersabda: 'Itu adalah bukti keimanan yang murni.' Hadis Ibnu Abbas: 'Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan tipu daya setan hanya menjadi bisikan (waswas).' Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa'i dalam *'Amal al-Yaum wa al-Lailah* dengan lafaz 'tipu dayanya'.

وقال أبو حازم ما كان من نفسك وكرهته نفسك لنفسك فلا يضرك ما هو من عدوك وما كان من نفسك فرضيته نفسك لنفسك فعاتبها عليه

Abu Hazim berkata: 'Apa pun yang berasal dari dirimu namun dirimu membencinya untuk dirimu sendiri, maka apa yang berasal dari musuhmu itu tidak akan membahayakanmu. Dan apa pun yang berasal dari dirimu lalu dirimu meridhainya untuk dirimu sendiri, maka celalah dirimu atas hal itu.'

فإذن وسوسة الشيطان ومنازعة النفس لا تضرك مهما رددت مرادهما بالإباء والكراهة والخواطر التي هي العلوم والتذكرات والتخيلات للأسباب المهيجة للرياء هي من الشيطان والرغبة والميل بعد تلك الخواطر من النفس والكراهة من الإيمان ومن آثار العقل إلا أن للشيطان ههنا مكيدة وهي أنه إذا عجز عن حمله على قبول الرياء خيل إليه أن صلاح قلبه في الاشتغال بمجادلة الشيطان ومطاولته في الرد والجدال حتى يسلبه ثواب الإخلاص وحضور القلب لأن الاشتغال بمجادلة الشيطان ومدافعته انصراف عن سر المناجاة مع الله فيوجب ذلك نقصاناً في منزلته عند الله

Maka dengan demikian, bisikan setan dan gejolak pertentangan nafsu tidaklah membahayakanmu selama engkau menolak kehendak keduanya dengan penolakan (iba') dan kebencian (karahah). Adapun lintasan-lintasan pikiran—yang berupa pengetahuan, ingatan, dan bayangan terhadap sebab-sebab yang membangkitkan riya—berasal dari setan, sedangkan keinginan dan kecenderungan setelah lintasan tersebut berasal dari nafsu, dan rasa benci berasal dari iman serta merupakan bekas/pengaruh dari akal. Hanya saja setan memiliki tipu daya di sini, yaitu apabila ia lemah dalam mendorong manusia menerima riya, ia mengesankan kepadanya seolah-olah kebaikan hatinya terletak pada kesibukan memperdebatkan setan dan memperpanjang perdebatan serta penolakan dengannya, hingga akhirnya setan merampas darinya pahala keikhlasan dan kehadiran hati. Sebab, kesibukan memperdebatkan setan dan menolaknya merupakan keberpalingan dari rahasia bermunajat kepada Allah, sehingga hal itu menyebabkan berkurangnya kedudukannya di sisi Allah.

والمتخلصون عن الرياء في دفع خواطر الرياء على أربع مراتب

Orang-orang yang membebaskan diri dari riya dalam menolak lintasan-lintasan pikiran riya terbagi ke dalam empat tingkatan:

الأولى أن يرده على الشيطان فيكذبه ولا يقتصر عليه بل يشتغل بمجادلته ويطيل الجدال معه لظنه أن ذلك أسلم لقلبه وهو على التحقيق نقصان لأنه اشتغل عن مناجاة الله وعن الخير الذي هو بصدده وانصرف إلى قتال قطاع الطريق والتعريج على قتال قطاع الطريق نقصان في السلوك

Tingkatan pertama: Ia menolaknya kembali kepada setan lalu mendustakannya, dan ia tidak hanya mencukupkan sampai di situ melainkan sibuk memperdebatkannya dan memperpanjang adu argumen dengannya karena mengira bahwa hal itu lebih selamat bagi hatinya. Namun hal ini pada hakikatnya merupakan suatu kekurangan, karena ia telah disibukkan dari bermunajat kepada Allah dan dari kebaikan yang sedang dihadapinya, serta berpaling untuk menembaki para penyamun (penyamun jalanan). Padahal menyimpang untuk mengurusi penyamun jalanan merupakan suatu kekurangan dalam perjalanan spiritual (suluk).

الثانية أن يعرف أن الجدال والقتال نقصان في السلوك فيقتصر على تكذيبه ودفعه ولا يشتغل بمجادلته

Tingkat kedua, ia mengetahui bahwa berdebat dan bertengkar (dengan bisikan setan) merupakan kekurangan dalam suluk (perjalanan spiritual). Oleh karena itu, ia cukup mendustakan dan menolaknya tanpa menyibukkan diri untuk memperdebatkannya.

الثالثة أن لا يشتغل بتكذيبه أيضاً لأن ذلك وقفة وإن قلت بل يكون قد قرر في عقد ضميره كراهة الرياء وكذب الشيطان فيستمر على ما كان عليه مستصحباً للكراهة غير مشتغل بالتكذيب ولا بالمخاصمة

Tingkat ketiga, ia juga tidak menyibukkan diri untuk mendustakannya, sebab hal itu tetap merupakan bentuk keterhentian (jeda dalam perjalanan spiritual) meskipun sebentar. Sebaliknya, ia telah menetapkan di dalam ikatan hatinya rasa benci terhadap ria dan kedustaan setan, lalu ia terus melanjutkan apa yang sedang dilakukannya seraya menyertai rasa benci tersebut, tanpa disibukkan oleh upaya mendustakan maupun mempertengkarkannya.

الرابعة أن يكون قد علم أن الشيطان سيحسده عند جريان أسباب الرياء فيكون قد عزم على أنه مهما نزع الشيطان زاد فيما هو فيه من الإخلاص والاشتغال بالله وإخفاء الصدقة والعبادة غيظاً للشيطان وذلك هو الذي يغيظ الشيطان ويقمعه ويوجب يأسه وقنوطه حتى لا يرجع

Tingkat keempat, ia telah mengetahui bahwa setan akan mendengki dirinya ketika sebab-sebab ria itu bermunculan. Maka ia berazam (bertekad kuat) bahwa setiap kali setan membisikkan godaan, ia justru makin menambah keikhlasannya, kesibukannya bersama Allah, serta makin menyembunyikan sedekah dan ibadahnya guna membuat setan jengkel. Hal itulah yang benar-benar membuat setan jengkel, menundukkannya, serta menanamkan rasa putus asa dan keputusasaan dalam dirinya hingga ia tidak kembali lagi.

يروى عن الفضيل بن غزوان أنه قيل له إن فلاناً يذكرك فقال والله لأغيظن من أمره قيل ومن أمره قال الشيطان اللهم اغفر له

Diriwayatkan dari Al-Fudhayl bin Ghazwan bahwa dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya si Fulan telah membicarakan (keburukan)mu." Maka beliau berkata, "Demi Allah, sungguh aku akan membuat jengkel pihak yang menyuruhnya!" Ditanyakan kepadanya, "Siapakah yang menyuruhnya?" Beliau menjawab, "Setan. Ya Allah, ampunilah dia (orang yang membicarakanku)."

أي لأغيظنه بأن

Maksudnya: "Aku benar-benar akan membuat jengkel setan dengan cara…"

أطع الله فيه

"…taat kepada Allah berkenaan dengan orang tersebut."

ومهما عرف الشيطان من عبد هذه العادة كف عنه خيفة من أن يزيد في حسناته

Setiap kali setan mengetahui kebiasaan ini pada diri seorang hamba, ia akan menahan diri darinya karena takut hamba tersebut justru makin menambah kebaikannya.

وقال إبراهيم التيمي إن الشيطان ليدعو العبد إلى الباب من الإثم فلا يطعه وليحدث عند ذلك خيراً فإذا رآه كذلك تركه وقال أيضاً إذا رآك الشيطان متردداً طمع فيك وإذا رآك مداوماً ملك وقلاك

Ibrahim At-Taimi berkata, "Sesungguhnya setan benar-benar mengajak seorang hamba pada satu pintu dosa, namun hamba itu tidak menaatinya dan justru melakukan suatu kebaikan saat itu juga. Apabila setan melihatnya demikian, setan akan meninggalkannya." Beliau juga berkata, "Jika setan melihatmu ragu-ragu, ia akan sangat berambisi menguasaimu. Namun jika ia melihatmu terbiasa istikamah, ia akan bosan dan membencimu."

وضرب الحارث المحاسبي ﵀ لهذه الأربعة مثالاً أحسن فيه فقال مثالهم كأربعة قصدوا مجلساً من العلم والحديث لينالوا به فائدة وفضلاً وهداية ورشداً فحسدهم على ذلك ضال مبتدع وخاف أن يعرفوا الحق فتقدم إلى واحد فمنعه وصرفه عن ذلك ودعاه إلى مجلس ضلال فأبى فلما عرف إباءه شغله بالمجادلة فاشتغل معه ليرد ضلاله وهو يظن أن ذلك مصلحة له وهو غرض الضال ليفوت عليه بقدر تأخره

Al-Harits Al-Muhasibi rahimahullah membuat sebuah perumpamaan yang sangat indah untuk keempat tingkat ini. Beliau berkata, "Perumpamaan mereka seperti empat orang yang menuju majelis ilmu dan hadis untuk meraih faedah, keutamaan, petunjuk, dan bimbingan. Lalu seorang ahli bid'ah yang sesat merasa dengki kepada mereka dan takut jika mereka mengetahui kebenaran. Maka ia mendatangi orang pertama, menahannya, memalingkannya dari majelis itu, dan mengajak ke majelis kesesatan. Namun orang pertama itu menolak. Ketika si ahli bid'ah tahu penolakannya, ia menyibukkannya dengan perdebatan. Maka orang pertama pun sibuk berdebat dengannya untuk membantah kesesatannya, seraya mengira bahwa hal itu membawa kemaslahatan baginya, padahal itulah tujuan orang sesat tersebut agar waktu (berfaedah) orang itu terbuang sebanding dengan keterlambatannya."

فلما مر الثاني عليه نهاه واستوقفه فوقف فدفع في نحر الضال ولم يشتغل بالقتال واستعجل ففرح منه الضال بقدر توقفه للدفع فيه

Ketika orang kedua lewat, si ahli bid'ah melarangnya dan menghentikannya. Ia pun berhenti sejenak, lalu menepis si orang sesat itu tanpa menyibukkan diri dengan bertengkar, kemudian bergegas pergi. Maka si orang sesat merasa senang sebatas waktu berhentinya orang kedua untuk menepisnya itu.

ومر به الثالث فلم يلتفت إليه ولم يشتغل بدفعه ولا بقتاله بل استمر على ما كان فخال منه رجاؤه بالكلية

Lalu orang ketiga lewat di hadapannya, dan ia sama sekali tidak menoleh kepadanya, tidak disibukkan untuk menepisnya maupun bertengkar dengannya, melainkan terus berjalan sesuai tujuannya. Maka pupuslah harapan si orang sesat itu secara keseluruhan.

فمر الرابع فلم يتوقف له وأراد أن يغيظه فزاد في عجلته وترك التأني في المشي فيوشك إن عادوا ومروا عليه مرة أخرى أن يعاود الجميع إلا هذا الأخير فإنه لا يعاوده خيفة من أن يزداد فائدة باستعجاله

Kemudian orang keempat lewat, ia tidak berhenti sedikit pun dan berniat membuat jengkel si orang sesat. Maka ia makin mempercepat jalannya dan meninggalkan jalan perlahan. Hampir dapat dipastikan, jika mereka kembali dan lewat di hadapannya lagi di lain waktu, si orang sesat akan mengganggu mereka semua kecuali orang terakhir ini; ia tidak akan mengganggunya lagi karena takut orang itu justru makin mendapat kebaikan yang banyak akibat percepatan jalannya.

فإن قلت فإذا كان الشيطان لا تؤمن نزغاته فهل يجب الترصد له قبل حضوره للحذر منه انتظاراً لوروده أم يجب التوكل على الله ليكون هو الدافع له أو يجب الاشتغال بالعبادة والغفلة عنه قلنا اختلف الناس فيه على ثلاثة أوجه فذهبت فرقة من أهل البصرة إلى أن الأقوياء قد استغنوا عن الحذر من الشيطان لأنهم انقطعوا إلى الله واشتغلوا بحبه فاعتزلهم الشيطان وأيس منهم وخنس عنهم كما أيس من ضعفاء العباد في الدعوة إلى الخمر والزنا فصارت ملاذ الدنيا عندهم وإن كانت مباحة كالخمر والخنزير فارتحلوا من حبها بالكلية فلم يبق للشيطان إليهم سبيل فلا حاجة بهم إلى الحذر

Jika engkau bertanya: "Apabila bisikan-bisikan setan tidak dapat dijamin keamanannya, apakah wajib mengintai dan bersiap siaga sebelum kedatangannya untuk mewaspadainya sambil menunggu kedatangannya, ataukah wajib bertawakal kepada Allah agar Dialah yang menolaknya, ataukah wajib menyibukkan diri dengan ibadah dan melupakan keberadaannya?" Kami jawab: Para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini dalam tiga pandangan. Suatu kelompok dari penduduk Bashrah berpendapat bahwa orang-orang yang kuat (iman dan spiritualnya) tidak lagi membutuhkan sikap waspada terhadap setan, sebab mereka telah mencurahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan sibuk mencintai-Nya, sehingga setan menjauhi mereka, putus asa dari mereka, serta bersembunyi melarikan diri, sebagaimana setan putus asa mengajak hamba-hamba yang lemah untuk minum khamr dan berzina. Kelezatan duniawi di mata mereka—meskipun hukum asalnya mubah—sudah seperti khamr dan babi, sehingga mereka telah pergi sepenuhnya dari mencintainya. Dengan demikian, tidak ada lagi jalan bagi setan untuk menyentuh mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan sikap waspada.

وذهبت فرقة من أهل الشام إلى أن الترصد للحذر منه إنما يحتاج إليه من قل يقينه ونقص توكله فمن أيقن بأن لا شريك لله في تدبيره فلا يحذر غيره ويعلم أن الشيطان ذليل مخلوق ليس له أمر ولا يكون إلا ما أراده الله فهو الضار والنافع والعارف يستحي منه أن يحذر غيره فاليقين بالوحدانية يغنيه عن الحذر

Kelompok lain dari penduduk Syam berpendapat bahwa mengintai untuk mewaspadai setan hanya dibutuhkan oleh orang yang sedikit keyakinannya dan kurang tawakalnya. Siapa yang meyakini bahwa tidak ada sekutu bagi Allah dalam pengaturan-Nya, maka ia tidak akan takut/waspada kepada selain-Nya. Ia mengetahui bahwa setan adalah makhluk yang hina yang tidak memiliki kekuasaan, dan tidak akan terjadi apa pun melainkan apa yang dikehendaki Allah, sebab Dialah Yang Maha Memberi Mudarat dan Maha Memberi Manfaat. Seorang arif (orang yang kenal Allah) malu kepada-Nya jika harus mewaspadai selain-Nya. Maka, keyakinan akan tauhid (keesaan Allah) sudah mencukupkannya dari sikap waspada.

وقالت فرقة من أهل العلم لا بد من الحذر من الشيطان وما ذكره البصريون من أن الأقوياء قد استغنوا عن الحذر وخلت قلوبهم عن حب الدنيا بالكلية فهو وسيلة الشيطان يكاد يكون غروراً إذ الأنبياء ﵈ لم يتخلصوا من وسواس الشيطان ونزغاته فكيف يتخلص غيرهم وليس كل وسواس الشيطان من الشهوات وحب الدنيا بل في صفات الله تعالى وأسمائه وفي تحسين البدع والضلال وغير ذلك ولا ينجو أحد من الخطر فيه ولذلك قال تعالى وما أرسلنا من قبلك من رسول ولا نبي إلا إذا تمنى ألقي الشيطان في أمنيته فينسخ الله ما يلقى الشيطان ثم يحكم الله آياته وقال النبي ﷺ إنه ليغان على قلبي حديث إن شيطانه أسلم فلا يأمر إلا بخير تقدم أيضا

Dan suatu kelompok dari kalangan ulama berpendapat: Wajib hukumnya bersikap waspada terhadap setan. Apa yang disebutkan oleh kelompok Bashrah—bahwa orang-orang kuat tidak membutuhkan sikap waspada dan hati mereka telah bersih dari cinta dunia secara total—merupakan sarana perdayaan setan yang hampir menjadi suatu tipu daya (gurur). Sebab, para nabi 'alaihimussalam saja tidak terbebas dari bisikan dan godaan setan, maka bagaimana mungkin selain mereka bisa terbebas? Lagipula, tidak semua bisikan setan berasal dari syahwat dan cinta dunia, melainkan juga terkait sifat-sifat Allah Ta'ala dan nama-nama-Nya, membaguskan kebid'ahan dan kesesatan, serta hal lainnya, di mana tidak seorang pun selamat dari bahayanya. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman: "Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya itu. Lalu Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya." (QS. Al-Hajj: 52). Dan Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya hatiku kadang diliputi (tirai kelalaian tipis)…" Juga hadis: "Bahwa setannya telah masuk Islam, sehingga tidak menyuruhnya kecuali pada kebaikan," sebagaimana telah disebutkan terdahulu.

فمن ظن أن اشتغاله بحب الله أكثر من اشتغال رسول الله ﷺ وسائر الأنبياء ﵈ فهو مغرور ولم يؤمنهم ذلك من كيد الشيطان ولذلك لم يسلم منه آدم وحواء في الجنة التي هي دار الأمن والسرور بعد أن قال الله لهما إن هذا عدو لك ولزوجك فلا يخرجنكما من الجنة فتشقى إن لك ألا تجوع فيها ولا تعرى وأنك لا تظمأ فيها ولا تضحى ومع أنه لم ينه إلى عن شجرة واحدة وأطلق له وراء ذلك ما أراد فإذا لم يأمن من نبي من الأنبياء وهو في الجنة دار الأمن والسعادة من كيد الشيطان فكيف يجوز لغيره أن يأمن في دار

Maka barangsiapa mengira bahwa kesibukannya dalam mencintai Allah lebih besar daripada kesibukan Rasulullah ﷺ dan seluruh nabi 'alaihimussalam, maka ia adalah orang yang tertipu (terperdaya). Hal itu tidak membuat para nabi merasa aman dari tipu daya setan. Oleh sebab itu, Adam dan Hawa pun tidak selamat dari bisikannya ketika berada di dalam surga yang merupakan tempat kedamaian dan kegembiraan, setelah Allah berfirman kepada keduanya: "Sesungguhnya ini (setan) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan bertelanjang. Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga di dalamnya dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari." (QS. Thaha: 117-119). Padahal beliau tidak dilarang kecuali dari satu pohon saja, dan dibebaskan untuk menikmati apa pun selain itu sesukanya. Apabila seorang nabi di antara para nabi saja tidak merasa aman dari tipu daya setan padahal berada di dalam surga yang merupakan negeri kedamaian dan kebahagiaan, bagaimana mungkin orang selainnya boleh merasa aman di suatu negeri…

والدنيا وهي منبع المحن والفتن معدن الملاذ والشهوات المنهي عنها وقال موسى ﵇ فيما أخبر عنه تعالى هذا من عمل الشيطان ولذلك حذر الله منه جميع الخلق فقال الله تعالى يا بني آدم لا يفتننكم الشيطان كما أخرج أبويكم من الجنة وقال ﷿ إنه يراكم هو وقبيله من حيث لا ترونهم والقرآن من أوله إلى آخره تحذير من الشيطان فكيف يدع الأمن منه وأخذ الحذر من حيث أمر الله به لا ينافي الاشتغال بحب الله فإن من الحب له امتثال أمره وقد أمر بالحذر من العدو كما أمر بالحذر من الكفار فقال تعالى وليأخذوا حذرهم وأسلحتهم وقال تعالى وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة ومن رباط الخيل فإذا لزمك بأمر الله الحذر من العدو الكافر وأنت تراه فبأن يلزمك الحذر من عدو يراك ولا تراه أولى

…yaitu dunia, yang merupakan sumber cobaan dan fitnah, muara kelezatan dan syahwat yang dilarang? Nabi Musa 'alaihissalam juga berkata sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah Ta'ala tentang beliau: "Ini adalah perbuatan setan." (QS. Al-Qashash: 15). Oleh karena itulah Allah memperingatkan seluruh makhluk dari bahaya setan, sebagaimana firman-Nya: "Wahai anak cucu Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga." (QS. Al-A'raf: 27). Dan Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (QS. Al-A'raf: 27). Al-Qur'an dari awal hingga akhirnya berisi peringatan terhadap setan. Lantas bagaimana bisa seseorang merasa aman darinya? Mengambil sikap waspada sebagaimana yang diperintahkan Allah tidaklah bertentangan dengan kesibukan mencintai Allah, sebab di antara bentuk cinta kepada-Nya adalah mematuhi perintah-Nya. Sungguh Allah telah memerintahkan untuk mewaspadai musuh sebagaimana Dia memerintahkan untuk mewaspadai orang-orang kafir, di mana Dia berfirman: "Dan hendaklah mereka menyiagakan kewaspadaan mereka dan senjata-senjata mereka." (QS. An-Nisa': 102). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang." (QS. Al-Anfal: 60). Jika engkau diwajibkan oleh perintah Allah untuk mewaspadai musuh kafir padahal engkau dapat melihatnya, maka kewajiban mewaspadai musuh yang dapat melihatmu sementara engkau tidak dapat melihatnya tentu jauh lebih utama.

ولذلك قال ابن محيريز صيد تراه ولا يراك يوشك أن تظفر به وصيد يراك ولا تراه يوشك أن يظفر بك

Oleh karena itu, Ibn Muhairiz berkata, "Buruan yang engkau lihat sementara ia tidak melihatmu, hampir pasti engkau dapat menangkapnya. Sedangkan buruan yang melihatmu sementara engkau tidak melihatnya, hampir pasti ia yang akan menangkap (memangsa)mu."

فأشار إلى الشيطان فكيف وليس في الغفلة عن عداوة الكافر إلا قتل هو شهادة وفي إهمال الحذر من الشيطان التعرض للنار والعقاب الأليم فليس من الاشتغال بالله الأعراض عما حذر الله

Beliau mengisyaratkan hal itu kepada setan. Bagaimana tidak, padahal dalam kelalaian terhadap permusuhan orang kafir paling-paling hanya berujung pada terbunuh yang merupakan mati syahid; sedangkan dalam mengabaikan sikap waspada terhadap setan terdapat ancaman terjerumus ke dalam neraka dan siksa yang pedih. Maka menyibukkan diri bersama Allah bukanlah dengan berpaling dari apa yang diperingatkan oleh Allah.

وبه يبطل مذهب الفرقة الثانية في ظنهم أن ذلك قادح في التوكل فإن أخذ الترس والسلاح وجمع الجنود وحفر الخندق لم يقدح في توكل رسول الله ﷺ فكيف يقدح في التوكل الخوف مما خوف الله به والحذر مما أمر بالحذر منه وقد ذكرنا في كتاب التوكل ما يبين غلط من زعم أن معنى التوكل النزوع عن الأسباب بالكلية وقوله تعالى وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة ومن رباط الخيل لا يناقض امتثال التوكل مهما اعتقد القلب أن الضار والنافع والمحيي والمميت هو الله تعالى فكذلك يحذر الشيطان ويعتقد أن الهادي والمضل هو الله ويرى الأسباب وسائط مسخرة كما ذكرناه في التوكل

Dengan demikian, batallah pendapat kelompok kedua yang mengira bahwa sikap waspada itu menciderai tawakal. Sebab, mengambil perisai dan senjata, mengumpulkan pasukan, serta menggali parit (khandaq) sama sekali tidak menciderai tawakal Rasulullah ﷺ. Lantas bagaimana mungkin takut terhadap apa yang ditakut-takuti oleh Allah dan mewaspadai apa yang diperintahkan untuk diwaspadai dapat menciderai tawakal? Kami telah menyebutkan dalam 'Kitab Tawakal' penjelasan yang menyingkap kekeliruan orang yang mengklaim bahwa makna tawakal adalah meninggalkan sebab-sebab secara keseluruhan. Firman-Nya Ta'ala: "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang" (QS. Al-Anfal: 60) tidaklah menolak pengamalan tawakal, selama hati meyakini bahwa Yang Maha Memberi Mudarat, Maha Memberi Manfaat, Maha Menghidupkan, dan Maha Mematikan adalah Allah Ta'ala. Demikian pula seseorang mewaspadai setan seraya meyakini bahwa Yang Maha Memberi Petunjuk dan Maha Menyesatkan adalah Allah, serta memandang sebab-sebab sebagai perantara yang ditundukkan, sebagaimana telah kami jelaskan dalam pembahasan tentang tawakal.

وهذا ما اختاره الحارث المحاسبي ﵀ وهو الصحيح الذي يشهد له نور العلم وما قبله يشبه أن يكون من كلام العباد الذين لم يغزر علمهم ويظنون أن ما يهجم عليهم من الأحوال في بعض الأوقات من الاستغراق بالله يستمر على الدوام وهو بعيد

Dan inilah pendapat yang dipilih oleh al-Harits al-Muhasibi semoga Allah merahmatinya. Pendapat inilah yang benar, yang disaksikan oleh cahaya ilmu. Adapun pendapat sebelumnya menyerupai perkataan para ahli ibadah yang belum mendalam ilmunya, yang mengira bahwa ahwal (kondisi spiritual) berupa tenggelamnya kesadaran bersama Allah (al-istighraq billah) yang melingkupi mereka pada sebagian waktu akan berlangsung terus-menerus secara konstan, padahal hal itu sangat jauh dari kenyataan.

ثم اختلفت هذه الفرقة على ثلاثة أوجه في كيفية الحذر فقال قوم

Kemudian kelompok ini berselisih pendapat menjadi tiga pandangan mengenai tata cara kewaspadaan (al-hadzar). Maka sekelompok orang berkata:

إذا حذرنا الله تعالى العدو فلا ينبغي أن يكون شيء أغلب في قلوبنا عن ذكره والحذر منه والترصد له فإنا إن غفلنا عنه لحظة فيوشك أن يهلكنا

"Apabila Allah Ta'ala telah memperingatkan kita tentang musuh (syaitan), maka tidak seyogianya ada sesuatu pun yang lebih mendominasi di dalam hati kita melebihi mengingatnya, mewaspadainya, dan mengintainya. Sebab jika kita lalai darinya sekejap saja, niscaya ia hampir membinasakan kita."

وقال قوم إن ذلك يؤدي إلى خلو القلب عن ذكر الله واشتغال الهم كله بالشيطان وذلك مراد الشيطان منا بل نشتغل بالعبادة وبذكر الله تعالى ولا ننسى الشيطان وعداوته والحاجة إلى الحذر منه فنجمع بين الأمرين فإنا إن نسينا ربما عرض من حيث لا نحتسب وإن تجردنا لذكره كنا قد أهملنا ذكر الله فالجمع أولى

Dan sekelompok orang berkata, "Sesungguhnya hal itu akan menyebabkan kosongnya hati dari berzikir mengingat Allah dan menyibukkan seluruh tekad (al-hamm) kepada syaitan, padahal itulah yang diinginkan syaitan dari kita. Melainkan, kita harus menyibukkan diri dengan ibadah dan berzikir kepada Allah Ta'ala, tanpa melupakan syaitan, permusuhannya, serta kebutuhan untuk mewaspadainya. Maka kita menggabungkan kedua hal tersebut. Sebab jika kita melupakannya, boleh jadi ia akan menyerang dari arah yang tidak kita sangka-sangka; dan jika kita memfokuskan diri hanya untuk mengingatnya (syaitan), berarti kita telah mengabaikan zikir kepada Allah. Maka menggabungkan keduanya adalah lebih utama."

وقال العلماء المحققون غلط الفريقان أما الأول فقد تجرد لذكر الشيطان ونسي ذكر الله فلا يخفى غلطه وإنما أمرنا بالحذر من الشيطان كيلا يصدنا عن الذكر فكيف نجعل ذكره اغلب الأشياء على قلوبنا وهو منتهى ضرر العدو ثم يؤدي ذلك إلى خلو القلب عن نور ذكر الله تعالى فإذا قصد الشيطان مثل هذا القلب وليس فيه نور ذكر الله تعالى وقوة الاشتغال به فيوشك أن يظفر به ولا يقوى على دفعه فلم يأمرنا بانتظار الشيطان ولا بإدمان ذكره وأما الفرقة الثانية فقد شاركت الأولى إذ جمعت في القلب بين ذكر الله والشيطان وبقدر ما يشتغل القلب بذكر الشيطان ينقص من ذكر الله وقد أمر الله الخلق بذكره ونسيان ما عداه إبليس وغيره فالحق أن يلزم العبد قلبه الحذر من الشيطان ويقرر على نفسه عداوته فإذا اعتقد ذلك وصدق به وسكن الحذر فيه فيشتغل بذكر الله ويكب عليه بكل الهمة ولا يخطر بباله أمر الشيطان فإنه إذا اشتغل بذلك بعد معرفة عداوته ثم خطر الشيطان له تنبه له

Para ulama muhaqqiqun (para peneliti yang mendalam) berkata: "Kedua kelompok tersebut telah keliru. Adapun kelompok pertama, mereka telah memfokuskan diri mengingat syaitan dan melupakan zikir kepada Allah, sehingga kekeliruannya sangat jelas. Kita hanya diperintahkan untuk mewaspadai syaitan agar ia tidak menghalangi kita dari zikir. Lalu bagaimana mungkin kita menjadikan ingatan kepadanya sebagai hal yang paling mendominasi hati kita, padahal itulah puncak bahaya dari musuh? Hal itu kemudian menyebabkan kosongnya hati dari cahaya zikir kepada Allah Ta'ala. Jika syaitan mendatangi hati yang seperti ini—yang di dalamnya tidak ada cahaya zikir kepada Allah Ta'ala dan kekuatan kesibukan dengan-Nya—niscaya ia hampir pasti menguasainya dan hati itu tidak berdaya menolaknya. Maka Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk menanti-nanti syaitan atau terus-menerus mengingatnya. Adapun kelompok kedua, mereka telah bersekutu dengan kelompok pertama karena mereka menggabungkan di dalam hati antara zikir kepada Allah dan ingatan kepada syaitan. Sejauh mana hati disibukkan dengan mengingat syaitan, sejauh itu pula berkurang zikir kepada Allah. Padahal Allah telah memerintahkan makhluk untuk berzikir mengingat-Nya dan melupakan selain-Nya, baik Iblis maupun lainnya. Maka yang benar adalah hendaknya seorang hamba menetapkan kewaspadaan terhadap syaitan di dalam hatinya dan mengukuhkan permusuhannya di dalam dirinya. Apabila ia telah meyakini dan membenarkan hal itu, serta kewaspadaan telah bersemayam di dalam dirinya, maka ia menyibukkan diri dengan berzikir kepada Allah dan mencurahkan seluruh tekadnya untuk itu tanpa membiarkan urusan syaitan terlintas di dalam benaknya. Sebab jika ia telah menyibukkan diri dengan zikir setelah mengetahui permusuhan syaitan, lalu terlintas bisikan syaitan kepadanya, ia akan langsung menyadarinya."

وعند التنبه يشتغل بدفعه والاشتغال بذكر الله لا يمنع من التيقظ عند نزغة الشيطان بل الرجل ينام وهو خائف من أن يفوته مهم عند طلوع الصبح فيلزم نفسه الحذر وينام على أن يتنبه في ذلك الوقت فيتنبه في الليل مرات قبل أوانه لما أسكن في قلبه من الحذر مع أنه بالنوم غافل عنه فاشتغاله بذكر الله كيف يمنع تنبهه ومثل هذا القلب هو الذي يقوي على دفع العدو إذا كان اشتغاله بمجرد ذكر الله تعالى قد أمات منه الهوى وأحيا فيه نور العقل والعلم وأماط عنه ظلمة الشهوات فأهل البصيرة أشعروا قلوبهم عداوة الشيطان وترصده وألزموها الحذر ثم لم يشتغلوا بذكره بل بذكر الله ودفعوا بالذكر شر العدو واستضاءوا بنور الذكر حتى صرفوا خواطر العدو

Dan ketika ia menyadarinya, ia segera menyibukkan diri untuk menolaknya. Kesibukan dengan berzikir kepada Allah tidak menghalangi kesiagaan saat terjadi godaan (nazghah) syaitan. Bahkan, seorang laki-laki tidur dalam keadaan khawatir akan terlewatkan suatu urusan penting saat terbit fajar, maka ia mewajibkan dirinya untuk waspada dan tidur dengan niat terbangun pada waktu tersebut, sehingga ia terbangun beberapa kali di malam hari sebelum waktunya karena kewaspadaan yang telah diikutsertakan di dalam hatinya, padahal secara fisik ia dalam keadaan tidur dan lalai darinya. Maka bagaimana mungkin kesibukannya dengan berzikir kepada Allah menghalangi kesadarannya? Hati yang seperti inilah yang kuat menolak musuh, apabila kesibukannya semata-mata dengan zikir kepada Allah Ta'ala telah mematikan hawa nafsu dari hatinya, menghidupkan cahaya akal dan ilmu di dalamnya, serta menyingkirkan kegelapan syahwat darinya. Maka ahlul bashirah (orang-orang yang memiliki pandangan mata hati) menyelimuti hati mereka dengan rasa permusuhan terhadap syaitan dan pengintaiannya serta menetapkan kewaspadaan padanya, kemudian mereka tidak menyibukkan diri dengan mengingat syaitan, melainkan dengan zikir kepada Allah. Mereka menolak kejahatan musuh dengan zikir dan mencari penerangan dengan cahaya zikir hingga mampu memalingkan lintasan-lintasan pikiran (khawatir) musuh.

فمثال القلب مثال بئر أريد تطهيرها من الماء القذر ليتفجر منها الماء الصافي فالمشتغل بذكر الشيطان قد ترك فيها الماء القذر والذي جمع بين ذكر الشيطان وذكر الله قد نزح الماء القذر من جانب ولكنه تركه جارياً إليها من جانب آخر فيطول تعبه ولا تجف البئر من الماء القذر والبصير هو الذي جعل لمجرى الماء القذر سداً وملأها بالماء الصافي فإذا جاء الماء القذر دفعه بالسكر والسد من غير كلفة ومؤنة وزيادة تعب

Perumpamaan hati adalah seperti sumur yang hendak dibersihkan dari air yang kotor agar memancar darinya air yang jernih. Orang yang sibuk mengingat syaitan telah membiarkan air kotor tetap berada di dalamnya. Orang yang menggabungkan antara mengingat syaitan dan zikir kepada Allah ibarat menguras air kotor dari satu sisi, tetapi membiarkannya tetap mengalir dari sisi yang lain, sehingga letihnya berpanjangan dan sumur tersebut tidak pernah kering dari air kotor. Sedangkan orang yang berpandangan tajam (al-bashir) adalah orang yang membuat bendungan pada saluran air kotor dan mengisinya dengan air jernih. Maka apabila air kotor itu datang, ia menolaknya dengan tanggul dan bendungan tanpa kesulitan, beban, maupun kepayahan yang berlebihan.

بَيَانُ الرُّخْصَةِ فِي قَصْدِ إِظْهَارِ الطَّاعَاتِ

PENJELASAN TENTANG KERINGANAN (RUKHSAH) DALAM MAKSUD MENAMPAKKAN KETAATAN-KETAATAN

اعْلَمْ أن في الأسرار للأعمال فَائِدَةَ الْإِخْلَاصِ وَالنَّجَاةَ مِنَ الرِّيَاءِ وَفِي الْإِظْهَارِ فائدة والإقتداء وَتَرْغِيبَ النَّاسِ فِي الْخَيْرِ وَلَكِنْ فِيهِ آفَةُ الرياء قال الحسن قد علم المسلمون إِنَّ السِّرَّ أَحْرَزُ الْعَمَلَيْنِ وَلَكِنْ فِي الْإِظْهَارِ أَيْضًا فَائِدَةٌ وَلِذَلِكَ أَثْنَى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ فَقَالَ إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لكم

Ketahuilah bahwa dalam menyembunyikan amalan terdapat faedah keikhlasan dan keselamatan dari riya. Sedangkan dalam menampakkannya terdapat faedah untuk dijadikan teladan (al-iqtida') serta memotivasi manusia dalam kebaikan, namun di dalamnya terdapat bahaya (afah) riya. Al-Hasan berkata: "Umat Islam telah mengetahui bahwa menyembunyikan amalan adalah yang lebih menjaga di antara dua bentuk amalan tersebut, namun dalam menampakkannya juga terdapat faedah." Oleh karena itu, Allah Ta'ala memuji amalan secara rahasia maupun terang-terangan melalui firman-Nya: "Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu adalah baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu" (QS. Al-Baqarah: 271).

وَالْإِظْهَارُ قِسْمَانِ أَحَدُهُمَا فِي نَفْسِ الْعَمَلِ وَالْآخَرُ التحدث بِمَا عَمِلَ

Dan menampakkan amalan itu ada dua bentuk: salah satunya adalah pada fisik amalan itu sendiri, dan yang lainnya adalah menceritakan apa yang telah diamalkan.

الْقِسْمُ الْأَوَّلُ إِظْهَارُ نَفْسِ الْعَمَلِ كَالصَّدَقَةِ فِي الْمَلَأِ لِتَرْغِيبِ النَّاسِ فِيهَا كَمَا رُوِيَ عَنِ الْأَنْصَارِيِّ الَّذِي جَاءَ بِالصُّرَّةِ فَتَتَابَعَ النَّاسُ بِالْعَطِيَّةِ لَمَّا رَأَوْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ من سن سنة حسنة فَعَمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنِ اتبعه // حديث من سن سنة حسنة فَعَمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنِ اتبعه وفي أوله قصة مسلم من حديث جرير بن عبد الله البيهقي

Bentuk pertama adalah menampakkan fisik amalan itu sendiri, seperti bersedekah di hadapan khalayak ramai untuk memotivasi manusia di dalamnya, sebagaimana diriwayatkan dari seorang sahabat Ansar yang datang membawa kantong uang lalu orang-orang ikut berurutan memberikan pemberian ketika melihatnya. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang memulai suatu kebiasaan yang baik (sunnah hasanah) lalu diamalkan, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya." // Hadis: "Barangsiapa yang memulai suatu kebiasaan yang baik lalu diamalkan…" dan di permulaannya terdapat kisah, diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Jarir bin 'Abdillah; juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi.

وَتَجْرِي سَائِرُ الْأَعْمَالِ هَذَا الْمَجْرَى مِنَ الصَّلَاةِ والصيام والحج والغزو وغيرها وَلَكِنَّ الِاقْتِدَاءَ فِي الصَّدَقَةِ عَلَى الطِّبَاعِ أَغْلَبُ

Dan seluruh amalan lainnya berlaku seperti alur ini, mulai dari shalat, puasa, haji, perang (jihad), dan selainnya; akan tetapi peneladanan dalam sedekah lebih mendominasi tabiat manusia.

نعم الغازي إذا هم بالخروج فاستعد وشد الرحل قبل القوم تحريضاً لهم على الحركة فذلك أفضل له لأن الغزو في أصله من أعمال العلانية لا يمكن إسراره فالمبادرة إليه ليست من الإعلان بل هو تحريض مجرد وكذلك الرجل قد يرفع صوته في الصلاة بالليل لينبه جيرانه وأهله فيقتدى به

Benar, seorang prajurit perang apabila hendak berangkat lalu bersiap-siap dan mengemas bekal sebelum orang banyak demi mendorong mereka untuk bergerak, maka itu lebih utama baginya. Sebab perang pada dasarnya termasuk amalan yang terang-terangan dan tidak mungkin dirahasiakan, sehingga bersegera padanya bukanlah bentuk pengumuman diri, melainkan murni suatu dorongan motivasi. Demikian pula seorang laki-laki yang terkadang meninggikan suaranya dalam shalat malam untuk membangunkan tetangga dan keluarganya agar ia diteladani.

فكل عمل لا يمكن إسراره كالحج والجهاد والجمعة فالأفضل المبادرة إليه وإظهار الرغبة فيه للتحريض بشرط أن لا يكون فيه شوائب الرياء وأما ما يمكن إسراره كالصدقة والصلاة فإن كان إظهار الصدقة يؤذي المتصدق عليه ويرغب الناس في الصدقة فالسر أفضل لأن الإيذاء حرام

Maka setiap amalan yang tidak mungkin dirahasiakan seperti haji, jihad, dan shalat Jumat, yang paling utama adalah bersegera padanya dan menampakkan keinginan padanya untuk memotivasi orang lain, dengan syarat tidak ada campur tangan noda-noda riya di dalamnya. Adapun amalan yang mungkin dirahasiakan seperti sedekah dan shalat, jika menampakkan sedekah itu menyakiti perasaan penerima sedekah meskipun dapat memotivasi manusia untuk bersedekah, maka merahasiakannya adalah lebih utama, karena menyakiti perasaan hukumnya haram.

فإن لم يكن فيه إيذاء فقد اختلف الناس في الأفضل فقال قوم السر أفضل من العلانية وإن كان في العلانية قدوة وقال قوم السر أَفْضَلُ مِنْ عَلَانِيَةٍ لَا قُدْوَةَ فِيهَا أَمَّا الْعَلَانِيَةُ لِلْقُدْوَةِ فَأَفْضَلُ مِنَ السِّرِّ

Namun jika tidak ada unsur menyakiti, para ulama berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama. Sekelompok orang berkata: Menyembunyikan amalan lebih utama daripada menampakkannya, meskipun dalam menampakkannya ada unsur keteladanan. Sekelompok orang lain berkata: Menyembunyikan amalan lebih utama daripada menampakkan amalan yang tidak ada keteladanan di dalamnya, adapun menampakkan amalan demi memberi keteladanan adalah lebih utama daripada menyembunyikannya.

وَيَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ ﷿ أَمَرَ الْأَنْبِيَاءَ بإظهار العمل للاقتداء وخصهم بمنصب النبوة ولا يجوز أن يظن بهم أنهم حرموا أفضل العملين

Dan yang menunjukkan hal itu adalah bahwa Allah Azza wa Jalla memerintahkan para nabi untuk menampakkan amalan agar dijadikan teladan, serta mengkhususkan mereka dengan kedudukan kenabian. Dan tidak boleh diduga bahwa mereka dihalangi dari amalan yang paling utama di antara kedua pilihan tersebut.

ويدل عليه قوله ﷺ فله أجرها وأجر من عمل بها وقد روي في الحديث

Hal itu juga ditunjukkan oleh sabda Nabi ﷺ: "Maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya." Dan sungguh telah diriwayatkan dalam hadis:

إن عمل السر يضاعف على عمل العلانية سبعين ضعفاً ويضاعف عمل العلانية إذا استن بعامله على عمل السر سبعين ضعفا // حديث إن عمل السر يضاعف على عمل العلانية بسبعين ضعفاً ويضاعف عمل العلانية إذا استن به على عمل السر سبعين ضعفا أخرجه البيهقي في الشعب من حديث أبي الدرداء مقتصرا على الشطر الأول بنحوه وقال هذا من أفراد بقية عن شيوخه المجهولين وقد تقدم قبل هذا بنحو ورقتين وله من حديث ابن عمر عمل السر أفضل من عمل العلانية والعلانية أفضل لمن أراد الاقتداء وقال تفرد به بقية عن عبد الملك بن مهران وله من حديث عائشة يفضل أو يضاعف الذكرالخفي الذي لا يسمعه الحفظة على الذي تسمعه بسبعين ضعفا وقال تفرد به معاوية بن يحيى الصدفي وهو ضعيف

"Sesungguhnya amalan rahasia dilipatgandakan atas amalan terang-terangan sebanyak tujuh puluh kali lipat, dan amalan terang-terangan dilipatgandakan atas amalan rahasia apabila pelakunya dijadikan teladan sebanyak tujuh puluh kali lipat." // Hadis: "Sesungguhnya amalan rahasia dilipatgandakan atas amalan terang-terangan…" Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman dari hadis Abu ad-Darda' secara ringkas pada bagian pertama yang senada, dan ia berkata: "Ini termasuk riwayat menyendiri (tafarrud) Baqiyyah dari guru-gurunya yang majhul." Dan hadis ini telah lalu sebelum ini sekitar dua lembar. Ia juga memiliki riwayat dari hadis Ibn 'Umar: "Amalan rahasia lebih utama daripada amalan terang-terangan, dan amalan terang-terangan lebih utama bagi orang yang bermaksud memberi teladan," dan ia berkata: "Diriwayatkan secara tunggal oleh Baqiyyah dari 'Abdul Malik bin Mihran." Dan ia juga memiliki riwayat dari hadis 'Aisyah: "Zikir tersembunyi yang tidak didengar oleh malaikat pencatat amal lebih utama atau dilipatgandakan atas zikir yang didengarnya sebanyak tujuh puluh kali lipat," dan ia berkata: "Diriwayatkan secara tunggal oleh Mu'awiyah bin Yahya as-Sadafi, dan dia seorang yang dha'if."

وهذا لا وجه للخلاف فيه فإنه مهما انفك القلب عن شوائب الرياء وتم الإخلاص على وجه واحد في الحالتين فما يقتدى به أفضل لا محالة وإنما يخاف من ظهور الرياء ومهما حصلت شائبة الرياء لم ينفعه اقتداء غيره وهلك به فلا خلاف في أن السر أفضل منه

Dan hal ini tidak ada alasan untuk diperselisihkan. Sebab, manakala hati telah terbebas dari noda-noda riya dan keikhlasan telah sempurna secara konsisten pada kedua keadaan tersebut, maka amalan yang dijadikan teladan tidak ragu lagi adalah lebih utama. Yang dikhawatirkan hanyalah munculnya riya, padahal manakala noda riya itu terjadi, maka peneladanan orang lain tidak akan bermanfaat baginya dan ia pun binasa karenanya. Maka tidak ada perselisihan bahwa menyembunyikan amalan adalah lebih utama dari itu.

وَلَكِنْ عَلَى مَنْ يُظْهِرُ الْعَمَلَ وَظِيفَتَانِ

Namun, bagi orang yang menampakkan amalan terdapat dua kewajiban:

إِحْدَاهُمَا أن يظهره حيث يعلم أنه يقتدي به أو يظن ذلك ظَنًّا وَرُبَّ رَجُلٍ يَقْتَدِي بِهِ أَهْلُهُ دُونَ جِيرَانِهِ وَرُبَّمَا يَقْتَدِي بِهِ جِيرَانُهُ دُونَ أَهْلِ السُّوقِ وَرُبَّمَا يَقْتَدِي بِهِ أَهْلُ مَحَلَّتِهِ وَإِنَّمَا الْعَالِمُ الْمَعْرُوفُ هُوَ الَّذِي يَقْتَدِي بِهِ النَّاسُ كَافَّةً

Pertama, ia menampakkannya di mana ia tahu bahwa ia akan diteladani, atau ia menduga kuat hal tersebut. Boleh jadi seseorang diteladani oleh keluarganya tetapi tidak oleh tetangganya, atau diteladani oleh tetangganya tetapi tidak oleh orang-orang di pasar, atau diteladani oleh penduduk kampungnya. Sedangkan ulama yang masyhur adalah orang yang diteladani oleh seluruh manusia.

فَغَيْرُ الْعَالِمِ إِذَا أَظْهَرَ بَعْضَ الطَّاعَاتِ رُبَّمَا نُسِبَ إِلَى الرِّيَاءِ وَالنِّفَاقِ وَذَمُّوهُ وَلَمْ يَقْتَدُوا بِهِ فَلَيْسَ لَهُ الْإِظْهَارُ مِنْ غَيْرِ فَائِدَةٍ وَإِنَّمَا يَصِحُّ الْإِظْهَارُ بِنِيَّةِ الْقُدْوَةِ مِمَّنْ هُوَ فِي مَحَلِّ الْقُدْوَةِ عَلَى مَنْ هُوَ في محل الاقتداء به

Maka orang yang bukan ulama, jika ia menampakkan sebagian ketaatan, sering kali dituduh riya dan nifak, dicela, serta tidak diteladani. Maka tidak ada gunanya baginya menampakkan amal tanpa manfaat. Menampakkan amal dengan niat agar diteladani hanyalah sah dilakukan oleh orang yang berada pada posisi patut diteladani, terhadap orang yang berada dalam kedudukan meneladaninya.

والثانية أَنْ يُرَاقِبَ قَلْبَهُ فَإِنَّهُ رُبَّمَا يَكُونُ فِيهِ حب الرياء الخفي فيدعوه الْإِظْهَارِ بِعُذْرِ الِاقْتِدَاءِ وَإِنَّمَا شَهْوَتُهُ التَّجَمُّلُ بِالْعَمَلِ وبكونه يقتدي به وهذا حال كل من يظهر أعماله إلا الأقوياء المخلصين وقليل ما هم

Kedua, hendaklah ia mengawasi hatinya (muraqabah), karena boleh jadi di dalamnya terdapat kecintaan pada riya yang tersembunyi (riya' khafi), sehingga ia terdorong menampakkan amal dengan alasan memberi teladan, padahal hasrat sebenarnya hanyalah untuk memperindah diri dengan amal tersebut dan bangga karena diteladani. Dan ini adalah keadaan setiap orang yang menampakkan amal-amalnya, kecuali orang-orang yang kuat lagi ikhlas, dan betapa sedikitnya mereka.

فلا ينبغي أن يخدع الضعيف نفسه بذلك فيهلك وهو لا يشعر فإن الضعيف مثاله مثال الغريق الذي يحسن سباحة ضعيفة فنظر إلى جماعة من الغرقى فرحمهم فأقبل عليهم حتى تشبثوا به فهلكوا وهلك والغرق بالماء في الدنيا ألمه ساعة وليت كان الهلاك بالرياء مثله لا بل عذابه دائم مدة مديدة وهذه مزلة أقدام العباد والعلماء فإنهم يتشبهون بالأقوياء في الإظهار ولا تقوى قلوبهم على الإخلاص فتحبط أجورهم بالرياء والتفطن لذلك غامض ومحك ذلك أن يعرض على نفسه أنه لو قيل له أخف العمل حتى يقتدي الناس بعابد آخر من أقرانك ويكون لك في السر مثل أجر الإعلان فإن مال قلبه إلى أن يكون هو المقتدى به وهو المظهر للعمل فباعثه الرياء دون طلب الأجر واقتداء الناس به ورغبتهم في الخير فإنهم قد رغبوا في الخير بالنظر إلى غيره وأجره قد توفر عليه مع إسراره فما بال قلبه يميل إلى الإظهار لولا ملاحظته لأعين الخلق ومراءاتهم فَلْيَحْذَرِ الْعَبْدُ خِدْعَ النَّفْسِ فَإِنَّ النَّفْسَ خَدُوعٌ وَالشَّيْطَانَ مُتَرَصِّدٌ وَحُبَّ الْجَاهِ عَلَى الْقَلْبِ غَالِبٌ وَقَلَّمَا تَسْلَمُ الْأَعْمَالُ الظَّاهِرَةُ عَنِ الْآفَاتِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَعْدِلَ بِالسَّلَامَةِ شَيْئًا وَالسَّلَامَةُ فِي الْإِخْفَاءِ وَفِي الْإِظْهَارِ مِنَ الْأَخْطَارِ مَا لَا يَقْوَى عَلَيْهِ أَمْثَالُنَا فَالْحَذَرُ مِنَ الْإِظْهَارِ أَوْلَى بِنَا وَبِجَمِيعِ الضُّعَفَاءِ

Maka orang yang lemah tidak sepantasnya menipu dirinya sendiri dengan hal itu, sehingga ia binasa tanpa ia sadari. Kiasan bagi orang yang lemah adalah seperti orang tenggelam yang hanya bisa berenang secara lemah, lalu ia melihat sekelompok orang yang tenggelam, merasa kasihan pada mereka, lalu mendekati mereka hingga mereka memeganginya erat-erat, maka binasalah mereka dan binasa pula ia. Tenggelam di air dunia rasanya hanya sesaat, dan aduhai sekiranya kebinasaan akibat riya itu serupa dengannya; sebaliknya, azabnya berlangsung terus-menerus dalam waktu yang sangat lama. Ini adalah tempat menggelincirkan kaki para hamba dan ulama, sebab mereka menyerupai orang-orang yang kuat dalam menampakkan amal, padahal hati mereka tidak kuat untuk ikhlas, sehingga pahala mereka gugur disebabkan riya. Memahami hal ini sangatlah rumit. Tolok ukurnya adalah ia menguji dirinya: sekiranya dikatakan kepadanya, 'Sembunyikanlah amalmu agar orang-orang meneladani ahli ibadah lain yang sederajat denganmu, dan engkau secara rahasia mendapatkan pahala yang sama seperti pahala menampakkannya,' jika hatinya lebih cenderung untuk menjadi pihak yang diteladani dan yang menampakkan amal, maka pendorongnya adalah riya, bukan mencari pahala, meneladankan orang lain, atau menanamkan kecintaan mereka pada kebaikan. Sebab mereka telah menyukai kebaikan dengan melihat orang lain, dan pahalanya sudah didapatkan secara penuh meskipun disembunyikan. Mengapa hatinya masih cenderung menampakkan amal kalau bukan karena memperhatikan pandangan makhluk dan mencari muka di hadapan mereka? Maka hendaklah seorang hamba waspada terhadap tipu daya nafsu, karena nafsu itu sangat menipu, setan selalu mengintai, dan cinta kedudukan (hubbul jah) sangat menguasai hati. Jarang sekali amal-amal yang ditampakkan selamat dari bahaya penyakit hati (afat), maka tidak sepantasnya ia menggantikan keselamatan itu dengan apa pun. Keselamatan ada pada menyembunyikan amal, sedangkan dalam menampakkan amal terdapat bahaya-bahaya yang orang-orang seperti kita tidak sanggup menghadapinya. Oleh karena itu, berhati-hati dari menampakkan amal adalah lebih utama bagi kita dan bagi seluruh orang yang lemah.

الْقِسْمُ الثَّانِي أَنْ يَتَحَدَّثَ بِمَا فَعَلَهُ بَعْدَ الْفَرَاغِ وَحُكْمُهُ حُكْمُ إِظْهَارِ الْعَمَلِ نَفْسِهِ وَالْخَطَرُ فِي هَذَا أَشُدُّ لِأَنَّ مُؤْنَةَ النُّطْقِ خَفِيفَةٌ عَلَى اللِّسَانِ وَقَدْ تَجْرِي فِي الْحِكَايَةِ زِيَادَةٌ وَمُبَالَغَةٌ وَلِلنَّفْسِ لَذَّةٌ فِي إِظْهَارِ الدَّعَاوَى عَظِيمَةٌ إِلَّا أَنَّهُ لَوْ تَطَرَّقَ إِلَيْهِ الرِّيَاءُ لَمْ يُؤَثِّرْ فِي إِفْسَادِ الْعِبَادَةِ الْمَاضِيَةِ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْهَا فَهُوَ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ أَهْوَنُ وَالْحُكْمُ فِيهِ أَنَّ مَنْ قَوِيَ قَلَبُهُ وَتَمَّ إِخْلَاصُهُ وَصَغُرَ النَّاسُ فِي عَيْنِهِ وَاسْتَوَى عِنْدَهُ مَدْحُهُمْ وَذَمُّهُمْ وَذِكْرُ ذَلِكَ عِنْدَ مَنْ يَرْجُو الِاقْتِدَاءَ بِهِ وَالرَّغْبَةَ فِي الْخَيْرِ بسببه فهو جائز بل هو مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ إِنْ صَفَتِ النِّيَّةُ وَسَلِمَتْ عَنْ جَمِيعِ الْآفَاتِ لِأَنَّهُ تَرْغِيبٌ فِي الْخَيْرِ وَالتَّرْغِيبُ فِي الْخَيْرِ خَيْرٌ وَقَدْ نُقِلَ مِثْلُ ذَلِكَ عن جماعة من السلف الأقوياء

Bagian kedua: Menceritakan apa yang telah ia kerjakan setelah selesai melakukannya. Hukumnya sama dengan hukum menampakkan amal itu sendiri, dan bahayanya dalam hal ini lebih keras, karena beban ucapan sangat ringan bagi lidah, serta sering kali terselip penambahan dan berlebih-lebihan dalam penceritaan, dan bagi nafsu terdapat kelezatan yang besar dalam menampakkan pengakuan-pengakuan (da'awa). Hanya saja, sekiranya riya merasukinya, hal itu tidak merusak ibadah yang telah berlalu setelah selesai darinya; maka dari sisi ini ia lebih ringan. Hukum dalam hal ini adalah bahwa barang siapa hatinya kuat, keikhlasannya sempurna, manusia menjadi kecil di matanya, serta pujian dan celaan mereka sama saja baginya, lalu ia menceritakan hal itu di hadapan orang yang ia harapkan dapat meneladaninya dan menyukai kebaikan karenanya, maka hukumnya boleh, bahkan dianjurkan (mandub) jika niatnya murni dan selamat dari segala penyakit hati (afat). Karena hal itu merupakan ajakan pada kebaikan, dan mengajak pada kebaikan adalah suatu kebaikan. Sungguh, hal seperti itu telah diriwayatkan dari sekelompok ulama Salaf yang kuat.

قال سعد بن معاذ

Sa'ad bin Mu'adz berkata:

ما صليت صلاة منذ أسلمت فحدثت نفسي بغيرها ولا تبعت جنازة فحدثت نفسي بغير ما هي قائلة وما هو مقول لها وما سمعت النبي ﷺ يقول قولاً قط إلا علمت أنه حق

Aku tidak pernah mengerjakan satu shalat pun sejak aku masuk Islam lalu hatiku berbisik tentang hal lain, aku tidak pernah mengiringi jenazah lalu hatiku membisikkan hal selain apa yang dikatakan oleh jenazah itu dan apa yang dikatakan kepadanya, dan tidaklah aku mendengar Nabi ﷺ bersabda suatu perkataan pun melainkan aku meyakini bahwa itu adalah kebenaran.

وقال عمر ﵁ ما أبالي أصبحت على عسر أو يسر لأني لا أدري أيهما خير لي وقال ابن مسعود ما أصبحت على حال فتمنيت أن أكون على غيرها

Dan Umar ra. berkata: 'Aku tidak peduli apakah aku memasuki pagi hari dalam keadaan kesulitan atau kemudahan, karena aku tidak tahu mana di antara keduanya yang lebih baik bagiku.' Dan Ibn Mas'ud berkata: 'Tidaklah aku memasuki pagi hari dalam suatu keadaan lalu aku berharap berada dalam keadaan yang lain.'

وقال عثمان ﵁ ما تغنيت ولا تمنيت ولا مسست ذكري بيميني منذ بايعت رسول الله ﷺ حديث إن الله ليؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر وبأقوام لا خلاق لهم هما حديثان فالأول متفق عليه من حديث أبي هريرة وقد تقدم في العلم والثاني رواه النسائي من حديث أنس بسند صحيح وتقدم أيضا

Dan Utsman ra. berkata: 'Aku tidak pernah menyanyi, tidak pernah berangan-angan angan-angan keji, dan tidak pernah menyentuh kemaluanku dengan tangan kananku sejak aku membaiat Rasulullah ﷺ.' Hadis 'Sesungguhnya Allah benar-benar menguatkan agama ini dengan seorang laki-laki yang jahat (fajir) dan dengan kaum yang tidak memiliki bagian di akhirat', keduanya adalah dua hadis yang berbeda. Yang pertama disepakati kesahihannya (Muttafaq 'alaih) dari hadis Abu Hurairah dan telah disebutkan dalam Kitab Ilmu. Yang kedua diriwayatkan oleh An-Nasa'i dari hadis Anas dengan sanad shahih, dan juga telah disebutkan sebelumnya.

كما ورد في الأخبار وبعض المرائين ممن يقتدي به منهم والله تعالى أعلم

Sebagaimana yang diriwayatkan dalam riwayat-riwayat, dan sebagian orang yang riya di antara mereka termasuk orang yang diteladani; Wallahu Ta'ala A'lam (dan Allah Ta'ala yang lebih mengetahui).

بيان الرخصة في كتمان الذنوب وكراهة إطلاع الناس عليها وكراهة ذمهم

Penjelasan tentang Keringanan (Rukhshah) dalam Menyembunyikan Dosa-Dosa, Serta Dibencinya Menampakkannya kepada Manusia dan Dibencinya Celaan Mereka

له

Kepadanya.

اعلم أن الأصل في الإخلاص استواء السريرة والعلانية كما قال عمر ﵁ لرجل عليك بعمل العلانية قال يا أمير المؤمنين وما عمل العلانية قال

Ketahuilah bahwa prinsip dasar dalam ikhlas adalah kesamaan antara batin dan lahir (rahasia dan keterusterangan), sebagaimana kata Umar ra. kepada seseorang: 'Hendaklah engkau berpegang pada amal keterusterangan (al-'alaniyah).' Orang itu bertanya: 'Wahai Amirul Mukminin, apakah amal keterusterangan itu?' Beliau menjawab:

ما إذا اطلع عليك لم تستحي منه

'Amal yang apabila orang lain mengetahuinya, engkau tidak merasa malu darinya.'

وقال أبو مسلم الخولاني ما عملت عملاً أبالي أن يطلع الناس عليه إلا إتياني أهلي والبول والغائط إلا أن هذه درجة عظيمة لا ينالها كل واحد

Abu Muslim al-Khaulani berkata: 'Aku tidak pernah melakukan suatu amal pun yang aku peduli jika orang lain mengetahuinya, kecuali saat mendatangi istriku, buang air kecil, dan buang air besar.' Hanya saja, ini adalah derajat yang sangat agung yang tidak dapat dicapai oleh setiap orang.

ولا يخلو الإنسان عن ذنوب بقلبه أو بجوارحه وهو يخفيها ويكره اطلاع الناس عليها لا سيما ما تختلج به الخواطر في الشهوات والأماني والله مطلع على جميع ذلك فإرادة العبد لإخفائها عن العبيد ربما يظن أنه رياء محظور وليس كذلك بل المحظور أنه يستر ذلك ليري الناس أنه ورع خائف من الله تعالى مع أنه ليس كذلك فهذا هو ستر المرائي

Manusia tidak terlepas dari dosa-dosa, baik di dalam hatinya maupun pada anggota badannya, yang ia sembunyikan dan ia benci jika diketahui manusia, terutama apa yang terlintas dalam bisikan hati berupa syahwat dan angan-angan, padahal Allah Maha Melihat seluruh hal tersebut. Maka keinginan seorang hamba untuk menyembunyikannya dari sesama hamba boleh jadi dikira sebagai riya yang terlarang, padahal tidak demikian. Hal yang terlarang adalah jika ia menutupi dosa itu agar manusia melihatnya sebagai orang yang wara' dan takut kepada Allah Ta'ala, padahal kenyataannya tidaklah demikian; inilah penutupan dosa orang yang riya.

وأما الصادق الذي لا يرائي فله ستر المعاصي ويصح قصده فيه ويصح اغتمامه باطلاع الناس عليه في ثمانية أوجه

Adapun orang yang jujur (shadiq) yang tidak riya, maka ia boleh menutupi kemaksiatan-kemaksiatan, dan niatnya dalam hal itu adalah sah, serta sah pula kesedihannya jika manusia mengetahui maksiatnya dari delapan sisi:

الأول أن يفرح بستر الله عليه وإذا افتضح اغتم بهتك الله ستره وخاف أن يهتك ستره في القيامة إذ ورد في الخبر أن من ستر الله عليه في الدنيا ذنباً ستره الله عليه في الآخرة // حديث إن من ستر عليه في الدنيا يستر عليه في الآخرة تقدم قبل هذا بورقة

Pertama, ia merasa gembira dengan tirai penutup dari Allah atas dirinya, dan jika aibnya terbongkar, ia bersedih karena Allah telah membongkar tirai penutup-Nya, serta ia takut tirainya disingkapkan di hari kiamat. Sebab telah disebutkan dalam riwayat bahwa barang siapa yang Allah tutupi dosanya di dunia, maka Allah akan menutupinya pula di akhirat. // Hadis 'Sesungguhnya barang siapa yang ditutupi dosanya di dunia akan ditutupi di akhirat', telah disebutkan satu lembar sebelum ini.

وهذا غم ينشأ من قوة الإيمان

Dan kesedihan ini timbul dari kekuatan iman.

الثاني أنه قد علم أن الله تعالى يكره ظهور المعاصي ويحب سترها كما قال ﷺ من ارتكب شيئاً من هذه القاذورات فليستتر بستر الله حديث الحياء خير كله أخرجه مسلم من حديث عمران بن حصين وقد تقدم

Kedua, ia telah mengetahui bahwa Allah Ta'ala membenci tampaknya kemaksiatan dan menyukai penutupannya, sebagaimana bersabda Rasulullah ﷺ: 'Barang siapa melakukan sesuatu dari perbuatan-perbuatan kotor ini, hendaklah ia menutupi dirinya dengan tutupan Allah.' Hadis 'Rasa malu itu seluruhnya adalah kebaikan', diriwayatkan oleh Muslim dari hadis 'Imran bin Husain dan telah disebutkan sebelumnya.

وقال ﷺ الحياء شعبة من الإيمان حديث الحياء لا يأتي إلا بخير متفق عليه من حديث عمران بن حصين وقد تقدم

Rasulullah ﷺ bersabda, "Rasa malu adalah salah satu cabang dari iman." Hadis "Rasa malu itu tidak mendatangkan melainkan kebaikan" adalah muttafaq 'alaih dari hadis 'Imran bin Husain dan telah disebutkan sebelumnya.

وَقَالَ ﷺ إِنَّ اللَّهَ يحب الحيى الحليم // حديث إن الله يحب الحيي الحليم أخرجه الطبراني من حديث فاطمة وللبزار من حديث أبي هريرة إن الله يحب الغني الحليم المتعفف وفيه ليث بن أبي سليم مختلف فيه

Dan Beliau ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah menyukai orang yang pemalu lagi penyantun." // Hadis "Sesungguhnya Allah menyukai orang yang pemalu lagi penyantun" diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari hadis Fathimah, dan diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari hadis Abu Hurairah dengan lafal "Sesungguhnya Allah menyukai orang yang kaya, penyantun, lagi menjaga kehormatan diri". Di dalam sanadnya terdapat Laits bin Abi Sulaim yang diperdebatkan (mukhtalaf fihi).

فالذي يفسق ولا يبالي أن يظهر فسقه

Maka orang yang berbuat fasik dan tidak peduli bahwa kefasikannya tampak…

للناس جمع إلى الفسق والتهتك والوقاحة وفقد الحياء فهو أشد حالاً ممن يستتر ويستحيي إلا أن الحياء ممتزج بالرياء ومشتبه به اشتباهاً عظيماً قل من يتفطن له ويدعي كل مراء أنه مستحي وأن سبب تحسينه العبادات هو الحياء من الناس وذلك كذب بل الحياء خلق ينبعث من الطبع الكريم وتهيج عقبه داعية الرياء وداعية الإخلاص ويتصور أن يخلص معه ويتصور أن يرائي معه

…kepada manusia, berarti ia telah menggabungkan antara kefasikan, hilangnya kehormatan, ketidaktahuan diri, serta sirnanya rasa malu. Keadaannya jauh lebih buruk daripada orang yang menyembunyikan dosa dan merasa malu. Hanya saja, rasa malu itu acapkali bercampur dengan riya' dan sangat mirip dengannya, sehingga jarang ada yang menyadarinya. Setiap pelaku riya' mengaku bahwa dirinya merasa malu dan bahwa alasannya memperbagus ibadah adalah rasa malu kepada manusia, padahal itu dusta. Sebaliknya, rasa malu adalah akhlak yang memancar dari watak yang mulia, dan darinya dapat bangkit dorongan riya' maupun dorongan ikhlas. Sangat mungkin seseorang bersikap ikhlas menyertainya, dan mungkin pula ia berbuat riya' menyertainya.

وبيانه أن الرجل يطلب من صديق له قرضاً ونفسه لا تسخو بإقراضه إلا أنه يستحي من رده وعلم أنه لو راسله على لسان غيره لكان لا يستحيي ولا يقرض رياء ولا لطلب الثواب فله عند ذلك أحوال أحدها أن يشافه بالرد الصريح ولا يبالي فينسب إلى قلة الحياء وهذا فعل من لا حياء له

Penjelasannya adalah bahwa seseorang meminta pinjaman dari temannya, sementara jiwanya tidak rela memberinya pinjaman, namun ia merasa malu untuk menolaknya. Ia tahu bahwa seandainya temannya itu berkirim pesan lewat perantara orang lain, ia tidak akan merasa malu dan tidak akan memberi pinjaman, baik demi riya' maupun demi mencari pahala. Dalam keadaan demikian, ada beberapa kondisi baginya. Pertama, ia menolak secara berhadapan langsung dan tidak peduli, sehingga ia dinisbatkan sebagai orang yang kurang malu; ini adalah perbuatan orang yang tidak memiliki rasa malu.

فإن المستحيي إما أن يتعلل أو يقرض

Sebab, orang yang memiliki rasa malu, adakalanya ia mencari-cari alasan atau tetap memberi pinjaman.

فإن أعطي فيتصور له ثلاثة أحوال

Jika ia memberi pinjaman, maka dapat dibayangkan adanya tiga keadaan:

أحدها

Keadaan pertama:

أن يمزج الرياء بالحياء بأن يهيج الحياء فيقبح عنده الرد فيهيج خاطر الرياء ويقول ينبغي أن تعطى حتى يثنى عليك ويحمدك وينشر اسمك بالسخاء أو ينبغي أن تعطى حتى لا يذمك ولا ينسبك إلى البخل

Bahwa ia mencampur riya' dengan rasa malu. Caranya, ketika rasa malu bergejolak sehingga ia merasa buruk untuk menolak, bangkitlah bisikan riya' yang berkata, "Engkau harus memberi agar engkau dipuji, disanjung, dan namamu tersebar sebagai orang dermawan," atau "Engkau harus memberi agar ia tidak mencelamu dan tidak mencapmu bakhil."

فإذا أعطى فقد أعطى بالرياء وكان المحرك للرياء هو هيجان الحياء

Maka ketika ia memberi, ia telah memberi dengan dasar riya', dan pendorong timbulnya riya' tersebut adalah bergejolaknya rasa malu.

الثاني أن يتعذر عليه الرد بالحياء ويبقى في نفسه البخل فيتعذر الإعطاء فيهيج داعي الإخلاص ويقول له إن الصدقة بواحدة والقرض بثمان عشرة ففيه أجر عظيم وإدخال سرور على قلب صديق وذلك محمود عند الله تعالى فتسخو النفس بالإعطاء لذلك فهذا مخلص هيج الحياء إخلاصه

Keadaan kedua: Ia merasa sulit untuk menolak karena rasa malu, sementara dalam dirinya masih ada kebakhilan sehingga sulit pula untuk memberi. Lalu, bergejolaklah pendorong keikhlasan yang berkata kepadanya, "Sedekah dibalas satu kebaikan, sedangkan memberi pinjaman dibalas delapan belas kali lipat. Di dalamnya terdapat pahala yang besar dan dapat memasukkan kegembiraan ke dalam hati seorang sahabat, dan hal itu terpuji di sisi Allah Ta'ala." Maka jiwanya pun menjadi dermawan untuk memberi karena alasan tersebut. Orang ini adalah orang yang ikhlas, yang mana keikhlasannya dibangkitkan oleh rasa malu.

الثالث أن لا يكون له رغبة في الثواب ولا خوف من مذمته ولا حب لمحمدته لأنه لو طلبه مراسلة لكان لا يعطيه فأعطاه بمحض الحياء وهو ما يجده في قلبه من ألم الحياء ولولا الحياء لرده ولو جاءه من لا يستحي منه من الأجانب أو الأراذل لكان يرده وإن كثر الحمد والثواب فيه فهذا مجرد الحياء ولا يكون هذا إلا في القبائح كالبخل ومقارفة الذنوب

Keadaan ketiga: Ia tidak memiliki hasrat untuk mendapat pahala, tidak takut akan celaan, dan tidak suka sanjungan; sebab jika temannya meminta lewat perantara, ia tidak akan memberinya. Ia memberinya semata-mata karena rasa malu, yaitu rasa sakit akibat rasa malu yang ia rasakan di dalam hatinya. Seandainya bukan karena rasa malu, tentu ia menolaknya. Bahkan jika yang datang kepadanya adalah orang asing atau orang hina yang tidak ia segani, ia pasti akan menolaknya meskipun pujian dan pahalanya besar. Maka ini adalah rasa malu murni, dan hal seperti ini tidak terjadi kecuali dalam menyikapi hal-hal yang buruk, seperti kebakhilan dan melakukan dosa-dosa.

والمرائي يستحي من المباحات أيضاً حتى إنه يرى مستعجلاً في المشي فيعود إلى الهدوء أو ضاحكاً فيرجع إلى الانقباض ويزعم أن ذلك حياء وهو عين الرياء

Adapun orang yang berbuat riya', ia merasa malu pula terhadap hal-hal yang murni mubah. Sampai-sampai jika ia terlihat berjalan terburu-buru, ia kembali berjalan tenang, atau jika terlihat tertawa, ia kembali menahan diri; lalu ia mengklaim bahwa hal itu adalah rasa malu, padahal itu adalah inti dari riya'.

وقد قيل إن بعض الحياء ضعف وهو صحيح والمراد به الحياء مما ليس بقبيح كالحياء من وعظ الناس وإمامة الناس في الصلاة وهو في الصبيان والنساء محمود وفي العقلاء غير محمود

Dan telah dikatakan bahwa sebagian rasa malu itu adalah kelemahan, dan ini benar. Yang dimaksud adalah rasa malu terhadap hal yang bukan perkara buruk, seperti malu memberi nasihat kepada manusia atau menjadi imam shalat bagi orang-orang. Rasa malu seperti ini terpuji bagi anak-anak dan wanita, namun tidak terpuji bagi orang-orang dewasa yang berakal.

وقد تشاهد معصية من شيخ فتستحي من شيبته أن تنكر عليه لأن من إجلال الله إجلال ذي الشيبة المسلم وهذا الحياء حسن وأحسن منه أن يستحي من الله فلا تضيع الأمر بالمعروف فالقوي يؤثر الحياء من الله على الحياء من الناس والضعيف قد لا يقدر عليه فهذه هي الأسباب التي يجوز لأجلها ستر القبائح والذنوب

Kadang kala engkau menyaksikan kemaksiatan dari seorang tua, lalu engkau malu terhadap ubannya untuk mengingkari dirinya, karena termasuk bentuk mengagungkan Allah adalah memuliakan orang Muslim yang beruban. Rasa malu ini adalah baik, namun yang lebih baik daripadanya adalah merasa malu kepada Allah sehingga engkau tidak mengabaikan amar ma'ruf. Orang yang kuat akan mengutamakan rasa malu kepada Allah daripada rasa malu kepada manusia, sedangkan orang yang lemah mungkin tidak mampu melakukannya. Maka inilah alasan-alasan yang membolehkan dilakukannya penyembunyian keburukan dan dosa-dosa.

الثامن أن يخاف من ظهور ذنبه أن يستجرئ عليه غيره ويقتدي به وهذا العلة الواحدة فقط هي الجارية في إظهار الطاعة وهو القدوة ويختص ذلك بالأئمة أو بمن يقتدي به وبهذه العلة ينبغي أيضاً أن يخفي العاصي أيضاً معصيته من أهله وولده لأنهم يتعلمون منه

Kedelapan: Ia khawatir jika dosanya nampak, orang lain akan berani melakukan dosa tersebut dan meneladaninya. Alasan yang satu ini jugalah yang berlaku dalam menampakkan ketaatan, yaitu agar menjadi teladan (qudwah), dan hal ini khusus bagi para pemimpin atau orang yang diteladani. Atas dasar alasan ini pula, hendaknya seorang pelaku maksiat menyembunyikan maksiatnya dari keluarga dan anaknya, karena mereka akan belajar darinya.

ففي ستر الذنوب هذه الأعذار الثمانية وليس في إظهار الطاعة عذر إلا هذا العذر الواحد ومهما قصد بستر المعصية أن يخيل إلى الناس أنه ورع كان مرائياً كما إذا قصد ذلك بإظهار الطاعة

Maka dalam menyembunyikan dosa terdapat delapan udzur ini, sementara dalam menampakkan ketaatan tidak ada udzur kecuali satu udzur ini saja. Dan kapan saja seseorang bermaksud menyembunyikan maksiat agar dipandang manusia sebagai orang yang wara', maka ia tergolong orang yang riya', sebagaimana jika ia bermaksud demikian dengan menampakkan ketaatan.

فإن قلت فهل يجوز للعبد أن يحب حمد الناس له بالصلاح وحبهم إياه بسببه وقد قال رجل للنبي صلى الله عليه وسلم

Jika engkau bertanya: "Apakah boleh bagi seorang hamba menyukai pujian manusia kepadanya atas kebaikannya serta kecintaan mereka kepadanya karena kebaikan tersebut, padahal seorang lelaki pernah berkata kepada Nabi ﷺ:"

دلني على ما يحبني الله عليه ويحبني الناس قال ازهد في الدنيا يحبك الله وانبذ إليهم هذا الحطام يحبوك // حديث قال رجل دلني على ما يحبني الله عليه ويحبني الناس قال ازهد في الدنيا يحبك الله الحديث أخرجه ابن ماجه من حديث سهل بن سعد بلفظ وازهد فيما في أيدي الناس وقد تقدم

"'Tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang jika kuamalkan maka Allah mencintaiku dan manusia pun mencintaiku!' Beliau bersabda, 'Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah mencintaimu, dan lemparkanlah kesenangan duniawi yang fana ini kepada mereka niscaya mereka mencintaimu.'" // Hadis "Seorang lelaki berkata: Tunjukkanlah kepadaku amalan yang membuat Allah mencintaiku dan manusia mencintaiku…" diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadis Sahl bin Sa'ad dengan lafal "dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia", dan hadis ini telah disebutkan sebelumnya.

فنقول حبك لحب الناس لك قد يكون مباحاً وقد يكون محموداً وقد يكون مذموماً

Maka kami katakan: Rasa sukamu terhadap cintanya manusia kepadamu kadang tergolong mubah, kadang terpuji, dan kadang tercela.

فالمحمود أن تحب ذلك لتعرف به حب الله لك فإنه تعالى إذا أحب عبداً حببه في قلوب عباده

Maka hal yang terpuji adalah jika engkau menyukai hal itu agar engkau mengetahui darinya rasa cinta Allah kepadamu, karena sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai seorang hamba, Dia akan menanamkan rasa cinta kepada hamba tersebut di dalam hati para hamba-Nya.

والمذموم أن تحب حبهم وحمدهم على حجك وغزوك وصلاتك على طاعة بعينها فإن ذلك طلب عوض على طاعة الله عاجل سوى ثواب الله

Sedangkan hal yang tercela adalah engkau menyukai kecintaan dan pujian mereka atas haji, perang (jihad), shalat, atau ketaatan tertentu yang engkau lakukan. Sebab, hal itu merupakan bentuk menuntut balasan yang disegerakan (di dunia) atas ketaatan kepada Allah, selain dari pahala Allah.

والمباح أن تحب أن يحبوك لصفات محمودة سوى الطاعات المحمودة المعينة فحبك ذلك كحبك المال لأن ملك القلوب وسيلة إلى الأغراض كملك الأموال فلا فرق بينهما

Adapun hal yang dimubahkan adalah engkau menyukai mereka mencintaimu karena sifat-sifat terpuji di luar bentuk ketaatan terpuji yang spesifik. Kecintaanmu terhadap hal tersebut sama seperti kecintaanmu pada harta, sebab menguasai hati merupakan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan sebagaimana menguasai harta, sehingga tidak ada perbedaan di antara keduanya.

بيان ترك الطاعات خوفاً من الرياء ودخول الآفات

Penjelasan tentang Meninggalkan Ketaatan karena Takut Riya' dan Kemasukan Bencana Kerusakan (Afat)

اعلم أن مِنَ النَّاسِ مَنْ يَتْرُكُ الْعَمَلَ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَكُونَ مُرَائِيًا بِهِ وَذَلِكَ غَلَطٌ وَمُوَافَقَةٌ للشيطان بل الحق فيما يترك من الأعمال وما لا يترك لخوف الآفات ما نذكره وهو أن الطاعات تنقسم إلى

Ketahuilah bahwa di antara manusia ada orang yang meninggalkan amal lantaran takut dirinya menjadi orang yang riya’ dengannya. Hal itu merupakan suatu kekeliruan dan bentuk kepatuhan kepada setan. Sebaliknya, kebenaran mengenai amal-amal yang boleh ditinggalkan dan yang tidak boleh ditinggalkan karena takut akan timbulnya bencana kerusakan adalah sebagaimana yang kami sebutkan berikut ini, yaitu bahwa ketaatan terbagi menjadi:

ما لا لذة في عينه كالصلاة والصوم والحج والغزو فإنها مقاساة ومجاهدات إنما تصير لذيذة من حيث أنها توصل إلى حمد الناس وحمد الناس لذيذ وذلك عند اطلاع الناس عليه

Pertama, amal yang tidak mengandung kelezatan pada zatnya, seperti shalat, puasa, haji, dan berperang. Sebab, semua itu merupakan kepayahan dan kesungguhan (mujahadah), yang baru terasa lezat sebatas karena dapat mengantarkan pada pujian manusia, sedangkan pujian manusia itu terasa nikmat ketika manusia melihat amal tersebut.

وإلى ما هو لذيذ وهو أكثر مالا يقتصر على البدن بل يتعلق بالخلق كالخلافة والقضاء والولايات والحسبة وإمامة الصلاة والتذكير والتدريس وإنفاق المال على الخلق وغير ذلك مما تعظم الآفة فيه لتعلقه بالخلق ولما فيه من اللذة

Kedua, amal yang mengandung kelezatan, dan ini sebagian besar berupa amal yang tidak terbatas pada fisik saja, melainkan berkaitan dengan sesama makhluk, seperti kekhalifahan, jabatan kehakiman (qadha'), kepemimpinan, pengawasan tata tertib (hisbah), menjadi imam shalat, memberi nasihat/peringatan, mengajar, serta menginfakkan harta kepada sesama. Hal-hal seperti ini memiliki potensi bahaya kerusakan (afat) yang besar karena keterkaitannya dengan makhluk dan adanya kelezatan di dalamnya.

القسم الأول الطاعات اللازمة للبدن التي لا تتعلق بالغير ولا لذة في عينها كالصوم والصلاة والحج فخطرات الرياء فيها ثلاث

Bagian pertama: Ketaatan-ketaatan fardhu ain/rutin bagi tubuh yang tidak berkaitan dengan orang lain serta tidak ada kelezatan pada zatnya, seperti puasa, shalat, dan haji. Maka bisikan (khatharat) riya' di dalamnya ada tiga tingkatan:

إحداها ما يدخل قبل العمل فيبعث على الابتداء لرؤية الناس وليس معه باعث الدين فهذا مما ينبغي أن يترك لأنه معصية لا طاعة فيه فإنه تدرع بصورة الطاعة إلى طلب المنزلة فإن قدر الإنسان على أن يدفع عن نفسه باعث الرياء ويقول لها ألا تستحيين من مولاك لا تسخين بالعمل لأجله وتسخين بالعمل لأجل عباده حتى يندفع باعث الرياء وتسخو النفس بالعمل لله عقوبة للنفس على خاطر الرياء وكفارة له فليشتغل بالعمل

Pertama: Bisikan yang masuk sebelum beramal, sehingga mendorong untuk memulai amal demi dilihat manusia tanpa disertai dorongan agama. Hal semacam ini hendaknya ditinggalkan karena merupakan maksiat dan tidak ada ketaatan di dalamnya, sebab ia bertopengkan rupa ketaatan untuk mencari kedudukan. Namun, jika seseorang mampu menepis dorongan riya' dari dirinya dan berkata kepada jiwanya, "Tidakkah engkau malu kepada Pelindungmu (Mawla)? Engkau enggan beramal demi Dia, tetapi begitu ringan beramal demi para hamba-Nya!" hingga dorongan riya' tersebut sirna dan jiwa menjadi ikhlas beramal karena Allah—sebagai hukuman bagi jiwa atas lintasan pikiran riya' itu sekaligus penebus dosa baginya—maka hendaklah ia melanjutkan amalnya.

الثانية أن ينبعث لأجل الله ولكن يعترض الرياء مع عقد العبادة وأولها فلا ينبغي أن يترك العمل لأنه وجد باعثاً دينياً فليشرع في العمل وليجاهد نفسه في دفع الرياء وتحسين الإخلاص بالمعالجات التي ذكرناها من إلزام النفس كراهة الرياء والإباء عن القبول

Kedua: Seseorang tergerak beramal karena Allah, namun riya' datang merintangi di tengah niat awal ibadah dan permulaannya. Dalam kondisi ini, tidak sepantasnya ia meninggalkan amal karena pada dasarnya ia memiliki dorongan agama. Hendaklah ia tetap memulai amal dan bermujahadah melawan jiwanya untuk menepis riya' serta memperbaiki keikhlasan melalui terapi-terapi yang telah kami sebutkan, yaitu dengan mewajibkan jiwanya membenci riya' dan enggan menerimanya.

الثالثة أن يعقد على الإخلاص ثم يطرأ الرياء ودواعيه فينبغي أن يجاهد في الدفع ولا يترك العمل لكي يرجع إلى عقد الإخلاص ويرد نفسه إليه قهراً حتى يتمم العمل لأن الشيطان يدعوك أولاً إلى ترك العمل فإذا لم تجب واشتغلت فيدعوك إلى الرياء فإذا لم تجب ودفعت بقي يقول لك هذا العمل ليس بخالص وأنت مراء وتعبك ضائع فأي فائدة لك في عمل لا إخلاص حتى يحملك بذلك على ترك العمل فإذا تركته فقد حصلت غرضه

Ketiga: Seseorang berniat dengan ikhlas, namun kemudian timbul riya' dan dorongan-dorangannya di tengah jalan. Hendaklah ia berjuang keras menolaknya dan tidak meninggalkan amal, agar ia dapat kembali pada ikatan keikhlasan dan memaksa jiwanya kembali kepada keikhlasan tersebut sampai ia menyempurnakan amalnya. Sebab, setan pada mulanya mengajakmu meninggalkan amal; jika engkau tidak menurutinya dan tetap sibuk beramal, ia akan mengajakmu pada riya'; jika engkau tidak menurutinya dan menolaknya, ia akan terus membisikkan padamu, "Amal ini tidak ikhlas, engkau ini pembuat riya' (murai) dan lelahmu sia-sia, lalu apa gunanya bagimu beramal tanpa keikhlasan?" hingga dengan cara itu ia mendorongmu untuk meninggalkan amal. Jika engkau meninggalkannya, maka engkau telah mewujudkan keinginannya.

ومثال من يترك العلم لخوفه أن يكون مرائياً كمن سلم إليه مولاه حنطة فيها زؤان وقال خلصها من الزؤان ونقها منه تنقية بالغة فيترك أصل العمل يقول أخاف إن اشتغلت به لم تخلص خلاصاً صافياً نقياً

Perumpamaan orang yang meninggalkan amal karena takut menjadi orang yang riya' adalah seperti seseorang yang diserahi gandum yang bercampur lalang oleh tuannya, lalu tuannya berkata, "Bersihkanlah gandum ini dari lalang dan tampilah hingga benar-benar bersih!" Namun ia malah meninggalkan pekerjaan itu sama sekali seraya berkata, "Aku khawatir jika aku mengerjakannya, gandum ini tidak akan bersih secara murni dan sempurna."

فترك العمل من أجله هو ترك الإخلاص مع أصل العمل فلا معنى له

Maka meninggalkan amal karena alasan tersebut adalah tindakan meninggalkan keikhlasan sekaligus meninggalkan amal dasarnya, sehingga hal itu sama sekali tidak masuk akal.

ومن هذا القبيل أن يترك العمل خوفاً على الناس أن يقولوا إنه مراء فيعصون الله به

Termasuk pula dalam jenis ini adalah seseorang yang meninggalkan amal karena takut orang-orang akan menganggapnya riya', sehingga orang-orang tersebut berbuat maksiat kepada Allah akibat sangkaan itu.

فهذا من مكايد الشيطان لأنه أولاً أساء الظن بالمسلمين وما كان من حقه أن يظن بهم ذلك ثم إن كان فلا يضره قولهم ويفوته ثواب

Ini merupakan bagian dari tipu daya setan, karena pertama-tama ia telah berburuk sangka (su'udzon) kepada kaum muslimin, padahal tidak sepatutnya ia menyangka demikian tentang mereka. Kemudian, kalaupun itu terjadi, ucapan mereka tidak akan membahayakannya, sementara ia justru kehilangan pahala…

العبادة وترك العمل خوفاً من قولهم إنه مراء هو عين الرياء فلولا حبه لمحمدتهم وخوفه من ذمهم فماله ولقولهم قالوا إنه مراء أو قالوا إنه مخلص وأي فرق بين أن يترك العمل خوفاً من أن يقال إنه مراء وبين أن يحسن العمل خوفاً من أن يقال إنه غافل مقصر بل ترك العمل أشد من ذلك

…ibadah. Dan meninggalkan amal karena takut pada perkataan mereka bahwa dirinya riya' adalah inti dari riya' itu sendiri. Sebab, jikalau bukan karena rasa cintanya pada pujian mereka dan ketakutannya akan celaan mereka, apa urusannya dengan perkataan mereka, baik mereka mengatakan ia riya' maupun mengatakan ia orang yang ikhlas? Lantas apa bedanya antara meninggalkan amal karena takut dikatakan riya' dengan memperbagus amal karena takut dikatakan lalai dan kurang? Bahkan, meninggalkan amal itu jauh lebih parah dari hal tersebut.

فهذه كلها مكايد الشيطان على العباد الجهال ثم كيف يطمع في أن يتخلص من الشيطان بأن يترك العمل والشيطان لا يخليه بل يقول له الآن يقول الناس إنك تركت العمل ليقال إنه مخلص لا يشتهي الشهرة

Semua ini adalah tipu daya setan terhadap para hamba yang bodoh. Lagi pula, bagaimana mungkin seseorang berharap bisa terbebas dari setan dengan cara meninggalkan amal, padahal setan tidak akan membiarkannya? Setan justru akan berkata padanya, "Sekarang orang-orang akan mengatakan bahwa engkau meninggalkan amal agar dikatakan sebagai orang yang ikhlas dan tidak menyukai ketenaran."

فيضطرك بذلك إلى أن تهرب فإن هربت ودخلت سرباً تحت الأرض ألقى في قلبك حلاوة معرفة الناس لتزهدك وهربك منهم وتعظيمهم لك بقلوبهم على ذلك فكيف تتخلص منه بل لا نجاة منه إلا بأن تلزم قلبك معرفة آفة الرياء وهو أنه ضرر في الآخرة ولا نفع فيه في الدنيا ليلزم الكراهة والإباء قلبك وتستمر مع ذلك على العمل ولا تبالي وإن نزغ العدو نازغ الطبع فإن ذلك لا ينقطع وترك العمل لأجل ذلك يجر إلى البطالة وترك الخيرات

Dengan demikian setan memaksamu untuk melarikan diri (bersembunyi). Jika engkau lari dan masuk ke dalam terowongan di bawah tanah sekalipun, setan akan membisikkan ke dalam hatimu kelezatan atas pengetahuan orang-orang terhadap kezuhudanmu dan pelarianmu dari mereka, serta pengagungan hati mereka kepadamu atas sikapmu itu. Lantas bagaimana engkau bisa terbebas darinya? Sungguh tidak ada keselamatan darinya kecuali dengan menancapkan ke dalam hatimu pengetahuan tentang bahaya riya', yaitu bahwa riya' merupakan kemudaratan di akhirat dan tidak membawa manfaat di dunia, agar rasa benci dan penolakan senantiasa melekat di hatimu, lalu engkau tetap melanjutkan amal tanpa memedulikannya. Walaupun musuh (setan) membisikkan godaan watak jasmaniah, karena hal itu memang tidak akan pernah terputus, dan meninggalkan amal karena alasan tersebut hanya akan menyeret pada pengangguran spiritual (kemalasan) dan pengabaian berbagai kebaikan.

فَمَا دُمْتَ تَجِدُ بَاعِثًا دِينِيًّا عَلَى الْعَمَلِ فَلَا تَتْرُكِ الْعَمَلَ وَجَاهِدْ خَاطِرَ الرِّيَاءِ وَأَلْزِمْ قَلْبَكَ الْحَيَاءَ مِنَ اللَّهِ إِذَا دَعَتْكَ نَفْسُكَ إِلَى أَنْ تَسْتَبْدِلَ بِحَمْدِهِ حَمْدَ الْمَخْلُوقِينَ وَهُوَ مطلع على قلبك ولو اطلع الخلق على قلبك وأنك تريد حمدهم لمقتوك بَلْ إِنْ قَدَرْتَ عَلَى أَنْ تَزِيدَ فِي الْعَمَلِ حَيَاءً مِنْ رَبِّكَ وَعُقُوبَةً لِنَفْسِكَ فَافْعَلْ

Maka selama engkau menemukan dorongan agama untuk beramal, janganlah engkau meninggalkan amal tersebut. Perangilah lintasan pikiran riya' itu dan tancapkanlah rasa malu kepada Allah di dalam hatimu ketika jiwamu mengajakmu untuk mengganti pujian-Nya dengan pujian makhluk, padahal Dia Mahamelihat apa yang ada di dalam hatimu. Sekiranya makhluk mengetahui isi hatimu bahwa engkau menginginkan pujian mereka, niscaya mereka akan membencimu. Bahkan, jika engkau mampu menambah amalmu sebagai wujud rasa malu kepada Tuhanmu dan sebagai hukuman bagi jiwamu, maka lakukanlah!

فَإِنْ قَالَ لَكَ الشَّيْطَانُ أَنْتَ مُرَاءٍ فَاعْلَمْ كَذِبَهُ وَخِدْعَهُ بِمَا تَصَادَفَ فِي قَلْبِكَ مِنْ كراهة الرِّيَاءِ وَإِبَائِهِ وَخَوْفِكَ مِنْهُ وَحَيَائِكَ مِنَ اللَّهِ تعالى وإن لم تجد في قلبك له كراهية ومنه خوفاً ولم يَبْقَ بَاعِثٌ دِينِيٌّ بَلْ تَجَرَّدَ بَاعِثُ الرِّيَاءِ فاترك العمل عند ذلك وهو بعيد فمن شرع في العمل لله فلا بد أن يبقى معه أصل قصد الثواب

Jika setan berkata kepadamu, "Engkau ini orang yang riya'!", maka ketahuilah kedustaan dan tipu dayanya melalui apa yang engkau dapati di dalam hatimu berupa kebencian terhadap riya', penolakan darinya, rasa takutmu terhadapnya, serta rasa malumu kepada Allah Ta'ala. Namun jika engkau tidak mendapati kebencian dan rasa takut terhadap riya' di dalam hatimu, serta tidak tersisa lagi dorongan agama melainkan murni dorongan riya', maka tinggalkanlah amal pada saat itu. Akan tetapi, kondisi seperti ini sangatlah jarang terjadi, sebab barang siapa yang mulai beramal karena Allah, niscaya pasti masih tersisa padanya niat dasar untuk mengharapkan pahala.

فإن قلت فقد نقل عن أقوام ترك العمل مخافة الشهرة

Jika engkau berkata, "Sungguh telah diriwayatkan dari sebagian kaum bahwa mereka meninggalkan amal karena takut akan popularitas."

روي أن إبراهيم النخعي دخل عليه إنسان وهو يقرأ فأطبق المصحف وترك القراءة وقال لا يرى هذا أنا نقرأ كل ساعة

Diriwayatkan bahwa seseorang masuk menemui Ibrahim an-Nakha'i ketika beliau sedang membaca Al-Qur'an, lalu beliau menutup mushaf dan menghentikan bacaan seraya berkata, "Orang ini tidak boleh melihat bahwa kita membaca Al-Qur'an setiap saat."

وقال إبراهيم التيمي إذا أعجبك الكلام فاسكت وإذا أعجبك السكوت فتكلم

Ibrahim at-Taimi berkata, "Jika perkataan membuatmu merasa ujub, maka diamlah; dan jika diam membuatmu merasa ujub, maka berbicaralah."

وقال الحسن إن كان أحدهم ليمر بالأذى ما يمنعه من دفعه إلا كراهة الشهرة وكان أحدهم يأتيه البكاء فيصرفه إلى الضحك مخافة الشهرة

Al-Hasan al-Basri berkata, "Sungguh, dahulu salah seorang dari mereka melewati gangguan di jalan, tidak ada yang menghalanginya untuk menyingkirkannya melainkan karena kebenciannya terhadap popularitas. Dan salah seorang dari mereka terkadang hendak menangis, lalu ia mengalihkannya menjadi tawa karena takut akan popularitas."

وقد ورد في ذلك آثار كثيرة قلنا هذا يعارضه ما ورد من إظهار الطاعات ممن لا يحصى وإظهار الحسن البصري هذا الكلام في معرض الوعظ أقرب إلى خوف الشهرة من البكاء وإماطة الأذى عن الطريق ثم لم يتركه

Dan telah diriwayatkan mengenai hal itu banyak atsar. Kami katakan: Hal ini ditentang oleh riwayat-riwayat tentang penampakan ketaatan dari orang-orang yang tak terhitung jumlahnya. Penampakan Al-Hasan al-Basri akan ucapan ini dalam penyampaian nasihat justru lebih dekat kepada rasa takut akan popularitas daripada sekadar menangis atau menyingkirkan gangguan dari jalanan, namun beliau tidak meninggalkannya.

وبالجملة ترك النوافل جائز والكلام في الأفضل

Kesimpulannya, meninggalkan amalan-amalan sunnah (nawafil) adalah boleh, dan pembahasan kita ini adalah mengenai amalan mana yang lebih utama (al-afdhal).

والأفضل إنما يقدر عليه الأقوياء دون الضعفاء فالأفضل أن يتمم العمل ويجتهد في الإخلاص ولا يتركه وأرباب الأعمال قد يعالجون أنفسهم بخلاف الأفضل لشدة الخوف فالاقتداء ينبغي أن يكون بالأقوياء

Adapun yang lebih utama itu hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang kuat jiwanya, bukan orang-orang yang lemah. Maka yang lebih utama adalah menyempurnakan amal dan bersungguh-sungguh dalam ikhlas serta tidak meninggalkannya. Para pelaku amal terkadang mengobati diri mereka dengan melakukan hal yang menyalahi apa yang lebih utama karena sangat besarnya rasa takut. Oleh karena itu, keteladanan hendaknya merujuk kepada orang-orang yang kuat.

وأما إطباق إبراهيم النخعي المصحف فيمكن أن يكون لعلمه بأنه سيحتاج إلى ترك القراءة عند دخوله واستئنافه بعد خروجه للاشتغال بمكالمته فرأى أن لا يراه في القراءة أبعد عن الرياء وهو عازم على الترك للاشتغال به حتى يعود إليه بعد ذلك وأما ترك دفع الأذى فذلك ممن يخاف على نفسه آفة الشهرة وإقبال الناس عليه وشغلهم إياه عن عبادات هي أكبر من رفع خشبة من الطريق فيكون ترك ذلك للمحافظة على عبادات هي أكبر منها لا بمجرد خوف الرياء

Adapun tindakan Ibrahim an-Nakha'i yang menutup mushaf, dimungkinkan karena beliau tahu bahwa beliau akan perlu menghentikan bacaan ketika orang itu masuk dan akan mengulanginya setelah orang itu keluar karena disibukkan dengan mengobrol dengannya. Maka beliau memandang bahwa orang tersebut tidak melihatnya sedang membaca Al-Qur'an adalah lebih jauh dari riya', padahal beliau memang bertekad menghentikannya untuk menyambut orang itu sampai beliau kembali membaca setelahnya. Adapun tindakan meninggalkan penyingkiran gangguan di jalan, hal itu dilakukan oleh orang yang mengkhawatirkan dirinya dari bahaya popularitas, perhatian orang-orang kepadanya, serta kesibukan mereka dengannya yang memalingkannya dari ibadah-ibadah yang lebih besar daripada menyingkirkan sepotong kayu dari jalan. Jadi, tindakan meninggalkan hal itu adalah demi menjaga ibadah-ibadah yang lebih besar daripadanya, bukan semata-mata karena takut riya'.

وأما قول التيمي إذا أعجبك الكلام فاسكت يجوز أن يكون قد أراد به مباحات الكلام كالفصاحة في الحكايات وغيرها فإن ذلك يورث العجب وكذلك العجب بالسكوت المباح محذور فهو عدول عن مباح إلى مباح حذراً من العجب

Adapun ucapan At-Taimi, "Jika perkataan membuatmu ujub maka diamlah," boleh jadi yang beliau maksudkan adalah ucapan-ucapan yang mubah seperti kelancaran berbicara dalam bercerita dan selainnya, karena hal itu dapat melahirkan ujub. Demikian pula merasa ujub dengan diam yang mubah adalah hal yang harus diwaspadai; maka itu merupakan keberalihan dari satu hal yang mubah ke hal mubah lainnya demi berpaling dari rasa ujub.

فأما الكلام الحق المندوب إليه فلم ينص عليه على أن الآفة مما تعظم في الكلام فهو واقع في القسم الثاني وإنما كلامنا في العبادات الخاصة ببدن

Adapun ucapan yang hak dan disunnahkan, beliau tidak menegaskannya secara spesifik; terlebih lagi bahaya (fitnah) memang sangat besar dalam pembicaraan, sehingga hal itu termasuk dalam kategori kedua. Sedangkan pembicaraan kita sejauh ini adalah mengenai ibadah-ibadah yang khusus berhubungan dengan fisik…

العبد مما لا يتعلق بالناس ولا تعظم فيه الآفات ثم كلام الحسن في تركهم البكاء وإماطة الأذى لخوف الشهرة ربما كان حكاية أحوال الضعفاء الذين لا يعرفون الأفضل ولا يدركون هذه الدقائق وإنما ذكره تخويفاً للناس من آفة الشهرة وزجراً من طلبها

…seorang hamba dari hal-hal yang tidak berkaitan dengan manusia lain dan tidak besar bahayanya. Kemudian ucapan Al-Hasan tentang mereka yang meninggalkan tangisan dan penyingkiran gangguan karena takut akan popularitas, boleh jadi itu merupakan penceritaan tentang keadaan orang-orang yang lemah, yaitu mereka yang tidak mengetahui mana yang lebih utama dan tidak memahami kerumitan spiritual ini. Beliau menyebutkannya semata-mata untuk menakut-nakuti manusia dari bahaya popularitas dan mencegah mereka dari mencarinya.

القسم الثاني ما يتعلق بالخلق وتعظم فيه الآفات والأخطار وأعظمها الخلافة ثم القضاء ثم التذكير والتدريس والفتوى ثم إنفاق المال

Kategori kedua: Amalan yang berkaitan dengan makhluk, yang di dalamnya terdapat bahaya dan risiko yang sangat besar. Yang paling agung darinya adalah kekhalifahan (pemerintahan), kemudian peradilan (qadha'), lalu memberi peringatan (nasihat), pengajaran (tadris), fatwa, dan kemudian menginfakkan harta.

أما الخلافة والإمارة فهي من أفضل العبادات إذا كان ذلك مع العدل والإخلاص وقد قال النبي ﷺ ليوم من إمام عادل خير من عبادة الرجل وحده ستين عاما حديث أول من يدخل الجنة ثلاثة الإمام المقسط الحديث أخرجه مسلم من حديث عياض بن حماد أهل الجنة ثلاث ذو سلطان مقسط الحديث ولم أر فيه ذكر الأولية

Adapun kekhalifahan dan kepemimpinan (imarah), hal itu termasuk ibadah yang paling utama apabila disertai dengan keadilan dan keikhlasan. Nabi ﷺ telah bersabda, "Satu hari dari seorang pemimpin yang adil adalah lebih baik daripada ibadah seseorang secara sendirian selama enam puluh tahun." Mengenai hadis: "Orang yang pertama kali masuk surga ada tiga: Pemimpin yang adil…" al-Hadis: Diriwayatkan oleh Muslim dari hadis 'Iyad bin Hammad, "Penghuni surga ada tiga: penguasa yang adil…" al-Hadis, dan aku tidak melihat di dalamnya penyebutan tentang "orang yang pertama kali".

أحدهم

…salah seorang dari mereka.

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ثلاثة لا ترد دعوتهم الإمام العادل حديث أبي سعيد الخدري أقرب الناس مني مجلساً يوم القيامة إمام عادل أخرجه الأصبهاني في الترغيب والترهيب من رواية عطية العوفي وهو ضعيف عنه وفيه أيضا إسحاق بن إبراهيم الديباجي ضعيف أيضا رواه أبو سعيد الخدري

Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: Pemimpin yang adil…" Hadis Abu Sa'id Al-Khudri: "Orang yang paling dekat tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil." Diriwayatkan oleh Al-Ashbahani dalam At-Targhib wa At-Tarhib dari riwayat 'Athiyyah Al-'Aufi, dan dia seorang yang dha'if darinya. Di dalamnya juga terdapat Ishaq bin Ibrahim Ad-Daibaji yang juga dha'if, diriwayatkan oleh Abu Sa'id Al-Khudri.

فالإمارة والخلافة من أعظم العبادات ولم يزل المتقون يتركونها ويحترزون منها ويهربون من تقلدها وذلك لما فيه من عظم الخطر إذ تتحرك بها الصفات الباطنة ويغلب النفس حب الجاه ولذة الاستيلاء ونفاذ الأمر وهو أعظم ملاذ الدنيا فإذا صارت الولاية محبوبة كان الوالي ساعياً في حظ نفسه ويوشك أن يتبع هواه فيمتنع من كل ما يقدح في جاهه وولايته وإن كان حقاً ويقدم على ما يزيد في مكانته وإن كان باطلاً وعند ذلك يهلك ويكون يوم من سلطان جائر شراً من فسق ستين سنة بمفهوم الحديث الذي ذكرناه

Maka kepemimpinan dan kekhalifahan merupakan salah satu ibadah yang paling agung. Namun demikian, orang-orang yang bertakwa senantiasa meninggalkannya, mewaspadainya, dan lari dari memangkunya. Hal itu disebabkan besarnya bahaya yang ada di dalamnya, karena dengannya sifat-sifat batin akan tergerak, serta kecintaan akan kedudukan (jah), kelezatan menguasai, dan keberlakuan perintah akan menguasai jiwa, padahal itu merupakan kenikmatan duniawi yang paling besar. Apabila kekuasaan telah dicintai, maka sang penguasa akan berusaha memenuhi bagian dari hawa nafsunya, dan hampir dipastikan ia akan mengikuti hawa nafsunya sehingga enggan dari segala hal yang dapat mencederai kedudukan dan kekuasaannya meskipun itu adalah kebenaran, dan ia akan melakukan apa yang dapat menambah kedudukannya meskipun itu adalah kebatilan. Ketika itulah ia akan binasa, dan satu hari dari penguasa yang zalim akan lebih buruk daripada kefasikan selama enam puluh tahun berdasarkan pemahaman (mafhum) hadis yang telah kami sebutkan.

ولهذا الخطر العظيم كان عمر ﵁ يقول من يأخذها بما فيها وكيف لا وقد قال النبي ﷺ ما من والي عشرة إلا جاء يوم القيامة مغلولة يده إلى عنقه أطلقه عدله أو أوبقه جوره حديث الحسن أن رجلاً ولاه النبي ﷺ فقال للنبي خر لي قال اجلس أخرجه الطبراني موصولا من حديث عصمة هو ابن مالك وفيه الفضل بن المختار وأحاديثه منكرة يحدث بالأباطيل قاله أبو حاتم ورواه أيضا من حديث ابن عمر بلفظ الزم بيتك وفيه الغراب بن أبي الغراب ضعفه ابن معين وابن عدي وقال أبو حاتم صدوق

Karena bahaya yang sangat besar inilah Umar ﵁ berkata, "Siapakah yang mau mengambilnya (kekuasaan) dengan segala konsekuensi di dalamnya?" Bagaimana tidak, sedangkan Nabi ﷺ telah bersabda, "Tidaklah seseorang memimpin sepuluh orang melainkan ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tangannya terbelenggu ke lehernya; keadilannya yang akan melepaskannya atau kezalimannya yang akan membinasakannya." Hadis Al-Hasan bahwa seorang laki-laki diberi jabatan oleh Nabi ﷺ lalu ia berkata kepada Nabi, "Pilihlah yang terbaik untukku," beliau bersabda, "Duduklah (tetaplah di rumahmu)." Dikeluarkan oleh At-Thabrani secara maushul dari hadis 'Ishmah—yaitu Ibn Malik—dan di dalamnya terdapat Al-Fadhl bin Al-Mukhtar yang hadis-hadisnya mungkar dan menyampaikan kebatilan, sebagaimana dikatakan Abu Hatim. Diriwayatkan pula dari hadis Ibn Umar dengan lafaz "Tetaplah di rumahmu", dan di dalamnya terdapat Al-Ghurab bin Abi Al-Ghurab yang didha'ifkan oleh Ibn Ma'in dan Ibn 'Adi, sedangkan Abu Hatim berkata "shaduq" (jujur).

وكذلك حديث عبد الرحمن بن سمرة إذ قال له النبي ﷺ يا عبد الرحمن لا تسأل الإمارة فإنك إن أوتيتها من غير مسألة أعنت عليها وإن أوتيتها عن مسألة وكلت إليها // حديث عبد الرحمن بن سمرة لا تسل الإمارة الحديث متفق عليه

Demikian pula hadis 'Abdurrahman bin Samurah ketika Nabi ﷺ bersabda kepadanya, "Wahai 'Abdurrahman, janganlah engkau meminta kepemimpinan! Karena jika engkau diberikannya tanpa memintanya, engkau akan ditolong dalam menjalankannya. Namun jika engkau diberikannya karena memintanya, engkau akan dipasrahkan kepadanya." // Hadis 'Abdurrahman bin Samurah "Janganlah meminta kepemimpinan…", al-Hadis: Muttafaq 'alaih.

وقال أبو بكر ﵁ لرافع بن عمر لا تأمر

Abu Bakar ﵁ berkata kepada Rafi' bin 'Umar, "Janganlah engkau memimpin…"

على اثنين ثم ولي هو الخلافة فقام بها فقال له رافع ألم تقل لي لا تأمر على اثنين وأنت قد وليت أمر أمة محمد ﷺ فقال بلى وأنا أقول لك ذلك فمن لم يعدل فيها فعليه بهلة الله يعني لعنة الله

"…atas dua orang!" Kemudian beliau (Abu Bakar) sendiri menjabat kekhalifahan dan menjalankannya, maka Rafi' berkata kepadanya, "Bukankah engkau telah berkata kepadaku, 'Janganlah memimpin atas dua orang,' sedangkan engkau sekarang telah memangku urusan umat Muhammad ﷺ?" Abu Bakar menjawab, "Benar, dan aku masih mengatakan hal itu kepadamu. Maka barangsiapa yang tidak berlaku adil di dalamnya, baginya laknat Allah (behlah Allah)."

ولعل القليل البصيرة يرى ما ورد من فضل الإمارة مع ما ورد من النهي عنها متناقضاً وليس كذلك بل الحق فيه أن الخواص الأقوياء في الدين لا ينبغي أن يمتنعوا من تقلد الولايات وأن الضعفاء لا ينبغي أن يدوروا بها فيهلكوا وأعني بالقوي الذي لا تميله الدنيا ولا يستفزه الطمع ولا تأخذه في الله لومة لائم وهم الذين سقط الخلق عن أعينهم وزهدوا في الدنيا وتبرموا بها وبمخالطة الخلق وقهروا أنفسهم وملكوها وقمعوا الشيطان فأيس منهم فهؤلاء لا يحركهم إلا الحق ولا يسكنهم إلا الحق ولو زهقت فيهم أرواحهم فهم أهل نيل الفضل في الإمارة والخلافة ومن علم أنه ليس بهذه الصفة فيحرم عليه الخوض في الولايات ومن جرب نفسه فرآها صابرة على الحق كافة عن الشهوات في غير الولايات ولكن خاف عليها أن تتغير إذا ذاقت لذة الولاية وأن تستحلي الجاه وتستلذ نفاذ الأمر فتكره العزل فيداهن خيفة من العزل فهذا قد اختلف العلماء في أنه هل يلزمه الهرب من تقلد الولاية فقال قائلون لا يجب لأن هذا خوف أمر في المستقبل وهو في الحال لم يعهد نفسه إلا قوية في ملازمة الحق وترك لذات النفس والصحيح أن عليه الاحتراز لأن النفس خداعة مدعية للحق واعدة بالخير فلو وعدت بالخير جزماً لكان يخاف عليها أن تتغير عند الولاية فكيف إذا أظهرت التردد

Mungkin orang yang minim mata hatinya (bashirah) memandang bahwa dalil-dalil mengenai keutamaan kepemimpinan (imarah) bertentangan dengan dalil-dalil yang melarangnya. Padahal tidaklah demikian. Hakikat yang benar dalam hal ini adalah bahwa orang-orang khusus (khawash) yang kuat dalam beragama tidak sepatutnya enggan menerima jabatan-jabatan kekuasaan, sedangkan orang-orang yang lemah tidak sepatutnya mendekatinya sehingga mereka binasa. Yang saya maksud dengan orang yang kuat adalah orang yang tidak digoyahkan oleh dunia, tidak diombang-ambingkan oleh ketakserakahan (tamak), dan tidak takut pada celaan orang yang mencela dalam membela agama Allah. Mereka adalah orang-orang yang mana pandangan terhadap makhluk telah jatuh dari mata mereka, bersikap zuhud terhadap dunia, merasa jemu kepadanya dan jemu berbaur dengan makhluk, serta telah menundukkan dan menguasai nafsu mereka, dan menundukkan setan hingga setan putus asa terhadap mereka. Orang-orang inilah yang tidak digerakkan kecuali oleh kebenaran (al-Haqq) dan tidak ditenangkan kecuali oleh kebenaran. Sekalipun nyawa mereka melayang demi kebenaran, mereka itulah orang-orang yang berhak mendapatkan keutamaan dalam kepemimpinan dan kekhalifahan. Adapun barangsiapa yang menyadari bahwa dirinya tidak memiliki sifat ini, maka haram hukumnya untuk terjun ke dalam tampuk kepemimpinan. Dan barangsiapa yang telah menguji dirinya lalu mendapatinya sanggup bersabar di atas kebenaran serta mampu menahan diri dari hawa nafsu saat tidak memegang jabatan, namun ia khawatir dirinya akan berubah jika merasakan kelezatan kekuasaan, menikmati kedudukan (jah), dan merasa nikmat saat perintahnya dituruti sehingga ia benci dilengserkan lalu bermudahanah (berkompromi menyimpang) karena takut dipecat; maka dalam kasus ini, para ulama berbeda pendapat tentang apakah ia wajib melarikan diri dari menerima jabatan tersebut. Sebagian ulama berpendapat tidak wajib, sebab ini adalah kekhawatiran akan sesuatu di masa depan, sedangkan pada saat ini ia tidak mengenal dirinya melainkan kuat dalam memegang teguh kebenaran dan meninggalkan kelezatan nafsu. Namun pendapat yang shahih adalah ia wajib berhati-hati (meyelamatkan diri), karena nafsu itu sangat menipu, mengaku-aku berada di atas kebenaran, dan senantiasa menjanjikan kebaikan. Jika nafsu yang menjanjikan kebaikan secara pasti saja masih dikhawatirkan akan berubah saat memegang jabatan, maka bagaimana lagi jika ia sudah menunjukkan keraguan sejak awal?

والامتناع عن قبول الولاية أهون من العزل بعد الشروع فالعزل مؤلم وهو كما قيل العزل طلاق الرجال فإذا شرع لا تسمح نفسه بالعزل وتميل نفسه إلى المداهنة وإهمال الحق وتهوى به في قعر جهنم ولا يستطيع النزوع منه إلى الموت إلا أن يعزل قهراً وكان فيه عذاب عاجل على كل محب للولاية

Menolak menerima jabatan adalah lebih ringan daripada dipecat setelah memulainya. Pemecatan itu menyakitkan, dan sebagaimana dikatakan: 'Pemecatan adalah talak bagi kaum pria.' Maka ketika seseorang telah memulai jabatan, nafsunya tidak akan rela untuk dipecat, lalu nafsunya cenderung pada mudahanah (kompromi menyimpang) dan mengabaikan kebenaran, yang akhirnya mencampakkannya ke dasar neraka Jahannam; dan ia tidak sanggup melepaskan diri darinya hingga mati, kecuali jika dipecat secara paksa, yang mana hal itu mengandung siksaan yang disegerakan bagi setiap pencinta jabatan.

ومهما مالت النفس إلى طلب الولاية وحملت على السؤال والطلب فهو أمارة الشر وَلِذَلِكَ قَالَ ﷺ أَنَا لا نولي أمرنا من سألنا حديث القضاة ثلاثة الحديث أخرجه أصحاب السنن من حديث بريدة وتقدم في العلم وإسناده صحيح

Setiap kali nafsu cenderung untuk menuntut jabatan dan mendorong untuk meminta serta mencarinya, maka itu adalah tanda keburukan. Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda: 'Kami tidak menyerahkan urusan (jabatan) kami kepada orang yang memintanya.' (Hadis tentang 'Hakim itu ada tiga…' diriwayatkan oleh para penyusun kitab As-Sunan dari hadis Buraidah dan telah disebutkan terdahulu dalam Bab Ilmu, serta sanadnya shahih).

وقال ﷺ من استقضى فقد ذبح بغير سكين // حديث من استقضى فقد ذبح بغير سكين أخرجه أصحاب السنن من حديث أبي هريرة بلفظ من جعل قاضيا وفي رواية من ولى القضاء وإسناده صحيح

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barangsiapa diangkat menjadi hakim (qadhi), maka sungguh ia telah disembelih tanpa pisau.' // Hadis 'Barangsiapa diangkat menjadi hakim, maka sungguh ia telah disembelih tanpa pisau' diriwayatkan oleh para penyusun kitab As-Sunan dari hadis Abu Hurairah dengan redaksi 'Barangsiapa dijadikan hakim', dan dalam sebuah riwayat 'Barangsiapa diserahi jabatan peradilan', dan sanadnya shahih.

فحكمه حكم الإمارة ينبغي أن يتركه الضعفاء وكل من للدنيا ولذاتها وزن في عينه وليتقلده الأقوياء الذين لا تأخذهم في الله لومة لائم

Maka hukum peradilan (qadha') sama seperti hukum kepemimpinan (imarah): sepatutnya ditinggalkan oleh orang-orang yang lemah dan setiap orang yang mana dunia beserta kelezatannya masih memiliki bobot bernilai di matanya, serta hendaknya diemban oleh orang-orang yang kuat yang tidak takut pada celaan orang yang mencela dalam membela agama Allah.

ومهما كان السلاطين ظلمة ولم يقدر القاضي على القضاء إلا بمداهنتهم وإهمال بعض الحقوق لأجلهم ولأجل المتعلقين بهم إذ يعلم أنه لو حكم عليهم بالحق لعزلوه أو لم يطيعوه فليس له أن يتقلد القضاء وإن تقلد فعليه أن يطالبهم بالحقوق ولا يكون خوف العزل عذراً مرخصاً له في الإهمال أصلاً بل إذا عزل سقطت العهدة عنه فينبغي أن يفرح بالعزل إن كان يقضي لله فإن لم تسمح نفسه بذلك فهو إذن يقضي لأتباع الهوى والشيطان فكيف يرتقب عليه ثواباً وهو مع الظلمة في الدرك الأسفل من النار

Manakala para penguasa (sultan) itu zalim dan hakim tidak mampu memutuskan perkara kecuali dengan bermudahanah (berkompromi menyimpang) kepada mereka serta mengabaikan sebagian hak demi kepentingan mereka dan orang-orang yang berhubungan dengan mereka—sebab ia tahu bahwa jika ia memutuskan perkara berdasarkan kebenaran terhadap mereka, niscaya mereka akan mencopotnya atau tidak menaatinya—maka ia tidak boleh memangku jabatan peradilan tersebut. Dan jika ia telah memangkunya, wajib baginya menuntut hak-hak itu ditegakkan, dan rasa takut dilengserkan sama sekali tidak boleh menjadi uzur yang membolehkannya mengabaikan hak. Bahkan jika ia dilengserkan, gugurlah tanggung jawab darinya. Oleh karena itu, hendaknya ia bergembira dengan pemecatan tersebut jika ia memutuskan perkara demi Allah. Namun jika jiwanya tidak rela dengan hal itu, berarti ia memutuskan perkara demi menuruti hawa nafsu dan setan. Lantas bagaimana ia mengharapkan pahala dengannya, padahal ia bersama orang-orang zalim berada di tingkatan neraka yang paling bawah (al-dark al-asfal min an-nar)?

وأما الوعظ والفتوى والتدريس ورواية الحديث وجمع الأسانيد العالية وكل ما يتسع بسببه الجاه ويعظم به

Adapun memberi nasihat (wa'azh), memberi fatwa, mengajar (tadris), meriwayatkan hadis, mengumpulkan sanad-sanad yang tinggi (al-asanid al-'aliyah), dan segala hal yang darinya dapat meluaskan dan mengagungkan kedudukan (jah)…

القدر فآفته أيضاً عظيمة مثل آفة الولايات وقد كان الخائفون من السلف يتدافعون الفتوى ما وجدوا إليه سبيلاً وكانوا يقولون حدثنا باب من أبواب الدنيا ومن قال حدثنا فقد قال أوسعوا لي

…dan martabat seseorang, maka bahaya laten (afah)-nya juga sangat besar sebagaimana bahaya kekuasaan. Sungguh, orang-orang salaf yang takut kepada Allah senantiasa saling menghindar dari memberikan fatwa selagi mereka menemukan jalan untuk itu. Mereka berkata: 'Ucapan *haddatsana* (telah menceritakan kepada kami) adalah salah satu pintu dunia,' dan 'Barangsiapa mengucapkan *haddatsana*, sesungguhnya ia telah berkata: "Luaskanlah tempat untukku!"'

ودفن بشر كذا وكذا قمطراً من الحديث وقال يمنعني من الحديث أني أشتهي أن أحدث ولو اشتهيت أن لا أحدث لحدثت

Dan Bishr (Al-Hafi) telah mengubur sekian banyak peti kumpulan catatan hadis, seraya berkata: 'Hal yang menghalangiku untuk menyampaikan hadis adalah karena aku berkeinginan untuk menyampaikannya. Seandainya aku berkeinginan untuk tidak menyampaikan hadis, niscaya aku akan menyampaikannya.'

والواعظ يجد في وعظه وتأثر قلوب الناس به وتلاحق بكائهم وزعقاتهم وإقبالهم عليه لذة لا توازيها لذة فإذا غلب ذلك على قلبه مال طبعه إلى كل كلام مزخرف يروج عند العوام وإن كان باطلاً ويفر عن كل كلام يستثقله العوام وإن كان حقاً ويصير مصروف الهمة بالكلية إلى ما يحرك قلوب العوام ويعظم منزلته في قلوبهم فلا يسمع حديثاً وحكمة إلا ويكون فرحه به من حيث إنه يصلح لأن يذكره على رأس المنبر وكان ينبغي أن يكون فرحه به من حيث إنه عرف طريق السعادة وطريق سلوك سبيل الدين ليعمل به أولاً ثم يقول إذا أنعم الله بهذه النعمة ونفعني بهذه الحكمة فأقصها ليشاركني في نفعها إخواني المسلمون

Seorang penceramah (wa'izh) menemukan kelezatan yang tiada tandingannya dalam nasihatnya, tersentuhnya hati manusia dengannya, beruntunnya tangisan dan jeritan pendengar, serta antusiasme mereka kepadanya. Apabila hal itu menguasai hatinya, wataknya akan cenderung pada setiap ucapan yang dihias-hiasi agar laku di kalangan awam meskipun itu batil, dan ia melarikan diri dari setiap ucapan yang terasa berat bagi orang awam meskipun itu benar. Maka seluruh fokus perhatiannya tercurah sepenuhnya pada apa yang dapat menggetarkan hati orang awam serta mengagungkan kedudukannya di hati mereka. Ia tidak mendengar suatu hadis atau hikmah melainkan kegembiraannya terhadapnya muncul dari sisi bahwa hal itu layak disampaikan di atas mimbar. Padahal, seharusnya kegembiraannya timbul dari sisi bahwa ia telah mengetahui jalan kebahagiaan dan jalan menempuh agama untuk ia amalkan terlebih dahulu, baru kemudian ia berkata: 'Apabila Allah telah mengaruniakan nikmat ini dan memberiku manfaat dengan hikmah ini, maka aku akan menceritakannya agar saudara-saudaraku sesama muslim turut merasakan manfaatnya.'

فهذا أيضاً مما يعظم فيه الخوف والفتنة فحكمه حكم الولايات فمن لا باعث له إلا طلب الجاه والمنزلة والأكل بالدين والتفاخر والتكاثر فينبغي أن يتركه ويخالف الهوى فيه إلى أن ترتاض نفسه وتقوى في الدين همته ويأمن على نفسه الفتنة فعند ذلك يعود إليه

Maka hal ini juga termasuk perkara yang di dalamnya terdapat rasa takut dan ujian yang besar, sehingga hukumnya sama seperti hukum kekuasaan (wilayah). Barangsiapa tidak memiliki dorongan kecuali hanya untuk mencari kedudukan (jah), martabat, mencari makan dengan agama, saling membanggakan diri, dan menumpuk kekayaan, maka sepatutnya ia meninggalkannya dan menentang hawa nafsunya dalam hal itu sampai jiwanya terlatih (riyadhah), cita-cita keagamaannya kuat, dan ia merasa aman bagi dirinya dari ujian (fitnah). Pada saat itulah ia boleh kembali melakukannya.

فإن قلت مهما حكم بذلك على أهل العلم تعطلت العلوم واندرست وعم الجهل كافة الخلق فنقول قد نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عن طلب الإمارة وتوعد عليها حديث إنكم تحرصون على الإمارة وإنها حسرة يوم القيامة وندامة إلا من أخذها بحقها أخرجه البخاري من حديث أبي هريرة دون قوله إلا من أخذها بحقها وزاد في آخره فنعمت المرضعة وبئست الفاطمة ودون قوله حسرة وهي في صحيح ابن حبان

Jika engkau berkata: 'Manakala ditetapkan hukum sedemikian rupa atas para ahli ilmu, niscaya ilmu-ilmu akan terbengkalai, punah, dan kebodohan akan merata ke seluruh makhluk.' Maka kami katakan: Sungguh Rasulullah ﷺ telah melarang dari meminta kepemimpinan dan mengancam atasnya dalam hadis: 'Sesungguhnya kalian akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal ia akan menjadi penyesalan dan kerugian pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya.' (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadis Abu Hurairah tanpa kalimat 'kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya', dan beliau menambahkan di akhirnya: 'Maka alangkah nikmatnya ibu yang menyusui dan alangkah buruknya ibu yang menyapih.' Tanpa lafaz 'penyesalan' (hasrah), dan lafaz tersebut terdapat dalam Shahih Ibn Hibban).

وقال نعمت المرضعة وبئست الفاطمة حديث النهي عن القضاء أخرجه مسلم من حديث أبي ذر لا تؤمرن على اثنين ولا تلين مال يتيم

Dan beliau ﷺ bersabda: 'Maka alangkah nikmatnya ibu yang menyusui dan alangkah buruknya ibu yang menyapih.' // Hadis larangan dari memangku jabatan peradilan diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Abu Dzar: 'Janganlah engkau memimpin dua orang dan janganlah engkau mengurus harta anak yatim.'

بل الرياسة وحبها يضطر الخلق إلى طلبها وكذلك حب الرياسة لا يترك العلوم تندرس بل لو حبس الخلق وقيدوا بالسلاسل والأغلال من طلب العلوم التي فيها القبول والرياسة لأفلتوا من الحبس وقطعوا السلاسل وطلبوها

Bahkan, kepemimpinan dan kecintaan kepadanya memaksa manusia untuk mencarinya. Begitu pula kecintaan pada kepemimpinan tidak akan membiarkan ilmu-ilmu menjadi punah. Bahkan seandainya manusia dipenjara dan dibelenggu dengan rantai serta pasung agar tidak menuntut ilmu-ilmu yang dapat mendatangkan penerimaan dan kepemimpinan, niscaya mereka akan meloloskan diri dari penjara, memutus rantai-rantai tersebut, dan tetap menuntut ilmu itu.

وقد وعد الله أن يؤيد هذا الدين بأقوام لا خلاق لهم فلا تشغل قلبك بأمر الناس فإن الله لا يضيعهم وانظر لنفسك ثم إني أقول مع هذا إذا كان في البلد جماعة يقومون بالوعظ مثلاً فليس في النهي عنه إلا امتناع بعضهم وإلا فليعلم أن كلهم لا يمتنعون ولا يتركون لذة الرياسة فإن لم يكن في البلد إلا واحد وكان وعظه نافعاً للناس من حيث حسن كلامه وحسن سمعته في الظاهر وتخييله إلى العوام أنه إنما

Sungguh Allah telah berjanji akan menguatkan agama ini melalui kaum yang tidak memiliki bagian (pahala di akhirat). Maka janganlah engkau menyibukkan hatimu dengan urusan manusia, karena Allah tidak akan menelantarkan mereka, melainkan perhatikanlah dirimu sendiri! Kemudian aku katakan bersamaan dengan ini: Apabila di suatu negeri terdapat sekelompok orang yang telah mendirikan kegiatan nasihat (dakwah) misalnya, maka larangan darinya hanyalah berdampak pada tertahannya sebagian dari mereka. Jika tidak demikian, ketahuilah bahwa tidak seluruh mereka akan menahan diri dan tidak pula meninggalkan kelezatan kepemimpinan. Dan jika di negeri itu tidak ada kecuali satu orang saja, sedangkan nasihatnya bermanfaat bagi orang-orang dari sudut kebagusannya dalam bertutur kata dan reputasinya yang baik di lahiriah, serta anggapan kaum awam bahwa ia hanya…

يريد الله بوعظه وأنه تارك للدنيا ومعرض عنها فلا نمنعه منه ونقول له اشتغل وجاهد نفسك فإن قال لست أقدر على نفسي فنقول اشتغل وجاهد لأنا نعلم أنه لو ترك ذلك لهلك الناس كلهم إذ لا قائم به غيره ولو واظب وغرضه الجاه فهو الهالك وحده وسلامة دين الجميع أحب عندنا من سلامة دينه وحده فنجعله فداء للقوم ونقول لعل هذا هو الذي قال فيه رسول الله ﷺ أن الله يؤيد هذا الدين بأقوام لا خلاق لهم حديث لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لك من الدنيا وما فيها متفق عليه من حديث سهل بن سعد بلفظ خير لك من حمر النعم وقد تقدم في العلم

…menginginkan ridha Allah dengan nasihatnya, dan bahwa ia orang yang meninggalkan dunia serta berpaling darinya, maka kita tidak melarangnya dari hal itu dan kita katakan kepadanya: 'Bekerjalah dan bersungguh-sungguhlah melatih dirimu!' Jika ia berkata: 'Aku tidak sanggup menguasai diriku,' maka kita katakan: 'Tetaplah bekerja dan bermujahadah!' Sebab kita tahu bahwa jika ia meninggalkan hal itu, niscaya seluruh manusia akan celaka karena tidak ada lagi yang mengemban tugas tersebut selain dirinya. Dan seandainya ia terus menekuninya sedangkan tujuannya adalah kedudukan (jah), maka ia sendirilah yang celaka; sedangkan keselamatan agama semua orang lebih kami sukai daripada keselamatan agamanya sendiri semata. Maka kita jadikannya sebagai tebusan bagi kaum tersebut, dan kita katakan: 'Mungkin saja orang inilah yang dimaksud oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya: Sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan kaum yang tidak memiliki bagian (pahala di akhirat).' // Hadis: 'Sungguh, jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang saja melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu daripada dunia dan seisinya.' (Muttafaq 'alaih dari hadis Sahl bin Sa'd dengan redaksi 'lebih baik bagimu daripada unta-unta merah', dan telah disebutkan terdahulu dalam Bab Ilmu).

وقال ﷺ أيما داع دعا إلى هدى واتبع عليه كان له أجره وأجر من اتبعه // حديث أيما داع دعا إلى هدى واتبع عليه كان له أجره وأجر من اتبعه أخرجه ابن ماجه من حديث أنس بزيادة في أوله ولمسلم من حديث أبي هريرة من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه الحديث

Dan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Siapa saja penyeru yang menyeru kepada petunjuk lalu ia diikuti atasnya, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya.' // Hadis 'Siapa saja penyeru yang menyeru kepada petunjuk…' diriwayatkan oleh Ibn Majah dari hadis Anas dengan tambahan di awalnya; dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Abu Hurairah dengan lafaz: 'Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya…'

إلى غير ذلك من فضائل العلم فينبغي أن يقال للعالم اشتغل بالعلم واترك مراءاة الخلق كما يقال لمن خالجه الرياء في الصلاة لا تترك العمل ولكن أتمم العمل وجاهد نفسك فاعلم أن فضل العلم كبير وخطره عظيم كفضل الخلافة والإمارة ولا نقول لأحد من عباد الله اترك العلم إذ ليس في نفس العلم آفة وإنما الآفة في إظهاره بالتصدي للوعظ والتدريس ورواية الحديث ولا نقول له أيضاً اتركه ما دام يجد

…dan hadis-hadis lainnya mengenai keutamaan ilmu. Maka sepatutnya dikatakan kepada seorang alim: 'Sibukkanlah dirimu dengan ilmu dan tinggalkanlah sikap riya (mencari perhatian) kepada makhluk!' Sebagaimana dikatakan kepada orang yang terlintas rasa riya dalam shalatnya: 'Jangan tinggalkan amal shalatmu, tetapi sempurnakanlah amal tersebut dan lawanlah (mujahadah) dirimu!' Maka ketahuilah bahwa keutamaan ilmu itu sangat besar dan risikonya pun sangat agung, sebagaimana keutamaan kekhalifahan dan kepemimpinan. Dan kami tidak pernah mengatakan kepada seorang pun dari hamba-hamba Allah: 'Tinggalkanlah ilmu,' karena pada zat ilmu itu sendiri tidak ada bahaya laten (afah). Bahaya itu hanya ada dalam penampakkannya melalui penampilan diri untuk memberi nasihat, mengajar, dan meriwayatkan hadis. Dan kami juga tidak mengatakan kepadanya: 'Tinggalkanlah itu,' selama ia masih mendapati…

في نفسه باعثاً دينياً ممزوجاً بباعث الرياء أما إذا لم يحركه إلا الرياء فترك الإظهار أنفع له وأسلم

…dalam dirinya dorongan keagamaan yang bercampur dengan dorongan riya. Adapun apabila tidak ada yang menggerakkannya murni melainkan riya belaka, maka meninggalkan penampakkan (penampilan ilmu) itu adalah lebih bermanfaat dan lebih selamat baginya.

وكذلك نوافل الصلوات إذا تجرد فيها باعث الرياء وجب تركها أما إذا خطر له وساوس الرياء في أثناء الصلاة وهو لها كاره فلا يترك الصلاة لأن آفة الرياء في العبادات ضعيفة وإنما تعظم في الولايات وفي التصدي للمناصب الكبيرة في العلم

Demikian pula halnya dengan shalat-shalat sunnah; apabila dorongan riya murni berdiri sendiri di dalamnya, maka wajib meninggalkannya. Adapun apabila bisikan-bisikan riya terlintas di tengah-tengah shalat sedangkan ia membencinya, maka janganlah ia meninggalkan shalat tersebut; karena bahaya laten (afah) riya dalam ibadah-ibadah khusus sifatnya lemah, sedangkan bahaya itu menjadi sangat besar dalam hal kekuasaan (jabatan) dan dalam menampilkan diri untuk menduduki posisi-posisi besar dalam bidang keilmuan.

وبالجملة فالمراتب ثلاث

Secara keseluruhan, tingkatan (dalam masalah ini) ada tiga.

الأولى الولايات والآفات فيها عظيمة وقد تركها جماعة من السلف خوفاً من الآفة

Tingkatan pertama adalah jabatan pemerintahan (kekuasaan), dan bencana (kerusakan spiritual) di dalamnya sangatlah besar. Sejumlah ulama Salaf telah meninggalkannya karena takut akan timbulnya bencana tersebut.

الثانية الصوم الصلاة والحج والغزو وقد تعرض لها أقوياء السلف وضعفاؤهم ولم يؤثر عنهم الترك لخوف الآفة

Tingkatan kedua adalah puasa, shalat, haji, dan berperang (jihad). Baik orang-orang Salaf yang kuat maupun yang lemah tetap melaksanakannya, dan tidak pernah diriwayatkan dari mereka bahwa mereka meninggalkannya karena takut akan bencana (riya).

وذلك لضعف الآفات الداخلة فيها والقدرة على نفيها مع إتمام العمل لله بأدنى قوة

Hal itu dikarenakan lemahnya daya rusak (penyakit riya) yang masuk ke dalamnya, serta adanya kemampuan untuk menepisnya disertai penyempurnaan amal lillahi ta'ala walau dengan kekuatan yang minim.

الثالثة وهي متوسطة بين الرتبتين وهو التصدي لمنصب الوعظ والفتوى والرواية والتدريس والآفات فيها أقل مما في الولايات وأكثر مما في الصلاة فالصلاة ينبغي أن لا يتركها الضعيف والقوي ولكن يدفع خاطر الرياء والولايات ينبغي أن يتركها الضعفاء رأساً دون الأقوياء ومناصب العلم بينهما ومن جرب آفات منصب العلم علم أنه بالولاة أشبه وأن الحذر منه في حق الضعيف أسلم والله أعلم

Tingkatan ketiga berada di antara kedua tingkatan sebelumnya, yaitu menduduki posisi memberi nasihat (khotbah/majelis taklim), memberi fatwa, meriwayatkan hadis, dan mengajar. Bencana di dalamnya lebih sedikit dibanding jabatan kekuasaan, namun lebih banyak dibanding ibadah shalat. Maka shalat seyogianya tidak ditinggalkan baik oleh orang yang lemah maupun yang kuat, melainkan ia harus menepis lintasan pikiran riya. Sedangkan jabatan kekuasaan seyogianya ditinggalkan sama sekali oleh orang yang lemah, bukan oleh orang yang kuat. Adapun kedudukan ilmu berada di antara keduanya. Barangsiapa pernah merasakan bahaya dari kedudukan ilmu, niscaya ia mengetahui bahwa hal itu lebih mirip dengan kedudukan para penguasa, dan berhati-hati darinya bagi orang yang lemah adalah lebih selamat. Wallahu a'lam.

وهنا رتبة رابعة وهي جمع المال وأخذه للتفرقة على المستحقين فإن في الإنفاق وإظهار السخاء استجلاباً للثناء وفي إدخال السرور على قلوب الناس لذة للنفس والآفات فيها أيضاً كثيرة

Di sini ada tingkatan keempat, yaitu mengumpulkan harta dan mengambilnya untuk dibagikan kepada yang berhak. Sebab, dalam menginfakkan harta dan menampakkan kedermawanan terdapat daya tarik untuk meraih pujian, dan dalam membahagiakan hati orang lain terdapat kenikmatan bagi nafsu; bahaya (penyakit hati) di dalamnya pun sangat banyak.

ولذلك سئل الحسن عن رجل طلب القوت ثم أمسك وآخر طلب فوق قوته ثم تصدق به فقال القاعد أفضل لما يعرفون من قلة السلامة في الدنيا وأن من الزهد تركها قربة إلى الله تعالى

Oleh karena itu, Al-Hasan (Al-Bashri) pernah ditanya tentang seseorang yang mencari kadar kecukupan nafkahnya lalu menahannya (cukup sampai di situ), dan orang lain yang mencari melebihi kadar kecukupannya lalu menyedekahkannya. Maka ia menjawab, 'Orang yang duduk (berhenti dari mencari lebih) itu lebih utama.' Hal itu karena mereka mengetahui betapa sedikitnya keselamatan di dunia, dan bahwasanya di antara bentuk zuhud adalah meninggalkannya sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.

وقال أبو الدرداء ما يسرني أنني أقمت على درج مسجد دمشق أصيب كل يوم خمسين ديناراً أتصدق بها أما إني لا أحرم البيع والشراء ولكني أريد أن أكون من الذين لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ الله

Abu Ad-Darda' berkata, 'Aku tidak senang sekiranya aku berdiri di tangga Masjid Damaskus untuk mendapatkan lima puluh dinar setiap hari lalu menyedekahkannya. Ketahuilah, aku tidak mengharamkan jual beli, namun aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang *'tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah'*.'

وقد اختلف العلماء فقال قوم إذا طلب الدنيا من الحلال وسلم منها وتصدق بها فهو أفضل من أن يشتغل بالعبادات والنوافل وقال قوم الجلوس في دوام ذكر الله أفضل والأخذ والإعطاء يشغل عن الله وقد قال المسيح ﵇ يا طالب الدنيا ليبر بها تركك لها أبر وقال

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian ulama berpendapat: Jika seseorang mencari dunia dari jalan yang halal, selamat dari penyakitnya, dan menyedekahkannya, maka itu lebih utama daripada ia disibukkan dengan ibadah-ibadah sunnah. Sementara kelompok lain berpendapat: Berkelanjutan duduk dalam zikir kepada Allah adalah lebih utama, karena mengambil dan memberi (harta) dapat melalaikan dari Allah. Al-Masih 'alaihissalam pernah berkata, 'Wahai pencari dunia agar dapat berbuat kebaikan dengannya, sikapmu meninggalkannya adalah lebih baik (lebih berbakti).' Beliau juga berkata:

أقل ما فيه أن يشغله إصلاحه عن ذكر الله وذكر الله أكبر وأفضل

'Sekurang-kurangnya (bahaya) dari mengurusnya adalah mengalihkan perhatiannya dari zikir kepada Allah, padahal zikir kepada Allah itu lebih besar dan lebih utama.'

وهذا فيمن سلم من الآفات فأما من يتعرض لآفة الرياء فتركه لها أبر والاشتغال بالذكر لا خلاف في أنه أفضل

Ini berlaku bagi orang yang selamat dari bahaya penyakit hati. Adapun orang yang berisiko terkena bahaya riya, maka meninggalkannya adalah lebih baik, dan menyibukkan diri dengan zikir tidak ada perselisihan pendapat bahwa itu lebih utama.

وبالجملة ما يتعلق بالخلق وللنفس فيه لذة فهو مثار الآفات والأحب أن يعمل ويدفع الآفات فإن عجز فلينظر وليجتهد وليستفت قلبه وليزن ما فيه من الخير بما فيه من الشر وليفعل ما يدل عليه نور العلم دون ما يميل إليه الطبع

Secara keseluruhan, segala hal yang berkaitan dengan makhluk dan di dalamnya terdapat kenikmatan bagi nafsu, maka ia menjadi sumber munculnya bahaya. Yang paling disukai adalah seseorang tetap beramal sembari menolak bahaya-bahaya tersebut. Jika ia tidak mampu, hendaklah ia memperhatikan, berijtihad, meminta fatwa kepada hatinya, serta menimbang kadar kebaikan dan keburukan di dalamnya. Hendaklah ia melakukan apa yang ditunjukkan oleh cahaya ilmu, bukan apa yang cenderung disukai oleh tabiat nafsunya.

وبالجملة ما يجده أخف على قلبه فهو في الأكثر أضر عليه لأن النفس لا تشير إلا بالشر وقلما تستلذ الخير وتميل إليه وإن كان لا يبعد ذلك أيضاً في بعض الأحوال وهذه أمور لا يمكن الحكم على تفاصيلها بنفي وإثبات فهو موكول إلى اجتهاد القلب لينظر فيه لدينه ويدع ما يريبه إلى مالا يريبه ثم قد يقع مما ذكرناه غرور للجاهل فيمسك المال ولا ينفقه خيفة من الآفة وهو عين البخل

Secara keseluruhan, apa yang dirasakan oleh seseorang lebih ringan bagi hatinya, maka pada umumnya justru lebih membahayakan baginya. Sebab, nafsu tidak pernah memberi isyarat kecuali kepada keburukan, dan amat jarang ia merasakan kenikmatan dari kebaikan serta cenderung kepadanya, meskipun hal itu tidak mustahil terjadi dalam beberapa keadaan tertentu. Perkara-perkara ini tidak mungkin dihukumi rinciannya dengan pernyataan tegas 'tidak' atau 'ya'. Semua itu diserahkan kepada ijtihad hati seseorang agar ia memperhatikan agamanya dan meninggalkan apa yang meragukannya menuju apa yang tidak meragukannya. Kemudian, dari apa yang telah kami sebutkan ini, bisa saja terjadi penipuan diri (keterpedayaan) pada orang jahil, sehingga ia menahan harta dan tidak menginfakkannya karena takut akan timbulnya bahaya riya, padahal tindakan tersebut adalah hakikat dari kikir (bakhil).

ولا خلاف في أن تفرقة المال في المباحات فضلاً عن الصدقات أفضل من إمساكه وإنما الخلاف فيمن يحتاج إلى الكسب أن الأفضل الكسب والإنفاق أو التجرد للذكر وذلك لما في الكسب من الآفات فأما المال الحاصل من الحلال فتفرقته أفضل من إمساكه بكل حال

Tidak ada perselisihan pendapat bahwa membagikan harta untuk hal-hal yang mubah—terlebih lagi untuk sedekah—adalah lebih utama daripada menahannya. Perselisihan pendapat hanyalah terletak pada orang yang membutuhkan pekerjaan (kassab): apakah yang lebih utama baginya bekerja lalu menginfakkannya, ataukah memfokuskan diri (tajarrud) untuk berzikir, mengingat bahaya yang ada dalam bekerja tersebut. Adapun harta yang sudah diperoleh secara halal, maka membagikannya adalah lebih utama daripada menahannya dalam kondisi apa pun.

فإن قلت فبأي علامة تعرف العالم والواعظ أنه صادق مخلص في وعظه غير مريد رياء الناس فاعلم أن لذلك علامات

Jika engkau bertanya: 'Dengan tanda apakah seorang alim dan penceramah dapat diketahui bahwa ia jujur lagi ikhlas dalam nasihatnya, serta tidak menginginkan riya di hadapan manusia?' Maka ketahuilah bahwa hal itu memiliki beberapa tanda:

إحداها أنه لو ظهر من هو أحسن منه وعظاً أو أغزر منه علماً والناس له أشد قبولاً فرح به ولم يحسده نعم لا بأس بالغبطة وهو أن يتمنى لنفسه مثل علمه

Salah satunya adalah apabila muncul orang lain yang lebih bagus ceramahnya atau lebih luas ilmunya daripada dirinya dan orang-orang lebih menerima orang tersebut, ia merasa gembira dengannya dan tidak merasa dengki (hasad). Benar, tidak mengapa memiliki *ghibthah* (rasa iri yang positif), yaitu berkeinginan memiliki ilmu sepertinya.

والأخرى أن الأكابر إذا حضروا مجلسه لم يتغير كلامه بل بقي كما كان عليه فينظر إلى الخلق بعين واحدة

Tanda yang lain adalah apabila orang-orang berkedudukan tinggi hadir di majelisnya, perkataannya tidak berubah, melainkan tetap sebagaimana mestinya, sehingga ia memandang semua makhluk dengan pandangan yang sama.

والأخرى أن لا يحب اتباع الناس له في الطريق والمشي خلفه في الأسواق

Tanda lainnya adalah ia tidak suka manusia mengikutinya di jalan dan berjalan di belakangnya di pasar-pasar.

ولذلك علامات كثيرة يطول إحصاؤها

Tanda-tanda mengenai hal tersebut sangat banyak dan akan panjang jika dihitung semuanya.

وقد روي عن سعيد بن أبي مروان قال كنت جالساً إلى جنب الحسن إذ دخل علينا الحجاج من بعض أبواب المسجد ومعه الحرس وهو على برذون أصفر فدخل المسجد على برذونه فجعل يلتفت في المسجد فلم يرى حلقة أحفل من خلقه الحسن فتوجه نحوها حتى بلغ قريباً منها ثم ثنى وركه فنزل ومشى نحو الحسن فلما رآه الحسن متوجهاً إليه تجافى له عن ناحية مجلسه قال سعيد وتجافيت له أيضاً عن ناحية مجلسي حتى صار بيني وبين الحسن فرجة ومجلس للحجاج فجاء الحجاج حتى جلس بيني وبينه والحسن يتكلم بكلام له يتكلم به في كل يوم فما قطع الحسن كلامه قال سعيد فقلت في نفسي لأبلون الحسن اليوم ولأنظرن هل يحمل الحسن جلوس الحجاج إليه أن يزيد في كلامه يتقرب إليه أو يحمل الحسن هيبة الحجاج أن ينقص من كلامه فتكلم الحسن كلاماً واحداً نحواً مما كان يتكلم به في كل يوم حتى انتهى إلى آخر كلامه فلما فرغ الحسن من كلامه وهو غير مكترث به رفع الحجاج يده فضرب بها على منكب الحسن ثم قال صدق الشيخ وبر فعليكم بهذه المجالس وأشباهها فاتخذوها حلقاً وعادة فإنه بلغني عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إن مجالس الذكر رياض الجنة // حديث أن مجالس الذكر رياض الجنة تقدم في الأذكار والدعوات

Diriwayatkan dari Sa'id bin Abi Marwan, ia berkata: Aku pernah duduk di samping Al-Hasan (Al-Bashri), tiba-tiba Al-Hajjaj masuk menemui kami dari salah satu pintu masjid bersama para pengawalnya, dengan menunggangi kuda non-Arab berwarna kuning. Ia masuk ke dalam masjid tetap berada di atas kudanya itu, lalu ia menoleh ke sekeliling masjid dan tidak melihat majelis yang lebih ramai dan padat daripada majelis Al-Hasan. Maka ia menuju ke arahnya hingga tiba di dekatnya, lalu memutarkan pinggulnya untuk turun dan berjalan mendekati Al-Hasan. Ketika Al-Hasan melihatnya menuju ke arahnya, Al-Hasan bergeser sedikit memberi ruang dari sudut tempat duduknya. Sa'id berkata: Aku pun turut bergeser dari sudut tempat dudukku sehingga terbentuk celah antara aku dan Al-Hasan serta tempat duduk bagi Al-Hajjaj. Lalu Al-Hajjaj datang hingga duduk di antara aku dan Al-Hasan, sementara Al-Hasan sedang menyampaikan perkataannya sebagaimana yang biasa ia sampaikan setiap hari, dan Al-Hasan tidak memotong perkataannya sedikit pun. Sa'id berkata: Maka aku berkata dalam hatiku, 'Hari ini aku sungguh akan menguji Al-Hasan dan melihat apakah duduknya Al-Hajjaj di dekatnya mendorong Al-Hasan untuk menambah perkataannya demi mendekatkan diri kepadanya, ataukah kewibawaan Al-Hajjaj membawanya untuk mengurangi perkataannya.' Namun Al-Hasan tetap menyampaikan perkataan yang sama persis seperti yang biasa ia sampaikan setiap hari hingga sampai pada akhir pembicaraannya. Ketika Al-Hasan selesai dari perkataannya tanpa mempedulikannya (Al-Hajjaj), Al-Hajjaj mengangkat tangannya lalu menepukkannya pada bahu Al-Hasan seraya berkata, 'Benarlah Syekh ini dan sungguh ia berbakti. Maka hendaklah kalian menghadiri majelis-majelis seperti ini dan seumpamanya, serta jadikanlah ia sebagai halaqah dan kebiasaan. Sebab telah sampai kepadaku dari Rasulullah ﷺ bahwasanya majelis-majelis zikir adalah taman-taman surga.' // Hadis bahwasanya majelis-majelis zikir adalah taman-taman surga telah dijelaskan sebelumnya dalam Bab Azkar wa Ad-Da'awat (Zikir dan Doa).

ولولا ما حملناه من أمر الناس ما غلبتمونا على هذه المجالس لمعرفتنا بفضلها قال ثم افتر الحجاج فتكلم حتى عجب الحسن ومن حضر من بلاغته فلما فرغ طفق فقام فجاء رجل من أهل الشام إلى مجلس الحسن حين قام الحجاج فقال عباد الله المسلمين ألا تعجبون أني رجل شيخ كبير وأني أغزو فأكلف فرساً وبغلاً وأكلف فسطاطاً وأن لي ثلثمائة درهم من العطاء وأن لي سبع بنات من العيال فشكا من حاله حتى رق الحسن له ولأصحابه والحسن مكب فلما فرغ الرجل من كلامه رفع الحسن رأسه فقال ما لهم قاتلهم الله اتخذوا عباد الله خولاً ومال الله دولاً وقتلوا الناس على الدينار والدرهم فإذا غزا عدو الله غزا في الفساطيط الهبابة وعلى البغال السباقة وإذا أغزى أخاه أغزاه طاوياً راجلا فما فتر الحسن حتى ذكرهم بأقبح العيب وأشده فقام رجل من أهل الشام كان جالساً إلى الحسن فسعى به إلى الحجاج وحكى له كلامه فلم يلبث الحسن أن أتته رسل الحجاج فقالوا أجب الأمير فقام الحسن وأشفقنا عليه من شدة كلامه الذي تكلم به فلم يلبث الحسن أن رجع إلى مجلسه وهو يبتسم وقلما رأيته فاغراً فاه يضحك إنما كان يتبسم فأقبل حتى قعد في مجلسه فعظم الأمانة وقال إنما تجالسون بالأمانة كأنكم تظنون أن الخيانة ليست إلا في الدينار والدرهم إن الخيانة أشد الخيانة أن يجالسنا الرجل فنطمئن إلى جانبه ثم ينطلق فيسعى بنا إلى شرارة من نار إني أتيت هذا الرجل فقال أقصر عليك من لسانك وقولك إذا غزا عدو الله غزا كذا وكذا وإذا أغزى أخاه أغزاه كذا لا أبالك تحرض علينا الناس أما إنا على ذلك لانتهم نصيحتك فأقصر عليك من لسانك قال فدفعه الله عني

Seandainya bukan karena beban urusan manusia yang kami tanggung, niscaya kalian tidak akan mengalahkan kami dalam majelis-majelis ini, karena kami mengetahui keutamaannya." Dia berkata: Kemudian Al-Hajjaj tersenyum dan berbicara hingga Al-Hasan dan orang-orang yang hadir merasa kagum atas kefasihannya. Ketika dia selesai, dia pun bangkit dan pergi. Lalu datanglah seorang laki-laki dari penduduk Syam ke majelis Al-Hasan sewaktu Al-Hajjaj bangkit. Laki-laki itu berkata, "Wahai hamba-hamba Allah yang muslim, tidakkah kalian heran bahwa aku ini seorang laki-laki yang sudah sangat tua, dan aku ikut berperang lalu dibebani untuk menyediakan kuda, bagal, dan kemah, sementara aku hanya mendapat tiga ratus dirham dari tunjangan hidup, dan aku memiliki tujuh anak perempuan yang menjadi tanggungan keluarga?" Laki-laki itu mengadukan keadaannya hingga Al-Hasan dan sahabat-sahabatnya merasa iba kepadanya, sementara Al-Hasan tertunduk. Ketika laki-laki itu selesai berbicara, Al-Hasan mengangkat kepalanya lalu berkata, "Ada apa dengan mereka? Semoga Allah membinasakan mereka! Mereka telah menjadikan hamba-hamba Allah sebagai hamba sahaya, dan harta Allah sebagai barang rebutan (di antara orang kaya), serta membunuh manusia demi dinar dan dirham. Jika musuh Allah itu berperang, dia berperang di dalam kemah-kemah yang megah dan di atas bagal-bagal yang kencang berlari. Namun jika dia menugaskan saudaranya berperang, dia mengutusnya dalam keadaan lapar dan berjalan kaki." Al-Hasan tidak berhenti hingga menyebutkan aib mereka yang paling buruk dan paling keras. Lalu berdirilah seorang laki-laki dari penduduk Syam yang duduk di dekat Al-Hasan, kemudian dia melapor (mengadu) kepada Al-Hajjaj dan menceritakan kepadanya ucapan Al-Hasan tersebut. Tidak lama kemudian, utusan Al-Hajjaj mendatangi Al-Hasan dan berkata, "Penuhilah panggilan Sang Amir!" Maka Al-Hasan pun bangkit, dan kami merasa cemas terhadapnya karena kerasnya ucapan yang telah ia lontarkan. Tidak berapa lama, Al-Hasan kembali ke majelisnya dalam keadaan tersenyum—dan jarang sekali aku melihat beliau tertawa lebar, beliau hanya tersenyum. Beliau mendekat hingga duduk di majelisnya, lalu mengagungkan masalah amanah dan berkata, "Sesungguhnya kalian saling duduk bersama atas dasar amanah. Seakan-akan kalian mengira bahwa pengkhianatan itu hanya ada pada dinar dan dirham. Sesungguhnya pengkhianatan yang paling berat adalah seorang laki-laki duduk bersama kami sehingga kami merasa aman di sampingnya, lalu dia pergi dan melaporkan kami kepada percikan api neraka. Sesungguhnya aku telah mendatangi laki-laki ini (Al-Hajjaj), lalu dia berkata, 'Tahanlah lidahmu dari ucapanmu: Jika musuh Allah berperang dia berperang begini dan begitu, dan jika dia mengutus saudaranya berperang dia mengutusnya begini… tidak ada ayah bagimu! Engkau memprovokasi orang-orang untuk melawan kami. Padahal meskipun demikian, kami tidak meragukan ketulusan nasihatmu. Maka tahanlah lidahmu!' Al-Hasan berkata, 'Maka Allah menolak bahayanya dariku.'"

وركب الحسن حماراً يريد المنزل فبينما هو يسير إذا التفت فرأى قوماً يتبعونه فوقف فقال هل لكم من حاجة أو تسألون عن شيء وإلا فارجعوا فما يبقى هذا من قلب العبد فبهذه

Dan Al-Hasan pernah menunggangi seekor keledai hendak menuju rumahnya. Ketika beliau sedang berjalan, tiba-tiba beliau menoleh dan melihat sekelompok orang mengikutinya. Beliau pun berhenti lalu berkata, 'Apakah kalian memiliki suatu keperluan atau hendak menanyakan sesuatu? Jika tidak, maka kembalilah, karena hal seperti ini tidak akan menyisakan kebaikan bagi hati seorang hamba.' Maka dengan…

العلامات وأمثالها تتبين سريرة الباطن

…tanda-tanda ini dan sejenisnya, dapat terungkap rahasia kebatinan seseorang.

ومهما رأيت العلماء يتغايرون ويتحاسدون ولا يتوانسون ولا يتعاونون فاعلم أنهم قد اشتروا الحياة الدنيا بالآخرة فهم الخاسرون

Dan kapan pun engkau melihat para ulama saling cemburu, saling mendengki, tidak saling mengasihi, dan tidak saling membantu, maka ketahuilah bahwa mereka telah membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, maka merekalah orang-orang yang rugi.

اللهم ارحمنا بلطفك يا أرحم الراحمين

Ya Allah, rahmatilah kami dengan kelembutan-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

بيان ما يصح من نشاط العبد للعبادة بسبب رؤية الخلق وما لا يصح

Penjelasan mengenai semangat hamba dalam beribadah yang sah disebabkan melihat makhluk, dan yang tidak sah.

اعلم أن الرجل قد يبيت مع القوم في موضع فيقومون للتهجد أو يقوم بعضهم فيصلون الليل كله أو بعضه وهو ممن يقوم في بيته ساعة قريبة فإذا رآهم انبعث نشاطه للموافقة حتى يزيد على ما كان يعتاده أو يصلي مع أنه كان لا يعتاد الصلاة بالليل أصلاً وكذلك قد يقع في موضع يصوم فيه أهل الموضع فينبعث له نشاط في الصوم ولولاهم لما انبعث هذا النشاط فهذا ربما يظن أنه رياء وأن الواجب ترك الموافقة وليس كذلك على الإطلاق بل له تفصيل لأن كل مؤمن راغب في عبادة الله تعالى وفي قيام الليل وصيام النهار ولكن قد تعوقه العوائق ويمنعه الاشتغال ويغلبه التمكن من الشهوات أو تستهويه الغفلة فربما تكون مشاهدة الغير سبب زوال الغفلة أو تندفع العوائق والأشغال في بعض المواضع فينبعث له النشاط فقد يكون الرجل في منزله فتقطعه الأسباب عن التهجد مثل تمكنه من النوم على فراش وثير أو تمكنه من التمتع بزوجته أو المحادثة مع أهله وأقاربه أو الاشتغال بأولاده أو مطالعة حساب له مع معامليه فإذا وقع في منزل غريب اندفعت عنه هذه الشواغل التي تفتد رغبته عن الخير وحصلت له أسباب باعثة على الخير كمشاهدته إياهم وقد أقبلوا على الله وأعرضوا عن الدنيا فإنه ينظر إليهم فينافسهم ويشق عليه أن يسبقوه بطاعة الله فتتحرك داعيته للدين لا للرياء أو ربما يفارقه النوم لاستنكاره الموضع أو سبب آخر فيغتنم زوال النوم وفي منزله ربما يغلبه النوم وربما ينضاف إليه أنه في منزله على الدوام والنفس لا تسمح بالتهجد دائماً وتسمح بالتهجد وقتاً قليلاً فيكون ذلك سبب هذا النشاط مع اندفاع سائر العوائق وقد يعسر عليه الصوم في منزله ومعه أطايب الأطعمة ويشق عليه الصبر عنها فإذا أعوزته تلك الأطعمة لم يشق عليه فتنبعث داعية الدين للصوم فإن الشهوات الحاضرة عوائق ودوافع تغلب باعث الدين فإذا سلم منها قوي الباعث

Ketahuilah bahwa seseorang terkadang bermalam bersama suatu kaum di suatu tempat, lalu mereka bangun untuk salat tahajud atau sebagian dari mereka bangun lalu salat sepanjang malam atau sebagian malam, padahal dia adalah orang yang biasanya hanya bangun di rumahnya sebentar saja. Namun ketika dia melihat mereka, timbullah semangatnya untuk menyesuaikan diri hingga dia menambah dari apa yang biasanya dia lakukan, atau dia salat padahal tadinya tidak terbiasa salat malam sama sekali. Demikian pula, terkadang seseorang berada di suatu tempat yang penduduknya sedang berpuasa, maka timbullah semangat padanya untuk berpuasa, yang seandainya bukan karena mereka niscaya semangat ini tidak akan muncul. Hal seperti ini terkadang dikira sebagai riya dan bahwa yang wajib adalah meninggalkan penyesuaian diri tersebut. Padahal tidaklah demikian secara mutlak, melainkan ada perinciannya. Sebab setiap mukmin pasti memiliki keinginan untuk beribadah kepada Allah Ta'ala, bangun di malam hari, dan berpuasa di siang hari, namun terkadang terhalang oleh berbagai rintangan, terhalang oleh kesibukan, dikuasai oleh pemenuhan syahwat, atau terbawa oleh kelalaian. Maka terkadang menyaksikan orang lain menjadi sebab hilangnya kelalaian, atau tersingkirnya rintangan dan kesibukan di sebagian tempat, sehingga bangkitlah semangat baginya. Terkadang seseorang berada di rumahnya lalu terputus oleh sebab-sebab rintangan dari tahajud, seperti berkesempatan tidur di kasur yang empuk, menikmati kebersamaan dengan istrinya, berbincang-bincang dengan keluarga dan kerabatnya, sibuk dengan anak-anaknya, atau memeriksa perhitungan dengan rekan bisnisnya. Namun ketika dia berada di rumah orang lain (tempat asing), hilanglah gangguan-gangguan yang melemahkan keinginannya terhadap kebaikan ini, dan terwujudlah sebab-sebab yang mendorong pada kebaikan, seperti menyucikan pandangan dengan melihat mereka yang sedang menghadap Allah dan berpaling dari dunia. Maka dia melihat mereka lalu berlomba-lomba dengan mereka, dan terasa berat baginya jika mereka mendahuluinya dalam ketaatan kepada Allah, sehingga bergeraklah dorongan agamanya, bukan karena riya. Atau terkadang kantuknya hilang karena merasa asing dengan tempat tersebut atau karena sebab lain, lalu dia memanfaatkan hilangnya rasa kantuk itu, padahal di rumahnya mungkin rasa kantuk menguasainya. Serta terkadang ditambah pula bahwa di rumahnya dia berada secara terus-menerus dan nafsu tidak rela untuk bertahajud secara terus-menerus, namun rela untuk bertahajud dalam waktu singkat; maka hal itu menjadi sebab timbulnya semangat ini seiring dengan tersingkirnya rintangan-rintangan lainnya. Dan terkadang sulit baginya berpuasa di rumahnya karena di sana terdapat makanan-makanan lezat dan berat baginya untuk bersabar darinya. Namun ketika makanan-makanan itu tidak ada, tidaklah berat baginya, sehingga bangkitlah dorongan agama untuk berpuasa. Karena syahwat yang hadir merupakan rintangan dan pendorong yang mengalahkan pendorong agama; maka jika dia selamat darinya, pendorong agama itu menjadi kuat.

فهذا وأمثاله من الأسباب يتصور وقوعه ويكون السبب فيه مشاهدة الناس وكونه معهم والشيطان مع ذلك ربما يصد عن العمل ويقول لا تعمل فإنك تكون مرائياً إذا كنت لا تعمل في بيتك ولا تزد على صلاتك المعتادة وقد تكون رغبته في الزيادة لأجل رؤيتهم وخوفاً من ذمهم ونسبتهم إياه إلى الكسل لا سيما إذا كانوا يظنون به أنه يقوم الليل فإن نفسه لا تسمح بأن يسقط من أعينهم فيريد أن يحفظ منزلته وعند ذلك قد يقول الشيطان صل فإنك مخلص ولست تصلى لأجلهم بل لله وإنما كنت لا تصلي كل ليلة لكثرة العوائق وإنما داعيتك لزوال العوائق لا لاطلاعهم

Maka sebab ini dan yang seumpamanya sangat memungkinkan terjadi, dan pemicunya adalah menyaksikan manusia serta keberdaannya bersama mereka. Meskipun demikian, setan terkadang menghalangi dari beramal dengan mengatakan, 'Jangan beramal! Karena engkau menjadi orang yang riya jika engkau tidak beramal di rumahmu, dan jangan menambahi salatmu yang biasa.' Padahal terkadang keinginannya untuk menambahi itu memang karena melihat mereka dan takut akan celaan mereka serta tuduhan mereka kepada dirinya sebagai orang yang malas, terlebih lagi jika mereka mengira dia biasa bangun malam. Sebab jiwanya tidak rela jatuh di mata mereka, sehingga dia ingin menjaga kedudukannya. Pada saat itulah setan terkadang berkata, 'Salatlah! Karena engkau orang yang ikhlas dan engkau tidak salat karena mereka melainkan karena Allah. Engkau tadinya tidak salat setiap malam hanya karena banyaknya rintangan, dan pendorongmu hanyalah hilangnya rintangan, bukan karena penglihatan mereka.'

وهذا أمر مشتبه إلا على ذوي البصائر فإذا عرف أن المحرك هو الرياء فلا ينبغي أن يزيد على ما كان يعتاده ولا ركعة واحدة لأنه يعصي الله بطلب محمدة الناس بطاعة الله وإن كان انبعاثه لدفع العوائق وتحرك الغبطة والمنافسة بسبب عبادتهم فليوافق

Dan ini adalah perkara yang samar kecuali bagi orang-orang yang memiliki bashirah (mata hati). Jika diketahui bahwa pendorongnya adalah riya, maka tidak sepatutnya dia menambah dari apa yang biasa dilakukannya meskipun hanya satu rakaat, karena dia bermaksiat kepada Allah dengan mencari pujian manusia melalui ketaatan kepada Allah. Namun jika kebangkitannya itu untuk menyingkirkan rintangan dan tergeraknya rasa ghibthah (keinginan positif) serta berlomba-lomba disebabkan ibadah mereka, maka hendaklah dia menyesuaikan diri (ikut beribadah).

وعلامة ذلك أن يعرض على نفسه أنه لو رأى هؤلاء يصلون من حيث لا يرونه بل من وراء حجاب وهو في ذلك الموضع بعينه هل كانت نفسه تسخو بالصلاة وهم لا يرونه فإن سخت نفسه فليصل فإن باعثه الحق وإن كان ذلك يثقل على نفسه لو غاب عن أعينهم فليترك فإن باعثه الرياء

Dan tanda akan hal itu adalah dia menyodorkan kepada jiwanya: Seandainya dia melihat mereka salat dari tempat yang mereka tidak melihatnya, melainkan dari balik tabir, sementara dia berada di tempat yang persis sama, apakah jiwanya akan dermawan (ringan) untuk salat padahal mereka tidak melihatnya? Jika jiwanya merasa ringan, maka hendaklah dia salat karena pendorongnya adalah kebenaran (keikhlasan). Namun jika hal itu terasa berat bagi jiwanya seandainya dia tersembunyi dari pandangan mata mereka, maka hendaklah dia meninggalkannya, karena pendorongnya adalah riya.

وكذلك قد يحضر الإنسان يوم الجمعة في الجامع من نشاط الصلاة ما لا يحضره كل يوم ويمكن أن يكون ذلك لحب حمدهم ويمكن أن يكون نشاطه بسبب نشاطهم وزوال غفلته بسبب إقبالهم على الله تعالى وقد يتحرك بذلك باعث الدين ويقارنه نزوع النفس إلى حب الحمد فمهما علم أن الغالب على قلبه إرادة الدين فلا

Demikian pula seseorang pada hari Jumat di masjid jami' mungkin merasakan semangat salat yang tidak dirasakannya setiap hari. Hal itu bisa jadi karena menyukai pujian mereka, dan bisa jadi pula semangatnya disebabkan oleh semangat mereka serta hilangnya kelalaiannya karena mereka sedang menghadap Allah Ta'ala. Dengan demikian pendorong agama dapat tergerak, namun dibarengi pula dengan kecenderungan jiwa pada kesukaan akan pujian. Maka kapan saja dia mengetahui bahwa yang dominan di dalam hatinya adalah kehendak agama, maka tidak…

ينبغي أن يترك العمل بما يجده من حب الحمد بل ينبغي أن يرد ذلك على نفسه بالكراهية ويشتغل بالعبادة

…sepatutnya dia meninggalkan amal hanya karena rasa suka akan pujian yang dirasakannya itu, melainkan hendaknya dia menolak rasa itu pada dirinya dengan kebencian (terhadap rasa suka dipuji tersebut) dan tetap sibuk beribadah.

وكذلك قد يبكي جماعة فينظر إليهم فيحضره البكاء خوفاً من الله تعالى لا من الرياء ولو سمع ذلك الكلام وحده لما بكى ولكن بكاء الناس يؤثر في ترقيق القلب وقد لا يحضره البكاء فيتباكى تارة رياء وتارة مع الصدق إذ يخشى على قلبه قساوة القلب حين يبكون ولا تدمع عينه فيتباكى تكلفاً وذلك محمود

Demikian pula, terkadang suatu kelompok menangis, lalu seseorang melihat mereka dan timbullah tangisan padanya karena takut kepada Allah Ta'ala, bukan karena riya. Seandainya dia mendengar perkataan itu sendirian, niscaya dia tidak akan menangis, akan tetapi tangisan orang-orang berpengaruh dalam melembutkan hati. Terkadang pula tangisan tidak menghampirinya, lalu dia berbuat tangis (tabaki); kadang-kadang karena riya dan kadang-kadang disertai kejujuran (keikhlasan), yaitu ketika dia mengkhawatirkan kerasnya hati atas dirinya saat mereka menangis sedangkan air matanya tidak menetes, maka dia berbuat tangis dengan mengusahakannya, dan hal itu adalah terpuji.

وعلامة الصدق فيه أن يعرض على نفسه أنه لو سمع بكاءهم من حيث لا يرونه هل كان يخاف على نفسه القساوة فيتباكى أم لا فإن لم يجد ذلك عند تقدير الاختفاء عن أعينهم فإنما خوفه من أن يقال إنه قاسي القلب فينبغي أن يترك التباكي

Dan tanda kejujuran (keikhlasan) padanya adalah hendaknya dia menyodorkan pada jiwanya: Seandainya dia mendengar tangisan mereka dari tempat yang mereka tidak melihatnya, apakah dia akan takut atas kerasnya hati pada dirinya lalu berpura-pura menangis atau tidak? Jika dia tidak mendapati hal itu saat mengandaikan tersembunyi dari pandangan mata mereka, maka rasa takutnya hanyalah agar tidak dikatakan bahwa dia berhati keras, sehingga sepatutnya dia meninggalkan perbuatan pura-pura menangis tersebut.

قال لقمان ﵇ لابنه لا ترى الناس أنك تخشى ليكرموك وقلبك فاجر

Luqman 'Alaihissalam berkata kepada putranya, 'Janganlah engkau memperlihatkan kepada manusia bahwa engkau takut (kepada Allah) agar mereka memuliakanmu, padahal hatimu pendurhaka.'

وكذلك الصيحة والتنفس والأنين عند القرآن أو الذكر أو بعض مجاري الأحوال تارة تكون من الصدق والحزن والخوف والندم والتأسف وتارة تكون لمشاهدته حزن غيره وقساوة قلبه فيتكلف التنفس والأنين ويتحازن وذلك محمود وقد تقترن به الرغبة فيه لدلالته على أنه كثير الحزن ليعرف بذلك فإن تجردت هذه الداعية فهي الرياء وإن اقترنت بداعية الحزن فإن أباها ولم يقبلها وكرهها سلم بكاؤه وتباكيه وإن قبل ذلك وركن إليه بقلبه حبط أجره وضاع سعيه وتعرض لسخط الله تعالى به وقد يكون أصل الأنين عن الحزن ولكن يمده ويزيد في رفع الصوت فتلك الزيادة رياء وهو محظور لأنها في حكم الابتداء لمجرد الرياء فقد يهيج من الخوف ما لا يملك العبد معه نفسه ولكن يسبقه خاطر الرياء فيقبله فيدعو إلى زيادة تحزين للصوت أو رفع له أو حفظ الدمعة على الوجه حتى تبصر بعد أن استرسلت لخشية الله ولكن يحفظ أثرها على الوجه لأجل الرياء

Demikian pula teriakan, helaan napas, dan rintihan ketika mendengarkan Al-Qur'an, zikir, atau dalam sebagian gejolak keadaan spiritual (ahwal); terkadang bersumber dari kejujuran, kesedihan, rasa takut, penyesalan, dan rasa kasihan. Namun terkadang pula disebabkan karena melihat kesedihan orang lain dan kerasnya hatinya sendiri, sehingga dia memaksakan helaan napas dan rintihan serta berpura-pura sedih, dan hal itu terpuji. Tetapi terkadang dibarengi oleh keinginan padanya karena hal itu menunjukkan bahwa dia adalah orang yang banyak bersedih agar dikenal demikian; maka jika dorongan ini berdiri sendiri, itulah riya. Jika dibarengi oleh dorongan kesedihan, lalu dia menolaknya, tidak menerimanya, dan membencinya, maka selamatlah tangisan dan perbuatan pura-pura menangisnya (tabaki). Namun jika dia menerima hal itu dan hatinya cenderung kepadanya, maka gugurlah pahalanya, sia-sialah usahanya, dan dia menanggung kemurkaan Allah Ta'ala dengannya. Terkadang asal-usul rintihan itu bersumber dari kesedihan, akan tetapi dia memperpanjangnya dan menambah peninggian suara, maka tambahan itu adalah riya dan hukumnya terlarang, karena tambahan itu berstatus seperti perbuatan baru yang semata-mata demi riya. Maka terkadang rasa takut berkecamuk hingga hamba tidak mampu menguasai dirinya, namun lintasan riya mendahuluinya lalu dia menerimanya, sehingga mendorong untuk menambah kesedihan suara atau meninggikannya, atau membiarkan bekas air mata di wajah agar terlihat setelah air mata itu mengalir karena takut kepada Allah, tetapi bekasnya sengaja dipertahankan di wajah demi riya.

وكذلك قد يسمع الذكر فتضعف قواه من الخوف فيسقط ثم يستحي أن يقال له إنه سقط من غير زوال عقل وحالة شديدة فيزعق ويتواجد تكلفاً ليرى أنه سقط لكونه مغشياً عليه وقد كان ابتداء السقطة عن صدق وقد يزول عقله فيسقط ولكن يفيق سريعاً فتجزع نفسه أن يقال حالته غير ثابتة وإنما هي كبرق خاطف فيستديم الزعقة والرقص ليرى دوام حاله وكذلك قد يفيق بعد الضعف ولكن يزول ضعفه سريعاً فيجزع أن يقال لم تكن غشيته صحيحة ولو كان لدام ضعفه فيستديم إظهار الضعف والأنين فيتكئ على غيره يرى أنه يضعف عن القيام ويتمايل في المشي ويقرب الخطا ليظهر أنه ضعيف عن سرعة المشي

Demikian pula seseorang mungkin mendengar zikir lalu kekuatannya melemah karena takut hingga dia jatuh tersungkur. Kemudian dia merasa malu jika dikatakan kepadanya bahwa dia jatuh tanpa adanya hilang akal atau kondisi spiritual (hal) yang sangat kuat, maka dia pun berteriak dan berpura-pura mengalami ekstasi spiritual (tawajud) secara dipaksakan agar terlihat bahwa dia jatuh karena pingsan, padahal awal jatuhnya adalah dari kejujuran (keikhlasan). Dan terkadang akalnya benar-benar hilang lalu dia jatuh, namun dia sadar kembali dengan cepat, maka jiwanya merasa risau jika dikatakan bahwa keadaan spiritualnya tidak mantap melainkan hanya seperti kilat yang menyambar, lalu dia terus-menerus berteriak dan menari (bergerak) agar terlihat kontinuitas keadaannya. Demikian pula terkadang dia sadar setelah kelemahan fisik, namun kelemahannya hilang dengan cepat, lalu dia risau jika dikatakan pingsannya tidak benar—sebab seandainya benar niscaya kelemahannya akan bertahan lama—maka dia terus-menerus memperlihatkan kelemahan dan rintihan, bersandar pada orang lain untuk memperlihatkan bahwa dia lemah untuk berdiri, serta berjalan sempoyongan dan memperpendek langkah agar tampak bahwa dia terlalu lemah untuk berjalan cepat.

فهذه كلها مكايد الشيطان ونزعات النفس

Maka ini semua adalah tipu daya setan dan dorongan-dorongan hawa nafsu.

فإذا خطرت فعلاجها أن يتذكر أن الناس لو عرفوا نفاقه في الباطن واطلعوا على ضميره لمقتوه وإن الله مطلع على ضميره وهو له أشد مقتاً كما روي عن ذي النون ﵀ أنه قام وزعق فقام معه شيخ آخر رأى فيه أثر التكلف فقال يا شيخ الذي يراك حين تقوم فجلس الشيخ

Jika hal-hal itu melintas di pikiran, maka obatnya adalah dengan mengingat bahwa seandainya manusia mengetahui kemunafikan batinnya dan melihat isi hatinya, niscaya mereka akan membencinya; padahal Allah Maha Melihat isi hatinya dan Dia jauh lebih membencinya. Sebagaimana diriwayatkan dari Dzun Nun Rahimahullah bahwa beliau pernah bangkit dan berteriak, lalu bangkit pula bersama beliau seorang syeikh lain yang terlihat padanya tanda-tanda pemaksaan diri (takalluf). Maka beliau berkata, 'Wahai Syeikh, Dzat Yang melihatmu ketika engkau berdiri!' Maka syeikh itu pun langsung duduk.

وكل ذلك من أعمال المنافقين

Dan semua itu termasuk dari perbuatan orang-orang munafik.

وقد جاء في الخبر تعوذوا بالله من خشوع النفاق // حديث تعوذوا بالله من خشوع النفاق أخرجه البيهقي في الشعب من حديث أبي بكر الصديق وفيه الحارث بن عبيد الأيادي ضعفه أحمد وابن معين

Terdapat dalam sebuah riwayat: "Berlindunglah kalian kepada Allah dari kekhusyukan nifak." // Hadis "Berlindunglah kalian kepada Allah dari kekhusyukan nifak" diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab dari hadis Abu Bakar as-Siddiq, dan di dalamnya terdapat al-Harits bin Ubaid al-Iyadi yang dinilai daif oleh Ahmad dan Ibn Ma'in.

وإنما خشوع النفاق أن تخشع الجوارح والقلب غير خاشع ومن ذلك الاستغفار والاستعاذة بالله من عذابه وغضبه فإن ذلك قد يكون لخاطر خوف وتذكر ذنب وتندم عليه وقد يكون للمراءاة

Kekhusyukan nifak itu sesungguhnya adalah ketika anggota badan tampak khusyuk sedangkan hati tidak khusyuk. Di antaranya pula adalah meminta ampunan (istigfar) dan memohon perlindungan kepada Allah dari azab dan kemurkaan-Nya; sebab hal itu terkadang bersumber dari lintasan rasa takut, mengingat dosa, serta penyesalan atasnya, dan terkadang pula dilakukan hanya untuk pencitraan (riya').

فهذه خواطر ترد على القلب متضادة مترادفة متقاربة وهي مع تقاربها متشابهة فراقب قلبك في كل ما يخطر لك وانظر ما هو ومن أين هو فإن كان لله فامضه واحذر مع ذلك أن يكون قد خفي عليكشيء من الرياء الذي هو كدبيب النمل وكن على وجل من عبادتك أهي مقبولة أم لا لخوفك على الإخلاص فيها واحذر أن يتجدد لك خاطر الركون إلى حمدهم بعد الشروع بالإخلاص فإن ذلك مما يكثر جدا

Maka lintasan-lintasan pikiran (khawatir) ini mendatangi hati secara berlawanan, berturut-turut, dan berdekatan, serta dalam kedekatannya itu saling mirip. Maka awasilah hatimu pada setiap apa yang melintas di dalamnya dan perhatikanlah apakah ia dan dari mana asalnya. Jika ia karena Allah, maka teruskanlah, namun tetaplah waspada jangan sampai ada sesuatu dari riya' yang tersembunyi bagimu, yang jalannya bagaikan rayapan semut. Beradalah dalam rasa cemas (wajal) terhadap ibadahmu, apakah ia diterima atau tidak, karena kekhawatiranmu terhadap keikhlasan di dalamnya. Dan waspadalah jangan sampai timbul lintasan baru untuk bersandar pada pujian mereka setelah engkau memulainya dengan ikhlas, sebab hal yang demikian itu amat sering terjadi.

فإذا خطر لك فتفكر في اطلاع الله عليك ومقته لك

Maka apabila lintasan itu mendatangi hatimu, renungkanlah pengawasan Allah atasmu dan kemurkaan-Nya terhadapmu.

وتذكر ما قاله أحد الثلاثة الذين حاجوا أيوب ﵇ إذ قال يا أيوب أما علمت أن العبد تضل عنه علانيته التي كان يخادع بها عن نفسه ويجزى بسريرته

Ingatlah apa yang dikatakan oleh salah satu dari tiga orang yang berbantahan dengan Nabi Ayyub 'alaihissalam tatkala ia berkata: "Wahai Ayyub, tidakkah engkau tahu bahwa seorang hamba akan lenyap (tak berguna) darinya amalan lahiriahnya yang dahulu ia pergunakan untuk menipu dirinya sendiri, dan ia akan dibalas berdasarkan batinnya (rahasia hatinya)?"

وقول بعضهم أعوذ بك أن يرى الناس أني أخشاك وأنت لي ماقت

Dan ucapan sebagian dari mereka: "Aku berlindung kepada-Mu dari dipandang manusia sebagai orang yang takut kepada-Mu, padahal Engkau murka kepadaku."

وكان من دعاء علي بن الحسين ﵄ اللهم إني أعوذ بك أن تحسن في لامعة العيون علانيتي وتقبح لك فيما أخلو سريرتي محافظاً على رياء الناس من نفسي مضيعاً لما أنت مطلع عليه مني أبدي للناس أحس أمري وأفضي إليك بأسوأ عملي تقرباً إلى الناس بحسناتي وفراراً منهم إليك بسيآتي فيحل بي مقتك ويجب علي غضبك أعذني من ذلك يا رب العالمين

Termasuk doa Ali bin al-Husain 'alaihissalam adalah: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari membaguskan amalan lahiriahku di pandangan mata manusia, namun memburukkan batin/rahasiaku di hadapan-Mu tatkala aku sendirian; demi menjaga riya' manusia dari diriku, seraya menyia-nyiakan apa yang Engkau awasi dariku. Aku tampakkan kepada manusia perkara terbaikku, dan aku pasrahkan kepada-Mu amalku yang paling buruk, demi mendekatkan diri kepada manusia dengan kebaikan-kebaikanku dan lari dari mereka menuju-Mu dengan keburukan-keburukanku, sehingga menimpaku kemurkaan-Mu dan mestilah bagiku kemarahan-Mu. Lindungilah aku dari hal demikian, wahai Tuhan semesta alam."

وقد قال أحد الثلاثة نفر لأيوب ﵇ يا أيوب ألم تعلم أن الذين حفظوا علانيتهم وأضاعوا سرائرهم عند طلب الحاجات إلى الرحمن تسود وجوههم فهذه جمل آفات الرياء

Salah seorang dari ketiga orang tersebut juga berkata kepada Nabi Ayyub 'alaihissalam: "Wahai Ayyub, tidakkah engkau tahu bahwa orang-orang yang menjaga amalan lahiriah mereka namun menyia-nyiakan batin mereka, ketika memohon hajat kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, wajah-wajah mereka akan menjadi hitam?" Maka inilah keseluruhan dari bahaya/bencana (afat) riya'.

فليراقب العبد قلبه ليقف عليها ففي الخبر إن للرياء سبعين بابا // حديث الرياء سبعون بابا هكذا ذكر المصنف هذا الحديث هنا وكأنه تصحف عليه أو على من نقله من كلامه أنه الرياء بالمثناة وإنما هو الربا بالموحدة والمرسوم كتابته بالواو والحديث رواه ابن ماجه من حديث أبي هريرة بلفظ الربا سبعون حوبا أيسرها أن ينكح الرجل أمه وفي إسناد أبو معشر واسمه نجيح مختلف فيه وروى ابن ماجه أيضا من حديث ابن مسعود عن النبي ﷺ قال الربا ثلاث وسبعون بابا وإسناده صحيح هكذا ذكر ابن ماجه الحديثين في أبوب التجارات وقد روى البزار حديث ابن مسعود بلفظ الربا بضع وسبعون بابا والشرك مثل ذلك وهذه الزيادة قد يستدل بها على أنه الرياء بالمثناة لاقترائه مع الشرك والله أعلم

Maka hendaknya seorang hamba mengawasi hatinya agar dapat mengetahuinya. Sebab terdapat dalam riwayat: "Sesungguhnya riya' itu memiliki tujuh puluh pintu." // Hadis "Riya' memiliki tujuh puluh pintu": Demikianlah pengarang menyebutkan hadis ini di sini, dan seolah-olah telah terjadi kesalahan tulis (tashif) padanya atau pada orang yang mengutip dari perkataannya, bahwasanya kata tersebut adalah *al-riya'* (الرياء) dengan huruf ya' ber-titik dua, padahal sebenarnya adalah *al-riba* (الربا) dengan huruf ba' ber-titik satu yang penulisan rasm-nya menggunakan wau. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibn Majah dari hadis Abu Hurairah dengan lafaz: "Riba itu ada tujuh puluh tingkatan dosa, yang paling ringannya ialah seperti seseorang menikahi ibunya sendiri." Dalam sanadnya terdapat Abu Ma'shar yang bernama Najiḥ dan diperdebatkan. Ibn Majah juga meriwayatkan dari hadis Ibn Mas'ud dari Nabi ﷺ beliau bersabda: "Riba itu ada tujuh puluh tiga pintu", dan sanadnya shahih. Demikianlah Ibn Majah menyebutkan kedua hadis tersebut dalam bab-bab perdagangan. Al-Bazzar juga meriwayatkan hadis Ibn Mas'ud dengan lafaz: "Riba itu ada tujuh puluh sekian pintu, dan syirik pun demikian." Tambahan ini terkadang dijadikan dalil bahwa kata yang dimaksud adalah *al-riya'* (dengan titik dua) karena disandingkan dengan syirik. Wallahu a'lam.

وقد عرفت أن بعضه أغمض من بعض حتى إن بعضه مثل دبيب النمل وبعضه أخفى من دبيب النمل وكيف يدرك ما هو أخفى من دبيب النمل إلا بشدة التفقد والمراقبة وليته أدرك بعد بذل المجهود فكيف يطمع في إدراكه من غير تفقد للقلب وامتحان للنفس وتفتيش عن خدعها نسأل الله تعالى العافية بمنه وكرمه وإحسانه

Dan engkau telah mengetahui bahwa sebagian dari riya' itu lebih samar dari sebagian lainnya, hingga sebagiannya seperti rayapan semut, dan sebagian lagi lebih tersembunyi daripada rayapan semut. Lantas bagaimana mungkin sesuatu yang lebih samar daripada rayapan semut dapat dideteksi kecuali dengan pemeriksaan dan muraqabah (pengawasan diri) yang sangat ketat? Alangkah baiknya jika ia dapat terdeteksi setelah mencurahkan segala kemampuan, maka bagaimana mungkin seseorang berharap dapat mendeteksinya tanpa adanya pemeriksaan terhadap hati, ujian terhadap nafsu, dan penyelidikan atas tipu dayanya? Kita memohon keselamatan kepada Allah Ta'ala dengan anugerah, kemurahan, dan kebaikan-Nya.

بيان ما ينبغي للمريد أن يلزم نفسه قَبْلَ الْعَمَلِ وَبَعْدَهُ وَفِيهِ

Penjelasan tentang apa yang sepatutnya diwajibkan oleh seorang murid (penempuh jalan kerohanian) atas dirinya sebelum beramal dan sesudahnya, dan di dalamnya terdapat beberapa pembahasan.

اعْلَمْ أَنَّ أَوْلَى مَا يُلْزِمُ الْمُرِيدُ قَلْبَهُ فِي سَائِرِ أَوْقَاتِهِ الْقَنَاعَةُ بِعِلْمِ اللَّهِ فِي جَمِيعِ طَاعَاتِهِ وَلَا يَقْنَعُ بِعِلْمِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ وَلَا يَرْجُو إِلَّا اللَّهَ فَأَمَّا مَنْ خَافَ غَيْرَهُ وَارْتَجَاهُ اشْتَهَى اطِّلَاعَهُ عَلَى مَحَاسِنِ أَحْوَالِهِ فَإِنْ كَانَ فِي هَذِهِ الرُّتْبَةِ فَلْيُلْزِمْ قَلْبَهُ كَرَاهَةَ ذَلِكَ مِنْ جِهَةِ الْعَقْلِ وَالْإِيمَانِ لِمَا فِيهِ مِنْ خَطَرِ التَّعَرُّضِ لِلْمَقْتِ وليراقب نفسه عند الطاعات العظيمة الشاقة التي لا يقدر عليها غيره فإن النفس عند ذلك تكاد تغلي حرصاً على الإفشاء وتقول مثل هذا العمل العظيم أو الخوف العظيم أو البكاء العظيم لو عرفه الخلق منك لسجدوا لك فما في الخلق من يقدر على مثله فكيف ترضى بإخفائه فيجهل الناس محلك وينكرون قدرك ويحرمون الاقتداء بك ففي مثل هذا الأمر ينبغي أَنْ يَثْبُتَ قَدَمُهُ وَيَتَذَكَّرَ فِي مُقَابَلَةِ عِظَمِ عمله عظم ملك الآخرة ونعيم الجنة ودوامه أبد الآباد وعظم غضب الله ومقته عَلَى مَنْ طَلَبَ بِطَاعَتِهِ ثَوَابًا مِنْ عِبَادِهِ ويعلم أن إظهاره لغيره محبب إليه وسقوط عند الله وإحباط للعمل العظيم فيقول وكيف أتبع مثل هذا العمل بحمد الخلق وهم عاجزون لا يقدرون لي على رزق ولا أجل فيلزم ذلك قلبه ولا ينبغي أن ييأس عنه فيقول إنما يقدر على الإخلاص الأقوياء فأما المخلطون فليس ذلك من شأنهم فيترك المجاهدة في الإخلاص لأن المخلط إلى ذلك أحوج من المتقي لأن المتقي إن فسدت نوافله بقيت فرائضه كاملة تامة والمخلط لا تخلو فرائضه عن النقصان والحاجة إلى الجبران بالنوافل فإن لم تسلم صار مأخذوا بالفرائض وهلك به فالمخلط إلى الإخلاص أحوج

Ketahuilah bahwasanya perkara yang paling utama untuk diwajibkan oleh seorang murid atas hatinya di sepanjang waktunya adalah rasa cukup dengan pengetahuan Allah terhadap seluruh ketaatannya. Dan tidak akan merasa cukup dengan pengetahuan Allah melainkan orang yang tidak takut kecuali kepada Allah dan tidak berharap kecuali kepada Allah. Adapun orang yang takut kepada selain-Nya dan berharap kepadanya, niscaya ia berhasrat agar pihak lain itu mengetahui kebaikan-kebaikan keadaannya. Jika ia berada pada tingkatan ini, maka hendaknya ia mewajibkan hatinya untuk membenci hal tersebut dari sudut pandang akal dan iman, karena di dalamnya terdapat bahaya terdedah pada kemurkaan Allah. Dan hendaknya ia mengawasi dirinya tatkala melakukan ketaatan-ketaatan yang besar dan berat yang tidak mampu dilakukan oleh orang lain, sebab nafsu pada saat itu hampir mendidih karena sangat ingin menyebarkannya seraya berkata: "Amal yang seagung ini, atau rasa takut yang seagung ini, atau tangisan yang seagung ini, andai diketahui oleh para makhluk darimu niscaya mereka akan bersujud kepadamu! Tidak ada seorang pun di antara makhluk yang mampu melakukan hal semisal ini, maka bagaimana engkau ridha menyembunyikannya sehingga orang-orang tidak mengetahui kedudukanmu, mengingkari martabatmu, dan terhalang untuk meneladanimu?" Maka dalam perkara seperti ini, sepatutnya kakinya tetap teguh dan ia mengingat—sebagai pembanding dari keagungan amalnya—keagungan kerajaan akhirat, nikmat surga serta keabadiannya selama-lamanya, dan keagungan murka Allah serta kebencian-Nya terhadap orang yang mencari balasan dari para hamba-Nya melalui ketaatannya. Dan hendaknya ia menyadari bahwa menampakkannya kepada selain-Nya adalah sesuatu yang disukai nafsunya namun merupakan kejatuhan di sisi Allah serta pembatalan bagi amal yang agung itu. Lalu ia berkata: "Bagaimana mungkin aku mengiringi amal seperti ini dengan pujian makhluk, padahal mereka adalah zat yang lemah yang tidak mampu memberiku rezeki maupun menunda ajalku?" Maka hendaknya ia menancapkan hal itu di dalam hatinya. Dan tidak sepatutnya ia berputus asa seraya berkata: "Sesungguhnya yang mampu berbuat ikhlas hanyalah orang-orang yang kuat, adapun orang-orang yang gemar mencampuradukkan amal (mukhallithun), maka hal itu bukanlah urusan mereka," sehingga ia meninggalkan mujahadah dalam keikhlasan. Sebab orang yang mencampuradukkan amal justru lebih membutuhkan keikhlasan daripada orang yang bertakwa. Karena orang yang bertakwa, apabila amalan-amalan sunahnya rusak, amalan-amalan wajibnya tetap utuh dan sempurna. Sedangkan orang yang mencampuradukkan amal, amalan-amalan wajibnya tidak lepas dari kekurangan dan butuh penyempurnaan dengan amalan sunah. Jika amalan sunahnya pun tidak selamat, niscaya ia akan dituntut dengan amalan wajibnya dan binasa karenanya. Maka orang yang mencampuradukkan amal justru lebih membutuhkan keikhlasan.

وقد روى تميم الداري عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قال يحاسب العبد يوم القيامة فإن نقص فرضه قيل انظروا هل له من تطوع فإن كان له تطوع أكمل به فرضه وإن لم يكن له تطوع أخذ

Sungguh Tamim ad-Dari telah meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda: "Seorang hamba akan dihisab pada hari kiamat. Jika amalan wajibnya kurang, dikatakan (kepada malaikat): 'Lihatlah, apakah ia memiliki amalan sunah?' Jika ia memiliki amalan sunah, maka disempurnakanlah amalan wajibnya dengannya. Dan jika ia tidak memiliki amalan sunah, maka diambil…"

بطرفيه فألقي في النار // حديث تميم الداري في إكمال فريضة الصلاة بالتطوع أخرجه أبو داود وابن ماجه وتقدم في الصلاة

"…kedua ujung tubuhnya lalu dilemparkan ke dalam neraka." // Hadis Tamim ad-Dari tentang penyempurnaan shalat fardu dengan amalan sunah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibn Majah, dan telah disebutkan terdahulu dalam bab Shalat.

فيأتي المخلط يوم القيامة وفرضه ناقص وعليه ذنوب كثيرة فاجتهاده في جبر الفرائض وتكفير السيئات ولا يمكن ذلك إلا بخلوص النوافل وأما المتقي فجهده في زيادة الدرجات فإن حبط تطوعه بقي من حسناته ما يترجح على السيئات فيدخل الجنة

Maka orang yang mencampuradukkan amal akan datang pada hari kiamat dalam keadaan amalan wajibnya berkurang serta menanggung dosa yang banyak; maka kesungguhannya berada dalam menutup kekurangan amalan wajib dan menghapus keburukan-keburukan, dan hal itu tidak memungkinkan kecuali dengan keikhlasan amalan-amalan sunah. Adapun orang yang bertakwa, maka usahanya adalah untuk menaikkan derajat-derajat kedudukan. Jika amalan sunahnya gugur, masih tersisa dari kebaikan-kebaikannya apa yang lebih berat dari keburukan-keburukannya sehingga ia masuk surga.

فإذن ينبغي أن يلزم قلبه خوف اطلاع غير الله عليه لتصح نوافله ثُمَّ يُلْزِمَ قَلْبَهُ ذَلِكَ بَعْدَ الْفَرَاغِ حَتَّى لَا يُظْهِرَهُ وَلَا يَتَحَدَّثَ بِهِ وَإِذَا فَعَلَ جَمِيعَ ذَلِكَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ وَجِلًا مِنْ عَمَلِهِ خَائِفًا أَنَّهُ رُبَّمَا دَاخَلَهُ مِنَ الرِّيَاءِ الْخَفِيِّ مَا لَمْ يَقِفْ عَلَيْهِ فَيَكُونُ شَاكًّا فِي قَبُولِهِ وَرَدِّهِ مُجَوِّزًا أَنْ يَكُونَ اللَّهُ قَدْ أَحْصَى عَلَيْهِ مِنْ نِيَّتِهِ الْخَفِيَّةِ مَا مَقَتَهُ بِهَا وَرَدَّ عَمَلَهُ بِسَبَبِهَا وَيَكُونُ هَذَا الشك والخوف في دام عمله وبعده إلا في ابتداء العقل بل ينبغي أن يكون متيقناً في الابتداء أَنَّهُ مُخْلِصٌ مَا يُرِيدُ بِعَمَلِهِ إِلَّا اللَّهَ حتى يصح عمله فإذا شرع ومضت لحظة يمكن فيها الغفلة والنسيان كان الخوف من الغفلة عن شائبة خفية أحبطت عمله من رياء أو عجب أولى به ولكن يكون رجاؤه أغلب من خوفه لأنه استيقن أنه دخل بالإخلاص وشك في أنه هل أفسده برياء فيكون رجاء القبول أغلب وبذلك تعظم لذته في المناجاة والطاعات

Oleh karena itu, sepatutnya ia menancapkan di dalam hatinya rasa takut akan penglihatan selain Allah atas dirinya agar amalan-amalan sunahnya menjadi sah. Kemudian ia menancapkan hal itu di dalam hatinya setelah selesai beramal sehingga ia tidak menampakkannya dan tidak menceritakannya. Apabila ia telah melakukan semua itu, hendaknya ia merasa cemas (wajil) atas amalnya, merasa khawatir bahwa mungkin saja ada riya' yang tersembunyi yang menyusup ke dalamnya yang tidak ia ketahui, sehingga ia berada dalam keraguan antara diterima dan ditolaknya amal tersebut, seraya memungkinkannya bahwa Allah telah mencatat niat tersembunyinya yang membuat Allah murka padanya dan menolak amalnya karena sebab itu. Keraguan dan rasa takut ini ada pada saat melangsungkan amal dan sesudahnya, bukan pada saat awal mula kesadaran beramal. Bahkan sepatutnya ia merasa yakin pada awalnya bahwa ia ikhlas dan tidak menginginkan dengan amalnya kecuali Allah, sehingga amalnya menjadi sah. Apabila ia telah mulai beramal dan berlalu sekejap mata yang memungkinkan terjadinya kelalaian dan kelupaan, maka rasa takut akan kelalaian dari noda tersembunyi yang menggugurkan amalnya—baik berupa riya' maupun ujub—adalah lebih utama baginya. Akan tetapi, hendaknya harapannya (raja') lebih dominan daripada rasa takutnya (khauf), karena ia telah yakin bahwa ia masuk ke dalam amal dengan keikhlasan, sedangkan ia ragu apakah ia telah merusaknya dengan riya'. Maka harapan akan penerimaan menjadi lebih dominan, dan dengan demikian kelezatannya dalam bermunajat dan melakoni ketaatan menjadi semakin agung.

فالإخلاص يقين والرياء شك

Maka keikhlasan itu adalah keyakinan, sedangkan riya' adalah keraguan.

وَخَوْفُهُ لِذَلِكَ الشَّكِّ جَدِيرٌ بِأَنْ يُكَفِّرَ خَاطِرَ الرِّيَاءِ إِنْ كَانَ قَدْ سَبَقَ وَهُوَ غَافِلٌ عَنْهُ

Dan rasa takutnya akibat keraguan tersebut sudah sepatutnya mampu menghapuskan lintasan riya' jika hal itu telah mendahuluinya dalam keadaan ia lalai darinya.

وَالَّذِي يَتَقَرَّبُ إِلَى اللَّهِ بِالسَّعْيِ فِي حَوَائِجِ النَّاسِ وَإِفَادَةِ الْعِلْمِ يَنْبَغِي أَنْ يُلْزِمَ نَفْسَهُ رَجَاءَ الثَّوَابِ عَلَى دُخُولِ السُّرُورِ عَلَى قَلْبِ مَنْ قَضَى حَاجَتَهُ فَقَطْ وَرَجَاءَ الثَّوَابِ عَلَى عَمَلِ الْمُتَعَلِّمِ بِعِلْمِهِ فَقَطْ دُونَ شُكْرٍ وَمُكَافَأَةٍ وَحَمْدٍ وَثَنَاءٍ مِنَ الْمُتَعَلِّمِ وَالْمُنْعَمِ عَلَيْهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُحْبِطُ الْأَجْرَ

Dan barang siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia serta menyampaikan ilmu, hendaknya ia mewajibkan dirinya untuk hanya mengharapkan pahala atas masuknya rasa bahagia ke dalam hati orang yang ia penuhi kebutuhannya saja, serta mengharapkan pahala atas amalan orang yang belajar sesuai ilmunya saja, tanpa mengharapkan ucapan terima kasih, balasan jasa, pujian, maupun sanjungan dari murid maupun orang yang diberi kebaikan. Sebab hal demikian dapat menggugurkan pahala.

فَمَهْمَا تَوَقَّعَ مِنَ الْمُتَعَلِّمِ مُسَاعَدَةً فِي شُغْلٍ وَخِدْمَةٍ أَوْ مُرَافَقَةٍ في المشي في الطريق ليستكثر بِاسْتِتْبَاعِهِ أَوْ تَرَدُّدًا مِنْهُ فِي حَاجَةٍ فَقَدْ أخذ أجره بلا ثَوَابَ لَهُ غَيْرُهُ

Maka sewaktu-waktu ia mengharapkan bantuan dari muridnya dalam suatu urusan, khidmat, atau pengawalan saat berjalan di jalanan untuk memperbanyak pengikut, atau bolak-baliknya murid itu dalam suatu kebutuhannya, maka sungguh ia telah mengambil imbalannya dan tidak ada pahala baginya selain itu.

نَعَمْ إِنْ لَمْ يَتَوَقَّعْ هُوَ وَلَمْ يَقْصِدْ إِلَّا الثَّوَابَ عَلَى عَمَلِهِ بِعِلْمِهِ لِيَكُونَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَلَكِنْ خَدَمَهُ التِّلْمِيذُ بِنَفْسِهِ فَقَبِلَ خِدْمَتَهُ فَنَرْجُو أَنْ لَا يحبط ذلك أجره إذا كان لا ينتظره ولا يريده منه ولا يستبعده منه لو قطعه

Ya, jika dia tidak mengharapkannya dan tidak bermaksud melainkan hanya pahala atas pengamalannya terhadap ilmunya agar dia memperoleh pahala seumpamanya, namun sang murid melayaninya dengan sukarela lalu dia menerima pelayanannya tersebut, maka kami berharap hal itu tidak menggugurkan pahalanya, selagi dia tidak menanti-nantikannya, tidak menginginkannya dari murid itu, dan tidak merasa kecewa sekiranya murid tersebut menghentikan pelayanannya.

ومع هذا فقد كان العلماء يحذرون هذا حتى إن بعضهم وقع في بئر فجاء قوم فأدلوا حبلاً ليرفعوه فحلف عليهم أن لا يقف معهم من قرأ عليه آية من القرآن أو سمع منه حديثاً خيفة أن يحبط أجره

Meskipun demikian, para ulama terdahulu sangat mewaspadai hal ini. Bahkan, pernah ada salah seorang dari mereka jatuh ke dalam sumur, lalu sekelompok orang datang dan mengulurkan tali untuk mengangkatnya. Namun, ulama tersebut bersumpah kepada mereka agar tidak ada seorang pun yang ikut menarik tali bersamanya jika orang tersebut pernah membaca satu ayat Al-Qur'an darinya atau mendengar satu hadis darinya, karena takut pahalanya akan gugur.

وقال شقيق البلخي أهديت لسفيان الثوري ثوباً فرده علي فقلت له يا أبا عبد الله لست أنا ممن يسمع الحديث حتى ترده علي قال علمت ذاك ولكن أخوك يسمع مني الحديث فأخاف أن يلين قلبي لأخيك أكثر مما يلين لغيره

Syaqiq al-Balkhi berkata, "Aku pernah menghadiahkan sehelai pakaian kepada Sufyan at-Tsauri, tetapi beliau mengembalikannya kepadaku. Maka aku berkata kepadanya, 'Wahai Abu Abdillah, aku bukanlah orang yang mendengarkan (belajar) hadis darimu sehingga engkau mengembalikannya kepadaku.' Beliau menjawab, 'Aku tahu itu, tetapi saudaramu mendengarkan hadis dariku, maka aku khawatir hatiku akan cenderung lebih lembut kepada saudaramu dibandingkan kepada orang lain.'"

وجاء رجل إلى سفيان ببدرة أو بدرتين وكان أبوه صديقاً لسفيان وكان سفيان يأتيه كثيراً فقال له يا أبا عبد الله في نفسك من أبي شيء فقال يرحم الله أباك كان وكان وأثنى عليه فقال يا أبا عبد الله قد عرفت كيف صار هذا المال إلي فأحب أن تأخذ هذه تستعين بها على عيالك قال فقبل سفيان ذلك قال فلما خرج قال لولده يا مبارك الحقه فرده علي فرجع فقال أحب أن تأخذ مالك فلم يزل به حتى رده عليه

Seseorang datang kepada Sufyan membawa satu atau dua pundi-pundi uang. Ayah orang itu adalah sahabat dekat Sufyan, dan Sufyan sering mengunjunginya. Orang itu berkata kepadanya, "Wahai Abu Abdillah, apakah engkau merasa tidak enak hati terhadap ayahku?" Sufyan menjawab, "Semoga Allah merahmati ayahmu, beliau adalah orang yang sangat baik…" dan beliau pun memujinya. Orang itu berkata lagi, "Wahai Abu Abdillah, engkau tahu bagaimana harta ini sampai kepadaku, maka aku ingin engkau mengambil ini untuk membantumu menafkahi keluargamu." Sufyan pun menerimanya. Namun ketika orang itu keluar, Sufyan berkata kepada anaknya, "Wahai Mubarak, kejarlah dia dan kembalikan uang ini kepadaku!" Anak itu kembali membawanya, lalu Sufyan berkata, "Aku ingin engkau mengambil kembali hartamu." Beliau terus memohon hingga orang tersebut menerimanya kembali.

وكأنه كانت أخوته مع أبيه في الله تعالى فكره أن يأخذ ذلك

Seolah-olah persaudaraannya dengan ayah orang tersebut didasari karena Allah Ta'ala, sehingga beliau enggan mengambil pemberian itu.

قال ولده فلما خرج لم أملك نفسي أن جئت إليه فقلت ويلك أي شيء قلبك هذا حجارة عد أنه ليس لك عيال أما ترحمني أما ترحم إخوتك أما ترحم عيالنا فأكثرت عليه فقال لي يا مبارك تأكلها أنت هنيئا مرئيا وأسأل عنها أنا

Anaknya menceritakan: Ketika orang itu telah pergi, aku tidak dapat menahan diri lalu menemui ayahku dan berkata, "Celaka! Hati apakah ini? Apakah hatimu ini dari batu? Anggap saja engkau tidak memiliki keluarga, tidakkah engkau mengasihaniku? Tidakkah engkau mengasihani saudara-saudaraku? Tidakkah engkau mengasihani keluarga kita?" Aku terus mencecarnya. Maka beliau berkata kepadaku, "Wahai Mubarak, engkau akan memakannya dengan nikmat dan lezat, sedangkan akulah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas harta itu."

فإذن يجب على العالم أن يلزم قلبه طلب الثواب من الله في اهتداء الناس به فقط وَيَجِبُ عَلَى الْمُتَعَلِّمِ أَنْ يُلْزِمَ قَلْبَهُ حَمْدَ الله وطلب ثوابه ونيل المنزلة عنده لا عند المعلم وعند الخلق ٢

Oleh karena itu, wajib bagi seorang alim untuk menetapkan hatinya hanya mencari pahala dari Allah dalam hal hidayah manusia melalui perantaraannya. Dan wajib pula bagi seorang murid untuk menetapkan hatinya untuk memuji Allah, mencari pahala-Nya, serta meraih kedudukan di sisi-Nya, bukan di sisi guru maupun di sisi makhluk.

وربما يظن أن له أن يرائي بطاعته لينال عند المعلم رتبته فيتعلم منه وهو خطأ لأن إرادته بطاعته غير الله خسران في الحال والعلم ربما يفيد وربما

Kadang-kadang timbul persangkaan bahwa seseorang boleh berbuat riya dengan ketaatannya agar memperoleh kedudukan di sisi gurunya sehingga ia bisa belajar darinya. Hal itu adalah kekeliruan, karena menghendaki selain Allah dengan ketaatannya merupakan kerugian seketika (saat itu juga), sedangkan ilmu bisa jadi bermanfaat dan bisa jadi…

لا يفيد فيكف يخسر في الحال عملاً نقداً على توهم علم وذلك غير جائز بل ينبغي أن يتعلم لله ويعبد الله وَيَخْدِمَ الْمُعَلِّمَ لِلَّهِ لَا لِيَكُونَ لَهُ فِي قلبه منزله إن كان يريد أن يكون تعلمه طاعة فإن العباد أمروا أن لا يَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ وَلَا يُرِيدُوا بِطَاعَتِهِمْ غَيْرَهُ

…tidak bermanfaat. Maka bagaimana mungkin seseorang merugi seketika dengan mengorbankan amal yang nyata demi prasangka akan ilmu yang belum pasti? Hal itu tidak diperbolehkan. Sebaliknya, hendaknya ia belajar karena Allah, beribadah kepada Allah, dan melayani guru demi Allah, bukan agar ia memiliki kedudukan di hati sang guru, sekiranya ia menghendaki agar belajarnya menjadi nilai ketaatan. Sebab, para hamba diperintahkan agar tidak menyembah melainkan hanya kepada Allah dan tidak menghendaki selain-Nya dengan ketaatan mereka.

وكذلك من يخدم أبويه لا ينبغي أن يخدمهما لطلب المنزلة عندهما إلا من حيث إن رضا الله عنه في رضا الوالدين ولا يجوز له أن يرائي بطاعته لينال بها منزلة عند الوالدين فإن ذلك معصية في الحال وسيكشف الله عن ريائه وتسقط منزلته من قلوب الوالدين أيضا

Demikian pula orang yang berkhidmat kepada kedua orang tuanya, tidak sepatutnya ia berkhidmat untuk mencari kedudukan di mata keduanya, kecuali dari sudut pandang bahwa keridaan Allah kepadanya terletak pada keridaan orang tua. Dan tidak boleh baginya berbuat riya dengan ketaatannya demi meraih kedudukan di sisi orang tua, sebab hal itu merupakan maksiat seketika, dan Allah akan membongkar riyanya serta meruntuhkan kedudukannya dari hati kedua orang tuanya pula.

وأما الزاهد الْمُعْتَزِلُ عَنِ النَّاسِ فَيَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُلْزِمَ قَلْبَهُ ذِكْرَ اللَّهِ وَالْقَنَاعَةَ بِعِلْمِهِ وَلَا يُخْطِرَ بِقَلْبِهِ مَعْرِفَةَ النَّاسِ زُهْدَهُ وَاسْتِعْظَامَهُمْ مَحَلَّهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَغْرِسُ الرِّيَاءَ فِي صَدْرِهِ حَتَّى تَتَيَسَّرَ عليه العبادات في خلوته به وإنما سكوته لمعرفة الله بِاعْتِزَالِهِ وَاسْتِعْظَامِهِمْ لِمَحَلِّهِ وَهُوَ لَا يَدْرِي أَنَّهُ المخفف للعمل عليه

Adapun orang yang zahid yang mengasingkan diri dari manusia (ber'uzlah), hendaknya ia menetapkan hatinya untuk berzikir kepada Allah dan merasa cukup dengan pengetahuan-Nya. Janganlah ia membiarkan terlintas dalam hatinya agar orang-orang mengetahui kezuhudannya dan mengagungkan kedudukannya, karena hal itu akan menanamkan riya dalam dadanya, hingga ibadah-ibadah terasa mudah baginya saat menyendiri bersamanya. Padahal ketenangannya terwujud karena pengetahuan orang-orang akan 'uzlah-nya dan pengagungan mereka atas kedudukannya, sedangkan ia tidak menyadari bahwa itulah yang meringankan beban amal baginya.

قال إبراهيم بن أدهم ﵀ تعلمت المعرفة من راهب يقال له سمعان دخلت عليه في صومعته فقلت يا سمعان منذ كم أنت في صومعتك قال منذ سبعين سنة قلت

Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata: "Aku mempelajari makrifat dari seorang rahib bernama Sam'an. Aku menemuinya di tempat peribadatannya (biara), lalu aku bertanya, 'Wahai Sam'an, sudah berapa lama engkau berada di biaramu ini?' Ia menjawab, 'Sejak tujuh puluh tahun yang lalu.' Aku bertanya,

فما طعامك قال يا حنيفي وما دعاك إلى هذا قلت أحببت أن أعلم قال في كل ليلة حمصة قلت فما الذي يهيج من قلبك حتى تكفيك هذه الحمصة قال ترى الدير الذي بحذائك قلت نعم قال إنهم يأتوني في كل سنة يوماً واحداً فيزينون صومعتي ويطوفون حولها ويعظموني فكلما تثاقلت نفسي عن العبادة ذكرتها عز تلك الساعة فأنا أحتمل جهد سنة لعز ساعة فاحتمل يا حنيفي جهد ساعة لعز الأبد فوقر في قلبي المعرفة فقال حسبك أو أزيدك قلت بلى قال أنزل عن الصومعة فنزلت فأدلى لي ركوة فيها عشرون حمصة فقال لي ادخل الدير فقد رأوا ما أدليت إليك فلما دخلت الدير اجتمع علي النصارى فقالوا يا حنيفي ما الذي أدلى إليك الشيخ قلت من قوته قالوا فما تصنع به ونحن أحق به ثم قالوا ساوم قلت عشرون ديناراً فأعطوني عشرين ديناراً فرجعت إلى الشيخ فقال يا حنيفي ما الذي صنعت قلت بعته منهم قال بكم قلت بعشرين ديناراً قال أخطأت لو ساومتهم بعشرين ألف دينار لأعطوك هذا عز من لا تعبده فانظر كيف يكون عز من تعبده يا حنيفي أقبل على ربك ودع الذهاب والجيئة

'Lalu apa makananmu?' Ia menjawab, 'Wahai seorang Hanif, apa yang mendorongmu menanyakan hal ini?' Aku menjawab, 'Aku ingin mengetahuinya.' Ia berkata, 'Setiap malam hanya satu biji kacang.' Aku bertanya, 'Lalu apa yang membakar semangat hatimu hingga satu biji kacang ini cukup bagimu?' Ia berkata, 'Apakah engkau melihat biara besar yang ada di depanmu itu?' Aku menjawab, 'Ya.' Ia berkata, 'Sesungguhnya mereka mendatangiku setiap tahun hanya satu hari saja; mereka menghiasi biaraku, mengelilinginya, dan mengagungkanku. Setiap kali jiwaku merasa berat untuk beribadah, aku mengingatkannya akan kemuliaan jam tersebut. Maka aku sanggup menanggung kesukaran selama satu tahun demi kemuliaan satu jam. Maka tanggunglah, wahai seorang Hanif, kesukaran satu jam demi kemuliaan abadi!' Maka mengendaplah makrifat itu di dalam hatiku. Lalu rahib itu berkata, 'Apakah ini cukup bagimu atau aku tambahkan?' Aku menjawab, 'Ya, tambahkanlah.' Ia berkata, 'Turunlah dari biara.' Aku pun turun, lalu ia mengulurkan kepadaku sebuah wadah air kecil yang berisi dua puluh biji kacang. Ia berkata kepadaku, 'Masuklah ke dalam biara, karena orang-orang Nasrani telah melihat apa yang aku ulurkan kepadamu.' Ketika aku masuk ke biara, orang-orang Nasrani berkumpul mengelilingiku dan berkata, 'Wahai seorang Hanif, apa yang diulurkan syekh kepadamu?' Aku menjawab, 'Sebagian dari makanannya.' Mereka berkata, 'Apa yang akan engkau lakukan dengannya? Kamilah yang lebih berhak atasnya.' Kemudian mereka berkata, 'Tawarkanlah harganya!' Aku berkata, 'Dua puluh dinar.' Mereka pun memberiku dua puluh dinar. Aku kembali kepada syekh, lalu ia berkata, 'Wahai seorang Hanif, apa yang telah engkau lakukan?' Aku menjawab, 'Aku telah menjualnya kepada mereka.' Ia bertanya, 'Berapa harganya?' Aku menjawab, 'Dua puluh dinar.' Ia berkata, 'Engkau keliru. Seandainya engkau menawar dua puluh ribu dinar, niscaya mereka akan memberikannya padamu. Ini adalah kemuliaan dari Dzat yang tidak engkau sembah, maka bayangkan bagaimana kelak kemuliaan dari Dzat yang engkau sembah! Wahai seorang Hanif, menghadaplah kepada Tuhanmu dan tinggalkanlah kebingungan bolak-balik ini!'"

والمقصود أن استشعار النَّفْسِ عِزَّ الْعَظَمَةِ فِي الْقُلُوبِ يَكُونُ بَاعِثًا في الخلوة وقد لا يشعر العبد به فَيَنْبَغِي أَنْ يُلْزِمَ نَفْسَهُ الْحَذَرَ مِنْهُ وَعَلَامَةُ سَلَامَتِهِ أَنْ يَكُونَ الْخَلْقُ عِنْدَهُ وَالْبَهَائِمُ بِمَثَابَةٍ واحدة فلو تغيروا عن اعتقادهم له لَمْ يَجْزَعْ وَلَمْ يَضِقْ بِهِ ذَرْعًا إِلَّا كَرَاهَةً ضَعِيفَةً إِنْ وَجَدَهَا فِي قَلْبِهِ فَيَرُدُّهَا في الحال بعقله وإيمانه فإنه لو كَانَ فِي عِبَادَةٍ وَاطَّلَعَ النَّاسُ كُلُّهُمْ عَلَيْهِ لم يزده ذلك خشوعاً ولم يداخله سرور بسبب اطلاعهم عليه فإن دخل سرور يسير فهو دليل ضعفه ولكن إذا قدر على رده بكراهة العقل والإيمان وبادر إلى ذلك ولم يقبل ذلك السرور بالركون إليه فيرجى له أن لا يخيب سعيه إلا أن يزيد عند مشاهدتهم في الخشوع والانقباض كي لا ينبسطوا إليه فذلك لا بأس به ولكن فيه غرور إذ النفس قد تكون شهوتها الخفية إظهار الخشوع وتتعلل بطلب الانقباض فيطالبها في دعواها قصد الانقباض بموثق من الله غليظ وهو أنه لو علم أن انقباضهم عنه إنما حصل بأن يعدوا كثيراً أو يضحك كثيراً أو يأكل كثيراً فتسمح نفسه بذلك فإذا لم تسمح وسمحت بالعبادة فيشبه أن يكون مرادها المنزلة عندهم ولا ينجو من ذلك إلا من تقرر في قلبه أنه ليس في الوجود أحد سوى الله فيعمل عمل من لو كان على وجه الأرض وحده لكان يعمله فلا يلتفت قلبه إلى الخلق إلا خطرات ضعيفة لا يشق عليه إزالتها فإذا كان كذلك لم يتغير بمشاهدة الخلق

Maksudnya adalah bahwa perasaan jiwa akan kemuliaan pengagungan di hati manusia dapat menjadi pendorong dalam kesendirian (khalwat), dan terkadang hamba tersebut tidak menyadarinya. Oleh karena itu, hendaknya ia mewajibkan dirinya untuk mewaspadainya. Tanda keselamatannya adalah apabila manusia dan hewan baginya berada pada kedudukan yang sama. Seandainya prasangka manusia terhadapnya berubah, ia tidak akan gelisah dan tidak merasa sesak dada, melainkan hanya menyisakan ketidaksukaan yang lemah jika ia mendapatinya di dalam hatinya, lalu ia segera menolaknya seketika dengan akal dan imannya. Sebab, sekiranya ia sedang beribadah dan seluruh manusia melihatnya, hal itu tidak menambah kekhusyukannya dan tidak pula memasukkan kegembiraan dalam dirinya karena penglihatan mereka. Jika masuk sedikit kegembiraan, itu adalah bukti kelemahan jiwanya. Namun, apabila ia mampu menolaknya dengan kebencian akal dan iman serta menyegerakan hal itu tanpa menerima kegembiraan tersebut dengan bersandar padanya, maka diharapkan usahanya tidak sia-sia. Kecuali jika kekhusyukan dan sikap tertutupnya (inqibadh) bertambah saat dilihat orang banyak agar mereka tidak terlalu akrab padanya; hal itu tidak mengapa, tetapi di dalamnya terdapat kecurangan (ghurur). Sebab, jiwa terkadang memiliki syahwat tersembunyi untuk menampakkan kekhusyukan dengan berdalih ingin menjaga jarak. Maka hendaknya ia menuntut klaim keinginannya menjaga jarak tersebut dengan perjanjian yang teguh kepada Allah, yaitu seandainya ia mengetahui bahwa menjauhnya orang-orang darinya dapat terwujud dengan cara ia banyak berlari, banyak tertawa, atau banyak makan, apakah jiwanya rela melakukan itu? Jika jiwanya tidak rela melakukannya namun rela dengan memperbanyak ibadah, maka tampaknya yang diinginkan jiwanya adalah kedudukan di sisi mereka. Tidak ada yang selamat dari hal ini kecuali orang yang telah mantap dalam hatinya bahwa tidak ada seorang pun di alam wujud ini selain Allah, sehingga ia beramal sebagaimana amalnya orang yang seandainya ia berada di bumi sendirian niscaya ia akan tetap mengamalkannya, sehingga hatinya tidak berpaling kepada makhluk melainkan hanya lintasan-lintasan pikiran yang lemah yang tidak berat baginya untuk menghilangkannya. Apabila keadaannya demikian, ia tidak akan berubah dengan terlihatnya makhluk.

وَمِنْ عَلَامَةِ الصِّدْقِ فِيهِ أَنَّهُ لَوْ كَانَ لَهُ صَاحِبَانِ أَحَدُهُمَا غَنِيٌّ وَالْآخَرُ فَقِيرٌ فَلَا يجد عند إقبال الغني زيادة هزة

Dan di antara tanda kejujuran (ketulusan) dalam hal ini adalah seandainya ia memiliki dua orang sahabat, yang satu kaya dan yang lain fakir, ia tidak mendapati dalam jiwanya kegembiraan yang berlebihan saat menyambut kedatangan orang kaya tersebut…

في نفسه لا كرامة إِلَّا إِذَا كَانَ فِي الْغَنِيِّ زِيَادَةُ عِلْمٍ أَوْ زِيَادَةُ وَرَعٍ فَيَكُونُ مُكْرِمًا لَهُ بِذَلِكَ الْوَصْفِ لَا بِالْغِنَى فَمَنْ كَانَ اسْتِرْوَاحُهُ إِلَى مُشَاهَدَةِ الْأَغْنِيَاءِ أَكْثَرَ فَهُوَ مُرَاءٍ أَوْ طَمَّاعٍ وإلا فالنظر إلى الفقراء يزيد في الرغبة إلى الآخرة ويحبب إلى القلب المسكنة والنظر إلى الأغنياء بخلافه فكيف استروح بالنظر إلى الغني أكثر مما يستروح إلى الفقير وقد حكي أنه لم ير الأغنياء في مجلس أذل منهم فيه في مجلس سفيان الثوري كان يجلسهم وراء الصف ويقدم الفقراء حتى كانوا يتمنون أنهم فقراء في مجلسه

…tanpa adanya penghormatan khusus, kecuali jika pada orang kaya tersebut terdapat kelebihan ilmu atau kelebihan sifat wara', sehingga ia menghormatinya karena sifat tersebut, bukan karena kekayaannya. Maka barang siapa yang ketenangan jiwanya lebih cenderung saat memandang orang-orang kaya, maka ia adalah orang yang riya atau tamak. Sebab jika tidak demikian, memandang orang-orang fakir justru menambah kerinduan kepada akhirat dan menanamkan rasa cinta pada kesederhanaan (ketundukan hati) di dalam jiwa, sedangkan memandang orang-orang kaya berakibat sebaliknya. Maka bagaimana mungkin seseorang merasa lebih tenang dengan memandang orang kaya dibandingkan memandang orang fakir? Sungguh telah diceritakan bahwa tidak pernah terlihat orang-orang kaya di suatu majelis dalam keadaan lebih hina daripada ketika berada di majelis Sufyan at-Tsauri; beliau menempatkan mereka di belakang saf dan mendahulukan orang-orang fakir, hingga orang-orang kaya itu berharap seandainya mereka menjadi orang fakir saat berada di majelisnya.

نعم لك زيادة إكرام للغني إذا كان أقرب إليك أو كان بينك وبينه حق وصداقة سابقة ولكن يكون بحث لو وجدت تلك العلاقة في فقير لكنت لا تقدم الغني عليه في إكرام وتوقير البتة فإن الفقير أكرم على الله من الغني فإيثارك لا يكون إلا طمعاً في غناه ورياء له ثم إذا سويت بينهما في المجالسة فيخشى عليك أن تظهر الحكمة والخشوع للغني أكثر مما تظهره للفقير وإنما ذلك رياء خفي أو طمع خفي كما قال ابن السماك لجارية له مالي إذا أتيت بغداد فتحت لي الحكمة فقالت الطمع يشحذ لسانك وقد صدقت فإن اللسان ينطق عند الغني بما لا ينطق به عند الفقير وكذلك يحضر من الخشوع عنده ما لا يحضره عند الفقير

Ya, engkau boleh memberikan penghormatan ekstra kepada orang kaya jika ia adalah kerabat yang lebih dekat bagimu atau jika di antara engkau dan dia terdapat hak persahabatan terdahulu. Namun, hendaknya hal itu sedemikian rupa sehingga seandainya hubungan tersebut terdapat pada orang fakir, engkau sama sekali tidak akan mendahulukan orang kaya daripadanya dalam hal penghormatan dan pengagungan. Sebab orang fakir lebih mulia di sisi Allah daripada orang kaya, maka pengutamaanmu terhadap orang kaya tidak lain hanyalah karena ketamakan akan kekayaannya dan sikap riya kepadanya. Kemudian, apabila engkau menyamakan kedudukan keduanya dalam majelis, dikhawatirkan engkau akan menampakkan hikmah dan kekhusyukan kepada orang kaya lebih banyak daripada yang engkau tampakkan kepada orang fakir. Hal itu tidak lain adalah riya terselubung atau ketamakan yang tersembunyi, sebagaimana dikatakan oleh Ibn as-Sammak kepada budak perempuannya, "Mengapa apabila aku mendatangi Baghdad, hikmah tercurah luas padaku?" Budak itu menjawab, "Ketamakanlah yang mengasah lidahmu." Dan sungguh budak itu benar, sebab lidah dapat mengucapkan di hadapan orang kaya apa yang tidak diucapkannya di hadapan orang fakir, begitu pula hadir rasa khusyuk di hadapannya yang tidak hadir di hadapan orang fakir.

وَمَكَايِدُ النَّفْسِ وَخَفَايَاهَا فِي هَذَا الْفَنِّ لَا تَنْحَصِرُ وَلَا يُنْجِيكَ مِنْهَا إِلَّا أَنْ تُخْرِجَ مَا سِوَى اللَّهِ مِنْ قَلْبِكَ وَتَتَجَرَّدَ بِالشَّفَقَةِ عَلَى نَفْسِكَ بَقِيَّةَ عُمُرِكَ وَلَا تَرْضَى لَهَا بِالنَّارِ بِسَبَبِ شَهَوَاتٍ مُنَغِّصَةٍ فِي أَيَّامٍ مُتَقَارِبَةٍ وتكون في الدنيا كملك من ملوك الدنيا قد أمكنته الشهوات وساعدته اللذات ولكن في بدنه سقم وهو يخاف الهلاك على نفسه في كل ساعة لو اتسع في الشهوات وعلم أنه لو احتمى وجاهد شهوته عاش ودام ملكه فلما عرف ذلك جالس الأطباء وحارف الصيادلة وعود نفسه شرب الأدوية المرة وصبر على بشاعتها وهجر جميع اللذات وصبر على مفارقتها فبدنه كل يوم يزداد نحولا لقلة أكله ولكن سقمه يزداد كل يوم نقصاناً لشدة احتمائه فمهما نازعته نفسه إلى شهوة تفكر في توالي الأوجاع والآلام عليه وأداه ذلك إلى الموت المفرق بينه وبين مملكته الموجب لشماتة الأعداء به ومهما اشتد عليه شرب دواء تفكر فيما يستفيده منه من الشفاء الذي هو سبب التمتع بملكه ونعيمه في عيش هنيء وبدن صحيح وقلب رخي وأمر نافذ فيخف عليه مهاجرة اللذات ومصابرة المكروهات

Tipu daya jiwa dan kelembutan rahasianya dalam ranah ini tidak terhitung jumlahnya. Tidak ada yang dapat menyelamatkanmu darinya melainkan engkau mengeluarkan segala sesuatu selain Allah dari hatimu, serta mencurahkan segenap kasih sayang kepada dirimu di sisa umurmu, dan tidak merelakannya terperosok ke dalam neraka hanya demi kesenangan-kesenangan yang merusak dalam hari-hari yang singkat. Hendaknya engkau di dunia ini bagaikan seorang raja dari raja-raja dunia yang mana berbagai syahwat berada dalam jangkauannya dan kelezatan-kelezatan mendukungnya, namun di dalam tubuhnya terdapat penyakit, dan ia mengkhawatirkan kebinasaan atas dirinya setiap saat jika ia melampiaskan syahwatnya. Ia mengetahui bahwa jika ia menjaga diri (pantang) dan memerangi syahwatnya, niscaya ia akan tetap hidup dan kerajaannya bertahan lama. Ketika ia menyadari hal itu, ia duduk bersanding dengan para tabib, berhubungan erat dengan para ahli obat, membiasakan dirinya meminum obat-obatan yang pahit, bersabar atas rasa getirnya, meninggalkan seluruh kelezatan, dan bersabar atas perpisahannya. Maka tubuhnya setiap hari semakin kurus karena sedikit makan, namun penyakitnya setiap hari semakin berkurang karena ketatnya penjagaan diri. Setiap kali jiwanya mengajaknya kepada suatu syahwat, ia memikirkan berturut-turutnya rasa sakit dan penderitaan yang akan menimpanya yang membawanya kepada kematian—yang memisahkan antara dirinya dan kerajaannya serta menyebabkan kegembiraan para musuh atas kemalangannya. Dan setiap kali berat baginya meminum obat, ia memikirkan faedah kesembuhan yang diperoleh dengannya, yang menjadi sarana untuk menikmati kerajaan dan kenikmatannya dalam kehidupan yang tenteram, tubuh yang sehat, hati yang tenang, serta perintah yang terlaksana. Dengan demikian, menjadi ringanlah baginya meninggalkan kelezatan dan bersabar menanggung hal-hal yang tidak disukai.

فكذلك المؤمن المريد لملك الآخرة احتمى عن كل مهلك له في آخرته وهي لذات الدنيا وزهرتها فاجتزى منها بالقليل واختار النحول والذبول والوحشة والحزن والخوف وترك المؤانسة بالخلق خوفاً من أن يحل عليه غضب من الله فيهلك ورجاء أن ينجو من عذابه فخف ذلك كله عليه عند شدة يقينه وإيمانه بعاقبة أمره وبما أعد له من النعيم المقيم في رضوان الله أبد الآباد ثم علم أن الله كريم رحيم لمن يزل لعباده المريدين لمرضاته عونا وبهم رءوفا وعليهم عطوفاً ولو شاء لأغنانهم عن التعب ولكن أراد أن يبلوهم ويعرف صدق إرادتهم حكمة منه وعدلاً ثم إذا تحمل التعب في بدايته أقبل الله عليه بالمعونة والتيسير وحط عنه الأعباء وسهل عليه الصبر وحبب إليه الطاعة ورزقه فيها من لذة المناجاة ما يلهيه عن سائر اللذات ويقويه على إماتة الشهوات ويتولى سياسته وتقويته وأمده بمعونته فإن الكريم لا يضيع سعي الراجي ولا يخيب أمل المحب وهو الذي يقول من تقرب إلي شبراً تقربت إليه ذراعاً ويقول تعالى لقد طال شوق الأبرار إلى لقائي وإني إلى لقائهم أشد شوقاً فليظهر العبد في البداية جده وصدقه وإخلاصه فلا يعوزه من الله تعالى على القرب ما هو اللائق بجوده وكرمه ورأفته ورحمته تم كتاب ذم الجاه والرياء والحمد لله وحده

Demikian pulalah seorang mukmin yang mendambakan kerajaan akhirat. Ia menjaga diri (berpantang) dari segala hal yang membinasakan akhiratnya, yaitu kelezatan dunia dan perhiasannya. Maka ia mencukupkan diri darinya dengan yang sedikit, serta memilih tubuh yang kurus, layu, kesendirian, kesedihan, dan rasa takut, serta meninggalkan keakraban dengan makhluk karena takut ditimpa kemurkaan Allah sehingga ia binasa, dan karena berharap selamat dari azab-Nya. Maka semua itu menjadi ringan baginya seiring dengan kuatnya keyakinan dan imannya akan kesudahan urusannya serta kenikmatan abadi yang disiapkan untuknya dalam keridaan Allah selama-lamanya. Kemudian ia mengetahui bahwa Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, yang senantiasa menjadi penolong bagi hamba-hamba-Nya yang menghendaki keridaan-Nya, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia membebaskan mereka dari kelelahan, namun Dia hendak menguji mereka dan mengetahui kejujuran kehendak mereka sebagai hikmah dan keadilan dari-Nya. Kemudian apabila ia sanggup menanggung kelelahan pada permulaannya, Allah akan menyambutnya dengan pertolongan dan kemudahan, meringankan beban-beban darinya, memudahkan kesabaran baginya, menanamkan rasa cinta kepada ketaatan dalam hatinya, serta mengaruniakannya di dalam ketaatan itu kelezatan bermunajat yang melupakannya dari seluruh kelezatan lainnya, menguatkannya untuk mematikan syahwat, mengurus bimbingannya dan penguatannya, serta menyokongnya dengan pertolongan-Nya. Sebab Dzat Yang Mahamulia tidak akan menyia-nyiakan usaha orang yang berharap dan tidak menumpaskan harapan sang pencinta. Dialah yang berfirman: "Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sedepa." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sungguh telah lama kerinduan orang-orang yang berbakti untuk bertemu dengan-Ku, dan sungguh kerinduan-Ku untuk bertemu mereka jauh lebih besar." Maka hendaknya hamba itu menunjukkan kesungguhan, kejujuran, dan keikhlasannya pada permulaan, niscaya ia tidak akan kekurangan dari Allah Ta'ala karunia kedekatan yang layak bagi kemurahan, kedermawanan, kelembutan, dan rahmat-Nya. Telah selesai Kitab Mencela Kedudukan dan Riya (Kitab Dzamm al-Jah wa al-Riya'), dan segala puji hanya bagi Allah semata.