كتاب ذم الكبر والعجب
كتاب ذم الكبر والعجب وهو الكتاب التاسع من ربع المهلكات من كتاب إحياء علوم الدين بسم الله الرحمن الرحيم
Kitab Mencela Kesombongan dan Ujub (Kitab Dzamm al-Kibr wa al-'Ujb), yaitu kitab kesembilan dari Seperempat Bagian yang Membinasakan (Rub' al-Muhlikat) dari Kitab Ihya' 'Ulumiddin. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الحمد لله الخالق البارئ المصور العزيز الجبار المتكبر العلي الذي لا يضعه عن مجده واضع الجبار الذي كل جبار له ذليل خاضع وكل متكبر في جناب عزه مسكين متواضع فهو القهار الذي لا يدفعه عن مراده دافع الغني الذي ليس له شريك ولا منازع القادر الذي بهر أبصار الخلائق جلاله وبهاؤه وقهر العرش المجيد استواؤه واستعلاؤه واستيلاؤه وحصر ألسن الأنبياء وصفه وثناؤه وارتفع عن حد قدرتهم إحصاؤه واستقصاؤه فاعترف بالعجر عن وصف كنه جلاله ملائكته وأنبياؤه وكسر ظهور الأكاسرة عزه وعلاؤه وقصر أيدي القياصرة عظمته وكبرياؤه فالعظمة إزاره والكبرياء رداؤه ومن نازعه فيهما قصمه بداء الموت فأعجزه دواؤه ﷻ وتقدست أسماؤه والصلاة على محمد الذي أنزل عليه النور المنتشر ضياؤه حتى أشرقت بنوره أكناف العالم وأرجاؤه وعلى آله وأصحابه الذين هم أحباء الله وأولياؤه وخيرته وأصفياؤه وسلم تسليماً كثيراً
Segala puji bagi Allah, Maha Pencipta, Maha Mengadakan, Maha Membentuk Rupa, Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Memiliki Segala Keagungan (Al-Mutakabbir), Maha Tinggi; Yang keagungan-Nya tidak dapat direndahkan oleh siapa pun; Maha Memaksa, yang mana seluruh orang yang berbuat sewenang-wenang tunduk dan hina di hadapan-Nya, dan setiap orang yang sombong di hadapan kemuliaan-Nya menjadi miskin serta merendah diri. Dialah Maha Menundukkan (Al-Qahhar), yang kehendak-Nya tidak dapat dihalangi oleh apa pun; Maha Kaya, yang tidak memiliki sekutu maupun penentang; Maha Kuasa, yang keagungan dan keindahan-Nya memukau pandangan makhluk, dan persemayaman, keluhuran, serta kekuasaan-Nya menundukkan 'Arsy yang mulia. Lidah para nabi terbatasi untuk menuturkan sifat dan pujian bagi-Nya, dan perhitungan serta pengungkapan sifat-Nya melampaui batas kemampuan mereka. Maka para malaikat dan para nabi pun mengakui kelemahan mereka untuk menyifati hakikat keagungan-Nya. Kemuliaan dan keluhuran-Nya mematahkan punggung para Kisra (penguasa Persia), dan keagungan serta kebesaran-Nya membatasi tangan para Kaisar (penguasa Romawi). Keagungan adalah sarung-Nya dan kesombongan/kebesaran adalah selendang-Nya; barang siapa menentang-Nya dalam kedua hal itu, niscaya Dia membinasakannya dengan penyakit kematian hingga tiada obat yang sanggup menyembuhkannya (Semoga Dia Mahatinggi dan Mahasuci nama-nama-Nya). Shalawat serta salam yang melimpah semoga tercurah kepada Muhammad yang kepadanya diturunkan cahaya yang pancarannya menyebar luas hingga meliputi penjuru dunia dan sekitarnya; begitu pula kepada keluarga dan para sahabatnya yang merupakan kekasih-kekasih Allah, para wali-Nya, hamba-hamba pilihan-Nya, dan orang-orang suci-Nya.
أما بعد فقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قال اللَّهُ تَعَالَى الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي فَمَنْ نازعني فيهما قصمته حديث ثلاث مهلكات الحديث أخرجه البزار والطبراني والبيهقي في الشعب من حديث أنس بسند ضعيف وتقدم فيه أيضا
Amma ba'du. Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah Ta'ala berfirman: Keagungan (Al-Kibriya') adalah selendang-Ku dan Kebesaran (Al-'Azhamah) adalah sarung-Ku. Barang siapa menentang-Ku dalam salah satu dari keduanya, niscaya Aku membinasakannya." (Hadis "Tiga hal yang membinasakan…" diriwayatkan oleh Al-Bazzar, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman dari hadis Anas dengan sanad yang dhaif, dan telah disebutkan sebelumnya di dalamnya).
فالكبر والعجب داءان مهلكان والمتكبر والمعجب سقيمان مريضان وهما عند الله ممقوتات بغيضان
Maka kesombongan (kibr) dan ujub ('ujub) adalah dua penyakit yang membinasakan. Orang yang sombong (mutakabbir) dan orang yang ujub (mu'jab) adalah dua orang yang sakit parah. Keduanya dimurkai lagi dibenci di sisi Allah.
وإذا كان القصد في هذا الربع من كتاب إحياء علوم الدين شرح المهلكات وجب إيضاح الكبر والعجب فإنهما من قبائح المرديات
Oleh karena tujuan pada bagian (rubu') ini dari kitab Ihya' 'Ulumiddin adalah menjelaskan hal-hal yang membinasakan (Al-Muhlikat), maka wajib untuk menerangkan tentang kesombongan (kibr) dan ujub ('ujub), karena keduanya termasuk perkara-perkara buruk yang menjerumuskan pada kebinasaan.
ونحن نستقضي بيانهما من الكتاب في شطرين شطر في الكبر وشطر في العجب
Dan kami akan menguraikan penjelasannya secara tuntas dalam kitab ini menjadi dua bagian: satu bagian mengenai kesombongan (kibr) dan satu bagian mengenai ujub ('ujub).
الشطر الأول من الكتاب في الكبر وفيه
Bagian pertama dari kitab ini adalah mengenai kesombongan (kibr), dan di dalamnya memuat:
بيان ذم الكبر
Penjelasan tentang celaan terhadap kesombongan (kibr).
وبيان ذم الاختيال وبيان فضيلة التواضع وبيان حقيقة التكبر وآفته وبيان من يتكبر عليه ودرجات التكبر وبيان ما به التكبر وبيان البواعث على التكبر وبيان أخلاق المتواضعين وما فيه يظهر الكبر وبيان علاج الكبر
Penjelasan tentang celaan terhadap sikap angkuh (ikhtiyal), penjelasan keutamaan tawadhu', penjelasan hakikat takabur beserta bahayanya, penjelasan terhadap siapa seseorang bertakabur, tingkatan-tingkatan takabur, penjelasan mengenai hal-hal yang membanggakan (menjadi perantara takabur), pendorong-pendorong sikap takabur, penjelasan akhlak orang-orang yang tawadhu' serta tempat tampaknya kesombongan, dan penjelasan terapi penyembuhan kesombongan.
وبيان امتحان النفس في خلق الكبر وبيان المحمود من خلق التواضع والمذموم منه بيان ذم الكبر
Penjelasan tentang menguji diri dalam perangai kesombongan, penjelasan tentang akhlak tawadhu' yang terpuji dan yang tercela. Penjelasan Celaan Terhadap Kesombongan (kibr).
قد ذم الله الكبر في مواضع من كتابه وذم كل جبار متكبر فقال تَعَالَى ﴿سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأرض بغير الحق﴾ وقال ﷿ ﴿كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جبار﴾ وَقَالَ تَعَالَى ﴿وَاسْتَفْتَحُوا وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ﴾ وقال تعالى ﴿إنه لا يحب المستكبرين﴾ وقال تعالى ﴿لقد استكبروا في أنفسهم وعتوا عتواً كبيراً﴾ وقال تعالى ﴿إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ داخرين﴾ وذم الكبر في القرآن كثير وقد
Sungguh, Allah telah mencela kesombongan (kibr) di beberapa tempat dalam kitab-Nya, dan mencela setiap orang yang berbuat sewenang-wenang lagi sombong. Allah Ta'ala berfirman: "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku)." (QS. Al-A'raf: 146). Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: "Demikianlah Allah mengunci mati setiap hati orang yang sombong lagi sewenang-wenang." (QS. Ghafir: 35). Allah Ta'ala berfirman: "Dan mereka memohon keselamatan (kemenangan) dan binasalah setiap orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala." (QS. Ibrahim: 15). Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri." (QS. An-Nahl: 23). Allah Ta'ala berfirman: "Sungguh, mereka telah menyombongkan diri mereka sendiri dan telah melampaui batas dengan melampaui batas yang besar." (QS. Al-Furqan: 21). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (QS. Ghafir: 60). Celaan terhadap kesombongan di dalam Al-Qur'an sangat banyak. Dan sungguh,
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مثقال حبة من خردل من كبر ولا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حبة من خردل من إيمان حديث أبي هريرة يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا أَلْقَيْتُهُ فِي جَهَنَّمَ أخرجه مسلم وأبو داود وابن ماجه واللفظ له وقال أبو داود قذفته في النار وقال مسلم عذبته وقال رداؤه وإزاره بالغيبة وزاد مع أبي هريرة أبا سعيد أيضا
Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi, dan tidak akan masuk neraka orang yang di dalam hatinya terdapat keimanan seberat biji sawi." Hadis Abu Hurairah: Allah Ta'ala berfirman: "Keagungan (Al-Kibriya') adalah selendang-Ku dan Kebesaran (Al-'Azhamah) adalah sarung-Ku. Barang siapa menentang-Ku pada salah satu dari keduanya, niscaya Aku lemparkan dia ke dalam neraka Jahanam." (Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan Ibn Majah—dengan redaksi miliknya. Abu Dawud menyebutkan dengan redaksi "Aku lemparkan dia ke dalam neraka", Muslim menyebutkan "Aku mengazabnya", dan ia menyebutkan "selendang-Nya dan sarung-Nya" dalam bentuk kata ganti orang ketiga [ghaib]. Dan ditambahkan pula riwayat dari Abu Sa'id bersama Abu Hurairah).
وعن أبي سلمة بن عبد الرحمن قال التقى عبد الله بن عمرو وعبد الله بن عمر على الصفا فتواقفا فمضى ابن عمرو وأقام ابن عمر يبكي فقالوا ما يبكيك يا أبا عبد الرحمن فقال هذا يعني عبد الله بن عمرو زعم أنه سمع رسول الله ﷺ يقول مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خردل من كبر أكبه الله في النار على وجهه حديث لا يزال الرجل يذهب بنفسه حتى يكتب في الجبارين الحديث أخرجه الترمذي وحسنه من حديث سلمة بن الأكوع دون قوله من العذاب
Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, ia berkata: Abdullah bin 'Amr dan Abdullah bin 'Umar bertemu di Bukit Shafa lalu berhadapan sejenak. Kemudian Ibnu 'Amr berlalu, sedangkan Ibnu 'Umar tetap berdiri sambil menangis. Orang-orang bertanya: "Apakah yang membuatmu menangis, wahai Abu Abdurrahman?" Ia menjawab: "Orang ini (maksudnya Abdullah bin 'Amr) mengklaim bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barang siapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi, niscaya Allah menungkupkan mukanya ke dalam neraka'." (Hadis "Seseorang senantiasa mengagungkan dirinya hingga ia dicatat di golongan orang-orang yang sewenang-wenang…" diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia menghasankannya dari hadis Salamah bin Al-Akwa', tanpa matan lafaz "dari azab").
وقال سليمان بن داود ﵉ يوماً للطير والإنس والجن والبهائم اخرجوا فخرجوا في مائتي ألف من الإنس ومائتي ألف من الجن فرفع حتى سمع زجل الملائكة بالتسبيح في السموات ثم خفض حتى مست أقدامه البحر فسمع صوتاً لو كان في قلب صاحبكم مثقال ذرة من كبر لخسفت به أبعد مما رفعته
Sulaiman bin Dawud alaihissalam pernah berkata pada suatu hari kepada burung, manusia, jin, dan binatang: "Keluarlah kalian!" Maka mereka keluar bersama dua ratus ribu dari bangsa manusia dan dua ratus ribu dari bangsa jin. Lalu ia diangkat hingga mendengar riuhnya tasbih para malaikat di langit, kemudian ia direndahkan hingga kedua kakinya menyentuh laut. Lalu ia mendengar suara: "Seandainya di dalam hati sahabat kalian ini terdapat kesombongan seberat dzarrah, niscaya Aku tenggelamkan dia lebih jauh daripada ketinggian tempat yang telah Aku angkat untuknya."
وقال ﷺ يخرج من النار عنق له أذنان تسمعان وعينان تبصران ولسان ينطق يقول وكلت بثلاث بكل جبار عنيد وبكل من دعا مع الله إلهاً آخر وبالمصورين حديث لا يدخل الجنة جبار ولا بخيل ولا سيء الملكة تقدم في أسباب الكسب والمعاش والمعروف خائن مكان جبار
Dan beliau ﷺ bersabda: "Akan keluar dari neraka leher yang memiliki dua telinga yang mendengar, dua mata yang melihat, dan lidah yang berkata: 'Aku ditugaskan untuk tiga golongan: setiap orang sewenang-wenang yang keras kepala, setiap orang yang menyembah ilah lain bersama Allah, dan para pembuat gambar/patung'." (Hadis "Tidak akan masuk surga orang yang sewenang-wenang, orang yang kikir, dan orang yang buruk dalam memperlakukan hamba sahaya…" telah disebutkan sebelumnya pada pembahasan sebab-sebab usaha dan penghidupan, dan yang mashur adalah kata "pengkhianat" sebagai ganti kata "orang yang sewenang-wenang").
وقال ﷺ تحاجت الجنة والنار فقالت النار أوثرت بالمتكبرين والمتجبرين وقالت الجنة مالي لا يدخلني إلا ضعفاء الناس وسقاطهم وعجزتهم فقال الله للجنة إنما أنت رحمتي أرحم بك من أشاء من عبادي وقال للنار إنما أنت عذابي أعذب بك من أشاء ولكل واحدة منكما ملؤها حديث بئس العبد عبد تجبر واعتدى الحديث أخرجه الترمذي من حديث أسماء بنت عميس بزيادة فيه مع تقديم وتأخير وقال غريب وليس إسناد بالقوي ورواه الحاكم في المستدرك وصححه ورواه البيهقي في الشعب من حديث نعيم بن عمار وضعفه
Dan beliau ﷺ bersabda: "Surga dan neraka saling berhujjah. Neraka berkata: 'Aku diistimewakan dengan orang-orang yang sombong dan sewenang-wenang.' Surga berkata: 'Mengapa tidak ada yang masuk kepadaku melainkan orang-orang yang lemah, kaum yang diremehkan, dan orang-orang yang tidak berdaya?' Maka Allah berfirman kepada surga: 'Engkau adalah rahmat-Ku, Aku meratai-Ku denganmu kepada siapa yang Aku kehendaki di antara hamba-hamba-Ku.' Dan Allah berfirman kepada neraka: 'Engkau adalah azab-Ku, Aku mengazab denganmu siapa yang Aku kehendaki, dan masing-masing dari kalian berdua akan terisi penuh'." (Hadis "Seburuk-buruk hamba adalah hamba yang berlaku sewenang-wenang dan melampaui batas…" diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadis Asma' binti 'Umais dengan tambahan padanya beserta taqdim dan ta'khir [perubahan urutan], dan ia berkata: gharib serta sanadnya tidak kuat. Diriwayatkan juga oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan ia menshahihkannya, serta diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman dari hadis Nu'aim bin Ammar dan ia mendhaifkannya).
وعن ثابت أنه قال بلغنا أنه قيل يا رسول الله ما أعظم كبر فلان فقال أليس بعده الموت // حديث ثابت بلغنا أنه قيل يا رسول الله ما أعظم كبر فلان فقال أليس بعده الموت أخرجه البيهقي في الشعب هكذا مرسلا بلفظ تجبر
Dari Tsabit, ia berkata: "Telah sampai kepada kami bahwa pernah dikatakan: 'Wahai Rasulullah, betapa besarnya kesombongan si Fulan!' Maka beliau bersabda: 'Bukankah setelah itu adalah kematian?'" // (Hadis Tsabit: "Telah sampai kepada kami bahwa pernah dikatakan: Wahai Rasulullah, betapa besarnya kesombongan si Fulan…", diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman secara mursal seperti ini dengan lafaz tajabbur [perbuatan sewenang-wenang]).
وقال عبد الله بن عمرو أن رسول الله ﷺ قال إن نوحاً ﵇ لما حضرته الوفاة دعا ابنيه وقال إني آمركما باثنتين وأنهاكما عن اثنتين أنهاكما عن الشرك والكبر وآمركما بلا إله إلا الله
Abdullah bin 'Amr berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Nabi Nuh alaihissalam ketika hendak wafat, ia memanggil kedua putranya seraya berkata: 'Sesungguhnya aku memerintahkan dua hal kepada kalian dan melarang dua hal dari kalian. Aku melarang kalian dari syirik dan kesombongan (kibr), serta aku memerintahkan kalian dengan Laa ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah).
فإن السموات والأرضين وما فيهن لو وضعت في كفة الميزان ووضعت لا إله إلا الله في الكفة الأخرى كانت أرجح منهما ولو أن السموات والأرضين وما فيهن كانتا حلقة فوضعت لا إله إلا الله عليها لقصمتها وآمركما بسبحان الله
Karena sesungguhnya langit dan bumi beserta seisinya, seandainya diletakkan di satu daun timbangan dan kalimat Laa ilaha illallah diletakkan di daun timbangan yang lain, niscaya kalimat itu lebih berat daripada keduanya. Dan seandainya langit dan bumi beserta seisinya berupa satu lingkaran, lalu kalimat Laa ilaha illallah diletakkan di atasnya, niscaya kalimat itu akan mematahkannya. Dan aku memerintahkan kalian dengan Subhanallah (Mahasuci Allah),
وبحمده فإنها صلاة كل شيء وبها يرزق كل شيء حديث أهل النار كل جعظري جواظ مستكبر جماع مناع وهي الزيادة عندهما من حديث حارثة بن وهب الخزاعي ألا أخبركم بأهل النار كل عتل جواظ مستكبر
dan dengan memuji-Nya (wa bihamdihi), karena sesungguhnya ia adalah tasbih/doa bagi segala sesuatu dan darinya segala sesuatu diberi rezeki." (Hadis "Penghuni neraka adalah setiap orang yang kasar/sombong [ja'zhari], tamak lagi kikir [jawwazh], bertakabur, gemar mengumpulkan harta lagi enggan memberi…" dan itu merupakan tambahan pada riwayat keduanya dari hadis Haritsah bin Wahab Al-Khuza'i: "Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang kasar ['utull], tamak lagi kikir [jawwazh], dan bertakabur").
وقال ﷺ إن أحبكم إلينا وأقربكم منا في الآخرة أحاسنكم أخلاقاً وإن أبغضكم إلينا وأبعدكم منا الثرثارون المتشدقون المتفيهقون قالوا يا رسول الله قد علمنا الثرثارون والمتشدقون فما المتفيهقون المتكبرون حديث يحشر المتكبرون يوم القيامة ذرا في صور الرجال الحديث أخرجه الترمذي من رواية عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده وقال غريب
Dan beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling kami cintai dan paling dekat tempat duduknya dari kami di akhirat adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian. Dan sesungguhnya orang yang paling kami benci dan paling jauh dari kami adalah orang-orang yang banyak bicara (ats-tsartsarun), orang-orang yang bertele-tele/sombong dalam bicaranya (al-mutasyaddiqun), dan orang-orang yang al-mutafaihiqun." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui maksud ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun, lalu apakah al-mutafaihiqun itu?" Beliau menjawab: "Orang-orang yang sombong." (Hadis "Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat sebesar semut-semut kecil dalam wujud manusia…" diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari riwayat 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya, dan ia berkata: gharib).
وقال أبو هريرة قال النبي ﷺ يحشر الجبارون والمتكبرون يوم القيامة في صور الذر تطؤهم الناس نهواهم على الله تعالى حديث أبي موسى إن في جنهم وادياً يقال له هبهب حق على الله أن يسكنه كل جبار أخرجه أبو يعلى والطبراني والحاكم وقال صحيح الإسناد قلت فيه أزهر بن سنان ضعفه ابن معين وابن حبان وأورد له في الضعفاء هذا الحديث
Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang-orang yang sombong dan takabur akan dihimpunkan pada hari kiamat dalam bentuk semut-semut kecil yang diinjak oleh manusia, karena hina-nya mereka di sisi Allah Ta'ala." Hadis Abu Musa: "Sesungguhnya di dalam neraka Jahanam ada sebuah lembah yang dinamakan Habhab, sudah menjadi hak Allah untuk menempatkan setiap orang yang sombong di dalamnya." Diriwayatkan oleh Abu Ya'la, Ath-Thabrani, dan Al-Hakim, dan ia (Al-Hakim) berkata, "Sanadnya shahih." Saya (Al-Iraqi) berkata: Di dalam sanadnya terdapat Azhar bin Sinan yang dilemahkan oleh Ibn Ma'in dan Ibn Hibban, dan (Ibn Hibban) memasukkan hadis ini untuknya dalam kitab Adh-Dhu'afa'.
وَقَالَ ﷺ إِنَّ فِي النار قصراً يجعل فيه المتكبرون ويطبق عليهم حديث اللهم إني أعوذ بك من نفخة الكبرياء لم أره بهذا اللفظ وروى أبو داود وابن ماجه من حديث جبير بن مطعم عن النبي ﷺ في أثناء الحديث أعوذ بالله من الشيطان من نفخة ونفثه وهمزه قال نفثه الشعر ونفحه الكبر وهمزه الموتة ولأصحاب السنن من حديث أبي سعيد الخدري نحو تكلم فيه أبو داود وقال الترمذي هو أشهر حديث في هذا الباب
Dan Beliau ﷺ bersabda, "Sesungguhnya di dalam neraka terdapat sebuah istana yang di dalamnya dimasukkan orang-orang yang sombong lalu ditutup rapat atas mereka." Hadis: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tiupan kesombongan (nafkhatul kibriya')." Saya tidak menemukannya dengan lafal ini. Abu Dawud dan Ibn Majah meriwayatkan dari hadis Jubair bin Muth'im dari Nabi ﷺ di tengah hadis: "Aku berlindung kepada Allah dari setan, dari tiupannya (naftsihi), hembusannya (nafkhihi), dan bisikannya (hamzihi)." Beliau bersabda: "Naftsu-nya adalah syi'ir, nafkhu-nya adalah kesombongan, dan hamz-nya adalah kegilaan." Dan bagi para penyusun kitab As-Sunan dari hadis Abu Sa'id Al-Khudri terdapat hadis serupa yang diperbincangkan oleh Abu Dawud, sedangkan At-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadis yang paling masyhur dalam bab ini.
وقال من فارق روحه جسده وهو برئ من ثلاث دخل الجنة الكبر والدين والغلول // حديث من فارق روحه جسده وهو برئ من ثلاثة دخل الجنة الكبر والدين والغلول أخرجه الترمذي والنسائي وابن ماجه من حديث ثوبان وذكر المصنف لهذا الحديث هنا موافق للمشهور في الرواية أنه الكبر بالموحدة والراء لكن ذكر ابن الجوزي في جامع المسانيد عن الدارقطني قال إنما هو الكنز بالنون والزاي وكذلك أيضا ذكر ابن مردويه الحديث في تفسير والذين يكنزون الذهب والفضة
Dan Beliau ﷺ bersabda, "Barang siapa yang rohnya berpisah dari jasadnya dalam keadaan terbebas dari tiga hal, niscaya ia masuk surga: kesombongan (al-kibr), hutang (ad-dain), dan pengkhianatan terhadap harta rampasan perang (al-ghulul)." Hadis: "Barang siapa yang rohnya berpisah dari jasadnya…" Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibn Majah dari hadis Tsauban. Penyebutan penulis terhadap hadis ini di sini sesuai dengan yang masyhur dalam riwayat, yaitu "al-kibr" dengan huruf ba' dan ra'. Namun Ibn Al-Jauzi menyebutkan dalam Jami' Al-Masanid dari Ad-Daraquthni, ia berkata: Yang benar adalah "al-kanz" (penimbunan harta) dengan huruf nun dan za'. Begitu pula Ibn Mardawaih menyebutkan hadis ini dalam tafsir ayat: "Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak…"
الآثار قال أبو بكر الصديق ﵁ لا يحقرن أحد أحداً من المسلمين فإن صغير المسلمين عند الله كبير وقال وهب لما خلق الله جنة عدن نظر إليها فقال أنت حرام على كل متكبر
Atsar-atsar. Abu Bakar Ash-Shiddiq ﵁ berkata, "Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian meremehkan seorang pun dari kaum muslimin, karena sesungguhnya orang muslim yang kecil di mata manusia adalah agung di sisi Allah." Wahb (bin Munabbih) berkata, "Ketika Allah menciptakan surga 'Adn, Dia memandangnya seraya berfirman: 'Engkau haram bagi setiap orang yang sombong.'"
وكان الأحنف بن قيس يجلس مع مصعب بن الزبير على سريره فجاء يوماً ومصعب ماد رجليه فلم يقبضهما وقعد الأحنف فزحمه بعض الزحمة فرأى أثر ذلك في وجهه فقال عجباً لابن آدم يتكبر وقد خرج من مجرى البول مرتين
Al-Ahnaf bin Qais pernah duduk bersama Mus'ab bin Az-Zubair di atas ranjangnya. Pada suatu hari Al-Ahnaf datang sementara Mus'ab sedang menjulurkan kedua kakinya, lalu Mus'ab tidak menariknya kembali. Al-Ahnaf pun duduk dan merasa agak berdesakan dengannya, lalu ia melihat bekas perubahan pada wajah Mus'ab. Al-Ahnaf berkata, "Sungguh mengherankan anak Adam, ia berbuat sombong padahal ia telah keluar dari saluran kencing sebanyak dua kali."
وقال الحسن العجب من ابن آدم يغسل الخرء بيده كل يوم مرة أو مرتين ثم يعارض جبار السموات
Al-Hasan (Al-Bashri) berkata, "Mengherankan sekali anak Adam, ia membasuh kotorannya dengan tangannya sendiri setiap hari satu atau dua kali, kemudian ia berani menentang Al-Jabbar (Zat Yang Mahaperkasa) penguasa langit dan bumi."
وقد قيل في وفي أنفسكم أفلا تبصرون
Dan telah dikatakan mengenai firman Allah: "Dan pada diri kalian sendiri, maka apakah kalian tidak memperhatikan?" (QS. Az-Zariyat: 21).
هو سبيل الغائط والبول
Bahwa yang dimaksud adalah saluran kotoran dan kencing.
وقد قال محمد بن الحسين بن علي ما دخل قلب امرئ شيء من الكبر قط إلا نقص من عقله بقدر ما دخل من ذلك أو كثر
Muhammad bin Al-Husain bin 'Ali berkata, "Tidaklah rasa sombong masuk ke dalam hati seseorang sedikit pun, melainkan berkuranglah akalnya sebanyak (kesombongan) yang masuk itu, baik sedikit maupun banyak."
وسئل سليمان عن السيئة التي لا تنفع معها حسنة فقال الكبر وقال النعمان بن بشير على المنبر إن للشيطان مصالي وفخوخاً وإن من مصالي الشيطان وفخوخه البطر بأنعم الله والفخر بإعطاء الله والكبر على عباد الله واتباع الهوى في غير ذات الله
Sulaiman pernah ditanya tentang keburukan yang tidak bermanfaat padanya kebaikan apa pun, lalu beliau menjawab, "Kesombongan." An-Nu'man bin Basyir berkata di atas mimbar, "Sesungguhnya setan memiliki jaring-jaring dan perangkap-perangkap. Dan di antara jaring serta perangkap setan adalah mengingkari nikmat-nikmat Allah, membanggakan pemberian Allah, bersikap sombong terhadap hamba-hamba Allah, dan menuruti hawa nafsu bukan pada jalan Allah."
نسأل الله تعالى العفو والعافية في الدنيا والآخرة بمنه وكرمه
Kita memohon kepada Allah Ta'ala ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat dengan anugerah dan kemurahan-Nya.
بيان ذل الاختيال وإظهار آثار الكبر في المشي وجر الثياب
Penjelasan Tentang Kehinaan Sikap Angkuh dan Menampakkan Bekas Kesombongan dalam Berjalan Serta Menyeret Pakaian.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى رَجُلٍ يَجُرُّ إِزَارَهُ بطرا حديث بينما رجل يتبختر في برديه قد أعجبته نفسه الحديث متفق عليه من حديث أبي هريرة
Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah tidak akan memandang kepada seseorang yang menyeret kain sarungnya karena sombong." Hadis: "Ketika seorang laki-laki berjalan dengan angkuh mengenakan dua selendangnya, ia mengagumi dirinya sendiri…" Hadis ini sepakat diriwayatkan (Muttafaq 'Alaih) dari hadis Abu Hurairah.
وقال ﷺ من جر ثوبه خيلاء لا ينظر الله إليه يوم القيامة وقال زيد بن أسلم دخلت على ابن عمر فمر به عبد الله ابن واقد وعليه ثوب جديد فسمعته يقول أي بني ارفع إزارك فإني سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول لا ينظر الله إلى من جر إزاره خيلاء حديث أن رسول الله ﷺ بصق يوماً على كفه ووضع أصبعه عليها وقال يقول الله ابن آدم أتعجزني وقد خلقت من مثل هذه الحديث أخرجه ابن ماجه والحاكم وصحح إسناده من حديث بشر بن جحاش
Dan Beliau ﷺ bersabda, "Barang siapa menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat." Zaid bin Aslam berkata: Aku menemui Ibn Umar, lalu melintaslah 'Abdullah bin Waqid yang mengenakan pakaian baru. Maka aku mendengar Ibn Umar berkata, "Wahai anakku, tinggikanlah kainmu, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Allah tidak akan memandang kepada orang yang menyeret kainnya karena sombong.'" Hadis bahwa Rasulullah ﷺ pada suatu hari meludah di atas telapak tangannya lalu meletakkan jarinya di atasnya seraya bersabda: "Allah berfirman: Wahai anak Adam, bagaimana engkau dapat melemahkan-Ku padahal Aku telah menciptakanmu dari hal yang serupa ini…" Hadis diriwayatkan oleh Ibn Majah dan Al-Hakim, dan ia (Al-Hakim) menshahihkan sanadnya dari hadis Bisyr bin Jahhasy.
وقال ﷺ إذا مشت أمتي المطيطاء وخدمتهم فارس والروم سلط الله بعضهم على بعض حديث من تعظم في نفسه واختال في مشيه لقي الله وهو عليه غضبان أخرجه أحمد والطبراني والحاكم وصححه والبيهقي في الشعب من حديث ابن عمر
Dan Beliau ﷺ bersabda, "Apabila umatku berjalan dengan bersikap angkuh dan dilayani oleh bangsa Persia dan Romawi, maka Allah akan menguasakan sebagian mereka atas sebagian yang lain." Hadis: "Barang siapa mengagungkan dirinya dan berlagak sombong dalam jalannya, ia akan menemui Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya." Diriwayatkan oleh Ahmad, Ath-Thabrani, Al-Hakim—dan ia menshahihkannya—serta Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab dari hadis Ibn Umar.
الآثار عن أبي بكر الهذلي قال بينما نحن مع الحسن إذ مر علينا ابن الأهتم يريد المقصورة وعليه جباب خز قد نضد بعضها فوق بعض على ساقه وانفرج عنها قباؤه وهو يمشي يتبختر إذ نظر إليه الحسن نظرة فقال أف أف شامخ بأنفه ثاني عطفه مصعر خده ينظر في عطفيه أي حميق أنت تنظر في عطفيك في نعم غير مشكورة ولا مذكورة غير المأخوذ بأمر الله فيها ولا المؤدي حق الله منها والله أن يمشي أحد طبيعته يتخلج تخلق المجنون في كل عضو من أعضائه لله نعمة وللشيطان به لفتة فسمع ابن الأهتم فرجع يعتذر إليه فقال لا تعتذر إلي وتب إلى ربك أما سمعت قول الله تعالى ﴿ولا تمش في الأرض مرحاً إنك لن تخرق الأرض ولن تبلغ الجبال طولاً﴾ ومر بالحسن شاب عليه بزة له حسنة فدعاه فقال له ابن آدم معجب بشبابه محب لشمائله كأن القبر قد وارى بدنك وكأنك قد لاقيت عملك ويحك داو قلبك فإن حاجة الله إلى العباد صلاح قلوبهم
Atsar-atsar. Dari Abu Bakar Al-Hudzali, ia berkata: Ketika kami sedang bersama Al-Hasan (Al-Bashri), tiba-tiba Ibn Al-Ahtam lewat di hadapan kami hendak menuju maqshurah (ruangan khusus di masjid) dengan mengenakan jubah-jubah dari sutra halus (khazz) yang berlapis-lapis di atas betisnya dan baju luar (qaba')-nya tersingkap, sementara ia berjalan dengan angkuh. Maka Al-Hasan memandangnya sekilas lalu berkata, "Cih, cih! Ia menengadahkan hidungnya, memiringkan tubuhnya, memalingkan pipinya (dengan sombong), memandang ke samping tubuhnya. Wahai si dungu, engkau memandang ke samping tubuhmu di dalam kenikmatan-kenikmatan yang tidak disyukuri dan tidak diingat, yang tidak diambil berdasarkan perintah Allah dan tidak ditunaikan hak Allah darinya! Demi Allah, sungguh jika seseorang berjalan sesuai tabiatnya namun berjalan terhuyung-huyung seperti orang gila, pada setiap anggota tubuhnya terdapat nikmat Allah, dan setan memiliki godaan padanya." Ibn Al-Ahtam mendengarnya, lalu ia kembali untuk meminta maaf kepadanya. Al-Hasan berkata, "Jangan meminta maaf kepadaku, tetapi bertaubatlah kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau mendengar firman Allah Ta'ala: 'Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan berlagak sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu mencapai setinggi gunung' (QS. Al-Isra': 37)." Dan pernah melintas di hadapan Al-Hasan seorang pemuda yang mengenakan pakaian bagus, maka Al-Hasan memanggilnya dan berkata kepadanya, "Wahai anak Adam, engkau kagum dengan masa mudamu dan menyukai penampilanmu, seakan-akan kubur telah menutupi jasadmu dan seakan-akan engkau telah mendapati amalmu. Celaka engkau, obatilah hatimu! Karena sesungguhnya yang dikehendaki Allah dari hamba-hamba-Nya adalah kebaikan hati mereka."
وروى أن عمر
Dan diriwayatkan bahwa 'Umar…
ابن عبد العزيز حج قبل أن يستخلف فنظر إليه طاوس وهو يختال في مشيته فغمز جنبه بأصبعه ثم قال ليست هذه مشية من في بطنه خراء فقال عمر كالمعتذر يا عم لقد ضرب كل عضو مني على هذه المشية حتى تعلمتها ورأى محمد بن واسع ولده يختال فدعاه وقال أتدري من أنت أما أمك فأشتريها بمائتي درهم وأما أبوك فلا أكثر الله في المسلمين مثله ورأى ابن عمر رجلاً يجر إزاره فقال أن للشيطان إخواناً كررها مرتين أو ثلاثا ويروى أن مطرف بن عبد الله بن الشخير رأى المهلب وهو يتبختر في جبة خز فقال يا عبد الله هذه مشية يبغضها الله ورسوله فقال له المهلب أما تعرفني فقال بلى أعرفك أولك نطفة مذرة وآخرتك جيفة قذرة وأنت بين ذلك تحمل العذرة فمضى المهلب وترك مشيته تلك
…bin 'Abdul 'Aziz melaksanakan ibadah haji sebelum beliau menjadi khalifah. Lalu Thawus melihatnya berjalan dengan berlagak angkuh, maka Thawus mencubit lambungnya dengan jarinya kemudian berkata, "Ini bukanlah cara berjalan seseorang yang di dalam perutnya terdapat kotoran!" Maka 'Umar berkata seolah meminta maaf, "Wahai paman, sungguh setiap anggota tubuhku telah dipukul agar dapat berjalan seperti ini hingga aku terbiasa." Dan Muhammad bin Wasi' melihat putranya berjalan dengan angkuh, lalu beliau memanggilnya dan berkata, "Tahukah engkau siapa dirimu? Ibumu kubeli seharga dua ratus dirham, sedangkan ayahmu—semoga Allah tidak memperbanyak orang sepertinya di tengah kaum muslimin!" Dan Ibn Umar melihat seorang laki-laki menyeret kainnya, lalu beliau berkata, "Sesungguhnya setan itu memiliki saudara-saudara," beliau mengulangnya dua atau tiga kali. Dan diriwayatkan bahwa Mutharrif bin 'Abdillah bin Asy-Syikhkhir melihat Al-Muhallab sedang berjalan angkuh dengan mengenakan jubah sutra (khazz), maka beliau berkata, "Wahai hamba Allah, ini adalah cara berjalan yang dimurkai oleh Allah dan Rasul-Nya." Al-Muhallab berkata kepadanya, "Tidakkah engkau mengenalku?" Beliau menjawab, "Tentu, aku mengenalkanmu. Awalmu adalah setetes mani yang hina, akhirmu adalah bangkai yang kotor, dan di antara keduanya engkau membawa kotoran manusia." Maka Al-Muhallab berlalu dan meninggalkan cara berjalannya tersebut.
وقال مجاهد في قوله تعالى ﴿ثم ذهب إلى أهله يتمطى﴾ أي يتبختر وإذ قد ذكرنا ذم الكبر والاختيال فلنذكر فضيلة التواضع والله تعالى أعلم
Mujahid berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "Kemudian dia pergi kepada keluarganya dengan bermegah-megah (yatamaththa)" (QS. Al-Qiyamah: 33), yaitu berjalan dengan berlagak angkuh. Dan setelah kita menyebutkan celaan terhadap kesombongan dan sikap angkuh, maka marilah kita menyebutkan keutamaan tawaduk (rendah hati). Wallahu Ta'ala a'lam (Dan Allah Ta'ala Mahamengetahui).
بيان فضيلة التواضع
Penjelasan Tentang Keutamaan Tawaduk (Rendah Hati).
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ما زاد عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لله إلا رفعه الله حديث ما من أحد إلا ومعه ملكان وعليه حكمة يمسكانه بها الحديث أخرجه العقيلي في الضعفاء والبيهقي في الشعب من حديث أبي هريرة والبيهقي أيضا من حديث ابن عباس وكلاهما ضعيف
Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawaduk karena Allah melainkan Allah akan meninggikan (derajat)-nya." Hadis: "Tidak ada seorang pun melainkan bersamanya dua malaikat yang memegang kendali (hikmah) baginya…" Al-Hadits. Diriwayatkan oleh Al-Uqaili dalam Adh-Dhu'afa' dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab dari hadis Abu Hurairah, serta Al-Baihaqi juga dari hadis Ibn Abbas, dan keduanya berstatus dhaif.
وَقَالَ ﷺ طُوبَى لِمَنْ تَوَاضَعَ فِي غَيْرِ مَسْكَنَةٍ وَأَنْفَقَ مَالًا جَمَعَهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةٍ وَرَحِمَ أَهْلَ الذُّلِّ وَالْمَسْكَنَةِ وخالط أهل الفقه والحكمة حديث أبي سلمة المديني عن أبيه عن جده قال كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عندنا بقباء وكان صائما الحديث وفيه من تواضع رفعه الله الحديث رواه البزار من رواية طلحة بن طلحة بن عبيد الله عن أبيه عن جده طلحة فذكر نحوه دون قوله ومن أكثر من ذكر الله أحبه الله ولم يقل بقباء وقال الذهبي في الميزان إنه خبر منكر وقد تقدم ورواه الطبراني في الأوسط من حديث عائشة قالت أتى رسول الله ﷺ بقدح فيه لبن وعسل الحديث ﴿وفيه﴾ أما إني لا أزعم أنه حرام الحديث وفيه من أكثر ذكر الموت أحبه الله وروى المرفوع منه أحمد وأبو يعلى من حديث أبي سعيد دون قوله ومن بذر أفقره الله وذكر رفيه قوله ومن أكثر ذكر الله أحبه الله وتقدم في ذم الدنيا
Dan Beliau ﷺ bersabda: "Beruntunglah orang yang bertawaduk tanpa merendahkan diri secara hina, menginfakkan harta yang dikumpulkannya bukan dari jalan maksiat, mengasihi kaum yang terhina dan miskin, serta bergaul dengan ahli fikih dan hikmah." Hadis Abu Salamah Al-Madini dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata: "Rasulullah ﷺ pernah berada di tempat kami di Quba' dan beliau sedang berpuasa…" Al-Hadits, dan di dalamnya terdapat: "Barangsiapa bertawaduk, Allah akan meninggikan derajatnya." Al-Hadits. Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari riwayat Talhah bin Talhah bin Ubaidillah dari ayahnya dari kakeknya (Talhah), lalu menyebutkan semisalnya tanpa sabda beliau: "Dan barangsiapa memperbanyak zikir kepada Allah, niscaya Allah mencintainya", dan tanpa menyebutkan "di Quba'". Adh-Dhahabi berkata dalam Al-Mizan bahwa ini adalah khabar munkar, dan telah berlalu pembahasannya. Dan At-Thabrani meriwayatkannya dalam Al-Ausath dari hadis Aisyah, ia berkata: Rasulullah ﷺ dibawakan bejana berisi susu dan madu… Al-Hadits, dan di dalamnya terdapat: "Ketahuilah, sesungguhnya aku tidak menganggapnya haram…" Al-Hadits, dan di dalamnya: "Barangsiapa memperbanyak mengingat kematian, Allah mencintainya." Dan Ahmad serta Abu Ya'la meriwayatkan versi marfu' dari hadis Abu Sa'id tanpa sabda beliau: "Dan barangsiapa berfoya-foya, Allah membuatnya fakir", dan di dalamnya disebutkan sabda beliau: "Dan barangsiapa memperbanyak zikir kepada Allah, Allah mencintainya." Dan ini telah berlalu dalam bab Celaan Terhadap Dunia.
وَرُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كان في نفر من أصحابه في بيته يأكلون فقام سائل على الباب وبه زمانة يتكره منها فأذن له فلما دخل أجلسه رسول الله ﷺ على فخذه ثم قال له اطعم فكأن رجلاً من قريش اشمأز منه وتكره فما مات ذلك الرجل حتى كانت به زمانة مثلها حديث خيرني ربي بين أمرين عبدا رسولا وملكا نبيا الحديث أخرجه أبو يعلى من حديث عائشة والطبراني من حديث ابن عباس وكلا الحديثين ضعيف
Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ sedang bersama sekelompok sahabat di rumahnya seraya makan bersama. Tiba-tiba seorang peminta-minta berdiri di depan pintu dalam keadaan menderita penyakit kronis yang tampak menjijikkan, lalu beliau mengizinkannya masuk. Ketika ia masuk, Rasulullah ﷺ mendudukkannya di atas paha beliau, kemudian bersabda kepadanya: "Makanlah!" Maka seolah-olah seorang laki-laki dari Quraisy merasa jijik dan benci kepadanya, sehingga laki-laki itu tidak meninggal dunia sampai ia ditimpa penyakit kronis yang serupa. Hadis: "Tuhanku memberiku pilihan antara dua perkara: menjadi hamba sekaligus rasul, atau menjadi raja sekaligus nabi…" Al-Hadits. Diriwayatkan oleh Abu Ya'la dari hadis Aisyah dan At-Thabrani dari hadis Ibn Abbas, dan kedua hadis tersebut dhaif.
وأوحى الله
Dan Allah
تعالى إلى موسى ﵇ إنما أقبل صلاة من تواضع لعظمتي ولم يتعاظم على خلقي وألزم قلبه خوفي وقطع نهاره بذكري وكف نفسه عن الشهوات من أجلي وقال ﷺ الكرم التقوى والشرف التواضع واليقين الغنى حديث إذا هدى الله عبداً للإسلام وحسن صورته الحديث أخرجه الطبراني موقوفا على ابن مسعود نحوه وفيه المسعودي مختلف فيه
Ta'ala mewahyukan kepada Musa ʿalaihissalām: "Sesungguhnya Aku hanya menerima shalat dari orang yang bertawaduk bagi keagungan-Ku, tidak menyombongkan diri atas makhluk-Ku, melazimkan rasa takut kepada-Ku dalam hatinya, menghabiskan siangnya dengan berzikir mengingat-Ku, serta menahan dirinya dari hawa nafsu demi Aku." Dan Beliau ﷺ bersabda: "Kemuliaan adalah ketakwaan, keluhuran adalah tawaduk, dan keyakinan adalah kekayaan sejati." Hadis: "Apabila Allah memberi petunjuk kepada seorang hamba menuju Islam dan membaguskan rupanya…" Al-Hadits. Diriwayatkan oleh At-Thabrani secara mauquf pada Ibn Mas'ud semisalnya, dan padanya terdapat perawi Al-Mas'udi yang diperselisihkan keandalannya.
وقال ﷺ أربع لا يعطيهم الله إلا من أحب الصمت وهو أول العبادة والتوكل على الله والتواضع والزهد في الدنيا حديث ابن عباس إذا تواضع العبد رفع الله رأسه إلى السماء السابعة أخرجه البيهقي في الشعب نحوه وفيه زمعة بن صالح ضعفه الجمهور
Dan Beliau ﷺ bersabda: "Ada empat perkara yang tidak diberikan Allah kecuali kepada orang yang dicintai-Nya: diam—dan ia adalah awal dari ibadah—tawakal kepada Allah, tawaduk, serta zuhud terhadap dunia." Hadis Ibn Abbas: "Apabila seorang hamba bertawaduk, Allah akan meninggikan kepalanya sampai ke langit ketujuh." Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab semisalnya, dan di dalamnya terdapat Zam'ah bin Shalih yang didhaifkan oleh mayoritas ulama.
وَقَالَ ﷺ التَّوَاضُعُ لَا يزيد العبد إلا رفعة فتواضعوا يرحمكم الله حديث كان يطعم فجاءه رجل أسود به جدري فجعل لا يجلس إلى أحد إلا قام من جنبه فأجلسه النبي ﷺ إلى جنبه
Dan Beliau ﷺ bersabda: "Sikap tawaduk tidaklah menambah bagi seorang hamba melainkan keluhuran derajat, maka bertawaduklah kalian, niscaya Allah meratai kalian dengan rahmat." Hadis: "Beliau pernah makan, lalu datanglah seorang pria berkulit hitam yang menderita penyakit cacar. Setiap kali ia hendak duduk di dekat seseorang, orang itu berdiri dari sampingnya. Maka Nabi ﷺ mendudukkannya tepat di samping beliau."
لم أجده هكذا والمعروف أكله مع مجذوم رواه أبو داود والترمذي وقال غريب وابن ماجه من حديث جابر كما تقدم
Saya tidak menemukannya dalam lafaz demikian. Yang masyhur adalah riwayat tentang makan beliau bersama orang yang menderita kusta (majdzum). Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi yang mengatakannya gharib, dan Ibn Majah dari hadis Jabir sebagaimana telah berlalu.
وقال ﷺ إنه ليعجبني أن يحمل الرجل الشيء في يده يكون مهنة لأهله يدفع به الكبر عن نفسه حديث مالي لا أرى عليكم حلاوة العبادة قالوا وما حلاوة العبادة قال التواضع غريب أيضاً
Dan Beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya sungguh membuatku kagum apabila seorang laki-laki membawa sesuatu di tangannya untuk membantu keperluan keluarganya demi menolak kesombongan dari dirinya." Hadis: "Mengapa aku tidak melihat pada kalian manisnya ibadah?" Mereka bertanya: "Apakah manisnya ibadah itu?" Beliau menjawab: "Tawaduk." Derajatnya gharib pula.
وقال ﷺ إذا رأيتم المتواضعين من أمتي فتواضعوا لهم وإذا رأيتم المتكبرين فتكبروا عليهم فإن ذلك مذلة لهم وصغار // حديث إذا رأيتم المتواضعين من أمتي فتواضعوا لهم وإذا رأيتم المتكبرين فتكبروا عليهم فإن ذلك لهم مذلة وصغار غريب أيضا
Dan Beliau ﷺ bersabda: "Apabila kalian melihat orang-orang yang bertawaduk dari umatku, maka bertawaduklah kepada mereka. Dan apabila kalian melihat orang-orang yang sombong, maka bersikap sombonglah kepada mereka, karena sesungguhnya hal itu menjadi kehinaan dan kerendahan bagi mereka." // Hadis: "Apabila kalian melihat orang-orang yang bertawaduk dari umatku…" juga berderajat gharib.
الآثار قال عمر ﵁ إن العبد إذا تواضع لله رفع الله حكمته وقال انتعش رفعك الله وإذا تكبر وعدا طوره رهصه الله في الأرض وقال اخسأ خسأك الله فهو في نفسه كبير وفي أعين الناس حقير حتى إنه لأحقر عندهم من الخنزير
Atsar-atsar (Riwayat para Sahabat dan Tabi'in): Umar radhiyallāhu 'anhu berkata: "Sesungguhnya apabila seorang hamba bertawaduk karena Allah, maka Allah akan meninggikan hikmahnya dan berfirman: 'Bangkitlah, semoga Allah meninggikanmu!' Namun apabila ia sombong serta melampaui batasnya, Allah akan menjatuhkannya ke bumi dan berfirman: 'Hinalah engkau, semoga Allah menghinakanmu!' Maka dalam pandangan dirinya ia merasa besar, padahal dalam pandangan manusia ia sangat hina, bahkan lebih hina di mata mereka daripada babi."
وقال جرير بن عبد الله انتهيت مرة إلى شجرة تحتها رجل نائم قد استظل بنطع له وقد جاوزت الشمس النطع فسويته عليه ثم إن الرجل استيقظ فإذا هو سلمان الفارسي فذكرت له ما صنعت فقال لي يا جرير تواضع لله في الدنيا فإنه من تواضع لله في الدنيا رفعه الله يوم القيامة يا جوير أتدري ما ظلمة النار يوم القيامة قلت لا قال إنه ظلم الناس بعضهم في الدنيا
Jarir bin Abdillah berkata: "Suatu ketika aku sampai di sebuah pohon yang di bawahnya terdapat seorang laki-laki yang sedang tidur berteduh di atas lembaran kulit miliknya. Sinar matahari telah bergeser melebihi lembaran kulit itu, maka aku merapikannya untuk melindunginya. Kemudian laki-laki itu terbangun, ternyata ia adalah Salman Al-Farisi. Lalu aku menceritakan padanya apa yang telah aku lakukan, maka ia berkata kepadaku: 'Wahai Jarir, bertawaduklah karena Allah di dunia, karena barangsiapa bertawaduk karena Allah di dunia, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya pada hari kiamat. Wahai Juwair, tahukah engkau apakah kegelapan neraka pada hari kiamat?' Aku menjawab: 'Tidak.' Ia berkata: 'Sesungguhnya itu adalah kezaliman sebagian manusia kepada sebagian lainnya di dunia.'"
وقالت عائشة ﵂ إنكم لتغفلون عن أفضل العبادات التواضع
Aisyah radhiyallāhu 'anhā berkata: "Sesungguhnya kalian sungguh melalaikan ibadah yang paling utama, yaitu tawaduk."
وقال يوسف بن أسباط يجزى قليل الورع من كثير العمل ويجزى قليل التواضع من كثير الاجتهاد
Yusuf bin Asbath berkata: "Sedikit sifat warak dapat mencukupi (mengimbangi) banyaknya amal, dan sedikit sifat tawaduk dapat mencukupi (mengimbangi) kesungguhan ibadah yang banyak."
وقال الفضيل وقد سئل عن التواضع ما هو فقال أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ الناس قبلته
Al-Fudhayl (bin 'Iyadh) pernah ditanya tentang tawaduk, "Apakah tawaduk itu?" Beliau menjawab: "Engkau tunduk kepada kebenaran dan patuh kepadanya. Sekalipun engkau mendengarnya dari seorang anak kecil engkau menerimanya, dan sekalipun engkau mendengarnya dari orang yang paling bodoh sekalipun engkau tetap menerimanya."
وقال ابن المبارك رأس التواضع أن تضع نفسك عند من دونك في نعمة الدنيا حتى تعلمه أنه ليس لك بدنياك عليه فضل وأن ترفع نفسك عمن هو فوقك في الدنيا حتى تعلمه أنه ليس له بدنياه عليك فضل
Ibn Al-Mubarak berkata: "Puncak tawaduk adalah engkau merendahkan dirimu di hadapan orang yang berada di bawahmu dalam kenikmatan dunia hingga engkau menyadarkannya bahwa engkau tidak memiliki kelebihan atasnya dengan duniamu; dan engkau menegakkan dirimu di hadapan orang yang berada di atasmu dalam hal dunia hingga engkau menyadarkannya bahwa ia tidak memiliki kelebihan atasmu dengan dunianya."
وقال قتادة من أعطى مالاً أو جمالاً أو ثياباً أو علماً ثم لم يتواضع فيه كان عليه وبالاً يوم القيامة
Qatadah berkata: "Barangsiapa diberi harta, ketampanan, pakaian, atau ilmu, kemudian ia tidak bertawaduk padanya, niscaya karunia itu akan menjadi bencana baginya pada hari kiamat."
وقيل أوحى الله تعالى إلى عيسى ﵇ إذا أنعمت عليك بنعمة فاستقبلها بالاستكانة أتممها عليك
Dikatakan bahwa Allah Ta'ala mewahyukan kepada Isa ʿalaihissalām: "Apabila Aku menganugerahkan suatu kenikmatan kepadamu, maka sambutlah ia dengan kerendahan hati (istikanah), niscaya Aku akan menyempurnakannya bagimu."
وقال كعب ما أنعم الله على عبد من نعمة في الدنيا فشكرها لله وتواضع بها لله إلا أعطاه الله نفعها في الدنيا ورفع بها درجة في الآخرة وما أنعم الله على عبد من نعمة في الدنيا فلم يشرها ولم يتواضع بها لله إلا منعه الله نفعها في الدنيا وفتح له طبقاً من النار يعذبه إن شاء الله أو يتجاوز عنه
Ka'ab berkata: "Tidaklah Allah menganugerahkan suatu kenikmatan kepada seorang hamba di dunia, lalu hamba itu mensyukurinya karena Allah dan bertawaduk darinya karena Allah, melainkan Allah akan memberikan manfaatnya di dunia serta meninggikan derajatnya di akhirat. Dan tidaklah Allah menganugerahkan suatu kenikmatan kepada seorang hamba di dunia, lalu ia tidak mensyukurinya dan tidak bertawaduk darinya karena Allah, melainkan Allah akan menahan manfaatnya di dunia dan membukakan baginya tingkatan neraka untuk menyiksanya jika Allah menghendaki, atau memaafkannya."
وقيل لعبد الملك بن مروان أي الرجال أفضل قال من تواضع عن قدرة وزهد عن رغبة وترك النصرة عن قوة
Dikatakan kepada Abdul Malik bin Marwan: "Manakah laki-laki yang paling utama?" Ia menjawab: "Orang yang bertawaduk saat ia memiliki kekuasaan, orang yang berzuhud saat ia memiliki kesempatan/keinginan, dan orang yang meninggalkan pembalasan saat ia memiliki kekuatan."
ودخل ابن السماك على هارون فقال يا أمير المؤمنين إن تواضعك في شرفك أشرف لك من شرفك فقال ما أحسن ما قلت فقال يا أمير المؤمنين إن امرأ أتاه الله جمالاً في خلقته وموضعاً في حسبه وبسط له في ذات يده فعف في جماله وواسى من ماله وتوضع في حسبه كتب في ديوان الله من خالص أولياء الله فدعا هارون بدواة وقرطاس وكتبه بيده
Ibnu as-Sammak menemui Harun (al-Rasyid) lalu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ketawaduan Anda dalam kemuliaan Anda adalah lebih mulia bagi Anda daripada kemuliaan Anda itu sendiri." Harun berkata, "Betapa indahnya apa yang engkau katakan." Ibnu as-Sammak berkata lagi, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya seorang hamba yang dikaruniai Allah keindahan pada rupa fisiknya, kedudukan pada nasabnya, dan kelapangan pada hartanya, lalu ia menjaga kehormatan dirinya atas keindahannya, menyantuni dengan hartanya, serta bertawadu atas kedudukannya, niscaya dicatat dalam diwan (catatan) Allah sebagai bagian dari wali-wali Allah yang murni." Maka Harun meminta tempat tinta dan kertas, lalu menuliskan kalimat itu dengan tangannya sendiri.
وكان سليمان بن داود ﵉ إذا أصبح تصفح وجوه الأغنياء والأشراف حتى يجيء إلى المساكين فيقعد معهم ويقول مسكين مع مساكين
Dahulu Nabi Sulaiman bin Dawud 'alaihissalam apabila tiba pagi hari, beliau memperhatikan wajah-wajah orang kaya dan bangsawan hingga beliau sampai kepada orang-orang miskin, lalu beliau duduk bersama mereka seraya berkata, "Seorang yang miskin bersama orang-orang miskin."
وقال بعضهم كما تكره أن يراك الأغنياء في الثياب الدون فكذلك فاكره أن يراك الفقراء في الثياب المرتفعة
Sebagian dari mereka berkata, "Sebagaimana engkau benci orang-orang kaya melihatmu memakai pakaian yang hina (murah), maka bencilah pula jika orang-orang miskin melihatmu memakai pakaian yang sangat mewah."
روي أنه خرج يونس وأيوب والحسن يتذاكرون التواضع فقال لهم الحسن أتدرون ما التواضع التواضع أن تخرج من منزلك ولا تلقى مسلماً إلا رأيت له عليك فضلاً
Diriwayatkan bahwa Yunus, Ayyub, dan Al-Hasan keluar bersama seraya saling memperbincangkan tentang tawadu. Maka Al-Hasan berkata kepada mereka, "Tahukah kalian apa itu tawadu? Tawadu adalah engkau keluar dari rumahmu dan tidaklah engkau bertemu seorang muslim melainkan engkau melihat ia memiliki keutamaan atas dirimu."
وقال مجاهد
Mujahid berkata:
إن الله تعالى لما أغرق قوم نوح ﵇ شمخت الجبال وتطاولت وتواضع الجودي فرفعه الله فوق الجبال وجعل قرار السفينة عليه
"Sesungguhnya Allah Ta'ala ketika menenggelamkan kaum Nabi Nuh 'alaihissalam, gunung-gunung merasa tinggi dan meremehkan, sedangkan Gunung Judi bertawadu (merendahkan diri). Maka Allah meninggikannya di atas gunung-gunung yang lain dan menjadikan tempat berlabuhnya bahtera di atasnya."
وقال أبو سليمان إن الله ﷿ اطلع على قلوب الآدميين فلم يجد قلباً أشد تواضعاً من قلب موسى ﵇ فخصه من بينهم بالكلام
Abu Sulaiman berkata, "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla menatap hati anak cucu Adam, lalu Dia tidak menemukan hati yang lebih bertawadu daripada hati Nabi Musa 'alaihissalam. Maka Dia mengkhususkan-Nya di antara mereka dengan firman-Nya (berbicara langsung kepadanya)."
وقال يونس بن عبيد وقد انصرف من عرفات لم أشك في الرحمة لولا أني كنت معهم إني أخشى أنهم حرموا بسببي
Yunus bin 'Ubaid berkata tatkala bertolak dari Arafah, "Aku tidak meragukan turunnya rahmat (kepada jamaah Arafah), seandainya bukan karena aku berada bersama mereka. Sesungguhnya aku takut mereka terhalang dari rahmat disebabkan oleh diriku."
ويقال أرفع ما يكون المؤمن عند الله أوضع ما يكون عند نفسه وأوضع ما يكون عند الله أرفع ما يكون عند نفسه
Dikatakan, "Kedudukan seorang mukmin yang paling tinggi di sisi Allah adalah ketika ia merasa paling rendah di hadapan dirinya sendiri, dan kedudukan yang paling rendah di sisi Allah adalah ketika ia merasa paling tinggi di hadapan dirinya sendiri."
وقال زياد النمري الزاهد بغير تواضع كالشجرة التي لا تثمر
Ziyad An-Numairi berkata, "Seorang zahid tanpa sifat tawadu bagaikan pohon yang tidak berbuah."
وقال مالك بن دينار لو أن منادياً ينادي بباب المسجد ليخرج شركم رحلا والله ما كان أحد يسبقني إلى الباب إلا رجلاً بفضل قوة أو سعى قال فلما بلغ ابن المبارك قوله قال بهذا صار مالك مالكاً
Malik bin Dinar berkata, "Seandainya ada penyeru yang menyeru di pintu masjid: 'Hendaklah keluar orang yang paling buruk di antara kalian!', demi Allah, tidak ada seorang pun yang dapat mendahuluiku ke pintu tersebut kecuali seseorang yang melebihi diriku dalam kekuatan atau kecepatan berlari." Ketika ucapan ini sampai kepada Ibnu al-Mubarok, beliau berkata, "Dengan sikap inilah Malik menjadi seorang Malik (pemimpin kebaikan)."
وقال الفضيل من أحب الرياسة لم يفلح أبداً
Al-Fudhoil berkata, "Barang siapa yang mencintai kepemimpinan (kedudukan), niscaya ia tidak akan beruntung selama-lamanya."
وقال موسى بن القاسم كانت عندنا زلزلة وريح حمراء فذهبت إلى محمد بن مقاتل فقلت يا أبا عبد الله أنت إمامنا فادع الله ﷿ لنا فبكى ثم قال ليتني لم أكن سبب هلاككم قال فرأيت النبي ﷺ في النوم فقال إن الله ﷿ رفع عنكم بدعاء محمد ين مقاتل
Musa bin al-Qasim berkata, "Pernah terjadi gempa bumi dan angin merah di tempat kami, lalu aku pergi menemui Muhammad bin Muqatil dan berkata, 'Wahai Abu Abdillah, Anda adalah imam kami, maka berdoalah kepada Allah 'Azza wa Jalla untuk kami.' Lalu ia menangis dan berkata, 'Aduhai, sekiranya aku tidak menjadi penyebab kebinasaan kalian!' Musa berkata: Kemudian aku bermimpi melihat Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda, 'Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah mengangkat bencana itu dari kalian disebabkan doa Muhammad bin Muqatil.'"
وجاء رجل إلى الشبلي ﵀ فقال له ما أنت وكان هذا دأبه وعادته فقال أنا النقطة التي تحت الباء فقال له الشبلي أباد الله شاهدك أو تجعل لنفسك موضعاً
Seseorang datang kepada Asy-Syibli رحمة الله عليه lalu ia bertanya kepadanya, "Siapakah engkau?" —dan ini merupakan kebiasaan serta perangainya (bertanya dengan cara demikian)—. Orang itu menjawab, "Aku adalah titik yang berada di bawah huruf Ba." Maka Asy-Syibli berkata kepadanya, "Semoga Allah memusnahkan wujud kesadaran (keakuan)-mu! Apakah engkau masih menetapkan suatu tempat/kedudukan bagi dirimu?"
وقال الشبلي في بعض كلامه ذلي عطل ذل اليهود
Asy-Syibli berkata dalam sebagian ucapannya, "Rasa hinaku (di hadapan Allah) telah melampaui kehinaan orang-orang Yahudi."
ويقال من يرى لنفسه قيمة فليس له من التواضع نصيب
Dikatakan, "Barang siapa yang melihat dirinya memiliki suatu harga (nilai), maka ia tidak memiliki bagian sedikit pun dari sifat tawadu."
وعن أبي الفتح بن شخرف قال رأيت عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ﵁ في المنام فقلت له يا أبا الحسن عظني فقال لي ما أحسن التواضع بالأغنياء في مجالس الفقراء رغبة منهم في ثواب الله وأحسن من تيه الفقراء على الأغنياء ثقة منهم بالله ﷿ وقال أبو سليمان لا يتواضع العبد حتى يعرف
Dari Abu al-Fath bin Syukhruf, ia berkata: Aku bermimpi melihat 'Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu, lalu aku berkata kepadanya, "Wahai Abul Hasan, berilah aku nasihat!" Beliau berkata kepadaku, "Betapa indahnya ketawaduan orang-orang kaya di majelis orang-orang miskin karena mengharapkan pahala Allah, dan yang lebih indah dari itu adalah ketidakbutuhan orang-orang miskin di hadapan orang-orang kaya karena rasa percaya mereka kepada Allah 'Azza wa Jalla." Dan Abu Sulaiman berkata, "Seorang hamba tidak akan dapat bertawadu hingga ia mengenal…"
نفسه
"…dirinya sendiri."
وقال أبو يزيد ما دام العبد يظن أن في الخلق من هو شر منه فهو متكبر فقيل له فمتى يكون متواضعاً قال إذا لم ير لنفسه مقاماً ولا حالاً وتواضع كل إنسان على قدر معرفته بربه ﷿ ومعرفته بنفسه
Abu Yazid berkata, "Selama seorang hamba masih menganggap bahwa di antara makhluk ada yang lebih buruk daripada dirinya, maka ia adalah orang yang sombong." Lalu ditanyakan kepadanya, "Lantas kapan ia menjadi seorang yang bertawadu?" Beliau menjawab, "Apabila ia tidak melihat bagi dirinya suatu kedudukan (maqam) maupun keadaan spiritual (hal). Dan ketawaduan setiap insan adalah sesuai dengan kadar makrifatnya kepada Rabb-nya 'Azza wa Jalla serta pengenalannya terhadap dirinya sendiri."
وقال أبو سليمان لو اجتمع الخلق على أن يضعوني كاتضاعي عند نفسي ما قدروا عليه
Abu Sulaiman berkata, "Seandainya seluruh makhluk berkumpul untuk merendahkanku sebagaimana perendahan diriku di hadapan jiwaku sendiri, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya."
وقال عروة بن الورد التواضع أحد مصايد الشرف وكل نعمة محسود عليها صاحبها إلا التواضع
Urwah bin al-Ward berkata, "Tawaduk adalah salah satu jaring kemuliaan. Setiap nikmat pasti didengki pemiliknya, kecuali tawaduk."
وقال يحيى بن خالد البرمكي الشريف إذا تنسك تواضع والسفيه إذا تنسك تعاظم
Yahya bin Khalid al-Barmaki berkata, "Orang yang mulia jika tekun beribadah ia akan bertawaduk, sedangkan orang yang dungu jika tekun beribadah ia akan merasa besar (sombong)."
وقال يحيى بن معاذ
Dan Yahya bin Mu'adz berkata:
التكبر على ذي التكبر عليك بماله تواضع ويقال التواضع في الخلق كلهم حسن وفي الأغنياء أحسن والتكبر في الخلق كلهم قبيح وفي الفقراء أقبح ويقال لا عز إلا لمن تذلل لله ﷿ ولا رفعة إلا لمن تواضع لله ﷿ ولا أمن إلا لمن خاف الله ﷿ ولا ربح إلا لمن ابتاع نفسه من الله ﷿
"Bersikap takabur kepada orang yang bertakabur kepadamu karena hartanya adalah sebuah tawaduk." Dan dikatakan, "Tawaduk pada semua makhluk itu baik, tetapi pada orang-orang kaya itu lebih baik. Takabur pada semua makhluk itu buruk, tetapi pada orang-orang fakir itu lebih buruk." Dan dikatakan pula, "Tidak ada kemuliaan melainkan bagi orang yang merendahkan diri kepada Allah 'Azza wa Jalla, tidak ada kedudukan tinggi melainkan bagi orang yang bertawaduk karena Allah 'Azza wa Jalla, tidak ada rasa aman melainkan bagi orang yang takut kepada Allah 'Azza wa Jalla, dan tidak ada keuntungan melainkan bagi orang yang menjual dirinya kepada Allah 'Azza wa Jalla."
وقال أبو علي الجوزجاني
Dan Abu Ali al-Juzajani berkata:
النفس معجونة بالكبر والحرص والحسد فمن أراد الله تعالى هلاكه منع منه التواضع والنصيحة والقناعة وإذا أراد الله تعالى به خيراً لطف به في ذلك فإذا هاجت في نفسه نار الكبر أدركها التواضع من نصرة الله تعالى وإذا هاجت نار الحسد في نفسه أدركتها النصيحة مع توفيق الله ﷿ وإذا هاجت في نفسه نار الحرص أدركتها القناعة مع عون الله ﷿
"Nafsu itu teraduk (tercipta) bersama kesombongan, kerakusan, dan kedengkian. Barang siapa yang dikehendaki kebinasaannya oleh Allah Ta'ala, maka Dia menghalanginya dari tawaduk, nasihat (ketulusan), dan qana'ah. Dan jika Allah Ta'ala menghendaki kebaikan baginya, Dia bersikap lembut padanya dalam hal itu: apabila gejolak api kesombongan membara dalam nafsunya, tawaduk menyusulnya dengan pertolongan Allah Ta'ala; apabila gejolak api kedengkian membara dalam nafsunya, ketulusan menyusulnya dengan taufik Allah 'Azza wa Jalla; dan apabila gejolak api kerakusan membara dalam nafsunya, qana'ah menyusulnya dengan bantuan Allah 'Azza wa Jalla."
وعن الجنيد ﵀ أنه كان يقول يوم الجمعة في مجلسه لولا أنه رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أنه قال يكون في آخر الزمان زعيم القوم أرذلهم // حديث يكون في آخر الزمان زعيم القوم أرذلهم أخرجه الترمذي من حديث أبي هريرة إذا اتخذ الفيء دولا الحديث ﴿وفيه﴾ كان زعيم القوم أرذلهم الحديث وقال غريب وله من حديث علي بن أبي طالب إذا فعلت أمتي خمس عشرة خصلة حل بها البلاء فذكر منها وكان زعيم القوم أرذلهم ولأبي نعيم في الحلية من حديث حذيفة من اقتراب الساعة اثنان وسبعون خصلة فذكرها منها وفيهما فرج بن فضالة ضعيف
Diriwayatkan dari al-Junaid rahimahullah bahwa beliau pernah berkata pada hari Jumat di majelisnya, "Seandainya tidak diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: 'Akan ada di akhir zaman, pemimpin suatu kaum adalah orang yang paling hina di antara mereka' // Hadis: 'Akan ada di akhir zaman pemimpin suatu kaum adalah orang yang paling hina di antara mereka', dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dari hadis Abu Hurairah tentang 'Apabila harta rampasan perang dijadikan barang pergiliran…' hingga akhir hadis, dan di dalamnya disebutkan: 'Dan pemimpin suatu kaum adalah orang yang paling hina di antara mereka'—at-Tirmidzi berkata: gharib. Beliau juga merawikannya dari hadis Ali bin Abi Thalib: 'Apabila umatku melakukan lima belas perkara, niscaya bencana akan menimpa mereka', lalu beliau menyebutkan di antaranya: 'Dan pemimpin suatu kaum adalah orang yang paling hina di antara mereka'. Juga diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah dari hadis Hudzaifah tentang 'Tanda-tanda mendekatnya kiamat ada tujuh puluh dua perkara', lalu beliau menyebutkannya di antaranya. Dan pada kedua sanad tersebut terdapat Faraj bin Fadhalah yang berstatus dhaif."
ما تكلمت عليكم وقال الجنيد أيضاً التواضع عند أهل التوحيد تكبر ولعل مراده أن التواضع يثبت نفسه ثم يضعها والموحد لا يثبت نفسه ولا يراها شيئاً حتى يضعها أو يرفعها
"…niscaya aku tidak akan berbicara di hadapan kalian." Al-Junaid juga berkata, "Tawaduk di sisi ahli tauhid adalah sebuah takabur." Dan mungkin yang beliau maksudkan adalah bahwa tawaduk itu mengukuhkan keberadaan diri sendiri terlebih dahulu lalu merendahkannya, sedangkan seorang muwahhid (ahli tauhid) tidak menetapkan dirinya dan tidak memandangnya sebagai sesuatu apa pun sehingga perlu merendahkan atau meninggikannya.
وعن عمرو بن شيبة قال كنت بمكة بين الصفا والمروة فرأيت رجلاً راكباً بغلة وبين يديه غلمان وإذا هم يعنفون الناس قال ثم عدت بعد حين فدخلت بغداد فكنت على الجسر فإذا أنا برجل حاف حاسر طويل الشعر قال فجعلت أنظر إليه وأتأمله فقال لي مالك تنظر إلي فقلت له شبهتك برجل رأيته بمكة ووصفت له الصفة فقال له أنا ذلك الرجل فقلت ما فعل الله بك فقال إني ترفعت في موضع يتواضع فيه الناس فوضعني الله حيث يترفع الناس
Dari 'Amr bin Syaibah, ia berkata: Aku pernah berada di Makkah di antara Shafa dan Marwah, lalu aku melihat seorang laki-laki menunggangi bagal dan di depannya terdapat para pelayan yang memperlakukan orang-orang dengan kasar. Ia berkata: Kemudian setelah beberapa waktu aku kembali dan memasuki Baghdad, lalu aku berada di atas jembatan, tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki bertelanjang kaki, tidak berpenutup kepala, dan berambut panjang. Ia berkata: Maka aku mulai memandangnya dan mengamatinya. Lalu ia berkata kepadaku, "Ada apa denganmu memandangiku?" Aku menjawab, "Aku menyerupakanmu dengan seorang laki-laki yang pernah kulihat di Makkah," lalu aku menggambarkan sifat laki-laki itu kepadanya. Maka ia berkata kepadaku, "Akulah laki-laki itu." Aku bertanya, "Apa yang telah Allah perbuat kepadamu?" Ia menjawab, "Sesungguhnya aku dahulu merasa tinggi (sombong) di tempat di mana orang-orang bertawaduk, maka Allah merendahkanku di tempat di mana orang-orang merasa tinggi."
وقال المغيرة كنا نهاب إبراهيم النخعي هيبة الأمير وكان يقول إن زماناً صرت فيه فقيه الكوفة لزمان سوء
Al-Mughirah berkata, "Kami dahulu segan kepada Ibrahim an-Nakha'i sebagaimana kewibawaan seorang penguasa. Dan beliau sering berkata, 'Sesungguhnya suatu zaman yang di dalamnya aku menjadi ahli fikih Kufah sungguh merupakan zaman yang buruk.'"
وكان عطاء السلمي إذا سمع صوت الرعد قام وقعد وأخذه بطنه كأنه امرأة ماخض وقال هذا من أجلي يصيبكم لو مات عطاء لاستراح الناس
Dahulu 'Atha' as-Sulami apabila mendengar suara petir, ia berdiri dan duduk gelisah serta perutnya terasa mulas seperti wanita yang hendak melahirkan, lalu ia berkata, "Ini menimpa kalian karena diriku. Seandainya 'Atha' meninggal, niscaya orang-orang akan merasa tenang."
وكان بشر الحافي يقول سلموا على أبناء الدنيا بترك السلام عليهم
Dahulu Bishr al-Hafi berkata, "Ucapkanlah salam kepada para pencinta dunia dengan cara meninggalkan ucapan salam kepada mereka."
ودعا رجل لعبد الله بن المبارك فقال أعطاك الله ما ترجوه فقال إن الرجاء يكون بعد المعرفة فأين المعرفة وتفاخرت قريش عند سلمان الفارسي ﵁ يوماً فقال سلمان لكنني خلقت من نطفة قذرة ثم أعود جيفة منتنة ثم أتى الميزان فإن ثقل فأنا كريم وإن خف فأنا لئيم وقال أبو بكر الصديق ﵁ وجدنا الكرم في التقوى والغنى في اليقين والشرف في التواضع نسأل الله الكريم حسن التوفيق
Seseorang mendoakan Abdullah bin al-Mubarok dengan berkata, "Semoga Allah memberimu apa yang engkau harapkan (raja')." Maka beliau berkata, "Sesungguhnya harapan (raja') itu ada setelah adanya ma'rifah, lantas di manakah ma'rifah itu?" Dan kaum Quraisy pernah saling membanggakan diri di hadapan Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu pada suatu hari, maka Salman berkata, "Tetapi aku diciptakan dari setetes mani yang kotor, kemudian aku akan kembali menjadi bangkai yang membusuk, lalu aku akan didatangkan ke timbangan amal (mizan); jika timbanganku berat maka aku orang yang mulia, dan jika ringan maka aku orang yang hina." Dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata, "Kami menemukan kemuliaan ada pada ketakwaan, kecukupan (ghina) ada pada keyakinan (yaqin), dan keagungan (syaraf) ada pada tawaduk. Kita memohon kepada Allah Yang Mahamulia akan indahnya taufik."
بَيَانُ حَقِيقَةِ الْكِبْرِ وَآفَتِهِ
PENJELASAN TENTANG HAKIKAT TAKABUR (KESOMBONGAN) DAN BAHAYANYA
اعْلَمْ أَنَّ الْكِبْرَ يَنْقَسِمُ إِلَى بَاطِنٍ وَظَاهِرٍ فَالْبَاطِنُ هُوَ خُلُقٌ في النفس والظاهر هو أعمال تصدر عن الجوارح
Ketahuilah bahwa takabur (kesombongan) itu terbagi menjadi batin dan lahir. Takabur batin adalah perangai di dalam jiwa, sedangkan takabur lahir adalah perbuatan-perbuatan yang bersumber dari anggota badan.
واسم الكبر بالخلق الباطن أحق وأما الأعمال فإنها ثمرات لذلك الخلق
Sebutan "takabur" lebih berhak disematkan pada perangai batin tersebut, sedangkan perbuatan-perbuatan lahiriah merupakan buah dari perangai batin itu.
وخلق الكبر موجب للأعمال ولذلك إذا
Perangai takabur itulah yang meniscayakan timbulnya perbuatan-perbuatan tersebut. Oleh karena itu, apabila…
ظهر على الجوارح يقال تكبر وإذا لم يظهر يقال في نفسه كبر
tampak pada anggota badan maka dikatakan "ia bertakabur", dan apabila belum tampak maka dikatakan "di dalam jiwanya terdapat takabur".
فالأصل هو الخلق الذي في النفس وهو الاسترواح والركون إلى رؤية النفس فوق المتكبر عليه فإن الكبر يستدعي متكبراً عليه ومتكبراً به وبه ينفصل الكبر عن العجب كما سيأتي فإن العجب لا يستدعي غير المعجب بل لو لم يخلق الإنسان إلا وحده تصور أن يكون معجباً ولا يتصور أن يكون متكبراً إلا أن يكون مع غيره وهو يرى نفسه فوق ذلك الغير في صفات الكمال فعند ذلك يكون متكبراً ولا يكفي أن يستعظم نفسه ليكون متكبراً فإنه قد يستعظم نفسه ولكنه يرى غيره أعظم من نفسه أو مثل نفسه فلا يتكبر عليه ولا يكفي أن يستحقر غيره فإنه مع ذلك لو رأى نفسه أحقر لم يتكبر ولو رأى غيره مثل نفسه لم يتكبر بل ينبغي أن يرى لنفسه مرتبة ولغيره مرتبة ثم يرى مرتبة نفسه فوق مرتبة غيره فعند هذه الاعتقادات الثلاثة يحصل فيه خلق الكبر لا أن هذه الرؤية تنفي الكبر بل هذه الرؤية وهذه العقيدة تنفخ فيه فيحصل في قلبه اعتداد وهزة وفرح وركون إلى ما اعتقده وعز في نفسه بسبب ذلك فتلك العزة والهزة والركون إلى العقيدة هو خلق الكبر
Maka pokok dasarnya adalah perangai yang ada di dalam jiwa, yaitu rasa nyaman dan kecenderungan untuk memandang dirinya lebih tinggi daripada orang yang disombonginya. Sebab takabur memerlukan objek yang disombongi (mutakabbar 'alaih) dan sarana untuk menyombongkan diri (mutakabbar bih). Dengan inilah takabur berbeda dari 'ujub (bangga diri), sebagaimana akan dijelaskan nanti. Sebab 'ujub tidak memerlukan pihak lain selain orang yang kagum pada dirinya sendiri; bahkan seandainya manusia diciptakan seorang diri saja, masih dapat dibayangkan ia bersikap 'ujub, tetapi tidak dapat dibayangkan ia bersikap takabur kecuali jika ia berada bersama orang lain dan ia memandang dirinya berada di atas orang lain tersebut dalam sifat-sifat kesempurnaan. Pada saat itulah ia menjadi orang yang bertakabur. Tidak cukup hanya menganggap besar dirinya sendiri untuk menjadi takabur, sebab kadang seseorang menganggap besar dirinya tetapi ia memandang orang lain lebih besar atau sebanding dengan dirinya sehingga ia tidak bertakabur kepadanya. Tidak cukup pula hanya menghinakan orang lain, sebab jika di samping itu ia memandang dirinya lebih hina, ia tidak akan bertakabur, dan jika ia memandang orang lain sama seperti dirinya, ia juga tidak akan bertakabur. Melainkan ia harus memandang bagi dirinya suatu kedudukan dan bagi orang lain suatu kedudukan, kemudian ia melihat kedudukan dirinya berada di atas kedudukan orang lain. Di saat tiga anggapan (keyakinan) ini berhimpun, barulah terbentuk padanya perangai takabur. Bukannya pandangan ini menolak takabur, melainkan pandangan dan keyakinan ini meniupkan (perasaan) dalam dirinya sehingga timbullah di dalam hatinya rasa membanggakan diri, dorongan keangkuhan, kegembiraan, kecenderungan pada apa yang diyakininya, serta rasa mulia dalam dirinya karena hal itu. Maka rasa mulia, dorongan keangkuhan, dan kecenderungan pada keyakinan itulah yang dinamakan perangai takabur.
ولذلك قال النبي ﷺ أعوذ بك من نفخة الكبرياء حديث لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذرة من كبر تقدم فيه
Oleh karena itulah Nabi ﷺ bersabda, "Aku berlindung kepada-Mu dari tiupan keangkuhan (nafkhatul kibriya')." Hadis: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah dari takabur", telah dijelaskan sebelumnya.
وَإِنَّمَا صَارَ حِجَابًا دُونَ الْجَنَّةِ لِأَنَّهُ يَحُولُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ أَخْلَاقِ الْمُؤْمِنِينَ كُلِّهَا وَتِلْكَ الْأَخْلَاقُ هِيَ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَالْكِبْرُ وَعِزَّةُ النَّفْسِ يغلق تلك الأبواب كلها لأنه لا يقدر على أن يحب المؤمنين ما يحب لنفسه وفيه شيء من العز وَلَا يَقْدِرُ عَلَى التَّوَاضُعِ وَهُوَ رَأْسُ أَخْلَاقِ المتقين وفيه العز ولا يقدر على ترك الحقد وفيه العز ولا يقدر أن يدوم على الصدق وفيه العز ولا يقدر على ترك الغضب وفيه العز ولا يقدر على كظم الغيظ وفيه العز ولا يقدر على ترك الحسد وفيه العز ولا يقدر على النصح اللطيف وفيه العز ولا يقدر على قبول النصح وفيه العز ولا يسلم من الازدراء بالناس ومن اغتيابهم وفيه العز ولا معنى للتطويل فما من خلق
Kesombongan itu menjadi penghalang untuk masuk surga karena ia merintangi seorang hamba dari seluruh akhlak kaum mukminin, padahal akhlak-akhlak tersebut adalah pintu-pintu surga. Kesombongan dan keangkuhan jiwa ('izzatun nafs) menutup seluruh pintu itu, sebab orang yang sombong tidak akan mampu mencintai bagi orang-orang mukmin apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri selama di dalam dirinya terdapat keangkuhan; ia tidak mampu bertawadhu' (rendah hati)—padahal tawadhu' adalah puncak akhlak orang-orang bertakwa—selama di dalam dirinya terdapat keangkuhan; ia tidak mampu meninggalkan sifat kedengkian; ia tidak mampu terus-menerus dalam kejujuran; ia tidak mampu meninggalkan kemarahan; ia tidak mampu menahan amarah; ia tidak mampu meninggalkan hasad (iri hati); ia tidak mampu memberi nasihat secara lembut; ia tidak mampu menerima nasihat; dan ia tidak akan selamat dari meremehkan orang lain serta menggunjing (ghibah) mereka, yang semuanya dipicu oleh keangkuhan tersebut. Tidak ada gunanya memperpanjang uraian, sebab tidak ada satu pun akhlak…
ذَمِيمٍ إِلَّا وَصَاحِبُ الْعِزِّ وَالْكِبْرِ مُضْطَرٌّ إِلَيْهِ ليحفظ عِزَّهُ وَمَا مِنْ خُلُقٍ مَحْمُودٍ إِلَّا وَهُوَ عَاجِزٌ عَنْهُ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَفُوتَهُ عِزُّهُ فَمِنْ هَذَا لَمْ يُدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ فِي قلبه مثقال حبة منه
…tercela melainkan pemilik keangkuhan dan kesombongan terpaksa melakukannya demi mempertahankan keangkuhannya. Dan tidak ada satu pun akhlak terpuji melainkan ia tidak mampu melakukannya karena takut kehilangan keangkuhannya. Oleh karena itulah, tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau seberat biji sawi.
والأخلاق الذميمة متلازمة والبعض منها داع إلى البعض لا محالة
Akhlak-akhlak yang tercela saling berkaitan erat satu sama lain, dan sebagian darinya niscaya akan menyeret kepada sebagian yang lain.
وَشَرُّ أَنْوَاعِ الْكِبْرِ مَا يَمْنَعُ مِنَ اسْتِفَادَةِ الْعِلْمِ وَقَبُولِ الْحَقِّ وَالِانْقِيَادِ لَهُ وَفِيهِ وَرَدَتِ الآيات التي فيها ذم الكبر والمتكبرين قال الله تعالى والملائكة باسطو أيديهم إلى قوله وكنتم عن آياته تستكبرون ﴿ثم قال﴾ ادخلوا أبواب جنهنم خالدين فيها فبئس مثوى المتكبرين ثم أخبر أن أشد أهل النار عذاباً أشدهم عتياً على الله تعالى فقال ثم لننزعن من كل شيعة أيهم أشد على الرحمن عتياً وقال تعالى فالذين لا يؤمنون بالآخرة قلوبهم منكرة وهم مستكبرون وقال ﷿ يقول الذين استضعفوا للذين استكبروا لولا أنتم لكنا مؤمنين وقال تعالى إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ داخرين وقال تَعَالَى سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأرض بغير الحق قيل في التفسير سأرفع فهم القرآن عن قلوبهم وفي بعض التفاسير سأحجب قلوبهم عن الملكوت
Jenis kesombongan yang paling buruk adalah yang menghalangi seseorang dari mengambil manfaat ilmu, menerima kebenaran, dan tunduk kepadanya. Mengenai hal inilah turun ayat-ayat yang mencela kesombongan dan orang-orang yang sombong. Allah Ta'ala berfirman: "…sedang para malaikat memukulkan tangan mereka…" hingga firman-Nya, "…dan kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya." Kemudian Dia berfirman: "Masuklah ke pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka sungguh buruk tempat tinggal orang-orang yang sombong." Lalu Dia memberitahukan bahwa penghuni neraka yang paling keras azabnya adalah yang paling membangkang kepada Allah Ta'ala, melalui firman-Nya: "Kemudian pasti akan Kami tarik dari setiap golongan mana di antara mereka yang sangat membangkang kepada Tuhan Yang Maha Pengasih." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Maka orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, hati mereka mengingkari (kebenaran), dan mereka adalah orang-orang yang sombong." Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: "Orang-orang yang tertindas berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: 'Kalau bukan karena kamu, tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.'" Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku." Dikatakan dalam tafsir: "Aku akan mencabut pemahaman Al-Qur'an dari hati mereka." Dan dalam sebagian tafsir: "Aku akan menghalangi hati mereka dari alam Malakut."
وقال ابن جريج سأصرفهم عن أن يتفكروا فيها ويعتبروا بها
Ibnu Juraij berkata: "(Maksudnya adalah) Aku akan memalingkan mereka dari merenungkannya dan mengambil pelajaran darinya."
ولذلك قال المسيح ﵇ إن الزرع ينبت في السهل ولا ينبت على الصفا كذلك الحكمة تعمل في قلب المتواضع ولا تعمل في قلب المتكبر ألا ترون أن من شمخ برأسه إلى السقف شجه ومن طأطأ أظله وأكنه
Oleh karena itu, Al-Masih 'Alaihissalam berkata: "Sesungguhnya tanaman itu tumbuh di tanah yang datar dan tidak tumbuh di atas batu licin. Demikian pula hikmah bekerja di dalam hati orang yang bertawadhu' dan tidak bekerja di dalam hati orang yang sombong. Tidakkah kalian melihat bahwa barangsiapa yang menengadahkan kepalanya tinggi-tinggi ke atap, maka atap itu akan melukainya; sedangkan barangsiapa yang menundukkan kepalanya, maka atap itu akan menaungi dan melindunginya?"
فهذا مثل ضربه للمتكبرين وأنهم كيف يحرمون الحكمة ولذلك ذكر رسول الله ﷺ جحود الحق في حد الكبر والكشف عن حقيقته وقال من سفه الحق وغمص الناس // حديث الكبر من سفه الحق وغمص الناس أخرجه من حديث ابن مسعود في أثناء حديث وقال بطر الحق وغمط الناس ورواه الترمذي فقال من بطر الحق وغمص الناس وقال حسن صحيح ورواه أحمد من حديث عقبة عامر بلفظ المصنف ورواه البيهقي في الشعب من حديث أبي ريحانة هكذا
Ini adalah perumpamaan yang dibuat untuk orang-orang yang sombong dan bagaimana mereka dihalangi dari hikmah. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ menyebutkan penolakan terhadap kebenaran sebagai batasan (definisi) kesombongan dan penyingkapan hakikatnya, beliau bersabda: "(Sombong itu ialah) menolak kebenaran dan meremehkan manusia." // Hadis tentang kesombongan sebagai "menolak kebenaran dan meremehkan manusia" diriwayatkan dari hadis Ibnu Mas'ud di sela-sela sebuah hadis dengan redaksi: "menolak kebenaran dan meremehkan manusia" (batharal-haqqi wa ghamthan-naas). At-Tirmidzi meriwatkannya dengan redaksi: "siapa yang menolak kebenaran dan meremehkan manusia" dan ia berkata hadis ini hasan shahih. Ahmad meriwatkannya dari hadis 'Uqbah bin 'Amir dengan lafaz sebagaimana penulis sebutkan. Al-Baihaqi meriwatkannya dalam Asy-Syu'ab dari hadis Abu Raihanah demikian pula.
بيان المتكبر عليه ودرجاته وأقسامه وثمرات الكبر فيه
Penjelasan tentang Pihak yang Disombongi, Tingkatan-tingkatannya, Pembagiannya, serta Buah Kesombongan padanya
اعلم أن المتكبر عليه هو الله تعالى أو رسله أو سائر خلقه وقد خلق الإنسان ظلوماً جهولاً فتارة يتكبر على الخلق وتارة يتكبر على الخالق فإذن التكبر باعتبار المتكبر عليه ثلاثة أقسام
Ketahuilah bahwa pihak yang disombongi itu adalah Allah Ta'ala, para rasul-Nya, atau seluruh makhluk-Nya. Manusia telah diciptakan dalam keadaan sangat zalim dan sangat bodoh; terkadang ia menyombongkan diri kepada makhluk dan terkadang menyombongkan diri kepada Sang Pencipta. Maka dari itu, menyombongkan diri ditinjau dari pihak yang disombongi terbagi menjadi tiga bagian.
الأول التكبر على الله وذلك هو أفحش أنواع الكبر ولا مثار له إلا الجهل المحض والطغيان مثل ما كان من نمروذ فإنه كان يحدث نفسه بأن يقاتل رب السماء وكما يحكى عن جماعة من الجهلة
Bagian pertama: Menyombongkan diri kepada Allah. Ini adalah jenis kesombongan yang paling keji, dan tidak timbul melainkan dari kebodohan murni serta pembangkangan melampaui batas, seperti yang terjadi pada Nimrud, sebab ia berbisik dalam dirinya untuk memerangi Tuhan pemilik langit, sebagaimana diceritakan pula tentang sekumpulan orang-orang bodoh.
بل ما يحكى عن كل من ادعى الربوبية مثل فرعون وغيره فإنه لتكبره قال أنا ربكم الأعلى إذ استنكف أن يكون عبداً لله ولذلك قال تعالى إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ داخرين وقال تعالى لن يستنكف المسيح أن يكون عبداً لله ولا الملائكة المقربون الآية وقال تعالى وإذا قيل لهم اسجدوا للرحمن قالوا وما الرحمن أنسجد لما تأمرنا وزادهم نفوراً
Bahkan sebagaimana yang diceritakan dari setiap orang yang mengaku sebagai tuhan seperti Firaun dan lainnya, sebab karena kesombongannya ia berkata: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi", karena ia enggan untuk menjadi hamba Allah. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Al-Masih tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak pula para malaikat yang terdekat…" (hingga akhir ayat). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Pengasih', mereka menjawab: 'Siapakah Yang Maha Pengasih itu? Apakah kami harus sujud kepada Tuhan yang engkau perintahkan kepada kami?' Dan perintah itu makin menambah mereka menjauh."
القسم الثاني التكبر على الرسل من حيث تعزز النفس وترفعها على الانقياد لبشر مثل سائر الناس وذلك تارة يصرف عن الفكر والاستبصار فيبقى في ظلمة الجهل بكبره فيمتنع عن الانقياد وهو ظان أنه محق فيه وتارة يمتنع مع المعرفة ولكن لا تطاوعه نفسه للإنقياد للحق والتواضع للرسل كما حكى الله قولهم أنؤمن لبشرين مثلنا ﴿وقولهم﴾ إن أنتم إلا بشر مثلنا ولئن أطعتم بشراً مثلكم إنكم إذا لخاسرون وقال الذين لا يرجون لقاءنا لولا أنزل علينا الملائكة أو نرى ربنا لقد استكبروا في أنفسهم وعتوا عتوا كبيراً وقالوا لولا أنزل عليه ملك
Bagian kedua: Menyombongkan diri kepada para rasul, dipicu oleh keangkuhan jiwa dan merasa enggan untuk tunduk kepada sesama manusia biasa. Hal itu terkadang memalingkan dari perenungan dan mata hati (istibshar), sehingga seseorang tetap berada dalam kegelapan kebodohan akibat kesombongannya, lalu ia enggan tunduk seraya mengira bahwa dirinya berada di pihak yang benar. Terkadang pula ia enggan tunduk padahal ia tahu (kebenaran), namun jiwanya tidak mau diajak untuk tunduk pada kebenaran dan bertawadhu' kepada para rasul, sebagaimana Allah menceritakan perkataan mereka: "Apakah kita akan beriman kepada dua orang manusia seperti kita?" dan perkataan mereka: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," serta: "Dan sungguh, jika kamu mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya kamu sekalian benar-benar merugi." Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepada kita malaikat atau kita melihat Tuhan kita?" Sungguh mereka telah menyombongkan diri mereka dan telah melampaui batas dengan pembangkangan yang besar. Dan mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan malaikat kepadanya?"
وقال فرعون فيما أخبر الله عنه ﴿أو جاء معه الملائكة مقترنين﴾ وقال الله تعالى ﴿واستكبر هو وجنوده في الأرض بغير الحق﴾ فتكبر هو على الله وعلى رسله جميعاً
Dan Firaun berkata sebagaimana yang Allah beritakan tentang dirinya: "Atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?" Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan Firaun dan prajurit-prajuritnya menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar." Maka ia telah menyombongkan diri kepada Allah dan kepada seluruh rasul-Nya.
قال وهب قال له موسى ﵇ آمن ولك ملكك قال حتى أشاور هامان فشاور هامان فقال هامان بينما أنت رب يعبد إذ صرت عبد تعبد فاسنكف عن عبودية الله وعن اتباع موسى ﵇
Wahb berkata: Musa 'Alaihissalam berkata kepada Firaun: "Berimanlah, maka kerajaanmu tetap milikmu." Firaun menjawab: "Tunggu sampai aku bermusyawarah dengan Haman." Lalu ia bermusyawarah dengan Haman, maka Haman berkata: "Selama ini engkau adalah tuhan yang disembah, lalu sekarang engkau menjadi hamba yang menyembah?" Maka Firaun pun enggan dari menghambakan diri kepada Allah dan enggan mengikuti Musa 'Alaihissalam.
وقالت قريش فيما أخبر الله تعالى عنهم ﴿لولا نزل هذا القرآن على رجل من القريتين عظيم﴾ قال قتاده عظيم القريتين هو الوليد بن المغيرة وأبو مسعود الثقفي طلبوا من هو أعظم رياسة من النبي ﷺ إذ قالوا غلام يتيم كيف بعثه الله إلينا فقال تعالى ﴿أهم يقسمون رحمة ربك﴾ وقال الله تعالى ﴿ليقولوا أهؤلاء من الله عليهم من بيننا﴾ أي استحقاراً لهم واستبعاداً لتقدمهم
Kaum Quraisy berkata sebagaimana yang Allah Ta'ala beritakan tentang mereka: "Mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang yang agung dari salah satu di antara dua negeri ini?" Qatadah berkata: "Orang yang agung dari dua negeri itu adalah Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Mas'ud Ats-Tsaqafi." Mereka menuntut sosok yang lebih agung kepemimpinannya daripada Nabi ﷺ, sebab mereka berkata: "Seorang pemuda yatim, bagaimana mungkin Allah mengutusnya kepada kita?" Maka Allah Ta'ala berfirman: "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?" Dan Allah Ta'ala berfirman: "Agar mereka berkata: 'Apakah orang-orang ini di antara kita yang diberi karunia oleh Allah kepada mereka?'" Yakni karena memandang hina mereka dan menganggap mustahil keunggulan mereka.
وقالت قريش لرسول الله ﷺ كيف نجلس إليك وعندك هؤلاء وأشاروا إلى فقراء المسلمين فازدروهم بأعينهم لفقرهم وتكبروا عن مجالستهم فأنزل اللَّهُ تَعَالَى ﴿وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بالغداة والعشي﴾ إلى قوله ﴿ما عليك من حسابهم﴾ وقال تَعَالَى ﴿وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عنهم تريد زينة الحياة الدنيا﴾ // حديث قالت قريش لرسول الله ﷺ كيف نجلس إليك وعندك هؤلاء الحديث في نزول قوله تعالى ﴿ولا تطرد الذين يدعون ربهم﴾ أخرجه مسلم من حديث سعد بن أبي وقاص إلا أنه قال فقال المشركون وقال ابن ماجه قالت قريش
Kaum Quraisy berkata kepada Rasulullah ﷺ: "Bagaimana kami bisa duduk bersamamu padahal di sisimu ada orang-orang ini?"—seraya menunjuk kepada kaum muslimin yang miskin. Mereka memandang rendah kaum miskin itu dengan mata mereka karena kemiskinan mereka dan enggan untuk duduk bersama mereka. Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya: "Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari…" sampai firman-Nya, "…engkau tidak bertanggung jawab sedikit pun atas hisab mereka." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan bersabarlah engkau bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia." // Hadis tentang perkataan Quraisy kepada Rasulullah ﷺ: "Bagaimana kami bisa duduk bersamamu padahal di sisimu ada orang-orang ini…" mengenai sebab turunnya firman Allah Ta'ala "Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya…", diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Sa'ad bin Abi Waqqas, hanya saja beliau menyebutkan "Maka orang-orang musyrik berkata…", sedangkan Ibnu Majah meriwayatkan dengan lafaz "Kaum Quraisy berkata…".
ثم أخبر الله تعالى عن تعجبهم حين دخلوا جهنم إذا لم يروا الذين ازدروهم فقالوا ﴿ما لنا لا نرى رجالاً كنا نعدهم من الأشرار﴾ قيل يعنون عماراً وبلالاً وصهيباً والمقداد ﵃ ثم كان منهم من منعه الكبر عن الفكر والمعرفة فجهل كونه ﷺ محقاً ومنهم من عرف ومنعه الكبر عن الاعتراف قال الله تعالى مخبراً عنهم ﴿فلما جاءهم ما عرفوا كفروا به﴾ وقال ﴿وجحدوا بها واستيقنتها أنفسهم ظلماً وعلوا﴾ وهذا الكبر قريب من التكبر على الله ﷿ وإن كان دونه ولكنه تكبر على قبول أمر الله والتواضع لرسوله
Kemudian Allah Ta'ala memberitahukan tentang keheranan mereka ketika masuk ke neraka Jahanam lantaran tidak melihat orang-orang yang dahulu mereka pandang hina, maka mereka berkata: "Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu kami anggap sebagai orang-orang yang jahat?" Dikatakan bahwa yang mereka maksud adalah 'Ammar, Bilal, Suhaib, dan Al-Miqdad Radhiyallahu 'Anhum. Di antara mereka ada yang kesombongannya menghalanginya dari merenung dan memperoleh pengetahuan sehingga ia tidak tahu bahwa Nabi ﷺ berada dalam kebenaran, dan di antara mereka ada yang telah tahu namun kesombongannya menghalanginya untuk mengakui. Allah Ta'ala berfirman memberitahukan tentang mereka: "Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya." Dan Allah berfirman: "Dan mereka mengingkarinya karena zalim dan menyombongkan diri, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." Kesombongan jenis ini mendekati kesombongan kepada Allah 'Azza wa Jalla, walaupun berada di bawahnya, sebab ia merupakan kesombongan terhadap penerimaan perintah Allah dan kerendahan hati kepada rasul-Nya.
القسم الثالث التكبر على العباد وذلك بأن يستعظم نفسه ويستحقر غيره فتأبى نفسه عن الانقياد لهم وتدعوه إلى الترفع عليهم فيزدريهم ويستصغرهم ويأنف عن مساواتهم وهذا وإن كان دون الأول والثاني فهو أيضاً عظيم من وجهين أحدهما أن الكبر والعز والعظمة والعلاء لا يليق إِلَّا بِالْمَلِكِ الْقَادِرِ فَأَمَّا الْعَبْدُ الْمَمْلُوكُ الضَّعِيفُ الْعَاجِزُ الَّذِي لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ فَمِنْ أين يليق بحاله الكبر فَمَهْمَا تَكَبَّرَ الْعَبْدُ فَقَدْ نَازَعَ اللَّهَ تَعَالَى فِي صِفَةٍ لَا تَلِيقُ إِلَّا بِجَلَالِهِ وَمِثَالُهُ أن يأخذ الغلام قلنسوة الملك فيضعها عَلَى رَأْسِهِ وَيَجْلِسُ عَلَى سَرِيرِهِ فَمَا أَعْظَمَ اسْتِحْقَاقَهُ لِلْمَقْتِ وَمَا أَعْظَمَ تَهَدُّفَهُ لِلْخِزْيِ وَالنَّكَالِ وَمَا أَشَدَّ اسْتِجْرَاءَهُ عَلَى مَوْلَاهُ وَمَا أَقْبَحَ ما تعاطاه وإلى هذا المعنى الإشارة بقوله تعالى العظمة إزاري والكبرياء ردائي فمن نازعني فيهما قصمته أي إنه خاص صفتي ولا يليق إلا بي والمنازع فيه منازع في صفة من صفاتي وإذا كان الكبر على عباده لا يليق إلا به فمن تكبر على عباده فقد جني عليه إذ الذي يسترذل خواص غلمان الملك ويستخدمهم ويترفع عليهم ويستأثر بما حق الملك أن يستأثر به منهم فهو منازع له في بعض أمره وإن لم يبلغ درجته درجة من أراد الجلوس على سريره والاستبداد بملكه فالخلق كلهم عباد الله وله العظمة الكبرياء عَلَيْهِمْ فَمَنْ تَكَبَّرَ عَلَى عَبْدٍ مِنْ عِبَادِ الله فقد نازع الله في حقه
Bagian ketiga: Menyombongkan diri kepada para hamba, yaitu dengan menganggap agung dirinya dan memandang hina orang lain, sehingga jiwanya enggan untuk tunduk kepada mereka dan mendorongnya untuk merasa lebih tinggi di atas mereka, lalu ia meremehkan mereka, menganggap mereka kecil, dan enggan disamakan dengan mereka. Hal ini, meskipun berada di bawah bagian pertama dan kedua, tetap merupakan dosa besar dari dua sisi: Pertama, bahwa kesombongan, keagungan, kemuliaan, dan keluhuran tidak layak kecuali bagi Sang Raja Yang Mahakuasa. Adapun seorang hamba yang dimiliki, lemah, dan tak berdaya, yang tidak mampu berbuat apa-apa, dari mana layak baginya sifat sombong? Maka kapan pun seorang hamba menyombongkan diri, sungguh ia telah menyejajari Allah Ta'ala dalam sifat yang tidak layak kecuali bagi keagungan-Nya. Perumpamaannya adalah seperti seorang pelayan yang mengambil mahkota raja lalu mengenakannya di kepalanya dan duduk di atas singgasana raja; betapa besarnya kemurkaan yang layak ia terima, betapa besarnya kehinaan dan siksa yang mengintainya, betapa lancangnya ia terhadap tuannya, dan betapa buruk tindakan yang dilakukannya! Kepada makna inilah isyarat dalam firman Allah (Hadis Qudsi): "Keagungan adalah sarung-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku, maka barangsiapa menyejajari-Ku pada keduanya, niscaya Aku binasakan dia." Yakni bahwa itu adalah sifat khusus-Ku dan tidak layak kecuali bagi-Ku, dan orang yang menyejajari-Ku di dalamnya berarti menyejajari sifat di antara sifat-sifat-Ku. Apabila kesombongan atas hamba-hamba-Nya tidak layak kecuali bagi-Nya, maka barangsiapa menyombongkan diri kepada salah seorang hamba Allah, sungguh ia telah berbuat kejahatan terhadap-Nya. Sebab, orang yang menghina pelayan-pelayan khusus raja, memperalat mereka, merasa lebih tinggi dari mereka, dan memonopoli apa yang menjadi hak raja atas mereka, maka ia telah menyejajari raja dalam sebagian urusannya, walaupun tingkatannya belum sampai pada tingkatan orang yang ingin duduk di atas singgasananya dan menguasai kerajaannya secara mutlak. Seluruh makhluk adalah hamba-hamba Allah, dan bagi-Nyalah keagungan serta kesombongan atas mereka, maka barangsiapa menyombongkan diri kepada seorang hamba di antara hamba-hamba Allah, sungguh ia telah menyejajari Allah dalam hak-Nya.
نعم الفرق بين هذه المنازعة وبين منازعة نمروذ وفرعون هو الفرق بين منازعة الملك في استصغار بعض عبيده واستخدامهم وبين منازعته في أصل الملك
Benar, perbedaan antara penyejajaran (penentangan) ini dengan penentangan Nimrud dan Firaun adalah seperti perbedaan antara menentang raja dalam hal meremehkan sebagian pelayannya dan memperalat mereka, dengan menentang raja dalam pokok kerajaannya itu sendiri.
الوجه الثاني الذي تعظم به رذيلة الكبر أنه يدعو إلى مخالفة الله تعالى في أوامره لأن المتكبر إذا سمع الحق من عبد من عبادالله استنكف عن قبوله وتشمر لجحده ولذلك ترى المناظرين في مسائل الدين يزعمون أنهم يتباحثون عن أسرار الدين ثم إنهم يتجاحدون تجاحد المتكبرين ومهما اتضح الحق على لسان واحد منهم أنف الآخر من قبوله وتشمر لجحده واحتال لدفعه بما يقدر عليه من التلبيس وَذَلِكَ مِنْ أَخْلَاقِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ إِذْ وَصَفَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى فَقَالَ ﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ﴾ فكل من يُنَاظِرُ لِلْغَلَبَةِ وَالْإِفْحَامِ لَا لِيَغْتَنِمَ الْحَقَّ إِذَا ظَفِرَ بِهِ فَقَدْ شَارَكَهُمْ فِي هَذَا الْخُلُقِ وكذلك يحمل ذلك على الأنفة من قَبُولِ الْوَعْظِ كَمَا قَالَ تَعَالَى ﴿وَإِذَا قِيلَ له اتق الله أخذته العزة بالإثم﴾ وروي عن عمر ﵁ أنه قرأها فقال ﴿إنا لله وإنا إليه راجعون﴾ قام رجل يأمر بالمعروف فقتل فقام آخر فقال يقتلون الذين يأمرون بالقسط من الناس فقتل المتكبر الذي خالفه والذي أمره كبراً
Sisi kedua yang membuat keburukan sifat sombong ini menjadi besar adalah bahwa kesombongan mendorong pada penyelisihan terhadap Allah Ta'ala dalam perintah-perintah-Nya. Sebab, apabila orang yang sombong mendengar kebenaran dari salah seorang hamba Allah, ia enggan menerima dan bersiap-siap untuk mengingkarinya. Oleh karena itu, engkau melihat para pendebat dalam masalah-masalah agama menyangka bahwa mereka sedang mendiskusikan rahasia-rahasia agama, namun kemudian mereka saling mengingkari sebagaimana pengingkaran orang-orang yang sombong. Kapan pun kebenaran tampak jelas melalui lisan salah seorang dari mereka, yang lain merasa enggan untuk menerimanya, lalu bersiap untuk mengingkarinya dan mencari tipu daya untuk menolaknya dengan segala kerancuan yang ia sanggupi. Hal demikian termasuk dari akhlak orang-orang kafir dan munafik, sebagaimana Allah Ta'ala menyifati mereka dalam firman-Nya: "Dan orang-orang yang kafir berkata: 'Janganlah kamu mendengarkan Al-Qur'an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).'" Maka setiap orang yang berdebat demi kemenangan dan menjatuhkan lawan, bukan untuk meraih kebenaran ketika mendapatkannya, sungguh ia telah berserikat dengan mereka dalam akhlak ini. Demikian pula, kesombongan mendorong pada keengganan menerima nasihat, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Dan apabila dikatakan kepadanya: 'Bertakwalah kepada Allah', bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa." Diriwayatkan dari Umar Radhiyallahu 'Anhu bahwa beliau membaca ayat ini lalu berkata: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, ada seorang yang berdiri menyeru pada kebaikan lalu ia dibunuh, lalu berdiri orang lain seraya berkata: 'Mereka membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil', maka orang sombong yang menyelisihi dan yang memerintahkannya itu pun dibunuh karena kesombongan."
وقال ابن مسعود كفى بالرجل إثماً إذا قيل له اتق الله قال عليك نفسك وقال ﷺ لرجل كل بيمينك قال لا أستطيع فقال النبي ﷺ ل أستطيع فقال النبي ﷺ لا فما منعه إلا كبره قال
Ibnu Mas'ud berkata, "Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ketika dikatakan kepadanya, 'Bertakwalah kepada Allah,' ia menjawab, 'Urus saja dirimu sendiri!'" Dan Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada seorang laki-laki, "Makanlah dengan tangan kananmu!" Orang itu menjawab, "Aku tidak bisa." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Semoga kamu memang tidak bisa!" Tidak ada yang menghalanginya melainkan rasa sombong. Beliau bersabda:
فما رفعها بعد ذلك حديث قول ثابت بن قيس بن شماس إني امرؤ قد حبب إلي من الجمال ما ترى الحديث وفيه الكبر من بطر الحق وغمص الناس أخرجه مسلم والترمذي وقد تقدم قبله بحديثين
"Maka orang itu tidak dapat mengangkat tangan kanannya lagi setelah itu." Hadis tentang perkataan Tsabit bin Qais bin Syammas: "Sesungguhnya aku adalah seorang yang menyukai keindahan seperti yang engkau lihat…" al-hadis, dan di dalamnya disebutkan: "Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." Diriwayatkan oleh Muslim dan At-Tirmidzi, dan telah disebutkan sebelumnya dua hadis yang lalu.
وفي حديث آخر من سفه الحق حديث آفة العلم الخيلاء قلت هكذا ذكره المصنف والمعروف آفة العلم النسيان وآفة الجمال الخيلاء هكذا رواه القضاعي في مسند الشهاب من حديث علي بسند ضعيف
Dan dalam hadis lain disebutkan: "Barangsiapa meremehkan kebenaran…" Hadis: "Bencana ilmu adalah kesombongan." Aku (Al-Iraqi) katakan: Demikianlah yang disebutkan oleh Mushannif (Al-Ghazali), padahal yang masyhur adalah "Bencana ilmu adalah lupa, dan bencana keindahan adalah kesombongan." Demikian yang diriwayatkan Al-Qudha'i dalam Musnad Asy-Syihab dari hadis Ali dengan sanad dhaif.
وروى عنه أبو منصور الديلمي في مسند الفردوس آفة الجمال الخيلاء وفيه الحسن بن الحميد الكوفي لا يدري من هو حدث عن أبيه بحديث موضوع قاله صاحب الميزان
Dan Abu Manshur Ad-Dailami meriwatkannya dalam Musnad Al-Firdaus: "Bencana keindahan adalah kesombongan." Di dalam sanadnya terdapat Al-Hasan bin Al-Humaid Al-Kufi yang tidak diketahui siapa dia, ia meriwayatkan dari ayahnya hadis palsu (maudhu'), sebagaimana dikatakan oleh penyusun kitab Al-Mizan.
فلا يلبث
Maka tak berapa lama,
العالم أن يتعزز بعزة العلم يستشعر في نفسه جمال العلم وكماله ويستعظم نفسه ويستحقر الناس وينظر إليهم نظره إلى البهائم ويستجهلهم ويتوقع أن يبدءوه بالسلام فإن بدأه واحد منهم بالسلام أو رد عليه ببشر أو قام له أو أجاب له دعوة رأى ذلك صنيعة عنده ويداً عليه يلزمه شكرها واعتقد أنه أكرمهم وفعل بهم ما لا يستحقون من مثله وأنه ينبغي أن يرقوا له ويخدموه شكراً له على صنيعه بل الغالب أنهم يبرونه فلا يبرهم ويزورونه فلا يزورهم ويعودونه فلا يعودهم ويستخدم من خالطه منهم ويستسخره في حوائجه فإن قصر فيه استنكره كأنهم عبيده أو أجراؤه وكأن تعليمه العلم صنيعة منه إليهم ومعروفلديهم واستحقاق حق عليهم هذا فيما يتعلق بالدنيا
seorang alim (orang berilmu) mulai merasa mulia dengan kemuliaan ilmu. Ia meresapkan dalam dirinya keindahan ilmu dan kesempurnaannya, menganggap dirinya besar dan meremehkan orang lain, memandang mereka sebagaimana memandang binatang, menganggap mereka bodoh, serta berharap agar merekalah yang terlebih dahulu mengucapkan salam kepadanya. Jika salah seorang dari mereka mendahuluinya mengucapkan salam, membalas salamnya dengan wajah berseri, berdiri menghormatinya, atau memenuhi undangannya, ia menganggap hal itu sebagai suatu jasa darinya kepada orang tersebut dan utang kebaikan yang wajib disyukuri. Ia berkeyakinan bahwa ia telah memuliakan mereka dan memperlakukan mereka dengan sesuatu yang tidak layak mereka dapatkan dari orang sepertinya, serta menganggap sepantasnya mereka bersikap lembut dan melayaninya sebagai rasa syukur atas kebaikannya. Bahkan umumnya, mereka berbuat baik kepadanya tetapi ia tidak berbuat baik kepada mereka, mereka mengunjunginya tetapi ia tidak mengunjungi mereka, mereka menjenguknya tetapi ia tidak menjenguk mereka. Ia memanfaatkan orang yang bergaul dengannya dan mempekerjakannya untuk kebutuhan-kebutuhannya; jika orang itu kurang sigap, ia menyalahkannya seolah-olah mereka adalah budaknya atau buruhnya, dan seolah-olah pengajaran ilmunya adalah budi baik darinya untuk mereka serta hak yang wajib mereka penuhi. Ini adalah hal yang berkaitan dengan urusan dunia.
أما في أمر الآخرة فتكبره عليهم بأن يَرَى نَفْسَهُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى أَعْلَى وَأَفْضَلَ مِنْهُمْ فَيَخَافُ عَلَيْهِمْ أَكْثَرَ مِمَّا يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ وَيَرْجُو لِنَفْسِهِ أَكْثَرَ مِمَّا يَرْجُو لَهُمْ وهذا بأن يسمى جاهلاً أولى من أن يسمى عالماً بل العلم الحقيقي هو الذي يعرف الإنسان به نفسه وربه وخطر الخاتمة وحجة الله على العلماء وعظم خطر العلم فيه كما سيأتي في طريق معالجة الكبر بالعلم وهذا العلم يزيد خوفاً وتواضعاً وتخشعاً ويقتضي أن يرى كل الناس خيراً منه لعظم حجة الله عليه بالعلم وتقصيره في القيام بشكر نعمة العلم
Adapun dalam urusan akhirat, kesombongannya terhadap mereka tampak dari sikapnya yang memandang dirinya di sisi Allah Ta'ala lebih tinggi dan lebih utama daripada mereka. Maka ia lebih mengkhawatirkan nasib mereka daripada mengkhawatirkan dirinya sendiri, dan lebih berharap kebaikan bagi dirinya daripada bagi mereka. Orang semacam ini lebih layak dinamakan orang bodoh daripada dinamakan orang berilmu (alim). Sebab, ilmu yang sejati adalah ilmu yang dengannya seseorang mengenal dirinya, Rabb-nya, bahaya akhir kehidupan (su'ul khatimah), hujjah Allah atas para ulama, serta besarnya bahaya ilmu itu sendiri, sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan terapi kesombongan dengan ilmu. Ilmu yang sejati ini justru menambah rasa takut, ketundukan, dan kekhusyukan, serta menuntutnya untuk memandang setiap orang lebih baik daripada dirinya, mengingat besarnya hujjah Allah atas dirinya karena ilmu yang dimilikinya dan kekurangannya dalam mensyukuri nikmat ilmu tersebut.
ولهذا قال أبو الدرداء من ازداد علماً ازداد وجعاً وهو كما قال
Oleh karena itu, Abu Ad-Darda' berkata, "Barangsiapa bertambah ilmunya, maka bertambah pulalah kepedihan (rasa takut)-nya." Dan apa yang dikatakannya itu adalah benar.
فإن قلت فما بال بعض الناس يزداد بالعلم كبراً وأمناً
Jika engkau bertanya, "Mengapa sebagian orang justru bertambah sombong dan merasa aman dari siksa Allah disebabkan oleh ilmu?"
فاعلم أن لذلك سببين
Maka ketahuilah bahwa hal itu disebabkan oleh dua hal:
أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ اشْتِغَالُهُ بِمَا يُسَمَّى عِلْمًا وليس علماً حقيقياً وإنما الْعِلْمَ الْحَقِيقِيَّ مَا يَعْرِفُ بِهِ الْعَبْدُ رَبَّهُ وَنَفْسَهُ وَخَطَرَ أَمْرِهِ فِي لِقَاءِ اللَّهِ وَالْحِجَابِ مِنْهُ وَهَذَا يُورِثُ الْخَشْيَةَ وَالتَّوَاضُعَ دُونَ الْكِبْرِ والأمن
Pertama: Kesibukannya adalah pada apa yang dinamakan ilmu, padahal bukan ilmu yang sejati. Padahal ilmu yang sejati hanyalah apa yang dengannya seorang hamba mengenal Rabb-nya, mengenal dirinya, serta menyadari besarnya bahaya dalam perjumpaan dengan Allah dan terhalang dari-Nya. Ilmu inilah yang membuahkan rasa takut (khasyyah) dan ketundukan (tawadhu'), bukan kesombongan dan perasaan aman dari azab.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عباده العلماء فأما ما وراء ذلك كعلم الطب والحساب واللغة والشعر والنحو وفصل الخصومات وطرق المجادلات فإذا تجرد الإنسان لها حتى امتلأ منها امتلأ بها كبراً ونفاقاً وهذه بأن تسمى صناعات أولى من أن تسمى علوماً بل العلم هو معرفة العبودية والربوبية وطريق العبادة وهذه تورث التواضع غالباً
Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama." Adapun selain itu, seperti ilmu kedokteran, berhitung, bahasa, syair, nahwu, penyelesaian sengketa hukum, dan metode perdebatan; jika seseorang mencurahkan seluruh perhatiannya pada ilmu-ilmu tersebut hingga penuhi olehnya, maka jiwanya akan dipenuhi oleh kesombongan dan kemunafikan. Ilmu-ilmu tersebut lebih layak dinamakan keahlian/keterampilan daripada dinamakan ilmu (dalam makna sejati). Sebab, ilmu yang sejati adalah pengenalan akan penghambaan ('ubudiyyah), ketuhanan (rububiyyah), serta jalan ibadah, dan inilah yang umumnya membuahkan sikap tawadhu'.
السبب الثاني أن يخوض العبد فِي الْعِلْمِ وَهُوَ خَبِيثُ الدُّخْلَةِ رَدِيءُ النَّفْسِ سيء الْأَخْلَاقِ فَإِنَّهُ لَمْ يَشْتَغِلْ أَوَّلًا بِتَهْذِيبِ نَفْسِهِ وتزكية قلبه بأنواع المجاهدات ولم يرض نفسه في عبادة ربه فَبَقِيَ خَبِيثَ الْجَوْهَرِ فَإِذَا خَاضَ فِي الْعِلْمِ أي علم كان صَادَفَ الْعِلْمُ مِنْ قَلْبِهِ مَنْزِلًا خَبِيثًا فَلَمْ يَطِبْ ثَمَرُهُ وَلَمْ يَظْهَرْ فِي الْخَيْرِ أَثَرُهُ
Sebab kedua: Bahwa hamba tersebut mendalami ilmu padahal ia berhati buruk, berjiwa kotor, dan berakhlak tercela. Ia tidak terlebih dahulu menyibukkan diri dengan mendidik jiwanya dan menyucikan hatinya melalui berbagai mujahadah, serta tidak melatih jiwanya dalam beribadah kepada Rabb-nya, sehingga hakikat jiwanya tetap buruk. Maka ketika ia mendalami ilmu—ilmu apa pun itu—ilmu tersebut mendapati tempat yang buruk di dalam hatinya, sehingga buahnya tidak menjadi baik dan pengaruh kebaikannya tidak pernah tampak.
وَقَدْ ضَرَبَ وهب لِهَذَا مَثَلًا فَقَالَ الْعِلْمُ كَالْغَيْثِ يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ حُلْوًا صَافِيًا فَتَشْرَبُهُ الْأَشْجَارُ بِعُرُوقِهَا فَتُحَوِّلُهُ عَلَى قَدْرِ طَعُومِهَا فَيَزْدَادُ المر مرارة والحلو حلاوة فكذلك العلم تحفظه الرِّجَالُ فَتُحَوِّلُهُ عَلَى قَدْرِ هِمَمِهَا وَأَهْوَائِهَا فَيَزِيدُ الْمُتَكَبِّرَ كِبْرًا وَالْمُتَوَاضِعَ تَوَاضُعًا وَهَذَا لِأَنَّ مَنْ كانت همته الكبر وهو جَاهِلٌ فَإِذَا حَفِظَ الْعِلْمَ وَجَدَ مَا يَتَكَبَّرُ بِهِ فَازْدَادَ كِبْرًا وَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ خَائِفًا مع جهله فَازْدَادَ عِلْمًا عَلِمَ أَنَّ الْحُجَّةَ قَدْ تَأَكَّدَتْ عليه فيزداد خوفاً وإشفاقاً وذلاً وتواضعاً فالعلم من أعظم ما يتكبر به ولذلك قال تعالى لنبيه ﷺ واخفض جناحك لمن اتبعك من المؤمنين وقال ﷿ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حولك ووصف أولياءه فقال أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين وكذلك قال ﷺ فيما رواه العباس ﵁ يكون قوم يقرءون القرآن لا يجاوز حناجرهم يقولون قد قرأنا القرآن فمن أقرأ منا ومن أعلم منا ثم التفت إلى أصحابه وقال أولئك منكم أيها الأمة أولئك هم
Wahab telah membuat perumpamaan untuk hal ini, ia berkata, "Ilmu itu seperti hujan yang turun dari langit dalam keadaan tawar dan jernih, lalu diserap oleh pohon-pohon melalui akar-akarnya, kemudian pohon-pohon itu mengubah rasa air tersebut sesuai dengan rasa pohonnya masing-masing. Maka pohon yang pahit bertambah pahit, dan yang manis bertambah manis. Demikian pula ilmu, dihafalkan oleh manusia lalu mereka mengubahnya sesuai dengan cita-cita dan hawa nafsu mereka; maka ilmu membuat orang yang sombong bertambah sombong, dan orang yang tawadhu bertambah tawadhu. Hal ini karena orang yang cita-citanya adalah kesombongan saat ia masih bodoh, ketika ia menguasai ilmu, ia menemukan sarana untuk menyombongkan diri sehingga kesombongannya bertambah. Sebaliknya, jika seseorang merasa takut kepada Allah ketika masih bodoh, lalu ilmunya bertambah, ia akan menyadari bahwa hujjah Allah atas dirinya semakin kuat, sehingga bertambahlah rasa takut, kekhawatiran, kerendahan hati, dan ketundukannya." Maka ilmu termasuk sarana terbesar yang dipakai untuk menyombongkan diri. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ: "Dan berendahkan dirilah engkau terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman." Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: "Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." Dan Dia menyifati para kekasih-Nya dengan firman-Nya: "Yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir." Demikian pula bersabda Nabi ﷺ sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Abbas radhiyallahu 'anhu: "Akan ada suatu kaum yang membaca Al-Qur'an namun tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka berkata, 'Kami telah membaca Al-Qur'an, maka siapakah yang lebih fasih membaca daripada kami dan siapakah yang lebih berilmu daripada kami?' Kemudian beliau menoleh kepada para sahabatnya dan bersabda: 'Merekalah di antara kalian, wahai umat ini, merekalah…'
وقود النار حديث سيأتي على الناس زمان من تمسك بعشر ما أنتم عليه نجا أخرجه أحمد من رواية رجل عن أبي ذر
bahan bakar api neraka." Hadis: "Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana barangsiapa yang berpegang teguh pada seperpuluh dari apa yang kalian jalani saat ini, niscaya ia akan selamat." Diriwayatkan oleh Ahmad dari riwayat seorang laki-laki dari Abu Dzarr.
لكان جديراً بنا أن نقتحم والعياذ بالله تعالى ورطة اليأس والقنوط مع ما نحن عليه من سوء أعمالنا ومن لنا أيضاً بالتمسك بعشر ما كانوا عليه وليتنا تمسكنا بعشر عشره
Maka sungguh sangat layak bagi kita untuk terjerumus—na'udzubillah Ta'ala—ke dalam jurang keputusasaan, mengingat betapa buruknya amal perbuatan kita. Lagipula, siapakah di antara kita yang sanggup berpegang teguh pada seperpuluh dari apa yang mereka jalani dulu? Duhai, sekiranya saja kita bisa berpegang teguh pada seperpuluh dari seperpuluhnya (seperseratusnya)!
فنسأل الله تعالى أن يعاملنا بما هو أهله ويستر علينا قبائح أعمالنا كما يقتضيه كرمه وفضله
Maka kita memohon kepada Allah Ta'ala agar memperlakukan kita dengan apa yang menjadi hak-Nya (kemurahan-Nya), dan menutupi keburukan amal-amal kita sebagaimana yang dituntut oleh kemuliaan dan karunia-Nya.
الثَّانِي الْعَمَلُ وَالْعِبَادَةُ وَلَيْسَ يَخْلُو عَنْ رَذِيلَةِ العز والكبر واستمالة قلوب الناس الزهاد والعباد ويترشح الكبر منهم فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا
Sebab Kedua (kesombongan): Amal dan ibadah. Para ahli zuhud dan ahli ibadah pun tidak luput dari cela kebanggaan diri, kesombongan, dan keinginan memikat hati manusia, serta tampaklah pengaruh kesombongan itu dari diri mereka baik dalam urusan agama maupun dunia.
أَمَّا فِي الدُّنْيَا فَهُوَ أنهم يرون غيرهم بزيارتهم أولى منهم بزيارة غيرهم ويتوقعون قيام الناس بقضاء حوائجهم وتوقيرهم والتوسع لهم في المجالس وذكرهم بالورع والتقوى وتقديمهم على سائر الناس في الحظوظ إلى جميع ما ذكرناه في حق العلماء وَكَأَنَّهُمْ يَرَوْنَ عِبَادَتَهُمْ مِنَّةً عَلَى الْخَلْقِ
Adapun dalam urusan dunia, yaitu bahwa mereka memandang orang lain lebih utama untuk mengunjungi mereka daripada mereka mengunjungi orang lain. Mereka berharap manusia berdiri untuk memenuhi kebutuhan mereka, menghormati mereka, memberi kelapangan tempat bagi mereka dalam majelis-majelis, menyebut-nyebut mereka dengan keutamaan wara' dan ketakwaan, serta mendahulukan mereka atas manusia lainnya dalam pembagian bagian/keuntungan, hingga seluruh hal yang telah kami sebutkan berkenaan dengan hak para ulama. Seolah-olah mereka memandang ibadah mereka sebagai suatu jasa atau budi baik atas seluruh makhluk.
وَأَمَّا فِي الدِّينِ فَهُوَ أَنْ يَرَى النَّاسَ هَالِكِينَ وَيَرَى نَفْسَهُ نَاجِيًا وَهُوَ الْهَالِكُ تَحْقِيقًا مَهْمَا رَأَى ذَلِكَ قَالَ ﷺ إِذَا سَمِعْتُمُ الرَّجُلَ يَقُولُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أهلكهم حديث كفى بالمرء شراً أن يقر أخاه المسلم أخرجه مسلم من حديث أبي هريرة بلفظ امرؤ من الشر
Adapun dalam urusan agama, yaitu ia memandang orang-orang telah binasa dan memandang dirinya selamat, padahal dialah yang sungguh-sungguh binasa ketika ia berpandangan demikian. Nabi ﷺ bersabda: "Apabila kalian mendengar seseorang berkata, 'Manusia telah binasa,' maka dialah yang paling binasa di antara mereka." Hadis: "Cukuplah seseorang dianggap berbuat kejahatan bila ia meremehkan saudaranya yang muslim." Diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Abu Hurairah dengan lafaz "Seorang laki-laki dari keburukan…"
وكم من الفرق بينه وبين من يحبه لله ويعظمه لعبادته ويستعظمه ويرجو له ما لا يرجوه لنفسه فالخلق يدركون النجاة بتعظيمهم إياه لله فهم يتقربون إلى الله تعالى بالدنو منه وهو يتمقت إلى الله بالتنزه والتباعد منهم كأنه مترفع عن مجالستهم فما أجدرهم إذ أحبوه لصلاحه أن ينقلهم الله إلى درجته في العمل وما أجدره إذ ازدراهم بعينه أن ينقله الله إلى حد الإهمال كما روي أن رجلاً في بني إسرائيل كان يقال له خليع بني إسرائيل لكثرة فساده مر برجل آخر يقال له عابد بني إسرائيل وكان على رأس العابد غمامة تظله فلما مر الخليع به فقال الخليع في نفسه أنا خليع بني إسرائيل وهذا عابد بني إسرائيل
Betapa jauh perbedaan antara dirinya dengan orang yang mencintainya karena Allah, mengagungkannya karena ibadahnya, memandang besar kedudukannya, dan mengharapkan baginya apa yang tidak ia harapkan bagi dirinya sendiri. Maka orang-orang meraih keselamatan dengan mengagungkannya demi Allah, lalu mereka mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala melalui kedekatan dengannya; sementara ia justru mendatangkan kemurkaan Allah atas dirinya dengan menganggap suci diri dan menjauhi mereka, seolah-olah ia merasa terlalu mulia untuk duduk bersama mereka. Betapa layaknya mereka—ketika mereka mencintainya karena kesalehannya—untuk diangkat oleh Allah ke derajatnya dalam beramal, dan betapa layaknya ia—ketika ia memandang hina mereka dengan matanya—untuk dipindahkan oleh Allah ke batas penelantaran! Sebagaimana diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki di kalangan Bani Israil yang dijuluki 'si pendosa besar Bani Israil' karena banyaknya kerusakan yang ia lakukan, melewati seorang laki-laki lain yang dijuluki 'ahli ibadah Bani Israil'. Di atas kepala ahli ibadah itu terdapat awan yang menaunginya. Ketika si pendosa itu melewatinya, ia berkata dalam hatinya: 'Aku adalah pendosa Bani Israil dan ini adalah ahli ibadah Bani Israil,'
فلو جلست إليه لعل الله يرحمني فجلس إليه فقال العابد أنا عابد بني إسرائيل وهذا خليع بني إسرائيل فكيف يجلس إلي فأنف منه وقال له قم عني فأوحى الله إلى نبي ذلك الزمان مرهما فليستأنفا العمل فقد غفرت للخليع وأحبطت عمل العابد
'Sekiranya aku duduk di sampingnya, mudah-mudahan Allah merahmatiku.' Maka ia pun duduk di sampingnya. Namun si ahli ibadah berkata (dalam hatinya): 'Aku adalah ahli ibadah Bani Israil dan orang ini adalah pendosa Bani Israil, bagaimana mungkin ia duduk di sampingku?' Ia merasa enggan dan angkuh terhadapnya, lalu berkata kepadanya: 'Pergilah dariku!' Maka Allah mewahyukan kepada nabi pada zaman itu: 'Perintahkanlah mereka berdua untuk memulai kembali amalnya dari awal; sungguh Aku telah mengampuni si pendosa dan menghapuskan pahala amal si ahli ibadah.'
وفي رواية أخرى فتحولت الغمامة إلى رأس الخليع
Dalam riwayat lain disebutkan: Maka berpindahlah awan (naungan) itu ke atas kepala si pendosa.
وهذا يعرفك أن الله تعالى إنما يريد من العبيد قلوبهم فالجاهل العاصي إذا تواضع هيبة لله وذل خوفاً منه فقد أطاع الله بقلبه فهو أطوع لله من العالم المتكبر والعابد المعجب
Hal ini memberitahumu bahwa Allah Ta'ala hanyalah menginginkan hati dari para hamba-Nya. Maka orang awam (bodoh) yang bermaksiat, apabila ia bertawaduk karena kewibawaan keagungan Allah dan merasa hina karena takut kepada-Nya, sungguh ia telah mentaati Allah dengan hatinya. Maka ia lebih taat kepada Allah daripada seorang alim yang sombong dan seorang ahli ibadah yang ujub (bangga diri).
وكذلك روي أن رجلاً في بني إسرائيل أتى عابداً من بني إسرائيل فوطئ على رقبته وهو ساجد فقال ارفع فوالله لا يغفر الله لك حديث أن رجلاً ذكر بخير للنبي ﷺ فأقبل ذات يوم فقالوا يا رسول الله هذا الذي ذكرناه لك فقال إني أرى في وجهه سفعة من الشيطان الحديث أخرجه أحمد والبزار والدارقطني من حديث أنس
Demikian pula diriwayatkan bahwa seorang laki-laki di kalangan Bani Israil mendatangi seorang ahli ibadah dari Bani Israil lalu menginjak tengkuknya ketika ia sedang sujud. Ahli ibadah itu berkata: 'Angkatlah kakimu, demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu!' [Terdapat pula] hadis bahwa seorang laki-laki pernah disebut-sebut kebaikannya di hadapan Nabi ﷺ, lalu orang itu datang pada suatu hari. Mereka berkata: 'Wahai Rasulullah, inilah orang yang pernah kami sebutkan kepada Anda.' Maka beliau bersabda: 'Sesungguhnya aku melihat di wajahnya ada rona kegelapan dari setan.' (Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzar, dan Al-Daraqutni dari hadis Anas).
فرأى رسول الله ﷺ بنور النبوة ما استكن في قلبه سفعة في وجهه
Maka Rasulullah ﷺ melihat dengan cahaya kenabian apa yang tersembunyi di dalam hatinya berupa rona kegelapan (kesombongan) pada wajahnya.
وهذه آفة لا ينفك عنها أحد من العباد إلا من عصمه الله
Dan ini merupakan penyakit (kerusakan spiritual) yang tidak terlepas dari seorang pun dari kalangan hamba, kecuali orang yang dipelihara (dijaga) oleh Allah.
لكن العلماء والعباد في آفة الكبر على ثلاث درجات
Akan tetapi, para ulama dan ahli ibadah berada dalam tingkatan penyakit kesombongan (kibr) ini pada tiga derajat:
الدرجة الأولى أن يكون الكبر مستقراً في قلبه يرى نفسه خيراً من غيره إلا أنه يجتهد ويتواضع ويفعل
Derajat pertama: kesombongan itu bersemayam di dalam hatinya, di mana ia memandang dirinya lebih baik daripada orang lain, hanya saja ia berusaha keras (bersungguh-sungguh) untuk bertawaduk dan melakukan…
فعل من يرى غيره خيراً من نفسه وهذا قد رسخ في قلبه شجرة الكبر ولكنه قطع أغصانها بالكلية
…perbuatan orang yang memandang orang lain lebih baik daripada dirinya. Orang seperti ini, pohon kesombongan telah menghujam kuat di dalam hatinya, namun ia telah memotong dahan-dahannya secara keseluruhan.
الثانية أن يظهر ذلك على أفعاله بالترفع في المجالس والتقدم على الأقران وإظهار الإنكار على من يقصر في حقه وأدنى ذلك في العالم أن يصعر خده للناس كأنه معرض عنهم وفي العابد أن يعبس وجهه ويقطب جبينه كأنه منزه عن الناس مستقذر لهم أو غضبان عليهم وَلَيْسَ يَعْلَمُ الْمِسْكِينُ أَنَّ الْوَرَعَ لَيْسَ فِي الجبهة حتى تقطب ولا في الوجه حتى يعبس ولا في الخد حتى يصعر وَلَا فِي الرَّقَبَةِ حَتَّى تُطَأْطَأَ وَلَا فِي الذَّيْلِ حَتَّى يُضَمَّ إِنَّمَا الْوَرَعُ فِي الْقُلُوبِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ التقوى هاهنا وأشار إلى صدره حديث كان أكرم الخلق وأتقاهم الحديث تقدم في كتاب أخلاق النبوة
Derajat kedua: kesombongan itu tampak pada perbuatannya dengan bersikap tinggi hati di majelis-majelis, mendahului sesama kawan/sejawat, serta menampakkan penolakan (kejengkelan) terhadap orang yang mengurangi haknya. Sikap terendah dalam hal ini pada seorang alim adalah memalingkan mukanya dari manusia seolah-olah berpaling dari mereka; sedang pada seorang ahli ibadah adalah bermuka masam dan merengutkan dahinya seolah-olah ia mahasuci dari manusia, menganggap mereka kotor, atau murka kepada mereka. Orang malang itu tidak mengetahui bahwa warak bukanlah pada dahi hingga harus diringutkan, bukan pula pada wajah hingga harus dimasamkan, bukan pada pipi hingga harus dipalingkan, bukan pada leher hingga harus ditundukkan, dan bukan pula pada ujung jubah hingga harus dikumpulkan; sesungguhnya warak itu ada di dalam hati. Rasulullah ﷺ bersabda: 'Taqwa itu di sini,' seraya menunjuk ke dadanya. Hadis 'Beliau adalah makhluk paling mulia dan paling bertakwa…' telah terdahulu dalam Kitab Akhlak Kenabian.
ولذلك قال الحارث بن جزء الزبيدي صاحب رسول الله ﷺ يعجبني من القراء كل طليق مضحاك فأما الذي تلقاه ببشر ويلقاك بعبوس يمن عليك بعلمه فلا أكثر الله في المسلمين مثله
Oleh karena itu, Al-Harits bin Jaz'i Al-Zubaidi, sahabat Rasulullah ﷺ, berkata: 'Aku menyukai di antara para pembaca Al-Qur'an (dan ulama) setiap orang yang berseri-seri dan suka tersenyum. Adapun orang yang engkau temui dengan wajah berseri-seri tetapi ia menemuimu dengan muka masam serta merasa berjasa kepadamu dengan ilmunya, maka semoga Allah tidak memperbanyak orang yang seperti dia di kalangan kaum muslimin.'
ولو كان الله ﷾ يرضى ذلك لما قال لنبيه ﷺ ﴿واخفض جناحك لمن اتبعك من المؤمنين﴾ وهؤلاء الذين يظهر أثر الكبر على شمائلهم فأحوالهم أخف حالاً ممن هو في
Sekiranya Allah Azza wa Jalla meridhai hal itu, niscaya Dia tidak berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ: 'Dan berendah hatilah kamu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.' (QS. Asy-Syu'ara: 215). Orang-orang yang tampak bekas kesombongan pada perawakan dan perilaku mereka ini, keadaan mereka masih lebih ringan dibandingkan orang yang berada di…
الرتبة الثالثة وهو الذي يظهر الكبر على لسانه حتى يدعوه إلى الدعوى والمفاخرة والمباهاة وتزكية النفس وحكايات الأحوال والمقامات والتشمر لغلبة الغير في العلم والعمل
…tingkatan ketiga, yaitu orang yang menampakkan kesombongan pada lidahnya hingga mendorongnya pada klaim-klaim (pengakuan diri), saling berbangga, pamer, menyucikan diri sendiri (tazkiyatun nafs), menceritakan keadaan spiritual (ahwal) dan maqamat, serta bersiap siaga untuk mengalahkan orang lain dalam ilmu dan amal.
أما العابد فإنه يقول في معرض التفاخر لغيره من العباد
Adapun ahli ibadah, maka ia berkata dalam rangka berbangga diri kepada sesama ahli ibadah:
من هو وما عمله ومن أين زهده فيطول اللسان فيهم بالتنقص ثم يثني على نفسه ويقول إني لم أفطر منذ كذا وكذا ولا أنام الليل وأختم القرآن في كل يوم وفلان ينام سحراً ولا يكثر القراءة وما يجري مجراه وقد يزكي نفسه ضمناً فيقول قصدني فلان بسوء فهلك ولده وأخذ ماله أو مرض أو ما يجره مجراه يدعي الكرامة لنفسه
'Siapakah dia? Apa amalnya? Dari mana kezuhudannya?' Lalu lidahnya memanjang merendahkan mereka, kemudian ia memuji dirinya sendiri dan berkata: 'Aku tidak pernah berbuka (selalu berpuasa) sejak sekian dan sekian lama, aku tidak tidur di malam hari, dan aku mengkhatamkan Al-Qur'an setiap hari, sedangkan si Fulan tidur di waktu sahur dan tidak banyak membaca Al-Qur'an,' serta ucapan-ucapan sejenisnya. Kadang ia menyucikan dirinya secara tersirat dengan berkata: 'Si Fulan pernah berniat jahat kepadaku, lalu anaknya binasa, hartanya dirampas, atau ia jatuh sakit,' atau hal-hal sejenisnya, dengan mengklaim karamah bagi dirinya.
وأما مباهاته فهو أنه لو وقع مع قوم يصلون بالليل قام وصلى أكثر مما كان يصلي وإن كانوا يصبرون على الجوع فيكلف نفسه الصبر ليغلبهم ويظهر له قوته وعجزهم وكذلك يشتد في العبادة خوفاً من أن يقال غيره أعبد منه أو أقوى منه في دين الله
Adapun bentuk pemegahan dirinya (pamer), yaitu jika ia berada bersama sekelompok orang yang shalat malam, ia bangun dan shalat lebih banyak daripada yang biasa ia lakukan; jika mereka bersabar menahan lapar, ia memaksa dirinya bersabar demi mengalahkan mereka serta menampakkan kekuatannya dan kelemahan mereka. Demikian pula ia sungguh-sungguh bersikap keras dalam ibadah karena takut dikatakan bahwa orang lain lebih ahli ibadah daripada dirinya atau lebih kuat daripada dirinya dalam agama Allah.
وأما العالم فإنه يتفاخر ويقول أنا متفنن في العلوم ومطلع على الحقائق ورأيت من الشيوخ فلاناً وفلاناً ومن أنت وما فضلك ومن لقيت وما الذي سمعت من الحديث كل ذلك ليصغره ويعظم نفسه
Adapun seorang alim (ilmuwan/ulama), maka ia berbangga diri dengan berkata: 'Aku menguasai berbagai cabang ilmu, memahami hakikat-hakikat, dan aku telah berguru kepada guru ini dan guru itu. Siapakah engkau? Apa keutamaanmu? Siapa yang pernah engkau temui? Dan hadis apa yang pernah engkau dengar?' Semua itu dilakukan demi mengecilkan orang tersebut dan mengagungkan dirinya sendiri.
وأما مباهاته فهو أنه يجتهد في المناظرة أن يغلب ولا يغلب ويسهر طول الليل والنهار في تحصيل علوم يتجمل بها في المحافل كالمناظرة والجدل وتحسين العبارة وتسجيع الألفاظ وحفظ العلوم الغريبة ليغرب بها على الأقران ويتعظم عليهم ويحفظ الأحاديث ألفاظها وأسانيدها حتى يرد على من أخطأ فيها فيظهر فضله ونقصان أقرانه ويفرح مهما أخطأ واحد منهم ليرد عليه ويسوء إذا أصاب وأحسن خيفة من أن يرى أنه أعظم منه
Adapun bentuk pemegahan dirinya, yaitu ia berusaha keras dalam berdebat (munazharah) agar dapat mengalahkan dan tidak terkalahkan. Ia berjaga sepanjang malam dan siang untuk meraih ilmu-ilmu yang digunakannya untuk mempercantik diri di majelis-majelis pertemuan, seperti seni berdebat, ber-jidal, memperindah ungkapan, merangkai rima kata-kata, serta menghafal ilmu-ilmu yang langka agar terlihat hebat di hadapan sesama kawan/sejawat dan merasa besar di atas mereka. Ia menghafal hadis-hadis beserta lafal dan sanadnya agar dapat membantah siapa saja yang bersalah di dalamnya, sehingga menampakkan keutamaannya dan kekurangan teman-temannya. Ia merasa gembira setiap kali salah seorang dari mereka berbuat salah agar ia bisa membantahnya, dan ia merasa bergusar jika temannya itu benar dan berbuat baik karena takut orang lain terlihat lebih besar daripadanya.
فهذا كله أخلاق الكبر وآثاره التي يثمرها التعزز بالعلم والعمل وأين من يخلو عن جميع ذلك أو عن بعضه فليت شعري من الذي عرف هذه الأخلاق من نفسه وسمع قول رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يُدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ من خردل من كبر // حديث لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حبة من خردل من كبر تقدم
Maka semua ini adalah akhlak kesombongan dan dampak-dampaknya yang dibuahkan oleh rasa bangga/merasa mulia dengan ilmu dan amal. Di manakah orang yang bersih dari seluruh hal tersebut atau dari sebagian daripadanya? Betapa aku ingin tahu, siapakah orang yang menyadari akhlak-akhlak ini pada dirinya lalu ia mendengar sabda Rasulullah ﷺ: 'Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.' (Hadis 'Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi' telah disebutkan sebelumnya).
كيف يستعظم نفسه ويتكبر على غيره ورسول الله ﷺ يقول إنه من أهل النار وإنما العظيم من خلا عن هذا ومن خلا عنه لم يكن فيه تعظيم وتكبر والعالم هو الذي فهم إن الله تعالى قال له إن لك عندنا قدراً ما لم تر لنفسك قدراً فإن رأيت لها قدراً فلا قدر لك عندنا
Bagaimana mungkin seseorang menganggap dirinya agung dan bersikap sombong kepada orang lain, padahal Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ia termasuk penghuni neraka? Sungguh, orang yang agung hanyalah orang yang terbebas dari sifat ini, dan barangsiapa yang terbebas darinya, tidak ada lagi rasa mengagungkan diri dan kesombongan pada dirinya. Orang yang alim (berilmu) adalah orang yang memahami bahwa Allah Ta'ala seolah berfirman kepadanya: 'Engkau memiliki kedudukan di sisi-Kami selama engkau tidak memandang dirimu memiliki kedudukan. Namun jika engkau memandang dirimu memiliki kedudukan, maka tidak ada kedudukan bagimu di sisi-Kami.'
ومن لم يعلم
Dan barangsiapa tidak mengetahui
هذا من الدين فاسم العالم عليه كذب ومن علمه لزمه أن لا يتكبر ولا يرى لنفسه قدراً
hal ini sebagai bagian dari agama, maka sebutan 'alim' (orang berilmu) baginya adalah kebohongan. Dan barangsiapa yang mengetahuinya, niscaya ia wajib untuk tidak bersikap sombong dan tidak memandang dirinya memiliki kedudukan.
فهذا هو التكبر بالعلم والعمل
Maka inilah yang dinamakan kesombongan karena ilmu dan amal.
الثَّالِثُ التَّكَبُّرُ بِالْحَسَبِ وَالنَّسَبِ فَالَّذِي لَهُ نَسَبٌ شَرِيفٌ يَسْتَحْقِرُ مَنْ لَيْسَ لَهُ ذَلِكَ النَّسَبُ وَإِنْ كَانَ أَرْفَعَ مِنْهُ عَمَلًا وَعِلْمًا وَقَدْ يتكبر بعضهم فيرى أن الناس له أموال وعبيد ويأنف من مخالطتهم ومجالستهم وثمرته على اللسان التفاخر به فيقول لغيره يا نبطي يا هندي ويا أرمني مَنْ أَنْتَ وَمَنْ أَبُوكَ فَأَنَا فُلَانٌ ابْنُ فلان وأين لمثلك أن يكلمني أو ينظر إلي ومع مثلي تتكلم وما يجري مجراه
Yang ketiga: Kesombongan karena kebangsawanan dan keturunan (nasab). Orang yang memiliki nasab yang mulia meremehkan orang yang tidak memiliki nasab tersebut, meskipun orang itu lebih tinggi darinya dalam hal amal dan ilmu. Bahkan sebagian mereka bersikap sombong dengan menganggap manusia lain seolah-olah harta benda dan budak miliknya, serta enggan bergaul dan duduk bersama mereka. Buah dari kesombongan ini pada lisan adalah saling membanggakan diri, sehingga ia berkata kepada orang lain: 'Wahai orang Nabath, wahai orang India, wahai orang Armenia! Siapa engkau dan siapa ayahmu? Aku adalah Fulan bin Fulan! Mana mungkin orang sepertimu berbicara denganku atau memandangku? Dan dengan orang sepertikukah engkau berbicara?' serta perkataan lain yang sejenis.
وذلك عرق دفين في النفس لا ينفك عنه نسيب وإن كان صالحاً وعاقلاً إلا أنه قد لا يترشح منه ذلك عند اعتدال الأحوال فإن غلبه غضب أطفأ ذلك نور بصيرته وترشح منه كما روي عن أبي ذر أنه قَالَ قَاوَلْتُ رَجُلًا عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ فَقُلْتُ لَهُ يَا ابْنَ السَّوْدَاءِ فقال النبي ﷺ يَا أَبَا ذَرٍّ طف الصاع طف الصاع لَيْسَ لِابْنِ الْبَيْضَاءِ عَلَى ابْنِ السَّوْدَاءِ فَضْلٌ حديث أن رجلين تفاخرا عند النبي ﷺ فقال أحدهما للآخر أنا فلان بن فلان فمن أنت لا أم لك الحديث أخرجه عبد الله بن أحمد في زوائد المسند من حديث أبي بن كعب بإسناد صحيح ورواه أحمد موقوفا على معاذ بقصة موسى فقط
Hal itu merupakan dorongan tersembunyi di dalam jiwa yang sulit terlepas dari orang yang berketurunan mulia, meskipun ia seorang yang saleh dan berakal. Hanya saja sifat itu mungkin tidak nampak darinya dalam keadaan normal. Namun, jika ia dikuasai kemarahan, kemarahan itu akan memadamkan cahaya batinnya (bashirah) dan sifat itu pun terpancar keluar, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa ia berkata: Aku berdebat dengan seorang laki-laki di hadapan Nabi ﷺ, lalu aku berkata kepadanya: 'Wahai anak wanita hitam!' Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Wahai Abu Dzar, takaran itu telah penuh, takaran itu telah penuh! Tidak ada kelebihan bagi anak wanita putih atas anak wanita hitam.' Hadis tentang dua orang yang saling membanggakan diri di hadapan Nabi ﷺ, lalu salah seorang berkata kepada yang lain: 'Aku adalah Fulan bin Fulan, lalu siapa engkau wahai orang yang tak beribu?' Hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Zawa'id al-Musnad dari hadis Ubay bin Ka'b dengan sanad yang sahih, dan diriwayatkan oleh Ahmad secara mauquf pada Mu'adz hanya dalam kisah Musa.
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ليدعن قوم الفخر بآبائهم وقد صاروا فحماً في جهنم أو ليكون أهون على الله من الجعلان التي تذرف بآنافها القذر حديث عائشة دخلت امرأة على النبي ﷺ فقلت بيدي هكذا أي أنها قصيرة الحديث تقدم في آفات اللسان
Dan Rasulullah ﷺ bersabda: 'Hendaklah suatu kaum benar-benar menghentikan kebiasaan membanggakan nenek moyang mereka yang telah menjadi arang di neraka Jahannam, atau mereka benar-benar akan menjadi lebih hina di sisi Allah daripada kumbang kotoran yang memindahkan kotoran dengan hidungnya.' Adapun hadis Aisyah tentang seorang wanita yang masuk menemui Nabi ﷺ, lalu Aisyah memberi isyarat dengan tangannya seperti ini (yakni bahwa wanita itu pendek), hadis tersebut telah disebutkan sebelumnya pada pembahasan bahaya lisan.
وهذا منشؤه خفاء الكبر لأنها لو كانت أيضاً قصيرة لما ذكرتها بالقصر فكأنها أعجبت بقامتها واستقصرت المرأة في جنب نفسها فقالت ما قالت
Penyebab hal ini adalah kesombongan yang tersembunyi. Sebab, sekiranya Aisyah juga bertubuh pendek, niscaya ia tidak akan menyebut wanita itu pendek. Seolah-olah ia merasa kagum dengan postur tubuhnya sendiri dan memandang wanita tersebut pendek jika dibandingkan dengan dirinya, sehingga ia mengucapkan apa yang diucapkannya.
الخامس الكبر بالمال وذلك يجري بين الملوك في خزائنهم وبين التجار في بضائعهم وبين الدهاقين في أراضيهم وبين المتجملين فِي لِبَاسِهِمْ وَخُيُولِهِمْ وَمَرَاكِبِهِمْ فَيَسْتَحْقِرُ الْغَنِيُّ الْفَقِيرَ ويتكبر عليه ويقول له أنت مكد ومسكين وأنا لو أردت لاشتريت مثلك واستخدمت من هو فوقك ومن أنت وما معك وأثاث بيتي يساوي أكثر من جميع مالك وأنا أنفق في اليوم ما لا تأكله في سنة وكل ذلك لاستعظامه للغنى واستحقاره للفقر وكل ذلك جهل منه بفضيلة الفقر وآفة الغنى وإليه الإشارة بقوله تعالى ﴿فقال لصاحبه وهو يحاوره أنا أكثر منك مالاً وأعز نفراً﴾ حتى أجابه فقال إن ترن أنا أقل منك مالاً وولداً فعسى ربي أن يؤتيني خيراً من جنتك ويرسل عليها حسباناً من السماء فتصبح صعيداً زلقاً أو يصبح ماؤها غوراً فلن تستطيع له طلباً وكان ذلك منه تكبرا بالمال والولد
Yang kelima: Kesombongan karena harta. Hal ini terjadi di antara para raja dalam perbendaharaan harta mereka, para pedagang dalam barang dagangan mereka, para tuan tanah dalam kepemilikan lahan mereka, dan orang-orang yang berhias diri dalam pakaian, kuda, serta kendaraan mereka. Maka orang kaya meremehkan orang fakir dan bersikap sombong kepadanya seraya berkata: 'Engkau ini peminta-minta dan orang miskin. Kalau aku mau, aku bisa membeli orang sepertimu dan mempekerjakan orang yang lebih tinggi darimu. Siapa engkau dan apa yang kau miliki? Perabot rumahku saja nilainya lebih dari seluruh hartamu, dan aku menginfakkan dalam sehari apa yang tidak bisa engkau makan dalam setahun.' Semua itu terjadi karena ia menganggap agung kekayaan dan meremehkan kefakiran, serta semua itu merupakan kebodohannya akan keutamaan kefakiran dan bahaya kekayaan. Hal itu diisyaratkan oleh firman Allah Ta'ala: 'Maka dia berkata kepada kawannya ketika dia bercakap-cakap dengannya: Aku lebih banyak harta daripadamu dan lebih kuat pengikut-pengikutnya.' Hingga kawannya menjawab: 'Jika engkau anggap aku lebih sedikit daripadamu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari kebunmu ini; dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali engkau tidak akan dapat mencarinya lagi.' Kesombongan lelaki tersebut adalah kesombongan karena harta dan anak keturunan.
ثم بين الله عاقبة أمره بقوله ﴿يا ليتني لم أشرك بربي أحداً﴾ ومن ذلك تكبر قارون إذ قال تعالى إخباراً عن تكبره ﴿فخرج على قومه في زينته قال الذين يريدون الحياة الدنيا يا ليت لنا مثل ما أوتي قارون إنه لذو حظ عظيم﴾
Kemudian Allah menjelaskan kesudahan perkaranya melalui firman-Nya: 'Aduhai, sekiranya dahulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku.' Termasuk dalam hal ini adalah kesombongan Qarun, saat Allah Ta'ala mengabarkan tentang kesombongannya: 'Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: Moga-moga kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.'
السَّادِسُ الْكِبْرُ بِالْقُوَّةِ وَشِدَّةِ الْبَطْشِ وَالتَّكَبُّرِ بِهِ عَلَى أَهْلِ الضَّعْفِ
Yang keenam: Kesombongan karena kekuatan dan kehebatan fisik, serta bersikap sombong dengannya terhadap orang-orang yang lemah.
السَّابِعُ التَّكَبُّرُ بِالْأَتْبَاعِ وَالْأَنْصَارِ والتلامذة والغلمان وبالعشيرة والأقارب والبنين ويجري ذلك بين الملوك في المكاثرة بالجنود وبين العلماء في المكاثرة بالمستفيدين
Yang ketujuh: Kesombongan karena banyaknya pengikut, penolong, murid, pelayan, kerabat, kerabat dekat, dan anak-anak. Hal ini terjadi di antara para raja dalam hal saling membanggakan banyaknya prajurit, dan di antara para ulama dalam hal saling membanggakan banyaknya murid yang mengambil manfaat.
وبالجملة فكل ما هو نعمة وأمكن أن يعتقد كمالاً وإن لم يكن في نفسه كمالاً أمكن أن يتكبر به حتى إن المخنث ليتكبر على أقرانه بزيادة معرفته وقدرته في صنعة المخنثين لأنه يرى ذلك كمالاً فيفتخر به وإن لم يكن فعله إلا نكالاً وكذلك الفاسق قد يفتخر بكثرة الشرب وكثرة الفجور بالنسوان والغلمان ويتكبر به لظنه أن ذلك كمالاً وإن كان مخطئاً فيه
Secara keseluruhan, setiap hal yang merupakan nikmat dan memungkinkan untuk diyakini sebagai suatu kesempurnaan—meskipun pada hakikatnya bukan kesempurnaan—dapat menjadi sarana untuk bersikap sombong. Bahkan seorang laki-laki yang berprilaku menyerupai wanita (mukhannats) bersikap sombong terhadap teman-temannya karena lebihnya pengetahuan dan kemampuannya dalam seni/perilaku keperempuan-perempuanan tersebut, sebab ia memandangnya sebagai kesempurnaan lalu membanggakannya, padahal perbuatannya itu tidak lain hanyalah kehinaan. Demikian pula orang fasik, terkadang ia membanggakan banyaknya minum khamar dan banyaknya perzinaan dengan wanita serta pemuda, lalu bersikap sombong dengannya karena menduga bahwa hal itu adalah sebuah kesempurnaan, meskipun ia keliru dalam prasangka tersebut.
فَهَذِهِ مَجَامِعُ مَا يَتَكَبَّرُ بِهِ الْعِبَادُ بَعْضُهُمْ على بعض فيتكبر من يدلي بشيء منه على من لا يدلي به أو على من يدلي بما هو دونه في اعتقاده
Maka inilah cakupan hal-hal yang dengannya para hamba bersikap sombong antara satu sama lain; sehingga orang yang memiliki sesuatu dari hal-hal tersebut bersikap sombong terhadap orang yang tidak memilikinya, atau terhadap orang yang memiliki sesuatu yang menurut persangkaannya lebih rendah dari apa yang ia miliki.
وربما كان مثله أو فوقه عند الله تعالى كالعالم الذي يتكبر بعلمه على من هو أعلم منه لظنه أنه هو الأعلم ولحسن اعتقاده في نفسه
Bahkan terkadang orang yang diremehkan itu sama atau lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah Ta'ala, seperti seorang alim yang bersikap sombong dengan ilmunya terhadap orang yang sebenarnya lebih berilmu darinya, karena prasangkanya bahwa dialah yang paling berilmu dan karena prasangka baiknya terhadap dirinya sendiri.
نسأل الله العون بلطفه ورحمته أنه على كل شيء قدير
Kita memohon pertolongan kepada Allah dengan kelembutan dan rahmat-Nya, sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
بيان البواعث على التكبر وأسبابه المهيجة له
Penjelasan tentang Pendorong-Pendorong Kesombongan dan Sebab-Sebab yang Membangkitkannya
اعلم أن الكبر خلق باطن وأما ما يظهر من الأخلاق والأفعال فهي ثمرة ونتيجة وينبغي أن تسمى تكبراً
Ketahuilah bahwa kesombongan (kibr) adalah akhlak batin, sedangkan apa yang tampak dari sikap dan perbuatan adalah buah serta hasilnya yang patut dinamakan sebagai tindakan bersikap sombong (takabbur).
ويخص اسم الكبر بالمعنى الباطن الذي هو استعظام النفس ورؤية قدرها فوق قدر الغير وهذا الباطن له موجب واحد وهو العجب الذي يتعلق بالمتكبر كما سيأتي معناه فإنه إذا أعجب بنفسه وبعلمه وبعمله أو بشيء من أسبابه استعظم وتكبر
Nama kibr (kesombongan) dikhususkan untuk makna batin, yaitu menganggap agung diri sendiri dan memandang kedudukan dirinya di atas kedudukan orang lain. Batin yang seperti ini hanya memiliki satu pemicu utama, yaitu ujub (bangga diri) yang berkaitan dengan orang yang sombong tersebut, sebagaimana maknanya akan dijelaskan kemudian. Sebab, apabila seseorang mengagumi dirinya sendiri, ilmunya, amalnya, atau salah satu dari sebab-sebabnya, maka ia akan menganggap dirinya agung dan bersikap sombong.
وأما الكبر الظاهر فأسبابه ثلاثة سبب في المتكبر وسبب في المتكبر عليه وسبب فيما يتعلق بغيرهما
Adapun takabbur (kesombongan yang tampak secara lahiriah), sebab-sebabnya ada tiga: sebab yang ada pada diri orang yang sombong, sebab yang ada pada diri orang yang disombongi, dan sebab yang berkaitan dengan selain keduanya.
أما السبب الذي في المتكبر فهو العجب والذي يتعلق بالمتكبر عليه هو الحقد والحسد
Adapun sebab yang ada pada diri orang yang sombong (al-mutakabbir) adalah ujub ('ujub), sedangkan sebab yang berkaitan dengan orang yang disombongi adalah kedengkian (al-hiqd) dan iri hati (al-hasad).
والذي يتعلق بغيرهما هو الرياء فتصير الأسباب بهذا الاعتبار أربعة العجب والحقد والحسد والرياء
Adapun sebab yang berkaitan dengan selain keduanya adalah riya (riya'). Dengan pertimbangan ini, sebab-sebab tersebut menjadi empat: ujub, kedengkian (hiqd), iri hati (hasad), dan riya.
أما العجب فقد ذكرنا أنه يورث الكبر الباطن والكبر يثمر التكبر الظاهر في الأعمال والأقوال والأحوال
Adapun ujub, telah kami sebutkan bahwa ia mewariskan kesombongan batin (al-kibr al-batin), dan kesombongan batin itu membuahkan sikap sombong yang tampak (at-takabbur azh-zhahir) dalam perbuatan, perkataan, serta keadaan diri (ahwal).
وأما الحقد فإنه يحمل على التكبر من غير عجب كالذي يتكبر على من يرى أنه مثله أو فوقه ولكن قد غضب عليه بسبب سبق منه فأورثه الغضب حقداً ورسخ في قلبه بغضه فهو لذلك لا تطاوعه نفسه أن يتواضع له وإن كان عنده مستحقاً للتواضع فكم من رذل لا تطاوعه نفسه على التواضع لواحد من الأكابر لحقده عليه أو بغضه له ويحمله ذلك على رد الحق إذا جاء من جهته وعلى الأنفة من قبول نصحه وعلى أن يجتهد في التقدم عليه وإن علم أنه لا يستحق ذلك وعلى أن لا يستحله وإن ظلمه فلا يعتذر إليه وإن جنى عليه ولا يسأله عما هو جاهل به
Adapun kedengkian (al-hiqd), ia dapat mendorong seseorang untuk bersikap sombong tanpa adanya rasa ujub; seperti orang yang bersikap sombong kepada orang yang ia pandang setara atau bahkan lebih tinggi darinya, akan tetapi ia marah kepadanya karena suatu hal yang terjadi sebelumnya. Kemarahan itu lalu mewariskan kedengkian dan menancapkan kebencian di dalam hatinya. Oleh karena itu, jiwanya tidak mau diajak untuk bertawaduk kepadanya, meskipun di matanya orang tersebut berhak mendapatkan sikap tawaduk. Betapa banyak orang hina yang jiwanya menolak untuk bertawaduk kepada salah seorang tokoh besar disebabkan kedengkian atau kebencian kepadanya. Hal tersebut mendorongnya untuk menolak kebenaran jika datang dari pihaknya, enggan menerima nasihatnya, bersungguh-sungguh untuk mendahuluinya meskipun ia tahu bahwa ia tidak berhak akan hal itu, tidak mau meminta dimaafkan jika ia menzaliminya sehingga ia tidak meminta maaf kepadanya, serta tidak mau bertanya kepadanya mengenai hal yang tidak ia ketahui.
وأما الحسد فإنه أيضاً يوجب البغض للمحسود وإن لم يكن من جهته إيذاء وسبب يقتضي الغضب والحقد ويدعو الحسد أيضاً إلى جحد الحق حتى يمنع من قبول النصيحة وتعلم العلم فكم من جاهل يشتاق إلى العلم وقد بقي في رذيلة الجهل لاستنكافه أن يستفيد من واحد من أهل بلده أو أقاربه حسداً وبغياً عليه فهو يعرض عنه ويتكبر عليه مع معرفته بأنه يستحق التواضع بفضل علمه ولكن الحسد يبعثه على أن يعامله بأخلاق المتكبرين وإن كان في باطنه ليس يرى نفسه فوقه
Adapun iri hati (al-hasad), ia juga menimbulkan kebencian terhadap orang yang diiri (al-mahsud), meskipun dari pihak orang tersebut tidak ada gangguan atau sebab yang menuntut kemarahan dan kedengkian. Iri hati juga mendorong untuk mengingkari kebenaran, hingga menghalangi seseorang dari menerima nasihat dan menuntut ilmu. Betapa banyak orang bodoh yang rindu kepada ilmu, namun ia tetap berada dalam kerendahan kebodohan karena enggan mengambil faedah ilmu dari salah seorang penduduk negerinya atau kerabatnya lantaran iri dan dengki kepadanya. Ia pun berpaling darinya dan bersikap sombong kepadanya, padahal ia mengetahui bahwa orang tersebut berhak mendapatkan sikap tawaduk atas keutamaan ilmunya. Akan tetapi, iri hati membangkitkannya untuk memperlakukannya dengan akhlak orang-orang sombong, walaupun di dalam batinnya ia tidak memandang dirinya lebih tinggi dari orang tersebut.
وأما الرياء فهو أيضاً يدعو إلى أخلاق المتكبرين حتى إن الرجل ليناظر من يعلم أنه أفضل منه وليس بينه
Adapun riya, ia juga mengajak kepada akhlak orang-orang sombong, hingga seorang laki-laki benar-benar berdebat dengan orang yang ia ketahui lebih utama darinya, padahal di antara dirinya…
وبينه معرفة ولا محاسدة ولا حقد ولكن يمتنع من قبول الحق منه ولا يتواضع له في الاستفادة خيفة من أن يقول الناس إنه أفضل منه فيكون باعثه على التكبر عليه الرياء المجرد ولو خلا معه بنفسه لكان لا يتكبر عليه
…dan orang itu tidak ada kenalan (hubungan khusus), tidak ada saling iri, dan tidak ada kedengkian, namun ia enggan menerima kebenaran darinya dan tidak mau bertawaduk kepadanya untuk mengambil manfaat ilmu, karena takut orang-orang akan mengatakan bahwa orang tersebut lebih utama darinya. Maka pendorong baginya untuk bersikap sombong kepadanya adalah murni riya; dan seandainya ia menyendiri bersamanya, niscaya ia tidak akan bersikap sombong kepadanya.
وأما الذي يتكبر بالعجب أو الحسد أو الحقد فإنه يتكبر أيضاً عند الخلوة به مهما لم يكن معهما ثالث وكذلك قد ينتمي إلى نسب شريف كاذباً وهو يعلم أنه كاذب ثم يتكبر به على من ليس ينتسب إلى ذلك النسب ويترفع عليه في المجالس ويتقدم عليه في الطريق ولا يرضى بمساواته في الكرامة والتوقير وهو عالم باطناً بأنه لا يستحق ذلك ولا كبر في باطنه لمعرفته بأنه كاذب في دعوى النسب ولكن يحمله الرياء على أفعال المتكبرين وكأن اسم المتكبر إنما يطلق في الأكثر على من يفعل هذه الأفعال عن كبر في الباطن صادر عن العجب والنظر إلى الغير بعين الاحتقار وهو إن سمي متكبراً فلأجل التشبه بأفعال الكبر
Adapun orang yang bersikap sombong karena ujub, iri hati, atau kedengkian, maka ia juga akan bersikap sombong ketika berkhalwat (berdua saja) bersamanya selagi tidak ada orang ketiga di antara keduanya. Demikian pula, seseorang terkadang bernasab kepada nasab yang mulia secara dusta, padahal ia tahu bahwa dirinya berdusta, kemudian ia bersikap sombong dengannya terhadap orang yang tidak bernasab kepada nasab tersebut, merasa tinggi darinya di majelis-majelis, mendahuluinya di jalan, dan tidak rela disamakan dalam hal penghormatan serta pemuliaan, padahal di batinnya ia menyadari bahwa ia tidak berhak atas hal tersebut. Tidak ada rasa sombong di dalam batinnya karena ia tahu bahwa ia berdusta dalam pengakuan nasab itu, namun riya menyebabkannya melakukan perbuatan-perbuatan orang sombong. Seolah-olah nama "orang yang sombong" (al-mutakabbir) itu pada umumnya hanya disematkan kepada orang yang melakukan perbuatan-perbuatan ini karena adanya kesombongan di dalam batin yang timbul dari ujub dan memandang orang lain dengan pandangan hina; adapun orang ini, jika dinamakan mutakabbir, hal itu adalah karena menyerupai perbuatan-perbuatan kesombongan.
نسأل الله حسن التوفيق والله تعالى أعلم
Kami memohon kepada Allah sebaik-baik taufik, dan Allah Ta'ala Maha Mengetahui.
بَيَانُ أَخْلَاقِ الْمُتَوَاضِعِينَ وَمَجَامِعِ مَا يَظْهَرُ فِيهِ أَثَرُ التَّوَاضُعِ وَالتَّكَبُّرِ
PENJELASAN TENTANG AKHLAK ORANG-ORANG YANG TAWADUK DAN MUARA TEMPAT TAMPAKNYA PENGARUH TAWADUK DAN KESOMBONGAN
اعْلَمْ أَنَّ التَّكَبُّرَ يَظْهَرُ فِي شَمَائِلِ الرَّجُلِ كَصَعَرٍ فِي وَجْهِهِ وَنَظَرِهِ شَزْرًا وَإِطْرَاقِهِ رَأْسَهُ وَجُلُوسِهِ مُتَرَبِّعًا أَوْ مُتَّكِئًا وَفِي أَقْوَالِهِ حَتَّى فِي صَوْتِهِ وَنَغَمَتِهِ وَصِيغَتِهِ فِي الْإِيرَادِ وَيَظْهَرُ فِي مِشْيَتِهِ وَتَبَخْتُرِهِ وَقِيَامِهِ وجلوسه وحركاته وسكناته وفي تعاطيه لأفعاله وفي سائر تقلباته في أحواله وأقواله وأعماله
Ketahuilah bahwa kesombongan itu tampak pada gerak-gerik dan raut diri seseorang, seperti memalingkan muka dengan angkuh pada wajahnya, memandang dengan pandangan meremehkan, menundukkan kepala secara dibuat-buat, cara duduk bersila atau bersandar, serta pada perkataannya bahkan pada nada suara, intonasi, dan redaksi penyampaiannya. Ia juga tampak pada cara berjalannya, langkahnya yang membusungkan dada, berdirinya, duduknya, gerak dan diamnya, dalam caranya melakukan perbuatan-perbuatan, serta dalam seluruh dinamika keadaan, perkataan, dan perbuatannya.
فَمِنَ الْمُتَكَبِّرِينَ مَنْ يَجْمَعُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَتَكَبَّرُ فِي بَعْضٍ وَيَتَوَاضَعُ فِي بَعْضٍ
Di antara orang-orang yang sombong, ada yang mengumpulkan seluruh hal tersebut, dan di antara mereka ada yang bersikap sombong pada sebagian hal dan bertawaduk pada sebagian yang lain.
فَمِنْهَا التَّكَبُّرُ بِأَنْ يُحِبَّ قِيَامَ النَّاسِ لَهُ أو بين يديه
Di antaranya adalah sikap sombong dengan menyukai orang-orang berdiri untuk menyambutnya atau berdiri di hadapannya.
وقد قال علي كرم الله وجهه من أراد أن ينظر إلى رجل من أهل النار فلينظر إلى رجل قاعد وبين يديه قوم قيام
Sungguh Ali karramallahu wajhah telah berkata, "Barang siapa ingin melihat seorang laki-laki dari penghuni neraka, maka hendaklah ia melihat seorang laki-laki yang duduk sementara di hadapannya orang-orang berdiri."
وقال أنس لم يكن شخص أحب إليهم من رسول الله ﷺ وكانوا إذا رأوه لم يقوموا له لما يعلمون من كراهته لذلك حديث كان في بعض الأوقات يمشي مع أصحاب فيأمرهم بالتقدم أخرجه منصور الديلمي في مسند الفردوس من حديث أبي أمامة بسند ضعيف جدا أنه خرج يمشي إلى البقيع فتبعه أصحابه فوقف فأمرهم أن يتقدموا ومشى خلفهم فسئل عن ذلك فقال إني سمعت خفق نعالكم فأشفقت أن يقع في نفسي شيء من الكبر وهو منكر فيه جماعة ضعفاء
Anas berkata, "Tidak ada seorang pun yang lebih mereka cintai daripada Rasulullah ﷺ, namun jika mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri untuknya karena mereka mengetahui ketidaksukaan beliau terhadap hal tersebut." Hadis: "Pernah pada sebagian waktu beliau berjalan bersama para sahabatnya, lalu beliau memerintahkan mereka untuk berjalan di depan." Diriwayatkan oleh Manshur Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus dari hadis Abu Umamah dengan sanad yang sangat lemah, bahwa beliau keluar berjalan menuju Baqi', lalu para sahabatnya mengikuti beliau. Beliau pun berhenti dan memerintahkan mereka untuk berjalan di depan, dan beliau berjalan di belakang mereka. Beliau ditanya tentang hal tersebut, maka beliau bersabda, "Sesungguhnya aku mendengar detak sandal-sandal kalian, sehingga aku khawatir jatuh sesuatu dari kesombongan di dalam hatiku." Dan hadis ini munkar, di dalamnya terdapat sejumlah perawi yang lemah.
إما لتعليم غيره أو لينفي عن نفسه وساوس الشيطان بالكبر والعجب كما أخرج الثوب الجديد في الصلاة وأبدله بالخليع لأحد هذين المعنيين // حديث إخراجه الثوب الجديد في الصلاة وإبداله بالخليع قلت المعروف نزع الشراك الجديد ورد الشراك الخلق أو نزع الخميصة وليس الأنبجانية وكلاهما تقدم في الصلاة
Baik untuk mengajarkan orang lain atau untuk menghempaskan waswas setan berupa kesombongan dan ujub dari dirinya, sebagaimana beliau menanggalkan baju yang baru dalam shalat dan menggantinya dengan baju yang usang karena salah satu dari dua makna ini. // Hadis penanggalan baju baru dalam shalat dan menggantinya dengan baju usang: Aku katakan, yang masyhur adalah melepas tali sandal (shirak) yang baru dan mengembalikan tali sandal yang lama, atau melepas khamishah (pakaian berhias) bukannya anbijaniyyah (pakaian kasar tanpa hiasan), dan keduanya telah disebutkan dalam pembahasan shalat.
وَمِنْهَا أَنْ لَا يَزُورَ غَيْرَهُ وَإِنْ كَانَ يَحْصُلُ مِنْ زِيَارَتِهِ خَيْرٌ لِغَيْرِهِ فِي الدِّينِ وهو ضد التواضع
Di antaranya adalah enggan mengunjungi orang lain, meskipun dari kunjungannya itu akan mendatangkan kebaikan agama bagi orang lain, dan ini merupakan kebalikan dari sikap tawaduk.
روي أن سفيان الثوري قدم الرملة فبعث إليه إبراهيم بن أدهم أن تعال فحدثنا فجاء سفيان فقيل له يا أبا إسحاق تبعث إليه بمثل هذا فقال أردت أن أنظر كيف تواضعه
Diriwayatkan bahwa Sufyan Ats-Tsauri tiba di Ramlah, lalu Ibrahim bin Adham mengutus utusan kepadanya, "Kemarilah dan sampaikanlah hadis kepada kami." Sufyan pun datang. Maka dikatakan kepada Ibrahim, "Wahai Abu Ishaq, apakah engkau mengutus utusan kepadanya dengan perintah seperti ini?" Beliau menjawab, "Aku ingin melihat bagaimana tingkat ketawadukan beliau."
وَمِنْهَا أَنْ يَسْتَنْكِفَ مِنْ جُلُوسِ غَيْرِهِ بِالْقُرْبِ مِنْهُ إِلَّا أَنْ يَجْلِسَ بَيْنَ يَدَيْهِ وَالتَّوَاضُعُ خلافه
Di antaranya adalah enggan jika orang lain duduk di dekatnya kecuali jika orang tersebut duduk di hadapannya (sebagai murid/bawahan), sedangkan sikap tawaduk adalah kebalikannya.
قال ابن وهب جلست إلى عبد العزيز بن أبي رواد فمس فخذي فخذه فنحيت نفسي عنه فأخذ ثيابي فجرني إلى نفسه وقال لي لم تفعلون بي
Ibnu Wahab berkata, "Aku duduk di dekat 'Abdul 'Aziz bin Abi Rawwad, lalu pahaku menyentuh pahanya, maka aku pun menggeser diriku menjauh darinya. Lalu beliau memegang pakaianku dan menarikku ke arah dirinya seraya berkata kepadaku, 'Mengapa kalian memperlakukanku seperti ini?'"
ما تفعلون بالجبابرة وإني لا أعرف رجلا منكم شراً مني وقال أنس كانت الوليدة من ولائد المدينة تأخذ بيد رسول الله ﷺ فلا ينزع يده منها حتى تذهب به حيث تشاء حديث الرجل الذي به جدري وإجلاسه إلى جنبه تقدم قريبا
"Apa yang kalian perbuat terhadap orang-orang yang sewenang-wenang? Sesungguhnya aku tidak mengenal seseorang pun di antara kalian yang lebih buruk daripada diriku." Dan Anas berkata, "Dahulu seorang budak wanita dari budak-budak Madinah memegang tangan Rasulullah ﷺ, lalu beliau tidak melepaskan tangannya dari genggamannya hingga budak itu membawanya ke mana pun ia suka." Hadis tentang laki-laki yang menderita penyakit cacar dan tindakan beliau mendudukkannya di samping beliau telah disebutkan sebelumnya.
وكان عبد الله بن عمر ﵄ لا يحبس عن طعامه مجذوماً ولا أبرص ولا مبتلي إلا أقعدهم على مائدته
Dan dahulu 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma tidak pernah melarang penderita kusta, penderita sopak (lepra), maupun orang yang tertimpa penyakit kronis dari makanannya, melainkan beliau mendudukkan mereka di atas jamuan makanannya.
وَمِنْهَا أَنْ لَا يَتَعَاطَى بِيَدِهِ شُغْلًا فِي بَيْتِهِ وَالتَّوَاضُعُ خِلَافُهُ رُوِيَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ أَتَاهُ لَيْلَةً ضَيْفٌ وَكَانَ يَكْتُبُ فَكَادَ السِّرَاجُ يُطْفَأُ فَقَالَ الضَّيْفُ أَقُومُ إِلَى الْمِصْبَاحِ فَأُصْلِحُهُ فَقَالَ لَيْسَ مِنْ كَرَمِ الرَّجُلِ أَنْ يَسْتَخْدِمَ ضَيْفَهُ قَالَ أَفَأُنَبِّهُ الْغُلَامَ فَقَالَ هي أول نومة نامها فقام وأخذ البطة وَمَلَأَ الْمِصْبَاحَ زَيْتًا فَقَالَ الضَّيْفُ قُمْتَ أَنْتَ بِنَفْسِكَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ فَقَالَ ذَهَبْتُ وَأَنَا عمر وَرَجَعْتُ وَأَنَا عمر مَا نَقَصَ مِنِّي شَيْءٌ وَخَيْرُ النَّاسِ مَنْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ مُتَوَاضِعًا
Di antaranya pula (tanda kesombongan) adalah seseorang tidak mau melakukan pekerjaan dengan tangannya sendiri di rumahnya, sedangkan ketawaduan adalah kebalikannya. Diriwayatkan bahwa 'Umar bin 'Abdul 'Aziz pada suatu malam kedatangan seorang tamu, sementara beliau sedang menulis dan lampu minyak hampir padam. Tamu itu berkata, "Bolehkah aku berdiri menuju lampu itu untuk membetulkannya?" Beliau menjawab, "Bukanlah termasuk kemuliaan seseorang jika ia mempekerjakan tamunya." Tamu itu berkata, "Kalau begitu, apakah aku perlu membangunkan pelayan?" Beliau menjawab, "Itu adalah tidur pertamanya (ia baru saja tertidur)." Lalu 'Umar berdiri, mengambil kendi minyak, dan mengisi lampu itu dengan minyak. Tamu itu berkata, "Engkau sendiri yang berdiri melakukannya, wahai Amirul Mukminin?" Beliau menjawab, "Aku pergi melakukannya dan aku tetaplah 'Umar, lalu aku kembali dan aku tetaplah 'Umar; tidak ada sesuatu pun yang berkurang dari diriku. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang bertawadu di sisi Allah."
وَمِنْهَا أَنْ لَا يَأْخُذَ مَتَاعَهُ وَيَحْمِلَهُ إِلَى بَيْتِهِ وَهُوَ خِلَافُ عَادَةِ الْمُتَوَاضِعِينَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَفْعَلُ ذلك حديث البذاذة من الإيمان أخرجه أبو داود وابن ماجه حديث أبي أمامة بن ثعلبة وقد تقدم
Di antaranya pula (tanda kesombongan) adalah seseorang tidak mau mengambil barang bawaannya sendiri dan membawanya ke rumahnya, padahal hal itu bertentangan dengan kebiasaan orang-orang yang tawadu. Rasulullah ﷺ biasa melakukan hal tersebut. Hadis "Kesederhanaan dalam berpakaian adalah bagian dari iman" diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibn Majah dari hadis Abu Umamah bin Tsa'labah dan telah disebutkan sebelumnya.
فقال هارون سألت معناً عن البذاذة فقال هو الدون من اللباس
Harun berkata, "Aku bertanya kepada Ma'n tentang al-badhadhah (kesederhanaan dalam berpakaian), maka ia menjawab, 'Yaitu pakaian yang bersahaja (tidak mewah).'"
وقال زيد بن وهب رأيت عمر بن الخطاب ﵁ خرج إلى السوق وبيده الدرة وعليه إزار فيه أربع عشرة رقعة بعضها من أدم وعوتب علي كرم الله وجهه في إزار مرقوع فقال يقتدي به المؤمن ويخشع له القلب
Zaid bin Wahab berkata, "Aku melihat 'Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu keluar menuju pasar dengan memegang cambuk di tangannya, dan beliau mengenakan sarung yang memiliki empat belas tambalan, sebagiannya terbuat dari kulit." Dan 'Ali karramallahu wajhah pernah ditegur perihal sarungnya yang bertambal, maka beliau menjawab, "Orang mukmin hendaknya meneladaninya dan dengannya hati menjadi khusyuk."
وقال عيسى ﵇ جودة الثياب خيلاء في القلب وقال طاوس إني لأغسل ثوبي هذين فأنكر قلبي ما داما نقيين
Nabi 'Isa 'alaihissalam berkata, "Bagusnya pakaian dapat menimbulkan kesombongan di dalam hati." Dan Thawus berkata, "Sungguh, ketika aku mencuci kedua pakaianku ini, hatiku merasa asing (merasa ada benih kebanggaan) selama keduanya masih dalam keadaan sangat bersih."
ويروى أن عمر بن عبد العزيز ﵀ كان قبل أن يستخلف تشترى له الحلة بألف دينار فيقول ما أجودها لولا خشونة فيها فلما استخلف كان يشترى له الثوب بخمسة دراهم فيقول ما أجوده لولا لينه فقيل له أين لباسك ومركبك وعطرك يا أمير المؤمنين فقال إن لي نفساً ذواقة وإنها لم تذق من الدنيا طبقة إلا تاقت إلى الطبقة التي فوقها حتى إذا ذاقت الخلافة وهي أرفع الطباق تاقت إلى ما عند الله ﷿
Diriwayatkan bahwa 'Umar bin 'Abdul 'Aziz rahimahullah sebelum diangkat menjadi khalifah, dibelikan pakaian seharga seribu dinar, lalu beliau berkata, "Betapa indahnya pakaian ini, sekiranya tidak ada kasarnya." Namun ketika beliau menjadi khalifah, dibelikan pakaian seharga lima dirham, lalu beliau berkata, "Betapa indahnya pakaian ini, sekiranya tidak ada kelembutannya." Maka ditanyakan kepadanya, "Di manakah pakaianmu, kendaraanmu, dan wewangianmu wahai Amirul Mukminin?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya aku memiliki jiwa yang selalu menginginkan lebih. Ia tidak pernah merasakan satu tingkatan keduniaan melainkan merindukan tingkatan di atasnya. Hingga ketika ia telah merasakan tampuk kekhalifahan yang merupakan tingkatan tertinggi, ia pun merindukan apa yang ada di sisi Allah Azza wa Jalla."
وقال سعيد بن سويد صلى بنا عمر بن عبد العزيز الجمعة ثم جلس وعليه قميص مرقوع الجيب من بين يديه ومن خلفه فقال له رجل يا أمير المؤمنين إن الله قد أعطاك فلو لبست فنكس
Sa'id bin Suwaid berkata, "'Umar bin 'Abdul 'Aziz mengimami kami shalat Jumat, kemudian beliau duduk sementara beliau mengenakan gamis yang bertambal pada bagian kantongnya dari depan dan belakang. Seseorang berkata kepadanya, 'Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia kepadamu, alangkah baiknya jika engkau mengenakan pakaian yang bagus.' Maka beliau menundukkan…
رأسه ملياً ثم رفع رأسه فقال إن أفضل القصد عند الجدة وإن أفضل العفو عند القدرة وَقَالَ ﷺ مَنْ تَرَكَ زينة لله ووضع ثيابا حسنة تواضعا لله وابتغاء لمرضاته كان حقاً على الله أن يدخر له عبقري الجنة حديث سئل عن الجمال في الثياب هل هو من الكبر فقال ﴿لا﴾ الحديث تقدم غير مرة
…kepalanya sejenak, lalu mengangkat kepalanya seraya berkata, 'Sesungguhnya sebaik-baik kesederhanaan adalah saat memiliki kekayaan, dan sebaik-baik pemaafan adalah saat memiliki kemampuan (untuk membalas).' Dan Rasulullah ﷺ bersabda, 'Barang siapa meninggalkan perhiasan karena Allah dan menanggalkan pakaian yang indah demi bertawadu kepada Allah serta mengharapkan keridaan-Nya, maka menjadi hak bagi Allah untuk menyimpankan baginya pakaian perhiasan terbaik di surga.' Hadis tentang pertanyaan mengenai keindahan dalam berpakaian apakah termasuk kesombongan, lalu beliau menjawab, 'Tidak', hadis ini telah disebutkan beberapa kali sebelumnya.
فكيف طريق الجمع بينهما فاعلم أن الثوب الجديد ليس من ضرورته أن يكون من التكبر في حق كل أحد في كل حال وهو الذي أشار إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وهو الذي عرفه رسول الله ﷺ من حال ثابت بن قيس إذ قال إني امرؤ حبب إلي من الجمال ما ترى حديث كلوا واشربوا والبسوا وتصدقوا في غير إسراف ولا مخيلة أخرجه النسائي وابن ماجه من رواية عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده
Lantas bagaimana cara mengompromikan antara keduanya? Ketahuilah bahwa pakaian baru tidak secara otomatis memicu kesombongan pada setiap orang dalam segala keadaan. Hal itulah yang diisyaratkan oleh Rasulullah ﷺ dan yang diketahui oleh Rasulullah ﷺ dari keadaan Tsabit bin Qais ketika ia berkata, "Sesungguhnya aku adalah seorang yang menyukai keindahan sebagaimana yang engkau lihat." Hadis "Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan" diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Ibn Majah dari riwayat 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ على عبده // حديث إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ على عبده أخرجه الترمذي وحسنه من رواية عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أيضا وقد جعلهما المصنف حديثا واحدا
"Sesungguhnya Allah menyukai apabila melihat bekas kenikmatan-Nya pada hamba-Nya." // Hadis "Sesungguhnya Allah menyukai apabila melihat bekas kenikmatan-Nya pada hamba-Nya" diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan beliau menghasankannya, dari riwayat 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya pula, dan penulis (Imam al-Ghazali) menjadikannya sebagai satu hadis.
وقال بكر بن عبد الله المزني البسوا ثياب الملوك وأميتوا قلوبكم بالخشية وإنما خاطب بهذا قوماً يطلبون التكبر بثياب أهل الصلاح
Bakar bin 'Abdullah Al-Muzani berkata, "Kenakanlah oleh kalian pakaian para raja, tetapi matikanlah (lunakkanlah) hati kalian dengan rasa takut kepada Allah (khasyyah)." Beliau menyampaikan hal ini hanyalah untuk menasihati kaum yang mencari kesombongan dengan mengenakan pakaian orang-orang saleh.
وقد قال عيسى ﵇ ما لكم تأتوني وعليكم ثياب الرهبان وقلوبكم قلوب الذئاب الضواري البسوا ثياب الملوك وأميتوا قلوبكم بالخشية
Sungguh, Nabi 'Isa 'alaihissalam telah bersabda, "Mengapa kalian mendatangi aku dengan mengenakan pakaian para rahib, sedangkan hati kalian adalah hati serigala yang buas? Kenakanlah pakaian para raja dan matikanlah hati kalian dengan rasa takut kepada Allah (khasyyah)."
وَمِنْهَا أَنْ يَتَوَاضَعَ بِالِاحْتِمَالِ إِذَا سُبَّ وَأُوذِيَ وأخذ حقه فذلك هو الأصل
Di antaranya pula (tanda ketawaduan) adalah bertawadu dengan bersabar dan menanggung beban ketika dicaci, disakiti, atau ketika haknya diambil; maka hal itu merupakan prinsip yang mendasar.
وقد أوردنا ما نقل عن السلف من احتمال الأذى في كتاب الغضب والحسد
Dan telah kami sebutkan riwayat-riwayat yang dinukil dari ulama Salaf mengenai ketabahan menanggung gangguan dalam Kitab Kemarahan dan Kedengkian (Kitab al-Ghadhab wa al-Hasad).
وَبِالْجُمْلَةِ فَمَجَامِعُ حُسْنِ الْأَخْلَاقِ وَالتَّوَاضُعِ سِيرَةُ النَّبِيِّ ﷺ فِيهِ فَيَنْبَغِي أَنْ يُقْتَدَى بِهِ وَمِنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يُتَعَلَّمَ
Kesimpulannya, muara dari keluhuran akhlak dan ketawaduan tercermin pada rekam jejak hidup (sirah) Nabi ﷺ, maka sepatutnya beliau diteladani dan dari beliaulah hendaknya ilmu akhlak itu ditimba.
وَقَدْ قال أبو سلمة
Sungguh, Abu Salamah telah berkata,
قُلْتُ لِأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ مَا تَرَى فِيمَا أَحْدَثَ النَّاسُ مِنَ الْمَلْبَسِ وَالْمَشْرَبِ وَالْمَرْكَبِ وَالْمَطْعَمِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي كُلْ لِلَّهِ وَاشْرَبْ لِلَّهِ وَالْبَسْ لِلَّهِ وَكُلُّ شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ دَخَلَهُ زَهْوٌ أَوْ مُبَاهَاةٌ أَوْ رِيَاءٌ أَوْ سُمْعَةٌ فَهُوَ مَعْصِيَةٌ وَسَرَفٌ وَعَالِجْ فِي بَيْتِكَ مِنَ الْخِدْمَةِ مَا كَانَ يُعَالِجُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي بَيْتِهِ كان يعلف الناضح ويعقل البعير ويقم البيت ويحلب الشَّاةَ وَيَخْصِفُ النَّعْلَ وَيُرَقِّعُ الثَّوْبَ وَيَأْكُلُ مَعَ خادمه ويطحن عنه إذا أعيا وَيَشْتَرِي الشَّيْءَ مِنَ السُّوقِ وَلَا يَمْنَعُهُ الْحَيَاءُ أن يلعقه بيده أو يجعله في طرف ثوبه وينقلب إلى أهله يصافح الغني والفقير والكبير والصغير وَيُسَلِّمُ مُبْتَدِئًا عَلَى كُلِّ مَنِ اسْتَقْبَلَهُ مِنْ صغير أو كبير أسود أو أحمر حر أو عبد من أهل الصلاة ليست له حلة لمدخله وحلة لمخرجه لا يستحي من أن يجيب إذا دعى وإن كان أشعث أغبر ولا يحقر ما دعى إليه وإن لم يجد إلا حشف الدقل لا يرفع غداء لعشاء ولا عشاء لغداء هين المؤنة
"Aku bertanya kepada Abu Sa'id al-Khudri, 'Bagaimana pendapatmu tentang hal-hal baru yang diada-adakan manusia dalam hal pakaian, minuman, kendaraan, dan makanan?' Beliau menjawab, 'Wahai putra saudaraku, makanlah karena Allah, minumlah karena Allah, dan berpakaianlah karena Allah. Segala sesuatu dari hal tersebut yang dimasuki oleh keangkuhan, kebanggaan diri, riya, atau sum'ah, maka itu adalah maksiat dan sikap berlebih-lebihan. Kerjakanlah di rumahmu pekerjaan rumah sebagaimana yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah ﷺ di rumah beliau. Beliau biasa memberi makan unta pemikul air, mengikat unta, menyapu rumah, memerah susu kambing, memperbaiki sandal, menambal pakaian, makan bersama pelayannya, menggilingkan gandum untuk pelayannya jika ia kelelahan, membeli sesuatu dari pasar tanpa dihalangi oleh rasa malu untuk membawanya dengan tangannya sendiri atau menaruhnya di ujung kainnya lalu pulang ke keluarganya, menjabat tangan orang kaya maupun orang miskin, orang tua maupun anak-anak, mengawali mengucapkan salam kepada setiap orang yang ditemuinya baik anak kecil maupun orang dewasa, orang berkulit hitam maupun merah, orang merdeka maupun budak dari kalangan ahli shalat; beliau tidak memiliki pakaian khusus untuk di dalam rumah dan pakaian khusus untuk keluar rumah, tidak malu memenuhi undangan jika diundang meskipun beliau dalam keadaan berambut kusut dan berdebu, tidak menghina apa yang dihidangkan kepadanya meskipun hanya berupa kurma kualitas rendah yang rusak, tidak pernah menyisakan makan siang untuk makan malam dan tidak menyisakan makan malam untuk makan siang, serta sangat ringan beban kebutuhannya."
لين الخلق كريم الطبيعة جميل المعاشرة طليق الوجه بسام من غير ضحك محزون من غير عبوس شَدِيدٌ فِي غَيْرِ عُنْفٍ مُتَوَاضِعٌ فِي غَيْرِ مذلة جواد من غير سرف رحيم لكل ذي قربى ومسلم رقيق القلب دائم الإطراق لم يبشم قط من شبع ولا يمد يده من طمع قال أبو سلمة فدخلت على عائشة ﵂ فحدثتها بما قال أبو سعيد في زهد رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَتْ ما أخطأ منه حرفاً ولقد قصر إذ ما أخبرك أن رسول الله ﷺ لَمْ يَمْتَلِئْ قَطُّ شِبَعًا وَلَمْ يَبُثَّ إِلَى أَحَدٍ شَكْوَى وَإِنْ كَانَتِ الْفَاقَةُ لَأَحَبَّ إِلَيْهِ من اليسار والغنى وإن كان ليظل جائعاً يلتوي ليلته حتى يصبح فما يمنعه ذلك عن صيام يومه ولو شاء أن يسأل ربه فيؤتى بكنوز الأرض وثمارها ورغد عيشها من مشارق الأرض ومغاربها لفعل وربما بكيت رحمة له مما أوتي من الجوع فأمسح بطنه بيدي وأقول نفسي لك الفداء لو تبلغت من الدنيا بقدر ما يقوتك ويمنعك من الجوع فيقول يا عائشة إخواني من أولي العزم من الرسل قد صبروا على ما هو أشد من هذا فمضوا على حالهم وقدموا على ربهم فأكرم مآبهم وأجزل ثوابهم فأجدني أستحيي إن ترفهت في معيشتي أن يقصر بي دونهم فأصبر أياماً يسيرة أحب إلي من أن ينقص حظي غداً في الآخرة وما من شيء أحب إلي من اللحوق بإخواني وأخلائي قالت عائشة ﵂ فوالله ما استكمل بعد ذلك جمعة حتى قبضه الله ﷿ // حديث أبي سعيد الخدري وعائشة قال الخدري لأبي سلمة عالج في بيتك من الخدمة ما كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يعالج في بيته كان يعلف الناضح الحديث وفيه قال أبو سلمة فدخلت على عائشة فحدثتها بذلك عن أبي سعيد فقالت ما أخطأ ولقد قصر أو ما أخبرك أنه لم يمتلئ قط شبعاً الحديث بطوله لم أقف له على إسناد
Lembut perangainya, mulia wataknya, indah pergaulannya, berseri-seri wajahnya, selalu tersenyum tanpa tertawa terbahak-bahak, senantiasa berduka (karena cemas akan akhirat) tanpa bermuka masam, tegas tanpa bersikap kasar, tawadu tanpa merasa hina, dermawan tanpa berlebih-lebihan, penyayang kepada setiap kerabat dan orang muslim, berhati lembut, selalu menundukkan pandangan, tidak pernah kekenyangan hingga merasa mual, dan tidak pernah mengulurkan tangannya karena ketakjuban akan dunia. Abu Salamah berkata: Lalu aku mendatangi 'Aisyah radhiyallahu 'anha dan menceritakan kepadanya apa yang dikatakan oleh Abu Sa'id mengenai kezuhudan Rasulullah ﷺ. Maka 'Aisyah berkata, 'Ia tidak memelesetkan satu huruf pun dari perkataannya, bahkan ia masih tergolong ringkas, sebab ia tidak memberitahumu bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah perutnya penuh karena kekenyangan, dan tidak pernah menyampaikan keluhan kepada seorang pun. Sungguh, kefakiran itu lebih beliau sukai daripada kemudahan dan kekayaan. Bahkan sering kali beliau menghabiskan malam dalam keadaan lapar dan menahan sakitnya perut hingga pagi hari, namun hal itu tidak menghalangi beliau untuk berpuasa di siang harinya. Sekiranya beliau berkehendak meminta kepada Rabb-nya agar diberi perbendaharaan bumi, buah-buahannya, dan kemewahan hidupnya dari belahan timur dan barat bumi, niscaya Dia memenuhinya. Terkadang aku menangis karena kasihan kepada beliau atas rasa lapar yang menimpanya, lalu aku mengusap perut beliau dengan tanganku seraya berkata: Jiwaku sebagai tebusanmu, sekiranya engkau mengambil dari dunia sekadar apa yang menopang kekuatanmu dan mencegahmu dari rasa lapar. Maka beliau bersabda: Wahai 'Aisyah, saudara-saudaraku dari kalangan Ulul 'Azmi dari para rasul telah bersabar atas hal yang lebih berat daripada ini, lalu mereka berlalu dalam keadaan itu dan menghadap Rabb mereka, maka Dia memuliakan tempat kembali mereka dan melimpahkan pahala mereka. Karena itu, aku merasa malu jika hidup mewah dalam penghidupanku lalu kedudukanku berada di bawah mereka. Maka bersabar dalam beberapa hari yang singkat ini lebih aku sukai daripada berkurangnya bagianku kelak di akhirat, dan tidak ada sesuatu pun yang lebih aku sukai daripada menyusul saudara-saudaraku dan kekasih-kekasihku. 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Demi Allah, tidak genap satu pekan setelah itu hingga Allah Azza wa Jalla memanggil (mewafatkan) beliau.' // Hadis Abu Sa'id al-Khudri dan 'Aisyah; Al-Khudri berkata kepada Abu Salamah: Kerjakanlah di rumahmu pelayanan… (dst). Di dalamnya Abu Salamah berkata: Lalu aku masuk menemui 'Aisyah… (dst hadis secara panjang lebar); aku tidak menemukan sanad untuk hadis ini.
فما نقل من أحواله ﷺ يجمع جملة أخلاق المتواضعين فمن طلب التواضع فليقتد به ومن رأى نفسه فوق محله ﷺ ولم يرض لنفسه بما رضي هو به فَمَا أَشَدَّ جَهْلَهُ فَلَقَدْ كَانَ أَعْظَمَ خَلْقِ اللَّهِ مَنْصِبًا فِي الدُّنْيَا وَالدِّينِ فَلَا عِزَّ ولا رفعة إلا في الاقتداء به ولذلك قال عمر ﵁ إنا قوم أعزنا الله بالإسلام فلن نطلب العز في غيره لما عوتب في بذاذة هيئته عند دخوله الشام
Maka apa yang diriwayatkan dari ihwal beliau ﷺ merangkum seluruh akhlak orang-orang yang bertawaduk (rendah hati). Barang siapa yang mencari ketawadukan, hendaklah ia meneladani beliau. Dan barang siapa menganggap dirinya berada di atas kedudukan beliau ﷺ serta tidak ridha bagi dirinya apa yang beliau ridhai bagi diri beliau, maka betapa sangat bodohnya dia. Sungguh beliau adalah makhluk Allah yang paling agung kedudukannya di dunia dan agama. Maka tidak ada kemuliaan dan keluhuran melainkan dalam meneladani beliau. Oleh karena itulah Umar ﵁ berkata ketika ia ditegur mengenai kesederhanaan penampilannya saat memasuki Syam: "Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam, maka kita tidak akan pernah mencari kemuliaan pada selainnya."
وقال أبو الدرداء اعلم أن لله عباداً يقال لهم الأبدال خلف من الأنبياء هم أوتاد الأرض فلما انقضت النبوة أبدل الله مكانهم قوماً من أمة محمد ﷺ لم يفضلوا الناس بكثرة صوم ولا صلاة ولا حسن حلية ولكن بصدق الورع وحسن النية وسلامة الصدر لجميع المسلمين والنصيحة لهم ابتغاء مرضاة الله بصبر من غير تجبن وتواضع في غير مذلة وهم قوم اصطفاهم الله واستخلصهم لنفسه وهم أربعون صديقاً أو ثلاثون رجلاً قلوبهم على مثل يقين إبراهيم خليل الرحمن ﵇ لا يموت الرجل منهم حتى يكون الله قد أنشأ من يخلفه واعلم يا أخي أنهم لا يلعنون شيئاً ولا يؤذونه ولا يحقرونه ولا يتطاولون عليه ولا يحسدون أحداً ولا يحرصون على الدنيا هم أطيب الناس خيراً وألينهم عريكة وأسخاهم نفساً علامتهم السخاء وسجيتهم البشاشة وصفتهم السلامة ليسوا اليوم في خشية وغداً في غفلة ولكن مدامين على حالهم الظاهر وهم فيما بينهم وبين ربهم لا تدركهم الرياح العواصف ولا الخيل المجراة قلوبهم تصعد ارتياحاً إلى الله واشتياقاً إليه وقدماً في استباق الخيرات أولئك حزب الله ألا إن حزب الله هم المفلحون قال الراوي فقلت يا أبا الدرداء ما سمعت بصفة أشد علي من تلك الصفة وكيف لي أن أبلغها فقال ما بينك وبين أن تكون في أوسعها إلا أن تكون تبغض الدنيا فإنك إذا بغضت الدنيا أقبلت على حب الآخرة وبقدر حبك للآخرة تزهد في الدنيا وبقدر ذلك تبصر ما ينفعك وإذا علم الله من عبد حسن الطلب أفرغ عليه السداد واكتنفه بالعصمة واعلم يا ابن أخي أن ذلك في كتاب الله تعالى المنزل إن الله مع الذين اتقوا والذين هم محسنون قال يحيى بن كثير فنظرنا
Abu ad-Darda' ﵁ berkata: "Ketahuilah bahwa Allah memiliki hamba-hamba yang dinamakan para Abdal, pengganti para nabi, mereka adalah paku-paku bumi (awtadul ardh). Ketika kenabian telah terputus, Allah menggantikan posisi mereka dengan suatu kaum dari umat Muhammad ﷺ. Mereka tidak mengungguli manusia dengan banyaknya puasa, shalat, maupun keindahan perhiasan lahiriah, melainkan dengan kebenaran wara' (kebersihan hati dari hal syubhat), kebaikan niat, keselamatan dada (kebersihan hati) terhadap seluruh kaum muslimin, serta keikhlasan nasihat bagi mereka demi mengharapkan keridhaan Allah, disertai kesabaran tanpa rasa penakut dan ketawadukan tanpa kehinaan. Mereka adalah kaum yang telah dipilih dan dikhususkan Allah untuk diri-Nya; jumlah mereka empat puluh orang shiddiq atau tiga puluh orang laki-laki yang hati mereka berada di atas keyakinan seperti keyakinan Ibrahim Khalilur Rahman ﵇. Tidaklah seorang laki-laki dari mereka wafat melainkan Allah telah memunculkan orang yang akan menggantikannya. Ketahuilah wahai saudaraku, bahwasanya mereka tidak pernah melaknat sesuatu pun, tidak menyakiti, tidak menghinakan, tidak bersikap sombong melampaui batas, tidak mendengki seorang pun, dan tidak bersikap serakah terhadap dunia. Mereka adalah manusia yang paling baik kebaikannya, paling lembut perangainya, dan paling dermawan jiwanya. Tanda mereka adalah kedermawanan, tabiat mereka adalah keramahan (wajah berseri), dan sifat mereka adalah keselamatan hati. Hari ini mereka tidak berada dalam rasa takut lalu esok hari dalam kelalaian, melainkan mereka senantiasa menetap dalam keadaan lahiriah mereka, sedangkan di antara mereka dan Rabb mereka, tidak dapat mengejar mereka angin badai yang kencang maupun kuda-kuda kencang yang dilombakan. Hati mereka membumbung naik penuh ketenteraman kepada Allah dan kerinduan kepada-Nya serta senantiasa berada di depan dalam memperlomba kebaikan. Mereka itulah hizbullah (golongan Allah), ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung." Perawi berkata: Maka aku berkata, "Wahai Abu ad-Darda', aku tidak pernah mendengar sifat yang lebih berat bagiku daripada sifat tersebut. Lalu bagaimana caranya agar aku dapat mencapainya?" Beliau menjawab: "Tidak ada jarak antara dirimu untuk berada pada tingkatan terluasnya melainkan hendaklah engkau membenci dunia. Sebab jika engkau membenci dunia, engkau akan menyambut kecintaan kepada akhirat. Seukuran cintamu kepada akhirat, engkau akan berzuhud terhadap dunia, dan seukuran itu pula engkau akan dapat melihat apa yang bermanfaat bagimu. Apabila Allah mengetahui dari seorang hamba kebaikan dalam pencariannya, Dia akan mencurahkan bimbingan (assadad) kepadanya dan melingkupinya dengan pemeliharaan (al-'ishmah). Ketahuilah wahai putra saudaraku, bahwasanya hal itu terdapat dalam Kitab Allah Ta'ala yang diturunkan: 'Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.' (QS. An-Nahl: 128)." Yahya bin Katsir berkata: Maka kami merenungkan hal itu, dan tidak ada kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang merasakan kenikmatan sebagaimana mencintai Allah dan mencari keridhaan-Nya.
في ذلك فما تلذذ المتلذذون بمثل حب الله وطلب مرضاته
Dalam hal itu, tidaklah orang-orang yang mengecap kenikmatan merasakan kenikmatan seumpama mencintai Allah dan mencari keridhaan-Nya.
اللهم اجعلنا من محبي المحبين لك يا رب العالمين فإنه لا يصلح لحبك إلا من ارتضيته
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mencintai para pecinta-Mu, wahai Rabb semesta alam, karena sesungguhnya tidak ada yang layak untuk mencintai-Mu kecuali orang yang telah Engkau ridhai.
وصلى الله عليه وسلم
Dan semoga shalawat serta salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau.
بَيَانُ الطَّرِيقِ فِي مُعَالَجَةِ الْكِبْرِ وَاكْتِسَابِ التَّوَاضُعِ له
Penjelasan Jalan dalam Mengobati Kesombongan dan Mengusahakan Ketawadukan Baginya
اعلم أن الكبر من المهلكات ولا يخلو أحد من الخلق عن شيء منه وَإِزَالَتُهُ فَرْضُ عَيْنٍ وَلَا يَزُولُ بِمُجَرَّدِ التَّمَنِّي بل بالمعالجة واستعمال الأدوية القامعة له
Ketahuilah bahwa kesombongan (al-kibr) termasuk perkara yang membinasakan (al-muhlikat), dan tidak ada seorang pun dari makhluk yang terbebas dari sebagian darinya. Menghilangkannya adalah fardhu 'ain (kewajiban individual), dan ia tidak akan sirna hanya dengan sekadar angan-angan, melainkan dengan terapi pengobatan (mu'alajah) serta mengonsumsi obat-obat yang menundukkannya.
وفي معالجته مقامان
Dalam penanganannya terdapat dua tingkatan (tingkat terapi):
أحدهما استئصال أصله من سنخه وقلع شَجَرَتِهِ مِنْ مَغْرِسِهَا فِي الْقَلْبِ
Salah satunya adalah mencabut akarnya sampai ke pangkalnya dan membasmi pohonnya dari tempat tertanamnya di dalam hati.
الثَّانِي دَفْعُ العارض منه بالأسباب الخاصة التي بها يتكبر الإنسان على غيره
Yang kedua adalah menolak gejalanya yang datang tiba-tiba (al-'aridh) melalui sebab-sebab khusus yang membuat seseorang menyombongkan diri atas orang lain.
المقام الأول في استئصال أصله وعلاجه عِلْمِيٌّ وَعَمَلِيٌّ وَلَا يَتِمُّ الشِّفَاءُ إِلَّا بِمَجْمُوعِهِمَا
Tingkatan pertama adalah dalam mencabut akarnya. Pengobatannya terdiri dari jalur ilmu ('ilmi) dan amalan ('amali), dan kesembuhan tidak akan sempurna melainkan dengan gabungan keduanya.
أَمَّا الْعِلْمِيُّ فَهُوَ أَنْ يَعْرِفَ نَفْسَهُ وَيَعْرِفَ رَبَّهُ تَعَالَى وَيَكْفِيهِ ذَلِكَ فِي إِزَالَةِ الْكِبْرِ فَإِنَّهُ مَهْمَا عَرَفَ نَفْسَهُ حَقَّ الْمَعْرِفَةِ عَلِمَ أنه أذل من كل ذليل وأقل من كل قليل وأنه لا يليق به إلا التواضع والذلة والمهانة وَإِذَا عَرَفَ رَبَّهُ عَلِمَ أَنَّهُ لَا تَلِيقُ الْعَظَمَةُ وَالْكِبْرِيَاءُ إِلَّا بِاللَّهِ أَمَّا مَعْرِفَتُهُ رَبَّهُ وعظمته ومجده فالقول فيه يطول وهو منتهى علم المكاشفة وَأَمَّا مَعْرِفَتُهُ نَفْسَهُ فَهُوَ أَيْضًا يَطُولُ وَلَكُنَّا نَذْكُرُ مِنْ ذَلِكَ مَا يَنْفَعُ فِي إِثَارَةِ التواضع والمذلة وَيَكْفِيهِ أَنْ يَعْرِفَ مَعْنَى آيَةٍ وَاحِدَةٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَإِنَّ فِي الْقُرْآنِ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ والآخرين لمن فتحت بصيرته وقد قَالَ تَعَالَى قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ ثُمَّ إذا شاء أنشره فَقَدْ أَشَارَتِ الْآيَةُ إِلَى أَوَّلِ خَلْقِ الْإِنْسَانِ وَإِلَى آخِرِ أَمْرِهِ وَإِلَى وَسَطِهِ فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ ذَلِكَ لِيَفْهَمَ مَعْنَى هَذِهِ الْآيَةِ أَمَّا أَوَّلُ الْإِنْسَانِ فَهُوَ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا وقد كان في حيز العدم دهوراً بل لم يكن لعدمه أول وأي شيء أخس وأقل من المحو والعدم وقد كان كذلك في القدم ثم خلقه الله من أرذل الأشياء ثم من أقذرها إذ قد خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ ثُمَّ جَعَلَهُ عظماً ثم كسا العظم لحماً فقد كان هذا بداية وجوده حيث كان شيئاً مذكوراً فَمَا صَارَ شَيْئًا مَذْكُورًا إِلَّا وَهُوَ عَلَى أَخَسِّ الْأَوْصَافِ وَالنُّعُوتِ إِذْ لَمْ يُخْلَقْ فِي ابْتِدَائِهِ كَامِلًا بَلْ خَلَقَهُ جَمَادًا مَيِّتًا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُحِسُّ وَلَا يَتَحَرَّكُ وَلَا يَنْطِقُ وَلَا يَبْطِشُ وَلَا يُدْرِكُ وَلَا يَعْلَمُ فَبَدَأَ بِمَوْتِهِ قَبْلَ حَيَاتِهِ وَبِضَعْفِهِ قَبْلَ قُوَّتِهِ وَبِجَهْلِهِ قَبْلَ عِلْمِهِ وَبِعَمَاهُ قَبْلَ بَصَرِهِ وبصممه قبل سمعه وببكمه قبل نطقه وبضلالته قَبْلَ هُدَاهُ وَبِفَقْرِهِ قَبْلَ غِنَاهُ وَبِعَجْزِهِ قَبْلَ قدرته
Adapun pengobatan secara ilmu ('ilmi), hendaknya ia mengenali dirinya dan mengenali Rabb-nya Ta'ala. Hal itu sudah cukup baginya untuk menghilangkan kesombongan. Sebab, kapan saja ia mengenali dirinya dengan sebenar-benarnya pengenalan (ma'rifah), ia akan mengetahui bahwa dirinya lebih hina dari segala yang hina dan lebih kecil dari segala yang kecil, serta tidak ada yang layak baginya selain ketawadukan, kehinaan, dan kerendahan. Dan apabila ia mengenali Rabb-nya, ia akan mengetahui bahwa keagungan dan kebesaran tidak layak melainkan hanya bagi Allah. Adapun pengenalannya terhadap Rabb-nya, keagungan-Nya, dan kemuliaan-Nya, maka pembahasannya sangat panjang dan itu merupakan puncak dari ilmu mukasyafah (ilmu pembukaan rahasia spiritual). Sementara pengenalannya terhadap dirinya sendiri juga panjang pembahasannya, namun kami akan menyebutkan sebagian darinya yang bermanfaat untuk membangkitkan rasa tawaduk dan kehinaan. Cukuplah baginya untuk memahami makna satu ayat saja dalam Kitabullah, karena dalam Al-Qur'an terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian bagi siapa yang telah dibuka mata hatinya (bashirah). Allah Ta'ala telah berfirman: "Binasalah manusia; betapa amat sangat kekafirannya! Dari apakah Allah meyakinkannya? Dari setetes mani, Allah meyakinkannya lalu menentukan takdirnya. Kemudian Dia memudahkan jalannya. Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur. Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali." (QS. 'Abasa: 17-22). Sungguh ayat ini telah mengisyaratkan kepada permulaan penciptaan manusia, akhir urusannya, dan pertengahannya. Hendaklah manusia memperhatikan hal itu agar dapat memahami makna ayat ini. Adapun permulaan manusia adalah bahwasanya ia dahulunya bukanlah sesuatu yang sebutkan, ia berada dalam ketiadaan selama berabad-abad, bahkan ketiadaannya tidak memiliki permulaan. Lantas perkara apakah yang lebih hina dan lebih kecil daripada kepunahan dan ketiadaan? Padahal ia dahulunya demikian pada masa azali. Kemudian Allah menciptakannya dari sesuatu yang paling rendah, lalu dari yang paling kotor, ketika Dia menciptakannya dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging, lalu menjadikannya tulang, kemudian membungkus tulang itu dengan daging. Maka inilah awal mula keberadaannya ketika ia menjadi sesuatu yang dinamakan/disebutkan. Namun ia tidak menjadi sesuatu yang sebutkan melainkan berada di atas sifat dan karakter yang paling hina, sebab ia tidak diciptakan pada permulaannya dalam keadaan sempurna, melainkan diciptakan sebagai benda mati yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak merasa, tidak bergerak, tidak berbicara, tidak meraba, tidak mendapati, dan tidak mengetahui. Maka Dia memulainya dengan kematiannya sebelum kehidupannya, kelemahannya sebelum kekuatannya, kebodohannya sebelum ilmunya, kebutaannya sebelum penglihatannya, ketuliannya sebelum pendengarannya, kebisuannya sebelum bicaranya, kesesatannya sebelum petunjuknya, kefakirannya sebelum kekayaannya, dan ketidakmampuannya sebelum kemampuannya.
فهذا معنى قوله مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فقدره ومعنى قوله هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ من نطفة أمشاج نبتليه كذلك خلقه أولاً ثُمَّ امْتَنَّ عَلَيْهِ فَقَالَ ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ وَهَذَا إِشَارَةٌ إِلَى مَا تَيَسَّرَ لَهُ فِي مدة حياته إلى الموت وكذلك قال مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا إنا هديناه السبيل وإما شاكرا أو كفورا ومعناه أنه أحياه بعد أن كان جماداً ميتاً تراباً أولاً ونطفة ثانياً وأسمعه بعد ما كان أصم وبصره بعد ما كان فاقداً للبصر وقواه بعد الضعف وعلمه بعد الجهل وخلق له الأعضاء بما فيها من العجائب والآيات بعد الفقد لها وأغناه بعد الفقر وأشبعه بعد الجوع وكساه بعد العري وهداه بعد الضلال
Maka inilah makna firman-Nya: "Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukan takdirnya." (QS. 'Abasa: 18-19) Dan makna firman-Nya: "Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang ia belum menjadi sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya…" (QS. Al-Insan: 1-2). Demikianlah Dia menciptakannya pada permulaan, kemudian Dia memberikan karunia kepadanya seraya berfirman: "Kemudian Dia memudahkan jalannya." (QS. 'Abasa: 20). Ini merupakan isyarat kepada apa yang dimudahkan baginya selama masa hidupnya hingga kematian. Begitu pula firman-Nya: "…dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalannya yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." (QS. Al-Insan: 2-3). Maknanya adalah bahwa Dia menghidupkannya setelah sebelumnya ia berupa benda mati, debu pada awalnya, dan mani pada tahap kedua. Dia menjadikannya mendengar setelah sebelumnya tuli, menjadikannya melihat setelah sebelumnya tidak memiliki penglihatan, menguatkannya setelah kelemahan, mengajarinya setelah kebodohan, menciptakan baginya anggota-anggota tubuh beserta keajaiban dan tanda-tanda kebesaran di dalamnya setelah sebelumnya tidak ada, memakmurkannya (memperkayanya) setelah kefakiran, mengenyangkannya setelah kelaparan, memberinya pakaian setelah bertelanjang, dan menunjukinya setelah kesesatan.
فانظر كيف دبره وصوره وإلى السبيل كيف يسره وإلى طغيان الإنسان ما أكفره وإلى جهل الإنسان كيف أظهره فقال أو لم يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هو خصيم مبين ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إذا أنتم بشر تنتشرون﴾ فانظر إلى نعمة الله كيف نقله من تلك الذلة والقلة والخسة والقذارة إلى هذه الرفعة والكرامة فصار موجوداً بعد العدم وحياً بعد الموت وناطقاً بعد البكم وبصيراً بعد العمى وقوياً بعد الضعف وعالما بعد الجهل ومهديا بعد
Maka lihatlah bagaimana Dia mengatur dan membentuk rupa manusia, bagaimana Dia memudahkan jalannya, betapa melampaui batasnya manusia dan betapa kufurnya dia, serta betapa nyata kebodohan manusia yang ditampakkannya, lalu Dia berfirman: "Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata?" (QS. Yasin: 77), dan "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak." (QS. Ar-Rum: 20). Maka perhatikanlah kenikmatan Allah, bagaimana Dia memindahkannya dari kehinaan, kekecilan, kerendahan, dan kotoran itu menuju keluhuran dan kemuliaan ini. Maka ia menjadi ada setelah ketiadaan, hidup setelah kematian, berbicara setelah kebisuannya, melihat setelah kebutaannya, kuat setelah kelemahannya, berilmu setelah kebodohannya, dan mendapat petunjuk setelah…
الضلال وقادراً بعد العجز وغنياً بعد الفقر فكان في ذاته لا شيء وأي شيء أخس من لا شيء وأي قلة أقل من العدم المحض ثم صار بالله شيئاً
kesesatannya, berkuasa (mampu) setelah ketidakmampuannya, serta kaya setelah kefakirannya. Padahal pada hakikat zatnya ia adalah bukan apa-apa (la syai'). Dan perkara manakah yang lebih hina daripada bukan apa-apa? Kekecilan manakah yang lebih kecil daripada ketiadaan murni (al-'adam al-mahdh)? Kemudian dengan (kemurahan) Allah ia menjadi sesuatu.
وَإِنَّمَا خَلَقَهُ مِنَ التُّرَابِ الذَّلِيلِ الَّذِي يُوطَأُ بالأقدام والنطفة القذرة بعد العدم المحض أيضاً ليعرفه خسة ذاته فيعرف به نَفْسَهُ وَإِنَّمَا أَكْمَلَ النِّعْمَةَ عَلَيْهِ لِيَعْرِفَ بِهَا رَبَّهُ وَيَعْلَمَ بِهَا عَظَمَتَهُ وَجَلَالَهُ وَأَنَّهُ لَا يليق الكبرياء إلا به جل وعلا
Dan tidak lain Dia menciptakannya dari tanah yang hina yang diinjak-injak oleh kaki serta dari mani yang kotor setelah ketiadaan murni pula, adalah agar ia menyadari kerendahan zatnya sehingga dengannya ia mengenali dirinya. Dan tidak lain Dia menyempurnakan nikmat atasnya adalah agar dengan nikmat itu ia mengenali Rabb-nya, serta mengetahui keagungan dan keperkasaan-Nya, bahwasanya kebesaran (al-kibriya') tidaklah layak melainkan hanya bagi-Nya Jalla wa 'Ala.
ولذلك امتن عليه فقال ألم نجعل له عينين ولساناً وشفتين وهديناه النجدين وعرف خسته أولاً فقال ﴿أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى ثُمَّ كان علقة﴾ ثم ذكر منته عليه فقال ﴿فخلق فسوى فجعل منه الزوجين الذكر والأنثى﴾ ليدوم وجوده بالتناسل كما حصل وجوده أولاً بالاختراع
Oleh karena itu, Dia melimpahkan karunia kepadanya seraya berfirman: "Bukankah Kami telah menjadikan untuknya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir, dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan?" (QS. Al-Balad: 8-10). Dan Dia memberitahukan kerendahannya terlebih dahulu dengan berfirman: "Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah…" (QS. Al-Qiyamah: 37-38), kemudian Dia menyebutkan karunia-Nya atasnya seraya berfirman: "…lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan." (QS. Al-Qiyamah: 38-39), agar kelangsungan keberadaannya berlanjut melalui perkembangbiakan sebagaimana keberadaannya pertama kali terjadi melalui ciptaan-Nya yang tanpa perantara (al-ikhtira').
فمن كان هذا بدؤه وَهَذِهِ أَحْوَالَهُ فَمِنْ أَيْنَ لَهُ الْبَطَرُ وَالْكِبْرِيَاءُ والفخر والخيلاء وهو على التحقيق أخس الأخساء وأضعف الضُّعَفَاءِ وَلَكِنَّ هَذِهِ عَادَةُ الْخَسِيسِ إِذَا رُفِعَ مِنْ خِسَّتِهِ شَمَخَ بِأَنْفِهِ وَتَعَظَّمَ وَذَلِكَ لِدَلَالَةِ خِسَّةِ أَوَّلِهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Maka barang siapa yang demikian permulaannya dan demikian keadaannya, dari manakah ia berhak memiliki kelancangan (al-bathar), kesombongan (al-kibriya'), kebanggaan (al-fakhr), dan keangkuhan (al-khuyala'), padahal secara hakikat ia adalah yang paling hina dari sekalian yang hina dan paling lemah dari sekalian yang lemah? Akan tetapi, inilah tabiat orang yang hina: apabila diangkat dari kerendahannya, ia membusungkan dada (mengangkat hidungnya) dan merasa besar, yang mana hal itu justru menunjukkan kerendahan asal-usulnya. Dan tidak ada daya maupun kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.
نَعَمْ لَوْ أَكْمَلَهُ وَفَوَّضَ إِلَيْهِ أَمْرَهُ وَأَدَامَ لَهُ الْوُجُودَ بِاخْتِيَارِهِ لَجَازَ أَنْ يَطْغَى وَيَنْسَى الْمَبْدَأَ وَالْمُنْتَهَى وَلَكِنَّهُ سَلَّطَ عَلَيْهِ فِي دوام وجوده الأمراض الهائلة والأسقام العظيمة والآفات المختلفة والطباع المتضادة من المرة والبلغم والريح والدم يَهْدِمُ الْبَعْضُ مِنْ أَجْزَائِهِ الْبَعْضَ شَاءَ أَمْ أبى رضي أم سخط فَيَجُوعُ كُرْهًا وَيَعْطَشُ كُرْهًا وَيَمْرَضُ كُرْهًا وَيَمُوتُ كُرْهًا لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا وَلَا خَيْرًا وَلَا شَرًّا يُرِيدُ أَنْ يَعْلَمَ الشَّيْءَ فَيَجْهَلُهُ وَيُرِيدُ أَنْ يَذْكُرَ الشَّيْءَ فَيَنْسَاهُ وَيُرِيدُ أَنْ يَنْسَى الشَّيْءَ وَيَغْفُلُ عَنْهُ فَلَا يغفل عنه ويريد أن يصرف قلبه إلى ما يهمه فيجول في أودية الوساوس والأفكار بالاضطرار فلا يملك قلبه قلبه ولا نفسه نفسه ويشتهى الشيء وربما يكون هلاكه فيه ويكره الشيء وربما تكون حياته فيه يستلذ الأطعمة وتهلكه وترديه ويستبشع الأدوية وهي تنفعه وتحييه وَلَا يَأْمَنُ فِي لَحْظَةٍ مِنْ لَيْلِهِ أَوْ نَهَارِهِ أَنْ يُسْلَبَ سَمْعُهُ وَبَصَرُهُ وَتُفَلَّجَ أَعْضَاؤُهُ وَيُخْتَلَسَ عَقْلُهُ وَيُخْتَطَفَ رُوحُهُ وَيُسْلَبَ جَمِيعَ مَا يَهْوَاهُ فِي دُنْيَاهُ فَهُوَ مُضْطَرٌّ ذَلِيلٌ إِنْ تُرِكَ بَقِيَ وَإِنِ اخْتُطِفَ فَنِيَ عَبْدٌ مَمْلُوكٌ لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ مِنْ نَفْسِهِ وَلَا شَيْءٍ مِنْ غَيْرِهِ فَأَيُّ شَيْءٍ أَذَلُّ مِنْهُ لَوْ عَرَفَ نَفْسَهُ وَأَنَّى يَلِيقُ الْكِبْرُ بِهِ لولا جهله فهذا أوسط أحواله فليتأمله
Benar, seandainya Allah menyempurnakannya dan menyerahkan urusannya kepadanya serta mengekalkan keberadaannya atas pilihannya sendiri, tentulah wajar ia berbuat melampaui batas dan melupakan permulaan serta akhirannya. Namun, Dia menguasakan atasnya selama keberadaannya berbagai penyakit yang mengerikan, penderitaan yang besar, mara bahaya yang bermacam-macam, serta sifat-sifat fisik yang saling bertolak belakang seperti empedu, dahak, angin, dan darah; sebagian anggota tubuhnya merusak sebagian yang lain, baik ia mau maupun enggan, ridha maupun benci. Maka ia kelaparan secara terpaksa, kehausan secara terpaksa, sakit secara terpaksa, dan mati secara terpaksa, tanpa memiliki bagi dirinya sendiri daya untuk mendatangkan kemanfaatan, kemudaratan, kebaikan, maupun keburukan. Ia ingin mengetahui sesuatu lalu ia tidak mengetahuinya, ingin mengingat sesuatu lalu ia melupakannya, ingin melupakan sesuatu dan lengah darinya namun ia tidak bisa melupakannya, dan ia ingin memalingkan hatinya kepada apa yang penting baginya namun hatinya malah mengelana di lembah-lembah waswas dan pikiran secara terpaksa, sehingga hatinya tidak menguasai hatinya dan dirinya tidak menguasai dirinya. Ia menyukai sesuatu padahal bisa jadi kebinasaannya ada pada sesuatu itu, dan ia membenci sesuatu padahal bisa jadi kehidupannya ada padanya. Ia merasakan kelezatan makanan padahal makanan itu membinasakan dan mencelakakannya, dan ia merasa jijik kepada obat padahal obat itu bermanfaat dan menyehatkannya. Ia tidak pernah merasa aman dalam sesaat pun dari malam atau siangnya dari dicabutnya pendengaran dan penglihatannya, dilumpuhkannya anggota tubuhnya, dirampasnya akalnya, dicabutnya ruhnya, dan dirampasnya seluruh apa yang disukainya di dunianya. Maka ia adalah makhluk yang serba terpaksa lagi hina; jika dibiarkan ia bertahan dan jika dicabut ia musnah. Ia adalah seorang hamba yang dimiliki, yang tidak berkuasa atas sesuatu pun dari dirinya dan tidak pula dari orang lain. Maka perkara apakah yang lebih hina daripadanya seandainya ia mengenali dirinya? Dan bagaimana mungkin kesombongan itu layak baginya jika bukan karena kebodohannya? Maka inilah keadaan pertengahannya, hendaklah ia merenungkannya.
وأما آخره ومورده فَهُوَ الْمَوْتُ الْمُشَارُ إِلَيْهِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿ثُمَّ أماته فأقبره ثم إذا شاء أنشره﴾ وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ يُسْلَبُ رُوحَهُ وَسَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَعِلْمَهُ وَقُدْرَتَهُ وَحِسَّهُ وَإِدْرَاكَهُ وَحَرَكَتَهُ فَيَعُودُ جَمَادًا كَمَا كَانَ أَوَّلَ مَرَّةٍ لَا يَبْقَى إِلَّا شَكْلُ أَعْضَائِهِ وَصُورَتِهِ لَا حِسَّ فِيهِ وَلَا حَرَكَةَ ثُمَّ يُوضَعُ فِي التُّرَابِ فَيَصِيرُ جِيفَةً مُنْتِنَةً قذرة كما كان في الأول نطفة مذرة ثُمَّ تَبْلَى أَعْضَاؤُهُ وَتَتَفَتَّتُ أَجْزَاؤُهُ وَتَنْخُرُ عِظَامُهُ ويصير رميماً رفاتاً ويأكل الدود أجزاءه فيبتدئ بحدقتيه فيقلعهما وبخديه فيقطعهما وبسائر أجزائه فَيَصِيرُ رَوْثًا فِي أَجْوَافِ الدِّيدَانِ وَيَكُونُ جِيفَةً يَهْرُبُ مِنْهُ الْحَيَوَانُ وَيَسْتَقْذِرُهُ كُلُّ إِنْسَانٍ وَيَهْرُبُ منه لشدة الإنتان وأحسن أحواله أن يعود إلى ما كان فيصير تراباً يعمل منه الكيزان ويعمل منه البنيان فيصير مفقوداً بعد ما أن موجوداً
Adapun kesudahan dan tempat kembalinya adalah kematian yang diisyaratkan oleh firman Allah Ta'ala: "Kemudian Dia mematikannya lalu memasukkannya ke dalam kubur. Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali." (QS. 'Abasa: 21-22). Maknanya adalah bahwasanya ruhnya, pendengarannya, penglihatannya, ilmunya, kemampuannya, inderanya, kesadarannya, dan gerakannya dicabut, sehingga ia kembali menjadi benda mati sebagaimana keadaan pertamanya dahulu; tidak ada yang tersisa melainkan bentuk anggota tubuh dan rupanya saja, tanpa ada rasa dan tanpa ada gerakan. Kemudian ia diletakkan di dalam tanah lalu menjadi bangkai yang busuk lagi kotor sebagaimana keadaannya pada awalnya berupa mani yang kotor. Kemudian anggota-anggota tubuhnya hancur, bagian-bagian dirinya terurai, tulang-belulangnya lapuk, dan ia menjadi hancur lumat. Cacing-cacing memakan bagian-bagian tubuhnya, dimulai dari kedua bola matanya lalu mencongkelnya, kedua pipinya lalu memotongnya, serta seluruh anggota tubuh lainnya, hingga ia menjadi kotoran di dalam perut cacing-cacing. Ia menjadi bangkai yang dihindari oleh hewan, dianggap jijik oleh setiap manusia, dan dihindari karena sangat busuk bau busuknya. Dan sebaik-baik keadaannya adalah ia kembali seperti keadaannya semula, yaitu menjadi tanah yang darinya dibuat kendi-kendi dan dibuat bangunan-bangunan, maka ia pun menjadi tidak ada setelah sebelumnya pernah ada.
وصار كأن لم يغن بالأمس حصيداً كما كان في أول أمره أمداً مديداً وَلَيْتَهُ بَقِيَ كَذَلِكَ فَمَا أَحْسَنَهُ لَوْ تُرِكَ تراباً
Maka ia menjadi seolah-olah tidak pernah ada kemarin, seperti tanaman yang telah dituai, sebagaimana keadaannya pada awal mulanya dalam kurun waktu yang amat panjang. Dan alangkah baiknya sekiranya ia tetap demikian, betapa indahnya jika ia dibiarkan tetap menjadi tanah.
لَا بَلْ يُحْيِيهِ بَعْدَ طُولِ الْبِلَى لِيُقَاسِيَ شديد البلاء فَيَخْرُجُ مِنْ قَبْرِهِ بَعْدَ جَمْعِ أَجْزَائِهِ الْمُتَفَرِّقَةِ وَيَخْرُجُ إِلَى أَهْوَالِ الْقِيَامَةِ فَيَنْظُرُ إِلَى قِيَامَةٍ قَائِمَةٍ وَسَمَاءٍ مُشَقَّقَةٍ مُمَزَّقَةٍ وَأَرْضٍ مُبَدَّلَةٍ وَجِبَالٍ مُسَيَّرَةٍ وَنُجُومٍ مُنْكَدِرَةٍ وَشَمْسٍ مُنْكَسِفَةٍ وَأَحْوَالٍ مُظْلِمَةٍ وَمَلَائِكَةٍ غِلَاظٍ شِدَادٍ وَجَهَنَّمَ تَزْفِرُ وَجَنَّةٍ يَنْظُرُ إِلَيْهَا الْمُجْرِمُ فَيَتَحَسَّرُ وَيَرَى صَحَائِفَ مَنْشُورَةً فَيُقَالُ لَهُ ﴿اقْرَأْ كِتَابَكَ﴾ فَيَقُولُ وَمَا هُوَ فَيُقَالُ كَانَ قَدْ وُكِّلَ بِكَ فِي حَيَاتِكَ الَّتِي كنت تفرح بها وتتكبر بِنَعِيمِهَا وَتَفْتَخِرُ بِأَسْبَابِهَا مَلَكَانِ رَقِيبَانِ يَكْتُبَانِ عَلَيْكَ
Tidak, justru Dia akan menghidupkannya kembali setelah hancur luluh dalam waktu yang lama, agar ia menanggung ujian yang amat dahsyat. Maka ia keluar dari kuburnya setelah dihimpunkan kembali bagian-bagian tubuhnya yang bercerai-berai, lalu ia keluar menuju kengerian Hari Kiamat. Ia menyaksikan kiamat yang benar-benar terjadi, langit yang terbelah dan teroyak, bumi yang diganti, gunung-gunung yang dijalankan, bintang-bintang yang berjatuhan dan redup, matahari yang tergulung redup, keadaan yang serba mencekam dan gelap gulita, malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, neraka Jahannam yang bergemuruh merintih, serta surga yang dipandang oleh orang yang berbuat dosa lalu ia menyesal tiada tara. Ia melihat lembaran-lembaran catatan amal dibagikan, lalu dikatakan kepadanya: 'Bacalah kitabmu!' Maka ia bertanya: 'Apakah itu?' Dikatakan kepadanya: 'Sewaktu hidupmu yang engkau banggakan, engkau bersikap sombong atas kenikmatannya, dan engkau megahkan sebab-sebabnya, telah ditugaskan kepadamu dua malaikat pengawas yang mencatat setiap perbuatanmu…'
ما كنت تنطق به أو تعمله من قليل وكثير ونقير وقطمير وأكل وشرب وقيام وقعود قَدْ نَسِيتَ ذَلِكَ وَأَحْصَاهُ اللَّهُ عَلَيْكَ فَهَلُمَّ إِلَى الْحِسَابِ وَاسْتَعِدَّ لِلْجَوَابِ أَوْ تُسَاقُ إِلَى دَارِ الْعَذَابِ فَيَنْقَطِعُ قَلْبُهُ فَزَعًا مِنْ هَوْلِ هَذَا الْخِطَابِ قَبْلَ أَنْ تَنْتَشِرَ الصَّحِيفَةُ وَيُشَاهِدَ مَا فِيهَا مِنْ مَخَازِيهِ فَإِذَا شَاهَدَهُ قَالَ ﴿يا ويلتنا ما لهذا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أحصاها﴾ فَهَذَا آخِرُ أَمْرِهِ وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى ﴿ثم إذا شاء أنشره﴾ فَمَا لِمَنْ هَذَا حَالُهُ وَالتَّكَبُّرُ وَالتَّعَظُّمُ بَلْ ماله وللفرح في لحظة واحدة فضلاً عن البطر والأشر فَقَدْ ظَهَرَ لَهُ أَوَّلُ حَالِهِ وَوَسَطُهُ وَلَوْ ظَهَرَ آخِرُهُ وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ تَعَالَى رُبَّمَا اخْتَارَ أن يكون كلباً أو خنزيراً ليصير مَعَ الْبَهَائِمِ تُرَابًا وَلَا يَكُونُ إِنْسَانًا يَسْمَعُ خطاباً أو يلقى عذاباً وإن كان عند الله مستحقاً للنار فالخنزير أشرف منه وأطيب وأرفع إذ أوله التراب وآخره التراب وهو بمعزل عن الحساب والعذاب والكلب والخنزير لا يهرب منه الخلق
…apa yang engkau ucapkan atau engkau perbuat, baik sedikit maupun banyak, sehalus serat kurma maupun sekecil kulit ari biji kurma, makan dan minum, berdiri dan duduk. Engkau telah melupakannya, namun Allah menghitungnya secara cermat atas dirimu. Maka marilah menuju hisab dan bersiaplah untuk menjawab, atau engkau akan digiring ke kediaman siksa.' Maka terputuslah hatinya karena takut akan kengerian seruan ini, sebelum lembaran catatan dibagikan dan ia menyaksikan kehinaan-kehinaannya di dalamnya. Ketika ia melihatnya, ia berkata: 'Aduhai celakalah kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan ia mencatatnya semuanya!' Inilah akhir dari urusannya, dan inilah makna firman Allah Ta'ala: 'Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.' Maka selayakkah bagi orang yang keadaannya demikian untuk bersikap sombong dan membanggakan diri? Bahkan mengapa ia bisa bergembira walau sesaat, apalagi bersenang-senang secara berlebihan dan angkuh? Sungguh telah jelas baginya awal keadaannya dan pertengahannya. Sekiranya tampak baginya kesudahannya—kita berlindung kepada Allah Ta'ala—bisa jadi ia akan memilih menjadi seekor anjing atau babi agar menjadi tanah bersama hewan-hewan lain, dan tidak menjadi manusia yang mendengarkan celaan pemeriksaan atau menemui siksaan. Jika di sisi Allah ia berhak masuk neraka, maka babi itu justru lebih mulia, lebih baik, dan lebih tinggi daripadanya, karena awal babi adalah tanah dan akhirnya menjadi tanah, serta ia terbebas dari hisab dan azab, lagipula anjing dan babi tidak lari darinya makhluk-makhluk…
ولو رأى أهل الدنيا العبد المذنب في النار لصعقوا من وحشة خلقته وقبح صورته ولو وجدوا ريحه لماتوا من نتنه ولو وقعت قطرة من شرابه الذي يسقى منه في بحار الدنيا لصارت أنتن من الجيفة فَمَنْ هَذَا حَالُهُ فِي الْعَاقِبَةِ إِلَّا أَنْ يَعْفُوَ اللَّهُ عَنْهُ وَهُوَ عَلَى شَكٍّ مِنَ العفو كيف يفرح ويبطر وكيف يتكبر ويتجبر وكيف يرى نفسه شيئاً حتى يعتقد له فضلاً وأي عبد لم يذنب ذنباً استحق به العقوبة إلا أن يعفو الله الكريم بفضله ويجبر الكسر بمنه والرجاء منه ذلك لكرمه وحسن الظن به ولا قوة إلا بالله
Seandainya penduduk dunia melihat seorang hamba yang berdosa di dalam neraka, niscaya mereka akan pingsan terperanjat karena mengerikannya rupa fisiknya dan buruknya wujudnya. Seandainya mereka mencium bau busuknya, niscaya mereka akan mati karena bau busuk tersebut. Dan seandainya setetes minuman yang diberikan kepadanya jatuh ke lautan dunia, niscaya laut itu akan menjadi lebih busuk daripada bangkai. Maka siapakah yang keadaannya demikian di akhirat kelak—kecuali jika Allah mengampuninya, sementara ia berada dalam keraguan apakah mendapat ampunan itu—bagaimana ia bisa bersukacita dan melampaui batas? Bagaimana ia bisa bersikap sombong dan berbuat sewenang-wenang? Bagaimana ia memandang dirinya memiliki nilai hingga meyakini adanya keutamaan pada dirinya? Hamba manakah yang tidak pernah berbuat dosa yang membuatnya berhak menerima hukuman, kecuali bila Allah Yang Mahamulia mengampuninya dengan karunia-Nya dan menyembuhkan keretakan itu dengan anugerah-Nya? Harapan kepada-Nya atas hal tersebut timbul karena kemurahan-Nya dan prasangka baik kepada-Nya. Dan tidak ada daya maupun kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.
أرأيت من جنى على بعض الملوك فاستحق بجنايته ضرب ألف سوط فحبس إلى السجن وهو ينتظر أن يخرج إلى العرض وتقام عليه العقوبة على ملأ من الخلق وليس يدري أيعفى عنه أم لا كيف يكون ذله في السجن أفترى أنه يتكبر على من في السجن وما من عبد مذنب إلا والدنيا سجنه وقد استحق العقوبة من الله تعالى ولا يدري كيف يكون آخر أمره فيكفيه ذَلِكَ حُزْنًا وَخَوْفًا وَإِشْفَاقًا وَمَهَانَةً وَذُلًّا
Tahukah engkau orang yang berbuat kejahatan terhadap seorang raja sehingga akibat kejahatannya itu ia berhak dijatuhi hukuman cambuk seribu kali, lalu ia dimasukkan ke dalam penjara sementara ia menunggu dikeluarkan menuju sidang pemeriksaan dan dijatuhi hukuman di hadapan khalayak ramai, padahal ia tidak tahu apakah ia akan diampuni atau tidak; bagaimanakah kehinaan dirinya di dalam penjara? Adakah engkau kira ia akan bersikap sombong kepada sesama penghuni penjara? Padahal tiada seorang hamba pun yang berdosa melainkan dunia ini adalah penjaranya, dan ia telah berhak mendapat hukuman dari Allah Ta'ala tanpa mengetahui bagaimana akhir urusannya. Cukuplah hal itu mendatangkan kesedihan, ketakutan, kekhawatiran, kerendahan, dan kehinaan baginya.
فَهَذَا هُوَ الْعِلَاجُ الْعِلْمِيُّ الْقَامِعُ لِأَصْلِ الْكِبْرِ
Maka inilah obat ilmiah yang menumpas akar kesombongan.
وَأَمَّا الْعِلَاجُ الْعَمَلِيُّ فَهُوَ التَّوَاضُعُ لِلَّهِ بِالْفِعْلِ وَلِسَائِرِ الْخَلْقِ بِالْمُوَاظَبَةِ عَلَى أَخْلَاقِ الْمُتَوَاضِعِينَ كَمَا وَصَفْنَاهُ وحكيناه من أحوال الصالحين ومن أحوال رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حَتَّى إنه كان يأكل على الأرض ويقول إنما أنا عبد آكل كما يأكل العبد حديث حكيم بن حزام بايعت رسول الله ﷺ على أن لا أخر إلا قائماً الحديث رواه أحمد مقتصرا على هذا وفيه إرسال خفي
Adapun obat amaliah adalah bertawaduk kepada Allah secara nyata dan kepada seluruh makhluk dengan membiasakan diri berakhlak seperti orang-orang yang tawaduk, sebagaimana yang telah kami gambarkan dan ceritakan dari keadaan orang-orang saleh dan keadaan Rasulullah ﷺ, hingga beliau pernah makan di atas tanah seraya bersabda: 'Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, aku makan sebagaimana layaknya seorang hamba makan.' Hadis Hakim bin Hizam: 'Aku berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak jatuh melainkan dalam keadaan berdiri…' Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad secara ringkas pada bagian ini saja, dan di dalamnya terdapat irsal khafi (kemursalan terselubung).
فَلَمَّا كَانَ السُّجُودُ عِنْدَهُمْ هُوَ مُنْتَهَى الذِّلَّةِ وَالضَّعَةِ أُمِرُوا بِهِ لِتَنْكَسِرَ بِذَلِكَ خُيَلَاؤُهُمْ وَيَزُولَ كِبْرُهُمْ وَيَسْتَقِرَّ التَّوَاضُعُ فِي قُلُوبِهِمْ وَبِهِ أُمِرَ سائر الخلق فإن الركوع والسجود والمثول قائماً هو العمل الذي يقتضيه التواضع فكذلك من عرف نفسه فلينظر كل ما يتقاضاه الكبر من الأفعال فليواظب على نقيضه حتى يصير التواضع له خلقاً فإن القلوب لا تتخلق بالأخلاق المحمودة إلا بالعلم والعمل جميعاً وذلك لخفاء العلاقة بين القلوب والجوارح وسر
Maka tatkala sujud menurut mereka merupakan puncak kehinaan dan kerendahan, mereka diperintahkan untuk melakukannya agar keangkuhan mereka patah, kesombongan mereka sirna, dan sikap tawaduk bersemayam di dalam hati mereka. Hal ini juga diperintahkan kepada seluruh makhluk, sebab rukuk, sujud, dan berdiri tegak merupakan perbuatan yang dituntut oleh kerendahan hati. Begitu pula bagi siapa yang telah mengenali dirinya, hendaklah ia memperhatikan setiap perbuatan yang dituntut oleh kesombongan, lalu ia membiasakan diri melakukan kebalikannya hingga tawaduk menjadi kelakuan (karakter) baginya. Sebab, hati tidak dapat berakhlak dengan akhlak yang terpuji kecuali dengan gabungan ilmu dan amal sekaligus. Hal itu karena tersembunyinya hubungan antara hati dan anggota badan serta rahasia…
الارتباط الذي بين عالم الملك وعالم الملكوت والقلب من عالم الملكوت
…keterkaitan yang ada antara alam Mulk (alam nyata) dan alam Malakut (alam gaib); sedangkan hati itu termasuk bagian dari alam Malakut.
الْمَقَامُ الثَّانِي فِيمَا يَعْرِضُ مِنَ التَّكَبُّرِ بِالْأَسْبَابِ السبعة المذكورة وقد ذَكَرْنَا فِي كِتَابِ ذَمِّ الْجَاهِ أَنَّ الْكَمَالَ الْحَقِيقِيَّ هُوَ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ فَأَمَّا مَا عَدَاهُ مما يفنى بالموت فكمال وهمي فمن هذا يعسر على العالم أن لا يتكبر ولكنا نَذْكُرُ طَرِيقَ الْعِلَاجِ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فِي جميع الأسباب السبعة
Tingkatan Kedua: Mengenai kesombongan yang timbul dari tujuh sebab yang telah disebutkan. Dan sungguh telah kami sebutkan dalam Kitab 'Damm al-Jah' (Tercelanya Kedudukan) bahwa kesempurnaan yang hakiki itu adalah ilmu dan amal. Adapun selain keduanya dari hal-hal yang fana dengan kematian, maka itu adalah kesempurnaan semu. Oleh karena itulah, sulit bagi seorang alim untuk tidak bersikap sombong. Namun demikian, kami akan menyebutkan cara pengobatan melalui ilmu dan amal pada seluruh tujuh sebab tersebut.
الأول النسب فيمن يَعْتَرِيهِ الْكِبْرُ مِنْ جِهَةِ النَّسَبِ فَلْيُدَاوِ قَلْبَهُ بمعرفة أمرين
Yang pertama: Nasab (keturunan). Barang siapa yang dihinggapi kesombongan dari segi nasab, hendaklah ia mengobati hatinya dengan memahami dua perkara.
أحدهما أَنَّ هَذَا جَهْلٌ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ تَعَزَّزَ بكمال غيره ولذلك قيل
Salah satunya: Bahwa ini merupakan suatu kebodohan, ditinjau dari kenyataan bahwa ia merasa mulia dengan kesempurnaan orang lain. Oleh karena itu dikatakan dalam syair:
لئن فخرت بآباء ذوي شرف … لقد صدقت ولكن بئس ما ولدوا
Jika engkau membanggakan leluhur yang memiliki kemuliaan … Sungguh engkau benar, tetapi alangkah buruknya apa yang mereka lahirkan.
فالمتكبر بالنسب إن كان خسيساً في صفات ذاته فمن أين يجبر خسته بكمال غيره بل لو كان الذي ينسب إليه حياً لكان له أن يقول الفضل لي ومن أنت وإنما أنت دودة خلقت من بولي أفترى أن الدودة التي خلقت من بول إنسان أشرف من الدودة التي من بول فرس هيهات بل هما متساويان والشرف للإنسان لا للدودة
Orang yang sombong dengan nasabnya, jika ia sendiri hina dalam sifat-sifat pribadinya, maka dari mana ia bisa menutupi kehinaannya dengan kesempurnaan orang lain? Bahkan seandainya leluhur yang disandarkannya itu masih hidup, tentulah ia berhak berkata: 'Keutamaan itu milikku, lalu siapakah engkau? Engkau hanyalah ulat yang tercipta dari air kencingku.' Adakah engkau kira ulat yang tercipta dari air kencing manusia lebih mulia daripada ulat yang berasal dari air kencing kuda? Mustahil! Bahkan keduanya sama saja, dan kemuliaan itu milik manusianya, bukan milik ulatnya.
الثاني أن يعرف نسبه الحقيقي فيعرف أَبَاهُ وَجَدَّهُ فَإِنَّ أَبَاهُ الْقَرِيبَ نُطْفَةٌ قَذِرَةٌ وجده البعيد تراب ذليل وقد عرفه الله تعالى نسبه فقال ﴿الذي أحسن كل شيء خلقه وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلَ نسله من سلالة من ماء مهين﴾ فمن أصله التراب المهين الذي يداس بالأقدام ثم خمر طينة حتى صار حمأ مسنوناً كيف يتكبر وأخس الأشياء ما إليه انتسابه إذ يقال يا أذل من التراب ويا أنتن من الحمأة ويا أقذر من المضغة
Yang kedua: Hendaklah ia mengenali nasabnya yang hakiki, sehingga ia mengetahui siapa ayah dan kakeknya. Sebab, ayahnya yang dekat adalah setetes mani yang kotor, sedangkan kakeknya yang jauh adalah tanah yang hina. Sungguh Allah Ta'ala telah memberitahukan nasabnya dengan berfirman: '(Dia) yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.' Maka barang siapa yang asal mulanya adalah tanah yang hina yang diinjak-injak oleh kaki, kemudian adonan tanahnya diperam hingga menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk, bagaimana mungkin ia bersikap sombong? Padahal hal yang paling hina adalah apa yang menjadi asal penyandarannya, di mana dikatakan: 'Wahai yang lebih hina dari tanah, wahai yang lebih berbau busuk dari lumpur hitam, dan wahai yang lebih kotor dari gumpalan daging!'
فإن كان كونه من أبيه أقرب من كونه من التراب فنقول افتخر بالقريب دون البعيد فالنطفة والمضغة أقرب إليه من الأب فليحقر نفسه بذلك ثم إن كان ذلك يوجب رفعة لقربة فالأب الأعلى من التراب فمن أين رفعته وإذا لم يكن له رفعة فمن أين جاءت الرفعة لولده فإذن أصله من التراب وفصله من النطفة فلا أصل له ولا فصل
Jika keberadaannya berasal dari ayahnya dianggap lebih dekat daripada keberadaannya berasal dari tanah, maka kami katakan: jika ia membanggakan yang dekat bukan yang jauh, padahal air mani dan gumpalan daging itu lebih dekat kepadanya daripada sang ayah! Maka hendaklah ia menghinakan dirinya dengan hal itu. Kemudian, jika hubungan kekerabatan itu memang memberikan keluhuran, padahal kakek tertinggi (manusia) berasal dari tanah, dari manakah keluhurannya? Jika ia sendiri tidak memiliki keluhuran, dari mana keluhuran itu datang kepada anaknya? Maka dari itu, asal-usulnya dari tanah dan unsur pembentuknya dari air mani, sehingga ia tidak memiliki asal yang mulia dan tidak pula unsur pembentuk yang terhormat.
وهذه غاية خسة النسب فالأصل يوطأ بالأقدام والفصل تغسل منه الأبدان
Inilah puncak kehinaan nasab: sebab asalnya (tanah) diinjak-injak oleh kaki, dan unsur pembentuknya (mani) harus dicuci dari tubuh.
فَهَذَا هُوَ النَّسَبُ الْحَقِيقِيُّ لِلْإِنْسَانِ وَمَنْ عَرَفَهُ لم يتكبر بالنسب ويكون مثله بعد هذه المعرفة وانكشاف الغطاء له عن حقيقة أصله كرجل لم يزل عند نفسه من بني هاشم وقد أخبره بذلك والداه فلم يزل فيه نخوة الشرف فبينما هو كذلك إذ أخبره عدول لا يشك في قولهم أنه ابن هندي حجام يتعاطى القاذورات وكشفوا له وجه التلبيس عليه فلم يبق له شك في صدقهم أفترى أن ذلك يبقي شيئاً من كبره لا بل يصير عند نفسه أحقر الناس وأذلهم فهو من استشعار الخزي لخسته في شغل عن أن يتكبر على غيره
Maka inilah nasab manusia yang sebenarnya. Barang siapa yang mengetahuinya, niscaya ia tidak akan bersikap sombong karena nasab. Perumpamaan dirinya setelah pengetahuan ini dan tersingkapnya tirai dari hakikat asal-usulnya adalah seperti seorang lelaki yang selalu menganggap dirinya keturunan Bani Hasyim karena kedua orang tuanya memberitahukan hal itu, sehingga di dalam dirinya selalu ada keangkuhan kebangsawanan. Ketika ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba orang-orang adil yang tidak diragukan perkataannya memberitahukan kepadanya bahwa ia sebenarnya adalah anak dari Hindi seorang tukang bekam yang bergelut dengan kotoran, dan mereka menyingkapkan bentuk kekeliruan yang selama ini mengelabuinya sehingga ia tidak meragukan kebenaran mereka. Adakah engkau kira hal itu masih menyisakan sedikit pun dari kesombongannya? Tidak, bahkan ia akan menjadi orang yang paling hina dan paling rendah dalam pandangan dirinya sendiri. Maka karena rasa malu akibat kehinaannya, ia menjadi terlalu sibuk untuk bersikap sombong kepada orang lain.
فهذا حال البصير إذا تفكر في أصله وعلم أنه من النطفة والمضغة والتراب إذ لو كان أبوه ممن يتعاطى نقل التراب أو يتعاطى الدم بالحجامة أو غيرها لكان يعلم به خسة نفسه لمماسة أعضاء أبيه للتراب والدم فكيف إذا عرف أنه في نفسه من التراب والدم والأشياء القذرة التي يتنزه عنها هو في نفسه
Inilah keadaan orang yang berpandangan tajam mata hatinya apabila ia memikirkan asal-usulnya dan mengetahui bahwa dirinya berasal dari air mani, gumpalan daging, dan tanah. Sebab, seandainya ayahnya adalah seorang pengangkut tanah atau pengambil darah dengan bekam atau sejenisnya, tentulah ia akan menyadari kehinaan dirinya karena tersentuhnya anggota tubuh ayahnya dengan tanah dan darah. Lantas bagaimana jika ia mengetahui bahwa dirinya sendiri pada hakikatnya berasal dari tanah, darah, dan hal-hal kotor yang mana ia sendiri berusaha menghindar darinya?
السبب الثاني التكبر بِالْجَمَالِ وَدَوَاؤُهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى بَاطِنِهِ نَظَرَ العقلاء ولا ينظر إلى باطنه نَظَرَ الْبَهَائِمِ
Sebab Kedua: Kesombongan karena ketampanan atau kecantikan. Dan obatnya adalah hendaklah ia memandang batinnya dengan pandangan orang-orang yang berakal, dan tidak memandang batinnya dengan pandangan binatang ternak.
وَمَهْمَا نَظَرَ إِلَى بَاطِنِهِ رَأَى مِنَ الْقَبَائِحِ مَا يُكَدِّرُ عَلَيْهِ تَعَزُّزَهُ بِالْجَمَالِ فإنه وكل به الأقذار في جميع أجزائه الرجيع في أمعائه والبول في مثانته والمخاط في أنفه والبزاق في فيه والوسخ في أذنيه والدم في عروقه والصديد تحت بشرته والصنان تحت إبطه يغسل الغائط بيده كل يوم دفعة أو دفعتين ويتردد كل يوم إلى الخلاء مرة أو مرتين ليخرج من باطنه ما لو رآه بعينه لاستقذره فضلاً عن أن يمسه أو يشمه كل ذلك ليعرف قذارته وذله هذا في حال توسطه
Setiap kali ia melihat ke dalam batinnya (bagian dalam tubuhnya), ia melihat berbagai kecemaran yang merusak kebanggaannya akan keindahan fisik. Sebab, kotoran senantiasa menyertainya di seluruh bagian tubuhnya: kotoran di ususnya, air seni di kandung kemihnya, ingus di hidungnya, air liur di mulutnya, kotoran di telinganya, darah di pembuluh darahnya, nanah di bawah kulitnya, dan bau tidak sedap di ketiaknya. Ia membasuh kotoran dengan tangannya sendiri setiap hari sekali atau dua kali, dan bolak-balik ke kamar mandi setiap hari sekali atau dua kali untuk mengeluarkan dari dalam tubuhnya apa yang jika ia lihat dengan matanya sendiri, niscaya ia merasa jijik, apalagi menyentuh atau menciumnya. Semua itu agar ia menyadari kekotoran dan kehinaan dirinya. Ini adalah keadaannya di masa pertengahan kehidupannya.
وفي أول أمره خلق من الأقذار الشنيعة الصور من النطفة ودم الحيض وأخرج من مجرى الأقذار
Adapun pada awal keadaannya, ia diciptakan dari kotoran-kotoran yang menjijikkan bentuknya, yaitu dari nutfah (setetes mani) dan darah haid, serta dikeluarkan dari saluran kotoran.
إذ خرج من الصلب ثم من الذكر مجرى البول ثم من الرحم مفيض دم الحيض ثم خرج من مجرى القذر قال أنس ﵀ كان أبو بكر الصديق ﵁ يخطبنا فيقذر إلينا أنفسنا ويقول خرج أحدكم من مجرى البول
Sebab ia keluar dari tulang sulbi, lalu melalui kemaluan laki-laki yang merupakan saluran air seni, kemudian dari rahim yang merupakan tempat mengalirnya darah haid, lalu keluar melalui saluran kotoran. Anas radhiyallahu 'anhu berkata: Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu pernah berkhotbah di hadapan kami, lalu beliau membuat kami menyadari betapa kotornya diri kami seraya bersabda: 'Salah seorang dari kalian keluar dari saluran air seni…'
مرتين وكذلك قال طاوس لعمر بن عبد العزيز
'…sebanyak dua kali.' Demikian pula yang dikatakan oleh Thawus kepada Umar bin Abdul Aziz,
ما هذه مشية من في بطنه خراء إذ رآه يتبختر وكان ذلك قبل خلافته وهذا أوله ووسطه
'Bukan begini caranya jalan orang yang di dalam perutnya terdapat kotoran (tahi),' ketika ia melihat beliau berjalan dengan sombong—dan hal itu terjadi sebelum beliau menjadi khalifah. Inilah gambaran awal dan pertengahan kehidupannya.
ولو ترك نفسه في حياته يوماً لم يتعهدها بالتنظيف والغسل لثارت منه الأنتان والأقذار وصار أنتن وأقذر من الدواب المهملة التي لا تتعهد نفسها قط
Seandainya ia membiarkan dirinya dalam hidupnya sehari saja tanpa merawatnya dengan membersihkan dan membasuhnya, niscaya akan menyebar darinya bau busuk dan kotoran, dan ia akan menjadi lebih busuk dan lebih kotor daripada hewan ternak terbiar yang tidak pernah merawat dirinya sama sekali.
فإذا نظر أنه خلق من أقذار وأسكن في أقذار وَسَيَمُوتُ فَيَصِيرُ جِيفَةً أَقْذَرَ مِنْ سَائِرِ الْأَقْذَارِ لم يفتخر بجماله الذي هو كخضراء الدمن وكلون الأزهار في البوادي فبينما هو كذلك إذ صار هشيماً تذروه الرياح كيف ولو كان جمالة باقياً وعن هذه القبائح خالياً لكان يجب أن لا يتكبر به على القبيح إذ لم يكن قبح القبيح إليه فينفيه ولا كان جمال الجميل إليه حتى يحمد عليه كيف ولا بَقَاءَ لَهُ بَلْ هُوَ فِي كُلِّ حِينٍ يتصور أن يزول بمرض أو جدري أو قرحة أَوْ سَبَبٍ مِنَ الْأَسْبَابِ فَكَمْ مِنْ وُجُوهٍ جميلة قد سمجت بهذه الأسباب فمعرفة هذه الأمور تَنْزِعُ مِنَ الْقَلْبِ دَاءَ الْكِبْرِ بِالْجَمَالِ لِمَنْ أكثر تأملها
Maka apabila ia menyadari bahwa ia diciptakan dari kotoran, ditempatkan bersama kotoran, dan kelak akan mati hingga menjadi bangkai yang lebih kotor dari segala kotoran, niscaya ia tidak akan membanggakan keindahan fisiknya yang seperti rumput hijau yang tumbuh di atas kotoran atau seperti warna bunga di padang sahara; ketika ia sedang membanggakannya, tiba-tiba ia menjadi hancur diterbangkan angin. Lagipula, seandainya keindahannya itu kekal dan bersih dari kotoran-kotoran ini, tetap saja ia tidak boleh bersikap sombong dengannya terhadap orang yang buruk rupa, karena keburukan rupa orang lain bukan pilihannya sehingga ia bisa meniadakannya, dan keindahan orang yang indah pun bukan atas kuasanya sehingga ia patut dipuji karenanya. Terlebih lagi keindahan itu tidak memiliki kekekalan, bahkan setiap saat bisa saja sirna karena penyakit, cacar, luka, atau sebab-sebab lainnya. Berapa banyak wajah tampan dan cantik yang menjadi buruk karena sebab-sebab tersebut! Maka memahami hal-hal ini akan mencabut penyakit kesombongan karena keindahan dari dalam hati bagi siapa saja yang memperbanyak renungannya.
السبب الثالث التكبر بالقوة والأيدي وَيَمْنَعُهُ مِنْ ذَلِكَ أَنْ يَعْلَمَ مَا سَلَّطَ عَلَيْهِ مِنَ الْعِلَلِ وَالْأَمْرَاضِ وَأَنَّهُ لَوْ تَوَجَّعَ عِرْقٌ وَاحِدٌ فِي يَدِهِ لَصَارَ أَعْجَزَ مِنْ كل عاجز وأذل من كل ذليل وأنه لو سلبه الذباب شيئاً لم يستنقذه منه وأن بقة لو دخلت في أنفه أو نملة دخلت في أذنه لقتلته وأن شَوْكَةً لَوْ دَخَلَتْ فِي رِجْلِهِ لَأَعْجَزَتْهُ وَأَنَّ حمى يوم تحلل من قوته مالا يَنْجَبِرُ فِي مُدَّةٍ
Sebab ketiga: Kesombongan karena kekuatan dan keperkasaan fisik. Yang mencegahnya dari hal itu adalah hendaknya ia menyadari betapa banyaknya penyakit dan gangguan yang dikuasakan atas dirinya. Seandainya satu urat saja di tangannya merasa sakit, niscaya ia menjadi lebih lemah dari orang paling lemah dan lebih hina dari orang paling hina. Dan seandainya lalat merampas sesuatu darinya, ia tidak akan sanggup merebutnya kembali dari lalat itu. Seandainya seekor nyamuk masuk ke dalam hidungnya atau seekor semut masuk ke dalam telinganya, niscaya itu bisa membunuhnya. Seandainya sebuah duri menancap di kakinya, niscaya itu melumpuhkannya. Serta demam sehari saja dapat mengikis kekuatannya yang tidak dapat pulih kembali dalam waktu yang lama.
فَمَنْ لَا يُطِيقُ شَوْكَةً ولا يقاوم بقة ولا يقدر على أن يدفع عن نفسه ذبابة فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَفْتَخِرَ بِقُوَّتِهِ ثُمَّ إِنْ قَوِيَ الْإِنْسَانُ فَلَا يَكُونُ أَقْوَى مِنْ حِمَارٍ أَوْ بَقَرَةٍ أَوْ فِيلٍ أَوْ جَمَلٍ وَأَيُّ افتخار في صفة يسبقك فيها الْبَهَائِمُ
Maka barangsiapa tidak mampu menahan tusukan duri, tidak sanggup melawan nyamuk, dan tidak mampu mengusir lalat dari dirinya, tidak sepantasnya ia membanggakan kekuatannya. Lagipula, sekuat-kuatnya manusia, ia tidak akan lebih kuat daripada keledai, sapi, gajah, atau unta. Kebanggaan apakah yang ada pada suatu sifat yang di dalamnya engkau diungguli oleh binatang ternak?
السَّبَبُ الرَّابِعُ وَالْخَامِسُ الْغِنَى وَكَثْرَةُ الْمَالِ وفي معناه كثرة الأتباع والأنصار والتكبر بولاية السلاطين والتمكن من جهتهم وَكُلُّ ذَلِكَ تَكَبُّرٌ بِمَعْنًى خَارِجٍ عَنْ ذَاتِ الإنسان كالجمال والقوة والعلم
Sebab keempat dan kelima: Kekayaan dan berlimpahnya harta, yang senada dengannya adalah banyaknya pengikut dan penolong, serta kesombongan dengan kekuasaan para penguasa dan kedudukan dari pihak mereka. Semua itu adalah kesombongan dengan perkara yang berada di luar zat (diri) manusia, tidak seperti keindahan, kekuatan, dan ilmu.
وهذا أقبح أنواع الكبر فإن المتكبر بماله كأنه متكبر بفرسه وداره ولو مات فرسه وانهدمت داره لعاد ذليلاً والمتكبر بتمكين السلطان وولايته لا بصفة في نفسه بنى أمره على قلب هو أشد غلياناً من القدر فإن تغير عليه كان أذل الخلق وكل متكبر بأمر خارج عن ذاته فهو ظاهر الجهل كيف والمتكبر بالغنى لو تأمل لرأى فِي الْيَهُودِ مَنْ يَزِيدُ عَلَيْهِ فِي الْغِنَى والثروة والتجمل فأف لشرف يسبقك به اليهودي وأف لشرف يأخذه السارق في لحظة واحدة فيعود صاحبه ذليلاً مفلساً فهذه أسباب ليست في ذاته وما هو في ذاته ليس إليه دوام وجوده وهو في الآخرة وبال ونكال فالتفاخر به غاية الجهل وكل ما ليس إليك فليس لك وشيء من هذه الأمور ليس إليك بل إلى واهبه إن أبقاه لك وإن استرجعه زال عنك وما أنت إلا عبد مملوك لا تقدر على شيء
Ini adalah jenis kesombongan yang paling buruk. Sungguh, orang yang sombong dengan hartanya seolah-olah ia sombong dengan kudanya atau rumahnya; sekiranya kudanya mati atau rumahnya runtuh, ia akan kembali menjadi hina. Orang yang sombong karena pengaruh dan kekuasaan penguasa, bukan karena sifat pada dirinya sendiri, berarti menyandarkan urusannya pada hati (penguasa) yang bergolak lebih dahsyat daripada kuali; jika hati itu berubah membencinya, ia akan menjadi makhluk yang paling hina. Setiap orang yang sombong dengan hal di luar zat dirinya adalah jelas kebodohannya. Bagaimana tidak, padahal orang yang sombong karena kekayaan, seandainya ia merenung, niscaya ia melihat di antara kaum Yahudi ada yang melebihi kekayaan, harta, dan kemewahannya. Sungguh celaka kemuliaan yang di dalamnya engkau didahului oleh orang Yahudi! Dan celaka kemuliaan yang dapat diambil oleh pencuri dalam sekejap mata sehingga pemiliknya kembali menjadi hina dan bangkrut! Maka sebab-sebab ini tidak ada pada zat dirinya, sedangkan apa yang ada pada zat dirinya pun tidak berada dalam kuasanya untuk mengkekalkannya, dan di akhirat kelak hal itu menjadi beban berat dan siksaan. Maka membanggakannya adalah puncak kebodohan. Dan segala sesuatu yang tidak berada dalam kuasamu, bukanlah milikmu. Tidak ada satu pun dari perkara-perkara ini yang berada dalam kuasamu, melainkan milik Dzat Yang Memberikannya: jika Dia membiarkannya padamu, ia tetap ada; dan jika Dia mengambilnya kembali, ia akan sirna darimu. Tidaklah engkau melainkan seorang hamba sahaya yang dimiliki, yang tidak berkuasa atas sesuatu pun.
ومن عرف ذلك لا بد وأن يزول كبره
Barangsiapa yang menyadari hal itu, pasti akan sirna kesombongannya.
ومثاله أن يفتخر الغافل بقوته وجماله وماله وحريته واستقلاله وسعة منازله وكثرة خيوله وغلمانه إذ شهد عليه شاهدان عدلان عند حاكم منصف بأنه رقيق لفلان وأن أبويه كانا مملوكين له فعلم ذلك وحكم به الحاكم فجاء مالكه فأخذه وأخذ جميع ما في يده وهو مع ذلك يخشى أن يعاقبه وينكل به لتفريطه في أمواله وتقصيره في طلب مالكه ليعرف أن له مالكاً ثم نظر العبد فرأى نفسه محبوساً في منزل قد أحدقت به الحيات والعقارب والهوام وهو في كل حال على وجل من كل واحدة منها وقد بقي لا يملك نفسه ولا ماله ولا يعرف طريقاً في الخلاص البتة أفترى من هذا حاله هل يفخر بقدرته وثروته وقوته وكماله أم يذل نفسه ويخضع وهذا حال كل عاقل بصير فإنه
Perumpamaannya adalah seperti seorang yang lalai membanggakan kekuatan, ketampanan, harta, kebebasan, kemandirian, luas tempat tinggalnya, serta banyaknya kuda dan pelayannya; tiba-tiba dua saksi yang adil bersaksi di hadapan hakim yang adil bahwa ia sebenarnya adalah hamba sahaya milik si Fulan, dan kedua orang tuanya adalah budak miliknya. Hakim pun mengetahui hal itu dan menetapkannya. Lalu pemiliknya datang dan mengambil dirinya beserta seluruh apa yang ada di tangannya, sementara ia juga takut sang pemilik akan menghukum dan menyiksanya karena kelalaiannya dalam mengelola harta dan kelalaiannya dalam mencari pemiliknya agar ia tahu bahwa ia mempunyai pemilik. Kemudian hamba itu melihat dirinya terkurung di sebuah rumah yang dikelilingi oleh ular, kalajengking, dan binatang berbisa, sementara ia dalam setiap keadaan selalu cemas terhadap setiap binatang tersebut, serta ia tidak lagi memiliki dirinya maupun hartanya dan tidak tahu sama sekali jalan untuk menyelamatkan diri. Apakah menurutmu orang yang keadaannya demikian akan membanggakan kemampuan, kekayaan, kekuatan, dan kesempurnaannya, ataukah ia akan menghinakan dirinya dan tunduk berserah diri? Inilah keadaan setiap orang yang berakal lagi memiliki mata hati, sebab ia…
يرى نفسه كذلك فلا يملك رقبته وبدنه وأعضاءه وماله وهو مع ذلك بين آفات وشهوات وأمراض وأسقام هي كالعقارب والحيات يخاف منها الهلاك
…melihat dirinya memang seperti itu: ia tidak memiliki dirinya sendiri, tubuhnya, anggota badannya, maupun hartanya, sementara ia berada di antara bahaya, hawa nafsu, penyakit, dan kesakitan yang bagaikan kalajengking dan ular yang ia takuti dapat membinasakannya.
فمن هذا حاله لا يتكبر بقوته وقدرته إذ يعلم أنه لا قدرة له ولا قوة
Maka barangsiapa yang keadaannya demikian, ia tidak akan sombong dengan kekuatan dan kemampuannya, karena ia menyadari bahwa ia sungguh tidak memiliki kemampuan dan kekuatan sama sekali.
فهذا طريق علاج التكبر بالأسباب الخارجة وهو أهون من علاج التكبر بالعلم والعمل فإنهما كمالان في النفس جديران بأن يفرح بهما ولكن التكبر بهما أيضاً نوع من الجهل خفي كما سنذكره
Maka inilah jalan terapi kesombongan karena sebab-sebab eksternal, dan hal ini lebih ringan daripada terapi kesombongan karena ilmu dan amal. Sebab keduanya (ilmu dan amal) merupakan dua kesempurnaan jiwa yang layak untuk disyukuri, namun sombong dengan keduanya juga merupakan bentuk kebodohan yang terselubung, sebagaimana akan kami sebutkan.
السبب السادس الكبر بالعلم وهو أعظم الآفات وأغلب الأدواء وأبعدها عن قبول العلاج إلا بشدة شديدة وجهد جهيد وذلك لأن قدر العلم عظيم عند الله عظيم عند الناس وهو أعظم من قدر المال والجمال وغيرهما بل لا قدر لهما أصلاً إلا إذا كان معهما علم وعمل
Sebab keenam: Kesombongan karena ilmu. Ini merupakan petaka terbesar, penyakit yang paling dominan, dan paling sulit menerima pengobatan kecuali dengan penanganan yang sangat berat dan usaha yang sungguh-sungguh. Hal itu karena kedudukan ilmu amat agung di sisi Allah dan amat agung di mata manusia; ilmu lebih agung daripada kedudukan harta, keindahan fisik, dan selainnya, bahkan harta dan keindahan fisik tidak memiliki nilai sama sekali kecuali jika dibersamai oleh ilmu dan amal.
ولذلك قال كعب الأحبار إن للعلم طغياناً كطغيان المال
Oleh karena itulah Ka'b al-Ahbar berkata: 'Sesungguhnya ilmu itu memiliki kesombongan sebagaimana kesombongan harta.'
وكذلك قال عمر رضي الله تعالى عنه العالم إذا زل زل بزلته عالم فيعجز العالم عن أن لا يستعظم نفسه بالإضافة إلى الجاهل لكثرة ما نطق الشرع بفضائل العلم
Demikian pula Umar radhiyallahu 'anhu berkata: 'Seorang alim (orang berilmu), apabila ia tergelincir, maka tergelincir pula dunia bersama ketergelincirannya.' Maka seorang alim sering kali tidak mampu menahan diri untuk tidak menganggap dirinya besar apabila dibandingkan dengan orang awam, karena banyaknya dalil syariat yang menyebutkan tentang keutamaan-keutamaan ilmu.
ولن يقدر العالم على دفع الكبر إلا بمعرفة أمرين
Dan seorang alim tidak akan mampu menolak kesombongan kecuali dengan memahami dua perkara.
أَحَدُهُمَا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ حُجَّةَ اللَّهِ عَلَى أَهْلِ الْعِلْمِ آكَدُ وَأَنَّهُ يُحْتَمَلُ مِنَ الْجَاهِلِ مَا لَا يُحْتَمَلُ عُشْرُهُ مِنَ الْعَالِمِ فَإِنَّ مَنْ عَصَى اللَّهَ تَعَالَى عَنْ مَعْرِفَةٍ وَعِلْمٍ فجنايته أفحش إذ لم يقض حق نعمة الله عليه في العلم ولذلك قال ﷺ يؤتى بالعالم يوم القيامة فيلقى في النار فتندلق أقتابه فيدور بها كما يدور الحمار بالرحا فيطيف به أهل النار فيقولون مالك فيقول كنت آمر بالخير ولا آتيه وأنهى عن الشر وآتيه // حديث يؤتى بالعالم يوم القيامة فيلقى في النار فتندلق أقتابه الحديث متفق عليه من حديث أسامة بن زيد بلفظ يؤتى بالرجل وتقدم في العلم
Salah satu dari kedua hal tersebut adalah hendaknya ia mengetahui bahwa hujjah Allah atas para ahli ilmu itu lebih tegas, dan bahwa apa yang ditoleransi dari orang jahil tidak akan ditoleransi walau seperpuluhnya dari seorang alim. Sebab, barang siapa bermaksiat kepada Allah Ta'ala berlandaskan pengetahuan dan ilmu, maka kejahatannya jauh lebih keji karena ia tidak menunaikan hak atas nikmat ilmu yang Allah karuniakan kepadanya. Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang alim akan didatangkan pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka, hingga ususnya terburai keluar lalu ia berputar-putar membawa ususnya sebagaimana keledai berputar mengelilingi kilangan gandum. Lantas penghuni neraka mengelilinginya seraya bertanya, 'Ada apa denganmu?' Ia menjawab, 'Dahulu aku memerintahkan kebaikan namun aku tidak melakukannya, dan aku melarang kemungkaran namun aku mengerjakannya.'" // Hadis: "Seorang alim didatangkan pada hari kiamat…" (Muttafaq 'alaih dari hadis Usamah bin Zaid dengan redaksi "Didatangkan seorang laki-laki…" dan telah disebutkan terdahulu dalam Kitab Ilmu).
وقد مثل الله ﷾ من يعلم ولا يعمل بالحمار والكلب فقال ﷿ ﴿مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كمثل الحمار يحمل أسفاراً﴾ أراد به علماء اليهود
Sungguh Allah Azza wa Jalla telah membuat perumpamaan bagi orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya dengan keledai dan anjing. Allah Jalla wa 'Ala berfirman: "Perumpamaan orang-orang yang dipikul beban Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal." (QS. Al-Jumu'ah: 5). Yang dimaksud dalam ayat ini adalah ulama-ulama Yahudi.
وقال في بلعم بن باعوراء ﴿واتل عليهم نبأ الذي آتيناه آياتنا فانسلخ منها﴾ حتى بلغ ﴿فمثله كمثل الكلب إن تحمل عليه يلهث أو تتركه يلهث﴾ قال ابن عباس ﵄ أوتي بلعم كتاباً فأخلد إلى شهوات الأرض أي سكن حبه إليها فمثله بالكلب ﴿إن تحمل عليه يلهث أو تتركه يلهث﴾ أي سواء آتيته الحكمة أو لم أوته لا يدع شهوته ويكفي العالم هذا الخطر فأي عالم لم يتبع شهوته وأي عالم لم يأمر بالخير الذي لا يأتيه فمهما خطر للعالم عظم قدره بالإضافة إلى الجاهل فليتفكر في الخطر العظيم الذي هو بصدده فإن خطره أعظم من خطر غيره كما أن قدره أعظم من قدر غيره فهذا بذاك
Dan Dia berfirman mengenai Bal'am bin Ba'ura: "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang kitab Kami), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu…" hingga firman-Nya: "…maka perumpamaannya adalah seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya ia mengulurkan lidahnya juga." (QS. Al-A'raf: 175-176). Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Bal'am diberi pengajaran kitab, namun ia cenderung tenggelam pada syahwat duniawi, artinya hatinya merasa tenang dan condong pada kecintaan kepadanya. Maka Allah mengumpamakannya dengan anjing: 'Jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya ia mengulurkan lidahnya juga', maknanya baik engkau berikan hikmah kepadanya ataupun tidak, ia tidak akan meninggalkan syahwatnya." Bahaya ini cukuplah menjadi peringatan bagi seorang alim. Sebab, alim mana yang tidak pernah memperturutkan syahwatnya? Dan alim mana yang tidak pernah memerintahkan kebaikan yang tidak ia kerjakan? Maka, kapan saja terlintas dalam benak seorang alim keagungan kedudukannya jika dibandingkan dengan orang jahil, hendaklah ia merenungkan bahaya besar yang sedang mengancamnya. Sesungguhnya bahayanya jauh lebih besar daripada bahaya selain dirinya, sebagaimana kedudukannya pun lebih agung daripada kedudukan selain dirinya; maka yang ini seimbang dengan yang itu.
وهو كالملك المخاطر بروحه في ملكه لكثرة أعدائه فإنه إذا أخذ وقهر اشتهى أن يكون قد كان فقيراً فكم من عالم يشتهي في الآخرة سلامة الجهال والعياذ بالله منه
Ia seperti seorang raja yang mempertaruhkan nyawanya demi kerajaannya karena banyaknya musuh; ketika ia tertangkap dan ditundukkan, ia sangat berharap andai saja dahulu ia seorang yang fakir. Maka alangkah banyaknya orang alim di akhirat kelak yang mengharapkan keselamatan sebagaimana selamatnya orang-orang jahil, wal'iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari hal itu).
فهذا الخطر يمنع من التكبر فإنه إن كان من أهل النار فالخنزير أفضل منه فكيف يتكبر من هذا حاله فلا ينبغي أن يكون العالم عند نفسه أكبر من الصحابة رضوان الله عليهم وقد كان بعضهم يقول يا ليتني لم تلدني أمي ويأخذ الآخر تبنة من الأرض ويقول يا ليتني كنت هذه التبنة ويقول الآخر ليتني كنت طيراً أوكل ويقول الآخر ليتني لم أك شيئاً مذكوراً كل ذلك خوفاً من خطر العاقبة فكانوا يرون أنفسهم أسوأ حالاً من الطير ومن التراب
Maka bahaya besar ini mencegah seseorang dari sikap takabur. Sebab jika ia termasuk penghuni neraka, niscaya babi masih lebih baik daripadanya. Lantas bagaimana bisa seseorang yang keadaannya demikian berani bersikap sombong? Tidak seyogianya seorang alim menganggap dirinya lebih besar daripada para Sahabat radhiyallahu 'anhum, padahal sebagian dari mereka ada yang berkata: "Duhai, andai saja ibuku tidak melahirkan aku." Sahabat lainnya mengambil sebatang jerami dari tanah lalu berkata: "Duhai, andai saja aku menjadi jerami ini." Sahabat lainnya berkata: "Duhai, andai saja aku menjadi seekor burung yang dimakan." Dan sahabat lainnya berkata: "Duhai, andai aku bukan sesuatu yang disebut-sebut." Semua itu mereka ucapkan karena rasa takut akan bahaya pada akhir urusannya (khatimah). Maka mereka memandang diri mereka lebih buruk keadaannya daripada burung dan daripada debu.
ومهما أطال فكره في الخطر الذي هو بصدده زال بالكلية كبره ورأى نفسه كأنه شر الخلق
Dan kapan saja ia memperpanjang perenungannya mengenai bahaya besar yang sedang mengintainya, niscaya sirnalah sifat kesombongannya secara menyeluruh, dan ia akan memandang dirinya seolah-olah sebagai makhluk yang paling buruk.
ومثاله مثال عبد أمره سيده بأمور فشرع فيها فترك بعضها وأدخل النقصان في بعضها وشك في بعضها أنه هل أداها على ما يرتضيه سيده أم لا فأخبره مخبر أن سيده أرسل إليه رسولاً يخرجه من كل ما هو فيه عرياناً ذليلاً ويلقيه على بابه في الحر والشمس زماناً طويلاً حتى إذا ضاق عليه الأمر وبلغ به المجهود أمر برفع حسابه
Perumpamaannya adalah seperti seorang hamba sahaya yang diperintahkan oleh tuannya melakukan beberapa urusan. Ia pun mulai mengerjakannya, lalu ia meninggalkan sebagian darinya, mengurangkan atau membuat cacat pada sebagian yang lain, dan ragu pada sebagian lainnya apakah ia telah menunaikannya sesuai dengan ridha tuannya atau tidak. Kemudian ada seseorang yang memberitahukan kepadanya bahwa tuannya telah mengutus seorang utusan untuk mengeluarkannya dari segala sesuatu yang ia miliki dalam keadaan telanjang dan hina, serta melemparkannya di depan pintunya di bawah terik panas matahari dalam waktu yang sangat lama, hingga ketika urusan itu amat menyulitkannya dan kepayahan mencapai puncaknya, tuannya memerintahkan agar perhitungannya (hisab) diangkat,
وفتش عن جميع أعماله قليلها وكثيرها ثم أمر به إلى سجن ضيق وعذاب دائم لا يروح عنه ساعة وقد علم أن سيده قد فعل بطوائف من عبيده مثل ذلك وعفا عن بعضهم وهو لا يدري من أي الفريقين يكون فإذا تفكر في ذلك انكسرت نفسه وذل وبطل عزه وكبره وظهر حزنه وخوفه ولم يتكبر على أحد من الخلق بل تواضع رجاء أن يكون هو من شفعائه عند نزول العذاب فكذلك العالم إذا تفكر فيما ضيعه من أوامر ربه بجنايات على جوارحه وبذنوب في باطنه من الرياء والحقد والحسد والعجب والنفاق وغيره وعلم بما هو بصدده من الخطر العظيم فارقه كبره لا محالة
dan seluruh perbuatannya diperiksa, baik yang kecil maupun yang besar, kemudian ia diperintahkan dimasukkan ke dalam penjara yang sempit dan siksaan yang terus-menerus yang tidak diringankan darinya walau sekejap. Padahal ia mengetahui bahwa tuannya telah melakukan hal serupa kepada beberapa kelompok hambanya dan memaafkan sebagian yang lain, sedangkan ia tidak tahu termasuk kelompok manakah ia kelak. Apabila ia merenungkan hal itu, niscaya hatinya akan hancur (inkisar), jiwanya menjadi hina, kebanggaan dan kesombongannya lenyap, serta tampaklah kesedihan dan ketakutannya; ia tidak akan bersikap sombong kepada seorang pun dari makhluk, melainkan bertawaduk dengan harapan agar orang lain dapat menjadi pemberi syafaat baginya ketika azab turun. Demikian pula seorang alim, jika ia merenungkan apa yang telah ia lalaikan dari perintah-perintah Tuhannya berupa kejahatan pada anggota badannya dan dosa-dosa dalam batinnya seperti ria, dengki (hiqd), iri hati (hasad), ujub, nifak, dan selainnya, serta mengetahui bahaya agung yang sedang dihadapinya, niscaya sifat kesombongannya akan meninggalkannya tanpa keraguan lagi.
الأمر الثاني أن العالم يَعْرِفَ أَنَّ الْكِبْرَ لَا يَلِيقُ إِلَّا بِاللَّهِ ﷿ وَحْدَهُ وَأَنَّهُ إِذَا تَكَبَّرَ صَارَ ممقوتاً عند الله بغيضاً وقد أحب الله منه أن يتواضع وقال له إن لك عندي قدراً ما لم تر لنفسك قدراً فإن رأيت لنفسك قدراً فلا قدر لك عندي فلا بد وأن يكلف نفسه ما يحبه مولاه منه
Hal kedua: Hendaknya seorang alim menyadari bahwa kesombongan (kibriya') tidaklah layak kecuali bagi Allah Azza wa Jalla semata. Bahwasanya jika ia bersikap sombong, ia akan menjadi orang yang dimurkai dan dibenci di sisi Allah. Padahal Allah menyukai darinya sikap tawaduk, dan Allah berfirman kepadanya: "Sesungguhnya engkau memiliki kedudukan di sisi-Ku selama engkau tidak memandang dirimu memiliki kedudukan. Namun jika engkau memandang dirimu memiliki kedudukan, maka tidak ada kedudukan bagimu di sisi-Ku." Maka tidak boleh tidak, ia harus menggembleng jiwanya untuk melakukan apa yang dicintai oleh Tuannya.
وهذا يزيل التكبر عن قلبه وإن كان يستيقن أنه لا ذنب له مثلاً أو تصور ذلك
Hal ini akan menghilangkan kesombongan dari hatinya, meskipun seandainya ia meyakini secara pasti bahwa ia tidak memiliki dosa sama sekali, atau membayangkan hal demikian.
وبهذا زال التكبر عن الأنبياء ﵈ إذ علموا أن من نازع الله تعالى في رداء الكبرياء قصمه وقد أمرهم الله بأن يصغروا أنفسهم حتى يعظم عند الله محلهم فهذا أيضاً مما يبعثه على التواضع لا محالة
Dengan inilah sirna kesombongan dari para Nabi alaihimussalam, karena mereka mengetahui bahwa barang siapa yang merampas jubah keagungan (kibriya') milik Allah Ta'ala, niscaya Allah akan membinasakannya. Sungguh Allah telah memerintahkan mereka untuk merendahkan diri mereka agar kedudukan mereka di sisi Allah menjadi agung. Maka ini pun termasuk hal yang tentu akan mendorongnya untuk bersikap tawaduk.
فإن قلت فكيف يتواضع للفاسق المتظاهر بالفسق وللمبتدع وكيف يرى نفسه دونهم وهو عالم عابد وكيف يجهل فضل العلم والعبادة عند الله تعالى وكيف يغنيه أن يخطر بباله خطر العلم وهو يعلم أن خطر الفاسق والمبتدع أكثر فاعلم أن ذلك إنما يمكن بالتفكر في خطر الخاتمة بل لو نظر إلى كافر لم يمكنه أن يتكبر عليه إذ يتصور أن يسلم الكافر فيختم له بالإيمان ويضل هذا العالم فيختم له بالكفر والكبير من هو كبير عند الله في الآخرة والكلب والخنزير أعلى رتبة ممن هو عند الله من أهل النار وهو لا يدري ذلك فكم من مسلم نظر إلى عمر ﵁ قبل إسلامه فاستحقره وازدراه لكفره وقد رزقه الله الإسلام وفاق جميع المسلمين إلا أبا بكر وحده فالعواقب مطوية عن العباد ولا ينظر العاقل إلا إلى العاقبة وجميع الفضائل في الدنيا تراد للعاقبة
Jika engkau bertanya: Bagaimana mungkin seorang alim bertawaduk kepada orang fasik yang terang-terangan melakukan kefasikan dan kepada ahli bid'ah? Serta bagaimana ia dapat memandang dirinya berada di bawah kedudukan mereka padahal ia adalah seorang yang berilmu dan ahli ibadah? Bagaimana mungkin ia membuang pengetahuan tentang keutamaan ilmu dan ibadah di sisi Allah Ta'ala? Dan bagaimana bisa cukuplah baginya dengan menghadirkan bahaya ilmu dalam pikirannya, padahal ia tahu bahwa bahaya orang fasik dan ahli bid'ah itu lebih besar? Maka ketahuilah, bahwasanya hal itu hanya mungkin dicapai dengan merenungkan bahaya kesudahan umur (khātimah). Bahkan seandainya ia melihat kepada seorang kafir pun, ia tidak mungkin bersikap sombong terhadapnya, sebab ada kemungkinan orang kafir tersebut akan masuk Islam lalu diakhiri hidupnya dengan iman, sedangkan alim ini tersesat lalu diakhiri hidupnya dengan kekufuran. Orang yang agung adalah siapa yang agung di sisi Allah di akhirat kelak. Bahkan anjing dan babi itu lebih tinggi derajatnya daripada orang yang di sisi Allah termasuk penghuni neraka, sedangkan ia tidak menyadarinya. Betapa banyak seorang muslim yang memandang Umar radhiyallahu 'anhu sebelum keislamannya, lalu ia meremehkan dan menghinanya karena kekufurannya, namun kemudian Allah mengaruniakannya Islam hingga ia melampaui seluruh kaum muslimin kecuali Abu Bakar seorang diri. Maka akhir dari segala urusan tersembunyi dari para hamba, dan orang yang berakal tidak memandang melainkan kepada kesudahan akhirnya; sebab seluruh keutamaan di dunia ini ditujukan untuk kesudahan di akhirat.
فإذن من حق العبد أن لا يتكبر على أحد
Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban seorang hamba untuk tidak bersikap sombong kepada siapa pun.
بل إن نظر إلى جاهل قال هذا عصى الله بجهل وأنا عصيته بعلم فهو أعذر مني
Bahkan jika ia melihat orang yang jahil (bodoh), ia akan berkata: "Orang ini bermaksiat kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya dengan ilmu, maka ia lebih memiliki uzur daripada diriku."
وإن نظر إلى عالم قال هذا قد علم ما لم أعلم فكيف أكون مثله وإن نظر إلى كبير هو أكبر منه سناً قال هذا قد أطاع الله قبلي فكيف أكون مثله وإن نظر إلى صغير قال إني عصيت الله قبله فكيف أكون مثله وإن نظر إلى مبتدع أو كافر قال ما يدريني لعله يختم له بالإسلام ويختم لي بما هو عليه الآن فليس دوام الهداية إلي كما لم يكن ابتداؤها إلي فبملاحظة الخاتمة يقدر على أن ينفي الكبر عن نفسه وكل ذلك بأن يعلم أن الكمال في سعادة الآخرة والقرب من الله لا فيما يظهر في الدنيا مما لا بقاء له ولعمري هذا الخطر مشترك بين المتكبر والمتكبر عليه ولكن حق على كل واحد أن يكون مصروف الهمة إلى نفسه مشغول القلب بخوفه لعاقبته لا أن يشتغل بخوف غيره فإن الشفيق بسوء الظن مولع وشفقه كل إنسان على نفسه
Dan jika ia melihat seorang alim, ia berkata: "Orang ini telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui, maka bagaimana aku bisa menyamainya?" Jika ia melihat orang yang lebih tua darinya, ia berkata: "Orang ini telah menaati Allah sebelumku, maka bagaimana aku bisa menyamainya?" Jika ia melihat orang yang lebih muda, ia berkata: "Sesungguhnya aku telah bermaksiat kepada Allah sebelum dia, maka bagaimana aku bisa menyamainya?" Dan jika ia melihat ahli bid'ah atau orang kafir, ia berkata: "Apa yang membuatku tahu, boleh jadi akhir hidupnya dianugerahi Islam dan akhir hidupku dijadikan seperti keadaannya sekarang. Sebab kelanggengan hidayah bukanlah dalam kekuasaanku sebagaimana permulaannya pun bukan dalam kekuasaanku." Maka dengan memperhitungkan akhir hayat (khatimah), ia mampu mengikis kesombongan dari jiwanya. Semua itu dengan menyadari bahwa kesempurnaan hakiki ada pada kebahagiaan akhirat dan kedekatan dengan Allah, bukan pada hal-hal yang tampak di dunia yang tidak memiliki kelanggengan. Dan demi umurku, bahaya ini mencakup baik orang yang sombong maupun orang yang disombongi; akan tetapi sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang untuk mencurahkan perhatiannya kepada dirinya sendiri, hatinya disibukkan oleh rasa takut akan akhir urusannya, bukan disibukkan oleh ketakutan atas akhir orang lain. Sebab orang yang menyayangi dirinya akan cenderung berburuk sangka terhadap dirinya sendiri, dan kasih sayang setiap manusia adalah untuk dirinya sendiri.
فإذا حبس جماعة في جناية ووعدوا بأن تضرب رقابهم لم يتفرغوا لتكبر بعضهم على بعض وإن عمهم الخطر إذ شغل كل واحد نفسه عن الالتفات إلى هم غيره حتى كأن كل واحد هو وحده في مصيبته وخطره
Maka apabila sekelompok orang dipenjarakan karena suatu kejahatan dan diancam akan dipenggal leher mereka, niscaya mereka tidak akan sempat bersikap sombong satu sama lain meskipun bahaya itu meliputi mereka semua; karena masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri dari berpaling memikirkan kecemasan orang lain, hingga seolah-olah setiap orang berada seorang diri dalam musibah dan bahayanya.
فإن قلت فكيف أبغض المبتدع في الله وأبغض الفاسق وقد أمرت ببغضهما ثم مع ذلك أتواضع لهما والجمع بينهما متناقض فاعلم أن هذا أمر مشتبه يلتبس على أكثر الخلق إذ يمتزج غضبك لله في إنكار البدعة والفسق
Jika engkau berkata: Bagaimana bisa aku membenci ahli bid'ah karena Allah dan membenci orang fasik padahal aku diperintahkan untuk membenci keduanya, namun bersamaan dengan itu aku harus bertawaduk kepada keduanya? Menggabungkan kedua hal ini adalah suatu hal yang kontradiktif. Maka ketahuilah, bahwasanya ini adalah perkara yang samar yang membingungkan kebanyakan makhluk; sebab kemarahanmu karena Allah dalam mengingkari bid'ah dan kefasikan itu bercampur…
بكبر النفس والإدلال بالعلم والورع فكم من عابد جاهل وعالم مغرور إذا رأى فاسقاً جلس بجنبه أزعجه من عنده وتنزه عند بكبر باطن في نفسه وهو ظان أنه قد غضب لله كما وقع لعابد بني إسرائيل مع خليعهم وذلك لأن الكبر على المطيع ظاهر كونه شراً والحذر منه ممكن والكبر على الفاسق والمبتدع يشبه الغضب لله وهو خير فإن الغضبان أيضاً يتكبر على من غضب عليه والمتكبر يغضب وأحدهما يثمر الآخر ويوجبه وهما ممتزجان ملتبسان لا يميز بينهما إلا الموفقون
…dengan kesombongan nafsu serta membanggakan diri dengan ilmu dan wara'. Betapa banyak ahli ibadah yang bodoh dan alim yang terperdaya, apabila ia melihat orang fasik duduk di sampingnya, ia mengusirnya dari sisinya dan merasa suci dengan kesombongan batin dalam jiwanya, padahal ia menduga bahwa ia telah marah karena Allah, sebagaimana yang terjadi pada ahli ibadah Bani Israil bersama si pelaku dosa (khali'). Hal itu karena kesombongan terhadap orang yang taat itu jelas merupakan suatu keburukan dan kewaspadaan terhadapnya adalah hal yang mungkin, sedangkan kesombongan terhadap orang fasik dan ahli bid'ah itu menyerupai kemarahan karena Allah yang merupakan suatu kebaikan. Sebab orang yang marah juga bersikap sombong terhadap orang yang dimarahinya, dan orang yang sombong juga akan marah; salah satu dari keduanya membuahkan yang lain dan meniscayakannya, serta keduanya saling bercampur dan samar, tidak ada yang dapat membedakannya kecuali orang-orang yang diberi taufik oleh Allah.
والذي يخلصك من هذا أن يكون الحاضر على قلبك عند مشاهدة المبتدع أو الفاسق أو عند أمرهما بالمعروف ونهيهما عن المنكر ثلاثة أمور
Adapun hal yang dapat menyelamatkanmu dari kekeliruan ini adalah hendaknya ada tiga perkara yang senantiasa hadir dalam hatimu ketika menyaksikan ahli bid'ah atau orang fasik, atau ketika amar ma'ruf nahi munkar kepada keduanya:
أحدهما التفاتك إلى ما سبق من ذنوبك وخطاياك ليصغر عند ذلك قدرك في عينك
Salah satunya adalah berpalingnya perhatianmu kepada dosa-dosa dan kesalahan-kesalahanmu yang telah lalu, agar dengan demikian kedudukan dirimu menjadi kecil dan hina dalam pandangan matamu sendiri.
والثاني أن تكون ملاحظتك لما أنت متميز به من العلم واعتقاد الحق والعمل الصالح من حيث إنها نعمة من الله تعالى عليك فله المنة فيه لا لك فترى ذلك منه حتى لا تعجب بنفسك وإذا لم تعجب لم تتكبر
Yang kedua, hendaknya pandanganmu terhadap ilmu, iktikad yang benar, dan amal saleh yang membedakan dirimu (dari orang lain) adalah dari sisi bahwa semua itu merupakan nikmat dari Allah Ta'ala kepadamu. Hanya bagi-Nya segala karunia dalam hal itu, bukan bagimu. Maka engkau memandang hal tersebut berasal dari-Nya sehingga engkau tidak kagum (ujub) terhadap dirimu sendiri. Dan apabila engkau tidak ujub, engkau tidak akan bersikap takabur.
والثالث ملاحظة إبهام عاقبتك وعاقبتك أنه ربما يختم لك بالسوء ويختم له بالحسنى حتى يشغلك الخوف عن التكبر عليه
Yang ketiga, memperhatikan samar dan tidak diketahuinya kesudahan (akhir hayat) dirimu dan kesudahan dirinya; sebab boleh jadi diakhiri bagimu dengan kesudahan yang buruk (su'ul khatimah) dan diakhiri baginya dengan kesudahan yang baik (husnul khatimah), sehingga rasa takut (khauf) sibuk mengalihkanmu dari bersikap takabur kepadanya.
فإن قلت فكيف أغضب مع هذه الأحوال فأقول تغضب لمولاك وسيدك إذ أمرك أن تغضب له لا لنفسك وأنت في غضبك لا ترى نفسك ناجياً وصاحبك هالكاً بل يكون خوفك على نفسك بما علم الله من خفايا ذنوبك أكثر من خوفك عليه مع الجهل بالخاتمة وأعرفك ذلك بمثال لتعلم أنه ليس من ضرورة الغضب لله أن تتكبر على المغضوب عليه وترى قدرك فوق قدره فأقول إذا كان للملك غلام وولد هو قرة عينه وقد وكل الغلام بالولد ليراقبه وأمره أن يضربه مهما أساء أدبه واشتغل بما لا يليق به ويغضب عليه
Jika engkau bertanya: "Lalu bagaimana aku boleh marah dalam keadaan-keadaan ini?" Maka aku katakan: Engkau marah demi Pelindung dan Tuanmu (Allah), karena Dia memerintahkanmu untuk marah demi-Nya, bukan demi dirimu sendiri. Dalam marahmu itu, engkau tidak memandang dirimu selamat dan saudaramu binasa. Sebaliknya, rasa takutmu terhadap dirimu sendiri—karena apa yang Allah ketahui dari tersembunyinya dosa-dosamu—harus lebih besar daripada rasa takutmu terhadapnya yang disertai ketidaktahuan akan kesudahan akhir hayatnya. Aku jelaskan hal itu kepadamu dengan sebuah perumpamaan agar engkau mengetahui bahwa marah karena Allah tidak serta-merta mengharuskan engkau bersikap takabur kepada orang yang dimarahi dan memandang kedudukanmu di atas kedudukannya. Maka aku katakan: Jika seorang raja memiliki seorang hamba sahaya dan seorang anak yang menjadi penyejuk hatinya, lalu sang raja mewakilkan hamba tersebut untuk mengawasi anak itu dan memerintahkannya untuk memukulnya bilamana ia berbuat buruk tata krama dan sibuk dengan hal yang tidak layak serta memarahinya,
فإن كان الغلام محباً مطيعاً لمولاه فلا يجد بداً أن يغضب مهما رأى ولده قد أساء الأدب وإنما يغضب عليه لمولاه ولأنه أمره به ولأنه يريد التقرب بامتثال أمره إليه ولأنه جرى من ولده ما يكره مولاه فيضرب ولده ويغضب عليه من غير تكبر عليه بل هو متواضع له يرى قدره عند مولاه فوق قدر نفسه لأن الولد أعز لا محالة من الغلام
maka jika hamba sahaya itu mencintai dan taat kepada tuannya, tidak boleh tidak ia akan marah ketika melihat anak tuannya berbuat buruk tata krama. Ia memarahinya semata-mata demi tuannya, karena tuannya telah memerintahkannya, karena ia ingin mendekatkan diri dengan menjalankan perintahnya kepada tuannya, dan karena telah terjadi dari anak itu sesuatu yang dibenci oleh tuannya. Maka ia memukul anak itu dan memarahinya tanpa ada rasa takabur kepadanya; bahkan ia tetap bertawaduk kepadanya, memandang kedudukan anak itu di sisi tuannya berada di atas kedudukan dirinya sendiri, karena sang anak pastilah lebih mulia daripada hamba sahaya.
فإذن ليس من ضرورة الغضب التكبر وعدم التواضع فكذلك يمكنك أن تنظر إلى المبتدع والفاسق وتظن أنه ربما كان قدرهما في الآخرة عند الله أعظم لما سبق لهما من الحسنى في الأزل ولما سبق لك من سوء القضاء في الأزل وأنت غافل عنه ومع ذلك فتغضب بحكم الأمر محبة لمولاك إذ جرى ما يكرهه مع التواضع لمن يجوز أن يكون عنده أقرب منك في الآخرة
Dengan demikian, marah tidak serta-merta meniscayakan sikap takabur dan ketiadaan tawaduk. Begitu pula engkau dapat memandang ahli bidah dan orang fasik, seraya menduga bahwa boleh jadi kedudukan keduanya di akhirat di sisi Allah lebih agung karena adanya ketetapan kebaikan (husna) yang telah mendahului mereka di alam azali, serta karena adanya ketetapan takdir yang buruk yang telah mendahului dirimu di alam azali sedangkan engkau lalai darinya. Meskipun demikian, engkau tetap marah berdasarkan hukum perintah tersebut karena rasa cinta kepada Pelindungmu saat terjadi hal yang dibenci-Nya, seraya tetap bertawaduk kepada orang yang boleh jadi di sisi Allah lebih dekat daripada dirimu di akhirat kelak.
فهكذا يكون بعض العلماء الأكياس فينضم إليه الخوف والتواضع
Demikianlah keadaan sebagian ulama yang cerdas dan bijaksana (akayas), di mana rasa takut (khauf) dan sikap tawaduk menyatu dalam diri mereka.
وأما المغرور فإنه يتكبر ويرجو لنفسه أكثر مما يرجوه لغيره مع جهله بالعاقبة وذلك غاية الغرور
Adapun orang yang tertipu (maghrur), ia bersikap takabur dan berharap untuk dirinya lebih banyak daripada apa yang ia harapkan bagi orang lain, padahal ia bodoh akan kesudahan akhir hayatnya, dan hal itu merupakan puncak dari ketertipuan (ghurur).
فهذا سبيل التواضع لمن عصى الله أو اعتقد البدعة مع الغضب عليه ومجانبته بحكم الأمر
Maka inilah jalan tawaduk terhadap orang yang bermaksiat kepada Allah atau meyakini kebidahan, beserta (kewajiban) marah kepadanya dan menjauhinya berdasarkan hukum perintah (syariat).
السبب السابع التكبر بالورع والعبادة وذلك أيضاً فِتْنَةٌ عَظِيمَةٌ عَلَى الْعِبَادِ وَسَبِيلُهُ أَنْ يُلْزِمَ قلبه التواضع لسائر العباد وهو أن يعلم أن من يتقدم عليه بالعلم لا ينبغي أن يتكبر عليه كيفما كان لما عرفه من فضيلة العلم وقد قال تعالى ﴿هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾ وَقَالَ ﷺ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَى رَجُلٍ مِنْ أصحابي // حديث فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَى رجل من أصحابي أخرجه الترمذي من حديث أبي أمامة وتقدم في العلم
Sebab ketujuh: Takabur dengan sifat warak dan ibadah. Hal itu juga merupakan ujian (fitnah) yang amat besar bagi para hamba. Jalan untuk menanggulanginya adalah hendaknya ia mewajibkan hatinya untuk bertawaduk kepada seluruh hamba Allah, yaitu dengan mengetahui bahwa orang yang mengunggulinya dalam ilmu tidak sepatutnya ia bersikap takabur kepadanya bagaimanapun keadaannya, karena keutamaan ilmu yang telah diketahuinya. Allah Ta'ala telah berfirman, "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar: 9). Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Keutamaan seorang alim (orang berilmu) atas seorang abid (ahli ibadah) adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara sahabatku." (Hadis "Keutamaan seorang alim atas seorang abid…" diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari hadis Abu Umamah dan telah disebutkan sebelumnya dalam Kitab Al-'Ilm).
إلى غير ذلك مما ورد في فضل العلم
Serta dalil-dalil lainnya yang diriwayatkan mengenai keutamaan ilmu.
فإن قال العابد ذلك لعالم عامل بعلمه وهذا عالم فاجر فيقال له أما عرفت أن الحسنات يذهبن السيئات وكما أن العلم يمكن أن يكون حجة على العالم فكذلك يمكن أن يكون وسيلة له وكفارة لذنوبه وكل واحد منهما ممكن وقد وردت الأخبار بما يشهد لذلك وإذا كان هذا الأمر غائباً عنه لم يجز له أن يحتقر عالماً بل يجب عليه التواضع له
Jika sang abid berkata, "Keutamaan itu bagi orang alim yang mengamalkan ilmunya, sedangkan orang ini adalah alim yang durhaka (fajir)." Maka dikatakan kepadanya: Tidakkah engkau tahu bahwa kebaikan-kebaikan itu menghapuskan keburukan-keburukan? Dan sebagaimana ilmu dapat menjadi hujah (pemberat dosa) atas orang alim, maka ilmu itu juga dapat menjadi sarana baginya dan pelebur (kafarat) bagi dosa-dosanya, dan masing-masing dari keduanya adalah mungkin. Telah diriwayatkan riwayat-riwayat yang menjadi saksi akan hal itu. Apabila perkara ini tersembunyi baginya (tidak ia ketahui kepastiannya), maka tidak boleh baginya menghina seorang alim, melainkan wajib atasnya bertawaduk kepadanya.
فإن قلت فإن صح هذا فينبغي أن يكون للعالم أن يرى نفسه فوق العابد لقوله ﷺ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَى رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِي فاعلم أن ذلك كان ممكناً لو علم العالم عاقبة أمره وخاتمة الأمر مشكوك فيها فيحتمل أن يموت بحيث يكون حاله عند الله أشد من حال الجاهل الفاسق لذنب واحد كان يحسبه هيناً وهو عند الله عظيم وقد مقته به وإذا كان هذا ممكناً كان على نفسه خائفاً فإذا كان كل واحد من العابد والعالم خائفاً على نفسه وقد كلف أمر نفسه لا أمر غيره فينبغي أن يكون الغالب عليه في حق نفسه الخوف وفي حق غيره الرجاء وذلك يمنعه من التكبر بكل حال
Jika engkau bertanya: "Jika hal ini benar, maka sepantasnya seorang alim memandang dirinya berada di atas seorang abid, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ: 'Keutamaan seorang alim atas seorang abid adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara sahabatku.'" Maka ketahuilah bahwa hal itu mungkin saja sekiranya orang alim tersebut mengetahui akhir dari urusannya (kesudahan hidupnya). Padahal kesudahan perkara itu diragukan (tidak diketahui pasti), sehingga ada kemungkinan ia mati dalam keadaan yang menurut Allah lebih buruk daripada keadaan orang bodoh yang fasik, disebabkan oleh satu dosa yang ia anggap remeh padahal di sisi Allah dosa itu amat besar dan Allah murka kepadanya karenanya. Apabila hal ini mungkin terjadi, niscaya ia akan senantiasa takut terhadap dirinya sendiri. Maka ketika masing-masing dari abid dan alim merasa takut terhadap dirinya sendiri, padahal masing-masing hanya dibebani urusan dirinya sendiri bukan urusan orang lain, hendaknya yang dominan dalam hatinya terhadap dirinya sendiri adalah rasa takut (khauf) dan terhadap orang lain adalah rasa harap (raja'). Hal itulah yang menghalanginya dari bersikap takabur dalam segala keadaan.
فهذا العابد مع العالم فأما مع غير العالم فهم منقسمون في حقه إلى مستورين وإلى مكشوفين فينبغي أن لا يتكبر على المستور فلعله أقل عنه ذنوباً وأكثر منه عبادة وأشد منه حباً لله
Demikianlah hubungan sang abid dengan orang alim. Adapun hubungannya dengan selain orang alim, maka mereka terbagi dalam pandangannya menjadi dua kelompok: orang yang tersembunyi keadaannya (masturin) dan orang yang tampak keadaannya (maksyufin). Hendaknya ia tidak bersikap takabur kepada orang yang tersembunyi keadaannya, sebab boleh jadi orang tersebut lebih sedikit dosanya, lebih banyak ibadahnya, dan lebih kuat rasa cintanya kepada Allah daripada dirinya.
وأما المكشوف حاله إن لم يظهر لك من الذنوب إلا ما تزيد عليه ذنوبك في طول عمرك
Adapun orang yang tampak keadaannya, jika tidak tampak bagimu dari dosa-dosanya melainkan apa yang dosa-dosamu sepanjang umurmu justru lebih banyak darinya,
فلا ينبغي أن تتكبر عليه ولا يمكن أن تقول هو أكثر مني ذنباً لأن عدد ذنوبك في طول عمرك وذنوب غيرك في طول العمر لا تقدر على إحصائها حتى تعلم الكثرة نعم يمكن أن تعلم أن ذنوبه أشد كما لو رأيت منه القتل والشرب والرياء ومع ذلك فلا ينبغي أن تتكبر عليه إذ ذنوب القلوب من الكبر والحسد والرياء والغل واعتقاد الباطل والوسوسة في صفات الله تعالى وتخيل الخطأ في ذلك كل ذلك شديد عند الله فربما جرى عليك في باطنك من خفايا الذنوب ما صرت به عند الله ممقوتاً وقد جرى للفاسق الظاهر الفسق من طاعات القلوب من حب الله وإخلاص وخوف وتعظيم ما أنت خال عنه وقد كفر الله بذلك عنه سيئاته فينكشف الغطاء يوم القيامة فتراه فوق نفسك بدرجات فهذا ممكن والإمكان البعيد فيما عليك ينبغي أن يكون قريباً عندك إن كنت مشفقاً على نفسك فلا تتفكر فيما هو ممكن لغيرك بل فيما هو مخوف في حقك فإنه لا تزر وازرة وزر أخرى وعذاب غيرك لا يخفف شيئاً من عذابك فإذا تفكرت في هذا الخطر كان عندك شغل شاغل عن التكبر وعن أن ترى نفسك فوق غيرك
maka tidak sepantasnya engkau bersikap takabur kepadanya. Dan tidak mungkin engkau mengatakan: "Dia lebih banyak dosanya daripadaku," sebab jumlah dosa-dosamu sepanjang umurmu dan dosa-dosa orang lain sepanjang umurnya tidak akan mampu engkau hitung hingga engkau mengetahui mana yang lebih banyak. Memang benar engkau mungkin tahu bahwa dosanya lebih berat, seperti jika engkau melihat darinya pembunuhan, peminum khamar, dan riya. Meskipun demikian, tidak sepantasnya engkau bersikap takabur kepadanya, sebab dosa-dosa hati—seperti takabur, dengki, riya, kedengkian mendalam (ghill), iktikad yang batil, serta bisikan waswas mengenai sifat-sifat Allah Ta'ala dan membayangkan kesalahan dalam hal itu—semua itu amat berat di sisi Allah. Boleh jadi berlaku atasmu dalam batinmu dosa-dosa tersembunyi yang karenanya engkau menjadi orang yang dimurkai di sisi Allah, sedangkan berlaku pada diri orang fasik yang tampak kefasikannya itu ketaatan-ketaatan hati berupa rasa cinta kepada Allah, keikhlasan, rasa takut, dan pengagungan yang engkau sendiri sepi darinya; lalu Allah menghapuskan keburukan-keburukannya dengan hal tersebut. Maka tersingkaplah penutup pada hari kiamat kelak sehingga engkau melihatnya berada beberapa derajat di atas dirimu. Hal ini adalah mungkin; dan kemungkinan yang jauh berkenaan dengan bahaya atas dirimu hendaknya dianggap dekat menurutmu jika engkau merasa kasihan (khawatir) terhadap dirimu sendiri. Maka janganlah engkau memikirkan apa yang mungkin terjadi pada orang lain, melainkan pikirkanlah apa yang mengkhawatirkan bagi hak dirimu sendiri; sebab seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain, dan siksaan orang lain tidak akan meringankan sedikit pun dari siksaanmu. Apabila engkau memikirkan bahaya ini, niscaya engkau memiliki kesibukan yang mengalihkanmu dari bersikap takabur dan dari memandang dirimu di atas orang lain.
وقد قَالَ وَهْبُ بْنُ مُنَبِّهٍ مَا تَمَّ عَقْلُ عبد حتى يكون فيه عشر خصال فعد تسعة حتى بلغ العاشر فقال العاشرة وما العاشرة بها شاد مَجْدُهُ وَبِهَا عَلَا ذِكْرُهُ أَنْ يَرَى النَّاسَ كُلَّهُمْ خَيْرًا مِنْهُ
Wahb bin Munabbih telah berkata: "Belum sempurna akal seorang hamba hingga terdapat padanya sepuluh perkara." Lalu beliau menyebutkan sembilan perkara hingga sampai pada yang kesepuluh, maka beliau berkata: "Yang kesepuluh—dan apakah yang kesepuluh itu? Dengannya kemuliaannya kokoh dibina dan dengannya sebutannya meninggi—yaitu ia memandang seluruh manusia lebih baik daripada dirinya."
وَإِنَّمَا النَّاسُ عِنْدَهُ فِرْقَتَانِ
"Manusia di sisinya hanyalah terbagi menjadi dua kelompok:"
فِرْقَةٌ هِيَ أَفْضَلُ مِنْهُ وَأَرْفَعُ وَفِرْقَةٌ هِيَ شَرٌّ مِنْهُ وَأَدْنَى
"Kelompok yang lebih utama dan lebih tinggi daripadanya, serta kelompok yang lebih buruk dan lebih rendah daripadanya."
فَهُوَ يَتَوَاضَعُ لِلْفِرْقَتَيْنِ جَمِيعًا بقلبه إن رَأَى مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ سَرَّهُ ذَلِكَ وَتَمَنَّى أَنْ يَلْحَقَ بِهِ وَإِنْ رَأَى مَنْ هُوَ شَرٌّ مِنْهُ قَالَ لَعَلَّ هَذَا يَنْجُو وَأَهْلِكُ أَنَا فَلَا تَرَاهُ إِلَّا خَائِفًا مِنَ العاقبة ويقوم لَعَلَّ بِرَّ هَذَا بَاطِنٌ فَذَلِكَ خَيْرٌ لَهُ وَلَا أَدْرِي لَعَلَّ فِيهِ خُلُقًا كَرِيمًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ فَيَرْحَمَهُ اللَّهُ وَيَتُوبَ عَلَيْهِ وَيَخْتِمَ له بأحسن الأعمال ويرى ظَاهِرٌ فَذَلِكَ شَرٌّ لِي
"Maka ia bertawaduk kepada kedua kelompok itu semuanya dengan hatinya. Jika ia melihat orang yang lebih baik daripadanya, hal itu membahagiakannya dan ia berharap dapat menyusulnya. Dan jika ia melihat orang yang lebih buruk daripadanya, ia berkata: 'Boleh jadi orang ini selamat sedangkan aku binasa.' Maka engkau tidak melihatnya melainkan senantiasa takut akan akhir hayatnya. Dan ia berkata: 'Boleh jadi kebaikan orang ini berada di batinnya sehingga hal itu lebih baik baginya, dan aku tidak tahu boleh jadi pada dirinya terdapat akhlak yang mulia antara dirinya dengan Allah sehingga Allah merahmatinya, menerima tobatnya, serta mengakhiri hidupnya dengan amal-amal terbaik; sedangkan keburukanku tampak pada lahiriah sehingga hal itu lebih buruk bagiku.'"
فَلَا يَأْمَنُ فِيمَا أَظْهَرَهُ مِنَ الطَّاعَةِ أَنْ يَكُونَ دَخَلَهَا الْآفَاتُ فأحبطتها ثم قَالَ فَحِينَئِذٍ كَمُلَ عَقْلُهُ وَسَادَ أَهْلَ زَمَانِهِ
"Sehingga ia tidak merasa aman terhadap ketaatan yang ditampakkannya, kalau-kalau telah disusupi berbagai cacat (afat) yang menggugurkannya." Kemudian beliau berkata: "Pada saat itulah sempurna akalnya dan ia menjadi pemimpin bagi orang-orang pada zamannya."
فهذا كلامه
Maka inilah perkataan beliau.
وبالجملة فمن جوز أن يكون عند الله شقياً وقد سبق القضاء في الأزل بشقوته فماله سبيل إلى أن يتكبر بحال من الأحوال
Walhasil, barang siapa yang membenarkan kemungkinan bahwa ia tergolong orang yang celaka (syaqi) di sisi Allah, dan ketetapan takdir (qadha') di alam azali telah mendahului kecelakaannya, maka tidak ada jalan baginya sama sekali untuk bersikap takabur dalam keadaan apa pun.
نعم إذا غلب عليه الخوف رأى كل أحد خيراً من نفسه وذلك هو الفضيلة كما روي أن عابداً أوى إلى جبل فقيل له في النوم ائت فلاناً الإسكاف فسله أن يدعو لك
Benar, apabila rasa takut (khauf) telah menguasai dirinya, ia akan memandang setiap orang lebih baik dari dirinya sendiri, dan itulah keutamaan (fadilah) yang sejati. Sebagaimana diriwayatkan bahwa seorang ahli ibadah mengasingkan diri di sebuah gunung, lalu dikatakan kepadanya dalam mimpi, "Pergilah kepada si Fulan, sang tukang sepatu, dan mintalah dia untuk mendoakanmu."
فأتاه فسأله عن عمله فأخبره أنه يصوم النهار ويكتسب
Maka ia mendatangi tukang sepatu itu dan menanyakan tentang amalnya. Tukang sepatu itu memberitahunya bahwa ia berpuasa pada siang hari dan bekerja mencari nafkah.
فيتصدق ببعضه ويطعم عياله ببعضه فرجع وهو يقول إن هذا لحسن ولكن ليس هذا كالتفرغ لطاعة الله فأتى في النوم ثانياً فقيل له ائت فلاناً الإسكاف فقل له ما هذا الصفار الذي بوجهك فأتاه فسأله فقال له ما رأيت أحداً من الناس إلا وقع لي أنه سينجو وأهلك أنا فقال العابد بهذه
Lalu ia bersedekah dengan sebagian hasilnya dan memberi makan keluarganya dengan sebagian yang lain. Ahli ibadah itu pun pulang seraya berkata, "Sesungguhnya ini sangat baik, tetapi ini tidak sama dengan meluangkan seluruh waktu fokus beribadah kepada Allah." Kemudian ia didatangi lagi dalam mimpi untuk kedua kalinya dan dikatakan kepadanya, "Pergilah kepada si Fulan, sang tukang sepatu itu, dan tanyakan kepadanya: Wajahmu tampak pucat kekuningan, apakah gerangan sebabnya?" Maka ia mendatangi tukang sepatu itu dan menanyakannya. Tukang sepatu itu menjawab, "Tidaklah aku melihat seorang pun dari manusia melainkan terbesit di hatiku bahwa dia pasti selamat sedangkan aku yang akan binasa." Maka ahli ibadah itu berkata, "Dengan (sikap hati) inilah (engkau mencapai derajat ini)."
والذي يدل على فضيلة هذه الخصلة قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أنهم إلى ربهم راجعون﴾ أَيْ أَنَّهُمْ يُؤْتُونَ الطَّاعَاتِ وَهُمْ عَلَى وَجَلٍ عَظِيمٍ مِنْ قَبُولِهَا وَقَالَ تَعَالَى ﴿إِنَّ الَّذِينَ هم من خشية ربهم مشفقون﴾ وَقَالَ تَعَالَى ﴿إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مشفقين﴾ وَقَدْ وَصَفَ اللَّهُ تَعَالَى الْمَلَائِكَةَ ﵈ مَعَ تَقَدُّسِهِمْ عَنِ الذُّنُوبِ وَمُوَاظَبَتِهِمْ عَلَى الْعِبَادَاتِ على الدءوب بالإشفاق فَقَالَ تَعَالَى مُخْبِرًا عَنْهُمْ يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لا يفترون وهم من خشيته مشفقون فمتى زال الإشفاق والحذر مما سبق به القضاء في الأزل وينكشف عند خاتمة الأجل غَلَبَ الْأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللَّهِ وَذَلِكَ يُوجِبُ الْكِبْرَ وَهُوَ سَبَبُ الْهَلَاكِ
Dan hal yang menunjukkan keutamaan sifat ini adalah firman Allah Ta'ala: "Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka" (QS. Al-Mu'minun: 60), artinya mereka melakukan ketaatan-ketaatan sementara hati mereka diliputi rasa takut yang besar akan diterimanya amal tersebut. Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka" (QS. Al-Mu'minun: 57). Allah Ta'ala juga berfirman: "Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami, merasa takut (akan diadzab)" (QS. At-Thur: 26). Sungguh Allah Ta'ala telah menyifati para malaikat 'alaihimus salam—meskipun mereka suci dari dosa dan senantiasa berkesinambungan dalam beribadah tanpa henti—dengan sifat takut (isyfaq). Allah Ta'ala berfirman memberitakan tentang mereka: "Merekas bertasbih malam dan siang tiada henti" dan "dan mereka merasa takut karena besarnya rasa takut kepada-Nya." Maka kapan pun rasa takut dan kewaspadaan terhadap apa yang telah ditetapkan dalam qadha' azali (serta yang akan tersingkap pada saat akhir ajal/khusnul/su'ul khatimah) itu hilang, niscaya akan timbul perasaan aman dari rasa takut terhadap ancaman/makar Allah (al-amnu min makrillāh). Dan hal itu dapat memicu kesombongan (takabur), yang menjadi penyebab kebinasaan.
فَالْكِبْرُ دَلِيلُ الْأَمْنِ وَالْأَمْنُ مُهْلِكٌ
Maka kesombongan (takabur) adalah petunjuk atas adanya rasa aman (dari azab Allah), sedangkan rasa aman itu membinasakan.
وَالتَّوَاضُعُ دَلِيلُ الْخَوْفِ وَهُوَ مُسْعِدٌ فإذن ما يفسده العابد بإضمار الكبر واحتقار الخلق والنظر إليهم بعين الاستصغار أَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُهُ بِظَاهِرِ الْأَعْمَالِ
Sementara sikap tawaduk adalah petunjuk atas adanya rasa takut (khauf), dan rasa takut itu membawa kebahagiaan. Oleh karena itu, kerusakan yang diperbuat oleh seorang ahli ibadah dengan menyembunyikan kesombongan di dalam hatinya, meremehkan makhluk, serta memandang mereka dengan pandangan merendahkan, adalah jauh lebih besar daripada kebaikan yang ia perbaiki melalui amalan-amalan lahiriahnya.
فَهَذِهِ مَعَارِفُ بها يزال داء الكبر عن القلب لا غير إِلَّا أَنَّ النَّفْسَ بَعْدَ هَذِهِ الْمَعْرِفَةِ قَدْ تُضْمِرُ التَّوَاضُعَ وَتَدَّعِي الْبَرَاءَةَ مِنَ الْكِبْرِ وَهِيَ كَاذِبَةٌ فَإِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ عَادَتْ إِلَى طَبْعِهَا ونسيت وعدها فعلى هَذَا لَا يَنْبَغِي أَنْ يُكْتَفَى فِي الْمُدَاوَاةِ بِمُجَرَّدِ الْمَعْرِفَةِ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ تَكْمُلَ بِالْعَمَلِ وَتُجَرَّبَ بِأَفْعَالِ الْمُتَوَاضِعِينَ فِي مَوَاقِعِ هَيَجَانِ الْكِبْرِ في النفس
Maka inilah pengetahuan-pengetahuan (ma'rifat) yang dengannya penyakit takabur dapat dihilangkan dari dalam hati, tidak ada jalan lain. Hanya saja, setelah memperoleh pengetahuan ini, terkadang nafsu menyembunyikan kebohongan dengan berpura-pura tawaduk dan mengklaim bebas dari takabur, padahal ia berdusta. Maka ketika terjadi situasi yang menguji, ia kembali kepada tabiat aslinya dan melupakan janjinya. Oleh karena itu, dalam pengobatan ini tidak sepatutnya hanya mencukupkan diri dengan pengetahuan semata, melainkan harus disempurnakan dengan amal dan diuji melalui tindakan orang-orang yang tawaduk pada saat-saat gejolak takabur itu bangkit di dalam nafsu.
وبيانه أن يمتحن النفس بخمس امتحانان هي أدلة على استخراج ما في الباطن وإن كانت الامتحانات كثيرة
Penjelasannya adalah hendaknya seseorang menguji nafsunya dengan lima bentuk ujian, yang merupakan petunjuk untuk mengeluarkan apa yang tersembunyi di dalam batin, meskipun ujian-ujian itu pada hakikatnya amat banyak.
الامتحان الأول أَنْ يُنَاظِرَ فِي مَسْأَلَةٍ مَعَ وَاحِدٍ مِنْ أَقْرَانِهِ فَإِنْ ظَهَرَ شَيْءٌ مِنَ الْحَقِّ عَلَى لِسَانِ صَاحِبِهِ فَثَقُلَ عَلَيْهِ قَبُولُهُ وَالِانْقِيَادُ لَهُ والاعتراف به والشكر له على تنبيهه وتعريفه وإخراجه الحق فَذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ فِيهِ كِبْرًا دَفِينًا فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِيهِ وَيَشْتَغِلْ بِعِلَاجِهِ
Ujian pertama: Hendaknya ia berdiskusi/berdebat mengenai suatu masalah bersama seorang kawan yang setara dengannya. Jika kebenaran itu tampak lewat lisan kawannya, lalu ia merasa berat untuk menerima, tunduk, mengakui, dan berterima kasih kepadanya atas peringatan, penjelasan, serta pengungkapan kebenaran tersebut, maka hal itu menunjukkan bahwa di dalam dirinya terdapat kesombongan yang terpendam. Maka bertakwalah kepada Allah dalam hal ini dan sibukkanlah diri untuk mengobatinya.
أَمَّا مِنْ حَيْثُ الْعِلْمُ فَبِأَنْ يُذَكِّرَ نَفْسَهُ خِسَّةَ نَفْسِهِ وَخَطَرَ عَاقِبَتِهِ وَأَنَّ الْكِبْرَ لَا يَلِيقُ إِلَّا بِاللَّهِ تَعَالَى
Adapun dari segi ilmu, yaitu dengan mengingatkan nafsunya akan kehinaan dirinya sendiri dan bahayanya kesudahan usianya (akibatnya), serta bahwasanya sifat takabur itu tidak layak kecuali bagi Allah Ta'ala semata.
وَأَمَّا الْعَمَلُ فَبِأَنْ يُكَلِّفَ نَفْسَهُ مَا ثَقُلَ عَلَيْهِ مِنَ الِاعْتِرَافِ بِالْحَقِّ وَأَنْ يطلق اللسا ٦ ن بِالْحَمْدِ وَالثَّنَاءِ وَيُقِرَّ عَلَى نَفْسِهِ بِالْعَجْزِ وَيَشْكُرَهُ عَلَى الِاسْتِفَادَةِ وَيَقُولَ مَا أَحْسَنَ مَا فَطِنْتَ لَهُ وَقَدْ كُنْتُ غَافِلًا عَنْهُ فَجَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا كَمَا نَبَّهْتَنِي لَهُ فَالْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَإِذَا وَجَدَهَا يَنْبَغِيَ أَنْ يَشْكُرَ مَنْ دَلَّهُ عَلَيْهَا
Adapun dari segi amal, yaitu dengan memaksakan nafsunya melakukan hal yang terasa berat baginya berupa pengakuan terhadap kebenaran, menggerakkan lisan dengan pujian dan sanjungan (kepada lawannya), mengakui kelemahan dirinya, serta berterima kasih atas faedah ilmu yang diperolehnya seraya berkata, "Betapa indahnya apa yang engkau pahami ini, padahal sebelumnya aku lalai darinya. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan sebagaimana engkau telah mengingatkanku padanya, sebab hikmah itu adalah barang mukmin yang hilang; maka apabila ia menemukannya, seyogianya ia berterima kasih kepada orang yang telah menunjukkannya kepadanya."
فَإِذَا وَاظَبَ عَلَى ذَلِكَ مَرَّاتٍ مُتَوَالِيَةً صَارَ ذَلِكَ لَهُ طَبْعًا وَسَقَطَ ثِقَلُ الْحَقِّ عَنْ قَلْبِهِ وَطَابَ لَهُ قَبُولُهُ وَمَهْمَا ثَقُلَ عَلَيْهِ الثَّنَاءُ عَلَى أَقْرَانِهِ بِمَا فِيهِمْ فَفِيهِ كبر فإن كان ذلك لا يثقل عليه في الخلوة ويثقل عليه في الملأ فليس فيه كبر وإنما فيه رياء فليعالج الرياء بما ذكرناه من قطع الطمع عن الناس ويذكر القلب بأن منفعته في كماله في ذاته وعند الله لا عند الخلق إلى غير ذلك من أدوية الرياء
Maka apabila ia membiasakan hal tersebut berkali-kali secara berkesinambungan, hal itu akan menjadi tabiatnya, rasa berat untuk menerima kebenaran akan gugur dari hatinya, dan penerimaan terhadap kebenaran menjadi sesuatu yang menyenangkan baginya. Namun, jika ia masih merasa berat untuk memuji kawan-kawannya atas kelebihan yang ada pada mereka, maka di dalam dirinya masih ada kesombongan. Apabila hal itu tidak terasa berat baginya ketika sendiri (dalam ketiadaan orang lain) namun terasa berat di hadapan khalayak ramai, maka sesungguhnya di dalamnya tidak ada kesombongan, melainkan ada sifat riya. Maka hendaklah ia mengobati riya tersebut dengan apa yang telah kami sebutkan, yaitu memutus ketamakan terhadap manusia dan mengingatkan hati bahwa kemanfaatannya terletak pada kesempurnaan dirinya di sisi Allah, bukan di sisi makhluk, serta obat-obat riya lainnya.
وإن ثقل عليه في الخلوة والملأ جميعاً ففيه الكبر والرياء جميعاً ولا ينفعه الخلاص من أحدهما ما لم يتخلص من الثاني
Dan jika hal itu terasa berat baginya baik saat menyendiri maupun di hadapan khalayak ramai, maka pada dirinya terkumpul sifat takabur dan riya sekaligus. Penglepasan dari salah satunya tidak akan bermanfaat baginya selama ia belum terbebas dari yang kedua.
فليعالج كلا الداءين فإنهما جميعاً مهلكان
Maka hendaklah ia mengobati kedua penyakit tersebut, karena keduanya sama-sama membinasakan.
الِامْتِحَانُ الثَّانِي أَنْ يَجْتَمِعَ مَعَ الْأَقْرَانِ وَالْأَمْثَالِ فِي الْمَحَافِلِ وَيُقَدِّمَهُمْ عَلَى نَفْسِهِ وَيَمْشِيَ خَلْفَهُمْ ويجلس في الصدور تحتهم فإن ثقل عليه ذلك فَهُوَ مُتَكَبِّرٌ فَلْيُوَاظِبْ عَلَيْهِ تَكَلُّفًا حَتَّى يَسْقُطَ عنه ثقله فبذلك يزايله الكبر وههنا لِلشَّيْطَانِ مَكِيدَةٌ وَهُوَ أَنْ يَجْلِسَ فِي صَفِّ النعال أو يجعل بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْأَقْرَانِ بَعْضُ الْأَرْذَالِ فَيَظُنَّ أَنَّ ذَلِكَ تَوَاضُعٌ وَهُوَ عَيْنُ الْكِبْرِ فَإِنَّ ذَلِكَ يخف على صدور الْمُتَكَبِّرِينَ إِذْ يُوهِمُونَ أَنَّهُمْ تَرَكُوا مَكَانَهُمْ بِالِاسْتِحْقَاقِ والتفضل فيكون قد تكبر وتكبر بِإِظْهَارِ التَّوَاضُعِ أَيْضًا بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يُقَدِّمَ أقرانه ويجلس بينهم بِجَنْبِهِمْ وَلَا يَنْحَطَّ عَنْهُمْ إِلَى صَفِّ
Ujian kedua: Hendaknya ia berkumpul bersama teman-teman yang setara dan sepadan di majelis-majelis, lalu ia mendahulukan mereka atas dirinya, berjalan di belakang mereka, dan duduk di majelis utama di tempat yang lebih rendah dari mereka. Jika hal itu terasa berat baginya, maka ia adalah orang yang takabur. Hendaklah ia membiasakannya dengan memaksakan diri hingga rasa berat itu hilang darinya, karena dengan begitu kesombongan akan lenyap darinya. Namun di sini terdapat tipu daya setan, yaitu ia memilih duduk di barisan tempat sandal atau meletakkan di antara dirinya dan rekan-rekannya sebagian orang yang berstatus rendah, lalu menyangka bahwa hal itu adalah tawaduk, padahal itu adalah inti dari kesombongan. Sebab, hal itu terasa ringan bagi dada orang-orang yang sombong karena mereka ingin mengesan (pamer) bahwa mereka meninggalkan tempat utama mereka karena merasa berhak namun bermurah hati. Dengan demikian, ia telah bertakabur sekaligus menunjukkan kesombongannya lewat kepura-puraan bertawaduk. Seharusnya, ia mendahulukan rekan-rekannya dan duduk di antara mereka di samping mereka, tanpa merendahkan diri secara berlebihan hingga ke barisan tempat sandal.
النِّعَالِ فَذَلِكَ هُوَ الَّذِي يُخْرِجُ خُبْثَ الْكِبْرِ مِنَ الْبَاطِنِ
(barisan tempat) sandal. Karena yang demikian itulah yang dapat mengeluarkan keburukan takabur dari dalam batin.
الِامْتِحَانُ الثَّالِثُ أَنْ يُجِيبَ دَعْوَةَ الْفَقِيرِ وَيَمُرَّ إِلَى السُّوقِ فِي حَاجَةِ الرُّفَقَاءِ وَالْأَقَارِبِ فَإِنْ ثَقُلَ ذَلِكَ عَلَيْهِ فَهُوَ كِبْرٌ فَإِنَّ هَذِهِ الْأَفْعَالَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَالثَّوَابَ عَلَيْهَا جَزِيلٌ فَنُفُورُ النَّفْسِ عَنْهَا لَيْسَ إِلَّا لِخُبْثٍ فِي الْبَاطِنِ فَلْيَشْتَغِلْ بِإِزَالَتِهِ بِالْمُوَاظَبَةِ عَلَيْهِ مَعَ تَذَكُّرِ جَمِيعِ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْمَعَارِفِ الَّتِي تُزِيلُ دَاءَ الْكِبْرِ
Ujian ketiga: Hendaknya ia memenuhi undangan orang fakir dan pergi ke pasar untuk menunaikan hajat/keperluan teman-temannya serta kerabatnya. Jika hal itu terasa berat baginya, maka itu adalah kesombongan. Sebab perbuatan-perbuatan ini termasuk akhlak yang mulia dan pahala di dalamnya amat agung. Maka enggannya nafsu dari hal tersebut tidak lain melainkan karena keburukan di dalam batin. Hendaklah ia sibuk menghilangkannya dengan membiasakannya seraya mengingat seluruh pengetahuan yang telah kami sebutkan yang dapat menghilangkan penyakit takabur.
الِامْتِحَانُ الرَّابِعُ أَنْ يَحْمِلَ حَاجَةَ نَفْسِهِ وَحَاجَةَ أَهْلِهِ وَرُفَقَائِهِ مِنَ السُّوقِ إِلَى الْبَيْتِ فَإِنْ أَبَتْ نَفْسُهُ ذَلِكَ فهو كبر أو رياء فإن كان يثقل ذلك عليه مع خلو الطريق فهو كبر وإن كان لا يثقل عليه إلا مع مشاهدة الناس فهو رياء وكل ذلك من أمراض القلب وَعِلَلِهِ الْمُهْلِكَةِ لَهُ إِنْ لَمْ تَتَدَارَكْ وَقَدْ أَهْمَلَ النَّاسُ طِبَّ الْقُلُوبِ وَاشْتَغَلُوا بِطِبِّ الْأَجْسَادِ مَعَ أَنَّ الْأَجْسَادَ قَدْ كُتِبَ عَلَيْهَا الْمَوْتُ لَا مَحَالَةَ وَالْقُلُوبُ لَا تُدْرِكُ السَّعَادَةَ إِلَّا بِسَلَامَتِهَا إِذْ قَالَ تَعَالَى ﴿إِلَّا مَنْ أَتَى الله بقلب سليم﴾ ويروى عن عبد الله بن سلام أنه حمل حزمة حطب فقيل له يا أبا يوسف قد كان في غلمانك وبنتك ما يكفيك قال أجل ولكن أردت أن أجرب نفسي هل تنكر ذلك فلم يقنع منها بما أعطته من العزم على ترك الأنفة حتى جربها أهي صادقة أم كاذبة وفي الخبر من حمل الفاكهة أو الشيء فقد برئ من الكبر حديث من اعتقل البعير ولبس الصوف فقد برئ من الكبر أخرجه البيهقي في الشعب من حديث أبي هريرة بزيادة فيه وفي إسناده القاسم اليعمري ضعيف جدا
Ujian keempat: Hendaknya ia membawa sendiri barang kebutuhannya, kebutuhan keluarganya, dan teman-temannya dari pasar ke rumah. Jika nafsunya enggan melakukan hal itu, maka itu adalah kesombongan atau riya. Jika hal itu terasa berat baginya padahal jalanan sepi, maka itu adalah kesombongan (takabur). Namun jika tidak terasa berat kecuali ketika disaksikan oleh manusia, maka itu adalah riya. Semua itu termasuk penyakit-penyakit hati dan cacat-cacatnya yang membinasakan jika tidak segera diobati. Sungguh manusia telah mengabaikan pengobatan hati dan disibukkan dengan pengobatan jasad, padahal jasad telah ditetapkan baginya kematian yang tak terelakkan, sedangkan hati tidak akan meraih kebahagiaan kecuali dengan keselamatannya, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: "Kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (salim)" (QS. Asy-Syu'ara': 89). Diriwayatkan dari Abdullah bin Salam bahwa ia pernah memikul seikat kayu bakar, lalu dikatakan kepadanya, "Wahai Abu Yusuf, bukankah para budakmu dan anak-anakmu sudah cukup untuk melakukannya bagimu?" Ia menjawab, "Benar, tetapi aku ingin menguji nafsuku, apakah ia menolak hal ini." Maka ia tidak merasa puas hanya dengan tekad nafsunya untuk meninggalkan gengsi (keangkuhan), sampai ia mengujinya secara langsung apakah ia jujur atau dusta. Dan dalam riwayat disebutkan: "Barang siapa membawa buah-buahan atau barang belanjaan, maka sungguh ia telah terbebas dari takabur." Hadis: "Barang siapa mengikat unta dan memakai pakaian dari bulu domba (suf), maka ia telah terbebas dari takabur," dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman dari hadis Abu Hurairah dengan rincian tambahan, dan dalam sanadnya terdapat al-Qasim al-Ya'muri yang tergolong amat dhaif (lemah).
وقال ﷺ إنما أنا عبد آكل بالأرض وألبس الصوف وأعقل البعير وألعق أصابعي وأجيب دعوة المملوك فمن رغب عن سنتي فليس مني // حديث إنما أن عبد آكل بالأرض وألبس الصوف الحديث تقدم بعضه ولم أجد بقيته
Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba; aku makan di atas tanah, mengenakan kain wol (shuf), mengikat unta, menjilati jari-jariku (seusai makan), dan memenuhi undangan hamba sahaya. Maka barang siapa yang membenci sunnahku, ia bukanlah dari golonganku." // Hadis: "Sesungguhnya aku adalah seorang hamba, aku makan di atas tanah…" Sebagian hadis ini telah disebutkan sebelumnya, dan saya tidak menemukan kelanjutannya.
وروي أن أبا موسى الأشعري قيل له إن أقواماً يتخلفون عن الجمعة بسبب ثيابهم فلبس عباءة فصلى فيها بالناس
Diriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari pernah diberitahu: "Sesungguhnya ada sebagian orang yang tidak menghadiri shalat Jum'at disebabkan oleh pakaian mereka (karena tidak memiliki pakaian yang layak)." Maka beliau pun mengenakan sebuah jubah kasar ('aba'ah) lalu mengimami shalat bersama orang-orang dengan mengenakannya.
وهذه مواضع يجتمع فيها الرياء والكبر فما يختص بالملأ فهو الرياء وما يكون في الخلوة فهو الكبر فاعرف فإن من لا يعرف الشر لا يتقيه ومن لا يدرك المرض لا يداويه
Hal-hal ini merupakan tempat bertemunya riya (pamer) dan takabur (sombong). Adapun yang berkaitan dengan khalayak ramai, maka itu adalah riya; sedangkan yang terjadi dalam kesendirian (khalwat), maka itu adalah takabur. Ketahuilah hal ini! Sebab barang siapa tidak mengenali keburukan, niscaya ia tidak dapat menjauhinya, dan barang siapa tidak menyadari penyakit, niscaya ia tidak dapat mengobatinya.
بَيَانُ غَايَةِ الرِّيَاضَةِ فِي خُلُقِ التَّوَاضُعِ
Penjelasan Puncak Olah Jiwa (Riyadhah) dalam Akhlak Tawaduk
اعْلَمْ أَنَّ هَذَا الْخُلُقَ كَسَائِرِ الْأَخْلَاقِ لَهُ طَرَفَانِ وواسطة فَطَرَفُهُ الَّذِي يَمِيلُ إِلَى الزِّيَادَةِ يُسَمَّى تَكَبُّرًا وطرفه الذي يَمِيلُ إِلَى النُّقْصَانِ يُسَمَّى تَخَاسُسًا وَمَذَلَّةً وَالْوَسَطُ يُسَمَّى تَوَاضُعًا
Ketahuilah bahwa akhlak ini, sebagaimana akhlak lainnya, memiliki dua ujung ekstrem dan satu jalan tengah. Ujung ekstrem yang cenderung berlebihan dinamakan takabur (kesombongan), sedangkan ujung yang cenderung berkurangan dinamakan takhasus (perendahan diri secara hina) dan kehinaan (madzallah). Adapun posisi tengahnya dinamakan tawaduk (rendah hati).
وَالْمَحْمُودُ أَنْ يَتَوَاضَعَ فِي غَيْرِ مذلة ومن غير تخاسس فإن كلا طرفي الْأُمُورِ ذَمِيمُ وَأَحَبُّ الْأُمُورِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَوْسَاطُهَا
Sikap yang terpuji adalah bertawaduk tanpa merendahkan diri secara hina dan tanpa kecenderungan pada kehinaan; karena kedua ujung perkara itu tercela, dan perkara yang paling dicintai Allah Ta'ala adalah pertengahannya.
فَمَنْ يَتَقَدَّمْ عَلَى أَمْثَالِهِ فَهُوَ مُتَكَبِّرٌ وَمَنْ يَتَأَخَّرْ عَنْهُمْ فَهُوَ مُتَوَاضِعٌ أَيْ وَضَعَ شَيْئًا مِنْ قَدْرِهِ الَّذِي يَسْتَحِقُّهُ
Maka barang siapa mendahului orang-orang yang sepadan dengannya, ia adalah orang yang takabur; dan barang siapa menempatkan dirinya di belakang mereka, ia adalah orang yang tawaduk, yakni ia menurunkan sedikit dari kedudukan yang selayaknya ia dapatkan.
وَالْعَالِمُ إِذَا دخل عليه إسكاف فَتَنَحَّى لَهُ عَنْ مَجْلِسِهِ وَأَجْلَسَهُ فِيهِ ثُمَّ تقدم وسوى له نعله وعدا إِلَى بَابِ الدَّارِ خَلْفَهُ فَقَدْ تَخَاسَسَ وَتَذَلَّلَ وهذا أَيْضًا غَيْرُ مَحْمُودٍ بَلِ الْمَحْمُودُ عِنْدَ اللَّهِ الْعَدْلُ وَهُوَ أَنْ يُعْطِيَ كُلَّ ذِي حَقِّ حَقَّهُ فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَوَاضَعَ بِمِثْلِ هَذَا لِأَقْرَانِهِ وَمَنْ يَقْرُبُ مِنْ دَرَجَتِهِ فَأَمَّا تَوَاضُعُهُ لِلسُّوقِيِّ فَبِالْقِيَامِ وَالْبِشْرِ فِي الْكَلَامِ وَالرِّفْقِ فِي السُّؤَالِ وَإِجَابَةِ دَعْوَتِهِ وَالسَّعْيِ فِي حَاجَتِهِ وَأَمْثَالِ ذَلِكَ وأن لا يرى نفسه خيراً منه بل يكون على نفسه أخوف منه على غيره فَلَا يَحْتَقِرُهُ وَلَا يَسْتَصْغِرُهُ وَهُوَ لَا يَعْرِفُ خاتمة
Apabila seorang alim didatangi oleh seorang tukang sol sepatu, lalu ia berpindah dari tempat duduknya untuk merelakan tempat itu baginya, kemudian ia maju dan merapikan sandal tukang sepatu tersebut serta berlari ke pintu rumah di belakangnya, maka sungguh ia telah merendahkan dirinya secara hina dan menzalimi kehormatannya. Ini pun merupakan perbuatan yang tidak terpuji. Sebaliknya, yang terpuji di sisi Allah adalah keadilan, yaitu memberikan hak kepada setiap pemilik hak. Maka hendaknya ia bertawaduk dengan cara seperti itu kepada rekan-rekan sejawatnya dan orang-orang yang mendekati derajatnya. Adapun tawaduknya kepada masyarakat awam adalah dengan berdiri menyambutnya, berseri-seri dalam bertutur kata, lemah lembut dalam bertanya, memenuhi undangannya, berusaha membantu kebutuhannya, dan semisalnya; serta tidak memandang dirinya lebih baik daripadanya, melainkan ia lebih mengkhawatirkan keadaan dirinya sendiri daripada orang lain, sehingga ia tidak menghinanya dan tidak menganggapnya kecil, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akhir…
أمره
…akibat urusannya (khusnul atau su'ul khatimah).
فإذن سبيله في اكتساب التواضع أن يتواضع للأقران ولمن دونهم حتى يخف عليه التواضع المحمود في محاسن العادات ليزول به الكبر عنه فإن خف عليه ذلك فقد حصل له خلق التواضع وإن كان يثقل عليه وهو يفعل ذلك فهو متكلف لا متواضع بل الخلق ما يصدر عنه الفعل بسهولة من غير ثقل ومن غير روية فإن خف ذلك وصار بحيث يثقل عليه رعاية قدره حتى أحب التملق والتخاسس فقد خرج إلى طرف النقصان فليرفع نفسه إذ ليس للمؤمن أن تذل نفسه إلى أن يعود إلى الوسط الذي هو الصراط المستقيم وذلك غامض في هذا الخلق وفي سائر الأخلاق
Dengan demikian, jalan baginya dalam mengusahakan sikap tawaduk adalah dengan bertawaduk kepada rekan-rekan sejawatnya dan kepada orang-orang yang berada di bawahnya, hingga tawaduk yang terpuji dalam kebiasaan-kebiasaan yang baik menjadi ringan baginya, sehingga kesombongan sirna darinya. Jika hal itu terasa ringan baginya, maka ia telah memperoleh akhlak tawaduk. Namun jika hal itu terasa berat baginya sementara ia tetap melakukannya, maka ia adalah orang yang memaksakan diri (mutakallif), bukan orang yang berakhlak tawaduk; sebab akhlak adalah apa yang memancar darinya berupa perbuatan secara mudah tanpa rasa berat dan tanpa pertimbangan berbelit-belit. Akan tetapi, jika hal itu terasa sangat ringan hingga menjaga martabat dirinya justru terasa berat baginya, sampai-sampai ia menyukai bermuka dua (menjilat) dan merendahkan diri secara hina, maka ia telah keluar menuju ujung kekurangan. Hendaklah ia memuliakan dirinya, sebab tidak sepatutnya seorang mukmin menghinakan dirinya sendiri, hingga ia kembali ke pertengahan yang merupakan jalan yang lurus (al-shirath al-mustaqim). Hal itu sungguh samar dalam akhlak ini sebagaimana pada seluruh akhlak lainnya.
والميل عن الوسط إلى طرف النقصان وهو التملق أهون من الميل إلى طرف الزيادة بالتكبر كما أن الميل إلى طرف التبذير في المال أحمد عند الناس من الميل إلى طرف البخل فنهاية التبذير ونهاية البخل مذمومان وأحدهما أفحش وكذلك نهاية التكبر ونهاية التنقص والتذلل مذمومان وأحدهما أقبح من الآخر
Penyimpangan dari jalan tengah menuju ujung kekurangan, yaitu bermuka dua (menjilat), lebih ringan daripada penyimpangan menuju ujung kelebihan dengan bersikap takabur; sebagaimana kecenderungan pada sikap boros dalam harta lebih terpuji menurut pandangan manusia daripada kecenderungan pada sikap kikir. Puncak pemborosan dan puncak kekikiran keduanya tercela, namun salah satunya lebih keji. Demikian pula puncak kesombongan dan puncak perendahan diri serta kehinaan, keduanya tercela, tetapi salah satunya lebih buruk dari yang lain.
والمحمود المطلق هو العدل ووضع الأمور مواضعها كما يجب وعلى ما يجب كما يعرف ذلك بالشرع والعادة ولنقتصر على هذا القدر من بيان أخلاق الكبر والتواضع
Sikap yang terpuji secara mutlak adalah keadilan dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya sebagaimana mestinya dan sesuai dengan ketentuan yang seharusnya, sebagaimana hal itu diketahui melalui syariat dan kebiasaan yang berlaku. Cukuplah bagi kita membatasi pembahasan pada kadar ini dalam menjelaskan akhlak takabur dan tawaduk.
الشطر الثاني من الكتاب في العجب وفيه
Bagian Kedua dari Kitab ini adalah tentang 'Ujub (Bangga Diri), dan di dalamnya memuat:
بيان ذم العجب وآفاته
Penjelasan Celaan terhadap 'Ujub dan Bahaya-Bahayanya
وبيان حقيقة العجب والإدلال وحدهما وبيان علاج العجب على الجملة وبيان أقسام ما به العجب وتفصيل علاجه بَيَانُ ذَمِّ الْعُجْبِ وَآفَاتِهِ
Serta penjelasan hakikat 'ujub (bangga diri) dan idlal (merasa berjasa atas amalnya) beserta batasannya, penjelasan terapi pengobatan 'ujub secara umum, dan penjelasan pembagian hal-hal yang memicu 'ujub serta rincian pengobatannya. Penjelasan Celaan terhadap 'Ujub dan Bahaya-Bahayanya.
اعْلَمْ أَنَّ الْعُجْبَ مَذْمُومٌ فِي كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ
Ketahuilah bahwa 'ujub (bangga diri) adalah perbuatan tercela di dalam Kitabullah Ta'ala dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عنكم شيئاً﴾ ذُكِرَ ذَلِكَ فِي مَعْرِضِ الْإِنْكَارِ وَقَالَ ﷿ ﴿وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فأتاهم الله من حيث لم يحتسبوا﴾ فَرَدَّ عَلَى الْكُفَّارِ فِي إِعْجَابِهِمْ بِحُصُونِهِمْ وَشَوْكَتِهِمْ وَقَالَ تَعَالَى ﴿وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا﴾ وَهَذَا أَيْضًا يَرْجِعُ إِلَى الْعُجْبِ بِالْعَمَلِ
Allah Ta'ala berfirman: "Dan (ingatlah) perang Hunain, yaitu di waktu kamu merasa bangga karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun." (QS. At-Taubah: 25). Hal tersebut disebutkan dalam konteks pengingkaran dan teguran. Dan Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Dan mereka yakin bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah datang kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka." (QS. Al-Hasyr: 2). Maka Allah menolak sangkaan orang-orang kafir atas kebanggaan mereka terhadap benteng-benteng dan kekuatan mereka. Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (QS. Al-Kahfi: 104), dan ini juga kembali pada sikap 'ujub terhadap amal perbuatan.
وَقَدْ يعجب الإنسان بالعمل هُوَ مُخْطِئٌ فِيهِ كَمَا يُعْجَبُ بِعَمَلٍ هُوَ مُصِيبٌ فِيهِ
Seseorang terkadang merasa 'ujub dengan suatu amal perbuatan padahal ia keliru di dalamnya, sebagaimana ia merasa 'ujub dengan amal perbuatan yang ia benar di dalamnya.
وَقَالَ ﷺ ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ المرء بنفسه حديث أبي ثعلبة إذا رأيت شحاً مطاعاً وهوى متبعاً وإعجاب كل ذي رأي برأيه فعليك نفسك أخرجه أبو داود والترمذي وحسنه وابن ماجه وقد تقدم
Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Tiga hal yang membinasakan: kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri ('ujub)." Hadis Abu Tsa'labah: "Jika engkau melihat sifat kikir dituruti, hawa nafsu diikuti, dan setiap orang yang berpendapat merasa kagum dengan pendapatnya sendiri, maka uruslah dirimu sendiri." Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi (dan ia menghasankannya), serta Ibn Majah, dan telah disebutkan sebelumnya.
وقال ابن مسعود الهالك فِي اثْنَتَيْنِ الْقُنُوطِ وَالْعُجْبِ
Dan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Kehancuran itu ada pada dua perkara: keputusasaan dan 'ujub (bangga diri)."
وَإِنَّمَا جَمَعَ بَيْنَهُمَا لِأَنَّ السَّعَادَةَ لَا تُنَالُ إِلَّا بِالسَّعْيِ وَالطَّلَبِ وَالْجِدِّ وَالتَّشَمُّرِ وَالْقَانِطُ لَا يَسْعَى وَلَا يَطْلُبُ وَالْمُعْجَبُ يَعْتَقِدُ أَنَّهُ قَدْ سَعِدَ وَقَدْ ظَفِرَ بمراده فلا يسعى
Beliau menggabungkan keduanya (putus asa dan 'ujub) karena kebahagiaan tidak akan diperoleh melainkan dengan usaha, pencarian, kesungguhan, dan kerja keras. Orang yang putus asa tidak akan berusaha dan tidak mencari, sedangkan orang yang 'ujub (bangga diri) meyakini bahwa dirinya telah bahagia dan telah memperoleh apa yang diidamkannya, sehingga ia pun tidak berusaha.
فالموجود لا يطلب والمحال لا يطلب والسعادة موجودة في اعتقاد المعجب حاصلة له ومستحيلة في اعتقاد القانط فمن ههنا جمع بينهما
Sebab, sesuatu yang sudah ada tidak akan dicari, dan sesuatu yang mustahil pun tidak akan dicari. Kebahagiaan itu telah ada dan terwujud dalam keyakinan orang yang 'ujub, sedangkan kebahagiaan itu dianggap mustahil dalam keyakinan orang yang putus asa. Dari sinilah beliau menggabungkan antara keduanya.
وقد قال تعالى ﴿فلا تزكوا أنفسكم﴾ قال ابن جريج معناه إذا عملت خيراً فلا تقل عملت
Allah Ta'ala telah berfirman: ﴿Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci﴾ (QS. An-Najm: 32). Ibnu Juraij berkata: Maknanya adalah apabila engkau melakukan suatu kebaikan, maka janganlah engkau katakan 'Aku telah beramal'.
وقال زيد بن أسلم
Zaid bin Aslam berkata:
لا تبروها أي لا تعتقدوا أنها بارة وهو معنى العجب
'Janganlah kalian menganggap diri kalian berbakti/baik', yakni janganlah kalian meyakini bahwa diri kalian itu orang saleh, dan inilah makna dari 'ujub.
ووقى طلحة رسول الله ﷺ يوم أحد بنفسه فأكب عليه حتى أصيبت كفه فكأنه أعجبه فعله العظيم إذ فداه بروحه حتى جرح فتفرس ذلك عمر فيه فقال
Talhah pernah melindungi Rasulullah ﷺ dengan jiwanya pada hari Perang Uhud, ia membungkuk menutupi beliau hingga tangannya terluka. Seolah-olah ia kagum ('ujub) akan perbuatannya yang agung itu ketika ia mengorbankan jiwanya demi beliau hingga terluka. Umar membaca tanda-tanda itu pada diri Talhah, lalu berkata:
مازال يعرف في طلحة فأو منذ أصيبت إصبعه مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ // حديث وقى طلحة رسول الله ﷺ بنفسه وأكب عليه حتى أصيبت كفه أخرجه البخاري من وراية قيس بن أبي حازم قال رأيت يد طلحة شلاء وقى بها النبي ﷺ
'Masih selalu terlihat pada diri Talhah sikap na'u (bangga diri) sejak jarinya terluka bersama Rasulullah ﷺ.' // Hadis: Talhah melindungi Rasulullah ﷺ dengan jiwanya dan membungkuk menutupi beliau hingga tangannya terluka, diriwayatkan oleh al-Bukhari dari riwayat Qais bin Abi Hazim yang berkata: 'Aku melihat tangan Talhah lumpuh karena ia gunakan untuk melindungi Nabi ﷺ'.
والنأو هو العجب في اللغة إلا أنه لم ينقل فيه أنه أظهره واحتقر مسلماً ولما كان وقت الشورى قال له ابن عباس أين أنت من طلحة قال ذلك رجل فيه تحوة
Kata an-na'u secara bahasa berarti 'ujub (kagum pada diri sendiri), hanya saja tidak diriwayatkan bahwa ia menampakkannya atau merendahkan seorang muslim. Ketika musyawarah penentuan khalifah (Asy-Syura), Ibnu Abbas berkata kepada Umar: 'Bagaimana pendapatmu tentang Talhah?' Umar menjawab: 'Dia adalah seorang laki-laki yang di dalam dirinya terdapat sedikit kebanggaan diri (tahawwah)'.
فإذا كان لا يتخلص من العجب أمثالهم فكيف يتخلص من الضعفاء إن
Jika orang-orang seperti mereka saja tidak terbebas sepenuhnya dari 'ujub, maka bagaimana mungkin orang-orang yang lemah dapat terbebas darinya jika…
لم يأخذوا حذرهم وقال مطرف لأن أبيت نائماً وأصبح نادماً أحب إلي من أبيت قائماً وأصبح معجباً
…mereka tidak berhati-hati? Mutarrif berkata: 'Sungguh aku bermalam dalam keadaan tidur lalu bangun di pagi hari dengan penuh penyesalan, lebih aku sukai daripada aku bermalam dengan salat malam lalu bangun di pagi hari dalam keadaan 'ujub (kagum pada diri sendiri)'.
وقال ﷺ لو لم تذنبوا لخشيت عليكم ما هو أكبر من ذلك العجب العجب // حديث لو لم تذنبوا لخشيت عليكم ما هو أكبر من ذلك العجب العجب أخرجه البزار وابن حبان في الضعفاء والبيهقي في الشعب من حديث أنس وفيه سلام بن أبي الصهباء قال البخاري منكر الحديث
Nabi ﷺ bersabda: 'Seandainya kalian tidak berdosa, niscaya aku mengkhawatirkan atas kalian hal yang lebih besar dari dosa itu, yaitu 'ujub, 'ujub!' // Hadis: 'Seandainya kalian tidak berdosa…' diriwayatkan oleh al-Bazzar, Ibnu Hibban dalam al-Du'afa, dan al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab dari hadis Anas. Di dalamnya terdapat Salam bin Abi al-Sahba', al-Bukhari berkata: Munkar al-hadith.
وقال أحمد حسن الحديث ورواه أبو منصور الديلمي في مسند الفردوس من حديث أبي سعيد بسند ضعيف جدا
Ahmad berkata: Hadisnya hasan. Diriwayatkan juga oleh Abu Mansur al-Dailami dalam Musnad al-Firdaus dari hadis Abu Sa'id dengan sanad yang sangat lemah.
فجعل العجب أكبر الذنوب
Maka Rasulullah ﷺ menjadikan 'ujub sebagai dosa yang paling besar.
وكان بشر بن منصور من الذين إذا رءوا ذكر الله تعالى والدار الآخرة لمواظبته على العبادة فأطال الصلاة يوماً ورجل خلفه ينظر ففطن له بشر فلما انصرف عن الصلاة قال له لا يعجبنك ما رأيت مني فإن إبليس لعنه الله قد عبد الله تعالى مع الملائكة مدة طويلة ثم صار إلى ما صار إليه
Bisyr bin al-Mansur termasuk orang-orang yang apabila dilihat, orang akan teringat kepada Allah Ta'ala dan akhirat karena ketekunannya dalam beribadah. Pada suatu hari ia memanjangkan salatnya sementara seorang laki-laki di belakangnya memerhatikannya. Bisyr menyadari hal itu. Ketika selesai dari salatnya, ia berkata kepada laki-laki itu: 'Janganlah engkau kagum dengan apa yang engkau lihat dariku, karena sesungguhnya Iblis—semoga Allah melaknatnya—telah menyembah Allah Ta'ala bersama para malaikat dalam jangka waktu yang sangat lama, kemudian keadaannya berujung seperti apa yang telah terjadi padanya'.
وقيل لعائشة ﵂ متى يكون الرجل مسيئاً قالت إذا ظن أنه محسن وقد قال تعالى ﴿لا تبطلوا صدقاتكم بالمن والأذى﴾ وَالْمَنُّ نَتِيجَةُ اسْتِعْظَامِ الصَّدَقَةِ وَاسْتِعْظَامُ الْعَمَلِ هُوَ العجب
Dikatakan kepada Aisyah radhiyallahu 'anha: 'Kapan seseorang dianggap berlaku buruk?' Beliau menjawab: 'Apabila ia mengira bahwa dirinya telah berlaku baik.' Dan Allah Ta'ala telah berfirman: ﴿Janganlah kamu membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima)﴾ (QS. Al-Baqarah: 264). Menyebut-nyebut kebaikan (al-mann) adalah buah dari menganggap besar sedekah yang diberikan, sedangkan menganggap besar amal perbuatan itu sendiri adalah 'ujub.
فظهر بهذا أن العجب مذموم جداً
Maka jelaslah dari hal ini bahwa 'ujub itu sangat tercela.
بَيَانُ آفَةِ الْعُجْبِ
Penjelasan Tentang Bahaya ('Afah) 'Ujub
اعْلَمْ أَنَّ آفَاتِ الْعُجْبِ كَثِيرَةٌ فَإِنَّ الْعُجْبَ يَدْعُو إِلَى الْكِبْرِ لِأَنَّهُ أحد أسبابه كما ذكرناه فَيَتَوَلَّدُ مِنَ الْعُجْبِ الْكِبْرُ وَمِنَ الْكِبْرِ الْآفَاتُ الْكَثِيرَةُ الَّتِي لَا تَخْفَى هَذَا مَعَ الْعِبَادِ وَأَمَّا مَعَ اللَّهِ تَعَالَى فَالْعُجْبُ يَدْعُو إِلَى نِسْيَانِ الذُّنُوبِ وَإِهْمَالِهَا فَبَعْضُ ذُنُوبِهِ لَا يَذْكُرُهَا ولا يتفقدها لظنه أنه مستغن عن تفقدها فينساها وما يتذكره منها فيستصغره ولا يستعظمه فلا يجتهد في تداركه وتلافيه بَلْ يَظُنُّ أَنَّهُ يُغْفَرُ لَهُ
Ketahuilah bahwasanya bahaya ('afah) dari 'ujub itu sangat banyak. Sesungguhnya 'ujub itu mendorong kepada takabur (sombong), karena 'ujub merupakan salah satu penyebabnya sebagaimana yang telah kami sebutkan. Maka dari 'ujub terlahirlah takabur, dan dari takabur terlahirlah berbagai bahaya yang sangat banyak yang tidak tersembunyi lagi. Ini hubungannya dengan sesama hamba. Adapun hubungannya dengan Allah Ta'ala, maka 'ujub mendorong seseorang untuk melupakan dosa-dosa dan mengabaikannya. Sebagian dari dosanya tidak ia ingat dan tidak ia periksa karena persangkaannya bahwa ia tidak perlu mencermatinya, sehingga ia pun melupakannya. Sedangkan dosa yang masih ia ingat, ia anggap remeh dan tidak dianggap besar, sehingga ia tidak bersungguh-sungguh untuk mengobati dan memperbaikinya, bahkan ia mengira bahwa dosa itu pasti diampuni baginya.
وَأَمَّا الْعِبَادَاتُ والأعمال فإنه يستعظمها ويتبجح بها وَيَمُنُّ عَلَى اللَّهِ بِفِعْلِهَا وَيَنْسَى نِعْمَةَ اللَّهِ عليه بالتوفيق والتمكين منها ثم إذا عجب بها عمي عن آفاتها
Adapun dalam hal ibadah dan amal perbuatan, ia menganggapnya besar dan membanggakannya, serta merasa berjasa kepada Allah dengan mengerjakannya. Ia melupakan nikmat Allah atas dirinya berupa taufik dan kemampuan untuk melaksanakannya. Kemudian, apabila ia telah kagum ('ujub) terhadap amalnya, ia menjadi buta dari bahaya-bahaya yang merusak amalnya.
ومن لم يتفقد آفات الأعمال كان أكثر سعيه ضائعاً فإن الأعمال الظاهرة إذا لم تكن خالصة نقية عن الشوائب قلما تنفع وإنما يتفقد من يغلب عليه الإشفاق والخوف دون العجب والمعجب يَغْتَرُّ بِنَفْسِهِ وَبِرَأْيِهِ وَيَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ وَعَذَابَهُ وَيَظُنُّ أَنَّهُ عِنْدَ اللَّهِ بِمَكَانٍ وَأَنَّ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ مِنَّةً وَحَقًّا بِأَعْمَالِهِ الَّتِي هِيَ نعمة وعطية من عطاياه وَيُخْرِجُهُ الْعُجْبُ إِلَى أَنْ يُثْنِيَ عَلَى نَفْسِهِ وَيَحْمَدَهَا وَيُزَكِّيَهَا وَإِنْ أُعْجِبَ بِرَأْيِهِ وَعَمَلِهِ وَعَقْلِهِ مَنَعَ ذَلِكَ مِنَ الِاسْتِفَادَةِ وَمِنَ الِاسْتِشَارَةِ وَالسُّؤَالِ فَيَسْتَبِدُّ بِنَفْسِهِ وَرَأْيِهِ وَيَسْتَنْكِفُ مِنْ سُؤَالِ مَنْ هُوَ أَعْلَمُ مِنْهُ وَرُبَّمَا يُعْجَبُ بِالرَّأْيِ الْخَطَأِ الَّذِي خَطَرَ لَهُ فَيَفْرَحُ بِكَوْنِهِ مِنْ خَوَاطِرِهِ وَلَا يَفْرَحُ بِخَوَاطِرِ غَيْرِهِ فَيُصِرُّ عَلَيْهِ وَلَا يسمع نصح وَلَا وَعْظَ وَاعِظٍ بَلْ يَنْظُرُ إِلَى غَيْرِهِ بعين الاستجهال ويصر على خطئه فإن كان رأيه في أمر دنيوي فيحقق فيه وإن كان في أمر ديني لا سيما فيما يتعلق بأصول العقائد فيهلك به ولو اتهم نفسه ولم يثق برأيه واستضاء بنور القرآن واستعان بعلماء الدين وواظب على مدارسة العلم وتابع سؤال أهل البصيرة لكان ذلك يوصله إلى الحق
Barang siapa yang tidak memeriksa bahaya-bahaya (cacat) yang ada pada amal perbuatannya, niscaya sebagian besar usahanya akan sia-sia. Sebab amal-amal lahiriah, jika tidak tulus dan bersih dari noda-noda, jarang sekali membawa manfaat. Hanya orang yang didominasi oleh rasa cemas dan takut (kepada Allah) saja yang mau memeriksanya, bukan orang yang 'ujub. Orang yang 'ujub akan tertipu oleh dirinya dan pendapatnya sendiri, merasa aman dari makr (rencana/ketetapan) Allah dan azab-Nya, serta mengira bahwa ia memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, dan bahwa ia memiliki jasa serta hak di sisi Allah berkat amal-amalnya—padahal amal itu sendiri adalah nikmat dan pemberian dari pemberian-pemberian-Nya. 'Ujub ini mendorongnya untuk memuji dirinya sendiri, mengagungkannya, dan menganggap dirinya suci. Jika ia kagum pada pendapatnya, amalnya, dan akalnya, hal itu akan menghalanginya untuk mengambil manfaat, bermusyawarah, dan bertanya. Ia pun akan bersikap sewenang-wenang dengan diri dan pendapatnya sendiri, serta enggan bertanya kepada orang yang lebih berilmu darinya. Terkadang ia kagum pada pendapat keliru yang terlintas di pikirannya, lalu ia bergembira karena itu berasal dari pikirannya sendiri dan tidak bergembira dengan pikiran orang lain, sehingga ia terus-menerus memegangnya dan tidak mau mendengar nasihat atau wejangan dari penasihat mana pun. Bahkan ia memandang orang lain dengan pandangan meremehkan, lalu bersikeras atas kesalahannya. Jika pendapatnya itu dalam urusan duniawi, ia akan mengalami kerugian padanya; dan jika dalam urusan agama, terlebih yang berkaitan dengan pokok-pokok akidah, maka ia akan binasa karenanya. Seandainya ia mencurigai (kemampuan) dirinya, tidak percaya begitu saja pada pendapatnya, mencari penerangan dari cahaya Al-Qur'an, meminta bantuan para ulama agama, tekun mempelajari ilmu, serta senantiasa bertanya kepada ahli bashirah (orang yang memiliki keterbukaan mata hati), niscaya hal itu akan mengantarkannya kepada kebenaran.
فَهَذَا وَأَمْثَالُهُ مِنْ آفَاتِ الْعُجْبِ فَلِذَلِكَ كَانَ من المهلكات ومن أعظم آفاته أن يفتر فِي السَّعْيِ لِظَنِّهِ أَنَّهُ قَدْ فَازَ وَأَنَّهُ قد استغنى وهو الهلاك الصريح الذي لا شبهة فيه
Maka ini dan seumpamanya termasuk bahaya-bahaya (petaka) dari 'ujub (rasa bangga diri). Oleh karena itulah, 'ujub termasuk perkara yang membinasakan (al-muhlikat). Di antara bahayanya yang paling besar adalah melemahnya kesungguhan seseorang dalam beramal karena ia menduga telah beruntung dan merasa tidak membutuhkan apa-apa lagi. Dan inilah kebinasaan yang nyata, yang tidak ada keraguan di dalamnya.
نسأل الله تعالى العظيم حسن التوفيق لطاعته
Kita memohon kepada Allah Ta'ala Yang Maha Agung agar mengaruniakan taufik yang baik untuk menaati-Nya.
بيان حقيقة العجب والإدلال وحدهما
Penjelasan tentang Hakikat 'Ujub (Bangga Diri) dan Idlal (Merasa Berjasa) serta Batasan Keduanya
اعلم أن العجب إنما يكون بوصف هو كمال لا محالة وللعالم بكمال نفسه في علم وعمل ومال وغيره حالتان
Ketahuilah bahwasanya 'ujub itu hanya terjadi pada suatu sifat yang bernilai kesempurnaan secara pasti. Seseorang yang menyadari kesempurnaan dirinya dalam hal ilmu, amal, harta, maupun selainnya, memiliki dua keadaan:
إحداهما أن يكون خائفاً على زواله ومشفقاً على تكدره أو سلبه من أصله فهذا ليس بمعجب
Keadaan pertama: ia merasa takut akan hilangnya kesempurnaan itu, khawatir akan keruh atau dicabutnya nikmat tersebut dari akarnya. Orang yang berada dalam kondisi ini bukanlah orang yang 'ujub.
والأخرى أن لا يكون خائفاً من زواله لكن يكون فرحاً به من حيث إنه نعمة من الله تعالى عليه لا من حيث إضافته إلى نفسه
Keadaan kedua: ia tidak merasa takut akan hilangnya nikmat tersebut, tetapi ia merasa gembira dengannya sejauh itu merupakan nikmat dari Allah Ta'ala kepadanya, bukan dari sudut pandang penyandaran nikmat itu kepada dirinya sendiri.
وهذا أيضاً ليس بمعجب
Orang dalam keadaan ini pun tidak dianggap 'ujub.
وله حالة ثالثة هي العجب وهي أن يكون غير خائف عليه بل يكون فرحاً به مطمئناً إليه ويكون فرحه به من حيث إنه كمال ونعمة وخير ورفعة لا من حيث إنه عطية من الله تعالى ونعمة منه فيكون فرحه من حيث إنه صفته ومنسوب إليه بأنه له لا من حيث إنه منسوب إلى الله تعالى بأنه منه فمهما غلب على قلبه أنه نعمة من الله مهما شاء سلبها عنه زال العجب بذلك عن نفسه
Dan ia memiliki keadaan ketiga, yaitu keadaan 'ujub. Yaitu ketika ia tidak merasa takut akan hilangnya nikmat itu, bahkan merasa gembira dan merasa tenang dengannya. Kegembiraannya itu bersumber dari sudut pandang bahwa nikmat tersebut adalah suatu kesempurnaan, karunia, kebaikan, dan keluhuran, bukan dari sudut pandang bahwa nikmat itu adalah pemberian dan karunia dari Allah Ta'ala. Kegembiraannya muncul karena itu adalah sifatnya dan dinisbatkan kepadanya sebagai miliknya, bukan karena dinisbatkan kepada Allah Ta'ala bahwa itu berasal dari-Nya. Maka, manakala timbul kesadaran yang dominan di dalam hatinya bahwa itu adalah nikmat dari Allah—yang kapan pun Dia berkehendak dapat dicabut-Nya kembali—niscaya sirnalah sifat 'ujub itu dari dirinya.
فإذن العجب هو استعظام النعمة والركون إليها مع نسيان إضافتها إلى المنعم فإن انضاف إلى ذلك أن غلب على نفسه أن له عند الله حقاً وأنه منه بمكان حتى يتوقع بعمله كرامة في الدنيا واستبعد أن يجري عليه مكروه استبعاداً يزيد على استبعاده ما يجري على الفساق سمي هذا إدلالاً بالعمل فكأنه يرى لنفسه على الله دالة وكذلك قد يعطى غيره شيئاً فيستعظمه ويمن عليه فيكون معجباً فإن استخدمه أو اقترح عليه الاقتراحات أو استبعد تخلفه عن قضاء حقوقه كان مدلاً عليه
Dengan demikian, 'ujub adalah menganggap besar suatu nikmat dan bersandar padanya seraya melupakan penyandarannya kepada Sang Pemberi Nikmat (Al-Mun'im). Jika ditambahkan pada hal itu timbulnya persangkaan yang kuat dalam dirinya bahwa ia memiliki hak di sisi Allah dan memiliki kedudukan di sisi-Nya, hingga ia mengharapkan kemuliaan di dunia berkat amalnya dan menganggap sangat mustahil hal buruk menimpanya melebihi anggapan mustahilnya hal buruk menimpa orang-orang fasik, maka ini dinamakan idlal dengan amal (merasa telah berjasa kepada Allah dengan amalnya). Seolah-olah ia melihat dirinya memiliki hak tuntutan atas Allah. Demikian pula, seseorang terkadang memberi sesuatu kepada orang lain lalu ia mengagungkan pemberiannya itu dan menyebut-nyebutnya, maka ia berada dalam kondisi 'ujub. Namun jika ia mempekerjakan orang tersebut, mengusulkan berbagai tuntutan kepadanya, atau menganggap mustahil orang itu lalai dalam menunaikan hak-haknya, maka ia telah berlaku idlal kepadanya.
وقال قتادة في قوله تعالى ﴿ولا تمنن تستكثر﴾ أي لا تدل بعملك وفي الخبر إن صلاة المدل لا ترفع فوق رأسه ولأن تضحك وأنت معترف بذنبك خير من أن تبكي وأنت مدل بعملك // حديث إن صلاة المدل لا ترفع فوق رأسه الحديث لم أجد له أصلا
Qatadah berkata mengenai firman Allah Ta'ala: 'Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak' [QS. Al-Muddassir: 6], artinya: Janganlah kamu merasa berjasa (idlal) dengan amalmu. Dan dalam sebuah riwayat disebutkan: 'Sesungguhnya shalat orang yang merasa berjasa (mudill) tidak diangkat melebihi kepalanya. Dan sungguh engkau tertawa dalam keadaan mengakui dosamu adalah lebih baik daripada engkau menangis dalam keadaan merasa berjasa dengan amalmu.' // Hadits: 'Sesungguhnya shalat orang yang merasa berjasa tidak diangkat melebihi kepalanya…' Hadits ini, saya (Al-Iraqi) tidak menemukan asal-usulnya.
والإدلال وراء العجب فلا مدل إلا وهو معجب ورب معجب لا يدل إذ العجب يحصل بالاستعظام ونسيان النعمة دون توقع جزاء عليه والإدلال لا يتم إلا مع توقع جزاء فإن توقع إجابة دعوته واستنكر ردها بباطنه وتعجب منه كان مدلاً بعمله لأنه لا يتعجب من رد دعاء الفاسق ويتعجب من رد دعاء نفسه لذلك
Idlal berada di tingkat lanjut setelah 'ujub. Maka tidak ada orang yang berlaku idlal melainkan ia pasti orang yang 'ujub, sebaliknya betapa banyak orang yang 'ujub namun tidak sampai berlaku idlal. Sebab, 'ujub terjadi hanya dengan mengagungkan nikmat dan melupakan Pemberi Nikmat tanpa mengharapkan balasan atas amalnya. Sedangkan idlal tidak akan sempurna melainkan disertai harapan akan balasan. Apabila seseorang mengharapkan dikabulkannya doanya dan merasa ingkar di dalam hatinya jika doanya ditolak serta merasa heran akan penolakan tersebut, maka ia telah berlaku idlal dengan amalnya; karena ia tidak merasa heran atas ditolaknya doa orang fasik, namun ia heran jika doa dirinya sendiri yang ditolak dikarenakan hal itu.
فهذا هو العجب والإدلال وهو من مقدمات الكبر وأسبابه والله تعالى أعلم
Inilah hakikat 'ujub dan idlal, dan keduanya termasuk pengantar menuju sifat sombong (takabbur) serta menjadi sebab-sebabnya. Wallahu Ta'ala A'lam.
بَيَانُ عِلَاجِ الْعُجْبِ عَلَى الْجُمْلَةِ
Penjelasan Terapi Penyakit 'Ujub secara Garis Besar
اعْلَمْ أَنَّ عِلَاجَ كُلِّ عِلَّةٍ هُوَ مُقَابَلَةُ سَبَبِهَا بِضِدِّهِ وَعِلَّةُ الْعُجْبِ الْجَهْلُ الْمَحْضُ فَعِلَاجُهُ الْمَعْرِفَةُ الْمُضَادَّةُ لذلك الجهل فقط فلنفرض العجب بفعل داخل تحت اختيار العبد كالعبادة والصدقة والغزو وسياسة الخلق وإصلاحهم فإن العجب بهذا أغلب من العجب بالجمال والقوة والنسب وما لا يدخل تحت اختياره ولا يراه من نفسه
Ketahuilah bahwasanya obat bagi setiap penyakit adalah menandingi penyebab penyakit tersebut dengan lawannya. Adapun penyakit 'ujub disebabkan oleh kebodohan murni, maka obatnya adalah ma'rifah (pengetahuan dan kesadaran) yang berlawanan dengan kebodohan tersebut semata. Mari kita misalkan sifat 'ujub terhadap perbuatan yang berada di bawah ikhtiar (pilihan) seorang hamba, seperti ibadah, sedekah, berperang di jalan Allah, memimpin makhluk, dan mengurus kebaikan mereka. Sebab, 'ujub terhadap hal-hal semacam ini lebih dominan daripada 'ujub terhadap ketampanan, kekuatan, nasab, atau hal-hal lain yang tidak berada di bawah ikhtiarnya serta tidak ia pandang berasal dari usahanya sendiri.
فنقول الورع والتقوى والعبادة والعمل الذي به يعجب إنما يعجب به من حيث إنه فيه فهو محله ومجراه أو من حيث إنه منه وبسببه وبقدرته وقوته فإن كان يعجب به من حيث إنه فيه وهو محله ومجراه يجري فيه وعليه من جهة غيره فهذا جهل لأن المحل مسخر ومجرى لا مدخل له في الإيجاد والتحصيل فكيف يعجب بما ليس إليه وإن كان يعجب به من حيث إنه هو منه وإليه وباختياره حصل وبقدرته تم فينبغي أن يتأمل في قدرته وإرادته وأعضائه وسائر الأسباب التي بها يتم عمله أنها من أين كانت له فإن كان جميع ذلك نعمة من الله عليه من غير حق سبق له ومن غير وسيلة يدلي بها فينبغي أن يكون إعحابه بجود الله وكرمه وفضله إذ أفاض عليه مَا لَا يَسْتَحِقُّ وَآثَرَهُ بِهِ عَلَى غَيْرِهِ من غير سابقة ووسيلة فمهما برز الملك لغلمانه ونظر إليهم وخلع من جملتهم على واحد منهم لا لصفة فيه ولا لوسيلة ولا لجماله ولا لخدمة فينبغي أن يتعجب المنعم عليه من فضل الملك وحكمه وإيثاره من غير استحقاق وإعجابه بنفسه من أين وما سببه ولا ينبغي أن يعجب بنفسه
Maka kami katakan: Ketaatan, ketakwaan, ibadah, dan amal yang dihinggapi oleh rasa 'ujub itu, seseorang mengaguminya bisa jadi dari sudut pandang bahwa amal itu ada pada dirinya—sehingga dirinya adalah tempat (mahal) dan alur berjalannya amal tersebut—atau dari sudut pandang bahwa amal itu berasal dari dirinya, karena sebab dirinya, serta atas daya dan kekuatannya. Jika ia 'ujub terhadap amal tersebut karena amal itu ada pada dirinya—ia sekadar tempat dan alur yang padanya dan melaluinya amal itu mengalir dari Pihak Lain—maka ini adalah kebodohan. Sebab, tempat itu hanya tunduk dan menjadi alur, tidak memiliki andil dalam menciptakan dan mewujudkan amal tersebut. Lantas bagaimana ia bisa bangga terhadap sesuatu yang bukan miliknya? Namun jika ia 'ujub dari sudut pandang bahwa amal itu berasal dari dirinya, ditujukan kepadanya, terwujud dengan ikhtiarnya, dan sempurna dengan kekuatannya, maka seyogianya ia merenungkan daya, kehendak, anggota tubuh, serta seluruh sebab yang dengannya amalnya menjadi sempurna: dari manakah semua itu ia peroleh? Jika seluruh hal tersebut merupakan nikmat dari Allah kepadanya tanpa adanya hak yang mendahului dari dirinya dan tanpa ada perantara yang dia ajukan, maka sudah sepatutnya kekagumannya ditujukan kepada kedermawanan, kemurahan, dan karunia Allah, karena Dia telah melimpahkan kepadanya apa yang tidak berhak ia terima dan mengutamakannya atas orang lain tanpa ada jasa terdahulu atau perantara. Manakala seorang raja tampil di hadapan para pelayannya, memandang mereka, lalu menganugerahkan pakaian kebesaran kepada salah seorang di antara mereka bukan karena sifat tertentu pada orang itu, bukan karena perantara, keindahan, atau layanannya, maka seyogianya orang yang diberi nikmat itu merasa kagum akan karunia raja, kebijaksanaannya, dan pengutamaannya tanpa ada hak. Lantas dari mana timbul rasa bangga terhadap diri sendiri dan apa sebabnya? Sungguh tidak sepatutnya ia bangga pada dirinya sendiri.
نعم يجوز أن يعجب العبد فيقول الملك حكم عدل لا يظلم ولا يقدم ولا يؤخر إلا لسبب فلولا أنه تفطن في صفة من الصفات المحمودة الباطنة لما اقتضى الإيثار بالخلعة ولما آثرني بها فيقال وتلك الصفة أيضاً هي من خلعة الملك وعطيته التي خصصك بها من غيرك من غير وسيلة أو هي عطية غيره فإن كانت من عطية الملك أيضاً لم يكن لك أن تعجب بها بل كانوا كما لو أعطاك فرساً
Benar, bisa jadi hamba tersebut berandai-andai dan berkata, 'Raja adalah hakim yang adil, tidak menzalimi, serta tidak mendahulukan atau mengakhirkan seseorang melainkan karena ada sebab. Jikalau raja tidak mendapati suatu sifat terpuji yang tersembunyi pada diriku, niscaya tidak akan ada tuntutan untuk mengutamakanku dengan pakaian kebesaran ini dan ia tidak akan mengutamakanku dengannya.' Maka dijawab padanya: 'Sifat terpuji itu pun merupakan pakaian kebesaran dan pemberian raja yang ia khususkan bagimu di antara orang lain tanpa perantara jasa dari dirimu, ataukah sifat itu pemberian dari selain raja?' Jika sifat itu juga merupakan pemberian raja, maka tidak ada alasan bagimu untuk merasa bangga dengannya. Keadaannya persis seperti jika raja memberimu seekor kuda,
فلم تعجب به
lalu engkau tidak merasa bangga dengannya,
فأعطاك علاما فصرت تعجب به وتقول إنما أعطاني غلاماً لأني صاحب فرس فأما غيري فلا فرس له فيقال وهو الذي أعطاك الفرس فلا فرق بين أن يعطيك الفرس والغلام معاً أو يعطيك أحدهما بعد الآخر فإذا كان الكل منه فينبغي أن يعجبك جوده وفضله لا نفسك
lalu raja memberimu seorang pelayan, lantas engkau menjadi bangga dengannya seraya berkata, 'Raja memberiku pelayan ini hanyalah karena aku adalah pemilik kuda, sedangkan orang lain tidak memiliki kuda.' Maka dikatakan padanya: 'Dialah juga yang telah memberimu kuda tersebut! Tidak ada bedanya antara Dia memberimu kuda dan pelayan secara bersamaan, atau memberi salah satunya setelah yang lain.' Jika semuanya berasal dari-Nya, maka seyogianya yang membuatmu kagum adalah kedermawanan dan karunia-Nya, bukan dirimu sendiri.
وأما إن كانت تلك الصفة من غيره فلا يبعد أن تعجب بتلك الصفة وهذا يتصور في حق الملوك ولا يتصور في حق الجبار القاهر ملك الملوك المنفرد باختراع الجميع المنفرد بإيجاد الموصوف والصفة فإنك إن أعجبت بعادتك وقلت وفقني للعبادة لحبي له فيقال ومن خلق الحب في قلبك فتقول هو فيقال فالحب والعبادة كلاهما نعمتان من عنده ابتدأك بهما من غير استحقاق من جهتك إذ لا وسيلة لك ولا علاقة فيكون الإعجاب بجوده إذ أنعم بوجودك ووجود صفاتك وبوجود أعمالك وأسباب أعمالك فإذاً لا معنى لعجب العابد بعبادته وعجب العالم بعلمه وعجب الجميل بجماله وعجب الغني بغناه لِأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَإِنَّمَا هو محل لفيضان فضل الله تعالى وجوده والمحل أيضاً من فضله وجوده
Adapun jika sifat tersebut berasal dari selain raja, barulah tidak jauh dari kemungkinan engkau kagum pada sifat itu. Hal seperti ini dapat dibayangkan pada raja-raja duniawi, namun tidak dapat dibayangkan sama sekali pada Hak Allah Yang Maha Perkasa, Maha Menundukkan, Raja Segala Raja, Yang Maha Esa dalam menciptakan segalanya, Yang Maha Esa dalam mewujudkan zat yang disifati maupun sifat itu sendiri. Jika engkau merasa kagum dengan kebiasaanmu dan berkata, 'Dia memberiku taufik untuk beribadah karena cintaku kepada-Nya,' maka dikatakan padamu, 'Siapakah yang menciptakan rasa cinta itu di dalam hatimu?' Engkau akan menjawab, 'Dia.' Maka dikatakan, 'Rasa cinta dan ibadah itu keduanya merupakan dua nikmat dari sisi-Nya yang Dia mulai berikan kepadamu tanpa ada hak dari pihakmu, karena engkau tidak memiliki perantara maupun hubungan.' Dengan demikian, kekaguman harus ditujukan kepada kedermawanan-Nya, karena Dia telah mengaruniakan keberadaan dirimu, keberadaan sifat-sifatmu, keberadaan amal-amalmu, serta sebab-sebab amalmu. Maka dari itu, tidak ada artinya kekaguman ahli ibadah terhadap ibadahnya, kekaguman orang alim terhadap ilmunya, kekaguman orang rupawan terhadap ketampanannya, dan kekaguman orang kaya terhadap kekayaannya, karena semua itu berasal dari karunia Allah. Manusia itu hanyalah tempat bagi curahan karunia dan kedermawanan Allah Ta'ala, dan tempat itu sendiri pun berasal dari karunia serta kedermawanan-Nya.
فإن قلت لا يمكنني أن أجهل أعمالي وإني أنا عملتها فإني أنتظر عليها ثواباً ولولا أنها عملي لما انتظرت ثواباً فإن كانت الأعمال مخلوقة لله على سبيل الاختراع فمن أين لي الثواب وإن كانت الأعمال مني وبقدرته فكيف لا أعجب بها فاعلم أن جوابك من وجهين
Jika engkau berkata: 'Tidak mungkin bagiku mengabaikan amal-amalku dan bahwasanya akulah yang telah mengerjakannya, sebab aku mengharapkan pahala atasnya. Seandainya amal itu bukan amalku, niscaya aku tidak akan mengharapkan pahala. Apabila amal-amal tersebut diciptakan oleh Allah secara pengadaan langsung (ikhtira'), lantas dari mana aku berhak mendapatkan pahala? Namun jika amal-amal itu berasal dariku dan melalui kekuatan-Nya, bagaimana mungkin aku tidak bangga dengannya?' Maka ketahuilah bahwasanya jawaban atas pertanyaanmu ini terdiri dari dua segi:
أحدهما هو صريح الحق
Salah satunya adalah kebenaran yang murni.
والآخر فيه مسامحة
Dan yang lainnya mengandung unsur penyederhanaan (kelonggaran).
أما صريح الحق فهو أنك وقدرتك وإرادتك وحركتك وجميع ذلك من خلق الله واختراعه فما عملت إذ عملت وما صليت إذ صليت ﴿وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى﴾ فهذا هو الحق الذي انكشف لأرباب القلوب بمشاهدة أوضح من إبصار العين بل خلقك وخلق أعضاءك وخلق فيها القوة والقدرة والصحة وخلق لك العقل والعلم وخلق لك الإرادة ولو أردت أن تنفي شيئاً من هذا عن نفسك لم تقدر عليه ثم خلق الحركات في أعضائك مستبداً باختراعها من غير مشاركة من جهتك معه في الاختراع إلا أنه خلقه على ترتيب فلم يخلق الحركة ما لم يخلق في العضو قوة وفي القلب إرادة ولم يخلق إرادة ما لم يخلق علماً بالمراد ولم يخلق علماً ما لم يخلق القلب الذي هو محل العلم فتدريجه في الخلق شيئاً بعد شيء هو الذي خيل لك أنك أوجدت عملك وقد غلطت
Adapun kebenaran yang murni adalah bahwa dirimu, kemampuanmu, kehendakmu, gerakmu, dan seluruhnya itu adalah ciptaan Allah dan kreasi-Nya semata. Maka engkau tidaklah berbuat ketika engkau berbuat, dan engkau tidaklah shalat ketika engkau shalat, 'Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang melempar' (QS. Al-Anfal: 17). Inilah kebenaran yang tersingkap bagi para pemilik hati melalui musyahadah yang lebih jelas daripada penglihatan mata. Bahkan Dialah yang menciptakanmu, menciptakan anggota tubuhmu, menciptakan padanya kekuatan, kemampuan, dan kesehatan, serta menciptakan untukmu akal, ilmu, dan kehendak. Sekiranya engkau ingin meniadakan salah satu dari hal-hal ini dari dirimu, niscaya engkau tidak akan sanggup. Kemudian Dia menciptakan gerakan-gerakan pada anggota tubuhmu secara mandiri dalam ciptaan-Nya tanpa ada persekutuan dari pihakmu bersama-Nya dalam penciptaan itu, hanya saja Dia menciptakannya secara berurutan. Dia tidak menciptakan gerakan sebelum menciptakan kekuatan pada anggota tubuh dan kehendak di dalam hati; Dia tidak menciptakan kehendak sebelum menciptakan ilmu tentang apa yang dikehendaki; dan Dia tidak menciptakan ilmu sebelum menciptakan hati yang menjadi tempat ilmu itu. Maka proses pentahapan-Nya dalam penciptaan sesuatu demi sesuatu itulah yang mengkhayalkan kepadamu seolah-olah engkau yang mewujudkan amal perbuatanmu, padahal sungguh engkau telah keliru.
وإيضاح ذلك وكيفية الثواب على عمل هو من خلق الله سيأتي تقريره في كتاب الشكر فإنه أليق به فارجع إليه
Penjelasan mengenai hal tersebut dan tata cara pemberian pahala atas amal yang merupakan ciptaan Allah akan datang ketetapannya dalam Kitab Syukur, karena kitab itulah yang lebih layak membahasnya, maka rujuklah ke sana.
ونحن الآن نزيل إشكالك بالجواب الثاني الذي فيه مسامحة ما وهو أن تحسب أن العمل حصل بقدرتك فمن أين قدرتك ولا يتصور العمل إلا بوجودك ووجود عملك وإرادتك وسائر أسباب عملك وكل ذلك من الله تعالى لا منك فإن كان العمل بالقدرة فالقدرة مفتاحه وهذا المفتاح بيد الله ومهما لم يعطك المفتاح فلا يمكنك العمل فالعبادات خزائن بها يتوصل إلى السعادات ومفاتيحها القدرة والإرادة والعلم وهي بيد الله لا محالة
Dan kami sekarang menghilangkan keraguanmu dengan jawaban kedua yang mengandung kelonggaran, yaitu jika engkau mengira bahwa amal itu terjadi dengan kemampuanmu: lantas dari manakah datangnya kemampuanmu? Padahal amal tidak dapat dibayangkan tanpa wujud dirimu, wujud amalmu, kehendakmu, serta seluruh sebab-sebab amalmu, dan semua itu berasal dari Allah Ta'ala, bukan darimu. Apabila amal itu terjadi dengan kemampuan, maka kemampuan adalah kuncinya, dan kunci ini berada di tangan Allah. Selama Dia tidak memberimu kunci tersebut, engkau tidak akan mampu beramal. Maka ibadah-ibadah adalah perbendaharaan yang dengannya seseorang sampai kepada kebahagiaan, sedangkan kunci-kuncinya adalah kemampuan, kehendak, dan ilmu, yang kesemuanya tak pelak berada di tangan Allah.
أرأيت لو رأيت خزائن الدنيا مجموعة في قلعة حصينة ومفتاحها بيد خازن ولو جلست على بابها وحول حيطانها ألف سنة لم يمكنك أن تنظر إلى دينار مما فيها ولو أعطاك المفتاح لأخذته من قريب بأن تبسط يدك إليه فتأخذه فقط فإذا أعطاك الخازن المفاتيح وسلطك عليها ومكنك منها فمددت يدك وأخذتها كان إعجابك بإعطاء الخازن المفاتيح أو بما إليك من مد اليد وأخذها فلا تشك في أنك ترى ذلك نعمة من الخازن لأن المؤنة في تحريك اليد بأخذ المال قريبة وإنما الشأن كله في تسليم المفاتيح
Bagaimanakah pendapatmu sekiranya engkau melihat perbendaharaan dunia terkumpul dalam sebuah benteng yang kokoh dan kuncinya berada di tangan penjaga benteng, lalu jika engkau duduk di pintunya atau di sekitar temboknya selama seribu tahun, engkau tidak akan mampu melihat walau satu dinar pun dari isinya. Namun, jika penjaga benteng itu memberimu kunci, niscaya engkau mengambilnya dengan mudah, yaitu cukup dengan mengulurkan tanganmu lalu mengambilnya. Maka apabila penjaga benteng memberimu kunci-kunci itu, meletakkan kekuasaan atasnya kepadamu, dan memampukanmu mendapatinya, lalu engkau mengulurkan tanganmu dan mengambilnya: apakah rasa ujubmu akan tertuju pada pemberian kunci oleh sang penjaga benteng, atau pada tindakanmu mengulurkan tangan dan mengambilnya? Tentu engkau tidak ragu bahwa engkau menganggap hal itu sebagai kenikmatan dari sang penjaga benteng, sebab beban dalam menggerakkan tangan untuk mengambil harta itu amatlah ringan, dan perkaranya yang sesungguhnya berada pada penyerahan kunci-kunci tersebut.
فكذلك مهما خلقت القدرة وسلطت الإرادة الجازمة وحركت الدواعي والبواعث وصرف عنك الموانع والصوارف حتى لم يبق صارف إلا دفع ولا باعث إلا وكل بك فالعمل هين عليك وتحريك البواعث وصرف العوائق وتهيئة الأسباب كلها من الله ليس شيء منها إليك فمن العجائب أن تعجب بنفسك
Demikian pula, tatkala kemampuan itu diciptakan, kehendak yang mantap disepadankan, dorongan-dorongan dan pendorong-pendorong digerakkan, serta penghalang-penghalang dan pengalih-pengalih dipalingkan darimu hingga tidak tersisa satu pengalih pun melainkan telah ditolak dan tidak ada satu pendorong pun melainkan telah ditugaskan kepadamu, maka amal menjadi hal yang mudah bagimu. Sedangkan menggerakkan dorongan-dorongan, memalingkan rintangan-rintangan, dan menyatukan sebab-sebab semuanya berasal dari Allah; tidak ada satu pun darinya yang bersumber darimu. Maka sungguh mengagumkan (aneh) jika engkau merasa ujub terhadap dirimu sendiri,
ولا تعجب بمن إليه الأمر كله ولا تعجب بجوده وفضله وكرمه في إيثاره إياك على الفساق من عباده إذ سلط دواعي الفساد على الفساق وصرفها عنك وسلط أخدان السوء ودعاة الشر عليهم وصرفهم عنك ومكنك من أسباب الشهوات واللذات وزواها عنك وصرف عنهم بواعث الخير ودواعيه وسلطها عليك حتى تيسر لك الخير وتيسر لهم الشر فعل ذلك كله بك من غير وسيلة سابقة منك ولا جريمة سابقة من الفاسق العاصي بل آثرك وقدمك واصطفاك بفضله وأبعد العاصي وأشقاه بعدله فما أعجب إعجابك بنفسك إذا عرفت ذلك فإذن لا تنصرف قدرتك إلى المقدور إلا بتسليط الله عليك داعية لا تجد سبيلاً إلى مخالفتها فكأنه الذي اضطرك إلى الفعل إن كنت فاعلاً تحقيقاً فله الشكر والمنة لا لك وسيأتي في كتاب التوحيد والتوكل من بيان تسلسل الأسباب والمسببات ما تستبين به أنه لا فاعل إلا الله ولا خالق سواه والعجب ممن يتعجب إذا رزقه الله عقلاً وأفقره فمن أفاض عليه المال من غير علم فيقول كيف منعني قوت يومي وأنا العاقل الفاضل وأفاض على هذا نعيم الدنيا وهو الغافل الجاهل حتى يكاد يرى هذا ظلماً ولا يدري المغرور أنه لو جمع له بين العقل والمال جميعا لكان ذلك بالظلم أشبه في ظاهر الحال إذ يقول الجاهل الفقير يا رب لم جمعت له بين العقل والغنى وحرمتني منهما فهلا جمعتهما لي أو لا هلا رزقتني أحدهما وإلى هذا أشار علي ﵁ حيث قيل له ما بال العقلاء فقراء فقال إن عقل الرجل محسوب عليه من رزقه
dan engkau tidak kagum kepada Zat yang memegang seluruh perkara, serta tidak kagum pada kemurahan-Nya, karunia-Nya, dan kemuliaan-Nya dalam mengutamakanmu di atas hamba-hamba-Nya yang fasik. Yaitu tatkala Dia menguasakan dorongan-dorongan kerusakan kepada orang-orang fasik dan memalingkannya darimu, menguasakan teman-teman yang buruk serta penyeru kejahatan kepada mereka dan memalingkan mereka darimu, serta memampukanmu dari sebab-sebab syahwat dan kenikmatan lalu menyingkirkannya darimu, dan memalingkan dari mereka dorongan-dorongan kebaikan serta menguasakannya kepadamu hingga kebaikan dipermudah bagimu dan kejahatan dipermudah bagi mereka. Dia melakukan semua itu kepadamu tanpa adanya perantara (amal) terdahulu darimu, dan tanpa adanya kejahatan terdahulu dari orang fasik yang bermaksiat itu. Melainkan Dia mengutamakanmu, memajukanmu, dan memilihmu dengan karunia-Nya, serta menjauhkan orang yang bermaksiat dan menjadikannya celaka dengan keadilan-Nya. Betapa anehnya keujubanmu terhadap dirimu sendiri jika engkau telah mengetahui hal itu! Maka dengan demikian, kemampuanmu tidak akan terarah kepada hal yang dikuasai kecuali dengan penguasaan Allah atasmu berupa dorongan yang tidak engkau dapati jalan untuk menyelisihinya, seolah-olah Dialah yang memaksamu untuk berbuat jika engkau memang bertindak secara hakiki. Maka bagi-Nya segala syukur dan anugerah, bukan bagimu. Dan kelak akan datang dalam Kitab Tauhid dan Tawakal penjelasan tentang perangkaian sebab-sebab dan akibat-akibat yang dengannya akan menjadi jelas bagimu bahwa tidak ada pelaku (Fa'il) kecuali Allah dan tidak ada pencipta selain-Nya. Dan yang mengherankan adalah orang yang merasa heran tatkala Allah menganugerahkan akal kepadanya namun membuatnya miskin, sementara Dia melimpahkan harta kepada orang lain tanpa ilmu, lalu orang itu berkata: 'Bagaimana mungkin Dia menghalangiku dari makanan pokok sehariku padahal aku orang berakal dan utama, sementara Dia melimpahkan kenikmatan dunia kepada orang ini padahal dia orang yang lalai dan bodoh?' Hingga hampir-hampir dia menganggap hal ini sebagai kezaliman. Orang yang terperdaya ini tidak menyadari bahwa sekiranya dikumpulkan baginya antara akal dan harta sekaligus, niscaya hal itu secara lahiriah lebih menyerupai kezaliman, sebab si bodoh yang miskin akan berkata: 'Ya Tuhan, mengapa Engkau kumpulkan baginya antara akal dan kekayaan, sementara Engkau menghalangiku dari keduanya? Mengapa Engkau tidak mengumpulkan keduanya untukku, atau setidaknya menyediakanku salah satunya?' Kepada hal inilah Ali radhiyallahu 'anhu mengisyaratkan ketika ditanyakan kepadanya: 'Mengapa orang-orang berakal itu miskin?' Beliau menjawab: 'Sesungguhnya akal seseorang itu diperhitungkan atasnya dari bagian rezekinya.'
والعجب أن العاقل الفقير ربما يرى الجاهل الغني أحسن حالاً من نفسه ولو قيل له هل تؤثر جهله وغناه عوضاً عن عقلك وفقرك لامتنع عنه فإذن ذلك يدل على أن نعمة الله عليه أكبر فلم يتعجب من ذلك والمرأة الحسناء الفقيرة ترى الحلي والجواهر على الدميمة القبيحة فتعجب وتقول كيف يحرم مثل هذا الجمال من الزينة ويخصص مثل ذلك القبح ولا تدري المغرورة أن الجمال محسوب عليها من رزقها وأنها لو خيرت بين الجمال وبين القبح مع الغنى لآثرت الجمال فإذن نعمة الله عليها أكبر
Dan yang mengherankan, terkadang orang berakal yang miskin melihat orang bodoh yang kaya berkeadaan lebih baik daripada dirinya. Padahal sekiranya dikatakan kepadanya: 'Apakah engkau memilih kebodohan dan kekayaannya sebagai ganti dari akal dan kemiskinanmu?' Niscaya dia akan menolaknya. Maka hal ini menunjukkan bahwa nikmat Allah atas dirinya itu lebih besar, lantas mengapa dia merasa heran dengan hal itu? Demikian pula wanita cantik yang miskin melihat perhiasan dan permata dipakai oleh wanita yang buruk rupa dan jelek, lalu dia heran dan berkata: 'Bagaimana mungkin kecantikan seperti ini dihalangi dari perhiasan, sedangkan kejelekan seperti itu malah diistimewakan?' Wanita yang terperdaya itu tidak tahu bahwa kecantikan itu telah diperhitungkan atas dirinya sebagai bagian dari rezekinya, dan sekiranya dia diberi pilihan antara kecantikan atau keburukan rupa beserta kekayaan, niscaya dia akan memilih kecantikan. Maka dengan demikian, nikmat Allah atas dirinya itu lebih besar.
وقول الحكيم الفقير العاقل بقلبه يا رب لم حرمتني الدنيا وأعطيتها الجهال كقول من أعطاه الملك فرساً فيقول أيها الملك لم لا تعطيني الغلام وأنا صاحب فرس فيقول كنت لا تتعجب من هذا لو لم أعطك الفرس فهب أني ما أعطيتك فرساً أصارت نعمتي عليك وسيلة لك وحجة تطلب بها نعمة أخرى فهذه أوهام لا تخلو الجهال عنها ومنشأ جميع ذلك الجهل ويزال ذَلِكَ بِالْعِلْمِ الْمُحَقَّقِ بِأَنَّ الْعَبْدَ وَعَمَلَهُ وَأَوْصَافَهُ كل ذلك من عند الله تعالى نعمة ابتدأه به قَبْلَ الِاسْتِحْقَاقِ وَهَذَا يَنْفِي الْعُجْبَ وَالْإِدْلَالَ وَيُورِثُ الخضوع والشكر والخوف من زوال النعمة
Perkataan orang bijak lagi miskin yang berakal dengan hatinya: 'Ya Tuhan, mengapa Engkau menghalangiku dari dunia dan menguruskannya kepada orang-orang bodoh?' adalah seperti perkataan seseorang yang diberi seekor kuda oleh raja, lalu orang itu berkata: 'Wahai Raja, mengapa engkau tidak memberiku seorang pelayan, padahal aku adalah pemilik kuda?' Maka raja menjawab: 'Engkau tadinya tidak akan merasa heran dengan hal ini sekiranya aku tidak memberimu kuda. Anggaplah aku tidak memberimu kuda, apakah nikmatku kepadamu justru menjadi sarana bagimu dan hujjah untuk menuntut nikmat yang lain?' Maka ini semua adalah ilusi yang tidak terlepas dari orang-orang bodoh, dan sumber dari semua itu adalah kebodohan. Hal itu dapat dihilangkan dengan ilmu yang diyakini secara pasti, bahwa hamba, amalnya, dan sifat-sifatnya seluruhnya berasal dari Allah Ta'ala sebagai nikmat yang diawali-Nya sebelum adanya kelayakan (hak) dari si hamba. Hal ini akan meniadakan rasa ujub dan sikap membanggakan diri (idlâl), serta mewariskan ketundukan, rasa syukur, dan kekhawatiran akan sirnanya nikmat.
ومن عرف هذا لم يتصور أن يعجب بعلمه وعمله إذ يعلم أن ذلك من الله تعالى ولذلك قال داود ﵇ يا رب ما تأتي ليلة إلا وإنسان من آل داود صائم وفي رواية ما تمر ساعة من ليل أو نهار إلا وعابد من آل داود يعبدك إما يصلي وإما يصوم وإما يذكرك فأوحى الله تعالى إليه يا داود ومن أين لهم ذلك أن ذلك لم يكن إلا بي ولولا عوني إياك ما قويت وسأكلك إلى نفسك قال ابن عباس إنما أصاب داود ما أصاب من الذنب بعجبه بعمله إذ أضافه إلى آل داود مدلاً به حتى وكل إلى نفسه فأذنب ذنباً أورثه الحزن والندم
Barangsiapa mengenal hal ini, tidak akan terbayangkan baginya untuk merasa ujub terhadap ilmu dan amalnya, sebab dia mengetahui bahwa hal itu berasal dari Allah Ta'ala. Oleh karena itu, Nabi Daud 'alaihissalam berkata: 'Ya Tuhan, tidaklah datang suatu malam melainkan ada seseorang dari keluarga Daud yang berpuasa.' Dan dalam sebuah riwayat: 'Tidaklah berlalu suatu saat dari malam atau siang melainkan ada ahli ibadah dari keluarga Daud yang menyembah-Mu, baik shalat, berpuasa, maupun berzikir kepada-Mu.' Maka Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya: 'Wahai Daud, dari manakah mereka mendapatkan hal itu? Sesungguhnya hal itu tidak terjadi melainkan karena Aku. Sekiranya bukan karena pertolongan-Ku kepadamu, niscaya engkau tidak akan sanggup, dan Aku akan menyerahkanmu kepada dirimu sendiri.' Ibnu Abbas berkata: 'Sesungguhnya timbulnya dosa yang menimpa Nabi Daud adalah karena rasa ujubnya terhadap amalnya, di mana beliau menyandarkannya kepada keluarga Daud seraya membanggakannya, hingga beliau diserahkan kepada dirinya sendiri lalu melakukan dosa yang mewariskan kesedihan dan penyesalan.'
وقال داود يا رب إن بني إسرائيل يسألونك بإبراهيم وإسحاق ويعقوب فقال إني ابتليتهم فصبروا فقال يا رب وأنا إن ابتليتني صبرت فأدل بالعمل قبل وقته فقال الله تعالى فإني لم أخبرهم بأي شيء أبتليهم ولا في أي شهر ولا في أي يوم وأنا مخبرك في سنتك هذه وشهرك هذا أبتليك غداً بامرأة فاحذر نفسك فوقع فيما وقع فيه
Nabi Daud juga berkata: 'Ya Tuhan, sesungguhnya Bani Israil memohon kepada-Mu dengan menyebut nama Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub.' Maka Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku telah menguji mereka lalu mereka bersabar.' Beliau berkata: 'Ya Tuhan, aku pun jika Engkau mengujiku niscaya aku akan bersabar.' Beliau merasa bangga dengan amalnya sebelum waktunya. Maka Allah Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya Aku tidak memberitahukan kepada mereka dengan perkara apa Aku menguji mereka, tidak pula pada bulan apa atau hari apa. Namun Aku memberitahukan kepadamu pada tahunmu ini dan bulanmu ini: Aku akan mengujimu besok dengan seorang wanita, maka waspadailah dirimu.' Lalu beliaupun jatuh ke dalam apa yang dijatuhinya.
وكذلك لما اتكل أصحاب رسول الله ﷺ يوم حنين على قوتهم وكثرتهم
Demikian pula ketika para sahabat Rasulullah ﷺ pada Perang Hunain bersandar kepada kekuatan dan jumlah mereka yang banyak,
ونسوا فضل الله تعالى عليهم وقالوا لا نغلب اليوم من قلة حديث ما منكم من أحد ينجيه عمله الحديث متفق عليه من حديث أبي هريرة
dan mereka melupakan karunia Allah Ta'ala atas mereka seraya berkata: 'Kita tidak akan kalah hari ini karena jumlah yang sedikit.' Hadis: 'Tidak ada seorang pun di antara kalian yang diselamatkan oleh amalnya.' Hadis ini muttafaq 'alaih dari hadis Abu Hurairah.
ولقد كان أصحابه من بعده يتمنون أن يكونوا تراباً وتبناً وطيراً مع صفاء أعمالهم وقلوبهم فكيف يكون لذي بصيرة أن يعجب بعمله أو يدل به وَلَا يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ فَإِذَنْ هَذَا هُوَ العلاج القامع لمادة العجب من القلب
Sungguh para sahabat beliau sepeninggalnya bercita-cita untuk menjadi debu, jerami, dan burung, padahal betapa sucinya amal-amal dan hati mereka. Maka bagaimana mungkin bagi seseorang yang memiliki mata hati merasa ujub terhadap amalnya atau membanggakannya, serta tidak merasa takut atas dirinya? Maka inilah obat penumpas materi ujub dari dalam hati.
ومهما غلب ذلك على القلب شغله خوف سلب هذه النعمة عن الإعجاب بها بل هو ينظر إلى الكفار والفساق وقد سلبوا نعمة الإيمان والطاعة بغير ذنب أذنبوه من قبل فيخاف من ذلك فيقول إن من لا يبالي أن يحرم من غير جناية ويعطى من غير وسيلة لا يبالي أن يعود ويسترجع ما وهب فكم من مؤمن قد ارتد ومطيع قد فسق وختم له بسوء وهذا لا يبقى معه عجب بحال والله تعالى أعلم
Dan manakala hal itu menguasai hati, niscaya ketakutan akan dicabutnya nikmat ini akan menyibukkannya dari rasa kagum (ujub) terhadap nikmat tersebut. Bahkan dia melihat kepada orang-orang kafir dan fasik yang telah dicabut dari mereka nikmat iman dan ketaatan tanpa dosa yang mereka perbuat sebelumnya, maka dia takut akan hal itu seraya berkata: 'Sesungguhnya Zat yang tidak memedulikan untuk menghalangi seseorang tanpa adanya kejahatan dan memberi tanpa adanya perantara (amal), Dia tidak memedulikan untuk kembali dan mengambil apa yang telah dihibahkan-Nya.' Berapa banyak orang beriman yang telah murtad, dan orang yang taat yang telah menjadi fasik serta ditutup baginya dengan keburukan (su'ul khatimah). Hal ini tidak menyisakan sedikit pun rasa ujub sama sekali. Wallahu Ta'ala A'lam.
بَيَانُ أَقْسَامِ مَا بِهِ الْعُجْبُ وَتَفْصِيلُ عِلَاجِهِ
PENJELASAN TENTANG PEMBAGIAN HAL-HAL YANG MENYEBABKAN UJUB DAN RINCIAN OBATNYA
اعلم أن العجب بالأسباب التي بها يتكبر كما ذكرناه وقد يعجب بما لا يتكبر به كعجبه بالرأي الخطأ الذي يزين له بجهله
Ketahuilah bahwa ujub terjadi pada sebab-sebab yang dengannya seseorang menjadi sombong sebagaimana telah kami sebutkan. Dan terkadang seseorang merasa ujub dengan sesuatu yang tidak menjadikannya sombong, seperti kekagumannya terhadap pendapat yang salah yang dihiasi baginya karena kebodohannya.
فما به العجب ثَمَانِيَةُ أَقْسَامٍ
Maka hal-hal yang menyebabkan timbulnya ujub ada delapan bagian:
الْأَوَّلُ أَنْ يُعْجَبَ بِبَدَنِهِ فِي جماله وهيئته وصحته وقوته وتناسب أشكاله وحسن صورته وحسن صوته وبالجملة تفصيل خلقته فيلتفت إلى جمال نفسه وَيَنْسَى أَنَّهُ نِعْمَةٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى وَهُوَ بعرضة الزوال في كل حال وعلاجه ما ذكرناه في الكبر بالجمال وهو التفكر في أقذار باطنه وفي أَوَّلِ أَمْرِهِ وَفِي آخِرِهِ وَفِي الْوُجُوهِ الْجَمِيلَةِ والأبدان الناعمة أنها كَيْفَ تَمَزَّقَتْ فِي التُّرَابِ وَأَنْتَنَتْ فِي الْقُبُورِ حَتَّى اسْتَقْذَرَتْهَا الطِّبَاعُ
Pertama: Seseorang merasa ujub (kagum) dengan tubuhnya dalam hal ketampanan/kecantikannya, penampilannya, kesehatannya, kekuatannya, proporsionalitas bentuknya, keindahan parasnya, keindahan suaranya, dan secara umum rincian ciptaan fisiknya, sehingga dia berpaling pada keindahan dirinya dan lupa bahwa itu adalah nikmat dari Allah Ta'ala yang sewaktu-waktu dapat sirna dalam setiap keadaan. Dan obatnya adalah apa yang telah kami sebutkan dalam pembahasan kesombongan karena ketampanan/kecantikan, yaitu merenungkan kotoran-kotoran yang ada di dalam batinnya, awal permulaan dirinya, akhir kesudahannya, serta merenungkan wajah-wajah yang elok dan tubuh-tubuh yang halus bagaimana mereka hancur berkeping-keping di dalam tanah dan membusuk di dalam kubur hingga naluri manusia merasa jijik kepadanya.
الثَّانِي الْبَطْشُ وَالْقُوَّةُ كَمَا حُكِيَ عَنْ قَوْمِ عَادٍ حِينَ قَالُوا فِيمَا أَخْبَرَ اللَّهُ عَنْهُمْ ﴿مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً﴾ وكما اتكل عوج على قوته وأعجب بها فاقتلع جبلاً ليطبقه على عسكر موسى ﵇ فثقب الله تعالى تلك القطعة من الجبل بنقر هدهد ضعيف المنقار حتى صارت في عنقه وقد يتكل المؤمن أيضاً على قوته كما روي عن سليمان ﵇ أنه قال لأطوفن الليلة على مائة امرأة ولم يقل إن شاء الله تعالى فحرم ما أراد من الولد // حديث قال سليمان لأطوفن الليلة بمائة امرأة الحديث أخرجه البخاري من حديث أبي هريرة
Penyebab kedua adalah keperkasaan dan kekuatan fisik, sebagaimana dikisahkan tentang kaum 'Ad ketika mereka berkata—seperti yang difirmankan Allah tentang mereka—: "Siapakah yang lebih hebat kekuatannya daripada kami?" (QS. Fussilat: 15). Begitu pula seperti 'Uj (bin 'Anaq) yang bersandar pada kekuatannya dan merasa ujub dengannya, lalu ia mencabut sebuah gunung untuk ditindihkan ke atas pasukan Musa a.s. Namun Allah Ta'ala melubangi bongkahan gunung itu dengan patukan burung hud-hud yang paruhnya lemah, hingga bongkahan itu mengalung di lehernya. Orang mukmin pun terkadang bersandar pada kekuatannya, sebagaimana diriwayatkan dari Sulaiman a.s. bahwasanya beliau berkata: "Sungguh, malam ini aku akan menggilir seratus orang istri," dan beliau tidak mengucapkan "Insya Allah Ta'ala," maka beliau dihalangi dari mendapatkan anak yang diinginkannya. // Hadis: Sulaiman berkata, "Sungguh aku akan menggilir seratus orang istri malam ini…" Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadis Abu Hurairah.
وكذلك قول داود ﵇ إن ابتليتني صبرت وكان إعجاباً منه بالقوة فلما ابتلي بالمرأة لم يصبر
Demikian pula perkataan Daud a.s.: "Jika Engkau mengujiku, aku pasti akan bersabar." Hal itu merupakan wujud rasa ujub terhadap kekuatan jiwanya, maka ketika beliau diuji dengan seorang wanita, beliau tidak dapat bersabar.
ويورث العجب بالقوة الهجوم في الحروب وإلقاء النفس في التهلكة والمبادرة إلى الضرب والقتل لكل من قصده بالسوء وعلاجه ما ذكرناه وهو أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ حُمَّى يَوْمٍ تُضْعِفُ قُوَّتَهُ وَأَنَّهُ إِذَا أُعْجِبَ بِهَا رُبَّمَا سَلَبَهَا اللَّهُ تعالى بأدنى آفة يسلطها عليه
Ujub terhadap kekuatan dapat membuahkan sikap nekat menyerang dalam peperangan, mencampakkan diri ke dalam kebinasaan, serta bersegera memukul dan membunuh setiap orang yang bermaksud jahat kepadanya. Obatnya adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu hendaknya ia menyadari bahwa demam sehari saja dapat melemahkan kekuatannya, dan jika ia ujub dengannya, bisa jadi Allah Ta'ala mencabut kekuatan itu darinya dengan penyakit atau bencana paling ringan yang Dia timpakan kepadanya.
الثَّالِثُ الْعُجْبُ بِالْعَقْلِ وَالْكِيَاسَةِ وَالتَّفَطُّنِ لِدَقَائِقِ الْأُمُورِ مِنْ مَصَالِحِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَثَمَرَتُهُ الِاسْتِبْدَادُ بِالرَّأْيِ وَتَرْكُ الْمَشُورَةِ وَاسْتِجْهَالُ النَّاسِ الْمُخَالِفِينَ لَهُ وَلِرَأْيِهِ وَيَخْرُجُ إِلَى قِلَّةِ الْإِصْغَاءِ إِلَى أَهْلِ الْعِلْمِ إعراضاً عنهم بالاستغناء بالرأي والعقل واستحقاراً لهم وإهانة وَعِلَاجُهُ أَنْ يَشْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى مَا رُزِقَ مِنَ الْعَقْلِ وَيَتَفَكَّرَ أَنَّهُ بِأَدْنَى مَرَضٍ يُصِيبُ دِمَاغَهُ كَيْفَ يُوَسْوِسُ وَيُجَنُّ بِحَيْثُ يُضْحَكُ منه فلا يأمن من أَنْ يُسْلَبَ عَقْلَهُ إِنْ أُعْجِبَ بِهِ وَلَمْ يقم بشكره وليستقصر عقله وعلمه وَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَا أُوتِيَ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا وَإِنِ اتَّسَعَ عِلْمُهُ وَأَنَّ مَا جَهِلَهُ مما عرفه الناس أكثر مما عرفه فَكَيْفَ بِمَا لَمْ يَعْرِفْهُ النَّاسُ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَنْ يَتَّهِمَ عَقْلَهُ وَيَنْظُرَ إِلَى الْحَمْقَى كَيْفَ يُعْجَبُونَ بِعُقُولِهِمْ وَيَضْحَكُ النَّاسُ مِنْهُمْ فَيَحْذَرُ أَنْ يَكُونَ مِنْهُمْ وَهُوَ لَا يَدْرِي
Penyebab ketiga adalah ujub terhadap akal, kecerdasan, dan kecermatan dalam memahami kelembutan perkara-perkara kemaslahatan agama dan dunia. Buahnya adalah sikap otoriter dalam berpendapat, meninggalkan musyawarah, menganggap bodoh orang-orang yang menyelisihi dirinya dan pendapatnya, serta berujung pada enggan mendengarkan para ahli ilmu karena berpaling dari mereka sebab merasa cukup dengan pendapat dan akalnya sendiri, juga karena menghina dan meremehkan mereka. Obatnya adalah dengan bersyukur kepada Allah Ta'ala atas rezeki akal yang dikaruniakan kepadanya, dan merenungkan bahwa dengan penyakit paling ringan saja yang menyerang otaknya, bagaimana ia bisa mengalami bisikan waswas dan menjadi gila hingga ditertawakan orang. Maka janganlah ia merasa aman dari dicabutnya akalnya jika ia merasa ujub kepadanya dan tidak menunaikan rasa syukurnya. Hendaknya ia menganggap akal dan ilmunya masih sangat terbatas, dan menyadari bahwa ia tidak diberi ilmu melainkan hanya sedikit saja meskipun ilmunya terasa luas, serta bahwa apa yang tidak ia ketahui dari perkara yang diketahui manusia lebih banyak daripada apa yang ia ketahui, lalu bagaimana pula dengan ilmu Allah Ta'ala yang tidak diketahui oleh manusia? Hendaknya ia juga selalu mencurigai kecakapan akalnya sendiri, dan melihat kepada orang-orang bodoh bagaimana mereka merasa ujub dengan akal mereka sementara orang-orang menertawakan mereka, sehingga ia pun waspada jangan sampai ia termasuk golongan mereka tanpa ia sadari.
فإن القاصر العقل قط لَا يَعْلَمُ قُصُورَ عَقْلِهِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَعْرِفَ مِقْدَارَ عَقْلِهِ مِنْ غَيْرِهِ لَا مِنْ نَفْسِهِ وَمِنْ أَعْدَائِهِ لَا مِنْ أَصْدِقَائِهِ فَإِنَّ مَنْ يُدَاهِنُهُ يُثْنِي عَلَيْهِ فَيَزِيدُهُ عُجْبًا وَهُوَ لَا يَظُنُّ بِنَفْسِهِ إِلَّا الْخَيْرَ وَلَا يَفْطَنُ لِجَهْلِ نفسه فيزداد عجباً
Sebab orang yang kurang akalnya sama sekali tidak menyadari kekurangan akalnya. Maka seyogianya ia mengenali kadar akalnya dari penilaian orang lain, bukan dari penilaian dirinya sendiri; dan dari para musuhnya, bukan dari teman-temannya. Karena orang yang menjilatnya akan memujinya sehingga menambah rasa ujubnya, padahal ia tidak menyangka tentang dirinya kecuali kebaikan semata dan tidak menyadari kebodohan dirinya, sehingga rasa ujubnya makin bertambah.
الرابع العجب بالنسب الشريف كعجب الهاشمية حَتَّى يَظُنَّ بَعْضُهُمْ أَنَّهُ يَنْجُو بِشَرَفِ نَسَبِهِ ونجاة آبائه وأنه مغفور له ويتخيل بعضهم أن جميع الخلق له موال وعبيد وَعِلَاجُهُ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ مَهْمَا خَالَفَ آبَاءَهُ فِي أَفْعَالِهِمْ وَأَخْلَاقِهِمْ وَظَنَّ أَنَّهُ مُلْحَقٌ بِهِمْ فَقَدْ جَهِلَ وَإِنِ اقْتَدَى بِآبَائِهِ فَمَا كَانَ من أخلاقهم العجب بل الخوف والازدراء على النفس واستعظام الخلق وَمَذَمَّةُ النَّفْسِ وَلَقَدْ شَرُفُوا بِالطَّاعَةِ وَالْعِلْمِ وَالْخِصَالِ الحميدة لا بالنسب فليتشرف بما شرفوا به وقد ساواهم في النسب وشاركهم في القبائل من لم يؤمن بالله واليوم الآخر وكانوا عند الله شراً من الكلاب وأخس من الخنازير وَلِذَلِكَ قَالَ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خلقناكم من ذكر وأنثى﴾ أَيْ لَا تَفَاوُتَ فِي أَنْسَابِكُمْ لِاجْتِمَاعِكُمْ فِي أَصْلٍ وَاحِدٍ ثُمَّ ذَكَرَ فَائِدَةَ النَّسَبِ فَقَالَ ﴿وجعلناكم شعوباً وقبائل لتعارفوا﴾ ثُمَّ بَيَّنَ أَنَّ الشَّرَفَ بِالتَّقْوَى لَا بِالنَّسَبِ فقال ﴿إن أكرمكم عند الله أتقاكم﴾ ولما قيل لرسول الله ﷺ من أكرم الناس من أكيس الناس لم يقل من ينتمي إلى نسبي ولكن قال أكرمهم أكثرهم للموت ذكراً وأشدهم له استعدادا حديث إن الله قد أذهب عنكم عيبة الجاهلية الحديث أخرجه أبو داود والترمذي وحسنه من حديث أبي هريرة ورواه الترمذي أيضا من حديث ابن عمر وقال غريب
Penyebab keempat adalah ujub terhadap nasab yang mulia, seperti ujubnya keturunan Bani Hasyim, hingga sebagian dari mereka menyangka bahwa ia akan selamat dengan kemuliaan nasabnya dan keselamatan leluhurnya serta bahwa ia pasti diampuni. Sebagian mereka bahkan membayangkan bahwa seluruh makhluk adalah hamba dan pelayan baginya. Obatnya adalah hendaknya ia mengetahui bahwa selama ia menyelisihi leluhurnya dalam perbuatan dan akhlak mereka namun menyangka bahwa ia dihubungkan dengan mereka, sungguh ia telah sangat bodoh. Dan jika ia memang meneladani leluhurnya, maka bukanlah bagian dari akhlak mereka sifat ujub, melainkan rasa takut kepada Allah, memandang rendah diri sendiri, mengagungkan makhluk lain, serta mencela diri sendiri. Sungguh mereka menjadi mulia karena ketaatan, ilmu, dan keutamaan-keutamaan yang terpuji, bukan semata-mata karena nasab. Maka hendaknya ia mencari kemuliaan melalui apa yang membuat mereka mulia. Padahal orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir juga setara dengan mereka dalam hal nasab serta berserikat dalam suku, namun di sisi Allah mereka lebih buruk daripada anjing dan lebih hina daripada babi. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan" (QS. Al-Hujurat: 13), artinya tidak ada perbedaan dalam nasab kalian karena kalian menyatu dalam satu asal-usul yang sama. Kemudian Dia menyebutkan manfaat nasab dengan firman-Nya: "kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal." Lalu Dia menjelaskan bahwa kemuliaan itu diperoleh dengan ketakwaan, bukan dengan nasab, melalui firman-Nya: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." Dan ketika ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ: "Siapakah manusia yang paling mulia? Siapakah manusia yang paling cerdas?", beliau tidak menjawab: "Orang yang bernasab kepadaku," melainkan beliau bersabda: "Orang yang paling mulia di antara mereka adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya." // Hadis: "Sesungguhnya Allah telah melenyapkan dari kalian kesombongan Jahiliyah…" Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tirmidzi dan ia menghasankannya dari hadis Abu Hurairah, serta diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi dari hadis Ibn Umar dan ia berkata: "Gharib."
وقال النبي ﷺ يا معشر قريش لا تأتي الناس بالأعمال يوم القيامة وتأتون بالدنيا تحملونها على رقابكم تقولون يا محمد يا محمد فأقول هكذا أي أعرض عنكم حديث لما نزل قوله تعالى ﴿وأنذر عشيرتك الأقربين﴾ نَادَاهُمْ بَطْنًا بَعْدَ بَطْنٍ حَتَّى قَالَ يَا فاطمة بنت محمد يَا صفية بنت عبد المطلب الحديث متفق عليه من حديث أبي هريرة ورواه مسلم من حديث عائشة
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Wahai kaum Quraisy, jangan sampai orang-orang datang pada hari kiamat dengan membawa amal perbuatan, sedangkan kalian datang membawa dunia yang kalian pikul di atas leher-leher kalian seraya berseru: 'Wahai Muhammad, wahai Muhammad!', lalu aku berkata demikian," yaitu beliau berpaling dari kalian. // Hadis: Ketika turun firman Allah Ta'ala: "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat" (QS. Asy-Syu'ara': 214), beliau memanggil mereka kabilah demi kabilah hingga beliau bersabda: "Wahai Fatimah binti Muhammad, wahai Shafiyyah binti Abdul Muththalib…" Hadis ini muttafaq 'alaih dari hadis Abu Hurairah, dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Aisyah.
فَمَنْ عَرَفَ هَذِهِ الْأُمُورَ وَعَلِمَ أَنَّ شَرَفَهُ بِقَدْرِ تَقْوَاهُ وَقَدْ كَانَ مِنْ عَادَةِ آبَائِهِ التواضع اقتدى بهم في التقوى
Maka barangsiapa menyadari hal-hal ini dan mengetahui bahwa kemuliaannya adalah seukuran ketakwaannya, sedangkan kebiasaan para leluhurnya adalah bertawaduk, niscaya ia akan meneladani mereka dalam hal ketakwaan
وَالتَّوَاضُعِ وَإِلَّا كَانَ طَاعِنًا فِي نَسَبِ نَفْسِهِ بِلِسَانِ حَالِهِ مَهْمَا انْتَمَى إِلَيْهِمْ وَلَمْ يُشْبِهْهُمْ في التواضع والتقوى والخوف والإشفاق
dan ketawadukan. Jika tidak demikian, maka ia telah mencela nasabnya sendiri dengan lisan keadaannya, betapapun ia mengaku-aku bernasab kepada mereka namun tidak menyerupai mereka dalam hal ketawadukan, ketakwaan, rasa takut, dan kehati-hatian.
فإن قلت فقد قال ﷺ بعد قوله لفاطمة وصفية إني لا أغني عنكما من الله شيئاً إلا أن لكم رحما سأبلها ببلالها حديث أترجو سليم شفاعتي ولا ترجوها بنو عبد المطلب أخرجه الطبراني في الأوسط من حديث عبد الله بن جعفر وفيه أصيرم بن حوشب عن إسحاق بن واصل وكلاهما ضعيف جدا
Jika engkau berkata: Sungguh Nabi ﷺ telah bersabda setelah perkataan beliau kepada Fatimah dan Shafiyyah: "Sesungguhnya aku tidak dapat membela kalian sedikit pun di hadapan Allah, hanya saja kalian memiliki ikatan kekerabatan yang akan aku sambung dengan sebaik-baiknya." // Hadis: "Apakah suku Sulaim mengharapkan syafaatku sementara Bani Abdul Muththalib tidak mengharapkannya?" Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Ausath dari hadis Abdullah bin Ja'far, dan di dalamnya terdapat Ushairam bin Hausyab dari Ishaq bin Washil, dan keduanya sangat dhaif.
فذلك يدل على أنه سيخصص قرابته بالشفاعة فاعلم أن كل مسلم فهو منتظر شفاعة رسول الله ﷺ والنسيب أيضاً جدير بأن يرجوها لكن بشرط أن يتقي الله أن يغضب عليه فإنه إن يغضب عليه فلا يأذن لأحد في شفاعته لأن الذنوب منقسمة إلى ما يوجب المقت فلا يؤذن في الشفاعة له وإلى ما يعفى عنه بسبب الشفاعة كالذنوب عند ملوك الدنيا فإن كل ذي مكانة عند الملك لا يقدر على الشفاعة فيما اشتد عليه غضب الملك فمن الذنوب ما لا تنجي منه الشفاعة وعنه العبارة بقوله تعالى ﴿ولا يشفعون إلا لمن ارتضى﴾ وبقوله ﴿من ذا الذي يشفع عنده إلا بإذنه﴾ وبقوله ﴿ولا تنفع الشفاعة عنده إلا لمن أذن له﴾ وبقوله ﴿فما تنفعهم شفاعة الشافعين﴾ وإذا انقسمت الذنوب إلا ما يشفع فيه وإلا ما لا يشفع فيه وجب الخوف والإشفاق لا محالة ولو كان ذنب تقبل فيه الشفاعة لما أمر قريشاً بالطاعة ولما نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فاطمة ﵂ عن المعصية ولكان يأذن لها في اتباع الشهوات لتكمل لذاتها في الدنيا ثم يشفع لها في الآخرة لتكمل لذاتها في الآخرة
Maka hal itu menunjukkan bahwa beliau akan mengkhususkan kerabat beliau dengan syafaat. Ketahuilah bahwa setiap muslim menantikan syafaat Rasulullah ﷺ, dan orang yang memiliki hubungan nasab juga sangat layak untuk mengharapkannya, namun dengan syarat ia takut kepada Allah jangan sampai Dia murka kepadanya. Sebab jika Allah murka kepadanya, maka Dia tidak akan mengizinkan siapa pun untuk memberikan syafaat kepadanya. Karena dosa-dosa terbagi menjadi dosa yang menyebabkan kemurkaan mutlak sehingga tidak diizinkan syafaat baginya, dan dosa yang dimaafkan sebab adanya syafaat, sebagaimana dosa-dosa di hadapan para raja dunia; sebab setiap orang yang mempunyai kedudukan di sisi raja tidak akan mampu memberikan syafaat dalam perkara yang membuat murka raja memuncak. Maka di antara dosa ada yang tidak dapat diselamatkan oleh syafaat, sebagaimana diungkapkan melalui firman Allah Ta'ala: "Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai-Nya" (QS. Al-Anbiya': 28), firman-Nya: "Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?" (QS. Al-Baqarah: 255), firman-Nya: "Dan syafaat di sisi-Nya tidak berguna kecuali bagi orang yang telah diizinkan-Nya" (QS. Saba': 23), serta firman-Nya: "Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat" (QS. Al-Muddassir: 48). Apabila dosa terbagi menjadi apa yang dapat diberi syafaat dan apa yang tidak dapat diberi syafaat, maka rasa takut dan kehati-hatian hukumnya wajib tanpa keraguan. Seandainya setiap dosa itu diterima syafaat padanya, tentu beliau tidak akan memerintahkan kaum Quraisy untuk taat, dan Rasulullah ﷺ tidak akan melarang Fatimah r.a. dari kemaksiatan, serta tentu beliau akan mengizinkannya menuruti hawa nafsu agar sempurna kelezatannya di dunia, kemudian beliau memberi syafaat baginya di akhirat agar sempurna kelezatannya di akhirat.
فالانهماك في الذنوب وترك التقوى اتكالاً على رجاء الشفاعة يضاهي انهماك المريض في شهواته اعتماداً على طبيب حاذق قريب مشفق من أب أو أخ أو غيره وذلك جهل لأن سعي الطبيب وهمته وحذقه تنفع في إزالة بعض الأمراض لا في كلها فلا يجوز ترك الحمية مطلقاً اعتماداً على مجرد الطب بل للطبيب أثر على الجملة ولكن في الأمراض الخفيفة وعند غلبة اعتدال المزاج
Maka tenggelam dalam dosa dan meninggalkan ketakwaan karena bersandar pada harapan syafaat itu menyerupai orang sakit yang tenggelam dalam menuruti keinginannya karena mengandalkan dokter mahir yang dekat lagi menyayanginya, baik itu ayah, saudara, atau lainnya. Hal itu merupakan suatu kebodohan, karena usaha dokter, kesungguhannya, dan keahliannya hanya bermanfaat untuk menghilangkan sebagian penyakit, bukan seluruhnya. Maka tidak boleh meninggalkan pantangan secara mutlak hanya karena mengandalkan pengobatan semata. Bahkan dokter itu memiliki pengaruh secara umum, namun pada penyakit-penyakit ringan dan ketika kondisi tubuh masih cenderung seimbang.
فهكذا ينبغي أن تفهم عناية الشفعاء من الأنبياء والصلحاء للأقارب والأجانب فإنه كذلك قطعاً وذلك لا يزيل الخوف والحذر وكيف يزيل وخير الخلق بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أصحابه وقد كانوا يتمنون أن يكونوا بهائم من خوف الآخرة مع كمال تقواهم وحسن أعمالهم وصفاء قلوبهم وما سمعوه من وعد رسول الله ﷺ إياهم بالجنة خاصة وسائر المسلمين بالشفاعة عامة ولم يتكلوا عليه ولم يفارق الخوف والخشوع قلوبهم فكيف يعجب بنفسه ويتكل على الشفاعة من ليس له مثل صحبتهم وسابقتهم
Begitulah seyogianya dipahami perhatian para pemberi syafaat dari kalangan para nabi dan orang-orang saleh bagi para kerabat maupun orang lain; karena demikianlah keadaannya secara pasti. Hal itu tidak menghilangkan rasa takut dan kehati-hatian. Bagaimana bisa menghilangkan, padahal sebaik-baik makhluk setelah Rasulullah ﷺ adalah para sahabat beliau, yang mana mereka mendambakan sekiranya menjadi hewan melata karena rasa takut akan akhirat, padahal ketakwaan mereka sempurna, amal perbuatan mereka baik, hati mereka bersih, dan mereka telah mendengar janji Rasulullah ﷺ kepada mereka berupa surga secara khusus dan kepada seluruh kaum muslimin berupa syafaat secara umum? Namun mereka tidak bersandar kepadanya, dan rasa takut serta kekhusyukan tidak pernah berpisah dari hati mereka. Maka bagaimana mungkin seseorang merasa ujub dengan dirinya dan bersandar pada syafaat, padahal ia tidak memiliki keutamaan persahabatan dan keutamaan terdahulu seperti mereka?
الخامس العجب بنسب السلاطين الظلمة وأعوانهم دون نسب الدين والعلم
Penyebab kelima adalah ujub terhadap nasab para penguasa yang zalim dan para pembantu mereka, bukan nasab agama dan ilmu.
وَهَذَا غَايَةُ الْجَهْلِ وَعِلَاجُهُ أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي مخازيهم وما جرى لهم من الظلم على عباد الله والفساد في دين الله وأنهم الممقوتون عند الله تعالى ولو نظر إلى صورهم في النار وأنتانهم وأقذارهم لاستنكف منهم ولتبرأ من الانتساب إليهم ولأنكر على من نسبه إليهم استقذاراً واستحقار لهم ولو انكشف له ذلهم في القيامة وقد تعلق الخصماء بهم والملائكة آخذون بنواصيهم يجرونهم على وجوههم إلى جهنم في مظالم العباد لتبرأ إلى الله منهم ولكان انتسابه إلى الكلب والخنزير أحب إليه من الانتساب إليهم فحق أولاد الظلمة إن عصمهم الله من ظلمهم أن يشكروا الله تعال على سلامة دينهم ويستغفروا لآبائهم إن كانوا مسلمين فأما العجب فجهل محض
Ini merupakan puncak kebodohan. Obatnya adalah merenungkan kejahatan-kejahatan mereka, kezaliman yang mereka lakukan terhadap hamba-hamba Allah, kebiasaan merusak dalam agama Allah, serta bahwa mereka adalah orang-orang yang dimurkai di sisi Allah Ta'ala. Seandainya ia melihat rupa mereka di neraka, kebusukan dan kotoran mereka, niscaya ia akan jijik terhadap mereka, berlepas diri dari bernasab kepada mereka, dan akan mengingkari siapa saja yang menisbahkan dirinya kepada mereka karena merasa jijik dan menghina mereka. Seandainya tersingkap baginya kehinaan mereka pada hari kiamat ketika para penuntut kezaliman bergantung pada mereka sementara para malaikat memegang ubun-ubun mereka dan menyeret mereka atas wajah-wajah mereka menuju Jahannam akibat kezaliman-kezaliman terhadap hamba-hamba Allah, niscaya ia akan berlepas diri kepada Allah dari mereka, dan nisbah dirinya kepada anjing dan babi akan lebih ia sukai daripada bernasab kepada mereka. Maka yang menjadi kewajiban anak-anak para penguasa zalim—jika Allah memelihara mereka dari kezaliman orang tua mereka—adalah bersyukur kepada Allah Ta'ala atas keselamatan agama mereka dan memohonkan ampunan bagi ayah-ayah mereka jika mereka adalah orang muslim. Adapun merasa ujub, maka itu adalah kebodohan murni.
السَّادِسُ الْعُجْبُ بِكَثْرَةِ الْعَدَدِ مِنَ الْأَوْلَادِ وَالْخَدَمِ والغلمان والعشيرة والأقارب والأنصار والأتباع كَمَا قَالَ الْكُفَّارُ ﴿نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا﴾ وَكَمَا قَالَ الْمُؤْمِنُونَ يَوْمَ حُنَيْنٍ لَا نُغْلَبُ الْيَوْمَ مِنْ قِلَّةٍ وَعِلَاجُهُ مَا ذَكَرْنَاهُ فِي الْكِبْرِ وَهُوَ أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي ضَعْفِهِ وَضَعْفِهِمْ وأن كلهم عبيد عَجَزَةٌ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا
Penyebab keenam adalah ujub dengan banyaknya jumlah anak, pelayan, pemuda, kaum kerabat, sanak saudara, penolong, dan pengikut, sebagaimana kata orang-orang kafir: "Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak" (QS. Saba': 35), dan sebagaimana perkataan kaum mukminin pada hari Perang Hunain: "Kita tidak akan kalah hari ini karena jumlah yang sedikit." Obatnya adalah seperti yang telah kami sebutkan dalam pembahasan tentang kesombongan (kibr), yaitu merenungkan kelemahan dirinya dan kelemahan mereka, serta menyadari bahwa mereka semua adalah hamba-hamba yang lemah yang tidak kuasa mendatangkan bahaya maupun manfaat bagi diri mereka sendiri.
﴿كم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة بإذن الله﴾ ثم كيف يعجب بهم وأنهم سيفترقون عنه إذا مات فيدفن في قبره ذليلاً مهينا وحده لا يرافقه أهل ولا ولد ولا قريب ولا حميم ولا عشير فيسلمونه إلى البلى والحيات والعقارب والديدان ولا يغنون عنه شيئاً وفي أحوج أوقاته إليهم وكذلك يهربون مِنْهُ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ﴿يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أخيه وأمه وأبيه وصاحبته وبنيه﴾ الآية
"Berapa banyak kelompok kecil dapat mengalahkan kelompok yang besar dengan izin Allah" (QS. Al-Baqarah: 249). Kemudian bagaimana ia bisa ujub dengan mereka, padahal mereka akan berpisah darinya ketika ia mati, lalu ia dikuburkan di dalam kuburnya dalam keadaan hina, dina, dan seorang diri, tidak diiringi keluarga, anak, kerabat, sahabat dekat, maupun sanak saudara? Mereka menyerahkannya kepada kebinasaan tanah, ular-ular, kalajengking-kalajengking, dan cacing-cacing, tanpa mampu membantunya sedikit pun pada saat-saat ia paling membutuhkan mereka. Demikian pula mereka akan lari darinya pada hari kiamat: "Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan ayahnya, dari istri dan anak-anaknya" (QS. 'Abasa: 34-36) hingga akhir ayat.
فأي خير فيمن يُفَارِقُكَ فِي أَشَدِّ أَحْوَالِكَ وَيَهْرُبُ مِنْكَ وَكَيْفَ تعجب به ولا ينفعك في القبر والقيامة وعلى الصراط إلا عملك وفضل الله تعالى فكيف تَتَّكِلُ عَلَى مَنْ لَا يَنْفَعُكَ وَتَنْسَى نِعَمَ من يملك نفعك وضرك وموتك وحياتك
Maka kebaikan apakah yang ada pada orang yang berpisah darimu di saat-saat terberat bagimu dan lari darimu? Dan bagaimana engkau bisa bangga dengannya, padahal yang bermanfaat bagimu di dalam kubur, di hari kiamat, dan di atas Shirath tidak lain kecuali amalmu dan karunia Allah Ta'ala? Maka bagaimana engkau bersandar pada orang yang tidak dapat memberimu manfaat dan engkau melupakan nikmat-nikmat dari Zat yang menguasai manfaat, bahaya, kematian, dan kehidupanmu?
السابع العجب بالمال كما قال تعالى إخباراً عن صاحب الجنتين إِذْ قَالَ ﴿أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نفراً﴾ ورأى رسول الله ﷺ رجلاً غنياً جلس بجنبه فقير فانقبض عنه وجمع ثيابه فقال ﷺ أخشيت أن يعدو إليك فقره حديث بينما رجل في حلة قد أعجبته نفسه الحديث متفق عليه من حديث أبي هريرة وقد تقدم
Penyebab ketujuh adalah ujub dengan harta, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman mengabarkan tentang pemilik dua kebun ketika ia berkata: "Harta kekayaanku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat" (QS. Al-Kahfi: 34). Rasulullah ﷺ pernah melihat seorang kaya yang di sampingnya duduk seorang fakir, lalu orang kaya itu menarik diri dan merapatkan pakaiannya (agar tidak tersentuh orang fakir itu), maka beliau ﷺ bersabda: "Apakah engkau takut kemiskinannya berpindah kepadamu?" // Hadis: "Ketika seorang laki-laki berjalan dengan mengenakan jubah yang indah sambil merasa ujub dengan dirinya…" Hadis ini muttafaq 'alaih dari hadis Abu Hurairah dan telah disebutkan sebelumnya.
وأشار به إلى عقوبة إعجابه بماله ونفسه
Dan dengan hadis tersebut beliau mengisyaratkan siksaan akibat rasa ujub terhadap harta dan dirinya sendiri.
وقال أبو ذر كنت مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فدخل المسجد فقال لي يا أبا ذر ارفع رأسك فرفعت رأسي فإذا رجل عليه ثياب جياد ثم قال ارفع رأسك فرفعت رأسي فإذا رجل عليه ثياب خلقة فقال لي يا أبا ذر هذا عند الله خير من قراب الأرض مثل هذا حديث أنه يغلب على آخر هذه الأمة الإعجاب بالرأي هو حديث أبي ثعلبة المتقدم فإذا رأيت شحا مطاعاً وهوى متبعاً وإعجاب كل ذي رأي برأيه فعليك بخاصة نفسك وهو عند أبي داود والترمذي
Abu Dzarr berkata: Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau masuk ke masjid dan bersabda kepadaku, "Wahai Abu Dzarr, angkatlah kepalamu!" Maka aku mengangkat kepalaku, lalu tampak seorang laki-laki yang mengenakan pakaian yang sangat bagus. Kemudian beliau bersabda lagi, "Angkatlah kepalamu!" Maka aku mengangkat kepalaku, lalu tampak seorang laki-laki yang mengenakan pakaian usang (lusuh). Lalu beliau bersabda kepadaku, "Wahai Abu Dzarr, orang ini (yang berpakaian lusuh) di sisi Allah lebih baik daripada seisi bumi orang seperti ini (yang berpakaian bagus)." Hadis lain yang senada menyatakan bahwa pada akhir umat ini akan didominasi oleh sikap bangga terhadap pendapat sendiri (al-i'jab bi ar-ra'yi), yaitu hadis Abu Tha'labah yang telah disebutkan terdahulu: "Apabila kamu melihat sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan setiap orang yang memiliki pandangan merasa kagum/bangga dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah kamu mengurus diri sendiri." Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi.
وبذلك هلكت الأمم السالفة إذ افترقت فرقاً فكل معجب برأيه وكل حزب بما لديهم فرحون وجميع أهل البدع والضلال إنما أصروا عليها لعجبهم بآرائهم والعجب بالبدعة هو استحسان ما يسوق إليه الهوى والشهوة مع ظن كونه حقاً وعلاج هذا العجب أشد من علاج غيره لأن صاحب الرأي الخطأ جاهل بخطئه ولو عرفه لتركه ولا يعالج الداء الذي لا يعرف والجهل داء لا يعرف فتعسر مداواته جداً
Dengan sebab itulah umat-umat terdahulu binasa ketika mereka terpecah menjadi beberapa kelompok, "setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka." Seluruh ahli bid'ah dan kesesatan hanyalah terus-menerus berada di dalamnya karena rasa ujub (kagum) terhadap pendapat mereka sendiri. Sedangkan ujub terhadap bid'ah adalah menganggap baik apa yang didorong oleh hawa nafsu dan syahwat disertai persangkaan bahwa hal itu adalah kebenaran. Pengobatan terhadap ujub semacam ini jauh lebih sulit daripada pengobatan ujub lainnya, sebab orang yang memiliki pendapat keliru tidak menyadari kekeliruannya; seandainya ia mengetahuinya, niscaya ia akan meninggalkannya. Dan suatu penyakit tidak dapat diobati jika tidak disadari, sedangkan kebodohan adalah penyakit yang tidak disadari, sehingga sangat sulit untuk disembuhkan.
لأن العارف يقدر على أن يبين للجاهل جهله ويزيله
Sebab seorang yang arif (berilmu tentang kebenaran) mampu menjelaskan kebodohan kepada orang yang bodoh serta menghilangkannya…
عنه إلا إذا كان معجباً برأيه وجهله فإنه لا يصغي إلى العارف ويتهمه فقد سلط الله عله بلية تهلكه وهو يظنها نعمة فكيف يمكن علاجه وكيف يطلب الهرب مما هو سبب سعادته في اعتقاده وإنما علاجه على الجملة أن يكون متهماً لرأيه أبداً لا يَغْتَرُّ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشْهَدَ لَهُ قَاطِعٌ مِنْ كِتَابٍ أَوْ سُنَّةٍ أَوْ دَلِيلٍ عَقْلِيٍّ صحيح جامع لشروط الْأَدِلَّةِ وَلَنْ يَعْرِفَ الْإِنْسَانُ أَدِلَّةَ الشَّرْعِ وَالْعَقْلِ وَشُرُوطَهَا وَمَكَامِنَ الْغَلَطِ فِيهَا إِلَّا بِقَرِيحَةٍ تَامَّةٍ وَعَقْلٍ ثَاقِبٍ وَجِدٍّ وَتَشَمُّرٍ فِي الطَّلَبِ وَمُمَارَسَةٍ لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَمُجَالَسَةٍ لِأَهْلِ الْعِلْمِ طُولَ الْعُمُرِ وَمُدَارَسَةٍ لِلْعُلُومِ وَمَعَ ذَلِكَ فَلَا يُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْغَلَطُ فِي بَعْضِ الْأُمُورِ وَالصَّوَابُ لِمَنْ لَمْ يتفرع لِاسْتِغْرَاقِ عُمُرِهِ فِي الْعِلْمِ أَنْ لَا يَخُوضَ في المذاهب ولا يصغي إليها ولا يسمعها ولكن يعتقد أن الله تعالى واحد لا شريك له وأنه ﴿ليس كمثله شيء وهو السميع البصير﴾ وأن رسوله صادق فيما أخبر به ويتبع سنة السلف ويؤمن بجملة ما جاء به الكتاب والسنة من غير بحث وتنقير وسؤال عن تفصيل بل يقول آمناً وصدقنا ويشتغل بِالتَّقْوَى وَاجْتِنَابِ الْمَعَاصِي وَأَدَاءِ الطَّاعَاتِ وَالشَّفَقَةِ عَلَى المسلمين وسائر الأعمال فإن خاض في المذاهب والبدع والتعصب في العقائد هلك من حيث لا يشعر
…darinya, kecuali jika orang itu ujub (terpesona) dengan pendapat dan kebodohannya sendiri. Sebab, ia tidak akan mendengarkan orang yang arif, bahkan malah menuduhnya. Sungguh, Allah telah menimpakan kepadanya suatu cobaan yang membinasakannya, sementara ia menganggapnya sebagai nikmat. Maka bagaimana mungkin ia bisa diobati, dan bagaimana ia mau melarikan diri dari sesuatu yang dalam keyakinannya merupakan sumber kebahagiaannya? Obat bagi hal ini secara umum adalah hendaknya seseorang selalu menaruh curiga (menuduh) terhadap pendapatnya sendiri, tidak terperdaya olehnya kecuali jika didukung oleh dalil yang tegas (qath'i) dari Al-Kitab (Al-Qur'an), As-Sunnah, atau dalil akal yang sahih yang memenuhi syarat-syarat pembuktian dalil. Namun, seseorang tidak akan mampu mengenali dalil-dalil syariat dan akal beserta syarat-syaratnya serta letak-letak kekeliruannya, kecuali dengan bakat intelektual yang sempurna, akal yang tajam, kesungguhan serta perjuangan gigih dalam menuntut ilmu, penguasaan Al-Kitab dan As-Sunnah, bermajelis dengan para ulama sepanjang hayat, serta terus-menerus mempelajari ilmu pengetahuan. Walaupun demikian, ia tetap tidak terbebas dari ancaman kekeliruan dalam sebagian perkara. Maka langkah yang benar bagi orang yang tidak mengkhususkan seluruh usianya untuk mendalami ilmu adalah tidak ikut masuk menyelami perdebatan mazhab-mazhab, tidak mendengarkannya, dan tidak memperhatikannya; melainkan ia cukup meyakini bahwa Allah Ta'ala itu Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat", serta meyakini bahwa Rasul-Nya adalah jujur dalam apa yang diberitakannya, mengikut sunnah ulama Salaf, dan beriman kepada seluruh apa yang disampaikan Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa perlu memperdebatkan, mengorek-ngorek, atau mempertanyakan rinciannya; melainkan ia berkata, "Kami beriman dan kami membenarkan," serta disibukkan dengan ketakwaan, menjauhi maksiat, menunaikan ketaatan, menyayangi sesama Muslim, dan amal-amal kebaikan lainnya. Sebab, jika ia ikut menyelami perdebatan mazhab, bid'ah, dan fanatisme akidah, ia akan binasa dari arah yang tidak ia sadari.
هذا حق كل من عزم على أن يشتغل في عمره بشيء غير العلم فأما الذي عزم على التجرد للعلم فأول مهم له معرفة الدليل وشروطه وذلك مما يطول الأمر فيه والوصول إلى اليقين والمعرفة في أكبر المطالب شديد لا يقدر عليه إلا الأقوياء المؤيدون بنور الله تعالى وهو عزيز الوجود جداً فنسأل الله تَعَالَى الْعِصْمَةَ مِنَ الضَّلَالِ وَنَعُوذُ بِهِ مِنَ الاغترار بخيالات الجهال
Ini adalah kewajiban bagi setiap orang yang berniat menghabiskan usianya untuk kesibukan selain ilmu. Adapun orang yang berniat secara khusus memfokuskan diri untuk ilmu, maka tugas penting pertamanya adalah memahami dalil dan syarat-syaratnya, dan hal tersebut memerlukan pembahasan yang panjang. Mencapai tingkatan yaqin dan ma'rifah dalam cita-cita yang agung ini sangatlah berat, tidak akan sanggup mencapainya kecuali orang-orang yang kuat yang dikuatkan dengan cahaya Allah Ta'ala, dan hal itu sangat langka keberadaannya. Maka kami memohon kepada Allah Ta'ala perlindungan dari kesesatan dan kami berlindung kepada-Nya dari terperdaya oleh ilusi orang-orang yang bodoh.
تم كتاب ذم الكبر والعجب والحمد لله وحده وحسبنا الله ونعم الوكيل ولا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ وصلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه وسلم
Telah selesai Kitab Mencela Kesombongan (Dzamm al-Kibr) dan Rasa Ujub (al-'Ujb). Segala puji bagi Allah semata, cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung, dan tiada daya serta upaya melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Dan semoga shalawat serta salam Allah tercurahkan kepada Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau.