بيان حقيقة الصبر ومعناه
بيان حقيقة الصبر ومعناه
Penjelasan Hakikat dan Makna Sabar
اعلم أن الصبر مقام من مقامات الدين ومنزل من منازل السالكين وجميع مقامات الدين إنما تنتظم من ثلاثة أمور معارف وأحوال وأعمال فالمعارف هي الأصول وهي تورث الأحوال والأحوال تثمر الأعمال فالمعارف كالأشجار والأحوال كالأغصان والأعمال كالثمار وهذا مطرد في جميع منازل السالكين إلى الله تعالى واسم الإيمان تارة يختص بالمعارف وتارة يطلق على الكل كما ذكرناه في اختلاف اسم الإيمان والإسلام في كتاب قواعد العقائد وكذلك الصبر لا يتم إلا بمعرفة سابقة وبحالة قائمة فالصبر على التحقيق عبارة عنها والعمل هو كالثمرة يصدر عنها ولا يعرف هذا إلا بمعرفة كيفية الترتيب بين الملائكة والإنس والبهائم فإن الصبر خاصية الإنس ولا يتصور ذلك في البهائم والملائكة أما في البهائم فلنقصانها وأما في الملائكة فلكمالها
Ketahuilah bahwa sabar adalah salah satu maqam dari maqam-maqam agama dan salah satu persinggahan dari persinggahan para salik (penempuh jalan spiritual). Seluruh maqam agama itu terangkum dari tiga hal: pengetahuan (ma'arif), kondisi spiritual (ahwal), dan perbuatan (a'mal). Pengetahuan adalah pokok yang mewariskan kondisi spiritual, sedangkan kondisi spiritual membuahkan perbuatan. Maka pengetahuan bagaikan pepohonan, kondisi spiritual bagaikan dahan-dahan, dan perbuatan bagaikan buah-buahan. Hal ini berlaku konsisten pada seluruh persinggahan para salik menuju Allah Ta'ala. Nama iman terkadang dikhususkan untuk pengetahuan (ma'arif), dan terkadang dimutlakkan mencakup keseluruhan, sebagaimana telah kami sebutkan dalam pembahasan perbedaan nama iman dan Islam dalam Kitab Qawa'id al-'Aqa'id. Demikian pula sabar, ia tidak akan sempurna melainkan dengan pengetahuan yang mendahuluinya dan kondisi spiritual yang tegak. Maka sabar secara hakiki merupakan ungkapan dari kondisi spiritual tersebut, sedangkan perbuatan adalah bagaikan buah yang bersumber darinya. Dan hal ini tidak dapat diketahui kecuali dengan mengetahui tata urutan susunan antara malaikat, manusia, dan binatang ternak. Sebab sabar adalah keistimewaan khusus manusia; hal itu tidak tergambarkan pada binatang ternak maupun malaikat. Adapun pada binatang ternak karena keterbatasannya, sedangkan pada malaikat karena kesempurnaannya.
وبيانه أن البهائم سلطت عليها الشهوات وصارت مسخرة لها فلا باعث لها على الحركة والسكون إلا الشهوة وليس فيها قوة تصادم الشهوة وتردها عن مقتضاها حتى يسمى ثبات تلك القوة في مقابلة مقتضى الشهوة صبراً
Penjelasannya adalah bahwa binatang ternak dikuasai oleh syahwat-syahwat dan menjadi tunduk padanya, sehingga tidak ada pendorong baginya untuk bergerak maupun diam selain syahwat. Binatang tidak memiliki kekuatan yang membendung syahwat dan menolaknya dari konsekuensinya, sehingga keteguhan kekuatan tersebut dalam menghadapi konsekuensi syahwat dapat dinamakan kesabaran.
وأما الملائكة ﵈ فإنهم جردوا للشوق إلى حضرة الربوبية والابتهاج بدرجة القرب منها ولم تسلط عليهم شهوة صارفة صادة عنها حتى يحتاج إلى مصادمة ما يصرفها عن حضرة الجلال بجند آخر يغلب الصوارف
Adapun para malaikat—semoga keselamatan tercurah atas mereka—sungguh mereka telah dimurnikan untuk merindukan Kehadirat Ketuhanan (Hadhrat ar-Rububiyyah) dan bersukacita dengan derajat kedekatan dengan-Nya. Mereka tidak dikuasai oleh syahwat yang memalingkan dan menghalangi darinya, sehingga tidak membutuhkan pasukan lain untuk memukul mundur apa yang memalingkannya dari Kehadirat Keagungan (Hadhrat al-Jalal) demi mengalahkan penghalang-penghalang tersebut.
وأما الإنسان فإنه خلق في ابتداء الصبا ناقصاً مثل البهيمة لم يخلق فيه إلا شهوة الغذاء الذي هو محتاج إليه ثم تظهر فيه شهوة اللعب والزينة ثم شهوة النكاح على الترتيب وليس له قوة الصبر البتة إذ الصبر عبارة عن
Adapun manusia, sesungguhnya ia diciptakan pada awal masa kanak-kanak dalam keadaan kurang (belum sempurna) seperti binatang ternak; tidak diciptakan pada dirinya melainkan syahwat terhadap makanan yang ia butuhkan, kemudian secara bertahap muncul syahwat bermain dan berhias, lalu syahwat menikah. Ia sama sekali belum memiliki kekuatan sabar, sebab sabar merupakan ungkapan dari…
ثبات جند في مقابلة جند آخر قام القتال بينهما لتضاد مقتضياتهما ومطالبهما وليس في الصبي إلا جند الهوى كما في البهائم ولكن الله تعالى بفضله وسعة جوده أكرم بني آدم ورفع درجتهم عن درجة البهائم فوكل به عند كمال شخصه بمقاربة البلوغ ملكين أحدهما يهديه والآخر يقويه فتميز بمعونة الملكين عن البهائم واختص بصفتين إحداهما معرفة الله تعالى ومعرفة رسوله ومعرفة المصالح المتعلقة بالعواقب وكل ذلك حاصل من الملك الذي إليه الهداية والتعريف فالبهيمة لا معرفة لها ولا هداية إلى مصلحة العواقب بل إلى مقتضى شهواتها في الحال فقط فلذلك لا تطلب إلا اللذيذ وأما الدواء النافع مع كونه مضراً في الحال فلا تطلبه ولا تعرفه فصار الإنسان بنور الهداية يعرف أن اتباع الشهوات له مغبات مكروهة في العاقبة ولكن لم تكن هذه الهداية كافية ما لم تكن له قدرة على ترك ما هو مضر فكم من مضر يعرفه الإنسان كالمرض النازل به مثلاً ولكن لا قدرة له على دفعه فافتقر إلى قدرة وقوة يدفع بها في نحر الشهوات فيجاهدها بتلك القوة حتى يقطع عداوتها عن نفسه فوكل الله تعالى به ملكاً آخر يسدده ويؤيده ويقويه بجنود لم تروها وأمر هذا الجند بقتال جند الشهوة فتارة يضعف هذا الجند وتارة يقوي ذلك بحسب إمداد الله تعالى عبده بالتأييد كما أن نور الهداية أيضاً يختلف في الخلق اختلافاً لا ينحصر
…keteguhan suatu pasukan dalam menghadapi pasukan lain, di mana pertempuran terjadi di antara keduanya karena pertentangan konsekuensi dan tuntutan masing-masing. Padahal pada diri anak kecil hanya ada pasukan hawa nafsu sebagaimana pada binatang ternak. Namun Allah Ta'ala dengan karunia dan keluasan kemurahan-Nya telah memuliakan anak cucu Adam serta mengangkat derajat mereka di atas derajat binatang ternak. Maka ketika pribadinya telah sempurna menjelang akil balig, Allah menguasakan dua malaikat kepadanya; salah satunya membimbingnya dan yang lain menguatkannya. Dengan bantuan kedua malaikat tersebut, ia menjadi berbeda dari binatang ternak dan dikhususkan dengan dua sifat. Salah satunya adalah ma'rifatullah (mengenal Allah Ta'ala), mengenal Rasul-Nya, serta mengenal kemaslahatan yang berkaitan dengan akibat di masa depan (awaqib). Semua itu diperoleh dari malaikat yang bertugas memberi petunjuk dan mengenalkan. Sebab, binatang ternak tidak memiliki ma'rifah dan tidak mendapat petunjuk menuju kemaslahatan akibat jangka panjang, melainkan hanya tunduk pada tuntutan syahwatnya seketika itu juga. Oleh karena itu, ia tidak mencari kecuali apa yang lezat. Adapun obat yang bermanfaat—meskipun terasa pahit/menyakitkan secara langsung—binatang tidak mencarinya dan tidak mengetahuinya. Maka berkat cahaya petunjuk (nur al-hidayah), manusia menjadi paham bahwa memperturutkan syahwat memiliki dampak buruk yang dibenci pada akhirnya. Akan tetapi, petunjuk ini tidaklah cukup selama ia tidak memiliki kemampuan untuk meninggalkan apa yang bermudarat. Betapa banyak bahaya yang diketahui oleh manusia—seperti penyakit yang menimpanya—namun ia tidak memiliki daya untuk menolaknya. Maka ia membutuhkan kemampuan dan kekuatan yang dengannya ia mampu menolak gejolak syahwat, lalu menentangnya dengan kekuatan tersebut hingga ia memutus permusuhannya dari jiwanya. Oleh sebab itu, Allah Ta'ala menugaskan malaikat lain yang membimbingnya, menguatkannya, serta menyokongnya dengan pasukan yang tidak kalian lihat, dan Allah memerintahkan pasukan ini untuk memerangi pasukan syahwat. Terkadang pasukan ini melemah dan terkadang menguat sesuai dengan bantuan dukungan (ta'yid) yang Allah berikan kepada hamba-Nya, sebagaimana cahaya petunjuk juga berbeda-beda pada setiap makhluk dengan perbedaan yang tidak terhingga.
فلنسم هذه الصِّفَةُ الَّتِي بِهَا فَارَقَ الْإِنْسَانُ الْبَهَائِمَ فِي قمع الشهوات وقهرها باعثاً دينياً ولنسم مطالبة الشهوات بمقتضياتها باعث الهوى وليفهم أن القتال قائم بين باعث الدين وباعث الهوى والحرب بينهما سجال ومعركة هذا القتال قلب العبد ومدد باعث الدين من الملائكة الناصرين لحزب الله تعالى ومدد باعث الشهوة من الشياطين الناصرين لأعداء الله تعالى فالصبر عِبَارَةٌ عَنْ ثَبَاتِ بَاعِثِ الدِّينِ فِي مُقَابَلَةِ باعث الشهوة فإن ثَبَتَ حَتَّى قَهَرَهُ وَاسْتَمَرَّ عَلَى مُخَالَفَةِ الشَّهْوَةِ فقد نصر حزب الله والتحق بِالصَّابِرِينَ وَإِنْ تَخَاذَلَ وَضَعُفَ حَتَّى غَلَبَتْهُ الشَّهْوَةُ وَلَمْ يَصْبِرْ فِي دَفْعِهَا الْتَحَقَ بِأَتْبَاعِ الشَّيَاطِينِ
Maka mari kita sebut sifat yang dengannya manusia membedakan diri dari binatang ternak dalam menundukkan dan menguasai syahwat ini sebagai "pendorong agama" (ba'its diniy), dan mari kita sebut tuntutan syahwat sesuai kehendaknya sebagai "pendorong hawa nafsu" (ba'its al-hawa). Hendaklah dipahami bahwa pertempuran senantiasa berkobar antara pendorong agama dan pendorong hawa nafsu, dan peperangan di antara keduanya saling berbalas. Medan pertempuran ini adalah hati hamba. Bantuan bagi pendorong agama berasal dari para malaikat yang menolong golongan Allah (hizbullah), sedangkan bantuan bagi pendorong syahwat berasal dari para setan yang menolong musuh-musuh Allah Ta'ala. Dengan demikian, sabar adalah ungkapan tentang keteguhan pendorong agama dalam menghadapi pendorong syahwat. Jika ia teguh hingga mampu menundukkannya dan terus-menerus menentang syahwat, maka sungguh ia telah membela golongan Allah dan tergolong ke dalam kelompok orang-orang yang bersabar. Namun jika ia terpuruk dan melemah hingga dikalahkan oleh syahwat serta tidak bersabar dalam menolaknya, maka ia tergolong ke dalam pengikut-pengikut setan.
فإن ترك الأفعال المشتهاة عمل يثمره حال يسمى الصبر وهو ثبات باعث الدين الذي هو في مقابلة باعث الشهوة وثبات باعث الدين حال تثمرها المعرفة بعداوة الشهوات ومضاداتها لأسباب السعادات في الدنيا والآخرة فإذا قوي يقينه أعني المعرفة التي تسمى إيماناً وهو اليقين بكون الشهوة عدواً قاطعاً لطريق الله تعالى قوي ثبات باعث الدين وإذا قوي ثباته تمت الأفعال على خلاف ما تتقاضاه الشهوة فلا يتم ترك الشهوة إلا بقوة باعث الدين المضاد لباعث الشهوة وقوة المعرفة والإيمان تقبح مغبة الشهوات وسوء عاقبتها وهذان الملكان هما المتكفلان بهذين الجندين بإذن الله تعالى وتسخيره إياهما وهما من الكرام الكاتبين وهما الملكان الموكلان بكل شخص من الآدميين وإذا عرفت أن رتبة الملك الهادي أعلى من رتبة الملك المقوي لم يخف عليك أن جانب اليمين هو أشرف الجانبين من جنبتي الدست الذي ينبغي أن يكون مسلماً له فهو إذن صاحب اليمين والآخر صاحب الشمال
Sebab, meninggalkan perbuatan-perbuatan yang diingini syahwat adalah suatu amal yang membuahkan suatu kondisi kejiwaan (hal) yang dinamakan sabar, yaitu teguhnya pendorong agama yang berhadapan dengan pendorong syahwat. Teguhnya pendorong agama ini merupakan kondisi (hal) yang dibuahkan oleh pengetahuan (ma'rifah) akan permusuhan syahwat dan pertentangannya terhadap sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat. Apabila keyakinannya menguat—maksud saya pengetahuan yang dinamakan iman, yaitu keyakinan bahwa syahwat adalah musuh yang memutus jalan menuju Allah Ta'ala—maka menguat pula keteguhan pendorong agama. Dan apabila keteguhannya menguat, perbuatan-perbuatan akan terlaksana secara menyeluruh berlawanan dengan apa yang dituntut oleh syahwat. Maka penolakan terhadap syahwat tidak akan sempurna melainkan dengan kuatnya pendorong agama yang menentang pendorong syahwat, serta kuatnya pengetahuan dan iman yang memandang buruk dampak syahwat dan kejelekan akibatnya. Kedua malaikat inilah yang menanggung kedua pasukan ini dengan izin Allah Ta'ala dan penundukan-Nya atas keduanya, dan keduanya termasuk malaikat yang mulia lagi mencatat (al-Kiraman al-Katibin), yakni dua malaikat yang ditugaskan pada setiap pribadi manusia. Apabila engkau telah mengetahui bahwa derajat malaikat pemberi petunjuk (al-malak al-hadi) lebih tinggi daripada derajat malaikat penguat (al-malak al-muqawwi), tidaklah tersembunyi bagimu bahwa sisi kanan adalah sisi yang paling mulia dari kedua sisi singgasana yang sepatutnya diserahkan kepadanya. Maka malaikat itu adalah Malaikat Sisi Kanan (Sahib al-Yamin), sedangkan yang satunya lagi adalah Malaikat Sisi Kiri (Sahib asy-Syimal).
وللعبد طوران في الغفلة والفكر وفي الاسترسال والمجاهدة فهو بالغفلة معرض عن صاحب اليمين ومسيء إليه فيكتب أعراضه سيئة وبالفكر مقبل عليه ليستفيد منه الهداية فهو به محسن فيكتب إقباله له حسنة وكذا بالاسترسال هو معرض عن صاحب اليسار تارك للاستمداد منه فهو به مسيء إليه فيثبت عليه سيئة وبالمجاهدة مستمد من جنوده فيثبت له به حسنة وإنما ثبتت هذه الحسنات والسيئات بإثباتهما فلذلك سمياً كراماً كاتبين
Seorang hamba memiliki dua keadaan (fase) dalam hal kelalaian (ghaflah) dan perenungan (fikr), serta dalam hal memanjakan diri (istirsal) dan berjuang (mujahadah). Ketika lalai, ia berpaling dari Malaikat Sisi Kanan dan berbuat buruk kepadanya, maka berpalingnya itu dicatat sebagai keburukan. Ketika merenung, ia menghadap kepadanya untuk mengambil faedah petunjuk darinya, maka ia berbuat baik dengannya dan keberadaannya yang menghadap itu dicatat sebagai kebaikan. Demikian pula saat memanjakan diri, ia berpaling dari Malaikat Sisi Kiri dan meninggalkan permohonan bantuan dari pasukannya, maka ia berbuat buruk kepadanya dan dicatat padanya keburukan. Sedangkan dengan bersungguh-sungguh berjuang (mujahadah), ia memohon bantuan dari pasukan-pasukannya, maka dicatat baginya kebaikan karenanya. Sungguh kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan ini tercatat melalui penetapan keduanya, oleh karena itulah keduanya dinamakan Malaikat yang Mulia lagi Mencatat (Kiraman Katibin).
أما الكرام فلانتفاع العبد بكرمهما ولأن الملائكة كلهم كرام بررة وأما الكاتبون فلإثباتهما الحسنات والسيئات وإنما يكتبان في صحائف مطوية في سر القلب ومطوية عن سر القلب حتى لا يطلع عليه في هذا العالم فإنهما وكتبتهما وخطهما وصائفهما وجملة ما تعلق بهما من جملة عالم الغيب والملكوت لا من عالم الشهادة وكل شيء من عالم الملكوت لا تدركه الأبصار في هذا العالم ثم تنشر هذه الصحائف المطوية عنه مرتين مرة في القيامة الصغرى ومرة في القيامة الكبرى وأعني بالقيامة الصغرى حالة الموت إذ قال صلى الله ﷺ من مات فقد قامت قيامته وفي هذه القيامة يكون العبد وحده وعندها يقال ولقد جئتمونا فرادى كما خلقناكم أول مرة وفيها يقال كفى بنفسك اليوم عليك حسيباً أما في القيامة الكبرى الجامعة لكافة الخلائق فلا يكون وحده بل ربما يحاسب على ملأ من الخلق وفيها يساق المتقون إلى الجنة والمجرمون إلى النار زمراً لا آحاداً والهول الأول هو هول القيامة الصغرى ولجميع أهوال القيامة الكبرى نظير في القيامة الصغرى مثل زلزلة الأرض مثلاً فإن أرضك الخاصة بك تزلزل في الموت فإنك تعلم أن الزلزلة إذا نزلت ببلدة صدق أن يقال قد زلزلت أرضهم وإن لم تزلزل البلاد المحيطة بها بل لو زلزل مسكن الإنسان وحده فقد حصلت الزلزلة في حقه لأنه إنما يتضرر عند زلزلة جميع الأرض بزلزلة مسكنه لا بزلزلة مسكن غيره فحصته من الزلزلة قد توفرت من غير نقصان واعلم أنك أرضى مخلوق من التراب وحظك الخاص من التراب بدنك فقط فأما بدن غيرك فليس بحظك والأرض التي أنت جالس عليها بالإضافة الى بذلك ظرف ومكان وإنما تخاف من تزلزله أن يتزلزل بدنك بسببه وإلا فالهواء أبداً متزلزل وأنت لا تخشاه إذ ليس يتزلزل به بدنك فحظك من زلزلة الأرض كلها زلزلة بدنك فقط فهي أرضك وترابك الخاص بك وعظامك جبال أرضك ورأسك سماء أرضك وقلبك شمس أرضك وسمعك وبصرك وسائر خواصك نجوم سمائك ومفيض العرق من بدنك بحر أرضك وشعورك نبات أرضك وشعورك نبات أرضك وأطرافك أشجار أرضك وهكذا إلى جميع أجزائك فإذا انهدم بالموت أركان بدنك فقد زلزلت الأرض زلزالها فإذا انفصلت العظام من اللحوم فقد حملت الأرض والجبال فدكتادكة واحدة فإذا رمت العظام فقد نسفت الجبال نسفاً فإذا أظلم قلبك عند الموت فقد كورت الشمس تكويراً فإذا بطل سمعك وبصرك وسائر حواسك فقد انكدرت النجوم انكداراً فإذا انشق دماغك فقد انشقت السماء انشقاقاً فإذا انفجرت من هول الموت عرق جبينك فقد فجرت البحار تفجيراً فإذا التفت إحدى ساقيك بالأخرى وهما مطيتاك فقد عطلت العشار تعطيلاً فإذا فارقت الروح الجسد فقد حملت الأرض فمدت حتى ألقت ما فيها وتخلت ولست أطول بجميع موازنة الأحوال والأهوال ولكني أقول بمجرد الموت تقوم عليك هذه القيامة الصغرى ولا يفوتك من القيامة الكبرى شيء مما يخصك بل ما يخص غيرك فإن بقاء الكواكب في حق غيرك ماذا ينفعك وقد انتثرت حواسك التي بها تنتفع بالنظر إلى الكواكب والأعمى يستوى عنده الليل والنهار وكسوف الشمس وانجلاؤها لأنها قد كسفت في حقه دفعة واحدة وهو حصته منها فالانجلاء بعد ذلك حصة غيره ومن انشق رأسه فقد انشقت سماؤه إذ السماء عبارة عما يلي جهة الرأس فمن لا رأس له لا سماء له فمن أين ينفعه بقاء السماء لغيره فهذه هي القيامة الصغرى والخوف بعد أسفل والهول بعد مؤخر وذلك إذا جاءت الطامة الكبرى وارتفع الخصوص وبطلت السموات والأرض ونسفت الجبال ونمت الأهوال
Adapun sebutan al-Kiram (yang mulia) adalah karena hamba mendapat manfaat dari kemuliaan keduanya dan karena semua malaikat itu mulia lagi berbakti (kiram bararah). Adapun sebutan al-Katibun (yang mencatat) adalah karena keduanya mencatat kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Sungguh keduanya mencatat pada lembaran-lembaran (shaha'if) yang terlipat di rahasia hati (sirr al-qalb) dan tersembunyi dari rahasia hati sehingga tidak dapat dilihat di dunia ini. Sebab keduanya, tulisan keduanya, khat keduanya, lembaran-lembaran keduanya, serta segala sesuatu yang berkaitan dengan keduanya merupakan bagian dari alam ghaib dan Malakut, bukan dari alam nyata (alam asy-syahadah). Segala sesuatu dari alam Malakut tidak dapat dicapai oleh penglihatan di dunia ini. Kemudian lembaran-lembaran yang terlipat darinya ini akan dibeberkan dua kali: sekali pada Kiamat Kecil (Al-Qiyamah as-Sughra) dan sekali lagi pada Kiamat Besar (Al-Qiyamah al-Kubra). Yang saya maksud dengan Kiamat Kecil adalah kondisi kematian, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang telah mati, maka sungguh telah bangkit kiamatnya." Pada kiamat ini seorang hamba berada seorang diri, dan ketika itu dikatakan kepadanya: "Dan sungguh kamu telah datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami ciptakan kamu pada pertama kali." Dan padanya dikatakan: "Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai pembuat perhitungan atasmu." Adapun pada Kiamat Besar yang menghimpun seluruh makhluk, hamba tidak berada seorang diri, melainkan boleh jadi dihisab di hadapan khalayak ramai. Pada kiamat itu orang-orang yang bertakwa digiring ke surga dan orang-orang yang berdosa digiring ke neraka berombong-rombong, bukan satu per satu. Dahsyatnya peristiwa yang pertama adalah dahsyatnya Kiamat Kecil. Bagi setiap kegentingan Kiamat Besar terdapat padanannya pada Kiamat Kecil, seperti guncangan bumi (zalzalah) misalnya. Sesungguhnya bumimu yang khusus bagimu bergoncang saat kematian. Engkau mengetahui bahwa guncangan jika menimpa suatu negeri, benar untuk dikatakan bahwa bumi mereka telah bergoncang, meskipun negeri-negeri di sekitarnya tidak bergoncang. Bahkan sekiranya tempat tinggal seorang manusia saja yang bergoncang, maka sungguh guncangan telah terjadi pada dirinya, karena ia hanya terpengaruh saat seluruh bumi bergoncang melalui guncangan tempat tinggalnya, bukan tempat tinggal orang lain. Maka bagiannya dari guncangan itu telah terpenuhi tanpa berkurang. Ketahuilah bahwa engkau diciptakan dari tanah, dan bagian khususmu dari tanah itu hanyalah tubuhmu. Adapun tubuh orang lain bukanlah bagianmu. Bumi yang engkau duduki, jika dibandingkan dengan tubuhmu, adalah wadah dan tempat. Engkau hanya takut dari guncangannya jika tubuhmu bergoncang karenanya; jika tidak, udara senantiasa berhembus/bergoncang dan engkau tidak takut padanya karena tubuhmu tidak bergoncang karenanya. Maka bagianmu dari guncangan seluruh bumi hanyalah guncangan tubuhmu. Itulah bumimu dan tanah khusus milikmu. Tulang-tulangmu adalah gunung-gunung di bumimu, kepalamu adalah langit di bumimu, hatimu adalah matahari di bumimu, pendengaran, penglihatan, dan seluruh indramu adalah bintang-bintang di langitmu, peluh yang mengalir dari tubuhmu adalah laut di bumimu, rambutmu adalah tumbuh-tumbuhan di bumimu, dan anggota-anggota badanmu adalah pohon-pohon di bumimu; demikian seterusnya pada seluruh bagian tubuhmu. Maka apabila tiang-tiang tubuhmu hancur karena kematian, sungguh bumi telah digoncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Apabila tulang-tulang terpisah dari daging, sungguh bumi dan gunung-gunung diangkat lalu dibenturkan dengan sekali benturan. Apabila tulang-tulang telah membusuk, sungguh gunung-gunung dihancurkan selumat-lumatnya. Apabila hatimu menjadi gelap saat kematian, sungguh matahari telah digulung. Apabila pendengaran, penglihatan, dan seluruh indramu tidak berfungsi, sungguh bintang-bintang telah berjatuhan. Apabila otakmu terbelah, sungguh langit telah terbelah. Apabila keringat di dahimu memancar karena dahsyatnya kematian, sungguh laut-laut telah dipancarkan. Apabila salah satu betismu bertaut dengan betis yang lain—padahal keduanya adalah kendaraanmu—sungguh unta-unta yang hamil tua telah ditinggalkan. Dan apabila ruh telah berpisah dari jasad, sungguh bumi diangkat dan diratakan hingga melemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong. Saya tidak akan memperpanjang penjelasannya dengan menimbang seluruh kondisi dan kegentingan ini, namun saya katakan: dengan kematian semata, Kiamat Kecil ini telah bangkit atasmu. Dan tidak ada sesuatu pun dari Kiamat Besar yang terlewatkan darimu dari apa yang khusus bagimu, melainkan apa yang khusus bagi orang lain. Sebab, tetap beradanya bintang-bintang bagi orang lain, apakah gunanya bagimu padahal indramu yang dengannya engkau memandang bintang-bintang telah terburai? Bagi orang buta, malam dan siang serta gerhana matahari dan terangnya kembali adalah sama saja, karena matahari telah gelap baginya sekaligus, dan itulah bagiannya darinya, sedangkan terangnya kembali setelah itu adalah bagian orang lain. Barang siapa yang kepalanya terbelah, maka sungguh langitnya telah terbelah, karena langit adalah ungkapan untuk apa yang ada di arah atas kepala; barang siapa yang tidak memiliki kepala, tidak ada langit baginya. Lantas dari mana bermanfaat baginya tetap beradanya langit bagi orang lain? Inilah Kiamat Kecil. Rasa takut berikutnya masih di bawahnya dan kedahsyatan berikutnya masih mengiringi, yaitu ketika datang petaka yang sangat besar (at-Thammah al-Kubra), di mana sifat kekhususan telah diangkat, langit dan bumi dilenyapkan, gunung-gunung dihancurkan, dan kegentingan-kegentingan bertambah luas.
واعلم أن هذه الصغرى وإن طولنا في وصفها فإنا لم نذكر عشير أوصافها وهي بالنسبة إلى القيامة الكبرى كالولادة الصغرى بالنسبة إلى الولادة الكبرى فإن للإنسان ولادتين إحداهما الخروج من الصلب والترائب إلى مستودع الأرحام فهو في الرحم في قرار مكين إلى قدر معلوم وله في سلوكه إلى الكمال منازل وأطوار من نطفة وعلقة ومضغة وغيرها إلى أن يخرج من مضيق الرحم إلى فضاء العالم فنسبة عموم القيامة الكبرى إلى خصوص القيامة الصغرى كنسبة سعة فضاء العالم إلى سعة فضاء الرحم ونسبة سعة العالم الذي يقدم عليه العبد بالموت إلى سعة فضاء الدنيا كنسبة فضاء الدنيا أيضاً إلى الرحم بل أوسع وأعظم فقس الآخرة بالأولى فما خلقكم ولا بعثكم إلا كنفس واحدة وما النشأة الثانية إلا على قياس النشأة الأولى بل أعداد النشآت ليست محصورة في اثنتين وإليه الإشارة بقوله تعالى وننشئكم فيما لا تعلمون فالمقر بالقيامتين مؤمن بعالم الغيب والشهادة وموقن بالملك والملكوت والمقر بالقيامة الصغرى دون الكبرى ناظر بالعين العوراء إلى أحد العالمين وذلك هو الجهل والضلال والإقتداء بالأعور الدجال
Ketahuilah bahwa Kiamat Kecil ini, meskipun telah kami perpanjang sifat deskripsinya, sesungguhnya kami belum menyebutkan sepersepuluh dari sifat-sifatnya. Nisbah Kiamat Kecil terhadap Kiamat Besar adalah seperti nisbah kelahiran kecil terhadap kelahiran besar. Manusia memiliki dua kelahiran: salah satunya adalah keluar dari tulang sulbi dan tulang dada menuju tempat penyimpanan rahim. Di dalam rahim ia berada di tempat yang kokoh sampai waktu yang ditentukan, dan dalam perjalanannya menuju kesempurnaan ia memiliki tahapan-tahapan dan fase-fase, dari nutfah, 'alaqah, mudhghah, dan selainnya hingga ia keluar dari kesempitan rahim menuju kelapangan alam. Maka nisbah keumuman Kiamat Besar terhadap kekhususan Kiamat Kecil adalah seperti nisbah luasnya kelapangan alam dunia terhadap luasnya ruang rahim. Dan nisbah luasnya alam yang akan dituju oleh hamba melalui kematian terhadap luasnya kelapangan dunia adalah seperti nisbah kelapangan dunia terhadap rahim, bahkan lebih luas dan lebih agung. Maka kiaslah akhirat dengan yang pertama: "Tidaklah menciptakan kamu dan membangkitkan kamu melainkan seperti menciptakan dan membangkitkan satu jiwa saja." Dan tidaklah penciptaan kedua melainkan berdasarkan kias penciptaan pertama, bahkan jumlah penciptaan (nasy'ah) tidak terbatas pada dua saja. Hal itu diisyaratkan oleh firman Allah Ta'ala: "Dan Kami menciptakan kamu dalam keadaan yang tidak kamu ketahui." Orang yang mengakui kedua kiamat ini adalah orang yang beriman kepada alam ghaib dan syahadah serta meyakini alam Mulki dan Malakut. Adapun orang yang mengakui Kiamat Kecil tanpa mengakui Kiamat Besar adalah orang yang memandang dengan mata juling ke salah satu dari dua alam saja, dan itu adalah kebodohan, kesesatan, serta pengikutan terhadap Dajjal yang buta sebelah mata.
فما أعظم غفلتك يا مسكين وكلنا ذلك المسكين وبين يديك هذه الأهوال فإن كنت لا تؤمن بالقيامة الكبرى بالجهل والضلال أفلا تكفيك دلالة القيامة الصغرى أو ما سمعت قول سيد الأنبياء كفى بالموت واعظاً او ما سمعت بكر به ﵇ عند الموت حتى قال ﷺ اللهم هون على محمد سكرات الموت أو ما تستحي من استبطائك هجوم الموت اقتداءً برعاع الغافلين الذين لا ينظرون إلا صيحة واحدة تأخذهم وهم يخصمون فلا يستطيعون توصية ولا إلى أهلهم يرجعون فيأتيهم المرض نذيراً من الموت فلا ينزجرون ويأتيهم الشيب رسولاً منه فما يعتبرون فيا حسرة على العباد ما يأتيهم من رسول إلا كانوا به يستهزئون أفيظنون أنهم في الدنيا خالدون أو لم يروا كم أهلكنا قبلهم من القرون أنهم إليهم لا يرجعون أم يحسبون أن الموتى سافروا من عندهم فهم معدمون كلا وإن كل لما جميع لدينا محضرون ﴿ولكن﴾ ما تأتيهم من آية من آيات ربهم إلا كانوا عنها معرضين وذلك لأنا جعلنا من بين أيديهم سداً ومن خلفهم سداً فأغشيناهم فهم لا يبصرون وسواء عليهم أأنذرتهم أم لم تنذرهم لا يؤمنون
Alangkah besarnya kelalaianmu wahai orang miskin! Dan kita semua adalah orang miskin itu, sementara di hadapanmu terdapat kedahsyatan-kedahsyatan ini. Jika engkau tidak beriman kepada Kiamat Besar karena kebodohan dan kesesatan, apakah tidak cukup bagimu petunjuk dari Kiamat Kecil? Tidakkah engkau mendengar sabda Pemimpin para Nabi: "Cukuplah kematian sebagai penasihat", atau tidakkah engkau mendengar tentang kepayahan beliau -semoga keselamatan tercurah atasnya- saat sakaratul maut hingga beliau ﷺ berdoa: "Ya Allah, ringankanlah atas Muhammad sakaratul maut"? Tidakkah engkau malu karena menganggap lambat datangnya kematian dengan meniru orang-orang awam yang lalai, yang tidak menanti melainkan satu teriakan yang menyergap mereka saat mereka sedang bertengkar, sehingga mereka tidak mampu membuat suatu wasiat pun dan tidak pula dapat kembali kepada keluarga mereka? Penyakit datang kepada mereka sebagai pemberi peringatan dari kematian tetapi mereka tidak tertahan; uban datang kepada mereka sebagai utusan darinya tetapi mereka tidak mengambil pelajaran. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu! Tidak datang seorang utusan pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Apakah mereka mengira akan kekal di dunia, atau tidakkah mereka melihat berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya mereka tidak akan kembali kepada mereka? Atau apakah mereka menyangka bahwa orang-orang mati itu hanya bepergian dari sisi mereka lalu lenyap begitu saja? Sekali-kali tidak! Dan sesungguhnya setiap mereka seluruhnya akan dihadirkan kepada Kami. Namun tidaklah datang kepada mereka suatu ayat pun dari ayat-ayat Tuhan mereka melainkan mereka selalu berpaling darinya. Hal itu karena Kami telah memasang dinding di hadapan mereka dan di belakang mereka dinding, lalu Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.
ولنرجع إلى الغرض فإن هذه تلويحات تشير إلى أمور هي أعلى من علوم المعاملة فنقول ظهر أَنَّ الصَّبْرَ عِبَارَةٌ عَنْ ثَبَاتِ بَاعِثِ الدِّينِ في مقاومة باعث الهوى وهذه المقاومة من خاصة الآدميين لما وكل بهم من الكرام الكاتبين ولا يكتبان شيئاً عن الصبيان والمجانين إذ قد ذكرنا أن الحسنة في الإقبال على الاستفادة منهما والسيئة في الإعراض عنهما وما للصبيان والمجانين سبيل إلى الاستفادة فلا يتصور منهما إقبال وإعراض وهما لا يكتبان إلا الإقبال والإعراض من القادرين على الإقبال والإعراض ولعمري إنه قد تظهر مباديء إشراق نور الهداية عند سن التمييز وتنمو على التدريج إلى سن البلوغ كما يبدو نور الصبح إلى أن يطلع قرص الشمس ولكنها هداية قاصرة لا ترشد إلى مضار الآخرة بل إلى مضار الدنيا فلذلك يضرب على ترك الصلوات ناجزاً ولا يعاقب على تركها في الآخرة ولا يكتب عليه من الصحائف ما ينشر في الآخرة بل على القيم العدل والولى البر الشفيق
Mari kita kembali kepada tujuan utama, sebab isyarat-isyarat ini menunjuk pada perkara-perkara yang lebih tinggi daripada ilmu-ilmu mu'amalah (perilaku lahir/batin). Maka kami katakan: telah jelas bahwa sabar merupakan ungkapan dari keteguhan pendorong agama (ba'its diniy) dalam melawan pendorong hawa nafsu (ba'its al-hawa). Perlawanan ini termasuk keistimewaan manusia, karena ditugaskannya Malaikat yang Mulia lagi Mencatat (al-Kiraman al-Katibin) kepada mereka. Keduanya tidak mencatat sesuatu pun dari anak-anak kecil dan orang-orang gila, sebab telah kami sebutkan bahwa kebaikan itu terletak pada sikap menghadap untuk mengambil faedah dari keduanya, dan keburukan terletak pada sikap berpaling dari keduanya. Anak-anak kecil dan orang gila tidak memiliki jalan untuk mengambil faedah, maka tidak terbayangkan adanya sikap menghadap maupun berpaling dari keduanya. Kedua malaikat itu hanya mencatat sikap menghadap dan berpaling dari orang-orang yang mampu menghadap dan berpaling. Demi umurku, sesungguhnya benih-benih pancaran cahaya petunjuk mulai tampak pada usia tamyiz dan tumbuh secara bertahap hingga usia balig, sebagaimana tampaknya cahaya subur sampai piringan matahari terbit. Akan tetapi, itu adalah petunjuk yang terbatas yang tidak membimbing kepada bahaya-bahaya akhirat, melainkan hanya kepada bahaya-bahaya dunia. Oleh karena itu, anak kecil dipukul karena meninggalkan shalat secara langsung di dunia, namun tidak disiksa karena meninggalkannya di akhirat, dan tidak dicatat padanya dari lembaran-lembaran yang akan dibeberkan di akhirat. Melainkan kewajiban bagi pengampu yang adil dan wali yang berbakti serta menyayangi…
إن كان من الأبرار وكان على سمت الكرام الكاتبين البررة الأخيار أن يكتب على الصبي سيئته وحسنته على صحيفة قلبه فيكتبه عليه بالحفظ ثم ينشره عليه بالتعريف ثم يعذبه عليه بالضرب فكل ولي هذا سمته في حق الصبي فقد ورث أخلاق الملائكة واستعملها في حق الصبي فينال بها درجة القرب من رب العالمين كما نالته الملائكة فيكون مع النبيين والمقربين والصديقين وإليه الإشارة بقوله ﷺ أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كهاتين في الجنة وأشار إلى إصبعيه الكريمتين ﷺ
…jika ia termasuk orang-orang yang berbakti dan berada pada perangai para Malaikat yang Mulia lagi Mencatat yang berbakti dan pilihan, hendaklah ia mencatat keburukan dan kebaikan anak kecil itu pada lembaran hatinya. Ia mencatatnya atas anak itu dengan penjagaan, kemudian membeberkannya kepadanya dengan pengajaran, lalu menghukumnya atas keburukan itu dengan pukulan (edukatif). Maka setiap wali yang demikian perangainya terhadap anak kecil, sungguh ia telah mewarisi akhlak para malaikat dan menerapkannya terhadap anak kecil tersebut, sehingga dengannya ia meraih derajat kedekatan dengan Tuhan semesta alam sebagaimana yang diraih oleh para malaikat, dan ia akan berada bersama para nabi, orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah, serta orang-orang yang jujur dalam keimanan (ash-shiddiqin). Hal itu diisyaratkan oleh sabda Rasulullah ﷺ: "Aku dan orang yang mengasuh anak yatim berada di surga seperti dua jari ini," dan beliau ﷺ mengisyaratkan dengan kedua jari beliau yang mulia.