بيان دواء الصبر وما يستعان به عليه
بيان دَوَاءُ الصَّبْرِ وَمَا يُسْتَعَانُ بِهِ عَلَيْهِ
Penjelasan tentang Obat Kesabaran dan Hal-Hal yang Digunakan untuk Membantunya
اعْلَمْ أَنَّ الَّذِي أَنْزَلَ الدَّاءَ أَنْزَلَ الدَّوَاءَ وَوَعَدَ الشِّفَاءَ فَالصَّبْرُ وَإِنْ كَانَ شَاقًّا أَوْ مُمْتَنِعًا فتحصيله ممكن بمعجون العلم والعمل فالعلم والعمل هما الأخلاط التي منها تركب الأدوية لأمراض القلوب كلها ولكن يحتاج كل مرض إلى علم آخر وعمل آخر وكما أن أقسام الصبر مختلفة فأقسام العلل المانعة منه مختلفة وإذا اختلفت العلل اختلف العلاج إذ معنى العلاج مضادة العلة وقمعها واستيفاء ذلك مما يطول ولكنا نعرف الطريق في بعض الأمثلة
Ketahuilah bahwa Zat yang menurunkan penyakit telah menurunkan pula obatnya dan menjanjikan kesembuhan. Maka kesabaran, meskipun terasa berat atau sulit dicapai, memperolehnya adalah mungkin melalui ramuan ilmu dan amal. Ilmu dan amal merupakan ramuan penyusun obat bagi seluruh penyakit hati. Namun setiap penyakit membutuhkan ilmu yang berbeda dan amal yang berbeda pula. Sebagaimana ragam kesabaran itu berbeda-beda, maka ragam penyakit yang menghalanginya juga berbeda-beda. Apabila penyakitnya berbeda, maka pengobatannya pun berbeda, karena makna pengobatan adalah menentang penyakit, menumpasnya, dan menuntaskannya. Membahas hal itu secara menyeluruh akan memakan waktu panjang, namun kami akan mengenalkan jalannya melalui beberapa contoh.
فنقول إذا افتقر إلى الصبر عن شهوة الوقاع مثلاً وقد غلبت عليه الشهوة بحيث ليس يملك معها فرجه أو يملك فرجه ولكن ليس يملك عينه أو يملك عينه ولكن ليس يملك قلبه ونفسه اذ تزال تحدثه بمقتضيات الشهوات ويصرفه ذلك عن المواظبة على الذكر والفكر والأعمال الصالحة فنقول قد قَدَّمْنَا أَنَّ الصَّبْرَ عِبَارَةٌ عَنْ مُصَارَعَةِ بَاعِثِ الدين مع باعث الهوى وكل متصارعين أَرَدْنَا أَنْ يَغْلِبَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ فَلَا طَرِيقَ لَنَا فِيهِ إِلَّا تَقْوِيَةُ مَنْ أَرَدْنَا أَنْ تَكُونَ لَهُ الْيَدُ الْعُلْيَا وَتَضْعِيفُ الْآخَرِ فَلَزِمَنَا هَهُنَا تَقْوِيَةُ بَاعِثِ الدِّينِ وَتَضْعِيفُ بَاعِثِ الشَّهْوَةِ
Maka kami katakan: Apabila seseorang membutuhkan kesabaran dari syahwat persetubuhan misalnya, sementara syahwat tersebut telah menguasainya hingga ia tidak mampu mengendalikan kemaluannya, atau ia mampu mengendalikan kemaluannya namun tidak mampu mengendalikan pandangan matanya, atau ia mampu mengendalikan pandangan matanya tetapi tidak mampu mengendalikan hati dan jiwanya karena senantiasa membisikkan tuntutan-tuntutan syahwat yang memalingkannya dari ketekunan berzikir, berpikir, dan beramal saleh, maka kami katakan: Sungguh telah kami jelaskan sebelumnya bahwa sabar merupakan gambaran dari pergulatan antara pendorong agama dan pendorong hawa nafsu. Dan setiap dua pihak yang bergelut yang kita inginkan agar salah satunya mengalahkan yang lain, tidak ada jalan bagi kita selain memperkuat pihak yang kita inginkan menang dan memperlemah pihak yang lain. Maka di sini kita wajib memperkuat pendorong agama dan memperlemah pendorong syahwat.
فأما باعث الشهوة فسبيل تضعيفه ثلاثة أمور
Adapun pendorong syahwat, maka cara untuk melemahkannya ada tiga perkara:
أحدها ان تنظر إلى مادة قوتها وهي الأغذية الطيبة المحركة للشهوة من حيث نوعها ومن حيث كثرتها فلا بد من قطعها بالصوم الدائم مع الاقتصاد عند الإفطار على طعام قليل في نفسه ضعيف في جنسه فيحترز عن اللحم والأطعمة المهيجة للشهوة
Pertama, hendaklah engkau melihat pada materi kekuatannya, yaitu makanan-makanan lezat yang membangkitkan syahwat, baik dari segi jenisnya maupun dari segi jumlahnya. Maka tidak boleh tidak, materi tersebut harus diputus dengan berpuasa secara berkesinambungan, disertai kesederhanaan ketika berbuka, yaitu hanya menyantap makanan yang sedikit secara kuantitas dan lemah (sederhana) secara jenis. Serta menjaga diri dari daging dan makanan-makanan yang dapat merangsang syahwat.
الثاني قطع أسبابه المهيجة في الحال فإنه إنما يهيج بالنظر إلى مظان الشهوة إذ النظر يحرك القلب والقلب يحرك الشهوة وهذا يحصل بالعزلة والاحتراز عن مظان وقوع البصر على الصور المشتهاة والفرار منها بالكلية قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ النظرة سهم من سهام إبليس وهو سهم يسدده الملعون ولا ترس يمنع منه إلا تغميض الأجفان أو الهرب من صوب رميه فإنه إنما يرمي هذا السهم عن قوس الصور فإذا انقلبت عن صوب الصور لم يصبك سهمه
Kedua, memutus sebab-sebab pemicunya secara langsung. Sebab, syahwat itu bergejolak melalui pandangan mata ke tempat-tempat dugaan timbulnya syahwat; karena pandangan akan menggerakkan hati, dan hati akan menggerakkan syahwat. Hal ini dapat dicapai dengan *uzlah* (mengasingkan diri) serta menjaga diri dari tempat-tempat jatuhnya pandangan pada rupa-rupa yang dihasrati, dan lari darinya secara total. Rasulullah ﷺ bersabda: "Pandangan mata adalah salah satu anak panah dari anak-anak panah Iblis. Ia merupakan anak panah yang dibidikkan oleh si terkutuk (Iblis), dan tidak ada perisai yang dapat menghalanginya kecuali memejamkan kelopak mata atau lari dari arah lembarannya. Karena sesungguhnya ia melemparkan anak panah ini dari busur rupa-rupa (paras yang indah). Maka jika engkau berpaling dari arah rupa-rupa tersebut, anak panahnya tidak akan mengenaimu."
الثالث تسلية النفس بالمباح من الجنس الذي تشتهيه وذلك بالنكاح فَإِنَّ كُلَّ مَا يَشْتَهِيهِ الطَّبْعُ فَفِي الْمُبَاحَاتِ
Ketiga, menghibur jiwa dengan perkara mubah dari jenis yang dihasratinya, yaitu melalui pernikahan. Sebab, segala sesuatu yang dihasrati oleh watak dasar manusia, maka di dalam hal-hal yang mubah…
مِنْ جِنْسِهِ مَا يُغْنِي عَنِ الْمَحْظُورَاتِ مِنْهُ وهذا هو العلاج الأنفع في حق الأكثر فإن قطع الغذاء يضعف عن سائر الأعمال ثم قد لا يقمع الشهوة في حق أكثر الرجال ولذلك قال ﷺ عليكم بالباءة فمن لم يستطع فعليه بالصوم فإن الصوم له وجاء //
…dari jenisnya terdapat hal yang cukup untuk menghindarkan dari perkara-perkara yang diharamkan darinya. Dan ini merupakan terapi yang paling bermanfaat bagi mayoritas orang. Sebab, memutus makanan dapat melemahkan tubuh dari seluruh amal perbuatan, dan terkadang tidak dapat menundukkan syahwat bagi kebanyakan laki-laki. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Hendaklah kalian menikah! Barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu menjadi pemutus syahwat baginya."
فهذه ثلاثة أسباب فالعلاج الأول وهو قطع الطعام يضاهي قطع العلف عن البهيمة الجموح وعن الكلب الضاري ليضعف فتسقط قوته الثاني يضاهي تغيب اللحم عن الكلب وتغييب الشعير عن البهيمة حتى لا تتحرك بواطنها بسبب مشاهدتها والثالث يضاهي تسليتها بشيء قليل مما يميل إليه طبعها حتى يبقى معها من القوة ما تصبر به على التأديب
Maka inilah tiga sebab (terapi). Terapi pertama, yaitu memutus (mengurangi) makanan, menyerupai tindakan memutus pakan dari hewan yang liar dan dari anjing galak agar ia menjadi lemah sehingga hilang kekuatannya. Terapi kedua menyerupai tindakan menyembunyikan daging dari anjing dan menyembunyikan gandum dari hewan ternak agar batinnya tidak terangsang karena melihatnya. Terapi ketiga menyerupai tindakan menghiburnya dengan sedikit hal yang disukai oleh watak dasarnya, sehingga ia masih memiliki kekuatan untuk bersabar menerima pendidikan (pelatihan).
وأما تَقْوِيَةُ بَاعِثِ الدِّينِ فَإِنَّمَا تَكُونُ بِطَرِيقَيْنِ أَحَدُهُمَا إِطْمَاعُهُ فِي فَوَائِدِ الْمُجَاهَدَةِ وَثَمَرَاتِهَا فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَذَلِكَ بِأَنْ يُكْثِرَ فِكْرَهُ فِي الْأَخْبَارِ الَّتِي أَوْرَدْنَاهَا فِي فَضْلِ الصَّبْرِ وَفِي حُسْنِ عواقبه في الدنيا والآخرة وفي الأثر إن ثواب الصبر على المصيبة اكثر مما فات وانه بسبب ذلك مغبوط بالمصيبة إذ فاته ما لا يبقى معه إلا مدة الحياة وحصل له ما يبقى بعد موته أبد الدهر ومن أسلم خسيساً في نفيس فلا ينبغي أن يحزن لفوات الخسيس في الحال وهذا من باب المعارف وهو من الإيمان فتارة يضعف وتارة يقوى فإن قوي قوى باعث الدين وهيجه تهييجاً شديداً وإن ضعف ضعفه وإنما قوة الإيمان يعبر عنها باليقين وهو المحرك لعزيمة الصبر وأقل ما أوتي الناس اليقين وعزيمة الصبر
Adapun memperkuat pendorong agama (*ba'its ad-din*), maka hal itu dapat dicapai melalui dua cara. Pertama, dengan menumbuhkan harapan pada faedah-faedah *mujahadah* (perjuangan batin) dan buahnya dalam urusan agama maupun dunia. Hal itu dilakukan dengan memperbanyak perenungan atas atsar-atsar yang telah kami sebutkan mengenai keutamaan sabar dan indahnya kesudahan dari sabar di dunia dan akhirat. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pahala bersabar atas musibah itu lebih banyak daripada apa yang sirna darinya, dan bahwa karena hal itu ia patut dicemburui secara positif (*maghbuth*) atas musibah tersebut, sebab yang sirna darinya adalah sesuatu yang tidak akan bersamanya kecuali sebatas masa hidup di dunia, sedangkan yang ia peroleh adalah sesuatu yang tetap ada setelah kematiannya untuk selamanya. Barang siapa yang menyerahkan sesuatu yang hina demi mendapatkan sesuatu yang berharga, maka tidak sepatutnya ia bersedih atas hilangnya sesuatu yang hina itu pada saat ini. Hal ini termasuk bagian dari *ma'arif* (pengetahuan-pengetahuan batin) dan merupakan bagian dari iman. Maka terkadang ia melemah dan terkadang ia menguat; jika ia menguat, maka pendorong agama pun ikut menguat dan terpacu dengan sangat kuat, dan jika ia melemah, maka pendorong agama pun melemah. Kekuatan iman itu mengekspresikan dirinya dalam bentuk *yaqin* (keyakinan yang mantap), dan *yaqin* inilah yang menggerakkan tekad untuk bersabar. Dan hal paling sedikit yang dikaruniakan kepada manusia adalah *yaqin* dan tekad untuk bersabar.
والثاني أن يعود هذا الباعث مصارعة باعث الهوى تدريجاً قليلاً قليلاً حتى يدرك لذة الظفر بها فيستجريء عليها وتقوى منته في مصارعتها فإن الاعتياد والممارسة للأعمال الشاقة تؤكد القوى التي تصدر منها تلك الأعمال ولذلك تزيد قوة الحمالين والفلاحين والمقاتلين وبالجملة فقوة الممارسين للأعمال الشاقة تزيد على قوة الخياطين والعطارين والفقهاء والصالحين وذلك لأن قواهم لم تتأكد بالممارسة
Kedua, melatih pendorong (agama) ini untuk bertarung menundukkan pendorong hawa nafsu secara bertahap sedikit demi sedikit, hingga ia merasakan kenikmatan kemenangan atas hawa nafsu tersebut, sehingga ia menjadi berani menghadapinya dan semakin kuat kemampuannya dalam menundukkannya. Sebab, kebiasaan dan latihan dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat akan memperkokoh kekuatan yang melahirkan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Oleh karena itu, kekuatan para kuli angkut, petani, dan prajurit perang bertambah, dan secara umum kekuatan orang-orang yang terlatih melakukan pekerjaan berat mengungguli kekuatan para penjahit, penjual minyak wangi, para ahli fiqih, dan orang-orang saleh; hal itu karena kekuatan kelompok kedua ini tidak diperkokoh dengan latihan fisik secara langsung.
فالعلاج الأول يضاهي إطماع المصارع بالخلعة عند الغلبة ووعده بأنواع الكرامة كما وعد فرعون سحرته عند إغرائه إياهم بموسى حيث قال ﷺ وإنكم إذاً لمن المقربين
Maka terapi pertama menyerupai pemberian harapan kepada seorang pegulat berupa jubah kehormatan (*khil'ah*) ketika ia menang dan janji dengan berbagai jenis kemuliaan, sebagaimana Fir'aun menjanjikan para penyihirnya ketika ia membujuk mereka untuk menghadapi Musa, di mana Fir'aun berkata: "Dan sesungguhnya kamu jika demikian benar-benar akan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepadaku)."
والثاني يضاهي تعويد الصبي الذي يراد منه المصارعة والمقاتلة بمباشرة أسباب ذلك منذ الصبا حتى يأنس به ويستجرىء عليه وتقوى فيه منته فمن ترك بالكلية المجاهدة بالصبر ضعف فيه باعث الدين ولا يقوى على الشهوة وإن ضعفت وَمَنْ عَوَّدَ نَفْسَهُ مُخَالَفَةَ الْهَوَى غَلَبَهَا مَهْمَا أَرَادَ
Sedangkan terapi kedua menyerupai pembiasaan kepada anak kecil yang disiapkan untuk bergulat dan bertarung dengan langsung melakukan sebab-sebabnya sejak masa kecil, hingga ia menjadi terbiasa dengannya, berani menghadapinya, dan semakin kuat kemampuannya. Maka barang siapa meninggalkan *mujahadah* dengan kesabaran secara total, akan melemah pendorong agamanya dan ia tidak akan sanggup mengalahkan syahwat meskipun syahwat itu melemah. Dan barang siapa yang membiasakan jiwanya untuk menyelisihi hawa nafsu, niscaya ia akan mampu mengalahkannya kapan pun ia menghendaki.
فَهَذَا مِنْهَاجُ الْعِلَاجِ فِي جَمِيعِ أَنْوَاعِ الصبر ولا يمكن استيفاؤه وإنما أشدها كف الباطن عن حديث النفس وإنما يشتد ذلك على من تفرغ له بأن قمع الشهوات الظاهرة وآثر العزلة وجلس للمراقبة والذكر والفكر فإن الوسواس لا يزال يجاذبه من جانب إلى جانب وهذا لا علاج له البتة إلا قطع العلائق كلها ظاهراً وباطناً بالفرار عن الأهل والولد والمال والجاه والرفقاء والأصدقاء ثم الاعتزال إلى زاوية بعد إحراز قدر يسير من القوت وبعد القناعة به ثم كل ذلك لا يكفي ما لم تصر الهموم هماً واحداً وهو الله تعالى ثم إذا غلب ذلك على القلب فلا يكفي ذلك مالم لم يكن له مجال في الفكر وسير بالباطن في ملكوت السموات والأرض وعجائب صنع الله تعالى وسائر أبواب معرفة الله تعالى حتى إذا استولى ذلك على قلبه دفع اشتغاله بذلك مجاذبة الشيطان ووسواسه وإن
Maka inilah metode terapi dalam seluruh jenis kesabaran, dan tidak mungkin untuk memaparkannya secara menyeluruh. Namun yang paling berat adalah menahan batin dari bisikan jiwa (*hadits an-nafs*). Hal itu terasa sangat berat bagi orang yang mengosongkan dirinya untuk itu, yaitu dengan menundukkan syahwat-syahwat lahiriah, mengutamakan *uzlah* (asing dari keramaian), serta duduk untuk *muraqabah* (pengawasan batin), zikir, dan pikir. Sebab, bisikan jahat (*waswas*) senantiasa menariknya dari satu sisi ke sisi lain. Dan hal ini sama sekali tidak ada obatnya melainkan memutus seluruh keterikatan (*'ala'iq*) secara lahir dan batin dengan cara lari dari keluarga, anak, harta, kedudukan, teman-teman, dan sahabat-sahabat; kemudian mengasingkan diri ke suatu sudut tempat ibadah setelah memperoleh sedikit sekadar makanan pokok dan setelah bersikap *qana'ah* dengannya. Kemudian semua itu belum cukup selama cita-cita dan kerinduan (*humum*) belum menyatu menjadi satu kerinduan tunggal, yaitu Allah Ta'ala. Kemudian apabila hal tersebut telah menguasai hati, maka itu pun belum cukup selama ia tidak memiliki ruang untuk perenungan (*fikr*) dan pengembaraan batin (*sair bil-bathin*) di alam *malakut* langit dan bumi, keajaiban ciptaan Allah Ta'ala, serta seluruh pintu *ma'rifatullah* (mengenal Allah Ta'ala), hingga apabila hal itu telah menguasai hatinya, maka kesibukannya dengan hal tersebut akan menolak tarikan syaitan dan bisikan jahatnya. Dan jika…
لم يكن له سير بالباطن فلا ينجيه إلا الأوراد المتواصلة المترتبة في كل لحظة من القراءة والأذكار والصلوات ويحتاج مع ذلك إلى تكليف القلب الحضور فإن الفكر بالباطن هو الذي يستغرق القلب دون الأوراد الظاهرة ثم إذا فعل ذلك كله لم يسلم له من الأوقات إلا بعضها إذ لا يخلو في جميع أوقاته عن حوادث تتجدد فتشغله عن الفكر والذكر من مرض وخوف وإيذاء من إنسان وطغيان من مخالط إذ لا يستغني عن مخالطة من يعينه في بعض أسباب المعيشة فهذا أحد الأنواع الشاغلة
…ia tidak memiliki pengembaraan batin, maka tidak ada yang dapat menyelamatkannya selain *awrad* (wirid-wirid) yang berkesinambungan dan teratur pada setiap saat, yang terdiri dari bacaan Al-Qur'an, zikir-zikir, dan shalat-shalat. Serta di samping itu ia membutuhkan kesungguhan untuk menghadirkan hati; karena perenungan batin (*al-fikr bil-bathin*) dialah yang memenuhi seluruh hati, bukan wirid-wirid lahiriah semata. Kemudian apabila ia telah melakukan semua itu, tidak akan selamat baginya dari waktu-waktu kecuali sebagian saja. Sebab, di sepanjang waktunya ia tidak pernah sepi dari peristiwa-peristiwa baru yang memperalingkannya dari perenungan dan zikir, seperti sakit, rasa takut, gangguan manusia, dan kezaliman orang yang bergaul dengannya; karena ia tidak bisa lepas dari bergaul dengan orang yang membantunya dalam sebagian sebab-sebab penghidupan. Maka ini adalah salah satu jenis pengalih (kesibukan).
وأما النوع الثاني فهو ضروري اشد ضرورة اشد من الأول وهو اشتغاله بالمطعم والملبس وأسباب المعاش فإن تهيئة ذلك أيضاً تحوج إلى شغل إن تولاه بنفسه وإن تولاه غيره فلا يخلو عن شغل قلب بمن يتولاه ولكن بعد قطع العلائق كلها يسلم له أكثر الأوقات إن لم تهجم به ملمة أو واقعة وفي تلك الأوقات يصفو القلب ويتيسر له الفكر وينكشف فيه من أسرار الله تعالى في ملكوت السموات والأرض مالا يقدر على عشر عشيره في زمان طويل لو كان مشغول القلب بالعلائق والانتهاء إلى هذا هو أقصى المقامات التي يمكن أن تنال بالاكتساب والجهد فأما مقادير ما ينكشف مبالغ ما يرد من لطف الله تعالى في الأحوال والأعمال فذلك يجري مجرى الصيد وهو بحسب الرزق فقد يقل الجهد ويجل الصيد وقد يطول الجهد ويقل الحظ والمعول وراء هذا الاجتهاد على جذبة من جذبات الرحمن فإنها توازي أعمال الثقلين وليس ذلك باختيار العبد نعم اختيار العبد في أن يتعرض لتلك الجذبة بأن يقطع عن قلبه جواذب الدنيا فإن المجذوب إلى أسفل سافلين لا ينجذب إلى أعلى عليين وكل مهموم بالدنيا فهو منجذب إليها فقطع العلائق الجاذبة هو المراد بقوله ﷺ إن لربكم في أيام دهركم نفحات ألا فتعرضوا لها وذلك لأن تلك النفحات والجذبات لها أسباب سماوية إذ قال الله تعالى وفي السماء رزقكم وما توعدون وهذا من أعلى أنواع الرزق والأمور السماوية غائبة عنا فلا ندري متي ييسر الله تعالى أسباب الرزق فما علينا إلا تفريغ المحل والانتظار لنزول الرحمة وبلوغ الكتاب أجله كالذي يصلح الأرض وينقيها من الحشيش ويبث البذر فيها وكل ذلك لا ينفعه إلا بمطر ولا يدري متى يقدر الله أسباب المطر إلا أنه يثق بفضل الله تعالى ورحمته أنه لا يخلي سنة عن مطر فكذلك فلما تجلو سنة وشهر ويوم عن جذبة من الجذبات ونفحة من النفحات فينبغي أن يكون العبد قد طهر القلب عن حشيش الشهوات وبذر فيه بذر الإرادة والإخلاص وعرضه لمهاب رياح الرحمة وكما يقوى انتظار الأمطار في أوقات الربيع وعند ظهور الغيم فيقوى انتظار تلك النفحات في الأوقات الشريفة وعند اجتماع الهمم وتساعد القلوب كما في يوم عرفة ويوم الجمعة وأيام رمضان فإن الهمم والأنفاس أسباب بحكم تقدير الله تعالى لاستدرار رحمته حتى تستدر بها الأمطار في أوقات الاستسقاء وهي لا ستدراك أمطار المكاشفات ولطائف المعارف من خزائن الملكوت أشد مناسبة منها لاستدرار قطرات الماء واستجرار الغيوم من أقطار الجبال والبحار بل الأحوال والمكاشفات حاضرة معك في قلبك وإنما أنت مشغول عنها بعلائقك وشهواتك فصار ذلك حجاباً بينك وبينها فلا تحتاج إلا إلى أن تنكسر الشهوة ويرفع الحجاب فتشرق أنوار المعارف من باطن القلب وإظهار ماء الأرض بحفر القنى أسهل وأقرب من الاسترسال إليها من مكان بعيد منخفض عنها ولكونه حاضراً في القلب ومنسياً بالشغل عنه سمى الله تعالى جميع معارف الإيمان تذكراً فقال تَعَالَى إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لحافظون وقال تعالى وليتذكر أولو الألباب وقال تعالى ولقد يسرنا القرآن للذكر فهل من مدكر
Adapun jenis kedua adalah kebutuhan darurat yang lebih keras tingkat daruratnya daripada jenis pertama, yaitu kesibukannya dengan makanan, pakaian, dan sebab-sebab penghidupan. Sebab, mempersiapkan semua itu juga memerlukan kesibukan jika ia mengurusnya sendiri, dan jika diurus oleh orang lain, hatinya pun tidak lepas dari kesibukan terpaut pada orang yang mengurusnya. Akan tetapi, setelah memutus seluruh keterikatan (*'ala'iq*), akan selamat baginya sebagian besar waktu jika tidak terserang oleh kesulitan besar atau musibah. Dan pada waktu-waktu itulah hati menjadi jernih, perenungan (*fikr*) menjadi mudah baginya, serta tersingkaplah baginya rahasia-rahasia Allah Ta'ala di alam *malakut* langit dan bumi, sesuatu yang tidak akan mampu dicapai sepersepuluh dari sepersepuluhnya (*'usyru 'usyirih*) dalam jangka waktu yang lama seandainya hatinya sibuk dengan keterikatan-keterikatan. Mencapai tingkat ini merupakan puncak *maqam* (kedudukan spiritual) yang mungkin dicapai melalui usaha (*iktisab*) dan kesungguhan (*juhd*). Adapun kadar dari apa yang tersingkap dan besarnya kelembutan (*luthf*) Allah Ta'ala yang dicurahkan dalam berbagai *hal* (keadaan spiritual) dan amal, maka hal itu berlaku seperti perburuan yang bergantung pada rezeki; terkadang usahanya sedikit namun hasil buruannya sangat besar, dan terkadang usahanya panjang namun bagian yang didapat sedikit. Penopang utama di balik ijtihad (kesungguhan) ini adalah *jadzbah* (tarikan spiritual) dari tarikan-tarikan Ar-Rahman, karena sesungguhnya satu *jadzbah* itu setara dengan amal seluruh jin dan manusia. Hal itu bukanlah dengan ikhtiar hamba; benar, ikhtiar hamba adalah dengan menyongsong (*ta'arrudh*) *jadzbah* tersebut melalui pemutus hal-hal yang menarik dunianya dari hatinya. Sebab, orang yang ditarik ke *asfala safilin* (tempat paling bawah) tidak akan tertarik ke *'illiyyin* (tempat tertinggi), dan setiap orang yang risau akan dunia berarti ia tertarik kepadanya. Maka memutus keterikatan yang menarik ini adalah apa yang dimaksud oleh sabda Rasulullah ﷺ: "Sesungguhnya bagi Rabb kalian di hari-hari umur kalian terdapat embusan-embusan rahmat (*nafahat*), maka menyongsonglah kalian kepadanya!" Hal itu karena *nafahat* dan *jadzabat* (tarikan-tarikan rahmat) tersebut memiliki sebab-sebab langit, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: "Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu." Dan ini termasuk jenis rezeki yang paling tinggi. Sedangkan urusan-urusan langit itu gaib dari kita, maka kita tidak tahu kapan Allah Ta'ala memudahkan sebab-sebab rezeki tersebut. Tugas kita tidak lain hanyalah mengosongkan tempat (hati) dan menunggu turunnya rahmat serta sampainya ketentuan (*kitab*) pada ajalnya, seperti orang yang memperbaiki tanah, membersihkannya dari rumput liar, dan menyebar benih di dalamnya. Namun semua itu tidak akan bermanfaat baginya kecuali dengan air hujan, padahal ia tidak tahu kapan Allah mentakdirkan sebab-sebab turunnya hujan; hanya saja ia percaya pada karunia dan rahmat Allah Ta'ala bahwa Dia tidak akan membiarkan satu tahun pun tanpa hujan. Demikian pula, jarang sekali ada satu tahun, satu bulan, atau satu hari yang sepi dari *jadzbah* dan *nafhah* dari rahmat Allah. Maka sepantasnya seorang hamba telah menyucikan hatinya dari rumput liar syahwat, menyemaikan benih kehendak (*iradah*) dan keikhlasan di dalamnya, serta menghadapkannya ke arah berembusnya angin rahmat. Sebagaimana menguatnya penantian hujan pada musim semi dan saat munculnya awan, maka menguat pula penantian *nafahat* tersebut pada waktu-waktu yang mulia dan saat berhimpunnya cita-cita batin serta saling membantunya hati-hati manusia, seperti pada hari Arafah, hari Jumat, dan hari-hari Ramadan. Sebab, cita-cita batin (*himam*) dan napas-napas manusia merupakan sebab berdasarkan takdir Allah Ta'ala untuk mencurahkan rahmat-Nya, hingga dengannya hujan tercurah pada waktu-waktu shalat Istisqa'. Dan cita-cita batin itu untuk mendatangkan hujan *mukasyafah* (singkapan batin) dan kelembutan *ma'rifat* dari perbendaharaan *malakut* adalah jauh lebih sesuai daripada untuk mencurahkan tetesan air dan menarik awan dari ujung gunung dan lautan. Bahkan *ahwal* (keadaan-keadaan batin) dan *mukasyafah* itu sesungguhnya hadir bersamamu di dalam hatimu, hanya saja engkau sibuk darinya dengan keterikatan-keterikatan dan syahwatmu, sehingga hal itu menjadi penghalang (*hijab*) antara engkau dengannya. Maka engkau tidak membutuhkan sesuatu pun kecuali agar syahwat itu hancur dan penghalang itu terangkat, sehingga memancarlah cahaya-cahaya *ma'rifat* dari dalam batin hati. Menampilkan air bumi dengan menggali saluran adalah lebih mudah dan lebih dekat daripada mengalirkannya dari tempat yang jauh lagi rendah darinya. Karena keberadaannya yang hadir di dalam hati namun terlupakan akibat kesibukan darinya, Allah Ta'ala menamai seluruh *ma'arif* (pengetahuan) iman sebagai *tadzakkur* (peringatan/mengingat kembali), sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Dzikr (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." Dan Allah Ta'ala berfirman: "…agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran (mengingat)." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"
فهذا هو علاج الصبر عن الوساوس والشواغل وهو آخر درجات الصبر وإنما الصبر عن العلائق كلها مقدم على الصبر عن الخواطر
Maka inilah terapi kesabaran dari bisikan-bisikan jahat (*wasawis*) dan pengalih-pengalih perhatian (*syawaghil*), dan ia merupakan tingkatan kesabaran yang terakhir. Sesungguhnya bersabar dari seluruh keterikatan (*'ala'iq*) didahulukan daripada bersabar dari lintasan-lintasan pikiran (*khawathir*).
قال الجنيد ﵀ السير من الدنيا إلى الآخرة سهل على المؤمن وهجران الخلق في حب الحق شديد والسير من النفس إلى الله تعالى صعب شديد والصبر مع الله أشد فذكر شدة الصبر عن شواغل القلب ثم شدة هجران الخلق
Al-Junaid رحمة الله عليه berkata: "Perjalanan dari dunia menuju akhirat itu mudah bagi seorang mukmin, meninggalkan makhluk demi mencintai Al-Haqq (Allah) itu berat, perjalanan dari nafsu menuju Allah Ta'ala itu sangat sulit lagi berat, dan bersabar bersama Allah (*ash-shabru ma'allah*) adalah yang paling berat." Maka beliau menyebutkan beratnya bersabar dari pengalih-pengalih hati, kemudian beratnya meninggalkan makhluk.
وأشد العلائق على النفس علاقة الخلق وحب الجاه فإن لذة الرياسة والغلبة والاستعلاء والاستتباع أغلب اللذات في الدنيا على نفوس العقلاء وكيف لا تكون أغلب اللذات ومطلوبها صفة من صفات الله تعالى وهي الربوبية والربوبية محبوبة ومطلوبة بالطبع للقلب لما فيه من المناسبة لأمور الربوبية وعنه العبارة بقوله تعالى قل الروح من أمر ربي وليس القلب مذموماً على حبه ذلك وإنما هو مذموم على غلط وقع له بسبب تغرير الشيطان اللعين المبعد عن عالم الأمر إذ حسده على كونه من عالم الأمر فأضله وأغواه وكيف يكون مذموماً عليه وهو يطلب سعادة الآخرة فليس يطلب إلا بقاء لا فناء فيه وعزاً لا ذل فيه وأمناً لا خوف فيه وغنى لا فقر فيه وكمالاً لا نقصان فيه وهذه كلها من أوصاف الربوبية وليس مذموماً على طلب ذلك بل حق كل عبد أن يطلب ملكاً عظيماً لا آخر له وطالب الملك طالب للعلو والعز والكمال لا محالة ولكن الملك ملكان ملك مشوب بأنواع الآلام وملحوق بسرعة الانصرام ولكنه عاجل وهو في الدنيا وملك مخلد دائم لا يشوبه كدر ولا ألم ولا يقطعه قاطع ولكنه آجل وقد خلق الإنسان عجولاً راغباً في العاجلة فجاء الشيطان وتوسل إليه بواسطة العجلة التي في طبعه فاستغواه بالعاجلة وزين له الحاضرة وتوسل إليه بواسطة الحمق فوعده بالغرور في الآخرة ومناه مع ملك الدنيا ملك الآخرة كما قال ﷺ وَالْأَحْمَقُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى الله الأماني فانخدع المخذول بغروره واشتغل بطلب عز الدنيا وملكها على قدر إمكانه ولم يتدل الموفق بحبل غروره إذ علم مداخل مكره فأعرض عن العاجلة فعبر عن المخذولين بقوله تعالى كلا بل تحبون العاجلة وتذرون الآخرة وقال تعالى إن هؤلاء يحبون العاجله ويذرون وراءهم يوماً ثقيلاً وقال تعالى فأعرض عمن تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدنيا ذلك مبلغهم من العلم
Dan keterikatan yang paling berat bagi jiwa adalah keterikatan dengan makhluk dan cinta kedudukan (*hubb al-jah*). Sebab, kenikmatan kepemimpinan (*riyasah*), kemenangan, keunggulan, dan memiliki pengikut merupakan kenikmatan paling dominan di dunia bagi jiwa orang-orang yang berakal. Bagaimana mungkin tidak menjadi kenikmatan yang paling dominan, sedangkan yang dicari darinya adalah salah satu sifat dari sifat-sifat Allah Ta'ala, yaitu *rububiyyah* (ketuhanan/kekuasaan). Dan *rububiyyah* itu dicintai dan dicari secara watak alami oleh hati karena terdapat kesesuaian pada hati dengan urusan-urusan *rububiyyah*, sebagaimana diungkapkan oleh firman-Nya Ta'ala: "Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Rabb-ku." Hati tidak dicela karena menyukai hal itu, melainkan ia dicela atas kekeliruan yang terjadi padanya akibat penipuan syaitan yang terkutuk, yang dijauhkan dari alam perintah (*'alam al-amr*), ketika syaitan dengki kepadanya karena hati itu berasal dari alam perintah, lalu syaitan menyesatkan dan menggodanya. Dan bagaimana mungkin hati dicela atas hal itu padahal ia mencari kebahagiaan akhirat? Maka sesungguhnya ia tidak mencari melainkan keabadian yang tiada kepunahan di dalamnya, kemuliaan yang tiada kehinaan di dalamnya, keamanan yang tiada ketakutan di dalamnya, kekayaan yang tiada kefakiran di dalamnya, serta kesempurnaan yang tiada kekurangan di dalamnya, dan ini semua merupakan sifat-sifat *rububiyyah*. Hati tidaklah dicela karena mencari hal itu, bahkan hak setiap hamba adalah menuntut kerajaan yang agung yang tiada kesudahannya. Dan pencari kerajaan tentulah pencari keluhuran, kemuliaan, dan kesempurnaan. Akan tetapi, kerajaan itu ada dua jenis: kerajaan yang ternoda oleh berbagai jenis penderitaan dan disusul oleh berlalunya waktu yang cepat namun ia bersifat segera (*'ajil*), yaitu di dunia; serta kerajaan yang kekal abadi, yang tidak ternoda oleh keruhan dan penderitaan serta tidak terputus oleh pemutus apa pun, namun ia bersifat tertunda (*ajil*), yaitu di akhirat. Manusia telah diciptakan bersifat tergesa-gesa (*'ajul*) dan menyukai yang segera (*'ajilah*). Maka datanglah syaitan dan mendekatinya melalui perantara sifat tergesa-gesa yang ada pada wataknya, lalu membujuknya dengan kenikmatan yang segera dan menghiasi kehidupan dunia baginya; syaitan juga mendekatinya melalui perantara kebodohan (*humq*), lalu menjanjikannya dengan tipu daya di akhirat serta mengangankan baginya kerajaan akhirat di samping kerajaan dunia, sebagaimana bersabda Rasulullah ﷺ: "Dan orang yang bodoh adalah orang yang memperturutkan jiwanya pada hawa nafsunya dan angan-angan kosong kepada Allah." Maka tertipulah orang yang terhalang dari pertolongan (*al-makhdzul*) oleh tipu dayanya, lalu sibuk menuntut kemuliaan dan kerajaan dunia sebatas kemampuannya. Sedangkan orang yang mendapat taufik (*al-muwaffaq*) tidak akan terperosok oleh tali tipu dayanya karena ia mengetahui pintu-pintu makar syaitan, sehingga ia berpaling dari yang segera (dunia). Allah mengungkapkan keadaan orang-orang yang terhalang dari pertolongan dengan firman-Nya Ta'ala: "Sekali-kali tidak! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia (yang segera), dan meninggalkan (kehidupan) akhirat." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan meninggalkan hari yang berat (akhirat) di belakang mereka." Serta Allah Ta'ala berfirman: "Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan dunia. Itulah sejauh-jauh pencapaian ilmu mereka."
ولما استطار مكر الشيطان في كافة الخلق أرسل الله الملائكة إلى الرسل وأوحوا إليهم ما تم على الخلق من إهلاك العدو وإغوائه فاشتغلوا بدعوة الخلق إلى الملك الحقيقي عن الملك المجازى الذي لا أصل له إن سلم ولا دوام له أصلاً فنادوا فيهم يا أيها الذين آمنوا ما لكم إذا قيل لكم انفروا في سبيل الله اثاقلتم إلى الأرض أرضيتم بالحياة الدنيا من الآخرة فما متاع الحياة الدنيا في الآخرة إلا قليل
Ketika tipu daya syaitan telah merajalela pada seluruh makhluk, Allah mengutus para malaikat kepada para rasul dan mengwahyukan kepada mereka apa yang menimpa makhluk berupa kebinasaan dan penyesatan dari sang musuh. Maka para rasul sibuk menyeru manusia menuju kerajaan yang hakiki daripada kerajaan kiasan (*al-mulk al-majazi*) yang tidak memiliki dasar sekiranya pun selamat, dan tidak memiliki kelanggengan sama sekali. Maka mereka menyeru di tengah-tengah manusia: "Wahai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepadamu: 'Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah', kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit."
فالتوراة والإنجيل والزبور والفرقان وصحف موسى وإبراهيم وكل كتاب منزل ما أنزل إلالدعوة الخلق إلى الملك الدائم المخلد والمراد منهم أن يكونوا ملوكاً في الدنيا ملوكاً في الآخرة أما ملك الدنيا فالزهد فيها والقناعة باليسير منها وأما ملك الآخرة فبالقرب من الله تعالى يدرك بقاء لا فناء فيه وعزاً لا ذل فيه وقرة عين أخفيت في هذا العالم لا تعلمها نفس من النفوس
Maka Taurat, Injil, Zabur, Al-Furqan (Al-Qur'an), serta suhuf Musa dan Ibrahim, dan setiap kitab yang diturunkan, tidaklah diturunkan melainkan untuk menyeru para hamba menuju kerajaan yang abadi lagi kekal. Dan yang dikehendaki dari mereka adalah agar mereka menjadi raja-raja di dunia dan raja-raja di akhirat. Adapun kerajaan dunia adalah dengan berprasikap zuhud di dalamnya dan merasa cukup dengan yang sedikit darinya; sedangkan kerajaan akhirat adalah dengan berdekat diri (*qurb*) kepada Allah Ta'ala sehingga memperoleh keabadian yang tiada kepunahan di dalamnya, kemuliaan yang tiada kehinaan di dalamnya, serta kesejukan mata (*qurrata 'ain*) yang disembunyikan di alam ini yang tidak diketahui oleh satu jiwa pun.
والشيطان يدعوهم إلى ملك الدنيا لعلمه بأن ملك الآخرة يفوت به إذ الدنيا والآخرة ضرتان ولعلمه بأن الدنيا لا تسلم له أيضاً ولو كانت تسلم له لكان يحسده أيضاً ولكن ملك الدنيا لا يخلو عن المنازعات والمكدرات وطول
Sedangkan syaitan menyeru mereka menuju kerajaan dunia karena ia mengetahui bahwa kerajaan akhirat akan luput darinya dengan sebab itu, mengingat dunia dan akhirat adalah dua madu (yang saling bertolak belakang). Dan juga karena ia mengetahui bahwa dunia pun tidak akan selamat bagi manusia; sekiranya dunia itu selamat baginya, niscaya syaitan akan mendengki kepadanya pula. Akan tetapi, kerajaan dunia itu tidak pernah sepi dari perselisihan, hal-hal yang memperkeruh, serta panjangnya…
الهموم في التدبيرات وكذا سائر أسباب الجاه ثم مهما تسلم وتتم الأسباب ينقضي العمر حتى إذا أخذت الأرض زخرفها وازينت وظن أهلها أنهم قادرون عليها أتاها أمرنا ليلاً أو نهاراً فجعلناها حصيداً كأن لم تغن بالأمس فضرب الله تعالى لها مثلاً فقال تعالى واضرب لهم مثل الحياة الدنيا كماء أنزلناه من السماء فاختلط به نبات الأرض فأصبح هشيماً تذروه الرياح والزهد في الدنيا لما أن كان ملكاً حاضراً حسده الشيطان عليه فصده عنه
…kerisauan dalam mengurusnya, demikian pula seluruh sebab-sebab kedudukan. Kemudian sekiranya sebab-sebab itu selamat dan sempurna baginya, umur pun akan habis. Hingga apabila bumi telah memakai perhiasannya dan gemerlap, dan penghuninya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, datanglah ketetapan Kami kepadanya di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) seperti tanaman yang sudah dituai, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Maka Allah Ta'ala membuat perumpamaan baginya seraya berfirman: "Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin." Dan sikap zuhud di dunia, dikarenakan ia merupakan kerajaan yang hadir saat ini, maka syaitan mendengki manusia atasnya lalu menghalanginya darinya.
ومعنى الزهد أن يملك العبد شهوته وغضبه فينقادان لباعث الدين وإشارة الإيمان وهذا ملك بالاستحقاق إذ به يصير صاحبه حراً وباستيلاء الشهوة عليه يصير عبداً لفرجه وبطنه وسائر أغراضه فيكون مسخراً مثل البهيمة مملوكاً يستجره زمام الشهوة آخذاً بمختنقه إلى حيث يريد ويهوى فما أعظم اغترار الإنسان إذ ظن أنه ينال الملك بأنه يصير مملوكاً وينال الربوبية بأن يصير عبداً ومثل هذا هل يكون إلا معكوساً في الدنيا منكوساً في الآخرة ولهذا قال بعض الملوك لبعض الزهاد هل من حاجة قال كيف أطلب منك حاجة وملكي أعظم من ملكك فقال كيف قال من أنت عبده فهو عبد لي فقال كيف ذلك قال أنت عبد شهوتك وغضبك وفرجك وبطنك وقد ملكت هؤلاء كلهم فهم عبيد لي فهذا إذن هو الملك في الدنيا وهو الذي يسوق إلى الملك في الآخرة فالمخدوعون بغرور الشيطان خسروا الدنيا والآخرة جميعاً والذين وفقوا للاشتداد على الصراط المستقيم فازوا بالدنيا والآخرة جميعاً
Makna zuhud adalah hamba menguasai syahwat dan amarahnya, sehingga keduanya tunduk kepada pendorong agama (ba'its ad-din) dan isyarat iman. Ini adalah kekuasaan yang sejati (mulk bil-istihqaq), karena dengannya seseorang menjadi merdeka. Sebaliknya, ketika syahwat menguasainya, ia menjadi hamba bagi kemaluannya, perutnya, dan segenap nafsu pribadinya. Ia menjadi tertundukkan seperti binatang ternak, dikuasai dan ditarik oleh tali kendali syahwat yang mencekik lehernya menuju ke mana pun nafsu itu menghendaki dan menyukai. Alangkah besarnya tipu daya manusia ketika menyangka dapat meraih kekuasaan dengan menjadi hamba yang dikuasai, dan meraih pertuanan (rububiyyah) dengan menjadi budak! Apakah hal seperti ini tidak terbalik di dunia dan tersungkur di akhirat? Oleh karena itu, sebagian raja berkata kepada seorang zahid, "Apakah engkau memiliki suatu kebutuhan kepadaku?" Sang zahid menjawab, "Bagaimana mungkin aku meminta kebutuhan kepadamu, sedangkan kerajaanku lebih besar dari kerajaanmu?" Raja bertanya, "Bagaimana bisa begitu?" Ia menjawab, "Siapa yang engkau menjadi hambanya, dialah yang menjadi hambaku." Raja bertanya, "Bagaimana hal itu terjadi?" Ia menjawab, "Engkau adalah budak dari syahwat, amarah, kemaluan, dan perutmu, sedangkan aku telah menguasai mereka semua, maka mereka adalah budak-budakku." Inilah kekuasaan yang sejati di dunia, dan kekuasaan inilah yang mengantarkan kepada kerajaan di akhirat. Maka orang-orang yang tertipu oleh buaian setan telah rugi di dunia dan akhirat sekaligus, sedangkan orang-orang yang diberi taufik untuk teguh berdiri di atas jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim) telah beruntung di dunia dan akhirat sekaligus.
فإذا عرفت الآن معنى الملك والربوبية ومعنى التسخير والعبودية ومدخل الغلط في ذلك وكيفية تعمية الشيطان وتلبيسه يسهل عليك النزوع عن الملك والجاه والإعراض عنه والصبر عند فواته إذ تصير بتركه ملكاً في الحال وترجو به ملكاً في الآخرة
Jika engkau telah memahami makna kekuasaan (al-mulk) dan pertuanan (ar-rububiyyah), serta makna penundukan (at-taskhir) dan penghambaan (al-'ubudiyyah), tempat masuknya kekeliruan dalam hal tersebut, serta cara setan membutakan dan memanipulasi (talbis), maka akan menjadi mudah bagimu untuk melepaskan diri dari kekuasaan dan kedudukan (al-jah), berpaling darinya, dan bersabar ketika hal itu hilang. Sebab, dengan meninggalkannya, engkau seketika menjadi seorang raja pada saat itu juga, dan dengannya engkau mengharapkan kerajaan abadi di akhirat.
ومن كوشف بهذه الأمور بعد أن ألف الجاه وأنس به ورسخت فيه بالعادة مباشرة أسبابه فلا يكفيه في العلاج مجرد العلم والكشف بل لا بد وأن يضيف إليه العمل وعمله في ثلاثة أمور أحدها أن يهرب عن موضع الجاه كي لا يشاهد أسبابه فيعسر عليه الصبر مع الأسباب كما يهرب من غلبته الشهوة من مشاهدة الصور المحركة ومن لم يفعل هذا فقد كفر نعمة الله في سعة الأرض إذ قال تعالى ألم تكن أرض الله واسعة فتهاجروا فيها الثاني أن يكلف نفسه في أعماله أفعالاً تخالف ما اعتاده فيبدل التكلف بالتبذل وزي الحشمة بزي التواضع وكذلك كل هيئة وحال وفعل في مسكن وملبس ومطعم وقيام وقعود كان يعتاده وفاء بمقتضى جاهه فينبغي أن يبدلها بنقائضها حتى يرسخ باعتياد ذلك ضد ما رسخ فيه من قبل باعتياد ضده فلا معنى للمعالجة إلا المضادة الثالث أن يراعى في ذلك التلطف والتدريج فلا ينتقل دفعة واحدة إلى الطرف الأقصى من التبذل فإن الطبع نفور ولا يمكن نقله عن أخلاقه إلا بالتدريج فيترك البعض ويسلي نفسه بالبعض ثم إذا قنعت نفسه بذلك البعض ابتدأ بترك البعض من ذلك البعض إلى أن يقنع بالبقية وهكذا يفعل شيئاً فشيئاً إِلَى أَنْ يَقْمَعَ تِلْكَ الصِّفَاتِ الَّتِي رَسَخَتْ فيه وإلى هذا التدريج الإشارة بقوله ﷺ إن هذا الدين متين فأوغل فيه برفق ولا تبغض إلى نفسك عبادة الله فإن المنبت لا أرضاً قطع ولا ظهراً أبقى وإليه الإشارة بقوله ﵇ لا تشادوا هذا الدين فإن من يشاده يغلبه //
Barang siapa yang telah dibukakan baginya kasyaf mengenai hal-hal ini, namun sebelumnya ia telah terbiasa dengan kedudukan, merasa nyaman dengannya, dan kebiasaan berinteraksi dengan sebab-sebabnya telah mengakar dalam dirinya, maka ilmu dan mukasyafah semata tidaklah cukup sebagai terapi ('ilaj). Ia harus menambahkan amal padanya. Amalnya mencakup tiga hal: Pertama, melarikan diri dari tempat kedudukan agar ia tidak menyaksikan sebab-sebabnya, sehingga ia tidak kesulitan bersabar di hadapan sebab-sebab tersebut; sebagaimana orang yang dikuasai syahwat melarikan diri dari memandang bentuk-bentuk yang membangkitkan gairah. Barang siapa tidak melakukan ini, sungguh ia telah mengkufuri nikmat Allah berupa luasnya bumi, sebagaimana firman-Nya: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" (QS. An-Nisa': 97). Kedua, memaksakan diri dalam perbuatannya untuk melakukan hal-hal yang menyelisihi kebiasaannya. Ia mengganti keanggunan yang dipaksakan dengan kesederhanaan, dan pakaian kemewahan dengan pakaian ketundukan (tawadhu'). Begitu pula setiap sikap, keadaan, dan perbuatan dalam hal tempat tinggal, pakaian, makanan, cara berdiri, dan duduk yang biasa ia lakukan untuk memenuhi tuntutan kedudukannya; hendaknya ia menggantinya dengan kebalikannya sampai terbentuk kebiasaan baru yang berlawanan dengan apa yang terpatri sebelumnya melalui kebiasaan lamanya. Sebab, tidak ada makna terapi selain memberikan perlawanan (al-mudladdah). Ketiga, memperhatikan sikap kelembutan dan bertahap (tadarruj) dalam hal itu. Ia tidak boleh berpindah secara drastis sekaligus ke batas paling ekstrem dari kesederhanaan, karena watak dasar (thaba') itu mudah merasa liar. Tidak mungkin mengubah akhlak watak dasar melainkan secara bertahap. Ia meninggalkan sebagian dan menghibur dirinya dengan sebagian yang lain. Kemudian, jika jiwanya telah merasa cukup dengan sebagian itu, ia mulai meninggalkan sebagian dari yang tersisa itu, hingga ia puas dengan sisa yang tersisa. Demikianlah ia lakukan sedikit demi sedikit sampai ia mampu meredam sifat-sifat yang telah tertanam kuat dalam dirinya. Kepada tahapan (tadarruj) inilah isyarat sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya agama ini kukuh, maka masukilah ia dengan lembut, dan janganlah engkau membuat jiwamu benci terhadap ibadah kepada Allah. Sebab, orang yang memaksakan kendaraan melampaui batas (al-munbatt) tidak akan menempuh perjalanan bumi dan tidak pula menyisakan tunggangan." Dan juga isyarat dalam sabda beliau ﷺ: "Janganlah kalian memaksakan diri secara berlebihan dalam agama ini, karena barang siapa yang memaksakan diri dalam agama ini, ia pasti akan dikalahkan olehnya."
فإذن ما ذكرناه من علاج الصبر عن الوسواس وعن الشهوة وعن الجاه أضفه إلى ما ذكرناه من قوانين طرق المجاهدة في كتاب رياضة النفس من ربع المهلكات فاتخذه دستورك لتعرف به علاج الصبر في جميع الأقسام التي فصلناها من قبل فإن تفصيل الآحاد يطول ومن راعى التدريج ترقى به الصبر إلى حال يشق عليه الصبر دون كما كان يشق عليه معه فتنعكس أموره فيصير ما كان محبوباً عنده ممقوتاً وما كان مكروهاً عنده مشرباً هنيئاً لا يصبر عنه وهذا لا يعرف إلا بالتجربة والذوق وله نظير في العادات فإن الصبي يحمل على التعلم في الابتداء قهراً فيشق عليه الصبر عن اللعب والصبر مع العلم حتى إذا انفتحت بصيرته وأنس بالعلم انقلب الأمر فصار يشق عليه الصبر عن العلم والصبر على اللعب وإلى هذا يشير ما حكي عن بعض العارفين أنه سأل الشبلي عن الصبر أيه أشد فقال الصبر في الله تعالى فقال لا فقال الصبر لله فقال لا فقال الصبر مع الله فقال لا فقال فأيش قال الصبر عن الله فصرخ الشبلي صرخة كادت روحه تتلف وقد قيل في معنى قوله تعالى اصبروا وصابروا ورابطوا اصبروا في الله وصابروا بالله ورابطوا مع الله وقيل الصبر لله غناء والصبر بالله بقاء والصبر مع الله وفاء والصبر عن الله جفاء وقد قيل في معناه
Maka dari itu, apa yang telah kami sebutkan mengenai terapi kesabaran dari bisikan kejahatan (waswas), syahwat, dan kedudukan (jah), gabungkanlah dengan kaidah-kaidah jalan mujahadah yang telah kami paparkan dalam kitab Riyadhatun Nafs (Melatih Jiwa) dari seperempat bagian Al-Muhlikat (Hal-hal yang Membinasakan). Jadikanlah itu pedomanmu untuk mengetahui terapi kesabaran pada seluruh bagian yang telah kami perinci sebelumnya, karena merincikan tiap-tiap satuan akan memakan waktu panjang. Barang siapa yang memperhatikan tahapan (tadarruj), kesabaran akan membawanya naik ke suatu keadaan di mana terasa berat baginya untuk bersabar tanpa meninggalkan hal tersebut, sebagaimana dahulu terasa berat baginya untuk bersabar bersamanya. Keadaannya pun terbalik: apa yang tadinya dicintainya menjadi dibencinya, dan apa yang tadinya dibencinya menjadi regukan manis yang ia tidak mampu bersabar darinya. Hal ini tidak dapat diketahui melainkan melalui pengalaman spiritual (tajribah) dan rasa batin (dzawq). Ini memiliki kemiripan dalam kebiasaan sehari-hari: seorang anak kecil pada mulanya dipaksa untuk belajar, sehingga terasa berat baginya untuk bersabar meninggalkan permainan dan bersabar menjalani ilmu. Namun, ketika bashirah (mata hatinya) telah terbuka dan ia merasa nyaman dengan ilmu, keadaannya terbalik; menjadi berat baginya bersabar meninggalkan ilmu dan bersabar menghadapi permainan. Kepada hal inilah isyarat dari apa yang diriwayatkan dari sebagian 'arif bahwa ia bertanya kepada Asy-Syibli tentang sabar, mana yang paling berat? Asy-Syibli menjawab, "Sabar di jalan Allah (ash-shabru fillah)." Ia berkata, "Bukan." Asy-Syibli berkata, "Sabar karena Allah (ash-shabru lillah)." Ia berkata, "Bukan." Asy-Syibli berkata, "Sabar bersama Allah (ash-shabru ma'allah)." Ia berkata, "Bukan." Asy-Syibli bertanya, "Lantas apa?" Ia menjawab, "Sabar berpaling/terpisah dari Allah (ash-shabru 'anillah)." Maka Asy-Syibli berteriak dengan satu teriakan yang hampir saja merenggut nyawanya. Dan telah dikatakan mengenai makna firman Allah Ta'ala: "Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga" (QS. Ali 'Imran: 200), yaitu: bersabarlah di dalam Allah, kuatkanlah kesabaran demi Allah, dan bersiap-siagalah bersama Allah. Dikatakan pula: sabar karena Allah adalah kecukupan (ghina'), sabar dengan pertolongan Allah adalah kelestarian (baqa'), sabar bersama Allah adalah kesetiaan (wafa'), dan sabar jauh dari Allah adalah keterasingan/pembangkangan (jafa'). Dan telah dikatakan mengenai maknanya:
والصبر عنك فمذموم عواقبه … والصبر في سائر الأشياء محمود
Dan bersabar jauh darimu, tercela akibatnya… sedangkan bersabar dalam segala hal lainnya adalah terpuji.
وقيل ايضا الصبر يحمل في المواطن كلها … إلا عليك فإنه لا يجمل
Dikatakan pula: "Kesabaran dapat tertanggung dalam segala situasi… kecuali bersabar atas perpisahan darimu, sebab hal itu sungguh tidaklah indah."
هذا آخر ما أردنا شرحه عن علوم الصبر وأسراره
Inilah akhir dari apa yang hendak kami jelaskan mengenai ilmu-ilmu kesabaran dan rahasia-rahasianya.