الشطر الأول في الصبر

بيان مظان الحاجة إلى الصبر وأن العبد لا يستغني عنه في حال من الأحوال

بيان مظان الحاجة إلى الصبر وأن العبد لا يستغني عنه في حال من الأحوال

Beranda كتاب إحياء علوم الدين ربع المنجيات كتاب الصبر والشكر الشطر الأول في الصبر بيان مظان الحاجة إلى الصبر وأن العبد لا يستغني عنه في حال من الأحوال

بَيَانُ مَظَانِّ الْحَاجَةِ إِلَى الصَّبْرِ وَأَنَّ الْعَبْدَ لَا يَسْتَغْنِي عَنْهُ فِي حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ

Penjelasan Tempat-Tempat Kebutuhan akan Sabar dan Bahwa Seorang Hamba Tidak Dapat Lepas Darinya dalam Kondisi Bagaimanapun

اعْلَمْ أَنَّ جَمِيعَ مَا يَلْقَى الْعَبْدُ فِي هذه الحياة لا يخلو من نوعين أحدهما هو الذي يوافق هواه والآخر هو الذي لَا يُوَافِقُهُ بَلْ يَكْرَهُهُ وَهُوَ مُحْتَاجٌ إِلَى الصَّبْرِ فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَهُوَ فِي جميع الأحوال لا يخلو عن أحد هذين النوعين أو عن كليهما فهو إذن لَا يَسْتَغْنِي قَطُّ عَنِ الصَّبْرِ

Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang dijumpai oleh seorang hamba dalam kehidupan ini tidak lepas dari dua jenis: salah satunya adalah apa yang sesuai dengan hawa nafsunya, dan yang lain adalah apa yang tidak sesuai dengannya melainkan ia benci. Dan hamba itu membutuhkan kesabaran pada setiap satu dari kedua jenis tersebut. Ia dalam segala kondisi tidak lepas dari salah satu dari kedua jenis ini atau dari kedua-duanya sekaligus. Dengan demikian, ia sama sekali tidak pernah bisa lepas dari kesabaran.

النَّوْعُ الْأَوَّلُ مَا يُوَافِقُ الْهَوَى وَهُوَ الصِّحَّةُ وَالسَّلَامَةُ وَالْمَالُ وَالْجَاهُ وَكَثْرَةُ الْعَشِيرَةِ وَاتِّسَاعُ الْأَسْبَابِ وَكَثْرَةُ الْأَتْبَاعِ وَالْأَنْصَارِ وَجَمِيعُ مَلَاذِّ الدُّنْيَا وَمَا أَحْوَجَ الْعَبْدَ إِلَى الصَّبْرِ عَلَى هَذِهِ الْأُمُورِ فَإِنَّهُ إِنْ لَمْ يَضْبِطْ نَفْسَهُ عَنِ الِاسْتِرْسَالِ وَالرُّكُونِ إِلَيْهَا والانهماك في ملاذها المباحة منها أخرجه ذلك إلى البطر والطغيان فإن الإنسان ليطغى أن رآه استغنى حتى قال بعض العارفين البلاء يصبر عليه المؤمن والعوافي لا يصبر عليها إلا صديق وقال سهل الصبر على العافية أشد من الصبر على البلاء ولما فتحت أبواب الدنيا على الصحابة ﵃ قالوا ابتلينا بفتنة الضراء فصبرنا وابتلينا بفتنة السراء فلم نصبر وَلِذَلِكَ حَذَّرَ اللَّهُ عِبَادَهُ مِنْ فِتْنَةِ الْمَالِ وَالزَّوْجِ وَالْوَلَدِ فَقَالَ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذكر الله﴾ وَقَالَ ﷿ ﴿إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عدواً لكم فاحذروهم﴾ وقال ﷺ الولد مبخلة مجبنة محزنة ولما نظر ﵇ إلى ولده الحسن ﵁ يتعثر في قميصه نزل عن المنبر واحتضنه ثم قال ﴿صدق الله﴾ إنما أموالكم وأولادكم فتنة إني لما رأيت ابني يتعثر لم أملك نفسي أن أخذته ففي ذلك عبرة لأولي الأبصار

Jenis pertama adalah apa yang sesuai dengan hawa nafsu, yaitu kesehatan, keselamatan, harta benda, kedudukan, banyaknya kerabat, kelapangan sarana, banyaknya pengikut dan penolong, serta seluruh kenikmatan duniawi. Alangkah butuhnya seorang hamba untuk bersabar atas perkara-perkara ini! Sebab jika ia tidak menahan jiwanya dari hanyut melampiaskan dan bergantung padanya serta tenggelam dalam kelezatan-kelezatannya yang mubah, hal itu akan menyeretnya kepada kesombongan (bathar) dan melampaui batas (thugyan). Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas ketika ia melihat dirinya serba cukup. Hingga sebagian 'arifin berkata: "Ujian kemalangan (bala') dapat disabari oleh seorang mukmin, namun kesejahteraan ('afiyah) tidak ada yang mampu bersabar atasnya melainkan seorang shiddiq." Sahl juga berkata: "Sabar atas kesejahteraan lebih berat daripada sabar atas penderitaan." Dan ketika pintu-pintu dunia dibukakan bagi para Sahabat ﵃, mereka berkata: "Kami diuji dengan fitnah penderitaan (adh-dharra') maka kami mampu bersabar, dan kami diuji dengan fitnah kesenangan (as-sarra') namun kami tidak mampu bersabar." Oleh karena itu Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya dari fitnah harta, istri, dan anak, melalui firman-Nya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah." (QS. Al-Munafiqun: 9). Dan Allah ﷿ berfirman: "Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka." (QS. At-Taghabun: 14). Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Anak itu membuat kikir, membuat pengecut, dan membuat sedih." Ketika Nabi ﵇ melihat cucu beliau, Al-Hasan ﵁, tersandung pada bajunya, beliau turun dari mimbar lalu memeluknya, kemudian bersabda: "Maha benar Allah (dengan firman-Nya): 'Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian).' Ketika aku melihat anakku tersandung, aku tidak dapat menahan diriku untuk mengambilnya." Maka pada peristiwa itu terdapat iktibar (pelajaran) bagi orang-orang yang memiliki pandangan batin.

فَالرَّجُلُ كُلُّ الرَّجُلِ مَنْ يَصْبِرُ عَلَى الْعَافِيَةِ وَمَعْنَى الصَّبْرِ عَلَيْهَا أَنْ لَا يَرْكَنَ إِلَيْهَا ويعلم أن كل ذلك مستودع عنده وعسى أن يسترجع على القرب وَأَنْ لَا يُرْسِلَ نَفْسَهُ فِي الْفَرَحِ بِهَا ولا ينهمك في التنعم واللذة واللهو واللعب وَأَنْ يَرْعَى حُقُوقَ اللَّهِ فِي مَالِهِ بِالْإِنْفَاقِ وَفِي بَدَنِهِ بِبَذْلِ الْمَعُونَةِ لِلْخَلْقِ وَفِي لِسَانِهِ بِبَذْلِ الصِّدْقِ وَكَذَلِكَ فِي سَائِرِ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ بِهِ عَلَيْهِ

Maka lelaki yang sejati adalah orang yang mampu bersabar atas kesejahteraan. Makna sabar atas kesejahteraan adalah tidak bergantung padanya, serta menyadari bahwa semua itu hanyalah titipan di sisinya yang boleh jadi akan diambil kembali dalam waktu dekat; dan hendaknya ia tidak melepas jiwanya dalam kegembiraan berlebihan atasnya, tidak tenggelam dalam bermewah-mewah, kelezatan, kelalaian, dan permainan; serta hendaknya ia menunaikan hak-hak Allah pada hartanya dengan berinfak, pada tubuhnya dengan memberikan bantuan kepada sesama makhluk, dan pada lidahnya dengan menyampaikan kebenaran, demikian pula pada seluruh nikmat yang telah Allah karuniakan kepadanya.

وهذا الصبر متصل بالشكر فلا يتم إلا بالقيام بحق الشكر كما سيأتي وَإِنَّمَا كَانَ الصَّبْرُ عَلَى السَّرَّاءِ أَشَدَّ لِأَنَّهُ مقرون بالقدرة ومن العصمة أن لا تقدر والصبر على الحجامة والقصد إذا تولاه غيرك أيسر من الصبر على فصدك نفسك وحجامتك نفسك وَالْجَائِعُ عِنْدَ غَيْبَةِ الطَّعَامِ أَقْدَرُ عَلَى الصَّبْرِ منه إذا حضرته الأطعمة الطيبة اللَّذِيذَةُ وَقَدَرَ عَلَيْهَا فَلِهَذَا عَظُمَتْ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ

Kesabaran ini terhubung erat dengan rasa syukur, sehingga tidak akan sempurna melainkan dengan menunaikan hak syukurnya sebagaimana kelak akan dijelaskan. Kesabaran atas kesenangan (as-sarra') itu lebih berat tidak lain karena ia bergandengan dengan kemampuan (kekuasaan), padahal bagian dari perlindungan Allah adalah ketika engkau tidak memiliki kemampuan. Kesabaran atas terapi bekam dan pembekaman jika dilakukan oleh orang lain terasa lebih mudah daripada kesabaran atas tindakanmu memotong pembuluh darahmu sendiri atau membekam dirimu sendiri. Dan orang yang lapar ketika makanan tidak ada, lebih mampu bersabar daripada ketika makanan-makanan lezat dan nikmat hadir di hadapannya sementara ia sanggup menyantapnya. Oleh sebab itulah, fitnah kesenangan menjadi sangat besar.

النَّوْعُ الثَّانِي مَا لَا يُوَافِقُ الْهَوَى وَالطَّبْعَ وذلك لا يخلو إِمَّا أَنْ يَرْتَبِطَ بِاخْتِيَارِ الْعَبْدِ كَالطَّاعَاتِ وَالْمَعَاصِي أو لا يرتبط باختيار كالمصائب والنوائب أولا يَرْتَبِطُ بِاخْتِيَارِهِ وَلَكِنْ لَهُ اخْتِيَارٌ فِي إِزَالَتِهِ كَالتَّشَفِّي مِنَ الْمُؤْذِي بِالِانْتِقَامِ مِنْهُ فَهَذِهِ ثَلَاثَةُ أقسام

Jenis kedua adalah apa yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan tabiat. Hal tersebut tidak lepas dari kemungkinan: adakalanya terikat dengan ikhtiar (kehendak bebas) hamba, seperti ketaatan dan kemaksiatan; atau tidak terikat dengan ikhtiar hamba, seperti musibah dan malapetaka; atau tidak terikat dengan ikhtiarnya pada awalnya tetapi ia memiliki ikhtiar untuk menghilangkannya, seperti meluapkan kemarahan kepada orang yang menyakiti dengan cara membalas dendam kepadanya. Maka ini terbagi menjadi tiga bagian.

القسم الأول ما يرتبط باختياره وهو سائر أفعاله التي توصف بكونها طاعة أو معصية وَهُمَا ضَرْبَانِ

Bagian pertama adalah apa yang terikat dengan ikhtiarnya, yaitu seluruh perbuatannya yang disifati sebagai ketaatan atau kemaksiatan, dan keduanya terbagi menjadi dua jenis.

الضَّرْبُ الْأَوَّلُ الطَّاعَةُ وَالْعَبْدُ يَحْتَاجُ إلى الصبر عليها فالصبر على الطاعة شديد لأن النفس بطبعها تنفر عن العبودية وتشتهي الربوبية ولذلك قال بعض العارفين ما من نفس إلا وهي مضمرة ما أظهر فرعون من قوله أنا ربكم الأعلى ولكن فرعون وجد له مجالاً وقبولاً فأظهره إذ استخف قومه فأطاعوه وما من أحد إلا وهو يدعي ذلك مع عبده وخادمه وأتباعه وكل من هو تحت قهره وطاعته وإن كان ممتنعاً من إظهاره فإن استشاطته وغيظه عند تقصيرهم في خدمته واستعباده ذلك ليس يصدر إلا عن إضمار الكبر ومنازعة الربوية في رداء الكبرياء

Jenis pertama adalah ketaatan. Seorang hamba membutuhkan kesabaran dalam melaksanakannya, sebab sabar atas ketaatan itu terasa berat karena jiwa secara tabiatnya enggan terhadap penghambaan ('ubudiyyah) dan berhasrat kepada ketuhanan (rububiyyah). Oleh karena itu sebagian 'arifin berkata: "Tidak ada satu jiwa pun melainkan menyembunyikan apa yang ditampakkan oleh Firaun melalui ucapannya: 'Akulah tuhanmu yang paling tinggi.' Namun Firaun menemukan celah dan penerimaan sehingga ia menampakkannya ketika ia memperdaya kaumnya lalu mereka menaatinya. Tidak ada seorang pun melainkan mengklaim hal itu dalam kadar tertentu terhadap hamba sahayanya, pelayannya, pengikutnya, dan setiap orang yang berada di bawah kekuasaan dan ketaatannya, sekalipun ia enggan menampakkannya. Sesungguhnya kemarahan dan kegusarannya ketika mereka melalaikan pelayanan dan penghambaan kepada dirinya tidak lain bersumber dari ketersembunyian sikap takabur dan perselisihan memperebutkan sifat ketuhanan di dalam jubah keagungan (kibriya')."

فإذن العبودية شاقة على النفس مطلقاً ثم من العبادات ما يكره بسبب الكسل كالصلاة ومنها ما يكره بسبب البخل كالزكاة ومنها ما يكره بسببهما جميعاً كالحج والجهاد فالصبر على الطاعة صبر على الشدائد

Maka dari itu, penghambaan ('ubudiyyah) terasa berat bagi jiwa secara mutlak. Kemudian, di antara bentuk-bentuk ibadah ada yang dibenci/diberati karena malas, seperti shalat; ada yang dibenci karena bakhil (kikir), seperti zakat; dan ada pula yang dibenci karena gabungan keduanya, seperti haji dan jihad. Oleh sebab itu, sabar dalam ketaatan adalah kesabaran menanggung berbagai kesusahan.

ويحتاج المطيع إلى الصبر على طاعته في ثلاث أحوال الأولى قبل الطاعة وذلك في تصحيح النية والإخلاص والصبر عن شوائب الرياء ودواعي الآفات وعقد العزم على الإخلاص والوفاء وذلك من الصبر الشديد عند من يعرف حقيقة النية والإخلاص وآفات الرياء ومكايد النفس وقد نبه ﷺ إِذْ قَالَ ﷺ إِنَّمَا الأعمال بالنيات وإنما لكل امرىء ما نوى // وقال تَعَالَى وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدين ولهذا قدم الله تعالى الصبر على العمل فقال تعالى إلا الذين صبروا وعملوا الصالحات

Seorang yang taat membutuhkan kesabaran dalam menaati Allah pada tiga keadaan. Keadaan pertama adalah sebelum melakukan ketaatan, yaitu dalam meluruskan niat dan keikhlasan, bersabar dari noda-noda riya' serta dorongan-dorongan penyakit hati, dan menguatkan tekad untuk ikhlas dan menepati janji. Hal itu termasuk kesabaran yang amat berat bagi orang yang mengenal hakikat niat, keikhlasan, bahaya riya', serta tipu daya nafsu. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan hal ini ketika bersabda, "Sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…" Oleh karena itulah Allah Ta'ala mendahulukan sebutan sabar daripada amal dalam firman-Nya, "Kecuali orang-orang yang bersabar dan mengerjakan kebajikan."

الحالة الثانية حالة العمل كي لا يغفل عن الله في أثناء عمله ولا يتكاسل عن تحقيق آدابه وسننه ويدوم على شرط الأدب إلى آخر العمل الأخير فيلازم الصبر عن دواعي الفتور إلى الفراغ وهذا أيضاً من شدائد الصبر ولعله المراد بقوله تعالى نعم أجر العاملين الذين صبروا أي صبروا إلى تمام العمل

Keadaan kedua adalah pada saat pelaksanaan amal, agar ia tidak lalai dari Allah di tengah-tengah amalnya, tidak malas dalam memenuhi adab-adab dan sunnah-sunnahnya, serta senantiasa menjaga syarat-syarat adab hingga akhir pelaksanaan amal tersebut. Maka ia harus terus-menerus bersabar dari dorongan rasa malas (futur) sampai selesai. Ini juga termasuk kesabaran yang sangat berat, dan boleh jadi inilah yang dimaksud oleh firman Allah Ta'ala, "Betapa indahnya pahala orang-orang yang beramal, (yaitu) orang-orang yang bersabar…" yakni orang-orang yang bersabar hingga amalnya sempurna.

الحالة الثالثة بعد الفراغ من العمل إذ يحتاج إلى الصبر عن إفشائه والتظاهر به للسمعة والرياء والصبر عن النظر إليه بعين العجب وعن كل ما يبطل عمله ويحبط أثره كما قال تعالى ولا تبطلوا أعمالكم وكما قال تعالى لا تبطلوا صدقاتكم بالمن والأذى فمن لا يصبر بعد الصدقة عن المن والأذى فقد أبطل عمله

Keadaan ketiga adalah setelah selesai beramal, di mana ia membutuhkan kesabaran untuk tidak menyebarluaskannya dan tidak memamamerkannya demi mencari sum'ah (popularitas) dan riya', serta bersabar untuk tidak memandangnya dengan pandangan ujub (kekaguman pada diri sendiri) dan bersabar dari segala hal yang dapat membatalkan amalnya dan menghapuskan pahalanya, sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Dan janganlah kamu membatalkan amal-amalmu," dan firman-Nya, "Janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)." Barang siapa yang tidak bersabar setelah bersedekah dari menyebut-nyebut kebaikannya dan menyakiti perasaan penerimanya, maka ia sungguh telah membatalkan amalnya.

والطاعات تنقسم إلى فرض ونفل وهو محتاج إلى الصبر عليهما جميعاً وقد جمعهما الله تعالى في قوله إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القربى فالعدل هو الفرض والإحسان هو النفل وإيتاء ذي القربى هو المروءة وصلة الرحم وَكُلُّ ذَلِكَ يَحْتَاجُ إِلَى صَبْرٍ

Ketaatan itu terbagi menjadi kewajiban (fardhu) dan anjuran (nafl/sunnah), dan seorang hamba membutuhkan kesabaran untuk menjalankan keduanya. Allah Ta'ala telah menghimpun keduanya dalam firman-Nya, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebaikan, dan memberi kepada kerabat…" Keadilan (al-'adl) adalah kewajiban (fardhu), berbuat kebaikan (al-ihsan) adalah amalan sunnah (nafl), dan memberi kepada kerabat adalah kehormatan diri (muru'ah) serta silaturahmi. Semua itu membutuhkan kesabaran.

الضَّرْبُ الثَّانِي المعاصي فما أحوج العبد إلى الصبر عنها وَقَدْ جَمَعَ اللَّهُ تَعَالَى أَنْوَاعَ الْمَعَاصِي فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ﴿وقال﴾ ﷺ المهاجر من هجر السوء والمجاهد من جاهد هواه

Jenis kedua: kemaksiatan. Betapa butuhnya seorang hamba untuk bersabar darinya. Allah Ta'ala telah menghimpun macam-macam kemaksiatan dalam firman-Nya, "…dan Dia melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan." Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan keburukan, dan orang yang berjihad adalah orang yang memerangi hawa nafsunya."

والمعاصي مقتضى باعث الهوى

Dan kemaksiatan itu merupakan konsekuensi dari pendorong hawa nafsu.

وأشد أنواع الصبر الصبر عن المعاصي التي صارت مألوفة بالعادة فإن العادة طبيعة خامسة فإذا انضافت العادة إلى الشهوة تظاهر جندان من جنود الشيطان على جند الله تعالى فلا يقوى باعث الدين على قمعها ثم إن كان ذلك الفعل مما تيسر فعله كان الصبر عنه أثقل على النفس كالصبر عن معاصي اللسان من الغيبة وَالْكَذِبِ وَالْمِرَاءِ وَالثَّنَاءِ عَلَى النَّفْسِ تَعْرِيضًا وَتَصْرِيحًا وَأَنْوَاعِ الْمَزْحِ الْمُؤْذِي لِلْقُلُوبِ وَضُرُوبِ الْكَلِمَاتِ الَّتِي يقصد بها الإزراء والاستحقار وذكر الموتى والقدح فيهم وفي علومهم وسيرهم ومناصبهم فإن ذلك في ظاهره غيبة وفي باطنه ثناء على النفس فللنفس فيه شهوتان إحداهما نفي الغير والأخرى إثبات نفسه وبها تتم له الربوبية التي هي في طبعه وهي ضد ما أمر به من العبودية ولاجتماع الشهوتين وتيسر تحريك اللسان ومصير ذلك معتاداً في المحاورات يعسر الصبر عنها وهي أكبر الموبقات حتى بطل استنكارها واستقباحها من القلوب لكثرة تكريرها وعموم الأنس بها فترى الإنسان يلبس حريراً مثلاً فيستبعد غاية الاستبعاد ويطلق لسانه طول النهار في أعراض الناس ولا يستنكر ذلك مع ما ورد في الخبر من ان الغيبة أشد من الزنا وقال تعالى ﴿ودع أذاهم وتوكل على الله﴾ وقال تَعَالَى ﴿وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جميلاً﴾ وقال تعالى ﴿ولقد نعلم أنك يضيق صدرك بما يقولون فسبح بحمد ربك﴾ الآية وَقَالَ تَعَالَى ﴿وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمور﴾ أي تصبروا عن الْمُكَافَأَةِ وَلِذَلِكَ مَدَحَ اللَّهُ تَعَالَى الْعَافِينَ عَنْ حُقُوقِهِمْ فِي الْقِصَاصِ وَغَيْرِهِ فَقَالَ تَعَالَى ﴿وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صبرتم لهو﴾ خير الصابرين ﴿وَقَالَ﴾ ﷺ صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ وَاعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَكَ // ورأيت في الإنجيل قال عيسى بن مريم ﵇ لقد قيل لكم من قبل إن السن بالسن والأنف بالأنف وأنا أقول لكم لا تقاوموا بالشر بل من ضرب خدك الأيمن فحول إليه

Jenis kesabaran yang paling berat adalah bersabar dari kemaksiatan yang telah menjadi kebiasaan, karena kebiasaan itu ibarat watak kelima. Apabila kebiasaan menyatu dengan syahwat, bersatulah dua tentara dari tentara iblis untuk melawan tentara Allah Ta'ala, sehingga pendorong agama tidak cukup kuat untuk menumpasnya. Kemudian, jika perbuatan itu mudah dilakukan, bersabar darinya menjadi lebih berat bagi jiwa, seperti bersabar dari maksiat lisan berupa ghibah (mengumpat), dusta, perdebatan (mira'), memuji diri sendiri baik secara tersirat maupun terang-terangan, berbagai bentuk gurauan yang menyakiti hati, dan ragam ucapan yang dimaksudkan untuk merendahkan dan menghina, serta menyebut-nyebut orang yang telah mati dengan celaan terhadap ilmu, perjalanan hidup, dan kedudukan mereka. Hal itu secara lahiriah tampak sebagai ghibah, namun secara batiniah merupakan pujian pada diri sendiri. Maka jiwa memiliki dua syahwat di dalamnya: pertama meniadakan orang lain, dan kedua mengukuhkan keberadaan dirinya sendiri. Dengan itu sempurnalah baginya rasa kepertuhanan (rububiyyah) yang ada pada tabiat dasarnya, yang bertentangan dengan apa yang diperintahkan kepadanya berupa penghambaan (ubudiyyah). Karena berkumpulnya dua syahwat tersebut, mudahnya menggerakkan lisan, serta berubahnya hal itu menjadi kebiasaan dalam percakapan, maka bersabar darinya amatlah sulit. Padahal itu termasuk dosa-dosa besar yang membinasakan, sampai-sampai rasa ingkar dan jijik terhadapnya telah sirna dari hati disebabkan seringnya berulang dan meluasnya keterbiasaan. Maka engkau melihat seseorang yang misalnya memakai sutra merasa sangat keberatan, namun ia meluapkan lisannya sepanjang hari merusak kehormatan orang lain tanpa merasa ingkar sedikit pun, padahal terdapat riwayat bahwa ghibah lebih berat daripada zina. Allah Ta'ala berfirman, "Dan abaikanlah gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah." Allah Ta'ala juga berfirman, "Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik." Dan Allah Ta'ala berfirman, "Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka katakan. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu…" Dan Allah Ta'ala berfirman, "Dan kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik, gangguan yang banyak. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan," yakni bersabar untuk tidak membalas. Oleh karena itulah Allah Ta'ala memuji orang-orang yang memaafkan hak-hak mereka dalam qishash dan lainnya, sebagaimana firman-Nya, "Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar." Dan Nabi ﷺ bersabda, "Sambunglah silaturahmi kepada orang yang memutuskanmu, berilah orang yang menghalangimu, dan maafkanlah orang yang menzalimimu." Dan aku melihat dalam Injil bahwa Isa bin Maryam 'alaihis salam berkata, "Sungguh telah dikatakan kepada kalian sebelum ini: gigi dibalas gigi, dan hidung dibalas hidung. Namun aku katakan kepada kalian: janganlah kalian membalas kejahatan dengan kejahatan; barang siapa memukul pipi kananmu, maka palingkanlah kepadanya

الخد الأيسر ومن أخذ رداءك فأعطه إزارك ومن سخرك لتسير معه ميلاً فسر معه ميلين وكل ذلك أمر بالصبر على الأذى فالصبر على أذى الناس من أعلى مراتب الصبر لأنه يتعاون فيه باعث الدين وباعث الشهوة والغضب جميعاً

pipi kirimu. Barang siapa mengambil selendangmu, berikanlah sarungmu kepadanya. Dan barang siapa memaksamu berjalan bersamanya sejauh satu mil, berjalanlah bersamanya sejauh dua mil. Semua itu merupakan perintah untuk bersabar atas gangguan. Maka bersabar atas gangguan manusia termasuk tingkatan kesabaran yang paling tinggi, karena di dalamnya pendorong agama harus berhadapan secara bersamaan dengan pendorong syahwat dan amarah.

الْقِسْمُ الثَّالِثُ مَا لَا يَدْخُلُ تَحْتَ حَصْرِ الاختيار أوله وآخره كَالْمَصَائِبِ مِثْلُ مَوْتِ الْأَعِزَّةِ وَهَلَاكِ الْأَمْوَالِ وَزَوَالِ الصحة بالمرض وعمى العين وفساد الأعضاء وبالجملة سائر أَنْوَاعِ الْبَلَاءِ فَالصَّبْرُ عَلَى ذَلِكَ مِنْ أَعْلَى مقامات الصبر قال ابن عباس ﵄ الصبر في القرآن على ثلاثة أوجه صبر على أداء فرائض الله تعالى فله ثلثمائة درجة وصبر عن محارم الله تعالى فله ستمائة درجة وصبر على المصيبة عند الصدمة الأولى فله تسعمائة درجة وإنما فضلت هذه الرتبة مع أنها من الفضائل على ما قبلها وهي من الفرائض لأن كل مؤمن يقدر على الصبر عن المحارم

Bagian ketiga: hal-hal yang sama sekali tidak masuk di bawah cakupan ikhtiar (pilihan) manusia, baik awal maupun akhirnya, seperti musibah-musibah berupa wafatnya orang-orang tercinta, hilangnya harta benda, sirnanya kesehatan karena sakit, kebutaan mata, kerusakkan anggota tubuh, dan secara umum seluruh jenis ujian (balā'). Bersabar atas hal tersebut termasuk maqam kesabaran yang paling tinggi. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, "Sabar dalam Al-Qur'an ada tiga bentuk: sabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban Allah Ta'ala memperoleh tiga ratus derajat, sabar dari hal-hal yang diharamkan Allah Ta'ala memperoleh enam ratus derajat, dan sabar atas musibah pada benturan pertama memperoleh sembilan ratus derajat." Kedudukan ini diutamakan —meskipun ia termasuk keutamaan (fadilah)— atas yang sebelumnya yang merupakan kewajiban (fardhu), karena setiap mukmin mampu bersabar dari hal-hal yang diharamkan,

فأما الصبر على بلاء الله تعالى فلا يقدر عليه إلا الأنبياء لأنه بضاعة الصديقين فإن ذلك شديد على النفس ولذلك قال ﷺ أسألك من اليقين ما تهون علي به مصائب الدنيا وقال ﷺ انتظار الفرج بالصبر عبادة وقال أنس حدثني رسول الله ﷺ أن الله ﷿ قال يا جبريل ما جزاء من سلبت كريمتيه قال سبحانك لا علم لنا إلا ما علمتنا قال الله تعالى جزاؤه الخلود في داري والنظر إلى وجهي // وقال ﷺ يَقُولُ اللَّهُ ﷿ إذا ابتليت عبدي ببلاءٍ فصبر ولم يشكني إلى عواده أبدلته لحماً خيراً من لحمه ودماً خيراً من دمه فإذا أبرأته أبرأته ولا ذنب له وإن توفيته فإلى رحمتي وقال داود ﵇ يا رب ما جزاء الحزين الذي يصبر على المصائب ابتغاء مرضاتك قال جزاؤه أن ألبسه لباس الإيمان فلا أنزعه عنه أبداً وقال عمر بن عبد العزيز ﵀ في خطبته ما أنعم الله على عبد نعمة فانتزعها منه وعوضه منها الصبر إلا كان ما عوضه منها أفضل مما انتزع منه وقرا خانما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب وسئل فضيل عن الصبر فقال هو

sedangkan sabar menghadapi ujian (balā') dari Allah Ta'ala tidak ada yang sanggup melakukannya kecuali para nabi, sebab ia adalah bekal para shiddiqin, karena hal itu sangat berat bagi jiwa. Oleh sebab itu Rasulullah ﷺ berdoa, "Aku memohon kepada-Mu keyakinan yang dengannya Engkau meringankan musibah-musibah dunia bagiku." Beliau ﷺ juga bersabda, "Menanti jalan keluar dengan kesabaran adalah suatu ibadah." Dan Anas menceritakan, Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku bahwa Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Wahai Jibril, apakah balasan bagi orang yang Aku cabut kedua penglihatannya yang dicintainya?" Jibril menjawab, "Maha Suci Engkau, kami tidak memiliki pengetahuan kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami." Allah Ta'ala berfirman, "Balasannya adalah keabadian di negeri-Ku (surga) dan memandang Wajah-Ku." Dan Beliau ﷺ bersabda, Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Jika Aku menguji hamba-Ku dengan suatu ujian lalu ia bersabar dan tidak mengadukanku kepada orang-orang yang menjenguknya, maka Aku gantikan baginya daging yang lebih baik dari dagingnya dan darah yang lebih baik dari darahnya. Jika Aku menyembuhkannya, Aku sembuhkan ia tanpa dosa, dan jika Aku mewafatkannya, maka ia menuju rahmat-Ku." Nabi Daud 'alaihis salam berkata, "Wahai Rabb, apakah balasan bagi orang berduka yang bersabar atas musibah demi mengharapkan keridaan-Mu?" Allah berfirman, "Balasannya adalah Aku kenakan pakaian keimanan kepadanya yang tidak akan Aku lepaskan darinya selamanya." Dan Umar bin Abdul Aziz rahmatullah 'alaihi berkata dalam khotbahnya, "Tidaklah Allah memberikan suatu nikmat kepada seorang hamba lalu mencabutnya dan menggantikannya dengan kesabaran, melainkan apa yang digantikannya itu lebih utama daripada apa yang dicabut darinya." Lalu beliau membaca ayat, "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." Dan Fudhayl pernah ditanya tentang sabar, lalu ia menjawab, "Sabar adalah

الرضا بقضاء الله قيل وكيف ذلك قال الراضي لا يتمنى فوق منزلته وقيل حبس الشبلي ﵀ في المارستان فدخل عليه جماعة فقال من أنتم قالوا أحباؤك جاءوك زائرين فأخذ يرميهم بالحجارة فأخذوا يهربون فقال لو كنتم أحبائي لصبرتم على بلائي وكان بعض العارفين في جيبه رقعة يخرجها كل ساعة ويطالعها وكان فيها ﴿واصبر لحكم ربك فإنك بأعيننا﴾ ويقال أن امرأة فتح الموصلي عثرت فانقطع ظفرها فضحكت فقيل لها أما تجدين الوجع فقالت إن لذة ثوابه أزالت عن قلبي مرارة وجعه وقال داود لسليمان ﵉ يستدل على تقوى المؤمن بثلاث حسن التوكل فيما لم ينل وحسن الرضا فيما قد نال وحسن الصبر فيما قد فات وقال نبينا ﷺ من إجلال الله ومعرفة حقه أن لا تشكو وجعك ولا تذكر مصيبتك قَالَ الرَّاوِي فَلَقَدْ رَأَيْتُ لَهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ في المسجد سبعة كلهم قد قرءوا القرآن وروى جابر أنه ﵇ قال رأيتني دخلت الجنة فإذا أنا بالرميصاء امرأة أبي طلحة وقد قيل الصبرالجميل هو ان لا يعرف صاحب المصيبة من غيره وَلَا يُخْرِجُهُ عَنْ حَدِّ الصَّابِرِينَ تَوَجُّعُ الْقَلْبِ ولا فيضان العين بالدمع إذ يكون من جميع الحاضرين لأجل الموت سواء ولأن البكاء توجع القلب على الميت فإن ذلك مقتضى البشرية ولا يفارق الإنسان إلى الموت وَلِذَلِكَ لَمَّا مَاتَ إبراهيم وَلَدُ النَّبِيِّ ﷺ فَاضَتْ عَيْنَاهُ فَقِيلَ لَهُ أما نهيتنا عن هذا فقال إن هَذِهِ رَحْمَةٌ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرحما بل ذلك أيضاً لا يخرج عن مقام الرضا فالمقدم على الحجامة والفصد راض به وهو متألم بسببه لا محالة وقد تفيض عيناه إذا عظم ألمه وسيأتي

ridha terhadap ketetapan (qadha') Allah." Dikatakan kepadanya, "Bagaimana itu bisa?" Ia menjawab, "Orang yang ridha tidak bercita-cita melebihi kedudukannya." Dan dikisahkan bahwa Asy-Syibli rahmatullah 'alaihi dipenjara di rumah sakit jiwa (maristan), lalu sekelompok orang menjenguknya. Ia bertanya, "Siapakah kalian?" Mereka menjawab, "Kami adalah kekasih-kekasihmu yang datang menjengukmu." Maka ia mulai melempar mereka dengan batu hingga mereka berlarian kabur. Beliau berkata, "Sekiranya kalian adalah kekasih-kekasihku, niscaya kalian akan bersabar menghadapi ujianku." Ada seorang arifin yang menyimpan selembar kertas di sakunya yang ia keluarkan dan baca setiap saat, di mana tertulis: "Dan bersabarlah kamu terhadap ketetapan Rabbmu, karena sesungguhnya kamu berada dalam pengawasan Kami." Dikatakan pula bahwa istri Fath Al-Maushili tersandung hingga kukunya terlepas, lalu ia tertawa. Dikatakan kepadanya, "Apakah engkau tidak merasakan sakit?" Ia menjawab, "Kelezatan pahalanya telah menghilangkan kepahitan rasa sakitnya dari hatiku." Nabi Daud berkata kepada Nabi Sulaiman 'alaihimas salam, "Ketakwaan seorang mukmin disimpulkan melalui tiga hal: indahnya tawakal pada apa yang belum diperoleh, indahnya keridhaan pada apa yang telah diperoleh, dan indahnya kesabaran pada apa yang telah hilang." Dan Nabi kita ﷺ bersabda, "Termasuk dari mengagungkan Allah dan mengenal hak-Nya adalah engkau tidak mengadukan rasa sakitmu dan tidak menyebut-nyebut musibahmu." Perawi berkata, "Sungguh aku melihat setelah itu ada tujuh orang dari mereka di masjid yang semuanya telah membaca (menghafal) Al-Qur'an." Dan Jabir merwayatkan bahwa Beliau ﷺ bersabda, "Aku melihat diriku masuk ke dalam surga, tiba-tiba aku bertemu dengan Ar-Rumaisha', istri Abu Thalhah." Dikatakan bahwa sabar yang indah (ash-shabr al-jamil) adalah ketika orang yang tertimpa musibah tidak dapat dibedakan dari orang lain. Dan tidaklah mengeluarkan seseorang dari batas orang-orang yang bersabar rasa pedihnya hati maupun mengalirnya air mata dari mata, karena hal itu terjadi pada semua orang yang hadir disebabkan kematian secara sama, dan karena tangisan adalah wujud kepedihan hati atas si mayit, di mana hal itu merupakan tuntutan kemanusiaan (tabiat basyariyyah) yang tidak berpisah dari manusia hingga kematian. Oleh karena itu ketika Ibrahim putra Nabi ﷺ wafat, berlinanglah kedua mata Beliau. Lalu dikatakan kepada Beliau, "Bukankah Engkau melarang kami dari hal ini?" Beliau bersabda, "Sesungguhnya ini adalah rahmat, dan sesungguhnya Allah hanya merahmati hamba-hamba-Nya yang penyayang." Bahkan hal itu juga tidak keluar dari maqam ridha. Orang yang hendak dibekam atau di-fasht (dilukai pembuluh darahnya) merasa ridha dengannya meskipun ia pasti merasakan sakit karenanya, dan kedua matanya bisa berlinang saat rasa sakitnya memuncak. Hal ini akan dijelaskan

ذلك في كتاب الرضا إن شاء الله تعالى وكتب ابن أبي نجيح يعزي بعض الخلفاء إن أحق من عرف حق الله تعالى فيما أخذ منه من عظم حق الله تعالى عنده فيما أبقاه له واعلم أن الماضي قبلك هو الباقي لك والباقي بعدك هو المأجور فيك واعلم أن أجر الصابرين به فيما يصابون به أعظم من النعمة عليهم فيما يعافون منه

dalam Kitab ar-Ridha insya Allah Ta'ala. Dan Ibnu Abi Najih pernah menulis surat takziah kepada sebagian khalifah: "Sesungguhnya orang yang paling berhak mengenal hak Allah Ta'ala pada apa yang diambil dari-Nya adalah orang yang paling mengagungkan hak Allah Ta'ala pada apa yang disisakan untuknya. Ketahuilah bahwa orang yang telah mendahuluimu adalah simpanan yang kekal bagimu, sedangkan orang yang ditinggalkan setelahmu adalah pahala yang diberikan padamu. Dan ketahuilah bahwa pahala orang-orang yang bersabar atas apa yang menimpa mereka itu lebih besar daripada nikmat yang diberikan kepada mereka pada apa yang mereka diselamatkan darinya."

فإذن مهما دفع الكراهة بالتفكر في نعمة الله تعالى عليه بالثواب نال درجة الصابرين نعم من كمال الصبر كتمان المرض والفقر وسائر المصائب وقد قيل من كنوز البر كتمان المصائب والأوجاع والصدقة فقد ظَهَرَ لَكَ بِهَذِهِ التَّقْسِيمَاتِ أَنَّ وُجُوبَ الصَّبْرِ عام في جميع الأحوال والأفعال فإن الذي كفى الشهوات كلها واعتزل وحده لا يستغني عن الصبر على العزلة والانفراد ظاهراً وعن الصبر عن وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ بَاطِنًا فَإِنَّ اخْتِلَاجَ الْخَوَاطِرِ لَا يسكن وأكثر جولان الخواطر إنما يكون في فائت لا تدارك له أو في مستقبل لا بد وأن يحصل منه ما هو مقدر فهو كيفما كان تضييع زمان وآلة العبد قلبه وبضاعته عمره فإذا غفل القلب في نفس واحد عن ذكر يستفيد به أنساً بالله تعالى أو عن فكر يستفيد به معرفة بالله تعالى ليستفيد بالمعرفة محبة الله تعالى فهو مغبون هذا إن كان فكره ووسواسه في المباحات مقصوراً عليه ولا يكون ذلك غالباً بل يتفكر في وجوء الحيل لقضاء الشهوات إذ لا يزال ينازع كل من تحرك على خلاف غرضه في جميع عمره أو من يتوهم أنه ينازعه ويخالف أمره أو غرضه بظهور أمارة له منه بل يقدر المخالفة من أخلص الناس في حبه حتى في أهله وولده ويتوهم مخالفتهم له ثم يتفكر في كيفية زجرهم وكيفية قهرهم وجوابهم عما يتعللون به في مخالفته ولا يزال في شغل دائم فللشيطان جندان جند يطير وجند يسير والوسواس عبارة عن حركة جنده الطيار والشهوة عبارة عن حركة جنده السيار وهذا لأن الشيطان خلق من النار وخلق الإنسان من صلصال كالفخار والفخار قد اجتمع فيه مع النار الطين والطين طبيعته السكون والنار طبيعتها الحركة فلا يتصور نار مشتعلة لا تتحرك بل لا تزال تتحرك بطبعها وقد كلف الملعون المخلوق من النار أن يطمئن عن حركته ساجداً لما خلق الله من الطين فأبى واستكبر واستعصى وعبر عن سبب استعصائه بأن قَالَ ﴿خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ﴾

Maka dari itu, kapan pun ia menolak rasa ketidaksukaan dengan merenungkan nikmat Allah Ta'ala kepadanya berupa pahala, niscaya ia mencapai derajat orang-orang yang bersabar. Ya, di antara kesempurnaan sabar adalah menyembunyikan penyakit, fakir, dan seluruh musibah. Sungguh telah dikatakan, "Termasuk simpanan kebaikan adalah menyembunyikan musibah, rasa sakit, dan sedekah." Maka telah jelas bagimu melalui pembagian-pembagian ini bahwa kewajiban bersabar berlaku umum dalam seluruh keadaan dan perbuatan. Sebab orang yang telah tercukupi dari seluruh syahwat dan menyendiri pun tidak terlepas dari kebutuhan bersabar atas pengasingan diri (itzilah) dan kesendirian secara lahiriah, serta bersabar dari bisikan-bisikan (was-was) setan secara batiniah. Karena gejolak lintasan pikiran (khawatir) tidak pernah tenang, dan sebagian besar pusaran lintasan pikiran itu terjadi pada perkara yang telah lalu yang tidak dapat diperbaiki lagi, atau pada masa depan yang pasti akan terjadi sesuai dengan apa yang ditakdirkan. Bagaimanapun juga, itu adalah penyia-nyiaan waktu. Padahal alat seorang hamba adalah hatinya dan modal utamanya adalah umurnya. Apabila hati lalai walau dalam satu helaan napas dari zikir yang memberinya keakraban (uns) dengan Allah Ta'ala, atau dari pikir yang memberinya makrifat kepada Allah Ta'ala agar ia memperoleh kecintaan (mahabbah) kepada Allah melalui makrifat tersebut, maka ia tergolong orang yang rugi. Ini jika pemikiran dan bisikannya terbatas pada hal-hal yang mubah saja, padahal biasanya tidak demikian. Melainkan ia memikirkan berbagai tipu daya untuk memenuhi syahwat, karena ia senantiasa menentang siapa saja yang bertindak menyelisihi tujuannya di sepanjang umurnya, atau menentang orang yang ia duga menyelisihi perintah atau tujuannya karena timbul tanda-tanda darinya. Bahkan ia mengandaikan perselisihan itu timbul dari orang yang paling tulus mencintainya, hingga pada istri dan anaknya, lalu membayangkan perselisihan mereka terhadapnya, kemudian memikirkan cara menindak mereka, menundukkan mereka, dan menjawab alasan-alasan mereka dalam menyelisihinya, sehingga ia senantiasa berada dalam kesibukan yang tiada henti. Maka setan memiliki dua jenis pasukan: pasukan yang terbang dan pasukan yang berjalan. Bisikan (was-was) merupakan gambaran dari gerakan pasukannya yang terbang, sedangkan syahwat merupakan gambaran dari gerakan pasukannya yang berjalan. Hal ini karena setan diciptakan dari api, sedangkan manusia diciptakan dari tanah liat seperti tembikar. Dan tembikar menghimpun tanah bersama api, padahal tanah bertabiat tenang sedangkan api bertabiat bergerak. Maka tidak terbayangkan ada api yang menyala tanpa bergerak, melainkan senantiasa bergerak sesuai tabiatnya. Dan makhluk terlaknat yang diciptakan dari api itu telah diperintahkan untuk menenangkan gerakannya dengan bersujud kepada makhluk yang diciptakan Allah dari tanah, namun ia enggan, bersikap sombong, dan membangkang, serta mengungkapkan alasan pembangkangannya dengan berkata, "Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau ciptakan dia dari tanah."

فإذن حيث لم يسجد الملعون لأبينا آدم صلوات الله عليه وسلامه فلا ينبغي أن يطمع في سجوده لأولاده ومهما كف عن القلب وسواسه وعدوانه وطيرانه وجولانه فقد أظهر انقياده وإذعانه وانقياده بالإذعان سجود منه فهو روح السجود وإنما وضع الجبهة على الأرض قالبه وعلامته الدالة عليه بالاصطلاح ولو جعل وضع الجبهة على الأرض علامة استخفاف بالاصطلاح لتصور ذلك كما أن الانبطاح بين يد المعظم المحترم يرى استخفافاً بالعادة فلا ينبغي أن يدهشك صدف الجوهر عن الجوهر وقالب الروح عن الروح وقشر اللب عن اللب فتكون ممن قيده عالم الشهادة بالكلية عن عالم الغيب وتحقق أن الشيطان من المنظرين فلا يتواضع لك بالكف عن الوسواس إلى يوم الدين إلا أن تصبح وهمومك هم واحد فتشغل قلبك بالله وحده فلا يجد الملعون مجالاً فيك فعند ذلك تكون من عباد الله المخلصين الداخلين في الاستثناء عن سلطنة هذا اللعين

Maka, karena si terlaknat itu tidak mau bersujud kepada ayah kita Adam shalawatullah 'alaihi wa salamuh, tidak selayaknya diharapkan ia akan bersujud kepada keturunannya. Apabila bisikan, permusuhan, penerbangan, dan pusaran setan dapat ditahan dari hati, maka ia telah menunjukkan ketundukan dan kepatuhannya, dan ketundukannya melalui kepatuhan itu merupakan sujud darinya. Inilah ruh dari sujud. Adapun meletakkan dahi di atas tanah hanyalah bentuk fisik dan tanda yang menunjukkan hal itu secara istilah. Sekiranya meletakkan dahi di atas tanah dijadikan sebagai tanda penghinaan secara istilah, tentu hal itu dapat terbayangkan, sebagaimana merebahkan diri di hadapan orang yang diagungkan dan dihormati dianggap sebagai perendahan menurut kebiasaan. Maka hendaknya cangkang permata tidak melepaskan perhatianmu dari permatanya, bentuk fisik ruh dari ruhnya, dan kulit inti dari intinya, sehingga engkau menjadi orang yang terikat sepenuhnya oleh alam syahadat (nyata) dari alam gaib. Dan yakinilah bahwa setan termasuk golongan yang diberi penangguhan waktu, sehingga ia tidak akan bertoleransi kepadamu dengan menahan bisikannya sampai hari kiamat, kecuali jika engkau menjadikan seluruh kecemasanmu menjadi satu kecemasan saja, lalu engkau menyibukkan hatimu hanya kepada Allah semata, sehingga si terlaknat tidak menemukan celah padamu. Pada saat itulah engkau termasuk dari hamba-hamba Allah yang ikhlas yang masuk dalam pengecualian dari kekuasaan si terlaknat ini.

ولا تظنن أنه يَخْلُو عَنْهُ قَلْبٌ فَارِغٌ بَلْ هُوَ سَيَّالٌ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ وَسَيَلَانُهُ مِثْلُ الْهَوَاءِ فِي الْقَدَحِ فَإِنَّكَ إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَخْلُوَ الْقَدَحُ عَنِ الْهَوَاءِ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَشْغَلَهُ بِالْمَاءِ أَوْ بِغَيْرِهِ فَقَدْ طَمِعْتَ فِي غَيْرِ مَطْمَعٍ بَلْ بِقَدْرِ مَا يَخْلُو مِنَ الْمَاءِ يَدْخُلُ فِيهِ الْهَوَاءُ لَا مَحَالَةَ فَكَذَلِكَ الْقَلْبُ الْمَشْغُولُ بِفِكْرٍ مُهِمٍّ فِي الدِّينِ لا يَخْلُو عَنْ جَوَلَانِ الشَّيْطَانِ وَإِلَّا فَمَنْ غَفَلَ عن الله تعالى وَلَوْ فِي لَحْظَةٍ فَلَيْسَ لَهُ فِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ قَرِينٌ إِلَّا الشَّيْطَانُ وَلِذَلِكَ قَالَ تَعَالَى

Dan janganlah engkau mengira bahwa hati yang kosong akan bebas darinya, melainkan ia mengalir deras pada diri anak Adam seperti alirnya darah. Alirannya ibarat udara di dalam gelas; jika engkau ingin gelas itu kosong dari udara tanpa mengisinya dengan air atau selainnya, sungguh engkau mengharapkan sesuatu yang mustahil. Bahkan seukuran air yang berkurang dari gelas, udara pasti akan masuk ke dalamnya. Begitu pula hati yang disibukkan oleh pemikiran penting dalam agama tidak akan lepas dari pusaran pergerakan setan. Jika tidak, maka barang siapa yang lalai dari Allah Ta'ala walau sekejap, niscaya tidak ada pendamping baginya pada sekejap itu melainkan setan. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شيطاناً فهو له قرين﴾ وَقَالَ ﷺ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُبْغِضُ الشَّابَّ الْفَارِغَ // وَهَذَا لِأَنَّ الشَّابَّ إِذَا تَعَطَّلَ عَنْ عَمَلٍ يَشْغَلُ بَاطِنَهُ بِمُبَاحٍ يَسْتَعِينُ بِهِ عَلَى دِينِهِ كَانَ ظَاهِرُهُ فَارِغًا وَلَمْ يَبْقَ قَلْبُهُ فَارِغًا بَلْ يُعَشِّشُ فِيهِ الشَّيْطَانُ وَيَبِيضُ وَيُفَرِّخُ ثُمَّ تَزْدَوِجُ أَفْرَاخُهُ أَيْضًا وتبيض مرة أخرى وتفرخ وهكذا يتوالد نسل الشيطان توالداً أسرع من توالد سائر الحيوانات لأن طبعه من النار وإذا وجد الحلفاء اليابسة كثر توالده فلا يزال تتوالد النار من النار ولا تنقطع البتة بل تسري شيئاً فشيئاً على الاتصال فالشهوة في نفس الشاب للشيطان كالحلفاء اليابسة للنار وكما لا تبقى النار إذا لم يبق لها قوت وهو الحطب فلا يبقى للشيطان مجال إذا لم تكن شهوة فإذن إذا تأملت علمت أن أعدى عدوك شهوتك وهي صفة نفسك ولذلك قال الحسين بن منصور الحلاج حين كان يصلب وقد سئل عن التصوف ما هو فقال هِيَ نَفْسُكَ إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا شَغَلَتْكَ

"Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pengasih), Kami biarkan setan menyesatkannya, maka setan itulah yang menjadi teman karibnya." Dan Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala membenci pemuda yang menganggur." Hal ini karena pemuda, apabila menganggur dari pekerjaan yang menyibukkan batinnya dengan hal mubah yang membantunya dalam agamanya, maka lahiriahnya tampak kosong namun hatinya tidak tetap kosong; melainkan setan bersarang di dalamnya, bertelur, dan menetas. Kemudian anak-anaknya pun kawin, bertelur lagi, dan menetas kembali. Demikianlah keturunan setan berkembang biak lebih cepat daripada perkembangbiakan hewan lainnya, karena tabiatnya berasal dari api. Dan apabila api mendapati rumput kering, perkembangbiakannya makin menjadi-jadi, sehingga api senantiasa melahirkan api dan tidak pernah terputus sama sekali, melainkan menjalar sedikit demi sedikit secara terus-menerus. Maka syahwat dalam diri pemuda bagi setan ibarat rumput kering bagi api. Sebagaimana api tidak akan bertahan jika tidak ada bahan bakarnya yaitu kayu bakar, maka setan pun tidak memiliki celah jika tidak ada syahwat. Maka jika engkau merenungkan, engkau akan mengetahui bahwa musuh yang paling memusuhimu adalah syahwatmu, dan ia adalah sifat dari nafsumu sendiri. Oleh sebab itu Husain bin Manshur Al-Hallaj ketika hendak disalib dan ditanya tentang tasawuf, apa itu tasawuf? Beliau menjawab, "Tasawuf adalah nafsumu; jika engkau tidak menyibukkannya (dengan kebaikan), ia akan menyibukkanmu (dengan keburukan)."

فَإِذَنْ حَقِيقَةُ الصَّبْرِ وَكَمَالُهُ الصَّبْرُ عَنْ كُلِّ حَرَكَةٍ مَذْمُومَةٍ وَحَرَكَةُ الْبَاطِنِ أَوْلَى بِالصَّبْرِ عَنْ ذَلِكَ وَهَذَا صَبْرٌ دَائِمٌ لَا يَقْطَعُهُ إِلَّا الْمَوْتُ نسأل الله حسن التوفيق بمنه وكرمه

Dengan demikian, hakikat kesabaran dan kesempurnaannya adalah bersabar dari setiap gerakan yang tercela, dan gerakan batin lebih utama untuk disabari dari hal tersebut. Ini adalah kesabaran yang berkesinambungan yang tidak terputus melainkan oleh kematian. Kita memohon kepada Allah sebaik-baik taufik dengan karunia dan kemurahan-Nya.