بيان أقسام الصبر بحسب اختلاف القوة والضعف
بيان أقسام الصبر بحسب اختلاف القوة والضعف
Penjelasan Pembagian Sabar Berdasarkan Perbedaan Kekuatan dan Kelemahan
اعلم إِنَّ بَاعِثَ الدِّينِ بِالْإِضَافَةِ إِلَى بَاعِثِ الْهَوَى لَهُ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ أَحَدُهَا أَنْ يَقْهَرَ دَاعِيَ الْهَوَى فَلَا تَبْقَى لَهُ قُوَّةُ الْمُنَازَعَةِ وَيُتَوَصَّلُ إِلَيْهِ بِدَوَامِ الصَّبْرِ وَعِنْدَ هَذَا يُقَالُ مَنْ صَبَرَ ظَفَرَ وَالْوَاصِلُونَ إِلَى هَذِهِ الرُّتْبَةِ هُمُ الْأَقَلُّونَ فَلَا جَرَمَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ الْمُقَرَّبُونَ ﴿الَّذِينَ قالوا ربنا الله ثم استقاموا﴾ فهؤلاء لازموا الطريق المستقيم واستووا على الصراط القويم واطمأنت نفوسهم على مقتضى باعث الدين وإياهم ينادي المنادي ﴿يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي إلى ربك راضية مرضية﴾
Ketahuilah bahwa dorongan agama (ba'itsud din) dibanding dorongan hawa nafsu (ba'itsul hawa) memiliki tiga kondisi. Kondisi pertama, dorongan agama menundukkan dorongan hawa nafsu sehingga tidak tersisa lagi kekuatan penentangan darinya, dan hal ini dicapai melalui kesabaran yang berkesinambungan. Pada tingkat ini dikatakan: "Barang siapa bersabar, ia akan berhasil." Orang-orang yang mencapai tingkatan ini adalah kelompok yang paling sedikit, dan tidak diragukan lagi mereka adalah para shiddiqin (orang-orang yang jujur imannya) yang didekatkan (al-muqarrabun), yaitu "orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka meneguhkan pendirian (istiqamah)." Mereka menetapi jalan yang lurus dan tegak di atas shirathal mustaqim, serta jiwa mereka merasa tenang tenteram (tuma'ninah) di atas tuntutan dorongan agama. Kepada merekalah penyeru memanggil: "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya." (QS. Al-Fajr: 27-28).
الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ تَغْلِبَ دَوَاعِي الْهَوَى وَتَسْقُطُ بِالْكُلِّيَّةِ مُنَازَعَةُ بَاعِثِ الدِّينِ فَيُسَلِّمُ نَفْسَهُ إِلَى جند الشياطين ولا يجاهد ليأسه من المجاهدة وَهَؤُلَاءِ هُمُ الْغَافِلُونَ وَهُمُ الْأَكْثَرُونَ وَهُمُ الَّذِينَ اسْتَرَقَّتْهُمْ شَهَوَاتُهُمْ وَغَلَبَتْ عَلَيْهِمْ شِقْوَتُهُمْ فَحَكَّمُوا أَعْدَاءَ الله في قلوبهم التي هي سر من أسرار الله تعالى وأمر من أمور الله وإليهم الإشارة بقوله تعالى ﴿ولو شئنا لآتينا كل نفس هداها ولكن حق القول مني لأملأن جهنم من الجنة والناس أجمعين﴾ وهؤلاء هم الذين اشتروا الحياة الدنيا بالآخرة فخسرت صفقتهم وقيل لمن قصد إرشادهم فأعرض عمن تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا
Kondisi kedua, dorongan hawa nafsu mengalahkan dan perlawanan dorongan agama runtuh secara total, sehingga ia menyerahkan jiwanya kepada pasukan setan dan tidak lagi melakukan mujahadah (perjuangan jiwa) karena telah putus asa darinya. Mereka ini adalah orang-orang yang lalai (al-ghafilun) dan merupakan kelompok terbanyak. Mereka adalah orang-orang yang telah diperbudak oleh syahwat mereka dan dikuasai oleh kecelakaan (syaqawah) mereka, sehingga mereka memberikan kekuasaan kepada musuh-musuh Allah di dalam hati mereka yang sejatinya merupakan rahasia dari rahasia-rahasia Allah Ta'ala dan urusan dari urusan-urusan Allah. Kepada merekalah diisyaratkan oleh firman Allah Ta'ala: "Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami berikan kepada setiap jiwa petunjuknya, tetapi telah tetap perkataan dari-Ku: 'Pasti akan Aku penuhi neraka Jahanam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.'" (QS. As-Sajdah: 13). Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, maka perniagaan mereka rugi. Dan dikatakan kepada orang yang berniat memberi petunjuk kepada mereka: "Maka berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami…"
﴿ولم يرد إلا الحياة الدنيا ذلك مبلغهم من العلم﴾ وهذه الحالة علامتها اليأس والقنوط والغرور بالأماني وهو غاية الحمق كما قال ﷺ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْأَحْمَقُ مَنْ أتبع نفسه هواها وتمنى على الله وصاحب هذه الحالة إذا وعظ قال أنا مشتاق إلى التوبة ولكنها قد تعذرت علي فلست أطمع فيها أو لم يكن مشتاقاً إلى التوبة ولكن قال إن الله غفور رحيم كريم فلا حاجة به إلى توبتي وهذا المسكين قد صار عقله رقيقاً لشهوته فلا يستعمل عقله إلا في استنباط دقائق الحيل التي بها يتوصل إلى قضاء شهوته فقد صار عقله في يد شهواته كمسلم أسير في أيدي الكفار فهم يستسخرونه في رعاية الخنازير وحفظ الخمور وحملها ومحله عند الله تعالى محل من يقهر مسلماً ويسلمه إلى الكفار ويجعله أسيراً عندهم لأنه بفاحش جنايته يشبه أنه سخر ما كان حقه أن لا يستسخر وسلط ما حقه أن لا يتسلط عليه وإنما استحق المسلم أن يكون متسلطاً لما فيه من معرفة الله وباعث الدين وإنما استحق الكافر أن يكون مسلطاً عليه لما فيه من الجهل بالدين وباعث الشياطين وحق المسلم على نفسه أوجب من حق غيره عليه فمهما سخر المعنى الشريف الذي هو من حزب الله وجند الملائكة للمعنى الخسيس الذي هو من حزب الشياطين المبعدين عن الله تعالى كان كمن أرق مسلماً لكافر بل هو كمن قصد الملك المنعم عليه فأخذ أعز أولاده وسلمه إلى أبغض أعدائه فانظر كيف يكون كفرانه لنعمته واستيجابه لنقمته لأن الهوى أبغض إله عبد في الأرض عند الله تعالى والعقل أعز موجود خلق على وجه الأرض
"…dan tidak menghendaki melainkan kehidupan dunia. Itulah sejauh-jauh pencapaian ilmu mereka." (QS. An-Najm: 29-30). Kondisi ini ditandai oleh keputusasaan dan terpedaya oleh angan-angan kosong, yang merupakan puncak dari kebodohan, sebagaimana bersabda Rasulullah ﷺ: "Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan jiwanya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang mengikutkan jiwanya pada hawa nafsunya lalu ia berharap kepada Allah berbagai angan-angan." Pemilik kondisi ini apabila dinasihati, ia akan berkata: "Aku rindu untuk bertobat, tetapi hal itu terasa sulit bagiku sehingga aku tidak lagi berharap padanya." Atau ia tidak rindu bertobat melainkan berkata: "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang dan Maha Pemurah, maka Dia tidak membutuhkan tobatku." Orang malang ini akalnya telah menjadi lemah di hadapan syahwatnya, sehingga ia tidak menggunakan akalnya melainkan untuk menggali celah-celah tipu daya halus guna memenuhi syahwatnya. Maka akalnya di tangan syahwatnya bagaikan seorang muslim yang menjadi tawanan di tangan orang-orang kafir; mereka mempekerjakannya untuk memelihara babi, menjaga khamar, dan mengangkutnya. Kedudukannya di sisi Allah Ta'ala sama seperti kedudukan orang yang memaksa seorang muslim dan menyerahkannya kepada orang-orang kafir serta menjadikannya tawanan di sisi mereka. Sebab, melalui kejahatannya yang sangat buruk itu, ia seolah-olah telah menundukkan apa yang seharusnya tidak ditundukkan dan memberi kekuasaan kepada apa yang tidak berhak berkuasa. Seorang muslim berhak berkuasa hanya karena di dalam dirinya terdapat makrifatullah dan dorongan agama, sedangkan orang kafir berhak dikuasai karena di dalam dirinya terdapat kebodohan terhadap agama dan dorongan setan. Hak seorang muslim atas jiwanya sendiri lebih wajib daripada hak orang lain atas dirinya. Maka, sewaktu ia menundukkan entitas yang mulia—yang merupakan bagian dari hizbullah (golongan Allah) dan pasukan malaikat—kepada entitas yang hina—yang merupakan bagian dari hizbusy-syaithan (golongan setan) yang dijauhkan dari Allah Ta'ala—ia bagaikan orang yang mendatangi seorang raja yang telah memberinya nikmat, lalu ia mengambil anak raja yang paling dicintai dan menyerahkannya kepada musuh raja yang paling dibenci. Maka lihatlah bagaimana pengingkarannya terhadap nikmat raja tersebut dan bagaimana ia layak menerima hukumannya. Karena hawa nafsu adalah sesembahan yang paling dibenci Allah yang disembah di bumi, sedangkan akal adalah wujud paling mulia yang diciptakan di atas permukaan bumi.
الْحَالَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ الْحَرْبُ سِجَالًا بَيْنَ الْجُنْدَيْنِ فَتَارَةً لَهُ الْيَدُ عَلَيْهَا وَتَارَةً لَهَا عليه وهذا من المجاهدين يعد مثله لَا مِنَ الظَّافِرِينَ وَأَهْلُ هَذِهِ الْحَالَةِ هُمُ الَّذِينَ ﴿خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى الله أن يتوب عليهم﴾ هذا باعتبار القوة والضعف ويتطرق إليه أيضاً ثلاثة أحوال باعتبار عدد ما يصبر عنه فإنه إما أن يغلب جميع الشهوات أو لا يغلب شيئاً منها أو يغلب بعضها دون بعض وتنزيل قوله تعالى ﴿خلطوا عملاً صالحاً وآخر سيئاً﴾ على من عجز عن بعض الشهوات دون بعض أولى وَالتَّارِكُونَ لِلْمُجَاهَدَةِ مَعَ الشَّهَوَاتِ مُطْلَقًا يُشَبَّهُونَ بِالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا إِذِ الْبَهِيمَةُ لَمْ تُخْلَقْ لَهَا الْمَعْرِفَةُ وَالْقُدْرَةُ الَّتِي بِهَا تُجَاهِدُ مقتضى الشهوات وهذا قد خلق ذلك له وعطله فهو الناقص حقاً المدبر يقيناً ولذلك قيل
Kondisi ketiga, peperangan berganti-ganti kemenangan di antara kedua pasukan tersebut; terkadang dorongan agama memegang kendali atas hawa nafsu, dan terkadang hawa nafsu memegang kendali atasnya. Orang yang berada pada kondisi ini tergolong orang-orang yang bermujahadah (berjuang), bukan tergolong orang-orang yang telah menang. Pemilik kondisi ini adalah orang-orang yang "mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka." (QS. At-Taubah: 102). Ini ditinjau dari sudut kekuatan dan kelemahan. Hal ini juga terbagi menjadi tiga kondisi ditinjau dari jumlah hal yang disabari, yaitu: adakalanya ia mampu mengalahkan seluruh syahwat, atau tidak mampu mengalahkan satu pun dari syahwat tersebut, atau ia mampu mengalahkan sebagian syahwat dan gagal pada sebagian yang lain. Pengaplikasian ayat Allah Ta'ala: "Mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk" kepada orang yang tidak mampu menundukkan sebagian syahwat di samping mampu menundukkan sebagian yang lain adalah lebih tepat. Adapun orang-orang yang meninggalkan mujahadah (perjuangan jiwa) melawan syahwat secara mutlak, mereka disamakan dengan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya. Sebab, binatang ternak tidak diciptakan memiliki makrifat dan kemampuan yang dengannya ia bisa memenangi perlawanan terhadap tuntutan syahwat. Sementara manusia ini diciptakan memiliki hal tersebut namun ia menyia-nyikannya, maka ia adalah orang yang benar-benar kurang dan dipastikan berada dalam kemunduran. Oleh karena itulah dikatakan:
ولم أر في عيوب الناس عيباً … كنقص القادرين على التمام
"Dan tidaklah aku melihat suatu cela pada keaiban manusia… seperti kekurangan orang-orang yang sebenarnya mampu mencapai kesempurnaan."
وينقسم الصبر أيضاً باعتبار اليسر والعسر إلى ما يشق على النفس فلا يمكن الدوام عليه إلا بجهد جهيد وتعب شديد ويسمى ذلك تصبراً وإلى ما يكون من غير شدة تعب بل يحصل بأدنى تحامل على النفس ويخص ذلك باسم الصبر وَإِذَا دَامَتِ التَّقْوَى وَقَوِيَ التَّصْدِيقُ بِمَا فِي العاقبة من الحسنى تيسر الصبر ولذلك قال تعالى ﴿فأما من أعطى واتقى وصدق بالحسنى فسنيسره لليسرى﴾ ومثال هذه القسمة قدرة المصارع على غيره فإن الرجل القوي يقدر على أن يصرع الضعيف بأدنى حملة وأيسر قوة بحيث لا يلقاه في مصارعته إعياء ولا لغوب ولا تضطرب فيه نفسه ولا ينبهر ولا يقوى على أن يصرع الشديد إلا بتعب ومزيد جهد وعرق جبين فهكذا تكون المصارعة بين باعث الدين وباعث الهوى فإنه على التحقيق صراع بين جنود الملائكة وجنود الشياطين ومهما أذعنت الشهوات وانقمعت وتسلط باعث الدين واستولى وتيسر الصبر بطول المواظبة أورث ذلك مقام الرضا كما سيأتي في كتاب الرضا فالرضا
Sabar juga terbagi berdasarkan kemudahan dan kesulitannya menjadi: sesuatu yang terasa berat bagi jiwa sehingga tidak mungkin dilakukan secara konsisten melainkan dengan usaha keras dan kelelahan yang luar biasa, dan ini dinamakan tashabbur (berusaha untuk sabar); dan sesuatu yang terjadi tanpa kelelahan yang berat melainkan tercapai dengan sedikit penekanan pada jiwa, dan ini khusus dinamakan sabar. Apabila ketakwaan telah berlangsung lama dan pembenaran (tashdiq) terhadap balasan kebaikan di akhirat makin kuat, maka kesabaran akan menjadi mudah. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." (QS. Al-Lail: 5-7). Perumpamaan pembagian ini seperti kemampuan seorang pegulat atas musuhnya. Pria yang kuat mampu menumbangkan orang yang lemah hanya dengan satu serangan ringan dan tenaga yang sangat minim, sedemikian rupa sehingga dalam pergulatannya ia tidak mengalami kelelahan, kepayahan, gejolak jiwa, maupun napas yang terengah-engah. Sebaliknya, ia tidak akan mampu menumbangkan orang yang kuat melainkan dengan kepayahan, usaha ekstra, dan keringat di dahi. Begitulah pergulatan antara dorongan agama dan dorongan hawa nafsu, sebab pada hakikatnya itu adalah pertempuran antara pasukan malaikat dan pasukan setan. Manakala syahwat-syahwat telah tunduk dan terkikis, dorongan agama telah menguasai serta membumbung tinggi, dan kesabaran menjadi mudah karena lamanya membiasakan diri, maka hal itu akan melahirkan maqam ridha (kerelaan hati), sebagaimana akan dijelaskan dalam Kitab Ar-Ridha. Maka ridha…
أعلى من الصبر ولذلك قال ﷺ اعبد الله على الرضا فإن لم تستطع ففي الصبر على ما تكره خير كثير وقال بعض العارفين أهل الصبر على ثلاثة مقامات أولها ترك الشهوة وهذه درجة التائبين وثانيها الرضا بالمقدور وهذه درجة الزاهدين وثالثها المحبة لما يصنع به مولاه وهذه درجة الصديقين
…lebih tinggi daripada sabar. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda: "Beribadahlah kepada Allah di atas landasan ridha; jika engkau tidak mampu, maka di dalam kesabaran atas apa yang engkau benci terdapat kebaikan yang banyak." Sebagian 'arifin (orang yang bermakrifat kepada Allah) berkata: "Ahli sabar berada pada tiga maqam (tingkatan spiritual): yang pertama adalah meninggalkan syahwat, dan ini adalah derajat orang-orang yang bertobat (at-ta'ibin); yang kedua adalah ridha terhadap ketentuan (al-maqdur), dan ini adalah derajat orang-orang yang zuhud (az-zahidin); dan yang ketiga adalah mencintai apa yang diperbuat oleh Pelindungnya (Allah), dan ini adalah derajat orang-orang yang sangat jujur imannya (ash-shiddiqin)."
وسنبين في كتاب المحبة أن مقام المحبة أعلى من الرضا كما أن مقام الرضا أعلى من مقام الصبر وكأن هذا الانقسام يجري في صبر خاص وهو الصبر على المصائب والبلايا
Dan kelak kami akan jelaskan dalam Kitab Mahabbah (Cinta) bahwa maqam mahabbah lebih tinggi daripada ridha, sebagaimana maqam ridha lebih tinggi daripada maqam sabar. Pembagian ini seolah-olah berlaku pada jenis kesabaran yang khusus, yaitu sabar dalam menghadapi musibah dan ujian.
واعلم أن الصبر أيضاً ينقسم باعتبار حكمه إلى فرض ونفل ومكروه ومحرم فالصبر عن المحظورات فرض وعلى المكاره نفل والصبر على الأذى المحظور محظور كمن تقطع يده أو يد ولده وهو يصبر عليه ساكتا وكمن يقصد حريمه بشهوة محظورة فتهيج غيرته فيصبر عن اظهاره الغيرة ويسكت على ما يجري على أهله فهذا الصبر محرم والصبر المكروه هو الصبر على أذى يناله بجهة مكروهة في الشرع فليكن الشرع محك الصبر فكون الصبر نصف الإيمان لا ينبغي أن يخيل إليك أن جميعه محمود بل المراد به أنواع من الصبر مخصوصة
Ketahuilah bahwa sabar juga terbagi berdasarkan hukum syariatnya menjadi: fardhu (wajib), nafl (sunnah), makruh, dan haram. Sabar dalam menahan diri dari hal-hal yang dilarang (al-mahzhurat) adalah fardhu; sabar terhadap hal-hal yang dibenci (al-makaruh) adalah sunnah; dan sabar terhadap gangguan yang dilarang adalah haram, seperti orang yang tangannya atau tangan anaknya dipotong lalu ia bersabar dengan berdiam diri, atau seperti orang yang kehormatan keluarganya dituju dengan syahwat yang haram lalu kecemburuannya bergejolak namun ia bersabar untuk tidak menampakkan kecemburuan tersebut dan berdiam diri atas apa yang terjadi pada keluarganya, maka kesabaran seperti ini adalah haram. Adapun sabar yang makruh adalah sabar terhadap gangguan yang menimpanya melalui jalan yang dimakruhkan dalam syariat. Maka hendaklah syariat menjadi tolok ukur kesabaran. Oleh karena itu, kenyataan bahwa sabar merupakan separuh dari iman tidak boleh membayangkan kepadamu bahwa seluruh bentuk kesabaran itu terpuji, melainkan yang dimaksud dengannya adalah jenis-jenis kesabaran yang tertentu.