باب الجناية
باب الجناية
Bab Jinayah (Tindak Pidana)
لا قصاص إلا في عمد وهو قصد فعل وشخص بما يقتل,
Tidak ada qisas kecuali dalam pembunuhan sengaja, yaitu kesengajaan melakukan suatu perbuatan dan menujukannya pada seseorang dengan alat/cara yang membunuh,
باب الجناية
Bab Jinayah (Tindak Pidana)
من قتل وقطع وغيرهما.
Berupa pembunuhan, pemotongan anggota badan, dan selain keduanya.
والقتل ظلما أكبر الكبائر بعد الكفر وبالقود أو العفو لا تبقى مطالبة أخروية والفعل المزهق ثلاثة: عمد وشبه عمد وخطأ.
Membunuh secara zalim adalah dosa besar paling besar setelah kekufuran. Dengan qishash atau pengampunan, tidak ada lagi tuntutan di akhirat. Perbuatan yang menghilangkan nyawa ada tiga macam: sengaja (am'd), menyerupai sengaja (shibh am'd), dan tidak sengaja (khatha').
لا قصاص إلا في عمد بخلاف شبهه والخطأ وهو قصد فعل ظلما وعين شخص يعني الإنسان: إذ لو قصد شخصا ظنه ظبيا فبان إنسانا كان خطأ.
Tidak ada qishash kecuali pada pembunuhan sengaja, berbeda dengan menyerupai sengaja dan tidak sengaja. Pembunuhan sengaja yaitu sengaja melakukan perbuatan secara zalim dan sengaja menujukan perbuatan itu pada diri seseorang (manusia); sebab jika seseorang menujukan perbuatannya kepada sesuatu yang disangkanya kijang lalu ternyata manusia, maka itu adalah ketidaksengajaan.
بما يقتل غالبا جارحا كان كغرز إبرة بمقتل كدماغ وعين وخاصرة وإحليل ومثانة وعجان وهو ما بين الخصية والدبر أو
Dengan sesuatu yang umumnya mematikan, baik yang melukai seperti menusukkan jarum pada anggota tubuh yang mematikan seperti otak, mata, pinggang, saluran kencing, kandung kemih, dan perineum (yakni area antara buah zakar dan dubur), atau
وقصدهما بغيره شبه عمد,
dan meniatkan keduanya (perbuatan dan orangnya) dengan selain alat tersebut (yang umumnya tidak mematikan) dinamakan menyerupai sengaja,
لا: كتجويع وسحر.
bukan (alat melukai): seperti membuat kelaparan dan sihir.
وقصدهما أي الفعل والشخص بغيره أي غير ما يقتل غالبا شبه عمد سواء أقتل كثيرا أم نادرا كضربة يمكن عادة إحالة الهلاك عليها بخلافها بنحو قلم أو مع خفتها جدا فهدر ولو غرز إبرة بغير مقتل كألية وفخذ
Maksud dari menyengaja keduanya—yaitu perbuatan dan orangnya—dengan selain alat tersebut (yaitu selain alat yang umumnya mematikan) adalah pembunuhan menyerupai sengaja, baik perbuatan itu jarang maupun sering mematikan, seperti pukulan yang secara kebiasaan bisa dianggap menjadi penyebab kematian, berbeda jika pemicunya seumpama pena atau pukulan yang sangat ringan maka darahnya sia-sia (tidak menuntut hukuman/diyat). Dan jika menusukkan jarum pada bagian yang tidak mematikan seperti pantat dan paha,
وتألم حتى مات فعمد.
lalu korban mengalami kesakitan hingga meninggal dunia, maka hukumnya adalah sengaja.
وإن لم يظهر أثر ومات حالا فشبه عمد.
Namun jika tidak tampak bekas luka dan korban langsung mati saat itu juga, maka tergolong menyerupai sengaja.
ولو حبسه كأن أغلق بابا عليه ومنعه الطعام والشراب أو أحدهما والطلب لذلك حتى مات جوعا أو عطشا فإن مضت مدة يموت مثله فيها غالبا جوعا أو عطشا فعمد لظهور قصد الإهلاك به.
Jika seseorang mengurung orang lain, seperti mengunci pintu padanya dan menghalanginya dari makanan dan minuman atau salah satunya serta melarangnya memintanya hingga ia mati karena lapar atau haus; apabila telah berlalu durasi waktu yang mana orang seperti dia umumnya mati karena kelaparan atau kehausan pada waktu tersebut, maka itu terhitung sengaja, karena jelasnya niat untuk membinasakannya.
ويختلف ذلك باختلاف حال المحبوس والزمن قوة وحرا.
Hal itu berbeda-beda sesuai perbedaan kondisi orang yang dikurung dan waktu (seperti daya tahan tubuh dan cuaca panas).
وحد الأطباء الجوع المهلك غالبا باثنين وسبعين ساعة متصلة فإن لم تمض المدة المذكورة ومات بالجوع: فإن لم يكن به جوع أو عطش سابق فشبه عمد فيجب نصف ديته لحصول الهلاك بالأمرين١.
Para dokter membatasi rasa lapar yang umumnya membinasakan dengan 72 jam terus-menerus. Jika belum melampaui durasi tersebut lalu korban mati karena lapar: apabila ia tidak memiliki kelaparan atau kehausan sebelumnya, maka hukumnya menyerupai sengaja, sehingga wajib membayar separuh diyatnya karena kebinasaan terjadi akibat gabungan dua hal tersebut.
ومال ابن العماد فيمن أشار لإنسان بسكين تخويفا له فسقطت عليه
Ibnu al-Imad cenderung berpendapat mengenai orang yang mengacungkan pisau kepada seseorang untuk menakut-nakutinya lalu pisau itu jatuh menimpanya
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………
من غير قصد إلى أنه عمد موجب للقود.
tanpa ada maksud membunuh, bahwa hal itu terhitung sengaja yang mewajibkan qishash.
قال شيخنا: وفيه نظر لأنه لم يقصد عينه بالآلة فالوجه أنه غير عمد انتهى.
Guru kami (Ibn Hajar al-Haitami) berkata: Pendapat tersebut perlu ditinjau kembali, karena dia tidak mengarahkan alat tersebut secara langsung pada orangnya untuk melukainya. Maka yang tepat adalah hal itu bukan pembunuhan sengaja. Selesai.
تنبيه: يجب قصاص بسبب كمباشرة فيجب على مكره بغير حق بأن قال اقتل هذا وإلا لاقتلنك١ فقتله وعلى مكره أيضا وعلى من ضيف بمسموم يقتل غالبا غير مميز فإن ضيف به مميزا أو دسه في طعامه الغالب
Peringatan: Qishash wajib disebabkan oleh perantara (sabab) sebagaimana wajib karena eksekusi langsung (mubasyarah). Maka qishash wajib atas orang yang memaksa secara batil dengan mengatakan, 'Bunuhlah orang ini, jika tidak maka aku pasti membunuhmu,' lalu orang yang dipaksa membunuhnya; dan wajib pula atas orang yang dipaksa. Begitu juga wajib atas orang yang menyuguhkan makanan beracun yang umumnya mematikan kepada anak kecil/orang yang belum mumayyiz. Namun jika disuguhkan kepada orang yang sudah mumayyiz atau diselipkan dalam makanan yang umumnya
أكله منه فأكله جاهلا فشبه عمد فيلزمه ديته ولا قود لتناوله الطعام باختياره وفي قول قصاص لتغريره وفي قول لا شيء تغليبا للمباشرة.
dimakannya lalu ia memakannya dalam keadaan tidak tahu, maka hukumnya adalah menyerupai sengaja, sehingga pelaku wajib membayar diyatnya dan tidak ada qishash karena korban memakan makanan tersebut atas pilihannya sendiri. Menurut satu pendapat, tetap ada qishash karena penipuan/penyesatan yang dilakukannya. Dan menurut pendapat lain, tidak ada kewajiban apa-apa karena memenangkan faktor eksekusi langsung.
وعلى من ألقى في ماء مغرق لا يمكنه التخلص منه بعوم أو غيره وإن التقمه حوت ولو قبل وصوله الماء فإن أمكنه تخلص بعوم أو غيره ومنعه منه عارض كموج وريح فهلك فشبه عمد ففيه ديته وإن أمكنه فتركه خوفا أو عنادا فلا دية.
Dan [hukuman kisas/denda berlaku] atas orang yang melemparkan seseorang ke dalam air yang menggenamkan yang tidak memungkinkan baginya untuk menyelamatkan diri dengan berenang atau lainnya, meskipun ia disambar paus sebelum sampai ke air. Namun jika ia memungkinkan menyelamatkan diri dengan berenang atau lainnya, lalu ia terhalang oleh suatu hambatan seperti ombak dan angin hingga ia tewas, maka itu adalah pembunuhan semi-sengaja (syibhu 'amd), sehingga padanya wajib membayar diatnya. Dan jika ia mampu menyelamatkan diri tetapi meninggalkannya karena takut atau sengaja (pembangkangan), maka tidak ada diat.
فرع: لو أمسكه شخص ولو للقتل فقتله آخر فالقصاص على القاتل دون الممسك.
Cabang masalah: Jika seseorang memegang korbannya, meskipun dengan maksud untuk dibunuh, lalu orang lain membunuhnya, maka qishash ditanggung oleh pembunuh, bukan orang yang memegang.
وعدم قصد أحدهما فخطأ ولو وجد من شخصين معا فعلان مزهقان مذففان كحز وقد أو لا كقطع عضوين فقاتلان أو مرتبا فالأول إن أنهاه إلى حركة مذبوح,
Dan tidak adanya maksud dari salah satu dari keduanya adalah pembunuhan tidak sengaja (khatha'). Dan jika terjadi dari dua orang secara bersamaan dua perbuatan yang mematikan dan mempercepat kematian seperti menggorok leher dan membelah tubuh, atau tidak mempercepat kematian seperti memotong dua anggota badan, maka keduanya adalah pembunuh. Atau jika perbuatan tersebut berurutan, maka yang pertama adalah pembunuhnya jika ia telah menjadikannya dalam kondisi bergerak seperti hewan disembelih (harakat madzbuh),
ولا قصاص على من أكره على صعود شجرة فزلق ومات بل هو شبه عمد إن كانت مما يزلق على مثلها غالبا وإلا فخطأ.
Tidak ada qishash bagi orang yang dipaksa memanjat pohon lalu terpeleset dan tewas, melainkan itu adalah pembunuhan semi-sengaja jika pohon itu termasuk jenis yang umumnya membuat orang terpeleset, jika tidak maka pembunuhan tidak sengaja.
وعدم قصد أحدهما بأن لم يقصد الفعل كأن زلق فوقع على غيره فقتله أو قصده فقط كأن رمى لهدف فأصاب إنسانا ومات فخطأ ولو وجد بشخص من شخصين معا أي حال كونهما مقترنين في زمن الجناية بأن تقارنا في الإصابة فعلان مزهقان للروح مذففان أي مسرعان للقتل كحز للرقبة وقد للجثة أو لا أي غير مذففين كقطع عضوين أي جرحين أو جرح من واحد وعشرة مثلا من آخر فمات منهما فقاتلان فيقتلان: إذ رب جرح له نكاية باطنا أكثر من جروح فإن ذفف أي أسرع للقتل أحدهما فقط فهو القاتل فلا يقتل الآخر وإن شككنا في تذفيف جرحه لان الأصل عدمه والقود لا يجب بالشك أو وجدا به منهما مرتبا ف القاتل الأول إن أنهاه إلى حركة مذبوح بأن لم يبق فيه إدراك وإبصار ونطق وحركة اختياريات ويعزر الثاني وإن جنى الثاني قبل إنهاء الأول إليها وذفف كحز به بعد جرح فالقاتل الثاني وعلى الأول قصاص العضو أو مال بحسب الحال وإن لم يذفف الثاني أيضا ومات المجني بالجنايتين كأن قطع واحد من الكوع والآخر من المرفق فقاتلان لوجود السراية منهما.
(Dan tidak adanya maksud dari salah satu dari keduanya) yaitu dengan tidak bermaksud melakukan perbuatan tersebut, seperti terpeleset lalu jatuh menimpa orang lain dan membunuhnya, atau hanya bermaksud melakukan perbuatannya saja seperti memanah ke sasaran lalu mengenai seseorang hingga tewas, maka itu adalah pembunuhan tidak sengaja (khatha'). (Dan jika terjadi pada seseorang dari dua orang secara bersamaan) yaitu dalam keadaan keduanya bersamaan pada waktu kejahatan dengan bersamaan saat mengenai korban, (dua perbuatan yang mencabut nyawa dan mempercepat kematian) yaitu mempercepat proses pembunuhan (seperti menggorok leher dan membelah tubuh, atau tidak) yaitu tidak mempercepat kematian (seperti memotong dua anggota badan) yaitu dua luka, atau satu luka dari seseorang dan sepuluh luka misalnya dari orang lain, lalu ia tewas dari keduanya, (maka keduanya adalah pembunuh) sehingga keduanya dihukum mati; sebab terkadang satu luka memiliki dampak fatal di dalam yang lebih besar dari banyak luka. Jika yang mempercepat kematian hanya salah satunya saja, maka dialah pembunuhnya sehingga yang lain tidak dihukum mati, sekalipun kita ragu tentang mempercepat kematiannya luka tersebut, karena hukum asalnya adalah tidak ada (percepatan), dan qishash tidak wajib dengan adanya keraguan. (Atau terjadi pada korban dari keduanya secara berurutan, maka) pembunuhnya adalah (orang pertama jika ia telah menyampaikannya pada kondisi bergerak seperti hewan yang disembelih), yaitu dengan tidak tersisa lagi padanya kesadaran, penglihatan, ucapan, dan gerakan ikhtiyariyah (sukarela), dan orang kedua dijatuhi takzir. Namun jika orang kedua melakukan kejahatan sebelum orang pertama menyampaikannya ke kondisi tersebut dan ia mempercepat kematian seperti menggorok leher setelah adanya luka, maka pembunuhnya adalah orang kedua, sedangkan orang pertama dikenakan qishash anggota badan atau denda sesuai keadaan. Jika orang kedua juga tidak mempercepat kematian dan korban tewas karena dua kejahatan tersebut, seperti satu orang memotong dari pergelangan tangan dan yang lain dari siku, maka keduanya adalah pembunuh karena adanya penularan luka (sirayah) dari keduanya.
وشرط في قتيل عصمة وقاتل تكليف
Dan disyaratkan pada korban pembunuhan adanya perlindungan darah ('ishmah), dan pada pembunuh adanya taklif (mukalaf).
فرع: لو اندملت الجراحة واستمرت الحمى حتى مات فإن قال عدلا طب إنها من الجرح فالقود وإلا فلا ضمان.
Cabang masalah: Jika luka telah sembuh tetapi demam terus berlanjut hingga korban meninggal, jika dua orang dokter yang adil menyatakan bahwa demam itu berasal dari luka tersebut, maka berlaku qishash; jika tidak, maka tidak ada ganti rugi (dhamân).
وشرط أي للقصاص في النفس في القتل كونه عمدا ظلما فلا قود في الخطأ وشبه العمد وغير الظلم.
Dan disyaratkan (yaitu untuk qishash jiwa dalam pembunuhan) keadaannya sengaja dan zalim, maka tidak ada qishash dalam pembunuhan tidak sengaja (khatha'), semi-sengaja (syibhu 'amd), dan pembunuhan yang bukan zalim.
وفي قتيل عصمة بإيمان أو أمان يحقن دمه بعقد ذمة أو عهد فيهدر الحربي والمرتد وزان محصن قتله مسلم
Dan pada korban pembunuhan [disyaratkan] adanya perlindungan (kesucian darah) dengan sebab iman atau jaminan keamanan yang menjaga darahnya melalui akad dzimmah atau perjanjian ('ahd). Maka sia-sia (tidak terlindungi) darah kafir harbi, orang murtad, dan peszina muhshan yang dibunuh oleh seorang muslim
ليس زانيا محصنا سواء أثبت زناه ببينة أم بإقرار لم يرجع عنه.
yang bukan peszina muhshan, baik perzinaannya dibuktikan dengan bukti nyata (bayyinah) maupun dengan pengakuan yang tidak ditarik kembali.
وخرج بقولي ليس زانيا محصنا الزاني المحصن فيقتل به ما لم يأمره الإمام بقتله.
Dan keluar dari perkataan saya 'bukan peszina muhshan' adalah peszina muhshan, maka ia [pembunuhnya] tidak dihukum mati karenanya selama imam tidak memerintahkannya untuk membunuhnya.
قال شيخنا: ويظهر أن يلحق بالزاني المحصن في ذلك كل مهدر كتارك صلاة وقاطع طريق متحتم قتله.
Guru kami berkata: Tampaknya disamakan dengan peszina muhshan dalam hal ini adalah setiap orang yang darahnya sia-sia (tidak terlindungi), seperti orang yang meninggalkan shalat dan pembegal yang wajib dibunuh.
والحاصل أن المهدر معصوم على مثله في الإهدار وإن اختلفا في سببه ويد السارق مهدرة إلا على مثله سواء المسروق منه وغيره ومن عليه قصاص كغيره في العصمة في حق غير المستحق فيقتل قاتله ولا قصاص على حربي وإن عصم بعد لعدم التزامه ولما تواتر عنه ص عن أصحابه من عدم الإقادة ممن أسلم كوحشي قاتل حمزة ﵄ بخلاف الذمي فعليه القود وإن أسلم.
Kesimpulannya adalah bahwa orang yang darahnya sia-sia (muhdar) tetap terlindungi darahnya terhadap sesamanya yang sama-sama muhdar, meskipun berbeda sebabnya. Tangan pencuri adalah muhdar kecuali terhadap sesamanya, baik orang yang dicuri barangnya maupun orang lain. Dan orang yang menanggung hukuman qishash kedudukannya seperti orang lain dalam hal kesucian darah terhadap selain orang yang berhak (atas qishash tersebut), sehingga pembunuhnya tetap dihukum mati. Tidak ada qishash bagi kafir harbi meskipun ia kemudian menjadi terlindungi darahnya, karena ia tidak terikat aturan Islam dan berdasarkan riwayat mutawatir dari Nabi SAW dan para sahabatnya tentang tidak adanya qishash dari orang yang masuk Islam seperti Wahsyi pembunuh Hamzah radhiyallahu 'anhu; berbeda dengan kafir dzimmi, maka ia tetap dikenakan qishash meskipun telah masuk Islam.
وشرط في قاتل تكليف فلا يقتل صبي ومجنون حال القتل.
Dan disyaratkan pada pembunuh adanya taklif (mukalaf), maka tidak dihukum mati anak kecil dan orang gila pada saat melakukan pembunuhan.
ومكافأة بإسلام أو حرية أو أصالة ويقتل جميع بواحد.
Dan kesetaraan (mukâfa'ah) dalam hal Islam, kemerdekaan, atau asal-usul (keturunan). Dan sekelompok orang dihukum mati karena membunuh satu orang.
والمذهب وجوبه على السكران المتعدي بتناول مسكر فلا قود على غير متعد به.
Dan pendapat mazhab adalah wajibnya [qishash] atas orang mabuk yang sengaja melanggar dengan meminum bahan pemabuk, maka tidak ada qishash atas orang yang tidak melanggar darinya.
ولو قال كنت وقت القتل صبيا وأمكن صباه فيه أو مجنونا وعهد جنونه فيصدق بيمينه.
Jika ia berkata, 'Aku pada saat pembunuhan masih anak-anak' dan dimungkinkan usianya masih anak-anak saat itu, atau 'aku dalam keadaan gila' dan gila tersebut memang pernah dialaminya, maka ia dibenarkan dengan sumpahnya.
ومكافأة أي مساواة حال جناية بأن لا يفضل قتيله حال الجناية بإسلام أو حرية أو أصالة أو سيادة فلا يقتل مسلم ولو مهدرا بنحو زنا بكافر ولا حر بمن فيه رق وإن قل ولا أصل بفرعه وإن سفل ويقتل الفرع بأصله.
Dan kesetaraan (mukafa'ah), yaitu adanya kesamaan pada saat terjadinya tindak pidana pembunuhan (jinayah), di mana korban pembunuhan tidak lebih unggul dari pelaku saat pidana terjadi dalam hal keislaman, kemerdekaan, nasab asal (bukan keturunan), atau kekuasaan. Maka seorang muslim tidak dihukum mati karena membunuh seorang kafir (meskipun darah kafir tersebut terhalang oleh status seperti zina), dan seorang merdeka tidak dihukum mati karena membunuh orang yang memiliki status budak sekecil apa pun, serta seorang asal (orang tua/leluhur) tidak dihukum mati karena membunuh cabangnya (anak/keturunannya) hingga ke bawah, sedangkan cabang (anak) dihukum mati karena membunuh asalnya (orang tuanya).
ويقتل جمع بواحد كأن جرحوه جراحات لها دخل في الزهوق وإن فحش بعضها أو تفاوتوا في عددها وإن لم يتواطئوا أو كأن ألقوه من عال أو في بحر لما روى الشافعي ﵁ وغيره أن عمر ﵁ قتل خمسة أو سبعة قتلوا رجلا غيلة أي خديعة بموضع خال وقال ولو تمالا عليه أهل صنعاء لقتلهم به جميعا ولم ينكر عليه فصار إجماعا.
Dan sekelompok orang dihukum mati karena membunuh satu orang, seperti apabila mereka melukainya dengan luka-luka yang memiliki andil dalam kematian korban, meskipun sebagian luka lebih parah dari yang lain atau jumlah lukanya berbeda-beda, dan meskipun mereka tidak bersekongkol terlebih dahulu; atau seperti jika mereka melemparnya dari tempat yang tinggi atau ke dalam laut. Hal ini berdasarkan riwayat Asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu dan yang lainnya bahwa 'Umar radhiyallahu 'anhu menghukum mati lima atau tujuh orang yang membunuh seorang laki-laki secara ghilah (yakni dengan penipuan di tempat yang sepi) dan beliau berkata: "Seandainya seluruh penduduk Sana'a bersekongkol membunuhnya, niscaya aku akan menghukum mati mereka semua karena membunuhnya." Dan hal itu tidak dibantah oleh seorang pun, sehingga menjadi ijmak.
وللولي العفو عن بعضهم على حصته من الدية باعتبار عدد الرؤوس دون الجراحات ومن قتل جمعا مرتبا قتل بأولهم.
Wali korban berhak memaafkan sebagian dari mereka atas porsi diat dari pelaku tersebut berdasarkan jumlah kepala, bukan berdasarkan jumlah luka. Dan barangsiapa membunuh sekelompok orang secara berurutan, maka ia dihukum mati karena membunuh korban yang pertama.
فرع: لو تصارعا مثلا ضمن بقود أو دية كل منهما ما تولد في الآخر من الصراعة لان كلا لم يأذن فيما يؤدي إلى نحو قتل أو تلف عضو.
Cabang masalah: Jika dua orang saling bergulat misalnya, maka masing-masing menanggung hukuman qisas atau diat atas akibat yang timbul pada diri lawannya dari pergulatan tersebut, karena masing-masing tidak memberi izin terhadap hal yang mengakibatkan pembunuhan atau kerusakan anggota tubuh.
موجب العمد قود والدية بدل وهي مئة بعير مثلثة في عمد وشبهه ثلاثون حقة,
Konsekuensi hukum dari pembunuhan sengaja adalah qisas (qawad), sedangkan diat adalah gantinya. Diat tersebut adalah seratus ekor unta yang dibagi tiga kategori (mutsalatsah) pada pembunuhan sengaja dan yang menyerupai sengaja, yaitu tiga puluh hiqqah,
قال شيخنا: ويظهر أنه لا أثر لاعتياد أن لا مطالبة في ذلك بل لا بد في انتفائها من صريح الإذن.
Guru kami berkata: Tampaknya kebiasaan tidak adanya tuntutan dalam hal tersebut tidak berpengaruh, melainkan gugurnya tuntutan harus dengan izin yang tegas.
تنبيه [في ما يوجب القصاص في غير النفس] يجب قصاص في أعضاء حيث أمكن من غيره ظلم كيد ورجل وأصابع وأنامل وذكر وأنثيين وأذن وسن ولسان وشفة وعين وجفن ومارن أنف وهو ما لان منه. ويشترط لقصاص الطرف والجرح ما شرط للنفس ولا يؤخذ يمين بيسار وأعلى بأسفل وعكسه ولا قصاص في كسر عظم ولو قطعت يد من وسط ذراع اقتص في الكف وفي الباقي حكومة ويقطع جمع بيد تحاملوا عليها دفعة واحدة بمحدد فأبانوها ومن قتل بمحدد أو خنق أو تجويع أو تغريق بماء اقتص إن شاء بمثله أو بسحر فبسيف.
Peringatan [mengenai hal yang mewajibkan qisas pada selain jiwa]: Wajib hukumnya qisas pada anggota tubuh sekiranya memungkinkan tanpa adanya kezaliman (tindakan melampaui batas), seperti tangan, kaki, jari-jari, ruas jari, zakar, dua buah zakar (testis), telinga, gigi, lidah, bibir, mata, kelopak mata, dan cuping hidung—yaitu bagian hidung yang lunak. Dan disyaratkan untuk qisas anggota badan serta luka apa yang disyaratkan untuk jiwa. Tangan kanan tidak dipotong karena tangan kiri, bagian atas tidak dipotong karena bagian bawah dan sebaliknya. Tidak ada qisas dalam pematahan tulang. Jika tangan dipotong dari pertengahan lengan bawah, maka di-qisas pada telapak tangan dan sisa pergelangan dikenakan hukumah (ganti rugi yang ditetapkan hakim). Sekelompok orang dipotong tangannya karena memotong satu tangan secara bersamaan sekaligus dengan benda tajam hingga terputus. Barangsiapa membunuh dengan benda tajam, atau mencekik, atau kelaparan, atau menenggelamkan dengan air, maka di-qisas jika mau dengan cara yang serupa, atau jika pembunuhan dilakukan dengan sihir maka dieksekusi dengan pedang.
موجب العمد قود أي قصاص سمي ذلك قودا لأنهم يقودون الجاني بحبل وغيره قاله الأزهري.
Konsekuensi dari pembunuhan sengaja adalah qawad, yaitu qisas. Hal itu dinamakan qawad karena mereka menuntun (yaquduuna) pelaku kejahatan dengan tali atau sejenisnya; demikian disampaikan oleh Al-Azhari.
والدية عند سقوطه بعفو عنه عليه أو بغير عفو بدل عنه فلو عفا المستحق عنه مجانا أو مطلقا فلا شيء.
Dan diat ketika qisas gugur karena pemaafan darinya yang disertai kewajiban diat atau tanpa pemaafan qisas merupakan pengganti dari qisas tersebut. Apabila pihak yang berhak memaafkannya secara cuma-cuma atau secara mutlak, maka tidak ada kewajiban apa pun.
وهي أي الدية لقتل حر مسلم ذكر معصوم مائة بعير مثلثة في عمد وشبهه أي ثلاثة أقسام فلا نظر لتفاوتها عددا ثلاثون حقه,
Dan diat tersebut—yaitu diat atas pembunuhan seorang laki-laki muslim yang merdeka dan terlindungi darahnya—adalah seratus ekor unta yang dibagi tiga kategori pada pembunuhan sengaja dan yang menyerupai sengaja, yaitu tiga bagian tanpa memandang perbedaan jumlahnya: tiga puluh ekor hiqqah,
وثلاثون جذعة وأربعون خلفة ومخمسة في خطأ من بنات مخاض ولبون وبني لبون وحقاق وجذاع إلا في مكة أو أشهر حرم أو محرم رحم فمثلثة ودية عمد على جان معجلة وغيره على عاقلة مؤجلة
tiga puluh ekor jadza'ah, dan empat puluh ekor khalifah (unta hamil). Dan dibagi lima kategori pada pembunuhan tidak sengaja, terdiri dari bintu makhadh, bintu labun, ibnu labun, hiqqah, dan jadza'ah; kecuali jika terjadi di Mekkah, atau bulan-bulan haram, atau terhadap kerabat mahram, maka diatnya dibagi tiga kategori. Diat pembunuhan sengaja ditanggung oleh pelaku secara tunai, sedangkan selainnya ditanggung oleh 'aqilah (kerabat pelaku dari jalur ayah) secara berangsur-angsur.
وثلاثون جذعة وأربعون خلفة أي حاملا بقول خبيرين ومخمسة في خطأ من بنات مخاض وبنات لبون وبني لبون وحقاق وجذاع من كل منها عشرون لخبر الترمذي [رقم: ١٣٨٦] وغيره [النسائي رقم: ٤٨٠٢, أبو داود رقم: ٤٥٤٥, مسند أحمد رقم: ٤٢٩١, الدارمي رقم: ٢٣٦٧, مالك رقم: ١٦٠٣, ١٦٠٥] .
dan tiga puluh ekor jadza'ah, serta empat puluh ekor khalifah, yaitu unta yang hamil berdasarkan kesaksian dua orang ahli. Dan dibagi lima kategori pada pembunuhan tidak sengaja, terdiri dari bintu makhadh, bintu labun, ibnu labun, hiqqah, dan jadza'ah; masing-masing sebanyak dua puluh ekor berdasarkan hadis diriwayatkan oleh At-Tirmidzi [No. 1386] dan lainnya [An-Nasa'i No. 4802, Abu Daud No. 4545, Musnad Ahmad No. 4291, Ad-Darimi No. 2367, Malik No. 1603, 1605].
إلا إن وقع الخطأ في حرم مكة أو في أشهر حرم ذي القعدة وذي الحجة والمحرم ورجب.
Kecuali jika pembunuhan tidak sengaja tersebut terjadi di tanah haram Mekkah atau pada bulan-bulan haram, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab,
أو محرم رحم بالإضافة كأم وأخت.
atau terhadap kerabat mahram dengan penisbatan nasab, seperti ibu dan saudara perempuan,
فمثلثة كما فعله جمع من الصحابة ﵃ وأقرهم الباقون ولعظم حرمة الثلاثة زجر عنها بالتغليظ من هذا الوجه.
maka diatnya menjadi tiga kategori (ditaghliz/diperberat), sebagaimana dilakukan oleh sekelompok sahabat radhiyallahu 'anhum dan disetujui oleh sahabat yang lain. Dan karena besarnya kehormatan ketiga hal tersebut, dibuatlah pencegahan darinya dengan pemberatan (taghliz) dari segi ini.
ولا يلحق بها حرم المدينة ولا الإحرام ولا رمضان ولا أثر لمحرم رضاع ومصاهرة.
Dan tanah haram Madinah, ihram, serta bulan Ramadan tidak disamakan dengannya. Serta tidak ada pengaruh bagi mahram karena persusuan (radha') maupun perkawinan (mushaharah).
وخرج بالخطأ ضداه فلا يزيد واجبهما بهذه الثلاثة اكتفاء بما فيهما من التغليظ.
Dikecualikan dari kata pembunuhan tidak sengaja (khatha') yaitu dua kebalikannya (sengaja dan menyerupai sengaja), maka kewajiban diat keduanya tidak bertambah sebab tiga hal ini, karena sudah cukup dengan pemberatan yang terdapat pada keduanya.
وأما دية الأنثى والخنثى فنصف دية الذكر.
Adapun diat perempuan dan khuntsa (hermaprodit) adalah setengah dari diat laki-laki.
ودية عمد على جان معجلة كسائر أبدال المتلفات.
Diyat pembunuhan sengaja wajib ditanggung oleh pelaku secara kontan (seketika), sebagaimana ganti rugi barang-barang yang dirusakkan lainnya.
ودية غيره من شبه عمد وخطأ وإن تثلثت على عاقلة للجاني مؤجلة
Dan diyat selain pembunuhan sengaja, yaitu pembunuhan semi-sengaja dan tersalah, meskipun dikelompokkan menjadi tiga jenis (tatslihts), ditanggung oleh 'aqilah (kerabat laki-laki) dari pelaku yang diangsur…
بثلاث سنين.
selama tiga tahun.
ولو عدمت إبل فقيمتها,
Jika unta tidak ada, maka yang wajib diserahkan adalah nilainya (harganya),
بثلاث سنين على الغني منهم نصف دينار والمتوسط ربع كل سنة فإن لم يفوا فمن بيت المال فإن تعذر فعلى الجاني لخبر الصحيحين [البخاري رقم: ٥٧٥٨, مسلم رقم: ١٦٨١] .
selama tiga tahun, dengan beban bagi orang kaya di antara mereka sebesar setengah dinar dan orang yang berpenghasilan sedang sebesar seperempat dinar pada setiap tahunnya. Jika mereka tidak mampu memenuhinya, maka diambil dari Baitul Mal; dan jika tidak memungkinkan, maka ditanggung oleh pelaku berdasarkan riwayat dalam As-Shahihain [Al-Bukhari no: 5758, Muslim no: 1681].
والمعنى في كون الدية على العاقلة فيهما أن القبائل في الجاهلية كانوا يقومون بنصرة الجاني منهم ويمنعون أولياء الدم أخذ حقهم فأبدل الشرع تلك النصرة ببذل المال وخص تحملهم بالخطأ وشبه العمد لأنهما مما يكثر لاسيما في متعاطي الأسلحة فحسنت إعانته لئلا يتضرر بما هو معذور فيه وأجلت الدية عليهم رفقا بهم.
Hikmah ditanggungnya diyat oleh 'aqilah pada kedua jenis pembunuhan tersebut adalah bahwa kabilah-kabilah pada masa Jahiliyah biasa membela pelaku kejahatan dari kelompok mereka dan menghalangi para ahli waris korban untuk mengambil hak mereka. Maka syariat mengganti pembelaan tersebut dengan pengeluaran harta, serta mengkhususkan penanggungan mereka pada pembunuhan tersalah dan semi-sengaja karena keduanya sering terjadi, terutama di kalangan pengguna senjata, sehingga dipandang baik untuk membantunya agar ia tidak terbebani secara berlebihan atas hal yang ia diberi uzur padanya, dan diyat tersebut diangsur atas mereka sebagai bentuk keringanan.
وعاقلة الجاني عصباته المجمع على إرثهم بنسب أو ولاء إذا كانوا ذكورا مكلفين غير أصل وفرع ويقدم منهم الأقرب فالأقرب ولا يعقل فقير ولو كسوبا وامرأة خنثى وغير مكلف ولو عدمت إبل في المحل الذي يجب تحصيلها منه حسا أو شرعا بأن وجدت فيه بأكثر من ثمن المثل أو بعدت وعظمت المؤنة والمشقة ف الواجب قيمتها وقت وجوب التسليم من غالب نقد البلد وفي القديم الواجب عند عدمها في النفس الكاملة ألف مثقال ذهبا أو اثنا عشر ألف درهم فضة.
'Aqilah pelaku adalah para 'asabah-nya yang disepakati hak warisnya baik karena nasab atau wala', jika mereka laki-laki, mukallaf, serta bukan leluhur (ayah/kakek) maupun keturunan (anak/cucu). Diutamakan di antara mereka yang paling dekat hubungan kekerabatannya lalu yang mendekati. Orang fakir tidak menanggung diyat meskipun ia bekerja/berpenghasilan, demikian pula wanita, khuntsa, dan orang yang belum mukallaf. Apabila unta tidak ditemukan di tempat yang seharusnya diperoleh secara faktual maupun syar'i—misalnya unta ditemukan namun harganya melebihi harga standar (tsaman al-mitsl), atau lokasinya jauh sehingga membutuhkan biaya dan kesulitan yang besar—maka yang wajib dibayarkan adalah nilainya pada saat penyerahan wajib dilakukan dari mata uang yang berlaku umum di negeri tersebut. Dalam qaull qadim, kewajiban ketika unta tidak ada untuk pembunuhan jiwa yang utuh adalah seribu mistqal emas atau dua belas ribu dirham perak.
والقود للورثة.
Hak qisas adalah milik para ahli waris.
تنبيه [في بيان ما يتعلق بقطع الأطراف من وجوب دية كاملة أو نصفها أو عشرها أو نصف عشرها] وكل عضو مفرد فيه جمال ومنفعة إذا قطعه وجبت فيه دية كاملة مثل دية صاحب العضو إذا قتله وكذا كل عضوين من جنس إذا قطعهما ففيهما الدية وفي أحدهما نصفها ففي قطع الأذنين الدية وفي إحداهما النصف ومثلهما العينان والشفتان والكفان بأصبعهما والقدمان بأصبعهما وفي كل إصبع عشر من الإبل وفي كل سن خمس.
Peringatan [Penjelasan mengenai pemotongan anggota tubuh tentang kewajiban diyat penuh, separuh, sepertsepuluh, atau seperduapuluh]: Setiap anggota tubuh tunggal yang memiliki keindahan dan manfaat, apabila dipotong, wajib padanya diyat penuh sebagaimana diyat pemilik anggota tubuh tersebut jika ia dibunuh. Demikian pula setiap dua anggota tubuh yang sejenis, apabila keduanya dipotong, maka pada keduanya wajib diyat penuh, dan pada salah satunya wajib separuhnya. Maka pada pemotongan kedua telinga wajib diyat penuh dan pada salah satunya wajib separuhnya. Demikian pula kedua mata, kedua bibir, kedua telapak tangan beserta jari-jarinya, dan kedua telapak kaki beserta jari-jarinya. Pada setiap jari wajib sepuluh ekor unta, dan pada setiap gigi wajib lima ekor unta.
ويثبت القود للورثة العصبة وذي الفروض بحسب إرثهم المال ولو مع بعد القرابة كذي رحم إن ورثناه أو مع عدمها كأحد الزوحين والمعتق وعصبته.
Hak qisas ditetapkan bagi para ahli waris, baik 'asabah maupun pemilik bagian pasti (dzul furudh), sesuai dengan proporsi warisan harta mereka, meskipun hubungan kekerabatannya jauh seperti kerabat pembawa rahim (dzawul arham) jika kita mewariskan padanya, atau meskipun tanpa hubungan kekerabatan seperti salah satu suami/istri, orang yang memerdekakan, dan 'asabah-nya.
تنبيه [في بيان ما إذا كان المستحق للقود غير كامل أو كان غائبا] يحبس الجاني إلى كمال الصبي من الورثة بالبلوغ وحضور الغائب أو إذنه فلا يخلي بكفيل لأنه قد يهرب فيقوت الحق والكلام في غير قاطع الطريق أما هو إذا تحتم قتله فيقتله الإمام مطلقا ولا يستوفي القود إلا واحد من الورثة أو من غيرهم بتراض منهم أو من باقيهم أو بقرعة بينهم إذا لم يتراضوا ولو بادر أحد المستحقين فقتله عالما
Peringatan [Penjelasan jika orang yang berhak atas qisas belum sempurna kecakapannya atau sedang tidak ada di tempat]: Pelaku ditahan sampai anak kecil di antara ahli waris menjadi dewasa (baligh) dan sampai ahli waris yang tidak hadir telah datang atau memberikan izinnya. Pelaku tidak boleh dibebaskan dengan jaminan (penjamin) karena dikhawatirkan ia akan melarikan diri sehingga merugikan hak tersebut. Pembahasan ini di luar masalah penyamun (pembegal jalanan); adapun penyamun, apabila eksekusi mati telah menjadi keharusan baginya, maka imam (pemimpin) membunuhnya secara mutlak. Dan tidak boleh mengeksekusi qisas melainkan satu orang dari para ahli waris atau dari selain mereka berdasarkan kesepakatan/kerelaan di antara mereka atau sisa dari mereka, atau melalui undian di antara mereka jika mereka tidak sepakat. Jika salah seorang yang berhak menyegerakan diri lalu membunuhnya padahal ia mengetahui…
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………..
تحريم المبادرة فلا قصاص عليه إن كان قبل عفو منه أو من غيره وإلا فعليه القصاص.
keharaman menyegerakan tindakan tersebut, maka tidak ada qisas atas dirinya jika eksekusi itu dilakukan sebelum adanya pemaafan darinya atau dari ahli waris lainnya. Namun jika pemaafan telah terjadi, maka ia dikenakan qisas.
ولو قتله أجنبي أخذ الورثة الدية من تركة الجاني لا من الأجنبي.
Seandainya orang asing (bukan ahli waris) membunuh pelaku kejahatan tersebut, maka para ahli waris mengambil diyat dari harta peninggalan pelaku kejahatan, bukan dari orang asing tersebut.
ولا يستوفي المستحق القود في نفس أو غيرها إلا بإذن الإمام أو نائبه فإن استقل به عزر.
Orang yang berhak tidak boleh mengeksekusi qisas, baik terhadap jiwa maupun anggota tubuh lainnya, kecuali dengan izin imam atau wakilnya. Jika ia melakukannya secara mandiri tanpa izin, maka ia dijatuhi hukuman takzir.
تتمة [في حكم ما يلقى في البحر إذا أشرفت السفينة على الغرق] يجب عند هيجان البحر وخوف الغرق إلقاء غير الحيوان من المتاع لسلامة حيوان محترم وإلقاء الدواب لسلامة الآدمي المحترم إن تعين لدفع الغرق وإن لم يأذن المالك أما المهدر كحربي وزان محصن فلا يلقى لأجله مال مطلقا بل ينبغي أن يلقى هو لأجل المال كما قاله شيخنا.
Pelengkap [Hukum barang yang dibuang ke laut jika kapal terancam tenggelam]: Wajib hukumnya ketika laut bergolak dan dikhawatirkan tenggelam untuk membuang barang selain hewan demi keselamatan hewan yang dilindungi (muhtaram), serta membuang hewan melata (ternak) demi keselamatan manusia yang dilindungi jika hal tersebut menjadi satu-satunya cara untuk mencegah tenggelam, meskipun pemiliknya tidak mengizinkan. Adapun manusia yang tidak dilindungi darahnya (muhdhar ad-dam) seperti kafir harbi dan pezina muhshan, maka harta tidak boleh dibuang demi dirinya sama sekali; melainkan ia sendiri yang hendaknya dibuang demi menyelamatkan harta, sebagaimana dikatakan oleh guru kami.
ويحرم إلقاء العبيد للأحرار والدواب لما لا روح له.
Dan diharamkan membuang hamba sahaya demi keselamatan orang-orang merdeka, serta membuang hewan melata demi benda yang tidak bernyawa.
ويضمن ما ألقاه بلا إذن مالكه.
Dan ia wajib menanggung ganti rugi atas apa yang dilemparkannya tanpa izin pemiliknya.
ولو قال لرجل ألق متاع زيد وعلي ضمانه إن طالبك ففعل ضمنه الملقى لا الآمر.
Seandainya seseorang berkata kepada seorang laki-laki, "Lemparkanlah barang milik Zaid dan aku yang menanggungnya jika ia menuntutmu," lalu ia melakukannya, maka yang menanggung ganti rugi adalah orang yang melemparkan, bukan orang yang memerintah.
فرع: أفتى أبو إسحاق المروزي بحل سقى أمته دواء ليسقط ولدها ما دام علقة أو مضغة وبالغ الحنفية
Cabang masalah: Abu Ishaq Al-Marwazi memberi fatwa tentang kebolehan meminumkan obat kepada budak perempuannya agar menggugurkan kandungannya selama masih berupa 'alaqah (gumpalan darah) atau mudhghah (gumpalan daging). Dan kalangan Hanafiyah berlebihan,
فقالوا يجوز مطلقا وكلامالأحياء يد على التحريم مطلقا قال شيخنا وهو الأوجه.
lalu mereka mengatakan bahwa hal itu boleh secara mutlak. Sedangkan penjelaskan dalam kitab Al-Ihya' menunjukkan keharaman secara mutlak. Guru kami berkata: Pendapat inilah yang lebih kuat.
خاتمة: تجب الكفارة على من قتل من يحرم قتله خطأ كان أو عمدا وهي عتق رقبة فإن لم يجد فصيام شهرين متتابعين.
Penutup: Wajib membayar kafarat bagi siapa saja yang membunuh orang yang haram dibunuh, baik secara tidak sengaja maupun sengaja. Kafaratnya yaitu memerdekakan seorang budak; jika tidak mampu, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut.