باب في الردة
باب في الردة
Bab Tentang Murtad
الردة: قطع مكلف إسلاما بكفر عزما أو قولا أو فعلا باعتقاد أو عناد أو استهزاء
Murtad adalah pemutusan keislaman oleh seorang mukalaf dengan kekufuran, baik berupa niat, perkataan, atau perbuatan, dengan keyakinan, pembangkangan, atau penghinaan.
باب في الردة
Bab Tentang Murtad
الردة لغة: الرجوع وهي أفحش أنواع الكفار ويحبط بها العمل إن اتصلت بالموت فلا يجب إعادة
Murtad secara bahasa berarti kembali. Murtad merupakan jenis kekufuran yang paling keji, dan dapat menghapuskan amal perbuatan jika berlanjut hingga kematian, sehingga tidak wajib mengulangi
عباداته التي قبل الردة وقال أبو حنيفة تجب.
ibadahnya yang telah dilakukan sebelum murtad. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat wajib mengulanginya.
وشرعا: قطع مكلف مختار فتلغو من صبي ومجنون ومكره عليها إذا كان قلبه مؤمنا إسلاما بكفر عزما حالا أو مآلا فيكفر به حالا.
Secara syariat: pemutusan keislaman oleh seorang mukalaf atas kemauannya sendiri—sehingga batal (tidak sah murtad) dari anak kecil, orang gila, dan orang yang dipaksa murtad apabila hatinya tetap beriman—dengan kekufuran yang diniatkan untuk seketika itu atau masa mendatang, sehingga ia menjadi kafir saat itu juga.
أو قولا أو فعلا باعتقاد لذلك الفعل أو القول أي معه أو مع عناد من القائل أو الفاعل أو مع استهزاء أي استخفاف بخلاف ما لو اقترن به ما يخرجه عن الردة كسبق لسان أو حكاية كفر أو خوف.
Atau berupa perkataan atau perbuatan yang disertai keyakinan terhadap perbuatan atau perkataan tersebut, yaitu bersamaan dengannya, atau beserta pembangkangan dari pengucap atau pelaku, atau beserta penghinaan (pelecehan). Berbeda halnya jika disertai hal yang mengeluarkannya dari murtad, seperti terlanjur lidah, menceritakan kekufuran, atau ketakutan.
قال شيخنا كشيخه وكذا قول الولي حال غيبته أنا الله ونحوه
Guru kami berkata sebagaimana gurunya: Demikian pula ucapan seorang wali ketika dalam kondisi tidak sadar (ghaib/fana') seperti "Aku adalah Allah" dan sejenisnya,
كنفي صانع ونبي وجحد مجمع عليه وسجود لمخلوق
seperti meniadakan Pencipta, meniadakan nabi, mengingkari perkara yang disepakati (ijmak), dan sujud kepada makhluk.
مما وقع لائمة من العارفين كابن عربي وأتباعه بحق وما وقع في عبارتهم مما يوهم كفرا غير مراد به ظاهره كما لا يخفى على الموفقين نعم يحرم على من لم يعرف حقيقة اصطلاحهم وطريقتهم مطالعة كتبهم فإنها مزلة قدم له ومن ثم ضل كثيرون اغتروا بظواهرها وقول ابن عبد السلام: يعزر ولي قال أنا الله؟ فيه نظر لأنه إن قاله وهو مكلف فهو كافر لا محالة وإن قاله حال الغيبة المانعة للتكليف فأي وجه للتعزير انتهى.
termasuk ucapan yang keluar dari para imam ahli makrifat seperti Ibnu 'Arabi dan para pengikutnya yang benar. Ungkapan dalam perkataan mereka yang memberi kesan kekufuran tidaklah dimaksudkan makna zahirnya, sebagaimana hal itu tidak tersembunyi bagi orang-orang yang diberi taufik. Ya, haram hukumnya bagi orang yang tidak mengetahui hakikat istilah dan metode mereka untuk mempelajari buku-buku mereka, karena hal itu merupakan tempat tergelincirnya kaki. Oleh karena itu, banyak orang tersesat karena terpedaya oleh makna zahirnya. Adapun perkataan Ibnu 'Abdissalam: "Apakah dijatuhi takzir seorang wali yang berkata 'Aku adalah Allah'?" Perkataan ini perlu ditinjau kembali, sebab jika ia mengucapkannya dalam keadaan mukalaf maka ia kafir tanpa ragu, dan jika ia mengucapkannya dalam keadaan ghaib (fana') yang menghalangi taklif, maka atas dasar apa dijatuhi takzir? Selesai.
وذلك كنفي صانع ونفي نبي أو تكذيبه وجحد مجمع عليه معلوم من الدين بالضرورة من غير تأويل وإن لم يكن فيه نص كوجوب نحو الصلاة المكتوبة وتحليل نحو البيع والنكاح وتحريم شرب الخمر واللواط والزنا والمكس وندب الرواتب والعيد بخلاف مجمع عليه لا يعرفه إلا الخواص ولو كان فيه نص كاستحقاق بنت الابن السدس مع البنت وكحرمة نكاح المعتدة للغير كما قاله النووي وغيره.
Hal itu seperti meniadakan Pencipta, meniadakan nabi atau mendustakannya, dan mengingkari perkara yang telah disepakati (ijmak) serta diketahui dari agama secara pasti (dharuri) tanpa adanya takwil, meskipun tidak terdapat dalil nas padanya; seperti wajibnya salat fardu, halalnya jual beli dan nikah, haramnya minum khamar, liwath (homoseksual), zina, pungutan liar (maks), serta sunnahnya salat rawatib dan salat id. Berbeda dengan perkara yang disepakati (ijmak) yang tidak diketahui kecuali oleh kalangan khusus (para ulama) meskipun terdapat dalil nas padanya; seperti hak cucu perempuan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam bersama anak perempuan kandung, dan seperti haramnya menikahi wanita yang sedang dalam masa idah orang lain, sebagaimana dikemukakan oleh An-Nawawi dan lainnya.
وبخلاف المعذور كمن قرب عهده بالإسلام.
Dan berbeda halnya dengan orang yang dimaafkan (ma'dzur), seperti orang yang baru saja masuk Islam.
وسجود لمخلوق اختيارا من غير خوف ولو نبيا وإن أنكر الاستحقاق أو لم يطابق قلبه جوارحه لان ظاهر حاله يكذبه.
Dan sujud kepada makhluk atas kehendak sendiri tanpa rasa takut meskipun kepada seorang nabi, walaupun ia mengingkari keberhakan (sujud tersebut) atau hatinya tidak sesuai dengan anggota badannya, karena lahiriah keadaannya mendustakannya.
وفي الروضة عن التهذيب من دخل دار الحرب فسجد لصنم أو تلفظ بكفر ثم ادعى إكراها فإن فعله في خلوته لم يقبل أو بين أيديهم وهو أسير قبل قوله أو تاجر فلا.
Dalam kitab Ar-Raudhah dari At-Tahdzib disebutkan: Barang siapa memasuki Darul Harb lalu bersujud kepada berhala atau mengucapkan kata-kata kekafiran, kemudian ia mengaku dipaksa (diintimidasi); jika ia melakukannya dalam keadaan sendirian, maka pengakuannya tidak diterima; atau jika dilakukan di hadapan mereka sementara ia adalah seorang tawanan, maka pengakuannya diterima; tetapi jika ia seorang pedagang, maka tidak diterima.
وتردد في كفر
Dan ragu-ragu dalam kekafiran
وخرج بالسجود الركوع لأن صورته تقع في العادة للمخلوق كثيرا بخلاف السجود.
Dikecualikan dari bersujud yaitu rukuk, karena bentuknya biasa dilakukan secara adat terhadap sesama makhluk dalam jumlah banyak, berbeda halnya dengan sujud.
قال شيخنا: نعم يظهر أن محل الفرق بينهما عند الإطلاق بخلاف ما لو قصد تعظيم مخلوق بالركوع كما يعظم الله تعالى به فإنه لا شك في الكفر حينئذ انتهى.
Guru kami berkata: Ya, tampak jelas bahwa perbedaan antara keduanya berlaku ketika dilakukan secara mutlak (tanpa niat mengagungkan), berbeda halnya jika ia bermaksud mengagungkan makhluk dengan rukuk sebagaimana mengagungkan Allah Ta'ala dengannya, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu merupakan kekafiran pada saat itu. Selesai.
وكمشي إلى الكنائس بزيهم من زنار وغيره وكإلقاء ما فيه قرآن في مستقذر.
Dan seperti berjalan menuju gereja-gereja dengan pakaian khas mereka berupa sabuk zunnar dan selainnya; dan seperti melemparkan sesuatu yang memuat Al-Qur'an ke tempat yang kotor.
قال الروياني أو علم شرعي ومثله بالأولى ما فيه اسم معظم وتردد في كفر أيفعله أو لا.
Ar-Rauyani berkata: Atau ilmu syariat, dan senada dengannya—bahkan lebih utama—adalah sesuatu yang memuat nama yang diagungkan; dan ragu-ragu dalam kekafiran, apakah ia akan melakukannya atau tidak.
وكتكفير مسلم لذنبه بلا تأويل لأنه سمي الإسلام كفرا.
Dan seperti mengafirkan seorang muslim karena dosanya tanpa adanya takwil, karena ia menyamakan Islam sebagai kekafiran.
وكالرضا بالكفر كأن قال لمن طلب منه تلقين الإسلام اصبر ساعة فيكفر في الحال في كل ما مر لمنافاته الإسلام.
Dan seperti rida terhadap kekafiran, misalnya ia berkata kepada orang yang memintanya membimbing syahadat masuk Islam: 'Tunggulah sebentar,' maka ia menjadi kafir seketika itu juga pada semua contoh yang telah berlalu, karena bertentangan dengan keislaman.
وكذا يكفر من أنكر إعجاز القرآن أو حرفا منه أو صحبة أبي بكر أو قذف عائشة ﵂ ويكفر في وجه حكاه القاضي من سب الشيخين أو الحسن والحسين ﵃ لا من قال لمن أراد تحليفه لا أريد الحلف بالله بل بالطلاق مثلا أو قال رؤيتي إياك كرؤية ملك الموت.
Demikian pula menjadi kafir orang yang mengingkari kemukjizatan Al-Qur'an, atau satu huruf darinya, atau persahabatan Abu Bakar, atau menuduh Aisyah radhiyallahu 'anha berzina. Dan ia kafir menurut satu pendapat yang diceritakan oleh Al-Qadhi bagi siapa yang mencela Asy-Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) atau Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu 'anhum. Tidak kafir orang yang berkata kepada orang yang ingin memintanya bersumpah: 'Aku tidak ingin bersumpah demi Allah melainkan demi talak misalnya,' atau ia berkata: 'Melihatmu seperti melihat Malaikat Maut.'
ويستتاب مرتد ثم قتل بلا إمهال.
Dan orang murtad diminta bertobat, kemudian dihukum mati tanpa ditunda-tunda.
تنبيه: ينبغي للمفتي أن يحتاط في التكفير ما أمكنه لعظم خطره وغلبة عدم قصده سيما من العوام وما زال أئمتنا على ذلك قديما وحديثا.
Peringatan: Hendaknya seorang mufti berhati-hati dalam mengafirkan sejauh yang ia mampui karena besarnya bahaya hal itu dan dominannya ketiadaan maksud (kesengajaan) terutama dari kalangan awam; dan para imam kita senantiasa berpegang pada prinsip ini sejak dahulu hingga sekarang.
ويستتاب وجوبا مرتد ذكرا كان أو أنثى لأنه كان محترما بالإسلام وربما عرضت له شبهة فتزال.
Dan wajib hukumnya meminta tobat kepada orang murtad, baik laki-laki maupun perempuan, karena ia dahulunya dihormati dengan Islam dan terkadang timbul syubhat padanya sehingga perlu dihilangkan.
ثم إن لم يتب بعد الاستتابة قتل أي قتله الحاكم ولو بنائبه بضرب الرقبة لا بغيره.
Kemudian jika ia tidak bertobat setelah diminta bertobat, ia dihukum mati, yaitu hakim membunuhnya—meskipun melalui wakilnya—dengan cara memenggal lehernya, bukan dengan cara lainnya.
بلا إمهال أي تكون الاستتابة والقتل حالا لخبر البخاري: من بدل دينه فاقتلوه فإذا أسلم صح إسلامه وترك وإن تكررت ردته لإطلاق النصوص نعم يعزر من تكررت ردته لا في أول مرة إذا تاب خلافا لما زعمه جهلة القضاة.
Tanpa ditunda-tunda, yaitu proses permintaan tobat dan eksekusi hukuman mati dilakukan seketika itu juga, berdasarkan hadis Al-Bukhari: 'Barang siapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.' Maka jika ia masuk Islam, sah keislamannya dan ia dibiarkan (tidak dibunuh) meskipun kemurtadannya berulang kali karena keumuman nash-nash. Ya, orang yang kemurtadannya berulang kali dikenai takzir, bukan pada kali pertama jika ia bertobat, berbeda dengan dugaan para hakim yang bodoh.
تتمة [في بيان ما يحصل به الإسلام مطلقا على الكافر الأصلي وعلى المرتد] : إنما يحصل إسلام كل كافر أصلي أو مرتد بالتلفظ بالشهادتين من الناطق فلا يكفي ما بقلبه من
Pelengkap [Penjelasan mengenai hal-hal yang dengannya keislaman diperoleh secara mutlak bagi kafir asli maupun orang murtad]: Keislaman setiap kafir asli atau orang murtad hanyalah diperoleh dengan melafalkan dua kalimat syahadat bagi orang yang mampu berbicara, maka tidak cukup apa yang ada dalam hatinya berupa
الإيمان وإن قال به الغزالي وجمع محققون ولو بالعجمية وإن أحسن العربية على المنقول المعتمد لا بلغة
keimanan, meskipun dikemukakan oleh Al-Ghazali dan sekelompok ulama muhaqqiqin; dan boleh dengan bahasa non-Arab meskipun ia pandai berbahasa Arab menurut pendapat yang dinukil dan mu'tamad, namun tidak boleh menggunakan bahasa
لقنها بلا فهم ثم بالاعتراف برسالته ص إلى غير العرب ممن ينكرها فيزيد العيسوي من اليهود محمد رسول الله إلى جميع
yang diajarkan kepadanya tanpa ada pemahaman; kemudian dengan mengakui kerasulan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kepada selain bangsa Arab bagi orang yang mengingkarinya, maka pengikut ajaran Isa (Nasrani) dari kalangan Yahudi menambahkan perkataan: 'Muhammad adalah utusan Allah kepada seluruh
الخلق أو البراءة من كل دين يخالف دين الإسلام فيزيد المشرك كفرت بما كنت أشركت به وبرجوعه عن الاعتقاد الذي ارتد بسببه.
makhluk', atau berlepas diri dari setiap agama yang menyelisisi agama Islam, maka orang musyrik menambahkan perkataan: 'Aku kufur terhadap apa yang dahulu aku persekutukan', serta dengan kembalikannya dari keyakinan yang menjadi sebab kemurtadannya.
ومن جهل القضاة أن من ادعى عليه عندهم بردة أو جاءهم يطلب الحكم بإسلامه يقولون له تلفظ بما قلت وهذا غلط فاحش فقد قال الشافعي ﵁ إذا ادعى على رجل أنه ارتد وهو مسلم لم اكشف عن الحال وقلت له قل أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله وأنك برئ من كل دين يخالف دين الإسلام انتهى.
Di antara kebodohan sebagian hakim adalah ketika ada orang yang dituduh murtad di hadapan mereka, atau mendatangi mereka untuk meminta penetapan keislamannya, mereka justru berkata kepadanya: "Ucapkan kembali apa yang telah kamu katakan [dari kalimat murtad tersebut]!" Ini adalah kesalahan yang sangat fatal. Sungguh Imam Asy-Syafi'i radiyallahu 'anhu telah berkata: "Jika seorang laki-laki dituduh telah murtad padahal ia seorang muslim, aku tidak akan menyelidiki keadaan tersebut, melainkan aku katakan kepadanya: Ucapkanlah 'Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah, dan bahwasanya engkau berlepas diri dari setiap agama yang menyelisihi agama Islam'." Selesai.
قال شيخنا: ويؤخذ من تكريره ﵁ لفظ أشهد أنه لا بد منه في صحة الإسلام وهو ما يدل عليه كلام الشيخين في الكفارة وغيرها لكن خالف فيه جمع وفي الأحاديث ما يدل لكل انتهى.
Guru kami berkata: "Dapat dipahami dari pengulangan beliau (Asy-Syafi'i) radiyallahu 'anhu terhadap lafaz 'Asyhadu' bahwasanya lafaz tersebut harus ada demi keabsahan Islam, dan inilah yang ditunjukkan oleh perkataan Asy-Syaikhani (An-Nawawi dan Ar-Rafi'i) dalam pembahasan kafarat dan selainnya. Namun, sekelompok ulama menyelisihi hal ini, dan dalam hadis-hadis terdapat dalil yang mendukung masing-masing pendapat." Selesai.
ويندب أمر كل من أسلم بالإيمان بالبعث ويشترط لنفع الإسلام في الآخرة مع ما مر تصديق القلب بوحدانية الله تعالى ورسله وكتبه واليوم الآخر فإن اعتقد هذا ولم يأت بما مر لم يكن مؤمنا وإن أتى به بلا اعتقاد ترتب عليه الحكم الدنيوي ظاهرا.
Dan disunnahkan memerintahkan setiap orang yang masuk Islam untuk beriman kepada hari kebangkitan (al-ba'th). Disyaratkan pula agar keislaman itu bermanfaat di akhirat—di samping apa yang telah disebutkan sebelumnya—adanya pembenaran hati (tasdiq al-qalb) terhadap keesaan Allah Ta'ala, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari akhir. Jika seseorang meyakini hal ini tetapi tidak mengucapkan apa yang telah disebutkan sebelumnya, maka ia belum menjadi seorang mukmin. Namun jika ia mengucapkannya tanpa keyakinan hati, maka berlaku baginya hukum-hukum duniawi secara lahiriah.