باب الجهاد
باب الجهاد
Bab Jihad
وهو فرض كفاية كل عام كقيام بحجج دينية وعلوم شرعية,
Dan jihad itu hukumnya fardhu kifayah setiap tahun, seperti halnya menegakkan dalil-dalil agama dan ilmu-ilmu syariat,
باب الجهاد
Bab Jihad
هو فرض كفاية كل عام ولو مرة إذا كان الكفار ببلادهم ويتعين إذا دخلوا بلادنا كما يأتي:
Jihad hukumnya fardhu kifayah setiap tahun meskipun hanya sekali apabila orang-orang kafir berada di negeri mereka, dan menjadi fardhu 'ain apabila mereka memasuki negeri kita sebagaimana penjelasan yang akan datang:
وحكم فرض الكفاية أنه إذا فعله من فيهم كفاية سقط الحرج عنه وعن الباقين ويأثم كل من لا عذر له من المسلمين إن تركوه وإن جهلوا.
Hukum fardhu kifayah adalah apabila telah dilaksanakan oleh orang-orang yang jumlahnya mencukupi, maka gugurlah dosa dari dirinya dan dari selebihnya. Dan berdosa setiap muslim yang tidak memiliki uzur apabila mereka semua meninggalkannya, meskipun mereka tidak mengetahuinya.
وفروضها كثيرة كقيام بحجج دينية وهي البراهين على إثبات الصانع سبحانه وما يجب له من الصفات ويستحيل عليه منها وعلى إثبات النبوات وما ورد به الشرع من المعاد والحساب وغير ذلك.
Fardhu-fardhu kifayah itu sangat banyak, seperti menegakkan argumen-argumen keagamaan, yaitu dalil-dalil untuk membuktikan keberadaan Sang Pencipta (Maha Suci Dia) serta sifat-sifat yang wajib dan yang mustahil bagi-Nya, dan pembuktian kenabian serta perkara-perkara syariat yang berkaitan dengan hari kebangkitan, hisab (perhitungan amalan), dan selainnya.
وعلوم شرعية كتفسير وحديث وفقه زائد على ما لا بد منه وما
Dan ilmu-ilmu syariat seperti tafsir, hadis, dan fikih yang melebihi kadar yang fardhu 'ain, serta ilmu-ilmu yang
ودفع ضرر معصوم وأمر بمعروف وتحمل شهادة وأدائها ورد
menghindarkan bahaya dari orang yang terlindungi jiwanya, amar ma'ruf, menanggung kesaksian dan menunaikannya, serta menjawab
يتعلق بها بحيث يصلح للقضاء والإفتاء للحاجة إليهما.
berkaitan dengannya sekira-kira ia layak untuk menjadi qadhi (hakim) dan mufthi (pemberi fatwa) karena adanya kebutuhan terhadap keduanya.
ودفع ضرر معصوم من مسلم وذمي ومستأمن جائع لم يصل لحالة الاضطرار أو عار أو نحوهما.
Dan menghindarkan bahaya dari orang yang terlindungi jiwanya, baik muslim, kafir dzimmi, maupun musta'man (yang mendapat jaminan keamanan), yang kelaparan namun belum sampai pada kondisi darurat, atau yang tidak berpakaian, atau seumpama keduanya.
والمخاطب به كل موسر بما زاد على كفاية سنة له ولممونة عند احتلال بيت المال وعدم وفاء زكاة.
Orang yang dituntut melakukan hal ini adalah setiap orang yang berkecukupan dengan kelebihan harta di atas kebutuhan nafkah setahun untuk dirinya dan nafkah tanggungannya ketika Baitul Mal dalam keadaan tidak memadai dan zakat tidak mencukupi.
وأمر بمعروف أي واجبات الشرع والكف عن محرماته فشمل النهي عن منكر ي المحرم لكن محله في واجب أو حرام مجمع عليه أو في اعتقاد الفاعل والمخاطب به كل مكلف لم يخف على نحو عضو ومال وإن قل ولم يغلب على ظنه أن فاعله يزيد فيه عنادا وإن علم عادة أنه لا يفيده بأن يغيره بكل طريق أمكنه من يد فلسان فاستغاثة بالغير فإن عجز أنكره بقلبه.
Dan amar ma'ruf, yaitu memerintahkan kewajiban-kewajiban syariat dan menahan diri dari keharaman-keharamannya, sehingga mencakup pula nahi munkar (melarang dari kemungkaran) pada perkara yang diharamkan. Akan tetapi, penerapannya berada pada hal yang wajib atau haram yang disepakati (ijma') atau berada dalam keyakinan si pelaku. Dan orang yang dituntut adalah setiap mukalaf yang tidak merasa khawatir akan keselamatan anggota tubuh dan harta benda meskipun sedikit, serta tidak memiliki prasangka kuat bahwa pelakunya akan menambah kemungkarannya karena pembangkangan, meskipun secara kebiasaan ia tahu hal itu tidak memberi manfaat baginya; yaitu dengan mengubahnya melalui setiap cara yang memungkinkan, mulai dari tangan, lalu lisan, lalu meminta bantuan orang lain. Jika ia tidak mampu, maka ia mengingkarinya dengan hatinya.
وليس لأحد البحث والتجسس واقتحام الدور بالظنون نعم: إن أخبره ثقة بمن اختفى بمنكر لا يتدارك كالقتل والزنا لزمه ذلك ولو توقف الإنكار على الرفع للسلطان لم يجب لما فيه من هتك حرمة وتغريم مال.
Dan tidak boleh bagi siapapun mengusut, memata-matai, dan menerobos rumah-rumah berdasarkan prasangka. Ya, jika seorang yang terpercaya memberitahukan kepadanya tentang orang yang bersembunyi melakukan kemungkaran yang tidak dapat ditanggulangi keterlambatannya seperti pembunuhan dan perzinahan, maka ia wajib melakukannya. Dan jika pengingkaran tersebut bergantung pada melaporkannya kepada penguasa (sultan), maka hal itu tidak wajib karena di dalamnya terdapat tindakan merusak kehormatan dan pengenaan denda harta.
قاله ابن القشيري.
Demikian yang dikatakan oleh Ibnu al-Qusyairi.
قال شيخنا: وله احتمال بوجوبه إذا لم ينزجر إلا به هو الأوجه وكلام الروضة وغيرها صريح فيه انتهى.
Guru kami berkata: Ada kemungkinan hukumnya wajib apabila pelaku tidak bisa dicegah kecuali dengannya, dan itulah pendapat yang lebih kuat (al-awjah), serta redaksi al-Raudhah dan lainnya tegas menyatakan hal tersebut. Selesai.
وتحمل شهادة على أهل له حضر إليه المشهود عليه أو طلبه إن عذر بعذر جمعة وأدائها على من يحملها إن كان أكثر من نصاب وإلا فهو فرض عين وكإحياء كعبة بحج وعمرة كل عام وتشييع جنازة ورد
Dan menanggung kesaksian atas orang yang berhak menerimanya jika orang yang dipersaksikan hadir mendatangi atau memintanya apabila ia beruzur dengan uzur shalat Jumat; dan menunaikannya bagi orang yang menanggungnya jika jumlah saksi lebih dari batas minimal (nisab), jika tidak maka hukumnya menjadi fardhu 'ain; dan seperti memakmurkan Ka'bah dengan haji dan umrah setiap tahun, mengantar jenazah, dan menjawab
سلام مسنون عن جمع,
salam yang disunnahkan dari rombongan,
سلام مسنون عن جمع أي اثنين فأكثر فيسقط الفرض عن الباقين ويختص بالثواب فإن ردوا كلهم ولو مرتبا أثيبوا ثواب الفرض كالمصلين على الجنازة ولو سلم جمع مرتبون على واحد فرد مرة قاصدا جميعهم وكذا لو أطلق على الأوجه أجزأه ما لم يحصل فصل ضار.
salam yang disunnahkan dari suatu rombongan, yaitu dua orang atau lebih, maka gugurlah kewajiban dari selebihnya dan pahala khusus bagi yang menjawab. Jika mereka semua menjawab walaupun secara berurutan, maka mereka mendapat pahala fardhu sebagaimana orang-orang yang menshalati jenazah. Dan jika sekelompok orang memberi salam secara berurutan kepada satu orang, lalu ia menjawab satu kali dengan meniatkan seluruhnya—begitu pula jika ia memutlakkannya (tanpa niat khusus) menurut pendapat yang lebih kuat—maka itu sudah mencukupi selama tidak terjadi pemisah jeda waktu yang merusak.
ودخل في قولي مسنون سلام امرأة على امرأة أو نحو محرم أو سيد أو زوج وكذا على أجنبي وهي عجوز لا تشتهى ويلزمها في هذه الصورة رد سلام الرجل أما مشتهاة ليس معها امرأة أخرى فيحرم عليها رد سلام أجنبي ومثله ابتداؤه.
Termasuk dalam perkataanku "yang disunnahkan" adalah salam seorang wanita kepada wanita lain, atau kepada mahramnya, tuannya, atau suaminya, demikian pula kepada pria asing (bukan mahram) jika wanita tersebut adalah wanita tua yang tidak lagi menimbulkan syahwat, dan ia wajib dalam kondisi ini menjawab salam pria tersebut. Adapun wanita yang menimbulkan syahwat dan tidak ada wanita lain bersamanya, maka diharamkan atasnya menjawab salam pria asing, dan demikian pula memulainya.
ويكره رد سلامها ومثله ابتداؤه أيضا.
Dan dimakruhkan (bagi pria asing) menjawab salam wanita tersebut, dan demikian pula memulainya.
والفرق أن ردها وابتداءها يطمعه لطمعه فيها أكثر بخلاف ابتدائه ورده قاله شيخنا.
Perbedaannya adalah bahwa jawaban dan permulaan salam dari wanita itu membuat si pria berkeinginan padanya karena keinginannya kepada wanita lebih besar, berbeda dengan permulaan dan jawaban salam dari si pria; demikian yang dikatakan oleh guru kami.
ولو سلم على جمع نسوة وجب رد إحداهن إذ لا يخشى فتنة حينئذ.
Dan jika seseorang mengucapkan salam kepada sekelompok wanita, maka wajib bagi salah satu dari mereka untuk menjawabnya, karena tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah pada saat demikian.
وخرج بقولي عن جمع الواحد فالرد فرض عين عليه ولو كان المسلم صبيا مميزا.
Dan terkeluar dengan perkataanku "dari sekelompok orang" yaitu satu orang (sendirian), maka menjawab salam baginya adalah fardhu 'ain, meskipun orang yang mengucapkan salam adalah anak kecil yang mumayyiz.
ولا بد في الابتداء والرد من رفع الصوت بقدر ما يحصل به السماع المحقق ولو في ثقيل السمع نعم: إن مر عليه سريعا بحيث لم يبلغه صوته فالذي يظهر كما قاله شيخنا أنه يلزمه الرفع وسعيه دون العدو خلفه.
Harus (wajib) dalam memulai mengucapkan salam maupun menjawabnya untuk mengeraskan suara sekira dapat didengar secara meyakinkan, meskipun terhadap orang yang agak tuli. Ya, jika ia melewatinya dengan cepat sekira suaranya tidak sampai kepadanya, maka pendapat yang tampak jelas—sebagaimana dikatakan guru kami—bahwa ia wajib mengeraskan suara dan berjalan menyusulnya tanpa perlu berlari di belakangnya.
وابتداؤه سنة,
Memulai mengucapkan salam adalah sunnah,
ويجب اتصال الرد بالسلام كاتصال قبول البيع بإيجابه ولا بأس بتقديم عليك في رد سلام الغائب لان الفصل ليس بأجنبي وحيث زالت الفورية فلا قضاء خلافا لما يوهمه كلام الروياني.
Dan wajib menyambung (persambungan langsung) antara menjawab salam dengan salamnya, sebagaimana persambungan antara kabul jual beli dengan ijabnya. Dan tidak mengapa mendahulukan kata "'alaika" (atasmu) dalam menjawab salamnya orang yang tidak ada (lewat titipan salam), karena pemisah tersebut bukanlah hal asing (yang memutus). Ketika sifat serta-merta (seketika) itu hilang, maka tidak ada qadha (menjawab salam yang terlambat), berbeda dengan pemahaman implisit dari perkataan Al-Ruyani.
ويجب في الرد على الأصم أن يجمع بين اللفظ والإشارة ولا يلزمه الرد إلا إن جمع له المسلم عليه بين اللفظ والإشارة.
Dan wajib dalam menjawab salam kepada orang tuli untuk menggabungkan antara lafaz dan isyarat. Dan tidak wajib baginya menjawab salam kecuali jika orang yang memberi salam menggabungkan baginya antara lafaz dan isyarat.
وابتداؤه أي السلام عند إقباله أو انصرافه على مسلم غير نحو فاسق أو مبتدع حتى الصبي المميز وإن ظن عدم الرد سنة عينا للواحد وكفاية للجماعة كالتسمية للأكل لخبر: "أن أولى الناس بالله من بدأهم بالسلام". [أبو داود رقم: ٥١٩٧, الترمذي رقم: ٢٦٩٤, مسند أحمد رقم: ٢١٦٨٨, ٢١٧٧٦, ٢١٨١٤] .
Memulai salam, yaitu salam ketika bertemu atau berpisah, kepada seorang muslim selain seumpama orang fasik atau ahli bid'ah—bahkan kepada anak kecil yang mumayyiz—meskipun diduga tidak akan dijawab, hukumnya adalah sunnah 'ain bagi satu orang dan sunnah kifayah bagi rombongan, sebagaimana membaca basmalah ketika hendak makan, berdasarkan hadis: "Sesungguhnya orang yang paling utama di sisi Allah adalah orang yang memulai mengucapkan salam kepada mereka." [Abu Daud no. 5197, Al-Tirmidzi no. 2694, Musnad Ahmad no. 21688, 21776, 21814].
وأفتى القاضي بأن الابتداء أفضل كما أن إبراء المعسر أفضل من إنظاره وصيغة ابتدائه السلام عليكم أو سلام عليكم وكذا عليكم السلام أو سلام لكنه مكروه للنهي عنه ومع ذلك يجب الرد فيه بخلاف وعليكم السلام بالواو إذ لا يصلح للابتداء.
Al-Qadhi berfatwa bahwa memulai salam itu lebih utama, sebagaimana membebaskan utang orang yang kesulitan itu lebih utama daripada memberinya penangguhan. Lafaz memulainya adalah "Assalāmu 'alaikum" atau "Salāmun 'alaikum", begitu pula "'Alaikumussalām" atau "Salām", namun (menggunakan "'Alaikumussalām" atau "Salām") hukumnya makruh karena ada larangan mengenainya. Meskipun demikian, wajib membalasnya, berbeda dengan "Wa 'alaikumussalām" (dengan huruf wau) karena lafaz ini tidak sah untuk memulai salam.
والأفضل في الابتداء والرد الإتيان بصيغة الجمع حتى في الواحد لأجل الملائكة والتعظيم وزيادة ورحمة الله وبركاته ومغفرته ولا يكفي الإفراد للجماعة.
Dan yang lebih utama dalam memulai dan menjawab salam adalah menggunakan bentuk jamak meskipun kepada satu orang, demi (menghormati) para malaikat dan sebagai bentuk pengagungan, serta menambahkan "wa rahmatullāhi wa barakātuh wa maghfiratuh". Dan tidak cukup menggunakan lafaz tunggal (mufrad) untuk rombongan.
ولو سلم كل على الآخر فإن ترتبا كان الثاني جوابا: أي ما لم يقصد به الابتداء وحده كما بحثه بعضهم وإلا لزم كلا الرد.
Jika masing-masing saling mengucapkan salam satu sama lain, apabila secara berurutan, maka yang kedua dianggap sebagai jawaban (balasan)—yaitu selama ia tidak bermaksud memulai salam sendiri sebagaimana dibahas oleh sebagian ulama; jika tidak (keduanya sama-sama bermaksud memulai), maka masing-masing wajib membalasnya.
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………
فروع: يسن إرسال السلام للغائب ويلزم الرسول التبليغ لأنه أمانة ويجب أداؤها ومحله ما إذا رضي بتحمل تلك الأمانة أما لو ردها فلا وكذا إن سكت وقال بعضهم: يجب على الموصى به تبليغه ومحله كما قال شيخنا إن قبل الوصية بلفظ يدل على التحمل ويلزم المرسل إليه الرد فورا باللفظ في الإرسال وبه أو بالكتابة فيها.
Cabang-cabang masalah: Disunnahkan mengirim salam kepada orang yang tidak ada di tempat. Utusan (pembawa salam) wajib menyampaikannya karena hal itu adalah amanah yang wajib ditunaikan. Hal ini berlaku jika ia bersedia menanggung amanah tersebut; adapun jika ia menolaknya, maka tidak wajib, demikian pula jika ia diam saja. Sebagian ulama berpendapat: Orang yang diberi wasiat (dititipi salam) wajib menyampaikannya, dan ketentuannya—sebagaimana dikatakan guru kami—adalah jika ia menerima wasiat itu dengan lafaz yang menunjukkan penerimaan tanggung jawab. Dan orang yang dikirimi salam wajib menjawabnya secara seketika dengan ucapan dalam hal utusan lisan, serta dengan ucapan atau tulisan dalam hal surat/tulisan.
ويندب الرد أيضا على المبلغ والبداءة به فيقول عليك وعليه السلام للخبر المشهور فيه. [أبو داود رقم: ٥٢٣١, مسند أحمد رقم: ٢٢٥٩٤] .
Disunnahkan juga menjawab salam kepada penyampai pesan (pembawa salam) dan memulainya dari dia, lalu ia mengucapkan "'Alaika wa 'alaihis-salām" (Semoga keselamatan tercurah atasmu dan atasnya) berdasarkan hadis yang masyhur tentang hal ini. [Abu Daud no. 5231, Musnad Ahmad no. 22594].
وحكى بعضهم ندب البداءة بالمرسل.
Sebagian ulama meriwayatkan disunnahkannya memulai menyebut pengirim salam terlebih dahulu.
ويحرم أن يبدأ به ذميا ويستثنيه وجوبا بقلبه إن كان مع مسلم.
Dan haram memulai mengucapkan salam kepada kafir dzimmi, dan ia wajib mengecualikannya di dalam hati jika si kafir tersebut bersama dengan seorang muslim.
ويسن لمن دخل محلا خاليا أن يقول السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين ولا يندب السلام على قاضي حاجة بول أو غائط أو جماع أو استنجاء ولا على شارب وآكل في فمه اللقمة لشغله ولا على فاسق بل يسن تركه على مجاهر بفسقه ومرتكب ذنب عظيم لم يتب منه ومبتدع إلا لعذر أو خوف مفسدة ولا على مصل وساجد ومؤذن ومقيم وخطيب ومستمعه ولا رد عليهم إلا مستمع الخطيب فإنه يجب عليه ذلك بل يكره الرد لقاضي الحاجة والجامع والمستنجي ويسن للآكل وإن كانت اللقمة بفيه نعم: يسن السلام عليه بعد البلع وقبل وضع اللقمة بفيه ويلزمه الرد ويسن الرد لمن في الحمام وملب باللفظ ولمصل
Disunnahkan bagi orang yang memasuki tempat yang kosong untuk mengucapkan: "Assalāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn". Tidak disunnahkan memberi salam kepada orang yang sedang buang hajat (kencing atau berak), sedang berjima', atau sedang beristinja; tidak juga kepada orang yang sedang minum, orang yang sedang makan yang suapannya masih berada di mulutnya karena kesibukannya; tidak juga kepada orang fasik, bahkan disunnahkan meninggalkannya (tidak salam) kepada orang yang terang-terangan dengan kefasikannya, pelaku dosa besar yang belum bertobat, dan ahli bid'ah, kecuali karena uzur atau takut timbulnya mafsadat; tidak juga kepada orang yang sedang shalat, sujud, muazin, orang yang mengumandangkan iqamah, khatib, dan orang yang mendengarkan khutbah; dan tidak ada kewajiban menjawab bagi mereka kecuali pendengar khutbah, karena ia wajib menjawabnya. Bahkan makruh menjawab salam bagi orang yang sedang buang hajat, berjima', dan beristinja. Dan disunnahkan (menjawab) bagi orang yang sedang makan meskipun suapan ada di mulutnya. Ya, disunnahkan mengucapkan salam kepadanya setelah ia menelan makanan dan sebelum memasukkan suapan baru ke mulutnya, dan ia wajib menjawabnya. Dan disunnahkan menjawab salam bagi orang yang berada di tempat mandi umum (hammam) dan orang yang sedang bertalbiyah dengan ucapan, serta bagi orang yang sedang shalat…
كتشميت عاطس حمد الله تعالى,
…sebagaimana mendoakan orang bersin (tasymit) yang memuji Allah Ta'ala,
ومؤذن ومقيم بالإشارة وإلا فبعد الفراغ أي إن قرب الفصل ولا يجب عليهم ويسن عند التلاقي سلام صغير على كبير وماش على واقف وراكب عليهم وقليلين على كثيرين.
…dan muazin serta orang yang mengumandangkan iqamah (menjawab salam) dengan isyarat; jika tidak dengan isyarat, maka setelah selesai (dengan ucapan), yaitu jika jeda waktunya singkat, dan tidak wajib bagi mereka. Dan disunnahkan ketika bertemu: yang muda mengucapkan salam kepada yang tua, orang yang berjalan kaki kepada yang diam/berdiri, orang yang berkendara kepada mereka (yang berjalan/berdiri), dan kelompok yang sedikit kepada kelompok yang banyak.
فوائد: وحتى الظهر مكروه وقال كثيرون حرام وأفتى النووي بكراهة الانحناء بالرأس وتقبيل نحو رأس أو يد أو رجل لا سيما لنحو غني لحديث: من تواضع لغني ذهب ثلثا دينه ويندب ذلك لنحو صلاح أو علم أو شرف لان أبا عبيدة قبل يد عمر ﵄.
Faidah-faidah: Dan hingga membungkukkan punggung hukumnya makruh, dan banyak ulama mengatakan haram. Imam An-Nawawi berfatwa tentang makruhnya membungkukkan kepala serta mencium seperti kepala, tangan, atau kaki, khususnya bagi orang kaya, berdasarkan hadis: "Barangsiapa merendahkan diri kepada orang kaya, maka hilanglah dua pertiga agamanya." Namun, disunnahkan hal tersebut untuk orang yang memiliki kesalehan, ilmu, atau kemuliaan, karena Abu Ubaidah pernah mencium tangan Umar radhiyallahu 'anhuma.
ويسن القيام لمن فيه فضيلة ظاهرة من نحو صلاح أو علم أو ولادة أو ولاية مصحوبة بصيانة.
Disunnahkan berdiri menyambut orang yang memiliki keutamaan yang nyata, seperti kesalehan, ilmu, keperanakan (orang tua/nasab), atau kekuasaan yang disertai dengan penjagaan diri dari maksiat.
قال ابن عبد السلام أو لمن يرجى خيره أو يخشى شره ولو كافرا خشي منه ضررا عظيما.
Ibn 'Abdissalam berkata: "Atau untuk orang yang diharapkan kebaikannya atau ditakuti kejahatannya, meskipun ia seorang kafir yang ditakuti akan bahaya besarnya."
ويحرم على الرجل أن يحب قيامهم له.
Dan diharamkan bagi seseorang untuk menyukai orang-orang berdiri menyambutnya.
ويسن تقبيل قادم من سفر ومعانقته للاتباع.
Disunnahkan mencium dan memeluk orang yang baru datang dari bepergian (safar) karena mengikuti sunnah (ittiba').
كتشميت عاطس بالغ حمد الله تعالى بيرحمك الله أو رحمكم الله وصغير مميز حمد الله بنحو أصلحك الله فإنه سنة على الكفاية إن سمع جماعة وسنة عين إن سمع واحد إذا حمد الله
Seperti mendoakan orang bersin (tasymit) yang baligh dan memuji Allah Ta'ala dengan ucapan "Yarhamukallah" atau "Yarhamukumullah", serta anak kecil yang mumayyiz yang memuji Allah dengan ucapan seperti "Ashlahakallah". Sesungguhnya mendoakan bersin ini hukumnya sunnah kifayah jika didengar oleh sekelompok orang, dan sunnah 'ain jika didengar oleh satu orang apabila ia memuji Allah,
على مكلف ذكر حر
atas mukalaf, laki-laki, merdeka,
العاطس المميز عقب عطاسه بأن لم يتخلل بينهما فوق سكتة تنفس أوعى فإنه يسن له أن يقول عقبه الحمد لله وأفضل منه الحمد لله رب العالمين وأفضل منه الحمد لله على كل حال.
yaitu orang bersin yang mumayyiz sesaat setelah bersinnya, dengan syarat tidak diselingi jeda yang lebih dari sekadar bernapas bagi orang yang ingat. Disunnahkan baginya untuk mengucapkan sesudahnya: "Alhamdulillah", dan yang lebih utama "Alhamdulillah rabbil 'alamin", serta yang paling utama "Alhamdulillah 'ala kulli hal".
وخرج بقولي حمد الله من لم يحمده عقبه فلا يسن التشميت له فإن شك قال يرحم الله من حمده.
Dikecualikan dengan perkataanku "memuji Allah" yaitu orang yang tidak memuji-Nya sesaat setelah bersin, maka tidak disunnahkan mendoakannya (tasymit). Jika ragu (apakah ia memuji Allah atau tidak), maka mendoakan: "Yarhamullah man hamidah" (semoga Allah merahmati orang yang memuji-Nya).
ويسن تذكيره الحمد وعند توالي العطاس يشمته لثلاث ثم يدعو له بالشفاء ويسر به المصلي ويحمد في نفسه إن كان مشغولا بنحو بول أو جماع ويشترط رفع بكل بحيث يسمعه صاحبه.
Disunnahkan mengingatkannya untuk membaca hamdalah. Ketika bersin berturut-turut, ia didoakan (tasymit) hingga tiga kali, kemudian didoakan agar sembuh. Orang yang sedang shalat membaca hamdalah secara lirih, dan orang yang sedang sibuk seperti buang air kecil atau bersetubuh memuji Allah di dalam hatinya. Disyaratkan mengeraskan suara pada masing-masing bacaan sekira dapat didengar oleh temannya.
ويسن للعاطس وضع شيء على وجهه وخفض صوته ما أمكنه وإجابة مشمته بنحو يهديكم الله ويصلح بالكم أو يغفر الله لكم للأمر به.
Disunnahkan bagi orang yang bersin untuk menutup wajahnya dengan sesuatu, merendahkan suaranya sedapat mungkin, dan menjawab orang yang mendoakannya dengan ucapan seperti "Yahdikumullah wa yushlihu balakum" atau "Yaghfirullah lakam", karena adanya perintah akan hal tersebut.
ويسن للمتثائب رد التثاؤب طاقته وستر فيه ولو في الصلاة بيده اليسرى.
Disunnahkan bagi orang yang menguap untuk menahan uapannya semampunya dan menutup mulutnya saat menguap —meskipun sedang shalat— dengan tangan kirinya.
ويسن إجابة الداعي بلبيك.
Disunnahkan menjawab pemanggil dengan ucapan "Labbaik".
والجهاد فرض كفاية على كل مسلم مكلف أي بالغ عاقل لرفع القلم عن غيرهما.
Jihad adalah fardhu kifayah atas setiap muslim yang mukalaf, yaitu baligh dan berakal, karena pena hukum diangkat dari selain keduanya.
ذكر لضعف المرأة عنه غالبا.
Laki-laki, karena kelemahan wanita darinya (jihad) pada umumnya.
حر فلا يجب على ذي رق ولو مكاتبا ومبعضا وإن أذن له
Merdeka, maka tidak wajib bagi hamba sahaya meskipun budak mukatab maupun muba''adh, walaupun diizinkan oleh…
مستطيع له سلاح وحرم سفر بلا إذن غريم
yang mampu serta memiliki senjata. Dan diharamkan bepergian tanpa izin penagih utang…
سيده لنقصه.
…tuannya, karena kekurangannya (status perbudakannya).
مستطيع له سلاح فلا يجب على غير مستطيع كأقطع وأعمى وفاقد معظم أصابع يده ومن به عرج بين أو مرض تعظم مشقته وكعادم مؤن ومركب في سفر قصر فاضل ذلك عن مؤنة من تلزمه مؤنته كما في الحج ولا على من ليس له سلاح لان عادم ذلك لا نصرة به.
(Jihad adalah wajib bagi) orang yang mampu dan memiliki senjata, maka tidak wajib bagi orang yang tidak mampu, seperti orang yang terpotong tangannya/kakinya, orang buta, orang yang kehilangan sebagian besar jari tangannya, orang yang pincangnya tampak jelas atau mengalami sakit yang sangat berat kesulitannya, dan seperti orang yang tidak memiliki bekal dan kendaraan dalam perjalanan jarak qashar yang melebihi nafkah orang yang menjadi tanggungannya sebagaimana dalam ibadah haji, serta tidak wajib pula bagi orang yang tidak memiliki senjata karena orang yang tidak memilikinya tidak dapat memberikan bantuan perlawanan.
وحرم على مدين موسر عليه دين حال لم يوكل من يقضي عنه من ماله الحاضر سفر لجهاد وغيره وإن قصر وإن لم يكن مخوفا أو كان لطلب علم رعاية لحق الغير ومن ثم جاء في مسلم: [رقم: ١٨٨٦] : "القتل في سبيل الله يكفر كل شيء إلا الدين".
Dan diharamkan bagi seorang berutang yang mampu dan memiliki utang jatuh tempo yang belum mewakilkan orang lain untuk melunasinya dari hartanya yang ada, melakukan perjalanan untuk jihad maupun selainnya, meskipun perjalanannya jarak pendek (kurang dari qashar), meskipun perjalanannya tidak menakutkan (aman), atau perjalanannya untuk menuntut ilmu, demi menjaga hak orang lain. Oleh karena itu, terdapat dalam Shahih Muslim [No. 1886]: "Terbunuh di jalan Allah menghapuskan segala dosa kecuali utang."
بلا إذن غريم أو ظن رضاه وهو من أهل الإذن ولو كان الغريم ذميا أو كان بالدين رهن وثيق أو كفيل موسر.
Tanpa izin dari pemberi utang atau dugaan kuat akan kerelaannya—dan ia termasuk orang yang berhak memberi izin—meskipun pemberi utang tersebut seorang kafir dzimmi, atau utang tersebut memiliki barang jaminan yang kuat atau penjamin yang mampu.
قال الأسنوي في المهمات: أن سكوت رب الدين ليس بكاف في جواز السفر معتمدا في ذلك على ما فهم من كلام الشيخين هنا.
Al-Esnawi berkata dalam al-Muhimmat: Sesungguhnya diamnya pemilik utang tidaklah cukup untuk membolehkan perjalanan, dengan bersandar pada apa yang dipahami dari perkataan Asy-Syaikhani (An-Nawawi dan Ar-Rafi'i) di sini.
وقال ابن الرفعة والقاضي أبو الطيب والبندنيجي والقزويني: لا بد في الحرمة من التصريح بالمنع.
Ibn Ar-Rif'ah, Qadhi Abu Ath-Thayyib, Al-Bandaniji, dan Al-Qazwini berkata: Keharaman tersebut mensyaratkan adanya penegasan larangan secara jelas.
ونقله القاضي إبراهيم بن ظهيرة.
Hal itu juga dinukil oleh Qadhi Ibrahim bin Zhahirah.
ولا يحرم السفر بل ولا يمنع منه إن كان معسرا أو كان الدين مؤجلا وإن قرب حلوله بشرط وصوله لما يحل له فيه القصر وهو مؤجل.
Dan tidak diharamkan melakukan perjalanan, bahkan tidak pula dilarang darinya, jika ia dalam keadaan kesulitan (fakir/kurang mampu) atau utang tersebut bertempo (belum jatuh tempo) meskipun sudah dekat waktu jatuh temponya, dengan syarat ia sampai pada batas tempat yang diperbolehkan mengqashar shalat padanya sedangkan utang tersebut masih bertempo.
وأصل لا لتعلم فرض وإن دخلوا بلدة لنا تعين على أهلها
Dan (begitu pula izin) orang tua, kecuali untuk mempelajari kewajiban (fardhu). Dan jika mereka (orang-orang kafir) memasuki sebuah negeri milik kita, maka (jihad) menjadi fardhu 'ain bagi penduduknya.
وحرم السفر لجهاد وحج تطوع بلا إذن أصل مسلم أب وأم وإن عليا ولو أذن من هو أقرب منه وكذا يحرم بلا إذن أصل سفر لم تغلب فيه السلامة لتجارة لا سفر لتعلم فرض ولو كفاية كطلب النحو ودرجة الفتوى فلا يحرم عليه وإن لم يأذن أصله.
Dan diharamkan bepergian untuk jihad dan haji sunnah tanpa izin dari orang tua yang muslim, yaitu ayah dan ibu serta ke atas, meskipun orang yang lebih dekat kerabatnya telah memberi izin. Demikian pula diharamkan tanpa izin orang tua melakukan perjalanan dagang yang keselamatan di dalamnya tidak dominan (berbahaya). Adapun perjalanan untuk mempelajari ilmu fardhu, meskipun fardhu kifayah seperti menuntut ilmu nahwu dan tingkatan fatwa, maka tidak diharamkan baginya meskipun orang tuanya tidak memberi izin.
وإن دخلوا أي الكفار بلدة لنا تعين الجهاد على أهلها أي يتعين على أهلها الدفع بما أمكنهم.
Dan jika mereka, yaitu orang-orang kafir, memasuki sebuah negeri milik kita, maka jihad menjadi fardhu 'ain bagi penduduknya, artinya wajib bagi penduduknya untuk melakukan perlawanan dengan segenap kemampuan mereka.
وللدفع مرتبتان إحداهما أن يحتمل الحال اجتماعهم وتأهبهم للحرب فوجب الدفع على كل منهم بما يقدر عليه حتى على من لا يلزمه الجهاد نحو فقير وولد ومدين وعبد وامرأة فيها قوة بلا إذن ممن مر.
Perlawanan ini memiliki dua tingkatan: Pertama, keadaan memungkinkan mereka untuk berkumpul dan bersiap menghadapi perang, maka wajib melakukan perlawanan bagi setiap orang dari mereka sesuai kemampuannya, bahkan bagi orang yang tidak diwajibkan jihad (dalam kondisi biasa) seperti orang fakir, anak-anak, orang yang berutang, budak, dan wanita yang memiliki kekuatan, tanpa perlu izin dari orang-orang yang telah disebutkan sebelumnya.
ويغتفر ذلك لهذا الخطب العظيم الذي لا سبيل لإهمالهم.
Hal itu dimaafkan (dibolehkan tanpa izin) karena perkara yang sangat besar ini, yang tidak ada jalan untuk membiarkannya begitu saja.
وثانيتهما أن يغشاهم الكفار ولا يتمكنون من اجتماع وتأهب فمن قصده كافر أو كفار وعلم أنه يقتل إن أخذه فعليه أن يدفع عن نفسه بما أمكن وإن كان ممن لا جهاد عليه لامتناع الاستسلام لكافر.
Tingkatan kedua: Orang-orang kafir mengepung/menyerang mereka mendadak dan mereka tidak sempat berkumpul serta bersiap-siap, maka siapa saja yang dituju oleh seorang kafir atau beberapa orang kafir dan ia yakin bahwa ia akan dibunuh jika tertangkap, wajib baginya membela dirinya sebisanya, meskipun ia termasuk orang yang tidak diwajibkan jihad, karena terlarang berserah diri kepada orang kafir.
فروع: وإذا لم يمكن تأهب لقتال وجوز أسرا وقتلا فله قتال واستسلام إن علم أنه إن امتنع منه قتل وأمنت المرأة فاحشة إن أخذت وإلا تعين الجهاد فمن علم أو ظن أنه إن أخذ قتل عينا امتنع عليه الاستسلام كما مر آنفا.
Cabang masalah: Apabila tidak memungkinkan untuk bersiap-siap bertempur dan ia menduga kemungkinan ditawan atau dibunuh, maka ia boleh bertempur atau berserah diri jika ia tahu bahwa apabila ia menolak/melawan ia pasti dibunuh dan wanita itu aman dari perbuatan keji jika ditawan. Jika tidak, maka jihad menjadi fardhu 'ain. Maka barang siapa yang tahu atau menduga kuat bahwa jika ia ditawan ia pasti dibunuh, haram baginya berserah diri sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
ولو أسروا مسلما يجب النهوض إليهم فورا على كل قادر لخلاصه إن
Dan jika mereka menawan seorang muslim, maka wajib segera bergerak menuju mereka bagi setiap orang yang mampu demi membebaskannya, jika
ومن دون مسافة قصر منها وحرم انصراف عن صف إذا لم يزيدوا على مثلينا,
dan orang yang berada di bawah jarak qashar darinya. Dan diharamkan melarikan diri dari barisan tempur jika jumlah musuh tidak lebih dari dua kali lipat kita,
رجي ولو قال لكافر أطلق أسيرك وعلي كذا فأطلقه لزمه ولا يرجع به على الأسير إلا إن أذن له في مفاداته فيرجع عليه وإن لم يشترط له الرجوع.
(pembebasannya) diharapkan. Dan jika seseorang berkata kepada orang kafir, 'Lepaskan tawananmu dan saya akan menanggung biaya sekian,' lalu ia melepaskannya, maka wajib baginya melunasinya, dan ia tidak boleh menagih kembali biaya itu kepada tawanan tersebut kecuali jika tawanan memberi izin kepadanya untuk menebusnya, maka ia boleh menagihnya kembali meskipun ia tidak mensyaratkan penagihan kembali tersebut.
وتعين على من دون مسافة قصر منها أي من البلدة التي دخلوا فيها وإن كان في أهلهم كفاية لأنهم في حكمهم وكذا من كان على مسافة القصر إن لم يكف أهلها ومن يليهم فيصير فرض عين في حق من قرب وفرض كفاية في حق من بعد.
Dan (jihad) menjadi fardhu 'ain bagi orang yang berada di bawah jarak qashar darinya, yaitu dari negeri yang dimasukinya, meskipun penduduk negeri tersebut sudah mencukupi (kekuatannya), karena mereka berkedudukan sama seperti penduduknya. Demikian pula bagi orang yang berada pada jarak qashar jika penduduknya dan orang-orang yang berdekatan dengan mereka tidak mencukupi, sehingga jihad menjadi fardhu 'ain bagi orang yang dekat dan fardhu kifayah bagi orang yang jauh.
وحرم على من هو من أهل فرض الجهاد انصراف عن صف بعد التلاقي وإن غلب على ظنه أنه إذا ثبت قتل لعده ﷺ "الفرار من الزحف من السبع الموبقات". [البخاري رقم: ٢٧٦٦, مسلم: رقم: ٨٩]
Diharamkan bagi orang yang termasuk ahli fardhu jihad untuk berbalik mundur dari barisan (perang) setelah berhadapan dengan musuh, meskipun timbul prasangka kuat baginya bahwa jika ia tetap bertahan ia akan terbunuh, karena sabda Nabi ﷺ: "Lari dari medan perang termasuk tujuh dosa yang membinasakan." [HR. Bukhari No. 2766, Muslim No. 89].
ولو ذهب سلاحه وأمكن الرمي بالحجارة لم يجز له الانصراف على تناقض فيه وجزم بعضهم بأنه إذا غلب ظن الهلاك بالثبات من غير نكاية فيهم وجب الفرار إذا لم يزيدوا أي الكفار على مثلينا للآية. [٨ سورة الأنفال الآية: ٦٦] وحكمة وجوب مصابرة الضعف أن المسلم يقاتل على إحدى الحسنيين: الشهادة والفوز بالغنيمة مع الاجر والكافر يقاتل على الفوز بالدنيا فقط.
Sekalipun senjatanya hilang namun masih memungkinkan melempar dengan batu, ia tidak boleh mundur menurut pertentangan pendapat di dalamnya. Sebagian ulama memastikan bahwa apabila diduga kuat akan binasa jika bertahan tanpa mampu melukai/melumpuhkan musuh, maka wajib lari apabila jumlah mereka (kaum kafir) tidak lebih dari dua kali lipat jumlah kita berdasarkan ayat Al-Qur'an [QS. Al-Anfal: 66]. Hikmah kewajiban bersabar menahan dua kali lipat (jumlah musuh) adalah bahwa seorang muslim berperang untuk mendapatkan salah satu dari dua kebaikan: mati syahid atau menang meraih rampasan perang beserta pahala, sedangkan orang kafir berperang hanya demi kemenangan duniawi semata.
أما إذا زادوا على المثلين كمائتين وواحد عن مائة فيجوز
Adapun jika jumlah mereka melebihi dua kali lipat, seperti 201 orang berbanding 100 orang, maka diperbolehkan
ويرق ذراري كفار بأسر,
Anak keturunan orang-orang kafir menjadi budak sebab ditawan,
الانصراف مطلقا.
mundur secara mutlak.
وحرم جمع مجتهدون الانصراف مطلقا إذا بلغ المسلمون اثني عشر ألفا لخبر: لن يغلب إثنا عشر ألفا من قلة وبه خصت الآية. [٨ سورة الأنفال الآية: ٦٦] .
Sekelompok mujtahid mengharamkan mundur secara mutlak jika jumlah kaum muslimin mencapai 12.000 orang berdasarkan hadis: "12.000 orang tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit," dan dengan hadis inilah ayat tersebut dikhususkan (ditakhsis) [QS. Al-Anfal: 66].
ويجاب بأن المراد من الحديث أن الغالب على هذا العدد الظفر فلا تعرض فيه لحرمة فرار ولا لعدمها كما هو واضح وإنما يحرم الانصراف إن قاومناهم إلا متحرفا لقتال أو متحيزا إلى فئة يستنجد بها على العدو ولو بعيدة.
Dan dijawab bahwa yang dimaksud dari hadis tersebut adalah secara umum jumlah sebesar ini berpotensi menang, sehingga tidak ada pembahasan tentang keharaman lari atau ketidak-haramannya di dalamnya sebagaimana hal itu jelas. Dan sesungguhnya mundur itu diharamkan jika kita berimbang melawan mereka, kecuali dalam keadaan berbelok untuk strategi pertempuran atau bergabung dengan kelompok lain untuk meminta bantuan menghadapi musuh meskipun kelompok itu jauh.
ويرق ذراري كفار وعبيدهم ولو مسلمين كاملين بأسر كما يرق حربي مقهور لحربي بالقهر أي يصيرون بنفس الأسر أرقاء لنا ويكونون كسائر أموال الغنيمة.
Dan anak-anak keturunan orang kafir serta budak-budak mereka—meskipun mereka muslim dewasa yang sempurna—menjadi budak sebab penawanan, sebagaimana harbi yang dikalahkan oleh harbi lainnya menjadi budak karena takluk. Maksudnya, dengan sebab penawanan itu sendiri mereka menjadi budak bagi kita dan status mereka sama seperti harta ghanimah lainnya.
ودخل في الذراري الصبيان والمجانين والنسوان.
Termasuk dalam kategori anak keturunan (dzurriyyah) adalah anak-anak kecil, orang-orang gila, dan wanita-wanita.
ولا حد إن وطئ غانم أو أبوه أو سيده أمة في الغنيمة ولو قبل اختيار التملك لان فيها شبهة ملك ويعزر عالم بالتحريم لا جاهل به إن عذر لقرب إسلامه أو بعد محله عن العلماء.
Dan tidak ada hukuman had apabila seorang yang mendapat ghanimah, atau ayahnya, atau tuannya menggauli seorang budak wanita dalam harta ghanimah, meskipun sebelum memilih kepemilikan, karena di dalamnya terdapat syubhat kepemilikan. Namun, orang yang mengetahui keharamannya dikenakan ta'zir, bukan orang yang tidak mengetahuinya jika ia dimaafkan karena baru masuk Islam atau tempat tinggalnya jauh dari para ulama.
فرع: يحكم بإسلام غير بالغ ظاهرا وباطنا: إما تبعا للسابي المسلم ولو شاركه كافر في سبيه وإما تبعا لأحد أصوله وإن كان
Cabang masalah: Dihukumi islamnya seorang yang belum baligh secara lahir dan batin: bisa jadi karena mengikut pada penawan yang muslim meskipun ada orang kafir yang berserikat dengannya dalam penawanan tersebut, atau karena mengikut pada salah satu leluhurnya (orang tua/kakek-nenek), meskipun…
ولإمام خيار في كامل بين قتل ومن وفداء واسترقاق وإسلام كافر بعد أسر يعصم دمه,
Dan bagi imam ada pilihan terkait tawanan yang sempurna (dewasa) antara membunuh, memberi kenikmatan (pembebasan tanpa syarat), tebusan, dan menjadikannya budak; serta masuk Islamnya seorang kafir setelah ditawan dapat melindungi darahnya,
إسلامه قبل علوقه فلو أقر أحدهما بالكفر بعد البلوغ فهو مرتد من الآن.
…masuk Islamnya salah satu leluhur tersebut terjadi sebelum pembuahan (terbentuknya janin). Jika salah satu dari mereka mengakui kekafiran setelah baligh, maka ia dianggap murtad mulai saat itu.
ولإمام أو أمير خيار في أسير كامل ببلوغ وعقل وذكورة وحرية بين أربع خصال من قتل بضرب الرقبة لا غير ومن عليه بتخلية سبيله وفداء بأسرى منا أو مال فيخمس وجوبا أو بنحو سلاحا ويفادى سلاحهم بأسرانا على الأوجه لا بمال واسترقاق فيفعل الإمام أو نائبه وجوبا الأحظ للمسلمين لاجتهاده.
Bagi imam atau pemimpin pasukan ada hak memilih terkait tawanan pria yang sempurna—yakni baligh, berakal, laki-laki, dan merdeka—di antara empat hal: pembunuhan dengan cara pemenggalan leher saja (tidak dengan cara lain); memberi anugerah kebebasan dengan melepaskan jalannya; tebusan dengan tawanan dari pihak kita atau harta, yang mana tebusan harta ini wajib dikeluarkan seperlimanya (khumus), atau dengan sejenis senjata—dan senjata mereka dapat ditebus dengan tawanan kita menurut pendapat yang kuat, bukan dengan harta—; serta menjadikannya budak. Maka imam atau wakilnya wajib melakukan hal yang paling menguntungkan bagi kaum muslimin berdasarkan ijtihadnya.
ومن قتل أسيرا غير كامل لزمته قيمته أو كاملا قبل التخيير فيه عزر فقط.
Barangsiapa membunuh tawanan yang tidak sempurna (anak-anak/wanita/budak), maka ia wajib membayar nilainya. Atau membunuh tawanan sempurna sebelum adanya pilihan keputusan imam, ia hanya dikenakan ta'zir saja.
وإسلام كافر كامل بعد أسر يعصم دمه من القتل لخبر الصحيحين [لبخاري رقم: ٢٥ , مسلم رقم: ٢٢] : "أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله فإذا قالوا عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحقها" ولم يذكر هنا وماله لأنه لا يعصمه إذا اختار الإمام رقه ولا صغار أولاده للعلم بإسلامهم تبعا له وإن كانوا
Dan masuk Islamnya seorang kafir dewasa yang sempurna setelah ditawan dapat melindungi darahnya dari pembunuhan berdasarkan hadis dalam Shahihain [HR. Bukhari No. 25, Muslim No. 22]: "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Apabila mereka telah mengucapkannya, maka mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haknya." Dan penulis tidak menyebutkan 'dan hartanya' di sini karena keislaman setelah penawanan tidak melindungi hartanya apabila imam memilih menjadikannya budak, tidak pula melindungi anak-anaknya yang masih kecil karena anak-anak tersebut sudah diketahui keislamannya dengan mengikut kepadanya, meskipun mereka…
بدار الحرب أو أرقاء وإذا تبعوه في الإسلام وهم أحرار لم يرقوا لامتناع طرو الرق على من قارن إسلامه حريته ومن ثم أجمعوا على أن الحر المسلم لا يسبى ولا يسترق أو أرقاء لم ينقص رقهم ومن ثم لو ملك حربي
…berada di Darul Harbi atau berstatus budak. Apabila mereka mengikutinya dalam Islam sementara mereka adalah orang-orang merdeka, maka mereka tidak dijadikannya budak karena terhalangnya perbudakan mendatangi orang yang keislamannya bersamaan dengan kemerdekaannya. Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa seorang muslim merdeka tidak boleh ditawan dan tidak boleh dijadikannya budak; atau jika mereka berstatus budak, perbudakan mereka tidak berkurang. Oleh sebab itu, seandainya seorang kafir harbi memiliki…
وقبله يعصم دما ومالا,
Dan sebelum ditawan, masuk Islam melindungi darah dan harta,
صغيرا ثم حكم بإسلامه تبعا لأصله جاز سبيه واسترقاقه ويبقى الخيار في باقي الخصال السابقة من المن أو الفداء أو الرق ومحل جواز المفاداة مع إرادة الإقامة في دار الكفر إن كان له ثم عشيرة يأمن معها على نفسه ودينه.
(Anak) kecil, kemudian dihukumi Islam karena mengikuti asal (orang tuanya), boleh ditawan dan dijadikan budak. Dan tetap ada pilihan pada opsi-opsi yang tersisa sebelumnya, yaitu pembebasan tanpa syarat (al-mann), tebusan (al-fida'), atau perbudakan (ar-riqq). Keberbolehan tebusan bersama dengan keinginan untuk tinggal di darul kufr berlaku jika ia memiliki kerabat di sana yang membuatnya merasa aman atas diri dan agamanya.
وإسلامه قبله أي قبل أسر بوضع أيدينا عليه يعصم دما أي نفسا عن كل ما مر ومالا أي جميعه بدارنا أو دارهم وكذا فرعه الحر الصغير والمجنون عند السبي عن الاسترقاق لا زوجته فإذا سبيت ولو بعد الدخول انقطع نكاحه حالا وإذا سبي زوجان أو أحدهما انفسخ النكاح بينهما لما في خبر مسلم [رقم: ١٤٥٦] : أنهم لما امتنعوا يوم أوطاس من وطئ المسبيات المتزوجات نزل ﴿وَالْمُحْصَنَاتُ﴾ أي المتزوجات ﴿مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ﴾ [٤ سورة النساء الآية: ٢٤] . فحرم الله تعالى المتزوجات إلا المسبيات.
Dan keislamannya sebelum itu, yaitu sebelum ditawan dengan cara dikuasai oleh kita, menjaga darah (yaitu jiwa) dari segala hal yang telah disebutkan, dan menjaga harta (yaitu seluruhnya) baik di negeri kita maupun negeri mereka. Demikian pula keturunannya yang merdeka yang masih kecil dan yang gila saat penawanan terjaga dari perbudakan, bukan istrinya. Maka jika istrinya ditawan, meskipun setelah dukhul (disetubuhi), pernikahan laki-laki itu putus seketika. Jika sepasang suami istri atau salah satunya ditawan, nikah di antara keduanya menjadi fasakh (batal) berdasarkan hadis dalam Sahih Muslim [No. 1456]: Bahwa ketika para sahabat menahan diri pada hari Authas dari menggauli wanita-wanita tawanan yang bersuami, turunlah ayat: "Dan (diharamkan juga kamu menikahi) wanita yang bersuami [dari perempuan-perempuan, kecuali hamba sahaya yang kamu miliki]" [QS. An-Nisa: 24]. Maka Allah Ta'ala mengharamkan wanita-wanita yang bersuami kecuali wanita-wanita yang ditawan.
فرع: لو ادعى أسير قد أرق إسلامه قبل أسره لم يقبل في الرق ويجعل مسلما من الآن ويثبت بشاهد وامرأتين.
Cabang masalah: Jika seorang tawanan yang telah dijadikan budak mengklaim keislamannya sebelum ditawan, pengakuannya tidak diterima terkait status perbudakannya, dan ia dijadikan orang muslim mulai saat ini, serta hal itu dapat dibuktikan dengan satu saksi laki-laki dan dua saksi perempuan.
ولو ادعى أسير أنه مسلم فإن أخذ من دارنا صدق بيمينه أو من دار الحرب فلا.
Jika seorang tawanan mengklaim bahwa ia seorang muslim, maka jika ia ditangkap dari negeri kita, ia dibenarkan dengan sumpahnya; namun jika ditangkap dari darul harb, maka tidak dibenarkan.
وإذا أرق وعليه دين لم يسقط.
Dan jika ia dijadikan budak sedangkan ia memiliki utang, utang tersebut tidak gugur.
وإذا أرق الحربي وعليه دين لمسلم أو ذمي لم يسقط وسقط إن كان لحربي.
Jika seorang kafir harbi dijadikan budak sedangkan ia mempunyai utang kepada seorang muslim atau dzimmi, utangnya tidak gugur; namun gugur jika utangnya kepada sesama kafir harbi.
ولو اقترض حربي من حربي أو غيره أو اشترى منه شيئا ثم أسلما أو أحدهما يسقط لالتزامه بعقد صحيح.
Jika seorang kafir harbi meminjam uang dari kafir harbi lain atau selainnya, atau membeli sesuatu darinya, kemudian keduanya masuk Islam atau salah satunya saja, maka utang tersebut tidak gugur karena keterikatannya dengan akad yang sah.
ولو أتلف حربي على حربكي شيئا أو غصبه منه فأسلما أو أسلم المتلف فلا ضمان لأنه لم يلتزم شيئا بعقد حتى يستدام حكمه ولان الحربي لو أتلف مال مسلم أو ذمي لم يضمنه فأولى مال الحربي.
Jika seorang kafir harbi merusakkan milik kafir harbi lain atau merampasnya, lalu keduanya masuk Islam atau yang merusakkan saja yang masuk Islam, maka tidak ada ganti rugi (dhaman), karena ia tidak terikat oleh sesuatu pun melalui akad sehingga hukumnya berlanjut, dan karena kafir harbi jika merusakkan harta seorang muslim atau dzimmi pun tidak wajib mengganti, maka harta kafir harbi tentu lebih utama (untuk tidak diganti).
فرع: لو قهر حربي دائنة أو سيده أو زوجه ملكه ارتفع الدين والرق والنكاح وإن كان المقهور كاملا وكذا إن كان القاهر بعضا للمقهور ولكن ليس للقاهر بيع مقهوره البعض لعتقه عليه خلافا للسمهودي.
Cabang masalah: Jika seorang kafir harbi menaklukkan/menguasai orang yang berpiutang kepadanya (krediturnya), tuannya, atau istrinya, lalu ia memilikinya, maka hapuslah utang, perbudakan, dan nikah tersebut, meskipun yang ditaklukkan itu adalah orang yang merdeka secara penuh. Demikian pula jika yang menaklukkan adalah bagian dari diri yang ditaklukkan (seperti anak/kerabat), namun tidak boleh bagi sang penakluk menjual kerabat yang ditaklukkannya itu karena kerabat tersebut menjadi merdeka atas dirinya, berbeda dengan pendapat As-Samhudi.
مهمة: قال شيخنا في شرح المنهاج: قد كثر اختلاف الناس وتأليفهم في السراري والأرقاء المجلوبين من الروم والهند وحاصل معتمد مذهبنا فيهم أن من لم يعلم كونه غنيمة لم تتخمس ولم تقسم يحل شراؤه وسائر التصرفات فيه لاحتمال أن آسره البائع له أولا حربي أو ذمي فإنه لا يخمس عليه وهذا كثير لا نادر فإن تحقق أن آخذه مسلم بنحو سرقة أو اختلاس لم يجز شراؤه إلا على الوجه
Catatan penting: Guru kami berkata dalam Syarh al-Minhaj: Telah banyak perbedaan pendapat dan karangan manusia mengenai amat (selir) dan budak-budak yang didatangkan dari Rum dan India. Kesimpulan dari pendapat yang dijadikan pegangan dalam mazhab kita mengenai mereka adalah bahwa siapa saja yang tidak diketahui keberadaannya sebagai ghanimah yang belum dikeluarkan seperlimanya (takhmis) dan belum dibagi, maka halal membelinya dan melakukan segala bentuk tindakan hukum padanya, karena ada kemungkinan bahwa orang yang menawannya yang menjualnya pertama kali adalah seorang kafir harbi atau dzimmi, yang mana tidak ada kewajiban takhmis baginya, dan hal ini sangat banyak terjadi bukan sesuatu yang langka. Namun jika dipastikan bahwa yang mengambilnya adalah seorang muslim dengan cara seperti mencuri atau merampas, maka tidak boleh membelinya kecuali menurut pendapat…
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
……………………………
الضعيف أنه لا يخمس عليه فقول جمع متقدمين ظاهر الكتاب والسنة والإجماع على منع وطء السراري المجلوبة من الروم والهند إلا أن ينصب من يقسم الغنائم ولا حيف يتعين حمله على ما علم أن الغانم له المسلمون وإنه لم يسبق من أميرهم قبل الاغتنام من أخذ شيئا فهو له لجوازه عند الأئمة الثلاثة.
…yang lemah, yaitu bahwa tidak ada kewajiban takhmis padanya. Maka perkataan sekelompok ulama terdahulu (mutaqaddimin) bahwa zahir Al-Qur'an, As-Sunnah, dan ijmak melarang menggauli amat (selir) yang didatangkan dari Rum dan India kecuali jika diangkat petugas yang membagikan ghanimah tanpa ada kezaliman, harus dibawakan pada kasus yang telah diketahui bahwa yang mengambil ghanimah itu adalah kaum muslimin dan belum ada keputusan mendahului dari pemimpin mereka sebelum pengambilan ghanimah bahwa 'barangsiapa mengambil sesuatu maka itu miliknya', karena hal itu dibolehkan menurut Tiga Imam mazhab.
وفي قول الشافعي بل زعم التاج الفزاري أنه لا يلزم الإمام قسمة الغنائم ولا تخميسها وله أن يحرم بعض الغانمين لكن رده المصنف وغيره بأنه مخالف للإجماع.
Dan dalam satu qaul Asy-Syafi'i, bahkan At-Taj Al-Fazari mengklaim bahwa imam tidak wajib membagikan ghanimah maupun mengeluarkan seperlimanya, dan imam berhak mengharamkan sebagian pasukan dari ghanimah, namun pendapat ini ditolak oleh mushannif (penulis) dan ulama lainnya karena menyelisih ijmak.
وطريق من وقع بيده غنيمة لم تخمس ردها لمستحق علم وإلا فللقاضي كالمال الضائع أي الذي لم يقع اليأس من صاحبه وإلا كان ملك بيت المال فلمن له فيه حق الظفر به على المعتمد ومن ثم كان المعتمد كما مر أن من وصل له شيء يستحقه منه حل له أخذه وإن ظلم الباقون نعم: الورع لمريد التسري أن يشتري ثانيا من وكيل بيت المال لان الغالب عدم التخميس واليأس من معرفة مالكها فيكون ملكا لبيت المال.
Jalan bagi orang yang memegang ghanimah yang belum dikeluarkan seperlimanya adalah mengembalikannya kepada pemilik hak yang diketahui; jika tidak diketahui, maka diserahkan kepada qadhi sebagaimana harta hilang (al-mal ad-dha'i'), yaitu harta yang belum putus asa dari pemiliknya. Jika sudah putus asa, maka harta itu menjadi milik Baitul Mal, sehingga bagi orang yang memiliki hak padanya boleh menguasainya menurut pendapat yang mu'tamad. Oleh karena itu, pendapat yang mu'tamad sebagaimana telah lalu adalah bahwa barangsiapa yang mendapatkan sesuatu yang menjadi haknya dari harta itu, halal baginya mengambilnya meskipun orang lain berbuat zalim. Ya, sikap warak bagi orang yang ingin menjadikannya selir (tasarri) adalah membelinya kembali dari wakil Baitul Mal, karena umumnya tidak dilakukan takhmis dan sudah putus asa dari mengetahui pemiliknya, sehingga harta itu menjadi milik Baitul Mal.
انتهى.
Selesai.
تتمة [في ذكر مسائل تتعلق بالهدنة] : يعتق رقيق حربي إذا هرب ثم أسلم ولو بعد الهدنة أو أسلم ثم هرب قبلها وإن لم يهاجر إلينا لا عكسه بأن أسلم بعد هدنة ثم هرب فلا يعتق لكن لا يرد
Pelengkap [tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan perjanjian damai/hudnah]: Budak dari kafir harbi menjadi merdeka jika ia melarikan diri lalu masuk Islam meskipun setelah perjanjian damai, atau ia masuk Islam lalu melarikan diri sebelum perjanjian damai, meskipun ia tidak berhijrah kepada kita. Tidak demikian sebaliknya, yaitu apabila ia masuk Islam setelah perjanjian damai lalu melarikan diri, maka ia tidak menjadi merdeka, namun ia tidak dikembalikan…
٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠
………………………….
إلى سيده فإن لم يعتقه باعه الإمام من مسلم أو دفع لسيده قيمته من مال المصالح وأعتقه عن المسلمين والولاء لهم وإن أتانا بعد الهدنة وشرط رد من جاء منهم إلينا حر ذكر مكلف مسلما فإن لم تكن له ثم عشيرة تحميه لم يرد وإلا رد عليهم بطلبهم بالتخلية بينه وبين طالبه بلا إجبار على الرجوع مع طالبه.
…kepada tuannya. Jika tuannya tidak memerdekakannya, maka Imam menjualnya kepada seorang muslim, atau membayarkan nilainya kepada tuannya dari harta maslahat (kas negara) dan memerdekakannya atas nama kaum muslimin, sedangkan hak wala' milik kaum muslimin. Dan jika datang kepada kita setelah perjanjian damai (hudnah) dengan syarat mengembalikan orang yang datang dari pihak mereka kepada kita, berupa seorang laki-laki merdeka, mukallaf, dan muslim: jika di sana ia tidak memiliki kabilah/kerabat yang melindunginya, maka ia tidak dikembalikan. Namun jika ada, ia dikembalikan kepada mereka atas permintaan mereka dengan cara membiarkan (tidak menghalangi) antara dirinya dan penuntutnya, tanpa ada paksaan untuk kembali bersama penuntutnya.
وكذا لا يرد صبي ومجنون وصفا الإسلام أم لا وامرأة وخنثى أسلمتا: أي لا يجوز ردهم ولو لنحو الأب لضعفهم ويغرمون لنا قيمة رقيق ارتد دون الحر المرتد.
Demikian pula tidak dikembalikan anak kecil dan orang gila, baik diputus bernilai Islam atau tidak, serta wanita dan khuntsa (orang berorgan kelamin ganda) yang telah masuk Islam. Artinya: tidak boleh mengembalikan mereka meskipun kepada semisal ayah (mereka), karena kelemahan mereka. Dan mereka (pihak kafir harbi) wajib mengganti kepada kita nilai budak yang murtad, bukan orang merdeka yang murtad.