فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين

باب القضاء

باب القضاء

باب القضاء

Bab Peradilan (Al-Qada')

باب القضاء

Bab Peradilan (Al-Qada')

بالمد: أي الحكم بين الناس والأصل فيه قبل الإجماع قوله تعالى: ﴿وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ﴾ [٥ سورة المائدة الآية: ٤٩] وقوله: ﴿فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ﴾ [٥ سورة المائدة الآية: ٤٢] وأخبار كخبر الصحيحين [البخاري رقم: ٧٣٥٢, مسلم رقم: ١٧١٦] : "إذا حكم حاكم أي أراد الحكم فاجتهد ثم أصاب فله أجران وإذا حكم فاجتهد ثم أخطأ فله أجر" وفي رواية بدل الأولى: "فله عشرة أجور".

Dengan dibaca panjang (madd): yaitu memutuskan hukum di antara manusia. Dasar hukumnya sebelum ijmak adalah firman Allah Ta'ala: "Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah" [QS. Al-Ma'idah: 49] dan firman-Nya: "Maka putuskanlah perkara di antara mereka dengan adil" [QS. Al-Ma'idah: 42], serta hadis-hadis seperti hadis ash-Shahihain [Al-Bukhari no. 7352, Muslim no. 1716]: "Apabila seorang hakim hendak memutuskan hukum lalu dia berijtihad kemudian benar, maka baginya dua pahala. Dan apabila dia hendak memutuskan hukum lalu berijtihad kemudian salah, maka baginya satu pahala." Dan dalam satu riwayat sebagai ganti yang pertama: "Maka baginya sepuluh pahala."

قال في شرح مسلم: أجمع المسلمون على أن هذا في حاكم عالم مجتهد أما غيره فآثم بجميع أحكامه

Penulis (An-Nawawi) berkata dalam Syarh Muslim: "Kaum muslimin telah sepakat bahwa hal ini berlaku bagi hakim yang alim lagi mujtahid. Adapun selainnya, maka ia berdosa pada seluruh hukum/keputusannya,

وإن وافق الصواب لان إصابته إتفاقية وصح خبر: "القضاة ثلاثة: قاض في الجنة وقاضيان

meskipun keputusannya kebetulan benar, karena kebenarannya itu terjadi secara kebetulan semata. Dan telah shahih hadis: "Hakim itu ada tiga: satu hakim di surga dan dua hakim…

هو فرض كفاية

Hukumnya adalah fardu kifayah

في النار" [أبو داود رقم: ٣٥٧٣, الترمذي رقم: ١٣٢٢, ابن ماجه, رقم: ٢٣١٥] وفسر الأول بأنه عرف الحق وقضى به والأخيران بمن عرف وجار في الحكم ومن قضى على جهل وما جاء في التحذير عنه كخبر: "من جعل قاضيا فقد ذبح بغير سكين" [الترمذي رقم: ١٣٢٥, أبو داود رقم: ٣١٠٠, ٣١٠١, ابن ماجه رقم: ٢٣٠٨, مسند أحمد رقم: ٧١٠٥, ٨٥٥٩] محمول على عظم الخطر فيه أو على من يكره له القضاء أو يحرم.

…di neraka" [Abu Dawud no. 3573, At-Tirmidzi no. 1322, Ibn Majah no. 2315]. Yang pertama ditafsirkan sebagai orang yang mengetahui kebenaran lalu memutuskan hukum dengannya. Sedangkan dua yang terakhir adalah orang yang mengetahui kebenaran namun berbuat zalim dalam hukum, dan orang yang memutuskan hukum berdasarkan kebodohan. Adapun peringatan (ancaman) tentang peradilan seperti hadis: "Barangsiapa dijadikan hakim, sungguh ia telah disembelih tanpa pisau" [At-Tirmidzi no. 1325, Abu Dawud no. 3100, 3101, Ibn Majah no. 2308, Musnad Ahmad no. 7105, 8559], ditafsirkan atas besarnya bahaya di dalamnya, atau bagi orang yang makruh atau haram baginya menjabat sebagai hakim.

هو أي قبوله من متعددين صالحين له.

Yaitu menerima jabatan hakim jika terdapat beberapa orang yang layak/memenuhi syarat untuknya.

فرض كفاية في الناحية بل أسنى فروض الكفايات حتى قال الغزالي: أنه أفضل من الجهاد فإن امتنع الصالحون له منه أثموا.

Hukumnya adalah fardu kifayah di suatu wilayah, bahkan merupakan fardu kifayah yang paling utama, hingga Al-Ghazali berkata: "Sesungguhnya ia lebih utama daripada jihad." Jika orang-orang yang layak menolak jabatan tersebut, maka mereka berdosa.

أما تولية الإمام أو نائبه لأحدهم في إقليم ففرض عين عليه ثم على ذي شوكة ولا يجوز إخلاء مسافة العدوى عن قاض.

Adapun pengangkatan salah seorang dari mereka oleh Imam (pemimpin) atau wakilnya di suatu daerah hukumnya fardu 'ain baginya (Imam), kemudian bagi pemegang kekuasaan (dzusy-syawkah). Dan tidak boleh membiarkan wilayah sejauh masafatul 'adwa (jarak tempuh sidang) kosong dari adanya hakim.

فرع: لا بد من تولية من الإمام أو مأذونه ولو لمن تعين للقضاء فإن فقد الإمام فتولية أهل الحل والعقد في البلد أو بعضهم مع رضا الباقين ولو ولاه أهل جانب من البلد صح فيه دون الآخر.

Cabang masalah: Harus ada pengangkatan dari Imam atau orang yang diberi wewenang olehnya, meskipun bagi orang yang telah tertentu (hanya dia satu-satunya yang layak) untuk menjadi hakim. Jika tidak ada Imam, maka pengangkatan dilakukan oleh ahlul halli wal 'aqdi di negeri tersebut atau sebagian mereka dengan keridaan sisanya. Jika penduduk satu wilayah negeri mengangkatnya, maka pengangkatan itu sah untuk wilayah tersebut, bukan wilayah lainnya.

ومن صريح التولية وليتك أو قلدتك القضاء ومن كفايتها عولت واعتمدت عليك فيه.

Di antara lafaz sharih (tegas) dalam pengangkatan adalah: "Aku mengangkatmu" atau "Aku menyerahkan kepadamu jabatan peradilan". Dan di antara lafaz kinayah-nya adalah: "Aku bersandar dan mengandalkanmu dalam hal ini (peradilan)".

وشرط قاض كونه أهلا للشهادات كافيا مجتهدا,

Syarat seorang hakim adalah ia harus memenuhi kelayakan sebagai saksi, memiliki kecukupan/kemampuan, serta seorang mujtahid,

ويشترط القبول لفظا وكذا فورا في الحاضر وعند بلوغ الخبر في غيره.

Dan disyaratkan adanya penerimaan secara lisan, demikian pula secara langsung (seketika) bagi orang yang hadir, dan saat berita sampai bagi orang yang tidak hadir.

وقال جمع محققون: الشرط عدم الرد ومن تعين في ناحية لزمه قبوله وكذا طلبه ولو ببذل مال وإن خاف من نفسه الميل فإن لم يتعين فيها كره للمفضول القبول والطلب إن لم يمتنع الأفضل ويحرم طلبه بعزل صالح له ولو مفضولا.

Sebagian ulama muhaqqiqin (peneliti) berkata: Syaratnya adalah tidak adanya penolakan. Barang siapa yang telah tertentu (menjadi satu-satunya calon yang layak) di suatu wilayah, maka ia wajib menerimanya dan demikian pula wajib menuntut jabatan itu meskipun dengan mengeluarkan harta, walaupun ia khawatir dirinya akan cenderung berbuat zalim. Jika ia tidak tertentu di wilayah tersebut, maka makruh bagi orang yang mafdhul (kurang utama) untuk menerima dan memintanya jika orang yang lebih utama (al-afdhal) tidak enggan. Dan haram hukumnya meminta jabatan tersebut dengan cara memecat orang yang layak mendudukinya, meskipun orang yang dipecat itu adalah orang yang mafdhul.

وشرط قاض كونه أهلا للشهادات كلها بأن يكون مسلما مكلفا حرا ذكرا عدلا سميعا ولو بالصياح بصيرا فلا يولي من ليس كذلك ولا أعمى وهو من يرى الشبح ولا يميز الصورة وإن قربت بخلاف من يميزها إذا قربت بحيث يعرفها ولو بتكلف ومزيد تأمل وإن عجز عن قراءة المكتوب واختير صحة ولاية الأعمى.

Syarat seorang hakim (qadi) adalah ia harus layak untuk seluruh jenis kesaksian (ahli syahadat), yaitu beragama Islam, mukallaf, merdeka, laki-laki, adil, dapat mendengar meskipun dengan teriakan, dan dapat melihat. Maka tidak boleh diangkat menjadi hakim orang yang tidak demikian, dan tidak boleh pula orang buta. Orang buta adalah orang yang melihat bayangan tetapi tidak dapat membedakan bentuk rupa meskipun dekat; berbeda dengan orang yang dapat membedakannya jika dekat sedemikian rupa sehingga ia mengenalnya meskipun dengan berusaha keras dan perenungan ekstra, walaupun ia tidak mampu membaca tulisan. Dan pendapat yang dipilih (oleh sebagian ulama) menyatakan sahnya pengangkatan orang buta.

كافيا للقيام بمنصب القضاء فلا يولى مغفل ومختل نظر بكبر أو مرض.

Dan ia harus mampu/cakap untuk menjalankan jabatan peradilan, maka tidak boleh diangkat orang yang lalai/pelupa dan orang yang terganggu pikirannya/pandangannya karena usia tua atau penyakit.

مجتهدا فلا يصح تولية جاهل ومقلد وإن حفظ مذهب إمامه لعجزه عن إدراك غوامضه والمجتهد من يعرف بأحكام القرآن من العام والخاص والمجمل والمبين والمطلق والمقيد والنص والظاهر والناسخ والمنسوخ والمحكم

Dan ia harus seorang mujtahid, maka tidak sah pengangkatan orang yang bodoh dan muqallid (pengekor), meskipun ia menghafal mazhab imamnya, karena ketidakmampuannya untuk memahami hal-hal yang rumit di dalamnya. Mujtahid adalah orang yang mengetahui hukum-hukum Al-Qur'an dari yang umum ('am), khusus (khas), مجمل (global), مبين (terperinci), mutlaq, muqayyad, nash, dhahir, nasikh, mansukh, muhkam,

والمتشابه وبأحكام السنة من المتواتر وهو ما تعددت طرقه والآحاد وهو بخلافه والمتصل

dan mutasyabih; serta mengetahui hukum-hukum Sunnah dari yang mutawatir—yaitu yang banyak jalurnya—maupun ahad—yaitu kebalikan dari mutawatir—serta yang muttasil (bersambung)

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

باتصال رواته إليه ﷺ ويسمى المرفوع أو إلى الصحابي فقط ويسمى الموقوف.

dengan tersambungnya para perawinya kepada Rasulullah ﷺ dan dinamakan marfu', atau (bersambung) kepada sahabat saja dan dinamakan mauquf.

والمرسل وهو قول التابعي قال رسول الله ص كذا أو فعل كذا أو بحال الرواة قوة وضعفا وما تواتر ناقلوه.

Serta (mengetahui hadis) mursal, yaitu perkataan seorang tabi'in: 'Rasulullah ﷺ bersabda demikian' atau 'berbuat demikian'; atau mengetahui keadaan para perawi dalam hal kekuatan dan kelemahannya, serta apa yang diriwayatkan secara mutawatir oleh para pembawanya.

وأجمع السلف على قبوله لا يبحث عن عدالة ناقليه وله الاكتفاء بتعديل إمام عرف صحة مذهبه في الجرح والتعديل ويقدم عند التعارض الخاص على العام والمقيد على المطلق والنص على الظاهر والمحكم على المتشابه والناسخ والمتصل والقوي على مقابلها ولا تنحصر الأحكام في خمسمائة آية ولا خمسمائة حديث خلافا لزاعمهما وبالقياس بأنواعه الثلاثة من الجلي وهو ما يقطع فيه بنفي الفارق كقياس ضرب الولد على تأفيفه أو المساوي وهو ما يبعد فيه انتفاء الفارق كقياس إحراق مال اليتيم على أكله أو الأدون وهو ما لا يبعد فيه انتفاء الفارق كقياس الذرة على البر في الربا بجامع الطعم وبلسان العرب لغة ونحوا وصرفا وبلاغة وبأقوال العلماء من الصحابة فمن بعدهم ولو فيما يتكلم فيه فقط لئلا يخالفهم.

Dan ulama salaf telah sepakat atas penerimaannya tanpa perlu meneliti keadilan para pembawanya. Dan ia boleh mencukupkan diri dengan penilai keadilan (ta'dil) dari seorang imam yang diketahui kebenaran mazhabnya dalam jarh wa ta'dil. Ketika terjadi pertentangan (ta'arudh), maka didahulukan yang khusus atas yang umum, yang muqayyad atas yang mutlaq, nash atas dhahir, muhkam atas mutasyabih, serta nasikh, muttasil, dan yang kuat atas kebalikannya. Hukum-hukum tidak terbatas pada 500 ayat maupun 500 hadis, berbeda dengan klaim orang yang menyatakannya. Dan (ia juga harus mengetahui) qiyas dengan ketiga jenisnya: jali—yaitu yang dipastikan tidak adanya perbedaan (fariq), seperti mengqiyaskan memukul orang tua dengan mengucapkan 'ah' kepadanya; musawi—yaitu yang kecil kemungkinan adanya perbedaan, seperti mengqiyaskan membakar harta anak yatim dengan memakannya; atau adna (adwan)—yaitu yang tidak jauh kemungkinan adanya perbedaan, seperti mengqiyaskan jagung dengan gandum dalam masalah riba dengan persamaan illat berupa makanan; serta (mengetahui) bahasa Arab dari segi bahasa (lughah), nahwu, saraf, dan balaghah; dan (mengetahui) pendapat para ulama dari kalangan sahabat dan generasi setelah mereka, meskipun hanya dalam masalah yang sedang ia bicarakan agar ia tidak menyelisihi mereka.

قال ابن الصلاح: اجتماع ذلك كله إنما هو شرط للمجتهد المطلق الذي يفتي في جميع أبواب الفقه أما مقيد لا يعدو مذهب إمام خاص فليس عليه غير معرفة قواعد إمامه وليراع فيها ما يراعيه المطلق في قوانين الشرع فإنه مع المجتهد كالمجتهد مع نصوص الشرع ومن ثم لم يكن له عدول عن نص إمامه كما لا يجوز الاجتهاد مع النص انتهى.

Ibnu ash-Shalah berkata: Terkumpulnya seluruh syarat tersebut hanyalah syarat bagi mujtahid mutlak yang berfatwa dalam seluruh bab fikih. Adapun mujtahid muqayyad yang tidak keluar dari mazhab imam tertentu, maka ia tidak diwajibkan selain mengetahui kaidah-kaidah imamnya, dan hendaklah ia memperhatikan dalam kaidah tersebut sebagaimana mujtahid mutlak memperhatikan hukum-hukum syariat. Sebab posisinya terhadap mujtahid adalah seperti posisi mujtahid terhadap teks-teks syariat. Oleh karena itu, ia tidak boleh menyimpang dari nash imamnya sebagaimana tidak boleh berijtihad apabila ada nash. Selesai.

فإن ولى سلطان أو ذو شوكة غير أهل نفذ,

Jika penguasa (sultan) atau pemegang kekuasaan (dzul syaukah) mengangkat orang yang tidak ahli (tidak memenuhi syarat), maka hukumnya berlaku (sah),

فإن ولى سلطان ولو كافرا أو ذو شوكة غيره في بلد بأن انحصرت قوتها فيه غير أهل للقضاء كمقلد وجاهل وفاسق أي مع علمه بنحو فسقه وإلا بأن ظن عدالته مثلا ولو علم فسقه لم يوله فالظاهر كما جزم به شيخنا لا ينفذ حكمه وكذا لو زاد فسقه أو ارتكب مفسقا آخر على تردد فيه انتهى.

Jika penguasa (sultan)—meskipun kafir—atau pemegang kekuasaan selainnya di suatu negeri, di mana kekuatannya terbatas di tempat itu, mengangkat orang yang tidak ahli untuk jabatan peradilan seperti orang muqallid, orang bodoh, dan orang fasik—maksudnya beserta pengetahuannya tentang kefasikannya, jika tidak demikian, misalnya ia mengira keadilannya dan seandainya ia tahu kefasikannya ia tidak akan mengangkatnya, maka yang dhahir sebagaimana ditegaskan oleh guru kami adalah putusannya tidak berlaku (tidak sah); demikian pula jika kefasikannya bertambah atau ia melakukan perbuatan fasik lainnya, dengan adanya keraguan dalam hal ini. Selesai.

وجزم بعضهم بنفوذ توليته وإن ولاه غير عالم بفسقه وكعبد وامرأة وأعمى نفذ ما فعله من التولية وإن كان هناك مجتهد عدل على المعتمد فينفذ قضاء من ولاه للضرورة ولئلا تتعطل مصالح الناس وإن نازع كثيرون فيما ذكر في الفاسق وأطالوا وصوبه الزركشي.

Sebagian ulama menegaskan berlakunya pengangkatannya meskipun penguasa mengangkatnya tanpa mengetahui kefasikannya; demikian pula seperti budak, wanita, dan orang buta, berlaku (sah) apa yang dilakukannya dari pengangkatan itu meskipun di sana terdapat seorang mujtahid yang adil menurut pendapat yang mu'tamad (dapat dijadikan pegangan). Maka berlakulah keputusan peradilan orang yang diangkatnya karena darurat dan agar maslahat masyarakat tidak terbengkalai, meskipun banyak ulama menyanggah apa yang disebutkan mengenai orang fasik dan memperpanjang pembahasannya, dan az-Zarkasyi membenarkan sanggahan tersebut.

قال شيخنا: وما ذكر في المقلد محله إن كان ثم مجتهد وإلا نفذت تولية المقلد ولو من غير ذي شوكة وكذا الفاسق فإن كان هناك عدل اشترطت شوكة وإلا فلا كما يفيد ذلك قول ابن الرفعة الحق أنه إذا لم يكن ثم من يصلح للقضاء نفذت تولية غير الصالح قطعا والأوجه أن قاضي الضرورة يقضي بعلمه ويحفظ مال اليتيم ويكتب لقاض آخر خلافا للحضرمي وصرح جمع متأخرون بأن قاضي الضرورة يلزمه بيان مستنده في سائر أحكامه ولا يقبل قول حكمت بكذا من غير بيان مستنده فيه ولو طلب الخصم من القاضي الفاسق تبيين الشهود التي ثبت فيها الأمر لزم القاضي بيانهم وإلا لم ينفذ حكمه.

Guru kami berkata: Apa yang disebutkan mengenai muqallid tempatnya adalah jika di sana terdapat seorang mujtahid. Jika tidak ada, maka sah pengangkatan muqallid meskipun bukan dari pemegang kekuasaan (dzul syaukah). Demikian pula orang fasik, jika di sana ada orang adil maka disyaratkan adanya kekuasaan (syaukah), jika tidak ada maka tidak disyaratkan, sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan Ibn ar-Rif'ah: Yang benar adalah jika di sana tidak ada orang yang layak untuk jabatan peradilan, maka sah pengangkatan orang yang tidak layak secara pasti. Dan pendapat yang lebih kuat (al-awjah) adalah bahwa hakim darurat (qadhi dharurah) boleh memutuskan berdasarkan pengetahuannya, menjaga harta anak yatim, dan berkirim surat kepada hakim lain, berbeda dengan pendapat al-Hadhrami. Dan sejumlah ulama muta'akhirin menegaskan bahwa hakim darurat wajib menjelaskan dasar hukumnya dalam seluruh keputusannya, dan tidak diterima ucapannya 'Saya memutuskan demikian' tanpa menjelaskan dasar hukumnya. Jika pihak yang bersengketa meminta hakim yang fasik untuk menjelaskan para saksi yang menetapkan perkara tersebut, maka hakim wajib mejelaskannya, jika tidak maka keputusannya tidak berlaku.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

فرع: يندب للإمام إذا ولى قاضيا أن يأذن له في الاستخلاف وإن أطلق التولية استخلف فيما لا يقدر عليه لا غيره في الأصح.

Cabang masalah: Disunnahkan bagi imam (pemimpin) apabila mengangkat seorang hakim untuk memberinya izin dalam menunjuk pengganti (istikhlaf). Jika imam memutlakkan (tidak menyebutkan izin) pengangkatan tersebut, maka hakim boleh menunjuk pengganti dalam perkara yang tidak mampu ia tangani sendiri, bukan perkara lainnya menurut pendapat yang lebih shahih.

مهمة [في بيان كون القاضي يحكم باجتهاده إن كان مجتهد أو باجتهاد مقلده إن كان مقلدا] : يحكم القاضي باجتهاده إن كان مجتهدا أو باجتهاد مقلده إن كان مقلدا وقضية كلام الشيخين أن المقلد لا يحكم بغير مذهب مقلده وقال الماوردي وغيره: يجوز وجمع ابن عبد السلام والأذرعي وغيرهما بحمل الأول على من لم ينته لرتبة الاجتهاد في مذهب إمامه وهو المقلد الصرف الذي لم يتأهل للنظر ولا للترجيح والثاني على من له أهلية لذلك ونقل ابن الرفعة عن الأصحاب أن الحاكم المقلد إذا بان حكمه على خلاف نص مقلده نقض حكمه ووافقه النووي١ في الروضة والسبكي وقال الغزالي: لا ينقض وتبعه الرافعي بحثا في موضع.

Hal Penting [Penjelasan bahwa hakim memutuskan dengan ijtihadnya jika ia seorang mujtahid atau dengan ijtihad imam yang diikutinya jika ia seorang muqallid]: Hakim memutuskan dengan ijtihadnya jika ia seorang mujtahid, atau dengan ijtihad imam yang diikutinya (muqallad-nya) jika ia seorang muqallid. Konsekuensi dari perkataan asy-Syaikhani (ar-Rafi'i dan an-Nawawi) adalah bahwa muqallid tidak boleh memutuskan dengan selain mazhab imamnya. Al-Mawardi dan selainnya berkata: Boleh. Ibnu 'Abd as-Salam, al-Adzra'i, dan lainnya mengompromikan bahwa pendapat pertama diarahkan kepada orang yang belum mencapai tingkatan ijtihad dalam mazhab imamnya, yaitu muqallid murni yang belum memenuhi syarat untuk mengkaji dan mentarjih. Sedangkan pendapat kedua diarahkan kepada orang yang memiliki keahlian untuk itu. Ibn ar-Rif'ah mengutip dari para ashab (sahabat mazhab Shafi'i) bahwa hakim muqallid apabila keputusannya ternyata bertentangan dengan nash imamnya, maka keputusannya dibatalkan; an-Nawawi menyetujuinya dalam ar-Raudhah, demikian pula as-Subki. Al-Ghazali berkata: Tidak dibatalkan, dan ar-Rafi'i mengikutinya secara kajian (bahts) di suatu tempat.

وشيخنا في بعض كتبه.

Dan guru kami dalam sebagian kitab-kitabnya.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

فائدة [في بيان التقليد] إذا تمسك العامي بمذهب لزمه موافقته وإلا لزمه التمذهب بمذهب معين من الأربعة لا غيرها ثم له وإن عمل بالأول الانتقال إلى غيره بالكلية أو في المسائل بشرط أن لا يتتبع الرخص بأن يأخذ من كل مذهب بالأسهل منه فيفسق به على الأوجه.

Faedah [tentang penjelasan taklid]: Jika seorang awam berpegang teguh pada suatu mazhab, ia wajib menyesuaikan diri darinya. Jika tidak, ia wajib bermazhab dengan mazhab tertentu dari empat mazhab (yang empat saja, tidak selainnya). Kemudian ia boleh—meskipun telah mengamalkan mazhab pertama—berpindah ke mazhab lain secara keseluruhan atau dalam masalah-masalah tertentu, dengan syarat tidak mencari-cari keringanan (tatabbu' ar-rukhas) dengan mengambil yang paling mudah dari setiap mazhab, karena hal itu dapat membuatnya menjadi fasik menurut pendapat yang lebih kuat.

وفي الخادم عن بعض المحتاطين الأولى لمن ابتلي بوسواس الأخذ بالأخف والرخص لئلا يزداد فيخرج عن الشرع ولضده الأخذ بالأثقل لئلا يخرج عن الإباحة وأن لا يلفق بين قولين يتولد منهما حقيقة مركبة لا يقول بها كل منهما.

Dalam kitab al-Khadim dari sebagian ulama yang berhati-hati: Yang lebih utama bagi orang yang diuji dengan penyakit was-was adalah mengambil pendapat yang paling ringan dan rukhshah (keringanan) agar was-wasnya tidak bertambah hingga keluar dari syariat; sedangkan bagi kebalikannya (orang yang meremehkan), lebih utama mengambil yang paling berat agar tidak keluar dari batas kebolehan; dan hendaknya tidak melakukan talfiq (memadukan) antara dua pendapat yang melahirkan hakikat gabungan yang tidak dikatakan oleh salah satu pun dari kedua ulama tersebut.

وفي فتاوى شيخنا: من قلد إماما في مسألة لزمه أن يجري على قضية مذهبه في تلك المسألة وجميع ما يتعلق بها فيلزم من انحرف عن عين الكعبة وصلى إلى جهتها مقلدا لأبي حنيفة مثلا أن يمسح في وضوئه من الرأس قدر الناصية وأن لا يسيل من بدنه بعد الوضوء دم وما أشبه ذلك وإلا كانت صلاته باطلة باتفاق المذهبين فليتفطن لذلك انتهى.

Dalam Fatwa Guru Kami: Barang siapa bertaklid kepada seorang imam dalam suatu masalah, ia wajib mengikuti ketentuan mazhabnya dalam masalah tersebut dan semua hal yang berkaitan dengannya. Maka barang siapa yang berpaling dari bentuk fisik ('ain) Ka'bah dan shalat menghadap ke arahnya dengan bertaklid kepada Abu Hanifah misalnya, ia wajib mengusap kepala dalam wudhu seukuran ubun-ubun dan tidak keluar darah dari tubuhnya setelah wudhu, dan hal-hal yang serupa dengan itu. Jika tidak, shalatnya batal menurut kesepakatan kedua mazhab (Syafi'i dan Hanafi), maka hendaklah memperhatikan hal ini. Selesai.

ووافقه العلامة عبد الله أبو مخرمة العدني وزاد فقال: قد صرح بهذا الشرط الذي ذكرناه غير واحد من المحققين من أهل الأصول والفقه: منهم ابن دقيق العيد والسبكي ونقله الأسنوي في التمهيد عن العراقي.

Hal ini disetujui oleh Allamah Abdullah Abu Makhramah al-Adani dan ia menambahkan dengan berkata: Syarat yang kami sebutkan ini telah ditegaskan oleh tidak hanya satu orang muhaqqiq dari kalangan ulama ushul dan fikih, di antaranya Ibnu Daqiq al-'Id dan as-Subki, dan diriwayatkan oleh al-Asnawi dalam at-Tamhid dari al-'Iraqi.

قلت: بل نقله الرافعي في العزيز عن القاضي حسين انتهى.

Aku berkata: Bahkan al-Rafi'i telah mengutipnya dalam al-'Aziz dari al-Qadhi Husain. Selesai.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

وقال شيخنا المحقق ابن زياد رحمه الله تعالى في فتاويه: إن الذي فهمناه من أمثلتهم أن التركيب القادح إنما يمتنع١ إذا كان في قضية واحدة فمن أمثلتهم إذا توضأ ولمس تقليدا لأبي حنيفة واقتصد تقليدا للشافعي ثم صلى فصلاته باطلة لاتفاق الإمامين على بطلان ذلك وكذلك إذا توضأ ومس بلا شهوة تقليدا للإمام مالك ولم يدلك تقليدا للشافعي ثم صلى فصلاته باطلة لاتفاق الإمامين على بطلان طهارته بخلاف ما إذا كان التركيب من قضيتين فالذي يظهر أن ذلك غير قادح في التقليد كما إذا توضأ ومسح بعض رأسه ثم صلى إلى الجهة تقليدا لأبي حنيفة فالذي يظهر صحة صلاته لان الإمامين لم يتفقا على بطلان طهارته فإن الخلاف فيها بحاله لا يقال اتفقا على بطلان صلاته لانا نقول هذا الاتفاق ينشأ من التركيب في قضيتين.

Guru kami yang muhaqqiq, Ibnu Ziyad semoga Allah Ta'ala merahmatinya, berkata dalam fatwa-fatwanya: Sesungguhnya apa yang kami pahami dari contoh-contoh mereka bahwa tarkib (penggabungan/talfiq) yang merusak itu hanya dilarang jika terjadi pada satu perkara (qadhiyyah wahidah). Contoh dari mereka adalah jika seseorang berwudhu lalu menyentuh (wanita) dengan bertaklid kepada Abu Hanifah dan berbekam dengan bertaklid kepada Asy-Syafi'i kemudian ia shalat, maka shalatnya batal karena kesepakatan kedua imam atas batalnya hal tersebut. Demikian pula jika ia berwudhu dan menyentuh tanpa syahwat dengan bertaklid kepada Imam Malik serta tidak menggosok anggota wudhu (dalk) dengan bertaklid kepada Asy-Syafi'i lalu ia shalat, maka shalatnya batal karena kesepakatan kedua imam atas batalnya bersucinya. Berbeda halnya jika penggabungan itu terdiri dari dua perkara, maka yang tampak adalah hal tersebut tidak merusak taklid, seperti ketika seseorang berwudhu dan mengusap sebagian kepalanya (menurut Syafi'i) lalu shalat menghadap ke arah Ka'bah dengan bertaklid kepada Abu Hanifah, maka yang tampak adalah sah shalatnya karena kedua imam tidak sepakat atas batalnya bersucinya, sebab perselisihan padanya tetap ada. Tidak bisa dikatakan bahwa keduanya sepakat atas batalnya shalatnya, karena kami katakan kesepakatan ini timbul dari penggabungan dua perkara.

والذي فهمناه أنه غير قادح في التقليد ومثله ما إذا قلد الإمام أحمد في أن العورة السوأتان وكأن ترك المضمضة والاستنشاق أو التسمية الذي يقول الإمام أحمد بوجوب ذلك فالذي يظهر صحة صلاته إذا قلده في قدر العورة لأنهما لم يتفقا على بطلان طهارته التي هي قضية واحدة ولا يقدح في ذلك اتفاقهما على بطلان صلاته فإنه تركيب من قضيتين وهو غير قادح في التقليد كما يفهمه تمثيلهم.

Dan yang kami pahami adalah hal itu tidak cacat dalam bertaklid. Contoh lainnya adalah apabila ia bertaklid kepada Imam Ahmad bahwa aurat hanya dua kemaluan (su'atain), padahal ia meninggalkan berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung (istinshaq), atau membaca basmalah yang menurut Imam Ahmad wajib, maka yang tampak adalah sah shalatnya jika ia bertaklid kepadanya dalam batas aurat, karena keduanya tidak sepakat atas batalnya bersucinya yang merupakan satu perkara. Tidak merusak hal itu kesepakatan keduanya atas batalnya shalatnya, karena itu merupakan penggabungan dari dua perkara yang tidak merusak taklid sebagaimana dipahami dari contoh-contoh mereka.

وقد رأيت في فتاوى البلقيني ما يقتضي أن التركيب بين القضيتين غير قادح انتهى ملخصا.

Aku telah melihat dalam fatwa-fatwa al-Bulqini sesuatu yang menunjukkan bahwa tarkib (penggabungan) antara dua perkara tidaklah merusak, selesai secara ringkas.

ويجوز تحكيم اثنين رجلا أهلا لقضاء,

Boleh bagi dua orang (yang berselisih) mentahkim (mengangkat sebagai hakim) seorang laki-laki yang memiliki keahlian untuk menjadi qadhi (hakim),

تتمة [في بيان حكم الاستيفاء] : يلزم محتاجا استفتاء عالم عدل عرف أهليته ثم إن وجد مفتيين فإن اعتقد أحدهما أعلم تعين تقديمه قال في الروضة: ليس لمفت وعامل على مذهبنا في مسألة ذات وجهين أو قولين أن يعتمد أحدهما بلا نظر فيه فلا خلاف بل يبحث عن أرجحهما بنحو تأخره وإن كانا لواحد انتهى.

Pelengkap [penjelasan hukum meminta fatwa]: Orang yang membutuhkan wajib meminta fatwa kepada seorang alim yang adil yang diketahui keahliannya. Kemudian jika ia mendapati dua orang mufti, dan ia meyakini salah satunya lebih berilmu, maka wajib mendahulukannya. Disebutkan dalam ar-Raudhah: Tidak boleh bagi seorang mufti dan praktisi hukum dalam mazhab kita dalam masalah yang memiliki dua wajh atau dua qaul untuk mengandalkan salah satunya tanpa menelitinya; maka tidak ada perbedaan pendapat (dalam hal ini), melainkan ia harus mencari pendapat yang paling unggul di antara keduanya seperti dari segi masa akhirnya, meskipun kedua pendapat itu berasal dari satu orang imam. Selesai.

ويجوز تحكيم اثنين ولو من غير خصومة كما في النكاح رجلا أهلا لقضاء أي من له أهلية القضاء المطلقة لا في خصوص تلك الواقعة فقط خلافا لجمع متأخرين ولو مع وجود قاض أهل خلافا للروضة أما غير الأهل فلا يجوز تحكيمه أي مع وجود الأهل وإلا جاز ولو في النكاح وإن كان ثم مجتهد كما جزم به شيخنا في شرح المنهاج تبعا لشيخه زكريا لكن الذي أفتاه أن المحكم العدل لا يزوج إلا مع فقد القاضي ولو غير أهل.

Dan boleh bagi dua orang mentahkim (mengangkat hakim)—meskipun tanpa adanya perselisihan sebagaimana dalam pernikahan—seorang laki-laki yang memiliki keahlian untuk menjadi qadhi, yaitu orang yang memiliki keahlian peradilan secara mutlak, tidak hanya dalam peristiwa khusus itu saja, berbeda dengan pendapat sekelompok ulama muta'akhirin; dan (boleh) meskipun ada qadhi yang ahli, berbeda dengan pendapat dalam ar-Raudhah. Adapun orang yang tidak ahli, maka tidak boleh ditahkimkan, yakni jika ada qadhi yang ahli; jika tidak ada, maka boleh meskipun dalam pernikahan dan meskipun di sana ada seorang mujtahid, sebagaimana ditegaskan oleh guru kami dalam Sharh al-Minhaj mengikut gurunya Zakariyya, namun yang difatwakannya adalah bahwa hakim tahkim yang adil tidak mengawinkan kecuali ketika tidak ada qadhi meskipun qadhi tersebut tidak ahli.

ولا يجوز تحكيم غير العدل مطلقا ولا يفيد حكم المحكم إلا برضاهما به لفظا لا سكوتا فيعتبر رضا الزوجين معا في النكاح نعم: يكفي سكوت البكر إذا استؤذنت في التحكيم.

Tidak boleh mentahkimkan orang yang tidak adil secara mutlak. Dan hukum yang dijatuhkan oleh hakim tahkim tidak berguna (sah) kecuali dengan kerelaan kedua belah pihak secara lisan, bukan diam. Maka disyaratkan kerelaan kedua calon suami istri secara bersamaan dalam pernikahan; ya, cukup diamnya seorang gadis (bakar) jika dimintai izin dalam hal tahkim.

ولا يجوز التحكيم مع غيبة الولي ولو إلى مسافة القصر إن كان ثم قاض خلافا لابن العماد لأنه ينوب عن الغائب بخلاف المحكم: ويجوز له أن يحكم بعلمه على الأوجه.

Tidak boleh melakukan tahkim ketika wali tidak ada (ghaib), meskipun mencapai jarak qashar, jika di sana ada qadhi—berbeda dengan pendapat Ibn al-'Imad—karena qadhi menggantikan posisi orang yang ghaib, berbeda dengan hakim tahkim. Dan boleh baginya (hakim tahkim) untuk memutuskan berdasarkan pengetahuannya sendiri menurut pendapat yang lebih kuat.

وينعزل القاضي ونائبه لا عن إمام بخبره وعزل نفسه وجنون وفسق,

Dan seorang qadhi beserta wakilnya terimzal (terlepas dari jabatannya)—bukan wakil dari imam (khalifah)—dengan sebab sampai berita kepadanya, ia memecat dirinya sendiri, gila, dan fasik,

وينعزل القاضي أي يحكم بانعزاله ببلوغ خبر العزل له ولو من عدل.

Seorang hakim terpemecat—yakni dihukumi telah terlepas jabatannya—dengan sampainya berita pemecatan kepadanya, meskipun berita itu hanya dari seorang yang adil.

وينعزل نائبه في عام أو خاص بأن يبلغه خبر عزل مستخلفه له أو الإمام لمستخلفه إن أذن له أن يستخلف عن نفسه أو أطلق.

Wakil (deputi) hakim tersebut juga terpemecat, baik dalam perkara umum maupun khusus, yaitu jika sampai kepadanya berita bahwa hakim yang menunjuknya telah memecatnya, atau berita bahwa Imam (pemimpin tertinggi) telah memecat hakim yang menunjuknya tersebut, apabila Imam mengizinkannya untuk menunjuk wakil atas namanya sendiri atau membebaskannya (tanpa syarat).

لا حال كون النائب نائبا عن إمام في عام أو خاص بأن قال للقاضي استخلف عني فلا ينعزل بذلك وإنما انعزل القاضي ونائبه بخبره أي ببلوغ خبر العزل المفهوم من ينعزل لا قبل بلوغه ذلك لعظم الضرر في نقض أقضيته لو انعزل بخلاف الوكيل فإنه ينعزل من حين العزل ولو قبل بلوغ خبره ومن علم عزله لم ينفذ حكمه له إلا أن يرضى بحكمه فيما يجوز التحكيم فيه وينعزل أيضا كل منهما بأحد أمور:

Bukan ketika wakil tersebut berstatus sebagai wakil dari Imam dalam perkara umum atau khusus, misalnya Imam berkata kepada hakim, 'Tunjuklah wakil untukku,' maka wakil itu tidak terpemecat dengan sebab tersebut. Hakikatnya, hakim dan wakilnya hanya terpemecat dengan beritanya—yaitu dengan sampainya berita pemecatan yang dipahami dari kata 'terpemecat'—dan tidak terpemecat sebelum berita itu sampai, karena besarnya kemudaratan berupa pembatalan putusan-putusannya seandainya ia langsung terpemecat. Berbeda halnya dengan wakil (dalam urusan muamalah biasa), karena ia terpemecat sejak saat pemecatan meskipun berita tersebut belum sampai kepadanya. Barang siapa yang mengetahui pemecatan dirinya, maka putusannya tidak berlaku baginya, kecuali jika orang yang bersengketa ridha dengan hukumannya dalam perkara yang boleh dilakukan tahkim (arbitrase) padanya. Masing-masing dari keduanya (hakim dan wakilnya) juga terpemecat karena salah satu dari beberapa perkara berikut:

عزل نفسه كالوكيل وجنون وإغماء وإن قل زمنهما وفسق أي ينعزل بفسق من لم يعلم موليه بفسقه الأصلي أو الزائد على ما كان حال توليته وإذا زالت هذه الأحوال لم تعد ولايته إلا بتولية جديدة في الأصح.

Memecat dirinya sendiri seperti halnya seorang wakil; gila dan pingsan meskipun waktunya sebentar; serta fasik, yaitu terpemecat dengan kefasikan orang yang pejabat yang mengangkatnya tidak mengetahui kefasikan aslinya atau kefasikan tambahan dari keadaan saat pengangkatannya. Jika kondisi-kondisi ini telah hilang, kekuasaan (wilayah)-nya tidak kembali kecuali dengan pengangkatan baru menurut pendapat yang lebih sahih.

ويجوز للإمام عزل قاض لم يتعين بظهور خلل لا يقتضي انعزاله ككثرة الشكاوي فيه وبأفضل منه وبمصلحة كتسكين فتنة سواء أعزله بمثله أو بدونه وإن لم يكن شيء من ذلك لم يجز عزله لأنه عبث,

Boleh bagi Imam memecat seorang hakim yang belum tertentu (yakni masih ada orang lain yang layak) karena munculnya cacat/kelemahan yang tidak sampai menuntut pemecatannya secara otomatis, seperti banyaknya pengaduan atas dirinya; atau karena ada orang yang lebih utama darinya; atau demi suatu kemaslahatan seperti meredam fitnah, baik Imam memecatnya dengan menggantinya dengan yang setara atau di bawahnya. Jika tidak ada satu pun dari alasan-alasan tersebut, maka tidak boleh memecatnya karena hal itu sia-sia.

ولا ينعزل قاض بموت إمام ولا يقبل قول متول في غير محل ولايته حكمت بكذا كمعزول.

Seorang hakim tidak terpemecat karena meninggalnya Imam. Perkataan seorang pejabat di luar wilayah kekuasaannya bahwa 'Aku telah memutus perkara begini' tidak dapat diterima, sebagaimana halnya hakim yang telah dipecat.

ولكن ينفذ العزل أما إذا تعين بأن لم يكن ثم من يصلح غيره فيحرم على موليه عزله ولا ينفذ وكذا عزله لنفسه حينئذ بخلافه في غير هذه الحالة فينفذ عزله لنفسه وإن لم يعلم موليه.

Namun pemecatan itu tetap berlaku. Adapun jika ia sudah tertentu (terspesifikasi), yaitu tidak ada orang lain di sana yang layak selain dirinya, maka haram bagi pejabat yang mengangkatnya untuk memecatnya dan pemecatan itu tidak sah; demikian pula pemecatan dirinya sendiri pada saat itu. Berbeda halnya jika bukan dalam keadaan ini, maka pemecatan dirinya sendiri tetap berlaku meskipun tidak diketahui oleh pejabat yang mengangkatnya.

ولا ينعزل قاض بموت إمام أعظم ولا بانعزاله لعظم شدة الضرر بتعطيل الحوادث.

Seorang hakim tidak terpemecat dengan meninggalnya Imam Agung (Khalifah) dan tidak pula dengan terpemecatnya Imam Agung tersebut, karena besarnya kemudaratan berupa terhentinya penanganan berbagai peristiwa (kasus hukum).

وخرج بالإمام القاضي فينعزل نوابه بموته.

Dikecualikan dari Imam adalah hakim (biasa); maka para wakil hakim terpemecat dengan meninggalnya hakim tersebut.

ولا يقبل قول متول في غير محل ولايته وهو خارج عمله حكمت بكذا لأنه لا يملك إنشاء الحكم حينئذ فلا ينفذ إقراره به.

Dan tidak diterima perkataan seorang pejabat di luar wilayah kekuasaannya—yaitu saat ia berada di luar area tugasnya—bahwa 'Aku telah memutus perkara begini', karena pada saat itu ia tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan hukum, sehingga pengakuannya akan hal tersebut tidak berlaku.

وأخذ الزركشي من ظاهر كلامهم أنه إذا ولي ببلد لم يتناول مزارعها وبساتينها فلو زوج وهو بأحدهما من هي بالبلد أو عكسه لم يصح قيل وفيه نظر.

Az-Zarkasyi menyimpulkan dari zahir perkataan mereka bahwa jika seseorang diangkat menjadi hakim di suatu kota, maka kekuasaannya tidak mencakup ladang dan kebun di luar kota tersebut. Jika ia menikahkan seseorang saat ia berada di salah satu tempat tersebut dengan wanita yang berada di kota itu, atau sebaliknya, maka tidak sah. Dikatakan bahwa pendapat ini perlu ditinjau kembali (fiihi nazhar).

قال شيخنا والنظر واضح.

Syaikh kita berkata: 'Tinjauan tersebut sudah jelas'.

بل الذي يتجه أنه إن علمت عادة بتبعية أو عدمها فذلك وإلا اتجه ما ذكره اقتصارا على ما نص له عليه وأفهم قول المنهاج أنه في غير محل ولايته كمعزول أن لا ينفذ منه فيه تصرف استباحه بالولاية كإيجار وقف نظره للقاضي وبيع مال يتيم وتقرير في وظيفة.

Bahkan pendapat yang tepat adalah jika adat kebiasaan berlaku adanya keterkaitan (antara kota dan ladang/kebunnya) atau tidak adanya keterkaitan, maka berpatokan pada adat tersebut. Jika tidak, maka tepatlah apa yang disebutkan Az-Zarkasyi sebagai bentuk pembatasan pada apa yang ditegaskan baginya. Dan ungkapan al-Minhaj memberi pemahaman bahwa ia di luar wilayah kekuasaannya berstatus seperti hakim yang dipecat, yaitu tidak berlaku darinya tindakan hukum yang ia lakukan dengan wewenang kekuasaan di tempat itu, seperti menyewakan wakaf yang pengawasannya di tangan hakim, menjual harta anak yatim, dan menetapkan seseorang dalam suatu jabatan.

قال شيخنا وهو ظاهر.

Syaikh kita berkata: 'Hal itu tampak jelas (zahir)'.

ك: ما لا يقبل قول معزول بعد انعزاله ومحكم بعد مفارقة مجلس

Sub-bab: Perkara yang tidak diterima darinya perkataan orang yang dipecat setelah pemecatannya dan juru damai (muhakkam) setelah berpisah dari majelis.

وليسو القاضي بين الخصمين,

Dan hendaklah hakim menyamakan perlakuan di antara dua pihak yang berselisih,

حكمه حكمت بكذا لأنه لا يملك إنشاء الحكم حينئذ فلا يقبل إقراره به ولا يقبل أيضا شهادة كل منهما بحكمه لأنه يشهد بفعل نفسه إلا إن شهد بحكم حاكم ولا يعلم القاضي أنه حكمه فتقبل شهادته إن لم يكن فاسقا فإن علم القاضي أنه حكمه لم تقبل شهادته كما لو صرح به.

putusannya bahwa 'Aku telah memutus begini', karena ia tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan hukum pada saat itu, sehingga pengakuannya tidak diterima. Begitu pula tidak diterima kesaksian masing-masing dari keduanya (hakim yang dipecat dan muhakkam) atas hukum yang pernah diputuskannya, karena ia bersaksi atas perbuatannya sendiri; kecuali jika ia bersaksi atas hukum seorang hakim lain dan hakim (saat ini) tidak mengetahui bahwa itu adalah hukumannya sendiri, maka kesaksiannya diterima jika ia bukan orang yang fasik. Namun jika hakim mengetahui bahwa itu adalah hukumannya, kesaksiannya tidak diterima sebagaimana jika ia menyatakannya secara terang-terangan.

ويقبل قوله بمحل حكمه قبل عزله حكمت بكذا وإن قال بعلمي لقدرته على الإنشاء حينئذ حتى لو قال على سبيل الحكم نساء هذه القرية: أي المحصورات طوالق من أزواجهن قبل إن كان مجتهدا ولو في مذهب إمامه.

Dan perkataannya diterima di wilayah hukumnya sebelum dia diberhentikan (bahwa): "Aku telah memutuskan demikian", meskipun dia mengatakan "berdasarkan pengetahuanku", karena kemampuannya untuk penetapan hukum (inshā') pada saat itu. Bahkan jika dia berkata dengan cara menetapkan hukum: "Wanita-wanita di desa ini" —maksudnya yang terbatas jumlahnya— "tertalak dari suami-suami mereka", maka hal itu diterima jika dia seorang mujtahid meskipun dalam mazhab imamnya.

ولا يجوز لقاض أن يتبع حكم قاض قبله صالح للقضاء.

Dan tidak boleh bagi seorang hakim untuk menyelidiki/mengintai putusan hakim sebelumnya yang layak (memangku jabatan) peradilan.

وليسو القاضي بين الخصمين وجوبا في إكرامهما وإن اختلفا شرفا وجواب سلامهما والنظر إليهما والاستماع للكلام وطلاقة الوجه والقيام فلا يخص أحدهما بشيء مما ذكر ولو سلم أحدهما انتظر الآخر ويغتفر طول الفصل للضرورة أو قال له سلم ليجيبهما معا ولا يمزح معه وإن شرف بعلم أو حرية والأولى أن يجلسهما بين يديه.

Dan hakim wajib menyamakan antara dua pihak yang bersengketa dalam hal memuliakan keduanya—meskipun keduanya berbeda dalam hal kemuliaan—dalam menjawab salam keduanya, memandang keduanya, mendengarkan ucapan, keramahan wajah, dan berdiri. Maka dia tidak boleh mengistimewakan salah satu dari keduanya dengan sesuatu dari apa yang disebutkan. Jika salah satu dari keduanya mengucapkan salam, dia menunggu yang lain (mengucapkan salam), dan dimaafkan jeda waktu yang lama karena darurat, atau dia berkata kepadanya: "Ucapkanlah salam" agar dia menjawab keduanya secara bersamaan. Dan dia tidak boleh bergurau dengannya meskipun dia seorang yang mulia dengan ilmu atau kemerdekaan. Dan yang lebih utama adalah dia mendudukkan keduanya di hadapannya.

فرع: لو ازدحم مدعون قدم الأسبق فالأسبق وجوبا كمفت ومدرس فيقدمان وجوبا بسبق فإن استووا أو جهل سابق أقرع.

Cabang masalah: Jika para penggugat berdesakan, wajib didahulukan yang paling awal datang, kemudian yang berikutnya, sebagaimana seorang mufti dan pengajar; maka keduanya wajib mendahulukan yang datang lebih awal. Jika mereka setara atau tidak diketahui siapa yang lebih awal, maka diundi.

وحرم قبوله هدية من لا عادة له بها قبل ولاية إن كان في محله ومن له خصومة وإلا جاز,

Dan diharamkan baginya menerima hadiah dari orang yang tidak memiliki kebiasaan memberikannya sebelum ia menjabat jika ia berada di wilayah hukumnya, serta dari orang yang memiliki perkara sengketa (padanya); jika tidak demikian, maka boleh.

وقال شيخنا وظاهر أن طالب فرض العين مع ضيق الوقت يقدم كالمسافر.

Guru kami berkata: Dan secara lahiriah, orang yang menuntut ilmu fardu 'ain ketika waktu mendesak hendaklah didahulukan, seperti halnya musafir.

ويستحب كون مجلسه الذي يقضي فيه فسيحا بارزا ويكره أن يتخذ المسجد مجلسا للحكم صونا له عن اللغط وارتفاع الأصوات نعم إن اتفق عند جلوسه فيه قضية أو قضيتان فلا بأس بفصلها.

Disunnahkan agar majelis tempat ia memutuskan perkara itu luas dan terbuka, dan dimakruhkan menjadikan masjid sebagai majelis pengadilan demi menjaga masjid dari kegaduhan dan tingginya suara. Ya, jika ketika ia sedang duduk di masjid terjadi satu atau dua perkara, maka tidak mengapa ia memutuskannya.

وحرم قبوله أي القاضي هدية من لا عادة له بها قبل ولاية أو كان له عادة بها لكنه زاد في القدر أو الوصف إن كان في محله أي محل ولايته.

Dan diharamkan penerimaannya —yaitu hakim— atas hadiah dari orang yang tidak memiliki kebiasaan memberikannya sebelum jabatannya, atau orang yang memiliki kebiasaan tetapi menambah dalam kadar atau kualitasnya, jika ia berada di wilayahnya —maksudnya wilayah kekuasaannya/hukumnya.

وهدية من له خصومة عنده أو من أحس منه بأنه سيخاصم وإن اعتادها قبل ولايته لأنها في الأخيرة تدعو إلى الميل إليه وفي الأولى سببها الولاية.

Begitu pula hadiah dari orang yang sedang memiliki perkara sengketa padanya atau orang yang ia rasakan akan bersengketa, meskipun ia terbiasa memberi hadiah sebelum jabatannya; karena pada kondisi terakhir hal itu mendorong kecenderungan (keberpihakan) kepadanya, dan pada kondisi pertama sebabnya adalah jabatan.

وقد صحت الأخبار الصحيحة بتحريم هدايا العمال.

Dan telah shahih riwayat-riwayat yang shahih tentang diharamkannya hadiah-hadiah bagi para pejabat/pekerja.

وإلا بأن كان من عادته أنه يهدى إليه قبل الولاية ولو مرة فقط أو كان في غير محل ولايته أو لم يزد المهدي على عادته ولا خصومة له حاضرة ولا مترقبة جاز قبوله ولو جهزها له مع رسوله وليس له محاكمة ففي جواز قبوله وجهان: رجح بعض شراح المنهاج الحرمة.

Jika tidak demikian —yaitu seperti ia sudah menjadi kebiasaannya diberi hadiah sebelum menjabat meskipun hanya sekali, atau ia berada di luar wilayah hukumnya, atau si pemberi tidak menambah dari kebiasaannya, serta tidak ada sengketa yang sedang berlangsung maupun yang diperkirakan akan ada— maka boleh menerimanya. Namun jika ia menyiapkan hadiah itu untuknya melalui utusannya sementara ia tidak sedang dalam proses peradilan, maka mengenai kebolehan menerimanya ada dua pendapat: sebagian pensyarah al-Minhaj mengunggulkan keharamannya.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

وعلم مما مر أنه لا يحرم عليه قبولها في غير عمله وإن كان المهدي من أهل عمله ما لم يستشعر بأنها مقدمة لخصومة ولو أهدى له بعد الحكم حرم القبول أيضا إن كان مجازاة له وإلا فلا كذا أطلقه بعض شراح المنهاج.

Dan dipahami dari apa yang telah berlalu bahwa tidak diharamkan baginya menerima hadiah di luar wilayah tugasnya meskipun pemberinya adalah warga wilayah tugasnya, selama ia tidak merasakan bahwa itu merupakan pengantar menuju persengketaan. Dan jika ia diberi hadiah setelah putusan hukum, diharamkan pula menerimanya jika itu sebagai imbalan/balasan atas putusannya; jika tidak, maka tidak diharamkan. Demikianlah yang dinyatakan secara mutlak oleh sebagian pensyarah al-Minhaj.

قال شيخنا: ويتعين حمله على مهد معتاد أهدى إليه بعد الحكم وحيث حرم القبول أو الأخذ لم يملك ما أخذه فيرده لمالكه إن وجد وإلا فلبيت المال.

Guru kami berkata: Dan harus dibawakan pengertiannya pada pemberi yang sudah terbiasa (memberi hadiah) yang memberi hadiah kepadanya setelah putusan hukum. Dan sekira diharamkan penerimaan atau pengambilan, maka ia tidak memiliki apa yang ia ambil, sehingga ia wajib mengembalikannya kepada pemiliknya jika ada, dan jika tidak ada, maka diserahkan ke Baitulmal.

وكالهدية الهبة والضيافة وكذا الصدقة على الأوجه.

Dan seperti halnya hadiah adalah hibah (pemberian) dan jamuan (jamuan makan), demikian pula sedekah menurut pendapat yang kuat (al-awjah).

وجوز له السبكي في حلبياته قبول الصدقة ممن لا خصومة له ولا عادة وخصه في تفسيره بما إذا لم يعرف المتصدق أنه القاضي وبحث غيره القطع بحل أخذه الزكاة.

Dan As-Subki dalam kitab al-Halabiyyat-nya membolehkan hakim menerima sedekah dari orang yang tidak memiliki sengketa dan tidak memiliki kebiasaan (memberi), dan ia mengkhususkannya dalam penjelasannya pada kondisi ketika pemberi sedekah tidak mengetahui bahwa dia adalah hakim. Sedangkan ulama lain membahas kepastian kehalalan mengambil zakat.

قال شيخنا: وينبغي تقييده بما ذكر.

Guru kami berkata: Seharusnya hal itu dibatasi dengan apa yang telah disebutkan.

وتردد السبكي في الوقف عليه من أهل عمله والذي يتجه فيه وفي النذر أنه إن عينه باسمه وشرطنا القبول كان كالهدية له.

Dan As-Subki ragu-ragu mengenai wakaf untuknya dari warga wilayah tugasnya. Dan pendapat yang kuat (al-mutajjah) dalam masalah wakaf tersebut serta nadzar adalah bahwa jika ia menentukannya dengan menyebutkan namanya dan kita mensyaratkan adanya penerimaan (qabul), maka hal itu seperti hadiah baginya.

ويصح إبراؤه عن دينه إذ لا يشترط فيه قبول.

Sah pembebasan utangnya, karena penerimaan (qabul) tidak disyaratkan di dalamnya.

ويكره للقاضي حضور الوليمة التي خص بها وحده وقال جمع: يحرم أو مع جماعة آخرين ولم يعتد ذلك قبل الولاية بخلاف ما إذا لم يقصد بها خصوصا كما لو اتخذت للجيران أو العلماء وهو منهم أو لعموم الناس.

Makruh bagi hakim menghadiri walimah yang dikhususkan untuknya saja—sebagian ulama berpendapat haram—atau bersama sekelompok orang lain sementara ia tidak terbiasa menghadiri walimah tersebut sebelum menjabat. Berbeda jika ia tidak dimaksudkan secara khusus, seperti jika walimah diadakan untuk tetangga atau para ulama dan ia adalah bagian dari mereka, atau untuk masyarakat umum.

ونقض حكما بخلاف نص أو إجماع أو بمرجوح,

Dan membatalkan hukum yang bertentangan dengan nas, ijmak, atau pendapat yang marjuh (lemah),

قال في العباب: يجوز لغير القاضي أخذ هدية بسبب النكاح إن لم يشترط وكذا القاضي حيث جاز له الحضور ولم يشترط ولا طلب انتهى وفيه نظر.

Penulis al-Ubab berkata: "Boleh bagi selain hakim menerima hadiah karena pernikahan jika tidak mensyaratkannya. Demikian pula hakim, sekiranya boleh baginya untuk hadir serta tidak mensyaratkan dan tidak meminta," selesai. Namun pendapat ini perlu ditinjau kembali (fiihi nazhar).

تنبيه: يجوز لمن لا رزق له في بيت المال ولا في غيره وهو غير متعين للقضاء وكان عمله مما يقابل بأجرة

Peringatan: Boleh bagi orang yang tidak memiliki tunjangan dari Baitulmal maupun selainnya, dan jabatan hakim tidak ditujukan khusus kepadanya, serta pekerjaannya termasuk hal yang layak diberi upah,

أن يقول لا أحكم بينكما إلا بأجرة أو رزق على ما قاله جمع.

untuk mengatakan: "Aku tidak akan memutuskan perkara di antara kalian berdua kecuali dengan imbalan upah atau tunjangan," menurut apa yang dikatakan oleh sekelompok ulama.

وقال آخرون يحرم وهو الأحوط لكن الأول أقرب.

Ulama lain berpendapat haram, dan ini yang lebih berhati-hati (ahwath), tetapi pendapat pertama lebih kuat (aqrab).

ونقض القاضي وجوبا حكما لنفسه أو غيره إن كان ذلك الحكم بخلاف نص كتاب أو سنة أو نص مقلده أو قياس جلي وهو ما قطع فيه بإلحاق الفرع للأصل أو إجماع ومنه ما خالف شرط الواقف.

Dan hakim wajib membatalkan putusan hukum, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain, jika putusan tersebut bertentangan dengan nas Al-Qur'an, Sunnah, nas muqallad-nya (imam yang diikutinya), kias jali—yaitu kias yang secara pasti mengikutkan cabang ke asal—atau ijmak; dan termasuk di antaranya adalah apa yang menyalahi syarat dari ikrar wakaf (waqif).

قال السبكي: وما خالف المذاهب الأربعة كالمخالف للإجماع أو بمرجوح من مذهبه فيظهر القاضي بطلان ما خالف ما ذكر وإن لم يرفع إليه بنحو نقضته أو أبطلته.

As-Subki berkata: "Dan apa yang bertentangan dengan empat mazhab adalah seperti yang bertentangan dengan ijmak, atau dengan pendapat marjuh (lemah) dari mazhabnya. Maka hakim menampakkan kebatalan hukum yang bertentangan dengan hal-hal tersebut meskipun perkara itu tidak diajukan kepadanya, dengan perkataan seperti 'Aku telah membatalkannya' atau 'Aku membatalkannya'."

تنبيه [في بيان عدم جواز الحكم بخلاف الراجح] : نقل العراقي وابن الصلاح الإجماع على أنه لا يجوز الحكم بخلاف الراجح في المذهب وصرح السبكي بذلك في مواضع من فتاويه وأطال

Peringatan [Penjelasan tidak bolehnya memutuskan perkara yang bertentangan dengan pendapat rajih (kuat)]: Al-Iraqi dan Ibnus Shalah menukilkan ijmak bahwa tidak boleh memutuskan hukum bertentangan dengan pendapat rajih dalam mazhab, dan As-Subki menegaskan hal itu di beberapa tempat dalam fatwa-fatwanya secara panjang lebar,

ولا يقضي بخلاف علمه,

dan ia tidak boleh memutuskan perkara bertentangan dengan pengetahuannya,

وجعل ذلك من الحكم بخلاف ما أنزل الله لان الله تعالى أوجب على المجتهدين أن يأخذوا بالراجح وأوجب على غيرهم تقليدهم فيما يجب عليهم العمل به ونقل الجلال البلقيني عن والده أنه كان يفتي أن الحاكم إذا حكم بغير الصحيح من مذهبه نقض.

serta mengategorikan hal itu sebagai bentuk menetapkan hukum dengan selain apa yang diturunkan Allah, karena Allah Ta'ala telah mewajibkan para mujtahid untuk mengambil pendapat yang rajih dan mewajibkan selain mereka untuk bertaklid kepada para mujtahid dalam hal yang wajib diamalkan. Al-Jalal Al-Bulqini menukil dari ayahnya bahwa beliau pernah berfatwa bahwa hakim apabila memutuskan hukum dengan selain pendapat yang sahih dari mazhabnya, maka putusan itu dibatalkan.

وقال البرهان بن ظهيرة: وقضيته والحالة هذه أنه لا فرق بين أن يعضده اختيار لبعض المتأخرين أو بحث.

Al-Burhan bin Zhuhairah berkata: "Konsekuensinya dalam kondisi seperti ini adalah bahwa tidak ada bedanya antara hukum tersebut didukung oleh pilihan sebagian ulama muta'akhirin atau hasil pembahasan (bahtsth)."

تنبيه ثان [في بيان المعتمد في المذهب] : اعلم أن المعتمد في المذهب للحكم والفتوى ما اتفق عليه الشيخان كما جزم به النووي فالرافعي فما رجحه الأكثر فالأعلم فالأروع.

Peringatan kedua [Penjelasan tentang pendapat mutamad (pegangan) dalam mazhab]: Ketahuilah bahwa pendapat mutamad dalam mazhab untuk keputusan hukum dan fatwa adalah apa yang disepakati oleh asy-Syaikhani (An-Nawawi dan Ar-Rafi'i), sebagaimana ditegaskan oleh An-Nawawi, kemudian Ar-Rafi'i, lalu apa yang dirajihkan oleh mayoritas ulama, kemudian yang paling berilmu, lalu yang paling wara'.

قال شيخنا: هذا ما أطلق عليه محققو المتأخرين والذي أوصى باعتماده مشايخنا.

Guru kami berkata: "Inilah yang ditegaskan oleh para muhaqqiq muta'akhirin, dan yang diwasiatkan untuk dijadikan pegangan oleh guru-guru kami."

وقال السمهودي: ما زال مشايخنا يوصوننا بالإفتاء بما عليه الشيخان وأن نعرض عن أكثر ما خولفا به.

As-Samhoodi berkata: "Guru-guru kami tidak henti-hentinya berwasiat kepada kami untuk berfatwa dengan pendapat yang dipegang oleh asy-Syaikhani, dan agar berpaling dari sebagian besar pendapat yang menyelisihi keduanya."

وقال شيخنا ابن زياد: يجب علينا في الغالب ما رجحه الشيخان وإن نقل عن الأكثرين خلافه.

Guru kami Ibn Ziyad berkata: "Wajib bagi kita pada umumnya berpegang pada apa yang dirajihkan oleh asy-Syaikhani, meskipun diriwayatkan dari mayoritas ulama pendapat yang menyelisihinya."

ولا يقضي القاضي أي لا يجوز له القضاء بخلاف علمه وإن قامت به بينة كما إذا شهدت برق أو نكاح أو ملك من يعلم حريته أو

Dan hakim tidak boleh memutuskan, maksudnya tidak boleh baginya memutuskan hukum bertentangan dengan pengetahuannya, meskipun ada bukti (bayyinah) yang menguatkannya, seperti apabila para saksi bersaksi atas perbudakan, pernikahan, atau kepemilikan seseorang yang diketahui oleh hakim adalah orang merdeka, atau

ويقضي بعلمه ولا لبعض ولو رأى قاض ورقة فيها حكمه لم يعمل به حتى يتذكر,

Dan hakim boleh memutuskan berdasarkan pengetahuannya, tidak boleh memutuskan untuk sebagian (kerabat dekatnya), dan seandainya seorang hakim melihat selembar kertas yang berisi hukum (putusan)-nya, ia tidak boleh mengamalkannya sampai ia megingatnya kembali,

بينونتها أو عدم ملكه لأنه قاطع ببطلان الحكم به حينئذ والحكم بالباطل محرم.

…perpisahan (bain)-nya atau ketiadaan kepemilikannya, karena ia yakin akan kebatilan hukum tersebut saat itu, dan memutuskan hukum dengan kebatilan adalah haram.

ويقضي أي القاضي ولو قاضي ضرورة على الأوجه.

(Dan memutuskan) maksudnya hakim, meskipun hakim dalam keadaan darurat menurut pendapat yang lebih kuat (al-awjah).

بعلمه إن شاء: أي بظنه المؤكد الذي يجوز له الشهادة مستندا إليه وإن استفاد قبل ولايته نعم لا يقضي به في حدود أو تعزير لله تعالى كحد الزنا أو سرقة أو شرب لندب الستر في أسبابها أما حدود الآدميين فيقضي فيها به سواء المال والقود وحد القذف وإذا حكم بعلمه لا بد أن يصرح بمستنده فيقول علمت أن له عليك ما ادعاه وقضيت أو حكمت عليك بعلمي فإن ترك أحد هذين اللفظين لم ينفذ حكمه كما قاله الماوردي وتبعوه.

(Berdasarkan pengetahuannya jika ia menghendaki): yaitu berdasarkan dugaan kuatnya yang meyakinkan, yang membolehkannya bersaksi dengan bersandar padanya, meskipun ia mengetahuinya sebelum masa jabatannya. Ya, ia tidak boleh memutuskan dengannya dalam hukum had atau ta'zir yang merupakan hak Allah Ta'ala, seperti had zina, pencurian, atau minum khamar, karena disunnahkan menutupinya dalam sebab-sebabnya. Adapun hak-hak manusia (hudud al-adamiyyin), maka ia boleh memutuskan dengannya, baik berupa harta, qisas, maupun had qadzaf. Dan apabila ia memutuskan berdasarkan pengetahuannya, ia harus menyatakan dengan tegas sandarannya, seperti mengatakan: 'Aku tahu bahwa dia memiliki hak atasmu sesuai yang ia klaim, dan aku memutuskan/menghukumi atasmu berdasarkan pengetahuanku.' Jika ia meninggalkan salah satu dari dua lafal ini, maka hukumnya tidak berlaku (sah), sebagaimana dikemukakan oleh Al-Mawardi dan diikuti oleh para ulama lainnya.

ولا يقضي لنفسه ولا لبعض من أصله وفرعه ولا لشريكه في المشترك ويقضي لكل منهم غيره من إمام وقاض آخر ولو نائبا عنه دفعا للتهمة.

(Dan ia tidak boleh memutuskan) untuk dirinya sendiri, tidak pula untuk sebagian dari leluhur (asal)-nya dan keturunan (cabang)-nya, dan tidak pula untuk sekutunya dalam harta persekutuan. Namun, pihak lain boleh memutuskan untuk masing-masing dari mereka, baik berupa Imam (pemimpin tertinggi) maupun hakim lain meskipun wakil darinya, demi menghindarkan prasangka (tuhmah).

ولو رأى قاض وكذا شاهد ورقة فيها حكمه أو شهادته لم يعمل به في إمضاء حكم ولا أداء شهادة حتى يتذكر ما حكم أو شهد به لإمكان التزوير ومشابهة الخط ولا يكفي تذكره أن هذا خطه فقط.

(Dan seandainya seorang hakim) demikian pula saksi (melihat selembar kertas yang berisi putusannya) atau kesaksiannya, (ia tidak boleh mengamalkannya) dalam menafizkan (melaksanakan) hukum maupun menyampaikan kesaksian (sampai ia mengingat kembali) apa yang telah ia putuskan atau yang ia saksikan, karena adanya kemungkinan pemalsuan dan kemiripan tulisan tangan. Dan tidak cukup hanya sekadar megingat bahwa ini adalah tulisan tangannya saja.

وفيهما وجه إن كان الحكم والشهادة مكتوبين في ورقة مصونة عندهما ووثق بأنه خطه ولم يداخله فيه ريبة أنه يعمل به.

Dalam kedua masalah tersebut ada satu pendapat (wajah): jika putusan dan kesaksian tersebut tertulis dalam kertas yang terjaga di sisi keduanya, dan ia meyakini bahwa itu adalah tulisan tangannya serta tidak disusupi keraguan sedikit pun, maka ia boleh mengamalkannya.

وله حلف على استحقاق اعتمادا على خط مورثه إن وثق بأمانته والقضاء على غائب جائز إن كان لمدع

Dan ia boleh bersumpah atas kehakistimewaan (hak yang berhak diterima) dengan bersandar pada tulisan tangan pewarisnya jika ia percaya akan keamanahannya. Dan memutuskan hukum atas orang yang gaib (tidak hadir) adalah boleh jika bagi seorang penggugat…

وله أي الشخص حلف على استحقاق حق له على غيره أو أدائه لغيره اعتمادا على إخبار عدل وعلى خط نفسه على المتعمد وعلى خط مأذونه ووكيله وشريكه ومورثه إن وثق بأمانته بأن علم منه أنه لا يتساهل في شيء من حقوق الناس اعتضادا بالقرينة.

(Dan ia) maksudnya seseorang (boleh bersumpah atas kehakistimewaan) atas penetapan hak baginya atas orang lain atau pelunasannya kepada orang lain, dengan bersandar pada pemberitahuan orang yang adil, dan pada tulisan tangannya sendiri menurut pendapat yang dijadikan pegangan (al-mu'tamad), serta pada tulisan tangan orang yang ia izinkan, wakilnya, sekutunya, dan pewarisnya jika ia meyakini keamanahannya, yaitu dengan mengetahui bahwa ia tidak meremehkan sedikit pun dari hak-hak manusia, sebagai penguat dengan adanya indikasi (qarinah).

تنبيه [في بيان ما إذا خالف الظاهر الباطن أي: حقيقة الأمر] : والقضاء الحاصل على أصل كاذب ينفذ ظاهرا لا باطنا فلا يحل حراما ولا عكسه فلو حكم بشاهدي زور بظاهر العدالة لم يحصل بحكمه الحل باطنا سواء المال والنكاح أما المرتب على أصل صادق فينفذ القضاء فيه باطنا أيضا قطعا وجاء في الخبر: أمرت أن أحكم بالظاهر والله يتولى السرائر. [قال الحافظ السيوطي ﵀ في الدرر المنتثرة هذا من كلام الشافعي في الرسالة. أهـ. وراجع كشف الخفاء] .

Peringatan [tentang penjelasan ketika perkara lahiriah berbeda dengan batiniah, yaitu hakikat sebenarnya]: Putusan hukum yang dihasilkan berdasarkan landasan yang dusta (palsu) berlaku secara lahiriah, bukan batiniah. Oleh karena itu, putusan tersebut tidak menghalalkan yang haram dan tidak pula sebaliknya. Maka jika hakim memutuskan perkara berdasarkan dua saksi palsu yang secara lahiriah tampak adil, putusannya tidak menghasilkan kehalalan secara batiniah, baik dalam perkara harta maupun pernikahan. Adapun putusan yang berdasarkan landasan yang jujur (benar), maka putusan hukum padanya berlaku secara batiniah juga secara pasti. Dan disebutkan dalam sebuah riwayat: 'Aku diperintahkan untuk menghukumi secara lahiriah, dan Allah yang mengurusi hal-hal yang tersembunyi.' [Al-Hafizh As-Suyuthi rahimahullah berkata dalam ad-Durar al-Muntatsirah: Ini adalah perkataan Asy-Syafi'i dalam ar-Risalah. Selesai. Lihat Kasyf al-Khafa'].

وفي شرح المنهاج لشيخنا: ويلزم المرأة المحكوم عليها بنكاح كاذب الهرب بل والقتل وإن قدرت عليه كالصائل على البضع ولا نظر لكونه يعتقد الإباحة فإن أكرهت فلا إثم.

Dalam Syarh al-Minhaj karya guru kami: Wanita yang diputuskan atasnya pernikahan yang dusta (palsu/batil) wajib melarikan diri, bahkan membunuh (laki-laki tersebut) jika ia mampu, sebagaimana terhadap orang yang menyerang kehormatan (shail 'ala al-bidh'). Dan tidak dianggap bahwa laki-laki tersebut meyakini kehalalannya. Apabila wanita itu dipaksa, maka tidak ada dosa baginya.

والقضاء على غائب عن البلد وإن كان في غير عمله أو عن المجلس بتوار أو تعزز جائز في غير عقوبة الله تعالى إن كان لمدع

Dan memutuskan hukum atas orang yang tidak hadir (gaib) di negeri tersebut meskipun berada di luar wilayah hukumnya, atau gaib dari majelis persidangan karena bersembunyi atau membangkang, adalah boleh selain dalam hukuman hak Allah Ta'ala, jika untuk seorang penggugat…

حجة ولم يقل: هو مقر ووجب تحليفه بعد بينة أن الحق في ذمته,

…yang memiliki bukti (hujjah), dan ia tidak mengatakan: 'Dia mengakuinya', serta wajib memumpahkannya (penggugat) setelah adanya bukti bahwa hak tersebut ada dalam tanggungannya,

حجة ولم يقل هو أي الغائب مقر بالحق بل ادعى جحوده وأنه يلزمه تسليمه له الآن وأنه مطالبه بذلك فإن قال هو مقر وأنا أقيم الحجة استظهارا مخافة أن ينكر أو ليكتب بها القاضي إلى قاضي بلد الغائب لم تسمع حجته لتصريحه بالمنافي لسماعها إذ لا فائدة فيها مع الإقرار نعم لو كان للغائب مال حضر وأقام البينة على دينه لا ليكتب القاضي به إلى حاكم بلد الغائب بل ليوفيه منه فتسمع وإن قال هو مقر وتسمع أيضا إن أطلق.

(Bukti/Hujjah, dan ia tidak mengatakan bahwa dia) maksudnya orang yang tidak hadir itu (mengakui hak tersebut), melainkan ia mengklaim pengingkarannya, dan bahwa dia wajib menyerahkannya kepadanya sekarang, serta bahwa ia menuntut hal itu dengannya. Jika penggugat berkata: 'Dia mengakuinya, dan aku mengajukan bukti ini sebagai penguat karena khawatir dia akan mengingkarinya atau agar hakim menyurati hakim di negeri tempat orang yang gaib itu berada,' maka buktinya tidak didengar karena pernyataannya secara tegas menghalangi pendengarannya, sebab tidak ada faedahnya bukti bersamaan dengan adanya pengakuan. Ya, seandainya orang yang gaib itu memiliki harta yang ada di tempat persidangan, lalu penggugat mengajukan bukti atas utangnya—bukan agar hakim menyurati penguasa di negeri tempat orang gaib tersebut, melainkan agar hakim melunasinya dari harta itu—maka buktinya didengar meskipun ia mengatakan bahwa tergugat mengakuinya, dan didengar pula jika ia menyatakannya secara mutlak.

ووجب إن كانت الدعوى بدين أو عين أو بصحة عقد أو إبراء كأن أحال الغائب على مدين له حاضر فادعى إبراءه تحليفه أي المدعي يمين الاستظهار إن لم يكن الغائب متواريا ولا متعززا بعد إقامة بنية أن الحق في الصورة الأولى ثابت في ذمته إلى الآن احتياطا للمحكوم عليه لأنه لو حضر لربما ادعى بما يبرئه.

Dan wajib—jika gugatan itu berupa utang, barang tertentu, keabsahan akad, atau pembebasan utang (seperti orang gaib memindahkan utang kepada orang yang berutang kepadanya yang hadir, lalu orang yang hadir itu mengaku telah dibebaskan utangnya)—untuk memumpahkannya, yaitu penggugat disumpah dengan sumpah istizhhar (pemastian) jika orang gaib tersebut tidak sedang bersembunyi atau membangkang, setelah pengajuan bukti bahwa hak pada gambaran pertama ini masih tetap berada dalam tanggungan hingga sekarang, sebagai bentuk kehati-hatian bagi tergugat (yang dijatuhi hukum), karena seandainya ia hadir, bisa saja ia mengklaim hal yang membebaskannya.

ويشترط مع ذلك أن يقول أنه يلزمه تسليمه إلي وأنه لا يعلم في شهوده قادحا كفسق وعداوة.

Disyaratkan pula bersamaan dengan itu agar ia mengatakan bahwa tergugat wajib menyerahkannya kepadaku, dan bahwa ia tidak mengetahui adanya hal yang mencacatkan para saksinya seperti kefasikan dan permusuhan.

قال شيخنا في شرح المنهاج وظاهر كما قال البلقيني أن هذا لا يأتي في الدعوى بعين بل يحلف فيها على ما يليق بها وكذا نحو الإبراء أما لو كان الغائب متواريا أو متعززا فيقضي عليهما بلا يمين لتقصيرهما قال بعضهم: لو كان للغائب وكيل حاضر لم يكن قضاء على غائب ولم يجب يمين.

Guru kami berkata dalam Syarh al-Minhaj: Yang tampak jelas sebagaimana dikatakan Al-Bulqini bahwa hal ini tidak berlaku dalam gugatan barang tertentu ('ain), melainkan ia bersumpah padanya sesuai dengan apa yang layak baginya, begitu pula sejenis pembebasan utang (ibra'). Adapun jika orang yang gaib itu bersembunyi atau membangkang, maka diputuskan atas keduanya tanpa perlu sumpah karena kelalaian keduanya. Sebagian ulama berkata: Jika orang yang gaib itu memiliki wakil yang hadir, maka itu tidak dianggap sebagai keputusan atas orang yang gaib dan tidak wajib sumpah.

كما لو ادعى على صبي وميت وإذا ثبت مال الغائب وله مال قضاه منه إذا

Sebagaimana jika seseorang mendakwahi anak kecil dan orang yang telah meninggal. Dan jika harta orang yang gaib telah terbukti dan dia memiliki harta, hakim melunasinya dari harta tersebut apabila…

كما لو ادعى شخص على نحو صبي لا ولي له وميت ليس له وارث خاص حاضر فإنه يحلف لما مر.

Sebagaimana jika seseorang mendakwahi seperti anak kecil yang tidak memiliki wali dan orang mati yang tidak memiliki ahli waris khusus yang hadir, maka ia disumpah karena alasan yang telah berlalu.

أما لو كان لنحو الصبي ولي خاص أو للميت وارث خاص حاضر كامل اعتبر في وجوب التحليف طلبه فإن سكت عن طلبها لجهل عرفه الحاكم ثم إن لم يطلبها قضى عليه بدونها.

Adapun jika bagi anak kecil tersebut terdapat wali khusus atau bagi orang mati terdapat ahli waris khusus yang hadir dan berakal sempurna, maka tuntutannya dipertimbangkan dalam kewajiban pengambilan sumpah. Jika ia diam dari menuntutnya karena tidak tahu, hakim memberitahukannya, kemudian jika ia tetap tidak menuntutnya, hakim memutuskan perkara atasnya tanpa sumpah tersebut.

فرع: لو ادعى وكيل الغائب على غائب أو نحو صبي أو ميت فلا تحليف بل يحكم بالبينة لان الوكيل لا

Cabang Masalah: Jika wakil dari orang yang gaib mendakwa orang yang gaib, anak kecil, atau orang mati, maka tidak ada pengambilan sumpah, melainkan diputuskan berdasarkan bukti (bayyinah), karena sang wakil tidak…

يتصور حلفه على استحقاقه ولا على أن موكله يستحقه ولو وقف الأمر إلى حضور الموكل لتعذر استيفاء الحقوق بالوكلاء ولو حضر الغائب وقال للوكيل أبرأني موكلك أو وفيته فأخر الطلب إلى حضوره ليحلف لي أنه ما أبرأني لم يجب وأمر بالتسليم له ثم يثبت الإبراء بعد إن كان له به حجة لأنه لو وقف لتعذر الاستيفاء بالوكلاء نعم له تحليف الوكيل إذا ادعى عليه علمه بنحو الإبراء أنه لا يعلم أن موكله أبرأه مثلا لصحة هذه الدعوى عليه.

Dapat dibayangkan pembuktian sumpahnya atas haknya sendiri maupun atas bahwa muwakkil-nya berhak atasnya. Dan seandainya penanganan perkara ini ditunda hingga muwakkil hadir, niscaya penagihan hak-hak melalui para wakil akan menjadi sulit. Dan seandainya orang yang gaib itu datang lalu berkata kepada wakil, "Muwakkil-mu telah membebaskanku atau aku telah melunasinya, maka tundalah tuntutan ini sampai ia datang agar ia bersumpah padaku bahwa ia tidak membebaskanku," maka permohonan itu tidak wajib dikabulkan dan ia diperintahkan menyerahkannya kepadanya, kemudian pembebasan itu dibuktikan belakangan jika ia memiliki bukti atas hal tersebut, karena jika ditunda niscaya akan sulit melakukan penagihan hak melalui para wakil. Ya, ia berhak meminta wakil bersumpah jika ia mendakwa sang wakil mengetahui adanya pembebasan tersebut, bahwa ia tidak mengetahui bahwa muwakkil-nya telah membebaskannya misalnya, karena sahnya dakwaan ini terhadap wakil.

وإذا ثبت عند حاكم مال على الغائب أو الميت وحكم به وله مال حاضر في عمله أو دين ثابت على حاضر

Dan apabila di hadapan hakim telah terbukti harta kewajiban atas orang gaib atau orang mati dan hakim menetapkannya, serta ia memiliki harta yang ada di wilayah hukumnya atau piutang yang tetap atas orang yang hadir…

في عمله قضاه الحاكم منه إذا

di wilayah hukumnya, maka hakim melunasinya darinya apabila…

طلبه المدعي وإلا فإن سأل المدعي إنهاء الحال إلى قاضي بلد الغائب أجابه فينهي إليه سماع بينته ليحكم بها ثم يستوفي الحق أو حكما ليستوفي والإنهاء أن يشهد عدلين بذلك.

Didakwahkan oleh penggugat. Jika tidak, lalu jika penggugat meminta penyerahan (pelaporan) perkara tersebut kepada hakim di negeri tempat tinggal orang yang gaib, hakim mengabulkannya. Maka ia melaporkan kepadanya pendengaran kesaksiannya agar ia memutuskannya kemudian menagih hak tersebut, atau melaporkan keputusan hukum agar ia dapat menagihnya. Adapun bentuk pelaporan (inhā') adalah dengan mempersaksikan dua orang saksi yang adil tentang hal itu.

طلبه المدعي لان الحاكم يقوم مقامه ولو باع قاض مال غائب في دينه فقدم وأبطل الدين بإثبات إيفائه أو بنحو فسق شاهد استرد من الخصم ما أخذه وبطل البيع للدين على الأوجه خلافا للروياني.

Diminta oleh penggugat, karena hakim menggantikan kedudukannya. Dan seandainya hakim menjual harta orang gaib untuk membayar utangnya, lalu orang tersebut datang dan membatalkan utang itu dengan membuktikan pelunasannya atau dengan hal seperti kefasikan saksi, maka ditarik kembali dari lawan perkara apa yang telah diambilnya, dan penjualan untuk membayar utang tersebut batal menurut pendapat yang lebih kuat, berbeda dengan pendapat Ar-Ruyani.

وإلا يكن له مال في عمله و١لم يحكم فإن سأل المدعي إنهاء الحال إلى قاضي بلد الغائب أجابه وجوبا وإن كان المكتوب إليه قاضي ضرورة مسارعة بقضاء حقه.

Dan jika ia tidak memiliki harta di wilayah hukumnya dan hakim belum menetapkan hukum, maka jika penggugat meminta pelaporan perkara tersebut kepada hakim negeri tempat tinggal orang yang gaib, hakim wajib mengabulkannya, meskipun hakim yang ditulisi surat adalah hakim darurat, sebagai bentuk menyegerakan pemenuhan haknya.

فينهي إليه سماع بينته ثم إن عدلها لم يحتج المكتوب إليه إلى تعديلها وإلا احتاج إليه.

Maka ia melaporkan kepadanya hasil pendengaran kesaksiannya. Kemudian jika ia telah menyatakan keadilan para saksi tersebut (ta'dil), maka hakim yang ditulisi surat tidak perlu lagi melakukan ta'dil terhadap mereka; jika tidak, maka ia memerlukannya.

ليحكم بها ثم يستوفي الحق وخرج بها علمه فلا يكتب به لأنه شاهد الآن لا قاض ذكره في العدة وخالفه السرخسي واعتمده البلقيني لان علمه كقيام البينة وله على الأوجه أن يكتب سماع شاهد واحد ليسمع المكتوب إليه شاهدا آخر أو يحلفه ويحكم له أو ينهي إليه حكما إن حكم ليستوفي الحق لان الحاجة تدعو إلى ذلك.

Agar ia memutuskan dengannya kemudian menagih hak tersebut. Dan dikecualikan dengannya (keterangan saksi) adalah pengetahuannya sendiri, maka ia tidak menuliskan dengannya karena ia saat ini berkedudukan sebagai saksi, bukan hakim; hal ini disebutkan dalam al-'Uddah. Namun As-Sarakhsi menyelisihinya dan diamini oleh Al-Bulqini, karena pengetahuannya berkedudukan seperti berdirinya bukti (bayyinah). Dan menurut pendapat yang lebih kuat, ia boleh menuliskan pendengaran satu saksi saja agar hakim yang ditulisi mendengarkan saksi yang lain atau menyumpahnya dan memutuskan perkara untuknya, atau melaporkan kepadanya suatu hukum jika ia telah memutuskan hukum agar ia menagih hak tersebut, karena adanya kebutuhan yang mendesak untuk itu.

والإنهاء أن يشهد ذكرين عدلين بذلك أي بما جرى عنده من ثبوت أو حكم ولا يكفي غير رجلين ولو في مال أو هلال رمضان.

Dan pelaporan (inhā') adalah dengan mempersaksikan dua orang laki-laki yang adil tentang hal itu, yaitu tentang apa yang telah terjadi di hadapannya berupa penetapan bukti atau keputusan hukum. Dan tidak cukup selain dua orang laki-laki, meskipun dalam hal harta atau hilal Ramadan.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

ويستحب كتاب به يذكر فيه ما يتميز به المحكوم عليه من اسم أو نسب وأسماء الشهود وتاريخه والإنهاء بالحكم من الحاكم يمضي مع قرب المسافة وبعدها وسماع البينة لا يقبل إلا فوق مسافة العدوى.

Disunnahkan adanya surat yang menyebutkan di dalamnya apa yang membedakan terhukum, berupa nama atau nasab, nama-nama saksi, dan tanggalnya. Pelaporan dengan hukum dari hakim berlaku baik dalam jarak yang dekat maupun jauh, sedangkan pendengaran bukti tidak diterima kecuali di atas masafatul 'adwa (jarak tempuh panggilan sidang).

إذ يسهل إحضارها مع القرب وهي التي يرجع منها مبكرا١ إلى محله ليلا فلو تعسر إحضار البينة مع القرب بنحو مرض قبل الإنهاء.

Sebab mudah untuk menghadirkan bukti bila jaraknya dekat, yaitu jarak yang mana seseorang dapat pulang dari tempat tersebut sejak pagi ke tempat tinggalnya di malam hari. Maka seandainya sulit menghadirkan bukti pada jarak dekat dikarenakan sakit atau sejenisnya, pelaporan (inhā') tersebut dapat diterima.

فرع: قال القاضي وأقره لو حضر الغريم وامتنع من بيع ماله الغائب لوفاء دينه به عند الطلب ساغ للقاضي

Cabang Masalah: Al-Qadhi berkata dan disetujui (oleh ulama lain): Seandainya orang yang berutang hadir dan menolak menjual hartanya yang berada di tempat lain (gaib) untuk melunasi utangnya ketika dituntut, maka sah bagi qadhi…

بيعه لقضاء الدين وإن لم يكن المال بمحل ولايته وكذا إن غاب بمحل ولايته كما ذكره التاج السبكي والغزي وقالا بخلاف ما لو كان بغير محل ولايته لأنه لا يمكن نيابته عنه في وفاء الدين حينئذ وحاصل كلامهما جواز البيع إذا كان هو أو ماله في محل ولايته ومنعه إذا خرجا عنها.

penjualannya (oleh hakim) untuk melunasi utang, meskipun harta tersebut tidak berada di wilayah kekuasaannya (wilayah hukumnya). Demikian pula jika ia (pemilik utang) gaib (tidak ada) di wilayah kekuasaannya, sebagaimana disebutkan oleh At-Taj As-Subki dan Al-Ghazzi. Keduanya berkata: Berbeda halnya jika ia berada di luar wilayah kekuasaannya, karena tidak memungkinkan mewakilinya dalam pelunasan utang saat itu. Kesimpulan dari perkataan keduanya adalah bolehnya penjualan jika ia atau hartanya berada di wilayah kekuasaannya, dan melarangnya jika keduanya berada di luar wilayah kekuasaannya.

مهمة: لو غاب إنسان من غير وكيل وله مال حاضر فأنهى إلى الحاكم أنه إن لم يبعه اختل معظمه لزمه بيعه إن تعين طريقا لسلامته وقد صرح الأصحاب بأن القاضي إنما يتسلط على أموال الغائبين إذا أشرفت على

Catatan Penting: Jika seseorang gaib (pergi) tanpa meninggalkan wakil dan ia memiliki harta yang ada (di tempat), lalu dilaporkan kepada hakim bahwa jika tidak dijual maka sebagian besarnya akan rusak, maka hakim wajib menjualnya jika hal itu merupakan satu-satunya cara untuk menyelamatkannya. Para ulama (As-hab) telah menegaskan bahwa hakim hanya memiliki kekuasaan atas harta orang-orang yang gaib jika harta tersebut hampir…

الضياع أو مست الحاجة إليها في استيفاء حقوق ثبتت على الغائب وقالوا ثم في الضياع تفصيل فإن امتدت الغيبة وعسرت

rusak/sia-sia atau sangat dibutuhkan untuk pemenuhan hak-hak yang terbukti menjadi kewajiban orang yang gaib tersebut. Mereka berkata: Kemudian mengenai kerusakan (dhiya') ada rinciannya; jika kepergiannya berlangsung lama dan sulit…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

…………………………

المراجعة قبل وقوع الضياع ساغ التصرف وليس من الضياع اختلال لا يؤدي لتلف المعظم ولم يكن ساريا لامتناع بيع مال الغائب لمجرد المصلحة والاختلال المؤدي لتلف المعظم ضياع نعم الحيوان يباع لمجرد تطرق اختلال إليه لحرمة الروح ولأنه يباع على مالكه بحضرته إذا لم ينفق عليه ولو نهي عن التصرف في ماله امتنع إلا في الحيوان.

untuk berkonsultasi sebelum terjadinya kerusakan, maka tindakan tersebut diperbolehkan. Tidak termasuk kategori kerusakan (dhiya') adalah penurunan kualitas yang tidak menyebabkan kebinasaan/kerusakan sebagian besar harta dan tidak menjalar, karena larangan menjual harta orang gaib semata-mata demi maslahat. Sedangkan penurunan kualitas yang menyebabkan kebinasaan sebagian besar harta tergolong kerusakan (dhiya'). Ya, hewan ternak boleh dijual hanya karena adanya potensi penurunan/gangguan kualitas padanya demi menjaga kehormatan bernyawa (kehidupan), dan karena hewan tersebut dipaksa dijual atas pemiliknya meskipun ia hadir jika ia tidak memberi nafkah (makan) kepadanya. Seandainya ia dilarang bertindak (tasharruf) pada hartanya, maka larangan tersebut berlaku kecuali pada hewan.

فرع: يحبس الحاكم الآبق إذا وجده انتظارا لسيده فإن أبطأ سيده باعه الحاكم وحفظ ثمنه فإذا جاء سيده فليس له غير الثمن.

Cabang masalah: Hakim menahan budak yang kabur (abaq) jika menemukannya untuk menunggu tuannya. Jika tuannya terlambat datang, hakim menjual budak tersebut dan menyimpan uang hasil penjualannya. Ketika tuannya datang, maka tidak ada baginya kecuali uang hasil penjualan tersebut.