((لا) النافية للجنس)
"لا" النافية للجنس هي التي تدلُّ على نفي الخبر عن الجنس الواقع
"لا" *an-nafiyah li al-jins* (La penafi eksistensi jenis) adalah *huruf* yang menunjukkan penafian *khabar* dari seluruh jenis yang terletak…
بعدها على سبيل الاستغراق، اي يرادُ بها نفيُهُ عن جميع افراد الجنيس نصّاً؛ لا على سبيل الاحتمال. ونفيُ الخبرِ عن الجنس يَستلزمُ نفيَهُ عن جميع افرادهِ. وتُسمّى "لا" هذهِ "لا التّبرِئَةِ" ايضاً، لانها تُفيدُ تبرئةَ المتكلّم للجنس وتنزيهَهُ إياهُ عن الاتصاف بالخبر. وإِذْ كانت للنفي على سبيل الاستغراقِ، كان الكلامُ معها على تقدير "منْ"، بدليلٍ ظهورِها في قول الشاعر [من الطويل] فَقامَ يَذودُ النَّاسَ عنها بِسَيْفِهِ … وقالَ أَلاَ، لا من سَبيلٍ إلى هِندِ فاذا قلت (لا رجل في الدار) ، كان المعنى لا من رجل فيها، أي ليس فيها أحد من الرجال، لا واحد ولا اكثر. لذلك لا يصح أن تقول (لا رجل في الدار، بل رجلان أو ثلاثة) مثلاً، لأن قولك (لا رجل في الدار) نص صريح على نفي جنس الرجل فقولك بعد ذلك (بل رجلان) تناقض. بخلاف (لا) العاملة عمل (ليس) . فانها يصح أن ينفى بها الواحد، وأن ينفى بها الجنس لا على سبيل التنصيص، بل على سبيل الاحتمال فاذا قلت (لا رجل مسافراً) صح أن تريد أن ليس رجل واحد مسافراً، فلك أن تقول بعد ذلك (بل رجلان) وصح أن تريد أنه ليس أحد من جنس الرجال مسافراً. وكذلك السامع له أن يفهم نفي الواحد ونفي الجنسن لأنها محتملة لهما. وستقف على مزيد بيان لهذا الموضوع) . وفي هذا الفصل خمسةُ مباحث
…setelahnya secara menyeluruh (*'ala sabil al-istighraq*), yaitu dimaksudkan dengannya penafian terhadap seluruh individu dari jenis tersebut secara tegas (*nashshan*), bukan secara kemungkinan (*ihtimal*). Penafian *khabar* (predikat) dari jenis tersebut meniscayakan penafiannya dari seluruh individunya. Huruf "لَا" ini dinamakan juga "لا التّبرِئَةِ" (penafian mutlak), karena ia memberikan faedah pembebasan (*tabri'ah*) oleh pembicara terhadap jenis tersebut dan menyucikannya dari pensifatan dengan *khabar*. Karena ia berfungsi untuk penafian secara menyeluruh, maka kalimat bersamanya menyimpan takdir kata "مِنْ" (dari), dengan bukti kemunculannya dalam perkataan penyair [dari bahar Thawil]: فَقَامَ يَذُودُ النَّاسَ عَنْهَا بِسَيْفِهِ … وَقَالَ أَلَا لَا مِنْ سَبِيلٍ إِلَى هِنْدِ (Maka ia berdiri menghalau orang-orang darinya dengan pedangnya, dan berkata: Ingatlah, tidak ada jalan sama sekali menuju Hindun). Jika Anda mengucapkan: "لا رجلَ في الدارِ" (Tidak ada seorang laki-laki pun di dalam rumah), maka maknanya adalah tidak ada satu pun laki-laki di dalamnya, yaitu tidak ada seorang pun dari jenis laki-laki, baik satu maupun lebih. Oleh karena itu, tidak sah jika Anda mengucapkan misalnya: "لا رجلَ في الدارِ، بل رجلانِ أو ثلاثةٌ", karena ucapan Anda "لا رجلَ في الدارِ" adalah penegasan eksplisit atas penafian jenis laki-laki, sehingga ucapan Anda setelah itu "بل رجلانِ" merupakan suatu kontradiksi. Berbeda halnya dengan "لَا" yang beramal seperti amalan "لَيْسَ", karena ia sah digunakan untuk menafikan satu individu, dan menafikan jenis bukan secara eksplisit melainkan secara kemungkinan (*ihtimal*). Jika Anda mengucapkan: "لا رجلٌ مسافراً" (Tidak ada laki-laki yang bepergian), maka sah jika Anda memaksudkan bahwa tidak ada satu orang laki-laki pun yang bepergian, sehingga Anda boleh mengucapkan setelah itu: "بل رجلانِ" (melainkan dua orang laki-laki). Dan sah pula jika Anda memaksudkan bahwa tidak ada seorang pun dari jenis laki-laki yang bepergian. Demikian pula bagi pendengar, ia boleh memahami penafian satu individu maupun penafian jenis karena kalimat tersebut mengandung kedua kemungkinan tersebut. Anda akan mendapati penjelasan lebih lanjut mengenai tema ini). Dalam bab ini terdapat lima pembahasan.
(١) عملُ "لا" النافيةِ للجنْسِ وشُروطِ إعمالِها تعملُ "لا" النافيةُ للجنس عملَ "إنّ"، فتنصبُ الاسمَ وترفعُ الخبر، نحو "لا احدَ أغيرُ من الله". وانما عملتْ عملَها، لانها لتأكيد النفيِ والمبالغةِ فيه، كما أنَّ "إنّ" لتأكيد الاثباتِ والمبالغة فيه. ويُشترطُ في إِعمالها عملَ "إنّ" اربعةُ شروط (١) ان تكونَ نصّاً على نفيِ الجنسِ، بأن يُرادَ بها نفيُ الجنس نفياً عامّاً، لا على سبيلِ الاحتمال. (فان لم تكن لفني الجنس على سبيل التنصيص، بأن أريد بها نفي الواحد، أو نفي الجنس على سبيل الاحتمال، فهي مهملة. وما بعدها مبتدأ وخبر، نحو (لا رجل مسافر) ولك أن تعملها عمل (ليس) نحو (لا رجل مسافراً) وإرادة نفي الواحد أو الجنس بها هو أمر راجع الى المتكلم، أما السامع فله أن يفهم أحد الأمرين) . (١) ان يكون اسمها وخبرُها نكرتين. (فان كان المسند اليه بعدها معرفة أهملت ووجب تكرارها، نحو "لا سعيد في الدار ولا خليل") . وقد يقعُ اسمُها معرفةً مُؤَوّلةً بنكرةٍ يرادُ بها الجنسُ، كأن يكونَ الاسمُ عَلَماً مُشتهراً بصفةٍ "كحاتمٍ المُشتهرُ بالجود، وعَنترةَ المشتهر بالشجاعة، وسَحبانَ المشتهرِ بالفصاحة، ونحوهم" فيُجعلُ العلمُ اسم جنسٍ لكل من اتصف بالمعنى الذي اشتهرَ بهِ ذلك العلَمُ، كما قالوا "لكل فرعونٍ موسىً"، بتنوينِ العلَمينِ، مُراداً بهما الجنسُ، اي "لكلِّ جبّارٍ قهّارٌ". وذلك نحو "لا
(1) Amal (Cara Kerja) "*La*" *al-Nafiyah li al-Jins* (La Penafian Eksistensi Jenis) dan Syarat-Syarat Pengamalannya. "*La*" *al-nafiyah li al-jins* beramal seperti amalnya "*inna*", yaitu menashabkan *isim* (kata benda) dan merafa'kan *khabar* (predikat), seperti: "لا احدَ أغيرُ من الله" (Tidak ada satu pun yang lebih cemburu daripada Allah). Ia beramal seperti amalnya "*inna*" karena ia berfungsi untuk menguatkan penafian (*ta'kid al-nafi*) dan melebih-lebihkannya (*al-mubalaghah*), sebagaimana "*inna*" berfungsi untuk menguatkan penetapan (*ta'kid al-itsbat*) dan melebih-lebihkannya. Disyaratkan dalam pengamalannya seperti amal "*inna*" empat syarat: (1) Ia harus berupa teks tegas (*nash*) dalam menafikan jenis, dengan artian dimaksudkan dengannya penafian jenis secara umum, bukan atas dasar kemungkinan (*al-ihtimal*). (Jika ia tidak berfungsi menafikan jenis secara tegas, melainkan dimaksudkan untuk menafikan satu satuan saja, atau menafikan jenis atas dasar kemungkinan, maka ia tidak beramal [*muhmalah*]. Kata setelahnya berkedudukan sebagai *mubtada'* dan *khabar*, seperti: "لا رجل مسافر" [Tidak ada satu orang laki-laki pun yang bepergian]. Namun Anda juga boleh mengamalkannya seperti amalnya "*laisa*", seperti: "لا رجل مسافراً" [Tidak ada laki-laki yang bepergian]. Kehendak untuk menafikan satu satuan atau menafikan jenis dengannya dikembalikan kepada pembicara, sedangkan pendengar boleh memahami salah satu dari kedua hal tersebut). (2) *Isim* dan *khabar*-nya harus berupa kata nakirah (*nakiratain*). (Jika kata yang disandarkan kepadanya [*al-musnad ilaih*] setelahnya berupa kata makrifat [*ma'rifat*], maka ia tidak beramal [*uhmilat*] dan wajib diulang, seperti: "لا سعيد في الدار ولا خليل" [Tidak ada Said di dalam rumah dan tidak pula Khalil]). Terkadang *isim*-nya berupa kata makrifat yang ditakwilkan (*mu'awwal*) menjadi nakirah yang dimaksudkan untuk menunjukkan jenis. Hal ini seperti jika *isim* tersebut berupa nama diri (*'alam*) yang terkenal dengan suatu sifat tertentu, "seperti Hatim yang terkenal dengan kedermawanannya, 'Antarah yang terkenal dengan keberaniannya, Sahban yang terkenal dengan kefasihannya, dan yang serupa dengan mereka". Maka nama diri tersebut dijadikan sebagai *isim jins* (kata benda jenis) bagi setiap orang yang memiliki sifat yang membuat nama diri tersebut terkenal, sebagaimana orang Arab berkata: "لكل فرعونٍ موسىً" (Bagi setiap Firaun ada Musanya), dengan menanwinkan kedua nama diri tersebut karena yang dimaksud adalah jenisnya, yaitu "bagi setiap orang yang sewenang-wenang ada orang yang menundukkannya". Hal itu seperti ucapan: "لا…
حاتم اليومَ، ولا عنترةَ، ولا سحَبانَ". والتأويلُ "لا جَوادَ كحاتم، ولا شجاعَ كعنترةَ، ولا فصيحَ كسَحبانَ"، ومنه قولُ الراجز [من الرجز] لا هَيْثَمَ اللَّيلةَ للِمَطِيِّ … ولا فَتى إِلاَّ ابنُ خَيبَريِّ اي لا حاديَ حَسَنَ الحُداءِ كهيثم، ومنه قول عُمرَ في عليّ ﵄ "قضيّةٌ ولا أبا حَسَنٍ لها"، اي هذهِ قضيّةٌ ولا فيصلَ لها يَفصِلُها. وقد يُرادُ بالعلَم واحدٌ مما سُميَ به كقول الشاعر [من الطويل] ونَبْكي على زَيْدٍ، ولا زَيْدَ مِثْلُهُ … بَرِيءٌ منَ الحُمَّى سَليمُ الجَوانِحِ (٣) ان لا يفصلَ بينها وبين اسمها بفاصل. (فاذا فصل بينهما بشيء، ولو بالخبر، أهملت، ووجب تكرارها، نحو (لا في الدار رجل ولا امرأة (. وكان ما بعدها مبتدأ وخبراً) . (٤) أن لا يدخل عليها حرفُ جرّ. (فان سبقها حرف جر كانت مهملة، وكان ما بعدها مجروراً به، نحو "سافرت بلا زاد" و"فلان يخاف من لا شيء") . فائدة مهمة اعلم ان (لا) النافية للجنس، إنما تدل على نفي الجنس نصاً، إذا كان اسمها واحداً، فان كان مثنى أو جمعاً، نحو (لا رجلين في الدار) و (لا رجال فيها) ، احتمل أن تكون لنفي الجنس، واحتمل أن تكون لنفي وجود اثنين فقط او جماعة فقط، فيجوز أن يكون فيها اثنان أو واحد إن نفيت الجمع، وأن يكون فيها جماعة أو واحد إن نفيت الاثنين، ولذا يجوز أن
(…Hatim hari ini, tidak juga 'Antarah, tidak juga Sahban". Takwilnya adalah "Tidak ada orang dermawan seperti Hatim, tidak ada pemberani seperti 'Antarah, tidak ada orang fasih seperti Sahban"). Di antaranya adalah perkataan penyair *rajaz*: *Lā Haitsama al-lailata li al-mathiyyi… wa lā fatā illā ibnu Khaibarī* (Tidak ada Haitsam malam ini bagi tunggangan… dan tidak ada pemuda kecuali putra Khaibari). Maksudnya, tidak ada penuntun unta yang bagus senandungnya seperti Haitsam. Di antaranya juga perkataan Umar tentang Ali r.a.: "*Qadhiyyatun wa lā Abā Hasanin lahā*" (Sebuah masalah yang tidak ada Abu Hasan [Ali] untuk menyelesaikannya), maksudnya adalah masalah ini tidak memiliki pemutus yang dapat memutuskannya. Terkadang nama diri (*'alam*) dimaksudkan sebagai salah satu dari yang dinamai dengannya, seperti perkataan penyair: *Wa nabkī 'alā Zaidin, wa lā Zaida mitsluhu… barī'un mina al-hummā salīmu al-jawānihi* (Dan kami menangisi Zaid, padahal tidak ada Zaid yang sepertinya… yang terbebas dari demam dan sehat anggota tubuhnya). (3) Tidak ada pemisah antara *lā* dan *isim*-nya. (Jika dipisahkan oleh sesuatu, meskipun oleh *khabar*-nya, maka *lā* tersebut menjadi *muhmalah* [tidak berfungsi], dan wajib diulang, seperti: "*Lā fī ad-dāri rajulun wa lā imra'atun*" [Tidak ada di dalam rumah itu laki-laki maupun perempuan]. Dan kata setelahnya berstatus sebagai *mubtada'* dan *khabar*). (4) Tidak dimasuki oleh *huruf jar* (kata depan). (Jika didahului oleh *huruf jar*, maka ia menjadi *muhmalah*, dan kata setelahnya di-*jar*-kan oleh huruf tersebut, seperti: "*Sāfartu bi lā zādin*" [Aku bepergian tanpa bekal] dan "*Fulānun yakhāfu min lā syai'in*" [Si fulan takut pada sesuatu yang tidak ada]). Faidah Penting: Ketahuilah bahwa *lā an-nāfiyah li al-jins* (la penafi jenis) hanya menunjukkan penafian jenis secara tegas (*nash*) jika *isim*-nya berbentuk tunggal. Jika *isim*-nya berbentuk *mutsanna* (dualis) atau *jam'* (plural), seperti "*Lā rajulaini fī ad-dāri*" dan "*Lā rijāla fīhā*", maka mengandung kemungkinan untuk penafian jenis, dan mengandung kemungkinan untuk penafian keberadaan dua orang saja atau sekelompok orang saja. Maka boleh jadi di dalamnya ada dua orang atau satu orang jika Anda menafikan jamak, dan boleh jadi di dalamnya ada sekelompok orang atau satu orang jika Anda menafikan dualis.
تقول (لا رجلين فيها، بل رجل أو رجال) و (لا رجال فيها، بل رجل، أو رجلان) . وكذلك (لا) العاملة عمل (ليس) و (لا) المهملة، فانما يصح أن يراد بها نفي الجنس، إن كان المنفي واحداً، فان كان اثنين او جماعة، جاز أن يراد بهما نفي الجنس، أو نفي الاثنين فقط، أو نفي الجماعة فقط، فيجوز مع نفي الاثنين ان يكون هناك واحد او اثنان فالفرق بين النافية للجنس والعاملة عمل (ليس) أو المهملة، إنما هو إذا كان المنفي واحداً فالاولى لا يجوز ان يراد بها نفي الجنس ونفي الواحد. والأول اكثر، ومنه قول الشاعر [من الطويل] تعز فلا شيء على الأرض باقيا … ولا وزر مما قضى الله واقيا وإنما صح ان يراد بها نفي الجنس، لأن النكرة في سياق النفي تدل على العموم، لهذا يحسن، ان اريد عدم إرادة العموم، ان يؤتى بعدهما بما يزيل اللبس، كأن يقال مثلاً (لا رجلٌ مسافراً، بل رجلان، او رجال) فان اطلق الكلام بعدهما ترجح ان تكونا لنفي الجنس على سبيل الاحتمال. فاحفظ هذا التحقيق، فانه امر دقيق، قل ان يتفطن له من يتعاطى النحو. (٢) أَقسامُ اسمها وأحكامُهُ اسمُ "لا" النافيةِ للجنس على ثلاثة أقسامٍ مفردٍ، ومضافٍ، ومشبَّه بالمضاف. فالمفرد ما كانَ غيرَ مضافٍ ولا مشبّهٍ به. وضابطهُ ان لا يكونَ عاملاً فيما بعدهُ، كقوله تعالى ﴿ذلك الكتابُ لا رَيبَ﴾ .
Anda mengucapkan: "لا رجلين فيها، بل رجل أو رجال" (Tidak ada dua laki-laki di dalamnya, melainkan satu laki-laki atau beberapa laki-laki) dan "لا رجال فيها، بل رجل، أو رجلان" (Tidak ada beberapa laki-laki di dalamnya, melainkan satu laki-laki atau dua laki-laki). Demikian pula "لا" yang beramal seperti amalan "لَيْسَ" dan "لا" yang *muhmalah* (tidak beramal). Sesungguhnya sah-sah saja dimaksudkan dengannya untuk menafikan jenis (*nafi al-jins*) jika yang dinafikan adalah satu. Namun jika yang dinafikan adalah dua atau jamak, maka boleh dimaksudkan dengan keduanya untuk menafikan jenis, atau menafikan dua saja, atau menafikan jamak saja. Maka diperbolehkan bersamaan dengan penafian dua hal tersebut adanya satu atau dua hal. Perbedaan antara "لا" yang menafikan jenis (*nafi al-jins*) dengan "لا" yang beramal seperti amalan "لَيْسَ" atau yang *muhmalah* hanyalah terjadi apabila yang dinafikan adalah satu. Maka pada jenis yang pertama tidak boleh dimaksudkan dengannya untuk menafikan jenis sekaligus menafikan satu saja. Dan yang pertama adalah yang paling banyak digunakan, di antaranya adalah perkataan penyair [dari bahar Thawil]: "تعز فلا شيء على الأرض باقيا … ولا وزر مما قضى الله واقيا" (Bersabarlah, karena tidak ada sesuatu pun di bumi ini yang kekal… dan tidak ada tempat berlindung yang dapat melindungi dari apa yang telah Allah tetapkan). Hanyalah sah dimaksudkan dengannya untuk menafikan jenis karena *isim nakirah* dalam konteks negasi (*nafi*) menunjukkan arti umum (*'umum*). Oleh karena itu, jika diinginkan untuk tidak memaksudkan keumuman, maka dipandang baik untuk mendatangkan kata setelah keduanya yang dapat menghilangkan kerancuan, seperti diucapkan misalnya: "لا رجلٌ مسافراً، بل رجلان، او رجال" (Tidak ada satu laki-laki pun yang bepergian, melainkan dua laki-laki atau beberapa laki-laki). Jika kalimat tersebut diucapkan secara mutlak setelah keduanya, maka yang lebih kuat adalah ia berfungsi untuk menafikan jenis berdasarkan jalan kemungkinan. Maka hafalkanlah penelitian ini, karena sesungguhnya ia adalah perkara yang sangat jeli, yang jarang disadari oleh orang yang menggeluti ilmu *nahwu*. **(2) Pembagian *Isim*-nya dan Hukum-Hukumnya** *Isim* dari "لا" *an-nafiyah li al-jins* (laa penafi jenis) terbagi menjadi tiga bagian: *mufrad* (tunggal), *mudhaf* (disandarkan), dan *musyabbah bi al-mudhaf* (yang menyerupai mudhaf). *Mufrad* adalah kata yang bukan berupa *mudhaf* maupun yang menyerupainya. Batasannya adalah kata tersebut tidak beramal pada kata setelahnya, seperti firman Allah Ta'ala: ﴿ذلك الكتابُ لا رَيبَ﴾ (Kitab ini tidak ada keraguan padanya).
وحُكمُهُ أن يُبنى على ما يُنصبُ به من فتحةٍ أو ياءٍ أو كسرةٍ، غيرَ مُنوَّنٍ نحو "لا رجلَ في الدار، ولا رجالَ فيها، ولا رجلين عندَنا، ولا مذمومينَ في المدرسة، ولا مذموماتٍ محبوباتٌ" ويجوز في جمع المؤنّثِ السالم بناؤُه أيضاً على الفتح، نحو "لا مجتهداتَ مذموماتٌ" وقد رُوِيَ بالوجهينِ قول الشاعر [من البسيط] لا سابِغات، ولا جَأْواءَ باسِلَةً … تَقِي المَنُونَ، لَدَى استِيفاءِ آجالِ وقولُ الآخر [من البسيط] أَوْدَى الشبابُ الذي مَجدٌ عواقبُهُ … فيهِ نَلَدُّ، ولا لَذَّاتِ لِلشيبِ وقد بُنيَ لِتركيبهِ مع "لا" كتركيبِ "خمسةَ عشرَ". وحكمُ اسمها المضافِ أن يكونض مُعرباً منصوباً، نحو "لا رجلَ سُوءٍ عندنا. ولا رَجلَيْ شرٍّ محبوبانِ. ولا مهمِلي واجباتهم محبوبون. ولا أخا جهلٍ مُكرَّمٌ. ولا تاركاتِ واجبٍ مُكرَّماتٌ". والشبيهُ بالمضافِ هو ما اتصلَ به شيءٌ من تمامِ معناه. وضابطُهُ أن يكون عاملاً فيما بعده بأن يكون ما بعده فاعلاً له، نحو "لا قبيحاً خُلقُه خاضرٌ"، أو نائبَ فاعلٍ، نحو "لا مذموماً فعلُه عندنا"، أو مفعولاً، نحو "لا فاعلاً شراً ممدوحٌ"، أو ظرفاً يُتعلّقُ به، نحو "لا مسافراً اليومَ حاضرٌ" أو جاراً ومجروراً يتعلقانِ به، نحو "لا راغباً في الشر بيننا"، أو تمييزاً
Dan hukumnya (yaitu *isim* *La* yang *mufrad* / tunggal) adalah di-*mabni*-kan atas apa yang men-*nasab*-kannya, baik berupa *fathah*, *ya'*, atau *kasrah*, tanpa menggunakan *tanwin*, seperti: "لا رجلَ في الدار" (*Lā rajula fī ad-dāri* – "Tidak ada seorang laki-laki pun di dalam rumah"), "ولا رجالَ فيها" (*wa lā rijāla fīhā*), "ولا رجلين عندَنا" (*wa lā rajulayni 'indanā*), "ولا مذمومينَ في المدرسة" (*wa lā madzmūmīna fī al-madrasati*), dan "ولا مذموماتٍ محبوباتٌ" (*wa lā madzmūmātin mahbūbātun*). Boleh juga pada *jamak mu'annats salim* untuk di-*mabni*-kan atas *fathah*, seperti: "لا مجتهداتَ مذموماتٌ" (*Lā mujtahidāta madzmūmātun*). Sungguh telah diriwayatkan dengan dua wajah (harakat) perkataan penyair [dari bahar *Basith*]: "لا سابِغات، ولا جَأْواءَ باسِلَةً … تَقِي المَنُونَ، لَدَى استِيفاءِ آجالِ" (*Lā sābighātin/sābighāta, wa lā ja'wā'a bāsilatan… taqī al-manūna, ladā istīfā'i ājāli*). Dan perkataan penyair yang lain [dari bahar *Basith*]: "أَوْدَى الشبابُ الذي مَجدٌ عواقبُهُ … فيهِ نَلَدُّ، ولا لَذَّاتِ لِلشيبِ" (*Auda asy-syabābu alladzī majdun 'awāqibuhu… fīhi naladdu, wa lā ladz-dzātin/ladz-dzāta lisy-syaibi*). Ia di-*mabni*-kan karena susunannya (*tarkib*) bersama *La* seperti susunan kata *khamsata 'asyara* (lima belas). Sedangkan hukum *isim*-nya yang berupa *mudhaf* (kata yang disandarkan) adalah berstatus *mu'rab* yang *manshub*, seperti: "لا رجلَ سُوءٍ عندنا" (*Lā rajula sū'in 'indanā* – "Tidak ada laki-laki jahat pun di sisi kami"), "ولا رَجلَيْ شرٍّ محبوبانِ" (*wa lā rajulay syarrin mahbūbāni*), "ولا مهمِلي واجباتهم محبوبون" (*wa lā muhmilī wājibātihim mahbūbūna*), "ولا أخا جهلٍ مُكرَّمٌ" (*wa lā akhā jahlin mukarramun*), dan "ولا تاركاتِ واجبٍ مُكرَّماتٌ" (*wa lā tārikāti wājibin mukarramātun*). Adapun *syabih bil-mudhaf* (serupa dengan *mudhaf*) adalah kata yang bersambung dengan sesuatu yang menyempurnakan maknanya. Batasan standarnya (*dhabith*) adalah ia beramal pada kata setelahnya, dengan ketentuan kata setelahnya menjadi *fa'il* baginya, seperti: "لا قبيحاً خُلقُه حاضرٌ" (*Lā qabīhan khuluquhu hādhirun* – "Tidak ada yang buruk akhlaknya hadir"), atau menjadi *na'ib al-fa'il* (pengganti subjek), seperti: "لا مذموماً فعلُه عندنا" (*Lā madzmūman fi'luhu 'indanā*), atau menjadi *maf'ul bih* (objek), seperti: "لا فاعلاً شراً ممدوحٌ" (*Lā fā'ilan syarran mamdūhun*), atau berupa *zharaf* (keterangan tempat/waktu) yang bergantung kepadanya, seperti: "لا مسافراً اليومَ حاضرٌ" (*Lā musāfiran al-yauma hādhirun*), atau berupa *jar wa majrur* (huruf jar dan kata yang di-jar-kan) yang bergantung kepadanya, seperti: "لا راغباً في الشر بيننا" (*Lā rāghiban fī asy-syarri baynanā*), atau berupa *tamyiz*…
له، نحو "لا عشرين دِرهماً لك". وحكمُهُ أنه مُعربٌ أيضاً، كما رأيتَ. (٣) أحوالُ اسمِها وخَبرِها وقد يُحذَفُ اسمُ "لا" النافية للجنس، نحو "لا عليكَ"، أي لا بأسَ، أو لا جناحَ عليك. وذلك نادرٌ. والخبرُ إِن جُهِلَ وجبَ ذكرُهُ، كحديث "لا أحدَ أغيرُ من الله". وإذا عُلمَ فحذفُه كثيرٌ، نحو "لا بأسَ"، أي لا بأس عليك، ومنه قوله تعالى ﴿قالوا لا ضَيرَ، إنّا إلى ربنا مُنقلبون﴾ ، أي لا ضَيرَ علينا، وقوله ﴿ولو تَرى إِذْ فَزِعوا، فلا فَوْتَ﴾ ، أي فلا فَوتَ لهمْ. وبَنو تَميمٍ والطائِيونَ من العربِ يَلتزمون حذفَهُ إذا عُلم. والحجازيُّون يُجيزون إثباتَهُ. وحذفُه عندهم أكثرُ. ومن حذفه قوله تعالى ﴿لا إلهَ إلاّ اللهُ﴾ أي لا إلهَ موجود. ويكونُ خبرُ "لا" مُفرداً (أي ليس جملةً ولا شِبهَها) ، كحديث "لا فقرَ أشدُّ من الجهلِ، ولا مال أعزُّ من العقل، ولا وَحشةَ أشدُّ من العُجبِ" وجملةً فعليةً، نحو "لا رجلَ سوءٍ يُعاشرُ"، وجملةً اسميةً نحو "لا رَضيعَ نَفسٍ خُلقهُ محمودٌ"، وشبهَ جملة (بأن يكون محذوفاً مدولالً عليه بظرفٍ أو مجرورٍ بحرف جرٍّ يَتعلقانِ به، فيُغنيانِ عنه) كحديث "لا عقلَ كالتدبير، ولا ورَعَ كالكَفّ، ولا حَسَبَ كحُسنِ الخلُق" وحديث "لا إيمانَ لِمنْ لا
…baginya, seperti contoh: "لا عشرين دِرهماً لك" (*La 'isyrina dirhaman laka* – "Tidak ada dua puluh dirham pun bagimu"). Dan hukumnya adalah ia juga berstatus *mu'rab* (berubah harakat akhirnya), sebagaimana yang telah engkau lihat. (3) **Keadaan Isim dan Khabar-nya:** Terkadang *isim* dari "لا" (*la*) *Nafiyah lil-Jins* (penafi keseluruhan jenis) dibuang, seperti contoh: "لا عليكَ" (*La 'alaika*), artinya: *la ba'sa* (tidak mengapa) atau *la junaha 'alaika* (tidak ada dosa atasmu). Namun hal ini jarang terjadi (*nadir*). Adapun *khabar*-nya, jika tidak diketahui (*juhila*), maka wajib untuk disebutkan, seperti dalam hadis: "لا أحدَ أغيرُ من الله" (*La ahada aghyaru minallahi* – "Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah"). Dan jika ia telah diketahui (*'ulima*), maka pembuangannya sangat banyak terjadi, seperti ucapan: "لا بأسَ" (*La ba'sa*), artinya: *la ba'sa 'alaika* (tidak ada masalah atasmu). Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿قالوا لا ضَيرَ، إنّا إلى ربنا مُنقلبون﴾ (*Qalu la dhaira, inna ila rabbina munqalibuna* – "Mereka berkata: 'Tidak ada kemudaratan, sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami'"), artinya: *la dhaira 'alaina* (tidak ada kemudaratan atas kami). Dan firman-Nya: ﴿ولو تَرى إِذْ فَزِعوا، فلا فَوْتَ﴾ (*Wa lau tara idz fazi'u, fala fawta* – "Dan sekiranya kamu melihat ketika mereka ketakutan, maka tidak ada jalan luput"), artinya: *fala fawta lahum* (maka tidak ada jalan luput bagi mereka). Suku Bani Tamim dan kabilah Thayi' dari bangsa Arab mengharuskan pembuangan *khabar* tersebut apabila telah diketahui. Sedangkan penduduk Hijaz memperbolehkan untuk menetapkannya (menyebutkannya), namun pembuangannya menurut mereka adalah lebih banyak terjadi. Di antara contoh pembuangannya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿لا إلهَ إلاّ اللهُ﴾ (*La ilaha illallahu* – "Tidak ada tuhan selain Allah"), artinya: *la ilaha maujudun* (tidak ada tuhan yang ada/nyata). *Khabar* dari "لا" (*la*) ini dapat berupa *mufrad* (tunggal, yaitu bukan berupa *jumlah* [kalimat] dan bukan pula *syibh jumlah* [serupa kalimat]), seperti dalam hadis: "لا فقرَ أشدُّ من الجهلِ، ولا مال أعزُّ من العقل، ولا وَحشةَ أشدُّ من العُجبِ" (*La faqra asyaddu minal-jahli, wa la mala a'azzu minal-'aqli, wa la wahsyata asyaddu minal-'ujbi* – "Tidak ada kefakiran yang lebih parah daripada kebodohan, tidak ada harta yang lebih mulia daripada akal, dan tidak ada kesunyian yang lebih berat daripada kesombongan"). Ia juga dapat berupa *jumlah fi'liyyah* (kalimat verbal), seperti contoh: "لا رجلَ سوءٍ يُعاشرُ" (*La rajula su'in yu'asayaru* – "Tidak ada seorang lelaki buruk pun yang patut digauli"). Ia juga dapat berupa *jumlah ismiyyah* (kalimat nominal), seperti contoh: "لا رَضيعَ نَفسٍ خُلقهُ محمودٌ" (*La radhi'a nafsin khuluquhu mahmudun* – "Tidak ada seorang bayi pun yang disusui yang akhlaknya terpuji"). Dan ia juga dapat berupa *syibh jumlah* (dengan keadaan *khabar*-nya dibuang lalu ditunjukkan oleh *zharaf* [keterangan tempat/waktu] atau huruf yang di-*jar*-kan dengan *huruf jar* yang berkaitan dengannya, sehingga keduanya menggantikan posisi *khabar* tersebut), seperti dalam hadis: "لا عقلَ كالتدبير، ولا ورَعَ كالكَفّ، ولا حَسَبَ كحُسنِ الخلُق" (*La 'aqla kat-tadbi-ri, wa la wara'a kal-kaffi, wa la hasaba ka-husnil-khuluqi* – "Tidak ada akal yang setara dengan perencanaan, tidak ada sifat wara' yang setara dengan menahan diri dari dosa, dan tidak ada kehormatan yang setara dengan akhlak yang baik") dan hadis: "لا إيمانَ لِمنْ لا…" (*La imana liman la…* – "Tidak ada iman bagi orang yang tidak…").
أمانةَ لهُ، ولا دينَ لِمن لا عَهدَ له". واعلم أنَّ النحاة اعتبروا أنَّ "لا" النافيةَ للجنس واسمَها في محلّ رفع بالبتداءِ، فأجازوا رفعَ التابعِ لاسمِها، نحو "لا رجلَ في الدار وامرأةٌ" و"لا رجلَ سفيهٌ عندنا". (فالمعطوف والنعت رفعا على أنهما تابعان لمحل "لا واسمها"، لأن محلهما الرفع بالابتداء. وقد اضطرهم الى هذا التكلف أنه سمع من العرب رفع التابع بعد اسمها فتأولوا رفعه على ما ذكرنا) . (٤) أحكامُ "لا" إذا تَكَرَّرَت إذا تكرَّرت "لا" في الكلام، جاز لك أن تُعمِلَ الأولى والثانية معاً كإنَّ، وأن تُعمِلَهما، كليسَ، وأن تُهمِلهما، وأن تُعملَ الأولى كإن أو كليْس وتُهمِلَ الأخرى، وأن تُعمِلَ الثانية كإنَّ أو كليس وتُهملَ الأولى. ولذا يجوز في نحو "لا حَولَ ولا قُوَّةَ إلا باللهِ" خمسةُ أوجهٍ (١) بناءُ الاسمين، على أنها عاملةٌ عملَ "إنَّ" نحو "لا حول ولا قوةَ إلاّ باللهِ". (٢) رفعُهُما، على أنها عاملةَ عملَ "ليس"، أو على أنها مُهملةٌ، فما بعدها مبتدأٌ وخبر، "لا حولٌ ولا قوَّةٌ إلاّ بالله" ومنه قول الشاعر [من البسيط] وما هَجرْتُكِ، حَتَّى قُلتِ مُعْلِنَةً … لا ناقةٌ لي في هذا ولا جَملُ (٣) بناءُ الأوَّلِ على الفتح ورفعُ الثاني، نحو "لا حولَ ولا قوَّةٌ إلاّ
amanah baginya, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki janji/komitmen". Ketahuilah bahwa para ahli Nahwu menganggap bahwa *لا* (*laa*) *an-nafiyah li al-jins* beserta *isim*-nya berada dalam *mahall rafa'* sebagai *mubtada'*. Oleh karena itu, mereka membolehkan *rafa'* pada kata yang mengikuti (*taabi'*) dari *isim*-nya, seperti *لا رجلَ في الدار وامرأةٌ* (*laa rajula fi ad-daari wa imra'atun*) dan *لا رجلَ سفيهٌ عندنا* (*laa rajula safiihun 'indanaa*). (Kata *ma'thuf* dan *na'at* tersebut di-*rafa'*-kan karena keduanya berstatus mengikuti posisi tempat [*mahall*] dari kata *لا* beserta *isim*-nya, sebab *mahall* keduanya adalah *rafa'* sebagai *mubtada'*. Analisis rumit [*takalluf*] ini terpaksa dilakukan karena terdengar dari ungkapan orang Arab pelafalan *rafa'* pada kata pengikut [*taabi'*] setelah *isim*-nya, sehingga mereka menta'wilkan kondisi *rafa'*-nya sebagaimana telah kami sebutkan). (4) Hukum-Hukum *لا* (*laa*) Apabila Berulang (*Takarrarat*) Apabila kata *لا* (*laa*) berulang dalam suatu pembicaraan, Anda boleh mengoperasikan (*i'maal*) kata yang pertama dan kedua secara bersamaan sebagaimana pengoperasian *إنَّ* (*Inna*), atau mengoperasikan keduanya sebagaimana pengoperasian *ليسَ* (*Laisa*), atau menonaktifkan (*ihmaal*) keduanya, atau mengoperasikan yang pertama sebagaimana *Inna* atau *Laisa* serta menonaktifkan yang kedua, atau mengoperasikan yang kedua sebagaimana *Inna* atau *Laisa* serta menonaktifkan yang pertama. Oleh karena itu, dalam konstruksi seperti *لا حَولَ ولا قُوَّةَ إلا باللهِ* (*laa haula wa laa quwwata illa billaah*) diperbolehkan lima wujud variasi i'rab: 1. Membangun (*bina'*) kedua *isim* di atas *fathah*, atas dasar bahwa *لا* beramal seperti amalan *إنَّ*, seperti: *لا حولَ ولا قوةَ إلاّ باللهِ* (*laa haula wa laa quwwata illa billaah*). 2. Di-*rafa'*-kan keduanya, atas dasar bahwa *لا* beramal seperti amalan *ليس*, atau dianggab *muhmalah* (non-aktif) sehingga kata setelahnya berstatus sebagai *mubtada'* dan *khabar*: *لا حولٌ ولا قوَّةٌ إلاّ بالله* (*laa haulun wa laa quwwatun illa billaah*). Di antaranya ucapan penyair: *وما هَجرْتُكِ، حَتَّى قُلتِ مُعْلِنَةً … لا ناقةٌ لي في هذا ولا جَملُ* (Dan aku tidak meninggalkanmu sampai engkau berkata secara terang-terangan: Tidak ada unta betina bagiku dalam hal ini dan tidak pula unta jantan). 3. Membangun kata pertama di atas *fathah* dan me-*rafa'*-kan kata kedua, seperti *لا حولَ ولا قوَّةٌ إلا*
باللهِ"، ومنهُ قولُ الشاعر [من الكامل] هذا، لَعَمْرُكُم، الصَّغارُ بِعَيْنِهِ … لا أُمَّ لي، إنْ كانَ ذاكَ، ولا أبُ (٤) رفعُ الأولِ وبناءُ الثاني على الفتح، نحو "لا حولٌ ولا قوةَ إلا باللهِ"، ومنه قول الشاعر [من الوافر] فلا لَغْوٌ ولا تَأْثيمَ فيها … وما فاهُوا بهِ أَبداً مُقتمٌ (٥) بناءُ الأولِ على الفتح ونصبُ الثاني، بالعطف على محلّ اسم (لا) ، نحو "لا حولَ ولا قوةً إلاّ باللهِ" ومنه قولُ الشاعر [من السريع] لا نَسَبَ اليَومَ ولا خُلةً … اتسَعَ الخرْقُ على الرَّاقع وهذا الوجهُ هو أضعفُها وأقواها بناءث الإسمينِ، ثم رفعُهما. وحيثُما رفعتَ الأولَ امتنعَ إعرابُ الثاني منصوباً مُنوَّناً، فلا يقالُ "لا حولٌ ولا قوةً إلاّ باللهِ"، إذْ لا وجهَ لِنَصْبهِ. (لانك إن أردت عطفه على (حول) وجب رفعه. وكذا إن جعلت (لا) الثانية عاملة عمل (ليس) ، كما لا يخفى. وإن جعلتها عاملة عمل (ان) وجب بناؤه على الفتح من غير تنوين، لانه ليس مضافاً ولا مشبهاً به) .
بِاللَّهِ" (dengan Allah), dan di antaranya adalah perkataan penyair: "هَذَا لَعَمْرُكُمْ الصَّغَارُ بِعَيْنِهِ … لَا أُمَّ لِي إِنْ كَانَ ذَاكَ وَلَا أَبُ" (Ini, demi umur kalian, adalah kehinaan yang nyata… tiada ibu bagiku jika hal itu terjadi, dan tiada pula ayah). (4) Me-*rafa'*-kan kata pertama dan me-*mabni*-kan kata kedua di atas harakat fathah, seperti "لَا حَوْلٌ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ". Di antaranya adalah perkataan penyair: "فَلَا لَغْوٌ وَلَا تَأْثِيمَ فِيهَا … وَمَا فَاهُوا بِهِ أَبَداً مُقْتَمُ" (Maka tiada perkataan sia-sia dan tiada pula perbuatan dosa di dalamnya… dan apa yang mereka ucapkan selamanya terjaga). (5) Me-*mabni*-kan kata pertama di atas harakat fathah dan me-*nashab*-kan kata kedua, dengan cara meng-*athaf*-kannya (menyambungkannya) kepada kedudukan (*mahall*) dari *isim la*, seperti "لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةً إِلَّا بِاللَّهِ". Di antaranya adalah perkataan penyair: "لَا نَسَبَ الْيَوْمَ وَلَا خُلَّةً … اتَّسَعَ الْخَرْقُ عَلَى الرَّاقِعِ" (Tiada hubungan nasab hari ini dan tiada pula persahabatan erat… robekan telah melebar bagi penambalnya). Cara kelima ini adalah yang paling lemah di antara semuanya, sedangkan cara yang paling kuat adalah me-*mabni*-kan kedua isim tersebut di atas harakat fathah, kemudian me-*rafa'*-kan keduanya. And sekiranya Anda me-*rafa'*-kan kata yang pertama, maka dilarang me-*i'rab* kata yang kedua dalam keadaan *nashab* yang ber-tanwin. Maka tidak boleh diucapkan: "لَا حَوْلٌ وَلَا قُوَّةً إِلَّا بِاللَّهِ", karena tidak ada alasan untuk me-*nashab*-kannya. (Sebab jika Anda bermaksud meng-*athaf*-kannya kepada kata "حَوْلٌ", maka ia wajib di-*rafa'*-kan. Demikian pula jika Anda menjadikan kata "لَا" yang kedua beramal dengan amalan "لَيْسَ", sebagaimana hal ini tidak samar lagi. Dan jika Anda menjadikannya beramal dengan amalan "إِنَّ", maka ia wajib di-*mabni*-kan di atas harakat fathah tanpa tanwin, karena ia bukan berupa *mudhaf* dan bukan pula yang menyerupai *mudhaf* [*syabih bi al-mudhaf*]).
وإذا عطفتَ على اسم "لا" ولم تكرّرها، امتنعَ إلغاؤُها، ووجبَ إعمالُها عملَ "إنّ" وجاز في المعطوفِ وجهانِ النصب والرفعُ نحو "لا رجلَ وامرأةً أو امرأةٌ، في الدار". والنصب أولى ومن نصبه قول الشاعر [من الطويل] فلا أبَ وابْناً مِثْلُ مَرْوانَ وابنهِ … إذا هُو بالْمَجدِ ارْتَدى وتَأزَّرا (٥) أحكامُ نَعْتِ اسمِ "لا" إذا نُعتَ اسمُ "لا" النافيةِ للجنس، فإمَّا أن يكون مُعرَباً، وإمّا أن يكون مبنياً. فإن كان مُعرباً، جاز في نعتهِ وجهانِ النصب والرفعُ، نحو "لا طالبَ علمٍ كسولاً، أو كسولٌ، ولا طالباً علماً كسولاً، أو كسولٌ، عندنا". والنصبُ أولى، والرفعُ على أنه نعتٌ لمحلّ "لا واسمها". لأنّ محلها الرفعُ بالإبتداءِ، كما سبقَ. وإن كان مبنياً فله ثلاثُ أحوالٍ (١) أن يُنعتَ بمفردٍ مُتَّصلٌ به، فيجوز في النعتِ ثلاثةُ اوجه النَّصب والبناءُ كمنعوتهِ، والرفعُ، نحو "لا رجلَ قبيحاً، أو قبيحَ، أو قبيحٌ، عندنا". والنصبُ أولى. وبناؤُهُ لمجاورته منعوتَهُ المبنيَّ. (٢) أن يُنعتَ بمفردٍ مفصولٍ بينه وبينهُ بفاصلٍ، فيمتنعُ بناءُ النعت، لِفَقدِ المجاورةِ التي أباحت بناءَه وهو مُتصِل بمنعوتهِ. ويجوز فيه النصبُ والرفع، نحو "لا تلميذَ في المدرسةِ كسولاً، أو كسولٌ".
Jika Anda meng-'athafkan (menyambungkan) kata lain kepada *isim* لَا tanpa mengulang kata لَا tersebut, maka dilarang membatalkan fungsinya (*ilgha'*), melainkan wajib mengamalkannya seperti amalan إِنَّ. Dalam hal ini, kata yang di-'athafkan (*al-ma'thuf*) boleh dibaca dengan dua cara: *nasab* atau *rafa'*, seperti: لَا رَجُلَ وَامْرَأَةً [atau وَامْرَأَةٌ] فِي الدَّارِ (Tidak ada laki-laki maupun perempuan di dalam rumah). Membaca *nasab* adalah yang lebih utama, di antara contoh pembacaan *nasab* adalah perkataan penyair [bahr Thawil]: *Fa-lā aba wa-ibnan mithlu Marwāna wa-ibnihī… idhā huwa bi-al-majdi artadā wa-ta’azzarā* (Maka tidak ada ayah dan anak yang seperti Marwan dan putranya… ketika ia mengenakan selendang dan sarung kemuliaan). **(5) Hukum-Hukum *Na'at* (Sifat) bagi *Isim* لَا:** Jika *isim* dari لَا *al-nafiyah li al-jins* disifati (*na'at*), maka adakalanya *isim* tersebut berstatus *mu'rab* (berubah harakat akhirnya) atau *mabni* (statis). Jika ia berstatus *mu'rab*, maka *na'at*-nya boleh dibaca dengan dua cara: *nasab* atau *rafa'*, seperti: لَا طَالِبَ عِلْمٍ كَسُولاً [atau كَسُولٌ] عِنْدَنَا (Tidak ada penuntut ilmu yang malas di sisi kami), dan لَا طَالِباً عِلْماً كَسُولاً [atau كَسُولٌ] عِنْدَنَا. Membaca *nasab* adalah yang lebih utama, sedangkan membaca *rafa'* didasarkan atas kedudukan (*mahal*) dari kata لَا beserta *isim*-nya, karena kedudukan keduanya adalah *rafa'* atas dasar *ibtida'* (permulaan kalimat), sebagaimana penjelasan sebelumnya. Jika ia berstatus *mabni*, maka ia memiliki tiga kondisi: (1) Disifati dengan kata tunggal (*mufrad*) yang bersambung langsung dengannya. Dalam kondisi ini, *na'at* boleh dibaca dengan tiga cara: *nasab*, *mabni* (statis) seperti kata yang disifatinya (*man'ut*), atau *rafa'*, seperti: لَا رَجُلَ قَبِيحاً [atau قَبِيحَ, atau قَبِيحٌ] عِنْدَنَا (Tidak ada laki-laki yang buruk di sisi kami). Membaca *nasab* adalah yang lebih utama, sedangkan pembacaan *mabni* disebabkan karena letaknya yang bersebelahan langsung dengan *man'ut*-nya yang *mabni*. (2) Disifati dengan kata tunggal yang terpisah oleh suatu pemisah. Dalam kondisi ini, *na'at* dilarang dibaca *mabni* karena hilangnya faktor kedekatan langsung yang memperbolehkan pembacaan *mabni* saat ia bersambung dengan *man'ut*-nya. Namun, ia boleh dibaca *nasab* atau *rafa'*, seperti: لَا تِلْمِيذَ فِي Maderasa kasulan [atau kasulun] (Tidak ada murid yang malas di sekolah).
(٣) أن يُنعتَ بمضافٍ أو مُشبَّهٍ به، فيجوزُ في النَّعت النصب والرفع، ويمتنعُ النباءُ، لأن المضافَ والشبيهَ به لا يُبنيانِ مع "لا". فالنعتُ المضاف نحو "لا رجلَ ذات شرّ، او ذو شرّ، في المدرسة"، والنعتُ المشبَّهُ به نحو "لا رجلَ راغباً في الشر، او راغبٌ فيه، عندنا".
"(3) Ia disifati (*na'at*) dengan kata yang berbentuk *mudhaf* (frasa penyandaran) atau *musyabbah bil mudhaf* (yang menyerupai mudhaf). Dalam kondisi ini, pada kata sifat (*na'at*) tersebut diperbolehkan ber-i'rab *nasab* (akusatif) dan *rafa'* (nominatif), namun dilarang berstatus *mabni* (statis), karena kata yang berbentuk *mudhaf* dan yang menyerupainya tidak dapat di-*mabni*-kan bersama 'لا' (*la*). Contoh *na'at* yang berbentuk *mudhaf* seperti: لا رجلَ ذاتَ شرٍّ (atau ذو شرٍّ) في المدرسة (Tidak ada laki-laki yang memiliki keburukan di sekolah itu). Sedangkan contoh *na'at* yang menyerupai *mudhaf* seperti: لا رجلَ راغباً في الشرِّ (atau راغبٌ فيهِ) عندنا (Tidak ada laki-laki yang menyukai keburukan di sisi kami)."