الباب الثالث في أعمال الباطن في التلاوة وهي عشرة
الباب الثالث في أعمال الباطن في التلاوة وهي عشرة
Bab Ketiga: Tentang amalan-amalan batin dalam membaca Al-Qur'an, dan itu ada sepuluh perkara.
فهم أصل الكلام ثم التعظيم ثم حضور القلب ثم التدبر ثم التفهم ثم التخلي عنموانع الفهم ثم التخصيص ثم التأثر ثم الترقي ثم التبري
Yaitu: memahami asal-usul kalam (Firman), kemudian pengagungan (ta'dzim), kemudian hadirnya hati (hudhurul qalb), kemudian perenungan (tadabbur), kemudian pemahaman kedalaman makna (tafahhum), kemudian pengosongan diri dari penghalang-penghalang pemahaman (takhalli 'an mawani'il fahm), kemudian pengkhususan diri (takhshish), kemudian peninggalan kesan spiritual pada jiwa (ta'atstsur), kemudian peningkatan derajat batin (taraqqi), lalu pelepasan dari daya dan upaya diri (tabarri).
فالأول فَهْمُ عَظَمَةِ الْكَلَامِ وَعُلُوِّهِ وَفَضْلِ اللَّهِ ﷾ ولطفه بخلقه في نزوله عن عرش جلاله إلى درجة إفهام خلقه
Yang pertama: memahami keagungan Kalam (Firman Allah), keluhurannya, serta karunia Allah 'Azza wa Jalla dan kelembutan-Nya kepada makhluk-Nya dalam memanifestasikan firman-Nya dari 'Arasy keagungan-Nya hingga tingkat yang dapat difahami oleh makhluk-Nya.
فلينظر كيف لطف بخلقه في إيصال معاني كلامه الذي هو صفة قديمة قائمة بذاته إلى أفهام خلقه وكيف تجلت لهم تلك الصفة في طي حروف وأصوات هي صفات البشر إذ يعجز البشر عن الوصول إلى فهم صفات الله ﷿ إلا بوسيلة صفات نفسه
Maka hendaknya seseorang memperhatikan bagaimana kelembutan Allah kepada makhluk-Nya dalam menyampaikan makna-makna Kalam-Nya—yang merupakan sifat qadim yang berdiri pada Zat-Nya—ke dalam pemahaman makhluk-Nya. Dan bagaimana sifat tersebut bertajalli bagi mereka dalam lipatan huruf-huruf dan suara-suara yang merupakan sifat-sifat manusia; sebab manusia tidak akan mampu sampai pada pemahaman Sifat-Sifat Allah Azza wa Jalla melainkan melalui perantara sifat-sifat dirinya sendiri.
ولولا استتار كنه جلالة كلامه بكسوة الحروف لما ثبت لسماع الكلام عرش ولا ثري ولتلاشي ما بينهما من عظمة سلطانه وسبحات نوره ولولا تثبيت الله ﷿ لموسى ﵇ لما أطاق لسماع كلامه كما لم يطق الجبل مبادي تجليه حيث صار دكاً ولا يمكن تفهيم عظمة الكلام إلا بأمثلة على حد فهم الخلق
Seandainya bukan karena tersembunyinya hakikat keagungan Kalam-Nya di balik busana huruf-huruf, niscaya 'Arasy maupun bumi tidak akan sanggup bertahan untuk mendengarkan Kalam tersebut, dan niscaya hancur lebur apa yang ada di antara keduanya karena keagungan kekuasaan-Nya dan kesucian cahaya-Nya. Seandainya bukan karena keteguhan yang dianugerahkan Allah Azza wa Jalla kepada Nabi Musa 'alaihissalam, niscaya beliau tidak akan sanggup mendengarkan Kalam-Nya, sebagaimana gunung pun tidak sanggup menahan permulaan tajalli-Nya hingga hancur lebur. Dan tidaklah mungkin memahamkan keagungan Kalam tersebut melainkan melalui perumpamaan-perumpamaan yang sesuai dengan kadar pemahaman makhluk.
ولهذا عبر بعض العارفين عنه فقال إن كل حرف من كلام الله ﷿ في اللوح المحفوظ أعظم من جبل قاف وإن الملائكة ﵈ لو اجتمعت على الحرف الواحد أن يقلوه ما أطاقوه حتى يأتي إسرافيل ﵇ وهو ملك اللوح فيرفعه فيقله بإذن الله ﷿ ورحمته لا بقوته وطاقته ولكن الله ﷿ طوقه ذلك واستعمله به ولقد تألق بعض الحكماء في التعبير عن وجه اللطف في إيصال معاني الكلام مع علو درجته إلى فهم الإنسان وتثبيته مع قصور رتبته وضرب له مثلاً لم يقصر فيه وذلك أنه دعا
Oleh karena itu, sebagian 'arifin mengungkapkan hal ini dengan berkata: "Sesungguhnya setiap huruf dari Kalam Allah Azza wa Jalla di Lauh Mahfuzh itu lebih besar daripada Gunung Qaf. Dan sesungguhnya para malaikat 'alaihimussalam sekiranya berkumpul untuk mengangkat satu huruf saja, niscaya mereka tidak akan sanggup, hingga datang Malaikat Israfil 'alaihissalam—yaitu malaikat penjaga Lauh—lalu ia mengangkatnya dengan izin Allah Azza wa Jalla dan rahmat-Nya, bukan dengan kekuatan dan kemampuannya sendiri, melainkan Allah Azza wa Jalla yang memberinya kemampuan dan menugaskannya untuk itu." Sungguh, sebagian orang bijak (hukama) sangat indah dalam mengungkapkan sisi kelembutan Allah dalam menyampaikan makna-makna Kalam-Nya—beserta tingginya derajat Kalam tersebut—ke dalam pemahaman manusia serta meneguhkannya meskipun terdapat keterbatasan derajat manusia. Ia membuat sebuah perumpamaan yang sangat tepat, yaitu ketika ia menyeru…
بعض الملوك حكيم إلى شريعة الأنبياء ﵈ فسأله الملك عن أمور فأجاب بما لا يحتمله فهمه فقال الملك أرأيت ما تأتي به الأنبياء إذا ادعت أنه ليس بكلام الناس وأنه كلام الله ﷿ فيكف يطيق الناس حمله فقال الحكيم إنا رأينا الناس لما أرادوا أن يفهموا بعض الدواب والطير ما يريدون من تقديمها وتأخيرها وإقبالها وإدبارها ورأوا الدواب يقصر تمييزها عن فهم كلامهم الصادر عن أنوار عقولهم مع حسنه وتزيينه وبديع نظمه فنزلوا إلى درجة تمييز البهائم وأوصلوا مقاصدهم إلى بواطن البهائم بأصوات يضعونها لائقة بهم من النقر والصفير والأصوات القريبة من أصواتها لكي يطيقوا حملها وكذلك الناس يعجزون عن حمل كلام الله ﷿ بكنهه وكمال صفاته فصاروا بما تراجعوا بينهم من الأصوات التي سمعوا بها الحكمة كصوت النقر والصفير الذي سمعت به الدواب من الناس
…seorang raja mengundang seorang ahli hikmah kepada syariat para nabi 'alaihimussalam. Lalu raja itu bertanya kepadanya tentang beberapa hal, maka ahli hikmah itu menjawab dengan hal-hal yang tidak tertampung oleh akal sang raja. Raja itu pun berkata, "Bagaimana pendapatmu tentang apa yang dibawa oleh para nabi ketika mereka mengklaim bahwa itu bukanlah ucapan manusia melainkan Kalam Allah Azza wa Jalla? Bagaimana mungkin manusia sanggup menanggungnya?" Ahli hikmah itu menjawab, "Sesungguhnya kami melihat manusia ketika hendak memahamkan hewan ternak dan burung tentang apa yang mereka inginkan—seperti menyuruhnya maju, mundur, mendekat, atau menjauh—dan mereka melihat bahwa daya pembeda (nalar) hewan-hewan itu terlalu lemah untuk memahami ucapan manusia yang bersumber dari cahaya akal mereka, betapapun indah, tersusun rapi, dan menakjubkan susunannya; maka manusia pun turun ke derajat pemahaman hewan-hewan itu dan menyampaikan maksud mereka ke dalam batin hewan-hewan tersebut melalui suara-suara yang dibuat layak bagi hewan, seperti ketukan, siulan, dan suara-suara yang menyerupai suara hewan tersebut agar hewan-hewan itu sanggup menangkapnya. Demikian pula manusia, mereka lemah untuk menanggung Kalam Allah Azza wa Jalla dengan hakikat keberadaan-Nya dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Maka suara-suara yang mereka pergunakan di antara sesama mereka untuk mendengarkan hikmah kedudukannya seperti suara ketukan dan siulan yang didengar oleh hewan dari manusia."
ولم يمنع ذلك معاني الحكمة المخبوءة في تلك الصفات من أن شرف الكلام أي الأصوات لشرفها وعظم لتعظيمها فكان الصوت للحكمة جسداً ومسكناً والحكمة للصوت نفساً وروحاً
Namun hal itu tidak menghalangi makna-makna hikmah yang tersembunyi di balik sifat-sifat tersebut untuk menjadikan ucapan—yakni suara-suara itu—mulia karena kemuliaan hikmah tersebut dan menjadi agung karena keagungannya. Maka suara bagi hikmah adalah jasad dan tempat tinggal, sedangkan hikmah bagi suara adalah jiwa dan ruhnya.
فكما أن أجساد البشر تكرم وتعز لمكان الروح فكذلك أصوات الكلام تشرف للحكمة التي فيها
Maka sebagaimana jasad manusia dimuliakan dan dihormati karena keberadaan ruh di dalamnya, demikian pula suara-suara ucapan (Kalam) menjadi mulia karena hikmah yang terkandung di dalamnya.
والكلام على المنزلة رفيع الدرجة قاهر السلطان نافذ الحكم في الحق والباطل وهو القاضي العدل والشاهد المرتضى يأمر وينهى ولا طاقة للباطل أن يقوم قدام كلام الحكمة كما لا يستطيع الظل أن يقول قدام شعاع الشمس ولا طاقة للبشر أن ينفذوا غور الحكمة كما لا طاقة لهم أن ينفذوا بأبصارهم ضوء عين الشمس ولكنهم ينالون من ضوء عين الشمس ما تحيا به أبصارهم ويستدلون به على حوائجهم فقط
Dan Kalam (Al-Qur'an) itu memiliki kedudukan yang tinggi, derajat yang mulia, kekuasaan yang menundukkan, dan hukum yang berlaku mantap dalam membedakan kebenaran dan kebatilan. Ia adalah hakim yang adil dan saksi yang diridhai; ia memerintah dan melarang. Tidak ada kemampuan bagi kebatilan untuk berdiri di hadapan Al-Kalam, sebagaimana bayangan tidak sanggup berdiri di hadapan sinar matahari. Dan manusia tidak memiliki kemampuan untuk menembus kedalaman hikmah-Nya, sebagaimana mereka tidak memiliki kemampuan untuk menembus pandangan mereka ke dalam cahaya inti matahari; melainkan mereka hanya memperoleh dari cahaya inti matahari itu sekadar apa yang menghidupkan penglihatan mereka dan menjadi petunjuk bagi kebutuhan-kebutuhan mereka saja.
فالكلام كالملك المحجوب الغائب وجهه النافذ أمره وكالشمس الغزيرة الظاهرة مكنون عنصرها وكالنجوم الزهرة التي قد يهتدى بها من لا يقف على سيرها فهو مفتاح الخزائن النفيسة وشراب الحياة الذي من شرب منه لم يمت ودواء الأسقام الذي من سقي منه لم يسقم فهذا الذي ذكره الحكيم نبذة من تفهيم معنى الكلام والزيادة عليه لا تليق بعلم المعاملة فينبغي أن يقتصر عليه
Maka Kalam itu seperti raja yang terhalang oleh tirai dan gaib wajahnya namun berlaku perintahnya; dan seperti matahari yang bersinar terang lagi nyata yang tersembunyi zat intinya; serta seperti bintang-bintang yang berkilauan yang dijadikan petunjuk arah oleh orang yang tidak mengetahui lintasan edarnya. Ia adalah kunci perbendaharaan yang sangat berharga, minuman kehidupan yang barangsiapa meminumnya tidak akan mati, dan obat bagi segala penyakit yang barangsiapa diberi minum darinya tidak akan sakit. Apa yang disebutkan oleh ahli hikmah ini adalah sekelumit pemahaman tentang makna Kalam, dan menambah penjelasan melebihi hal ini tidaklah layak dalam ilmu muamalah, maka hendaknya dicukupkan sampai di sini saja.
الثَّانِي التَّعْظِيمُ لِلْمُتَكَلِّمِ فَالْقَارِئُ عِنْدَ الْبِدَايَةِ بِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْضُرَ فِي قَلْبِهِ عَظَمَةُ الْمُتَكَلِّمِ وَيَعْلَمَ أَنَّ مَا يَقْرَؤُهُ لَيْسَ مِنْ كلام البشر وأن في تلاوة كلام الله ﷿ غاية الخطر فإنه تعالى قال ﴿لا يمسه إلا المطهرون﴾ وكما أن ظاهر جلد المصحف وورقه محروس عن ظاهر بشرة اللامس إلا إذا كان متطهراً فباطن معناه أيضاً بحكم عزه وجلاله محجوب عن باطن القلب إلا إذا كان متطهراً عن كل رجس ومستنيراً بنور التعظيم والتوقير وكما لا يصلح لمس جلد المصحف كل يد فلا يصلح لتلاوة حروفه كل لسان ولا لنيل معانيه كل قلب ولمثل هذا التعظيم كان عكرمة بن أبي جهل إذا نشر المصحف غشى عليه ويقول هو كلام ربي هو كلام ربي فتعظيم الكلام تعظيم المتكلم وَلَنْ تَحْضُرَهُ عَظَمَةُ الْمُتَكَلِّمِ مَا لَمْ يَتَفَكَّرْ فِي صِفَاتِهِ وَجَلَالِهِ وَأَفْعَالِهِ فَإِذَا حَضَرَ بِبَالِهِ العرش والكرسي والسموات وَالْأَرْضُ وَمَا بَيْنَهُمَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَشْجَارِ وَعَلِمَ أَنَّ الْخَالِقَ لِجَمِيعِهَا وَالْقَادِرَ عَلَيْهَا وَالرَّازِقَ لَهَا وَاحِدٌ وَأَنَّ الْكُلَّ فِي قَبْضَةِ قُدْرَتِهِ مُتَرَدِّدُونَ بَيْنَ فَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ وَبَيْنَ نِقْمَتِهِ وَسَطْوَتِهِ إِنْ أَنْعَمَ فَبِفَضْلِهِ وَإِنْ عَاقَبَ فَبِعَدْلِهِ وأنه الذي يقول هؤلاء إلى الجنة ولا أبالي وهؤلاء إلى النار ولا أبالي وهذا غاية العظمة والتعالي فَبِالتَّفَكُّرِ فِي أَمْثَالِ هَذَا يَحْضُرُ تَعْظِيمُ الْمُتَكَلِّمِ ثُمَّ تَعْظِيمُ الْكَلَامِ
Yang kedua: Mengagungkan Sang Pembicara (Al-Mutakallim). Maka seorang pembaca, ketika hendak memulai membaca Al-Qur'an, hendaknya menghadirkan keagungan Sang Pembicara di dalam hatinya dan menyadari bahwa apa yang dibacanya bukanlah perkataan manusia, serta bahwasanya dalam membaca Kalam Allah Azza wa Jalla terdapat bahaya yang sangat besar. Sebab Allah Ta'ala berfirman: "Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan." Sebagaimana bagian luar kulit mushaf dan kertasnya terjaga dari sentuhan kulit luar orang yang menyentuh kecuali jika ia dalam keadaan suci, maka batin maknanya pun—demi keagungan dan kemuliaan-Nya—terhalang dari batin hati kecuali jika hati tersebut suci dari segala kotoran dosa dan disinari oleh cahaya pengagungan serta penghormatan. Sebagaimana tidak layak menyentuh kulit mushaf sembarang tangan, maka tidak layak pula membaca huruf-huruf-Nya sembarang lidah, dan tidak layak meraih makna-makna-Nya sembarang hati. Karena pengagungan semacam inilah Ikrimah bin Abi Jahal apabila membuka mushaf ia pingsan seraya berkata, "Ini adalah Kalam Tuhanku! Ini adalah Kalam Tuhanku!" Jadi, mengagungkan Kalam adalah mengagungkan Sang Pembicara. Dan keagungan Sang Pembicara tidak akan hadir dalam dirinya selama ia tidak bertafakur tentang sifat-sifat-Nya, keagungan-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Apabila terlintas dalam pikirannya tentang 'Arasy, Kursi, langit dan bumi beserta apa yang ada di antara keduanya—berupa jin, manusia, hewan ternak, dan pepohonan—dan ia mengetahui bahwa Pencipta semuanya, Yang Mahakuasa atasnya, dan Yang Memberi rezeki kepadanya adalah Satu, serta bahwa semuanya berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, berbolak-balik di antara karunia dan rahmat-Nya atau di antara siksa dan kemurkaan-Nya; jika Dia memberi nikmat maka itu adalah karena karunia-Nya, dan jika Dia menghukum maka itu adalah karena keadilan-Nya; serta bahwasanya Dialah Yang berfirman, "Kelompok ini ke surga dan Aku tidak peduli, dan kelompok ini ke neraka dan Aku tidak peduli"—dan inilah puncak keagungan dan Maha Tinggi—maka dengan bertafakur tentang hal-hal seumpama inilah akan hadir pengagungan kepada Sang Pembicara, yang kemudian melahirkan pengagungan kepada Al-Kalam.
الثَّالِثُ حُضُورُ الْقَلْبِ وَتَرْكُ حديث النفس قيل في تفسير ﴿يا يحيى خذ الكتاب بقوة﴾ أي بجد واجتهاد وأخذه بالجد أن يكون متجرداً له عند قراءته منصرف الهمة إليه عن غيره وقيل لبعضهم إذا قرأت القرآن تحدث نفسك بشيء فقال أو شيء أحب إلي من القران حتى أحدث به نفسي وكان بعض السلف إذا قرأ آية لَمْ يَكُنْ قَلْبُهُ فِيهَا أَعَادَهَا ثَانِيَةً وَهَذِهِ الصِّفَةُ تَتَوَلَّدُ عَمَّا قَبْلَهَا مِنَ التَّعْظِيمِ فَإِنَّ المعظم للكلام الذي يتلوه يستبشر به ويستأنس ولا يغفل عنه ففي الْقُرْآنِ مَا يَسْتَأْنِسُ بِهِ الْقَلْبُ إِنْ كَانَ التَّالِي أَهْلًا لَهُ فَكَيْفَ يَطْلُبُ الْأُنْسَ بِالْفِكْرِ في غيره وهو في متنزه ومتفرج
Yang ketiga: Kehadiran hati (hudhurul qalb) dan meninggalkan bisikan diri (haditsun nafs). Dikatakan dalam tafsir firman-Nya: "Wahai Yahya, ambillah Kitab itu dengan kuat," yaitu dengan sungguh-sungguh dan kesungguhan. Dan mengambilnya dengan sungguh-sungguh berarti ia memfokuskan diri sepenuhnya untuk Kitab tersebut saat membacanya, serta memalingkan seluruh hasrat kehendaknya kepadanya dari yang lain. Dikatakan kepada sebagian ulama, "Apabila engkau membaca Al-Qur'an, apakah engkau membisikkan sesuatu kepada dirimu sendiri?" Ia menjawab, "Apakah ada sesuatu yang lebih aku cintai daripada Al-Qur'an sehingga aku membisikkan hal itu kepada diriku?" Dahulu sebagian Salaf apabila membaca suatu ayat sedangkan hatinya tidak hadir padanya, maka ia mengulanginya untuk kedua kalinya. Sifat ini lahir dari pengagungan yang disebutkan sebelumnya; sebab orang yang mengagungkan Kalam yang dibacanya akan merasa gembira dan merasa tenang/tentram bersamanya serta tidak akan lalai darinya. Di dalam Al-Qur'an terdapat hal-hal yang membuat hati merasa tentram jika pembacanya memang layak baginya; maka bagaimana mungkin ia mencari ketentraman dengan memikirkan hal lain padahal ia berada di taman ketentraman dan tempat rekreasi spiritual?
والذي يتفرج في المتنزهات لا يتفكر في غيرها فقد قيل إن في القرآن ميادين وبساتين ومقاصير وعرائس وديابيج ورياضاً وخانات فالميمات ميادين القرآن والراءات بساتين القرآن والحاءات مقاصيره والمسبحات عرائس القرآن والحاميمات ديابيج القرآن والمفصل رياضه والخانات ما سوى ذلك فإذا دخل القارىء الميادين وقطف من البساتين ودخل المقاصير وشهد العرائس ولبس الديابيج وتنزه في الرياض وسكن غرف الخانات استغرقه ذلك وشغله عما سواه فلم يعزب قلبه ولم يتفرق فكره
Dan orang yang sedang berekreasi di taman-taman tidak akan memikirkan hal selainnya. Sungguh telah dikatakan bahwa di dalam Al-Qur'an terdapat medan-medan (mayadin), kebun-kebun (basatin), istana-istana (maqashir), pengantin-pengantin ('ara'is), kain-kain sutra (diyabij), taman-taman indah (riyadh), dan persinggahan-persinggahan (khanat). Huruf-huruf mim adalah medan Al-Qur'an, huruf-huruf ra adalah kebun-kebun Al-Qur'an, huruf-huruf ha adalah istana-istananya, surah-surah musabbihat (yang diawali tasbih) adalah pengantin-pengantin Al-Qur'an, surah-surah Ha-Mim adalah kain-kain sutra Al-Qur'an, surah-surah Al-Mufashshal adalah taman-tamannya, dan selain itu adalah persinggahan-persinggahannya. Apabila pembaca Al-Qur'an memasuki medan-medan tersebut, memetik dari kebun-kebunnya, memasuki istana-istananya, menyaksikan pengantin-pengantinnya, mengenakan kain-kain sutranya, berekreasi di taman-tamannya, dan tinggal di kamar-kamar persinggahannya, niscaya hal itu akan menyita seluruh perhatiannya dan memalingkannya dari selainnya, sehingga hatinya tidak akan berpaling dan pikirannya tidak akan bercerai-berai.
الرَّابِعُ التَّدَبُّرُ وَهُوَ وَرَاءَ حُضُورِ الْقَلْبِ فَإِنَّهُ قَدْ لَا يَتَفَكَّرُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ وَلَكِنَّهُ يَقْتَصِرُ عَلَى سَمَاعِ الْقُرْآنِ مِنْ نَفْسِهِ وَهُوَ لَا يَتَدَبَّرُهُ
Yang keempat: Tadabur (perenungan mendalam). Dan tadabur ini berada di atas kehadiran hati (hudhurul qalb); sebab terkadang seseorang tidak memikirkan selain Al-Qur'an, namun ia hanya sebatas mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari dirinya sendiri tanpa merenungkannya.
وَالْمَقْصُودُ مِنَ الْقِرَاءَةِ التَّدَبُّرُ وَلِذَلِكَ سن لأن الترتيل فيه التَّرْتِيلَ فِي الظَّاهِرِ لِيَتَمَكَّنَ مِنَ التَّدَبُّرِ بِالْبَاطِنِ
Dan tujuan utama dari membaca Al-Qur'an adalah tadabur. Oleh karena itulah disunnahkan membaca dengan tartil secara lahiriah agar memungkinkan untuk melakukan tadabur secara batiniah.
قَالَ علي ﵁ لَا خَيْرَ فِي عِبَادَةٍ لَا فِقْهَ فِيهَا وَلَا فِي قِرَاءَةٍ لَا تَدَبُّرَ فِيهَا
Ali radhiyallahu 'anhu berkata: "Tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak ada pemahaman (fiqih) di dalamnya, dan tidak ada kebaikan dalam bacaan (Al-Qur'an) yang tidak ada tadabur di dalamnya."
وَإِذَا لَمْ يَتَمَكَّنْ مِنَ التَّدَبُّرِ إِلَّا بِتَرْدِيدٍ فَلْيُرَدِّدْ إِلَّا أَنْ يكون خلف إمام فإنه لو بقي في تدبر آية وقد اشتغل الإمام بآية أخرى كان مسيئاً مثل من يشتغل بالتعجب من كلمة واحدة ممن يناجيه عن فهم بقية كلامه وكذلك إن كان في تسبيح الركوع وهو متفكر في آية قرأها إمامه فهذا وسواس فقد روي عن عامر بن عبد قيس أنه قال الوسواس يعتريني في الصلاة فقيل في أمر الدنيا فقال لأن تختلف في الأسنة أحب إلي من ذلك ولكن يشتغل قلبي بموقفي بين يدي ربي ﷿ وأني كيف انصرف فعد ذلك وسواساً وهو كذلك فإنه يشغله عن فهم ما هو فيه والشيطان لا يقدر على مثله إلا بأن يشغله بمهم ديني ولكن يمنعه به عن الأفضل ولما ذكر ذلك للحسن قال إن كنتم صادقين عنه فما اصطنع الله ذلك عندنا ويروى أنه ﷺ قرأ بسم الله الرحمن الرحيم فرددها عشرين مرة وإنما رددها ﷺ لتدبره في معانيها
Dan apabila seseorang tidak memungkinkan untuk bertadabur melainkan dengan mengulang-ulang bacaan, maka hendaknya ia mengulanginya, kecuali jika ia berada di belakang seorang imam. Sebab jika ia terus merenungkan satu ayat padahal imam telah sibuk dengan ayat lain, maka ia telah berbuat tidak baik, serupa dengan orang yang sibuk mengagumi satu kata dari orang yang berbicara kepadanya sehingga terhalang dari memahami sisa ucapannya. Demikian pula jika ia sedang dalam tasbih rukuk namun hatinya memikirkan ayat yang dibaca oleh imamnya, maka ini adalah bisikan (waswas). Diriwayatkan dari 'Amir bin 'Abd Qais bahwa ia berkata, "Bisikan (waswas) mendatangi diriku dalam shalat." Lalu ditanyakan kepadanya, "Apakah dalam urusan dunia?" Ia menjawab, "Sungguh, tertusuk oleh tombak-tombak lebih aku sukai daripada hal itu, melainkan hatiku disibukkan dengan keberadaanku di hadapan Tuhanku Azza wa Jalla dan bagaimana aku nanti kembali." Maka beliau menganggap hal itu sebagai waswas, dan memang demikian adanya, sebab hal itu memalingkannya dari memahami apa yang sedang ia jalani. Dan setan tidak mampu membisikkan hal seperti itu kecuali dengan menyibukkannya pada perkara agama yang penting, namun dengan cara itu setan menghalanginya dari yang lebih utama (afdhal). Ketika hal itu disebutkan kepada Al-Hasan Al-Bashri, beliau berkata, "Jika kalian benar mengenai dirinya, maka tidaklah Allah melakukan hal itu di tengah-tengah kita." Dan diriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ membaca Bismillahir-rahmanir-rahim lalu mengulanginya sebanyak dua puluh kali; dan tidak lain beliau ﷺ mengulanginya melainkan karena merenungkan (tadabur) makna-maknanya.
وعن أبي ذر قال قام رسول الله ﷺ بنا ليلة فقام بآية يرددها وهي إن تعذبهم فإنهم عبادك وإن تغفر لهم الآية وقام تميم الداري ليلة بهذه الآية ﴿أم حسب الذين اجترحوا السيئات﴾ الآية
Dan dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah ﷺ shalat malam bersama kami pada suatu malam, lalu beliau berdiri dengan mengulang-ulang satu ayat, yaitu: 'Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka…' hingga akhir ayat." Dan Tamim Ad-Dari shalat malam pada suatu malam dengan membaca ayat ini: "Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira…" hingga akhir ayat.
وقام سعيد بن جبير ليلة يردد هذه الآية وامتازوا اليوم أيها المجرمون وقال بعضهم إني لأفتتح السورة فيوقفني بعض ما أشهد فيها عن الفراغ منها حتى يطلع الفجر وكان بعضهم يقول آية لا أتفهمها ولا يكون قلبي فيها لا أعد لها ثواباً وحكي عن أبي سليمان الداراني أنه قال إني لأتلو الآية فأقيم فيها أربع ليال أو خمس ليال ولولا أني أقطع الفكر فيها ما جاوزتها إلى غيرها
Dan Sa'id bin Jubair shalat malam dengan mengulang-ulang ayat ini: "Dan berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, wahai orang-orang yang berbuat dosa!" Sebagian dari mereka berkata, "Sesungguhnya aku memulai suatu surah, lalu sebagian hal yang aku renungkan di dalamnya menahanku dari menyelesaikannya hingga fajar terbit." Dahulu sebagian mereka berkata, "Satu ayat yang tidak aku pahami dan hatiku tidak hadir padanya, aku tidak menghitung pahala baginya." Dan diriwayatkan dari Abu Sulaiman Ad-Darani bahwa ia berkata, "Sesungguhnya aku membaca satu ayat, lalu aku berdiam padanya selama empat malam atau lima malam. Seandainya aku tidak menghentikan perenungan padanya, niscaya aku tidak akan melampauinya kepada ayat lainnya."
وعن بعض السلف أنه بقي في سورة هود ستة أشهر يكررها ولا يفرغ من التدبر فيها
Dan dari sebagian Salaf bahwasanya ia tetap berada pada surah Hud selama enam bulan, ia mengulang-ulangnya dan belum selesai dari bertadabur padanya.
وقال بعض العارفين لي في كل جمعة ختمة وفي كل شهر ختمة وفي كل سنة ختمة ولي ختمه منذ ثلاثين سنة ما فرغت منها بعد وذلك بحسب درجات تدبره وتفتيشه وكان هذا أيضاً يقول أقمت نفسي مقام الأجراء فأنا أعمل مياومة ومجامعة ومشاهرة ومسانهة
Sebagian 'arifin berkata: "Aku memiliki satu khataman setiap pekan, satu khataman setiap bulan, satu khataman setiap tahun, dan aku memiliki satu khataman sejak tiga puluh tahun yang lalu yang belum aku selesaikan hingga sekarang." Hal itu sesuai dengan tingkatan tadabur dan pencariannya akan makna. Beliau juga pernah berkata, "Aku menempatkan diriku seperti kedudukan pekerja harian; maka aku bekerja secara harian, mingguan, bulanan, dan tahunan."
الخامس التفهم وهو أن يستوضح من كُلِّ آيَةٍ مَا يَلِيقُ بِهَا إِذِ الْقُرْآنُ يَشْتَمِلُ عَلَى ذِكْرِ صِفَاتِ اللَّهِ ﷿ وذكر أفعاله وذكر أحوال الأنبياء ﵈ وذكر أحوال الْمُكَذِّبِينَ لَهُمْ وَأَنَّهُمْ كَيْفَ أُهْلِكُوا وَذِكْرِ أَوَامِرِهِ وَزَوَاجِرِهِ وَذِكْرِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ
Yang kelima: Tafahhum (berusaha memahami). Yaitu ia mencari kejelasan dari setiap ayat mengenai apa yang layak baginya; sebab Al-Qur'an mencakup penyebutan Sifat-Sifat Allah Azza wa Jalla, penyebutan perbuatan-perbuatan-Nya, penyebutan keadaan para nabi 'alaihimussalam, penyebutan keadaan orang-orang yang mendustakan mereka serta bagaimana mereka dibinasakan, penyebutan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, serta penyebutan surga dan neraka.
أَمَّا صِفَاتُ اللَّهِ ﷿ فكقوله تعالى ليس كمثله شيء وهو السميع البصير وَكَقَوْلِهِ تَعَالَى الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ العزيز الجبار المتكبر فَلْيَتَأَمَّلْ مَعَانِيَ هَذِهِ الْأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ لِيَنْكَشِفَ لَهُ أسرارها فتحتها معان
Adapun sifat-sifat Allah ﷻ, seperti firman-Nya Ta'ala, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (QS. Asy-Syura: 11), dan firman-Nya Ta'ala, "Maha Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan" (QS. Al-Hasyr: 23). Hendaklah pembaca merenungkan makna-makna dari nama-nama dan sifat-sifat ini agar tersingkap baginya rahasia-rahasianya, sebab di baliknya tersembunyi makna-makna…
مدفونة لا تنكشف إلا للموفقين وإليه أشار علي ﵁ بقوله ما أسر إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ شيئاً كتمه عن الناس إلا أن يؤتى الله ﷿ عبداً فهماً في كتابه فليكن حريصاً على طلب ذلك الفهم وقال ابن مسعود ﵁ من أراد علم الأولين والآخرين فليثور القرآن وأعظم علوم القرآن تحت أسماء الله ﷿ وصفاته إذ لم يدرك أكثر الخلق منها إلا أموراً لائقة بأفهامهم ولم يعثروا على أغوارها
…yang terpendam yang tidak akan tersingkap kecuali bagi orang-orang yang diberi taufik. Kepada hal inilah Ali radiyallahu 'anhu mengisyaratkan melalui perkataannya, "Rasulullah ﷺ tidak pernah merahasiakan sesuatu kepadaku yang beliau sembunyikan dari manusia, melainkan jika Allah ﷻ memberikan kepada seorang hamba pemahaman tentang Kitab-Nya." Maka hendaklah seseorang sangat bersungguh-sungguh untuk menuntut pemahaman tersebut. Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu juga berkata, "Barang siapa menginginkan ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian, hendaklah ia menggali (isi) Al-Qur'an." Dan ilmu Al-Qur'an yang paling agung berada di bawah nama-nama Allah ﷻ dan sifat-sifat-Nya, sebab kebanyakan makhluk tidak menangkap darinya kecuali hal-hal yang sesuai dengan kadar pemahaman mereka saja dan tidak mampu menjangkau kedalaman maknanya.
وأما أفعاله تعالى فكذكره خلق السموات وَالْأَرْضِ وَغَيْرِهَا فَلْيَفْهَمِ التَّالِي مِنْهَا صِفَاتِ اللَّهِ ﷿ وجلاله إذا الْفِعْلُ يَدُلُّ عَلَى الْفَاعِلِ فَتَدُلُّ عَظَمَتُهُ عَلَى عظمته فينبغي أن يشهد في العقل الْفَاعِلَ دُونَ الْفِعْلِ فَمَنْ عَرَفَ الْحَقَّ رَآهُ في كل شيء إذ كل شيء فهو منه وإليه وبه وله فهو الكل على التحقيق ومن لا يراه في كل ما يراه فكأنه ما عرفه ومن عرفه عرف أن كل شيء ما خلا الله باطل وأن كل شيء هالك إلا وجهه لا أنه سيبطل في ثاني الحال بل هو الآن باطل إن اعتبر ذاته من حيث هو إلا أن يعتبر وجوده من حيث إنه موجود بالله ﷿ وبقدرته فيكون له بطريق التبعية ثبات وبطريق الاستقلال بطلان محض وهذا مبدأ من مبادىء علم المكاشفة وَلِهَذَا يَنْبَغِي إِذَا قَرَأَ التَّالِي قَوْلَهُ ﷿ أفرأيتم ما تحرثون أفرأيتم ما تمنون أفرأيتم الماء الذي تشربون أفرأيتم النار التي تورون فَلَّا يَقْصُرُ نَظَرُهُ عَلَى الْمَاءِ وَالنَّارِ وَالْحَرْثِ وَالْمَنِيِّ بَلْ يَتَأَمَّلُ فِي الْمَنِيِّ وَهُوَ نُطْفَةٌ مُتَشَابِهَةُ الْأَجْزَاءِ ثُمَّ يَنْظُرُ فِي كَيْفِيَّةِ انْقِسَامِهَا إِلَى اللَّحْمِ وَالْعَظْمِ وَالْعُرُوقِ وَالْعَصَبِ وَكَيْفِيَّةِ تَشَكُّلِ أَعْضَائِهَا بِالْأَشْكَالِ الْمُخْتَلِفَةِ مِنَ الرَّأْسِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَالْكَبِدِ وَالْقَلْبِ وَغَيْرِهَا ثُمَّ إِلَى مَا ظَهَرَ فِيهَا مِنَ الصِّفَاتِ الشَّرِيفَةِ مِنَ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَالْعَقْلِ وَغَيْرِهَا ثُمَّ إِلَى مَا ظَهَرَ فِيهَا مِنَ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ مِنَ الْغَضَبِ وَالشَّهْوَةِ وَالْكِبْرِ وَالْجَهْلِ وَالتَّكْذِيبِ وَالْمُجَادَلَةِ كَمَا قَالَ تَعَالَى أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هو خصيم مبين فليتأمل هذه العجائب ليترقى منها إلى عجب العجائب وهو الصفة الَّتِي مِنْهَا صَدَرَتْ هَذِهِ الْأَعَاجِيبُ فَلَا يَزَالُ ينظر إلى الصنعة فيرى الصَّانِعَ
Adapun perbuatan-perbuatan Allah Ta'ala, seperti penuturan-Nya tentang penciptaan langit, bumi, dan lainnya, maka hendaklah pembaca memahami darinya sifat-sifat Allah ﷻ dan keagungan-Nya. Sebab perbuatan itu menunjukkan kepada Sang Pelaku (Al-Fa'il), sehingga keagungan perbuatan menunjukkan pada keagungan-Nya. Oleh karena itu, hendaknya akal menyaksikan Sang Pelaku, bukan semata perbuatannya. Maka barang siapa mengenal Al-Haq (Allah), niscaya ia melihat-Nya pada segala sesuatu, karena segala sesuatu adalah dari-Nya, menuju kepada-Nya, dengan-Nya, dan milik-Nya; Dialah Segalanya secara hakiki. Dan barang siapa tidak melihat-Nya pada setiap apa yang dilihatnya, maka seolah-olah ia belum mengenal-Nya. Barang siapa mengenal-Nya, ia menyadari bahwa segala sesuatu selain Allah adalah batil, dan bahwa segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya. Bukan berarti ia baru akan menjadi batil di masa mendatang, melainkan ia sekarang pun adalah batil jika ditinjau dari zatnya sendiri, kecuali jika keberadaannya ditinjau dari sisi bahwa ia ada karena Allah ﷻ dan dengan kekuasaan-Nya. Maka secara pengikutan (taba'iyyah) ia memiliki ketetapan, sedangkan secara mandiri (istiqlal) ia adalah kebatilan murni. Ini merupakan salah satu prinsip dari prinsip-prinsip ilmu mukasyafah. Oleh karena itu, apabila pembaca membaca firman Allah ﷻ: "Maka pernahkah kamu memperhatikan apa yang kamu tanam?", "Maka pernahkah kamu memperhatikan air mani yang kamu pancarkan?", "Maka pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?", "Maka pernahkah kamu memperhatikan api yang kamu nyalakan?", hendaklah pandangannya tidak berhenti sebatas pada air, api, tanaman, dan air mani saja. Sebaliknya, hendaknya ia merenungkan air mani yang berupa setetes cairan yang bagian-bagiannya serupa, lalu memperhatikan bagaimana ia terbagi menjadi daging, tulang, pembuluh darah, dan urat saraf; bagaimana anggota-anggota tubuhnya terbentuk dengan bentuk yang berbeda-beda seperti kepala, tangan, kaki, hati, jantung/hati nurani, dan lainnya; kemudian memperhatikan sifat-sifat mulia yang muncul padanya seperti pendengaran, penglihatan, akal, dan lainnya; lalu memperhatikan sifat-sifat tercela yang muncul seperti amarah, syahwat, kesombongan, kebodohan, pendustaan, dan perdebatan, sebagaimana firman-Nya Ta'ala: "Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, lalu tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata?" Maka hendaknya ia merenungkan keajaiban-keajaiban ini agar darinya ia naik menuju puncak segala keajaiban, yaitu sifat yang dengannya karya-karya ajaib ini terwujud. Dengan demikian, ia senantiasa memandang karya buatan (al-suna'ah) hingga menyaksikan Sang Maha Pembuat (Al-Sani').
وَأَمَّا أَحْوَالُ الْأَنْبِيَاءِ ﵈ فَإِذَا سمع منها كيف كذبوا وضربوا وقتل بعضهم فليفهم منه صفة الاستغناء لله ﷿ عن الرسل والمرسل إليهم وأنه لو أهلك جميعهم لم يؤثر في ملكه شيئاً وإذا سمع نصرتهم في آخر الأمر فليفهم قُدْرَةَ اللَّهِ ﷿ وَإِرَادَتَهُ لِنُصْرَةِ الْحَقِّ
Adapun keadaan para nabi 'alaihimussalam, apabila pembaca mendengar bagaimana mereka didustakan, dipukuli, dan sebagian mereka dibunuh, hendaklah ia memahami darinya sifat Maha Kaya (Al-Istighna') Allah ﷻ dari para rasul maupun umat yang diutus kepada mereka, serta bahwasanya jika Dia membinasakan mereka semua, hal itu tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun. Dan apabila ia mendengar pertolongan Allah kepada mereka pada akhirnya, hendaklah ia memahami kekuasaan Allah ﷻ dan kehendak-Nya untuk memenangkan kebenaran.
وَأَمَّا أَحْوَالُ الْمُكَذِّبِينَ كَعَادٍ وَثَمُودَ وَمَا جَرَى عَلَيْهِمْ فَلْيَكُنْ فَهْمُهُ مِنْهُ اسْتِشْعَارَ الْخَوْفِ مِنْ سَطْوَتِهِ وَنِقْمَتِهِ وَلْيَكُنْ حَظُّهُ مِنْهُ الِاعْتِبَارَ فِي نفسه وأنه إن غفل وأساء الأدب واغتر بما أمهل فربما تدركه النقمة وتنفذ فيه القضية وكذلك إذا سمع وصف الجنة والنار وسائر ما في القرآن فلا يمكن استقصاء ما يفهم منه لأن ذلك لا نهاية له وإنما لكل عبد بقدر رزقه فلا رطب ولا يابس إلا في كتاب مبين قل لو كان البحر مداداً لكلمات ربي لنفد البحر قبل أن تنفد كلمات ربي ولو جئنا بمثله مدداً ولذلك قال علي ﵁ لو شئت لأوقرت سبعين بعيراً من تفسير فاتحة الكتاب
Adapun keadaan orang-orang yang mendustakan seperti kaum 'Ad dan Tsamud serta apa yang menimpa mereka, hendaknya pemahamannya dari hal itu menghadirkan rasa takut akan siksaan dan balasan-Nya. Hendaklah bagiannya dari kisah itu adalah mengambil iktibar (pelajaran) bagi dirinya sendiri; bahwa jika ia lalai, berbuat buruk ikhtiar/sopan santun, dan terbuai oleh penangguhan siksa, bisa jadi siksaan akan menimpanya dan ketetapan Allah berlaku atasnya. Demikian pula apabila ia mendengar gambaran surga, neraka, dan seluruh isi Al-Qur'an lainnya. Tidaklah mungkin menguraikan secara tuntas seluruh apa yang dapat dipahami darinya karena hal itu tiada bertepi, melainkan setiap hamba memperolehnya sesuai kadar rezeki (karunia) masing-masing. "Dan tidak ada sebutir biji pun yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata" (QS. Al-An'am: 59). "Katakanlah: Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula" (QS. Al-Kahf: 109). Oleh karena itulah Ali radiyallahu 'anhu berkata, "Sekiranya aku mau, niscaya aku dapat memuatkan tafsir Surah Al-Fatihah hingga memberati tujuh puluh unta."
فالغرض مما ذكرناه التنبيه على طريق التفهيم لينفتح بابه فأما الاستقصاء فلا مطمع فيه ومن لم يكن له فهم ما في القرآن ولو في أدنى الدرجات دخل في قوله تعالى ومنهم من يستمع إليك حتى إذا
Maka maksud dari apa yang kami sebutkan ini adalah memberi peringatan mengenai metode mendalami pemahaman Al-Qur'an agar pintunya terbuka. Adapun menguraikannya secara menyeluruh/tuntas, maka tiada harapan untuk itu. Barang siapa tidak memiliki pemahaman tentang apa yang ada di dalam Al-Qur'an meskipun dalam tingkatan terendah, ia tergolong dalam firman Allah Ta'ala: "Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu (Muhammad), tetapi apabila…"
خرجوا من عندك قالوا للذين أوتوا العلم ماذا قال آنفاً أولئك الذين طبع الله على قلوبهم والطابع هي الموانع التي سنذكرها في موانع الفهم وقد قيل لا يكون المريد مريداً حتى يجد في القرآن كل ما يريد ويعرف منه النقصان من المزيد ويستغني بالمولى عن العبيد
"…mereka keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang-orang yang telah diberi ilmu: 'Apakah yang dikatakannya tadi?' Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hatinya oleh Allah" (QS. Muhammad: 16). Dan pengunci (al-thabi') tersebut adalah penghalang-penghalang yang akan kami sebutkan dalam bagian penghalang pemahaman. Sungguh telah dikatakan: "Seorang murid (pencari kebenaran) belum dinamakan murid sejati sampai ia menemukan di dalam Al-Qur'an segala sesuatu yang ia kehendaki, mengetahui darinya kemunduran dari kemajuan jiwanya, dan merasa cukup dengan Sang Pelindung (Allah) daripada para hamba."
السَّادِسُ التَّخَلِّي عَنْ مَوَانِعِ الْفَهْمِ فَإِنَّ أَكْثَرَ الناس منعوا عن فهم معاني الْقُرْآنِ لِأَسْبَابٍ وَحُجُبٍ أَسْدَلَهَا الشَّيْطَانُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فعميت عليهم عجائب أسرار القرآن قال ﷺ لولا أن الشياطين يحومون على قلوب بني آدم لنظروا إلى الملكوت ومعاني القرآن من جملة الملكوت وكل ما غاب عن الحواس ولم يدرك إلا بنور البصيرة فهو من الملكوت
Keenam: Melepaskan diri (Takhalli) dari penghalang-penghalang pemahaman. Sebab, kebanyakan manusia terhalang dari memahami makna-makna Al-Qur'an dikarenakan sebab-sebab dan tirai-tirai (hijab) yang diulurkan oleh setan ke atas hati mereka, sehingga butalah mereka dari keajaiban rahasia-rahasia Al-Qur'an. Rasulullah ﷺ bersabda, "Seandainya setan-setan tidak mengelilingi hati anak cucu Adam, niscaya mereka dapat melihat ke alam Malakut." Dan makna-makna Al-Qur'an termasuk dalam bagian Malakut, sebab setiap apa yang gaib dari indra dan tidak dapat dijangkau kecuali dengan cahaya bashirah (mata hati), maka itu termasuk bagian dari Malakut.
وحجب الفهم أربعة أولها أَنْ يَكُونَ الْهَمُّ مُنْصَرِفًا إِلَى تَحْقِيقِ الْحُرُوفِ بإخراجها من مَخَارِجِهَا وَهَذَا يَتَوَلَّى حِفْظَهُ شَيْطَانٌ وُكِّلَ بِالْقُرَّاءِ لِيَصْرِفَهُمْ عَنْ فَهْمِ مَعَانِي كَلَامِ اللَّهِ ﷿ فلا يزال يحملهم على ترديد الحرف يُخَيِّلُ إِلَيْهِمْ أَنَّهُ لَمْ يَخْرُجْ مِنْ مَخْرَجِهِ
Hijab (tirai penghalang) pemahaman itu ada empat. Pertama: Perhatian seseorang terfokus sepenuhnya pada penyempurnaan pelafalan huruf-huruf dengan mengeluarkannya dari makhraj-makhrajnya. Hal ini ditangani oleh setan yang diserahi tugas mengganggu para pembaca Al-Qur'an untuk memalingkan mereka dari memahami makna-makna Kalam Allah ﷻ. Maka setan itu senantiasa mendorong mereka untuk mengulang-ulang huruf dengan membayangkan kepada mereka seolah-olah huruf itu belum keluar dari makhrajnya.
فَهَذَا يَكُونُ تَأَمُّلُهُ مَقْصُورًا عَلَى مَخَارِجِ الْحُرُوفِ فَأَنَّى تَنْكَشِفُ لَهُ الْمَعَانِي وَأَعْظَمُ ضَحِكَةٍ لِلشَّيْطَانِ من كان مطيعاً لمثل هذا التلبيس
Maka perenungan orang seperti ini terbatas hanya pada makhraj-makhraj huruf, lalu bagaimana mungkin makna-makna akan tersingkap baginya? Sungguh, bahan tertawaan setan yang paling besar adalah orang yang menuruti tipu daya (talbis) semacam ini.
ثانيها أن يكون مقلداً لمذهب سمعه بالتقليد وجمد عليه وثبت في نفسه التعصب له بمجرد الاتباع للمسموع من غير وصول إليه ببصيرة ومشاهدة فهذا شخص قيده معتقده عن أن يجاوزه فلا يمكنه أن يخطر بباله غير معتقده فصار نظره موقوفاً على مسموعه فإن لمع برق على بعد وبدا له معنى من المعاني التي تباين مسموعه حمل عليه شيطان التقليد حملة وقال كيف يخطر هذا ببالك وهو خلاف معتقد آبائك فيرى أن ذلك غرور من الشيطان فيتباعد منه ويحترز عن مثله
Kedua: Seseorang yang bertaklid (mengikut secara membuta) kepada suatu mazhab yang didengarnya secara taklid lalu ia membeku (kaku) di atasnya, serta tertanam dalam dirinya fanatisme terhadap mazhab itu semata-mata karena mengikut pada apa yang didengar tanpa mencapainya melalui bashirah (pandangan batin) dan musyahadah (penyaksian spiritual). Orang ini telah dibelenggu oleh keyakinannya sehingga tidak mampu melampauinya, maka tidak mungkin terlintas dalam benaknya keyakinan selain doktrinnya tersebut. Akibatnya, pandangannya terhenti pada apa yang ia dengar semata. Jika tampak kilatan cahaya dari kejauhan dan muncul baginya suatu makna yang berbeda dengan apa yang ia dengar, setan taklid akan menyerangnya seraya berkata: "Bagaimana mungkin hal ini terlintas dalam benakmu padahal ini menyelisihi keyakinan nenek moyangmu?" Maka ia menganggap hal itu sebagai bujuk rayu setan, lalu menjauh darinya dan membentengi diri dari yang serupa dengannya.
ولمثل هذا قالت الصوفية إن العلم حجاب وأرادوا بالعلم العقائد التي استمر عليها أكثر الناس بمجرد التقليد أو بمجرد كلمات جدلية حررها المتعصبون للمذاهب وألقوها إليهم
Karena hal semacam inilah kaum Sufi mengatakan: "Ilmu adalah hijab (penghalang)." Yang mereka maksud dengan ilmu di sini adalah doktrin-doktrin akidah yang terus-menerus dipegang oleh kebanyakan orang semata-mata karena taklid, atau sekadar ungkapan-ungkapan dialektika (debat) yang disusun oleh orang-orang yang fanatik mazhab lalu disampaikan kepada mereka.
فأما العلم الحقيقي الذي هو الكشف والمشاهدة بنور البصيرة فكيف يكون حجاباً وهو منتهى المطلب وهذا التقليد قد يكون باطلاً فيكون مانعاً كمن يعتقد في الاستواء على العرش التمكن والاستقرار فإن خطر له مثلاً في القدوس أنه المقدس عن كل ما يجوز على خلقه لم يمكنه تقليده من أن يستقر ذلك في نفسه ولو استقر في نفسه لانجر إلى كشف ثاني وثالث ولتواصل ولكن يتسارع إلى دفع ذلك عن خاطره لمناقضته تقليده بالباطل وقد يكون حقاً ويكون أيضاً مانعاً من الفهم والكشف لأن الحق الذي كلف الخلق اعتقاده له مراتب ودرجات وله مبدأ ظاهر وغور باطن وجمود الطبع على الظاهر يمنع من الوصول إلى الغور الباطن كما ذكرناه في الفرق بين العلم الظاهر والباطن في كتاب قواعد العقائد
Adapun ilmu yang hakiki, yaitu kasyf (tersingkapnya rahasia Ilahi) dan musyahadah dengan cahaya bashirah, bagaimana mungkin menjadi hijab padahal itulah puncak dari segala pencarian? Taklid ini terkadang bersifat batil sehingga menjadi penghalang, seperti orang yang meyakini dalam arti istiwa' di atas 'Arsy sebagai bersemayam dan bertempat secara fisik. Jika terlintas dalam benaknya, misalnya tentang nama Al-Quddus bahwa Dia Maha Suci dari segala sesuatu yang boleh terjadi pada makhluk-Nya, maka taklidnya tidak memungkinkan makna itu menetap dalam jiwanya. Padahal jika makna itu menetap dalam jiwanya, niscaya akan membawanya kepada mukasyafah kedua dan ketiga serta berkesinambungan. Akan tetapi, ia bergegas menolak lintasan pikiran itu dari hatinya karena bertentangan dengan taklidnya yang batil. Dan terkadang taklid itu berupa kebenaran, namun tetap menjadi penghalang dari pemahaman dan kasyf, sebab kebenaran yang dibebankan kepada makhluk untuk diyakini memiliki tingkatan-tingkatan dan derajat-derajat; ia memiliki permulaan lahiriah dan kedalaman batiniah. Kekakuan watak pada segi lahiriah menghalanginya dari mencapai kedalaman batiniah, sebagaimana telah kami sebutkan dalam perbedaan antara ilmu lahir dan batin pada kitab Qawa'id al-'Aqa'id.
ثالثها أن يكون مصراً على ذنب أو متصفاً بكبر أو مبتلى في الجملة بهوى في الدنيا مطاع فإن ذلك سبب ظلمة القلب وصدئه وهو كالخبث على المرآة فيمنع جلية الحق من أن يتجلى فيه وهو أعظم حجاب للقلب وبه حجب الأكثرون
Ketiga: Seseorang terus-menerus melakukan dosa, atau bersifat sombong, atau secara umum teruji oleh hawa nafsu duniawi yang dituruti. Sebab hal itu menjadi pemicu kegelapan dan karat pada hati, seperti kotoran/karat pada cermin yang menghalangi kebenaran yang terang benderang untuk bertajalli (terpancar) di dalamnya. Ini adalah hijab terbesar bagi hati, dan dengannya mayoritas manusia terhalangi.
وكلما كانت الشهوات أشد تراكما كما كانت معاني الكلام أشد احتجاباً وكلما خف عن القلب أثقال الدنيا قرب تجلى المعنى فيه
Semakin pekat tumpukan syahwat (hawa nafsu), maka semakin tertutup rapat makna-makna Al-Qur'an. Dan semakin ringan beban-beban dunia dari hati, semakin dekat pulalah tajalli (penyingkapan) makna di dalamnya.
فالقلب مثل المرآة والشهوات مثل الصدإ ومعاني القرآن مثل الصور التي تتراءى في المرآة
Maka hati itu ibarat cermin, syahwat ibarat karat, dan makna-makna Al-Qur'an ibarat bayangan gambar yang tampak di dalam cermin.
والرياضة للقلب بإماطة الشهوات مثل تصقيل الجلاء للمرآة ولذلك قال ﷺ إذا عظمت أمتي الدينار والدرهم نزع منها هيبة الإسلام وإذا تركوا الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر حرموا بركة الوحي قال الفضيل يعني حرموا فهم القرآن
Olah jiwa (riyadhah) bagi hati dengan mengikis syahwat adalah ibarat menggosok dan mengilapkan cermin. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila umatku telah mengagungkan dinar dan dirham, niscaya dicabutlah dari mereka keagungan Islam. Dan apabila mereka meninggalkan amar makruf nahi munkar, niscaya mereka diharamkan dari keberkahan wahyu." Fudhayl (bin 'Iyadh) berkata: Maksudnya adalah mereka diharamkan dari memahami Al-Qur'an.
وقد شرط الله ﷿ الإنابة في الفهم والتذكير فقال تعالى ﴿تبصرة وذكرى لكل عبد منيب﴾ وقال ﷿ ﴿وما يتذكر إلا من ينيب﴾ وقال تعالى ﴿إنما يتذكر أولوا الألباب﴾ فالذي آثر غرور الدنيا على نعيم الآخرة
Allah ﷻ telah mensyaratkan inabah (kembali/bertaubat kepada Allah) untuk memperoleh pemahaman dan peringatan. Allah Ta'ala berfirman: "…untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (kepada-Nya)" (QS. Qaf: 8). Dan Allah ﷻ berfirman: "…dan tidak ada yang mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang kembali (kepada Allah)" (QS. Ghafir: 13). Allah Ta'ala juga berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran" (QS. Az-Zumar: 9). Maka orang yang lebih memilih tipu daya dunia daripada kenikmatan akhirat…
فليس من ذوي الألباب ولذلك لا تنكشف له أسرار الكتاب
…bukanlah termasuk orang-orang yang berakal (Ulul Albab), dan oleh karena itu tidak akan tersingkap baginya rahasia-rahasia Kitabullah.
رابعها أن يكون قد قرأ تفسيراً ظاهراً واعتقد أنه لا معنى لكلمات القرآن إلا ما تناوله النقل عن ابن عباس ومجاهد وغيرهما وأن ما وراء ذلك تفسير بالرأي وأن من فسر القرآن برأيه فقد تبوأ مقعده من النار فهذا أيضا من الحجب العظيمة
Keempat: Seseorang telah membaca tafsir lahiriah lalu meyakini bahwa tidak ada makna bagi kata-kata Al-Qur'an selain dari apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan selain keduanya; serta menganggap bahwa apa yang di luar itu adalah tafsir bil-ra'yi (tafsir dengan rasio belaka) dan bahwa barang siapa menafsirkan Al-Qur'an dengan pikirannya sendiri maka ia telah mengambil tempat duduknya di neraka. Ini juga termasuk dari hijab-hijab (penghalang) yang sangat besar.
وسنبين معنى التفسير بالرأي في الباب الرابع وأن ذلك لا يناقض قول علي ﵁ إلا أن يؤتى الله عبداً فهماً في القرآن وأنه لو كان المعنى هو الظاهر المنقول لما اختلفت الناس فيه
Dan kelak akan kami jelaskan makna tafsir bil ra'yi (tafsir berdasarkan penalaran pribadi) pada bab keempat, serta bahwasanya hal tersebut tidak bertentangan dengan perkataan 'Ali ra.: "Kecuali jika Allah mengaruniakan kepada seorang hamba pemahaman tentang Al-Qur'an." Dan bahwasanya seandainya maknanya hanyalah makna lahiriah yang diriwayatkan semata, niscaya manusia tidak akan berselisih padanya.
السَّابِعُ التَّخْصِيصُ وَهُوَ أَنْ يُقَدِّرَ أَنَّهُ الْمَقْصُودُ بِكُلِّ خِطَابٍ فِي الْقُرْآنِ فَإِنْ سَمِعَ أَمْرًا أَوْ نَهْيًا قَدَّرَ أَنَّهُ الْمَنْهِيُّ وَالْمَأْمُورُ وَإِنْ سمع وعداً أو وعيداً فكمثل ذلك وَإِنْ سَمِعَ قَصَصَ الْأَوَّلِينَ وَالْأَنْبِيَاءِ عَلِمَ أَنَّ السمر غير مقصود وإنما المقصود ليعتبر به وليأخذ من تضاعيفه ما يحتاج إِلَيْهِ فَمَا مِنْ قِصَّةٍ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا وَسِيَاقُهَا لِفَائِدَةٍ فِي حَقِّ النَّبِيِّ ﷺ وَأُمَّتِهِ وَلِذَلِكَ قَالَ تَعَالَى ﴿مَا نثبت به فؤادك﴾ فَلْيُقَدِّرِ الْعَبْدُ أَنَّ اللَّهَ ثَبَّتَ فُؤَادَهُ بِمَا يقصه عَلَيْهِ مِنْ أَحْوَالِ الْأَنْبِيَاءِ وَصَبْرِهِمْ عَلَى الْإِيذَاءِ وَثَبَاتِهِمْ فِي الدِّينِ لِانْتِظَارِ نَصْرِ اللَّهِ تَعَالَى
Yang ketujuh: Takhashshush (Mengkhususkan diri), yaitu hendaklah ia menganggap bahwa dirinyalah yang dimaksud dengan setiap khithab (seruan) di dalam Al-Qur'an. Jika ia mendengar perintah atau larangan, ia menganggap bahwa dirinyalah yang dilarang dan diperintah. Jika ia mendengar janji pahala (wa'd) atau ancaman siksa (wa'id), maka demikian pula halnya. Dan jika ia mendengar kisah-kisah orang-orang terdahulu dan para nabi, ia mengetahui bahwa kisah tersebut bukanlah sekadar dongengan, melainkan tujuannya adalah agar ia mengambil iktibar (pelajaran) darinya dan mengambil dari sela-selanya apa yang ia butuhkan. Maka tidak ada satu kisah pun di dalam Al-Qur'an melainkan alurnya mengandung manfaat bagi Nabi ﷺ dan umatnya. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman: "…yang dengannya Kami teguhkan hatimu" (QS. Hud: 120). Maka hendaklah seorang hamba menganggap bahwa Allah teguhkan hatinya dengan apa yang dikisahkan kepadanya berupa keadaan para nabi, kesabaran mereka atas gangguan, dan keteguhan mereka dalam beragama demi menantikan pertolongan Allah Ta'ala.
وَكَيْفَ لَا يُقَدِّرُ هَذَا وَالْقُرْآنُ مَا أُنْزِلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لِرَسُولِ اللَّهِ خَاصَّةً بَلْ هُوَ شِفَاءٌ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ وَنُورٌ لِلْعَالَمِينَ وَلِذَلِكَ أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى الْكَافَّةَ بِشُكْرِ نِعْمَةِ الْكِتَابِ فَقَالَ تَعَالَى ﴿وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الكتاب والحكمة يعظكم به﴾ وقال ﷿ لقد أنزلنا إليكم كتاباً فيه ذكركم أفلا تعقلون وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم كذلك يضرب الله للناس أمثالهم واتبعوا أحسن ما أنزل إليكم من ربكم هذا بصائر للناس وهدى ورحمة لقوم يوقنون هذا بيان للناس وهدى وموعظة للمتقين وَإِذَا قَصَدَ بِالْخِطَابِ جَمِيعَ النَّاسِ فَقَدْ قَصَدَ الآحاد فهذا القارىء الواحد مقصود فما له ولسائر الناس فليقدر أنه المقصود قال الله تعالى وأوحي إلي هذا القرآن لأنذركم به ومن بلغ قال محمد بن كعب القرظي مَنْ بَلَغَهُ الْقُرْآنُ فَكَأَنَّمَا كَلَّمَهُ اللَّهُ وَإِذَا قَدَّرَ ذَلِكَ لَمْ يَتَّخِذْ دِرَاسَةَ الْقُرْآنِ عَمَلَهُ بَلْ يَقْرَؤُهُ كَمَا يَقْرَأُ الْعَبْدُ كِتَابَ مَوْلَاهُ الَّذِي كَتَبَهُ إِلَيْهِ لِيَتَأَمَّلَهُ وَيَعْمَلَ بِمُقْتَضَاهُ وَلِذَلِكَ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ هَذَا الْقُرْآنُ رَسَائِلُ أَتَتْنَا مِنْ قِبَلِ رَبِّنَا ﷿ بِعُهُودِهِ نتدبرها في الصلوات ونقف عليها في الخلوات وننفذها في الطاعات والسنن المتبعات
Dan bagaimana mungkin ia tidak menganggap demikian, padahal Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah ﷺ tidak khusus untuk Rasulullah semata, melainkan ia adalah penawar (syifa'), petunjuk, rahmat, dan cahaya bagi semesta alam. Oleh karena itu, Allah Ta'ala memerintahkan seluruh manusia untuk mensyukuri nikmat Al-Kitab, maka Dia berfirman: "Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu dan apa yang telah diturunkan-Nya kepadamu yaitu Al-Kitab dan Hikmah untuk memberi pengajaran kepadamu dengannya" (QS. Al-Baqarah: 231). Dan Dia Azza wa Jalla berfirman: "Sungguh, telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat peringatan bagimu. Apakah kamu tidak mengerti?" (QS. Al-Anbiya': 10). Dan "Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka" (QS. An-Nahl: 44). "Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia" (QS. Ar-Ra'd: 17). "Dan ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu" (QS. Az-Zumar: 55). "Ini adalah bukti-bukti yang nyata bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini" (QS. Al-Jatsiyah: 20). "Ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa" (QS. Ali 'Imran: 138). Dan apabila khithab tersebut ditujukan kepada seluruh manusia, maka sungguh ditujukan pula kepada tiap-tiap individu. Maka pembaca yang satu ini adalah yang dimaksud, lalu apa urusannya dengan manusia yang lain? Hendaklah ia menganggap bahwa dirinyalah yang dimaksud. Allah Ta'ala berfirman: "Dan Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku agar dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai Al-Qur'an kepadanya" (QS. Al-An'am: 19). Muhammad bin Ka'b Al-Qurazhi berkata: "Barangsiapa yang Al-Qur'an telah sampai kepadanya, maka seolah-olah Allah telah berbicara dengannya." Apabila ia telah menganggap demikian, ia tidak akan menjadikan pendarasan Al-Qur'an sekadar rutinitas tugasnya, melainkan ia membacanya sebagaimana seorang hamba membaca surat dari tuannya yang ditulis kepadanya agar ia merenungkannya dan mengamalkan tuntutannya. Oleh karena itu, sebagian ulama berkata: "Al-Qur'an ini adalah surat-surat yang datang kepada kita dari sisi Tuhan kita Azza wa Jalla berisi janji-janji-Nya, yang kita renungkan dalam shalat, kita perhatikan dalam khalwat (kesendirian), dan kita laksanakan dalam ketaatan serta sunnah-sunnah yang diikuti."
وكان مالك بن دينار يقول ما زرع القرآن في قلوبكم يا أهل القرآن إن القرآن ربيع المؤمن كما أن الغيث ربيع الأرض
Malik bin Dinar pernah berkata: "Apa yang telah ditanam oleh Al-Qur'an di dalam hati kalian, wahai ahli Al-Qur'an? Sesungguhnya Al-Qur'an adalah musim semi (penyubur) bagi hati orang mukmin sebagaimana hujan adalah musim semi bagi bumi."
وقال قتادة لم يجالس أحد هذا القرآن إلا قام بزيادة أو نقصان قال تعالى هو شفاء ورحمة للمؤمنين ولا يزيد الظالمين إلا خساراً
Qatadah berkata: "Tidaklah seseorang duduk bermajelis bersama Al-Qur'an ini melainkan ia beranjak dengan bertambah (keimanannya) atau berkurang (kerugiannya)." Allah Ta'ala berfirman: "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian." (QS. Al-Isra': 82).
الثَّامِنُ التَّأَثُّرُ وَهُوَ أَنْ يَتَأَثَّرَ قَلْبُهُ بِآثَارٍ مُخْتَلِفَةٍ بِحَسَبِ اخْتِلَافِ الْآيَاتِ فَيَكُونُ لَهُ بِحَسَبِ كُلِّ فَهْمٍ حَالٌ وَوَجْدٌ يَتَّصِفُ بِهِ قَلْبُهُ مِنَ الْحُزْنِ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ وَغَيْرِهِ
Yang kedelapan: At-Ta'atstsur (Tergugah/Terpengaruh), yaitu hendaklah hatinya terpengaruh dengan berbagai pengaruh yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan ayat-ayat. Maka bagi setiap pemahaman, ia memiliki hal (kondisi spiritual) dan wajd (getaran jiwa) yang menjadi sifat bagi hatinya, berupa kesedihan, rasa takut (khauf), harapan (raja'), dan selainnya.
وَمَهْمَا تَمَّتْ مَعْرِفَتُهُ كَانَتِ الْخَشْيَةُ أَغْلَبَ الْأَحْوَالِ عَلَى قَلْبِهِ فَإِنَّ التَّضْيِيقَ غَالِبٌ عَلَى آيَاتِ الْقُرْآنِ فَلَا يرى ذِكْرَ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ إِلَّا مَقْرُونًا بِشُرُوطٍ يَقْصُرُ العارف عن نيلها كقوله ﷿ وإني لغفار ثُمَّ أَتْبَعَ ذَلِكَ بِأَرْبَعَةِ شُرُوطٍ لِمَنْ تَابَ وآمن وعمل صالحاً ثم اهتدى وَقَوْلِهِ تَعَالَى وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وتواصوا بالصبر ذَكَرَ أَرْبَعَةَ شُرُوطٍ وَحَيْثُ اقْتَصَرَ ذَكَرَ شَرْطًا جَامِعًا فَقَالَ تَعَالَى إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ من المحسنين فَالْإِحْسَانُ يَجْمَعُ الْكُلَّ وَهَكَذَا مَنْ يَتَصَفَّحُ الْقُرْآنَ مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى آخِرِهِ
Dan bilamana ma'rifatnya telah sempurna, niscaya rasa takut (khasyyah) menjadi kondisi yang paling dominan atas hatinya, karena pengetatan (persyaratan) lebih mendominasi ayat-ayat Al-Qur'an. Maka ia tidak melihat sebutan ampunan dan rahmat melainkan digandengkan dengan syarat-syarat yang dirasa berat untuk dicapai oleh seorang 'arif (orang yang berma'rifat). Seperti firman-Nya Azza wa Jalla: "Dan sungguh, Aku Maha Pengampun…" kemudian Dia menyertainya dengan empat syarat: "…bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap berjalan di jalan yang benar" (QS. Thaha: 82). Dan firman Ta'ala: "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran" (QS. Al-'Ashr: 1-3), Dia menyebutkan empat syarat. Dan ketika Dia membatasi, Dia menyebutkan syarat yang mencakup, sebagaimana firman-Nya Ta'ala: "Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik" (QS. Al-A'raf: 56). Maka ihsan (berbuat baik) mencakup semuanya. Demikianlah bagi siapa saja yang mencermati Al-Qur'an dari awal hingga akhirnya.
وَمَنْ فَهِمَ ذَلِكَ فجدير بأن يكون حاله الخشية والحزن ولذلك قال الحسن والله ما أصبح اليوم عبد يتلو القرآن يؤمن به إلا كثر حزنه وقل فرحه وكثر بكاؤه وقل ضحكه وكثر نصبه وشغله وقلت راحته وبطالته
Barangsiapa yang memahami hal tersebut, maka sudah sepantasnya keadaannya adalah khasyyah (rasa takut) dan kesedihan. Oleh karena itulah Al-Hasan berkata: "Demi Allah, tidaklah pada hari ini seorang hamba yang membaca Al-Qur'an dan beriman dengannya melainkan bertambah besar kesedihannya dan berkurang kesenangannya, bertambah banyak tangisnya dan berkurang tawanya, bertambah banyak kepayahan dan kesibukannya, serta berkurang kenyamanan dan penganggurannya."
وقال وهيب بن الورد نظرنا في هذه الأحاديث والمواعظ فلم نجد شيئاً أرق للقلوب ولا أشد استجلاباً للحزن من قراءة القرآن وتفهمه وتدبره
Wuhaib bin Al-Ward berkata: "Kami telah memperhatikan hadis-hadis dan nasihat-nasihat ini, maka kami tidak menemukan sesuatu yang lebih melembutkan hati dan lebih kuat mendatangkan kesedihan daripada membaca Al-Qur'an, memahaminya, dan mentadabburinya."
فتأثر العبد بالتلاوة أن يصير بصفة الآية المتلوة فعند الوعيد وتقييد المغفرة بالشروط يتضاءل من خيفته كأنه يكاد يموت وعند التوسع ووعد المغفرة يستبشر كأنه يطير من
Maka tergugahnya hamba dengan tilawah adalah ia menjadi bersifat sesuai sifat ayat yang dibaca. Ketika membaca ayat ancaman (wa'id) dan pengikatan ampunan dengan syarat-syarat, ia mengecil karena rasa takutnya seakan-akan hampir mati. Dan ketika membaca ayat kelapangan dan janji ampunan, ia bergembira seakan-akan terbang karena…
الفرح وعند ذكر الله وصفاته وأسمائه يتطأطأ خضوعاً لجلاله واستشعاراً لعظمته وعند ذكر الكفار ما يستحيل على الله ﷿ كذكرهم لله ﷿ ولداً وصاحبة يغض صوته ويكسر في باطنه حياء قبح مقالتهم وعند وصف الجنة ينبعث بباطنه شوقاً إليها وعند وصف النار ترتعد فرائصه خوفاً منها وَلَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لابن مسعود اقرأ علي قال فافتتحت سورة النساء فلما بلغت ﴿فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد وجئنا بك على هؤلاء شهيداً﴾ رأيت عينيه تذرفان بالدمع فقال لي حسبك الآن وهذا لأن مشاهدة تلك الحالة استغرقت قلبه بالكلية
…kegembiraan. Dan ketika menyebut nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan nama-nama-Nya, ia merendahkan diri tunduk patuh pada keagungan-Nya dan merasakan kebesaran-Nya. Ketika menyebutkan perkataan orang-orang kafir tentang hal yang mustahil bagi Allah Azza wa Jalla—seperti persangkaan mereka bahwa Allah mempunyai anak dan istri—ia merendahkan suaranya dan hatinya hancur karena malu atas buruknya perkataan mereka. Ketika menggambarkan surga, hatinya membuncah dengan kerinduan kepadanya. Dan ketika menggambarkan neraka, persendiannya gemetar karena takut padanya. Ketika Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ibn Mas'ud: "Bacakanlah Al-Qur'an kepadaku," ia berkata: "Maka aku membuka surah An-Nisaa'. Ketika aku sampai pada ayat: 'Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu' (QS. An-Nisaa': 41), aku melihat kedua mata beliau bercucuran air mata. Beliau bersabda kepadaku: 'Cukup bagimu sekarang'." Hal ini karena menyaksikan keadaan tersebut telah menyerap seluruh hatinya secara penuh.
ولقد كان في الخائفين من خر مغشياً عليه عند آيات الوعيد
Sungguh, di antara orang-orang yang takut (al-kha'ifin) ada orang yang jatuh pingsan ketika mendengar ayat-ayat ancaman (wa'id).
ومنهم من مات في سماع الآيات فمثل هذه الأحوال يخرجه عن أن يكون حاكياً في كلامه فإذا قال إني أخاف إن عصيت ربي عذاب يوم عظيم ولم يكن خائفاً كان حاكياً
Dan di antara mereka ada yang meninggal dunia saat mendengarkan ayat-ayat tersebut. Maka keadaan-keadaan seperti ini mengeluarkannya dari sekadar menjadi pencerita dalam perkataannya. Sebab apabila ia membaca: "Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar jika aku mendurhakai Tuhanku" (QS. Al-An'am: 15), sedangkan ia tidak merasa takut, maka ia hanyalah sekadar pencerita (peniru kata-kata).
وإذا قال عليك توكلنا وإليك أنبنا وإليك المصير ولم يكن حاله التوكل والإنابة كان حاكياً
Dan apabila ia membaca: "Hanya kepada Engkaulah kami bertawakal, dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat, dan hanya kepada Engkaulah tempat kembali" (QS. Al-Mumtahanah: 4), sedangkan keadaannya bukanlah tawakal dan inabah (kembali kepada Allah), maka ia hanyalah sekadar pencerita.
وإذا قال ولنصبرن على ما آذيتمونا فليكن حاله الصبر أو العزيمة عليه حتى يجد حلاوة التلاوة
Dan apabila ia membaca: "Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami" (QS. Ibrahim: 12), maka hendaklah keadaannya adalah bersabar atau bertekad bulat untuk sabar, hingga ia merasakan manisnya tilawah.
فإن لم يكن بهذه الصفات ولم يتردد قلبه بين هذه الحالات كَانَ حَظُّهُ مِنَ التِّلَاوَةِ حَرَكَةَ اللِّسَانِ مَعَ صَرِيحِ اللَّعْنِ عَلَى نَفْسِهِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى إلا لعنة الله على الظالمين وَفِي قَوْلِهِ تَعَالَى كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أن تقولوا ما لا تفعلون وفي قوله ﷿ وهم في غفلة معرضون وفي قوله فأعرض عمن تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدنيا وَفِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هم الظالمون إلى غير ذلك من الآيات وكان داخلاً في معنى قوله ﷿ ومنهم أميون لا يعلمون الكتاب إلا أماني يعني التلاوة المجردة وقوله ﷿ وكأين من آية في السموات والأرض يمرون عليها وهم عنها معرضون لأن القرآن هو المبين لتلك الآيات في السموات والأرض ومهما تجاوزها ولم يتأثر بها كان معرضاً عنها ولذلك قيل إن من لم يكن متصفاً بأخلاق القرآن فإذا قرأ القرآن ناداه الله تعالى مالك ولكلامي وأنت معرض عني دع عنك كلامي إن لم تتب إلي
Jika ia tidak memiliki sifat-sifat ini dan hatinya tidak berganti-ganti di antara keadaan-keadaan ini, maka bagiannya dari tilawah hanyalah gerakan lidah disertai laknat yang nyata atas dirinya sendiri dalam firman-Nya Ta'ala: "Ingatlah, laknat Allah ditimpakan atas orang-orang yang zhalim" (QS. Hud: 18), dan dalam firman-Nya Ta'ala: "Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan" (QS. Ash-Shaff: 3), dan dalam firman-Nya Azza wa Jalla: "Sedang mereka dalam keadaan lalai lagi berpaling" (QS. Al-Anbiya': 1), dan dalam firman-Nya: "Maka berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak menginginkan melainkan kehidupan dunia" (QS. An-Najm: 29), serta dalam firman-Nya Ta'ala: "Dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim" (QS. Al-Hujurat: 11), hingga ayat-ayat lainnya. Dan ia termasuk ke dalam makna firman-Nya Azza wa Jalla: "Dan di antara mereka ada yang ummi (buta huruf), tidak mengetahui Al-Kitab melainkan hanya khayalan/angan-angan semata" (QS. Al-Baqarah: 78)—maksudnya sekadar tilawah murni—dan firman-Nya Azza wa Jalla: "Dan betapa banyaknya tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya" (QS. Yusuf: 105), karena Al-Qur'an adalah yang menerangkan tanda-tanda di langit dan di bumi tersebut. Dan bilamana ia melewatinya dan tidak terpengaruh olehnya, maka ia telah berpaling darinya. Oleh karena itu dikatakan: Sesungguhnya barangsiapa yang tidak berakhlak dengan akhlak Al-Qur'an, lalu ia membaca Al-Qur'an, niscaya Allah Ta'ala menyerunya: "Ada apa denganmu dan firman-Ku, sedangkan engkau berpaling dari-Ku? Tinggalkanlah firman-Ku jika engkau tidak bertobat kepada-Ku!"
ومثال العاصي إذا قرأ القرآن وكرره مثال من يكرر كتاب الملك في كل يوم مرات وقد كتب إليه في عمارة مملكته وهو مشغول بتخريبها ومقتصر على دراسة كتابه فلعله لو ترك الدراسة عند المخالفة لكان أبعد عن الاستهزاء واستحقاق المقت
Perumpamaan orang yang bermaksiat ketika membaca Al-Qur'an dan mengulangnya adalah seperti orang yang mengulang-ulang surat dari raja setiap hari beberapa kali, padahal raja telah bersurat kepadanya untuk memakmurkan kerajaannya, sedangkan ia sibuk merusaknya dan hanya membatasi diri pada mempelajari surat tersebut. Maka boleh jadi seandainya ia meninggalkan pendarasan tersebut tatkala ia menentang, tentulah ia lebih jauh dari sikap memperolok-olok dan lebih terhindar dari kemurkaan.
ولذلك قال يوسف بن أسباط إني لأهم بقراءة القرآن فإذا ذكرت ما فيه خشيت المقت فاعدل إلى التسبيح والاستغفار
Oleh karena itu, Yusuf bin Asbath berkata: "Sesungguhnya aku berniat untuk membaca Al-Qur'an, tetapi ketika aku mengingat apa yang ada di dalamnya, aku takut akan kemurkaan (Allah), maka aku pun beralih kepada tasbih dan istighfar."
والمعرض عن العمل به أريد بقوله ﷿ فنبذوه وراء ظهورهم واشتروا به ثمناً قليلاً فبئس ما يشترون وَلِذَلِكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ اقرءوا القرآن ما ائتلفت عليه قلوبكم ولانت له جلودكم فإذا اختلفتم فلستم تقرءونه وفي بعضها فإذا اختلفتم فقوموا عنه قال الله تعالى الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يتوكلون وقال ﷺ إن أحسن الناس صوتاً بالقرآن الذي إذا سمعته يقرأ رأيت أنه يخشى اللَّهُ تَعَالَى وَقَالَ ﷺ لا يسمع القرآن من أحد أشهى ممن يخشى الله ﷿ يراد لاستجلاب هذه الأحوال إلى القلب والعمل به وإلا فالمؤنة في تحريك اللسان بحروفه خفيفة ولذلك قال بعض القراء قرأت القرآن على شيخ لي ثم رجعت لأقرأ ثانياً فانتهرني وقال جعلت القرآن علي عملاً اذهب فاقرأ على الله ﷿ فانظر بماذا يأمرك وبماذا ينهاك
Dan orang yang berpaling dari mengamalkannya adalah yang dimaksud dengan firman-Nya Azza wa Jalla: "Lalu mereka melemparkan Al-Kitab itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amat buruklah apa yang mereka beli itu." (QS. Ali 'Imran: 187). Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda: "Bacalah Al-Qur'an selama hati kalian bersatu padanya dan kulit kalian menjadi lembut karenanya. Apabila kalian berselisih, maka kalian tidak sedang membacanya." Dan dalam sebagian riwayat: "Apabila kalian berselisih, maka bangkitlah darinya." Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal." (QS. Al-Anfal: 2). Dan beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling merdu suaranya dengan Al-Qur'an adalah orang yang apabila engkau mendengarnya membaca, engkau melihat bahwa ia takut kepada Allah Ta'ala." Dan beliau ﷺ bersabda: "Tidaklah Al-Qur'an didengar dari seseorang yang lebih indah daripada orang yang takut kepada Allah Azza wa Jalla." Hal itu dimaksudkan untuk menghadirkan keadaan-keadaan ini ke dalam hati dan mengamalkannya. Jika tidak, maka beban untuk menggerakkan lidah dengan huruf-hurufnya adalah ringan. Oleh karena itu, sebagian ahli qira'ah berkata: "Aku membacakan Al-Qur'an di hadapan guruku, kemudian aku kembali untuk membaca yang kedua kalinya, maka ia membentakku dan berkata: 'Engkau menjadikan Al-Qur'an sebagai tugas atas diriku! Pergilah dan bacalah di hadapan Allah Azza wa Jalla, lalu perhatikan apa yang Dia perintahkan kepadamu dan apa yang Dia larang darimu!'"
وبهذا كان شغل
Dan dengan inilah kesibukan…
الصحابة ﵃ في الأحوال والأعمال فمات رسول الله ﷺ عن عشرين ألفاً من الصحابة لم يحفظ القرآن منهم إلا ستة اختلف في اثنين منهم
Para sahabat ﵃ dalam ihwal (kondisi spiritual) dan amal perbuatan sungguh luar biasa. Rasulullah ﷺ wafat meninggalkan dua puluh ribu sahabat, dan tidak ada yang menghafal seluruh Al-Qur'an di antara mereka kecuali enam orang, yang dua di antaranya masih diperselisihkan.
وكان أكثرهم يحفظ السورة والسورتين وكان الذي يحفظ البقرة والأنعام من علمائهم ولما جاء واحد ليتعلم القرآن فانتهى إلى قوله ﷿ ﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يعمل مثقال ذرة شراً يره﴾ قال يكفي هذا وانصرف فقال ﷺ انصرف الرجل وهو فقيه وإنما العزيز مثل تلك الحالة التي من الله ﷿ بها على قلب المؤمن عقيب فهم الآية
Sebagian besar dari mereka hanya menghafal satu atau dua surah. Orang yang menghafal surah Al-Baqarah dan Al-An'am termasuk di antara ulama mereka. Ketika seseorang datang untuk mempelajari Al-Qur'an lalu pengajarannya sampai pada firman Allah ﷿: "Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya," orang itu berkata, "Ini sudah cukup," lalu ia berpaling (pulang). Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Pria itu pulang dalam keadaan telah menjadi seorang yang faqih (paham agama)." Sungguh, yang sangat mulia dan langka adalah kondisi spiritual seperti itu, yang Allah ﷿ karuniakan ke dalam hati seorang mukmin seketika setelah memahami ayat tersebut.
فأما مجرد حركة اللسان فقليل الجدوى بل التالي باللسان المعرض عن العمل جدير بأن يكون هو المراد بقوله تعالى ﴿ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكاً ونحشره يوم القيامة أعمى﴾ وبقوله ﷿ ﴿كذلك أتتك آياتنا فنسيتها وكذلك اليوم تنسى﴾ أي تركتها ولم تنظر إليها ولم تعبأ بها فإن المقصر في الأمر يقال إنه نسي الأمر وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ حَقَّ تِلَاوَتِهِ هُوَ أَنْ يَشْتَرِكَ فِيهِ اللِّسَانُ وَالْعَقْلُ وَالْقَلْبُ فَحَظُّ اللِّسَانِ تَصْحِيحُ الْحُرُوفِ بِالتَّرْتِيلِ وَحَظُّ الْعَقْلِ تَفْسِيرُ الْمَعَانِي وَحَظُّ الْقَلْبِ الِاتِّعَاظُ وَالتَّأَثُّرُ بِالِانْزِجَارِ وَالِائْتِمَارِ
Adapun sekadar gerakan lisan, maka sangat sedikit manfaatnya. Bahkan pembaca Al-Qur'an dengan lisan namun berpaling dari pengamalannya, layak menjadi orang yang dimaksud dalam firman Allah Ta'ala: "Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta," serta firman-Nya ﷿: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya, dan demikian (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan." Maksudnya, engkau meninggalkannya, tidak memperhatikannya, dan tidak mempedulikannya, karena orang yang lalai terhadap suatu perintah dikatakan telah melupakan perintah tersebut. Adapun pembacaan Al-Qur'an dengan sebenar-benarnya bacaan (haqqa tilawatih) adalah ketika lisan, akal, dan hati saling berserikat di dalamnya. Bagian lisan adalah membenarkan pelafalan huruf-huruf dengan tartil, bagian akal adalah menafsirkan makna-maknanya, sedangkan bagian hati adalah mengambil iktibar (pelajaran) serta terpengaruh oleh larangan dan perintahnya.
فَاللِّسَانُ يُرَتِّلُ والعقل يترجم والقلب يتعظ
Maka lisan bertugas menertilkan (melafalkan secara teratur), akal menerjemahkan (memahami makna), dan hati mengambil iktibar (pelajaran).
التاسع الترقي وأعني به أن يترقى إلى أن يسمع الكلام من الله ﷿ لا من نفسه فدرجات القراءة ثلاث أدناها ان يقدر العبد كأنه يقرؤه على الله ﷿ واقفاً بين يديه وهو ناظر إليه ومستمع منه فيكون حاله عند هذا التقدير السؤال والتملق والتضرع والابتهال
Kesembilan: Taraqqi (naik tingkat spiritual), yang aku maksud adalah seseorang naik tingkat hingga seolah-olah mendengarkan Kalam itu langsung dari Allah ﷿, bukan dari dirinya sendiri. Tingkatan membaca Al-Qur'an ada tiga: tingkatan paling rendah adalah hamba mengandaikan seolah-olah ia membacakannya di hadapan Allah ﷿ seraya berdiri di hadapan-Nya, sementara Allah memandangnya dan mendengarkannya. Maka kondisinya pada tingkatan ini adalah memohon, merendahkan diri, bertadharru' (berdoa dengan khusyuk), dan beribtihal (berpasrah penuh).
الثانية أن يشهد بقلبه كان الله ﷿ يراه ويخاطبه بألطافه ويناجيه بإنعامه وإحسانه فمقامه الحياء والتعظيم والإصغاء والفهم
Tingkatan kedua: Hatinya menyaksikan seakan-akan Allah ﷿ melihatnya, menyapa dirinya dengan kelembutan-Nya, dan bermunajat kepadanya dengan nikmat dan kebaikan-Nya. Maka maqam (kedudukan spiritual)-nya adalah rasa malu (haya'), pengagungan (ta'zhim), mendengarkan secara saksama (ishgha'), dan pemahaman (fahm).
الثالثة أن يرى في الكلام المتكلم وفي الكلمات الصفات فلا ينظر إلى نفسه ولا إلى قراءته ولا إلى تعلق الإنعام به من حيث إنه منعم عليه بل يكون مقصور الهم على المتكلم موقوف الفكر عليه كأنه مستغرق بمشاهدة المتكلم عن غيره
Tingkatan ketiga: Ia melihat Sang Pembicara (Al-Mutakallim) di dalam Kalam-Nya, dan melihat sifat-sifat-Nya di dalam kata-kata-Nya. Ia tidak lagi memandang dirinya, tidak memandang bacaannya, dan tidak pula memandang keterkaitan nikmat pada dirinya dari sisi bahwa ia adalah penerima nikmat. Sebaliknya, tekad hatinya tertuju penuh hanya kepada Sang Pembicara, dan pikirannya tercurah sepenuhnya kepada-Nya, seolah-olah ia karam dalam bermusyahadah menyaksikan Sang Pembicara hingga terlepas dari selain-Nya.
وهذه درجة المقربين وما قبله درجة أصحاب اليمين وما خرج عن هذا فهو درجات الغافلين
Ini adalah derajat Al-Muqarrabun (orang-orang yang didekatkan kepada Allah), sedangkan derajat sebelumnya adalah derajat Ashhabul Yamin (golongan kanan), dan apa yang di luar hal ini termasuk dalam derajat orang-orang yang lalai (al-ghafilin).
وعن الدرجة العليا أخبر جعفر بن محمد الصادق ﵁ قال والله لقد تجلى الله ﷿ لخلقه في كلامه ولكنهم لا يبصرون وقال أيضاً وقد سألوه عن حالة لحقته في الصلاة حتى خر مغشياً عليه فلما سري عنه قيل له في ذلك فقال ما زلت أردد الآية على قلبي حتى سمعتها من المتكلم
Mengenai derajat yang paling tinggi ini, Ja'far bin Muhammad Ash-Shadiq ﵁ mengabarkan, ia berkata, "Demi Allah, sungguh Allah ﷿ telah bertajalli (menampakkan keagungan-Nya) kepada makhluk-Nya melalui Kalam-Nya, namun mereka tidak melihat-Nya." Beliau juga pernah ditanya mengenai suatu kondisi spiritual yang dialaminya dalam shalat hingga beliau pingsan tersungkur. Ketika kesadarannya kembali, hal itu ditanyakan kepadanya, maka beliau menjawab, "Aku terus-menerus mengulang-ulang ayat itu di dalam hatiku hingga aku mendengarnya langsung dari Sang Pembicara yang mengucapkannya…
بها فلم يثبت جسمي لمعاينة قدرته ففي مثل هذه الدرجة تعظم الحلاوة ولذة المناجاة ولذلك قال بعض الحكماء كنت أقرأ القرآن فلا أجد له حلاوة حتى تلوته كأني أسمعه من رسول الله ﷺ يتلوه على أصحابه ثم رفعت إلى مقام فوقه كنت أتلوه كأني أسمعه من جبريل ﵇ يلقيه عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ثم جاء الله بمنزلة أخرى فأنا الآن أسمعه من المتكلم به فعندها وجدت له لذة ونعيماً لا أصبر عنه
…sehingga tubuhku tidak sanggup menahan penyaksian terhadap kekuasaan-Nya." Maka pada derajat seperti inilah kelezatan dan kemanisan munajat menjadi sangat agung. Oleh karena itu, sebagian hukama (orang arif) berkata, "Dahulu aku membaca Al-Qur'an namun tidak merasakan kemanisannya, sampai aku membacanya seolah-olah aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ yang membacakannya kepada para sahabatnya. Kemudian aku diangkat ke maqam di atasnya, yaitu aku membacanya seolah-olah mendengarnya dari Malaikat Jibril ﵇ yang menyampaikannya kepada Rasulullah ﷺ. Lalu Allah mendatangkan kedudukan lain: sekarang aku mendengarnya langsung dari Sang Pembicara Al-Qur'an. Saat itulah aku mendapati kelezatan dan kenikmatan yang aku tidak bisa berpaling darinya."
وقال عثمان وحذيفة ﵄ لو طهرت القلوب لم تشبع من قراءة القرآن وإنما قالوا ذلك لأنها بالطهارة تترقى إلى مشاهدة المتكلم في الكلام ولذلك قال ثابت البناني كابدت القرآن عشرين سنة وتنعمت به عشرين سنة وبمشاهدة المتكلم دون ما سواه يكون العبد ممتثلاً لقوله ﷿ ففروا إلى الله ولقوله ولا تجعلوا مع الله إلهاً آخر فمن لم يره في كل شيء فقد رأى غيره وكل ما التفت إليه العبد سوى الله تعالى تضمن التفاته شيئاً من الشرك الخفي بل التوحيد الخالص أن لا يرى في كل شيء إلا الله ﷿
Utsman dan Hudzaifah ﵄ berkata, "Seandainya hati itu suci, niscaya ia tidak akan pernah kenyang (puas) dari membaca Al-Qur'an." Mereka mengatakan demikian karena dengan kesucian, hati naik tingkat menuju musyahadah (penyaksian) kepada Sang Pembicara di dalam Kalam-Nya. Oleh sebab itulah Tsabit Al-Bunani berkata, "Aku bersusah payah menghayati Al-Qur'an selama dua puluh tahun, lalu aku menikmati kenikmatannya selama dua puluh tahun." Dengan musyahadah kepada Sang Pembicara semata tanpa selain-Nya, seorang hamba telah mengamalkan firman Allah ﷿: "Maka berlarilah kamu kepada Allah," dan firman-Nya: "Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain beserta Allah." Barang siapa tidak melihat-Nya dalam segala sesuatu, maka sungguh ia telah melihat selain-Nya. Setiap kali hamba berpaling kepada selain Allah Ta'ala, keberpalingannya itu mengandung unsur syirik khafi (syirik tersembunyi). Sebaliknya, tauhid yang murni (at-tauhid al-khalis) adalah tidak melihat sesuatu apa pun melainkan hanya Allah ﷿.
العاشر التبري وأعني به أن يتبرأ من حوله وقوته والالتفات إلى نفسه بين الرضا والتزكية فإذا تلا بآيات الوعد والمدح للصالحين فلا يشهد نفسه عند ذلك بل يشهد الموقنين والصديقين فيها ويتشوف إلى أن يلحقه الله ﷿ بهم وإذا تلا آيات المقت وذم العصاة والمقصرين شهد على نفسه هناك وقدر أنه المخاطب خوفا وإشفاقا ولذلك كان ابن عمر ﵄ يقول اللهم إني أستغفرك لظلمي وكفري فقيل له هذا الظلم فما بال الكفر فتلا قوله ﷿ إن الإنسان لظلوم كفار وقيل ليوسف ابن أسباط إذا قرأت القرآن بماذا تدعو فقال بماذا أدعو أستغفر الله ﷿ من تقصيري سبعين مرة فإذا رأى نفسه بصورة التقصير في القراءة كان رؤيته سبب قربه فإن من شهد البعد في القرب لطف به في الخوف حتى يسوقه الخوف إلى درجة أخرى في القرب وراءها ومن شهد القرب في البعد مكربه بالأمن الذي يفضيه إلى درجة أخرى في البعد أسفل مما هو فيه ومهما كان مشاهداً نفسه بعين الرضا صار محجوباً بنفسه فإذا جاوز حد الالتفات إلى نفسه ولم يشاهد إلا الله تعالى في قراءته كشف له سر الملكوت
Kesepuluh: At-Tabarri (berlepas diri), yang aku maksud adalah berlepas diri dari daya dan upayanya sendiri serta tidak memandang dirinya dengan rasa puas (ridha) maupun penyucian diri (tazkiyah). Ketika membaca ayat-ayat janji pahala dan pujian bagi orang-orang saleh, ia tidak menyaksikan dirinya berada di sana, melainkan menyaksikan orang-orang yang yakin (al-muqinin) dan para shiddiqin, seraya merindukan agar Allah ﷿ mempertemukan dan menggabungkannya dengan mereka. Sebaliknya, ketika membaca ayat-ayat kemurkaan serta celaan bagi pelaku maksiat dan orang-orang yang lalai, ia menyaksikan dirinya sendiri di sana dan mengandaikan dialah yang sedang disapa karena rasa takut (khauf) dan kecemasan spiritual (ishfaq). Oleh sebab itu, Ibn Umar ﵄ biasa berdoa, "Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu atas kedzalimanku dan kekufuranku." Lalu ditanyakan kepadanya, "Ini mengenai kedzaliman, lantas bagaimana dengan kekufuran?" Maka beliau membaca firman-Nya ﷿: "Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." Dan ditanyakan kepada Yusuf bin Asbath, "Apabila engkau membaca Al-Qur'an, dengan doa apa engkau berdoa?" Ia menjawab, "Dengan doa apa lagi aku berdoa? Aku memohon ampun kepada Allah ﷿ dari kelalaianku sebanyak tujuh puluh kali." Maka ketika seseorang melihat dirinya dalam keadaan lalai saat membaca Al-Qur'an, penglihatannya itu menjadi sebab kedekatannya (qurb). Sebab barang siapa yang menyaksikan kejauhan (ba'd) di dalam kedekatan (qurb), ia diringankan melalui rasa takut sehingga rasa takut itu membimbingnya ke derajat kedekatan lain di atasnya. Dan barang siapa yang menyaksikan kedekatan di dalam kejauhan, ia diperdaya (makr) dengan rasa aman yang membawanya ke derajat kejauhan lain yang lebih rendah dari keadaannya sekarang. Selama seseorang memandang dirinya dengan pandangan puas (ridha), ia menjadi terhijab oleh dirinya sendiri. Namun apabila ia telah melampaui batas berpaling kepada dirinya dan tidak menyaksikan kecuali Allah Ta'ala dalam pembacaannya, niscaya akan disingkapkan baginya rahasia alam Malakut.
قَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ ﵁ وعد ابن ثوبان أخاً له أن يفطر عنده فأبطأ عليه حتى طلع الفجر فلقيه أخوه من الغد فقال له وعدتني أنك تفطر عندي فأخلفت فقال لولا ميعادي معك ما أخبرتك الذي حبسني عنك إني لما صليت العتمة قلت أوتر قبل أن أجيئك لأني لا آمن ما يحدث من الموت فلما كنت في الدعاء من الوتر رفعت إلى روضة خضراء فيها أنواع الزهر من الجنة فما زلت أنظر إليها حتى أصبحت
Abu Sulaiman Ad-Darani ﵁ berkata: Ibnu Tsuwban berjanji kepada saudaranya untuk berbuka puasa di rumahnya, namun ia terlambat hingga terbit fajar. Keesokan harinya, saudaranya menemuinya dan berkata, "Engkau telah berjanji padaku untuk berbuka di rumahku, namun engkau menyalahinya." Ibnu Tsuwban menjawab, "Seandainya bukan karena janjiku padamu, niscaya aku tidak akan memberitahumu apa yang menahanku darimu. Ketika aku selesai shalat Isya, aku berkata dalam hati: Aku akan shalat Witir dahulu sebelum mendatangi rumahmu, karena aku tidak merasa aman dari datangnya kematian. Ketika aku sedang berdoa dalam shalat Witir, aku diangkat ke taman hijau dari Surga yang di dalamnya terdapat bermacam-macam bunga, dan aku terus-menerus memandangnya hingga masuk waktu subuh."
وهذه المكاشفات لا تكون إلا بعد التبري عن النفس وعدم الالتفات إليها وإلى هواها ثم تخصص هذه المكاشفات بحسب أحوال المكاشف فحيث يتلو آيات الرجاء ويغلب على حاله الاستبشار تنكشف له صورة الجنة فيشاهدها كأنه يراها عياناً وإن غلب عليه الخوف كوشف بالنار حتى يرى أنواع عذابها وذلك لأن كلام الله ﷿ يشتمل على السهل اللطيف والشديد العسوف والمرجو والمخوف وذلك بحسب أوصافه إذ منها الرحمة واللطف والانتقام والبطش فبحسب مشاهدة الكلمات والصفات يتقلب في اختلاف الحالات وبحسب كل حالة منها يستعد للمكاشفة بأمر يناسب تلك الحالة ويقاربها إذ يستحيل أن يكون حالة المستمع واحداً والمسموع مختلفاً إذ فيه كلام راض وكلام غضبان وكلام منعم وكلام منتقم وكلام جبار متكبر لا يبالي وكلام حنان متعطف لا يهمل
Mukasyafah-mukasyafah (penyingkapan rahasia gaib) seperti ini tidak akan terjadi kecuali setelah seseorang berlepas diri dari nafsu (at-tabarri 'anin nafs) dan tidak berpaling kepadanya serta kepada hawa nafsunya. Kemudian, mukasyafah ini menjadi khusus sesuai dengan kondisi spiritual (ahwal) orang yang mendapat mukasyafah tersebut. Ketika ia membaca ayat-ayat harapan (raja') dan kondisi keceriaan spiritual (istibsyar) menguasai dirinya, maka tersingkaplah baginya gambaran Surga sehingga ia menyaksikannya seolah-olah melihatnya secara kasatmata. Jika rasa takut (khauf) menguasai dirinya, disingkapkan baginya Neraka hingga ia melihat berbagai macam azabnya. Hal itu karena Kalam Allah ﷿ mencakup hal yang mudah lagi lembut, yang keras lagi tegas, yang diharapkan maupun yang ditakuti. Hal demikian sesuai dengan sifat-sifat-Nya, di antaranya adalah rahmat, kelembutan, pembalasan, dan siksaan yang dahsyat. Berdasarkan musyahadah terhadap kata-kata dan sifat-sifat tersebut, seseorang berganti-ganti dalam berbagai kondisi spiritual. Dan berdasarkan setiap kondisi itu, ia bersiap untuk menerima mukasyafah dengan perkara yang sesuai dan dekat dengan kondisi tersebut. Sebab, sungguh mustahil kondisi pendengar tetap satu sedangkan apa yang didengarnya berbeda-beda; karena di dalamnya terdapat firman dari Yang Ridha, firman dari Yang Murka, firman dari Yang Memberi Nikmat, firman dari Yang Membalas, firman dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Megah yang tidak memedulikan sanggahan, dan firman dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang tidak pernah mengabaikan hamba-Nya.