كتاب آداب تلاوة القرآن

الباب الرابع في فهم القرآن وتفسيره بالرأي من غير نقل

الباب الرابع في فهم القرآن وتفسيره بالرأي من غير نقل

Beranda كتاب إحياء علوم الدين ربع العبادات كتاب آداب تلاوة القرآن الباب الرابع في فهم القرآن وتفسيره بالرأي من غير نقل

الباب الرابع في فهم القرآن وتفسيره بالرأي من غير نقل

Bab Keempat: Tentang Memahami Al-Qur'an dan Menafsirkannya dengan Rasio (Ra'yu) Tanpa Adanya Riwayat (Naql)

لعلك تقول عظمت الأمر فيما سبق في فهم أسرار القرآن وما ينكشف لأرباب القلوب الزكية من معانيه

Mungkin engkau akan berkata: "Engkau telah mengagungkan perkara ini pada uraian sebelumnya mengenai pemahaman rahasia-rahasia Al-Qur'an dan apa yang tersingkap bagi pemilik hati yang suci dari makna-maknanya."

فكيف يستحب ذلك وَقَدْ قَالَ ﷺ مَنْ فسر القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار وعن هذا شنع أهل العلم بظاهر التفسير على أهل التصوف من المقصرين المنسوبين إلى التصوف في تأويل كلمات في القرآن على خلاف ما نقل عن ابن عباس وسائر المفسرين وذهبوا إلى أنه كفر فإن صح ما قاله أهل التفسير فما معنى فهم القرآن سوى حفظ تفسيره وإن لم يصح ذلك فما معنى قوله ﷺ من فسر القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار فاعلم أن من زعم أن لا معنى للقرآن إلا ما ترجمه ظاهر التفسير فهو مخبر عن حد نفسه وهو مصيب في الإخبار عن نفسه ولكنه مخطئ في الحكم برد الخلق كافة إلى درجته التي هي حده ومحطه بل الأخبار والآثار تدل على أن في معاني القرآن متسعاً لأرباب الفهم قال علي ﵁ إلا أن يؤتى الله عبداً فهماً في القرآن فإن لم يكن سوى الترجمة المنقولة فما ذلك الفهم وقال ﷺ إن للقرآن ظهراً وبطناً وحداً ومطلعاً ويروى أيضاً عن ابن مسعود موقوفاً عليه وهو من علماء التفسير فما معنى الظهر والبطن والحد والمطلع وقال علي كرم الله وجهه لو شئت لأوقرت سبعين بعيراً من تفسير فاتحة الكتاب فما معناه وتفسير ظاهرها في غاية الاقتصار وقال أبو الدرداء لا يفقه الرجل حتى يجعل للقرآن وجوهاً

Lalu bagaimana hal tersebut bisa dianjurkan, padahal Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Barang siapa menafsirkan Al-Qur'an dengan pikirannya (rasionya) sendiri, maka hendaklah ia bersiap mengambil tempat duduknya di Neraka." Berdasarkan hal inilah para ahli ilmu tafsir zahir mencela kaum tasawuf dari kalangan orang-orang yang lalai yang dinisbatkan kepada tasawuf dalam menakwilkan kata-kata dalam Al-Qur'an yang menyelisihi riwayat dari Ibn Abbas dan seluruh mufasir, bahkan mereka menganggapnya sebagai kekufuran. Jika apa yang dikatakan oleh ahli tafsir itu benar, lantas apa arti memahami Al-Qur'an selain menghafal tafsirnya? Dan jika hal itu tidak benar, lantas apa makna sabda Rasulullah ﷺ: "Barang siapa menafsirkan Al-Qur'an dengan rasionya sendiri, maka hendaklah ia bersiap mengambil tempat duduknya di Neraka"? Maka ketahuilah, barang siapa menyangka bahwa tidak ada makna bagi Al-Qur'an kecuali apa yang diterjemahkan oleh tafsir zahir, sesungguhnya ia sedang mengabarkan batas kemampuannya sendiri; ia benar dalam mengabarkan tentang dirinya, namun ia keliru dalam menetapkan hukum dengan mengembalikan seluruh makhluk kepada derajatnya yang menjadi batas dan pemberhentiannya. Bahkan riwayat-riwayat dan atsar menunjukkan bahwa dalam makna-makna Al-Qur'an terdapat keluasan bagi pemilik pemahaman. Ali ﵁ berkata, "Kecuali jika Allah menganugerahkan pemahaman Al-Qur'an kepada seorang hamba." Jika tidak ada makna selain terjemahan yang diriwayatkan, lantas apa pemahaman itu? Dan Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Al-Qur'an memiliki zahir (lahiriah), batin (batiniah), hadd (batasan), dan mathla' (penyingkapan/puncak)." Diriwayatkan juga dari Ibn Mas'ud secara mauquf, padahal beliau termasuk ahli tafsir, maka apa arti zahir, batin, hadd, dan mathla'? Ali Karramallahu Wajhah juga berkata, "Seandainya aku mau, niscaya aku dapat memuatkan tafsir Surah Al-Fatihah ke atas tujuh puluh ekor unta." Lantas apa maknanya, padahal tafsir zahirnya sangatlah ringkas? Abu Ad-Darda' juga berkata, "Seseorang tidaklah dianggap paham (faqih) secara mendalam hingga ia menjadikan Al-Qur'an memiliki banyak dimensi pemahaman."

وقد قال بعض العلماء لكل آية ستون ألف فهم وما بقي من فهمها أكثر وقال آخرون القرآن يحوي سبعة وسبعين ألف علم ومائتي علم إذ كل كلمة علم ثم يتضاعف ذلك أربعة أضعاف إذ لكل كلمة ظاهر وباطن وحد ومطلع وترديد رسول الله ﷺ بسم الله الرحمن الرحيم عشرين مرة لا يكون إلا لتدبره باطن معانيها وإلا فترجمتها وتفسيرها ظاهر لا يحتاج مثله إلى تكرير وقال ابن مسعود ﵁ من أراد علم الأولين والآخرين فليتدبر القرآن وذلك لا يحصل بمجرد تفسير الظاهر وبالجملة فالعلوم كلها داخلة في أفعال الله ﷿ وصفاته وفي القرآن شرح ذاته وأفعاله وصفاته وهذه العلوم لا نهاية لها وفي القرآن إشارة إلى مجامعها والمقامات في التعمق في تفصيله راجع إلى فهم القرآن ومجرد ظاهره التفسير لا يشير إلى ذلك بل كل ما أشكل فيه على النظار واختلف فيه الخلائق في النظريات والمعقولات ففي القرآن إليه رموز ودلالات عليه يختص أهل الفهم بدركها فيكف يفي بذلك ترجمة ظاهره وتفسيره ولذلك قال ﷺ اقرءوا القرآن والتمسوا غرائبه وقال ﷺ في حديث علي كرم الله وجهه والذي بعثني بالحق نبياً ليفترقن أمتي عن أصل دينها وجماعتها على اثنتين وسبعين فرقة كلها ضالة مضلة يدعون إلى النار فإذا كان ذلك فعليكم بكتاب الله ﷿ فإن فيه نبأ من كان قبلكم ونبأ ما يأتي بعدكم وحكم ما بينكم من خالفه من الجبابرة قصمه الله ﷿ ومن ابتغى العلم في غيره أضله الله ﷿ وهو حبل الله المتين ونوره المبين وشفاؤه النافع عصمة لمن تمسك به ونجاة لمن اتبعه لا يموج فيقوم ولا يزيغ فيستقيم ولا تنقضي عجائبه ولا يخلقه كثرة الترديد

Sebagian ulama berkata, "Setiap ayat memiliki enam puluh ribu pemahaman, dan apa yang tersisa dari pemahamannya masih lebih banyak." Ulama lain berkata, "Al-Qur'an mencakup tujuh puluh tujuh ribu dua ratus ilmu, karena setiap kata adalah ilmu, kemudian hal itu berlipat ganda empat kali lipat karena setiap kata memiliki zahir, batin, hadd, dan mathla'." Pengulangan Rasulullah ﷺ terhadap "Bismillahirrahmanirrahim" sebanyak dua puluh kali tidak lain adalah karena penghayatan (tadabbur) beliau terhadap batin makna-maknanya; jika tidak demikian, terjemahan dan tafsir zahirnya sudah jelas sehingga hal serupa tidak memerlukan pengulangan. Ibnu Mas'ud ﵁ berkata, "Barang siapa menginginkan ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian, hendaklah ia mendalami Al-Qur'an." Hal itu tidak akan tercapai hanya dengan sekadar tafsir zahir. Singkatnya, seluruh ilmu masuk ke dalam perbuatan-perbuatan Allah ﷿ dan sifat-sifat-Nya, sedangkan di dalam Al-Qur'an terdapat penjelasan tentang Dzat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Ilmu-ilmu ini tidak ada batasnya, dan di dalam Al-Qur'an terdapat isyarat kepada himpunan utamanya. Maqam-maqam (tingkatan) dalam mendalami rinciannya kembali kepada pemahaman Al-Qur'an, sedangkan sekadar tafsir zahirnya tidak mengisyaratkan hal itu. Bahkan setiap hal yang samar bagi para pemikir dan diperselisihkan oleh makhluk dalam perkara-perkara teoritis dan rasional, maka di dalam Al-Qur'an terdapat isyarat-isyarat dan petunjuk-petunjuk baginya yang hanya khusus digapai oleh pemilik pemahaman. Lantas bagaimana terjemahan zahir dan tafsir biasa dapat memenuhi hal tersebut? Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda: "Bacalah Al-Qur'an dan carilah keajaiban-keajaibannya." Beliau ﷺ juga bersabda dalam hadis Ali Karramallahu Wajhah: "Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran sebagai Nabi, sungguh umatku akan berpecah belah dari pokok agamanya dan jamaahnya menjadi tujuh puluh dua golongan, semuanya sesat dan menyesatkan, mereka menyeru ke Neraka. Jika hal itu terjadi, maka berpegang teguhlah kamu sekalian kepada Kitab Allah ﷿, karena di dalamnya terdapat berita orang-orang sebelum kamu, berita apa yang akan datang setelah kamu, dan hukum perkara di antara kamu. Barang siapa meninggalkannya karena kesombongan, niscaya Allah ﷿ akan menghancurkannya; dan barang siapa mencari ilmu pada selainnya, niscaya Allah ﷿ akan menyesatkannya. Dialah tali Allah yang kokoh, cahaya-Nya yang terang, dan penawar-Nya yang bermanfaat, pelindung bagi siapa saja yang berpegang teguh padanya, serta keselamatan bagi siapa saja yang mengikutinya. Ia tidak membengkok sehingga perlu diluruskan, tidak menyimpang sehingga perlu ditegakkan, keajaiban-keajaibannya tidak pernah sirna, dan tidak akan lusuh karena sering diulang-ulang."

الحديث وفي حديث حذيفة لما أخبره رسول الله ﷺ بالاختلاف والفرقة بعده قال فقلت يا رسول الله فماذا تأمرني إن أدركت ذلك فقال تعلم كتاب الله واعمل بما فيه فهو المخرج من ذلك قال فأعدت عليه ذلك ثلاثاً فقال ﷺ ثلاثاً تعلم كتاب الله ﷿ واعمل بما فيه ففيه النجاة وقال علي كرم الله وجهه من فهم القرآن فسر به جمل العلم أشار به إلى أن القرآن يشير إلى مجامع العلوم كلها وقال ابن عباس ﵄ في قوله تعالى ومن يؤت الحكمة فقد أوتي خيراً كثيراً يعني الفهم في القرآن وقال ﷿ ففهمناها سليمان وكلاً آتينا حكماً وعلماً سمى ما آتاهما علماً وحكما وخصص ما انفرد به سليمان بالتفطن له باسم الفهم وجعله مقدماً على الحكم والعلم فهذه الأمور تدل على أن في فهم معاني القرآن مجالاً رحباً ومتسعاً بالغاً وأن المنقول من ظاهر التفسير ليس منتهى الإدراك فيه

—hingga akhir hadis. Dan dalam hadis Hudzaifah, ketika Rasulullah ﷺ memberitahukan kepadanya tentang perselisihan dan perpecahan setelah beliau, Hudzaifah berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapati zaman itu?" Beliau bersabda: "Pelajarilah Kitab Allah dan amalkan apa yang ada di dalamnya, karena itulah jalan keluar dari hal tersebut." Hudzaifah berkata: Maka aku mengulang pertanyaan itu tiga kali, lalu beliau ﷺ bersabda sebanyak tiga kali: "Pelajarilah Kitab Allah ﷿ dan amalkan apa yang ada di dalamnya, karena di dalamnya terdapat keselamatan." Ali Karramallahu Wajhah berkata, "Barang siapa memahami Al-Qur'an, niscaya ia dapat menjelaskan pokok-pokok ilmu melaluinya," yang beliau isyaratkan bahwa Al-Qur'an menunjukkan kepada himpunan seluruh ilmu. Ibnu Abbas ﵄ berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "Dan barang siapa dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak," yaitu pemahaman dalam Al-Qur'an. Dan Allah ﷿ berfirman: "Maka Kami memberikan pemahaman kepada Sulaiman (tentang hukum itu); dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu." Allah menamai apa yang diberikan kepada keduanya sebagai ilmu dan hikmah, namun menkhususkan apa yang hanya dipahami oleh Sulaiman dengan sebutan "pemahaman" (al-fahmi), serta menjadikannya didahulukan atas hikmah dan ilmu. Maka perkara-perkara ini menunjukkan bahwa dalam memahami makna-makna Al-Qur'an terdapat ruang yang sangat luas dan jangkauan yang mendalam, serta bahwasanya apa yang diriwayatkan dari tafsir zahir bukanlah batas akhir dari pencapaian pemahaman padanya.

فأما قوله ﷺ من فسر القرآن برأيه ونهيه عنه ﷺ وقول أبي بكر ﵁ أي أرض تقلني وأي سماء تظلني إذا قلت في القرآن برأيي إلى غير ذلك مما ورد في الأخبار والآثار في النهي عن تفسير القرآن بالرأي فلا يخلو إما أن يكون المراد به الاقتصار على النقل والمسموع وترك الاستنباط والاستقلال بالفهم أو المراد به أمراً آخر وباطل قطعاً أن يكون المراد به أن لا يتكلم أحد في القرآن إلا بما يسمعه لوجوه

Adapun sabda Nabi ﷺ: "Barang siapa menafsirkan Al-Qur'an dengan rasionya (ra'yu)…" dan larangan beliau ﷺ dari hal itu, serta ucapan Abu Bakar ﵁: "Bumi mana yang akan memikulku dan langit mana yang akan menaungiku jika aku berkata tentang Al-Qur'an dengan pendapatku sendiri?"—dan riwayat-riwayat serta atsar lainnya mengenai larangan menafsirkan Al-Qur'an dengan ra'yu (rasio)—maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah yang dimaksud adalah membatasi diri hanya pada riwayat (naql) dan apa yang didengar (masmu'), serta meninggalkan penggalian makna (istinbath) dan kebebasan memahami; ataukah yang dimaksud adalah perkara lain. Sungguh batil secara pasti jika yang dimaksud adalah tidak boleh seorang pun berbicara tentang Al-Qur'an kecuali hanya sebatas apa yang didengarnya, berdasarkan beberapa alasan.

أحدها أنه يشترط أن يكون ذلك مسموعاً من رسول الله ﷺ ومسنداً إليه وذلك مما لا يصادف إلا في بعض القرآن فأما ما يقوله ابن عباس وابن مسعود من أنفسهم فينبغي أن لا يقبل ويقال هو تفسير بالرأي لأنهم لم يسمعوه من رسول الله ﷺ وكذا غيرهم من الصحابة ﵃

Pertama, disyaratkan bahwa hal tersebut harus didengar langsung dari Rasulullah ﷺ dan disandarkan kepada beliau. Namun, hal sedemikian ini tidak dijumpai melainkan hanya pada sebagian kecil dari Al-Qur'an. Adapun apa yang dikatakan oleh Ibn 'Abbas dan Ibn Mas'ud dari diri mereka sendiri, maka seharusnya tidak diterima dan dikatakan bahwa itu adalah tafsir dengan ra'yu (pendapat pribadi), karena mereka tidak mendengarnya langsung dari Rasulullah ﷺ, demikian pula dengan para sahabat lainnya ﵃.

والثاني أن الصحابة والمفسرين اختلفوا في تفسير بعض الآيات فقالوا فيها أقاويل مختلفة لا يمكن الجمع بينها وسماع جميعها من رسول الله ﷺ محال ولو كان الواحد مسموعاً لرد الباقي فتبين على القطع أن كل مفسر قال في المعنى بما ظهر له باستنباطه حتى قالوا في الحروف التي في أوائل السور سبعة أقاويل مختلفة لا يمكن الجمع بينها فقيل إن الر هي حروف من الرحمن وقيل إن الألف الله واللام لطيف والراء رحيم وقيل غير ذلك والجمع بين الكل غير ممكن فكيف يكون الكل مسموعاً

Kedua, bahwasanya para sahabat dan ahli tafsir berselisih pendapat dalam menafsirkan sebagian ayat, lalu mereka mengemukakan berbagai pendapat yang berbeda yang tidak mungkin dikompromikan. Dan mendengarkan semuanya dari Rasulullah ﷺ adalah hal yang mustahil. Jika salah satu pendapat bersumber dari pendengaran riwayat, niscaya pendapat yang lain akan tertolak. Maka jelas secara pasti bahwa setiap ahli tafsir menyampaikan makna berdasarkan apa yang nampak baginya melalui istinbath (penggalian makna), hingga mereka mengemukakan tujuh pendapat berbeda mengenai huruf-huruf di awal surah-surah Al-Qur'an yang tidak mungkin disatukan. Ada yang mengatakan bahwa Alif-Lam-Ra adalah huruf-huruf dari kata Ar-Rahman; ada yang mengatakan Alif berarti Allah, Lam berarti Latif, dan Ra berarti Rahim; serta ada yang mengatakannya selain itu. Mengompromikan semuanya adalah hal yang tidak mungkin, maka bagaimana mungkin semuanya bersumber dari pendengaran langsung?

والثالث أنه ﷺ دعا لابن عباس ﵁ وقال اللهم فقه في الدين وعلمه التأويل فإن كان التأويل مسموعاً كالتنزيل ومحفوظاً مثله فما معنى تخصيصه بذلك

Ketiga, bahwasanya Nabi ﷺ mendoakan Ibn 'Abbas ﵁ dan bersabda: 'Ya Allah, pahamkanlah ia dalam agama dan ajarkanlah kepadanya ta'wil (penafsiran).' Jika sekiranya ta'wil itu hanya bersumber dari pendengaran riwayat sebagaimana tanzil (penurunan wahyu) dan dihafal sebagaimana halnya wahyu, lantas apa maknanya pengkhususan doa bagi beliau tersebut?

والرابع أنه قال ﷿ لعلمه الذي يستنبطونه منهم فأثبت لأهل العلم استنباطاً ومعلوم أنه وراء السماع

Keempat, bahwasanya Allah ﷿ berfirman: '(tentulah) orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya di antara mereka akan dapat mengetahuinya dari mereka (melalui istinbath).' Maka Allah menetapkan bagi ahli ilmu adanya kemampuan istinbath, dan telah maklum bahwa istinbath itu berada di luar batas sekadar pendengaran riwayat semata.

وجملة ما نقلناه من الآثار في فهم القرآن يناقض هذا الخيال فبطل أن يشترط السماع في التأويل وجاز لكل واحد أن يستنبط من القرآن بقدر فهمه وحد عقله وأما النهي فإنه ينزل على أحد وجهين أحدهما أن يكون له في الشيء رأي وإليه ميل من طبعه وهواه فيتأول القرآن على وفق رأيه وهواه وليحتج على تصحيح غرضه ولو لم يكن له ذلك الرأي والهوى لكان لا يلوح له من القرآن ذلك المعنى وهذا تارة يكون مع العلم كالذي يحتج ببعض آيات القرآن على تصحيح بدعته وهو يعلم أنه ليس المراد بالآية ذلك ولكن يلبس به على خصمه وتارة يكون مع الجهل ولكن إذا كانت الآية محتملة فيميل فهمه إلى الوجه الذي

Keseluruhan riwayat yang kami kutip mengenai pemahaman Al-Qur'an ini menolak anggapan keliru tersebut, sehingga batal syarat bahwa ta'wil harus bersumber dari pendengaran riwayat semata, dan boleh bagi setiap orang untuk beristinbath dari Al-Qur'an sesuai dengan kadar pemahamannya dan batas kemampuan pikirnya. Adapun larangan (menafsirkan Al-Qur'an dengan ra'yu/pendapat) itu diarahkan pada salah satu dari dua bentuk: Pertama, seseorang memiliki pendapat pribadi mengenai suatu masalah yang didorong oleh kecenderungan watak dan hawa nafsunya, lalu ia menta'wilkan Al-Qur'an agar sesuai dengan pendapat dan hawa nafsunya tersebut guna mendalili pembenaran tujuannya. Seandainya ia tidak memiliki pendapat dan hawa nafsu tersebut, niscaya makna itu tidak akan terlintas dalam benaknya dari Al-Qur'an. Hal ini terkadang terjadi beserta ilmu pengetahuan, seperti orang yang berdalil dengan sebagian ayat Al-Qur'an untuk membenarkan kebid'ahannya padahal ia tahu bahwa bukan itu yang dimaksud oleh ayat tersebut, melainkan ia menggunakannya untuk mengelabuhi lawannya. Dan terkadang hal itu terjadi beserta kebodohan, tetapi ketika ayat tersebut mengandung beberapa kemungkinan makna, pemahamannya cenderung pada sisi yang…

يوافق غرضه ويرجح ذلك الجانب برأيه وهواه فيكون قد فسر برأيه أي رأيه هو الذي حمله على ذلك التفسير ولولا رأيه لما كان يترجح عنده ذلك الوجه وتارة قد يكون له غرض صحيح فيطلب له دليلاً من القرآن ويستدل عليه مما يعلم أنه ما أريد به كمن يدعو إلى الاستغفار بالأسحار فيستدل بقوله ﷺ تسحروا فإن في السحور بركة ويزعم أن المراد به التسحر بالذكر وهو يعلم أن المراد به الأكل وكالذي يدعو إلى مجاهدة القلب القاسي فيقول قال الله ﷿ اذهب إلى فرعون إنه طغى ويشير إلى قلبه ويومئ إلى أنه المراد بفرعون وهذا الجنس قد يستعمله بعض الوعاظ في المقاصد الصحيحة تحسيناً للكلام وترغيباً للمستمع وهو ممنوع وقد تستعمله الباطنية في المقاصد الفاسدة لتغرير الناس ودعوتهم إلى مذهبهم الباطل فينزلون القرآن على وفق رأيهم ومذهبهم على أمور يعلمون قطعاً أنها غير مرادة به فهذه الفنون أحد وجهي المنع من التفسير بالرأي ويكون المراد بالرأي الرأي الفاسد الموافق للهوى دون الاجتهاد الصحيح والرأي يتناول الصحيح والفاسد والموافق للهوى قد يخصص باسم الرأي

…sesuai dengan tujuannya, lalu ia menguatkan sisi tersebut berdasarkan pendapat dan hawa nafsunya. Maka orang itu telah menafsirkan dengan ra'yu-nya (pendapat pribadinya), artinya pendapatnyalah yang mendorongnya pada penafsiran tersebut; seandainya bukan karena pendapatnya, niscaya sisi itu tidak akan terpilih olehnya. Terkadang seseorang memiliki tujuan yang benar lalu ia mencari dalil dari Al-Qur'an dan berargumen dengan sesuatu yang ia ketahui bahwa bukan itu yang dimaksud, seperti orang yang mengajak untuk beristighfar di waktu sahur tetapi ia berdalil dengan sabda Nabi ﷺ: 'Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya pada makan sahur itu ada keberkahan,' lalu ia mengklaim bahwa yang dimaksud adalah bersahur dengan dzikir padahal ia tahu bahwa yang dimaksud adalah makan. Atau seperti orang yang mengajak untuk bermujahadah melawan hati yang keras lalu berkata: Allah ﷿ berfirman, 'Pergilah kepada Firaun, sesungguhnya ia telah melampaui batas,' sembari menunjuk ke hatinya dan mengisyaratkan bahwa yang dimaksud dengan Firaun adalah hati. Jenis penafsiran seperti ini kadang digunakan oleh sebagian penceramah untuk tujuan yang baik demi memperindah kata-kata dan menarik minat pendengar, padahal hal itu dilarang. Dan terkadang digunakan pula oleh kaum Batiniah untuk tujuan yang merusak guna menyesatkan manusia dan mengajak mereka kepada mazhab mereka yang batil, sehingga mereka menundukkan Al-Qur'an agar sesuai dengan pendapat dan mazhab mereka pada hal-hal yang mereka ketahui secara pasti tidak dimaksudkan oleh Al-Qur'an. Berbagai bentuk ini merupakan salah satu dari dua bentuk larangan penafsiran dengan ra'yu, dan yang dimaksud dengan ra'yu di sini adalah ra'yu yang rusak yang sesuai dengan hawa nafsu, bukan ijtihad yang sahih. Kata ra'yu itu sendiri mencakup yang sahih dan yang rusak, tetapi ra'yu yang sesuai dengan hawa nafsu terkadang dikhususkan dengan sebutan ra'yu.

والوجه الثاني أن يتسارع إلى تفسير القرآن بظاهر العربية من غير استظهار بالسماع والنقل فيما يتعلق بغرائب القرآن وما فيه من الألفاظ المبهمة والمبدلة وما فيه من الاختصار والحذف والإضمار والتقديم والتأخير فمن لم يحكم بظاهر التفسير وبادر إلى استنباط المعاني بمجرد فهم العربية كثر غلطه ودخل في زمرة من يفسر بالرأي

Bentuk kedua adalah tergesa-gesa menafsirkan Al-Qur'an hanya dengan makna lahiriah bahasa Arab tanpa bersandar pada pendengaran riwayat dan penukulan (naql) terkait hal-hal yang rumit (ghara'ib) dalam Al-Qur'an, kata-kata yang samar (mubham), kata yang diganti (mubdal), serta adanya penyingkatan, penghapusan (hadzf), penyembunyian kata (idhmār), dan pendahuluan atau pengakhiran kata (taqdim dan ta'khir). Barang siapa yang tidak mengukuhkan tafsir lahiriah terlebih dahulu dan terburu-buru melakukan istinbath makna hanya berbekal pemahaman bahasa Arab murni, niscaya akan banyak kesalahannya dan ia tergolong ke dalam kelompok orang yang menafsirkan Al-Qur'an dengan ra'yu (pendapat pribadi).

فالنقل والسماع لا بد منه في ظاهر التفسير أولا ليتقي به مواضع الغلط ثم بعد ذلك يتسع التفهم والاستنباط والغرائب التي لا تفهم إلا بالسماع كثيرة ونحن نرمز إلى جمل منها ليستدل بها على أمثالها ويعلم أنه لا يجوز التهاون بحفظ التفسير الظاهر أولاً ولا مطمع في الوصول إلى الباطن قبل إحكام الظاهر

Maka riwayat (naql) dan pendengaran (sama') mutlak diperlukan dalam tafsir lahiriah terlebih dahulu agar seseorang terhindar dari tempat-tempat kesalahan, kemudian setelah itu barulah pemahaman dan istinbath dapat diperluas. Hal-hal rumit (ghara'ib) yang tidak dapat dipahami kecuali melalui riwayat itu sangat banyak, dan kami akan memberi isyarat pada sebagian di antaranya agar menjadi petunjuk bagi yang seumpamanya, serta agar diketahui bahwa tidak boleh meremehkan penguasaan tafsir lahiriah terlebih dahulu, dan tidak ada harapan untuk mencapai makna batin sebelum mengokohkan makna lahiriah.

ومن ادعى فهم أسرار القرآن ولم يحكم التفسير الظاهر فهو كمن يدعي البلوغ إلى صدر البيت قبل مجاوزة الباب أو يدعي فهم مقاصد الأتراك من كلامهم وهو لا يفهم لغة الترك فإن ظاهر التفسير يجري مجرى تعليم اللغة التي لا بد منها للفهم وما لا بد فيه من السماع فنون كثيرة منها الإيجار بالحذف والإضمار كقوله تعالى وآتينا ثمود الناقة مبصرة فظلموا بها معناه آية مبصرة فظلموا أنفسهم بقتلها فالناظر إلى ظاهر العربية يظن أن المراد به أن الناقة كانت مبصرة ولم تكن عمياء ولم يدر أنهم بماذا ظلموا غيرهم أو أنفسهم وقوله تعالى وأشربوا في قلوبهم العجل بكفرهم أي حب العجل فحذف الحب وقوله ﷿ إذاً لأذقناك ضعف الحياة وضعف الممات أي ضعف عذاب الأحياء وضعف عذاب الموتى فحذف العذاب وأبدل الأحياء والموتى بذكر الحياة والموت وكل ذلك جائز في فصيح اللغة

Barang siapa mengklaim memahami rahasia-rahasia Al-Qur'an padahal belum mengokohkan tafsir lahiriahnya, maka ia seperti orang yang mengklaim telah sampai ke bagian dalam rumah sebelum melewati pintunya, atau mengklaim memahami maksud orang-orang Turki dari percakapan mereka padahal ia tidak memahami bahasa Turki. Sebab, tafsir lahiriah berkedudukan seperti pengajaran bahasa yang mutlak diperlukan untuk pemahaman. Dan hal-hal yang mutlak memerlukan riwayat itu ada banyak macamnya, di antaranya adalah pemadatan makna melalui penghapusan (hadzf) dan pemahaman kata (idhmār), seperti firman Allah Ta'ala: 'Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu sebagai bukti yang nyata, lalu mereka menzaliminya' (QS. Al-Isra': 59). Maknanya adalah: sebagai mukjizat yang nyata (mubsirah), lalu mereka menzalimi diri mereka sendiri dengan membunuhnya. Orang yang hanya melihat lahiriah bahasa Arab akan mengira bahwa yang dimaksud adalah unta itu bermata melek dan tidak buta, serta tidak mengetahui dengan apa mereka menzalimi orang lain atau diri mereka sendiri. Dan firman Allah Ta'ala: 'Dan diresapkanlah ke dalam hati mereka itu (kecintaan pada) patung lembu karena kekafiran mereka' (QS. Al-Baqarah: 93), yaitu kecintaan pada patung lembu, di mana kata 'kecintaan' (hubb) dihapuskan. Dan firman-Nya ﷿: 'Kalau demikian, tentulah Kami rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan berlipat ganda sesudah mati' (QS. Al-Isra': 75), yaitu kelipatan azab orang hidup dan kelipatan azab orang mati, di mana kata 'azab' dihapus dan kata 'orang hidup' serta 'orang mati' diganti dengan sebutan 'kehidupan' dan 'kematian'. Semua ini berlaku dan sah dalam kelugasan (fashahah) bahasa Arab.

وقوله تعالى واسئل القرية التي كنا فيها والعير التي أقبلنا فيها أي أهل العير فالأهل فيهما محذوف مضمر وقوله ﷿ ثقلت في السموات والأرض معناه خفيت على أهل السموات والأرض والشيء إذا خفي ثقل فأبدل اللفظ به وأقيم في مقام على وأضمر الأهل وحذف

Dan firman Allah Ta'ala: 'Dan tanyakanlah kepada (penduduk) negeri tempat kami berada, dan kafilah yang kami datang bersamanya' (QS. Yusuf: 82), maksudnya adalah penduduk negeri dan pemilik kafilah, di mana kata 'penduduk/pemilik' (ahl) pada keduanya dihapuskan dan disembunyikan (mudhmar). Dan firman-Nya ﷿: 'Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi' (QS. Al-A'raf: 187), maknanya adalah tersembunyi bagi penduduk langit dan bumi; sebab sesuatu jika tersembunyi terasa berat. Maka lafaz ini digantikan dengannya, huruf fi menduduki posisi 'ala, serta kata 'penduduk' (ahl) disembunyikan dan dihapuskan.

وقوله تعالى وتجعلون رزقكم أنكم تكذبون أي شكر رزقكم وقوله ﷿ وآتنا ما وعدتنا على رسلك أي على ألسنة رسلك فحذف ألسنة وقوله تعالى إنا أنزلناه في ليلة القدر أراد القرآن وما سبق له ذكر

Dan firman Allah Ta'ala: 'Kamu mengganti rezeki (yang kamu terima dari Allah) dengan mendustakan (Allah)' (QS. Al-Waqi'ah: 82), maksudnya adalah rasa syukur atas rezekimu. Dan firman-Nya ﷿: 'Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu' (QS. Ali 'Imran: 194), maksudnya adalah melalui lisan rasul-rasul-Mu, di mana kata 'lisan-lisan' (alsinah) dihapuskan. Dan firman Allah Ta'ala: 'Sesungguhnya Kami telah menurun kannya pada malam kemuliaan' (QS. Al-Qadr: 1), yang dimaksud adalah Al-Qur'an, padahal belum ada penuturan tentangnya sebelumnya.

وقال ﷿ حتى توارت الحجاب أراد الشمس وما سبق لها ذكر وقوله تعالى والذين اتخذوا من دونه أولياء ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى أي يقولون ما نعبدهم

Dan firman-Nya ﷿: 'Hingga (matahari) terbenam di balik tabir' (QS. Shad: 32), yang dimaksud adalah matahari, padahal belum ada penuturan tentangnya sebelum itu. Dan firman Allah Ta'ala: 'Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya' (QS. Az-Zumar: 3), maknanya adalah: mereka berkata, 'Kami tidak menyembah mereka…'

وقوله ﷿ فمال هؤلاء القوم لا يكادون يفقهون حديثاً ما أصابك من حسنة فمن الله وما أصابك من سيئة فمن نفسك معناه لا يفقهون حديثاً يقولون ما أصابك من حسنة فمن الله فإن لم يرد هذا كان مناقضاً لقوله قل كل من عند الله وسبق إلى الفهم منه مذهب القدرية ومنها المنقول المنقلب كقوله تعالى وطور سينين أي طور

Dan firman-Nya ﷿: 'Maka mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? Kebajikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu adalah dari dirimu sendiri' (QS. An-Nisa': 78-79), maknanya adalah: mereka tidak memahami pembicaraan, (sehingga) mereka berkata bahwa kebajikan itu dari Allah dan keburukan itu dari dirimu sendiri. Seandainya bukan ini yang dimaksud, niscaya akan bertentangan dengan firman-Nya: 'Katakanlah: Semuanya (datang) dari sisi Allah.' Dan hal itu dapat mengarahkan pemahaman awal kepada mazhab Qadariyyah. Di antaranya pula adalah lafaz yang dipindahkan atau diubah bentuknya, seperti firman Allah Ta'ala: 'Wa thūri sīnīn' yang maksudnya adalah thūri sīnā' (Gunung Sinai).

سيناء سلام على آل ياسين أي على الياس وقيل إدريس لأن في حرف ابن مسعود سلام على إدراسين ومنها المكرر القاطع لوصل الكلام في الظاهر كقوله ﷿ وما يتبع الذين يدعون من دون الله شركاء إن يتبعون إلا الظن وقوله ﷿ قال الملأ الذين استكبروا من قومه للذين استضعفوا لمن آمن منهم معناه الذين استكبروا لمن آمن من الذين استضعفوا ومنها المقدم والمؤخر وهو مظنة الغلط كقوله ﷿ ولولا كلمة سبقت من ربك لكان لزاماً وأجل مسمى معناه لولا الكلمة وأجل مسمى لكان لزاماً ولولاه لكان نصباً كاللزام وقوله تعالى يسألونك كأنك حفي عنها أي يسألونك عنها كأنك حفي بها وقوله ﷿ لهم مغفرة ورزق كريم كما أخرجك ربك من بيتك بالحق فهذا الكلام غير متصل وإنما هو عائد إلى قوله السابق قل الأنفال لله والرسول كما أخرجك ربك من بيتك بالحق أي فصارت أنفال الغنائم لك إذ أنت راض بخروجك وهم كارهون فاعترض بين الكلام الأمر بالتقوى وغيره ومن هذا النوع قوله ﷿ حتى تؤمنوا بالله وحده إلا قول إبراهيم لأبيه الآية ومنها المبهم وهو اللفظ المشترك بين معن من كلمة أو حرف أما الكلمة فكالشيء والقرين والأمة والروح ونظائرها قال الله تعالى ضرب الله مثلاً عبداً مملوكاً لا يقدر على شيء أراد به النفقة مما رزق وقوله ﷿ وضرب الله مثلاً رجلين أحدهما أبكم لا يقدر على شيء أي الأمر بالعدل والاستقامة وقوله ﷿ فإن اتبعتني فلا تسألني عن شيء أراد به من صفات الربوبية وهو العلوم التي لا يحل السؤال عنها حتى يبتدئ بها العارف في أوان الاستحقاق

…Sinai, dan 'Salāmun 'alā Īlyāsīn' yaitu atas Nabi Ilyas, dan dikatakan pula Nabi Idris karena dalam qira'at Ibn Mas'ud berbunyi 'Salāmun 'alā Idrāsīn'. Di antaranya juga lafaz pengulangan yang secara lahiriah memotong keterhubungan kalimat, seperti firman-Nya ﷿: 'Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah tidaklah mengikuti (suatu kebenaran); mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan' (QS. Yunus: 66). Dan firman-Nya ﷿: 'Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka' (QS. Al-A'raf: 75), maknanya adalah orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang beriman dari kalangan mereka yang dianggap lemah. Di antaranya pula adalah taqdim dan ta'khir (mendahulukan dan mengakhirkan kata) yang menjadi tempat rawan kesalahan, seperti firman-Nya ﷿: 'Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan yang telah terdahulu dari Tuhanmu dan jangka waktu yang telah ditentukan, niscaya (azab itu) pasti menimpa mereka' (QS. Thaha: 129), maknanya adalah: seandainya bukan karena ketetapan dan jangka waktu yang telah ditentukan, niscaya ketetapan itu pasti menimpa mereka. Dan firman Allah Ta'ala: 'Mereka bertanya kepadamu seolah-olah kamu mengetahuinya' (QS. Al-A'raf: 187), maksudnya mereka bertanya kepadamu tentangnya seolah-olah kamu sangat mengetahuinya. Serta firman-Nya ﷿: 'Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia, sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu keluar dari rumahmu dengan kebenaran' (QS. Al-Anfal: 4-5); susunan kalimat ini tidak tersambung langsung, melainkan kembali pada firman-Nya sebelumnya: 'Katakanlah: Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul, sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu keluar dari rumahmu dengan kebenaran', maksudnya pembagian anfal (harta rampasan perang) menjadi hakmu ketika engkau ridha dengan kepindahanmu sementara mereka membencinya, lalu di sela-sela kalimat diselingi oleh perintah bertakwa dan lainnya. Dan termasuk jenis ini adalah firman-Nya ﷿: 'Sampai kamu beriman kepada Allah saja, kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya…' (QS. Al-Mumtahanah: 4). Di antaranya juga adalah lafaz mubham, yaitu lafaz persekutuan makna (musytarak) pada kata atau huruf. Adapun berupa kata seperti kata 'syai' (sesuatu), 'qarin' (pendamping/teman), 'ummah' (umat/kelompok/jangka waktu), 'ruh', dan padanannya. Allah Ta'ala berfirman: 'Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak atas sesuatu pun' (QS. An-Nahl: 75), yang dimaksud dengan 'sesuatu' di sini adalah menafkahkan sebagian rezeki. Dan firman-Nya ﷿: 'Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang laki-laki, yang seorang bisu, tidak dapat bertindak atas sesuatu pun' (QS. An-Nahl: 76), yaitu memerintahkan keadilan dan ketetapan sikap. Dan firman-Nya ﷿: 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun' (QS. Al-Kahfi: 70), yang dimaksud adalah dari sifat-sifat ketuhanan (rububiyyah), yaitu ilmu-ilmu yang tidak boleh ditanyakan sebelum orang 'arif (ahli hakikat) memulainya pada saat yang tepat.

وقوله ﷿ أم خلقوا من غير شي أم هم الخالقون أي من غير خالق فربما يتوهم به أنه يدل على أنه لا يخلق شيء إلا من شيء

Dan firman-Nya ﷿: 'Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun (tanpa pencipta) ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?' (QS. Ath-Thur: 35), yaitu tanpa adanya Pencipta (Khaliq). Maka terkadang ada orang yang menduga secara keliru bahwa ayat ini menunjukkan bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang diciptakan melainkan dari sesuatu materi.

وأما القرين فكقوله ﷿ وقال قرينه هذا ما لدي عتيد ألقيا في جهنم كل كفار أراد به الملك الموكل به وقوله تعالى قال قرينه ربنا ما أطغيته ولكن كان أراد به الشيطان

Adapun kata qarin (pendamping), seperti dalam firman-Nya ﷿: 'Dan pendampingnya berkata: Inilah (catatan amalnya) yang siap ada padaku. Lemparlah olehmu berdua ke dalam neraka Jahannam semua orang yang sangat ingkar' (QS. Qaf: 23-24), yang dimaksud di sini adalah malaikat yang diserahi tugas atasnya. Dan firman Allah Ta'ala: 'Pendampingnya berkata: Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya…' (QS. Qaf: 27), yang dimaksud di sini adalah setan.

وأما الأمة فتطلق على ثمانية أوجه الأمة الجماعة كقوله تعالى وجد عليه أمة من الناس يسقون وأتباع الأنبياء كقولك عن أمة محمد ﷺ ورجل جامع للخير يقتدى به كقوله تعالى إن إبراهيم كان أمة قانتاً لله والأمة الدين كقوله ﷿ إنا وجدنا آباءنا على أمة والأمة الحين والزمان كقوله ﷿ إلى أمة معدودة وقوله ﷿ وادكر بعد أمة والأمة القامة يقال فلان حسن الأمة أي القامة وأمة رجل منفرد بدين لا يشركه فيه أحد قال ﷺ يبعث زيد بن عمرو بن نفيل أمة وحده والأمة يقال هذه أمة زيد أي أم زيد والروح أيضاً ورد في القرآن على معان كثيرة فلا نطول بإيرادها وكذلك قد يقع الإبهام في الحروف مثل قوله ﷿ قأثرن به نقعاً فوسطن به جمعاً فالهاء الأولى كناية عن الحوافر وهي الموريات أي أثرن بالحوافر نقعاً والثانية كناية عن الإغارة وهي المغيرات صبحاً فوسطن به جمعاً جمع المشركون فأغاروا بجمعهم وقوله تعالى فأنزلنا به الماء يعني السحاب فأخرجنا به من كل الثمرات يعني الماء وأمثال هذا في القرآن لا ينحصر ومنها التدريج في البيان كقوله ﷿ شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن إذ لم يظهر به أنه ليل أو نهار وبان بقوله ﷿ إنا أنزلناه في ليلة مباركة ولم يظهر به أي ليلة فظهر بقوله تعالى إنا أنزلناه في ليلة القدر وربما يظن في الظاهر الاختلاف بين هذه الآيات فهذا وأمثاله مما لا يغني فيه إلا النقل والسماع فالقرآن من أوله إلى آخره غير خال عن هذا الجنس لأنه أنزل بلغة العرب فكان مشتملاً على أصناف كلامهم من إيجاز وتطويل وإضمار وحذف وإبدال وتقديم وتأخير ليكون ذلك مفحماً لهم ومعجزاً في حقهم فكل من اكتفى بفهم ظاهر العربية وبادر إلى تفسير القرآن ولم يستظهر بالسماع والنقل في هذه الأمور فهو داخل فيمن فسر القرآن برأيه مثل أن يفهم من الأمة المعنى الأشهر منه فيميل طبعه ورأيه إليه فإذا سمعه في موضع آخر مال برأيه إلى ما سمعه من مشهور

Adapun kata 'ummah', diucapkan untuk delapan makna: Ummah berarti sekelompok orang (jamaah), seperti firman Allah Ta'ala: 'Ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum' (QS. Al-Qashash: 23); pengikut para nabi, seperti ucapanmu tentang 'umat Muhammad ﷺ'; seorang laki-laki pelopor kebaikan yang diteladani, seperti firman Allah Ta'ala: 'Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat (teladan) yang patuh kepada Allah' (QS. An-Nahl: 120); ummah berarti agama/ajaran, seperti firman-Nya ﷿: 'Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama' (QS. Az-Zukhruf: 22); ummah berarti masa atau waktu, seperti firman-Nya ﷿: 'Sampai waktu yang ditentukan' (QS. Hud: 8) dan firman-Nya ﷿: 'Dan teringat (kepada Yusuf) setelah sekian lama waktu' (QS. Yusuf: 45); ummah berarti postur tubuh, dikatakan: 'Fulan itu bagus ummah-nya' artinya postur tubuhnya; ummah berarti seorang laki-laki yang menyendiri dalam agamanya di mana tidak ada seorang pun yang bersamanya, Rasulullah ﷺ bersabda: 'Zaid bin 'Amr bin Nufail akan dibangkitkan sebagai satu umat sendirian'; dan ummah juga diucapkan untuk arti ibu, seperti dikatakan 'ini ummah Zaid' yaitu ibu Zaid. Kata ruh juga disebutkan dalam Al-Qur'an dengan banyak makna sehingga tidak perlu kami perpanjang dengan mengutipnya. Demikian pula kesamaran (ibham) dapat terjadi pada huruf/kata ganti, seperti firman-Nya ﷿: 'Lalu menerbangkan dengannya debu, dan menyerbu dengannya ke tengah-tengah kumpulan musuh' (QS. Al-'Adiyat: 4-5); kata ganti 'nya' (ha') yang pertama merupakan kiasan bagi terbaknya terancam (kuku kuda yang berlari), yaitu menerbangkan debu dengan kuku-kuku kuda; sedangkan yang kedua adalah kiasan bagi penyerbuan pada waktu subuh, yaitu mereka menyerbu ke tengah kumpulan kaum musyrikin dengan pasukan mereka. Dan firman Allah Ta'ala: 'Lalu Kami turunkan dengannya air' yakni dengan awan, 'lalu Kami keluarkan dengannya segala jenis buah-buahan' yakni dengan air. Contoh-contoh seperti ini dalam Al-Qur'an tidak terhitung jumlahnya. Di antaranya pula adalah penahapan dalam penjelasan (tadriij fi al-bayan), seperti firman-Nya ﷿: 'Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an' (QS. Al-Baqarah: 185), ketika belum nampak di situ apakah di malam hari atau siang hari, lalu diperjelas dengan firman-Nya ﷿: 'Sesungguhnya Kami menurun kannya pada suatu malam yang diberkahi' (QS. Ad-Dukhan: 3), tetapi belum nampak malam yang mana, lalu diperjelas lagi oleh firman Allah Ta'ala: 'Sesungguhnya Kami telah menurun kannya pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr)' (QS. Al-Qadr: 1). Terkadang secara lahiriah dikira ada pertentangan antara ayat-ayat ini. Maka hal ini dan yang seumpamanya tidak cukup diselesaikan kecuali dengan riwayat (naql) dan pendengaran (sama'). Al-Qur'an dari awal hingga akhirnya tidak pernah sepi dari jenis gaya bahasa seperti ini, karena ia diturunkan dalam bahasa Arab, sehingga mencakup berbagai ragam corak kalam mereka: baik berupa pemadatan (ijaz), perpanjangan (tathwil), penyembunyian (idhmar), penghapusan (hadzf), penggantian (ibdal), serta pendahuluan dan pengakhiran (taqdim dan ta'khir), agar hal itu membungkam mereka dan menjadi mukjizat bagi mereka. Maka barang siapa yang mencukupkan diri dengan memahami lahiriah bahasa Arab saja dan terburu-buru menafsirkan Al-Qur'an tanpa bersandar pada pendengaran riwayat dan penukulan dalam perkara-perkara ini, maka ia tergolong orang yang menafsirkan Al-Qur'an dengan pendapat pribadinya (ra'yu). Seperti contohnya ia memahami kata 'ummah' dengan maknanya yang paling masyhur sehingga watak dan pendapatnya cenderung ke arah itu, dan apabila ia mendengarnya di tempat lain pendapatnya tetap cenderung pada arti masyhur yang didengarnya…

معناه وترك تتبع النقل في كثير معانيه فهذا ما يمكن أن يكون منهياً عنه دون التفهم لأسرار المعاني كما سبق فإذا حصل السماع بأمثال هذه الأمور علم ظاهر التفسير وهو ترجمة الألفاظ ولا يكفي ذلك في فهم حقائق المعاني ويدرك الفرق بين حقائق المعاني وظاهر التفسير بمثال وهو إن الله ﷿ قال وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى فظاهره تفسير واضح وحقيقة معناه غامض فإنه إثبات للرمي ونفي له وهما متضادان في الظاهر ما لم يفهم أنه رمي من وجه ولم يرم من وجه ومن الوجه الذي لم يرم رماه الله ﷿

…lalu ia meninggalkan penelusuran riwayat pada banyak maknanya. Inilah hal yang dimungkinkan menjadi hal yang dilarang, bukan upaya memahami rahasia-rahasia makna sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Apabila pendengaran riwayat telah diperoleh dalam perkara-perkara seperti ini, maka diketahuilah tafsir lahiriah yang merupakan penerjemahan lafaz-lafaz. Namun hal itu belum mencukupi dalam memahami hakikat makna-makna. Perbedaan antara hakikat makna dan tafsir lahiriah dapat dipahami melalui sebuah contoh, yaitu firman Allah ﷿: 'Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang melempar' (QS. Al-Anfal: 17). Secara lahiriah penafsirannya cukup jelas, namun hakikat maknanya sangat samar; sebab di situ terdapat penetapan (itsbat) pelemparan sekaligus penafiannya (nafi), padahal keduanya bertentangan secara lahiriah jika tidak dipahami bahwa ia melempar dari satu sisi dan tidak melempar dari sisi yang lain, dan dari sisi di mana ia tidak melempar itulah Allah ﷿ yang melemparnya.

وكذلك قال تعالى قاتلوهم يعذبهم الله بأيديكم فإذا كانوا هم المقاتلين كيف يكون الله سبحانه هو المعذب وإن كان الله تعالى هو المعذب بتحريك أيديهم فما معنى أمرهم بالقتال فحقيقة هذا يستمد من بحر عظيم من علوم المكاشفات لا يغني عنه ظاهر التفسير وهو أن يعلم وجه ارتباط الأفعال بالقدرة الحادثة ويفهم وجه ارتباط القدرة بقدرة الله ﷿ حتى ينكشف بعد إيضاح أمور كثيرة غامضة صدق قوله ﷿ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى ولعل العمر لو أنفق في استكشاف أسرار هذا المعنى وما يرتبط بمقدماته ولواحقه لانقضى العمر قبل استيفاء جميع لواحقه وما من كلمة من القرآن إلا وتحقيقها محوج إلى مثل ذلك وإنما ينكشف للراسخين في العلم من أسراره بقدر غزارة علومهم وصفاء قلوبهم وتوفر دواعيهم على التدبر وتجردهم للطلب ويكون لكل واحد حد في الترقي إلى درجة أعلى منه فأما الاستيفاء فلا مطمع فيه ولو كان البحر مداداً والأشجار أقلاماً فأسرار كلمات الله لا نهاية لها فتنفد الأبحر قبل أن تنفد كلمات الله ﷿

Demikian pula firman-Nya Ta'ala: 'Perangilah mereka, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu' (QS. At-Taubah: 14). Jika mereka yang berperang, bagaimana mungkin Allah Mahasuci yang menjadi Pengazab? Dan jika Allah Ta'ala yang mengazab dengan menggerakkan tangan-tangan mereka, lantas apa makna perintah kepada mereka untuk berperang? Hakikat masalah ini bersumber dari samudera yang sangat luas dari ilmu-ilmu mukasyafah (penyingkapan batin) yang tidak dapat digantikan oleh tafsir lahiriah semata; yaitu dengan mengetahui tata cara keterikatan perbuatan manusia dengan qudrah yang baharu, serta memahami keterikatan qudrah tersebut dengan qudrah Allah ﷿, hingga setelah penjelasannya membuka berbagai perkara samar menjadi jelaslah kebenaran firman-Nya ﷿: 'Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang melempar.' Seandainya seluruh usia dihabiskan untuk mengungkap rahasia makna ini beserta segenap mukaddimah dan konsekuensinya, niscaya usia akan habis sebelum seluruh konsekuensinya terpenuhi. Dan tidak ada satu kata pun dalam Al-Qur'an melainkan pendalamannya memerlukan hal serupa itu. Hanya saja, rahasia-rahasianya akan tersingkap bagi orang-orang yang mendalam ilmunya (al-rasikhuna fi al-'ilm) seukuran dengan keluasan ilmu mereka, kesucian hati mereka, melimpahnya dorongan mereka untuk bertadabbur, serta pencucian diri mereka secara total untuk menuntutnya. Dan bagi setiap orang terdapat batas dalam menaiki derajat yang lebih tinggi dari derajat sebelumnya. Adapun pemenuhan secara menyeluruh, maka tidak ada harapan untuk mencapainya; seandainya lautan menjadi tinta dan pepohonan menjadi pena, rahasia-rahasia firman Allah tidak akan pernah ada habisnya, sehingga lautan akan kering sebelum kalimat-kalimat Allah ﷿ habis.

فمن هذا الوجه تتفاوت الخلق في الفهم بعد الاشتراك في معرفة ظاهر التفسير وظاهر التفسير لا يغني عنه ومثاله فهم بعض أرباب القلوب من قوله ﷺ في سجوده أعوذ برضاك من سخطك وأعوذ بمعافاتك من عقوبتك وأعوذ بك منك لا أحصي ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك أنه قبل له اسجد واقترب فوجد القرب في السجود فنظر إلى الصفات فاستعاذ ببعضها من بعض فإن الرضا والسخط وصفان ثم زاد قربه فاندرج القرب الأول فيه فرقي إلى الذات فقال أعوذ بك منك ثم زاد قربه بما استحيا به من الاستعاذة على بساط القرب فالتجأ إلى الثناء فأثنى بقوله لا أحصي ثناء عليك ثم علم أن ذلك قصور فقال أنت كما أثنيت على نفسك فهذه خواطر تفتح لأرباب القلوب ثم لها أغوار وراء هذا وهو فهم معنى القرب واختصاصه بالسجود ومعنى الاستعاذة من صفة بصفة ومنه به

Maka dari sisi inilah para makhluk berbeda-beda tingkatannya dalam pemahaman setelah mereka bersama-sama menguasai pengetahuan tentang tafsir lahiriah, sedang tafsir lahiriah itu sendiri tetap tidak dapat diabaikan. Contohnya adalah pemahaman sebagian pemilik qalbu (arbab al-qulub) dari sabda Rasulullah ﷺ dalam sujudnya: 'Aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, aku berlindung dengan pemaafan-Mu dari siksaan-Mu, dan aku berlindung dengan-Mu dari-Mu; aku tidak sanggup menghitung pujian atas-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.' Bahwa ketika dikatakan kepada beliau: 'Sujudlah dan mendekatlah' (QS. Al-'Alaq: 19), beliau menemukan kedekatan (qurb) dalam sujud tersebut, lalu beliau memandang kepada Sifat-sifat Allah, maka beliau berlindung dengan sebagian sifat dari sebagian sifat lainnya, sebab rida dan murka adalah dua sifat. Kemudian kedekatan beliau semakin bertambah sehingga kedekatan yang pertama terliput di dalamnya, lalu beliau naik menuju Dzat Allah seraya berkata: 'Aku berlindung dengan-Mu dari-Mu'. Kemudian kedekatannya semakin bertambah hingga timbul rasa malu untuk berlindung di atas hamparan kedekatan (bisaath al-qurb), maka beliau beralih meminta perlindungan kepada pujian lalu memuji dengan sabdanya: 'Aku tidak sanggup menghitung pujian atas-Mu'. Kemudian beliau menyadari bahwa hal itu pun masih mengandung kekurangan, lalu beliau bersabda: 'Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri'. Ini adalah getaran-getaran ilham yang dibukakan bagi pemilik qalbu, dan di balik ini masih ada kedalaman makna lainnya, yaitu memahami hakikat makna kedekatan (qurb) dan kekhususannya dalam sujud, serta makna berlindung dari satu sifat kepada sifat lain, dan dari-Nya kepada-Nya.

وأسرار ذلك كثيرة ولا يدل تفسير ظاهر عليه وليس اللفظ هو مناقضاً لظاهر التفسير بل هو استكمال له ووصول إلى لبابه عن ظاهره فهذا ما نورده لفهم المعاني الباطنة لا ما يناقض الظاهر والله أعلم

Rahasia-rahasia tentang hal itu sangat banyak, dan tafsir lahiriah tidak menunjukkan ke arah sana. Kendati demikian, lafaz (makna batin) tersebut bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan tafsir lahiriah, melainkan penyempurna baginya dan pencapaian menuju inti sarinya dari sisi lahiriah. Inilah yang kami paparkan untuk memahami makna-makna batiniah, bukan yang menyelisihi makna lahiriah. Wallahu a'lam (Dan Allah Maha Mengetahui).

تم كتاب آداب التلاوة والحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على محمد خاتم النبيين وعلى كل عبد مصطفى من كل العالمين وعلى آل محمد وصحبه وسلم

Telah selesai Kitab Adab Tilawah (Etika Membaca Al-Qur'an). Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad, penutup para nabi, serta kepada setiap hamba pilihan dari seluruh alam, juga kepada keluarga Muhammad dan para sahabatnya.