القسم الرابع من النوافل ما يتعلق بأسباب عارضة ولا يتعلق بالمواقيت
القسم الرابع من النوافل ما يتعلق بأسباب عارضة ولا يتعلق بالمواقيت
Bagian Keempat dari shalat-shalat sunnah (nawafil) adalah shalat yang berkaitan dengan sebab-sebab insidental (asbab 'aridhah) dan tidak terikat oleh waktu-waktu tertentu.
وهي تسعة: صلاة الخسوف والكسوف والاستسقاء وتحية المسجد وركعتي الوضوء وركعتين بين الأذان والإقامة وركعتين عند الخروج من المنزل والدخول فيه
Shalat-shalat tersebut ada sembilan: shalat gerhana bulan (khusuf), shalat gerhana matahari (kusuf), shalat memohon hujan (istisqa'), shalat Tahiyyatul Masjid, dua rakaat sunnah wudhu, dua rakaat di antara azan dan iqamah, serta dua rakaat ketika keluar dari rumah dan saat memasukinya.
ونظائر ذلك فنذكر منها ما يحضرنا الآن
Dan hal-hal yang seumpamanya. Maka kami akan menyebutkan di antaranya apa yang hadir dalam ingatan kami saat ini.
الأولى صلاة الخسوف قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتم ذلك فافزعوا إلى ذكر الله والصلاة قال ذلك لما مات ولده إبراهيم ﷺ وكسفت الشمس فقال الناس إنما كسفت لموته
Yang pertama: Shalat Gerhana Matahari. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena hidupnya seseorang. Apabila kalian melihatnya, maka bergegaslah untuk berzikir kepada Allah dan mendirikan shalat." Beliau menyampaikan hal itu ketika putra beliau, Ibrahim, wafat dan terjadi gerhana matahari, lalu orang-orang berkata bahwa gerhana itu terjadi karena kematiannya.
والنظر في كيفيتها ووقتها أما الكيفية فإذا كسفت الشمس في وقت الصلاة فيه مكروهة أو غير مكروهة نودي الصلاة جامعة وصلى الإمام بالناس في المسجد ركعتين وركع في كل ركعة ركوعين أوائلهما أطول من أواخرهما
Pembahasan mengenai tata cara (kaifiyah) dan waktunya: Adapun mengenai tata cara, jika terjadi gerhana matahari—baik pada waktu yang dimakruhkan shalat di dalamnya maupun yang tidak dimakruhkan—diserukan seruan "Ash-Shalātu Jāmi'ah", lalu imam memimpin shalat bersama masyarakat di masjid sebanyak dua rakaat, dan pada setiap rakaat ia melakukan dua kali rukuk, yang mana rukuk pertama lebih panjang daripada rukuk kedua.
ولا يجهر فيقرأ في الأولى من قيام الركعة الأولى الفاتحة والبقرة وفي الثانية الفاتحة وآل عمران وفي الثالثة الفاتحة وسورة النساء وفي الرابعة الفاتحة وسورة المائدة أو مقدار ذلك من القرآن من حيث أراد ولو اقتصر على الفاتحة في كل قيام أجزأه ولو اقتصر على سور قصار فلا بأس
Ia tidak menyaringkan bacaan (membaca secara sirr). Pada berdiri pertama di rakaat pertama, ia membaca al-Fatihah dan surah al-Baqarah; pada berdiri kedua membaca al-Fatihah dan surah Ali 'Imran; pada berdiri ketiga (rakaat kedua) membaca al-Fatihah dan surah an-Nisa'; dan pada berdiri keempat membaca al-Fatihah dan surah al-Ma'idah, atau kadar yang sepadan dari Al-Qur'an menurut bagian yang dikehendakinya. Jika ia mencukupkan diri hanya dengan al-Fatihah pada setiap berdiri, maka itu sudah mencukupi; dan jika ia mencukupkan dengan surah-surah yang pendek, maka hal itu tidak mengapa.
ومقصود التطويل دوام الصلاة إلى الإنجلاء
Tujuan dari memanjangkan bacaan tersebut adalah agar pelaksanaan shalat berlangsung terus hingga gerhana usai (terang kembali).
ويسبح في الركوع الأول قدر مائة آية وفي الثاني قدر ثمانين وفي الثالث قدر سبعين وفي الرابع قدر خمسين
Ia bertasbih pada rukuk pertama sekadar durasi membaca seratus ayat, pada rukuk kedua sekadar delapan puluh ayat, pada rukuk ketiga sekadar tujuh puluh ayat, dan pada rukuk keempat sekadar lima puluh ayat.
وليكن السجود على قدر الركوع في كل ركعة
Dan hendaknya durasi sujud seimbang dengan durasi rukuk pada setiap rakaatnya.
ثم يخطب خطبتين بعد الصلاة بينهما جلسة ويأمر الناس بالصدقة والعتق والتوبة
Kemudian imam menyampaikan dua khotbah setelah shalat dengan diselingi duduk di antara keduanya, serta memerintahkan jamaah untuk bersedekah, memerdekakan budak, dan bertaubat.
وكذلك يفعل بخسوف القمر إلا أنه يجر فيها لأنها ليلية
Demikian pula yang dilakukan pada gerhana bulan (khusuf), hanya saja pada shalat gerhana bulan bacaan disaringkan (jahr) karena dilakukan di malam hari.
فأما وقتها فعند ابتداء الكسوف إلى تمام الإنجلاء ويخرج وقتها بأن تغرب الشمس كاسفة
Adapun waktunya adalah sejak mulainya gerhana hingga terang kembali secara sempurna. Dan waktunya habis apabila matahari terbenam dalam keadaan masih mengalami gerhana.
وتفوت صلاة خسوف القمر بأن يطلع قرص الشمس إذ يبطل سلطان الليل ولا تفوت بغروب القمر خاسفاً لأن الليل كله سلطان القمر فإن انجلى في أثناء الصلاة أتمها مخففة
Waktu shalat gerhana bulan dianggap terlewat dengan terbitnya piringan matahari, karena saat itu kekuasaan malam telah habis; tetapi tidak habis hanya dengan terbenamnya bulan dalam keadaan masih gerhana, sebab seluruh malam merupakan domain kekuasaan bulan. Apabila gerhana telah usai di tengah-tengah shalat, maka imam menyelesaikan shalat tersebut secara diperringkas.
ومن أدرك الركوع الثاني مع الإمام فقد فاتته تلك الركعة لأن الأصل هو الركوع الأول
Barangsiapa yang baru mendapati rukuk kedua bersama imam, maka ia telah tertinggal rakaat tersebut, karena yang menjadi patokan utama rakaat adalah rukuk yang pertama.
الثانية صَلَاةُ الِاسْتِسْقَاءِ فَإِذَا غَارَتِ الْأَنْهَارُ وَانْقَطَعَتِ الْأَمْطَارُ أو إنهارت قناة فَيُسْتَحَبُّ لِلْإِمَامِ أَنْ يَأْمُرَ النَّاسَ أَوَّلًا بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَا أَطَاقُوا مِنَ الصَّدَقَةِ وَالْخُرُوجِ مِنَ الْمَظَالِمِ وَالتَّوْبَةِ مِنَ الْمَعَاصِي ثُمَّ يَخْرُجُ بهم في اليوم الرابع وبالعجائز والصبيان متنظفين في ثياب بذلة واستكانة متواضعين بخلاف العيد وقيل يستحب
Yang kedua: Shalat Minta Hujan (Istisqa'). Apabila sungai-sungai mengering, hujan terhenti, atau saluran air runtuh, maka disunnahkan bagi imam (pemimpin) untuk memerintahkan masyarakat terlebih dahulu berpuasa selama tiga hari, bersedekah sekuasanya, membebaskan diri dari kezaliman (meminta maaf atau mengembalikan hak orang lain), dan bertaubat dari maksiat. Kemudian pada hari keempat, imam keluar bersama mereka, juga beserta wanita-wanita tua dan anak-anak kecil, dalam keadaan bersih diri namun mengenakan pakaian sederhana yang biasa digunakan untuk bekerja, menunjukkan rasa sangat membutuhkan (istikanah) dan ketundukan—berbeda halnya dengan shalat Hari Raya. Dan dikatakan pula disunnahkan…
إخراج الدواب لمشاركتها في الحاجة ولقوله ﷺ لولا صبيان رضع ومشايخ ركع وبهائم رتع لصب عليكم العذاب صباً وَلَوْ خَرَجَ أَهْلُ الذِّمَّةِ أَيْضًا مُتَمَيِّزِينَ لَمْ يمنعوا فإذا اجتمعوا في المصلى الواصل مِنَ الصَّحْرَاءِ نُودِيَ الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ فَصَلَّى بِهِمُ الْإِمَامُ رَكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَلَاةِ الْعِيدِ بِغَيْرِ تَكْبِيرٍ ثم يخطب خطبتين وبينهما جلسة خفيفة وليكن الاستغفار معظم الخطبتين وينبغي في وسط الخطبة الثانية أن يستدبر الناس ويستقبل القبلة ويحول رداءه في هذه الساعة تفاؤلاً بتحويل الحال هكذا فَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فيجعل أعلاه أسفله وما على اليمين على الشمال وما على الشمال وما على اليمين
…membawa serta hewan-hewan ternak karena mereka pun berserikat dalam membutuhkan air, serta berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Seandainya bukan karena bayi-bayi yang masih menyusu, orang-orang tua yang ahli rukuk, dan hewan-hewan yang merumput, niscaya azab benar-benar ditumpahkan kepada kalian dengan setumpah-tumpahnya." Apabila kaum Dzimmi (non-Muslim dalam perlindungan Islam) ikut keluar juga secara terpisah, mereka tidak dilarang. Maka apabila mereka telah berkumpul di tempat shalat (mushalla) yang terhubung dengan padang sahara/lapangan, diserukan "Ash-Shalātu Jāmi'ah", lalu imam memimpin shalat dua rakaat bersama mereka seperti shalat Eid tanpa takbir tambahan. Kemudian ia berkhotbah dua kali dengan diselingi duduk yang ringan, dan hendaknya istigfar menjadi bagian terbesar dari kedua khotbah tersebut. Seyogianya di pertengahan khotbah kedua, imam membelakangi jamaah dan menghadap kiblat, lalu membalikkan selendangnya (rida') pada saat itu sebagai bentuk tafa'ul (harapan baik) akan berubahnya keadaan; demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, dengan menjadikan bagian atasnya ke bawah, dan bagian kanan ke kiri serta bagian kiri ke kanan.
وكذلك يفعل الناس ويدعون في هذه الساعة سراً ثم يستقبلهم فيختم الخطبة ويدعون أرديتهم محولة كما هي حتى ينزعوها متى نزعوا الثياب
Demikian pula halnya yang dilakukan oleh jamaah, dan mereka berdoa pada saat itu secara rahasia (sirr). Kemudian imam kembali menghadap ke arah jamaah lalu mengakhiri khotbah. Dan mereka membiarkan selendang-selendang mereka tetap dalam keadaan terbalik seperti itu sampai mereka melepasnya kapan pun mereka melepas pakaian mereka.
ويقول في الدعاء اللهم إنك أمرتنا بدعائك ووعدتنا إجابتك فقد دعوناك كما أمرتنا فأجبنا كما وعدتنا اللهم فامنن علينا بمغفرة ما قارفنا وإجابتك في سقيانا وسعة أرزاقنا
Dan imam mengucapkan dalam doanya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan kami untuk berdoa kepada-Mu dan Engkau telah menjanjikan pengabulan kepada kami. Sungguh kami telah berdoa kepada-Mu sebagaimana yang Engkau perintahkan, maka kabulkanlah doa kami sebagaimana yang telah Engkau janjikan. Ya Allah, karuniakanlah kebaikan kepada kami dengan ampunan atas dosa-dosa yang telah kami perbuat, pengabulan-Mu dalam mencurahkan hujan bagi kami, dan kelapangan rezeki kami."
ولا بأس بالدعاء أدبار الصلوات في الأيام الثلاثة قبل الخروج ولهذا الدعاء آداب وشروط باطنة من التوبة ورد المظالم وغيرها وسيأتي ذلك في كتاب الدعوات
Dan tidak mengapa berdoa di sehabis shalat pada tiga hari sebelum keluar (menuju tempat shalat Istisqa'). Doa ini memiliki adab dan syarat-syarat batin, yaitu taubat, mengembalikan barang-barang kedzaliman (hak-hak orang yang teraniaya), dan selainnya. Penjelasan mengenai hal tersebut akan hadir dalam Kitab Ad-Da'awat (Kitab Doa-Doa).
الثالثة صلاة الجنائز وكيفيتها مشهورة وأجمع دعاء مأثور ما روي في الصحيح عن عوف بن مالك قال رأيت رَسُولَ اللَّهِ ﷺ صَلَّى على جنازة فحفظت من دعائه اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأكرم نزله ووسع مدخله واغسله بالماء والثلج والبرد ونقه من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس وأبدله داراً خيراً من داره وأهلاً خيراً من أهله وزوجاً خيراً من زوجه وأدخله الجنة وأعذه من عذاب القبر ومن عذاب النار حتى قال عوف تمنيت أن أكون أنا ذلك الميت
Yang ketiga adalah shalat jenazah. Tata caranya sudah masyhur (dikenal luas). Doa ma'tsur (yang diriwayatkan) paling lengkap adalah apa yang diriwayatkan dalam kitab Shahih dari Auf bin Malik, ia berkata: "Aku melihat Rasulullah ﷺ menshalati jenazah, lalu aku menghafal di antara doanya: Ya Allah, ampunilah dia, rahmati-lah dia, sejahterakanlah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat persinggahannya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah dia dengan air, salju, dan embun, bersihkanlah dia dari dosa-dosa sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran, gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya, masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dia dari azab kubur serta azab neraka." Sampai-sampai Auf berkata: "Aku berharap akulah jenazah itu."
ومن أدرك التكبيرة الثانية فينبغي أن يراعي ترتيب الصلاة في نفسه ويكبر مع تكبيرات الإمام فإذا سلم الإمام قضى تكبيرة الذي فات كفعل المسبوق فإنه لو بادر التكبيرات لم تبق للقدوة في هذه الصلاة معنى فالتكبيرات هي الأركان الظاهرة وجدير بأن تقام مقام الركعات في سائر الصلوات هذا هو الأوجه عندي وإن كان غيره محتملاً
Barangsiapa mendapati takbir kedua (bersama imam dalam shalat jenazah), hendaknya ia memperhatikan urutan shalat dalam dirinya sendiri dan bertakbir mengikuti takbir-takbir imam. Apabila imam mengucapkan salam, ia meng-qadha takbir yang tertinggal sebagaimana perbuatan makmum masbuq. Sebab, jika ia tergesa-gesa menyusul takbir-takbir itu (sekaligus), tidak tersisa lagi makna mengikut imam (iqtida') dalam shalat ini. Takbir-takbir tersebut merupakan rukun-rukun lahiriah, dan sangat layak ditempatkan di posisi rakaat sebagaimana pada shalat-shalat lainnya. Inilah pendapat yang paling kuat (al-awjah) menurutku, meskipun pendapat selain ini juga memungkinkan.
والأخبار الواردة في فضل صلاة الجنازة وتشييعها مشهورة فلا نطيل بإيرادها وكيف لا يعظم فضلها وَهِيَ مِنْ فَرَائِضِ الْكِفَايَاتِ وَإِنَّمَا تَصِيرُ نَفْلًا فِي حَقِّ مَنْ لَمْ تَتَعَيَّنْ عَلَيْهِ بِحُضُورِ غيره ثم ينال بها فضل فرض الكفاية وإن لم يتعين لأنهم بجملتهم قاموا بما هو فرض الكفاية وأسقطوا الحرج عن غيرهم فلا يكون ذلك كنفل لا يسقط به فرض عن أحد ويستحب طلب كثرة الجمع تبركاً بكثرة الهمم والأدعية واشتماله على ذي دعوة مستجابة لما روى كريب عن ابن عباس أنه مات له ابن فقال يا كريب انظر ما اجتمع له من الناس قال فخرجت فإذا ناس قد اجتمعوا له فأخبرته فقال تقول هم أربعون قلت نعم قال أخرجوه فإني سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول ما من رجل مسلم يموت فيقوم على جنازته أربعون رجلاً لا يشركون بالله شيئاً إلا شفعهم الله ﷿ فيه وإذا شيع الجنازة فوصل المقابر أو دخلها ابتداء قال السلام عليكم أهل هذه الديار من المؤمنين والمسلمين ويرحم الله المستقدمين منا والمستأخرين وإنا إن شاء الله بكم لاحقون
Hadis-hadis yang meriwayatkan tentang keutamaan shalat jenazah dan mengiringinya sudah masyhur, maka kami tidak akan memperpanjang dengan menyebutkannya. Dan bagaimana mungkin keutamaannya tidak agung, padahal ia termasuk fardhu kifayah? Ia hanya menjadi amalan sunnah bagi orang yang tugas itu tidak menjadi kewajiban individual (fardhu 'ain) baginya karena telah dihadiri oleh orang lain. Kemudian ia tetap mendapatkan keutamaan fardhu kifayah meskipun tidak menjadi kewajiban individual baginya, sebab mereka secara keseluruhan telah menegakkan apa yang menjadi fardhu kifayah dan menggugurkan dosa/kesulitan dari orang lain. Maka hal itu tidaklah seperti ibadah sunnah murni yang tidak menggugurkan fardhu dari siapapun. Dan dianjurkan mencari jamaah yang banyak untuk mengharapkan keberkahan dari banyaknya kesungguhan hati (himmah) dan doa-doa, serta kemungkinan adanya orang yang doanya dikabulkan (mustajabad da'wah) di antara mereka. Hal ini berdasarkan riwayat Kuraib dari Ibnu Abbas bahwa seorang putranya meninggal dunia, lalu ia berkata: "Wahai Kuraib, lihatlah berapa banyak orang yang telah berkumpul untuknya." Kuraib berkata: Maka aku keluar dan ternyata orang-orang telah berkumpul untuknya, lalu aku memberitahukannya. Ibnu Abbas bertanya: "Apakah engkau menduga jumlah mereka empat puluh orang?" Aku menjawab: "Ya." Ia berkata: "Keluarkanlah jenazah itu, karena sungguh aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal dunia lalu ada empat puluh orang laki-laki yang tidak menysekutukan Allah dengan sesuatu pun menshalati jenazahnya, melainkan Allah Azza wa Jalla akan menerima syafaat (doa) mereka untuknya." Dan apabila seseorang mengiringi jenazah lalu sampai di pekuburan atau memasukinya sejak awal, ia mengucapkan: "Semoga keselamatan tercurah kepada kalian wahai penghuni tempat ini dari kaum mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului di antara kami dan orang-orang yang datang belakangan. Dan sesungguhnya kami, insya Allah, akan menyusul kalian."
والأولى أن لا ينصرف حتى يدفن الميت فإذا سوي على الميت قبره قام عليه وقال اللهم عبدك رد إليك فارأف به وارحمه اللهم جاف الأرض عن جنبيه وافتح أبواب السماء لروحه وتقبله منك بقول حسن اللهم
Yang lebih utama adalah tidak beranjak pulang sampai mayat selesai dimakamkan. Apabila kubur mayat telah diratakan, hendaknya ia berdiri di atasnya dan berdoa: "Ya Allah, hamba-Mu telah kembali kepada-Mu, maka bersikap lembutlah kepadanya dan rahmati-lah dia. Ya Allah, renggangkanlah tanah dari kedua sisinya, bukakanlah pintu-pintu langit bagi rohnya, dan terimalah dia dari-Mu dengan penerimaan yang baik. Ya Allah…
إن كان محسناً فضاعف له في إحسانه وإن كان مسيئاً فتجاوز عنه
…jika ia orang yang berbuat baik, maka lipatgandakanlah kebaikannya; dan jika ia orang yang berbuat keburukan, maka maafkanlah dia."
الرابعة تحية المسجد ركعتان فصاعداً سنة مؤكدة حتى أنها لا تسقط وإن كان الإمام يخطب يوم الجمعة مع تؤكد وجوب الإصغاء إلى الخطيب
Yang keempat adalah shalat Tahiyyatul Masjid dua rakaat atau lebih, hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan), hingga ia tidak gugur meskipun imam sedang berkhotbah pada hari Jumat, walaupun kewajiban mendengarkan khotbah sangat ditekankan.
وَإِنِ اشْتَغَلَ بِفَرْضٍ أَوْ قَضَاءٍ تَأَدَّى بِهِ التَّحِيَّةُ وَحَصَلَ الْفَضْلُ إِذِ الْمَقْصُودُ أَنْ لَا يَخْلُوَ ابْتِدَاءُ دُخُولِهِ عَنِ الْعِبَادَةِ الْخَاصَّةِ بِالْمَسْجِدِ قياماً بحق المسجد
Dan apabila seseorang langsung disibukkan dengan shalat fardhu atau shalat qadha, maka shalat tahiyyatul masjid sudah tertunai dengannya dan keutamaannya telah diperoleh. Sebab, maksud utamanya adalah agar permulaan masuknya seseorang ke masjid tidak kosong dari ibadah yang khusus bagi masjid demi menunaikan hak masjid.
ولهذا يكره أن يدخل المسجد على غير وضوء فإن دخل لعبور أو جلوس فليقل سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله والله أكبر يقولها أربع مرات يقال إنها عدل ركعتين في الفضل
Oleh karena inilah, dimakruhkan seseorang masuk ke masjid dalam keadaan tidak berwudhu. Jika ia masuk sekadar untuk melintas atau duduk (tanpa berwudhu), hendaknya ia membaca: "Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar" sebanyak empat kali. Dikatakan bahwa ucapan ini sebanding dengan dua rakaat dalam keutamaannya.
ومذهب الشافعي ﵀ أنه لا تكره التحية في أوقات الكراهية وهي بَعْدَ الْعَصْرِ وَبَعْدَ الصُّبْحِ وَوَقْتَ الزَّوَالِ وَوَقْتَ الطلوع والغروب لما روي أنه ﷺ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ فَقِيلَ لَهُ أَمَا نَهَيْتِنَا عَنْ هَذَا فَقَالَ هُمَا رَكْعَتَانِ كُنْتُ أُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الظُّهْرِ فشغلني عنهما الوفد فأفاد هذا الحديث فائدتين إحداهما أن الكراهية مقصورة على صلاة لا سبب لها ومن أضعف الأسباب قضاء النوافل إذ اختلف العلماء في أن النوافل هل تقضى وإذا فعل مثل ما فاته هل يكون قضاء وإذا انتفت الكراهية بأضعف الأسباب فبأحرى أن تنتفي بدخول المسجد وهو سبب قوي
Mazhab Syafi'i rahimahullah berpendapat bahwa shalat Tahiyyatul Masjid tidak dimakruhkan pada waktu-waktu karahah (waktu dilarang shalat), yaitu setelah Ashar, setelah Subuh, saat tergelincirnya matahari (zawal), serta saat matahari terbit dan terbenam. Hal ini berdasarkan riwayat bahwa Nabi ﷺ pernah shalat dua rakaat setelah Ashar, lalu ditanyakan kepada beliau: "Bukankah engkau melarang kami melakukan ini?" Beliau bersabda: "Keduanya adalah dua rakaat yang biasa aku lakukan setelah Zhuhur, namun aku disibukkan darinya oleh kedatangan utusan." Hadis ini memberikan dua faedah: Pertama, bahwa kemakruhan tersebut terbatas pada shalat yang tidak memiliki sebab. Dan di antara sebab yang paling lemah adalah meng-qadha shalat sunnah, sebab para ulama berselisih pendapat apakah shalat sunnah itu di-qadha dan apabila seseorang melakukan hal yang serupa dengan yang terluput darinya apakah itu dinamakan qadha. Jika kemakruhan saja bisa gugur dengan sebab yang paling lemah ini, maka lebih-lebih lagi gugur karena masuk masjid, yang merupakan sebab yang kuat.
ولذلك لا تكره صلاة الجنازة إذا حضرت ولا صلاة الخسوف والاستسقاء في هذه الأوقات لأن لها أسباباً
Oleh sebab itu, shalat jenazah tidak dimakruhkan jika jenazah hadir, begitu pula shalat gerhana (khusuf) dan shalat meminta hujan (istisqa') pada waktu-waktu tersebut, karena shalat-shalat itu memiliki sebab.
الفائدة الثانية قضاء النوافل إذ قضى رسول الله ﷺ ذلك ولنا فيه أسوة حسنة
Faedah kedua adalah disyariatkannya meng-qadha shalat sunnah, karena Rasulullah ﷺ telah meng-qadhanya, dan bagi kita terdapat teladan yang baik pada diri beliau.
وقالت عائشة ﵂ كان رسول الله ﷺ رسول الله ﷺ إذا غَلَبَهُ نَوْمٌ أَوْ مَرَضٌ فَلَمْ يَقُمْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ صَلَّى مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ ركعة وقد قال العلماء من كان في الصلاة ففاته جواب المؤذن فإذا سلم قضى وأجاب وإن كان المؤذن سكت ولا معنى الآن لقول من يقول إن ذلك مثل الأول وليس يقضي إذ لو كان كذلك لما صلاها رسول الله ﷺ في وقت الكراهة
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah ﷺ apabila tertidur atau sakit sehingga tidak bisa bangun pada malam hari, beliau shalat pada awal siang hari sebanyak dua belas rakaat." Para ulama sungguh telah berkata bahwa barangsiapa sedang dalam shalat lalu ia terluput dari menjawab adzan, maka apabila ia telah salam ia meng-qadha dan menjawabnya meskipun muadzin telah diam. Dan tidak ada gunanya sekarang pendapat orang yang mengatakan bahwa hal itu seperti permulaan (shalat baru) dan bukan qadha, sebab jika demikian halnya, tentu Rasulullah ﷺ tidak akan melaksanakannya pada waktu karahah (waktu dilarang shalat).
نعم من كَانَ لَهُ وِرْدٌ فَعَاقَهُ عَنْ ذَلِكَ عُذْرٌ فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يُرَخِّصَ لِنَفْسِهِ فِي تَرْكِهِ بَلْ يَتَدَارَكُهُ فِي وَقْتٍ آخَرَ حَتَّى لَا تميل نفسه إلى الدعة والرفاهية
Benar, barangsiapa memiliki amalan rutin (wird) lalu terhalang oleh suatu uzur, hendaknya ia tidak memberi kelonggaran bagi dirinya untuk meninggalkannya begitu saja, melainkan ia harus mengganti/menyusulnya (yatadarakuhu) pada waktu yang lain agar jiwanya tidak cenderung kepada santai dan kemewahan.
وتداركه حسن على سبيل مجاهدة النفس ولأنه ﷺ قال أحب الأعمال إلى الله تعالى أدومها وإن قل فَيُقْصَدُ بِهِ أَنْ لَا يَفْتُرَ فِي دَوَامِ عمله وروت عائشة ﵂ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قال من عبد الله ﷿ بعبادة ثم تركها ملالة مقته الله ﷿ فليحذر أن يدخل تحت الوعيد
Menggantinya (tadaruk) adalah hal yang baik dalam rangka bermujahadah (menundukkan jiwa) dan karena Nabi ﷺ bersabda: "Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah yang paling kontinu (dawam) meskipun sedikit." Maka yang dimaksudkan adalah agar ia tidak menjadi lemah dalam kelanggengan amalannya. Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: "Barangsiapa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan suatu ibadah lalu meninggalkannya karena bosan, niscaya Allah Azza wa Jalla membencinya." Maka hendaknya ia berhati-hati agar tidak masuk ke dalam ancaman ini.
وتحقيق هذا الخبر
Penjelasan hakikat dari hadis ini…
أنه مقته الله تعالى بتركها ملالة فلولا المقت والإبعاد لما سلطت الملالة عليه
…bahwa Allah Ta'ala membencinya disebabkan ia meninggalkannya karena bosan. Kalaulah bukan karena kebencian dan pengjauhan (dari rahmat Allah), tentu rasa bosan itu tidak akan dikuasakan atas dirinya.
الخامسة ركعتان بعد الوضوء مستحبتان لأن الوضوء قربة ومقصودها الصلاة والأحداث عارضة فربما يطرأ الحدث قبل صلاة فينتقض الوضوء ويضيع السعي فالمبادرة إلى ركعتين استيفاء المقصود الوضوء قبل الفوات
Yang kelima adalah dua rakaat setelah wudhu yang hukumnya sunnah (mustahabbah), karena wudhu adalah suatu qurbah (ibadah pendekatan diri) yang maksud utamanya adalah shalat, sedangkan hadats itu datangnya tak terduga. Boleh jadi hadats terjadi sebelum shalat sehingga wudhu menjadi batal dan usaha (berwudhu) itu menjadi sia-sia. Maka bersegera melakukan dua rakaat adalah untuk menyempurnakan maksud dari wudhu tersebut sebelum terluput.
وعرف ذلك بحديث بلال إذ قال ﷺ دخلت الجنة فرأيت بلالاً فيها فقلت لبلال بم سبقتني إلى الجنة فقال بلال لا أعرف شيئا إلا أني لا أحدث وضوءاً إلا أصلي عقيبه ركعتين
Hal itu diketahui melalui hadis Bilal, tatkala Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku masuk ke dalam surga lalu aku melihat Bilal di dalamnya. Maka aku bertanya kepada Bilal: Dengan amalan apa engkau mendahuluiku ke surga?" Bilal menjawab: "Aku tidak mengetahui sesuatu amalan pun melainkan bahwa aku tidak memperbaharui wudhu melainkan aku shalat dua rakaat setelahnya."
السادسة ركعتان عند دخول المنزل وعند الخروج منه روى أبو هريرة ﵁ قال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إذا خرجت من منزلك فصل ركعتين يمنعانك مخرج السوء وإذا دخلت إلى منزلك فصل ركعتين
Yang keenam adalah dua rakaat ketika memasuki rumah dan ketika keluar darinya. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika engkau keluar dari rumahmu, maka shalatlah dua rakaat yang akan mencegahmu dari tempat keluar yang buruk. Dan jika engkau masuk ke rumahmu, maka shalatlah dua rakaat."
يمنعانك مدخل السوء وفي معنى هذا كل أمر يبتدأ به مما له وقع ولذلك ورد ركعتان عند الإحرام وركعتان عند ابتداء السفر وركعتان عند الرجوع من السفر في المسجد قبل دخول البيت فكل ذلك مأثور من فَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
keduanya mencegahmu dari pintu keburukan. Termasuk dalam makna ini adalah setiap urusan penting yang hendak dimulai. Oleh karena itu, terdapat tuntunan untuk melakukan shalat dua rakaat saat ihram, dua rakaat saat hendak memulai perjalanan (safar), dan dua rakaat di masjid ketika kembali dari perjalanan sebelum memasuki rumah. Semua itu ma'tsur dari perbuatan Rasulullah ﷺ.
وكان بعض الصالحين إذا أكل أكلة صلى ركعتين وإذا شرب شربة صلى ركعتين وكذلك في كل أمر يحدثه
Dahulu sebagian orang saleh apabila makan sehaluan makanan, mereka shalat dua rakaat, dan apabila minum seteguk minuman, mereka shalat dua rakaat, demikian pula pada setiap perkara baru yang mereka lakukan.
وبداية الأمور ينبغي أن يتبرك فيها بذكر الله ﷿ وهي على ثلاث مراتب بعضها يتكرر مراراً كالأكل والشرب فيبدأ فيه باسم اللَّهِ ﷿ وَقَالَ ﷺ كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أبتر
Permulaan setiap urusan hendaknya mengambil berkah dengan mengingat Allah Azza wa Jalla. Hal itu terbagi menjadi tiga tingkatan: Pertama, perkara yang berulang kali terjadi, seperti makan dan minum, maka hendaknya dimulai dengan menyebut nama Allah Azza wa Jalla. Rasulullah ﷺ bersabda: 'Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim, maka ia terputus (dari keberkahan).'
الثانية ما لا يكثر تكرره وله وقع كعقد النكاح وابتداء النصيحة والمشورة فالمستحب فيها أن يصدر بحمد الله فيقول المزوج الحمد لله والصلاة عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ زوجتك ابنتي ويقول القابل الحمد لله والصلاة عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قبلت النكاح وكانت عادة الصحابة ﵃ في ابتداء أداء الرسالة والنصيحة والمشورة تقديم التحميد
Tingkatan kedua: Perkara yang tidak sering berulang tetapi memiliki bobot penting, seperti akad nikah, mengawali nasihat, dan musyawarah. Maka disunnahkan untuk memulainya dengan memuji Allah. Orang yang menikahkan mengucapkan: 'Alhamdulillah wash-shalatu 'ala Rasulillah ﷺ, aku nikahkan engkau dengan putriku.' Dan penerima nikah mengucapkan: 'Alhamdulillah wash-shalatu 'ala Rasulillah ﷺ, aku terima nikah ini.' Dan kebiasaan para Sahabat ra. saat mengawali penyampaian risalah, nasihat, dan musyawarah adalah mendahulukan pujian kepada Allah (tahmid).
الثالثة ما لا يتكرر كثيراً وإذا وقع دام وكان له وقع كالسفر وشراء دار جديدة والإحرام وما يجري مجراه فيستحب تقديم ركعتين عليه وأدناه الخروج من المنزل والدخول إليه فإنه نوع سفر قريب
Tingkatan ketiga: Perkara yang tidak sering berulang, namun jika terjadi akan berlangsung lama dan memiliki kedudukan penting, seperti bepergian (safar), membeli rumah baru, ihram, dan sejenisnya. Maka disunnahkan untuk mendahuluinya dengan shalat dua rakaat. Dan yang paling ringan darinya adalah keluar dari rumah dan memasukinya, karena itu merupakan sejenis perjalanan jarak dekat.
السابعة صلاة الاستخارة فمن هم بأمر وكان لا يدري عاقبته ولا يعرف أن الخير في تركه أو في الإقدام عليه فقد أمره رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بِأَنَّ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ فِي الْأُولَى فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وقل يا أيها الكافرون وفي الثانية الفاتحة وقل هو الله أحد فَإِذَا فَرَغَ دَعَا وَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي ودنياي وعاقبة أمري وعاجله وآجله فاقدره لِي وَبَارِكْ لِي فِيهِ ثُمَّ يَسِّرْهُ لِي وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَعَاقِبَةِ أَمْرِي وَعَاجِلِهِ وآجله فاصرفني عنه واصرفه عني واقدر لي الخير أينما كان إنك على كل شيء قدير رواه جابر بن عبد الله قال كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يعلمنا الاستخارة في الأمور كلها كما يعلمنا السورة من القرآن وقال ﷺ إذا هم أحدكم بأمر فليصل ركعتين ثم ليسم الأمر ويدعو بما ذكرناه وقال بعض الحكماء من أعطي أربعاً لم يمنع أربعا من أعطي الشكر لم يمنع المزيد ومن أعطي التوبة لم يمنع القبول ومن أعطي الاستخارة لم يمنع الخيرة ومن أعطي المشورة لم يمنع الصواب
Ketujuh: Shalat Istikharah. Barang siapa berkeinginan melakukan suatu perkara sedangkan ia tidak mengetahui kesudahannya dan tidak mengetahui apakah kebaikan ada pada meninggalkannya atau melakukannya, sungguh Rasulullah ﷺ telah memerintahkannya untuk shalat dua rakaat. Pada rakaat pertama membaca Al-Fatihah dan 'Qul ya ayyuhal-kafirun', dan pada rakaat kedua membaca Al-Fatihah dan 'Qul huwallahu ahad'. Setelah selesai, ia berdoa dengan mengucapkan: 'Allahumma inni astakhiruka bi'ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as'aluka min fadhlikal-'azhim, fa innaka taqdiru wa la aqdiru wa ta'lamu wa la a'lamu wa anta 'allamul-ghuyub. Allahumma in kunta ta'lamu anna hadzal-amra khairun li fi dini wa dunyaya wa 'aqibati amri wa 'ajilihi wa ajilihi faqdurhu li wa barik li fihi tsumma yassirhu li, wa in kunta ta'lamu anna hadzal-amra syarrun li fi dini wa dunyaya wa 'aqibati amri wa 'ajilihi wa ajilihi fasrifni 'anhu wasrifhu 'anni waqdur liyal-khaira ainama kana innaka 'ala kulli syai'in qadir.' Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah ra. ia berkata: Rasulullah ﷺ mengajari kami istikharah dalam segala urusan sebagaimana mengajari kami satu surah dari Al-Qur'an. Dan beliau ﷺ bersabda: 'Jika salah seorang di antara kalian berkeinginan melakukan suatu perkara, hendaklah ia shalat dua rakaat, kemudian sebutkan urusan itu dan berdoa sebagaimana yang telah kami sebutkan.' Sebagian orang bijak (hukama') berkata: 'Barang siapa diberi empat hal, niscaya tidak dihalangi dari empat hal lain: Barang siapa diberi kebiasaan bersyukur, ia tidak dihalangi dari tambahan nikmat; barang siapa diberi kesempatan bertobat, ia tidak dihalangi dari penerimaan (tobat); barang siapa diberi bimbingan beristikharah, ia tidak dihalangi dari pilihan terbaik; dan barang siapa diberi dorongan bermusyawarah, ia tidak dihalangi dari kebenaran (langkah yang tepat).'
الثامنة صلاة الحاجة فمن ضاق عليه الأمر ومسته حاجة في صلاح دينه ودنياه إلى أمر تعذر عليه فليصل هذه الصلاة فقد روي عن وهيب بن الورد أنه قال إن من الدعاء الذي لا يرد أن يصلي العبد ثنتي عشرة ركعة يقرأ في كل ركعة
Kedelapan: Shalat Hajat. Barang siapa mengalami kesempitan dalam urusannya dan ditimpa hajat demi kebaikan agama serta dunianya terhadap perkara yang sulit baginya, hendaklah ia melakukan shalat ini. Sungguh telah diriwayatkan dari Wuhaib bin Al-Ward bahwasanya ia berkata: 'Sesungguhnya di antara doa yang tidak ditolak adalah seorang hamba melakukan shalat dua belas rakaat, membaca pada setiap rakaatnya…
بأم الكتاب وآية الكرسي وقل هو الله أحد فإذا فرغ خر ساجداً ثم قال سبحان الذي لبس العز وقال به سبحان الذي تعطف بالمجد وتكرم به سبحان الذي أحصى كل شيء بعلمه سبحان الذي لا ينبغي التسبيح إلا له سبحان ذي المن والفضل سبحان ذي العز والكرم سبحان ذي الطول أسألك بمعاقد العز من عرشك ومنتهى الرحمة من كتابك وباسمك الأعظم وجدك الأعلى وكلماتك التامات العامات التي لا يجاوزهن بر ولا فاجر أن تصلي على محمد وعلى آل محمد ثم يسال حاجته التي لا معصية فيها فيجاب إن شاء الله ﷿
…Ummul Kitab (Surah Al-Fatihah), Ayat Kursi, dan 'Qul huwallahu ahad'. Apabila selesai, ia tersungkur sujud lalu mengucapkan: 'Subhanal-ladzi labisal-'izza wa qala bihi, subhanal-ladzi ta'atthafa bil-majdi wa takarrama bihi, subhanal-ladzi ahsha kulla syai'in bi'ilmihi, subhanal-ladzi la yanbaghit-tasbihu illa lahu, subhana dzil-manni wal-fadhli, subhana dzil-'izzi wal-karami, subhana dzith-thaul, as'aluka bima'aqidil-'izzi min 'arsyika wa muntahar-rahmati min kitabika wa bismikal-a'zham wa jaddikal-a'la wa kalimatikat-tammattil-'ammattillati la yujawizuhunna barrun wa la fajir an tushalliya 'ala Muhammadin wa 'ala ali Muhammadin.' Kemudian ia memohon hajatnya yang tidak mengandung maksiat, niscaya akan dikabulkan, insya Allah Azza wa Jalla.
قال وهيب بلغنا أنه كان يقال لا تعلموها لسفهائكم فيتعاونون بها على معصية الله ﷿
Wuhaib berkata: 'Telah sampai berita kepada kami bahwasanya dahulu dikatakan: Janganlah kalian mengajarkannya kepada orang-orang dungu di antara kalian, sehingga mereka saling memanfaatkan doa itu untuk bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla.'
التاسعة صلاة التسبيح وهذه الصلاة مأثورة على وجها ولا تختص بوقت ولا بسبب ويستحب أن لا يخلو الأسبوع عنها مرة واحدة أو الشهر مرة
Kesembilan: Shalat Tasbih. Shalat ini ma'tsur menurut tata caranya, tidak terikat oleh waktu tertentu maupun sebab tertentu. Disunnahkan agar satu pekan tidak kosong darinya walau satu kali, atau satu bulan sekali.
فقد روى عكرمة عن ابن عباس رضي الله منها أنه ﷺ قال للعباس بن عبد المطلب ألا أعطيك ألا أمنحك ألا أحبوك بشيء إذا أنت فعلته غفر الله لك ذنبك أوله وآخره قديمه وحديثه خطأه وعمده سره وعلانيته تصلي أربع ركعات تقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب وسورة فإذا فرغت من القراءة في أول ركعة وأنت قائم تقول سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله والله أكبر
Sungguh Ikrimah telah merawatkan dari Ibn Abbas ra. bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda kepada Al-Abbas bin Abdul Muththalib: 'Maukah engkau aku beri, maukah engkau aku anugerahi, maukah engkau aku beri keutamaan dengan sesuatu yang apabila engkau melakukannya, niscaya Allah mengampuni dosamu: yang awal dan yang akhir, yang lama dan yang baru, yang tersengaja dan yang tidak disengaja, yang tersembunyi dan yang terang-terangan? Yaitu engkau shalat empat rakaat, membaca pada setiap rakaat Al-Fatihah dan satu surah. Apabila engkau selesai membaca (Al-Fatihah dan surah) di rakaat pertama saat engkau masih berdiri, ucapkanlah: Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar…'
خمس عشرة مرة ثم تركع فتقولها وأنت راكع عشر مرات ثم ترفع من الركوع فتقولها قائما عشرا ثم تسجد فتقولها عشراً ثم ترفع من السجود فتقولها جالسا عشرا ثم تسجد فتقولها وأنت ساجد عشراً ثم ترفع من السجود فتقولها عشراً فذلك خمس وسبعون في كل ركعة تفعل ذلك في أربع ركعات إن استطعت أن تصليها في كل يوم مرة فافعل فإن لم تفعل ففي كل جمعة مرة فإن لم تفعل ففي كل شهر مرة فإن لم تفعل ففي السنة مرة وفي رواية أخرى أنه يقول في أول الصلاة سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وتقدست أسماؤك ولا إله غيرك ثم يسبح خمس عشرة تسبيحة قبل القراءة وعشراً بعد القراءة والباقي كما سبق عشراً عشراً ولا يسبح بعد السجود الأخير قاعدا وهذا هو الأحسن وهو اختيار ابن المبارك
…sebanyak lima belas kali. Kemudian ruku' dan ucapkanlah saat ruku' sepuluh kali, lalu iktidal (bangkit dari ruku') dan ucapkanlah saat berdiri sepuluh kali, lalu sujud dan ucapkanlah sepuluh kali, lalu bangkit dari sujud dan ucapkanlah saat duduk sepuluh kali, lalu sujud (kedua) dan ucapkanlah saat sujud sepuluh kali, lalu bangkit dari sujud (duduk istirahat) dan ucapkanlah sepuluh kali. Maka jumlahnya tujuh puluh lima kali dalam setiap rakaat. Engkau lakukan itu dalam empat rakaat. Jika engkau sanggup melaksanakannya setiap hari sekali, lakukanlah. Jika tidak, maka setiap pekan sekali. Jika tidak, maka setiap bulan sekali. Jika tidak, maka setiap tahun sekali.' Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia mengucapkan pada awal shalat: 'Subhanakallahumma wa bihamdika wa tabarakasmuka wa ta'ala jadduka wa taqaddasat asma'uka wa la ilaha ghairuka', kemudian bertasbih lima belas kali sebelum membaca Al-Fatihah, dan sepuluh kali setelah membaca Al-Fatihah dan surah, adapun selebihnya seperti urutan sebelumnya sepuluh-sepuluh kali, dan tidak bertasbih setelah sujud kedua dalam keadaan duduk. Tata cara ini yang lebih utama dan merupakan pilihan Abdullah bin Al-Mubarak.
والمجموع من الروايتين ثلثمائة تسبيحة فإن صلاها نهاراً فبتسليمة واحدة وإن صلاها ليلاً فبتسليمتين أحسن إذ ورد
Jumlah keseluruhan dari kedua riwayat tersebut adalah tiga ratus kali tasbih. Jika ia melaksanakannya pada siang hari, hendaknya dengan satu salam (empat rakaat sekaligus). Namun jika melaksanakannya pada malam hari, maka dengan dua kali salam (tiap dua rakaat satu salam) adalah lebih utama, sebab terdapat riwayat…
أن صلاة الليل مثنى مثنى وإن زاد بعد التسبيح قوله لا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ فهو حسن فقد ورد ذلك في بعض الروايات فهذه الصلوات المأثورة
…bahwa shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Dan jika ia menambahkan setelah kalimat tasbih ucapan 'La haula wa la quwwata illa billahil-'aliyyil-'azhim', maka itu adalah hal yang baik, karena hal tersebut tercantum dalam sebagian riwayat. Inilah shalat-shalat sunnah yang ma'tsur.
ولا يستحب شيء من هذه النوافل في الأوقات المكروهة إلا تحية المسجد وما أوردناه بعد التحية من ركعتي الوضوء وصلاة السفر والخروج من المنزل والاستخارة فلا لأن النهي مؤكد وهذه الأسباب ضعيفة فلا تبلغ درجة الخسوف والاستسقاء والتحية
Tidak disunnahkan satu pun dari shalat-shalat sunnah ini dilakukan pada waktu-waktu yang dimakruhkan, kecuali shalat Tahiyyatul Masjid. Adapun shalat yang kami sebutkan setelah Tahiyyatul Masjid, seperti shalat dua rakaat wudhu, shalat safar, shalat keluar rumah, dan istikharah, maka tidak boleh dikerjakan pada waktu makruh, karena larangan pada waktu-waktu tersebut sangat kuat, sedangkan sebab-sebab shalat tersebut tergolong lemah, sehingga tidak mencapai derajat shalat gerhana (khusuf), shalat minta hujan (istisqa'), dan shalat Tahiyyatul Masjid.
وقد رأيت بعض المتصوفة يصلي في الأوقات المكروهة ركعتي الوضوء وهو في غاية البعد لأن الوضوء لا يكون سببا الصلاة بل الصلاة سبب الوضوء
Aku pernah melihat sebagian kaum sufi melakukan shalat dua rakaat wudhu pada waktu-waktu yang dimakruhkan. Hal itu sangat jauh dari kebenaran (pemahaman fiqih), karena wudhu bukanlah sebab bagi shalat, melainkan shalatlah yang menjadi sebab disyariatkannya wudhu.
فينبغي أن يتوضأ ليصلي لا أنه يصلي لأنه توضأ
Maka semestinya seseorang berwudhu agar ia dapat shalat, bukan ia shalat semata-mata karena ia telah berwudhu.
وكل محدث يريد أن يصلي في وقت الكراهية فلا سبيل له إلا أن يتوضأ ويصلي فلا يبقى للكراهية معنى
Jikalau setiap orang yang berhadats yang ingin shalat di waktu makruh tidak ada jalan baginya melainkan berwudhu lalu shalat, niscaya tidak akan tersisa lagi makna dari waktu makruh itu.
ولا ينبغي أن ينوي ركعتي الوضوء كما ينوي ركعتي التحية بل إذا توضأ صلى ركعتين تطوعاً كيلا يتعطل وضوءه كما كان يفعله بلال فهو تطوع محض يقع عقيب الوضوء
Dan tidak semestinya seseorang berniat 'shalat dua rakaat wudhu' sebagaimana ia berniat dua rakaat Tahiyyatul Masjid. Melainkan, apabila ia telah berwudhu, ia shalat dua rakaat sunnah mutlak agar wudhunanya tidak sia-sia, sebagaimana yang dahulu dilakukan oleh Bilal ra. Shalat itu adalah sunnah mutlak (tathawwu' mahdh) yang dilakukan seusai wudhu.
وحديث بلال لم يدل على أن الوضوء سبب كالخسوف والتحية حتى ينوي ركعتي الوضوء فيستحيل أن ينوي بالصلاة الوضوء بل ينبغي أن ينوي بالوضوء الصلاة
Hadis Bilal ra. tidak menunjukkan bahwa wudhu merupakan sebab (bagi shalat) seperti halnya gerhana dan tahiyyatul masjid sehingga seseorang berniat shalat dua rakaat wudhu. Maka mustahil seseorang berniat wudhu dengan shalatnya, melainkan semestinya ia berniat shalat dengan wudhunanya.
وكيف ينتظم أن يقول في وضوئه أتوضأ لصلاتي وفي صلاته يقول أصلي لوضوئي بل من أراد أن يحرس وضوءه عن التعطيل في وقت الكراهية فلينو قضاء إن كان يجوز أن يكون في ذمته صلاة تطرق إليها خلل لسبب من الأسباب فإن قضاء الصلوات في أوقات الكراهية غير مكروه فأمانية التطوع فلا وجه لها
Bagaimana mungkin selaras apabila seseorang berkata saat berwudhu, 'Aku berwudhu untuk shalatku,' namun di dalam shalatnya ia berkata, 'Aku shalat untuk wudhuku'? Bahkan, barangsiapa yang ingin menjaga wudhunil agar tidak sia-sia pada waktu yang dimakruhkan, hendaklah ia berniat mengqadha shalat jika dimungkinkan masih ada tanggungan shalat yang terganggu oleh suatu cacat karena sebab tertentu. Sebab, mengqadha shalat pada waktu-waktu karahah (makruh) tidaklah dimakruhkan. Adapun keinginan untuk sekadar melaksanakannya sebagai shalat sunnah mutlak (tathawwu'), maka hal itu tidak memiliki dasar yang kuat.
ففي النهي في أوقات الكراهية مهمات ثلاثة
Maka dalam larangan (shalat) pada waktu-waktu yang dimakruhkan terdapat tiga hal penting:
أحدها التوقي من مضاهاة عبدة الشمس
Pertama, menjaga diri agar tidak menyerupai para penyembah matahari.
والثاني الاحتراز من انتشار الشياطين إذ قال ﷺ إن الشمس لتطلع ومعها قرن الشيطان فإذا طلعت قارنها وإذا ارتفعت فارقها فإن استوت قارنها فإذا زالت فارقها فإذا تضيفت للغروب قارنها فإذا غربت فارقها ونهى عن الصلوات في هذه الأوقات ونبه به على العلة
Kedua, membentengi diri dari bertebarannya setan-setan. Sebab Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya matahari terbit bersamaan dengan tanduk setan. Apabila matahari telah terbit, setan menyertainya. Apabila matahari telah meninggi, ia meninggalkannya. Apabila matahari berada di tengah-tengah (istiwa'), ia menyertainya kembali. Apabila matahari telah tergelincir, ia meninggalkannya. Apabila matahari menjelang tenggelam, ia menyertainya. Dan apabila matahari telah tenggelam, ia meninggalkannya.' Beliau melarang melaksanakan shalat pada waktu-waktu ini sekaligus mengingatkan akan 'illat (sebab) larangan tersebut.
والثالث أن سالكي طريق الآخرة لا يزالون يواظبون على الصلوات في جميع الأوقات
Ketiga, bahwa para penempuh jalan akhirat (salik) senantiasa berkesinambungan mendirikan shalat di setiap waktu.
والمواظبة على نمط واحد من العبادات يورث الملل
Sedangkan terus-menerus melakukan satu bentuk ibadah secara monoton dapat menimbulkan rasa kebosanan (jenuh).
ومهما منع منها ساعة زاد النشاط وانبعثت الدواعي والإنسان حريص على ما منع منه فَفِي تَعْطِيلِ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ زِيَادَةُ تَحْرِيضٍ وَبَعْثٍ على انتظار انقضاء الوقت فخصصت هذه الأوقات بالتسبيح والاستغفار حذراً من الملل بالمداومة وتفرجاً بالانتقال من نوع عبادة إلى نوع آخر
Ketika ia dilarang darinya sejenak, timbullah dorongan dan semangat yang bertambah, sebab manusia cenderung menginginkan apa yang dilarang baginya. Maka dengan dikosongkannya waktu-waktu ini (dari shalat), terdapat dorongan dan pemicu ekstra untuk menantikan berlalunya waktu tersebut. Oleh karena itu, waktu-waktu ini dikhususkan untuk tasbih dan istighfar demi menghindari kejenuhan akibat kontinuitas yang monoton, serta sebagai penyegaran dengan berpindah dari satu jenis ibadah ke jenis ibadah lainnya.
ففي الاستطراف والاستجداد لذة ونشاط وفي الاستمرار على شيء واحد استثقال وملالا ولذلك لم تكن الصلاة سجوداً مجرداً ولا ركوعاً مجرداً ولا قياماً مجرداً بل رتبت العبادات من أعمال مختلفة وأذكار متباينة فإن القلب يدرك من كل عمل منهما لذة جديدة عند الانتقال إليها ولو واظب على الشيء الواحد لتسارع إليه الملل
Sebab dalam variasi dan pembaruan terdapat kelezatan serta semangat, sedangkan dalam ketiadaan variasi pada satu hal saja terdapat beban berat dan kebosanan. Oleh karena itu, shalat tidak diciptakan hanya berupa sujud semata, tidak pula ruku' semata, dan tidak pula berdiri semata. Melainkan ibadah disusun dari berbagai perbuatan yang beraneka ragam serta dzikir yang bervariasi; karena hati meresapi kelezatan baru dari setiap amalan ketika berpindah kepadanya. Sekiranya ia hanya terus-menerus melakukan satu hal saja, niscaya kebosanan akan cepat menghampirinya.
فإذا كانت هذه أموراً مهمة في النهي عن ارتكاب أوقات الكراهة إلى غير ذلك من أسرار أخرى ليس في قوة البشر الاطلاع عليها والله ورسوله أعلم بها
Maka apabila hal-hal ini merupakan hikmah penting dalam larangan menerjang waktu-waktu karahah (makruh), di samping rahasia-rahasia lain yang tidak mampu dijangkau oleh akal manusia, sedang Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui akan hal itu,
فهذه المهمات لا تترك إلا بأسباب مهمة في الشرع مثل قضاء الصلوات وصلاة الاستسقاء والخسوف وتحية المسجد
maka hal-hal penting ini tidak boleh ditinggalkan kecuali karena adanya sebab-sebab penting yang diakui syariat, seperti mengqadha shalat, shalat Istisqa' (memohon hujan), shalat Khusuf (gerhana), dan shalat Tahiyatul Masjid.
فأما ما ضعف عنها فلا ينبغي أن يصادم به مقصود النهي
Adapun shalat yang sebabnya lebih lemah dari itu, maka tidak sepatutnya digunakan untuk membenturkan maksud dari larangan tersebut.
هذا هو الأوجه عندنا والله أعلم
Inilah pendapat yang paling unggul (al-awjah) menurut kami, Wallahu a'lam.
كمل كتاب أسرار الصلاة من كتاب إحياء علوم الدين
Sempurnalah Kitab Rahasia-Rahasia Shalat dari kitab Ihya' 'Ulumiddin.