بيان الدواء الذي به يستجلب حال الخوف
بيان الدواء الذي به يستجلب حال الخوف
Penjelasan Obat untuk Menumbuhkan Keadaan Takut (Khauf)
اعلم أن ما ذكرناه في حال الصبر وشرحناه في كتاب الصبر والشكر هو كاف في هذا الغرض لأن الصبر لا يمكن إلا بعد حصول الخوف والرجاء لأن أول مقامات الدين اليقين الذي هو عبارة عن قوة الإيمان بالله تعالى باليوم والآخر والجنة والنار وهذا اليقين بالضرورة يهيج الخوف من النار والرجاء للجنة والرجاء والخوف يقويان على الصبر فإن الجنة قد حفت بالمكاره فلا يصبر على تحملها إلا بقوة الرجاء والنار قد حفت بالشهوات فلا يصبر على قمعها إلا بقوة الخوف ولذلك قال علي كرم الله وجهه
Ketahuilah bahwa apa yang telah kami sebutkan mengenai keadaan sabar dan kami jelaskan dalam Kitab as-Sabr wa asy-Syukr (Sabar dan Syukur) sudah mencukupi untuk tujuan ini. Sebab sabar tidak mungkin terwujud melainkan setelah tercapainya rasa takut (khauf) dan harapan (raja'). Karena maqam (stasiun spiritual) keagamaan yang pertama adalah yakin, yang merupakan kiasan bagi kuatnya iman kepada Allah Ta'ala, hari akhir, surga, dan neraka. Dan keyakinan ini secara keniscayaan akan membangkitkan rasa takut dari neraka dan harapan menuju surga. Harapan dan rasa takut inilah yang menguatkan seseorang untuk bersabar. Sebab surga diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai (makarih), maka tidak ada yang mampu bersabar menanggungnya kecuali dengan kekuatan raja'. Sedangkan neraka diliputi oleh hal-hal yang disukai syahwat, maka tidak ada yang mampu bersabar menundukkannya kecuali dengan kekuatan khauf. Oleh karena itu Ali karramallahu wajhah berkata:
من اشتاق إلى الجنة سلا عن الشهوات ومن أشفق من النار رجع عن المحرمات ثم يؤدي مقام الصبر المستفاد من الخوف والرجاء إلى مقام المجاهدة والتجرد لذكر الله تعالى والفكر فيه على الدوام ويؤدي دوام الذكر إلى الأنس ودوام الفكر إلى كمال المعرفة ويؤدي كمال المعرفة والأنس إلى المحبة ويتبعها مقام الرضا والتوكل وسائر المقامات فهذا هو الترتيب في سلوك منازل الدين وليس بعد أصل اليقين مقام سوى الخوف والرجاء ولا بعدهما مقام سوى الصبر وبه المجاهدة والتجرد لله ظاهراً وباطناً ولا مقام بعد المجاهدة لمن فتح له الطريق إلا الهداية والمعرفة ولا مقام بعد المعرفة إلا المحبة والأنس ومن ضرورة المحبة الرضا بفعل المحبوب والثقة بعنايته وهو التوكل فإذن فيما ذكرناه في علاج الصبر كفاية ولكنا نفرد الخوف بكلام جملي فنقول الخوف يحصل بطريقتين مختلفين أحدهما أعلى من الآخر ومثاله أن الصبي إذا كان في بيت فدخل عليه سبع أو حية ربما كان لا يخاف وربما مد اليد إلى الحية ليأخذها ويلعب بها ولكن إذا كان معه أبوه وهو عاقل خاف من الحية وهرب منها فإذا نظر الصبي إلى أبيه
'Barang siapa yang merindukan surga, niscaya ia akan melupakan syahwat; dan barang siapa yang takut kepada neraka, niscaya ia akan berpaling dari hal-hal yang diharamkan.' Kemudian maqam sabar yang diperoleh dari khauf dan raja' ini membuahkan maqam mujahadah (perjuangan jiwa) dan kepasrahan total (tajarrud) untuk senantiasa berzikir kepada Allah Ta'ala dan bertafakur tentang-Nya secara terus-menerus. Dawam (kelanggengan) zikir membuahkan rasa nyaman (uns), sedangkan kelanggengan tafakur membuahkan kesempurnaan ma'rifat. Kesempurnaan ma'rifat dan rasa nyaman membuahkan cinta (mahabbah), yang kemudian diikuti oleh maqam ridha, tawakal, dan maqam-maqam lainnya. Inilah urutan dalam menempuh tingkatan-tingkatan (manazil) agama. Tidak ada maqam setelah pokok keyakinan selain khauf dan raja', tidak ada maqam setelah keduanya selain sabar, dan dengannya terwujud mujahadah serta penyerahan diri secara total kepada Allah lahir dan batin. Tidak ada maqam setelah mujahadah bagi orang yang dibukakan jalan baginya melainkan hidayah dan ma'rifat, dan tidak ada maqam setelah ma'rifat melainkan mahabbah dan uns. Termasuk keniscayaan dari mahabbah adalah keridhaan atas perbuatan Sang Kekasih serta kepercayaan pada perlindungan-Nya, yaitu tawakal. Maka, apa yang kami jelaskan dalam pengobatan sabar sudah cukup. Namun, kami akan mengkhususkan pembahasan khauf secara menyeluruh, lalu kami katakan: Khauf diperoleh melalui dua cara yang berbeda, yang salah satunya lebih tinggi dari yang lain. Perumpamaannya adalah seorang anak kecil yang berada di sebuah rumah, lalu seekor binatang buas atau ular masuk mendatangi dirinya; bisa jadi anak itu tidak takut, bahkan mungkin mengulurkan tangannya ke arah ular untuk mengambil dan memainkannya. Namun jika ayahnya yang berakal bersamanya, sang ayah akan takut kepada ular dan lari darinya. Apabila anak kecil itu melihat ayahnya…
وهو ترتعد فرائصه ويحتال في الهرب منها قام معه وغلب عليه الخوف ووافقه في الهرب فخوف الأب عن بصيرة ومعرفة بصفة الحية وسمها وخاصيتها وسطوة السبع وبطشه وقلة مبالاته
…dalam keadaan gemetar tubuhnya dan mengupayakan cara untuk lari darinya, anak itu pun ikut berdiri bersama ayahnya, didominasi rasa takut, dan ikut lari bersamanya. Rasa takut sang ayah bersumber dari bashirah (mata hati/pengetahuan mendalam) dan ma'rifat tentang sifat ular, racunnya, kekhasannya, serta keganasan binatang buas, cengkeramannya, dan ketidakpeduliannya.
وأما خوف الابن فإيمانه بمجرد التقليد لأنه يحسن الظن بأبيه ويعلم أنه لا يخاف إلا من سبب مخوف في نفسه فيعلم أن السبع مخوف ولا يعرف وجهه وإذا عرفت هذا المثال فاعلم أن الخوف من الله تعالى على مقامين أحدهما الخوف من عذابه والثاني الخوف منه فأما الخوف منه فهو خوف العلماء وأرباب القلوب العارفين من صفاته ما يقتضي الهيبة والخوف والحذر المطلعين على سر قوله تعالى ويحذركم الله نفسه وقوله ﷿ اتقوا الله حق تقاته وأما الأول فهو خوف عموم الخلق وهو حاصل بأصل الإيمان بالجنة والنار وكونهما جزاءين على الطاعة والمعصية وضعفه بسبب الغفلة وسبب ضعف الإيمان وإنما تزول الغفلة بالتذكير والوعظ وملازمة الفكر في أهوال يوم القيامة وأصناف العذاب في الآخرة وتزول أيضاً بالنظر إلى الخائفين ومجالستهم ومشاهدة أحوالهم فإن فاتت المشاهدة فالسماع لا يخلو عن تأثير وأما الثاني وهو الأعلى فأن يكون الله هو المخوف أعني أن يخاف العبد الحجاب عنه ويرجو القرب منه
Adapun rasa takut anak itu keimanannya hanya berdasarkan taklid (mengikut), karena ia berprasangka baik kepada ayahnya dan mengetahui bahwa ayahnya tidak akan takut melainkan dari sesuatu yang menakutkan pada hakikatnya, sehingga ia mengetahui bahwa binatang buas itu menakutkan tanpa mengetahui alasannya. Jika engkau telah memahami perumpamaan ini, maka ketahuilah bahwa takut (khauf) kepada Allah Ta'ala itu ada dua maqam: Pertama, takut akan azab-Nya; dan kedua, takut kepada diri-Nya. Adapun takut kepada diri-Nya merupakan khauf-nya para ulama dan arbab al-qulub (pemilik hati spiritual) yang mengenal sifat-sifat Allah yang menuntut keagungan (haibah), rasa takut, dan kewaspadaan, serta orang-orang yang memahami rahasia firman Allah Ta'ala: 'Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya' (QS. Ali Imran: 28) dan firman-Nya 'Azza wa Jalla: 'Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya' (QS. Ali Imran: 102). Adapun yang pertama adalah khauf-nya kaum awam (orang banyak), yang diperoleh dari pokok keimanan pada surga dan neraka serta keberadaan keduanya sebagai balasan atas ketaatan dan kemaksiatan. Kelemahan khauf ini disebabkan oleh kelalaian (ghaflah) dan lemahnya iman. Kelalaian itu hanya bisa dihilangkan dengan peringatan, nasihat, dan senantiasa bertafakur tentang kedahsyatan hari kiamat serta beraneka jenis azab di akhirat; dan bisa pula dihilangkan dengan melihat orang-orang yang takut, duduk bersanding dengan mereka, serta menyaksikan keadaan mereka. Jika pengamatan langsung tidak diperoleh, maka mendengarkan kisahnya pun tidak hampa dari pengaruh. Sedangkan yang kedua—yang merupakan maqam paling tinggi—adalah menjadikan Allah sebagai Zat yang ditakuti; maksudnya, hamba tersebut takut terhalang (terhijab) dari-Nya dan berharap untuk dekat dengan-Nya.
قال ذو النون رحمه الله تعالى خوف النار عند خوف الفراق كقطرة قطرت في بحر لجي وهذه خشية العلماء حيث قَالَ تَعَالَى إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ العلماء ولعموم المؤمنين أيضاً حظ من هذه الخشية ولكن هو بمجرد التقليد أيضا هي خوف الصبي من الحية تقليداً لأبيه وذلك لا يستند إلى بصيرة فلا جرم يضعف ويزول على قرب حتى إن الصبي ربما يرى المعزم يقدم على أخذ الحية فينظر إليه ويغتر به فيتجرأ على أخذها تقليداً له كما احترز من أخذها تقليداً لأبيه والعقائد التقليدية ضعيفة في الغالب إلا إذا قويت بمشاهدة أسبابها المؤكدة لها على الدوام وبالمواظبة على مقتضاها في تكثير الطاعات واجتناب المعاصي مدة طويلة على الاستمرار فإذن من ارتقى إلى ذروة المعرفة وعرف الله تعالى خافه بالضرورة فلا يحتاج إلى علاج لجلب الخوف كما أن من عرف السبع ورأى نفسه واقعاً في مخالبه لا يحتاج إلى علاج لجلب الخوف إلى قلبه بل يخافه بالضرورة شاء أم أبى ولذلك أوحى الله تعالى إلى داود ﵊ خفني كما تخاف السبع الضاري
Dzun Nun rahimahullah berkata, 'Takut akan neraka jika dibandingkan dengan takut akan perpisahan (dengan Allah) bagaikan setetes air yang jatuh ke laut yang dalam.' Inilah rasa takut (khasyyah) para ulama, sebagaimana firman-Nya Ta'ala: 'Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama' (QS. Fathir: 28). Kaum mukminin secara umum juga memiliki bagian dari khasyyah ini, namun hal itu hanya berdasarkan taklid semata, bagaikan rasa takut anak kecil kepada ular karena bertaklid kepada ayahnya. Hal itu tidak bersumber dari bashirah (pandangan batin), maka tak pelak lagi ia menjadi lemah dan sirna dalam waktu dekat; hingga sang anak mungkin melihat pawang ular memberanikan diri mengambil ular, lalu ia memandangnya dan tertipu olehnya, sehingga ia memberanikan diri mengambilnya karena bertaklid kepadanya sebagaimana ia dahulu menjaga diri dari mengambilnya karena bertaklid kepada ayahnya. Akidah-akidah taklidi pada umumnya lemah, kecuali jika diperkuat dengan menyaksikan sebab-sebab yang menegaskannya secara terus-menerus dan dengan menekuni tuntutannya melalui pembanyakan ketaatan serta penjagaan diri dari maksiat dalam jangka waktu yang panjang secara berkesinambungan. Maka dari itu, barang siapa naik ke puncak ma'rifat dan mengenal Allah Ta'ala, niscaya ia takut kepada-Nya secara niscaya (darurat), sehingga ia tidak memerlukan obat untuk mendatangkan rasa takut; sebagaimana orang yang mengenali binatang buas dan melihat dirinya jatuh ke dalam cengkeramannya tidak memerlukan obat untuk menghadirkan rasa takut ke dalam hatinya, melainkan ia takut kepadanya secara pasti, suka ataupun tidak. Oleh karena itulah Allah Ta'ala mewahyukan kepada Dawud 'alaihissalam: 'Takutlah kepada-Ku sebagaimana engkau takut kepada binatang buas yang ganas.'
ولا حيلة في جلب الخوف من السبع الضاري إلا معرفة السبع ومعرفة الوقوع في مخالبه فلا يحتاج إلى حيلة سواء فمن عرف الله تعالى عرف أنه يفعل ما يشاء ولا يبالي ويحكم ما يريد ولا يخاف قرب الملائكة من غير وسيلة سابقة وأبعد إبليس من غير جريمة سالفة بل صفته ما ترجمه قوله تعالى هؤلاء في الجنة ولا أبالي وهؤلاء في النار ولا أبالي
Tidak ada reka daya untuk menghadirkan rasa takut terhadap binatang buas yang menerkam kecuali dengan mengenali binatang buas itu dan mengetahui risiko jatuh ke dalam cengkeramannya; maka tidak diperlukan reka daya lain. Demikian pula, barang siapa mengenal Allah Ta'ala, niscaya ia mengetahui bahwa Dia berbuat apa yang Dia kehendaki tanpa peduli, dan menetapkan hukum atas apa yang Dia inginkan tanpa merasa khawatir. Dia mendekatkan para malaikat tanpa ada perantara (wasilah) kebaikan sebelumnya, dan menjauhkan Iblis tanpa ada kejahatan sebelumnya. Bahkan sifat-Nya adalah sebagaimana diterjemahkan oleh firman-Nya (dalam hadis kudsi): "Mereka ini berada di surga dan Aku tidak peduli, dan mereka ini berada di neraka dan Aku tidak peduli."
وإن خطر ببالك أنه لا يعاقب إلا على معصية ولا يثيب إلا على طاعة فتأمل أنه لم يمد المطيع بأسباب الطاعة حتى يطيع شاء أم أبى ولم يمد العاصي بدواعي المعصية حتى يعصى شاء أم أبى فإنه مهما خلق الغفلة والشهوة والقدرة على قضاء الشهوة كان الفعل واقعاً بها بالضرورة فإن كان أبعده لأنه عصاه فلم حمله على المعصية هل ذلك لمعصية سابقة حتى يتسلسل إلى غير نهاية أو يقف لا محالة على أول لا علة له من جهة العبد بل قضي عليه في الأزل وعن هذا المعنى عبر ﷺ إذ قال احتج آدم موسى عليهما الصلاة والسلام عند ربهما فحج آدم موسى ﵇ قال موسى أنت آدم الذي خلقك الله بيده ونفخ فيك من روحه وأسجد لك ملائكته وأسكنك جنته ثم أهبطت الناس بخطيئتك إلى الأرض
Jika terlintas dalam benakmu bahwa Dia tidak menghukum kecuali atas kemaksiatan dan tidak memberi pahala kecuali atas ketaatan, maka renungkanlah bahwa Dia tidak membekali orang yang taat dengan sebab-sebab ketaatan hingga ia taat, baik ia mau maupun tidak; dan Dia tidak membekali orang yang bermaksiat dengan pendorong-pendorant kemaksiatan hingga ia bermaksiat, baik ia mau maupun tidak. Sebab, kapan pun Dia menciptakan kelalaian, syahwat, dan kemampuan untuk melampiaskan syahwat, maka perbuatan itu niscaya terjadi secara darurat. Jika Dia menjauhkan seseorang karena ia bermaksiat kepada-Nya, lantas mengapa Dia mendorongnya untuk bermaksiat? Apakah itu karena kemaksiatan sebelumnya hingga terjadi rantai sebab-akibat tanpa akhir (tasalsul), ataukah pasti berujung pada permulaan yang tidak memiliki sebab dari pihak hamba, melainkan telah ditetapkan baginya di alam azali? Makna inilah yang diungkapkan oleh Nabi ﷺ ketika bersabda: "Adam dan Musa 'alaihimas-shalatu was-salam berdebat di hadapan Tuhan mereka, maka Adam mengalahkan argumen Musa 'alaihissalam. Musa berkata: 'Engkau adalah Adam yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya, ditiupkan ke dalammu dari roh-Nya, diperintahkan para malaikat-Nya untuk bersujud kepadamu, dan ditempatkan di surga-Nya, kemudian engkau menurunkan manusia ke bumi karena kesalahanmu?'"
فقال آدم أنت موسى الذي اصطفاك الله برسالته وبكلامه وأعطاك الألواح فيها تبيان كل شيء وقربك نجياً فبكم وجدت الله كتب التوراة قبل أن أخلق قال موسى بأربعين عاماً
Adam menjawab: "Engkau adalah Musa yang telah dipilih Allah dengan risalah-Nya dan firman-Nya, serta memberikan kepadamu luh-luh yang di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu, dan mendekatkanmu untuk bermunajat. Berapa tahun sebelum aku diciptakan engkau mendapati Allah telah menuliskan Taurat?" Musa menjawab: "Empat puluh tahun."
قال آدم فهل وجدت فيها ﴿وعصى آدم ربه فغوى﴾ قال نعم
Adam berkata: "Apakah engkau menemukan di dalamnya ayat: 'Dan durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia'?" Musa menjawab: "Ya."
قال أفتلومني على
Adam berkata: "Apakah engkau mencelaku atas…"
أن عملت عملاً كتبه الله علي قبل أن أعمله وقبل أن يخلقني بأربعين سنة قال ﷺ فحج آدم موسى
"…suatu perbuatan yang telah dituliskan Allah bagiku sebelum aku mengerjakannya dan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakanku?" Nabi ﷺ bersabda: "Maka Adam mengalahkan argumen Musa."
فمن عرف السبب في هذا الأمر معرفة صادرة عن نور الهداية فهو من خصوص العارفين المطلعين على سر القدر ومن سمع هذا فآمن به وصدق بمجرد السماع فهو من عموم المؤمنين ويحصل لكل واحد من الفريقين خوف فإن كان عبد فهو واقع في قبضة القدرة وقوع الصبي الضعيف في مخالب السبع والسبع قد يغفل بالاتفاق فيخليه وقد يهجم عليه فيفترسه وذلك بحسب ما يتفق ولذلك الاتفاق أسباب مرتبة بقدر معلوم ولكن إذا أضيف إلى من لا يعرفه سمي اتفاقاً وإن أضيف إلى علم الله لم يجز أن يسمى اتفاقاً والواقع في مخالب السبع لو كملت معرفته لكان لا يخاف السبع لأن السبع مسخر إن سلط عليه الجوع افترس وإن سلط عليه الغفلة خلى وترك فإنما يخاف خالق السبع وخالق صفاته فلست أقول مثال الخوف من الله تعالى الخوف من السبع بل إذا كشف الغطاء علم أن الخوف من السبع هو عين الخوف من الله تعالى لأن المهلك بواسطة السبع هو الله فاعلم أن سباع الآخرة مثل سباع الدنيا وأن الله تعالى خلق أسباب العذاب وأسباب الثواب وخلق لكل واحد أهلاً يسوقه القدر المتفرع عن القضاء الجزم الأزلي إلى ما خلق له فخلق الجنة وخلق لها أهلاً سخروا لأسبابها شاءوا أم أبوا وخلق النار وخلق لها أهلاً سخروا لأسبابها شاءوا أم أبوا فلا يرى أحد نفسه في ملتطم أمواج القدر إلا غلبه الخوف بالضرورة فهذه مخاوف العارفين بسر القدر فمن قعد به الْقُصُورِ عَنِ الِارْتِفَاعِ إِلَى مَقَامِ الِاسْتِبْصَارِ فَسَبِيلُهُ أَنْ يُعَالِجَ نَفْسَهُ بِسَمَاعِ الْأَخْبَارِ وَالْآثَارِ فَيُطَالِعَ أحوال الخائفين العارفين وَأَقْوَالَهُمْ وَيَنْسُبَ عُقُولَهُمْ وَمَنَاصِبَهُمْ إِلَى مَنَاصِبِ الرَّاجِينَ الْمَغْرُورِينَ فَلَا يَتَمَارَى فِي أَنَّ الِاقْتِدَاءَ بِهِمْ أَوْلَى لِأَنَّهُمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالْأَوْلِيَاءُ وَالْعُلَمَاءُ
Barang siapa memahami sebab dalam perkara ini melalui ma'rifat yang bersumber dari cahaya hidayah, maka ia termasuk golongan khusus para arifin (orang yang arif) yang tersingkap baginya rahasia takdir. Dan barang siapa mendengar hal ini lalu beriman serta membenarkannya sekadar mendengar, maka ia termasuk orang beriman pada umumnya (umum al-mu'minin). Dan masing-masing dari kedua kelompok ini akan memperoleh rasa takut (khauf). Jika ia seorang hamba, maka ia berada dalam genggaman Kekuasaan (Qudrah) bagaikan seorang anak kecil yang lemah di dalam cengkeraman binatang buas; binatang buas itu terkadang lalai secara tidak sengaja sehingga melepaskannya, dan terkadang menyerangnya lalu menerkamnya, tergantung apa yang kebetulan terjadi. Dan 'kebetulan' itu memiliki sebab-sebab teratur menurut takdir tertentu; namun jika dinisbatkan kepada orang yang tidak mengetahuinya dinamakan 'kebetulan', sedangkan jika dinisbatkan kepada Ilmu Allah tidak boleh dinamakan 'kebetulan'. Seseorang yang berada di dalam cengkeraman binatang buas, seandainya ma'rifatnya sempurna, niscaya ia tidak takut kepada binatang buas itu, karena binatang buas itu tunduk terperintah; jika rasa lapar dikuasakan atasnya maka ia menerkam, dan jika kelalaian dikuasakan atasnya maka ia membiarkan dan meninggalkan. Maka yang ditakuti sebenarnya hanyalah Pencipta binatang buas dan Pencipta sifat-sifatnya. Aku tidak mengatakan bahwa perumpamaan takut kepada Allah Ta'ala itu seperti takut kepada binatang buas, melainkan jika penutup kesadaran dibuka, ketahuilah bahwa takut kepada binatang buas itu sendiri adalah hakikat takut kepada Allah Ta'ala, karena yang membinasakan dengan perantara binatang buas itu adalah Allah. Ketahuilah bahwa binatang-binatang buas di akhirat itu seperti binatang buas di dunia, dan bahwa Allah Ta'ala telah menciptakan sebab-sebab azab dan sebab-sebab pahala, serta menciptakan bagi masing-masing penghuninya yang digiring oleh takdir—yang bersumber dari qadha azali yang pasti—menuju apa yang diciptakan baginya. Dia menciptakan surga dan menciptakan penghuninya yang ditundukkan pada sebab-sebabnya, baik mereka mau maupun tidak; dan Dia menciptakan neraka serta menciptakan penghuninya yang ditundukkan pada sebab-sebabnya, baik mereka mau maupun tidak. Maka tidaklah seseorang melihat dirinya berada di tengah terpaan gelombang takdir melainkan rasa takut pasti akan menguasainya secara niscaya. Inilah ketakutan para arifin terhadap rahasia takdir. Barang siapa yang keterbatasannya menghalanginya untuk naik ke maqam istibshar (pandangan mata hati), hendaknya ia mengobati dirinya dengan mendengar khabar (hadis) dan atsar, lalu mempelajari keadaan serta ucapan orang-orang yang takut lagi arif, serta membandingkan akal dan kedudukan mereka dengan kedudukan orang-orang yang berharap namun terpedaya (maghrurin). Dengan demikian, ia tidak akan meragukan bahwa meneladani mereka adalah lebih utama, karena mereka adalah para nabi, wali, dan ulama.
وَأَمَّا الْآمِنُونَ فهم الفراعنة والجهال والأغنياء
Adapun orang-orang yang merasa aman, mereka adalah para Firaun, orang-orang bodoh, dan orang-orang kaya yang terperdaya.
أَمَّا رَسُولُنَا ﷺ فَهُوَ سَيِّدُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ
Adapun Rasul kita ﷺ, beliau adalah penghulu orang-orang terdahulu dan yang kemudian (sayyidul awwalin wal akhirin).
وَكَانَ أَشَدَّ النَّاسِ خَوْفًا حديث أنه كان يصلي على طفل سمع في دعائه يقول اللهم قِه عذاب القبر وعذاب النار أخرجه الطبراني في الأوسط من حديث أنس أن النبي ﷺ صلى على صبي أو صبية وقال لو كان أحد نجا من ضمة القبر لنجا هذا الصبي واختلف في إسناده فرواه في الكبير من حديث أبي أيوب أن صبيا دفن فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لو أفلت أحد من ضمة القبر لأفلت هذا الصبي
Beliau adalah orang yang paling hebat rasa takutnya (kepada Allah). [Hadis bahwa beliau pernah menyalati seorang anak kecil, terdengar dalam doanya beliau mengucapkan: "Ya Allah, lindungilah ia dari azab kubur dan azab neraka." Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Awsath dari hadis Anas bahwa Nabi ﷺ menyalati anak laki-laki atau anak perempuan dan bersabda: "Seandainya ada seseorang yang selamat dari himpitan kubur, niscaya anak ini yang selamat." Terjadi perbedaan dalam sanadnya; diriwayatkan dalam Al-Kabir dari hadis Abu Ayyub bahwa seorang anak kecil dimakamkan, lalu Rasulullah ﷺ bersabda: "Seandainya ada seseorang yang terlepas dari himpitan kubur, niscaya anak ini yang terlepas."]
وفي رواية ثانية أنه سمع قائلاً يقول هَنِيئًا لَكَ عُصْفُورٌ مِنْ عَصَافِيرِ الْجَنَّةِ فَغَضِبَ وَقَالَ مَا يُدْرِيكَ أَنَّهُ كَذَلِكَ وَاللَّهِ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ وَمَا أَدْرِي مَا يُصْنَعُ بِي إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْجَنَّةَ وَخَلَقَ لَهَا أَهْلًا لا يزاد فيهم ولا ينقص منهم حديث لما توفي عثمان بن مظعون قالت أم سلمة هنيئاً لك الجنة الحديث أخرجه البخاري من حديث أم العلاء الأنصارية وهي القائلة رحمة الله عليك أبا السائب فشهادتي عليك لقد أكرمك الله قال وما يدريك الحديث وورد أن التي قالت ذلك أم خارجة بن زيد ولم أجد فيه ذكر أم سلمة
Dalam riwayat kedua disebutkan bahwa beliau mendengar seseorang berkata: "Selamat untukmu, wahai burung kecil dari burung-burung surga!" Maka beliau marah dan bersabda: "Darimana engkau tahu bahwa ia demikian? Demi Allah, aku adalah Rasulullah namun aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku. Sesungguhnya Allah menciptakan surga dan menciptakan penghuni baginya yang tidak akan bertambah dan tidak akan berkurang dari mereka." [Hadis ketika Utsman bin Mazh'un wafat, Ummu Salamah berkata: "Selamat untukmu surga…" Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadis Ummu Al-'Ala' Al-Anshariyyah, dia yang berkata: "Rahmat Allah atasmu, wahai Abu As-Sa'ib, kesaksianku atasmu adalah bahwa Allah telah memuliakanmu." Beliau bersabda: "Darimana engkau tahu…" Dan terdapat riwayat bahwa yang mengatakan hal itu adalah Ummu Kharijah bin Zaid, dan saya tidak menemukan sebutan Ummu Salamah di dalamnya.]
وقال محمد بن خولة الحنفية والله لا أزكي أحداً غير رسول الله ﷺ
Muhammad bin al-Hanafiyyah berkata: "Demi Allah, aku tidak akan menganggap suci (merekomendasikan kesucian) seorang pun selain Rasulullah ﷺ…"
ولا أبي الذي ولدني قال فثارت الشيعة عليه فأخذ يذكر من فضائل علي ومناقبه وَرُوِيَ فِي حَدِيثٍ آخَرَ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ اسْتُشْهِدَ فَقَالَتْ أُمُّهُ هَنِيئًا لَكَ عصفور من عصافير الجنة هَاجَرْتَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَقُتِلْتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ ﷺ وَمَا يُدْرِيكِ لَعَلَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ بِمَا لَا يَنْفَعُهُ وَيَمْنَعُ مَا لَا يضره حديث دخل عَلَى بَعْضِ أَصْحَابِهِ وَهُوَ عَلِيلٌ فَسَمِعَ امْرَأَةً تقول هنيئا له الجنة الحديث تقدم أيضا
"…dan tidak pula ayahku yang melahirkanku." Dikatakan bahwa kaum Syiah emosi kepadanya, maka ia mulai menyebutkan keutamaan-keutamaan dan kemuliaan Ali. Diriwayatkan dalam hadis lain dari seorang laki-laki Ahlus Suffah yang gugur sebagai syahid, lalu ibunya berkata: "Selamat untukmu, wahai burung kecil dari burung-burung surga, engkau berhijrah kepada Rasulullah ﷺ dan terbunuh di jalan Allah." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Darimana engkau tahu? Boleh jadi ia dahulu berbicara tentang hal yang tidak berguna baginya dan menahan hal yang tidak memudaratkannya." [Hadis: Beliau masuk menemui salah seorang sahabatnya yang sedang sakit, lalu mendengar seorang wanita berkata: "Selamat baginya surga…" Hadis ini juga telah disebutkan sebelumnya.]
وَكَيْفَ لَا يَخَافُ الْمُؤْمِنُونَ كُلُّهُمْ وَهُوَ ﷺ يَقُولُ شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا حديث أنه وجبريل صلى الله عليهما وسلم بكيا خوفاً من الله ﷿ فأوحى الله إليهما لم تبكيان الحديث أخرجه ابن شاهين في شرح السنة من حديث عمر ورويناه في مجلس عن أماني أبي سعيد النقاش بسند ضعيف
Dan bagaimana mungkin seluruh orang beriman tidak merasa takut, padahal beliau ﷺ bersabda: "Surah Hud dan saudara-saudaranya telah membuatku beruban." [Hadis bahwa beliau dan Jibril 'alaihissalam menangis karena takut kepada Allah 'Azza wa Jalla, lalu Allah mewahyukan kepada keduanya: "Mengapa kalian berdua menangis?…" Diriwayatkan oleh Ibn Syahin dalam Syarh as-Sunnah dari hadis Umar, dan kami meriwayatkannya dalam majelis dari amali Abu Sa'id an-Naqqasy dengan sanad yang daif.]
وكأنهما إذ علما أن الله هو علام الغيوب وأنه لا وقوف لهما على غاية الأمور لم يأمنا أن يكون قوله قد أمنتكما ابتلاءً وامتحاناً لهما ومكراً بهما حتى إن سكن خوفهما ظهر أنهما قد أمنا من المكر وما وفيا بقولهما
Seolah-olah ketika keduanya mengetahui bahwa Allah adalah Maha Mengetahui hal-hal gaib dan bahwa keduanya tidak dapat menjangkau puncak dari segala perkara, keduanya tidak merasa aman jika firman-Nya "Aku telah mengamankan kalian berdua" merupakan ujian, cobaan, dan makr (ketetapan rahasia) bagi keduanya; sehingga apabila rasa takut keduanya mereda, tampaklah bahwa keduanya telah merasa aman dari makr Allah dan tidak memenuhi ikrar mereka.
كما أن إبراهيم ﷺ لما وضع في المنجنيق قال حسبي الله وكانت هذه من الدعوات العظام فامتحن وعورض بجبريل في الهواء حتى قال ألك حاجة فقال أما إليك فلا فكان ذلك وفاءً بحقيقة قوله حسبي الله فأخبر الله تعالى عنه فقال وإبراهيم الذي وفى أي بموجب قوله حسبي الله وبمثل هذا أخبر عن موسى ﷺ حيث قال إننا نخاف أن يفرط علينا أو أن يطغى قال لا تخافا إنني معكما أسمع وأرى ومع هذا لما ألقى السحرة سحرهم أوجس موسى في نفسه خيفة إذاً لم يأمن مكر الله والتبس الأمر عليه حتى جدد عليه الأمن وقيل له لا تخف إنك أنت الأعلى ولما ضعفت شوكة المسلمين يوم بدر قال ﷺ اللهم إن تهلك هذه العصابة لم يبق على وجه الأرض أحد يعبدك // حديث قال يوم بدر اللهم إن تهلك هذه العصابة لم يبق على وجه الأرض أحد يعبدك أخرجه البخاري من حديث ابن عباس بلفظ اللهم إن شئت لم تعبد بعد اليوم الحديث فقال أبو بكر رضي الله تعالى عنه دع عنك مناشدتك ربك فإنه وافٍ لك بما وعدك فكان مقام الصديق ﵁ مقام الثقة بوعد الله وكان مقام رسول الله ﷺ مقام الخوف من مكر الله وهو أتم لأنه لَا يَصْدُرُ إِلَّا عَنْ كَمَالِ الْمَعْرِفَةِ بِأَسْرَارِ الله تعالى وخفايا أفعاله ومعاني صفاته التي يعبر عن بعض ما يصدر عنها بالمكر وما لأحد من البشر الوقوف على كنه صفات الله تعالى ومن عرف حقيقة المعرفة قصور معرفته عن الإحاطة بكنه الأمور عظم خوفه لا محالة ولذلك قال المسيح ﷺ لما قيل له أأنت قلت للناس اتخذوني وأمي إلهين من دون الله قال سبحانك ما يكون لي أن أقول ما ليس لي بحق إن كنت قلته فقد علمته تعلم ما في نفسي ولا أعلم ما في نفسك ﴿وقال﴾ إن تعذبهم فإنهم عبادك وإن تغفر لهم الآية فوض الأمر إلى المشيئة وأخرج نفسه بالكلية من البين لعلمه بأنه ليس له من الأمر شيء وأن الأمور مرتبطة بالمشيئة ارتباطاً يخرج عن حد المعقولات والمألوفات فلا يمكن الحكم عليها بقياس ولا حدس ولا حسبان فضلاً عن التحقيق والاستيقان وهذا هو الذي قطع قلوب العارفين إذ الطامة الكبرى هي ارتباط أمرك بمشيئة من لا يبالي بك إن أهلكك فقد أهلك أمثالك ممن لا يحصى ولم يزل في الدنيا يعذبهم بأنواع الآلام والأمراض ويمرض من ذلك قلوبهم بالكفر والنفاق ثم يخلد العقاب عليهم أبد الآباد ثم يخبر عنه ويقول ولو شئنا لآتينا كل نفس هداها ولكن حق القول مني لأملأن جهنم من الجنة والناس أجمعين وقال تعالى وتمت كلمة ربك لأملأن جهنم الآية فكيف لا يخاف ما حق من القول في الأزل ولا يطمع في تداركه ولو كان الأمر آنفاً لكانت الأطماع تمتد إلى حيلة فيه ولكن ليس إلا التسليم فيه واستقراء خفي السابقة من جلي الأسباب الظاهرة على القلب والجوارح فمن يسرت له أسباب الشر وحيل بينه وبين أسباب الخير وأحكمت علاقته من الدنيا فكأنه كشف له على التحقيق سر السابقة التي سبقت له بالشقاوة إذ كل ميسر لما خلق له وإن كانت الخيرات كلها ميسرة والقلب بالكلية عن الدنيا منقطعاً وبظاهره وباطنه على الله مقبلاً كان هذا يقتضي تخفيف الخوف لو كان الدوام على ذلك موثوقاً به ولكن خطر الخاتمة وعسر الثبات يزيد نيران الخوف إشعالاً ولا يمكنها من الانطفاء وَكَيْفَ يُؤْمَنُ تَغَيُّرُ الْحَالِ وَقَلْبُ الْمُؤْمِنِ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ وَإِنَّ الْقَلْبَ أَشَدُّ تَقَلُّبًا مِنَ الْقِدْرِ فِي غَلَيَانِهَا وَقَدْ قَالَ مقلب القلوب ﷿ إن عذاب ربهم غير مأمون فَأَجْهَلُ النَّاسِ مَنْ أَمِنَهُ وَهُوَ يُنَادِي بِالتَّحْذِيرِ من الأمن ولو أن الله لطف بعباده العارفين إذ روح قلوبهم بروح الرجاء لاحترقت قلوبهم من نار الخوف
Sebagaimana Ibrahim 'alaihissalam ketika diletakkan di dalam ketapel perang (manjaniq) beliau berkata: "Cukuplah Allah bagiku (Hasbiyallah)." Ini termasuk doa-doa yang sangat agung. Maka beliau diuji dan dihadang oleh Jibril di udara hingga Jibril bertanya: "Apakah engkau memiliki kebutuhan?" Beliau menjawab: "Adapun kepadamu, maka tidak." Hal itu merupakan pemenuhan terhadap hakikat ucapannya "Hasbiyallah". Maka Allah Ta'ala mengabarkan tentang beliau dengan firman-Nya: "Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji" [QS. An-Najm: 37], yaitu memenuhi konsekuensi dari ucapannya "Hasbiyallah". Hal serupa juga dikabarkan tentang Musa 'alaihissalam ketika ia dan Harun berkata: "Ya Tuhan kami, sungguh kami khawatir dia akan segera menyiksa kami atau bertambah melampaui batas." Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sungguh Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat" [QS. Thaha: 45-46]. Namun demikian, ketika para penyihir melemparkan sihir mereka, "Maka Musa merasa takut dalam hatinya" [QS. Thaha: 67]. Jadi, beliau tidak merasa aman dari makr Allah dan perkara menjadi samar baginya hingga rasa aman diperbarui baginya dan dikatakan kepadanya: "Jangan takut, sesungguhnya engkaulah yang unggul" [QS. Thaha: 68]. Dan ketika kekuatan kaum muslimin lemah pada perang Badar, Nabi ﷺ berdoa: "Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini, niscaya tidak ada lagi di muka bumi orang yang menyembah-Mu." [Hadis: Beliau bersabda pada hari Badar: "Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini, niscaya tidak ada lagi di muka bumi orang yang menyembah-Mu." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadis Ibn Abbas dengan lafaz: "Ya Allah, jika Engkau menghendaki, Engkau tidak akan disembah lagi setelah hari ini…"] Maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata: "Cukuplah permohonanmu kepada Tuhanmu, karena Dia pasti memenuhi apa yang Dia janjikan kepadamu." Maka maqam As-Siddiq radhiyallahu 'anhu adalah maqam keyakinan (tsiqah) pada janji Allah, sedangkan maqam Rasulullah ﷺ adalah maqam rasa takut dari makr Allah; dan maqam beliau adalah yang paling sempurna, karena hal itu tidak bersumber melainkan dari kesempurnaan ma'rifat terhadap rahasia-rahasia Allah Ta'ala, kehalusan perbuatan-Nya, serta makna sifat-sifat-Nya yang sebagian dari dampaknya diungkapkan dengan istilah makr. Tidak ada seorang pun dari manusia yang mampu sampai pada hakikat sifat Allah Ta'ala. Barang siapa mengenali hakikat ma'rifat bahwa ma'rifatnya terbatas untuk meliputi hakikat segala perkara, niscaya rasa takutnya pasti membesar. Oleh karena itu Al-Masih 'alaihissalam berkata ketika ditanyakan kepadanya: "Apakah engkau mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?'" Beliau menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu" [QS. Al-Ma'idah: 116]. Dan beliau berkata: "Jika Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka…" hingga akhir ayat [QS. Al-Ma'idah: 118]. Beliau menyerahkan segala perkara kepada kehendak (Masyi'ah) Allah dan mengeluarkan dirinya secara total dari perantara, karena beliau tahu bahwa dirinya tidak memiliki kuasa sedikit pun atas perkara itu, dan bahwa segala perkara terikat dengan Masyi'ah secara amat erat yang keluar dari batas hal-hal yang dapat dijangkau akal dan kebiasaan. Maka tidak mungkin menghukuminya dengan kias, dugaan, maupun perkiraan, apalagi dengan kepastian dan keyakinan mutlak. Hal inilah yang menghancurkan hati para arifin, sebab malapetaka terbesar (at-thammah al-kubra) adalah terikatnya perkaramu dengan kehendak Dzat yang tidak memedulikanmu jika Dia membinasakanmu; Dia telah membinasakan orang-orang seperti dirimu yang tak terhitung jumlahnya. Dia senantiasa mengazab mereka di dunia dengan berbagai jenis rasa sakit dan penyakit, dan membedah hati mereka dengannya melalui kekufuran dan kemunafikan, kemudian mengekalkan azab atas mereka selama-lamanya. Kemudian Dia mengabarkan tentang hal itu dan berfirman: "Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami berikan kepada setiap jiwa petunjuk baginya, tetapi telah tetap perkataan dari-Ku: 'Pasti akan Aku penuhi neraka Jahanam itu dengan jin dan manusia bersama-sama'" [QS. As-Sajdah: 13]. Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu: 'Pasti akan Aku penuhi neraka Jahanam…'" [QS. Hud: 119]. Maka bagaimana mungkin seseorang tidak takut terhadap apa yang telah ditetapkan dari firman-Nya di alam azali, serta tidak berambisi untuk memperbaikinya kelak? Seandainya perkara itu baru terjadi sekarang, tentu harapan akan terbentang pada reka daya padanya, namun tidak ada jalan lain kecuali berserah diri (taslim) padanya dan mencermati ketetapan azali yang tersembunyi (khafiyyas-sabiqah) dari sebab-sebab nyata yang tampak pada hati dan anggota badan. Barang siapa yang dipermudah baginya sebab-sebab kejahatan dan dihalangi antara dirinya dan sebab-sebab kebaikan, serta ikatannya dengan dunia semakin kokoh, maka seakan-akan telah disingkapkan baginya secara nyata rahasia ketetapan terdahulu (sabiqah) yang telah mendahuluinya berupa kesengsaraan (syaqawah); sebab setiap orang dipermudah menuju apa yang diciptakan baginya. Sebaliknya, jika semua kebaikan dipermudah baginya, hatinya terputus secara total dari dunia, serta lahir dan batinnya menghadap kepada Allah, hal ini menuntut peredaan rasa takut seandainya kelanggengan atas kondisi itu dapat dijamin. Namun, bahaya kesudahan hidup (khotimah) dan sulitnya keteguhan (tsabat) makin menyalakan api ketakutan dan tidak membiarkannya padam. Bagaimana mungkin seseorang merasa aman dari perubahan keadaan, padahal hati orang beriman berada di antara dua jemari dari jemari Ar-Rahman, dan hati itu lebih berbolak-balik daripada periuk yang sedang mendidih? Sang Pembolak-balik Hati 'Azza wa Jalla telah berfirman: "Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman (dari kedatangannya)" [QS. Al-Ma'arij: 28]. Maka manusia yang paling bodoh adalah orang yang merasa aman dari-Nya padahal Dia menyerukan peringatan dari rasa aman. Seandainya Allah tidak bersikap lembut kepada hamba-hamba-Nya yang arif dengan melapangkan hati mereka melalui kesejukan harapan (raja'), niscaya hati mereka akan terbakar oleh api ketakutan (khauf).
فأسباب الرجاء رحمة لخواص الله وأسباب الغفلة رحمة على عوام الخلق من وجه إذ لو انكشف الغطاء لزهقت النفوس وتقطعت القلوب من خوف مقلب القلوب
Maka sebab-sebab harapan (raja') merupakan rahmat bagi hamba-hamba pilihan Allah (khawassullah), dan sebab-sebab kelalaian merupakan rahmat bagi orang awam dari satu sisi; sebab jika singkapan penutup itu dibuka, niscaya jiwa-jiwa akan melayang dan hati akan hancur berkeping-keping karena takut kepada Sang Pembolak-balik Hati.
قال بعض العارفين لو حالت بيني وبين من عرفته بالتوحيد خمسين
Sebagian arifin berkata: "Seandainya tiang menghalangi antara aku dan orang yang aku kenal dengan ketauhidan selama lima puluh…"
سنة أسطوانة فمات لم أقطع له بالتوحيد لأني لا أدري ما ظهر له من التقلب
"…tahun, lalu ia meninggal dunia, aku tidak berani memastikan ketauhidannya, karena aku tidak tahu perubahan (bolak-balik hati) apa yang tampak padanya."
وقال بعضهم لو كانت الشهادة على باب الدار والموت على الإسلام عند باب الحجرة لاخترت الموت على الإسلام لأني لا أدري ما يعرض لقلبي بين باب الحجرة وباب الدار
Sebagian dari mereka juga berkata: "Seandainya kesyahidan berada di pintu rumah dan mati dalam keadaan Islam berada di pintu kamar, niscaya aku lebih memilih mati dalam Islam di pintu kamar; karena aku tidak tahu apa yang akan menimpa hatiku di antara pintu kamar dan pintu rumah."
وكان أبو الدرداء يحلف بالله ما أحد أمن على إيمانه أن يسلبه عن الموت إلا سلبه
Abu ad-Darda' pernah bersumpah demi Allah bahwa tidak ada seorang pun yang merasa aman imannya dari dicabut ketika mendekati kematian, melainkan iman itu akan dicabut darinya.
وكان سهل يقول خوف الصديقين من سوء الخاتمة عند كل خطرة وعند كل حركة وهم الذين وصفهم الله تعالى إذ قال وقلوبهم وجلة
Sahl pernah berkata, "Rasa takut para shiddiqin (orang-orang yang jujur imannya) terhadap akhir yang buruk (su'ul khatimah) terjadi pada setiap lintasan pikiran dan setiap gerak-gerik. Mereka itulah yang disifati oleh Allah Ta'ala melalui firman-Nya: 'Sedangkan hati mereka gemetar' (QS. Al-Mu'minun: 60)."
ولما احتضر سفيان جعل يبكي ويجزع فقيل له يا أبا عبد الله عليك بالرجاء فإن عفو الله أعظم من ذنوبك فقال أو على ذنوبي أبكي لو علمت أني أموت على التوحيد لم أبال بأن ألقى الله بأمثال الجبال من الخطايا
Ketika Sufyan berada dalam sakaratulmaut, beliau menangis dan merasa sangat cemas. Dikatakan kepadanya, "Wahai Abu Abdillah, hendaklah engkau berharap (raja'), sebab ampunan Allah lebih besar daripada dosa-dosamu." Beliau menjawab, "Apakah karena dosa-dosaku aku menangis? Seandainya aku mengetahui bahwa aku akan wafat dalam keadaan tauhid, aku tidak akan peduli meskipun harus menemui Allah dengan membawa dosa-dosa sebesar gunung."
وحكي عن بعض الخائفين أنه أوصى بعض إخوانه فقال إذا حضرتني الوفاة فاقعد عند رأسي فإن رأيتني مت على التوحيد فخذ جميع ما أملكه فاشتر به لوزاً وسكراً وانثره على صبيان أهل البلد وقل هذا عرس المنفلت وإن مت على غير التوحيد فأعلم الناس بذلك حتى لا يغتروا بشهود جنازتي ليحضر جنازتي من أحب على بصيرة لئلا يلحقني الرياء بعد الوفاة
Diceritakan dari sebagian al-kha'ifin (orang-orang yang sangat takut kepada Allah) bahwa ia berwasiat kepada sebagian saudaranya, seraya berkata, "Jika kematian mendatangiku, duduklah di dekat kepalaku. Jika engkau melihat aku wafat dalam keadaan tauhid, ambillah seluruh hartaku, belikanlah kacang almond dan gula, lalu bagikanlah kepada anak-anak di negeri ini, dan katakanlah, 'Ini adalah pesta pernikahan orang yang telah terbebas dari siksa.' Namun jika aku wafat tidak dalam keadaan tauhid, beritahukanlah hal itu kepada orang-orang agar mereka tidak tertipu dengan menghadiri jenazahku, sehingga barang siapa yang melayat jenazahku hadir dengan pemahaman yang jelas, agar aku tidak tertimpa riya setelah kematian."
فقال وبم اعلم ذلك فذكر له علامة فرأى علامة التوحيد عند موته فاشترى السكر واللوز وفرقه
Saudaranya bertanya, "Dengan apa aku dapat mengetahui hal itu?" Maka ia menyebutkan sebuah tanda kepadanya. Saat wafatnya, saudaranya melihat tanda tauhid tersebut, lalu ia membeli gula dan kacang almond serta membagikannya.
وكان سهل يقول المريد يخاف أن يبتلى بالمعاصي والعارف يخاف أن يبتلى بالكفر
Sahl pernah berkata, "Seorang murid (penempuh jalan spiritual) merasa takut diuji dengan kemaksiatan, sedangkan seorang 'arif (orang yang telah mengenali Allah) merasa takut diuji dengan kekufuran."
وكان أبو زيد يقول إذا توجهت إلى المسجد فكأن في وسطي زناراً أخاف أن يذهب بي إلى البيعة وبيت النار حتى أدخل المسجد فينقطع عني الزنار فهذا لي في كل يوم خمس مرات
Abu Yazid pernah berkata, "Apabila aku melangkah menuju masjid, seolah-olah di pinggangku terdapat tali sabuk kekufuran (zunnar); aku takut tali itu menyeretku ke gereja atau rumah pemujaan api, hingga aku masuk ke dalam masjid lalu tali sabuk itu terputus dariku. Hal ini kualami setiap hari sebanyak lima kali."
وروي عن المسيح ﵊ أنه قال يا معشر الحواريين أنتم تخافون المعاصي ونحن معاشر الأنبياء نخاف الكفر
Diriwayatkan dari Al-Masih 'alaihissalam bahwa beliau berkata, "Wahai kaum Hawariyyun, kalian takut terhadap kemaksiatan, sedangkan kami para nabi takut terhadap kekufuran."
وروي في أخبار الأنبياء أن نبياً شكى إلى الله تعالى الجوع والقمل والعري سنين وكان لباسه الصوف
Diriwayatkan dalam kisah para nabi bahwa seorang nabi mengadukan kelaparan, kutu, dan ketiadaan pakaian selama bertahun-tahun kepada Allah Ta'ala, sedang pakaiannya hanyalah kain wol kasar (shuf).
فأوحى الله تعالى إليه عبدي أما رضيت أن عصمت قلبك أن تكفر بي حتى تسألني الدنيا فأخذ التراب فوضعه على رأسه وقال بلى قد رضيت يا رب فاعصمني من الكفر
Maka Allah Ta'ala mengurniakan wahyu kepadanya, "Hamba-Ku, tidakkah engkau ridha bahwa Aku telah memelihara hatimu dari kufur kepada-Ku, hingga engkau meminta dunia kepada-Ku?" Nabi itu pun mengambil tanah dan membalurkannya ke kepalanya seraya berkata, "Benar, aku sungguh ridha wahai Tuhanku, maka peliharalah aku dari kekufuran."
فإن كان خوف العارفين مع رسوخ أقدامهم وقوة إيمانهم من سوء الخاتمة فكيف لا يخافه الضعفاء
Jika rasa takut para 'arifin terhadap akhir yang buruk (su'ul khatimah) demikian besar padahal langkah mereka telah teguh dan iman mereka sangat kuat, maka bagaimanakah orang-orang yang lemah tidak merasa takut terhadapnya?
ولسوء الخاتمة أسباب تتقدم على الموت مثل البدعة والنفاق والكبر وجملة من الصفات المذمومة ولذلك اشتد خوف الصحابة من النفاق حتى قال الحسن لو أعلم أني برئ من النفاق كان أحب إلي مما طلعت عليه الشمس وما عنوا به النفاق الذي هو ضد أصل الإيمان بل المراد به ما يجتمع مع أصل الإيمان فيكون مسلماً منافقاً وله علامات كثيرة قال ﷺ أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فيه فهو منافق خالص وإن صلى وصام وزعم أنه مسلم وإن كانت فيه خصلة منهم ففيه شعبة من النفاق حتى يدعها مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وإذا ائتمن خان وإذا خاصم فجر
Akhir yang buruk (su'ul khatimah) memiliki sebab-sebab pendahulu sebelum kematian, seperti perbuatan bid'ah, kemunafikan, kesombongan, dan sekumpulan sifat tercela lainnya. Oleh karena itulah ketakutan para sahabat terhadap kemunafikan sangatlah mendalam, hingga Al-Hasan berkata, "Seandainya aku mengetahui bahwa aku terbebas dari kemunafikan, hal itu lebih kucintai daripada segala sesuatu yang disinari oleh matahari." Maksud mereka bukanlah kemunafikan yang membatalkan pokok keimanan, melainkan kemunafikan yang berkumpul bersama pokok keimanan sehingga seseorang menjadi seorang muslim yang munafik. Hal itu memiliki banyak tanda, Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada empat perkara yang barang siapa terdapat keempatnya pada dirinya, maka ia adalah seorang munafik murni meskipun ia shalat, berpuasa, dan mengaku dirinya muslim. Dan barang siapa terdapat padanya salah satu dari sifat tersebut, maka pada dirinya terdapat satu cabang kemunafikan sampai ia meninggalkannya: yaitu apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyalahi, apabila dipercaya ia berkhianat, dan apabila berselisih ia melampaui batas."
وفي لفظ آخر وإذا عاهد غدر
Dan dalam riwayat lain disebutkan: "Dan apabila berjanji (membuat kesepakatan), ia mengkhianatinya."
وقد فسر الصحابة والتابعون النفاق بتفاسير لا يخلو عن شيء منه إلا صديق إذ قال الحسن إن من النفاق اختلاف السر والعلانية واختلاف اللسان والقلب واختلاف المدخل والمخرج ومن الذي يخلو عن هذا المعاني
Para sahabat dan tabi'in telah menjelaskan nifak dengan berbagai penafsiran yang tidak ada seorang pun yang terbebas dari sebagian daripadanya kecuali seorang shiddiq. Al-Hasan berkata, "Sesungguhnya di antara bentuk nifak adalah perbedaan antara batin dan lahiriah, perbedaan antara lisan dan hati, serta perbedaan antara sikap saat masuk dan saat keluar." Siapakah yang bisa sepenuhnya bersih dari hal-hal ini?
بل صارت هذه الأمور مألوفة بين الناس معتادة ونسى كونها منكر الكلية بل جرى ذلك على قرب عهد بزمان النبوة فكيف الظن بزماننا حتى قال حذيفة رضي الله تعالى عنه إن كان الرجل ليتكلم بالكلمة عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فيصير بها منافقاً إني لأسمعها من أحدكم في اليوم عشر مرات حديث أصحاب رسول الله ﷺ إنكم لتعملون أعمالاً هي أدق في أعينكم من الشعر الحديث أخرجه البخاري من حديث أنس وأحمد والبزار من حديث أبي سعيد وأحمد والحاكم من حديث عبادة بن فرص وصحح إسناده وتقدم في التوبة
Bahkan hal-hal ini telah menjadi lumrah dan terbiasa di antara manusia, hingga sifatnya sebagai kemungkaran terlupakan secara keseluruhan. Sungguh hal ini telah terjadi sejak masa yang masih dekat dengan zaman kenabian, maka bagaimanakah persangkaan terhadap zaman kita sekarang? Sampai-sampai Hudzaifah radhiyallahu 'anhu berkata, "Sungguh, dahulu seseorang pada zaman Rasulullah ﷺ mengucapkan satu kalimat lalu ia menjadi munafik karenanya, namun sungguh aku mendengarnya dari salah seorang di antara kalian sebanyak sepuluh kali dalam sehari." Mengenai hadis sahabat Rasulullah ﷺ: "Sesungguhnya kalian melakukan perbuatan-perbuatan yang dalam pandangan mata kalian lebih halus daripada rambut…", hadis ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari hadis Anas, serta oleh Ahmad dan Al-Bazzar dari hadis Abu Sa'id, juga oleh Ahmad dan Al-Hakim dari hadis 'Ubadah bin Qurs dan Al-Hakim menshahihkan sanadnya, serta telah disebutkan sebelumnya dalam bab Taubat.
وقال بعضهم علامة النفاق أن تكره من الناس ما تأتي مثله وأن تحب على شيء من الجور وأن تبغض على شيء من الحق
Sebagian ulama berkata, "Tanda kemunafikan adalah engkau membenci dari manusia perbuatan yang engkau sendiri melakukannya, engkau menyukai sesuatu berupa kezaliman, dan engkau membenci sesuatu berupa kebenaran."
وقيل من النفاق أنه إذا مدح بشيء ليس فيه أعجبه ذلك
Dan dikatakan pula, "Termasuk dari kemunafikan adalah apabila seseorang dipuji atas sesuatu yang tidak ada pada dirinya, lalu ia merasa kagum dan bangga ('ujub) atas hal itu."
وقال رجل لابن عمر ﵀ إنا ندخل على هؤلاء الأمراء فنصدقهم فيما يقولون فإذا خرجنا تكلمنا فيهم فقال كنا نعد هذا نفاقاً على عهد رسو الله ﷺ
Seorang laki-laki berkata kepada Ibn Umar radhiyallahu 'anhuma, "Sesungguhnya kami masuk menemui para penguasa ini, lalu kami membenarkan apa yang mereka katakan. Namun ketika kami keluar, kami membicarakan keburukan mereka." Ibn Umar berkata, "Kami dahulu menganggap hal ini sebagai kemunafikan pada zaman Rasulullah ﷺ."
وروي أنه سمع رجلاً يذم الحجاج ويقع فيه فقال أرأيت لو كان الحجاج حاضرا أكنت تتكلم بما تكلمت به قال لا
Diriwayatkan bahwa beliau mendengar seorang laki-laki mencela Al-Hajjaj dan menggunjingnya, maka beliau berkata, "Bagaimana pendapatmu seandainya Al-Hajjaj ada di hadapanmu, apakah engkau akan mengatakan apa yang baru saja engkau katakan?" Laki-laki itu menjawab, "Tidak."
قال كنا نعد هذا نفاقاً عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حديث إن نفرا قعدوا عند باب حذيفة ينتظرونه فكانوا يتكلمون في شيء من شأنه فلما خرج سكتوا الحديث لم أجد له أصلا
Beliau berkata, "Kami dahulu menganggap hal ini sebagai kemunafikan pada zaman Rasulullah ﷺ." Adapun hadis: "Bahwa sekelompok orang duduk di dekat pintu Hudzaifah menunggu beliau, lalu mereka membicarakan sesuatu mengenai urusannya, namun ketika beliau keluar mereka pun diam…", hadis ini tidak aku temukan asal-usul riwayatnya.
وهذا حذيفة كان قد خص بعلم المنافقين وأسباب النفاق وكان يقول إنه يأتي على القلب ساعة يمتلئ بالإيمان حتى لا يكون للنفاق فيه مغرز إبرة ويأتي عليه ساعة يمتلئ بالنفاق حتى لا يكون للأيمان فيه مغرز إبرة فقد عرفت بهذا أن خوف العارفين من سوء الخاتمة وأن سببه أمور تتقدمه منها البدع
Sahabat Hudzaifah ini, beliau telah dikhususkan dengan pengetahuan tentang orang-orang munafik dan sebab-sebab kemunafikan. Beliau pernah berkata: "Sungguh, datang suatu waktu pada hati di mana ia dipenuhi oleh iman sehingga tidak ada tempat bagi kemunafikan seluas tusukan jarum pun, dan datang pula suatu waktu pada hati di mana ia dipenuhi oleh kemunafikan sehingga tidak ada tempat bagi iman seluas tusukan jarum pun." Maka dengan ini engkau telah mengetahui bahwa rasa takut para 'arif (orang yang mengenal Allah) adalah dari akhir yang buruk (su'ul khatimah), dan bahwa penyebabnya adalah perkara-perkara yang mendahuluinya, di antaranya adalah kebid'ahan,
ومنها المعاصي ومنها النفاق ومتى يخلو العبد عن شيء من جملة ذلك وإن ظن أنه خلا عنه فهو النفاق إذ قيل من أمن النفاق فهو منافق
di antaranya kemaksiatan, dan di antaranya kemunafikan. Dan bilakah seorang hamba bisa terbebas dari sebagian perkara-perkara tersebut? Jika ia mengira bahwa dirinya telah terbebas darinya, maka itulah kemunafikan itu sendiri, sebab dikatakan: "Barangsiapa merasa aman dari kemunafikan, maka ia adalah seorang munafik."
وقال بعضهم لبعض العارفين إني أخاف على نفسي النفاق فقال لو كنت منافقاً لما خفت النفاق فلا يزال العارف بين الالتفات إلى السابقة والخاتمة خائفاً منهما ولذلك قال ﷺ العبد المؤمن بين مخافتين بين أجل قد مضى لا يدري ما الله صانع فيه وبين أجل قد بقي لا يدري ما الله قاض فيه فوالذي نفسي بيده ما بعد الموت من مستعتب ولا بعد الدنيا من دار إلا الجنة أو النار
Sebagian orang berkata kepada seorang 'arif: "Sesungguhnya aku takut akan kemunafikan pada diriku." Maka ia menjawab: "Sekiranya engkau seorang munafik, niscaya engkau tidak akan takut pada kemunafikan." Maka seorang 'arif senantiasa berada di antara perhatian terhadap ketetapan terdahulu (takdir awal) dan kesudahan (akibat akhir), seraya merasa takut dari keduanya. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang hamba mukmin berada di antara dua ketakutan: antara ajal yang telah berlalu, ia tidak tahu apa yang telah Allah perbuat padanya; dan antara ajal yang masih tersisa, ia tidak tahu apa yang akan Allah tetapkan padanya. Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, tiada lagi kesempatan memohon ampunan setelah kematian, dan tiada lagi negeri setelah dunia melainkan Surga atau Neraka."
والله المستعان
Dan hanya kepada Allah-lah memohon pertolongan.