بيان حقيقة الصدق ومعناه ومراتبه
بيان حقيقة الصدق ومعناه ومراتبه
Penjelasan tentang Hakikat Kejujuran (Ash-Shidq), Maknanya, dan Tingkatan-tingkatannya.
اعلم أن لفظ الصدق يستعمل في ستة معان صدق في القول وصدق في النية والإرادة وصدق في العزم
Ketahuilah bahwasanya lafaz *ash-shidq* (kejujuran/kesungguhan) digunakan dalam enam makna: jujur dalam perkataan, jujur dalam niat dan kehendak, jujur dalam tekad (azam),
وصدق في الوفاء بالعزم وصدق في العمل وصدق في تحقيق مقامات الدين كلها فمن اتصف بالصدق في جميع ذلك فهو صديق لأنه مبالغة في الصدق
jujur dalam menepati tekad, jujur dalam beramal, dan jujur dalam merealisasikan seluruh maqamat (tingkatan spiritual) agama. Barangsiapa yang berhias dengan kejujuran pada seluruh hal tersebut, maka ia adalah seorang *Shiddiq*, karena kata tersebut merupakan bentuk penegasan (mubalaghah) dalam kejujuran.
ثم هم أيضاً على درجات فمن كان له حظ في الصدق في شيء من الجملة فهو صادق بالإضافة إلى ما فيه صدقه الصدق الأول صدق اللسان وذلك لا يكون إلا في الإخبار أو فيما يتضمن الإخبار وينبه عليه والخبر إما أن يتعلق بالماضي أو بالمستقبل وفيه يدخل الوفاء بالوعد والخلف فيه
Kemudian mereka juga berada pada beberapa tingkatan. Barangsiapa yang memiliki bagian dari kejujuran pada salah satu hal tersebut secara keseluruhan, maka ia disebut *shadiq* (orang yang jujur) disandarkan pada hal yang terdapat kejujuran di dalamnya. Kejujuran yang pertama adalah kejujuran lisan (perkataan), dan hal itu tidak terjadi melainkan dalam pemberitaan atau apa yang mengandung pemberitaan dan mengingatkan padanya. Pemberitaan itu adakalanya berkaitan dengan masa lalu atau masa depan, dan ke dalamnya termasuk memenuhi janji serta mengingkarinya.
وَحَقٌّ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَنْ يَحْفَظَ أَلْفَاظَهُ فلا يتكلم إلا بالصدق وهذا هو أشهر أنواع الصدق وأظهرها
Wajib bagi setiap hamba untuk memelihara lafaz-lafaznya sehingga ia tidak berbicara melainkan dengan kejujuran. Dan ini adalah jenis kejujuran yang paling masyhur dan paling jelas.
فمن حفظ لسانه عن الإخبار عن الأشياء على خلاف ما هي عليه فهو صادق ولكن لهذا الصدق كمالان
Maka barangsiapa yang menjaga lisannya dari mengabarkan sesuatu secara menyelisihi keadaan yang sebenarnya, maka ia adalah orang yang jujur. Akan tetapi kejujuran jenis ini memiliki dua kesempurnaan:
﴿أحدهما﴾ الِاحْتِرَازُ عَنِ الْمَعَارِيضِ فَقَدْ قِيلَ فِي الْمَعَارِيضِ مَنْدُوحَةٌ عَنِ الْكَذِبِ وَذَلِكَ لِأَنَّهَا تَقُومُ مَقَامَ الكذب إذ المحذور من الكذب تفهيم الشيء على خلاف ما هو عليه في نفسه إِلَّا أَنَّ ذَلِكَ مِمَّا تَمَسُّ إِلَيْهِ الْحَاجَةُ وَتَقْتَضِيهِ الْمَصْلَحَةُ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ وَفِي تَأْدِيبِ الصِّبْيَانِ وَالنِّسْوَانِ وَمَنْ يَجْرِي مَجْرَاهُمْ وَفِي الْحَذَرِ عَنِ الظَّلَمَةِ وَفِي قِتَالِ الْأَعْدَاءِ وَالِاحْتِرَازِ عَنِ إطلاعهم على أسرار الملك فَمَنِ اضْطُرَّ إِلَى شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَصِدْقُهُ فِيهِ أَنْ يَكُونَ نُطْقُهُ فِيهِ لِلَّهِ فِيمَا يَأْمُرُهُ الْحَقُّ بِهِ وَيَقْتَضِيهِ الدِّينُ فَإِذَا نَطَقَ بِهِ فَهُوَ صَادِقٌ وَإِنْ كَانَ كَلَامُهُ مُفْهِمًا غَيْرَ مَا هُوَ عَلَيْهِ لِأَنَّ الصِّدْقَ مَا أُرِيدَ لِذَاتِهِ بَلْ لِلدَّلَالَةِ عَلَى الْحَقِّ وَالدُّعَاءِ إِلَيْهِ فَلَا يُنْظَرُ إِلَى صُورَتِهِ بَلْ إِلَى مَعْنَاهُ نَعَمْ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْضِعِ يَنْبَغِي أن يعدل إلى المعاريض ما وحد إِلَيْهِ سَبِيلًا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا تَوَجَّهَ إِلَى سَفَرٍ وَرَّى بِغَيْرِهِ وَذَلِكَ كَيْ لَا يَنْتَهِيَ الْخَبَرُ إِلَى الْأَعْدَاءِ فَيُقْصَدَ وَلَيْسَ هَذَا مِنَ الْكَذِبِ فِي شَيْءٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَيْسَ بِكَذَّابٍ مَنْ أَصْلَحَ بَيْنَ اثْنَيْنِ فَقَالَ خَيْرًا أَوْ أَنْمَى خَيْرًا وَرَخَّصَ فِي النُّطْقِ عَلَى وِفْقِ الْمَصْلَحَةِ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ مَنْ أَصْلَحَ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَمَنْ كَانَ لَهُ زَوْجَتَانِ وَمَنْ كَانَ فِي مَصَالِحِ الْحَرْبِ
Salah satunya: Menjaga diri dari sindiran/ungkapan samar (*ma'ariadh*). Sungguh telah dikatakan: "Dalam *ma'ariadh* terdapat kelapangan dari kedustaan." Hal itu karena *ma'ariadh* dapat menempati posisi kedustaan, sebab bahaya yang dikhawatirkan dari kedustaan adalah memberi pemahaman tentang sesuatu secara berbeda dari keadaan sebenarnya pada dirinya sendiri. Hanya saja hal tersebut merupakan sesuatu yang dibutuhkan dan dituntut oleh kemaslahatan dalam beberapa kondisi; seperti dalam mendidik anak-anak, para wanita, dan orang-orang yang sebanding dengan mereka; dalam mewaspadai kezaliman para penguasa zalim; dalam memerangi musuh; serta menjaga agar mereka tidak mengetahui rahasia-rahasia negara. Barangsiapa terpaksa melakukan hal itu, maka kejujurannya di dalamnya adalah bahwa ucapannya itu karena Allah, dalam perkara yang diperintahkan oleh Kebenaran (Al-Haqq) dan dituntut oleh agama. Maka ketika ia mengucapkannya, ia tetap dianggap jujur meskipun perkataannya memberi pemahaman yang berbeda dari kenyataannya, karena kejujuran tidaklah dimaksudkan untuk zatnya sendiri, melainkan untuk menunjukkan pada kebenaran dan mengajak kepadanya. Maka tidak dilihat pada bentuk lahiriahnya melainkan pada maknanya. Ya, pada tempat seperti ini hendaknya beralih kepada *ma'ariadh* selagi menemukan jalan untuk itu. Adalah Rasulullah ﷺ apabila hendak bepergian (berperang), beliau melakukan *tawriyah* (menyamarkan tujuan) dengan yang lain agar berita tersebut tidak sampai kepada musuh lalu mereka menujunya. Dan hal ini tidak termasuk bagian dari kedustaan sedikit pun. Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukanlah seorang pembohong orang yang mendamaikan antara dua orang lalu ia mengatakan kebaikan atau menyampaikan kebaikan." Dan beliau memberi keringanan dalam mengucapkan sesuatu sesuai kemaslahatan pada tiga tempat: orang yang mendamaikan antara dua orang, orang yang memiliki dua istri, dan orang yang berada dalam kemaslahatan perang.
وَالصِّدْقُ هَهُنَا يَتَحَوَّلُ إِلَى النِّيَّةِ فَلَا يُرَاعَى فِيهِ إلا صدق النية وإرادة الخير فمهما وصح قَصْدُهُ وَصَدَقَتْ نِيَّتُهُ وَتَجَرَّدَتْ لِلْخَيْرِ إِرَادَتُهُ صَارَ صَادِقًا وَصِدِّيقًا كَيْفَمَا كَانَ لَفْظُهُ ثُمَّ التَّعْرِيضُ فِيهِ أَوْلَى وَطَرِيقُهُ مَا حُكِيَ عَنْ بَعْضِهِمْ أَنَّهُ كَانَ يَطْلُبُهُ بَعْضُ الظَّلَمَةِ وَهُوَ فِي دَارِهِ فَقَالَ لِزَوْجَتِهِ خُطِّي بِأُصْبُعِكِ دَائِرَةً وَضَعِي الْأُصْبُعَ عَلَى الدَّائِرَةِ وَقُولِي لَيْسَ هُوَ هَهُنَا وَاحْتَرَزَ بِذَلِكَ عَنِ الْكَذِبِ وَدَفَعَ الظَّالِمَ عَنْ نفسه فكان قوله صدق وأفهم الظالم أنه ليس في الدار
Dan kejujuran (shidq) di sini beralih kepada niat, sehingga tidak ada yang diperhitungkan di dalamnya melainkan kejujuran niat dan kehendak kebaikan. Maka, kapan saja maksudnya menjadi jelas, niatnya jujur, dan kehendaknya murni untuk kebaikan, ia telah menjadi seorang yang jujur (shadiq) dan shiddiq (orang yang sangat jujur), bagaimanapun bentuk ucapannya. Kemudian, menggunakan sindiran (ta'ridh) dalam kondisi tersebut adalah lebih utama. Caranya adalah seperti yang dihikayatkan dari sebagian ulama, bahwasanya ia dicari oleh sebagian orang zalim sedangkan ia berada di dalam rumahnya. Maka ia berkata kepada istrinya, "Buatlah lingkaran dengan jarimu dan letakkan jarimu di atas lingkaran itu, lalu katakanlah: 'Ia tidak ada di sini (di dalam lingkaran ini)'." Dengan demikian, ia terhindar dari kedustaan dan menolak bahaya zalim dari dirinya. Maka ucapannya adalah benar namun memahamkan orang zalim itu bahwa ia tidak ada di dalam rumah.
فالكمال الأول في اللفظ أن يحترز عن صريح اللفظ وعن المعاريض أيضاً إلا عند الضرورة والكمال الثاني أَنْ يُرَاعِيَ مَعْنَى الصِّدْقِ فِي أَلْفَاظِهِ الَّتِي يُنَاجِي بِهَا رَبَّهُ كَقَوْلِهِ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فطر السموات والأرض فَإِنَّ قَلْبَهُ إِنْ كَانَ مُنْصَرِفًا عَنِ اللَّهِ تَعَالَى مَشْغُولًا بِأَمَانِي الدُّنْيَا وَشَهَوَاتِهِ فَهُوَ كَذِبٌ
Maka kesempurnaan pertama dalam ucapan adalah menjauhi ucapan secara tegas (yang berpotensi bohong) dan juga menjauhi sindiran (ta'ridh) kecuali ketika darurat. Kesempurnaan kedua adalah menjaga makna kejujuran dalam lafal-lafal yang dengannya ia bermunajat kepada Tuhannya, seperti ucapannya: "Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi." Sebab jika hatinya berpaling dari Allah Ta'ala dan disibukkan oleh angan-angan serta syahwat duniawi, maka ucapannya itu adalah suatu kedustaan.
وكقوله إياك نعبد وقوله أَنَا عَبْدُ اللَّهِ فَإِنَّهُ إِذَا لَمْ يَتَّصِفْ بِحَقِيقَةِ الْعُبُودِيَّةِ وَكَانَ لَهُ مَطْلَبٌ سِوَى اللَّهِ لَمْ يَكُنْ كَلَامُهُ صِدْقًا وَلَوْ طُولِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالصِّدْقِ فِي قَوْلِهِ أَنَا عَبْدُ اللَّهِ لعجز تَحْقِيقِهِ فَإِنَّهُ إِنْ كَانَ عَبْدًا لِنَفْسِهِ أَوْ عَبْدًا لِدُنْيَا أَوْ عَبْدًا لِشَهَوَاتِهِ لَمْ يَكُنْ صَادِقًا فِي قَوْلِهِ
Dan seperti ucapannya: "Hanya kepada-Mu kami menyembah," serta ucapannya: "Aku adalah hamba Allah." Sebab jika ia tidak bersifat dengan hakikat penghambaan (ubudiyah) dan masih memiliki tujuan selain Allah, niscaya perkataannya itu bukanlah suatu kejujuran. Seandainya pada hari kiamat ia dituntut untuk membuktikan kejujuran dalam ucapannya "Aku adalah hamba Allah", niscaya ia tidak akan sanggup mewujudkannya. Sebab jika ia menjadi hamba bagi nafsunya, hamba bagi dunianya, atau hamba bagi syahwatnya, maka ia tidaklah jujur dalam ucapannya tersebut.
وَكُلُّ مَا تَقَيَّدَ الْعَبْدُ به فهو عبد له كما قال عيسى ﵇ يا عبيد الدنيا وقال نبينا ﷺ تَعِسَ عَبْدُ الدُّنْيَا وتعس عبد الدرهم وعبد الحلة وعبد الخميصة فسمى كُلَّ مَنْ تَقَيَّدَ قَلْبُهُ بِشَيْءٍ عَبْدًا لَهُ
Dan segala sesuatu yang mengikat seorang hamba, maka ia menjadi hamba bagi sesuatu tersebut, sebagaimana Nabi Isa 'alaihissalam bersabda: "Wahai para hamba dunia!" Dan Nabi kita ﷺ bersabda: "Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, hamba pakaian bagus, dan hamba pakaian mewah." Beliau menamai setiap orang yang hatinya terikat oleh sesuatu sebagai hamba bagi sesuatu itu.
وَإِنَّمَا الْعَبْدُ الْحَقُّ لِلَّهِ ﷿ مَنْ أعتق أولاً من غير الله تعالى فصار حراً مطلقاً فإذا تقدمت هذه الحرية صار القلب فارغاً فحلت فيه العبودية لله فتشغله بالله وبمحبته وتقيد باطنه وظاهره بطاعته فلا يكون له مراد
Hamba yang sejati bagi Allah 'Azza wa Jalla hanyalah orang yang terlebih dahulu dibebaskan dari selain Allah Ta'ala sehingga menjadi merdeka secara mutlak. Apabila kemerdekaan ini telah mendahului, maka hati menjadi kosong (dari selain Allah), lalu bertakhtalah di dalamnya penghambaan kepada Allah yang menyibukkannya dengan Allah dan mahabbah (cinta)-Nya, serta mengikat batin dan zahirnya dengan ketaatan kepada-Nya, sehingga ia tidak lagi memiliki kehendak…
إلا الله تعالى ثم تجاوز هذا إلى مقام آخر أسنى منه يسمى الحرية وهو أن يعتق أيضاً عن إرادته لله من حيث هو بل يقنع بما يريد الله له من تقريب أو إبعاد فتفنى إرادته في إرادة الله تعالى
…melainkan Allah Ta'ala. Kemudian ia melampaui ini menuju maqam lain yang lebih mulia yang dinamakan kemerdekaan sejati, yaitu ia juga dibebaskan dari kehendak pribadinya untuk meraih Allah dari sudut pandang dirinya sendiri; melainkan ia merasa ridha dengan apa yang Allah kehendaki baginya, baik berupa didekatkan maupun dijauhkan, sehingga kehendaknya fana' (sirna) dalam kehendak Allah Ta'ala.
وهذا عبد عتق عن غير الله فصار حراً ثم عاد وعتق عن نفسه فصار حراً
Inilah hamba yang telah merdeka dari selain Allah sehingga ia menjadi orang yang merdeka, kemudian ia kembali merdeka dari (kehendak) dirinya sendiri sehingga menjadi benar-benar merdeka.
وصار مفقوداً لنفسه موجوداً لسيده ومولاه إن حركه تحرك وإن سكنه سكن وإن ابتلاه رضي لم يبق فيه متسع لطلب والتماس واعتراض بل هو بين يدي الله كالميت بين يدي الغاسل وهذا منتهى الصدق في العبودية لله تعالى
Ia menjadi tiada bagi dirinya sendiri dan wujud bagi Tuan dan Pelindungnya (Allah). Jika Allah menggerakkannya maka ia bergerak, jika Allah menenangkannya maka ia tenang, dan jika Allah mengujinya maka ia ridha. Tidak tersisa lagi kelapangan di dalam dirinya untuk menuntut, meminta, atau menyanggah, melainkan ia berada di hadapan Allah bagaikan mayat di hadapan orang yang memandikannya. Dan inilah puncak kejujuran (shidq) dalam penghambaan kepada Allah Ta'ala.
فالعبد الحق هو الذي وجوده لمولاه لا لنفسه وهذه درجة الصديقين
Maka hamba yang sejati adalah seseorang yang keberadaannya semata-mata untuk Tuannya, bukan untuk dirinya sendiri. Ini adalah derajat para shiddiqqin (orang-orang yang sangat jujur dan teguh dalam kebenaran).
وأما الحرية عن غير الله فدرجات الصادقين وبعدها تتحقق العبودية لله تعالى وما قبل هذا فلا يستحق صاحبه أن يسمى صادقاً ولا صديقاً فهذا هو معنى الصدق في القول
Adapun kemerdekaan dari selain Allah adalah derajat orang-orang yang jujur (shadiqin), dan setelahnya barulah terwujud penghambaan yang sejati kepada Allah Ta'ala. Sebelum tingkatan ini, pelakunya tidak berhak dinamai sebagai shadiq (orang yang jujur) maupun shiddiq. Maka inilah makna kejujuran dalam ucapan.
الصدق الثاني فِي النِّيَّةِ وَالْإِرَادَةِ وَيَرْجِعُ ذَلِكَ إِلَى الْإِخْلَاصِ وَهُوَ أَنْ لَا يَكُونَ لَهُ بَاعِثٌ فِي الْحَرَكَاتِ وَالسَّكَنَاتِ إِلَّا اللَّهُ تَعَالَى فَإِنْ مَازَجَهُ شَوْبٌ مِنْ حُظُوظِ النَّفْسِ بَطَلَ صِدْقُ النِّيَّةِ وصاحبه يجوز أن يسمى كاذباً كما روينا في فضيلة الإخلاص من حديث الثلاثة حين يسئل العالم ما عملت فيما علمت فقال فعلت كذا وكذا فقال الله تعالى كذبت بل أردت أن يقال فلان عالم فإنه لم يكذبه ولم يقل له لم تعمل ولكنه كذبه في إرادته ونيته
Kejujuran kedua adalah kejujuran dalam niat dan kehendak. Hal ini kembali kepada keikhlasan, yaitu tidak ada dorongan baginya dalam seluruh gerak dan diamnya melainkan Allah Ta'ala. Jika niat tersebut tercampur oleh sedikit saja bagian dari kepentingan nafsu, maka gugurlah kejujuran niat itu, dan pelakunya boleh dinamai pendusta. Sebagaimana telah kami riwayatkan dalam keutamaan ikhlas dari hadis tiga golongan, ketika seorang alim ditanya: "Apa yang telah engkau perbuat dengan ilmu yang engkau ketahui?" Lalu ia menjawab: "Aku telah berbuat begini dan begitu." Maka Allah Ta'ala berfirman: "Engkau dusta! Melainkan engkau menghendaki agar dikatakan si Fulan adalah orang alim." Allah tidak mendustakannya dalam arti mengatakan ia tidak beramal, melainkan mendustakannya dalam kehendak dan niatnya.
وقد قال بعضهم الصدق صحة التوحيد في القصد
Sebagian ulama berkata: "Kejujuran adalah benarnya tauhid dalam maksud dan tujuan."
وكذلك قول الله تعالى والله يشهد إن المنافقين لكاذبون وقد قالوا إنك لرسول الله وهذا صدق ولكن كذبهم لا من حيث نطق اللسان بل من حيث ضمير القلب وكان التكذيب يتطرق إلى الخبر
Demikian pula firman Allah Ta'ala: "Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta," padahal mereka telah berkata: "Sesungguhnya engkau benar-benar Rasul Allah." Ucapan ini secara kenyataan adalah benar, akan tetapi Allah mendustakan mereka bukan dari segi ucapan lisan, melainkan dari segi isi hati mereka, karena pendustaan itu merambah kepada penyampaian (berita) yang dikandungnya.
وهذا القول يتضمن إخباراً بقرينة الحال إذ صاحبه يظهر من نفسه أن يعتقد ما يقول فكذب في دلالته بقرينة الحال على ما في قلبه فإنه كذب في ذلك ولم يكذب فيما يلفظ به فيرجع أحد معاني الصدق إلى خلوص النية وهو الإخلاص فكل صادق فلا بد وأن يكون مخلصاً
Ucapan ini mengandung penyampaian berita berdasarkan indikasi keadaan (qarinatul hal), sebab orang yang mengucapkannya menampakkan dari dirinya seolah-olah ia meyakini apa yang ia katakan. Maka ia berdusta dalam penunjukannya melalui qarinatul hal terhadap apa yang ada di dalam hatinya. Ia berdusta dalam hal itu, bukan berdusta pada lafal yang diucapkannya. Maka salah satu makna kejujuran kembali kepada kemurnian niat, yaitu ikhlas. Oleh karena itu, setiap orang yang jujur (shadiq) pasti seorang yang murni (mukhlish).
الصدق الثالث صدق العزم فإن الإنسان قد يقدم العزم على العمل فيقول في نفسه
Kejujuran ketiga adalah kejujuran tekad (shidqul 'azm). Bahwasanya manusia terkadang mendahulukan tekad sebelum beramal, lalu ia berkata di dalam dirinya:
إن رزقني الله مالاً تصدقت بجميعه أو بشطره أو إن لقيت عدواً في سبيل الله تعالى قاتلت ولم أبال وإن قتلت وإن أعطاني الله تعالى وِلَايَةً عَدَلْتُ فِيهَا وَلَمْ أَعْصِ اللَّهَ تَعَالَى بظلم وميل إلى خلق
"Jika Allah memberiku rezeki harta, niscaya aku akan bersedekah dengan seluruhnya atau separuhnya," atau "Jika aku bertemu musuh di jalan Allah Ta'ala, niscaya aku akan berperang dan tidak peduli walaupun aku terbunuh," atau "Jika Allah Ta'ala memberiku kekuasaan/jabatan, niscaya aku akan berlaku adil di dalamnya dan tidak bermaksiat kepada Allah Ta'ala dengan kezaliman maupun kecenderungan kepada makhluk."
فهذه العزيمة قد يصادفها من نفسه وهي عزيمة جازمة صادقة وقد يكون في عزمه نوع ميل وتردد وضعف يضاد الصدق في العزيمة فكان الصدق ههنا عبارة عن التمام والقوة كما يقال لفلان شهوة صادقة
Tekad ('azimah) ini terkadang ia dapati dari dirinya berupa tekad yang bulat dan jujur; dan terkadang dalam tekadnya terdapat sejenis kecenderungan, keraguan, atau kelemahan yang menodai kejujuran dalam bertekad. Maka kejujuran di sini merupakan ungkapan dari kesempurnaan dan kekuatan tekad, sebagaimana dikatakan: "Si Fulan memiliki hasrat/keinginan yang jujur (kuat)."
ويقال هذا المريض شهوته كاذبة مهما لم تكن شهوته عن سبب ثابت قوي أو كانت ضعيفة فقد يطلق الصدق ويراد به هذا المعنى
Dan dikatakan: "Orang sakit ini hasratnya dusta (semu)," ketika hasratnya tidak berasal dari sebab yang tetap dan kuat, atau karena hasrat itu lemah. Maka terkadang kata 'kejujuran' mutlak digunakan dengan menghendaki makna ini.
والصادق والصديق هُوَ الَّذِي تُصَادِفُ عَزِيمَتُهُ فِي الْخَيْرَاتِ كُلِّهَا قُوَّةً تَامَّةً لَيْسَ فِيهَا مَيْلٌ وَلَا ضَعْفٌ ولا تردد بل تسخو نفسه أبداً بالعزم المصمم الجازم على الخيرات وهو كما قال عمر ﵁ لأن أقدم فتضرب عنقي أحب إلي من أن أتأمر على قوم فيهم أبو بكر ﵁ فإنه قد وجد من نفسه العزم الجازم والمحبة الصادقة بأنه لا يتأمر مع وجود أبي بكر ﵁ وأكد ذلك بما ذكره من القتل
Orang yang jujur (shadiq) dan shiddiq adalah orang yang tekadnya dalam segala kebaikan bertepatan dengan kekuatan yang sempurna, tidak ada kecenderungan (pada keburukan), kelemahan, maupun keraguan di dalamnya. Bahkan jiwanya senantiasa dermawan dengan tekad yang mantap dan bulat menuju kebaikan. Hal itu sebagaimana perkataan Umar radhiyallahu 'anhu: "Sungguh, diriku dimajukan lalu ditebas leherku lebih aku sukai daripada aku menjadi pemimpin atas suatu kaum yang di tengah-tengah mereka ada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu." Sebab beliau mendapati dari dalam dirinya tekad yang bulat dan kecintaan yang jujur bahwa beliau tidak akan memimpin selama ada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, dan beliau mempertegas hal itu dengan menyebutkan kematian/terbunuh.
ومراتب الصديقين في العزائم تختلف فقد يصادف العزم ولا ينتهي به إلى أن يرضى بالقتل فيه ولكن إذا خلي ورأيه لم يقدم ولو ذكر له حديث القتل لم ينقض عزمه بل في الصادقين والمؤمنين من لو خير بين أن يقتل هو أو أبو بكر كانت حياته أحب من حياة أبي بكر الصديق
Derajat para shiddiqqin dalam hal tekad itu berbeda-beda. Terkadang tekad itu didapati namun tidak sampai pada tingkat ridha untuk dibunuh demi tekad tersebut. Akan tetapi, jika ia dibiarkan dengan pilihannya, ia tidak akan maju (memimpin), dan seandainya ditakut-takuti dengan kematian pun tidak akan merusak tekadnya. Bahkan di antara orang-orang yang jujur dan beriman, ada orang yang seandainya diberi pilihan antara dirinya yang dibunuh atau Abu Bakar, niscaya hidupnya sendiri lebih ia cintai daripada hidup Abu Bakar Ash-Shiddiq.
الصدق الرابع فِي الْوَفَاءِ بِالْعَزْمِ فَإِنَّ النَّفْسَ قَدْ تَسْخُو بِالْعَزْمِ فِي الْحَالِ إِذْ لَا مَشَقَّةَ فِي الوعد والعزم
Kejujuran keempat adalah dalam menepati tekad (al-wafa' bil-'azm). Sebab, jiwa kadang kala begitu mudah bertekad pada suatu saat karena tidak ada kesukaran dalam berjanji dan bertekad,
والمؤنة فِيهِ خَفِيفَةٌ فَإِذَا حُقَّتِ الْحَقَائِقُ وَحَصَلَ التَّمَكُّنُ وَهَاجَتِ الشَّهَوَاتُ انْحَلَّتِ الْعَزِيمَةُ وَغَلَبَتِ الشَّهَوَاتُ وَلَمْ يَتَّفِقِ الْوَفَاءُ بِالْعَزْمِ وَهَذَا يُضَادُّ الصِّدْقَ فِيهِ وَلِذَلِكَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عاهدوا الله عليه فَقَدْ رُوِيَ عَنْ أنس أَنَّ عَمَّهُ أنس بن النضر لَمْ يَشْهَدْ بَدْرًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى قَلْبِهِ وَقَالَ أَوَّلُ مَشْهَدٍ شَهِدَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ غِبْتُ عَنْهُ أَمَا وَاللَّهِ لَئِنْ أَرَانِي اللَّهُ مَشْهَدًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لَيَرَيَنَّ اللَّهُ مَا أَصْنَعُ قَالَ فَشَهِدَ أُحُدًا فِي الْعَامِ الْقَابِلِ فَاسْتَقْبَلَهُ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ فَقَالَ يا أبا عمرو إِلَى أَيْنَ فَقَالَ وَاهًا لِرِيحِ الْجَنَّةِ إِنِّي أَجِدُ رِيحَهَا دُونَ أُحُدٍ
serta bebannya pun ringan. Namun ketika kenyataan diuji, kesempatan terbuka, dan syahwat berkobar, maka terurailah tekad tersebut, syahwat pun menguasai, sehingga penepatannya tidak terwujud. Hal ini bertentangan dengan kejujuran dalam bertekad. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman: "…orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah." Diriwayatkan dari Anas bahwasanya pamannya, Anas bin an-Nadhar, tidak ikut serta dalam Perang Badar bersama Rasulullah ﷺ. Hal itu terasa sangat berat bagi hatinya, lalu ia berkata: "Peperangan pertama yang dihadiri Rasulullah ﷺ justru aku tidak hadir di samping beliau. Demi Allah, jika Allah mempertemukanku dengan suatu peperangan bersama Rasulullah ﷺ, niscaya Allah akan melihat apa yang akan aku perbuat." Kemudian ia ikut serta dalam Perang Uhud pada tahun berikutnya. Sa'ad bin Mu'adz menyambutnya dan bertanya, "Wahai Abu 'Amr, mau ke mana?" Ia menjawab, "Aduhai, betapa harumnya aroma surga! Sungguh aku mencium aromanya di balik gunung Uhud."
فَقَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ فَوُجِدَ فِي جَسَدِهِ بِضْعٌ وَثَمَانُونَ مَا بَيْنَ رمية وضربة وطعنة فقالت أخته بنت النضر مَا عَرَفْتُ أَخِي إِلَّا بِثِيَابِهِ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ووقف رسول الله ﷺ على مصعب بن عمير وقد سقط على وجهه يوم أحد شهيداً وكان صاحب لواء رسول الله ﷺ فقال ﷺ رجال صدقوا ما عاهدوا الله عليه فمنهم من قضى نحبه ومنهم من ينتظر وقال فضالة بن عبيد سمعت عمر بن الخطاب ﵁ يقول سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول الشهداء أربعة رجل مؤمن جيد الإيمان لقي العدو فصدق الله حتى قتل فذلك الذي يرفع الناس إليه أعينهم يوم القيامة هكذا ورفع رأسه حتى وقعت قلنسوته قال الراوي فلا أدري قلنسوة عمر أو قلنسوة رسول الله ﷺ ورجل جيد الإيمان إذا لقي العدو فكأنما يضرب وجهه بشوك الطلح أتاه سهم عاثر فقتله فهو في الدرجة الثانية ورجل مؤمن خلط عملاً صالحاً وآخر سيئاً لقي العدو فصدق الله حتى قتل فذاك في الدرجة الثالثة ورجل أسرف على نفسه لقي العدو فصدق الله حتى قتل فذلك في الدرجة الرابعة وَقَالَ مجاهد رَجُلَانِ خَرَجَا عَلَى مَلَأٍ مِنَ النَّاسِ قُعُودٍ فَقَالَا إِنْ رَزَقَنَا اللَّهُ تَعَالَى مالا لنتصدقن فَبَخِلُوا بِهِ فَنَزَلَتْ وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصالحين وقال بعضهم إنما هو شيء نووه في أنفسهم لم يتكلموا به فقال وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يكذبون فَجَعَلَ الْعَزْمَ عَهْدًا وَجَعَلَ الْخُلْفَ فِيهِ كَذِبًا والوفاء به صدقاً
Lalu ia berperang hingga gugur. Di tubuhnya ditemukan delapan puluh sekian luka, baik akibat lemparan panah, sabetan pedang, maupun tusukan tombak. Saudarinya (binti an-Nadhar) berkata, "Aku tidak mengenali saudaraku melainkan dari jari-jemarinya." Maka turunlah ayat ini: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah…" Dan Rasulullah ﷺ pernah berdiri di samping jasad Mush'ab bin 'Umair yang gugur syahid dalam posisi terjerembap pada hari Uhud, dan dia adalah pembawa panji Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ bersabda: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu." Fadhalah bin 'Ubaid berkata: Aku mendengar 'Umar bin al-Khatthab ﵁ berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang yang mati syahid ada empat golongan: (1) Seorang mukmin yang baik imannya, bertemu musuh lalu jujur (tulus) kepada Allah hingga gugur; dialah orang yang pandangan manusia terangkat kepadanya pada hari kiamat seperti ini"—beliau menengadahkan kepalanya hingga pecinya jatuh. Perawi berkata: "Aku tidak tahu apakah peci 'Umar atau peci Rasulullah ﷺ." (2) Dan seorang laki-laki yang baik imannya, ketika bertemu musuh seolah-olah wajahnya dipukuli dengan duri pohon bidara, lalu datang anak panah nyasar membunuhnya, ia berada pada derajat kedua. (3) Dan seorang mukmin yang mencampuradukkan amal saleh dengan amal buruk, bertemu musuh lalu jujur kepada Allah hingga gugur, dialah pada derajat ketiga. (4) Dan seorang laki-laki yang berbuat zalim terhadap dirinya sendiri, bertemu musuh lalu jujur kepada Allah hingga gugur, dialah pada derajat keempat. Mujahid berkata: "Ada dua orang lelaki yang menemui sekelompok orang yang sedang duduk, lalu keduanya berkata: 'Jika Allah memberi kami harta, niscaya kami akan bersedekah.' Namun setelah dikaruniai, mereka kikir. Maka turunlah ayat: 'Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah: Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah…'". Sebagian ulama berkata: "Hal itu hanyalah sesuatu yang mereka niatkan dalam hati, tidak mereka ucapkan secara lisan." Lalu Allah berfirman: "Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah: 'Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan tentulah kami termasuk orang-orang yang saleh.' Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memang orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada hari mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka janjikan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta." Jadi, Allah menjadikan tekad itu sebagai janji, serta menjadikan pengingkaran padanya sebagai kedustaan, dan penepatannya sebagai kejujuran.
وهذا الصدق أشد من الصدق الثالث فإن الناس قد تسخو بالعزم ثم تكيع عند الوفاء لشدته عليها ولهيجان الشهوة عند التمكن وحصول الأسباب
Kejujuran jenis ini lebih berat daripada kejujuran yang ketiga. Sebab manusia terkadang begitu mudah bertekad, namun kemudian menjadi gentar saat harus menepatinya karena beratnya ujian tersebut, serta karena bergejolaknya syahwat ketika kesempatan dan sebab-sebabnya telah terbuka.
ولذلك استثنى عمر ﵁ فقال لأن أقدم فتضرب عنقي أحب إلي من أن أتأمر على قوم فيهم أبو بكر اللهم إلا أن تسول لي نفسي عند القتل شيئاً لا أجده الآن لأني لا آمن أن يثقل عليها ذلك فتتغير عن عزمها
Oleh karena itu, 'Umar ﵁ mengecualikan seraya berkata: "Dibiarkan maju lalu dipenggal leherku sungguh lebih aku sukai daripada menjadi pemimpin atas suatu kaum yang di dalamnya ada Abu Bakar. Ya Allah, kecuali jika jiwaku membisikkan sesuatu saat hendak dibunuh yang tidak kurasakan sekarang, karena aku tidak merasa aman kalau-kalau hal itu terasa berat bagi jiwaku sehingga berubah dari tekadnya."
وأشار بذلك إلى شدة الوفاء بالعزم
Dengan peryataan itu, beliau mengisyaratkan betapa beratnya menepati tekad.
وقال أبو سعيد الخراز رأيت في المنام كأن ملكين نزلا من السماء فقالا لي ما الصدق قلت الوفاء بالعهد فقالا لي صدقت وعرجا إلى السماء
Abu Sa'id al-Kharraz berkata: "Aku bermimpi seolah-olah dua malaikat turun dari langit lalu keduanya bertanya kepadaku, 'Apakah kejujuran itu?' Aku menjawab, 'Menepati janji.' Keduanya berkata kepadaku, 'Engkau benar,' lalu keduanya naik kembali ke langit."
الصدق الخامس فِي الْأَعْمَالِ وَهُوَ أَنْ يَجْتَهِدَ حَتَّى لَا تَدُلَّ أَعْمَالُهُ الظَّاهِرَةُ عَلَى أَمْرٍ فِي بَاطِنِهِ لا يتصف هو به لا بأن يترك الأعمال ولكن بأن يستجر الباطن إلى تصديق الظاهر وهذا مخالف ما ذكرناه من ترك الرياء لأن
Kejujuran kelima adalah dalam beramal (ash-shidqu fil-a'mal), yaitu bersungguh-sungguh agar amal lahiriahnya tidak menunjukkan sesuatu dalam batinnya yang tidak ia miliki; bukan dengan cara meninggalkan amal, melainkan dengan menarik batin agar membenarkan (sesuai dengan) lahiriahnya. Hal ini berbeda dengan apa yang telah kami sebutkan tentang meninggalkan riya, karena
المرائي هو الذي يقصد ذلك ورب واقف على هيئة الخشوع في صلاته ليس يقصد به مشاهدة غيره ولكن قلبه غافل عن الصلاة فمن ينظر إليه يراه قائمابين يدي الله تعالى وهو بالباطن قَائِمٌ فِي السُّوقِ بَيْنَ يَدَيْ شَهْوَةٍ مِنْ شهواته فهذه أعمال تعرب بلسان الحال عن الباطن إعراباهو فيه كاذب وهو مطالب بالصدق في الأعمال وكذلك قد يمشي الرجل على هيئة السكون والوقار وليس باطنه موصوفاً بذلك الوقار فهذا غير صادق في عمله وإن لم يكن ملتفتاً إلى الخلق ولا مرائياً إياهم ولا ينجو من هذا إلا باستواء السَّرِيرَةِ وَالْعَلَانِيَةِ بِأَنْ يَكُونَ بَاطِنُهُ مِثْلَ ظَاهِرِهِ أو خيراً من ظاهره
orang yang riya memang berniat demikian. Betapa banyak orang yang berdiri dalam sikap khusyuk dalam shalatnya, bukan bertujuan agar dilihat orang lain, tetapi hatinya lalai dari shalat. Siapa pun yang melihatnya akan menganggapnya sedang berdiri di hadapan Allah Ta'ala, padahal batinnya sedang berdiri di pasar, di hadapan salah satu syahwatnya. Ini adalah amal-amal yang secara lisanul hal (bahasa keadaan) mengungkapkan batin dengan ungkapan yang di dalamnya ia berdusta, padahal ia dituntut untuk jujur dalam beramal. Begitu pula, seseorang mungkin berjalan dengan sikap tenang dan penuh kewibawaan, padahal batinnya tidak memiliki kewibawaan tersebut. Orang ini tidak jujur dalam amalnya, meskipun ia tidak menoleh kepada makhluk dan tidak bermaksud riya kepada mereka. Tidak ada yang selamat dari hal ini kecuali dengan kesamaan antara batin dan lahiriahnya, yaitu batinnya sama seperti lahiriahnya atau bahkan lebih baik daripada lahiriahnya.
ومن خيفة ذلك اختار بعضهم تشويش الظاهر ولبس ثياب الأشرار كيلا يظن به الخير بسبب ظاهره فيكون كاذباً في دلالة الظاهر على الباطن
Karena takut akan hal tersebut, sebagian ulama memilih untuk menyamarkan penampilan lahiriahnya dan mengenakan pakaian orang-orang yang tampak buruk, agar tidak disangka baik lantaran penampilan lahirnya, yang bisa menjadikannya berdusta dalam penunjukan lahiriah terhadap batinnya.
إذن مخالفة الظاهر للباطن إن كانت عن قصد سميت رياء ويفوت بها الإخلاص وإن كانت عن غير قصد فيفوت بها الصدق
Jadi, ketidaksesuaian lahiriah dengan batiniah jika dilakukan secara sengaja dinamakan riya dan menggugurkan keikhlasan. Namun jika terjadi tanpa kesengajaan, maka hal itu menggugurkan kejujuran.
وَلِذَلِكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ اللهم اجعل سريرتي خيراً من علانيتي واجعل علانيتي صالحة وقال يزيد بن الحارث إذا استوت سريرة العبد وعلانيته فذلك النصف وإن كانت سريرته أفضل من علانيته فذلك الفضل وإن كانت علانيته أفضل من سريرته فذلك الجور وأنشدوا
Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ berdoa: "Ya Allah, jadikanlah batinku lebih baik daripada lahiriahku, dan jadikanlah lahiriahku baik/saleh." Yazid bin al-Harits berkata: "Apabila batin seorang hamba sama dengan lahiriahnya, maka itu adalah keadilan (keseimbangan). Jika batinnya lebih utama daripada lahiriahnya, maka itu adalah keutamaan. Namun jika lahiriahnya lebih baik daripada batinnya, maka itu adalah kezaliman." Para penyair pun bersyair:
إِذَا السِّرُّ وَالْإِعْلَانُ فِي الْمُؤْمِنِ اسْتَوَى … فَقَدْ عَزَّ فِي الدَّارَيْنِ وَاسْتَوْجَبَ الثَّنَا
"Apabila batin dan perbuatan terang-terangan seorang mukmin telah setara… niscaya ia menjadi mulia di dua negeri (dunia dan akhirat) dan berhak mendapat pujian."
فَإِنْ خَالَفَ الْإِعْلَانُ سِرًّا فَمَا لَهُ … عَلَى سَعْيِهِ فَضْلٌ سوى الكد والعنا
"Namun jika perbuatan terang-terangan menyelisihi batinnya, maka tiada bagi usahanya… keutamaan apa pun selain kepayahan dan kesengsaraan."
فما خالص الدينار في السوق نافق … ومغشوشه المردود لا يقتضى المنا
"Dinar yang murni laku keras di pasar… sedangkan yang palsu lagi tertolak tidak akan memenuhi harapan."
وقال عطية بن عبد الغافر إذا وافقت سريرة المؤمن علانيته باهى الله به الملائكة يقول هذا عبدي حقاً
'Athiyyah bin 'Abd al-Ghafir berkata: "Apabila batin seorang mukmin sesuai dengan lahiriahnya, Allah akan membanggakannya di hadapan para malaikat seraya berfirman: 'Inilah hamba-Ku yang sejati.'"
وقال معاوية بن قرة من يدلني على بكاء بالليل بسام بالنهار
Mu'awiyah bin Qurrah berkata: "Siapakah yang mau menunjukkan kepadaku seorang yang menangis di malam hari dan murah senyum di siang hari?"
وقال عبد الواحد بن زيد كان الحسن إذا أمر بشيء كان من أعمل الناس به وإذا نهي عن شيء كان من أترك الناس له
'Abdul Wahid bin Zaid berkata: "Dahulu al-Hasan al-Bashri apabila memerintahkan sesuatu, beliau adalah orang yang paling mengamalkannya; dan apabila dilarang dari sesuatu, beliau adalah orang yang paling meninggalkannya."
ولم أر أحداً قط أشبه سريرة بعلانية منه
"Dan aku tidak pernah melihat seorang pun yang batinnya paling serupa dengan lahiriahnya selain beliau."
وكان أبو عبد الرحمن الزاهد يقول إلهي عاملت الناس فيما بيني وبينهم بالأمانة وعاملتك فيما بيني وبينك بالخيانة ويبكي
Abu 'Abdirrahman az-Zahid biasa berdoa: "Ya Tuhanku, aku memperlakukan manusia dalam urusan antara aku dan mereka dengan amanah, tetapi aku memperlakukan-Mu dalam urusan antara aku dan Engkau dengan pengkhianatan," lalu beliau pun menangis.
وقال أبو يعقوب النهر جوري الصدق موافقة الحق في السر والعلانية
Abu Ya'qub an-Naharjawri berkata, "As-Sidq (kejujuran/kesetiaan) adalah persesuaian dengan Al-Haqq (Kebenaran/Allah) dalam batin maupun lahiriah."
فإذن مساواة السريرة للعلانية أحد أنواع الصدق
Maka dari itu, kesetaraan antara batin (rahasia hati) dan lahiriah merupakan salah satu bentuk kejujuran (as-sidq).
الصدق السادس وهو أعلى الدرجات وأعزها الصدق في مقامات الدين كالصدق في الخوف والرجاء والتعظيم والزهد والرضا والتوكل والحب وسائر هذه الأمور
Kejujuran keenam, yang merupakan tingkatan tertinggi dan paling mulia, adalah kejujuran dalam maqamat (tingkatan-tingkatan spiritual) agama, seperti kejujuran dalam khauf (rasa takut), raja' (harapan), ta'zhim (pengagungan), zuhud, ridha, tawakal, mahabbah (cinta), serta seluruh perkara ini.
فإن هذه الأمور لها مباد ينطلق الاسم بظهورها ثم لها غايات وحقائق والصادق المحقق من نال حقيقتها وإذا غلب الشيء وتمت حقيقته سمي صاحبه صادقاً فيه كما يقال فلان صدق القتال
Karena sesungguhnya perkara-perkara ini memiliki permulaan yang mana nama tersebut disematkan saat gejalanya tampak, lalu ia memiliki puncak-puncak tujuan dan hakikat. Orang yang jujur secara sungguh-sungguh (ash-shadiq al-muhaqqiq) adalah yang meraih hakikatnya. Dan apabila sesuatu telah mendominasi serta hakikatnya sempurna, maka pelakunya dinamakan jujur (sejati) di dalamnya, sebagaimana dikatakan: "Si Fulan jujur (sejati) dalam pertempuran."
ويقال هذا هو الخوف الصادق وهذه هي الشهوة الصادقة
Dan dikatakan pula: "Ini adalah rasa takut yang jujur (sejati)," dan "Ini adalah syahwat/hasrat yang sejati."
وقال الله تَعَالَى إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثم لم يرتابوا إلى قوله أولئك هم الصادقون وقال تعالى ولكن البر من آمن بالله واليوم الآخر إلى قوله أولئك الذين صدقوا وسئل أبو ذر عن الإيمان فقرأ هذه الآية فقيل له سألناك عن الإيمان فقال سألت رسول الله ﷺ عن الإيمان فقرأ هذه الآية // حديث أبى ذر سألته عن الإيمان فقرأ قوله تعالى ﴿ولكن البر من آمن بالله واليوم الآخر﴾ إلى قوله ﴿أولئك الذين صدقوا﴾ رواه محمد بن نصر المروزى في تعظيم قدر الصلاة بأسانيد منقطعة لم أجد له اسنادا
Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sejati adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu…" sampai firman-Nya: "…mereka itulah orang-orang yang benar (jujur)." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Akan tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir…" sampai firman-Nya: "…mereka itulah orang-orang yang benar (jujur)." Abu Dzar pernah ditanya tentang iman, lalu beliau membaca ayat ini. Dikatakan kepadanya: "Kami bertanya kepadamu tentang iman." Beliau menjawab: "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang iman, lalu beliau membaca ayat ini." // Hadis Abu Dzar bahwa beliau bertanya kepada Nabi tentang iman lalu beliau membaca firman Allah Ta'ala: "Akan tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah dan hari akhir…" sampai firman-Nya: "…mereka itulah orang-orang yang benar", diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr Al-Marwazi dalam Ta'zhim Qadr Ash-Shalah dengan sanad-sanad yang terputus (munqathi'); aku tidak menemukan sanad (yang bersambung) baginya.
ولنضرب للخوف مثلاً فما من عبد يؤمن بالله واليوم الآخر إلا وهو خائف من الله خوفاً ينطلق عليه الاسم
Mari kita buat perumpamaan untuk khauf (rasa takut). Tidak ada seorang hamba pun yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir melainkan ia memiliki rasa takut kepada Allah, suatu rasa takut yang membolehkan sebutan (khauf) itu disematkan padanya.
ولكنه خوف غير صادق أي غير بالغ درجة الحقيقة أما تراه إذا خاف سلطاناً أو قاطع طريق في سفره كيف يصفر لونه وترتعد فرائصه ويتنغص عليه عيشه ويتعذر عليه أكله ونومه وينقسم عليه فكره حتى لا ينتفع به أهله وولده وقد ينزعج عن الوطن فيستبدل بالأنس الوحشة وبالراحة التعب والمشقة والتعرض للأخطار كل ذلك خوفاً من درك المحذور
Akan tetapi, itu adalah rasa takut yang belum jujur (sejati), yakni belum mencapai derajat hakikat. Tidakkah engkau melihatnya ketika ia takut kepada seorang penguasa atau perampok jalanan dalam perjalanannya, bagaimana wajahnya menjadi pucat, persendiannya gemetar, kehidupannya menjadi keruh, makan dan tidurnya terganggu, serta pikirannya terpecah hingga keluarga dan anaknya tidak dapat mengambil manfaat darinya? Bahkan ia bisa saja terdorong untuk meninggalkan tanah airnya, mengganti kehangatan dengan kesendirian yang mencekam, serta kenyamanan dengan kelelahan, kesulitan, dan paparan bahaya—semua itu dilakukan karena rasa takut dari tertimpa hal yang dikhawatirkan.
ثم إنه يخاف النار ولا يظهر عليه شيء من ذلك عند جريان معصية عليه ولذلك قال ﷺ لم أر مثل النار نام هاربها ولا مثل الجنة نام طالبها تقدم فالتحقيق في هذه الأمور عزيز جداً ولا غاية لهذه المقامات حتى ينال تمامها ولكن لكل عبد منه حظ بحسب حاله إما ضعيف وإما قوي فإذا قوي سمي صادقاً فيه
Namun kemudian ia (mengaku) takut akan neraka, sementara tidak tampak padanya sesuatu pun dari tanda-tanda itu tatkala kemaksiatan menghampirinya. Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku tidak pernah melihat hal seperti neraka di mana orang yang lari darinya malah tertidur, dan tidak pula seperti surga di mana orang yang mencarinya justru tertidur." (Telah disebutkan sebelumnya). Maka pencapaian hakikat (tahqiq) dalam perkara-perkara ini sangatlah langka. Tidak ada batas akhir bagi maqam-maqam ini hingga seseorang dapat meraih kesempurnaannya secara utuh; namun setiap hamba memiliki bagian darinya sesuai dengan kondisinya, baik itu lemah maupun kuat. Apabila rasa takut itu menguat, barulah ia dinamakan jujur (sejati) di dalamnya.
فمعرفة الله تعالى وتعظيمه والخوف منه لا نهاية لها ولذلك قال النبي ﷺ لجبريل ﵇ أحب أن أراك في صورتك التي هي صورتك فقال لا تطيق ذلك قال بلى بل أرني فواعده البقيع في ليلة مقمرة فأتاه فنظر النبي ﷺ فإذا هو به قد سد الأفق يعني جوانب السماء فوقع النبي ﷺ مغشياً عليه فأفاق وقد عاد جبريل لصورته الأولى فقال النبي ﷺ ما ظننت أن أحداً من خلق الله هكذا قال وكيف لو رأيت إسرافيل إن العرش لعلى كاهله وإن رجليه قد مرقتا تحت تخوم الأرض السفلى وإنه ليتصاغر من عظمة الله حتى يصير كالوصع يعني كالعصفور الصغير فانظر ما الذي يغشاه من العظمة والهيبة حتى يرجع إلى ذلك الحد وسائر الملائكة ليسوا كذلك لتفاوتهم في المعرفة فهذا هو الصدق في التعظيم
Maka ma'rifatullah (mengenal Allah Ta'ala), mengagungkan-Nya, dan takut kepada-Nya tidaklah memiliki batas akhir. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda kepada Jibril 'Alaihissalam, "Aku ingin melihatmu dalam rupamu yang asli." Jibril berkata, "Engkau tidak akan sanggup." Nabi bersabda, "Tentu, perlihatkanlah padaku." Maka Jibril berjanji kepadanya di Baqi' pada malam yang terang bulan. Lalu Jibril datang, dan Nabi ﷺ melihatnya; ternyata wujudnya telah memenuhi ufuk—yakni sisi-sisi langit—sehingga Nabi ﷺ jatuh pingsan. Ketika sadar kembali, Jibril telah kembali ke rupanya semula. Nabi ﷺ bersabda, "Aku tidak pernah mengira ada makhluk Allah yang seperti ini." Jibril berkata, "Bagaimana jika engkau melihat Israfil? Sesungguhnya Arasy berada di atas pundaknya, sementara kedua kakinya menembus bagian bawah bumi yang paling dasar. Namun sesungguhnya ia mengecil karena keagungan Allah hingga menjadi seperti al-washa'—yakni burung kecil." Maka lihatlah keagungan dan kewibawaan apa yang meliputinya hingga ia menyusut sampai pada batas tersebut! Dan malaikat-malaikat lainnya tidaklah demikian, karena perbedaan mereka dalam ma'rifat. Inilah kejujuran dalam ta'zhim (pengagungan).
وقال جابر قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مررت ليلة أسري بي وجبريل بالملأ الأعلى كالحلس البالي من خشية الله تعالى يعني الكساء الذي يلقى على ظهر البعير وكذلك الصحابة كانوا خائفين وما كانوا بلغوا خوف رسول الله ﷺ ولذلك قال ابن عمر ﵄ لن تبلغ حقيقة الإيمان حتى تنظر الناس كلهم حمقى في دين الله
Jabir berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Pada malam ketika aku diisrakkan, aku melewati Jibril di Al-Mala' al-A'la (alam malaikat tertinggi) yang tampak seperti al-hils al-bali (kain pelana yang usang) karena khasyyah (rasa takut yang diliputi keagungan) kepada Allah Ta'ala"—yakni kain yang diletakkan di atas punggung unta. Demikian pula para sahabat, mereka sangat merasa takut namun belum mencapai tingkatan takut Rasulullah ﷺ. Oleh karena itulah Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma berkata, "Engkau tidak akan pernah mencapai hakikat iman sampai engkau memandang seluruh manusia seperti orang-orang bodoh dalam hal agama Allah."
وقال مطرف ما من الناس أحد إلا وهو أحمق فيما بينه وبين ربه إلا أن بعض الحمق أهون من بعض وقال النبي ﷺ لا يبلغ عبد حقيقة الإيمان حتى ينظر إلى الناس كالأباعر في جنب الله ثم يرجع إلى نفسه فيجدها أحقر حقير فالصادق إذن في جميع هذه المقامات عزيز
Mutharrif berkata, "Tidak ada seorang pun dari manusia melainkan ia memiliki kebodohan dalam urusan antara dirinya dan Tuhannya, hanya saja sebagian kebodohan lebih ringan daripada yang lain." Dan Nabi ﷺ bersabda, "Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat iman sampai ia memandang manusia seperti unta-unta di hadapan Sisi Allah, kemudian ia kembali melihat dirinya lalu mendapatinya sebagai sesuatu yang paling hina dari yang hina." Maka orang yang jujur (ash-shadiq) dalam seluruh maqam ini sungguh sangat langka.
ثُمَّ دَرَجَاتُ الصِّدْقِ لَا نِهَايَةَ لَهَا وَقَدْ يَكُونُ لِلْعَبْدِ صِدْقٌ فِي بَعْضِ الْأُمُورِ دُونَ بَعْضٍ فَإِنْ كَانَ صَادِقًا فِي الْجَمِيعِ فَهُوَ الصديق حقاً
Kemudian, derajat-derajat kejujuran (ash-sidq) tidak memiliki batas akhir. Bisa jadi seorang hamba memiliki kejujuran dalam sebagian perkara namun tidak pada sebagian yang lain. Jika ia jujur (sejati) dalam seluruh perkara, maka dialah seorang Ash-Shiddiq (orang yang sangat jujur/sejati) secara hakiki.
قال سعد بن معاذ ثلاثة أنا فيهن قوي وفيما سواهن ضعيف ما صليت صلاة منذ أسلمت فحدثت نفسي حتى أفرغ منها ولا شيعت جنازة فحدثت نفسي بغير ما هي قائلة وما هو مقول لها حتى يفرغ من دفنها وما سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يقول قولاً إلا علمت أنه حق فقال ابن المسيب ما ظننت أن هذه الخصال تجتمع إلا في النبي
Sa'ad bin Mu'adz berkata, "Ada tiga perkara di mana aku sangat kuat padanya, dan pada selainnya aku lemah: Aku tidak pernah mendirikan shalat sejak aku masuk Islam lalu terbesit dalam hatiku urusan duniawi hingga aku menyelesaikannya; aku tidak pernah mengiringi jenazah lalu hatiku membicarakan hal selain apa yang dikatakan oleh jenazah dan apa yang dikatakan kepadanya hingga selesai pemakamannya; dan aku tidak pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda suatu perkataan melainkan aku meyakini bahwa itu adalah kebenaran." Maka Ibnu al-Musayyib berkata, "Aku tidak mengira sifat-sifat ini bisa berkumpul kecuali pada seorang Nabi."
ﷺ فهذا صدق في هذه الأمور وكم قوم من جلة الصحابة قد أدوا الصلاة واتبعوا الجنائز ولم يبلغوا هذا المبلغ فهذه هي درجات الصدق ومعانيه
ﷺ. Maka ini adalah kejujuran (sidq) dalam perkara-perkara tersebut. Betapa banyak kaum dari kalangan sahabat-sahabat terkemuka yang telah menunaikan shalat dan mengiringi jenazah, namun tidak mencapai tingkatan ini. Maka inilah derajat-derajat kejujuran (sidq) beserta makna-maknanya.
والكلمات المأثورة عن المشايخ في حقيقة الصدق في الأغلب لا تتعرض إلا لآحاد هذه المعاني نعم قد قال أبو بكر الوراق الصدق ثلاثة صدق التوحيد وصدق الطاعة وصدق المعرفة
Ungkapan-ungkapan yang diriwayatkan dari para gurumu (masyayikh) mengenai hakikat as-sidq pada umumnya hanya menyentuh sebahagian dari makna-makna ini. Benar, Abu Bakr Al-Warraq telah berkata: "Kejujuran (as-sidq) itu ada tiga: kejujuran dalam tauhid, kejujuran dalam ketaatan, dan kejujuran dalam ma'rifat."
فصدق التوحيد لعامة المؤمنين قال الله تعالى ﴿والذين آمنوا بالله ورسله أولئك هم الصديقون﴾ وصدق الطاعة لأهل العلم
Kejujuran dalam tauhid adalah milik orang-orang mukmin secara umum; Allah Ta'ala berfirman: "Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah orang-orang yang jujur (shiddiqin)." Adapun kejujuran dalam ketaatan adalah milik ahli ilmu (ulama)
والورع وصدق المعرفة لأهل الولاية الذين هم أوتاد الأرض وكل هذا يدور على ما ذكرناه في الصدق السادس ولكنه ذكر أقسام ما فيه الصدق وهو أيضاً غير محيط بجميع الأقسام وقال جعفر الصادق الصدق هو المجاهدة وأن لا تختار على الله غيره كما لم يختر عليك غيرك فقال تعالى ﴿هو اجتباكم﴾ وقيل أوحى الله تعالى إلى موسى ﵇ إني إذا أحببت عبداً ابتليته ببلايا لا تقوم لها الجبال لأنظر كيف صدقه فإن وجدته صابراً اتخذته ولياً وحبيباً وإن وجدته جزوعاً يشكوني إلى خلقي خذلته ولا أبالي
dan orang-orang yang wara'. Sedangkan kejujuran dalam ma'rifat adalah milik ahli wilayah (para wali Allah) yang merupakan pasak-pasak (autad) bumi. Semua ini berporos pada apa yang telah kami sebutkan dalam jenis kejujuran keenam, namun beliau menyebutkan bagian-bagian dari apa yang memuat kejujuran di dalamnya, dan beliau pun belum mencakup seluruh pembagiannya. Ja'far ash-Shadiq berkata, "Kejujuran (as-sidq) adalah mujahadah dan engkau tidak memilih selain Allah di atas-Nya, sebagaimana Dia tidak memilih selain dirimu; Allah Ta'ala berfirman: 'Dia telah memilih kamu'." Dikatakan pula bahwa Allah Ta'ala mewahyukan kepada Musa 'Alaihissalam: "Sesungguhnya jika Aku mencintai seorang hamba, Aku akan mengujinya dengan cobaan-cobaan yang gunung sekalipun tidak sanggup menahannya, untuk melihat bagaimana kejujurannya (sidq). Jika Aku mendapatinya bersabar, Aku menjadikannya wali dan kekasih-Ku; dan jika Aku mendapatinya berkeluh kesah serta mengadukan Aku kepada makhluk-Ku, Aku meninggalkannya dan Aku tidak peduli."
فإذن من علامات الصدق كتمان المصائب والطاعات جميعاً وكراهة إطلاع الخلق عليها
Maka dari itu, di antara tanda-tanda kejujuran (as-sidq) adalah menyembunyikan musibah dan ketaatan secara bersamaan, serta membenci jika makhluk mengetahui keduanya.