• ما يحرم بالحيض والنفاس
مَا يَحْرُمُ بِالْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ
Perkara yang Diharamkan Disebabkan Haid dan Nifas
(وَيَحْرُمُ بِالْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ) وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ «وَيَحْرُمُ عَلَى الْحَائِضِ» (ثَمَانِيَةُ أَشْيَاءَ)، أَحَدُهَا: (الصَّلَاةُ)، فَرْضًا أَوْ نَفْلًا؛ وَكَذَا سَجْدَةُ التِّلَاوَةِ وَالشُّكْرِ. (وَ) الثَّانِي (الصَّوْمُ)، فَرْضًا أَوْ نَفْلًا؛ (وَ) الثَّالِثُ (قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، وَ) الرَّابِعُ (مَسُّ الْمُصْحَفِ) وَهُوَ اسْمٌ لِلْمَكْتُوبِ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ تَعَالَى بَيْنَ الدَّفَّتَيْنِ (وَحَمْلُهُ) إِلَّا إِذَا خَافَتْ عَلَيْهِ؛
(Dan diharamkan karena sebab haid dan nifas)—dan dalam sebagian naskah matan ‘dan diharamkan atas orang yang haid’—(delapan hal), pertama: (salat), baik salat fardu maupun sunah; begitu juga sujud tilawah dan sujud syukur. (Dan) kedua, (puasa), baik puasa fardu maupun sunah; (dan) ketiga, (membaca Al-Qur’an, dan) keempat, (menyentuh mushaf)—yaitu sebutan bagi sesuatu yang ditulisi dari firman-firman Allah Ta’ala di antara dua sampul—(serta membawanya), kecuali apabila ia khawatir mushaf itu akan (rusak atau terhina);
(وَ) الْخَامِسُ (دُخُولُ الْمَسْجِدِ) لِلْحَائِضِ إِنْ خَافَتْ تَلْوِيثَهُ؛ (وَ) السَّادِسُ (الطَّوَافُ) فَرْضًا أَوْ نَفْلًا؛ (وَ) السَّابِعُ (الْوَطْءُ). وَيُسَنُّ لِمَنْ وَطِئَ فِي إِقْبَالِ الدَّمِ التَّصَدُّقُ بِدِينَارٍ، وَلِمَنْ وَطِئَ فِي إِدْبَارِهِ التَّصَدُّقُ بِنِصْفِ دِينَارٍ. (وَ) الثَّامِنُ (الِاسْتِمْتَاعُ بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ) مِنَ الْمَرْأَةِ؛ فَلَا يَحْرُمُ الِاسْتِمْتَاعُ بِهِمَا، وَلَا بِمَا فَوْقَهُمَا عَلَى الْمُخْتَارِ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ.
(Dan) kelima, (masuk ke dalam masjid) bagi orang yang haid apabila ia khawatir darahnya akan menetes (mengotori) masjid; (dan) keenam, (tawaf), baik fardu maupun sunah; (dan) ketujuh, (hubungan intim/watik). Dan disunahkan bagi suami yang menyetubuhi (istrinya) pada saat puncak keluarnya darah haid untuk bersedekah sebesar satu dinar, dan bagi (suami) yang menyetubuhinya pada saat (darah haid) hendak berhenti, untuk bersedekah sebesar setengah dinar. (Dan) kedelapan, (bersenang-senang (mencumbu) pada bagian antara pusar dan lutut) dari tubuh wanita (istri); maka (berarti) tidak haram bercumbu (langsung) pada (pusar atau lutut) itu sendiri, maupun bagian di atas (pusar dan lutut) berdasarkan pendapat pilihan di dalam kitab Syarh Al-Muhadzdzab.
ثُمَّ اسْتَطْرَدَ الْمُصَنِّفُ لِذِكْرِ مَا حَقُّهُ أَنْ يُذْكَرَ فِيمَا سَبَقَ فِي فَصْلِ مُوجِبِ الْغُسْلِ، فَقَالَ:
Kemudian Mushannif melebarkan pembahasan untuk menjelaskan suatu persoalan yang sejatinya lebih tepat untuk disebutkan pada (bab) sebelumnya dalam (pasal) Hal-Hal yang Mewajibkan Mandi (Bab Jinabah), lalu beliau berkata: