• تطهير الإناء
تَطْهِيرُ الْإِينَاءِ
Cara Menyucikan Wadah/Bejana
(وَيُغْسَلُ الْإِينَاءُ مِنْ وُلُوغِ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ سَبْعَ مَرَّاتٍ) بِمَاءٍ طَهُورٍ، (إِحْدَاهُنَّ) مَصْحُوبَةٌ (بِالتُّرَابِ) الطَّهُورِ يَعُمُّ الْمَحَلَّ الْمُتَنَجِّسَ؛ فَإِنْ كَانَ الْمُتَنَجِّسُ بِمَا ذُكِرَ فِي مَاءٍ جَارٍ كَدِرٍ كَفَى مُرُورُ سَبْعِ جَرَيَاتٍ عَلَيْهِ بِلَا تَعْفِيرٍ. وَإِذَا لَمْ تَزُلْ عَيْنُ النَّجَاسَةِ الْكَلْبِيَّةِ إِلَّا بِسِتِّ غَسَلَاتٍ مَثَلًا حُسِبَتْ كُلُّهَا غَسْلَةً وَاحِدَةً. وَالْأَرْضُ الترَابِيَّةُ لَا يَجِبُ الترَابُ فِيهَا عَلَى الْأَصَحِّ.
(Dan wadah yang dijilat (kemasukan air liur) anjing atau babi wajib dibasuh sebanyak tujuh kali) menggunakan air yang suci (dan menyucikan), (yang salah satunya) dicampur (menggunakan debu) yang suci sedemikian rupa sehingga meratakan bagian yang terkena najis; namun jika benda yang terkena najis anjing/babi tersebut (berada) di dalam air mengalir yang keruh, maka cukuplah dengan lewatnya tujuh aliran air di atasnya tanpa perlu dicampur debu (ta’fir). Dan apabila dzat najis anjing tidak bisa hilang kecuali dengan enam kali basuhan, misalnya, maka kesemuanya (enam basuhan tersebut) hanya dihitung sebagai satu kali basuhan. Dan adapun tanah yang (sudah) berdebu (pada dasarnya), maka tidak diwajibkan mencampurkan debu padanya menurut pendapat yang lebih sahih (Al-Ashahh).
(وَيُغْسَلُ مِنْ سَائِرِ) أَيْ بَاقِي (النَّجَاسَاتِ مَرَّةً وَاحِدَةً) وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ «مَرَّةً» (تَأْتِي عَلَيْهِ؛ وَالثَّلَاثُ) وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ «وَالثَّلَاثَةُ» بِالتَّاءِ (أَفْضَلُ).
(Dan ia dibasuh dari seluruh) yakni dari sisa (najis-najis lainnya dengan satu kali) dan dalam sebagian naskah matan (redaksinya) ‘satu kali’ (basuhan yang meratainya; namun menigakalikannya) dan dalam sebagian naskah matan (ditulis) ‘dan menigakalikannya’ dengan huruf ta marbuthah, (adalah lebih utama).
وَاعْلَمْ أَنَّ غُسَالَةَ النَّجَاسَةِ بَعْدَ طَهَارَةِ الْمَحَلِّ الْمَغْسُولِ طَاهِرَةٌ إِنِ انْفَصَلَتْ غَيْرَ مُتَغَيِّرَةٍ وَلَمْ يَزِدْ وَزْنُهَا بَعْدَ انْفِصَالِهَا عَمَّا كَانَ بَعْدَ اعْتِبَارِ مِقْدَارِ مَا يَتَشَرَّبُهُ الْمَغْسُولُ مِنَ الْمَاءِ. هَذَا إِنْ لَمْ يَبْلُغْ قُلَّتَيْنِ؛ فَإِنْ بَلَغَهُمَا فَالشَّرْطُ عَدَمُ التَّغَيُّرِ.
Dan ketahuilah, bahwa air bekas basuhan (ghusalah) najis—setelah sucinya tempat yang dibasuh—hukumnya suci dengan syarat ia terpisah dalam keadaan sifatnya tidak berubah, dan berat/volumenya setelah terpisah tidak bertambah melebihi (volume/beratnya) di awal, setelah dikalkulasikan (dikurangi) kadar air yang terserap oleh benda yang dibasuh. Hukum ini berlaku apabila air (bekas basuhan) tersebut tidak mencapai dua qullah; namun apabila mencapai dua qullah, maka satu-satunya syarat (sucinya) hanyalah (air tersebut) tidak berubah sifatnya.