بيان أن النية غير داخلة تحت الاختيار
بيان أن النية غير داخلة تحت الاختيار
Penjelasan bahwa Niat Tidak Berada di Bawah Kendali Pilihan
اعلم أن الجاهل يسمع ما ذكرناه من الوصية بتحسين النية وتكثيرها مع قوله ﷺ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ فيقول في نفسه عند تدريسه أو تجارته أو أكله نويت أن أدرس لله أو آكل لله
Ketahuilah bahwa orang yang awam ketika mendengar wasiat yang telah kami sebutkan tentang memperbaiki dan memperbanyak niat, beserta sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya", maka ia akan berkata di dalam hatinya saat mengajar, berdagang, atau makan: "Aku berniat mengajar karena Allah" atau "Aku berniat makan karena Allah."
ويظن ذلك نية وهيهات فذلك حديث نفس وحديث لسان وفكر أو انتقال من خاطر إلى خاطر والنية بمعزل من جميع ذلك وإنما النية انبعاث النفس وتوجهها وميلها إلى ما ظهر لها أن فيه غرضها إما عاجلاً وإما آجلاً
Ia mengira bahwa hal itu adalah niat. Padahal sungguh jauh berbeda! Itu hanyalah bisikan jiwa, ucapan lisan, pikiran, atau perpindahan dari satu lintasan pikiran ke lintasan pikiran lainnya. Sedangkan niat berada jauh dari semua hal tersebut. Niat tidak lain adalah tergeraknya jiwa, perhadapannya, dan kecenderungannya kepada apa yang tampak baginya memiliki tujuan padanya, baik secara langsung (duniawi) maupun kemudian (akhirat).
والميل إذا لم يكن لا يمكن اختراعه واكتسابه بمجرد الإرادة بل ذلك كقول الشبعان نويت أن أشتهي الطعام وأميل إليه أو قول الفارغ نويت أن أعشق فلاناً وأحبه وأعظمه بقلبي فذلك محال
Kecenderungan itu, apabila tidak ada dalam diri, tidak mungkin diciptakan atau diusahakan hanya dengan semata-mata kehendak. Bahkan hal itu seperti ucapan orang yang kenyang: "Aku berniat berselera terhadap makanan dan cenderung padanya", atau ucapan orang yang senggang hatinya: "Aku berniat merindukan si Fulan, mencintainya, dan mengagungkannya dalam hatiku". Maka hal yang demikian itu adalah mustahil.
بل لا طريق إلى اكتساب
Bahkan tidak ada jalan untuk mengusahakan
صرف القلب إلى الشيء وميله إليه وتوجهه نحوه إلا باكتساب أسبابه وذلك مما قدم يقدر عليه وقد لايقدر عليه
pemalingan hati kepada sesuatu, kecenderungannya kepadanya, serta perhadapannya ke arahnya melainkan dengan mengusahakan sebab-sebabnya. Hal itu adalah sesuatu yang terkadang mampu dilakukan oleh seseorang, dan terkadang tidak mampu dilakukannya.
وإنما تنبعث النفس إلى الفعل إجابة للغرض الباعث الموافق للنفس الملائم لها وما لم يعتقد الإنسان أن غرضه منوط بفعل من الأفعال فلا يتوجه نحوه قصده
Sesungguhnya jiwa hanyalah tergerak menuju suatu perbuatan sebagai pemenuhan terhadap tujuan pendorong yang sesuai dan selaras dengan jiwa tersebut. Selama seseorang tidak meyakini bahwa tujuannya terikat dengan suatu perbuatan dari perbuatan-perbuatan yang ada, maka maksud (tujuan) nya tidak akan terarah kepadanya.
وذلك مما لا يقدر على اعتقاده في كل حين وإذا اعتقد فإنما يتوجه القلب إذا كان فارغاً غير مصروف عنه بغرض شاغل أقوى منه وذلك لا يمكن في كل وقت والدواعي والصوارف لها أسباب كثيرة بها تجتمع ويختلف ذلك بالأشخاص وبالأحوال وبالأعمال
Hal itu termasuk sesuatu yang tidak sanggup diyakini (dihadirkan dalam niat) di setiap waktu. Apabila seseorang menyakininya, maka hati hanya akan terarah jika hati tersebut dalam keadaan kosong (bebas) serta tidak terpalingkan darinya oleh suatu tujuan lain yang memalingkan dan lebih kuat. Hal demikian tidaklah mungkin terjadi di setiap waktu, sebab pendorong-pendorong (dawā'ī) dan penghalang-penghalang (ṣawārif) memiliki banyak sebab yang dengannya ia berkumpul, dan hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan orang, keadaan, serta perbuatan.
فإذا غلبت شهوة النكاح مثلاً ولم يعتقد غرضاً صحيحاً في الولد ديناً ولا دنيا لا يمكنه أن يواقع على نية الولد بل لا يمكن إلا على نية قضاء الشهوة إذ النية هي إجابة الباعث ولا باعث إلا الشهوة فكيف ينوي الولد وإذا لم يغلب على قلبه أن إقامة سنة النكاح اتباعا لرسول الله ﷺ يعظم فضلها لا يمكن أن ينوى بالنكاح إتباع السنة إلا أن يقول ذلك بلسانه وقلبه وهو حديث محض ليس بنية نعم طريق اكتساب هذه النية مثلاً أن يقوي أولاً إيمانه بالشرع ويقوي إيمانه بعظم ثواب من سعى في تكثير أمة محمد ﷺ ويدفع عن نفسه جميع المنفرات عن الولد من ثقل المؤنة وطول التعب وغيره فإذا فعل ذلك ربما انبعث من قلبه رغبة إلى تحصيل الولد للثواب فتحركه تلك الرغبة وتتحرك أعضاؤه لمباشرة العقد فإذا انتهضت القدرة المحركة للسان بقبول العقد طاعة لهذا الباعث الغالب على القلب كان ناوياً فإن لم يكن كذلك فما يقدره في نفسه ويردده في قلبه من قصد الولد وسواس وهذيان
Jika syahwat nikah mendominasi seseorang, misalnya, dan ia tidak meyakini adanya tujuan yang benar untuk mendapatkan anak—baik secara agama maupun dunia—maka ia tidak akan mungkin melakukan jima' (persetubuhan) dengan niat mendapatkan anak. Sebaliknya, ia tidak mungkin melakukan jima' melainkan dengan niat melampiaskan syahwat, karena niat itu adalah menyahuti dorongan (al-bā'ith), sedangkan tiada pendorong selain syahwat, maka bagaimana mungkin ia berniat untuk mendapatkan anak? Dan apabila tidak mendominasi dalam hatinya bahwa menegakkan sunnah pernikahan demi mengikut Rasulullah ﷺ itu sangat besar keutamaannya, tidaklah mungkin ia berniat menikah demi mengikuti sunnah, melainkan sebatas ia mengucapkannya dengan lisan sementara hatinya hanya sekadar membisikkan kata-kata semata, dan itu bukanlah niat. Benar, cara untuk mengusahakan niat ini, misalnya, adalah dengan memperkuat terlebih dahulu keimanannya kepada syariat dan memperkuat keimanannya akan besarnya pahala orang yang berikhtiar memperbanyak umat Muhammad ﷺ, serta menepis dari dirinya segala hal yang membuatnya enggan punya anak, seperti beratnya nafkah, panjangnya kepayahan, dan selainnya. Apabila ia melakukan hal tersebut, boleh jadi bangkit dari hatinya suatu keinginan untuk memperoleh anak demi mengharapkan pahala, maka keinginan itulah yang menggerakkannya dan menggerakkan anggota tubuhnya untuk melangsungkan akad. Apabila kemampuan yang menggerakkan lisan untuk menerima akad bangkit karena taat kepada pendorong yang mendominasi hati ini, barulah ia dinamakan orang yang berniat. Namun jika tidak demikian, maka apa yang ia reka-reka dalam dirinya dan ia ulang-ulang dalam hatinya berupa maksud mendapatkan anak hanyalah bisikan kebingungan (waswas) dan igauan belaka.
ولهذا امتنع جماعة من السلف من جملة من الطاعات إذ لم تحضرهم النية وكانوا يقولون ليس تحضرنا فيه نية حتى إن ابن سيرين لم يصل على جنازة الحسن البصري وقال ليس تحضرني نية
Oleh karena inilah sekelompok ulama Salaf menahan diri dari sejumlah ketaatan tatkala niat tidak hadir pada diri mereka. Mereka biasa berkata, "Tidak hadir niat pada kami untuk melakukan hal ini," hingga Ibnu Sirin tidak menshalati jenazah Al-Hasan Al-Bashri seraya berkata, "Tidak hadir niat padaku (untuk menshalatinya)."
ونادى بعضهم امرأته وكان يسرح شعره أن هات المدري فقالت أجيء بالمرآة فسكت ساعة ثم قال نعم فقيل له في ذلك فقال كان لي في المدري نية ولم تحضرني في المرآة نية فتوقفت حتى هيأها الله تعالى
Sebagian dari mereka memanggil istrinya ketika sedang menyisir rambutnya, "Bawakan sisir pemisah rambut (al-midrā)!" Istrinya menjawab, "Bolehkah aku bawakan cermin juga?" Beliau pun diam sejenak, kemudian berkata, "Ya." Ketika ditanyakan kepadanya tentang sebab diamnya itu, beliau menjawab, "Tadi aku memiliki niat untuk menggunakan sisir, namun belum hadir niat padaku untuk cermin, maka aku diam sejenak hingga Allah Ta'ala menghadirkan niat tersebut."
ومات حماد بن سليمان وكان أحد علماء أهل الكوفة فقيل للثوري ألا تشهد جنازته فقال لو كان لي نية لفعلت وكان أحدهم إذا سئل عملاً من أعمال البر يقول إن رزقني الله تعالى نية فعلت
Hammad bin Sulaiman, salah seorang ulama penduduk Kufah, meninggal dunia. Lalu dikatakan kepada Sufyan Ats-Tsauri, "Tidakkah engkau menghadiri jenazahnya?" Beliau menjawab, "Seandainya aku memiliki niat, niscaya aku lakukan." Dan adalah salah seorang dari mereka jika diminta melakukan suatu amal kebajikan, ia berkata, "Jika Allah Ta'ala menganugerahiku niat, niscaya aku lakukan."
وكان طاوس لا يحدث إلا بنية وكان يسئل أن يحدث فلا يحدث ولا يسئل فيبتدئ فقيل له في ذلك قال
Thawus tidak pernah menyampaikan hadis melainkan dengan niat. Beliau pernah diminta untuk menyampaikan hadis namun beliau tidak menyampaikannya, dan ketika tidak diminta beliau justru memulainya sendiri. Ketika ditanyakan kepadanya mengenai hal itu, beliau berkata:
أفتحبون أن أحدث بغير نية إذا حضرتني نية فعلت
"Apakah kalian suka jika aku menyampaikan hadis tanpa niat? Apabila niat telah hadir padaku, barulah aku lakukan."
وحكي أن داود بن المحبر لما صنف كتاب العقل جاءه أحمد بن حنبل فطلبه منه فنظر فيه أحمد صفحاً ورده فقال مالك قال فيه أسانيد ضعاف فقال له داود أنا لم أخرجه على الأسانيد فانظر فيه بعين الخبر إنما نظرت فيه بعين العمل فانتفعت قال أحمد فرده علي حتى أنظر فيه بالعين التي نظرت فأخذه ومكث عنده طويلاً ثم قال جزاك الله خيراً فقد انتفعت به
Dikisahkan bahwa tatkala Daud bin Al-Muhabbar menyusun Kitab Al-'Aql, Ahmad bin Hanbal mendatanginya dan meminta kitab tersebut darinya. Ahmad membalik-balik halamannya sejenak lalu mengembalikannya. Daud bertanya, "Ada apa denganmu?" Ahmad menjawab, "Di dalamnya terdapat sanad-sanad yang lemah." Daud berkata kepadanya, "Aku tidak menyusunnya berdasarkan kekuatan sanad. Maka janganlah engkau melihatnya dari sudut pandang riwayat (khabar). Sesungguhnya aku memandangnya dari sudut pandang pengamalan (amal), sehingga aku mengambil manfaat darinya." Ahmad berkata, "Kembalikan kitab itu kepadaku agar aku dapat melihatnya dengan sudut pandang yang engkau gunakan!" Beliau pun mengambilnya kembali dan membawanya selama waktu yang lama, lalu berkata, "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, sungguh aku telah mengambil manfaat darinya."
وقيل لطاوس ادع لنا فقال حتى أجد له نية
Dikatakan kepada Thawus, "Berdoalah untuk kami!" Maka beliau menjawab, "Tunggulah sampai aku menemukan niat untuk berdoa."
وقال بعضهم أنا في طلب نية لعيادة رجل منذ شهر فما صحت لي بعد
Sebagian dari mereka berkata, "Aku sedang mencari niat untuk menjenguk seseorang sejak sebulan yang lalu, tetapi niat itu belum murni (sahib) juga bagiku hingga sekarang."
وقال عيسى بن كثير مشيت مع ميمون بن مهران فلما انتهى إلى باب داره انصرفت فقال ابنه ألا تعرض عليه العشاء قال ليس من نيتي
Isa bin Katsir berkata: Aku berjalan bersama Maimun bin Mihran. Ketika beliau sampai di pintu rumahnya, aku pun pamit beranjak. Putranya berkata, "Tidakkah engkau tawarkan makan malam kepadanya?" Maimun menjawab, "Itu tidak termasuk dalam niatku."
وهذا لأن النية تتبع النظر فإذا تغير النظر تغيرت النية وكانوا لا يرون أن يعملوا عملاً إلا بنية لعلمهم بأن النية روح العمل وأن العمل بغير نية صادقة رياء وتكلف وهو سبب مقت لا سبب قرب وعلموا أن النية ليست هي قول القائل بلسانه نويت بل هو انبعاث القلب يجري مجرى الفتوح من الله تعالى فقد تتيسر في بعض
Hal ini disebabkan karena niat itu mengikuti pemahaman dan cara pandang (an-naẓar). Apabila cara pandang berubah, maka niat pun berubah. Ulama Salaf berpandangan tidak beramal melainkan dengan niat, karena pengetahuan mereka bahwa niat adalah ruh dari amal perbuatan, dan bahwasanya amal tanpa niat yang jujur adalah riya dan pemaksaan diri (takalluf), yang menjadi sebab kemurkaan dan bukan sebab pendekatan diri (qurb) kepada Allah. Mereka pun mengetahui bahwa niat bukanlah ucapan seseorang dengan lisannya "nawaitu" (aku berniat), melainkan bangkitnya dorongan hati yang berproses menyerupai karunia pembuka (futūḥ) dari Allah Ta'ala. Oleh karena itu, terkadang niat menjadi mudah dihadirkan pada sebagian…
الأوقات وقد تتعذر في بعضها نعم من كان الغالب على قلبه أمر الدين تيسر عليه في أكثر الأحوال إحضار النية للخيرات فإن قلبه مائل بالجملة إلى أصل الخير فينبعث إلى التفاصيل غالباً
…waktu dan terkadang sulit dihadirkan pada sebagian waktu yang lain. Benar, barangsiapa yang urusan agama mendominasi hatinya, niscaya mudah baginya dalam kebanyakan keadaan untuk menghadirkan niat bagi berbagai kebajikan, karena hatinya secara umum condong kepada pokok kebaikan, sehingga hatinya sering kali terdorong menuju rincian-rincian kebaikan.
ومن مال قلبه إلى الدنيا وغلبت عليه لم يتيسر له ذلك بل لا يتيسر له في الفرائض إلا بجهد جهيد وغايته أن يتذكر النار ويحذر نفسه عقابها أو نعيم الجنة ويرغب نفسه فيها فربما تنبعث له داعية ضعيفة فيكون ثوابه بقدر رغبته ونيته
Adapun orang yang hatinya condong kepada dunia dan dunia mendominasi dirinya, maka menghadirkan niat tidaklah mudah baginya, bahkan tidak mudah baginya dalam amalan-amalan fardu melainkan dengan kesusahan yang amat sangat. Paling maksimal yang bisa ia lakukan adalah mengingat neraka lalu mempertakut dirinya dengan siksaannya, atau mengingat kenikmatan surga lalu membujuk dirinya agar menginginkannya, sehingga boleh jadi bangkit padanya pendorong (dā'iyah) yang lemah, maka pahalanya pun sesuai dengan kadar keinginan dan niatnya.
وأما الطاعة على نية إجلال الله تعالى لاستحقاقه الطاعة والعبودية فلا تتيسر للراغب في الدنيا وهذه أعز النيات وأعلاها ويعز على بسيط الأرض من يفهمها فضلاً عمن يتعاطاها
Adapun ketaatan atas dasar niat mengagungkan Allah Ta'ala karena Dia berhak atas ketaatan dan penghambaan (ubudiyah), maka tidak akan mudah dicapai oleh orang yang menyukai dunia. Niat semacam ini adalah niat yang paling langka dan paling tinggi derajatnya, serta amat langka di muka bumi ini orang yang memahaminya, apalagi orang yang mengamalkannya.
ونيات الناس في الطاعات أقسام إذ منهم من يكون عمله إجابة لباعث الخوف فإنه يتقي النار
Niat-niat manusia dalam melakukan ketaatan terbagi menjadi beberapa tingkatan. Di antara mereka ada orang yang amalnya merupakan jawaban atas pendorong rasa takut (khauf), yakni ia menjaga diri dari neraka.
ومنهم من يعمل إجابة لباعث الرجاء وهو الرغبة في الجنة وهذا وإن كان نازلاً بالإضافة إلى قصد طاعة الله وتعظيمه لذاته ولجلاله لا لأمر سواه فهو من جملة النيات الصحيحة لأنه ميل إلى الموعود في الآخرة وإن كان من جنس المألوفات في الدنيا وأغلب البواعث باعث الفرج والبطن وموضع قضاء وطرهما الجنة فالعامل لأجل الجنة عامل لبطنه وفرجه كالأجير السوء ودرجته درجة البله
Di antara mereka pula ada orang yang beramal sebagai jawaban atas pendorong harapan (rajā'), yaitu berkeinginan mendapatkan surga. Hal ini, meskipun derajatnya lebih rendah bila dibandingkan dengan maksud mentaati Allah dan mengagungkan-Nya demi Zat-Nya dan Keagungan-Nya bukan karena perkara selain-Nya, namun masih termasuk dalam himpunan niat-niat yang sah. Sebab, ia merupakan kecenderungan pada apa yang dijanjikan di akhirat, meskipun itu sejenis dengan hal-hal yang lazim di dunia. Pendorong yang paling dominan adalah pendorong kemaluan dan perut, sedangkan tempat melampiaskan kehendak keduanya adalah di surga. Maka orang yang beramal demi surga pada hakikatnya beramal untuk perut dan kemaluannya, seperti buruh yang buruk kinerjanya, dan derajatnya adalah derajat orang-orang yang lugu (al-bulh).
وإنه لينالها بعمله إذ أكثر أهل الجنة البله وأما عبادة ذوي الألباب فإنها لا تجاوز ذكر الله تعالى والفكر فيه لجماله لماله وجلاله وسائر الأعمال تكون مؤكدات وروادف وهؤلاء أرفع درجة من الالتفات إلى المنكوح والمطعوم في الجنة فإنهم لم يقصدوها بل هم الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ فقط وثواب الناس بقدر نياتهم فلا جرم يتنعمون بالنظر إلى وجهه الكريم ويسخرون ممن يلتفت إلى وجه الحور العين كما يسخر المتنعم بالنظر إلى الحور العين ممن يتنعم بالنظر إلى وجه الصور المصنوعة من الطين بل أشد فإن التفاوت بين جمال حضرة الربوبية وجمال الحور العين أشد وأعظم كثيراً من التفاوت بين جمال الحور العين والصور المصنوعة من الطين بل استعظام النفوس البهيمية الشهوانية لقضاء الوطر من مخالطة الحسان وإعراضهم عن جمال وجه الله الكريم يضاهي استعظام الخنفساء لصاحبتها وإلفها لها وإعراضها عن النظر إلى جمال وجوه النساء فعمي أكثر القلوب عن إبصار جمال الله وجلاله يضاهي عمى الخنفساء عن إدراك جمال النساء بأنها لا تشعر به أصلاً ولا تلتفت إليه ولو كان لها عقل وذكرن لها لاستحسنت عقل من يلتفت إليهن ولا يزالون مختلفين كل حزب بما لديهم فرحون ولذلك خلقهم
Dan sungguh ia akan memperoleh surga dengan amalnya itu, sebab mayoritas penghuni surga adalah orang-orang yang lugu (al-bulh). Adapun ibadah orang-orang yang berakal budi jernih (ūlul albāb), maka ibadahnya tidak melampaui zikir kepada Allah Ta'ala serta berfikir tentang-Nya karena Keindahan-Nya, Kesempurnaan-Nya, dan Keagungan-Nya, sedangkan amalan-amalan lainnya hanyalah penguat dan pengiring. Mereka ini berada pada derajat yang lebih tinggi daripada sekadar menoleh pada wanita yang dinikahi dan makanan di surga, sebab mereka tidak bermaksud demikian, melainkan mereka adalah orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari dengan hanya mengharapkan Keridaan (Wajah)-Nya saja. Pahala manusia itu sesuai dengan kadar niat mereka, maka tidak diragukan lagi mereka bernikmat-nikmat dengan memandang ke arah Wajah-Nya Yang Mahamulia, dan mereka merasa heran terhadap orang yang hanya menoleh pada paras bidadari, sebagaimana orang yang bernikmat-nikmat dengan memandang bidadari heran terhadap orang yang nikmat memandang rupa patung yang terbuat dari tanah liat, bahkan lebih dari itu. Sebab, perbedaan antara keindahan Hadirat Ketuhanan (Rububiyah) dengan keindahan bidadari jauh lebih besar daripada perbedaan antara keindahan bidadari dengan rupa patung dari tanah liat. Bahkan anggapan besarnya nafsu kehewanan yang penuh syahwat terhadap pelampiasan hasrat dengan menggauli wanita-wanita cantik serta keberpalingan mereka dari Keindahan Wajah Allah Yang Mahamulia, menyerupai kagumnya seekor kumbang kotoran terhadap sesamanya dan keakrabannya dengannya serta keberpalingannya dari memandang keindahan paras wanita. Maka butanya mayoritas hati dari menyaksikan Keindahan Allah dan Keagungan-Nya menyerupai butanya kumbang kotoran dari menyadari keindahan wanita, yang mana kumbang itu tidak merasakannya sama sekali dan tidak menoleh kepadanya. Seandainya kumbang itu memiliki akal dan diceritakan tentang wanita-wanita cantik kepadanya, niscaya ia akan menganggap baik akal orang yang menoleh kepada mereka. Dan mereka senantiasa berselisih, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka, dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.
حكي أن أحمد بن خضرويه رأى ربه ﷿ في المنام فقال له كل الناس يطلبون مني الجنة إلا أبا يزيد فإنه يطلبني ورأى أبو يزيد ربه في المنام فقال يا رب كيف الطريق إليك فقال اترك نفسك وتعال إلي
Dikisahkan bahwa Ahmad bin Khadrawaih bermimpi melihat Tuhannya 'Azza wa Jalla, lalu Dia berfirman kepadanya, "Semua manusia meminta surga dari-Ku, kecuali Abu Yazid, karena sesungguhnya dia meminta Aku." Abu Yazid pun bermimpi melihat Tuhannya, lalu beliau berkata, "Wahai Tuhan, bagaimanakah jalan menuju Engkau?" Dia berfirman, "Tinggalkan dirimu (hawa nafsumu), lalu kemarilah kepada-Ku!"
ورؤي الشبلي بعد موته في المنام فقيل له ما فعل الله بك فقال لم يطالبني على الدعاوي بالبرهان إلا على قول واحد قلت يوما أي خسارة أعظم من خسران الجنة فقال أي خسارة أعظم من خسران لقائي
Asy-Syibli terlihat dalam mimpi setelah wafatnya, lalu ditanyakan kepadanya, "Apa yang telah Allah perbuat kepadamu?" Beliau menjawab, "Dia tidak menuntut bukti atas pengakuan-pengakuanku melainkan atas satu ucapan saja. Suatu hari aku pernah berkata: Kerugian manakah yang lebih besar daripada kehilangan surga? Maka Allah berfirman: Kerugian manakah yang lebih besar daripada kehilangan perjumpaan dengan-Ku?"
والغرض أن هذه النيات متفاوتة الدرجات ومن غلب على قلبه واحدة منها ربما لا يتيسر له العدول إلى غيرها
Maksudnya adalah bahwa niat-niat ini berbeda-beda tingkatannya. Barangsiapa yang hatinya didominasi oleh salah satu darinya, terkadang tidak mudah baginya untuk berpaling kepada niat yang lain.
ومعرفة هذه الحقائق تورث أعمالاً وأفعالاً لا يستنكرها الظاهريون من الفقهاء فإنا نقول من حضرت له نية في مباح ولم تحضر في فضيلة فالمباح أولى وانتقلت الفضيلة إليه وصارت الفضيلة في حقه نقيصة لأن الأعمال بالنيات
Mengenal hakikat-hakikat ini membuahkan amalan dan perbuatan yang tidak akan diingkari oleh ahli Fiqih lahiriah. Kami katakan: barangsiapa yang mendapati niat dalam perkara mubah, sedangkan niat dalam perkara keutamaan (amalan utama) tidak hadir dalam hatinya, maka perkara mubah itu lebih utama baginya, dan keutamaan berpindah kepadanya. Sementara amalan utama itu justru menjadi suatu kekurangan baginya (jika dikerjakan tanpa niat yang benar), karena sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung pada niatnya.
وذلك مثل العفو فإنه أفضل من الانتصار في الظلم وربما تحضره نية في الانتصار دون العفو فيكون ذلك أفضل
Contohnya seperti memaafkan, sesungguhnya memaafkan itu lebih utama daripada menuntut keadilan (membalas) atas kezaliman. Namun, boleh jadi yang hadir dalam hatinya adalah niat untuk menuntut keadilan tanpa niat memaafkan, maka menuntut keadilan itulah yang lebih utama baginya.
ومثل أن يكون له نية في الأكل والشرب والنوم ليريح نفسه ويتقوى على العبادات في المستقبل وليس تنبعث نيته في الحالين للصوم والصلاة فالأكل والشرب والنوم هو الأفضل له
Contoh lain adalah ketika seseorang memiliki niat dalam makan, minum, dan tidur agar dapat mengistirahatkan jiwanya serta memperkuat diri untuk melaksanakan ibadah di masa mendatang, sementara niatnya pada saat itu tidak tergerak untuk berpuasa atau shalat, maka makan, minum, dan tidur itulah yang lebih utama baginya.
بل لو مل العبادة
Bahkan, jika ia merasa jenuh terhadap ibadah,
لمواظبته عليها وسكن نشاطه وضعفت رغبته وعلم أنه لو ترفه ساعة بلهو وحديث عاد نشاطه فاللهو أفضل له من الصلاة
karena ketekunannya secara terus-menerus, sehingga semangatnya reda dan keinginannya melemah, lalu ia mengetahui bahwa jika ia menghibur diri sejenak dengan hiburan dan perbincangan, semangatnya akan kembali, maka hiburan sejenak itu lebih utama baginya daripada shalat.
قال أبو الدرداء إني لأستجم نفسي بشيء من اللهو فيكون ذلك عوناً لي على الحق وقال علي كرم الله وجهه روحوا القلوب فإنها إذا أكرهت عميت
Abu Darda' berkata: 'Sesungguhnya aku benar-benar mengistirahatkan jiwaku dengan sedikit hiburan agar hal itu menjadi penolong baginya dalam menegakkan kebenaran.' Dan Ali karramallahu wajhah berkata: 'Istirahatkanlah hati, karena sesungguhnya hati jika dipaksa akan menjadi buta.'
وهذه دقائق لا يدركها إلا سماسرة العلماء دون الحشوية منهم بل الحاذق بالطب قد يعالج المحرور باللحم مع حرارته ويستبعده القاصر في الطب وإنما يبتغي به أن يعيد أولاًً قوته ليحتمل المعالجة بالضد والحاذق في لعب الشطرنج مثلاً قد ينزل عن الرخ والفرس مجاناً ليتوصل بذلك إلى الغلبة والضعيف البصيرة قد يضحك به ويتعجب منه
Ini adalah kelembutan-kelembutan rahasia yang tidak mampu dipahami kecuali oleh para pakar di antara para ulama, bukan oleh kalangan Hasyawiyyah dari mereka. Bahkan, seorang ahli kedokteran yang mahir terkadang mengobati orang yang demam panas dengan daging meskipun daging berkarakter panas, sesuatu yang dianggap aneh oleh orang yang dangkal ilmu pengobatannya; padahal dokter itu hanya bertujuan memulihkan kekuatannya terlebih dahulu agar sanggup menanggung pengobatan dengan zat yang berlawanan. Begitu pula seorang yang mahir dalam permainan catur, misalnya, terkadang mengorbankan benteng dan kuda secara cuma-cuma demi mencapai kemenangan, sedangkan orang yang lemah pandangannya mungkin mentertawakannya dan merasa heran darinya.
وكذلك الخبير بالقتال قد يفر بين يدي قرينه ويوليه دبره حيلة منه ليستجره إلى مضيق فيكر عليه فيقهره
Demikian pula seorang ahli dalam peperangan, ia bisa saja berpura-pura lari di hadapan tandingannya dan membelakanginya sebagai bagian dari tipu muslihat untuk memancing musuh ke tempat yang sempit, lalu menyerang balik dan menaklukkannya.
فكذلك سلوك طريق الله تعالى كله قتال مع الشيطان ومعالجة للقلب والبصير الموفق يقف فيها على لطائف من الحيل يستبعدها الضعفاء فلا ينبغي للمريد أن يضمر إنكاراً على ما يراه من شيخه ولا للمتعلم أن يعترض على أستاذه بل ينبغي أن يقف عند حد بصيرته ومالا يفهمه من أحوالهما يسلمه لهما إلى أن ينكشف له أسرار ذلك بأن يبلغ رتبتهما وينال درجتهما ومن الله حسن التوفيق
Demikian pulalah seluruh perjalanan menempuh jalan Allah Ta'ala adalah perjuangan melawan setan dan pengobatan bagi hati. Orang yang memiliki bashirah (mata hati) serta mendapat taufik akan memahami rahasia kelembutan tipu daya tersebut yang dianggap aneh oleh orang-orang yang lemah. Oleh karena itu, tidak sepatutnya bagi seorang murid untuk menyimpan pengingkaran terhadap apa yang ia lihat dari syekhnya, tidak pula bagi seorang pelajar untuk menentang gurunya. Sebaliknya, hendaklah ia berhenti pada batas pandangan makrifatnya sendiri, dan apa yang tidak ia pahami dari keadaan keduanya hendaknya ia pasrahkan kepada keduanya hingga tersingkap baginya rahasia-rahasia hal tersebut dengan mencapai kedudukan keduanya dan meraih derajat keduanya. Dan hanya dari Allah-lah sebaik-baik taufik.