الباب الأول في حقيقة النية ومعناها

بيان حقيقة النية

بيان حقيقة النية

بيان حقيقة النية

Penjelasan tentang Hakikat Niat

اعلم أن النية والإرادة والقصد عبارات على متوارده معنى واحد وهو حالة وصفة للقلب يكتنفها أمران علم وعمل ﴿العلم﴾ يقدمه لأنه أصله وشرطه ﴿والعمل﴾ يتبعه لأنه ثمرته وفرعه وذلك لأن كل عمل أعني كل حركة وسكون اختياري فإنه لا يتم إلا بثلاثة أمور علم وإرادة وقدرة لأنه لا يريد الإنسان مالا يعلمه فلابد وأن يعلم ولا يعمل ما لم يرد فلا بد من إرادة

Ketahuilah bahwa niat, kehendak (iradah), dan maksud (qashd) adalah ungkapan-ungkapan yang bermuara pada satu makna yang sama, yaitu suatu kondisi dan sifat bagi hati yang diapit oleh dua hal: ilmu dan amal. Ilmu didahulukan karena ia adalah asal (pokok) dan syaratnya, sedangkan amal mengikutinya karena ia adalah buah dan cabangnya. Hal itu karena setiap amal—maksud saya, setiap gerak dan diam yang bersifat sukarela (ikhtiyari)—tidak akan sempurna melainkan dengan tiga hal: ilmu, kehendak, dan kemampuan (qudrah). Sebab, manusia tidak akan menghendaki sesuatu yang tidak diketahuinya, maka ia harus berilmu (mengetahui); dan ia tidak akan berbuat selama tidak menghendaki, maka kehendak itu harus ada.

ومعنى الإرادة انبعاث القلب إلى ما يراه موافقاً للغرض إما في الحال أو في المآل فقد خلق الإنسان بحيث يوافقه بعض الأمور ويلائم غرضه ويخالفه بعض الأمور فيحتاج إلى جلب الملائم الموافق إلى نفسه ودفع الضار المنافي عن نفسه فافتقر بالضرورة إلى معرفة وإدراك للشيء المضر والنافع حتى يجلب هذا ويهرب من هذا فإن من لا يبصر الغذاء ولا يعرفه لا يمكنه أن بتناول ومن لا يبصر النار لا يمكنه الهرب منها فخلق الله الهداية والمعرفة وجعل لها أسباباً وهي الحواس الظاهرة والباطنة وليس ذلك من غرضنا ثم لو أبصر الغذاء وعرف أنه موافق له فلا يكفيه ذلك للتناول ما لم يكن فيه ميل إليه ورغبة فيه وشهوة له باعثة عليه إذا المريض يرى الغذاء ويعلم أنه موافق ولا يمكنه التناول لعدم الرغبة والميل ولفقد الداعية المحركة إليه فخلق الله تعالى له الميل والرغبة والإرادة وأعني به نزوعاً في نفسه إليه وتوجهاً في قلبه إليه ثم ذلك لايكفيه فكم من مشاهد طعاماً راغب فيه مريد تناوله عاجز عنه لكونه زمناً فخلقت له القدرة والأعضاء المتحركة حتى يتم به التناول والعضو لا يتحرك إلا بالقدرة والقدرة تنتظر الداعية الباعثة والداعية تنتظر العلم والمعرفة أو الظن والاعتقاد وهو أن يقوى في نفسه كون الشيء موافقاً له فإذا جزمت المعرفة بأن الشيء موافق ولا بد وأن يفعل وسمت عن معارضة باعث آخر صارف عنه انبعثت الإرادة وتحقق الميل فإذا انبعثت الإرادة انتهضت القدرة لتحريك الأعضاء لأن القدرة خادمة للإردة والإرادة تابعة لحكم الاعتقاد والمعرفة

Makna kehendak (iradah) adalah bangkitnya hati menuju apa yang dipandangnya sesuai dengan tujuan, baik dalam waktu dekat (seketika) maupun pada masa mendatang. Manusia diciptakan sedemikian rupa sehingga sebagian perkara sesuai dan cocok dengan tujuannya, sedangkan sebagian perkara lainnya bertolak belakang darinya. Oleh karena itu, ia membutuhkan upaya menarik hal yang cocok dan sesuai kepada dirinya, serta menolak hal yang memudaratkan dan berlawanan dari dirinya. Maka secara darurat ia membutuhkan pengetahuan dan persepsi terhadap hal yang memudaratkan dan yang bermanfaat, agar ia dapat menarik yang ini dan berlari dari yang itu. Sebab, orang yang tidak melihat makanan dan tidak mengenalnya tidak mungkin menyantapnya, dan orang yang tidak melihat api tidak mungkin lari darinya. Maka Allah menciptakan petunjuk dan pengetahuan, serta menjadikan sebab-sebab baginya, yaitu indra lahiriah dan batiniah—dan hal ini bukanlah bagian dari maksud kita (bahasan utama kita). Kemudian, seandainya ia melihat makanan dan mengetahui bahwa itu sesuai baginya, hal itu belum cukup baginya untuk menyantapnya selama di dalam dirinya tidak ada kecenderungan, hasrat, dan keinginan yang mendorongnya ke arah itu. Sebab, seorang yang sakit melihat makanan dan mengetahui bahwa makanan itu sesuai (baik untuknya), namun ia tidak mungkin menyantapnya karena ketiadaan hasrat dan kecenderungan, serta hilangnya pendorong yang menggerakkannya ke arah itu. Maka Allah Ta'ala menciptakan baginya kecenderungan, hasrat, dan kehendak—maksud saya kerinduan/dorongan dalam jiwanya serta pengadapan hatinya kepada hal tersebut. Kemudian hal itu pun belum cukup, betapa banyak orang yang menyaksikan makanan, berhasrat padanya, dan ingin menyantapnya, namun ia lemah (tak berdaya) karena ia lumpuh. Maka diciptakan baginya kemampuan (qudrah) dan anggota tubuh yang bergerak agar penyantapan itu sempurna. Anggota tubuh tidak akan bergerak melainkan dengan kemampuan, kemampuan menantikan pendorong yang membangkitkan, pendorong menantikan ilmu dan pengetahuan atau persangkaan dan keyakinan, yaitu menguatnya dalam jiwa bahwa hal tersebut sesuai baginya. Apabila pengetahuan telah mantap bahwa sesuatu itu sesuai dan harus dilakukan, serta terbebas dari penentangan pendorong lain yang memalingkannya, maka bangkitlah kehendak dan terwujudlah kecenderungan. Apabila kehendak telah bangkit, maka kemampuan bergerak untuk menggerakkan anggota tubuh, karena kemampuan adalah pelayan bagi kehendak, dan kehendak mengikut hukum keyakinan serta pengetahuan.

فالنية عبارة عن الصفة المتوسطة وهي الإرادة وانبعاث النفس بحكم الرغبة والميل إلى ما هو موافق للغرض إما في الحال وإما في المآل

Maka niat adalah ungkapan untuk sifat perantara (antara ilmu dan amal), yaitu kehendak dan pendorongan jiwa berdasarkan hukum hasrat serta kecenderungan menuju apa yang sesuai dengan tujuan, baik saat ini maupun di masa mendatang.

فالمحرك الأول هو الغرض المطلوب وهو الباعث والغرض الباعث هو المقصد المنوي والانبعاث هو القصد والنية وانتهاض القدرة لخدمة الإرادة بتحريك الأعضاء هو العمل إلا أن انتهاض القدرة للعمل قد يكون بباعث واحد وقد يكون بباعثين اجتمعا في فعل واحد وإذا كان بباعثين فقد يكون كل واحد بحيث لو انفرد لكان ملياً بإنهاض القدرة وقد يكون كل واحد قاصراً عنه إلا بالاجتماع وقد يكون أحدهما كافياً لولا الآخر لكن الآخر انتهض عاضداً له ومعاوناً

Penggerak pertama adalah tujuan yang dicari (diharapkan), dan ia adalah pendorong (al-ba'its). Tujuan yang mendorong itulah maksud yang diniatkan (al-maqshad al-manwi), pendorongan jiwa (al-inbi'ats) adalah maksud dan niat (al-qashd wa an-niyyah), sedangkan bangkitnya kemampuan untuk melayani kehendak dengan menggerakkan anggota tubuh adalah amal. Hanya saja, bangkitnya kemampuan untuk beramal terkadang disebabkan oleh satu pendorong, dan terkadang disebabkan oleh dua pendorong yang berkumpul dalam satu perbuatan. Jika terjadi karena dua pendorong, terkadang masing-masing pendorong itu berada dalam kondisi di mana jika ia berdiri sendiri, ia sudah sanggup membangkitkan kemampuan. Terkadang pula masing-masing pendorong kurang/tidak mampu melakukannya kecuali secara bersama-sama. Dan terkadang salah satunya sudah cukup seandainya tidak ada yang lain, namun yang lain itu ikut bangkit sebagai penyokong dan pembantu baginya.

فيخرج من هذا القسم أربعة أقسام فلنذكر لكل واحد مثالاً واسماً

Dari pembagian ini dihasilkan empat bagian (kategori). Mari kita sebutkan contoh dan nama bagi masing-masing bagian tersebut.

أما الأول فهو أن ينفرد الباعث الواحد يتجرد كما إذا هجم على الإنسان سبع فكلما رآه قام من موضعه فلا مزعج له إلا غرض الهرب من السبع فإنه رأى السبع وعرفه ضاراً فانبعثت نفسه إلى الهرب ورغبت فيه فانتهضت القدرة عاملة بمقتضى الانبعاث فيقال نيته للفرار من السبع لا نية له في القيام لغيره وهذه النية تسمى خالصة ويسمى العمل بموجبها إخلاصاً بالإضافة إلى الغرض الباعث ومعناه أنه خلص عن مشاركة غيره وممازجته

Adapun yang pertama, yaitu pendorong yang tunggal itu berdiri sendiri murni (tanpa pendorong lain). Contohnya seperti ketika seekor binatang buas menyerang manusia, lalu tatkala ia melihatnya, ia langsung berdiri dari tempatnya. Tidak ada pengusik (pendorong) baginya selain tujuan lari dari binatang buas tersebut. Sebab, ia melihat binatang buas itu dan mengetahuinya berbahaya, maka jiwanya terdorong untuk lari dan berhasrat melakukannya, lalu kemampuan pun bangkit beramal sesuai tuntutan pendorongan tersebut. Maka dikatakan: niatnya adalah untuk lari dari binatang buas, ia tidak memiliki niat berdiri untuk hal selain itu. Niat ini dinamakan murni (khalishah), dan amal yang berlandaskan padanya dinamakan keikhlasan (ikhlas) apabila dinisbatkan kepada tujuan yang membangkitkan. Maknanya adalah bahwa ia bersih dari persekutuan dan percampuran hal lain.

وأما الثاني فهو أن يجتمع باعثان كل واحد مستقل بالإنهاض لو انفرد

Adapun yang kedua, yaitu berkumpulnya dua pendorong yang mana masing-masing dari keduanya mampu membangkitkan (kemampuan beramal) seandainya ia berdiri sendiri.

ومثاله من المحسوس أن يتعاون رجلان على حمل شيء بمقدار من القوة كان كافياً في الحمل لو انفرد ومثاله في غرضنا أن يسأله قريبه الفقير حاجة

Contohnya dari hal yang inderawi (konkret) adalah dua orang pria yang saling bekerjasama mengangkat sesuatu dengan tingkat kekuatan yang sebenarnya sudah cukup untuk mengangkatnya seandainya salah seorang dari mereka melakukannya sendiri. Dan contohnya dalam tujuan (pembahasan) kita adalah ketika kerabatnya yang fakir meminta suatu hajat (bantuan) darinya,

فيقضيها لفقره وقرابته وعلم أنه لولا فقره لكان يقضيها بمجرد القرابة وأنه لولا قرابته لكان يقضيها بمجرد القرابة وأنه لولا قرابته لكان يقضيها بمجرد الفقر وعلم ذلك من نفسه بأنه يحضره قريب غني فيرغب في قضاء حاجته وفقير أجنبي فيرغب أيضاً فيه

lalu ia memenuhi hajat tersebut karena kefakirannya dan karena hubungan kerabatnya. Ia menyadari bahwa seandainya bukan karena kefakirannya, ia tetap akan memenuhinya hanya karena hubungan kerabat; dan seandainya bukan karena hubungan kerabat, ia tetap akan memenuhinya hanya karena kefakiran. Ia mengetahui hal itu dari dirinya sendiri bahwa jika kerabat yang kaya mendatangi dirinya, ia berhasrat memenuhi hajatnya; dan jika orang asing (bukan kerabat) yang fakir mendatangi dirinya, ia juga berhasrat memenuhi hajatnya.

وكذلك من أمره الطبيب بترك الطعام ودخل عليه يوم عرفة فصام وهو يعلم أنه لو لم يكن يوم عرفة لكان يترك الطعام حمية ولولا الحمية لكان يتركه لأجل أنه يوم عرفة وقد اجتمعا جميعاً فأقدم على الفعل وكان الباعث الثاني رفيق الأول

Demikian pula orang yang diperintahkan oleh dokter untuk berpantang makan (diet), lalu tibalah hari Arafah, maka ia pun berpuasa. Sementara ia mengetahui bahwa seandainya bukan hari Arafah, ia tetap akan meninggalkan makanan karena diet; dan seandainya bukan karena diet, ia tetap akan meninggalkannya karena hari itu adalah hari Arafah. Keduanya berkumpul bersama sehingga ia pun melakukan perbuatan tersebut, dan pendorong kedua menjadi kawan/pendamping bagi yang pertama.

فلنسم هذا مرافقة للبواعث والثالث أن لا يستقل كل واحد لو انفرد ولكل قوى مجموعهما على إنهاض القدرة

Maka mari kita sebut hal ini sebagai "kemitraan pendorong" (murafaqatul-bawa'its). Adapun yang ketiga adalah bahwa masing-masing pendorong tidak mampu jika berdiri sendiri, tetapi gabungan keduanya memiliki kekuatan untuk membangkitkan kemampuan.

ومثاله في المحسوس أن يتعاون ضعيفان على حمل مالا ينفرد أحدهما به

Contohnya dalam hal yang inderawi adalah dua orang yang lemah saling bekerja sama mengangkat beban yang tidak sanggup diangkat oleh salah satu dari mereka secara mandiri.

ومثاله في غرضنا أن يقصده قريبه الغني فيطلب درهماً فلا يعطيه ويقصده الأجنبي الفقير فيطلب درهماً فلا يعطيه ثم يقصده القريب الفقير فيعطيه فيكون انبعاث داعيته المجموع الباعثين وهو القرابة والفقر

Contohnya dalam pembahasan kita adalah ketika kerabatnya yang kaya mendatangi dirinya lalu meminta satu dirham, tetapi ia tidak memberinya; dan orang asing yang fakir mendatangi dirinya lalu meminta satu dirham, ia pun tidak memberinya; kemudian kerabatnya yang fakir mendatangi dirinya, lalu ia memberinya. Maka terdorongnya kehendaknya terjadi karena gabungan dua pendorong, yaitu hubungan kerabat dan kefakiran.

وكذلك الرجل يتصدق بين يدي الناس لغرض الثواب ولغرض الثناء ويكون بحيث لو كان منفرداً لكان لا يبعثه مجرد قصد الثواب على العطاء ولو كان الطالب فاسقاً لا ثواب في التصدق عليه لكان لا يبعثه مجرد الرياء على العطاء ولو اجتمعا أورثا بمجموعهما تحريك القلب

Demikian pula seorang pria yang bersedekah di hadapan banyak orang dengan tujuan mencari pahala sekaligus mengharapkan pujian (riya'). Kondisinya sedemikian rupa sehingga seandainya ia seorang diri, semata-mata tujuan pahala tidak akan mendorongnya untuk memberi; dan seandainya peminta-minta itu seorang yang fasik yang tidak ada pahala dalam bersedekah kepadanya, semata-mata riya' tidak akan mendorongnya untuk memberi. Namun ketika keduanya berkumpul, penggabungan keduanya membuahkan pergerakan hati.

ولنسم هذا الجنس مشاركة والرابع أن يكون أحد الباعثين مستقلاً لو انفرد بنفسه والثاني لا يستقل

Mari kita sebut jenis ini sebagai "persekutuan" (musharakah). Adapun yang keempat adalah bahwa salah satu dari dua pendorong tersebut mampu berdiri sendiri jika sendirian, sedangkan pendorong kedua tidak mampu berdiri sendiri,

ولكن لما انضاف إليه لم ينفك عن تأثير بالإعانة والتسهيل

namun ketika pendorong kedua itu ditambahkan padanya, ia tidak terlepas dari memberikan pengaruh berupa bantuan dan kemudahan.

ومثاله في المحسوس أن يعاون الضعيف الرجل القوي على الحمل ولو انفرد القوي لاستقل ولو انفرد الضعيف لم يستقل فإن ذلك بالجملة يسهل العمل ويؤثر في تخفيفه

Contohnya dalam hal inderawi adalah seorang yang lemah membantu pria yang kuat untuk mengangkat beban. Seandainya pria yang kuat itu sendirian, ia sudah mampu (mampu berdiri sendiri); dan seandainya orang yang lemah itu sendirian, ia tidak akan mampu. Namun bantuan tersebut secara umum memudahkan pekerjaan dan berpengaruh dalam meringankannya.

ومثاله في غرضنا أن يكون للإنسان ورد في الصلاة وعادة في الصدقات فاتفق أن حضر في وقتها جماعة من الناس فصار الفعل أخف علة بسبب مشاهدتهم وعلم من نفسه أنه لو كان منفرداً خالياً لم يفتر عن عمله وعلم أن عمله لو لم يكن طاعة لم يكن مجرد الرياء يحمله عليه فهو شوب تطرق إلى النية

Contohnya dalam pembahasan kita adalah seseorang yang memiliki wirid shalat dan kebiasaan bersedekah, lalu kebetulan pada waktunya hadir sekelompok orang, sehingga perbuatan tersebut terasa lebih ringan baginya karena disaksikan oleh mereka. Padahal ia tahu dari dirinya sendiri bahwa seandainya ia sendirian dan sepi dari manusia, ia tidak akan kendor/lemah dari amalnya; dan ia juga tahu bahwa seandainya amalnya bukan ibadah/ketaatan, semata-mata riya' tidak akan mampu mendorongnya untuk melakukannya. Maka ini merupakan suatu noda/kerancuan (shaub) yang menyusup ke dalam niat.

ولنسم هذا الجنس المعاونة

Mari kita sebut jenis ini sebagai "pembantuan" (mu'awanah).

فالباعث الثانى إما أن يكون رفيقاً أو شريكاً أو معيناً

Pendorong kedua bisa berupa teman pembantu, sekutu, atau penolong.

وسنذكر حكمها في باب الإخلاص

Kami akan menyebutkan hukumnya dalam bab Keikhlasan (Bab Al-Ikhlas).

والغرض الآن بيان أقسام النيات فإن العمل تابع للباعث عليه فيكتسب الحكم منه

Tujuan saat ini adalah menjelaskan pembagian niat-niat, sebab amal perbuatan itu mengikuti pendorongnya (bais) sehingga mengambil hukum darinya.

ولذلك قيل إنما الأعمال بالنيات لأنها تابعة لا حكم لها في نفسها وإنما الحكم للمتبوع

Oleh karena itu dikatakan: "Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya", karena amal itu bersifat mengikuti dan tidak memiliki hukum pada dirinya sendiri, melainkan hukum itu milik yang diikutinya (yakni niat).