الباب الأول في حقيقة النية ومعناها

بيان سر قوله ﷺ نية المؤمن خير من عمله

بيان سر قوله ﷺ نية المؤمن خير من عمله

بيان سر قوله ﷺ نية المؤمن خير من عمله

Penjelasan Rahasia Sabda Nabi ﷺ: "Niat Seorang Mukmin Lebih Baik daripada Amalnya"

اعلم أنه قد يظن أن سبب هذا الترجيح أن النية سر لا يطلع عليه إلا الله تعالى والعمل ظاهر ولعمل السر فضل

Ketahuilah bahwa kadang disangka bahwa sebab keutamaan ini adalah bahwa niat itu merupakan rahasia yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta'ala, sedangkan amal adalah sesuatu yang tampak, dan amal yang tersembunyi (rahasia) itu memiliki keutamaan.

وهذا صحيح ولكن ليس هو المراد لأنه لو نوى أن يذكر الله بقلبه أو يتفكر في مصالح المسلمين فيقتضي عموم الحديث أن تكون نية التفكر خيراً من التفكر وقد يظن أن سبب الترجيح أن النية تدوم إلى آخر العمل والأعمال لا تدوم وهو ضعيف لأن ذلك يرجع معناه إلى أن العمل الكثير خير من القليل بل ليس كذلك فإن نية أعمال الصلاة قد لا تدوم إلا في لحظات معدودة والأعمال تدوم والعموم يقتضي أن تكون نيته خيراً من عمله

Hal ini memang benar, namun bukanlah itu yang dimaksud. Sebab jika seseorang berniat untuk mengingat Allah dengan hatinya atau memikirkan kemaslahatan kaum muslimin, maka keumuman hadis tersebut akan menghendaki bahwa niat berfikir itu lebih baik daripada aktivitas berfikir itu sendiri. Dan kadang disangka pula bahwa sebab keunggulannya adalah bahwa niat itu berlanjut hingga akhir amal sedangkan amal tidak berlanjut, dan pemahaman ini lemah; karena maknanya akan kembali pada anggapan bahwa amal yang banyak lebih baik daripada yang sedikit. Bahkan tidaklah demikian, sebab niat dalam amalan shalat bisa jadi tidak bertahan melainkan hanya dalam beberapa saat saja, sedangkan amal perbuatannya terus berlangsung, padahal keumuman hadis menghendaki bahwa niatnya tetap lebih baik daripada amalnya.

وقد يقال إن معناه أن النية بمجردها خير من العمل بمجرده دون النية وهو كذلك ولكنه بعيد أن يكون هو المراد إذ العمل بلا نية أو على الغفلة لا خير فيه أصلاً والنية بمجردها خير وظاهر الترجيح للمشتركين في أصل الخير بل المعنى أن كل طاعة تنتظم بنية وعمل وكانت النية من جملة الخيرات وكان العمل من جملة الخيرات ولكن النية من جملة الطاعة خير من العمل أي لكل واحد منهما أثر في المقصود وأثر النية أكثر من أثر العمل

Dapat pula dikatakan bahwa maknanya adalah bahwa niat secara mandiri lebih baik daripada amal secara mandiri tanpa niat, dan hal itu memang demikian. Namun, sangat jauh jika ini yang dimaksud, sebab amal tanpa niat atau dalam keadaan lalai sama sekali tidak mengandung kebaikan, sedangkan niat secara mandiri adalah suatu kebaikan, sementara keunggulan (tarjih) secara lahiriah berlaku bagi dua hal yang sama-sama bersekutu dalam pokok kebaikan. Sebaliknya, maknanya adalah bahwa setiap ketaatan terangkai dari niat dan amal; niat merupakan bagian dari kebaikan-kebaikan dan amal pun bagian dari kebaikan-kebaikan, namun niat sebagai bagian dari ketaatan itu lebih baik daripada amal, yakni masing-masing dari keduanya memiliki pengaruh terhadap tujuan, dan pengaruh niat lebih besar daripada pengaruh amal.

فمعناه نية المؤمن من جملة طاعته خير من عمله الذي هو من جملة طاعته والغرض أن للعبد اختياراً في النية وفى العمل فمهما عملان والنية من الجملة خيرهما فهذا معناه

Maka maknanya adalah: niat seorang mukmin—sebagai bagian dari ketaatannya—adalah lebih baik daripada amalnya yang juga merupakan bagian dari ketaatannya. Maksudnya, seorang hamba memiliki ikhtiar (pilihan) dalam niat dan dalam amal, maka manakala keduanya dilakukan, niat di antara keduanya adalah yang lebih baik. Inilah maknanya.

وأما سبب كونها خيراً ومترجحة على العمل فلا يفهمه إلا من فهم مقصد الدين وطريقه ومبلغ أثر الطريق في الاتصال إلى المقصد وقاس بعض الآثار بالبعض حتى يظهر له بعد ذلك الأرجح بالإضافة إلى المقصود

Adapun sebab mengapa niat itu lebih baik dan lebih unggul daripada amal, hal itu tidak akan dipahami kecuali oleh orang yang memahami tujuan agama dan jalannya, serta sejauh mana pengaruh jalan tersebut dalam menyampaikan kepada tujuan, dan ia membandingkan sebagian pengaruh dengan sebagian lainnya hingga tampak baginya mana yang lebih kuat kaitannya dengan tujuan.

فمن قال الخبز خير من الفاكهة فإنما يعني به أنه خير بالإضافة إلى مقصود القوت والاغتذاء ولا يفهم ذلك إلا من فهم أن للغذاء مقصداً وهو الصحة والبقاء وأن الأغذية مختلفة الآثار فيها وفهم أثر كل واحد وقاس بعضها بالبعض فالطاعات غذاء للقلوب والمقصود شفاؤها وبقاؤها وسلامتها في الآخرة وسعادتها وتنعمها بلقاء الله تعالى فالمقصد لذة السعادة بلقاء الله فقط ولن يتنعم بلقاء الله إلا من مات محباً لله تعالى عارفاً بالله ولن يحبه إلا من عرفه ولن يأنس بربه إلا من طال ذكره له

Barangsiapa mengatakan bahwa roti lebih baik daripada buah, sesungguhnya ia bermaksud bahwa roti itu lebih baik jika dikaitkan dengan tujuan pokok makanan dan pemenuhan gizi. Hal itu tidak dapat dipahami kecuali oleh orang yang memahami bahwa makanan memiliki tujuan, yaitu kesehatan dan kelangsungan hidup, serta bahwa makanan berbeda-beda pengaruhnya dalam hal tersebut, lalu ia memahami pengaruh masing-masing dan membandingkan satu sama lain. Maka ketaatan-ketaatan adalah makanan bagi hati, dan tujuannya adalah kesembuhannya, kelangsungan hidupnya, keselamatannya di akhirat, kebahagiaannya, serta kenikmatannya dalam berjumpa dengan Allah Ta'ala. Jadi, tujuannya semata-mata adalah kelezatan kebahagiaan berjumpa dengan Allah. Dan tidak akan merasakan kenikmatan berjumpa dengan Allah kecuali orang yang wafat dalam keadaan mencintai Allah Ta'ala lagi mengenal (ma'rifat kepada) Allah, dan tidak akan mencintai-Nya kecuali orang yang mengenali-Nya, serta tidak akan merasa tenteram (uns) bersama Rabbnya kecuali orang yang panjang/lama berzikir kepada-Nya.

فالآنس يحصل بدوام الذكر والمعرفة تحصل بدوام الفكر والمحبة تتبع المعرفة بالضرورة ولن يتفرغ القلب لدوام الذكر والفكر إلا إذا فرغ من شواغل الدنيا ولن يتفرغ من شواغلها إلا إذا انقطع عنه شهواتها حتى يصير مائلاً إلى الخير مريداً له نافراً عن الشر مبغضاً له وإنما يميل إلى الخيرات والطاعات إذا علم أن سعادته في الآخرة منوطة بها كما يميل العاقل إلى القصد والحجامة لعلمه بأن سلامته فيهما

Ketenteraman hati (uns) diperoleh dengan terus-menerus berzikir, ma'rifat diperoleh dengan terus-menerus berfikir (tafakkur), dan rasa cinta (mahabbah) secara pasti akan mengikuti ma'rifat. Hati tidak akan pernah luang untuk terus-menerus berzikir dan berfikir kecuali jika ia telah bebas dari kesibukan-kesibukan dunia. Dan ia tidak akan bebas dari kesibukan dunia kecuali jika syahwat-syahwat duniawi telah terputus darinya, hingga ia menjadi cenderung kepada kebaikan, menginginkannya, lari dari kejahatan, dan membencinya. Ia hanya akan cenderung kepada kebaikan dan ketaatan apabila ia mengetahui bahwa kebahagiaannya di akhirat bergantung padanya, sebagaimana orang yang berakal cenderung pada pengobatan bekam dan fashdu (pemotongan pembuluh darah) karena ia tahu bahwa kesembuhannya ada pada keduanya.

وإذا حصل أصل الميل بالمعرفة فإنما يقوى بالعمل بمقتضى الميل والمواظبة عليه فإن المواظبة على مقتضى صفات القلب وأرادتها بالعمل تجري مجرى الغذاء والقوت لتلك الصفة حتى تترشح الصفة وتقوى بسببها

Apabila pokok kecenderungan itu telah diperoleh melalui ma'rifat, maka ia hanya akan menguat dengan mengamalkan konsekuensi dari kecenderungan tersebut serta merutinkannya. Sebab, merutinkan amalan sesuai dengan tuntutan sifat-sifat hati dan kehendaknya melalui amal perbuatan berkedudukan seperti makanan dan nutrisi bagi sifat tersebut, sehingga sifat itu semakin mengakar dan menguat karenanya.

فالمائل إلى طلب العلم او طلب الرياسة لا يكون ميله في الابتداء إلا ضعيفاً فإن اتبع بمقتضى الميل واشتغل بالعلم وتربية الرياسة والأعمال المطلوبة لذلك تأكيد ميله ورسخ وعسر عليه النزوع وإن خالف مقتضى ميله ضعف ميله وانكسر وربما زال والمحق

Orang yang cenderung menuntut ilmu atau mengejar kepemimpinan, kecenderungannya pada mulanya hanyalah lemah. Apabila ia mengikuti konsekuensi kecenderungannya tersebut lalu sibuk dengan ilmu atau membina kepemimpinan serta amalan-amalan yang dituntut untuk itu, maka menguatlah kecenderungannya, tancap dengan kokoh, dan sulit baginya untuk melepaskannya. Sebaliknya, jika ia menyelisih tuntutan kecenderungannya, maka melemahlah kecenderungannya, patah, dan terkadang hilang sama sekali.

بل الذي ينظر إلى وجه حسن مثلاً فيميل إليه طبعا لا ضعفا لو تبعه وعمل بمقتضاه فداوم على النظر والمجالسة والمخالطة والمحاورة تأكد ميله حتى يخرج أمره عن اختياره فلا يقدر على النزوع عنه ولو فطم نفسه ابتداء وخالف مقتضى ميله لكان ذلك كقطع القوت والغذاء عن صفة الميل ويكون ذلك زبراً ودفعاً في وجهه حتى يضعف وينكسر بسببه وينقمع وينمحي

Bahkan orang yang memandang wajah yang indah misalnya, lalu hatinya cenderung padanya secara tabiat, seandainya ia menurutinya dan berbuat sesuai tuntutannya dengan terus-menerus memandang, duduk bersama, bergaul, dan bercakap-cakap, tentulah kecenderungannya akan semakin menguat hingga perkaranya keluar dari kendali pilihannya sehingga ia tidak mampu lagi melepaskannya. Namun jika ia menyapih dirinya sejak awal dan menyelisih tuntutan kecenderungannya, hal itu seperti memutus nutrisi dan makanan bagi sifat kecenderungan tersebut, serta menjadi bendungan dan dorongan penolak pada dirinya hingga sifat itu melemah, patah, tertekan, dan sirna karenanya.

وهكذا جميع الصفات والخيرات والطاعات كلها هي التي تراد بها الآخرة والشرور كلها هي التي تراد بها الدنيا لا الآخرة

Demikian pulalah seluruh sifat, kebaikan, dan ketaatan; semuanya adalah hal-hal yang ditujukan untuk akhirat. Sedangkan semua keburukan adalah hal-hal yang ditujukan untuk dunia, bukan akhirat.

وميل النفس إلى الخيرات الأخروية وانصرافها عن الدنيوية هو الذي يفرغها للذكر والفكر ولن يتأكد ذلك إلا بالمواظبة على أعمال الطاعة وترك المعاصي بالجوارح لأن بين الجوارح وبين القلب علاقة حتى إنه يتأثر كل واحد منهما بالآخر فترى العضو إذا أصابته جراحة تألم بها القلب وترى القلب إذا تألم بعلمه بموت عزيز من أعزته أو بهجوم أمر مخوف تأثرت به الأعضاء وارتعدت الفرائض وتغير اللون إلا أن القلب هو الأصل المتبوع فكأنه الأمير والراعي والجوارح كالخدم والرعايا والأتباع

Kecenderungan jiwa kepada kebaikan-kebaikan akhirat dan berpalingnya dari hal-hal duniawi itulah yang meluangkannya untuk berzikir dan berfikir. Hal itu tidak akan menguat kecuali dengan membiasakan amal ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan dengan anggota tubuh. Sebab, antara anggota tubuh dan hati terdapat keterikatan, sedemikian rupa sehingga masing-masing dari keduanya saling mempengaruhi yang lain. Engkau melihat anggota tubuh apabila tertimpa luka, maka hati merasa sakit karenanya; dan engkau melihat hati apabila merasa sakit karena mengetahui kematian seseorang yang dicintainya atau karena datangnya hal yang menakutkan, anggota tubuh pun terpengaruh, otot-ototnya gemetar, dan warna kulitnya berubah. Hanya saja hati adalah asal yang diikuti, seolah-olah ia adalah penguasa dan penggembala, sedangkan anggota tubuh adalah pelayan, rakyat, dan pengikut.

فالجوارح خادمة للقلب بتأكيد صفاتها فيه فالقلب هو المقصود والأعضاء آلات موصلة إلى المقصود ولذلك قال النبي ﷺ إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح لها سائر الجسد وقال ﵊ اللهم أصلح الراعي والرعية وأراد بالراعي القلب وقال الله تعالى لن ينال لحومها ولا دماؤها ولكن يناله التقوى

Maka anggota tubuh adalah pelayan bagi hati dalam mengokohkan sifat-sifat hati tersebut di dalamnya. Dengan demikian, hati adalah tujuan utama sedangkan anggota tubuh adalah sarana pengantar menuju tujuan tersebut. Oleh karena itulah Nabi ﷺ bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pulalah seluruh tubuh…" Dan beliau 'Alaihissalam berdoa: "Ya Allah, perbaikilah penguasa (penggembala) dan rakyatnya," dan yang beliau maksud dengan penguasa adalah hati. Dan Allah Ta'ala berfirman: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimu lah yang mencapainya."

﴿منكم﴾ وهي صفة القلب

"Dari kamu" (QS. Al-Hajj: 37), dan ketakwaan itu adalah sifat hati.

فمن هذا الوجه يجب لا محالة أن تكون أعمال القلب على الجملة أفضل من حركات الجوارح

Maka dari sisi inilah secara pasti amal-amal hati secara umum wajib lebih utama daripada gerakan-gerakan anggota tubuh.

ثم يجب أن تكون النية من جملتها أفضل لأنها عبارة عن ميل القلب إلى الخير وإرادته له

Kemudian niat secara keseluruhan haruslah menjadi yang paling utama, karena niat merupakan ungkapan dari kecenderungan hati kepada kebaikan dan kehendak untuk melakukannya.

وغرضنا من الأعمال بالجوارح أن يعود القلب إرادة الخير ويؤكد فيه الميل إليه ليفرغ من شهوات الدنيا ويكب على الذكر والفكر فبالضرورة يكون خيراً بالإضافة إلى الغرض لأنه متمكن من نفس المقصود وهذا كما أن المعدة إذا تألمت فقد تداوى بأن يوضع الطلاء على الصدر وتداوى بالشرب والدواء الواصل إلى المعدة فالشرب خير من طلاء الصدر لأن طلاء الصدر أيضاً إنما أريد به أن يسري منه الأثر إلى المعدة فما بلاقى عين المعدة فهو خير وأنفع

Tujuan kita melakukan amal dengan anggota badan adalah agar hati terbiasa menghendaki kebaikan dan memperkokoh kecenderungan kepadanya, sehingga hati terbebas dari syahwat duniawi serta senantiasa memfokuskan diri pada zikir dan perenungan (fikr). Maka secara niscaya, niat itu lebih baik jika dikaitkan dengan tujuan tersebut, sebab ia langsung menyentuh hakikat maksud yang dituju. Hal ini sebagaimana lambung yang sakit; ia bisa diobati dengan mengoleskan obat pada dada, atau diobati dengan cara diminum sehingga obat langsung sampai ke lambung. Meminum obat tentu lebih baik daripada sekadar mengoleskannya di dada, karena pengolesan di dada pun sebenarnya dimaksudkan agar pengaruhnya meresap ke lambung. Maka, apa yang langsung bersentuhan dengan lambung itu sendiri tentu lebih baik dan lebih bermanfaat.

فهكذا ينبغي أن تفهم تأثير الطاعات كلها إذ المطلوب منها تغيير القلوب وتبديل صفاتها فقط دون الجوارح فلا تظنن أن في وضع الجبهة على الأرض غرضاً من حيث إنه جمع بين الجبهة والأرض بل من حيث إنه بحكم العادة يؤكد صفة التواضع في القلب فإن من يجد في نفسه تواضعاً فإذا استكان بأعضائه وصورها بصورة التواضع تأكد تواضعه ومن وجد في قلبه رقة على يتيم فإذا مسح رأسه وقبله تأكد الرقة في قلبه ولهذا لم يكن العمل بغير نية مفيدا أصلاً لأن من يمسح رأس يتيم وهو غافل بقلبه أو ظان أنه يمسح ثوباً لم ينتشر من أعضائه أثر إلى قلبه لتأكيد الرقة وكذلك من يسجد غافلاً وهو مشغول الهم بأعراض الدنيا لم ينتشر من جبهته ووضعها على الأرض أثر إلى قلبه يتاكد به التواضع فكان وجود ذلك كعدمه وما ساوى وجوده عدمه بالإضافة إلى الغرض المطلوب منه يسمى باطلاً فيقال العبادة بغير نية باطلة وهذا معناه إذا فعل عن غفلة فإذا قصد به رياء أو تعظيم شخص آخر لم يكن وجوده كعدمه بل زاده شراً فإنه لم يؤكد الصفة المطلوبة تأكيدها حتى أكد الصفة المطلوب قمعها وهي صفة الرياء التي هي من الميل إلى الدنيا فهذا وجه كون النية خير من العمل

Demikian pulalah hendaknya engkau memahami pengaruh seluruh ketaatan, sebab yang dituntut darinya hanyalah perubahan hati dan pergantian sifat-sifatnya, bukan sekadar gerakan anggota badan. Maka janganlah engkau mengira bahwa dalam meletakkan dahi di atas tanah terdapat tujuan hanya dari segi mempertemukan dahi dengan tanah, melainkan karena hal itu menurut kebiasaan dapat memperkokoh sifat tawaduk (kerendahan hati) di dalam hati. Sebab barang siapa mendapati tawaduk dalam jiwanya, lalu seluruh anggota badannya tunduk dan menampilkannya dalam bentuk ketundukan, maka makin kukuhlah tawaduknya. Dan barang siapa mendapati kelembutan dalam hatinya terhadap anak yatim, lalu ia mengelus kepalanya dan menciumnya, maka makin kukuhlah kelembutan itu dalam hatinya. Oleh karena itu, amal tanpa niat sama sekali tidak memberi manfaat. Sebab orang yang mengelus kepala anak yatim dalam keadaan hatinya lalai, atau mengira bahwa ia sedang mengelus pakaian, maka tidak akan meresap dari anggota badannya suatu pengaruh ke dalam hatinya untuk memperkokoh kelembutan tersebut. Demikian pula orang yang sujud dalam keadaan lalai dan pikirannya sibuk dengan kesenangan duniawi, tidak akan meresap dari dahi dan penempelannya ke tanah suatu pengaruh ke hatinya yang dapat memperkokoh tawaduk. Maka keberadaan amal tersebut sama saja dengan ketiadaannya. Dan apa yang keberadaannya sama dengan ketiadaannya jika dikaitkan dengan tujuan yang dituntut darinya, dinamakan batil. Maka dikatakan: ibadah tanpa niat adalah batil. Hal ini bermakna jika dilakukan karena lalai. Namun jika ia bermaksud riya atau mengagungkan orang lain, keberadaannya bukan lagi sekadar seperti ketiadaannya, melainkan justru menambah keburukan baginya. Sebab ia tidak memperkokoh sifat yang dituntut untuk dikukuhkan, melainkan justru memperkokoh sifat yang dituntut untuk ditumpas, yaitu sifat riya yang bersumber dari kecenderungan kepada dunia. Inilah segi mengapa niat lebih baik daripada amal.

وبهذا أيضاً يعرف معنى قوله ﷺ من هم بحسنة فلم يعملها كتبت له حسنة لأن هم القلب هو ميله إلى الخير وانصرافه عن الهوى وحب الدنيا وهي غاية الحسنات وإنما الإتمام بالعمل يزيدها تأكيداً فليس المقصود من إراقة دم القربان الدم واللحم بل ميل القلب عن حب الدنيا وبذلها إيثاراً لوجه الله تعالى وهذه الصفة قد حصلت عند جزم النية والهمة وإن عاق عن العمل عائق ف لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يناله التقوى منكم والتقوى ههنا صفة القلب ولذلك قال ﷺ إن قوماً بالمدينة قد شركونا في جهادنا كما تقدم ذكره لأن قلوبهم في صدق إرادة الخير وبذل المال والنفس والرغبة في طلب الشهادة وإعلاء كلمة الله تعالى كقلوب الخارجين في الجهاد وإنما فارقوهم بالأبدان لعوائق تخص الأسباب الخارجة عن القلب وذلك غير مطلوب إلا لتأكيد هذه الصفات

Dengan ini pula dapat diketahui makna sabda Nabi ﷺ: "Barang siapa yang berkeinginan kuat (hamm) untuk melakukan satu kebaikan lalu tidak mengamalkannya, maka dicatat baginya satu kebaikan." Sebab, keinginan kuat hati adalah kecenderungannya kepada kebaikan serta berpalingnya dari hawa nafsu dan cinta dunia, dan itulah puncak dari kebaikan-kebaikan. Adapun penyempurnaan dengan amal hanya menambah pengukuhannya. Maka maksud dari mengalirkan darah hewan kurban bukanlah darah dan dagingnya, melainkan kecenderungan hati untuk berpaling dari cinta dunia dan menginfakkannya demi mengutamakan keridaan Allah Ta'ala. Sifat ini telah terwujud ketika niat dan tekad telah bulat, meskipun terdapat penghalang untuk beramal. Maka, "Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan darimu lah yang dapat mencapainya" (QS. Al-Hajj: 37). Dan takwa di sini adalah sifat hati. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya ada kaum di Madinah yang berserikat bersama kita dalam jihad kita," sebagaimana telah disebutkan terdahulu. Hal itu karena hati mereka dalam kejujuran menghendaki kebaikan, menginfakkan harta dan jiwa, serta berkeinginan mencari keshahidan dan meninggikan kalimat Allah Ta'ala adalah sama seperti hati orang-orang yang berangkat berjihad; mereka hanya terpisah secara fisik karena adanya halangan-halangan dari sebab-sebab di luar hati. Padahal amalan fisik tersebut tidaklah dituntut melainkan untuk memperkokoh sifat-sifat hati ini.

وبهذه المعاني تفهم جميع الأحاديث التى أوردناها في فضيلة النية فاعرضها عليها لينكشف لك أسرارها فلا نطول بالإعادة

Dengan makna-makna inilah seluruh hadis yang telah kami kemukakan mengenai keutamaan niat dapat dipahami. Maka bandingkanlah hadis-hadis itu dengan pemahaman ini agar tersingkap bagimu rahasia-rahasianya, sehingga kami tidak perlu memperpanjang dengan pengulangan.