(الفعل المتعدي)
الفعل المتعدّي هو ما يتعدَّى أَثرُهُ فاعلَه، ويتجاوزه إلى المفعول به، مثل "فتحَ طارقٌ الأندَلسَ". وهو يحتاج إلى فاعل يفعله ومفعولٍ به يقَع عليه. ويسمى أيضاً، "الفعلَ الواقعَ" لوقوعه على المفعول به، و"الفعلَ المجاوزَ" لمجاوزته الفاعل إلى المفعول به. وعلامته أَنْ يقبلَ هاء الضمير التي تعود إلى المفعول به، مثل "إجتهد الطالب فأكرمه أُستاذه". (اما هاء الضمير التي تعود إلى الظرف، او المصدر، فلا تكون دلالة على تعدي الفعل إن لحقته. فالاول مثل "يوم الجمعة سرته"، والثاني مثل "تجمل بالفضيلة تجملا كان يتجمله سلفك الصالح". فالهاء في المثال الاول في موضع نصب على انها مفعول فيه؛ وفي المثال الثاني في موضع نصب على انها مفعول مطلق) . المتعدي بنفسه والمتعدي بغيره الفعل المتعدي، إما متعدٍ بنفسه، وإما متعدٍ بغيره.
*Fi'il muta'addi* (kata kerja transitif) adalah kata kerja yang pengaruhnya melampaui pelaku (*fa'il*)-nya dan melewati batas hingga mengenai objek (*maf'ul bih*), seperti: "فَتَحَ طَارِقٌ الْأَنْدَلُسَ" (Thariq telah menaklukkan Andalusia). Kata kerja ini membutuhkan pelaku (*fa'il*) yang melakukannya dan objek (*maf'ul bih*) yang dikenai perbuatan tersebut. Kata kerja ini dinamakan juga *al-fi'il al-waqi'* (kata kerja yang mengenai objek) karena ia mengenai objek, serta dinamakan *al-fi'il al-mujawiz* (kata kerja yang melampaui) karena ia melampaui pelaku menuju objek. Tanda dari kata kerja ini adalah dapat menerima *ha' dhamir* (kata ganti orang ketiga tunggal) yang merujuk kepada objek (*maf'ul bih*), seperti: "اجْتَهَدَ الطَّالِبُ فَأَكْرَمَهُ أُسْتَاذُهُ" (Murid itu telah bersungguh-sungguh, maka gurunya memuliakannya). (Adapun *ha' dhamir* yang merujuk kepada keterangan waktu/tempat [*zharf*] atau kata benda asal [*mashdar*], maka keberadaannya tidak menunjukkan ketransitifan kata kerja tersebut jika melekat padanya. Contoh yang pertama: "يَوْمُ الْجُمُعَةِ سِرْتُهُ" [Hari Jumat aku berjalan di dalamnya]. Contoh yang kedua: "تَجَمَّلْ بِالْفَضِيلَةِ تَجَمُّلاً كَانَ يَتَجَمَّلُهُ سَلَفُكَ الصَّالِحُ" [Berhiaslah dengan keutamaan dengan perhiasan yang dahulu para pendahulumu yang saleh berhias dengannya]. Huruf *ha'* pada contoh pertama berada dalam posisi *nashab* sebagai *maf'ul fih* [keterangan waktu/tempat], sedangkan pada contoh kedua berada dalam posisi *nashab* sebagai *maf'ul muthlaq* [objek penegas/kognat]). Kata Kerja Transitif dengan Sendirinya (*Al-Muta'addi bi Nafsihi*) dan Kata Kerja Transitif dengan Bantuan (*Al-Muta'addi bi Ghairihi*): *Fi'il muta'addi* adakalanya transitif dengan sendirinya, dan adakalanya transitif dengan bantuan kata lain.
فالمتعدي بنفسه ما يصل إلى المفعول به مباشرةً (أَي أَي بغير واسطةِ حرف الجر) ، مثل "بريت القلمَ". ومفعوله يسمى "صريحاً". والمتعدي بغيره ما يصل إلى المفعول به بواسطة حرف الجر، مثل "ذهبتُ بكَ" بمعنى "أَذهبتُكَ". ومفعوله يسمى "غير صريح". وقد يأخذ المتعدي مفعولين أَحدهما صريحٌ، والآخر غير صريحٍ، نحو أَدُّوا الأمانات إلى أَهلها. (فالامانات مفعول به صريح وأَهل مفعول به غير صريح، وهو مجرور لفظا بحرف الجر، منصوب محلا على انه مفعول به غير صريح) . المتعدي الى اكثر من مفعول واحد ينقسم الفعل المتعدي إلى ثلاثة اقسام. متعدٍ إلى مفعول به واحد، ومتعد إلى مفعولين، ومتعد إلى ثلاثة مفاعيل. فالمتعدي إلى مفعولٍ به واحدٍ كثيرٌ، وذلك مثل "كتب وأخذ وغفر وأكرم وعظم". التعدي إِلى مفعولين المتعدي إلى مفعولين على قسمين قسمٍ ينصب مفعولين ليس أصلهما مبتدأ وخبراً، وقسم ينصب مفعولين أصلهما مبتدأ وخبرٌ. فالأل مثل أَعطى وسأل ومنح ومنع وكسا وأَلبس وعلَّم"، تقول "أَعطيتك كتاباً. منحت المجتهد جائزةً. منعت الكسلان التنزُّه. كسوت الفقير ثوباً. أَلبست المجتهدة وساماً، علّمت سعيداً الأدب". والثاني على قسمين أفعال القلوب، وأفعال التحويل.
Maka *al-muta'addi bi nafsihi* (kata kerja transitif langsung) adalah kata kerja yang sampai pada *al-maf'ul bih* (objek penderita) secara langsung (yaitu tanpa perantara *huruf al-jarr*), seperti: "بريت القلمَ" (Aku meruncingkan pena). Objeknya dinamakan objek jelas (*sharihan*). Sedangkan *al-muta'addi bi ghairihi* (kata kerja transitif tidak langsung) adalah kata kerja yang sampai pada *al-maf'ul bih* dengan perantara *huruf al-jarr*, seperti: "ذهبتُ بكَ" (Aku pergi bersamamu) yang bermakna "أَذهبتُكَ" (Aku membawamu pergi). Objeknya dinamakan objek tidak jelas (*ghair sharih*). Terkadang kata kerja transitif (*al-muta'addi*) membutuhkan dua objek (*maf'ulain*), yang satu berupa objek jelas (*sharih*) dan yang lainnya berupa objek tidak jelas (*ghair sharih*), seperti: "أَدُّوا الأمانات إلى أَهلها" (Sampaikanlah amanat-amanat itu kepada pemiliknya). (Kata *al-amanat* adalah *maf'ul bih sharih*, sedangkan kata *ahl* adalah *maf'ul bih ghair sharih* yang berstatus *majrur* secara lafal oleh *huruf al-jarr*, namun berkedudukan *manshub* secara tempat [*mahallan*] sebagai *maf'ul bih ghair sharih*). Kata Kerja Transitif yang Membutuhkan Lebih dari Satu Objek Kata kerja transitif (*al-fi'il al-muta'addi*) dibagi menjadi tiga bagian: transitif kepada satu objek (*maf'ul bih*), transitif kepada dua objek, dan transitif kepada tiga objek. Kata kerja yang transitif kepada satu objek sangatlah banyak, seperti: *kataba* (menulis), *akhadza* (mengambil), *ghafara* (mengampuni), *akrama* (memuliakan), dan *'azhzhama* (mengagungkan). Transitif kepada Dua Objek Kata kerja yang transitif kepada dua objek dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama menashabkan dua objek yang asalnya bukan berupa *mubtada'* dan *khabar*, dan bagian kedua menashabkan dua objek yang asalnya berupa *mubtada'* dan *khabar*. Contoh bagian pertama adalah kata kerja seperti: *a'tha* (memberi), *sa'ala* (meminta), *manaha* (menganugerahkan), *mana'a* (mencegah), *kasa* (memakaikan), *albasa* (mengenakan), dan *'allama* (mengajarkan). Anda mengucapkan: "أَعطيتك كتاباً" (Aku memberimu sebuah buku), "منحت المجتهد جائزةً" (Aku menganugerahi orang yang bersungguh-sungguh itu sebuah hadiah), "منعت الكسلان التنزُّه" (Aku melarang orang malas itu bertamasya), "كسوت الفقير ثوباً" (Aku memakaikan pakaian kepada orang miskin), "أَلبست المجتهدة وساماً" (Aku mengenakan lencana kepada perempuan yang bersungguh-sungguh itu), dan "علّمت سعيداً الأدب" (Aku mengajarkan adab kepada Said). Adapun bagian kedua terbagi lagi menjadi dua bagian: *af'al al-qulub* (kata kerja yang berkaitan dengan keyakinan/perasaan hati) dan *af'al al-tahwil* (kata kerja yang menunjukkan perubahan keadaan).
(١) افعال القلوب أفعال القلوب المتعدية إلى مفعولين هي "رأى وعلم ودرى ووَجدَ وألفى وتعلَمْ وظنَّ وخالَ وحسبَ وجعل وحَجا وعدَّ وزَعمَ وهَبْ". (وسميت هذه الافعلا "أفعال القلوب"، لانها ادراك بالحس الباطن، فمعانيها قائمة بالقلب. وليس كل فعل قلبي ينصب مفعولين. بل منه ما ينصب مفعولا واحداً كعرف وفهم. ومنه ما هو لازم كحزن وجبن) . ولا يجوزُ في هذه الأفعال أن يُحذَفَ مفْعولاها أو أحدُهما اقتصاراً (أي بلا دليل) . ويجوز سُقوطهما، أو سقوطُ أحدهما، اختصاراً (أي لدليل يَدُل على المحذوف) . فسقوطهما معاً لدليل، كأنْ يُقالَ "هل ظننتَ خالداً مُسافراً؟ " فتقولُ "ظننتُ" أي "ظننتُهُ مُسافراً"، قال تعالى "أينَ شُركائيَ الذين كنتم تزعمونَ؟ "، أي "كنتم تزعمونهم شركائي" وقال الشاعر [الكميت الأسدي – من الطويل] بأَيِّ كِتابٍ، أَم بأَيَّةِ سُنَّةِ … تَرى حُبَّهُمْ عاراً عليَّ، وتَحْسَبُ؟ أي "وتحسبُهُ عاراً". وسُقوطُ أحدهما لدليلٍ، كأن يُقالَ "هل تظُنُّ أحدا مسافرا؟ "، فتقولُ "أظُنُّ خالدا"، أي "أظُنُّ خالدا مسافِرا؟ "، ومنه قولُ عنترةَ [من الكامل] وَلَقَدْ نَزَلتِ، فَلا تَظُني غَيْرَهُ، … مِنَِّي بِمَنْزِلةِ المُحَبِّ المُكْرَم أي "نزلتِ مني منزلةَ المحبوب المُكرَمِ، فلا تظني غيره واقعاً". ومما جاء فيه حذفُ المفعولين لدليل قولُهم "مَنْ يسمع يَخَلْ" أي "يخَل ما يسمعُه حقاً".
(1) *Af'alul-Qulub* (Kata Kerja Hati) *Af'alul-qulub* yang berkedudukan sebagai *muta'addi* (membutuhkan objek) kepada dua *maf'ul* (objek) adalah: "رأى وعلم ودرى ووَجدَ وألفى وتعلَمْ وظنَّ وخالَ وحسبَ وجعل وحَجا وعدَّ وزَعمَ وهَبْ" (*ra'a, 'alima, dara, wajada, alfa, ta'allam, zhanna, khala, hasiba, ja'ala, haja, 'adda, za'ama, hab*). (Dan kata kerja ini dinamakan 'Af'alul-Qulub' karena ia merupakan persepsi melalui indra batin, sehingga maknanya menetap di dalam hati. Dan tidak semua kata kerja hati me-nasab-kan dua *maf'ul*, melainkan ada yang hanya me-nasab-kan satu *maf'ul* saja seperti *'arafa* [mengetahui] dan *fahima* [memahami], dan ada pula yang berkedudukan sebagai *lazim* seperti *hazina* [bersedih] dan *jabuna* [penakut]). Dan tidak diperbolehkan pada *fi'il-fi'il* ini untuk membuang kedua *maf'ul*-nya atau salah satunya secara *iqtishar* (yaitu membuang tanpa adanya dalil/petunjuk). Namun diperbolehkan menggugurkan keduanya, atau menggugurkan salah satunya secara *ikhtishar* (yaitu membuang karena adanya dalil yang menunjukkan bagian yang dibuang tersebut). Maka gugurnya kedua *maf'ul* secara bersama-sama karena adanya dalil adalah seperti jika ditanyakan: "هل ظننتَ خالداً مُسافراً؟" (*hal zhannanta Khalidan musafiran?* – apakah engkau mengira Khalid bepergian?), lalu Anda menjawab: "ظننتُ" (*zhannantu* – aku mengira), yaitu "ظننتُهُ مُسافراً" (*zhannantuhu musafiran* – aku mengira dia bepergian). Allah Ta'ala berfirman: 'أينَ شُركائيَ الذين كنتم تزعمونَ؟' (Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?), yaitu "كنتم تزعمونهم شركائي" (kamu mengira mereka adalah sekutu-sekutu-Ku). Dan penyair berkata [Al-Kumait al-Asadi – dari bahar *Al-Thawil*]: "بأَيِّ كِتابٍ، أَم بأَيَّةِ سُنَّةِ … تَرى حُبَّهُمْ عاراً عليَّ، وتَحْسَبُ؟" (Dengan kitab apa, atau dengan sunnah yang mana… engkau melihat cinta mereka sebagai aib bagiku, dan engkau mengiranya?). Yaitu "وتحسبُهُ عاراً" (dan engkau mengiranya sebagai aib). Dan gugurnya salah satu *maf'ul* karena adanya dalil adalah seperti jika ditanyakan: "هل تظُنُّ أحدا مسافرا؟" (*hal tazhunnu ahadan musafiran?* – apakah engkau mengira seseorang bepergian?), lalu Anda menjawab: "أظُنُّ خالدا" (*azhunnu Khalidan* – aku mengira Khalid), yaitu "أظُنُّ خالدا مسافِرا" (*azhunnu Khalidan musafiran* – aku mengira Khalid bepergian). Di antaranya adalah ucapan 'Antarah [dari bahar *Al-Kamil*]: "وَلَقَدْ نَزَلتِ، فَلا تَظُني غَيْرَهُ، … مِنَِّي بِمَنْزِلةِ المُحَبِّ المُكْرَم" (Dan sungguh engkau telah menempati—maka janganlah engkau mengira selain itu—di dalam diriku pada kedudukan kekasih yang dimuliakan). Yaitu "نزلتِ مني منزلةَ المحبوب المُكرَمِ، فلا تظني غيره واقعاً" (engkau menempati di dalam diriku kedudukan kekasih yang dimuliakan, maka janganlah engkau mengira selain itu terjadi). Dan di antara contoh yang datang dengan pembuangan kedua *maf'ul* karena adanya dalil adalah ucapan mereka: "مَنْ يسمع يَخَلْ" (*man yasma' yakhal* – barang siapa yang mendengar ia akan mengira), yaitu "يخَل ما يسمعُه حقاً" (ia mengira apa yang didengarnya itu benar).
فإن لم يدُلَّ على الحذف دليلٌ لم يجُز، لا فيهما ولا في أحدهما. وهذا هو الصحيحُ من مذاهب النّحويين. وأفعالُ القلوب نوعان نوعٌ يفيدُ اليقينَ (وهو الاعتقاد الجازم) ، ونوعٌ يفيدُ الظنَّ (وهو رُجحانُ وقوع الأمر) . أفعال اليقين أفعالُ اليقين، التي تنصبُ مفعولين، ستةٌ الأولُ "رأى" – بمعنى "علم واعتقد" – كقول الشاعر [من الوافر] رأيتُ اللهَ أكبرَ كلِّ شيءٍ … مُحاولةً، وأكثرَهمْ جنودا ولا فرقَ أن يكون اليقينُ بحسب الواقع، أو بحسب الاعتقاد الجازم، وإِن خالفَ الواقع، لأنه يقينٌ بالنسبة إلى المعتَقد. وقد اجتمع الأمران في قوله تعالى "إنهم يرَوْنهُ بعيداً ونراهُ قريبا" أي إنهم يعتقدون أن البعثِ مُمتنعٌ، ونعلمُه واقعا. وإِنما فُسّرَ البُعدُ بالامتناع، لأن العرب تستعملُ البعدَ في الانتفاء، والقُرب فى الحُصول. ومثل "رأى" اليقينيَّة (أي التي تفيد اليقينَ) "رأى" الحُلميَّةُ، التي مصدرُها "الرّؤْيا" المناميَّةُ، فهي تنصب مفعولين، لأنها مثلها من حيثُ الادراكُ بالحِسّ الباطن؛ قال تعالى ﴿إني أراني أعصرُ خمراً﴾ فالمفعولُ الأَولُ ياء المتكلم، والمفعول الثاني جملةُ أعصرُ خمراً. (فان كانت "رأى" بصرية، أي بمعنى "أبصر ورأى بعينه"، فهي متعدية الى مفعول واحد. وان كانت بمعنى "اصابة الرئة" مثل "ضربه فرآه"، أي أصاب رئته، تعدّتْ الى مفعول واحد ايضا) . والثاني "عَلَم" – بمعنى "اعتقدَ" – كقوله تعالى "فإن علِمتموهنَّ مُؤْمناتٍ"، وقول الشاعر [من الطويل]
Jika tidak ada dalil (petunjuk) yang menunjukkan adanya pembuangan, maka pembuangan tersebut tidak diperbolehkan, baik pada kedua *maf'ul* tersebut maupun pada salah satunya. Ini adalah pendapat yang sahih di antara mazhab-mazhab ulama Nahwu. *Af'al al-qulub* (kata kerja hati/mental) terbagi menjadi dua jenis: jenis yang menunjukkan makna *yaqin* (yaitu keyakinan yang mantap), dan jenis yang menunjukkan makna *zhann* (yaitu kuatnya dugaan atas terjadinya suatu perkara). Af'al al-Yaqin (Kata Kerja Keyakinan) *Af'al al-yaqin* yang men-*nasab*-kan dua *maf'ul* (objek) berjumlah enam kata: Pertama: "رأى" (*ra'â*)—yang bermakna "mengetahui dan meyakini"—seperti perkataan penyair [dari bahar *Wafir*]: "رأيتُ اللهَ أكبرَ كلِّ شيءٍ … مُحاولةً، وأكثرَهمْ جنودا" (Aku meyakini Allah adalah yang paling besar dalam segala upaya, dan yang paling banyak pasukan-Nya). Tidak ada perbedaan apakah keyakinan tersebut sesuai dengan kenyataan atau berdasarkan keyakinan yang mantap saja meskipun menyelisihi kenyataan, karena hal itu tetap merupakan keyakinan bagi orang yang meyakininya. Kedua hal ini terkumpul dalam firman Allah Ta'ala: {إنهم يرَوْنهُ بعيداً ونراهُ قريبا} (*Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh [mustahil], sedangkan Kami memandangnya dekat [pasti terjadi]*), yaitu mereka meyakini bahwa hari kebangkitan itu mustahil terjadi, sedangkan Kami mengetahuinya pasti terjadi. Penafsiran kata "البعد" (*jauh*) dengan makna kemustahilan adalah karena orang Arab menggunakan kata jauh untuk menunjukkan ketiadaan (*al-intifa'*), dan kata dekat untuk menunjukkan keterjadian (*al-hushul*). Dan seperti halnya "رأى" yang bermakna keyakinan (*al-yaqiniyyah*), begitu pula "رأى" yang bermakna mimpi (*al-hulmiyyah*) yang bentuk *masdar*-nya adalah "الرُّؤْيا" (*ar-ru'yâ* / mimpi tidur). Kata ini juga men-*nasab*-kan dua *maf'ul* karena ia menyerupainya dalam hal persepsi dengan indra batin. Allah Ta'ala berfirman: {إني أراني أعصرُ خمراً} (*Sesungguhnya aku bermimpi melihat diriku memeras anggur*). Maka *maf'ul* pertama adalah *ya' mutakallim* (kata ganti aku), sedangkan *maf'ul* kedua adalah *jumlah* "أعصرُ خمراً" (*memeras anggur*). (Jika "رأى" bersifat visual [*bashariyyah*], yaitu bermakna "melihat dengan mata kepala", maka ia hanya transitif [*muta'addi*] kepada satu *maf'ul* saja. Dan jika ia bermakna "mengenai paru-paru" seperti kalimat "ضربه فرآه" [dia memukulnya lalu mengenai paru-parunya], maka ia juga hanya transitif kepada satu *maf'ul* saja). Kedua: "عَلِمَ" (*'alima*)—yang bermakna "meyakini"—seperti firman Allah Ta'ala: {فإن علِمتموهنَّ مُؤْمناتٍ} (*Maka jika kamu telah mengetahui [meyakini] bahwa mereka benar-benar beriman*), dan perkataan penyair [dari bahar *Thawil*]
عَلِمْتُكَ مَنّاناً، فلَسْتُ بآمِلٍ … نَداكَ، ولو ظَمْآنَ، غَرْثانَ، عاريا وقولِ الآخر [من البسيط] عَلِمْتُكَ الباذلَ المعروفِ فانبعَثَتْ … إِليكَ بي واجفاتْ الشوق والأَملِ (فان كانت بمعنى "عرف" كانت متعدية الى واحد، مثل "عملت الامر"، أي عرفته، ومنه قوله تعالى ﴿والله اخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا﴾ وان كانت بمعنى "شعر واحاط وادرك"، تعدت الى مفعول واحد بنفهسا او بالباء مثل "علمت الشيء وبالشيء". والثالث "دَرَى" – بمعنى "عَلِم عِلمَ اعتقاد" كقول الشاعر [من الطويل] دُرِيتَ الوَفِيَّ العهدِ يا عَمْرُو، فاغتَبطْ، … فإنَّ اغتِباطاً بالوَفاءِ حميدٌّ والكثير المُستعمل يها أن تَتعدّى إلى واحد بالباء، مثل "دريت به". (فان كانت بمعنى "ختل" أي خدع، كانت متعدية الى واحد بنفسها، مثل "دريت الصيد" أي ختلته وخدعته. وان كانت بمعنى "حَكّ" مثل "درى رأسه بالمدرى"، أي حكه به، فهي كذلك) . والرابع "تَعَلّمْ – بمعنى "اعلمْ واعتقِدْ" كقول الشاعر [من الطويل] تَعَلَّمْ شفاءَ النَّفسِ قَهرَ عَدُوِّها … فَبالِغْ بِلُطْفٍ في التَّحيُّلِ والْمَكْرِ
"عَلِمْتُكَ مَنّاناً، فلَسْتُ بآمِلٍ … نَداكَ، ولو ظَمْآنَ، غَرْثانَ، عاريا" (Aku mengetahui dirimu sebagai orang yang suka mengungkit pemberian, maka aku tidak mengharapkan… kedermawananmu, meskipun aku dalam keadaan haus, lapar, dan telanjang). Dan ucapan penyair lainnya [dari bahar *Al-Basith*]: "عَلِمْتُكَ الباذلَ المعروفِ فانبعَثَتْ … إِليكَ بي واجفاتْ الشوق والأَملِ" (Aku mengetahui dirimu sebagai orang yang suka memberi kebaikan, maka bangkitlah… menuju dirimu getaran rindu dan harapan dalam diriku). (Jika kata tersebut bermakna "عرف" [*'arafa* – mengenal/mengetahui], maka ia berkedudukan sebagai *muta'addi* kepada satu objek saja, seperti: "علمت الامر" [aku mengetahui perkara itu], yaitu aku mengenalnya. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: ﴿والله اخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا﴾ [Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun]. Dan jika ia bermakna "شعر واحاط وادرك" [*sya'ara, ahatha, adraka* – merasakan, meliputi, menyadari], maka ia berkedudukan sebagai *muta'addi* kepada satu objek dengan sendirinya atau dengan perantara huruf *Ba'*, seperti: "علمت الشيء وبالشيء" [aku mengetahui hal itu / dengan hal itu]). Ketiga, "دَرَى" (*dara*) yang bermakna "عَلِم عِلمَ اعتقاد" (mengetahui dengan keyakinan), seperti ucapan penyair [dari bahar *Al-Thawil*]: "دُرِيتَ الوَفِيَّ العهدِ يا عَمْرُو، فاغتَبطْ، … فإنَّ اغتِباطاً بالوَفاءِ حميدٌّ" (Engkau diketahui sebagai orang yang menepati janji wahai 'Amr, maka bergembiralah… karena sesungguhnya kegembiraan atas kesetiaan itu adalah hal yang terpuji). Dan penggunaan yang paling banyak padanya adalah berkedudukan sebagai *muta'addi* kepada satu objek dengan perantara huruf *Ba'*, seperti: "دريت به" (*daraytu bihi* – aku mengetahuinya). (Jika ia bermakna "ختل" [*khatala* – memperdaya/menipu], maka ia berkedudukan sebagai *muta'addi* kepada satu objek dengan sendirinya, seperti: "دريt الصيد" [aku memperdaya hewan buruan itu]. Dan jika ia bermakna "حَكّ" [*hakka* – menggaruk], seperti: "درى رأسه بالمدرى" [ia menggaruk kepalanya dengan sisir besi], maka ia juga demikian). Keempat, "تَعَلّمْ" (*ta'allam*) yang bermakna "اعلمْ واعتقِدْ" (ketahuilah dan yakininya), seperti ucapan penyair [dari bahar *Al-Thawil*]: "تَعَلَّمْ شفاءَ النَّفسِ قَهرَ عَدُوِّها … فَبالِغْ بِلُطْفٍ في التَّحيُّلِ والْمَكْرِ" (Ketahuilah bahwa obat bagi jiwa adalah menaklukkan musuhnya… maka bersungguh-sungguhlah dengan kelembutan dalam bersiasat dan mengatur rencana).
والكثيرُ المشهور استعمالُها في "أنْ" وصِلَتها؛ كقول الشاعر [من الوافر] تَعَلَّمْ أَنَّ خيرَ النّاسِ مَيْتٌ … على جفْرِ الهَباءَةِ لا يَرِيمُ وقال الآخر [من الطويل] فَقُلْتُ تَعلَّمْ أَنَّ لِلصَّيْدِ عِرَّةَ … وإِلاَّ تُضَيِّعْها فإِنَّكَ قاتِلُه وفي حديث الدّجالِ "تَعلّموا أنّ رَبكم ليس بأعورَ". وتكون "أن" وصِلَتُهما حينئذٍ قد سَدّتا مَسَدّ المفعولين. (فان كانت أمراً من "تعلم يتعلم"، فهي متعدية الى مفعول واحد، مثل "تعلموا العربية وعلموها الناس") . والخامس "وجد" – بمعنى "عَلِمَ واعتقد" – ومصدرها "الوُجودُ والوجدان"، مثل "وجدتُ الصدقَ زينةَ العُقلاء"، قال تعالى ﴿وإِنْ وجدْنا أكثرهم لفاسقين﴾ . (فان لم تكن بمعنى العلم الاعتقادي، لم تكن من هذا الباب. وذلك مثل "وجدت الكتاب وجوداً ووجدانا" بكسر الواو فى الوجدان – أى اصبته وظفرت به بعد ضياعه. ومثل "زجد عليه موجدة" – بفتح الميم وسكون الواو وكسر الجيم – اي حقد عليه وغضب. وفي حديث الايمان "اني سائلك فلا تجد عليّ"، أي لا تغضب من سؤالي. ومثل "وجد
Dan penggunaan yang paling banyak dan masyhur padanya adalah pada kata "أنْ" (*an*) beserta *shilah*-nya (klausa penjelasnya), seperti ucapan penyair [dari bahar *Al-Wafir*]: "تَعَلَّمْ أَنَّ خيرَ النّاسِ مَيْتٌ … على جفْرِ الهَباءَةِ لا يَرِيمُ" (Ketahuilah bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang telah mati… di sumur Al-Haba'ah yang tidak pernah berpindah). Dan penyair lain berkata [dari bahar *Al-Thawil*]: "فَقُلْتُ تَعلَّمْ أَنَّ لِلصَّيْدِ عِرَّةَ … وإِلاَّ تُضَيِّعْها فإِنَّكَ قاتِلُه" (Maka aku berkata: Ketahuilah bahwa berburu itu memiliki kesempatan… dan jika engkau tidak menyia-nyiakannya, maka sesungguhnya engkau akan mendapatkannya). Dan di dalam hadis tentang Dajjal disebutkan: 'تَعلّموا أنّ رَبكم ليس بأعورَ' (Ketahuilah bahwa Tuhanmu tidaklah juling). Pada saat itu, kata "أن" (*an*) beserta *shilah*-nya menempati posisi (*saddat masadda*) kedua *maf'ul* tersebut. (Jika ia berupa kata perintah [*amr*] dari kata "تعلم يتعلم" [*ta'allama yata'allamu* – belajar], maka ia berkedudukan sebagai *muta'addi* kepada satu *maf'ul* saja, seperti: "تعلموا العربية وعلموها الناس" [belajarlah kalian bahasa Arab dan ajarkanlah ia kepada manusia]). Kelima, "وجد" (*wajada*) yang bermakna "عَلِمَ واعتقد" (mengetahui dan meyakini), dan bentuk *mashdar*-nya adalah "الوُجودُ والوجدان" (*al-wujud* dan *al-wijdan*), seperti: "وجدتُ الصدقَ زينةَ العُقلاء" (*wajadtu ash-shidqa zinata al-'uqala'* – aku mendapati bahwa kejujuran adalah perhiasan bagi orang-orang yang berakal). Allah Ta'ala berfirman: ﴿وإِنْ وجدْنا أكثرهم لفاسقين﴾ (dan sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka benar-benar orang-orang yang fasik). (Jika ia tidak bermakna pengetahuan yang diyakini [*al-'ilm al-i'tiqadi*], maka ia tidak termasuk ke dalam bab ini. Hal itu seperti: "وجدت الكتاب وجوداً ووجدانا" [aku menemukan buku itu] dengan meng-kasrah-kan huruf *wawu* pada kata *al-wijdan*, yaitu aku mendapatkannya setelah sempat hilang. Dan seperti: "وجد عليه موجدة" [ia menaruh dendam kepadanya] dengan mem-fathah-kan huruf *mim*, menyukunkan *wawu*, dan meng-kasrah-kan *jim*, yaitu ia mendendam dan marah kepadanya. Di dalam hadis tentang keimanan disebutkan: 'اني سائلك فلا تجد عليّ' [sesungguhnya aku bertanya kepadamu maka janganlah engkau marah kepadaku], yaitu janganlah engkau marah atas pertanyaanku. Dan seperti: "وجد…
به وجداً" – بفتح الواو وسكون الجيم – اي حزن به، و"وجد به وجداً ايضا" اي احبه، يقال "له بأصحابه وجد"، أي محبة. وثل "وجد جدة" بكسر الجيم وفتح الدال – اي استغنى غنى يأمن بعده الفقر) . والسادسُ "ألفى – بمعنى "علِمَ واعتقد" – مثل "الفَيْتُ قولكَ صواباً". (فان كانت بمعنى "اصاب الشيء وظفر به"، كانت متعدية إلى واحد، "الفيت الكتاب"، قال تعالى "وألفيا سيدها لدى الباب") . افعال الظن أفعال الظن (وهي ما تفيد رُجحان وقوع الشىء) نوعان نوعُ يكونُ الظنّ واليقين، والغالبُ كونُهُ الظنّ، ونوع يكونُ الظنَ فحَسْبُ. فالنوعُ الأول ثلاثةُ أفعالٍ الأول "ظنّ" – وهو لرُجحان وقوعِ الشىء – كقول الشاعر [من الطويل] ظَنَنْتُكَ، إن شَبَّتْ لظى الحربِ، صالِياً … فَعَرَّدْتَ فيمن كانَ فيها مُعرَّدا وقد تكون لليقين، كقوله تعالى: ﴿يَظُنُّونَ أَنَّهُم ملاقوا رَبِّهِمْ﴾ [البقرة: ٤٦] وقولِه: ﴿وظنوا أَن لاَّ مَلْجَأَ مِنَ الله إِلاَّ إِلَيْهِ﴾ [التوبة: ١١٨] ، أي: علموا واعتقدوا. (فان كانت بمعنى، "اتهم" فهي متعدية إلى واحد، مثل "ظن
…kepadanya dengan perasaan *wajdan* (وَجْداً)—dengan memfathah huruf *wawu* dan mensukun huruf *jim*—yaitu ia bersedih karenanya. Dan "وجد به وجداً ايضا" (*wajada bihi wajdan aydhan*) bermakna ia mencintainya, dikatakan: "له بأصحابه وجد" (*lahu bi ashabahi wajdun*), yaitu rasa cinta. Dan seperti "وجد جدة" (*wajada jidatan*)—dengan mengkasrah huruf *jim* dan memfathah huruf *dal*—yaitu ia menjadi kaya dengan kekayaan yang membuatnya aman dari kemiskinan setelahnya). Keenam: *Alfa* (ألفى)—yang bermakna "mengetahui dan meyakini" (*'alima wa i'taqada*)—seperti: "الفَيْتُ قولكَ صواباً" (*alfaitu qaulaka shawaban* – Aku mendapati ucapanmu benar). (Jika kata tersebut bermakna "menemukan sesuatu dan mendapatkannya", maka ia berstatus *muta'addi ila wahid* [transitif dengan satu objek], seperti: "الفيت الكتاب" [*alfaitu al-kitaba* – Aku menemukan buku itu]. Allah Ta'ala berfirman: ﴿وألفيا سيدها لدى الباب﴾ [Dan keduanya mendapati suami wanita itu di depan pintu]). **Af'al azh-Zhann (Kata Kerja Dugaan)** *Af'al azh-zhann* (yaitu kata kerja yang menunjukkan kuatnya dugaan terjadinya sesuatu) terbagi menjadi dua macam: Macam pertama: Kata kerja yang menunjukkan dugaan (*zhann*) sekaligus keyakinan (*yaqin*), namun yang paling sering adalah bermakna dugaan. Macam kedua: Kata kerja yang murni bermakna dugaan saja. Macam yang pertama terdiri dari tiga kata kerja: Pertama: *Zhanna* (ظنّ)—yaitu untuk menunjukkan kuatnya dugaan terjadinya sesuatu—seperti ucapan penyair [dari bahar *Thawil*]: *Zhannantuka, in syabbat lazha al-harbi, shaliyan… fa'arradta fiman kana fiha mu'arrada* (Aku mendugamu, jika api peperangan telah berkobar, akan ikut terjun ke dalamnya… namun engkau justru lari bersama orang-orang yang melarikan diri). Terkadang kata ini bermakna keyakinan (*yaqin*), seperti firman Allah Ta'ala: ﴿يَظُنُّونَ أَنَّهُم ملاقوا رَبِّهِمْ﴾ [Al-Baqarah: 46] (Yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya), dan firman-Nya: ﴿وظنوا أَن لاَّ مَلْجَأَ مِنَ الله إِلاَّ إِلَيْهِ﴾ [Al-Tawbah: 118] (Dan mereka meyakini bahwa tidak ada tempat berlindung dari siksaan Allah, melainkan kepada-Nya), yaitu mereka mengetahui dan meyakini. (Jika kata tersebut bermakna "menuduh", maka ia berstatus *muta'addi ila wahid* [transitif dengan satu objek], seperti: "ظن…" [ia menuduh…])
القاضي فلانا"، أي اتهمه والظنين والمظنون المتهم. ومنه قوله تعالى "وما هو على الغيب بظنين" أي متهم) . والثاني خالَ – وهي بمعنى "ظنّ" التي للرجحان – كقول الشاعر [من الطويل] إخالُكَ، إِن لم تُغْمِضِ الطَّرْفَ، ذا هَويً … يَسومُكَ مالا يُسْتطاعُ منَ الوجْد وقد تكون لليقين والاعتقاد، كقول الآخر [من الطويل] دعاني العواني عَمَّهنَّ. وخِلْتُني … لِيَ اسمٌ، فَلا أُدْعَى به وَهُوَ أَولُ (ي دعونني عمَّهنَّ، وقد علمت ان لي اسما، افلا ادعي به وهو اول اسم لي. وياء المتكلم مفعول خال الاول، وجملة "اسم" في موضع نصب على انها مفعوله الثاني) . والثالث "حَسِبَ" – وهي للرُّجحان، بمعنى "ظنّ" – كقوله تعالى ﴿يَحسَبهمُ الجاهلُ أغنياء من التعفّف﴾ ، وقولهِ ﴿وَتحسبُهم أيقاظاً وهم رُقودٌ﴾ . وقد تكون لليقين، كقول الشاعر [من الطويل] حَسِبْت التُّقَى والجودَ خيرَ تِجارةٍ … رباحاً، إِذا ما الْمَرْءُ أَصبح ثاقِلا والنوعُ الثاني (وهو ما يُفيدُ الظَّنَّ فَحَسْبُ) خمسةُ أفعال
"…hakim kepada si fulan", yaitu menuduhnya, dan kata *azh-zhanin* serta *al-mazhnun* bermakna orang yang dituduh. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala: "وَما هُوَ عَلى الغَيْبِ بِظَنِينٍ" (*wa ma huwa 'ala al-ghaibi bi-zhaninin* – Dan dia tidaklah kikir/dituduh atas hal yang gaib), yaitu dituduh). **Kedua**: "خالَ" (*khala*)—yang bermakna "ظَنَّ" (*zhanna*) yang berfungsi menunjukkan dugaan kuat (*rujhan*)—seperti perkataan penyair [dari bahar *Thawil*]: "إِخالُكَ، إِنْ لَمْ تُغْمِضِ الطَّرْفَ، ذا هَوىً … يَسُومُكَ ما لا يُسْتَطاعُ مِنَ الوَجْدِ" (*Ikhaluka, in lam tughmidhi ath-tharfa, dha hawan… yasumuka ma la yustatha'u min al-wajdi* – Aku mengiramu, jika engkau tidak memejamkan mata, sebagai seorang pencinta… yang dibebani oleh rasa cinta yang tidak sanggup dipikul). Dan terkadang ia berfungsi menunjukkan keyakinan (*yaqin*) dan iktikad, seperti perkataan penyair lain [dari bahar *Thawil*]: "دَعانِي العَوانِي عَمَّهُنَّ. وخِلْتُنِي … لِيَ اسْمٌ، فَلا أُدْعى بِهِ وَهُوَ أَوَّلُ" (*Da'ani al-'awani 'ammahunna. Wa khiltuni… liya ismun, fa la ud'a bihi wa huwa awwalu* – Para wanita paruh baya memanggilku paman mereka. Dan aku meyakini diriku… memiliki nama, mengapa aku tidak dipanggil dengannya padahal itu adalah namaku yang pertama). (Maksudnya: mereka memanggilku paman mereka, padahal aku telah mengetahui bahwa aku memiliki nama, mengapa aku tidak dipanggil dengannya padahal itu adalah namaku yang pertama. Dan huruf *ya'* mutakallim adalah *maf'ul* pertama dari *khala*, sedangkan *jumlah* "اسم" berada pada posisi *nashab* sebagai *maf'ul* keduanya). **Ketiga**: "حَسِبَ" (*hasiba*)—yang berfungsi menunjukkan dugaan kuat (*rujhan*), bermakna "ظَنَّ"—seperti firman Allah Ta'ala: "يَحْسَبُهُمُ الجاهِلُ أَغْنِياءَ مِنَ التَّعَفُّفِ" (*yahsabuhumu al-jahilu aghniya'a mina at-ta'affufi* – Orang yang tidak tahu menyangka mereka adalah orang-orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta), dan firman-Nya: "وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقاظاً وَهُمْ رُقُودٌ" (*wa tahsabuhum ayqadhan wa hum ruqudun* – Dan kamu mengira mereka terjaga, padahal mereka tidur). Dan terkadang ia berfungsi menunjukkan keyakinan, seperti perkataan penyair [dari bahar *Thawil*]: "حَسِبْتُ التُّقى والجُودَ خَيْرَ تِجارَةٍ … رَباحاً، إِذا ما المَرْءُ أَصْبَحَ ثاقِلا" (*Hasibtu at-tuqa wal-juda khaira tijaratin… rabahan, idha ma al-mar'u ashbaha thaqila* – Aku meyakini ketakwaan dan kedermawanan sebagai sebaik-baik perdagangan… yang mendatangkan keuntungan, apabila seseorang telah berpulang [meninggal dunia]). Dan macam yang kedua (yaitu yang memberikan faedah dugaan [*zhann*] saja) ada lima *fi'il*:
الأول "جعلَ – بمعنى "ظنّ" كقوله تعالى ﴿وَجعلوا الملائكة – الذين هم عبادُ الرَّحمن – إناثاً﴾ . (فان كانت بمعنى "أوجد" أو بمعنى "أوجب"، تعدت الى واحد، كقوله تعالى ﴿وجعل الظلمات والنور﴾ أي خلق وأوجد، وتقول (اجعل لنشر العلم نصيباً من مالك) ، أي اوجب. وان كانت بمعنى (صير) فهي من افعال التحويل. و (سيأتي الكلام عليها) . وان كانت بمعنى (أنشأ) فهي من الافعال الناقصة التي تفيد الشروع في العمل، مثل (جعلتِ الامةُ تمشي في طريق المجد) ، أي (أخذت وأنشأت) . والثاني "حَجا" بمعنى "ظنَّ" – كقول الشاعر [من البسيط] قد كُنتُ أحجُو أبا عَمْرٍ أَخا ثِقَةٍ … حَتَّى أَلمَّتْ بِنا يوماً مُلِماتُ (فان كانت بمعنى (غلبة في المحاجة) ، أو بمعنى (رد ومنع) أو بمعنى (كتم وحفظ) او بمعنى (ساق) فهي متعدية الى واحد، تقول (حاجيته فحجوته) ، أي فاطنته فغلبته، و (حجوت فلاناً) أي منعته ورددته، و (حجوت السر) ، أي كتمته وحفظته، و (حجت الريح سفينة) ، أي ساقتها. وان كانت بمعنى (وقف أو أقام) ، مثل (حجا بالمكان، او بمعنى (بخل) مثل (حجا بالشيء) أي ضن به، (فهي
Yang pertama adalah kata "جَعَلَ" (*ja'ala*) yang bermakna "ظَنَّ" (*zhanna* – menduga), sebagaimana firman Allah Ta'ala: ﴿وَجعلوا الملائكة – الذين هم عبادُ الرَّحمن – إناثاً﴾ (*Wa ja'alu al-mala'ikata alladzina hum 'ibadur-Rahmani inatsan* – "Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan"). (Jika ia bermakna "أَوْجَدَ" [*awjada* – mewujudkan/menciptakan] atau bermakna "أَوْجَبَ" [*awjaba* – mewajibkan], maka ia berstatus *muta'addi* [transitif] kepada satu objek saja, sebagaimana firman Allah Ta'ala: ﴿وجعل الظلمات والنور﴾ [*Wa ja'alaz-zhulumati wan-nura* – "Dan Dia telah menjadikan gelap dan terang"], artinya: menciptakan dan mewujudkan. Dan engkau mengucapkan: "اجعل لنشر العلم نصيباً من مالك" [*Ij'al li-nasyril-'ilmi nashiban min malika* – "Jadikanlah/tetapkanlah bagian dari hartamu untuk penyebaran ilmu"], artinya: wajibkanlah. Dan jika ia bermakna "صَيَّرَ" [*shayyara* – mengubah/menjadikan], maka ia termasuk dalam *af'alut-tahwil* [kata kerja perubahan], yang penjelasannya akan datang kemudian. Dan jika ia bermakna "أَنْشَأَ" [*ansya'a* – mulai melakukan], maka ia termasuk dalam *af'alun-naqishah* [kata kerja kurang] yang menunjukkan makna memulai suatu pekerjaan [*af'alus-syuru'*], seperti contoh: "جعلتِ الأمةُ تمشي في طريق المجد" [*Ja'alatil-ummatu tamsyi fi thariqil-majdi* – "Umat itu mulai berjalan di jalan kemuliaan"], artinya: mulai dan beranjak). Yang kedua adalah kata "حَجا" (*haja*) yang bermakna "ظَنَّ" (*zhanna* – menduga), sebagaimana perkataan penyair [dari bahar *Basith*]: "قد كُنتُ أحجُو أبا عَمْرٍ أَخا ثِقَةٍ … حَتَّى أَلمَّتْ بِنا يوماً مُلِماتُ" (*Qad kuntu ahju Aba 'Amrin akha tsiqatin… hatta allammat bina yawman mulimmatu* – "Sungguh aku dahulu menduga Abu Amr sebagai saudara yang tepercaya, hingga suatu hari musibah-musibah menimpa kami"). (Jika ia bermakna "mengalahkan dalam berargumentasi", atau bermakna "menolak dan menghalangi", atau bermakna "menyembunyikan dan menjaga", atau bermakna "menggiring", maka ia berstatus *muta'addi* kepada satu objek saja. Anda mengucapkan: *hajaituhu fa-hajautuhu* (aku beradu argumen dengannya lalu aku mengalahkannya), *hajautu fulanan* (aku menghalangi dan menolak si fulan), *hajautus-sirra* (aku menyembunyikan dan menjaga rahasia itu), dan *hajatur-rihu safinatan* (angin itu menggiring kapal). Dan jika ia bermakna "berhenti atau menetap", seperti contoh: *haja bil-makani* (ia menetap di tempat itu), atau bermakna "kikir", seperti contoh: *haja bis-syai'i* (ia kikir terhadap sesuatu), maka ia berstatus…
لازمة) . والثالثُ "عَدَّ" – "ظنَّ" كقول الشاعر [من الطويل] فَلا تَعْدُدِ الْمَوْلى شَريكَكَ في الغنى … وَلكنَّما الْمَوْلى شَريكُكَ في العُدْم (فان كانت (بمعنى "أحصى" تعدَّتْ إلى واحد مثل "عددت الدراهم"، أي (حسبتها واحصيتها) . والرابع "زعَمَ" – بمعنى "ظنّ ظناً راجحاً" – كقول الشاعر [من الخفيف] زَعَمَتْني شَيْخاً، ولست بِشَيْخٍ … إنَّما الشَّيْخُ مَنْ يَدِبُّ ذَبيبا والغالبُ في "زعَمَ" أن تُستَعمَلَ للظنِّ الفاسد، وهو حكاية قولٍ يكون مِظنَّةً للكذب، فيقال فيما يُشكّ فيه، أو فيما يُعتقدُ كذبُهُ، ولذلك يقولون "زَعموا مطيِيَّةُ الكذب" أي إنّ هذه الكلمة مركبٌ للكذب. ومن عادة العرب أنّ من قال كلاماً، وكان عندهم كاذباً، قالوا "زَعمَ فلانٌ". ولهذا جاء في القرآن الكريم في كل موضع ذُمّ القائلون به. وقد يردُ الزَّعم بمعنى القول، مُجرَّداً عن معنى الظنّ الرَّاجحِ، أو الفاسد، أو المشكوك فيه. (فان كانت "زعم" بمعنى "تأمر ورأس"، أو بمعنى "كفل به" تعدّتْ الى واحد بحرف الجر، تقول "زعم على القوم فهو زعيم"، أي تأمر عليهمْ ورأسهم، و"زعم بفلان وبالمال"، أي كفل به وضمنه، وتقول "زعم اللبن" أي أخذ يطيب، فهو لازم) . والخامسُ "هبْ" – بلفظ الأمر، بمعنى "ظُنَّ" – كقول الشاعر [من المتقارب] فَقُلتُ أَجِرْني أَبا خالدٍ … وإِلاّ فَهَبْني امرَءًا هالِكا
…*lazim* (intransitif)). Ketiga adalah kata "عَدَّ" (menganggap) yang bermakna "ظَنَّ" (mengira), seperti ucapan penyair [dari bahar Thawil]: *Maka janganlah engkau menganggap kerabatmu sebagai sekutumu di kala kaya… akan tetapi kerabat sejati adalah sekutumu di kala miskin.* (Jika ia bermakna "أحصى" (menghitung), maka ia berstatus *muta'addi* (transitif) kepada satu objek saja, seperti: "عددت الدراهم" (Aku menghitung dirham-dirham itu), yaitu aku menghitung dan menjumlahkannya). Keempat adalah kata "زَعَمَ" (menduga) yang bermakna "mengira dengan dugaan yang kuat" (*zhanna zhannan rajihan*), seperti ucapan penyair [dari bahar Khafif]: *Ia mendugaku sebagai orang tua, padahal aku bukanlah orang tua… sesungguhnya orang tua itu adalah orang yang berjalan dengan merangkak perlahan.* Penggunaan yang paling sering pada kata "زَعَمَ" adalah untuk dugaan yang salah (*al-zhann al-fasid*), yaitu menceritakan suatu ucapan yang diduga kuat mengandung kebohongan. Maka ia diucapkan pada perkara yang diragukan atau yang diyakini kebohongannya. Oleh karena itu, mereka mengatakan: "زَعموا مطيِيَّةُ الكذب" (Kata 'mereka menduga' adalah kendaraan kebohongan), yaitu bahwa kata ini merupakan sarana kebohongan. Di antara kebiasaan orang Arab, apabila seseorang mengucapkan suatu perkataan yang menurut mereka bohong, mereka akan mengatakan: "زَعمَ فلانٌ" (si fulan menduga). Oleh karena inilah kata ini di dalam Al-Qur'an Al-Karim selalu datang pada setiap tempat yang mencela orang-orang yang mengucapkannya. Terkadang kata *za'm* datang dengan makna ucapan (*al-qaul*) semata, sunyi dari makna dugaan yang kuat, dugaan yang salah, maupun perkara yang diragukan. (Jika kata "زعم" bermakna "memerintah dan memimpin", atau bermakna "menjaminnya", maka ia berstatus *muta'addi* kepada satu objek dengan perantaraan *harf jar*. Anda mengucapkan: "زعم على القوم فهو زعيم" (Ia memimpin kaum itu maka ia adalah pemimpin), yaitu ia memerintah dan memimpin mereka; dan "زعم بفلان وبالمال" (Ia menjamin si fulan dan harta itu), yaitu ia menjamin dan menanggungnya. Dan Anda mengucapkan "زعم اللبن" (Susu itu mulai membaik rasanya), maka ia berstatus *lazim*). Kelima adalah kata "هَبْ" (anggaplah) —dalam bentuk kata kerja perintah (*fi'il amr*)— yang bermakna "ظُنَّ" (kirakanlah/anggaplah), seperti ucapan penyair [dari bahar Mutaqarib]: *Maka aku berkata: Lindungilah aku wahai Abu Khalid… jika tidak, maka anggaplah aku sebagai orang yang binasa.*
(فان كانت امراً من الهبة، مثل "هب الفقراء مالاً"، لم تكن من أفعال القلوب، بل هي من "وهب" التي تنصب مفعولين ليس أصلهما مبتدأ وخبراً. على الفصيح فيها أن تتعدى الى الاول باللام، نحو "هب للفقراء مالا". وان كانت امراً من الهيبة تعدت الى مفعول واحد، مثل "هب ربك"، أي خفه) . (٢) افعال التحويل أفعالُ التحويل ما تكونُ بمعنى "صيَّرَ". هي سبعةٌ "صيَّر ورَدَّ وترَك وتَخِذ واتخذ وجعل ووهب". وهي تنصبُ مفعولين أصلُهما مُبتدأ وخبرٌ. فالأولُ مثل "صيّرْتُ العدُوَّ صديقاً". والثاني كقوله تعالى ﴿وَدّ كثيرٌ من أهل الكتاب لوْ يرُدُّونكم من بعد إِيمانِكم كُفَّاراً"، وقال الشاعر [من الوافر] رَمَى الحِدْثانُ نِسْوَةَ آل حَرْبٍ … بِمقْدارٍ سمَدْنَ لهُ سُمُودا فردَّ شُعُوْرَهنَّ السُّودَ بِيضاً … ورَدَّ وُجوهَهُنَّ البِيضَ سُودا والثالثُ كقوله ﷿ ﴿وتركنا بعضهم يومئذٍ يموجُ في بعضٍ"، وقول الشاعر [من الطويل] ورَبَّيْتهُ، حتى إِذا ما تَرَكْتُهُ … أَخا القومِ، واستَغْنى عن الْمَسْحِ شارِبُهُ
(Jika ia berupa kata kerja perintah [*fi'il amar*] yang berasal dari kata hibah [*al-hibah*], seperti "هب الفقراء مالاً" [Berikanlah harta kepada orang-orang miskin!], maka ia tidak termasuk dalam *af'al al-qulub* [kata kerja hati/keyakinan], melainkan berasal dari kata "وهب" [memberi] yang men-*nasab*-kan dua *maf'ul* [objek] yang asalnya bukan *mubtada'* dan *khabar*. Menurut penggunaan yang paling fasih, kata kerja ini bertransitif [*ta'addi*] kepada objek pertama dengan menggunakan huruf *lam*, seperti "هب للفقراء مالا" [Berikanlah harta kepada orang-orang miskin]. Dan jika ia berupa kata kerja perintah yang berasal dari kata kewibawaan/rasa takut [*al-haibah*], maka ia bertransitif kepada satu objek saja, seperti "هب ربك" [Takutilah Tuhanmu!], yaitu takutlah kepada-Nya). (2) *Af'al at-Tahwil* (Kata Kerja Perubahan): *Af'al at-tahwil* adalah kata kerja yang bermakna "صيَّرَ" (menjadikan/mengubah). Jumlahnya ada tujuh, yaitu: "صيَّرَ" (menjadikan), "رَدَّ" (mengembalikan/mengubah), "تَرَكَ" (meninggalkan/membiarkan), "تَخِذَ" (mengambil/menjadikan), "اتَّخَذَ" (mengambil/menjadikan), "جَعَلَ" (menjadikan), dan "وَهَبَ" (menganugerahkan/menjadikan). Kata-kata kerja ini men-*nasab*-kan dua *maf'ul* yang asalnya adalah *mubtada'* dan *khabar*. Contoh yang pertama adalah seperti: "صيّرْتُ العدُوَّ صديقاً" (Aku menjadikan musuh itu sebagai teman). Contoh yang kedua adalah seperti firman Allah Ta'ala: ﴿وَدّ كثيرٌ من أهل الكتاب لوْ يرُدُّونكم من بعد إِيمانِكم كُفَّاراً﴾ (Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman menjadi kafir kembali). Penyair berkata [dari bahar wafir]: "رَمَى الحِدْثانُ نِسْوَةَ آل حَرْبٍ … بِمقْدارٍ سمَدْنَ لهُ سُمُودا" "فردَّ شُعُوْرَهنَّ السُّودَ بِيضاً … ورَدَّ وُجوهَهُنَّ البِيضَ سُودا" (Musibah zaman telah menimpa para wanita keluarga Harb dengan takdir yang membuat mereka tercengang kebingungan. Maka musibah itu mengubah rambut hitam mereka menjadi putih [beruban], dan mengubah wajah putih mereka menjadi hitam [kusam]). Contoh yang ketiga adalah seperti firman Allah Jalla wa 'Azza: ﴿وتركنا بعضهم يومئذٍ يموجُ في بعضٍ﴾ (Dan pada hari itu Kami biarkan sebagian mereka bercampur baur dengan sebagian yang lain). Dan perkataan penyair [dari bahar thawil]: "ورَبَّيْتهُ، حتى إِذا ما تَرَكْتُهُ … أَخا القومِ، واستَغْنى عن الْمَسْحِ شارِبُهُ" (Dan aku mendidiknya, hingga ketika aku meninggalkannya dalam keadaan telah menjadi seorang pemuka kaum, dan kumisnya tidak lagi membutuhkan usapan).
والرابعُ "تَخِذتُكَ صديقاً". والخامسُ كقوله تعالى ﴿واتخذ اللهُ ابراهيمَ خليلا﴾ . والسادسُ كقوله سبحانهُ و ﴿قدِمْنا إلى ما عَمِلوا من عمل، فجعلناهُ هباءً منثوراً﴾ . والسابع مثل وهبَني اللهُ فداء المُخلصين". (وهذه الافعال لا تنصب المفعولين الا اذا كانت بمعنى "صير" الدالة على التحويل وان كانت "رد" بمعنى "رجع" – كرددته، أي رجعته – و"ترك" بمعنى "خلى" – كتركت الجهل، أي خليته و"جعل" بمعنى "خلق"؛ كانت متعدية الى مفعول واحد. وان كانت "هب" بمعنى أعطى لم تكن من هذا الباب، وان نصبت المفعولين، مثل "وهبتك فرساً". والفصيح أن يقال "وهبت لك فرساً". المتعدي الى ثلاثة مفاعيل المتعدِّي إلى ثلاثة مفاعيل، هو "أرى وأعلمَ وأنبأ ونَبَّأ وأخبرَ وخرَّ وحدثَ". ومُضارعها "يُرِي ويُعلِمُ ويُنبِيءُ ويُنبِّىءُ ويُخبر ويُخبِّرُ ويحدِّث"، تقول "أريتُ سعيداً الأمرَ واضحاً، وأعلمتُهُ إياهُ صحيحاً، وأنبأتُ خليلاً الخبرَ واقعاً، ونَبَّأته إيَّاهُ، أو أخبرتهُ إِياهُ، أو أخبرته إياهُ أو حدَّثتهُ إياهُ حقا". والغالبُ في "أنبأ" وما بعدها أن تُبنى للمجهول، فيكون نائبُ الفاعلِ مفعولها الأول، مثل "أُنبئْتُ سليماً مجتهداً"، قال الشاعر [من الكامل]
Dan yang keempat: "تَخِذتُكَ صديقاً" (Aku menjadikanmu sebagai teman). Dan yang kelima seperti firman Allah Ta'ala: ﴿واتخذ اللهُ ابراهيمَ خليلا﴾ (Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan-Nya). Dan yang keenam seperti firman-Nya yang Mahasuci: ﴿قدِمْنا إلى ما عَمِلوا من عمل، فجعلناهُ هباءً منثوراً﴾ (Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan). Dan yang ketujuh seperti: "وهبَني اللهُ فداء المُخلصين" (Allah menjadikanku sebagai tebusan bagi orang-orang yang tulus). (Dan kata-kata kerja ini tidak men-*nasab*-kan dua *maf'ul* kecuali jika ia bermakna "صير" [menjadikan/mengubah] yang menunjukkan arti perubahan [*tahwil*]. Jika kata "رد" bermakna "رجع" [mengembalikan] – seperti 'رددته' yang berarti 'رجعتُه' [aku mengembalikannya] -, kata "ترك" bermakna "خلى" [meninggalkan] – seperti 'تركتُ الجهل' yang berarti 'خليتُه' [aku meninggalkan kebodohan] -, dan kata "جعل" bermakna "خلق" [menciptakan], maka kata-kata tersebut berstatus transitif kepada satu *maf'ul* saja. Dan jika kata "هب" bermakna "أعطى" [memberi], maka ia tidak termasuk dalam bab ini meskipun ia men-*nasab*-kan dua *maf'ul*, seperti "وهبتك فرساً" [Aku memberimu seekor kuda]. Namun yang lebih fasih adalah diucapkan "وهبت لك فرساً" [Aku memberikan seekor kuda kepadamu]). *Fi'il* yang Transitif kepada Tiga *Maf'ul*: *Fi'il* yang transitif (*muta'addi*) kepada tiga *maf'ul* adalah: "أرى" (memperlihatkan), "أعلمَ" (memberitahukan), "أنبأ" (mengabarkan), "نَبَّأ" (mengabarkan), "أخبرَ" (mengabarkan), "خبَّر" (mengabarkan), dan "حدثَ" (menceritakan). Bentuk *fi'il mudhari'*-nya adalah: "يُرِي", "يُعلِمُ", "يُنبِيءُ", "يُنبِّىءُ", "يُخبر", "يُخبِّرُ", dan "يحدِّث". Anda mengucapkan: "أريتُ سعيداً الأمرَ واضحاً" (Aku memperlihatkan kepada Said bahwa urusan itu jelas), "أعلمتُهُ إياهُ صحيحاً" (Aku memberitahukannya kepadanya bahwa hal itu benar), "أنبأتُ خليلاً الخبرَ واقعاً" (Aku mengabarkan kepada Khalil bahwa berita itu benar-benar terjadi), "نَبَّأته إيَّاهُ" (Aku mengabarkannya kepadanya), "أخبرتهُ إِياهُ" (Aku mengabarkannya kepadanya), atau "حدَّثتهُ إياهُ حقا" (Aku menceritakannya kepadanya bahwa hal itu benar). Dan yang paling sering terjadi pada kata "أنبأ" dan setelahnya adalah di-*bina'* untuk bentuk pasif (*majhul*), sehingga *na'ib al-fa'il*-nya berkedudukan sebagai *maf'ul* pertamanya, seperti "أُنبئْتُ سليماً مجتهداً" (Aku dikabari bahwa Salim adalah orang yang bersungguh-sungguh). Penyair berkata [dari bahar Kamil]:
نُبِّئْتُ زُرْعَةَ، والسفاهَةُ كاسمِها، … يُهدِي إِليّ غَرائبَ الأَشعار وقال الآخرُ [من الكامل] نُبِّئْتُ أنَّ أبا قابوسَ أوعَدَني … ولا قَرارَ على زأرٍ من الأَسَد
*Nubbi'tu Zur'ata wa-as-safâhatu ka-ismihâ… yuhdî ilayya gharâ'iba al-as'âri* (Aku dikabarkan tentang Zur'ah —dan kebodohan itu sesuai dengan namanya— ia mengirimkan bait-bait syair yang aneh kepadaku). Dan penyair yang lain berkata [dari bahar kamil]: *Nubbi'tu anna Abâ Qâbûsa au'adanî… wa-lâ qarâra 'alâ za'rin mina al-asadi* (Aku dikabarkan bahwa Abu Qabus mengancamku… dan tidak ada ketenangan ketika mendengar auman singa).