بيان آداب المتوكلين إذا سرق متاعهم
بيان آداب المتوكلين إذا سرق متاعهم
Penjelasan tentang Adab-Adab Orang-Orang yang Bertawakal Apabila Barang Mereka Dicuri
للمتوكل آداب في متاع بيته إذا خرج عنه ﴿الأول﴾ أن يغلق الباب ولا يستقصي في أسباب الحفظ كالتماسك من الجيران الحفظ مع الغلق وكجمعه أغلاقاً كثيرة فقد كان مالك بن دينار لا يغلق بابه ولكن يشده بشريط ويقول لولا الكلاب ما شددته أيضاً الثاني أن لا يترك في البيت متاعاً يحرض عليه السراق فيكون هو سبب معصيتهم أو إمساكه يكون سبب هيجان رغبتهم ولذلك لما أهدى المغيرة إلى مالك بن دينار ركوة قال خذها لا حاجة لي إليها قال لم قال يوسوس إلي العدو أن اللص يأخذها فكأنه احترز من أن يعصي السارق ومن شغل قلبه بوسواس الشيطان بسرقتها ولذلك قال أبو سليمان هذا من ضعف قلوب الصوفية هذا قد زهد في الدنيا فما عليه من أخذها الثالث أن ما يضطر إلى تركه في البيت ينبغي أن ينوي عند خروجه الرضا بما يقضي الله فيه من تسليط سارق عليه ويقول ما يأخذه السارق فهو منه في حل أو في سبيل الله تعالى وإن كان فقيراً فهو عليه صدقة وإن لم يشترط الفقر فهو أولى فيكون له نيتان لو أخذه غني أو فقير ﴿إحداهما﴾ أن يكون
Bagi orang yang bertawakal ada adab-adab terkait barang rumahnya apabila ia keluar meninggalkannya. [Pertama] Hendaklah ia mengunci pintu namun tidak berlebih-lebihan dalam sebab-sebab penjagaan, seperti meminta tetangga menjaga di samping mengunci pintu, atau memasang banyak gembok. Sungguh Malik bin Dinar pernah tidak mengunci pintunya, melainkan hanya mengikatnya dengan tali, dan ia berkata, "Sekiranya bukan karena anjing, niscaya aku pun tidak mengikatnya." Kedua, hendaklah ia tidak meninggalkan barang di dalam rumah yang dapat memancing para pencuri, sehingga ia menjadi sebab kemaksiatan mereka, atau penyimpanannya menjadi sebab bergejolaknya hasrat mereka. Oleh karena itu, ketika Al-Mughirah menghadiahkan bejana air dari kulit kepada Malik bin Dinar, ia berkata, "Ambillah, aku tidak membutuhkannya." Al-Mughirah bertanya, "Mengapa?" Ia menjawab, "Musuh (setan) membisikkan padaku bahwa pencuri akan mengambilnya." Seolah-olah ia menjaga agar pencuri tidak bermaksiat dan agar hatinya tidak disibukkan oleh bisikan setan tentang pencurian barang itu. Oleh sebab itu Abu Sulaiman berkata, "Ini termasuk kelemahan hati sebagian kaum sufi. Orang ini telah zuhud terhadap dunia, maka tidak ada beban baginya atas siapa pun yang mengambilnya." Ketiga, bahwa barang yang terpaksa ia tinggalkan di rumah hendaknya diniatkan ketika keluar berupa keridaan atas apa yang ditetapkan Allah padanya, berupa penguasaan pencuri atasnya, dan ia berkata, "Apa yang diambil oleh pencuri, maka baginya halal atau berada di jalan Allah Ta'ala. Jika ia seorang yang fakir, maka itu menjadi sedekah baginya." Apabila ia tidak mensyaratkan kefakiran, itu lebih utama; sehingga ia memiliki dua niat baik jika yang mengambilnya orang kaya maupun fakir. [Salah satunya] adalah hendaknya…
ماله مانعاً من المعصية فإنه ربما يستغني به فيتوانى عن السرقة بعده وقد زال عصيانه بأكل الحرام لما أن جعله في حل والثانية أن لا يظلم مسلماً آخر فيكون ماله فداءً لمال مسلم آخر ومهما ينوي حراسة مال غيره بمال نفسه أو ينوي دفع المعصية عن السارق أو تخفيفها عليه فقد نصح للمسلمين وامتثل قوله ﷺ انصر أخاك ظالماً أو مظلوماً ونصر الظالم أن تمنعه من الظلم وعفوه عنه إعدام للظلم ومنع له وليتحقق أن هذه النية لا تضره بوجه من الوجوه إذ ليس فيها ما يسلط السارق ويغير القصاء الأزلي ولكن يتحقق بالزهد نيته فإن أخذ ماله كان له بكل درهم سبعمائة درهم لأنه نواه وقصده وإن لم يؤخذ حصل له الأجر أيضاً كما روي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فيمن ترك العزل فأقر النطفة قرارها أن له أجر غلام ولد له من ذلك الجماع وعاش فقتل في سبيل الله تعالى وإن لم يولد له لأنه ليس أمر الولد إلا الوقاع فأما الخلق والحياة والرزق والبقاء فليس إليه فلو خلق لكان ثوابه على فعله وفعله لم ينعدم فكذلك أمر السرقة الرابع أنه إذا وجد المال مسروقاً فينبغي أن لا يحزن بل يفرح إن أمكنه ويقول لولا أن الخيرة كانت فيه لما سلبه الله تعالى ثم إن لم يكن قد جعله في سبيل الله ﷿ فلا يبالغ في طلبه وفي إساءة الظن بالمسلمين وإن كان قد جعله في سبيل الله فيترك طلبه فإنه قد قدمه ذخيرة لنفسه إلى الآخرة فإن أعيد عليه فالأولى أن لا يقبله بعد أن كان قد جعله في سبيل الله ﷿ وإن قبله فهو في ملكه في ظاهر العلم لأن الملك لا يزول بمجرد تلك النية ولكنه غير محبوب عند المتوكلين
…hartanya menjadi penghalang dari kemaksiatan, sebab boleh jadi pencuri itu menjadi berkecukupan dengannya lalu enggan mencuri setelahnya, dan telah hilang kemaksiatannya memakan barang haram karena ia telah menghalalkannya. Yang kedua, agar pencuri itu tidak menzalimi muslim yang lain, sehingga hartanya menjadi penebus bagi harta muslim lainnya. Dan kapan saja ia berniat menjaga harta orang lain dengan hartanya sendiri, atau berniat mencegah kemaksiatan dari pencuri atau meringankannya, sungguh ia telah tulus menasihati kaum muslimin dan mengamalkan sabda Rasulullah ﷺ: "Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi." Dan menolong orang zalim adalah dengan menghentikannya dari kezaliman, sedangkan memaafkannya merupakan pemusnahan terhadap kezaliman dan penghalangan baginya. Hendaklah ia meyakini bahwa niat ini tidak membahayakannya dari segi mana pun, sebab di dalamnya tidak ada hal yang menguasakan pencuri atau mengubah takdir azali, melainkan niatnya terwujud dengan kezuhudan. Jika hartanya diambil, maka baginya untuk setiap dirham pahala tujuh ratus dirham karena ia telah berniat dan bermaksud demikian. Dan jika tidak diambil, ia tetap memperoleh pahala juga, sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ tentang orang yang meninggalkan azal (mengeluarkan sperma di luar) lalu menetapkan nutfah pada tempatnya, bahwa baginya pahala seorang anak lelaki yang lahir dari jima' tersebut, hidup, lalu terbunuh di jalan Allah Ta'ala meskipun anak itu tidak lahir; karena urusan anak hanyalah persetubuhan, sedangkan penciptaan, kehidupan, rezeki, dan kelangsungan hidup bukanlah wewenangnya. Seandainya anak itu diciptakan, niscaya pahalanya atas perbuatannya, dan perbuatannya tidaklah hilang. Demikian pula halnya dengan pencurian. Keempat, apabila ia mendapati hartanya telah dicuri, hendaknya ia tidak bersedih, melainkan bergembira jika memungkinkan, seraya berkata: "Sekiranya kebaikan tidak ada padanya, niscaya Allah Ta'ala tidak akan mencabutnya." Kemudian jika ia belum menjadikannya di jalan Allah Azza wa Jalla, janganlah ia berlebihan dalam mencarinya dan berburuk sangka kepada kaum muslimin. Namun jika ia telah menjadikannya di jalan Allah, hendaknya ia meninggalkan pencariannya, karena ia telah mempersembahkannya sebagai tabungan bagi dirinya untuk akhirat. Apabila harta itu dikembalikan kepadanya, maka yang lebih utama adalah tidak menerimanya kembali setelah ia menjadikannya di jalan Allah Azza wa Jalla. Dan jika ia menerimanya, maka secara lahiriah ilmu harta itu tetap dalam kepemilikannya, karena kepemilikan tidak hilang hanya dengan niat tersebut, namun hal itu tidak disukai di kalangan orang-orang yang bertawakal.
وقد روي أن ابن عمر سرقت ناقته فطلبها حتى أعيا ثم قال في سبيل الله تعالى فدخل المسجد فصلى فيه ركعتين فجاءه رجل فقال يا أبا عبد الرحمن إن ناقتك في مكان كذا فلبس نعله وقام ثم قال أستغفر الله وجلس فقيل له ألا تذهب فتأخذها فقال إني كنت قلت في سبيل الله
Dan sungguh telah diriwayatkan bahwa unta Ibn Umar r.a. dicuri, lalu ia mencarinya hingga merasa lelah, kemudian ia berkata, "Ini di jalan Allah Ta'ala." Lalu ia masuk ke masjid dan shalat dua rakaat di dalamnya. Tiba-tiba seorang laki-laki datang seraya berkata, "Wahai Abu Abdurrahman, sesungguhnya untamu ada di tempat ini dan itu." Maka ia mengenakan sandalnya dan berdiri, lalu ia berkata, "Aku memohon ampun kepada Allah," kemudian ia duduk kembali. Lalu dikatakan kepadanya, "Apakah engkau tidak pergi mengambilnya?" Ia menjawab, "Sesungguhnya aku telah mengatakan: Ini di jalan Allah."
وقال بعض الشيوخ رأيت بعض إخواني في النوم بعد موته فقلت ما فعل الله بك قال غفر لي وأدخلني الجنة وعرض علي منازلي فيها فرأيتها قال وهو مع ذلك كئيب حزين فقلت قد غفر لك ودخلت الجنة وأنت حزين فتنفس الصعداء ثم قال نعم إني لا أزال حزيناً إلى يوم القيامة قلت ولم قال إني لما رأيت منازلي في الجنة رفعت لي مقامات في عليين ما رأيت مثلها فيما رأيت ففرحت بها فلما هممت بدخولها نادى منادي من فوقها اصرفوه عنها فليست هذه له إنما هي لمن أمضى السبيل فقلت وما إمضاء السبيل فقيل لي كنت تقول للشيء إنه في سبيل الله ثم ترجع فيه فلو كنت أمضيت السبيل لأمضينا لك
Sebagian guru berkata: Aku melihat salah seorang saudaraku dalam mimpi setelah kematiannya, lalu aku bertanya, "Apa yang telah Allah perbuat kepadamu?" Ia menjawab, "Dia telah mengampuniku, memasukkanku ke dalam surga, dan memperlihatkan tempat-tempat tinggalku di dalamnya, maka aku pun melihatnya." Guru itu berkata: Padahal ia bersamaan dengan itu tampak muram dan bersedih. Maka aku katakan, "Engkau telah diampuni dan dimasukkan ke dalam surga, tetapi mengapa engkau bersedih?" Ia mendesah panjang lalu berkata, "Ya, aku senantiasa bersedih hingga hari kiamat." Aku bertanya, "Mengapa?" Ia menjawab, "Ketika aku melihat tempat-tempat tinggalku di surga, ditinggikan bagiku maqam-maqam di 'Illiyyin yang belum pernah aku lihat tandingannya pada apa yang telah kulihat, maka aku pun bergembira dengannya. Namun ketika aku hendak memasukinya, seorang penyeru berseru dari atasnya: Palingkan ia darinya, sebab ini bukan miliknya! Ini hanya bagi orang yang menepati jalan-Nya (amdhas-sabil)." Aku bertanya, "Apakah menepati jalan-Nya itu?" Lalu dikatakan kepadaku, "Dahulu engkau pernah mengatakan terhadap sesuatu bahwa itu di jalan Allah, kemudian engkau menariknya kembali. Sekiranya engkau menepati jalan itu, niscaya Kami akan meluluskannya bagimu."
وحكي عن بعض العباد بمكة أنه كان نائماً إلى جنب رجل معه هميانه فانتبه الرجل ففقد هميانه فاتهمه به فقال له كم كان في هميانك فذكر له فحمله من البيت ووزنه من عنده ثم بعد ذلك أعلمه أصحابه أنهم كانوا أخذوا الهميان مزحاً معه فجاء هو وأصحابه معه وردوا الذهب فأبى وقال خذه حلالاً طيباً فما كنت لأعود في مال أخرجته في سبيل الله ﷿ فلم يقبل فألحوا عليه فدعا ابنه وجعل يصره صرراً ويبعث به إلى الفقراء حتى لم يبق منه شيء
Dikisahkan dari sebagian ahli ibadah di Makkah bahwa ia sedang tidur di samping seorang laki-laki yang membawa kantong uang (himyan). Ketika laki-laki itu terbangun dan kehilangan kantong uangnya, ia menuduh ahli ibadah itu. Maka ahli ibadah itu bertanya kepadanya, "Berapa isi kantong uangmu?" Laki-laki itu menyebutkan jumlahnya, lalu ahli ibadah itu membawanya dari rumahnya dan menimbangnya dari hartanya sendiri. Setelah itu, teman-teman laki-laki tersebut memberitahunya bahwa mereka telah mengambil kantong uang itu sekadar bergurau dengannya. Maka laki-laki itu datang bersama teman-temannya seraya mengembalikan emas tersebut, tetapi ahli ibadah itu menolak dan berkata, "Ambillah itu secara halal dan baik, sebab aku tidak akan menarik kembali harta yang telah kukeluarkan di jalan Allah Azza wa Jalla." Ia menolak menerimanya, lalu mereka mendesaknya. Maka ia memanggil putranya dan mulai membungkus emas itu dalam pundi-pundi kecil lalu mengirimkannya kepada kaum fakir hingga tidak tersisa sedikit pun darinya.
فهكذا كانت أخلاق السلف وكذلك من أخذ رغيفاً ليعطيه فقيراً فغاب عنه كان يكره رده إلى البيت بعد إخراجه فيعطيه فقيراً آخر وكذلك يفعل في الدراهم والدنانير وسائر الصدقات الخامس وهو أقل الدرجات
Demikianlah akhlak para ulama salaf. Demikian pula barang siapa yang mengambil sepotong roti untuk diberikan kepada seorang fakir lalu orang fakir itu tidak ada, ia benci mengembalikannya ke rumah setelah mengeluarkannya, melainkan ia berikan kepada fakir yang lain. Hal seperti itu juga dilakukan pada dirham, dinar, dan seluruh bentuk sedekah. Kelima—dan ini merupakan derajat yang paling rendah—
أن لا يدعو على السارق الذي ظلمه بالأخذ فإن فعل بطل توكله ودل ذلك على كراهته وتأسفه على ما فات وبطل زهده ولو بالغ بطل أجره أيضاً فيما أصيب به ففي الخبر من دعا على ظالمه فقد انتصر وحكي أن الربيع بن خثيم سرق فرس له وكان قيمته عشرين ألفاً وكان قائماً يصلي فلم يقطع صلاته ولم ينزعج لطلبه فجاءه قوم يعزونه فقال أما إني قد كنت رأيته وهو يحله قيل وما منعك أن تزجره قال كنت فيما هو أحب إلي من ذلك يعني الصلاة فجعلوا يدعون عليه فقال لا تفعلوا وقولوا خيراً فإني قد جعلتها صدقة عليه
yaitu hendaknya ia tidak mendoakan keburukan atas pencuri yang telah menzaliminya dengan mengambil hartanya. Jika ia melakukannya, maka batallah tawakalnya, dan hal itu menunjukkan kebencian serta penyesalannya atas apa yang luput darinya, dan batallah kezuhudannya. Bahkan jika ia berlebihan dalam mendoakan keburukan, batallah pula pahalanya atas musibah yang menimpanya. Sebab dalam sebuah atsar disebutkan: "Barang siapa mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya, maka sungguh ia telah membalasnya." Dikisahkan bahwa Ar-Rabi' bin Khutsaim pernah dicuri kudanya yang bernilai dua puluh ribu. Saat itu ia sedang berdiri shalat, namun ia tidak memotong shalatnya dan tidak terkejut untuk mencarinya. Lalu sekelompok orang datang menyampaikan rasa simpati kepadanya, maka ia berkata, "Adapun aku, sungguh aku telah melihatnya ketika ia melepaskan ikatan kuda itu." Dikatakan kepadanya, "Apa yang menghalangimu untuk menegurnya?" Ia menjawab, "Aku sedang berada dalam perkara yang lebih kucintai daripada hal itu (yaitu shalat)." Maka orang-orang mulai mendoakan keburukan atas pencuri itu, lalu ia berkata, "Janganlah kalian lakukan itu, katakanlah kebaikan! Sebab aku telah menjadikannya sebagai sedekah baginya."
وقيل لبعضهم في شيء قد كان سرق له ألا تدعو على ظالمك قال ما أحب أن أكون عوناً للشيطان عليه
Dikatakan kepada sebagian dari mereka berkenaan dengan barang milik mereka yang telah dicuri, "Apakah engkau tidak mendoakan keburukan atas orang yang menzalimimu?" Ia menjawab, "Aku tidak suka menjadi pembantu setan untuk mencelakakannya."
قيل أرأيت لو رد عليك قال لا آخذه ولا أنظر إليه لأني كنت قد أحللته له
Dikatakan kepadanya, "Bagaimana pendapatmu jika barang itu dikembalikan kepadamu?" Ia menjawab, "Aku tidak akan mengambilnya dan tidak akan memandangnya, karena aku telah menghalalkannya baginya."
وقيل لآخر ادع الله على ظالمك فقال ماظلمنى أحد ثم قال إنما ظلم نفسه ألا يكفيه المسكين ظلم نفسه حتى أزيده شراً
Dikatakan kepada yang lain, "Berdoalah kepada Allah atas orang yang menzalimimu!" Maka ia menjawab, "Tidak ada seorang pun yang menzalimiku." Kemudian ia berkata, "Ia hanyalah menzalimi dirinya sendiri. Apakah tidak cukup bagi si miskin itu kezaliman atas dirinya sendiri hingga aku perlu menambah keburukan baginya?"
وأكثر بعضهم شتم الحجاج عند بعض السلف في ظلمه فقال لا تغرق في شتمه فإن الله تعالى ينتصف للحجاج فمن انتهك عرضه كما ينتصف منه لمن أخذ ماله ودمه
Sebagian orang memperbanyak cacian kepada Al-Hajjaj di hadapan salah seorang ulama Salaf atas kezalimannya. Maka ulama itu berkata, "Janganlah engkau berlebihan dalam mencacinya, sebab Allah Ta'ala akan menuntut balas untuk Al-Hajjaj dari orang yang merusak kehormatannya sebagaimana Dia menuntut balas darinya untuk orang yang harta dan darahnya ia ambil."
وفي الخبر إن العبد كيظلم المظلمة فلا يزال يشتم ظالمه ويسبه حتى يكون بمقدار ما ظلمه ثم يبقى للظالم عليه مطالبة بما زاد عليه يقتص له من المظلوم السادس أن يغتم لأجل السارق وعصيانه وتعرضه لعذاب الله تعالى ويشكر الله تعالى إذ جعله مظلوماً ولم يجعله ظالماً وجعل ذلك نقصاً في دنياه لا نقصاً في دينه فقد شكا بعض الناس إلى عالم أنه قطع عليه الطريق وأخذ ماله فقال إن لم يكن لك غم أنه قد صار في المسلمين من يستحل هذا أكثر من غمك بمالك فما نصحت للمسلمين
Dalam sebuah khabar (hadis) disebutkan: "Sesungguhnya seorang hamba benar-benar dizalimi dengan suatu kezaliman, lalu ia terus-menerus mencaci dan memaki orang yang menzaliminya hingga balasan cacian itu sebanding dengan kadar kezaliman yang menimpa dirinya. Kemudian sisanya menjadi tuntutan bagi orang yang menzalimi itu atas dirinya terhadap kelebihan mencaci tersebut, sehingga dituntut kisas padanya dari orang yang dizalimi." Keenam, hendaknya ia bersedih karena keadaan sang pencuri, kemaksiatannya, dan keterpaparannya pada siksa Allah Ta'ala; serta bersyukur kepada Allah Ta'ala karena telah menjadikannya sebagai orang yang dizalimi dan tidak menjadikannya orang yang menzalimi, dan menjadikan kejadian itu sebagai pengurangan pada dunianya, bukan pengurangan pada agamanya. Sungguh, seseorang pernah mengadu kepada seorang ulama bahwa ia telah dibegal di jalan dan hartanya diambil, maka ulama itu berkata: "Jika kesedihanmu karena adanya kaum muslimin yang menghalalkan hal ini tidak lebih besar daripada kesedihanmu atas hartamu, maka engkau belum tulus menasihati kaum muslimin."
وسرق من علي بن الفضيل دنانير وهو يطوف بالبيت فرآه أبوه وهو يبكي ويحزن فقال أعلى الدنانير تبكي فقال لا والله ولكن على المسكين أن يسئل يوم القيامة ولا تكون له حجة
Beberapa dinar dicuri dari Ali bin Al-Fudhail ketika ia sedang bertawaf di Baitullah, lalu ayahnya melihatnya sedang menangis dan bersedih. Ayahnya bertanya, "Apakah karena dinar-dinar itu engkau menangis?" Ia menjawab, "Tidak, demi Allah! Melainkan karena si miskin (pencuri) itu kelak akan ditanya pada hari Kiamat sementara ia tidak memiliki alasan/hujah."
وقيل لبعضهم ادع على من ظلمك فقال إني مشغول بالحزن عليه عن الدعاء عليه فهذه أخلاق السلف ﵃ أجمعين
Dikatakan kepada sebagian dari mereka (kaum shalih), "Berdoalah keburukan atas orang yang telah menzalimimu!" Maka ia menjawab, "Sesungguhnya aku terlalu sibuk berduka (merasa kasihan) kepadanya daripada berdoa keburukan atasnya." Maka inilah akhlak para ulama Salaf radhiyallahu 'anhum ajma'in.
الفن الرابع في السعي في إزالة الضرر كمداواة المرض وأمثاله اعلم أن الأسباب المزيلة للمرض أيضاً تنقسم إلى مقطوع به كالماء المزيل لضرر العطش والخبز المزيل لضرر الجوع وإلى مظنون كالفصد والحجامة وشرب الدواء المسهل وسائر أبواب الطب أعني معالجة البرودة بالحرارة والحرارة بالبرودة وهي الأسباب الظاهرة في الطب وإلى موهوم كالكي والرقية أما المقطوع فليس من التوكل تركه بل تركه حرام عند خوف الموت وأما الموهوم فشرط التوكل تركه إذ به وَصَفَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ المتوكلين وأقواها الكي ويليه الرقية والطيرة آخر درجاتها والاعتماد عليها والاتكال إليها غاية التعمق في ملاحظة الأسباب وأما الدرجة المتوسطة وهي المظنونة كالمداواة بالأسباب الظاهرة عند الأطباء ففعله ليس مناقضاً للتوكل بخلاف الموهوم وتركه ليس محظوراً بخلاف المقطوع بل قد يكون أفضل من فعله في بعض الأحوال وفي بعض الأشخاص فهي على درجة بين الدرجتين ويدل على أن التداوي غير مناقض للتوكل فَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
Bagian Keempat: Mengenai ikhtiar dalam menghilangkan bahaya (kemudaratan), seperti mengobati penyakit dan sejenisnya. Ketahuilah bahwa sebab-sebab yang menghilangkan penyakit itu terbagi menjadi tiga tingkatan: Pertama, bersifat pasti (maqthu' bih), seperti air yang menghilangkan kemudaratan haus, dan roti yang menghilangkan kemudaratan lapar. Kedua, bersifat dugaan kuat (mazhnun), seperti fashd (terapi kuras darah), bekam (hijamah), minum obat pencahar, serta seluruh pintu pengobatan lainnya—maksudku mengobati rasa dingin dengan panas dan rasa panas dengan dingin, yaitu sebab-sebab yang tampak dalam ilmu kedokteran. Ketiga, bersifat andaian/prasangka lemah (mauhum), seperti pengobatan dengan besi panas (kayy) dan ruqyah. Adapun yang bersifat pasti (maqthu'), meninggalkannya bukanlah bagian dari tawakal, bahkan meninggalkannya hukumnya haram ketika ada kekhawatiran timbulnya kematian. Sedangkan yang bersifat andaian (mauhum), maka syarat tawakal adalah meninggalkannya, karena dengan itulah Rasulullah ﷺ menyifati orang-orang yang bertawakal. Dan yang paling kuat (prasangka lemahnya) adalah kayy, kemudian ruqyah, dan thiyarah (meramal nasib sial) adalah tingkatan paling akhir; menyandarkan diri dan menggantungkan harapan kepadanya merupakan puncaknya keterikatan dalam memperhatikan sebab-sebab. Adapun tingkatan menengah, yaitu yang bersifat dugaan kuat (mazhnun), seperti berobat dengan sebab-sebab yang tampak menurut para dokter, maka melakukannya tidaklah bertentangan dengan tawakal, berbeda halnya dengan yang mauhum. Meninggalkannya pun tidak dilarang, berbeda halnya dengan yang maqthu'. Bahkan meninggalkannya terkadang lebih utama daripada melakukannya dalam sebagian keadaan dan pada sebagian orang. Jadi, ia berada pada tingkatan di antara dua tingkatan tersebut. Dan yang menunjukkan bahwa berobat itu tidak bertentangan dengan tawakal adalah perbuatan Rasulullah ﷺ…
وقوله وأمره به أما قوله فقد قال ﷺ ما من داء إلا وله دواء عرفه من عرفه وجهله من جهله إلا السام يعني الموت وقال ﵇ تداووا عباد الله فإن الله خلق الداء والدواء وسئل عن الدواء والرقي هل ترد من قدر الله شيئاً قال هي من قدر الله وفي الخبر المشهور ما مررت بملأ من الملائكة إلا قالوا مر أمتك بالحجامة وفي الحديث أنه أمر بها وقال احتجموا لسبع عشرة وتسع عشرة وإحدى وعشرين لا يتبيغ بكم الدم فيقتلكم فذكر أن تبيغ الدم سبب الموت وأنه قاتل بإذن الله تعالى وبين أن إخراج الدم خلاص منه إذ لا فرق بين إخراج الدم المهلك من الإهاب وبين إخراج العقرب من تحت الثياب وإخراج الحية من البيت وليس من شرط التوكل ترك ذلك بل هو كصب الماء على النار لإطافئها ودفع ضررها عند وقوعها في البيت وليس من التوكل الخروج عن سنة الوكيل أصلاً وفي خبر مقطوع من احتجم يوم الثلاثاء لسبع عشرة من الشهر كان له دواء من داء سنة وأما أمره ﷺ فقد أمر غير واحد من الصحابة بالتداوى وبالحمية وقطع لسعد بن معاذ عرقا أى فصده وكوى سعد بن زرارة وقال لعلي رضي الله تعالى عنه وكان رمد العين لا تأكل من هذا يعني الرطب وكل من هذا فإنه أوفق لك يعني سلقاً قد طبخ بدقيق شعير وقال لصهيب وقد رآه يأكل التمر وهو وجع العين تأكل تمراً وأنت أرمد فقال إني آكل من الجانب الآخر فتبسم وأما فعله ﵊ فقد روي في حديث من طريق أهل البيت أنه كان يكتحل كل ليلة ويحتجم كل شهر ويشرب الدواء كل سنة قيل السنا المكى
…serta sabda dan perintah beliau untuk berobat. Adapun sabda beliau, Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada suatu penyakit melainkan ada obatnya; diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya, kecuali as-saam (yaitu kematian)." Beliau juga bersabda: "Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obat." Beliau pernah ditanya tentang obat dan ruqyah, "Apakah hal itu dapat menolak takdir Allah sedikit pun?" Beliau menjawab: "Itu sendiri merupakan bagian dari takdir Allah." Dalam riwayat yang masyhur: "Tidaklah aku melewati sekelompok malaikat melainkan mereka berkata: 'Perintahkanlah umatmu untuk berbekam!'" Dan dalam hadis disebutkan bahwa beliau memerintahkan bekam dan bersabda: "Berbekamlah pada tanggal tujuh belas, sembilan belas, dan dua puluh satu, agar darah tidak bergejolak (yatabayyagh) dalam tubuhmu lalu membunuhmu." Maka beliau menyebutkan bahwa gejolak darah adalah sebab kematian dan bahwasanya ia membunuh dengan izin Allah Ta'ala, serta menjelaskan bahwa mengeluarkan darah adalah jalan keselamatan darinya. Sebab tidak ada bedanya antara mengeluarkan darah yang membinasakan dari kulit/tubuh dengan mengeluarkan kalajengking dari balik pakaian atau mengeluarkan ular dari dalam rumah. Meninggalkan hal itu bukanlah syarat tawakal, melainkan ia seperti menyiramkan air ke api untuk memadamkannya dan menolak bahayanya ketika terjadi di dalam rumah. Dan bukanlah bagian dari tawakal sama sekali jika seseorang keluar dari Sunnah Sang Wakil (Allah). Dalam riwayat maqthu': "Barangsiapa berbekam pada hari Selasa tanggal tujuh belas bulan itu, maka hal itu menjadi obat baginya dari penyakit selama setahun." Adapun perintah beliau ﷺ, beliau telah memerintahkan lebih dari satu sahabat untuk berobat dan berdiet (himyah), memotong pembuluh darah Saad bin Mu'adz (yaitu fashd), membakar luka (kayy) Saad bin Zurarah, dan berkata kepada Ali radhiyallahu 'anhu ketika beliau sakit mata (ramad): "Jangan makan ini!" —maksudnya kurma basah (ruthab)— "dan makanlah ini karena ini lebih sesuai bagimu!" —maksudnya sayur bit (silq) yang dimasak dengan tepung jelai (sya'ir). Beliau juga berkata kepada Suhaib ketika melihatnya makan kurma sedangkan ia sedang sakit mata: "Apakah engkau makan kurma padahal engkau sedang sakit mata?" Suhaib menjawab: "Aku mengunyahnya di sisi mulut yang sebelah lagi." Maka beliau pun tersenyum. Adapun perbuatan beliau 'alaihissalam, telah diriwayatkan dalam sebuah hadis dari jalur Ahlulbait bahwa beliau biasa bercelak setiap malam, berbekam setiap bulan, dan minum obat setiap tahun—dikatakan obat itu adalah Sana Makki (senna Makkah).
وتداوى ﷺ غير مرة من العقرب وغيرها حديث كان إذى نزل الوحي صدع رأسه فيغلفه بالحناء أخرجه البزار وابن عدي في الكامل من حديث أبي هريرة وقد اختلف في إسناده على الأحوص بن حكيم كان إذا خرجت به قرحة جعل عليها حناء رواه الترمذي وابن ماجة من حديث سلمى قال الترمذي غريب وفي خبر: أنه كان إذا خرجت به قرحة جعل عليها حناء وقد جعل على قرحة خرجت به ترابا جعل على قرحة خرجت بيده ترابا حديث جعل على قرحة خرجة بيده ترابا رواه البخاري ومسلم من حديث عائشة كان إذا اشتكى الإنسان الشيء منه أو كانت فرحة أو جرح قال النبي ﷺ بيده ووضع سفيان عيينه الراوي سبابته بالأرض ثم رفعها وقال بسم الله تربة أرضنا وريقة بعضنا يشفى سقيمنا // وما روي في تداويه وأمره بذلك كثير خارج عن الحصر وقد صنف في ذلك كتاب وسمي طب النبي ﷺ وذكر بعض العلماء في الإسرائيليات أن موسى ﵇ اعتل بعلة فدخل عليه بنو إسرائيل فعرفوا علته فقالوا له لو تداويت بكذا لبرئت فقال لا أتداوى حتى يعافيني هو من غير دواء فطالت علته فقالوا له إن دواء هذه العلة معروف مجرب وإنا نتداوى به فنبرأ فقال لا أتداوى وأقامت علته فأوحى الله تعا ﵂ لى إليه وعزتي وجلالي لا أبرأتك حتى تتداوى بما ذكروه لك فقال لهم داووني بما ذكرتم فداووه فبرأ فأوجس في نفسه من ذلك فأوحى الله تعالى إليه أردت أن تبطل حكمتي بتوكلك على من أودع العقاقير منافع الأشياء غيري وروي في خبر آخر أن نبياً من الأنبياء ﵈ شكا علة يجدها فأوحى الله تعالى إليه كل البيض وشكا نبي آخر الضعف فأوحى الله تعالى إليه كل اللحم باللبن فإن فيهما القوة قيل هو الضعف عن الجماع وقد روي أن قوماً شكوا إلى نبيهم قبح أولادهم فأوحى الله تعالى إليه مرهم أن يطعموا نساءهم الحبلى السفرجل فإنه يحسن الولد ويفعل ذلك في الشهر الثالث والرابإذ فيه يصور الله تعالى الولد وقد كانوا يطعمون الحبلى السفرجل والنفساء الرطب فبهذا تبين أن مسبب الأسباب أجرى سنته بربط المسببات بالأسباب إظهاراً للحكمة والأدوية أسباب مسخرة بحكم الله تعالى كسائر الأسباب فكما أن الخبز دواء الجوع والماء دواء العطش فالسكنجبين دواء الصفراء والسقمونيا دواء الإسهال لا يفارقه إلا في أحد أمرين ﴿أحدهما﴾ أن معالجة الجوع والعطش بالماء والخبز جلي واضح يدركه كافة الناس ومعالجة الصفراء بالسكنحبين يدركه بعض الخواص فمن أدرك ذلك بالتجربة التحق في حقه بالأول والثاني آن الدواء يسهل والسكنجبين يسكن الصفراء بشروط أخر في الباطن وأسباب في المزاج ربما يتعذر الوقوف على جميع شروطها وربما يفوت بعض الشروط فيتقاعد الدواء عن الإسهال وأما زوال العطش فلا يستدعي سوى الماء شروطاً كثيرة وقد يتفق من العوارض ما يوجب داء العطش مع كثرة شرب الماء ولكنه نادر واختلال الأسباب أبداً ينحصر في هذين الشيئين وإلا فالمسبب يتلو السبب لا محالة مهما تمت شروط السبب وكل ذلك بتدبير مسبب الأسباب وتسخيره وترتيبه بحكم حكمته وكمال قدرته فلا يضر المتوكل استعماله مع النظر إلى مسبب الأسباب دون الطبيب والدواء فقد روي عن موسى صلى ﷺ انه قال يارب ممن الداء والدواء فقال تعالى مني قال: فما يصنع الأطباء قال يأكلون أرزاقهم ويطيبون نفوس
Dan Nabi ﷺ berobat lebih dari sekali akibat sengatan kalajengking dan lainnya. Hadis: Apabila wahyu turun kepada beliau, kepala beliau terasa pusing (migrain), maka beliau melumurinya dengan inai (hinna'). (Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Ibn 'Adi dalam al-Kamil dari hadis Abu Hurairah, dan terdapat perbedaan pendapat pada sanadnya atas al-Ahwash bin Hakim). Apabila tumbuh bisul (qurhah) pada beliau, beliau membubuhkan inai di atasnya. (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibn Majah dari hadis Salma; at-Tirmidzi berkata: gharib). Dan dalam sebuah riwayat: Bahwasanya apabila tumbuh bisul pada beliau, beliau membubuhkan inai di atasnya; dan beliau pernah pula membubuhkan tanah di atas bisul yang tumbuh pada tangan beliau. Hadis: Beliau membubuhkan tanah pada bisul di tangan beliau—diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadis 'Aisyah bahwa apabila seseorang mengeluhkan sesuatu atau menderita bisul atau luka, Nabi ﷺ menggerakkan jarinya (dan Sufyan bin 'Uyainah sang perawi meletakkan telunjuknya ke tanah lalu mengangkatnya) seraya mengucapkan: "Bismillah, tanah bumi kami dan ludah sebagian kami, semoga disembuhkan orang sakit di antara kami…" Dan riwayat mengenai pengobatan beliau serta perintah beliau tentangnya sangat banyak tak terhitung, bahkan telah disusun kitab khusus mengenai hal itu yang dinamakan Thibb an-Nabi ﷺ (Kedokteran Nabi). Sebagian ulama menyebutkan dalam riwayat-riwayat Isra'iliyyat bahwa Nabi Musa 'alaihissalam pernah menderita suatu penyakit, lalu Bani Israil menjenguknya dan mengenali penyakitnya. Mereka berkata kepadanya, "Sekiranya engkau berobat dengan ini, niscaya engkau sembuh." Musa menjawab, "Aku tidak akan berobat sampai Dia menyembuhkanku tanpa obat." Maka penyakitnya berlangsung lama. Mereka berkata lagi, "Sesungguhnya obat untuk penyakit ini sudah dikenal dan teruji, dan kami pun berobat dengannya lalu sembuh." Musa tetap berkata, "Aku tidak akan berobat." Penyakitnya terus menetap, lalu Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya, "Demi Keagungan-Ku dan Keluhuran-Ku, Aku tidak akan menyembuhkanmu sampai engkau berobat dengan apa yang mereka sebutkan kepadamu." Maka Musa berkata kepada mereka, "Obatilah aku dengan apa yang kalian sebutkan!" Mereka pun mengobatinya dan ia sembuh. Namun timbul rasa ganjal dalam hatinya atas hal itu, lalu Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya: "Apakah engkau hendak membatalkan hikmah-Ku dengan tawakalmu kepada Dzat yang telah menaruh manfaat pada obat-obatan tersebut selain Aku?" Diriwayatkan dalam riwayat lain bahwa seorang nabi dari para nabi 'alaihimussalam mengeluhkan rasa sakit yang dideritanya, lalu Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya: "Makanlah telur!" Nabi yang lain mengeluhkan kelemahan tubuh, lalu Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya: "Makanlah daging bersama susu, karena pada keduanya terdapat kekuatan." (Dikatakan bahwa yang dimaksud adalah kelemahan dari berhubungan suami istri). Diriwayatkan pula bahwa suatu kaum mengeluhkan kepada nabi mereka tentang rupa anak-anak mereka yang kurang elok, lalu Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya: "Perintahkan mereka agar memberi makan wanita hamil mereka dengan buah safarjal (quince), karena ia memperelok paras anak." Dan hal itu dilakukan pada bulan ketiga dan keempat, sebab pada masa itulah Allah Ta'ala membentuk rupa janin. Dahulu mereka memberi makan buah safarjal kepada wanita hamil dan kurma basah (ruthab) kepada wanita yang baru melahirkan. Dengan ini jelaslah bahwa Sang Maha Penyebab Segala Sebab (Musabbib al-Asbab) menjalankan Sunnah-Nya dengan mengaitkan akibat (musabbabat) kepada sebab-sebab (asbab) demi menampakkan hikmah-Nya. Obat-obatan adalah sebab-sebab yang ditundukkan dengan hukum Allah Ta'ala sebagaimana sebab-sebab lainnya. Maka sebagaimana roti adalah obat bagi kelaparan dan air adalah obat bagi dahaga, maka sakanjabin (ramuan cuka-madu) adalah obat bagi empedu (shafra') dan saqamuniya (scammony) adalah obat pencahar. Hal ini tidak berbeda dari makanan dan minuman kecuali dalam salah satu dari dua hal: 1) Bahwa pengobatan lapar dan dahaga dengan air dan roti adalah hal yang amat jelas yang dipahami oleh seluruh manusia, sedangkan pengobatan penyakit empedu dengan sakanjabin hanya dipahami oleh sebagian kalangan khusus (para dokter). Maka barangsiapa memahaminya melalui pengalaman (uji coba), hal itu baginya kedudukannya menjadi sama seperti hal yang pertama. 2) Bahwa obat pencahar itu melancarkan buang air dan sakanjabin meredakan empedu dengan syarat-syarat lain secara batin (internal) dan sebab-sebab pada temperamen tubuh (mizaj) yang terkadang sulit diketahui seluruh syaratnya, atau terkadang sebagian syaratnya luput sehingga obat tersebut gagal mencahar. Sementara hilangnya dahaga tidak membutuhkan banyak syarat selain air (meskipun terkadang terjadi komplikasi yang menyebabkan dahaga terus-menerus padahal sudah banyak minum air, tetapi itu jarang terjadi). Kerusakan sebab-sebab selalu terbatas pada dua hal ini; jika tidak, maka akibat (musabbab) pasti akan menyertai sebab (sabab) selama syarat-syarat sebab tersebut terpenuhi. Dan semua itu berada di bawah pengaturan Sang Penyebab Segala Sebab (Musabbib al-Asbab), penundukan-Nya, dan penataan-Nya berdasarkan hukum hikmah-Nya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya. Maka tidak ada halangan bagi orang yang bertawakal untuk menggunakannya, selama pandangan hatinya tertuju kepada Musabbib al-Asbab, bukan kepada dokter dan obat. Sungguh telah diriwayatkan dari Nabi Musa 'alaihissalam bahwa beliau bertanya, "Wahai Rabbku, dari siapakah penyakit dan obat itu?" Allah Ta'ala berfirman: "Dari-Ku." Musa bertanya, "Lalu apa yang dilakukan para dokter?" Allah berfirman: "Mereka memakan rezeki mereka dan menyenangkan hati hamba-hamba-Ku sampai datang kesembuhan dari-Ku atau ketetapan (takdir)-Ku."
عبادي حتى يأتي شفائي أو قضائي فإذن معنى التوكل مع التداوي التوكل بالعلم والحال كما سبق في فنون الأعمال الدافعة للضرر الجالبة للنفع فأما ترك التداوي رأساً فليس شرطاً فيه
Dengan demikian, makna tawakal disertai berobat adalah bertawakal dengan ilmu dan keadaan jiwa (hal), sebagaimana telah lalu penjelasannya dalam berbagai macam perbuatan yang menolak bahaya dan menarik manfaat. Adapun meninggalkan berobat sama sekali bukanlah syarat dalam tawakal.
فإن قلت فالكي أيضاً من الأسباب الظاهرة النفع فأقول ليس كذلك إذ الأسباب الظاهرة مثل الفصد والحجامة وشرب المسهل وسقي المبردات للمحرور وأما الكي فلو كان مثلها في الظهور لما خلت البلاد الكثيرة عنه وقلما يعتاد الكي في أكثر البلاد وإنما ذلك عادة بعض الأتراك والأعراب فهذا من الأسباب الموهومة كالرقي إلا أنه يتميز عنها بأمر وهو أنه إحراق النار في الحال مع الاستغناء عنه فإنه ما من وجع يعالج بالكي إلا وله دواء يغني عنه ليس فيه إحراق فالإحراق بالنار جرح مخرب للبنية محذور السراية مع الاستغناء عنه بخلاف الفصد والحجامة فإن سرايتهما بعيدة ولا يسد مسدها غيرهما ولذلك نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عن الكي دون الرقي
Jika engkau bertanya, "Pengobatan dengan besi panas (kayy) juga termasuk sebab yang tampak jelas manfaatnya?" Maka aku jawab: Tidaklah demikian. Sebab yang tampak jelas manfaatnya itu seperti fashd (terapi kuras darah), bekam (hijamah), minum obat pencahar, dan memberi minuman penyejuk bagi orang yang menderita panas tinggi. Adapun kayy, sekiranya ia seterang hal-hal tersebut dalam kejelasannya, niscaya tidak akan banyak negeri yang meninggalkannya. Padahal kayy jarang sekali dijadikan kebiasaan di sebagian besar negeri, melainkan itu hanyalah kebiasaan sebagian orang Turki dan Arab Badui. Maka ini termasuk sebab-sebab yang bersifat andaian (mauhum) seperti ruqyah, hanya saja ia memiliki keistimewaan berbeda dari ruqyah dalam satu hal: yaitu ia merupakan pembakaran dengan api secara langsung padahal tidak terdesak membutuhkannya. Sebab tidak ada satu pun rasa sakit yang diobati dengan kayy melainkan ada obat lain yang menggantikannya tanpa mengandung unsur pembakaran. Pembakaran dengan api merupakan luka yang merusak susunan tubuh dan dikhawatirkan menjalar (menimbulkan komplikasi/infeksi), padahal ia tidak darurat dibutuhkan; berbeda halnya dengan fashd dan bekam, karena risiko menjalarnya jauh (kecil) dan tidak ada yang dapat menggantikan peran keduanya. Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ melarang kayy, bukan melarang ruqyah.
وكل واحد منهما بعيد عن التوكل وروي أن عمران بن الحصين اعتل فأشاروا عليه بالكي فامتنع فلم يزالوا به وعزم عليه الأمر حتى اكتوى فكان يقول كنت أرى نوراً وأسمع صوتاً وتسلم علي الملائكة فلما اكتويت انقطع ذلك عني وكان يقول اكتوينا كيات فوالله ما أفلحت ولا أنجحت ثم تاب من ذلك وأناب إلى الله تعالى فرد الله تعالى عليه ما كان يجد من أمر الملائكة وقال لمطرف بن عبد الله: ألم تر إلى الملائكة التي كان أكرمني الله بها قد ردها الله تعالى علي بعد أن كان أخبره بفقدها: فإذن الكي وما يجري مجراه هو الذي لا يليق بالمتوكل لأنه يحتاج في استنباطه إلى تدبير ثم هو مذموم ويدل ذلك على شدة ملاحظة الأسباب وعلى التعمق فيها والله أعلم
Masing-masing dari keduanya (kayy dan ruqyah) jauh dari hakikat tawakal. Diriwayatkan bahwa 'Imran bin Hushain menderita sakit lalu orang-orang menyarankannya untuk melakukan kayy, namun ia menolak. Mereka terus mendesaknya dan urusan itu makin mendesak hingga akhirnya ia mau di-kayy. Setelah itu ia pernah berkata, "Dahulu aku melihat cahaya, mendengar suara, dan para malaikat mengucapkan salam kepadaku. Namun tatkala aku melakukan kayy, terputuslah hal itu dariku." Beliau juga berkata, "Kami telah melakukan kayy beberapa kali, demi Allah kami tidak beruntung dan tidak sukses." Kemudian beliau bertaubat dari hal itu dan kembali kepada Allah Ta'ala, maka Allah Ta'ala mengembalikan kepadanya apa yang dahulu dirasakannya berupa perihal malaikat tersebut. Beliau berkata kepada Mutharrif bin 'Abdillah, "Tidakkah engkau melihat para malaikat yang dahulu Allah muliakan aku dengannya, kini Allah Ta'ala telah mengembalikannya kepadaku?" setelah sebelumnya beliau mengabarkan tentang hilangnya hal itu darinya. Oleh karena itu, kayy dan apa yang sejenis dengannya adalah hal yang tidak layak bagi orang yang bertawakal, karena dalam menemukannya membutuhkan pengolahan pikiran (spekulatif) kemudian ia dicela, dan hal itu menunjukkan betapa kuatnya keterikatan memperhatikan sebab-sebab serta terlalu mendalam padanya. Wallahu a'lam.
بيان أن ترك التداوي قد يحمد في بعض الأحوال ويدل على قوة التوكلوان ذلك
Penjelasan bahwa meninggalkan berobat terkadang dipuji dalam sebagian keadaan dan menunjukkan kuatnya tawakal, serta bahwa hal itu…
لا يناقض فَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
…tidak bertentangan dengan perbuatan Rasulullah ﷺ.
اعلم أن الذين تداووا من السلف لا ينحصرون ولكن قد ترك التداوي أيضاً جماعة من الأكابر فربما يظن أن ذلك نقصان لأنه لو كان كمالاً لتركه رسول الله ﷺ إذ لا يكون حال غيره في التوكل أكمل من حاله
Ketahuilah bahwa para ulama Salaf yang berobat tidaklah terhitung jumlahnya. Namun, ada pula sekelompok orang-orang besar (ulama/wali) yang meninggalkan berobat. Maka terkadang timbul persangkaan bahwa hal itu merupakan suatu kekurangan, karena sekiranya hal itu merupakan sebuah kesempurnaan, niscaya Rasulullah ﷺ telah meninggalkannya, sebab keadaan orang lain dalam bertawakal tidaklah mungkin lebih sempurna daripada keadaan beliau.
وقد رُوِيَ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ ﵁ أنه قيل له لو دعونا لك طبيباً فقال الطبيب قد نظر إلي وقال: إني فعال لما أريد
Sungguh telah diriwayatkan dari Abu Bakar as-Siddiq radhiyallahu 'anhu bahwa dikatakan kepadanya, "Sekiranya kami memanggilkan dokter untukmu…" Maka beliau menjawab, "Dokter itu telah melihatku dan berkata: 'Sesungguhnya Aku Maha Melakukan apa yang Aku kehendaki.'"
وقيل لأبي الدرداء في مرضه ما تشتكي قال ذنوبي قيل فما تشتهي قال مغفرة ربي قالوا ألا ندعو لك طبيباً قال الطبيب أمرضني وقيل لأبي ذر وقد رمدت عيناه لو داويتهما قال إني عنهما مشغول فقيل لو سألت الله تعالى أن يعافيك فقال أسأله فيما هو أهم علي منهما
Dikatakan kepada Abu ad-Darda' pada saat sakitnya, "Apa yang engkau keluhkan?" Ia menjawab, "Dosa-dosaku." Dikatakan lagi, "Lalu apa yang engkau inginkan?" Ia menjawab, "Ampunan Rabbku." Mereka berkata, "Tidakkah kami panggilkan dokter untukmu?" Ia menjawab, "Sang Dokterlah yang membuatku sakit." Dikatakan pula kepada Abu Dzar ketika kedua matanya sakit (ramad), "Sekiranya engkau mengobati keduanya…" Ia menjawab, "Sesungguhnya aku terlalu sibuk dari memikirkan keduanya." Ditanyakan lagi, "Sekiranya engkau memohon kepada Allah Ta'ala agar menyembuhkanmu?" Maka ia berkata, "Aku memohon kepada-Nya mengenai hal yang lebih penting bagiku daripada keduanya."
وكان الربيع بن خثيم أصابه فالج فقيل له لو تداويت فقال قد هممت ثم ذكرت عاداً وثمود وأصحاب الرس وقروناً بين ذلك كثيراً وكان فيهم الأطباء فهلك المداوي والمداوى ولم تغن الرقي شيئاً
Ar-Rabi' bin Khutsaim pernah tertimpa kelumpuhan (falij), lalu dikatakan kepadanya, "Sekiranya engkau berobat…" Maka ia menjawab, "Aku pernah berkeinginan demikian, kemudian aku teringat kaum 'Ad, Tsamud, para penghuni ar-Rass, serta kurun-kurun yang banyak di antara mereka; padahal di tengah mereka terdapat para dokter, namun yang mengobati dan yang diobati semuanya binasa, dan ruqyah tidak berguna sedikit pun."
وكان أحمد بن حنبل يقول أحب لمن اعتقد التوكل وسلك هذا الطريق ترك التداوي من شرب الدواء وغيره وإن كان به علل فلا يخبر المتطبب بها أيضاً إذا سأله
Imam Ahmad bin Hanbal dahulu berkata, "Aku menyukai bagi orang yang meyakini tawakal dan menempuh jalan ini untuk meninggalkan berobat, baik meminum obat maupun lainnya. Dan jika ia menderita penyakit, janganlah ia memberitahukannya pula kepada orang yang berpura-pura tahu medis (tabib) apabila tabib itu bertanya kepadanya."
وقيل لسهل متى يصح للعبد التوكل قال إذا دخل عليه الضرر في جسمه والنقص في ماله فلم يلتفت إليه شغلاً بحاله وينظر إلى قيام الله تعالى عليه
Dikatakan kepada Sahl (at-Tustari), "Kapan tawakal seorang hamba itu menjadi sah/benar?" Ia menjawab, "Apabila kemudaratan menimpa fisiknya dan kekurangan menimpa hartanya, namun ia tidak menoleh (peduli) kepadanya karena sibuk dengan keadaan jiwanya (hal), serta memandang kepada pemeliharaan (qiyam) Allah Ta'ala atas dirinya."
فإذا منهم من ترك التداوي وراءه ومنهم من كرهه ولا يتضح وجه الجمع بين فعل رسولالله ﷺ وأفعالهم إلا بحصر الصوارف عن التداوي
Maka di antara mereka ada orang yang melemparkan perihal berobat ke belakang punggungnya (meninggalkannya), dan di antara mereka ada yang membencinya. Tidak akan jelas cara mengompromikan antara perbuatan Rasulullah ﷺ dan perbuatan-perbuatan mereka melainkan dengan membatasi faktor-faktor yang memalingkan dari berobat.
فنقول إن لترك التداوي أسباباً السبب الأول أن يكون المريض من المكاشفين وقد كوشف بأنه انتهى أجله وأن الدواء لا ينفعه ويكون ذلك معلوماً عنده تارة برؤيا صادقة وتارة بحدس وظن وتارة بكشف محقق ويشبه أن يكون ترك الصديق ﵁ التداوي من هذا السبب فإنه كان من المكاشفين فإنه قال لعائشة ﵂ في أمر الميراث إنما هن أختاك وإنما كان لها أخت واحدة ولكن كانت امرأته حاملاً فولدت أنثى فعلم أنه كان قد كوشف بأنها حامل بأنثى فلا يبعد أن يكون قد كوشف أيضاً بانتهاء أجله وإلا فلا يظن به إنكار التداوي وقد شاهد رسول الله ﷺ تداوى وأمر به السبب الثاني أن يكون المريض مشغولاً بحاله وبخوف عاقبته وإطلاع الله تعالى عليه فينسيه ذلك ألم المرض فلا يتفرغ قلبه للتداوي شغلاً بحاله وعليه يدل كلام أبي ذر إذ قال إني عنهما مشغول وكلام أبي الدرداء إذ قال إنما أشتكي ذنوبي فكان تألم قلبه خوفاً من ذنوبه أكثر من تألم بدنه بالمرض ويكون هذا كالمصاب بموت عزيز من أعزته أو كالخائف الذي يحمل إلى ملك من الملوك ليقتل إذا قيل له ألا تأكل وأنت جائع فيقول أنا مشغول عن ألم الجوع فلا يكون ذلك إنكاراً لكون الأكل نافعاً من الجوع ولا طعنا فيمن اكل ويقرب من هذ اشتغال سهل حيث قيل له ما القوت فقال هو ذكر الحي القيوم فقيل إنما سألناك عن القوام فقال: القوام هو العلم قيل سألناك عن الغذاء قال الغذاء هو الذكر قيل سألناك عن طعمة الجسد قال مالك وللجسد دع من تولاه أولاً يتولاه آخراً: إذا دخل عليه علة فرده إلى صانعه أما رأيت الصنعة إذا عيبت ردوها إلى صانعها حتى يصلحها السبب الثالث أن تكون العلة مزمنة والدواء الذي يؤمر به بالإضافة إلى علته موهوم النفع جار مجرى الكي والرقية فيتركه المتوكل وإليه يشير قول الربيع بن خثيم إذ قال ذكرت عاداً وثمود وفيهم الأطباء فهلك المداوي والمداوى أي أن الدواء غير موثوق به وهذا قد يكون كذلك في نفسه وقد يكون عند المريض كذلك لقلة ممارسته للطب وقلة تجربته له فلا يغلب على ظنه كونه نافعاً ولا شك في أن الطبيب المجرب أشد اعتقادا لي الأدوية من غيره فتكون الثقة والظن بحسب الاعتقاد والاعتقاد بحسب التجربة وأكثر من ترك التداوي من العباد والزهاد هذا مستندهم لأنه يبقى الدواء عنده شيئاً موهوماً لا أصل له وذلك صحيح في بعض الأدوية عند من عرف صناعة الطب غير صحيح في البعض ولكن غير الطبيب قد ينظر إلى الكل نظراً واحداً فيرى التداوي تعمقا في الأسباب كالكي والرقي فيتركه السبب الرابع أن يقصد العبد بترك التداوي استبقاء المرض لينال ثواب المرض بحسن الصبر على بلاء الله تعالى أو ليجرب نفسه في القدرة على الصبر فقد ورد في ثواب المرض ما يكثر ذكره فقد قال ﵇ نحن معاشر الأنبياء أشد الناس بلاءً ثم الأمثل فالأمثل يبتلى العبد على قدر إيمانه فإن كان صلب الإيمان شدد عليه البلاء وإن كان في إيمانه ضعف حفف عنه البلاء حديث نحن معاشر الأنبياء أشد الناس بلاءً ثم الأمثل فالأمثل الحديث رواه أحمد وأبو يعلي والحاكم وصححه على شرط مسلم نحوه مع اختلاف وقد تقدم مختصرا ورواه الحاكم ايضا من حديث سعد بن أبي وقاص وقال صحيح على شرط الشيخين
Maka kami katakan: Sesungguhnya meninggalkan berobat itu memiliki beberapa sebab. Sebab Pertama: Pasien termasuk golongan ahlul mukasyafah (orang-orang yang dibukakan tabir gaib/kasyf), di mana telah disingkapkan kepadanya bahwa ajalnya telah tiba dan bahwasanya obat tidak lagi bermanfaat baginya. Hal itu terkadang diketahuinya melalui mimpi yang benar (ru'ya shadiqah), terkadang melalui firasat (hads) dan dugaan kuat, dan terkadang melalui kasyf yang pasti. Kemungkinan besar ditinggalkannya berobat oleh as-Siddiq radhiyallahu 'anhu adalah karena sebab ini, sebab beliau termasuk ahlul mukasyafah. Sungguh beliau pernah berkata kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha mengenai masalah warisan: "Sesungguhnya mereka itu adalah kedua saudara perempuannmu," padahal saat itu 'Aisyah hanya memiliki satu saudara perempuan. Namun istri Abu Bakar sedang hamil lalu melahirkan anak perempuan; maka diketahuilah bahwa beliau telah diberi kasyf bahwa istrinya sedang mengandung anak perempuan. Maka tidaklah jauh kemungkinan bahwa beliau juga diberi kasyf mengenai berakhirnya ajalnya; jika tidak demikian, tidak boleh disangkakan kepadanya ingkar terhadap berobat padahal beliau telah menyaksikan Rasulullah ﷺ berobat dan memerintahkannya. Sebab Kedua: Pasien berada dalam kesibukan jiwa (hal), rasa takut akan kesudahannya (khauf al-'aqibah), dan pengawasan Allah Ta'ala atas dirinya, sehingga hal itu membuatnya lupa akan rasa sakit penyakitnya. Maka hatinya tidak sempat terluang untuk berobat karena sibuk dengan keadaannya. Atas hal inilah ditunjukkan oleh perkataan Abu Dzar tatkala berkata: "Sesungguhnya aku terlalu sibuk dari memikirkan keduanya," dan perkataan Abu ad-Darda' tatkala berkata: "Aku hanyalah mengeluhkan dosa-dosaku." Rasa sakit hatinya karena takut akan dosa-dosanya lebih besar daripada rasa sakit badannya karena penyakit. Hal ini seperti orang yang tertimpa musibah kematian orang tercinta atau seperti orang yang takut yang dibawa kepada salah seorang raja untuk dihukum mati, lalu ketika dikatakan kepadanya: "Mengapa engkau tidak makan padahal engkau lapar?" Ia menjawab: "Aku terlalu sibuk hingga lupa dari rasa sakitnya lapar." Maka hal itu bukanlah bentuk pengingkaran bahwa makanan bermanfaat bagi kelaparan, dan bukan pula celaan bagi orang yang makan. Berdekatan dengan hal ini adalah kesibukan Sahl tatkala ditanyakan kepadanya: "Apakah makanan pokok (al-qut) itu?" Ia menjawab: "Mengingat Yang Mahahidup lagi Maha Mengurus (ad-Dzikr)." Dikatakan: "Kami hanyalah bertanya kepadamu tentang penopang fisik (al-qawam)." Ia menjawab: "Penopang itu adalah ilmu." Dikatakan: "Kami bertanya kepadamu tentang asupan gizi (al-ghidza')." Ia menjawab: "Asupan gizi adalah dzikir." Dikatakan: "Kami bertanya kepadamu tentang makanan jasad." Ia berkata: "Ada apa denganmu dan jasad? Biarkanlah Sang Pemilik yang mengurusnya pertama kali untuk mengurusnya pula di akhir kali. Apabila penyakit masuk ke dalamnya, kembalikanlah ia kepada Penciptanya. Tidakkah engkau lihat bahwa suatu buatan apabila rusak, mereka mengembalikannya kepada pembuatnya agar diperbaiki?" Sebab Ketiga: Penyakit tersebut bersifat menahun (kronis) dan obat yang diperintahkan untuk penyakit tersebut manfaatnya bersifat andaian (mauhum), berkedudukan sama seperti kayy dan ruqyah, sehingga orang yang bertawakal meninggalkannya. Kepada hal inilah ditunjukkan oleh perkataan ar-Rabi' bin Khutsaim tatkala ia berkata: "Aku teringat kaum 'Ad dan Tsamud, padahal di tengah mereka terdapat para dokter, lalu yang mengobati dan yang diobati semuanya binasa," yaitu bahwa obat itu tidak meyakinkan. Hal ini bisa jadi memang demikian pada hakekatnya, atau bisa jadi demikian dalam pandangan pasien karena sedikitnya pengalamannya dalam kedokteran dan kurangnya eksperimen, sehingga tidak kuat dugaan dalam pikirannya bahwa obat itu bermanfaat. Dan tidak diragukan lagi bahwa dokter yang berpengalaman lebih kuat keyakinannya terhadap obat-obatan daripada selainnya. Maka kepercayaan dan dugaan bergantung pada keyakinan, dan keyakinan bergantung pada pengalaman. Dan sebagian besar ahli ibadah dan ahli zuhud yang meninggalkan berobat, inilah yang menjadi sandaran mereka, sebab obat di mata mereka tetap merupakan sesuatu yang bersifat andaian yang tidak memiliki dasar pasti. Hal itu benar pada sebagian obat menurut orang yang mengerti ilmu kedokteran, dan tidak benar pada sebagian obat lainnya. Akan tetapi, orang yang bukan dokter terkadang memandang semuanya dengan satu pandangan saja, lalu menganggap berobat sebagai bentuk keterikatan mendalam pada sebab-sebab seperti halnya kayy dan ruqyah, sehingga ia meninggalkannya. Sebab Keempat: Hamba bermaksud dengan meninggalkan berobat untuk mempertahankan penyakit agar memperoleh pahala penyakit dengan bersabar secara baik atas cobaan Allah Ta'ala, atau untuk menguji dirinya dalam kemampuan bersabar. Sungguh telah datang riwayat mengenai pahala sakit yang sangat banyak disebutkan. Rasulullah ﷺ bersabda: "Kami para nabi adalah orang yang paling berat cobaannya, kemudian yang semisalnya lalu yang semisalnya. Seorang hamba diuji sesuai dengan kadar agamanya (imannya). Jika imannya kokoh, cobaannya diperberat; dan jika dalam imannya ada kelemahan, cobaannya diringankan." (Hadis "Kami para nabi adalah orang yang paling berat cobaannya…" diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya'la, dan al-Hakim yang mensahihkannya sesuai syarat Muslim. Hadis senada diriwayatkan pula oleh al-Hakim dari hadis Sa'ad bin Abi Waqqas dan ia berkata: Sahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim).
فمنهم من يخرج كالذهب الإبريز لا يزبد ومنهم دون ذلك ومنهم من يخرج اسود محترقا حديث إن الله تعالى يجرب عبد بالبلاء كما يجرب أحكم ذهبه الحديث رواه الطبراني من حديث أبي أمامة بسند ضعيف وقال ﷺ تحبون أن تكونوا كالحمر الضالة لا تمرضون ولا تسقمون حديث تحبون أن تكونوا كالحمر الضالة لا تمرضون ولا تسقمون أخرجه ابن ابي عاصم في الآحاد والمثاني وأبو نعيم وابن عبد البر في الصحابة والبيهقي في الشعب من حديث ابي فاطمة وهو صدر حديث ان الرجل تكون له المنزلة عند الله الحديث وقد تقدم قال ابن مسعود ﵁ تجد المؤمن أصح شيء قلباً وأمرضه جسماً وتجد المنافق أصح شئ جسماً وأمرضه قلباً فلما عظم الثناء على المرض والبلاء أحب قوم المرض واغتنموه لينالوا ثواب الصبر عليه فكان منهم من له علة يخفيها ولا يذكرها للطبيب ويقاسي العلة ويرضى بحكم الله تعالى ويعلم أن الحق أغلب على قلبه من أن يشغله المرض عنه وإنما يمنع المرض جوارحه وعلموا أن صلاتهم قعوداً مثلاً مع الصبر على قضاء الله تعالى أفضل من الصلاة قياماً مع العافية والصحة ففي الخبر إن الله تعالى يقول لملائكته: اكتبوا لعبدي الصالح ما كان يعمله فإنه في وثاقي ان أطلقته أبدلته لحماً خيراً من لحمه ودماً خير من دمه وإن توفيته توفيته إلى رحمتي حديث إن الله يقول للملائكة: اكتبو لعبدي صالح ما كان يعمل فانه في وثاقي الحديث أخرجه الطبراني من حديث عبد الله بن عمر وقد تقدم وقال ﷺ أفضل الأعمال ما أكرهت عليه النفوس حديث لا تزال الحمى والمليلة بالعبد حتى يمشي على الأرض كالبردة ما عليه خطيئة أخرجه أبو يعلي وابن عدي من حديث ابي هريرة والطبراني من حديث ابي الدرداء نحوه وقال الصداع بدل الحمى وللطبراني في الأوسط من حديث انس مثل المريض اذا صح وبرأ من مرضه كمثل البردة تقع من السماء تقع في صفائها ولونها وأسانيده ضعيفة حديث إن الله تعالى يجرب عبده بالبلاء كما يجرب احدكم ذهبه الحديث رواه الطبراني من حديث ابي امامة بسند ضعيف
Maka di antara mereka ada yang keluar seperti emas murni (ibriz) yang tidak berkerak/berkarat, di antara mereka ada yang di bawah itu, dan di antara mereka ada yang keluar dalam keadaan hitam terbakar. Hadis: "Sesungguhnya Allah Ta'ala menguji hamba-Nya dengan cobaan sebagaimana salah seorang dari kalian menguji emasnya…" (Diriwayatkan oleh at-Thabrani dari hadis Abu Umamah dengan sanad dha'if). Dan Nabi ﷺ bersabda: "Apakah kalian suka menjadi seperti keledai liar yang tersesat, tidak pernah sakit dan tidak pernah menderita?" (Hadis "Apakah kalian suka menjadi seperti keledai liar…" dikeluarkan oleh Ibn Abi 'Ashim dalam al-Ahad wa al-Matsani, Abu Nu'aim, Ibn 'Abdil Barr dalam ash-Shahabah, dan al-Baihaqi dalam asy-Syu'ab dari hadis Abu Fatima, dan itu merupakan bagian awal dari hadis: "Sesungguhnya seseorang memiliki kedudukan di sisi Allah…"). Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Engkau jumpai orang mukmin adalah orang yang paling sehat hatinya namun paling sakit jasadnya, dan engkau jumpai orang munafik adalah orang yang paling sehat jasadnya namun paling sakit hatinya." Ketika pujian atas sakit dan cobaan begitu agung, sebagian kaum menyukai sakit dan menganggapnya sebagai keuntungan demi memperoleh pahala kesabaran atasnya. Maka di antara mereka ada yang menderita penyakit namun menyembunyikannya dan tidak menceritakannya kepada dokter; ia menanggung penyakit itu, ridha dengan hukum (ketetapan) Allah Ta'ala, dan mengetahui bahwa Kebenaran (Allah) lebih menguasai hatinya daripada dipalingkan oleh rasa sakit. Penyakit itu hanya menghalangi anggota badannya (dari sebagian ibadah fisik). Mereka tahu bahwa shalat mereka dengan duduk, misalnya, disertai kesabaran atas takdir Allah Ta'ala adalah lebih utama daripada shalat dengan berdiri disertai keafiatan dan kesehatan. Dalam riwayat disebutkan: "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman kepada para malaikat-Nya: 'Catatlah untuk hamba-Ku yang shalih apa yang biasa ia amalkan, karena sesungguhnya ia berada dalam belenggu-Ku (ikatan sakit). Jika Aku membebaskannya, Aku ganti untuknya daging yang lebih baik dari dagingnya dan darah yang lebih baik dari darahnya; dan jika Aku mewafatkannya, Aku wafatkan ia menuju rahmat-Ku.'" (Hadis "Sesungguhnya Allah berfirman kepada para malaikat…" dikeluarkan oleh at-Thabrani dari hadis 'Abdullah bin 'Umar). Dan Nabi ﷺ bersabda: "Seutama-utama amalan adalah apa yang dipaksakan atas jiwa (yang dibenci oleh hawa nafsu)." Hadis: "Demam dan rasa ngilu terus-menerus menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di bumi bagaikan jubah putih bersih yang tidak ada dosa padanya." (Dikeluarkan oleh Abu Ya'la dan Ibn 'Adi dari hadis Abu Hurairah, dan at-Thabrani dari hadis Abu ad-Darda' yang semisalnya, dan ia menyebutkan 'sakit kepala' sebagai ganti 'demam'. Dan bagi at-Thabrani dalam al-Awsath dari hadis Anas: "Permisalan orang sakit apabila telah sehat dan sembuh dari sakitnya adalah seperti jubah bersih yang turun dari langit dalam hal kesucian dan warnanya." Sanad-sanadnya dha'if).
ألم كفارة يوم ولما ذكر ﷺ كفارة الذنوب بالحمى سأل زيد بن ثابت ربه ﷿ أن لا يزال محموماً فلم تكن الحمى تفارقه حتى مات ﵀ وسأل ذلك طائفة من الأنصار فكانت الحمى لا تزايلهم ولما قال ﷺ من أذهب الله كريمتيه لم يرض له ثوابا دون الجنة حديث من أذهب الله كريمتيه لم يرضى له ثواباً دون الجنة تقدم المرفوع منه دون قوله قال فلقد كان من الأنصار من يتمنى العمى وقال عيسى ﵇ لا يكون عالماً من لم يفرح بدخول المصائب والأمراض على جسده وماله لما يرجو في ذلك من كفارة خطاياه وروي أن موسى ﵇ نظر إلى عبد عظيم البلاء فقال: يا رب ارحمه فقال تعالى: كيف أرحمه فيما به أرحمه أي به أكفر ذنوبه وأزيد في درجاته السبب السادس أن يستشعر العبد في نفسه مبادىء البطر والطغيان بطول مدة الصحة فيترك التداوي خوفاً من أن يعاجله زوال المرض فتعاوده الغفلة والبطر والطغيان أو طول الأمل والتسويف في تدارك الفائت وتأخير الخيرات فإن الصحة عبارة عن قوة الصفات وبها ينبعث الهوى وتتحرك الشهوات وتدعو إلى المعاصي وأقلها أن تدعو إلى التنعم في المباحات وهو تضييع الأوقات وإهمال للربح العظيم في مخالفة النفس وملازمة الطاعات وإذا أراد الله بعبد خيراً لم يخله عن التنبه بالأمراض والمصائب ولذلك قيل لا يخلو المؤمن من علة أو قلة أو زلة
…rasa sakit menjadi penggugur dosa sehari. Dan tatkala Nabi ﷺ menyebutkan tentang pengguguran dosa melalui demam, Zaid bin Tsabit memohon kepada Rabbnya 'Azza wa Jalla agar ia tidak berhenti tertimpa demam, maka demam tidak pernah berpisah darinya hingga ia wafat rahmatullah 'alaih. Sekelompok kaum Anshar pun memohon hal itu, maka demam tidak pernah meninggalkan mereka. Dan tatkala Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang kedua mata (kekasihnya) dihilangkan oleh Allah, maka Allah tidak ridha baginya pahala selain surga." (Hadis "Barangsiapa yang kedua matanya dihilangkan oleh Allah…" telah berlalu riwayat marfu'-nya tanpa ucapan perawi) perawi berkata: Maka sungguh ada di antara kaum Anshar yang berharap menjadi buta. Nabi 'Isa 'alaihissalam berkata: "Tidaklah menjadi seorang alim (orang berilmu) orang yang tidak bergembira atas masuknya musibah dan penyakit pada jasad dan hartanya, karena apa yang diharapkannya dalam hal itu berupa pengguguran dosa-dosanya." Diriwayatkan bahwa Musa 'alaihissalam memandang kepada seorang hamba yang sangat besar cobaannya, lalu ia berkata: "Wahai Rabbku, kasihanilah dia!" Maka Allah Ta'ala berfirman: "Bagaimana Aku merahmatinya dalam hal yang dengannya Aku justru merahmatinya?" —yaitu dengannya Aku mengampuni dosa-dosanya dan menambah derajatnya. Sebab Keenam: Hamba merasakan dalam dirinya benih-benih keangkuhan (bathar) dan pembangkangan (thughyan) akibat lamanya masa sehat. Maka ia meninggalkan berobat karena takut hilangnya penyakit menyergapnya secara cepat lalu melanda kembali kelalaian, keangkuhan, pembangkangan, atau angan-angan panjang (thul al-amal) dan menunda-nunda (taswif) dalam menyusul amalan yang terluput serta melambatkan kebaikan-kebaikan. Sebab kesehatan merupakan ungkapan dari kuatnya sifat-sifat jasmani, dan dengannya hawa nafsu terpicu, syahwat tergerak, serta mengundang kepada maksiat. Yang paling ringannya adalah mengundang untuk bersenang-senang dalam hal-hal yang mubah, padahal itu merupakan penyia-nyiaan waktu dan pengabaian terhadap keuntungan agung dalam menentang nafsu serta melanggengkan ketaatan. Dan apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia tidak membiarkannya luput dari kesadaran melalui penyakit dan musibah. Oleh karena itulah dikatakan: "Seorang mukmin tidak pernah lepas dari penyakit ('illah), kemelaratan (qillah), atau kekhilafan (zillah)."
وقد روى وقد روي أن الله تعالى يقول: الفقر سجني والمرض قيدي أحبس به من أحب من خلقي فإذا كان في المرض حبس عن الطغيان وركوب المعاصي فأي خير يزيد عليه ولم ينبغ أن يشتغل بعلاجه من يخاف ذلك على نفسه فالعافية في ترك المعاصي فقد قال بعض العارفين لإنسان كيف كنت بعدي قال في عافية قال إن كنت لم تعص الله ﷿ فأنت في عافية وإن كنت قد عصيته فأي داء أدوأ من المعصية ما عوفي من عصى الله وقال علي كرم الله وجهه لما رأى زينة النبط بالعراق في يوم عيد ما هذا الذي أظهروه قالوا: يا أمير المؤمنين هذا يوم عيد لهم فقال: كل يوم لا يعصى الله ﷿ فيه فهو لنا عيد وقال تعالى من بعد ما أراكم ما تحبون قيل العوافي إن الإنسان ليطغى أن رآه استغنى وكذلك إذا استغنى بالعافية قال بعضهم: إنما قال فرعون: أنا ربكم الأعلى لطول العافية لأنه لبث أربعمائة سنة لم يصدع له رأس ولم يحم له جسم ولم يضرب عليه عرق فادعى الربوبية لعنه الله ولو أخذته الشقيقة يوماً لشغلته عن الفضول فضلاً عن دعوى الربوبية وقال ﷺ أكثروا من ذكر هاذم اللذات حديث اكثروا ذكر هاذم اللذات أخرجه الترمذي وقال: حسن غريب والنسائي وابن ماجه من حديث أبي هريرة وقد تقدم // وقيل: الحمى رائد الموت فهو مذكر له ودافع للتسويف
Dan sungguh telah diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala berfirman: "Kefakiran adalah penjara-Ku dan penyakit adalah belenggu-Ku; Aku menahan dengannya orang yang Aku cintai dari makhluk-Ku." Maka apabila dalam penyakit terdapat penahanan dari pembangkangan dan melakukan maksiat, kebaikan mana lagi yang melebihinya? Dan tidak sewajarnya orang yang mengkhawatirkan hal itu atas dirinya disibukkan dengan mengobatinya. Sebab keafiatan yang sejati terletak pada meninggalkan maksiat. Sungguh sebagian ahli ma'rifat ('arifin) pernah berkata kepada seseorang, "Bagaimana keadaanmu sepeninggalku?" Orang itu menjawab, "Dalam keafiatan." Maka beliau berkata, "Jika engkau tidak bermaksiat kepada Allah 'Azza wa Jalla, maka engkau berada dalam keafiatan. Namun jika engkau telah bermaksiat kepada-Nya, maka penyakit manakah yang lebih parah daripada maksiat? Tidaklah dianggap sehat/afiat orang yang bermaksiat kepada Allah." Dan Ali karramallahu wajhah berkata tatkala melihat perhiasan kaum Nabath di Irak pada hari raya, "Apakah ini yang mereka tampakkan?" Mereka menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, ini adalah hari raya bagi mereka." Maka beliau berkata, "Setiap hari yang tidak ada maksiat kepada Allah 'Azza wa Jalla di dalamnya, maka hari itu adalah hari raya bagi kita." Dan Allah Ta'ala berfirman: "…setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai…" (QS. Ali 'Imran: 152) —dikatakan bahwa yang dimaksud adalah keafiatan-keafiatan. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup (QS. Al-'Alaq: 6-7), dan demikian pula apabila ia merasa cukup dengan keafiatan. Sebagian ulama berkata: "Sesungguhnya Fir'aun hanya berani berkata: 'Akulah tuhanmu yang paling tinggi' disebabkan oleh lamanya keafiatan yang dialaminya. Karena ia tinggal selama 400 tahun tanpa pernah merasa sakit kepala, tidak pernah demam fisiknya, dan tidak pernah berdenyut (sakit) pembuluh darahnya, sehingga ia mengklaim ketuhanan—laknatullah 'alaih. Sekiranya ia tertimpa sakit kepala sebelah (migrain) sehari saja, niscaya hal itu akan menyibukkannya dari perbuatan sia-sia, apalagi dari mengklaim ketuhanan." Dan Nabi ﷺ bersabda: "Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan (kematian)!" (Hadis "Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan…" dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dan ia berkata: hasan gharib, serta an-Nasa'i dan Ibn Majah dari hadis Abu Hurairah). Dan dikatakan: Demam adalah utusan kematian, maka ia adalah pengingat baginya dan pendorong untuk meninggalkan penundaan amalan (taswif).
وقال تعالى أولا يرون أنهم يفتنون في كل عام مرة أو مرتين ثم لا يتوبون ولا هم يذكرون قيل يفتنون بأمراض يختبرون بها ويقال إن العبد إذا مرض مرضتين ثم لم يتب قال له ملك الموت: يا غافل جاءك مني رسول بعد رسول فلم تجب
Allah Ta'ala berfirman: "Tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali dalam setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertobat dan tidak pula mengambil pelajaran?" (QS. At-Taubah: 126). Dikatakan bahwa mereka diuji dengan penyakit-penyakit yang dijadikan sarana cobaan bagi mereka. Dikatakan pula bahwa apabila seorang hamba ditimpa sakit sebanyak dua kali namun belum juga bertobat, Malaikat Maut akan berkata kepadanya: "Wahai orang yang lalai, telah datang kepadamu utusan demi utusan dariku, namun engkau tidak juga menyambutnya!"
وقد كان السلف لذلك يستوحشون إذا خرج عام ولم يصابوا فيه بنقص في نفس أو مال وقالوا لا يخلو المؤمن في كل أربعين يوماً أن يروع روعة أو يصاب ببلية حتى روي أن عمار بن ياسر تزوج امرأة فلم تكن تمرض فطلقها وأن النبي ﷺ عرض عليه امرأة فحكي من وصفها حتى هم أن يتزوجها فقيل وإنها ما مرضت قط فقال لا حاجة لي فيها حديث ذكر رسول الله ﷺ الأمراض والأوجاع كالصداع وغير فقال رجل وما الصداع ما أعرفه فقال إليك عنى الحديث رواه أبو داود من حديث عارم البرام أخي الحضر بنوه وفي إسناده من لم يسم لأنه ورد في الخبر الحمى حظ كل مؤمن من النار حديث الحمى حظ كل مؤمن من النار رواه البزار من حديث عائشة وأحمد ومن حديث عائشة وأحمد من حديث أبي أمامة والطبراني في الأوسط من حديث أنس وأبو منصور الديلمي في مسند الفردوس من حديث ابن مسعود وحديث أنس ضعيف وباقيها حسان وفي حديث أنس وعائشة ﵄ قيل يا رسول الله هل يكون مع الشهداء يوم القيامة غيرهم قال نعم من ذكر الموت كل يوم عشرين مرة حديث أنس وعائشة حديث أنس وعائشة قيل يا رسل الله هل يكون مع الشهداء يوم القيامة غيرهم فقال نعم من ذكر الموت كل يوم عشرين مرة لم أقف له على إسناده // وفي لفظ آخر الذي يذكر ذنوبه فتحزنه ولا شك في أن ذكر الموت على المريض أغلب فلما أن كثرت فوائد المرض رأى جماعة ترك الحيلة في زوالها إذ رأوا لأنفسهم مزيداً فيها لا من حيث رأوا التداوي نقصاناً وكيف يكون نقصاناً وقد فعل ذلك ﷺ
Oleh karena itu, para ulama Salaf merasa gelisah apabila berlalu satu tahun tanpa ditimpa musibah pada diri maupun harta mereka. Mereka berkata: "Seorang mukmin tidak akan terbebas dalam setiap empat puluh hari dari dikejutkan oleh suatu peristiwa membimbangkan atau ditimpa musibah." Sampai-sampai diriwayatkan bahwa Ammar bin Yasir menikahi seorang wanita, lalu wanita itu tidak pernah sakit, maka beliau menceraikannya. Dan bahwasanya ditawarkan kepada Nabi ﷺ seorang wanita, lalu diceritakan tentang sifat-sifatnya hingga beliau berniat menikahnya, tetapi dikatakan: "Sesungguhnya wanita itu tidak pernah sakit sama sekali." Maka beliau bersabda: "Aku tidak berminat padanya." [Hadis: Rasulullah ﷺ menyebutkan penyakit-penyakit dan rasa sakit seperti pusing dan lainnya, lalu seorang lelaki bertanya: "Apakah pusing itu? Aku tidak mengenalnya." Maka beliau bersabda: "Pergilah dariku." Hadis diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadis Arim al-Barram saudara al-Hadhr, dan dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak disebutkan namanya], karena telah disebutkan dalam khabar: "Demam adalah bagian setiap mukmin dari neraka." [Hadis: "Demam adalah bagian setiap mukmin dari neraka" diriwayatkan oleh al-Bazzar dari hadis Aisyah, Ahmad dari hadis Aisyah dan Abu Umamah, at-Thabrani dalam al-Ausat dari hadis Anas, dan Abu Manshur ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaws dari hadis Ibn Mas'ud; hadis Anas dha'if sedangkan selebihnya hasan]. Dalam hadis Anas dan Aisyah radhiyallahu 'anhuma ditanyakan: "Wahai Rasulullah, apakah ada orang yang dibangkitkan bersama para syuhada pada hari kiamat selain mereka?" Beliau menjawab: "Ya, orang yang mengingat kematian dalam sehari sebanyak dua puluh kali." [Hadis Anas dan Aisyah: Ditanyakan: "Wahai Rasulullah, apakah ada orang yang bersama para syuhada kelak pada hari kiamat?" Beliau menjawab: "Ya, orang yang mengingat kematian…" Saya (al-Iraqi) tidak menemukan sanad baginya]. Dalam lafaz lain: "…orang yang mengingat dosa-dosanya lalu hal itu membuatnya bersedih." Tidak diragukan lagi bahwa mengingat kematian lebih dominan pada diri orang yang sakit. Ketika faedah-faedah dari sakit itu demikian banyak, sekelompok ulama memandang perlu meninggalkan rekayasa (ikhtiar pengobatan) untuk menghilangkan penyakit tersebut, karena mereka melihat adanya nilai tambah spiritual bagi diri mereka dengannya, bukan karena mereka menganggap berobat sebagai sebuah kekurangan. Bagaimana mungkin berobat dianggap kekurangan padahal hal itu pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ?