الشطر الثاني من الكتاب في الزهد

بيان علامات الزهد

بيان علامات الزهد

بيان علامات الزهد

Penjelasan tentang Tanda-Tanda Zuhud

اعلم أَنَّهُ قَدْ يُظَنُّ أَنَّ تَارِكَ الْمَالِ زَاهِدٌ وَلَيْسَ كَذَلِكَ

Ketahuilah bahwa kerap disangka bahwa orang yang meninggalkan harta adalah seorang yang *zahid*, padahal tidaklah demikian.

فَإِنَّ تَرْكَ الْمَالِ وَإِظْهَارَ الْخُشُونَةِ سهل على من أحب المدح بالزهد فكم من الرهابين من ردوا أنفسهم كل يوم إلى قدر يسير من الطعام ولازموا ديراً لا باب له وإنما مسرة أحدهم معرفة الناس حاله ونظرهم إليه ومدحهم له فذلك لا يدل على الزهد دلالة قاطعة بل لا بد من الزهد في المال والجاه جميعاً حتى يكمل الزهد في جميع حظوظ النفس من الدنيا بل قد يدعي جماعة الزهد مع لبس الأصواف الفاخرة والثياب الرفيعة كما قال الخواص في وصف المدعين إذ قال وقوم ادعوا الزهد ولبسوا الفاخر من اللباس يموهون بذلك على الناس ليهدى إليهم مثل لباسهم لئلا ينظر إليهم بالعين التي ينظر بها إلى الفقراء فيحتقروا فيعطوا كما تعطى المساكين ويحتجون لنفوسهم بأتباع العلم وأنهم على السنة وأن الأشياء داخلة إليهم وهم خارجون منها وإنما يأخذون بعلة غيرهم

Sebab, meninggalkan harta dan menampakkan kesederhanaan lahiriah adalah hal yang mudah bagi orang yang menyukai pujian atas *zuhud*. Betapa banyak dari kalangan rahib yang membatasi diri mereka setiap hari pada kadar makanan yang sangat sedikit dan menetap di biara yang tidak berpintu, padahal kebahagiaan salah seorang dari mereka hanyalah pengetahuan manusia tentang keadaannya, pandangan manusia kepadanya, dan pujian manusia terhadapnya. Maka hal itu tidak menunjukkan atas *zuhud* dengan petunjuk yang pasti, melainkan harus ada *zuhud* terhadap harta dan kedudukan secara bersama-sama hingga sempurna *zuhud* dalam seluruh bagian kesenangan nafsu dari dunia. Bahkan sekelompok orang mengaku berzuhud padahal mengenakan wol/kain sufi (*shuf*) yang mewah dan pakaian yang bernilai tinggi, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Khawwash dalam menyifati orang-orang yang mengaku-aku tersebut, beliau berkata: "Dan sekelompok orang mengklaim *zuhud* namun mengenakan pakaian yang mewah, mereka mengelabui manusia dengan hal itu agar dihadiahkan kepada mereka pakaian yang serupa, supaya mereka tidak dipandang dengan pandangan yang digunakan untuk memandang orang-orang fakir sehingga mereka dihina lalu diberi sebagaimana diberikannya orang-orang miskin. Mereka berhujah untuk diri mereka sendiri dengan merasa mengikut ilmu dan bahwa mereka berada di atas Sunnah, serta bahwa harta benda itu masuk kepada mereka sedangkan diri mereka keluar darinya (tidak terikat), dan sesungguhnya mereka mengambil harta itu demi kepentingan orang lain."

هذا إذا طولبوا بالحقائق وألجئوا إلى المضايق وكل هؤلاء أكلة الدنيا بالدين لم يعنوا بتصفية أسرارهم ولا بتهذيب أخلاق نفوسهم فظهرت عليهم صفاتهم فغلبتهم فادعوها حالاً لهم فهم مائلون إلى الدنيا متبعون الهوى

Hal ini terjadi apabila mereka dituntut dengan hakikat-hakikat kebenaran dan didesak ke dalam kesempitan hujah. Mereka semua itu adalah para pemakan dunia dengan alat agama, mereka tidak memedulikan penyucian hati nurani (*asrar*) mereka dan tidak pula pembersihan akhlak jiwa mereka. Maka nampaklah pada diri mereka sifat-sifat buruk mereka lalu menguasai mereka, kemudian mereka mengklaimnya sebagai *hal* (keadaan spiritual) bagi mereka; padahal mereka bercondong kepada dunia dan mengikuti hawa nafsu.

فهذا كله كلام الخواص ﵀ فإذن معرفة الزهد أمر مشكل بل حال الزهد على الزاهد مشكل

Maka ini semua adalah perkataan Al-Khawwash rahimahullah. Oleh karena itu, mengenali *zuhud* merupakan perkara yang rumit, bahkan keadaan *zuhud* bagi orang yang berzuhud itu sendiri adalah hal yang pelik.

وينبغي أن يعول في باطنه على ثلاث علامات العلامة الْأُولَى أَنْ لَا يَفْرَحَ بِمَوْجُودٍ وَلَا يَحْزَنَ على مفقود كما قال تعالى لكيلا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتاكم بل ينبغي أن يكون بالضد من ذلك وهو أن يحزن بوجود المال ويفرح بفقده العلامة الثانية أن يستوي عنده ذامه ومادحه فالأول علامة الزهد في المال والثاني علامة الزهد في الجاه العلامة الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ أُنْسُهُ بِاللَّهِ تَعَالَى وَالْغَالِبُ على قلبه حلاوة الطاعة إذ لا يخلو القلب عن حلاوة المحبة إما محبة الدنيا وإما محبة الله وهما في القلب كالماء والهواء في القدح فالماء إذا دخل خرج الهواء ولا يجتمعان وكل من أنس بالله اشتغل به ولم يشتغل بغيره ولذلك قيل لبعضهم إلى ماذا أفضى بهم الزهد فقال إلى الأنس بالله فأما الأنس بالدنيا وبالله فلا يجتمعان

Dan sepatutnya ia bersandar dalam batinnya pada tiga tanda. Tanda pertama, hendaknya ia tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak berduka atas apa yang hilang, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." (QS. Al-Hadid: 23). Bahkan sepatutnya ia berada pada kebalikan dari itu, yaitu berduka dengan adanya harta dan bergembira dengan ketiadaannya. Tanda kedua, hendaknya sama saja baginya antara orang yang mencelanya dan orang yang memujinya. Maka hal pertama adalah tanda *zuhud* pada harta, dan hal kedua adalah tanda *zuhud* pada kedudukan (*jah*). Tanda ketiga, hendaknya rasa tenteram (*uns*)-nya adalah bersama Allah Ta'ala dan yang mendominasi atas hatinya adalah kemanisan ketaatan. Sebab, hati tidak pernah kosong dari kemanisan cinta, adakalanya cinta dunia dan adakalanya cinta Allah; dan keduanya di dalam hati bagaikan air dan udara di dalam cangkir, apabila air masuk maka udara keluar, dan keduanya tidak dapat menyatu. Setiap orang yang tenteram bersama Allah, ia akan sibuk dengan-Nya dan tidak sibuk dengan selain-Nya. Oleh karena itu, dikatakan kepada sebagian ulama: "Sampai manakah *zuhud* itu membawa mereka?" Maka ia menjawab: "Sampai pada rasa tenteram bersama Allah." Adapun rasa tenteram bersama dunia dan bersama Allah, keduanya tidak dapat menyatu.

وقد قال أهل المعرفة إذا تعلق الإيمان بظاهر القلب أحب الدنيا والآخرة جميعاً وعمل لهما وإذا بطن الإيمان في سويداء القلب وباشره أبغض الدنيا فلم ينظر إليها ولم يعمل لها ولهدا ورد في دعاء آدم عليه السلام

Para ahli makrifat telah berkata, "Jika iman baru bergantung pada bagian luar hati, seseorang akan mencintai dunia dan akhirat sekaligus serta beramal untuk keduanya. Namun, jika iman telah meresap ke dalam lubuk hati yang paling dalam (suwaida' al-qalb) dan menyatu dengannya, ia akan membenci dunia sehingga tidak lagi memandangnya dan tidak beramal untuknya." Oleh karena itulah, tersebut dalam doa Nabi Adam 'alaihissalam:

اللهم إني أسألك إيماناً يباشر قلبي

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keimanan yang menyatu dan meresap langsung ke dalam hatiku."

وقال أبو سليمان من شغل بنفسه شغل عن الناس وهذا مقام العاملين ومن شغل بربه شغل عن نفسه وهذا مقام العارفين

Abu Sulaiman berkata, "Barang siapa yang disibukkan oleh pembenahan dirinya, niscaya ia akan berpaling dari kesibukan dengan manusia; dan ini adalah maqam para 'amilin (orang-orang yang beramal). Barang siapa yang disibukkan oleh Rabbnya, niscaya ia akan berpaling dari kesibukan dengan dirinya sendiri; dan ini adalah maqam para 'arifin (orang-orang yang mengenal Allah)."

والزاهد لا بد وأن يكون في أحد هذين المقامين ومقامه الأول أن يشغل نفسه بنفسه وعند ذلك يستوي عنده المدح والذم والوجود والعدم ولا يستدل بإمساكه قليلاً من المال على فقد زهده أصلاً

Seorang zahid pasti berada di salah satu dari kedua maqam ini. Maqamnya yang pertama adalah disibukkannya dirinya dengan pembenahan dirinya sendiri, dan pada kondisi itu baginya sama saja antara pujian dan celaan, serta antara keberadaan dan ketiadaan (harta). Serta ditahannya sedikit harta olehnya tidak dapat dijadikan petunjuk sama sekali atas hilangnya sifat zuhud darinya.

قال ابن أبي الحواري قلت لأبي سليمان أكان داود الطائي زاهداً قال نعم قلت قد بلغني أنه ورث عن أبيه عشرين ديناراً فأنفقها في عشرين سنة فكيف كان زاهداً وهو يمسك الدنانير فقال أردت منه أن يبلغ حقيقة الزهد وأراد بالحقيقة الغاية فإن الزهد ليس له غاية لكثرة صفات النفس

Ibn Abil Hawari berkata: Aku bertanya kepada Abu Sulaiman, "Apakah Dawud ath-Tha'i seorang yang zahid?" Ia menjawab, "Ya." Aku berkata, "Telah sampai berita kepadaku bahwa ia mewarisi dari ayahnya dua puluh dinar, lalu ia menafkahkannya selama dua puluh tahun. Bagaimana bisa ia seorang zahid padahal ia menyimpan dinar-dinar tersebut?" Abu Sulaiman menjawab, "Engkau menginginkan darinya untuk mencapai hakikat zuhud yang sempurna." Yang ia maksud dengan hakikat di sini adalah puncak akhir, padahal zuhud itu tidak memiliki batas akhir karena banyaknya sifat-sifat nafsu.

ولا يتم الزهد إلا بالزهد في جميعها فكل من ترك من الدنيا شيئاً مع القدرة عليه خوفاً على قلبه وعلى دينه فله مدخل في الزهد بقدر ما تركه وآخره أن يترك كل ما سوى الله حتى لا يتوسد حجراً كما فعله المسيح ﵇ فنسأل الله تعالى أن يرزقنا من مباديه نصيباً وإن قل فإن أمثالنا لا يستجرىء على الطمع في غاياته وإن كان قطع الرجاء عن فضل الله غير مأذون فيه وإذا لاحظنا عجائب نعم الله تعالى علينا علمنا أن الله تعالى لا يتعاظمه شيء فلا بعد في أن نعظم السؤال اعتماداً على الجود المجاوز لكل كمال

Zuhud tidak akan sempurna kecuali dengan berzuhud pada seluruh sifat-sifat nafsu tersebut. Maka setiap orang yang meninggalkan sesuatu dari dunia padahal ia mampu menguasainya karena mengkhawatirkan hati dan agamanya, maka ia telah memiliki bagian dalam zuhud sesuai kadar yang ditinggalkannya. Puncak akhirnya adalah ia meninggalkan segala sesuatu selain Allah, hingga ia tidak berbantalkan sebuah batu pun sebagaimana yang dilakukan al-Masih (Nabi Isa) 'alaihissalam. Kita memohon kepada Allah Ta'ala agar menganugerahkan kepada kita bagian dari permulaan-permulaan zuhud meskipun sedikit, sebab orang-orang seperti kita tidak akan berani berharap untuk mencapai puncak-puncaknya, meskipun memutus harapan dari karunia Allah itu tidak diperbolehkan. Dan apabila kita memperhatikan keajaiban nikmat-nikmat Allah Ta'ala atas kita, kita menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang terlalu besar bagi Allah Ta'ala, maka tidaklah jauh (mustahil) bagi kita untuk membesarkan permohonan dengan bersandar pada kemurahan-Nya yang melampaui segala kesempurnaan.

فإذن علامة الزهد استواء الفقر والغنى والعز والذل والمدح والذم وذلك لغلبة الأنس بالله

Dengan demikian, tanda zuhud adalah sama saja (dalam pandangannya) antara kemiskinan dan kekayaan, kemuliaan dan kehinaan, serta pujian dan celaan; yang demikian itu dikarenakan dominasi rasa tenteram (al-uns) bersama Allah.

ويتفرع عن هذه العلامات علامات أخرى لا محالة مثل أن يترك الدنيا ولا يبالي من أخذها

Dan niscaya bercabang pula dari tanda-tanda ini tanda-tanda lainnya, seperti ia meninggalkan dunia dan tidak memedulikan siapa yang mengambilnya.

وقيل علامته أن يترك الدنيا كما هي فلا يقول أبني رباطاً أو أعمر مسجداً

Ada pula yang berpendapat bahwa tandanya adalah ia meninggalkan dunia sebagaimana adanya, sehingga ia tidak mengatakan, "Aku akan membangun ribath (pesantren/tempat ibadah)" atau "Aku akan memakmurkan masjid."

وقال يحيى بن معاذ علامة الزهد السخاء بالموجود

Yahya bin Mu'adz berkata, "Tanda zuhud adalah kedermawanan dengan apa yang ada."

وقال ابن خفيف علامته وجود الراحة في الخروج من الملك وقال أيضاً الزهد هو عزوف النفس عن الدنيا بلا تكلف

Ibn Khafif berkata, "Tandanya adalah mendapati ketenangan dalam melepaskan kepemilikan." Ia juga berkata, "Zuhud adalah keberpalingan jiwa dari dunia tanpa dipaksakan (bila takalluf)."

وقال أبو سليمان الصوف علم من أعلام الزهد فلا ينبغي أن يلبس صوفاً بثلاثة دراهم وفي قلبه رغبة خمسة دراهم

Abu Sulaiman berkata, "Pakaian wol (ash-shuf) merupakan salah satu simbol zuhud, maka tidak selayaknya seseorang mengenakan wol seharga tiga dirham sedangkan di dalam hatinya terdapat keinginan (terhadap harta) seharga lima dirham."

وقال أحمد بن حنبل وسفيان رحمهما الله علامة الزهد قصر الأمل وقال سري لا يطيب عيش الزاهد إذا اشتغل عن نفسه ولا يطيب عيش العارف إذا اشتغل بنفسه

Ahmad bin Hanbal dan Sufyan rahimahumallah berkata, "Tanda zuhud adalah pendeknya angan-angan (qashar al-amal)." Sari as-Saqathi berkata, "Tidak akan nikmat kehidupan seorang zahid jika ia disibukkan dari membenahi dirinya sendiri, dan tidak akan nikmat kehidupan seorang 'arif jika ia disibukkan dengan dirinya sendiri."

وقال النصراباذي الزاهد غريب في الدنيا والعارف غريب في الآخرة

An-Nashrabadzi berkata, "Seorang zahid adalah orang asing di dunia, sedangkan seorang 'arif adalah orang asing di akhirat."

وقال يحيى بن معاذ علامة الزهد ثلاث عمل بلا علاقة وقول بلا طمع وعز بلا رياسة وقال أيضاً الزاهد لله يسعطك الخل والخردل والعارف يشمك المسك والعنبر

Yahya bin Mu'adz berkata, "Tanda zuhud ada tiga: beramal tanpa keterikatan (duniawi), berkata tanpa ketamakan, dan kemuliaan tanpa kepemimpinan." Ia juga berkata, "Seorang zahid karena Allah itu seperti menyemburkan cuka dan biji sawi ke hidungmu (memberikan teguran keras), sedangkan seorang 'arif seperti membuatmu menghirup wewangian kasturi dan ambar."

وقال له رجل متى أدخل حانوت التوكل وألبس رداء الزهد وأقعد مع الزاهدين فقال إذا صرت من رياضتك لنفسك في السر إلى حد لو قطع الله عنك الرزق ثلاثة أيام لم تضعف في نفسك فأما ما لم تبلغ هذه الدرجة فجلوسك على بساط الزاهدين جهل ثم لا آمن عليك أن تفتضح وقال أيضاً الدنيا كالعروس ومن يطلبها ما شطتها والزاهد فيها يسخم وجهها وينتف شعرها ويخرق ثوبها والعارف يشتغل بالله تعالى ولا يلتفت إليها

Seseorang bertanya kepadanya, "Kapan aku bisa memasuki kedai tawakal, mengenakan jubah zuhud, dan duduk bersama orang-orang zahid?" Ia menjawab, "Jika dari latihan jiwamu (riyadhah) secara rahasia engkau mencapai tingkat di mana sekiranya Allah memutus rezekimu selama tiga hari engkau tidak merasa lemah dalam jiwamu. Adapun selama engkau belum mencapai derajat ini, maka dudukmu di hamparan orang-orang zahid adalah suatu kebodohan, kemudian aku khawatir aibmu akan terbongkar." Ia juga berkata, "Dunia itu bagaikan pengantin wanita, dan siapa yang mencarinya adalah periasnya; orang yang zahid padanya menorehkan arang hitam di wajahnya, mencabut rambutnya, dan merobek pakaiannya; sedangkan seorang 'arif disibukkan dengan Allah Ta'ala dan tidak menoleh sedikit pun kepadanya."

وقال السري مارست كل شيء من أمر الزهد فنلت منه ما أريد إلا الزهد في الناس فإني لم أبلغه ولم أطقه

As-Sari berkata, "Aku telah melatih diri dalam segala hal dari urusan zuhud, lalu aku memperoleh apa yang kuinginkan darinya, kecuali zuhud dari (ketergantungan pada) manusia, karena sesungguhnya aku belum mencapainya dan tidak sanggup melakukannya."

وقال الفضيل ﵀ جعل الله الشر كله في بيت وجعل مفتاحه حب الدنيا وجعل الخير كله في بيت وجعل مفتاحه الزهد في الدنيا

Al-Fudhayl radhiyallahu 'anhu berkata, "Allah menjadikan seluruh keburukan di dalam sebuah rumah dan menjadikan kuncinya adalah cinta dunia, serta Allah menjadikan seluruh kebaikan di dalam sebuah rumah dan menjadikan kuncinya adalah zuhud terhadap dunia."

فهذا ما أردنا أن نذكره من حقيقة الزهد وأحكامه وإذا كان الزهد لا يتم إلا بالتوكل فلنشرع في بيانه إن شاء الله تعالى

Inilah apa yang hendak kami sebutkan mengenai hakikat zuhud dan hukum-hukumnya. Dan karena zuhud tidak akan sempurna melainkan dengan tawakal, maka marilah kita mulai menguraikan penjelasannya, insya Allah Ta'ala.