الشطر الثاني من الكتاب في الزهد

بيان فضيلة الزهد

بيان فضيلة الزهد

بيان فضيلة الزهد

Penjelasan Keutamaan Zuhud

قال الله تعالى فخرج على قومه في زينته إلى قوله

Allah Ta'ala berfirman: "Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya…" hingga firman-Nya

تعالى وقال الذين أوتوا العلم ويلكم ثواب الله خير لمن آمن فنسب الزهد إلى العلماء ووصف أهله بالعلم وهو غاية الثناء وَقَالَ تَعَالَى أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صبروا وجاء في التفسير على الزهد في الدنيا وقال ﷿ إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لنبلوهم أيهم أحسن عملاً قيل معناه أيهم أزهد فيها فوصف الزهد بأنه من أحسن الأعمال وَقَالَ تَعَالَى مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخرة من نصيب وقال تَعَالَى وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فيه ورزق ربك خير وأبقى وقال تعالى الذين يستحبون الحياة الدنيا على الآخرة فوصف الكفار بذلك فمفهومه أن المؤمن هو الذي يتصف بنقيضه وهو أن يستحب الآخرة على الحياة الدنيا

Ta'ala: "Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: Celakalah kamu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman." Maka Allah menisbatkan zuhud kepada para ulama dan menyifati ahlinya dengan ilmu, dan itu merupakan puncak pujian. Dan Allah Ta'ala berfirman: "Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka." Dan disebutkan dalam tafsir bahwa kesabaran itu adalah zuhud terhadap dunia. Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." Dikatakan maknanya adalah: siapa di antara mereka yang paling zuhud padanya. Maka zuhud disifati sebagai bagian dari sebaik-baik perbuatan. Dan Allah Ta'ala berfirman: "Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan janganlah kamu tunjukkan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal." Dan Allah Ta'ala menyifati orang-orang kafir dengan firman-Nya: "Orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada akhirat." Maka Allah menyifati orang-orang kafir dengan hal tersebut, yang pemahamannya (mafhum-nya) menunjukkan bahwa orang mukmin adalah orang yang disifati dengan kebalikannya, yaitu lebih menyukai akhirat daripada kehidupan dunia.

وأما الأخبار فما ورد منها في ذم الدنيا كثير وقد أوردنا بعضها في كتاب ذم الدنيا مع ربع المهلكات إذ حب الدنيا من المهلكات ونحن الآن نقتصر على فضيلة بغض الدنيا فإنه من المنجيات وهو المعني بالزهد وقد قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ من أصبح وهمه الدنيا شتت الله عليه أمره وفرق عليه ضيعته وجعل فقره بين عينيه ولم يأته من الدنيا إلا ما كتب له ومن أصبح وهمه الآخرة جمع الله له همه وحفظ عليه ضيعته وجعل غناه في قلبه وأتته الدنيا وهي راغمة وقال ﷺ إذا رأيتم العبد وقد أعطي صمتاً وزهداً في الدنيا فاقتربوا منه فإنه يلقى الحكمة وقال تعالى ﴿ومن يؤت الحكمة فقد أوتي خيراً كثيراً﴾ ولذلك قيل من زهد في الدنيا أربعين يوماً أجرى الله ينابيع الحكمة في قلبه وأنطق بها لسانه وعن بعض الصحابة أنه قال قلنا يا رسول الله أي الناس خير قال كل مؤمن محموم القلب صدوق اللسان قلنا يا رسول الله وما محموم القلب قال التقي النقي الذي لا غل فيه ولا غش ولا بغي ولا حسد قلنا يا رسول الله فمن على أثره قال الذي يشنأ الدنيا ويحب الآخرة ومفهوم هذا أن شر الناس الذي يحب الدنيا

Adapun hadis-hadis, maka apa yang diriwayatkan di dalamnya tentang celaan terhadap dunia sangatlah banyak, dan telah kami sebutkan sebagian darinya dalam Kitab Celaan Dunia pada seperempat bagian yang membinasakan (Rub' Al-Muhlikat), sebab cinta dunia termasuk hal-hal yang membinasakan. Sekarang kita membatasi diri pada keutamaan membenci dunia, karena ia termasuk hal-hal yang menyelamatkan (Al-Munjiyat), dan itulah yang dimaksud dengan zuhud. Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Barang siapa yang memasuki pagi hari dengan perhatian utamanya pada dunia, niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya, mencerai-beraikan penghidupannya, dan menjadikan kefakirannya di depan matanya, serta dunia tidak akan mendatanginya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barang siapa yang memasuki pagi hari dengan perhatian utamanya pada akhirat, niscaya Allah akan menghimpunkan urusannya, menjaga penghidupannya, menjadikan kekayaannya di dalam hatinya, serta dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk." Dan Nabi ﷺ bersabda: "Apabila kamu melihat seorang hamba telah dikaruniai sifat pendiam dan zuhud terhadap dunia, maka mendekatlah kepadanya, karena sesungguhnya ia mendapati hikmah." Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, sesungguhnya ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak." Oleh karena itu dikatakan: Barang siapa yang zuhud terhadap dunia selama empat puluh hari, niscaya Allah akan mengalirkan sumber-sumber hikmah di dalam hatinya dan membiarkan lidahnya mengucapkannya. Diriwayatkan dari sebagian sahabat bahwa ia berkata: Kami bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik? Beliau bersabda: "Setiap mukmin yang bersih hatinya (mahmumul qalb) lagi jujur lisannya." Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan bersih hatinya? Beliau bersabda: "Orang yang bertakwa lagi bersih, yang tidak ada kedengkian di dalamnya, tidak ada penipuan, tidak ada kezaliman, dan tidak ada rasa iri." Kami bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah yang mengiringi jejaknya? Beliau bersabda: "Orang yang membenci dunia dan mencintai akhirat." Dan pemahaman dari hal ini adalah bahwa seburuk-buruk manusia adalah orang yang mencintai dunia.

وقال ﷺ إن أردت أن يحبك الله فازهد في الدنيا فجعل الزهد سبباً للمحبة فمن أحبه الله تعالى فهو في أعلى الدرجات فينبغي أن يكون الزهد في الدنيا من أفضل المقامات ومفهومه أيضاً أن من محب الدنيا متعرض لبغض الله تعالى وفي خبر من طريق أهل البيت الزهد والورع يجولان في القلوب كل ليلة فإن صادفا قلباً فيه الإيمان والحياء أقاما فيه وإلا ارتحلا ولما قال حارثة لرسول الله ﷺ أنا مؤمن حقاً قال وما حقيقة إيمانك قال عزفت نفسي عن الدنيا فاستوى عندي حجرها وذهبها وكأني بالجنة والنار وكأني بعرش ربي بارزاً فقال ﷺ اعرفت فالزم عبد نور الله قلبه بالإيمان فانظر كيف بدأ في إظهار حقيقة الإيمان بعزوف النفس عن الدنيا وقرنه باليقين وكيف زكاه رسول الله ﷺ إذ قال عبد نور الله قلبه بالإيمان

Dan beliau ﷺ bersabda, "Jika engkau menginginkan Allah mencintaimu, maka berzuhudlah di dunia." Beliau menjadikan zuhud sebagai sebab diraihnya kecintaan Allah. Barang siapa yang dicintai oleh Allah Ta'ala, maka dia berada pada derajat yang paling tinggi. Oleh karena itu, sudah sepatutnya zuhud di dunia menjadi salah satu maqam (tingkatan spiritual) yang paling utama. Pemahaman sebaliknya (mafhum) dari hal ini adalah bahwa barang siapa mencintai dunia, maka dia menanggung kemurkaan Allah Ta'ala. Dalam sebuah riwayat melalui jalur Ahlul Bait disebutkan: "Zuhud dan wara' mengelilingi hati setiap malam. Jika keduanya menemukan hati yang di dalamnya terdapat iman dan rasa malu, maka keduanya menetap di sana; jika tidak, keduanya akan pergi." Ketika Haritsah berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Aku benar-benar seorang mukmin sejati," beliau bertanya, "Apakah hakikat imanmu?" Haritsah menjawab, "Jiwaku telah berpaling dari dunia, sehingga bagiku batu dan emasnya terasa sama saja. Dan seolah-olah aku melihat surga dan neraka, serta seolah-olah aku melihat 'Arsy Tuhanku nampak jelas." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Engkau telah mengenalnya (hakikat iman), maka pegang teguhlah! Seorang hamba yang hatinya telah diterangi oleh Allah dengan keimanan." Perhatikanlah bagaimana beliau memulai penjelasannya tentang hakikat keimanan dengan berpalingnya jiwa dari dunia dan menyandingkannya dengan keyakinan (yaqin), serta bagaimana Rasulullah ﷺ memujinya ketika bersabda, "Seorang hamba yang hatinya telah diterangi oleh Allah dengan keimanan."

ولما سئل رسول الله ﷺ عن معنى الشرح في قوله تعالى فمن يرد الله أن يهديه يشرح صدره للإسلام وقيل له ما هذا الشرح قال إن النور إذا دخل في القلب انشرح له الصدر وانفسح قيل يا رسول الله وهل لذلك من علامة قال نعم التجافي عن دار الغرور والإنابة إلى دار الخلود والاستعداد للموت قبل نزوله وقد تقدم فانظر كيف جعل الزهد شرطاً للإسلام وهو التجافي عن دار الغرور وقال ﷺ استحيوا من الله حق الحياء قالوا إنا لنستحي منه تعالى فقال ليس كذلك تبنون مالا تسكنون وتجمعون مالا تأكلون فبين أن ذلك يناقض الحياء من الله تعالى ولما قدم عليه بعض الوفود قالوا إنا مؤمنون قال وما علامة إيمانكم فذكروا

Ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang makna lapang (al-syarh) dalam firman Allah Ta'ala: "Barang siapa yang Allah kehendaki untuk memberi petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam" (QS. Al-An'am: 125), dan ditanyakan kepada beliau, "Apakah yang dimaksud dengan kelapangan ini?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya cahaya itu apabila masuk ke dalam hati, maka dada akan menjadi lapang dan terbuka luas." Dikatakan, "Wahai Rasulullah, apakah hal itu memiliki tanda-tanda?" Beliau menjawab, "Ya, yaitu menjauhkan diri dari negeri tipu daya (dunia), kembali (bertobat) ke negeri kekekalan (akhirat), dan bersiap-siap menghadapi kematian sebelum kedatangannya." Hal ini telah disebutkan sebelumnya. Perhatikanlah bagaimana beliau menjadikan zuhud sebagai syarat bagi Islam, yaitu dengan menjauhkan diri dari negeri tipu daya. Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Malu-lah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." Para sahabat berkata, "Sesungguhnya kami telah merasa malu kepada-Nya, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Bukan demikian, (karena) kalian membangun apa yang tidak kalian tinggali dan mengumpulkan apa yang tidak kalian makan." Beliau menjelaskan bahwa hal tersebut bertentangan dengan rasa malu kepada Allah Ta'ala. Dan ketika datang sebuah utusan kepada beliau, mereka berkata, "Kami adalah orang-orang mukmin." Beliau bertanya, "Apakah tanda keimanan kalian?" Lalu mereka menyebutkan:

الصبر عند البلاء والشكر عند الرخاء والرضا بمواقع القضاء وترك الشماتة بالمصيبة إذا نزلت بالأعداء فقال ﷺ إن كنتم كذلك فلا تجمعوا مالا تأكلون ولا تبنوا مالا تسكنون ولا تنافسوا فيما عنه ترحلون حديث جابر من جاء بلا إله إلا الله لا يخلط معها شيئا وجبت له الجنة لم أره من حديث جابر وقد رواه الترمذي الحكيم في النوادر من حديث زيد بن أرقم بإسناد ضعيف حديث السخاء من اليقين ولا يدخل النار موقن الحديث ذكره صاحب الفردوس من حديث أبي الدرداء ولم يخرجه ولده في مسنده حديث السخي قريب من الله الحديث أخرجه الترمذي من حديث أبي هريرة وقد تقدم وَالْبُخْلُ ثَمَرَةُ الرَّغْبَةِ فِي الدُّنْيَا وَالسَّخَاءُ ثَمَرَةُ الزُّهْدِ

Sabar ketika tertimpa cobaan, bersyukur ketika mendapat kelapangan, ridha terhadap ketentuan takdir, dan tidak merasa gembira atas musibah yang menimpa musuh. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika kalian memang demikian, maka janganlah kalian mengumpulkan apa yang tidak kalian makan, janganlah kalian membangun apa yang tidak kalian tinggali, dan janganlah kalian berlomba-lomba dalam hal yang kelak akan kalian tinggalkan." Hadis Jabir: "Barang siapa yang datang membawa kalimat Laa ilaaha illallaah tanpa mencampuradukkannya dengan sesuatu pun, wajib baginya surga." (Penulis: Saya tidak menemukannya dari hadis Jabir, tetapi Al-Tirmidzi Al-Hakim telah meriwatkannya dalam Nawadir al-Ushul dari hadis Zaid bin Arqam dengan sanad yang dha'if). Hadis: "Kedermawanan adalah buah dari keyakinan (yaqin), dan orang yang yakin tidak akan masuk neraka…" Hadis ini disebutkan oleh penyusun Al-Firdaus dari hadis Abu Darda', namun putranya tidak mengeluarkannya dalam Musnadnya. Hadis: "Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah…" Hadis ini dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dari hadis Abu Hurairah dan telah disebutkan sebelumnya. Sifat kikir merupakan buah dari kecintaan (raghbah) terhadap dunia, sedangkan kedermawanan merupakan buah dari zuhud.

وَالثَّنَاءُ عَلَى الثَّمَرَةِ ثَنَاءٌ عَلَى الْمُثْمِرِ لا محالة

Pujian terhadap buah secara tidak langsung merupakan pujian terhadap pohon yang membuahkannya secara pasti.

وروي عن ابن المسيب عن أبي ذر عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أنه قال من زهد في الدنيا أدخل الله الحكمة قلبه فأنطق بها لسانه وعرفه داء الدنيا ودواءها وأخرجه منها سالماً إلى دار السلام وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ مَرَّ في أصحابه بعشار من النوق حفل وهي الحوامل وكانت من أحب أموالهم إليهم وأنفسها عندهم لأنها تجمع الظهر واللحم واللبن والوبر ولعظمها في قلوبهم قال الله تعالى ﴿وإذا العشار عطلت﴾ قال فأعرض عنها رسول الله ﷺ وغض بصره فقيل له يا رسول الله هذه أنفس أموالنا لم لا تنظر إليها فقال قد نهاني الله عن ذلك ثم تلا قوله تَعَالَى ﴿وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا به﴾ الآية وروى مسروق عن عائشة ﵂ قالت قلت يا رسول الله ألا تستطعم لله فيطعمك قالت وبكيت لما رأيت به من الجوع فقال يا عائشة والذي نفسي بيده لو سألت ربي أن يجري معي جبال الدنيا ذهباً لأجراها حيث شئت من الأرض ولكن اخترت جوع الدنيا على شبعها وفقر الدنيا على غناها وحزن الدنيا على فرحها يا عائشة إن الدنيا لا تنبغي لمحمد ولا لآل محمد يا عائشة إن الله لم يرض لأولي العزم من الرسل إلا الصبر على مكروه الدنيا والصير عن محبوبها ثم لم يرض إلا أن يكلفني ما كلفهم فقال فاصبر كما صبر أولو العزم من الرسل والله مالي بد من طاعته وإني والله لأصبرن كما صبروا بجهدي ولا قوة إلا بالله وروي عن عمر ﵁ أنه حين فتح عليه الفتوحات قالت له ابنته حفصة ﵂

Diriwayatkan dari Ibnul Musayyib, dari Abu Dzar ﵁, dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: "Barang siapa berzuhud di dunia, Allah akan memasukkan hikmah ke dalam hatinya, menjadikan lidahnya mengucapkan hikmah tersebut, memperkenalkannya pada penyakit dunia beserta obatnya, serta mengeluarkannya dari dunia dengan selamat menuju Darussalam (surga)." Diriwayatkan pula bahwa beliau ﷺ bersama para sahabatnya pernah melewati unta-unta bunting yang lebat air susunya. Unta bunting adalah harta yang paling mereka cintai dan paling berharga bagi mereka, karena menggabungkan fungsi kendaraan, daging, susu, dan bulunya. Karena besarnya nilai unta bunting tersebut di hati mereka, Allah Ta'ala berfirman: "Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus)" (QS. At-Takwir: 4). Rasulullah ﷺ pun berpaling dari unta-unta itu dan menundukkan pandangannya. Lalu dikatakan kepada beliau, "Wahai Rasulullah, ini adalah harta kami yang paling berharga, mengapa engkau tidak melihatnya?" Beliau menjawab, "Allah telah melarangku dari hal itu." Kemudian beliau membaca firman Allah Ta'ala: "Dan janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kesenangan kepadanya…" (QS. Thaha: 131) hingga akhir ayat. Masruq meriwayatkan dari 'Aisyah ﵂, ia berkata: Aku berkata, "Wahai Rasulullah, mengapakah engkau tidak memohon makanan kepada Allah agar Dia memberi makan kepadamu?" 'Aisyah berkata: Lalu aku menangis karena melihat rasa lapar yang menimpa beliau. Maka beliau bersabda, "Wahai 'Aisyah, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya aku memohon kepada Tuhanku agar mengalirkan gunung-gunung dunia menjadi emas bersamaku, niscaya Dia akan menjalankannya ke mana pun yang aku kehendaki di bumi ini. Akan tetapi, aku lebih memilih kelaparan dunia daripada kekenyangannya, kefakiran dunia daripada kekayaannya, dan kesedihan dunia daripada kesenangannya. Wahai 'Aisyah, sesungguhnya dunia ini tidak selayaknya bagi Muhammad dan tidak pula bagi keluarga Muhammad. Wahai 'Aisyah, sesungguhnya Allah tidak ridha bagi para Rasul Ulul Azmi melainkan bersabar terhadap hal-hal yang dibenci di dunia dan bersabar dari hal-hal yang disukainya. Kemudian Allah tidak ridha kecuali menugaskan kepadaku apa yang ditugaskan-Nya kepada mereka, seraya berfirman: 'Maka bersabarlah engkau sebagaimana bersabarnya rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati (Ulul Azmi)' (QS. Al-Ahqaf: 35). Demi Allah, tidak ada pilihan bagiku selain menaati-Nya, dan demi Allah, aku benar-benar akan bersabar sebagaimana mereka bersabar dengan segenap kemampuanku, dan tidak ada daya melainkan dengan pertolongan Allah." Diriwayatkan dari Umar ﵁ bahwa ketika berbagai penaklukan (futuhat) dibukakan untuknya, putrinya, Hafshah ﵂, berkata kepadanya:

البس ألين الثياب إذا وفدت عليك الوفود من الآفاق ومر بصنعة طعام تطعمه وتطعم من حضر فقال عمر يا حفصة ألست تعلمين أن أعلم الناس بحال الرجل أهل بيته فقالت بلى قال ناشدتك الله هل تعلمين أن رسول الله ﷺ لبث في النبوة كذا وكذا سنة لم يشبع هو ولا أهل بيته غدوة إلا جاعوا عشية ولا شبعوا عشية إلا جاعوا غدوة وناشدتك الله هل تعلمين أن النبي ﷺ لبث في النبوة كذا وكذا سنة لم يشبع من التمر وهو وأهله حتى فتح الله عليه خيبر وناشدتك الله هل تعلمين أن رسول الله ﷺ قربتم إليه يوماً طعاماً على مائدة فيها ارتفاع فشق ذلك عليه حتى تغير لونه ثم أمر بالمائدة فرفعت ووضع الطعام على دون ذلك أو وضع على الأرض وناشدتك الله هل تعلمين أن رسول الله ﷺ كان ينام على عباءة مثنية فثنيت له ليلة أربع طاقات فنام عليها فلما استيقظ قال منعتموني قيام الليلة بهذه العباءة اثنوها باثنتين كما كنتم تثنونها وناشدتك الله هل تعلمين أن رسول الله ﷺ كان يضع ثيابه لتغسل فيأتيه بلال فيؤذنه بالصلاة فما يجد ثوباً يخرج به إلى الصلاة حتى تجف ثيابه فيخرج بها إلى الصلاة وناشدتك الله هل تعلمين أن رسول الله ﷺ صنعت له امرأة من بني ظفر كساءين إزاراً ورداء وبعثت إليه بأحدهما قبل أن يبلغ الآخر فخرج إلى الصلاة وهو مشتمل به ليس عليه غيره وقد عقد طرفيه إلى عنقه فصلى كذلك فما زال يقول حتى أبكاها وبكى عمر ﵁ وانتحب حتى ظننا أن نفسه ستخرج

"Kenakanlah pakaian yang paling lembut apabila utusan-utusan dari berbagai penjuru negeri datang menghadapmu, dan perintahkanlah untuk membuat makanan yang dapat engkau santap dan engkau berikan kepada orang yang hadir." Maka Umar berkata, "Wahai Hafshah, bukankah engkau mengetahui bahwa orang yang paling tahu tentang keadaan seorang laki-laki adalah keluarganya?" Hafshah menjawab, "Ya." Umar berkata, "Aku bersumpah dengan nama Allah kepadamu, bukankah engkau tahu bahwa Rasulullah ﷺ hidup dalam masa kenabian selama sekian dan sekian tahun, di mana beliau dan keluarganya tidak pernah kenyang di pagi hari melainkan mereka kelaparan di sore hari, dan tidak pernah kenyang di sore hari melainkan mereka kelaparan di pagi hari? Aku bersumpah dengan nama Allah kepadamu, bukankah engkau tahu bahwa Nabi ﷺ hidup dalam masa kenabian selama sekian dan sekian tahun, beliau dan keluarganya tidak pernah kenyang makan kurma hingga Allah membukakan kemenangan baginya di Khaibar? Aku bersumpah dengan nama Allah kepadamu, bukankah engkau tahu bahwa suatu hari kalian mendekatkan makanan kepada Rasulullah ﷺ di atas meja yang agak tinggi, lalu hal itu membuat beliau merasa keberatan hingga berubah warna wajahnya, kemudian beliau memerintahkan meja itu diangkat dan makanan diletakkan di tempat yang lebih rendah dari itu atau diletakkan di atas tanah? Aku bersumpah dengan nama Allah kepadamu, bukankah engkau tahu bahwa Rasulullah ﷺ dahulu tidur di atas selembar kain (jubah) yang dilipat dua, lalu pada suatu malam dilipat menjadi empat lipatan untuk beliau, sehingga beliau tidur di atasnya; dan ketika terbangun beliau bersabda: 'Kalian telah menghalangiku dari shalat malam dengan kain ini, maka lipatlah menjadi dua lipatan saja sebagaimana yang biasa kalian lakukan'? Aku bersumpah dengan nama Allah kepadamu, bukankah engkau tahu bahwa Rasulullah ﷺ pernah meletakkan pakaiannya untuk dicuci, lalu Bilal datang mengumandangkan adzan shalat, dan beliau tidak menemukan selembar pakaian pun untuk keluar shalat hingga pakaiannya kering, baru kemudian beliau keluar dengannya untuk shalat? Aku bersumpah dengan nama Allah kepadamu, bukankah engkau tahu bahwa Rasulullah ﷺ pernah dibuatkan dua helai pakaian, yaitu sarung dan selendang, oleh seorang wanita dari Bani Zhafar, dan wanita itu mengirimkan salah satunya sebelum yang lain selesai, lalu beliau keluar untuk shalat dengan berselimutkan pakaian itu tanpa ada pakaian lain, dan beliau mengikatkan kedua ujungnya ke lehernya lalu shalat dalam keadaan demikian?" Umar terus-menerus berkata demikian hingga membuat Hafshah menangis, dan Umar ﵁ pun menangis terisak-isak hingga kami mengira jiwanya akan keluar.

وفي بعض الروايات زيادة من قول عمر وهو أنه قال كان لي صاحبان سلكا طريقاً فإن سلكت غير طريقهما سلك بي طريق غير طريقهما وإني والله سأصبر على عيشهما الشديد لعلي أدرك معهما عيشهما الرغيد

Dalam sebagian riwayat terdapat tambahan dari perkataan Umar ﵁, yaitu beliau berkata: "Aku memiliki dua orang sahabat (Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar ﵁) yang telah menempuh suatu jalan. Jika aku menempuh jalan selain jalan mereka berdua, niscaya aku akan dibawa ke jalan yang berbeda dengan jalan mereka. Demi Allah, aku benar-benar akan bersabar menanggung kehidupan mereka berdua yang sangat berat, agar aku dapat meraih kehidupan yang serba berkecukupan (di akhirat) bersama mereka berdua."

وعن أبي سعيد الخدري عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قال لقد كان الأنبياء قبلي يبتلى أحدهم بالفقر فلا يلبس إلا العباءة وإن كان أحدهم ليبتلى بالقمل حتى يقتله القمل وكان ذلك أحب إليهم من العطاء إليكم

Dari Abu Sa'id al-Khudri ﵁, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: "Sungguh, para nabi sebelumku ada yang diuji dengan kemiskinan sehingga dia tidak mengenakan pakaian kecuali selembar kain jubah. Bahkan ada di antara mereka yang diuji dengan kutu hingga kutu itu membunuhnya. Dan sungguh, ujian itu lebih mereka cintai daripada pemberian (kenikmatan dunia) kepada kalian."

وعن ابن عباس عن النبي ﷺ قال لما ورد موسى ﵇ ماء مدين كانت خضرة البقل ترى في بطنه من الهزال فهذا ما كان قد اختاره أنبياء الله ورسله وهم أعرف خلق الله بالله وبطريق الفوز في الآخرة

Dari Ibn 'Abbas ﵁, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Ketika Musa ﵇ mendatangi sumber air Madyan, warna hijau sayur-mayur tampak terlihat dari perutnya karena sangat kurus." Maka inilah yang telah dipilih oleh para nabi dan rasul Allah, padahal mereka adalah makhluk Allah yang paling kenal (makrifat) kepada Allah dan paling tahu tentang jalan kemenangan di akhirat.

وَفِي حَدِيثِ عمر ﵁ أَنَّهُ قال لَمَّا نَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَى وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ والفضة ولا ينفقونها

Dalam hadis Umar ﵁ disebutkan bahwa beliau berkata: Ketika turun firman Allah Ta'ala: "Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya…" (QS. At-Taubah: 34)

في سبيل الله قَالَ ﷺ تَبًّا لِلدُّنْيَا تَبًّا لِلدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَهَانَا اللَّهُ عَنْ كَنْزِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فَأَيُّ شَيْءٍ نَدَّخِرُ فَقَالَ ﷺ ليتخذ أحدكم لساناً ذاكراً وقلباً شاكراً أو زوجة صالحة تعينه على أمر آخرته

"… di jalan Allah", Nabi ﷺ bersabda: "Celakalah dunia! Celakalah dinar dan dirham!" Lalu kami bertanya, "Wahai Rasulullah, Allah telah melarang kami menimbun emas dan perak, lantas apakah yang sebaiknya kami simpan (sebagai simpanan berharga)?" Maka beliau ﷺ bersabda: "Hendaklah salah seorang di antara kalian memiliki lisan yang selalu berzikir, hati yang selalu bersyukur, atau istri salihah yang membantunya dalam urusan akhiratnya."

وفي حديث حذيفة ﵁ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ من آثر الدنيا على الآخرة ابتلاه الله بثلاث هماً لا يفارق قلبه أبداً وفقراً لا يستغنى أبداً وحرصاً لا يشبع أبداً

Dalam hadis Hudzaifah ﵁ dari Rasulullah ﷺ: "Barang siapa yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat, maka Allah akan menimpa padanya tiga hal: kegelisahan yang tidak pernah berpisah dari hatinya selamanya, kemiskinan yang tidak pernah membuatnya merasa cukup selamanya, dan ketakserakahan (ambisi duniawi) yang tidak pernah puas selamanya."

وقال النبي ﷺ لا يستكمل العبد الإيمان حتى يكون أن لا يعرف أحب إليه من أن يعرف وحتى يكون قلة الشيء أحب إليه من كثرته حديث ابن عباس خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ذات يوم وجبريل معه فصعد على الصفا الحديث في نزول إسرافيل وقوله إن أحببت أن أسير معك جبال تهامة زمرداً وياقوتا وذهبا وفضة الحديث تقدم مختصرا حديث إذا أراد الله بعبد خيراً زهده في الدنيا ورغبه في الآخرة وبصره بعيوب نفسه رواه أبو منصور الديلمي في مسند الفردوس دون قوله ورغبه في الآخرة وزاد فقهه في الدين وإسناده ضعيف //

Dan Nabi ﷺ bersabda: "Seorang hamba tidak sempurna imannya hingga tidak dikenal lebih ia cintai daripada dikenal, dan hingga sedikitnya harta lebih ia cintai daripada banyaknya harta." Hadis Ibn 'Abbas: "Rasulullah ﷺ keluar pada suatu hari bersama Jibril, lalu beliau naik ke gunung Shafa…" Hadis mengenai turunnya Israfil dan ucapannya: "Jika engkau suka, aku akan jalankan gunung-gunung Tihamah bersamamu berupa zamrud, yaqut, emas, dan perak…" Hadis ini telah disebutkan sebelumnya secara ringkas. Hadis: "Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, niscaya Dia membuat hamba itu berzuhud di dunia, menyukai akhirat, dan memperlihatkan cacat-cacat dirinya." Diriwayatkan oleh Abu Manshur Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus tanpa redaksi "dan menyukai akhirat", dan ia menambahkan "serta memahamkannya dalam agama" (sanadnya dha'if).

وقال ﷺ لرجل ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا في أيدي الناس يحبك الناس وَقَالَ ﷺ مَنْ أَرَادَ أن يؤتيه الله علماً بغير تعلم وهدى بغير هداية فليزهد في الدنيا وقال ﷺ من اشتاق إلى الجنة سارع إلى الخيرات ومن خاف من النار لها عن الشهوات ومن ترقب الموت ترك اللذات ومن زهد في الدنيا هانت عليه المصيبات

Dan beliau ﷺ bersabda kepada seorang laki-laki: "Berzuhudlah di dunia, niscaya Allah mencintaimu; dan berzuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintaimu." Beliau ﷺ juga bersabda: "Barang siapa yang ingin dikaruniai ilmu oleh Allah tanpa melalui proses belajar dan diberi petunjuk tanpa bimbingan manusia, hendaklah ia berzuhud di dunia." Dan beliau ﷺ bersabda: "Barang siapa merindukan surga, ia akan bersegera dalam kebaikan; barang siapa takut akan neraka, ia akan berpaling dari hawa nafsu (syahwat); barang siapa menantikan kematian, ia akan meninggalkan kenikmatan semu; dan barang siapa berzuhud di dunia, maka berbagai musibah akan terasa ringan baginya."

ويروى عن نبينا وعن المسيح ﵉ أربع لا يدركن إلا بتعب الصمت وهو أول العبادة والتواضع وكثرة الذكر وقلة الشيء وإيراد جميع الأخبار الواردة في مدح بغض الدنيا وذم حبها لا يمكن فإن الأنبياء ما بعثوا إلا لصرف الناس عن الدنيا إلى الآخرة وإليه يرجع أكثر كلامهم مع الخلق وفيما أوردناه كفاية والله المستعان

Diriwayatkan dari Nabi kita dan dari Al-Masih (Nabi Isa) ﵉: "Empat hal tidak akan diperoleh kecuali dengan perjuangan: diam (keheningan) yang merupakan awal dari ibadah, tawadhu' (rendah hati), banyak berzikir, dan sedikitnya kepemilikan harta." Memaparkan seluruh riwayat yang datang mengenai pujian terhadap membenci dunia dan celaan terhadap mencintainya adalah hal yang tidak mungkin, sebab para nabi tidaklah diutus melainkan untuk memalingkan manusia dari dunia menuju akhirat, dan ke sinilah kembali sebagian besar perkataan mereka kepada makhluk. Apa yang telah kami paparkan ini cukuplah memadai, dan hanya Allah tempat memohon pertolongan.

وأما الآثار فقد جاء في الأثر لا تزال لا إله إلا الله تدفع عن العباد سخط الله ﷿ ما لم يسألوا ما نقص من دنياهم

Adapun atsar (riwayat sahabat/tabi'in), telah disebutkan dalam sebuah atsar: "Kalimat Laa ilaaha illallaah senantiasa menolak kemurkaan Allah ﷿ dari para hamba selama mereka tidak terlalu merisaukan apa yang berkurang dari dunia mereka…"

وفي لفظ آخر ما لم يؤثروا صفقة دنياهم على دينهم فإذا فعلوا ذلك وقالوا لا إله إلا الله قال الله تعالى كذبتم لستم بها صادقين

Dan dalam redaksi lain: "… selama mereka tidak mengutamakan urusan keduniaan mereka di atas agama mereka. Apabila mereka melakukan hal itu lalu mereka mengucapkan Laa ilaaha illallaah, Allah Ta'ala berfirman: 'Kalian berdusta, kalian tidak benar-benar jujur dengannya'."

وعن بعض الصحابة ﵃ أنه قال تابعنا الأعمال كلها فلم نر في أمر الآخرة أبلغ من زهد في الدنيا

Diriwayatkan dari sebagian sahabat ﵃ bahwa dia berkata: "Kami telah meneliti dan mengikuti seluruh amal perbuatan, dan kami tidak melihat ada hal yang paling berpengaruh bagi urusan akhirat melebihi zuhud di dunia."

وقال بعض الصحابة لصدر من التابعين أنتم أكثر أعمالاً واجتهاداً مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وكانوا خيراً منكم قيل ولم ذلك قال كانوا أزهد في الدنيا منكم

Sebagian sahabat berkata kepada generasi awal Tabi'in: "Kalian lebih banyak beramal dan bersungguh-sungguh daripada para sahabat Rasulullah ﷺ, padahal mereka lebih baik daripada kalian." Dikatakan: "Mengapa demikian?" Beliau menjawab: "Karena mereka lebih berzuhud di dunia daripada kalian."

وقال عمر ﵁ الزهادة في الدنيا راحة القلب والجسد

Umar ﵁ berkata: "Zuhud di dunia itu memberikan ketenangan bagi hati dan jasad."

وقال بلال بن سعد كفى به ذنباً أن الله تعالى يزهدنا في الدنيا ونحن نرغب فيها

Bilal bin Sa'd berkata, "Cukuplah sebagai sebuah dosa bahwa Allah Ta'ala membuat kita merasa jenuh (zuhud) terhadap dunia, namun kita justru menggandrunginya."

وقال رجل لسفيان أشتهي أن أرى عالماً زاهداً فقال ويحك تلك ضالة لا توجد

Seseorang berkata kepada Sufyan, "Aku sangat ingin melihat seorang alim yang zuhud." Maka Sufyan berkata, "Celaka kamu! Barang yang dicari itu adalah sesuatu yang tidak ditemukan."

وقال وهب بن منبه إن للجنة ثمانية أبواب فإذا صار أهل الجنة إليها جعل البوابون يقولون وعزة ربنا لا يدخلها أحد قبل الزاهدين في الدنيا العاشقين للجنة

Wahb bin Munabbih berkata, "Sesungguhnya surga itu memiliki delapan pintu. Ketika penghuni surga telah sampai padanya, para penjaga pintu berkata, 'Demi keagungan Tuhan kami, tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke dalamnya sebelum orang-orang yang zuhud terhadap dunia dan sangat merindukan surga.'"

وقال يوسف بن أسباط ﵀ إني لأشتهي من الله ثلاث خصال أن أموت حين أموت وليس في ملكي درهم ولا يكون علي دين ولا علي عظمي لحم فأعطى ذلك كله

Yusuf bin Asbath rahimahullah berkata, "Aku sungguh mengidamkan tiga perkara dari Allah: hendaknya aku wafat saat ajal menjemput dalam keadaan tidak memiliki satu dirham pun, tidak menanggung utang, dan tidak ada daging tersisa di tulangku." Maka dia dianugerahi seluruh hal tersebut.

وروي أن بعض الخلفاء أرسل إلى الفقهاء بجوائز فقبلوها وأرسل إلى الفضيل بعشرة آلاف فلم يقبلها فقال له بنوه قد قبل الفقهاء وأنت ترد على حالتك هذه فبكى الفضيل وقال أتدرون ما مثلي ومثلكم كمثل قوم كانت لهم بقرة يحرثون عليها فلما هرمت ذبحوها لأجل أن ينتفعوا بجلدها كذلك أنتم أردتم ذبحي على كبر سني موتوا يا أهلي جوعاً خير لكم من أن تذبحوا فضيلاً

Diriwayatkan bahwa sebagian khalifah mengirimkan hadiah-hadiah kepada para ahli fikih, lalu mereka menerimanya. Khalifah juga mengirimkan sepuluh ribu dirham kepada Al-Fudhail, namun beliau menolaknya. Anak-anaknya berkata kepadanya, "Para ahli fikih telah menerimanya, mengapa Engkau menolaknya padahal dalam kondisi kita yang seperti ini?" Al-Fudhail pun menangis seraya berkata, "Tahukah kalian perumpamaanku dan kalian? Perumpamaan kita seperti sekelompok orang yang memiliki seekor sapi yang digunakan untuk membajak. Ketika sapi itu sudah tua renta, mereka menyembelihnya agar bisa memanfaatkan kulitnya. Begitu pula kalian, kalian ingin menyembelihku di usia tuaku. Matilah kalian wahai keluargaku dalam kelaparan, itu lebih baik bagi kalian daripada kalian menyembelih Fudhail!"

وقال عبيد بن عميرة كان المسيح ابن مريم ﵇ يلبس الشعر ويأكل الشجر وليس له ولد يموت ولا بيت يخرب ولا يدخر لغد أينما أدركه المساء نام

Ubaid bin Umarah berkata, "Al-Masih putra Maryam alaihissalam dahulu mengenakan pakaian berbulu kasar (shuf), memakan dedaunan pohon, tidak memiliki anak yang akan mati, tidak memiliki rumah yang akan runtuh, dan tidak menyimpan makanan untuk esok hari; di mana pun malam menghampirinya, di situlah beliau tidur."

وقالت امرأة أبي حازم لأبي هذا الشتاء قد هجم علينا ولا بد لنا من الطعام والثياب والحطب

Istri Abu Hazim berkata kepada Abu Hazim, "Musim dingin ini telah mendatangi kita, dan kita membutuhkan makanan, pakaian, serta kayu bakar."

فقال لها أبو حازم من هذا كله بد ولكن لا بد لنا من الموت ثم البعث ثم الوقوف بين يدي الله تعالى ثم الجنة أو النار

Abu Hazim menjawab, "Semua hal itu masih bisa dihindari, namun yang tidak bisa dihindari bagi kita adalah kematian, kemudian kebangkitan, lalu berdiri di hadapan Allah Ta'ala, kemudian surga atau neraka."

وقيل للحسن لم لا تغسل ثيابك قال الأمر أعجل من ذلك

Dikatakan kepada Al-Hasan Al-Bashri, "Mengapa engkau tidak mencuci pakaianmu?" Beliau menjawab, "Urusan akhirat jauh lebih mendesak daripada itu."

وقال إبراهيم ابن أدهم قد حجبت قلوبنا بثلاثة أغطية فلن يكشف للعبد اليقين حتى ترفع هذه الحجب الفرح بالموجود والحزن على المفقود والسرور بالمدح فإذا فرحت بالموجود فأنت حريص وإذا حزنت على المفقود فأنت ساخط والساخط معذب وإذا سررت بالمدح فأنت معجب والعجب يحبط العمل

Ibrahim bin Adham berkata, "Hati kita telah terhalang oleh tiga tirai pelindung. Maka rasa yakin tidak akan pernah tersingkap bagi seorang hamba sampai tirai-tirai ini diangkat: gembira dengan apa yang ada, bersedih atas apa yang hilang, dan senang dengan pujian. Apabila engkau gembira dengan apa yang ada, maka engkau adalah orang yang serakah. Apabila engkau bersedih atas apa yang hilang, maka engkau adalah orang yang murka (tidak rida), dan orang yang murka itu akan terazab. Dan apabila engkau senang dengan pujian, maka engkau adalah orang yang ujub (kagum pada diri sendiri), sedangkan ujub menghapuskan pahala amal."

وقال ابن مسعود ﵁ ركعتين من زاهد قلبه خير له وأحب إلى الله من عبادة المتعبدين المجتهدين إلى آخر الدهر أبداً سرمداً

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Dua rakaat dari seseorang yang hatinya zuhud adalah lebih baik baginya dan lebih dicintai oleh Allah daripada ibadah para ahli ibadah yang bersungguh-sungguh hingga akhir zaman selamanya."

وقال بعض السلف نعمة الله علينا فيما صرف عنا أكثر من نعمته فيما صرف إلينا وكأنه التفت إلى معنى قَوْلَهُ ﷺ إِنَّ اللَّهَ يحمي عبده المؤمن من الدنيا وهو يحبه كما تحمون مريضكم الطعام والشراب تخافون عليه فإذا فهم هذا علم أن النعمة في المنع المؤدي إلى الصحة أكبر منها في الإعطاء المؤدي إلى السقم

Sebagian ulama Salaf berkata, "Nikmat Allah kepada kita dalam apa yang Dia palingkan dari kita jauh lebih banyak daripada nikmat-Nya dalam apa yang Dia berikan kepada kita." Seolah-olah beliau mengisyaratkan makna sabda Nabi ﷺ, "Sesungguhnya Allah memelihara hamba-Nya yang beriman dari (keburukan) dunia padahal Dia mencintainya, sebagaimana kalian menghalangi orang sakit di antara kalian dari makanan dan minuman karena kalian mengkhawatirkannya." Maka apabila hal ini dipahami, dapat diketahui bahwa nikmat berupa penahanan yang membawa kepada kesehatan adalah lebih besar daripada nikmat berupa pemberian yang membawa kepada penyakit.

وكان الثوري يقول الدنيا دار التواء لا دار استواء ودار ترح لا دار فرح من عرفها لم يفرح برخاء ولم يحزن على شقاء

Sufyan Ats-Tsauri biasa berkata, "Dunia adalah negeri penderitaan, bukan negeri kesenangan abadi, dan negeri duka cita, bukan negeri sukacita. Barang siapa yang mengenalnya, niscaya ia tidak akan bergembira secara berlebihan atas kelapangan dan tidak akan bersedih atas kesengsaraan."

وقال سهل لا يخلص العمل لمتعبد حتى يفرغ من أربعة أشياء الجوع والعري والفقر والذل

Sahl berkata, "Amal seseorang yang beribadah tidak akan murni (ikhlas) sampai ia membebaskan dirinya dari empat perkara: rasa lapar, ketelanjangan (kemiskinan pakaian), kefakiran, dan kehinaan."

وقال الحسن البصري أدركت أقواماً وصحبت طوائف ما كانوا يفرحون بشيء من الدنيا أقبل ولا يأسفون على شيء منها أدبر ولهي كانت في أعينهم أهون من التراب كان أحدهم يعيش خمسين سنة أو ستين سنة لم يطوله ثوب ولم ينصب له قدر ولم يجعل بينه وبين الأرض شيئاً ولا أمر من في بيته بصنعة طعام قط فإذا كان الليل فقيام على أقدامهم يفترشون وجوههم تجري دموعهم على خدودهم يناجون ربهم في فكاك رقابهم كانوا إذا عملوا الحسنة دأبوا في شكرها وسألوا الله أن يقبلها وإذا عملوا السيئة أحزنتهم وسألوا الله أن يغفرها لهم فلم يزالوا على ذلك ووالله ما سلموا من الذنوب ولا نجوا إلا بالمغفرة رحمة الله عليهم ورضوانه

Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Aku telah mendapati kaum-kaum dan bersahabat dengan berbagai kelompok yang tidak pernah bergembira atas sesuatu dari dunia yang menghampiri mereka, dan tidak pula berduka atas sesuatu dari dunia yang pergi meninggalkan mereka. Sungguh, dunia di mata mereka lebih hina daripada debu. Salah seorang dari mereka hidup selama lima puluh atau enam puluh tahun tanpa pernah melipat pakaiannya, tidak pernah menegakkan kuali untuk memasak secara khusus, tidak pernah meletakkan pembatas antara dirinya dan tanah ketika tidur, dan tidak pernah memerintahkan penghuni rumahnya untuk membuat makanan sama sekali. Apabila malam tiba, mereka berdiri di atas kaki-kaki mereka, merebahkan wajah-wajah mereka dalam sujud, air mata mereka mengalir di pipi-pipi mereka, seraya bermunajat kepada Tuhan mereka demi pembebasan diri mereka dari azab. Jika mereka melakukan kebaikan, mereka tekun bersyukur dan memohon kepada Allah agar menerimanya. Dan jika mereka melakukan kesalahan, hal itu membuat mereka bersedih lalu memohon kepada Allah agar mengampuninya. Mereka terus berada dalam keadaan demikian. Demi Allah, mereka tidaklah selamat dari dosa-dosa dan tidaklah terbebas melainkan dengan ampunan Allah. Rahmat dan keridaan Allah semoga tercurah kepada mereka."

بيان درجات الزهد وأقسامه بالإضافة إلى نفسه وإلى المرغوب عنه وإلى

Penjelasan Tingkatan-Tingkatan Zuhud dan Pembagiannya Ditinjau dari Diri Zuhud Itu Sendiri, Sesuatu yang Ditinggalkan (Marghub 'Anhu), dan Sesuatu yang…

المرغوب فيه

Diharapkan (Marghub Fih).

اعلم أن الزهد في نفسه يتفاوت بحسب تفاوت قوته على درجات ثلاث الدرجة الأولى وهي السفلى منها أن يزهد في الدنيا وهو لها مشته وقلبه إليها مائل ونفسه إليها ملتفتة ولكنه يجاهدها ويكفها وهذا يسمى المتزهد وهو مبدأ الزهد في حق من يصل إلى درجة الزهد بالكسب والاجتهاد والمتزهد يذيب أولاً نفسه ثم كيسه والزاهد أولاً يذيب كيسه ثم يذيب نفسه في الطاعات لا في الصبر على ما فارقه والمتزهد على خطر فإنه ربما تغلبه نفسه وتجذبه شهوته فيعود إلى الدنيا وإلى الاستراحة بها في قليل أو كثير

Ketahuilah bahwa zuhud pada hakikatnya berbeda-beda sesuai dengan tingkat kekuatannya, terbagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama—yang merupakan tingkatan paling rendah—adalah seseorang yang berzuhud dari dunia padahal ia masih menginginkannya, hatinya masih cenderung kepadanya, dan nafsunya masih menoleh kepadanya, namun ia melakukan mujahadah untuk menahan nafsunya. Orang seperti ini disebut al-mutazahhid (orang yang berusaha berzuhud). Ini merupakan permulaan zuhud bagi orang yang mencapai derajat zuhud melalui usaha (kasab) dan perjuangan (ijtihad). Seorang mutazahhid terlebih dahulu melelehkan jiwanya lalu kantong hartanya. Sementara seorang zahid (yang hakiki) terlebih dahulu melelehkan kantong hartanya lalu melelehkan jiwanya dalam ketaatan, bukan dalam kesabaran menahan diri dari apa yang ditinggalkannya. Seorang mutazahhid berada dalam bahaya, sebab boleh jadi jiwanya mengalahkannya dan syahwatnya menariknya kembali, sehingga ia kembali kepada dunia dan mencari ketenangan dengannya, baik sedikit maupun banyak.

الدرجة الثانية الذي يترك الدنيا طوعاً لاستحقاره إياها بالإضافة إلى ما طمع فيه كالذي يترك درهماً لأجل درهمين فإنه لا يشق عليه ذلك وإن كان يحتاج إلى انتظار قليل ولكن هذا الزاهد يرى لا محالة زهده ويلتفت إليه كما يرى البائع المبيع ويلتفت إليه فيكاد يكون معجباً بنفسه وبزهده ويظن في نفسه أنه ترك شيئاً له قدر لما هو أعظم قدراً منه وهذا أيضاً نقصان الدرجة الثالثة وهي العليا أن يزهد طوعاً ويزهد في زهده فلا يرى زهده إذ لا يرى أنه ترك شيئا إذ عرف أن الدنيا لا شىء

Tingkatan kedua: Seseorang yang meninggalkan dunia secara sukarela karena menganggapnya hina dibanding dengan apa yang diharapkannya di akhirat, seperti orang yang meninggalkan satu dirham demi mendapatkan dua dirham, di mana hal itu tidak terasa berat baginya meskipun memerlukan sedikit penantian. Namun demikian, orang yang berzuhud ini niscaya masih melihat kezuhudannya dan menoleh padanya, sebagaimana seorang penjual melihat barang dagangannya dan menoleh padanya, sehingga hampir-hampir ia merasa ujub dengan dirinya dan kezuhudannya, serta mengira dalam dirinya bahwa ia telah meninggalkan sesuatu yang bernilai demi sesuatu yang lebih besar nilainya. Dan ini pun masih merupakan suatu kekurangan. Tingkatan ketiga—yang merupakan tingkatan tertinggi—adalah berzuhud secara sukarela sekaligus berzuhud terhadap kezuhudannya sendiri; ia tidak melihat kezuhudannya karena ia tidak merasa telah meninggalkan sesuatu pun, sebab ia menyadari bahwa dunia itu pada hakikatnya tidak ada apa-apanya (tiada bernilai).

فيكون كمن ترك خزفة وأخذ جوهرة فلا يرى ذلك معاوضة ولا يرى نفسه تاركاً شيئاً والدنيا بالإضافة إلى الله تعالى ونعيم الآخرة أخس من خزفة بالإضافة إلى جوهرة فهذا هو الكمال في الزهد

Maka ia bagaikan orang yang meninggalkan sekeping pecahan tembikar dan mengambil sebuah permata, sehingga ia tidak menganggap hal itu sebagai suatu pertukaran dan tidak pula menganggap dirinya telah meninggalkan sesuatu. Dunia, jika dibandingkan dengan Allah Ta'ala dan kenikmatan akhirat, adalah lebih hina daripada sekeping pecahan tembikar dibandingkan dengan permata. Maka inilah kesempurnaan dalam berzuhud.

وسببه كمال المعرفة ومثل هذا الزاهد آمن من خطر الالتفات إلى الدنيا كما أن تارك الخزفة بالجوهرة أمن من طلب الإقالة في البيع

Sebabnya adalah kesempurnaan ma'rifat (pengetahuan spiritual). Perumpamaan zahid (orang yang berzuhud) seperti ini adalah aman dari bahaya berpaling (menoleh) kepada dunia, sebagaimana orang yang meninggalkan pecahan tembikar demi sebuah permata merasa aman dari meminta pembatalan transaksi jual beli.

قال أبو يزيد رحمه الله تعالى لأبي موسى عبد الرحيم في أي شيء تتكلم قال في الزهد قال في أي شيء قال في الدنيا فنفض يده وقال ظننت أنه يتكلم في شيء والدنيا لا شيء إيش يزهد فيها

Abu Yazid rahimahullah Ta'ala berkata kepada Abu Musa Abdurrahim, "Dalam hal apa engkau berbicara?" Ia menjawab, "Tentang zuhud." Abu Yazid bertanya, "Dalam hal apa (zuhud itu)?" Ia menjawab, "Tentang dunia." Maka Abu Yazid mengibaskan tangannya seraya berkata, "Aku mengira engkau berbicara tentang sesuatu yang bernilai, padahal dunia itu bukan apa-apa; lantas apa yang perlu dizuhudi darinya?"

ومثل من ترك الدنيا للآخرة عند أهل المعرفة وأرباب القلوب المعمورة بالمشاهدات والمكاشفات مثل من منعه من باب الملك كلب على بابه فألقى إليه لقمة من خبز فشغله بنفسه ودخل الباب ونال القرب عند الملك حتى نفذ أمره في جميع مملكته أفترى أنه يرى لنفسه يداً عند الملك بلقمة خبز ألقاها إلى كلبه في مقابلة ما قد ناله فالشيطان كلب على باب الله تعالى يمنع الناس من الدخول مع أن الباب مفتوح والحجاب مرفوع والدنيا كلقمة خبز إن أكلت فلذتها في حال المضغ وتنقضي على القرب بالابتلاع ثم يبقى ثقلها في المعدة ثم تنتهي إلى النتن والقذر ثم يحتاج بعد ذلك إلى إخراج ذلك الثقل فمن تركها لينال عز الملك كيف يلتفت إليها ونسبة الدنيا كلها أعني ما يسلم لكل شخص منها وإن عمر مائة سنة بالإضافة إلى نعيم الآخرة أقل من لقمة بالإضافة إلى ملك الدنيا إذ لا نسبة للمتناهي إلى مالا نهاية له والدنيا متناهية على القرب ولو كانت تتمادى ألف ألف سنة صافية عن كل كدر لكان لا نسبة لها إلى نعيم الأبد فكيف ومدة العمر قصيرة ولذات الدنيا مكدرة غير صافية فأي نسبة لها إلى نعيم الأبد فإذن لا يلتفت الزاهد إلى زهده إلا إذا التفت إلى ما زهد فيه ولا يلتفت إلى ما زهد فيه إلا لأنه يراه شيئاً معتداً به ولا يراه شيئاً معتداً به إلا لقصور معرفته فسبب نقصان الزهد نقصان المعرفة فهذا تفاوت درجات الزهد وكل درجة من هذه أيضاً لها درجات إذ تصبر المتزهد يختلف ويتفاوت أيضاً باختلاف قدر المشقة في الصبر وكذلك درجة المعجب بزهده بقدر التفاته إلى زهده

Perumpamaan orang yang meninggalkan dunia demi akhirat menurut ahli ma'rifat dan pemilik hati yang memakmurkan diri dengan penyaksian (musyahadah) serta pemyingkapan rahasia ilahi (mukasyafah) adalah seperti seseorang yang dihalangi oleh seekor anjing di pintu gerbang sang raja. Lalu ia melemparkan sesuap roti kepada anjing itu sehingga anjing itu sibuk dengannya, lalu ia masuk ke pintu gerbang dan meraih kedekatan di sisi raja hingga perintahnya berlaku di seluruh kerajaannya. Apakah engkau kira ia memandang dirinya memiliki jasa di hadapan raja hanya karena sesuap roti yang ia lemparkan kepada anjingnya demi mengimbangi apa yang telah ia peroleh? Maka setan adalah anjing di pintu gerbang Allah Ta'ala yang menghalangi manusia untuk masuk, padahal pintu selalu terbuka dan tirai pembatas telah diangkat. Sedangkan dunia bagaikan sesuap roti; jika dimakan, kelezatannya hanya saat mengunyah dan segera sirna tatkala ditelan, kemudian beban beratnya tertinggal di dalam perut, lalu berakhir menjadi bau busuk dan kotoran, dan setelah itu ia membutuhkan upaya untuk mengeluarkan beban tersebut. Maka barangsiapa meninggalkannya demi meraih kemuliaan Sang Raja (Allah), bagaimana mungkin ia akan menoleh kepadanya? Perbandingan seluruh dunia—maksudku apa yang dapat dinikmati oleh seseorang darinya walaupun ia hidup seratus tahun—jika dibandingkan dengan kenikmatan akhirat adalah lebih kecil daripada sesuap roti dibandingkan dengan seluruh kerajaan dunia. Sebab tidak ada perbandingan antara sesuatu yang berbatas dengan yang tidak terbatas. Dan dunia itu pasti akan segera berakhir, sekalipun ia berlangsung sejuta tahun dengan jernih dari segala kekeruhan, tetap tidak ada perbandingannya dengan kenikmatan yang abadi. Terlebih lagi umur manusia sangat singkat dan kelezatan dunia selalu keruh tidak pernah jernih, maka perbandingan apakah yang memungkinkannya dengan kenikmatan abadi? Oleh karena itu, seorang zahid tidak akan menoleh kepada zuhudnya sendiri kecuali jika ia menoleh kepada apa yang ia jauhi (dunia); dan ia tidak menoleh kepada apa yang ia jauhi melainkan karena ia memandangnya sebagai sesuatu yang bernilai; dan ia tidak memandangnya sebagai sesuatu yang bernilai melainkan karena keterbatasan ma'rifatnya. Maka penyebab kekurangan nilai zuhud adalah keterbatasan ma'rifat. Inilah perbedaan tingkatan-tingkatan zuhud, dan setiap tingkatan ini pun memiliki derajat-derajatnya sendiri, sebab kesabaran orang yang berupaya berzuhud (mutazahhid) berbeda-beda dan bervariasi sesuai dengan kadar kesulitan dalam bersabar. Demikian pula tingkatan orang yang kagum pada zuhudnya sendiri adalah sesuai dengan kadar penolehannya kepada zuhudnya tersebut.

وأما انقسام الزهد بالإضافة إلى المرغوب فيه فهو أيضاً على ثلاث درجات الدرجة السفلى أن يكون المرغوب فيه النجاة من النار ومن سائر الآلام كعذاب القبر ومناقشة الحساب وخطر الصراط وسائر ما بين يدي العبد من الأهوال كما وردت به الأخبار إذ فيها إن الرجل ليوقف في الحساب حتى لو وردت مائة بعير عطاشاً على عرقه لصدرت رواء فهذا هو زهد الخائفين وكأنهم رضوا بالعدم لو أعدموا فإن الخلاص من الألم يحصل بمجرد العدم

Adapun pembagian zuhud ditinjau dari hal yang didambakan (al-marghub fih), maka ia terbagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan terendah adalah jika yang didambakan adalah keselamatan dari api neraka dan dari segala siksaan lainnya, seperti azab kubur, ketelitian dalam hisab, bahaya penyeberangan shirath, serta seluruh kengerian yang ada di hadapan seorang hamba sebagaimana tercantum dalam riwayat-riwayat; yang di dalamnya disebutkan bahwa sungguh seseorang benar-benar dihentikan dalam hisab sehingga seandainya seratus unta yang haus mendatangi keringatnya, niscaya unta-unta itu akan pulang dalam keadaan puas minum. Maka ini adalah zuhudnya orang-orang yang takut (al-kha'ifin), seolah-olah mereka ridha dengan ketiadaan (al-'adam) seandainya mereka ditiadakan, karena terbebas dari siksaan itu dapat terwujud hanya dengan ketiadaan semata.

الدرجة الثانية أن يزهد رغبة في ثواب الله ونعيمه واللذات الموعودة في جنته من الحور والقصور وغيرها وهذا زهد الراجين فإن هؤلاء ما تركوا الدنيا قناعة بالعدم والخلاص من الألم بل طمعوا في وجود دائم ونعيم سرمد لا آخر له الدرجة الثالثة وهي العليا أن لا يكون له رغبة إلا في الله وفي لقائه فلا يلتفت قلبه إلى الآلام ليقصد الخلاص منها ولا إلى اللذات ليقصد نيلها والظفر بها بل هو مستغرق الهم بالله تعالى وهو الذي أصبح وهمومه هم واحد وهو الموحد الحقيقي الذي لا يطلب غير الله تعالى لأن من طلب غير الله فقد عبده وكل مطلوب معبود وكل طالب عبد بالإضافة إلى مطلبه وطلب غير الله من الشرك الخفي وهذا زهد

Tingkatan kedua adalah berzuhud karena mendambakan pahala Allah, kenikmatan-Nya, serta kelezatan yang dijanjikan di dalam surga-Nya berupa bidadari, istana-istana, dan selainnya. Ini adalah zuhudnya orang-orang yang berharap (al-rajin). Sebab, mereka tidak meninggalkan dunia karena puas dengan ketiadaan dan terbebas dari rasa sakit semata, melainkan karena mengharapkan keberadaan yang abadi dan kenikmatan kekal yang tidak ada akhirnya. Tingkatan ketiga—dan inilah yang tertinggi—adalah tidak memiliki dambaan kecuali kepada Allah dan pertemuan dengan-Nya. Hatinya tidak menoleh kepada penderitaan untuk bertujuan terbebas darinya, dan tidak pula kepada kelezatan untuk bertujuan meraih dan memenanginya, melainkan seluruh cita-cita dan hasratnya tenggelam (mustaghraq al-hamm) kepada Allah Ta'ala. Dialah orang yang memasuki pagi hari dengan menjadikan seluruh cita-citanya menjadi satu cita-cita tunggal, dan dialah muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah) sejati yang tidak mencari selain Allah Ta'ala. Sebab barangsiapa mencari selain Allah, sungguh ia telah menyembahnya; setiap yang dicari adalah yang disembah, dan setiap pencari adalah hamba jika dihubungkan dengan yang dicarinya, sedangkan mencari selain Allah termasuk syirik tersembunyi (syirk khafi). Dan ini adalah zuhud…

المحبين وهم العارفون لأنه لا يحب الله تعالى خاصة إلا من عرفه وكما أن من عرف الدينار والدرهم وعلم أنه لا يقدر على الجمع بينهما لم يحب إلا الدينار فكذلك من عرف الله وعرف لذة النظر إلى وجهه الكريم وعرف أن الجمع بين تلك اللذة وبين لذة التنعم بالحور العين والنظر إلى نقش القصور وخضرة الأشجار غير ممكن فلا يحب إلا لذة النظر ولا يؤثر غيره ولا تظنن أن أهل الجنة عند النظر إلى وجه الله تعالى يبقى للذة الحور والقصور متسع في قلوبهم بل تلك اللذة بالإضافة إلى لذة نعيم أهل الجنة كلذة ملك الدنيا والاستيلاء على أطراف الأرض ورقاب الخلق بالإضافة إلى لذة الاستيلاء على عصفور واللعب به والطالبون لنعيم الجنة عند أهل المعرفة وأرباب القلوب كالصبي الطالب للعب بالعصفور التارك للذة الملك وذلك لقصوره عن إدراك لذة الملك لا لأن اللعب بالعصفور في نفسه أعلى وألذ من الاستيلاء بطريق الملك على كافة الخلق

…orang-orang yang mencintai (al-muhibbin), yaitu para arifin (ahli ma'rifat). Sebab tidak ada yang mencintai Allah Ta'ala secara khusus melainkan orang yang mengenal-Nya. Sebagaimana orang yang mengenali dinar dan dirham serta mengetahui bahwa ia tidak mampu mengumpulkan keduanya, ia tidak akan mencintai kecuali dinar; maka demikian pula orang yang mengenali Allah, mengenali kelezatan memandang Wajah-Nya Yang Mahamulia, dan mengetahui bahwa mengumpulkan antara kelezatan tersebut dengan kelezatan bersenang-senang dengan bidadari, memandang ukiran istana-istana, dan kehijauan pepohonan adalah hal yang tidak mungkin, maka ia tidak akan mencintai kecuali kelezatan memandang (Wajah-Nya) dan tidak mengutamakan yang selain-Nya. Dan janganlah engkau mengira bahwa penghuni surga ketika memandang Wajah Allah Ta'ala masih tersisa kelapangan di dalam hati mereka untuk kelezatan bidadari dan istana-istana. Bahkan kelezatan tersebut jika dibandingkan dengan kelezatan nikmat memandang Wajah Allah bagi ahli surga, bagaikan kelezatan kekuasaan dunia dan penguasaan atas penjuru bumi serta leher-leher manusia dibandingkan dengan kelezatan menguasai seekor burung pipit dan bermain-main dengannya. Para pencari kenikmatan surga di mata ahli ma'rifat dan pemilik hati adalah seperti anak kecil yang meminta bermain dengan burung pipit serta meninggalkan kelezatan kekuasaan raja; yang demikian itu dikarenakan keterbatasannya dalam memahami kelezatan kekuasaan raja, bukan karena bermain burung pipit itu pada dirinya sendiri lebih tinggi dan lebih lezat daripada penguasaan melalui jalan kekuasaan atas seluruh makhluk.

وأما انقسامه بالإضافة إلى المرغوب عنه فقد كثرت فيه الأقاويل ولعل المذكور فيه يزيد على مائة قول فلا نشتغل بنقل الأقاويل ولكن نشير إلى كلام محيط بالتفاصيل حتى يتضح أن أكثر ما ذكر فيه قاصر عن الإحاطة بالكل فنقول المرغوب عنه بالزهد له إجمال وتفصيل ولتفصيله مراتب بعضها أشرح لآحاد الأقسام وبعضها أجمل للجمل

Adapun pembagian zuhud ditinjau dari hal yang dijauhi (al-marghub 'anh), maka pendapat tentangnya sangat banyak, bahkan mungkin apa yang disebutkan di dalamnya melebihi seratus pendapat. Maka kami tidak menyibukkan diri dengan mengutip pendapat-pendapat tersebut, melainkan kami akan merujuk pada penjelasan yang mencakup seluruh rincian sehingga menjadi jelas bahwa sebagian besar apa yang disebutkan tentangnya kurang mampu mencakup keseluruhan. Maka kami katakan: Hal yang dijauhi dengan berzuhud memiliki bentuk global (ijmal) dan bentuk rinci (tafshil). Rinciannya memiliki tingkatan-tingkatan; sebagian lebih menguraikan bagian-bagian secara rinci, dan sebagian lagi lebih merangkum bagian-bagian secara umum.

أما الإجمال في الدرجة الأولى فهو كل ما سوى الله فينبغي أن يزهد فيه حتى يزهد في نفسه أيضاً والإجمال في الدرجة الثانية أن يزهد فى كل صفة للنفس فيها متعة وهذا يتناول جميع مقتضيات الطبع من الشهوة والغضب والكبر والرياسة والمال والجاه وغيرها

Adapun gambaran global pada tingkatan pertama adalah segala sesuatu selain Allah, maka seyogianya seseorang berzuhud padanya hingga ia pun berzuhud pada dirinya sendiri. Sedangkan gambaran global pada tingkatan kedua adalah berzuhud pada setiap sifat diri (nafs) yang di dalamnya terdapat kesenangan; dan ini mencakup seluruh tuntutan watak dasar (thab'), seperti syahwat, amarah, kesombongan, kepemimpinan (kedudukan), harta, kedudukan sosial (jah), dan selainnya.

وفي الدرجة الثالثة أن يزهد في المال والجاه وأسبابهما إذ إليهما ترجع جميع حظوظ النفس

Pada tingkatan ketiga adalah berzuhud pada harta dan kedudukan sosial (jah) serta sebab-sebab keduanya, karena kepada keduanyalah bermuara seluruh bagian-bagian kesenangan nafsu (huzhuzh an-nafs).

وفي الدرجة الرابعة أن يزهد في العلم والقدرة والدينار والدرهم والجاه إذا الأموال وإن كثرت أصنافها فيجمعها الدينار والدرهم والجاه وإن كثرت أسبابه فيرجع إلى العلم والقدرة وأعني به كل علم وقدرة مقصودها ملك القلوب إذ معنى الجاه هو ملك القلوب والقدرة عليها كما أن معنى المال ملك الأعيان والقدرة عليها فإن جاوزت هذا التفصيل إلى شرح وتفصيل أبلغ من هذا فيكاد يخرج ما فيه الزهد عَنِ الْحَصْرِ

Pada tingkatan keempat adalah berzuhud pada ilmu, kekuasaan (al-qudrah), dinar, dirham, dan kedudukan sosial (al-jah). Sebab harta benda, meskipun beraneka ragam jenisnya, terhimpun dalam dinar dan dirham; sedangkan kedudukan sosial, meskipun banyak sebab perolehannya, bermuara pada ilmu dan kekuasaan. Yang aku maksud dengannya adalah setiap ilmu dan kekuasaan yang tujuannya menguasai hati manusia, karena makna kedudukan sosial adalah menguasai hati dan memiliki kemampuan atasnya, sebagaimana makna harta adalah menguasai benda-benda fisik dan memiliki kemampuan atasnya. Jika engkau melampaui rincian ini menuju penjelasan dan rincian yang lebih jauh dari ini, niscaya apa yang perlu dizuhudi hampir tidak terhitung banyaknya.

وَقَدْ ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى فِي آية واحدة سبعة منها فقال زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ والأنعام والحرث ذلك متاع الحياة الدنيا ثُمَّ رَدَّهُ فِي آيَةٍ أُخْرَى إِلَى خَمْسَةٍ فَقَالَ ﷿ اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأموال والأولاد ثم رده تعالى فِي مَوْضِعٍ آخَرَ إِلَى اثْنَيْنِ فَقَالَ تَعَالَى وإنما الحياة الدنيا لعب ولهو ثُمَّ رَدَّ الْكُلَّ إِلَى وَاحِدٍ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ فَقَالَ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الجنة هي المأوى فَالْهَوَى لَفْظٌ يَجْمَعُ جَمِيعَ حُظُوظِ النَّفْسِ فِي الدنيا فينبغي أن يكون الزهد فيه

Allah Ta'ala telah menyebutkan tujuh di antaranya dalam satu ayat, Dia berfirman: "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia…" (QS. Ali 'Imran: 14). Kemudian Dia mengembalikannya dalam ayat lain menjadi lima hal, maka Dia 'Azza wa Jalla berfirman: "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…" (QS. Al-Hadid: 20). Kemudian Dia Ta'ala mengembalikannya di tempat lain menjadi dua hal, maka Dia Ta'ala berfirman: "…Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau…" (QS. Al-An'am: 32). Kemudian Dia mengembalikan semuanya menjadi satu hal di tempat yang lain, maka Dia berfirman: "…Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)." (QS. An-Nazi'at: 40-41). Maka hawa (hawa nafsu) adalah lafaz yang menghimpun seluruh bagian-bagian kesenangan nafsu di dunia, sehingga seyogianya zuhud itu tertuju kepadanya.

وإذا فهمت طريق الإجمال والتفصيل عرفت أن البعض من هذه لا يخالف البعض وإنما يفارقه في الشرح مرة والإجمال أخرى

Apabila engkau telah memahami metode penyampaian secara global (ijmal) dan rinci (tafshil) ini, engkau akan mengetahui bahwa sebagian dari ini tidak bertentangan dengan sebagian yang lain, melainkan hanya berbeda dalam hal penjelasan yang mendalam pada satu kesempatan dan perangkuman secara global pada kesempatan lainnya.

فالحاصل أَنَّ الزُّهْدَ عِبَارَةٌ عَنِ الرَّغْبَةِ عَنْ حُظُوظِ النفس كلها ومهما رغب عن حظوظ النفس رغب عن البقاء في الدنيا فقصر أمله لا محالة لأنه إنما يريد البقاء ليتمتع ويريد التمتع الدائم بإرادة البقاء فإن من أراد شيئاً أراد دوامه ولا معنى لحب الحياة إلا حب دوام ما هو موجود أو ممكن في هذه الحياة فإذا رغب عنها لم يردها ولذلك لما كتب عليهم القتال قالوا ربنا لم كتبت علينا القتال لولا أخرتنا إلى أجلٍ قريب فقال تعالى قل متاع الدنيا قليل أي لستم تريدون البقاء إلا لمتاع الدنيا فظهر عند ذلك الزاهدون وانكشف حال المنافقين

Kesimpulannya adalah bahwa zuhud merupakan ungkapan dari keberpalingan (ar-raghbah 'an) dari seluruh kesenangan nafsu (huzhuzh an-nafs). Dan kapan saja seseorang berpaling dari kesenangan nafsu, niscaya ia berpaling pula dari keinginan untuk tetap tinggal di dunia, sehingga angan-angannya pun memendek (qashar amalihi) tanpa keraguan. Sebab, sesungguhnya ia menginginkan tetap tinggal di dunia hanyalah untuk bersenang-senang, dan ia menginginkan kesenangan yang terus-menerus melalui kehendak untuk tetap hidup; karena barangsiapa menginginkan sesuatu, tentu ia menginginkan kelestariannya, dan tidak ada arti dari mencintai kehidupan melainkan mencintai kelestarian dari apa yang ada atau apa yang memungkinkan dalam kehidupan ini. Maka apabila ia telah berpaling darinya, ia tidak lagi menghendakinya. Oleh karena itulah ketika diwajibkan berperang atas mereka, mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada waktu yang dekat?" Maka Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah: 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar…'"; artinya: Kalian tidaklah menginginkan tetap hidup melainkan demi kesenangan dunia. Maka pada saat itulah tampak jelas orang-orang yang berzuhud dan tersingkap keadaan orang-orang munafik.

أما الزاهدون المحبون لله تعالى فقاتلوا في سبيل الله كأنهم بنيان مرصوص وانتظروا إحدى الحسنيين وكانوا إذا دعوا إلى القتال يستنشقون رائحة الجنة ويبادرون إليه مبادرة الظمآن إلى الماء البارد حرصاً على نصرة دين الله

Adapun orang-orang yang berzuhud lagi mencintai Allah Ta'ala, mereka berperang di jalan Allah seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kokoh, dan mereka menanti salah satu dari dua kebaikan (al-husnayain). Apabila mereka menyeru atau diseru kepada peperangan, mereka menghirup aroma surga dan bersegera kepadanya bagaikan bersegeranya orang yang dahaga menuju air yang dingin, demi dorongan kuat untuk membela agama Allah…

أو نيل رتبة الشهادة وكان من مات منهم على فراشه يتحسر على فوت الشهادة حتى إن خالد بن الوليد رضي الله تعالى عنه لما احتضر للموت على فراشه كان يقول كم غررت بروحي وهجمت على الصفوف طمعاً في الشهادة وأنا الآن أموات موت العجائز فلما مات عد على جسده ثمانمائة ثقب من آثار الجراحات هكذا كان حال الصادقين في الإيمان رضي الله تعالى عنهم أجمعين

…atau meraih derajat mati syahid. Bahkan orang yang mati di antara mereka di atas tempat tidurnya merasa amat menyesal atas terlewatnya mati syahid, hingga Khalid bin al-Walid radhiyallahu 'anhu ketika menjelang wafatnya di atas tempat tidur biasa berkata, "Betapa sering aku mempertaruhkan jiwaku dan menerjang barisan musuh demi mengharapkan mati syahid, namun kini aku mati sebagaimana matinya wanita-wanita tua." Ketika beliau wafat, dihitung pada tubuhnya ada delapan ratus lubang dari bekas luka-luka (peperangan). Demikianlah keadaan orang-orang yang jujur dalam keimanan, semoga Allah Ta'ala meridhai mereka semuanya.

وأما المنافقون ففروا من الزحف خوفاً من الموت فقيل لهم إن الموت الذين تفرون منه فإنه ملاقيكم فإيثارهم البقاء على الشهادة استبدال الذي هو أدنى بالذي هو خير فأولئك الذين اشتروا الضلالة بالهدى فما ربحت تجارتهم وما كانوا مهتدين

Adapun orang-orang munafik, mereka lari dari kecamuk perang karena takut akan kematian, maka dikatakan kepada mereka: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu…". Pengutamaan mereka terhadap kelangsungan hidup di atas mati syahid adalah bentuk menukar sesuatu yang lebih rendah dengan sesuatu yang lebih baik; "…mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk."

وأما المخلصون فإن الله تعالى اشترى منهم أنفسهم وأموالهم بأن لهم الجنة فلما رأوا أنهم تركوا تمتع عشرين سنة مثلاً أو ثلاثين سنة بتمتع الأبد استبشروا ببيعهم الذي بايعوا به فهذا بيان المزهود فيه

Adapun orang-orang yang ikhlas (al-mukhlishun), sesungguhnya Allah Ta'ala telah membeli dari mereka diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Maka ketika mereka menyadari bahwa mereka meninggalkan kenikmatan dua puluh tahun atau tiga puluh tahun misalnya demi kenikmatan yang abadi, mereka bergembira dengan jual beli yang telah mereka lakukan itu. Maka inilah penjelasan tentang hal yang dizuhudi (al-mazhud fih).

وإذا فهمت هذا علمت أن ما ذكره المتكلمون في حد الزهد لم يشيروا به إلا إلى بعض أقسامه فذكر كل واحد منهم ما رآه غالباً على نفسه أو على من كان يخاطبه فقال بشر رحمه الله تعالى الزهد في الدنيا هو الزهد في الناس وهذا إشارة إلى الزهد في الجاه خاصة

Apabila engkau telah memahami hal ini, engkau akan mengetahui bahwa apa yang disebutkan oleh para cendekiawan tentang batasan (definisi) zuhud tidaklah mengisyaratkan melainkan kepada sebagian dari pembagiannya saja. Masing-masing dari mereka menyebutkan apa yang dipandangnya dominan pada dirinya sendiri atau pada orang yang menjadi lawan bicaranya. Maka Bishr rahimahullah Ta'ala berkata, "Zuhud di dunia adalah zuhud terhadap manusia." Dan ini adalah isyarat khusus kepada zuhud terhadap kedudukan sosial (al-jah).

وقال قاسم الجوعي الزهد في الدنيا هو الزهد في الجوف فبقدر ما تملك من بطنك كذلك تملك من الزهد وهذا إشارة إلى الزهد في شهوة واحدة ولعمري هي أغلب الشهوات على الأكثر وهي المهيجة لأكثر الشهوات وقال الفضيل الزهد في الدنيا هو القناعة وهذا إشارة إلى المال خاصة وقال الثوري الزهد هو قصر الأمل وهو جامع لجميع الشهوات فإن من يميل إلى الشهوات يحدث نفسه بالبقاء فيطول أمله ومن قصر أمله فكأنه رغب عن الشهوات كلها وقال أويس إذا خرج الزاهد يطلب ذهب الزهد عنه وما قصد بهذا حد الزهد ولكن جعل التوكل شرطاً في الزهد

Qasim al-Ju'i berkata, "Zuhud di dunia adalah zuhud terhadap perut; maka seukuran kemampuanmu menguasai perutmu, sejauh itulah engkau menguasai zuhud." Dan ini merupakan isyarat kepada zuhud terhadap satu jenis syahwat saja, padahal demi umurku, ia adalah syahwat yang paling dominan atas kebanyakan manusia dan yang membangkitkan sebagian besar syahwat lainnya. Al-Fudhayl berkata, "Zuhud di dunia adalah qana'ah (merasa cukup)." Dan ini mengisyaratkan secara khusus kepada harta. Ats-Tsawri berkata, "Zuhud adalah memendekkan angan-angan (qashar al-amal)." Dan ini menghimpun seluruh syahwat, sebab barangsiapa yang cenderung kepada syahwat, jiwanya akan membisikkan kelangsungan hidup sehingga panjanglah angan-angannya, dan barangsiapa memendekkan angan-angannya, seakan-akan ia telah berpaling dari seluruh syahwat. Owais berkata, "Apabila seorang zahid keluar untuk mencari (rezeki), niscaya hilanglah zuhud darinya." Beliau tidak bermaksud memberikan definisi zuhud dengan kata-kata ini, melainkan menjadikan tawakal sebagai syarat dalam zuhud.

وقال أويس أيضاً الزهد هو ترك الطلب للمضمون وهو إشارة إلى الرزق وقال أهل الحديث حب الدنيا هو العمل بالرأي والمعقول والزهد إنما هو أتباع العلم ولزوم السنة وهذا إن أريد به الرأي الفاسد والمعقول الذي يطلب به الجاه في الدنيا فهو صحيح ولكنه إشارة إلى بعض أسباب الجاه خاصة أو إلى بعض ما هو من فضول الشهوات فإن من العلوم ما لا فائدة فيه في الآخرة وقد طولوها حتى ينقضي عمر الإنسان في الاشتغال بواحد منها فشرط الزاهد أن يكون الفضول أول مرغوب عنه عنده وقال الحسن الزاهد الذى إذا رأى أحداً قال هذا أفضل مني فذهب إلى أن الزهد هو التواضع وهذا إشارة إلى نفي الجاه والعجب وهو بعض أقسام الزهد وقال بعضهم الزهد هو طلب الحلال وأين هذا ممن يقول الزهد هو ترك الطلب كما قال أويس ولا شك في أنه أراد به ترك طلب الحلال وقد كان يوسف بن أسباط يقول من صبر على الأذى وترك الشهوات وأكل الخبز من الحلال فقد أخذ بأصل الزهد

Owais juga berkata, "Zuhud adalah meninggalkan pencarian terhadap apa yang telah dijamin." Dan ini mengisyaratkan kepada rezeki. Ahli Hadis berkata, "Cinta dunia adalah beramal dengan rasio (ra'yu) dan akal pikiran belaka, sedangkan zuhud hanyalah mengikuti ilmu dan berpegang teguh pada Sunnah." Ini jika yang dimaksud dengannya adalah rasio yang rusak dan logika yang dengannya dicari kedudukan duniawi, maka hal itu benar; namun itu merupakan isyarat kepada sebagian sebab-sebab kedudukan secara khusus, atau kepada sebagian dari kelebihan (hal sia-sia) syahwat. Sebab di antara ilmu ada yang tidak ada manfaatnya di akhirat, padahal mereka telah memperpanjang bahasannya hingga habis umur manusia dalam menyibukkan diri dengan salah satu darinya. Maka syarat seorang zahid adalah menjadikan hal-hal berlebih (al-fudhul) sebagai hal pertama yang paling dijauhinya. Al-Hasan berkata, "Seorang zahid adalah orang yang apabila melihat siapapun, ia berkata: Orang ini lebih utama daripada diriku." Maka beliau berpandangan bahwa zuhud adalah tawadhu' (rendah hati); dan ini adalah isyarat kepada peniadaan kedudukan (al-jah) dan 'ujub (bangga diri), yang mana hal itu merupakan sebagian dari pembagian zuhud. Sebagian mereka berkata, "Zuhud adalah mencari yang halal." Alangkah jauhnya pendapat ini dari orang yang mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan pencarian sebagaimana dikatakan Owais, dan tidak diragukan lagi bahwa yang ia maksudkan adalah meninggalkan pencarian hal yang halal. Yusuf bin Asbath dahulu sering berkata, "Barangsiapa bersabar atas gangguan, meninggalkan syahwat, dan memakan roti dari jalan yang halal, sungguh ia telah memegang pokok dari zuhud."

وفي الزهد أقاويل وراء ما نقلناه فلم نر في نقلها فائدة فإن من طلب كشف حقائق الأمور من أقاويل الناس رآها مختلفة فلا يستفيد إلا الحيرة وأما من انكشف له الحق في نفسه وأدركه بمشاهدة من قلبه لا بتلقف من سمعه فقد وثق بالحق واطلع على قصور من قصر لقصور بصيرته وعلى اقتصار من اقتصر من اقتصر مع كمال المعرفة لاقتصار حاجته وهؤلاء كلهم اقتصروا لا لقصور في البصيرة لكنهم ذكروا ما ذكروه عند الحاجة فلا جرم ذكروه بقدر الحاجة والحاجات تختلف فلا جرم الكلمات تختلف وقد يكون سبب الاقتصار الإخبار عن الحالة الراهنة التي هي مقام العبد في نفسه والأحوال تختلف فلا جرم الأقوال المخبرة عنها تختلف وأما الحق في نفسه

Mengenai zuhud terdapat ucapan-ucapan lain di luar apa yang telah kami nukilkan, tetapi kami tidak melihat adanya faedah untuk menukilnya. Sebab, barang siapa yang mencari tersingkapnya hakikat segala perkara dari ucapan-ucapan manusia, ia akan mendapatinya beraneka ragam sehingga tidak mendapatkan apa-apa selain kebingungan. Adapun orang yang telah tersingkap baginya kebenaran pada dirinya sendiri dan menggapainya melalui penyaksian (musyahadah) dari hatinya—bukan sekadar menangkap dari pendengarannya—maka ia sungguh telah percaya teguh kepada kebenaran. Ia dapat mengetahui kekurangan orang yang memiliki kekurangan karena keterbatasan mata hatinya (bashirah), serta memahami kecukupan orang yang mencukupkan diri padahal makrifatnya sempurna karena ia hanya menyebutkan sesuai kadar kebutuhannya. Mereka semua mencukupkan penjelasan bukan karena kekurangan pada bashirah, melainkan karena mereka menyebutkan apa yang mereka sebutkan sesuai kadar kebutuhan. Oleh karena itu, mereka menyebutkannya seukur kebutuhan, dan karena kebutuhan itu berbeda-beda, maka niscaya perkataan pun berbeda-beda. Kadang kala sebab pembatasan itu adalah pemberitahuan tentang kondisi spiritual (hal) saat itu yang menjadi maqam seorang hamba pada dirinya, dan hal itu berbeda-beda, sehingga niscaya ucapan yang mengabarkannya pun berbeda-beda. Adapun kebenaran pada dirinya sendiri,

فلا يكون إلا واحداً ولا يتصور أن يختلف وإنما الجامع من هذه الأقاويل الكامل في نفسه وإن لم يكن فيه تفصيل ما قاله أبو سليمان الداراني إذ قال سمعنا في الزهد كلاماً كثيراً والزهد عندنا ترك كل شيء يشغلك عن الله ﷿ وقد فصل مرة وقال من تزوج أو سافر في طلب المعيشة أو كتب الحديث فقد ركن إلى الدنيا فجعل جميع ذلك ضداً للزهد وقد قرأ أبو سفيان قوله تَعَالَى إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بقلبٍ سَلِيمٍ فقال هو القلب الذي ليس فيه غير الله تعالى وقال إنما زهدوا في الدنيا لتفرغ قلوبهم من همومها للآخرة فهذا بيان انقسام الزهد بالإضافة إلى أصناف المزهود فيه فأما بالإضافة إلى أحكامه فينقسم إلى فرض ونفل وسلامة كما قاله إبراهيم بن أدهم فالفرض هو الزهد في الحرام

maka tidak ada kecuali satu dan tidak tergambarkan akan berbeda. Yang dapat menghimpun ucapan-ucapan ini adalah seseorang yang sempurna pada dirinya sendiri, walaupun di dalamnya tidak terdapat rincian sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Sulaiman ad-Darani ketika ia berkata: "Kami telah mendengar banyak perkataan tentang zuhud, namun zuhud menurut kami adalah meninggalkan segala sesuatu yang memalingkanmu dari Allah 'Azza wa Jalla." Suatu kali ia merincinya dan berkata: "Barang siapa yang menikah, atau bepergian untuk mencari penghidupan, atau menulis hadis, maka ia telah bersandar kepada dunia." Ia menjadikan semua hal tersebut sebagai lawan dari zuhud. Abu Sufyan pernah membaca firman Allah Ta'ala: 'Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (salim)' (QS. Asy-Syu'ara': 89), lalu ia berkata: "Hati yang salim adalah hati yang di dalamnya tidak ada sesuatu pun selain Allah Ta'ala." Beliau juga berkata: "Hanyasanya mereka berzuhud di dunia agar hati mereka terbebas dari kecemasan-kecemasan duniawi demi menghadapi akhirat." Ini adalah penjelasan pembagian zuhud ditinjau dari berbagai jenis hal yang dizuhudi. Adapun ditinjau dari hukum-hukumnya, zuhud terbagi menjadi fardhu (wajib), nafl (sunnah), dan salamah (keselamatan), sebagaimana yang dikatakan oleh Ibrahim bin Adham. Maka zuhud yang fardhu adalah zuhud dari hal-hal yang haram,

والنفل هو الزهد في الحلال

zuhud yang nafl (sunnah) adalah zuhud dari hal-hal yang halal,

والسلامة هو الزهد في الشبهات

dan zuhud salamah (keselamatan) adalah zuhud dari hal-hal yang syubhat.

وقد ذكرنا تفاصيل درجات الورع في كتاب الحلال والحرام وذلك من الزهد إذ قيل لمالك بن أنس ما الزهد قال التقوى وأما بالإضافة إلى خفايا ما يتركه فلا نهاية للزهد فيه إذ لا نهاية لما تتمتع به النفس في الخطرات واللحظات وسائر الحالات لا سيما خفايا الرياء فإن ذلك لا يطلع عليه إلا سماسرة العلماء بل الأحوال الظاهرة أيضاً درجات الزهد فيها لا تتناهى فممن أقصى درجاته زهد عيسى ﵇ إذ توسد حجراً في نومه فقال له الشيطان أما كنت تركت الدنيا فما الذي بدا لك قال وما الذي تجدد قال توسدك الحجر أي تنعمت برفع رأسك عن الأرض في النوم فرمى الحجر وقال خذه مع ما تركته لك

Kami telah menyebutkan rincian tingkatan-tingkatan wara' dalam Kitab al-Halal wa al-Haram, dan hal itu merupakan bagian dari zuhud. Sebab pernah ditanyakan kepada Malik bin Anas, "Apakah zuhud itu?" Beliau menjawab, "Taqwa." Adapun ditinjau dari samar-samarnya hal yang ditinggalkan, maka tidak ada batas akhir bagi zuhud padanya, karena tidak ada batas bagi apa yang dinikmati oleh nafsu dalam lintasan pikiran, kerlingan mata, dan segenap kondisi lainnya, terlebih lagi kelembutan-kelembutan riya', yang tidak dapat mengetahuinya melainkan para ulama yang sangat jeli. Bahkan kondisi-kondisi lahiriah pun tingkatan zuhud di dalamnya tidak terbatas. Di antara orang yang berada pada puncak tingkatan zuhud adalah Nabi Isa 'alaihis-salam, ketika beliau berbantalkan batu saat tidurnya, lalu setan berkata kepadanya: "Bukankah engkau telah meninggalkan dunia, lalu apa yang tampak bagimu ini?" Nabi Isa menjawab: "Apa yang baru?" Setan berkata: "Engkau berbantalkan batu, artinya engkau bersenang-senang dengan mengangkat kepalamu dari tanah saat tidur." Maka beliau melempar batu itu seraya berkata: "Ambillah batu ini bersama apa yang telah kutinggalkan untukmu!"

وروي عن يحيى بن زكريا ﵉ أنه لبس المسوح حتى ثقب جلده تركاً للتنعم بلين اللباس واستراحة حس اللمس فسألته أمه أن يلبس مكان المسح جبة من صوف ففعل فأوحى الله تعالى إليه يا يحيى آثرت على الدنيا فبكى ونزع الصوف وعاد إلى ما كان عليه

Diriwayatkan dari Yahya bin Zakariya 'alaihimas-salam bahwa beliau mengenakan pakaian kain kasar dari bulu hingga kulitnya terkelupas, sebagai bentuk meninggalkan kesenangan dari kelembutan pakaian dan kenikmatan indra sentuhan. Ibunya memohon kepadanya agar ia mengenakan jubah dari wol sebagai pengganti kain kasar tersebut, maka beliau pun melakukannya. Lalu Allah Ta'ala mewahyukan kepadanya: "Wahai Yahya, apakah engkau lebih memilih dunia daripada Aku?" Maka beliau pun menangis, menanggalkan wol tersebut, dan kembali kepada kondisinya semula.

وقال أحمد رحمه الله تعالى الزهد زهد أويس بلغ من العري أن جلس في قوصرة

Imam Ahmad rahimahullah Ta'ala berkata: "Zuhud yang sejati adalah zuhudnya Uwais (al-Qarani), yang sampai pada tingkat keterlanjuran tidak memiliki pakaian hingga ia duduk di dalam wadah kurma dari anyaman (qawsharah)."

وجلس عيسى ﵇ في ظل حائط إنسان فأقامه صاحب الحائط فقال ما أقمتني أنت إنما أقامني الذي لم يرض لي أن أتنعم بظل الحائط فإذن درجات الزهدد ظاهراً وباطناً لا حصر لها وأقل درجاته الزهد في كل شبهة ومحظور

Nabi Isa 'alaihis-salam pernah duduk di bawah naungan tembok seseorang, lalu pemilik tembok itu menyuruhnya berdiri melangkah. Nabi Isa berkata: "Bukan engkau yang menyuruhku berdiri, melainkan Dzat yang tidak ridha bagiku untuk bersenang-senang dengan naungan tembok ini yang menyuruhku berdiri." Dengan demikian, tingkatan-tingkatan zuhud secara lahir dan batin tidak ada batasnya, dan tingkatan zuhud yang paling rendah adalah zuhud dalam setiap hal yang syubhat dan yang dilarang (haram).

وقال قوم الزهد هو الزهد الحلال لافى الشبهة والمحظور فليس ذلك من درجاته في شيء ثم رأوا أنه لم يبق حلال في أموال الدنيا فلا يتصور الزهد الآن

Sebagian kaum berpendapat bahwa zuhud adalah zuhud pada hal yang halal, bukan pada hal yang syubhat dan yang dilarang, sebab menahan diri dari yang dilarang dan syubhat itu bukanlah bagian dari tingkatan zuhud sama sekali. Kemudian mereka berpandangan bahwa tidak ada lagi harta dunia yang halal murni, sehingga zuhud tidak dapat dibayangkan lagi pada masa sekarang.

فإن قلت مهما كان الصحيح هو أن الزهد ترك ما سوى الله فكيف يتصور ذلك مع الأكل والشرب واللبس ومخالطة الناس ومكالمتهم وكل ذلك اشتغال بما سوى الله تعالى فاعلم أن معنى الانصراف عن الدنيا إلى الله تعالى هو الإقبال بكل القلب عليه ذكراً وفكراً ولا يتصور ذلك إلا مع البقاء ولا بقاء إلا بضروريات النفس فمهما اقتصرت من الدنيا على دفع المهلكات عن البدن وكان غرضك الاستعانة بالبدن على العبادة لم تكن مشتغلاً بغير الله فإن ما لا يتوصل إلى الشيء إلا به فهو منه فالمشتغل بعلف الناقة وبسقيها في طريق الحج ليس معرضاً عن الحج ولكن ينبغي أن يكون بدنك في طريق الله مثل ناقتك في طريق الحج ولا غرض لك في تنعم ناقتك باللذات بل غرضك مقصور على دفع المهلكات عنها حتى تسير بك إلى مقصدك فكذلك ينبغي أن تكون في صيانة بدنك عن الجوع والعطش المهلك بالأكل والشرب وعن الحر والبرد المهلك باللباس والمسكن فتقصر على قدر الضرورة ولا تقصد التلذذ بل التقوى على طاعة الله تعالى فذلك لا يناقض الزهد بل هو شرط الزهد وإن قلت فلا بد وأن أتلذذ بالأكل عند الجوع فاعلم أن ذلك لا يضرك إذا لم يكن قصدك التلذذ فإن شارب الماء البارد قد يستلذ الشرب ويرجع حاصله إلى زوال ألم العطش ومن يقضي حاجته قد يستريح بذلك

Jika engkau bertanya: "Apabila pendapat yang benar adalah bahwa zuhud itu meninggalkan segala apa yang selain Allah, lantas bagaimana hal itu dapat dibayangkan bersamaan dengan makan, minum, berpakaian, bergaul dengan manusia, dan berbicara dengan mereka, padahal semua itu merupakan kesibukan dengan selain Allah Ta'ala?" Maka ketahuilah bahwa makna berpaling dari dunia menuju Allah Ta'ala adalah menghadapkan seluruh hati kepada-Nya dengan dzikir dan fikr (pemikiran). Dan hal tersebut tidak dapat dibayangkan kecuali dengan adanya kelangsungan hidup (baqa'), sedangkan tidak ada kelangsungan hidup tanpa pemenuhan kebutuhan-kebutuhan darurat jiwa. Oleh karena itu, sejauh engkau membatasi diri dari dunia sekadar untuk menolak hal-hal yang membinasakan badan, dan tujuanmu adalah meminta bantuan badan untuk beribadah, maka engkau tidaklah disibukkan oleh selain Allah. Sebab, apa yang tidak dapat sampai pada suatu tujuan melainkan dengannya, maka ia adalah bagian dari tujuan itu sendiri. Orang yang sibuk memberi makan dan minum untanya di jalan menuju haji tidaklah dianggap berpaling dari ibadah haji. Namun, hendaknya tubuhmu di jalan Allah itu seperti untamu di jalan haji; engkau tidak memiliki tujuan untuk memanjakan untamu dengan kelezatan-kelezatan, melainkan tujuanmu terbatas pada menghindarkan hal-hal yang membinasakan darinya agar ia dapat membawamu sampai ke tujuanmu. Begitu pula hendaknya engkau dalam menjaga tubuhmu dari kelaparan dan kehausan yang membinasakan dengan makan dan minum, serta dari panas dan dingin yang membinasakan dengan pakaian dan tempat tinggal: hendaknya engkau membatasi diri sebatas kadar darurat dan tidak bertujuan mencari kelezatan, melainkan untuk memperoleh kekuatan dalam menaati Allah Ta'ala. Hal demikian tidaklah bertentangan dengan zuhud, bahkan menjadi syarat bagi zuhud. Jika engkau berkata: "Tetapi tentu saja aku merasakan lezat saat makan ketika lapar," maka ketahuilah bahwa hal itu tidak membahayakanmu selama tujuanmu bukanlah untuk menikmati kelezatan. Sebab, orang yang meminum air dingin terkadang merasakan kelezatan saat minum, padahal hasilnya kembali pada hilangnya rasa sakit akibat dahaga; dan orang yang membuang hajat terkadang merasa lega dengannya,

ولكن لا يكون ذلك مقصوداً عنده ومطلوباً بالقصد فلا يكون القلب منصرفاً إليه فالإنسان قد يستريح في قيام الليل بتنسم الأسحار وصوت الأطيار ولكن إذا لم يقصد طلب موضع لهذه الاستراحة فما يصيبه من ذلك بغير قصد لا يضره ولقد كان في الخائفين من طلب موضعاً لا يصيبه فيه نسيم الأسحار خيفة من الاستراحة به وأنس القلب معه فيكون فيه أنس بالدنيا ونقصان في الأنس بالله بقدر وقوع الأنس بغير الله ولذلك كان داود الطائي له جب مكشوف فيه ماؤه فكان لا يرفعه من الشمس ويشرب الماء الحار ويقول من وجد لذة الماء البارد شق عليه مفارقة الدنيا فهذه مخاوف المحتاطين والحزم في جميع ذلك الاحتياط فإنه وإن كان شاقاً فمدته قريبة والاحتماء مدة يسيرة للتنعم على التأبيد لا يثقل على أهل المعرفة القاهرين لأنفسهم بسياسة الشرع المعتصمين بعروة اليقين في معرفة المضادة التي بين الدنيا والدين رضي الله تعالى عنهم أجمعين

namun hal itu tidak menjadi tujuannya dan tidak dicari dengan sengaja, sehingga hatinya tidak berpaling kepadanya. Seseorang terkadang merasa tenang dalam shalat malam dengan menghirup udara waktu sahur dan mendengarkan kicauan burung, namun jika ia tidak sengaja mencari tempat demi peristirahatan ini, maka apa yang mengenainya tanpa kesengajaan itu tidaklah membahayakkannya. Sungguh di antara orang-orang yang takut (al-kha'ifin) ada yang mencari tempat yang tidak terkena hembusan angin waktu sahur karena takut merasa nyaman dengannya dan hatinya menjadi terikat dengannya, sehingga di dalamnya terdapat rasa nyaman dengan dunia dan timbul pengurangan rasa nyaman bersama Allah seukuran rasa nyaman yang timbul bersama selain Allah. Oleh karena itu, Daud ath-Tha'i memiliki tempat air yang terbuka berisi air miliknya, lalu ia tidak memindahkannya dari paparan sinar matahari dan meminum air yang panas seraya berkata: "Barang siapa merasakan kelezatan air dingin, akan terasa berat baginya berpisah dari dunia." Ini semua adalah kekhawatiran orang-orang yang berhati-hati (al-muhtathin). Dan keteguhan sikap (al-hazm) dalam seluruh hal ini adalah dengan bersikap hati-hati; karena meskipun terasa berat, masanya amat singkat. Menjaga diri dalam masa yang singkat demi memperoleh kenikmatan abadi tidaklah terasa berat bagi ahli makrifat yang menundukkan nafsu mereka dengan tuntunan syariat, serta berpegang teguh pada tali keyakinan dalam memahami pertentangan antara dunia dan agama, semoga Allah Ta'ala meredhai mereka semuanya.