بيان أقاويل الشيوخ في الإخلاص
بيان أقاويل الشيوخ في الإخلاص
Penjelasan tentang Perkataan Para Guru (Syaikh) Mengenai Keikhlasan
قال السوسي الإخلاص فقد رؤية الإخلاص فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص
As-Susi berkata: "Keikhlasan adalah hilangnya penglihatan (rasa memiliki) terhadap keikhlasan itu sendiri. Sebab barangsiapa yang menyaksikan keikhlasan dalam keikhlasannya, maka keikhlasannya itu membutuhkan keikhlasan yang baru."
وما ذكره إشارة إلى تصفية العمل عن العجب بالفعل فإن الالتفات إلى الإخلاص والنظر إليه عجب وهو من جملة الآفات
Apa yang beliau sebutkan adalah isyarat untuk memurnikan perbuatan dari rasa kagum pada diri sendiri ('ujub) atas perbuatan tersebut. Sebab berpaling kepada keikhlasan dan memandangnya adalah bentuk 'ujub, dan itu termasuk bagian dari cacat-cacat kerohanian (āfāt).
والخالص ما صفا عن جميع الآفات فهذا تعرض لآفة واحد وقال سهل رحمه الله تعالى الإخلاص أن يكون سكون العبد وحركاته لله تعالى خاصة وهذه كلمة جامعة محيطة بالغرض وفي معناه قول إبراهيم بن أدهم الإخلاص صدق النية مع الله تعالى
Amal yang murni adalah amal yang bersih dari seluruh cacat. Maka perkataan ini menyinggung satu bentuk cacat. Sahl—semoga Allah Ta'ala merahmatinya—berkata: "Keikhlasan adalah jika diam dan gerak seorang hamba khusus hanya bagi Allah Ta'ala." Ini adalah ungkapan yang menyeluruh dan mencakup seluruh tujuan. Senada dengannya adalah perkataan Ibrahim bin Adham: "Keikhlasan adalah kejujuran niat bersama Allah Ta'ala."
وقيل لسهل أي شيء أشد على النفس فقال الإخلاص إذ ليس لها فيه نصيب وقال رويم الإخلاص في العمل هو أن لا يريد صاحبه عليه عوضاً في الدارين
Dikatakan kepada Sahl: "Apakah sesuatu yang paling berat bagi nafsu?" Beliau menjawab: "Keikhlasan, karena nafsu tidak memiliki bagian keuntungan di dalamnya." Ruwaim berkata: "Keikhlasan dalam beramal adalah pelakunya tidak menginginkan balasan atasnya di kedua negeri (dunia dan akhirat)."
وهذا إشارة إلى أن حظوظ النفس آفة آجلاً وعاجلاً
Ini merupakan isyarat bahwa bagian-bagian keinginan nafsu merupakan cacat, baik untuk jangka panjang (akhirat) maupun jangka pendek (dunia).
والعابد لأجل التنعم بالشهوات في الجنة معلول بل الحقيقة أن لا يراد بالعمل إلا وجه الله تعالى وهو إشارة إلى إخلاص الصديقين وهو الإخلاص المطلق
Orang yang beribadah demi menikmati kesenangan kenikmatan di surga adalah orang yang cacat (ibadahnya). Bahkan hakikatnya adalah tidak diinginkan dengan amal itu kecuali Wajah (Keridaan) Allah Ta'ala. Ini adalah isyarat menuju keikhlasan para shiddīqīn (orang-orang yang sangat jujur imannya), yaitu keikhlasan mutlak.
فأما من يعمل لرجاء الجنة وخوف النار فهو مخلص بالإضافة إلى الحظوظ العاجلة وإلا فهو في طلب حظ البطن والفرج وإنما المطلوب الحق لذوي الألباب وجه الله تعالى فقط وهو القائل لا يتحرك الإنسان إلا لحظ والبراءة من الحظوظ صفة الإلهية ومن ادعى ذلك فهو كافر
Adapun orang yang beramal karena mengharapkan surga dan takut akan neraka, maka ia adalah orang yang ikhlas jika dibandingkan dengan bagian-bagian keuntungan duniawi yang menyegerakan; jika tidak, sesungguhnya ia sedang mencari bagian perut dan kemaluan. Padahal tuntutan yang sejati bagi orang-orang yang berakal (ūlū al-albāb) hanyalah Wajah (Keridaan) Allah Ta'ala semata. Dialah yang berkata: "Manusia tidak bergerak melainkan untuk suatu bagian keuntungan, dan terbebas dari bagian keuntungan merupakan sifat ketuhanan, maka barangsiapa mendakwakan hal itu berarti ia telah kafir."
وقد قضى القاضي أبو بكر الباقلاني بتكفير من يدعي البراءة من الحظوظ وقال هذا من صفات الإلهية وما ذكره حق ولكن القوم إنما أرادوا به البراءة عما يسميه الناس حظوظاً وهو الشهوات الموصوفة في الجنة فقط فأما التلذذ بمجرد المعرفة والمناجاة والنظر إلى وجه الله تعالى فهذا حظ هؤلاء وهذا لا يعده الناس حظاً بل يتعجبون منه
Al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani telah memutuskan kekafiran orang yang mendakwakan terbebas dari bagian keuntungan (keinginan diri) dan berkata: "Ini termasuk sifat ketuhanan." Dan apa yang beliau sebutkan adalah benar. Namun, para sufi itu hanyalah bermaksud dengannya sebagai kebebasan dari apa yang dinamakan manusia sebagai bagian keuntungan, yaitu kenikmatan-kenikmatan yang digambarkan di surga saja. Adapun kenikmatan dengan semata-mata ma'rifat, bermunajat, dan memandang kepada Wajah Allah Ta'ala, maka inilah bagian keuntungan bagi mereka ini. Dan hal ini tidak dianggap manusia sebagai bagian keuntungan, melainkan mereka merasa heran darinya.
وهؤلاء لو عوضوا عما هم فيه من لذة الطاعة والمناجاة وملازمة السجود للحضرة الإلهية سراً وجهراً جميع نعيم الجنة لاستحقروه ولم يلتفتوا إليه فحركتهم لحظ وطاعتهم لحظ ولكن حظهم معبودهم فقط دون غيره
Seandainya mereka diberi ganti atas kelezatan ketaatan, bermunajat, dan melazimkan sujud di Kehadirat Ilahi baik secara tersembunyi maupun terang-terangan dengan seluruh kenikmatan surga, niscaya mereka akan menganggapnya remeh dan tidak akan menengok kepadanya. Maka gerak-gerik mereka adalah demi bagian kebahagiaan dan ketaatan mereka adalah demi bagian kebahagiaan, tetapi bagian kebahagiaan mereka hanyalah Sesembahan mereka semata, bukan yang lain.
وقال أبو عثمان الإخلاص نسيان روية
Abu Utsman berkata, "Ikhlas adalah melupakan pandangan…
الخلق بدوام النظر إلى الخالق فقط
…makhluk dengan terus-menerus hanya memandang kepada Sang Pencipta semata."
وهذا إشارة إلى آفة الرياء فقط ولذلك قال بعضهم الإخلاص في العمل أن لا يطلع عليه شيطان فيفسده ولا ملك فيكتبه فإنه إشارة إلى مجرد الإخفاء
Dan ini merupakan isyarat kepada bahaya riya semata. Oleh karena itu, sebagian dari mereka berkata, "Ikhlas dalam beramal adalah tidak diketahuinya amal tersebut oleh setan sehingga ia merusaknya, dan tidak pula oleh malaikat sehingga ia mencatatnya." Sebab, ungkapan ini mengisyaratkan pada sebatas menyembunyikan amal.
وقد قيل الإخلاص ما استتر عن الخلق وصفا عن العلائق
Dikatakan pula, "Ikhlas adalah apa yang tersembunyi dari makhluk dan bersih dari keterikatan-keterikatan duniawi."
وهذا أجمع للمقاصد
Dan ini lebih mencakup seluruh maksud dan tujuan.
وقال المحاسبي الإخلاص هو إخراج الخلق عن معاملة الرب
Al-Muhasibi berkata, "Ikhlas adalah mengeluarkan makhluk dari hubungan (muamalah) dengan Tuhan."
وهذا إشارة إلى مجرد نفي الرياء
Dan ini merupakan isyarat kepada sebatas meniadakan riya.
وكذلك قول الخواص من شرب من كأس الرياسة فقد خرج عن إخلاص العبودية
Demikian pula ucapan Al-Khawwash, "Barang siapa yang meminum dari cangkir dahaga akan kepemimpinan, maka ia telah keluar dari keikhlasan penghambaan ('ubudiyah)."
وقال الحواريون لعيسى ﵇ ما الخالص من الأعمال فقال الذي يعمل لله تعالى لا يحب أن يحمده عليه أحد
Kaum Hawariyyun berkata kepada Nabi Isa 'alaihissalam, "Apakah amal yang murni (ikhlas) itu?" Beliau menjawab, "Yaitu amal yang dikerjakan karena Allah Ta'ala, di mana pelakunya tidak suka jika ada seorang pun yang memujinya atas amal tersebut."
وهذا أيضاً تعرض لترك الرياء وإنما خصه بالذكر لأنه أقوى الأسباب المشوشة للإخلاص
Dan ini juga berkenaan dengan meninggalkan riya. Beliau mengkhususkan penyebutannya hanya karena riya merupakan sebab terkuat yang mengacaukan keikhlasan.
وقال الجنيد الإخلاص تصفية العمل من الكدورات
Al-Junaid berkata, "Ikhlas adalah memurnikan amal dari berbagai kekeruhan."
وقال الفضيل ترك العمل من أجل الناس رياء والعمل من أجل الناس شرك والإخلاص أن يعافيك الله منهما
Al-Fudhail berkata, "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, sedangkan beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya."
وقيل الإخلاص دوام المراقبة ونسيان الحظوظ كلها
Dan dikatakan pula, "Ikhlas adalah kesinambungan muraqabah (merasa diawasi Allah) dan melupakan seluruh bagian keuntungan pribadi."
وهذا هو البيان الكامل والأقاويل في هذا كثيرة ولا فائدة في تكثير النقل بعد انكشاف الحقيقة
Dan inilah penjelasan yang sempurna. Pendapat-pendapat mengenai hal ini sangat banyak, dan tidak ada gunanya memperbanyak kutipan setelah hakikatnya tersingkap.
وإنما البيان الشافي بيان سيد الأولين والآخرين ﷺ إذ سئل عن الإخلاص فقال أن تقول ربي الله ثم تستقيم كما أمرت أي لا تعبد هواك ونفسك ولا تعبد إلا ربك وتستقيم في عبادته كما أمرت وهذا إشارة إلى قطع ما سوى الله عن مجرى النظر وهو الإخلاص حقاً
Penjelasan yang benar-benar memuaskan hanyalah penjelasan Pemimpin orang-orang terdahulu dan yang kemudian ﷺ ketika beliau ditanya tentang ikhlas, lalu beliau bersabda, "Yaitu engkau berkata, 'Tuhanku adalah Allah', kemudian engkau istiqamah sebagaimana yang diperintahkan kepadamu." Maksudnya, engkau tidak menyembah hawa nafsumu dan dirimu, serta tidak menyembah kecuali Tuhanmu, dan engkau istiqamah dalam beribadah kepada-Nya sebagaimana yang diperintahkan kepadamu. Ini merupakan isyarat untuk memutuskan segala sesuatu selain Allah dari jarak pandang, dan itulah ikhlas yang sejati.
بيان درجات الشوائب والآفات المكدرة للإخلاص
Penjelasan Tingkatan Kotoran dan Bahaya Penyakit yang Memperkeruh Keikhlasan
اعلم أن الآفات المشوشة للإخلاص بعضها جلي وبعضها خفي وبعضها ضعيف مع الجلاء وبعضها قوي مع الخفاء ولا يفهم اختلاف درجاتها في الخفاء والجلاء إلا بمثال
Ketahuilah bahwa bahaya-bahaya yang mengacaukan keikhlasan itu sebagian ada yang tampak jelas (jali) dan sebagian ada yang samar (khafi), sebagian ada yang lemah namun jelas, dan sebagian ada yang kuat namun samar. Perbedaan tingkatan-tingkatan tersebut dalam hal samar dan jelasnya tidak dapat dipahami kecuali dengan sebuah perumpamaan.
وأظهر مشوشات الإخلاص الرياء فلنذكر منه مثالاً
Dan pengacau keikhlasan yang paling nyata adalah riya. Maka marilah kita sebutkan satu contoh darinya.
فنقول الشيطان يدخل الآفة على المصلي مهما كان مخلصاً في صلاته ثم نظر إليه جماعة أو دخل عليه داخل فيقول له حسن صلاتك حتى ينظر إليك هذا الحاضر بعين الوقار والصلاح ولا يزدريك ولا يغتابك فتخشع جوارحه وتسكن أطرافه وتحسن صلاته وهذا هو الرياء الظاهر ولا يخفى ذلك على المبتدئين من المريدين
Maka kami katakan: Setan memasukkan penyakit kepada orang yang shalat betapa pun ia ikhlas dalam shalatnya, lalu sekelompok orang melihatnya atau seseorang masuk menemuinya, maka setan berkata kepadanya, "Baguskanlah shalatmu agar orang yang hadir ini memandangmu dengan pandangan kewibawaan dan kesalehan, sehingga ia tidak meremehkanmu dan tidak menggunjingmu." Maka anggota tubuhnya pun menjadi khusyuk, gerak fisiknya menjadi tenang, dan shalatnya menjadi bagus. Inilah riya yang nyata (zahir), dan hal itu tidaklah samar bagi para murid tingkat pemula.
الدرجة الثانية يكون المريد قد فهم هذه الآفة وأخذ منها حذره فصار لا يطيع الشيطان فيها ولا يلتفت إليه ويستمر في صلاته كما كان
Tingkat kedua: seorang murid telah memahami cacat (kerusakan) ini dan telah bersikap waspada darinya, sehingga ia tidak lagi menuruti setan dalam hal itu dan tidak berpaling kepadanya, serta terus melanjutkan shalatnya sebagaimana biasanya.
فيأتيه في معرض الخير ويقول أنت متبوع ومقتدى بك ومنظور إليك وما تفعله يؤثر عنك ويتأسى بك غيرك فيكون لك ثواب أعمالهم إن أحسنت وعليك الوزر إن أسأت فأحسن عملك بين يديه فعساه يقتدي بك في الخشوع وتحسين العبادة وهذا أغمض من الأول وقد ينخدع به من لا ينخدع بالأول وهو أيضاً عين الرياء ومبطل للإخلاص فإنه إن كان يرى الخشوع وحسن العبادة خيراً لا يرضى لغيره تركه فلم لم يرتض لنفسه ذلك في الخلوة ولا يمكن أن تكون نفس غيره أعز عليه من نفسه فهذا محض التلبيس بل المقتدي به هو الذى استقام في نفسه واستنار قلبه فانتشر نوره إلى غيره فيكون له ثواب عليه
Maka setan mendatanginya dalam rupa kebaikan dan berkata: "Engkau adalah orang yang diikuti, dijadikan teladan, dan dipandang orang lain. Apa yang engkau lakukan akan diriwayatkan dan ditiru oleh orang lain, sehingga engkau mendapatkan pahala dari amalan mereka jika engkau berbuat baik, dan engkau menanggung dosa jika berbuat buruk. Maka perbaguslah amalmu di hadapan mereka, semoga mereka meneladanimu dalam kekhusyukan dan memperbagus ibadah." Ini lebih tersembunyi daripada yang pertama, dan bisa menipu orang yang tidak tertipu oleh yang pertama. Hal ini juga merupakan inti dari riya' dan pembatal keikhlasan. Sebab, jika ia memandang kekhusyukan dan indahnya ibadah sebagai suatu kebaikan yang tidak ia relakan untuk ditinggalkan orang lain, lalu mengapa ia tidak merelakan hal itu untuk dirinya sendiri saat bersunyi-diri (khali)? Dan tidak mungkin diri orang lain lebih berharga baginya daripada dirinya sendiri. Ini adalah murni kecurangan (penyesatan/talbis). Sebaliknya, orang yang patut diteladani adalah orang yang telah istiqamah dalam dirinya dan hatinya telah memancarkan cahaya, sehingga cahayanya menyebar kepada orang lain, maka ia pun memperoleh pahala darinya.
فأما هذا فمحض النفاق والتلبيس فمن اقتدى به أثيب عليه وأما هو فيطالب بتلبيسه ويعاقب على إظهاره من نفسه ما ليس متصفاً به
Adapun orang ini, maka tindakannya adalah murni kepalsuan (nifak) dan penyesatan (talbis). Barang siapa yang meneladanimu (orang tersebut), ia tetap diberi pahala atasnya, sedangkan orang itu sendiri akan dituntut atas penyesatannya dan dihukum karena menampilkan dari dirinya apa yang sebenarnya tidak ia miliki.
الدرجة الثالثة وهي أدق مما قبلها أن يجرب العبد نفسه في ذلك ويتنبه لكيد الشيطان ويعلم أن مخالفته بين الخلوة والمشاهدة للغير محض الرياء ويعلم أن الإخلاص في أن تكون صلاته في الخلوة مثل صلاته في الملأ ويستحيي من نفسه ومن ربه أن يتخشع لمشاهدة خلقه تخشعاً زائداً على عادته فيقبل على نفسه في الخلوة ويحسن صلاته على الوجه الذي يرتضيه في الملأ ويصلي في الملأ أيضاً كذلك
Tingkat ketiga, dan ini lebih samar (lebih halus) daripada sebelumnya: seorang hamba menguji dirinya dalam hal itu, mewaspadai tipu daya setan, dan menyadari bahwa perbedaan sikapnya antara saat bersunyi-diri (khali) dan saat disaksikan orang lain adalah murni riya'. Ia mengetahui bahwa keikhlasan terletak pada shalatnya saat sendiri yang sama seperti shalatnya saat di tengah keramaian. Ia malu kepada dirinya dan Rabbinya jika bersikap khusyuk secara berlebihan dari kebiasaannya hanya karena disaksikan makhluk. Maka ia pun berfokus pada dirinya saat bersunyi-diri dan memperbagus shalatnya dengan cara yang ia ridhai saat berada di keramaian, lalu ia juga shalat di keramaian seperti itu.
فهذا أيضاً من الرياء الغامض لأنه حسن صلاته في الخلوة لتحسن في الملأ فلا يكون قد فرق بينهما فالتفاته في الخلوة والملأ إلى الخلق
Ini juga termasuk riya' yang terselubung (samar), karena ia memperbagus shalatnya dalam kesunyian agar shalatnya menjadi bagus di tengah keramaian, sehingga ia tidak membedakan antara keduanya. Dengan demikian, perhatiannya baik dalam kesunyian maupun keramaian tetap tertuju kepada makhluk.
بل الإخلاص أن تكون مشاهدة البهائم لصلاته ومشاهدة الخلق على وتيرة واحدة فكأن نفس هذا ليست تسمح بإساءة الصلاة بين أظهر الناس ثم يستحيي من نفسه أن يكون في صورة المرائين ويظن أن ذلك يزول بأن تستوي صلاته في الخلا والملا وهيهات بل زوال ذلك بأن لا يلتفت إلى الخلق كما لا يلتفت إلى الجمادات في الخلا والملأ جميعاً وهذا من شخص مشغول الهم بالخلق في الملأ والخلا جميعاً وهذا من المكايد الخفية للشيطان
Bahkan keikhlasan itu adalah ketika kesaksian hewan ternak atas shalatnya dan kesaksian manusia berada pada tingkat yang sama. Seolah-olah jiwa orang ini tidak merelakan shalatnya buruk di hadapan manusia, lalu ia malu pada dirinya sendiri jika tampak seperti orang yang riya', dan ia mengira bahwa hal itu akan hilang hanya dengan menyamakan shalatnya dalam kesunyian dan keramaian. Sungguh mustahil! Hilangnya hal itu justru dengan tidak memedulikan makhluk sebagaimana ia tidak memedulikan benda-benda mati, baik dalam kesunyian maupun keramaian. Hal ini timbul dari seseorang yang hasrat hatinya disibukkan oleh makhluk baik dalam keramaian maupun kesunyian, dan ini termasuk tipu daya setan yang sangat tersembunyi.
الدرجة الرابعة وهي أدق وأخفى أن ينظر إليه الناس وهو في صلاته فيعجز الشيطان عن أن يقول له اخشع لأجلهم فإنه قد عرف أنه قد تفطن لذلك فيقول له الشيطان تفكر في عظمة الله تعالى وجلاله ومن أنت واقف بين يديه واستحي من أن ينظر الله إلى قلبك وهو غافل عنه فيحضر بذلك قلبه وتخشع جوارحه ويظن أن ذلك عين الإخلاص وهو عين المكر والخداع فإن خشوعه لو كان لنظره إلى جلاله لكانت هذه الخطرة تلازمه في الخلوة ولكان لا يختص حضورها بحالة حضور غيره وعلامة الأمن من هذه الآفة أن يكون هذا الخاطر مما يألفه في الخلوة كما يألفه في الملأ ولا يكون حضور الغير هو السبب في حضور الخاطر كما لا يكون حضور البهيمة سبباً فما دام يفرق في أحواله بين مشاهدة إنسان ومشاهدة بهيمة فهو بعد خارج عن صفو الإخلاص مدنس الباطن بالشرك الخفي من الرياء وهذا الشرك أخفي في قلب ابن آدم من دبيب النملة السوداء في الليلة الظلماء على الصخرة الصماء كما ورد في الخبر ولا يسلم من الشيطان إلا من دق نظره وسعد بعصمة الله تعالى وتوفيقه وهدايته وإلا فالشيطان ملازم للمتشعرين لعبادة الله تعالى لا يغفل عنهم لحظة حتى يحملهم على الرياء في كل حركة من الحركات حتى في كحل العين وقص الشارب وطيب يوم الجمعة ولبس الثياب فإن هذه سنن في أوقات مخصوصة وللنفس فيها حظ خفي لارتباط نظر الخلق بها ولاستئناس الطبع بها فيدعوه الشيطان إلى فعل ذلك ويقول هذه سنة لا ينبغي أن تتركها ويكون انبعاث القلب باطناً لها لأجل تلك الشهوة الخفية أو مشوبة بها شوباً يخرج عن حد الإخلاص بسببه ومالا يسلم عن هذه الآفات كلها فليس بخالص بل من يعتكف في مسجد معمور نظيف حسن العمارة يأنس إليه الطبع فالشيطان يرغبه فيه ويكثر عليه من فضائل الاعتكاف وقد يكون المحرك الخفي في سره هو الأنس بحسن صورة المسجد واستراحة الطبع إليه ويتبين ذلك في ميله إلى أحد المسجدين أو أحد الموضعين إذا كان أحسن من الآخر وكل ذلك امتزاج بشوائب الطبع وكدورات النفس ومبطل حقيقة الإخلاص لعمري الغش الذي يمزج بخالص الذهب له درجات متفاوتة فمنها ما يغلب ومنها ما يقل لكن يسهل دركه
Tingkat keempat, dan ini lebih halus dan tersembunyi: ketika manusia melihatnya saat ia sedang shalat, setan tidak mampu membisikkan padanya "Khusyuklah demi mereka", karena setan tahu orang tersebut telah menyadari hal itu. Maka setan berkata kepadanya: "Pikirkanlah keagungan Allah Ta'ala dan kebesaran-Nya, serta di hadapan siapa engkau sedang berdiri. Malulah jika Allah melihat hatimu dalam keadaan lalai dari-Nya." Maka dengan itu hatinya menjadi hadir dan anggota tubuhnya menjadi khusyuk, lalu ia mengira bahwa hal itu adalah inti keikhlasan, padahal itu adalah inti dari tipu daya dan kecurangan. Sebab, seandainya kekhusyukannya timbul karena memandang keagungan-Nya, niscaya terlintasnya pikiran (khathir) ini akan selalu menyertainya saat bersunyi-diri dan hadirnya tidak akan terkhususkan pada saat hadirnya orang lain. Tanda keselamatan dari cacat ini adalah hendaknya bisikan (khathir) ini merupakan hal yang biasa baginya dalam kesunyian sebagaimana dalam keramaian, serta hadirnya orang lain bukanlah menjadi sebab hadirnya bisikan tersebut, sebagaimana hadirnya hewan ternak pun tidak menjadi sebabnya. Maka selama ia masih membedakan dalam kondisi-kondisinya antara disaksikan manusia dan disaksikan hewan ternak, ia masih keluar dari kesucian ikhlas dan batinnya ternoda oleh syirik khafi (tersembunyi) yaitu riya'. Dan syirik ini lebih tersembunyi di dalam hati anak Adam daripada merayapnya semut hitam di atas batu hitam yang licin pada malam yang gelap gulita, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis. Tidak ada yang selamat dari setan kecuali orang yang tajam pandangannya dan beruntung memperoleh pemeliharaan ('ishmah), taufik, serta hidayah dari Allah Ta'ala. Jika tidak, setan akan terus melekat pada orang-orang yang mendedikasikan diri untuk beribadah kepada Allah Ta'ala, tidak lalai dari mereka walau sekejap, hingga mendorong mereka pada riya' dalam setiap gerakan dari berbagai gerakan, bahkan dalam memakai celak mata, memotong kumis, memakai wewangian di hari Jumat, dan mengenakan pakaian. Sebab hal-hal ini adalah sunnah pada waktu-waktu tertentu yang di dalamnya jiwa memiliki kesenangan terselubung karena terhubung dengan pandangan makhluk dan kenyamanan tabiat padanya. Maka setan mengundangnya untuk melakukan hal itu dan berkata: "Ini adalah sunnah yang tidak sepatutnya engkau tinggalkan," padahal dorongan batin hatinya bertindak demi syahwat terselubung itu atau tercampur dengannya secara campuran yang mengeluarkannya dari batas keikhlasan. Dan apa yang tidak selamat dari seluruh cacat ini bukanlah amalan yang ikhlas. Bahkan barang siapa yang beriktikaf di masjid yang makmur, bersih, dan indah bangunannya yang mana tabiat jiwa merasa nyaman padanya, maka setan merayunya untuk itu dan memperbanyak baginya penuturan keutamaan iktikaf, padahal penggerak tersembunyi dalam rahasia hatinya bisa jadi adalah rasa nyaman terhadap indahnya bentuk masjid dan kelegaan tabiat jiwa padanya. Hal itu tampak dari kecenderungannya pada salah satu dari dua masjid atau salah satu dari dua tempat jika yang satu lebih indah dari yang lain. Semua itu adalah pencampuran dengan noda-noda tabiat jiwa dan kekeruhan nafsu, yang membatalkan hakikat keikhlasan. Demi umurku, kepalsuan (campuran) yang dicampurkan pada emas murni memiliki tingkatan yang beragam: di antaranya ada yang mendominasi dan di antaranya ada yang sedikit tetapi mudah dideteksi.
ومنها ما يدق بحيث لا يدركه إلا الناقد البصير
Dan di antaranya ada yang sangat halus sehingga tidak dapat dideteksi kecuali oleh penguji (penilai emas) yang jeli dan ahli.
وغش القلب ودغل الشيطان وخبث النفس أغمض من ذلك وأدق كثيرا
Adapun kepalsuan hati, kebusukan tipu daya setan, dan kejahatan nafsu jauh lebih samar dan lebih halus daripada hal itu.
ولهذا قيل ركعتان من عالم أفضل من عبادة سنة من جاهل وأريد به العالم البصير بدقائق آفات الأعمال حتى يخلص عنها فإن الجاهل نظره إلى ظاهر العبادة واغتراره بها كالنظر السوادي إلى حمرة الدينار المموه واستدارته وهو مغشوش زائف في نفسه وقيراط من الخالص الذي يرتضيه الناقد البصير خير من دينار يرتضيه الغر الغبي
Oleh karena inilah dikatakan: "Dua rakaat dari seorang yang alim lebih utama daripada ibadah satu tahun dari orang yang jahil." Yang dimaksud di sini adalah orang alim yang jeli terhadap kehalusan cacat-cacat amal sehingga ia mampu mengikhlaskannya. Sebab pandangan orang yang jahil hanya tertuju pada lahiriah ibadah dan tertipu dengannya, seperti pandangan orang awam (rakyat biasa) terhadap warna merah dinar yang disepuh emas serta kebulatannya, padahal dinar itu palsu dan tidak bernilai pada hakikatnya. Dan satu qirath dari emas murni yang diridhai oleh penilai yang ahli lagi jeli itu lebih baik daripada satu dinar yang diridhai oleh orang lugu yang bodoh.
فهكذا يتفاوت أمر العبادات بل أشد وأعظم ومداخل الآفات المتطرقة إلى فنون الأعمال لا يمكن حصرها وإحصاؤها فلينتفع بما ذكرناه مثالاً والفطن يغنيه القليل عن الكثير والبليد لا يغنيه التطويل أيضاً فلا فائدة في التفصيل
Demikianlah perbedaan kadar perkara ibadah, bahkan lebih tajam dan lebih besar. Dan jalan-jalan masuknya cacat yang merayapi berbagai macam amal tidak mungkin dibatasi dan dihitung jumlahnya. Maka hendaknya dicukupkan dengan apa yang telah kami sebutkan sebagai contoh; bagi orang yang cerdas, sedikit penjelasan sudah cukup baginya daripada penjelasan yang panjang, sedangkan bagi orang yang lamban, penjelasan yang panjang pun tidak akan mencukupinya, sehingga tidak ada faedahnya memperinci lebih lanjut.