باب الصلاة

فصل في شروط الصلاة

فصل في شروط الصلاة

فصل في شروط الصلاة.

Fasal tentang syarat-syarat shalat.

شروط الصلاة خمسة:

Syarat-syarat shalat ada lima:

أحدها: طهارة عن حدث وجنابة.

Salah satunya: bersuci dari hadas dan janabah.

فالأولى: الوضوء.

Yang pertama: wudu.

وشروطه كشروط الغسل ١- ماء مطلق

Dan syarat-syaratnya seperti syarat-syarat mandi: 1- Air mutlak

فصل في شروط الصلاة.

Fasal tentang syarat-syarat salat.

الشرط ما يتوقف عليه صحة الصلاة وليس منها وقدمت الشروط على الأركان لأنها أولى بالتقديم إذ الشرط ما يجب تقديمه على الصلاة واستمراره فيها.

Syarat adalah hal yang keabsahan salat bergantung padanya dan bukan merupakan bagian darinya. Syarat-syarat didahulukan atas rukun-rukun karena memang lebih utama untuk didahulukan, sebab syarat adalah sesuatu yang wajib didahulukan sebelum salat dan harus terus berlangsung di dalamnya.

شروط الصلاة خمسة:

Syarat-syarat salat ada lima:

أحدها: طهارة عن حدث وجنابة الطهارة: لغة النظافة والخلوص من الدنس وشرعا: رفع المنع المترتب على الحدث أو النجس.

Salah satunya: bersuci dari hadas dan janabah. Bersuci secara bahasa artinya kebersihan dan terbebas dari kotoran. Sedangkan secara syariat artinya menghilangkan penghalang yang timbul akibat hadas atau najis.

فالأولى: أي الطهارة عن الحدث: الوضوء هو بضم الواو استعمال الماء في أعضاء مخصوصة مفتتحا بنية.

Maka yang pertama—yaitu bersuci dari hadas—adalah wudu (al-wudhu'). Dengan dammah pada huruf wawu, artinya penggunaan air pada anggota-anggota tubuh tertentu yang diawali dengan niat.

وبفتحها: ما يتوضأ به وكان ابتداء وجوبه مع ابتداء وجو ب المكتوبة ليلة الإسراء.

Dan dengan fathah pada huruf wawu (al-wadhu'), artinya air yang digunakan untuk berwudu. Permulaan diwajibkannya wudu adalah bersamaan dengan permulaan diwajibkannya salat fardu pada malam Isra.

وشروطه أي الوضوء كشروط الغسل خمسة:

Dan syarat-syaratnya—yaitu wudu—seperti syarat-syarat mandi, ada lima:

١- أحدها: ماء مطلق فلا يرفع الحدث ولا يزيل النجس ولا يحصل

1- Salah satunya: Air mutlak. Maka tidak dapat menghilangkan hadas, tidak dapat menghilangkan najis, dan tidak dapat menghasilkan

غير مستعمل في رفع حدث ونجس قليلا,

Bukan air mustakmal dalam menghilangkan hadas dan najis, yang sedikit,

سائر الطهارة ولو مسنونة إلا الماء المطلق وهو ما يقع عليه اسم الماء بلا قيد.

seluruh bentuk bersuci lainnya meskipun yang disunahkan, kecuali dengan air mutlak, yaitu air yang dinamakan 'air' secara mutlak tanpa sebutan terikat.

وإن رشح من بخار الماء الطهور المغلي أو استهلك فيه الخليط أو قيد بموافقة الواقع كماء البحر.

Meskipun merupakan embun dari uap air suci menyucikan yang mendidih, atau zat pencampurnya telah larut habis di dalamnya, atau diberi keterikatan sebutan yang sesuai dengan kenyataan, seperti 'air laut'.

بخلاف ما لا يذكر إلا مقيدا كماء الورد.

Berbeda dengan air yang tidak pernah disebut kecuali secara terikat, seperti 'air mawar'.

غير مستعمل في فرض طهارة من رفع حدث أصغر أو أكبر ولو من طهر حنفي لم ينو أو صبي لم يميز لطواف وإزالة نجس ولو معفوا عنه.

Bukan air yang telah digunakan dalam bersuci fardu, baik menghilangkan hadas kecil maupun besar, meskipun berasal dari bersucinya pengikut mazhab Hanafi yang tidak berniat, atau dari anak kecil yang belum mumayyiz untuk tawaf, serta (bukan air yang telah digunakan) untuk menghilangkan najis meskipun yang dimaafkan.

قليلا أي حال كون المستعمل قليلا أي دون القلتين فإن جمع المستعمل فبلغ قلتين فمطهر كما لو جمع المتنجس فبلغ قلتين ولم يتغير وإن قل بعد بتفريقه.

Yang sedikit, yaitu dalam keadaan air mustakmal tersebut berjumlah sedikit (kurang dari dua kulah). Apabila air mustakmal dikumpulkan hingga mencapai dua kulah, maka ia menjadi menyucikan, sebagaimana jika air terkena najis dikumpulkan hingga mencapai dua kulah dan tidak berubah (sifatnya), meskipun kelak berkurang lagi setelah dipisahkan.

فعلم أن الاستعمال لا يثبت إلا مع قلة الماء أي وبعد فصله عن المحل المستعمل ولو حكما كأن جاوز منكب المتوضئ أو ركبته وإن عاد لمحله أو انتقل من يد لأخرى.

Maka dapat diketahui bahwa hukum 'mustakmal' (telah dipakai) tidak berlaku kecuali apabila airnya sedikit dan setelah terpisah dari anggota tubuh yang dibasuh, meskipun secara hukum, seperti jika air itu melewati pundak atau lutut orang yang berwudu, walaupun air tersebut kembali ke tempatnya semula atau berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.

نعم لا يضر في المحدث انفصال الماء من الكف إلى الساعد ولا في الجنب انفصاله من الرأس إلى نحو الصدر مما يغلب فيه التقاذف.

Ya, bagi orang yang berhadas kecil (muhdits), berpindahnya air dari telapak tangan ke lengan bawah tidaklah membahayakan (tidak membuatnya menjadi musta'mal). Demikian pula bagi orang yang junub, berpindahnya air dari kepala ke arah dada pada hal-hal yang umumnya air memercik.

* * *

* * *

ومتغير كثيرا بخليط طاهر غني عنه

Dan (air yang) berubah banyak sebab bercampur barang suci yang tidak dibutuhkan oleh air,

فرع لو أدخل المتوضئ يده١ بقصد الغسل عن الحدث أولا بقصد بعد نية الجنب أو تثليث وجه المحدث أو بعد الغسلة الأولى إن قصد الاقتصار عليها بلا نية اغتراف ولا قصد أخذ الماء لغرض آخر صار مستعملا بالنسبة لغير يده فله أن يغسل بما فيها باقي ساعدها.

Cabang Masalah: Jika orang yang berwudu memasukkan tangannya dengan maksud membasuh dari hadas, atau tanpa maksud apapun setelah niat mandi junub, atau setelah basuhan muka yang ketiga bagi orang yang berhadas kecil, atau setelah basuhan pertama jika ia berniat mencukupi dengannya saja tanpa niat mengeduk (ightiraf) dan tanpa maksud mengambil air untuk tujuan lain, maka air tersebut menjadi musta'mal bagi selain tangannya, sehingga ia boleh membasuh sisa lengan bawahnya dengan air yang ada di tangannya itu.

وغير متغير تغيرا كثيرا بحيث يمنع إطلاق اسم الماء عليه بأن تغير أحد صفاته من طعم أو لون أو ريح ولو تقديريا أو كان التغير بما على عضو المتطهر في الأصح وإنما يؤثر التغير إن كان بخليط أي مخالطا

bukan berubah yang tidak terlalu banyak sekira-kira mencegah penyebutan nama air mutlak atasnya, yaitu dengan berubah salah satu sifatnya baik rasa, warna, atau aromanya, meskipun perubahan itu secara perkiraan (taqdiri) atau perubahan tersebut disebabkan oleh sesuatu yang ada pada anggota tubuh orang yang bersuci menurut pendapat yang paling sahih. Perubahan itu hanyalah berpengaruh jika disebabkan oleh benda yang bercampur (khalith/mukhalith),

للماء وهو ما لا يتميز في رأي العين طاهر وقد غني الماء عنه كزعفران وثمر شجر نبت قرب الماء وورق طرح ثم تفتت لا تراب وملح ماء وإن طرحا فيه.

terhadap air, yaitu sesuatu yang tidak dapat dibedakan oleh pandangan mata, berstatus suci, serta air tidak membutuhkannya, seperti za'faran, buah dari pohon yang tumbuh di dekat air, dan daun yang dijatuhkan lalu hancur lebur; tidak termasuk tanah dan garam air, meskipun keduanya sengaja dijatuhkan ke dalamnya.

ولا يضر تغير لا يمنع الاسم لقلته ولو احتمالا بأن شك أهو كثير أو قليل.

Dan tidak membahayakan perubahan yang tidak mencegah penyebutan nama air karena sedikitnya perubahan tersebut, meskipun secara kemunginan (ihtimal), yaitu sekiranya ia ragu apakah perubahannya banyak atau sedikit.

وخرج بقولي بخليط المجاور وهو ما يتميز للناظر كعود ودهن ولو مطيبين ومنه البخور وإن كثر وظهر نحو ريحه

Dan dikecualikan dari perkataanku 'dengan barang yang bercampur (khalith)' yaitu 'barang yang berdampingan (mujawir)', yaitu sesuatu yang dapat dibedakan oleh penglihat mata seperti kayu dan minyak meskipun keduanya diberi wewangian, dan termasuk di antaranya adalah asap kemenyan/gaharu meskipun banyak dan tampak aromanya,

خلافا لجمع ومنه أيضا ماء أغلي فيه نحو بر وتمر حيث لم يعلم أو بنجس ولو كان كثيرا,

berbeda dengan sekelompok ulama. Termasuk di antaranya juga air yang direbus di dalamnya seumpama gandum dan kurma sekira tidak diketahui…

انفصال عين فيه مخالطة بأن لم يصل إلى حد بحيث له اسم آخر كالمرقة ولو شك في شيء أمخالط هو أم مجاور له حكم المجاور.

…terpisahnya suatu zat di dalamnya yang bercampur, sekira tidak sampai pada batas yang membuatnya memiliki nama lain seperti kuah sup. Dan apabila ragu pada sesuatu apakah ia mukhalith (bercampur) atau mujawir (berdampingan), maka berlaku hukum mujawir.

وبقولي غني عنه ما لا يستغنى عنه كما في مقرة وممره من نحو طين وطحلب متفتت وكبريت وكالتغير بطول المكث أو بأوراق متناثرة بنفسها وإن تفتتت وبعدت الشجرة عن الماء.

Dan dikecualikan dengan perkataanku 'yang air tidak membutuhkannya' yaitu sesuatu yang air tidak bisa lepas darinya, seperti yang ada di tempat menetapnya air atau tempat alirannya berupa lumpur, lumut yang hancur, dan belerang; serta seperti perubahan karena terlalu lama berdiam, atau karena daun-daun yang berguguran dengan sendirinya meskipun hancur dan pohonnya jauh dari air.

أو بنجس وأن قل التغير ولو كان الماء كثيرا أي قلتين أو أكثر في صورتي التغيير بالطاهر والنجس.

Atau (berubah) sebab barang najis meskipun perubahannya sedikit dan meskipun airnya banyak, yaitu dua qullah atau lebih, dalam dua gambaran perubahan sebab barang suci dan barang najis.

والقلتان بالوزن: خمسمائة رطل بغدادي تقريبا وبالمساحة في المربع: ذراع وربع طولا وعرضا وعمقا بذراع اليد المعتدلة وفي المدور: ذراع من سائر الجوانب بذراع الآدمي وذراعان عمقا بذراع النجار وهو ذراع وربع١.

Ukuran dua qullah berdasarkan timbangan adalah sekitar 500 rithl Baghdad. Berdasarkan ukuran tempat pada wadah berbentuk persegi empat: satu hasta seperempat panjang, lebar, dan dalamnya dengan ukuran hasta tangan sedang. Dan pada wadah berbentuk bulat: satu hasta dari seluruh sisinya dengan ukuran hasta manusia dan dua hasta dalamnya dengan ukuran hasta tukang kayu, yaitu satu hasta seperempat.

ولا تنجس قلتا ماء ولو احتمالا كأن شك في ماء أبلغهما أم لا وإن تيقنت قلته قبل بملاقاة نجس ما لم يتغير به وإن استهلكت النجاسة فيه ولا يجب التباعد من نجس في ماء كثير ولو بال في البحر مثلا فارتفعت منه رغوة فهي نجسة إن تحقق أنها من عين النجاسة أو من المتغير أحد أوصافه بها وإلا فلا ولو طرحت فيه بعرة فوقعت من أجل الطرح قطرة على شيء لم تنجسه.

Dan air sebanyak dua qullah tidak menjadi najis—meskipun secara kemungkinan (ihtimal), seperti ragu pada air apakah mencapai dua qullah atau tidak, meskipun sebelumnya diyakini kurang dari dua qullah—hanya sebab kemasukan najis selama tidak berubah dengannya, sekalipun najis tersebut hancur di dalamnya. Dan tidak wajib menjauh dari najis dalam air yang banyak. Jika seseorang kencing di laut misalnya, lalu muncul busa darinya, maka busa itu najis jika dipastikan berasal dari zat najis tersebut atau dari air yang berubah salah satu sifatnya karena najis itu, jika tidak dipastikan maka tidak najis. Dan jika kotoran hewan dilemparkan ke dalamnya lalu karena lemparan itu terpancar satu tetes mengenai sesuatu, maka tetesan itu tidak menajiskannya.

٢- وجري ماء على عضو ٣- وأن لا يكون عليه مغير للماء تغيرا

2. Mengalirnya air pada anggota tubuh. 3. Tidak ada pada anggota tubuh tersebut sesuatu yang dapat mengubah air dengan perubahan…

وينجس قليل الماء وهو ما دون القلتين حيث لم يكن واردا بوصول نجس إليه يرى بالبصر المعتدل غير معفو عنه في الماء ولو معفوا عنه في الصلاة كغيره من رطب ومائع وإن كثر لا بوصول ميتة لا دم لجنسها سائل عند شق عضو منها كعقرب ووزع إلا إن تغير ما أصابته ولو يسيرا فحينئذ ينجس لا سرطان وضفدع فينجس بهما خلافا لجمع ولا بميتة كان نشؤها من الماء كالعلق ولو طرح فيه ميتة من ذلك نجس وإن كان الطارح غير مكلف ولا أثر لطرح الحي مطلقا.

Air yang sedikit, yaitu yang kurang dari dua qullah, menjadi najis apabila ia tidak mendatangi (bukan air yang disiramkan) dengan sampainya najis yang terlihat oleh mata sedang yang tidak dimaafkan dalam air kepadanya, meskipun najis itu dimaafkan dalam salat, sama seperti benda basah dan benda cair lainnya meskipun banyak. Air tidak menjadi najis dengan jatuhnya bangkai hewan yang tidak memiliki darah mengalir dari jenisnya saat anggota tubuhnya dibelah, seperti kalajengking dan cecak, kecuali jika air yang kejatuhan itu berubah meskipun sedikit, maka saat itu menjadi najis; tidak seperti kepiting dan katak, sebab air menjadi najis karena keduanya—berbeda dengan pendapat sekelompok ulama. Air juga tidak menjadi najis sebab bangkai hewan yang asal pertumbuhannya dari air seperti lintah. Namun jika bangkai dari jenis tersebut sengaja dilemparkan ke dalam air, maka air menjadi najis, meskipun yang melemparkannya adalah orang yang belum mukalaf. Dan melemparkan hewan yang hidup tidak berdampak apa-apa secara mutlak.

واختار كثيرون من أئمتنا مذهب مالك: أن الماء لا ينجس مطلقا إلا بالتغير والجاري كراكد.

Dan banyak dari kalangan imam-imam kita memilih mazhab Imam Malik: bahwa air tidak menjadi najis secara mutlak kecuali jika berubah, dan air yang mengalir sama hukumnya dengan air yang tenang.

وفي القديم: لا ينجس قليله بلا تغير وهو مذهب مالك.

Dan dalam qaul qadim (pendapat lama Imam Asy-Syafi'i): air yang sedikit tidak menjadi najis tanpa adanya perubahan, dan ini adalah mazhab Malik.

قال في المجموع: سواء كانت النجاسة مائعة أو جامدة.

Beliau (Imam An-Nawawi) berkata dalam Al-Majmu': Baik najis tersebut berupa benda cair maupun padat.

والماء القليل إذا تنجس يطهر ببلوغه قلتين ولو بماء متنجس حيث لا تغير به والكثير يطهر بزوال تغيره بنفسه أو بماء زيد عليه أو نقص عنه وكان الباقي كثيرا.

Air yang sedikit apabila terkena najis dapat menjadi suci kembali dengan mencapai ukuran dua qullah, meskipun ditambahi dengan air yang mutanajjis (terkena najis) sekiranya tidak ada perubahan padanya. Sedangkan air yang banyak dapat menjadi suci dengan hilangnya perubahan pada air tersebut secara sendirinya, atau dengan air yang ditambahkan padanya, atau dikurangi darinya dan sisa air tersebut masih banyak (mencapai dua qullah).

٢- وثانيها: جري ماء على عضو مغسول فلا يكفي أن يمسه الماء بلا جريان لأنه لا يسمى غسلا.

2- Yang kedua: mengalirnya air pada anggota tubuh yang dibasuh, maka tidak cukup jika air hanya menyentuhnya tanpa mengalir, karena hal itu tidak dinamakan basuhan (ghasl).

٣- وثالثها: أن لا يكون عليه أي على العضو مغير للماء تغيرا

3- Yang ketiga: tidak ada di atasnya (yaitu di atas anggota tubuh) sesuatu yang mengubah air dengan perubahan…

ضارا ٤- وحائل كنورة ٥- ودخول وقت لدائم حدث.

yang merusak (membahayakan keabsahan wudu). 4- Dan adanya penghalang seperti kapur sirih (nurah). 5- Dan masuknya waktu bagi orang yang senantiasa berhadas (da'im al-hadats).

ضارا كزعفران وصندل خلافا لجمع.

yang merusak seperti za'faran (zafaron) dan cendana, berbeda dengan pendapat sekelompok ulama.

٤- ورابعها: أن لا يكون على العضو حائل بين الماء والمغسول كنورة وشمع ودهن جامد وعين حبر وحناء بخلاف دهن جار أي مائع وإن لم يثبت الماء عليه وأثر حبر وحناء.

4- Yang keempat: tidak ada di atas anggota tubuh tersebut penghalang antara air dan bagian yang dibasuh, seperti kapur sirih (nurah), lilin, lemak padat, serta wujud (zat) tinta dan pacar (inai). Berbeda halnya dengan lemak cair (minyak cair) meskipun air tidak menempel di atasnya, serta bekas (warna) tinta dan pacar.

وكذا يشترط على ما جزم به كثيرون أن لا يكون وسخ تحت ظفر يمنع وصول الماء لما تحته خلافا لجمع منهم الغزالي والزركشي وغيرهما وأطالوا في ترجيحه وصرحوا بالمسامحة عما تحتها من الوسخ دون نحو العجين وأشار الأذرعي وغيره إلى ضعف مقالتهم وقد صرح في التتمة وغيرها بما في الروضة وغيرها من عدم

Demikian pula disyaratkan—menurut pendapat yang ditegaskan oleh banyak ulama—bahwa tidak boleh ada kotoran di bawah kuku yang menghalangi sampainya air ke bagian bawahnya, berbeda dengan sekelompok ulama di antaranya Al-Ghazali, Az-Zarkasyi, dan lainnya. Mereka memperpanjang pembahasan dalam mengunggulkan pendapat tersebut dan menegaskan dimakfumnnya kotoran di bawah kuku, bukan seperti adonan. Namun Al-Adzra'i dan yang lainnya mengisyaratkan lemahnya pendapat mereka. Sungguh telah ditegaskan dalam At-Tatimmah dan lainnya sesuai dengan apa yang ada dalam Ar-Raudhah dan lainnya tentang tidak adanya…

المسامحة بشيء مما تحتها حيث منع وصول الماء بمحله وأفتى البغوي في وسخ حصل من غبار بأنه يمنع صحة الوضوء بخلاف ما نشأ من بدنه وهو العرق المتجمد وجزم به في الأنوار.

toleransi (kemakfuman) terhadap sesuatu pun di bawah kuku sekiranya menghalangi sampainya air ke tempatnya. Al-Baghawi berfatwa mengenai kotoran yang berasal dari debu bahwa hal itu menghalangi keabsahan wudu, berbeda dengan kotoran yang timbul dari tubuhnya sendiri, yaitu keringat yang mengeras (daki), dan hal ini ditegaskan dalam kitab Al-Anwar.

٥- وخامسها: دخول وقت لدائم حدث كسلس ومستحاضة.

5- Yang kelima: masuknya waktu shalat bagi orang yang senantiasa berhadas (da'im al-hadats) seperti penderita beser (salas) dan wanita mustahadhah.

ويشترط له أيضا ظن دخوله فلا يتوضأ كالمتيمم لفرض أو نفل مؤقت قبل وقت فعله ولصلاة جنازة قبل الغسل وتحية قبل دخول المسجد وللرواتب المتأخرة قبل فعل الفرض ولزم وضوءان أو تيممان١ على خطيب دائم الحدث أحدهما: للخطبتين والآخر بعدهما

Dan disyaratkan baginya juga adanya persangkaan (dugaan kuat) masuknya waktu. Maka ia tidak boleh berwudu—sebagaimana orang yang bertayamum—untuk shalat fardu atau shalat sunnah mu'aqqat (ditentukan waktunya) sebelum waktu pelaksanaannya, untuk shalat jenazah sebelum jenazah dimandikan, untuk shalat tahiyatul masjid sebelum masuk masjid, dan untuk sunnah rawatib ba'diyyah sebelum melakukan shalat fardu. Dan wajib dua kali wudu atau tayamum bagi seorang khatib yang senantiasa berhadas (da'im al-hadats); salah satunya untuk dua khotbah dan yang satunya lagi setelah keduanya…

وفروضه: ١- نية فرض وضوء عند غسل وجه,

Dan rukun-rukun wudu: 1- Niat fardu wudu ketika membasuh wajah,

لصلاة جمعة ويكفي واحد لهما لغيره ويجب عليه الوضوء لكل فرض كالتيمم وكذا غسل الفرج وإبدال القطنة التي بفمه والعصابة وإن لم تزل عن موضعها.

untuk shalat Jumat, sedangkan cukup satu wudu untuk keduanya (khotbah dan shalat) bagi orang selainnya (selain khatib da'im al-hadats). Wajib baginya (da'im al-hadats) berwudu untuk setiap shalat fardu sebagaimana tayamum, demikian pula membasuh kemaluan dan mengganti kapas yang ada pada kemaluannya serta balutannya meskipun tidak bergeser dari tempatnya.

وعلى نحو سلس مبادرة بالصلاة فلو أخر لمصلحتها كانتظار جماعة أو جمعة وإن أخرت عن أول الوقت وكذهاب إلى مسجد لم يضره.

Wajib bagi orang seperti penderita beser (salas) untuk bersegera melaksanakan shalat. Jika ia menundanya demi kemaslahatan shalat, seperti menunggu jamaah atau shalat Jumat meskipun diundur dari awal waktu, atau seperti berjalan menuju masjid, maka hal itu tidak memudaratkannya (tidak membatalkan).

وفروضه ستة:

Rukun-rukun (fardu-fardu) wudu ada enam:

١- أحدها: نية وضوء أو أداء فرض وضوء أو رفع حدث لغير دائم حدث حتى في الوضوء المجدد أو الطهارة عنه أو الطهارة لنحو الصلاة مما لا يباح إلا بالوضوء أو استباحة مفتقر إلى وضوء كالصلاة ومس المصحف ولا تكفي نية استباحة ما يندب له الوضوء كقراءة القرآن أو الحديث وكدخول مسجد وزيارة قبر.

1- Salah satunya: niat wudu, atau niat menunaikan fardu wudu, atau niat mengangkat hadas bagi selain orang yang senantiasa berhadas (da'im al-hadats) bahkan dalam wudu tajdid (memperbarui wudu), atau niat bersuci dari hadas, atau niat bersuci untuk semisal shalat dari hal-hal yang tidak dihalalkan kecuali dengan wudu, atau niat membolehkan hal yang membutuhkan wudu seperti shalat dan menyentuh mushaf. Tidak cukup niat membolehkan hal yang disunnahkan berwudu untuknya seperti membaca Al-Qur'an atau hadis, masuk masjid, dan ziarah kubur.

والأصل في وجوب النية خبر: "إنما الأعمال بالنيات" [البخاري رقم: ١, مسلم رقم: ١٩٠٧] أي إنما صحتها لإكمالها.

Dan dalil asal mengenai kewajiban niat adalah hadis: "Sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung pada niatnya" [HR. Al-Bukhari No. 1, Muslim No. 1907], maksudnya sesungguhnya keabsahan amalan-amalan itu (bukan sekadar kesempurnaannya).

ويجب قرنها عند أول غسل جزء من وجه فلو قرنها بأثنائه كفى ووجب إعادة غسل ما سبقها.

Dan wajib menyertainya (niat) saat awal membasuh sebagian wajah. Jika ia menyertainya di tengah-tengahnya, maka itu mencukupi dan wajib mengulangi pembasuhan bagian yang mendahuluinya.

ولا يكفي قرنها بما قبله حيث لم يستصحبها إلى غسل شيء منه وما قارنها هو أوله فتفوت سنة المضمضة إن انغسل معها شيء من الوجه كحمرة الشفة بعد النية.

Dan tidak cukup menyertainya dengan bagian sebelum wajah jika ia tidak melanjutkannya hingga membasuh sebagian dari wajah, dan bagian yang menyertai niat itu adalah awal pembasuhan wajah. Maka hilanglah kesunahan berkumur jika sebagian wajah ikut terbasuh bersamaan dengannya, seperti bagian merah bibir setelah berniat.

٢- وغسل وجهه وهو ما بين منابت رأسه ومنتهى لحييه وما بين أذنيه,

2- Dan membasuh wajahnya, yaitu bagian antara tempat tumbuh rambut kepalanya dan ujung kedua tulang rahangnya, serta antara kedua telinganya.

فالأولى أن يفرق النية بأن ينوي عند كل من غسل الكفين والمضمضة والاستنشاق سنة الوضوء ثم فرض الوضوء عند غسل الوجه حتى لا تفوت فضيلة استصحاب النية من أوله وفضيلة المضمضة والاستنشاق مع انغسال حمرة الشفة.

Maka yang lebih utama adalah memisahkan niat, yaitu berniat sunnah wudhu saat membasuh kedua telapak tangan, berkumur, dan menghirup air ke hidung, kemudian berniat fardhu wudhu saat membasuh wajah, agar tidak kehilangan keutamaan menyertakan niat sejak awal dan keutamaan berkumur serta menghirup air ke hidung beserta terbasuhnya bagian merah bibir.

٢- وثانيها: غسل ظاهر وجهه لآية: ﴿فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ﴾ [٥ سورة المائدة: ٦] وهو طولا ما بين منابت شعر رأسه غالبا وتحت منتهى لحييه بفتح اللام فهو من الوجه دون ما تحته والشعر النابت على ما تحته وعرضا ما بين أذنيه.

2- Yang kedua: Membasuh bagian luar wajahnya berdasarkan ayat: {فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ} [QS. Al-Ma'idah: 6]. Batas panjangnya adalah antara tempat tumbuh rambut kepala pada umumnya dan bagian bawah ujung kedua tulang rahang (lahyayhi dengan huruf lam dibaca fathah), sehingga bagian tersebut termasuk wajah, bukan bagian di bawahnya dan bukan pula rambut yang tumbuh pada bagian di bawahnya. Sedangkan batas lebarnya adalah antara kedua telinga.

ويجب غسل شعر الوجه من هدب وحاجب وشارب وعنفقة ولحية وهي ما نبت على الذقن وهو مجتمع اللحيين وعذار هو ما نبت على العظم المحاذي للأذن وعارض وهو ما انحط عنه إلى اللحية.

Dan wajib membasuh rambut wajah yang berupa bulu mata, alis, kumis, 'anfaqah (bulu di bawah bibir bawah), janggut—yaitu rambut yang tumbuh pada dagu (tempat bertemunya dua tulang rahang)—, 'idzar—yaitu rambut yang tumbuh pada tulang yang sejajar dengan telinga—, dan 'aridh—yaitu rambut yang turun dari 'idzar menuju janggut.

ومن الوجه حمرة الشفتين وموضع الغمم وهو ما نبت عليه الشعر من الجبهة دون محل التحذيف على الأصح وهو ما نبت عليه الشعر الخفيف بين ابتداء العذار والنزعة ودون وتد الأذن والنزعتين وهما بياضان يكتنفان الناصية وموضع الصلع وهو ما بينهما إذا انحسر عنه الشعر.

Dan termasuk bagian wajah adalah warna merah pada kedua bibir dan tempat ghamam—yaitu bagian dahi yang ditumbuhi rambut—bukan tempat tahdzif menurut pendapat yang lebih sahih—yaitu tempat ditumbuhi rambut tipis di antara awal 'idzar dan nuz'ah—, dan bukan pula watad telinga, kedua nuz'ah—yaitu dua area putih yang mengapit ubun-ubun—, serta tempat kebotakan—yaitu area di antara keduanya jika rambutnya telah habis.

٣- وغسل يديه بكل مرفق ٤- ومسح بعض رأسه,

3- Dan membasuh kedua tangannya berserta kedua siku, 4- dan mengusap sebagian kepalanya,

ويسن غسل كل ما قيل إنه ليس من الوجه١.

Dan disunnahkan membasuh semua bagian yang dikatakan bukan termasuk wajah.

ويجب غسل ظاهر وباطن كل من الشعور السابقة وإن كثف لندرة الكثافة فيها لا باطن كثيف لحية وعارض.

Dan wajib membasuh bagian luar dan dalam dari setiap rambut yang telah disebutkan sebelumnya meskipun tebal, karena jarangnya ketebalan padanya, bukan bagian dalam dari janggut dan 'aridh yang tebal.

والكثيف ما لم تر البشرة من خلاله في مجلس التخاطب عرفا ويجب غسل ما لا يتحقق غسل جميعه إلا بغسله لان ما لا يتم الواجب إلا به واجب.

Dan yang tebal adalah rambut yang kulit tidak terlihat dari sela-selanya dalam majelis percakapan secara adat ('urf). Dan wajib membasuh bagian yang mana pembasuhan seluruh wajah tidak dapat dipastikan kecuali dengannya, karena kaidah: "Suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya wajib."

٣- وثالثها: غسل يديه من كفيه وذراعيه بكل مرفق للآية [٥ سورة المائدة: الآية ٦] ويجب غسل جميع ما في محل الفرض من شعر وظفر وإن طال.

3- Yang ketiga: Membasuh kedua tangannya mulai dari telapak tangan hingga lengan bawah beserta kedua siku berdasarkan ayat [QS. Al-Ma'idah: 6]. Dan wajib membasuh seluruh apa yang ada pada anggota fardhu berupa rambut dan kuku meskipun panjang.

فرع لو نسي لمعة فانغسلت في تثليث أو إعادة وضوء لنسيان له لا تجديد واحتياط أجزأه.

Cabang masalah: Jika seseorang melupakan satu bagian kecil (yang belum terbasuh), lalu bagian itu terbasuh pada basuhan kedua/ketiga (tatslith) atau saat mengulang wudhu karena lupa padanya, bukan karena wudhu tajdid (pembaharuan) atau berhati-hati (ihtiyath), maka hal itu mencukupinya.

٤- ورابعها: مسح بعض رأسه كالنزعة والبياض الذي وراء الأذن بشر أو شعر في حده ولو بعض شعرة واحدة للآية [٥ سورة المائدة: الآية: ٦] .

4- Yang keempat: Mengusap sebagian kepalanya, seperti nuz'ah dan area putih di belakang telinga, baik kulit maupun rambut yang berada dalam batas kepala meskipun hanya sebagian dari satu helai rambut, berdasarkan ayat [QS. Al-Ma'idah: 6].

٥- وغسل رجليه بكل كعب,

5- Dan membasuh kedua kakinya beserta kedua mata kaki,

قال البغوي: ينبغي أن لا يجزئ أقل من قدر الناصية وهي ما بين النزعتين لأنه ص لم يمسح أقل منها وهو رواية عن أبي حنيفة رحمه الله تعالى والمشهور عنه وجوب مسح الربع.

Al-Baghawi berkata: Seyogianya tidak mencukupi kadar yang kurang dari ukuran ubun-ubun (nashiyah)—yaitu area di antara dua nuz'ah—karena Nabi SAW tidak pernah mengusap kurang darinya. Hal ini merupakan satu riwayat dari Abu Hanifah Rahimahullah, dan pendapat yang masyhur darinya adalah wajib mengusap seperempat kepala.

٥- وخامسها: غسل رجليه بكل كعب من كل رجل للآية [٥ سورة المائدة: الآية: ٦]

5- Yang kelima: Membasuh kedua kakinya beserta kedua mata kaki dari setiap kaki berdasarkan ayat [QS. Al-Ma'idah: 6].

أو مسح خفيهما بشروطه ويجب غسل باطن ثقب وشق.

Atau mengusap kedua khuf (sepatu bot)-nya sesuai syarat-syaratnya. Dan wajib membasuh bagian dalam lubang dan retakan (pada kaki).

فرع لو دخلت شوكة في رجله وظهر بعضها وجب قلعها وغسل محلها لأنه صار في حكم الطاهر فإن استترت كلها صارت في حكم الباطن فيصح وضوؤه ولو تنفط في رجل أو غيره لم يجب غسل باطنه ما لم يتشقق فإن تشقق وجب غسل باطنه ما لم يرتتق.

Cabang masalah: Jika duri masuk ke kakinya dan sebagian dari duri itu tampak, maka wajib mencabutnya dan membasuh tempatnya karena tempat itu berstatus tampak (zahir). Apabila seluruh duri itu tertutup (masuk sepenuhnya), maka berstatus bagian dalam (batin), sehingga wudunya tetap sah. Jika timbul melepuh (kulit berair) di kaki atau anggota tubuh lainnya, tidak wajib membasuh bagian dalamnya selama belum terbelah. Jika terbelah, maka wajib membasuh bagian dalamnya selama belum rapat kembali.

تنبيه: ذكروا في الغسل أنه يعفى عن باطن عقد الشعر أي إذا انعقد بنفسه وألحق بها من ابتلي بنحو طبوع١ لصق بأصول شعره حتى منع وصول الماء إليها ولم يمكن إزالته. وقد صرح شيخ شيوخنا زكريا الأنصاري

Peringatan: Para ulama menyebutkan dalam pembahasan mandi bahwa dimaafkan bagian dalam ikatan rambut—yaitu jika terikat dengan sendirinya. Dan disamakan dengannya orang yang tertimpa musibah sejenis getah/kotoran (thabu') yang menempel pada pangkal rambutnya hingga menghalangi sampainya air kepadanya dan tidak memungkinkan untuk dihilangkan. Syekh dari guru-guru kami, Zakariya al-Anshari, telah menegaskan…

بأنه لا يلحق بها بل عليه التيمم لكن قال تلميذه شيخنا: والذي يتجه العفو للضرورة.

…bahwa hal itu tidak disamakan dengannya, melainkan ia wajib bertayamum. Namun muridnya, guru kami (Ibn Hajar al-Haitami), berkata: Dan pendapat yang kuat adalah dimaafkan karena darurat.

وترتيب.

Dan tertib.

٦- وسادسها: ترتيب كما ذكر من تقديم غسل الوجه فاليدين فالرأس فالرجلين للاتباع ولو انغمس محدث ولو في ماء قليل بنية معتبرة مما مر أجزأه عن الوضوء ولو لم يمكث في الانغماس زمنا يمكن فيه الترتيب نعم لو اغتسل بنيته فيشترط فيه الترتيب حقيقة ولا يضر نسيان لمعة أو لمع في غير أعضاء الوضوء بل لو كان على ما عدا أعضائه مانع كشمع لم يضر كما استظهره شيخنا ولو أحدث وأجنب أجزأه الغسل عنهما بنيته ولا يجب تيقن عموم الماء جميع العضو بل يكفي غلبة الظن به.

6. Yang keenam: Tertib sebagaimana yang telah disebutkan, yaitu mendahulukan membasuh wajah, lalu kedua tangan, lalu mengusap kepala, lalu membasuh kedua kaki karena mengikuti sunnah (ittiba'). Apabila seorang yang berhadats menyelam, meskipun ke dalam air yang sedikit, dengan niat wudu yang sah dari niat-niat yang telah lalu, maka hal itu sudah memadai baginya dari wudu, meskipun ia tidak berdiam diri dalam penyelaman selama waktu yang memungkinkan terjadinya tertib. Ya, jika ia mandi dengan niat wudu, maka disyaratkan padanya tertib secara nyata. Tidak berbahaya (tetap sah) jika lupa membasuh satu atau beberapa titik kecil di luar anggota wudu, bahkan jika terdapat penghalang seperti lilin pada selain anggota wudunya, hal itu tidak membahayakan (tetap sah) sebagaimana ditegaskan oleh guru kami. Apabila seseorang berhadats kecil dan junub, maka mandi (janabah) mencukupi baginya untuk keduanya dengan niatnya. Dan tidak wajib meyakini sampainya air ke seluruh anggota tubuh, melainkan cukuplah dengan dugaan kuat (ghalabatuz-zhann).

فرع لو شك المتوضئ أو المغتسل في تطهير عضو قبل الفراغ من وضوئه أو غسله طهره وكذا ما بعده في الوضوء أو بعد الفراغ من طهره لم يؤثر ولو كان الشك في النية لم يؤثر أيضا على الأوجه كما في شرح

Cabang masalah: Jika orang yang berwudu atau mandi ragu tentang penyucian suatu anggota sebelum selesai dari wudunya atau mandinya, maka ia wajib menyucikannya dan begitu pula anggota setelahnya dalam wudu. Namun jika keraguan itu terjadi setelah selesai dari bersucinya, maka hal itu tidak berpengaruh. Sekiranya keraguan itu terjadi pada niat (setelah selesai), maka tidak berpengaruh juga menurut pendapat yang lebih kuat (al-awjah), sebagaimana terdapat dalam syarah…

المنهاج لشيخنا وقال: فيه قياس ما يأتي في الشك بعد الفاتحة وقبل الركوع: أنه لو شك بعد عضو في أصل غسله لزمه إعادته أو بعضه لم تلزمه فليحمل كلامهم الأول على الشك في أصل العضو لا بعضه١.

…al-Minhaj karya guru kami. Beliau berkata: Di dalamnya terdapat kiasan dari apa yang akan datang mengenai keraguan setelah membaca Al-Fatihah dan sebelum rukuk: Bahwa jika ia ragu setelah membasuh suatu anggota mengenai asal pembasuhannya, maka ia wajib mengulangnya, atau jika ragu pada sebagiannya, maka tidak wajib mengulangnya. Maka hendaklah perkataan mereka yang pertama dibawa pada arti ragu pada asal pembasuhan anggota, bukan sebagiannya.

وسن تسمية أوله فغسل الكفين فسواك

Dan disunnahkan membaca basmalah pada permulaannya, lalu membasuh kedua telapak tangan, lalu bersiwak,

وسن للمتوضئ ولو بماء مغصوب على الأوجه تسمية أوله أي أول الوضوء للاتباع وأقلها باسم الله وأكملها بسم الله الرحمن الرحيم [الأذكار للنووي الأرقام: ١٥٣- ١٥٦] وتجب عند أحمد ويسن قبلها التعوذ وبعدها الشهادتان [الأذكار للنووي الأرقام: ١٥٧- ١٦٤] والحمد لله الذي جعل الماء طهورا.

Dan disunnahkan bagi orang yang berwudu, meskipun dengan air ghashab menurut pendapat yang kuat, untuk membaca basmalah pada permulaannya, yaitu pada awal wudu karena mengikuti sunnah (ittiba'). Paling sedikitnya adalah "Bismillah" dan paling sempurnanya adalah "Bismillahir-rahmanir-rahim". Dan hukumnya wajib menurut Imam Ahmad. Disunnahkan membaca ta'awwudz sebelum basmalah, dan sesudahnya membaca dua kalimat syahadat serta "Alhamdulillahilladzi ja'alal-ma'a thahura" (Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air sebagai pembersih).

[الأذكار للنووي رقم: ١٦٧] ويسن لمن تركها أوله أن يأتي بها أثناءه قائلا: باسم الله أوله وآخره لا بعد فراغه وكذا في نحو الأكل والشرب والتأليف والاكتحال مما يسن له التسمية والمنقول عن الشافعي وكثير من الأصحاب أن أول السنن التسمية وبه جزم النووي في المجموع وغيره فينوي معها عند غسل اليدين وقال جمع متقدمون: إن أولها السواك ثم بعده التسمية.

Dan disunnahkan bagi orang yang meninggalkannya di awal wudu untuk mengucapkannya di tengah-tengah wudu dengan mengucapkan: "Bismillahi awwalahu wa akhirahu", bukan setelah selesainya wudu. Begitu pula dalam hal seperti makan, minum, menyusun karya, dan bercelak dari perkara-perkara yang disunnahkan membaca basmalah padanya. Pendapat yang dinukil dari al-Syafi'i dan banyak dari para sahabat beliau adalah bahwa sunnah yang pertama adalah membaca basmalah, dan pendapat ini ditegaskan oleh an-Nawawi dalam al-Majmu' dan lainnya; maka ia berniat bersamaan dengan basmalah saat membasuh kedua tangan. Namun sekelompok ulama terdahulu berpendapat: Sesungguhnya sunnah yang pertama adalah bersiwak, kemudian setelahnya membaca basmalah.

فرع: تسن التسمية لتلاوة القرآن ولو من أثناء سورة في صلاة أو خارجها ولغسل وتيمم وذبح.

Cabang masalah: Disunnahkan membaca basmalah untuk membaca Al-Qur'an meskipun dari pertengahan surah, baik di dalam shalat maupun di luar shalat, serta untuk mandi, tayamum, dan menyembelih.

فغسل الكفين معا إلى الكوعين مع التسمية المقترنة بالنية وإن توضأ من نحو إبريق أو علم طهرهما للإتباع. فسواك عرضا في الأسنان ظاهرا وباطنا وطولا في اللسان للخبر الصحيح: [رواه البخاري تعليقا في ٣٠- كتاب الصوم باب السواك الرطب واليابس

Kemudian membasuh kedua telapak tangan secara bersamaan hingga pergelangan tangan beserta basmalah yang disertai niat, meskipun ia berwudu dari sejenis teko atau ia telah yakin akan kesucian keduanya, karena mengikuti sunnah (ittiba'). Lalu bersiwak secara melintang pada gigi bagian luar dan dalam, serta secara memanjang pada lidah berdasarkan hadis shahih:

بكل خشن لكل صلاة,

dengan setiap benda yang kasar untuk setiap shalat,

للصائم] : لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل وضوء. أي أمر إيجاب.

"Sekiranya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudu." Maksudnya adalah perintah yang bersifat wajib.

ويحصل بكل خشن ولو بنحو خرقة أو أشنان والعود أفضل من غيره وأولاه ذو الريح الطيب وأفضله الأراك

Bersiwak dapat diperoleh (tercapai sunnahnya) dengan setiap benda yang kasar, meskipun dengan sejenis kain perca atau tumbuhan usynan. Kayu siwak lebih utama daripada benda lainnya, dan yang paling utama adalah yang memiliki bau yang harum, serta yang paling utama darinya adalah kayu arak,

لا بأصبعه ولو خشنة خلافا لما اختاره النووي.

bukan dengan jarinya meskipun kasar, berbeda dengan pendapat yang dipilih oleh an-Nawawi.

وإنما يتأكد السواك ولو لمن لا أسنان له لكل وضوء ولكل صلاة فرضها ونفلها وإن سلم من كل ركعتين أو استاك لوضوئها وإن لم يفصل بينهما فاصل حيث لم يخش تنجس فمه وذلك لخبر الحميدي بإسناد جيد: ركعتان بسواك أفضل من سبعين ركعة بلا سواك. [أخرجه البزار والبيهقي راجع كنز العمال رقم: ٢٦١٨٠] .

Bersiwak sangat dianjurkan (sangat disunnahkan), meskipun bagi orang yang tidak memiliki gigi, untuk setiap kali berwudhu dan untuk setiap kali shalat, baik shalat fardhu maupun sunnah, meskipun ia mengucapkan salam pada setiap dua rakaat atau telah bersiwak untuk wudhu shalat tersebut walau tidak ada jeda di antara keduanya, sekiranya ia tidak khawatir mulutnya terkena najis. Hal itu berdasarkan hadits Al-Humaidi dengan sanad yang baik: "Dua rakaat dengan bersiwak lebih utama daripada tujuh puluh rakaat tanpa bersiwak." [Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Al-Baihaqi, lihat Kanz al-Ummal no: 26180].

ولو تركه أولها تداركه أثناءها بفعل قليل كالتعمم.

Jikalau ia meninggalkannya di awal shalat, hendaklah ia menyusulnya (melakukannya) di tengah-tengah shalat dengan gerakan yang sedikit, seperti memakai sorban.

ويتأكد أيضا لتلاوة قرآن أو حديث أو علم شرعي أو تغير فم ريحا أو لونا بنحو نوم أو أكل كريه أو سن بنحو صفرة أو استيقاظ من نوم وإرادته ودخول مسجد ومنزل وفي السحر وعند الاحتضار كما دل عليه خبر الصحيحين. [راجع الباب رقم: ٢١٥من رياض الصالحين] ويقال: إنه يسهل خروج الروح وأخذ بعضهم من ذلك تأكده للمريض.

Bersiwak juga sangat dianjurkan saat hendak membaca Al-Qur'an, hadits, atau ilmu syar'i; saat bau atau warna mulut berubah akibat tidur, memakan sesuatu yang berbau tidak sedap; saat gigi berubah menjadi kekuningan; saat bangun dari tidur dan hendak tidur; saat masuk masjid dan rumah; pada waktu sahur (sebelum subuh); dan ketika menghadapi sakaratul maut sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat Ash-Shahihain [Lihat bab nomor 215 dari Riyadhus Shalihin]. Dikatakan pula bahwa siwak dapat mempermudah keluarnya ruh, dan sebagian ulama mengambil pemahaman dari hal itu tentang sangat dianjurkannya bersiwak bagi orang yang sakit.

وينبغي أن ينوي بالسواك السنة ليثاب عليه ويبلع ريقه أول استياكه وأن لا يمصه ويندب التخليل قبل السواك أو بعده من أثر

Hendaklah ia berniat sunnah dalam bersiwak agar mendapat pahala atasnya, menelan air liurnya pada awal bersiwak, dan tidak mengisap siwaknya. Disunnahkan pula menyela-nyela gigi (menghilangkan sisa makanan) sebelum atau sesudah bersiwak dari sisa…

فمضمضة فاستنشاق وجمعهما بثلاث غرف ومسح كل رأس والأذنين,

Kemudian berkumur-kumur (madhmadhah), lalu memasukkan air ke hidung (istinsyaq), menggabungkan keduanya dengan tiga cidukan tangan, serta mengusap seluruh kepala dan kedua telinga,

الطعام والسواك أفضل منه خلافا لمن عكس.

makanan; dan bersiwak itu lebih utama daripada menyela-nyela gigi (takhlil), berbeda dengan pendapat ulama yang berpandangan sebaliknya.

ولا يكره بسواك غيره١ أذن أو علم رضاه وإلا حرم كأخذه من ملك الغير ما لم تجر عادة بالإعراض عنه.

Tidak dimakruhkan bersiwak dengan siwak orang lain jika orang tersebut memberi izin atau diketahui kerelaannya; jika tidak, maka hukumnya haram sebagaimana mengambil barang milik orang lain, selama tidak berlaku kebiasaan yang membolehkannya (mengabaikannya).

ويكره للصائم بعد الزوال إن لم يتغير فمه بنحو نوم.

Dan dimakruhkan bagi orang yang berpuasa (bersiwak) setelah gelincir matahari (zawal), kecuali jika mulutnya berubah baunya karena sesuatu seperti tidur.

فمضمضة فاستنشاق للاتباع وأقلهما إيصال الماء إلى الفم والأنف ولا يشترط في حصول أصل السنة إدارته في الفم ومجه منه ونثره من الأنف بل تسن كالمبالغة فيهما لمفطر للأمر بها.

Lalu berkumur-kumur (madhmadhah) kemudian memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq) karena mengikut petunjuk Nabi (ittiba'). Batas minimal keduanya adalah sampainya air ke dalam mulut dan hidung. Tidak disyaratkan untuk mendapatkan asal sunnah memutar air di dalam mulut, membuangnya (menyemburkannya) dari mulut, dan menyemburkannya dari hidung; melainkan hal-hal tersebut disunnahkan, sebagaimana bersungguh-sungguh (al-mubalaghah) pada keduanya disunnahkan bagi orang yang tidak berpuasa karena adanya perintah tentang hal itu.

ويسن جمعهما بثلاث غرف يتمضمض ثم يستنشق من كل منها.

Disunnahkan menggabungkan keduanya (berkumur dan istinsyaq) dengan tiga cidukan air, di mana ia berkumur lalu memasukkan air ke hidung dari setiap cidukan tersebut.

ومسح كل رأس للاتباع وخروجا من خلاف مالك وأحمد فإن اقتصر على البعض فالأولى أن يكون هو الناصية والأولى في كيفيته أن يضع يديه على مقدم رأسه ملصقا مسبحته بالأخرى وإبهاميه على صدغيه ثم يذهب بهما مع بقية أصابعه غير الإبهامين لقفاه ثم يردهما إلى المبدأ إن كان له شعر ينقلب وإلا فليقتصر على الذهاب وإن كان على رأسه عمامة أو قلنسوة تمم عليها بعد مسح الناصية للاتباع.

Dan mengusap seluruh kepala karena ittiba' serta keluar dari perselisihan pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad. Jika ia membatasi pada sebagian kepala saja, maka yang lebih utama adalah bagian ubun-ubun (nashiyah). Dan yang lebih utama dalam caranya adalah meletakkan kedua tangannya di bagian depan kepala dengan menempelkan kedua jari telunjuknya satu sama lain dan kedua ibu jarinya pada kedua pelipisnya, kemudian menjalankan keduanya bersama sisa jari-jarinya selain ibu jari ke bagian tengkuknya, lalu mengembalikannya ke tempat semula jika ia memiliki rambut yang bisa bolak-balik; jika tidak, maka cukup menjalankan ke belakang saja. Apabila di atas kepalanya terdapat serban atau peci, maka ia menyempurnakan usapan ke atasnya setelah mengusap ubun-ubun karena ittiba'.

ومسح كل الأذنين ظاهرا وباطنا وصماخيه للاتباع.

Dan mengusap seluruh kedua telinga, bagian luar maupun dalam, serta kedua lubang telinga karena ittiba'.

ودلك أعضاء وتخليل لحية كثة وأصابع وإطالة الغرة وتحجيل,

Serta menggosok anggota wudhu (dalk), menyela-nyela janggut yang lebat, menyela-nyela jari-jemari, dan memanjangkan ghurrah (usapan pada wajah) dan tahjil (usapan pada tangan dan kaki),

ولا يسن مسح الرقبة إذ لم يثبت فيه شيء قال النووي: بل هو بدعة وحديثه موضوع١.

Tidak disunnahkan mengusap leher karena tidak ada riwayat yang shahih mengenainya. An-Nawawi berkata: "Bahkan hal itu adalah bid'ah dan haditsnya palsu (maudhu')."

ودلك أعضاء وهو إمرار اليد عليها عقب ملاقاتها للماء خروجا من خلاف من أوجبه.

Dan menggosok anggota wudhu (dalk), yaitu menjalankan tangan di atasnya setelah terkena air, untuk keluar dari perselisihan ulama yang mewajibkannya.

وتخليل لحية كثة والأفضل كونه بأصابع يمناه ومن أسفل مع تفريقها وبغرفة مستقلة للاتباع ويكره تركه.

Dan menyela-nyela janggut yang lebat, yang lebih utama dilakukan dengan jari-jari tangan kanannya dari bagian bawah sambil merenggangkannya dan dengan cidukan air tersendiri karena ittiba', serta dimakruhkan meninggalkannya.

وتخليل أصابع اليدين بالتشبيك والرجلين بأي كيفية كانت والأفضل أن يخللها من أسفل بخنصر يده اليسرى مبتدئا بخنصر الرجل اليمنى ومختتما بخنصر اليسرى. [أي يكون بخنصر يسرى يديه ومن أسفل مبتدئا بخنصر يمنى رجليه مختتما بخنصر يسراهما] ٢.

Dan menyela-nyela jari-jemari tangan dengan cara menjalin jari (tasybik), serta jari-jemari kaki dengan cara apa saja. Namun yang paling utama adalah menyela-nyelainya dari bagian bawah dengan kelingking tangan kirinya, dimulai dari jari kelingking kaki kanan dan diakhiri dengan jari kelingking kaki kiri. [Yaitu dengan jari kelingking tangan kirinya dan dari bagian bawah, dimulai dari jari kelingking kaki kanannya dan diakhiri dengan jari kelingking kaki kirinya].

وإطالة الغرة بأن يغسل مع الوجه مقدم رأسه وأذنيه وصفحتي عنقه.

Dan memanjangkan ghurrah (mengusap lebih dari batas wajah) dengan cara membasuh bagian depan kepala, kedua telinga, dan kedua sisi leher bersamaan dengan pembasuhan wajah.

وإطالة تحجيل بأن يغسل مع اليدين بعض العضدين ومع وتثليث كل,

Dan memanjangkan tahjil, yaitu dengan membasuh sebagian dari kedua lengan atas bersama kedua tangan, dan bersama…

الرجلين بعض الساقين وغايته استيعاب العضد والساق وذلك لخبر الشيخين [البخاري رقم: ١٣٦, ومسلم رقم ٢٤٦] : "إن أمتي يدعون يوم القيامة غرا محجلين من آثار الوضوء فمن استطاع منكم أن يطيل غرته فليفعل زاد مسلم: وتحجيله: أي يدعون بيض الوجوه والأيدي والأرجل ويحصل أقل الإطالة بغسل أدنى زيادة على الواجب وكمالها باستيعاب ما مر.

…kedua kaki sebagian dari kedua betis. Batas maksimalnya adalah meratakan pembasuhan pada seluruh lengan atas dan betis. Hal itu berdasarkan hadis Al-Bukhari [no. 136] dan Muslim [no. 246]: "Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya wajah, tangan, dan kaki mereka karena bekas wudu. Maka barangsiapa di antara kalian yang mampu memanjangkan cahayanya (ghurrah-nya), hendaklah ia melakukannya." Muslim menambahkan: "Dan tahjil-nya." Maksudnya, mereka dipanggil dalam keadaan putih bercahaya wajah, tangan, dan kaki. Kadar minimal memanjangkan (tahjil/ghurrah) diperoleh dengan membasuh sedikit tambahan di atas batas wajib, sedangkan kesempurnaannya diperoleh dengan meratakan apa yang telah disebutkan sebelumnya.

وتثليث كل من مغسول وممسوح ودلك وتخليل وسواك وبسملة وذكر عقبه للاتباع في أكثر ذلك.

Dan mengulang tiga kali (tatslith) pada setiap anggota yang dibasuh, diusap, gosokan (dalk), menyela-nyela (takhlil), siwak, basmalah, dan zikir setelahnya, karena mengikut sunah Nabi (ittiba') dalam sebagian besar hal tersebut.

ويحصل التثليث بغمس اليد مثلا ولو في ماء قليل إذا حركها مرتين ولو ردد ماء الغسلة الثانية حصل له أصل سنة التثليث كما استظهره شيخنا.

Pengulangan tiga kali (tatslith) dapat diperoleh dengan mencelupkan tangan misalnya, walaupun ke dalam air yang sedikit jika ia menggerakkannya dua kali. Dan seandainya ia mengulang-ulang air dari basuhan kedua, ia telah mendapatkan asal dari sunah tatslith, sebagaimana yang dikuatkan oleh guru kami.

ولا يجزئ تثليث عضو قبل إتمام واجب غسله ولا بعد تمام الوضوء ويكره النقص عن الثلاث كالزيادة عليها أي بنية الوضوء كما بحثه جمع وتحرم من ماء موقوف على التطهر.

Tidak memadai mengulang tiga kali suatu anggota sebelum menyempurnakan kewajiban pembasuhannya, tidak pula setelah selesainya wudu. Makruh mengurangi dari tiga kali sebagaimana menambahi atas tiga kali, yaitu dengan niat wudu sebagaimana dibahas oleh sekelompok ulama, dan haram (menambah dari tiga kali) jika menggunakan air yang diwakafkan khusus untuk bersuci.

فرع يأخذ الشاك أثناء الوضوء في استيعاب أو عدد باليقين وجوبا في الواجب وندبا في المندوب ولو في الماء الموقوف أما الشك بعد الفراغ فلا يؤثر.

Cabang masalah: Orang yang ragu di tengah-tengah wudu mengenai meratanya pembasuhan atau jumlah bilangan (basuhan) wajib mengambil yang diyakini (jumlah terkecil), secara wajib pada hal yang wajib dan secara sunah pada hal yang sunah, meskipun pada air yang diwakafkan. Adapun keraguan setelah selesai wudu, maka tidak berpengaruh.

وتيامن وولاء وتعهد موق,

Dan mendahulukan bagian kanan, berturut-turut (wala'), serta memperhatikan sudut mata (muq)…

وتيامن أي تقديم يمين على يسار في اليدين والرجلين ولنحو أقطع في جميع أعضاء وضوئه وذلك لأنه ﷺ كان يحب التيمن في تطهره وشأنه كله أي مما هو من باب التكريم كاكتحال ولبس نحو قميص ونعل وتقليم ظفر وحلق نحو رأس وأخذ وعطاء وسواك وتخليل ويكره تركه.

Dan tiyamin, yaitu mendahulukan bagian kanan daripada kiri pada kedua tangan dan kedua kaki, serta bagi orang yang terpotong anggotanya pada seluruh anggota wudunya. Hal itu karena Nabi ﷺ menyukai mendahulukan yang kanan dalam bersucinya dan dalam seluruh urusannya, yaitu urusan yang termasuk bentuk penghormatan (takrim), seperti memakai celak, mengenakan baju dan sandal, memotong kuku, mencukur rambut kepala, mengambil, memberi, bersiwak, dan menyela-nyela jari. Dan makruh meninggalkannya.

ويسن التياسر في ضده وهو ما كان من باب الإهانة والأذى كاستنجاء وامتخاط وخلع لباس ونعل.

Dan disunahkan mendahulukan bagian kiri (tiyasur) pada kebalikannya, yaitu hal-hal yang termasuk bentuk penyucian dari kotoran atau hal yang tidak mulia, seperti beristinja, membuang ingus, melepas pakaian dan sandal.

ويسن البداءة بغسل أعلى وجهه وأطراف يديه ورجليه وإن صب عليه غيره وأخذ الماء إلى الوجه بكفيه معا ووضع ما يغترف منه عن يمينه وما يصب منه عن يساره.

Dan disunahkan memulai dengan membasuh bagian atas wajahnya serta ujung-ujung jari tangan dan kakinya meskipun orang lain yang menuangkan air padanya, mengambil air ke wajah dengan kedua telapak tangan secara bersamaan, serta meletakkan wadah yang dipakai menceduk air di sebelah kanannya dan wadah yang dipakai menuang air di sebelah kirinya.

وولاء بين أفعال وضوء السليم بأن يشرع في تطهير كل عضو قبل جفاف ما قبله وذلك للاتباع وخروجا من خلاف من أوجبه ويجب لسلس.

Dan berturut-turut (wala') di antara perbuatan-perbuatan wudu bagi orang yang sehat (salim), yaitu dengan mulai menyucikan setiap anggota tubuh sebelum kering anggota sebelumnya. Hal itu karena mengikut sunah Nabi (ittiba') dan untuk keluar dari perselisihan ulama yang mewajibkannya. Dan wala' ini hukumnya wajib bagi orang yang menderita salis (penyakit beser).

وتعهد عقب وموق وهو طرف العين الذي يلي الأنف ولحاظ وهو الطرف الآخر بسبابتي شقيهما١.

Dan memperhatikan (membasuh dengan cermat) tumit, muq—yaitu sudut mata yang berdekatan dengan hidung—dan lihaz—yaitu sudut mata bagian luar—dengan menggunakan kedua jari telunjuk dari masing-masing belahannya.

ومحل ندب تعهدهما إذا لم يكن فيهما رمص يمنع وصول الماء إلى محله وإلا فتعهدهما واجب كما في

Letak kesunahan memperhatikan keduanya (sudut-sudut mata) adalah apabila tidak terdapat kotoran mata (belekan) yang menghalangi sampainya air ke tempatnya. Jika terdapat kotoran mata, maka memperhatikan dan membersihkannya adalah wajib sebagaimana tercantum dalam…

المجموع.

…kitab Al-Majmu'.

واستقبال وترك تكلم وتنشيف والشهادتان عقبه,

Dan menghadap kiblat, tidak berbicara, tidak mengeringkan (anggota wudu), serta membaca dua kalimat syahadat setelahnya,

ولا يسن غسل باطن العين بل قال بعضهم: يكره للضرر وإنما يغسل إذا تنجس لغلظ أمر النجاسة.

Tidak disunahkan membasuh bagian dalam mata, bahkan sebagian ulama berpendapat hukumnya makruh karena menimbulkan bahaya. Bagian dalam mata hanya dibasuh apabila terkena najis karena beratnya urusan najis.

واستقبال القبلة في كل وضوئه.

Dan menghadap kiblat di sepanjang proses wudunya.

وترك تكلم في أثناء وضوئه بلا حاجة بغير ذكر ولا يكره سلام عليه ولا منه ولا رده.

Meninggalkan percakapan di sela-sela wudunya tanpa ada hajat (kebutuhan) selain zikir. Dan tidak dimakruhkan mengucapkan salam kepadanya, tidak pula darinya, serta tidak dimakruhkan menjawabnya.

وترك تنشيف بلا عذر للاتباع.

Meninggalkan mengeringkan anggota wudu (dengan kain/handuk) tanpa adanya uzur karena mengikuti sunah (Ittiba').

والشهادتان عقبه أي الوضوء بحيث لا يطول فاصل عنه عرفا فيقول مستقبلا للقبلة رافعا يديه وبصره إلى السماء ولو أعمى: أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

Membaca dua kalimat syahadat setelahnya, yaitu setelah wudu, sekira jarak jedanya tidak panjang secara 'urf (kebiasaan umum), dengan mengucapkan sambil menghadap kiblat serta mengangkat kedua tangan dan pandangannya ke langit, meskipun ia seorang yang buta: "Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."

لما روى مسلم [رقم: ٢٣٤] عن رسول الله ص: من توضأ فقال أشهد أن لا إله إلا الله الخ فتحت له أبواب الجنة الثمانية يدخل من أيها شاء زاد الترمذي [رقم: ٥٥] : اللهم اجعلني من التوابين واجعلني من المتطهرين وروى الحاكم [١/٥٦٤] وصححه: من توضأ ثم قال: سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك كتب في رق ثم طبع بطابع فلم يكسر إلى يوم القيامة أي لم يتطرق إليه إبطال كما صح حتى يرى ثوابه العظيم.

Berdasarkan riwayat Muslim [No. 234] dari Rasulullah ﷺ: "Barangsiapa berwudu lalu mengucapkan 'Asyhadu an laa ilaaha illallaah…', maka dibukakan baginya delapan pintu surga, ia dapat masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki." At-Tirmidzi [No. 55] menambahkan: "Allaahummaj'alnee minat-tawwaabeena waj'alnee minal-mutathahhireen" (Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci). Al-Hakim [1/564] meriwayatkan dan menshahihkannya: "Barangsiapa berwudu kemudian mengucapkan: 'Subhaanakallaahumma wa bihamdika asyhadu an laa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atoobu ilaik', maka dicatat pada lembaran lalu dikunci dengan stempel dan tidak akan rusak sampai hari kiamat," maksudnya tidak akan dibatalkan sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih hingga ia melihat pahalanya yang agung.

ثم يصلي ويسلم على سيدنا محمد وآل سيدنا محمد ويقرأ ﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ﴾ [٩٧ سورة القدر] ثلاثا كذلك بلا رفع يد.

Kemudian membaca shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad dan keluarga junjungan kita Nabi Muhammad, serta membaca surat "Innaa anzalnaahu" [QS. Al-Qadr: 1-5] sebanyak tiga kali, demikian juga tanpa mengangkat tangan.

وأما دعاء الأعضاء المشهور فلا أصل له يعتد به فلذلك حذفته تبعا

Adapun doa untuk tiap-tiap anggota wudu yang masyhur, maka tidak ada dasar yang diakui baginya, oleh karena itu aku menghapusnya karena mengikuti…

وشربه من فضل وضوئه,

Dan meminum air dari sisa wudunya,

لشيخ المذهب النووي ﵁.

…Syaikh mazhab (yakni Imam An-Nawawi) radhiyallahu 'anhu.

وقيل: يستحب أن يقول عند كل عضو: أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لخبر رواه المستغفري [الأذكار للنووي رقم: ١٥٧ وكذلك ما قاله ابن حجر العسقلاني تعليقا عليه] وقال: حسن غريب.

Dan ada yang berpendapat: Disunahkan mengucapkan pada setiap anggota wudu: "Asyhadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syareeka lahu wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasooluh" berdasarkan riwayat Al-Mustaghfiri [Al-Adzkar karya An-Nawawi No. 157, serta apa yang dikatakan Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam komentarnya], dan ia berkata: Hasan gharib.

وشربه من فضل وضوئه لخبر: إن فيه شفاء من كل داء [راجع الترمذي رقم: ٤٨ النسائي رقم: ٩٥, ٩٦ مسند أحمد رقم: ٩٤٦, ١٠٤٩, ١١٧٧, ١٣٤٧, ١٣٨٣, وهي في الشرب من فضل الوضوء] .

Dan meminum air sisa wudunya berdasarkan hadis: "Sesungguhnya padanya terdapat penawar dari segala penyakit" [Rujuk At-Tirmidzi No. 48, An-Nasa'i No. 95, 96, Musnad Ahmad No. 946, 1049, 1177, 1347, 1383, yang membahas tentang meminum dari sisa wudu].

ويسن رش إزاره به أي إن توهم حصول مقذر له كما استظهره شيخنا وعليه يحمل رشه ص لإزاره به.

Dan disunahkan memercikkan kain sarungnya dengannya (sisa air wudu), yaitu jika ia menduga terjadinya sesuatu yang kotor/najis padanya sebagaimana yang ditampakkan (dikuatkan) oleh Guru kami, dan atas dasar inilah diartikan perbuatan Nabi ﷺ memercikkan sarung beliau dengannya.

وركعتان بعد الوضوء أي بحيث تنسبان إليه عرفا فتفوتان بطول الفصل عرفا على الأوجه وعند بعضهم بالإعراض وبعضهم بجفاف الأعضاء وقيل: بالحدث.

Dan shalat dua rakaat setelah wudu, yaitu sekira keduanya dinisbatkan kepada wudu secara 'urf (kebiasaan), sehingga shalat ini luput karena jarak jeda yang panjang secara 'urf menurut pendapat yang lebih kuat (al-awjah), dan menurut sebagian ulama luput karena berpaling (dari wudu), sebagian lagi karena mengeringnya anggota wudu, dan ada yang berpendapat karena berhadats.

ويقرأ ندبا في أولى ركعتيه بعد الفاتحة: ﴿وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّاباً رَحِيماً﴾ [٤ سورة النساء الآية: ٦٤] وفي الثانية: ﴿وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءاً أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُوراً رَحِيماً﴾ [٤ سورة النساء الآية: ١١٠] .

Disunahkan membaca pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah: "Walau annahum idz zhalamuu anfusahum jaa'ooka fastaghfarullaaha wastaghfara lahumur-rasoolu lawajadullaaha tawwaaban raheemaa" [QS. An-Nisa': 64], dan pada rakaat kedua: "Wa man ya'mal suu'an aw yazhlim nafsahu tsumma yastaghfirillaaha yajidillaaha ghafooran raheemaa" [QS. An-Nisa': 110].

وليقتصر حتما على واجب لضيق وقت أو قلة ماء وندبا لإدراك جماعة.

Dan hendaknya ia membatasi diri secara pasti (wajib) pada hal yang wajib saja karena sempitnya waktu atau sedikitnya air, serta secara sunnah demi mendapati shalat berjamaah.

فائدة يحرم التطهر بالمسبل للشرب وكذا بماء جهل حاله على الأوجه وكذا حمل شيء من المسبل إلى غير محله.

Catatan: Diharamkan bersuci dengan air yang disediakan khusus untuk minum (musabbal lisy-syurb), demikian pula dengan air yang tidak diketahui kondisinya menurut pendapat yang lebih kuat (al-awjah), dan begitu pula membawa sesuatu dari air yang disediakan khusus tersebut ke luar tempatnya.

وليقتصر أي المتوضئ حتما أي وجوبا على غسل أو مسح واجب أي فلا يجوز تثليث ولا إتيان سائر السنن لضيق وقت عن إدراك الصلاة كلها فيه كما صرح به البغوي وغيره وتبعه المتأخرون لكن أفتى في فوات الصلاة لو أكمل سننها بأن يأتيها ولو لم يدرك ركعة وقد يفرق بأنه ثم اشتغل بالمقصود فكان كما لو مد في القراءة.

Maksud dari "hendaknya ia membatasi diri" yaitu orang yang berwudu, secara pasti maksudnya secara wajib, pada membasuh atau mengusap yang wajib saja; artinya tidak boleh mengulang tiga kali (tatsliits) dan tidak boleh melakukan sunah-sunah lainnya karena sempitnya waktu untuk mendapati seluruh shalat di dalamnya sebagaimana ditegaskan oleh Al-Baghawi dan yang lainnya, serta diikuti oleh para ulama muta'akhirin. Namun, ada fatwa mengenai terlewatnya waktu shalat jika ia menyempurnakan sunah-sunahnya, bahwa ia boleh melakukannya meskipun tidak mendapati satu rakaat pun. Hal ini dibedakan karena saat itu ia sibuk dengan perkara yang dimaksud, sehingga seperti halnya orang yang memperpanjang bacaan shalat.

أو قلة ماء بحيث لا يكفي إلا الفرض فلو كان معه ماء لا يكفيه لتتمة طهره إن ثلث أو أتى السنن أو احتاج إلى الفاضل لعطش محترم حرم استعماله في شيء من السنن وكذا يقال في الغسل.

Atau karena sedikitnya air sekira tidak mencukupi kecuali hanya untuk yang fardu. Maka jika ia memiliki air yang tidak mencukupi untuk menyempurnakan bersucinya apabila diulang tiga kali atau melakukan sunah-sunah, atau ia membutuhkan sisa air tersebut untuk dahaga makhluk yang dihormati (muhtarram), diharamkan menggunakannya untuk hal-hal yang sunah. Demikian pula halnya berlaku pada mandi wajib.

وندبا على الواجب بترك السنن لإدراك جماعة لم يرج غيرها.

Dan (membatasi diri) secara sunah pada hal yang wajib dengan meninggalkan sunah-sunah demi mengejar shalat berjamaah yang tidak diharapkan ada jamaah lainnya.

نعم ما قيل بوجوبه كالدلك ينبغي تقديمه عليها نظير ما مر من ندب تقديم الفائت بعذر على الحاضرة وإن فاتت الجماعة.

Ya, perkara yang dikatakan wajib seperti menggosok anggota wudhu (dalk), seyogianya didahulukan darinya (perkara sunnah/lainnya), sebagaimana analogi yang telah lalu tentang disunnahkannya mendahulukan shalat yang terluput karena uzur daripada shalat yang hadir (waktu berjalan) meskipun sampai terluput shalat berjamaah.

تتمة [في بيان أسباب التيمم وكيفيته] يتيمم عن الحدثين لفقد ماء أو خوف محذور من استعماله بتراب طهور له غبار.

Pelengkap [Penjelasan tentang sebab-sebab tayamum dan tata caranya]: Seseorang bertayamum dari kedua hadas (kecil dan besar) karena tidak ada air atau takut akan bahaya dari penggunaannya, dengan menggunakan debu yang suci mensucikan serta berdebu.

ونواقضه: ١- خروج شيء من أحد سبيلي الحي ولو باسورا, ٢- وزوال عقل,

Hal-hal yang membatalkan wudhu: 1. Keluar sesuatu dari salah satu dari dua jalan (kemaluan/dubur) orang yang hidup, meskipun berupa benjolan wasir, 2. Hilangnya akal,

وأركانه: نية استباحة الصلاة المفروضة مقرونة بنقل التراب ومسح وجهه ثم يديه.

Dan rukun-rukunnya (tayamum): Niat agar diperbolehkan melaksanakan shalat fardhu yang dibersamai dengan memindahkan debu, lalu mengusap wajahnya kemudian kedua tangannya.

ولو تيقن ماء آخر الوقت فانتظاره أفضل وإلا فتعجيل تيمم.

Jika ia meyakini adanya air di akhir waktu, maka menunggunya lebih utama, namun jika tidak yakin, maka menyegerakan tayamum lebih utama.

وإذا امتنع استعماله في عضو وجب تيمم وغسل صحيح ومسح كل الساتر الضار نزعه بماء.

Apabila air terhalang untuk digunakan pada salah satu anggota badan, maka wajib bertayamum, membasuh bagian anggota yang sehat, dan mengusap seluruh penutup (balutan) yang membahayakan jika dilepas dengan air.

ولا ترتيب بينهما لجنب أو عضوين فتيممان ولا يصلي به إلا فرضا واحدا ولو نذرا. وصح جنائز مع فرض.

Tidak ada kewajiban tertib di antara keduanya (tayamum dan pembasuhan) bagi orang yang junub atau jika ada dua anggota badan yang luka sehingga memerlukan dua tayamum. Seseorang tidak boleh shalat dengan satu tayamum melainkan hanya satu shalat fardhu saja meskipun shalat nazhar. Namun sah melaksanakan beberapa shalat jenazah bersamaan dengan shalat fardhu tersebut.

ونواقضه أي أسباب نواقض الوضوء أربعة:

Dan pembatal-pembatalnya—yaitu sebab-sebab yang membatalkan wudhu—ada empat:

١- أحدها: تيقن خروج شيء غير منيه عينا كان أو ريحا رطبا أو جافا معتادا كبول أو نادرا كدم باسور أو غيره انفصل أو لا كدودة أخرجت رأسها ثم رجعت من أحد سبيلي المتوضئ الحي دبرا كان أو قبلا.

1. Yang pertama: Yakin keluarnya sesuatu selain mani sendiri, baik berupa wujud fisik maupun angin, basah maupun kering, yang biasa seperti air kencing atau yang langka seperti darah wasir atau lainnya, baik terpisah maupun tidak seperti cacing yang mengeluarkan kepalanya lalu masuk kembali, dari salah satu dua jalan orang berwudhu yang masih hidup, baik dubur maupun kubul.

ولو كان الخارج باسورا نابتا داخل الدبر فخرج أو زاد خروجه. لكن أفتى العلامة الكمال الرداد بعدم النقض بخروج الباسور نفسه بل بالخارج منه كالدم. وعن مالك: لا ينتقض الوضوء بالنادر.

Meskipun yang keluar itu berupa benjolan wasir yang tumbuh di dalam dubur lalu keluar atau bertambah keluarnya. Namun Al-'Allamah Al-Kamal Ar-Raddad berfatwa bahwa wudhu tidak batal dengan keluar benjolan wasir itu sendiri, melainkan dengan cairan yang keluar darinya seperti darah. Dan dari Imam Malik: Wudhu tidak batal disebabkan hal yang jarang/langka keluar.

٢- وثانيها: زوال عقل أي تمييز بسكر أو جنون أو إغماء أو

2. Yang kedua: Hilangnya akal, yakni daya pembeda (tamyiz), disebabkan mabuk, gila, pingsan, atau

لا بنوم ممكن مقعده ٣- ومس فرج آدمي

bukan karena tidur orang yang memantapkan tempat duduknya. 3. Dan menyentuh kemaluan manusia

نوم للخبر الصحيح: "فمن نام فليتوضأ" [أبو داود رقم: ٢٠٣, ابن ماجه رقم ٤٧٧, مسند أحمد رقم ٨٨٩] .

tidur, berdasarkan hadits shahih: "Barangsiapa yang tidur maka hendaklah ia berwudhu." [Abu Dawud no. 203, Ibn Majah no. 477, Musnad Ahmad no. 889].

وخرج بزوال العقل النعاس وأوائل نشوة السكر فلا نقض بهما كما إذا شك هل نام أو نعس؟

Dikecualikan dari hilangnya akal yaitu mengantuk dan awal mula rasa mabuk, maka wudhu tidak batal dengan keduanya, sebagaimana jika seseorang ragu apakah ia tidur atau mengantuk.

ومن علامة النعاس سماع كلام الحاضرين وإن لم يفهمه.

Di antara tanda mengantuk adalah masih mendengar perkataan orang-orang yang ada di sekitarnya meskipun ia tidak memahaminya.

لا زواله بنوم قاعد ممكن مقعده أي ألييه من مقره وإن استند لما لو زال سقط أو احتبى وليس بين مقعده ومقره تجاف.

Tidak batal wudhu sebab hilangnya akal karena tidurnya orang yang duduk yang memantapkan tempat duduknya—yakni kedua pantatnya—pada tempat duduknya, meskipun ia bersandar pada sesuatu yang seandainya diambil ia akan jatuh, atau ia duduk dengan memeluk lutut (ihtiba'), selama tidak ada rongga renggang antara tempat duduk dan pantatnya.

وينتقض وضوء ممكن انتبه بعد زوال أليته عن مقره لا وضوء شاك هل كان ممكنا أو لا؟ أو هل زالت إليته قبل اليقظة أو بعدها؟..وتيقن الرؤيا مع عدم تذكر نوم لا أثر له بخلافه مع الشك فيه لأنها مرجحة لأحد طرفيه.

Batal wudhu orang yang duduk mantap yang terbangun setelah bergesernya pantat dari tempat duduknya. Tidak batal wudhu orang yang ragu apakah ia duduk secara mantap atau tidak, atau apakah pantatnya bergeser sebelum terbangun atau sesudahnya. Dan meyakini melihat mimpi tanpa ingat telah tidur tidak berdampak apa-apa (tidak membatalkan wudhu), berbeda halnya jika disertai keraguan padanya karena mimpi menguatkan salah satu dari dua kemungkinan.

٣- وثالثها: مس فرج آدمي أو محل قطعه ولو لميت أو صغير قبلا كان الفرج أو دبر امتصلا أو مقطوعا إلا ما قطع في الختان.

3. Yang ketiga: Menyentuh kemaluan manusia atau tempat terpotongnya kemaluan, meskipun milik mayat atau anak kecil, baik kemaluan depan (kubul) maupun dubur, baik masih menyambung atau sudah terpotong, kecuali bagian yang dipotong saat khitan.

والناقض من الدبر ملتقى المنفذ ومن قبل المرأة ملتقى شفريها على المنفذ لا ما وراءهما كمحل ختانها.

Yang membatalkan wudu dari dubur adalah bagian tempat bertemunya saluran keluar, dan dari kemaluan wanita adalah tempat bertemunya kedua bibir kemaluannya yang menutupi saluran keluar, bukan bagian di luar keduanya seperti tempat khitannya.

نعم يندب الوضوء من مس نحو العانة وباطن الإلية والأنثيين وشعر نبت فوق ذكر وأصل فخذ

Ya, disunnahkan berwudu karena menyentuh sejenis bulu kemaluan, bagian dalam pantat, kedua buah zakar, rambut yang tumbuh di atas zakar, dan pangkal paha,

ولمس صغيرة وأمرد وأبرص ويهودي ومن نحو فصد ونظر بشهوة ولو إلى محرم وتلفظ بمعصية وغضب

dan menyentuh anak kecil, pemuda tampan (amrad), penderita kusta, orang Yahudi, serta dari tindakan seperti bekam (fashad), memandang dengan syahwat meskipun kepada mahram, mengucapkan kemaksiatan, dan marah,

وحمل ميت ومسه وقص ظفر وشارب وحلق رأسه.

serta memikul mayat, menyentuhnya, memotong kuku, memotong kumis, dan mencukur rambut kepala.

ببطن كف ٤- وتلاقي بشرتي ذكر وأنثى

dengan telapak tangan. 4- Dan bersentuhannya kulit laki-laki dan perempuan

وخرج بآدمي فرج البهيمة إذ لا يشتهى ومن ثم جاز النظر إليه.

Dikecualikan dengan kata 'manusia' adalah kemaluan hewan, karena hewan tidak menimbulkan syahwat, dan oleh sebab itu boleh melihatnya.

ببطن كف لقوله ﷺ: من مس فرجه وفي رواية: "من مس ذكرا فليتوضأ" [الترمذي رقم: ٨٢ النسائي رقم ٤٤٤ أبو داود رقم: ١٨١ ابن ماجة رقم: ٤٧٩ مسند أحمد رقم ٢٦٧٤٩ موطأ مالك رقم: ٩١ الدارمي رقم: ٧٢٤] .

Dengan bagian dalam telapak tangan berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa menyentuh kemaluannya", dan dalam suatu riwayat: "Barangsiapa menyentuh zakar maka hendaklah ia berwudu" [HR. At-Tirmidzi no. 82, An-Nasa'i no. 444, Abu Daud no. 181, Ibn Majah no. 479, Musnad Ahmad no. 26749, Muwatta' Malik no. 91, Ad-Darimi no. 724].

وبطن الكف هو بطن الراحتين وبطن الأصابع والمنحرف إليهما عند انطباقهما مع يسير تحامل دون رؤوس الأصابع وما بينها وحرف الكف.

Bagian dalam telapak tangan adalah bagian dalam telapak dan bagian dalam jari-jari serta bagian yang condong ke arah keduanya ketika kedua telapak tangan dirapatkan dengan sedikit ditekan, tidak termasuk ujung-ujung jari, sela-selanya, dan tepi telapak tangan.

٤- ورابعها: تلاقي بشرتي ذكر وأنثى ولو بلا شهوة وإن كان أحدهما مكرها أو ميتا لكن لا ينقض وضوء الميت.

4- Dan yang keempat: bersentuhannya kulit laki-laki dan perempuan walaupun tanpa syahwat, dan meskipun salah satunya dipaksa atau meninggal dunia, tetapi wudu mayat tersebut tidak batal.

والمراد بالبشرة هنا غير الشعر والسن والظفر قاله شيخنا وغير باطن العين.

Yang dimaksud dengan kulit di sini adalah selain rambut, gigi, dan kuku—sebagaimana dikatakan oleh Guru kami—serta selain bagian dalam mata.

وذلك لقوله تعالى: ﴿أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ﴾ [٤ سورة النساء الآية: ٤٣] أي لمستم.

Hal itu berdasarkan firman Allah Ta'ala: {أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ} [QS. An-Nisa': 43], maksudnya: menyentuh.

ولو شك هل ما لمسه شعر أو بشرة لم ينتقض كما لو وقعت يده على بشرة لا يعلم أهي بشرة رجل أو امرأة أو شك: هل لمس محرما أو أجنبية؟

Jika ia ragu apakah yang disentuhnya adalah rambut atau kulit, wudunya tidak batal; sebagaimana jika tangannya menyentuh kulit yang tidak ia ketahui apakah itu kulit laki-laki atau perempuan, atau ia ragu apakah ia menyentuh mahram atau wanita lain (ajnabiyah).

وقال شيخنا في شرح العباب: ولو أخبره عدل بلمسها له أو

Guru kami berkata dalam Syarh Al-'Ubab: Dan seandainya seorang yang adil memberitahunya tentang sentuhan wanita itu padanya atau

بكبر لا مع محرمية ولا يرتفع يقين وضوء أو حدث بظن ضده.

dengan syarat sudah dewasa, tidak beserta hubungan mahram; dan keyakinan akan suci (wudu) atau hadas tidak bisa hilang hanya dengan prasangka (dugaan) lawannya.

بنحو خروج ريح منه في حال نومه ممكنا وجب عليه الأخذ بقوله.

seperti keluarnya angin darinya saat ia tidur dalam posisi menetapkan pantatnya, maka ia wajib menerima perkataan orang adil tersebut.

بكبر فيهما فلا نقض بتلاقيهما مع صغر فيهما أو في أحدهما لانتفاء مظنة الشهوة.

Dengan syarat keduanya sudah dewasa, maka tidak batal wudu akibat bersentuhan bila keduanya masih kecil atau salah satunya masih kecil, karena tidak adanya potensi timbulnya syahwat.

والمراد بذي الصغر: من لا يشتهى عرفا غالبا.

Yang dimaksud dengan anak kecil di sini adalah orang yang secara umum menurut kebiasaan ('urf) tidak menimbulkan syahwat.

لا تلاقي بشرتيهما مع محرمية بينهما بنسب أو رضاع أو مصاهرة لانتفاء مظنة الشهوة.

Tidak batal pula bersentuhannya kulit keduanya jika ada hubungan mahram di antara keduanya, baik karena nasab, persusuan, maupun perkawinan (mushaharah), karena tidak adanya potensi timbulnya syahwat.

ولو اشتبهت محرمه بأجنبيات محصورات فلمس واحدة منهن لم ينتقض وكذا بغير محصورات على

Seandainya mahram seseorang samar (bercampur) dengan wanita-wanita asing (non-mahram) yang terbatas jumlahnya, lalu ia menyentuh salah satu dari mereka, maka wudhunya tidak batal. Demikian pula jika (wanita-wanita asing tersebut) tidak terbatas jumlahnya, menurut…

الأوجه.

pendapat yang lebih kuat (al-awjah).

ولا يرتفع يقين وضوء أو حدث بظن ضده ولا بالشك فيه المفهوم بالأولى فيأخذ باليقين استصحابا له.

Dan keyakinan akan wudhu atau hadas tidak gugur dengan adanya dugaan (prasangka) akan kebalikannya, tidak pula dengan keraguan padanya yang dipahami secara lebih utama (fahwal khithab), maka ia mengambil hukum yang yakin berdasarkan prinsip istishhab.

خاتمة [في بيان ما يحرم بالحدث الأصغر والأكبر] يحرم بالحدث: صلاة وطواف وسجود وحمل مصحف وما كتب لدرس قرآن ولو بعض آية كلوح والعبرة في قصد الدراسة والتبرك بحالة الكتابة دون ما بعدها وبالكاتب لنفسه أو لغيره تبرعا وإلا فأمره لا حمله مع متاع والمصحف غير مقصود بالحمل ومس ورقه ولو لبياض أو نحو ظرف أعد له وهو فيه لا قلب ورقه بعود إذا لم ينفصل عليه ولا مع تفسير زاد ولو احتمالا.

Penutup: [Dalam menjelaskan hal-hal yang diharamkan sebab hadas kecil dan besar]. Diharamkan sebab hadas: shalat, tawaf, sujud, membawa mushaf dan apa yang ditulis untuk pelajaran Al-Qur'an meskipun hanya sebagian ayat seperti papan tulis. Dan patokan dalam tujuan belajar serta mengambil keberkahan adalah pada saat kondisi penulisan, bukan setelahnya, serta berdasarkan tujuan si penulis untuk dirinya sendiri atau orang lain secara sukarela, jika tidak (bukan sukarela), maka berdasarkan perintah pemesannya; tidak diharamkan membawanya bersama barang bawaan jika mushaf tersebut tidak dimaksudkan secara khusus dalam pembawaan itu; dan menyentuh kertasnya meskipun bagian yang putih atau semacam wadah/sampul yang disediakan untuknya sedangkan mushaf berada di dalamnya, tidak diharamkan membalik lembarannya dengan kayu apabila lembaran tidak terpisah padanya; serta tidak diharamkan membawanya bersama tafsir yang lebih banyak (teks tafsirnya daripada teks Al-Qur'an) meskipun secara perkiraan (ihtimal).

ولا يمنع صبي مميز محدث ولو جنبا حمل ومس نحو

Dan anak kecil yang tamyiz yang berhadas (kecil) meskipun junub tidak dilarang membawa dan menyentuh semisal…

والثانية الغسل.

Dan bersuci yang kedua adalah mandi.

مصحف لحاجة تعلمه ودرسه ووسيلتهما كحمله للمكتب والإتيان به للمعلم ليعلمه منه.

mushaf karena kebutuhan mempelajarinya dan mengajinya serta perantara keduanya, seperti membawanya ke tempat belajar (kuttab) dan membawanya kepada guru agar guru mengajarinya dari mushaf tersebut.

ويحرم تمكين غير المميز من نحو مصحف ولو بعض آية وكتابته بالعجمية ووضع نحو درهم في مكتوبة

Dan diharamkan membiarkan anak yang belum tamyiz memegang semisal mushaf meskipun hanya sebagian ayat, menulis Al-Qur'an dengan tulisan selain Arab (Ajam), dan meletakkan semisal dirham di atas wadah/kertas yang tertulis Al-Qur'an…

وعلم شرعي وكذا جعله بين أوراقه خلافا لشيخنا وتمزيقه عبثا وبلع ما كتب عليه لا شرب محوه ومد الرجل للمصحف ما لم يكن على مرتفع.

dan ilmu syariat, begitu pula meletakkannya di antara lembaran-lembarannya—berbeda dengan pendapat guru kami—, merobeknya secara sia-sia, dan menelan sesuatu yang ditulis Al-Qur'an/ilmu syariat padanya, bukan meminum air hapusannya, serta meluruskan kaki ke arah mushaf selama mushaf tidak berada di tempat yang tinggi.

ويسن القيام له كالعالم بل أولى.

Dan disunnahkan berdiri menghormatinya sebagaimana menghormati orang alim, bahkan (mushaf) lebih utama.

ويكره حرق ما كتب عليه إلا لغرض نحو صيانة فغسله أولى منه.

Dan dimakruhkan membakar sesuatu yang tertulis Al-Qur'an padanya kecuali untuk suatu tujuan seperti pemeliharaan/penjagaan kehormatan, namun membasuhnya (melunturkan tulisannya) lebih utama daripada membakarnya.

ويحرم بالجنابة المكث في المسجد وقراءة قرآن بقصده ولو بعض آية بحيث يسمع نفسه ولو صبيا خلافا لما أفتى به النووي وبنحو حيض لا بخروج طلق صلاة وقراءة وصوم ويجب قضاؤه لا الصلاة بل يحرم قضاؤها على الأوجه.

Dan diharamkan sebab junub: berdiam diri di masjid dan membaca Al-Qur'an dengan niat membaca Al-Qur'an meskipun sebagian ayat sekira ia memperdengarkan dirinya sendiri walaupun ia seorang anak kecil—berbeda dengan apa yang difatwakan oleh An-Nawawi—; dan diharamkan sebab semisal haid—bukan sebab keluarnya rasa sakit melahirkan (thalaq)—: shalat, membaca Al-Qur'an, dan puasa, serta wajib mengadha puasa, bukan shalat, bahkan diharamkan mengadha shalat menurut pendapat yang lebih kuat.

٢- والطهارة الثانية: الغسل هو لغة: سيلان الماء على الشيء وشرعا: سيلانه على جميع البدن بالنية.

2- Dan bersuci yang kedua: Mandi (Al-Ghusl). Secara bahasa adalah mengalirkan air pada sesuatu, dan secara syariat adalah mengalirkan air ke seluruh badan disertai dengan niat.

ولا يجب فورا وإن عصى بسببه بخلاف نجس عصى بسببه.

Dan tidak wajib dilakukan seketika (segera) meskipun ia bermaksiat sebab jinabat tersebut, berbeda dengan najis yang ia bermaksiat sebab terkena/terkenang najis tersebut.

والأشهر في كلام الفقهاء ضم غينه لكن الفتح أفصح وبضمها مشترك بين الفعل وماء الغسل.

Dan yang paling masyhur dalam perkataan para fuqaha adalah membaca dhammah pada huruf ghain-nya (al-ghuslu), tetapi membaca fathah (al-ghaslu) adalah yang lebih fasih. Dengan dibaca dhammah, kata tersebut merupakan kata persekutuan (musytarak) antara perbuatannya dan air mandi.

موجبه: ١- خروج منيه ٢- ودخول حشفة فرجا ٣- وحيض وأقل سنه تسع سنين قمرية,

Sebab yang mewajibkannya: 1- Keluarnya mani, 2- Masuknya hasyafah (kepala kemaluan laki-laki) ke dalam kemaluan, 3- Haid, dan usia minimalnya (haid) adalah sembilan tahun komariyah,

موجبه أربعة:

Sebab yang mewajibkannya ada empat:

١- أحدها: خروج منيه أولا ويعرف بأحد خواصه الثلاث: من تلذذ بخروجه أو تدفق أو ريح عجين رطبا وبياض بيض جافا فإن فقدت هذه الخواص فلا غسل.

1- Salah satunya: keluarnya mani orang itu sendiri terlebih dahulu. Mani dapat dikenali dengan salah satu dari tiga ciri khasnya: merasa nikmat saat keluarnya, atau memancar (tadaffuq), atau berbau adonan roti saat basah dan berbau putih telur saat kering. Jika ciri-ciri khas ini tidak ada, maka tidak wajib mandi.

نعم لو شك في شيء أمني هو أو مذي؟ تخير ولو بالتشهي فإن شاء جعله منيا واغتسل أو مذيا وغسله وتوضأ ولو رأى منيا مجففا في نحو ثوبه لزمه الغسل وإعادة كل صلاة تيقنها بعده ما لم يحتمل عادة كونه من غيره.

Ya, jika seseorang ragu terhadap sesuatu, apakah itu mani atau madzi, maka ia boleh memilih (salah satunya) meskipun hanya berdasarkan keinginan hawa nafsunya. Jika ia menghendaki, ia dapat menjadikannya sebagai mani lalu mandi wajib, atau menjadikannya sebagai madzi lalu membasuhnya dan berwudu. Dan jika ia melihat mani yang sudah kering di pakaiannya (misalnya), maka ia wajib mandi dan mengulangi setiap salat yang ia yakini dilakukan setelahnya, selama secara kebiasaan tidak ada kemungkinan bahwa mani tersebut berasal dari orang lain.

٢- وثانيها: دخول حشفة أو قدرها من فاقدها ولو كانت من ذكر مقطوع أو من بهيمة أو ميت.

2. Yang kedua: masuknya hasyafah (kepala kemaluan laki-laki) atau kadarnya bagi orang yang tidak memilikinya, meskipun dari zakar yang terpotong, atau dari hewan, atau dari mayat,

فرجا قبلا أو دبرا ولو لبهيمة كسمكة أو ميت ولا يعاد غسله لانقطاع تكليفه.

ke dalam kemaluan, baik kubul maupun dubur, meskipun milik hewan seperti ikan, atau milik mayat. Dan mayat tersebut tidak perlu dimandikan ulang karena telah terputusnya beban taklif darinya.

٣- وثالثها: حيض أي انقطاعه وهو دم يخرج من أقصى رحم المرأة في أوقات مخصوصة.

3. Yang ketiga: haid, maksudnya terputusnya (berhentinya) haid, yaitu darah yang keluar dari pangkal rahim wanita pada waktu-waktu tertentu.

وأقل سنة تسع سنين قمرية أي استكمالها نعم إن رأته قبل تمامها بدون ستة عشر يوما فهو حيض وأقله يوم وليلة وأكثره خمسة عشر يوما كأقل طهر بين الحيضتين.

Dan usia minimalnya adalah sembilan tahun kamariah, maksudnya penyempurnaannya. Namun, jika ia melihat darah sebelum genap sembilan tahun kurang dari enam belas hari, maka itu adalah haid. Masa minimal haid adalah sehari semalam, dan maksimalnya adalah lima belas hari, sebagaimana masa minimal suci di antara dua haid.

ويحرم به ما يحرم بالجنابة ومباشرة ما بين سرتها وركبتها.

Dan diharamkan sebab haid apa saja yang diharamkan sebab junub, serta bercumbu atau bersentuhan langsung pada anggota tubuh antara pusar dan lututnya.

٤- ونفاس.

4. Dan nifas.

وفرضه: ١- نية رفع الجنابة أو أداء فرض الغسل مقرونة بأوله,

Dan rukun mandi wajib: 1. Niat mengangkat janabah (hadas besar) atau niat menunaikan kewajiban mandi yang bersamaan dengan awal (bagian tubuh yang dimandikan),

وقيل: لا يحرم غير الوطء واختاره النووي في التحقيق لخبر مسلم [رقم: ٣٠٢] : اصنعوا كل شيء إلا النكاح.

Dan ada yang berpendapat: tidak haram selain bersetubuh (jimak). Pendapat ini dipilih oleh An-Nawawi dalam kitab At-Tahqiq berdasarkan hadis riwayat Muslim [No. 302]: "Lakukanlah segala sesuatu kecuali nikah (persetubuhan)."

وإذا انقطع دمها حل لها قبل الغسل صوم لا وطئ خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي ﵀.

Dan apabila darahnya telah berhenti, maka halal baginya sebelum mandi melakukan puasa, bukan bersetubuh; berbeda dengan apa yang dibahas oleh Al-Allamah Jalaluddin As-Suyuthi rahimahullah.

٤- ورابعها: نفاس أي انقطاعه وهو دم حيض مجتمع يخرج بعد فراغ جميع الرحم.

4. Yang keempat: nifas, maksudnya terputusnya (berhentinya) nifas, yaitu darah haid yang terkumpul yang keluar setelah kosongnya seluruh rahim.

وأقله لحظة وغالبه أربعون يوما وأكثره ستون يوما.

Minimal waktunya adalah sekejap, umumnya empat puluh hari, dan maksimalnya enam puluh hari.

ويحرم به ما يحرم بالحيض.

Dan diharamkan sebab nifas apa saja yang diharamkan sebab haid.

ويجب الغسل أيضا بولادة ولو بلا بلل وإلقاء علقة ومضغة وبموت مسلم غير شهيد.

Mandi wajib juga diharuskan karena melahirkan meskipun tanpa adanya cairan basah, serta karena mengeluarkan segumpal darah ('alaqah) dan segumpal daging (mudhghah), dan karena meninggalnya seorang muslim selain syahid.

وفرضه أي الغسل شيئان:

Dan rukun (fardu) mandi wajib ada dua hal:

١- أحدهما: نية رفع الجنابة للجنب أو الحيض للحائض أي رفع حكمه.

1. Salah satunya: niat menghilangkan janabah bagi orang junub, atau niat menghilangkan haid bagi wanita haid, yaitu menghilangkan hukum hadasnya.

أو نية أداء فرض الغسل أو رفع حدث أو الطهارة عنه أو أداء الغسل وكذا الغسل للصلاة لا

Atau niat menunaikan fardu mandi, atau mengangkat hadas, atau bersuci darinya, atau menunaikan mandi, begitu juga mandi untuk salat, bukan

الغسل فقط.

sekadar 'mandi' saja.

ويجب أن تكون النية مقرونة بأوله أي الغسل يعني بأول مغسول

Dan wajib niat tersebut dibarengkan dengan awalnya, yaitu awal mandi, maksudnya pada bagian pertama anggota tubuh yang dibasuh.

٢- وتعميم بدن حتى الشعر وباطن جدري وما تحت قلفة بماء طهور ويكفي ظن عمومه.

2- Meratakan air ke seluruh badan hingga rambut/bulu, bagian dalam cacar, dan bagian di bawah kulup (kulit khatan) dengan air yang menyucikan (thahur), serta cukuplah dugaan kuat (zhan) akan meratanya air.

وسن:

Dan disunnahkan:

من البدن ولو من أسفله فلو نوى بعد غسل جزء وجب إعادة غسله ولو نوى رفع الجنابة وغسل بعض البدن ثم نام فاستيقظ وأراد غسل الباقي لم يحتج إلى إعادة النية.

…dari tubuh, meskipun dari bagian bawahnya. Apabila ia berniat setelah membasuh suatu anggota tubuh, maka wajib mengulangi pembasuhannya. Dan jika ia berniat mengangkat janabah lalu membasuh sebagian tubuh, kemudian ia tidur lalu bangun dan hendak membasuh sisanya, maka ia tidak perlu mengulangi niat.

٢- وثانيهما: تعميم ظاهر بدن حتى الأظفار وما تحتها والشعر ظاهرا وباطنا وإن كثف وما ظهر من نحو منبت شعرة زالت قبل غسلها وصماخ وفرج امرأة عند جلوسها على قدميها وشقوق وباطن جدري انفتح رأسه لا باطن قرحة برئت وارتفع قشرها ولم يظهر شيء مما تحته.

2- Dan rukun yang kedua adalah meratakan air ke bagian luar tubuh hingga kuku dan bagian di bawahnya, rambut/bulu bagian luar dan dalamnya meskipun lebat, bagian yang tampak dari semisal tempat tumbuhnya rambut yang lepas sebelum dibasuh, lubang telinga, bagian kemaluan wanita yang tampak ketika ia duduk di atas kedua kakinya, celah-celah kulit, dan bagian dalam bintik cacar yang telah terbuka ujungnya; bukan bagian dalam luka borok yang telah sembuh dan terangkat kudisnya selama belum tampak bagian di bawahnya.

ويحرم فتق الملتحم وما تحت قلفة من الأقلف فيجب غسل باطنها لأنها مستحقة الإزالة لا باطن شعر انعقد بنفسه وإن كثر.

Haram membedah atau merobek bagian kulit yang menyatu. Dan wajib membasuh bagian bawah kulup bagi orang yang belum dikhitan, sehingga wajib membasuh bagian dalamnya karena kulup itu berhak untuk dihilangkan (melalui khitan); tidak wajib membasuh bagian dalam rambut/bulu yang menggumpal atau terjalin dengan sendirinya meskipun banyak.

ولا يجب مضمضة واستنشاق بل يكره تركهما.

Tidak wajib berkumur-kumur (madhmadhah) dan menghirup air ke hidung (istinsyaq), melainkan dimakruhkan meninggalkannya.

بماء طهور ومر أنه يضر تغير الماء تغيرا ضارا ولو بما على العضو خلافا لجمع.

(Membasuh) dengan air yang menyucikan (thahur). Dan telah berlalu penjelasan bahwa perubahan air yang membahayakan (kesuciannya) dapat merusak keabsahan mandi, meskipun perubahan itu disebabkan oleh sesuatu yang berada pada anggota tubuh, berbeda dengan pendapat sekelompok ulama.

ويكفي ظن عمومه أي الماء على البشرة والشعر وإن لم يتيقنه فلا يجب تيقن عمومه بل يكفي غلبة الظن به فيه كالوضوء وسن للغسل الواجب والمندوب:

Dan cukuplah dugaan kuat (zhan) akan meratanya air pada kulit dan rambut meskipun belum meyakininya secara pasti. Maka tidak wajib meyakini secara pasti meratanya air, melainkan cukup dugaan kuat dengannya sebagaimana dalam wudhu. Dan disunnahkan untuk mandi yang wajib maupun yang sunnah:

تسمية وإزالة قذر فمضمضة واستنشاق ثم وضوء فتعهد معاطف ودلك,

Membaca basmalah, menghilangkan kotoran, lalu berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung, kemudian berwudhu, lalu memperhatikan lipatan-lipatan tubuh, serta menggosok anggota tubuh,

تسمية أوله وإزالة قذر طاهر كمني ومخاط ونجس كمذي وإن كفى لهما غسلة واحدة وأن يبول من أنزل قبل أن يغتسل ليخرج ما بقي بمجراه ف بعد إزالة القذر مضمضة واستنشاق ثم وضوء كاملا للاتباع رواه الشيخان. [البخاري رقم: ٢٤٩, ومسلم رقم: ٣١٧] ويسن له استصحابه إلى الفراغ حتى لو أحدث سن له إعادته وزعم المحاملي اختصاصه بالغسل الواجب ضعيف والأفضل عدم تأخير غسل قدميه عن الغسل كما صرح به في الروضة وإن ثبت تأخيرهما في البخاري ولو توضأ أثناء الغسل أو بعده حصل له أصل السنة لكن الأفضل تقديمه ويكره تركه وينوي به سنة الغسل إن تجردت جنابته عن الأصغر وإلا نوى به رفع الحدث الأصغر أو نحوه خروجا من خلاف موجبه القائل بعدم الاندراج.

(Yaitu membaca) basmalah di permulaannya, menghilangkan kotoran yang suci seperti mani dan ingus, serta kotoran yang najis seperti madzi, meskipun sebetulnya satu basuhan cukup untuk keduanya (menghilangkan najis dan mandi). Dan disunnahkan bagi orang yang mengeluarkan mani untuk kencing sebelum mandi agar sisa-sisa mani yang tersisa di jalurnya keluar. Lalu setelah menghilangkan kotoran, dilanjutkan dengan berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung, kemudian berwudhu secara sempurna karena meneladani Nabi (ittiba'), sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. [Al-Bukhari no. 249, Muslim no. 317]. Dan disunnahkan baginya untuk menjaga kelangsungan (kesucian wudhu) tersebut hingga selesai mandi, sampai-sampai jika ia berhadats di tengah mandi, disunnahkan baginya mengulangi wudhunya. Dan anggapan Al-Muhamili bahwa hal ini khusus untuk mandi wajib adalah pendapat yang lemah. Yang lebih utama adalah tidak mengakhirkan pembasuhan kedua kaki dari mandi, sebagaimana ditegaskan dalam kitab Ar-Raudhah, meskipun pengakhirannya pernah diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari. Seandainya ia berwudhu di tengah-tengah mandi atau setelahnya, ia telah mendapatkan pokok pahala sunnah, namun yang lebih utama adalah mendahulukannya dan makruh meninggalkannya. Dan ia berniat wudhu tersebut sebagai "sunnah mandi" jika janabahnya murni tanpa hadats kecil; jika tidak (ada hadats kecil juga), ia berniat untuk "mengangkat hadats kecil" atau sejenisnya guna keluar dari perselisihan pendapat ulama yang mewajibkannya, yaitu yang berpendapat bahwa hadats kecil tidak otomatis masuk (terangkat) ke dalam mandi.

ولو أحدث بعد ارتفاع جنابة أعضاء الوضوء لزمه الوضوء مرتبا بالنية.

Jika ia berhadats kecil setelah terangkatnya janabah pada anggota-anggota wudhu, maka ia wajib melakukan wudhu secara berurutan (tertib) disertai niat.

فتعهد معاطف كالأذن والإبط والسرة والموق ومحل شق وتعهد أصول شعر ثم غسل رأس بالإفاضة بعد تخليله إن كان عليه شعر ولا تيامن فيه لغير أقطع ثم غسل شق أيمن ثم أيسر.

Lalu memperhatikan lipatan-lipatan tubuh seperti telinga, ketiak, pusar, sudut mata, dan tempat lekukan/celah kulit, serta memperhatikan pangkal-pangkal rambut/bulu. Kemudian membasuh kepala dengan menyiramkan air setelah menyelang-nyelangi rambut jika ada rambut pada kepalanya, dan tidak ada penganaktirian sisi kanan (mendahulukan kanan) dalam membasuh kepala bagi selain orang yang terpotong tangannya. Kemudian membasuh tubuh bagian kanan lalu bagian kiri.

ودلك لما تصله يده من بدنه خروجا من خلاف من أوجبه.

Dan menggosok (dalk) bagian tubuh yang dapat dijangkau oleh tangannya, untuk keluar dari perselisihan pendapat ulama yang mewajibkannya.

وتثليث واستقبال ولو أحدث ثم أجنب كفى غسل واحد.

Dan mengulanginya tiga kali (taslits), menghadap kiblat, dan seandainya seseorang berhadats kecil lalu berjanabah, cukuplah baginya satu kali mandi.

وتثليث لغسل جميع البدن والدلك والتسمية والذكر عقبه ويحصل في راكد بتحرك جميع البدن ثلاثا وإن لم ينقل قدميه إلى موضع آخر على الأوجه.

Dan mengulangi tiga kali untuk pembasuhan seluruh tubuh, menggosok, membaca basmalah, dan dzikir setelahnya. Dan (kesunnahan mengulang tiga kali) ini dapat diperoleh pada air yang tenang (diam) dengan menggerakkan seluruh tubuh sebanyak tiga kali, meskipun ia tidak memindahkan kedua kakinya ke tempat lain menurut pendapat yang lebih kuat.

واستقبال للقبلة وموالاة وترك تكلم بلا حاجة وتنشيف بلا عذر.

Dan menghadap kiblat, berturut-turut (muwalah), meninggalkan perkataan tanpa kebutuhan, serta meninggalkan mengeringkan badan dengan handuk tanpa uzur.

وتسن الشهادتان المتقدمتان في الوضوء مع ما معهما عقب الغسل وأن لا يغتسل لجنابة أو غيرها كالوضوء في ماء راكد لم يستبحر كنابع من عين غير جار.

Dan disunnahkan mengucapkan dua kalimat syahadat yang telah dijelaskan pada bab wudhu beserta doa yang menyertainya setelah mandi. Dan disunnahkan pula untuk tidak mandi janabah atau mandi lainnya—sebagaimana halnya wudhu—di dalam air tenang yang tidak luas melimpah, seperti air yang memancar dari mata air yang tidak mengalir.

فرع لو اغتسل لجنابة ونحو جمعة بنيتهما حصلا وإن كان الأفضل إفراد كل بغسل أو لأحدهما حصل فقط.

Cabang: Jika seseorang mandi untuk janabah dan mandi sunnah seperti mandi Jumat dengan niat keduanya, maka keduanya didapatkan (keabsahannya), meskipun yang lebih utama adalah memisahkan masing-masing dengan satu mandi tersendiri. Namun jika ia hanya berniat salah satunya, maka hanya niat itu saja yang didapatkan.

ولو أحدث ثم أجنب كفى غسل واحد وإن لم ينو معه الوضوء ولا رتب أعضاءه.

Jika seseorang berhadas kecil lalu berjinabah, maka cukuplah baginya satu kali mandi, meskipun ia tidak berniat wudhu bersamanya dan tidak membasuh anggota-anggota wudhunya secara tertib (berurutan).

فرع يسن لجنب وحائض ونفساء بعد انقطاع دمهما غسل فرج ووضوء لنوم وأكل وشرب ويكره فعل شيء من ذلك بلا وضوء١ وينبغي أن لا يزيلوا قبل الغسل شعرا أو ظفرا وكذا دما

Cabang: Disunnahkan bagi orang junub, wanita haid, dan wanita nifas setelah terputusnya darah mereka untuk membasuh kemaluan dan berwudhu ketika hendak tidur, makan, dan minum. Makruh melakukan hal-hal tersebut tanpa berwudhu terlebih dahulu. Dan seyogyanya mereka tidak memotong/menghilangkan rambut atau kuku sebelum mandi, demikian pula darah.

وجاز تكشف له في خلوة.

Dan boleh membuka aurat (bertelanjang) baginya di tempat yang sepi.

وثانيها: طهارة بدن وملبوس ومكان عن نجس,

Syarat kedua: Sucinya badan, pakaian, dan tempat dari najis,

لأن ذلك يرد في الآخرة جنبا.

karena hal tersebut akan dikembalikan di akhirat dalam keadaan junub.

وجاز تكشف له أي للغسل في خلوة أو بحضرة من يجوز نظره إلى عورته كزوجة وأمة والستر

Boleh membuka aurat baginya, yaitu untuk mandi di tempat yang sepi atau di hadapan orang yang boleh melihat auratnya seperti istri dan budak wanita. Namun, menutupi aurat…

أفضل وحرم إن كان ثم من يحرم نظره إليها كما حرم في الخلوة بلا حاجة وحل فيها لأدنى غرض كما يأتي.

…adalah lebih utama. Dan haram hukumnya jika di sana ada orang yang haram melihat auratnya, sebagaimana haram bertelanjang di tempat sepi tanpa ada kebutuhan. Namun hal itu halal di tempat sepi untuk tujuan sekecil apa pun sebagaimana yang akan datang penjelasannya.

٢- وثانيها أي ثاني شروط الصلاة طهارة بدن ومنه داخل الفم والأنف والعين.

2- Dan yang kedua, yaitu syarat shalat yang kedua, adalah sucinya badan, dan termasuk darinya adalah bagian dalam mulut, hidung, dan mata.

وملبوس وغيره من كل محمول له وإن لم يتحرك بحركته.

Dan sucinya pakaian serta benda lainnya dari segala apa yang dibawanya, meskipun benda tersebut tidak ikut bergerak dengan gerakannya.

ومكان يصلى فيه.

Dan tempat yang digunakan untuk shalat di atasnya.

عن نجس غير معفو عنه.

Dari najis yang tidak dimaafkan.

فلا تصح الصلاة معه ولو ناسيا أو جاهلا بوجوده أو بكونه مبطلا لقوله تعالى: ﴿وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ﴾ [٧٤ سورة المدثر الآية: ٤] ولخبر الشيخين. [البخاري رقم: ٣٠٦ مسلم رقم: ٣٣٣] .

Maka shalat tidak sah bersamanya (bersama adanya najis), meskipun dalam keadaan lupa, tidak tahu keberadaannya, atau tidak tahu bahwa hal itu membatalkan shalat, berdasarkan firman Allah Ta'ala: "Dan pakaianmu bersihkanlah" [QS. Al-Muddassir: 4], dan berdasarkan hadits Asy-Syaikhani (Al-Bukhari no. 306, Muslim no. 333).

ولا يضر محاذاة نجس لبدنه لكن تكره مع محاذاته كاستقبال نجس أو متنجس.

Dan tidak memudaratkan (tidak membatalkan shalat) posisi najis yang sejajar dengan badannya, tetapi hukumnya makruh jika berada sejajar dengannya, sebagaimana makruhnya menghadap najis atau benda yang terkena najis.

ولا يجب اجتناب النجس كروث وبول ولو من مأكول ومذي,

Dan tidak wajib menjauhi najis, seperti kotoran hewan dan kencing—meskipun dari hewan yang boleh dimakan—serta madzi,

والسقف كذلك إن قرب منه بحيث يعد محاذيا له عرفا.

Demikian pula atap (hukumnya sama makruhnya), jika posisinya dekat dengannya sekira secara kelaziman ('urf) dianggap sejajar dengannya.

ولا يجب اجتناب النجس في غير الصلاة ومحله في غير التضمخ به في بدن أو ثوب فهو حرام بلا حاجة وهو شرعا مستقذر يمنع صحة الصلاة حيث لا مرخص فهو كروث وبول ولو كانا من طائر وسمك وجراد وما لا نفس له سائلة.

Dan tidak wajib menjauhi najis di luar shalat, yang mana kebolehannya adalah selain mengotori diri (melumuri) dengannya pada badan atau pakaian, karena hal itu haram tanpa adanya kebutuhan. Najis secara syariat adalah sesuatu yang kotor yang menghalangi keabsahan shalat sekira tidak ada keringanan (rukhshah). Maka ia seperti kotoran hewan dan kencing, meskipun keduanya berasal dari burung, ikan, belalang, dan hewan yang tidak memiliki darah mengalir.

أو من مأكول لحمه على الأصح.

Atau dari hewan yang dimakan dagingnya menurut pendapat yang lebih shahih.

قال الأصطخري والروياني من أئمتنا كمالك وأحمد: إنهما طاهران من المأكول. ولو راثت أو قاءت بهيمة حيا فإن كان صلبا بحيث لو زرع نبت فمتنجس يغسل ويؤكل وإلا فنجس. ولم يبينوا حكم غير الحب.

Al-Istakhri dan Ar-Ruyani dari kalangan ulama kami (Syafi'iyah), sebagaimana Malik dan Ahmad, berkata: Bahwa keduanya (kotoran dan kencing) adalah suci dari hewan yang dagingnya boleh dimakan. Jika hewan membuang kotoran atau memuntahkan biji-bijian dalam keadaan utuh, maka apabila biji tersebut keras sekiranya jika ditanam dapat tumbuh, statusnya adalah terkena najis (mutanajjis) yang cukup dicuci lalu boleh dimakan; jika tidak demikian, maka statusnya najis. Mereka tidak menjelaskan hukum selain biji-bijian.

قال شيخنا: والذي يظهر أنه إن تغير عن حاله قبل البلع ولو يسيرا فنجس وإلا فمتنجس.

Guru kami (Syaikhina) berkata: Yang tampak jelas adalah jika biji-bijian itu berubah dari kondisinya sebelum tertelan meskipun sedikit, maka hukumnya najis; jika tidak berubah, maka hukumnya mutanajjis.

وفي المجموع عن شيخ نصر: العفو عن بول بقر الدياسة على الحب. وعن الجويني: تشديد النكير على البحث عنه وتطهيره. وبحث الفزاري العفو عن بعر الفأرة إذا وقع في مائع وعمت البلوى به.

Dalam al-Majmu' dari Syaikh Nasr disebutkan: Dimaafkan kencing sapi pengeras gandum yang mengenai biji-bijian. Dari Al-Juwaini: Mengencangkan pengingkaran (kecaman keras) terhadap upaya mencari-cari dan menyucikannya. Dan Al-Fazari membahas dimaafkannya kotoran tikus apabila jatuh ke dalam benda cair dan hal itu telah menjadi 'ammat al-balwa (kesulitan yang merata).

وأما ما يوجد على ورق بعض الشجر كالرغوة فنجس لأنه يخرج من باطن بعض الديدان كما شوهد ذلك وليس العنبر روثا خلافا لمن زعمه بل هو نبات في البحر.

Adapun apa yang terdapat pada daun sebagian pepohonan yang menyerupai busa, hukumnya adalah najis karena keluar dari dalam perut sebagian ulat/cacing sebagaimana hal itu disaksikan. Dan ambar bukanlah kotoran hewan, berbeda dengan pendapat orang yang menganggapnya demikian, melainkan ia adalah tumbuhan di dalam laut.

ومذي بمعجمة للأمر بغسل الذكر منه وهو ماء أبيض أو

Dan madzi (dengan huruf dzal bertitik), karena adanya perintah untuk mencuci kemaluan darinya, yaitu air berwarna putih atau

وودي ودم وقيح وقيء معدة,

dan wadi, darah, nanah, serta muntahan lambung,

أصفر رقيق يخرج غالبا عند ثوران الشهوة بغير شهوة قوية.

kuning encer yang biasanya keluar ketika gejolak syahwat tanpa syahwat yang kuat.

وودي بمهملة وهو ماء أبيض كدر ثخين يخرج غالبا عقب البول أو عند حمل شيء ثقيل.

Dan wadi (dengan huruf dal tanpa titik), yaitu air berwarna putih keruh dan kental yang biasanya keluar setelah buang air kecil atau ketika membawa beban berat.

ودم حتى ما بقي على نحو عظم لكنه معفو عنه.

Dan darah, hingga darah yang tersisa pada semacam tulang, namun darah tersebut dimaafkan.

واستثنوا منه الكبد والطحال والمسك أي ولو من ميت إن انعقد والعلقة والمضغة ولبنا خرج بلون دم ودم بيضة لم تفسد.

Para ulama mengecualikan darinya (darah) yaitu hati, limpa, minyak kasturi (misk)—yakni meskipun dari bangkai jika telah mengeras—gumpalan darah ('alaqah), gumpalan daging (mudhghah), susu yang keluar dengan warna darah, dan darah pada telur yang belum membusuk.

وقيح لأنه دم مستحيل وصديد: وهو ماء رقيق يخالطه دم.

Dan nanah, karena ia adalah darah yang telah berubah. Dan sadid (nanah bercampur darah), yaitu cairan encer yang bercampur darah.

وكذا ماء جرح وجدري ونفط إن تغير وإلا فماؤها طاهر.

Demikian pula cairan luka, cacar, dan melepuh jika berubah; jika tidak berubah, maka cairannya suci.

وقئ معدة وإن لم يتغير وهو الراجع بعد الوصول للمعدة ولو ماء.

Dan muntahan lambung meskipun tidak berubah, yaitu makanan/cairan yang kembali setelah sampai ke lambung, meskipun hanya berupa air.

أما الراجع قبل الوصول إليها يقينا أو احتمالا فلا يكون نجسا ولا متنجسا خلافا للقفال.

Adapun yang kembali sebelum sampai ke lambung secara yakin atau kemungkinan, maka tidak menjadi najis dan tidak pula mutanajjis, berbeda dengan pendapat Al-Qaffal.

وأفتى شيخنا أن الصبي إذا ابتلي بتتابع القيء عفي عن ثدي أمه الداخل في فيه لا عن مقبله أو مماسه.

Guru kami berfatwa bahwa apabila seorang bayi diuji dengan muntah yang terus-menerus, maka dimaafkan bagian puting payudara ibunya yang masuk ke dalam mulutnya, bukan bagian depannya atau bagian yang bersentuhan dengannya.

وكمرة ولبن غير مأكول إلا الآدمي وجرة نحو بعير.

Dan empedu, susu hewan yang tidak halal dimakan selain manusia, serta mamahan (makanan dalam lambung yang dimuntahkan untuk dikunyah kembali) hewan seperti unta.

أما المني فطاهر خلافا لمالك وكذا بلغم غير معدة من رأس أو صدر وماء سائل من فم نائم ولو نتنا أو أصفر ما لم يتحقق أنه من معدة إلا ممن ابتلي به فيعفى عنه وإن كثر. ورطوبة فرج أي:

Adapun mani hukumnya suci, berbeda dengan pendapat Imam Malik. Demikian pula dahak selain dari lambung, yaitu dari kepala atau dada, dan air yang mengalir dari mulut orang tidur meskipun berbau busuk atau berwarna kuning selama tidak dipastikan berasal dari lambung, kecuali bagi orang yang diuji dengannya (sering mengalaminya), maka dimaafkan darinya meskipun banyak. Dan basah kemaluan (rutubah al-farj), yaitu:

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

قبل على الأصح وهي ماء أبيض متردد بين المذي والعرق يخرج من باطن الفرج الذي لا يجب غسله بخلاف ما يخرج مما يجب غسله فإنه طاهر قطعا وما يخرج من وراء باطن الفرج فإنه نجس قطعا ككل خارج من الباطن وكالماء الخارج مع الولد أو قبله ولا فرق بين انفصالها وعدمه على المعتمد.

Kemaluan (vagina) menurut pendapat yang lebih sahih, yaitu cairan putih yang berada di antara madzi dan keringat yang keluar dari bagian dalam vagina yang tidak wajib dibasuh, berbeda dengan apa yang keluar dari bagian yang wajib dibasuh karena itu suci secara pasti. Sedangkan apa yang keluar dari bagian yang lebih dalam dari bagian dalam vagina, hukumnya najis secara pasti sebagaimana setiap sesuatu yang keluar dari organ dalam, dan seperti cairan yang keluar bersama bayi atau sebelum lahirnya bayi. Dan tidak ada perbedaan antara terpisahnya cairan tersebut maupun tidak terpisahnya menurut pendapat yang dapat diandalkan (mu'tamad).

قال بعضهم: الفرق بين الرطوبة الطاهرة والنجسة الاتصال والانفصال فلو انفصلت ففي الكفاية عن الإمام أنها نجسة.

Sebagian ulama berkata: Perbedaan antara cairan (vagina) yang suci dan yang najis adalah keterikatan (tersambung) dan terpisahnya. Jika cairan tersebut terpisah, maka dalam kitab Al-Kifayah dinukilkan dari Al-Imam (Al-Haramain) bahwa cairan tersebut najis.

ولا يجب غسل ذكر المجامع والبيض والولد.

Dan tidak wajib membasuh zakar orang yang berjima', telur, dan bayi (anak yang baru dilahirkan).

وأفتى شيخنا بالعفو عن رطوبة الباسور لمبتلى بها.

Guru kami berfatwa tentang dimaafkannya cairan (basah-basahan) ambeien/wasir bagi orang yang mengalaminya.

وكذا بيض غير مأكول ويحل أكله على الأصح.

Demikian pula (suci) telur dari hewan yang tidak halal dimakan, dan halal memakannya menurut pendapat yang lebih sahih.

وشعر مأكول وريشه إذا أبين في حياته.

Dan (suci) bulu/rambut hewan yang dimakan dagingnya serta bulu unggasnya apabila terpisah ketika hewan tersebut masih hidup.

ولو شك في شعر أو نحوه أهو من مأكول أو غيره؟ أو هل انفصل من حي أو ميت؟ فهو طاهر وقياسه أن العظم كذلك وبه صرح في الجواهر.

Jika seseorang ragu pada bulu/rambut atau sejenisnya, apakah itu berasal dari hewan yang dimakan atau bukan? Atau apakah terpisah dari hewan yang hidup atau yang mati? Maka hukumnya suci. Dan diqiyaskan darinya bahwa tulang juga demikian, sebagaimana ditegaskan dalam kitab Al-Jawahir.

وبيض الميتة إن تصلب طاهر وإلا فنجس.

Dan telur dari bangkai hewan, jika kulitnya telah mengeras maka hukumnya suci, jika tidak mengeras maka najis.

وسؤر كل حيوان طاهر فلو تنجس فمه ثم ولغ في ماء قليل أو مائع فإن كان بعد غيبة يمكن فيها طهارته بولوغه في ماء كثير أو جار لم ينجسه ولو هرا وإلا نجسته.

Dan sisa minuman (air liur) setiap hewan adalah suci. Jika mulut hewan tersebut terkena najis kemudian ia menjilat air yang sedikit atau cairan, jika hal itu terjadi setelah tenggat waktu yang memungkinkan mulutnya telah suci kembali—misalnya dengan menjilat air yang banyak atau air mengalir—maka ia tidak menajiskannya meskipun hewan itu adalah kucing; jika tidak demikian, maka ia menajiskannya.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

قال شيخنا كالسيوطي تبعا لبعض المتأخرين إنه يعفى عن يسير عرفا من شعر نجس من غير مغلظ.

Guru kami, sebagaimana As-Suyuthi, dengan mengikuti sebagian ulama muta'akhirin berkata bahwa dimaafkan jumlah yang sedikit secara 'urf (kebiasaan) dari bulu/rambut yang najis yang bukan berasal dari najis mughallazhah.

ومن دخان نجاسة وما على رجل ذباب وإن رؤي وما على منفذ غير آدمي مما خرج منه وذرق طير وما على فمه وروث ما نشؤه من الماء أو بين أوراق شجر النارجيل التي تستر بها البيوت عن المفطر حيث يعسر صون الماء عنه.

Dan (dimaafkan juga) asap dari najis, kotoran yang menempel di kaki lalat meskipun terlihat, kotoran yang ada di lubang keluar (dubur) selain manusia dari apa yang keluar darinya, kotoran burung dan apa yang menempel di paruhnya, serta kotoran hewan yang hidup/berkembang di dalam air atau di antara daun-daun pohon kelapa yang digunakan untuk menutupi rumah dari hal-hal yang membatalkan puasa, sekiranya sulit menjaga air dari kotoran tersebut.

قال جمع: وكذا ما تلقيه الفئران من الروث في حياض إلا خلية إذا عم الابتلاء به ويؤيده بحث الفزاري وشرط ذلك كله إذا كان في الماء أن لا يغير. انتهى.

Sekelompok ulama berkata: Demikian pula kotoran yang dijatuhkan tikus di wadah/kolam pembuatan cuka jika cobaan dengannya telah merata (umum terjadi), dan hal ini didukung oleh kajian Al-Fazari. Syarat dari semua itu apabila berada di dalam air adalah tidak sampai mengubah warna, rasa, atau bau air. Selesai.

والزباد طاهر.

Dan minyak zabad (civet/keringat musang jubah) adalah suci.

ويعفى عن قليل شعره كالثلاث كذا أطلقوه ولم يبينوا أن المراد القليل في المأخوذ للاستعمال أو في الإناء المأخوذ منه.

Dan dimaafkan bulunya yang sedikit seperti tiga helai. Demikian para ulama menyatakannya secara mutlak tanpa menjelaskan apakah yang dimaksud 'sedikit' itu pada bagian yang diambil untuk digunakan atau pada wadah tempat pengambilan.

قال شيخنا: والذي يتجه الأول إن كان جامدا لان العبرة فيه بمحل النجاسة فقط فإن كثرت في محل واحد لم يعف عنه وإلا عفي بخلاف المائع فإن جميعه كالشيء الواحد.

Guru kami berkata: Pendapat yang kuat adalah opsi pertama jika benda tersebut padat, karena patokannya hanya pada tempat najisnya saja; jika banyak pada satu tempat maka tidak dimaafkan, tetapi jika tidak banyak maka dimaafkan, berbeda dengan benda cair karena seluruhnya dianggap seperti satu kesatuan.

فإن قل الشعر فيه عفي عنه وإلا فلا ولا نظر للمأخوذ حينئذ.

Maka jika bulu di dalamnya sedikit, hal itu dimaafkan, dan jika tidak sedikit maka tidak dimaafkan, dan pada saat itu tidak ada pertimbangan terhadap bagian yang diambil.

ونقل المحب الطبري عن ابن الصباغ واعتمده أنه يعفى عن جرة البعير ونحوه فلا ينجس ما شرب منه.

Al-Muhibb At-Thabari mengutip dari Ibn Ash-Shabbagh dan mengutamakannya (sebagai pegangan) bahwa dimaafkan memahan biakan (makanan yang dikeluarkan kembali dari lambung untuk dikunyah) dari unta dan sejenisnya, sehingga tidak menajiskan air yang diminumnya.

وكميتة غير بشر وسمك وجراد,

Dan seperti bangkai selain manusia, ikan, dan belalang,

وألحق به فم ما يجتر من ولد البقرة والضأن إذا التقم أخلاف أمه.

Disamakan dengannya (dimaafkan) mulut anak sapi dan domba yang memamah biak ketika menyusu pada puting ibunya.

وقال ابن الصلاح: يعفى عما اتصل به شيء من أفواه الصبيان مع تحقق نجاستها.

Ibnu ash-Shalah berkata: Dimaafkan apa yang terkena sesuatu dari mulut anak-anak kecil meskipun telah dipastikan kenajisannya.

وألحق غيره بهم أفواه المجانين وجزم به الزركشي.

Ulama lain menyamakan mulut orang-orang gila dengan mereka (anak-anak kecil), dan Az-Zarkasyi memastikannya.

وكميتة ولو نحو ذباب مما لا نفس له سائلة خلافا للقفال ومن تبعه في قوله بطهارته لعدم الدم المتعفن كمالك وأبي حنيفة فالميتة نجسة وإن لم يسل دمها وكذا شعرها وعظمها وقرنها خلافا لأبي حنيفة إذا لم يكن عليها دسم.

Dan seperti bangkai, meskipun sejenis lalat dari hewan yang tidak memiliki darah mengalir, berbeda dengan Al-Qaffal dan orang yang mengikutinya dalam pendapatnya tentang kesuciannya karena tidak adanya darah yang membusuk seperti (pendapat) Malik dan Abu Hanifah; maka bangkai itu najis meskipun darahnya tidak mengalir, demikian pula bulunya, tulangnya, dan tanduknya, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah jika tidak ada lemak/minyak padanya.

وأفتى الحافظ ابن حجر العسقلاني بصحة الصلاة إذا حمل المصلي ميتة ذباب إن كان في محل يشق الاحتراز عنه.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berfatwa tentang sahnya shalat jika orang yang shalat membawa bangkai lalat apabila berada di tempat yang sulit dihindari.

غير بشر وسمك وجراد لحل تناول الأخيرين وأما الآدمي فلقوله تعالى: ﴿وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ﴾ [١٧ سورة الإسراء: الآية: ٧٠] وقضية التكريم أن لا يحكم بنجاستهم بالموت.

Kecuali manusia, ikan, dan belalang; karena halalnya mengonsumsi dua yang terakhir, sedangkan manusia berdasarkan firman Allah Ta'ala: {Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam} [QS. Al-Isra': 70], dan konsekuensi dari pemuliaan tersebut adalah tidak dihukumi najisnya mereka sebab kematian.

وغير صيد لم تدرك ذكاته

Dan selain hewan buruan yang tidak sempat disembelih secara syar'i.

وجنين مذكاة مات بذكاتها.

Dan janin hewan yang disembelih yang mati karena penyembelihan induknya.

ويحل أكل دود مأكول معه

Dan halal memakan ulat makanan bersama dengan makanan tersebut.

ولا يجب غسل نحو الفم منه.

Dan tidak wajib membasuh sejenis mulut darinya.

ونقل في الجواهر عن الأصحاب: لا يجوز أكل سمك ملح ولم

Dikutip dalam al-Jawahir dari para ash-hab (ulama Syafi'iyah): Tidak boleh memakan ikan asin yang belum…

وكمسكر مائع,

Dan seperti zat cair yang memabukkan,

ينزع ما في جوفه أي من المستقذرات.

…dikeluarkan isi perutnya, yaitu berupa kotoran-kotoran.

وظاهره: لا فرق بين كبيره وصغيره لكن ذكر الشيخان جواز أكل الصغير مع ما في جوفه لعسر تنقية ما فيه.

Secara lahiriah: Tidak ada perbedaan antara ikan besar dan kecil, namun Asy-Syaikhani (An-Nawawi dan Ar-Rafi'i) menyebutkan bolehnya memakan ikan kecil bersama isi perutnya karena sulitnya membersihkan apa yang ada di dalamnya.

وكمسكر أي صالح للإسكار فدخلت القطرة من المسكر.

Dan seperti yang memabukkan, yaitu yang berpotensi memabukkan, sehingga termasuk di dalamnya setetes dari zat yang memabukkan.

مائع كخمر وهي المتخذة من العنب ونبيذ وهو المتخذ من غيره.

Yang cair seperti khamar, yaitu yang terbuat dari anggur, dan nabidz, yaitu yang terbuat dari selain anggur.

وخرج بالمائع نحو البنج والحشيش.

Dan mengecualikan dengan kata 'cair' yaitu sejenis kecubung (pembius) dan ganja.

وتطهر خمر تخللت بنفسها من غير مصاحبة عين أجنبية لها وإن لم تؤثر في التخليل كحصاة ويتبعها في الطهارة الدن وإن تشرب منها أو غلت فيه وارتفعت بسبب الغليان ثم نزلت أما إذا ارتفعت بلا غليان بل بفعل فاعل فلا تطهر وإن غمر المرتفع قبل جفافه أو بعده بخمر أخرى على الأوجه كما جزم به شيخنا.

Dan menjadi suci khamar yang berubah menjadi cuka dengan sendirinya tanpa disertai benda asing, meskipun benda itu tidak mempengaruhi proses perubahannya seperti kerikil. Dan wadahnya ikut menjadi suci dengannya, meskipun khamar meresap ke dalamnya atau mendidih di dalamnya lalu naik karena mendidih kemudian turun kembali. Adapun jika ia naik tanpa mendidih melainkan karena perbuatan seseorang, maka ia tidak bisa suci meskipun bagian yang naik itu disiram dengan khamar lain sebelum atau sesudah kering, menurut pendapat yang lebih kuat sebagaimana dipastikan oleh guru kami.

والذي اعتمده شيخنا المحقق عبد الرحمن بن زياد أنها تطهر إن غمر المرتفع قبل الجفاف لا بعده.

Dan pendapat yang dipegang oleh guru kami, al-Muhaqqiq Abdurrahman bin Ziyad, adalah bahwa khamar tersebut menjadi suci jika bagian yang naik tergenang sebelum mengering, bukan setelahnya.

ثم قال: لو صب خمر في إناء ثم أخرجت منه وصب فيه خمر أخرى بعد جفاف الإناء وقبل غسله لم

Kemudian beliau berkata: Jika khamar dituangkan ke dalam wadah lalu dikeluarkan darinya, dan khamar lain dituangkan ke dalamnya setelah wadah itu mengering dan sebelum dicuci, maka tidak

تطهر وإن تخللت بعد نقلها منه في إناء آخر. انتهى.

menjadi suci meskipun berubah menjadi cuka setelah dipindahkan darinya ke wadah lain. Selesai.

والدليل على كون الخمر خلا الحموضة في طعمها وإن لم توجد

Dan bukti bahwa khamar telah menjadi cuka adalah adanya rasa asam pada rasanya, meskipun tidak mencapai

وككلب وخنزير,

Dan seperti anjing dan babi,

نهاية الحموضة وإن قذفت بالزبد.

puncak keasaman dan meskipun mengeluarkan busa.

ويطهر جلد نجس بالموت باندباغ نقاه بحيث لا يعود إليه نتن ولا فساد لو نقع في الماء.

Kulit yang najis karena kematian dapat suci dengan penyamakan yang membersihkannya, sekira bau busuk dan kerusakannya tidak kembali seandainya direndam dalam air.

وككلب وخنزير وفرع كل منهما مع الآخر أو مع غيره ودود ميتتهما طاهر وكذا نسج عنكبوت على المشهور كما قاله السبكي والأذرعي وجزم صاحب العدة والحاوي بنجاسته.

Dan seperti anjing dan babi serta keturunan dari masing-masing keduanya dengan yang lain atau dengan hewan lain. Adapun ulat dari bangkai keduanya adalah suci, begitu pula sarang laba-laba menurut pendapat yang masyhur sebagaimana dikatakan oleh al-Subki dan al-Adzra'i, sedangkan penulis al-'Uddah dan al-Hawi memastikan kenajisannya.

وما يخرج من جلد نحو حية في حياتها كالعرق على ما أفتى به بعضهم لكن قال شيخنا: فيه نظر بل الأقرب أنه نجس لأنه جزء متجسد منفصل من حي فهو كميتته.

Serta apa yang keluar dari kulit sejenis ular sewaktu hidupnya adalah seperti keringat, menurut fatwa sebagian ulama. Namun guru kami berkata: Pendapat ini perlu ditinjau kembali, bahkan yang lebih mendekati kebenaran adalah ia najis karena ia merupakan bagian berwujud yang terpisah dari hewan hidup, sehingga hukumnya seperti bangkainya.

وقال أيضا: لو نزا كلب أو خنزير على آدمية فولدت آدميا كان الولد نجسا١ ومع ذلك هو مكلف بالصلاة وغيرها.

Beliau juga berkata: Jika anjing atau babi mengawini wanita manusia lalu melahirkan seorang manusia, maka anak itu najis, tetapi meskipun demikian ia tetap dibebani kewajiban (mukallaf) shalat dan lainnya.

وظاهر أنه يعفى عما يضطر إلى ملامسته.

Dan secara lahiriah, dimaafkan hal-hal yang terpaksa ia sentuh.

وأنه تجوز إمامته إذ لا إعادة عليه ودخوله المسجد حيث لا رطوبة للجماعة ونحوها.

Dan boleh hukumnya ia menjadi imam karena tidak ada kewajiban mengulang shalat baginya, serta boleh masuk masjid untuk jamaah dan sejenisnya selama tidak ada kebasahan.

ويطهر متنجس بعينية بغسل مزيل لصفاتها من طعم ولون وريح ولا يضر بقاء لون أو ريح عسر زواله

Benda yang terkena najis 'ainiyyah menjadi suci dengan basuhan yang menghilangkan sifat-sifatnya, yaitu rasa, warna, dan bau. Tidak memudaratkan menyisanya warna atau bau yang sulit dihilangkan,

ولو من مغلظ فإن بقيا معا لم يطهر.

meskipun dari najis mughallazhah. Namun jika keduanya (warna dan bau) tersisa bersamaan, maka belum suci.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

………………………….

ومتنجس بحكمية كبول جف لم يدرك له صفة بجري الماء عليه مرة وإن كان حبا أو لحما طبخ بنجس أو ثوبا صبغ بنجس فيطهر باطنها بصب الماء على ظاهرها كسيف سقي وهو محمى بنجس.

Benda yang terkena najis hukmiyyah—seperti air kencing yang mengering dan tidak terindera sifatnya—dapat suci dengan mengalirkan air di atasnya satu kali. Meskipun benda itu berupa biji-bijian atau daging yang dimasak dengan najis, atau pakaian yang dicelup dengan najis, maka bagian dalamnya menjadi suci dengan menyiramkan air pada bagian luarnya, seperti pedang yang disepuh ketika dipanaskan dengan najis.

ويشترط في طهر المحل ورود الماء القليل على المحل المتنجس فإن ورد متنجس على ماء قليل لا كثير تنجس وإن لم يتغير فلا يطهر غيره. وفارق الوارد غيره بقوته لكونه عاملا فلو تنجس فمه كفى أخذ الماء بيده إليه وإن لم يعلها عليه كما قال شيخنا ويجب غسل كل ما في حد الظاهر منه ولو بالإدارة كصب ماء في إناء متنجس وإدارته بجوانبه.

Disyaratkan untuk kesucian tempat najis yaitu datangnya air yang sedikit ke tempat yang terkena najis. Jika benda najis yang mendatangi air sedikit (bukan air banyak), maka air tersebut menjadi najis meskipun tidak berubah, sehingga tidak dapat menyucikan benda lain. Air yang mendatangi dibedakan dari yang didatangi karena kekuatannya sebagai pihak yang beraksi. Maka jika mulut seseorang terkena najis, cukuplah ia mengambil air dengan tangannya ke mulutnya meskipun ia tidak meletakkan tangan lebih tinggi dari mulutnya, sebagaimana dikatakan oleh guru kami. Dan wajib membasuh semua bagian yang termasuk batas luar mulut, meskipun dengan mengelilingkan air, seperti menuangkan air ke dalam wadah yang terkena najis lalu memutarnya ke sisi-sisinya.

ولا يجوز له ابتلاع شيء قبل تطهير فمه حتى بالغرغرة.

Dan tidak boleh baginya menelan sesuatu sebelum menyucikan mulutnya, bahkan dengan cara berkumur-kumur hingga tenggorokan (gargle).

فرع لو أصاب الأرض نحو بول وجف فصب على موضعه ماء فغمره طهر ولو لم ينضب أي يغور سواء كانت الأرض صلبة أم رخوة وإذا كانت الأرض لم تتشرب ما تنجست به فلا بد من إزالة العين قبل صب الماء القليل عليها كما لو كانت في إناء ولو كانت النجاسة جامدة فتفتتت واختلطت بالتراب لم يطهر

Cabang masalah: Jika tanah terkena sejenis air kencing lalu mengering, kemudian dituangkan air ke tempatnya hingga menggenanginya, maka tanah itu menjadi suci meskipun airnya tidak meresap (yaitu tidak masuk ke dalam tanah), baik tanah itu keras maupun gembur. Apabila tanah tersebut belum menyerap najis yang mengenainya, maka wajib menghilangkan wujud najis ('ain) terlebih dahulu sebelum menuangkan air yang sedikit ke atasnya, sebagaimana jika najis itu berada di dalam wadah. Jika najis tersebut berupa benda padat lalu hancur dan bercampur dengan tanah, maka tanah itu tidak dapat suci

كالمختلط بنحو صديد بإفاضة الماء عليه بل لا بد من إزالة جميع التراب المختلط بها.

sebagaimana tanah yang bercampur dengan sejenis nanah, hanya dengan menyiramkan air ke atasnya. Bahkan, seluruh tanah yang bercampur dengannya wajib dihilangkan.

وأفتى بعضهم في مصحف تنجس بغير معفو عنه بوجوب غسله,

Sebagian ulama berfatwa mengenai mushaf yang terkena najis yang tidak dimaafkan tentang kewajiban membasuhnya,

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

وإن أدى إلى تلفه وإن كان ليتيم.

meskipun hal itu menyebabkan kerusakannya dan meskipun mushaf itu milik anak yatim.

قال شيخنا: ويتعين فرضه فيما إذا مست النجاسة شيئا من القرآن بخلاف ما إذا كانت في نحو الجلد أو الحواشي.

Guru kami berkata: Kewajiban membasuhnya ini tertentu pada kondisi apabila najis tersebut menyentuh bagian dari tulisan Al-Qur'an, berbeda halnya jika najis tersebut berada pada bagian seperti sampul atau pinggiran halaman.

فرع غسالة المتنجس ولو معفوا عنه كدم قليل إن انفصلت وقد زالت العين وصفاتها ولم تتغير ولم يزد وزنها بعد اعتبار ما يأخذه الثوب من الماء والماء من الوسخ وقد طهر المحل: طاهرة قال شيخنا: ويظهر الاكتفاء فيهما بالظن.

Cabang masalah: Air bekas cucian benda yang terkena najis, meskipun najis yang dimaafkan seperti darah yang sedikit, apabila telah terpisah (dari benda tersebut) dan wujud najis beserta sifat-sifatnya telah hilang, serta air tersebut tidak berubah dan tidak bertambah timbangannya setelah memperhitungkan air yang diserap pakaian dan kotoran yang diserap air, sementara tempatnya telah suci, maka hukum air tersebut adalah suci. Guru kami berkata: Tampaknya cukuplah berpatokan pada dugaan kuat (dhan) dalam kedua hal tersebut.

فرع إذا وقع في طعام جامد كسمن فأرة مثلا فماتت ألقيت وما حولها مما ماسها فقط والباقي طاهر.

Cabang masalah: Apabila seekor tikus jatuh ke dalam makanan padat seperti minyak samin padat, misalnya, lalu mati, maka tikus itu dibuang beserta bagian di sekitarnya yang menyentuhnya saja, sedangkan sisanya tetap suci.

والجامد هو الذي إذا غرف منه لا يتراد على قرب.

Makanan padat adalah makanan yang apabila diambil sebagian darinya, bekas cedokan tersebut tidak segera menutup kembali dalam waktu dekat.

فرع [في بيان كيفية غسل النجاسة المتوسطة والمغلظة] إذا تنجس ماء البئر القليل بملاقاة نجس لم يطهر بالنزح بل ينبغي أن لا ينزح ليكثر الماء بنبع أو صب ماء فيه أو الكثير بتغير به لم يطهر إلا بزواله فإن بقيت فيه نجاسة كشعر فأرة ولم يتغير فطهور تعذر استعماله١ إذ

Cabang masalah [Penjelasan tata cara membasuh najis mutawassithah dan mughallazhah]: Apabila air sumur yang sedikit menjadi najis karena bertemu dengan najis, maka tidak menjadi suci dengan cara dikuras. Sebaliknya, hendaknya tidak dikuras agar airnya menjadi banyak dengan keluarnya mata air atau dituangkan air ke dalamnya. Adapun air banyak yang menjadi najis karena mengalami perubahan (sifat), maka tidak menjadi suci kecuali dengan hilangnya perubahan tersebut. Jika masih tersisa najis di dalamnya seperti bulu tikus sementara airnya tidak berubah, maka air itu suci menyucikan tetapi tidak dapat digunakan,

ويعفى عن دم نحو برغوث

Dan dimaafkan darah sejenis pinjal

لا يخلو منه دلو فلينزح كله فإن اغترف قبل النزح ولم يتيقن فيما اغترفه شعرا لم يضر وإن ظنه عملا بتقديم الأصل على الظاهر.

karena setiap timba tidak akan bebas dari bulu tersebut, maka hendaknya dikuras semuanya. Jika seseorang mengambil air sebelum dikuras dan dia tidak meyakini ada bulu pada air yang diambilnya, maka hal itu tidak berdampak hukum (tetap suci), meskipun dia menduganya, demi mengamalkan prinsip mendahulukan hukum asal daripada persangkaan lahiriah (zhahir).

ولا يطهر متنجس بنحو كلب إلا بسبع غسلات بعد زوال العين ولو بمرات فمزيلها مرة واحدة إحداهن بتراب تيمم ممزوج بالماء بأن يكدر الماء حتى يظهر أثره فيه ويصل بواسطته إلى جميع أجزاء المحل المتنجس.

Benda yang terkena najis sejenis anjing tidak dapat suci kecuali dengan tujuh kali basuhan setelah hilangnya wujud najis ('ain), meskipun hilangnya membutuhkan beberapa kali basuhan, sehingga basuhan yang menghilangkan najis itu dihitung sebagai satu kali basuhan; salah satu dari tujuh basuhan tersebut menggunakan debu tayamum yang dicampur dengan air, yaitu dengan membuat air menjadi keruh sampai tampak bekas debu di dalamnya dan melalui perantaranya debu dapat mencapai seluruh bagian tempat yang terkena najis.

ويكفي في الراكد تحريكه سبعا.

Pada air tenang, cukuplah dengan menggerak-gerakkannya sebanyak tujuh kali.

قال شيخنا: يظهر أن الذهاب مرة والعود أخرى وفي الجاري مرور سبع جريات ولا تتريب في أرض ترابية.

Guru kami berkata: Tampaknya gerakan pergi dihitung satu kali dan gerakan kembali dihitung satu kali. Pada air yang mengalir, dihitung dengan lewatnya tujuh aliran air. Dan tidak perlu perataan debu (tatrib) jika pembasuhan dilakukan pada tanah yang berdebu.

فرع لو مس كلبا داخل ماء كثير لم تنجس يده١ ولو رفع كلب رأسه من ماء وفمه مترطب ولم يعلم مماسته له لم ينجس.

Cabang masalah: Jika seseorang menyentuh anjing di dalam air yang banyak, tangannya tidak menjadi najis. Jika seekor anjing mengangkat kepalanya dari air sementara mulutnya basah dan tidak diketahui apakah mulutnya menyentuh air tersebut atau tidak, maka air itu tidak menjadi najis.

قال مالك وداود: الكلب طاهر ولا ينجس الماء القليل بولوغه وإنما يجب غسل الإناء بولوغه تعبدا.

Imam Malik dan Dawud al-Zhahiri berkata: Anjing itu suci, dan air yang sedikit tidak menjadi najis karena jilatannya; kewajiban membasuh wadah karena jilatannya hanyalah bersifat ta'abbudi (murni perintah ibadah).

ويعفى عن دم نحو برغوث مما لا نفس له سائلة كبعوض وقمل

Dan dimaafkan darah sejenis pinjal dari hewan yang tidak memiliki darah mengalir seperti nyamuk dan kutu.

ودمل وإن كثر بغير فعله وقليل غيره وحيض ورعاف,

Dan darah bisul—meskipun banyak—jika tanpa perbuatannya sendiri, serta darah yang sedikit dari selainnya, darah haid, dan darah mimisan,

لا عن جلده.

Bukan dari kulitnya.

ودم نحو دمل كبثرة وجرح وعن قيحه وصديده وإن كثر الدم فيهما وانتشر بعرق أو فحش الأول بحيث طبق الثوب على النقول المعتمدة.

Maksudnya dimaafkan darah sejenis bisul seperti jerawat dan luka, serta nanah dan nanah bercampur darah dari keduanya, meskipun darah pada keduanya itu banyak dan menyebar karena keringat, atau yang pertama (darah bisul) itu sangat banyak hingga memenuhi pakaian, menurut nukilan-nukilan yang mu'tamad (dapat dijadikan pegangan).

بغير فعله فإن كثر بفعله قصدا كأن قتل نحو برغوث في ثوبه أو عصر نحو دمل أو حمل ثوبا فيه دم براغيث مثلا وصلى فيه أو فرشه وصلى عليه أو زاد على ملبوسه لا لغرض كتجمل فلا يعفى إلا عن القليل على الأصح كما في التحقيق والمجموع.

(Yaitu jika terjadi) tanpa perbuatannya sendiri. Namun jika menjadi banyak karena perbuatannya yang disengaja, seperti membunuh kutu busuk di pakaiannya, memencet bisul, membawa pakaian yang terdapat darah kutu busuk lalu shalat dengannya, membentangkannya lalu shalat di atasnya, atau menambah pakaian yang dikenakannya bukan untuk suatu tujuan seperti berhias, maka tidak dimaafkan kecuali yang sedikit menurut pendapat yang lebih sahih, sebagaimana dalam kitab at-Tahqiq dan al-Majmu'.

وإن اقتضى كلام الروضة العفو عن كثير دم نحو الدمل وإن عصر واعتمده ابن النقيب والأذرعي.

Meskipun ungkapan dalam kitab ar-Raudhah menghendaki dimaafkannya darah yang banyak dari sejenis bisul walaupun dipencet, dan pendapat ini diandalkan oleh Ibn an-Naqib dan al-Adzra'i.

ومحل العفو هنا وفيما يأتي بالنسبة للصلاة لا لنحو ماء قليل فينجس به وإن قل ولا أثر لملاقاة البدن له رطبا.

Letak permaafan di sini dan pada pembahasan mendatang adalah terkait dengan shalat, bukan untuk air yang sedikit, sehingga air tersebut menjadi najis karenanya meskipun (darahnya) sedikit. Dan tidak ada pengaruh hukum jika tubuh yang basah menyentuhnya.

ولا يكلف تنشيف البدن لعسره.

Seseorang tidak dituntut untuk mengeringkan tubuhnya karena hal itu menyulitkan.

وعن قليل نحو دم غيره أي أجنبي غير مغلظ بخلاف كثيرة.

Dan dimaafkan darah yang sedikit dari selain dirinya, yaitu dari orang/hewan lain yang bukan najis mughallazhah, berbeda jika darah tersebut banyak.

ومنه كما قال الأذرعي: دم انفصل من بدنه ثم أصابه.

Termasuk dalam hal ini, sebagaimana dikatakan al-Adzra'i: darah yang telah terpisah dari tubuhnya sendiri kemudian mengenai dirinya kembali.

وعن قليل نحو دم حيض ورعاف كما في المجموع.

Dan dimaafkan darah yang sedikit dari sejenis darah haid dan mimisan, sebagaimana disebutkan dalam al-Majmu'.

ويقاس بهما دم سائر المنافذ إلا الخارج من معدن النجاسة كمحل الغائط.

Dikiaskan dengan keduanya adalah darah dari seluruh lubang tubuh lainnya, kecuali darah yang keluar dari sumber najis seperti tempat buang air besar.

والمرجع في القلة والكثرة العرف وما شك في كثرته له حكم القليل.

Acuan dalam menentukan sedikit dan banyaknya darah adalah 'urf (kebiasaan umum), dan darah yang diragukan kebanyakannya dihukumi sebagai darah yang sedikit.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

ولو تفرق النجس في محال ولو جمع كثر كان له حكم القليل عند الإمام والكثير عند المتولي والغزالي وغيرهما ورجحه بعضهم ويعفى عن دم نحو فصد وحجم بمحلهما وإن كثر.

Jika najis itu terpisah-pisah di beberapa tempat yang seandainya digabungkan menjadi banyak, maka ia dihukumi sedikit menurut Imam al-Haramain, dan dihukumi banyak menurut al-Mutawalli, al-Ghazali, serta selain keduanya, dan pendapat ini diunggulkan oleh sebagian ulama. Dan dimaafkan darah bekas fasad (totor darah) dan bekam di tempatnya masing-masing meskipun banyak.

وتصح صلاة من أدمى لثته قبل غسل الفم إذا لم يبتلع ريقه فيها لان دم اللثة معفو عنه بالنسبة إلى الريق.

Sah shalat orang yang gusinya berdarah sebelum membasuh mulut jika ia tidak menelan air liurnya di dalam shalat, karena darah gusi dimaafkan nisbatnya terhadap air liur.

ولو رعف قبل الصلاة ودام فإن رجا انقطاعه والوقت متسع انتظره وإلا تحفظ كالسلس خلافا لمن زعم انتظاره وإن خرج الوقت كما تؤخر لغسل ثوبه المتنجس وإن خرج ويفرق بقدرة هذا على إزالة النجس من أصله فلزمته بخلافه في مسألتنا.

Jika seseorang mengalami mimisan sebelum shalat dan terus mengalir, maka jika ia berharap darahnya berhenti sedangkan waktu shalat masih lapang, ia hendaknya menunggunya. Jika tidak, ia wajib menyumbatnya seperti orang yang mengalami sals (beser), berbeda dengan pendapat yang menganggap harus menunggunya meskipun waktu shalat habis, sebagaimana shalat diakhirkan untuk mencuci pakaian yang terkena najis meskipun waktu habis. Perbedaannya adalah bahwa orang yang mencuci pakaian mampu menghilangkan najis secara total dari akarnya sehingga ia wajib menundanya, berbeda dengan masalah kita ini.

وعن قليل طين محل مرور متيقن نجاسته ولو بمغلظ للمشقة ما لم تبق عينها متميزة.

Dan dimaafkan sedikit lumpur di tempat perlintasan yang diyakini kenajisannya, meskipun terkena najis mughallazhah, karena adanya kesukaran (masyaqqah), selama bentuk fisiknya (zat najis) tidak tampak jelas terpisah.

ويختلف ذلك بالوقت ومحله من الثوب والبدن.

Hal tersebut berbeda-beda menurut waktu serta letaknya pada pakaian dan badan.

وإذا تعين عين النجاسة في الطريق ولو مواطئ كلب فلا يعفى عنها.

Dan apabila wujud najis itu sendiri telah dipastikan berada di jalanan, meskipun hanya bekas pijakan anjing, maka tidak dimaafkan.

وإن عمت الطريق على الأوجه.

Meskipun najis tersebut merata di sepanjang jalan, menurut pendapat yang lebih kuat (al-awjah).

وأفتى شيخنا في طريق لا طين بها بل فيها قذر الآدمي وروث الكلاب والبهائم وقد أصابها المطر بالعفو عند مشقة الاحتراز.

Guru kami berfatwa mengenai jalan yang tidak berlumpur tetapi terdapat kotoran manusia, kotoran anjing, dan kotoran hewan ternak yang terkena air hujan, bahwa hal itu dimaafkan apabila sulit untuk dihindari.

ومحل استجماره وونيم ذباب وروث خفاش,

Dan tempat istinja'-nya (dengan batu), kotoran lalat, serta kotoran kelelawar,

قاعدة مهمة: وهي أن ما أصله الطهارة وغلب على الظن تنجسه لغلبة النجاسة في مثله فيه قولان معروفان بقولي الأصل والظاهر أو الغالب أرجحهما أنه طاهر عملا بالأصل المتيقن لأنه أضبط من الغالب المختلف بالأحوال والأزمان وذلك كثياب خمار وحائض وصبيان وأواني متدينين بالنجاسة وورق يغلب نثره على نجس ولعاب صبي وجوخ اشتهر عمله بشحم الخنزير وجبن شامي اشتهر عمله بإنفحة الخنزير وقد جاءه ﷺ جبنة من عندهم فأكل منها ولم يسأل عن ذلك ذكره شيخنا في شرح المنهاج.

Kaidah penting: Yaitu bahwa sesuatu yang pada dasarnya suci, namun diduga kuat telah terkena najis karena dominasi najis pada hal yang serupa darinya, memiliki dua pendapat yang terkenal dengan sebutan pendapat Al-Asl (hukum asal) dan Al-Zhahir/Al-Ghalib (kondisi nyata/kebiasaan umum). Pendapat yang paling kuat adalah bahwa hal itu tetap suci karena mengamalkan hukum asal yang diyakini, sebab hukum asal lebih terukur daripada kebiasaan umum yang berbeda-beda sesuai keadaan dan waktu. Contohnya seperti pakaian peminum khamar, wanita haid, anak-anak, bejana orang-orang yang meyakini kesucian najis tertentu, kertas yang diduga kuat ditebarkan di atas najis, air liur anak kecil, kain wol (joukh) yang terkenal dibuat dengan lemak babi, dan keju Syam yang terkenal dibuat dengan rennet babi. Padahal Nabi ﷺ pernah diberi sepotong keju dari mereka, lalu beliau memakannya tanpa mempertanyakan hal itu; sebagaimana disebutkan oleh guru kami dalam Syarh al-Minhaj.

ويعفى عن محل استجماره وعن ونيم ذباب وبول وروث خفاش في المكان وكذا الثوب والبدن وإن كثرت لعسر الاحتراز عنها ويعفى عما جف من ذرق سائر الطيور في المكان إذا عمت البلوى به.

Dan dimaafkan bekas tempat istinja' seseorang (dengan batu), kotoran lalat, air kencing dan kotoran kelelawar yang berada di suatu tempat, begitu pula pada pakaian dan badan meskipun banyak, karena sulit untuk dihindari. Dimaafkan pula kotoran burung-burung lain yang telah mengering di suatu tempat jika telah menjadi musibah yang merata ('ammat al-balwa).

وقضية كلام المجموع العفو عنه في الثوب والبدن أيضا١.

Dan konsekuensi dari pernyataan dalam kitab al-Majmu' adalah dimaafkan pula pada pakaian dan badan.

ولا يعفى عن بعر الفأر ولو يابسا على الأوجه لكن أفتى شيخنا ابن زياد كبعض المتأخرين بالعفو عنه إذا عمت البلوى به كعمومها في ذرق الطيور٢.

Dan tidak dimaafkan kotoran tikus meskipun sudah kering menurut pendapat yang lebih kuat (al-awjah). Namun guru kami Ibnu Ziyad, sebagaimana sebagian ulama muta'akhkhirin, berfatwa dimaafkannya kotoran tersebut jika telah menjadi musibah yang merata ('ammat al-balwa) sebagaimana meratanya kotoran burung.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

ولا تصح صلاة من حمل مستجمرا أو حيوانا بمنفذه نجس أو مذكى غسل مذبحه دون جوفه أو ميتا طاهرا كآدمي وسمك يغسل باطنه أو بيضة مذرة في باطنها دم ولا صلاة قابض طرف متصل بنجس وإن لم يتحرك بحركته.

Tidak sah shalat orang yang membawa seseorang yang ber-istinja' dengan batu, atau membawa hewan yang pada lubang pengeluaran (dubur/kubul)-nya terdapat najis, atau membawa hewan sembelihan yang disuci leher bekas sembelihannya tetapi bagian dalamnya belum disucikan, atau membawa bangkai yang suci seperti bangkai manusia dan ikan yang bagian dalamnya belum dibersihkan, atau membawa telur busuk yang di dalamnya terdapat darah. Tidak sah pula shalat orang yang memegang ujung tali/benda yang tersambung dengan najis, meskipun najis itu tidak ikut bergerak dengan gerakannya.

فرع: لو رأى من يريد صلاة وبثوبه نجس غير معفو عنه لزمه إعلامه وكذا يلزم تعليم من رآه يخل بواجب عبادة في رأي مقلده.

Cabang Masalah: Jika seseorang melihat orang lain hendak melaksanakan shalat sementara pada pakaiannya terdapat najis yang tidak dimaafkan, maka ia wajib memberitahunya. Demikian pula wajib mengajarkan orang yang dilihatnya merusak kewajiban ibadah menurut pendapat mazhab yang dianut oleh orang tersebut.

تتمة: [في بيان أحكام الاستنجاء وآداب دخول الخلاء] : يجب الاستنجاء من كل خارج ملوث بماء.

Penyempurna: [Penjelasan Hukum-hukum Istinja' dan Adab Masuk Kamar Mandi/WC]: Wajib ber-istinja' dari setiap sesuatu yang keluar lagi mengotori, dengan menggunakan air.

ويكفي فيه غلبة ظن زوال النجاسة ولا يسن حينئذ شم يده وينبغي الاسترخاء لئلا يبقى أثرها في تضاعيف شرج المقعدة أو بثلاث مسحات تعم المحل في كل مرة مع تنقية بجامد قالع.

Dan cukuplah dalam istinja' itu adanya dugaan kuat (ghalabatuzh-zhan) hilangnya najis, dan pada saat itu tidak disunnahkan mencium tangannya. Hendaknya mengendurkan otot (rileks) agar tidak ada sisa najis yang tertinggal pada lipatan-lipatan dubur, atau (istinja') dengan tiga kali usapan yang merata ke seluruh tempat buang hajat pada setiap usapannya disertai pembersihan menggunakan benda padat yang dapat menghilangkan najis.

ويندب لداخل الخلاء أن يقدم يساره ويمينه لانصرافه بعكس المسجد وينحي ما عليه معظم من قرآن واسم نبي أو ملك ولو مشتركا كعزيز وأحمد إن قصد به معظم ويسكت حال خروج خارج ولو عن غير ذكر وفي غير حال الخروج عن ذكر ويبعد ويستتر.

Disunnahkan bagi orang yang masuk WC untuk mendahulukan kaki kirinya, dan mendahulukan kaki kanannya saat keluar, kebalikan dari masjid. Hendaklah ia menjauhkan sesuatu yang padanya terdapat keagungan seperti Al-Qur'an, nama Nabi, atau nama malaikat, meskipun berupa nama yang bersekutu (musytarak) seperti 'Aziz dan Ahmad jika yang dimaksud dengannya adalah nama yang dihormati. Dan hendaknya ia diam saat keluarnya kotoran, meskipun dari selain zikir, serta diam dari zikir saat tidak sedang keluar kotoran, dan menjauh serta menutup diri.

وأن لا يقضي حاجته في ماء مباح راكد ما لم يستبحر ومتحدث غير مملوك لأحد وطريق وقيل: يحرم التغوط فيها وتحت مثمر بملكه أو مملوك علم رضا مالكه وإلا حرم ولا يستقبل عين

Dan hendaknya ia tidak buang hajat di air mubah yang tenang selama air itu tidak sangat luas, di tempat orang berkumpul yang tidak dimiliki siapa pun, dan di jalan—dan dikatakan: haram buang air besar di jalanan—serta di bawah pohon berbuah yang dimiliki sendiri atau milik orang lain yang diketahui kerelaannya; jika tidak diketahui kerelaannya maka haram. Dan tidak menghadap ke arah…

وثالثها: ستر رجل وأمة ما بين سرة وركبة,

Dan (syarat) ketiganya: Menutup aurat bagi laki-laki dan budak wanita, yaitu antara pusar dan lutut,

القبلة ولا يستدبرها ويحرمان في غير المعد وحيث لا ساتر فلو استقبلها بصدره وحول فرجه عنها ثم بال لم يضر بخلاف عكسه.

…Kiblat dan tidak pula membelakanginya. Keduanya haram di tempat yang tidak disediakan khusus untuk buang hajat dan di tempat yang tidak ada penghalangnya. Apabila seseorang menghadap Kiblat dengan dadanya tetapi memalingkan kemaluannya darinya kemudian kencing, maka hal itu tidak mengapa, berbeda dengan kebalikannya.

ولا يستاك ولا يبزق في بوله.

Dan tidak boleh bersiwak serta tidak boleh meludah pada air kencingnya.

وأن يقول عند دخوله: اللهم إني أعوذ بك من الخبث والخبائث. [البخاري رقم: ١٤٢ ومسلم رقم: ٣٧٥]

Dan hendaklah ia membaca ketika masuk (kamar mandi): 'Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan setan perempuan.' [HR. Bukhari no. 142 dan Muslim no. 375]

والخروج: غفرانك الحمد لله الذي أذهب عني الأذى وعافاني وبعد الاستنجاء: اللهم طهر قلبي من النفاق وحصن فرجي من الفواحش. [قال الحافظ العراقي في تخريج أحاديث الإحياء هكذا وقع في نسخ الإحياء عن أبي سعيد وإنما هو عن أم معبد وكذا رواه الخطيب في التاريخ دون قوله: وفرجي من الزنا وزاد: وعملي من الرياء وعيني من الخيانة وإسناده ضعيف. انتهى] .

Dan ketika keluar (membaca): 'Aku memohon ampunan-Mu, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dari diriku dan menyembuhkanku.' Dan setelah istinja membaca: 'Ya Allah, sucikanlah hatiku dari kemunafikan dan jagalah kemaluanku dari perbuatan-perbuatan keji.' [Al-Hafizh Al-Iraqi berkata dalam Takhrij Ahadits Al-Ihya': Demikianlah yang terdapat dalam naskah-naskah Al-Ihya' dari Abu Sa'id, padahal riwayat itu sesungguhnya dari Ummu Ma'bad, dan demikian pula diriwayatkan oleh Al-Khatib dalam Al-Tarikh tanpa lafal: 'wa farji minaz-zina' dan menambahkan: 'wa 'amali minar-riya' wa 'aini minal-khiyanah', dan sanadnya dha'if. Selesai].

قال البغوي: لو شك بعد الاستنجاء هل غسل ذكره لم تلزمه إعادته.

Al-Baghawi berkata: Seandainya seseorang ragu setelah istinja apakah ia telah membasuh kemaluannya, maka ia tidak wajib mengulanginya.

ثالثها: أي شروط الصلاة ستر رجل ولو صبيا وأمة ولو مكاتبة وأم ولد ما بين سرة وركبة لهما ولو خاليا في ظلمة للخبر الصحيح: لا يقبل الله صلاة حائض أي بالغ إلا بخمار. [الترمذي رقم: ٢٧٧, أبو داود رقم: ٦٤١, ابن ماجه رقم: ٦٥٥, مسند أحمد رقم: ٢٤٦٤١, ٢٥٣٠٥, ٢٥٦٩٤] .

Yang ketiga darinya (yaitu syarat-syarat shalat): Menutup aurat bagi laki-laki—meskipun anak kecil—dan hamba sahaya perempuan—meskipun mukatabah atau ummu walad—yaitu antara pusar dan lutut bagi keduanya, meskipun ia sendirian dalam kegelapan, berdasarkan hadits shahih: 'Allah tidak menerima shalat wanita yang telah haid (mencapai usia baligh) kecuali dengan memakai kerudung.' [HR. Tirmidzi no. 277, Abu Daud no. 641, Ibn Majah no. 655, Musnad Ahmad no. 24641, 25305, 25694].

ويجب ستر جزء منهما ليتحقق به ستر العورة.

Dan wajib menutup sebagian dari pusar dan lutut agar penutupan aurat menjadi sempurna.

وحرة غير وجه وكفين بما لا يصف لونا إن قدر عليه.

Dan (menutup aurat bagi) wanita merdeka mencakup seluruh tubuh selain wajah dan kedua telapak tangan, dengan penutup yang tidak memperlihatkan warna kulit jika ia mampu mengusahakannya.

وستر حرة ولو صغيرة غير وجه وكفين ظهرهما وبطنهما إلى الكوعين.

Dan menutup (aurat) wanita merdeka—meskipun anak kecil—selain wajah dan kedua telapak tangan, baik bagian luar maupun dalam hingga kedua pergelangan tangan.

بما لا يصف لونا أي لون البشرة في مجلس التخاطب كذا ضبطه بذلك أحمد بن موسى بن عجيل.

Dengan pakaian yang tidak memperlihatkan warna, yaitu warna kulit dalam majelis pembicaraan (jarak pandang percakapan biasa); demikianlah Ahmad bin Musa bin 'Ujail menetapkan batasan tersebut.

ويكفي ما يحكي لحجم الأعضاء لكنه خلاف الأولى.

Dan cukup (sah) pakaian yang menggambarkan bentuk atau ukuran anggota tubuh, akan tetapi hal itu menyelisahi yang utama (khilaf al-awla).

ويجب الستر من الأعلى والجوانب لا من الأسفل إن قدر أي كل من الرجل والحرة والأمة. عليه أي الستر.

Wajib menutup aurat dari arah atas dan samping, bukan dari arah bawah, jika ia mampu—yaitu masing-masing dari laki-laki, wanita merdeka, dan hamba sahaya perempuan—mampu atas hal itu, yakni penutupan aurat.

أما العاجز عما يستر العورة فيصلي وجوبا عاريا بلا إعادة ولو مع وجود ساتر متنجس تعذر غسله لا من أمكنه تطهيره وإن خرج الوقت ولو قدر على ساتر بعض العورة لزمه الستر بما وجد وقدم السوأتين فالقبل فالدبر ولا يصلي عاريا مع وجود حرير بل لابسا له لأنه يباح للحاجة ويلزم التطيين لو عدم الثوب أو نحوه.

Adapun orang yang tidak mampu mendapatkan penutup aurat, maka ia wajib shalat dalam keadaan telanjang tanpa perlu mengulangi shalatnya, meskipun terdapat penutup yang terkena najis yang tidak memungkinkan untuk dicuci; berbeda dengan orang yang memungkinkan untuk menyucikannya meskipun waktu shalat telah habis. Dan jika ia hanya mampu menutup sebagian aurat saja, ia wajib menutupnya dengan apa yang ia dapatkan, dengan mendahulukan dua kemaluan, lalu bagian depan, kemudian bagian belakang. Dan tidak boleh shalat telanjang jika ada kain sutra, melainkan ia harus memakainya karena sutra diperbolehkan saat ada hajat. Serta wajib melumuri tubuh dengan lumpur jika tidak ada pakaian atau sejenisnya.

ويجوز لمكتس اقتداء بعار وليس للعاري غصب الثوب.

Dan boleh bagi orang yang berpakaian bermakmum kepada orang yang telanjang, serta orang yang telanjang tidak boleh merampas pakaian.

ويسن للمصلي أن يلبس أحسن ثيابه ويرتدي ويتعمم ويتقمص ويتطيلس ولو كان عنده ثوبان فقط لبس أحدهما وارتدى بالآخر إن كان ثم سترة وإلا جعله مصلى كما أفتى به شيخنا.

Dan disunnahkan bagi orang yang shalat untuk memakai pakaian terbaiknya, memakai selendang, bersorban, memakai baju kurung (gamis), dan memakai thailasan. Dan seandainya ia hanya memiliki dua pakaian saja, ia memakai salah satunya dan berselendang dengan yang lainnya jika di sana sudah ada sutrah (pembatas shalat); jika tidak ada, ia menjadikannya sebagai alas shalat sebagaimana difatwakan oleh guru kami.

فرع يجب هذا الستر خارج الصلاة أيضا ولو بثوب نجس أو

Cabang masalah: Wajib menutup aurat ini di luar shalat juga, meskipun dengan pakaian yang najis atau

ورابعها: معرفة دخول الوقت فوقت ظهر من زوال إلى مصير ظل شيء مثله غير ظل استواء فعصر إلى غروب فمغرب إلى مغيب الشفق الأحمر فعشاء إلى فجر صادق فصبح

Dan yang keempat darinya: Mengetahui masuknya waktu shalat. Maka waktu Dzuhur dimulai dari tergelincirnya matahari hingga bayangan sesuatu menjadi sama panjang dengannya selain bayangan sewaktu istiwa. Waktu Ashar hingga terbenamnya matahari. Waktu Maghrib hingga hilangnya syafaq (awan merah). Waktu Isya hingga fajar shadiq. Dan waktu Subuh…

حرير لم يجد غيره حتى في الخلوة لكن الواجب فيها ستر سوأتي الرجل وما بين سرة وركبة غيره.

kain sutra jika ia tidak menemukan selainnya, bahkan saat dalam keadaan sendiri. Akan tetapi yang wajib ditutup ketika sendirian adalah dua kemaluan bagi laki-laki, dan antara pusar hingga lutut bagi selainnya.

ويجوز كشفها في الخلوة ولو من المسجد لأدنى غرض كتبريد وصيانة ثوب من الدنس والغبار عند كنس البيت وكغسل.

Dan boleh membukanya saat sendirian, meskipun di dalam masjid, karena adanya tujuan sepele seperti mendinginkan badan, menjaga pakaian dari kotoran dan debu saat menyapu rumah, serta seperti mandi.

ورابعها: معرفة دخول وقت يقينا أو ظنا. فمن صلى بدونها لم تصح صلاته وإن وقعت في الوقت لان الاعتبار في العبادات بما في ظن المكلف وبما في نفس الأمر وفي العقود بما في نفس الأمر فقط.

Yang keempat: mengetahui masuknya waktu shalat secara yakin atau duga kuat (zhan). Barang siapa yang shalat tanpa pengetahuan tersebut, maka shalatnya tidak sah meskipun bertepatan jatuh di dalam waktunya, karena tolok ukur dalam ibadah adalah apa yang ada dalam prasangka mukallaf dan apa yang sebenarnya terjadi (fi nafs al-amr), sedangkan dalam akad (transaksi) tolok ukurnya hanya pada apa yang sebenarnya terjadi saja.

فوقت ظهر من زوال الشمس إلى مصير ظل كل شيء مثله غير ظل استواء أي الظل الموجود عنده إن

Maka waktu Zhuhur adalah sejak tergelincirnya matahari hingga bayangan setiap benda menjadi sama panjang dengan bendanya, di luar bayangan istiwa' (yaitu bayangan yang ada saat matahari berada di puncak tegak lurus) jika

وجد. وسميت بذلك لأنها أول صلاة ظهرت.

ada. Shalat ini dinamakan demikian (Zhuhur) karena ia adalah shalat pertama yang tampak (dikerjakan).

ف وقت عصر من آخر وقت الظهر إلى غروب جميع قرص شمس ف وقت مغرب من الغروب إلى مغيب الشفق الأحمر ف وقت عشاء من مغيب الشفق.

Maka waktu 'Ashar adalah dari akhir waktu Zhuhur hingga terbenamnya seluruh piringan matahari. Maka waktu Maghrib adalah dari terbenamnya matahari hingga hilangnya syafaq (awan merah). Maka waktu 'Isya adalah dari hilangnya syafaq (awan merah).

قال شيخنا: وينبغي ندب تأخيرها لزوال الأصفر والأبيض خروجا من خلاف من أوجب ذلك.

Guru kami berkata: Dan seyogianya disunnahkan mengakhirkannya (Isya) hingga hilangnya syafaq kuning dan putih demi keluar dari perbedaan pendapat ulama yang mewajibkan hal tersebut.

ويمتد إلى طلوع فجر صادق ف وقت صبح من طلوع الفجر الصادق

Dan waktunya membentang hingga terbitnya fajar shadiq. Maka waktu Subuh adalah dari terbitnya fajar shadiq

إلى طلوع الشمس.

hingga terbitnya matahari.

لا الكاذب إلى طلوع بعض

bukan fajar kadzib, hingga terbitnya sebagian

الشمس والعصر هي الصلاة الوسطى لصحة الحديث به. فهي أفضل الصلوات ويليها الصبح ثم العشاء ثم الظهر ثم المغرب كما استظهره شيخنا من الأدلة.

matahari. Dan shalat 'Ashar adalah shalat wustha (pertengahan) karena keabsahan hadis tentang hal itu. Ia adalah shalat yang paling utama, kemudian disusul Subuh, lalu 'Isya, lalu Zhuhur, kemudian Maghrib sebagaimana yang disimpulkan oleh guru kami dari dalil-dalil.

وإنما فضلوا جماعة الصبح والعشاء لأنها فيهما أشق.

Dan hanyasanya para ulama mengutamakan shalat berjamaah Subuh dan 'Isya karena berjamaah pada kedua waktu tersebut lebih berat.

قال الرافعي: كانت الصبح صلاة آدم والظهر صلاة داود والعصر صلاة سليمان والمغرب صلاة يعقوب والعشاء صلاة يونس عليهم الصلاة والسلام. انتهى.

Al-Rafi'i berkata: Shalat Subuh adalah shalatnya Nabi Adam, Zhuhur shalatnya Nabi Daud, 'Ashar shalatnya Nabi Sulaiman, Maghrib shalatnya Nabi Ya'qub, dan 'Isya shalatnya Nabi Yunus 'alaihimas shalatu was salam. Selesai.

واعلم أن الصلاة تجب بأول الوقت وجوبا موسعا فله التأخير عن أوله إلى وقت يسعها بشرط أن يعزم

Ketahuilah bahwa shalat itu wajib pada awal waktu dengan kewajiban yang bersifat muwassa' (longgar). Maka seseorang boleh mengakhirkannya dari awal waktu hingga waktu yang cukup untuk melaksanakannya dengan syarat ia berniat

على فعلها فيه ولو أدرك في الوقت ركعة لا دونها فالكل أداء وإلا فقضاء.

untuk mengerjakannya pada waktu tersebut. Jika ia mendapati satu rakaat di dalam waktunya —bukan kurang dari satu rakaat— maka seluruh shalatnya berstatus ada' (tepat waktu), dan jika tidak (kurang dari satu rakaat), maka berstatus qadha'.

ويأثم بإخراج بعضها عن الوقت وإن أدرك ركعة. نعم لو شرع في غير الجمعة وقد بقي ما يسعها جاز له بلا كراهة أن يطولها بالقراءة أو الذكر حتى يخرج الوقت وإن لم يوقع منها ركعة فيه على المعتمد فإن لم يبق من الوقت ما يسعها أو كانت جمعة لم يجز المد.

Dan ia berdosa dengan mengeluarkan sebagian shalat dari waktunya meskipun ia mendapati satu rakaat. Ya, jika ia memulai shalat selain Jumat dan waktu yang tersisa masih cukup untuk melaksanakannya, maka boleh baginya tanpa makruh untuk memanjang-manjangkannya dengan bacaan atau dzikir hingga keluar waktu, meskipun ia tidak mendapati satu rakaat pun di dalam waktu tersebut menurut pendapat yang mu'tamad (dapat dijadikan pegangan). Namun jika waktu yang tersisa tidak cukup untuk melaksanakannya atau shalat tersebut adalah shalat Jumat, maka tidak boleh memanjang-manjangkannya.

ولا يسن الاقتصار على أركان الصلاة لإدراك كلها في الوقت.

Dan tidak disunnahkan mencukupkan diri hanya pada rukun-rukun shalat demi mendapatkan seluruh shalat di dalam waktunya.

فرع يندب تعجيل صلاة ولو عشاء لأول وقتها لخبر: أفضل الأعمال الصلاة لأول وقتها. [البخاري رقم: ٥٣٧, مسلم رقم: ٨٥] .

Cabang masalah: Disunnahkan menyegerakan shalat, meskipun shalat 'Isya, pada awal waktunya karena berdasarkan hadis: "Amalan yang paling utama adalah shalat pada awal waktunya." [HR. Bukhari no. 537, Muslim no. 85].

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

وتأخيرها عن أوله لتيقن جماعة أثناءه وإن فحش التأخير مالم يضق الوقت ولظنها إذا لم يفحش عرفا لا لشك فيها مطلقا.

Dan (disunnahkan) mengakhirkannya dari awal waktu karena meyakini akan mendapatkan shalat berjamaah di pertengahan waktunya meskipun keterlambatannya sangat lama selama waktu shalat tidak sempit; serta karena menduga kuat (zhan) akan mendapatkannya jika pengakhirannya tidak terlalu lama menurut uruf (kebiasaan), tidak jika hanya sekadar ragu-ragu tentangnya secara mutlak.

والجماعة القليلة أول الوقت أفضل من الكثيرة آخره. ويؤخر المحرم صلاة العشاء وجوبا لأجل خوف فوات حج بفوت الوقوف بعرفة لو صلاها متمكنا لان قضاءه صعب. والصلاة تؤخر لأنها أسهل من مشقته ولا يصليها صلاة شدة الخوف. ويؤخر أيضا وجوبا من رأى نحو غريق أو أسير لو أنقذه خرج الوقت.

Dan salat berjemaah dengan sedikit jemaah di awal waktu lebih utama daripada jemaah yang banyak di akhir waktu. Orang yang sedang ihram wajib mengakhirkan salat Isya demi kekhawatiran luputnya haji karena terlewatnya wukuf di Arafah seandainya ia menyalatkannya dengan sempurna (dalam keadaan tenang), karena mengada (qadha) haji itu sulit. Salat diakhirkan karena lebih ringan daripada kesulitan (luput haji) tersebut, dan ia tidak boleh menyalatkannya dengan cara salat syiddatul khauf. Seseorang juga wajib mengakhirkan salat jika melihat orang tenggelam atau tawanan yang seandainya ia menyelamatkannya, maka waktu salat akan habis.

فرع يكره النوم بعد دخول وقت الصلاة وقبل فعلها حيث ظن الاستيقاظ قبل ضيقه لعادة أو لإيقاظ غيره له وإلا حرم النوم الذي لم يغلب في الوقت.

Cabang masalah: Dimakruhkan tidur setelah masuknya waktu salat dan sebelum melaksanakannya sekira ia menduga akan bangun sebelum waktunya sempit (habis), baik karena kebiasaan atau karena ada orang lain yang membangunkannya. Jika tidak demikian, maka haram hukumnya tidur yang tidak menguasai (bukan karena terpaksa/ketiduran) di dalam waktu tersebut.

فرع يكره تحريما صلاة لا سبب لها كالنفل المطلق ومنه صلاة التسابيح أو لها سبب متأخر كركعتي

Cabang masalah: Makruh tahrim melakukan salat yang tidak memiliki sebab, seperti salat sunah mutlak—di antaranya salat Tasbih—atau salat yang memiliki sebab yang mengakhir (sebabnya datang belakangan), seperti dua rakaat

استخارة وإحرام بعد أداء صبح حتى ترتفع الشمس كرمح وعصر حتى تغرب وعند استواء غير يوم الجمعة.

Istikharah dan Ihram, setelah pelaksanaan salat Subuh sampai matahari meninggi setinggi tombak, setelah Asar sampai terbenamnya matahari, dan ketika matahari tepat berada di tengah langit (istiwa') selain pada hari Jumat.

لا ما له سبب متقدم كركعتي وضوء وطواف وتحية وكسوف وصلاة جنازة ولو على غائب وإعادة مع

Tidak makruh salat yang memiliki sebab mendahului (sebabnya sudah ada sebelumnya), seperti dua rakaat wudu, tawaf, tahiyatul masjid, salat gerhana (kusuf), salat jenazah meskipun atas mayit gaib, dan mengulang salat bersama

جماعة ولو إماما وكفائتة فرض أو نفل لم يقصد تأخيرها للوقت المكروه ليقضيها فيه أو يداوم عليه.

jemaah meskipun sebagai imam, serta mengada (qadha) salat fardu atau sunah yang luput, yang mana ia tidak sengaja menundanya ke waktu makruh tersebut untuk diqada di dalamnya atau untuk merutinkannya di waktu tersebut.

فلو تحرى إيقاع صلاة غير صاحبة الوقت في الوقت

Maka jika ia sengaja memilih untuk menjatuhkan salat selain pemilik waktu tersebut di dalam waktu

وخامسها: استقبال القبلة إلا في شدة خوف ونفل سفر مباح.

Dan syarat kelimanya: Menghadap kiblat, kecuali dalam keadaan sangat takut (syiddatul khauf) dan salat sunah dalam perjalanan yang mubah.

وعلى ماش إتمام ركوع وسجود واستقبال فيهما وفي تحرم.

Dan wajib bagi orang yang berjalan kaki untuk menyempurnakan rukuk dan sujud, serta menghadap kiblat pada keduanya dan saat takbiratulihram.

المكروه من حيث كونه مكروها فتحرم مطلقا ولا تنعقد ولو فائتة يجب قضاؤها فورا لأنه معاند للشرع.

yang dimakruhkan dari segi keberadaannya sebagai waktu yang dimakruhkan, maka hukumnya haram secara mutlak dan salatnya tidak sah, meskipun itu salat luput yang wajib diqada dengan segera, karena ia menentang syariat.

وخامسها: استقبال عين القبلة أي الكعبة بالصدر. فلا يكفي استقبال جهتها خلافا لأبي حنيفة رحمه الله تعالى إلا في حق العاجز عنه وفي صلاة شدة خوف ولو فرضا فيصلي كيف أمكنه ماشيا وراكبا

Dan syarat kelimanya: Menghadap ke 'ain kiblat, yaitu Kakbah dengan dada. Maka tidak cukup hanya menghadap ke arahnya saja, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah rahimahullah Ta'ala, kecuali bagi orang yang tidak mampu melakukannya dan dalam salat syiddatul khauf (keadaan sangat takut) meskipun salat fardu, maka ia salat sebagaimana mampunya, baik dengan berjalan kaki maupun berkendara,

مستقبلا أو مستدبرا كهارب من حريق وسيل وسبع وحية ومن دائن عند إعسار وخوف حبس.

baik menghadap kiblat maupun membelakanginya, seperti orang yang lari dari kebakaran, banjir bandang, binatang buas, ular, dan dari orang yang meminjamkan utang ketika ia dalam keadaan kesulitan ekonomi dan takut dipenjara.

ولا في نفل سفر مباح لقاصد محل معين فيجوز النفل راكبا وماشيا فيه ولو قصيرا.

Dan tidak disyaratkan (menghadap kiblat) pula dalam salat sunah pada perjalanan yang mubah bagi orang yang menuju tempat tertentu, maka boleh melakukan salat sunah dengan berkendara atau berjalan kaki di dalamnya meskipun perjalanannya pendek.

نعم يشترط أن يكون مقصده على مسافة لا يسمع النداء من بلده بشروطه المقررة في الجمعة.

Ya, disyaratkan tempat tujuannya berada pada jarak di mana ia tidak lagi mendengar panggilan azan dari negerinya (desanya) dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam pembahasan salat Jumat.

وخرج بالمباح سفر المعصية فلا يجوز ترك القبلة في النفل لآبق ومسافر عليه دين حال قادر عليه من غير إذن دائنه.

Dikecualikan dengan kata 'mubah' yaitu perjalanan maksiat, maka tidak boleh meninggalkan kiblat dalam salat sunah bagi budak yang kabur dan musafir yang menanggung utang jatuh tempo yang ia mampu membayarnya tanpa izin dari penagih utangnya.

ويجب على ماش إتمام ركوع وسجود لسهولة ذلك عليه.

Dan wajib bagi orang yang berjalan kaki untuk menyempurnakan rukuk dan sujud karena kemudahan hal tersebut baginya.

وعلى راكب إيماء بهما. واستقبال فيهما وفي تحرم وجلوس بين السجدتين فلا يمشي إلا في القيام والاعتدال والتشهد والسلام.

Dan wajib bagi pengendara untuk memberikan isyarat pada keduanya (rukuk dan sujud), serta menghadap kiblat pada keduanya, saat takbiratulihram, dan saat duduk di antara dua sujud. Maka ia tidak boleh berjalan (melanjutkan perjalanan) kecuali saat berdiri, iktidal, tasyahud, dan salam.

ويحرم انحرافه عن استقبال صوب مقصده عامدا عالما مختارا إلا

Dan diharamkan berpalingnya dari menghadap ke arah tempat tujuannya secara sengaja, tahu, dan atas kemauan sendiri, kecuali

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

إلى القبلة. ويشترط ترك فعل كثير كعدو وتحريك رجل بلا حاجة وترك تعمد وطئ نجس ولو يابسا وإن عم الطريق ولا يضر وطئ يابس خطأ ولا يكلف ماش التحفظ عنه.

…ke arah kiblat. Dan disyaratkan meninggalkan perbuatan yang banyak seperti berlari dan menggerakkan kaki tanpa ada hajat (kebutuhan), serta meninggalkan perbuatan sengaja menginjak najis meskipun kering dan meskipun najis tersebut memenuhi jalan. Dan tidak membatalkan jika menginjak najis yang kering secara tidak sengaja, serta pejalan kaki tidak dituntut untuk senantiasa mewaspadainya.

ويجب الاستقبال في النفل لراكب سفينة غير ملاح.

Dan wajib menghadap kiblat pada salat sunah bagi penumpang kapal yang bukan juru mudi (nahkoda).

واعلم أيضا أنه يشترط أيضا١ في صحة الصلاة العلم بفرضية الصلاة. فلو جهل فرضية أصل الصلاة أو صلاته

Ketahuilah juga bahwa disyaratkan pula bagi keabsahan salat yaitu mengetahui kewajiban (kefarduan) salat. Jika seseorang tidak mengetahui kewajiban asal salat atau salat…

التي شرع فيها لم تصح كما في المجموع والروضة. وتمييز فروضها من سننها. نعم إن اعتقد العامي أو العالم على الأوجه الكل فرضا صحت أو سنة فلا. والعلم بكيفيتها الآتي بيانها قريبا إن شاء الله تعالى.

…yang sedang ia kerjakan, maka salatnya tidak sah sebagaimana terdapat dalam al-Majmu' dan ar-Raudhah. Serta (disyaratkan) membedakan mana rukun-rukunnya dari sunah-sunahnya. Ya, jika orang awam atau orang alim—menurut pendapat yang paling kuat—menganggap semuanya sebagai fardhu, maka salatnya sah, namun jika menganggap semuanya sebagai sunah, maka tidak sah. Serta mengetahui tata caranya yang akan datang penjelasannya sebentar lagi, insya Allah Ta'ala.