باب الصلاة

فصل في أبعاد الصلاة ومقتضى سجود السهو

فصل في أبعاد الصلاة ومقتضى سجود السهو

Beranda فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين باب الصلاة فصل في أبعاد الصلاة ومقتضى سجود السهو

فصل في أبعاد الصلاة ومقتضى سجود السهو

Fasal tentang Ab'adh Shalat dan Penyebab Sujud Sahwi

فصل [في أبعاض الصلاة ومقتضي سجود السهو]

Fasal [tentang Ab'adh Shalat dan Penyebab Sujud Sahwi]

تسن سجدتان قبيل سلام لترك بعض وهو: تشهد أول وقعوده وقنوت راتب,

Disunnahkan dua kali sujud sesaat sebelum salam karena meninggalkan sunnah ab'adh, yaitu: tasyahhud awal dan duduknya, serta qunut yang rutin,

فصل في أبعاض الصلاة ومقتضي سجود السهو.

Fasal mengenai sunnah-sunnah ab'adh shalat dan hal-hal yang menuntut sujud sahwi.

تسن سجدتان قبيل سلام وإن كثر السهو وهما والجلوس بينهما كسجود الصلاة والجلوس بين سجدتيها في واجباتها الثلاثة ومندوباتها السابقة كالذكر فيها وقيل: يقول فيهما: سبحان من لا ينام ولا يسهو.

Disunnahkan dua kali sujud sedikit sebelum salam meskipun sahwi (kelupaan) itu banyak. Kedua sujud tersebut dan duduk di antara keduanya adalah sama seperti sujud shalat dan duduk di antara dua sujudnya dalam tiga kewajibannya dan kesunnahannya yang telah berlalu, seperti dzikir di dalamnya. Dikatakan: di dalam kedua sujud tersebut membaca: 'Subhana man la yanamu wa la yashu' (Maha Suci Dzat yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa).

وهو لائق بالحال.

Dan bacaan tersebut sesuai dengan keadaan.

وتجب نية سجود السهو بأن يقصده عن السهو عند شروعه فيه.

Dan wajib berniat sujud sahwi dengan cara mengaksudkan sujud tersebut karena kelupaan saat memulainya.

لترك بعض واحد من أبعاض ولو عمدا فإن سجد لترك غير بعض عالما عامدا بطلت صلاته.

Karena meninggalkan satu sunnah dari sunnah-sunnah ab'adh meskipun sengaja. Jika seseorang sujud karena meninggalkan selain sunnah ab'adh secara tahu dan sengaja, batal shalatnya.

وهو تشهد أول أي الواجب منه في التشهد الأخير أو بعضه ولو كلمة.

Sunnah ab'adh tersebut adalah tasyahhud awal, yaitu bagian yang wajib dari tasyahhud akhir, atau sebagian darinya meskipun satu kata.

وقعوده وصورة تركه وحده كقيام القنوت أن لا يحسنهما إذ يسن أن يجلس ويقف بقدرهما.

Dan duduknya (tasyahhud awal). Gambaran meninggalkannya sendirian—seperti halnya berdiri qunut—adalah apabila ia tidak menguasai (tidak hafal) keduanya, karena disunnahkan untuk duduk dan berdiri sekadar durasi keduanya.

فإذا ترك أحدهما سجد.

Maka jika ia meninggalkan salah satu dari keduanya, ia melakukan sujud (sahwi).

وقنوت راتب أو بعضه وهو قنوت الصبح ووتر نصف رمضان دون قنوت النازلة.

Dan qunut yang berulang (ratib) atau sebagian darinya, yaitu qunut Subuh dan qunut witir pada separuh akhir bulan Ramadhan, bukan qunut nazilah.

وقيامه وصلاة على النبي بعدهما وصلاة على آل بعد أخير وقنوت ولشك فيه ولو نسي بعضا وتلبس بفرض فإن عاد له بطلت لا جاهلا لكن يسجد ولا

Dan berdirinya (qunut), membaca shalawat kepada Nabi setelah keduanya (tasyahhud awal dan qunut), membaca shalawat kepada keluarga Nabi setelah tasyahhud akhir dan qunut, serta karena keraguan padanya. Jika seseorang melupakan suatu sunnah ab'adh lalu telah menyengajakan (memulai) rukun fardhu, maka jika ia kembali padanya (sunnah ab'adh), batal shalatnya, kecuali jika ia tidak tahu (awam), tetapi ia tetap sujud (sahwi) dan tidak…

وقيامه ويسجد تارك القنوت تبعا لإمامه الحنفي أو لاقتدائه في صبح بمصلي سنتها على الأوجه فيهما.

Dan berdirinya (qunut). Seseorang yang meninggalkan qunut wajib sujud (sahwi) karena mengikuti imamnya yang bermazhab Hanafi, atau karena bermakmum pada shalat Subuh kepada orang yang sedang shalat sunnah Subuh, menurut pendapat yang al-awjah pada keduanya.

وصلاة على النبي ص بعدهما أي بعد التشهد الأول والقنوت وصلاة على آل بعد تشهد أخير وقنوت.

Dan membaca shalawat kepada Nabi SAW setelah keduanya, yaitu setelah tasyahhud awal dan qunut, serta membaca shalawat kepada keluarga Nabi setelah tasyahhud akhir dan qunut.

وصورة السجود لترك الصلاة على الآل في التشهد الأخير أن يتيقن ترك إمامه لها بعد أن سلم إمامه وقبل أن يسلم هو أو بعد أن سلم وقرب الفصل.

Gambaran sujud sahwi karena meninggalkan shalawat kepada keluarga Nabi pada tasyahhud akhir adalah ia meyakini bahwa imamnya meninggalkannya setelah imam itu salam dan sebelum ia sendiri salam, atau setelah ia (makmum) salam namun jeda waktunya masih singkat.

وسميت هذه السنن أبعاضا لقربها بالجبر بالسجود من الأركان.

Sunnah-sunnah ini dinamakan ab'adh (bagian-bagian) karena dekatnya keserupaannya dengan rukun-rukun shalat dalam hal dapat ditambal dengan sujud sahwi.

ولشك فيه أي في ترك بعض مما مر معين كالقنوت هل فعله؟ لان الأصل عدم فعله.

Dan karena keraguan padanya, yaitu pada tertinggalnya sunnah ab'adh tertentu dari yang telah lalu—seperti qunut—apakah ia telah mengerjakannya? Karena hukum asalnya adalah belum mengerjakannya.

ولو نسي منفرد أو إمام بعضا كتشهد أول أو قنوت.

Jika seorang munfarid (yang shalat sendiri) atau imam melupakan suatu sunnah ab'adh seperti tasyahhud awal atau qunut,

وتلبس بفرض من قيام أو سجود لم يجز له العود إليه فإن عاد له بعد انتصاب أو وضع جبهته عامدا عالما بتحريمه بطلت صلاته لقطعه فرضا لنفل لا إن عاد له جاهلا بتحريمه وإن كان مخالطا لنا لان هذا مما يخفى على العوام وكذا ناسيا أنه فيها فلا تبطل لعذره ويلزمه العود عند تعلمه أو تذكره.

dan ia telah melakukan perbuatan fardhu berupa berdiri atau sujud, maka tidak boleh baginya untuk kembali kepadanya (sunnah ab'adh). Jika ia kembali kepadanya setelah berdiri tegak atau menempelkan dahi secara sengaja dan tahu akan keharamannya, maka batal shalatnya karena ia memutus hal yang fardhu demi hal yang sunnah; tidak batal jika ia kembali karena tidak tahu keharamannya meskipun ia bergaul dengan para ulama, karena hal ini termasuk perkara yang samar bagi orang awam; demikian pula jika ia lupa bahwa ia sedang dalam shalat, maka tidak batal karena uzurnya, dan ia wajib kembali (ke fardhu) saat mengetahuinya atau mengingatnya.

لكن يسجد للسهو لزيادة قعود أو اعتدال في غير محله ولا إن عاد

Akan tetapi, ia tetap melakukan sujud sahwi karena menambah duduk atau i'tidal tidak pada tempatnya. Dan tidak (batal shalatnya) jika kembali…

مأموما سهوا بل عليه عود,

…seorang makmum karena lupa, bahkan ia wajib kembali,

مأموما فلا تبطل صلاته إذا انتصب أو سجد وحده سهوا بل عليه أو على المأموم الناسي عود لوجوب متابعة الإمام فإن لم يعد بطلت صلاته إن لم ينو مفارقته أما إذا تعمد ذلك فلا يلزمه العود بل يسن له.

Adapun makmum, shalatnya tidak batal apabila ia berdiri tegak (sebelum imamnya) atau sujud sendirian karena lupa. Justru ia (atau makmum yang lupa tersebut) wajib kembali demi memenuhi kewajiban mengikuti imam. Jika ia tidak kembali, shalatnya batal jika tidak berniat memisahkan diri (mufaraqah). Adapun jika ia melakukan hal itu dengan sengaja, maka ia tidak wajib kembali, melainkan disunnahkan baginya.

كما إذا ركع مثلا قبل إمامه ولو لم يعلم الساهي حتى قام إمامه لم يعد.

Sebagaimana misalnya jika ia rukuk sebelum imamnya. Dan jikalau orang yang lupa itu tidak menyadari hingga imamnya sudah berdiri, maka ia tidak perlu kembali.

قال البغوي: ولم يحسب ما قرأه قبل قيامه وتبعه الشيخ زكريا.

Al-Baghawi berkata: 'Apa yang dibacanya sebelum berdiri tidak dihitung.' Dan Syaikh Zakariyya mengikutinya (dalam pendapat ini).

قال شيخنا في شرح المنهاج: وبذلك يعلم أن من سجد سهوا أو جهلا وإمامه في القنوت لا يعتد له بما فعله فيلزمه العود للاعتدال.

Guru kami berkata dalam Syarh al-Minhaj: 'Dengan demikian dapat diketahui bahwa barang siapa sujud karena lupa atau bodoh (tidak tahu) padahal imamnya sedang qunut, maka apa yang dilakukannya tidak dihitung, sehingga ia wajib kembali ke posisi i'tidal.

وإن فارق الإمام أخذا من قولهم: لو ظن سلام الإمام فقام ثم علم في قيامه أنه لم يسلم لزمه القعود ليقوم منه ولا يسقط عنه بنية المفارقة وإن جازت لان قيامه وقع لغوا ومن ثم لو أتم جاهلا لغا ما أتى به فيعيده ويسجد للسهو وفيما إذا لم يفارقه إن تذكر أو علم وإمامه في القنوت فواضح أنه يعود إليه أو وهو في

Bahkan jika ia memisahkan diri dari imam (mufaraqah), dengan mengambil pemahaman dari perkataan para ulama: Seandainya ia mengira imam telah salam lalu ia berdiri, kemudian ia menyadari saat berdiri bahwa imam belum salam, maka ia wajib duduk kembali agar ia dapat berdiri darinya (dari posisi duduk tersebut), dan kewajiban itu tidak gugur dengan niat mufaraqah sekalipun mufaraqah itu boleh, karena berdirinya itu dianggap sia-sia (laghw). Oleh karena itu, jika ia menyempurnakan shalatnya dalam keadaan tidak tahu (bodoh), maka apa yang telah dilakukannya batal/sia-sia sehingga ia harus mengulangnya dan sujud sahwi. Adapun dalam kondisi jika ia tidak memisahkan diri dari imam: jika ia teringat atau mengetahui padahal imamnya masih dalam posisi qunut, maka sudah jelas ia harus kembali kepadanya (ke i'tidal untuk ikut qunut), atau jika imamnya berada dalam…

السجدة الأولى عاد للاعتدال وسجد مع الإمام أو فيما بعدها فالذي يظهر أنه يتابعه ويأتي بركعة بعد سلام الإمام انتهى.

…sujud pertama, maka ia kembali ke posisi i'tidal lalu sujud bersama imam. Atau jika imam berada pada posisi setelah sujud pertama, maka pendapat yang tampak (kuat) adalah ia mengikuti imam dan menambah satu rakaat setelah salamnya imam. Selesai.

قال القاضي: ومما لا خلاف فيه قولهم: لو رفع رأسه من السجدة الأولى قبل إمامه ظانا أنه رفع وأتى بالثانية ظانا أن الإمام فيها ثم بان أنه في الأولى لم يحسب له جلوسه ولا سجدته الثانية ويتابع الإمام أي فإن لم يعلم بذلك إلا والإمام قائم أو جالس أتى بركعة بعد سلام الإمام.

Al-Qadhi berkata: 'Termasuk hal yang tidak ada perselisihan padanya adalah perkataan para ulama: Jika seseorang mengangkat kepalanya dari sujud pertama sebelum imamnya karena mengira imam telah bangun, lalu ia melakukan sujud kedua karena mengira imam sudah berada di sujud kedua, kemudian jelas baginya bahwa imam ternyata masih di sujud pertama, maka duduknya dan sujud keduanya tidak dihitung, dan ia harus mengikuti imam. Yaitu, jika ia tidak menyadari hal itu melainkan saat imam sudah berdiri atau duduk, maka ia harus menambah satu rakaat setelah salamnya imam.'

ولنقل قول غير مبطل ولسهو ما يبطل عمده لا هو,

[Dan disunnahkan sujud sahwi] karena memindahkan ucapan yang tidak membatalkan shalat, serta karena lupa melakukan sesuatu yang jika disengaja membatalkan shalat namun jika lupa tidak membatalkannya,

وخرج بقولي وتلبس بفرض ما إذا لم يتلبس به غير مأموم فيعود الناسي ندبا قبل الانتصاب أو وضع الجبهة ويسجد للسهو إن قارب القيام في صورة ترك التشهد أو بلغ حد الركوع في صورة ترك القنوت.

Dikecualikan dengan perkataanku 'dan ia telah memasuki rukun fardhu', yaitu jika selain makmum belum memasukinya, maka orang yang lupa tersebut disunnahkan kembali sebelum berdiri tegak (dalam kasus tasyahhud) atau meletakkan dahi (dalam kasus qunut). Dan ia sujud sahwi jika ia sudah hampir berdiri tegak dalam kasus meninggalkan tasyahhud, atau telah mencapai batas rukuk dalam kasus meninggalkan qunut.

ولو تعمد غير مأموم تركه فعاد عالما عامدا بطلت صلاته إن قارب أو بلغ ما مر بخلاف المأموم.

Seandainya selain makmum sengaja meninggalkannya, lalu ia kembali dalam keadaan tahu dan sengaja, maka shalatnya batal jika ia telah mendekati berdiri atau mencapai batas yang telah disebutkan di atas, berbeda halnya dengan makmum.

ولنقل مطلوب قولي غير مبطل نقله إلى غير محله ولو سهوا ركنا كان كفاتحة وتشهد أو بعض أحدهما أو غير ركن كسورة إلى غير القيام وقنوت إلى ما قبل الركوع أو بعده في الوتر في غير نصف رمضان الثاني فيسجد له.

Dan [disunnahkan sujud sahwi] karena memindahkan amalan ucapan yang dituntut ke selain tempatnya meskipun karena lupa, baik rukun seperti Al-Fatihah dan tasyahhud atau sebagian dari salah satunya, maupun bukan rukun seperti membaca surah di luar berdiri, dan qunut ke sebelum rukuk atau setelahnya dalam witir di luar separuh kedua bulan Ramadan, maka ia sujud sahwi karenanya.

أما نقل الفعلي فيبطل تعمده.

Adapun memindahkan rukun fi'li (perbuatan), maka menyengajanya membatalkan shalat.

وخرج بقولي غير مبطل ما يبطل كالسلام وتكبير التحرم بأن كبر بقصده.

Dan dikecualikan dengan perkataanku 'yang tidak membatalkan', yaitu amalan ucapan yang membatalkan shalat seperti salam dan takbiratul ihram (jika ia takbir dengan niat takbiratul ihram baru).

ولسهو ما يبطل عمده لا هو أي السهو كتطويل ركن قصير وقليل كلام وأكل وزيادة ركن فعلي لأنه ﷺ صلى الظهر خمسا وسجد للسهو وقيس به غيره.

Dan [disunnahkan sujud sahwi] karena lupa melakukan sesuatu yang jika disengaja membatalkan shalat namun jika lupa tidak membatalkannya (yaitu karena lupa), seperti memanjangkan rukun pendek, sedikit berbicara, makan sedikit, dan menambah rukun fi'li, karena Nabi ﷺ pernah shalat Zhuhur lima rakaat lalu beliau sujud sahwi, dan hal-hal lainnya diqiyaskan kepadanya.

وخرج بما يبطل عمده ما يبطل سهوه أيضا ككلام كثير وما لا يبطل سهوه ولا عمده كالفعل القليل والالتفات فلا يسجد لسهوه ولا لعمده.

Dan dikecualikan dengan ungkapan 'apa yang jika disengaja membatalkan', yaitu sesuatu yang jika dilakukan karena lupa juga membatalkan shalat seperti berbicara yang banyak; serta sesuatu yang tidak membatalkan baik karena lupa maupun sengaja seperti gerakan sedikit dan menoleh, maka ia tidak sujud sahwi baik karena lupa maupun sengaja.

ولشك فيما صلاة واحتمل زيادة ولسهو إمام وإن فارقه أو ترك لا لسهوه حال القدوة خلف إمام.

[Dan disunnahkan sujud sahwi] karena keraguan pada apa yang telah ia shalatkan serta mengandung kemungkinan adanya tambahan, dan karena lupanya imam meskipun makmum telah mufaraqah darinya atau imam meninggalkan sujud sahwi, bukan karena lupanya makmum saat berada dalam kondisi bermakmum di belakang imam.

ولشك فيما صلاه واحتمل زيادة لأنه إن كان زائدا فالسجود للزيادة وإلا فلتردد الموجب لضعف النية.

Dan [disunnahkan sujud sahwi] karena keraguan pada apa yang telah ia shalatkan serta mengandung kemungkinan adanya tambahan; sebab jika rakaat tersebut memang tambahan, maka sujudnya adalah karena tambahan tersebut, dan jika tidak (bukan tambahan), maka sujudnya adalah karena keraguan yang menyebabkan lemahnya niat.

فلو شك أصلى ثلاثا أم أربعا مثلا أتى بركعة لان الأصل عدم فعلها ويسجد للسهو وإن زال شكه قبل سلامه بأن تذكر قبله أنها رابعة للتردد في زيادتها ولا يرجع في فعلها إلى ظنه ولا إلى قول غيره أو فعله وإن كانوا جمعا كثيرا ما لم يبلغوا عدد التواتر.

Jika seseorang ragu, misalnya apakah ia telah salat tiga rakaat atau empat rakaat, maka ia menambah satu rakaat karena hukum asalnya adalah belum mengerjakannya, dan ia melakukan sujud sahwi meskipun keraguannya hilang sebelum salamnya—yaitu dengan meyakini sebelum salam bahwa itu adalah rakaat keempat—dikarenakan adanya keraguan atas potensi penambahan rakaat. Dan ia tidak boleh merujuk pada persangkaannya (zhann) sendiri maupun pada ucapan atau perbuatan orang lain dalam menambah rakaat tersebut, meskipun mereka adalah kelompok yang banyak, selama belum mencapai jumlah mutawatir.

وأما لا يحتمل زيادة كأن شك في ركعة من رباعية أهي ثالثة أم رابعة؟ فتذكر قبل القيام للرابعة أنها ثالثة فلا يسجد لان ما فعله منها مع التردد لا بد منه بكل تقدير فإن تذكر بعد القيام لها سجد لتردده حال القيام إليها في زيادتها.

Adapun keadaan yang tidak mengandung kemungkinan penambahan rakaat, seperti jika ia ragu pada suatu rakaat dalam salat empat rakaat apakah ini rakaat ketiga atau keempat, lalu ia teringat sebelum berdiri menuju rakaat keempat bahwa itu memang rakaat ketiga, maka ia tidak perlu sujud sahwi, karena apa yang ia lakukan dari rakaat tersebut bersamaan dengan keraguan merupakan hal yang pasti harus dilakukan dalam keadaan apa pun. Namun jika ia teringat setelah berdiri menuju rakaat keempat, maka ia sujud sahwi karena keraguannya saat berdiri menuju rakaat tersebut mengenai potensi penambahannya.

وسن للمأموم سجدتان لسهو إمام متطهر وإمامه ولو كان سهوه قبل قدوته وإن فارقه أو بطلت صلاة الإمام بعد وقوع السهو منه أو ترك الإمام السجود جبرا للخلل الحاصل في صلاته فيسجد بعد سلام الإمام وعند سجوده يلزم المسبوق والموافق متابعته وإن لم يعرف أنه سها وإلا بطلت صلاته إن علم وتعمد ويعيده المسبوق ندبا آخر صلاة نفسه.

Disunnahkan bagi makmum melakukan dua kali sujud sahwi karena kelupaan imam yang suci dan masih dalam status mengimami, meskipun kelupaannya terjadi sebelum ia bermakmum kepadanya, atau meskipun ia telah berpisah (mufaraqah) dari imam, atau salat imam batal setelah terjadinya kelupaan tersebut, atau imam meninggalkan sujud sahwi tersebut untuk menambal kekurangan yang terjadi pada salatnya; maka makmum melakukan sujud setelah salamnya imam. Ketika imam sujud, makmum masbuk maupun muwafiq wajib mengikutinya meskipun ia tidak mengetahui bahwa imam telah lupa, jika tidak mengikutinya maka salatnya batal apabila ia mengetahui dan sengaja. Dan makmum masbuk disunnahkan mengulangi sujud sahwi tersebut di akhir salatnya sendiri.

لا لسهوه أي سهو المأموم حال القدوة خلف إمام فيتحمله عند الإمام المتطهر لا المحدث ولا ذو خبث خفي بخلاف سهوه بعد

Bukan karena kelupaannya sendiri—yaitu kelupaan makmum saat dalam keadaan bermakmum di belakang imam—karena hal itu ditanggung oleh imam yang bersuci (tahir), bukan imam yang berhadats dan bukan pula yang terkena najis yang tersembunyi (khafi). Berbeda halnya dengan kelupaannya setelah…

ولو شك بعد سلام في فرض غير نية وتحرم لم يؤثر.

Dan jikalau ia ragu setelah salam mengenai suatu fardu salat selain niat dan takbiratul ihram, maka hal itu tidak berpengaruh (tidak merusak salat).

سلام الإمام فلا يتحمله لانقضاء القدوة.

…salamnya imam, maka imam tidak menanggungnya karena telah berakhirnya masa bermakmum.

ولو ظن المأموم سلام الإمام فسلم فبان خلاف ظنه سلم معه ولا سجود لأنه سهو في حال القدوة.

Jika makmum menyangka bahwa imam telah salam lalu ia mengucap salam, kemudian ternyata bertolak belakang dengan persangkaannya, maka ia mengucap salam bersama imam dan tidak perlu melakukan sujud sahwi, karena hal itu merupakan kelupaan pada saat bermakmum.

فرع لو تذكر المأموم في تشهده ترك ركن غير نية وتكبيرة أو شك فيه أتى بعد سلام إمامه بركعة ولا يسجد في التذكر لوقوع سهوه حال القدوة.

Cabang masalah: Jika makmum teringat di dalam tasyahudnya bahwa ia telah meninggalkan suatu rukun selain niat dan takbiratul ihram, atau ia ragu tentangnya, maka setelah salamnya imam ia menambah satu rakaat. Dan ia tidak perlu sujud sahwi jika dalam keadaan teringat (bukan ragu) karena kelupaannya terjadi saat masih bermakmum.

بخلا ف الشك لفعله بعدها زائدا بتقدير ومن ثم لو شك في إدراك ركوع الإمام أو في أنه أدرك الصلاة معه كاملة أو ناقصة ركعة أتى بركعة وسجد فيها لوجود شكه المقتضي للسجود بعد القدوة أيضا ويفوت سجود السهو إن سلم عمدا وإن قرب الفصل أو سهوا وطال عرفا وإذا سجد صار عائدا إلى الصلاة فيجب أن يعيد السلام وإذا عاد الإمام لزم المأموم الساهي العود وإلا بطلت صلاته إن تعمد وعلم ولو قام المسبوق ليتم فيلزمه العود لمتابعة إمامه إذا عاد.

Berbeda halnya dengan keraguan, karena ia telah melakukan rakaat tambahan setelahnya menurut pengandaian. Oleh karena itu, jika seseorang ragu apakah ia mendapati rukuknya imam atau apakah ia mendapati salat bersama imam secara sempurna atau kurang satu rakaat, maka ia menambah satu rakaat dan melakukan sujud sahwi padanya karena adanya keraguan yang menuntut sujud tersebut setelah berakhirnya ikatan makmum juga. Dan sujud sahwi menjadi luput jika ia mengucap salam secara sengaja meskipun tenggat waktunya dekat, atau secara lupa namun jedanya lama secara urf (kebiasaan). Ketika ia melakukan sujud sahwi, ia menjadi kembali ke dalam salat, sehingga ia wajib mengulangi salam. Dan jika imam kembali (melakukan sujud sahwi), maka makmum yang lupa wajib ikut kembali; jika tidak, batal salatnya apabila ia sengaja dan tahu. Begitu pula jika makmum masbuk telah berdiri untuk menyempurnakan salatnya, maka ia wajib kembali untuk mengikuti imamnya jika imam tersebut kembali (melakukan sujud sahwi).

تنبيه: لو سجد الإمام بعد فراغ المأموم الموافق من أقل التشهد وافقه وجوبا في السجود أو قبل أقله تابعه وجوبا ثم يتم تشهده.

Peringatan: Jika imam melakukan sujud sahwi setelah makmum muwafiq selesai dari kadar minimal tasyahud, maka makmum wajib menyamainya dalam sujud; atau jika imam sujud sebelum makmum menyelesaikan kadar minimal tasyahud, maka makmum wajib mengikutinya lalu menyempurnakan tasyahudnya.

ولو شك بعد سلام في إخلال شرط أو ترك فرض غير نية وتكبير تحرم لم يؤثر وإلا لعسر وشق

Dan jika seseorang ragu setelah salam mengenai gugurnya suatu syarat atau ditinggalkannya suatu fardu selain niat dan takbiratul ihram, maka hal itu tidak berpengaruh; jika tidak demikian, tentu akan menimbulkan kesukaran dan kesulitan,

ولأن الظاهر مضيها على الصحة.

dan karena hukum zahirnya salat tersebut telah berlangsung secara sah.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

أما الشك في النية وتكبيرة الإحرام فيؤثر على المعتمد خلافا لمن أطال في عدم الفرق.

Adapun keraguan pada niat dan takbiratul ihram, maka hal itu berpengaruh (merusak salat) menurut pendapat yang mu'tamad (diakui), berbeda dengan pendapat ulama yang menguraikan panjang lebar bahwa tidak ada perbedaan.

وخرج بالشك ما لو تيقن ترك فرض بعد سلام فيجب البناء ما لم يطل الفصل أو يطأ نجسا وإن استدبر القبلة أو تكلم أو مشى قليلا.

Dikecualikan dari keraguan apabila ia meyakini ditinggalkannya suatu fardu setelah salam, maka ia wajib melanjutkan salatnya (al-bina') selama jeda waktunya tidak lama atau tidak menginjak najis, meskipun ia sempat membelakangi kiblat, berbicara, atau berjalan sedikit.

قال الشيخ زكريا في شرح الروض: وإن خرج من والمسجد والمرجع في طول الفصل وقصره إلى العرف.

Syaikh Zakariyya berkata dalam Syarh ar-Raudh: 'Meskipun ia telah keluar dari masjid. Dan acuan mengenai lama atau singkatnya jeda waktu dikembalikan kepada urf (kebiasaan).'

وقيل: يعتبر القصر بالقدر الذي نقل عن النبي ﷺ في خبر ذي اليدين [البخاري رقم: ١٢٢٧, مسلم رقم: ٥٧٣] , والطول بما زاد عليه والمنقول في الخبر أنه قام ومضى إلى ناحية المسجد وراجع ذا اليدين وسأل الصحابة انتهى.

Dan dikatakan (suatu pendapat): Kadar singkat diukur dengan kadar yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ dalam hadis Dzul Yadain [HR. al-Bukhari no. 1227, Muslim no. 573], sedangkan kadar lama adalah apa yang melebihi batas tersebut. Dan yang diriwayatkan dalam hadis tersebut bahwa beliau berdiri, berjalan ke sudut masjid, berdialog dengan Dzul Yadain, dan bertanya kepada para sahabat. Selesai.

وحكى الرافعي عن البويطي أن الفصل الطويل ما يزيد على قدر ركعة وبه قال أبو إسحاق وعن أبي هريرة١ أن الطويل قدر الصلاة التي كان فيها.

Dan ar-Rafi'i menceritakan dari al-Buwaithi bahwa jeda yang lama adalah apa yang melebihi kadar satu rakaat, dan pendapat ini dipegang oleh Abu Ishaq. Serta diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa jeda yang lama adalah senilai kadar salat yang sedang ia kerjakan.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

قاعدة: وهي أن ما شك في تغيره عن أصله يرجع به إلى الأصل وجودا كان أو عدما ويطرح الشك فلذا قالوا: كمعدوم مشكوك فيه.

Kaidah: Yaitu bahwa apa yang diragukan perubahannya dari hukum asalnya, dikembalikan kepada hukum asal tersebut, baik berkaitan dengan keberadaannya maupun ketiadaannya, dan keraguan itu diabaikan. Oleh karena itu para ulama berkata: Sesuatu yang diragukan itu seperti tidak ada.

تتمة [في بيان سجود التلاوة] : تسن سجدة التلاوة لقارئ وسامع جميع آية سجدة ويسجد مصل لقراءته إلا مأموما فيسجد هو لسجدة إمامه فإن سجد إمامه وتخلف هو عنه أو سجد هو دونه بطلت صلاته ولو لم يعلم المأموم سجوده بعد رفع رأسه من السجود لم تبطل صلاته ولا يسجد بل ينتظر قائما أو قبله هوى فإذا رفع قبل سجوده رفع معه ولا يسجد.

Penyempurna [tentang penjelasan sujud tilawah]: Disunnahkan sujud tilawah bagi pembaca dan pendengar seluruh ayat sajdah. Orang yang sedang shalat sujud karena bacaannya sendiri, kecuali makmum, maka ia sujud mengikuti sujud imamnya. Jika imamnya sujud lalu ia (makmum) tidak ikut sujud, atau ia sujud tanpa imamnya, maka batal shalatnya. Sekiranya makmum tidak mengetahui sujud imamnya kecuali setelah imam mengangkat kepalanya dari sujud, maka tidak batal shalatnya dan ia tidak perlu sujud, melainkan menunggu dalam keadaan berdiri; atau jika ia sudah terlanjur membungkuk sebelumnya, lalu ketika imam bangun sebelum ia sempat sujud, ia pun ikut bangun bersama imam dan tidak sujud.

ويسن للإمام في السرية تأخير السجود إلى فراغه بل بحث ندب تأخيره في الجهرية أيضا في الجوامع العظام لأنه يخلط على المأمومين ولو قرأ آيتها فركع بأن بلغ أقل الركوع ثم بدا له السجود لم يجز لفوات محله.

Disunnahkan bagi imam dalam shalat sirriyyah (bacaan pelan) untuk menunda sujud tilawah sampai selesai shalat. Bahkan ada pendapat yang menganjurkan penundaannya dalam shalat jahriyyah (bacaan keras) juga di masjid-masjid besar karena dapat membingungkan para makmum. Jika ia membaca ayat sajdah lalu ruku' (dengan telah mencapai batas minimal ruku') kemudian terpikir olehnya untuk sujud tilawah, maka hal itu tidak diperbolehkan karena telah lewat tempatnya.

ولو هوي للسجود فلما بلغ حد الركوع صرفه له لم يكفه عنه.

Jika ia membungkuk untuk sujud tilawah, lalu ketika mencapai batas ruku' ia mengalihkan niatnya untuk ruku', maka hal itu tidak mencukupi baginya sebagai ruku'.

وفروضها لغير مصل: نية سجود التلاوة وتكبير تحرم وسجود كسجود الصلاة وسلام.

Rukun-rukun sujud tilawah bagi orang yang tidak sedang shalat adalah: niat sujud tilawah, takbiratul ihram, sujud seperti sujud shalat, dan salam.

ويقول فيها ندبا: سجد وجهي للذي خلقه وصوره وشق سمعه وبصره بحوله وقوته فتبارك الله أحسن الخالقين [أبو داود رقم:

Dan disunnahkan baginya membaca dalam sujud tersebut: 'Sajada wajhiya lilladzī khalaqahū wa ṣawwarahū wa syaqqa sam'ahū wa baṣarahū biḥaulihī wa quwwatihī fatabārakallāhu aḥsanul khāliqīn' (Wajahku bersujud kepada Dzat yang menciptakannya, membentuknya, serta membuka pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya, Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta) [Abu Dawud No.:

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

……………………………..

١٤١٤, الترمذي رقم: ٥٨٠, النسائي رقم: ١١٢٩, مستدرك الحاكم ١/٢٢٠] .

1414, At-Tirmidzi No.: 580, An-Nasa'i No.: 1129, Mustadrak Al-Hakim 1/220].

فائدة: تحرم القراءة بقصد السجود فقط في صلاة أو وقت مكروه وتبطل الصلاة به بخلافها بقصد السجود وغيره مما يتعلق بالقراءة فلا كراهة مطلقا.

Faidah: Diharamkan membaca (ayat sajdah) dengan tujuan hanya untuk sujud di dalam shalat atau pada waktu yang dimakruhkan, dan shalat menjadi batal karenanya. Berbeda halnya jika membacanya dengan tujuan sujud dan tujuan lainnya yang berkaitan dengan membaca Al-Qur'an, maka tidak ada makruh secara mutlak.

ولا يحل التقرب إلى الله تعالى بسجدة بلا سبب ولو بعد الصلاة وسجود الجهلة بين يدي مشايخهم حرام اتفاقا.

Tidak halal mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan sujud tanpa sebab, meskipun setelah shalat. Dan sujudnya orang-orang awam di hadapan para guru/syekh mereka adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama (ittifaq).