باب الصلاة

فصل في صلاة الجماعة

فصل في صلاة الجماعة

فصل [في صلاة الجماعة]

Fasal [Tentang Salat Berjemaah]

صلاة الجماعة في أداء مكتوبة سنة مؤكدة,

Salat berjemaah dalam pelaksanaan salat fardu (secara ada') adalah sunnah muakkadah,

فصل في صلاة الجماعة

Fasal tentang Shalat Berjamaah

وشرعت بالمدينة وأقلها إمام ومأموم.

Dan shalat berjamaah disyariatkan di Madinah, dan jumlah minimalnya adalah seorang imam dan seorang makmum.

وهي في الجمعة ثم في صبحها ثم الصبح ثم العشاء ثم العصر ثم الظهر ثم المغرب أفضل.

Dan shalat berjamaah itu paling utama pada shalat Jumat, kemudian Subuh hari Jumat, kemudian Subuh hari lainnya, kemudian Isya, kemudian Ashar, kemudian Zhuhur, lalu Maghrib.

صلاة الجماعة في أداء مكتوبة لا جمعة سنة مؤكدة للخبر المتفق

Shalat berjamaah dalam pelaksanaan shalat fardhu secara adā' (tepat pada waktunya) selain shalat Jumat hukumnya adalah sunnah muakkad, berdasarkan riwayat yang disepakati

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

عليه [البخاري رقم: ٦٤٥, مسلم رقم: ٦٥٠] : صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة.

kesahihannya [Al-Bukhari No: 645, Muslim No: 650]: "Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat."

والأفضلية تقتضي الندبية فقط.

Sifat keutamaan ini hanya menunjukkan hukum sunnah.

وحكمة السبع والعشرين: أن فيها فوائد تزيد على صلاة الفذ بنحو ذلك.

Adapun hikmah angka dua puluh tujuh adalah bahwa di dalamnya terdapat faedah-faedah yang melebihi shalat sendirian sebanyak jumlah tersebut.

وخرج بالأداء القضاء نعم إن اتفقت مقضية الإمام والمأموم سنت الجماعة وإلا فخلاف الأولى كأداء خلف قضاء وعكسه وفرض خلف نفل وعكسه وتراويح خلف وتر وعكسه وبالمكتوبة: المنذورة والنافلة فلا تسن فيهما الجماعة ولا تكره.

Dikecualikan dengan pelaksanaan adā' yaitu pelaksanaan qaḍā' (di luar waktunya). Ya, jika shalat qaḍā' antara imam dan makmum itu sama (jenisnya), maka disunnahkan berjamaah. Jika tidak sama, maka hukumnya khilāf al-awlā (menyelisihi yang lebih utama), seperti shalat adā' di belakang shalat qaḍā' dan sebaliknya, shalat fardhu di belakang shalat sunnah dan sebaliknya, serta shalat Tarawih di belakang shalat Witir dan sebaliknya. Dan dikecualikan dengan shalat fardhu: shalat nazar dan shalat sunnah, maka tidak disunnahkan berjamaah pada keduanya dan tidak pula dimakruhkan.

قال النووي: والأصح أنها فرض كفاية للرجال البالغين الأحرار المقيمين في المؤاداة فقط بحيث يظهر شعارها

An-Nawawi berkata: Pendapat yang lebih sahih bahwasanya shalat berjamaah adalah fardhu kifayah bagi laki-laki, baligh, merdeka, dan bermukim, khusus untuk shalat-shalat adā' saja, sekira syiarnya tampak

بمحل إقامتها.

di tempat tinggal mereka.

وقيل: إنها فرض عين وهو مذهب أحمد.

Ada yang berpendapat bahwasanya ia adalah fardhu 'ain, dan ini adalah mazhab Ahmad.

وقيل: شرط لصحة الصلاة.

Ada pula yang berpendapat bahwa ia merupakan syarat sah shalat.

ولا يتأكد الندب للنساء تأكده للرجال فلذلك يكره تركها لهم لا لهن.

Tingkat kesunnahannya bagi wanita tidak sekuat bagi laki-laki, oleh karena itu dimakruhkan meninggalkannya bagi laki-laki, tetapi tidak bagi wanita.

والجماعة في مكتوبة لذكر بمسجد أفضل نعم إن وجدت في بيته فقط فهو أفضل وكذا لو كانت فيه أكثر منها في المسجد على ما اعتمده الأذرعي وغيره.

Berjamaah dalam shalat fardhu bagi laki-laki di masjid adalah lebih utama. Namun, jika jamaah hanya ada di rumahnya saja, maka di rumah lebih utama; demikian pula jika jamaah di rumahnya lebih banyak daripada di masjid, menurut pendapat yang dipegang oleh Al-Adzra'i dan selainnya.

قال شيخنا: والأوجه خلافه ولو تعارضت فضيلة الصلاة في المسجد والحضور خارجه: قدم فيما يظهر لان الفضيلة المتعلقة بذات

Guru kami berkata: Pendapat yang lebih kuat adalah sebaliknya. Dan jika bertentangan antara keutamaan shalat di masjid dengan kehadiran (jamaah terbanyak) di luar masjid, maka didahulukan—menurut pendapat yang jelas—kehadiran jamaah terbanyak, karena keutamaan yang berkaitan dengan zat

وهي بجمع كثير أفضل إلا لنحو بدعة إمامه

Dan shalat berjamaah dengan jumlah jamaah yang banyak adalah lebih utama, kecuali jika terdapat hal seperti bid'ah pada imamnya

العبادة أولى من الفضيلة المتعلقة بمكانها أو زمانها والمتعلقة بزمانها أولى من المتعلقة بمكانها.

(Melakukan) ibadah itu lebih utama daripada keutamaan yang berkaitan dengan tempat atau waktunya, dan keutamaan yang berkaitan dengan waktunya lebih utama daripada keutamaan yang berkaitan dengan tempatnya.

وتسن إعادة المكتوبة بشرط أن تكون في الوقت وأن لا تزاد في إعادتها على مرة خلافا لشيخ شيوخنا أبي

Dan disunnahkan mengulangi salat fardu dengan syarat dilakukan masih dalam waktunya dan pengulangannya tidak ditambahi lebih dari satu kali, berbeda dengan pendapat guru dari guru-guru kami, Abu

الحسن البكري رحمه الله تعالى.

Al-Hasan Al-Bakri semoga Allah Ta'ala merahmatinya.

ولو صليت الأولى جماعة مع آخر ولو واحدا إماما كان أو مأموما في الأولى أو الثانية بنية فرض.

Meskipun salat yang pertama telah dikerjakan secara berjamaah bersama orang lain walau hanya satu orang, baik ia sebagai imam maupun makmum pada salat yang pertama atau yang kedua, dengan niat salat fardu.

وإن وقعت نفلا فينوي إعادة الصلاة المفروضة.

Meskipun (secara hukum) pengulangan itu bernilai sunnah, maka ia tetap berniat mengulangi salat yang difardukan.

واختار الإمام أن ينوي الظهر أو العصر مثلا ولا يتعرض للفرض ورجحه في الروضة لكن الأول مرجح الأكثرين والفرض الأولى ولو بان فساد الأولى لم تجزئه الثانية على ما اعتمده النووي وشيخنا خلافا لما قاله شيخه زكريا تبعا للغزالي وابن العماد أي إذا نوى بالثانية الفرض.

Al-Imam memilih bahwa ia berniat salat Zuhur atau Asar misalnya tanpa menyebutkan 'fardu', dan pendapat ini diunggulkan dalam kitab Ar-Raudhah. Namun, pendapat pertama diunggulkan oleh mayoritas ulama, dan yang dianggap fardu adalah salat yang pertama. Dan sekiranya jelas bahwa salat yang pertama batal, salat yang kedua tidak mencukupinya (tidak menggantikan yang fardu) menurut pendapat yang diandalkan oleh An-Nawawi dan guru kami, berbeda dengan pendapat gurunya, Zakariya, yang mengikuti Al-Ghazali dan Ibnul 'Imad, yaitu apabila pada salat kedua ia berniat fardu.

وهي بجمع كثير أفضل منها في جمع قليل للخبر الصحيح [أبو داود رقم: ٥٥٤, النسائي رقم: ٨٤٣] : وما كان أكثر فهو أحب إلى الله تعالى.

Dan salat berjamaah dengan jemaah yang banyak lebih utama daripada jemaah yang sedikit berdasarkan hadis sahih: "Dan apa yang lebih banyak (jemaahnya) maka itu lebih dicintai oleh Allah Ta'ala."

إلا لنحو بدعة إمامه أي: الكثير كرافضي وفاسق ولو بمجرد التهمة فالأقل جماعة بل الانفراد أفضل كذا قاله شيخنا تبعا لشيخه زكريا رحمهما الله تعالى.

Kecuali karena adanya kebid'ahan pada imamnya—yakni imam jemaah yang banyak tersebut—seperti Rafidhi dan orang fasik, walaupun baru sekadar tuduhan, maka jemaah yang lebih sedikit (bahkan salat sendirian) adalah lebih utama. Demikian yang dikatakan oleh guru kami dengan mengikuti gurunya, Zakariya, semoga Allah meratai keduanya.

أو تعطل مسجد منها,

Atau karena terbengkalainya suatu masjid dari jemaah,

وكذا لو كان لا يعتقد وجوب بعض الأركان أو الشروط وإن أتى بها لأنه يقصد بها النفلية وهو مبطل عندنا.

Demikian pula jika imam tersebut tidak meyakini kewajiban sebagian rukun atau syarat meskipun ia mengerjakannya, karena ia menganggapnya sebagai hal yang sunnah, dan hal itu membatalkan (salat) menurut mazhab kita.

أو كون القليل بمسجد متيقن حل أرضه أو مال بانيه.

Atau karena jemaah yang sedikit itu berada di masjid yang diyakini kehalalan tanahnya atau kehalalan harta pembangunnya.

أو تعطل مسجد قريب أو بعيد منها أي الجماعة بغيبته عنه لكونه إمامه أو يحضر الناس بحضوره فقليل الجمع في ذلك أفضل من كثبره في غيره بل بحث بعضهم أن الانفراد بالمتعطل عن الصلاة فيه بغيبته أفضل والأوجه خلافه.

Atau terbengkalainya masjid yang dekat atau jauh dari jemaah tersebut disebabkan ketiadaan dirinya di sana karena ia adalah imamnya atau karena orang-orang baru akan hadir jika ia hadir; maka jemaah yang sedikit dalam kondisi tersebut lebih utama daripada jemaah yang banyak di tempat lain. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa salat sendirian di masjid yang terbengkalai dari salat akibat ketidakhadirannya adalah lebih utama, namun pendapat yang lebih kuat adalah kebalikannya.

ولو كان إمام القليل أولى بالإمامة لنحو علم كان الحضور عنده أولى.

Dan jika imam dari jemaah yang sedikit itu lebih utama untuk menjadi imam karena faktor keilmuan atau sejenisnya, maka menghadiri jemaahnya adalah lebih utama.

ولو تعارض الخشوع والجماعة فهي أولى كما أطبقوا عليه حيث قالوا: إن فرض الكفاية أفضل من السنة.

Jika terjadi pertentangan antara kekhusyu'an dan berjamaah, maka berjamaah lebih utama sebagaimana yang disepakati oleh para ulama ketika mereka menyatakan: Sesungguhnya fardu kifayah itu lebih utama daripada sunnah.

وأفتى الغزالي وتبعه أبو الحسن البكري في شرحه الكبير على المنهاج بأولوية الانفراد لمن لا يخشع مع الجماعة في أكثر صلاته.

Al-Ghazali berfatwa dan diikuti oleh Abu Al-Hasan Al-Bakri dalam Syarah Al-Kabir atas Al-Minhaj mengenai keutamaan salat sendirian bagi orang yang tidak bisa khusyuk dalam berjamaah pada sebagian besar salatnya.

قال شيخنا: وهو كذلك إن فات في جميعها وإفتاء ابن عبد السلام بأن الخشوع أولى مطلقا إنما يأتي على قول أن الجماعة سنة.

Guru kami berkata: Dan demikian pula halnya jika khusyuk itu hilang dalam seluruh salatnya. Adapun fatwa Ibnu 'Abd As-Salam bahwa khusyuk itu lebih utama secara mutlak hanyalah berlaku menurut pendapat yang menyatakan bahwa berjamaah hukumnya sunnah.

ولو تعارض فضيلة سماع القرآن من الإمام مع قلة الجماعة وعدم سماعه مع كثرتها كان الأول أفضل.

Dan jika bertentangan antara keutamaan mendengarkan Al-Qur'an dari imam pada jemaah yang sedikit dengan tidak mendengarkannya pada jemaah yang banyak, maka yang pertama adalah lebih utama.

ويجوز لمنفرد أن ينوي اقتداء بإمام أثناء صلاته وإن اختلفت ركعتهما لكن يكره ذلك له دون مأموم خرج من الجماعة لنحو حدث

Boleh bagi orang yang salat sendirian untuk berniat mengikut (bermakmum) kepada seorang imam di tengah-tengah salatnya meskipun rakaat keduanya berbeda, tetapi hal itu dimakruhkan baginya, berbeda dengan makmum yang keluar dari jemaah karena suatu alasan seperti hadas.

وتدرك جماعة ما لم يسلم إمام,

Dan keutamaan berjamaah dapat diperoleh selama imam belum mengucapkan salam,

إمامه فلا يكره له الدخول في جماعة أخرى.

imamnya, maka tidak dimakruhkan baginya untuk masuk ke dalam jamaah lain.

فإذا اقتدى في الأثناء لزمه موافقة الإمام ثم إن فرغ أولا كمسبوق وإلا فانتظاره أفضل.

Jika ia bermakmum di pertengahan (salat), maka ia wajib mengikuti imam. Kemudian jika ia selesai lebih dahulu, (hukumnya) seperti masbuk, dan jika tidak (selesai lebih dahulu), maka menunggunya adalah lebih utama.

وتجوز المفارقة بلا عذر مع الكراهة فتفوت فضيلة الجماعة.

Boleh memisahkan diri (mufaraqah) tanpa uzur disertai hukum makruh, sehingga ia kehilangan keutamaan berjamaah.

والمفارقة بعذر: كمرخص ترك جماعة وتركه سنة مقصودة كتشهد أول وقنوت وسورة وتطويله وبالمأموم ضعف أو شغل لا تفوت فضيلتها.

Dan memisahkan diri karena uzur—seperti hal-hal yang membolehkan meninggalkan jamaah, atau karena imam meninggalkan sunnah maqsudah seperti tasyahud awal, qunut, dan surah, atau karena imam terlalu memanjangkan salat padahal pada makmum terdapat kelemahan atau kesibukan—tidak menggugurkan keutamaan berjamaah.

وقد تجب المفارقة كأن عرض مبطل لصلاة إمامه وقد علمه فيلزمه نيتها فورا وإلا بطلت وإن لم يتابعه اتفاقا كما في المجموع وتدرك جماعة في غير جمعة أي فضيلتها للمصلي.

Dan terkadang mufaraqah itu hukumnya wajib, seperti jika terjadi hal yang membatalkan salat imamnya dan ia mengetahuinya, maka ia wajib berniat mufaraqah seketika, jika tidak maka salatnya batal meskipun ia tidak mengikutinya secara konsensus (ittifaq), sebagaimana dalam al-Majmu'. Dan jamaah—yaitu keutamaannya bagi orang yang salat—dapat diperoleh dalam salat selain Jumat,

ما لم يسلم إمام أي لم ينطق بميم عليكم في التسليمة الأولى وإن لم يقعد معه بأن سلم عقب تحرمه لإدراكه ركنا معه فيحصل له جميع ثوابها وفضلها لكنه دون فضل من أدركها كلها.

selama imam belum mengucapkan salam, yaitu belum mengucapkan huruf mim dari 'alaikum pada salam pertama, meskipun makmum belum sempat duduk bersamanya, misalnya ia (imam) mengucapkan salam tepat setelah takbiratul ihram makmum, karena ia telah mendapati satu rukun bersamanya. Maka ia memperoleh seluruh pahala dan keutamaannya, namun nilainya di bawah keutamaan orang yang mendapati seluruh salat jamaah.

ومن أدرك جزءا من أولها ثم فارق بعذر أو خرج الإمام بنحو حدث حصل له فضل الجماعة.

Barang siapa mendapati sebagian dari awal salat jamaah kemudian memisahkan diri karena uzur atau imam keluar (batal) karena berhadas atau sejenisnya, maka ia memperoleh keutamaan berjamaah.

أما الجمعة فلا تدرك إلا بركعة كما يأتي.

Adapun salat Jumat, tidak dianggap mendapati (jamaahnya) kecuali dengan mendapati satu rakaat, sebagaimana keterangan yang akan datang.

ويسن لجمع حضروا والإمام قد فرغ من الركوع الأخير أن يصبروا إلى أن يسلم ثم يحرموا مالم يضق الوقت وكذا لمن سبق ببعض الصلاة ورجا جماعة يدرك معهم الكل لكن قال شيخنا إن محله ما لم يفت

Disunnahkan bagi sekelompok orang yang hadir sementara imam telah selesai dari rukuk terakhir untuk bersabar (menunggu) sampai imam mengucapkan salam lalu mereka melakukan takbiratul ihram, selama waktu salat tidak sempit. Demikian pula bagi orang yang terluput sebagian salat dan ia berharap (mendapatkan) jamaah lain yang dapat ia dapati seluruh salat bersama mereka. Namun guru kami (Ibn Hajar) berkata: Bahwa letak kesunnahannya adalah selama tidak terluput

وتحرم بحضوره واشتغال به عقب تحرم إمامه,

dan takbiratul ihram dengan kehadirannya serta menyibukkan diri dengannya segera setelah takbiratul ihram imamnya,

بانتظارهم فضيلة أول الوقت أو وقت الاختيار سواء في ذلك الرجاء واليقين.

sebab penantian mereka itu keutamaan awal waktu atau waktu ikhtiyar, baik dalam hal itu berupa prasangka (harapan) maupun keyakinan.

وأفتى بعضهم بأنه لو قصدها فلم يدركها كتب له أجرها لحديث فيه. [أبو داود رقم: ٥٦٤, النسائي رقم: ٨٥٥, مسند أحمد رقم: ٨٧٢٤] .

Sebagian ulama berfatwa bahwa jika seseorang bertujuan mendapati jamaah lalu ia tidak mendapatinya, maka dicatat baginya pahalanya berdasarkan hadis dalam hal tersebut. [Abu Dawud no: 564, An-Nasa'i no: 855, Musnad Ahmad no: 8724].

وتدرك فضيلة تحرم مع إمام بحضوره أي المأموم التحرم.

Dan keutamaan takbiratul ihram bersama imam dapat diperoleh dengan hadirnya makmum saat takbiratul ihram (imam).

واشتغال به عقب تحرم إمامه من غير تراخ فإن لم يحضره أو تراخى فاتته فضيلته نعم يغتفر له وسوسة خفيفة.

Serta ia langsung menyibukkan diri dengannya segera setelah takbiratul ihram imamnya tanpa menunda-nunda. Jika ia tidak menghadirinya atau menunda-nunda, maka ia kehilangan keutamaannya; ya, diampuni baginya waswas yang ringan.

وإدراك تحرم الإمام فضيلة مستقلة مأمور بها لكونه صفوة الصلاة ولان ملازمه أربعين يوما يكتب له براءة من النار وبراءة من النفاق كما في الحديث [الترمذي رقم: ٢٤١] وقيل: يحصل فضيلة التحرم بإدراك بعض القيام.

Dan mendapati takbiratul ihram imam adalah keutamaan tersendiri yang diperintahkan karena merupakan inti/pilihan terbaik dari salat, dan karena orang yang melewatinya secara konsisten selama empat puluh hari akan dicatat baginya kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan sebagaimana dalam hadis [At-Tirmidzi no: 241]. Dan ada yang berpendapat: keutamaan takbiratul ihram diperoleh dengan mendapati sebagian berdiri (berdiri bersama imam).

ويندب ترك الإسراع وإن خاف فوت التحرم وكذا الجماعة على الأصح إلا في الجمعة فيجب طاقته إن رجا إدراك التحرم قبل سلام الإمام.

Disunnahkan untuk tidak tergesa-gesa (berjalan cepat) meskipun ia khawatir terluput takbiratul ihram, demikian pula (terluput) jamaah menurut pendapat yang lebih sahih, kecuali dalam salat Jumat, maka wajib berjalan secepat kemampuannya jika ia berharap mendapati takbiratul ihram sebelum salamnya imam.

ويسن لإمام ومنفرد انتظار داخل محل الصلاة مريدا الاقتداء به في الركوع والتشهد الأخير لله تعالى بلا تطويل وتمييز بين الداخلين ولو لنحو علم.

Disunnahkan bagi imam dan orang yang salat sendiri (munfarid) untuk menunggu orang yang masuk ke tempat salat yang ingin bermakmum dengannya pada saat rukuk dan tasyahud akhir karena Allah Ta'ala, tanpa memanjangkan waktu penantian secara berlebihan dan tanpa membeda-bedakan di antara orang-orang yang masuk meskipun karena suatu ilmu.

وكذا في السجدة الثانية ليلحق موافق تخلف لإتمام فاتحة لا خارج عن محلها وأن صغر المسجد ولا داخل يعتاد البطء وتأخير

Demikian pula (disunnahkan menunggu) pada sujud kedua agar makmum muwafiq yang tertinggal untuk menyempurnakan Fatihah dapat menyusul; bukan menunggu orang yang berada di luar tempat salat meskipun masjidnya kecil, dan bukan orang masuk yang terbiasa lambat dan menunda-nunda

وركعة بتكبيرة لإحرام

Dan satu rakaat [didapat] dengan takbiratul ihram

الإحرام إلى الركوع بل يسن عدمه زجرا له.

ihram hingga rukuk, bahkan disunnahkan untuk tidak menunggunya sebagai teguran baginya.

قال الفوراني: يحرم الانتظار للتودد.

Al-Fawrani berkata: Haram menunggu orang lain karena alasan mencari simpati/keramahan.

ويسن للإمام تخفيف الصلاة مع أبعاض وهيئات بحيث لا يقتصر على الأقل ولا يستوفي الأكمل إلا أن رضي بتطويله محصورون.

Disunnahkan bagi imam meringankan salat dengan tetap menjaga ab'adh dan haiat, sekira tidak hanya meringkas pada batas minimal dan tidak pula menyempurnakan secara maksimal, kecuali jika makmum yang terbatas jumlahnya menyetujui pemanjangannya.

وكره له تطويل وإن قصد لحوق آخرين.

Dan dimakruhkan baginya memanjangkan salat meskipun bertujuan agar orang lain dapat menyusul.

ولو رأى مصل نحو حريق خفف وهل يلزم أم لا؟ وجهان والذي يتجه أنه يلزمه لإنقاذ حيوان محترم ويجوز له لإنقاذ نحو مال كذلك.

Jika orang yang sedang salat melihat semacam kebakaran, hendaknya ia mempercepat salatnya. Apakah hal itu wajib baginya atau tidak? Ada dua pendapat (wajhan), dan pendapat yang kuat adalah bahwa hal itu wajib baginya untuk menyelamatkan hewan yang dihormati (muhtaram), dan boleh baginya untuk menyelamatkan harta benda seumpamanya.

ومن رأى حيوانا محترما يقصده ظالم أو يغرق لزمه تخليصه وتأخير صلاة أو إبطالها إن كان فيها أو مالا جاز له ذلك وكره له تركه.

Barangsiapa melihat hewan muhtaram yang diincar oleh orang zalim atau sedang tenggelam, maka wajib baginya menyelamatkannya dan mengakhirkan salat atau membatalkannya jika ia sedang salat. Apabila berupa harta benda, maka ia boleh melakukan hal tersebut dan dimakruhkan baginya meninggalkannya.

وكره ابتداء نفل بعد شروع المقيم في الإقامة ولو بغير إذن الإمام فإن كان فيه أتمه إن لم يخش بإتمامه فوت جماعة وإلا قطعه ندبا ودخل فيها ما لم يرج جماعة أخرى.

Dimakruhkan memulai salat sunnah setelah muazin memulai iqamah, meskipun iqamah tersebut tanpa izin imam. Jika ia sudah dalam keadaan melaksanakan salat sunnah, ia hendaklah menyempurnakannya jika tidak khawatir tertinggal salat berjamaah dengan menyempurnakannya. Jika khawatir, ia disunnahkan memutuskannya dan langsung bergabung dalam jamaah selama tidak berharap mendapatkan jamaah lain.

وتدرك ركعة لمسبوق أدرك الإمام راكعا بأمرين: بتكبيرة الإحرام ثم أخرى لهوي فإن اقتصر على تكبيرة اشترط أن يأتي بها لإحرام فقط وأن يتمها قبل أن يصير إلى أقل الركوع وإلا لم تنعقد إلا لجاهل فتنعقد له نفلا بخلاف ما لو نوى الركوع وحده لخلوها عن التحرم.

Dan rakaat dapat diperoleh bagi makmum masbuq yang mendapati imam sedang rukuk dengan dua hal: dengan takbiratul ihram kemudian takbir lain untuk membungkuk (huwuy). Jika ia hanya mencukupkan diri dengan satu takbir, disyaratkan ia mengucapkannya untuk ihram saja dan menyempurnakannya sebelum ia sampai pada batas minimal rukuk; jika tidak demikian, salatnya tidak sah kecuali bagi orang yang awam (jahil), sehingga salat tersebut terhitung sebagai salat sunnah baginya, berbeda halnya jika ia hanya berniat rukuk saja karena takbir tersebut kosong dari takbiratul ihram.

أو مع التحرم للتشريك.

atau berniat rukuk bersamaan dengan takbiratul ihram karena adanya unsur persekutuan niat (tasyrik).

أو أطلق لتعارض قرينتي الافتتاح والهوي فوجبت نية التحرم لتمتاز عما عارضها من تكبيرة الهوي.

atau ia memutlakkan (tanpa niat khusus) karena pertentangan antara indikasi pembukaan (iftitah) dan membungkuk (huwuy), maka wajib niat ihram agar membedakannya dari takbir membungkuk yang menentangnya.

وركوع محسوب تام يقينا ويكبر مسبوق انتقل معه وبعد سلاميه

Dan rukuk yang terhitung, sempurna secara meyakinkan. Dan makmum masbuq bertakbir ketika berpindah bersamanya dan setelah kedua salamnya

وبإدراك ركوع محسوب للإمام وإن قصر المأموم فلم يحرم إلا وهو راكع.

Dan dengan mendapati rukuk yang terhitung bagi imam, meskipun makmum lalai sehingga ia tidak berihram melainkan saat imam sedang rukuk.

وخرج بالركوع غيره كالاعتدال وبالمحسوب غيره كركوع محدث ومن في ركعة زائدة.

Terkecuali dengan batasan 'rukuk' yaitu selainnya seperti iktidal, dan dengan 'terhitung' yaitu selainnya seperti rukuknya orang yang berhadats dan orang yang berada pada rakaat tambahan.

ووقع للزركشي في قواعده ونقله العلامة أبو المسعود وابن ظهيرة في حاشية المنهاج: أنه يشترط أيضا أن يكون الإمام أهلا للتحمل فلو كان الإمام صبيا لم يكن مدركا للركعة لأنه ليس أهلا للتحمل.

Disebutkan oleh Az-Zarkaszi dalam Al-Qawa'id dan dikutip oleh Allamah Abu Al-Mas'ud serta Ibn Zhahirah dalam Hasyiyah Al-Minhaj: bahwa disyaratkan pula imam tersebut merupakan kelayakan untuk menanggung (tahammul). Maka jika imamnya seorang anak kecil, makmum tidak mendapatkan rakaat tersebut karena anak kecil bukanlah ahli tahammul.

تام بأن يطمئن قبل ارتفاع الإمام عن أقل الركوع وهو بلوغ راحتيه ركبتيه يقينا فلو لم يطمئن فيه قبل

sempurna, yaitu dengan melakukan thuma'ninah sebelum imam bangkit dari batas minimal rukuk—yaitu sampainya kedua telapak tangannya ke kedua lututnya—secara meyakinkan. Maka jika ia tidak melakukan thuma'ninah padanya sebelum

ارتفاع الإمام منه أو شك في حصول الطمأنينة فلا يدرك الركعة.

imam bangkit darinya atau ia ragu akan tercapainya thuma'ninah, maka ia tidak mendapati rakaat tersebut.

ويسجد الشاك للسهو كما في المجموع لأنه شاك بعد سلام الإمام في عدد ركعاته فلا يتحمل عنه.

Dan orang yang ragu tersebut hendaknya bersujud sahwi sebagaimana dalam Al-Majmu', karena ia ragu setelah salamnya imam mengenai jumlah rakaatnya, sehingga imam tidak menanggungnya.

وبحث الأسنوي وجوب ركوع أدرك به ركعة في الوقت.

Al-Asnawi membahas tentang kewajiban rukuk yang dengannya seseorang mendapati satu rakaat di dalam waktunya.

ويكبر ندبا مسبوق انتقل معه لانتقاله فلو أدركه معتدلا كبر للهوي وما بعده أو ساجدا مثلا غير سجدة تلاوة لم يكبر للهوي إليه ويوافقه ندبا في ذكر ما أدركه فيه من تحميد وتسبيح وتشهد ودعاء وكذا صلاة على الآل ولو في تشهد المأموم الأول قاله شيخنا.

Disunnahkan bagi makmum masbuq yang berpindah bersama imam untuk bertakbir karena perpindahannya. Jika ia mendapati imam sedang i'tidal, maka ia bertakbir untuk turun (ke sujud) dan setelahnya. Atau jika ia mendapatinya sedang sujud—misalnya bukan sujud tilawah—maka ia tidak bertakbir saat turun mendatangi sujud tersebut. Dan disunnahkan baginya menyesuaikan diri dengan imam dalam zikir yang ia dapati padanya, seperti tahmid, tasbih, tasyahhud, dan doa, demikian pula shalawat kepada keluarga Nabi meskipun pada tasyahhud pertama bagi makmum, sebagaimana dikatakan oleh guru kami.

ويكبر مسبوق للقيام بعد سلاميه إن كان المحل الذي جلس معه فيه

Dan masbuq bertakbir untuk berdiri setelah kedua salam imam, jika tempat ia duduk bersama imam di dalamnya

إن كان موضع جلوسه وشرط لقدوة نية اقتداء أو جماعة مع تحرم

merupakan posisi duduknya. Dan disyaratkan untuk iktida' (mengikut imam) adanya niat iktida' atau jamaah bersamaan dengan takbiratul ihram.

موضع جلوسه لو انفرد كأن أدركه في ثالثة رباعية أو ثانية مغرب وإلا لم يكبر للقيام ويرفع يديه تبعا لإمامه القائم من تشهده الأول وإن لم يكن محل تشهده ولا يتورك في غير تشهده الأخير.

merupakan posisi duduknya sekiranya ia shalat sendirian, seperti ia mendapati imam pada rakaat ketiga shalat yang empat rakaat atau rakaat kedua shalat Maghrib. Jika tidak demikian, maka ia tidak bertakbir untuk berdiri. Dan ia mengangkat kedua tangannya karena mengikuti imamnya yang berdiri dari tasyahhud awal, meskipun itu bukan posisi tasyahhud baginya, dan ia tidak duduk tawarruk di selain tasyahhud akhirnya sendiri.

ويسن له أن لا يقوم إلا بعد تسليمتي الإمام.

Dan disunnahkan baginya untuk tidak berdiri kecuali setelah kedua salam imam.

وحرم مكث بعد تسليمتيه إن لم يكن محل جلوسه فتبطل صلاته به إن تعمد وعلم تحريمه.

Haram hukumnya berdiam diri (tetap duduk) setelah kedua salam imam jika tempat tersebut bukan posisi duduknya, sehingga shalatnya batal karenanya apabila ia sengaja dan mengetahui keharamannya.

ولا يقوم قبل سلام الإمام فإن تعمده بلا نية مفارقة بطلت.

Dan ia tidak boleh berdiri sebelum salam imam. Jika ia sengaja berbuat demikian tanpa niat mufaraqah (berpisah), maka batal shalatnya.

والمراد مفارقة حد القعود فإن سها أو جهل لم يعتد بجميع ما أتى به حتى يجلس ثم يقوم بعد سلام الإمام.

Yang dimaksud (berdiri) adalah melewati batas duduk. Jika ia lupa atau tidak tahu, maka seluruh rukun yang dilakukannya tidak dihitung sampai ia duduk kembali, lalu berdiri setelah salam imam.

ومتى علم ولم يجلس بطلت صلاته وبه فارق من قام عن إمامه في التشهد الأول عامدا فإنه يعتد بقراءته قبل قيام الإمام لأنه لا يلزمه العود إليه.

Dan kapan pun ia mengetahui (hukumnya) namun tidak kembali duduk, maka shalatnya batal. Dengan hal ini, ia berbeda dengan orang yang sengaja berdiri mendahului imamnya dari tasyahhud awal, karena bacaannya sebelum berdirinya imam tetap dihitung sebab ia tidak wajib kembali duduk bersama imam.

وشرط لقدوة شروط منها:

Disyaratkan bagi iktida' (mengikut imam) beberapa syarat, di antaranya:

نية اقتداء أو جماعة أو ائتمام بالإمام الحاضر أو الصلاة معه أو كونه مأموما.

Niat iktida' (mengikut), berjamaah, aitmam (menjadikan imam) kepada imam yang hadir, shalat bersamanya, atau menjadi makmum.

مع تحرم أي يجب أن تكون هذه النية مقترنة مع التحرم وإذا لم تقترن نية نحو الاقتداء بالتحرم لم تنعقد الجمعة لاشتراط الجماعة فيها وتنعقد غيرها فرادى.

Bersamaan dengan takbiratul ihram, artinya niat ini wajib berbarengan dengan takbiratul ihram. Apabila niat seperti iktida' tidak dibarengkan dengan takbiratul ihram, maka shalat Jumat tidak sah karena disyaratkan berjamaah di dalamnya, sedangkan shalat selain Jumat tetap sah secara munfarid (sendirian).

فلو ترك هذه النية أو شك فيها وتابع مصليا في فعل كأن هوى

Jika ia meninggalkan niat ini atau ragu-ragu padanya, lalu ia mengikuti seorang yang shalat dalam suatu perbuatan, seperti tunduk…

ونية إمامة سنة لإمام في غير جمعة وعدم تقدم على إمام بعقب وندب وقوف ذكر عن يمين الإمام متأخرا قليلا فإن جاء آخر أحرم عن يساره ثم تأخرا ورجلين أو رجال خلفه

Dan niat imamah (menjadi imam) adalah sunnah bagi imam selain dalam shalat Jumat; dan tidak mendahului imam dengan tumit; serta disunnahkan berdirinya seorang laki-laki di sebelah kanan imam agak ke belakang sedikit, jika datang orang lain ia bertakbiratul ihram di sebelah kirinya lalu keduanya mundur, atau dua orang laki-laki maupun rombongan laki-laki berdiri di belakang imam.

للركوع متابعا له أو في سلام بأن قصد ذلك من غير اقتداء به وطال عرفا انتظاره له بطلت صلاته.

…untuk rukuk karena mengikutinya atau dalam salam dengan maksud demikian tanpa berniat iktida' padanya, dan penantiannya terhadap imam itu berlangsung lama secara kebiasaan ('urf), maka shalatnya batal.

ونية إمامة أو جماعة سنة لإمام في غير جمعة لينال فضل الجماعة وللخروج من خلاف من أوجبها.

Dan niat imamah (menjadi imam) atau jamaah hukumnya sunnah bagi imam pada selain shalat Jumat agar mendapatkan keutamaan berjamaah dan untuk keluar dari perselisihan ulama yang mewajibkannya.

وتصح نيتها مع تحرمه وإن لم يكن خلفه أحد إن وثق بالجماعة على الأوجه لأنه سيصير إماما فإن لم ينو ولو لعدم علمه بالمقتدين حصل لهم الفضل دونه وإن نواه في الأثناء حصل له الفضل من حينئذ.

Dan sah berniat imamah bersamaan dengan takbiratul ihramnya meskipun tidak ada seorang pun di belakangnya jika ia yakin akan datang jamaah menurut pendapat yang lebih kuat, karena ia akan menjadi imam. Jika ia tidak berniat meskipun karena tidak mengetahui adanya orang yang mengikutinya, maka keutamaan jamaah didapatkan oleh mereka (makmum) dan bukan oleh imam. Namun jika ia berniat di tengah-tengah shalat, ia memperoleh keutamaan sejak saat itu.

أما في الجمعة فتلزمه مع التحرم.

Adapun dalam shalat Jumat, maka niat imamah tersebut wajib baginya bersamaan dengan takbiratul ihram.

ومنها: عدم تقدم في المكان يقينا على إمام بعقب وإن تقدمت أصابعه أما الشك في التقدم فلا يؤثر ولا يضر مساواته لكنها مكروهة وندب وقوف ذكر ولو صبيا لم يحضر غيره عن يمين الإمام وإلا سن له تحويله للاتباع متأخر عنه قليلا بأن تتأخر أصابعه عن عقب إمامه وخرج بالذكر الأنثى فتقف خلفه مع مزيد تأخر.

Di antaranya: tidak mendahului tempat secara meyakinkan atas imam dengan tumit, meskipun jari-jari kakinya mendahului. Adapun keraguan dalam hal mendahului maka tidak berpengaruh, dan tidak memudaratkan jika posisinya sejajar, namun hukumnya makruh. Disunnahkan berdirinya seorang laki-laki (meskipun anak kecil jika tidak ada yang hadir selainnya) di sebelah kanan imam, jika tidak demikian, disunnahkan bagi imam untuk memindahkannya demi mengikuti sunnah, dengan posisi agak ke belakang dari imam, sekira jari-jari kakinya berada di belakang tumit imamnya. Dikecualikan dari laki-laki yaitu perempuan, maka ia berdiri di belakang imam dengan posisi yang lebih ke belakang.

فإن جاء ذكر آخر أحرم عن يساره ويتأخر قليلا ثم بعد إحرامه تأخرا عنه ندبا في قيام أو ركوع حتى يصيرا صفا وراءه.

Jika datang laki-laki lain, ia takbiratul ihram di sebelah kiri imam dan mundur sedikit, kemudian setelah takbiratul ihramnya, mereka berdua mundur dari imam secara sunnah dalam keadaan berdiri atau ruku' hingga keduanya membentuk satu shaf di belakangnya.

ووقوف رجلين جاءا معا أو رجال قصدوا الاقتداء بمصل خلفه صفا.

Dan disunnahkan berdirinya dua orang laki-laki yang datang bersamaan atau beberapa laki-laki yang bermaksud bermakmum kepada orang yang sedang shalat, di belakangnya secara bershaf.

وفي صف أول ثم ما يليه وكره انفراد وشروع في صف قبل إتمام ما قبله وعلم بانتقال إمام

Dan pada shaf pertama kemudian shaf berikutnya. Dimakruhkan menyendiri (tanpa shaf) dan mulai membuat shaf baru sebelum sempurnanya shaf sebelumnya, serta (disyaratkan) mengetahui perpindahan gerak imam…

وندب وقوف في صف أول وهو ما يلي الإمام وإن تخلله منبر أو عمود ثم ما يليه وهكذا.

Disunnahkan berdiri di shaf pertama, yaitu shaf yang berada di belakang imam meskipun terpisah oleh mimbar atau tiang, kemudian shaf berikutnya, dan demikian seterusnya.

وأفضل كل صف يمينه ولو ترادف يمين الإمام والصف الأول قدم فيما يظهر.

Bagian terbaik dari setiap shaf adalah sebelah kanannya. Jika terjadi pertentangan antara sebelah kanan imam dan shaf pertama, maka shaf pertama yang didahulukan menurut pendapat yang jelas (zahir).

ويمينه أولى من القرب إليه في يساره.

Dan berada di sebelah kanan imam itu lebih utama daripada dekat dengan imam di sebelah kirinya.

وإدراك الصف الأول أولى من إدراك ركوع غير الركعة الأخيرة.

Mendapati shaf pertama lebih utama daripada mendapati ruku' selain rakaat terakhir.

أما هي: فإن فوتها قصد الصف الأول فإدراكها أولى من الصف الأول.

Adapun rakaat terakhir: jika bermaksud mengejar shaf pertama akan membuatnya luput mendapati rakaat terakhir tersebut, maka mendapati rakaat terakhir lebih utama daripada shaf pertama.

وكره لمأموم انفراد عن الصف الذي من جنسه إن وجد فيه سعة بل يدخله.

Dimakruhkan bagi makmum menyendiri dari shaf yang sejenis dengannya jika ia menemukan kelapangan di dalamnya, melainkan hendaknya ia memasukinya.

وشروع في صف قبل إتمام ما قبله من الصف ووقوف الذكر الفرد عن يساره ووراءه ومحاذيا له ومتأخرا كثيرا وكل هذه تفوت فضيلة الجماعة كما صرحوا به.

Dan (dimakruhkan) mulai membuat shaf baru sebelum sempurnanya shaf sebelumnya, serta berdirinya seorang laki-laki tunggal di sebelah kiri imam, di belakangnya, sejajar dengannya, atau terlalu jauh ke belakang. Semua hal ini menggugurkan keutamaan jamaah sebagaimana ditegaskan oleh para ulama.

ويسن أن لا يزيد ما بين كل صفين والأول والإمام على ثلاثة أذرع ويقف خلف الإمام الرجال ثم الصبيان ثم النساء.

Disunnahkan agar jarak antara setiap dua shaf serta antara shaf pertama dan imam tidak lebih dari tiga hasta, dan di belakang imam hendaknya berdiri kaum laki-laki dewasa, kemudian anak-anak laki-laki, kemudian kaum wanita.

ولا يؤخر الصبيان للبالغين لاتحاد جنسهم.

Dan anak-anak laki-laki tidak boleh diakhirkan (diundurkan) demi orang-orang dewasa karena kesamaan jenis mereka.

ومنها: علم بانتقال إمام برؤية له أو لبعض صف أو سماع

Di antaranya: mengetahui perpindahan gerak imam dengan melihatnya, melihat sebagian shaf, atau mendengarkan…

واجتماعهما بمكان فإن كانا بمسجد صح الاقتداء ولو كان أحدهما فيه والآخر خارجه شرط عدم حائل أو وقوف واحد حذاء منفذ,

Dan berkumpulnya keduanya (imam dan makmum) di satu tempat. Jika keduanya berada di masjid, sah bermakmum. Jika salah satunya di dalam masjid dan yang lain di luar masjid, disyaratkan tidak ada penghalang atau adanya seseorang yang berdiri sejajar dengan pintu/lubang tembus,

لصوته أو صوت مبلغ ثقة.

…suaranya (imam) atau suara muballigh (penyampai suara) yang terpercaya.

ومنها اجتماعهما أي الإمام والمأموم بمكان كما عهد عليه الجماعات في العصر الخالية.

Di antaranya: berkumpulnya keduanya, yaitu imam dan makmum, di satu tempat sebagaimana yang lazim berlaku pada jamaah-jamaah shalat di masa lalu.

فإن كانا بمسجد ومنه جداره ورحبته وهي ما خرج عنه لكن حجر لأجله سواء أعلم وقفيتها مسجد أو جهل أمرها عملا بالظاهر وهو التحويط لكن ما لم يتيقن حدوثها بعده وأنها غير مسجد لا حريمه وهو موضع اتصل به وهيئ لمصلحته كانصباب ماء ووضع نعال.

Jika keduanya (imam dan makmum) berada di masjid—termasuk dinding masjid dan rahbah-nya (halaman/serambi masjid), yaitu area di luar masjid yang dipagari untuk kepentingan masjid, baik diketahui status wakafnya sebagai masjid atau tidak diketahui statusnya, dengan mengamalkan penampakan lahiriahnya yaitu adanya pagar/pembatas, selama tidak diyakini bahwa rahbah tersebut baru dibuat setelah masjid dan bukan bagian dari masjid; bukan harim masjid (area sekitar masjid), yaitu tempat yang tersambung dengan masjid dan disiapkan untuk kemaslahatannya seperti tempat saluran air dan tempat menaruh sandal—

صح الاقتداء وإن زادت المسافة بينهما على ثلاثمائة ذراع أو اختلفت الأبنية بخلاف من ببناء فيه لا ينفذ بابه إليه: سمر أو كان سطحا لا مرقى له منه فلا تصح القدوة إذ لا اجتماع حينئذ كما لو وقف من وراء شباك بجدار المسجد ولا يصل إليه إلا بازورار أو انعطاف بأن ينحرف عن جهة القبلة لو أراد الدخول إلى الإمام.

maka sah mengikutinya (ber-iqtida'), meskipun jarak antara keduanya lebih dari tiga ratus zira' (hasta) atau bangunannya berbeda. Berbeda dengan orang yang berada di suatu ruangan di dalam masjid yang pintunya tidak tembus menuju masjid (misalnya terpaku rapat) atau berada di atap masjid yang tidak memiliki tangga naik menuju ke sana dari masjid, maka tidak sah mengikutinya karena tidak ada berkumpul (ijtima') pada saat itu. Sebagaimana jika seseorang berdiri di balik jendela pada dinding masjid dan tidak bisa sampai kepada imam kecuali dengan memutar atau berbelok, yaitu menyimpang dari arah kiblat jika ia ingin masuk menuju tempat imam.

ولو كان أحدهما فيه أي المسجد.

Dan apabila salah satu dari keduanya berada di dalamnya, yaitu di dalam masjid,

والآخر خارجه شرط مع قرب المسافة بأن لا يزيد ما بينهما على ثلاثمائة ذراع تقريبا.

sedangkan yang lain berada di luar masjid, maka disyaratkan—disertai jarak yang dekat, yaitu jarak antara keduanya tidak lebih dari tiga ratus zira' kira-kira—

عدم حائل بينهما يمنع مرورا أو رؤية.

tidak adanya penghalang antara keduanya yang mencegah akses lalu lintas atau penglihatan,

أو وقوف واحد من المأمومين حذاء منفذ في الحائل إن كان كما إذا

atau berdirinya salah seorang makmum tepat di depan lubang/pintu tembus pada penghalang tersebut jika ada, sebagaimana jika

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

كانا ببناءين كصحن وصفة من دار أو كان أحدهما ببناء والآخر بفضاء فيشترط أيضا هنا ما مر.

keduanya berada di dua bangunan seperti pelataran dan serambi sebuah rumah, atau salah satunya berada di dalam bangunan dan yang lain di tanah lapang, maka disyaratkan di sini juga apa yang telah disebutkan di depan.

فإن حال ما يمنع مرورا كشباك أو رؤية كباب مردود وإن لم تغلق ضبته لمنعه المشاهدة وإن لم يمنع الاستطراق ومثله الستر المرخى أو لم يقف أحد حذاء منفذ لم يصح الاقتداء فيهما.

Jika terdapat penghalang yang mencegah akses lalu lintas seperti jendela berjeruji, atau mencegah penglihatan seperti pintu yang tertutup—meskipun kuncinya tidak dikunci karena tetap menghalangi pandangan meskipun tidak menghalangi jalan, dan semisal itu tirai yang diulurkan—atau tidak ada seorang pun yang berdiri di depan pintu tembus, maka tidak sah mengikutinya dalam kedua keadaan tersebut.

وإذا وقف واحد من المأمومين حذاء المنفذ حتى يرى الإمام أو بعض من معه في بنائه فحينئذ تصح صلاة من بالمكان الآخر تبعا لهذا المشاهد فهو في حقهم كالإمام حتى لا يجوز عليه في الموقف والإحرام ولا بأس بالتقدم عليه في الأفعال ولا يضرهم بطلان صلاته بعد إحرامهم على الأوجه كرد الريح الباب أثناءها لأنه يغتفر في الدوام ما لا يغتفر في الابتداء.

Dan jika salah seorang makmum berdiri tepat di depan lubang/pintu tembus sehingga ia melihat imam atau sebagian makmum yang bersamanya di bangunannya, maka pada saat itu sah shalat orang yang berada di tempat lain karena mengikut pada orang yang melihat ini. Orang yang melihat ini bagi mereka berstatus seperti imam, sehingga ia tidak boleh didahului dalam posisi berdiri dan takbiratul ihram, namun tidak mengapa mendahuluinya dalam gerakan-gerakan shalat. Dan tidak memudharatkan mereka batalnya shalat orang tersebut setelah takbiratul ihram mereka menurut pendapat yang lebih kuat, sebagaimana jika angin meniup pintu hingga tertutup di tengah-tengah shalat, karena dimaafkan pada kelangsungan shalat apa yang tidak dimaafkan pada permulaan shalat.

فرع لو وقف أحدهما في علو والآخر في سفل اشترط عدم الحيلولة لا محاذاة قدم الأعلى رأس الأسفل وإن كانا في غير مسجد على ما دل عليه كلام الروضة وأصلها والمجموع خلافا لجمع متأخرين.

Cabang masalah: Jika salah seorang dari keduanya berdiri di tempat yang tinggi dan yang lain di tempat yang rendah, maka disyaratkan tidak adanya penghalang, bukan sejajarnya tumit orang yang di atas dengan kepala orang yang di bawah, meskipun keduanya berada di luar masjid, berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh perkataan kitab ar-Raudhah, asalnya (al-Aziz), dan al-Majmu', berbeda dengan pendapat sekelompok ulama muta'akhirin.

ويكره ارتفاع أحدهما على الآخر بلا حاجة ولو في المسجد.

Dan dimakruhkan posisi salah satunya lebih tinggi dari yang lain tanpa adanya hajat (kebutuhan), meskipun di dalam masjid.

وموافقة في سنن تفحش مخالفة فيها وعدم تخلف عن إمام بركنين فعليين بلا عذر مع تعمد وعلم,

Dan kesesuaian dalam sunnah-sunnah yang mana perselisihan padanya dianggap sangat mencolok (buruk), serta tidak tertinggal dari imam sebanyak dua rukun fi'li tanpa uzur disertai kesengajaan dan pengetahuan,

ومنها موافقة في سنن تفحش مخالفة فيها فعلا أو تركا.

Di antaranya adalah kesesuaian dalam sunnah-sunnah yang mana perselisihan padanya dianggap sangat mencolok, baik dalam melakukan maupun meninggalkan.

فتبطل صلاة من وقعت بينه وبين الإمام مخالفة في سنة كسجدة تلاوة فعلها الإمام وتركها المأموم عامدا عالما بالتحريم.

Maka batal shalat orang yang terjadi antara dirinya dan imam perselisihan dalam sunnah, seperti sujud tilawah yang dilakukan oleh imam tetapi ditinggalkan oleh makmum secara sengaja dan tahu akan keharamannya.

وتشهد أول فعله الإمام وتركه المأموم أو تركه الإمام وفعله المأموم عامدا عالما وإن لحقه على القرب حيث لم يجلس الإمام للاستراحة لعدوله عن فرض المتابعة إلى سنة.

Dan tasyahud awal yang dilakukan oleh imam lalu ditinggalkan oleh makmum, atau ditinggalkan oleh imam lalu dilakukan oleh makmum secara sengaja dan tahu, meskipun makmum menyusulnya dalam waktu dekat jika imam tidak duduk istirahat, karena makmum tersebut berpindah dari kewajiban mengikuti imam (mutaba'ah) menuju perkara sunnah.

أما إذا لم تفحش المخالفة فيها فلا يضر الإتيان بالسنة كقنوت أدرك مع الإتيان به الإمام في سجدته الأولى وفارق التشهد الأول بأنه فيه أحدث قعودا لم يفعله الإمام وهذا إنما طول ما كان فيه الإمام فلا فحش.

Adapun jika perselisihan padanya tidak mencolok, maka tidak memudharatkan melakukan sunnah tersebut, seperti qunut yang mana makmum yang melakukannya masih sempat mendapati imam pada sujud pertamanya. Perbedaannya dengan tasyahud awal adalah bahwa pada tasyahud awal makmum mengada-adakan duduk yang tidak dilakukan oleh imam, sedangkan pada qunut ini ia hanya memperpanjang posisi berdiri yang sedang dilakukan imam, sehingga tidak dianggap mencolok.

وكذا لا يضر الإتيان بالتشهد الأول إن جلس إمامه للاستراحة لان الضار إنما هو إحداث جلوس لم يفعله الإمام وإلا لم يجز وأبطل صلاة العالم العامد ما لم ينو مفارقته وهو فراق بعذر فيكون أولى.

Demikian pula tidak memudharatkan melakukan tasyahud awal jika imamnya duduk istirahat, karena yang memudharatkan hanyalah mengada-adakan duduk yang tidak dilakukan imam. Jika tidak demikian (imam tidak duduk istirahat), maka tidak boleh dan membatalkan shalat orang yang tahu dan sengaja, selama ia tidak berniat memisahkan diri (mufaraqah), yaitu mufaraqah dengan uzur sehingga lebih utama.

وإذا لم يفرغ المأموم منه مع فراغ الإمام جاز له التخلف لإتمامه بل ندب إن علم أنه يدرك الفاتحة بكمالها قبل ركوع الإمام لا التخلف لإتمام سورة بل يكره إذا لم يلحق الإمام في الركوع.

Dan apabila makmum belum selesai dari membaca Al-Fatihah bersamaan dengan selesainya imam, maka diperbolehkan baginya tertinggal untuk menyempurnakannya, bahkan disunnahkan jika ia meyakini dapat menyempurnakan Al-Fatihah secara penuh sebelum rukuknya imam. Bukan tertinggal untuk menyempurnakan surah, bahkan hukumnya makruh jika ia tidak dapat menyusul imam dalam rukuk.

ومنها عدم تخلف عن إمام بركنين فعليين متواليين تامين بلا عذر مع تعمد وعلم بالتحريم وإن لم يكونا طويلين.

Dan di antaranya adalah tidak tertinggal dari imam sebanyak dua rukun fi'li (perbuatan) berturut-turut yang sempurna tanpa adanya uzur, beserta unsur sengaja dan tahu akan keharamannya, meskipun kedua rukun tersebut bukan rukun yang panjang.

وبأكثر من ثلاثة أركان طويلة بعذر أوجبه كإسراع إمام قراءة وانتظار مأموم سكتته فليوافق في الرابع

Dan (tidak tertinggal) lebih dari tiga rukun panjang karena suatu uzur yang mengharuskannya, seperti cepatnya bacaan imam dan tunggunya makmum terhadap diamnya imam, maka hendaknya ia menyelaraskan (menyusul) imam pada rukun yang keempat.

فإن تخلف بهما بطلت صلاته لفحش المخالفة كأن ركع الإمام واعتدل وهوي للسجود أي زال من حد القيام والمأموم قائم.

Jika ia tertinggal sebanyak dua rukun tersebut, maka batal shalatnya karena besarnya pelanggaran penyelisihan, seperti imam telah rukuk, i'tidal, dan berpindah turun untuk sujud—artinya telah keluar dari batas berdiri—sedangkan makmum masih berdiri.

وخرج بالفعليين القوليان والقولي والفعلي.

Dikecualikan dengan dua rukun fi'li: dua rukun qauli (ucapan), serta satu rukun qauli dan satu rukun fi'li.

وعدم تخلف عنه معهما بأكثر من ثلاثة أركان طويلة فلا يحسب منها الاعتدال والجلوس بين السجدتين. بعذر أوجبه أي اقتضى وجوب ذلك التخلف.

Dan (syarat lainnya adalah) tidak tertinggal dari imam beserta keduanya lebih dari tiga rukun panjang—maka i'tidal dan duduk di antara dua sujud tidak dihitung dari rukun panjang tersebut—disebabkan uzur yang mengharuskannya, yaitu yang menuntut kewajiban tertinggal tersebut.

كإسراع إمام قراءة والمأموم بطئ القراءة لعجز خلقي لا لوسوسة أو الحركات.

Seperti cepatnya bacaan imam sedangkan makmum lambat bacaannya karena keterbatasan bawaan lahir, bukan karena was-was atau gerakan-gerakan.

وانتظار مأموم سكتته أي سكتة الإمام ليقرأ فيها الفاتحة فركع عقبها وسهوه عنها حتى ركع الإمام.

Dan tunggunya makmum terhadap saktah (diamnya) imam—yaitu diamnya imam agar makmum membaca Al-Fatihah padanya—lalu imam langsung rukuk setelahnya, serta lupanya makmum dari membaca Al-Fatihah hingga imam rukuk.

وشكه فيها قبل ركوعه.

Serta keraguan makmum terhadap bacaan Al-Fatihah sebelum rukuknya.

أما التخلف لوسوسة بأن كان يردد الكلمات من غير موجب فليس بعذر.

Adapun tertinggal karena was-was, yaitu dengan mengulang-ulang kalimat tanpa adanya alasan yang mengharuskan, maka itu tidak termasuk uzur.

قال شيخنا: ينبغي في ذي وسوسة صارت كالخلقية بحيث يقطع كل من رآه أنه لا يمكنه تركها أن يأتي فيه ما في بطئ الحركة فيلزم المأموم في الصور المذكورة إتمام الفاتحة ما لم يتخلف بأكثر من ثلاثة أركان طويلة وإن تخلف مع عذر بأكثر من الثلاثة بأن لا يفرغ من الفاتحة إلا والإمام قائم عن السجود أو جالس للتشهد فليوافق إمامه وجوبا في الركن الرابع وهو القيام أو الجلوس للتشهد ويترك ترتيب نفسه.

Guru kami berkata: Hendaknya bagi penderita was-was yang sudah menjadi seperti karakter bawaan, sekiranya setiap orang yang melihatnya meyakini bahwa ia tidak mungkin meninggalkannya, berlaku padanya hukum orang yang lambat gerakannya. Maka makmum dalam gambaran kasus-kasus tersebut wajib menyempurnakan Al-Fatihah selama ia tidak tertinggal lebih dari tiga rukun panjang. Jika ia tertinggal beserta uzur lebih dari tiga rukun panjang—sekiranya ia tidak selesai dari Al-Fatihah melainkan imam sudah bangun dari sujud (berdiri) atau duduk tasyahhud—maka ia wajib mengikuti imamnya pada rukun yang keempat, yaitu berdiri atau duduk tasyahhud, dan meninggalkan urutan susunan shalat dirinya sendiri.

ثم يتدارك ولو اشتغل مسبوق بسنة قرأ قدرها

Kemudian ia menyusul ketertinggalannya. Dan seandainya seorang masbuq disibukkan oleh amalan sunnah, lalu ia membaca Al-Fatihah kadar waktu sunnah tersebut,

ثم يتدارك بعد سلام الإمام ما بقي عليه فإن لم يوافقه في الرابع مع علمه بوجوب المتابعة ولم ينو المفارقة بطلت صلاته إن علم وتعمد.

kemudian ia menyusul setelah salamnya imam atas apa yang tersisa padanya. Jika ia tidak menyelaraskan (menyusul) imam pada rukun keempat padahal ia tahu wajibnya mengikuti imam dan tidak berniat mufaraqah (memisahkan diri), maka batal shalatnya jika ia tahu dan sengaja.

وإن ركع المأموم مع الإمام فشك هل قرأ الفاتحة أو تذكر أنه لم يقرأها؟ لم يجز له العود إلى القيام وتدارك بعد سلام الإمام ركعة.

Dan jika makmum rukuk bersama imam lalu ia ragu apakah ia sudah membaca Al-Fatihah atau teringat bahwa ia belum membacanya, maka tidak boleh baginya kembali ke posisi berdiri, dan ia menyusul satu rakaat setelah salamnya imam.

فإن عاد عالما عامدا بطلت صلاته وإلا فلا.

Maka jika ia kembali dalam keadaan tahu dan sengaja, batal shalatnya; jika tidak, maka tidak batal.

فلو تيقن القراءة وشك في إكمالها فإنه لا يؤثر.

Apabila ia meyakini telah membaca Al-Fatihah namun ragu apakah telah menyempurnakannya, maka hal itu tidak berpengaruh.

ولو اشتغل مسبوق وهو من لم يدرك من قيام الإمام قدرا يسع الفاتحة بالنسبة إلى القراءة المعتدلة وهو ضد الموافق.

Dan seandainya seorang masbuq—yaitu orang yang tidak mendapati dari berdirinya imam kadar waktu yang cukup untuk Al-Fatihah standar bacaan sedang, dan ia adalah kebalikan dari muwafiq—disibukkan…

ولو شك هل أدرك زمنا يسعها؟ تخلف لا تمامها ولا يدرك الركعة ما لم يدركه في الركوع بسنة كتعوذ وافتتاح أولم يشتغل بشيء بأن سكت زمنا بعد تحرمه وقبل قراءته وهو عالم بأن واجبه الفاتحة أو

Dan jika ia ragu apakah ia mendapati waktu yang cukup untuk membacanya? Maka ia tertinggal untuk menyempurnakannya dan tidak mendapatkan rakaat tersebut selama ia tidak mendapatinya dalam rukuk disebabkan sibuk dengan amalan sunnah seperti ta'awwudz dan doa iftitah, atau ia tidak disibukkan oleh sesuatu pun dengan gambaran ia diam sejenak setelah takbiratul ihramnya dan sebelum bacaannya, padahal ia tahu bahwa kewajibannya adalah membaca Al-Fatihah, atau…

استمع قراءة الإمام.

Mendengarkan bacaan imam.

قرأ وجوبا من الفاتحة بعد ركوع الإمام سواء أعلم أنه يدرك الإمام قبل رفعه من١ سجوده أم لا على الأوجه قدرها حروفا في ظنه أو قدر زمن من سكوته لتقصيره بعدوله عن فرض إلى غيره.

Ia wajib membaca sebagian dari Al-Fatihah setelah rukuknya imam—baik ia mengetahui bahwa ia akan mendapati imam sebelum imam bangkit dari sujudnya atau tidak, menurut pendapat yang paling sahih—sepanjang kadar huruf-hurufnya menurut persangkaannya, atau sepanjang kadar waktu diamnya karena keteledorannya berpaling dari kewajiban kepada selainnya.

وعذر,

Dan dimaafkan (diberi uzur),

وعذر من تخلف لسنة كبطء القراءة على ما قاله الشيخان كالبغوي لوجوب التخلف فيتخلف ويدرك الركعة ما لم يسبق بأكثر من ثلاثة أركان خلافا لما اعتمده جمع محققون من كونه غير معذور لتقصيره

dan dimaafkan orang yang tertinggal karena mengerjakan sunnah, seperti lambatnya bacaan Al-Fatihah menurut apa yang dikatakan oleh Asy-Syaikhani (An-Nawawi dan Ar-Rafi'i) sebagaimana Al-Baghawi, karena wajibnya tertinggal (untuk menyelesaikan Al-Fatihah). Maka ia boleh tertinggal dan tetap mendapati rakaat selama ia tidak tertinggal lebih dari tiga rukun, berbeda dengan pendapat yang dipegang oleh sekelompok muhaqqiqin bahwa ia tidak diberi uzur karena keteledorannya

بالعدول المذكور وجزم به شيخنا في شرح المنهاج وفتاويه ثم قال: من عبر بعذره فعبارته مؤولة.

dengan berpaling yang disebutkan tadi. Hal itu ditegaskan oleh guru kami (Ibn Hajar Al-Haitami) dalam Syarh Al-Minhaj dan Fatawa-nya, kemudian beliau berkata: "Barang siapa yang mengungkapkan dengan uzur padanya, maka ucapannya harus ditakwilkan."

وعليه: إن لم يدرك الإمام في الركوع فاتته الركعة ولا يركع لأنه لا يحسب له بل يتابعه في هوية للسجود إلا بطلت صلاته إن علم وتعمد.

Berdasarkan pendapat ini: jika ia tidak mendapati imam dalam rukuk, maka ia luput rakaat tersebut dan ia tidak boleh rukuk karena rukuknya tidak dihitung baginya, melainkan ia harus mengikutinya turun untuk sujud; jika tidak (tetap rukuk), maka batal shalatnya jika ia tahu dan sengaja.

ثم قال: والذي يتجه أنه يتخلف لقراءة ما لزمه حتى يريد الإمام ألهوي للسجود فإن كمل وافقه فيه ولا يركع وإلا بطلت صلاته إن علم وتعمد وإلا فارقه بالنية.

Kemudian beliau berkata: "Pendapat yang terarah adalah bahwa ia tertinggal untuk membaca apa yang diwajibkan atasnya sampai imam hendak turun untuk sujud. Jika ia telah menyempurnakannya, ia menyamai imam dalam sujud dan tidak rukuk; jika tidak, maka batal shalatnya jika ia tahu dan sengaja, dan jika tidak (ingin batal) ia harus memisahkannya (mufaraqah) dengan niat."

قال شيخنا في شرح الإرشاد: والأقرب للمنقول الأول وعليه أكثر المتأخرين أما إذا ركع بدون قراءة قدرها فتبطل صلاته.

Guru kami berkata dalam Syarh Al-Irsyad: "Yang lebih mendekati nukilan pertama dan dipegang oleh mayoritas muta'akhirin adalah: adapun jika ia rukuk tanpa membaca sekadar kadar yang diwajibkan padanya, maka batal shalatnya."

وفي شرح المنهاج له عن معظم الأصحاب: أنه يركع ويسقط عنه بقية الفاتحة واختير بل رجحه جمع متأخرون وأطالوا في الاستدلال له وأن كلام الشيخين يقتضيه.

Dan dalam Syarh Al-Minhaj karya beliau dari mayoritas ashab (ulama mazhab Syafi'i): bahwa ia rukuk dan gugur darinya sisa Al-Fatihah. Pendapat ini dipilih, bahkan di-rajih-kan oleh sekelompok ulama muta'akhirin dan mereka memperpanjang argumentasi untuk mendukungnya serta menyatakan bahwa ucapan Asy-Syaikhani menghendaki hal tersebut.

أما إذا جهل أن واجبه ذلك فهو تخلفه لما لزمه متخلف بعذر قاله القاضي.

Adapun jika ia tidak tahu bahwa itu adalah kewajibannya, maka ketertinggalannya untuk menyelesaikan apa yang wajib baginya tergolong ketertinggalan karena uzur, sebagaimana dikatakan oleh Al-Qadhi.

وخرج بالمسبوق الموافق فإنه إذا لم يتم الفاتحة لاشتغاله بسنة كدعاء افتتاح وإن لم يظن إدراك الفاتحة معه يكون كبطيء

Dikecualikan dari masbuq adalah muwafiq, karena jika ia tidak menyempurnakan Al-Fatihah lantaran disibukkan oleh sunnah seperti doa iftitah—meskipun ia tidak menduga dapat mendapati Al-Fatihah bersama imam—maka statusnya seperti orang yang lambat

وسبقه على إمام بركنين فعليين مبطل وبركن فعلي حرام ومقارنته في أفعال مكروهة كتخلف عنه إلى فراغ ركن.

Dan mendahului imam sebanyak dua rukun fi'li membatalkan shalat, sedangkan mendahului dengan satu rukun fi'li hukumnya haram. Adapun menyamai (bersamaan dengan) imam dalam perbuatan-perbuatan shalat hukumnya makruh, sebagaimana halnya tertinggal darinya hingga selesainya satu rukun.

القراءة فيما مر بلا نزاع.

bacaannya pada pembahasan yang lalu tanpa perselisihan pendapat.

وسبقه أي المأموم على إمام عامدا عالما ب تمام ركنين فعليين وإن لم يكونا طويلين مبطل للصلاة لفحش المخالفة وصورة التقدم بهما: أن يركع ويعتدل ثم يهوي للسجود مثلا والإمام قائم أو كأن يركع قبل الإمام فلما أراد الإمام أن يركع رفع فلما أراد الإمام أن يركع سجد فلم يجتمع معه في الركوع ولا في الاعتدال.

Dan mendahuluinya—yaitu makmum mendahului imam—secara sengaja dan tahu, hingga sempurnanya dua rukun fi'li (perbuatan) meskipun keduanya bukan rukun yang panjang, adalah membatalkan shalat karena parahnya pelanggaran (mukhala fah). Gambaran mendahului dengan dua rukun fi'li: ia rukuk dan i'tidal kemudian turun untuk sujud misalnya, sedangkan imam masih berdiri; atau ia rukuk sebelum imam, lalu ketika imam hendak rukuk ia justru bangkit (i'tidal), lalu ketika imam hendak rukuk ia sujud, sehingga ia tidak bersama-sama dengan imam baik dalam rukuk maupun i'tidal.

ولو سبق بهما سهوا أو جهلا لم يضر لكن لا يعتد له بهما فإذا لم يعد للإتيان بهما مع الإمام سهوا أو جهلا أتى بعد سلام إمامه بركعة وإلا أعاد الصلاة.

Jika ia mendahului dengan dua rukun tersebut karena lupa atau tidak tahu, maka hal itu tidak membahayakan (membatalkan), tetapi kedua rukun tersebut tidak dihitung baginya. Apabila ia tidak kembali untuk melakukannya bersama imam karena lupa atau tidak tahu, maka ia menambah satu rakaat setelah salam imam; jika tidak (sengaja tidak kembali), ia wajib mengulangi shalatnya.

وسبقه عليه عامدا عالما ب تمام ركن فعلي كأن ركع ورفع والإمام قائم حرام.

Dan mendahului imam secara sengaja dan tahu hingga sempurnanya satu rukun fi'li, seperti ia rukuk lalu bangkit (i'tidal) sedangkan imam masih berdiri, hukumnya haram.

بخلاف التخلف به فإنه مكروه كما يأتي.

Berbeda halnya dengan tertinggal darinya sebanyak satu rukun fi'li, karena hukumnya makruh sebagaimana akan dijelaskan.

ومن تقدم بركن سن له العود ليوافقه إن تعمد وإلا تخير بين العود والدوام.

Barang siapa mendahului dengan satu rukun, disunnahkan baginya untuk kembali agar menyamai imam jika ia mendahului secara sengaja; jika tidak (karena lupa atau tidak tahu), maka ia memilih antara kembali atau terus melanjutkan.

ومقارنته أي مقارنة المأموم الإمام في أفعال وكذا أقوال غير تحرم مكروهة: كتخلف عنه أي الإمام إلى فراغ ركن وتقدم عليه بابتدائه وعند تعمد أحد هذه الثلاثة تفوته فضيلة الجماعة فهي جماعة صحيحة لكن لا ثواب عليها فيسقط إثم تركها أو كراهته.

Dan menyamai (muqaranah)-nya, yaitu menyamainya makmum pada imam dalam perbuatan-perbuatan dan begitu pula ucapan-ucapan selain takbiratul ihram, adalah makruh: seperti tertinggal darinya (yaitu imam) hingga selesainya satu rukun dan mendahuluinya pada awal mulainya. Dan ketika sengaja melakukan salah satu dari tiga hal ini, hilanglah darinya keutamaan berjamaah; maka salat berjamaah tersebut sah tetapi tidak ada pahalanya, sehingga gugur dosa meninggalkannya atau kemakruhannya.

فقول جمع انتفاء الفضيلة يلزمه الخروج عن المتابعة حتى يصير

Maka pendapat sekelompok ulama bahwa tiadanya keutamaan (berjamaah) konsekuensinya adalah keluar dari ketentuan mutaba'ah (mengikuti imam) sehingga menjadi…

ولا يصح قدوة بمن اعتقد بطلان صلاته,

Dan tidak sah bermakmum kepada orang yang diyakini batal salatnya,

كالمنفرد ولا تصح له الجمعة وهم كما بينه الزركشي وغيره.

seperti orang yang salat sendiri (munfarid) dan tidak sah baginya salat Jum'at, dan hal itu (adalah keliru) sebagaimana dijelaskan oleh az-Zarkaszi dan selainnya.

ويجري ذلك في كل مكروه من حيث الجماعة بأن لم يتصور وجوده في غيرها فالسنة للمأموم أن يتأخر ابتداء فعله عن ابتداء فعل الإمام ويتقدم على فراغه منه.

Hal itu juga berlaku pada setiap hal yang dimakruhkan dari sudut pandang berjamaah, sekira tidak tergambar keberadaannya pada selain salat berjamaah. Maka yang disunnahkan bagi makmum adalah mengakhirkan awal perbuatannya dari awal perbuatan imam dan mendahului dari selesainya imam dari perbuatan tersebut.

والأكمل من هذا أن يتأخر ابتداء فعل المأموم عن جميع حركة الإمام ولا يشرع حتى يصل الإمام لحقيقة المنتقل إليه فلا يهوي للركوع والسجود حتى يستوي الإمام راكعا أو تصل جبهته إلى المسجد.

Dan yang lebih sempurna dari ini adalah mengakhirkan awal perbuatan makmum dari seluruh gerakan imam, dan ia tidak memulai sampai imam mencapai hakikat rukun yang dituju. Maka ia tidak membungkuk untuk rukuk dan sujud sampai imam sempurna dalam posisi rukuk atau dahi imam sampai ke tempat sujud.

ولو قارنه بالتحرم أو تبين تأخر تحرم الإمام لم تنعقد صلاته ولا بأس بإعادته التكبير سرا بنية ثانية إن لم يشعروا ولا بالمقارنة في السلام.

Seandainya ia menyamai imam dalam takbiratul ihram atau ternyata takbiratul ihram imam lebih lambat, salatnya tidak sah. Dan tidak mengapa mengulangi takbir secara pelan dengan niat kedua jika orang-orang tidak menyadarinya, dan tidak mengapa pula menyamai dalam salam.

وإن سبقه بالفاتحة أو التشهد بأن فرغ من أحدهما قبل شروع الإمام فيه لم يضر.

Jika ia mendahului imam dalam membaca Al-Fatihah atau Tasyahhud, yaitu sekira ia menyelesaikan salah satunya sebelum imam memulainya, hal itu tidak membatalkan.

وقيل: تجب الإعادة مع فعل الإمام أو بعده وهو أولى فعليه إن لم يعده بطلت.

Dan ada yang mengatakan: wajib mengulanginya bersamaan dengan bacaan imam atau setelahnya, dan ini lebih utama; maka berdasarkan pendapat ini, jika ia tidak mengulanginya, batal salatnya.

ويسن مراعاة هذا الخلاف كما يسن تأخير جميع فاتحته عن فاتحة الإمام ولو في أوليي السرية إن ظن أنه يقرأ السورة.

Dan disunnahkan memperhatikan perbedaan pendapat ini, sebagaimana disunnahkan mengakhirkan seluruh bacaan Al-Fatihahnya dari bacaan Al-Fatihah imam meskipun pada dua rakaat pertama salat sirriyyah jika ia menduga bahwa imam akan membaca surah.

ولو علم أن إمامه يقتصر على الفاتحة لزمه أن يقرأها مع قراءة الإمام.

Dan jika ia mengetahui bahwa imamnya hanya mencukupkan diri membaca Al-Fatihah, maka wajib baginya membacanya bersamaan dengan bacaan imam.

ولا يصح قدوة بمن اعتقد بطلان صلاته بأن ارتكب مبطلا في اعتقاد

Dan tidak sah bermakmum kepada orang yang diyakini batal salatnya, yaitu dengan melakukan pembatal salat menurut keyakinan…

ولا بمقتد ولا قارئ بأمي,

dan tidak pula bermakmum kepada seorang makmum, serta orang yang pandai membaca (Qari`) kepada orang yang Ummi (buta huruf Al-Fatihah),

المأموم كشافعي اقتدى بحنفي مس فرجه دون ما إذا افتصد نظرا لاعتقاد المقتدي لان الإمام محدث

makmum, seperti seorang Syafi'i yang bermakmum kepada seorang Hanafi yang menyentuh kemaluannya, berbeda jika ia melakukan bekam, dengan mempertimbangkan keyakinan makmum; karena imam berhadats

عنده بالمس دون الفصد فيتعذر ربط صلاته بصلاة الإمام لأنه عنده ليس في صلاة.

menurutnya sebab menyentuh kemaluan, bukan sebab bekam, sehingga tidak memungkinkan mengikat salatnya dengan salat imam karena menurutnya imam tersebut tidak dalam keadaan salat.

ولو شك شافعي في إتيان المخالف بالواجبات عند المأموم لم يؤثر في صحة الاقتداء به تحسينا للظن به في توقي الخلاف فلا يضر عدم اعتقاده الوجوب.

Dan jika seorang Syafi'i ragu apakah orang yang berbeda mazhab itu mengerjakan hal-hal yang wajib menurut makmum, hal itu tidak mempengaruhi keabsahan bermakmum kepadanya demi berbaik sangka padanya dalam menolak perselisihan, sehingga tidak merusak ketiadaan keyakinannya akan kewajiban tersebut.

فرع لو قام إمامه لزيادة كخامسة ولو سهوا لم يجز له متابعته ولو مسبوقا أو شاكا في ركعة بل يفارقه ويسلم أو ينتظره على المعتمد.

Cabang masalah: Seandainya imamnya berdiri untuk rakaat tambahan seperti rakaat kelima meskipun karena lupa, tidak boleh bagi makmum mengikutinya, meskipun ia seorang masbuq atau ragu tentang jumlah rakaat; melainkan ia harus memisahkan diri (mufaraqah) lalu salam atau menunggunya menurut pendapat yang dapat dijadikan pegangan (al-mu'tamad).

ولا قدوة بمقتد ولو احتمالا وإن بان إماما.

Dan tidak sah bermakmum kepada seorang yang sedang menjadi makmum, meskipun secara kemungkinan (ihtimalan), dan walaupun kemudian ternyata orang tersebut adalah imam.

وخرج بمقتد من انقطعت قدوته كأن سلم الإمام فقام مسبوق فاقتدى به آخر صحت أو قام مسبوقون فاقتدى بعضهم ببعض صحت أيضا على المعتمد لكن مع الكراهة.

Dan dikecualikan dari pengertian "makmum" (dalam larangan bermakmum kepada makmum lain) yaitu orang yang ikatan bermakmumnya telah terputus, seperti ketika imam mengucapkan salam lalu seorang makmum masbuk berdiri dan ada orang lain yang bermakmum kepadanya, maka shalatnya sah. Atau beberapa makmum masbuk berdiri lalu sebagian mereka bermakmum kepada sebagian yang lain, maka shalatnya juga sah menurut pendapat yang diandalkan (mu'tamad), namun hukumnya makruh.

ولا قدوة قارئ بأمي وهو من يخل بالفاتحة أو بعضها ولو بحرف منها بأن يعجز عنه بالكلية أو عن إخراجه عن مخرجه أو عن أصل تشديدة وإن لم يمكنه التعلم ولا علم بحاله لأنه لا يصلح لتحمل القراءة عنه لو أدركه راكعا.

Dan tidak sah bermakmumnya seorang qari' (orang yang bacaannya benar) kepada seorang ummi (orang yang cacat bacaan Al-Fatihahnya), yaitu orang yang merusak bacaan Surah Al-Fatihah atau sebagiannya meskipun hanya satu huruf darinya, misalnya tidak mampu melafalkannya sama sekali, tidak mampu mengeluarkannya dari makhrajnya, atau tidak mampu membaca asal tasydidnya, meskipun ia tidak memungkinkan untuk belajar dan makmum tidak mengetahui keadaannya; karena ia tidak layak untuk menanggung bacaan Al-Fatihah dari makmum seandainya makmum mendapatinya dalam keadaan rukuk.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

ويصح الاقتداء بمن يجوز كونه أميا إلا إذا لم يجهر في جهرية فيلزمه مفارقته فإن استمر جاهلا حتى سلم لزمته الإعادة ما لم يتبين أنه قارئ.

Dan sah bermakmum kepada orang yang ada kemungkinan seorang ummi, kecuali jika ia tidak membedakan suara nyaring (jahr) pada shalat jahriyyah, maka makmum wajib memisahkan diri (mufaraqah). Jika makmum terus tidak tahu hingga imam salam, maka ia wajib mengulangi shalatnya selama tidak terbukti bahwa imam tersebut adalah seorang qari'.

ومحل عدم صحة الاقتداء بالأمي: إن لم يستو الإمام والمأموم في الحرف المعجوز عنه بأن أحسنه المأموم فقط أو أحسن كل منهما غير ما أحسنه الآخر.

Letak ketidakabsahan bermakmum kepada seorang ummi adalah jika imam dan makmum tidak setara dalam huruf yang tidak mampu diucapkan tersebut, yaitu dengan gambaran hanya makmum yang mampu mengucapkannya dengan baik, atau masing-masing dari keduanya mampu mengucapkan huruf yang berbeda dari yang mampu diucapkan oleh yang lain.

ومنه أرت يدغم في غير محله بإبدال وألثغ يبدل حرفا بآخر.

Termasuk kategori ummi adalah orang aratt (orang yang mengidghamkan huruf bukan pada tempatnya dengan mengganti huruf) dan orang althagh (pelat/cadel yang mengganti suatu huruf dengan huruf lain).

فإن أمكنه التعلم ولم يتعلم لم تصح صلاته وإلا صحت كاقتدائه بمثله.

Jika ia (orang ummi tersebut) memungkinkan untuk belajar namun ia tidak belajar, maka shalatnya sendiri tidak sah. Jika tidak memungkinkan, maka shalatnya sah, begitu pula bermakmumnya orang yang sepadan dengannya kepadanya.

وكره اقتداء بنحو تأتاء وفأفاء ولاحن بما لا يغير معنى كضم هاء لله وفتح دال نعبد فإن لحن لحنا يغير المعنى في الفاتحة ك أنعمت بكسر أو ضم أبطل صلاة من أمكنه التعلم ولم يتعلم لأنه ليس بقرآن.

Dan dimakruhkan bermakmum kepada orang yang ta'ta' (sering mengulang huruf Ta'), fa'fa' (sering mengulang huruf Fa'), dan orang yang salah baca (lahan) dengan kesalahan yang tidak mengubah makna, seperti membaca dammah pada huruf Ha' lafaz Lillah atau membaca fathah pada huruf Dal lafaz Na'budu. Namun jika ia melakukan kesalahan bacaan (lahan) yang mengubah makna pada Surah Al-Fatihah, seperti membaca An'amti dengan kasrah atau An'amtu dengan dammah (pada An'amta), maka hal itu membatalkan shalat orang yang memungkinkan untuk belajar tetapi tidak mau belajar, karena bacaan tersebut sama sekali bukan Al-Qur'an.

نعم إن ضاق الوقت صلى لحرمته وأعاد لتقصيره.

Ya, jika waktunya sudah sempit, ia tetap melaksanakan shalat demi menghormati waktu shalat (li hurmatil waqti) dan wajib mengulanginya (i'adah) karena kelalaiannya.

قال شيخنا: ويظهر أنه لا يأتي بتلك الكلمة لأنه غير قرآن قطعا فلم تتوقف صحة الصلاة حينئذ عليها بل تعمدها ولو من مثل هذا مبطل. انتهى.

Guru kami (Ibn Hajar Al-Haitami) berkata: "Dan tampak jelas bahwa ia tidak perlu membaca kata tersebut karena itu jelas bukan Al-Qur'an, sehingga keabsahan shalat pada saat itu tidak bergantung padanya; bahkan menyengaja membacanya—meskipun dari orang yang seperti ini—adalah membatalkan shalat. Selesai."

أو في غيرها: صحت صلاته والقدوة به إلا إذا قدر وعلم وتعمد لأنه حينئذ كلام أجنبي.

Atau jika kesalahan bacaan tersebut berada di luar Al-Fatihah: maka shalatnya dan bermakmum kepadanya tetap sah, kecuali jika ia mampu, mengetahui, dan sengaja membacanya salah, karena pada kondisi itu ucapan tersebut dianggap sebagai ucapan luar (kalam ajnabi).

ولو اقتدى بمن ظنه أهلا فبان خلافه أعاد لا ذا حدث أو خبث وصح اقتداء سليم بسلس,

Dan jika seseorang bermakmum kepada orang yang ia duga layak menjadi imam lalu ternyata sebaliknya, maka ia wajib mengulangi shalatnya, bukan (jika imamnya) berhadas atau terkena najis. Dan sah bermakmumnya orang yang sehat kepada orang yang menderita beser (salas al-baul),

وحيث بطلت صلاته هنا يبطل الاقتداء به لكن للعالم بحاله كما قاله الماوردي.

Dan ketika shalatnya batal di sini, maka batal pula bermakmum kepadanya, tetapi hal itu khusus bagi orang yang mengetahui keadaannya sebagaimana dikatakan oleh Al-Mawardi.

واختار السبكي ما اقتضاه قول الإمام ليس لهذا قراءة غير الفاتحة لأنه يتكلم بما ليس بقرآن بلا ضرورة من البطلان مطلقا.

Dan As-Subki memilih pendapat yang ditunjukkan oleh perkataan Al-Imam (Al-Haramain) bahwa orang seperti ini tidak boleh membaca selain Al-Fatihah, karena ia mengucapkan apa yang bukan Al-Qur'an tanpa adanya dharurat, yang konsekuensinya adalah batalnya shalat secara mutlak.

ولو اقتدى بمن ظنه أهلا للإمامة فبان خلافه كأن ظنه قارئا أو غير مأموم أو رجلا أو عاقلا فبان أميا أو مأموما أو امرأة أو مجنونا أعاد الصلاة وجوبا لتقصيره بترك البحث في ذلك لا إن اقتدى بمن ظنه متطهرا فبان ذا حدث ولو حدثا أكبر أو ذا خبث خفي ولو في جمعة إن زاد على الأربعين: فلا تجب الإعادة وإن كان الإمام عالما لانتفاء تقصير المأموم إذ لا أمارة عليهما ومن ثم حصل له فضل الجماعة.

Jika seseorang bermakmum kepada orang yang ia duga layak menjadi imam lalu ternyata sebaliknya, seperti menduganya seorang qari', bukan makmum, laki-laki, atau orang berakal, lalu ternyata ia seorang ummi, makmum, wanita, atau orang gila, maka ia wajib mengulangi shalat karena kelalaiannya tidak mencari tahu hal tersebut. Berbeda halnya jika ia bermakmum kepada orang yang ia duga suci lalu ternyata berhadas—meskipun hadas besar—atau terkena najis yang samar, bahkan dalam shalat Jum'at sekalipun jika jumlah jamaah lebih dari 40 orang: maka tidak wajib mengulang shalat meskipun sang imam mengetahui keadaannya, karena tidak adanya kelalaian dari makmum mengingat tidak ada tanda-tanda pada keduanya (hadas dan najis samar tersebut), dan oleh karena itu ia tetap mendapatkan keutamaan shalat berjamaah.

أما إذا بان ذا خبث ظاهر فيلزمه الإعادة على غير الأعمى لتقصيره وهو ما بظاهر الثوب وإن حال بين الإمام والمأموم حائل.

Adapun jika ternyata imam memiliki najis yang tampak jelas, maka makmum wajib mengulangi shalatnya—selain orang buta—karena kelalaiannya. Yang dimaksud najis tampak jelas adalah najis di bagian luar pakaian meskipun terdapat penghalang antara imam dan makmum.

والأوجه في ضبطه أن يكون بحيث لو تأمله المأموم رآه والخفي بخلافه.

Dan pendapat yang paling kuat (al-awjah) dalam batasan najis yang tampak adalah najis yang sekiranya jika makmum mengamatinya maka ia akan melihatnya, sedangkan najis yang samar adalah kebalikannya.

وصحح النووي في التحقيق عدم وجوب الإعادة مطلقا.

Dan An-Nawawi dalam At-Tahqiq menshahihkan pendapat bahwa tidak wajib mengulangi shalat secara mutlak.

وصح اقتداء سليم بسلس للبول أو المذي أو الضراط وقائم بقاعد ومتوضئ بمتيمم لا تلزمه

Dan sah bermakmumnya orang yang sehat kepada orang yang menderita beser kencing, mazi, atau kentut terus-menerus, orang yang berdiri kepada orang yang duduk, dan orang yang berwudu kepada orang yang bertayamum yang tidak berkewajiban…

إعادة.

mengulang salat.

وكره بفاسق ومبتدع.

Dan dimakruhkan bermakmum kepada orang fasik dan pelaku bid'ah.

وكره اقتداء بفاسق ومبتدع كرافضي وإن لم يوجد أحد سواهما ما لم يخش فتنة.

Dan dimakruhkan bermakmum kepada orang fasik dan pelaku bid'ah seperti seorang Rafidhi, meskipun tidak ditemukan orang lain selain keduanya, selama tidak dikhawatirkan timbul fitnah.

وقيل: لا يصح الاقتداء بهما.

Ada yang berpendapat: Tidak sah bermakmum kepada keduanya.

وكره أيضا اقتداء بموسوس وأقلف لا بولد الزنا لكنه خلاف الأولى.

Dimakruhkan juga bermakmum kepada orang yang memiliki penyakit waswas dan orang yang belum dikhitan (aqlaf), namun tidak makruh bagi anak hasil zina, melainkan hanya khilaf al-awla (menyalahi yang utama).

واختار السبكي ومن تبعه انتقاء الكراهة إذا تعذرت الجماعة إلا خلف من تكره خلفه بل هي أفضل من الانفراد.

As-Subki dan para pengikutnya memilih pendapat gugurnya makruh apabila salat berjamaah tidak memungkinkan kecuali di belakang orang yang makruh bermakmum kepadanya, bahkan berjamaah (dalam kondisi ini) lebih utama daripada salat sendirian.

وجزم شيخنا بأنها لا تزول حينئذ بل الانفراد أفضل منها.

Sedangkan guru kami memastikan bahwa makruhnya tidak hilang pada kondisi tersebut, bahkan salat sendirian lebih utama daripadanya.

وقال بعض أصحابنا: والأوجه عندي ما قاله السبكي رحمه الله تعالى.

Sebagian ashhab (ulama mazhab) kita berkata: Pendapat yang lebih kuat menurutku adalah apa yang dikatakan oleh as-Subki رحمة الله تعالى.

تتمة [في بيان الأعذار المرخصة لترك الجماعة] وعذر الجماعة كالجمعة مطر يبل ثوبه للخبر الصحيح [النسائي رقم: ٨٥٤, أبو داود رقم: ١٠٥٧, ابن ماجه رقم: ٩٣٦, مسند أحمد رقم: ١٩٧٦٩, ٢٠١٨٨] أنه ﷺ أمر بالصلاة في الرحال يوم مطر يبل أسفل النعال بخلاف ما لا يبله نعم قطر الماء من سقوف الطريق عذر وإن لم يبله لغلبة نجاسته أو استقذاره ووحل لم يأمن معه التلوث بالمشي فيه أو الزلق وحر شديد وإن وجد ظلا يمشي فيه وبرد شديد وظلمة شديدة بالليل ومشقة مرض وإن لم تبح الجلوس في الفرض لا صداع

Pelengkap [Tentang Penjelasan Uzur-Uzur yang Membolehkan Meninggalkan Salat Berjamaah]: Uzur salat berjamaah seperti halnya salat Jumat adalah hujan yang membasahi pakaiannya, berdasarkan hadis sahih [An-Nasa'i no. 854, Abu Dawud no. 1057, Ibn Majah no. 936, Musnad Ahmad no. 19769, 20188] bahwa Nabi ﷺ memerintahkan untuk salat di tempat tinggal pada hari hujan yang membasahi bagian bawah sandal, berbeda dengan hujan yang tidak membasahinya. Ya, tetesan air dari atap-atap jalan merupakan uzur meskipun tidak membasahi pakaian karena umumnya air tersebut najis atau kotor. Begitu pula lumpur yang tidak aman dari terkontaminasi saat berjalan di atasnya atau terpeleset, cuaca sangat panas meskipun menemukan naungan untuk berjalan, cuaca sangat dingin, kegelapan malam yang pekat, kesusahan akibat sakit meskipun tidak sampai membolehkan duduk dalam salat fardu, bukan pusing kepala…

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………

يسير ومدافعة حدث من بول أو غائط أو ريح فتكره الصلاة معها وإن خاف فوت الجماعة لو فرغ نفسه كما صرح به جمع وحدوثها في الفرض لا يجوز قطعه ومحل ما ذكر في هذه: إن اتسع الوقت بحيث لو فرغ نفسه أدرك الصلاة كاملة وإلا حرم التأخير لذلك وفقد لباس لائق به وإن وجد ساتر العورة وسير رفقة لمريد سفر مباح وإن أمن لمشقة استيحاشه وخوف ظالم على معصوم من عرض أو نفس أو مال وخوف من حبس غريم معسر وحضور مريض وإن لم يكن نحو قريب بلا متعهد له أو كان نحو قريب محتضرا أو لم يكن محتضرا لكن يأنس به وغلبة نعاس عند انتظاره للجماعة وشدة جوع وعطش وعمى حيث لم يجد قائدا بأجرة المثل وإن أحسن المشي بالعصا.

…yang ringan, menahan buang air kecil, buang air besar, atau buang angin, maka dimakruhkan salat bersamanya meskipun ia khawatir tertinggal jamaah jika ia menuntaskannya terlebih dahulu sebagaimana ditegaskan oleh sekelompok ulama. Timbulnya rasa menahan buang hajat ini di dalam salat fardu tidak membolehkan membatalkan salat. Tempat berlakunya apa yang disebutkan dalam hal ini adalah jika waktu salat masih lapang sekiranya apabila ia menuntaskannya ia masih sempat mendapati salat secara sempurna, jika tidak maka haram mengakhirkannya karena hal tersebut. Begitu pula ketiadaan pakaian yang layak baginya meskipun menemukan penutup aurat, berjalannya rombongan bagi orang yang hendak bepergian yang mubah meskipun merasa aman karena beratnya rasa kesepian, rasa takut terhadap orang zalim atas keselamatan jiwa, kehormatan, atau harta yang terlindungi, rasa takut dipenjara bagi penanggung utang yang kesulitan membayar (mu'sir), merawat orang sakit meskipun bukan kerabat jika tidak ada pengurus lain, atau kerabat dekat yang sedang sakaratul maut, atau tidak sedang sakaratul maut namun merasa nyaman dengannya, rasa kantuk yang sangat saat menunggu jamaah, kelaparan dan kehausan yang sangat, serta kebutaan apabila tidak menemukan penuntun dengan upah yang standar (ujrah al-mitsl) meskipun ia pandai berjalan dengan tongkat.

تنبيه [في بيان حكم هذه الأعذار] إن هذه الأعذار تمنع كراهة تركها حيث سنت وإثمه حيث وجبت ولا تحصل فضيلة الجماعة كما قال النووي في المجموع واختار غيره ما عليه جمع متقدمون من حصولها إن قصدها لولا العذر.

Peringatan [Tentang Penjelasan Hukum Uzur-Uzur Ini]: Sesungguhnya uzur-uzur ini mencegah timbulnya makruh meninggalkan jamaah ketika hukumnya sunah, serta mencegah dosa ketika hukumnya wajib. Namun, keutamaan berjamaah tidak diperoleh sebagaimana dikatakan oleh An-Nawawi dalam al-Majmu', sedangkan ulama lain memilih pendapat sekelompok ulama terdahulu (mutaqaddimun) bahwa keutamaan tersebut tetap diperoleh jika ia memang berniat untuk berjamaah andaikan tidak ada uzur.

قال في المجموع: يستحب لمن ترك الجمعة بلا عذر أن يتصدق بدينار أو نصفه لخبر أبي داود [رقم: ١٠٥٣] وغيره. [النسائي رقم: ١٣٧٢, ابن ماجه رقم: ١١٢٨, مسند أحمد رقم: ١٩٥٨٣, ١٩٦٤٦] .

Dikatakan dalam al-Majmu': Disunahkan bagi orang yang meninggalkan salat Jumat tanpa uzur untuk bersedekah sebesar satu dinar atau setengahnya berdasarkan riwayat Abu Dawud [no. 1053] dan lainnya [An-Nasa'i no. 1372, Ibn Majah no. 1128, Musnad Ahmad no. 19583, 19646].