باب الصلاة

فصل في صفة الصلاة

فصل في صفة الصلاة

فصل في صفة الصلاة

Fasal mengenai Sifat (Tata Cara) Salat

أركان الصلاة: ١- نية,

Rukun-rukun salat: 1- Niat,

فصل: في صفة الصلاة.

Fasal: Mengenai sifat (tata cara) salat.

أركان الصلاة أي فروضها: أربعة عشر بجعل الطمأنينة في محالها ركنا واحدا.

Rukun-rukun salat, yaitu kewajiban-kewajibannya, ada empat belas dengan menjadikan thuma'ninah di tempat-tempatnya sebagai satu rukun.

فيجب فيها قصد فعلها وتعيينها ولو نفلا ونية فرض فيه كأصلي فرض الظهر,

Maka wajib di dalamnya bermaksud melakukan perbuatan salat dan menentukan jenisnya meskipun salat sunah, serta niat fardhu padanya seperti ucapan: 'Saya berniat salat fardhu Zuhur',

فيجب فيها أي النية.

Maka wajib di dalamnya, yaitu di dalam niat,

قصد فعلها أي الصلاة لتتميز عن بقية الأفعال وتعيينها من ظهر أو غيرها لتتميز عن غيرها فلا يكفي نية فرض الوقت.

bermaksud melakukan perbuatannya, yaitu perbuatan salat, agar membedakan dari perbuatan-perbuatan lainnya, dan menentukan jenisnya apakah Zuhur atau selainnya agar membedakan dari salat lainnya, maka tidak cukup sekadar niat 'fardhu waktu'.

ولو كانت الصلاة المفعولة نفلا غير مطلق كالرواتب والسنن المؤقتة أو ذات السبب فيجب فيها التعيين

Dan jika salat yang dikerjakan berupa salat sunah yang bukan sunah mutlak, seperti salat rawatib, sunah-sunah yang memiliki waktu tertentu, atau yang memiliki sebab, maka wajib menentukan jenisnya,

بالإضافة إلى ما يعينها كسنة الظهر القبلية أو البعدية وإن لم يؤخر القبلية. ومثلها كل صلاة لها سنة قبلها وسنة بعدها وكعيد الأضحى أو الأكبر أو الفطر أو الأصغر فلا يكفي صلاة العيد والوتر سواء الواحدة والزائدة عليها ويكفي نية الوتر من غير عدد. ويحمل على ما يريده على الأوجه ولا يكفي فيه نية سنة العشاء أو راتبتها والتراويح والضحى وكاستسقاء وكسوف شمس أو قمر.

disertai penyandaran pada hal yang menentukannya, seperti sunah Zuhur Qabliyah (sebelumnya) atau Ba'diyah (setelahnya) meskipun ia tidak mengakhirkan Qabliyah. Dan semisalnya adalah setiap salat yang memiliki sunah sebelum dan setelahnya, serta seperti Iduladha (Idul-Akbar) atau Idulfitri (Idul-Asghar), maka tidak cukup niat 'salat Id'; demikian juga salat Witir baik satu rakaat maupun lebih dari itu, dan cukup niat 'Witir' tanpa menyebutkan jumlah rakaatnya—dan ditujukan pada apa yang ia inginkan menurut pendapat yang paling kuat—dan tidak cukup padanya niat 'sunah Isya' atau 'rawatib Isya', serta Tarawih, Dhuha, juga Istisqa (minta hujan), dan gerhana matahari atau bulan.

أما النفل المطلق فلا يجب فيه تعيين بل يكفي فيه نية فعل الصلاة كما في ركعتي التحية والوضوء والاستخارة وكذا صلاة الأوابين على ما قاله شيخنا ابن زياد والعلامة السيوطي رحمهما الله تعالى.

Adapun salat sunah mutlak, maka tidak wajib padanya menentukan jenisnya, melainkan cukup padanya niat melakukan salat, sebagaimana pada dua rakaat Tahiyatul Masjid, Wudu, dan Istikharah, demikian pula salat Awwabin menurut apa yang dikatakan oleh guru kami Ibnu Ziyad dan Al-Allamah As-Suyuthi rahimahumallāh Ta'ālā.

والذي جزم به شيخنا في فتاويه أنه لا بد فيها من التعين كالضحى.

Sedangkan yang ditegaskan oleh guru kami dalam fatwa-fatwanya adalah bahwa harus menentukan jenisnya pada salat tersebut, seperti salat Dhuha.

وتجب نية فرض فيه أي في الفرض ولو كفاية أو نذرا وإن كان الناوي صبيا ليتميز عن النفل.

Dan wajib niat 'fardhu' di dalamnya, yaitu pada salat fardhu, meskipun fardhu kifayah atau karena nazar, dan meskipun orang yang berniat adalah anak kecil (shabi), agar membedakannya dari salat sunah.

كأصلي فرض الظهر مثلا أو فرض

Seperti ucapan: 'Aku berniat salat fardhu Zuhur' misalnya, atau 'fardhu…'

وسن إضافة إلى الله وتعرض لأداء أو قضاء ولاستقبال وعدد ركعات ونطق بمنوي.

Dan disunahkan menyandarkan (niat) kepada Allah, menentukan adaan (tunai) atau qadaan (qadha), menghadap kiblat, jumlah rakaat, serta melafalkan apa yang diniatkan.

وتكبير تحرم

Dan takbiratul ihram

الجمعة وإن أدرك الإمام في تشهدها.

…Jumat, meskipun ia mendapati imam pada tasyahudnya.

وسن في النية إضافة إلى الله تعالى خروجا من خلاف من أوجبها وليتحقق معنى الإخلاص.

Dan disunahkan dalam niat menyandarkan (menyebutkan) nama Allah Ta'ala demi keluar dari perselisihan ulama yang mewajibkannya, serta agar terwujud makna keikhlasan.

وتعرض لأداء أو قضاء ولا يجب وإن كان عليه فائتة مماثلة للمؤداة خلافا لما اعتمده الأذرعي.

Serta menentukan apakah adaa' (sekarang) atau qadaa' (mengganti), dan hal itu tidak wajib meskipun ia memiliki tanggungan salat yang terlewat (fā'itah) yang sama dengan salat yang sedang dikerjakan, berbeda dengan pendapat yang dipegang oleh Al-Azhra'i.

والأصح صحة الأداء بنية القضاء وعكسه إن عذر بنحو غيم وإلا بطلت قطعا لتلاعبه.

Menurut pendapat yang lebih sahih (al-ashahh), sah melakukan adaa' dengan niat qadaa' dan sebaliknya jika terdapat uzur seperti mendung; jika tidak ada uzur, maka salatnya pasti batal karena dinilai bermain-main.

وتعرض لاستقبال وعدد ركعات للخروج من خلاف من أوجب التعرض لهما.

Serta menentukan niat menghadap kiblat dan jumlah rakaat demi keluar dari perselisihan ulama yang mewajibkan penentuan keduanya.

وسن نطق بمنوي قبل التكبير ليساعد اللسان القلب وخروجا من خلاف من أوجبه.

Dan disunahkan melafalkan apa yang diniatkan sebelum takbir, agar lisan membantu hati, serta untuk keluar dari perselisihan ulama yang mewajibkannya.

ولو شك: هل أتى بكمال النية أو لا؟ أو هل نوى ظهرا أو عصرا؟ فإن ذكر بعد طول زمان أو بعد إتيانه بركن ولو قوليا كالقراءة بطلت صلاته أو قبلهما فلا.

Jika seseorang ragu: apakah ia telah melakukan niat secara sempurna atau belum? Atau apakah ia berniat zuhur atau asar? Maka jika ia teringat setelah waktu yang lama atau setelah melakukan suatu rukun—meskipun rukun qauli (ucapan) seperti membaca Al-Fatihah—salatnya batal; namun jika teringat sebelum kedua hal tersebut, maka tidak batal.

وثانيها: تكبير تحرم للخبر المتفق عليه: "إذا قمت إلى الصلاة فكبر" [البخاري رقم: ٧٥٧, مسلم رقم: ٣٩٧] , سمي بذلك لان المصلي يحرم عليه به ما كان حلالا له قبله من مفسدات الصلاة.

Rukun yang kedua: takbiratul ihram, berdasarkan hadis yang disepakati kesahihannya (muttafaq 'alaih): "Apabila engkau hendak salat, maka bertakbirlah." Dinamakan demikian karena dengan takbir tersebut, hal-hal pembatal salat yang sebelumnya halal bagi orang yang salat menjadi haram baginya.

مقرونا به النية ويتعين: الله أكبر,

…yang disertai niat, dan ditentukan lafalnya: Allāhu akbar,

وجعل فاتحة الصلاة ليستحضر المصلي معناه الدال على عظمة من تهيأ لخدمته حتى تتم له الهيبة والخشوع ومن ثم زيد في تكراره ليدوم استصحاب ذينك في جميع صلاته.

Takbir dijadikan sebagai pembuka salat agar orang yang salat menghadirkan maknanya yang menunjukkan keagungan Zat yang ia bersiap untuk beribadah kepada-Nya, sehingga pengagungan dan kekhusyukannya menjadi sempurna. Oleh karena itu, pengulangannya diperbanyak agar pemeliharaan kedua hal tersebut dapat terus berlangsung di seluruh salatnya.

مقرونا به أي بالتكبير النية لان التكبير أول أركان الصلاة فتجب مقارنتها به بل لا بد أن يستحضر كل معتبر فيها مما مر وغيره كالقصر للقاصر وكونه إماما أو مأموما في الجمعة والقدوة لمأموم في غيرها مع ابتدائه. ثم يستمر مستصحبا لذلك كله إلى الراء.

Menyertai padanya, yaitu disertai takbir, niat tersebut; karena takbir adalah awal dari rukun-rukun salat, maka wajib menyertakan niat dengannya. Bahkan, ia harus menghadirkan setiap hal yang diperhitungkan dalam niat dari apa yang telah disebutkan sebelumnya dan lainnya, seperti meng-qashar bagi orang yang meng-qashar, serta menjadi imam atau makmum dalam salat Jumat, dan niat mengikut (mā'mūm) bagi makmum di selain salat Jumat, bersamaan dengan mulainya takbir. Kemudian ia terus mempertahankan kehadiran niat tersebut hingga huruf Ra.

وفي قول صححه الرافعي يكفي قرنها بأوله. وفي المجموع والتنقيح المختار ما اختاره الإمام والغزالي: أنه يكفي فيها المقارنة العرفية عند العوام بحيث يعد مستحضرا للصلاة. وقال ابن الرفعة: إنه الحق الذي لا يجوز سواه. وصوبه السبكي وقال: من لم يقل به وقع في الوسواس المذموم.

Dalam satu pendapat yang disahihkan oleh Ar-Rafi'i, cukup menyertakan niat pada awal takbir saja. Dalam al-Majmu' dan at-Tanqih disebutkan bahwa pendapat yang terpilih adalah pendapat yang dipilih oleh Al-Imam (Al-Haramain) dan Al-Ghazali: bahwa cukup dalam niat itu penyertaan secara 'urf (kelaziman umum) di kalangan awam, sekiranya ia dianggap menghadirkan niat salat. Ibn Ar-Rif'ah berkata: 'Ini adalah kebenaran yang tidak boleh menggunakan selainnya.' As-Subki membenarkannya dan berkata: 'Barang siapa tidak berpendapat dengannya, niscaya ia akan jatuh ke dalam waswas yang tercela.'

وعند الأئمة الثلاثة: يجوز تقديم النية على التكبير بالزمن اليسير.

Menurut tiga imam mazhab lainnya: boleh mendahulukan niat atas takbir dengan jeda waktu yang singkat.

ويتعين فيه على القادر لفظ: الله أكبر للاتباع أو الله الأكبر ولا يكفي أكبر الله ولا الله كبير أو أعظم ولا الرحمن أكبر.

Dan ditentukan bagi orang yang mampu dalam takbir tersebut lafal: 'Allāhu akbar' karena mengikuti petunjuk Nabi (ittibā') atau 'Allāhul-akbar'. Tidak cukuplah ucapan 'Akbarullāh', 'Allāhu kabīr', 'Allāhu a'zham', maupun 'Ar-Rahmānu akbar'.

ويضر إخلال بحرف من الله أكبر وزيادة حرف يغير المعنى كمد همزة الله وكألف بعد الباء وزيادة واو قبل الجلالة وتخلل واو ساكنة ومتحركة بين الكلمتين وكذا زيادة مد الألف التي بين اللام والهاء إلى حد لا يراه أحد من القراء ولا يضر وقفة يسيرة بين كلمتيه

Dan berdampak merusak (salat) jika mengurangi satu huruf dari 'Allāhu akbar', atau menambahkan satu huruf yang mengubah makna seperti memanjangkan hamzah pada lafal 'Allāh', menambahkan alif setelah huruf Ba (menjadi akbār), menambahkan huruf Wau sebelum lafal jalālah (Wallāhu akbar), atau menyisipkan huruf Wau mati maupun berharakat di antara kedua kata tersebut; demikian pula memanjangkan alif di antara Lam dan Ha sampai batas yang tidak pernah dipandang sah oleh seorang pun dari para ahli qiraah. Dan tidak merusak (salat) jika berhenti sejenak secara singkat di antara dua katanya.

ويجب إسماعه نفسه كسائر ركن قولي وسن جزم رائه ورفع كفيه بكشف حذو منكبيه

Wajib memperdengarkan takbir kepada dirinya sendiri sebagaimana rukun qauli lainnya. Disunahkan menjazamkan (mewakafkan bunyi) huruf Ra-nya serta mengangkat kedua telapak tangannya dalam keadaan terbuka sejajar dengan kedua bahunya.

وهي سكتة التنفس ولا ضم الراء.

Yaitu jeda sejenak untuk bernapas, dan bukan membaca dhammah pada huruf ra'.

فرع لو كبر مرات ناويا الافتتاح بكل: دخل فيها بالوتر وخرج منها بالشفع لأنه لما دخل بالأولى خرج بالثانية لان نية الافتتاح بها متضمنة لقطع الأولى وهكذا فإن لم ينو ذلك ولا تخلل مبطل كإعادة لفظ النية فما بعد الأولى ذكر لا يؤثر.

Cabang masalah: Jika seseorang bertakbir beberapa kali dengan niat membuka salat pada setiap takbirnya, maka ia masuk ke dalam salat pada takbir yang ganjil dan keluar darinya pada takbir yang genap. Sebab ketika ia masuk pada takbir pertama, ia keluar pada takbir kedua, karena niat membuka salat dengannya mengandung pemutusan salat yang pertama, demikian seterusnya. Jika ia tidak berniat demikian dan tidak diselingi oleh hal yang membatalkan (seperti mengulang lafaz niat), maka takbir setelah takbir pertama dianggap sebagai zikir yang tidak membatalkan salat.

ويجب إسماعه أي التكبير نفسه إن كان صحيح السمع ولا عارض من نحو لغط.

Wajib memperdengarkan takbir itu kepada dirinya sendiri jika pendengarannya sehat dan tidak ada penghalang seperti kegaduhan.

كسائر ركن قولي من الفاتحة والتشهد والسلام ويعتبر إسماع المندوب القولي لحصول السنة.

Sebagaimana seluruh rukun qauli lainnya seperti Al-Fatihah, tasyahhud, dan salam. Dan disyaratkan memperdengarkan amalan sunnah qauli (kepada diri sendiri) untuk memperoleh kesunnahannya.

وسن جزم رائه أي التكبير خروجا من خلاف من أوجبه.

Disunnahkan mematikan (mensekunkan) huruf ra' pada takbir demi keluar dari perbedaan pendapat ulama yang mewajibkannya.

وجهر به لإمام كسائر تكبيرات الانتقالات.

Disunnahkan bagi seorang imam menyaringkan suaranya saat bertakbir, sebagaimana pada seluruh takbir intiqal (perpindahan).

ورفع كفيه أو إحداهما إن تعسر رفع الأخرى.

Dan disunnahkan mengangkat kedua telapak tangannya atau salah satunya jika sulit mengangkat yang lain.

بكشف أي مع كشفهما ويكره خلافه ومع تفريق أصابعهما تفريقا وسطا.

Dengan membuka (tanpa tertutup kain), dan makruh hukumnya jika sebaliknya, serta merenggangkan jari-jarinya dengan kerenggangan yang sedang.

حذو أي مقابل منكبيه بحيث يحاذي أطراف أصابعه أعلى

Sejajar, yaitu berhadapan dengan kedua pundaknya, sekira ujung-ujung jarinya sejajar dengan bagian atas…

مع تحرم وركوع ورفع منه ومن تشهد أول ووضعهما تحت صدره آخذا بيمينه يساره.

…bersamaan dengan takbiratul ihram, ruku', bangkit dari ruku', dan bangkit dari tasyahhud awal, serta meletakkan keduanya di bawah dadanya dengan memegang tangan kirinya menggunakan tangan kanannya.

٣- وقيام قادر في فرض.

3- Berdiri bagi yang mampu dalam salat fardu.

أذنيه وإبهاماه شحمتي أذنيه وراحتاه منكبيه للاتباع وهذه الكيفية تسن مع جميع تكبير تحرم بأن يقرنه به ابتداء وينهيهما معا ومع ركوع للاتباع الوارد من طرق كثيرة ورفع منه أي من الركوع ورفع من تشهد أول للاتباع فيهما.

…kedua telinganya, kedua ibu jarinya sejajar dengan cuping telinganya, dan kedua telapak tangannya sejajar dengan kedua pundaknya karena mengikut sunnah Nabi (ittiba'). Tata cara ini disunnahkan pada setiap takbiratul ihram dengan cara menyertakan angkatan tangan sejak awal takbir dan mengakhirinya bersama-sama; juga saat ruku' karena ittiba' yang diriwayatkan dari banyak jalur; serta saat bangkit dari ruku' dan bangkit dari tasyahhud awal karena ittiba' pada keduanya.

ووضعهما تحت صدره وفوق سرته للاتباع آخذا بيمينه كوع يساره وردهما من الرفع إلى تحت الصدر أولى من إرسالهما بالكلية ثم استئناف رفعهما إلى تحت الصدر.

Dan meletakkan keduanya di bawah dadanya dan di atas pusarnya karena ittiba', dengan tangan kanannya memegang pergelangan tangan kirinya. Mengembalikan kedua tangan dari posisi mengangkat ke bawah dada adalah lebih utama daripada meluruskannya ke bawah sama sekali kemudian baru meletakkannya kembali ke bawah dada.

قال المتولي واعتمده غيره: ينبغي أن ينظر قبل الرفع والتكبير إلى موضع سجوده ويطرق رأسه قليلا ثم يرفع.

Al-Mutawalli berkata, dan ini dipedomani oleh ulama lainnya: Hendaknya seseorang sebelum mengangkat tangan dan bertakbir memandang ke tempat sujudnya dan menundukkan kepalanya sedikit, kemudian baru mengangkat tangan.

٣- وثالثها: قيام قادر عليه بنفسه أو بغيره في فرض ولو منذورا أو معادا.

3- Yang ketiga: Berdiri bagi orang yang mampu melakukan secara mandiri atau dengan bantuan orang lain dalam salat fardu, meskipun salat nazar atau salat yang diulang (mu'ad).

ويحصل القيام بنصب فقار ظهره أي عظامه التي هي مفاصله ولو باستناد إلى شيء بحيث لو زال لسقط.

Berdiri dianggap terpenuhi dengan menegakkan tulang-tulang punggungnya, yaitu tulang-tulang persendiannya, meskipun dengan bersandar pada sesuatu yang sekiranya jika sandaran itu diambil maka ia akan jatuh.

ويكره الاستناد لا بانحناء إن كان أقرب إلى أقل الركوع إن لم يعجز عن تمام الانتصاب.

Dan makruh hukumnya bersandar. Dan tidak sah jika membungkuk sekira lebih dekat kepada batas minimal ruku', apabila ia tidak memiliki uzur untuk tegak sempurna.

ولعاجز شق عليه قيام صلاة قاعدا

Bagi orang yang tidak mampu yang merasa berat untuk berdiri, ia boleh melakukan salat dengan duduk.

ولعاجز شق عليه قيام بأن لحقه به مشقة شديدة بحيث لا تحتمل عادة.

Dan bagi orang yang lemah (tidak mampu) yang merasa berat untuk berdiri, yaitu dengan tertimpa kesusahan yang sangat berat hingga secara kebiasaan tidak dapat ditanggung.

وضبطها الإمام بأن تكون بحيث يذهب معها خشوعه.

Dan Al-Imam (Al-Haramain) membatasi kesusahan tersebut dengan keadaan sekira kekhusyukannya menjadi hilang bersamanya.

صلاة قاعدا كراكب سفينة خاف نحو دوران رأس إن قام وسلس لا يستمسك حدثه إلا بالقعود.

Boleh baginya shalat secara duduk, seperti penumpang kapal yang khawatir pusing kepala jika berdiri, dan orang yang menderita beser (salas) yang hadasnya tidak dapat tertahan kecuali dengan duduk.

وينحني القاعد للركوع بحيث تحاذي جبهته ما قدام ركبتيه.

Orang yang duduk hendaknya membungkuk untuk rukuk sekira dahinya sejajar dengan tempat di depan kedua lututnya.

فرع قال شيخنا: يجوز لمريض أمكنه القيام بلا مشقة لو انفرد لا إن صلى في جماعة إلا مع جلوس في بعضها الصلاة معهم مع الجلوس في بعضها وإن كان الأفضل الانفراد وكذا إذا قرأ الفاتحة فقط لم يقعد أو والسورة قعد فيها جاز له قراءتها مع القعود وإن كان الأفضل تركها. انتهى.

Cabang Masalah: Guru kami (Ibn Hajar Al-Haitami) berkata: Boleh bagi orang sakit yang mampu berdiri tanpa kesusahan jika shalat sendirian—tetapi tidak mampu jika shalat berjamaah kecuali dengan duduk pada sebagian shalatnya—untuk shalat bersama mereka dengan duduk di sebagian shalatnya, meskipun yang lebih utama adalah shalat sendirian. Demikian pula jika ia hanya membaca Al-Fatihah saja ia tidak duduk, tetapi jika membaca Al-Fatihah beserta surah ia duduk di dalamnya, maka boleh baginya membacanya (surah) dengan duduk, meskipun yang lebih utama adalah meninggalkannya (meninggalkan surah agar bisa tetap berdiri). Selesai.

والأفضل للقاعد الافتراش ثم التربع ثم التورك فإن عجز عن الصلاة قاعدا صلى مضطجعا على جنبه مستقبلا للقبلة بوجهه ومقدم بدنه.

Yang lebih utama bagi orang yang shalat duduk adalah duduk iftirasy, kemudian tarabbu' (bersila), kemudian tawarruk. Jika ia tidak mampu shalat secara duduk, maka ia shalat secara berbaring miring di atas lambungnya dengan menghadap kiblat menggunakan wajah dan bagian depan tubuhnya.

ويكره على الجنب الأيسر بلا عذر. فمستلقيا على ظهره وأخمصاه إلى القبلة ويجب أن يضع تحت رأسه نحو مخدة ليستقبل بوجهه القبلة وأن يومئ إلى صوب القبلة راكعا وساجدا وبالسجود أخفض

Dan dimakruhkan berbaring di atas lambung kiri tanpa uzur. Jika tidak mampu, maka ia berbaring telentang di atas punggungnya dengan kedua telapak kakinya menghadap ke arah kiblat, dan wajib menaruh sejenis bantal di bawah kepalanya agar wajahnya menghadap kiblat, serta mengisyaratkan ke arah kiblat saat rukuk dan sujud, dan untuk sujud isyaratnya lebih rendah…

كمتنفل.

…seperti orang yang shalat sunnah.

٤- وقراءة فاتحة كل ركعة إلا ركعة مسبوق

4. Dan membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat, kecuali rakaat seorang masbuk.

من الإيماء إلى الركوع إن عجز عنهما فإن عجز عن الإيماء برأسه أومأ بأجفانه فإن عجز أجرى أفعال الصلاة على قلبه فلا تسقط عنه الصلاة ما دام عقله ثابتا.

…daripada isyarat untuk rukuk jika ia tidak mampu melakukan keduanya (rukuk dan sujud secara sempurna). Jika ia tidak mampu berisyarat dengan kepalanya, ia berisyarat dengan kelopak matanya. Jika ia tidak mampu, maka ia menjalankan perbuatan-perbuatan shalat di dalam hatinya. Maka shalat tidak gugur darinya selama akalnya masih berfungsi.

وإنما أخروا القيام عن سابقيه مع تقدمه عليهما لأنهما ركنان حتى في النفل وهو ركن في الفريضة فقط.

Hanya saja para ulama mengakhirkan pembahasan berdiri dari dua rukun sebelumnya (niat dan takbiratul ihram) padahal berdiri mendahului keduanya, karena kedua rukun tersebut merupakan rukun bahkan dalam shalat sunnah, sedangkan berdiri hanya merupakan rukun dalam shalat fardhu saja.

كمتنفل فيجوز له أن يصلي النفل قاعدا ومضطجعا مع القدرة على القيام أو القعود. ويلزم المضطجع القعود للركوع والسجود أما مستلقيا فلا يصح مع إمكان الاضطجاع.

Seperti orang yang shalat sunnah, maka boleh baginya shalat sunnah secara duduk atau berbaring miring meskipun mampu berdiri atau duduk. Orang yang berbaring miring wajib duduk untuk rukuk dan sujud. Adapun shalat telentang, maka tidak sah jika masih memungkinkan untuk berbaring miring.

وفي المجموع: إطالة القيام أفضل من تكثير الركعات.

Dalam al-Majmu': Memperlama berdiri lebih utama daripada memperbanyak rakaat.

وفي الروضة: تطويل السجود أفضل من تطويل الركوع.

Dalam ar-Raudhah: Memperlama sujud lebih utama daripada memperlama rukuk.

ورابعها: قراءة فاتحة كل ركعة في قيامها لخبر الشيخين:

Dan yang keempat (dari rukun-rukun shalat): Membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat saat berdirinya, berdasarkan hadis Asy-Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim):

"لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب". [البخاري رقم: ٧٥٦, مسلم رقم: ٣٩٤] أي: في كل ركعة.

"Tidak ada shalat (yang sah) bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah)." [Al-Bukhari No. 756, Muslim No. 394], maksudnya: pada setiap rakaat.

إلا ركعة مسبوق فلا تجب عليه فيها حيث لم يدرك زمنا يسع الفاتحة من قيام الإمام ولو في كل الركعات لسبقه في الأولى وتخلف المأموم عنه بزحمة أو نسيان أو بطء حركة فلم يقم من السجود في كل

Kecuali rakaat seorang masbuk, maka Al-Fatihah tidak wajib baginya pada rakaat tersebut apabila ia tidak mendapati waktu yang cukup untuk membaca Al-Fatihah dari berdirinya imam, meskipun terjadi pada semua rakaat disebabkan imam mendahuluinya pada rakaat pertama dan makmum tertinggal darinya karena desakan, lupa, atau gerakan yang lambat sehingga ia tidak dapat berdiri dari sujud pada setiap…

مع بسملة وتشديدات ورعاية حروف ومخارجها

…beserta basmalah, tasydid-tasydid, serta menjaga huruf-huruf dan makhraj-makhrajnya.

مما بعدها إلا والإمام راكع فيتحمل الإمام المتطهر في غير الركعة الزائدة الفاتحة أو بقيتها عنه.

…dari rakaat setelahnya, kecuali dalam keadaan imam sedang rukuk, maka imam yang suci menanggung bacaan Al-Fatihah atau sisa bacaannya dari makmum tersebut, selain pada rakaat tambahan.

ولو تأخر مسبوق لم يشتغل بسنة لإتمام الفاتحة فلم يدرك الإمام إلا وهو معتدل لغت ركعته.

Jika seorang makmum masbuk yang tidak disibukkan dengan amalan sunnah terlambat untuk menyempurnakan Al-Fatihah, lalu ia tidak mendapati imam kecuali dalam keadaan i'tidal, maka rakaatnya menjadi batal (tidak dihitung).

مع بسملة أي مع قراءة البسملة فإنها آية منها لأنه ص قرأها ثم الفاتحة وعدها آية منها وكذا من كل سورة غير براءة ومع تشديدات فيها وهي أربع عشرة لان الحرف المشدد بحرفين فإذا خفف بطل منها حرف.

Beserta basmalah, yaitu dengan membaca basmalah, karena basmalah merupakan satu ayat darinya. Hal ini karena Rasulullah SAW membacanya kemudian membaca Al-Fatihah dan menghitungnya sebagai satu ayat darinya, demikian pula pada setiap surah selain surah Bara'ah (At-Taubah). Serta memperhatikan tasydid-tasydid di dalamnya, yaitu ada empat belas tasydid, karena huruf yang bertasydid bernilai dua huruf, sehingga jika diringankan (tanpa tasydid), gugurlah satu huruf darinya.

ومع رعاية حروف فيها وهي على قراءة ملك بلا ألف مائة وواحد وأربعون حرفا وهي مع تشديداتها مائة وخمسة وخمسون حرفا.

Dan beserta menjaga huruf-huruf di dalamnya, yang menurut qiraah 'Maliki' (tanpa alif) berjumlah seratus empat puluh satu huruf, dan jika beserta tasydid-tasydidnya berjumlah seratus lima puluh lima huruf.

ومخارجها أي: الحروف كمخرج ضاد وغيرها فلو أبدل قادر أو من أمكنه التعلم حرفا بآخر ولو ضادا بظاء أو لحن لحنا يغير المعنى ككسر تاء ﴿أَنْعَمْتَ﴾ أو ضمها وكسر كاف ﴿إِيَّاكَ﴾ لا ضمها فإن تعمد ذلك وعلم تحريمه بطلت صلاته وإلا فقراءته نعم إن أعاده الصواب قبل طول الفصل كمل عليها.

Dan menjaga makhraj-makhraj hurufnya, seperti makhraj dhad dan lainnya. Jika orang yang mampu atau orang yang memungkinkan baginya untuk belajar mengganti suatu huruf dengan huruf lain—meskipun mengganti dhad dengan zha'—atau melakukan kesalahan bacaan (lahn) yang mengubah makna seperti mengkasrahkan ta pada ﴿أَنْعَمْتَ﴾ atau mem-dhammah-kannya, serta mengkasrahkan kaf pada ﴿إِيَّاكَ﴾ (bukan mem-dhammah-kannya), maka jika ia sengaja melakukan hal itu dan mengetahui keharamannya, batal shalatnya. Jika tidak sengaja, maka yang batal hanyalah bacaannya. Namun jika ia mengulangnya dengan benar sebelum jeda yang lama, ia dapat melanjutkan bacaannya.

أما عاجز لم يمكنه التعلم فلا تبطل قراءته مطلقا وكذا لاحن لحنا لا يغير المعنى كفتح دال ﴿نَعْبُدُ﴾ لكنه إن تعمد حرم وإلا كره.

Adapun orang yang tidak mampu dan tidak memungkinkan baginya untuk belajar, maka bacaannya tidak batal secara mutlak. Demikian pula orang yang melakukan kesalahan bacaan yang tidak mengubah makna, seperti men-fathah-kan dal pada ﴿نَعْبُدُ﴾; akan tetapi jika ia sengaja, hukumnya haram, dan jika tidak sengaja, hukumnya makruh.

ووقع خلاف بين المتقدمين والمتأخرين في الهمد لله بالهاء,

Dan telah terjadi perbedaan pendapat antara ulama mutaqaddimin dan muta'akhirin mengenai ucapan 'Al-Hamdu lillah' menggunakan huruf ha (الهمد لله),

وموالاة فيعيد بتخلل ذكر أجنبي لا بتأمين وسجود ودعاء لقراءة إمامه

Dan (wajib menjaga) muwalah, sehingga ia harus mengulang bacaannya jika diselingi zikir asing, bukan karena bacaan amin, sujud, dan doa karena bacaan imamnya.

وفي النطق بالقاف المترددة بينها وبين الكاف وجزم شيخنا في شرح المنهاج بالبطلان فيهما إلا إن تعذر عليه التعلم قبل خروج الوقت لكن جزم بالصحة في الثانية شيخه زكريا وفي الأولى القاضي وابن الرفعة.

Dan mengenai pengucapan huruf qaf yang samar antara qaf dan kaf. Gurunya kami (Ibn Hajar) menetapkan secara pasti dalam Syarah Al-Minhaj akan batalnya (shalat/bacaan) pada kedua masalah tersebut, kecuali jika ia tidak memungkinkan untuk belajar sebelum habisnya waktu. Akan tetapi guru beliau (Zakariya Al-Ansari) menetapkan keabsahan pada masalah kedua, sedangkan pada masalah pertama ditetapkan sah oleh Al-Qadhi dan Ibn Al-Rif'ah.

ولو خفف قادر أو عاجز مقصر مشددا كأن قرأ ﴿أل رحمن﴾ بفك الإدغام بطلت صلاته إن تعمد وعلم وإلا فقراءته لتلك الكلمة ولو خفف ﴿إِيَّاكَ﴾ عامدا عالما معناه كفر لأنه ضوء الشمس وإلا سجد للسهو.

Jika orang yang mampu atau orang tidak mampu yang lalai (dalam belajar) meringankan huruf yang bertasydid, seperti membaca ﴿أل رحمن﴾ dengan melepaskan idgham, maka batal shalatnya jika ia sengaja dan tahu. Jika tidak, maka yang batal hanya bacaan pada kata tersebut. Dan jika ia meringankan tasydid pada ﴿إِيَّاكَ﴾ secara sengaja serta mengetahui maknanya, maka ia telah kafir karena maknanya berubah menjadi 'cahaya matahari'; jika tidak (tidak tahu/tidak sengaja), ia melakukan sujud sahwi.

ولو شدد مخففا صح ويحرم تعمده كوقفة لطيفة بين السين والتاء من ﴿نَسْتَعِينُ﴾ .

Jika ia men-tasydid-kan huruf yang seharusnya ringan (tanpa tasydid), maka shalatnya tetap sah, namun haram jika disengaja, sebagaimana berhenti sejenak (saktah) antara huruf sin dan ta pada lafaz ﴿نَسْتَعِينُ﴾.

ومع رعاية موالاة فيها بأن يأتي بكلماتها على الولاء بأن لا يفصل بين شيء منها وما بعده بأكثر من سكتة التنفس أو العي.

Dan beserta memperhatikan muwalah (kesinambungan) di dalamnya, yaitu dengan mendatangkan kata-katanya secara berturut-turut tanpa memisahkan antara suatu bagian dan bagian setelahnya lebih dari sekadar jeda bernapas atau karena terhenti/kesulitan bicara.

فيعيد قراءة الفاتحة بتخلل ذكر أجنبي لا يتعلق بالصلاة فيها وإن قل كبعض آية من غيرها وكحمد عاطس وإن سن فيها كخارجها لإشعاره بالإعراض.

Maka ia wajib mengulang bacaan Al-Fatihah disebabkan diselingi zikir asing yang tidak berkaitan dengan shalat di dalamnya, meskipun hanya sedikit, seperti sebagian ayat dari surah lain, atau menguncapkan hamdalah bagi orang yang bersin, meskipun hal itu disunnahkan dalam shalat sebagaimana di luar shalat, karena hal itu mengindikasikan berpaling dari Fatihah.

ولا يعيد الفاتحة ب تخلل ما له تعلق بالصلاة ك تأمين وسجود لتلاوة إمامه معه ودعاء من سؤال رحمة واستعاذة من عذاب وقول: بلى وأنا على ذلك من الشاهدين.

Dan ia tidak perlu mengulang Al-Fatihah disebabkan diselingi hal yang berkaitan dengan shalat, seperti mengucapkan amin, sujud tilawah bersama imamnya, serta berdoa memohon rahmat, memohon perlindungan dari azab, dan ucapan: 'Bala wa ana 'ala dzalika minasy syahidin'.

لقراءة إمامه الفاتحة أو آية السجدة أو الآية التي يسن فيها ما ذكر لكل

karena bacaan Al-Fatihah oleh imamnya, atau ayat sajdah, atau ayat yang disunnahkan padanya hal-hal yang telah disebutkan tadi bagi setiap…

وبفتح عليه وسكوت طال بلا عذر ولا أثر لشك في ترك حرف بعد تمامها

…dan karena membetulkan bacaan imam (fath 'alaih), serta diam yang lama tanpa uzur. Dan tidak ada pengaruh bagi keraguan dalam meninggalkan satu huruf setelah selesainya (bacaan Al-Fatihah).

من القارئ والسامع مأموما أو غيره في صلاة وخارجها.

baik bagi pembaca maupun pendengar, sebagai makmum atau selainnya, di dalam shalat maupun di luar shalat.

فلو قرأ المصلي آية أو سمع آية فيها اسم محمد ص لم تندب الصلاة عليه كما أفتى به النووي.

Jika orang yang shalat membaca suatu ayat atau mendengar ayat yang di dalamnya terdapat nama Nabi Muhammad SAW, maka tidak disunnahkan baginya bershalawat atas beliau, sebagaimana yang difatwakan oleh an-Nawawi.

ولا بفتح عليه أي الإمام إذا توقف فيها بقصد القراءة ولو مع الفتح ومحله كما قال شيخنا إن سكت وإلا قطع الموالاة.

Dan tidak memutus mualah (kemenerusan) dengan membimbing bacaan (fath) imam—yaitu jika imam terhenti pada ayat tersebut—apabila dimaksudkan untuk membaca Al-Qur'an walaupun beserta niat membimbing bacaan. Tempat kebolehannya, sebagaimana dikatakan oleh guru kami, adalah jika imam itu diam; jika tidak (imam tidak diam), maka hal tersebut memutus mualah.

وتقديم نحو سبحان الله قبل الفتح يقطعها على الأوجه لأنه حينئذ بمعنى تنبه.

Dan mendahulukan ucapan seumpama 'Subhanallah' sebelum membimbing bacaan (fath) memutus mualah menurut pendapat yang paling kuat (al-awjah), karena pada saat itu ucapan tersebut bermakna memperingatkan.

ويعيد الفاتحة بتخلل سكوت طال فيها بحيث زاد على سكتة الاستراحة بلا عذر فيهما من جهل وسهو.

Dan ia wajib mengulangi Al-Fatihah dari awal karena diselingi diam yang lama di dalamnya sekira melebihi diam sejenak untuk istirahat, tanpa adanya uzur dalam kedua hal tersebut berupa kebodohan atau kelupaan.

فلو كان تخلل الذكر الأجنبي أو السكوت الطويل سهوا أو جهلا أو كان السكوت لتذكر آية لم يضر كما لو كرر آية منها في محلها ولو لغير عذر أو عاد إلى ما قرأه قبل واستمر على الأوجه.

Maka jika diselingi zikir asing atau diam yang lama itu terjadi karena lupa atau tidak tahu, atau diamnya untuk mengingat suatu ayat, maka hal itu tidak memudaratkan. Demikian pula jika ia mengulang suatu ayat darinya di tempatnya meskipun tanpa uzur, atau ia kembali ke ayat yang telah dibacanya sebelumnya lalu meneruskannya, menurut pendapat yang paling kuat.

فرع لو شك في أثناء الفاتحة هل بسمل فأتمها ثم ذكر أنه بسمل أعاد كلها على الأوجه.

Cabang masalah: Jika seseorang ragu di tengah-tengah Al-Fatihah apakah ia sudah membaca basmalah, lalu ia menyempurnakannya kemudian ia teringat bahwa ia telah membaca basmalah, maka ia wajib mengulanginya seluruhnya dari awal menurut pendapat yang paling kuat.

ولا أثر لشك في ترك حرف فأكثر من الفاتحة أو آية فأكثر منها بعد تمامها أي الفاتحة لان الظاهر حينئذ مضيها تامة.

Dan tidak ada pengaruh (dampak) bagi keraguan mengenai meninggalkan satu huruf atau lebih dari Al-Fatihah, atau satu ayat atau lebih darinya setelah selesainya Al-Fatihah tersebut, karena keadaan lahiriah pada saat itu menunjukkan Al-Fatihah telah berlalu secara sempurna.

واستأنف قبله وسن بعد تحرم افتتاح ما لم يشرع

Dan ia wajib mengulanginya dari awal sebelum selesainya. Dan disunnahkan setelah takbiratul ihram membaca doa iftitah selama belum memulai…

واستأنف وجوبا إن شك فيه قبله أي التمام كما لو شك هل قرأها أو لا؟ لان الأصل عدم قراءتها.

(Dan ia mengulanginya dari awal) secara wajib jika ia ragu padanya sebelum selesainya (Al-Fatihah); sebagaimana jika ia ragu apakah ia sudah membacanya atau belum, karena hukum asalnya adalah belum membacanya.

وكالفاتحة في ذلك سائر الأركان فلو شك في أصل السجود مثلا أتى به أو بعده في نحو وضع اليد لم يلزمه شيء ولو قرأها غافلا ففطن عند ﴿صِرَاطَ الَّذِينَ﴾ ولم يتيقن قراءتها لزمه استئنافها.

Dan sama seperti Al-Fatihah dalam hal tersebut adalah seluruh rukun lainnya. Maka jika ia ragu pada asal sujud misalnya, ia wajib melakukannya; atau ragu setelahnya dalam hal seperti meletakkan tangan, maka tidak ada kewajiban apa-apa baginya. Dan jika ia membaca Al-Fatihah dalam keadaan lalai lalu tersadar pada kalimat ﴿صِرَاطَ الَّذِينَ﴾ dan tidak meyakini telah membacanya, maka ia wajib mengulanginya dari awal.

ويجب الترتيب في الفاتحة بأن يأتي بها على نظمها المعروف لا في التشهد ما لم يخل بالمعنى.

Dan wajib tertib (berurutan) dalam membaca Al-Fatihah dengan membacanya sesuai susunannya yang dikenal, tidak demikian dalam tasyahhud selama tidak merusak makna.

لكن يشترط فيه رعاية تشديدات وموالاة كالفاتحة.

Akan tetapi disyaratkan dalam tasyahhud menjaga tasydid-tasydid dan mualah (kemenerusan) seperti halnya Al-Fatihah.

ومن جهل جميع الفاتحة ولم يمكنه تعلمها قبل ضيق الوقت ولا قراءتها في نحو مصحف لزمه قراءة سبع آيات ولو متفرقة لا ينقض حروفها عن حروف الفاتحة وهي بالبسملة بالتشديدات مائة وستة وخمسون حرفا بإثبات ألف ﴿مَالِكِ﴾ ولو قدر على بعض الفاتحة كرره ليبلغ قدرها وإن لم يقدر على بدل فسبعة أنواع من ذكر كذلك فوقوف بقدرها.

Barang siapa tidak tahu seluruh Al-Fatihah dan tidak memungkinkan baginya untuk mempelajarinya sebelum habisnya waktu shalat, serta tidak memungkinkan membacanya dari mushaf atau sejenisnya, maka ia wajib membaca tujuh ayat meskipun terpisah-pisah yang jumlah hurufnya tidak kurang dari jumlah huruf Al-Fatihah, yaitu beserta basmalah dan tasydid-tasydidnya berjumlah seratus lima puluh enam huruf dengan menetapkan alif pada ﴿مَالِكِ﴾. Jika ia hanya mampu membaca sebagian Al-Fatihah, ia mengulangnya agar mencapai kadar jumlahnya. Dan jika ia tidak mampu membaca pengganti, maka ia membaca tujuh macam zikir yang sepadan, dan jika tidak mampu juga, ia berdiri diam seukuran durasi membaca Al-Fatihah.

وسن وقيل: يجب بعد تحرم بفرض أو نفل ما عدا صلاة جنازة.

Dan disunnahkan—menurut satu pendapat: diwajibkan—setelah takbiratul ihram dalam shalat fardhu maupun sunnah selain shalat jenazah,

افتتاح أي دعاؤه سرا إن أمن فوت الوقت وغلب على ظن المأموم إدراك ركوع الإمام.

membaca doa iftitah secara pelan (sirr) jika merasa aman dari habisnya waktu shalat, dan terdapat dugaan kuat bagi makmum bahwa ia dapat mendapati ruku'nya imam.

ما لم يشرع في تعوذ أو قراءة ولو سهوا.

selama ia belum mulai membaca ta'awwudz atau bacaan Al-Qur'an meskipun karena lupa.

أو يجلس مأموم وإن خاف فوت سورة فتعوذ كل ركعة,

atau makmum tersebut langsung duduk (bersama imam), meskipun ia khawatir ketinggalan membaca surah. Kemudian disunnahkan membaca ta'awwudz pada setiap rakaat,

أو يجلس مأموم مع إمامه وإن أمن مع تأمينه.

atau makmum duduk bersama imamnya, meskipun ia merasa aman beserta ucapan aminnya.

وإن خاف أي المأموم.

Dan sekalipun ia, yaitu makmum, khawatir…

فوت سورة حيث تسن له كما ذكر شيخنا في شرح العباب وقال: لان إدراك الافتتاح محقق وفوات السورة موهوم وقد لا يقع.

…ketinggalan membaca surah pada kondisi yang disunnahkan baginya, sebagaimana disebutkan oleh guru kami dalam Syarh al-Ubab. Beliau berkata: Karena mendapati bacaan pembuka (iftitah) itu sudah pasti, sedangkan luputnya surah itu masih dugaan yang belum tentu terjadi.

وورد فيه أدعية كثيرة وأفضلها ما رواه مسلم وهي: وجهت وجهي أي ذاتي للذي فطر السموات والأرض حنيفا أي مائلا عن الأديان إلى الدين الحق مسلما وما أنا من المشركين إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت وأنا من المسلمين.

Dan telah diriwayatkan banyak doa tentang hal ini (iftitah), dan yang paling utama adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim, yaitu: "Wajjahtu wajhiya" (Aku hadapkan wajahku/diriku) kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung (kepada agama yang benar) yaitu berpaling dari berbagai agama menuju agama yang hak, serta berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

ويسن لمأموم يسمع قراءة إمامه الإسراع به ويزيد ندبا المنفرد وإمام محصورين غير أرقاء ولا نساء متزوجات رضوا بالتطويل لفظا ولم يطرأ غيرهم وإن قل حضوره ولم يكن المسجد مطروقا ما ورد في دعاء الافتتاح ومنه ما رواه الشيخان: [البخاري رقم: ٧٤٤, ومسلم رقم: ٥٩٨] : "اللهم باعد بيني وبين خطاياي كما باعدت بين المشرق والمغرب اللهم نقني من خطاياي كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس اللهم اغسلني من خطاياي كما يغسل الثوب بالماء والثلج والبرد".

Disunnahkan bagi makmum yang mendengar bacaan imamnya untuk mempercepat (doa iftitah)-nya. Dan disunnahkan menambah bagi munfarid (shalat sendiri) dan imam bagi jamaah terbatas (bukan budak dan bukan wanita bersuami) yang meredhai pemanjangan shalat secara lisan, serta tidak ada orang lain yang menyusul meskipun sedikit kehadirannya dan masjid tersebut bukan masjid umum/yang sering dilalui, dengan doa-doa yang diriwayatkan dalam doa iftitah, di antaranya apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim: [Al-Bukhari no. 744, dan Muslim no. 598]: "Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju disucikan dengan air, salju, dan embun".

ف بعد افتتاح وتكبير صلاة عيد إن أتى بهما يسن تعوذ ولو في صلاة الجنازة سرا ولو في الجهرية.

Maka setelah doa iftitah dan takbir shalat Id—jika ia melakukannya—disunnahkan membaca ta'awwudz, meskipun dalam shalat jenazah, secara pelan (sirr) meskipun dalam shalat yang bacaannya keras (jahriyyah).

وإن جلس مع إمامه كل ركعة ما لم

Dan sekalipun ia duduk bersama imamnya pada setiap rakaat, selama…

ووقف على رأس كل آية منها وتأمين عقبها ومع إمامه إن سمع,

…dan berhenti pada setiap akhir ayat darinya, serta membaca ta'min (amin) setelahnya dan bersama imamnya jika ia mendengar,

يشرع في قراءة ولو سهوا وهو في الأولى آكد ويكره تركه.

…ia belum mulai membaca (Al-Fatihah) meskipun karena lupa. Dan ta'awwudz di rakaat pertama lebih ditekankan, serta makruh meninggalkannya.

ويسن وقف على رأس كل آية حتى على آخر البسملة خلافا لجمع منها أي من الفاتحة وإن تعلقت بما بعدها للاتباع والأولى أن لا يقف على ﴿أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ﴾ لأنه ليس بوقف ولا منتهى آية عندنا فإن وقف على هذا لم تسن الإعادة من أول الآية.

Disunnahkan berhenti di setiap akhir ayat, bahkan pada akhir basmalah—berbeda dengan pendapat segolongan ulama—dari Al-Fatihah, meskipun secara makna berkaitan dengan ayat berikutnya, karena mengikuti sunnah (ittiba'). Dan yang lebih utama adalah tidak berhenti pada ﴿أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ﴾ karena itu bukan tempat berhenti dan bukan akhir ayat menurut mazhab kami. Jika ia berhenti pada tempat ini, tidak disunnahkan mengulangi dari awal ayat.

ويسن تأمين أي قوله: آمين بالتخفيف والمد وحسن زيادة: ﴿رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ عقبها أي الفاتحة ولو خارج الصلاة بعد سكتة لطيفة ما لم يتلفظ بشيء سوى رب اغفر لي.

Disunnahkan membaca ta'min, yaitu ucapannya 'Amiin' dengan tanpa tasydid (takjfif) dan dibaca panjang (madd), serta dianjurkan menambah ﴿رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ setelahnya (setelah Al-Fatihah), meskipun di luar shalat, setelah diam sejenak (yang singkat), selama ia belum mengucapkan sesuatu selain 'Rabbi ghfir lii'.

ويسن الجهر به في الجهرية حتى للمأموم لقراءة إمام تبعا له.

Disunnahkan mengeraskan bacaannya (amin) pada shalat jahriyyah, bahkan bagi makmum atas bacaan imamnya, karena mengikutinya.

وسن لمأموم في الجهرية تأمين مع تأمين إمامه إن سمع قراءته لخبر الشيخين [البخاري رقم: ٧٨٠ ومسلم رقم: ٤١٠] : "إذا أمن الإمام" أي أراد التأمين فأمنوا فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه.

Dan disunnahkan bagi makmum dalam shalat jahriyyah membaca amin bersamaan dengan amin imamnya jika ia mendengar bacaannya, berdasarkan hadits al-Bukhari dan Muslim: [Al-Bukhari no. 780 dan Muslim no. 410]: "Apabila imam mengucapkan amin" —artinya hendak membaca amin— "maka ucapkanlah amin, karena barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu".

وليس لنا ما يسن فيه تحري مقارنة الإمام إلا هذا وإذا لم يتفق له موافقته أمن عقب تأمينه وإن أخر إمامه عن الزمن المسنون فيه التأمين أمن المأموم جهرا.

Tidak ada perkara dalam shalat bagi kita yang disunnahkan untuk berbarengan dengan imam kecuali hal ini. Jika ia tidak sempat bersamaan dengan imam, hendaklah ia membaca amin tepat setelah amin imamnya. Dan jika imamnya menunda amin dari waktu yang disunnahkan, maka makmum tetap membaca amin secara keras.

وآمين اسم فعل بمعنى استجب مبني على الفتح ويسكن عند الوقف.

Lafazh 'Amiin' adalah isim fi'il yang bermakna 'Kabulkanlah', di-mabni-kan atas harakat fathah dan di-sukun-kan ketika waqaf.

وسن آية بعدها,

Dan disunnahkan membaca satu ayat setelahnya,

فرع يسن للإمام أن يسكت في الجهرية بقدر قراءة المأموم الفاتحة إن علم أنه يقرؤها في سكتة كما

Cabang masalah: Disunnahkan bagi imam pada shalat jahriyyah untuk diam sejenak sekadar ukuran bacaan Al-Fatihah makmum jika ia mengetahui bahwa makmum mencukupi bacaannya dalam jeda diam tersebut, sebagaimana…

هو ظاهر وأن يشتغل في هذه السكتة بدعاء أو قراءة وهي أولى قال شيخنا: وحينئذ فيظهر أنه يراعي الترتيب والموالاة بينها وبين ما يقرؤه وبعدها.

…hal itu jelas, dan hendaknya imam mengisi jeda diam ini dengan doa atau membaca Al-Qur'an—dan ini lebih utama. Guru kami berkata: Dengan demikian, tampak jelas bahwa ia memperhatikan urutan (tartib) dan kesinambungan (muwalah) antara bacaan tersebut dengan apa yang dibaca sebelumnya dan sesudahnya.

فائدة: يسن سكتة لطيفة بقدر سبحان الله بين آمين والسورة وبين آخرها وتكبيرة الركوع وبين التحرم ودعاء الافتتاح وبينه وبين التعوذ وبينه وبين البسملة.

Faedah: Disunnahkan diam sejenak secara singkat seukuran ucapan 'Subhanallah' antara ucapan amin dan surah, antara akhir surah dan takbir ruku', antara takbiratul ihram dan doa iftitah, antara doa iftitah dan ta'awwudz, serta antara ta'awwudz dan basmalah.

وسن آية فأكثر والأولى ثلاث بعدها أي بعد الفاتحة ويسن لمن قرأها من أثناء سورة البسملة.

Dan disunnahkan membaca satu ayat atau lebih, dan yang lebih utama adalah tiga ayat setelahnya, yaitu setelah Al-Fatihah. Disunnahkan pula bagi orang yang membaca surat dari tengah-tengahnya untuk membaca basmalah.

نص عليه الشافعي.

Hal ini ditegaskan oleh Imam Asy-Syafi'i.

ويحصل أصل السنة بتكرير سورة واحدة في الركعتين وبإعادة الفاتحة إن لم يحفظ غيرها وبقراءة البسملة لا بقصد أنها التي هي أول الفاتحة وسورة كاملة حيث لم يرد البعض كما في التراويح أفضل من

Pokok sunnah ini dapat diperoleh dengan mengulang satu surat pada dua rakaat, mengulang Al-Fatihah jika tidak menghafal selainnya, dan membaca basmalah tanpa bermaksud bahwa itu adalah awal Al-Fatihah. Sebuah surat secara utuh—selama tidak ada dalil yang menunjukkan sebagian surat seperti dalam tarawih—adalah lebih utama daripada

بعض طويلة وإن طال ويكره تركها رعاية لمن أوجبها.

sebagian dari surat yang panjang meskipun panjang. Dan dimakruhkan meninggalkannya demi menjaga pendapat ulama yang mewajibkannya.

وخرج ببعدها ما لو قدمها عليها فلا تحسب بل يكره ذلك.

Dikecualikan dengan kata 'setelahnya' jika ia mendahulukannya (membaca surat) sebelum Al-Fatihah, maka hal itu tidak dihitung (sebagai sunnah), bahkan hukumnya makruh.

وينبغي أن لا يقرأ غير الفاتحة من يلحن فيه لحنا يغير المعنى وإن عجز عن التعلم لأنه يتكلم بما ليس بقرآن بلا ضرورة.

Seyogianya orang yang membaca dengan kesalahan yang mengubah makna tidak membaca selain Al-Fatihah, meskipun ia tidak mampu belajar, karena ia berucap dengan sesuatu yang bukan Al-Qur'an tanpa adanya darurat.

وفي الأوليين لغير مأموم سمع,

Dan pada dua rakaat pertama bagi selain makmum yang mendengar,

وترك السورة جائز ومقتضى كلام الإمام الحرمة١.

Meninggalkan surat hukumnya boleh, namun konsekuensi dari perkataan Al-Imam (Al-Haramain) adalah haram.

وتسن في الركعتين الأوليين من رباعية أو ثلاثية ولا تسن في الأخيرتين إلا لمسبوق بأن لم يدرك الأوليين مع إمامه فيقرؤها في باقي صلاته إذا تداركه ولم يكن قرأها فيما أدركه ما لم تسقط عنه لكونه مسبوقا

Disunnahkan membaca surat pada dua rakaat pertama dari shalat empat rakaat atau tiga rakaat, dan tidak disunnahkan pada dua rakaat terakhir kecuali bagi makmum masbuq, yaitu yang tidak mendapati dua rakaat pertama bersama imamnya, maka ia membacanya pada sisa shalatnya jika ia mendapatinya dan belum membacanya pada rakaat yang ia dapati, selama tidak gugur darinya karena ia masbuq

فيما أدركه لأن الإمام إذا تحمل عنه الفاتحة فالسورة أولى.

pada rakaat yang ia dapati, karena jika imam telah menanggung Al-Fatihah darinya, maka surat tentu lebih utama.

ويسن أن يطول قراءة الأولى على الثانية ما لم يرد نص بتطويل الثانية وأن يقرأ على ترتيب المصحف وعلى التوالي ما لم تكن التي تليها أطول ولو تعارض الترتيب وتطويل الأولى كأن قرأ الإخلاص فهل يقرأ الفلق نظرا للترتيب؟ أو الكوثر نظرا لتطويل الأولى؟ كل محتمل والأقرب الأول.

Disunnahkan memanjangkan bacaan rakaat pertama atas rakaat kedua selama tidak ada nash yang menentukan pemanjangan rakaat kedua, dan membaca sesuai urutan mushaf serta berurutan selama surat berikutnya tidak lebih panjang. Jika terjadi pertentangan antara menjaga urutan mushaf dan memanjangkan rakaat pertama—seperti ia membaca Al-Ikhlas (pada rakaat pertama), apakah ia membaca Al-Falaq karena mempertimbangkan urutan mushaf, atau Al-Kautsar karena mempertimbangkan memanjangkan rakaat pertama?—keduanya memungkinkan, namun yang lebih mendekati kebenaran adalah yang pertama.

قاله شيخنا في شرح المنهاج وإنما تسن قراءة الآية لإمام ومنفرد.

Demikian disampaikan oleh guru kami dalam Syarh Al-Minhaj. Dan bacaan ayat ini hanya disunnahkan bagi imam dan orang yang shalat sendirian.

ولغير مأموم سمع قراءة إمامه في الجهرية فتكره له وقيل: تحرم أما مأموم لم يسمعها أو سمع صوتا لا يميز حروفه فيقرأ سرا لكن يسن له كما في أوليي السرية تأخير فاتحته عن فاتحة إمامه إن ظن إدراكها قبل ركوعه وحينئذ يشتغل بالدعاء لا القراءة.

Dan bagi selain makmum yang mendengar bacaan imamnya dalam shalat jahriyyah, maka makruh baginya (membaca surat), dan ada pendapat yang mengatakan haram. Adapun makmum yang tidak mendengarnya atau mendengar suara tetapi tidak dapat membedakan huruf-hurufnya, maka ia membaca secara sirr (perlahan). Namun disunnahkan baginya—sebagaimana pada dua rakaat pertama shalat sirriyyah—mengakhirkan Al-Fatihah-nya setelah Al-Fatihah imamnya jika ia menduga akan mendapatinya sebelum rukuknya, dan pada saat itu ia disibukkan dengan berdoa, bukan membaca Al-Qur'an.

وقال المتولي وأقره ابن الرفعة: يكره الشروع فيها قبله ولو في السرقة للخلاف في الاعتداد بها حينئذ ولجريان قول بالبطلان إن فرغ

Al-Mutawalli berkata dan disetujui oleh Ibn Ar-Rif'ah: Dimakruhkan memulai bacaan Al-Fatihah sebelum imam meskipun dalam shalat sirriyyah karena adanya perbedaan pendapat mengenai keabsahan hitungannya pada saat itu, serta berlakunya satu pendapat yang menyatakan batalnya shalat jika ia selesai

وفي جمعة وعشائها الجمعة والمنافقون أو ﴿سَبِّحِ﴾ ٨٧ سورة الأعلى ﴿هَلْ أَتَاكَ﴾ [٨٨ سورة: الغاشية] وصبحها: ﴿الم تَنْزِيلُ﴾ [٣٢ سورة السجدة] و ﴿هَلْ أَتَى﴾ [٧٦ سورة الإنسان] ومغربها: الكافرون والإخلاص.

Dan pada shalat Jumat dan Isya-nya membaca surat Al-Jumu'ah dan Al-Munafiqun, atau ﴿سَبِّحِ﴾ [surat Al-A'la] dan ﴿هَلْ أَتَاكَ﴾ [surat Al-Ghasyiyah]. Pada Subuhnya: ﴿الم تَنْزِيلُ﴾ [surat As-Sajdah] dan ﴿هَلْ أَتَى﴾ [surat Al-Insan]. Dan pada Maghribnya: Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.

منها قبله.

darinya sebelum imam.

فرع يسن لمأموم فرغ من الفاتحة في الثالثة أو الرابعة أو من التشهد الأول قبل الإمام أن يشتغل بدعاء فيهما أو قراءة في الأولى وهي أولى.

Cabang masalah: Disunnahkan bagi makmum yang selesai dari membaca Al-Fatihah pada rakaat ketiga atau keempat, atau selesai dari tasyahhud awal sebelum imam, untuk menyibukkan diri dengan berdoa pada keduanya, atau membaca Al-Qur'an pada yang pertama (rakaat ketiga/keempat), dan membaca Al-Qur'an itu lebih utama.

ويسن للحاضر في صلاته جمعة وعشائها سورة الجمعة والمنافقون أو ﴿سَبِّحِ﴾ [٨٧ سورة الأعلى] ﴿وَهَلْ أَتَاكَ﴾ [٨٨ سورة الغاشية] وفي صبحها أي الجمعة إذا اتسع الوقت ﴿الم تَنْزِيلُ﴾ [٣٢ سورة السجدة] السجدة و ﴿هَلْ أَتَى﴾ [٧٦ سورة الإنسان] وفي مغربها الكافرون والإخلاص.

Disunnahkan bagi mukim dalam shalat Jumat dan Isya-nya membaca surat Al-Jumu'ah dan Al-Munafiqun, atau ﴿سَبِّحِ﴾ [surat Al-A'la] dan ﴿وَهَلْ أَتَاكَ﴾ [surat Al-Ghasyiyah]. Pada Subuhnya (hari Jumat) jika waktu masih lapang: ﴿الم تَنْزِيلُ﴾ [surat As-Sajdah] dan ﴿هَلْ أَتَى﴾ [surat Al-Insan]. Dan pada Maghribnya: Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.

ويسن قراءتهما في صبح الجمعة وغيرها للمسافر وفي ركعتي الفجر والمغرب والطواف والتحية والاستخارة والإحرام للاتباع في الكل.

Dan disunnahkan membaca keduanya pada shalat Subuh hari Jumat dan selainnya bagi musafir, serta pada dua rakaat Fajar, Maghrib, Tawaf, Tahiyyatul Masjid, Istikharah, dan Ihram karena mengikut sunnah (ittiba') pada semuanya.

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

……………………………..

فرع لو ترك إحدى المعينتين في الأولى أتى بهما في الثانية أو قرأ في الأولى ما في الثانية قرأ فيها ما في الأولى.

Cabang masalah: Jika seseorang meninggalkan salah satu dari dua surah yang ditentukan pada rakaat pertama, ia membacanya pada rakaat kedua. Atau jika ia membaca surah untuk rakaat kedua pada rakaat pertama, maka ia membaca surah untuk rakaat pertama pada rakaat kedua.

ولو شرع في غير السورة المعينة ولو سهوا قطعها وقرأ المعينة ندبا وعند ضيق وقت: سورتان قصيرتان أفضل من بعض الطويلتين المعينتين خلافا للفارقي ولو لم يحفظ إلا إحدى المعينتين قرأها ويبدل الأخرى بسورة حفظها وإن فاته الولاء. ولو اقتدى في ثانية صبح الجمعة مثلا وسمع قراءة الإمام ﴿هَلْ أَتَى﴾ [٧٦ سورة الإنسان] فيقرأ في ثانيته إذا قام بعد سلام الإمام الم تنزيل. [٣٢ سورة السجدة] كما أفتى به الكمال الرداد وتبعه شيخنا في فتاويه لكن قضية كلامه في شرح المنهاج أنه يقرأ في ثانيته إذا قام ﴿هَلْ أَتَى﴾ [٧٦ سورة الإنسان] وإذا قرأ الإمام غيرها قرأهما المأموم في ثانيته وإن أدرك الإمام في ركوع الثانية فكما لو لم يقرأ شيئا فيقرأ السجدة و ﴿هَلْ أَتَى﴾ [٧٦ سورة الإنسان] في ثانيته كما أفتى به شيخنا.

Dan sekiranya seseorang mulai membaca surah selain yang ditentukan meskipun karena lupa, disunnahkan baginya memotongnya dan membaca surah yang ditentukan. Ketika waktu sempit, dua surah pendek lebih utama daripada sebagian dari dua surah panjang yang ditentukan, berbeda dengan pendapat Al-Fariqi. Apabila seseorang tidak menghafal kecuali salah satu dari dua surah yang ditentukan, ia membacanya dan mengganti yang satunya lagi dengan surah yang dihafalnya meskipun urutannya menjadi terputus. Jika seseorang bermakmum pada rakaat kedua shalat Subuh hari Jumat misalnya, dan ia mendengar bacaan imam surah ﴿هَلْ أَتَى﴾ [QS. Al-Insan: 76], maka ia membaca surah Alif Lam Mim Tanzil [QS. As-Sajdah: 32] pada rakaat keduanya ketika berdiri setelah salamnya imam, sebagaimana difatwakan oleh Al-Kamal Al-Raddad dan diikuti oleh guru kami dalam Fatawa-nya. Namun konsekuensi dari perkataannya dalam Sharh Al-Minhaj adalah bahwa ia membaca ﴿هَلْ أَتَى﴾ [QS. Al-Insan: 76] pada rakaat keduanya ketika berdiri. Dan jika imam membaca surah lain, makmum membaca kedua surah tersebut pada rakaat keduanya. Jika ia mendapati imam pada ruku' rakaat kedua, maka hukumnya seperti imam tidak membaca apa pun, sehingga makmum membaca surah As-Sajdah dan ﴿هَلْ أَتَى﴾ [QS. Al-Insan: 76] pada rakaat keduanya sebagaimana difatwakan oleh guru kami.

تنبيه يسن الجهر بالقراءة لغير مأموم في صبح وأوليي العشاءين وجمعة وفيما يقضي بين غروب

Peringatan: Disunnahkan menyaringkan (menjaharkan) bacaan bagi selain makmum pada shalat Subuh, dua rakaat pertama dari dua shalat malam (Maghrib dan Isya), shalat Jumat, serta shalat yang diqadha di antara terbenamnya

الشمس وطلوعها وفي العيدين قال شيخنا: ولو قضاء والتراويح ووتر رمضان وخسوف القمر.

matahari dan terbitnya, dua shalat Hari Raya—guru kami berkata: meskipun qadha—shalat Tarawih, Witir di bulan Ramadhan, dan shalat gerhana bulan.

ويكره للمأموم الجهر للنهي عنه ولا يجهر مصل وغيره إن شوش على نحو نائم أو مصل فيكره.

Dan dimakruhkan bagi makmum menyaringkan bacaan karena adanya larangan atas hal itu. Seseorang yang shalat maupun selainnya tidak boleh menyaringkan suara jika hal itu mengganggu orang yang tidur atau orang yang shalat, sehingga hukumnya menjadi makruh.

كما في المجموع وبحث بعضهم المنع من الجهر بقرآن أو غيره بحضرة المصلي مطلقا لان المسجد

Sebagaimana dalam al-Majmu'. Sebagian ulama berpendapat melarang menyaringkan bacaan Al-Qur'an atau selainnya di hadapan orang yang shalat secara mutlak, karena masjid

وتكبير في كل خفض ورفع لا من ركوع ومده وجهر به لإمام وكره لغيره.

Dan bertakbir pada setiap gerakan turun dan naik, kecuali saat bangkit dari ruku', serta memanjangkannya dan menyaringkannya bagi imam, dan dimakruhkan bagi selainnya.

٥- وركوع بانحناء بحيث تنال راحتاه ركبتيه,

5. Ruku' dengan membungkuk sedemikian rupa sehingga kedua telapak tangannya dapat mencapai kedua lututnya,

وقف على المصلين أي أصالة دون الوعاظ والقراء ويتوسط بين الجهر والإسرار في النوافل المطلقة ليلا.

diwakafkan untuk orang-orang yang shalat secara asal (pokok), bukan untuk para pemberi nasihat dan pembaca Al-Qur'an. Dan hendaknya ia mengambil posisi pertengahan antara menyaringkan dan meredupkan suara pada shalat-shalat sunnah mutlak di malam hari.

وسن لمنفرد وإمام ومأموم تكبير في كل خفض ورفع للاتباع لا في رفع من ركوع بل يرفع منه قائلا:

Disunnahkan bagi orang yang shalat sendirian (munfarid), imam, dan makmum untuk bertakbir pada setiap gerakan turun dan naik karena mengikut sunnah (ittiba'), bukan saat bangkit dari ruku', melainkan ia bangkit darinya seraya mengucapkan:

سمع الله لمن حمده وسن مده أي التكبير إلى أن يصل إلى المنتقل إليه وإن فصل بجلسة الاستراحة.

'Sami'allahu liman hamidah'. Disunnahkan memanjangkannya, yaitu takbir tersebut, sampai ia tiba pada posisi yang dituju, meskipun dipisah oleh duduk istirahat (jalsah al-istirahah).

وسن جهر به أي بالتكبير للانتقال كالتحرم لإمام وكذا مبلغ احتيج إليه لكن إن نوى الذكر أو والأسماع وإلا بطلت صلاته. كما قال شيخنا في شرح المنهاج.

Disunnahkan menyaringkan suara dengannya, yaitu takbir intiqal (perpindahan) sebagaimana takbiratul ihram bagi imam, demikian pula bagi muballigh (penyambung suara) jika dibutuhkan. Namun hal itu jika ia berniat dzikir saja atau dzikir bersama memberitahukan (isma'), jika tidak (hanya berniat memberitahukan saja), maka shalatnya batal, sebagaimana dikatakan oleh guru kami dalam Sharh Al-Minhaj.

قال بعضهم: إن التبليغ بدعة منكرة باتفاق الأئمة الأربعة حيث بلغ المأمومين صوت الإمام.

Sebagian ulama berkata: Sesungguhnya tabligh (menyambungkan suara) adalah bid'ah yang munkar berdasarkan kesepakatan Empat Imam Mazhab, selama suara imam telah sampai kepada para makmum.

وكره أي الجهر به. لغيره من منفرد ومأموم.

Dan dimakruhkan—yaitu menyaringkan suara dengannya—bagi selain imam, yakni munfarid dan makmum.

٥- وخامسها: ركوع بانحناء بحيث تنال راحتاه وهما ما عدا الأصابع من الكفين فلا يكفي وصول

5. Yang kelima: Ruku' dengan membungkuk sekira kedua telapak tangannya—yaitu bagian telapak tangan selain jari-jemari—dapat mencapai lututnya, maka tidak cukup hanya sampainya

الأصابع ركبتيه لو أراد وضعهما عليهما عند اعتدال الخلقة. هذا أقل الركوع.

jari-jemari ke lututnya jika ia ingin meletakkannya di atas lutut pada proporsi tubuh yang normal. Ini adalah kadar minimal ruku'.

وسن تسوية ظهر وعنق وأخذ ركبتيه بكفيه وقول سبحان ربي العظيم وبحمده ثلاثا.

Disunnahkan meluruskan punggung dan leher, memegang kedua lutut dengan kedua telapak tangan, serta mengucapkan "Subhānah rabbiyal 'azhīmi wa bihamdih" sebanyak tiga kali.

وسن في الركوع تسوية ظهر وعنق بأن يمدهما حتى يصيرا كالصفيحة الواحدة للاتباع.

Disunnahkan dalam ruku' meluruskan punggung dan leher, yaitu dengan membentangkan keduanya hingga menjadi seperti satu papan datar, karena mengikuti sunnah Nabi (ittiba').

وأخذ ركبتيه مع نصبهما وتفريقهما بكفيه مع كشفهما وتفرقة أصابعهما تفريقا وسطا.

Dan memegang kedua lututnya—seraya menegakkan kaki dan merenggangkan keduanya—dengan kedua telapak tangannya dalam keadaan terbuka dan merenggangkan jari-jemarinya dengan renggangan yang sedang.

وقول سبحان ربي العظيم وبحمده ثلاثا للاتباع وأقل التسبيح فيه وفي السجود مرة ولو بنحو سبحان الله وأكثره إحدى عشرة. ويزيد من مر ندبا: اللهم لك ركعت وبك آمنت ولك أسلمت خشع لك سمعي وبصري ومخي وعظمي وعصبي وشعري وبشري وما استقلت به قدمي أي جميع جسدي لله رب العالمين.

Serta mengucapkan "Subhāna rabbiyal 'azhīmi wa bihamdih" tiga kali karena ittiba'. Kadar minimal tasbih dalam ruku' dan sujud adalah satu kali, meskipun hanya dengan seumpama "Subhānallāh", dan kadar maksimalnya adalah sebelas kali. Disunnahkan bagi orang yang disebutkan sebelumnya (munfarid atau imam yang diridhai makmum) untuk menambahkan: "Allāhumma laka raka'tu wa bika āmantu wa laka aslamtu, khasya'a laka sam'ī wa basharī wa mukhkhi wa 'azhmī wa 'ashabī wa sya'rī wa basyarī wa mas taqallat bihī qadamī" (artinya: seluruh tubuhku tunduk kepada Allah, Tuhan semesta alam).

[مسلم رقم: ٧٧١, أبو داود رقم: ٧٦٠ الترمذي رقم: ٣٤٢١ النسائي رقم: ١٥٠] .

[HR. Muslim no. 771, Abu Dawud no. 760, At-Tirmidzi no. 3421, An-Nasa'i no. 150].

ويسن فيه وفي السجود: سبحانك اللهم وبحمدك اللهم اغفر لي. [البخاري رقم: ٧٩٤ ومسلم رقم: ٤٨٤] .

Dan disunnahkan pula dalam ruku' dan sujud membaca: "Subhānakallāhumma wa bihamdika allāhummaghfir lī". [HR. Al-Bukhari no. 794 dan Muslim no. 484].

ولو اقتصر على التسبيح أو الذكر فالتسبيح أفضل وثلاث تسبيحات مع اللهم لك ركعت إلى آخره أفضل من زيادة التسبيح إلى إحدى عشرة.

Jika seseorang mencukupkan diri hanya pada tasbih saja atau dzikir saja, maka tasbih lebih utama. Dan tiga kali tasbih disertai doa "Allāhumma laka raka'tu…" hingga akhir itu lebih utama daripada menambah tasbih hingga sebelas kali.

ويكره الاقتصار على أقل الركوع والمبالغة في خفض الرأس عن الظهر فيه.

Dimakruhkan hanya mencukupkan pada batas minimal ruku' dan berlebihan dalam menundukkan kepala lebih rendah dari punggung saat ruku'.

٦- واعتدال بعود لبدء ويسن أن يقول في رفعه: سمع الله لمن حمده وبعد انتصاب ربنا لك الحمد ملء السماوات وملء الأرض وملء ما شئت من شيء بعد,

6. I'tidal dengan kembali ke posisi semula. Disunnahkan mengucapkan saat bangun dari ruku': "Sami'allāhu liman hamidah", dan setelah berdiri tegak: "Rabbanā lakal hamdu mil'as samāwāti wa mil'al ardhi wa mil'a mā syi'ta min syai'in ba'du",

ويسن لذكر أن يج افي مرفقيه عن جنبيه وبطنه عن فخذيه في الركوع والسجود ولغيره أن يضم فيهما بعضه لبعض.

Disunnahkan bagi laki-laki untuk merenggangkan kedua sikunya dari kedua lambungnya serta perutnya dari kedua pahanya dalam ruku' dan sujud. Sedangkan bagi selain laki-laki (wanita/khuntsa), disunnahkan untuk merapatkan sebagian anggota tubuhnya ke sebagian yang lain dalam keduanya.

تنبيه: يجب أن لا يقصد بالهوي للركوع غيره فلو هوي لسجود تلاوة فلما بلغ حد الركوع جعله ركوعا لم يكف بل يلزمه أن ينتصب ثم يركع كنظيره من الاعتدال والسجود والجلوس بين السجدتين.

Peringatan: Wajib untuk tidak memaksudkan gerakan membungkuk (huwuy) untuk ruku' pada selain ruku'. Jika ia membungkuk untuk sujud tilawah, lalu ketika mencapai batas ruku' ia menjadikannya sebagai ruku', maka hal itu tidak mencukupi, melainkan ia wajib berdiri tegak kembali lalu ruku', sebagaimana hal serupa pada i'tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud.

ولو شك غير مأموم وهو ساجد هل ركع؟ لزمه الانتصاب فورا ثم الركوع ولا يجوز له القيام راكعا.

Jika selain makmum ragu ketika sedang sujud, "Apakah aku sudah ruku'?", maka ia wajib segera berdiri tegak lalu ruku', dan tidak boleh baginya bangkit dalam keadaan membungkuk ruku'.

٦- وسادسها اعتدال ولو في نفل على المعتمد ويتحقق بعود بعد الركوع لبدء بأن يعود لما كان عليه قبل ركوعه قائما كان أو قاعدا ولو شك في إتمامه عاد إليه غير المأموم فورا وجوبا وإلا بطلت صلاته.

6. Rukun keenam adalah i'tidal, meskipun dalam shalat sunnah menurut pendapat yang mu'tamad (dapat dijadikan pegangan). I'tidal terwujud dengan kembali setelah ruku' ke posisi semula sebelum ruku', baik dalam keadaan berdiri maupun duduk. Jika selain makmum ragu apakah ia sudah menyempurnakan i'tidal, ia wajib segera kembali ke posisi i'tidal, jika tidak segera kembali maka batal shalatnya.

والمأموم يأتي بركعة بعد سلام إمامه.

Adapun makmum (yang mengalami keraguan tersebut), ia menambah satu rakaat setelah salam imamnya.

ويسن أن يقول في رفعه من الركوع سمع الله لمن حمده أي تقبل منه حمده والجهر به لإمام ومبلغ لأنه ذكر انتقال.

Disunnahkan membaca saat bangun dari ruku': "Sami'allāhu liman hamidah" (artinya: Semoga Allah menerima pujian dari orang yang memuji-Nya). Dan disunnahkan mengeras suara (mengeraskan bacaan) bagi imam dan muballigh (penyambung suara imam), karena itu merupakan dzikir perpindahan (intiqal).

وأن يقول بعد انتصاب للاعتدال: ربنا لك الحمد ملء السموات وملء الأرض وملء ما شئت من شيء بعد, [مسلم رقم: ٤٧٦] أي:

Dan disunnahkan membaca setelah berdiri tegak untuk i'tidal: "Rabbanā lakal hamdu mil'as samāwāti wa mil'al ardhi wa mil'a mā syi'ta min syai'in ba'du" [HR. Muslim no. 476], yaitu:

وقنوت بصبح ووتر نصف أخير من رمضان وبسائر مكتوبة لنازلة رافعا يديه

Dan membaca qunut pada shalat Subuh, shalat Witir pada separuh terakhir bulan Ramadhan, serta pada seluruh shalat fardhu karena adanya musibah (nazilah), seraya mengangkat kedua tangannya.

بعدهما كالكرسي والعرش وملء بالرفع صفة وبالنصب حال أي مالئا بتقدير كونه جسما وأن يزيد من مر: أهل الثناء والمجد أحق ما قال العبد وكلنا لك عبد لا مانع لما أعطيت ولا معطي لما منعت ولا ينفع ذا الجد منك الجد [مسلم رقم: ٤٧٧] .

Setelah keduanya, seperti Kursi dan Arsy. Lafaz "Mil'a" dibaca rafa' sebagai sifat (na'at) dan dibaca nashab sebagai hal, artinya memenuhi, dengan mengandaikan bahwa hal tersebut adalah jasad. Dan disunnahkan bagi orang yang disebutkan tadi untuk menambah: "Ahlassana'i wal majdi ahaqqu ma qalal 'abdu, wa kulluna laka 'abdun, la mani'a lima a'thaita wa la mu'thiya lima mana'ta wa la yanfa'u dzal jaddi minkal jaddu" (Dzat Yang Berhak menerima pujian dan keagungan, perkataan paling benar yang diucapkan seorang hamba, dan kami semua adalah hamba-Mu. Tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, serta tidak berguna kekayaan/keberuntungan bagi orang yang memilikinya dari azab-Mu) [HR. Muslim No. 477].

وسن قنوت بصبح أي في اعتدال ركعته الثانية بعد الذكر الراتب على الأوجه وهو إلى من شيء بعد.

Dan disunnahkan membaca qunut pada shalat Subuh, yaitu pada saat iktidal rakaat kedua setelah dzikir yang rutin (rātib) menurut pendapat yang lebih kuat (al-awjah), yaitu dzikir "ilā min syai'in ba'du".

واعتدال آخره وتر نصف أخير من رمضان للاتباع ويكره في النصف الأول كبقية السنة.

Dan (disunnahkan pula membaca qunut) pada iktidal rakaat terakhir shalat witir di separuh akhir bulan Ramadan karena mengikuti sunnah (ittiba'), dan dimakruhkan pada separuh pertama sebagaimana sisa hari dalam setahun.

وبسائر مكتوبة من الخمس في اعتدال الركعة الأخيرة ولو مسبوقا قنت مع إمامه لنازلة نزلت بالمسلمين.

Dan (disunnahkan pula qunut) pada seluruh shalat fardhu yang lima waktu pada iktidal rakaat terakhir, meskipun seorang makmum masbuq tetap berqunut bersama imamnya, karena adanya nazilah (bencana/musibah) yang menimpa kaum muslimin.

ولو واحدا تعدى نفعه كأسر العالم أو الشجاع وذلك للاتباع وسواء فيها الخوف ولو من عدو مسلم والقحط والوباء.

Meskipun (nazilah itu menimpa) satu orang yang kemanfaatannya meluas, seperti tertawannya seorang ulama atau pemberani, dan hal itu berdasarkan ittiba'. Sama saja dalam hal ini musibah berupa ketakutan—meskipun dari musuh yang muslim—kemarau panjang (paceklik), dan wabah penyakit.

وخرج بالمكتوبة النفل ولو عيدا والمنذورة فلا يسن فيهما.

Dikecualikan dari shalat fardhu adalah shalat sunnah meskipun shalat Id dan shalat yang dinazarkan, maka tidak disunnahkan berqunut pada keduanya.

رافعا يديه حذو منكبيه ولو حال الثناء كسائر الأدعية للاتباع وحيث دعا لتحصيل شيء كدفع بلاء عنه في بقية عمره جعل بطن كفيه إلى السماء أو لرفع بلاء وقع به جعل ظهرهما إليها.

Seraya mengangkat kedua tangannya setinggi kedua bahunya, meskipun pada saat bagian pujian (dalam qunut), sebagaimana doa-doa lainnya karena ittiba'. Apabila ia berdoa untuk meraih sesuatu, seperti menolak marabahaya darinya di sisa umurnya, hendaknya ia menjadikan telapak tangannya menghadap ke langit; atau untuk mengangkat bala yang telah menimpanya, hendaknya ia menjadikan punggung kedua telapak tangannya menghadap ke langit.

ويكره الرفع لخطيب حالة الدعاء.

Dan dimakruhkan mengangkat tangan bagi seorang khatib saat berdoa (dalam khutbah).

بنحو: اللهم اهدني فيمن هديت إلى آخره,

Dengan lafaz seperti: "Allāhummahdinī fīman hadait…" sampai akhir doa,

بنحو: اللهم اهدني فيمن هديت إلى آخره أي وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت أي معهم لا ندرج في سلكهم وبارك لي فيما أعطيت وقني شر ما قضيت فإنك تقضي ولا يقضى عليك وإنه لا يذل من واليت ولا يعز من عاديت تباركت ربنا وتعاليت فلك الحمد على ما قضيت أستغفرك وأتوب إليك. [أبو داود رقم: ٤٢٥, ١٤٢٦, الترمذي رقم: ٤٦٤, النسائي, رقم: ١٧٤٥, ابن ماجه رقم: ١١٧٨, البيهقي ٢/٢٠٩] .

Dengan lafaz seperti: "Allāhummahdinī fīman hadait…" hingga akhir doa, yaitu: "wa 'āfinī fīman 'āfait, wa tawallanī fīman tawallait" (artinya: bersama mereka, agar kami tergolong dalam barisan mereka), "wa bārik lī fīmā a'thait, wa qinī syarra mā qadhait, fa-innaka taqdhī wa lā yuqdhā 'alaik, wa innahū lā yazillu man wālait, wa lā ya'izzu man 'ādait, tabārakta rabbanā wa ta'ālait, fa-lakal-hamdu 'alā mā qadhait, astaghfiruka wa atūbu ilaik" (Ya Allah, berilah aku petunjuk bersama orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan bersama orang-orang yang telah Engkau beri kesehatan, uruslah aku bersama orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah bagiku apa yang telah Engkau berikan, dan lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau yang memutuskan dan tidak ada yang bisa memutuskan atas-Mu. Sesungguhnya tidak akan terhina orang yang Engkau cintai, dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Mahasuci Engkau wahai Tuhan kami dan Mahatinggi Engkau, maka bagi-Mu segala puji atas apa yang telah Engkau tetapkan, aku memohon ampunan kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu). [HR. Abu Dawud No. 425, 1426; At-Tirmidzi No. 464; An-Nasa'i No. 1745; Ibn Majah No. 1178; Al-Baihaqi 2/209].

وتسن آخره الصلاة والسلام على النبي ص وعلى آله ولا تسن أوله.

Dan disunnahkan di akhir qunut membaca shalawat dan salam kepada Nabi SAW beserta keluarga beliau, dan tidak disunnahkan di awalnya.

ويزيد فيه من مر قنوت عمر الذي كان يقنت به في الصبح وهو: اللهم إنا نستعينك ونستغفرك ونستهديك ونؤمن بك ونتوكل عليك ونثني عليك الخير كله نشكرك ولا نكفرك ونخلع ونترك من يفجرك.

Dan disunnahkan bagi orang yang disebutkan tadi untuk menambah bacaan qunut Umar RA yang biasa beliau baca dalam shalat Subuh, yaitu: "Allāhumma innā nasta'īnuka wa nastaghfiruka wa nastahdīka wa nu'minu bika wa natawakkalu 'alaika wa nutsnī 'alaikal-khaira kullah, nasykuruka wa lā nakfuruka wa nakhla'u wa natruku man yafjuruk" (Ya Allah, sesungguhnya kami memohon pertolongan-Mu, memohon ampunan-Mu, memohon petunjuk-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakal kepada-Mu, dan memuji-Mu dengan segala kebaikan. Kami bersyukur kepada-Mu dan tidak mengkufuri-Mu, serta kami melepaskan dan meninggalkan orang yang mendurhakai-Mu).

اللهم إياك نعبد ولك نصلي ونسجد وإليك نسعى ونحفد أي نسرع نرجو رحمتك ونخشى عذابك إن عذابك الجد بالكفار ملحق. [الأذكار رقم: ٣٥٥] .

"Allāhumma iyyāka na'budu wa laka nushallī wa nasjudu wa ilaika nas'ā wa nahfidu" (maksudnya: kami bersegera), "narjū rahmataka wa nakhsyā 'adzābaka inna 'adzābakal-jidda bil-kuffāri mulhaq" (Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya untuk-Mu kami shalat dan bersujud, hanya kepada-Mu kami berusaha dan bergegas, kami mengharapkan rahmat-Mu dan takut akan azab-Mu, sesungguhnya azab-Mu yang sebenar-benarnya pasti menimpa orang-orang kafir). [Al-Adzkar No. 355].

ولما كان قنوت الصبح المذكور أولا ثابتا عن النبي ص قدم على هذا فمن ثم لو أراد أحدهما فقط اقتصر على الأول.

Oleh karena qunut Subuh yang disebutkan pertama tadi bersumber secara tetap (tsabit) dari Nabi SAW, maka qunut tersebut didahulukan daripada qunut ini (qunut Umar). Oleh sebab itu, jika seseorang hanya ingin membaca salah satu dari keduanya, hendaknya ia mencukupkan pada qunut yang pertama.

ولا يتعين كلمات القنوت فيجزئ عنها آية تضمنت دعاء إن قصده كآخر البقرة وكذا دعاء محض ولو غير مأثور.

Kata-kata dalam qunut tidak bersifat wajib/tertentu, sehingga membaca ayat yang memuat doa sudah mencukupi jika ia bermaksud berdoa, seperti akhir surah Al-Baqarah; demikian pula doa murni meskipun bukan dari hadits (ma'tsūr).

وجهر به إمام وأمن مأموم سمع وكره لإمام تخصيص نفسه بدعاء.

Seorang imam menyaringkan (menjahlkan) suara qunutnya, dan makmum yang mendengarnya membaca amin. Dan dimakruhkan bagi imam mengkhususkan doa untuk dirinya sendiri.

٧- وسجود مرتين على غير محمول وإن تحرك بحركته

7- Dan sujud dua kali di atas tempat yang bukan bawaan (pakaian/benda yang dipakai), meskipun benda tersebut bergerak seiring gerakannya.

قال شيخنا: والذي يتجه أن القانت لنازلة يأتي بقنوت الصبح ثم يختم بسؤال رفع تلك النازلة.

Guru kami (Syaikhina) berkata: Pendapat yang tepat adalah bahwa orang yang berqunut karena nazilah membaca qunut Subuh terlebih dahulu, kemudian mengakhirinya dengan memohon diangkatnya nazilah (musibah) tersebut.

وجهر به أي القنوت ندبا إمام ولو في السرية لا مأموم لم يسمعه ومنفرد فيسران به مطلقا.

Disunnahkan bagi imam untuk menyaringkan suara membaca qunut, meskipun dalam shalat sirriyyah (shalat yang bacaannya pelan). Adapun makmum yang tidak mendengarnya dan orang yang shalat sendirian (munfarid), maka keduanya membacanya secara pelan (sirr) secara mutlak.

وأمن جهرا مأموم سمع قنوت إمامه للدعاء منه ومن الدعاء: الصلاة على النبي ص فيؤمن لها على الأوجه.

Dan makmum yang mendengar qunut imamnya mengaminkan dengan suara nyaring pada bagian doa darinya. Dan di antara doa tersebut adalah shalawat kepada Nabi SAW, maka ia mengaminkannya menurut pendapat yang lebih kuat (al-awjah).

أما الثناء وهو: فإنك تقضي إلى آخره فيقوله سرا أما مأموم لم يسمعه أو سمع صوتا لا يفهمه فيقنت سرا.

Adapun bagian pujian (tsana'), yaitu: "fa-innaka taqdi…" sampai akhir, maka makmum membacanya secara pelan. Sedangkan makmum yang tidak mendengar qunut imamnya atau mendengar suara tetapi tidak memahaminya, maka ia berqunut secara pelan.

وكره لإمام تخصيص نفسه بدعاء أي بدعاء القنوت للنهي عن تخصيص نفسه بالدعاء فيقول الإمام: اهدنا وما عطف عليه بلفظ الجمع وقضيته أن سائر الأدعية كذلك ويتعين حمله على ما لم يرد عنه ص وهو إمام بلفظ الأفراد وهو كثير.

Dimakruhkan bagi imam mengkhususkan dirinya sendiri dalam berdoa, yaitu doa qunut, karena adanya larangan mengkhususkan diri sendiri saat berdoa. Maka imam mengucapkan: "Ihdinā" (berilah kami petunjuk) dan lafaz yang di-athaf-kan padanya dengan bentuk jamak. Konsekuensi dari hal ini adalah bahwa seluruh doa lainnya juga demikian, dan hal ini harus dipahami pada doa yang tidak diriwayatkan dari Nabi SAW dalam bentuk mufrad (tunggal) ketika beliau menjadi imam, padahal yang demikian itu banyak.

قال بعض الحفاظ: إن أدعيته كلها بلفظ الإفراد ومن ثم جرى بعضهم على اختصاص الجمع بالقنوت.

Sebagian ahli hadits (al-huffazh) berkata: "Sesungguhnya doa-doa beliau seluruhnya menggunakan lafaz mufrad (tunggal)." Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa penggunaan bentuk jamak hanya khusus pada doa qunut.

٧- وسابعها: سجود مرتين كل ركعة على غير محمول له وإن تحرك بحركته ولو نحو سرير يتحرك بحركته لانه ليس بمحمول له فلا يضر السجود عليه كما إذا سجد على محمول لم يتحرك بحركته

7- Yang ketujuh: sujud dua kali pada setiap rakaat di atas benda yang bukan sesuatu yang dibawanya, meskipun benda itu ikut bergerak dengan gerakannya. Seperti di atas tempat tidur yang bergerak karena gerakannya, sebab tempat tidur bukan sesuatu yang dibawanya, maka tidak memudharatkan sujud di atasnya, sebagaimana jika ia sujud di atas barang yang dibawanya namun tidak ikut bergerak dengan gerakannya

مع تنكيس بوضع بعض جبهته بكشف وتحامل وركبتيه وبطن كفيه وأصابع قدميه,

beserta menunggingkan badan (tankis) dengan meletakkan sebagian dahinya secara terbuka dan menekan (tahamul), kedua lututnya, bagian dalam telapak tangannya, dan jari-jari kedua kakinya,

كطرف من ردائه الطويل.

seperti ujung selendangnya yang panjang.

وخرج بقولي: على غير محمول له ما لو سجد على محمول يتحرك بحركته كطرف من عمامته فلا يصح فإن سجد عليه بطلت الصلاة إن تعمد وعلم تحريمه وإلا أعاد السجود.

Dan dikecualikan dengan perkataan saya: "di atas selain barang yang dibawanya", yaitu jika ia sujud di atas barang yang dibawanya yang ikut bergerak dengan gerakannya, seperti ujung sorbannya, maka sujudnya tidak sah. Jika ia sujud di atasnya, batal shalatnya apabila ia sengaja dan mengetahui keharamannya; jika tidak (sengaja atau tidak tahu), maka ia wajib mengulangi sujudnya.

ويصح على يد غيره وعلى نحو منديل بيده لأنه في حكم المنفصل ولو سجد على شيء فالتصق بجبهته صح ووجب إزالته للسجود الثاني.

Sah sujud di atas tangan orang lain dan di atas sejenis sapu tangan yang dipegang oleh tangannya sendiri karena hal itu dihukumi terpisah. Dan jikalau ia sujud di atas sesuatu lalu sesuatu itu menempel pada dahinya, sujudnya sah dan wajib melepaskannya untuk sujud yang kedua.

مع تنكيس بأن ترتفع عجيزته وما حولها على رأسه ومنكبيه للاتباع فلو انعكس أو تساويا لم يجزئه.

Disertai menungging (tankis), yaitu dengan mengangkat pantatnya dan bagian sekitarnya sehingga lebih tinggi dari kepala dan kedua bahunya karena mengikuti petunjuk Nabi (ittiba'). Maka jika terjadi sebaliknya atau posisinya sejajar, hal itu tidak mencukupi (tidak sah).

نعم إن كان به علة لا يمكنه معها السجود إلا كذلك أجزأه.

Ya, jika ia memiliki udzur (penyakit) yang membuatnya tidak memungkinkan sujud kecuali dengan cara demikian, maka hal itu mencukupinya (sah).

بوضع بعض جبهته بكشف أي مع كشف فإن كان عليها حائل كعصابة لم يصح إلا أن يكون لجراحة وشق عليه إزالته مشقة شديدة فيصح.

Dengan meletakkan sebagian dahinya secara terbuka, yaitu tanpa penghalang. Jika pada dahi terdapat penghalang seperti pembalut/perban, maka tidak sah, kecuali jika karena luka dan sangat berat (masyaqqah syadidah) baginya untuk melepasnya, maka sah.

ومع تحامل بجبهته فقط على مصلاه بأن ينال ثقل رأسه خلافا للإمام.

Dan beserta menekan (tahamul) dengan dahinya saja pada tempat shalatnya sekira bobot kepalanya menekan tempat tersebut, berbeda dengan pendapat Al-Imam (Al-Haramain).

ووضع بعض ركبتيه وبعض بطن كفيه من الراحة وبطون الأصابع وبعض بطن أصابع قدميه دون ما عدا ذلك كالحرف وأطراف الأصابع وظهرهما ولو قطعت أصابع قدميه وقدر على وضع شيء من بطنهما لم

Dan meletakkan sebagian dari kedua lututnya, sebagian bagian dalam kedua telapak tangannya (telapak dan bagian dalam jari-jari), serta sebagian bagian dalam jari-jari kedua kakinya, bukan selain itu seperti tepi/sisi kaki atau tangan, ujung jari, dan punggung keduanya. Dan sekiranya jari-jari kakinya terpotong namun ia mampu meletakkan sebagian dari bagian dalam (telapak) kakinya, maka tidak

وسن وضع أنف وقول سبحان ربي الأعلى وبحمده ثلاثا.

Dan disunnahkan meletakkan hidung serta membaca "Subhāna rabbiyal-a'lā wa bihamdih" tiga kali.

يجب كما اقتضاه كلام الشيخين.

wajib, sebagaimana konsekuensi dari perkataan Asy-Syaikhani (An-Nawawi dan Ar-Rafi'i).

ولا يجب التحامل عليها بل يسن ككشف غير الركبتين.

Dan tidak wajib menekan (tahamul) pada anggota-anggota sujud tersebut (selain dahi), melainkan hukumnya disunnahkan, sebagaimana disunnahkan membukanya selain kedua lutut.

وسن في السجود وضع أنف بل يتأكد لخبر صحيح [رواه أبو داود رقم: ٧٣٠] ومن ثم اختير وجوبه.

Disunnahkan dalam sujud meletakkan hidung, bahkan sangat dianjurkan (mu'akkad) karena adanya hadis sahih [diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 730]. Oleh karena itu, sebagian ulama memilih pendapat yang mewajibkannya.

ويسن وضع الركبتين أولا متفرقتين قدر شبر ثم كفيه حذو منكبيه رافعا ذراعيه عن الأرض وناشرا أصابعه مضمومة للقبلة ثم جبهته وأنفه معا وتفريق قدميه قدر شبر ونصبهما موجها أصابعهما للقبلة وإبرازهما من ذيله.

Disunnahkan meletakkan kedua lutut terlebih dahulu dalam keadaan terpisah sejarak sejengkal, kemudian kedua telapak tangan sejajar dengan kedua bahu seraya mengangkat kedua hasta dari lantai dan membentangkan jari-jemarinya yang dirapatkan menghadap kiblat, kemudian dahi dan hidungnya secara bersamaan, serta memisahkan kedua kakinya sejarak sejengkal dan menegakkannya seraya menghadapkan jari-jemari kakinya ke kiblat dan menampakkannya dari bagian bawah pakaiannya.

ويسن فتح عينيه حالة السجود كما قاله ابن عبد السلام وأقره الزركشي.

Disunnahkan membuka kedua matanya saat sujud sebagaimana dikatakan oleh Ibn 'Abd al-Salam dan disetujui oleh az-Zarkasyi.

ويكره مخالفة الترتيب المذكور وعدم وضع الأنف.

Dimakruhkan menyelisihi urutan yang disebutkan tersebut dan tidak meletakkan hidung.

وقول: سبحان ربي الأعلى وبحمده ثلاثا في السجود للاتباع ويزيد من مر ندبا: اللهم لك سجدت وبك آمنت ولك أسلمت سجد وجهي للذي خلقه وصوره وشق سمعه وبصره بحوله وقوته تبارك الله أحسن الخالقين. [الأذكار رقم: ٣٤١] .

Dan mengucapkan: "Subhana rabbiyal-a'la wa bihamdih" (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi dan dengan memuji-Nya) sebanyak tiga kali saat sujud karena mengikuti sunnah Nabi (ittiba'). Dan orang yang shalat sendirian (munfarid) disunnahkan menambahkan: "Allahumma laka sajadtu wa bika amantu wa laka aslamtu, sajada wajhiya lilladzi khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam'ahu wa basharahu bihaulihi wa quwwatih, tabarakallahu ahsanul khaliqin" [Al-Adzkar no. 341].

ويسن إكثار الدعاء فيه ومما ورد فيه: اللهم إني أعوذ برضاك من سخطك وبمعافاتك من عقوبتك.

Disunnahkan memperbanyak doa saat sujud, dan di antara doa yang diriwayatkan di dalamnya adalah: "Allahumma inni a'udzu bi ridhaka min sakhathika wa bi mu'afatika min 'uqubatik…"

وأعوذ بك منك لا أحصي ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك [مسلم رقم: ٣٢٧] .

"…wa a'udzu bika minka la uhshi tsana'an 'alaika anta kama atsnaita 'ala nafsik" (dan aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan kelapangan-Mu dari siksaan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari (azab)-Mu, aku tidak sanggup menghitung pujian atas-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri) [Muslim no. 327].

٨- وجلوس بينهما ولا يطوله ولا اعتدالا وسن فيه وتشهد أول افتراش واضعا كفيه قريبا من ركبتيه قائلا: رب اغفر لي إلى آخره,

8- Dan duduk di antara dua sujud. Dan janganlah ia memanjangkannya sebagaimana ia tidak boleh memanjangkan i'tidal. Disunnahkan dalam duduk di antara dua sujud dan tasyahhud awal untuk duduk iftirasy, dengan meletakkan kedua telapak tangannya dekat dari kedua lututnya seraya mengucapkan: "Rabbighfir li…" sampai akhir doa,

اللهم اغفر لي ذنبي كله دقه وجله وأوله وآخره وعلانيته وسره [مسلم رقم: ٤٨٣] .

"Allahummaghfir li dzanbi kullahu diqqahu wa jillahu wa awwalahu wa akhirahu wa 'alaniyatahu wa sirrah" (Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, yang terang-terangan maupun yang tersembunyi) [Muslim no. 483].

قال في الروضة: تطويل السجود أفضل من تطويل الركوع.

Penulis kitab Ar-Raudhah berkata: "Memanjangkan sujud lebih utama daripada memanjangkan ruku'".

٨- وثامنها: جلوس بينهما أي السجدتين ولو في نفل على المعتمد.

8- Yang kedelapan: Duduk di antara keduanya, yaitu di antara dua sujud, meskipun dalam shalat sunnah menurut pendapat yang mu'tamad.

ويجب أن لا يقصد برفعه غيره فلو رفع فزعا من نحو لسع عقرب أعاد السجود ولا يضر إدامة وضع يديه على الأرض إلى السجدة الثانية اتفاقا خلافا لمن وهم فيه.

Wajib hendaknya ia tidak bermaksud saat bangun dari sujud untuk tujuan lain. Jika ia bangkit karena terkejut oleh hal seperti sengatan kalajengking, maka ia wajib mengulangi sujudnya. Dan terus meletakkan kedua tangannya di lantai hingga sujud kedua tidak membatalkan/merusak shalat berdasarkan kesepakatan ulama, berbeda dengan orang yang keliru dalam hal ini.

ولا يطوله ولا اعتدالا لأنهما غير مقصودين لذاتهما بل شرعا للفصل فكانا قصيرين.

Dan ia tidak boleh memanjangkannya dan tidak pula memanjangkan i'tidal, karena keduanya tidak dimaksudkan untuk dirinya sendiri (bukan rukun yang panjang), melainkan disyariatkan sebagai pemisah, sehingga keduanya bersifat pendek.

فإن طول أحدهما فوق ذكره المشروع فيه قدر الفاتحة في الاعتدال أقل التشهد في الجلوس عامدا عالما بطلت صلاته.

Maka jika ia memanjangkan salah satu dari keduanya melebihi dzikir yang disyariatkan di dalamnya seukuran bacaan Al-Fatihah pada i'tidal, atau seukuran minimal tasyahhud pada duduk di antara dua sujud, dalam keadaan sengaja dan tahu (akan keharamannya), maka batal shalatnya.

وسن فيه الجلوس بين السجدتين وفي تشهد أول وجلسة استراحة وكذا في تشهد أخير إن تعقبه سجود سهو افتراش بأن يجلس على كعب يسراه بحيث يلي ظهرها الأرض واضعا كفيه على فخذيه قريبا من ركبتيه بحيث تسامتهما رؤوس الأصابع ناشرا أصابعه قائلا: رب اغفر لي إلى آخره تتمته: وارحمني

Dan disunnahkan dalam duduk di antara dua sujud, tasyahhud awal, duduk istirahah (istirahat), dan demikian pula pada tasyahhud akhir jika diikuti oleh sujud sahwi, untuk duduk iftirasy, yaitu dengan cara duduk di atas mata kaki kiri sehingga punggung kaki kiri menempel pada lantai, dengan meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua paha dekat dari kedua lutut sehingga ujung-ujung jari sejajar dengan lutut seraya membentangkan jari-jemari dan mengucapkan: "Rabbighfir li…" sampai akhir doa, dan penyempurnanya: "warhamni…"

وجلسة استراحة لقيام.

Dan duduk istirahat sebelum berdiri.

٩- وطمأنينة في كل.

9- Dan thuma'ninah pada setiap (rukun tersebut).

١٠- وتشهد أخير وأقله التحيات لله٠٠٠ إلى آخره.

10- Dan tasyahhud akhir, dan bacaan minimalnya adalah: "At-Tahiyyatu lillah…" sampai akhir doa.

واجبرني وارفعني وارزقني واهدني وعافني [الأذكار رقم: ٤٣٥] للاتباع.

Dan tutuplah kekuranganku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, serta sehatkanlah aku [Al-Adzkar no. 435] karena mengikuti sunnah Nabi (ittiba').

ويكره: اغفر لي ثلاثا.

Dan dimakruhkan mengucapkan: "Ighfir li" (Ampunilah aku) sebanyak tiga kali.

وسن جلسة استراحة بقدر الجلوس بين السجدتين للاتباع ولو في نفل وإن تركها الإمام خلافا لشيخنا لقيام أي لأجله عن سجود لغير تلاوة.

Disunnahkan duduk istirahat seukuran lamanya duduk di antara dua sujud karena mengikuti sunnah (ittiba'), meskipun dalam shalat sunnah dan meskipun imam meninggalkannya—berbeda dengan pendapat guru kami—ketika hendak bangkit (berdiri) dari sujud yang bukan sujud tilawah.

ويسن اعتماد على بطن كفيه في قيام من سجود وقعود.

Disunnahkan bertumpu pada bagian dalam telapak kedua tangan ketika bangkit berdiri dari sujud maupun dari duduk.

٩- وتاسعها: طمأنينة في كل من الركوع والسجودين والجلوس بينهما والاعتدال ولو كانا في نفل خلافا للأنوار وضابطها أن تستقر أعضاؤه بحيث ينفصل ما انتقل إليه عما انتقل عنه.

9- Yang kesembilan: Thuma'ninah pada masing-masing ruku', dua sujud, duduk di antara keduanya, dan i'tidal, meskipun pada shalat sunnah—berbeda dengan pendapat dalam kitab al-Anwar. Batasannya adalah anggota badannya tenang sekira posisi tubuh yang baru dituju terpisah secara jelas dari posisi tubuh yang ditinggalkan.

١٠- وعاشرها: تشهد أخير وأقله ما رواه الشافعي والترمذي [الأذكار الأرقام: ٣٦٨- ٣٩١] : التيحات لله إلى آخره تتمته: سلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته سلام علينا وعلى عباد الله الصالحين أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله.

10- Yang kesepuluh: Tasyahhud akhir. Minimal bacaannya adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi'i dan at-Tirmidzi [Al-Adzkar no: 368-391]: "At-Tahiyyātu lillāh…" sampai akhir penyempurnaannya: "Salāmun 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh, salāmun 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn, asyhadu allā ilāha illallāh wa anna Muḥammadan rasūlullāh."

ويسن لكل زيادة: المباركات الصلوات الطيبات وأشهد الثاني وتعريف السلام في الموضعين لا البسملة قبله.

Disunnahkan bagi setiap orang menambahkan lafaz: "Al-mubārakātuṣ-ṣalawātuṭ-ṭayyibātu", menambahkan kata "asyhadu" yang kedua, dan memakaikan alif lam (ma'rifah) pada kata "as-salām" di kedua tempat tersebut, tetapi tidak disunnahkan membaca basmalah sebelumnya.

١١- وصلاة على النبي بعده وأقلها: اللهم صل على محمد وسن في أخير صلاة على آله,

11- Dan membaca shalawat kepada Nabi setelahnya, minimalnya: "Allāhumma ṣalli 'alā Muḥammad". Dan disunnahkan pada tasyahhud akhir membaca shalawat kepada keluarga beliau (āl),

ولا يجوز إبدال لفظ من هذا الأقل ولو بمرادفه كالنبي بالرسول وعكسه ومحمد بأحمد وغيره.

Dan tidak boleh mengganti satu lafaz pun dari kadar minimal ini, meskipun dengan sinonimnya, seperti mengganti kata "an-Nabi" dengan "ar-Rasul" atau sebaliknya, serta "Muhammad" dengan "Ahmad" atau lainnya.

ويكفي: وأن محمدا عبده ورسوله لا وأن محمدا رسوله.

Dan mencukupi bacaan: "wa anna Muḥammadan 'abduhū wa rasūluh", tetapi tidak mencukupi bacaan: "wa anna Muḥammadan rasūluh" (tanpa kata 'abduhu).

ويجب أن يراعي هنا التشديدات وعدم إبدال حرف بآخر والموالاة لا الترتيب إن لم يخل بالمعنى.

Wajib memperhatikan tasydid-tasydid di sini, tidak mengganti satu huruf dengan huruf lain, serta muwalah (berturut-turut), namun tidak disyaratkan tertib jika tidak merusak makna.

فلو أظهر النون المدغمة في اللام في أن لا إله إلا الله أبطل لتركه شدة منه كما لو ترك إدغام [تنوين] ١ دال محمد في راء رسول الله.

Jika seseorang menampakkan (izhhar) huruf nun yang seharusnya diidghamkan ke dalam lam pada kalimat "an lā ilāha illallāh", maka batal shalatnya karena meninggalkan satu tasydid darinya, sebagaimana jika ia meninggalkan idgham [tanwin] huruf dal pada kata "Muhammad" ke dalam huruf ra pada "rasūlullāh".

ويجوز في النبي الهمزة والتشديد.

Boleh membacanya dengan hamzah (an-Nabi') maupun dengan tasydid (an-Nabiyyu).

١١- وحادي عشرها: صلاة على النبي ﷺ بعده أي بعد تشهد أخير فلا تجزئ قبله.

11- Yang kesebelas: Shalawat kepada Nabi ﷺ setelahnya, yaitu setelah tasyahhud akhir, maka tidak sah jika dibaca sebelumnya.

وأقلها: اللهم صل أي ارحمه رحمة مقرونة بالتعظيم.

Dan batas minimalnya adalah: "Allāhumma ṣalli" (Ya Allah, berilah rahmat), maksudnya curahkanlah rahmat kepadanya yang disertai dengan keagungan.

أو: صلى الله على محمد أو على رسوله أو على النبي دون أحمد.

Atau: "Ṣallallāhu 'alā Muḥammad" atau "'alā rasūlih" atau "'alan-nabiyyi", bukan dengan kata "Aḥmad".

وسن في تشهد أخير وقيل: يجب صلاة على آله فيحصل أقل الصلاة على الآل بزيادة وآله مع أقل الصلاة لا في الأول على

Disunnahkan pada tasyahhud akhir—dan ada yang berpendapat wajib—membaca shalawat kepada keluarga Nabi (āl). Kadar minimal shalawat kepada keluarga Nabi terpenuhi dengan menambahkan "wa ālih" bersamaan dengan batas minimal shalawat, tidak pada tasyahhud awal menurut…

ويسن أكملها في تشهد ودعاء

Dan disunnahkan bentuk paling sempurnanya dalam tasyahhud dan doa…

الأصح لبنائه على التخفيف ولان فيها نقل ركن قولي على قول وهو مبطل على قول واختير مقابله لصحة أحاديث فيه.

Pendapat yang lebih shahih (adalah makruh/tidak disyariatkan membaca shalawat kepada keluarga Nabi pada tasyahud awal) didasarkan atas prinsip ringannya tasyahud awal, dan karena di dalamnya terdapat pemindahan rukun qauli (ucapan) menurut satu pendapat, yang mana memindahkan rukun qauli itu membatalkan shalat menurut suatu pendapat. Namun pendapat sebaliknya (yaitu disunnahkan) dipilih karena shahihnya hadis-hadis mengenai hal tersebut.

ويسن أكملها في تشهد أخير وهو: اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. [البخاري رقم: ٦٣٥٧, ومسلم رقم: ٤٠٦] .

Disunnahkan membaca bentuk shalawat yang paling sempurna pada tasyahud akhir, yaitu: "Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia." [HR. Bukhari no. 6357, dan Muslim no. 406].

والسلام تقدم في التشهد فليس هنا إفراد الصلاة عنه ولا بأس بزيادة سيدنا قبل محمد.

Adapun ucapan salam telah terdahulu di dalam tasyahud, sehingga di sini tidak dianggap menyendirikan shalawat tanpa salam. Dan tidak mengapa menambahkan kata "sayyidina" sebelum nama "Muhammad".

وسن في تشهد أخير دعاء بعد ما ذكر كله.

Disunnahkan membaca doa pada tasyahud akhir setelah semua bacaan yang telah disebutkan tersebut.

وأما التشهد الأول فيكره فيه الدعاء لبنائه على التخفيف إلا إن فرغ قبل إمامه فيدعو حينئذ.

Adapun pada tasyahud awal, dimakruhkan berdoa di dalamnya karena prinsipnya yang didasarkan atas peringanan, kecuali jika seorang makmum telah selesai membaca tasyahud sebelum imamnya, maka ia boleh berdoa pada saat itu.

ومأثوره أفضل وآكده ما أوجبه بعض العلماء وهو: اللهم إني أعوذ بك من عذاب القبر ومن عذاب النار ومن فتنة المحيا والممات ومن فتنة المسيح الدجال [البخاري رقم: ١٣٧٧, ومسلم رقم: ٥٨٨] .

Doa yang ma'tsur (bersumber dari Nabi) itu lebih utama, dan doa yang paling ditekankan adalah yang diwajibkan oleh sebagian ulama, yaitu: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dari azab neraka, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal." [HR. Bukhari no. 1377, dan Muslim no. 588].

ويكره تركه.

Dan dimakruhkan meninggalkannya.

ومنه: اللهم اغفر لي ما قدمت وما أخرت وما أسررت وما أعلنت وما أسرفت وما أنت أعلم به مني.

Dan di antara doa ma'tsur tersebut adalah: "Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, yang aku lakukan secara berlebihan, serta apa yang Engkau lebih ketahui daripada aku sendiri.

أنعت المقدم وأنت المؤخر لا إله إلا أنت رواهما مسلم [رقم: ٥٨٨, ٧٧١] .

Engkaulah yang Mendahulukan dan Engkaulah yang Mengakhirkan, tidak ada tuhan selain Engkau." Keduanya diriwayatkan oleh Muslim [no. 588, 771].

ومنه أيضا: اللهم إني ظلمت نفسي ظلما كبيرا كثيرا ولا يغفر

Dan di antaranya juga: "Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang besar lagi banyak, dan tidak ada yang mengampuni…

١٢- وقعود لهما وسن تورك فيه ووضع يديه في تشهديه على طرف ركبتيه ناشرا أصابع يسراه وقابضا يمناه إلا المسبحة ورفعها عند: إلا الله وإدامته,

12- Dan duduk untuk keduanya (tasyahud dan shalawat). Disunnahkan duduk tawarruk padanya, meletakkan kedua tangannya pada kedua tasyahudnya di ujung kedua lututnya dengan membentangkan jari-jari tangan kirinya dan menggenggam tangan kanannya kecuali jari telunjuk, serta mengangkatnya ketika mengucapkan 'illallah' dan menahannya tetap terangkat,

الذنوب إلا أنت فاغفر لي مغفرة من عندك إنك أنت الغفور الرحيم رواه البخاري [رقم: ٨٣٤, ومسلم رقم: ٢٧٠٥] .

…dosa-dosa melainkan Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Diriwayatkan oleh al-Bukhari [no. 834] dan Muslim [no. 2705].

ويسن أن ينقص دعاء الإمام عن قدر أقل التشهد والصلاة على النبي ﷺ.

Disunnahkan agar doa imam tidak melebihi kadar waktu minimal tasyahud dan shalawat kepada Nabi ﷺ.

قال شيخنا: تكره الصلاة على النبي ص بعد أدعية التشهد.

Guru kami berkata: Dimakruhkan membaca shalawat kepada Nabi ﷺ setelah doa-doa tasyahud.

١٢- وثاني عشرها: قعود لهما أي للتشهد والصلاة وكذا للسلام.

12- Rukun yang kedua belas: Duduk untuk keduanya, yaitu untuk tasyahud dan shalawat, demikian pula untuk salam.

وسن تورك فيه أي في قعود التشهد الأخير وهو ما يعقبه سلام فلا يتورك مسبوق في تشهد إمامه الأخير ولا من يسجد لسهو وهو كالافتراش لكن يخرج يسراه من جهة يمناه ويلصق وركه بالأرض.

Disunnahkan duduk tawarruk padanya, yaitu pada duduk tasyahud akhir yang diiringi salam. Maka seorang makmum masbuq tidak duduk tawarruk pada tasyahud akhir imamnya, tidak pula orang yang hendak sujud sahwi. Cara duduk tawarruk ini seperti duduk iftirasy, tetapi ia mengeluarkan kaki kirinya dari arah sisi kanannya dan menempelkan pinggulnya ke lantai.

ووضع يديه في قعود تشهديه على طرف ركبتيه بحيث تسامته رؤوس الأصابع.

Dan (disunnahkan) meletakkan kedua tangannya saat duduk pada kedua tasyahudnya di ujung kedua lututnya sekira ujung jari-jari sejajar dengan ujung lutut.

ناشرا أصابع يسراه مع ضم لها وقابضا أصابع يمناه إلا المسبحة بكسر الباء وهي التي تلي الإبهام فيرسلها.

dengan membentangkan jari-jari tangan kirinya seraya merapatkannya, dan menggenggam jari-jari tangan kanannya kecuali jari telunjuk (al-musabbihah, dengan kasrah pada huruf ba') yaitu jari yang bersebelahan dengan ibu jari, maka ia melepaskannya (tidak menggenggamnya).

وسن رفعها أي المسبحة مع إمالتها قليلا عند همزة إلا الله للاتباع.

Disunnahkan mengangkatnya, yaitu jari telunjuk, dengan sedikit mencondongkannya ketika sampai pada hamzah kalimat "illallah" karena mengikuti sunnah (ittiba').

وإدامته أي الرفع فلا يضعها بل تبقى مرفوعة إلى القيام أو

Dan mengekalkannya, yaitu mengangkat (jari telunjuk), maka ia tidak meletakkannya kembali melainkan tetap terangkat hingga berdiri atau…

ونظر إليها.

dan memandangnya (jari telunjuk).

١٣- وتسليمة أولى وأقلها: السلام عليكم وسن ثانية بـ: ﵀ والتفات فيهما.

13- Dan salam yang pertama, sekurang-kurangnya adalah: "As-Salāmu 'Alaikum". Disunnahkan salam yang kedua dengan (menambahkan): "Warahmatullāh" serta berpaling (menoleh) pada keduanya.

السلام والأفضل قبض الإبهام بجنبها بأن يضع رأس الإبهام عند أسفلها على حرف الراحة كعاقد ثلاثة وخمسين.

salam… Dan yang lebih utama adalah menggenggam ibu jari di sampingnya (jari telunjuk), yaitu dengan meletakkan ujung ibu jari di pangkal telunjuk pada tepi telapak tangan seperti orang yang membentuk angka lima puluh tiga (dengan jarinya).

ولو وضع اليمنى على غير الركبة يشير بسبابتها حينئذ.

Seandainya ia meletakkan tangan kanan di selain lutut, maka ia tetap memberi isyarat dengan jari telunjuknya saat itu.

ولا يسن رفعها خارج الصلاة عند إلا الله.

Dan tidak disunnahkan mengangkatnya di luar shalat ketika mengucapkan "illallāh".

وسن نظر إليها أي قصر النظر إلى المسبحة حال رفعها ولو مستورة بنحو كم كما قال شيخنا.

Disunnahkan memandang kepadanya, yaitu membatasi pandangan mata ke jari telunjuk saat mengangkatnya, meskipun tertutup oleh semacam lengan baju, sebagaimana dikatakan oleh Guru kami.

١٣- وثالث عشرها: تسليمة أولى وأقلها: السلام عليكم للاتباع ويكره عليكم السلام ولا يجزئ

13- Rukun yang ke-13: Salam pertama, dan sekurang-kurangnya adalah: "As-Salāmu 'Alaikum" karena mengikuti petunjuk Nabi (ittiba'). Dimakruhkan mengucapkan "'Alaikumus-Salām" dan tidak mencukupi…

سلام عليكم بالتنكير ولا سلام الله أو سلامي عليكم بل تبطل الصلاة إن تعمد وعلم كما في شرح الإرشاد لشيخنا.

…ucapan "Salāmun 'Alaikum" dengan bentuk nakirah, tidak juga "Salāmullāh" atau "Salāmī 'Alaikum", bahkan shalatnya batal jika ia sengaja dan tahu (hukumnya), sebagaimana dalam Syarh Al-Irsyad karya Guru kami.

وسن تسليمة ثانية وإن تركها إمامه وتحرم إن عرض بعد الأولى مناف كحدث وخروج وقت جمعة ووجود عار سترة.

Disunnahkan salam yang kedua meskipun imamnya meninggalkannya. Dan diharamkan (salam kedua) apabila setelah salam pertama terjadi hal yang membatalkan (shalat), seperti berhadas, habisnya waktu shalat Jumat, atau orang yang telanjang menemukan penutup aurat.

ويسن أن يقرن كلا من التسليمتين برحمة الله أي معها دون: وبركاته على المنقول في غير الجنازة لكن اختير ندبها لثبوتها من عدة طرق.

Disunnahkan menyertakan pada masing-masing dari kedua salam tersebut ucapan "Wa Rahmatullāh", yaitu bersamanya, tanpa ucapan "Wa Barakātuh" menurut riwayat yang dinukil selain dalam shalat jenazah. Namun dipilih hukum sunnah untuk mengucapkannya karena shahihnya riwayat tersebut dari beberapa jalur.

ومع التفات فيهما حتى يرى خده الأيمن في الأولى والأيسر في الثانية.

Beserta berpaling (menoleh) pada keduanya hingga pipi kanannya terlihat pada salam pertama dan pipi kirinya pada salam kedua.

١٤- وترتيب بين أركانها,

14- Dan tertib di antara rukun-rukunnya,

تنبيه يسن لكل من الإمام والمأموم والمنفرد أن ينوي السلام على من التفت هو إليه ممن عن يمينه بالتسليمة الأولى وعن يساره بالتسليمة الثانية من ملائكة ومؤمني إنس وجن وبأيتهما شاء على من خلفه وأمامه وبالأولى أفضل.

Peringatan: Disunnahkan bagi masing-masing imam, makmum, dan orang yang shalat sendirian (munfarid) untuk berniat memberi salam kepada siapa saja yang ia menoleh kepadanya di sebelah kanannya pada salam pertama, dan sebelah kirinya pada salam kedua, yaitu dari kalangan malaikat serta orang-orang beriman dari bangsa manusia dan jin; dan dengan salam mana saja yang ia kehendaki kepada orang di belakang dan di depannya, namun dengan salam pertama adalah lebih utama.

وللمأموم أن ينوي الرد على الإمام بأي سلاميه شاء إن كان خلفه وبالثانية إن كان عن يمينه وبالأولى إن كان عن يساره.

Bagi makmum disunnahkan berniat menjawab salam imam dengan salah satu dari kedua salamnya yang ia kehendaki jika ia berada di belakang imam, dengan salam kedua jika ia berada di sebelah kanan imam, dan dengan salam pertama jika ia berada di sebelah kiri imam.

ويسن أن ينوي بعض المأمومين الرد على بعض فينويه من على يمين المسلم بالتسليمة الثانية ومن على يساره بالأولى ومن خلفه وأمامه بأيتهما شاء وبالأولى أولى.

Disunnahkan pula sebagian makmum berniat menjawab salam kepada sebagian lainnya; maka orang yang berada di sebelah kanan orang yang mengucapkan salam berniat menjawabnya dengan salam kedua, orang yang berada di sebelah kirinya dengan salam pertama, dan orang yang di belakang atau di depannya dengan salam mana saja yang ia kehendaki, dan dengan salam pertama adalah lebih utama.

فروع يسن نية الخروج من الصلاة بالتسليمة الأولى خروجا من الخلاف في وجوبها وأن يدرج السلام وأن يبتدئه مستقبلا بوجهه القبلة وأن ينهيه مع تمام الالتفات وأن يسلم المأموم بعد تسليمتي الإمام.

Cabang-cabang masalah: Disunnahkan berniat keluar dari shalat bersamaan dengan salam pertama guna keluar dari perselisihan ulama tentang kewajibannya, menyambung ucapan salam (tanpa jeda), memulainya dengan wajah menghadap kiblat, mengakhirinya bersamaan dengan sempurnanya menoleh, dan hendaknya makmum mengucapkan salam setelah kedua salam imam selesai.

١٤- ورابع عشرها: ترتيب بين أركانها المتقدمة كما ذكر فإن تعمد الإخلال بالترتيب بتقديم ركن فعلي كأن سجد قبل الركوع بطلت صلاته.

14- Rukun yang ke-14: Tertib di antara rukun-rukunnya yang telah disebutkan di atas sebagaimana dijelaskan. Apabila seseorang sengaja merusak tertib dengan mendahulukan rukun fi'li (perbuatan), seperti sujud sebelum rukuk, maka batal shalatnya.

أما تقديم الركن القولي فلا يضر إلا السلام والترتيب بين

Adapun mendahulukan rukun qauli (ucapan), maka tidak membatalkan kecuali salam, dan tertib antara

ولو سها غير مأموم بترك ركن أو شك أتى به إن كان قبل فعل مثله وإلا أجزأه وتدارك.

Dan jika selain makmum lupa dengan meninggalkan rukun atau ragu-ragu, ia wajib melakukannya jika sebelum melakukan rukun yang serupa darinya, jika tidak, maka rukun serupa itu mencukupinya dan ia menyusul sisa salatnya.

السنن كالسورة بعد الفاتحة والدعاء بعد التشهد والصلاة شرط للاعتداد بسنيتها.

sunnah-sunnah, seperti membaca surah setelah Al-Fatihah, berdoa setelah tasyahud dan salawat, adalah syarat agar kesunnahannya dihitung.

ولو سها غير مأموم في الترتيب بترك ركن كأن سجد قبل الركوع أو ركع قبل الفاتحة لغا ما فعله حتى يأتي بالمتروك فإن تذكر قبل بلوغ مثله أتى به وإلا فسيأتي بيانه.

Dan jika selain makmum lupa dalam urutan tertib dengan meninggalkan rukun, seperti sujud sebelum ruku' atau ruku' sebelum membaca Al-Fatihah, maka apa yang dilakukannya gugur (tidak dihitung) sampai ia mendatangi rukun yang ditinggalkan. Jika ia teringat sebelum mencapai rukun yang serupa dengannya, maka ia membawakan rukun yang tertinggal itu; jika tidak, penjelasannya akan datang.

أو شك هو أي غير المأموم في ركن هل فعل أم لا كأن شك راكعا هل قرأ الفاتحة أو ساجدا هل ركع أو اعتدل أتى به فورا وجوبا إن كان الشك قبل فعله مثله أي مثل المشكوك فيه من ركعة أخرى وإلا أي وإن لم يتذكر حتى فعل مثله في ركعة أخرى أجزأه عن متروكة ولغا ما بينهما.

Atau jika ia—yaitu selain makmum—ragu-ragu pada suatu rukun apakah sudah dikerjakan atau belum, seperti ragu saat ruku' apakah sudah membaca Al-Fatihah, atau saat sujud apakah sudah ruku' atau i'tidal, maka ia wajib langsung melakukannya seketika jika keraguan itu terjadi sebelum ia melakukan rukun serupa dari rakaat lain. Jika tidak—yakni jika ia tidak teringat sampai ia melakukan rukun serupa pada rakaat lain—maka rukun serupa itu mencukupinya dari rukun yang ditinggalkan dan gugur (batal) apa yang ada di antara keduanya.

هذا كله إن علم عين المتروك ومحله فإن جهل عينه وجوز أنه النية أو تكبيرة الإحرام بطلت صلاته.

Ini semua jika ia mengetahui dengan pasti rukun yang ditinggalkan dan letaknya. Namun jika ia tidak mengetahui pasti jenisnya dan menduga kemungkinan rukun itu adalah niat atau takbiratul ihram, maka batal salatnya.

ولم يشترط هنا طول فصل ولا مضي ركن.

Dan di sini tidak disyaratkan adanya jeda waktu yang lama maupun berlalunya satu rukun.

أو أنه السلام يسلم وإن طال الفصل على الأوجه.

Atau jika (yang ditinggalkan) itu adalah salam, maka ia bersalam meskipun jeda waktunya sudah lama, menurut pendapat yang lebih kuat.

أو أنه غيرهما أخذ بالأسوأ وبنى على ما فعله وتدارك الباقي من صلاته.

Atau jika rukun itu selain dari keduanya, ia mengambil kemungkinan yang terburuk (paling berat), lalu mendasarkan pada apa yang telah dilakukannya dan menyusul sisa salatnya.

نعم إن لم يكن المثل من الصلاة كسجود تلاوة لم يجزئه.

Ya, jika rukun yang serupa itu bukan bagian dari salat, seperti sujud tilawah, maka itu tidak mencukupinya.

فرع:

Cabang masalah:

سن دخول صلاة بنشاط وفراغ قلب وفيها خشوع بقلبه وبجوارحه,

Disunnahkan memasuki salat dengan semangat dan hati yang kosong (dari kesibukan), serta di dalamnya ada kekhusyukan dengan hati dan anggota badannya,

أما مأموم علم أو شك قبل ركوعه وبعد ركوع إمامه أنه ترك الفاتحة فيقرؤها ويسعى خلفه وبعد ركوعهما لم يعد إلى القيام لقراءته الفاتحة بل يتبع إمامه ويصلي ركعة بعد سلام الإمام.

Adapun makmum yang mengetahui atau ragu-ragu sebelum ruku'nya dan setelah ruku' imamnya bahwa ia meninggalkan Al-Fatihah, maka ia membaca Al-Fatihah dan berusaha menyusul di belakangnya. Namun setelah ruku' keduanya, ia tidak perlu kembali berdiri untuk membaca Al-Fatihah, melainkan mengikuti imamnya dan menambah satu rakaat setelah salam imam.

فرع سن دخول صلاة بنشاط لأنه تعالى ذم تاركيه بقوله: ﴿وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى﴾ [٤- سورة النساء /الآية: ١٤٢] والكسل: الفتور والتواني.

Cabang masalah: Disunnahkan memasuki salat dengan semangat karena Allah Ta'ala mencela orang yang meninggalkannya dengan firman-Nya: "Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas" [QS. An-Nisa': 142]. Dan malas (al-kasal) adalah rasa lemah dan menunda-nunda.

وفراغ قلب من الشواغل لأنه أقرب إلى الخشوع.

Dan (disunnahkan) mengosongkan hati dari hal-hal yang mengganggu, karena itu lebih dekat kepada kekhusyukan.

وسن فيها أي في صلاته كلها خشوع بقلبه بأن لا يحضر فيه غير ما هو فيه وإن تعلق بالآخرة.

Dan disunnahkan di dalamnya—yaitu di seluruh salatnya—adanya kekhusyukan dengan hatinya, yaitu dengan tidak menghadirkan di dalam hatinya hal selain yang sedang ia jalani, meskipun berkaitan dengan urusan akhirat.

وبجوارحه بأن لا يعبث بأحدها وذلك لثناء الله تعالى في كتابه العزيز على فاعليه بقوله: ﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ﴾ [٢٣ سورة المؤمنون/ الآيتان ١, ٢] ولانتفاء ثواب الصلاة بانتفائه كما دلت عليه الأحاديث الصحيحة ولان لنا وجها اختاره جمع أنه شرط للصحة.

Dan (khusyuk) dengan anggota tubuhnya, yaitu dengan tidak bermain-main dengan salah satu anggota tubuhnya. Hal itu karena pujian Allah Ta'ala dalam Kitab-Nya yang mulia kepada orang-orang yang melakukannya melalui firman-Nya: "Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya" [QS. Al-Mu'minun: 1-2], dan karena ketiadaan pahala salat dengan ketiadaan khusyuk sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis sahih, serta karena kita memiliki satu pendapat (dalam mazhab) yang dipilih oleh sekelompok ulama bahwa khusyuk adalah syarat sah salat.

ومما يحصل الخشوع استحضاره أنه بين يدي ملك الملوك الذي

Di antara hal yang mewujudkan kekhusyukan adalah menghadirkan kesadaran bahwa ia sedang berada di hadapan Raja segala raja yang

وتدبر قراءة وذكر وإدامة نظر محل سجوده,

Dan merenungkan (mentadaburi) bacaan Al-Qur'an serta zikir, dan terus-menerus memandang tempat sujudnya,

يعلم السر وأخفى يناجيه وأنك ربما تجلى عليه بالقهر لعدم القيام بحق ربوبيته فرد عليه صلاته.

Maha Mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi, sedang ia bermunajat kepada-Nya; dan bahwasanya bisa jadi Allah menampakkan keperkasaan-Nya kepadanya karena ia tidak menunaikan hak ketuhanan-Nya, sehingga shalatnya ditolak.

وقال سيدي القطب العارف بالله محمد البكري ﵁: إن مما يورث الخشوع إطالة الركوع والسجود.

Sayyidi Al-Quthb Al-Arif billah Muhammad Al-Bakri radhiyallahu 'anhu berkata: 'Sesungguhnya di antara hal yang menumbuhkan kekhusyukan adalah memanjangkan ruku' dan sujud.'

وتدبر قراءة أي تأمل معانيها قال تعالى: ﴿أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ﴾ [٤٧ سورة محمد الآية: ٢٤] ولان به يكمل مقصود الخشوع.

Dan merenungkan (mentadaburi) bacaan, maksudnya memikirkan makna-maknanya. Allah Ta'ala berfirman: 'Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur'an?' [QS. Muhammad: 24]. Karena dengan hal itu, tujuan kekhusyukan menjadi sempurna.

وتدبر ذكر قياسا على القراءة.

Dan merenungkan zikir, diqiyaskan (dianalogikan) dengan bacaan Al-Qur'an.

وسن إدامة نظر محل سجوده لان ذلك أقرب إلى الخشوع ولو أعمى وإن كان عند الكعبة أو في الظلمة أو في صلاة الجنازة نعم السنة أن يقصر نظره على مسبحته عند رفعها في التشهد لخبر صحيح فيه.

Disunnahkan untuk terus-menerus memandang tempat sujudnya karena hal itu lebih mendekatkan kepada kekhusyukan, meskipun bagi orang buta, dan meskipun berada di sisi Ka'bah, di tempat yang gelap, atau dalam shalat jenazah. Ya, yang disunnahkan adalah membatasi pandangannya pada jari telunjuknya ketika mengangkatnya saat tasyahhud berdasarkan hadits shahih mengenai hal tersebut.

ولا يكره تغميض عينيه إن لم يخف ضررا.

Dan tidak dimakruhkan memejamkan kedua matanya jika ia tidak mengkhawatirkan timbulnya bahaya.

فائدة: يكره للمصلي الذكر وغيره ترك شيء من سنن الصلاة.

Faedah: Dimakruhkan bagi orang yang shalat—baik laki-laki maupun lainnya—meninggalkan sesuatu dari sunnah-sunnah shalat.

قال شيخنا: وفي عمومه نظر والذي يتجه تخصيصه بما ورد فيه نهي أو خلاف في الوجوب.

Guru kami berkata: Keumuman hukum ini perlu ditinjau kembali. Pendapat yang kuat adalah mengkhususkannya pada hal-hal yang terdapat larangan atau perbedaan pendapat mengenai kewajibannya.

وذكر ودعاء سرا عقبها,

Dan berzikir serta berdoa secara pelan (sirr) setelah selesai shalat,

وسن ذكر ودعاء سرا عقبها أي الصلاة أي يسن الإسرار بهما لمنفرد ومأموم وإمام لم يرد تعليم

Disunnahkan berzikir dan berdoa secara pelan (sirr) setelahnya, yaitu setelah shalat. Maksudnya disunnahkan memelankan suara pada keduanya bagi orang yang shalat sendirian, makmum, dan imam yang tidak bermaksud mengajari

الحاضرين ولا تأمينهم لدعائه بسماعه وورد فيهما أحاديث كثيرة ذكرت جملة منها في كتابي إرشاد العباد١ فاطلبه فإنه مهم.

orang-orang yang hadir, dan juga tidak bertujuan agar mereka mengaminkan doanya karena mendengarnya. Telah ada banyak hadits mengenai keduanya, yang telah aku sebutkan sebagian di antaranya dalam kitabku 'Irsyadul Ibad', maka carilah kitab tersebut karena itu penting.

وروى الترمذي [رقم: ٣٤٩٩] عن أبي أمامة قال: قيل لرسول الله ص: أي الدعاء أسمع؟ أي أقرب إلى الإجابة؟ قال: جوف الليل ودبر الصلوات المكتوبات.

At-Tirmidzi meriwayatkan [No: 3499] dari Abu Umamah, ia berkata: Dikatakan kepada Rasulullah ﷺ: 'Doa manakah yang paling didengar (yakni paling mendekati ijabah)?' Beliau bersabda: 'Di tengah malam dan di akhir shalat-shalat fardhu.'

وروى الشيخان [البخاري رقم: ٢٩٩٢, ومسلم رقم: ٢٧٠٤] عن أبي موسى قال: كنا مع النبي ص فكنا إذا أشرفنا على واد هللنا وكبرنا وارتفعت أصواتنا فقال النبي ﷺ: "يأيها الناس أربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائبا إنه معكم٢ إنه سميع قريب" احتج به البيهقي وغيره للإسرار بالذكر والدعاء وقال الشافعي في الأم: أختار للإمام والمأموم أن يذكرا الله تعالى بعد السلام من الصلاة ويخفيا الذكر إلا أن يكون إماما يريد أن يتعلم منه فيجهر حتى يرى أنه قد تعلم منه ثم يسر فإن الله تعالى يقول: ﴿وَلا

Asy-Syaikhani (Al-Bukhari [No: 2992] dan Muslim [No: 2704]) meriwayatkan dari Abu Musa, ia berkata: 'Kami pernah bersama Nabi ﷺ. Apabila kami mendaki suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan suara keras.' Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Wahai manusia, kasihanilah diri kalian! Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak pula Dzat yang gaib. Sesungguhnya Dia bersamamu, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.' Al-Baihaqi dan lainnya menjadikannya dalil untuk memelankan suara (sirr) dalam zikir dan doa. Asy-Syafii berkata dalam al-Umm: 'Aku menyukai bagi imam dan makmum untuk berzikir kepada Allah Ta'ala setelah salam dari shalat dan memelankan zikir tersebut, kecuali jika ia seorang imam yang ingin agar orang-orang belajar darinya, maka ia mengeraskan suaranya hingga ia menilai bahwa mereka telah belajar darinya, lalu setelah itu memelankannya kembali. Karena Allah Ta'ala berfirman: 'Dan janganlah kamu…'

٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠٠

………………………….

تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا﴾ [١٧ سورة الإسراء الآية: ١١٠] يعني والله أعلم: الدعاء ولا تجهر حتى تسمع غيرك ولا تخافت حتى لا تسمع نفسك انتهى.

menyerukan shalatmu dengan suara keras dan jangan pula memelankannya' [QS. Al-Isra': 110]. Maksudnya—wallahu a'lam—adalah doa: janganlah engkau mengeraskannya hingga memperdengarkannya kepada orang lain, dan jangan pula memelankannya hingga engkau tidak dapat mendengarnya sendiri. Selesai.

فائدة: قال شيخنا: أما المبالغة في الجهر بهما في المسجد بحيث يحصل تشويش على مصل فينبغي حرمتها.

Faedah: Guru kami berkata: 'Adapun berlebihan dalam mengeraskan suara saat melakukan keduanya (zikir dan doa) di masjid sehingga menimbulkan gangguan bagi orang yang sedang shalat, maka sepatutnya hukumnya adalah haram.'

فروع يسن افتتاح الدعاء بالحمد لله والصلاة على النبي ص والختم بهما وبآمين وتأمين مأموم سمع دعاء الإمام وإن حفظ ذلك ورفع يديه الطاهرتين حذو منكبيه ومسح الوجه بهما بعده واستقبال القبلة حالة

Cabang-cabang masalah: Disunnahkan mengawali doa dengan memuji Allah (alhamdulillah) dan shalawat kepada Nabi SAW serta mengakhirinya dengan keduanya dan dengan mengucapkan "Aamin", mengaminkan bagi makmum yang mendengar doa imam meskipun ia telah menghafal doa tersebut, mengangkat kedua tangannya yang suci sejajar dengan kedua bahunya, mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa, dan menghadap kiblat pada saat

الذكر أو الدعاء إن كان منفردا أو مأموما أما الإمام إذا ترك القيام من مصلاه الذي هو أفضل له فالأفضل جعل يمينه إلى المأمومين ويساره إلى القبلة.

berdzikir atau berdoa jika ia shalat munfarid (sendirian) atau menjadi makmum. Adapun bagi imam, jika ia tidak langsung berdiri meninggalkan tempat shalatnya—yang mana (langsung berdiri) itu lebih utama baginya—maka yang lebih utama adalah menjadikan sisi kanannya menghadap ke makmum dan sisi kirinya menghadap ke kiblat.

قال شيخنا١: ولو في الدعاء وانصرافه لا ينافي ندب الذكر له عقبها لأنه يأتي به في محله الذي ينصرف إليه ولا يفوت بفعل الراتبة وإنما الفائت به كماله لا غيره وقضية كلامهم حصول ثواب الذكر وإن جهل معناه ونظر فيه الأسنوي ولا يأتي هذا في القرآن

Guru kami berkata: "Meskipun di dalam doa. Berpindahnya imam tidak menafikan kesunnahannya berdzikir setelah shalat, karena ia melakukannya di tempat yang ia berpindah kepadanya. Berdzikir tidak luput dengan mengerjakan shalat sunnah rawatib, melainkan yang luput hanyalah kesempurnaannya saja, bukan pokok pahalanya. Konsekuensi dari perkataan mereka adalah tetap mendapatkan pahala dzikir meskipun tidak mengetahui maknanya, namun Al-Asnawi meninjau kembali hal ini (mempertanyakannya), dan hal ini tidak berlaku pada Al-Qur'an

وندب توجه لنحو جدار فعصا مغروزة فبسط مصلى,

Dan disunnahkan menghadap ke semacam tembok, lalu tongkat yang ditancapkan, lalu membentangkan tempat shalat (sajadah),

للتعبد بلفظه فأثيب قارئه وإن لم يعرف معناه بخلاف الذكر لا بد أن يعرفه ولو بوجه انتهى.

karena lafaz Al-Qur'an bernilai ibadah (ta'abbudi), sehingga pembacanya diberi pahala meskipun tidak mengetahui maknanya, berbeda dengan dzikir yang harus diketahui maknanya meskipun hanya dari satu sisi." Selesai.

ويندب أن ينتقل لفرض أو نفل من موضع صلاته ليشهد له الموضع حيث لم تعارضه فضيلة نحو صف أول فإن لم ينتقل فصل بكلام إنسان.

Dan disunnahkan berpindah tempat untuk mengerjakan shalat fardhu atau shalat sunnah dari tempat shalatnya semula agar tempat tersebut bersaksi untuknya, sekiranya hal itu tidak menafikan keutamaan lain seperti shaf pertama. Jika ia tidak berpindah tempat, maka pisahkanlah (antara dua shalat) dengan perkataan manusia.

والنفل لغير المعتكف في بيته أفضل إن أمن فوته أو تهاونا به إلا في نافلة المبكر للجمعة أو ما سن فيه الجماعة أو ورد في المسجد كالضحى وأن يكون انتقال المأموم بعد انتقال إمامه.

Mengerjakan shalat sunnah di rumah bagi selain orang yang ber-i'tikaf itu lebih utama jika ia merasa aman dari terluputnya shalat tersebut atau meremehkannya, kecuali pada shalat sunnah bagi orang yang berangkat awal untuk shalat Jumat, shalat sunnah yang disunnahkan berjamaah, atau yang ada riwayat dikerjakan di masjid seperti shalat Dhuha. Dan hendaknya berpindahnya makmum itu dilakukan setelah berpindahnya imamnya.

وندب لمصل توجه لنحو جدار أو عمود من كل شاخص طول ارتفاعه ثلثا ذراع فأكثر وما بينه وبين عقب المصلي ثلاثة أذرع فأقل.

Disunnahkan bagi orang yang shalat untuk menghadap ke semacam tembok atau tiang dari setiap benda berdiri tegak yang tingginya dua pertiga hasta atau lebih, dan jarak antara benda tersebut dengan tumit orang yang shalat adalah tiga hasta atau kurang.

ثم إن عجز عنه ف لنحو عصا مغروزة كمتاع ف إن لم يجده ندب بسط مصلى كسجادة.

Kemudian jika ia tidak mampu melakukanya (tidak menemukan benda tegak), maka menghadap ke semacam tongkat yang ditancapkan atau barang bawaan. Lalu jika ia tidak menemukannya, disunnahkan membentangkan tempat shalat seperti sajadah.

ثم إن عجز عنه خط أمامه خطا في ثلاثة أذرع عرضا أو طولا وهو أولى لخبر أبي داود [رقم: ٦٨٩] : إذا صلى أحدكم فليجعل أمام وجهه شيئا فإن لم يجد فلينصب عصا فإن لم يكن معه عصا فليخط خطا ثم لا يضره ما مر أمامه.

Kemudian jika ia tidak mampu melakukanya, ia membuat garis di depannya sepanjang tiga hasta secara melintang atau membujur—dan hal ini lebih utama—berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud [No. 689]: "Jika salah seorang di antara kalian shalat, hendaklah ia meletakkan sesuatu di depan wajahnya. Jika ia tidak menemukan, hendaklah ia menancapkan tongkat. Jika ia tidak membawa tongkat, hendaklah ia membuat garis, kemudian tidak membahayakannya apa yang lewat di depannya."

وقيس بالخط المصلى وقدم على الخط لأنه أظهر في المراد.

Sajadah (alas shalat) diqiyaskan dengan garis, dan alas shalat ini didahulukan atas garis karena lebih jelas menunjukkan maksud (sebagai pembatas shalat).

والترتيب المذكور هو المعتمد خلافا لما يوهمه كلام ابن المقري.

Urutan tersebut adalah pendapat yang mu'tamad (dapat dijadikan pegangan), berbeda dengan pemahaman implisit dari perkataan Ibnul Muqri.

وكره فيها التفات

Dan dimakruhkan di dalamnya (di dalam shalat) menoleh

فمتى عدل عن رتبة إلى ما دونها مع القدرة عليها كانت كالعدم.

Maka kapan saja seseorang berpaling dari satu tingkatan ke tingkatan di bawahnya padahal ia mampu melakukanya, maka tingkatan di bawahnya tersebut dianggap seperti tidak ada.

ويسن أن لا يجعل السترة تلقاء وجهه بل عن يمينه أو يساره.

Disunnahkan pula untuk tidak meletakkan sutrah (pembatas) persis di depan wajahnya, melainkan agak ke sebelah kanan atau kirinya.

وكل صف سترة لمن خلفه إن قرب منه.

Setiap shaf merupakan sutrah bagi orang yang ada di belakangnya jika ia dekat darinya.

قال البغوي: سترة الإمام سترة من خلفه انتهى.

Al-Baghawi berkata: "Sutrah imam adalah sutrah bagi orang-orang di belakangnya." Selesai.

ولو تعارضت السترة والقرب من الإمام أو الصف الأول فما الذي يقدم؟

Seandainya terjadi pertentangan antara meletakkan sutrah dengan dekat kepada imam atau shaf pertama, manakah yang harus didahulukan?

قال شيخنا: كل محتمل وظاهر قولهم يقدم الصف الأول في مسجده ﷺ وإن كان خارج مسجده المختص بالمضاعفة تقديم نحو الصف الأول انتهى.

Guru kami berkata: Masing-masing (pendapat) memiliki kemungkinan, dan yang tampak dari perkataan mereka bahwa saf pertama di masjid beliau ﷺ didahulukan meskipun berada di luar area khusus masjid beliau yang dilipatgandakan pahalanya, yaitu mendahulukan semisal saf pertama. Selesai.

وإذا صلى إلى شيء منها فيسن له ولغيره دفع مار بينه وبين السترة المستوفية للشروط وقد تعدى بمروره لكونه مكلفا.

Apabila ia shalat menghadap ke salah satu dari sutrah tersebut, disunnahkan baginya dan bagi selainnya untuk mencegah orang yang lewat di antara dirinya dan sutrah yang telah memenuhi syarat-syaratnya, sedangkan orang yang lewat tersebut telah melanggar hukum karena ia seorang mukallaf.

ويحرم المرور بينه وبين السترة حين يسن له الدفع وإن لم يجد المار سبيلا ما لم يقصر بوقوف في طريق أو في صف مع فرجة في صف آخر بين يديه فلداخل خرق الصفوف وإن كثرت حتى يسدها.

Dan diharamkan lewat di antara orang yang shalat dan sutrahnya ketika ia disunnahkan mencegahnya, meskipun orang yang lewat tidak menemukan jalan lain, selama orang yang shalat tersebut tidak bertindak lalai dengan berdiri di jalan atau berada di dalam saf padahal terdapat celah di saf lain di depannya. Maka bagi orang yang hendak masuk (bergabung) boleh membelah saf-saf meskipun banyak hingga ia mengisi celah tersebut.

وكره فيها أي الصلاة التفات بوجه بلا حاجة وقيل: يحرم.

Dan dimakruhkan di dalamnya, yaitu di dalam shalat, menoleh dengan wajah tanpa ada kebutuhan, dan dikatakan (menurut satu pendapat): hukumnya haram.

واختير للخبر الصحيح [أبو داود رقم: ٩٠٩, النسائي رقم: ١١٩٥, مسند أحمد رقم: ٢٠٩٩٧, الدارمي رقم: ١٤٢٣] : لا يزال الله مقبلا على العبد في مصلاه أي برحمته ورضاه ما لم يلتفت فإذا التفت أعرض عنه.

Dan pendapat tersebut dipilih berdasarkan hadis shahih: "Allah senantiasa menghadap kepada hamba di tempat shalatnya—maksudnya dengan rahmat dan keridhaan-Nya—selama ia tidak menoleh. Apabila ia menoleh, maka Allah berpaling darinya."

ونظر نحو سماء وبصق أماما ويمينا,

Dan memandang ke arah langit, serta meludah ke depan dan ke kanan,

فلا يكره لحاجة كما لا يكره مجرد لمح العين.

Maka tidak makruh jika karena suatu kebutuhan, sebagaimana tidak makruh hanya sekadar kerlingan mata.

ونظر نحو سماء مما يلهي كثوب له أعلام لخبر البخاري [رقم: ٧٥٠] : "ما بال أقوام يرفعون أبصارهم إلى السماء في صلاتهم فاشتد قوله في ذلك حتى قال: لينتهن عن ذلك أو لتخطفن أبصارهم" ومن ثم كرهت أيضا في مخطط أو إليه أو عليه لأنه يخل بالخشوع.

Dan memandang ke arah langit, serta hal-hal yang melalaikan seperti pakaian yang bermotif/bergambar, berdasarkan hadis al-Bukhari: "Mengapa orang-orang mengangkat pandangan mereka ke langit dalam shalat mereka?" Ucapan beliau sangat keras mengenai hal itu hingga beliau bersabda: "Hendaklah mereka benar-benar berhenti dari hal itu atau pandangan mereka benar-benar akan disambar." Oleh karena itu, dimakruhkan juga shalat dengan pakaian bergaris, atau melihat ke arahnya, atau shalat di atasnya, karena hal tersebut merusak kekhusyukan.

وبصق في صلاته وكذا خارجها.

Dan meludah di dalam shalatnya, begitu pula di luar shalat.

أماما أي قبل وجهه وإن لم يكن من هو خارجها مستقبلا كما أطلقه النووي.

Ke depan, yaitu ke arah depannya, meskipun orang yang berada di luar shalat tidak sedang menghadap kiblat, sebagaimana dimutlakkan oleh an-Nawawi.

ويمينا لا يسارا لخبر الشيخين [البخاري رقم ٤٠٥, ومسلم رقم: ٤٩٣] : إذا كان أحدكم في الصلاة فإنه يناجي ربه ﷿ فلا يبزقن بين يديه ولا عن يمينه بل عن يساره أو تحت قدمه اليسرى أو في ثوب من جهة يساره وهو أولى.

Dan ke kanan, bukan ke kiri, berdasarkan hadis al-Bukhari dan Muslim: "Apabila salah seorang dari kalian sedang shalat, sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Rabbnya Azza wa Jalla, maka janganlah ia meludah ke arah depannya dan tidak pula ke sebelah kanannya, melainkan ke sebelah kirinya atau di bawah kaki kirinya atau pada pakaian dari sebelah kirinya, dan ini (pada pakaian) lebih utama."

قال شيخنا: ولا بعد في مراعاة ملك اليمين دون ملك اليسار إظهارا لشرف الأول ولو كان على يساره فقط إنسان بصق عن يمينه إذا لم يمكنه أن يطأطئ رأسه ويبصق لا إلى اليمين ولا إلى اليسار وإنما يحرم البصاق في المسجد إن بقي جرمه لا إن استهلك في نحو ماء مضمضة وأصاب جزءا من أجزائه دون هوائه.

Guru kami berkata: Tidak jauh dari kebenaran anggapan menjaga kehormatan malaikat di sebelah kanan ketimbang malaikat di sebelah kiri sebagai bentuk menampakkan kemuliaan malaikat kanan. Dan jika di sebelah kirinya saja ada orang lain, maka ia meludah ke sebelah kanannya apabila tidak memungkinkan baginya untuk menundukkan kepalanya lalu meludah tanpa ke kanan dan tanpa ke kiri. Dan sesungguhnya diharamkan meludah di masjid jika wujud fisiknya masih tersisa, bukan jika telah larut dalam semisal air berkumur, serta mengenai salah satu bagian dari bangunan masjid, bukan udaranya.

وزعم حرمته في هوائه وإن لم يصب شيئا من أجزائه بعيد غير معول عليه ودون تراب لم يدخل في وقفه.

Dan anggapan keharamannya di udara masjid meskipun tidak mengenai bagian mana pun dari bangunannya adalah pendapat yang jauh dari kebenaran dan tidak dapat dijadikan pegangan. Dan tidak pula (haram jika mengenai) tanah pasir yang tidak termasuk dalam perwakafan masjid.

قيل: ودون حصره لكن يحرم عليها من جهة تقذيرها كما

Dikatakan: Dan tidak pula (haram jika mengenai) tikar masjid, akan tetapi haram atasnya dari sisi mengotorinya sebagaimana…

وكشف رأس ومنكب وصلاة بمدافعة حدث

Dan membuka kepala dan bahu, serta shalat dengan menahan hadas,

هو ظاهر انتهى.

…hal itu jelas. Selesai.

ويجب إخراج نجس منه فورا عينيا على من علم به وإن أرصد لإزالته من يقوم بها بمعلوم كما اقتضاه إطلاقهم.

Dan wajib mengeluarkan najis dari masjid seketika itu juga sebagai fardhu 'ain bagi siapa saja yang mengetahuinya, meskipun telah disiapkan orang yang bertugas untuk mengeluarkannya dengan diberi upah, sebagaimana dituntut oleh kemutlakan pernyataan para ulama.

ويحرم بول فيه ولو في نحو طشت وإدخال نعل متنجسة لم يأمن التلويث ورمي نحو قملة فيه ميتة وقتلها في أرضه وإن قل دمها وأما إلقاؤها أو دفنها فيه حية فظاهر فتاوى النووي حله وظاهر كلام الجواهر تحريمه وبه صرح ابن يونس.

Dan diharamkan kencing di dalam masjid meskipun ke dalam semisal bejana, memasukkan alas kaki yang terkena najis jika tidak aman dari mengotori masjid, membuang bangkai semisal kutu di dalamnya, dan membunuhnya di lantai masjid meskipun darahnya sedikit. Adapun membuangnya atau menguburnya di dalam masjid dalam keadaan hidup, maka yang tampak dari fatwa-fatwa an-Nawawi adalah kebolehannya, sedangkan yang tampak dari perkataan al-Jawahir adalah keharamannya, dan inilah yang ditegaskan oleh Ibn Yunus.

ويكره فصد وحجامة فيه بإناء ورفع صوت ونحو بيع وعمل صناعة فيه.

Dan dimakruhkan melakukan pembekaman darah (fasad) dan hijamah (bekam) di dalamnya (masjid) dengan wadah, meninggikan suara, dan semisal jual beli serta melakukan kerajinan/pertukangan di dalamnya.

وكشف رأس ومنكب واضطباع ولو من فوق القميص قال الغزالي في الإحياء: لا يرد رداءه إذا سقط أي إلا لعذر ومثله العمامة ونحوها.

Dan (dimakruhkan) membuka kepala, bahu, dan melakukan idhtiba' (menyingkapkan rida' di bawah ketiak kanan) meskipun di atas gamis. Al-Ghazali berkata dalam Al-Ihya': Tidak boleh mengambil kembali selendangnya jika jatuh, yaitu kecuali karena uzur, dan begitu pula sorban dan sejenisnya.

وكره صلاة بمدافعة حدث كبول وغائط وريح للخبر الآتي ولأنها تخل بالخشوع بل قال جمع: إن ذهب بها بطلت.

Dan dimakruhkan shalat dengan menahan hadas seperti kencing, buang air besar, dan kentut berdasarkan hadis yang akan datang, dan karena hal itu merusak kekhusyukan, bahkan sekelompok ulama berpendapat: Jika kekhusyukan itu hilang sama sekali karenanya, maka shalatnya batal.

ويسن له تفريغ نفسه قبل الصلاة وإن فاتت الجماعة وليس له الخروج من الفرض إذا طرأت له فيه ولا تأخيره إذا ضاق وقته والعبرة في كراهة ذلك بوجودها عند التحرم.

Disunnahkan baginya untuk membuang hajat terlebih dahulu sebelum shalat meskipun akan ketinggalan shalat berjamaah. Namun ia tidak boleh membatalkan shalat fardu jika dorongan itu baru terjadi di dalam shalatnya, dan tidak boleh menunda shalat fardu jika waktunya sudah sempit. Patokan makruhnya hal tersebut adalah jika dorongan itu ada saat takbiratul ihram.

وينبغي أن يلحق به ما لو عرضت له قبل التحرم فزالت وعلم من عادته أنها تعود إليه في الصلاة.

Dan seyogianya disamakan dengan hal itu yaitu apabila dorongan hajat itu terjadi padanya sebelum takbiratul ihram lalu hilang, namun ia tahu dari kebiasaannya bahwa dorongan itu akan kembali lagi padanya dalam shalat.

وبمقبرة.

Dan (dimakruhkan shalat) di kuburan.

وتكره بحضرة طعام أو شراب يشتاق إليه لخبر مسلم [رقم: ٥٦٠] : "لا صلاة" أي كاملة بحضرة طعام ولا صلاة وهو يدافعه الأخبثان أي البول والغائط.

Dan dimakruhkan shalat di hadapan makanan atau minuman yang sangat ia inginkan, berdasarkan hadis riwayat Muslim [No. 560]: "Tidak ada shalat"—maksudnya tidak sempurna—"di hadapan makanan, dan tidak ada shalat ketika seseorang menahan dua hal yang kotor (al-akhbatsan)," yaitu kencing dan buang air besar.

وكره صلاة في طريق بنيان لا برية وموضع مكس.

Dan dimakruhkan shalat di jalan permukiman (bukan di padang sahara) dan di tempat pemungutan pajak ilegal.

وبمقبرة إن لم يتحقق نبشها سواء صلى إلى القبر أم عليه أم بجانبه كما نص عليه في الأم.

Dan di pemakaman jika tidak dipastikan telah membongkar kuburnya, baik ia shalat menghadap ke kuburan, di atasnya, maupun di sampingnya, sebagaimana ditegaskan dalam kitab Al-Umm.

وتحرم الصلاة لقبر نبي أو نحو ولي تبركا أو إعظاما.

Dan diharamkan shalat ke arah kubur seorang nabi atau wali untuk mencari berkah darinya atau mengagungkannya.

وبحث الزين العراقي عدم كراهة الصلاة في مسجد طرأ دفن الناس حوله وفي أرض مغصوبة.

Dan Az-Zain Al-Iraqi membahas tidak makruhnya shalat di masjid yang belakangan dijadikan tempat pemakaman orang-orang di sekitarnya, serta (pembahasan hukum shalat) di tanah ghasab (tanah milik orang lain tanpa izin).

وتصح بلا ثوب كما في ثوب مغصوب وكذا إن شك في رضا مالكه لا إن ظنه بقرينة.

Dan shalat tetap sah tanpa pahala sebagaimana pada pakaian ghasab, demikian pula jika ragu akan kerelaan pemiliknya, bukan jika ia meyakini/menduganya dengan adanya petunjuk (karinah).

وفي الجيلي: لو ضاق الوقت وهو بأرض مغصوبة أحرم ماشيا ورجحه الغزي.

Dalam pendapat Al-Jili: Jika waktu shalat sudah sempit sedangkan ia berada di tanah ghasab, maka ia takbiratul ihram sambil berjalan keluar, dan pendapat ini diunggulkan oleh Al-Ghazzi.

قال شيخنا: والذي يتجه أنه لا يجوز له صلاة شدة الخوف وأنه يلزمه الترك حتى يخرج منها كما له تركها لتخليص ماله لو أخذ منه بل أولى.

Guru kami berkata: Pendapat yang kuat adalah ia tidak boleh melakukan shalat syiddatul khauf (shalat saat keadaan sangat takut), dan ia wajib menunda shalat hingga keluar darinya sebagaimana ia boleh menundanya untuk menyelamatkan hartanya jika dirampas darinya, bahkan ini lebih utama.