باب الصلاة

فصل في مبطلات الصلاة

فصل في مبطلات الصلاة

فصل [في مبطلات الصلاة]

Fasal [tentang Hal-hal yang Membatalkan Shalat]

تبطل الصلاة بنية قطعها وتردد فيه وبفعل كثير

Shalat menjadi batal sebab niat memutuskannya, ragu-ragu dalam pemutusannya, dan sebab gerakan yang banyak

فصل في مبطلات الصلاة

Fasal tentang Hal-hal yang Membatalkan Shalat

تبطل الصلاة فرضها ونفلها لا صوم واعتكاف بنية قطعها وتعليقه بحصول شيء ولو محالا عاديا.

Shalat—baik yang fardhu maupun yang sunnah, berbeda dengan puasa dan iktikaf—menjadi batal sebab niat memutuskannya (membatalkannya) atau menggantungkan pemutusannya dengan terjadinya sesuatu, meskipun hal itu mustahil secara adat.

وتردد فيه أي القطع ولا مؤاخذة بوسواس قهري في الصلاة كالإيمان وغيره.

Dan (batal pula sebab) ragu-ragu dalam memutuskannya. Dan tidak ada sanksi/dosa akibat bisikan (waswas) yang memaksa di dalam shalat sebagaimana dalam keimanan dan selainnya.

وبفعل كثير يقينا من غير جنس أفعالها إن صدر ممن علم تحريمه أو جهله ولم يعذر

Dan (batal pula) sebab gerakan yang banyak secara yakin yang bukan berasal dari jenis gerakan-gerakan shalat, apabila dilakukan oleh orang yang mengetahui keharamannya atau tidak mengetahuinya namun tidak diberi uzur.

ولاء ولو سهوا كثلاث خطوات توالت لا بحركات خفيفة كتحريك أصابع أو جفن,

secara berturut-turut meskipun karena lupa, seperti tiga langkah yang dilakukan secara beruntun; tidak membatalkan dengan gerakan-gerakan ringan seperti menggerakkan jari-jari atau kelopak mata,

حال كونه ولاء عرفا في غير شدة الخوف ونفل السفر بخلاف القليل كخطوتين وإن اتسعتا حيث لا وثبة والضربتين نعم لو قصد ثلاثا متوالية ثم فعل واحدة أو شرع فيها بطلت صلاته والكثير المتفرق بحيث يعد كل منقطعا عما قبله.

dalam keadaan berturut-turut menurut kebiasaan umum (urf), selain dalam keadaan syiddatul khauf (kondisi sangat takut dalam perang) dan shalat sunnah dalam perjalanan; berbeda halnya dengan gerakan yang sedikit, seperti dua langkah meskipun lebar asalkan tidak ada lompatan, dan dua pukulan. Ya, jika ia berniat melakukan tiga gerakan berturut-turut lalu ia melakukan satu gerakan atau mulai melakukannya, maka batallah shalatnya. Dan gerakan banyak yang terpisah-pisah sekira masing-masing dianggap terputus dari sebelumnya [tidak membatalkan shalat].

وحد البغوي بأن يكون بينهما قدر ركعة ضعيف كما في المجموع ولو كان الفعل الكثير سهوا والكثير كثلاث مضغات.

Batasan yang dibuat oleh Al-Baghawi bahwa jarak antara keduanya adalah sekira durasi satu rakaat merupakan pendapat yang lemah sebagaimana disebutkan dalam Al-Majmu'. Begitu pula (membatalkan) jika perbuatan yang banyak tersebut dilakukan karena lupa. Dan gerakan banyak itu seperti tiga kali kunyahan.

وخطوات توالت وإن كانت بقدر خطوة مغتفرة وكتحريك رأسه ويديه ولو معا والخطوة بفتح الخاء المرة وهي هنا نقل رجل الإمام أو غيره فإن نقل معها الأخرى ولو بلا تعاقب فخطوتان كما اعتمده شيخنا في شرح المنهاج لكن الذي جزم به في شرح الإرشاد وغيره أن نقل رجل مع نقل الأخرى إلى محاذاتها ولاء خطوة فقط فإن نقل كلا على التعاقب فخطوتان بلا نزاع.

Dan langkah-langkah yang berturut-turut, meskipun seukuran satu langkah yang dimaafkan, serta seperti menggerakkan kepala dan kedua tangannya meskipun dilakukan bersamaan. Kata khathwah dengan fathah pada huruf kha' berarti satu kali langkah, dan yang dimaksud di sini adalah memindahkan kaki imam atau selainnya. Jika ia memindahkan kaki lainnya bersamanya meskipun tanpa berurutan, maka itu dihitung dua langkah sebagaimana yang diandalkan oleh Guru kami dalam Syarh al-Minhaj. Namun, pendapat yang ditegaskan dalam Syarh al-Irsyad dan lainnya adalah bahwa memindahkan satu kaki beserta memindahkan kaki lainnya hingga sejajar dengannya secara berturut-turut hanya dihitung satu langkah. Tetapi jika ia memindahkan keduanya secara berurutan, maka dihitung dua langkah tanpa ada perselisihan.

ولو شك في فعل أقليل أو كثير فلا بطلان.

Jika seseorang ragu mengenai perbuatan yang dilakukannya apakah sedikit atau banyak, maka shalatnya tidak batal.

وتبطل بالوثبة وإن لم تتعدد.

Dan shalat menjadi batal sebab lompatan yang keras, meskipun tidak berulang.

لا تبطل بحركات خفيفة وإن كثرت وتوالت بل تكره كتحريك أصبع أو أصابع في حك أو سبحة مع قرار كفه أو جفن أو شفة أو ذكر أو

Shalat tidak batal dengan gerakan-gerakan ringan meskipun banyak dan berturut-turut, melainkan hukumnya makruh, seperti menggerakkan satu jari atau beberapa jari untuk menggaruk atau memutar tasbih dengan tetap diamnya telapak tangan, atau menggerakkan kelopak mata, bibir, zakar, atau

وبنطق بحرفين ولو في تنحنح لغير تعذر قراءة واجبة

dan dengan mengucapkan dua huruf, meskipun berupa dehaman yang bukan karena terhalangnya bacaan yang wajib

لسان لأنها تابعة لمحالها المستقرة كالأصابع ولذلك بحث أن حركة اللسان إن كانت مع تحويله عن محله أبطل ثلاث منها.

lidah, karena anggota-anggota tersebut mengikuti tempatnya yang tetap sebagaimana jari-jemari. Oleh sebab itu, ada pembahasan bahwa jika gerakan lidah disertai perpindahan dari tempatnya, maka tiga kali gerakan darinya membatalkan shalat.

قال شيخنا: وهو محتمل.

Guru kami berkata: "Pendapat tersebut dapat diterima (memungkinkan dipertimbangkan)."

وخرج بالأصابع الكف فتحريكها ثلاثا ولاء مبطل إلا أن يكون به جرب لا يصبر معه عادة على عدم الحك فلا تبطل للضرورة.

Dikecualikan dari jari-jemari adalah telapak tangan, maka menggerakkannya tiga kali berturut-turut dapat membatalkan shalat, kecuali jika ia menderita penyakit kudis (gatal) yang biasanya tidak mampu ditahan tanpa menggaruk, maka shalatnya tidak batal karena kondisi darurat.

قال شيخنا: ويؤخذ منه أن من ابتلي بحركة اضطرارية ينشأ عنها عمل كثير سومح فيه.

Guru kami berkata: Dari hal ini dapat diambil pemahaman bahwa barangsiapa yang diuji dengan gerakan terpaksa (involunter) yang menimbulkan gerakan banyak, maka hal itu dimaafkan.

وإمرار اليد وردها على التوالي بالحك مرة واحدة وكذا رفعها عن صدره ووضعها على موضع الحك مرة واحدة أي إن اتصل أحدهما بالآخر وإلا فكل مرة على ما استظهره شيخنا.

Menggerakkan tangan bolak-balik secara berturut-turut dalam menggaruk dihitung satu kali gerakan. Demikian pula mengangkat tangan dari dada dan meletakkannya di tempat yang gatal dihitung satu kali gerakan, yaitu apabila salah satunya tersambung dengan yang lain; jika tidak tersambung, maka masing-masing dihitung satu kali gerakan menurut pendapat yang dikuatkan oleh Guru kami.

وبنطق عمدا ولو بإكراه بحرفين إن تواليا كما استظهره شيخنا من غير قرآن وذكر أو دعاء لم يقصد بها مجرد التفهيم كقوله لمن استأذنوه في الدخول: ﴿ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ آمِنِينَ﴾ [١٥ سورة الحجر الآية: ٤٦] فإن قصد القراءة أو الذكر وحده أو مع التنبيه لم تبطل وكذا إن أطلق على ما قاله جمع متقدمون.

Dan (batal) dengan mengucapkan dua huruf secara sengaja meskipun karena dipaksa jika keduanya berurutan—sebagaimana yang dikuatkan oleh Guru kami—bukan berupa Al-Qur'an, zikir, atau doa yang tidak dimaksudkan sekadar untuk memberikan pemahaman, seperti ucapannya kepada orang yang meminta izin masuk: "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman" [QS. Al-Hijr: 46]. Jika ia berniat membaca Al-Qur'an atau berzikir semata, atau beserta memberi peringatan, maka shalatnya tidak batal; begitu pula jika ia memutlakkan (tanpa niat khusus) menurut pendapat sekelompok ulama terdahulu.

لكن الذي في التحقيق والدقائق البطلان وهو المعتمد.

Namun, pendapat yang ada di dalam kitab At-Tahqiq dan Ad-Daqaiq adalah membatalkan shalat, dan itulah pendapat yang diandalkan (mu'tamad).

وتأتي هذه الصور الأربعة في الفتح على الإمام بالقرآن أو الذكر وفي الجهر بتكبير الانتقال من الإمام والمبلغ.

Dan keempat gambaran hukum ini juga berlaku pada kasus membenarkan bacaan imam (al-fath) dengan Al-Qur'an atau zikir, serta pada mengeraskan suara takbir intiqal dari imam maupun muballigh (penyambung suara takbir).

وتبطل بحرفين ولو ظهرا في تنحنح لغير تعذر قراءة واجبة كفاتحة

Dan shalat batal dengan dua huruf meskipun tampak dalam dehaman yang bukan karena terhalangnya bacaan yang wajib seperti Surah Al-Fatihah

أو نحوه أو بحرف مفهم,

atau sejenisnya, atau dengan satu huruf yang memberi pemahaman,

ومثلها كل واجب قولي كتشهد أخير وصلاة فيه فلا تبطل بظهور حرفين في تنحنح لتعذر ركن قولي أو ظهرا في نحوه كسعال وبكاء وعطاس وضحك.

Dan sepadan dengannya adalah setiap kewajiban lisan (rukn qauli), seperti tasyahud akhir dan shalawat di dalamnya, maka shalat tidak batal sebab jelas munculnya dua huruf saat berdehem karena tidak mampunya melafalkan rukun qauli tersebut, atau dua huruf itu muncul pada sejenisnya seperti batuk, menangis, bersin, dan tertawa.

وخرج بقولي لغير تعذر قراءة واجبة ما إذا ظهر حرفان في تنحنح لتعذر قراءة مسنونة كالسورة أو القنوت أو الجهر بالفاتحة فتبطل.

Dan dikecualikan dengan perkataanku "bukan karena tidak mampu membaca yang wajib", yaitu apabila tampak dua huruf saat berdehem karena tidak mampu membaca bacaan yang disunnahkan, seperti membaca surat, qunut, atau mengeras-kan suara pada Fatihah, maka shalat menjadi batal.

وبحث الزركشي جواز التنحنح للصائم لإخراج نخامة تبطل صومه.

Az-Zarkasyi membahas kebolehan berdehem bagi orang yang berpuasa untuk mengeluarkan dahak yang dapat membatalkan puasanya.

قال شيخنا: ويتجه جوازه للمفطر أيضا لإخراج نخامة تبطل صومه.

Guru kami (Ibn Hajar) berkata: Pendapat yang kuat adalah kebolehannya bagi orang yang tidak berpuasa juga untuk mengeluarkan dahak yang dapat membatalkan puasanya.

قال شيخنا: ويتجه جوازه للمفطر أيضا لإخراج نخامة تبطل صلاته بأن نزلت لحد الظاهر ولم يمكنه إخراجها إلا به.

Guru kami berkata: Pendapat yang kuat adalah kebolehannya bagi orang yang berbuka (atau tidak berpuasa) juga untuk mengeluarkan dahak yang dapat membatalkan shalatnya, yaitu jika dahak tersebut telah turun sampai batas luar (tenggorokan) dan ia tidak mungkin mengeluarkannya kecuali dengan berdehem.

ولو تنحنح إمامه فبان منه حرفان لم يجب مفارقته لان الظاهر تحرزه عن المبطل نعم إن دلت قرينة حاله على عدم عذره وجبت مفارقته كما بحثه السبكي.

Jika imamnya berdehem lalu jelas terdengar darinya dua huruf, maka makmum tidak wajib memisahkan diri (mufaraqah), karena secara lahiriah ia menjaga diri dari hal yang membatalkan. Namun jika indikasi keadaannya menunjukkan tidak adanya udzur, maka wajib mufaraqah sebagaimana dibahas oleh As-Subki.

ولو ابتلي شخص بنحو سعال دائم بحيث لم يخل زمن من الوقت يسع الصلاة بلا سعال مبطل.

Dan jika seseorang diuji dengan batuk terus-menerus sekira tidak ada waktu tersisa dari waktu shalat yang cukup untuk mengerjakan shalat tanpa batuk yang membatalkan,

قال شيخنا: الذي يظهر العفو عنه ولا قضاء عليه لو شفي.

guru kami berkata: Pendapat yang tampak jelas adalah dimaafkan darinya dan tidak ada kewajiban qadha baginya jika ia sembuh.

أو بنطق بحرف مفهم ك: ف وع وف أو بحرف ممدود لان الممدود في الحقيقة حرفان.

Atau dengan mengucapkan satu huruf yang memberi pemahaman seperti: Qi, 'I, dan Fi, atau dengan huruf yang dipanjangkan (madd), karena huruf yang dipanjangkan pada hakikatnya adalah dua huruf.

ولا تبطل الصلاة بتلفظه بالعربية بقربة توقفت على اللفظ كنذر وعتق كأن قال: نذرت لزيد بألف أو أعتقت فلانا وليس مثله

Dan shalat tidak batal dengan melafalkan bentuk ibadah (qurbah) dalam bahasa Arab yang bergantung pada lafal, seperti nazar dan memerdekakan budak, seumpama ia berkata: "Aku bernazar untuk Zaid seribu" atau "Aku memerdekakan si Fulan", dan tidak sama dengannya…

لا بيسير نحو تنحنح لغلبة وكلام بسهو,

tidak pula (batal) dengan yang sedikit seperti berdehem karena terpaksa dan ucapan karena lupa,

التلفظ بنية صوم أو اعتكاف لأنها لا تتوقف على اللفظ فلم تحتج إليه ولا بدعاء جائز ولو لغيره بلا تعليق ولا خطاب لمخلوق فيهما فتبطل بهما عند التعليق كإن شفى الله مريضي فعلي عتق رقبة أو اللهم اغفر لي إن شئت وكذا عند خطاب مخلوق غير النبي ﷺ.

melafalkan niat puasa atau i'tikaf, karena niat tidak bergantung pada lafal sehingga tidak membutuhkannya; dan (tidak batal pula) dengan doa yang boleh walaupun untuk orang lain tanpa digantungkan (syarat) dan tanpa khithab (sapaan langsung) kepada makhluk pada keduanya. Maka shalat menjadi batal sebab keduanya ketika digantungkan syarat, seperti: "Jika Allah menyembuhkan orang sakitku maka wajib atasku memerdekakan budak" atau "Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki", demikian pula saat menyapa makhluk selain Nabi ﷺ.

ولو عند سماعه لذكره على الأوجه نحو نذرت لك بكذا أو رحمك الله ولو لميت.

Meskipun ketika ia mendengar sebutan namanya menurut pendapat yang kuat, seperti: "Aku bernazar kepadamu begini" atau "Semoga Allah merahmatimu" walaupun untuk orang yang sudah meninggal.

ويسن لمصل سلم عليه الرد بالإشارة باليد أو الرأس ولو ناطقا ثم بعد الفراغ منها باللفظ.

Dan disunnahkan bagi orang shalat yang diberi salam untuk menjawabnya dengan isyarat tangan atau kepala meskipun ia sanggup berbicara, kemudian setelah selesai shalat ia menjawabnya dengan lafal.

ويجوز الرد بقوله: ﵇ كالتشميت برحمة الله.

Dan boleh membalas dengan ucapannya: "'Alaihis salam" sebagaimana mendoakan orang bersin (tasymit) dengan rahmat Allah.

ولغير مصل رد سلام تحلل مصل.

Dan bagi orang yang tidak shalat disunnahkan membalas salam dari salam tahallul (salam penutup) orang yang shalat.

ولمن عطس فيها أن يحمد ويسمع نفسه.

Dan bagi orang yang bersin di dalam shalat disunnahkan memuji Allah (mengucapkan alhamdulillah) dan memperdengarkannya kepada dirinya sendiri.

لا تبطل بيسير نحو تنحنح عرفا لغلبة عليه.

Shalat tidak batal dengan suara yang sedikit seperti berdehem menurut urf (kebiasaan) karena terpaksa darinya.

ولا بيسير كلام عرفا كالكلمتين والثلاث.

Dan tidak pula (batal) dengan ucapan yang sedikit secara 'urf (kebiasaan), seperti dua atau tiga kata.

قال شيخنا: ويظهر ضبط الكلمة هنا بالعرف.

Guru kami berkata: Tampak jelas batasan kata di sini disesuaikan dengan 'urf.

بسهو أي: مع سهوه عن كونه في الصلاة بأن نسي أنه فيها لأنه ﷺ لما سلم من ركعتين تكلم بقليل معتقدا الفراغ وأجابوه به مجوزين النسخ ثم بنى هو وهم عليها ولو ظن بطلانه بكلامه القليل سهوا فتكلم كثيرا لم يعذر.

Karena lupa, artinya: beserta kelupaannya bahwa ia sedang berada dalam shalat, yaitu dengan ia lupa bahwa ia sedang shalat. Sebab Rasulullah ﷺ ketika mengucapkan salam dari dua rakaat, beliau berbicara sedikit karena meyakini telah selesai, dan para sahabat menjawab beliau karena menganggap adanya pembatalan hukum (naskh), kemudian beliau dan mereka melanjutkan shalat atas rakaat tersebut. Namun, jika ia menduga shalatnya batal karena ucapannya yang sedikit akibat lupa, lalu ia berbicara banyak, maka ia tidak dimaafkan.

أو سبق لسان أو جهل تحريمه لقرب إسلام أو بعد عن العلماء وبمفطر,

Atau karena terlanjur lidah, atau tidak tahu tentang keharamannya karena baru masuk Islam atau jauh dari ulama. Dan (batal pula) dengan perkara yang membatalkan puasa,

وخرج بيسير تنحنح لغلبة وكلام بسهو كثيرهما فتبطل بكثرتهما ولو مع غلبة وسهو وغيره.

Dan mengecualikan ucapan yang sedikit: berdeham karena terpaksa (tak tertahankan) dan ucapan karena lupa yang jumlahnya banyak; maka shalat menjadi batal sebab banyaknya kedua hal tersebut, meskipun terjadi karena terpaksa, lupa, maupun lainnya.

أو مع سبق لسان إليه أو مع جهل تحريمه أي الكلام فيها.

Atau beserta terlanjurnya lidah padanya, atau beserta ketidaktahuan atas keharamannya, yaitu keharaman berbicara di dalam shalat.

لقرب إسلام وإن كان بين المسلمين.

Karena baru masuk Islam, meskipun ia berada di tengah-tengah kaum muslimin.

أو بعد عن العلماء أي عمن يعرف ذلك.

Atau jauh dari ulama, yaitu dari orang yang mengetahui hal tersebut.

ولو سلم ناسيا ثم تكلم عامدا أي يسيرا أو جهل تحريم ما أتى به مع علمه بتحريم جنس الكلام أو كون التنحنح مبطلا مع علمه بتحريم الكلام لم تبطل لخفاء ذلك على العوام.

Seandainya ia salam karena lupa kemudian berbicara dengan sengaja—maksudnya berbicara sedikit—atau ia tidak tahu keharaman apa yang ia lakukan padahal mengetahui keharaman jenis ucapan secara umum, atau (tidak tahu) bahwa berdeham itu membatalkan padahal mengetahui keharaman ucapan, maka shalatnya tidak batal karena samar/tersembunyinya hal tersebut bagi orang awam.

وتبطل بمفطر وصل لجوفه وإن قل وأكل كثير سهوا وإن لم يبطل به الصوم فلو ابتلع نخامة نزلت من رأسه لحد الظاهر من فمه أو ريقا متنجسا بنحو دم لثته وإن ابيض أو متغيرا بحمرة نحو تنبل١ بطلت.

Dan shalat menjadi batal sebab sesuatu yang membatalkan puasa yang sampai ke rongga tubuhnya meskipun sedikit, serta makan yang banyak karena lupa meskipun puasa tidak batal dengannya. Maka seandainya ia menelan dahak yang turun dari kepalanya sampai pada batas luar dari mulutnya, atau air liur yang terkena najis seperti darah gusi meskipun (warna air liur) telah memutih, atau (air liur) yang berubah dengan warna merah seperti sirih, maka shalatnya batal.

أما الأكل القليل عرفا ولا يتقيد بنحو سمسمة من ناس أو جاهل معذور ومن مغلوب كأن نزلت نخامته لحد الظاهر وعجز عن مجها وجرى ريقه بطعام بين أسنانه وقد عجز عن تمييزه ومجه فلا يضر للعذر.

Adapun makan yang sedikit menurut 'urf—dan tidak terbatas pada seukuran biji wijen—dari orang yang lupa atau jahil yang dimaafkan, serta dari orang yang terpaksa/tidak mampu menghindarinya, seperti dahaknya turun sampai ke batas luar mulut dan ia tidak mampu meludahkannya, atau air liurnya mengalir membawa makanan di sela-sela giginya padahal ia tidak mampu memisahkan dan membuangnya, maka itu tidak membatalkan karena adanya uzur.

وبزيادة ركن فعلي عمدا وباعتقاد فرض نفلا.

Dan (batal pula) sebab menambah rukun fi'li (perbuatan) secara sengaja, dan sebab meyakini rukun fardhu sebagai sunnah.

وتبطل بزيادة ركن فعلي عمدا لغير متابعة كزيادة ركوع أو سجود وإن لم يطمئن فيه.

Dan shalat menjadi batal sebab menambah rukun fi'li secara sengaja bukan karena mengikut imam (mutaba'ah), seperti menambah ruku' atau sujud meskipun ia tidak thuma'ninah di dalamnya.

ومنه كما قال شيخنا: أن ينحني الجالس إلى أن تحاذي جبهته ما أمام ركبتيه ولو لتحصيل توركه أو افتراشه المندوب لان المبطل لا يغتفر للمندوب.

Di antaranya, sebagaimana dikatakan oleh guru kami: orang yang duduk membungkuk sampai dahinya sejajar dengan area di depan kedua lututnya, meskipun (dilakukan) untuk mendapatkan posisi tawarruk atau iftirasy yang disunnahkan, karena perkara yang membatalkan shalat tidak dimaafkan demi amalan sunnah.

ويغتفر القعود اليسير بقدر جلسة الاستراحة قبل السجود وبعد سجد التلاوة وبعد سلام إمام مسبوق في غير محل تشهده.

Dan dimaafkan duduk sebentar seukuran duduk istirahat (jalsah al-istirahah) sebelum sujud, setelah sujud tilawah, dan setelah salamnya imam bagi makmum masbuq di selain tempat tasyahudnya.

أما وقوع الزيادة سهوا أو جهلا عذر به فلا يضر كزيادة سنة نحو رفع اليدين في غير محله أو ركن قولي كالفاتحة أو فعلي للمتابعة كأن ركع أو سجد قبل إمامه ثم عاد إليه.

Adapun terjadinya penambahan karena lupa atau tidak tahu yang dimaafkan, maka itu tidak merusak (shalat), sebagaimana menambah sunnah seperti mengangkat kedua tangan di luar tempatnya, atau menambah rukun qauli seperti al-Fatihah, atau rukun fi'li karena mengikuti imam seperti ia ruku' atau sujud sebelum imamnya lalu kembali kepadanya.

وتبطل باعتقاد أو ظن فرض معين من فروضها نفلا لتلاعبه لا إن اعتقد العامي نفلا من أفعالها فرضا أو علم أن فيها فرضا ونفلا ولم يميز بينهما ولا قصد بفرض معين النفلية ولا إن اعتقد أن الكل فروض.

Dan batal shalat sebab meyakini atau menduga suatu fardhu tertentu dari fardhu-fardhu shalat sebagai sunnah karena dianggap mempermainkan shalat. Tidak batal jika orang awam meyakini amalan sunnah dari gerakan-gerakan shalat sebagai fardhu, atau ia mengetahui bahwa dalam shalat ada yang fardhu dan ada yang sunnah namun tidak membedakan keduanya serta tidak bermaksud menganggap fardhu tertentu sebagai sunnah, dan tidak batal pula jika ia meyakini bahwa seluruhnya adalah fardhu.

تنبيه: ومن المبطل أيضا حدث ولو بلا قصد واتصال نجس لا يعفى عنه إلا إن دفعه حالا وانكشاف عورة إلا إن كشفها ريح فستر حالا وترك ركن عمدا وشك في نية التحرم أو شرط لها مع مضي ركن قولي أو فعلي أو طول زمن وبعض القولي ككله مع طول زمن شك أو مع قصره ولم يعد ما قرأه فيه.

Peringatan: Termasuk hal yang membatalkan shalat juga adalah hadats meskipun tanpa sengaja, terkena najis yang tidak dimaafkan kecuali jika langsung dibuang seketika, terbukanya aurat kecuali jika dibuka oleh angin lalu langsung ditutup seketika, meninggalkan rukun secara sengaja, dan ragu dalam niat takbiratul ihram atau syarat baginya bersamaan dengan berlalunya satu rukun qauli atau fi'li atau berlalunya waktu yang lama, dan sebagian rukun qauli berkedudukan seperti seluruh rukun qauli jika masa ragunya lama atau jika singkat namun ia tidak mengulangi bacaan yang dibaca saat ragu tersebut.

وندب لمنفرد رأى جماعة أن يقلب فرضه نفلا ويسلم من ركعتين.

Disunnahkan bagi orang yang shalat sendirian (munfarid) yang melihat jamaah untuk mengubah shalat fardhunya menjadi shalat sunnah dan mengucapkan salam setelah dua rakaat.

فرع لو أخبره عدل رواية بنحو نجس أو كشف عورة مبطل لزمه قبوله أو بنحو كلام مبطل فلا.

Cabang masalah: Seandainya seorang yang adil riwayat memberitahukan kepadanya tentang hal semisal najis atau terbukanya aurat yang membatalkan (shalat), maka ia wajib menerimanya. Namun jika memberitahukan tentang hal semisal ucapan yang membatalkan, maka tidak wajib menerimanya.

وندب لمنفرد رأى جماعة مشروعة أن يقلب فرضه الحاضر لا الفائت نفلا مطلقا ويسلم من ركعتين إذا لم يقم لثالثة ثم يدخل في الجماعة.

Disunnahkan bagi munfarid yang melihat shalat berjamaah yang disyariatkan untuk mengubah shalat fardhu yang sedang dilaksanakan (bukan shalat qadha) menjadi shalat sunnah mutlak, lalu memberi salam pada rakaat kedua jika belum berdiri ke rakaat ketiga, kemudian ia bergabung dalam shalat berjamaah tersebut.

نعم إن خشي فوت الجماعة إن تمم ركعتين استحب له قطع الصلاة واستئنافها جماعة ذكره في المجموع.

Ya, jika ia khawatir tertinggal shalat berjamaah apabila menyempurnakan dua rakaat, maka disunnahkan baginya untuk memutus shalatnya dan memulainya kembali secara berjamaah. Hal ini disebutkan di dalam kitab al-Majmu'.

وبحث البلقيني أنه يسلم ولو من ركعة أما إذا قام لثالثة أتمها ندبا إن لم يخش فوت الجماعة ثم يدخل في الجماعة.

Al-Bulqini berpendapat (secara pembahasan/bahts) bahwa ia boleh mengucapkan salam meskipun baru satu rakaat. Adapun jika ia sudah berdiri untuk rakaat ketiga, ia disunnahkan menyempurnakannya (menjadi empat rakaat) jika tidak khawatir ketinggalan berjamaah, kemudian bergabung dengan jamaah.